LAPORAN PRAKTIKUM KESEHATAN LINGKUNGAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "LAPORAN PRAKTIKUM KESEHATAN LINGKUNGAN"

Transkripsi

1 LAPORAN PRAKTIKUM KESEHATAN LINGKUNGAN PEMANTAUAN DAN IDENTIFIKASI JENTIK NYAMUK, PINJAL TIKUS, DAN TIKUS DI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS AIRLANGGA KELOMPOK A-5 IKM A Fanny Oktavia ( ) 2. Nihayatul Muna ( ) 3. Mohamad Zamroni ( ) 4. Marta Laily Ramadany ( ) 5. Cholifatun Ni mah ( ) FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS AIRLANGGA 2014

2 KONTRIBUSI ANGGOTA KELOMPOK NO NAMA NIM KONTRIBUSI - Membuat ovitrap - Memantau jentik nyamuk - Identifikasi jentik nyamuk - Memasang perangkap - Memantau adanya tikus 1. Fanny Oktavia terperangkap - Identifikasi tikus - Mencari dan identifikasi pinjal - Membuat laporan hasil dan pembahasan praktikum - Membuat ovitrap - Memantau jentik nyamuk - Identifikasi jentik nyamuk - Memasang perangkap - Memantau adanya tikus 2. Nihayatul Muna terperangkap - Identifikasi tikus - Mencari dan identifikasi pinjal - Membuat laporan hasil dan pembahasan praktikum - Membuat ovitrap - Memantau jentik nyamuk - Identifikasi jentik nyamuk - Memasang perangkap - Memantau adanya tikus Muhammad terperangkap Zamroni - Identifikasi tikus - Mencari dan identifikasi pinjal - Membuat laporan hasil dan pembahasan praktikum - Membuat ovitrap - Memantau jentik nyamuk - Identifikasi jentik nyamuk - Memasang perangkap - Memantau adanya tikus 4. Marta Laily R terperangkap - Identifikasi tikus - Mencari dan identifikasi pinjal - Membuat laporan hasil dan pembahasan praktikum - Membuat ovitrap 5. Cholifatun Ni mah Memantau jentik nyamuk ii

3 - Identifikasi jentik nyamuk - Memasang perangkap - Memantau adanya tikus terperangkap - Identifikasi tikus - Mencari dan identifikasi pinjal - Membuat laporan hasil dan pembahasan praktikum iii

4 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...i KONTRIBUSI ANGGOTA KELOMPOK...ii DAFTAR ISI...iv DAFTAR GAMBAR...vi DAFTAR TABEL...vii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Praktikum...2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jentik Nyamuk Jenis dan Ciri-ciri Jentik Penyakit yang Ditimbulkan Nyamuk Definisi Kontainer Definisi Ovitrap Kepadatan Jentik Pinjal Tikus sebagai Vektor Jenis- Jenis Pinjal Penyakit yang Ditimbulkan Pinjal Indeks Pinjal Tikus sebagai Rodent Jenis- Jenis tikus Penyakit yang Ditimbulkan Tikus Angka Kepadatan Tikus Pengendalian Jentik, Vektor, dan Rodent...17 BAB III METODE PRAKTIKUM 3.1 Praktikum Jentik Metode Visual Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Cara Kerja Tabel Pengamatan Metode Ovitrap Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Cara Kerja Rincian Biaya Tabel Pengamatan Praktikum Vektor dan Rodent Metode Mekanik (Trapping) Waktu dan Tempat Alat dan Bahan...24 iv

5 Cara Kerja Rincian Biaya Tabel Pengamatan...26 BAB IV HASIL PRAKTIKUM 4.1 Praktikum Jentik Metode Visual Metode Ovitrap Praktikum Pinjal Praktikum Tikus Kendala Praktikum...30 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Praktikum Jentik Metode Visual Metode Ovitrap Praktikum Pinjal Praktikum Tikus...35 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Saran...36 DAFTAR PUSTAKA...38 DOKUMENTASI...41 v

6 DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Perbedaan Jentik Nyamuk...6 Gambar 3.1 Ovitrap...18 Gambar 3.2 Perangkap Hidup Tikus...19 vi

7 DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Tabel Kepadatan Jentik...10 Tabel 2.2 Tabel Identifikasi Tikus...16 Tabel 4.1 Hasil Praktikum Jentik Metode Visual...27 Tabel 4.2 Hasil Praktikum Jentik Metode Ovitrap...27 Tabel 4.3 Hasil Identifikasi Tikus...31 Tabel 5.1 Klasifikasi Ovitrap Index...33 vii

8 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lingkungan yang bersih merupakan manifestasi kesehatan. Lingkungan yang bersih dan sehat identik dengan lingkungan yang jauh dari unsur kotor dan pengganggu lainnya. Pengganggu ini tidak hanya datang dari sampah yang berserakan atau tempat yang kumuh, akan tetapi lingkungan yang bersih juga harus jauh dari unsur hewan pengganggu, vektor, maupun hewan lain yang akan menambah kekumuhan tempat tersebut dan mengganggu kesehatan misalnya jentik nyamuk. Jentik nyamuk apabila tumbuh manjadi nyamuk dewasa jika menggigit manusia bisa menimbulkan penyakit, misalnya malaria yang disebabkan gigitan nyamuk Anopheles. Dinamakan hewan pengganggu karena beberapa hewan ini akan menyebabkan ketidaknyamanan bagi suatu tempat tersebut. Hewan pengganggu ini biasanya senang dengan tempat yang memiliki unsur bisa memberikan mereka kenyamanan, salah satunya hewan ini senang berada di tempat yang kumuh. Salah satu hewan pengganggu ini adalah tikus. Tikus termasuk dalam hewan rodent. Rodent merupakan salah satu ordo dari binatang menyusui. Bahasa Latinnya Rodentia. Ada sekitar 2000 sampai 3000 spesies binatang pengerat yang ditemukan di semua benua kecuali Antarktika. Hewan pengerat memiliki gigi depan yang selalu tumbuh dan harus diasah dengan menggerigiti sesuatu. Pinjal merupakan salah satu jenis vektor yang dapat menganggu kesehatan manusia. Penyakit yang dibawa oleh vektor ini misalnya adalah penyakit pes (sampar = plague) dan murine typhus yang dipindahkan dari tikus ke manusia. Disamping itu pinjal bisa berfungsi sebagai penjamu perantara untuk beberapa jenis cacing pita anjing dan tikus, yang kadang-kadang juga bisa 1

9 menginfeksi manusia. Beberapa spesies pinjal menggigit dan menghisap darah manusia. Vektor terpenting untuk penyakit pes dan murine typhus ialah pinjal tikus Xenopsylla cheopis. Kuman pes, Pasteurella, berkembang biak dalam tubuh penyakit tikus sehingga akhirnya menyumbat tenggorokkan pinjal itu. Jika pinjal ingin mengisap darah maka ia harus terlebih dulu muntah untuk mengeluarkan kuman-kuman pes yang menyumbat tenggorokkannya. Muntahan tersebut masuk dalam luka gigitan dan terjadi infeksi dengan Pasteurella. Ketiga jenis hewan diatas dapat mengganggu kesehatan manusia sehingga perlu diadakan pengawasan dan pengendalian atas ketiganya. Salah satu metode pengawasan dan pengendalian nyamuk adalah visual dan ovitrap. Pengendalian atas vektor pinjal dapat dilakukan dengan metode mekanik, yaitu penyisiran pinjal pada bulu tikus. Selain itu pengendalian tikus juga dapat dilakukan dengan metode mekanik, yaitu trapping. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana cara melakukan pemantauan dan identifikasi jentik nyamuk dengan metode visual dan ovitrap? 2. Bagaimana cara melakukan pemantauan pinjal tikus dan tikus dengan metode mekanik (trapping)? 1.3 Tujuan Tujuan Umum Mempraktikkan kegiatan pemantauan dan identifikasi jentik nyamuk, pinjal tikus, dan tikus hitam Tujuan Khusus 1. Mempraktikkan kegiatan pemantauan jentik nyamuk dengan metode visual dan ovitrap. 2. Mempraktikkan kegiatan pemantauan vektor dan rodent dengan metode mekanik (trapping). 3. Mengidentifikasi jenis jentik nyamuk, pinjal tikus, dan tikus. 4. Menganalisis indeks ovitrap dan indeks pinjal. 2

