ANALISIS FINANSIAL DAN KEUNTUNGAN YANG HILANG DARI PENGURANGAN EMISI KARBON DIOKSIDA PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS FINANSIAL DAN KEUNTUNGAN YANG HILANG DARI PENGURANGAN EMISI KARBON DIOKSIDA PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT"

Transkripsi

1 ANALISIS FINANSIAL DAN KEUNTUNGAN YANG HILANG DARI PENGURANGAN EMISI KARBON DIOKSIDA PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT Herman, Fahmuddin Agus 2, dan Irsal Las 2 Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, Jalan Salak No. A, Bogor 65 Telp. (025) , Faks. (025) , 2 Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Jalan Ir. H. Juanda No. 98, Bogor 623 Telp. (025) , Faks. (025) 83256, Diajukan: 3 Agustus 2009; Diterima: 3 Oktober 2009 ABSTRAK Areal perkebunan kelapa sawit meningkat tajam dengan laju rata-rata 2,30%/tahun sejak 980. Perluasan perkebunan kelapa sawit, terutama bila mengonversi hutan primer, berpotensi menyebabkan peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK). Emisi GRK akibat penggundulan hutan dapat dikurangi melalui kebijakan nasional dipadukan dengan mekanisme perdagangan karbon internasional, seperti Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD). Biaya investasi satu unit perkebunan sawit dengan luas efektif ha dengan model PIR adalah sekitar Rp256,86 miliar pada tanah mineral dan Rp276,82 miliar pada lahan gambut. Untuk perkebunan besar, biaya investasinya Rp265,72 miliar pada tanah mineral dan Rp286,30 miliar pada lahan gambut. Bila harga minyak sawit mentah (CPO) Rp8.000/kg dan harga inti sawit Rp5.500/kg, pada suku bunga 5% perkebunan meraup keuntungan bersih Rp /ha/tahun dengan model PIR dan Rp /ha/tahun dengan model perkebunan besar pada lahan bertanah mineral. Apabila emisi dari perubahan penggunaan lahan hutan primer sampai satu siklus produksi perkebunan sawit pada lahan bertanah mineral adalah 4 t CO 2 /ha/tahun maka keuntungan yang hilang karena konservasi hutan untuk pengurangan emisi CO 2 adalah US$5,9/t CO 2 pada sistem PIR dan US$4,28/t CO 2 pada perkebunan besar. Pada lahan gambut, keuntungan bersih menjadi Rp /ha/ tahun dengan sistem PIR dan Rp /ha/tahun pada perkebunan besar. Dengan perkiraan emisi pada lahan gambut rata-rata sebanyak 64 t CO 2 /ha/tahun maka keuntungan yang hilang berturut-turut adalah US$3,05 dan 2,49/t CO 2 pada sistem PIR dan perkebunan besar. Hasil perkiraan keuntungan yang hilang dapat dijadikan acuan dasar perkiraan besaran kompensasi yang berhak diterima pemilik/penguasa hutan yang mengkonservasi hutannya. Kata kunci: Kelapa sawit, lahan mineral, lahan gambut, keuntungan yang hilang, gas rumah kaca ABSTRACT Financial analysis and opportunity cost of carbon dioxide emission reduction in oil palm plantation The area of oil palm plantation rapidly increases at a rate of 2.30% annually since early 980 s. Expansion of oil palm plantation, especially from forest conversion, entails a significant green house gas (GHG) emission. GHG emission from deforestation can be reduced through national policy in combination with the international carbon trading scheme such as Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD). A unit of oil palm plantation of 6,000 ha effective area under the Nucleus Estate Smallholder (NES) model requires an investment of about IDR billion on the mineral land and IDR billion on peatland. Under the large estate plantation, the total investment is IDR billion on the mineral land and IDR billion on the peatland. If the price of crude palm oil (CPO) is IDR8,000/kg and kernel palm oil price is IDR5,500/kg, at 5% interest rate, the estate company gained a Net Present Value (NPV) of IDR,957,000/ha/year from the NES model and IDR,65,000/ha/ year from large plantation on the mineral land. If the average emission from primary forest conversion to one cycle of oil palm is about 4 t CO 2 /ha/year, then the opportunity cost from land conservation for emission reduction is US$5.9/t CO 2 under NES and US$4.28/t CO 2 under the estate plantation. For peatland, the NPV becomes IDR,797,000/ha/year under NES and IDR,468,000/ha/year under the estate plantation. With the estimated average emission rate of about 64 t CO 2 /ha/year, the opportunity costs become US$3.05 and 2.49/t CO 2 under the NES and estate, respectively. The estimated opportunity cost can be used as a basis for negotiating the amount of compensation that the land owners deserve for conserving the forest lands. Keywords: Oil palms, mineral lands, peatlands, opportunity costs, greenhouse gases Jurnal Litbang Pertanian, 28(4),

2 Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang memiliki peran penting bagi perekonomian nasional, terutama sebagai penyedia lapangan kerja, sumber pendapatan dan devisa negara. Pada tahun 2007, perkebunan kelapa sawit menyediakan lapangan kerja dan sumber pendapatan bagi sekitar 3,30 juta kepala keluarga petani, serta memberikan sumbangan devisa sebanyak US$6,20 miliar. Kenaikan harga minyak di pasar dunia, kemajuan yang dicapai dalam perundingan liberalisasi perdagangan Doha Round, serta desakan reformasi kebijakan pertanian di negara maju seperti Uni Eropa dan Amerika Serikat menyebabkan harga komoditas perkebunan meningkat tajam pada empat tahun terakhir ( ). Walaupun pada kuartal ketiga tahun 2008 harga minyak sawit anjlok seiring dengan resesi global, dalam beberapa tahun mendatang diperkirakan harga akan membaik kembali. Sebagian besar lonjakan harga mencapai lebih dari 50%, bahkan untuk kelapa sawit dan karet, lonjakan harga lebih dari 00% dalam kurun waktu Kondisi tersebut memicu pengembangan areal perkebunan yang pesat. Areal yang berpotensi untuk perluasan perkebunan kelapa sawit tidak saja lahan mineral, tetapi juga lahan gambut, lahan semak belukar, serta lahan alang-alang, dan lahan hutan primer. Namun, pemanfaatan hutan primer, terutama hutan gambut, akan menyebabkan tingginya emisi gas rumah kaca (GRK), terutama CO 2 (Agus et al. 2009). Emisi GRK dari perubahan penggunaan lahan dapat dikurangi dengan cara konservasi hutan. Namun bagi pemilik lahan (termasuk dalam hal ini negara), konservasi lahan yang berpotensi untuk pengembangan pertanian dan perkebunan menyebabkan hilangnya peluang untuk mendapatkan keuntungan ekonomi (opportunity cost). Peluang untuk mendapatkan keuntungan tersebut perlu mendapat kompensasi bila dikehendaki agar pemilik lahan mempertahankan lahan hutannya tetap sebagai hutan. Mengingat adanya peluang bagi pemilik lahan untuk mendapatkan kompensasi bila mereka mengonservasi lahan, misalnya melalui berbagai skim perdagangan karbon (seperti Reducing Emissions from Deforestation and Degradation (REDD), perlu dikaji tingkat keuntungan yang hilang (opportunity cost) karena usaha konservasi hutan tersebut. Hasil kajian tersebut bermanfaat sebagai dasar negosiasi antara penyedia jasa karbon (pemilik lahan dan pemerintah di negara berkembang) dan pembeli jasa karbon (negara industri). Dari analisis keuntungan yang hilang, pertanyaan yang dihadapkan kepada pemilik lahan atau investor perkebunan adalah mana yang lebih menguntungkan secara ekonomi antara mengonservasi hutan atau lahan gambut melalui skim perdagangan karbon dibandingkan dengan konversi lahan hutan tersebut menjadi areal perkebunan kelapa sawit. PERKEMBANGAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI INDONESIA Tanaman kelapa sawit berasal dari pesisir Afrika Barat, yang masuk ke Indonesia dan ditanam di Kebun Raya Bogor pada tahun 848. Kelapa sawit diusahakan secara komersial mulai tahun 9. Tanaman ini berkembang cukup pesat pada tahun 939 yang diusahakan oleh 66 perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan total areal 00 ribu ha. Namun sejak masuknya penjajah Jepang, perkebunan kelapa sawit menjadi tidak terawat dan kondisi tersebut berlanjut hingga tahun 957 (Direktorat Jenderal Perkebunan 2007). Perkebunan kelapa sawit berkembang cukup pesat sejak awal tahun 980-an, terutama melalui proyek Perusahaan Inti Rakyat Perkebunan (PIR-Bun). Perkebunan kelapa sawit pada awalnya hanya diusahakan oleh perkebunan besar dan terkonsentrasi di Sumatera Bagian Utara Tabel. Tahun Perkembangan areal perkebunan kelapa sawit Indonesia, Luas areal (000 ha) Perkebunan Perkebunan Perkebunan rakyat besar nasional besar swasta Nasional Pertumbuhan 25,20 4,70 4,60 2,30 (%/tahun) Sumber: Direktorat Jenderal Perkebunan (2008). dan sedikit di Sumatera Bagian Selatan, namun kemudian berkembang ke berbagai daerah. Pada tahun 980, areal perkebunan kelapa sawit Indonesia tercatat 290 ribu ha dan meningkat menjadi,27 juta ha pada tahun 990 serta menjadi 4,58 juta ha pada tahun 2000 (Direktorat Jenderal Perkebunan 2007). Pada tahun 2007, areal perkebunan kelapa sawit Indonesia tercatat 6,783 juta ha, terdiri atas 2,565 juta ha perkebunan rakyat, 688 ribu ha perkebunan besar negara, dan 3,53 juta ha perkebunan besar swasta (Tabel ). Perkebunan kelapa sawit tersebar di 22 provinsi dengan sentra produksi Provinsi Riau, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Secara nasional, areal perkebunan kelapa sawit tumbuh rata-rata 2,30%/ tahun selama 27 tahun terakhir. Pertumbuhan paling pesat terjadi pada perkebunan rakyat dengan laju 25,20%/ tahun, disusul perkebunan besar swasta dengan laju 4,60%/tahun dan perkebunan besar negara 4,70%/tahun. Menurut peta jalan (road map) kelapa sawit yang disusun oleh Direktorat Jenderal Perkebunan, areal perkebunan kelapa sawit ditargetkan menjadi 9 juta ha pada tahun 205 (Direktorat Jenderal Perkebunan 2007). Selaras dengan perkembangan areal, produksi minyak sawit Indonesia juga meningkat tajam dari 72 ribu ton pada tahun 980 menjadi 2,40 juta ton pada tahun 990. Peningkatan produksi tersebut terus berlanjut hingga mencapai 7 juta ton pada tahun 2000 dan 7,40 juta ton pada tahun Secara nasional, produksi minyak sawit tumbuh rata-rata 2,50%/tahun selama 27 tahun terakhir. Pertumbuhan produksi paling pesat terjadi 28 Jurnal Litbang Pertanian, 28(4), 2009

