MANAJEMEN KETERLIBATAN SOSIAL GEREJA: STUDI KASUS PEMANFAATAN DANA AKSI PUASA PEMBANGUNAN DI KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG TESIS

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MANAJEMEN KETERLIBATAN SOSIAL GEREJA: STUDI KASUS PEMANFAATAN DANA AKSI PUASA PEMBANGUNAN DI KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG TESIS"

Transkripsi

1 MANAJEMEN KETERLIBATAN SOSIAL GEREJA: STUDI KASUS PEMANFAATAN DANA AKSI PUASA PEMBANGUNAN DI KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG TESIS. PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN Diajukan oleh Bernadetta Rini Susanti Kepada FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2016

2 MANAJEMEN KETERLIBATAN SOSIAL GEREJA: STUDI KASUS PEMANFAATAN DANA AKSI PUASA PEMBANGUNAN DI KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG TESIS UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN MENCAPAI DERAJAT SARJANA S-2. PROGRAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN Diajukan oleh Bernadetta Rini Susanti FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SANATA DHARMA 2016 i

3

4

5

6

7 ABSTRAK Sampai sekarang, Gereja Katolik masih melihat kemiskinan sebagai sebuah persoalan yang penting dan mendesak untuk dibahas dan dicarikan jalan penyelesaiannya. Sikap Gereja itu tertuang dalam berbagai Ajaran Sosial Gereja. Dalam perspektif iman Katolik, kemiskinan bukanlah sebuah persoalan di balik meja teori melainkan sebuah persoalan konkret yang menyangkut martabat manusia sebagai gambaran Allah. Gereja mengajarkan agar umatnya sungguh-sungguh berpihak dan terlibat dalam usaha menyesejahterakan mereka yang miskin, lapar, dan tersingkir dalam kehidupan sosial masyarakat. Tesis ini merupakan penelitian dengan menggunakan desain studi kasus yang dimanfaatkan untuk mengevaluasi Program Pemanfaatan Dana Aksi Puasa Pembangunan di Keuskupan Agung Semarang. Evaluasi Program Aksi Puasa Pembangunan di Keuskupan Agung Semarang diletakkan dalam konteks persolan substansi dan aplikasi. Persoalan substansi berkaitan dengan landasan filosofi, idiologi dan tujuan yang hendak dicapai dalam Aksi Puasa Pembangunan. Persoalan aplikasi bersinggungan dengan manajemen keterlibatan sosial dalam pelaksanaan Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang. Kerangka teori yang dikembangkan untuk tujuan evaluasi dengan menggunakan prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja dan teori community empowerment dalam dimensi Corporate Social Responbility. Kombinasi dari dua hal berbeda ini akan menjadi panduan dalam penyusunan standar kinerja pelaksanaan Program Aksi Puasa Pembangunan di Keuskupan Agung Semarang. Standar kinerja yang dihasilkan akan digunakan untuk mengukur kinerja yang aktual terjadi. Penelitian ini sampai pada kesimpulan bahwa Gereja, dalam hal ini Keuskupan Agung Semarang, perlu menyesuaikan kebijakan dan program-program strategisnya pada aspek empowering agar tujuan mulianya, yakni pengentasan umat/masyarakat dari kemiskinan dapat benar-benar tercapai. Kata Kunci: Keterlibatan Sosial, Ajaran Sosial Gereja, community empowerment, Corporate Social Responbility vi

8 ABSTRACT So far, Church still see poverty as an important and urgent issue to be discussed and to be sought its solution. That attitude is established by church in various Church Social Teachings. On the Catholic s perspective, poverty is not an issue beyond a theory but a concrete problem corresponds with the dignity of human as an image of God. Church teaches its people to plead and involved in the effort on bringing welfare for the poor, the hunger, and the marginalized people to the society. This thesis is a research using study case design, applied to evaluate Utilization Program of Aksi Puasa Pembangunan fund on Semarang archdiocese. Aksi Puasa Pembangunan Evaluation Program on Semarang Archdiocese is placed on substantial and application context. Substantial issue is linked with philosophical cornerstone, ideology, and the goal that is going to be achieved in regards to Aksi Puasa Pembangunan. The application issue touches the social involvement management on the implementation of Utilization Program in regards to Aksi Puasa Pembangunan fund on Semarang Archdiocese Theoretical framework that is developed for evaluation goal uses the principle of Church Social Teachings and community empowerment theory in Corporate Social Responsibility dimension. Combination of these two different situations will be the guidance on composing the implementation of performance standard of Aksi Puasa Pembangunan program on Semarang Archdiocese. Standard of performance that is obtained will be used to measure the actual performance. This research arrives at its conclusion which is, Church, in this case Semarang Archdiocese, needs to harmonize its policy and its strategic program on the empowering aspect so that its noble goal, which is to eradicate its people from poverty, will truly be fulfilled. Keywords: Social involvement, Church Social Teaching, community empowerment, Corporate Social Responsibility vii

9 DAFTAR ISI Bab Halaman BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Perumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Manfaat Teoretis Manfaat Praktis 17 BAB II LANDASAN TEORI Pengantar Ajaran Sosial Gereja Pengertian tentang Ajaran Sosial Gereja Catatan Historis Ajaran Sosial Gereja Prinsip-Prinsip Ajaran Sosial Gereja Community Empowerment dalam Dimensi Corporate 34 Social Responbility Pengertian dan Ruang Lingkup Kegiatan Community 35 Empowerment Partisipasi Masyarakat Kompetensi Agen Pemberdayaan Kerangka Berpikir 48 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Pengantar Paradigma Penelitian dan Trianggulasi Strategi Penelitian Studi Kasus Metode Penelitian Desain Penelitian Data dan Metode Pengumpulan Data Metode Penelitian dan Analisis Data 71 viii

10 Bab Halaman BAB IV DESKRIPSI PELAKSANAAN PROGRAM 76 DANA APP DI KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 4.1. Pengantar Gambaran Umum Keuskupan Agung Semarang Mekanisme Alur Kerja Program Pemanfaatan Dana APP 79 Keuskupan Agung Semarang 4.4. Capaian Kinerja Program Pemanfaatan Dana APP di 90 Keuskupan Agung Semarang Periode Tahun sampai dengan Tahun Keterserapan Dana Program Pemanfaatan Dana Aksi 91 Puasa Pembangunan di Keuskupan Agung Semarang Periode Tahun Anggaran sampai dengan Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang 94 Berdasarkan Lima Kategori Bidang Perhatian Periode Tahun Anggaran sampai dengan Sebaran Penerima Manfaat Program Pemanfaatan Dana 114 APP di Keuskupan Agung Semarang Periode Tahun Anggaran sampai dengan BAB V EVALUASI PROGRAM PEMANFAATAN DANA APP 130 DI KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG DENGAN PARAMETER PRINSIP-PRINSIP ASG DAN TEORI COMMUNITY EMPOWERMENT 5.1. Pengantar Analisis Kesesuaian Program Pemanfaatan Dana APP 132 di Keuskupan Agung Semarang dengan Prinsip-Prinsip Ajaran Sosial Gereja ix

11 Bab Halaman Keterserapan Dana Program Pemanfaatan Dana APP 134 di Keuskupan gung Semarang Periode Tahun Anggaran sampai dengan : Catatan Kritis Berasas Prinsip-Prinsip Ajaran Sosial Gereja Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang 139 Periode Tahun Anggaran sampai dengan Berdasarkan Lima Kategori Bidang Perhatian: Catatan Kritis Berasas Prinsip-Prinsip Ajaran Sosial Gereja Sebaran Penerima Manfaat Program Dana APP di 145 Keuskupan Agung PeriodeTahun Anggaran sampai dengan : Catatan Kritis Berasas Prinsip-Prinsip Ajaran Sosial Gereja 5.3. Telaah Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung 155 Semarang Berdasarkan Kategori-Kategori Community Empowerment dalam Dimensi Corporate Social Responbility Profil Community Empowerment dalam Keterserapan 157 Dana Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang Periode Tahun Anggaran sampai dengan Partisipasi Umat/Masyarakat dalam Lima Kategori 171 Bidang Perhatian Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang Periode Tahun Anggaran sampai dengan Korelasi Kompetensi Agen Pemberdayaan dengan 180 Jumlah Proposal Disetujui dalam Sebaran Penerima Manfaat Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang Periode Tahun Anggaran sampai dengan x

12 Bab Halaman 5.4. Potensi Keberlanjutan Program Pemanfaatan Dana APP di 185 Keuskupan Agung Semarang BAB VI KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN Kesimpulan Saran Bagi Penelitian Selanjutnya Bagi Pengelolaan Program Pemanfaatan Dana APP 193 di Keuskupan Agung Semarang DAFTAR PUSTAKA 194 LAMPIRAN 199 xi

13 DAFTAR TABEL Tabel Halaman Tabel 3.1 Tabel Interpretasi Koefisien Kolerasi Product Moment 75 Tabel 4.1 Tabel Jumlah Paroki di Keuskupan Agung Semarang 78 Tabel 4.2 Rekapitulasi Ketermanfaatan Dana APP di Kas Berdasarkan Kategori Bidang Perhatian Periode Tahun Anggaran Tabel 4.3 Rekapitulasi Ketermanfaatan Dana APP di Kas Berdasarkan Kategori Bidang Perhatian Periode Tahun Anggaran Tabel 4.4 Rekapitulasi Ketermanfaatan Dana APP di Kas Berdasarkan Kategori Bidang Perhatian Periode Tahun Anggaran Tabel 4.5 Rekapitulasi Ketermanfaatan Dana APP di Kas Berdasarkan Kategori Bidang Perhatian Periode Tahun Anggaran Tabel 4.6 Rekapitulasi Jumlah Proposal Disetujui Program Pemanfaatan Dana APP Panitia KAS Periode Tahun Anggaran sampai dengan Tabel 4.7 Rekapitulasi Jumlah Proposal Disetujui Program Pemanfaatan Dana APP Panitia Kevikepan Semarang Periode Tahun Anggaran sampai dengan Tabel 4.8 Rekapitulasi Jumlah Proposal Disetujui Program 124 Pemanfaatan Dana APP Panitia Kevikepan Kedu Periode Tahun Anggaran sampai dengan Tabel 4.9 Rekapitulasi Jumlah Proposal Disetujui Program 125 Pemanfaatan Dana APP Panitia Kevikepan Surakarta Periode Tahun Anggaran sampai dengan Tabel 4.10 Rekapitulasi Jumlah Proposal Disetujui Program Pemanfaatan Dana APP Panitia Kevikepan Yogyakarta Periode Tahun Anggaran sampai dengan Tabel 5.1 Kepemilikan Pedoman Pengelolaan Dana Sosial Gereja 144 Paroki-Paroki di Kevikepan Yogyakarta Tabel 5.2 Evolusi Konsep CSR Berdasarkan Fokus Perhatian CSR 167 Tabel 5.3 Tabel Perhitungan Koefisien Korelasi Jumlah Proposal Disetujui (x) dengan Kompetensi Agen Pemberdayaan (y) Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang xii

