POTENSI EKONOMI KEGIATAN DAUR ULANG SAMPAH TETRAPAK KEMASAN PRODUK PADA SEKTOR INFORMAL DI KOTA BANDUNG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "POTENSI EKONOMI KEGIATAN DAUR ULANG SAMPAH TETRAPAK KEMASAN PRODUK PADA SEKTOR INFORMAL DI KOTA BANDUNG"

Transkripsi

1 POTENSI EKONOMI KEGIATAN DAUR ULANG SAMPAH TETRAPAK KEMASAN PRODUK PADA SEKTOR INFORMAL DI KOTA BANDUNG ECONOMIC POTENTIAL OF TETRAPAK PACKAGING WASTE RECYCLING FOR THE INFORMAL SECTOR IN BANDUNG Cut Raihan 1 dan Tri Padmi Damanhuri Program Studi Teknik Lingkungan ITB, Jl. Ganesa 10 Bandung 1 Abstrak : Proses konsumsi menimbulkan produk sampingan berupa limbah atau sampah yang selanjutnya akan dibuang ke lingkungan. Jika usaha daur ulang dioptimalkan kinerjanya, dan jika masyarakat turut serta berpartisipasi dalam pemilahan dan pengumpulan sampah yang berpotensi untuk di daur ulang, maka nilai ekonomi sampah, khususnya sampah tetrapak kemasan produk dapat meningkat. Di Kota Bandung, kegiatan daur ulang sampah tetrapak kemasan produk yang terjadi dimulai dari tingkat pemulung, tukang loak, lapak hingga tingkat bandar besar. Jumlah pemulung di Kota Bandung menduduki jumlah terbesar dalam aktivitas daur ulang sampah tetrapak kemasan produk yaitu sebesar 31% dibandingkan jumlah tukang loak 8%, lapak 17%, bandar kecil 1% dan bandar besar 1 %. Hal ini disebabkan oleh keadaan ekonomi yang memburuk belakangan ini sehingga memicu tumbuhnya usaha pada sektor daur ulang sampah. Potensi ekonomi yang terdapat dalam usaha daur ulang sampah tetrapak kemasan produk pada tiap tingkatan pelaku daur ulang berbeda-beda.untuk tingkat pemulung, harga jual berkisar antara Rp.00-Rp.500/kg. Untuk tingkatan tukang loak, harga beli dan jual berkisar antara Rp.100-Rp.550/kg. Untuk tingkatan lapak harga jual dan beli berkisar antara Rp.100- Rp.600/kg. Sedangkan untuk bandar kecil dan besar harga jual dan harga beli berkisar antara Rp.150-Rp.650/kg. Selama ini potensi daur ulang sampah tetrapak kemasan produk tidak dimanfaatkan secara optimal. Secara umum hambatan yang sering ditemui oleh para pelaku daur ulang baik dari tingkat pemulung sampai bandar besar adalah rendahnya harga jual sampah tetrapak kemasan produk serta sulitnya menemukan sampah tersebut. Kata Kunci: potensi ekonomi, sampah tetrapak kemasan produk, daur ulang Abstract :. Cunsumption activities raises the consumption side products such as waste or garbage which will then be discarded to the environment. If used, recycling of product packaging tetrapak waste can be optimalized and the economic value of product packaging tetrapak waste can be increased. Recycling activities begin from the lowest level until the highest level. The lower level of recycling performers can be found in a bigger number (31%) compared to the higher level recycling agent (8%, 17%, 1% and 1%). This condition is caused by the economic situation that has worsened in several years in recent times. Economic potention consisted in recycling product packaging tetrapak varies in value. For pemulung, the price rate is about Rp.00,00- Rp.500,00/kg. For tukang loak the price rate is about Rp.100,00-Rp.550,00/kg. For lapak the price rate is about Rp.100,00-Rp.600,00/kg, and for bandar kecil and Bandar besar the price rate is about Rp.150,00-Rp.650,00/kg. We can conclude that the economic value in recycling product packaging tetrapak is quite promising. Generally, the obstruction met by the recycling performers are the low selling price of product packaging tetrapak waste and the difficulty of finding the waste. Key Words : economic potention, product packaging tetrapak waste, recycling SW4-1

2 PENDAHULUAN Dewasa ini, volume sampah di Kota Bandung mengalami kenaikan. Berdasarkan data dari PD. Kebersihan pada tahun 008, jumlah penduduk Kota Bandung jiwa, maka volume sampah domestik Kota Bandung adalah sebesar 7500 m 3 per hari. Jumlah sampah yang terangkut ke TPA oleh pihak PD Kebersihan hanya mencapai sekitar 60% saja. Hal ini dapat mengganggu kondisi kesehatan lingkungan karena sampah yang menumpuk dan tidak terangkut. Maka usaha daur ulang merupakan salah satu usaha strategis untuk mengatasi masalah ini. Pertambahan jumlah penduduk, perubahan pola konsumsi masyarakat, pertumbuhan ekonomi, perubahan pendapatan, urbanisasi, dan industrialisasi menyebabkan tingginya jumlah timbulan sampah dan menghasilkan sampah dengan jenis yang beragam (Narayana, 009). Salah satu jenis sampah tersebut adalah sampah kemasan yang berbahaya dan/atau sulit diurai oleh proses alam seperti kaleng besi, kaleng aluminium, botol kaca, kemasan plastik, kemasan kertas, dan kemasan kertas aluminium (Hsu et al., 00). Tidak adanya usaha pemisahan sampah mulai dari sumber merupakan salah satu hal yang menyebabkan menurunnya ataupun menghilangnya potensi daur ulang sampah. Dengan demikian, volume sampah yang masuk ke TPA tiap harinya menjadi besar. Pemisahan sampah biasanya dilakukan hanya oleh sektor informal seperti pemulung, tukang loak, lapak serta bandar. Mereka mengumpulkan sampah yang dianggap masih memiliki potensi daur ulang. Kegiatan ini hanya dapat mereduksi sampah dalam jumlah yang kurang signifikan karena kurangnya perhatian pihak pengelola kota. Terdapat potensi ekonomi yang cukup besar pada sektor usaha daur ulang kertas, plastik, logam, dll. Namun hingga saat ini belum banyak pihak yang mau berusaha dalam sektor ini. Dalam makalah ini akan disajikan potensi ekonomi yang belum dimanfaatkan secara optimal dari sampah, khususnya sampah kemasan yaitu sampah tetrapak kemasan produk di Kota Bandung ini beserta dengan beberapa hal lain yang berkenaan dengan sektor informal daur ulang sampah tetrapak kemasan produk ini. Daur ulang sampah merupakan salah satu strategi dalam upaya pengelolaan sampah kota berkelanjutan. Terdapat banyak alasan yang melatarbelakangi penerapan kegiatan daur ulang sampah baik di negara maju maupun negara berkembang (Bolaane, 006). Daur ulang merupakan upaya kesadaran lingkungan dan merupakan salah satu metode yang paling efektif dalam kegiatan pengelolaan sampah (Nas et al., 004). Berdasarkan hasil penelitian para ahli, kegiatan daur ulang dapat mereduksi jumlah total timbulan sampah yang ditimbun dalam tanah dan merupakan salah satu upaya konservasi sumber daya alam (Bolaane, 006). Kegiatan daur ulang tidak terlepas dari peranan para pelaku daur ulang sektor informal. Pengelola sampah sektor informal umumnya berskala kecil, termasuk usaha padat karya, tidak memiliki hak ijin usaha, dan teknologi yang diaplikasikan pun masih sederhana (Wilson et al., 006). SW4-

