STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS KECERDASAN MAJEMUK UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI DALAM PEMBELAJARAN. (Oleh: Lastiko Runtuwene)

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS KECERDASAN MAJEMUK UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI DALAM PEMBELAJARAN. (Oleh: Lastiko Runtuwene)"

Transkripsi

1 STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS KECERDASAN MAJEMUK UNTUK PENCAPAIAN KOMPETENSI DALAM PEMBELAJARAN (Oleh: Lastiko Runtuwene) 1. PENDAHULUAN Sudah cukup lama dalam dunia psikologi dan pendidikan para ahli mengukur tingkat kecerdasan manusia dari segi kemampuan atau kecerdasan Intelektual (Intellegence Quotient/IQ). Akan tetapi kenyataan dewasa ini banyak orang cerdas dalam arti IQ-nya tinggi, akan tetapi cerdas dalam mengkorupsi uang negara? Padahal uang negara adalah uang rakyat? Banyak orang pintar, hidup dengan kekayaan yang berlimpah akan tetapi mengapa mereka merasa hampa dalam kehidupan? Mengapa banyak sarjana yang terdidik tetapi masih menganggur? Mengapa banyak pelajar yang tawuran? Lantas pertanyaan muncul: Mengapa terjadi hal-hal seperti itu? Banyak usaha-usaha yang dilakukan untuk mencari dan menemukan serta menjawab persoalan-persoalan di atas. Salah satu hal yang yang berkembang dewasa ini adalah ternyata kesuksesan seseorang dalam hidup tidak cukup hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual saja. Atau dengan kata lain orang yang cerdas secara intelektual belum menjaminnya untuk dapat menghadapi segala tantang dan persoalan serta dinamika kehidupan yang sangat kompleks. Salah satu di antaranya adalah Howard Gardner (1983) yang menawarkan apa yang dinamakannya multiple intelligences (kecerdasan majemuk). Ia mengkritik cara mengukur kecerdasan seseorang hanya dari segi intelektual saja. Ia mengemukakan bahwa kesuksesan seseorang ditentukan oleh beberapa kecerdasan. Dalam bukunya Frame of Mind : The theory of multiple intelligences menyebutkan ada delapan jenis kecerdasan yakni kecerdasan linguistik, matematis-logis, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal dan naturalis (Efendi, 2005: ). Kemudian dalam penemuannya selanjutnya ia masih menambahkan lagi satu kecerdasan yakni kecerdasan eksistensial (Suparno, et.al, 2002: 46). Konsep kecerdasan majemuk merupakan suatu konsep yang inspiratif dan menantang untuk menjadi kajian teoretik ataupun implementasi emprik dalam dunia pendidikan dan pengajaran. 1

2 2. URGENSI PENERAPAN KECERDASAN MAJEMUK DALAM KURIKULUM Dalam dunia pendidikan sekarang khususnya di Indonesia, penerapan urikulum Berbasis Kompetensi dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan sudah dilaksanakan dalam waktu beberapa tahun terakhir. Dengan penerapan kurikulum ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang mampu mengimplementasikan pengetahuan, keterampilan dan sikapnya dalam pelbagai aspek kehidupan. Untuk mengimplementasikan seluruh pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam kehidupan maka seluruh kemampuan dan kecerdasan perlu dikembangkan. Dalam perspektif ini konsep dan teori kecerdasan majemuk sangat cocok dikembangkan di sekolah-sekolah sebagai pengembangan dan aplikasi dari sistem kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Semua sekolah di Indonesia dapat dipastikan sudah berupaya menerapkan sistem KBK dan disempurnakan dengan KTSP. Akan tetapi apakah konsep kecerdasan majemuk sudah mendapat perhatian dalam pembelajaran di sekolah-sekolah sebagai upaya untuk mengaplikasikan sistem KBK dan KTSP? Memang perlu diakui bahwa banyak guru mengalami kesulitan dalam penerapan sistem kurikulum tersebut, disebabkan kerena banyak faktor, antara lain ketersediaan sarana dan prasarana, pemahaman yang tepat tentang kurikulum serta konsep kecerdasan majemuk yang belum memadai. Salah satu upaya untuk dapat menerapkan konsep kecerdasan majemuk dalam kurikulum dan pembelajaran adalah menyangkut strategi pembelajaran. Para guru perlu memahami tentang konsep kurikulum, kecerdasan majemuk sekaligus juga menyangkut strategi pembelajarannya. Strategi pembelajaran sangat penting karena di dalamnya termuat langkah-langkah konseptual, strategik dan sistematis tentang cara pengajaran sehingga dapat mencapai kompetensi dalam pembelajaran. Unsur-unsur dalam strategi pembelajaran antara lain adalah kegiatan pembelajaran guru dan siswa, materi dan prosedur pembelajaran, dan pendekatan dalam pebelajaran. Sedangkan strategi pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk pada hakekatnya adalah upaya mengoptimalkan kecerdasan majemuk yang dimiliki setiap siswa untuk mencapai kompetensi tertentu yang dituntut oleh suatu kurikulum. 3. KONSEP STRATEGI PEMBELAJARAN Strategi pembelajaran menurut Kemp (1995) adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dick and Carey (1885) menyebutnya suatu set materi dan prosedurn pembelajran 2

