PETUNJUK PELAKSANAAN JAKSA AGUNG MUDA PENGAWASAN NOMOR : JUKLAK-01/H/Hjw/04/2011

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PETUNJUK PELAKSANAAN JAKSA AGUNG MUDA PENGAWASAN NOMOR : JUKLAK-01/H/Hjw/04/2011"

Transkripsi

1 PETUNJUK PELAKSANAAN JAKSA AGUNG MUDA PENGAWASAN NOMOR : JUKLAK-01/H/Hjw/04/2011 TENTANG TEKNIS PENANGANAN LAPORAN PENGADUAN DAN TATA KELOLA ADMINISTRASI BIDANG PENGAWASAN JAKSA AGUNG MUDA PENGAWASAN, Menimbang : a. Bahwa dalam rangka pelaksanaan Program Reformasi Birokrasi Kejaksaan Republik Indonesia diperlukan penyusunan tata laksana yang menghasilkan Standar Prosedur Operasi (Standard Operasional Procedural/SOP); b. Bahwa dengan penataan standar pelayanan administrasi dan teknis penanganan Laporan Pengaduan diharapkan proses kerja dan out put kinerja dapat lebih kredibel, sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Kejaksaan Republik Indonesia; c. Bahwa standar pelayanan administrasi dan teknis penanganan Laporan Pengaduan di lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia berlaku sebagai panduan kinerja jajaran bidang Pengawasan dalam melaksanakan tugas dan kewenangannya yang profesional, proporsional dengan penuh kearifan; d. Bahwa standar pelayanan administrasi dan teknis penanganan Laporan Pengaduan yang selama ini berjalan belum mendasarkan pada prinsip-prinsip bussiness process yang bersifat lengkap dan kronologis berciri spesifik, dapat diukur, dapat dicapai, sesuai kepentingan/keinginan stakeholder dan jelas penentuan batas waktunya; e. Bahwa mekanisme kerja yang selama ini berjalan dipandang sudah tidak dapat mendukung kecepatan, kepastian, dan peningkatan kinerja serta peningkatan kepercayaan masyarakat, sehingga perlu diatur suatu tata kelola yang bertumpu pada bussiness process yang terurai secara lengkap dan kronologis; f. Bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut pada huruf a, b, c, d dan e maka perlu ditetapkan suatu Petunjuk Pelaksanaan Jaksa Agung Muda Pengawasan tentang Teknis Penanganan Laporan Pengaduan dan Tata Kelola Administrasi Bidang Pengawasan. Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia; 2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kejaksaan Republik Indonesia; 3. Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor : PER- 009/A/JA/01/2011 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 1

2 Kejaksaan Republik Indonesia; 4. Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor : PER- 022/A/JA/03/2011 tentang Penyelenggaraan Pengawasan Kejaksaan Republik Indonesia; 5. Peraturan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 21 Tahun 2010 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 Tentang Disipilin Pegawai Negeri Sipil. MEMUTUSKAN Menetapkan : PETUNJUK PELAKSANAAN JAKSA AGUNG MUDA PENGAWASAN TENTANG TEKNIS PENANGANAN LAPORAN PENGADUAN DAN TATA KELOLA ADMINISTRASI BIDANG PENGAWASAN. BAB I PENGERTIAN UMUM Pasal 1 Dalam Petunjuk Pelaksanaan Jaksa Agung Muda Pengawasan ini, yang dimaksud dengan : 1. Administrasi Pengawasan adalah Administrasi Pengawasan Melekat dan Pengawasan Fungsional di lingkungan Kejaksaan Republik Indonesia. 2. Telaahan adalah pembahasan atau analisa atau kajian mengenai suatu permasalahan. 3. Laporan pengaduan adalah informasi tertulis maupun lisan yang berisi adanya dugaan pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh pegawai Kejaksaan. 4. Klarifikasi adalah serangkaian kegiatan untuk mencari dan menemukan bukti awal adanya dugaan pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh pegawai Kejaksaan. 5. Inspeksi Kasus adalah serangkaian kegiatan pemeriksaan untuk mengungkapkan ada atau tidaknya pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh terlapor. 6. Pimpinan satuan kerja adalah Jaksa Agung Muda, Kepala Badan Diklat, Kepala Pusat, Kepala Kejaksaan Tinggi, Kepala Kejaksaan Negeri dan Kepala Cabang Kejaksaan Negeri. 7. Pegawai Kejaksaan adalah Jaksa dan Pegawai Tata Usaha pada Kejaksaan Republik Indonesia termasuk yang ditugaskan pada instansi lain. 8. Terlapor adalah pegawai Kejaksaan yang diduga melakukan pelanggaran disiplin berdasarkan bukti awal. 9. Tim klarifikasi adalah tim yang dibentuk untuk melakukan klarifikasi. JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 2

3 10. Tim Pemeriksa adalah tim yang dibentuk untuk melaksanakan inspeksi kasus. 11. Eksaminasi Khusus yaitu tindakan penelitian dan pemeriksaan terhadap berkas perkara tertentu yang menarik perhatian masyarakat, atau perkara lain yang menurut penilaian pimpinan perlu dilakukan eksaminasi, baik terhadap perkara yang sedang ditangani maupun yang telah selesai ditangani oleh Jaksa/Penuntut Umum dan telah memperoleh kekuatan hukum tetap. 12. Pelanggaran disiplin adalah setiap ucapan, tulisan atau perbuatan pegawai kejaksaan yang tidak menaati kewajiban dan/atau melanggar larangan, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja. 13. Ucapan adalah setiap kata-kata yang diucapkan dihadapan atau dapat didengar oleh orang lain, seperti dalam rapat, ceramah, diskusi melalui telepon, radio, televisi, rekaman atau alat komunikasi lainnya. 14. Tulisan adalah pernyataan pikiran dan/atau perasaan secara tertulis baik dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk gambar, karikatur, coretan dan lain-lain yang serupa dengan itu. 15. Perbuatan adalah setiap tingkah laku, sikap atau tindakan yang dilakukan atau tidak melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan sesuai peraturan perundang-undangan. 16. Pejabat Yang Memberi Perintah adalah pejabat yang menerbitkan surat perintah. 17. Pejabat Yang Berwenang Menghukum adalah pejabat yang diberi wewenang untuk menjatuhkan hukuman disiplin; 18. Atasan Pejabat Yang Berwenang menghukum adalah atasan langsung dari pejabat yang berwenang menghukum. 19. Hukuman Disiplin adalah hukuman yang dijatuhkan kepada pegawai Kejaksaan karena telah terbukti melakukan pelangaran disiplin. 20. Upaya Administratif adalah prosedur yang dapat ditempuh oleh pegawai Kejaksaan yang tidak puas terhadap hukuman disiplin yang dijatuhkan kepadanya berupa keberatan atau banding administratif. 21. Keberatan adalah upaya administratif yang dapat ditempuh oleh pegawai Kejaksaan yang tidak puas terhadap hukuman disiplin yang dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang menghukum kepada atasan pejabat yang berwenang menghukum. 22. Banding Administratif adalah upaya administratif yang dapat ditempuh oleh pegawai Kejaksaan yang tidak puas terhadap hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil atau pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 3

4 yang dijatuhkan oleh pejabat yang berwenang menghukum, kepada Badan Pertimbangan Kepegawaian. 23. Pemaparan adalah paparan baik pada tahap pemeriksaan, rencana penjatuhan hukuman disiplin dan pengajuan keberatan terhadap penjatuhan hukuman disiplin, sebagai sarana pengujian atas tindakan-tindakan teknis penanganan laporan pengaduan dan sebagai dasar pengambilan keputusan pimpinan. BAB II PENANGANAN LAPORAN PENGADUAN DAN KLARIFIKASI Bagian Kesatu Penanganan Laporan Pengaduan Paragraf 1 Sumber Laporan Pengaduan Sumber Laporan Pengaduan: a. Laporan masyarakat; b. Lembaga negara; c. Instansi pemerintah; d. Media massa; e. Sumber-sumber lain. Pasal 2 Paragraf 2 Tindak Lanjut Laporan Pengaduan Pasal 3 (1) Setiap laporan pengaduan dibuatkan telaahan oleh Pejabat Pengawasan Fungsional dalam waktu paling lama 1 (satu) hari kerja dan dilaporkan kepada pimpinan satuan kerja. (2) Hasil telaahan dapat berupa : a. Tidak atau belum ditemukan bukti awal dugaan pelanggaran disiplin; b. Telah ditemukan bukti awal dugaan pelanggaran disiplin; c. Substansi permasalahannya merupakan lingkup bidang teknis. (3) Tindak lanjut hasil telaahan : a. Terhadap hasil telaahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a tidak ditindaklanjuti; b. Terhadap hasil telaahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dalam waktu 3 (tiga) hari kerja ditindaklanjuti dengan melakukan klarifikasi atau inspeksi kasus; c. Terhadap hasil telaahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c dalam waktu 3 (tiga) hari kerja ditindaklanjuti dengan JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 4

