BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal"

Transkripsi

1 31 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Dan Waktu Penelitian 1. Lokasi penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lapangan Asrama PPLP Sumatera Utara di Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal 2. Waktu penelitian Penelitian akan direncanakan akan dilaksanakan pada bulan Desember 2012 atau setelah proposal ini diseminarkan dan mendapat ijin penelitian dari fakultas B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh atlet atletik PPLP Sumatera Utara yang berjumlah 16 orang. Terdiri dari 6 orang laki laki dan 10 orang perempuan. 2. Sampel Sampel yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah keseluruhan anggota populasi atau sampel total yang berjumlah 16 orang. 31 2

2 32 C. Metode Penelitian Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian yang telah diuraiakan sebelumnya, bahwa penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui Kondisi Fisik atlet atletik Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) SUMUT Tahun Adapun metode penelitian menggunakan metode diskriftip kualitatif dengan teknik studi kepustakaan. D. Instrumen Penelitian Penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan Kondisi Fisik Atlet Atletik PPLP SUMUT. I. Item Tes Sesuai Nomor Cabang Atletik 1. Rangkaian tes Atletik Nomor Sprint 1) Lari 30 Meter 2) Loncat Tegak 3) Loncat Dada 4) Lari 300 Meter 5) Sit Up 6) Duduk Berselunjur dan Meraih (Sit and Reach) 7) Lari Meter 2. Rangkaian tes Atletik Nomor Jarak Menengah dan Jauh 1) Lari 30 Meter 2) Sit Up 3) Lari 300 Meter 4) Duduk Berselunjur dan Meraih (Sit and Reach)

3 33 5) Loncat tiga kali 6) Duduk Pada Tembok 7) Lari 15 menit tes Balke 3. Rangkaian tes Atletik Nomor Lempar 1) Lari 30 Meter 2) Sit Up 3) Loncat Tegak 4) Jingkat tiga kali 5) Pull Up. 6) Duduk Berselunjur dan Meraih (Sit and Reach) 7) Lari 15 menit tes Balke 4. Rangkaian tes Atletik Nomor Lompat 1) Lari 30 Meter 2) Sit Up 3) Loncat Tegak 4) Jingkat tiga kali 5) Duduk Berselunjur dan Meraih (Sit and Reach) 6) Duduk Pada Tembok 7) Lari 15 menit tes Balke 5. Rangkaian tes Atletik Nomor Jalan 1) Lari 30 Meter 2) Sit Up 3) Lari 300 Meter

4 34 4) Jingkat tiga kali 5) Duduk Berselunjur dan Meraih (Sit and Reach) 6) Duduk Pada Tembok 7) Lari 15 menit tes Balke (Sumber: (2003) Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta) II. Uraian Pelaksanaan Rangkaian Tes 1) Tes Kecepatan dengan melakukan tes lari 30 meter Tujuan Alat/ Fasilitas : Mengukur komponen kecepatan : lintasan 30 meter datar, rata, tidak licin, Stopwatch, alat tulis, meteran, peluit dan bendera, serbuk kapur Petugas tes : 1. Petugas keberangkatan (Starter) 2. Pengukur waktu merangkap pencatat hasil, 3. pengawas lintasan Prosedur pelaksanaan tes lari 30 meter sebagai berikut : a. Atlet siap berdiri dibelakang garis start b. Dengan aba-aba siap atlet siap berlari dengan start berdiri c. Dengan aba-aba ya atlet berlari secepatnya- cepatnya dengan menempuh jarak 30 meter sampai melewati garis akhir d. Kecepatan lari dihitung dari saat aba-aba ya e. Pencatatan waktu dilakukan sampai dengan perseratus detik (0,01 detik) f. Tes dilakukan dua kali. Pelari melakukan tes berikutnya setelah berselang minimal satu pelari. Kecepatan lari yang terbaik yang dihitung

5 35 g. Atlet dinyatakan gagal apabila melewati atau menyeberang lintasan lainnya Tabel.7. Norma Kecepatan Lari 30 Meter (Sumber: (2003) Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta) No Norma Prestasi (detik )putra Prestasi (detik )putri 1. Baik Sekali Baik Sedang Kurang Kurang Sekali ) Tes Lari 300 Meter Tujuan : untuk mengukur kemampuan kapasitas anaerobik seorang atlet dalam lari menempuh jarak 300 meter. Peralatan : lintasan lari datar, stopwatch, alat tulis dan formulir. Prosedur pelaksanaan tes lari 300 meter sebagai berikut : a. Dengan aba-aba bersedia testi dengan siap berdiri dibelakang garis start b. Dengan aba-aba siap testi dengan start berdiri siap lari. c. Dengan aba-aba yak bersamaan dengan bendera start terangkat testi lari secepat-cepatnya menempuh jarak 300 meter.

6 36 Tabel.8. Norma Tes Lari 300 Meter (Sumber: (2003) Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta) No Norma Prestasi Putra (detik) Prestasi Putri (detik) 1. Baik Sekali Baik Sedang Kurang Kurang Sekali ) Tes Loncat Tegak (Vertical Jump) Tujuan Alat/ Fasilitas : Mengukur komponen Daya Ledak otot tungkai. (1) Papan berskala senti meter, warna gelap, berukuran 30 x 150 cm, dipasang pada dinding atau tiang. Jarak antara lantai dengan angka 0 (nol) pada skala yaitu 200 cm. (2)lantai datar, rata, (3)alat tulis, (4)serbuk kapur (5)alat penghapus. Petugas tes : 1. Pengamat papan meteran merangkap Pencatat hasil, 2. pengamat gerakan. Prosedur pelaksanaan tes Vertical Jump sebagai berikut: a. Gantungkan papan ukuran lompat tegak ditembok (dinding). b. Atlet berdiri menyamping dari kaki kanan / kiri merapat ketembok. c. Tangan kanan/kiri berkapur diluruskan keatas setinggi-tingginya dan disentuhkan pada papan ukuran lompat tegak. Bekas sentuhan yang tertinggi merupakan tinggi raihan. Atlet siap melompat.

7 37 d. Atlet melompat setinggi-tingginya dengan bantuan ayunan kedua lengannya e. Saat melompat, sentuhkan jari-jari tangan yang berkapur kepapan ukuran Gambar 1. Tes Vertical Jump posisi bersiap sampai saat melakukan Catatan: 1) Selisih raihan loncatan dikurangi raihan tegak. 2) Ketiga selisih raihan dicatat dan diambillah raihan terbaik. Tabel.9. Norma Tes Vertical Jump (Sumber: (2003) Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta) No Norma Prestasi Putra (cm) Prestasi Putri (cm) 1. Baik Sekali 92 - Keatas 65 - Keatas 2. Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Kebawah 51 Kebawah 41

8 38 4) Tes Loncat Dada Tujuan mengukur kukuatan otot-otot kaki dan pernafasan. Peralatan : Tally Counter, alat tulis dan formulir, stopwatch. Gambar.2. testi berdiri tegak. Gambar.3. testi berada di atas (loncat). Prosedur pelaksanaan Loncat Dada sebagai berikut : a. Setiap testi (orang coba) diamati seorang tester (petugas tes). b. Dengan aba-aba bersedia testi berdiri bebas mengambil tempat tidak saling mengganggu satu dan lainnya. c. Dalam aba-aba siap testi siap meloncat. d. Pada aba-aba yak bersamaan dengan stopwatch dijalankan testi meloncat keatas dengan kedua kaki bertolak bersama. Kedua tungkai bawah kebawah (tidak kebelakang) sehingga tapak kaki 25 cm diatas lantai/tanah.

9 39 e. Pelaksanaan benar dihitung sekali dan testi melakukan loncat dada sebanyak mungkin selama 60 detik. f. Pelaksanaan yang salah tidak dihitung, apabila saat meloncat keatas tapak kaki kurang 25 cm diatas lantai. Tabel.10. Norma Tes Loncat Dada (Sumber: (2003) Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta) No Norma Prestasi Putra (cm) Prestasi Putri (cm) 1. Baik Sekali 123 Keatas 112 Keatas 2. Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Kebawah 30 Kebawah 25 5) Tes Loncat Tiga Kali Tujuan Peralatan : mengukur daya eksplosif kedua kaki/tubuh. : bak lompat/matras, pita pengukur jarak, alat tulis dan formulir. Prosedur pelaksanaan tes Loncat tiga kali sebagai berikut : a. Bila dengan bak lompat testi berdiri pada papan lompat, bila dengan matras testi berdiri dibelakang garis batas. b. Testi berdiri dengan telapak kaki sejajar pada papan loncat atau dibelakang garis batas.