10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Jentik Nyamuk Nama "jentik" berasal dari gerakannya ketika bergerak di air. Jentik dalam bahasa lokal dikenal sebagai cuk atau uget-uget. Jentik merupakan tahap larva pada nyamuk. Nyamuk akan mengelurakan telurnya di dalam air, setelah itu telur akan menetas menjadi jentik. jentik selanjutnya tumbuh menjadi pupa. Dalam beberapa hari pupa akan tumbuh menjadi nyamuk. Jentik nyamuk sering ditinggalkan oleh induk nyamuk dewasa di genangan air yang tidak tertutupi. Dalam sekali bertelur nyamuk dewasa akan menghasilkan 100 butir telur yang siap menetas menjadi jentik nyamuk. Jentik nyamuk akan menetas setelah dua hari berada di dalam air, dan akan bertahan sampai 6 bulan di tempat kering. Adanya jentik nyamuk mengindikasikan terdapatnya nyamuk di daerah tersebut. 2.2 Jenis dan Ciri-ciri Jentik Setiap jenis nyamuk memiliki karakteristik jentik yang berbeda- beda, misalnya dilihat dari posisi jentik saat beristirahat. Ada berbagai jenis nyamuk beserta jentik-jentiknya yang berbedabeda, antara lain: 1. Aedes aegepty Pada fase telur nyamuk Aedes aegepty memiliki ciri- ciri yaitu telur nyamuk Aedes aegepty berwarna hitam dengan ukuran + 0,80 mm. Telur ini di tempat yang kering dapat bertahan sampai 6 bulan. Telur akan menetas menjadi jentik dalam waktu + 2 hari setelah terendam air. Pada fase jentik memiliki ciri- ciri yaitu jentik kecil yang menetas dari telur akan tumbuh menjadi besar, panjangnya 0 1 cm. Jentik nyamuk Aedes aegeptyi selalu bergerak aktif dalam air. Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan 3

11 air untuk bernafas, kemudian turun kembali ke bawah untuk mencari makanan dan seterusnya. Pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air (bergantung dengan memberntuk posisi vertikal dengan permukaan air). Biasanya berada di sekitar dinding tempat penampungan air. Setelah 6-8 hari jentik itu akan berkembang/ berubah menjadi kepompong. Jentik nyamuk Aedes aegepty banyak ditemukan di penampungan air bersih seperti bak mandi, tempayan, ban bekas, kaleng bekas dan lain-lain. Pada fase kepompong atau pupa memiliki ciri- ciri yaitu Bentuk seperti koma, gerakannya lamban, sering berada dipermukaan air. Setelah 1 2 hari akan menjadi nyamuk baru. 2. Anopheles Sebelum memasuki fase jentik, dimulai dengan fase telur. Pada fase telur, telur berbentuk seperti perahu yang bagian bawahnya konveks dan bagian atasnya konkaf dan mempunyai sepasang pelampung yang terletak pada sebuah lateral sehingga telur dapat mengapung di permukaan air. Jumlah telur yang dikeluarkan oleh nyamuk betina Anopheles bervariasi, biasanya antara butir. Pada fase jentik saat istirahat, posisinya mengapung sejajar dengan permukaan air. Telur Anopheles tidak dapat bertahan lama di bawah permukaan air. Telur Anopheles yang terdapat di bawah permukaan air dalam waktu lama (melebihi 92 jam) akan gagal menetas. Pada fase larva, larva Anopheles bersifat akuatik yakni mempunyai habitat hidup di air. Stadium larva Anopheles yang di tempat perindukan tampak mengapung sejajar dengan permukaan air dan spirakelnya selalu kontak dengan udara luar. Sekali- sekali larva Anopheles mengadakan gerakan-gerakan turun ke dalam/bawah untuk menghindari predator/musuh 4

12 alaminya atau karena adanya rangsangan di permukaan seperti gerakan-gerakan dan lain-lain. Perkembangan hidup larva nyamuk memerlukan kondisi lingkungan yang mengandung makanan antara lain mikroorganisme terutama bakteri, ragi dan protozoa yang cukup kecil sehingga dapat dengan mudah masuk mulutnya. Pada fase pupa, merupakan masa tenang. Pada umumnya pupa tidak aktif bila memasuki stadium ini, pupa nyamuk dapat melakukan gerakan yang aktif, dan bila sedang tidak aktif maka pupa ini akan berada mengapung pada permukaan air.. Pupa tidak menggunakan rambut dan kait untuk dapat melekat pada permukaan air, tetapi dengan bantuan dua terompet yang cukup besar yang berfungsi sebagai spirakel dan dua rambut panjang stellate yang berada pada segmen satu abdomen (Santoso, 2002). Stadium pupa mempunyai tabung pernapasan (respiratory trumpet) yang bentuknya lebar dan pendek dan digunakan untuk pengambilan O2 dari udara (Gandahusada, 1998). Perubahan dari pupa menjadi dewasa biasanya antara 24 jam sampai dengan 48 jam. Tetapi hal ini akan sangat bergantung pada kondisi lingkungan terutama suhu (Santoso, 2002). 3. Culex Sebelum memasuki fase jentik (larva), telur nyamuk culex berbentuk lonjong menyerupai peluru senapan, beropekulum tersusun seperti bentuk rakit saling melekat satu sama lain, telur biasanya diletakkan di permukaan air. Pada fase jentik saat istirahat, posisinya bergantung membentuk sudut lancip. Pada stadium larva nyamuk Culex memiliki bentuk siphon langsing dan kecil yang terdapat pada abdomen terakhir dengan rambut siphon yang berkelompok- kelompok. Jentik nyamuk culex membentuk sudut di tumbuhan air ( menggantung). 5

13 Pada stadium pupa, air tube berbentuk seperti tabung dengan pasa paddle tidak berduri. Gambar 2.1. Perbedaan Jentik Nyamuk 2.3 Penyakit yang Ditimbulkan Nyamuk Jentik dari jenis nyamuk yang berbeda- beda ketika dewasa akan menyebabkan penyakit pada manusia. Penyakit yang ditimbulkan tergantung dari jenis nyamuk: 1. Aedes aegepty Jentik nyamuk Aedes aegepty jika berkembang biak menjadi nyamuk dewasa, akan mengakibatkan penyakit bagi manusia yaitu demam berdarah. Nyamuk Aedes aegepty yang menggigit manusia dan menyebabkan demam berdarah adalah jenis nyamuk betina, sedangkan nyamuk jantan tida menggigit manusia. Demam berdarah biasanya terjadi pada saat udara panas di musim hujan dan paling sering terjadi di kota- kota, di tempat- tempat air tergenang, dan di tempat yang saluran pembuangan airnya buruk. Tanda- tanda awal adalah seseorang akan tiba- tiba mengalami demam tinggi disertai kedinginan, sakit di beberapa bagian tubuh, sakit kepala, dan sakit tenggorokan setelah 3 sampai 4 hari penderita merasa lebih biak selama beberapa jam 6

14 sampai dua hari. Kemudian penyakitnya akan kembali selama 1 atau 2 hari, kadang dengan bintik merah yang dimulai dari tangan dan kaki. Bintik merah kemudian menyebar ke lengan, kaki, dan badan. 2. Anopheles Jentik nyamuk anopheles apabila sudah berkembang biak menjadi dewasa jika menggigit manusia akan mengakibatkan penyakit malaria. Malaria adalah infeksi darah yang menyebabkan demam panas tinggi dan kedinginan. Malaria berbahaya bagi anak- anak usia di bawah 5 tahun, wanita hamil, dan orang penderita HIV/AIDS. Tanda- tanda seseorang menderita malaria: a. Tanda pertama adalah rasa kedinginan dan sering sakit kepala. Penderita menggigil selama 15 menit sampai 1 jam. b. Kedinginan diikuti dengan demam tinggi. Penderita menjadi lemah dan kadang- kadang mengigau. Demamnya bisa berlangsung antara beberapa jam sampai beberapa hari. c. Pada tahap tiga penderita mulai berkeringat dan demamnya menurun. Setelah demam turun, penderita merasa lemah. 3. Culex Jentik nyamuk culex apabila dewasa akan menyebabkan penyakit kaki gajah (Wucheria brancofti). Penyakit kaki gajah merupakan penyakit yang disebabkan oleh cacing filariasis, yang ditularkan lewat vektor nyamuk, salah satunya adalah nyamuk culex. Penyakit kaki gajah merupakan penykait kronis, dan apabila tidak diobati akan mengakibatkan kecacatan permanen. Seseorang bisa tertular atau terinfeksi penyakit kaki gajah apabila orang tersebut digigit nyamuk yang infektif, yaitu nyamuk yang mengandung larva stadium III (L3). Nyamuk 7