5 melakukan eksaminasi khusus oleh Pejabat Pengawasan Fungsional atau diteruskan kepada bidang teknis terkait. (4) Apabila tindak lanjut hasil telaahan untuk dilakukan inspeksi kasus sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b merupakan kewenangan atasan langsung terlapor, maka laporan pengaduan dan hasil telaahan diteruskan kepada atasan langsung sesuai hierarki. (5) Telaahan menggunakan formulir WAS-1. Pasal 4 Laporan Pengaduan tidak ditindaklanjuti, karena : a. Belum ditemukan bukti awal dugaan pelanggaran disiplin; b. Terlapor telah meninggal dunia; c. Terlapor telah pensiun; d. Daluwarsa; e. Telah mendapat keputusan penjatuhan hukuman disiplin. Bagian Kedua Penanganan Klarifikasi Paragraf 1 Tim Klarifikasi Pasal 5 (1) Tim Klarifikasi terdiri dari : a. 1 (satu) orang Pejabat Pengawasan Fungsional selaku ketua merangkap anggota; b. sekurang-kurangnya 2 (dua) orang Pejabat Pengawasan Fungsional selaku anggota. (2) Dikecualikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), tim klarifikasi pada Kejaksaan Negeri yang ada Cabang Kejaksaan Negeri terdiri dari : a. Kepala Kejaksaan Negeri selaku ketua merangkap anggota; b. Pemeriksa selaku anggota. (3) Tim klarifikasi dibentuk berdasarkan Surat Perintah Klarifikasi dengan mengutamakan Pejabat Pengawasan Fungsional yang membuat telaahan atas laporan pengaduan yang bersangkutan, pada tingkat : a. Kejaksaan Agung diterbitkan oleh Jaksa Agung atau Jaksa Agung Muda Pengawasan; b. Kejaksaan Tinggi diterbitkan oleh Kepala Kejaksaan Tinggi; c. Kejaksaan Negeri diterbitkan oleh Kepala Kejaksaan Negeri; (4) Dalam setiap Surat Perintah Klarifikasi dapat ditugaskan seorang pegawai tata usaha sebagai petugas administrasi. (5) Surat Perintah Klarifikasi menggunakan formulir SP.WAS-1. JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 5

6 Paragraf 2 Tugas, Kewajiban dan Wewenang Tim Klarifikasi Pasal 6 (1) Ketua Tim Klarifikasi : a. Memimpin rapat internal tim sebelum atau selama melakukan klarifikasi; b. Mengarahkan dan menegur anggota tim apabila diketahui adanya tindakan atau sikap yang tidak sesuai dengan tugastugas klarifikasi dan dapat melaporkannya kepada pejabat yang memerintah; c. Melaksanakan tugas dan fungsi selaku Pejabat Pengawasan Fungsional berdasarkan Peraturan Jaksa Agung dan peraturan lainnya yang berlaku; d. Bertanggung jawab atas pelaksanaan dan hasil klarifikasi secara profesional dan proporsional dengan penuh kearifan; e. Bersama-sama dengan anggota membahas dan mengevaluasi perkembangan / hasil klarifikasi dan melaporkannya dalam bentuk Laporan Hasil Klarifikasi sesuai jangka waktu yang telah ditentukan; f. Melakukan pemaparan perkembangan / hasil klarifikasi; g. Mengusulkan kepada Pimpinan untuk penambahan / penggantian anggota Tim Klarifikasi dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan; h. Melaporkan tindakan klarifikasi yang telah dilaksanakan kepada pejabat yang memerintah; i. Melaksanakan tugas lain dalam fungsinya selaku Ketua Tim Klarifikasi. (2) Anggota Tim Klarifikasi : a. Melaksanakan tugas dan fungsi selaku Pejabat Pengawasan Fungsional berdasarkan Peraturan Jaksa Agung dan peraturan lainnya yang berlaku; b. Melaporkan tindakan klarifikasi yang telah dilaksanakan kepada Ketua Tim secara berkala; c. Turut serta bertanggung jawab atas pelaksanaan dan hasil klarifikasi secara profesional dan proporsional dengan penuh kearifan; d. Bersama-sama dengan Ketua Tim membahas dan mengevaluasi perkembangan / hasil klarifikasi dan melaporkannya dalam bentuk laporan perkembangan klarifikasi sesuai dengan jangka waktu yang ditentukan; e. Melakukan pemaparan apabila Ketua Tim berhalangan; f. Melaksanakan tugas lain dalam fungsinya selaku anggota Tim Klarifikasi. JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 6

7 (3) Petugas administrasi bertanggungjawab atas pelaksanaan tugas administrasi klarifikasi, dan atas perintah Ketua dan/atau anggota Tim Klarifikasi, bertugas : a. Mempersiapkan sarana dan prasarana pelaksanaan tugas klarifikasi; b. Membantu Tim Klarifikasi dalam pelaksaan tugas klarifikasi; c. Melaksanakan pengarsipan dan pendokumentasian hasil-hasil klarifikasi; d. Pendokumentasian sebagaimana dimaksud huruf c, dalam bentuk dokumen asli dan data komputer (soft copy) dengan cara melakukan pemindaian (scanner) untuk tiap-tiap dokumen; e. Melaksanakan tugas lain dalam fungsinya selaku petugas administrasi klarifikasi. Paragraf 3 Jangka Waktu Klarifikasi Pasal 7 klarifikasi dilaksanakan paling lama 3 (tiga) hari kerja dan dapat diperpanjang selama 3 (tiga) hari kerja. Paragraf 4 Pelaporan Pasal 8 (1) Dalam waktu paling lama 2 (dua) hari kerja setelah kegiatan klarifikasi selesai, Tim Klarifikasi wajib menyampaikan laporan hasil klarifikasi atau perkembangan klarifikasi kepada pejabat yang memberi perintah. (2) Terhadap hasil klarifikasi yang dianggap belum lengkap, dapat diberikan petunjuk untuk dilengkapi paling lama 3 (tiga) hari kerja. (3) Laporan hasil klarifikasi menggunakan formulir L.WAS-1. (4) Berkas laporan hasil klarifikasi dibuat dengan sistematika sebagai berikut : a. Surat Perintah; b. Laporan Hasil Klarifikasi; c. Berita Acara Hasil Wawancara; d. Salinan Laporan Pengaduan; e. Bukti Pendukung. JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 7