14 DAFTAR DIAGRAM Diagram Halaman Diagram 4.1 Pembagian Kolekte Dana APP di KAS 81 Diagram 4.2 Perbandingan Jumlah Penerimaan dan Pemanfaatan 93 Dana Program Pemanfaatan Dana APP di KAS Periode Tahun Anggaran sampai dengan Diagram 4.3 Prosentase Keterserapan Dana APP di KAS 94 Berdasar Lima Kepanitiaan Diagram 4.4 Jumlah Proposal Disetujui Program Pemanfaatan Dana 109 APP di KAS Periode Tahun Anggaran sampai dengan Diagram 4.5 Pemanfaatan Dana APP di KAS Berdasarkan Lima 111 Kategori Bidang Perhatian Periode Tahun Anggaran sampai dengan Diagram 4.6 Pemanfaatan Dana APP di KAS Berdasarkan Lima 113 Kategori Bidang Perhatian di Lima Kepanitiaan Periode Tahun Anggaran sampai dengan xiii

15 DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman Gambar 3.1 Komponen Analisis Data 72 Gambar 4.1 Flow Chart Mekanisme Akses Dana APP 85 Gambar 4.2 Struktur Tim Kerja PSE KAS 86 xiv

16 DAFTAR SKEMA Skema Halaman Skema 2.1 Kerangka Berpikir 49 Skema 5.1 Tipe Pelayan Pengelola Dana APP 163 Kategori Pengembangan Sosial dan Ekonomi Program Pemanfaatan Dana APP di KAS xv

17 DAFTAR LAMPIRAN Lampiran Halaman Lampiran 1 Kisi-kisi Instrumen Penelitian Kesesuaian Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang dengan Prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja Lampiran 2 Kisi-kisi Intrumen Penelitian Profil Community Empowerment dalam pengelolaan Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang Lampiran 3 Pokok Kerangka Acuan Kuesioner Profil Community Empowerment dalam Pengelolaan Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang Lampiran 4 Kisi-kisi Instrumen Penelitian Tingkat Partisipasi Penerima Manfaat Program Pemanfaatan Dana APP Di Keuskupan Agung Semarang Lampiran 5 Pokok Kerangka Acuan Penelitian Lapangan Tingkat Partisipasi Manfaat Program Pemanfaatan Dana APP Di Keuskupan Agung Semarang Lampiran 6 Kisi-kisi Instrumen Penelitian Kompetensi Sebagai Agen Pemberdayaan Tim PSE Paroki di Keuskupan Agung Semarang Lampiran 7 Kuesioner Profil Tim Pengembangan Sosial Ekonomi Paroki xvi

18 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Data resmi yang dikeluarkan pemerintah menunjukkan bahwa di Indonesia masyarakat miskin saat ini berjumlah 28,59 juta orang (11,22 persen) bertambah sebesar 0,86 juta orang dibandingkan dengan kondisi September 2014 yang sebesar 27,73 juta orang (10,96 persen). Data kemiskinan ini diukur dari biaya pemenuhan bahan pokok pangan dan papan minimum dengan kisaran konsumsi kalori kilokalori (kkal) atau garis kemiskinan sekitar Rp ,91 per kapita per bulan. 1 Data ini memperlihatkan dengan jelas bahwa secara umum masih ada puluhan juta orang Indonesia yang taraf hidupnya berada di bawah garis kemiskinan. Pemicu kemiskinan dewasa ini sangat bersifat multideminsional. Dunia kerja yang secara mendasar telah diubah oleh berbagai kemajuan teknologi modern, mendeskripsikan kemajuan kualitatif yang luar biasa, namun sayangnya hal ini juga diikuti dengan bentuk-bentuk baru ketidakstabilan dan penindasan di berbagai masyarakat yang justru dianggap makmur. Di berbagai tempat tingkat kesejahteraan terus bertumbuh, namun juga terdapat peningkatan yang memprihatinkan dalam jumlah orang-orang yang menjadi miskin dan, karena 1 Pemerintah melalui Badan Pusat Statistik (BPS) melaksanakan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada April Kegiatan tersebut bertujuan memotret kondisi sosial-ekonomi masyarakat, yang akan menjawab juga posisi terakhir kemiskinan di Indonesia. Badan Pusat Statistik. Diunduh dari 1

19 berbagai alasan kesenjangan antara mereka yang miskin dan yang kaya terus melebar. Pasar bebas, sebuah proses ekonomi dengan segi-segi yang positif, bagaimanapun juga pada akhirnya memperlihatkan keterbatasan-keterbatasannya. Fenomena masalah sosial ini merupakan sebuah realitas sosial yang telah menjadi sebuah persoalan yang diperdebatkan, baik dalam ruang lingkup akademis maupun dalam ruang lingkup iman dan kepercayaan religius. Dari segi akademis, terdapat dua teori dan pendekatan terhadap kemiskinan, yakni teoriteori strukturalis, yang memandang kemiskinan dari sudut pandang sosial-politik (terutama teori-teori yang bermahzab Marxian), dan teori-teori kultural, terutama yang mendasarkan pendekatannya pada perspektif kebudayaan, seperti teori dan pendekatan kultural Oscar Lewis (Alhumami, 2008). Dari segi iman dan kepercayaan religius, Gereja Katolik menaruh perhatian yang serius terhadap persoalan kemiskinan dan upaya pengentasannya, seperti yang tertuang dari berbagai Ajaran Sosial Gereja. Perhatian terhadap kemiskinan dari aspek akademis maupun ajaran religius itu menunjukkan bahwa kemiskinan merupakan sebuah fenomena yang mendesak untuk ditangani. Tidak mengherankan jika dengan semakin berkembangnya peradaban manusia, dan semakin meningkatnya kesadaran manusia akan pentingnya kesamaan harkat dan martabat manusia, telah menjadikan fenomena kemiskinan sebagai suatu permasalahan yang banyak mendapatkan sorotan. Secara akademis, berbagai telaah dalam ilmu sosial dan juga ilmu ekonomi banyak dilakukan, terutama untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep kemiskinan dan mencari titik temu 2

20 penyelesaian yang benar-benar efektif dalam mengatasi masalah tersebut. Sebagai sebuah realitas sosial, kemiskinan juga mendapat perhatian dari kaum religius, termasuk Gereja Katolik. Gereja merasa dipanggil untuk dapat berbuat sesuatu untuk mengentaskan kemiskinan sebagai jalan memulihkan martabat manusia sebagai citra Allah. Gereja senantiasa berupaya untuk membangun solidaritas dengan kaum miskin dan tersingkir, demi mengusahakan pembebasan mereka yang seutuhnya. Gereja adalah Umat Allah yang diharapkan ikut ambil bagian dalam keprihatinan Allah dan rencana karya penyelamatan-nya bagi seluruh umat manusia. Salah satu bentuk keterlibatan nyata Gereja dalam upaya penanganan masalah sosial ini adalah adanya Program Pemanfaatan Dana Aksi Puasa Pembangun (APP) yang pelaksanaannya ditangani oleh Panitia APP baik di tingkat nasional maupun di tingkat keuskupan. 2 Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang yang akan dikaji dalam tesis ini dikelola oleh Panitia APP di Keuskupan Agung Semarang, yang terdiri dari lima kepanitiaan. Satu kepanitiaan di tingkat keuskupan dan empat kepanitiaan di tingkat kevikepan. 3 Terdapat lima kategori pemanfaatan dana APP, yaitu: (1) kategori karitatif kemanusiaan, (2) kategori motivasi-animasi, (3) kategori bantuan pendidikan, (4) kategori bidang sosial kemasyarakatan dan pengembangan kemasyarakatan, dan (5) kategori bidang sarana-prasarana yang dikhususkan untuk merenovasi sarana-prasarana yang 2 Keuskupan merupakan suatu wilayah gereja yang dipercayakan pada reksa pastoral seorang uskup dan pembantu-pembantunya. Keuskupan biasanya diberi nama menurut kota tempat tinggal uskup. 3 Kevikepan bagian dari wilayah keuskupan yang dilayani oleh vikep (wakil uskup). Kevikepan mencakup sejumlah paroki. Kevikepan dibentuk untuk menciptakan koordinasi dan kerja sama yang lebih baik antarparoki sekevikepan. 3

21 rusak atau timbul akibat bencana alam atau musibah (Panitia APP Keuskupan Agung Semarang, 2012:3). Berdasarkan data lapangan programasi dan implementasinya di tingkat basis dari laporan Program Pemanfaatan Dana APP tahun anggaran dapat ketahui bahwa jumlah keseluruhan nominal yang dikelola di Keuskupan Agung Semarang sebesar Rp Angka yang mendeskripsikan jumlah nominal yang cukup besar. Dari proposal yang masuk di lima kepanitiaan pengelola Program Pemanfaatan Dana APP pada tahun anggaran , 57,13% merupakan permohonan bantuan yang bersifat karitatif. Kemudian 14,13% merupakan permohonan bantuan untuk pelaksanaan kegiatan retret, rekoleksi dan latihan kepemimpinan. Proposal yang bertujuan untuk pengembangan sosial-ekonomi dan kegiatan pemberdayaan sebanyak %. Realisasi pemanfaatan dana APP berdasarkan permohonan proposal tersebut sebesar Rp Termasuk dalam data ini pemanfaatan dana yang tidak melalui proposal, yaitu bantuan emergensi kemanusiaan. Dari nominal tersebut 49,09 % digunakan untuk bantuan yang bersifat karitatif. Sebanyak 9,58% diberikan sebagai bantuan pelaksanaan rekoleksi, retret dan pelatihan kepemimpinan. Untuk kegiatan yang bersifat pengembangan sosial-ekonomi dan pemberdayaan masyarakat sebesar 38,57 %. 4 Deskripsi data yang dipaparkan di atas memperlihatkan ada persoalan penting yang perlu dicermati berkaitan dengan substansi maupun aplikasi Program 4 Pada tahun 2014 penulis pernah mengadakan penelitian mengenai pemanfaatan dana APP di Keuskupan Agung Semarang dan dituangkan dalam bentuk makalah dengan judul Kemiskinan dan Upaya Pemberdayaannya dalam Perspektif Iman Katolik: Studi Kasus Pemanfaatan Dana APP Keuskupan Agung Semarang. 4