15 tersebut mendapat cacing filaria sewaktu menghisap darah penderita penyakit kaki gajah. 2.4 Definisi Kontainer Kontainer merupakan semua tempat/wadah yang dapat menampung air yang mana air didalamnya tidak dapat mengalir ke tempat lain. Dalam kontainer seringkali ditemukan jentik-jentik nyamuk karena biasanya kontainer digunakan nyamuk untuk perindukan telurnya. Misalnya saja nyamuk Aedes aegepty menyukai kontainer yang menampung air jernih yang tidak langsung berhubungan langsung dengan tanah dan berada di tempat gelap sebagai tempat perindukan telurnya. Indeks kontainer merupakan presentase antara kontainer dimana ditemukan jentik terhadap seluruh kontainer yang diperiksa. 2.5 Definisi Ovitrap Ovitrap adalah alat untuk menangkap telur nyamuk. Nyamuk harus meletakkan telurnya di permukaan atau didalam air sehingga dapat berkembang menjadi larva, pupa dan nyamuk dewasa. Ovitrap berupa wadah berisi air yang di tutupi jaring, sehingga telurtelur yang di letakkan oleh nyamuk di permukaan air saat menetas dan menjadi nyamuk dewasa tidak mampu keluar dari wadah tersebut, sehingga tidak dapat mencari makan sehingga mati. Ovitrap berupa bejana (kaleng, palstik atau potongan bambu) yang dinding bagian dalamnya dicat hitam dan diberi air secukupnya. Ke dalam bejana tersebut dimasukan padel yaitu berupa potongan bambu atau kain yang tenunanya kasar dan berwarna gelap sebagai tempat menyimpan telur. Ovitrap ini akan ditempatkan baik di dalam atau diluar rumah yang gelap dan lembab karena nyamuk menyukai tempat-temat tersebut untuk bertelur. Setelah satu minggu dilakukan pemeriksaan ada/tidaknya telur di paddel. Cara menghitung Ovitrap index adalah : Jumlah paddle dengan telur Ovitrap Index = Jumlah paddle diperiksa X 100 % 8

16 Untuk mengetahui lebih tepat gambaran kepadatan populasi nyamuk dengan cara: Jumlah telur dari seluruh ovitrap Ovitrap Index = Jumlah ovitrap yang digunakan X 100% 2.6 Kepadatan Jentik Untuk mengetahui kepadatan vektor nyamuk pada suatu tempat, diperlukan survei yang meliputi suvei nyamuk, survei jentik, dan survei perangkap telur (ovitrap). Data data yang diperoleh nantinya dapat digunakan untuk melakukan pencegahan dan pemberantasan nyamuk. Setelah dilakukan survei, hasil yang didapatkan akan dilakukan pemeriksaan kepadatan jentik dengan ukuran berikut ini : 1. House Index (HI) : presentase rumah yang positif jentik dari seluruh rumah yang diperiksa. 2. Container Index (CI) : presentase kontainer yang positif jentik dari seluruh kontainer yang diperiksa. 3. Breteu Index (BI) : jumlah kontainer dengan jentik dari 100 rumah 4. Angka Bebas Jentik : presentase rumah/bangunan/tempat umum yang tidak ditemukan jentik pada pemeriksaan jentik. House index lebih menggambarkan penyebaran nyamuk di suatu wilayah. Density figure (DF) adalah kepadatan jentik Aedes aegypti yang merupakan gabungan dari HI, CI dan BI yang dinyatakan dengan skala 1-9 seperti tabel menurut WHO di bawah ini : 9

17 Tabel 2.1. Tabel Kepadatan Jentik Sumber: publikasi.ftsl.itb.ac.id Keterangan tabel : DF = 1 kepadatan rendah DF = 2 5 kepadatan sedang DF = 6 9 kepadatan tinggi Menurut Depkes tahun 2000 dalam Zulkarnaini, dkk menyatakan angka House Index yang dianggap aman untuk penularan penyakit DBD adalah <5%. Menurut Kantachuvessiri 2002, dalam Zukkarnaini, dkk angka CI diatas 10% dan angka BI di atas 50% sangat potensial bagi penyebaran penyakit DBD. Menurut Depkes 1992, dalam Zulkarnaini, dkk., 2008 indikator Angka Bebas Jentik minimal 95% dimana digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk DBD. 2.7 Pinjal Tikus Sebagai Vektor Vektor berasal dari bahasa latin yaitu vehere yang mempunyai arti pembawa (agent). Pengertian vektor adalah golongan arthropoda atau binatang yang tidak bertulang belakang lainnya (avertebrata) yang dapat memindahkan penyakit dari sumber (reservoir) ke pejamu. Vektor mungkin hanya membawa unsur penyebab penyakit secara mekanik dengan cara menempatkan mikroorganisme penyebab pada kaki atau bagian tubuh lainnya, sehingga unsur penyebab tidak mengalami 10

18 perubahan selama berada pada vektor. Namun, vektor membawa unsur penebab biologis, yang mengalami perubahan atau berkembang biak dalam tubuh vektor sebelum dipindahkan ke pejamu potensial. Vektor yang diambil dalam pembahasan ini adalah pinjal atau dikenal dengan kutu loncat (fleas) yang terdapat pada tikus. Pinjal merupakan salah satu parasit yang pada umumnya banyak dijumpai pada kucing atau anjing. Pinjal berukuran kecil dengan panjang 1,5-3,3 mm dan bergerak cepat, berwarna gelap. Pinjal ini merupakan serangga bersayap dengan bagian mulut seperti tabung yang digunakan untuk menghisap darah host. Kaki pinjal berukuran panjang, sepasang kaki belakang digunakan untuk melompat, tubuh bersifat lateral dikompresi yang memudahkan untuk bergerak diantara rambut atau bulu tubuh inang. Kulit tubuhnya keras, ditutupi banyak bulu dan duri pendek, dimana bulu dan duri berfungsi untuk memudahkan bergerak. Pinjal tikus oriental (Xenopsylla cheopis) merupakan parasit dari hewan pengerat, terutama dari genus Rattus, dan merupakan dasar vektor untuk penyakit pes dan murine tifus. Hal ini terjadi ketika pinjal menggigit hewan pengerat yang terinfeksi, dan kemudian menginfeksi menggigit manusia. Pinjal tikus oriental ini terkenal memberikan kontribusi bagi black death. Siklus hidup pinjal terdiri dari empat tahapan yaitu: 1. Tahap telur Kutu betina dapat bertelur 50 telur perhari di hewan peliharaan dan selama hidupnya dapat bertelur sampai telur. Telur kutu ini tidak lengket, sehingga mudah jatuh dan dapat menetas dalam dua atau lima hari. 2. Tahap larva Setelah menetas, larva akan menghindar dari sinar ke daerah yang gelap di sekitar rumah dan makan kotoran kutu loncat. 11

19 Larva akan tumbuh, ganti kulit dua kali dan membuat kepompong yang selanjutnya tumbuh menjadi pupa. 3. Tahap pupa Lama tahap pupa ini rata-rata 8 sampai 9 hari, tergantung dari kondisi cuaca, ledakan populasi, dan sebagainya. 4. Tahap dewasa Kutu loncat dewasa keluar dari kepompongnya ketika merasa hangat, getaran, dan karbondioksida yang menandakan ada host di sekitarnya. Setelah loncat ke host, selanjutnya kutu dewasa akan kawin dan memulai siklus baru. Siklus secara keseluruhan dapat dipendek secepatnya sampai 3 4 minggu. Umur rata-rata pinjal sekitar 6 minggu, namun pada kondisi tertentu dapat berumur 1 tahun. Pinjal betina dapat bertelur sebanyak per-hari. 2.8 Jenis-jenis Pinjal 1. Nosopsyllus fasciatus Nosopsyllus fasciatus memiliki tubuh memanjang, panjangnya 3 hingga 4 mm. Memiliki pronotal ctenidium dengan duri tapi tidak memiliki ctenidium genal. Pinjal tikus utara memiliki mata dan sederet tiga setae di bawah kepala. Kedua jenis kelamin memiliki tuberkulum menonjol di bagian depan kepala. Tulang paha belakang memiliki 3-4 bulu pada permukaan bagian dalam. 2. Xenopsylla cheopis Secara umum memiliki ciri-ciri antara lain tidak bersayap, kaki sangat kuat dan panjang (berguna untuk meloncat), mempunyai mata tunggal, segmentasi tubuh tidak jelas, ukuran + 1,5-3,3 mm, kepala membulat dan tidak ada comb, tetapi memiliki ocular bristle. 2.9 Penyakit yang Ditimbulkan Pinjal Penyakit yang diakibatkan oleh pinjal yang menginfeksi manusia antara lain: 12