3 METODOLOGI Metode yang dilakukan dalam penyusunan makalah ini adalah dengan melakukan survey lapangan serta obervasi dan wawancara pada pelaku daur ulang di Kota Bandung. Data lapangan (survey), meliputi kegiatan pemulungan dan daur ulang sampah tetrapak kemasan produk (sektor informal) di tingkat pemulung hingga bandar besar. Survey ini dilakukan dalam periode bulan Oktober- Desember 009 di Kota Bandung, secara menyebar dan acak. Observasi dan wawancara dilakukan pada tiap pelaku daur ulang yang ditemui pada saat survey dengan tujuan melihat kondisi eksisting kegiatan daur ulang di Kota Bandung. Survey dilakukan dengan menggunakan daftar pertanyaan yang meliputi data-data sbb. : 1. Identitas responden. Kegiatan pengumpulan barang: Lama operasi Lokasi operasi Sumber penerimaan barang Kegiatan yang dilakukan terhadap barang daur ulang Jenis barang yang diperjual-belikan Tujuan penjualan barang Periode penjualan dan pembelian barang Besarnya massa perdagangan sampah tetrapak kemasan produk Nilai ekonomi (harga) dalam usaha jual-beli Data sekunder yang dibutuhkan adalah data persebaran jumlah TPS dan TPA di Bandung (didapat dari PD. Kebersihan), serta jumlah pelaku daur ulang eksisting Kota Bandung (didapat dari beberapa laporan tugas akhir ITB). Perhitungan dan pengolahan data meliputi pengolahan data primer hasil survey pelaku daur ulang mulai dari tingkatan pemulung dan tukang loak hingga tingkat bandar besar untuk mengetahui potensi ekonomi sampah tetrapak kemasan produk yang belum termanfaatkan secara optimal di wilayah studi Kota Bandung. HASIL DAN PEMBAHASAN Sampah tetrapak kemasan produk merupakan jenis sampah yang unik karena tidak dapat dikelompokkan menjadi sampah organik ataupun sampah nonorganik. Komposisi kertas (karton) yang mencapai 74% menyebabkan sampah ini sering dianggap sebagai organik. Namun, 6% sisanya merupakan bahan nonorganik yang dapat berdampak buruk bagi lingkungan. Selama ini para pelaku daur ulang jarang yang mengumpulkan sampah jenis ini dengan alasan harga jual kembali yang sangat murah bahkan terkadang tidak laku dan sulitnya menemukan sampah jenis ini di sumber. Mereka biasanya menggabungkan sampah tetrapak ke dalam sampah kertas khususnya duplex hanya untuk menambah massa dari duplex itu sendiri. Akan tetapi, jika dilihat dari komponen penyusun tetrapak itu sendiri, seharusnya penanganannya atau proses daur ulang tetrapak berbeda dengan jenis kertas lainnya, karena terdapat lapisan polietilen (1%) dan SW4-3

4 aluminium (5%) di dalam kemasan tetrapak. Oleh karena itu, perlu penanganan khusus untuk sampah kemasan tetrapak tersebut. Proses daur ulang sampah tetrapak kemasan produk di Kota Bandung didominasi oleh sektor informal yang terdiri dari : Pemulung, Tukang loak, Lapak serta Bandar Kecil dan Bandar Besar. Seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1. Bandar Besar Bandar Kecil Lapak Tukang Loak Pemulung Gambar 1 Tingkatan pelaku daur ulang di Kota Bandung Pemulung akan menjual barang daur ulang ke pihak tukang loak sebagai mata rantai berikutnya dalam perjalanan sampah untuk didaur ulang. Pihak tukang loak akan menjual barang pada pihak lapak. Pihak lapak akan menjual barangnya kepada pihak bandar kecil dan bandar besar. Bandar besar adalah penampung terakhir yang menjual barangnya ke pabrik atau industri daur ulang. Sumber penerimaan tiap pelaku bervariasi. Ada bandar besar yang hanya menerima pembelian dengan batasan berat minimal, namun ada juga yang menerima dari pelaku individu, loak maupun lapak. Barang-barang ini dapat diolah menjadi barang yang sama ataupun sebagai bahan baku primer ataupun sekunder untuk pembuatan barang lainnya. Tidak semua pelaku daur ulang membeli dan menjual sampah tetrapak kemasan produk. Dari 164 pelaku daur ulang yang disurvey yaitu terdiri dari 5 pemulung, 5 tukang loak, 30 lapak, dan 30 bandar, mayoritas mengumpulkan jenis sampah tetrapak ini, namun selebihnya memilih untuk mengumpulkan rongsokan lain selain kemasan tetrapak. Proporsi jumlah pelaku daur ulang mulai dari tingkat pemulung hingga tingkat bandar besar yang akan menyalurkan barang ke pihak pabrik cukup bervariasi. Berdasarkan hasil survey yang dilakukan dengan 164 sampel, diketahui bahwa perbandingan jumlah pelaku daur ulang yang beraktivitas mengumpulkan sampah tetrapak kemasan produk di Kota Bandung adalah pemulung sebanyak 38 pelaku (31%), tukang loak sebanyak 34 pelaku (8%), lapak sebanyak 1 pelaku (17%), bandar kecil sebanyak 14 pelaku (1%), dan bandar besar sebanyak 14 pelaku (1%). Dapat disimpulkan bahwa proporsi terbanyak pelaku daur ulang adalah pada pemulung dan tukang loak. Hal ini dapat dikarenakan oleh keadaan ekonomi yang memburuk pada beberapa tahun belakangan ini sehingga banyak orang memulai usahanya di bidang persampahan. Kondisi proporsi ini dapat dilihat pada Gambar berikut ini. SW4-4

5 Bandar besar (n=14) 1% Bandar kecil (n=14) 1% Lapak (n=1) 17% Pemulung (n=38) 31% Tukang Loak (n=34) 8% Pemulung (n=38) Tukang Loak (n=34) Lapak (n=1) Bandar kecil (n=14) Bandar besar (n=14) Gambar Persentase jumlah pelaku sektor informal yang mengumpulkan sampah tetrapak kemasan produk Usaha daur ulang sampah terutama sampah kertas di Kota Bandung menurut hasil survey sudah berjalan lebih dari 0 tahun. Pelaku daur ulang yang berumur lebih besar dari 0 tahun didominasi oleh bandar besar yang kemudian diikuti oleh lapak dan bandar kecil. Hal ini dikarenakan untuk membangun usaha daur ulang, makin tinggi tingkatan usahanya makin besar pula networking yang diperlukan. Banyaknya lapak yang baru mulai beroperasi ini bisa dikarenakan oleh keadaan ekonomi yang semakin tidak menentu belakangan ini dan tingginya tingkat pengangguran karena pemutusan hubungan kerja yang dilakukan oleh berbagai pihak. Berdasarkan sumber dari Dinas Tenaga Kerja Kota Bandung, jumlah pengangguran akibat PHK bertambah sekitar 000 orang tiap tahunnya. Sektor persampahan ini mungkin dianggap sebagai salah satu sektor yang cukup dapat diandalkan karena setiap hari masyarakat menghasilkan sampah dan sebagian besar sampah ini masih memiliki miliki nilai jual yang cukup tinggi. Untuk memulai usaha ini tidak dibutuhkan modal yang terlalu besar dan perputaran uang yang terjadi didalamnya pun cukup cepat. Namun kegiatan pengumpulan sampah ini memerlukan pengetahuan yang cukup, khususnya mengenai jenis-jenis sampah dan pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Pada Gambar 3 ditunjukkan lama operasi pada pelaku daur ulang yaitu lapak, bandar kecil dan bandar besar. 100% 90% % 70% 1 Persentase 60% 50% 40% 30% 0% tahun tahun tahun 5-9 tahun 0-4 tahun 10% 0% Lapak Bandar Kecil Bandar Besar Status Gambar 3 Lama operasi pelaku daur ulang sampah tetrapak kemasan produk di Kota Bandung sampai tahun 009 SW4-5

