SUSTAINABILITY STANDARD OPERATING PROCEDURE. Prosedur Penyelesaian Keluhan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SUSTAINABILITY STANDARD OPERATING PROCEDURE. Prosedur Penyelesaian Keluhan"

Transkripsi

1 No. Dokumen ID : AGRO-SFM-002-PR Tanggal Terbit Sebelumnya : N/A Halaman : 1 dari LATAR BELAKANG Grup APRIL ("APRIL") telah mengumumkan Kebijakan APRIL Grup dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan 2.0 ("SFMP 2.0 / Kebijakan ) yang diterbitkan pada bulan Juni 2015, untuk memastikan bahwa penebangan hutan dihilangkan seluruhnya dari dalam rantai pasokannya. Kebijakan tersebut merupakan catatan sejarah penting terkait komitmen jangka panjang perusahaan untuk melakukan konservasi. APRIL meyakinini bahwa tantangan berikutnya adalah untuk memastikan bahwa komitmen-komitmen SFMP 2.0 turut diterapkan di lapangan. Di dalam SFMP 2.0 sendiri diatur adanya tahap pengawasan dan verifikasi untuk menilai kepatuhan pada Kebijakan itu sendiri, termasuk melalui laporan kemajuan rutin dan tinjauan pihak ketiga atas penerapan Kebijakan. Agar memungkinkan pihak eksternal mengajukan keluhan jika keluhan tersebut timbul, APRIL telah mengembangkan Prosedur Penyelesaian Keluhan ini, yang akan dikelola secara tepat waktu dan transparan, melibatkan para penilai dan penyelidik independen. Semua aspek penanganan keluhan akan didokumentasikan untuk referensi dan perbaikan proses di masa mendatang, dan akan tersedia untuk umum melalui Dashboard Keberlanjutan APRIL ("Dashboard"). 2.0 TUJUAN Tujuan dari ini adalah untuk memastikan bahwa masyarakat setempat dan para pemangku kepentingan memahami proses untuk mengangkat isu-isu terkait dengan operasi APRIL dan Pemasoknya. Prosedur ini mencakup pedoman bagi APRIL tentang bagaimana menangani keluhan dari pihak eksternal tentang penerapan SFMP 2.0, termasuk dari individu, organisasi pemerintah dan lembawa swadaya masyarakat. Ketika menyelesaikan keluhan-keluhan yang ada, APRIL akan memprioritaskan metode konsultasi yang berpusat pada dialog. APRIL menghargai bahwa setiap penanganan keluhan harus diputuskan atau diselesaikan secara efisien, tepat waktu dan layak, melalui proses yang adil dan transparan untuk mencapai kesepakatan bersama antara para pihak.

2 Halaman : 2 dari RUANG LINGKUP Prosedur ini berlaku untuk menyelesaikan atau memecahkan keluhan yang berkaitan dengan penerapan SFMP 2.0 dalam operasi APRIL dan Pemasoknya, yang mengakui prinsip Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (FPIC) sebagai titik awal. Setelah potensi keluhan diterima dan dinilai, dapat dilakukan tindakan lebih lanjut untuk memverifikasi klaim. Setelah keluhan terkonfirmasi, akan dibuat Rencana Aksi dengan berkonsultasi dengan pihak-pihak terkait untuk mendapatkan pemecahan/penyelesaian keluhan, dan penerapan Rencana Aksi tersebut akan terus diawasi. APRIL akan memberikan kabar terbaru tentang kemajuan-kemajuan yang terjadi kepada para pemangku kepentingan dan melaksanakan setiap tindakan lanjutan yang diperlukan. Prosedur ini berlaku sepenuhnya dan secara eksklusif terhadap APRIL, para Pemasoknya saat ini dan di masa mendatang, serta terhadap setiap akuisisi atau kemitraan di masa mendatang. Pemasok saat ini yang tidak melaksanakan Prosedur ini akan ditinjau ulang dan dapat ditangguhkan. 4.0 DOKUMENTASI DAN/ATAU RUJUKAN-RUJUKAN TERKAIT a) Kebijakan APRIL Grup dalam Pengelolaan Hutan Berkelanjutan 2.0 (SFMP 2.0) b) SOP Penyelesaian Sengketa Lahan RPF/SGR-0001-PR 5.0 FORMULIR-FORMULIR DAN/ATAU LAMPIRAN-LAMPIRAN TERKAIT Formulir Penyampaian Keluhan AGRO/SFM-002-FM 6.0 KETENTUAN-KETENTUAN UMUM a) Keluhan adalah aduan, keprihatinan atau keberatan yang diajukan individu atau kelompok yang menginginkan APRIL untuk mengatasi dan mencari solusinya. b) SFMP 2.0 adalah Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan yang diterbitkan oleh APRIL pada tanggal 3 Juni c) Prosedur RPF/SGR-0001-PR tentang penyelesaian sengketa lahan mengatur kerangka kerja untuk menangani sengketa yang secara khusus terkait dengan klaim atas tanah dan perambahan tanah. d) Sengketa tanah adalah perselisihan atas kepemilikan, penguasaan, pengelolaan dan penggunaan daerah tertentu di dalam area konsesi suatu perusahaan.

3 Halaman : 3 dari TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB a) Unit Pengolahan Keluhan (GPU) di Kantor APRIL: i) GPU bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan dan melaksanakan tugastugas yang diperlukan untuk keberhasilan pelaksanaan Prosedur Penyelesaian Keluhan ini, termasuk berhubungan dengan pihak eksternal yang mengajukan keluhan. ii) GPU ini terdiri dari perwakilan Departemen Keberlanjutan dan Tim Sosial Kapital, dan jika perlu, turut dibantu oleh tim Komunikasi Perusahaan. iii) GPU akan menunjuk seorang Koordinator Keluhan untuk melaksanakan Prosedur Penyelesaian Keluhan dan mengkoordinasikan kemajuan dan tindakan yang diperlukan. Koordinator Pengaduan akan menjadi titik penghubung antara para pemangku kepentingan, termasuk Manajemen APRIL, Pihak yang Menyampaikan Keluhan, Komite Keluhan, Tim Verifikasi, Tim Operasional APRIL dan Pemasok. iv) Tugas GPU mencakup penerimaan, pencatatan, pengelompokan potensi keluhan dan memberi laporan kepada Komite Pengaduan. GPU akan memastikan bahwa Daftar Pengaduan selalu terbarukan dengan memberikan rincian tentang keluhan-keluhan yang ditangani sesuai dengan Prosedur ini. Daftar Keluhan akan diedarkan secara berkala kepada Komite Keluhan dan diperbarui di Dashboard. GPU juga bertanggung jawab untuk mempersiapkan komunikasi dengan pihak eksternal, termasuk Surat-Surat Tanggapan kepada Pihak yang Menyampaikan Keluhan. GPU akan menjaga seluruh arsip dan dokumentasi, termasuk seluruh korespondensi antara Komite Keluhan dan pihak eksternal. v) Untuk pengaduan terkait dengan sengketa tanah, GPU akan mengacu pada proses yang diuraikan dalam SOP RPF/SGR-0001-PR milik APRIL tentang penyelesaian sengketa lahan. vi) GPU akan menghubungi Pihak yang Menyampaikan Keluhan sesegera mungkin dan mengundang mereka untuk berpartisipasi dalam proses untuk mencapai penyelesaian atau pemecahan atas isu-isu mereka. Dialog dengan Pihak yang Menyampaikan Keluhan akan terus dilakukan selama proses tersebut untuk memastikan bahwa penanganan keluhan dilakukan secara adil dan akuntabel, dan dialog tersebut akan didokumentasikan oleh GPU. vii) GPU bertanggung jawab mengembangkan Rencana Aksi dengan Pihak yang Menyampaikan Keluhan dan Subjek Keluhan tersebut untuk menangani keluhan yang telah terkonfirmasi (atas dasar temuan dan rekomendasi oleh Tim Verifikasi jika misi verifikasi telah dilakukan). Secara triwulanan, GPU akan meninjau Rencana Aksi yang terikat batas waktu tertentu namun belum dilaksanakan, yang ditetapkan untuk memastikan bahwa ada kemajuan untuk menyelesaikan proses keluhan yang sedang berlangsung terhadap Rencana Aksi yang telah disepakati.