3 pada perkebunan rakyat dengan laju 37,80%/tahun, diikuti oleh perkebunan besar swasta dan perkebunan besar negara dengan laju masing-masing 4,80% dan 5,80%/tahun. Pesatnya perkembangan areal dan produksi perkebunan kelapa sawit tidak terlepas dari potensi pengembangan, peluang pasar, harga minyak sawit, dan daya saing minyak sawit di pasar domestik maupun internasional (Direktorat Jenderal Perkebunan 2008). Pertumbuhan konsumsi minyak nabati dunia diperkirakan akan makin pesat dengan adanya kebijakan di berbagai negara untuk mensubstitusi sebagian konsumsi minyak bumi dengan minyak nabati, karena tingginya harga minyak bumi dan emisi yang ditimbulkannya. Untuk memenuhi peningkatan permintaan pasar, dari sisi potensi sumber daya lahan, Indonesia memiliki peluang yang besar untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit. Diperkirakan tersedia lahan sekitar 5,30 juta ha yang tersebar di seluruh Indonesia untuk perluasan lahan perkebunan (Mulyani dan Las 2008), dan sebagian di antaranya berpotensi untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit melalui program revitalisasi perkebunan. Lahan tersebut terdiri atas lahan mineral dan lahan gambut dengan tutupan lahan mulai dari hutan primer sampai semak belukar dan padang alang-alang. Ketersediaan lahan mineral yang makin terbatas dan sering bermasalah (dari sisi penguasaan lahan) menyebabkan sebagian investor mengajukan izin pengembangan kelapa sawit pada lahan gambut yang diyakini kurang bermasalah. Namun, pengembangan perkebunan di lahan gambut dihadapkan pada biaya investasi yang lebih tinggi dan potensi emisi GRK yang lebih tinggi pula. Pertanaman kelapa sawit pada lahan gambut, menurut Yudoyono et al. dalam Barchia (2006), mampu menghasilkan tandan buah segar (TBS) 23,74 t/ha/tahun. Hasil yang hampir sama dikemukakan oleh Setiadi dalam Barchia (2006), bahwa kelapa sawit di lahan gambut mampu menghasilkan TBS 20,25 t/ha/tahun. Lebih spesifik lagi, menurut Wiratmoko et al. (2008), kelapa sawit yang ditanam pada lahan gambut topogen dapat menghasilkan TBS 9,64 25,53 t/ha/tahun. Sebagai pembanding, menurut Lubis (2008), pengusahaan kelapa sawit pada lahan mineral dapat menghasilkan TBS rata-rata 22,26 t/ha/tahun dengan puncak produksi sekitar 27,32 t/ha/tahun. Pemanfaatan lahan hutan primer dan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit akan meningkatkan emisi gas CO 2 karena penurunan cadangan (stok) karbon tanaman antara hutan dan perkebunan kelapa sawit, pengaruh drainase, dan penggunaan pupuk, terutama pupuk nitrogen. Menurut Hooijer et al. (2006), kedalaman saluran drainase sangat mempengaruhi tingkat emisi CO 2 pada lahan gambut. Pada kedalaman drainase cm, emisi CO 2 meningkat 9,0 t/ha/tahun setiap penambahan kedalaman drainase 0 cm. Agus et al. (2009) mengoreksi nilai tersebut dengan faktor 0,70 karena diperkirakan 30% dari emisi CO 2 berasal dari respirasi akar yang dikompensasi oleh penyerapan CO 2 dari atmosfir melalui fotosintesis. Dengan demikian, emisi dari respirasi akar tersebut tidak berpengaruh terhadap pemanasan global. ANALISIS FINANSIAL PENGURANGAN EMISI KARBON Analisis finansial diperlukan untuk mengetahui kelayakan finansial pengembangan kelapa sawit pada tanah mineral dan gambut serta keuntungan yang hilang dari pengurangan emisi karbon. Analisis memanfaatkan berbagai data sekunder dan hasil studi yang bersumber dari Direktorat Jenderal Perkebunan, Badan Pusat Statistik, Oil World, Pusat Penelitian Kelapa Sawit, dan publikasi lainnya. Mengingat data yang tersedia cukup beragam, dilakukan penyesuaian berdasarkan tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah serta digunakan beberapa asumsi, batasan, dan istilah sebagai berikut: ) Setiap unit perkebunan kelapa sawit dibangun di atas lahan seluas ha dengan areal efektif ha. 2) Perkebunan kelapa sawit dibangun dengan dua pola, yaitu pola kemitraan dan pola perkebunan besar. Untuk pola kemitraan, areal perkebunan inti seluas.500 ha dan kebun plasma ha serta pabrik pengolahan kelapa sawit berkapasitas 30 t TBS/jam. Untuk pola perkebunan besar, seluruh areal efektif ha dikuasai oleh perusahaan perkebunan besar dengan satu pabrik pengolahan kelapa sawit berkapasitas 30 t TBS/jam. 3) Produktivitas lahan mengikuti pola produksi lahan kelas III (rata-rata 20,33 t TBS/ha/tahun), upah tenaga kerja Rp25.000/HK (hari orang kerja), dan upah mandor Rp30.000/HK. 4) Biaya operasional pada lahan mineral masing-masing adalah Rp4,75 juta/ha/ tahun untuk tanaman menghasilkan tahun 2 dan Rp5,95 juta/ha/tahun untuk tanaman menghasilkan tahun ke-3 ke atas. Pada lahan gambut, biaya operasional masing-masing sebesar Rp5,23 juta/ha/tahun untuk tanaman menghasilkan tahun 2 dan Rp6,55 juta/ha/tahun untuk tanaman menghasilkan tahun ke-3 ke atas. 5) Harga CPO dan harga inti sawit berfluktuasi. Harga bulanan CPO pada periode rata-rata US$635,7/t, berfluktuasi dari US$398 US$.249/t. Oleh karena itu, analisis mengacu pada perkembangan harga tersebut dengan tiga skenario harga, yaitu: skenario I, harga CPO Rp6.000/kg dan harga inti sawit Rp4.500/kg; skenario II, harga CPO Rp8.000/kg dan inti sawit Rp5.500/kg; skenario III, harga CPO Rp0.000/kg dan inti sawit Rp6.500/kg. 6) Analisis finansial menggunakan tingkat diskonto 5%/tahun. Analisis terdiri atas dua tahap, yaitu: ) analisis finansial pengembangan perkebunan kelapa sawit, baik dengan pola kemitraan yang meliputi perusahaan inti dan petani plasma maupun perusahaan perkebunan besar, dan 2) analisis keuntungan yang hilang karena lahan bervegetasi hutan dipertahankan sebagai hutan untuk mengurangi emisi CO 2. Analisis finansial bertujuan untuk mengetahui kelayakan usaha perkebunan kelapa sawit, sedangkan analisis keuntungan yang hilang dari pengurangan emisi CO 2 bertujuan untuk mengetahui tingkat kelayakan pasar karbon bagi pengurangan emisi CO 2 melalui konservasi hutan di lahan mineral dan di lahan gambut. Keuntungan yang hilang dapat dianggap sebagai biaya dari hilangnya kesempatan untuk mendapatkan keuntungan finansial dari perkebunan kelapa sawit, apabila hutan dipertahankan tetap sebagai hutan. Analisis kelayakan finansial dilakukan dengan menggunakan kriteria tingkat keuntungan internal (Internal Rate of Return, IRR), nilai bersih terkini (Net Present Value, NPV), dan rasio antara keuntungan dan biaya ( ratio). Suatu bisnis dinyatakan layak secara finansial Jurnal Litbang Pertanian, 28(4),

