Gede Arioka Dwipayana 1, Atik Badi ah 2, Endang Lestiawati 3 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Gede Arioka Dwipayana 1, Atik Badi ah 2, Endang Lestiawati 3 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Transkripsi

1 HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN SIKAP ORANG TUA DALAM PEMENUHAN KEBUTUHAN BERMAIN PADA ANAK USIA PRA-SEKOLAH (3-6TAHUN) DI TAMAN KANAK-KANAK ASIH SEJATI CATUR TUNGGAL DEPOK SLEMAN Gede Arioka Dwipayana 1, Atik Badi ah 2, Endang Lestiawati 3 INTISARI Latar Belakang : Bermain adalah kegiatan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan anak seharihari. Bermain merupakan kebutuhan dasar seperti juga makanan dan kasih sayang. Saat bermain, anak perlu penerimaan dan perlu didampingi oleh orang dewasa. Orang tua adalah sosok yang sangat berperan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Pengetahuan dan sikap orang tua tentang pentingnya kebutuhan bermain bagi anak sangatlah berpengaruh. Semakin tinggi tingkat pengetahuan orang tua maka akan berdampak pada terbentuknya sikap yang baik termasuk dalam pemenuhan kebutuhan bermain anak. Tujuan Penelitian : Diketahuinya hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal Depok Sleman. Metode Penelitian : Penelitian ini merupakan penelitian non-eksperimental dan bersifat deskriptif analitik kuantitatif dengan rancangan cross sectional. Data diambil dengan teknik sampling jenuh kemuadian diolah dan dianalisis menggunakan analisis kendall tau dengan α=0,0 dan tingkat kepercayaan 9%. Hasil Penelitian : Berdasarkan kategori tingkat pengetahuan dari 42 orang responden, 10 orang (23,8%) mempunyai tingkat pengetahuan tinggi, 27 orang (64,3%) sedang dan orang (11,9%) rendah. Berdasarkan kategori sikap, 24 orang (7,1%) memiliki sikap baik dan 18 orang (42,9%) tidak baik. Hasil pengujian hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap orangtua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal, Depok, Sleman didapatkan nilai sig.x 2 yaitu 0,007 (< 0,0). Kesimpulan : Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal Depok Sleman. Kata Kunci : Pengetahuan, sikap, bermain, anak usia prasekolah PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak adalah individu yang unik, mengalami tumbuh kembang, mempunyai kebutuhan biologis, psikologis dan spiritual yang harus dipenuhi (Suherman, 2000). Anak tidak akan dapat tumbuh dan berkembang secara normal apabila aktivitas masa kecilnya tidak terpenuhi dengan baik. Anak terlahir dengan segala kelemahan, oleh karena itu seorang anak membutuhkan orang lain untuk berinteraksi dan membantu mengembangkan kemampuannya. Anak sangat tergantung pada orang dewasa serta lingkungan yang ada disekitarnya yang dapat memfasilitasi dalam segala pemenuhan kebutuhannya baik

2 orang tua, keluarga maupun orang lain yang berada disekitarnya (Hidayat, 2008). Bagi anak bermain tidak hanya sekedar pengisi waktu tetapi merupakan kebutuhan dasar yang harus terpenuhi. Karena dengan bermain, anak akan dapat mengenal dunia. Menurut Supartini (2004), bermain merupakan kegiatan yang dilakukan secara sukarela untuk memperoleh kesenangan/kepuasan. Dari hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati yaitu melalui wawancara dengan 10 orang tua anak didapatkan hasil bahwa belum semua orang tua mengetahui secara komprehensif mengenai pemenuhan kebutuhan bermain yang efektif, 2 orang tua (20 %) mengatakan lebih senang jika anaknya belajar membaca dan berhitung daripada sekedar mengajak bermain. Selanjutnya 8 orang tua (80 %) mengatakan masih sering melakukan pengekangan saat anaknya sedang bermain. Contohnya pada saat anak bermain prosotan maupun ayunan. Melalui observasi sesaat dan juga keterangan dari guru TK didapatkan data bahwa terkadang orang tua sering melarang anaknya untuk bermain namun tidak memberikan pengertian yang bisa dipahami oleh anak. Berdasarkan latar belakang diatas dan setelah membaca literatur tentang tumbuh kembang anak dan peranan bermain bagi anak serta melakukan studi pendahuluan, penulis menjadi tertarik untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 th) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati, Catur Tunggal, Depok, Sleman. B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, peneliti dapat merumuskan masalah yaitu apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 th) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati, Catur Tunggal, Depok, Sleman. C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati, Catur Tunggal, Depok, Sleman. 2. Tujuan Khusus

3 a. Untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan orang tua terhadap pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak- Kanak Asih Sejati, Catur Tunggal, Depok, Sleman. b. Untuk mengidentifikasi sikap orang tua terhadap pemenuhan kebutuhan bermain anak usia prasekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati, Catur Tunggal, Depok, Sleman. D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang dapat di ambil dari penelitian ini antara lain : 1. Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan terutama dalam bidang keperawatan anak khususnya meneliti tentang pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah. 2. Praktis a. Bagi Pengelola Taman Kanak-Kanak Memberi masukan agar menjadikan anak usia prasekolah lebih aktif dalam kegiatan bermain serta acuan untuk meningkatkan fasilitas bermain guna menunjang tumbuh kembang anak yang lebih optimal. b. Bagi Guru Taman Kanak-Kanak Penelitian ini dapat memberikan tambahan pengetahuan bagi para guru tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan bermain bagi anak usia prasekolah. c. Bagi peneliti selanjutnya Menambah pengetahuan dan pengalaman serta menjadi bahan perbandingan dalam melakukan penelitian khususnya penelitian yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah. METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan kuantitatif dimana peneliti akan bekerja dengan angka-angka sebagai perwujudan gejala yang diamati (Arikunto, 2006). Penelitian ini juga merupakan penelitian noneksperimental dengan rancangan cross sectional yaitu melakukan pengukuran pada saat bersamaan atau sekali waktu pada penelitian ini. Penulis melakukan pengukuran mengenai pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah dimana tingkat

4 pengetahuan orang tua sebagai variabel bebas dan sikap orang tua sebagai variabel terikat di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati secara bersamaan (sekali waktu). B. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada tanggal 2 Maret hingga 18 April tahun 2012 di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati, Catur Tunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. C. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian (Arikunto, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah para orang tua (bapak/ibu) yang anaknya bersekolah di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati, Catur Tunggal, Depok, Sleman yang berjumlah 42 orang. 2. Sampel Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi (Hidayat, 2007). Pada penelitian ini sampel diambil dengan menggunakan tehnik sampling jenuh yaitu penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel (Sugiyono, 2009). Sampel pada penelitian ini adalah seluruh orang tua (bapak/ibu) yang anaknya bersekolah di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati yang berjumlah 42 orang. Sampel ini berdasarkan kriteria inklusi yang telah ditentukan. Kriteria responden yang dijadikan sampel pada penelitian ini adalah : a. Kriteria inklusi calon responden adalah : 1) Orang tua (bapak/ibu) yang bisa membaca dan menulis. 2) Orang tua (bapak/ibu) yang bersedia untuk dijadikan responden. b. Kriteria eksklusi calon responden adalah : 1) Orang tua (bapak/ibu) yang mengalami gangguan psikologis. D. Variabel dan Definisi Operasional 1. Variabel Penelitian Variabel adalah ukuran atau ciri yang dimiliki oleh anggota-anggota satu kelompok yang berbeda dengan yang dimiliki kelompok lain (Notoatmodjo, 2010). a. Variabel Bebas

5 Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu pengetahuan orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 th). b. Variabel Terikat Variabel terikat dalam penelitian ini yaitu sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 th). c. Variabel Pengganggu 1) Status Ekonomi Status ekonomi sangat berpengaruh bagi pemenuhan kebutuhan bermain pada anak, dimana semakin tinggi status ekonomi seseorang maka pemenuhan kebutuhan bermain bagi anak akan semakin terpenuhi, contohnya: pada saat menyediakan alat-alat permainan yang bermanfaat bagi anak. Sebaliknya semakin rendah ekonomi seseorang maka akan mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan bermain anak. Dalam hal ini status ekonomi orang tua tidak bisa dikendalikan. 2) Tingkat pendidikan Tingkat pendidikan orang tua akan menentukan dan berpengaruh besar dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan bermain pada anak. Semakin tinggi tingkat pendidikan orang tua maka akan semakin tinggi pula pemahaman mengenai pemenuhan kebutuhan bermain yang komprehensif bagi anak, sebaliknya semakin rendah pendidikan maka pemahaman akan pentingnya pemenuhan kebutuhan bermain tersebut akan semakin rendah. Cara mengendalikan tingkat pendidikan orang tua adalah minimal tamatan SD. 3) Pengalaman Pengalaman orang tua sangat berperan penting dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan bermain pada anak, semakin banyak pengalaman yang didapat dalam keseharian maka hal tersebut akan menunjang dalam pemenuhan kebutuhan bermain bagi anak, sebaliknya semakin sedikit pengalaman orang tua maka bahan perbandingan yang didapatkan akan sedikit juga. Dalam hal ini pengalaman orang tua tidak bisa dikendalikan. 2. Definisi Operasional a. Pengetahuan orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain anak usia prasekolah (3-6 th).