3 yang dipergunakan secara bersama-sama untuk menimbulkan hasil belajar pada siswa. Sedangkan Gerlach dan Ely (1978) menyebutnya sebagai suatu pendekatan guru terhadap penggunaan informasi, mulai dari pemilihan sumber belajar sampai kepada menetapkan peranan siswa dalam pembelajaran. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu pendekatan dalam mengorganisasikan komponen-komponen pembelajaran yang dibutuhkan untuk mencpai tujuan pembelajaran (hasil belajar). Dalam pembelajaran di sekolah, strategi pembelajaran pada umumnya dirancang oleh guru sesuai dengan kebutuhan mata pelajaran yang dikelolahnya. Sesungguhnya pendekatan ini sudah baik, bila dilakukan secara benar dan konsisten. Namun ada kalanya guru terjebak hanya pada upaya menghabiskan materi pelajaran semata. Menurut Conny Semiawan (2002), strategi pembelajaran yang hanya berupaya menghabiskan materi pelajaran kurang memberikan makna bagi siswa. Oleh karena itu pendekatan yang sudah ada selama ini perlu dikembangkan lebih lanjut, agar peristiwa pembelajaran mampu memberikan makna bagi siswa yang belajar. Hal ini dapat dilakukan dengan efektif, bila saja sumber daya manusia (dalam hal ini pengajar) mampu mengaitkan setiap materi yang diajarkan dengan kehidupan siswa sehari-hari. Pieget (1977), dalam teori ekuilibrasinya sesungguhnya sudah menganjurkan agar dalam proses [pembelajaran) seharusnya ada pengalaman logis yang diberikan kepada siswa, sehingga siswa merasakan kegunaan materi yang dipelajarinya dan mendorong terjadinya perubahan yang terus-menerus dalam belajar. Sedangkan menurut Gordon Dryden dan Jeannette Vos (2000), dalam buku mereka The Learning Revolution, mengatakan bahwa ciri utama pembelajaran yang bermakna adalah di mana siswa dapat merasakan manfaat dari materi pelajaran yang dipelajarinya di sekolah dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang senada juga dikemukakan oleh Bobby De Porter (1999), dalam bukunya Quantum Learning bahwa pembelajaran harus memberikan manfaat bagi siswa yang belajar. Untuk itu guru harus mampu menciptakan keterkaitan suatu topik dengan kehidupan siswa sebagai kunci dalam strategi pembelajaran yang bermakna. Dengan kata lain apabila suatu strategi pembelajaran mampu memberikan makna bagi siswa mengenai apa yang dipelajarinya, sesungguhnya guru sudah melakukan pembelajaran yang berbasis kompetensi. Strategi pembelajaran meliputi hal-hal: 1) menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan perilaku belajar, 2) menentukan pilihan berkenaan dengan sistem pendekatan terhadap masalah belajar mengajar, 3) memilih prosedur, motode dan teknik pembelajaran, 4) norma dan kriteria keberhasilan kegiatan pembelajaran (Sagala, 2003: ). 3