6 Pada pelaku daur ulang yang lain yaitu pemulung dan tukang loak waktu operasi mereka didasarkan pada jam kerja yang dijalani tiap hari. Tidak terdapat perbedaan yang mencolok antara keduanya. Walaupun disetiap iap rentang waktu jam kerja ini, jumlah pemulung lebih besar daripada tukang loak. Perbedaan jumlah ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya, pemulung dalam mencari barang daur ulang hanya bermodalkan karung sedangkan tukang loak bermodalkan gerobak yang memiliki daya tampung lebih besar. Lama operasi untuk masing- masing tingkatan pelaku daur ulang sampah tetrapak kemasan produk dapat dilihat pada Gambar 4. > 1 jam jam jam tukang loak pemulung Gambar 4 Jam kerja pemulung dan tukang loak Terdapat berbagai jenis kertas duplex, seperti tetrapak, karton warna, arsip warna, buku atau majalah, dan kertas pembungkus. Kertas duplex dengan massa yang paling besar ditemukan pada lapak, bandar kecil, dan bandar besar adalah jenis karton warna. Hal ini dikarenakan sumber penerimaan sampah kertas yang berbeda-beda beda pada tiap tingkatan pelaku daur ulang di Kota Bandung. Tabel 1 dan Gambar 5 menunjukkan jumlah massa dan persentase kertas duplex yang dikumpulkan di tiap tingkat pelaku daur ulang. Tabel 1 Jumlah massa kertas duplex yang dikumpulkan Jenis kertas duplex Jumlah massa kertas duplex (kg/hari) Lapak Bandar kecil Bandar besar Tetrapak Karton warna Arsip warna Buku/majalah lainnya TOTAL buku/ majalah 1% lainnya 4% tetrapak 7% tetrapak karton warna arsip warna 1% karton warna 56% arsip warna buku/majalah lainnya a. Lapak SW4-6

7 lainnya buku/ 7% majalah 17% arsip warna 9% tetrapak 1% karton warna 55% tetrapak karton warna arsip warna buku/majalah lainnya buku/ majalah 15% arsip warna % lainnya 1% tetrapak 10% karton warna 41% tetrapak karton warna arsip warna buku/majalah lainnya b. Bandar Kecil c. Bandar Besar Gambar 5 Persentase kertas duplex yang dikumpulkan Pelaku daur ulang khususnya pemulung dan tukang loak memiliki daerah kerjanya masing-masing. masing. Mereka tersebar diseluruh kecamatan Kota Bandung. Seringkali mereka mencari rongsokan sampai ke daerah yang jauh dari kecamatan tempat tinggalnya. Karena hal inilah sangat sulit mendapatkan data jumlah pemulung yang pasti di Kota Bandung. Berdasarkan asumsi jumlah pemulung 1 orang setiap TPS (Damanhuri, 005), maka dapat dilakukan perhitungan jumlah tetrapak dan kertas duplex yang dikumpulkan oleh pemulung. Sedangkan untuk tukang loak belum ada data pasti sampai saat ini. Maka untuk makalah ini, digunakan jumlah tukang loak 5 orang tiap kecamatan saja. Terlihat pada Gambar 6 dan Gambar 7. Jumlah massa (Kg./hari) jumlah tetrapak terambil jumlah duplex terambil Jumlah massa (Kg./hari) Kecamatan Gambar 6 Komposisi duplex dan tetrapak yang diambil oleh pemulung tiap kecamatan jumlah tetrapak terambil 50 jumlah duplex terambil Kecamatan Gambar 7 Komposisi duplex dan tetrapak yang diambil oleh tukang loak tiap kecamatan SW4-7

8 Tiap pelaku pasar daur ulang dari pemulung, tukang loak sampai bandar besar memiliki tingkatan harga pembelian dan penjualan yang berbeda-beda. Tingkatan harga ini jika dimulai dengan harga terendah sampai harga tertinggi yaitu pemulung, tukang loak, lapak, bandar kecil, dan bandar besar Untuk tingkat pemulung, harga beli tidak ada karena pemulung hanya mengambil sampah dan jarang membeli. Sedangkan tukang loak tidak mengambil sampah, melainkan membeli dari perumahan, kantor dan sebagainya. Agar lebih jelas, dapat dilihat pada Tabel dan Tabel 3 yang menunjukkan kisaran dan ratarata harga beli dan jual untuk sampah tetrapak kemasan produk pada pelaku daur ulang di Kota Bandung. Tabel Kisaran harga beli-jual sampah tetrapak kemasan produk No. Pelaku Daur Harga Beli Kertas Harga Jual Kertas Ulang Duplex Duplex 1 Pemulung Rp. 0,00 Rp. 00,00 Rp. 500,00 Tukang Loak Rp. 100,00 Rp. 300,00 Rp. 00,00 Rp. 550,00 3 Lapak Rp. 100,00 Rp. 400,00 Rp. 00,00 Rp. 600,00 4 Bandar Kecil Rp. 150,00 Rp. 400,00 Rp. 50,00 Rp. 500,00 5 Bandar Besar Rp. 00,00 Rp. 400,00 Rp. 300,00 Rp. 650,00 Survey mewakili 164 pelaku daur ulang di Kota Bandung Tabel 3 Rata-rata harga beli-jual sampah tetrapak kemasan produk No. Pelaku Daur Harga Beli Kertas Harga Jual Kertas Ulang Duplex Duplex 1 Pemulung Rp. 0,00 Rp. 95,00 Tukang Loak Rp. 08,00 Rp. 303,00 3 Lapak Rp. 70,00 Rp. 398,00 4 Bandar Kecil Rp. 64,00 Rp. 380,00 5 Bandar Besar Rp. 96,00 Rp. 450,00 Survey mewakili 164 pelaku daur ulang di Kota Bandung Perbedaan tingkat harga beli-jual ini juga dapat dilihat pada Gambar 8 yaitu grafik yang menunjukkan tingkatan harga jual-beli antara bandar besar besar, bandar kecil, dan lapak. Pada grafik ini dapat diketahui bahwa secara umum tingkat harga beli-jual bandar besar adalah yang tertinggi, selanjutnya diikuti oleh bandar kecil dan lapak. Harga beli-jual kertas duplex pada umumnya memiliki tingkatan yang sesuai dengan trend tersebut, namun kondisi ini dapat mengalami perubahan, bergantung pada beberapa faktor, diantaranya lokasi usaha dan tujuan penjualan, kegiatan yang dilakukan oleh pelaku, dll. Harga beli-jual kertas duplex bisa juga berubah hingga harga beli-jual lapak melebihi harga jualbeli bandar. Hal ini bisa dikarenakan harga beli-jual sedang naik-turun. Jadi bisa saja ketika survey hari ke sekian, harga yang ada sudah berbeda, jadi jika harga beli-jual suatu lapak ketika survey melebihi harga jual-beli rata-rata bandar kecil, ini berarti keadaan ekonomi saat itu sedang baik sehingga semua harga rongsokan pada hari itu mengalami kenaikan disemua tingkat pasar pelaku daur ulang, tidak hanya lapak yang disurvey saat itu. Karena itulah, harga tiap rongsokan bisa berubah setiap harinya. SW4-8

9 Harga Jual (Rp) Lapak Bandar kecil Bandar besar Linear (Lapak) Linear (Bandar kecil) Linear (Bandar besar) Harga Beli (Rp) Gambar 8 Fluktuasi harga beli-jual pelaku daur ulang sampah tetrapak kemasan produk di Kota Bandung Selisih nilai harga jual dan harga beli dapat dikonversi menjadi nilai keuntungan bagi pelaku daur ulang sampah tetrapak kemasan produk. Estimasi pendapatan setiap harinya didapat dengan mengalikan jumlah massa sampah kemasan tetrapak dengan keuntungan yang diperoleh untuk setiap kilogram sampah kemasan tetrapak. Dari setiap pelaku daur ulang, dapat dihitung keuntungan dan pendapatan yang didapatkan dari kegiatan pembelian dan penjualan sampah tetrapak kemasan produk. Keuntungan dan pendapatan pelaku daur ulang tergantung pada beberapa hal, antara lain waktu kerja/operasi, komposisi jenis sampah yang diperdagangkan serta status dari pelaku itu sendiri. Pemulung memiliki keuntungan yang paling besar, karena tidak memerlukan modal awal dalam pencarian barang rongsokan.pendapatan harian pemulung dipengaruhi oleh jam kerja, ketersediaan sampah pada daerah yang mereka lewati, ada atau tidaknya acara (misalnya acara pernikahan, pesta). Berdasarkan hasil survey terhadap 5 pemulung di Kota Bandung, diketahui rata-rata penghasilan yang didapat dari penjualan sampah tetrapak kemasan produk adalah Rp.4.071,00 per hari, dan kisaran pendapatan ke-5 pemulung yang disurvey antara Rp.50,00 Rp.1.50,00 per hari. Gambar 9 memperlihatkan pendapatan yang didapat oleh pemulung tiap harinya berdasarkan hasil survey. Rp.5.001,00- Rp.7.500,00 19% Rp.7.501,00- Rp ,00 5% > Rp ,00 % Rp.0-Rp..500,00 Rp..501,00-Rp.5.000,00 Rp.5.001,00-Rp.7.500,00 Rp.7.501,00-Rp ,00 > Rp ,00 Rp.0- Rp..500,00 33% Rp..501,00- Rp.5.000,00 41% Gambar 9 Pendapatan harian pemulung SW4-9