10 40 c. Dengan gerakan ditempat (persiapan meloncat) kemudian meloncat sejauh-jauhnya bertolak dengan kedua kaki bersama dan mendarat, dilanjutkan loncatan kedua dan dilanjutkan lagi loncatan yang ketiga. d. Jarak loncatan dicatat dari papan loncat sampai dengan batas loncatan yang ketiga dalam cm. e. Testi melakukan tes dua kali berurutan. Gambar.4. Sikap awal dan akan melakukan pendaratan loncatan Tabel.11. Norma Tes Loncat Tiga Kali (Sumber: (2003) Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta) No Norma Prestasi Putra (cm) Prestasi Putri (cm) 1. Baik Sekali Baik Sedang Kurang Kurang Sekali 6.74 kebawah 5.39 kebawah

11 41 6) Tes Duduk Pada Tembok Tujuan Alat/ Fasilitas : Mengukur komponen daya tahan kekuatan otot paha. : tembok/papan tegak lurus dengan lantai datar, Stopwatch, alat tulis. Petugas tes : 1. Pengamat waktu, 2. Penghitung gerakan merangkap pencatat hasil. Gambar 6. Tes duduk pada tembok. Prosedur pelaksanaan tes pengukuran daya tahan kukuatan otot paha : a. Atlet berdiri mendekat tembok. Pada saat aba-aba siap testi menempatkan kedua tapak kaki sejajar 20 cm dan lurus kedepan. Pantat merapat tembok, tungkai bawah tegak lurus, paha mendatar sehingga tungkai bawah dan paha bersudut kedua lengan lurus kebawah. Bersama dengan sikap betul tersebut, beri aba-aba yak dan stopwatch dijalankan. Testi mempertahankan sikap betul tersebut selama mungkin.

12 42 b. Kemampuan menahan sikap duduk pada tembok atau yang betul dihitung sampai dengan 0,01 (perseratus detik) stopwatch dihentikan saat testi tidak dapat menahan sikap yang benar. Sikap salah bila paha tidak mendatar, kedua tangan menahan paha, tungkai bawah dan paha tidak bersudut Tabel.12. Norma Tes Duduk Pada Tembok (Sumber: (2003) Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta) No Norma Prestasi (detik )putra Prestasi (detik )putri 1. Baik Sekali 5:21 Keatas 5:01 Keatas 2. Baik 4:21 5:20 4:01 5:00 3. Sedang 3:21 4:20 3:01 4:00 4. Kurang 2:01 3:20 2:01 3:00 5. Kurang Sekali Kebawah 2:00 Kebawah 2:00 7) A. Tes Pull Up (Bergantung Angkat Tubuh) untuk putra Tujuan : untuk mengukur daya tahan kekuatan otot-otot lengan dan bahu. Untuk putri dengan tes BST (bergantung siku tekuk). Peralatan : (1) palang tunggal tinggi 2,5 3,0 meter garis tengah 3 5 cm (2) alat tulis dan formulir. (3) alat penghitung (4) bangku untuk dipindah-pindah (5) kapur (6) bangku (alat bantu). Petugas tes : 1 (satu) orang pengawas/pembantu, sekaligus penghitung dan pencatat. Prosedur pelaksanaan tes Pull-Up (Bergantung Angkat Tubuh) sebagai berikut: a. Testi berdiri dibawah palang tunggal, bergantung pegangan kearah depan.

13 43 b. Testi bergantung dengan kedua lengan lurus dan badan tidak bergerak lagi setelah itu testi segera membengkokkan kedua lengan dan mengangkat tubuh sampai dagu berada diatas palang tunggal kemudian kembali bergantung dengan kedua lengan lurus. Selanjutnya angkat lagi tubuh sampai dagu diatas palang tunggal dan turun lagi bergantung lengan lurus. c. Jumlah berapa kali testi mengangkat tubuh sampai dagu diatas palang tunggal, menunjukkan jumlah testi dapat melakukan Pull-Up. d. Pull-Up dinyatakan betul, apabila pada waktu mengangkat tubuh tidak didahului dengan mengayunkan kedua kaki kedepan atau kebelakang. e. Pelaksanaan Pull-Up dilakukan sebanyak mungkin selama 60 detik. f. Pull-Up dinyatakan gagal jika testi melepaskan kedua tangan dari papan tunggal. Gambar. 7. Sikap bersiap dan saat melakukan tes Pull-Up

14 44 Tabel.13. Norma Tes Pull-Up (Sumber: (2003) Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta) No Norma Prestasi putra 1. Baik Sekali 24 Keatas 2. Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Kebawah 2 8. Tes bergantung siku tekuk (Flexed Arm Hang) untuk putri Tes ini dapat untuk putri atau putra. Tujuan : untuk mengukur kekuatan statis dan daya tahan otot-otot lengan dan bahu. Peralatan dan tester sama dengan Pull-Up. Prosedur pelaksanaan tes bergantung siku tekuk sebagai berikut: a. Testi menggosokkan tangan pada kapur, kemudian testi naik bangku, kedua tangan memegang palang tunggal dengan pegangan kedepan (tapak tangan menghadap kedepan). b. Kedua siku ditekuk sehingga dagu diatas palang tunggal. c. Setelah aba-aba yak bersamaan stopwatch dijalankan dan bangku diambil oleh tester, testi berusaha menahan sikap dagu diatas palang tunggal tersebut selama mungkin. d. Stopwatch dihentikan atau tes dihentikan bila dagu bertumpu pada palang tunggal atau dibawah palang tunggal.

15 45 e. Hasil yang dicatat ialah waktu yang dicapai testi dari aba-aba ya sampai teti tidak mampu lagi melakukannya (dagu menumpang diatas palang tunggal) waktu dihitung sampai dengan 0,01 detik (perseratus detik). Gambar. 8. Sikap bersiap dan saat melakukan Flexed Arm Hang. Tabel.14. Norma Tes Bergantung Siku Tekuk. (Sumber: Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta,2003) No Norma Prestasi putri 1. Baik Sekali 60 Keatas 2. Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Kebawah 1

16 46 9. Tes Sit-Up Tujuan Alat/Fasilitas : mengukur kekuatan dan ketahanan otot perut. : 1. Lantai/lapangan rumput yang rata dan bersih, 2.Stopwatch, 3. Alat tulis, 4.Alas/tikar/matras. Petugas tes : 1. Pengamat waktu, 2. Penghitung gerakan merangkap pencatat hasil. Gambar. 9. Gerakan Sit-Ups permulaan dan ujung siku menyentuh lutut Prosedur pelaksanaan tes baring-duduk lutut tekuk (sit-up) selama 1 menit : a. Atlet berbaring telentang, kedua tangan dibelakang tengkuk, dan kedua siku lurus kedepan. b. Kedua lutut ditekuk 45 0 dan telapak kaki tetap dilantai. c. Bersamaan dengan aba siap atlet siap melakukannya. d. Bersamaan dengan aba-aba ya alat ukur pengukur waktu dijalankan, kemudian atlet mengangkat tubuh, kedua siku menyentuh lutut, dan kembali berbaring atau kesikap pemula. e. Lakukan gerakan sebanyak-banyaknya selama 60 detik.