20 1. Pes Secara alamiah penyakit pes dapat bertahan atau terpelihara pada rodent. Kuman pes yang ada pada tikus sakit dapat ditularkan ke hewan lain atau manusia, apabila ada pinjal yang menghisap darah tikus yang mengandung kuman pes, dan kuman tersebut akan dipindahkan ke hewan lain atau manusia dengan cara melalui gigitan. 2. Murine typus, yang dipindahkan dari tikus ke manusia Indeks Pinjal Kepadatan pinjal pada tubuh tikus disebut Indeks Umum Pinjal, yaitu cara untuk mengetahui kepadatan investasi rata-rata dari pinjal yang ditemukan dibagi jumlah total tikus yang tertangkap. Untuk standart keamanan indeks, lebih dari satu merupakan potensi semakin rendah untuk penyakit pes. Indeks umum pinjal dihitung dengan rumus berikut: IUP = JP JT Keterangan: IUP : indeks umum pinjal JP : jumlah total semua jenis pinjal yang diperoleh dari tikus JT : jumlah total tikus yang tertangkap 2.11 Tikus Sebagai Rodent Rodent adalah hewan pengerat yang memiliki gigi depan selalu tumbuh dan biasanya pada manusia bisa menyebabkan penyakit dan dapat digunakan sebagai hewan percobaan. Pada pembahasan ini, yang dimasukkan menjadi rodent adalah tikus. Tikus adalah jenis binatang pengerat yang perkembangbiakannya sangat cepat. Tikus bisa hidup antara 3 4 tahun. Umumnya umur 1,5 5 bulan, tikus siap kawin. Seekor tikus betina bisa beranak antara 6 8 ekor dan yang hidup bisa 5 6 ekor. Masa kehamilan tikus berkisar ± 21 hari dan dalam 1 tahun bisa sampai 4 kali melahirkan. 13

21 2.12 Jenis-jenis Tikus Ada beberapa jenis tikus di lingkungan pemukiman antara lain Rattus-rattus (tikus atap), Rattus norvegicus (tikus got) dan Rattus tanezumi (tikus rumah) (Zumrotus, 2007 ). Identifikasi tikus berdasarkan jenis kelamin, warna badan&ekor, panjang tikus seluruhnya (TL), panjang ekor (T), panjang kaki belakang (HF), lebar telinga (E), dan jumlah puting susu (M). 1. Rattus-rattus Tikus atap pada umumnya bersarang di dalam rumah, gedung-gedung tinggi dan disekitar pelabuhan. Tikus ini memiliki kemampuan memanjat dan menyeberangi kabel-kabel yang menghubung bangunan yang satu dengan yang lainnya. Tikus atap memliki moncong runcing, dengan telinga dan mata yang besar. Berat tikus atap mencapai gram. Panjang tubuhnya mencapai cm. panjang ekor tikus atap melebihi panjang tubuhnya, yaitu mencapai cm. Warna bulunya abu- abu kehitaman, dengan bentuk kotoran ramping, panjangnya mencapai 1,2 cm dan ujung kotoran tersebut berbentuk runcing. Usia hidupnya 9-24 bulan. Tikus atap mencapai dewasa 2-3 bulan setelah dilahirkan. Jumlah anak per kelahirannya antara 6-10 ekor. Kelahiran dalam satu tahun mencapai 6 kali. Jangkauan tikus atap antara meter, dan bisa menembus lubang 1,2 cm 2. Rattus norvegicus (Tikus Got) Tikus ini sangat cepat penyebarannya, dan paling merusak secara ekonomi. Biasanya menyerang gudang, pabrik, supermarket, gedung dan lain-lain. Tikus ini biasanya bersarang di lubang- lubang saluran atau got, dibawah bangunan, dibawah timbunan sampah dan lain-lain. Hewan ini tergolong omnivora yang memakan semua makanan manusia dan hewan. Tikus got sangat bergantung pada makanan dan air. 14

22 Karakteristik tikus got antara lain memiliki moncong yang tumpul, telinga dan mata kecil. Berat tikus dewasa antara gram. Tikus got memiliki panjang tubuh cm, sedangkan panjang ekornya antara cm. Warna bulu tikus got coklat tua dibagian atas, dan coklat muda dibagian bawah. Bentuk kotoran dari tikus got adalah kapsul dengan ukuran 2 cm. Usia hidupnya 5-12 bulan, bahkan hingga 3 tahun. Tikus got mencapai dewasa 2-3 bulan setelah dilahirkan. Jumlah anak per kelhirannya antara 8-12 ekor. Kelahiran dalam satu tahun mencapai tujuh kali. Jangkauan tikus got antara meter, dan bisa menembus lubang 1,2 cm. 3. Rattus tanezumi (Tikus rumah) Tekstur rambut agak kasar dan lebih mengkilap dari tikus riol (Rattus norvegicus), bentuk hidung kerucut, hidung runcing, badan kecil, bentuk badan silindris, warna badan bagian atas dan bawah coklat kelabu, warna ekor bagian atas dan bawah coklat gelap. Tikus ini memiliki berat badan gram, panjang kepala dan badan mm, panjang ekor mm (lebih dari panjang kepala dan badan), panjang dari ujung hidung sampai ujung ekor , panjang telapak kaki belakang mm, lebar telinga mm. Tikus betina mempunyai 10 puting susu, 3 pasang di pektoral dan 2 pasang di inguinal (3+2=10). Tikus ini terdapat di gudang makanan, pemukiman manusia terutama di langit-langit rumah. Tikus ini sangat pandai memanjat. 4. Mus musculus (Mencit rumah) Mencit rumah biasanya bersarang di dinding kayu, lemari, gudang makanan, furniture dan dilubang-lubang. Tikus ini lebih teliti dan selalu menyelidiki dan tikus ini sangat baik dalam meloncat, memanjat dan berenang. Mencit rumahmemiliki moncong yang runcing, dengan telinga yang besar dan mata kecil. Berat dewasa dari tikus 15

23 rumah mencapai gram. Panjang tubuhnya yaitu 6-10 cm ssedangkan panjang ekornya antara 7,5 cm- 10 cm. Warna bulunya coklat muda atau abu- abu muda. Kotoran mencit rumah berbentuk runcing, dengna ukuran 0,3-0,6 cm. Usia hidupnya antara 9-12 bulan. Berubah menjadi dewasa dalam waktu 1,5 bulan. Jumlah anak per kelahirannya antara 6-7 ekor, dengan kelahiran 8-10 kali dalam satu tahun. Mencit ruah bisa menembus lubang 0,6 cm. Tabel 2.2 Tabel Identifikasi Tikus Sumber: Edi Rommel, Penyakit yang Ditimbulkan Tikus Tikus berperan sebagai perantara berbagai jenis penyakit yang dikenal dengan Rodent Borne Disease. Penyakit yang 16

24 tergolong dalam rodent borne disease adalah penyakit pes, leptospirosis, scrup thypus, murine typhus, ratbite fever Angka Kepadatan Tikus Angka kepadatan tikus merupakan suatu metode atau cara yang digunakan untuk mengetahui jumlah populasi tikus yang ada serta dampaknya pada penularan penyakit. Penangkapan yang dilakukan pada tikus untuk diketahui pinjal yang ada dapat digunakan untuk mengetahui tingkat penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh hewan rodent Pengendalian Jentik Nyamuk, Pinjal Tikus, dan Tikus Pengendalian jentik nyamuk dapat dilakukan dengan cara: 1. 3M Plus: tindakan yang dilakukan secara teratur untuk memberantas jentik nyamuk meliputi, menguras tempat penampungan air, menutup tempat penampungan air, dan mengubur barang bekas, serta tindakan membunuh jentik dngan menaburkan bubuk abate. 2. Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk. Pengendalian pinjal tikus sebagai vektor dapat dilakukan dengan cara: 1. Mekanik atau fisik Pengendalian pinjal secara mekanik atau fisik dilakukan dengan cara membersihkan karpet, alas kandang, daerah di dalam rumah yang biasa disinggahi tikus atau hewan lain dengan menggunakan vaccum cleaner berkekuatan penuh, yang bertujuan untuk membersihkan telur, larva dan pupa pinjal yang ada. Sedangkan tindakan fisik dilakukan dengan menjaga sanitasi kandang dan lingkungan sekitar hewan piaraan, member nutrisi yang bergizi tinggi untuk meningkatkan daya tahan hewan juga perlindungan dari kontak hewan peliharaan dengan hewan liar atau tidak terawat lain di sekitarnya. 17

