MENJADI BESAR ATAU FOKUS KE SATU PROYEK

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MENJADI BESAR ATAU FOKUS KE SATU PROYEK"

Transkripsi

1 IRFAN SETIAPUTRA, CEO PT CIPTA KRIDATAMA MENJADI BESAR ATAU FOKUS KE SATU PROYEK

2 EET EET Q & A - BEST & WORST - TIPS - OPINION Bisnis tambang batubara sedang mengalami penurunan sejak diberlakukannya Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 49/M-DAG/PER/8/2014 tentang Ketentuan Ekspor Batubara dan Produk Batubara. Apalagi, saat ini Harga Batubara Acuan (HBA) juga terus menurun. Tentunya, hal itu membuat para pemain di bisnis ini, baik itu pemilik tambang atau pun operator harus mengencangkan ikat pinggang agar tetap bisa berproduksi. Salah satu pemain di bisnis kontraktor batubara adalah Cipta Kridatama (CK). Perusahaan ini termasuk dalam lima besar kontraktor pertambangan batubara dan menjadi salah pemain yang diperhitungkan di bisnis batubara. Perusahaan ini merupakan bagian dari Trakindo Utama yang memegang distribusi alat berat merek Caterpillar di Indonesia. Bagaimana kondisi terkini dalam bisnis penambangan batubara? Berikut petikan wawancara Irfan Setiaputra, CEO PT Cipta Kridatama dengan Ign. Eko Adiwaluyo dari Marketeers. Bagaimana kondisi bisnis batubara setelah penerapan UU Minerba? UU Minerba memang lebih fokus mengatur mineral karena selama ini kita mengekspor secara mentah atau tidak diolah terlebih dahulu. Nilai mineral ini bila diolah akan lebih tinggi dibandingkan mentahannya. Sedangkan batubara, setelah ditambang biasanya langsung dipakai oleh pembangkit listrik. Jadi, tidak perlu diolah terlebih dulu. Permasalahannya hanya ada di kualitas batubara tersebut. Namun, bukan berarti bisnis batubara bebas dari pengaturan. Ada Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 49/M-DAG/PER/8/2014 tentang Ketentuan Ekspor Batubara dan Produk Batubara yang baru berlaku 1 Oktober Dalam Permendag tersebut, pengusaha batu bara harus berstatus sebagai eksportir terdaftar (ET) untuk dapat mengekspor komoditasnya setelah melengkapi persyaratan yang ada. Di antaranya, melampirkan dokumen pembayaran pajak maupun bukti pelunasan pembayaran royalti atau penerimaan negara bukan pajak (PNBP). Kemudian, ada pembatasan ekspor yang sedikit banyak berpengaruh pada bisnis ini. Apakah aturan ini membuat aktivitas penambangan terganggu? Memang, sejauh ini penambangan tetap jalan, namun secara c o perusahaan menjadi terganggu. Selain itu, batubara itu adalah komoditas yang Harga Batubara Acuan (HBA) mengacu pada pada ratarata empat indeks harga batu bara, yakni Indonesia Coal Index, Platts, New Castle Export Index, dan New Castle Global Coal Index. Pada Oktober ini, HBA berada di bawah US$ 70 per ton. Padahal, dua-tiga tahun lalu HBA bisa mencapai US$ 120 per ton. Artinya, yang bisa hidup itu adalah tambang batubara yang memiliki skala produksi cukup untuk memberikan margin keuntungan. Nah, terkait MEA 2015, saya sama sekali tidak khawatir soal masuknya SDM dari negara sekitar karena kita berada di area yang kita kuasai. Di wilayah ASEAN ini, lulusan-lulusan terbaik sarjana tambang, ya, berasal dari Indonesia. Soal kedisiplinan pun sekarang SDM kita sudah teruji. Apa dampak langsung ke para kontraktor tambang seperti Cipta Kridatama? Tentu saja dampaknya tidak menggembira kan bagi para kontraktor. Untuk bertahan hidup harus menekan biaya ketika mengambil atau menambang batubara. Termasuk juga di proses-proses lainnya, seperti mengangkut batubara ke o e e e. Proses penambangan hingga pe ngiriman, bisa dilakukan oleh satu kontraktor, tapi bisa juga dilakukan oleh kontraktror yang berbeda. Tergantung kesepakatan dengan pemilik tambang. Di sisi lain, batubara itu tidak bisa diolah agar memiliki nilai tambah. Kalau bicara batubara, ya, hanya soal kualitas. Mau bentuknya seperti apa, orang tidak peduli, o akhirnya juga akan dibakar. Artinya, upaya paling memungkinkan itu, ya, hanyalah menekan biaya. Bagaimana persaingan di antara para kontraktor dengan adanya kondisi tersebut di atas? Memang, bisa dikatakan persaingan menjadi sangat ketat. Namun, yang mengkhawatirkan lagi adalah tersisihnya para operator tambang menengah. Sekarang ini, mulai terjadi kondisi para pemilik tambang yang melakukan penambangan sendiri. Mereka membeli alat, membayar orang, hingga mengangkut batubara sendiri. Lalu, ada operator menengah yang mengelola satu-dua tambang saja. Lalu, ada operator tambang besar yang memiliki banyak proyek besar dengan skala produksi besar. Nah, dengan kondisi tersebut di atas akan tercipta ekulibrium bawah yang hanya menyisakan pemain atas dan bawah. Sedangkan yang di tengah-tengah akan tersingkir. Hal yang sama terjadi di dunia telepon seluler ketika di papan atas dikuasai Apple dan Samsung, papan bawah didominasi merek lokal, maka Nokia yang ada di tengah pun terpuruk. Pilihannnya, menjadi besar sekalian atau fokus ke satu proyek. Bagaimana posisi Cipta Kridatama sekarang ini? Bisa dikatakan, kami sekarang berada di lima kontraktor batubara terbesar di Indonesia. Ukurannya bukan dari e e e semata. Lebih dari itu, karena kami di back- oleh Trakindo dengan Caterpillar yang produknya juga dipakai oleh kompetitor kami. Artinya, sebagai perusahaan yang menjadi bagian dari grup besar, kami bisa melakukan hal lain yang tidak bisa dilakukan pesaing. Meskipun kami bukan yang terbesar, namun kami termasuk yang diperhitungkan. Kemudian, dari hasil kerja di lapangan, kami bisa memberikan safety. Bahkan, tahun ini Cipta Kridatama memperoleh penghargaan dari Menteri ESDM, yakni Trophy Mine Safety Award Apakah ini menjadi competitive advantage yang membuat Cipta Kridatama lebih mudah mendapat klien? Dengan menjadi bagian dari Trakindo yang membawa Caterpillar memang 040 // NOV2014 // THE - MARKETEERS. COM