17 47 Catatan: 1) Gerakan tidak dihitung jika tangan terlepas, sehingga jari-jarinya tidak terjalin lagi. 2) Kedua siku tidak sampai menyentuh paha. 3) Mempergunakan sikunya untuk membantu menolak tubuh. Tabel.15. Norma Tes Sit Up (Sumber: (2003) Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta) No Norma Prestasi Putra Prestasi Putri 1. Baik Sekali 70 Keatas 70 Keatas 2. Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Kebawah 21 Kebawah Tes Duduk Berlunjur dan Meraih (Sit and Reach) Tujuan Alat/ Fasilitas : Mengukur komponen kelentukan tubuh (Fleksibilitas). : tembok/papan tegak lurus dengan lantai datar, alat tulis, pita pengukur minimal 2 meter, serbuk kapur. Petugas tes : 1. Pengamat meteran merangkap Pencatat hasil. Prosedur pelaksanaan tes duduk berlunjur dan meraih : i. Pelaksanaan menduduki pita pengukur. Pita pengukur diletakkan lurus dilantai, dengan angka 0 (nol) pada tepi tembok. ii. Testi melepaskan sepatu dan kaos kaki, duduk berlunjur menduduki pita pengukur: pantat, punggung dan kepala merapat ketembok. Kedua kaki lurus kedepan dengan kedua lutut lurus. Panjang kaki dicatat sampai cm

18 48 penuh. Pengukuran dari tembok, kedua kaki kangkang, lutut tidak boleh bengkok. iii. Testi meraihkan kedua lengan kedepan sejauh mungkin dan menempatkan kedua jari-jari tangan pada pita sejauh mungkin. Tahap raihan tersebut minimal 3 (tiga) detik. Jauh raihan dicatat sampai dengan cm penuh. Lakukan raihan dua kali berurutan, dan jarak raihan terjauh yang dihitung. iv. Perhitungan jarak raihan ialah: ujung jari-jari tangan terpanjang dari masing-masing tangan dan jarak/yang terdekat yang dicatat diantara kedua tangan. v. Kelentukan tubuh diukur selisih antara jarak raihan dengan panjang kaki dalam cm. Gambar 10. Tes Sit and Reach posisi sebelum Gambar 11. Tes Sit and Reach posisi melakukan Catatan: (1) Skor dinyatakan batal dan diulang apabila posisi kaki dan bokong bergeser.

19 49 Tabel.16. Norma Tes Duduk berlunjur dan Meraih (Sumber: Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta,2003) No Norma Prestasi Putra Prestasi Putri 1. Baik Sekali 41 Keatas 46 Keatas 2. Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Kebawah 10 Kebawah Tes Lari Meter Tujuan : tujuan untuk mengukur daya tahan kerja jantung dan pernafasan atau mengukur VO 2 max. Peralatan : (1) lintasan lari 400 meter atau lintasan datar panjang 220 meter, (2) garis start dan garis finish, (3) stopwatch, alat tulis, dan formulir (4) bendera Start. Prosedur pelaksanaan tes Lari Meter sebagai berikut : a. Sejumlah testi sesuai dengan pengambil waktu dan jumlah stopwatch melakukan start bersama. Starter memberi aba-aba bersedia testi berdiri dibelakang garis start. b. Dengan aba-aba yak testi segera lari menempuh jarak jarak tersebut ditempuh secepat mungkin. Baik dengan lari dan kalau merasa lelah dapat diselingi berjalan. c. Tes lari meter dapat pula mengukur VO 2 max seseorang.

20 50 d. Pelaksanaanya seperti tes diatas, hanya pada waktu lintasan terakhir testi lari secepatnya dan sekuatnya dan sekuat-kuatnya. Kecepatan lari dicatat dalam menit dan detik dengan rumus : VO 2 max = 133,61 (13,89 x waktu lari) Keterangan : VO 2 Max : kapasitas aerobic (ml/kg.berat Badan /menit). Tes lari 1600 meter dapat pula untuk mengukur VO 2 max seseorang misal seseorang atlet bernama Parmonangan berlari 1600 m kecepatan larinya 5 menit 6 detik, estimasi VO 2 max ialah: 133,61 (13,89 x 5,6) = 62,8 ml/g/in. Tabel.17. Norma tes lari 1600 meter (Sumber: (2003) Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta) No Norma Prestasi (detik )putra Prestasi (detik )putri 1. Baik Sekali 5:08:50 5:40:40 6:05:50 7:05:40 2. Baik 5:40:50 7:08:40 7:05:50 8:35:40 3. Sedang 7:08:40 9:08:40 8:35:50 10:05:40 4. Kurang 9:08:50 10:08:40 10:05:50 11:35:40 5. Kurang Sekali 10:05:50 Kebawah 11:35:50 Kebawah

21 Tes Lari 15 Menit (Tes Balke) Tujuan : Mengetahui daya tahan jantung kerja jantung dan pernafasan. Alat/ Fasilitas (1) Lintasan lari datar dan rata (2) Stopwatch (3) Bendera start (4) Peluit (5) alat tulis, (6) serbuk kapur. Petugas tes : 1. Petugas keberangkatan (Starter) 2. Pengukur waktu merangkap pencatat hasil, 3. pengawas lintasan. Prosedur pelaksanaan tes Balke (lari 15 menit): i. Sampel berdiri dibelakang garis start. ii. Pada aba-aba ya sampel mulai berlari selama 15 menit, sampai ada tanda waktu 15 menit berakhir, dengan dibunyikannya peluit. iii. Skor yang dicatat adalah jarak yang ditempuh sampel selama 15 menit, dalam satuan meter, kemudian dimodifikasi menjadi skor sesuai dengan tabel yang tersedia. iv. Sebelum dikonversi kedalam tabel norma kondisi fisik atlet atletik dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: VO 2 Max = Keterangan : x _ meter x 0, ,3 VO 2 Max X : kapasitas aerobic (ml/kg.berat Badan /menit) : jarak yang ditempuh dalam meter 15 : waktu 15 menit

22 52 Tabel.18. Norma Tes Balke (lari 15 menit) (Sumber: (2003) Perkembangan Olahraga Terkini, Jakarta) No Norma Prestasi Aerobik Putra Prestasi Aerobik Putri 1. Baik Sekali Keatas Keatas 2. Baik Sedang Kurang Kurang Sekali Kebawah Kebawah Setelah skor kondisi fisik diperoleh maka selanjutnya dibandingkan dengan norma penilaian kondisi fisik atlet atletik. Sehingga dapat diketahui kategori keadaan kondisi fisik atlet atletik Pusat Pendidikan Dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) Sumatera Utara Tahun E. Teknik Analisis Data Untuk memberikan nilai pada setiap skor yang diperoleh dari setiap butir tes kondisi fisik sesuai dengan nomor cabang atletik, dilakukan dengan cara menotasikan skor tersebut dengan norma penilaian yang sesuai dengan jenis kelamin dan cabang olahraga bersangkutan, sehingga diperoleh kedudukan kategori skor tersebut dan bobot nilainya. Konversi nilai dari setiap kategori komponen fisik sesuai nomor cabang atletik adalah sebagai berikut:

23 53 Tabel 19. Konversi Nilai (Lutan, dkk. 1999:24) Kategori Baik Sekali Baik Cukup Kurang Kurang Sekali Konversi Selanjutnya untuk menentukan nilai secara keseluruhan kondisi fisik sampel dilakukan dengan cara: 1) Menjumlahkan konversi nilai skor dari dari setiap komponen kondisi fisik sesuai nomor cabang atletik sampel tersebut. 2) Hasil jumlah tersebut dalam butir tes di atas dibagi dengan banyaknya komponen kondisi fisik dasar dari cabang olahraga yang bersangkutan. 3) Hasil ini kemudian dinotasikan ke dalam tabel kategori status kondisi fisik sampel seperti tersebut dalam tabel berikut ini Tabel 20. Rentang Nilai (Lutan, dkk. 1999:24) Rentang Nilai Kategori Baik Sekali 8,0 9.5 Baik 6,0 7.9 Cukup 4,0 5,9 Kurang 2,0 3,9 Kurang sekali Dari tabel diatas dapat dijelaskan bahwa jika pada item tes sampel berada pada kategori baik (tabel 13), maka skor yang diperoleh per-item adalah 6, karena

24 54 jumlah tes yang dilakukan sebanyak 7 item disetiap nomor cabang masing-masing maka skor setiap item itu dijumlahkan sehingga diperoleh skor 42. Selanjutnya jumlah skor tersebut dibagi jumlah item (42/7) maka diperoleh hasil 6. Hasil skor 6 ini selanjutnya dikonversikan ke tabel 14, maka diperoleh hasil sampel tersebut pada kategori baik. Demikian selanjutnya untuk sampel yang lain. Setelah diketahui berapa sampel yang mendapat nilai/predikat sempurna, baik sekali, baik, cukup, dan kurang, maka jumlah keseluruhan diklasifikasikan kedalam persentase yang mempunyai rumus: P = F / N x 100 % Keterangan : P = Jumlah Persentase F = Frekuensi Jawaban atau Jumlah sampel yang mendapat predikat N = Jumlah Responden (keseluruhan sampel) % = Persentase Jawaban Sehingga dapat diketahui berapa persenkah klasifikasi atlet yang mendapat predikat sempurna, baik sekali, baik, cukup, dan kurang, Sehingga peneliti dapat menyatakan persentase atlet yang mendapat predikat.