25 Selain itu juga dapat melalui pemberantasan inangnya yaitu tikus dengan pemasangan perangkap tikus. Dinas Kesehatan menyajikan Upaya pengendalian pinjal penular pes melalui pemasangan bumbung bambu berinsektisida 2. Kimia Pengendalian pinjal secara kimiawi dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida. Repelen seperti dietil toluamide (deet) atau benzilbenzoat bisa melindungi orang dari gigitan pinjal. Sejauh ini resistensi terhadap insektisida dari golongan organoklor, organofosfor, karbamat, piretrin, piretroid pada pinjal telah dilaporkan di berbagai belahan dunia. Namun demikian insektisida masih tetap menjadi alat utama dalam pengendalian pinjal, bahkan saat ini terdapat kecenderungan meningkatnya penggunaan Insect Growth Regulator (IGR). Secara umum untuk mengatasi pinjal, formulasi serbuk (dust) dapat diaplikasikan pada lantai rumah dan tempat jalan lari tikus. Insektisida ini dapat juga ditaburkan dalam lubang persembunyian tikus. Diberbagai tempat Xenopsylla cheopis dan Pulex irritans telah resisten terhadap DDT, HCH dan dieldrin. Bila demikian, insektisida organofosfor dan karbamat seperti diazinon 2 %, fention 2%, malation 2%, fenitrotion 2%, iodofenfos 5%, atau karbaril 3-5% dapat digunakan. Insektisida fogs atau aerosol yang mengandung malation 2% atau fenklorfos 2% kadang-kadang juga digunakan untuk fumigasi rumah yang mengandung pinjal. Insektisida smoke bombs yang mengandung permetrin atau tirimifos metal dapat juga digunakan untuk desinfeksi rumah. Upaya pengendalian pinjal di daerah urban pada saat meluasnya kejadian pes atau murinethyphus, diperlukan insektisida dan aplikasi yang terencana dengan baik agar operasi berjalan dengan memuaskan. Pada saat yang sama 18

Langkah-langkah Anti Nyamuk

Langkah-langkah Anti Nyamuk Nasehat untuk rumah tangga Langkah-langkah Anti Nyamuk Arahan 1. Informasi di bawah ini adalah untuk membantu masyarakat mencegah dan mengendalikan pembiakan nyamuk Aedes albopictus, di rumah dan lingkungan

Lebih terperinci

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida Rumah Sehat edited by Ratna Farida Rumah Adalah tempat untuk tinggal yang dibutuhkan oleh setiap manusia dimanapun dia berada. * Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya

Lebih terperinci

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh I. Latar Belakang Tanaman pala merupakan tanaman keras yang dapat berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun. Tanaman pala tumbuh dengan baik di daerah tropis.

Lebih terperinci

CONEGARAN TRIHARJO KEC. WATES 20 JANUARI 2011 (HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM DESEMBER

CONEGARAN TRIHARJO KEC. WATES 20 JANUARI 2011 (HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM DESEMBER PENGAMATAN EPIDEMIOLOGI HASIL PEMERIKSAAN KECACINGAN di SD MUH. KEDUNGGONG, SD DUKUH NGESTIHARJO,SDN I BENDUNGAN dan SD CONEGARAN TRIHARJO KEC. WATES 20 JANUARI 2011 (HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM DESEMBER

Lebih terperinci

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2)

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) Lektor Kepala/Pembina TK.I. Dosen STPP Yogyakarta. I. PENDAHULUAN Penurunan

Lebih terperinci

BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT

BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT 2.1 Pengertian Cuci Tangan Menurut Dr. Handrawan Nadesul, (2006) tangan adalah media utama bagi penularan kuman-kuman penyebab penyakit. Akibat kurangnya

Lebih terperinci

Masalah Kulit Umum pada Bayi. Kulit bayi sangatlah lembut dan membutuhkan perawatan ekstra.

Masalah Kulit Umum pada Bayi. Kulit bayi sangatlah lembut dan membutuhkan perawatan ekstra. Masalah Kulit Umum pada Bayi Kulit bayi sangatlah lembut dan membutuhkan perawatan ekstra. Brosur ini memberikan informasi mendasar tentang permasalahan kulit yang lazimnya dijumpai pada usia dini sebagai

Lebih terperinci

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22 Dikenal sebagai nila merah taiwan atau hibrid antara 0. homorum dengan 0. mossombicus yang diberi nama ikan nila merah florida. Ada yang menduga bahwa nila merah merupakan mutan dari ikan mujair. Ikan

Lebih terperinci

PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA. B. Sistematika Berikut adalah klasifikasi ikan nila dalam dunia taksonomi : Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata

PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA. B. Sistematika Berikut adalah klasifikasi ikan nila dalam dunia taksonomi : Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA A. Pendahuluan Keluarga cichlidae terdiri dari 600 jenis, salah satunya adalah ikan nila (Oreochromis sp). Ikan ini merupakan salah satu komoditas perikanan yang sangat popouler

Lebih terperinci

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya. Penyiangan Penyiangan terhadap gulma dilakukan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMANFAATAN AIR HUJAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa air hujan merupakan sumber air yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

FAKTOR DAN AGEN YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT & CARA PENULARAN PENYAKIT

FAKTOR DAN AGEN YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT & CARA PENULARAN PENYAKIT FAKTOR DAN AGEN YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT & CARA PENULARAN PENYAKIT LATAR BELAKANG FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT KESEHATAN KUNCI SUKSES USAHA BUDIDAYA PETERNAKAN MOTO KLASIK : PREVENTIF > KURATIF

Lebih terperinci

SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM

SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM DEFINIISI Tempat tempat umum adalah : suatu tempat dimana orang banyak berkumpul untuk melakukan kegiatan baik secara insidentil maupun secara terus menerus. Mengingat banyaknya

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG CARA PRODUKSI KOSMETIKA YANG BAIK MENTERI KESEHATAN, Menimbang : a. bahwa langkah utama untuk menjamin keamanan kosmetika adalah penerapan

Lebih terperinci

MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU

MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO DINAS PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN JL. RAYA DRINGU 81 TELPON 0335-420517 PROBOLINGGO 67271 MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU Oleh

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

UPAYA PENINGKATAN ANGKA BEBAS JENTIK DEMAM BERDARAH DENGUE

UPAYA PENINGKATAN ANGKA BEBAS JENTIK DEMAM BERDARAH DENGUE UPAYA PENINGKATAN ANGKA BEBAS JENTIK DEMAM BERDARAH DENGUE (ABJ-DBD) MELALUI PENGGERAKAN JURU PEMANTAU JENTIK (JUMANTIK) DI RW I KELURAHAN DANYANG KECAMATAN PURWODADI KABUPATEN GROBOGAN TAHUN 2012 SKRIPSI

Lebih terperinci

4.1.3 PERALATAN PENDUKUNG SURVEY UKUR TANAH

4.1.3 PERALATAN PENDUKUNG SURVEY UKUR TANAH 4.1.3 PERALATAN PENDUKUNG SURVEY UKUR TANAH Program D3/D4 Teknik Sipil FTSP ITS ILMU UKUR TANAH 1 Materi ini menerangkan peralatan yang digunakan didalam praktikum ukur tanah Tujuan Instruksional Khusus:

Lebih terperinci

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus.