6 1) Pengetahuan orang tua merupakan hal-hal yang diketahui oleh orang tua mengenai pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah. Tingkatan pengetahuan yaitu dari tahu, memahami dan aplikasi. 2) Skala ukur yang digunakan adalah skala ordinal dan pengumpulan data pengetahuan diukur melalui kuisioner dengan pertanyaan tertulis yaitu untuk mengetahui kemampuan responden untuk menjawab pertanyaan tentang pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah. Hasil akhir penilaian pengetahuan menurut Nursalam (2003) total nilai hasil jawaban dari responden diberi peringkat: Tinggi: 76-%, Sedang: 6-7%, Rendah: 0-%. b. Sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain anak usia prasekolah (3-6 th). 1) Sikap orang tua merupakan tanggapan yang akan diperlihatkan oleh orang tua dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah. 2) Skala ukur yang digunakan untuk pengukuran sikap adalah skala ordinal. Tingkatan sikap dinilai dari hasil jawaban kuesioner dengan model skala Likert yang dikategorikan menjadi sikap positif dan negatif. Hasil akhir pengukuran sikap menurut Hidayat (2007) berdasarkan total nilai hasil jawaban dari responden yaitu : sikap baik (1- %) dan sikap tidak baik (0-0 %). E. Cara dan Alat/Instrumen Pengumpulan Data 1. Cara Pengumpulan Data a. Data Primer

7 Data primer dalam penelitian ini diperoleh dengan cara membagikan kuisioner kepada para orang tua yang bersedia untuk dijadikan responden, baik kuisioner pengetahuan maupun kuisioner sikap. Waktu penelitian yaitu sekitar pukul wib, saat para orang tua sedang menunggui anaknya yang sedang beraktivitas. Pembagian kuisioner dilakukan secara individual oleh peneliti kepada para responden, lalu peneliti memberikan arahan dan penjelasan cara pengisian kuisioner. Para responden kemudian mengisi lembaran kuisioner lalu mengumpulkannya pada hari yang sama dan segera setelah kuisioner diisi. Setelah kuisioner dikumpulkan lalu diperiksa kembali kelengkapannya, barulah dilakukan analisa data sesuai dengan rencana analisa yang akan digunakan. b. Data sekunder Data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari keterangan Guru Taman Kanak-Kanak yang meliputi jumlah murid di Taman Kanak-Kanak, Asih Sejati. Yang selanjutnya untuk diketahui jumlah orang tua dari murid/anak tersebut yang akan dipilih sesuai dengan kriteria inklusi untuk dijadikan responden dalam penelitian. 2. Alat/Instrumen Pengumpulan Data Instrumen atau alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini berupa kuisioner tertutup. Disusun secara terstruktur dan berisi pertanyaan untuk pengukuran mengenai tingkat pengetahuan dan sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 th). a. Alat ukur pengetahuan, yaitu menggunakan kuisioner dengan bentuk pernyataan tertutup. Jawaban dari responden dinilai dengan kriteria jawaban yaitu benar atau salah. Responden kemudian memilih salah satu jawaban yang dianggap benar atau salah dengan memberi tanda checklist ( ). Pernyataan yang diberikan berjumlah 20 soal. Pernyataan terdiri dari dua tipe yaitu favorable dan unfavorable. Untuk pernyataan favorable apabila benar nilainya 1 dan apabila salah nilainya 0. Untuk pernyataan unfavorable apabila benar nilainya 0 dan apabila salah nilainya 1. Menurut Arikunto (2006) hasil akhir jawaban dari setiap responden diukur dengan menggunakan rumus: Parameter yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan menurut Nursalam (2003) Jumlah yaitu skor : benar Jumlah item X %

8 1) Tingkat pengetahuan tinggi jika persentase skor : 76-%. 2) Tingkat pengetahuan sedang jika persentase skor : 6-7%. 3) Tingkat pengetahuan rendah jika persentase skor : 0-%. Tabel 3.1 Kisi-kisi alat ukur pengetahuan orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 th) Variabel Pengetahuan orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain Indikator No.Item pernyataan Favorable Unfavorable Jumlah Pengertian 1,8, item Fungsi 3,14,1,16 6,7 6 item Tujuan 2,9, item Faktor 17,19 4,,18,20 6 item b. Alat ukur sikap, yaitu menggunakan kuisioner dengan bentuk pernyataan tertutup yang berjumlah 20 soal dengan empat alternatif jawaban (skala Likert). Pernyataan dibuat dalam dua tipe yaitu favorable dan unfavorable. Pada tipe favorable skor tertinggi adalah 4 diberikan untuk jawaban sangat setuju (SS), skor 3 diberikan untuk jawaban setuju (S), skor 2 diberikan untuk jawaban tidak setuju (TS) dan skor 1 diberikan untuk jawaban sangat tidak setuju (STS). Untuk tipe unfavorable skor 1 diberikan untuk jawaban sangat setuju (SS), skor 2 diberikan untuk jawaban setuju (S), skor 3 diberikan untuk jawaban tidak setuju (TS) dan skor 4 diberikan untuk jawaban sangat tidak setuju (STS). Komponen sikap orang tua, dengan skor tertinggi 80 dan skor terendah 20 dengan jarak sebaran 60. Menurut Hidayat (2007) hasil akhir jawaban dari setiap responden diukur dengan menggunakan rumus : skor yang didapat jumlah skor maksimal dari instrumen x % Parameter yang digunakan untuk mengukur sikap yaitu : 1) Sikap tidak baik dengan persentase skor : 0-0 %

9 2) Sikap baik dengan persentase skor : 1- % Tabel 3.2 Kisi-kisi alat ukur sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 th) Variabel Sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain Indikator No.Item pernyataan Favorable Unfavorable Jumlah Pengertian 1,9 12,1,16,17 6 item Fungsi 3,6, item Tujuan item Faktor 2,4,,20 7,8,13,19 8 item HASIL DAN PEMBAHASAN A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian Taman Kanak-Kanak Asih Sejati didirikan oleh PKK Padukuhan Janti sejak hampir 30 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 2 Februari Setelah beberapa tahun kemudian dari sejak berdirinya, Taman Kanak-Kanak Asih Sejati telah memiliki izin pendiriannya dari Kepala Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, atas nama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dan mulai tahun 1994 Taman Kanak-Kanak Asih Sejati pindah tempat dan menempati gedung baru yang dibangun diatas tanah milik Pemerintah Desa Kelurahan Catur Tunggal hingga sekarang. Taman Kanak-Kanak Asih Sejati memiliki 3 bangunan utama, yaitu satu gedung PAUD, satu gedung olahraga dan satu gedung lagi terdiri atas 2 kelas yaitu kelas A dan kelas B yang diperuntukkan bagi para murid TK. Tenaga pengajar di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati berjumlah 3 orang diantaranya Ibu Martini, Ibu Mardian dan Ibu Suratmi dan yang ditunjuk sebagai Kepala Sekolah yaitu Ibu Martini. Atas dorongan dan bimbingan yang dilakukan secara terus menerus oleh instansi Pemerintah yang berkompeten, serta dukungan semua pihak yang terkait, Taman Kanak-Kanak Asih Sejati telah mampu mengukir berbagai prestasi terhadap anak didik baik ditingkat Kecamatan, Kabupaten maupun ditingkat Provinsi. Hasil Penelitian 1. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua (bapak/ibu) yang anaknya bersekolah di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati, Catur Tunggal, Depok,

10 Sleman dengan jumlah sampel sebanyak 42 orang. Sampel diambil dengan menggunakan tehnik sampling jenuh. Karakteristik responden meliputi: umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan pekerjaan, seperti terlihat pada Tabel 4.1 berikut ini: Tabel 4.1 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin, Pendidikan dan Pekerjaan di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal Depok Sleman Yogyakarta 2012 No. Karakteristik Frekuensi (f) Persentase (%) 1 Umur a. < 30 tahun b tahun c. > 3 tahun ,3 47,6 38,1 Jumlah 42 2 Jenis Kelamin a. Laki-laki b. Perempuan 18 42,9 24 7,1 Jumlah 42 3 Pendidikan a. SD b. SMP c. SMA d. PT ,9 23,8 40, 23,8 Jumlah 42 4 Pekerjaan a. Swasta b. Tani c. PNS d. IRT ,1 11,9 14,3 3,7 Jumlah 42 Sumber : Data primer 2012 Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa mayoritas responden berumur 30 3 tahun sebanyak 20 orang (47,6%), berumur > 3 tahun sebanyak 12 orang (38,1%) dan berumur < 30 tahun sebanyak 6 orang (14,3%). Berdasarkan jenis kelamin terlihat bahwa mayoritas responden dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 24 orang (7,1%) dan jenis kelamin laki-laki sebanyak 18 orang (42,9%). Berdasarkan tingkat pendidikan terakhir, mayoritas responden adalah SMA sebanyak 17 orang (40,6%), Perguruan Tinggi 10 orang (23,8%), SMP 10 orang (23,8%) dan SD sebanyak orang (11,9%). Berdasarkan pekerjaan, mayoritas responden adalah swasta sebanyak 16 orang (38,1%), 1 orang (3,7%) Ibu Rumah Tangga, 6 orang (14,3%) PNS dan bekerja sebagai petani orang (11,%). 2. Analisis Univariat a. Tingkat Pengetahuan Orangtua

11 Tingkat pengetahuan orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 th) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati diukur dengan menggunakan kuisioner dan pernyataan yang diberikan berjumlah 18 soal. Tingkat pengetahuan orangtua dibagi dalam tiga kategori yaitu: rendah, sedang dan tinggi. Berikut disajikan Tabel 4.2 distribusi frekuensi berdasarkan pengkategorian skor tingkat pengetahuan orang tua. Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Orang Tua dalam Pemenuhan Kebutuhan Bermain pada Anak Usia Pra-Sekolah (3-6 th) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal Depok Sleman 2012 Tingkat Pengetahuan No. Kategori f % 1 Rendah 11,9 2 Sedang 27 64,3 3 Tinggi 10 23,8 Jumlah 42 Sumber : Data primer 2012 Berdasarkan Tabel 4.2 dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan responden yang termasuk dalam kategori rendah sebanyak orang (11,9%), kategori sedang sebanyak 27 orang (64,3%) dan kategori tinggi sebanyak 10 orang (23,8%). Tabulasi silang antara karakteristik responden dengan tingkat pengetahuan terlihat pada Tabel 4.3 berikut ini: Tabel 4.3 Tabulasi Silang antara Karakteristik Responden dengan Tingkat Pengetahuan Karakteristik Responden Umur Tingkat Pengetahuan Total Rendah Sedang Tinggi n % n % n % n %