22 Pemanfaatan Dana APP. Persoalan substansi berkaitan dengan landasan filosofi, idiologi dan tujuan yang hendak dicapai dalam Aksi Puasa Pembangunan. Pertanyaan yang berkaitan dengan persoalan substansi ini antara lain apakah terdapat kesesuaian antara Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang dengan prinsip-prinsip keterlibatan sosial dalam pelayanan Gereja yang sesuai dengan Ajaran Sosial Gereja yang disampaikan oleh Magesterium Partikular dan Universal, seperti tertuang dalam ensiklik-ensiklik sosial. Inspirasi Ajaran Sosial Gereja dalam meneliti dan menyelami tanda-tanda zaman secara global apakah sudah dijadikan tuntunan oleh pengelola Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang dalam melaksanakan tugas perutusan sosialnya. Pola aplikasi berkaitan dengan tata kelola dan dampak Program Pemanfaatan Dana APP tersebut terhadap empowering umat. Pola pemberian dukungan dana kepada penerima manfaat program yang berbasis proposal mensyaratkan adanya Tim PSE Lingkungan dan Tim APP/PSE/DanPaMis Paroki yang peka terhadap kebutuhan umat dan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai eksistensi dana-dana yang bisa diakses oleh umat. 5 Kondisi dari hasil pengamatan awal pengamatan di lapangan mendiskripsikan tidak semua Tim PSE Lingkungan dan Tim APP/PSE/DanPaMis di Paroki memenuhi persyaratan tersebut. Ketidakterpenuhinya salah satu kompetensi ini kemungkinan merupakan 5 Di setiap Paroki minimal ada tiga jenis pendanaan yang bisa diakses oleh umat, yaitu: Dana Papa Miskin yang berasal dari 15% dari hasil kolekte umum dan amplop persembahan pada setiap hari Minggu, Dana APP yang ditinggal di Paroki berasal dari 25% dari keseluruhan dana yang diperoleh dari kolekte Minggu Palma serta kotak APP dan dana Tim Kerja PSE yang berasal baik dari dana program yang dianggarkan di RAPB Paroki maupun dana yang diperoleh dari permohonan kepada Panitia APP Kevikepan/Keuskupan/Nasional 5

23 salah satu penyebab mengapa ada beberapa Paroki yang sama sekali belum pernah mengakses dana APP baik di tingkat Kevikepan maupun Keuskupan. Data keterserapan dana APP -sesuai dengan apa yang telah dipaparkan di paragraf terdahulu- yang sebagian besar masih berada di kategori karitatif juga merupakan sinyal bahwa tata kelola Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang perlu melakukan evaluasi terkait dalam hal identifikasi masalah penerima manfaat dan perencanaan program. Lemahnya perencanaan dalam suatu program memproyeksikan rendahnya koordinasi dan partisipasi baik pemangku kepentingan maupun penerima manfaat. Berdasarkan pengamatan awal inilah penulis berketetapan hati mengangkat persoalan ini sebagai bahan penulisan tesis. Tesis ini merupakan penelitian yang akan menerapkan prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja dan Corporate Social Responbility dalam mengevaluasi Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang. Penelitian ini perlu dilakukan agar dapat memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang lebih baik mengenai bagaimana Gereja melibatkan diri dalam persoalan-persoalan kemiskinan dengan sebuah pengamatan khusus pada kasus Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang. Ada dua perspektif teoritis yang digunakan dalam tesis ini, yaitu landasan filosofis dana APP dan teori Corporate Social Responbility. Perpektif teoritis pertama yang digunakan dalam studi ini berkaitan dengan landasan filosofis dana APP. Landasan ini bersumber dari pemahaman mengenai dua hal yang sangat fundamental dalam pelaksanaan Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang. Pertama, mengenai apakah yang dimaksud 6

24 dengan APP. Kedua, perihal Ajaran Sosial Gereja yang merupakan pedoman bagi umat kristiani dalam berlaku sebagai orang kristiani dalam tata duniawi yang semakin diliputi persaingan dan pengelompokkan sehingga mengakibatkan rusaknya relasi antarmanusia, baik secara pribadi maupun bersama karena terbatasnya persediaan kebutuhan manusiawi (Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi-KWI, 2008:16) Inspirasi dasar APP bersumber pada pemurnian kehidupan Kristiani dengan gerakan-tobat bersama yang dilakukan selama Masa Pra-Paskah (Heuken, 2004:70). Pada masa ini seluruh umat mengolah diri dengan bermati raga, berpuasa dan berpantang. Aktivitas-aktivitas diarahkan pada yang bersifat membangan manusia seutuhnya. Mati raga, puasa dan pantang bukan sekedar tanda pertobatan pribadi demi kesucian diri sendiri, melainkan juga merupakan tanda lahiriah cinta kasih pada sesama. Demensi sosial dalam masa Pra-Paskah menjadi nyata dalam usaha-usaha untuk mengurangi penderitaan bersama dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan bersama (Caritas Indonesia: LPPS, 1994:1). Berdasarkan pengalaman, APP semakin memperlihatkan perkembangan sebagai medan untuk memperjuangkan keadilan sosial melalui gerakan-gerakan solidaritas umat dalam menanggapi segi-segi pembangunan dalam masyarakat. Tujuan akhir yang ingin dicapai dalam ber-app adalah membangkitkan kesadaran umat akan pentingnya pembaharuan diri dan masyarakatnya dalam membangun manusia Indonesia yang dicita-citakan. Di satu pihak, Gereja mempunyai tujuan keselamatan yang baru akan tercapai sepenuhnya di dunia yang akan datang. Di lain pihak, Gereja juga merupakan tanda kehadiran Allah 7

25 Penyelamat di dunia ini. Maka umat sebagai Gereja Allah di Indonesia ada demi masyarakat Indonesia. Sebagai tanda keselamatan, umat menghayati iman sebagai anggota masyarakat dan terlibat dalam pembangunan masyarakat (Caritas Indonesia: LPPS, 1994 : 2). Pembangunan adalah gerakan pengambilbagian dalam penderitaan dan wafat Tuhan Yesus demi kesejahteraan, kedamaian, dan keadilan sosial bagi semua manusia. Dengan APP diharapkan terjadi gerakan pemberdayaan masyarakat yang merupakan wujud dari pelayanan yang mengutamakan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel (Panitia APP Keuskupan Agung Semarang, 2009:17). Masa Pra-Paskah selain merupakan masa untuk olah kesalehan pribadi juga merupakan masa untuk mengembangkan solidaritas kemanusiaan dengan menghimpun dana dari umat selama masa puasa. Dana yang terkumpul disebut Dana Aksi Puasa Pembangunan. Secara garis besar ada dua bidang yang didukung pendanaannya oleh Panitia APP. Pertama, bidang pelayanan karitatif. Kedua, bidang pelayanan pemberdayaan dan pengembangan masyarakat (Panitia APP Keuskupan Agung Semarang, 2009:21). Terkait dengan pemanfaatannya untuk bidang yang kedua, secara nasional ditangani oleh Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Konperensi Waligereja Indonesia atau disebut sebagai Komisi PSE KWI. Sedangkan di setiap keuskupan ditangani oleh Komisi PSE Keuskupan. Dana APP dimaksudkan untuk menunjang program pembangunan dan kegiatan masyarakat Indonesia. Program ini mengutamakan asas solidaritas dan subsidiaritas, yakni sebagai bantuan penunjang usaha-usaha swadaya yang dilakukan oleh kelompok masyarakat. Adapun tujuannya adalah untuk: 8

26 (1) meningkatkan kesadaran dan motivasi masyarakat terutama umat katolik agar lebih peka terhadap kebutuhan sesama yang lemah-miskin atas dasar keadilan sosial; (2) meningkatkan taraf hidup dengan mengusahakan pelbagai usaha di bidang sosial ekonomi masyarakat; (3) meningkatkan kemampuan kerja organisasi yang menaruh perhatian pada usaha-usaha pembangunan masyarakat kecil (Caritas Indonesia: LPPS, 1994 : 4). Tanggung jawab sosial gereja adalah penegasan tentang upaya dan pergumulan gereja untuk mengatasi segala sesuatu yang membuat orang-orang miskin terus-menerus menjadi orang yang terpinggirkan dan tersingkirkan, yakni kelaparan, penyakit kronis, tuna aksara, kemiskinan, ketidakadilan dalam relasi internasional khususnya di bidang perdagangan, situasi ekonomi, dan neokolonialisme budaya yang kadang kala lebih kejam daripada kolonialisme politik. Gereja memiliki tanggung jawab untuk mewartakan pembebasan bagi jutaan manusia; tanggung jawab untuk melahirkan pembebasan, untuk memberikan kesaksian tentangnya, dan untuk memastikan bahwa pembebasan tersebut mencapai kepenuhannya (Paul VI, 1991, hal 296). Dalam hal ini, signifikasi dan relevansi Gereja bagi masyarakat tampak bila Gereja sungguh-sungguh terlibat dalam pergulatan hidup masyarakat. Gereja tidak menjadi asing di tengah pergulatan masyarakat, tetapi ikut menyumbang dalam kehidupan bersama secara khusus dalam pengembangan sosial ekonomi, maupun dalam memperjuangkan keadilan, kedamaian dan keutuhan ciptaan (Dewan Karya Pastoral Keuskupan Agung Semarang, 2011). 9

27 Komitmen bahwa Gereja sungguh-sungguh terlibat dalam pergulatan hidup masyarakat muncul secara tegas dalam Arah Dasar (Ardas) Keuskupan Agung Semarang tahun dan tahun Berikut petikan alinea terkait kedua Ardas tersebut. Alinea ke-2 Arah Dasar Umat Allah KAS tahun : Dalam konteks masyarakat Indonesia yang sedang berjuang mengatasi korupsi, kekerasan, dan kerusakan lingkungan, umat Allah Keuskupan Agung Semarang terlibat secara aktif membangun habitus baru berdasarkan semangat Injil (bdk. Mat 5-7). Habitus baru dibangun bersama-sama: dalam keluarga dengan menjadikannya sebagai basis hidup beriman, dalam diri anak, remaja, dan kaum muda dengan melibatkan mereka untuk pengembangan umat, dalam diri yang kecil, lemah, miskin dan tersingkir (KLMT) dengan memberdayakannya. Alinea ke-3 Arah Dasar Umat Allah KAS tahun : Langkah pastoral yang ditempuh adalah pengembangan umat Allah, terutama optimalisasi peran kaum awam, secara berkesinambungan dan terpadu dalam perwujudan iman di tengah masyarakat; pemberdayaan kaum kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel; serta pelestarian keutuhan ciptaan. Langkah tersebut didukung oleh tata penggembalaan yang sinergis, mencerdaskan dan memberdayakan umat beriman serta memberikan peran pada berbagai kharisma yang hidup dalam diri pribadi maupun kelompok. Dua potongan alinea arah dasar KAS tersebut menunjukkan komitmen Gereja dalam hal keterlibatan sosial Gereja dalam menanggapi realitas kemiskinan. Mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel adalah bagian dari harta warisan Gereja, selalu ada bersama gereja. Bersama mereka, dikembangkan gerak pemberdayaan yang memerdekakan. Kegiatan Gereja demi keadilan dan partisipasi dalam perombakan dunia tersebut sepenuhnya sebagai demensi kostitutif pewartaan Injil (Roman Synod 1971, 1991:270). Gereja yang dimaksudkan dalam studi ini adalah Gereja Katolik dengan bentuk-bentuk tanggung jawab sosial gereja yang diwujudkan dalam 10

