MENGELOLA SISTEM MANAJEMEN QHSE YANG EFEKTIF

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MENGELOLA SISTEM MANAJEMEN QHSE YANG EFEKTIF"

Transkripsi

1 MENGELOLA SISTEM MANAJEMEN QHSE YANG EFEKTIF Sistem Manajemen ideal adalah terintegrasinya sistem manajemen mutu, keselamatan kesehatan kerja dan lingkungan. QHSE Management System merupakan istilah yang lebih populer di suatu perusahaan. Ini menjadi framework (kerangka kerja) menerapkan suatu sistem didalam perusahaan. Secara konseptual sistem manajemen integrasi QHSE menjadi koridor dalam menerapkan semua proses manajemen di perusahaan. QHSE Management System CUSTOMER REQUIREMENTS REALISASI PRODUK CUSTOMER SATISFACTION Implementasi sistem manajemen terintegrasi QHSE yang efektif adalah di seluruh proses manajemen perusahaan dan menjadi framework bagi efektifitas suatu sistem manajemen. 1. Peran Sistem Manajemen Di Perusahaan Banyak perusahaan dalam menjalankan usahanya mengandalkan kemampuan individu yang sangat tergantung kepada profesionalitas personal. Loyalitas, integritas dan moralitas dipertaruhkan perusahaan dalam menggulirkan roda bisnisnya. Beruntung suatu perusahaan tetap bisa bertahan bahkan berkembang dengan metoda ini mengingat sumber daya manusia yang menjadi pengelola roda manajemen bisa diandalkan. Lain halnya bila sumber daya manusia pendukung roda bisnis berorientasi pada materialistis berlebihan, sehingga selalu merasa kurang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Akhirnya banyak peluang pemanfaatan celah Comfort Zone yang secara tidak langsung menguntungkan bersangkutan di posisi masing masing. Waktu, biaya, efektifitas, dan banyak lagi kerugian yang dialami perusahaan akibat pengelolaan manajerial yang kurang memadai. Comfort Zone (Zona Nyaman) sudah sangat merajalela khususnya di Indonesia. Sebagian besar orang berharap besar pada kemapanan di area kerja. Sangat berbahaya dan merupakan problem yang sangat serius mengingat gejala inipun muncul di kalangan generasi muda yang seharusnya masih banyak energi yang harus dikeluarkan dalam menggali dan membangun profesionalisme dalam bekerja, namun kenyataannya banyak yang mengharapkan bisa masuk dan bekerja sebagai pegawai negeri dengan jaminan masa tua yang jelas menurut mereka. Berbondong bondong bagi lulusan pergurun tinggi maupun menengah atas untuk merebut peluang ini dengan anggapan terjaminnya masa Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 1 dari 16

2 depan mereka. Luar biasa fenomena pencarian Comfort Zone berlangsung sejak usia dini, bahkan sebelum mereka bekerja. Didalam perusahaan sebagian besar sumber daya manusia yang bekerja di semua lini menghendaki Comfort Zone ini. Dari pengalaman penulis dalam mengembangkan dan menerapkan sistem manajemen di perusahaan hampir 80% perusahaan yang akan mengadopsi sistem ini hanya sekedar memperoleh sertifikasi. Sumber daya manusia yang harus disediakan oleh perusahaan sebagai pengelola manajemen seperti dipersyaratakan oleh sistem manajemen mempunyai tingkat awareness (kepedulian/kesadaran) yang rendah sekali. Pentingnya sistem manajemen sebagai framework manajemen di setiap proses hanya menambah beban administrasi saja. Luar biasa fenomena aktual yang terjadi. Dalam mengembangkan dan menerapkan sistem manajemen biasanya yang sibuk hanya tim pengembang saja, itupun karena mendapat penugasan dari manajemen. Diluar tim ini sangat tidak peduli bahkan selalu menghindar bila diperlukan dalam memberikan inputan terkait proses bersangkutan. Beberapa komentar ekstrim meluncur dengan ringan Yang sekarang ada aja lancar koq, sistem baru nambahin ribet aja.... Kenyataan di lapangan seperti itu. Beberapa hal yang menjadi bahan pertimbangan tentang pentingnya sistem manajemen di perusahaan adalah sebagai berikut : a. Sistem Manajemen sangat membantu Jajaran Manajemen dalam mencapai target. b. Sistem Manajemen membutuhkan komitmen yang tinggi dari lini atas hingga bawah. c. Energi yang dibutuhkan dalam menerapkan sistem manajemen adalah energi positif. Energi positif diterjemahkan Top Down Leadership dan Bottom Up Leadership di semua lini pada masing masing fungsi dan tingkatan. d. Sistem Manajemen bermanfaat dalam mengefektifkan sistem yang ada dengan pola siklus Plan-Do-Check-Act yang sudah teruji. e. Sistem Manajemen memprioritaskan Tahapan Pencapaian dibanding Target dengan kata lain kita memantau proses pencapaian suatu target dengan konsisten pada dokumen (prosedur, instruksi kerja, standar), data dan record hasil pengukuran, bukan fokus langsung pada target. Dengan sistem maka target pasti tercapai. Sistem QHSE (Dokumen, Data, Record) Input Proses Produksi Output (Produk) Sistem QHSE (Dokumen, Data, Record) Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 2 dari 16

3 Sistem Manajemen QHSE Fokus memantau pada pencapaian tahapan proses, yang secara langsung akan mengurangi deviasi atau penyimpangan target parsial pada tahapan proses sehingga kegagalan produk bisa dikurangi sedini mungkin. Sistem Manajemen menghilangkan ketergantungan manajemen perusahaan kepada personal. Ketersediaan sistem manajemen menjamin keberlangsungan bisnis perusahaan pada konsistensi sumber daya manusia terhadap standar yang sudah ditetapkan. Sistem yang sudah ditetapkan menjadi acuan implementasi siapapun pelaksananya. 2. Pengelolaan Sistem Manajemen Didalam persyaratan sistem manajemen QHSE menyatakan bahwa manajemen harus memastikan ketersediaan sumber daya yang diperlukan untuk menetapkan, menerapkan, memelihara dan meningkatkan sistem manajemen. Sumber daya mencakup sumber daya manusia, keahlian, sarana operasional, teknologi dan keuangan. Peran, tanggung jawab dan kewenangan harus ditentukan, didokumentasikan, dikomunikasikan guna memfasilitasi sistem manajemen yang efektif. Manajemen Puncak organisasi harus menunjuk satu orang atau lebih Wakil Manajemen tertentu yang tidak tergantung pada tanggung jawab lainnya. Peran, tanggung Jawab dan Wewenang Wakil Manajemen adalah : a. Memastikan sistem manajemen QHSE ditetapkan, diterapkan, dipelihara dan ditingkatkan sesuai persyaratan standar internasional ISO 9001, OHSAS & ISO b. Melaporkan Kinerja Manajemen QHSE kepada Manajemen Puncak untuk dikaji dan diberikan rekomendasi peningkatan. Dalam penerapannya, Wakil Manajemen sangat berperan penting dalam pengelolaan sistem manajemen. Wakil Manajemen harus mempunyai akses yang luas disemua proses manajemen pada semua fungsi dan tingkatan dalam memastikan bahwa sistem diterapkan, dipelihara dan ditingkatkan sesuai persyaratan standar ISO 9001, OHSAS dan ISO Agar memudahkan dalam mengakses sistem maka kewenangan mutlak diperlukan yang diberikan oleh Manajemen Puncak. Hal ini sangat berpengaruh agar tidak terjadi konflik secara horizontal sesama tingkatan pada struktur organisasi perusahaan. Pada kenyataannya memang diperlukan tingkatan jabatan yang memadai agar penerapan sistem manajemen lebih efektif. Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 3 dari 16

4 Struktur Organisasi Existing Direktur Manager Manager Manager Struktur Organisasi + Wakil Manajemen (Lebih Efektif) Direktur Wakil Manajemen Manager Manager Manager Keterangan : : Jalur Akses Kewenangan Wakil Manajemen dalam memastikan sistem manajemen ditetapkan, diterapkan, dipelihara dan ditingkatkan di semua fungsi dan tingkatan pada perusahaan. : Struktur Organisasi Normal Banyak perusahaan memberikan tanggung jawab sebagai wakil manajemen dengan jabatan rangkap kepada salah satu manager yang mempunyai tugas utama dalam kesehariannya. Dengan pertimbangan agar lebih efektif dengan memanfaatkan posisi yang ada dalam struktur organisasi sehingga multifungsi. Pada kenyataannya, tanggung jawab rangkap ini sangat mempengaruhi kinerja sistem manajemen yang diharapkan mampu mengefektifkan sistem, namun yang diperoleh adalah selalu terjadi inkonsistensi implementasi. Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 4 dari 16