PEMERIKSAAN KESEGARAN JASMANI ANAK USIA SEKOLAH LANJUTAN. Oleh: Cerika Rismayanthi, M.Or NIP

PEMERIKSAAN KESEGARAN JASMANI ANAK USIA SEKOLAH LANJUTAN. Oleh: Cerika Rismayanthi, M.Or NIP PEMERIKSAAN KESEGARAN JASMANI ANAK USIA SEKOLAH LANJUTAN Oleh: Cerika Rismayanthi, M.Or NIP 19830127 200604 2 001 Dalam lokakarya kesegaran jasmani yang dilaksanakan pada tahun 1984 Tes Kesegaran Jasmani

Lebih terperinci

Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia. 1) lintasan lurus, datar, tidak licin, berjarak 30 meter, dan mempunyai

Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia. 1) lintasan lurus, datar, tidak licin, berjarak 30 meter, dan mempunyai Lampiran Petunjuk Pelaksanaan TKJI Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia Petunjuk Pelaksanaan Tes 1. Lari 40 meter a. Tujuan Tes lari ini adalah untuk mengetahui atau mengukur kecepatan.

Lebih terperinci

Lampiran 8. Petunjuk Pelaksanaan Tes Tes Kesegaran Jasmani Indonesia untuk Umur tahun TES KESEGARAN JASMANI INDONESIA UNTUK UMUR TAHUN

Lampiran 8. Petunjuk Pelaksanaan Tes Tes Kesegaran Jasmani Indonesia untuk Umur tahun TES KESEGARAN JASMANI INDONESIA UNTUK UMUR TAHUN Lampiran 8. Petunjuk Pelaksanaan Tes Tes Kesegaran Jasmani Indonesia untuk Umur 10-12 tahun TES KESEGARAN JASMANI INDONESIA UNTUK UMUR 10 12 TAHUN A. Rangkaian Tes Tes Kesegaran Jasmani Indonesia untuk

Lebih terperinci

Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian

Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian LAMPIRAN 51 Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian 52 Lampiran 2. Surat Ijin Riset/Survei/PKL 53 Lampiran 3. Surat Ijin Penelitian dari Sekolah PEMERINTAH KABUPATEN PURWOREJO DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Lebih terperinci

DOKUMEN INSTRUMEN PENILAIAN UJIAN KETERAMPILAN

DOKUMEN INSTRUMEN PENILAIAN UJIAN KETERAMPILAN DOKUMEN INSTRUMEN PENILAIAN UJIAN KETERAMPILAN SELEKSI BERSAMA MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI 2015 PROSEDUR PELAKSANAAN DAN RUBRIK PENILAIAN UJIAN KETERAMPILAN BIDANG KEOLAHRAGAAN 1. MATERI UJIAN Uji Keterampilan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Populasi, dan Sampel Penelitian 1. Lokasi Lokasi yang dipilih untuk melakukan penelitian ini adalah di Lapangan Gasmin yang beralamat di Jln. Kuningan Antapani, Bandung.

Lebih terperinci

Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian

Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian LAMPIRAN 55 Lampiran 1. Surat Ijin Penelitian 56 Lampiran 2. Prosedur Pelaksanaan Tes PROSEDUR PELAKSANAAN TES 1. Lari 30 Meter a. Tujuan : untuk mengukur kecepatan lari menempuh jarak 30 meter b. Alat

Lebih terperinci

PROSEDUR PELAKSANAAN TES KONDISI FISIK DAN KETERAMPILAN BERMAIN SEPAKBOLA. Tujuan : Tes ini bertujuan untuk mengukur daya tahan aerobic seseorang

PROSEDUR PELAKSANAAN TES KONDISI FISIK DAN KETERAMPILAN BERMAIN SEPAKBOLA. Tujuan : Tes ini bertujuan untuk mengukur daya tahan aerobic seseorang Lampiran 3 PROSEDUR PELAKSANAAN TES KONDISI FISIK DAN KETERAMPILAN BERMAIN SEPAKBOLA 1. Tes multistage Fitness Tujuan : Tes ini bertujuan untuk mengukur daya tahan aerobic seseorang Adapun prosedur pelaksanaan

Lebih terperinci

59

59 LAMPIRAN 58 59 60 61 62 63 64 65 66 PETUNJUK PELAKSANAAN TES KESEGARAN JASMANI INDONESIA (TKJI) UNTUK ANAK UMUR 10-12 1. Lari 40 meter a. Tujuan Tes ini bertujuan untuk mengukur kecepatan b. Alat dan fasilitas

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. serangkaian hipotesis dengan menggunakan teknik dan alat-alat tertentu

III. METODOLOGI PENELITIAN. serangkaian hipotesis dengan menggunakan teknik dan alat-alat tertentu III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metodologi penelitian adalah cara utama yang digunakan untuk mengadakan penelitian dalam mencapai tujuan, misalnya untuk mengkaji atau menguji serangkaian

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah

METODOLOGI PENELITIAN. digunakan untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian dapat diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data yang valid dengan tujuan dapat ditemukan, dikembangkan, dan dibuktikan suatu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. membuktikan sesuatu atau untuk mencari sebuah jawaban.

BAB III METODE PENELITIAN. membuktikan sesuatu atau untuk mencari sebuah jawaban. 42 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode adalah salah satu cara yang ditempuh dalam mencapai suatu tujuan. Sedangkan penelitian adalah penyelidikan yang dilakukan untuk membuktikan sesuatu

Lebih terperinci

untuk mengetahui hubungan antara kelincahan dan kekuatan power tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai

untuk mengetahui hubungan antara kelincahan dan kekuatan power tahun. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survai BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian korelasi, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelincahan dan kekuatan power tungkai dengan kemampuan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dan Kesehatan (FPOK) dan Gelanggang Olahraga Stadion Bumi Siliwangi

BAB III METODE PENELITIAN. dan Kesehatan (FPOK) dan Gelanggang Olahraga Stadion Bumi Siliwangi BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Populasi, dan Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian bertempat di Laboratorium Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) dan Gelanggang Olahraga

Lebih terperinci

TINGKAT KESEGARAN JASMANI MURID SD INPRES MALENGKERI SETINGKAT KOTA MAKASSAR PADA KELOMPOK USIA 10-12 TAHUN. Muhammad Adnan Hudain

TINGKAT KESEGARAN JASMANI MURID SD INPRES MALENGKERI SETINGKAT KOTA MAKASSAR PADA KELOMPOK USIA 10-12 TAHUN. Muhammad Adnan Hudain Hudain, Tingkat Kesegaran Jasmani Murid SD Inpres Malengkeri Setingkat Kota Makassar 31 TINGKAT KESEGARAN JASMANI MURID SD INPRES MALENGKERI SETINGKAT KOTA MAKASSAR PADA KELOMPOK USIA 10-12 TAHUN Muhammad

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. jasmani metode interval training dengan tugas latihan lompat segi-6, lompat segi-4

BAB III METODE PENELITIAN. jasmani metode interval training dengan tugas latihan lompat segi-6, lompat segi-4 BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji program pembinaan kebugaran jasmani metode interval training dengan tugas latihan lompat segi-6, lompat segi-4 dan

Lebih terperinci

KONDISI FISIK ATLET HOCKEY TIM JAWA TENGAH TAHUN 2007

KONDISI FISIK ATLET HOCKEY TIM JAWA TENGAH TAHUN 2007 KONDISI FISIK ATLET HOCKEY TIM JAWA TENGAH TAHUN 27 SKRIPSI Diajukan untuk menyelesaikan Studi Strata I Untuk mencapai Gelar Sarjana Sains Oleh: Nama : Sudarmo NIM : 6254325 Prgram studi : Ilmu Keolahragaan

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN KEBUGARAN JASMANI DENGAN SENAM IRAMA PADA SISWA KELAS I SD PELANGI BANGSA GROGOL S K R I P S I

UPAYA MENINGKATKAN KEBUGARAN JASMANI DENGAN SENAM IRAMA PADA SISWA KELAS I SD PELANGI BANGSA GROGOL S K R I P S I UPAYA MENINGKATKAN KEBUGARAN JASMANI DENGAN SENAM IRAMA PADA SISWA KELAS I SD PELANGI BANGSA GROGOL S K R I P S I Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.)