4 bila nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga pinjaman bank. Kegiatan usaha dikatakan layak apabila >. Analisis keuntungan yang hilang dari pengurangan emisi CO 2 pada perkebunan kelapa sawit dilakukan dengan membandingkan penerimaan bersih nilai kini dari pengusahaan kelapa sawit dalam satu satuan luas lahan dan satu satuan waktu dengan emisi CO 2 rata-rata untuk satuan luas dan waktu yang sama apabila lahan hutan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. BIAYA INVESTASI DAN KELAYAKAN USAHA Pengembangan satu unit usaha perkebunan kelapa sawit pada lahan mineral dan lahan gambut dengan luas efektif kebun ha dan satu unit pabrik pengolahan kelapa sawit membutuhkan biaya investasi masing-masing Rp256,86 miliar dan Rp276,82 miliar untuk pola kemitraan serta Rp265,72 miliar dan Rp286,30 miliar untuk pola perkebunan besar (Tabel 2). Biaya investasi pada lahan gambut sedikit lebih tinggi dibandingkan pada lahan mineral, dan biaya investasi untuk pola perkebunan besar sedikit lebih tinggi daripada pola kemitraan. Hal ini terjadi karena pengelolaan lahan gambut membutuhkan saluran drainase, pemadatan jalan, serta pembuatan jembatan/ gorong-gorong yang lebih intensif daripada lahan mineral. Biaya investasi pada perkebunan besar lebih tinggi daripada pola kemitraan karena beban biaya overhead dan biaya untuk perumahan pada pola perkebunan besar lebih tinggi daripada pola kemitraan. Berdasarkan asumsi, batasan, serta biaya investasi dan biaya operasional seperti diuraikan terdahulu, dihasilkan NPV, IRR, dan rasio seperti pada Tabel 3. Ketiga parameter kelayakan usaha tersebut menunjukkan bahwa pengusahaan kelapa sawit pada lahan mineral maupun gambut, baik dengan pola kemitraan maupun perkebunan besar, cukup layak untuk dilaksanakan. Namun, tingkat kelayakan usaha tersebut relatif rendah, sehingga dapat menjadi tidak layak bila terjadi penurunan harga CPO maupun inti sawit. Pada pola kemitraan, tingkat kelayakan usaha petani maupun perusahaan inti bervariasi, bergantung pada harga jual CPO, harga inti sawit, dan harga TBS. Pada Tabel 2. Biaya investasi pembangunan perkebunan kelapa sawit, Biaya investasi Biaya investasi pola Jenis lahan/biaya pola kemitraan perkebunan besar Investasi kebun inti Investasi pabrik, kantor, perumahan dll. 2, Biaya overhead 2, Investasi kebun plasma Total investasi Investasi kebun inti Investasi pabrik, kantor, perumahan dll. 2, Biaya overhead 2, Investasi kebun plasma Total investasi Keputusan Direktur Jenderal Perkebunan No 24/Kpts/RC.ll0/02/2008 dan No 60/Kpts/ RC.0/4/08; 2 Pahan (2006); 3 Wahyono et al. (2004). Sumber: Hasil penyesuaian karena inflasi dan pengolahan data dari berbagai sumber. Tabel 3. Jenis lahan/ pengelola Analisis finansial pengusahaan kelapa sawit pola kemitraan dengan berbagai tingkat harga TBS dengan skenario I. Harga TBS (Rp/kg) NPV df 5% NPV df 5% IRR (Rp000/ha/tahun) (%) Petani (luas ha) ,94,29 Perusahaan (.500 ha) ,54,20 Petani (luas ha) ,06,35 Perusahaan (.500 ha) ,47,6 Petani (luas ha) ,37,43 Perusahaan (.500 ha) ,09,3 Petani (luas ha) ,92,8 Perusahaan (.500 ha) ,45,8 Petani (luas ha) ,76,28 Perusahaan (.500 ha) ,66,2 Petani (luas ha) ,46,38 Perusahaan (.500 ha) ,72,07 Harga CPO Rp6.000/kg, inti sawit Rp4.500/kg dengan tiga tingkat harga TBS yang diterima petani. TBS = tandan buah segar; NPV = net present value; IRR = internal rate of return; = benefit/cost. Sumber: Hasil pengolahan data Tabel 2. kondisi harga CPO dan inti sawit tetap masing-masing Rp6.000 dan Rp4.500/kg, peningkatan harga TBS akan menyebabkan kelayakan usaha petani meningkat dan kelayakan usaha perusahaan inti menurun, dan berlaku sebaliknya. Tingkat kelayakan usaha perkebunan kelapa sawit, baik pada lahan mineral maupun gambut, diberikan dengan tiga skenario harga CPO, harga inti sawit, dan harga TBS. Pada tingkat harga CPO Rp6.000/kg dan inti sawit Rp4.500/kg, dengan tiga variasi harga TBS, tingkat pengembalian modal internal (IRR) yang berimbang antara petani dan perusahaan inti di lahan mineral terjadi pada saat harga TBS Rp945/kg. Pada tingkat harga tersebut, IRR petani sebesar 22,06% dan IRR perusahaan inti 22,47%. Tingkat pendapatan bersih kini rata-rata Rp903 ribu/ha/tahun. Pada lahan gambut, tingkat IRR yang 30 Jurnal Litbang Pertanian, 28(4), 2009