28 berbagai dokumen, seperti ketetapan Paus yang untuk selanjutnya disebut ensiklik maupun Ajaran Sosial Gereja. Perspektif teoritis kedua berkaitan dengan teori Corporate Social Responbility (CSR). Salah satu temuan utama ketika mempelajari CSR dari literatur adalah bahwa tidak ada satupun konsep yang secara universal dapat diterima sebagai definisi CSR. Definisi generik mengenai CSR yang mengandung pengertian cukup lengkap muncul dari World Business Council for Sustainable Development (Urip, 2014:6). CSR menurut World Business Council for Sustainable Development adalah komitmen bisnis untuk berkontribusi dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, bekerja dengan para karyawan perusahaan, keluarga karyawan, masyarakat lokal dan masyarakat luas dalam rangka meningkatkan kualitas kehidupan (Holme dan Watts, 2000). Selanjutnya bidang ini berkembang secara signifikan dan saat ini berkembang beragam teori, pendekatan dan terminologi mengenai CSR. Bidang ini merupakan isu akademis yang menarik perhatian banyak pakar manajemen. Carr (1996;55-62), meletakkan CSR dalam kerangka profitmaking. Menurut Carr perusahaan memiliki standar etis yang lebih rendah daripada masyarakat pada umumnya dan tidak memiliki tanggung jawab sosial selain mematuhi hukum. Freedman (1996:241) berpendapat selain perusahaan memaksimalkan kekayaan shareholder dan mematuhi undang-undang, perusahaan juga harus bersifat etis. Freeman (2001) mengutamakan peran perusahaan untuk peduli tehadap masyarakat. Perusahaan harus peduli pada potensi kerugian dari perilaku bisnisnya dalam berbagai kelompok stakeholder. Carroll (2000) 11

29 menyempurnakan tiga pendapat ahli terdahulu dengan menunjukkan bahwa CSR terdiri dari empat jenis tanggung jawab, yaitu: ekonomi, hukum, etika dan filantropis. Masing-masing tanggung jawab merupakan domain atau demensi dari model CSR yang terpisah. Namun, mereka masih saling terkait satu sama lain serta saling tergantung dengan beberapa cara. Pada akhirnya, meskipun muncul banyak definisi dan teori CSR, Panwar dan Hansen (2007) menegaskan bahwa CSR harus mengacu pada keseimbangan ekonomi, sosial dan lingkungan. Keseimbangan ini menempatkan CSR secara tegas dalam ranah sustainable development atau yang untuk selanjutnya disebut sebagai pembangunan berkelanjutan. Ide pembangunan berkelanjutan ini diterapkan di perusahaan dengan cara mengarahkan kegiatan bisnisnya pada penciptaan ketiga demensi nilai triple bottom line, yang sangat terkenal dengan istilah 3P, yaitu profit, planet dan people (Elkington, 1998). Langkah pencapaian triple bottom line dilebur dalam wawasan CSR. Profit membentuk landasan bagi keberlangsungan kegiatan perusahaan, dan juga merupakan prasyarat untuk tercapainya dua dimensi yang lain. Oleh sebab itu, meskipun perolehan laba secara berkelanjutan wajib terjaga, namun hanya pendekatan holistik terhadap semua keberlanjutan -di sinilah CSR memainkan peranan penting- yang akan memungkinkan perusahaan mempunyai daya saing. Terkait dengan hal di atas, maka dalam konteks pembangunan berkelanjutan, kesuksesan sebuah perusahaan dapat dicapai melalui pencapaian tujuan organisasi secara keseluruhan tanpa mengorbankan keseimbangan hubungan antara tiga demensi dari pembangunan berkelanjutan. CSR, dalam hal 12

30 ini merupakan sarana untuk menuju tujuan tersebut. Dibedakan 3 tingkatan dalam pelaksanaan CSR, yaitu: (1) community relation yang menekankan jalinan harmonis antara perusahaan dan masyarakat dengan program sponsorship dan charity; (2) community assistance yang berorientasi pada bantuan-bantuan sosial kemanusiaan yang bersifat insidental; dan (3) community empowerment yang bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dan meningkatkan daya saing masyarakat. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, tingkatan community empowerment inilah yang paling sesuai untuk dilaksanakan (Resnawaty, 2011: ). Seperti yang telah dipaparkan dalam paragraf terdahulu, perusahaan yang dianggap bertanggung jawab sosial adalah perusahaan yang secara sadar mengarahkan kegiatan bisnisnya pada penciptaan ketiga dimensi nilai, yaitu profit, people dan planet. Pendekatan holistik dan seimbang pada tiga dimensi nilai tersebut membentuk landasan bagi keberlanjutan kegiatan suatu perusahaan. Desain konsep triple bottom line dalam suatu perusahaan tersebut, diusulkan dalam studi ini untuk diadopsi dan diterapkan secara selektif pada pelaksanaan Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang sebagai prasyarat keberhasilan dan keberlanjutan program tersebut. Gereja sebagai sebuah organisasi nonprofit tetap harus mempertimbangkan aspek economic goal dalam melaksanakan peran sosialnya supaya berkelanjutan dan bukan sesaat, sementara dan tidak berkesinambungan. Sebagaimana perusahaan sebagai organisasi yang berorientasi pada profit juga mempertimbangkan aspek social goal agar keberlanjutan perusahaan tetap terjaga. 13

31 Berdasarkan latar belakang dan wawasan teoritis yang dipaparkan di atas, studi ini mengambil judul Manajemen Keterlibatan Sosial Gereja: Studi Kasus Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang. Ada tiga alasan yang mendasarinya. Pertama, keprihatinan penulis terhadap pendekatan dan metode tata kelola Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang dalam mewujudkan dimensi sosialnya. Seperti yang diuraikan dalam paragraf sebelumnya, Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang sebagian besar berada dalam kategori karitatif kemanusiaan. Dewasa ini, dalam kerangka pengembangan perlindungan sosial berbasis kebutuhan masyarakat fase karitatif semacam ini memerlukan fase lanjutan yang dapat menunjang dan melengkapi. Program yang bersifat karitatif tidak berarti buruk tetapi efeknya hanya akan bertahan dalam siklus yang amat pendek dan tidak berkelanjutan. Selain itu, pendekatan ini dinilai kurang mampu meningkatkan keberdayaan atau kapasitas masyarakat lokal (Resnawaty, 2011: ). Kedua, ada keinginan agar ilmu Social Responbility Management yang dikuasai ini ikut memberikan kontribusi dalam tata kelola Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang dalam menangani masalah-masalah sosial. Perkembangan terkini dari ilmu Social Responbility Management yang diaplikasikan dalam sebuah Corporate, lebih menekankan pada pendekatan community development yang bercirikan konsep empowerment dan sustainable development dalam penanganan masalah sosial. Konsep ini akan didiskusikan secara akademis untuk menemukan titik temu dengan prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja dalam melaksanakan dimensi sosialnya. 14

32 Ketiga, tersusunnya panduan yang lebih komprehensif dalam pengembangan dimensi sosial ekonomi masyarakat dalam perspektif tata kelola gereja. Terkait dengan hal ini pengembangan dimensi sosial ekonomi masyarakat tidak hanya cukup dimengerti dalam arti pengembangan kemakmuran masyarakat tetapi harus mencakup pengertian yang lebih luas, yakni pengembangan hubungan sosial masyarakat dalam tingkat ekonomi yang semakin baik Perumusan Masalah Gereja sebagai salah satu entitas dalam kehidupan masyarakat memiliki tanggung jawab sosial, sehingga gereja perlu terlibat dan ambil bagian dalam penanganan masalah-masalah sosial. Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang merupakan salah satu bentuk keterlibatan sosial Gereja. Program ini menggunakan dana APP untuk mendukung pelayanan pemberdayaan umat katolik dan masyarakat pada umumnya yang bertujuan untuk memperbaiki kondisi dan kualitas hidup manusia, terutama bagi mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel. Data lapangan programasi dan implementasinya di tingkat basis dari laporan pemenfaatan dana APP tahun anggaran memperlihatkan adanya suatu Persoalan yang perlu dicermati secara teliti dan mendalam terkait dengan persoalan substansi maupun aplikasi dalam pelaksanaan Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang. Secara lebih spesifik, persoalan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut. 15

33 1. Sejauh mana koherensi Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang dengan kerangka kerja Ajaran Sosial Gereja? 2. Sejauh mana kesesuaian pengelolaan Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang dengan kategori-kategori yang terdapat dalam konsep community empowerment? 3. Sejauh mana potensi keberlanjutan Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan umum penelitian ini adalah mengevaluasi Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang. Secara lebih spesifik, tujuan penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut. 1. Menganalisis tingkat koherensi Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang dengan kerangka kerja ASG. 2. Mengevaluasi pengelolaan Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang berdasarkan kategori-kategori yang terdapat dalam konsep community empowerment. 3. Menganalisis potensi keberlanjutan Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang. 16

34 1.4. Manfaat Penelitian Penelitian mengenai evaluasi Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang ini memiliki dua manfaat, yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis. Secara spesifik kedua manfaat tersebut dapat diuraikan sebagai berikut Manfaat Teoretis 1. Memperkaya kajian dalam Social Responbility Management, khususnya mengenai pendekatan CSR yang dapat diterapkan sebagai model tata kelola gereja untuk mewujudkan dimensi sosialnya. 2. Mengembangkan konsep Social Responbility Management dalam tata kelola Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang Manfaat Praktis 1. Menyajikan model manajemen CSR dalam pengelolaan dana APP di Keuskupan Agung Semarang. 2. Memberikan rekomendasi tentang tata kelola pemanfaatan dana APP di Keuskupan Agung Semarang dalam penanganan masalah-masalah sosial dalam perspektif Social Responbility Management. 17

35 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengantar Sebagaimana telah diuraikan dalam bagian pendahuluan, tesis ini merupakan studi yang menggunakan pendekatan evaluasi untuk mengkaji Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang. Kata evaluasi dalam kehidupan sehari-hari sering diartikan sebagai padanan istilah penilaian yaitu suatu proses untuk menyediakan informasi tentang sejauh mana suatu kegiatan tertentu telah dicapai, bagaimana perbedaan pencapaian itu dengan suatu standar tertentu untuk mengetahui apakah ada selisih di antara keduanya, serta bagaimana manfaat yang telah dikerjakan itu bila dibandingkan dengan harapanharapan yang ingin diperoleh. Dalam ilmu manajemen yang menekankan pada pelaksanaan empat fungsi manajemen, yaitu perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian dan pengendalian, evaluasi menempati fungsi pengendalian. Pengendalian adalah proses untuk mengetahui apakah aktivitas organisasi telah sesuai dengan perencanaan atau tidak. Kegiatan pengendalian meliputi empat langkah yaitu: pertama, menetapkan standar kinerja; kedua, mengukur kinerja secara aktual; ketiga, membandingkan kinerja aktual dengan standar; dan keempat, melakukan tindakan untuk perbaikan bila terjadi penyimpangan antara kinerja aktual dengan kinerja standar. 18