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. Menurut Arikunto Suharsimi (2006:160) Metodologi penelitian adalah cara

METODOLOGI PENELITIAN. Menurut Arikunto Suharsimi (2006:160) Metodologi penelitian adalah cara III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Dalam memecahkan suatu masalah diperlukan suatu cara atau metode, karena metode merupakan faktor yang penting dalam menentukan keberhasilan suatu penelitian.

Lebih terperinci

Latihan Kuatkan Otot Seluruh Badan

Latihan Kuatkan Otot Seluruh Badan Latihan Kuatkan Otot Seluruh Badan latihan dengan gerakan-gerakan berikut ini. "Saya seorang wanita berusia 30 tahun. Secara teratur, saya melakukan olahraga jalan pagi. Setiap latihan waktunya antara

Lebih terperinci

LOMPAT JANGKIT. Dalam lompat jangkit ada 3 tahapan yang harus dilaksanakan yaitu : 1. Tahapan Hop ( Jingkat ) Design by R2 Bramistra

LOMPAT JANGKIT. Dalam lompat jangkit ada 3 tahapan yang harus dilaksanakan yaitu : 1. Tahapan Hop ( Jingkat ) Design by R2 Bramistra LOMPAT JANGKIT Definisi lompat jangkit : Lompat jangkit disebut juga lompat-lompat tiga, karena dilakukan dengan tiga lompatan yaitu jingkat (hop), langkah (step), lompat (jump) atau jingkat langkah lompat.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Populasi Dan Sampel Dalam penelitian perlu dijelaskan populasi dan sampel yang dapat digunakan sebagai sumber data. Bila hasil penelitian akan digeneralisasikan (kesimpulan

Lebih terperinci

4) Hitungan 4 : berdiri tegak, langkahkan kaki kiri dan kedua lengan. Gambar 6.16 Gerakan ayunan lengan melingkar di atas kepala

4) Hitungan 4 : berdiri tegak, langkahkan kaki kiri dan kedua lengan. Gambar 6.16 Gerakan ayunan lengan melingkar di atas kepala b. Gerakannya 1) Hitungan 1 : kedua lengan diayunkan ke kanan melingkar ke dalam satu lingkaran di atas kepala. 2) Hitungan 2 : berdiri tegak, langkahkan kaki kanan dan kedua lengan lurus ke depan. 3)

Lebih terperinci

bab 1 gerak dasar kata kunci berjalan memutar melempar berlari mengayun menangkap melompat menekuk menendang

bab 1 gerak dasar kata kunci berjalan memutar melempar berlari mengayun menangkap melompat menekuk menendang bab 1 gerak dasar sumber www.sdialazhar14.wordpress.com tanggal 11 Juni 2009 kata kunci berjalan memutar melempar berlari mengayun menangkap melompat menekuk menendang meloncat menggiring setiap hari kamu

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Secara operasional, penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Secara operasional, penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Tujuan Operasional Penelitian Secara operasional, penelitian ini bertujuan untuk menguji perbedaan pengaruh pendekatan bermain dengan pendekatan konvesional terhadap kebugaran

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen tidak murni. Penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen tidak murni. Penelitian BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen tidak murni. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh latihan fartlek terhadap peningkatan daya

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN. sendiri (Suharsimi Arikunto, 1998:131). Berdasarkan tujuan dalam penelitian

METODOLOGI PENELITIAN. sendiri (Suharsimi Arikunto, 1998:131). Berdasarkan tujuan dalam penelitian III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah adalah suatu cara berfikir dan berbuat, yang dipersiapkan dengan baik untuk mengadakan suatu kegiatan penelitian dan untuk mencapai

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SMP/MTs :... Mata Pelajaran : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan Kelas/Semester : VII (Tujuh )/1 (satu) Alokasi Waktu : 6 x 40 menit (3 x pertemuan ) A. Standar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Olahraga voli merupakan salah satu cabang olahraga yang memasyarakat di Indonesia. Permainan ini sudah sangat populer dan digemari oleh masyarakat, dapat dibuktikan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. yang diteliti yang dijadikan sebagai alat untuk menganalisis hasil peneitian.

II. TINJAUAN PUSTAKA. yang diteliti yang dijadikan sebagai alat untuk menganalisis hasil peneitian. 10 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kerangka Teori Kerangka teori ini berisi tentang uraian teori- teori yang relevan dengan masalah yang diteliti yang dijadikan sebagai alat untuk menganalisis hasil peneitian.

Lebih terperinci

TINJAUAN TENTANG KONDISI FISIK PESILAT PADA PERGURUAN HIMPUNAN SENI SILAT SELURUH INDONESIA (HIMSSI) DI KECAMATAN BENAI

TINJAUAN TENTANG KONDISI FISIK PESILAT PADA PERGURUAN HIMPUNAN SENI SILAT SELURUH INDONESIA (HIMSSI) DI KECAMATAN BENAI 1 TINJAUAN TENTANG KONDISI FISIK PESILAT PADA PERGURUAN HIMPUNAN SENI SILAT SELURUH INDONESIA (HIMSSI) DI KECAMATAN BENAI Miki Marwilis SM, Drs. Slamet, M.Kes, AIFO,Drs. Yuherdi, S.Pd mikimarwilis@yahoo.com

Lebih terperinci

KEBUGARAN JASMANI DAN LATIHAN KEBUGARAN JASMANI

KEBUGARAN JASMANI DAN LATIHAN KEBUGARAN JASMANI I. Hakikat Latihan Kebugaran Jasmani II. KEBUGARAN JASMANI DAN LATIHAN KEBUGARAN JASMANI Latihan kondisi fisik (physical conditioning) memegang peranan yang sangat penting untuk mempertahankan atau meningkatkan

Lebih terperinci

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan May Sumarya Eso Suwarso Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan 2 Untuk Sekolah Dasar Kelas II i Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi Undang-undang. Pendidikan Jasmani

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 29 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian harus disesuaikan dengan masalah dan tujuan penelitian, hal ini dilakukan untuk kepentingan perolehan dan analisis data. Menurut sugiyono

Lebih terperinci

PROFIL TINGKAT KEBUGARAN JASMANI SISWA-SISWI KELAS IV, V, VI SDN JATIRASA V KOTA BEKASI TAHUN 2013

PROFIL TINGKAT KEBUGARAN JASMANI SISWA-SISWI KELAS IV, V, VI SDN JATIRASA V KOTA BEKASI TAHUN 2013 PROFIL TINGKAT KEBUGARAN JASMANI SISWA-SISWI KELAS IV, V, VI SDN JATIRASA V KOTA BEKASI TAHUN 2013 Mia Kusumawati 1, Yusman Nugraha Sutryadi 2 Universitas Islam 45 Bekasi miasubarno@gmail.com Abstrak Penelitian

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Berdasarkan tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui power otot

III. METODOLOGI PENELITIAN. Berdasarkan tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui power otot III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Berdasarkan tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui power otot tungkai, power otot lengan, kelentukan dan keseimbangan dengan hasil belajar kayang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. diantaranya dalam kamus olahraga, menurut Syarifudin (1985: 62) lompat

BAB II KAJIAN TEORI. diantaranya dalam kamus olahraga, menurut Syarifudin (1985: 62) lompat BAB II KAJIAN TEORI A. Deskripsi Teori 1. Hakikat Lompat Jauh Lompat jauh merupakan salah satu bagian dari nomor lompat dalam olahraga atletik. Ada banyak pakar yang mengartikan lompat jauh, diantaranya

Lebih terperinci

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan i Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi Undang-undang. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Untuk SD/MI Kelas III Penyusun : Wagino Juari Penelaah : Sukiri Editor : Febri

Lebih terperinci

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan May Sumarya Eso Suwarso Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan 4 Untuk Sekolah Dasar Kelas IV i Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi Undang-undang. Pendidikan Jasmani

Lebih terperinci

FORMAT RPP. Kompetensi Dasar : Melakukan teknik menyundul bola dengan baik. Siswa dapat Melakukan teknik menyundul bola dengan baik A.