8 Paragraf 5 Tindak Lanjut Hasil Klarifikasi Pasal 9 (1) Pejabat yang berwenang untuk memutuskan hasil klarifikasi adalah pejabat yang memberi perintah. (2) Terhadap hasil klarifikasi yang tidak ditemukan bukti awal adanya dugaan pelanggaran disiplin, maka klarifikasi dihentikan setelah mendapat persetujuan pejabat yang memberi perintah. (3) Terhadap hasil klarifikasi yang ditemukan bukti awal adanya dugaan pelanggaran disiplin, ditindaklanjuti dengan inspeksi kasus. (4) Surat perintah klarifikasi menggunakan formulir SP-WAS 1. Bagian Ketiga Inspeksi Kasus Paragraf 1 Umum Pasal 10 (1) Inspeksi Kasus dilaksanakan berdasarkan adanya dugaan pelanggaran disiplin yang diperoleh dari : a. temuan hasil Pengawasan Melekat; b. temuan hasil Inspeksi atau Pemantauan; c. laporan pengaduan, dilakukan inspeksi kasus apabila : 1) berdasarkan hasil telaahan atau klarifikasi ditemukan bukti awal adanya dugaan perbuatan pelanggaran disiplin; atau 2) berdasarkan pertimbangan pimpinan satuan kerja. (2) Jaksa Agung atau Jaksa Agung Muda Pengawasan berwenang memutuskan perlu atau tidaknya dilaksanakan inspeksi kasus terhadap dugaan pelanggaran disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat (1). Paragraf 2 Jangka Waktu Inspeksi Kasus Pasal 11 (1) Inspeksi Kasus dilaksanakan paling lama 7 (tujuh) hari kerja dan dapat diperpanjang selama 7 (tujuh) hari kerja. (2) Inspeksi kasus terhadap laporan pengaduan yang menarik perhatian masyarakat baik pada tingkat daerah maupun nasional, selambat-lambatnya dalam waktu 10 (sepuluh) hari kerja sudah ada penjatuhan hukuman disiplin atau penghentian pemeriksaan dari pejabat yang berwenang. JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 8

9 Paragraf 3 Tata Cara Inspeksi Kasus Pasal 12 Inspeksi Kasus dilaksanakan oleh : a. Atasan Langsung terlapor atau tim yang ditunjuk oleh atasan langsung terlapor; atau b. Tim Pemeriksa. Pasal 13 (1) Atasan Langsung terlapor atau tim yang ditunjuk oleh atasan langsung terlapor melakukan inspeksi kasus terhadap dugaan pelanggaran disiplin yang diancam dengan jenis hukuman disiplin ringan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil. (2) Inspeksi kasus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) didasarkan pada surat perintah pimpinan satuan kerja atau setidak-tidaknya pejabat struktural eselon III dilingkungannya. (3) Apabila Jaksa Agung selaku atasan langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka inspeksi kasus dapat dilakukan oleh Jaksa Agung Muda Pengawasan berdasarkan surat perintah Jaksa Agung. (4) Dalam setiap surat perintah inspeksi kasus dapat ditugaskan seorang pegawai tata usaha selaku petugas administrasi inspeksi kasus. (5) Surat Perintah Inspeksi Kasus menggunakan formulir SP. WAS-2. Pasal 14 (1) Tim Pemeriksa melakukan inspeksi kasus terhadap dugaan pelanggaran disiplin yang diancam dengan jenis hukuman disiplin sedang dan berat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (3) dan (4) Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil dan pelanggaran disiplin sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 ayat (1) huruf a dan c Peraturan Jaksa Agung R.I. Nomor : PER-022/A/JA/03/2011 tentang Penyelenggaraan Pengawasan Kejaksaan Republik Indonesia. (2) Terhadap dugaan pelanggaran disiplin sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang dilakukan oleh pejabat eselon II atau pejabat eselon III atau berdasarkan pertimbangan lain sesuai petunjuk pimpinan satuan kerja, maka inspeksi kasus dilaksanakan oleh Tim Pemeriksa Kejaksaan Agung. (3) Tim Pemeriksa, terdiri dari : a. 1 (satu) orang Pejabat Pengawasan Fungsional selaku ketua merangkap anggota; JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 9

10 b. Sekurang-kurangnya 2 (dua) orang Pejabat Pengawasan Fungsional selaku anggota; c. Atasan langsung terlapor selaku anggota; d. 1 (satu) orang pejabat kepegawaian atau pejabat lain yang ditunjuk selaku anggota. (4) Dikecualikan sebagaimana dimaksud pada ayat (3), tim pemeriksa pada Kejaksaan Negeri yang ada Cabang Kejaksaan Negeri terdiri dari : a. Kepala Kejaksaan Negeri selaku ketua merangkap anggota; b. Pemeriksa selaku anggota; c. Atasan langsung terlapor selaku anggota; d. 1 (satu) orang pejabat kepegawaian atau pejabat lain yang ditunjuk selaku anggota. (5) Tim Pemeriksa dibentuk berdasarkan surat perintah inspeksi kasus dengan mengutamakan Pejabat Pengawasan Fungsional yang tergabung dalam Tim Klarifikasi, pada tingkat : a. Kejaksaan Agung diterbitkan oleh Jaksa Agung atau Jaksa Agung Muda Pengawasan; b. Kejaksaan Tinggi diterbitkan oleh Kepala Kejaksaan Tinggi; c. Kejaksaan Negeri diterbitkan oleh Kepala Kejaksaan Negeri. (6) Dalam setiap surat perintah inspeksi kasus dapat ditugaskan seorang pegawai tata usaha selaku petugas administrasi inspeksi kasus. (7) Surat Perintah Inspeksi Kasus menggunakan formulir SP. WAS-2. Paragraf 4 Tugas, Kewajiban dan Wewenang Tim Pasal 15 (1) Ketua Tim atau Tim Pemeriksa : a. Memimpin rapat internal tim sebelum atau selama melakukan inspeksi kasus; b. Mengarahkan dan menegur anggota tim apabila diketahui adanya tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan tugastugas inspeksi kasus dan dapat melaporkannya secara lisan dan / atau tertulis kepada pejabat yang memberi perintah; c. Melaporkan perkembangan / hasil inspeksi kasus yang telah dilaksanakan kepada pejabat yang memberi perintah; d. Bertanggung jawab atas pelaksanaan dan hasil inspeksi kasus secara profesional dan proposional dengan penuh kearifan; e. Bersama-sama dengan anggota tim membahas dan mengevaluasi hasil inspeksi kasus dan melaporkannya dalam bentuk Laporan Hasil Inspeksi Kasus sesuai jangka waktu yang ditentukan; f. Melakukan pemaparan atas hasil inspeksi kasus; JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 10

11 g. Mengusulkan kepada Pimpinan untuk penambahan / penggantian anggota tim dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan; h. Melaksanakan tugas lain dalam fungsinya selaku Ketua Tim. (2) Anggota Tim atau Tim Pemeriksa : a. Melaporkan tindakan-tindakan yang telah dilakukan kepada ketua tim secara berkala. b. Bertanggung jawab atas pelaksanaan dan hasil inspeksi kasus secara profesional dan proposional dengan penuh kearifan; c. Bersama-sama dengan ketua tim membahas dan mengevaluasi hasil inspeksi kasus dan melaporkannya dalam bentuk Laporan Hasil Inspeksi Kasus sesuai jangka waktu yang ditentukan; d. Melakukan pemaparan atas hasil inspeksi kasus, apabila ketua tim berhalangan; e. Melaksanakan tugas lain dalam fungsinya selaku Anggota Tim. (3) Petugas Administrasi Inspeksi Kasus bertanggung jawab atas pelaksanaan tugas administrasi inspeksi kasus, dan atas perintah ketua dan/atau anggota Tim Inspeksi Kasus: a. Mempersiapkan sarana dan prasarana pelaksanaan tugas inspeksi kasus; b. Membantu Tim dalam melaksanakan tugas dan fungsinya melakukan inspeksi kasus; c. Melakukan pengarsipan, pendokumentasian dan pemberkasan hasil-hasil inspeksi kasus; d. Pendokumentasian sebagaimana dimaksud huruf c, dalam bentuk dokumen asli dan data komputer (soft copy) dengan cara melakukan pemindaian (scanner) untuk tiap-tiap dokumen. e. Melaksanakan tugas lain dalam fungsinya selaku petugas administrasi inspeksi kasus. (4) Bagi inspeksi kasus yang dilaksanakan oleh tim pemeriksa, Permintaan keterangan terhadap saksi dan terlapor dilaksanakan oleh anggota tim pemeriksa dari unsur Pejabat Pengawasan Fungsional. (5) Hasil permintaan keterangan terhadap saksi dan terlapor dituangkan dalam bentuk berita acara permintaan keterangan dengan menggunakan formulir BA. WAS-3. Paragraf 5 Persiapan Inspeksi Kasus Pasal 16 Setelah pelaksana inspeksi kasus menerima surat perintah inspeksi kasus, selanjutnya melakukan kegiatan : JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 11