4 4. KECERDASAN MAJEMUK Kecerdasan majemuk (Multiple Intelligences/MI) lahir sebgai koreksi terhadap konsep kecerdasan yang dikembangkan oleh Alfed Binet (1904), yang meletakkan dasar kecerdasan seseorang pada Intelligences Quotient (IQ) saja. Berdasarkan tes IQ yang dikembangkannya, Binet menempatkan kecerdasan seseorang dalam rentang skala tertentu yang menitikberatkan pada kemampuan berbahasa dan logika semata. Dengan kata lain apabila seseorang pandai dalam bahasa dan logika, maka ia pasti memiliki IQ yang tinggi. Tes yang dikembangkan Binet ini, menurut Gardner (1983) belum mengukur kecerdasan seseorang sepenuhnya, sebab tes IQ Binet baru mewakili sebagian kecerdasan yang ada. Gardner mengemukakan bahwa kecerdasan bukan hanya pada satu faktor saja, melainkan ada majemuk, yakni, kecerdasan linguistik, matematik - logis, spasial, kinestetik-jasmani, musikal, interpersonal, intrapersonal, aturalis dan (R. Situmorang, dalam Prawiradilaga & Siregar, 2004: 61). Gardner mengemukakan bahwa kecerdasan adalah serangkaian keterampilan (a set of skills) dalam memecahkan masalah-membuat seseorang mampu memecahkan kembali maslah-masalah atau kesulitan-kesulitan yang dihadapinya, menciptakan produk yang efektifdan harus mencakup potensi menemukan atau memecahkan masalah (Efendi, 2005:93). Secara singkat dapat dikatakan bahwa kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk dapat menghadapi segala persoalan dan tantangan hidup dengan setting (latar) yang berbedabeda. Kecerdasan lingustik adalah kemampuan menggunakan kata secara efektif, baik lisan maupun tertulis. Selain itu kecerdasan ini juga meliputi kemampuan memanipulsai struktur bahasa, fonologi atau bunyi bahasa, semantik atau makna bahasa, dimensi pragmatik atau penggunaan praktis bahasa, hafalan, eksplanasi dan metabahasa. Kecerdasan matematis-logis adalah kemampuan menggunakan angka dengan baik dan melakukan penalaran yang benar. Kecerdasan ini juga meliputi kepekaan pada pola dan hubungan logis, pernyataan dan dalil, fungsi logika dan kemampuan abtraksi-abtraksi lainnya. Kecerdasan spasial adalah kemampuan mengekspresi dunia spasial-visual secara akurat dan kemampuan mentransformasikan persepsi dunia spasial-visual tersebut dalam pelbagai aspek kehidupan. Selain itu kecerdasan ini juga meliputi kepekaan terhadap warna, garis, bentuk dan hubungan antar unsur. Kemampuan membayangkan, mempresentasikan ide secara visual atau spasial, dan mengorientsikan diri secara tepat dalam praktek matrik spasial. Kecerdasan Kinestetik-jasmani adalah keahlian menggunakan seluruh tubuh untuk mengekspresikan ide dan perasaan, keterampilan 4