4 Halaman : 4 dari 11 Jika tidak ada kemajuan sesuai dengan yang tercantum dalam Rencana Aksi, GPU akan melaporkan kepada Komite Keluhan untuk menentukan tindak lanjut yang diperlukan. viii) GPU secara berkala memberikan kabar terbaru kepada Komite Penasehat Pemangku Kepentingan (SAC) mengenai proses keluhan yang sedang berlangsung dan jika perlu, meminta masukan dan rekomendasi mereka. b) Komite Keluhan i) Komite Pengaduan bertanggung jawab untuk membuat keputusan manajemen terkait dengan keluhan-keluhan yang disampaikan. Komite Keluhan bertanggung jawab untuk menyetujui Rencana Aksi yang dirancang untuk memecahkan/menyelesaikan keluhan yang terkonfirmasi. ii) Dalam hal misi verifikasi perlu dilakukan, Komite Keluhan bertanggung jawab untuk menyetujui Kerangka Acuan Verifikasi Keluhan. iii) Manajemen Senior APRIL akan membentuk Komite Keluhan yang akan terdiri dari perwakilan APRIL dan pihak-pihak independen (misalnya SAC). iv) Dalam hal keluhan yang terkonfirmasi berhubungan dengan perusahaanperusahaan yang berada di bawah kepemilikan APRIL, Komite Keluhan akan memerintahkan Tim Operasional APRIL yang terkait untuk melaksanakan Rencana Aksi. v) Dalam hal keluhan yang terkonfirmasi berhubungan dengan Pemasok APRIL yang tidak berada di bawah kepemilikan APRIL, Komite Keluhan akan menyarankan Manajemen Senior Pemasok untuk melaksanakan Rencana Aksi. vi) Komite Keluhan bertanggung jawab untuk menyetujui pemberitahuan kepada Pihak yang Menyampaikan Keluhan tentang hasil dari setiap proses keluhan. c) Tim Verifikasi i) Tim Verifikasi bertanggung jawab untuk menyelidiki potensi keluhan dan mengumpulkan informasi untuk mengkonfirmasi keabsahannya. ii) Komposisi Tim Verifikasi akan ditentukan oleh GPU. Sebagaimana dipersyaratkan, anggota tim mencakup ahli teknis dari APRIL, konsultan dan/atau penyedia jasa pihak ketiga independen lainnya, dan Pihak yang Menyampaikan Keluhan (atau wakil dari Pihak yang Menyampaikan Keluhan yang memiliki mandat yang jelas sebagaimana tercantum dalam surat penugasan) jika dimohonkan, Subjek Keluhan, serta Koordinator Keluhan. iii) Tugas Tim Verifikasi akan ditetapkan dalam suatu Kerangka Acuan Verifikasi Keluhan yang disepakati dan dikonsolidasi oleh Komite Keluhan, yang dapat mencakup mempelajari dan memverifikasi data/informasi yang disediakan oleh pihak eksternal atas potensi keluhan dan, jika perlu, dilakukan investigasi lapangan untuk mengumpulkan data tambahan untuk menentukan keabsahan potensi keluhan.

5 Halaman : 5 dari 11 iv) Dalam melaksanakan tugasnya, Tim Verifikasi akan bekerja dengan Tim Operasional APRIL dan Pemasok terkait. v) Tim Verifikasi akan menyiapkan Laporan Verifikasi Keluhan yang menguraikan hasil proses verifikasi dan merekomendasikan tindakan-tindakan untuk mengatasi keluhan yang terkonfirmasi. Laporan tersebut akan diserahkan kepada Komite Keluhan untuk ditinjau sebelum diberikan kepada Tim Operasional APRIL atau Pemasok terkait. Salinan Laporan tersebut akan disediakan untuk Pihak yang Menyampaikan Keluhan. d) Subjek Keluhan (APRIL atau Pemasok) i) Tim Operasional APRIL terkait akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk memecahkahkan/menyelesaikan setiap keluhan yang terkonfirmasi dan memberikan laporan kepada GPU tentang hasil pelaksanaan Rencana Aksi, yang akan meneruskan informasi tersebut kepada Komite Keluhan dan Pihak yang Menyampaikan Keluhan. ii) Manajemen Senior Pemasok akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk memecahkan/menyelesaikan setiap keluhan yang terkonfirmasi dan memberikan laporan kepada GPU tentang hasil pelaksanaan Rencana Aksi, yang akan meneruskan informasi tersebut kepada Komite Keluhan dan Pihak yang Menyampaikan Keluhan. 8.0 PROSEDUR 8.1 Alur Kerja a) Potensi keluhan dapat disampaikan melalui setiap saluran berikut ini: Melalui ke : Melalui telepon ke : Secara tertulis : Grup APRIL, Jalan MH. Thamrin No. 31, Jakarta 10230, Indonesia Ditujukan kepada : Departemen Keberlanjutan (Koordinator Keluhan) Secara daring di : b) Jika memungkinkan, potensi keluhan harus dicatatkan dengan menggunakan standar AGRO/SFM-002-FM. Pihak yang Menyampaikan Keluhan harus memberikan informasi berikut: i) Nama lengkap

6 Halaman : 6 dari 11 ii) Nama organisasi (jika berlaku) iii) Alamat iv) No. Telepon /Alamat (setidaknya ada seorang titik kontak) v) Deskripsi potensi keluhan secara rinci vi) Bukti untuk mendukung potensi keluhan Potensi keluhan dapat diajukan dalam Bahasa Inggris dan/atau Bahasa Indonesia. Rincian kontak diperlukan untuk mendapatkan klarifikasi lebih lanjut mengenai potensi keluhan. Pihak yang Menyampaikan Keluhan dapat meminta agar identitas mereka tetap dirahasiakan. Pihak yang Menyampaikan Keluhan dapat menunjuk pihak ketiga untuk menyampaikan potensi keluhan mereka asalkan pihak ketiga tersebut mengikuti Prosedur yang diuraikan di sini. Selama proses penyelesaian/pemecahan keluhan, Pihak yang Menyampaikan Keluhan berhak untuk mencari nasihat ahli dengan dibantu oleh APRIL, jika diminta oleh Pihak yang Menyampaikan Keluhan. c) Potensi keluhan akan diproses oleh GPU. GPU akan mencatat setiap potensi keluhan dalam Daftar Keluhan dan mengklasifikasikan ruang lingkupnya dengan mengidentifikasi bagian(-bagian) Kebijakan APRIL yang terkait dengan keluhan tersebut. GPU akan menjalin kontak dengan Pihak yang Menyampaikan Keluhan dan secara resmi memberikan penawaran untuk terlibat dalam dialog. GPU kemudian akan mengkompilasi semua informasi yang tersedia tentang potensi keluhan (termasuk rekomendasi mengenai kebutuhan untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut) di File Keluhan yang akan diserahkan kepada Komite Keluhan untuk diperiksa dan diputuskan. d) Untuk potensi keluhan yang terkait dengan sengketa tanah, GPU akan mengacu pada proses yang diuraikan dalam SOP RPF/SGR-0001-PR milik APRIL tentang penyelesaian sengketa lahan. e) Komite Keluhan akan meninjau File Keluhan dari GPU. Komite Keluhan dapat meminta bukti tambahan dari Subjek Keluhan. f) Berikut ini adalah beberapa scenario yang bisa terjadi: i) Jika Komite Keluhan menilai bahwa keluhan tersebut tidak memiliki dasar, GPU akan memberitahukan Pihak yang Menyampaikan Keluhan dan memperbarui statusnya di Daftar Keluhan, dengan persetujuan terlebih dahulu dari Komite Keluhan. ii) Jika Komite Keluhan menilai bahwa keluhan telah terkonfirmasi dan tidak diperlukan penyelidikan lebih lanjut untuk memverifikasi keluhan tersebut, GPU