10 Pendapatan harian tukang loak sedikit berbeda dari pemulung. Tukang loak harus memiliki modal awal untuk membeli gerobak atau roda. Beberapa tukang loak yang ditemui mengaku bahwa mereka mempunyai pelanggan tetap dalam meyuplai barang. Biasanya pelanggan ini mau memberi keringanan pada tukang loak untuk membayar sebagian dari sampah yang dibeli, dengan catatan setelah tukang loak menjual barang dagangannya, ia melunasi sebagian pembayaran yang tertunda. Transaksi seperti ini hanya terjadi jika antar penjual barang dengan tukang loak telah terjalin kepercayaan. Berdasarkan hasil survey terhadap 5 tukang loak di Kota Bandung, diketahui rata-rata penghasilan yang didapat dari penjualan sampah tetrapak kemasan produk adalah Rp.3.309,00 per hari, dan kisaran pendapatan ke-5 tukang loak yang disurvey antara Rp.50,00 Rp.15.50,00 per hari. Gambar 10 memperlihatkan pendapatan yang didapat oleh tukang loak tiap harinya berdasarkan hasil survey. Rp.8.001,00- Rp.1.000,00 % Rp.1.001,00- Rp ,00 % > Rp ,00 % Rp.0-Rp.4.000,00 Rp.4.001,00-Rp.8.000,00 Rp.8.001,00-Rp.1.000,00 Rp.4.001,00- Rp.8.000,00 1% Rp.1.001,00-Rp ,00 > Rp ,00 Rp.0-Rp.4.000,00 8% Gambar 10 Pendapatan harian tukang loak Margin keuntungan untuk bandar lebih besar dibandingkan dengan margin keuntungan yang diperoleh pihak lapak. Perubahan harga ini ditentukan oleh pabrik. Faktor utama yang mempengaruhi fluktuasi harga rongsokan dari pabrik adalah faktor permintaan konsumen akan barang olahan pabrik tersebut. Jika permintaan konsumen sedang tinggi, pabrik memerlukan banyak rongsokan untuk diolah menjadi bahan baku yang selanjutnya diolah menjadi kertas baru untuk memenuhi kebutuhan pasar tersebut, sehingga harga rongsokan bisa naik. Sebaliknya, jika permintaan konsumen turun, pabrik jadi tidak memerlukan banyak rongsokan, sehingga harga turun. Kegiatan perdagangan kertas duplex daur ulang ini juga dipengaruhi oleh pembangunan ekonomi dalam negeri itu sendiri. Bila kegiatan pembangunan ekonomi menurun, maka produksi, pendapatan, tabungan, dan investasi akan turun. Kegiatan perusahaan berkurang. Arus barang dan jasa berkurang. Sehingga menyebabkan kegiatan perdagangan berkurang, termasuk kegiatan perdagangan bahan potensial daur ulang. Gambar 11 memperlihatkan pendapatan perhari pada lapak, bandar kecil, dan bandar besar berdasarkan hasil survey di Kota Bandung. SW4-10

11 100% % 80% % Persentase 60% 50% 40% >Rp ,00 Rp ,00-Rp ,00 Rp ,00-Rp ,00 Rp.5.001,00-Rp ,00 Rp.0-Rp.5.000,00 30% 7 0% 10% 0% lapak (n=1) bandar kecil (n=14) bandar besar (n=14) Status Gambar 11 Perbandingan tingkat pendapatan pelaku daur ulang sampah tetrapak kemasan produk di Kota Bandung KESIMPULAN Berdasarkan hasil yang diperoleh dari observasi dan wawancara terhadap 164 pelaku daur ulang, maka disimpulkan bahwa Kota Bandung terdapat potensi ekonomi daur ulang untuk sektor informal. Aliran daur ulang sampah tetrapak kemasan produk yaitu pemulung-tukang loak-lapak-bandar kecil-bandar besar. Tetapi aliran ini tidak baku, artinya pemulung/tukang loak bisa langsung menjual rongsokannya ke bandar kecil/bandar besar. Proporsi terbanyak pelaku daur ulang adalah pada tingkat pemulung sebanyak 38 pelaku (31%), dan selanjutnya tukang loak sebanyak 34 pelaku (8%), lapak sebanyak 1 pelaku (17%), bandar kecil sebanyak 14 pelaku (1%), dan bandar besar sebanyak 14 pelaku (1%). Hal ini dapat dikarenakan oleh keadaan ekonomi yang memburuk sehingga banyak orang memulai usahanya sebagai pemulung dan tukang loak karena modal yang dibutuhkan cenderung lebih sedikit dibanding modal yang dibutuhkan untuk menjadi bandar besar. Bandar besar memiliki umur operasi yang lebih panjang dibanding bandar kecil ataupun lapak. Bandar besar memiliki tingkat pendapatan tertinggi. Hal ini disebabkan besarnya kuantitas jual-beli yang dilakukannya dan juga tingkat harga jual-beli yang lebih tinggi dibanding pelaku daur ulang pada tingkatan di bawahnya. Harga jual-beli sampah tetrapak kemasan produk di tiap pelaku daur ulang bisa berubah-ubah. Perubahan harga ini ditentukan oleh pabrik. Faktor utama yang mempengaruhi fluktuasi harga rongsokan dari pabrik adalah faktor permintaan konsumen akan barang olahan pabrik tersebut. Jika permintaan konsumen tinggi, harga rongsokan bisa naik. Sebaliknya, jika permintaan konsumen turun, pabrik jadi tidak memerlukan banyak rongsokan, sehingga harga turun. Faktor lainnya yang turut mempengaruhi tingkat harga ini adalah musim. SW4-11

12 UCAPAN TERIMA KASIH ITB. Penelitian ini didanai oleh Program Hibah Kompetisi Institusi (PHKI) DAFTAR PUSTAKA Bolaane, B., 006. Constraints to Promoting People Centred Approaches in Recycling. Habitat International 30, Damanhuri, E., dan Padmi, T., 008. Pengelolaan Sampah. Bandung: Teknik Lingkungan, ITB. Faramita, Nadia Analisa Material Sampah Berpotensi Daur Ulang di Kota Bandung. Bandung : Laporan Tugas Akhir, Program Studi Teknik Lingkungan, ITB Hsu, E., Kuo, C., 00. Household Solid Waste Recycling Induced Production Values and Employment Opportunities in Taiwan. Journal of Minerals & Materials Characterization & Engineering, Vol. 1, No., Narayana, T., 009. Municipal Solid Waste Management in India: From Waste Disposal to Recovery of Resources. Journal of Waste Management 9, Nas, Peter J. M., Jaffe, R., 004. Informal Waste Management: Shifting The Focus from Problem to Potential. Environment, Development and Sustainability 6, Tchobanoglous, G., Theisen, H., dan Vigil, Samuel A. (1993). Integrated Solid Waste Management. Engineering Principles and Management Issues. Singapore: McGraw-Hill Book Co. Wilson, David C., Velis, C., Cheeseman, C., 006. Role of Informal Sector Recycling in Waste Management in Developing Countries. Habitat International 30, SW4-1

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR VISI DAN MISI VISI Meningkatkan Kebersihan dan Keindahan Kota Denpasar Yang Kreatif dan Berwawasan

Lebih terperinci

Bagian 16: Mengelola limbah

Bagian 16: Mengelola limbah Bahasa: Indonesia Versi: 2011 Bagian 16: Mengelola limbah prinsip: Prinsip 10. Pengelolaan Limbah Terpadu 2009 Rainforest Alliance Limbah di kebun Anda Limbah apa yang ada di kebun Anda? 10.1 Sampah dapur