FORMAT RPP. Kompetensi Dasar : Melakukan teknik menyundul bola dengan baik. Siswa dapat Melakukan teknik menyundul bola dengan baik A. Mata Pelajaran : PENJASORKES 2 Beban Belajar : 2 SKS Pertemuan (Minggu) ke : 1 Alokasi waktu : 2 X 45 menit FORMAT RPP Standar Kompetensi : 1. Mempraktikkan keterampilan permainan olahraga sepak bola dalam

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Atau Rancangan Penelitian dan Metode Pendekatan Jenis penelitian ini adalah explanatory research, yaitu penelitian yang menjelaskan hubungan antara variabel-variabel

Lebih terperinci

Deni Kurniadi Suro Prapanca Penjas Orkes Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah Kelas IV

Deni Kurniadi Suro Prapanca Penjas Orkes Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah Kelas IV Deni Kurniadi Suro Prapanca Penjas Orkes Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan untuk Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah Kelas IV Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi

Lebih terperinci

Jurnal Kesehatan Olahraga Vol.03 Nomor 03 Edisi Oktober Tahun 2015 halaman 36-45

Jurnal Kesehatan Olahraga Vol.03 Nomor 03 Edisi Oktober Tahun 2015 halaman 36-45 ARTIKEL E-JOURNAL UNESA PERBANDINGAN TINGKAT KEBUGARAN JASMANI SISWA LAKI LAKI KELAS VII DI KOTA DAN DI DESA (studi kasus pada tingkat aktivitas fisik siswa dan partisipasi kegiatan olahraga di Kabupaten

Lebih terperinci

Tolak Peluru. Presented By Suci Munasharah

Tolak Peluru. Presented By Suci Munasharah Tolak Peluru Presented By Suci Munasharah A. Teknik Dasar Tolak Peluru Terdapat beberapa teknik dasar dalam tolak peluru, diantaranya : Teknik Memegang Peluru Ada 3 teknik memegang peluru : Jari-jari direnggangkan

Lebih terperinci

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan Jalan cepat merupakan salah satu nomor dalam cabang atletik dan resmi diperlombakan dalam kejuaraan-kejuaraan atletik, baik nasional maupun internasional. Jalan cepat adalah gerak maju langkah kaki yang

Lebih terperinci

INSTRUMEN OBSERVASI PENILAIAN FUNGSI KESEIMBANGAN (SKALA KESEIMBANGAN BERG) Deskripsi Tes Skor (0-4) 1. Berdiri dari posisi duduk

INSTRUMEN OBSERVASI PENILAIAN FUNGSI KESEIMBANGAN (SKALA KESEIMBANGAN BERG) Deskripsi Tes Skor (0-4) 1. Berdiri dari posisi duduk INSTRUMEN OBSERVASI PENILAIAN FUNGSI KESEIMBANGAN (SKALA KESEIMBANGAN BERG) Deskripsi Tes Skor (0-4) 1. Berdiri dari posisi duduk 2. Berdiri tanpa bantuan 3. Duduk tanpa bersandar dengan kaki bertumpu

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SMP/MTs :... Mata Pelajaran Kelas/Semester Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan : VII (Tujuh )/1 (satu) : Mempraktikan

Lebih terperinci

untuk SD/MI SD/MI kelas V Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 49 Tahun 2009, tanggal 12 Agustus 2009

untuk SD/MI SD/MI kelas V Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 49 Tahun 2009, tanggal 12 Agustus 2009 untuk SD/MI V kelas Supardi Suroyo Penjasorkes untuk SD/MI kelas V 5 Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi Undang-undang. Penjasorkes untuk SD/MI kelas V Penulis : Supardi

Lebih terperinci

1. Olah Raga-- Studi dan Pengajaran I. Judul II. Khairul Hadziq III. Arief Kurniawan

1. Olah Raga-- Studi dan Pengajaran I. Judul II. Khairul Hadziq III. Arief Kurniawan i ii Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi Undang-Undang. Penyusun : Akhmad Olih Solihin Khairul Hadziq Editor : Arief Kurniawan Pewajah Isi : Rahmat Deedat Perancang Sampul

Lebih terperinci

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan 6

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan 6 Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi Undang-undang. Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan 6 untuk Siswa SD/MI Kelas VI Penyusun Editor Layout Perancang Sampul Ilustrator

Lebih terperinci

PUSAT PERBUKUAN Kementerian Pendidikan Nasional

PUSAT PERBUKUAN Kementerian Pendidikan Nasional PUSAT PERBUKUAN Kementerian Pendidikan Nasional Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi Undang-undang. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Untuk SD/MI Kelas V Penyusun

Lebih terperinci

Memperagakan teknik dasar permainan dan olahraga berdasarkan konsep yang benar dan memiliki sikap serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

Memperagakan teknik dasar permainan dan olahraga berdasarkan konsep yang benar dan memiliki sikap serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Kelas VII PERMAINAN DAN OLAHRAGA ATLETIK Standar Kompetensi: Memperagakan teknik dasar permainan dan olahraga berdasarkan konsep yang benar dan memiliki sikap serta nilai-nilai yang terkandung didalamnya.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 47 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Populasi, dan Sampel Penelitian 1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian bertempat di Laboratorium Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK) dan Gelanggang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian merupakan cara yang dipakai dalam sebuah penelitian, yakni suatu cara untuk mencapai tujuan penelitian (research). Hal ini sesuai dengan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian Lampiran. Surat Izin Penelitian 63 64 65 66 Lampiran 2. Surat Pernyataan Kolaborator SURAT PERNYATAAN Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : PURWANTO NIM : 060422706 Program Studi : PJKR/PKS D2-S Fakultas

Lebih terperinci

LOMPAT JANGKIT. B. Pengertian Lompat Jangkit (Triple Jump)

LOMPAT JANGKIT. B. Pengertian Lompat Jangkit (Triple Jump) LOMPAT JANGKIT A. Sejarah Lompat Jangkit Triple melompat, atau paling tidak melibatkan tiga varian melompat satu demi satu, berakar pada Olimpiade Yunani Kuno, dengan catatan yang menunjukkan para atlet

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. memberikan keuntungan dalam jangkauan langkahnya, hal ini dikarenakan. melakukan berbagai macam gerak.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. memberikan keuntungan dalam jangkauan langkahnya, hal ini dikarenakan. melakukan berbagai macam gerak. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teoritik 1. Hakikat Panjang Tungkai Seorang olahragawan yang memiliki proporsi badan tinggi biasanya diikuti dengan ukuran tungkai yang panjang, meskipun hal itu tidak

Lebih terperinci

SURVEI KONDISI FISIK ATLET PUTRA USIA TAHUN PB. REMAJA KABUPATEN JOMBANG

SURVEI KONDISI FISIK ATLET PUTRA USIA TAHUN PB. REMAJA KABUPATEN JOMBANG SURVEI KONDISI FISIK ATLET PUTRA USIA 14-16 TAHUN PB. REMAJA KABUPATEN JOMBANG DANIEL CATUR MAGALHAES NIM : 096474245 ABSTRACT Sports development in the world in recent years has been greatly decreased,

Lebih terperinci

ISBN (No Jil. Lengkap) ISBN (Jil. 5.3)

ISBN (No Jil. Lengkap) ISBN (Jil. 5.3) i ii Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi Undang-Undang. Penyusun : Akhmad Olih Solihin Khairul Hadziq Editor : Arief Kurniawan Pewajah Isi : Rahmat Deedat Perancang Sampul

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Hakekat Lari Jarak Pendek (Sprint) 100 Meter a. Definisi Lari 1) Dalam bukunya Yoyo Bahagia (2000:11) menyatakan bahwa lari adalah gerakan tubuh dimana kedua

Lebih terperinci

100 Lampiran 4. Biodata Judge BIODATA JUDGE Nama : Bayu Umarwoko, S.Pd. Kor. TTL : Kulonprogo, 12-01-1987 Alamat Pekerjaan Pendidikan Lisensi : Karang Gede, Jatimulyo, Kulonprogo

