BUKU PINTAR BIDANG ADMINISTRASI PERSIDANGAN Oleh: Drs. Mazharuddin, MH. KPA Balige

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BUKU PINTAR BIDANG ADMINISTRASI PERSIDANGAN Oleh: Drs. Mazharuddin, MH. KPA Balige"

Transkripsi

1 BUKU PINTAR BIDANG ADMINISTRASI PERSIDANGAN Oleh: Drs. Mazharuddin, MH. KPA Balige I. Persiapan Persidangan A. Penetapan Majelis Hakim 1. Kapankah Majelis Hakim yang menyidangkan suatu perkara ditetapkan? Penetapan Majelis Hakim (PMH) telah ditetapkan Ketua Pengadilan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak perkara didaftarkan (sesuai asas sederhana dan cepat dalam Pasal 2 ayat (4) UU No.50 tahun 2009). 2. Bagaimana jika Majelis Hakim yang ditunjuk tersebut berhalangan? - Apabila Ketua Majelis berhalangan tetap, maka Ketua Pengadilan Agama membuat PMH baru; - Apabila Ketua Majelis berhalangan tidak tetap, maka salah seorang Hakim yang senior didampingi Panitera Pengganti menunda sidang dan dibuat Berita Acara Sidang penundaan dengan menyebut nama hakim yang bersidang; - Apabila Hakim anggota berhalangan, baik tetap maupun tidak tetap, maka digantikan oleh hakim lain dengan PMH baru selambat-lambatnya 1 (satu) hari sebelum tanggal persidangan dengan memuat konsideran sebab pergantian tersebut; - Apabila Majelis Hakim secara bersamaan berhalangan sidang, maka Panitera Pengganti menulis pada pada papan pengumuman tetang penundaan tersebut dan memasukkan dalam berkas perkara setelah ditandatangani oleh Panitera Pengganti tersebut, dan para pihak akan dipanggil lagi pada waktu yang akan ditentukan kemudian dengan PHS baru; - Setiap pergantian Majelis Hakim harus dicatat dalam Berita Acara persidangan, selanjutnya mencatatkan dalam Buku Register Perkara; B. Penetapan Hari Sidang 3. Kapan pula Hari Sidang ditetapkan oleh Ketua Majelis? Hakim Ketua Majelis harus membuat Penetapan Hari Sidang (PHS) dalam waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja setelah menerima berkas perkara dari bagian kepaniteraan atau selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak perkara didaftarkan, setelah terlebih dahulu dimusyawarahkan dengan Anggota Majelis Hakim (sesuai asas sederhana dan cepat dalam Pasal 2 ayat (4) UU No.50 tahun 2009). 4. Bagaimana jika dalam Surat Gugatan Penggugat mengajukan permohonan Sita? Jika terdapat permohonan sita dalam surat gugatan, maka Majelis harus menyikapinya dengan beberapa alternatif Menerbitkan penetapan perintah sita sekaligus dengan Penetapan hari sidang, atau Menerbitkan penetapan perintah sita dengan menangguhkan Penetapan hari sidang, atau Hal. 1 dari 20 hal. Buku Pintar Bidang Administrasi Persidangan.

2 Menerbitkan penolakan sita sekaligus disertai dengan Penetapan hari sidang, atau Menerbitkan penetapan penangguhan sita sekaligus disertai dengan Penetapan hari sidang; C. Penugasan Panitera Pengganti. 5. Apakah perlu dibuat Surat Penugasan Panitera Sidang/Panitera Pengganti untuk mencatat jalannya persidangan dan siapa yang menerbitkannya? Untuk tertib administrasi perlu dibuat Surat Penugasan Panitera/Panitera Pengganti yang bertugas membantu Majelis Hakim dengan menghadiri dan mencatat jalan persidangan yang diterbitkan oleh Panitera Pengadilan (Pasal 11 ayat (3) UU No. 48 Th. 2009), kemudian mencatatnya dalam Buku Register Perkara dan menyebutkannya dalam Berita Acara Sidang. 6. Bagaimana jika terjadi pergantian Panitera Sidang/Panitera Pengganti ketika perkara dalam proses? Jika terajadi pergantian Panitera Sidang atau Panitera Pengganti dalam masa proses persidangan, maka harus dicatatkan dalam berita acara sidang yang akan datang tentang pergantian beserta sebabnya, selanjutnya ditulis dalam register perkara yang bersangkutan nama Panitera Sidang/panitera Pengganti tersebut. D. Panggilan 7. Berdasarkan apakah Jurusita/Jurusita Pengganti (JS/JSP) berwenang untuk menyampaikan panggilan sidang suatu perkara? Jurusita/Jurusita Pengganti berwenang menyampaikan panggilan sidang suatu perkara berdasarkan perintah Ketua Sidang/Ketua Majelis (Pasal 103 UU. No. 7 Tahun 1989 Jo. Pasal 716 ayat (1) R.Bg./Pasal 388 ayat (1) HIR serta Keputusan Ketua MA No. KMA/055/SK/X/1996 tangal 30 Oktober 2006). Untuk tertib administrasi dan kepastian petugas yang ditunjuk, maka harus tercantum nama JS/JSP yang bersangkutan dalam Penetapan Hari Sidang (PHS). 8. Apakah arti resmi dan patut dalam suatu pemanggilan sidang? Arti "resmi" dalam suatu pemanggilan adalah panggilan secara tertulis yang dilaksanakan Jurusita/Jurusita Pengganti dalam wilayah hukum Pengadilan yang bersangkutan dan disampaikan kepada pihak yang berperkara (formil/materil) di tempat yang ditunjuk dalam surat gugatan/berita acara sidang (jika terjadi peribahan alamat atau pemberian kuasa). Sedangkan kata "patut" berarti panggilan tersebut dilaksanakan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja sebelum hari/tanggal persidangan (Pasal 146 R.Bg./Pasal 122 HIR dan Pasal 26 ayat (4) PP No. 9 Tahun 1975). 9. Bagaimanakah jika pihak yang dipanggil tidak ditemui di alamat yang tersebut dalam surat gugatan pada saat JS/JSP menyampaikan panggilan? Jika pada saat melaksanakan pemanggilan JS/JSP tidak bertemu dengan pihak yang dipanggil, maka panggilan disampaikan melalui Lurah/Kepala Desa/yang dipersamakan dengan itu untuk disampaikan kepada yang bersangkutan (Pasal 718 ayat (3) R.Bg./Pasal 390 HIR, Pasal 26 PP. No. 9 Tahun 1975 dan Pasal 138 ayat 3 KHI) atau dapat juga disampaikan melalui Sekretaris Lurah/Sekretaris Desa/yang dipersamakan dengan itu untuk disampaikan kepada pihak yang bersangkutan. Asli relaas yang diserahkan kepada Majelis telah ditandatangani oleh pejabat tersebut berikut stempel jabatannya. Oleh karena itu Ketua RT/RW/Kepala Lingkungan tidak termasuk jajaran Pejabat Umum/Publik, sehingga pemanggilan yang disampaikan melalui Ketua RT/RW/Kepala Lingkungan tidak sah. Hal. 2 dari 20 hal. Buku Pintar Bidang Administrasi Persidangan.

3 10. Bagaimana jika Panggilan yang disampaikan melalui Lurah/Kepala Desa/yang dipersamakan dengan itu tetapi tidak mempunyai stempel, apakah panggilan tersebut sah? Apabila JS/JSP telah menyampaikan relaas panggilan tersebut kepada Lurah/Kepala Desa/Sekretaris Lurah/Sekretaris Desa/yang dipersamakan dengan itu, maka panggilan tersebut tetap sah, karena sah tidaknya panggilan tidak ditentukan oleh stempel (Pasal 718 ayat (1) RBg./Pasal 390 ayat (1) HIR); 11. Bagaimana apabila Lurah/Kepala Desa/Sekretaris Lurah/Sekretaris Desa/yang dipersamakan dengan itu menolak menerima atau menandatangani relaas panggilan? Jika Lurah/Kepala Desa/Sekretaris Lurah/Sekretaris Desa/yang dipersamakan dengan itu menolak menerima/menandatangani relaas panggilan, maka JS/JSP menulis dalam Berita Acara Panggilan tentang penolakan tersebut beserta alasan penolakannya; 12. Bagaimanakah jika pihak yang dipanggil di kediamannya JS/JSP bertemu dan berbicara langsung, tetapi pihak berperkara tersebut tidak mau menerima dan menandatangani Relaas Panggilan, apakah panggilan tersebut harus disampaikan melalui Kepala Desa/Lurah? Jika pihak yang ditemui tidak bersedia menerima dan/atau menandatangani relaas panggiklan, maka JS/JSP mencatat pada berita acara relaas Bahwa telah bertemu dan berbicara dengan yang bersangkutan, tetapi yang bersangkutan tidak mau menerima dan menandatangani Relaas panggilan tersebut sehingga tidak diperlukan lagi penyampaian melalui Lurah/Kepala Desa/yang ditersamakan dengan itu, sebab pemanggilan demikian telah dipandang sah.; 13. Bagaimana melakukan pemanggilan terhadap Tergugat yang Bisu/Tuli atau Buta? Relaas tersebut tetap disampaiakan kepada Tergugat dan apabila terdapat kesulitan, maka Jurusita/Jurusita Pengganti dapat meminta bantuan kepada keluarganya untuk menjelaskan maksud surat tersebut, dengan menuliskan dalam Berita Acara Panggilan bahwa Bertemu dengan Tergugat secara langsung di tempat kediamannya dengan didampingi oleh keluarganya karena Tergugat Bisu/Tuli/Buta; 14. Bolehkah panggilan disampaikan di luar jam kerja atau pada malam hari atau hari libur atau hari besar? Surat panggilan dapat disampaikan di luar jam kerja, tetapi tidak boleh pada malam hari, hari libur atau hari besar (Pasal 18 Rv), kecuali ada permohonan khusus dari pihak atau perintah dari Ketua Majelis yang menyebutkan panggilan tersebut dapat dilaksanakan pada malam hari/hari libur/hari besar; 15. Bolehkah panggilan disampaikan melaui internet, , website, sms, fax. dsb? Panggilan yang disampaikan melaui internet, , website, sms, fax. Adalah tidak sah, meskipun yang bersangkutan hadir di persidangan, dan para pihak harus dipanggil lagi sesuai dengan ketentuan yang berlaku; 16. Bagaimana penyampaian panggilan kepada pihak yang sedang dalam tahanan atau penjara? Penyampaian Relaas kepada pihak yang berada dalam Rumah Tahanan (Rutan) atau Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) disampaikan secara langsung kepada yang bersangkutan. Jika tidak dapat bertemu (tidak diizinkan atau tidak bersedia ditemui), maka disampaikan melaui Petugas Rutan atau Lapas yang dibubuhi tandatangan petugas Rutan atau Lapas tersebut; Hal. 3 dari 20 hal. Buku Pintar Bidang Administrasi Persidangan.