7 Halaman : 7 dari 11 akan memberitahukan Pihak yang Menyampaikan Keluhan dan melanjutkan dengan menyusun Rencana Aksi (lihat bagian i dan seterusnya). iii) Jika Komite Keluhan menilai bahwa keluhan tersebut mungkin memiliki dasar, tetapi menentukan bahwa penyelidikan lebih lanjut diperlukan untuk memverifikasi keluhan tersebut, Komite Keluhan akan menyiapkan Kerangka Acuan Verifikasi Keluhan dan dilanjutkan dengan upaya verifikasi sebagaimana yang diuraikan dalam bagian g dan h. g) Untuk potensi keluhan yang berkaitan dengan operasi APRIL sendiri, Tim Verifikasi akan menghubungi Tim Operasional APRIL yang terkait untuk meminta pertemuan dan/atau kunjungan lapangan untuk mengkonfirmasi keabsahan dari keluhan tersebut. Tim Verifikasi akan menyelesaikan Laporan Verifikasi Keluhan yang di dalamnya terdapat temuan-temuan dan rekomendasi-rekomendasi untuk Rencana Aksi. h) Untuk potensi keluhan yang berkaitan dengan Pemasok APRIL, Tim Verifikasi akan terlibat langsung dengan Subjek Keluhan tersebut. Tim Verifikasi dapat melakukan wawancara dan dialog dengan pemangku kepentingan terkait, dan bila perlu mengumpulkan data tambahan untuk mengkonfirmasi keabsahan keluhan tersebut. Tim Verifikasi akan menyelesaikan Laporan Verifikasi Keluhan yang di dalamnya terdapat temuan-temuan dan rekomendasi-rekomendasi untuk Rencana Aksi. i) GPU akan menyusun Rencana Aksi yang menguraikan langkah-langkah untuk memecahkan/menyelesaikan keluhan yang telah terkonfirmasi (atas dasar Laporan Verifikasi Keluhan, jika ada). Pada tahap ini, Pihak yang Menyampaikan Keluhan dan Subjek Keluhan tersebut akan dilibatkan dalam konsultasi. Setelah itu, Rencana Aksi akan disampaikan kepada Komite Keluhan untuk mendapatkan persetujuan. j) Untuk keluhan yang terkonfirmasi yang berkaitan dengan operasi APRIL, setelah menerima Rencana Aksi, Tim Operasional terkait akan melakukan langkahlangkah/tindakan di lapangan untuk memecahkan/menyelesaikan keluhan tersebut. Tim Operasional akan melaporkan status pelaksanaan Rencana Aksi dan akan mengkomunikasikan hasil akhir melalui Laporan Aksi Lapangan kepada GPU. GPU akan memberikan kabar terbaru kepada Komite Keluhan dan Pihak yang Menyampaikan Keluhan. k) Untuk keluhan yang terkonfirmasi yang berkaitan dengan Pemasok APRIL, Pemasok terkait akan melaporkan status pelaksanaan Rencana Aksi dan akan mengkomunikasikan hasil akhirnya melalui Laporan Aksi Lapangan kepada GPU. GPU akan memberikan kabar terbaru kepada Komite Keluhan dan Pihak yang Menyampaikan Keluhan. Jika Pemasok tidak menunjukkan kemauan untuk mematuhi Kebijakan APRIL melalui tindakan nyata untuk

8 Halaman : 8 dari 11 memecahkan/menyelesaikan keluhan tersebut, GPU akan menyampaikan laporan kepada Komite Keluhan yang dapat merekomendasikan agar APRIL mengambil tindakan disipliner, termasuk penangguhan hubungan terhadap Pemasok, jika perlu. l) Setelah mendapatkan Laporan Aksi Lapangan dari Subyek Keluhan terkait, GPU akan menyiapkan Surat Tanggapan awal atas nama Komite Keluhan yang ditujukan untuk Pihak yang Menyampaikan Keluhan. Surat Tanggapan ini akan ditinjau dan disetujui oleh Komite Keluhan. 8.2 Jadwal untuk Menangani Keberatan dan Keluhan ini dimaksudkan untuk mengatasi berbagai kekhawatiran pemangku kepentingan yang akan sering melibatkan banyak pihak yang berpotensi mengandung konflik kepentingan. Oleh karena itu, penyelesaian atau pemecahan keluhan tersebut akan selalu melalui proses penyelidikan dan mediasi yang panjang antara berbagai pemangku kepentingan, dan akan memerlukan penerapan pendekatan yang fleksibel. Namun, penting bahwa keluhan-keluhan yang ada ditangani secara tepat waktu sesuai dengan Kebijakan APRIL. Dalam konteks tersebut, berikut ini jangka waktu untuk tahap-tahap kunci dari Prosedur ini: a) Dalam waktu 5 hari kerja setelah menerima potensi keluhan, GPU akan mengakui kepada Pihak yang Menyampaikan Keluhan bahwa potensi keluhan tersebut telah diterima dan mempersiapkan File Keluhan, dan jika perlu, dengan memperoleh masukan tambahan dari Pihak yang Menyampaikan Keluhan. b) Atas dasar File Keluhan, dalam waktu 10 hari kerja setelah menerima potensi keluhan, Komite Keluhan akan menilai apakah keluhan tersebut telah terkonfirmasi atau tidak berdasar, atau memutuskan bahwa perlu diadakan penyelidikan lebih lanjut. c) Jika potensi keluhan dinilai tidak memiliki dasar, GPU akan memberitahukan hal tersebut kepada Pihak yang Menyampaikan Keluhan, dengan mendapatkan persetujuan terlebih dahulu dari Komite Keluhan dalam waktu 10 hari kerja setelah menerima potensi keluhan. d) Dalam hal keluhan telah terkonfirmasi dan tidak diperlukan penyelidikan lebih lanjut, GPU akan mengakui kepada Pihak yang Menyampaikan Keluhan bahwa potensi keluhan tersebut telah diterima dalam waktu 10 hari kerja. e) Dalam hal diperlukan penyelidikan lebih lanjut, dalam waktu 10 hari kerja setelah menerima potensi keluhan, Komite Keluhan akan mengkonsolidasikan Kerangka Acuan Verifikasi Keluhan. Dalam waktu 20 hari kerja setelah menerima potensi keluhan, misi verifikasi akan dilakukan dan Laporan Verifikasi Keluhan akan selesai. Kompleksitas setiap keluhan akan sangat bervariasi dan di kasus-kasus tertentu, akan diperlukan adanya penyesuaian waktu untuk setiap skenario. Ketika diperlukan adanya

9 Halaman : 9 dari 11 penyesuaian jadwal, GPU akan mengkomunikasikannya dengan Pihak yang Menyampaikan Keluhan. 8.3 Mekanisme Pengawasan Menangani Keluhan a) GPU bertanggung jawab untuk mengawasi seluruh proses keluhan. Selain itu, Tim Verifikasi akan memimpin setiap misi verifikasi yang diperlukan dan Tim Operasional terkait mengawasi perkembangan pelaksanaan Rencana Aksi. b) Dalam hal yang berkaitan dengan Pemasok APRIL, GPU bertanggung jawab untuk mengawasi kemajuan Pemasok dalam menangani keluhan. 9.0 Proses Banding Jika Pihak yang Menyampaikan Keluhan tidak puas dengan hasil penilaian keluhannya, mereka dapat mengajukan banding disertai dengan penjelasan atas alasan-alasannya mengajukan banding tersebut. Banding harus diajukan melalui saluran komunikasi yang diuraikan dalam bagian 8.1 di atas. Jika dipandang perlu, Komite Keluhan, dengan bantuan GPU, dapat melakukan hal berikut: a) Mengundang Pihak yang Menyampaikan Keluhan untuk memberikan penjelasannya secara langsung. b) Secara bersama-sama mendiskusikan pilihan lain yang mungkin dilakukan untuk memecahkan/menyelesaikan keluhan tersebut. c) Apabila diperlukan, melibatkan pemantau independen eksternal (misalnya ahli terkait atau pemangku kepentingan yang penting) dalam proses verifikasi kedua. GPU akan menghubungi Pihak yang Menyampaikan Keluhan untuk mengakui bahwa pengajuan banding telah diterima dalam waktu 5 hari kerja sejak banding tersebut diajukan. Hasil dari tinjauan banding akan disampaikan kepada Pihak yang Menyampaikan Keluhan dalam waktu 25 hari kerja sejak banding tersebut diajukan.