5 menggunakan tangan untuk menciptakan sesuatu, dan kemampuankemampuan fisik yang spesifik seperti : keseimbangan, kekuatan, kelenturan, kecepatan dan hal-hal yang berkaitan dengan sentuhan. Kecerdasan musikal adalah kemampuan mengapresiasi pelbagai bentuk musikal, membedakan, menggubah dan mengekspresikannya. Kecerdasan ini juga meliputi kepekaan terhadap irama, pola nada atau melodi, dan warna nada atau warna suara suatu lagu. Kecerdasan intrapersonal adalah kemampuan memahami diri sendiri dan bertindak berdasarkan pemahaman tersebut. Selain itu kecerdasan ini juga meliputi kesadaran akan suasana hati, maksud, motivasi, temperamen, keinginan, berdisiplin diri, dan kemampuan menghargai diri. Kecerdasan naturalis adalah kemampuan mengenali dan menkategorikan spesies flora dan fauna di lingkungan sekitar. Kecerdasan ini juga meliputi kepekaan terhadap fenomena-fenomena alam lainnya, dan kemampuan membedakan benda-benda tak hidup dengan benda-benda hidup lainnya. Gardner mengemukakan bahwa setiap orang untuk mencapai kesuksesan dalam hidup hidup harus memiliki beberapa kecerdasan. Bukan berarti harus semua (8 kecerdasan ) ada pada seseorang. Barangkali 2-4 kecerdasan, akan tetapi satu yang menonjol. 5. PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN BERBASIS KECERDASAN MAJEMUK Penerapan strategi pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk, dapat ditempuh dengan: (1) memberdayakan semua jenis kecerdasan yang ada pada setiap mata pelajaran; (2) Mengoptimalkan pencapaian mata pelajaran tertentu berdasarkan kecerdasan yang menonjol pada masing-masing siswa; (3) Mengoptimalkan pengelolaan kelas yang variatif Memberdayakan semua jenis kecerdasan pada setiap mata pelajaran Memberdayakan semua jenis kecerdasan pada setiap mata pelajaran adalah ibarat meng-iput informasi melalui delapan jalur ke dalam otak memori siswa. Bloom (1956) menekankan pada tiga ranah/domain yang ada, yaitu: kognitif, efektif dan psikomotor. Gardner menekankan pada delapan kecerdasan yang dimiliki setiap siswa. Secara empirik untuk menerapkan strategi pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk dapat dilakukan: a. Merumuskan kompetensi dasar dan indikator dengan basis kecerdasan majemuk, baik dalam silabus dan RPP. 5

6 b. Menetapkan pendekatan dan metode pembelajaran yang variatif sesuai dengan semua atau beberapa kecerdasan. c. Menetapkan kegiatan-kegiatan/aktivita pembelajaran yang merangsang kecerdasan majemuk. d. Menetapkan jenis/bentuk tes dan rumusan butir soal berbasis kecerdasan majemuk Mengoptimalkan pencapaian mata pelajaran tertentu berdasarkan kecerdasan yang menonjol pada masing-masing siswa Strategi kedua yang dapat ditempuh apabila secara faktual guru telah mengidentifikasikan kecerdasan yang menonjol pada masingmasing siswa. Gardner selalu mengingatkan bahwa ada satu atau lebih kecerdasan yang menonjol pada masing-masing individu (siswa). Bila disadari hal ini, mengapa tidak mengoptimalkannya sebagai jati dirinya, meskipun untuk bidang yang lainnya harus puas dengan standar minimal yang ditetapkan oleh masing-masing lembaga. Dalam penerapan tahap kedua ini strategi pembelajaran yang digunakan lebih bersifat personal atau individual. Siswa yang memiliki kecerdasan linguistik misalnya, akan dioptimalkan pencapaian hasil belajarnya pada mata pelajaran Bahasa dan sastra. Sedangkan mereka yang mempunyai kecerdasan matematis-logis misalnya, akan diarahkan pada pencapaian hasil belajar mata pelajaran matematika seoptimal mungkin. Bagi mereka yang memiliki kecerdasan spasial dapat dioptimalkan dengan menggunakan media visual atau menggunakan peta konsep. Bagi mereka yang memiliki kecerdasan kinestetik-jasmani dapat diaktifkan dengan gerakan-gerakan tertentu. Misalnya dapat mengekspresikan suatu pesan dengan bahasa tubuh. Sedangkan belajar dengan alunan musik atau alat musik dapat mengoptimalkan belajar mereka yang memiliki kecerdasan musikal. Mereka yang memiliki kecerdasan interpersonal dapat dioptimalkan dengan cara belajar interaksi sosial seperti diskusi dan wawancara. Mereka yang memiliki kecerdasan intrapersonal dapat dioptimalkan dengan cara belajar merenung, berefleksi, proyek/tugas individu dan pada tempat yang agak sepi Mengoptimalkan Pengelolaan Kelas yang Variatif Penerapan pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk untuk mencapai kompetensi pada dasarnya adalah bagaimana membantu siswa mendapatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap secara aktif. Melvin L. Siberman (2004:6) menunjukkan beberapa alternatif pengelolaan kelas supaya siswa aktif: 6