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus. CIPROFLOXACIN: suatu antibiotik bagi kontak dari penderita infeksi meningokokus Ciprofloxacin merupakan suatu antibiotik yang adakalanya diberikan kepada orang yang berada dalam kontak dekat dengan seseorang

Lebih terperinci

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA. Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA. Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 Hama Penting Semangka Hama penting pada semangka: 1. Thrips (Thrips parvispinus Karny) 2. Ulat perusak daun

Lebih terperinci

Gangguan Kesehatan akibat Nyamuk

Gangguan Kesehatan akibat Nyamuk 140 8 Gangguan Kesehatan akibat Nyamuk Dalam bab ini halaman Gangguan kesehatan akibat nyamuk... 141 Kisah: Malaria di jalan raya trans-amazon... 142 Cara nyamuk menularkan penyakit... 143 Malaria... 144

Lebih terperinci

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL Siapa yang tak kenal ikan lele, ikan ini hidup di air tawar dan sudah lazim dijumpai di seluruh penjuru nusantara. Ikan ini banyak dikonsumsi karena rasanya yang enak

Lebih terperinci

Lakukan gerakan pemanasan dengan tertib! Setelah melakukan gerakan pemanasan, berlarilah secara bersama-sama mengelilingi lapangan!

Lakukan gerakan pemanasan dengan tertib! Setelah melakukan gerakan pemanasan, berlarilah secara bersama-sama mengelilingi lapangan! Lakukan gerakan pemanasan dengan tertib! Setelah melakukan gerakan pemanasan, berlarilah secara bersama-sama mengelilingi lapangan! Ayo menulis dengan percaya diri! Tulislah aturan yang berlaku ketika

Lebih terperinci

Petunjuk Pengunaan Saringan Air Nazava Nazava Tulip sipon

Petunjuk Pengunaan Saringan Air Nazava Nazava Tulip sipon Nazava saringan air Petunjuk Pengunaan Saringan Air Nazava Nazava Tulip sipon Kami mengucapkan dan terima kasih atas kepercayaan anda membeli Saringan Air Nazava. Dengan Saringan Air Nazava anda bisa dapat

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK...

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK... DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR GRAFIK... I II VII VIII X BAB I PENDAHULUAN BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG A. GEOGRAFI... 4 B. KEPENDUDUKAN / DEMOGRAFI...

Lebih terperinci

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT MODUL: PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan sanitasi merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia, karena itu jika kebutuhan tersebut

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR. Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar

PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR. Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar Panduan ini dirancang untuk melengkapi Kit atau Alat Bantu Pengambilan Sampel DNA

Lebih terperinci

LAPORAN TEKNIK INSTRUMENTASI LABORATORIUM BIOSISTEM (HEWAN COBA) Dosen Pengampu: dr. Nur Laili Susanti, S. Ked. Asisten: Khoirul Muaddibah

LAPORAN TEKNIK INSTRUMENTASI LABORATORIUM BIOSISTEM (HEWAN COBA) Dosen Pengampu: dr. Nur Laili Susanti, S. Ked. Asisten: Khoirul Muaddibah LAPORAN TEKNIK INSTRUMENTASI LABORATORIUM BIOSISTEM (HEWAN COBA) Dosen Pengampu: dr. Nur Laili Susanti, S. Ked Asisten: Khoirul Muaddibah Nama : Nadia Anisah Tahani NIM : 12620031 Tanggal Pengumpulan:

Lebih terperinci

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

MENGINDENTIFIKASI TANGAN, KAKI DAN KUKU

MENGINDENTIFIKASI TANGAN, KAKI DAN KUKU KEGIATAN BELAJAR I MENGINDENTIFIKASI TANGAN, KAKI DAN KUKU A. LEMBAR INFORMASI 1. Anatomi Kuku (Onyx ) Keadaan kuku seperti halnya keadaan kulit, dapat menentukan kesehatan umum dari badan. Kuku yang sehat

Lebih terperinci

KONSTRUKSI DINDING BAMBU PLASTER Oleh Andry Widyowijatnoko Mustakim Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung

KONSTRUKSI DINDING BAMBU PLASTER Oleh Andry Widyowijatnoko Mustakim Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung MODUL PELATIHAN KONSTRUKSI DINDING BAMBU PLASTER Oleh Andry Widyowijatnoko Mustakim Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung Pendahuluan Konsep rumah bambu plester merupakan konsep rumah murah

Lebih terperinci

F. Kunci Identifikasi Bergambar kepada Bangsa

F. Kunci Identifikasi Bergambar kepada Bangsa MILLI-PEET, kunci identifikasi dan diagram alur, Page 1 F. Kunci Identifikasi Bergambar kepada Bangsa 1A Tubuh lunak, tergit mengandung rambut seperti kuas atau rambut sikat, sepasang kuas terdapat bagian

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal 31 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Dan Waktu Penelitian 1. Lokasi penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lapangan Asrama PPLP Sumatera Utara di Jl.Sekolah pembangunan NO. 7A Medan Sunggal 2.

Lebih terperinci

Selamat datang di prasekolah

Selamat datang di prasekolah Welcome to preschool A parents guide to starting preschool Selamat datang di prasekolah Pedoman orang tua untuk memulai prasekolah INDONESIAN Menghadiri prasekolah Daftar Periksa Perkara prasekolah mungkin

Lebih terperinci

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat Standar Nasional Indonesia Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat ICS 91.100.15 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan membahas tentang: latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Di jaman

Lebih terperinci

Pengemasan dengan sterilisasi steam/gas. Sterilisasi dengan steam/gas. Pembungkus dapat ditembus oleh uap/gas Impermiabel bagi mikroba Tahan lama

Pengemasan dengan sterilisasi steam/gas. Sterilisasi dengan steam/gas. Pembungkus dapat ditembus oleh uap/gas Impermiabel bagi mikroba Tahan lama PERAWATAN DAN MAINTENANCE PREPARASI OPERASI Dr. Drh.Gunanti S,MS Bag Bedah dan Radiologi PERSIPAN PENGEMASAN Prinsip : bebas dari kontaminasi Peralatan dan bahan harus bersih : Alat dibersihkan manual/pembersih

Lebih terperinci

DAYA TAHAN TUBUH & IMMUNOLOGI

DAYA TAHAN TUBUH & IMMUNOLOGI DAYA TAHAN TUBUH & IMMUNOLOGI Daya Tahan tubuh Adalah Kemampuan tubuh untuk melawan bibit penyakit agar terhindar dari penyakit 2 Jenis Daya Tahan Tubuh : 1. Daya tahan tubuh spesifik atau Immunitas 2.

Lebih terperinci

MENGENAL SECARA SEDERHANA TERNAK AYAM BURAS

MENGENAL SECARA SEDERHANA TERNAK AYAM BURAS MENGENAL SECARA SEDERHANA TERNAK AYAM BURAS OLEH: DWI LESTARI NINGRUM, S.Pt Perkembangan ayam buras (bukan ras) atau lebih dikenal dengan sebutan ayam kampung di Indonesia berkembang pesat dan telah banyak

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1962 TENTANG KARANTINA LAUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1962 TENTANG KARANTINA LAUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 1962 TENTANG KARANTINA LAUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang tentang

Lebih terperinci

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.

Lebih terperinci

1. Tuliskan kalimat yang sesuai dengan gambar! 2. Apakah manfaat makan buah dan sayur bagi kesehatan tubuh?

1. Tuliskan kalimat yang sesuai dengan gambar! 2. Apakah manfaat makan buah dan sayur bagi kesehatan tubuh? 1. Tuliskan kalimat yang sesuai dengan gambar! 2. Apakah manfaat makan buah dan sayur bagi kesehatan tubuh? 3. Sebutkan contoh perilaku hidup bersih dan sehat di sekolah! 4. Perhatikan bangun ruang di

Lebih terperinci

Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia. 1) lintasan lurus, datar, tidak licin, berjarak 30 meter, dan mempunyai

Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia. 1) lintasan lurus, datar, tidak licin, berjarak 30 meter, dan mempunyai Lampiran Petunjuk Pelaksanaan TKJI Petunjuk Pelaksanaan Tes Kesegaran Jasmani Indonesia Petunjuk Pelaksanaan Tes 1. Lari 40 meter a. Tujuan Tes lari ini adalah untuk mengetahui atau mengukur kecepatan.