12 a. < 30 tahun b tahun c. > 3 tahun ,7 10,0 12, ,3 70,0 0, ,0 20,0 37, Jumlah 11, , ,8 42 Jenis Kelamin a. Laki-laki b. Perempuan 0 27,8 0, ,1 66, ,1 33, Jumlah 11, , ,8 42 Pendidikan a. SD b. SMP c. SMA d. PT ,0 0,0 11,8 10, ,0 90,0 70,6 40, ,0 10,0 17,6 0, Jumlah 11, , ,8 42 Pekerjaan a. Swasta b. Tani c. PNS d. IRT ,8 20,0 0,0 6, ,3 80,0 33,3 80, ,0 0,0 66,7 13, Jumlah 11, , ,8 42 Sumber : Data primer 2012 Dari Tabel 4.3 dapat diketahui karakteristik responden berdasarkan umur dengan tingkat pengetahuan, mayoritas jumlah dan persentase tingkat pengetahuan responden berada pada kategori sedang, pada umur < 30 tahun dengan pengetahuan sedang sebanyak orang (83,8%), pada umur 30 3 tahun dengan pengetahuan sedang sebanyak 14 orang (70,0%) dan pada umur > 3 tahun dengan pengetahuan sedang sebanyak 8 orang (0,0%). Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dengan tingkat pengetahuan, mayoritas jumlah dan persentase tingkat pengetahuan responden juga berada pada rentang sedang, jenis kelamin laki-laki dengan pengetahuan sedang sebanyak 11 orang (61,1%) dan jenis kelamin perempuan dengan pengetahuan sedang sebanyak 16 orang (66,7%). Karakteristik responden berdasarkan pendidikan dengan tingkat pengetahuan, terdapat kesamaan jumlah dan persentase pada responden dengan pendidikan SD yaitu samasama 2 orang (40,0%) berada pada rentang tingkat pengetahuan rendah dan sedang, responden dengan pendidikan SMP dengan pengetahuan sedang sebanyak 9 orang (90,0%), berpendidikan SMA dengan pengetahuan sedang sebanyak 12 orang (70,6%) dan responden dengan pendidikan Perguruan

13 Tinggi dan memiliki pengetahuan tinggi sebanyak orang (0,0%). Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan dengan tingkat pengetahuan, mayoritas jumlah dan persentase tingkat pengetahuan responden juga berada pada rentang sedang, pekerjaan swasta dengan pengetahuan sedang sebanyak 9 orang (96,3%), pekerjaan tani dengan pengetahuan sedang sebanyak 4 orang (80,0%) dan pekerjaan sebagai Ibu Rumah Tangga dengan pengetahuan sedang sebanyak 12 orang (80,0%), sedangkan responden sebagai PNS dengan pengetahuan tinggi sebanyak 4 orang (66,7%). b. Sikap Orangtua Sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 th) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati diukur dengan menggunakan kuisioner dengan skala Likert. Pernyataan yang diberikan berjumlah 20 soal dengan skor 1 sampai dengan 4 kemudian hasil akhirnya dikategorikan menjadi sikap baik dan tidak baik. Berikut disajikan Tabel 4.4 distribusi frekuensi berdasarkan pengkategorian skor sikap orang tua. Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Sikap Orang Tua dalam Pemenuhan Kebutuhan Bermain pada Anak UsiaPra-Sekolah (3-6 th) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal Depok Sleman 2012 No. Kategori Sikap f % 1 Tidak Baik 18 42,9 2 Baik 24 7,1 Jumlah 42 Sumber : Data primer 2012 Berdasarkan Tabel 4.4 dapat diketahui bahwa sikap orang tua yang termasuk dalam kategori tidak baik sebanyak 18 orang (42,9%) dan kategori baik sebanyak 24 orang (7,1%). Tabulasi silang antara karakteristik responden dengan sikap terlihat pada Tabel 4. berikut ini: Tabel 4. Tabulasi Silang antara Karakteristik Responden dengan Sikap Karakteristik Responden Umur a. < 30 tahun b tahun c. > 3 tahun Sikap Tidak Baik Baik Total n % n % n % 6,0 0 0, , , , 10 62, 16

14 Jumlah 18 42,9 24 7,1 42 Jenis Kelamin a. Laki-laki b. Perempuan ,7 2, ,3 7, Jumlah 18 42,9 24 7,1 42 Pendidikan a. SD b. SMP c. SMA d. PT 7 1,0 0,0 41,2 10, ,0 0,0 8,8 90, Jumlah 18 42,9 24 7,1 42 Pekerjaan a. Swasta b. Tani c. PNS d. IRT ,8 80,0 16,7 40, ,3 20,0 83,3 60,0 Jumlah 18 42,9 24 7,1 42 Sumber : Data primer 2012 Berdasarkan Tabel 4. karakteristik responden berdasarkan umur dengan sikap, mayoritas jumlah dan persentase sikap responden berada pada kategori baik, umur 30 3 tahun dengan sikap baik sebanyak 14 orang (70,0%) dan umur > 3 tahun dengan sikap baik sebanyak 10 orang (62,%), sedangkan responden pada umur < 30 tahun dengan sikap tidak baik sebanyak 6 orang (%). Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin dengan sikap, responden berjenis kelamin perempuan dengan sikap baik sebanyak 18 orang (7,0%) dan responden berjenis kelamin laki-laki dengan sikap tidak baik sebanyak 12 orang (66,7%). Karakteristik responden berdasarkan pendidikan dengan sikap, mayoritas jumlah dan persentase sikap responden berada pada kategori baik, responden berpendidikan SMA dengan sikap baik sebanyak 10 orang (8,8%) dan responden berpendidikan Perguruan Tinggi dengan sikap baik sebanyak 9 orang (90,0%), responden berpendidikan SD dengan sikap tidak baik sebanyak orang (%), sedangkan terdapat persamaan jumlah dan persentase pada responden berpendidikan SMP yaitu orang (0,0%) dengan sikap tidak baik dan orang (0,0%) dengan sikap baik. Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan dengan sikap, mayoritas jumlah dan persentase sikap responden berada pada kategori baik, pekerjaan sebagai swasta dengan sikap baik sebanyak 9 orang (6,3%), pekerjaan PNS dengan sikap baik sebanyak orang (83,3%) dan pekerjaan IRT dengan sikap

15 baik sebanyak 9 orang (60,0%) sedangkan untuk pekerjaan petani dengan sikap tidak baik sebanyak 4 orang (80,0%). 3. Analisis Bivariat Gambaran hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia prasekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati, Catur Tunggal, Depok, Sleman dapat diketahui pada Tabel 4.6 berikut ini: Tabel 4.6 Tabulasi Silang antara Tingkat Pengetahuan dengan Sikap Orang Tua dalam Pemenuhan Kebutuhan Bermain pada Anak Usia Pra-sekolah (3-6 th) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal Depok Sleman 2012 Sikap Tingkat Pengetahuan Tidak Baik P value Rendah 11,90 % Sedang 27 64,28 Tinggi 10 23,82 0,007 Jumlah Sumber : Data primer 2012 Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa setelah dilakukan analisis hubungan antara tingkat pengetahuan orangtua dengan sikap orangtua diperoleh hasil bahwa dari 18 responden (42,9%) yang mempunyai pengetahuan rendah

16 dengan sikap tidak baik sebanyak 4 orang (80,0%), tingkat pengetahuan sedang dengan sikap tidak baik sebanyak 13 orang (48,1%) dan tingkat pengetahuan tinggi dengan sikap tidak baik sebanyak 1 orang (10,0%). Sedangkan dari 24 responden (7,1%) dapat diketahui bahwa responden yang memiliki tingkat pengetahuan rendah dengan sikap baik sebanyak 1 orang (20,0%), tingkat pengetahuan sedang dengan sikap baik sebanyak 14 orang (1,9%) dan tingkat pengetahuan tinggi dengan sikap baik sebanyak 9 orang (90,0%). Dari uji korelasi Kendall Tau diperoleh nilai rho sebesar 0,408 dengan signifikansi atau p-value adalah sebesar 0,007 yang mana nilai p-value tersebut lebih kecil dari 0,0. Ketentuan yang berlaku adalah jika p-value > 0,0 maka Ho diterima dan apabila p-value < 0,0 maka Ho ditolak. Karena p-value 0,007 < 0,0 maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang berarti bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan sikap orangtua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak- Kanak Asih Sejati Catur Tunggal, Depok, Sleman. Pembahasan 1. Tingkat Pengetahuan Orangtua dalam Pemenuhan Kebutuhan Bermain pada Anak Usia Pra-Sekolah (3-6 tahun) Pengetahuan adalah gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budidaya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya (Meliono, 2007). Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari, sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan fakta yang mendukung tindakan seseorang. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan diantaranya adalah sosial, ekonomi, kultur/budaya, pendidikan, informasi dan pengalaman (Notoatmodjo, 2003). Berdasarkan Tabel 4.2 tingkat pengetahuan orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak- Kanak Asih Sejati Catur Tunggal, Depok, Sleman tergolong dalam kategori sedang yaitu sebanyak 27 orang (64,3%). Hal ini didukung data seperti yang terlihat pada Tabel 4.3 bahwa mayoritas responden adalah berpendidikan SMA yaitu sebanyak 12 orang (70,6%) dan SMP sebanyak 9 orang (90,0%). Selain itu umur juga sangat berpengaruh dengan tingkat pengetahuan seseorang, berdasarkan karakteristik umur dapat diketahui bahwa mayoritas responden berumur 30 3 tahun yaitu sebanyak 14 orang (70,0%). Umur seseorang berkaitan dengan pengalaman, jika umur semakin tua akan memiliki pengalaman yang lebih banyak (Notoatmodjo, 2003). Pengalaman berkaitan erat dengan