5 berimbang antara petani dan perusahaan inti terjadi pada saat harga TBS Rp975/kg. Pada tingkat harga tersebut, IRR petani sebesar 20,76% dan IRR perusahaan inti 26,66%. Tingkat pendapatan bersih kini rata-rata Rp /ha/tahun. Tingkat kelayakan usaha pengembangan perkebunan kelapa sawit akan meningkat jika harga CPO dan inti sawit meningkat. Tabel 4. Jenis lahan/ pengelola Hasil analisis finansial berdasarkan harga CPO Rp8.000/kg dan inti sawit Rp5.500/kg dengan tiga variasi harga TBS dapat dilihat pada Tabel 4. Data pada tabel tersebut menunjukkan bahwa IRR yang berimbang antara petani dan perusahaan inti di lahan mineral terjadi pada saat harga TBS Rp.250/kg. Pada tingkat harga tersebut, IRR petani sebesar Analisis finansial pengusahaan kelapa sawit pola kemitraan dengan berbagai tingkat harga TBS dengan skenario II. Harga TBS (Rp/kg) NPV df 5% NPV df 5% IRR (Rp000/ha/tahun) (%) Petani (luas ha) ,59,72 Perusahaan (.500 ha) ,50,32 Petani (luas ha) ,55,86 Perusahaan (.500 ha) ,55,28 Petani (luas ha) ,47,86 Perusahaan (.500 ha) ,57,25 Petani (luas ha) ,52,58 Perusahaan (.500 ha) ,30,30 Petani (luas ha) ,92,67 Perusahaan (.500 ha) ,89,25 Petani (luas ha) ,25,77 Perusahaan (.500 ha) ,4,20 Harga CPO Rp8.000/kg, inti sawit Rp5.500/kg dengan tiga tingkat harga TBS yang diterima petani. TBS = tandan buah segar; NPV = net present value; IRR = internal rate of return; = benefit/cost. Sumber: Hasil pengolahan data Tabel 2. Tabel 5. Jenis lahan/ pengelola Analisis finansial pengusahaan kelapa sawit pola kemitraan dengan berbagai tingkat harga TBS dengan skenario III. Harga TBS (Rp/kg) NPV df 5% NPV df 5% IRR (Rp000/ha/tahun) (%) Petani (luas ha) ,88 2,5 Perusahaan (.500 ha) ,42,4 Petani (luas ha) ,67 2,22 Perusahaan (.500 ha) ,62,38 Petani (luas ha) ,44 2,29 Perusahaan (.500 ha) ,79,35 Petani (luas ha) ,72,97 Perusahaan (.500 ha) ,0,39 Petani (luas ha) ,87 2,07 Perusahaan (.500 ha) ,92,35 Petani (luas ha) ,99 2,7 Perusahaan (.500 ha) ,69,30 Harga CPO Rp0.000/kg, inti sawit Rp6.500/kg dengan tiga tingkat harga TBS yang diterima petani. TBS = tandan buah segar; NPV = net present value; IRR = internal rate of return; = benefit/cost. Sumber: Hasil pengolahan data Tabel 2. 28,55% dan IRR perusahaan inti 28,55%. Nilai pendapatan kini bersih rata-rata sebesar Rp,96 juta/ha/tahun. Tingkat IRR yang berimbang antara petani dan perusahaan inti di lahan gambut terjadi pada saat harga TBS Rp.275/kg. Pada tingkat harga tersebut, IRR petani sebesar 26,92% dan IRR perusahaan inti 26,89%. Tingkat pendapatan bersih kini rata-rata Rp,80 juta/ha/tahun. Jika harga CPO diasumsikan Rp0.000/ kg dan harga inti sawit Rp6.500/kg, maka dengan tiga variasi harga TBS diperoleh IRR yang berimbang antara petani dan perusahaan inti di lahan mineral pada saat harga TBS Rp.550/kg. Pada tingkat harga tersebut, IRR petani sebesar 33,67% dan IRR perusahaan inti 33,62%. Nilai pendapatan bersih kini rata-rata Rp3,0 juta/ ha/tahun (Tabel 5). Tingkat IRR yang berimbang antara petani dan perusahaan inti di lahan gambut terjadi pada saat harga TBS Rp.575/kg. Pada tingkat harga tersebut, IRR petani sebesar 3,87% dan IRR perusahaan inti sawit 3,92%. Nilai pendapatan bersih kini rata-rata Rp2,85 juta/ha/tahun. Keadaan yang hampir sama terjadi pada pola perkebunan besar. Kelayakan usaha akan meningkat sejalan dengan peningkatan harga jual CPO dan harga inti sawit (Tabel 6 dan 7). KEUNTUNGAN YANG HILANG DARI PENGURANGAN EMISI CO 2 Pengembangan perkebunan kelapa sawit yang didahului dengan pembukaan hutan berpotensi menimbulkan peningkatan emisi gas rumah kaca akibat pembakaran dan dekomposisi bahan organik, baik dari tanaman maupun tanah. Dari pembukaan hutan primer di lahan mineral sampai satu siklus pertanaman kelapa sawit selama 25 tahun, diperkirakan akan menghasilkan net emisi CO 2 rata-rata 4 t/ha/tahun. Pada lahan gambut, emisi rata-rata mulai dari pembukaan hutan primer sampai satu siklus kelapa sawit diperkirakan sebesar 64 t/ha/tahun (Agus et al. 2009). Pengembangan perkebunan kelapa sawit pada lahan mineral melalui pola kemitraan diperkirakan dapat memberikan NPV bervariasi dari Rp0,90 juta sampai Rp3,0 juta/ha/tahun, bergantung pada harga CPO dan harga inti sawit. Pada pola perkebunan besar, NPV bervariasi dari Rp0,70 Rp2,53 juta/ha/tahun. Dengan asumsi nilai tukar rupiah Rp9.200/ Jurnal Litbang Pertanian, 28(4),