4 17. Bagaimanakah penyampaian panggilan jika pihak yang berperkara bertempat tinggal di Luar Negeri? Pemanggilan terhadap pihak yang berada diluar negeri tidak boleh dikirim langsung ke alamat para pihak, tetapi harus dilaksanakan melalui perwakilan RI setempat (Pasal 28 PP No. 9/1975) cq. Dirjen Protokol Deplu dengan tembusan kepada Kedubes RI dimana pihak berada. Dalam hal ini Majelis Hakim tidak harus menunggu pengembalian relaas, cukup bukti pengiriman Surat dijadikan dasar menyidangkan perkara tersebut dalam waktu selambat-lambatnya 6 (enam) bulan terhitung sejak pendaftaran perkara atau tanggal penundaan sidang (KMA No. 055/75/91/I/UMTU/Pdt/1991 tanggal 11 Mei 1991); 18. Jika pihak Tergugat tidak diketahui alamat keberadaannya/ghaib, bagaimana cara pemanggilan dan pemberitahuan isi putusannya? Jika Tergugat ghaib, panggilan dan pemberitahuan isi putusan dilaksanakan dengan penempelan panggilan pada papan pengumuman Kantor Bupati/Walikota yang mewilayahi tempat tinggal Penggugat / Pemohon dan penempelan pada papan pengumuman Pengadilan (Pasal 718 ayat (3) R.Bg./Pasal 390 ayat (3) HIR.). 19. Bagaimana tehnis melakukan pemanggilan terhadap Tergugat yang ghaib dalam perkara perceraian? dan bagaimana pula cara pemberitahuan putusannya? Pemanggilan terhadap Tergugat yang ghaib dalam perkara perceraian dilakukan dengan cara menempelkan gugatan pada papan pengumuman Pengadilan dan mengumumkan melalui media masa yang ditetapkan Ketua Pengadilan Agama yang bersangkutan sebanyak dua kali pengumuman, dengan tenggang waktu satu bulan antara pengumuman pertama denganan pengumuman kedua, dan tenggat waktu antara pengumuman kedua dengan hari/tanggal sidang berjarak sekurang-kurangnya melampaui 3 (tiga) bulan (Pasal 27 PP No. 9 Tahun 1975). Sedangkan pemberitahuan putusan dilakukan dengan cara penempelan pada papan pengumuman Pengadilan. 20. Bagaimana penyampaian panggilan jika Tergugat meninggal dunia (dalam perkara selain perceraian)? Apabila pihak berperkara yang dipanggil telah meninggal dunia, maka panggilan disampaikan kepada ahli warisnya. Jika ahli warisnya tidak diketahui, maka panggilan disampaikan melalui Lurah/Kepala Desa/yang dipersamakan yang mewilayahi kediaman terakhir pihak berperkara dimaksud (Pasal 718 R.Bg./ Pasal 380 ayat (2) HIR). 21. Kepada siapa panggilan yang resmi harus disampaikan terhadap pihak yang telah memberikan kuasa kepada orang lain? Jika telah ada kuasa, maka panggilan resmi disampaikan kepada pihak formil (Kuasanya), bukan kepada pihak materil. II. Pelaksanaan Persidangan A. Ketentuan Umum Persidangan 22. Bagaimana ketentuan umum persidangan? a. Persidangan harus de-qourum/atribut persidangan harus lengkap.; b. Harus ada Skuriti yang ketat dengan memanfaatkan Metal detector yang ada; Hal. 4 dari 20 hal. Buku Pintar Bidang Administrasi Persidangan.

5 c. Harus ada Portir yang bertugas mempersiapkan kelengkapan dan kerapian ruang sidang, dan sekaligus mendata/mendaftar para pihak yang datang terlebih dahulu.; d. Persidangan dilaksanakan oleh Hakim Majelis yang mempergunakan atribut lengkap; e. Persidangan dilangsungkan di ruang sidang pengadilan, kecuali sidang keliling, dalam hal dilakukan pemeriksaan setempat sidang dibuka dan ditutup di kantor lurah atau kepala desa; f. Persidangan dilaksanakan setiap hari Senin hingga Kamis. Jika alasan mendesak karena sesuatu hal, sidang dapat diselenggarakan pada hari Jum at; g. Sesuai dengan relaas panggilan, Persidangan harus dilaksanakan tepat waktu pada pukul WIB. Jika terjadi keterlambatan oleh satu majelis, sebaiknya diberitahukan secara umum kepada pihak-pihak; h. Seluruh rangkaian jalannya persidangan harus termuat dalam Berita Acara Persidangan (BAP) 23. Kapankan sidang pertama dilaksanakan? Sidang pertama dilaksanakan tidak terlalu lama sejak perkara didaftarkan, dengan mempertimbangkan jarak jauh/dekatnya tempat tinggal pihak-pihak berperkara dengan tempat persidangan (Pasal 146 R.Bg./Pasal 122 HIR.). Khusus sidang perkara perceraian, sidang pertama harus telah dilaksanakan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak perkara didaftarkan (Pasal 68 UU No. 7 Tahun 1989). 24. Siapa yang berhak melaksanakan persidangan dan Bagaimana susunan persidangannya? Persidangan dilaksanakan oleh Majelis Hakim sebagaimana yang ditetapkan dalam PMH dengan dibantu oleh seorang Panitera yang mencatat jalan persidangan dan Susunan persidangan terdiri dari seorang Hakim Ketua Majelis, dua orang Hakim Anggota dan seorang Panitera (Pasal 11 ayat (1), (2) dan (3) UU No. 48 Tahun 2009). 25. Apakah para pihak diperintahkan untuk masuk ke ruang sidang secara sendirisendiri atau bersamaan sekaligus? Para pihak diperintahkan masuk ruang sidang secara bersamaan atau sekaligus guna menerapkan asas equality. 26. Bagaimana posisi duduk para pihak dalam persidangan? Penggugat / Pemohon duduk di hadapan sebelah kiri Majelis, sedang Tergugat / Termohon duduk di hadapan sebelah kanan Majelis. 27. Apakah pernyataan sidang terbuka untuk umum merupakan keharusan? Setiap persidangan dibuka harus dinyatakan terbuka untuk umum oleh Hakim Ketua Majelis dan setiap sidang pemeriksaan dilakukan dalam sidang terbuka untuk umum hingga pembacaan putusan, kecuali Undang-undang menentukan lain (Pasal 13 ayat 1 UU No.48 Tahun 2009), seperti sidang pemeriksaan perkara perceraian dilakukan dalam sidang tertutup untuk umum (Pasal 80 ayat (2) UU No. 7 Tahun 1989). 28. Apakah Penggugat dapat mencabut gugatan yang telah disidangkan? Penggugat dapat mencabut gugatan meskipun telah disidangkan, dengan ketentuan: apabila Tergugat belum mengajukan jawabannya, maka tidak diperlukan persetujuan Hal. 5 dari 20 hal. Buku Pintar Bidang Administrasi Persidangan.