36 Terkait dengan hal di atas, evaluasi Program APP di Keuskupan Agung Semarang ini diletakkan dalam konteks persolan substansi dan aplikasi. Persoalan substansi berkaitan dengan landasan filosofi, idiologi dan tujuan yang hendak dicapai dalam Aksi Puasa Pembangunan. Persoalan aplikasi bersinggungan dengan manajemen keterlibatan sosial dalam pelaksanaan Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang. Evaluasi ini dengan menggunakan standar dan orang-orang yang terlibat dalam suatu kegiatan yang dievaluasi. Hasil dari evaluasi program akan digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas perumusan, implementasi dan hasil dari program. Kerangka teori yang akan dikembangkan untuk tujuan evaluasi ini dengan menggunakan prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja dan teori community empowerment dalam dimensi Corporate Social Responbility. Kombinasi dari dua hal berbeda ini akan menjadi panduan dalam penyusunan standar kinerja pelaksanaan Program Aksi Puasa Pembangunan di Keuskupan Agung Semarang. Standar kinerja yang dihasilkan akan digunakan untuk mengukur kinerja yang aktual terjadi. Selanjutnya, hasil perbandingan kinerja aktual dengan standar kinerja akan digunakan untuk perbaikan apabila terjadi penyimpangan antara kinerja aktual dengan kinerja standar Ajaran Sosial Gereja Ajaran sosial Gereja pada awalnya tidak dipikirkan sebagai sebuah sistem yang terstruktur tetapi muncul karena bergulirnya waktu, melalui sejumlah 19

37 intervensi Magisterium atas persoalan-persoalan sosial. Ajaran sosial Gereja termasuk dalam ranah teologi, bukan ideologi, dan khususnya teologi moral (Paul II, 1987:424). Ajaran sosial Gereja tidak dapat didefinisikan selaras dengan parameter-parameter sosio-ekonomi. Ajaran sosial Gereja bukan sistem ideologis atau pragmatis yang bermaksud untuk menentukan dan menciptakan relasi-relasi ekonomi, politik dan sosial, melainkan sebuah kategori yang mandiri. Ajaran sosial Gereja merupakan perumusan cermat hasil-hasil refleksi yang saksama tentang realitas kehidupan, dalam masyarakat maupun dalam tatanan internasional, dalam terang iman dan tradisi Gereja. Ajaran itu bermaksud menafsirkan kenyataan-kenyataan itu, dengan menetapkan keselarasan ataupun perbedaannya dengan ajaran Injil tentang manusia dan panggilannya, panggilan sekaligus duniawi dan adikodrati. Tujuan Ajaran sosial Gereja adalah menuntun menuju perilaku Kristen. Selanjutnya, Ajaran Sosial Gereja bercorak teologis, khususnya teologi moral, sebab Ajaran Sosial Gereja merupakan pedoman-pedoman untuk bertindak (Paul II, 1987:424). Ajaran ini menempatkan diri pada titik temu antara kehidupan serta hati nurani Kristen di satu pihak dan kenyataan-kenyataan konkret dunia di lain pihak. Ajaran itu terealisasi dalam usaha-usaha yang dijalankan oleh kaum beriman secara individu, keluarga-keluarga, komunitas yang berkecimpung dalam bidang kebudayaan dan kemasyarakatan, para tokoh politik dan pemimpin negara, untuk mewujudnyatakan serta menerapkan ajaran itu dalam realitas kehidupan (Paul II, 1991:477). Dalam ajaran sosial ini tercermin tiga taraf pengajaran, yaitu teologi moral yang berada dalam taraf fondasional motivasi; 20

38 taraf direktive kaidah untuk kehidupan di tengah masyarakat; dan taraf deliberative hati nurani, yang dipanggil untuk mengantarai norma objektif serta norma umum dalam situasi sosial yang konkret dan tertentu. Ketiga taraf ini secara implisit menentukan pula metode yang tepat serta struktur epistemologis yang khas dari ajaran sosial Gereja (Pontifical Council for Justice and Peace, 2005:73). Terkait dengan tujuan penelitian tesis ini, maka pada komponen landasan teori mengenai Ajaran Sosial Gereja akan dipaparkan mengenai tiga hal, yaitu: pengertian tentang Ajaran Sosial Gereja, catatan historis perjalanan Ajaran Sosial Gereja dan prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja. Selanjutnya, untuk kepentingan penyusunan instrumen evaluasi Program Pemanfaatan Dana APP di Keuskupan Agung Semarang akan digunakan prinsip-prinsip Ajaran Sosial Gereja yang merupakan nilai-nilai penting yang dirangkum dari setiap Ajaran Sosial Gereja yang telah dipaparkan dalam bab sebelumnya Pengertian tentang Ajaran Sosial Gereja Istilah Ajaran Sosial Gereja atau dalam bahasa Inggris sering disebut Social Doctrines of the Catholic Church menunjuk pertama-tama pada Ajaran para Paus dalam Ensiklik atau Surat Apostolik mengenai persolan-persoalan sosial sejak Surat Ensiklik Rerum Novarum dari Paus Leo XIII. Perhatian Gereja untuk persoalan-persoalan sosial tentu saja tidak baru dimulai dengan dokumen tersebut, karena Gereja tidak pernah lupa menunjukkan perhatiannya terhadap masyarakat. Namun demikian, Ensiklik Rerum Novarum menandai permulaan 21

39 kesadaran-kesadaran baru dalam hidup menggereja. Kesadaran baru ini dalam hal keterlibatan umat Katolik pada persoalan-persoalan politik, keadilan kerja, tata ekonomi dan relasi perdagangan, tata damai dunia, relasi pemilik modal dan buruh, kesehatan dan hidup manusia, teknologi komunikasi, radio, film, aneka perkembangan dan kemajuan global, hak asasi dan kebebasan beragama, kebebasan beremigrasi dan menentukan nasionalitas, soal-soal lingkungan dan pemanasan global. Ajaran Sosial Gereja bertujuan agar hidup beriman tidak hanya dipenuhi oleh sekedar perbuatan-perbuatan saleh pribadi, melainkan menampilkan dinamika partisipasi hidup beriman yang kongkret dalam pengalaman suka dan duka masyarakat. Ajaran Sosial Gereja memiliki tujuan agar umat beriman bertindak, bergerak, bekerja bersama-sama dalam cara-cara yang efektif untuk membangun tata hidup manusia. Cara efektif diwujudkan dalam aneka kerja sama pemberdayaan dan pengentasan sesama dari keterpurukan (Riyanto, 2015:3). Selanjutnya, dalam Ajaran Sosial Gereja terdapat pemahaman yang menyeluruh mengenai keterlibatan nyata bagaimana iman Katolik mendorong umat untuk berkarya nyata. Ajaran Sosial Gereja memiliki jalan pikiran yang integral dalam semua tahapan. Pada prinsipnya dokumen-dokumen Ajaran Sosial Gereja berpolakan jalan pikiran To see, judge and act seperti yang termuat dalam Ensiklik Mater et Magistra dari Yohanes XXIII (Riyanto, 2015:12). To see memuat maksud bahwa Gereja pertama-tama menyimak, mendengarkan dan mempelajari segala persoalan yang ada dalam realitas sosial. To judge 22

40 mengindikasikan langkah selanjutnya, yaitu Gereja memberikan refleksi teologis, penilaian, analitis, kritik, pembahasan atas realitas perkembangan yang ada dalam realitas tersebut. Gereja di sini adalah para pemimpin klerus maupun para tokoh umat. To act artinya Gereja mendesak umat Allah atau siapa pun yang berkehendak baik untuk bertindak konkret mempromosikan keadilan dan melawan segala bentuk ketidakadilan, mempromosikan perdamaian, dan tatanan sosial yang benar dan baik Catatan Historis Ajaran Sosial Gereja Sebagai tanggapan terhadap masalah sosial besar yang pertama, Paus Leo XIII memaklumkan ensiklik sosial yang pertama, Rerum Novarum. Ensiklik yang dimaklumatkan pada tanggal 15 Mei 1891 ini menaruh perhatian pada masalahmasalah sosial secara sistematis. Juga pertama kali jalan pikiran ajaran sosial berangkat dari prinsip keadilan universal. Paus Leo XIII telah melihat parahnya kondisi kerja, karena eksploitasi oleh kapitalisme tanpa kontrol akibat revolusi industri, dan bangkitnya kekuatan sosialisme serta marxisme. Dengan berdasarkan hukum kodrat, Paus membela hak-hak buruh, pentingnya keadilan dan solidaritas, sekaligus juga meneguhkan hak kodrati atas kepemilikan pribadi (Leo XIII, 1891: 15-40). Pada permulaan tahun 1930-an, menyusul krisis ekonomi dahsyat tahun 1929, Paus Pius XI menerbitkan Ensiklik Quadragesimo Anno, dalam konteks memperingati ulang tahun ke-40 Rerum Novarum. Ensiklik ini menegaskan kembali prinsip-prinsip dalam Rerum Novarum dan mengaplikasikannya dalam 23

41 situasi zaman itu. Paus menolak solusi komunisme yang menghilangkan hak-hak pribadi. Namun juga sekaligus mengkritik persaingan kapitalisme sebagai yang akan menghancurkan dirinya sendiri. Ajaran Paus Pius XI (1931:41-80) menunjukkan bagaimana Ajaran Sosial Gereja berkembang dan menjadi lebih spesifik, terutama dalam mempertahankan prinsip-prinsip : perdamaian dan keadilan, solidaritas, kesejahteraan umum, subsidiaritas, hak milik, hak untuk berserikat, dan peranan fundamental keluarga dalam masyarakat. Paus Pius XI juga melawan rezim-rezim totaliter yang tengah menggejala di Eropa pada masa kepausannya. Paus Pius XI melancarkan protes menentang penyalahgunaan kekuasaan oleh rezim fasis totaliter di Italia dengan Ensiklik Non Abbiamo Bisogno. Terbitnya Ensiklik Mit Brennender Sorge tentang situasi Gereja Katolik di bawah Reich Jerman pada tanggal 14 Maret 1937 juga merupakan tanggapan atas situasi zaman itu. Teks Mit Brennender Sorge dibacakan di setiap Gereja Katolik di Jerman, setelah disebarkan dengan rahasia. Ensiklik tersebut keluar setelah tahun-tahun kesewenang-wenangan dan tindak kekerasan, dan ensiklik itu secara tegas diminta dari Paus Pius XI oleh para Uskup Jerman setelah Reich menerapkan langkah-langkah yang kian keras dan represif pada tahun 1936, khususnya yang berkenaan dengan kaum muda yang diwajibkan untuk mendaftarkan diri menjadi anggota Gerakan Kaum Muda Hitler (Pontifical Council for Justice and Peace, 2005:91). Bersama dengan Ensiklik Divini Redemptoris tentang komunisme ateistik dan ajaran sosial Kristen, Paus Pius XI menyajikan sebuah kritik yang sistematis terhadap komunisme, dengan menyebutnya sebagai yang secara 24

42 intrinsik merupakan kejahatan, dan menyiratkan bahwa sarana-sarana utama untuk membenahi kejahatan yang dilakukan olehnya dapat ditemukan dalam pembaruan kehidupan Kristen, praktik cinta kasih injili, pemenuhan tugas-tugas keadilan baik pada tingkat antarpribadi maupun sosial dalam kaitan dengan kesejahteraan umum, serta pelembagaan kelompok-kelompok profesi dan lintasprofesi (Pontifical Council for Justice and Peace, 2005:92). Paus Yohanes XXIII, dalam ensikliknya Mater et Magistra yang dipublikasikan tanggal 15 Mei 1961 untuk merayakan 70 tahun Rerum Novarum mengingatkan kembali semangat Rerum Novarum dan Quadragesimo Anno serta mengambil satu langkah maju dalam proses melibatkan seluruh jemaat Kristen. Ensiklik ini mengungkapkan keprihatinan mendalam Paus akan keadilan. Paus mencermati tumbuhnya jurang antara negara kaya dan miskin, sebagai produk dari sistem tata dunia yang tidak adil dan akibat dari penekanan yang terlalu kuat pada kemajuan industri, perdagangan, dan teknologi zaman itu. Dalam ensiklik ini diajukan pula jalan pikiran Ajaran Sosial Gereja: see, judge, and act. Gereja Katolik didesak untuk berpartisipasi secara aktif dalam memajukan tata dunia yang adil (John XXIII, 1961:80-124). Perdamaian dan perang adalah tema penting Ensiklik Pacem in Terris yang terbit pada tanggal 11 April Paus Yohanes XXIII, menyerukan perdamaian kepada dunia. Pada saat itu baru terjadi krisis Kuba, salah satu masa paling menegangkan dalam perang dingin dengan ancaman nuklirnya. Masa itu juga ditandai dengan berakhirnya kolonialisme di banyak negara, yang diwarnai dengan perselisihan tragis, yang melibatkan rasisme, tribalisme, dan aplikasi 25

dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014

dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014 SURAT GEMBALA PRAPASKA 2014 KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014 Allah Peduli dan kita menjadi perpanjangan Tangan Kasih-Nya untuk Melayani Saudari-saudaraku yang terkasih,

Lebih terperinci

12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama

Lebih terperinci

Gereja di dalam Dunia Dewasa Ini

Gereja di dalam Dunia Dewasa Ini ix U Pengantar ndang-undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan

Lebih terperinci

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011.

Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. Rio Deklarasi Politik Determinan Sosial Kesehatan Rio de Janeiro, Brasil, 21 Oktober 2011. 1. Atas undangan Organisasi Kesehatan Dunia, kami, Kepala Pemerintahan, Menteri dan perwakilan pemerintah datang

Lebih terperinci

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL Warta 22 November 2015 Tahun VI - No.47 KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia IV (sambungan minggu lalu) Tantangan Keluarga dalam Memperjuangkan Sukacita Anglia 9.

Lebih terperinci

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan 11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan

Lebih terperinci

KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN

KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN DALAM KONSTITUSI KITA Kita mengembangkan kesadaran dan kepekaan terhadap masalah-masalah keadilan, damai dan keutuhan ciptaan.para suster didorong untuk aktif

Lebih terperinci

03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia.

03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. 03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian

PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian PENDAHULUAN Latar Belakang Penelitian Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (TJP) atau Corporate Social Responsibility (CSR) adalah suatu tindakan atau konsep yang dilakukan oleh perusahaan sesuai kemampuan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Indonesia merupakan negara di wilayah Asia secara geografis yang diwarnai oleh dua kenyataan, yaitu kemajemukan agama dan kebudayaan, serta situasi kemiskinan

Lebih terperinci

PASTORAL DIALOGAL. Erik Wahju Tjahjana

PASTORAL DIALOGAL. Erik Wahju Tjahjana PASTORAL DIALOGAL Erik Wahju Tjahjana Pendahuluan Konsili Vatikan II yang dijiwai oleh semangat aggiornamento 1 merupakan momentum yang telah menghantar Gereja Katolik memasuki Abad Pencerahan di mana

Lebih terperinci

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E)

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) 10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi

Lebih terperinci

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD)

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) 11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia sebagai persona pertama-tama karena ke-diri-annya (self). Artinya, self

BAB I PENDAHULUAN. manusia sebagai persona pertama-tama karena ke-diri-annya (self). Artinya, self BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia tidak hanya dipahami sebagai individu, melainkan sebagai persona. 1 Sifat individual berarti ia sebagai ada yang dapat dibedakan dengan ada yang lain dari satu

Lebih terperinci

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 /2 Maret 2014)

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 /2 Maret 2014) (Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 /2 Maret 2014) Para Ibu/Bapak, Suster/Bruder/Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang yang terkasih dalam Kristus, 1. Bersama dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. imannya itu kepada Kristus dalam doa dan pujian. Doa, pujian dan kegiatan-kegiatan liturgi

BAB I PENDAHULUAN. imannya itu kepada Kristus dalam doa dan pujian. Doa, pujian dan kegiatan-kegiatan liturgi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penulisan Gereja adalah persekutuan umat beriman yang percaya kepada Kristus. Sebagai sebuah persekutuan iman, umat beriman senantiasa mengungkapkan dan mengekspresikan

Lebih terperinci

KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI PERGURUAN TINGGI UMUM

KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI PERGURUAN TINGGI UMUM KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DI PERGURUAN TINGGI UMUM Komisi Kateketik KWI Jakarta 2011 Kurikulum PAK - PTU Kurikulum PAK - PTU 1 4. Iman yang memasyarakat Ajaran Sosial Gereja Daftar Isi Daftar

Lebih terperinci

Pidato Bapak M. Jusuf Kalla Wakil Presiden Republik Indonesia Pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa Ke-71 New York, 23 September 2016

Pidato Bapak M. Jusuf Kalla Wakil Presiden Republik Indonesia Pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa Ke-71 New York, 23 September 2016 Pidato Bapak M. Jusuf Kalla Wakil Presiden Republik Indonesia Pada Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa- Bangsa Ke-71 New York, 23 September 2016 Bapak Presiden SMU PBB, Saya ingin menyampaikan ucapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Eros Rosinah, 2013 Gerakan Donghak Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu

BAB I PENDAHULUAN. Eros Rosinah, 2013 Gerakan Donghak Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada abad ke-19, sebagian besar negara-negara di Asia merupakan daerah kekuasan negara-negara Eropa. Pada abad tersebut khususnya di negara-negara Asia yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sebesar-besarnya. Tujuan perusahaan yang kedua adalah ingin

BAB I PENDAHULUAN. yang sebesar-besarnya. Tujuan perusahaan yang kedua adalah ingin BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Didirikannya sebuah perusahaan memiliki tujuan yang jelas. Ada beberapa hal yang mengemukakan tentang tujuan pendirian suatu perusahaan. Tujuan perusahaan

Lebih terperinci

BAB XII MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN. Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Modul ke: Fakultas MKCU. Program Studi Psikologi.

BAB XII MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN. Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Modul ke: Fakultas MKCU. Program Studi Psikologi. BAB XII Modul ke: 13 MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN Fakultas MKCU Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. www.mercubuana.ac.id Program Studi Psikologi MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN Terima Kasih A. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

Pertemuan Pertama. Allah Yang Murah Hati

Pertemuan Pertama. Allah Yang Murah Hati APP 2013 Pertemuan Pertama Allah Yang Murah Hati Sasaran Pertemuan: Melalui pertemuan ini kita semakin meningkatkan kesadaran kita akan Allah yang murah hati, berbela rasa. Bacaan Pertemuan Pertama: Matius

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan cita-cita bangsa yakni terciptanya

BAB I PENDAHULUAN. merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan cita-cita bangsa yakni terciptanya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Pelaksanaan kegiatan pembangunan nasional di Indonesia sesungguhnya merupakan salah satu upaya untuk mewujudkan cita-cita bangsa yakni terciptanya kesejahteraan masyarakat

Lebih terperinci

RESUME 21 BUTIR PLATFORM KEBIJAKAN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (1) PEMANTAPAN EKONOMI MAKRO

RESUME 21 BUTIR PLATFORM KEBIJAKAN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (1) PEMANTAPAN EKONOMI MAKRO RESUME 21 BUTIR PLATFORM KEBIJAKAN PARTAI KEADILAN SEJAHTERA (1) PEMANTAPAN EKONOMI MAKRO Membangun kembali fundamental ekonomi yang sehat dan mantap demi meningkatkan pertumbuhan, memperluas pemerataan,

Lebih terperinci

42. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK

42. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK 42. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK KELAS: X Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan secara keseluruhan

Lebih terperinci

3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan

3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan 3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan legal? 6. Sebutkan sasaran yang dikritik Nabi Amos! 7.

Lebih terperinci

Konsep Pengembangan Masyarakat (Community Development) 1

Konsep Pengembangan Masyarakat (Community Development) 1 1 Konsep Pengembangan Masyarakat (Community Development) 1 Pengembangan Masyarakat (Community Development) merupakan konsep yang berkembang sebagai tandingan (opponent) terhadap konsep negarakesejahteraan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Setelah menelusuri pernyataan Yesus dalam Yohanes 14: 6 kata Yesus kepadanya,

BAB V PENUTUP. Setelah menelusuri pernyataan Yesus dalam Yohanes 14: 6 kata Yesus kepadanya, BAB V PENUTUP 5. 1 Kesimpulan Setelah menelusuri pernyataan Yesus dalam Yohanes 14: 6 kata Yesus kepadanya, Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam era persaingan bisnis saat ini, sebuah perusahaan dituntut untuk mampu memiliki langkahlangkah inovatif yang mampu memberi daya saing dengan kompetitor. Selain

Lebih terperinci

SPIRITUALITAS MISTIK DAN KENABIAN DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN SEKOLAH KATOLIK Pertemuan MABRI, Muntilan 22 Maret 2014 Paul Suparno, S.J.

SPIRITUALITAS MISTIK DAN KENABIAN DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN SEKOLAH KATOLIK Pertemuan MABRI, Muntilan 22 Maret 2014 Paul Suparno, S.J. SPIRITUALITAS MISTIK DAN KENABIAN DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN SEKOLAH KATOLIK Pertemuan MABRI, Muntilan 22 Maret 2014 Paul Suparno, S.J. Isi singkat 1. Semangat mistik 2. Semangat kenabian 3. Spiritualitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seharusnya membuat dunia usaha dijalankan secara profesional justru menjadi

BAB I PENDAHULUAN. seharusnya membuat dunia usaha dijalankan secara profesional justru menjadi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Ada sisi negatif yang tidak diharapkan dari perkembangan konsep-konsep manajemen sejak awal abad dua puluhan. Konsep pengelolaan korporasi yang seharusnya

Lebih terperinci

Apakah pancasila sebagai pembangunan sudah diterapkan di Indonesia atau belum?

Apakah pancasila sebagai pembangunan sudah diterapkan di Indonesia atau belum? PANCASILA SEBAGAI PEMBANGUNAN BANGSA TEORI Pengertian Paradigma Paradigma adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan mempengaruhinya dalam berpikir (kognitif), bersikap (afektif),

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang.