6 Tabel 6. Tabel 7. Analisis finansial pengusahaan kelapa sawit pola perkebunan besar di lahan gambut pada berbagai tingkat harga CPO dan inti sawit. Harga CPO Harga inti sawit NPV df 5% NPV df 5% (Rp/kg) (Rp/kg) (Rp000/ha/tahun) US$, maka keuntungan rata-rata yang hilang dari pengurangan emisi CO 2 pada lahan mineral berkisar antara US$2,39 7,98/ t CO 2 pada pola kemitraan dan US$,85 6,72/t CO 2 pada perkebunan besar (Tabel 8). Pada lahan gambut, pengembangan kelapa sawit dengan pola kemitraan berpotensi memberikan NPV rata-rata antara Rp0,74 2,85 juta/ha/tahun. Pada pola perkebunan besar, NPV bervariasi antara Rp0,55 Rp2,39 juta/ha/tahun. Keuntungan yang hilang dari pengurangan emisi CO 2 pada lahan gambut berkisar antara US$,26 4,84/t CO 2 pada pola IRR (%) ,60, ,60, ,40 2,02 NPV = net present value; IRR = internal rate of return; = benefit/cost. Sumber: Hasil pengolahan dan analisis data Tabel 2. Tabel 8. Pola usaha Analisis finansial pengusahaan kelapa sawit pola perkebunan besar pada lahan mineral pada berbagai tingkat harga CPO dan inti sawit. Harga CPO Harga inti sawit NPV df 5% NPV df 5% (Rp/kg) (Rp/kg) (Rp000/ha/tahun) IRR (%) ,05, ,2, ,0 2,6 NPV = net present value; IRR = internal rate of return; = benefit/cost. Sumber: Hasil pengolahan dan analisis data Tabel 2. Keuntungan yang hilang dari pengurangan emisi CO 2 perkebunan kelapa sawit pada lahan mineral dengan asumsi tingkat emisi 4 ton CO 2 /ha/tahun. Pendapatan bersih (NPV df 5%) Keuntungan yang hilang (Rp000/ha/tahun) (US$/ha/tahun) (US$/t CO 2 ) Kemitraan skenario I 2 Petani 660 7,74,75 Perusahaan inti.63 77,28 4,32 Rata-rata ,5 2,39 Perkebunan besar ,65,85 Kemitraan skenario II 3 Petani ,54 3,92 Perusahaan inti ,46 9,0 Rata-rata ,72 5,9 Perkebunan besar.65 75,54 4,28 Kemitraan skenario III 4 Petani ,83 6,04 Perusahaan inti , 3,78 Rata-rata ,7 7,98 Perkebunan besar ,33 6,72 Keuntungan yang hilang = NPV/emisi tahunan; 2 Harga CPO Rp6.000/kg dan harga inti sawit Rp4.500/kg; 3 Harga CPO Rp8.000/kg dan inti sawit Rp5.500/kg; 4 Harga CPO Rp0.000/kg dan inti sawit Rp6.500/kg. Sumber: Hasil pengolahan dan analisis Tabel 3, 4, 5, dan 6. kemitraan dan US$0,93 4,05/t CO 2 pada perkebunan besar (Tabel 9). Skenario II yaitu harga CPO sekitar Rp8.000/kg dan harga inti sawit sekitar Rp5.500/kg paling mendekati harga yang berlaku dewasa ini. Dengan tingkat harga tersebut, diperkirakan keuntungan yang hilang pada lahan mineral berturut-turut mencapai US$5,9 dan 4,28/kg CO 2 pada pola kemitraan dan perkebunan besar. Pada lahan gambut, keuntungan yang hilang berturut-turut menjadi US$2,86 dan 2,65/t CO 2 pada pola kemitraan dan perkebunan besar. Dengan harga kredit karbon menurut Smith et al. (2000) sekitar US$5 23/t CO 2, keuntungan yang hilang dari konservasi hutan lahan mineral dan hutan gambut pada umumnya berada dalam kisaran atau lebih rendah dari harga kredit karbon yang berlaku. Dengan demikian, emisi GRK berpotensi dapat dikurangi melalui mekanisme pasar karbon. Dalam artikel ini analisis hanya terfokus pada aspek finansial. Berbagai elemen lain yang menentukan biaya dan keuntungan seperti harga kayu dari pemanenan hutan serta berbagai jasa lingkungan hutan (seperti nilai keanekaragaman hayati dan kemampuan hutan mengatur tata air) belum diperhitungkan. Sebaliknya, fungsi perkebunan kelapa sawit dalam menyediakan lapangan kerja dan membantu pertumbuhan ekonomi juga belum masuk dalam perhitungan ini. Berbagai biaya transaksi (transaction costs) yang berhubungan dengan pasar karbon juga berada di luar bahasan artikel ini. Menurut Boer (2003), biaya transaksi dalam proyek karbon bisa cukup besar. Termasuk dalam biaya transaksi antara lain adalah biaya pemantauan dan verifikasi karbon, biaya negosiasi, biaya pengurusan persetujuan proyek, asuransi, keamanan proyek, dan kompensasi untuk mencari dana pelaksanaan proyek. Bila semua biaya transaksi diperhitungkan, adakalanya jumlah total biaya transaksi lebih besar dari keuntungan yang hilang. Artinya, dana perdagangan karbon bisa lebih banyak diterima berbagai pihak yang memfasilitasi perdagangan karbon dibandingkan dengan dana yang diterima pemilik lahan. Kajian yang lebih komprehensif diperlukan dalam suatu skim pengurangan emisi melalui berbagai mekanisme, termasuk mekanisme perdagangan karbon REDD. 32 Jurnal Litbang Pertanian, 28(4), 2009

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 Ignatius Ery Kurniawan PT. MITRA MEDIA NUSANTARA 2011 KEMENTERIAN KEUANGAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGELOLA PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI, DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Kalimantan Tengah Central Kalimantan Province Indonesia

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Kalimantan Tengah Central Kalimantan Province Indonesia Governors limate & Forests Task Force Provinsi Kalimantan Tengah entral Kalimantan Province Indonesia Kata pengantar Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang, SH entral Kalimantan Governor Preface

Lebih terperinci

Disampaikan pada Annual Forum EEP Indonesia 2012 di Provinsi Riau Pekanbaru, 30-31 Oktober 2012

Disampaikan pada Annual Forum EEP Indonesia 2012 di Provinsi Riau Pekanbaru, 30-31 Oktober 2012 Disampaikan pada Annual Forum EEP Indonesia 2012 di Provinsi Riau Pekanbaru, 30-31 Oktober 2012 Oleh : Drs. Z U L H E R, MS Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau TERWUJUDNYA KEBUN UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT

Lebih terperinci

For data sources, see slide #9: Appendix 1. Data used to produce Sumatra PIM

For data sources, see slide #9: Appendix 1. Data used to produce Sumatra PIM 1 2 For data sources, see slide #9: Appendix 1. Data used to produce Sumatra PIM 3 For data sources, see slides #10: Appendix 2. Data used to produce Riau PIM (1) #11: Riau s natural forest 2008/2009 mapped

Lebih terperinci

SISTEM INFORMASI BIAYA POKOK UNTUK MEMPRODUKSI CPO DI PKS TANAH PUTIH. Oleh AHMAD FAUZI LUBIS 07 118 039

SISTEM INFORMASI BIAYA POKOK UNTUK MEMPRODUKSI CPO DI PKS TANAH PUTIH. Oleh AHMAD FAUZI LUBIS 07 118 039 SISTEM INFORMASI BIAYA POKOK UNTUK MEMPRODUKSI CPO DI PKS TANAH PUTIH Oleh AHMAD FAUZI LUBIS 07 118 039 FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2011 SISTEM INFORMASI BIAYA POKOK UNTUK MEMPRODUKSI

Lebih terperinci

di kota tetap Balikpapan menjanjikan. Era ini (tahun milik setara Produksi ton atau Segar) ton CPO (Crude skala cukup luas saat Paser

di kota tetap Balikpapan menjanjikan. Era ini (tahun milik setara Produksi ton atau Segar) ton CPO (Crude skala cukup luas saat Paser Peluang Industri Komoditi Kelapaa Sawit di kota Balikpapan (Sumber : Dataa Badan Pusat Statistik Pusat dan BPS Kota Balikpapan dalam Angka 2011, balikpapan.go.id, www..grandsudirman.com dan berbagai sumber,

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Laporan ini berisi Kata Pengantar dan Ringkasan Eksekutif. Terjemahan lengkap laporan dalam Bahasa Indonesia akan diterbitkan pada waktunya. LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Pendefinisian

Lebih terperinci

Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia

Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia September 2001 Laporan Teknis Analisis Valuasi Ekonomi Investasi Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia Oleh: E. G. Togu Manurung Forest

Lebih terperinci

-eq/(ha.tahun). Keluaran matriks emisi untuk tab unit perencanaan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

-eq/(ha.tahun). Keluaran matriks emisi untuk tab unit perencanaan dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Keluaran Matriks Emisi Keluaran dari matriks emisi adalah total hasil perhitungan matriks yang terbagi atas tab unit perencanaan, emisi bersih, emisi total, dan sekuestrasi total dengan satuan unit ton

Lebih terperinci

KODEFIKASI RPI 25. Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan

KODEFIKASI RPI 25. Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan KODEFIKASI RPI 25 Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan Lembar Pengesahan Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan 851 852 RENCANA PENELITIAN INTEGRATIF 2010-2014

Lebih terperinci

Tata ruang Indonesia

Tata ruang Indonesia Tata ruang Indonesia Luas 190,994,685 Ha Hutan Produksi Kawasan Non-hutan Hutan Produksi Terbatas Hutan konservasi Hutan dilindungi Sumber: Statistik Kehutanan Indonesia 2008, Departemen Kehutanan Indonesia

Lebih terperinci

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Kalimantan Timur East Kalimantan Province Indonesia

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Kalimantan Timur East Kalimantan Province Indonesia Governors limate & Forests Task Force Provinsi Kalimantan Timur East Kalimantan Province Indonesia Kata pengantar Gubernur Kalimantan Timur Awang Farouk Ishak East Kalimantan Governor Preface Awang Farouk

Lebih terperinci

Emisi Dari Alih Guna Lahan. Apa itu emisi alih guna lahan dan bagaimana cara menghitungnya?