6 Tergugat atas pencabutan tersebut. Namun jika Tergugat telah mengajukan jawaban, maka pencabutan harus mendapat persetujuan Tergugat (Pasal 271 Rv). 29. Bagaimana tindakan Hakim apabila Penggugat mencabut gugatannya? Apabila Penggugat mencabut gugatannya (baik sebelum atau sesudah Tergugat mengajukan jawaban), maka Hakim menyatakan perkara itu telah selesai selanjutnya dicatat dalam Berita Acara dan membuat penetapan atas pencabutan tersebut (Pasal 271 Rv). 30. Bagaimana langkah hakim, apabila Penggugat/Pemohon melakukan perubahan gugatan? Jika perubahan gugatan diajukan Penggugat/Pemohon sebelum Tergugat/ Termohon mengajukan jawaban, maka dapat dibenarkan sepanjang tidak merubah pokok/substansi perkara tanpa memerlukan persetujuan Tergugat/ Termohon. Sedangkan jika perubahan dimaksud dilakukan setelah Tergugat/Termohon mengajukan jawaban, maka Hakim harus mempertanyakan persetujuan Tergugat/Termohon (Pasal 127 Rv.). 31. Bagaimana tindakan Hakim jika terjadi perubahan gugatan oleh Penggugat/ Pemohon, sedangkan Tergugat/Termohon tidak hadir di persidangan? Hakim dapat mengabulkannya sepanjang tidak melampaui batas-batas materi pokok perkara yang dapat menimbulkan kerugian kepada Tergugat/Termohon dan tidak bertentangan dengan asas-asas hukum acara perdata (Pasal 127 Rv.). 32. Apa tindakan Hakim jika Penggugat/Pemohon tidak hadir pada sidang pertama, sedangkan panggilan telah dinyatakan resmi dan patut? Apabila Penggugat/Pemohon tidak hadir dalam sidang pertama, maka Hakim dapat menggugurkan perkaranya, atau memberi kesempatan dengan menunda sidang guna memanggil Penggugat/Pemohon kembali. Tetapi jika Penggugat/ Pemohon juga tidak hadir pada persidangan berikutnya tanpa alasan apapun yang dapat dibenarkan hukum, maka perkara tersebut harus digugurkan (Pasal 148 R.Bg./Pasal 124 HIR.). 33. Bagaimana pula jika Tergugat/Termohon tidak hadir pada sidang pertama, sedangkan Penggugat/Pemohon hadir? Jika Tergugat tidak hadir pada sidang pertama tanpa alasan apapun yang dapat dibenarkan hukum sedangkan Penggugat hadir, maka Hakim dapat memutuskan perkara yang Verstek (Pasal 149 ayat (1) R.Bg./Pasal 125 ayat (1) HIR.) atau menunda persidangan dengan perintah memanggil Tergugat/Termohon sekali lagi (Pasal 150 R.Bg./Pasal 126 HIR). B. Eksepsi Dan Intervensi 34. Apa yang dimaksud dengan eksepsi? Eksepsi (Latin: Exeptio) artinya Tangkisan, sangkalan, bantahan, pengecualian, sangggahan, keberatan; Menurut istilah: yaitu sanggahan terhadap suatu gugatan atau perlawanan yang tidak mengenai pokok perkara/pokok perlawanan; 35. Apa tujuan dari eksepsi? Hal. 6 dari 20 hal. Buku Pintar Bidang Administrasi Persidangan.

7 Tujuan Eksepsi untuk menggagalkan gugatan atau perlawanan dari segi hukum formil; 36. Kapan suatu eksepsi dapat diajukan oleh Tergugat? Eksepsi absolut (menyangkut perkara pokok) dapat diajukan oleh Tergugat pada setiap tahap persidangan (Psl. 136 HIR/162 R.Bg.) bahkan hingga ke tingkat banding. Sedangkan eksepsi relatif (menyangkut wilayah hukum) diajukan hanya pada sidang pertama. 37. Bagaimana jika eksepsi yang menyangkut kewenangan absolut tersebut tidak diajukan oleh Tergugat? Hakim wajib secara ex officio apabila secara faktual menemukan cacat formil bahwa perkara tersebut bukan wewenangnya, maka ia harus menjatuhkan putusan negatif, yang menyatakan diri tidak berwenang mengadili, meskipun tidak diminta oleh pihak excipient (Tergugat) 38. Jelaskan jenis eksepsi yang berdasarkan hukum formil (hukum acara) yang dapat diajukan Tergugat/Termohon? a. Eksepsi Nebis In Idem; b. Eksepsi Error In Persona; c. Eksepsi Obscuur libel 39. Apa yang dimaksud Eksepsi Nebis In Idem dan Bagaimana patokannya? Eksepsi nebis in idem adalah eksepsi yang menyatakan bahwa perkara yang diajukan telah pernah diputus oleh hakim sebelumnya, dengan patokan sebagai berikut : a. Apa yang digugat sekarang telah pernah diperiksa dan telah ada putusan yang telah berkekuatan hukum tetap, b. Putusan pertama dimaksud bersifat Positif (mengabulkan atau menolak gugatan); c. Objek gugatannya sama; d. Subjek gugatannya sama; e. Materi pokok perkaranya sama. Semua patokan tersebut bersifat kumulatif bukan alternative, jadi jika hanya salah satu saja terpenuhi, maka tidak dapat dikatakan nebis in idem, kecuali dalam perkara Hadlonah tidak berlaku ketentuan nebis in idem ; 40. Apa pula yang dimaksud Eksepsi Error in persona dan Bagaimana patokannya? Eksepsi Error In Persona, adalah eksepsi yang menyatakan bahwa Penggugat tidak mempunyai kedudukan untuk mengajukan gugatan, atau para pihak tidak jelas, atau tergugat yang ditarik tidak lengkap, dengan patokan : a. Diskualifikasi in person, yaitu Penggugat bukan persona standi in yudicio (orang yang cakap bertindak dalam hokum) atau bukan orang yang mempunyai hak dan kepentingan; b. Gemis Aanhoedanid heid yaitu orang yang ditarik sebagai Tergugat tidak tepat; c. Plurium litis consorsium yaitu orang yang ditarik sebagai Tergugat tidak lengkap. 41. Apa pula yang dimaksud Eksepsi Obscuur Libel dan Bagaimana patokannya? Hal. 7 dari 20 hal. Buku Pintar Bidang Administrasi Persidangan.

8 Eksepsi Obscuur libel adalah eksepsi yang bertujuan agar hakim memutus bahwa gugatan Penggugat tidak jelas/kabur, sehingga harus dinyatakan tidak dapat diterima, patokannya yaitu : a. Posita tidak menjelaskan dasar hukum dan fakta kejadian; b. Objek yang disengketakan tidak jelas; c. Penggabungan perkara yang masing-masing berdiri sendiri d. Tidak ada hubungan antara posita dengan petitum e. Petitum tidak dirinci, tetapi hanya berbentuk kompositur atau ex aequo et bono. 42. Jelaskan apa yang dimaksud dengan eksepsi materil? Eksepsi materil yaitu eksepsi karena adanya cacat yang menyangkut Materi Gugat yang diperkarakan, seperti Eksepsi Prematur dan Eksepsi aan hanging geding; 43. Apa pula yang dimaksud Eksepsi Prematur tersebut? Eksepsi prematur, yaitu eksepsi yang diajukan karena belum saatnya diajukan, seperti menggugat warisan pada saat pewaris masih hidup; 44. Apa pula yang dimaksud Eksepsi Aan hanging geding? Eksepsi aan hanging geding, yaitu eksepsi yang diajukan karena perkara yang bersangkutan masih bergantung proses Pengadilan lain. Dalam menghadapi eksepsi ini, maka Hakim harus menjatuhkan Putusan Negatif, yang menyatakan diri tidak berwenang mengadili. 45. Bagaimana tata cara pemeriksaan eksepsi formil? Jika diajukan eksepsi formil, maka Hakim harus terlebih dahulu memeriksa dan memutus eksepsi sebelum memeriksa dan memutus perkara pokok. 46. Bagaimaan pula cara memeriksa eksepsi materiil? Jika diajukan eksepsi materiil, maka Hakim memeriksa dan memutus eksepsi bersamaan dengan pemeriksaan dan putusan perkara pokok. 47. Bagaimanakan jika eksepsi formil ditolak? Jika eksepsi formil ditolak maka diputuskan dengan putusan sela yang menyatakan Pengadilan Agama berwenang memeriksa perkara tersebut dan kedua belah pihak diperintahkan untuk melanjutkan perkara serta menyatakan menangguhkan putusan tentang biaya perkara hingga putusan akhir. 48. Bagaimana pula jika eksepsi formil dikabulkan? Jika eksepsi formil dikabulkan, maka Pengadilan Agama tersebut menyatakan tidak berwenang mengadili perkara a quo serta pembebanan biaya perkara, sehingga putusan tersebut merupakan putusan akhir dan perkara pokok tidak diperiksa. 49. Apa tindakan Hakim apabila Tergugat tidak hadir, namun mengirimkan jawaban tertulis yang memuat eksepsi relatif atau absolut? Hal. 8 dari 20 hal. Buku Pintar Bidang Administrasi Persidangan.