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumbangan antara panjang

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumbangan antara panjang BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sumbangan antara panjang tungkai (X 1 ), kekuatan otot perut (X 2 ) dan kekuatan otot tungkai (X 3 ) terhadap hasil

Lebih terperinci

ATLETIK. Bahan Belajar Mandiri

ATLETIK. Bahan Belajar Mandiri ATLETIK Bahan Belajar Mandiri PENDAHULUAN Atletik menjadi salah satu kegiatan primadona dalam proses belajar mengajar pendidikan jasmani dan olahraga. Dalam setiap kegiatan pendidikan jasmani dan olahraga

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PENELITIAN

BAB III PROSEDUR PENELITIAN BAB III PROSEDUR PENELITIAN A. Metode Penelitian Untuk pemecahan atau menyelesaikan suatu masalah penelitian diperlukan suatu metode. Metode adalah suatu cara untuk mencapai tujuan. Tujuan penelitian ini

Lebih terperinci

CAT Tes Masuk TNI - POLRI. Full Simulated TOEFL. CBT Psikotes. Aplikasi Tes Buta warna

CAT Tes Masuk TNI - POLRI. Full Simulated TOEFL. CBT Psikotes. Aplikasi Tes Buta warna Full Simulated TOEFL Buku ini dilengkapi aplikasi Full Simulated TOEFL android (4 Paket) yang dapat di download di playstore dengan kata kunci genta group atau gunakan qr-code di bawah. CAT Tes Masuk TNI

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Suatu penelitian khususnya dalam ilmu-ilmu pengetahuan empirik, pada

III. METODOLOGI PENELITIAN. Suatu penelitian khususnya dalam ilmu-ilmu pengetahuan empirik, pada 19 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Suatu penelitian khususnya dalam ilmu-ilmu pengetahuan empirik, pada umumnya bertujuan untuk menemukan, mengembangkan, atau menguji kebenaran suatu pengetahuan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan kita terus menerus dimanjakan dengan segala sesuatu yang otomatis. bersenyawa dengan hidup manusia (Depdiknas, 2007).

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan kita terus menerus dimanjakan dengan segala sesuatu yang otomatis. bersenyawa dengan hidup manusia (Depdiknas, 2007). 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Hidup sehat adalah harapan semua orang tetapi kesehatan tidak akan pernah diperoleh apabila tanpa diikuti oleh usaha yang memadai. Apabila kehidupan kita terus

Lebih terperinci

III. METODELOGI PENELITIAN. Bandar Lampung, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah

III. METODELOGI PENELITIAN. Bandar Lampung, maka metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah 28 III. METODELOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Berdasarkan tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui kontribusi kelentukan dengan kemampuan kayang pada siswa kelas VII SMP Al Azhar 3 Bandar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. prestasi dan juga sebagai alat pendidikan. Olahraga memiliki peranan penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. prestasi dan juga sebagai alat pendidikan. Olahraga memiliki peranan penting dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Olahraga merupakan aktivitas fisik yang besar manfaatnya bagi manusia. Olahraga dapat berfungsi sarana untuk meningkatkan derajat kesehatan, untuk prestasi dan

Lebih terperinci

DAFTAR RIWAYAT HIDUP. : Jl. Kentang I/ 126 Perum I Tangerang. 4. Fakultas Fisioterapi Universitas Esa Unggul, Jakarta (2005-Sekarang)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP. : Jl. Kentang I/ 126 Perum I Tangerang. 4. Fakultas Fisioterapi Universitas Esa Unggul, Jakarta (2005-Sekarang) DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Abdul Malik AA Tempat Tanggal Lahir : Tangerang, 04 Oktober 1987 Alamat : Jl. Kentang I/ 126 Perum I Tangerang No Tlp : 08569077785 Riwayat Pendidikan : 1. SDN Karawaci XII,

Lebih terperinci

1. Stretching Pantat. LATIHAN OTOT PANTAT DAN HAMSTRING (Paha belakang) By Ronny J. Kutadinata. Basic

1. Stretching Pantat. LATIHAN OTOT PANTAT DAN HAMSTRING (Paha belakang) By Ronny J. Kutadinata. Basic LATIHAN OTOT PANTAT DAN HAMSTRING (Paha belakang) By Ronny J. Kutadinata 1. Stretching 1.1. Pantat Basic 1. Berbaringlah dengan kedua kaki lurus di depan Anda. 2. Bawa kaki kiri ke atas, tertekuk di lutut,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Proses latihan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dalam

BAB I PENDAHULUAN. Proses latihan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses latihan merupakan faktor yang sangat mempengaruhi dalam memberikan peningkatan kemampuan atlet mencapai prestasi puncak. seperti yang dikemukakan oleh

Lebih terperinci

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan

Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan PUSAT PERBUKUAN Kementerian Pendidikan Nasional Ngatiyono Mari Sehat Bergembira 4 Untuk Kelas IV SD/MI PUSAT PERBUKUAN Kementerian Pendidikan Nasional Hak Cipta

Lebih terperinci

www.dennysantoso.com www.sportindo.com www.duniafitnes.com KATA PENGANTAR 1. Barbell Row with Smith Machine rogram latihan fitnes yang benar dan efektif adalah penting bagi atlit atau setiap orang yang

Lebih terperinci

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA BAB IV PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA 4.1 Pengumpulan Data Pengumpulan data yang dilakukan pada penelitian ini terfokus pada lingkungan kerja saat ini dan data antropometri yang dibutuhkan untuk perancangan

Lebih terperinci

Pendidikan. Jasmani Olahraga dan Kesehatan. untuk Siswa SD-MI Kelas 5

Pendidikan. Jasmani Olahraga dan Kesehatan. untuk Siswa SD-MI Kelas 5 Dadan Heryana Giri Verianti Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan untuk Siswa SD-MI Kelas 5 5 Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi Undang-undang. P endidikan Jasmani

Lebih terperinci

Pengembangan Persyaratan Fisik Dalam Senam

Pengembangan Persyaratan Fisik Dalam Senam Pengembangan Persyaratan Fisik Dalam Senam Tidak ada satu cabang olahraga pun dapat dilaksanakan dengan baik, tanpa melibatkan dukungan dari kualitas fisik pelakunya. Kualitas fisik seperti kecepatan,

Lebih terperinci

MATA PELAJARAN PENJASORKES

MATA PELAJARAN PENJASORKES 0 STANDAR KOMPETENSI LULUSAN DAN SPESIFIKASI MATA PELAJARAN PENJASORKES SMK PROPINSI DKI JAKARTA PENYUSUN : MGMP DKI PEMERINTAH PROVINSI DKI JAKARTA DINAS PENDIDIKAN MENENGAH DAN TINGGI SUBDIS PENDIDIKAN

Lebih terperinci

TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA KELAS IV, V DAN VI SD NEGERI DELEGAN 2 KECAMATAN PRAMBANAN KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA SKRIPSI

TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA KELAS IV, V DAN VI SD NEGERI DELEGAN 2 KECAMATAN PRAMBANAN KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA SKRIPSI TINGKAT KESEGARAN JASMANI SISWA KELAS IV, V DAN VI SD NEGERI DELEGAN 2 KECAMATAN PRAMBANAN KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta untuk

Lebih terperinci

HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI, DAYA LEDAK TUNGKAI, DAN KESEIMBANGAN DENGAN KEMAMPUAN LOMPAT JAUH MURID SD INPRES NO. 132 BUTTALE LENG KABUPATEN JENEPONTO

HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI, DAYA LEDAK TUNGKAI, DAN KESEIMBANGAN DENGAN KEMAMPUAN LOMPAT JAUH MURID SD INPRES NO. 132 BUTTALE LENG KABUPATEN JENEPONTO Adil, Hubungan Panjang Tungkai, Daya Ledak Tungkai, Dan Keseimbangan Dengan Kemampuan Lompat Jauh 20 HUBUNGAN PANJANG TUNGKAI, DAYA LEDAK TUNGKAI, DAN KESEIMBANGAN DENGAN KEMAMPUAN LOMPAT JAUH MURID SD

Lebih terperinci

I. Pilihlah salah satu jawaban dibawah ini yang kalian anggap paling benar!!!

I. Pilihlah salah satu jawaban dibawah ini yang kalian anggap paling benar!!! I. Pilihlah salah satu jawaban dibawah ini yang kalian anggap paling benar!!! 1. Pada waktu menggiring bola, pergelangan kaki ditahan ke atas saat mendorongkan bola, sedangkan posisi kaki juga di atas

Lebih terperinci

- - Peganglah chinning bar dengan telapak tangan menghadap keluar dengan pegangan lebar.