Emisi Dari Alih Guna Lahan. Apa itu emisi alih guna lahan dan bagaimana cara menghitungnya? Emisi Dari Alih Guna Lahan Apa itu emisi alih guna lahan dan bagaimana cara menghitungnya? 1 Sejarah dan latar belakang ISPO membentuk sebuah kelompok kerja yang bertujuan untuk membuat sebuah kalkulator

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, : a. bahwa

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU

ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU ANALISIS NILAI TAMBAH, KEUNTUNGAN, DAN TITIK IMPAS PENGOLAHAN HASIL RENGGINANG UBI KAYU (RENGGINING) SKALA RUMAH TANGGA DI KOTA BENGKULU Andi Ishak, Umi Pudji Astuti dan Bunaiyah Honorita Balai Pengkajian

Lebih terperinci

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA Jenis : Tugas Akhir Tahun : 2008 Penulis : Soly Iman Santoso Pembimbing : Ir. Haryo

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENUNDAAN PEMBERIAN IZIN BARU DAN

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENUNDAAN PEMBERIAN IZIN BARU DAN INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PENUNDAAN PEMBERIAN IZIN BARU DAN PENYEMPURNAAN TATA KELOLA HUTAN ALAM PRIMER DAN LAHAN GAMBUT PRESIDEN, Dalam rangka menyeimbangkan dan menselaraskan pembangunan

Lebih terperinci

I. U M U M. TATA CARA PANEN.

I. U M U M. TATA CARA PANEN. LAMPIRAN : PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 17/Permentan/OT.140/2/2010 TANGGAL : 5 Pebruari 2010 TENTANG : PEDOMAN PENETAPAN HARGA PEMBELIAN TANDA BUAH SEGAR (TBS) KELAPA SAWIT PRODUKSI PEKEBUN TATA

Lebih terperinci

Temuan Foto Sampul: Lanskap di Kutai Barat (kiri), Desa Batu Majang di Kabupaten Kutai Barat (kanan) / Subekti Rahayu

Temuan Foto Sampul: Lanskap di Kutai Barat (kiri), Desa Batu Majang di Kabupaten Kutai Barat (kanan) / Subekti Rahayu BRIEF No. 36 Perancangan Aksi Mitigasi Untuk Mendukung Rencana Pembangunan Rendah Emisi di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur Indonesia adalah salah satu negara yang telah berkomitmen untuk mengurangi

Lebih terperinci

National Forest Monitoring System untuk mendukung REDD+ Indonesia

National Forest Monitoring System untuk mendukung REDD+ Indonesia National Forest Monitoring System untuk mendukung REDD+ Indonesia IMAN SANTOSA T. Direktorat Inventarisasi dan Pemantauan Sumber Daya Hutan Ditjen Planologi kehutanan Kementerian Kehutanan Workshop Sistem

Lebih terperinci

Ini Medan Demokrasi Bung

Ini Medan Demokrasi Bung P A P E R & P R E S E N T A T I O N Pameran dan Rangkaian Seminar Ini Medan Demokrasi Bung Selasa - Jumat, 24-27 Mei 2011 Tempat: Gelanggang Mahasiswa Kampus USU Universitas Sumatera Utara - Medan Diselenggarakan

Lebih terperinci

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS Jakarta, 27 Mei 2015 Pendahuluan Tujuan Kebijakan Industri Nasional : 1 2 Meningkatkan produksi nasional. Meningkatkan

Lebih terperinci

KAJIAN RENCANA PENINGKATAN SARANA RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

KAJIAN RENCANA PENINGKATAN SARANA RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW KAJIAN RENCANA PENINGKATAN SARANA RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Muslim Patra Mokoginta 1 Nanang Setiawan 2 Eko Budi Santoso 3 ABSTRAK Rumah Sakit Umum Kaupaten Bolaang Mongondow dalam perkembangannya

Lebih terperinci

Disajikan dalam Acara Pertemuan Tahunan EEP- Indonesia Tahun 2013, di Hotel Le Meridien Jakarta, 27 November 2013

Disajikan dalam Acara Pertemuan Tahunan EEP- Indonesia Tahun 2013, di Hotel Le Meridien Jakarta, 27 November 2013 EEP Indonesia Annual Forum 2013 MANFAAT IMPLEMENTASI DAN PELAKSANAAN PROYEK-PROYEK EEP INDONESIA DI PROPINSI RIAU (Kebijakan Potensi - Investasi Teknologi) Disajikan dalam Acara Pertemuan Tahunan EEP-

Lebih terperinci

Topik A1 - Lahan gambut di Indonesia di Indonesia (istilah/definisi, klasifikasi, luasan, penyebaran dan pemutakhiran data spasial lahan gambut

Topik A1 - Lahan gambut di Indonesia di Indonesia (istilah/definisi, klasifikasi, luasan, penyebaran dan pemutakhiran data spasial lahan gambut Topik A1 - Lahan gambut di Indonesia di Indonesia (istilah/definisi, klasifikasi, luasan, penyebaran dan pemutakhiran data spasial lahan gambut 1 Topik ini menyajikan 5 bahasan utama yaitu : istilah pengertian

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN BERBAGAI JENIS PADA IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1.tE,"P...F.3...1!..7. INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11/Permentan/OT.140/3/2015 TENTANG SISTEM SERTIFIKASI KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN INDONESIA (INDONESIAN SUSTAINABLE PALM OIL CERTIFICATION SYSTEM /ISPO)

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN BISNIS PENGEMBANGAN USAHA AIR MINUM ISI ULANG DESMOND

STUDI KELAYAKAN BISNIS PENGEMBANGAN USAHA AIR MINUM ISI ULANG DESMOND STUDI KELAYAKAN BISNIS PENGEMBANGAN USAHA AIR MINUM ISI ULANG DESMOND LATAR BELAKANG Salah satu usaha yang sering kita jumpai dan banyak diminati pada saat ini adalah usaha air minum isi ulang. Dengan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN INVENTARISASI GAS RUMAH KACA NASIONAL

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN INVENTARISASI GAS RUMAH KACA NASIONAL PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 71 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN INVENTARISASI GAS RUMAH KACA NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

Perlu Inovasi Teknologi Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Lahan Pertanian

Perlu Inovasi Teknologi Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Lahan Pertanian Perlu Inovasi Teknologi Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca dari Lahan Pertanian Oleh : Prihasto Setyanto Banyak pihak menulis tentang emisi gas rumah kaca (GRK), pemanasan global dan perubahan iklim di media

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014

DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014 OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014 23 DESEMBER 2014 METODOLOGI 1 ASUMSI DASAR Periode proyeksi 2013 2050 dimana tahun 2013 digunakan sebagai tahun dasar. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata sebesar

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

Ir. Eddon M. Moenif, MT Inspektur Ketenagalistrikan Distamben - Riau

Ir. Eddon M. Moenif, MT Inspektur Ketenagalistrikan Distamben - Riau KEBIJAKAN ENERGI BARU-TERBARUKAN POTENSI, PENGEMBANGAN DAN TARGET IMPLEMENTASI ENERGI TERBARUKAN DI PROPINSI RIAU (Kebijakan Potensi - Investasi Teknologi) Ir. Eddon M. Moenif, MT Inspektur Ketenagalistrikan

Lebih terperinci

KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU. Trisna Anggreini 1)

KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU. Trisna Anggreini 1) KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU Trisna Anggreini 1) Abstract. The purpose of this research are acessing the correlation of attitudes

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT UNTUK BUDIDAYA KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG,

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG, PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong percepatan

Lebih terperinci

Mengkonstruksi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Sektor Perkebunan Sawit. Presentasi Pengantar Diskusi Oleh Sawit Watch

Mengkonstruksi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Sektor Perkebunan Sawit. Presentasi Pengantar Diskusi Oleh Sawit Watch Mengkonstruksi Tanggung Jawab Sosial Perusahaan di Sektor Perkebunan Sawit Presentasi Pengantar Diskusi Oleh Sawit Watch Bunga Rampai Akar Persoalan Tanam paksa (culture stelsel); masyarakat diwajibkan