3 membuat kami memiliki co e i i e e yang harus kami c i e Namun, bukan berarti membuat kami gampang mendapatkan klien. Sebab, dengan c o kami yang sudah tersebut di atas membuat harga kami pun menjadi lebih mahal. Walaupun harga kami lebih mahal, tapi bila dilihat lebih detil dalam proses produksi, hasilnya sebanding. Harga yang kami tawar kan itu membawa sebuah kualitas. Dan, di bisnis ini, kualitas alat itu nomor satu karena harus bekerja 24 jam. Bayangkan bila alat tiba-tiba berhenti, berapa o e i o yang harus ditanggung? Belum lagi, biaya perbaikan alat yang harus dilakukan di tengah hutan. Bagaimana dampak Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 di sektor penambangan batubara, terutama di bidang SDM? Di awal-awal industri ini berkembang, orang Barat memang mendominasi. Namun, sekarang ini orang kita sudah bersaing dengan mereka. Nah, terkait MEA 2015, saya sama sekali tidak khawatir soal masuknya Sumber Daya Manusia (SDM) dari negara sekitar karena kita berada di area yang kita kuasai. Di wilayah ASEAN ini, lulusan-lulusan terbaik sarjana tambang, ya, berasal dari Indonesia. Soal kedisiplinan pun sekarang SDM kita sudah teruji. Latar belakang Anda adalah teknologi, bagaimana bisa masuk dunia tambang? Saya memang bukan orang tambang, tapi kebetulan punya banyak teman di dunia ini. Jujur saja, sebelum masuk ke dunia tambang, saya sedang mengalami kebosanan dengan dunia IT. Kebetulan, ada teman yang menawari untuk kerja di dunia tambang. Saya pikir-pikir kenapa tidak diambil, o keputusan itu tepat atau tidak, ya dijalani saja. Siapa tahu juga nantinya saya kembali ke dunia IT. Memang, di awal-awal masuk tambang, orang-orang yang kenal saya bilang, oe i masuk ke tambang,, baru terpuruk?. Waktu saya masuk, batubara baru terpuruk, dan sekarang lebih terpuruk lagi. Intinya, ya, keputusan itu benar atau tidak, biar waktu yang menjawab yang terpenting keputusan itu kita e. Apakah kemampuan IT Anda ditujukan untuk melakukan efisiensi? Kalau tugas dari komisaris itu sederhana saja. Dapatkan keuntungan, c o yang membaik, dan kembangkan bisnis. Nah, untuk mendapatkan keuntungan itu produktivitas harus ditingkatkan sambil eningkatkan efisiensi. elakukan efisiensi itu bukan selalu menekan co atau bahkan mengurangi SDM, tapi bekerja dengan lebih baik. Teknologi bisa membantu dalam upaya bekerja lebih baik tersebut. Bagaimana optimisme para pemain di sektor batubara? Mungkin beberapa bulan setelah pelantikan presiden baru akan ada sedikit kegaduhan. Meskipun begitu, saya rasakan semua pemain optimistis melihat tahun depan. Semua orang bicara akan meningkatkan kapasitas produksi. THE-MARKETEERS.COM // NOV 2014 // 041