I. PENDAHULUAN. karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan seimbang. 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan dan hasil pendidikan di sekolah yang mengarah pada pencapaian pembentukan karakter dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. selama beberapa tahun terakhir ini. Banyak orang berbicara tentang CSR dan

BAB I PENDAHULUAN. selama beberapa tahun terakhir ini. Banyak orang berbicara tentang CSR dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) yang selanjutnya disebut CSR menjadi topik hangat yang sering dibicarakan selama beberapa

Lebih terperinci

1.2 Menegakkan Kerajaan Allah dalam Modernisasi Indonesia: O. Notohamidjojo...33

1.2 Menegakkan Kerajaan Allah dalam Modernisasi Indonesia: O. Notohamidjojo...33 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...v DAFTAR ISI...x DAFTAR SINGKATAN...xv DISSERTATION ABSTRACT... xvii PENDAHULUAN 1. Latar Belakang...1 2. Pokok Studi...5 2.1 Studi-Studi Sebelumnya dan Pentingnya Studi Ini...5

Lebih terperinci

Sosialisme Indonesia

Sosialisme Indonesia Sosialisme Indonesia http://sinarharapan.co/news/read/140819049/sosialisme-indonesia 19 Agustus 2014 12:50 Ivan Hadar* OPINI Sosialisme-kerakyatan bisa diterapkan di Indonesia. Terpilihnya Jokowi sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dian Ahmad Wibowo, 2014

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dian Ahmad Wibowo, 2014 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada bulan Pebruari merupakan titik permulaan perundingan yang menuju kearah berakhirnya apartheid dan administrasi minoritas kulit putih di Afrika Selatan.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. (corporate social responsibility) dikemukakan oleh John Elkington (1997) yang

PENDAHULUAN. (corporate social responsibility) dikemukakan oleh John Elkington (1997) yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Satu terobosan besar perkembangan gema tanggungjawab sosial perusahaan (corporate social responsibility) dikemukakan oleh John Elkington (1997) yang terkenal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. termasuk aktivitas tangggung jawab sosial perusahaan dengan cepat. 1

BAB I PENDAHULUAN. termasuk aktivitas tangggung jawab sosial perusahaan dengan cepat. 1 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Globalisasi ditandai dengan perkembangan teknologi yang sangat cepat dan informasi menjadi semakin mudah diakses. Dunia ekonomi semakin transparan. Era keterbukaan

Lebih terperinci

@UKDW BAB I PENDAHULUAN I.I LATAR BELAKANG MASALAH

@UKDW BAB I PENDAHULUAN I.I LATAR BELAKANG MASALAH BAB I PENDAHULUAN I.I LATAR BELAKANG MASALAH Berhadapan langsung dengan perkembangan ekonomi pasar global, tentunya masyarakat Indonesia bukanlah masyarakat yang posisinya berada di luar lingkaran praktekpraktek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Pentingnya Corporate Social Responsibility (CSR) harus dilandasi oleh

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Pentingnya Corporate Social Responsibility (CSR) harus dilandasi oleh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pentingnya Corporate Social Responsibility (CSR) harus dilandasi oleh kesadaran perusahaan terhadap fakta tentang adanya jurang pemisah yang semakin lebar antara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Perkembangan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu 12 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai salah satu kegiatan sosial perusahaan, dari tahun ke tahun semakin menjadi perbincangan. CSR merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 Pendahuluan. 1 NN, Badan Geologi Pastikan Penyebab Gempa di Yogyakarta, ANTARA News,

BAB 1 Pendahuluan.  1 NN, Badan Geologi Pastikan Penyebab Gempa di Yogyakarta, ANTARA News, 1 BAB 1 Pendahuluan 1. 1. Latar Belakang Gempa bumi yang terjadi pada tanggal 27 Mei 2006 berkekuatan 5,9 Skala Richter pada kedalaman 17,1 km dengan lokasi pusat gempa terletak di dekat pantai pada koordinat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) pertama kali dikemukakan oleh Howard R. Bowen pada tahun 1953. Setelah itu,csr

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. tertentu. Untuk menjawab topik dari penelitian ini, yakni Etika Global menurut Hans Küng

BAB V PENUTUP. tertentu. Untuk menjawab topik dari penelitian ini, yakni Etika Global menurut Hans Küng BAB V PENUTUP 5.1. Kesimpulan Pertama, sebuah konsep etika dibangun berdasarkan konteks atau realita pada masa tertentu. Untuk menjawab topik dari penelitian ini, yakni Etika Global menurut Hans Küng ditinjau

Lebih terperinci

TEMU PASTORAL Keuskupan Agung Semarang

TEMU PASTORAL Keuskupan Agung Semarang TEMU PASTORAL Keuskupan Agung Semarang Kevikepan Surakarta: 12-14 Januari 2015 Kevikepan DIY: 14 16 Januari 2015 Kevikepan Semarang: 19 21 Januari 2015 Kevikepan Kedu: 21 23 Januari 2015 ARAH DASAR UMAT

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dikelola untuk menghasilkan barang atau jasa (output) kepada pelanggan

BAB 1 PENDAHULUAN. dikelola untuk menghasilkan barang atau jasa (output) kepada pelanggan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Secara umum, perusahaan atau business merupakan suatu organisasi atau lembaga dimana sumber daya (input) dasar seperti bahan baku dan tenaga kerja dikelola

Lebih terperinci

2015 KAJIAN PEMIKIRAN IR. SUKARNO TENTANG SOSIO-NASIONALISME & SOSIO-DEMOKRASI INDONESIA

2015 KAJIAN PEMIKIRAN IR. SUKARNO TENTANG SOSIO-NASIONALISME & SOSIO-DEMOKRASI INDONESIA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Nasionalisme atau rasa kebangsaan tidak dapat dipisahkan dari sistem pemerintahan yang berlaku di sebuah negara. Nasionalisme akan tumbuh dari kesamaan cita-cita

Lebih terperinci

PELAJARAN 12 AJARAN SOSIAL GEREJA

PELAJARAN 12 AJARAN SOSIAL GEREJA PELAJARAN 12 AJARAN SOSIAL GEREJA TUJUAN PEMBELAJARAN Pada akhir pelajaran, saya dapat: 1. menjelaskan arti dan latar belakang ajaran sosial Gereja; 2. menjelaskan dengan kata-katanya sendiri sejarah singkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan dapat dikatakan sebagai salah satu aktor ekonomi dalam satu wilayah, baik itu wilayah desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan negara. Sebagai salah satu

Lebih terperinci

(Disampaikan sebagai pengganti Homili, pada Misa Sabtu/Minggu, 28/29 September 2013)

(Disampaikan sebagai pengganti Homili, pada Misa Sabtu/Minggu, 28/29 September 2013) (Disampaikan sebagai pengganti Homili, pada Misa Sabtu/Minggu, 28/29 September 2013) Makin Beriman, Makin Bersaudara, Makin Berbela Rasa Melalui Pangan Sehat Para Ibu dan Bapak, Suster, Bruder, Frater,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN

BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN BAB I PENDAHULUAN A. PERMASALAHAN A.1. Latar Belakang Masalah Memberitakan Injil dalam wacana kekristenanan dipandang sebagai tugas dan tanggung jawab melanjutkan misi Kristus di tengah dunia. Pemahaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsisbilities atau CSR)

BAB I PENDAHULUAN. tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsisbilities atau CSR) 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Seiring dengan perkembangan zaman, wacana mengenai peran etika dan tanggung jawab sosial perusahaan semakin marak diperbincangkan oleh para pelaku bisnis, organisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi landasan utama pemikiran marxisme. Pemikiran marxisme awal yang

BAB I PENDAHULUAN. menjadi landasan utama pemikiran marxisme. Pemikiran marxisme awal yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan Ideologi marxisme pada saat ini telah meninggalkan pemahaman-pemahaman pertentangan antar kelas yang dikemukakan oleh Marx, dan menjadi landasan

Lebih terperinci

UKDW BAB I. Pendahuluan. 1. Latar Belakang Masalah. Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah

UKDW BAB I. Pendahuluan. 1. Latar Belakang Masalah. Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah BAB I Pendahuluan 1. Latar Belakang Masalah Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah satunya karena Indonesia berdasar pada Pancasila, dan butir sila pertamanya adalah Ketuhanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kerja, serta kerusakan hutan dan lingkungan (Sembiring, 2005).

BAB I PENDAHULUAN. kerja, serta kerusakan hutan dan lingkungan (Sembiring, 2005). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tidak dapat dipungkiri bahwa adanya perusahaan memberikan keuntungan bagi masyarakat. Dengan adanya perusahaan membuka lapangan pekerjaan dan menyediakan barang dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa tahun terakhir Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dan

BAB I PENDAHULUAN. Beberapa tahun terakhir Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Beberapa tahun terakhir Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) dan keberlanjutan (sustainability) perusahaan telah menjadi isu perkembangan utama perusahaan.

Lebih terperinci

BAB I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Masalah Keadaan Umum Gereja Saat Ini

BAB I Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang Masalah Keadaan Umum Gereja Saat Ini BAB I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah 1.1.2 Keadaan Umum Gereja Saat Ini Gereja yang dahulu hanya berfungsi dan dianggap jemaat sebagai tempat bersekutu, merasa tenang, menikmati liturgi yang menarik,

Lebih terperinci

BAB V GEREJA DAN DUNIA

BAB V GEREJA DAN DUNIA 1 BAB V GEREJA DAN DUNIA STANDAR KOMPETENSI Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan ber-gereja sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN V.1. Visi Menuju Surabaya Lebih Baik merupakan kata yang memiliki makna strategis dan cerminan aspirasi masyarakat yang ingin perubahan sesuai dengan kebutuhan, keinginan,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. perusahaan tidak hanya bertanggungjawab kepada investor dan kreditor, tetapi juga

BAB 1 PENDAHULUAN. perusahaan tidak hanya bertanggungjawab kepada investor dan kreditor, tetapi juga 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perusahaan sebagai salah satu pelaku ekonomi mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan perekonomian dan masyarkat luas, sehingga suatu perusahaan tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menghadapi situasi ekonomi pasar bebas. Perkembangan bisnis dalam

BAB I PENDAHULUAN. menghadapi situasi ekonomi pasar bebas. Perkembangan bisnis dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Corporate Social Responsibility (CSR), merupakan suatu wacana yang sedang mengemuka di dunia bisnis atau perusahaan. Wacana CSR tersebut digunakan oleh perusahaan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi adalah sesuatu hal yang pasti. Perkembangan teknologi semakin lama semakin berkembang dengan pesat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Permasalahan 1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Permasalahan 1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Permasalahan 1. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan suatu negara yang memiliki kekayaan hutan tropis yang luas. Kekayaan hutan tropis yang luas tersebut membuat Indonesia menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Paham Dosa Kekristenan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Paham Dosa Kekristenan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1.1.1 Paham Dosa Kekristenan Dosa merupakan fenomena aktual dari masa ke masa yang seolah tidak punya jalan keluar yang pasti. Manusia mengakui keberdosaannya,

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. Di dalam Alkitab, setidaknya terdapat tiga peristiwa duka dimana Yesus

BAB V KESIMPULAN. Di dalam Alkitab, setidaknya terdapat tiga peristiwa duka dimana Yesus BAB V KESIMPULAN 5.1. Refleksi Di dalam Alkitab, setidaknya terdapat tiga peristiwa duka dimana Yesus hadir dalam tiga kesempatan yang berbeda: (1) Yesus membangkitkan anak Yairus (Matius 9:18-26, Markus

Lebih terperinci

RELIGIUS SEBAGAI MISTIK DAN NABI DI TENGAH MASYARAKAT Rohani, Juni 2012, hal Paul Suparno, S.J.