Lebih terperinci

PEDOMAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH

PEDOMAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH B PL A PEDOMAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN SAMPAH T HD AR PRO AK VINSI DKI J KATA PENGANTAR Masalah persampahan di Provinsi DKI Jakarta sulit di tangani secara tuntas sampai saat ini. Banyak

Lebih terperinci

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT A. PENDAHULUAN Pembinaan masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah dengan melakukan perubahan bentuk perilaku yang didasarkan pada kebutuhan atas kondisi lingkungan yang bersih

Lebih terperinci

PRODUK DAUR ULANG LIMBAH

PRODUK DAUR ULANG LIMBAH PERTEMUAN MINGGU KE 17 PRODUK DAUR ULANG LIMBAH Standar Kompetensi: 4. Menganalisis hubungan antara komponen ekosistem, perubahan materi dan energi serta peranan manusia dalam keseimbangan ekosistem. Kompetensi

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH I. UMUM Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan perlunya perubahan yang

Lebih terperinci

PERAN PEREMPUAN DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL

PERAN PEREMPUAN DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL PERAN PEREMPUAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL JAKARTA A PERAN PEREMPUAN Perempuan sangat berperan dalam pendidikan

Lebih terperinci

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA Jenis : Tugas Akhir Tahun : 2008 Penulis : Soly Iman Santoso Pembimbing : Ir. Haryo

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. molding) dan pembuatan checking fixture. Injection molding/plastic molding

BAB I PENDAHULUAN. molding) dan pembuatan checking fixture. Injection molding/plastic molding BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Industri komponen otomotif di Indonesia berkembang seiring dengan perkembangan industri otomotif. Industri penunjang komponen otomotif juga ikut berkembang salah

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALAT TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENGURANGI DAMPAK LINGKUNGAN DAN MENINGKATKAN PENDAPATAN RUMAH PEMOTONGAN AYAM

PERANCANGAN ALAT TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENGURANGI DAMPAK LINGKUNGAN DAN MENINGKATKAN PENDAPATAN RUMAH PEMOTONGAN AYAM PERANCANGAN ALAT TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENGURANGI DAMPAK LINGKUNGAN DAN MENINGKATKAN PENDAPATAN RUMAH PEMOTONGAN AYAM Moses Laksono Singgih dan Mera Kariana Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi

Lebih terperinci

REKAYASA MESIN PEMILAH DAN PENGHANCUR SAMPAH OTOMATIS DENGAN SISTEM KENDALI KONTROL SEDERHANA PADA SKALA INTERNAL POLITEKNIK NEGERI BATAM

REKAYASA MESIN PEMILAH DAN PENGHANCUR SAMPAH OTOMATIS DENGAN SISTEM KENDALI KONTROL SEDERHANA PADA SKALA INTERNAL POLITEKNIK NEGERI BATAM REKAYASA MESIN PEMILAH DAN PENGHANCUR SAMPAH OTOMATIS DENGAN SISTEM KENDALI KONTROL SEDERHANA PADA SKALA INTERNAL POLITEKNIK NEGERI BATAM Fedia Restu Politeknik Negeri Batam Jln. Parkway, Batam Center,

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci : Fluktuasi kurs, Ekspor, Impor, Peramalan. iii. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata kunci : Fluktuasi kurs, Ekspor, Impor, Peramalan. iii. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Beberapa tahun terakhir ini kurs tukar IDR/USD terus mengalami fluktuasi yang tidak dapat diprediksi. Akibatnya para pelaku pasar sulit untuk menentukan pada saat kapan mereka harus melakukan ekspor

Lebih terperinci

ANALISIS BREAK EVENT SEBAGAI DASAR KEBIJAKSANAAN PENETAPAN HARGA JUAL YANG TEPAT DALAM MENGOPTIMALKAN PROFITABILITAS PADA PT. MAYA MUNCAR BANYUWANGI

ANALISIS BREAK EVENT SEBAGAI DASAR KEBIJAKSANAAN PENETAPAN HARGA JUAL YANG TEPAT DALAM MENGOPTIMALKAN PROFITABILITAS PADA PT. MAYA MUNCAR BANYUWANGI ANALISIS BREAK EVENT SEBAGAI DASAR KEBIJAKSANAAN PENETAPAN HARGA JUAL YANG TEPAT DALAM MENGOPTIMALKAN PROFITABILITAS PADA PT. MAYA MUNCAR BANYUWANGI SKRIPSI diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 tentang Persediaan disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal

Lebih terperinci

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA Lampiran IV : Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 01 Tahun 2009 Tanggal : 02 Februari 2009 KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA NILAI Sangat I PERMUKIMAN 1. Menengah

Lebih terperinci

MESIN PENGOLAH LIMBAH SAMPAH PLASTIK MENJADI BAHAN BAKAR ALTERNATIF

MESIN PENGOLAH LIMBAH SAMPAH PLASTIK MENJADI BAHAN BAKAR ALTERNATIF MESIN PENGOLAH LIMBAH SAMPAH PLASTIK MENJADI BAHAN BAKAR ALTERNATIF Hendra Prasetyo 1), Rudhiyanto 2), Ilham Eka Fitriyanto 3) 1, 2 Pendidikan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Semarang

Lebih terperinci

PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI

PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI Disusun Oleh: NANDANG FAHMI JALALUDIN MALIK NIM. J2E 009

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 34 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Posyandu wilayah binaan Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat. Puskesmas ini terletak di Jalan Angsana Raya

Lebih terperinci

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN Merry Marshella Sipahutar 1087013 Perumahan merupakan kebutuhan utama bagi manusia di dalam kehidupan untuk berlindung

Lebih terperinci

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknis ini menitik beratkan

Lebih terperinci

EVALUASI SISTEM PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA MALANG

EVALUASI SISTEM PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA MALANG PROGRAM PASCA SARJANA TEKNIK PRASARANA LINGKUNGAN PERMUKIMAN JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER EVALUASI SISTEM PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA MALANG Disusun Oleh

Lebih terperinci

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN Kelompok Kerja Edukasi Masyarakat Di Bidang Perbankan 2007 1. Pendahuluan Bank sebagai lembaga intermediasi dan pelaksana sistem pembayaran memiliki peranan

Lebih terperinci

Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada UPT. Penerbit dan Percetakan Universitas Sriwijaya Palembang

Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada UPT. Penerbit dan Percetakan Universitas Sriwijaya Palembang Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada Universitas Sriwijaya Palembang Saptalian Kurlianta (Saptalian_kurlianta@yahoo.co.id) Rizal Effendi (Rizaleffendi31@yahoo.co.id) Akuntansi

Lebih terperinci

PENENTUAN MASA SIMPAN WAFER STICK DALAM KEMASAN PLASTIK LAMINASI MAKALAH KOMPREHENSIF OLEH: TANIA MULIAWATI 6103007121

PENENTUAN MASA SIMPAN WAFER STICK DALAM KEMASAN PLASTIK LAMINASI MAKALAH KOMPREHENSIF OLEH: TANIA MULIAWATI 6103007121 PENENTUAN MASA SIMPAN WAFER STICK DALAM KEMASAN PLASTIK LAMINASI MAKALAH KOMPREHENSIF OLEH: TANIA MULIAWATI 6103007121 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA

Lebih terperinci

PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN PELAPIS (UPHOLSTERY) PADA PRODUK INTERIOR

PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN PELAPIS (UPHOLSTERY) PADA PRODUK INTERIOR PEMANFAATAN LIMBAH PLASTIK SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN PELAPIS (UPHOLSTERY) PADA PRODUK INTERIOR Yunida Sofiana Jurusan Desain Interior, Fakultas Komunikasi dan Multimedia, Universitas Bina Nusantara Jln.