Lebih terperinci

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya juga memiliki

Lebih terperinci

INISIATIF PEMBANGUNAN RENDAH EMISI DI PROVINSI PAPUA

INISIATIF PEMBANGUNAN RENDAH EMISI DI PROVINSI PAPUA INISIATIF PEMBANGUNAN RENDAH EMISI DI PROVINSI PAPUA Disampaikan Oleh: Augustinus Rumansara dan John Mampioper SATGAS Pembangunan Rendah Karbon di Provinsi Papua OUTLINE 1. Perobahan iklim dan Pembangunan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 33/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 33/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 33/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG PENUNDAAN PEMBERIAN IZIN BARU DAN PENYEMPURNAAN TATA KELOLA HUTAN ALAM PRIMER DAN LAHAN GAMBUT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2004 TENTANG PENGESAHAN KYOTO PROTOCOL TO THE UNITED NATIONS FRAMEWORK C'ONVENTION ON CLIMATE CHANGE (PROTOKOL KYOTO ATAS KONVENSI KERANGKA KERJA PERSERIKATAN

Lebih terperinci

INDONESIA DAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM ISU LINGKUNGAN GLOBAL

INDONESIA DAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM ISU LINGKUNGAN GLOBAL INDONESIA DAN PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DALAM ISU LINGKUNGAN GLOBAL TIM PENULIS GABUNGAN PENGUSAHA KELAPA SAWIT INDONESIA 2013 PENGANTAR Sikap Indonesia terhadap masalah kemerosotan mutu lingkungan global,

Lebih terperinci

Peran Pendanaan Perubahan Iklim di dalam Pendanaan untuk Pembangunan dan Dampaknya bagi Indonesia

Peran Pendanaan Perubahan Iklim di dalam Pendanaan untuk Pembangunan dan Dampaknya bagi Indonesia Peran Pendanaan Perubahan Iklim di dalam Pendanaan untuk Pembangunan dan Dampaknya bagi Indonesia Henriette Imelda Institute for Essential Services Reform Kehati, 27 April 2015 Pendanaan Perubahan Iklim

Lebih terperinci

Menyelaraskan penurunan emisi ke dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan pada tingkat nasional dan sub nasional di Indonesia

Menyelaraskan penurunan emisi ke dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan pada tingkat nasional dan sub nasional di Indonesia BRIEF NO. 32 Menyelaraskan penurunan emisi ke dalam perencanaan pembangunan yang berkelanjutan pada tingkat nasional dan sub nasional di Indonesia Konteks 1. Indonesia merupakan penghasil emisi karbon

Lebih terperinci

1. Apakah perlu atau ada keinginan untuk kerja sama dengan pihak lain, atau bisa mengembangkan usaha sendiri?

1. Apakah perlu atau ada keinginan untuk kerja sama dengan pihak lain, atau bisa mengembangkan usaha sendiri? Kabar dari TIM PENDAMPING PEMETAAN DESA PARTISIPATIF HULU SUNGAI MALINAU No. 3, Agustus 2000 Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu yang baik, Salam sejahtera, dengan surat ini kami ingin menyampaikan contoh pertanyaan-pertanyaan

Lebih terperinci

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus:

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus: 108 4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen Tujuan Intruksional Khusus: Setelah mengikuti course content ini mahasiswa dapat menjelaskan kriteria, komponen dan cara panen tanaman semusim dan tahunan

Lebih terperinci

Untuk mewujudkan kesejahteraan

Untuk mewujudkan kesejahteraan Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) guna Penghematan Bahan Baku Fosil dalam Rangka Ketahanan Energi Nasional LATAR BELAKANG Untuk mewujudkan kesejahteraan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat Indonesia,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN TRANSPORTASI PERKOTAAN YANG RENDAH KARBON: PERBANDINGAN KASUS KOTA JAKARTA, YOGYAKARTA DAN SEMARANG

PENGEMBANGAN TRANSPORTASI PERKOTAAN YANG RENDAH KARBON: PERBANDINGAN KASUS KOTA JAKARTA, YOGYAKARTA DAN SEMARANG Pengembangan Transportasi Perkotaan yang Rendah Karbon: Perbandingan Kasus Kota Jakarta, Yogyakarta dan Semarang, (Agus Sugiyono, M.S. Boedoyo, M. Muchlis, Erwin Siregar dan Suryani) PENGEMBANGAN TRANSPORTASI

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah

Lebih terperinci

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG K E M E N T E R I A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L / B A D A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L ( B A

Lebih terperinci

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Nomor. 30/AN/B.AN/2010 0 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI Analisis Asumsi Makro Ekonomi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

Perubahan bentang alam sebagai dampak pertambangan

Perubahan bentang alam sebagai dampak pertambangan Tropenbos International Indonesia Programme TBI INDONESIA Perubahan bentang alam sebagai dampak pertambangan Reklamasi dengan pendekatan bentang alam Petrus Gunarso, PhD Bukit Bangkirai, Samboja 4 Desember

Lebih terperinci

Indonesia Eximbank: Konsep Implementasi Lembaga Pembiayaan Ekspor di Indonesia

Indonesia Eximbank: Konsep Implementasi Lembaga Pembiayaan Ekspor di Indonesia Indonesia Eximbank: Konsep Implementasi Lembaga Pembiayaan Ekspor di Indonesia Jakarta, Mei 2015 Agenda 1 Profil Indonesia Eximbank 2 Kinerja Keuangan 3 Lesson Learned Bab 1 Profil Indonesia Eximbank (LPEI)

Lebih terperinci

RIKA PUSPITA SARI 02 114 054 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG

RIKA PUSPITA SARI 02 114 054 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG PERANAN BANTUAN PROGRAM PENGUATAN MODAL USAHA TERHADAP USAHA PENGOLAHAN PISANG PADA KELOMPOK WANITA TANI (KWT) MAJU BERSAMA DI KECAMATAN TANJUNG BARU KABUPATEN TANAH DATAR Oleh : RIKA PUSPITA SARI 02 114

Lebih terperinci

MODEL KELEMBAGAAN EKONOMI PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI PROPINSI RIAU 1

MODEL KELEMBAGAAN EKONOMI PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI PROPINSI RIAU 1 MODEL KELEMBAGAAN EKONOMI PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI PROPINSI RIAU 1 Almasdi Syahza 2 Lembaga Penelitian Universitas Riau, Pekanbaru E-mail: asyahza@yahoo.co.id Website: http://almasdi.unri.ac.id

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

Draft V Interpretasi Nasional Indonesia untuk Revisi P&C RSPO Hasil Pertemuan V INA-NITF (16 Januari 2014)

Draft V Interpretasi Nasional Indonesia untuk Revisi P&C RSPO Hasil Pertemuan V INA-NITF (16 Januari 2014) Draft V Interpretasi Nasional Indonesia untuk Revisi P&C RSPO Hasil Pertemuan V INA-NITF (16 Januari 2014) NO Prinsip 1: Komitmen terhadap transparansi 1.1 Pihak perkebunan dan 1.1.2. Tersedia rekaman

Lebih terperinci

KETIKA IJIN USAHA PERKEBUNAN (IUP) BERSINGGUNGAN KAWASAN HUTAN. Oleh : Sri Sultarini Rahayu. Auditor pada Inspektorat IV Kementerian Kehutanan

KETIKA IJIN USAHA PERKEBUNAN (IUP) BERSINGGUNGAN KAWASAN HUTAN. Oleh : Sri Sultarini Rahayu. Auditor pada Inspektorat IV Kementerian Kehutanan KETIKA IJIN USAHA PERKEBUNAN (IUP) BERSINGGUNGAN KAWASAN HUTAN Oleh : Sri Sultarini Rahayu Auditor pada Inspektorat IV Kementerian Kehutanan Perkebunan merupakan salah satu penghasil devisa yang sangat

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Peranan agribisnis dalam perekonomian Indonesia diharapkan dapat

I. PENDAHULUAN. Peranan agribisnis dalam perekonomian Indonesia diharapkan dapat I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peranan agribisnis dalam perekonomian Indonesia diharapkan dapat menjamin pertumbuhan ekonomi, kesempatan lcerja dan memperbaiki kondisi kesenjangan yang ada. Keunggulan

Lebih terperinci

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No.