12 1. Menyiapkan surat pemberitahuan kepada Pimpinan Satuan Kerja tentang Inspeksi Kasus yang akan dilaksanakan, dengan menggunakan formulir WAS Menyiapkan rencana permintaan keterangan dengan menggunakan formulir WAS-7, antara lain melakukan kegiatan : a. Mengumpulkan data atau bukti awal yang berkaitan dengan laporan pengaduan; b. Meneliti data kepegawaian dan surat keterangan kepegawaian terlapor; c. Menentukan pihak-pihak yang perlu dimintai keterangan; d. Menentukan lokasi permintaan keterangan; e. Menghitung waktu yang diperlukan. Paragraf 6 Pelaporan Pasal 17 (1) Setelah selesai melaksanakan inspeksi kasus, pelaksana inspeksi kasus segera melaporkan secara lisan hasil inspeksi kepada pejabat yang memberi perintah dan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja sudah menyampaikan berkas laporan hasil inspeksi kasus. (2) Terhadap laporan hasil inspeksi kasus yang dianggap belum lengkap, pejabat yang memberi perintah dapat memberikan petunjuk untuk dilengkapi dalam waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja. (3) Laporan hasil inspeksi kasus menggunakan formulir L.WAS-2. (4) Berkas laporan hasil inspeksi kasus dibuat dengan sistematika sebagai berikut : a. Surat Perintah; b. Berita Acara Inspeksi; c. Laporan Hasil Inspeksi Kasus; d. Berita Acara Permintaan Keterangan; e. Salinan Laporan Pengaduan; f. Bukti pendukung. Paragraf 7 Penyidikan Pasal 18 (1) Apabila berdasarkan hasil inspeksi kasus diduga kuat terlapor telah melakukan tindak pidana, maka penyidikannya dapat diserahkan kepada Penyidik setelah mendapat persetujuan Jaksa Agung. (2) Apabila tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan tindak pidana korupsi, maka penyidikannya dilakukan JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 12

13 oleh Jaksa pada bidang Pengawasan atas perintah Jaksa Agung Muda Pengawasan atau Inspektur atau Kepala Kejaksaan Tinggi berdasarkan hukum acara pidana setelah mendapat persetujuan Jaksa Agung. (3) Permohonan persetujuan Jaksa Agung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2) diajukan melalui Jaksa Agung Muda Pengawasan bersamaan dengan penyampaian berkas laporan hasil inspeksi kasus dengan menggunakan formulir WAS-24 A atau WAS-24 B. BAB III PENANGANAN LAPORAN PENGADUAN PADA KEJAKSAAN AGUNG Bagian Kesatu Tindakan Kesekretariatan Pasal 19 (1) Kasubbag Tata Persuratan setelah menerima berkas laporan pengaduan, pada hari yang bersangkutan segera menyerahkan berkas laporan pengaduan kepada Kepala Bagian Sunproglap dan Panil dengan mencatat terlebih dahulu pada buku ekspedisi untuk diparaf oleh penerima. (2) Kasubbag Tata Persuratan setelah menerima berkas laporan pengaduan dari Kepala Bagian Sunproglap dan Panil, melakukan tindakan sebagai berikut : a. Memberikan paraf pada label / lembar disposisi berkas laporan pengaduan dan mencatan dalam buku register; b. Pada hari yang bersangkutan, segera menyerahkan berkas laporan pengaduan kepada Kepala Bagian Tata Usaha dengan mencatat terlebih dahulu pada buku ekspedisi dan diparaf oleh penerima. Pasal 20 (1) Kepala Bagian Sunproglap dan Panil setelah menerima berkas laporan pengaduan, melakukan tindakan sebagai berikut : a. Memerintahkan Kasubbag Sunproglap, untuk : - Melakukan pencatatan pada buku agenda/register laporan pengaduan; - Melakukan pengecekan dan memberi kode pada label / lembar disposisi, apakah berkas laporan pengaduan tersebut sudah pernah dilaporkan atau berkas laporan pengaduan tersebut baru diterima, serta memberi catatan singkat tentang laporan tersebut; - Menggandakan surat pengantar atau berkas laporan pengaduan sebagai turunan rangkap 1 (satu); JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 13

14 - Mengarsipkan / memfile surat pengantar atau berkas laporan pengaduan. b. Memberikan paraf pada label / lembar disposisi setelah diberikan kode surat. (2) Dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) hari kerja sejak melakukan tindakan sebagaima tersebut pada ayat (1) huruf a dan b, berkas laporan pengaduan tersebut dikembalikan kepada Kasubbag Tata Persuratan dengan menggunakan buku ekspedisi dan diparaf oleh penerima. (3) Setelah menerima salinan (foto copy) berkas laporan pengaduan yang akan dilakukan klarisifikasi atau inspeksi kasus, segera mencatat dalam buku register Pasal 21 (1) Kepala Bagian Tata Usaha setelah menerima berkas laporan pengaduan dari Kasubbag Tata Persuratan tentang diterimanya berkas laporan pengaduan dan catatan singkat isi laporan pengaduan, melakukan tindakan sebagai berikut : a. Meregister ulang berkas laporan pengaduan tersebut agar tertata dengan tertib; b. Memberikan paraf pada label / lembar disposisi berkas laporan pengaduan; c. Dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah diregister dan diberi paraf, berkas laporan pengaduan tersebut sudah diteruskan kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan setelah mendapat paraf Sekretaris Jaksa Agung Muda Pengawasan. (2) Kepala Bagian Tata Usaha meregister / mencatat dalam buku agenda berkas laporan pengaduan yang sudah mendapat petunjuk Jaksa Agung Muda Pengawasan dan pada hari yang bersangkutan sudah menyerahkan berkas laporan pengaduan tersebut sesuai disposisi Jaksa Agung Muda Pengawasan. (3) Setelah menerima salinan (foto copy) berkas laporan pengaduan yang akan dilakukan klarifikasi atau inspeksi kasus, segera menyiapkan draft Surat Perintah Klarifikasi (SP. WAS-1) atau Surat Perintah Inspeksi Kasus (SP. WAS-2) dan meneruskannya kepada Sekretaris Jaksa Agung Muda Pengawasan untuk diparaf. (4) Dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) hari kerja sejak diterimanya salinan (foto copy) berkas laporan pengaduan, surat perintah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) telah disampaikan kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan untuk ditandatangani. Pasal 22 Sekretaris Jaksa Agung Muda Pengawasan Pada hari yang bersangkutan setelah menerima berkas laporan pengaduan dari Kepala Bagian Tata Usaha, melakukan tindakan sebagai berikut : JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 14

15 a. Memberi paraf pada label / lembar disposisi berkas laporan pengaduan; b. Meneruskan berkas laporan pengaduan kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan melalui Kepala Bagian Tata Usaha. Bagian Kedua Tindakan Jaksa Agung Muda Pengawasan Pasal 23 (1) Jaksa Agung Muda Pengawasan dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) hari kerja sejak diterimanya berkas laporan pengaduan, mempelajari dan mengambil keputusan mengenai tindaklanjut laporan pengaduan. (2) Keputusan Jaksa Agung Muda Pengawasan atas berkas laporan pengaduan memerintahkan Sekretaris Jaksa Agung Muda Pengawasan atau Inspektur untuk : a. Melakukan Telaahan; b. Melakukan Klarifikasi; c. Melakukan Inspeksi kasus; d. Meneruskan kepada bidang teknis terkait, apabila substansi permasalahan laporan pengaduan dalam kewenangan bidang teknis atau untuk dilakukan inspeksi kasus oleh atasan langsung; e. Meneruskan laporan pengaduan kepada Kejaksaan Tinggi terkait, untuk ditindaklanjuti dengan klarifikasi atau inspeksi kasus; f. Melakukan Telaahan atas Laporan Hasil Inspeksi Kasus dari Kejaksaan Tinggi yang menjadi kewenangan Jaksa Agung selaku pejabat yang berwenang menghukum. (3) Jaksa Agung Muda Pengawasan dapat memutuskan untuk tidak menindaklanjuti laporan pengaduan apabila berpendapat : a. Materi laporan pengaduan tidak ada kaitannya dengan dugaan pelanggaran disiplin; b. Adanya pertimbangan lain. (4) Kepala Bagian Tata Usaha melaksanakan fungsi administrasi terhadap tindakan Jaksa Agung Muda Pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2) dan (3). Pasal 24 Jaksa Agung Muda Pengawasan setelah menerima hasil telaahan atas laporan pengaduan dari Inspektur, dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) hari kerja menindaklanjuti dengan memerintahkan Inspektur melakukan Klarifikasi atau Inspeksi Kasus atau tindakan lain sesuai dengan hasil telaahan. JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 15