Survei Ekonomi OECD INDONESIA

Survei Ekonomi OECD INDONESIA Survei Ekonomi OECD INDONESIA MARET 2015 IKHTISAR The quality of the translation and its coherence with the original language text of the work are the sole responsibility of the author(s) of the translation.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH )

UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH ) UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2006 DAN UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN ( DALAM SATU NASKAH ) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

Tata Guna Lahan di Kalimantan Tengah

Tata Guna Lahan di Kalimantan Tengah Pangan, Bahan Bakar, Serat dan Hutan Tata Guna Lahan di Kalimantan Tengah Menyatukan tujuan pembangunan dan keberlanjutan untuk optimalisasi lahan CIFOR Dialog Hutan (The Forests Dialogue/TFD), Maret 2014

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14

DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14 1 P a g e 2 P a g e Daftar Isi DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14 1.1. Latar Belakang...14 1.2. Perumusan Masalah...16

Lebih terperinci

Pangan untuk Indonesia

Pangan untuk Indonesia Pangan untuk Indonesia Tantangan Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menjamin ketahanan pangan bagi penduduknya. Indikator ketahanan pangan juga menggambarkan kondisi yang cukup baik. Akan

Lebih terperinci

Iklim Usaha di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU): Kajian Kondisi Perekonomian dan Regulasi Usaha

Iklim Usaha di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU): Kajian Kondisi Perekonomian dan Regulasi Usaha Menuju Kebijakan Promasyarakat Miskin melalui Penelitian Iklim Usaha di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU): Kajian Kondisi Perekonomian dan Regulasi Usaha Deswanto Marbun, Palmira Permata Bachtiar, & Sulton

Lebih terperinci

Untuk mewujudkan kesejahteraan

Untuk mewujudkan kesejahteraan Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) guna Penghematan Bahan Baku Fosil dalam Rangka Ketahanan Energi Nasional LATAR BELAKANG Untuk mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Definisi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) UMKM didefinisikan dengan berbagai cara yang berbeda tergantung pada negara

II. TINJAUAN PUSTAKA. 1. Definisi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) UMKM didefinisikan dengan berbagai cara yang berbeda tergantung pada negara II. TINJAUAN PUSTAKA A. Usaha Mikro Kecil dan Menengah 1. Definisi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) UMKM didefinisikan dengan berbagai cara yang berbeda tergantung pada negara dan aspek-aspek lainnya.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, pres-lambang01.gif (3256 bytes) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Efisiensi Energi Pencahayaan Jalan Umum

Efisiensi Energi Pencahayaan Jalan Umum BUKU PEDOMAN : Efisiensi Energi Pencahayaan Jalan Umum Buku I : Pengelolaan Sistem PJU Efisien Energi Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

10. Aspek Ekonomi, Sosial, dan Politik

10. Aspek Ekonomi, Sosial, dan Politik 10. Aspek Ekonomi, Sosial, dan Politik Lecture Note: Trisnadi Wijaya, S.E., S.Kom Trisnadi Wijaya, S.E., S.Kom 1 Studi Kelayakan Bisnis 1. ASPEK EKONOMI Trisnadi Wijaya, S.E., S.Kom 2 Pendahuluan Cukup

Lebih terperinci

Laporan Komisaris Utama

Laporan Komisaris Utama 32 Sekilas TELKOM/Laporan Komisaris Utama Laporan Komisaris Utama Di tengah kondisi persaingan yang ketat dan turun drastisnya tarif telekomunikasi pada beberapa tahun terakhir ini, TELKOM tetap dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan perekonomian dewasa ini. Sejalan dengan perekonomian di

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan perekonomian dewasa ini. Sejalan dengan perekonomian di 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peranan pemasaran sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan perekonomian dewasa ini. Sejalan dengan perekonomian di negara Indonesia ini menyebabkan munculnya

Lebih terperinci

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan suatu Negara yang memiliki kawasan perairan yang hampir 1/3 dari seluruh kawasannya, baik perairan laut maupun perairan tawar yang sangat