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi di Sektor Pertanian Negara Berkembang dan Maju Periode 1980-2008

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi di Sektor Pertanian Negara Berkembang dan Maju Periode 1980-2008 38 IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi di Sektor Pertanian Negara Berkembang dan Maju Periode 198-28 Berdasarkan Gambar 4.1, periode 198 hingga 28 perkembangan GDP pertanian negara-negara

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign BAB II URAIAN TEORI A. Penelitian Terdahulu Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign Exchange Exposure pada Bank-Bank yang Go Public di Bursa Efek Jakarta menunjukkan adanya foreign

Lebih terperinci

ANALISIS EKONOMI KOMODITI KACANG PANJANG DI KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN. Oleh : Chuzaimah Anwar, SP.M.Si

ANALISIS EKONOMI KOMODITI KACANG PANJANG DI KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN. Oleh : Chuzaimah Anwar, SP.M.Si ANALISIS EKONOMI KOMODITI KACANG PANJANG DI KABUPATEN BANYUASIN SUMATERA SELATAN Oleh : Chuzaimah Anwar, SP.M.Si Dosen Fakultas Pertanian Universitas IBA Palembang ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah

Lebih terperinci

INDUSTRI MINYAK SAWIT INDONESIA MENUJU 100 TAHUN NKRI. Membangun Kemandirian Ekonomi, Energi dan Pangan Secara Berkelanjutan

INDUSTRI MINYAK SAWIT INDONESIA MENUJU 100 TAHUN NKRI. Membangun Kemandirian Ekonomi, Energi dan Pangan Secara Berkelanjutan INDUSTRI MINYAK SAWIT INDONESIA MENUJU 100 TAHUN NKRI Membangun Kemandirian Ekonomi, Energi dan Pangan Secara Berkelanjutan GABUNGAN PENGUSAHA KELAPA SAWIT INDONESIA GAPKI 2014 GAPKI 2014 i INDUSTRI MINYAK

Lebih terperinci

ACEH: Proyek Uji Coba REDD+ Ulu Masen

ACEH: Proyek Uji Coba REDD+ Ulu Masen Seri briefing hak-hak, hutan dan iklim Oktober 2011 ACEH: Proyek Uji Coba REDD+ Ulu Masen Proyek Ulu Masen dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Aceh dengan bantuan Fauna and Flora International (FFI)

Lebih terperinci

Moratorium Hutan Indonesia. Batu Loncatan untuk Memperbaiki Tata Kelola Hutan? WORKING PAPER

Moratorium Hutan Indonesia. Batu Loncatan untuk Memperbaiki Tata Kelola Hutan? WORKING PAPER WORKING PAPER Moratorium Hutan Indonesia Batu Loncatan untuk Memperbaiki Tata Kelola Hutan? Daniel Murdiyarso Sonya Dewi Deborah Lawrence Frances Seymour Working Paper 77 Moratorium Hutan Indonesia Batu

Lebih terperinci

Penyusunan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) di Indonesia : Fasilitasi Penyusunan RUED di Propinsi Riau dan Kalimantan Tengah

Penyusunan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) di Indonesia : Fasilitasi Penyusunan RUED di Propinsi Riau dan Kalimantan Tengah Penyusunan Rencana Umum Energi Daerah (RUED) di Indonesia : Fasilitasi Penyusunan RUED di Propinsi Riau dan Kalimantan Tengah Nur Amalia amalia_aim@pelangi.or.id SISTEMATIKA : 1. Tujuan Proyek 2. Hasil

Lebih terperinci

SINAR MAS: Ancaman Kelapa Sawit di Indonesia

SINAR MAS: Ancaman Kelapa Sawit di Indonesia SINAR MAS: Ancaman Kelapa Sawit di Indonesia Salah satu bentuk ancaman baru terhadap hutan Indonesia adalah maraknya pembukaan perkebunan kelapa sawit baru, yang didorong oleh meningkatnya permintaan dunia

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA

UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA Informasi Umum Inisiatif Tungku Sehat Hemat Energi (Clean Stove

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2011 TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN LINDUNG UNTUK PENAMBANGAN BAWAH TANAH

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2011 TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN LINDUNG UNTUK PENAMBANGAN BAWAH TANAH PERATURAN PRESIDEN NOMOR 28 TAHUN 2011 TENTANG PENGGUNAAN KAWASAN HUTAN LINDUNG UNTUK PENAMBANGAN BAWAH TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

- 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

- 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP - 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP SUB BIDANG SUB SUB BIDANG PEMERINTAH 1. Pengendalian Dampak Lingkungan 1. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 1. Menetapkan

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2006 disempurnakan untuk memberikan gambaran ekonomi

Lebih terperinci

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI KATA PENGANTAR Booklet Data dan Informasi Propinsi Bali disusun dengan maksud untuk memberikan gambaran secara singkat mengenai keadaan Kehutanan di Propinsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia, maka secara otomatis kebutuhan terhadap pangan akan meningkat pula. Untuk memenuhi kebutuhan pangan

Lebih terperinci

PRODUKSI DAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH. Litterfall Production, and Decomposition Rate of

PRODUKSI DAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH. Litterfall Production, and Decomposition Rate of PRODUKSI DAN LAJU DEKOMPOSISI SERASAH Acacia crassicarpa A. Cunn. di PT. ARARA ABADI Litterfall Production, and Decomposition Rate of Acacia crassicarpa A. Cunn in PT. Arara Abadi. Balai Penelitian Hutan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 36 TAHUN 2012

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 36 TAHUN 2012 GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 36 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA AKSI DAERAH PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA (RAD - GRK) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI

Lebih terperinci

PROGRAM TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI BIOMASSA (TSHE) INDONESIA

PROGRAM TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI BIOMASSA (TSHE) INDONESIA PROGRAM TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI BIOMASSA (TSHE) INDONESIA Program kerja sama antara Kementrian ESDM Direktorat Jendral Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Direktorat bioenergi - dan Bank Dunia

Lebih terperinci

Bekerja sama untuk konservasi hutan

Bekerja sama untuk konservasi hutan Bekerja sama untuk konservasi hutan 1 Presentasi ini dikeluarkan oleh Golden Agri-Resources Ltd ( GAR atau Perusahaan ) guna keperluan pemberian informasi. Presentasi ini memuat pernyataan-pernyataan,

Lebih terperinci

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-5 1 Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta Dwitanti Wahyu Utami dan Retno Indryani Jurusan Teknik

Lebih terperinci

PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES

PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES PT Semen Padang: Studi Kasus Perusahaan PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN PT. Semen Padang didirikan pada tahun 1910 dan merupakan pabrik semen tertua di Indonesia. Pabrik berlokasi di Indarung, Padang,

Lebih terperinci

KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG

KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG KONSEP PURCHASING POWER PARITY DALAM PENENTUAN KURS MATA UANG Yovita Vivianty Indriadewi Atmadjaja Dosen Fakultas Ekonomi Prodi Manajemen Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi ABSTRAKSI Salah satu konsep

Lebih terperinci

Manfaat Minyak Sawit bagi Perekonomian Indonesia

Manfaat Minyak Sawit bagi Perekonomian Indonesia Manfaat Minyak Sawit bagi Perekonomian Indonesia Laporan World Growth Februari 2011 Memberantas Kemiskinan melalui Penciptaan Kekayaan Kelapa sawit menyediakan jalan keluar dari kemiskinan bagi negara

Lebih terperinci

ANALISA HUBUNGAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA JUAL MINYAK KELAPA SAWIT PADA PT. LANGKAT NUSANTARA KEPONG PKS PADANG BRAHRANG

ANALISA HUBUNGAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA JUAL MINYAK KELAPA SAWIT PADA PT. LANGKAT NUSANTARA KEPONG PKS PADANG BRAHRANG ANALISA HUBUNGAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA JUAL MINYAK KELAPA SAWIT PADA PT. LANGKAT NUSANTARA KEPONG PKS PADANG BRAHRANG Lina Arliana Nur Kadim, SE., MM Program Studi D3- Komputerisasi Akuntansi

Lebih terperinci