16 Pasal 25 Jaksa Agung Muda Pengawasan setelah menerima Laporan Hasil Klarifikasi dari Inspektur, dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) hari kerja menindaklanjuti dengan mengambil keputusan : a. Menghentikan klarifikasi; b. Dilakukan inspeksi kasus. Pasal 26 (1) Jaksa Agung Muda Pengawasan setelah menerima berkas Laporan Hasil Inspeksi Kasus, dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja telah menetapkan: a. penjatuhan hukuman disiplin bagi pegawai kejaksaan dilingkungan Jaksa Agung Muda bidang Pengawasan yang menjadi kewenangan Jaksa Agung Muda Pengawasan selaku pejabat yang berwenang menghukum; b. persetujuan terhadap penjatuhan hukuman disiplin yang menjadi kewenangan pejabat struktural eselon I selaku pejabat yang berwenang menghukum dan atau Inspeksi kasus yang dilaksanakan oleh tim pemeriksa Kejaksaan Agung,. c. menyetujui penghentian Inspeksi Kasus. (2) Persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf b disampaikan kepada pejabat yang berwenang menghukum dengan menggunakan formulir WAS-14 B atau WAS-14 D yang dilampiri dengan Laporan Hasil Inspeksi Kasus (L-WAS.2) dan Formulir Surat Keputusan sesuai dengan persetujuan hukuman disiplin yang dijatuhkan dengan menggunakan formulir sebagaimana tersebut pada Pasal 83 ayat (2). (3) Penyampaian persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (2) dapat dilakukan oleh Sekretaris Jaksa Agung Muda Pengawasan atau Inspektur. Pasal 27 (1) Jaksa Agung Muda Pengawasan setelah menerima berkas Laporan Hasil Inspeksi Kasus yang menjadi kewenangan Jaksa Agung selaku pejabat yang berwenang menghukum atau pejabat yang memberi perintah, dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja, telah mempelajari dan meneruskan kepada Jaksa Agung disertai saran dan pendapat dengan menggunakan formulir WAS- 15 atau WAS-27. (2) Apabila Jaksa Agung Muda Pengawasan mengusulkan penjatuhan hukuman disiplin berupa pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau pemberhentian tidak dengan hormat bagi jaksa kepada Jaksa Agung, maka usulan tersebut diberitahukan kepada terlapor dengan menggunakan formulir WAS-16 A atau WAS-16 B. JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 16

17 Bagian Ketiga Telaahan Pasal 28 (1) Inspektur setelah menerima berkas laporan pengaduan dari Jaksa Agung Muda Pengawasan dengan disposisi/perintah untuk melakukan telaahan, pada hari yang bersangkutan telah memerintahkan Inspektur Muda untuk mengkaji laporan pengaduan dan membuat telaahan; (2) Dalam jangka waktu paling lama 1 (hari) kerja sejak diterimanya hasil telaahan dari inspektur muda, telah menyampaikan hasil telaahan kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan dengan pengantar Nota Dinas disertai kesimpulan dan saran. (3) Kepala Subbag Tata Usaha pada Inspektorat melaksanakan fungsi administrasi terhadap tindakan Inspektur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2). Pasal 29 (1) Inspektur Muda setelah menerima disposisi / perintah dari Inspektur untuk melakukan pengkajian dan membuat telaahan terhadap berkas laporan pengaduan, pada hari yang bersangkutan segera melakukan tindakan sebagai berikut : a. Mengkaji berkas laporan pengaduan dan membuat telaahan dengan menggunakan formulir WAS-1, atau; b. Memerintahkan Pemeriksa atau Ketua Tim Satuan Khusus Penanganan Lapdu untuk mengkaji laporan pengaduan dan membuat telaahan. (2) Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja sejak diterimanya berkas laporan pengaduan, Inspektur Muda telah menyampaikan hasil telaahan kepada Inspektur dengan pengantar Nota Dinas disertai kesimpulan dan saran. (3) Pemeriksa melaksanakan fungsi administrasi kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2). Pasal 30 (1) Pemeriksa atau Ketua Tim Satuan Khusus Penanganan Lapdu setelah menerima disposisi / perintah dari Inspektur Muda untuk melakukan pengkajian dan membuat telaahan terhadap berkas laporan pengaduan, melakukan tindakan sebagai berikut : a. Pemeriksa mengkaji berkas laporan pengaduan dan membuat telaahan dengan menggunakan formulir WAS-1; b. Ketua Tim Satuan Khusus Penanganan Lapdu mengkaji berkas laporan pengaduan dan membuat telaahan, atau meneruskan JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 17

18 kepada anggota Tim Satuan Khusus Penanganan Lapdu untuk mengkaji berkas laporan pengaduan dan membuat telaahan; (2) Dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) hari kerja sejak diterimanya berkas laporan pengaduan, Pemeriksa dan atau Ketua Tim Satuan Khusus Penanganan Lapdu telah menyampaikan hasil telaahan dengan menggunakan formulir WAS-1 kepada Inspektur Muda dengan pengantar Nota Dinas. Bagian Keempat Klarifikasi Pasal 31 (1) Inspektur setelah menerima berkas laporan pengaduan atau hasil telaahan dari Jaksa Agung Muda Pengawasan dengan disposisi / perintah untuk melakukan klarifikasi, pada hari yang bersangkutan segera memerintahkan Inspektur Muda untuk melakukan tindakan : a. Mengkaji laporan pengaduan atau hasil telaahan dan mengusulkan anggota tim klarifikasi; b. Berkoordinasi dengan Kepala Bagian Tata Usaha untuk penerbitan Surat Perintah Klarifikasi (formulir SP. WAS-1); (2) Dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) hari kerja sejak diterimanya berkas Laporan Hasil Klarifikasi, Inspektur telah meneruskan kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan dengan pengantar Nota Dinas disertai pendapat dan saran. (3) Kepala Subbag Tata Usaha pada Inspektorat melaksanakan fungsi administrasi terhadap tindakan Inspektur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2). Pasal 32 (1) Inspektur Muda setelah menerima berkas laporan pengaduan atau hasil telaahan dari Inspektur dengan disposisi / perintah untuk melakukan klarifikasi, pada hari yang bersangkutan segera melakukan tindakan sebagai berikut : a. Mengkaji laporan pengaduan atau hasil telaahan dan mengusulkan anggota tim klarifikasi; b. Berkoordinasi dengan Kepala Bagian Tata Usaha untuk penerbitan Surat Perintah Klarifikasi (formulir SP. WAS-1) dan dalam waktu paling lama 2 (dua) hari kerja Surat Perintah Klarifikasi telah diterbitkan; (2) Dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) hari kerja setelah menerima berkas Laporan Hasil Klarifikasi dari tim klarifikasi telah meneruskan kepada Inspektur dengan pengantar Nota Dinas disertai pendapat dan saran. JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 18