10 Halaman : 10 dari LAMPIRAN-LAMPIRAN 10.1 Lampiran-1 Alur Pemeriksaan Keluhan a) Potensi keluhan yang disampaikan melalui saluran komunikasi keluhan resmi APRIL akan dicatat oleh GPU APRIL. b) Komite Keluhan akan membuat keputusan tentang potensi keluhan manapun berdasarkan informasi-informasi yang ada untuk menentukan apakah ada pelanggaran yang nyata atas Kebijakan. c) Jika keputusannya positif, keluhan yang terkonfirmasi akan mengikuti Prosedur untuk diselesaikan atau dipecahkan. d) Jika keputusannya negatif, tidak ada tindakan lebih lanjut yang akan diambil dan Pihak yang Menyampaikan Keluhan akan diberitahukan secara patut mengenai hal tersebut. e) Jika Komite Keluhan meminta penyelidikan lebih lanjut, potensi keluhan akan mengikuti Prosedur untuk melakukan verifikasi. Potensi keluhan yang disampaikan melalui saluran resmi Ya Mengikuti Prosedur untuk dapat diselesaikan / dipecahkan Komite Keluhan akan menilai keabsahan keluhan Mungkin Mengikuti Prosedur untuk melakukan verifikasi Tidak Tidak ada tindakan lebih lanjut yang dambil

11 Halaman : 11 dari Lampiran-2 ALUR KERJA PROSEDUR PENYELESAIAN KELUHAN Penerimaan, Pencatatan dan Validasi Pengakuan/Penolakan/ Dimulainya Penyelidikan Verifikasi (jika berlaku) Persiapan Rencana Aksi Eksekusi dan Pengawasan Rencana Aksi Penutupan Proses Pihak yang Menyampaikan Keluhan Menyampaik an potensi pengaduan Pihak yang Mengajukan Keluhan akan diundang untuk berpartisipasi dalam verifikasi lapangan Unit Pengolahan Keluhan APRIL (GPU) Mencatat dan mengkonfirmasi penerimaan; Membuat File Keluhan; Mengidentifikasi potensi pelanggaran Kebijakan Keluhan tidak berdasar: menolak dan mengkomunikasikannya kepada Pihak yang Mengajukan Keluhan Keluhan yang terkonfirmasi: mengakui bahwa keluhan telah diterima kepada Pihak yang Mengajukan Keluhan Potensi keluhan yang harus diverifikasi: memberitahukan kepada Pihak yang Mengajukan Keluhan Menyiapkan Rencana Aksi untuk menyelesaikan/ memecahkan keluhan bersama-sama dengan Pihak yang Menyampaikan Keluhan dan Subyek Keluhan Mengawasi proses; meninjau Laporan Aksi Lapangan; memberikan kabar terbaru kepada Komite Keluhan dan Pihak yang Mengajukan Keluhan Memberitahu Pihak yang Mengajukan Keluhan Membuat Rancangan Surat Tanggapan Komite Keluhan Meninjau File Keluhan; Menilai keabsahan keluhan atau menentukan kebutuhan untuk diverifikasi lebih lanjut Menyetujui Keranca Acuan Verifikasi Keluhan Keluhan yang terkonfirmasi Keluhan tidak berdasar Meninjau Laporan Verifikasi Keluhan Menyetujui dan memberikan saran pelaksanaan Rencana Aksi Menyetujui Surat Tanggapan untuk Pihak yang Menyampaikan Keluhan SubJek Keluhan (APRIL atau Pemasoknya) Mendiskusikan potensi keluha dan memberikan informasi Melaksanakan kesimpulan Laporan Rencana Aksi melalui Laporan Aksi Lapangan Tim Verifikasi Melakukan verifikasi lapangan; menyiapkan Laporan Verifikasi Keluhan Jadwal 10 hari kerja (10 hari kerja) Dapat bervariasi

PROSEDUR KELUHAN BERKAITAN DENGAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN WILMAR TENTANG NOL DEFORESTASI, NOL LAHAN GAMBUT, NOL EKPLOITASI

PROSEDUR KELUHAN BERKAITAN DENGAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN WILMAR TENTANG NOL DEFORESTASI, NOL LAHAN GAMBUT, NOL EKPLOITASI PROSEDUR KELUHAN BERKAITAN DENGAN IMPLEMENTASI KEBIJAKAN WILMAR TENTANG NOL DEFORESTASI, NOL LAHAN GAMBUT, NOL EKPLOITASI 1. LATAR BELAKANG Wilmar International ( Wilmar ) menyadari bahwa pengembangan

Lebih terperinci

Lihat https://acrobat.adobe.com/sea/en/how-to/pdf-to-word-doc-converter.html untuk informasi lebih lanjut. LAMPIRAN 3

Lihat https://acrobat.adobe.com/sea/en/how-to/pdf-to-word-doc-converter.html untuk informasi lebih lanjut. LAMPIRAN 3 Untuk mengedit teks ini: Buka file ini pada Adobe Acrobat Klik 'Export PDF tool' pada bagian kanan Pilih Microsoft Word' untuk formatnya kemudian pilih Word Document Klik Export. Simpan file dengan memberikan

Lebih terperinci

Komite Penasihat Pemangku Kepentingan (SAC) terhadap Kebijakan Pengelolaan Hutan Keberlanjutan (SFMP 2.0) APRIL

Komite Penasihat Pemangku Kepentingan (SAC) terhadap Kebijakan Pengelolaan Hutan Keberlanjutan (SFMP 2.0) APRIL Komite Penasihat Pemangku Kepentingan (SAC) terhadap Kebijakan Pengelolaan Hutan Keberlanjutan (SFMP 2.0) APRIL Rapat SAC ke-10 di Pangkalan Kerinci, Riau - Indonesia, 23-25 Mei 2017 ANGGOTA SAC TURUT

Lebih terperinci

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) LAMPIRAN 6 PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua Nama:

Lebih terperinci

Update - Laporan Assurance KPMG Rencana Aksi Final

Update - Laporan Assurance KPMG Rencana Aksi Final Update - Laporan Assurance KPMG Rencana Aksi Final Rencana Aksi Kepatuhan Jumlah Rencana Aksi 3 Ketidaksesuaian 7 Peluang untuk Perbaikan 7 Peluang untuk Perbaikan 14 Peluang untuk Perbaikan Status Selesai

Lebih terperinci

Proses Penyelesaian Perselisihan

Proses Penyelesaian Perselisihan Dokumen ID INDONESIA Proses Penyelesaian Perselisihan Latar Belakang ALS adalah skema yang bertujuan untuk mempromosikan penerapan pendekatan NKT secara lebih bermutu dan konsisten melalui a) penyediaan

Lebih terperinci

CODES OF PRACTICE. Dokumen: Codes of Practice Edisi / Rev: 1 / 2 Tanggal: 03 April 2017 Hal : Hal 1 dari 7