5 Sistem Manajemen mempersyaratkan bahwa sistem harus ditetapkan, diterapkan, dipelihara dan ditingkatkan. Wakil Manajemen mempunyai peran dalam memastikan existensi sistem ini sebagai berikut : 1. Level-1 Wakil Manajemen harus memastikan bahwa sistem manajemen ditetapkan. Artinya wakil manajemen mempunyai tugas untuk meyakinkan keseluruhan sistem ini sudah ditetapkan oleh yang berwenang. 2. Level-2 Wakil Manajemen harus memastikan bahwa sistem manajemen diterapkan. Artinya wakil manajemen mempunyai tugas untuk meyakinkan keseluruhan sistem diterapkan secara konsisten di semua proses manajemen pada masing-masing fungsi dan tingkatan. Metoda yang digunakan adalah Internal Audit. 3. Level-3 Wakil Manajemen harus memastikan bahwa sistem manajemen dipelihara. Artinya wakil manajemen mempunyai tugas untuk meyakinkan keseluruhan sistem dipelihara dengan menjaga keterbaruan sistem (selalu updates). 4. Level-4 Wakil Manajemen harus memastikan bahwa sistem manajemen ditingkatkan. Artinya wakil manajemen mempunyai tugas untuk meyakinkan keseluruhan sistem ditingkatkan secara berkelanjutan. Peran Tanggung Jawab dan Wewenang Wakil Manajemen dalam hal ini sangat memegang peranan penting. Dari data aktual yang ada, banyak perusahaan dalam hal ini Manajemen Puncak tidak memahami pentingnya Wakil Manajemen. Hasil yang didapatkan adalah sistem manajemen yang ada hanya sebagai pelengkap, memenuhi persyaratan sertifikasi. Intinya sistem yang ada hanya sebagai Atribut Kartu Nama saja, pemborosan dan sia-sia belaka. Dan data Badan Sertifikasi memberikan kesimpulan dari hasil survey terhadap banyak perusahaan yang sudah bersertifikasi di seluruh dunia bahwa tidak lebih dari 48% perusahaan yang konsisten dan sinergis dengan sistem manajemen standar internasional ISO 9001, OHSAS dan ISO Sisanya mereka mengeluarkan energi ganda untuk menjalankan perusahaan dengan sistem sendiri dan sibuk untuk memenuhi persyaratan standar ini bila menghadapi audit badan sertifikasi. Pengelolaan sistem manajemen QHSE yang tidak efektif diakibatkan oleh beberapa hal berikut : 1. Wakil Manajemen tidak pernah memastikan bahwa sistem yang ada ditetapkan oleh pejabat berwenang secara keseluruhan. Sebagian besar dokumen yang belum ditetapkan ditemukan berdasarkan temuan audit. Wakil Manajemen tidak mempunyai waktu untuk peran ini. Wakil Manajemen sebagian besar tidak memfasilitasi proses manajemen didalam perusahaan terkait keberadaan dokumen yang wajib dipenuhi. 2. Wakil Manajemen sebagian besar tidak memfasilitasi penerapan sistem yang ada pada proses manajemen di perusahaan. Konsisten tidaknya sistem yang diterapkan oleh proses bersangkutan menjadi tanggung jawab masing-masing, sehingga proses pencapaian terhadap standar yang ditetapkan berpotensi mengalami penyimpangan yang fatal, bahkan secara keseluruhan tidak diterapkan oleh suatu proses menjadi hal yang biasa. Wakil Manajemen kembali lagi mengalami masalah serupa yaitu tidak ada waktu untuk memastikan konsistensi implementasi ini. Kesibukan wakil manajemen yang sekaligus menjabat sebagai salah satu posisi dalam perusahaan menjebak tanggung jawab beliau sebagai wakil manajemen dengan rutinitas harian sebagai pekerjaan utama. 3. Wakil Manajemen sebagian besar tidak melakukan pengelolaan sistem manajemen hingga level-3 yaitu memelihara sistem. Energi beliau sama sekali dihabiskan pada pekerjaan utama. Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 5 dari 16

6 4. Wakil Manajemen sebagian besar tidak mampu menembus level-4 yaitu meningkatkan sistem secara berkelanjutan. Sangat kritis dan hampir semua perusahaan tidak masuk pada zona ini. Jadi sudah sangat jelas bahwa pengelolaan sistem manajemen diperlukan peran dari wakil manajemen yang optimal dan tidak bisa hanya sebagai tugas sambilan. Begitu siasianya sistem manajemen yang sudah diadopsi namun tidak berfungsi, pemborosan dan buang buang energi. Sekali lagi bahwa Wakil Manajemen harus mampu memastikan bahwa sistem manajemen ditetapkan, diterapkan, dipelihara dan ditingkatkan. Kemampuan atau kompetensi yang dimiliki pun harus mampu menjembatani Jajaran Manajemen Puncak sebagai Pengusaha dan Pelaksana Operasional Proses Bisnis di perusahaan pada semua fungsi dan tingkatan. Wakil Manajemen paling efektif adalah bila dalam struktur organisasi perusahaan tidak mempunyai tanggung jawab lainnya selain mengelola sistem manajemen. Bila Wakil Manajemen sudah berperan optimal sebagaimana mestinya, hal ini akan menjadi tolak ukur keberhasilan perusahaan dalam menjalankan roda bisnisnya. Kinerja Manajemen QHSE yang selalu mengutamakan peningkatan berkelanjutan menjadi fasilitas Manajemen Puncak dalam mengukur operasional perusahaan dalam upaya memenuhi kepuasan pelanggan. Dengan kata lain, Wakil Manajemen akan selalu berupaya memberikan kinerja manajemen yang optimal dalam mencapai visi perusahaan dan Jajaran Manajemen Puncak akan lebih fokus dalam upaya mengembangkan perusahaan dan mencari peluang baru dalam bisnis yang akan datang. 3. Kepedulian Terhadap Sistem Manajemen Kepedulian terhadap sistem manajemen menjadi masalah serius hingga saat ini. Sebagian besar karyawan perusahaan dari level terbawah hingga manajemen puncak masih belum memahami bahwa sistem manajemen akan sangat membantu dalam pencapaian proses suatu kinerja yang dikoridori oleh kebijakan manajemen QHSE. Fokus kepada kepuasan pelanggan, memantau activity plan dalam mencapai target yang ditetapkan dan mengurangi kegagalan produk, mencegah kecelakaan kerja dan dampak lingkungan yang berpotensi akan terjadi. Bagaimana meningkatkan kepedulian dalam mengelola sistem manajemen pada semua fungsi dan tingkatan? Kuncinya hanya satu Komitmen. Komitmen dibangun sejak dari tingkat terbawah hingga Manajemen Puncak. Komitmen dibina melaui Top Down Leadership dan Bottom Up Leadership. Dan yang paling memegang peranan penting adalah Bottom Up Leadership, karena ini adalah Self Leadership. Untuk membangun Self Leadership diperlukan komitmen yang kuat dan outputnya adalah Energi Positif. Energi positif yang ideal adalah terbentuknya Excellent Behavior. Frame Excellent Behavior adalah Quality Behavior, Health Safety Behavior dan Environment Behavior. Jadi yang diharapkan oleh Excellent Behavior (Perilaku Unggul) adalah profesioanisme kita yang diwujudkan dengan berperilaku unggul dengan selalu mengutamakan kualitas, keselamatan dan lingkungan. Mindset kita adalah QHSE Behavior dalam mengelola pekerjaan di semua fungsi dan tingkatan. Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 6 dari 16

7 Excellent Behavior ini akan saling berinteraksi diantara karyawan sehingga membentuk Iklim Kerja Unggul (Excellent Working Climate). Pada zona inilah pertemuan sinkronisasi Budaya Perusahaan dan Perilaku Unggul. MEMBANGUN KEPEDULIAN SISTEM MANAJEMEN PERUSAHAAN Banyak perusahaan mengalami masalah yang sama dalam hal membangun kepedulian terhadap sistem manajemen perusahaan yang ada. Top Manajemen mempunyai visi yang tidak pernah tercapai setelah sekian lama menerapkan sistem manajemen yang handal berstandar internasional. Rutinitas pekerjaan membelenggu para manager dalam menjawab KPI (Key Performance Indicator) yang sudah ditetapkan melalui Performance Management Tools yang ada. Sebuah survey yang dilakukan oleh lembaga independen terhadap konsistensi implementasi sistem manajemen di berbagai perusahaan menyatakan bahwa sebagian besar perusahaan menjalankan roda bisnisnya dengan tetap pada metoda Conventional Management, padahal mereka sudah bersertifikasi standar internasional pada sistem manajemennya. Sistem Manajemen mengalami stagnasi dan belum bersinergi secara konsisten dengan visi dan misi perusahaan. Setelah sekian lama dikaji terkait permasalahan yang timbul di hampir banyak perusahaan, salah satunya adalah Management System Awareness (Kepedulian Terhadap Sistem Manajemen Perusahaan). Dari banyak pengamatan dan kajian di berbagai industri, saya akan membahas bagaimana membangun kepedulian terhadap sistem manajemen perusahaan dari sudut pandang Corporate Culture yang ada di suatu perusahaan. Sebelum saya menuangkan dalam sebuah buku tentang bagaimana mengelola dan membangun Corporate Culture yang akan dituangkan dalam Corporate Culture Management, ada baiknya ini menjadi wacana kita dalam menelaah pentingnya kepedulian dalam interaksinya dengan sistem manajemen perusahaan terintegrasi yang efektif dan efisien. Konsep Fundamental Company Macro Business Suatu perusahaan harus menentukan arah bisnis dalam upaya mencapai visi yang sudah ditetapkan serta menindaklanjuti misi bisnis yang dituangkan dalam Global Strategic Planning secara corporate maupun Operational/Business Unit Strategic Planning. Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 7 dari 16