19 (3) Pemeriksa melaksanakan fungsi administrasi kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2). Pasal 33 (1) Tim klarifikasi setelah menerima surat perintah klarifikasi, segera melakukan persiapan dan melaksanakan Klarifikasi. (2) Jangka waktu pelaksanaan klarifikasi paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak diterimanya Surat Perintah Klarifikasi dan dapat diperpanjang paling lama 3 (tiga) hari kerja. (3) Dalam jangka waktu 2 (dua) hari kerja setelah selesai melaksanakan klarifikasi, telah menyampaikan berkas Laporan Hasil Klarifikasi kepada Inspektur Muda dengan menggunakan formulir L. WAS-1. Bagian Kelima Inspeksi Kasus Pasal 34 (1) Inspektur setelah menerima berkas laporan pengaduan atau hasil telaahan atau laporan hasil klarifikasi dari Jaksa Agung Muda Pengawasan dengan disposisi / perintah untuk melakukan inspeksi kasus, pada hari yang bersangkutan segera memerintahkan Inspektur Muda untuk melakukan tindakan : a. mengkaji laporan pengaduan atau hasil telaahan atau laporan hasil klarifikasi dan mengusulkan anggota tim pemeriksa ; atau b. berkoordinasi dengan Kepala Bagian Tata Usaha untuk penerbitan Surat Perintah Inspeksi Kasus (formulir SP. WAS-2); (2) Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja sejak diterimanya berkas Laporan Hasil Inspeksi Kasus, telah meneruskan kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan dengan pengantar Nota Dinas disertai pendapat dan saran. (3) Kepala Subbag Tata Usaha pada Inspektorat melaksanakan fungsi administrasi terhadap tindakan Inspektur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2). Pasal 35 (1) Inspektur Muda setelah menerima berkas laporan pengaduan atau hasil telaahan atau laporan hasil klarifikasi dari Inspektur dengan disposisi / perintah untuk melakukan inspeksi kasus, pada hari yang bersangkutan segera melakukan tindakan sebagai berikut : a. Mengkaji laporan pengaduan atau hasil telaahan atau laporan hasil klarifikasi dan mengusulkan anggota tim pemeriksa; atau b. Berkoordinasi dengan Kepala Bagian Tata Usaha untuk penerbitan Surat Perintah Inspeksi Kasus (formulir SP. WAS-2) JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 19

20 dan dalam waktu paling lama 2 (dua) hari kerja Surat Perintah Inspeksi Kasus telah diterbitkan; (2) Dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) hari kerja setelah menerima berkas Laporan Hasil Inspeksi Kasus dari tim pemeriksa, selanjutnya meneruskan kepada Inspektur dengan pengantar Nota Dinas disertai pendapat dan saran. (3) Pemeriksa melaksanakan fungsi administrasi kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2). Pasal 36 (1) Tim Pemeriksa setelah menerima Surat Perintah Inspeksi Kasus melakukan tindakan : a. Pengkajian terhadap berkas laporan pengaduan atau hasil telaahan atau laporan hasil klarifikasi, b. Menyusun rencana permintaan keterangan dengan menggunakan formulir WAS-7, c. Mempersiapkan dan melaksankan inspeksi kasus, d. Melakukan pemaparan hasil inspeksi kasus. (2) Jangka waktu pelaksanaan inspeksi kasus paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya Surat Perintah Inspeksi Kasus dan dapat diperpanjang paling lama 7 (tujuh) hari kerja. (3) Dalam jangka waktu 3 (tiga) hari kerja setelah selesai melaksanakan inspeksi kasus, telah menyampaikan berkas Laporan Hasil Inspeksi Kasus kepada Inspektur Muda dengan menggunakan formulir L.WAS-2. Bagian Keenam Penyampaian Persetujuan Penjatuhan Hukuman Kepada Pejabat Struktural Eselon I Kebawah Selaku Pejabat Yang Berwenang Menghukum Pasal 37 (1) Sekretaris Jaksa Agung Muda Pengawasan / Inspektur setelah menerima keputusan persetujuan penjatuhan hukuman disiplin dari Jaksa Agung Muda Pengawasan, segera memerintahkan pejabat struktural dibawahnya untuk menyiapkan nota dinas memberitahukan persetujuan Jaksa Agung Muda Pengawasan kepada Pejabat yang berwenang menghukum dengan menggunakan formulir WAS-14 B atau WAS-14 D. (2) Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja, Nota Dinas dimaksud telah disampaikan kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan untuk ditandatangani. JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 20

21 (3) Dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah ditandatangani, Nota Dinas sudah didistribusikan. (4) Kepala Bagian Tata Usaha mengkoordinasikan pelaksanaan fungsi administrasi terhadap tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2) dan (3). Bagian Ketujuh Laporan Pengaduan Diteruskan ke Bidang Lain atau dilakukan Inspeksi Kasus Oleh Atasan Langsung Pasal 38 (5) Sekretaris Jaksa Agung Muda Pengawasan / Inspektur setelah menerima berkas laporan pengaduan atau hasil telaahan atau hasil klarifikasi dari Jaksa Agung Muda Pengawasan dengan disposisi / perintah untuk meneruskan ke bidang lain atau atasan langsung pada bidang lain, segera memerintahkan pejabat struktural dibawahnya untuk menyiapkan Nota Dinas meneruskan berkas laporan pengaduan atau hasil telaahan atau hasil klarifikasi kepada bidang lain dengan menggunakan formulir WAS-2. atau diminta untuk melakukan inspeksi kasus oleh atasan langsung menggunakan formulir WAS-5 B. (6) Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja, Nota Dinas dimaksud telah disampaikan kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan untuk ditandatangani. (7) Dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah ditandatangani, Nota Dinas sudah didistribusikan kepada bidang terkait. (8) Kepala Bagian Tata Usaha mengkoordinasikan pelaksanaan fungsi administrasi terhadap tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2) dan (3). Bagian Kedelapan Laporan Pengaduan Diteruskan ke Daerah Pasal 39 (1) Sekretaris Jaksa Agung Muda Pengawasan / Inspektur setelah menerima berkas laporan pengaduan dari Jaksa Agung Muda Pengawasan dengan disposisi / perintah untuk meneruskan ke daerah, segera memerintahkan pejabat struktural dibawahnya untuk menyiapkan surat meneruskan laporan pengaduan tersebut ke Kejaksaan Tinggi terkait, apabila diminta untuk melakukan klarifikasi menggunakan formulir WAS-3 dan untuk melakukan inspeksi kasus menggunakan Formulir WAS-5 A. JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 21

22 (2) Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja, surat dimaksud telah disampaikan kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan untuk ditandatangani. (3) Dalam jangka waktu 1 (satu) hari kerja setelah ditandatangani, surat sudah didistribusikan kepada Kejaksaan Tinggi terkait. (4) Kepala Bagian Tata Usaha mengkoordinasikan pelaksanaan fungsi administrasi terhadap tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), (2) dan (3). Bagian Kesembilan Laporan Hasil Inspeksi Kasus dari Kejaksaan Tinggi yang menjadi kewenangan Jaksa Agung selaku Pejabat Yang Berwenang Menghukum. Pasal 40 (1) Inspektur setelah menerima berkas Laporan Hasil Inspeksi Kasus dari Kejaksaan Tinggi yang menjadi kewenangan Jaksa Agung selaku Pejabat Yang Berwenang Menghukum dengan disposisi / perintah dari Jaksa Agung Muda Pengawasan untuk melakukan telaahan, pada hari yang bersangkutan segera memerintahkan Inspektur Muda untuk melakukan telaahan dan membuat Rencana Penjatuhan Hukuman Disiplin (RPHD). (2) Setelah Rencana Penjatuhan Hukuman Disiplin (RPHD) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterima, dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja telah diteruskan kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan dalam bentuk Nota Dinas disertai kesimpulan dan saran dengan menggunakan formulir WAS-15. (3) Kepala Subbag Tata Usaha pada Inspektorat melaksanakan fungsi administrasi terhadap tindakan Inspektur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2). Pasal 41 (1) Inspektur Muda setelah menerima berkas Laporan Hasil Inspeksi Kasus dari Kejaksaan Tinggi yang menjadi kewenangan Jaksa Agung selaku Pejabat Yang Berwenang Menghukum dengan disposisi / perintah dari Inspektur untuk melakukan telaahan, melakukan tindakan sebagai berikut : a. Melakukan telaahan dan membuat Rencana Penjatuhan Hukuman Disiplin (RPHD) dalam bentuk Nota Dinas dengan menggunakan formulir WAS-15, atau; b. Memerintahkan Pemeriksa atau Ketua Tim Satuan Khusus Penanganan Lapdu untuk melakukan telaahan dan membuat Rencana Penjatuhan Hukuman Disiplin (RPHD) dalam bentuk Nota Dinas dengan menggunakan formulir WAS-15. JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 22