9 Sama halnya dengan eksepsi yang diajukan oleh Tergugat yang hadir di persidangan (Pasal 149 ayat (2) R.Bg./Pasal 125 ayat (2) HIR.). 50. Dalam tahap apakah gugatan rekonvensi dapat diajukan Tergugat? Gugatan rekonvensi atas gugatan konvensi harus diajukan bersama-sama dengan mengajukan jawaban baik secara tertulis maupun lisan (Pasal 158 ayat (1) R.Bg./Pasal 132b ayat (1)HIR). 51. Apakah gugatan rekonvensi harus mempunyai posita dan petitum? Layaknya suatu gugatan, maka gugatan rekonvensi juga harus mempunyai posita dan petitum yang jelas dan terinci. 52. Apakah yang dimaksudkan dengan intervensi? Intervensi ialah aksi hukum seseorang yang merasa berkepentingan dengan melibatkan diri dalam suatu perkara yang sedang berjalan. 53. Apa-apa sajakah jenis intervensi? Pada dasarnya Intervensi ada 2 (dua) macam yaitu : a. Menengahi (Tussenkomst), yakni masuknya pihak ketiga sebagai pihak tersendiri dalam suatu perkara yang sedang berlangsung guna membela kepentingannya sendiri, sehingga melawan kepentingan kedua belah pihak yang berperkara. b. Menyertai (Voeging), Seorang yang ditarik oleh satu pihak berperkara untuk turut serta dalam suatu perkara yang sedang berlangsung guna bersama-sama membela kepentingan Penggugat melawan Tergugat atau bersama-sama Tergugat menghadapi Penggugat; Meskipun demikian sebagian pendapat juga memasukkan Vrijwaring (ditariknya pihak ke tiga untuk ikut bertanggung jawab guna membantu dan membebaskan Tergugat dari tanggungjawab/kewajiban terhadap Penggugat) sebagai jenis intervensi. 54. Apakah syarat-syarat intervensi? Berdasarkan penafsiran Pasal 70 dan 279 Rv, syarat-syarat intervensi adalah: a. Intervensi harus merupakan tuntutan hak; b. Ada kepentingan hukum dalam sengketa yang berlangsung ; c. Kepentingan tersebut harus ada hubungannya dengan pokok sengketa yang sedang berlangsung ; d. Kepentingan tersebut untuk mencegah kerugian; e. Tujuan intervensi guna mempertahankan hak pihak ketiga atau untuk melindungi dirinya dengan jalan berpihak kepada salah satu pihak atau menjadi pihak tersendiri/tidak memihak pada para pihak dengan melawan kedua belah pihak. 55. Bagaimana kedudukan para pihak berperkara setelah ada tussemkomst (menengahi/pihak tersendiri)? Kedudukan para pihak setelah ada penetapan Tussenkomst adalah: pihak ketiga yang mengajukan disebut Pelawan, Penggugat semula disebut Terlawan I sedangkan Tergugat semula disebut Terlawan II Hal. 9 dari 20 hal. Buku Pintar Bidang Administrasi Persidangan.

10 56. Bagaimana menyebut kedudukan para pihak yang berperkara, setelah adanya voeging diajukan pihak ketiga? a. Jika pihak ketiga berpihak pada Penggugat maka Penggugat semula menjadi Penggugat I, sedangkan pihak ketiga tersebut menjadi Penggugat II. b. Jika pihak ketiga berpihak kepada Tergugat, maka pihak Tergugat semula menjadi Tergugat I sedangkan pihak ketiga menjadi Tergugat II. 57. Apakah eksepsi, rekonvensi intervensi dicatat dalam register perkara? C. Kuasa Agar sejalan dengan amar putusan, maka petitum eksepsi, rekonvensi dan intervensi harus dicatat dalam buku register perkara. 58. Apa perbedaan antara kuasa insidentil dengan kuasa profesional? Kuasa Insidentil adalah kuasa yang berasal dari kalangan keluarga pihak materil yang mempunyai izin Ketua Pengadilan untuk berperkara setelah yang bersangkutan mengajukan permohonan untuk beracara dengan melampirkan surat keterangan lurah/kepala desa atau yang dipersamakan dengan itu menyatakan tentang hubungan kekeluargaan antara pemberi kuasa dengan penerima kuasa (Surat TUADA MARI ULDITUN No. MA./KUMDIL/9910/IX/87). Sedangkan Kuasa Profesional adalah kuasa yang mempunyai Kartu Tanda Anggota (KTA) Advocat (Pasal 32 UU No. 18 tahun 2004). Sebelum yang bersangkutan resmi beracara dalam perkara tertentu, harus melampirkan asli surat kuasa dan fotocopy KTA serta memperlihatkan aslinya kepada Majelis. 59. Langkah apa yang dilakukan Majelis Hakim dalam memeriksa perkara yang menggunakan jasa advocat? Sesuai Surat edaran Mahkamah Agung RI No. 31/P/169/M/1959 tanggal 19 Januari 1959, Peraturan Menteri Kehakiman RI No. J.P tanggal 7 Oktober 1965 dan Nomor 1 Tahun 1985, maka langkah Majelis Hakim pertama sekali adalah memeriksa masa berlaku izin beracara advocat yang bersangkutan, lalu memeriksa kelengkapan syarat formil dan materil surat kuasa khusus (dalam perkara tertentu, mewakili orang tertentu sebagai pihak tertentu di Pengadilan Agama tertentu. Jika sebagai tergugat ditambah dengan nomor register perkara dan tanggal pendaftaran perkara). Jika kuasa terdiri dari beberapa orang, maka harus hadir pada sidang pertama atau diperintahkan untuk dihadirkan pada sidang kedua, guna memastikan keikutsertaan/ keaktifannya sebagai kuasa. Jika tidak memenuhi ketentuan tersebut maka kuasa demikian dicoret dari daftar pihak formil. 60. Apakah setelah ada pemberian kuasa, pihak materil harus hadir dalam setiap persidangan? Khusus dalam perkara perceraian, pihak materil diwajibkan hadir dalam sidang perdamaian, kecuali yang bersangkutan berada di luar negeri sehingga Kuasa dapat bertindak untuk dan atas nama pihak materil berdasarkan surat Kuasa Istimewa guna menghadiri sidang perdamaian yang dibuat di hadapan Panitera atau Notaris (Pasal 82 ayat (2) UU No, 7 Tahun 1989). Sedangkan dalam perkara selain perceraian, meskipun tidak diharuskan namun dalam sidang perdamaian dan mediasi sangat dianjurkan pihak materil turut hadir. Hal. 10 dari 20 hal. Buku Pintar Bidang Administrasi Persidangan.

11 61. Apa yang dimaksud pembebanan pembuktian yang berimbang? Pembebanan pembuktian yang berimbang. Pemberian kesempatan yang sama kepada pihak Penggugat maupun Tergugat untuk membuktikan dalil gugatan atau bantahan masing-masing (Pasal 283 R.Bg./Pasal 163 HIR). D. Mediasi 62. Apakah setiap perkara perdata harus dilakukan mediasi? Setiap perkara perdata bersifat contentius yang dihadiri kedua belah pihak wajib terlebih dahulu dilakukan mediasi, apabila tidak dilakukan mediasi maka putusan batal demi hukum (Pasal 2 dan 7 Peraturan Mahkamah Agung RI/Perma. No. 01 Tahun 2008); 63. Tahap manakah yang harus lebih dahulu dilaksanakan oleh Majelis Hakim, apakah mediasi atau upaya damai dalam persidangan? Sesuai asas, maka upaya damai harus lebih dahulu dilaksanakan dalam persidangan (Pasal 4 Perma. No. 01 tahun 2008). Jika upaya damai gagal, maka dilanjutkan ke tahap mediasi, sebab upaya damai diatur berdasarkan UU sedangkan mediasi diatur melalui Perma. No. 01 Tahun 2008). 64. Hingga tahap apakah mediasi diharuskan untuk dilaksanakan? Keharusan melaksanakan mediasi pada dasarnya pada sidang pertama yang dihadiri kedua belah pihak berperkara, termasuk dalam perkara verzet. Namun jika kedua belah pihak menghendaki, mediasi dapat dilaksanakan pada tahap-tahap pemeriksaan perkara hingga tahap pembacaan putusan, bahkan jika para pihak menginginkan peerdamaian, dapat dilaksanakan secara mediasi hingga tingkat Peninjauan Kembali Pasal 21 ayat (1) dan (4) Perma. No. 01 tahun 2008). 65. Apakah mediasi juga diharuskan meskipun pihak Tergugat/Termohon tidak hadir dalam persidangan? Oleh karena tujuan pengaturan mediasi adalah untuk mendamaikan kedua belah pihak berperkara secara langsung (atau yang dikuasakan khusus untuk itu), maka mediasi hanya dilakukan apabila pihak Tergugat/Termohon hadir di persidangan. Dengan demikian tidak ada mediasi dalam perkara verstek. Tetapi dalam BAP harus dibuat narasi tentang tidak dapat dilaksanakan mediasi karena ketidakhadiran tergugat tersebut; 66. Dalam perkara yang mendapat sorotan publik, apakah Hasil mediasi dapat disampaikan kepada publik? Proses mediasi pada asasnya tertutup untuk umum kecuali para pihak menghendaki lain, dan hasil mediasi maupun dinamika yang terjadi dalam proses pertemuan tidak boleh disampaiakan kepada publik kecuali atas izin para pihak; 67. Apakah Majelis Hakim yang memeriksa perkara tersebut dapat juga dipilih sebagai mediator? Hakim majelis pemeriksa perkara dapat juga dipilih dan ditunjuk oleh para pihak sebagai Mediator (Pasal 8 ayat (1) huruf d Perma. No. 01 Tahun 2008); 68. Bagaimana jika mediator pilihan pihak Penggugat berbeda dengan pilihan pihak Tergugat? Hal. 11 dari 20 hal. Buku Pintar Bidang Administrasi Persidangan.