RELIGIUS SEBAGAI MISTIK DAN NABI DI TENGAH MASYARAKAT Rohani, Juni 2012, hal Paul Suparno, S.J. 1 RELIGIUS SEBAGAI MISTIK DAN NABI DI TENGAH MASYARAKAT Rohani, Juni 2012, hal 25-28 Paul Suparno, S.J. Suster Mistika dikenal oleh orang sekitar sebagai seorang yang suci, orang yang dekat dengan Tuhan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi menjadi agenda penting dalam

I. PENDAHULUAN. Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi menjadi agenda penting dalam 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan dan pertumbuhan ekonomi menjadi agenda penting dalam pembangunan nasional. Pembangunan merupakan suatu usaha yang terencana untuk menciptakan kondisi

Lebih terperinci

KEBIJAKAN AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA TAHUN

KEBIJAKAN AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA TAHUN KEBIJAKAN AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA TAHUN 2007-2012 Jakarta 2007 DAFTAR ISI Hal Judul i Daftar Isi.. ii Kata Pengantar.. iii Keputusan Senat Unika Atma Jaya... iv A. Pendahuluan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL DAN LINGKUNGAN PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT, Menimbang

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. A. Simpulan

BAB V PENUTUP. A. Simpulan BAB V PENUTUP A. Simpulan Dari keseluruhan kajian mengenai pemikiran Kiai Ṣāliḥ tentang etika belajar pada bab-bab sebelumnya, diperoleh beberapa kesimpulan penting, terutama mengenai konstruksi pemikiran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. GPIB, 1995 p. 154 dst 4 Tata Gereja GPIB merupakan peraturan gereja, susunan (struktur) gereja atau sistem gereja yang ditetapkan

BAB I PENDAHULUAN. GPIB, 1995 p. 154 dst 4 Tata Gereja GPIB merupakan peraturan gereja, susunan (struktur) gereja atau sistem gereja yang ditetapkan 10 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Permasalahan Secara umum gereja berada di tengah dunia yang sedang berkembang dan penuh dengan perubahan secara cepat setiap waktunya yang diakibatkan oleh kemajuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dituntut untuk memerhatikan dua aspek penting selain keuntungan yang

BAB I PENDAHULUAN. dituntut untuk memerhatikan dua aspek penting selain keuntungan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan utama perusahaan adalah untuk menghasilkan laba dan pertumbuhan usaha. Namun seiring dengan berkembangnya zaman, perusahaan dituntut untuk memerhatikan dua aspek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. guna tercapainya visi dan misi perusahaan. Didalam komunikasi ada terbagi

BAB I PENDAHULUAN. guna tercapainya visi dan misi perusahaan. Didalam komunikasi ada terbagi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Komunikasi sebagai penyampaian pesan searah dari seseorang (atau lembaga) kepada seseorang (sekelompok orang) lainnya, baik secara langsung (tatap muka)

Lebih terperinci

Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan Pembelajaran C. Sosiologi Satuan Pendidikan : SMA/MA Kelas : X (sepuluh) Kompetensi Inti : KI 1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya KI 2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Tanggungjawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility mungkin

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Tanggungjawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility mungkin BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tanggungjawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility mungkin masih kurang populer di kalangan pelaku bisnis di Indonesia. Namun, tidak berlaku

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. kontribusinya dalam kehidupan komunitas lokal sebagai rekanan dalam kehidupan

BAB 1 PENDAHULUAN. kontribusinya dalam kehidupan komunitas lokal sebagai rekanan dalam kehidupan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehadiran perusahaan sebagai bagian dari masyarakat seharusnya memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar dan dituntut untuk memberikan kontribusinya dalam

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

UKDW BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kehidupan di perkotaan diperhadapkan dengan sebuah realita kehidupan yang kompleks. Pembangunan yang terus berlangsung membuat masyarakat berlomba-lomba untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dunia usaha semakin menyadari bahwa perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada nilai perusahaan yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya

Lebih terperinci

UKDW. Bab I PENDAHULUAN

UKDW. Bab I PENDAHULUAN Bab I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Masalah 1.1 Krisis Dalam Pelayanan Jemaat Dalam kehidupan dan pelayanan jemaat tak pernah luput dari krisis pelayanan. Krisis dapat berupa perasaan jenuh dan bosan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jawab sosial dan peningkatkan kesejahteraan sosial. Sehingga perusahaan bukan

BAB I PENDAHULUAN. jawab sosial dan peningkatkan kesejahteraan sosial. Sehingga perusahaan bukan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap perusahaan tidak hanya bertujuan untuk memaksimalkan laba yang diperoleh. Namun dalam menjalankan perusahaannya diperlukan sebuah tanggung jawab sosial

Lebih terperinci

KERANGKA NARASI PROGRAM KERJA DAN RANCANGAN ANGGARAN PENERIMAAN DAN BIAYA (RAPB)/ RANCANGAN ANGGARAN INVESTASI (RAI) PAROKI KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG

KERANGKA NARASI PROGRAM KERJA DAN RANCANGAN ANGGARAN PENERIMAAN DAN BIAYA (RAPB)/ RANCANGAN ANGGARAN INVESTASI (RAI) PAROKI KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG Page 1 of 5 KERANGKA NARASI PROGRAM KERJA DAN RANCANGAN ANGGARAN PENERIMAAN DAN BIAYA (RAPB)/ RANCANGAN ANGGARAN INVESTASI (RAI) PAROKI KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG 1. PENDAHULUAN Sekurang-kurangnya memuat:

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG PENANGANAN FAKIR MISKIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:a.bahwa setiap warga negara berhak untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memperhatikan keadaan gejala sosial budaya yang ada disekitarnya.

BAB I PENDAHULUAN. memperhatikan keadaan gejala sosial budaya yang ada disekitarnya. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Semakin ketatnya persaingan dalam bisnis usaha di Indonesia mendorong banyak perusahaan untuk lebih berpikir ke depan guna menjalankan strategi yang terbaik

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI S1 ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS TANJUNGPURA SIKAP

PROGRAM STUDI S1 ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS TANJUNGPURA SIKAP PROGRAM STUDI S1 ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS TANJUNGPURA SIKAP a. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan mampu menunjukkan sikap religius; b. Menjunjung tinggi nilai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility-csr) dimana perusahaan

BAB 1 PENDAHULUAN. jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility-csr) dimana perusahaan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Maraknya isu kedermawanan sosial perusahaan belakangan ini mengalami perkembangan yang sangat pesat sejalan dengan berkembangnya konsep tanggung jawab sosial

Lebih terperinci

BAB XI MEMAKNAI HIDUP BERNEGARA. Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Modul ke: Fakultas MKCU. Program Studi Psikologi.

BAB XI MEMAKNAI HIDUP BERNEGARA. Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Modul ke: Fakultas MKCU. Program Studi Psikologi. BAB XI Modul ke: MEMAKNAI HIDUP BERNEGARA Fakultas MKCU Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. www.mercubuana.ac.id Program Studi Psikologi MEMAKNAI HIDUP BERNEGARA A. PENDAHULUAN MEMAKNAI? -Memberi

Lebih terperinci

Materi Kuliah ETIKA BISNIS. Tanggungjawab Sosial Perusahaan (CSR) Pertemuan ke-6

Materi Kuliah ETIKA BISNIS. Tanggungjawab Sosial Perusahaan (CSR) Pertemuan ke-6 Materi Kuliah ETIKA BISNIS Tanggungjawab Sosial Perusahaan (CSR) Pertemuan ke-6 Latar Belakang Munculnya isu pemanasan global, penipisan ozon, kerusakan hutan, kerusakan lokasi di pertambangan, pencemaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bergeraknya kegiatan bisnis yang dilakukan. Penunjang tersebut berguna

BAB I PENDAHULUAN. bergeraknya kegiatan bisnis yang dilakukan. Penunjang tersebut berguna BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berjalannya kegiatan usaha dari perusahaan di suatu negara akan melibatkan pihak-pihak atau lingkungan sekitarnya sebagai penunjang bergeraknya kegiatan bisnis

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi ini akan dituangkan kesimpulan

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi ini akan dituangkan kesimpulan BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Pada bab terakhir dalam penulisan skripsi ini akan dituangkan kesimpulan dan rekomendasi berdasarkan hasil penelitian mengenai permasalahan yang dikaji dalam skripsi ini,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perusahaan merupakan suatu organisasi yang melakukan aktivitas dengan menggunakan sumber daya yang tersedia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembukaan UUD 1945 mengamanatkan tujuan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,

Lebih terperinci

PENGARUH PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP PROFITABILITAS PERUSAHAAN

PENGARUH PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP PROFITABILITAS PERUSAHAAN SKRIPSI PENGARUH PENGUNGKAPAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY TERHADAP PROFITABILITAS PERUSAHAAN Mahasiswa Program Strata Satu (S-1) Jurusan Akuntansi Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan pengangguran yang tinggi, keterbelakangan dan ketidak

BAB I PENDAHULUAN. ditandai dengan pengangguran yang tinggi, keterbelakangan dan ketidak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kemiskinan merupakan masalah pembangunan diberbagai bidang yang ditandai dengan pengangguran yang tinggi, keterbelakangan dan ketidak berdayaan. Oleh karena

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pengambilan keputusan ekonomi hanya dengan melihat kinerja keuangan suatu perusahaan, saat ini sudah tidak relevan lagi.eipstein dan Freedman dalam Anggraini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. plural. Pluralitas masyarakat tampak dalam bentuk keberagaman suku, etnik,

BAB I PENDAHULUAN. plural. Pluralitas masyarakat tampak dalam bentuk keberagaman suku, etnik, BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Masyarakat dewasa ini dapat dikenali sebagai masyarakat yang berciri plural. Pluralitas masyarakat tampak dalam bentuk keberagaman suku, etnik, kelompok budaya dan

Lebih terperinci

TUGAS CORPORATE SOCIAL RESPONBILITY (CSR)

TUGAS CORPORATE SOCIAL RESPONBILITY (CSR) TUGAS CORPORATE SOCIAL RESPONBILITY (CSR) Mata Kuliah : Etika Bisnis Dosen Pembina : Hj.I.G.A.Aju Nitya D, SST,SE,MM CHAIRUL ANAM S. 01210007 UNIVERSITAS NAROTAMA FAKULTAS EKONOMI PROGRAM STUDI MANAGEMEN

Lebih terperinci

Pengantar. responsibility (CSR).

Pengantar. responsibility (CSR). Pengantar Perusahaan mengejar laba memang sudah menjadi wataknya. Tetapi jika kemudian sebuah perusahaan juga ikut repot-repot melibatkan diri dalam suatu gerakan mencerdaskan bangsa melalui pemberian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan semata (single bottom line), melainkan juga beberapa aspek penting

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan semata (single bottom line), melainkan juga beberapa aspek penting BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini dunia usaha tidak hanya memperhatikan informasi laporan keuangan perusahaan semata (single bottom line), melainkan juga beberapa aspek penting lainnya yaitu

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG

UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Gereja yang ada dan hadir dalam dunia bersifat misioner sebagaimana Allah pada hakikatnya misioner. Yang dimaksud dengan misioner adalah gereja mengalami bahwa dirinya

Lebih terperinci