CODES OF PRACTICE. Dokumen: Codes of Practice Edisi / Rev: 1 / 2 Tanggal: 03 April 2017 Hal : Hal 1 dari 7 1. Pendahuluan Codes of Practice ini telah ditulis sesuai dengan persyaratan badan akreditasi nasional dan dengan persetujuan PT AJA Sertifikasi Indonesia yang saat ini beroperasi. PT. AJA Sertifikasi

Lebih terperinci

CODES OF PRACTICE. 1. Pendahuluan

CODES OF PRACTICE. 1. Pendahuluan 1. Pendahuluan Codes of Practice ini telah ditulis sesuai dengan persyaratan badan akreditasi nasional dan dengan persetujuan PT AJA Sertifikasi Indonesia yang saat ini beroperasi. PT. AJA Sertifikasi

Lebih terperinci

LAMPIRAN 3 NOTA KESEPAKATAN (MOU) UNTUK MERENCANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA. (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 3 NOTA KESEPAKATAN (MOU) UNTUK MERENCANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA. (Versi Ringkas) LAMPIRAN 3 NOTA KESEPAKATAN (MOU) UNTUK MERENCANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua

Lebih terperinci

2 Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846); 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelaya

2 Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4846); 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelaya BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 1125, 2014 PPATK. Informasi Publik. Layanan. Standar. PERATURAN KEPALA PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN NOMOR PER-07/1.03/PPATK/07/14 TENTANG STANDAR

Lebih terperinci

FORMULIR PENGAJUAN KELUHAN BAGIAN A DATA PELAPOR

FORMULIR PENGAJUAN KELUHAN BAGIAN A DATA PELAPOR FORMULIR PENGAJUAN KELUHAN Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) adalah organisasi nirlaba yang didirikan dengan visi mentransformasi pasar untuk menjadikan minyak sawit berkelanjutan sebagai norma.

Lebih terperinci

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL. Bab I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Tujuan

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL. Bab I KETENTUAN UMUM. Pasal 1 Tujuan PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL Bab I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Tujuan Peraturan ini dibuat dengan tujuan menjalankan fungsi pengendalian internal terhadap kegiatan perusahaan dengan sasaran utama keandalan

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET

PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT KABINET A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Proses dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, telah membuat bangsa kita sadar akan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1255, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBAGA ADMINISTRASI INFORMASI PUBLIK. Pengelolaan. Pelayanan. Pedoman. PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 19 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN

Lebih terperinci

Kebijakan Asosiasi. Tanggal Berlaku PfA berlaku secara efektif sejak menerima dukungan dari Stakeholder Advisory Committee (SAC)

Kebijakan Asosiasi. Tanggal Berlaku PfA berlaku secara efektif sejak menerima dukungan dari Stakeholder Advisory Committee (SAC) Kebijakan Asosiasi Tujuan Pada bulan Juni 2015, APRIL telah menerapkan Kebijakan Pengelolaan Hutan Berkelanjutan ("SFMP") 2.0 1 yang menyatakan komitmen Grup APRIL untuk: mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan

Lebih terperinci

Catatan informasi klien

Catatan informasi klien Catatan informasi klien Ikhtisar Untuk semua asesmen yang dilakukan oleh LRQA, tujuan audit ini adalah: penentuan ketaatan sistem manajemen klien, atau bagian darinya, dengan kriteria audit; penentuan

Lebih terperinci

2. Bagaimana Kami Menggunakan Informasi Anda

2. Bagaimana Kami Menggunakan Informasi Anda KEBIJAKAN PRIVASI Penidago.com dimiliki dan dioperasikan oleh Grup Perusahaan Penidago ("Penidago" atau "Kami"). Kebijakan Privasi ini menjelaskan bagaimana kami mengumpulkan, menggunakan, menyingkapkan,

Lebih terperinci

WALIKOTA MADIUN WALIKOTA MADIUN,

WALIKOTA MADIUN WALIKOTA MADIUN, WALIKOTA MADIUN PERATURAN WALIKOTA MADIUN NOMOR 85 TAHUN 2014 TENTANG TATA KERJA PEJABAT PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MADIUN WALIKOTA MADIUN, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK PT SURYA CITRA MEDIA Tbk

PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK PT SURYA CITRA MEDIA Tbk PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK PT SURYA CITRA MEDIA Tbk Perseroan meyakini bahwa pembentukan dan penerapan Pedoman Tata Kelola Perusahan Yang Baik ( Pedoman GCG ) secara konsisten dan berkesinambungan

Lebih terperinci

Kebijakan Pengungkap Fakta

Kebijakan Pengungkap Fakta KEBIJAKAN PENGUNGKAP FAKTA 1. Ikhtisar Amcor berkomitmen terhadap standar tertinggi praktik etis dan hubungan yang jujur, serta perlindungan bagi individu yang melaporkan kejadian atau dugaan terjadinya

Lebih terperinci

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL Bab I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Tujuan Peraturan ini dibuat dengan tujuan menjalankan fungsi pengendalian internal terhadap kegiatan perusahaan dengan sasaran utama keandalan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGUNGKAP FAKTA

KEBIJAKAN PENGUNGKAP FAKTA Kebijakan Pengungkap Fakta KEBIJAKAN PENGUNGKAP FAKTA Pernyataan Etika Perusahaan (Statement of Corporate Ethics) Amcor Limited menetapkan kebijakannya terhadap pengungkapan fakta dan komitmennya untuk

Lebih terperinci

21 Maret Para Pemangku Kepentingan yang Terhormat,

21 Maret Para Pemangku Kepentingan yang Terhormat, 21 Maret 2013 Para Pemangku Kepentingan yang Terhormat, 5 Februari 2013 mungkin merupakan hari paling penting dalam sejarah APP. Pada tanggal tersebut kami mengumumkan Kebijakan Konservasi Hutan, dengan

Lebih terperinci

PEDOMAN KERJA KOMITE AUDIT

PEDOMAN KERJA KOMITE AUDIT PT Wintermar Offshore Marine Tbk ( Perseroan ) PEDOMAN KERJA KOMITE AUDIT Pasal 1 Tujuan 1. Komite Audit dibentuk berdasarkan Peraturan Bapepam dan LK No. IX.1.5 dengan merujuk pada Lampiran Keputusan

Lebih terperinci

TINJAUAN DAN PEMBARUAN KEBIJAKAN PENGAMANAN BANK DUNIA RENCANA KONSULTASI

TINJAUAN DAN PEMBARUAN KEBIJAKAN PENGAMANAN BANK DUNIA RENCANA KONSULTASI TINJAUAN DAN PEMBARUAN KEBIJAKAN PENGAMANAN BANK DUNIA RENCANA KONSULTASI Bank Dunia memulai proses selama dua tahun untuk meninjau dan memperbaharui (update) kebijakan-kebijakan pengamanan (safeguard)

Lebih terperinci

Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017

Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017 Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017 Kode etik bisnis Kode etik bisnis ini berlaku pada semua bisnis dan karyawan Smiths Group di seluruh dunia. Kepatuhan kepada Kode ini membantu menjaga dan meningkatkan

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM.63/UM.001/MPEK/2013 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM.63/UM.001/MPEK/2013 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM.63/UM.001/MPEK/2013 TENTANG PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PERTAHANAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERTAHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTAHANAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI, PERATURAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI NOMOR 02 /M/PER/V/2011 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA

Lebih terperinci

LAPORAN VERIFIKASI INSIDEN DI WILAYAH DISTRIK 8 DI AREA KONSESI PT WIRAKARYA SAKTI - JAMBI TIM VERIFIKASI

LAPORAN VERIFIKASI INSIDEN DI WILAYAH DISTRIK 8 DI AREA KONSESI PT WIRAKARYA SAKTI - JAMBI TIM VERIFIKASI LAPORAN VERIFIKASI INSIDEN DI WILAYAH DISTRIK 8 DI AREA KONSESI PT WIRAKARYA SAKTI - JAMBI TIM VERIFIKASI APRIL 2015 1. Latar Belakang Pada tanggal 1 Februari 2013, APP, melalui Kebijakan Konservasi Hutannya