7 a. Proses belajar satu kelas penuh. Pembelajaran yang dipimpin oleh guru yang menstimulasi seluruh siswa. b. Diskusi kelas: dialog dan debat tentang persoalan-persoalan utama. c. Pengajuan pertanyaan: siswa mengajukan pertanyaan dan meminta penjelasan. d. Kegiatan belajar kolaboratif: tugas dikerjakan secara bersama dalam kelompok kecil. e. Pengajaran oleh tema sekelas (tutor sebaya): pengajaran dilakukan oleh siswa sendiri. f. Kegiatan belajar mandiri: aktivitas belajar yang dilakukan secara persorangan. g. Kegiatan belajar aktif: kegiatan yang membantu siswa memahami perasaan, nilai-nilai dan sikap mereka. h. Pengembangan keterampilan: mempelajari dan mempraktekkan keterampilan, baik teknis maupun non-teknis. Penerapan strategi pembelajaran berbasis kecerdasan majemuk untuk mencapaian kompetensi pembelajaran menuntut adanya penataan (setting) kelas yang variatif dan menarik. Sistem berpindah kelas (moving class) merupakan salah contoh yang dilakukan sesuai dengan tuntutan kebutuhan belajar kecerdasan tertentu. Penggunaan metode juga menuntut adanya variasi metode seperti: ceramah, tanyajawab, diskusi, observasi, wawancara, studi tour, studi lapangan, eksperimen, dramatisasi, refleksi, menggunakan musik, dsb (bdk, Soetopo, ). Penggunaan media pembelajaran juga harus variatif juga, misalnya carta, skema, flow chart, diagram, sampai pada alat peraga alam, dsb (Sadiman, et.al., 2003). Sistem penilaian tidak cukup hanya menggunakan tes objektif. Tes yang dikembangkan harus lebih variatif, mulai dari uraian, pengamatan, tugas pribadi sampai pada penggunaan portofolio. 6. Penutup Pada dasarnya setiap siswa memiliki karakteristik potensi dan kecerdasan sendiri. Potensi tinggal menjadi potensi, tidak akan bermanfaat apabila tidak dikembangkan. Potensi siswa yang sudah dikembangkan dan sudah menjadi kemampuan untuk menghadapi persoalan hidup, itulah yang disebut dengan kecerdasan. Pencapaian-pencapaian kompetensi dalam pendidikan membutuhkan strategi pembelajaran. Kompetensi dapat dicapai dengan mengembangkan kecerdasan-kecerdasan yang ada pada para siswa, yakni memberdayakan potensi mereka untuk berkembang. Strategi pembelajaran yang tepat akan membantu para siswa mencapai kompetensi dan lebih dari pada itu membantu memberdayakan potensi mereka menjadi kecerdasan. 7

8 KEPUSTAKAAN DePorter Bobbi dan Mike Hernacki, 1992, Quantum Learning, New York : Dell Publising, diterjemahkan oleh Alwiyah Abdurahman, Bandung: P.T. Mizan Pustaka. Dryden Gordon dan Vos Jeannette, 1999, The Learning Revolution, Selandia Baru: The Learning Web, Penyunting: Ahmat Baiquini, 2003, Bandung : P.T. Mizan Pustaka. Efendi Agus, 2005, Revolusi Kecerdasan, Bandung: Alfabeta. Moleong J. Lexy, 2005, Metodologi Peneltian Kualitatif, Bandung: Remaja Rosdakarya. Mudyahardjo Redja, 2004, Filsafat Ilmu Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya. Nggermanto Agus, 2001, Quantum Quotient (kecerdasan Quantum), Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia, Pidarta Made, 2004, Manajemen Pendidikan Indonesia, Jakarta: Rineka Cipta. Prawiradilaga Dewi Salma dan Siregar Eveline, 2004, Mozaik Teknologi Pendidikan, Jakarta : Universitas Negeri Jakarta. Sagala Syaiful, 2003, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: CV Alfabeta. Sadiman S. Arief, (et.al), 2003, Media Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo Persada. Silberman L. Melvin, 2004, Active Learning, 101 Cara Belajar Siswa Aktif, Bandung: Nusamedia & Nuansa. Soetopo Hendyat, 2005, Pendidikan dan Pembelajaran, Teori, Permasalahan dan Praktek, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Sugiyono, 2002, Metode Penelitian Administratisi, Bandung: Alfabeta. Sukmadinata Nana Syaodih, 2005, Metode Penelitian Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya. Suparno Paul (et. al), 2002, Reformasi Pendidikan Sebuah Rekomendasi, Yogyakarta : Kanisius. Tilaar, H.A.R, 2004, Manajamen Pendidikan Nasional, Bandung: Remaja Rosdakarya. Wenger Win, 2000, Beyond Teaching and Learning, Project Renaisance, Gaithersburg, diterjemahkan oleh Ria Sirait dan Purwanto, Bandung: Yayasan Nuansa Cendekia. Tomohon, Januari 2012 Materi ini disusun dan dipresentasekan untuk pembinaan-pembinaan guru dan KKG & MGMP Agama Katolik Kota Tomohon 8