Lebih terperinci

a b. 1.5 l c d. 1.75 l 2 l

a b. 1.5 l c d. 1.75 l 2 l 160 1. Sebuah batu yang massanya sama digantung pada seutas tali yang berbeda panjangnya. Gambar manakah yang akan menghasilkan jumlah ayunan terbanyak untuk selang waktu tertentu. a b. l 1.5 l c d. 1.75

Lebih terperinci

MEMASANG RANGKA DAN PENUTUP PLAFON

MEMASANG RANGKA DAN PENUTUP PLAFON KODE MODUL KYU.BGN.214 (2) A Milik Negara Tidak Diperdagangkan SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK BANGUNAN PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK INDUSTRI KAYU MEMASANG RANGKA DAN PENUTUP PLAFON DIREKTORAT

Lebih terperinci

RISIKO KEJADIAN FILARIASIS PADA MASYARAKAT DENGAN AKSES PELAYANAN KESEHATAN YANG SULIT

RISIKO KEJADIAN FILARIASIS PADA MASYARAKAT DENGAN AKSES PELAYANAN KESEHATAN YANG SULIT RISIKO KEJADIAN FILARIASIS PADA MASYARAKAT DENGAN AKSES PELAYANAN KESEHATAN YANG SULIT Santoso* Abstrak Penyakit Kaki Gajah (filariasis) adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh cacing filaria

Lebih terperinci

PerMen 04-1980 Ttg Syarat2 APAR

PerMen 04-1980 Ttg Syarat2 APAR PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI No : PER.04/MEN/1980 TENTANG SYARAT-SYARAT PEMASANGAN DAN PEMELIHARAN ALAT PEMADAM API RINGAN. MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI: PerMen 04-1980 Ttg

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perkarantinaan hewan

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGGUNAAN Lemari Pendingin 2 pintu Bebas Bunga Es (No Frost)

PETUNJUK PENGGUNAAN Lemari Pendingin 2 pintu Bebas Bunga Es (No Frost) PETUNJUK PENGGUNAAN Lemari Pendingin 2 pintu Bebas Bunga Es (No Frost) DAFTAR ISI FITUR 2 PEMASANGAN 5 PENGOPERASIAN 6 MEMBERSIHKAN 8 PERINGATAN 9 PEMECAHAN MASALAH 10 No. Pendaftaran: PEMECAHAN MASALAH

Lebih terperinci

Kulit masohi SNI 7941:2013

Kulit masohi SNI 7941:2013 Standar Nasional Indonesia ICS 65.020.99 Kulit masohi Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini

Lebih terperinci

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU Diarsi Eka Yani (diarsi@ut.ac.id) PS Agribisnis, FMIPA, Universitas Terbuka ABSTRAK Abrasi pantai yang terjadi

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN PENUH IKAN PARI MANTA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN PENUH IKAN PARI MANTA KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN PENUH IKAN PARI MANTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA

PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 651/MPP/ kep/10/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK

Lebih terperinci

- 2 - Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2013 MENTERl KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. SHARIF C. SUTARDJO

- 2 - Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2013 MENTERl KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. SHARIF C. SUTARDJO KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/KEPMEN-KP/2013 TENTANG PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN PENUH IKAN HIU PAUS (Rhincodon typus) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

Mycobacterium Penyebab Penyakit Tuberculosis Serta Mengenal Sifat-sifat Pertumbuhannya di Laboratorium

Mycobacterium Penyebab Penyakit Tuberculosis Serta Mengenal Sifat-sifat Pertumbuhannya di Laboratorium Mycobacterium Penyebab Penyakit Tuberculosis Serta Mengenal Sifat-sifat Pertumbuhannya di Laboratorium Oleh: Merryani Girsang, S.Si. MSc Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Badan Litbang Kesehatan

Lebih terperinci

Mengenal kaki seribu secara mudah

Mengenal kaki seribu secara mudah A. Pendahuluan MILLI-PEET, kunci identifikasi dan diagram alur Mengenal kaki seribu secara mudah Kelas Diplopoda atau yang dikenal dengan luing (keluing) ataupun lintibang, mempunyai anggota yang sangat

Lebih terperinci

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GOR BASKET DI KAMPUS UNDIP TEMBALANG. sirkulasi/flow, sirkulasi dibuat berdasarkan tingkat kenyamanan sbb :

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GOR BASKET DI KAMPUS UNDIP TEMBALANG. sirkulasi/flow, sirkulasi dibuat berdasarkan tingkat kenyamanan sbb : BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GOR BASKET DI KAMPUS UNDIP TEMBALANG 4.1. Program Ruang Besaran ruang dan kapasitas di dalam dan luar GOR Basket di kampus Undip Semarang diperoleh dari studi

Lebih terperinci

Modul Pelatihan PEDOMAN PERSONAL HYGIENE

Modul Pelatihan PEDOMAN PERSONAL HYGIENE TROPICAL PLANT CURRICULUM PROJECT Modul Pelatihan PEDOMAN PERSONAL HYGIENE Nyoman Semadi Antara Pusat Studi Ketahanan Pangan Universitas Udayana 2012 DISCLAIMER This publication is made possible by the

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Alat kesehatan meliputi barang, instrumen atau alat lain yang termasuk tiap komponen, bagian atau perlengkapannya yang diproduksi, dijual atau dimaksudkan untuk digunakan

Lebih terperinci

Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang. Bagaimana HIV menular?

Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang. Bagaimana HIV menular? Apa itu HIV/AIDS? Apa itu HIV dan jenis jenis apa saja yang HIV berarti virus yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh manusia. Ini adalah retrovirus, yang berarti virus yang mengunakan sel tubuhnya sendiri

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, Menimbang : Mengingat : a. bahwa keracunan makanan dan minuman, proses

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN RAPID DIAGNOSTIC TEST (RDT) UNTUK PENUNJANG DIAGNOSIS DINI DBD

PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN RAPID DIAGNOSTIC TEST (RDT) UNTUK PENUNJANG DIAGNOSIS DINI DBD PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN RAPID DIAGNOSTIC TEST (RDT) UNTUK PENUNJANG DIAGNOSIS DINI DBD I. PENDAHULUAN Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Penyakit

Lebih terperinci

Seru sekali lomba lari itu! Siapa yang lebih dulu tiba di lapangan, dialah yang menjadi pemenang...

Seru sekali lomba lari itu! Siapa yang lebih dulu tiba di lapangan, dialah yang menjadi pemenang... SODIS BOTOL AJAIB Seru sekali lomba lari itu! Mereka berlari sekencang-kencangnya untuk memenangkan perlombaan. 4 5 Pada suatu pagi di hari Minggu, Ani dan Ayah berjalan-jalan. Sesampai di dekat lapangan,

Lebih terperinci

Etiologi Fasciola sp, hidup di dalam hati dan saluran empedu. Cacing ini memakan jaringan hati dan darah.

Etiologi Fasciola sp, hidup di dalam hati dan saluran empedu. Cacing ini memakan jaringan hati dan darah. 1. Penyakit Parasit Cacing pada Ruminansia Walaupun penyakit cacingan tidak langsung menyebabkan kematian, akan tetapi kerugian dari segi ekonomi dikatakan sangat besar, sehingga penyakit parasit cacing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak pada hakikatnya merupakan aset terpenting dalam tercapainya keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa selanjutnya. Derajat kesehatan anak

Lebih terperinci

Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan. membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia

Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan. membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia BAB II KAMPANYE CUCI TANGAN DENGAN SABUN UNTUK ANAK ANAK DI BANDUNG 2. 1. Cuci Tangan Dengan Sabun Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari

Lebih terperinci

SUATU PANDUAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI IKAN-IKAN PARUH PANJANG DI LAPANGAN

SUATU PANDUAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI IKAN-IKAN PARUH PANJANG DI LAPANGAN SUATU PANDUAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI IKAN-IKAN PARUH PANJANG DI LAPANGAN Sumber informasi di presentasi ini: A Field Guide to the Indo-Pacific Billfishes Julian Pepperell and Peter Grewe (1999) Beberapa

Lebih terperinci

SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007

SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007 SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007 Survei ini merupakan survey mengenai kesehatan dan hal-hal yang yang mempengaruhi kesehatan. Informasi yang anda berikan akan digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan pekerja dan akhirnya menurunkan produktivitas. tempat kerja harus dikendalikan sehingga memenuhi batas standard aman,

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan pekerja dan akhirnya menurunkan produktivitas. tempat kerja harus dikendalikan sehingga memenuhi batas standard aman, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tempat kerja merupakan tempat dimana setiap orang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun keluarga yang sebagian besar waktu pekerja dihabiskan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN REDUCE, REUSE, DAN RECYCLE MELALUI BANK SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

KAKUS/JAMBAN SISTEM CEMPLUNG ATAU GALIAN

KAKUS/JAMBAN SISTEM CEMPLUNG ATAU GALIAN KAKUS/JAMBAN SISTEM CEMPLUNG ATAU GALIAN 1. PENDAHULUAN Jamban atau kakus merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia. Pembuatan jamban merupakan usaha manusia untuk memelihara kesehatan dengan membuat

Lebih terperinci

Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan

Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan No Bidang kategori 1 Pemerintahan Peningkatan kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran Pemeliharaan Hydrant Pembangunan Hydrant Kering Pemeliharaan pertitik

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. berbagai perubahan komponen lingkungan hidup manusia yang diduga dapat

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. berbagai perubahan komponen lingkungan hidup manusia yang diduga dapat BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Paradigma Kesehatan Lingkungan Ilmu kesehatan lingkungan adalah ilmu multidisipliner yang mempelajari dinamika hubungan interaktif antara sekelompok manusia atau masyarakat

Lebih terperinci

PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS

PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS (Instalasi Pengolahahan Air Laut Sederhana): Transformasi Air Laut Menjadi Air Tawar dengan Pemisahan Elektron Cl - Menggunakan Variasi Batu Zeolit sebagai Upaya Penyediaan

Lebih terperinci

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA MODUL: UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat.