8 Corporate Vision Integrated Performance Management Tools Corporate Policy Integrated Management Policy Integrated Management System (Quality-Health & Safety-Environment) Integrated Management Policy Corporate Policy Operation / Business Unit Strategic Planning Global Strategic Planning Corporate Mission Fundamental Concept of Integrated Company Macro Business Integrasi Sistem Manajemen Mutu, Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan sebagai vehicle management dalam menjalankan roda bisnis perusahaan yang efektif dan efisien. Sistem Manajemen Terintegrasi ini akan menghilangkan ketergantungan terhadap Personal Management Style yang selama ini menjadi tolak punggung kesinambungan perusahaan. Key Person dalam bisnis sangat rentan terhadap kelangsungan operasional perusahaan pada era globalisasi dewasa ini, mengingat seringnya terjadi pembajakan profesional dalam dunia bisnis dan perdagangan bebas. Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 8 dari 16

9 Kehandalan Key Person dalam perusahaan hanya terjadi pada beberapa orang, dan tentunya Top Manajemen berpikir keras dalam menjaga keharmonisan horizontal agar yang bersangkutan selalu membina integritas serta loyalitas pada perusahaan. Di lain pihak sebagian karyawan menjalani rutinitas pekerjaan sebagai suatu kewajiban tugas yang harus dicapai sesuai target KPI yang sudah ditetapkan. Membangun Awareness (Kepedulian) terhadap Sistem Manajemen Perusahaan Dalam skema diagram alir Fundamental Concept of Integrated Company Macro Business sistem manajemen bertindak sebagai kendaraan dalam menjalankan roda bisnis operasional perusahaan. Kebijakan Manajemen (Management Policy) sebagai frame atau koridor dalam menentukan dan mencapai kinerja (performance). Hal ini belumlah memadai dalam menggulirkan sistem manajemen yang menuntut bergulirnya secara berkesinambungan dalam meningkatkan kinerja (performance). Potensi inkonsistensi dalam implementasi dan memelihara kecukupan, kelengkapan, keefektifan sistem manajemen selalu dipertanyakan dalam setiap verifikasi lembaga terkait. Mengkaji permasalahan diatas, dipandang perlu bukan hanya adanya kebijakan manajemen sebagai Performance Management Frame, namun perlu dibangun Corporate Policy (Kebijakan Perusahaan) yang didalamnya memuat jiwa perusahaan (Corporate Soul) sebagai identitas dan karakter perusahaan. Corporate Policy = Corporate Culture + Management Policy (Kebijakan Perusahaan = Budaya Perusahaan + Kebijakan Manajemen) Corporate Culture yang akan dibentuk menyangkut Individual Character Change yang melibatkan seluruh jajaran pada masing-masing fungsi dan tingkatan manajemen perusahaan. Pembentukan budaya perusahaan tidaklah semudah kita mengembangkan sistem manajemen. Suatu perusahaan bisa jadi tidak akan pernah terbentuk budaya perusahaan sepanjang perjalanan bisnis mereka. Indikator yang bisa dijadikan parameter adalah tingginya tingkat Turn Over karyawan dalam periode waktu yang singkat. Seringnya timbul gejolak demonstrasi menuntut perbaikan kompensasi dan beberapa indikator lain yang menjadi perhatian serius bagi manajemen perusahaan. Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 9 dari 16

10 Top Down Leadership Excellent Corporate Culture Excellent Working Climate Integrated Performance Management Excellent Behaviour Bottom Up Leadership Interaksi Energi Pembentukan Budaya Unggul Perusahaan Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 10 dari 16

11 Corporate Culture Management 1. Performance (Management & Behavior Culture) Gap Analysis 2. Corporate Commitment 3. Brainwashing Corporate Culture Management 4. Work Shop Corporate Culture Assessment 5. Identify Source of Culture Building 6. Corporate Culture Performance Assessment & Control 7. Corporate Culture Needs & Global Strategic 8. Establish Performance Objective & Target, Corporate Culture Value 9. Roles Responsible & Authority 10. Soft Competency, Awareness 11. Communication & Visual Management 12. Reward, Recognition & Punishment 13. Performance Monitoring & Measurement 14. Behavior & Corporate Cultural Verification 15. Corporate Culture Review Tahapan pembentukan Corporate Culture bisa memberikan kontribusi pemikiran bagi manajemen dalam membangun dan membentuk kepedulian terhadap perusahaan dan sistem manajemen perusahaan. Dengan harapan menjawab sedikit wacana yang selama ini tidak pernah terpecahkan, maka saya sebagai Partner perusahaan rekan rekan manajemen sekalian, membuka kesempatan untuk menggali lebih jauh permasalahan yang dialami terkait pembentukan kepedulian serta budaya perusahaan. Data dan fakta dari rekan rekan manajemen sekalian akan menjadi bahan analisa yang sangat berguna bagi saya dalam upaya menkaji interaksi di semua sektor industri bagi semua pihak bila kiranya kompleksitas permasalahan disampaikan secara berkesinambungan. Semoga wacana ini bermanfaat bagi semua pihak dengan segala kekurangan dan keterbatasan, karena kesempurnaan adalah milik Yang Maha Kuasa. Terima Kasih... Salam Perubahan... Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 11 dari 16

12 MEMBANGUN KEPEDULIAN SISTEM MANAJEMEN PERUSAHAAN EXCELLENT BEHAVIOR Membangun kepedulian (Awareness) dibagi menjadi dua bagian. Pertama membangun kepedulian terhadap mutu-keselamatan kesehatan kerja-lingkungan serta membangun kepedulian terhadap sistem manajemen. Kajian terbentuknya kepedulian berangkat dari individual character yang diharapkan mempunyai perilaku pada tingkat Perilaku Unggul (Excellent Behavior). Sangat menarik bila kita melihat dari sudut pandang personal karakter, mengingat setiap individu mempunyai basic character yang beragam. Inipun menjadi perhatian dalam pengembangan sistem manajemen perusahaan yang sudah mengkaji bahwa sumber daya manusia menjadi asset perusahaan dengan mengedepankan Peran, Tanggung Jawab dan Wewenang dalam pengelolaan sistem di perusahaan. Beberapa pakar sumber daya manusia sudah mempopulerkan Brainware Management dalam mengelola sumber daya manusianya. Aset ini menjadi sangat signifikan mengingat pola bisnis global yang menuntut profesionalisme yang handal dari setiap sumber daya manusia terkait di perusahaan. Namun seberapa jauh respon yang segera ditindaklanjuti berkenaan dengan tuntutan ini, masih menjadi dilema bagi banyak perusahaan yang menjadikan karyawan belum sebagai sumber daya strategis dalam mengelola roda bisnis perusahaannya. Bagi banyak perusahaan yang belum mengedepankan sumber daya manusia sebagai aset signifikan perusahaan, maka sebagai katalis akselerasi pembentukan Perilaku Unggul tergantung pada diri kita sendiri. Perusahaan sebagai Fasilitator Pembentukan Perilaku Unggul Bila suatu perusahaan akan membentuk karyawan yang mempunyai integritas, loyalitas, motivasi, profesional dan banyak lagi sesuai visi perusahaan bersangkutan, maka beberapa hal yang dijadikan acuan akan sangat membantu sebagai berikut ini. 1. Terpenuhinya Human Needs Pada dasarnya manusia mempunyai kebutuhan mendasar dalam menjalani kehidupan sehari hari yang ideal. Pembagian kebutuhan ini kita sebut Human Needs yang konon memegang peranan penting dalam membentuk perilaku unggul seorang karyawan. a. Primary Human Needs (Fisiological Needs) Kebutuhan primer manusia mencakup kebutuhan terpenuhinya sandang, pangan dan papan. Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 12 dari 16

13 b. Secondary Human Needs (Psychological Needs) Kebutuhan sekunder manusia mencakup rasa selamat, aman dan nyaman. Perasaan selamat muncul bila ia sudah mendapatkan perlindungan dari sekitarnya yang memadai tanpa kekhawatiran terjadinya incident dan accident. Perasaan aman muncul bila ia sudah mendapatkan perlindungan terhadap criminal, gangguan fisik dan psikis. Perasaan nyaman muncul bila ia sudah mampu menyalurkan hobi, penyegaran jiwa dan raga serta interaksi dengan sesama komunitas. c. Tertiary Human Needs (Psychological Needs) Kebutuhan tersier manusia mencakup aktualisasi diri, penghargaan diri dan pemenuhan kebutuhan akan jabatan atau strata. Bila Human Needs terpenuhi, maka kecenderungan manusia untuk mengeksplorasi kemampuan diri dengan lebih optimal. Energi internal yang ada akan terfokus pada peningkatan keahlian, kemampuan dan pemberdayaan sumber daya yang ada. Reward, Recognition dan Punishment yang diterapkan suatu perusahaan akan cenderung terpenuhi karena ketergantungan karyawan pada pemenuhan kebutuhan yang tinggi. Seorang karyawan merasa khawatir akan kehilangan posisi, jabatan atau status sosialnya bila ia tidak mentaati seluruh ketentuan yang sudah ditetapkan perusahaan bersangkutan. Kondisi ini sangat menguntungkan perusahaan bila akan menerapkan suatu misi strategis yang memerlukan integritas, loyalitas, dorongan motivasi yang kuat dalam menggulirkan rencana kerja. Hampir 75% energi positif yang berasal dari internal diri karyawan sudah mencerminkan keberhasilan pencapaian. 2. Terpenuhinya Komitmen Top Manajemen Suatu perusahaan membutuhkan komitmen yang kuat dari Top Manajemen. Pola Top Down Leadership yang diterapkan pimpinan puncak perusahaan sangat membantu terhadap akselerasi pembentukan budaya kerja karyawan. Fakta di lapangan, komitmen ini berpotensi inkonsistensi dalam tindak lanjut berkesinambungan. Banyak sekali Top Manajemen adalah Pimpinan perusahaan bukan Pemimpin perusahaan. Pimpinan berasal dari penunjukkan perusahaan terhadap seseorang yang dianggap mampu menjalankan roda bisnis perusahaan. Tapi, Pemimpin berasal dari pengakuan lingkungan sekitar yang mengedepankan kemampuan individu dalam mengayomi, mengelola, mengarahkan dan membina lingkungannya. Seorang pemimpin yang baik akan mampu menelurkan banyak pemimpin, sehingga orang yang ada dibawah bimbingannya minimal bisa mengaktualisasikan dalam memimpin diri sendiri (Self Leadership Building). Bila Self Leadership sudah terbangun maka iklim yang terbentuk adalah Team Leadership. Selanjutnya tanpa disadari iklim yang yang ada cenderung membentuk Organizational Leadership. Kondisi ini yang diharapkan terbina dalam menggulirkan Top Down Leadership yang berasal dari kuatnya komitmen manajemen puncak. Komitmen Top Manajemen ini memegang peranan penting bagi peningkatan motivasi manajemen lini tengah dalam mengelola program yang akan ditindaklanjuti. Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 13 dari 16