9 9

MATA KULIAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK

MATA KULIAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK MATERI KULIAH MATA KULIAH PERKEMBANGAN PESERTA DIDIK Oleh: Maryati, M.Pd SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP) BIMA JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SOSIOLOGI

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam Winataputra, 2008:1.5) yang menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan

Lebih terperinci

Unit 1 KONSEP DASAR ASESMEN PEMBELAJARAN. Endang Poerwanti. Pendahuluan. aldo

Unit 1 KONSEP DASAR ASESMEN PEMBELAJARAN. Endang Poerwanti. Pendahuluan. aldo aldo Unit 1 KONSEP DASAR ASESMEN PEMBELAJARAN Endang Poerwanti Pendahuluan K ompetensi mengajar adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh semua tenaga pengajar. Berbagai konsep dikemukakan untuk

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MODEL BAHAN AJAR PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP BERBASIS LOKAL DALAM MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL.

PENGEMBANGAN MODEL BAHAN AJAR PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP BERBASIS LOKAL DALAM MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL. PENGEMBANGAN MODEL BAHAN AJAR PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP BERBASIS LOKAL DALAM MATA PELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL 1 Syukri Hamzah A. PENDAHULUAN Dampak dan hasil pendidikan lingkungan hidup yang telah

Lebih terperinci

PROSES PEMBELAJARAN INKLUSI UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) KELAS V SD NEGERI GIWANGAN YOGYAKARTA

PROSES PEMBELAJARAN INKLUSI UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) KELAS V SD NEGERI GIWANGAN YOGYAKARTA PROSES PEMBELAJARAN INKLUSI UNTUK ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) KELAS V SD NEGERI GIWANGAN YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga

Lebih terperinci

Skripsi. disajikan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Oleh. Muhamad Farid 1401409015

Skripsi. disajikan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Oleh. Muhamad Farid 1401409015 PENINGKATAN HASIL BELAJAR OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT MELALUI MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA REALISTIK BERBASIS TEORI BELAJAR BRUNER PADA SISWA KELAS IV SDN KALIGAYAM 02 KABUPATEN TEGAL Skripsi disajikan

Lebih terperinci

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 Tentang STANDAR Proses UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH Badan Standar Nasional Pendidikan Tahun 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA 28 BAB II KAJIAN PUSTAKA 3. Hasil Belajar Matematika 3. Hasil Belajar Kemampuan untuk melakukan suatu kegiatan belajar semua diperoleh mengingat mula-mula kemampuan itu belum ada. Maka terjadilah proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan secara historis telah ikut menjadi landasan moral dan etik

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan secara historis telah ikut menjadi landasan moral dan etik BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan secara historis telah ikut menjadi landasan moral dan etik dalam proses pembentukan jati diri bangsa. Di samping itu pendidikan juga merupakan variabel

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar. Sarjana Pendidikan Islam. Oleh: Muhammad Ansori 11508045