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.370, 2010 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL. Keterbukaan Informasi Publik. PERATURAN KEPALA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 148/KA/VII/2010 TENTANG

Lebih terperinci

Royal Golden Eagle (RGE) Kerangka Kerja Keberlanjutan Industri Kehutanan, Serat Kayu, Pulp & Kertas

Royal Golden Eagle (RGE) Kerangka Kerja Keberlanjutan Industri Kehutanan, Serat Kayu, Pulp & Kertas Royal Golden Eagle (RGE) Kerangka Kerja Keberlanjutan Industri Kehutanan, Serat Kayu, Pulp & Kertas I. Ruang Lingkup: Seluruh ketentuan Sustainability Framework ini berlaku tanpa pengecualian bagi: Seluruh

Lebih terperinci

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SUMBERDAYA SEWATAMA

PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SUMBERDAYA SEWATAMA PIAGAM KOMITE AUDIT (AUDIT COMMITTEE CHARTER) PT SUMBERDAYA SEWATAMA 1 DAFTAR ISI I. DEFINISI...3 II. VISI DAN MISI...4 III. TUJUAN PENYUSUNAN PIAGAM KOMITE AUDIT...4 IV. TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB...4 V.

Lebih terperinci

2011, No Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1

2011, No Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 1 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.300, 2011 KEMENTERIAN NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI. Pengelolaan Informasi dan Dokumentasi. Pedoman. PERATURAN MENTERI NEGARA RISET DAN TEKNOLOGI NOMOR 02 /M/PER/V/2011

Lebih terperinci

Buku Panduan Perlindungan Prosedural Pendidikan Khusus New Hampshire

Buku Panduan Perlindungan Prosedural Pendidikan Khusus New Hampshire Buku Panduan Perlindungan Prosedural Pendidikan Khusus New Hampshire Buku Panduan ini didasarkan pada Undang-Undang Pendidikan Penyandang Disabilitas tahun 2004 dan Peraturan NH tentang Pendidikan untuk

Lebih terperinci

2 Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4846); 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembara

2 Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 61, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4846); 2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembara BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1522, 2014 KEMENKOPOLHUKAM. Informasi Publik. Layanan. Standar. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM DAN KEAMANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

WALIKOTA BUKITTINGGI PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN WALIKOTA BUKITTINGGI NOMOR 7 TAHUN 2017

WALIKOTA BUKITTINGGI PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN WALIKOTA BUKITTINGGI NOMOR 7 TAHUN 2017 SALINAN WALIKOTA BUKITTINGGI PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN WALIKOTA BUKITTINGGI NOMOR 7 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN PELAYANAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BUKITTINGGI

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.987, 2012 KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA. Mediasi HAM. Standar Operasional Prosedur. PERATURAN KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA NOMOR 001/KOMNAS HAM/IX/2011 TENTANG

Lebih terperinci

BUPATI SERANG PERATURAN BUPATI SERANG NOMOR 30 TAHUN 2017 TENTANG

BUPATI SERANG PERATURAN BUPATI SERANG NOMOR 30 TAHUN 2017 TENTANG BUPATI SERANG PERATURAN BUPATI SERANG NOMOR 30 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN PELAYANAN INFORMASI PUBLIK DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SERANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

TENTARA NASIONAL INDONESIA PERATURAN PANGLIMA TENTARA NASIONAL INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG

TENTARA NASIONAL INDONESIA PERATURAN PANGLIMA TENTARA NASIONAL INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG TENTARA NASIONAL INDONESIA PERATURAN PANGLIMA TENTARA NASIONAL INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK TNI DI LINGKUNGAN TENTARA NASIONAL INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

2017, No Indonesia Nomor 4433) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 T

2017, No Indonesia Nomor 4433) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 T BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.153, 2017 KEMEN-KP. Sertifikasi HAM Perikanan. Persyaratan dan Mekanisme. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2/PERMEN-KP/2017 TENTANG

Lebih terperinci

Perkembangan Insiden di Wirakarya Sakti (WKS) di Jambi, posting pada 23 Mei 2015:

Perkembangan Insiden di Wirakarya Sakti (WKS) di Jambi, posting pada 23 Mei 2015: pada 23 Mei 2015: Pada hari Sabtu, 23 Mei 2015, perwakilan APP dan WKS berpartisipasi dalam doa bersama dan upacara adat yang diselenggarakan oleh masyarakat setempat di desa Lubuk Mandarsah di Jambi.

Lebih terperinci

KEMENTERIAN PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG

KEMENTERIAN PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG KEMENTERIAN PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PERTAHANAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PERTAHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

perusahaan PT. Toba Pulp Lestari? perusahaan PT. Toba Pulp Lestari?

perusahaan PT. Toba Pulp Lestari? perusahaan PT. Toba Pulp Lestari? Pedoman Wawancara 1. Bagaimana pendapat bapak terhadap program tanggung jawab sosial perusahaan PT. Toba Pulp Lestari? 2. Bagaimana mekanisme PT. Toba Pulp Lestari dalam memberikan bantuan tanggung jawab

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 42 TAHUN 2017

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 42 TAHUN 2017 BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 42 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN PELAYANAN INFORMASI PUBLIK DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BADUNG Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 16 TAHUN 2017 TENTANG

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 16 TAHUN 2017 TENTANG GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 16 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PELAYANAN INFORMASI PUBLIK DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

Lebih terperinci

KODE ETIK GLOBAL PERFORMANCE OPTICS

KODE ETIK GLOBAL PERFORMANCE OPTICS KODE ETIK GLOBAL PERFORMANCE OPTICS Kode Etik Global Performance Optics adalah rangkuman harapan kami terkait dengan perilaku di tempat kerja. Kode Etik Global ini mencakup beragam jenis praktik bisnis;

Lebih terperinci

BUPATI BERAU PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI BERAU PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG 1 SALINAN BUPATI BERAU PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 37 TAHUN 2014 TENTANG TATA KERJA DAN PEJABAT PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BERAU BUPATI

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 73 /POJK.05/2016 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 73 /POJK.05/2016 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 73 /POJK.05/2016 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Tentang Generali Group Compliance Helpline (EthicsPoint)

Tentang Generali Group Compliance Helpline (EthicsPoint) Tentang Generali Group Compliance Helpline (EthicsPoint) Pelaporan Umum Keamanan Pelaporan Kerahasiaan & perlindungan data Tentang Generali Group Compliance Helpline (EthicsPoint) Apa Itu Generali Group

Lebih terperinci

Pedoman Informasi tentang Tahapan Konsultasi dalam Mekanisme Akuntabilitas ADB

Pedoman Informasi tentang Tahapan Konsultasi dalam Mekanisme Akuntabilitas ADB Pedoman Informasi tentang Tahapan Konsultasi dalam Mekanisme Akuntabilitas ADB Kami mendengarkan orang-orang dan masyarakat yang terkena dampak proyek bantuan ADB @ 2005 Asian Development Bank Isi yang

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI Menimbang Mengingat :

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (S O P) FORUM LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (S O P) FORUM LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (S O P) FORUM LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT FORUM LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN 2015 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... i

Lebih terperinci

2011, No Tata Cara Pengelolaan dan Pelayanan Informasi Publik pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 3

2011, No Tata Cara Pengelolaan dan Pelayanan Informasi Publik pada Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 3 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.173, 2011 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAM. Pelayanan Informasi Publik. Pengelolaan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-04.IN.04.02

Lebih terperinci

PT INDO KORDSA TBK PIAGAM KOMITE AUDIT

PT INDO KORDSA TBK PIAGAM KOMITE AUDIT PT INDO KORDSA TBK PIAGAM KOMITE AUDIT Halaman 1 dari 7 1. TUJUAN Tujuan dari fungsi Komite Audit adalah untuk membantu Dewan Komisaris dalam memenuhi kewajibannya mengawasi proses pelaporan keuangan,