23 (2) Dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak diterimanya berkas Laporan Hasil Inspeksi Kasus sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Rencana Penjatuhan Hukuman Disiplin (RPHD) telah disampaikan kepada Inspektur dalam bentuk Nota Dinas disertai kesimpulan dan saran dengan menggunakan formulir WAS-15. (3) Pemeriksa melaksanakan fungsi administrasi kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2). Pasal 42 (1) Pemeriksa atau Ketua Tim Satuan Khusus Penanganan Lapdu setelah menerima berkas Laporan Hasil Inspeksi Kasus dari Kejaksaan Tinggi yang menjadi kewenangan Jaksa Agung selaku Pejabat Yang Berwenang Menghukum dengan disposisi / perintah dari Inspektur Muda untuk melakukan telaahan, melakukan tindakan sebagai berikut : a. Pemeriksa melakukan telaahan dan membuat Rencana Penjatuhan Hukuman Disiplin (RPHD); b. Ketua Tim Satuan Khusus Penanganan Lapdu melakukan telaahan dan membuat Rencana Penjatuhan Hukuman Disiplin (RPHD), atau; c. Meneruskan kepada anggota Tim Satuan Khusus Penanganan Lapdu untuk melakukan telaahan dan membuat Rencana Penjatuhan Hukuman Disiplin (RPHD). (2) Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja sejak diterimanya berkas laporan hasil inspeksi kasus, Rencana Penjatuhan Hukuman Disiplin (RPHD) telah disampaikan kepada Inspektur Muda dalam bentuk Nota Dinas disertai kesimpulan dan saran dengan menggunakan formulir WAS-15. Bagian Kesepuluh Pengajuan Pembelaan Diri Melalui Majelis Kehormatan Jaksa (MKJ) Pasal 43 (1) Jaksa Agung Muda Pengawasan dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja sejak diterimanya surat pembelaan diri dari Terlapor/Jaksa yang akan dijatuhi hukuman disiplin berat berupa pemberhentian, memerintahkan Inspektur untuk mempersiapkan Nota Dinas mengenai Usul Penunjukan Majelis Kehormatan Jaksa (MKJ) dan tim yang akan mewakili dalam sidang MKJ. (2) Dalam jangka waktu selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak diterimanya pernyataan keberatan Terlapor, Jaksa Agung Muda Pengawasan mengusulkan penunjukan MKJ kepada Jaksa Agung dengan menggunakan formulir WAS-17;. JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 23

24 Pasal 44 (1) Inspektur setelah menerima disposisi / perintah dari Jaksa Agung Muda Pengawasan untuk mempersiapkan Nota Dinas mengenai Usul penunjukan Majelis Kehormatan Jaksa (MKJ) dan tim yang akan mewakili dalam sidang MKJ, dalam waktu paling lama 1 (satu) hari memerintahkan Inspektur Muda untuk melakukan tindakan sebagai berikut: a. Menelaah dan menanggapi surat pembelaan diri Terlapor serta mengusulkan anggota tim yang akan mewakili dalam sidang MKJ; b. Mempersiapkan Nota Dinas mengenai Usul penunjukan MKJ dengan menggunakan formulir WAS-17; c. Mempersiapkan Laporan Hasil Inspeksi Kasus serta bukti-bukti pendukung yang akan disampaikan pada sidang MKJ. (2) Dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja telah menyampaikan draft Nota Dinas mengenai Usul penunjukan MKJ, draft Surat Perintah tim yang akan mewakili dalam sidang MKJ, serta Laporan Hasil Inspeksi Kasus kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan. (3) Kepala Subbag Tata Usaha pada Inspektorat melaksanakan fungsi administrasi terhadap tindakan Inspektur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2). Pasal 45 (1) Inspektur Muda setelah menerima berkas keberatan dari Terlapor/Jaksa yang akan dijatuhi hukuman disiplin berat berupa pemberhentian dengan disposisi / perintah dari Inspektur untuk mempersiapkan Nota Dinas mengenai Usul penunjukan Majelis Kehormatan Jaksa (MKJ) dan anggota tim yang akan mewakili dalam sidang MKJ, segera melakukan tindakan sebagai berikut : a. Menelaah dan menanggapi surat pembelaan diri Terlapor serta mengusulkan anggota tim yang akan mewakili dalam sidang MKJ; b. Mempersiapkan Nota Dinas mengenai Usul penunjukan MKJ dengan menggunakan formulir WAS-17; c. Mempersiapkan Laporan Hasil Inspeksi Kasus serta bukti-bukti pendukung yang akan disampaikan pada sidang MKJ, atau; d. Memerintahkan Pemeriksa untuk menelaah dan menanggapi surat pembelaan diri terlapor dan mempersiapkan Nota Dinas mengenai Usul penunjukan MKJ, serta mempersiapkan Laporan Hasil Inspeksi Kasus dan bukti-bukti pendukung yang akan disampaikan pada sidang MKJ. (2) Dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) hari kerja sejak diterimanya disposisi / perintah dari Inspektur, Inspektur Muda JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 24

25 telah menyampaikan draft Nota Dinas mengenai Usul penunjukan MKJ, draft Surat Perintah tim yang akan mewakili dalam sidang MKJ, serta Laporan Hasil Inspeksi Kasus dan bukti-bukti pendukung. (3) Pemeriksa mengkoordinasikan pelaksanakan fungsi administrasi kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2). Pasal 46 (1) Pemeriksa setelah menerima disposisi / perintah dari Inspektur Muda, segera menelaah dan menanggapi surat pembelaan diri terlapor dan mempersiapkan Nota Dinas mengenai Usul penunjukan MKJ, serta mempersiapkan Laporan Hasil Inspeksi Kasus dan bukti-bukti pendukung yang akan disampaikan pada sidang MKJ. (2) Dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak diterimanya disposisi / perintah dari Inspektur Muda, Pemeriksa telah menyampaikan draft Nota Dinas mengenai Usul penunjukan MKJ, draft Surat Perintah tim yang akan mewakili dalam sidang MKJ, serta Laporan Hasil Inspeksi Kasus dan bukti-bukti pendukung. Bagian Kesebelas Permohonan Penerbitan Surat Keputusan Penjatuhan Hukuman Disiplin. Pasal 47 (1) Dalam jangka waktu paling lama 5 (lima) hari kerja sejak diterimanya keputusan penjatuhan hukuman disiplin dari Jaksa Agung, Jaksa Agung Muda Pengawasan mengusulkan penerbitan Surat Keputusan Penjatuhan Hukuman Disiplin kepada Jaksa Agung, dengan menggunakan formulir WAS-18 dan dilampiri dengan formulir surat keputusan sesuai dengan hukuman disiplin yang dijatuhkan dengan menggunakan formulir sebagaimana tersebut pada Pasal 83 ayat (2). (2) Jaksa Agung Muda Pengawasan memerintahkan Inspektur untuk mempersiapkan Surat / Nota Dinas usulan penerbitan Surat Keputusan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 25