Lebih terperinci

LAPORAN PENILAIAN RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KOTA CIREBON

LAPORAN PENILAIAN RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KOTA CIREBON LAPORAN PENILAIAN RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KOTA CIREBON I. PENGANTAR EHRA (Environmental Health Risk Assessment) atau Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan adalah sebuah survey partisipatif di tingkat

Lebih terperinci

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT Pengaruh Kadar Air.. Kuat Tekan Beton Arusmalem Ginting PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON Arusmalem Ginting 1, Wawan Gunawan 2, Ismirrozi 3 1 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO Judul : Dampak Pertumbuhan Industri Terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Sidoarjo SKPD : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo Kerjasama Dengan : - Latar Belakang Pembangunan

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN DALAM MELAKUKAN TRANSAKSI ONLINE

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN DALAM MELAKUKAN TRANSAKSI ONLINE PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP KONSUMEN DALAM MELAKUKAN TRANSAKSI ONLINE Oleh Ni Kadek Ariati I Wayan Suarbha Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRACT Online transactions are transactions

Lebih terperinci

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID ABSTRAK PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID Ekowati Retnaningsih dan Rini Oktariza Angka kejadian berat badan lebih pada anak usia sekolah di Indonesia mencapai 15,9%. Prevalensi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di dalam kehidupan masyarakat sangatlah dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, budaya dan faktor lainnya.

Lebih terperinci

PROGRAM BANDUNG GREEN & CLEAN 2011

PROGRAM BANDUNG GREEN & CLEAN 2011 PROGRAM BANDUNG GREEN & CLEAN 2011 Kota Bandung merupakan salah kota terbesar di Indonesia, dengan penduduknya yang padat dan perkembangan yang pesat, juga suasana kota Bandung yang menjadikan ciri khas

Lebih terperinci

Kelompok Keahlian Perencanaan dan Perancangan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB.

Kelompok Keahlian Perencanaan dan Perancangan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK), ITB. Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB Dampak Perubahan Guna Lahan Akibat Pembangunan Kampus di Wilayah Pinggiran Kota (Studi Kasus: Kampus Terpadu Universitas Islam Indonesia di

Lebih terperinci

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I 1 laporan monitoring realisasi APBD dan dana idle Tahun 2013 Triwulan I RINGKASAN EKSEKUTIF Estimasi realisasi belanja daerah triwulan I Tahun 2013 merupakan

Lebih terperinci

Kerjasama Dalam Sentra UKM

Kerjasama Dalam Sentra UKM B A B Kerjasama Dalam Sentra UKM T ingkat Kerjasama dan Keberadaan Kelompok menjadi salah satu pemicu peningkatan aktivitas di dalam sentra. Hal ini menunjukkan dukungan pada pendekatan JICA yang mensyaratkan

Lebih terperinci

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi Bab1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi manajemen, menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara A. Dasar Pemikiran Sejak satu dasawarsa terakhir masyarakat semakin

Lebih terperinci

PELAKSANAAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI SURAKARTA

PELAKSANAAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI SURAKARTA PELAKSANAAN ASAS SEDERHANA, CEPAT DAN BIAYA RINGAN DALAM PEMERIKSAAN PERKARA PERDATA DI PENGADILAN NEGERI SURAKARTA Disusun dan Diajukan untuk Melengkapi Tugas-tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Derajad

Lebih terperinci

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati Kebutuhan pangan selalu mengikuti trend jumlah penduduk dan dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan per kapita serta perubahan

Lebih terperinci

PEMASARAN RITEL PRODUK PERKEBUNAN

PEMASARAN RITEL PRODUK PERKEBUNAN PEMASARAN PEMASARAN RITEL PRODUK PERKEBUNAN Budi Rahardjo Tenaga Profesional LPP Yogyakarta S alah satu fungsi utama bisnis adalah pemasaran ( marketing) yang peran utamanya adalah memindahkan produk yang

Lebih terperinci

PENYESUAIAN DIRI di LINGKUNGAN SOSIAL OLEH REMAJA PUTUS SEKOLAH

PENYESUAIAN DIRI di LINGKUNGAN SOSIAL OLEH REMAJA PUTUS SEKOLAH PENYESUAIAN DIRI di LINGKUNGAN SOSIAL OLEH REMAJA PUTUS SEKOLAH SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan program sarjana (S1) pada program studi psikologi Disusun Oleh : Nama : Friska

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN TRANSPORTASI PERKOTAAN YANG RENDAH KARBON: PERBANDINGAN KASUS KOTA JAKARTA, YOGYAKARTA DAN SEMARANG

PENGEMBANGAN TRANSPORTASI PERKOTAAN YANG RENDAH KARBON: PERBANDINGAN KASUS KOTA JAKARTA, YOGYAKARTA DAN SEMARANG Pengembangan Transportasi Perkotaan yang Rendah Karbon: Perbandingan Kasus Kota Jakarta, Yogyakarta dan Semarang, (Agus Sugiyono, M.S. Boedoyo, M. Muchlis, Erwin Siregar dan Suryani) PENGEMBANGAN TRANSPORTASI

Lebih terperinci

green gauge Visi AECI adalah untuk menjadi penyedia bahan kimia dan penyedia jasa tambang pilihan bagi para pelanggan.

green gauge Visi AECI adalah untuk menjadi penyedia bahan kimia dan penyedia jasa tambang pilihan bagi para pelanggan. green gauge AECI menyadari bahwa beroperasi pada berbagai sektor yang luas memiliki dampak yang besar terhadap lingkungan dan oleh karena itu ikut berkontribusi terhadap dampak perubahan iklim. Oleh karenanya

Lebih terperinci

KAJIAN NILAI TAMBAH PRODUK AGRIBISNIS KEDELAI PADA USAHA ANEKA TAHU MAJU LESTARI DI KECAMATAN LANDASAN ULIN, KOTA BANJARBARU

KAJIAN NILAI TAMBAH PRODUK AGRIBISNIS KEDELAI PADA USAHA ANEKA TAHU MAJU LESTARI DI KECAMATAN LANDASAN ULIN, KOTA BANJARBARU KAJIAN NILAI TAMBAH PRODUK AGRIBISNIS KEDELAI PADA USAHA ANEKA TAHU MAJU LESTARI DI KECAMATAN LANDASAN ULIN, KOTA BANJARBARU STUDY ON ADDED VALUE OF SOYBEAN AGRIBUSINESS PRODUCT AT MAJU LESTARI TOFU INDUSTRY

Lebih terperinci

KONSEP PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN PERUMAHAN BTN BAUMATA, KOTA KUPANG

KONSEP PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN PERUMAHAN BTN BAUMATA, KOTA KUPANG TESIS KONSEP PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS LINGKUNGAN PERUMAHAN BTN BAUMATA, KOTA KUPANG ROLIVIYANTI JAMIN 3208201833 DOSEN PEMBIMBING Ir. Purwanita S, M.Sc, Ph.D Dr. Ir. Rimadewi

Lebih terperinci

PASAR BUKU TULIS DI ARAB SAUDI. 1. Pendahuluan

PASAR BUKU TULIS DI ARAB SAUDI. 1. Pendahuluan PASAR BUKU TULIS DI ARAB SAUDI 1. Pendahuluan Pasar buku tulis Arab Saudi berkembang pesat sejalan perkembangan sektor pendidikan dan bisnis. Sektor pendidikan dan bisnis memperoleh perhatian besar dari

Lebih terperinci

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN a. Pada akhir Repelita V tahun 1994, 36% dari penduduk perkotaan Indonesia yang berjumlah 67 juta, jiwa atau 24 juta jiwa, telah mendapatkan sambungan air

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK 45 ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK Perilaku konsumen dalam mengkonsumsi dangke dipengaruhi oleh faktor budaya masyarakat setempat. Konsumsi dangke sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan bersifat turun

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR TAHUN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2013 KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN PEMALANG

LAPORAN AKHIR TAHUN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2013 KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN PEMALANG LAPORAN AKHIR TAHUN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2013 KANTOR LINGKUNGAN HIDUP DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Kesesuaian Perencanaan

Lebih terperinci

KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG

KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG Yovita Vivianty Indriadewi Atmadjaja Dosen Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi ABSTRAKSI Salah satu konsep

Lebih terperinci

PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI. Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI

PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI. Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI Elemen Kompetensi III Elemen Kompetensi 1. Menjelaskan prinsip-prinsip konservasi energi 2. Menjelaskan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula.