14 Individu sebagai Fasilitator Pembentukan Perilaku Unggul (Managing Soft Skill) Mengelola Soft Skill (Keahlian Soft) menjadi kunci utama sebagai pembentuk Perilaku Unggul individu. Pada kenyataannya, sebaik apapun sistem manajemen yang diterapkan perusahaan akan banyak menghadapi kendala karena belum terbentuknya sense of belonging (rasa memiliki) dari masing masing individu didalamnya. Output kepedulian (Awareness) yang diharapkan oleh manajemen tidak pernah ditemui dengan optimal. Kesibukan dan rutinitas kerja membelenggu setiap karyawan dalam memenuhi KPI yang ditetapkan terkait proses terkait saja. Berawal dari permasalahan ini, berbagai metoda yang dikembangkan sama sekali tidak mumpuni. Apa yang harus dilakukan oleh manajemen? Pada dasarnya manusia mampu mengelola potensi dirinya secara alamiah. Namun, sumber yang harus digali masih belum dipahami dengan tepat. Kita sebagai individu yang notabene adalah karyawan di suatu perusahaan menjadi kunci utama. Iklim kerja yang terbentuk di dalam suatu lingkungan kerja mencerminkan energi yang dipancarkan dari setiap induvidu dalam berienteraksi antar sesamanya. Untuk membentuk Excellent Behavior (Perilaku Unggul) dalam diri kita berawal dari niat kita dalam menjalani proses hidup. Problematik sekitar kita harus mampu disiasati dengan optimal agar output diri yang diharapkan memancarkan energi positif. Dalam mengelola potensi diri perlu dikembangkan metoda yang tepat dalam Managing Individual Soft Skill melalui pengelolaan kemampuan intelektual, emosional dan spiritual yang terintegrasi. Harmonisasi ketiganya menjadi kata kunci dalam menumbuhkan spirit of life yang proporsional. 1. Intelectual Soft Skill Kemampuan intektual setiap individu dibangun sejak kita mengenyam pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Kemampuan analisa, berpikir praktis, rasional, problem solving, knowledge, science dan keterkaitannya dengan penggunaan pikiran adalah output yang diharapkan. Hasil yang ingin dicapai adalah bila implementasi pengelolaan pekerjaan kita berada pada posisi High Performance Management Achievement. Beberapa kelompok masyarakat memandang kemampuan intektual itu datang dengan sendirinya melalui aktualisasi yang bersangkutan dalam analisa logika. Kenyataannya bahwa knowledge itu harus ditingkatkan melalui pendidikan baik formal maupun informal. Kesimpulan sementara bahwa kita harus selalu mengasah kemampuan intektual dalam upaya membangun analisa logika yang proporsional. 2. Emotional Soft Skill Kemampuan emosional setiap individu juga memegang peranan sangat penting. Beberapa pakar manajemen mengemukakan bahwa bila kita terlalu mengedepankan kemampuan intelektual, maka tingkat keberhasilannya maksimal 20% saja untuk mencapai jenjang kesuksesan dalam membina jenjang karir atau peluang usaha. Intinya ada kemampuan lain yang harus dibangun terkait pengembangan kemampuan diri yang optimal. Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 14 dari 16

15 Pentingnya membangun kemampuan emosional dalam diri kita mengingat peranan yang begitu besar delam menjalin interaksi horizontal dengan berbagai kalangan. Output yang diharapkan berupa pemahaman kebutuhan orang lain dan lingkungan sekitar terhadap permasalahan Human Needs. Kalo kita kaji bahwa Human Needs adalah kebutuhan dasar dari setiap individu, maka keberhasilan memahami Human Needs oarang lain adalah tolak ukur diterimanya kita dalam menjalin hubungan yang lebih mendalam. Kepercayaan yang tumbuh dari orang lain (Kolega kita) adalah peluang kita dalam mengeksploitasi kebutuhan lainnya terkait jalinan kerjasama yang saling menguntungkan. Kemampuan inilah yang kita kenal dengan Emotional Soft Skill setiap individu. Tingkat keberhasilan kita dalam mengelola kemampuan emosional sungguh mencengangkan. Hampir 70% kerjasama usaha, pengembangan bisnis global, membangun perusahaan yang handal selalu mengedepankan kemampuan emosional yang unggul. 3. Spritual Soft Skill Kemampuan spiritual setiap individu menjadi tanggung jawab masing-masing individu yang hakiki. Namun, ini menjadi salah satu yang memegang peranan penting sebagai koridor pengembangan kemampuan intektual dan emosional. Dewasa ini pengembangan kemampuan spritual dilakukan secara parsial, sehingga dalam implementasi keseharian kecenderungan ritual belaka. Rutinitas kewajiban yang dijalankan sama sekali tidak berinteraksi dalam pengembangan kemampuan yang lain, akhirnya stagnasi kebuntuan psikologis selalu dijabarkan secara rasional. Hasil akhir pencapaian keberhasilan hingga level top manajemen mempunyai kecenderungan tak terbatas. Hal inilah yang harus kita kelola terkait kemampuan kita mengantisipasi permasalahan kehampaan jiwa. Mengelola soft skill terintegrasi sangat dibutuhkan dewasa ini agar arah pencapaian akhir menjadi jelas dan sesuai dengan yang diharapkan. Kemampuan kita dalam mengelola Intelektual-Emosional-Spiritual Soft Skill yang terintegrasi akan menghasilkan energi positif yang muncul dalam diri kita. Beberapa mengenal sebagai Inner Beauty. Beberapa mengenal sebagai pancaran energi yang selalu mengedepankan Positive Thinking. Semuanya benar adanya bahwa inti dari kesinergisan pengelolaan soft skill adalah Energi Positif. Dalam pembuktian, energi positif yang dipancarkan seseorang akan menghasilkan respon positif dari seseorang yang dihadapinya. Dalam beberapa kajian, para pakar manajemen sempat melakukan telaahan terhadap pancaran energi positif terhadap air. Akhir- akhir ini hasil telaahan terhadap air memberikan kesimpulan bahwa ternyata air dapat merespon energi positif dari lingkungan sekitarnya. Secara ilmu pengetahuan, para pakar mendefinisikan adanya bentukan kristal Hexagonal pada air sebagai respon positif yang ideal. Telah beredar air dengan kandungan Hexagonal Crystal digunakan sebagai media alternatif penyembuhan dalam upaya meregenerasi sel-sel tubuh yang rusak menjadi berfungsi normal. Luar biasa... Tubuh kita, menurut para ahli bahwa hampir 70% mengandung air sebagai unsur pembentuk tubuh. Bila kita mampu mengelola jiwa kita dengan didasari kemampuan Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 15 dari 16

16 mengelola Soft Skill seperti diatas, maka output yang keluar dalam aktualisasi tubuh adalah Inner Beauty yang pada dasarnya Excellent Personality-Excellent Behavior. Bila tubuh kita memancarkan energi positif yang diaktualisasikan dalam Inner Beauty, maka seseorang yang kita hadapi akan merespon dengan positif karena kandungan air yang ada didalam tubuhnya juga kecenderungan membentuk kristal hexagonal. Bagaimana membentuk energi positif ini sebagai cikal bakal terbentuknya Excellent Behavior memerlukan pengelolaan khusus. Semoga rekan-rekan semua tertarik dalam pengembangan selanjutnya. Semoga wacana ini bermanfaat bagi semua pihak dengan segala kekurangan dan keterbatasan, karena kesempurnaan adalah milik Yang Maha Kuasa. Terima Kasih... Salam Perubahan... Dewo P.Rahardjo Mengelola Sistem Manajemen QHSE Yang Efektif halaman 16 dari 16

MEMBANGUN KEPEDULIAN SISTEM MANAJEMEN PERUSAHAAN EXCELLENT BEHAVIOUR

MEMBANGUN KEPEDULIAN SISTEM MANAJEMEN PERUSAHAAN EXCELLENT BEHAVIOUR MEMBANGUN KEPEDULIAN SISTEM MANAJEMEN PERUSAHAAN EXCELLENT BEHAVIOUR Membangun kepedulian (Awareness) dibagi menjadi dua bagian. Pertama membangun kepedulian terhadap mutu-keselamatan kesehatan kerja-lingkungan

Lebih terperinci

Safety Leadership Bag 1 Part 2

Safety Leadership Bag 1 Part 2 Safety Leadership Bag 1 Part 2 1.1. Paradigma Perusahaan Terhadap Sumber Daya Manusia Sebagian besar industri mengeluhkan fenomena tingginya kecelakaan kerja (Accident) ini meskipun sudah mendapatkan sertifikasi

Lebih terperinci

SAFETY INSTINCT DASAR PEMBENTUKAN SAFETY BEHAVIOUR

SAFETY INSTINCT DASAR PEMBENTUKAN SAFETY BEHAVIOUR SAFETY INSTINCT DASAR PEMBENTUKAN SAFETY BEHAVIOUR Modul-1 Safety Awareness Safety Instinct dasar pembentuk Safety Behaviour Keselamatan kerja wajib diterapkan berdasarkan Undang Undang Nomor 1 tahun 1970.