SKRIPSI. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar. Sarjana Pendidikan Islam. Oleh: Muhammad Ansori 11508045 PENERAPAN MODEL MIND MAPPING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA ILMU PENGETAHUAN SOSIAL PADA SISWA KELAS V MADRASAH IBTIDAIYAH MA ARIF KARANGASEM KECAMATAN WONOSEGORO KABUPATEN BOYOLALI TAHUN 2012/2013

Lebih terperinci

Bahan Ajar Pengembangan Asesmen Kinerja dan Portofolio dalam Pembelajaran Sejarah Oleh Yani Kusmarni

Bahan Ajar Pengembangan Asesmen Kinerja dan Portofolio dalam Pembelajaran Sejarah Oleh Yani Kusmarni Bahan Ajar Pengembangan Asesmen Kinerja dan Portofolio dalam Pembelajaran Sejarah Oleh Yani Kusmarni Pengantar Miles & Huberman (1984) mengemukakan bahwa telah terjadi lompatan paradigma (the shifting

Lebih terperinci

Skripsi disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Skripsi disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATERI POKOK SIFAT-SIFAT BANGUN DATAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 2 KALIKAJAR KALIGONDANG PURBALINGGA

Lebih terperinci

NI KOMANG SRI YULIANTARI NPM.:

NI KOMANG SRI YULIANTARI NPM.: SKRIPSI MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BANGUN RUANG SISI DATAR MELALUI IMPLEMENTASI CTL DENGAN BANTUAN ALAT PERAGA PADA SISWA KELAS V A SD NEGERI 10 KESIMAN TAHUN

Lebih terperinci

PENGGUNAAN LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOLOGI

PENGGUNAAN LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOLOGI PENGGUNAAN LINGKUNGAN SEKOLAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR BIOLOGI St. Syamsudduha Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Alauddin Makassar Kampus II: Jalan Sultan Alauddin Nomor

Lebih terperinci

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN Masrinawatie AS Pendahuluan P endapat yang mengatakan bahwa mengajar adalah proses penyampaian atau penerusan pengetahuan sudah ditinggalkan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Tinjauan tentang Standar Proses

BAB II KAJIAN TEORI. A. Tinjauan tentang Standar Proses 17 BAB II KAJIAN TEORI A. Tinjauan tentang Standar Proses Standar proses pendidikan berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran yang berarti dalam standar proses pembelajaran berlangsung. Penyusunan standar

Lebih terperinci

ANALISIS KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA MELALUI PENDEKATAN INKUIRI PADA KONSEP SISTEM KOLOID

ANALISIS KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA MELALUI PENDEKATAN INKUIRI PADA KONSEP SISTEM KOLOID ANALISIS KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA MELALUI PENDEKATAN INKUIRI PADA KONSEP SISTEM KOLOID SKRIPSI Oleh WINDA SYAFITRI 105016200562 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA TIGA DIMENSI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

PENGGUNAAN MEDIA TIGA DIMENSI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA PENGGUNAAN MEDIA TIGA DIMENSI UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA (Penelitian Tindakan Kelas di MI Terpadu Fatahillah Cimanggis Depok) Skripsi Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Lebih terperinci

Berpusat beragam serta bagaimana membuat anak bermakna untuk semua. Pada Anak. Perangkat 4.1 Memahami Proses Pembelajaran dan Peserta Didik 1

Berpusat beragam serta bagaimana membuat anak bermakna untuk semua. Pada Anak. Perangkat 4.1 Memahami Proses Pembelajaran dan Peserta Didik 1 Panduan Buku ini membantu Anda memahami bagaimana konsep belajar berubah ke kelas yang berpusat pada anak. Buku ini memberikan ide-ide bagaimana menangani anak di kelas Anda dengan latar belakang dan kemampuan

Lebih terperinci

KONSEP DAN METODE PEMBELAJARAN UNTUK ORANG DEWASA (ANDRAGOGI)

KONSEP DAN METODE PEMBELAJARAN UNTUK ORANG DEWASA (ANDRAGOGI) KONSEP DAN METODE PEMBELAJARAN UNTUK ORANG DEWASA (ANDRAGOGI) Oleh: Drs. Asmin, M. Pd Staf Pengajar Unimed Medan (Sedang mengikuti Program Doktor di PPS UNJ Jakarta) Abstrak. Membangun manusia pembangunan