Lebih terperinci

MANFAAT ASI BAGI BAYI

MANFAAT ASI BAGI BAYI HO4.2 MANFAAT ASI BAGI BAYI ASI: Menyelamatkan kehidupan bayi. Makanan terlengkap untuk bayi, terdiri dari proporsi yang seimbang dan cukup kuantitas semua zat gizi yang diperlukan untuk kehidupan 6 bulan

Lebih terperinci

Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas

Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas RAMBASAN 400 SL merupakan herbisida sistemik purna tumbuh yang diformulasi dalam bentuk larutan yang mudah larut dalam air dan dapat ditranslokasikan

Lebih terperinci

Nokia Bluetooth Stereo Headset BH-111

Nokia Bluetooth Stereo Headset BH-111 Nokia Bluetooth Stereo Headset BH-111 Edisi 1.0 2 Pendahuluan Tentang headset Dengan Nokia Bluetooth Stereo Headset BH-111, Anda dapat menangani panggilan secara handsfree serta menikmati musik favorit

Lebih terperinci

BAB II CARA KERJA MESIN 2 TAK DAN 4 TAK

BAB II CARA KERJA MESIN 2 TAK DAN 4 TAK BAB II CARA KERJA MESIN 2 TAK DAN 4 TAK A. PEMBAGIAN MOTOR DIESEL 1. Menurut cara kerja Mesin diesesl menurut cara kerja nya dapat diklarisfikasikan menjadi 2 cara kerja,untuk dapat menghasilkan usaha

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai Indonesia Sehat,

Lebih terperinci

Strategi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi untuk Prosedur Khusus di Fasilitas Pelayanan Kesehatan

Strategi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi untuk Prosedur Khusus di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Strategi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi untuk Prosedur Khusus di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Infeksi Saluran Pernapasan Akut yang cenderung menjadi epidemi dan pandemi Pedoman Acuan Ringkas Ucapan

Lebih terperinci

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ABSTRAK LIRA BUDHIARTI. Karakterisasi

Lebih terperinci

Haris Dianto Darwindra 240210080133 BAB VI PEMBAHASAN

Haris Dianto Darwindra 240210080133 BAB VI PEMBAHASAN BAB VI PEMBAHASAN Pada praktikum ini membahas mengenai Kurva Pertumbuhan Mikroorganisme Selama Proses Aging Keju. Keju terbuat dari bahan baku susu, baik susu sapi, kambing, atau kerbau. Proses pembuatannya

Lebih terperinci

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR)

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) Benteng, Selayar 22-24 Agustus 2006 TRANSPLANTASI KARANG Terumbu

Lebih terperinci

Kerjasama : Kementerian Kesehatan WHO Indonesia 2013 PRESETATION RENCANA PENGAMAN AIR JAKARTA, 27-29 MEI 2015

Kerjasama : Kementerian Kesehatan WHO Indonesia 2013 PRESETATION RENCANA PENGAMAN AIR JAKARTA, 27-29 MEI 2015 Kerjasama : Kementerian Kesehatan WHO Indonesia 2013 PRESETATION RENCANA PENGAMAN AIR JAKARTA, 27-29 MEI 2015 GAMBARAN SISTEM PENYEDIAAN AIR DI SAB WAIKANURU MOPIR-SUMBA BARAT DAYA menggunakan sistim

Lebih terperinci

Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter?

Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter? Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter? Prof. Dr. H. Guslihan Dasa Tjipta, SpA(K) Divisi Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU 1 Kuning/jaundice pada bayi baru lahir atau disebut

Lebih terperinci

JUDUL UNIT : Bekerja Aman Sesuai dengan Prosedur Kebijakan

JUDUL UNIT : Bekerja Aman Sesuai dengan Prosedur Kebijakan KODE UNIT : LAB.KK02.001.01 JUDUL UNIT : Bekerja Aman Sesuai dengan Prosedur Kebijakan DESKRIPSI UNIT : Unit kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan menerapkan prosedur keselamatan dan kesehatan kerja

Lebih terperinci

Bagian 6 Perlengkapan Hubung Bagi dan Kendali (PHB) serta komponennya

Bagian 6 Perlengkapan Hubung Bagi dan Kendali (PHB) serta komponennya SNI 0405000 Bagian 6 Perlengkapan Hubung Bagi dan Kendali (PHB) serta komponennya 6. Ruang lingkup 6.. Bab ini mengatur persyaratan PHB yang meliputi, pemasangan, sirkit, ruang pelayanan, penandaan untuk

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGOPERASIAN

PETUNJUK PENGOPERASIAN PETUNJUK PENGOPERASIAN LEMARI PENDINGIN MINUMAN Untuk Kegunaan Komersial SC-178E SC-218E Harap baca Petunjuk Pengoperasian ini sebelum menggunakan. No. Pendaftaran : NAMA-NAMA BAGIAN 18 17 16 1. Lampu

Lebih terperinci

Nokia Bicycle Charger Kit. Edisi 2.1

Nokia Bicycle Charger Kit. Edisi 2.1 Nokia Bicycle Charger Kit 2 3 6 1 4 5 8 7 9 10 11 Edisi 2.1 12 13 15 14 16 17 18 20 19 21 22 INDONESIA 2010 Nokia. Semua hak dilindungi undang-undang. Pendahuluan Dengan Nokia Bicycle Charger Kit,

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI PERATURAN MENTERI NOMOR :PER.15/MEN/VIII/2008 TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA PADA KECELAKAAN DI TEMPAT KERJA. MENTERI Menimbang : a. Bahwa dalam rangka memberikan perlindungan bagi pekerja/buruh yang

Lebih terperinci

TOKSISITAS EKSTRAK DAUN KEMBANG SEPATU

TOKSISITAS EKSTRAK DAUN KEMBANG SEPATU TOKSISITAS EKSTRAK DAUN KEMBANG SEPATU (Hibiscus rosa-sinensis L.) TERHADAP MORTALITAS LARVA NYAMUK Aedes aegypti L. DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI KARYA ILMIAH POPULER SKRIPSI Oleh : Ika Ayu Ambarwati NIM

Lebih terperinci

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL CIPTA KARYA NOMOR: 111/KPTS/CK/1993 TANGGAL 28 SEPTEMBER 1993 TENTANG: PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA A. DASAR DASAR PERENCANAAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

Lebih terperinci

1. Berikut ini yang bukan merupakan fungsi rangka adalah. a. membentuk tubuh c. tempat melekatnya otot b. membentuk daging d.

1. Berikut ini yang bukan merupakan fungsi rangka adalah. a. membentuk tubuh c. tempat melekatnya otot b. membentuk daging d. 1. Berikut ini yang bukan merupakan fungsi rangka adalah. a. membentuk tubuh c. tempat melekatnya otot b. membentuk daging d. menegakkan tubuh 2. Tulang anggota gerak tubuh bagian atas dan bawah disebut.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per 11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemakaian antibiotik pada saat ini sangat tinggi, hal ini disebabkan penyakit infeksi masih mendominasi. Penyakit infeksi sekarang pembunuh terbesar di dunia anak-anak

Lebih terperinci

Kumpulan gambar pemeriksaan dan perbaikan dari hal yang mudah terlenakan Bab Perindustrian

Kumpulan gambar pemeriksaan dan perbaikan dari hal yang mudah terlenakan Bab Perindustrian Kumpulan gambar pemeriksaan dan perbaikan dari hal yang mudah terlenakan Bab Perindustrian Institut Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Dewan Eksekutif Yuan Berdasarkan data 5 tahun terakhir dari pemeriksaan

Lebih terperinci