17 pengetahuan, karena seseorang bisa mendapatkan pengetahuan dari pengalaman tersebut baik melalui pengalaman sendiri maupun pengalaman orang lain, dalam hal ini adalah pengalaman dalam pemenuhan kebutuhan bermain bagi anak. Usia prasekolah merupakan usia bermain, dimana dalam usia ini seorang anak masih memerlukan pendampingan orang tua terutama pada saat anak sedang bermain. Ditinjau dari segi jenis kelamin terlihat bahwa mayoritas responden adalah berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 16 orang (66,7%). Jenis kelamin disini sangat berpengaruh terhadap pelaksanaan pemenuhan kebutuhan bermain bagi anak, dimana jika dikaitkan dengan segi pekerjaan, mayoritas responden memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 9 orang (6,3%), pada umumnya seorang laki-laki akan lebih banyak bekerja atau cenderung mencari nafkah untuk kepentingan keluarga dan perempuan yang sebagian besar dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga yaitu sebanyak 12 orang (80,0%), menjadi sosok yang paling sering menunggui anaknya serta menemani pada saat anak sedang bermain. Ada berbagai faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang, diantaranya adalah pendidikan. Responden dalam penelitian ini mayoritas berpendidikan SMA yaitu sebanyak 17 orang (40,6%). Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan sangat berhubungan dengan pendidikan, dimana pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk mengembangkan diri. Semakin tinggi pendidikan maka semakin mudah menerima serta mengembangkan pengetahuan dan teknologi, sehingga meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan keluarga, seperti terlihat pada Tabel 4.3 responden dengan pendidikan Perguruan Tinggi akan cenderung memiliki pengetahuan yang lebih tinggi yaitu sebanyak orang (0,0%). Menurut Nasution (dalam Puspitasari, 2007) perbedaan tingkat pendidikan menimbulkan perbedaan tingkat pengetahuan. Selain itu, tingkat pendidikan merupakan tingkat yang cukup produktif yang paling luas terhadap informasi. Orangtua dengan pendidikan tinggi akan lebih mudah menerima informasi. Pengetahuan cenderung diperoleh dari proses belajar. Menurut Notoatmodjo (2003), belajar adalah memperoleh sesuatu yang baru yang sebelumnya belum ada, yang sebelumnya belum diketahui menjadi tahu dan yang sebelumnya belum mengerti menjadi mengerti. Pengetahuan dibagi menjadi 6 tingkatan yaitu tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi, pada penelitian ini hanya diteliti pada tingkatan tahu, memahami dan aplikasi. Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasiakan materi tersebut secara benar. Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya (Notoatmodjo, 2007). Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan suatu objek tertentu. Pengetahuan seseorang sangat erat kaitannya dengan tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin baik

18 pengetahuannya. Teori ini didukung oleh hasil penelitian yang menyatakan bahwa tingkat pengetahuan orang tua tergolong dalam kategori sedang yaitu sebanyak 27 orang (64,3%) karena mayoritas pendidikan orang tua adalah SMA. 2. Sikap Orangtua dalam Pemenuhan Kebutuhan Bermain pada Anak Usia Pra-Sekolah (3-6 tahun) Sikap adalah suatu reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap secara nyata ditunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan seharihari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif-motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akan tetapi merupakan predisposisi tindakan atau perilaku (Notoatmodjo, 2007). Sikap dibentuk oleh 3 (tiga) struktur yaitu: 1) kognitif: kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau yang benar bagi sikap; 2) Afektif: komponen ini menyangkut masalah emosional subyektif seseorang terhadap suatu objek sikap; dan 3) Konatif: dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku yang ada di dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapinya (Azwar, 2008). Berdasarkan Tabel 4.4 pada penelitian ini diketahui bahwa sikap orangtua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati, Catur Tunggal, Depok, Sleman termasuk dalam kategori baik yaitu sebanyak 24 orang (7,1%). Menurut Azwar (2008), faktorfaktor yang dapat mempengaruhi sikap antara lain: sumber informasi, faktor emosional, kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan dan lembaga agama, serta pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain yang dianggap penting. Seperti terlihat pada Tabel 4. dalam penelitian ini mayoritas responden adalah berumur 30 3 tahun sebanyak 14 orang (70,0%). Umur seseorang berkaitan dengan pengalaman, jika umur semakin tua akan memiliki pengalaman yang lebih banyak (Notoatmodjo, 2003). Pengalaman yang didapatkan akan berpengaruh besar terhadap pembentukan sikap orang tua. Media massa dapat mempengaruhi sikap dan mempunyai pengaruh dalam pembentukan opini dan kepercayaan seseorang. Demikian juga kebudayaan mempunyai peranan penting dalam pembentukan sikap responden. Menurut Notoatmodjo (2003), kebudayaan berpengaruh besar terhadap pembentukan sikap karena sikap merupakan bagian dari kebudayaan. Pengetahuan sangat diperlukan sebagai dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap seseorang. Berdasarkan tingkat pendidikan mayoritas responden adalah tamatan SMA yaitu sebanyak 10 orang (8,8%). Pengetahuan sangat berhubungan dengan pendidikan, dimana pendidikan merupakan salah satu kebutuhan dasar untuk mengembangkan diri. Seperti terlihat pada Tabel 4. responden dengan pendidikan Perguruan Tinggi sebanyak 9 orang (90,0%). Dengan pengetahuan yang tinggi maka akan memungkinkan seseorang

19 untuk bersikap sesuai dengan keadaan. Semakin tinggi pendidikan maka semakin mudah menerima serta mengembangkan pengetahuan. Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa sikap merupakan respon yang masih tertutup dari seseorang dan merupakan faktor pencetus terjadinya suatu tindakan. Sikap yang baik akan diikuti dengan tindakan/perilaku yang baik dari orangtua terhadap anaknya. Dalam hal ini adalah sikap mengenai pemenuhan kebutuhan bermain bagi anak. 3. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Sikap Orangtua dalam Pemenuhan Kebutuhan Bermain pada Anak Usia Pra-Sekolah (3-6 tahun) Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan Kendall Tau diperoleh nilai rho sebesar 0,408 dengan signifikansi atau p-value adalah sebesar 0,007 yang mana nilai p-value tersebut lebih kecil atau kurang dari taraf signifikansi atau kesalahan yang ditentukan yaitu % (0,0). Hal ini membuktikan bahwa Ho atau hipotesis nihil yang menyatakan Tidak ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap orangtua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal, Depok, Sleman ditolak; dan Ha atau hipotesis alternatif yang menyatakan Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap orangtua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal, Depok, Sleman, diterima. Arah hubungan positif dan signifikan tersebut berarti bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan orang tua tentang pemenuhan kebutuhan bermain, semakin baik pula sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal, Depok, Sleman, demikian pula sebaliknya semakin rendah tingkat pengetahuan orang tua tentang pemenuhan kebutuhan bermain, semakin tidak baik pula sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal, Depok, Sleman. Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan diantaranya adalah sosial, ekonomi, kultur/budaya, pendidikan, informasi dan pengalaman (Notoatmodjo, 2003). Pada penelitian ini tingkat pengetahuan orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal, Depok, Sleman ditinjau dari tingkatan tahu, memahami dan aplikasi tergolong dalam kategori sedang yaitu sebanyak 27 orang (64,3%). Hal ini dikarenakan mayoritas responden adalah berpendidikan SMA yaitu sebanyak 17 orang (40,6%), dimana perbedaan tingkat pendidikan akan menimbulkan perbedaan tingkat pengetahuan. Faktor umur juga sangat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan, karena semakin tinggi umur seseorang maka akan memiliki pengetahuan dan pengalaman yang lebih banyak. Dalam penelitian ini mayoritas responden berumur 30 3 tahun yaitu sebanyak 20 orang (47,6%). Berdasarkan

20 pekerjaan, mayoritas responden memiliki pekerjaan sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 16 orang (38,1%), perempuan yang sebagian besar dalam penelitian ini adalah ibu rumah tangga yaitu sebanyak 1 orang (3,7%), menjadi sosok yang paling sering menunggui anaknya serta menemani pada saat anak sedang bermain. Sikap adalah suatu reaksi atau respons yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek (Notoatmodjo, 2007). Sikap orangtua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati, Catur Tunggal, Depok, Sleman termasuk dalam kategori baik yaitu sebanyak 24 orang (7,1%). Hal ini didukung oleh tingkat pendidikan dimana mayoritas responden adalah tamatan SMA yaitu sebanyak 17 orang (40,%). Menurut Arikunto (2009), faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sikap antara lain ajaran agama atau keyakinan yang dianut, masyarakat disekitarnya dan kepentingan saat individu berprilaku. Selain itu faktor lain yang dapat mempengaruhi sikap yaitu sumber informasi, faktor emosional, kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan, serta pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain (Azwar, 2008). Pengetahuan merupakan salah satu komponen sikap yang berupa komponen kognitif. Pengetahuan memegang peranan penting pada penentuan sikap yang utuh. Pengetahuan akan membentuk kepercayaan yang selanjutnya akan memberikan persepsi pada manusia dalam mempersepsikan kenyataan, memberikan dasar bagi pengambilan keputusan dan menentukan sikap terhadap obyek tertentu (Notoatmodjo, 2003). Pengetahuan yang tinggi serta sikap yang baik akan mempengaruhi setiap tindakan yang dilakukan oleh seseorang termasuk dalam pemenuhan kebutuhan bermain bagi anak. Seperti yang dikemukakan oleh Nursanti (2000), dengan penelitian yang berjudul peran keluarga terhadap pelaksanaan terapi bermain pada anak prasekolah. Penelitian ini menekankan betapa pentingnya keterlibatan keluarga secara langsung terutama orang tua anak untuk mendampingi anaknya saat melakukan kegiatan bermain. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa pengetahuan keluarga tentang pentingnya terapi bermain sangatlah tinggi karena keluarga sudah mengerti dan memahami manfaat terapi bermain yang diberikan. Hal ini dibuktikan dengan keterlibatan keluarga secara langsung terutama orang tua anak yang selalu mendampingi anaknya saat melakukan kegiatan bermain serta memberikan arahan kepada anaknya mengenai permainan yang sesuai dengan terapi yang dianjurkan. Sejalan dengan penelitian tersebut, dapat di katakan bahwa orang tua memegang peranan penting bagi kelangsungan tumbuh kembang anak, pengetahuan dan sikap orang tua tentang pentingnya pemenuhan kebutuhan bermain bagi anak sangatlah berpengaruh. Jika pengertian bermain dipahami dan dikuasai, maka kemampuan itu akan berdampak positif membantu proses perkembangan anak yang lebih optimal. Dunia anak adalah dunia bermain, di mana seluruh kegiatan anak lebih didominasi dengan kegiatan bermain (Zaviera, 2008). Bermain merupakan kebutuhan anak seperti juga makanan, kasih sayang, perawatan, dan lain-lain. Bermain dipandang sebagai suatu kegiatan yang mengandung keasyikan dan dilakukan atas kehendak diri sendiri, bebas dan tanpa paksaan (Wardani, 2009).