FORMULIR ADMINISTRASI KEPANITERAAN PENGADILAN AGAMA

FORMULIR ADMINISTRASI KEPANITERAAN PENGADILAN AGAMA 2 2011 DRAFT FORMULIR ADMINISTRASI KEPANITERAAN PENGADILAN AGAMA FORMULIR ADMINISTRASI KEPANITERAAN PENGADILAN AGAMA DIREKTORAT PEMBINAN ADMINISTRASI PA DIREKTORAT JENDERAL BADAN PERADILAN AGAMA MA RI

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN KEBERATAN DAN PENITIPAN GANTI KERUGIAN KE PENGADILAN NEGERI DALAM PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN

Lebih terperinci

PROSEDUR DAN PROSES BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA

PROSEDUR DAN PROSES BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA Tempat Pendaftaran : BAGAN PROSEDUR DAN PROSES BERPERKARA Pengadilan Agama Brebes Jl. A.Yani No.92 Telp/ fax (0283) 671442 Waktu Pendaftaran : Hari Senin s.d. Jum'at Jam 08.00 s.d 14.00 wib PADA PENGADILAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUKUM ACARA PERDATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG HUKUM ACARA PERDATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PERDATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

TATA CARA PEMERIKSAAN ADMINISTRASI PERSIDANGAN

TATA CARA PEMERIKSAAN ADMINISTRASI PERSIDANGAN TATA CARA PEMERIKSAAN ADMINISTRASI PERSIDANGAN L II.3 TATA CARA PEMERIKSAAN ADMINISTRASI PERSIDANGAN I. PERKARA PERDATA Untuk memeriksa administrasi persidangan, minta beberapa berkas perkara secara sampling

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN KEBERATAN DAN PENITIPAN GANTI KERUGIAN KE PENGADILAN NEGERI DALAM PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN

Lebih terperinci

CARA PENYELESAIAN ACARA VERSTEK DAN PENYELESAIAN VERZET

CARA PENYELESAIAN ACARA VERSTEK DAN PENYELESAIAN VERZET CARA PENYELESAIAN ACARA VERSTEK DAN PENYELESAIAN VERZET Oleh: H.Sarwohadi, S.H.,M.H.,(Hakim PTA Mataram). I. Pendahuluan : Judul tulisan ini bukan hal yang baru, sudah banyak ditulis oleh para pakar hukum

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Mediasi

Lebih terperinci

PROSDUR BERPERKARA. CERAI GUGAT A. Langkah-langkahnya

PROSDUR BERPERKARA. CERAI GUGAT A. Langkah-langkahnya CERAI GUGAT A. Langkah-langkahnya PROSDUR BERPERKARA Penggugat atau kuasanya mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama / Mahkamah Syariah (Pasal 118 HIR, 142 Rbg jo.pasal 73

Lebih terperinci

PROSEDUR BERPERKARA PENGADILAN TINGKAT PERTAMA

PROSEDUR BERPERKARA PENGADILAN TINGKAT PERTAMA PROSEDUR BERPERKARA PENGADILAN TINGKAT PERTAMA CERAI GUGAT A. Pendahuluan Penggugat atau kuasanya mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama/Mahkamah Syariah (Pasal 118 HIR,

Lebih terperinci

Memperhatikan : I. PERSIDANGAN

Memperhatikan : I. PERSIDANGAN RUMUSAN HASIL RAPAT KERJA DAERAH (RAKERDA) PENGADILAN AGAMA SEWILAYAH PENGADILAN TINGGI AGAMA KENDARI TANGGAL 29 S/D 31 MARET 2012 BERTEMPAT DI HOTEL PLAZA INN JL. ANTERO HAMRA NO. 57-59 KENDARI - SULAWESI

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN GUGATAN SEDERHANA (SMALL CLAIM COURT)

PEMERIKSAAN GUGATAN SEDERHANA (SMALL CLAIM COURT) PEMERIKSAAN GUGATAN SEDERHANA (SMALL CLAIM COURT) di INDONESIA Oleh : Wasis Priyanto Ditulis saat Bertugas di PN Sukadana Kab Lampung Timur Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) nomor 2 Tahun 2015 tentang Tata

Lebih terperinci

PROSEDUR BERPERKARA TATA CARA PENGAJUAN PERKARA (VIA BANK)

PROSEDUR BERPERKARA TATA CARA PENGAJUAN PERKARA (VIA BANK) PROSEDUR BERPERKARA TATA CARA PENGAJUAN PERKARA (VIA BANK) Pertama : Pihak berperkara datang ke Pengadilan Agama dengan membawa surat gugatan atau permohonan. Kedua : Pihak berperkara menghadap petugas

Lebih terperinci

TEMUAN BEBERAPA MASALAH HUKUM ACARA DALAM PRAKTEK PERADILAN DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI AGAMA BANDUNG

TEMUAN BEBERAPA MASALAH HUKUM ACARA DALAM PRAKTEK PERADILAN DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI AGAMA BANDUNG TEMUAN BEBERAPA MASALAH HUKUM ACARA DALAM PRAKTEK PERADILAN DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI AGAMA BANDUNG Oleh : DRS. H.MUHTADIN,S.H 1 ASAS-ASAS HUKUM ACARA PERDATA BERACARA HARUS BERDASARKAN UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

STANDAR PELAYANAN PADA BADAN PERADILAN AGAMA (KMA

STANDAR PELAYANAN PADA BADAN PERADILAN AGAMA (KMA STANDAR PELAYANAN PADA BADAN PERADILAN AGAMA (KMA Nomor 026/KMA/SK/II/2012) A. Dasar Hukum 1. HIR/Rbg 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan 3. Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang

Lebih terperinci

PERSIDANGAN DAN BERITA ACARA PERSIDANGAN

PERSIDANGAN DAN BERITA ACARA PERSIDANGAN PERSIDANGAN DAN BERITA ACARA PERSIDANGAN A. PENDAHULUAN Tugas Panitera/Panitera Pengganti adalah membantu hakim dengan menghadiri dan mencatat jalannya sidang pengadilan. Catatan sidang itu selanjutnya

Lebih terperinci

I. TEKNIS ADMINISTRASI A. PENGADILAN AGAMA 1. Penerimaan Perkara a. Pendaftaran Perkara Tingkat Pertama 1) Petugas Meja I menerima gugatan,

I. TEKNIS ADMINISTRASI A. PENGADILAN AGAMA 1. Penerimaan Perkara a. Pendaftaran Perkara Tingkat Pertama 1) Petugas Meja I menerima gugatan, I. TEKNIS ADMINISTRASI A. PENGADILAN AGAMA 1. Penerimaan Perkara a. Pendaftaran Perkara Tingkat Pertama 1) Petugas Meja I menerima gugatan, permohonan, verzet, permohonan banding, permohonan kasasi, permohonan

Lebih terperinci

2015, No tidaknya pembuktian sehingga untuk penyelesaian perkara sederhana memerlukan waktu yang lama; d. bahwa Rencana Pembangunan Jangka Mene

2015, No tidaknya pembuktian sehingga untuk penyelesaian perkara sederhana memerlukan waktu yang lama; d. bahwa Rencana Pembangunan Jangka Mene No.1172, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA MA. Gugatan Sederhana. Penyelesaian. PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GUGATAN SEDERHANA DENGAN

Lebih terperinci

STANDAR PELAYANAN PERKARA PERMOHONAN

STANDAR PELAYANAN PERKARA PERMOHONAN Lampiran I STANDAR PELAYANAN PERKARA PERMOHONAN 1. Pemohon menyampaikan permohonan kepada Ketua Pengadilan Agama Lamongan. Pengadilan Agama Lamongan mendaftarkan permohonan dalam buku register dan memberi

Lebih terperinci

STANDAR.OPERASIONAL.PROSEDUR (SOP) KEPANITERAAN PERDATA NO. URAIAN KEGIATAN WAKTU PENYELESAIAN KETERANGAN

STANDAR.OPERASIONAL.PROSEDUR (SOP) KEPANITERAAN PERDATA NO. URAIAN KEGIATAN WAKTU PENYELESAIAN KETERANGAN STANDAR.OPERASIONAL.PROSEDUR (SOP) KEPANITERAAN PERDATA NO. URAIAN KEGIATAN WAKTU PENYELESAIAN KETERANGAN A. PENYELESAIAN PERKARA 1. Pendaftaran gugatan dan permohonan, setelah biaya perkara ditaksir oleh

Lebih terperinci

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA SALINAN P U T U S A N Nomor : 511/Pdt.G/2013/PA.SUB. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Sumbawa Besar yang memeriksa dan mengadili perkara perdata

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM SENGKETA PENETAPAN LOKASI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM PADA PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

DRAFT REVISI PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN

DRAFT REVISI PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN DRAFT REVISI PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN 1. PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : ----- TAHUN ---------- TENTANG

Lebih terperinci

Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon (Suami) atau kuasanya :

Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon (Suami) atau kuasanya : Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon (Suami) atau kuasanya : 1. a. Mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan kepada pengadilan agama/mahkamah syar iyah (Pasal 118 HIR, 142 R.Bg jo Pasal