Lebih terperinci

PIAGAM KOMITE AUDIT PT PP LONDON SUMATRA INDONESIA Tbk

PIAGAM KOMITE AUDIT PT PP LONDON SUMATRA INDONESIA Tbk PIAGAM KOMITE AUDIT PT PP LONDON SUMATRA INDONESIA Tbk Komite Audit PT PP London Sumatra Indonesia Tbk ( Perusahaan ) dibentuk oleh dan bertanggung jawab kepada Dewan Komisaris dalam rangka membantu melaksanakan

Lebih terperinci

No. 16/16/DKSP Jakarta, 30 September 2014 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA PENYELENGGARA DAN KONSUMEN JASA SISTEM PEMBAYARAN DI INDONESIA

No. 16/16/DKSP Jakarta, 30 September 2014 SURAT EDARAN. Kepada SEMUA PENYELENGGARA DAN KONSUMEN JASA SISTEM PEMBAYARAN DI INDONESIA No. 16/16/DKSP Jakarta, 30 September 2014 SURAT EDARAN Kepada SEMUA PENYELENGGARA DAN KONSUMEN JASA SISTEM PEMBAYARAN DI INDONESIA Perihal : Tata Cara Pelaksanaan Perlindungan Konsumen Jasa Sistem Pembayaran

Lebih terperinci

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 N

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 N BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 157, 2017 KEMENDAGRI. Pelayanan Informasi dan Dokumentasi. Pedoman. Pencabutan. PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN

Lebih terperinci

Rangkuman dari isu isu yang dijabarkan dalam laporan studi tersebut dalam kaitannya dengan komitmen kebijakan FCP APP adalah:

Rangkuman dari isu isu yang dijabarkan dalam laporan studi tersebut dalam kaitannya dengan komitmen kebijakan FCP APP adalah: Laporan Verifikasi Keluhan melalui Laporan yang dibuat oleh FPP, Scale UP & Walhi Jambi berjudul Pelajaran dari Konflik, Negosiasi dan Kesepakatan antara Masyarakat Senyerang dengan PT Wirakarya Sakti

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.07/2017

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.07/2017 OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /POJK.07/2017 TENTANG LAYANAN PENGADUAN KONSUMEN DI SEKTOR JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN

Lebih terperinci

TUGAS DAN FUNGSI UNIT PENGELOLAAN INFORMASI, DOKUMENTASI DAN ARSIP, PELAYANAN INFORMASI SERTA PENGADUAN DAN PENYELESAIAN SENGKETA PPID UTAMA ACEH

TUGAS DAN FUNGSI UNIT PENGELOLAAN INFORMASI, DOKUMENTASI DAN ARSIP, PELAYANAN INFORMASI SERTA PENGADUAN DAN PENYELESAIAN SENGKETA PPID UTAMA ACEH TUGAS DAN FUNGSI UNIT PENGELOLAAN INFORMASI, DOKUMENTASI DAN ARSIP, PELAYANAN INFORMASI SERTA PENGADUAN DAN PENYELESAIAN SENGKETA PPID UTAMA ACEH Pengelolaan Informasi Unit pengelolaan informasi memiliki

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR TAHUN 2014 TENTANG PENYELESAIAN SENGKETA TENURIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR TAHUN 2014 TENTANG PENYELESAIAN SENGKETA TENURIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR TAHUN 2014 TENTANG PENYELESAIAN SENGKETA TENURIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH, Menimbang : a. bahwa dengan wilayah

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. No.1279, 2013 KEMENTERIAN PARIWISATADAN EKONOMI KREATIF. Informasi. Dokumentasi. Pengelolaan. Pencabutan.

BERITA NEGARA. No.1279, 2013 KEMENTERIAN PARIWISATADAN EKONOMI KREATIF. Informasi. Dokumentasi. Pengelolaan. Pencabutan. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1279, 2013 KEMENTERIAN PARIWISATADAN EKONOMI KREATIF. Informasi. Dokumentasi. Pengelolaan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PARIWISATADAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 47 TAHUN 2013 TENTANG

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 47 TAHUN 2013 TENTANG GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 47 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PELAYANAN INFORMASI PUBLIK DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

Lebih terperinci

PERJANJIAN PIALANG PENGENAL FXPRIMUS

PERJANJIAN PIALANG PENGENAL FXPRIMUS PERJANJIAN PIALANG PENGENAL FXPRIMUS SYARAT & PERJANJIAN PIALANG PENGENAL PERJANJIAN INI diselenggarakan antara FXPRIMUS dan ( Sponsor ). DI MANA, FXPRIMUS adalah perantara dalam kontrak serah langsung

Lebih terperinci

Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia

Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia \ Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 01 TAHUN 2017 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA PELAKSANAAN KEMITRAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

GUBERNUR KEPULAUAN RIAU

GUBERNUR KEPULAUAN RIAU GUBERNUR KEPULAUAN RIAU PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN RIAU NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PELAYANAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI KEPULAUAN RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERSYARATAN SERTIFIKASI F-LSSM

PERSYARATAN SERTIFIKASI F-LSSM PERSYARATAN SERTIFIKASI LEMBAGA SERTIFIKASI SISTIM MUTU () KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN R.I BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN INDUSTRI BALAI RISET DAN STANDARDISASI INDUSTRI PALEMBANG JL. PERINDUSTRIAN II

Lebih terperinci

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis pada Bab VI dan V, dapat disimpulkan

BAB VI PENUTUP. A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis pada Bab VI dan V, dapat disimpulkan BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis pada Bab VI dan V, dapat disimpulkan bahwa LOD DIY cukup efektif dalam merespon dan menindaklanjuti keluhan masyarakat. Efektivitas LOD DIY tersebut

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 1 angka 4,

Lebih terperinci

2012, No

2012, No 2012, No.1211 4 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN

Lebih terperinci

Indorama Ventures Public Company Limited. Kode Etik Pemasok

Indorama Ventures Public Company Limited. Kode Etik Pemasok Indorama Ventures Public Company Limited Kode Etik Pemasok Kode Etik Pemasok Indorama Ventures Public Company Limited dan anak perusahaan / afiliasi (secara kolektif disebut sebagai Perusahaan) berkomitmen

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 16 TAHUN 2017 TENTANG

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 16 TAHUN 2017 TENTANG GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 16 TAHUN 2017 TENTANG PEDOMAN PELAYANAN INFORMASI PUBLIK DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

Lebih terperinci

Indorama Ventures Public Company Limited

Indorama Ventures Public Company Limited Indorama Ventures Public Company Limited Kode Etik untuk Pemasok (Sebagaimana yang di setujui pada Desember 2014) Revisi 1 (Sebagaimana yang di setujui pada Mei 2017) Catatan Dalam hal ketentuan apa pun

Lebih terperinci

BUPATI KEBUMEN PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI KEBUMEN PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI KEBUMEN PERATURAN BUPATI KEBUMEN NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG TATA KERJA PEJABAT PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAHAN KABUPATEN KEBUMEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

ATURAN PELAKSANAAN SERTIFIKASI PENILAIAN KINERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI DAN VERIFIKASI LEGALITAS KAYU

ATURAN PELAKSANAAN SERTIFIKASI PENILAIAN KINERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI DAN VERIFIKASI LEGALITAS KAYU ATURAN PELAKSANAAN SERTIFIKASI PENILAIAN KINERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI DAN VERIFIKASI LEGALITAS KAYU 1.0 PENDAHULUAN PT. Ayamaru Sertifikasi menyusun Aturan Pelaksanaan ini untuk digunakan

Lebih terperinci

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK

KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN INFORMASI GEOSPASIAL NOMOR 13 TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN INFORMASI GEOSPASIAL NOMOR 13 TAHUN 2016 TENTANG 1 PERATURAN KEPALA BADAN INFORMASI GEOSPASIAL NOMOR 13 TAHUN 2016 TENTANG AKREDITASI LEMBAGA PENILAIAN KESESUAIAN PENYEDIA JASA DI BIDANG INFORMASI GEOSPASIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN

Lebih terperinci

PERJANJIAN AFILIASI FXPRIMUS

PERJANJIAN AFILIASI FXPRIMUS PERJANJIAN AFILIASI FXPRIMUS PERSYARATAN & PERJANJIAN AFILIASI PERJANJIAN INI dibuat antara FXPRIMUS dan ( Afiliasi ). MENGINGAT, FXPRIMUS adalah dealer dalam kontrak trading di luar bursa dan kontrak

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI FITRA RIAU

STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI FITRA RIAU STANDAR OPERASIONAL DAN PROSEDUR PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI FITRA RIAU FORUM INDONESIA UNTUK TRANSPARANSI ANGGARAN (FITRA) RIAU 2014 Standar Operasional dan Prosedur (SOP) PENGELOLAAN INFORMASI

Lebih terperinci

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12 SOP-6 PENELAAHAN MUTU Halaman 1 dari 12 Histori Tanggal Versi Pengkinian Oleh Catatan 00 Halaman 2 dari 12 KETENTUAN 1.1 Penelaahan Mutu dilakukan untuk memastikan pelaksanaan kerja oleh Penilai telah

Lebih terperinci

KODE PRAKTEK PANDI-DNP/ Versi 1.0. Dikeluarkan tanggal 1 Maret Pengelola Nama Domain Internet Indonesia

KODE PRAKTEK PANDI-DNP/ Versi 1.0. Dikeluarkan tanggal 1 Maret Pengelola Nama Domain Internet Indonesia KODE PRAKTEK PANDI-DNP/2012-003 Versi 1.0 Dikeluarkan tanggal 1 Maret 2012 Pengelola Nama Domain Internet Indonesia Gedung Arthaloka LT. 11 Jln. Jend. Sudirman Kav. 2 Jakarta Pusat 10220, Indonesia. www.pandi.or.id

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN - 1 -

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN - 1 - PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK PUSAT KOMUNIKASI PUBLIK KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN - 1-2013 KOMISI INFORMASI PUSAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI

Lebih terperinci

Kebijakan Manajemen Risiko

Kebijakan Manajemen Risiko Kebijakan Manajemen Risiko PT Indo Tambangraya Megah, Tbk. (ITM), berkomitmen untuk membangun sistem dan proses manajemen risiko perusahaan secara menyeluruh untuk memastikan tujuan strategis dan tanggung

Lebih terperinci

PEDOMAN DAN TATA KERJA DEWAN KOMISARIS

PEDOMAN DAN TATA KERJA DEWAN KOMISARIS Pedoman dan Tata Kerja Dewan Komisaris PEDOMAN DAN TATA KERJA Hal 1/11 RINCIAN PEDOMAN DAN TATA KERJA DAFTAR ISI 1.0 Statement of Policy..... 3 2.0 Tugas dan Tanggung Jawab Dewan Komisaris.......... 3

Lebih terperinci

-2- Pasal 68 ayat huruf c dan Pasal 69 ayat UndangUndang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19

-2- Pasal 68 ayat huruf c dan Pasal 69 ayat UndangUndang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 19 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.621, 2017 KEMEN-LHK. Pengelolaan Pengaduan Dugaan Pencemaran. Perusakan Lingkungan Hidup dan/atau Perusakan Hutan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN

Lebih terperinci

Manual Prosedur Penanganan Keluhan dan Evaluasi Kepuasan Pelanggan

Manual Prosedur Penanganan Keluhan dan Evaluasi Kepuasan Pelanggan Manual Prosedur Penanganan Keluhan dan Evaluasi Kepuasan Unit Jaminan Mutu Jurusan Manajemen Sumber Daya Perairan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Universitas Brawijaya Malang 2014 Manual Prosedur

Lebih terperinci

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS PERNYATAAN DAN PRINSIP KEBIJAKAN Sesuai dengan Undang-undang Intelijen Keuangan dan Anti Pencucian Uang 2002 (FIAMLA 2002), Undang-undang Pencegahan Korupsi 2002

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG

SALINAN PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENANGANAN KASUS DUGAAN PELANGGARAN DISIPLIN DOKTER DAN DOKTER GIGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA KONSIL KEDOKTERAN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.340, 2015 DJSN. Informasi Publik. Pelayanan. PERATURAN DEWAN JAMINAN SOSIAL NASIONAL NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PELAYANAN INFORMASI PUBLIK DI LINGKUNGAN DEWAN JAMINAN

Lebih terperinci

Berikut ini adalah beberapa istilah dalam Syarat dan Ketentuan di bawah ini akan memiliki arti sebagai berikut:

Berikut ini adalah beberapa istilah dalam Syarat dan Ketentuan di bawah ini akan memiliki arti sebagai berikut: Syarat dan Ketentuan Pendana Terima kasih telah mengunjungi platform kami di www.danain.co.id, kami sebagai penyedia jasa layanan investasi berbasis digital akan selalu berupaya sebaik mungkin dalam memberikan

Lebih terperinci

PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI NOMOR : 3 / BNSP / III / 2014 TENTANG PEDOMAN KETENTUAN UMUM LISENSI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI

PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI NOMOR : 3 / BNSP / III / 2014 TENTANG PEDOMAN KETENTUAN UMUM LISENSI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI PERATURAN BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI NOMOR : 3 / BNSP / III / 2014 TENTANG PEDOMAN KETENTUAN UMUM LISENSI LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KETUA BADAN NASIONAL SERTIFIKASI

Lebih terperinci

Piagam Audit Internal. PT Astra International Tbk

Piagam Audit Internal. PT Astra International Tbk Piagam Audit Internal PT Astra International Tbk Desember 2010 PIAGAM AUDIT INTERNAL 1. Visi dan Misi Visi Mempertahankan keunggulan PT Astra International Tbk dan perusahaanperusahaan utama afiliasinya

Lebih terperinci

MANUAL PROSEDUR AUDIT MUTU INTERNAL SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL STIKES HARAPAN IBU JAMBI

MANUAL PROSEDUR AUDIT MUTU INTERNAL SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL STIKES HARAPAN IBU JAMBI MANUAL PROSEDUR AUDIT MUTU INTERNAL SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL STIKES HARAPAN IBU JAMBI LEMBAGA PENJAMINAN MUTU STIKES HARAPAN IBU JAMBI TAHUN 2016 LEMBAGA PENJAMINAN MUTU STIKES HI JAMBI VISI Menjadi

Lebih terperinci

PENGENDALIAN INFORMASI BPJS KETENAGAKERJAAN

PENGENDALIAN INFORMASI BPJS KETENAGAKERJAAN PENGENDALIAN INFORMASI BPJS KETENAGAKERJAAN Informasi BPJS Ketenagakerjaan Informasi adalah keterangan, pernyataan, gagasan dan tanda-tanda yang mengandung nilai, makna dan pesan, baik data, fakta maupun

Lebih terperinci

16. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia

16. Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran Negara Republik Indonesia RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG TRANSPARANSI, PARTISIPASI DAN AKUNTABILITAS DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR UTAMA BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DIREKTUR UTAMA BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN, PERATURAN BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KESEHATAN NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA DAN MEKANISME KERJA PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN ATAS KEPATUHAN DALAM PENYELENGGARAAN PROGRAM JAMINAN KESEHATAN

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR LAYANAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI INFORMASI Menimbang: Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 1 angka 4,

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN: : PERATURAN BUPATI TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN PELAYANAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI.

MEMUTUSKAN: : PERATURAN BUPATI TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN PELAYANAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI. BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN PELAYANAN INFORMASI DAN DOKUMENTASI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Mendengarkan Masyarakat yang Terkena Dampak Proyek-Proyek Bantuan ADB Apa yang dimaksud dengan Mekanisme Akuntabilitas ADB? Pada bulan Mei 2003, Asian Development

Lebih terperinci