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula. 40 BAB III METODE PENELITIAN Metodologi penelitian dalam suatu penelitian sangat penting, sebab dengan menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula. Artinya apabila seseorang

Lebih terperinci

ABSTRAK. Pengaruh Tindak Lanjut Rekomendasi Audit Internal Bidang Kredit Investasi. Terhadap Tingkat Non Performing Loans (NPL)

ABSTRAK. Pengaruh Tindak Lanjut Rekomendasi Audit Internal Bidang Kredit Investasi. Terhadap Tingkat Non Performing Loans (NPL) ABSTRAK Pengaruh Tindak Lanjut Rekomendasi Audit Internal Bidang Kredit Investasi Terhadap Tingkat Non Performing Loans (NPL) Permasalahan kredit bermasalah merupakan masalah serius yang masih menghantui

Lebih terperinci

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG (Studi Kasus di II Desa Gunungrejo Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan) Ista Yuliati 1, Zaenal Fanani 2 dan Budi Hartono 2 1) Mahasiswa Fakultas

Lebih terperinci

ABSTRAK. PERANAN PENGENDALIAN PRODUKSI DALAM MENUNJANG TERPENUHINYA PESANAN (Studi kasus pada PT. Sari Keramik Indonesia)

ABSTRAK. PERANAN PENGENDALIAN PRODUKSI DALAM MENUNJANG TERPENUHINYA PESANAN (Studi kasus pada PT. Sari Keramik Indonesia) ABSTRAK PERANAN PENGENDALIAN PRODUKSI DALAM MENUNJANG TERPENUHINYA PESANAN (Studi kasus pada PT. Sari Keramik Indonesia) Seiring dengan semakin ketatnya dunia usaha, maka perusahaan dituntut untuk dapat

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUH PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEHTAHUN 2012

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUH PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEHTAHUN 2012 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUH PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEHTAHUN Aulia Andarnita Mahasiswa S Kesehatan Masyarakat U budiyah

Lebih terperinci

KONSEP PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG KONSERVASI BAHAN GALIAN

KONSEP PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG KONSERVASI BAHAN GALIAN KONSEP PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG KONSERVASI BAHAN GALIAN Oleh Teuku Ishlah dan Mangara P.Pohan Subdit Konservasi Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral Pendahuluan

Lebih terperinci

PENERAPAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UU NOMOR 28 TAHUN 2009 TERKAIT BBM BERSUBSIDI

PENERAPAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UU NOMOR 28 TAHUN 2009 TERKAIT BBM BERSUBSIDI PENERAPAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UU NOMOR 28 TAHUN 2009 TERKAIT BBM BERSUBSIDI 1. Permasalahan Penerapan aturan PBBKB yang baru merupakan kebijakan yang diperkirakan berdampak

Lebih terperinci

STUDI PRAKTEK ESTIMASI BIAYA TIDAK LANGSUNG PADA PROYEK KONSTRUKSI

STUDI PRAKTEK ESTIMASI BIAYA TIDAK LANGSUNG PADA PROYEK KONSTRUKSI Konferensi Nasional Teknik Sipil 4 (KoNTekS 4) Sanur-Bali, 2-3 Juni 2010 STUDI PRAKTEK ESTIMASI BIAYA TIDAK LANGSUNG PADA PROYEK KONSTRUKSI Biemo W. Soemardi 1 dan Rani G. Kusumawardani 2 1 Kelompok Keahlian

Lebih terperinci

AKIBAT KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRANSFORMATOR DISTRIBUSI

AKIBAT KETIDAKSEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARUS NETRAL DAN LOSSES PADA TRANSFORMATOR DISTRIBUSI AKIBAT KETIDAKEIMBANGAN BEBAN TERHADAP ARU NETRAL DAN LOE PADA TRANFORMATOR DITRIBUI Moh. Dahlan 1 email : dahlan_kds@yahoo.com surat_dahlan@yahoo.com IN : 1979-6870 ABTRAK Ketidakseimbangan beban pada

Lebih terperinci

ANALISIS PERTUMBUHAN TIGA KULTIVAR KACANG TUNGGAK GROWTH ANALYSIS OF THREE COWPEA CULTIVARS

ANALISIS PERTUMBUHAN TIGA KULTIVAR KACANG TUNGGAK GROWTH ANALYSIS OF THREE COWPEA CULTIVARS Ilmu Pertanian Vol. 11 No.1, 2004 : 7-12 ANALISIS PERTUMBUHAN TIGA KULTIVAR KACANG TUNGGAK ABSTRACT GROWTH ANALYSIS OF THREE COWPEA CULTIVARS Anna Fitri Astuti 1, Nasrullah 2 dan Suyadi Mitrowihardjo 2

Lebih terperinci

BAB IV DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT

BAB IV DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT BAB IV DISTRIBUSI PENDAPATAN MASYARAKAT Pendapatan masyarakat yang merata, sebagai suatu sasaran merupakan masalah yang sulit dicapai, namun jabatan pekerjaan, tingkat pendidikan umum, produktivitas, prospek

Lebih terperinci

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes ABSTRAK EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL LDL DAN PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA Ronauly V. N, 2011,

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign BAB II URAIAN TEORI A. Penelitian Terdahulu Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign Exchange Exposure pada Bank-Bank yang Go Public di Bursa Efek Jakarta menunjukkan adanya foreign

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian BAB III METODE PENELITIAN III.1 Pendekatan Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian yang diteliti sehingga

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK REPRODUKSI KERBAU RAWA DALAM KONDISI LINGKUNGAN PETERNAKAN RAKYAT ABSTRAK

KARAKTERISTIK REPRODUKSI KERBAU RAWA DALAM KONDISI LINGKUNGAN PETERNAKAN RAKYAT ABSTRAK BIOSCIENTIAE Volume 2, Nomor 1, Januari 2005, Halaman 43-48 http://bioscientiae.tripod.com KARAKTERISTIK REPRODUKSI KERBAU RAWA DALAM KONDISI LINGKUNGAN PETERNAKAN RAKYAT UU. Lendhanie Program Studi Ternak,

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - 1 LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 TRIWULAN III KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin

Lebih terperinci

Faktor-faktor Penentu dalam Pemilihan Jenis Kontrak Untuk Proyek Pembangunan Gedung Pertokoan. M. Ikhsan Setiawan, ST, MT

Faktor-faktor Penentu dalam Pemilihan Jenis Kontrak Untuk Proyek Pembangunan Gedung Pertokoan. M. Ikhsan Setiawan, ST, MT Faktor Penentu Pemilihan Kontrak Proyek Gedung (M. Ikhsan S) 49 Faktor-faktor Penentu dalam Pemilihan Jenis Kontrak Untuk Proyek Pembangunan Gedung Pertokoan M. Ikhsan Setiawan, ST, MT ABSTRAK Dalam pelelangan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Dalara suatu penelitian ilmiah salah satu unsur yang cukup penting adalah

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Dalara suatu penelitian ilmiah salah satu unsur yang cukup penting adalah BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Penelitian Dalara suatu penelitian ilmiah salah satu unsur yang cukup penting adalah metodologi karena ketepatan metodologi yang digunakan untuk memecahkan

Lebih terperinci

Analisis Dana Pihak Ketiga, Kredit Bermasalah, dan Laba (Studi Kasus PT Bank X Tbk)

Analisis Dana Pihak Ketiga, Kredit Bermasalah, dan Laba (Studi Kasus PT Bank X Tbk) 96 Analisis Dana Pihak Ketiga, Kredit Bermasalah, dan Laba (Studi Kasus PT Bank X Tbk) Heni Rohaeni Departemen Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor Wita Juwita Ermawati Departemen

Lebih terperinci

BADAN PUSAT STATISTIK

BADAN PUSAT STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK KEBUTUHAN DATA KETENAGAKERJAAN UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN OLEH: RAZALI RITONGA DIREKTUR STATISTIK KEPENDUDUKAN DAN KETENAGAKERJAAN BADAN PUSAT STATISTIK Pokok bahasan Latar Belakang

Lebih terperinci

PANDUAN PENULISAN KARYA TULIS DOSEN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

PANDUAN PENULISAN KARYA TULIS DOSEN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN PANDUAN PENULISAN KARYA TULIS DOSEN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN PERPUSTAKAAN JOHANNES OENTORO UNIVERSITAS PELITA HARAPAN KARAWACI 2009 KATA PENGANTAR Sebagai salah satu persyaratan dalam kenaikan jenjang

Lebih terperinci

EEP Biogas Project. Biogas Project in Selat Panjang, Kep. Meranti

EEP Biogas Project. Biogas Project in Selat Panjang, Kep. Meranti EEP Biogas Project Biogas Project in Selat Panjang, Kep. Meranti Agenda 1. Profile of Kepulauan Meranti 2. Why We Chose Selat Panjang 3. Energy Potential in Selat Panjang 4. Profile of SaraRasa Biomass

Lebih terperinci

Tata Guna Lahan Perkotaan dan Pedesaan. Salmina W Ginting, ST., MT.