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI. sesuai standar ISO 9001 di PT X. dan rekomendasi dari penulis kepada

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI. sesuai standar ISO 9001 di PT X. dan rekomendasi dari penulis kepada BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI Bab ini merupakan penutup yang berisi simpulan untuk menjawab pertanyaan dengan justifikasi hasil penelitian penerapan sistem manajemen mutu sesuai standar ISO 9001 di PT

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Paparan hasil penelitian sebagaimana terdapat dalam bab IV telah memberikan gambaran yang utuh terkait implementasi SMM ISO di UIN Maliki Malang. Berikut disajikan beberapa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di era globalisasi dewasa ini, sebuah perusahaan bertaraf nasional maupun

BAB I PENDAHULUAN. Di era globalisasi dewasa ini, sebuah perusahaan bertaraf nasional maupun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi dewasa ini, sebuah perusahaan bertaraf nasional maupun internasional harus bekerja secara kompetitif dengan meningkatkan efektifitas dan efisiensi

Lebih terperinci

MODUL KULIAH MANAJEMEN INDUSTRI SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9000

MODUL KULIAH MANAJEMEN INDUSTRI SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9000 MODUL KULIAH MANAJEMEN INDUSTRI SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9000 Oleh : Muhamad Ali, M.T JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA TAHUN 2011 MODUL IX SISTEM MANAJEMEN

Lebih terperinci

Menjadi Institusi yang Excellent

Menjadi Institusi yang Excellent Menjadi Institusi yang Excellent Melalui penerapan Sistem Manajemen Mutu Berbasis Standar National & Internasional oleh: Nosa P Kurniawan 2 3 PIHAK YANG TERKAIT INVESTOR INVESTMENT BAGI HASIL KOMUNITAS

Lebih terperinci

BAB 6 KESIMPULAN 6.1 Kesimpulan

BAB 6 KESIMPULAN 6.1 Kesimpulan BAB 6 KESIMPULAN 6.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pengolahan data dan analisis yang telah dilaksanakan pada Bab 5, maka diperoleh kesimpulan : 1. Pada pengolahan data awal, diperoleh total nilai untuk

Lebih terperinci

Definisi Taufiqur Rachman 1

Definisi Taufiqur Rachman 1 Total Quality Management By: Taufiqur Rachman Definisi Salah satu ilmu yang berorientasi pada kualitas dan merancang ulang sistem organisasi dalam mencapai tujuannya adalah Total Quality Management (TQM)

Lebih terperinci

KONERMAG COACHING SYSTEM ENTREPRENEURSHIP BUILDING KONSULTAN SINERGI MANAJEMEN INDONESIA KONERMAG. Dewo P Rahardjo

KONERMAG COACHING SYSTEM ENTREPRENEURSHIP BUILDING KONSULTAN SINERGI MANAJEMEN INDONESIA KONERMAG. Dewo P Rahardjo KONERMAG COACHING SYSTEM ENTREPRENEURSHIP BUILDING KONSULTAN KONERMAG Dewo P Rahardjo 10 Entrepreneurship Building 2 Entrepreneurship Business Building Membangun bisnis kewirausahaan diperlukan strategi

Lebih terperinci

Internal Audit Charter

Internal Audit Charter SK No. 004/SK-BMD/ tgl. 26 Januari Pendahuluan Revisi --- 1 Internal Audit Charter Latar Belakang IAC (Internal Audit Charter) atau Piagam Internal Audit adalah sebuah kriteria atau landasan pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Lingkungan bisnis pada saat ini tumbuh dan berkembang secara drastis

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Lingkungan bisnis pada saat ini tumbuh dan berkembang secara drastis BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lingkungan bisnis pada saat ini tumbuh dan berkembang secara drastis dan sangat dinamis dan karena perkembangan tersebut diperlukan sistem manajemen yang efektif dan

Lebih terperinci

KONSEP PERANCANGAN PTPN VII INTEGRATED management system

KONSEP PERANCANGAN PTPN VII INTEGRATED management system KONSEP PERANCANGAN PTPN VII INTEGRATED management system Integrated Management System Berbagai Standar Sistem Manajemen ISO a.l: ISO 9001:2008 Manajemen Mutu, ISO 14001:2004 Manajemen Lingkungan, OHSAS

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. manusia menjadi semakin beragam dan kompleks sifatnya. Berbagai hal sebisa

I. PENDAHULUAN. manusia menjadi semakin beragam dan kompleks sifatnya. Berbagai hal sebisa I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Laju globalisasi yang berkembang semakin cepat ini menuntut kebutuhan manusia menjadi semakin beragam dan kompleks sifatnya. Berbagai hal sebisa mungkin tersaji dengan

Lebih terperinci

BAB II EKSPLORASI ISU BISNIS

BAB II EKSPLORASI ISU BISNIS BAB II EKSPLORASI ISU BISNIS 2.1. Kerangka Konseptual Penelitian Sebagai organisasi perbankan yang terbentuk dari empat gabungan bank, mempunyai masalah dengan perbedaan culture dari masing-masing orang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Turbulensi yang terjadi di lingkungan bisnis, semakin memperbesar tantangan dan

I. PENDAHULUAN. Turbulensi yang terjadi di lingkungan bisnis, semakin memperbesar tantangan dan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Turbulensi yang terjadi di lingkungan bisnis, semakin memperbesar tantangan dan peluang yang dihadapi oleh perusahaan berskala nasional maupun multinasional. Perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di era persaingan bisnis yang makin ketat seperti dewasa ini, sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Di era persaingan bisnis yang makin ketat seperti dewasa ini, sumber daya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Di era persaingan bisnis yang makin ketat seperti dewasa ini, sumber daya manusia merupakan aset perusahaan dan sumber daya vital sebagai penentu keberhasilan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Perkembangan dunia usaha saat ini yang ditandai dengan era globalisasi, menuntut perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia untuk dapat bersaing agar tetap

Lebih terperinci

Excellent Safety Behavior Reducing Cause of Accident Significantly

Excellent Safety Behavior Reducing Cause of Accident Significantly Excellent Safety Behavior Reducing Cause of Accident Significantly Safety Behavior adalah perilaku keselamatan manusia di area kerja dalam mengidentifikasi bahaya serta menilai potensi resiko yang timbul

Lebih terperinci

PENERAPAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL DI UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG

PENERAPAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL DI UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG PRAKTIK BAIK SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL DI PERGURUAN TINGGI Penerapan Sistem Penjaminan Mutu Internal di Perguruan Tinggi PENERAPAN SISTEM PENJAMINAN MUTU INTERNAL DI UNIVERSITAS KANJURUHAN MALANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas tentang: 1) latar belakang penelitian, 2) fokus

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini akan membahas tentang: 1) latar belakang penelitian, 2) fokus BAB I PENDAHULUAN Bab ini akan membahas tentang: 1) latar belakang penelitian, 2) fokus penelitian, 3) tujuan penelitian, 4) kegunaan penelitian, dan 5) definisi istilah penelitian. 1.1 Latar Belakang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperluas ke semua bidang kegiatan operasional perusahaan. Dengan demikian

BAB I PENDAHULUAN. diperluas ke semua bidang kegiatan operasional perusahaan. Dengan demikian 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini jangkauan aktivitas dari audit internal tidak hanya menyangkut pada pemeriksaan keuangan saja, akan tetapi jangkauan pemeriksaannya telah diperluas

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISA MANAJEMEN AUDIT ATAS FUNGSI PERSONALIA BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN

BAB 4 ANALISA MANAJEMEN AUDIT ATAS FUNGSI PERSONALIA BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN 39 BAB 4 ANALISA MANAJEMEN AUDIT ATAS FUNGSI PERSONALIA BADAN PENYELENGGARA JAMINAN SOSIAL KETENAGAKERJAAN 4.1 Analisa terhadap Fungsi Personalia Pada bagian ini, akan dipaparkan hasil analisa atas fungsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Bab ini menjelaskan tentang latar belakang dilakukannya penelitian, perumusan masalah, tujuan dalam melakukan penelitian, batasan terhadap penelitian serta sistematika penulisan laporan