- - Peganglah chinning bar dengan telapak tangan menghadap keluar dengan pegangan lebar. Otot punggung terdiri dari beberapa bagian yaitu dari otot punggung bagian atas (otot sayap dan otot punggung bagian tengah) dan otot punggung bagian bawah. Otot punggung sebaiknya dilatih secara seimbang

Lebih terperinci

BAHAN AJAR. 1. Judul : PERMAINAN BOLA BASKET. 2. Penyusun : Drs, Syahrizal. 3. Tujuan :

BAHAN AJAR. 1. Judul : PERMAINAN BOLA BASKET. 2. Penyusun : Drs, Syahrizal. 3. Tujuan : BAHAN AJAR 1. Judul : PERMAINAN BOLA BASKET 2. Penyusun : Drs, Syahrizal 3. Tujuan : Agar siswa dapat Menggunakan berbagai formasi, bentuk dan strategi dalam permainan bola basket Agar siswa dapat Menerapkan

Lebih terperinci

MATERI SENAM AEROBIK LOW IMPACT DAN HIGH IMPACT

MATERI SENAM AEROBIK LOW IMPACT DAN HIGH IMPACT MATERI SENAM AEROBIK LOW IMPACT DAN HIGH IMPACT I. LOW IMPACT A. Gerakan Kaki 1. Marching Gerakan jalan di tempat. Kaki kiri dan kanan diangkat secara bergantian dengan tumpuan berada di satu kaki. 2.

Lebih terperinci

Tipe Tubuh Manusia. Ada tiga tipe tubuh manusia, yakni ectomorph (kurus), endomorphs (ideal/atletis), dan mesomorphs (pendek dan bulat).

Tipe Tubuh Manusia. Ada tiga tipe tubuh manusia, yakni ectomorph (kurus), endomorphs (ideal/atletis), dan mesomorphs (pendek dan bulat). Tipe Tubuh Manusia Ada tiga tipe tubuh manusia, yakni ectomorph (kurus), endomorphs (ideal/atletis), dan mesomorphs (pendek dan bulat). Namun pada ebook kali ini akan membahas mengenai cara menambah berat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 37 a) Metode Penelitian BAB III METODE PENELITIAN Metode merupakan cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan. Tujuan penelitian adalah untuk mengungkapkan, menggambarkan, dan menyimpulkan hasil

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Lampiran 3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Siklus 1 Mata Pelajaran Sekolah Kelas / Semester : Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Olahraga : SD Negeri Brengkol : IV / I

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian. Metode

III. METODE PENELITIAN. digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian. Metode 3 III. METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Menurut Suharsimi Arikunto (006:160) Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data penelitian. Metode penelitian yang

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. eksentric m.quadriceps dan latihan plyometric terhadap peningkatan agilty pada

BAB IV METODE PENELITIAN. eksentric m.quadriceps dan latihan plyometric terhadap peningkatan agilty pada BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini bersifat studi eksperimental untuk melihat perbedaan pemberian antara latihan eksentrik m.gastrocmineus dan latihan plyometric dengan latihan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian ini dilakukan di lapangan sekolah SMA Negeri I Tapa. 3.1.2 Waktu Waktu penelitian selama 2 bulan dengan frekuensi latihan

Lebih terperinci

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan

Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan i Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi Undang-undang. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Untuk SD/MI Kelas VI Penyusun Penelaah Editor Design Cover Setting/Lay Out

Lebih terperinci

HANDOUT TAHUN PELAJARAN 2013

HANDOUT TAHUN PELAJARAN 2013 HANDOUT TAHUN PELAJARAN 2013 Nama Sekolah : SMA Negeri 78 Jakarta Kelas : Sekolah Cerdas Istimewah (SCI) Mata Pelajaran : Penjasorkes Standar Kompetensi : Mempraktikan keterampilan permainan olahraga sepak

Lebih terperinci

gawang agar terhindar dari PENDAHULUAN kemasukan bola. Oleh karena itu teknik Permainan Bola Tangan di Indonesia pada masa sekarang ini belum

gawang agar terhindar dari PENDAHULUAN kemasukan bola. Oleh karena itu teknik Permainan Bola Tangan di Indonesia pada masa sekarang ini belum PENDAHULUAN Permainan Bola Tangan di Indonesia pada masa sekarang ini belum memasyarakat bila dibandingkan dengan cabang olahraga lainnya seperti sepak bola, bola basket, bola voli dan lain-lain. Salah

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGUJIAN HIPOTESIS. olahraga yang diperlombakan dan meliputi nomor-nomor lompat jauh lari, lempar,

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGUJIAN HIPOTESIS. olahraga yang diperlombakan dan meliputi nomor-nomor lompat jauh lari, lempar, 2.1. Kajian Teoretis 2.1.1 Pengertian Atletik BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGUJIAN HIPOTESIS Menurut pendapat dari Syarifuddin (1992: 2), atletik adalah satu cabang olahraga yang diperlombakan dan meliputi

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) SMP Mata Pelajaran Kelas/Semester Standar Kompetensi Kompetensi Dasar Indikator : SMP NEGERI I GANDUSARI : Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan : VIII (delapan

Lebih terperinci

endidikan Jasmani, Olahraga,

endidikan Jasmani, Olahraga, Lasinem Sri Santoso Sabarini Pendidik endidikan Jasmani, Olahraga, a, dan Keseha esehatan 4 Untuk SD dan MI Kelas IV Hak Cipta buku ini pada Kementerian Pendidikan Nasional. Dilindungi Undang-undang. Pendidik

Lebih terperinci

FORMAT RPP. 1.1 Melakukan teknik Menendang Bola. Siswa dapat Melakukan teknik Menendang Bola. a. Ringkasan materi : Menendang bola menuju target

FORMAT RPP. 1.1 Melakukan teknik Menendang Bola. Siswa dapat Melakukan teknik Menendang Bola. a. Ringkasan materi : Menendang bola menuju target Mata Pelajaran : PENJASORKES 1 Beban Belajar : 2 SKS Pertemuan (Minggu) ke : 1 Alokasi waktu : 2 X 45 menit FORMAT RPP Standar Kompetensi : 1. Mempraktikkan keterampilan permainan olahraga sepak bola dalam

Lebih terperinci

MELATIH KETERAMPILAN GERAK DASAR ANAK MADRASAH MELALUI AKTIVITAS OLAHRAGA. Bintoro Widodo Dosen pada program studi PGMI UIN Malang

MELATIH KETERAMPILAN GERAK DASAR ANAK MADRASAH MELALUI AKTIVITAS OLAHRAGA. Bintoro Widodo Dosen pada program studi PGMI UIN Malang MELATIH KETERAMPILAN GERAK DASAR ANAK MADRASAH MELALUI AKTIVITAS OLAHRAGA Bintoro Widodo Dosen pada program studi PGMI UIN Malang Abstract Basic motor ability is the ordinary potency students do to improve

Lebih terperinci

Olahraga Bagi Orang yang Sibuk Di Kantor

Olahraga Bagi Orang yang Sibuk Di Kantor Olahraga Bagi Orang yang Sibuk Di Kantor Oleh: Yudik Prasetyo Staf Pengajar Fakultas Ilmu Keolahragaan, UNY Pendahuluan Pada era globalisasi ini, orang semakin disibukan dengan berbagai pekerjaan untuk

Lebih terperinci

RENANG DAN OLAHRAGA PILIHAN

RENANG DAN OLAHRAGA PILIHAN RENANG DAN OLAHRAGA PILIHAN Bahan Belajar Mandiri PENDAHULUAN Renang merupakan salah satu cabang olahraga yang banyak digemari. Dalam pengajaran pendidikan jasmani, renang termasuk kegiatan olahraga yang

Lebih terperinci