21 Bermain memberikan kesenangan dan pengalaman hidup yang nyata. Bermain juga merupakan unsur yang penting untuk perkembangan anak baik fisik, emosi, mental dan sosial serta intelektual maupun kreativitas. Oleh karena itu, bermain juga merupakan stimulasi untuk tumbuh kembang anak. Anak yang mendapat cukup kesempatan bermain akan menjadi orang dewasa yang cerdas, mudah berkawan dibandingkan dengan anak lain yang tidak mendapat kesempatan bermain (Ngastiyah, 200). Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas bermain pada anak diantaranya yaitu tahap perkembangan anak, jenis kelamin anak, lingkungan yang mendukung dan alat serta jenis permainan yang cocok (Supartini, 2004). Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pengetahuan yang tinggi berhubungan erat dengan sikap yang akan dibentuk dan diwujudkan dalam suatu tindakan nyata. Apabila orang tua memiliki pengetahuan yang tinggi maka akan berdampak pada sikap yang baik termasuk dalam pemenuhan kebutuhan bermain bagi anak. Hasil penelitian ini didukung juga oleh penelitian lain seperti yang dikemukakan oleh Herliana (2001), dengan penelitian yang berjudul pengaruh pemberian terapi bermain terhadap tingkat kooperasi anak usia prasekolah. Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa terapi bermain ternyata memberikan pengaruh yang efektif terhadap tingkat kooperasi anak selama menjalani perawatan, dimana tingkat kooperasi anak akan meningkat setelah diberikan terapi bermain. Selain Herliana (2001), penelitian lain yang mendukung adalah penelitian yang dilakukan oleh Listyorini (200), dengan judul pengaruh terapi bermain terhadap kemampuan sosialisasi anak. Penelitian yang dilakukan pada anak yang berumur 2-6 tahun yang dirawat di Bangsal Bedah Anak RSUP Dr. Sardjito ini menghasilkan kesimpulan bahwa setelah diberikan terapi bermain anak akan lebih mudah mengungkapkan perasaan dan aspek negatif yang dirasakannya. Anak yang pada awalnya masih merasa canggung menjadi lebih bisa berespon dan bisa mengungkapkan perasaan yang sedang dialami selama menjalani perawatan. B. Keterbatasan Penelitian Keterbatasan penelitianyang terdapat dalam penelitian ini adalah: 1. Keterbatasan waktu saat pengisian kuisioner oleh para responden, sehingga ada beberapa kuisioner yang dibawa pulang dan diisi di rumah masing-masing oleh orang tua anak, saat kuisioner dikumpulkan kembali terjadi keraguan akan keakuratan jawaban kuisioner apakah diisi oleh orang tua sendiri atau meminta bantuan orang lain.

22 2. Keterbatasan dalam berkomunikasi, dalam hal ini sebagian besar responden lebih dominan menggunakan bahasa daerah (Jawa) sehingga peneliti tidak begitu mengerti dengan bahasa yang digunakan oleh responden. A. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat diambil beberapa kesimpulan: 1. Tingkat pengetahuan orangtua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal Depok Sleman termasuk dalam kategori sedang. 2. Sikap orangtua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal Depok Sleman termasuk dalam kategori baik. 3. Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan sikap orangtua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah dengan nilai p-value 0,007 yang mana nilai p-value tersebut lebih kecil dari 0,0 sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Semakin tinggi tingkat pengetahuan orang tua tentang pemenuhan kebutuhan bermain, semakin baik pula sikap orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah (3-6 tahun) di Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal Depok Sleman. B. Saran Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan serta kesimpulan diatas, peneliti mengajukan beberapa saran sebagai berikut: Bagi pengelola Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal Depok Sleman. Agar pemenuhan kebutuhan bermain bagi anak usia prasekolah lebih ditingkatkan guna menunjang daya kreatifitas dan tumbuh kembang anak yang lebih optimal. 2. Bagi Guru Taman Kanak-Kanak Asih Sejati Catur Tunggal Depok Sleman.

23 Menjadi acuan dalam memberikan bimbingan dan arahan pada anak usia prasekolah sekaligus meningkatkan peran serta orang tua dalam pemenuhan kebutuhan bermain bagi anak. 3. Bagi peneliti selanjutnya Menjadi acuan bagi peneliti berikutnya untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pemenuhan kebutuhan bermain pada anak usia pra-sekolah. DAFTAR PUSTAKA Alimul Hidayat, A.Aziz Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medika. Medika Pengantar Ilmu Keperawatan Anak 1. Jakarta: Salemba Arikunto, S Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta. Azwar, Saifuddin Sikap Manusia: Teori dan Pengukurannya Edisi 2. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hastono, S Basic Data Analysis For Health Reaserch Training. Jakarta : FKUI. Herliana, L Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Tingkat Kooperatif Selama Menjalani Perawatan pada Anak Usia Pra Sekolah di IRNA II (Bangsal Perawatan Anak) RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Skripsi Fakultas Kedokteran UGM. Iskandar Metode Penelitian Pendidikan dan Sosial (Kuantitatif dan Kualitatif). Jakarta: Gaung Persada Press. Listyorini Pengaruh Terapi Bermain Terhadap Kemampuan Sosialisasi Anak di Bangsal Bedah Anak RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Skripsi Fakultas Kedokteran UGM. Meliono, Irmayanti Pengetahuan. Akses 2 September Nasution (dalam Puspitasari, S. D) Tingkat pengetahuan ibu yang mempunyai bayi umur 0-11 bulan tentang imunisasi dasar di Dusun Wonorejo Desa Gadingsari Kecamatan Sanden Bantul. Karya Tulis Ilmiah tidak diterbitkan. Program Studi D III Kebidanan Universitas Respati Yogyakarta.

24 Ngastiyah Perawatan Anak Sakit Edisi 2. Jakarta: EGC. Notoatmodjo, S Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Pendidikan dan Prilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka Cipta Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta. Nursalam Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika. Nursanti, I Peran Keluarga Terhadap Pelaksanaan Terapi Bermain di Instalasi Kesehatan Anak Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta. Skripsi Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta.

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT DENGAN PELAKSANAAN METODE PENUGASAN DALAM MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP) DI RSUD WATES

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT DENGAN PELAKSANAAN METODE PENUGASAN DALAM MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP) DI RSUD WATES HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT DENGAN PELAKSANAAN METODE PENUGASAN DALAM MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP) DI RSUD WATES Annisa Nur Erawan INTISARI Latar Belakang : Perawat merupakan sumber

Lebih terperinci

Mila Harlisa*, Amirul Amalia**, Dadang K***

Mila Harlisa*, Amirul Amalia**, Dadang K*** HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG ALAT PERMAINAN EDUKATIF (APE) DENGAN PEMBERIAN APE PADA ANAK USIA 4-6 TAHUN DI TK SRIRANDE 02 KECAMATAN DEKET KABUPATEN LAMONGAN Mila Harlisa*, Amirul Amalia**, Dadang

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: Peran ibu dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak, perkembangan anak usia prasekolah

ABSTRAK. Kata kunci: Peran ibu dalam pemenuhan kebutuhan dasar anak, perkembangan anak usia prasekolah ABSTRAK Yunita Mohamad. 2014. Hubungan Peran Ibu dalam Pemenuhan Kebutuhan Dasar Anak Dengan Perkembangan Anak Usia Prasekolah Di Tk Aisyiyah Bustanul Atfal 3 Kelurahan Bugis Kecamatan Dumbo Raya Kota

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DASAR DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI USIA 1 TAHUN DI PUSKESMAS DEPOK I SLEMAN YOGYAKARTA

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DASAR DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI USIA 1 TAHUN DI PUSKESMAS DEPOK I SLEMAN YOGYAKARTA HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG IMUNISASI DASAR DENGAN KELENGKAPAN IMUNISASI DASAR PADA BAYI USIA 1 TAHUN DI PUSKESMAS DEPOK I SLEMAN YOGYAKARTA Lilis Afrikayanti 1, Ninuk Sri Hartini 2, Sri Rahayu 3

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional. analitik dengan pendekatan cross sectional untuk mempelajari

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional. analitik dengan pendekatan cross sectional untuk mempelajari BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional untuk mempelajari hubungan antara tingkat pengetahuan

Lebih terperinci

Sudarti 1, Afroh Fauziah 2 INTISARI PENDAHULUAN

Sudarti 1, Afroh Fauziah 2 INTISARI PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BALITA DENGAN PERKEMBANGAN KOGNITIF BALITA 1-3 TAHUN DI POSYANDU JINTEN 12 RW XII BADRAN,BUMIJO, JETIS,YOGYAKARTA Sudarti 1, Afroh Fauziah

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP MENGENAI PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SMK KESEHATAN DONOHUDAN BOYOLALI TAHUN 2016

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP MENGENAI PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SMK KESEHATAN DONOHUDAN BOYOLALI TAHUN 2016 HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN SIKAP MENGENAI PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI SMK KESEHATAN DONOHUDAN BOYOLALI TAHUN 2016 Ajeng Novita Sari Akademi Kebidanan Mamba ul Ulum Surakarta ABSTRAK Hubungan pengetahuan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif yaitu untuk

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif yaitu untuk BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian deskriptif korelatif yaitu untuk menggambarkan hubungan antara

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan cross sectional. Dimana penelitian ini untuk mempelajari

BAB III METODE PENELITIAN. pendekatan cross sectional. Dimana penelitian ini untuk mempelajari BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode observational analitik dengan pendekatan cross sectional. Dimana penelitian ini untuk mempelajari hubungan pengetahuan dengan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS DEPOK I SLEMAN YOGYAKARTA

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS DEPOK I SLEMAN YOGYAKARTA HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PERILAKU PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI PUSKESMAS DEPOK I SLEMAN YOGYAKARTA Sylfia Pernanda INTISARI Latar Belakang : Faktor yang dapat mendukung kesuksesan

Lebih terperinci

Lilis Maghfuroh Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan ABSTRAK

Lilis Maghfuroh Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan ABSTRAK HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DENGAN PEMILIHAN ALAT PERMAINAN EDUKATIF PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI DUSUN KAKAT DESA KAKAT PENJALIN KECAMATAN NGIMBANG KABUPATEN LAMONGAN Lilis Maghfuroh Program Studi Ilmu Keperawatan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. adalah penelitian yang mengkaji hubungan antara variable dengan

BAB III METODE PENELITIAN. adalah penelitian yang mengkaji hubungan antara variable dengan 28 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi. Peneliti korelasi adalah penelitian yang mengkaji hubungan antara variable dengan melibatkan minimal dua

Lebih terperinci

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Balita di Kelurahan Baros Wilayah Kerja Puskesmas Baros Kota Sukabumi

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Balita di Kelurahan Baros Wilayah Kerja Puskesmas Baros Kota Sukabumi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Balita di Kelurahan Baros Wilayah Kerja Puskesmas Baros Kota Sukabumi Siti Hardianti, Sri Janatri janatrisri@yahoo.co.id Abstrak Periode penting dalam tumbuh