Lebih terperinci

KEPUTUSAN BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA NOMOR : KEP 02/BAPMI/ TENTANG PERATURAN DAN ACARA BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA

KEPUTUSAN BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA NOMOR : KEP 02/BAPMI/ TENTANG PERATURAN DAN ACARA BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA KEPUTUSAN BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA NOMOR : KEP 02/BAPMI/11.2009 TENTANG PERATURAN DAN ACARA BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA BADAN ARBITRASE PASAR MODAL INDONESIA Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa berdasarkan peraturan perundang-undangan yang

Lebih terperinci

LANGKAH-LANGKAH PELENGKAP YANG TERLEWATKAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA

LANGKAH-LANGKAH PELENGKAP YANG TERLEWATKAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA 1 LANGKAH-LANGKAH PELENGKAP YANG TERLEWATKAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA oleh : Ali M. Haidar I. PENDAHULUAN Tulisan ini disajikan hanyalah sebagai ulangan dan bahkan cuplikan dari berbagai tulisan tentang

Lebih terperinci

ADMINISTRASI PERKARA KEPANITERAAN PERDATA DI PENGADILAN NEGERI SIBOLGA

ADMINISTRASI PERKARA KEPANITERAAN PERDATA DI PENGADILAN NEGERI SIBOLGA ADMINISTRASI PERKARA KEPANITERAAN PERDATA DI PENGADILAN NEGERI SIBOLGA No. KEGIATAN INDIKATOR TARGET KINERJA KET HARI I II III I I KEPANITERAAN PERKARA DI PENGADILAN NEGERI. Pendaftaran gugatan dan permohonan

Lebih terperinci

Perkara Tingkat Pertama Cerai Gugat. Langkah-langkah yang harus dilakukan Penggugat (Istri) atau kuasanya :

Perkara Tingkat Pertama Cerai Gugat. Langkah-langkah yang harus dilakukan Penggugat (Istri) atau kuasanya : Perkara Tingkat Pertama Cerai Gugat Langkah-langkah yang harus dilakukan Penggugat (Istri) atau kuasanya : 1. a. Mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada pengadilan agama/mahkamah syar iyah

Lebih terperinci

4. SOP KEPANITERAAN PENGADILAN HUBUNGAN INDUSTRIAL PADA PENGADILAN NEGERI SEMARANG

4. SOP KEPANITERAAN PENGADILAN HUBUNGAN INDUSTRIAL PADA PENGADILAN NEGERI SEMARANG 4. SOP KEPANITERAAN PENGADILAN HUBUNGAN INDUSTRIAL PADA PENGADILAN NEGERI SEMARANG I. Prosedur pendaftaran Akta Perjanjian Bersama dan Surat Keterangan Perkara - Prosedur Pendaftaran Perjanjian Bersama

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02 TAHUN 2002 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN WEWENANG MAHKAMAH KONSTITUSI OLEH MAHKAMAH AGUNG

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02 TAHUN 2002 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN WEWENANG MAHKAMAH KONSTITUSI OLEH MAHKAMAH AGUNG PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02 TAHUN 2002 TENTANG TATA CARA PENYELENGGARAAN WEWENANG MAHKAMAH KONSTITUSI OLEH MAHKAMAH AGUNG MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. Bahwa

Lebih terperinci

Prosedur berperkara pada Pengadilan Agama Sungai Penuh, adalah sebagai berikut:

Prosedur berperkara pada Pengadilan Agama Sungai Penuh, adalah sebagai berikut: Prosedur Berperkara Prosedur berperkara pada Pengadilan Agama Sungai Penuh, adalah sebagai berikut: Tempat Pendaftaran : Kantor Pengadilan Agama Sungai Penuh Jl. Depati Parbo, Kota Sungai Penuh, Jambi

Lebih terperinci

MEDIASI DI PENGADILAN AGAMA BERDASARKAN PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1 TAHUN Oleh: Mashuri, S.Ag., M.H.

MEDIASI DI PENGADILAN AGAMA BERDASARKAN PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1 TAHUN Oleh: Mashuri, S.Ag., M.H. MEDIASI DI PENGADILAN AGAMA BERDASARKAN PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1 TAHUN 2016 Oleh: Mashuri, S.Ag., M.H. I. PENDAHULUAN Pengadilan merupakan lembaga yang memiliki tugas dan wewenang untuk menyelesaikan

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKSANAAN MEDIASI PADA PENGADILAN AGAMA DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI AGAMA KALIMANTAN BARAT MENURUT PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1

PEDOMAN PELAKSANAAN MEDIASI PADA PENGADILAN AGAMA DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI AGAMA KALIMANTAN BARAT MENURUT PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1 PEDOMAN PELAKSANAAN MEDIASI PADA PENGADILAN AGAMA DI WILAYAH HUKUM PENGADILAN TINGGI AGAMA KALIMANTAN BARAT MENURUT PERATURAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 1 TAHUN 2016 PENGADILAN TINGGI AGAMA KALIMANTAN BARAT

Lebih terperinci

Tahap pemanggilan para pihak. 1. Aturan umum

Tahap pemanggilan para pihak. 1. Aturan umum Tahap pemanggilan para pihak 1. Aturan umum Berdasarkan perintah hakim ketua majelis di dalam PHS (Penetapan Hari Sidang), juru sita /juru sita pengganti melaksanakan pemanggilan kepada para pihak supaya

Lebih terperinci

PENGADILAN AGAMA TANGERANG KEPUTUSAN KETUA PENGADILAN AGAMA TANGERANG NOMOR : W27-A3/5438/HK.05/X/2015

PENGADILAN AGAMA TANGERANG KEPUTUSAN KETUA PENGADILAN AGAMA TANGERANG NOMOR : W27-A3/5438/HK.05/X/2015 PENGADILAN AGAMA TANGERANG KEPUTUSAN KETUA PENGADILAN AGAMA TANGERANG NOMOR : W27-A3/5438/HK.05/X/2015 TENTANG STANDAR PELAYANAN PERADILAN PADA PENGADILAN AGAMA TANGERANG KETUA PENGADILAN AGAMA TANGERANG

Lebih terperinci

PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN TATA USAHA NEGARA EDISI 2008

PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN TATA USAHA NEGARA EDISI 2008 PEDOMAN TEKNIS ADMINISTRASI DAN TEKNIS PERADILAN TATA USAHA NEGARA EDISI 2008 MAHKAMAH AGUNG RI 2008 1 DAFTAR ISI Kata Pengantar... iii Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor : KMA/032/SK/IV/2007

Lebih terperinci

STANDARD OPERATING PROCEDURES (S.O.P) PENANGANAN PERKARA PERDATA PADA PENGADILAN NEGERI TENGGARONG

STANDARD OPERATING PROCEDURES (S.O.P) PENANGANAN PERKARA PERDATA PADA PENGADILAN NEGERI TENGGARONG STANDARD OPERATING PROCEDURES (S.O.P) PENANGANAN PERKARA PERDATA PADA PENGADILAN NEGERI TENGGARONG No TAHAPAN PELAKSANA DASAR 1. Penerimaan berkas perkara Kepaniteraan Perdata (Petugas Meja Pertama) 2.

Lebih terperinci

I. TEKNIS ADMINISTRASI A. PENGADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR IYAH 1. Penerimaan Perkara a. Pendaftaran Perkara Tingkat Pertama 1) Sistem pelayanan

I. TEKNIS ADMINISTRASI A. PENGADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR IYAH 1. Penerimaan Perkara a. Pendaftaran Perkara Tingkat Pertama 1) Sistem pelayanan I. TEKNIS ADMINISTRASI A. PENGADILAN AGAMA/MAHKAMAH SYAR IYAH 1. Penerimaan Perkara a. Pendaftaran Perkara Tingkat Pertama 1) Sistem pelayanan perkara di pengadilan agama/mahkamah syar'iyah menggunakan

Lebih terperinci

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1

BAB I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 LAMPIRAN : Keputusan Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia Nomor : Kep-04/BAPMI/11.2002 Tanggal : 15 Nopember 2002 Nomor : Kep-01/BAPMI/10.2002 Tanggal : 28 Oktober 2002 PERATURAN DAN ACARA BADAN ARBITRASE

Lebih terperinci

RUMUSAN HASIL KOMISI BIDANG TEKNIS YUSTISIAL. : 1. Pengarahan Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama MARI

RUMUSAN HASIL KOMISI BIDANG TEKNIS YUSTISIAL. : 1. Pengarahan Direktur Jenderal Badan Peradilan Agama MARI RUMUSAN HASIL KOMISI BIDANG TEKNIS YUSTISIAL Rapat Kerja Daerah Pengadilan Tinggi Agama dengan Pengadilan Agama se wilayah Pengadilan Tinggi Agama Banten, dengan tema Meningkatkan peran Pengadilan Tinggi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1975 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1975 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1975 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 9 Juli 1991

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 9 Juli 1991 SURAT EDARAN MAHKAMAH AGUNG NOMOR 2 TAHUN 1991 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN BEBERAPA KETENTUAN DALAM UNDANG- UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) KEPANITERAAN PERDATA PENGADILAN NEGERI TANAH GROGOT. No AKTIVITAS PROSEDUR WAKTU

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) KEPANITERAAN PERDATA PENGADILAN NEGERI TANAH GROGOT. No AKTIVITAS PROSEDUR WAKTU 1 STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) KEPANITERAAN PERDATA PENGADILAN NEGERI TANAH GROGOT No AKTIVITAS PROSEDUR WAKTU 1. Penyelesaian Perkara : Penyelesaian Perkara : Pendaftaran gugatan dan permohonan,

Lebih terperinci

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA

KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA KETUA MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 01 TAHUN 2008 Tentang PROSEDUR MEDIASI DI PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. Bahwa mediasi

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG HUKUM ACARA PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

Permohonan diajukan ditempat kediaman istri atau tempat tinggal terakhir dimana suami istri bertempat tinnggal

Permohonan diajukan ditempat kediaman istri atau tempat tinggal terakhir dimana suami istri bertempat tinnggal A. Kata-kata Hukum Yang Digunakan Dalam Pengadilan 1. Cerai Talak, adalah tuntutan hak ke pengadilan (bisa dalam bentuk tulisan atau lisan) yang diajukan oleh seorang suami untuk bercerai dari Istrinya.