Lebih terperinci

PT BRANTAS ABIPRAYA (PERSERO)

PT BRANTAS ABIPRAYA (PERSERO) PT BRANTAS ABIPRAYA (PERSERO) Sistem suatu kondisi harmonis dan interaksi yang teratur Manajemen suatu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan, seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Perencanaan pengembangan kinerja dosen di IAIN Sulthan Thaha

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Perencanaan pengembangan kinerja dosen di IAIN Sulthan Thaha 259 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Perencanaan Pengembangan Kinerja Dosen Perencanaan pengembangan kinerja dosen di IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi pada prinsipnya telah dilakukan dengan

Lebih terperinci

MEMBANGUN KINERJA PEGAWAI

MEMBANGUN KINERJA PEGAWAI MEMBANGUN KINERJA PEGAWAI Dwi Heri Sudaryanto, S.Kom. *) ABSTRAK Kinerja yang terpelihara dan berkembang meningkat akan berdampak positif bagi organisasi atau unit kerja yang bersangkutan. Bagi organisasi

Lebih terperinci

adalah bagian dari komitmen seorang kepala sekolah.

adalah bagian dari komitmen seorang kepala sekolah. BAB V KESIMPULAN, ILPIKASI, DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Dari hasil perhitungan pada Bab IV penelitian ini diperoleh kesimpulan sebagai berikut: Kepemimpinan kepala sekolah harus didukung oleh nilai-nilai

Lebih terperinci

Tulis yang Anda lewati, Lewati yang Anda tulis..

Tulis yang Anda lewati, Lewati yang Anda tulis.. Tulis yang Anda lewati, Lewati yang Anda tulis.. Penyelenggaraan LPSE Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik Undang-Undang Republik Indonesia No.

Lebih terperinci

SISTEM MANAJEMEN INTEGRASI/TERPADU

SISTEM MANAJEMEN INTEGRASI/TERPADU hotspot@1100010904 SISTEM MANAJEMEN INTEGRASI/TERPADU : Sistem manajemen yang mengintegrasikan semua sistem dan proses organisasi dalam satu kerangka lengkap, yang memungkinkan organisasi untuk bekerja

Lebih terperinci

LAMPIRAN I SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 14/SEOJK.03/2015 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO TERINTEGRASI BAGI KONGLOMERASI KEUANGAN

LAMPIRAN I SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 14/SEOJK.03/2015 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO TERINTEGRASI BAGI KONGLOMERASI KEUANGAN LAMPIRAN I SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 14/SEOJK.03/2015 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO TERINTEGRASI BAGI KONGLOMERASI KEUANGAN - 1 - PEDOMAN PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO TERINTEGRASI Konglomerasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bergerak dalam bidang farmasi yang produksinya adalah vaksin dan serum. PT.

BAB I PENDAHULUAN. bergerak dalam bidang farmasi yang produksinya adalah vaksin dan serum. PT. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang PT. X merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak dalam bidang farmasi yang produksinya adalah vaksin dan serum. PT. X berdiri sejak 6 Agustus

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Internal Marketing Pemasaran internal sangat penting artinya bagi perusahaan jasa. Apa lagi bagi usaha jasa yang terkenal dengan high contact. Apa yang dikatakan dengan high

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Pada era Reformasi Birokrasi saat ini, setiap organisasi pemerintahan dituntut untuk selalu melaksanakan semua aspek yaitu legitimasi, kewenangan, maupun aktivitas utama

Lebih terperinci

BAB 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang

BAB 1. Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang BAB 1 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Kinerja bursa saham secara tidak langsung mempengaruhi kemajuan perekonomian nasional. Pasar modal kini memiliki peranan penting dalam perekonomian suatu negara, baik

Lebih terperinci

Audit Teknologi Sistem Informasi. Pertemuan 1 Pengantar Audit Teknologi Sistem Informasi

Audit Teknologi Sistem Informasi. Pertemuan 1 Pengantar Audit Teknologi Sistem Informasi Audit Teknologi Sistem Informasi Pertemuan 1 Pengantar Audit Teknologi Sistem Informasi CAPAIAN PEMBELAJARAN Sikap Ketrampilan Umum Pengetahuan Ketrampilan Khusus Mampu menunjukkan kinerja mandiri, bermutu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan di segala bidang. Hal ini juga berdampak pada kondisi lingkungan bisnis

BAB I PENDAHULUAN. perubahan di segala bidang. Hal ini juga berdampak pada kondisi lingkungan bisnis BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Di era globalisasi yang terus berkembang dengan pesat telah menyebabkan perubahan di segala bidang. Hal ini juga berdampak pada kondisi lingkungan bisnis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Persaingan antar kontraktor untuk memenangkan tender proyek semakin ketat, sehingga perlu adanya daya bersaing yang unggul. Perusahaan kontraktor swasta sedikit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bahkan manusia tidak akan bertahan hidup. Demikian juga dalam sebuah

BAB I PENDAHULUAN. bahkan manusia tidak akan bertahan hidup. Demikian juga dalam sebuah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang mewarnai era globalisasi memungkinkan perusahaan atau organisasi beroperasi diberbagai belahan dunia

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS Definisi Kinerja dan Pengukuran Kinerja. Menurut Mahsun (2006:25) kinerja (performance) adalah gambaran

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS Definisi Kinerja dan Pengukuran Kinerja. Menurut Mahsun (2006:25) kinerja (performance) adalah gambaran BAB 2 TINJAUAN TEORETIS 2. 1 Tinjauan Teoretis 2.1. 1 Definisi Kinerja dan Pengukuran Kinerja Menurut Mahsun (2006:25) kinerja (performance) adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian pelaksanaan suatu

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan deskripsi hasil penelitian dan pembahasan mengenai implementasi

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan deskripsi hasil penelitian dan pembahasan mengenai implementasi I. KESIMPULAN BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berdasarkan deskripsi hasil penelitian dan pembahasan mengenai implementasi SMM ISO 9001:2000 terhadap penjaminan mutu kinerja sekolah yang dilaksanakan di

Lebih terperinci

HARMONISASI SISTEM MANAJEMEN ISO 9001 DAN ISO DI TAHUN 2015

HARMONISASI SISTEM MANAJEMEN ISO 9001 DAN ISO DI TAHUN 2015 Selama bertahun-tahun, ISO menerbitkan banyak standar sistem manajemen dengan bentuk dan struktur yang berbeda. Beberapa standar sistem manajemen dengan struktur yang berbeda terkadang sulit bagi Organisasi

Lebih terperinci

J udul Dokumen : R IWAYAT REVISI MANUAL SISTEM MANAJEMEN K3 MANUAL K3 M - SPS - P2K3. Perubahan Dokumen : Revisi ke Tanggal Halaman Perubahan

J udul Dokumen : R IWAYAT REVISI MANUAL SISTEM MANAJEMEN K3 MANUAL K3 M - SPS - P2K3. Perubahan Dokumen : Revisi ke Tanggal Halaman Perubahan Kode Dokumentasi : M SPS SMK3 Halaman : 1 dari 2 J udul Dokumen : M - SPS - P2K3 Dokumen ini adalah properti dari PT SENTRA PRIMA SERVICES Tgl Efektif : 09 Februari 2015 Dibuat Oleh, Disetujui Oleh, Andhi

Lebih terperinci

Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi

Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi IV.1 Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi dengan Val IT Perencanaan investasi TI yang dilakukan oleh Politeknik Caltex Riau yang dilakukan

Lebih terperinci

Mengapa organisasi membutuhkan Lean? Permasalahan umum di setiap perusahaan...

Mengapa organisasi membutuhkan Lean? Permasalahan umum di setiap perusahaan... BAB 1 MENGAPA LEAN? Mengapa organisasi membutuhkan Lean? Permasalahan umum di setiap perusahaan... Sekarang ini banyak pemimpin perusahaan mengalami kesulitan dalam merubah budaya organisasinya, tepatnya

Lebih terperinci

PT Wintermar Offshore Marine Tbk

PT Wintermar Offshore Marine Tbk PT Wintermar Offshore Marine Tbk ( Perusahaan ) Piagam Audit Internal I. Pembukaan Sebagaimana yang telah diatur oleh peraturan, yaitu Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 56/POJK.04/2015 yang ditetapkan

Lebih terperinci

7 SUMBER DAYA MANUSIA

7 SUMBER DAYA MANUSIA 7 SUMBER DAYA MANUSIA Dalam implementasi manajemen sumber daya manusia, kami menerapkan budaya sharing session sebagai bentuk aktivitas mempertajam nilai organisasi Perseroan. Pencapaian positif dalam

Lebih terperinci

BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN METEOROLOGI KELAS I FRANS KAISIEPO BIAK PEDOMAN MUTU PEDOMAN MUTU

BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN METEOROLOGI KELAS I FRANS KAISIEPO BIAK PEDOMAN MUTU PEDOMAN MUTU Halaman : 1 dari 19 Menyetujui untuk diterbitkan Pada Tanggal 19 Agustus 2014 Oleh Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Frans Kaisiepo Biak Luwi Budi Nugroho NIP. 195807231981091001 Pedoman ini menguraikan