Lebih terperinci

Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha

Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha Tujuan dan Aplikasi Pedoman Perilaku Bisnis menyatakan, CEVA berkomitmen untuk usaha bebas dan persaingan yang sehat. Sebagai perusahaan rantai pasokan global,

Lebih terperinci

Indonesia 2015 Ringkasan Pelaksanaan

Indonesia 2015 Ringkasan Pelaksanaan Secure Sustainable Together Indonesia 2015 Ringkasan Pelaksanaan Kebijakan Energi luar Negara IEA Secure Sustainable Together Indonesia 2015 Ringkasan Pelaksanaan Kebijakan Energi luar Negara IEA INTERNATIONAL

Lebih terperinci

BAB 7 PRINSIP DASAR PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

BAB 7 PRINSIP DASAR PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM BAB 7 PRINSIP DASAR PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM 7.1. Pengelompokan Sumber Daya Alam Keputusan perusahaan dan rumah tangga dalam menggunakan sumber daya alam dipengaruhi oleh karakteristik fisik dan biologi

Lebih terperinci

BENTUK-BENTUK BADAN USAHA

BENTUK-BENTUK BADAN USAHA BENTUK-BENTUK BADAN USAHA Tujuan Pembelajaran: Pada akhir pembelajaran peserta memahami definisi dari badan usaha dan mengerti pertimbangan yang harus diambil dalam menetapkan badan hukum Pada akhir pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Risna Khoerun Nisaa, 2013

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Risna Khoerun Nisaa, 2013 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN BIAYA RELEVAN DALAM MENERIMA ATAU MENOLAK PESANAN KHUSUS PADA PT. ADINATA DI MAKASSAR SKRIPSI

ANALISIS PENERAPAN BIAYA RELEVAN DALAM MENERIMA ATAU MENOLAK PESANAN KHUSUS PADA PT. ADINATA DI MAKASSAR SKRIPSI ANALISIS PENERAPAN BIAYA RELEVAN DALAM MENERIMA ATAU MENOLAK PESANAN KHUSUS PADA PT. ADINATA DI MAKASSAR SKRIPSI OLEH : ANDRY A311 07 679 FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

Lebih terperinci

Cara Kerja Kita. Praktik Usaha BT. Bulan Oktober 2013. Halaman 1

Cara Kerja Kita. Praktik Usaha BT. Bulan Oktober 2013. Halaman 1 Cara Kerja Kita Praktik Usaha BT Bulan Oktober 2013 Halaman 1 Cara Kerja Kita: Praktik Usaha Kita Nilai-Nilai Kita: Cara Kerja Kita menjabarkan praktik usaha dan nilai-nilai kita perilaku yang kita harapkan

Lebih terperinci

Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi

Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi 1. Prinsip- prinsip Kerangka Kerja Hukum dan Gambaran Umum Hak akan informasi dikenal sebagai hak asasi manusia yang mendasar, baik di dalam hukum internasional

Lebih terperinci

1. PENGANTAR 2. BENTUK UMUM PERSEKONGKOLAN TENDER

1. PENGANTAR 2. BENTUK UMUM PERSEKONGKOLAN TENDER 1. PENGANTAR Persekongkolan tender (atau kolusi tender) terjadi ketika pelaku usaha, yang seharusnya bersaing secara tertutup, bersekongkol untuk menaikkan harga atau menurunkan kualitas barang atau jasa

Lebih terperinci

PANDUAN PENYUSUNAN PROPOSAL KEGIATAN PENERAPAN DAN PEMANFAATAN IPTEK DI DAERAH (IPTEKDA) XV LIPI TAHUN

PANDUAN PENYUSUNAN PROPOSAL KEGIATAN PENERAPAN DAN PEMANFAATAN IPTEK DI DAERAH (IPTEKDA) XV LIPI TAHUN PANDUAN PENYUSUNAN PROPOSAL KEGIATAN PENERAPAN DAN PEMANFAATAN IPTEK DI DAERAH (IPTEKDA) XV LIPI TAHUN 2012 (Untuk Perguruan Tinggi) PANDUAN PENYUSUNAN PROPOSAL KEGIATAN PENERAPAN DAN PEMANFAATAN ILMU

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1. Kondisi Ekonomi dan Kebijakan Sektor Pertanian. menjadi krisis multi dimensi yang dialami bangsa Indonesia ternyata sangat

BAB I PENDAHULUAN. 1. Kondisi Ekonomi dan Kebijakan Sektor Pertanian. menjadi krisis multi dimensi yang dialami bangsa Indonesia ternyata sangat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1. Kondisi Ekonomi dan Kebijakan Sektor Pertanian Sejak terjadinya krisis ekonomi pada bulan Juli 1977 yang berlanjut menjadi krisis multi dimensi yang dialami bangsa

Lebih terperinci