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

SURAT KESEPAKATAN PERDAMAIAN TERINTEGRASI DALAM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA

SURAT KESEPAKATAN PERDAMAIAN TERINTEGRASI DALAM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA SURAT KESEPAKATAN PERDAMAIAN TERINTEGRASI DALAM PUTUSAN PENGADILAN AGAMA I. PENDAHULUAN Bahwa dalam beracara di Pengadilan Agama tidak mesti berakhir dengan putusan perceraian karena ada beberapa jenis

Lebih terperinci

Adapun dari sisi materi, perubahan materi buku II Edisi Revisi 2009, dibandingkan dengan Buku II Edisi 2009, adalah sebagai berikut :

Adapun dari sisi materi, perubahan materi buku II Edisi Revisi 2009, dibandingkan dengan Buku II Edisi 2009, adalah sebagai berikut : Perubahan Materi Adapun dari sisi materi, perubahan materi buku II Edisi Revisi 2009, dibandingkan dengan Buku II Edisi 2009, adalah sebagai berikut : 1. Penambahan 1 (satu) poin pada bagian Teknis Administrasi,

Lebih terperinci

PANDUAN MENGAJUKAN GUATAN CERAI

PANDUAN MENGAJUKAN GUATAN CERAI PANDUAN MENGAJUKAN GUATAN CERAI A. KATA-KATA HUKUM YANG DIGUNAKAN DALAM PENGADILAN Gugatan Cerai, adalah tuntutan hak ke pengadilan (bisa dalam bentuk tulisan atau lisan) yang diajukan oleh seorang istri

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor :XXX/Pdt.G/2012/PA.Ktbm

P U T U S A N Nomor :XXX/Pdt.G/2012/PA.Ktbm P U T U S A N Nomor :XXX/Pdt.G/2012/PA.Ktbm BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Kotabumi yang memeriksa dan mengadili perkara perdata dalam tingkat

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 08/PMK/2006 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM SENGKETA KEWENANGAN KONSTITUSIONAL LEMBAGA NEGARA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

P U T U S A N NOMOR 00/Pdt.G/2013/PTA.BTN BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N NOMOR 00/Pdt.G/2013/PTA.BTN BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N NOMOR 00/Pdt.G/2013/PTA.BTN BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Tinggi Agama Banten yang memeriksa dan mengadili perkara tertentu dalam tingkat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG MAHKAMAH MAHASISWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG MAHKAMAH MAHASISWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG IKATAN KELUARGA MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2009 TENTANG MAHKAMAH MAHASISWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN PERWAKILAN MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA Menimbang

Lebih terperinci

TERGUGAT DUA KALI DIPANGGIL SIDANG TIDAK HADIR APAKAH PERLU DIPANGGIL LAGI

TERGUGAT DUA KALI DIPANGGIL SIDANG TIDAK HADIR APAKAH PERLU DIPANGGIL LAGI TERGUGAT DUA KALI DIPANGGIL SIDANG TIDAK HADIR APAKAH PERLU DIPANGGIL LAGI Oleh: H.Sarwohadi, S.H.,M.H., (Hakim PTA Mataram). A. Pendahuluan Judul tulisan ini agak menggelitik bagi para pambaca terutama

Lebih terperinci

PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA. Oleh: NY. BASANI SITUMORANG, SH., M.Hum. (Staf Ahli Direksi PT Jamsostek)

PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA. Oleh: NY. BASANI SITUMORANG, SH., M.Hum. (Staf Ahli Direksi PT Jamsostek) PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL DAN PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA Oleh: NY. BASANI SITUMORANG, SH., M.Hum. (Staf Ahli Direksi PT Jamsostek) PENERAPAN HUKUM ACARA PERDATA KHUSUS PENGADILAN HUBUNGAN

Lebih terperinci

PEDOMAN DASAR EKSAMINASI PUTUSAN

PEDOMAN DASAR EKSAMINASI PUTUSAN I. PENDAHULUAN PEDOMAN DASAR EKSAMINASI PUTUSAN Putusan/Penetapan yang sudah diminutasi paling lambat 14 hari setelah dijatuhkan, apabila putusan tersebut sudah berkekuatan hukum tetap (in cracht van gewijsde)

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor : 96 /Pdt.G/2011/PTA.Bdg.

P U T U S A N Nomor : 96 /Pdt.G/2011/PTA.Bdg. 1 P U T U S A N Nomor : 96 /Pdt.G/2011/PTA.Bdg. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Tinggi Agama Bandung yang mengadili perkara perdata dalam tingkat banding,

Lebih terperinci

HAKIM SALAH MEMBAGI BEBAN BUKTI GAGAL MENDAPATKAN KEADILAN ( H. Sarwohadi, S.H.,M.H., Hakim Tinggi PTA Mataram )

HAKIM SALAH MEMBAGI BEBAN BUKTI GAGAL MENDAPATKAN KEADILAN ( H. Sarwohadi, S.H.,M.H., Hakim Tinggi PTA Mataram ) HAKIM SALAH MEMBAGI BEBAN BUKTI GAGAL MENDAPATKAN KEADILAN ( H. Sarwohadi, S.H.,M.H., Hakim Tinggi PTA Mataram ) A. Pendahuluan Pembuktian merupakan bagian dari tahapan pemeriksaan perkara dalam persidangan

Lebih terperinci

PROSEDUR DAN PROSES BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA

PROSEDUR DAN PROSES BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA PROSEDUR DAN PROSES BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA I.A. Prosedur Dan Proses Penyelesaian Perkara Cerai Talak PROSEDUR Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon (suami) atau kuasanya : 1. a. Mengajukan

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DI KPPU KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DI KPPU KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DI KPPU KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan transparansi dan

Lebih terperinci

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

STANDAR PELAYANAN KEPANITERAAN PERDATA PENGADILAN

STANDAR PELAYANAN KEPANITERAAN PERDATA PENGADILAN STANDAR PELAYANAN KEPANITERAAN PERDATA PENGADILAN Jenis No. Pelayanan 1 Pelayanan Permohonan Dasar Hukum Persyaratan Mekanisme & Prosedur Jangka Waktu Biaya Kompetensi Pelaksana Pasal 120 Pemohon 1. Permohonan

Lebih terperinci

SALINAN P U T U S A N Nomor : 72/Pdt.G/2011/PTA.Bdg.

SALINAN P U T U S A N Nomor : 72/Pdt.G/2011/PTA.Bdg. SALINAN P U T U S A N Nomor : 72/Pdt.G/2011/PTA.Bdg. BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Tinggi Agama Bandung telah memeriksa dan mengadili perkara perdata

Lebih terperinci

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI Menimbang:

Lebih terperinci

Tahapan Berperkara TAHAPAN PROSES BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA. {tab=pendaftaran Tingkat Pertama} PENDAFTARAN PERKARA TINGKAT PERTAMA

Tahapan Berperkara TAHAPAN PROSES BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA. {tab=pendaftaran Tingkat Pertama} PENDAFTARAN PERKARA TINGKAT PERTAMA Tahapan Berperkara TAHAPAN PROSES BERPERKARA DI PENGADILAN AGAMA {tab=pendaftaran Tingkat Pertama} PENDAFTARAN PERKARA TINGKAT PERTAMA Pihak berperkara datang ke Pengadilan Agama dengan membawa surat gugatan

Lebih terperinci

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N Nomor 31/Pdt.G/2015/PTA Mks. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Tinggi Agama Makassar yang memeriksa dan mengadili perkara perdata pada

Lebih terperinci

TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO

TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO TATA CARA DAN MEKANISME PEMBERIAN BANTUAN HUKUM DALAM PERKARA PERDATA PELAYANAN PERKARA PRODEO Syarat-Syarat Berperkara Secara Prodeo 1. Anggota masyarakat yang tidak mampu secara ekonomis dapat mengajukan

Lebih terperinci

Beberapa Catatan tentang Perubahan. pada Buku II Edisi Revisi 2009

Beberapa Catatan tentang Perubahan. pada Buku II Edisi Revisi 2009 Sekilas Buku II Beberapa Catatan tentang Perubahan pada Buku II Edisi Revisi 2009 Bagi tenaga teknis peradilan (hakim dan kepaniteraan), keberadaan Buku Pedoman Teknis Administrasi dan Teknis Peradilan