Lebih terperinci

PENDEKATAN SISTIM MANAJEMEN MUTU BAGI ORGANISASI

PENDEKATAN SISTIM MANAJEMEN MUTU BAGI ORGANISASI PENDEKATAN SISTIM MANAJEMEN MUTU BAGI ORGANISASI Budiman Kusumah Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Krida Wacana Abstract: To achieve and organize the organization need guidance and evaluation which

Lebih terperinci

PEDOMAN SISTIM PENGENDALIAN INTERN

PEDOMAN SISTIM PENGENDALIAN INTERN PEDOMAN SISTIM PENGENDALIAN INTERN DANA PENSIUN PERHUTANI 2007 DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN... 1 II. MAKSUD DAN TUJUAN... 2 III. RUANG LINGKUP... 2 3.1 Pihak Yang Berkepentingan... 3 3.2 Lingkungan Pengendalian

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 08 TAHUN 2007 TENTANG

PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 08 TAHUN 2007 TENTANG PEMERINTAH KOTA PANGKALPINANG PERATURAN DAERAH KOTA PANGKALPINANG NOMOR 08 TAHUN 2007 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) KOTA PANGKALPINANG TAHUN 2007-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Persaingan global yang terjadi di Indonesia dalam beberapa dasawarsa terakhir ini, menuntut upaya strategi bisnis dan kemampuan teknologi yang mahir di berbagai sektor

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. telah dapat dilihat bersama hasilnya telah menjadi salah satu perguruan tinggi yang

BAB I PENDAHULUAN. telah dapat dilihat bersama hasilnya telah menjadi salah satu perguruan tinggi yang BAB I PENDAHULUAN.. LATAR BELAKANG Perkembangan dan kemajuan Universitas Bina Nusantara (UBiNus) saat kini telah dapat dilihat bersama hasilnya telah menjadi salah satu perguruan tinggi yang besar, terkemuka

Lebih terperinci

Kebijakan Manajemen Risiko PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

Kebijakan Manajemen Risiko PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. I. PENDAHULUAN Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN No.1/M-MBU/2011 tanggal 1 November 2011, manajemen risiko merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penerapan Good Corporate Governance. Pengelolaan

Lebih terperinci

TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)

TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) 1 TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) EMA503 Manajemen Kualitas Definisi 2 TQM Salah satu ilmu yang berorientasi pada kualitas dan merancang ulang sistem organisasi dalam mencapai tujuannya. Menandakan terjadinya

Lebih terperinci

INTERNAL AUDIT CHARTER 2016 PT ELNUSA TBK

INTERNAL AUDIT CHARTER 2016 PT ELNUSA TBK 2016 PT ELNUSA TBK PIAGAM AUDIT INTERNAL (Internal Audit Charter) Internal Audit 2016 Daftar Isi Bab I PENDAHULUAN Halaman A. Pengertian 1 B. Visi,Misi, dan Strategi 1 C. Maksud dan Tujuan 3 Bab II ORGANISASI

Lebih terperinci

Makalah Manajemen Operasional (Manajemen Kualitas)

Makalah Manajemen Operasional (Manajemen Kualitas) Makalah Manajemen Operasional (Manajemen Kualitas) DENNY HARIANTO NIM : 1401026015123456798900- KELAS : XXXIII - D MATA KULIAH : MANAJEMEN OPERASIONAL MAGISTER MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA UNIVERSITAS

Lebih terperinci

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN

VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN VISI MISI KABUPATEN KUDUS TAHUN 2013 2018 Visi Terwujudnya Kudus Yang Semakin Sejahtera Visi tersebut mengandung kata kunci yang dapat diuraikan sebagai berikut: Semakin sejahtera mengandung makna lebih

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUHAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUHAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUHAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sumber daya manusia merupakan aset penting organisasi karena perannya dalam implementasi strategi sangat penting yaitu sebagai subjek pelaksana dari strategi

Lebih terperinci

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN BAB VI SIMPULAN DAN SARAN 6.1. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian di Bank Syariah Bukopin, Bank BNI Syariah, dan Bank Jabar Banten Syariah, yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh person-organization

Lebih terperinci

PIAGAM AUDIT INTERNAL

PIAGAM AUDIT INTERNAL PIAGAM AUDIT INTERNAL (INTERNAL AUDIT CHARTER) PT PERTAMINA INTERNASIONAL EKSPLORASI & PRODUKSI DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 3 1.1 Umum... 3 1.2 Visi, Misi, Dan Tujuan... 3 1.2.1 Visi Fungsi Audit Internal...

Lebih terperinci

PENGALAMAN KONSULTAN MANAJEMEN MUTU DALAM MENINGKATKAN MUTU SARANA PELAYANAN KESEHATAN

PENGALAMAN KONSULTAN MANAJEMEN MUTU DALAM MENINGKATKAN MUTU SARANA PELAYANAN KESEHATAN PENGALAMAN KONSULTAN MANAJEMEN MUTU DALAM MENINGKATKAN MUTU SARANA PELAYANAN KESEHATAN Outline Bahasan Pendahuluan Akreditasi RS & ISO 9000 Penerapan Continual Improvement Penutup PENDAHULUAN Bagian 1

Lebih terperinci

AUDIT INTERNAL SNI ISO 9001:2015. Oleh: Ade Khaerudin Taufiq & Sik Sumaedi

AUDIT INTERNAL SNI ISO 9001:2015. Oleh: Ade Khaerudin Taufiq & Sik Sumaedi AUDIT INTERNAL SNI ISO 9001:2015 Oleh: Ade Khaerudin Taufiq & Sik Sumaedi Topik Konsep dasar Audit Mutu Internal Perencanaan dan Persiapan Audit Mutu Internal Pelaksanaan Audit Mutu Internal Pelaporan

Lebih terperinci

PERTEMUAN KE-9 AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN BERDASARKAN STRATEGI & AKTIFITAS

PERTEMUAN KE-9 AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN BERDASARKAN STRATEGI & AKTIFITAS PERTEMUAN KE-9 AKUNTANSI PERTANGGUNGJAWABAN BERDASARKAN STRATEGI & AKTIFITAS A. TUJUAN PEMBELAJARAN. Adapun tujuan pembelajaran dalam bab ini, antara lain : 9.1. Mahasiswa mengetahui tentang sistem pertanggungjawaban

Lebih terperinci

KOMITMEN DAN KEBIJAKAN DALAM MEMBANGUN K3 PERTEMUAN #4 TKT TAUFIQUR RACHMAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA INDUSTRI

KOMITMEN DAN KEBIJAKAN DALAM MEMBANGUN K3 PERTEMUAN #4 TKT TAUFIQUR RACHMAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA INDUSTRI KOMITMEN DAN KEBIJAKAN DALAM MEMBANGUN K3 PERTEMUAN #4 TKT302 KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA INDUSTRI 6623 TAUFIQUR RACHMAN PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ESA UNGGUL KEMAMPUAN

Lebih terperinci

BAB 5 PENUTUP. Mutu ISO 9001:2008 pada PT Metabisulphite Nusantara. maka dapat diambil

BAB 5 PENUTUP. Mutu ISO 9001:2008 pada PT Metabisulphite Nusantara. maka dapat diambil BAB 5 PENUTUP 5.1 Simpulan Berdasarkan hasil penelitian mengenai Implementasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2008 pada PT Metabisulphite Nusantara. maka dapat diambil suatu kesimpulan mengenai hasil dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi khususnya di era modern dan globalisasi

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi khususnya di era modern dan globalisasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi khususnya di era modern dan globalisasi sekarang ini tidak dapat dielakkan lagi. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di lingkungan

Lebih terperinci

PIAGAM (CHARTER) AUDIT SATUAN PENGAWASAN INTERN PT VIRAMA KARYA (Persero)

PIAGAM (CHARTER) AUDIT SATUAN PENGAWASAN INTERN PT VIRAMA KARYA (Persero) PIAGAM (CHARTER) AUDIT SATUAN PENGAWASAN INTERN PT VIRAMA KARYA (Persero) Jakarta, 17 Januari 2017 DAFTAR ISI Halaman A. PENDAHULUAN... 1 I. Latar Belakang... 1 II. Maksud dan Tujuan Charter Satuan Pengawasan

Lebih terperinci

Cobit memiliki 4 Cakupan Domain : 1. Perencanaan dan Organisasi (Plan and organise)

Cobit memiliki 4 Cakupan Domain : 1. Perencanaan dan Organisasi (Plan and organise) COBIT Control Objective for Information and related Technology Dikeluarkan dan disusun oleh IT Governance Institute yang merupakan bagian dari ISACA (Information Systems Audit and Control Association)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN 2.1. Data Perusahaan 2.1.1. Identitas Perusahaan PT. Ching Luh Group adalah usaha yang bergerak dibidang sepatu khusunya sepatu olah raga. Yang membuat sepatu-sepatu merk

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang PT. Bank Rakyat Indonesia, Tbk (BRI), adalah salah satu bank yang mempunyai sistem informasi dan infrastruktur Information Technology (IT) terbesar dan tersebar di seluruh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era globalisasi ini, perkembangan dunia bisnis semakin mengalami kemajuan yang pesat. Era globalisasi menyebabkan terjadinya perubahan hampir di semua sektor kehidupan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 11 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Sejarah Budaya Organisasi Organisasi telah ada sejak ratusan tahun lalu dimuka bumi, tidak ada literatur yang secara jelas menjelaskan asal muasal terjadinya organisasi. Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan kebutuhan yang berbeda-beda dengan tingkat perkembangannya. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. dengan kebutuhan yang berbeda-beda dengan tingkat perkembangannya. Menurut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya manusia sebagai mahluk biopsikososial dan spiritual merupakan kesatuan dari aspek jasmani dan rohani yang memiliki sifat unik dengan kebutuhan yang berbeda-beda