Tata Guna Lahan Perkotaan dan Pedesaan. Salmina W Ginting, ST., MT. Tata Guna Lahan Perkotaan dan Pedesaan Salmina W Ginting, ST., MT. Perbedaan Karakteristik Tanah perkotaan Tanah Perdesaan Jalur transportasi + - Fasilitas Umum + - Kegiatan Pertanian - + Jaringan Infrastruktur

Lebih terperinci

SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM

SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM DEFINIISI Tempat tempat umum adalah : suatu tempat dimana orang banyak berkumpul untuk melakukan kegiatan baik secara insidentil maupun secara terus menerus. Mengingat banyaknya

Lebih terperinci

ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG

ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG bidang TEKNIK ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG MOHAMAD DONIE AULIA, ST., MT Program Studi Teknik Sipil FTIK Universitas Komputer Indonesia Pembangunan pada suatu

Lebih terperinci

Hal-hal yang Perlu dipahami dalam Trading

Hal-hal yang Perlu dipahami dalam Trading Hal-hal yang Perlu dipahami dalam Trading By admin. Filed in forex online, investasi, marketiva indonesia, trading indeks, trading komoditi, trading valas online Forex atau Foreign Exchange atau biasa

Lebih terperinci

PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL. Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT?

PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL. Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT? PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT? JAWAB (J-01) : RUST COMBAT bekerja melalui khelasi (chelating) secara selektif. Yaitu proses di mana molekul sintetik yang

Lebih terperinci

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM DAS Bengawan Solo merupakan salah satu DAS yang memiliki posisi penting di Pulau Jawa serta sumber daya alam bagi kegiatan sosial-ekonomi

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat

III. METODOLOGI PENELITIAN. (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat menggunakan

Lebih terperinci

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: / / Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Suatu perusahaan, baik perusahaan dagang maupun perusahaan industri,

BAB I PENDAHULUAN. Suatu perusahaan, baik perusahaan dagang maupun perusahaan industri, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Suatu perusahaan, baik perusahaan dagang maupun perusahaan industri, didirikan dengan tujuan untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya dan disertai dengan

Lebih terperinci

Teknik Untuk Melakukan Analisa Pasar

Teknik Untuk Melakukan Analisa Pasar Module: 3 Revised: CIPSED Project State University of Gorontalo [UNG] Entrepreneurship ToT Program Teknik Untuk Melakukan Analisa Pasar Canada Indonesia Private Sector Enterprise Development [CIPSED] Project

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN REDUCE, REUSE, DAN RECYCLE MELALUI BANK SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI DAN VERIFIKASI TANDA TANGAN STATIK MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION DAN ALIHRAGAM WAVELET

IDENTIFIKASI DAN VERIFIKASI TANDA TANGAN STATIK MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION DAN ALIHRAGAM WAVELET TESIS IDENTIFIKASI DAN VERIFIKASI TANDA TANGAN STATIK MENGGUNAKAN BACKPROPAGATION DAN ALIHRAGAM WAVELET ROSALIA ARUM KUMALASANTI No. Mhs. : 135302014/PS/MTF PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK INFORMATIKA PROGRAM

Lebih terperinci

KONSEP OPTIMALISASI BUILDING PERFORMANCE DALAM PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA Lokasi Studi : Rumah Susun Sukaramai, Medan

KONSEP OPTIMALISASI BUILDING PERFORMANCE DALAM PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA Lokasi Studi : Rumah Susun Sukaramai, Medan KONSEP OPTIMALISASI BUILDING PERFORMANCE DALAM PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA Lokasi Studi : Rumah Susun Sukaramai, Medan By : ROBINHOT JEREMIA LUMBANTORUAN 3208201816 LATAR BELAKANG Rumah susun sebagai

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Produk merupakan hasil dari kegiatan produksi yang berwujud barang.

I. PENDAHULUAN. Produk merupakan hasil dari kegiatan produksi yang berwujud barang. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Produk merupakan hasil dari kegiatan produksi yang berwujud barang. Produk mempengaruhi kepuasan konsumen karena merupakan sesuatu yang ditawarkan ke pasar untuk memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sadar bahwa mereka selalu mengandalkan komputer disetiap pekerjaan serta tugastugas

BAB I PENDAHULUAN. sadar bahwa mereka selalu mengandalkan komputer disetiap pekerjaan serta tugastugas BAB I PENDAHULUAN A. Latar-Belakang Keunggulan komputer berupa kecepatan dan ketelitiannya dalam menyelesaikan pekerjaan sehingga dapat menekan jumlah tenaga kerja, biaya serta memperkecil kemungkinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses berkembangnya suatu kota baik dalam aspek keruangan, manusia dan aktifitasnya, tidak terlepas dari fenomena urbanisasi dan industrialisasi. Fenomena seperti

Lebih terperinci

Mochamad Nurcholis, STP, MP. Food Packaging and Shelf Life 2013

Mochamad Nurcholis, STP, MP. Food Packaging and Shelf Life 2013 Mochamad Nurcholis, STP, MP Food Packaging and Shelf Life 2013 OVERVIEW TRANSFER PANAS (PREDIKSI REAKSI) TRANSFER PANAS (PLOT UMUR SIMPAN PENDEKATAN LINEAR) TRANSFER PANAS (PLOT UMUR SIMPAN PENDEKATAN

Lebih terperinci

Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa :

Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa : ISI FORM D *Semua Informasi Wajib Diisi *Mengingat keterbatasan memory database, harap mengisi setiap isian dengan informasi secara general, singkat dan jelas. A. Uraian Kegiatan Deskripsikan Latar Belakang

Lebih terperinci

ACE LIFE DAN BANK CTBC LUNCURKAN EMPAT PRODUK BANCASSURANCE

ACE LIFE DAN BANK CTBC LUNCURKAN EMPAT PRODUK BANCASSURANCE 1 Press Statement UNTUK DISIARKAN SEGERA Kontak Media: Priska Rosalina +62 21 2356 8888 priska.rosalina@acegroup.com ACE LIFE DAN BANK CTBC LUNCURKAN EMPAT PRODUK BANCASSURANCE Jakarta, 19 Juni 2014 PT

Lebih terperinci

BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING

BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING II.1. Harga Jual Penentuan harga jual suatu produk atau jasa merupakan salah satu keputusan penting manajemen karena harga yang ditetapkan

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I 1 KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin diwujudkan dalam pengelolaan APBD. Untuk mendorong tercapainya tujuan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh penyerapan

Lebih terperinci

REFRAKTORI ( BATU TAHAN API )

REFRAKTORI ( BATU TAHAN API ) REFRAKTORI ( BATU TAHAN API ) DEPARTEMEN METALURGI DAN MATERIAL UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS TEKNIK 2008 REFRAKTORI (BATU TAHAN API) Tujuan Pengajaran Memahami material refraktori, teknologi pembuatannya

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK INVESTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN OLEH SEKTOR INDUSTRI

IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK INVESTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN OLEH SEKTOR INDUSTRI IDENTIFIKASI BENTUK-BENTUK INVESTASI PENGELOLAAN LINGKUNGAN OLEH SEKTOR INDUSTRI (Studi Kasus: PT Coca Cola Bottling Indonesia Divisi Jawa Tengah, PT. Leo Agung Raya, PT Djarum Kudus, dan Sentra Industri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan pekerja dan akhirnya menurunkan produktivitas. tempat kerja harus dikendalikan sehingga memenuhi batas standard aman,

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan pekerja dan akhirnya menurunkan produktivitas. tempat kerja harus dikendalikan sehingga memenuhi batas standard aman, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tempat kerja merupakan tempat dimana setiap orang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun keluarga yang sebagian besar waktu pekerja dihabiskan

Lebih terperinci