Lebih terperinci

Fajarina Lathu INTISARI

Fajarina Lathu INTISARI HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD) DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN PENYAKIT DBD DI WILAYAH KELURAHAN DEMANGAN YOGYAKARTA Fajarina Lathu INTISARI Latar

Lebih terperinci

Fajarina Lathu A INTISARI

Fajarina Lathu A INTISARI HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN SUAMI TENTANG MENOPAUSE DENGAN DUKUNGAN SOSIAL SUAMI KE ISTRI PADA MASA MENOPAUSE DI DUSUN SOROWAJAN KELURAHAN BANGUNTAPAN KABUPATEN BANTUL YOGYAKARTA Fajarina Lathu A INTISARI

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 6 SURAKARTA

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 6 SURAKARTA HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 6 SURAKARTA Febry Heldayasari Prabandari *, Tri Budi Rahayu Program Studi D3 Kebidanan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif korelasional dengan metode pendekatan cross sectional, yaitu suatu

BAB III METODE PENELITIAN. deskriptif korelasional dengan metode pendekatan cross sectional, yaitu suatu BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Metode Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional dengan metode pendekatan cross sectional, yaitu suatu penelitian

Lebih terperinci

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Lampiran 1 LEMBAR PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada: Yth. Calon Responden Penelitian Di Tempat Dengan Hormat, Saya sebagai Mahasiswa Prodi DIII Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadyah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Anak adalah individu yang unik dan memerlukan perhatian khusus untuk

BAB I PENDAHULUAN. Anak adalah individu yang unik dan memerlukan perhatian khusus untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak adalah individu yang unik dan memerlukan perhatian khusus untuk optimalisasi tumbuh kembang. Salah satu tahap tumbuh kembang adalah usia prasekolah yang mempunyai

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN Pada bab ini dibahas tentang desain dan jenis penelitian, subyek penelitian, tempat dan waktu penelitian, fokus studi dan definisi operasional, instrumen penelitian dan langkah-langkah

Lebih terperinci

23,3 50,0 26,7 100,0

23,3 50,0 26,7 100,0 HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG KB SUNTIK DENGAN SIKAP DALAM MEMILIH KB SUNTIK BULANAN DI DESA BESOLE, KECAMATAN BAYAN, KABUPATEN PURWOREJO Dwi Mardiantari ABSTRAK 48 hal+7 tabel+ gambar+

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelasi antara variabel

Lebih terperinci

HUBUNGAN POLA ASUH DENGAN PERKEMBANGAN ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK KARTIKA X-9 CIMAHI 2012

HUBUNGAN POLA ASUH DENGAN PERKEMBANGAN ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK KARTIKA X-9 CIMAHI 2012 46 HUBUNGAN POLA ASUH DENGAN PERKEMBANGAN ANAK USIA PRASEKOLAH DI TK KARTIKA X-9 CIMAHI 2012 Oleh : Siti Dewi Rahmayanti dan Septiarini Pujiastuti STIKES Jenderal Achmad Yani Cimahi ABSTRAK Pola asuh orang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasional. Ciri penelitian korelasional mengkaji hubungan antar variabel.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian. pendekatan yang digunakan adalah pendekatan cross sectional yaitu suatu

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian. pendekatan yang digunakan adalah pendekatan cross sectional yaitu suatu BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelasi antara korelatif

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan metode

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan metode 3 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif analitik yang bertujuan menerangkan masalah penelitian yang terjadi pada anak

Lebih terperinci

PERBEDAAN ASPEK PERKEMBANGAN ANAK USIA PRASEKOLAH ANTARA SISWA BARU DAN SISWA LAMA DI SATUAN PAUD SEJENIS (SPS) CUT NYAK DIEN KRETEK, BANTUL

PERBEDAAN ASPEK PERKEMBANGAN ANAK USIA PRASEKOLAH ANTARA SISWA BARU DAN SISWA LAMA DI SATUAN PAUD SEJENIS (SPS) CUT NYAK DIEN KRETEK, BANTUL PERBEDAAN ASPEK PERKEMBANGAN ANAK USIA PRASEKOLAH ANTARA SISWA BARU DAN SISWA LAMA DI SATUAN PAUD SEJENIS (SPS) CUT NYAK DIEN KRETEK, BANTUL NASKAH PUBLIKASI DISUSUN OLEH : FAJAR RAHAYUNINGTYAS 201310104159

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DENGAN KETEPATAN WAKTU MELAKUKAN IMUNISASI PADA BAYI DI BPS SRI MARTUTI, PIYUNGAN, BANTUL, YOGYAKARTA

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DENGAN KETEPATAN WAKTU MELAKUKAN IMUNISASI PADA BAYI DI BPS SRI MARTUTI, PIYUNGAN, BANTUL, YOGYAKARTA HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU DENGAN KETEPATAN WAKTU MELAKUKAN IMUNISASI PADA BAYI DI BPS SRI MARTUTI, PIYUNGAN, BANTUL, YOGYAKARTA Afroh Fauziah 1,Sudarti 2 INTISARI Latar Belakang:Angka Kematian Bayi

Lebih terperinci

Volume 4 No. 1, Maret 2013 ISSN : HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN IBU HAMIL DENGAN KESEHATAN JANIN TRIMESTER II DI RSIA KUMALA SIWI JEPARA

Volume 4 No. 1, Maret 2013 ISSN : HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN IBU HAMIL DENGAN KESEHATAN JANIN TRIMESTER II DI RSIA KUMALA SIWI JEPARA HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN IBU HAMIL DENGAN KESEHATAN JANIN TRIMESTER II DI RSIA KUMALA SIWI JEPARA Triana Widiastuti 1, dan Goenawan 2 INTISARI Pada trimester II, ibu hamil biasanya sudah bisa menyesuaikan

Lebih terperinci

INTISARI. Kata Kunci : Kondisi Kerja, Beban Kerja, Tingkat Stres perawat.

INTISARI. Kata Kunci : Kondisi Kerja, Beban Kerja, Tingkat Stres perawat. HUBUNGAN ANTARA KONDISI KERJA DAN BEBAN KERJA DENGAN TINGKAT STRESS PERAWAT PELAKSANA DI RUANG ICU RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN Deden Iwan Setiawan INTISARI Latar Belakang : Stress adalah suatu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. usia, jenis kelamin, masa kerja, pengetahuan, tingkat pendidikan, ketersediaan

BAB III METODE PENELITIAN. usia, jenis kelamin, masa kerja, pengetahuan, tingkat pendidikan, ketersediaan 43 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif yaitu penelitian yang dilakukan untuk mengetahui gambaran

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini kuantitatif

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini kuantitatif BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini kuantitatif dengan metode diskriptif korelasi, yaitu mencari hubungan antara variabel bebas (karakteristik

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. obyek dan subyek penelitian. Rancangan penelitian secara survei untuk

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. obyek dan subyek penelitian. Rancangan penelitian secara survei untuk BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif yaitu penelitian yang mendapatkan hasil gambaran secara menyeluruh tentang obyek dan subyek

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif yang

BAB III METODE PENELITIAN. desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif yang BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif, desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelatif yang menghubungan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian jenis Deskriptif Corelasional

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan adalah penelitian jenis Deskriptif Corelasional BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian yang dilakukan adalah penelitian jenis Deskriptif Corelasional yang meneliti tentang hubungan antara variabel dependen dan independen. Metode yang

Lebih terperinci

BAB III METODA PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik.

BAB III METODA PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik. BAB III METODA PENELITIAN A. Jenis Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif analitik. Peneliti akan melakukan pengukuran variabel independent dan dependent, kemudian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. desain yang digunakan dalam penilitian ini adalah pendekatan cross sectional

BAB III METODE PENELITIAN. desain yang digunakan dalam penilitian ini adalah pendekatan cross sectional BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Sedangkan desain yang digunakan dalam penilitian ini adalah pendekatan cross sectional yang merupakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Rancangan penelitian ini menggunakan studi analitik untuk mengetahui hubungan antara variabel bebas yaitu tingkat pengetahuan dan variabel terikat yaitu praktik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. mengkaji hubungan antara variabel dengan melibatkan minimal dua variabel

BAB III METODE PENELITIAN. mengkaji hubungan antara variabel dengan melibatkan minimal dua variabel BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Metoda Pendekatan Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi. Penelitian korelasi mengkaji hubungan antara variabel dengan melibatkan minimal

Lebih terperinci

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERILAKU SCHOOL REFUSAL PADA ANAK PRASEKOLAH DI TK DAMHIL KOTA GORONTA. Aswinda Miolo

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERILAKU SCHOOL REFUSAL PADA ANAK PRASEKOLAH DI TK DAMHIL KOTA GORONTA. Aswinda Miolo 1 2 3 HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERILAKU SCHOOL REFUSAL PADA ANAK PRASEKOLAH DI TK DAMHIL KOTA GORONTA Aswinda Miolo 841411052 Program Studi Ilmu Keperawatan, Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 24 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah deskriptif korelasi yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelasi antara korelatif

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif korelasi karena menjelaskan hubungan korelatif antar variabel (Nursalam, 2008). Tujuan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN ORANG TUA DENGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA ANAK USIA 3-6 TAHUN DI DI DESA PLOSOWAHYU KAB LAMONGAN

HUBUNGAN PENGETAHUAN ORANG TUA DENGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA ANAK USIA 3-6 TAHUN DI DI DESA PLOSOWAHYU KAB LAMONGAN HUBUNGAN PENGETAHUAN ORANG TUA DENGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) PADA ANAK USIA 3-6 TAHUN DI DI DESA PLOSOWAHYU KAB LAMONGAN Arifal Aris Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Muhammadiyah Lamongan.......ABSTRAK....