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Implementasi kebijakan mutu di SMKTI Bandar Lampung dilaksanakan

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN. Implementasi kebijakan mutu di SMKTI Bandar Lampung dilaksanakan 112 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan 6.1.1. Kebijakan Manajemen Sekolah Implementasi kebijakan mutu di SMKTI Bandar Lampung dilaksanakan dengan menata ulang aktifitasnya sesuai dengan persyaratan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Kualitas merupakan salah satu tujuan dan sekaligus indikator kesuksesan suatu pekerjaan konstruksi terutama oleh pemilik proyek terhadap produk dan jasa layanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dapat

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Keberhasilan pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas dapat dilakukan melalui pengelolaan strategi pendidikan dan pelatihan, karena itu pembangunan

Lebih terperinci

BUILDING A CULTURE THAT EMBRACES THE CUSTOMER S POINT OF VIEW

BUILDING A CULTURE THAT EMBRACES THE CUSTOMER S POINT OF VIEW WHITEPAPER JANUARY 2017 BUILDING A CULTURE THAT EMBRACES THE CUSTOMER S POINT OF VIEW Membangun Budaya Kepemimpinan yang lebih mengutamakan sudut pandang pelanggan sebagai dasar pengambilan keputusan di

Lebih terperinci

Pengelolaan Keluhan Pelanggan/E-Complaint Dalam Perspektif Manajemen Mutu

Pengelolaan Keluhan Pelanggan/E-Complaint Dalam Perspektif Manajemen Mutu Pengelolaan Keluhan Pelanggan/E-Complaint Dalam Perspektif Manajemen Mutu Milestone Pencapaian Visi-Misi UB VISI UB Menjadi universitas unggul yang berstandar internasional dan mampu berperan aktif dalam

Lebih terperinci

Kebijakan Manajemen Risiko

Kebijakan Manajemen Risiko Kebijakan Manajemen Risiko PT Indo Tambangraya Megah, Tbk. (ITM), berkomitmen untuk membangun sistem dan proses manajemen risiko perusahaan secara menyeluruh untuk memastikan tujuan strategis dan tanggung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu perusahaan memiliki beberapa fungsi penting yang menunjang kegiatan-kegiatan yang ada. Dalam rangka mencapai visi dan misi tertentu, suatu perusahaan memiliki

Lebih terperinci

- 7 - BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam rangka meningkatkan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara, Presiden selaku Kepala Pemerintahan telah menetapkan Peraturan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisa penulis pada PT ISS Indonesia cabang Jawa Timur, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

BAB V PENUTUP. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisa penulis pada PT ISS Indonesia cabang Jawa Timur, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil pengamatan dan analisa penulis pada PT ISS Indonesia cabang Jawa Timur, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : 1. Strategi membangun loyalitas pelanggan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Karyawan merupakan aset yang paling berharga dalam perusahaan karena

BAB I PENDAHULUAN. Karyawan merupakan aset yang paling berharga dalam perusahaan karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karyawan merupakan aset yang paling berharga dalam perusahaan karena sebagai ujung tombak perusahaan sehingga praktek manajemen Sumber Daya Manusia atau SDM harus diperhatikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia (SDM) yang mendukungnya. Dunia perbankan seakan-akan sedang diuji

BAB I PENDAHULUAN. manusia (SDM) yang mendukungnya. Dunia perbankan seakan-akan sedang diuji BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Perbankan merupakan salah satu lembaga keuangan yang sangat peka dalam perkembangannya saat ini. Sebagai lembaga yang bersifat pelayanan, perbankan sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menghadapi arus globalisasi sumber daya manusia (sdm) memegang peranan yang sangat dominan dalam aktivitas atau kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam menghadapi arus globalisasi sumber daya manusia (sdm) memegang peranan yang sangat dominan dalam aktivitas atau kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam menghadapi arus globalisasi sumber daya manusia (sdm) memegang peranan yang sangat dominan dalam aktivitas atau kegiatan perusahaan. Berhasil atau tidaknya

Lebih terperinci

Kepemimpinan & Komitmen

Kepemimpinan & Komitmen Materi #4 TIN211 - Keselamatan & Kesehatan Kerja Industri Kepemimpinan & Komitmen 2 Dengan menyediakan sumber daya yang memadai. Perwujudan komitmen: Menempatkan organisasi K3 pada posisi yang dapat menentukan

Lebih terperinci

ANALISA PROSES BISNIS

ANALISA PROSES BISNIS ANALISA PROSES BISNIS Pertemuan 2: Manajemen Proses Bisnis Credit to. Mahendrawati ER, Ph.D. Outline Materi 1 1. Konsep Proses Bisnis 2. Peningkatan Kinerja 3. Dokumentasi Proses Pikirkan sebuah produk/jasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian yang semakin tidak menentu, khususnya perbankan yang termasuk

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian yang semakin tidak menentu, khususnya perbankan yang termasuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di era globalisasi ini setiap perusahaan dan industri bertahan di dalam perekonomian yang semakin tidak menentu, khususnya perbankan yang termasuk kategori

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS. publik yang dibayar melalui pajak atau pendapatan negara lain yang diatur dengan

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS. publik yang dibayar melalui pajak atau pendapatan negara lain yang diatur dengan BAB 2 TINJAUAN TEORETIS 2.1 Organisasi Sektor Publik Menurut Mahsun (2006:14) organisasi sektor publik adalah organisasi yang berhubungan dengan kepentingan umum dan penyediaan barang atau jasa kepada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Akuntabilitas kinerja organisasi sektor publik, khususnya organisasi pemerintah

I. PENDAHULUAN. Akuntabilitas kinerja organisasi sektor publik, khususnya organisasi pemerintah I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Akuntabilitas kinerja organisasi sektor publik, khususnya organisasi pemerintah baik pusat maupun daerah serta perusahaan milik pemerintah dan organisasi sektor publik

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada karyawan PT. X Bandung Jawa Barat untuk mengetahui pengaruh iklim organisai terhadap kepuasan kerja karyawan, maka dapat

Lebih terperinci

BASIC TALENT MANAGEMENT : MEMAHAMI TALENT SECARA UTUH DAN MENYELURUH OLEH MEI PURWANTO

BASIC TALENT MANAGEMENT : MEMAHAMI TALENT SECARA UTUH DAN MENYELURUH OLEH MEI PURWANTO BASIC TALENT MANAGEMENT : MEMAHAMI TALENT SECARA UTUH DAN MENYELURUH OLEH MEI PURWANTO SELAYANG PANDANG APA ITU TALENT MANAGEMENT? Talent Management/manajemen bakat : suatu proses manajemen/strategi pengelolaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. PT Pertamina (Persero) adalah dengan melakukan implementasi sistem Enterprise

BAB I PENDAHULUAN. PT Pertamina (Persero) adalah dengan melakukan implementasi sistem Enterprise BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu inisiatif besar dalam proses transformasi yang dilakukan oleh PT Pertamina (Persero) adalah dengan melakukan implementasi sistem Enterprise Resource Planning

Lebih terperinci

BAB 7 KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil Internal Control Questionnaire (ICQ) mengenai Sistem

BAB 7 KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil Internal Control Questionnaire (ICQ) mengenai Sistem 130 BAB 7 KESIMPULAN, KETERBATASAN DAN REKOMENDASI 7.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil Internal Control Questionnaire (ICQ) mengenai Sistem Pengendalian Internal Pemerintah pada Badan Kantor Pertanahan Nasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. natural gas/lng) terbesar di dunia. Berdasarkan artikel pada Harian Kompas,

BAB I PENDAHULUAN. natural gas/lng) terbesar di dunia. Berdasarkan artikel pada Harian Kompas, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Indonesia saat ini adalah negara sebagai pengekspor gas alam cair (liquefied natural gas/lng) terbesar di dunia. Berdasarkan artikel pada Harian Kompas,

Lebih terperinci

Oleh : Octiawan Basri

Oleh : Octiawan Basri Oleh : Octiawan Basri LATAR BELAKANG Pengadilan Negeri Metro Kelas IB dituntut untuk menyediakan pelayanan standar peradilan yang bermutu, yaitu pelayanan yang mampu memenuhi kebutuhan dan kepuasan pengguna

Lebih terperinci

BAB VI SIMPULAN, KETERBATASAN DAN REKOMENDASI

BAB VI SIMPULAN, KETERBATASAN DAN REKOMENDASI BAB VI SIMPULAN, KETERBATASAN DAN REKOMENDASI 1. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian manajemen perubahan pada DJPBN, maka kesimpulan yang dapat diambil adalah: 1) Dengan menggunakan analisis DICE framework,

Lebih terperinci

Independensi Integritas Profesionalisme

Independensi Integritas Profesionalisme BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA Independensi Integritas Profesionalisme VISI Menjadi lembaga pemeriksa keuangan negara yang kredibel dengan menjunjung tinggi nilainilai dasar untuk berperan

Lebih terperinci