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR, PENGAJUAN HIPOTESIS

BAB II KERANGKA TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR, PENGAJUAN HIPOTESIS BAB II KERANGKA TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR, PENGAJUAN HIPOTESIS A. Kerangka Teoritis 1. Hakikat Model Pengajaran Langsung (Direct Instruction) Pengajaran langsung telah digunakan oleh beberapa peneliti

Lebih terperinci

MEMANFAATKAN LINGKUNGAN SEKITAR SEBAGAI SUMBER BELAJAR DENGAN TEMA LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR

MEMANFAATKAN LINGKUNGAN SEKITAR SEBAGAI SUMBER BELAJAR DENGAN TEMA LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR MEMANFAATKAN LINGKUNGAN SEKITAR SEBAGAI SUMBER BELAJAR DENGAN TEMA LINGKUNGAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS III SEKOLAH DASAR Nila Dwi Susanti Jurusan Pendikan Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu

Lebih terperinci

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATERI BANGUN DATAR MELALUI MEDIA PUZZLE PADA SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR NEGERI KEMANDUNGAN 03 TEGAL

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATERI BANGUN DATAR MELALUI MEDIA PUZZLE PADA SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR NEGERI KEMANDUNGAN 03 TEGAL i PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATERI BANGUN DATAR MELALUI MEDIA PUZZLE PADA SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR NEGERI KEMANDUNGAN 03 TEGAL Skripsi disajikan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh

Lebih terperinci

penting dalam pengertian belajar, yaitu sebagai berikut:

penting dalam pengertian belajar, yaitu sebagai berikut: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Hasil Belajar Akuntansi a. Pengertian Hasil Belajar Akuntansi Belajar merupakan suatu kebutuhan mutlak setiap manusia. Tanpa belajar manusia tidak dapat bertahan

Lebih terperinci

SKRIPSI OLEH : LUH PUTU DIANI SUKMA NPM : 07.8.03.51.30.1.5.1069

SKRIPSI OLEH : LUH PUTU DIANI SUKMA NPM : 07.8.03.51.30.1.5.1069 i SKRIPSI MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAI PADA SISWA KELAS V SDN 8 DAUH PURI

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Proses Pembelajaran Kata pembelajaran berasal dari kata dasar belajar, dalam arti sempit, pembelajaran merupakan suatu proses belajar agar seseorang dapat melakukan

Lebih terperinci

Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan. Oleh :

Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan. Oleh : PENGARUH PENGGUNAAN ALAT PERAGA TERHADAP HASIL BELAJAR OPERASI HITUNG PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN BILANGAN BULAT SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR ISLAM DARUL MU MININ LARANGAN Skripsi Diajukan Kepada Fakultas

Lebih terperinci

SKRIPSI. untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan. oleh. : Ishmatul Maula NIM : 2101409172. : Bahasa dan Sastra Indonesia FAKULTAS BAHASA DAN SENI

SKRIPSI. untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan. oleh. : Ishmatul Maula NIM : 2101409172. : Bahasa dan Sastra Indonesia FAKULTAS BAHASA DAN SENI i PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA CEPAT UNTUK MENEMUKAN IDE POKOK MENGGUNAKAN METODE P2R DAN QUESTION DENGAN POLA HORIZONTAL PADA SISWA KELAS X.1 MA SALAFIYAH SIMBANGKULON BUARAN PEKALONGAN TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

Tugasku Sehari-hari. http://bse.kemdikbud.go.id. Diunduh dari. Tema 3. Buku Guru SD/MI Kelas II. Buku Tematik Terpadu K urikulum 2013

Tugasku Sehari-hari. http://bse.kemdikbud.go.id. Diunduh dari. Tema 3. Buku Guru SD/MI Kelas II. Buku Tematik Terpadu K urikulum 2013 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia 2014 K U R IKU L M U 2013 Tema 3 Tugasku Sehari-hari Tugasku Sehari-hari Buku Tematik Terpadu K urikulum 2013 Buku Guru SD/MI Kelas II Hak Cipta

Lebih terperinci

MODEL PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

MODEL PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MODEL PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA 2014

Lebih terperinci