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA HARJOBINANGUN PURWOREJO GITA APRILIA ABSTRAK

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA HARJOBINANGUN PURWOREJO GITA APRILIA ABSTRAK HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI DESA HARJOBINANGUN PURWOREJO GITA APRILIA ABSTRAK Data dari profil kesehatan kabupaten/ kota di Propinsi Jawa Tengah

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU KESEHATAN GIGI DAN MULUT IBU HAMIL DI PUSKESMAS MANTRIJERON

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU KESEHATAN GIGI DAN MULUT IBU HAMIL DI PUSKESMAS MANTRIJERON HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU KESEHATAN GIGI DAN MULUT IBU HAMIL DI PUSKESMAS MANTRIJERON NASKAH PUBLIKASI Disusun oleh: Windi Sriwijayanti 201510104100 PROGRAM STUDI BIDAN PENDIDIK

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis atau Rancangan dan Metode Pendekatan Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif korelasional yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelatif antara variabel

Lebih terperinci

HUBUNGAN POLA ASUH ORANGTUA DENGAN PERKEMBANGAN EMOSI ANAK USIA PRA SEKOLAH DI TK ROHMATUL MAGFIROH DESA PAKISAJI KECAMATAN PAKISAJI KABUPATEN MALANG

HUBUNGAN POLA ASUH ORANGTUA DENGAN PERKEMBANGAN EMOSI ANAK USIA PRA SEKOLAH DI TK ROHMATUL MAGFIROH DESA PAKISAJI KECAMATAN PAKISAJI KABUPATEN MALANG HUBUNGAN POLA ASUH ORANGTUA DENGAN PERKEMBANGAN EMOSI ANAK USIA PRA SEKOLAH DI TK ROHMATUL MAGFIROH DESA PAKISAJI KECAMATAN PAKISAJI KABUPATEN MALANG Heni Dwi Windarwati*, Asti Melani A*, Rika Yustita*

Lebih terperinci

Nisa khoiriah INTISARI

Nisa khoiriah INTISARI HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG ASI EKSKLUSIF DENGAN PERILAKU IBU DALAM PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYI USIA 0 2 TAHUN DI DESA TURSINO KECAMATAN KUTOARJO KABUPATEN PURWOREJO Nisa khoiriah INTISARI

Lebih terperinci

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK AISYIYAH BANJARMASIN ABSTRAK

HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK AISYIYAH BANJARMASIN ABSTRAK HUBUNGAN POLA ASUH ORANG TUA DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 5-6 TAHUN DI TK AISYIYAH BANJARMASIN Anggrita Sari 1, RR Dwi Sogi Sri Redjeki 2, Rizky Puteri Anggarani 2 1 Akademi Kebidanan Sari

Lebih terperinci

Lilis Maghfuroh Dosen S1 Keperawatan STIKes Muhammadiyah Lamongan ABSTRAK

Lilis Maghfuroh Dosen S1 Keperawatan STIKes Muhammadiyah Lamongan ABSTRAK HUBUNGAN PERAN ORANG TUA DENGAN PEMILIHAN ALAT PERMAINAN EDUKATIF PADA ANAK USIA PRASEKOLAH DI DUSUN KAKAT DESA KAKAT PENJALIN KECAMATAN NGIMBANG KABUPATEN LAMONGAN Lilis Maghfuroh Dosen S1 Keperawatan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 21 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian ini adalah survei analitik yaitu untuk mencari hubungan antara variable bebas dan terikat yang dilakukan dengan pendekatan

Lebih terperinci

REPI SEPTIANI RUHENDI MA INTISARI

REPI SEPTIANI RUHENDI MA INTISARI GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN MOTORIK BALITA USIA 3-5 TAHUN DI POSYANDU DESA CISAYONG WILAYAH KERJA PUSKESMAS CISAYONG KABUPATEN TASIKMALAYA REPI SEPTIANI RUHENDI MA0712020 INTISARI Setiap

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian dan Metode Penelitian. Demak, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah cross sectional

BAB III METODE PENELITIAN. A. Jenis Penelitian dan Metode Penelitian. Demak, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah cross sectional BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Metode Penelitian Jenis penelitian ini merupakan kuantitatif. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif korelasi study yang bertujuan untuk mengetahui

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG ASI EKSKLUSIF TERHADAP PEMBERIAN PASI PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DI BPS NY. DIYAH SIDOHARJO SRAGEN

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG ASI EKSKLUSIF TERHADAP PEMBERIAN PASI PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DI BPS NY. DIYAH SIDOHARJO SRAGEN HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU BALITA TENTANG ASI EKSKLUSIF TERHADAP PEMBERIAN PASI PADA BAYI USIA 0-6 BULAN DI BPS NY. DIYAH SIDOHARJO SRAGEN Danik Dwiyanti, Erni Susilowati Akademi Kebidanan YAPPI

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. metode deskriptif dengan pendekatan survei (Arikunto, 2013). intervensi (Nursalam, 2013). Seperti pada penelitian gambaran

BAB III METODE PENELITIAN. metode deskriptif dengan pendekatan survei (Arikunto, 2013). intervensi (Nursalam, 2013). Seperti pada penelitian gambaran BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan survei (Arikunto, 2013). Survei pada penelitian ini yaitu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah non eksperimen dengan metode penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah non eksperimen dengan metode penelitian BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah non eksperimen dengan metode penelitian kuantitatif dan desain penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU IBU TENTANG PIJAT BAYI DI BPS SUHARTATIK DESA KALIWATES KEMBANGBAHU

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU IBU TENTANG PIJAT BAYI DI BPS SUHARTATIK DESA KALIWATES KEMBANGBAHU HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU IBU TENTANG PIJAT BAYI DI BPS SUHARTATIK DESA KALIWATES KEMBANGBAHU Erni Arifa Muniro Yanti, Siti Solikhah Korespondensi: Siti Solikhah, d/a : STiKes Muhammadiyah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian ini adalah penelitian korelasi dimana akan menggali persepsi mengenai hemodialisis dengan tingkat kecemasan. Pendekatan yang digunakan adalah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah dekriptif kuantitatif non eksperimental bersifat

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah dekriptif kuantitatif non eksperimental bersifat BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah dekriptif kuantitatif non eksperimental bersifat correlational dengan menggunakan pendekatan cross sectional yang menghubungkan

Lebih terperinci

PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL ANAK DENGAN JENIS APE YANG DIBERIKAN PADA ANAK USIA 1-12 BULAN. Ihda Mauliyah ABSTRAK

PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL ANAK DENGAN JENIS APE YANG DIBERIKAN PADA ANAK USIA 1-12 BULAN. Ihda Mauliyah ABSTRAK PENGETAHUAN IBU TENTANG PERKEMBANGAN PSIKOSEKSUAL ANAK DENGAN JENIS APE YANG DIBERIKAN PADA ANAK USIA 1-12 BULAN Ihda Mauliyah ABSTRAK Alat Permainan Edukatif adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan

Lebih terperinci

: tingkat pengetahuan, kecemasan PENDAHULUAN

: tingkat pengetahuan, kecemasan PENDAHULUAN HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN KECEMASAN IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA TENTANG HUBUNGAN SEKSUAL SELAMA KEHAMILAN DI PUSKESMAS KECAMATAN JATIBARANG KABUPATEN BREBES LAELATUL MUBASYIROH INTISARI Kehamilan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian survai analitik. Survei analitik merupakan survei atau penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. bertujuan untuk mendiskripsikan (memaparkan) peristiwa peristiwa yang

BAB III METODE PENELITIAN. bertujuan untuk mendiskripsikan (memaparkan) peristiwa peristiwa yang BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian deskriptif, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendiskripsikan (memaparkan) peristiwa peristiwa yang terjadi pada masa

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL. independen (pengertian imuninisasi, tujuan imunisasi, manfaat imunisasi, jenis

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL. independen (pengertian imuninisasi, tujuan imunisasi, manfaat imunisasi, jenis BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL A. Kerangka Konsep Kerangka Konsep dalam penelitian ini ada 2 variabel, yaitu variabel independen (pengertian imuninisasi, tujuan imunisasi, manfaat imunisasi,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian ini adalah deskriptif korelatif yaitu untuk mengetahui gambaran masing-masing variabel dan mengetahui hubungan antara variabel yang diteliti

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif untuk mengetahui gambaran dukungan keluarga pada ibu hamil dengan Hiperemesis

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. eksprimental yaitu deskriptif korelasional yaitu hubungan antara dua variabel

BAB III METODE PENELITIAN. eksprimental yaitu deskriptif korelasional yaitu hubungan antara dua variabel BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian non eksprimental yaitu deskriptif korelasional yaitu hubungan antara dua variabel pada

Lebih terperinci

PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN PERILAKU PERAWAT

PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN PERILAKU PERAWAT PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG KOMUNIKASI TERAPEUTIK DENGAN PERILAKU PERAWAT Devi Shintana O S* Cholina Trisa Siregar** *Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara **Staf Pengajar Departemen

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Tempat Penelitian Kecamatan Getasan merupakan salah satu kecamatan dari 19 kecamatan di Kabupaten Semarang. Secara administratif batas wilayah Kecamatas

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah descriptive analytic explanatory untuk mengetahui hubungan kualitas pelayanan keperawatan dengan kepuasan

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU RUMAH TANGGA DENGAN SIKAP TENTANG PENCEGAHAN HIV/AIDS DI RW 15 KELURAHAN UMBULMARTANI NGEMPLAK SLEMAN YOGYAKARTA

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU RUMAH TANGGA DENGAN SIKAP TENTANG PENCEGAHAN HIV/AIDS DI RW 15 KELURAHAN UMBULMARTANI NGEMPLAK SLEMAN YOGYAKARTA HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU RUMAH TANGGA DENGAN SIKAP TENTANG PENCEGAHAN HIV/AIDS DI RW 15 KELURAHAN UMBULMARTANI NGEMPLAK SLEMAN YOGYAKARTA SKRIPSI Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Mencapai

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Tipe Penelitian Pada penelitian ini peneliti memilih tipe pendekatan kuantitatif. Penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerikal

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERAN IBU DALAM PEMILIHAN ALAT PERMAINAN DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 4-6 TAHUN DI YAYASAN AR-RAHMAH KABUPATEN LUMAJANG

HUBUNGAN PERAN IBU DALAM PEMILIHAN ALAT PERMAINAN DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 4-6 TAHUN DI YAYASAN AR-RAHMAH KABUPATEN LUMAJANG HUBUNGAN PERAN IBU DALAM PEMILIHAN ALAT PERMAINAN DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK HALUS ANAK USIA 4-6 TAHUN DI YAYASAN AR-RAHMAH KABUPATEN LUMAJANG NASKAH PUBLIKASI Disusun Oleh: Andria Yuliawati 201110104178

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah correlation study yaitu penelitian yang

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah correlation study yaitu penelitian yang BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah correlation study yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelasi antara variabel independen dan variabel

Lebih terperinci

BAB III KERANGKA KONSEP KONSEPTUAL. Dari uraian terdahulu telah dijelaskan mengenai faktor- faktor yang

BAB III KERANGKA KONSEP KONSEPTUAL. Dari uraian terdahulu telah dijelaskan mengenai faktor- faktor yang BAB III KERANGKA KONSEP KONSEPTUAL A. Kerangka Konsep Dari uraian terdahulu telah dijelaskan mengenai faktor- faktor yang mempengaruhi rendahnya minat ibu akseptor KB menggunakan kontrasepsi AKDR. Untuk

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAK USIA 3-4 TAHUN DI POSYANDU BUDI LESTARI DESA TLOGOREJO GUNTUR DEMAK.