Lebih terperinci

PERATURAN KOMIS I INFORMASI NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KOMIS I INFORMASI NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN KOMIS I INFORMASI NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK DI PENGADILAN

PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK DI PENGADILAN PERATURAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK DI PENGADILAN MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. Keterbukaan Informasi

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor 100/Pdt.G/2013/PTA.Mks BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N Nomor 100/Pdt.G/2013/PTA.Mks BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N Nomor 100/Pdt.G/2013/PTA.Mks BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Tinggi Agama Makassar yang memeriksa dan mengadili perkara tertentu pada

Lebih terperinci

KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA JAKARTA

KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA JAKARTA KEJAKSAAN AGUNG REPUBLIK INDONESIA JAKARTA Nomor Sifat Lampiran Perihal : B-018/G/4/1999 : Biasa : : Petunjuk pelaksanaan beberapa ketentuan dalam UU Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENANGANAN LAPORAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENANGANAN LAPORAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENANGANAN LAPORAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI YUDISIAL REPUBLIK

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor 23/Pdt.G/2014/PTA.Mks

P U T U S A N Nomor 23/Pdt.G/2014/PTA.Mks P U T U S A N Nomor 23/Pdt.G/2014/PTA.Mks بسم الله الرحمن الرحيم DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Tinggi Agama Makassar yang memeriksa dan mengadili perkara tertentu pada tingkat

Lebih terperinci

بسم هللا الرحمن الرحيم

بسم هللا الرحمن الرحيم P U T U S A N Nomor : XXX/Pdt.G/2012/MS-ACEH بسم هللا الرحمن الرحيم DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Mahkamah Syar iyah Aceh yang mengadili perkara Cerai Talak pada tingkat banding dalam

Lebih terperinci

TENTANG DUDUK PERKARANYA

TENTANG DUDUK PERKARANYA 1 P U T U S A N Nomor: 0631/Pdt.G/2013/PA.Pas BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pasuruan yang memeriksa dan mengadili perkara perdata pada tingkat

Lebih terperinci

Gugatan Sederhana. Buku Saku

Gugatan Sederhana. Buku Saku Buku Saku Gugatan Sederhana DISUSUN OLEH Mahkamah Agung Republik Indonesia, Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) dan Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Indepedensi Peradilan (LeIP) 2015 Buku

Lebih terperinci

PENGGUGAT/ KUASANYA. Ketua Pengadilan Negeri menunjuk Majelis Hakim, dan Panitera menunjuk Panitera Pengganti. Kepaniteraan

PENGGUGAT/ KUASANYA. Ketua Pengadilan Negeri menunjuk Majelis Hakim, dan Panitera menunjuk Panitera Pengganti. Kepaniteraan PROSES PENYELESAIAN PERKARA PIDANA DI PENGADILAN NEGERI PROSES PENYELESAIAN PERKARA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI KEJAKSAAN NEGERI KEPANITERAAN PIDANA PENGGUGAT/ KUASANYA KEPANITERAAN PERDATA Berkas diterima

Lebih terperinci

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM

MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BADAN PERADILAN UMUM Lampiran: Surat Keputusan Direktur Jenderal Badan Peradilan Umum Nomor : 353/DJU/SK/HM02.3/3/2015 Tanggal : 24 Maret 2015 PROSEDUR PENGGUNAAN DAN SUPERVISI APLIKASI SISTEM INFORMASI PENELUSURAN PERKARA

Lebih terperinci

STANDAR PELAYANAN PERADILAN PENGADILAN NEGERI TANAH GROGOT

STANDAR PELAYANAN PERADILAN PENGADILAN NEGERI TANAH GROGOT STANDAR PELAYANAN PERADILAN PENGADILAN NEGERI TANAH GROGOT A. Pendahuluan Guna menjamin pelaksanaan tugas peradilan yang transparan dan memberikan pelayanan yang berkualitas bagi masyarakat pencari keadilan

Lebih terperinci

EKSEPSI KOMPETENSI RELATIF DALAM PERKARA PERCERAIAN DI PERADILAN AGAMA. Drs. H. Masrum M Noor, M.H EKSEPSI

EKSEPSI KOMPETENSI RELATIF DALAM PERKARA PERCERAIAN DI PERADILAN AGAMA. Drs. H. Masrum M Noor, M.H EKSEPSI 1 EKSEPSI KOMPETENSI RELATIF DALAM PERKARA PERCERAIAN DI PERADILAN AGAMA Drs. H. Masrum M Noor, M.H I EKSEPSI Eksepsi (Indonesia) atau exceptie (Belanda) atau exception (Inggris) dalam istilah hukum acara

Lebih terperinci

SEKITAR PEMERIKSAAN SETEMPAT DAN PERMASALAHANNYA ( Oleh : H. Sarwohadi, S.H.,M.H. Hakim Tinggi PTA Mataram )

SEKITAR PEMERIKSAAN SETEMPAT DAN PERMASALAHANNYA ( Oleh : H. Sarwohadi, S.H.,M.H. Hakim Tinggi PTA Mataram ) SEKITAR PEMERIKSAAN SETEMPAT DAN PERMASALAHANNYA ( Oleh : H. Sarwohadi, S.H.,M.H. Hakim Tinggi PTA Mataram ) A. Pendahuluan : 1. Pengertian Pemeriksaan Setempat Pemeriksaan Setempat atau descente ialah

Lebih terperinci

K E J U R U S I T A A N Oleh: Drs. H. MASRUM M NOOR, M.H (Hakim Tinggi PTA Banten)

K E J U R U S I T A A N Oleh: Drs. H. MASRUM M NOOR, M.H (Hakim Tinggi PTA Banten) K E J U R U S I T A A N Oleh: Drs. H. MASRUM M NOOR, M.H (Hakim Tinggi PTA Banten) A. DASAR HUKUM EKSISTENSI JURUSITA 1. Pasal 38 UU no 7/1989: Pada setiap pengadilan ditetapkan adanya Juru Sita dan Juru

Lebih terperinci

PUTUSAN Nomor : 80/Pdt.G/2011/PA.Pkc. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

PUTUSAN Nomor : 80/Pdt.G/2011/PA.Pkc. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PUTUSAN Nomor : 80/Pdt.G/2011/PA.Pkc. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pangkalan Kerinci yang memeriksa dan mengadili perkaraperkara tertentu

Lebih terperinci

STANDARD OPERATION PROCEDURE (SOP) PROSES PENDAFTARAN DAN PEMERIKSAAN PERKARA DI PENGADILAN TATA USAHA NEGARA

STANDARD OPERATION PROCEDURE (SOP) PROSES PENDAFTARAN DAN PEMERIKSAAN PERKARA DI PENGADILAN TATA USAHA NEGARA STANDARD OPERATION PROCEDURE (SOP) PROSES PENDAFTARAN DAN PEMERIKSAAN PERKARA DI PENGADILAN TATA USAHA NEGARA No. JENIS & URAIAN KEGIATAN BATAS WAKTU Jam Hari / Hari Kerja PELAKSANA KEPANITERAAN PERKARA

Lebih terperinci

PENETAPAN Nomor : 04/Pdt.P/2011/PA.Gst

PENETAPAN Nomor : 04/Pdt.P/2011/PA.Gst PENETAPAN Nomor : 04/Pdt.P/2011/PA.Gst BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Gunungsitoli yang memeriksa dan mengadili perkara Perdata Permohonan Penunjukan

Lebih terperinci

PUTUSAN Nomor: 105/Pdt.G/2012/PA.Pkc

PUTUSAN Nomor: 105/Pdt.G/2012/PA.Pkc PUTUSAN Nomor: 105/Pdt.G/2012/PA.Pkc BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pangkalan Kerinci yang memeriksa dan mengadili perkara cerai talak pada

Lebih terperinci

PUTUSAN. Nomor : 45/Pdt.G/2011/PA.PPg. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

PUTUSAN. Nomor : 45/Pdt.G/2011/PA.PPg. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PUTUSAN Nomor : 45/Pdt.G/2011/PA.PPg. BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pasir Pengaraian yang memeriksa dan mengadili perkara tertentu pada tingkat

Lebih terperinci

P U T U S A N NOMOR 0000/Pdt.G/2016/PTA.Btn

P U T U S A N NOMOR 0000/Pdt.G/2016/PTA.Btn P U T U S A N NOMOR 0000/Pdt.G/2016/PTA.Btn DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Tinggi Agama Banten yang memeriksa dan mengadili perkara Cerai Gugat dalam persidangan Majelis Hakim

Lebih terperinci

PUTUSAN. /Pdt.G/2014/PA.Ppg BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

PUTUSAN. /Pdt.G/2014/PA.Ppg BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PUTUSAN NOMOR: /Pdt.G/2014/PA.Ppg BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Pasir Pengaraian yang mengadili perkara Cerai Talak pada tingkat pertama, dalam

Lebih terperinci

SALINAN P U T U S A N. Nomor : 004/Pdt.G/2011/PTA.Bdg.

SALINAN P U T U S A N. Nomor : 004/Pdt.G/2011/PTA.Bdg. SALINAN P U T U S A N Nomor : 004/Pdt.G/2011/PTA.Bdg. BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Tinggi Agama Bandung yang mengadili perkara perdata dalam tingkat

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam

Lebih terperinci