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAK USIA 3-4 TAHUN DI POSYANDU BUDI LESTARI DESA TLOGOREJO GUNTUR DEMAK. HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU DENGAN PERKEMBANGAN MOTORIK KASAR ANAK USIA 3-4 TAHUN DI POSYANDU BUDI LESTARI DESA TLOGOREJO GUNTUR DEMAK 4 Abdul Muchid *, Amin Samiasih **, Mariyam *** Abstrak Latar belakang:

Lebih terperinci

60 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes. Volume VII Nomor 1, Januari 2016 ISSN: PENDAHULUAN

60 Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes. Volume VII Nomor 1, Januari 2016 ISSN: PENDAHULUAN PENDAHULUAN HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN REMAJA TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN PERILAKU SEKS BEBAS Eny Pemilu Kusparlina (Akademi Kebidanan Muhammadiyah Madiun) ABSTRAK Pendahuluan: Angka aborsi di

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Rancangan cross sectional

BAB III METODE PENELITIAN. dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Rancangan cross sectional 36 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah korelasi dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Rancangan cross sectional

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan termasuk jenis penelitian non-eksperimental observasional bersifat diskriptif analitik (eksplanatori reseach),

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Metode penelitian

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Metode penelitian BAB III METODELOGI PENELITIAN A. Desain Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Metode penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan proporsi atau

Lebih terperinci

DUKUNGAN DENGAN BEBAN KELUARGA MENGIKUTI REGIMEN TERAPEUTIK ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI HALUSINASI

DUKUNGAN DENGAN BEBAN KELUARGA MENGIKUTI REGIMEN TERAPEUTIK ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI HALUSINASI DUKUNGAN DENGAN BEBAN KELUARGA MENGIKUTI REGIMEN TERAPEUTIK ANGGOTA KELUARGA YANG MENGALAMI HALUSINASI Delia Ulpa*, Mahnum Lailan Nst.** *Mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara **Dosen

Lebih terperinci

BAB l PENDAHULUAN. peningkatan jumlah anak di Indonesia. Hal ini memberi konsekuensi

BAB l PENDAHULUAN. peningkatan jumlah anak di Indonesia. Hal ini memberi konsekuensi BAB l PENDAHULUAN A. Latar Belakang Semakin meningkatnya jumlah penduduk Indonesia berdampak pada peningkatan jumlah anak di Indonesia. Hal ini memberi konsekuensi meningkatnya masalah kesehatan anak,

Lebih terperinci

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEBERSIHAN DIRI PADA ANAK USIA PRASEKOLAH (3-6 TAHUN) DI TK ASIH SEJATI, JANTI, CATUR TUNGGAL,SLEMAN, YOGYAKARTA

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEBERSIHAN DIRI PADA ANAK USIA PRASEKOLAH (3-6 TAHUN) DI TK ASIH SEJATI, JANTI, CATUR TUNGGAL,SLEMAN, YOGYAKARTA HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEBERSIHAN DIRI PADA ANAK USIA PRASEKOLAH (3-6 TAHUN) DI TK ASIH SEJATI, JANTI, CATUR TUNGGAL,SLEMAN, YOGYAKARTA Suwarsi INTISARI Latar belakang : Kebersihan diri yang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah korelasional. Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah korelasional. Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN A.Desain Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah korelasional. Penelitian korelasional mengkaji hubungan antara variabel. Peneliti dapat mencari, menjelaskan suatu

Lebih terperinci

BAB III METODA PENELITIAN. 1. Ditinjau dari tujuan yang akan dihadapi yaitu mengetahui hubungan. hubungan antara variabel (Nursalam, 2003)

BAB III METODA PENELITIAN. 1. Ditinjau dari tujuan yang akan dihadapi yaitu mengetahui hubungan. hubungan antara variabel (Nursalam, 2003) BAB III METODA PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian 1. Ditinjau dari tujuan yang akan dihadapi yaitu mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan motivasi pasien kusta dengan kepatuhan melakukan

Lebih terperinci

Jurnal CARE, Vol. 3, No. 1, 2015

Jurnal CARE, Vol. 3, No. 1, 2015 Jurnal CARE, Vol. 3, No., 05 5 PELAKSANAAN PROGRAM UKS DENGAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) SISWA SEKOLAH DASAR DI KECAMATAN KEDUNG KANDANG KOTA MALANG Erlisa Candrawati ) ; Esti Widiani ) ),

Lebih terperinci

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU PRIMIGRAVIDA DENGAN PEMBERIAN ASI PADA BAYI UMUR 6-12 BULAN DI BPM KUSNI SRI MAWARTI DESA TERONG II KEC.

HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU PRIMIGRAVIDA DENGAN PEMBERIAN ASI PADA BAYI UMUR 6-12 BULAN DI BPM KUSNI SRI MAWARTI DESA TERONG II KEC. HUBUNGAN TINGKAT PENDIDIKAN IBU PRIMIGRAVIDA DENGAN PEMBERIAN ASI PADA BAYI UMUR 6-12 BULAN DI BPM KUSNI SRI MAWARTI DESA TERONG II KEC. DLINGO KAB. BANTUL YOGYAKARTA 2015 1 Ernisa Sarah Husnaini 2, Suesti

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan penelitian non eksperimental observasional dengan pendekatan cross-sectional.

Lebih terperinci

STUDI STATUS DEPRESI PADA LANSIA

STUDI STATUS DEPRESI PADA LANSIA STUDI STATUS DEPRESI PADA LANSIA Suryono Dosen Akper Pamenang Pare Kediri Proses menua yang dialami lansia mengakibatkan berbagai perubahan fisik, mental, dan emosional seiring dengan bertambahnya usia.

Lebih terperinci

BAB III METODA PENELITIAN

BAB III METODA PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian BAB III METODA PENELITIAN Jenis penelitian ini adalah studi korelasi yaitu penelitian yang bertujuan untuk mengungkapkan hubungan korelasi antar variabel (Nursalam, 2003).

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 31 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan deskriptif analitik, metode yang digunakan adalah survey dengan menggunakan kuesioner. Dengan menggunakan kuesioner

Lebih terperinci

TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA DAN KESIAPAN KELUARGA DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA YANG MENDERITA STROKE DI DESA KEBAKKRAMAT KARANGANYAR

TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA DAN KESIAPAN KELUARGA DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA YANG MENDERITA STROKE DI DESA KEBAKKRAMAT KARANGANYAR GASTER, Vol. 7, No. 2 Agustus 2010 (581-592) TINGKAT PENGETAHUAN KELUARGA DAN KESIAPAN KELUARGA DALAM MERAWAT ANGGOTA KELUARGA YANG MENDERITA STROKE DI DESA KEBAKKRAMAT KARANGANYAR Rini Suharni, Indarwati

Lebih terperinci

Rina Indah Agustina ABSTRAK

Rina Indah Agustina ABSTRAK HUBUNGAN PENGETAHUAN TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI DENGAN PERSEPSI PERILAKU SEKSUAL MAHASISWASEMESTER II PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN UNIVERSITAS RESPATI YOGYAKARTA Rina Indah Agustina ABSTRAK Remaja merupakan

Lebih terperinci

BAB III METODA PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang bersifat

BAB III METODA PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang bersifat BAB III METODA PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental yang bersifat kuantitatif dengan metode deskriptif korelasional dan dengan pendekatan cross sectional

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional (potong lintang)

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional (potong lintang) BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional (potong lintang) yaitu jenis penelitian yang menekankan pada waktu pengukuran atau observasi data variabel

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PERMAINAN EDUKATIF DENGAN STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PADA IBU-IBU DESA PEPE KELURAHAN LANGENHARJO

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PERMAINAN EDUKATIF DENGAN STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PADA IBU-IBU DESA PEPE KELURAHAN LANGENHARJO HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG PERMAINAN EDUKATIF DENGAN STIMULASI PERKEMBANGAN ANAK PADA IBU-IBU DESA PEPE KELURAHAN LANGENHARJO Oleh : Endang Dwi Ningsih 1 Ratna Indriati 2 Jumiati 3

Lebih terperinci

Mitha Destyowati ABSTRAK

Mitha Destyowati ABSTRAK HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG KONTRASEPSI IUD DENGAN MINAT PEMAKAIAN KONTRASEPSI IUD DI DES HARJOBINANGUN KECAMATAN GRABAK KABUPATEN PURWOREJO TAHUN 2011 Mitha Destyowati ABSTRAK 12 i + 34 hal

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERSEPSI PERAWAT DENGAN TINDAKAN TERHADAP PERLINDUNGAN HAK ATAS PRIVASI KLIEN TAHUN 2015

HUBUNGAN PERSEPSI PERAWAT DENGAN TINDAKAN TERHADAP PERLINDUNGAN HAK ATAS PRIVASI KLIEN TAHUN 2015 HUBUNGAN PERSEPSI PERAWAT DENGAN TINDAKAN TERHADAP PERLINDUNGAN HAK ATAS PRIVASI KLIEN TAHUN 2015 Fras Hinang Hawirami¹ Chrisnawati² Sr.Imelda Ingir Ladjar³ SekolahTinggi Ilmu Kesehatan Suaka Insan Banjarmasin

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian diskriptif korelatif karena menjelaskan hubungan antara dua

BAB III METODE PENELITIAN. penelitian diskriptif korelatif karena menjelaskan hubungan antara dua 47 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Rancangan Penelitian Berdasarkan tujuan yang telah diterapkan, penelitian ini merupakan penelitian diskriptif korelatif karena menjelaskan hubungan antara dua variabel

Lebih terperinci