26 Pasal 48 (1) Inspektur setelah menerima disposisi / perintah dari Jaksa Agung Muda Pengawasan untuk mempersiapkan Surat / Nota Dinas usulan penerbitan Surat Keputusan Penjatuhan hukuman Disiplin, melakukan tindakan sebagai berikut : a. Memerintahkan Inspektur Muda untuk mempersiapkan Surat / Nota Dinas usulan penerbitan Surat Keputusan Penjatuhan Hukuman Disiplin, dengan menggunakan formulir WAS-18; b. Menyampaikan draft Surat / Nota Dinas sebagaimana dimaksud pada huruf a kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan untuk ditandatangani. (2) Dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja, Surat / Nota Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sudah diteruskan kepada Jaksa Agung Muda Pengawasan. (3) Kepala Subbag Tata Usaha pada Inspektorat melaksanakan fungsi administrasi terhadap tindakan Inspektur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2). Pasal 49 (1) Inspektur Muda setelah menerima disposisi / perintah dari Inspektur untuk mempersiapkan Surat / Nota Dinas usulan penerbitan Surat Keputusan Penjatuhan hukuman Disiplin, melakukan tindakan sebagai berikut: a. Mempersiapkan Surat / Nota Dinas usulan penerbitan Surat Keputusan Penjatuhan Hukuman Disiplin, dengan menggunakan formulir WAS-18 ; b. Memerintahkan Pemeriksa mempersiapkan Surat / Nota Dinas usulan penerbitan Surat Keputusan Penjatuhan Hukuman Disiplin, dengan menggunakan formulir WAS-18; (2) Dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) hari kerja, Surat / Nota Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sudah diteruskan kepada Inspektur. (3) Pemeriksa mengkoordinasikan pelaksanakan fungsi administrasi kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan (2). Pasal 50 (1) Pemeriksa setelah menerima disposisi / perintah dari Inspektur Muda untuk mempersiapkan Surat / Nota Dinas usulan penerbitan Surat Keputusan Penjatuhan Hukuman Disiplin, segera mempersiapkan Surat / Nota Dinas usulan penerbitan Surat Keputusan Penjatuhan Hukuman Disiplin, dengan menggunakan formulir WAS-18. (2) Dalam jangka waktu paling lama 1 (satu) hari kerja, Surat / Nota Dinas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sudah diteruskan kepada Inspektur Muda. JUKLAK Jaksa Agung Muda Pengawasan 26

PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER- 022 /A/JA/03/2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGAWASAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER- 022 /A/JA/03/2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGAWASAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA 1 PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER- 022 /A/JA/03/2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PENGAWASAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. Bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.962, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEJAKSAAN AGUNG. Pengawasan. Kejaksaan. Penyelenggaraan. Perubahan. PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER-015/A/JA/07/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan peran Komisi Kejaksaan Republik Indonesia, perlu

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. No.868, 2013 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Hukuman Disiplin. Penindakan Administratif. Pedoman. Pencabutan.

BERITA NEGARA. No.868, 2013 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Hukuman Disiplin. Penindakan Administratif. Pedoman. Pencabutan. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.868, 2013 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Hukuman Disiplin. Penindakan Administratif. Pedoman. Pencabutan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-026/A/JA/10/2013 TENTANG

PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-026/A/JA/10/2013 TENTANG PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PER-026/A/JA/10/2013 TENTANG PENANGANAN DAN PERLINDUNGAN TERHADAP PELAPOR PELANGGARAN HUKUM DI LINGKUNGAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.277, 2012 KEJAKSAAN. Tunjangan. Kinerja. Pegawai. Perubahan. PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER-003/A/J.A/02/2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN JAKSA

Lebih terperinci

2015, No c. bahwa Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 24 Tahun 2013 tentang Pedoman Penjatuhan Hukuman Disiplin dan Penindakan

2015, No c. bahwa Peraturan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Nomor 24 Tahun 2013 tentang Pedoman Penjatuhan Hukuman Disiplin dan Penindakan No.1408, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKUMHAM. Hukuman Disiplin. Sanksi Administratif. Pegawai. Penjatuhan. Tata Cara. Pencabutan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6 ayat (1) Undang- Undang

Lebih terperinci

DRAFT 16 SEPT 2009 PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DRAFT 16 SEPT 2009 PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DRAFT 16 SEPT 2009 PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA www.bpkp.go.id PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa

Lebih terperinci

BUPATI BANYUWANGI PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 39 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BANYUWANGI PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 39 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI BANYUWANGI PROVINSI JAWA TIMUR SALINAN PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 39 TAHUN 2016 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BANYUWANGI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DI KPPU KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DI KPPU KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DI KPPU KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan transparansi dan

Lebih terperinci

Arsip Nasional Republik Indonesia

Arsip Nasional Republik Indonesia Arsip Nasional Republik Indonesia LEMBAR PERSETUJUAN Substansi Prosedur Tetap tentang Pelaksanaan Penegakan Disiplin telah saya setujui. Disetujui di Jakarta pada tanggal Mei 2011 SEKRETARIS UTAMA, GINA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1230, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA JAKSA AGUNG. Perilaku. Kode Etik. Jaksa. Pencabutan. PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER 014/A/JA/11/2012 TENTANG KODE PERILAKU JAKSA DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT, PEMBERHENTIAN TIDAK DENGAN HORMAT, DAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA, SERTA HAK JABATAN FUNGSIONAL JAKSA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.88, 2014 KEMENAG. Dewan Pertimbangan Pegawai. Hukuman Disiplin. PNS PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN KEPEGAWAIAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74/K/X-XIII.2/2/2009 TENTANG

KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74/K/X-XIII.2/2/2009 TENTANG KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74/K/X-XIII.2/2/2009 TENTANG MEKANISME KERJA TIM PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN SEKRETARIS JENDERAL

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENANGANAN LAPORAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENANGANAN LAPORAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENANGANAN LAPORAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI YUDISIAL REPUBLIK

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT, PEMBERHENTIAN TIDAK DENGAN HORMAT, DAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA, SERTA HAK JABATAN FUNGSIONAL JAKSA

Lebih terperinci

BUPATI TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

BATAN KEPALA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL,

BATAN KEPALA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL, PERATURAN KEPALA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL NOMOR: 057/KA/III/2011 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN JAM KERJA DAN PENJATUHAN HUKUMAN DISIPLIN JAM KERJA KEPALA BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL, Menimbang : a.

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.637, 2013 LEMBAGA SANDI NEGARA. Pemeriksaan. Pegawai Disiplin. Pedoman. PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMERIKSAAN PEGAWAI

Lebih terperinci

JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP 503 / A / J.A / 12 / 2000 TENTANG

JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP 503 / A / J.A / 12 / 2000 TENTANG JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP 503 / A / J.A / 12 / 2000 TENTANG KETENTUAN-KETENTUAN PENYELENGGARAAN PENGAWASAN KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA JAKSA AGUNG

Lebih terperinci

Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia

Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia \ Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 01 TAHUN 2017 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA PELAKSANAAN KEMITRAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

- 1 - MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

- 1 - MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA - 1 - SALINAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN

Lebih terperinci

PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL DEWAN ENERGI NASIONAL NOMOR : 001 K/70.RB/SJD/2011 TENTANG

PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL DEWAN ENERGI NASIONAL NOMOR : 001 K/70.RB/SJD/2011 TENTANG PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL DEWAN ENERGI NASIONAL NOMOR : 001 K/70.RB/SJD/2011 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI NEGERI SIPIL SEKRETARIAT JENDERAL DEWAN ENERGI NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, SEKRETARIS

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG PELAKSANAAN PEMBERIAN TUNJANGAN KINERJA BAGI PEGAWAI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 37/E, 2010 PERATURAN WALIKOTA MALANG NOMOR 49 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PELAKSANAAN PENEGAKAN DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA MALANG DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG

- 1 - GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG - 1 - GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENEGAKAN DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMERIKSAAN PEGAWAI DI LINGKUNGAN LEMBAGA SANDI NEGARA

PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMERIKSAAN PEGAWAI DI LINGKUNGAN LEMBAGA SANDI NEGARA PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PEMERIKSAAN PEGAWAI DI LINGKUNGAN LEMBAGA SANDI NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA, Menimbang

Lebih terperinci

-2- Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik

-2- Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.248, 2016 BPKP. Pengaduan. Penanganan. Mekanisme. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG MEKANISME

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG TATA KERJA MAJELIS KODE ETIK PELAYAN PUBLIK DAN PENYELENGGARA PELAYANAN PUBLIK DI LINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA,

MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENJATUHAN HUKUMAN DISIPLIN BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL KEMENTERIAN PERTAHANAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI TASIKMALAYA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

BUPATI TASIKMALAYA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH BUPATI TASIKMALAYA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TASIKMALAYA NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TASIKMALAYA,

Lebih terperinci

MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA SALINAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PENANGANAN PENGADUAN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 19 TAHUN 2016 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL Menimbang PERATURAN MENTERI AGRARIA DAN TATA RUANG/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 14 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMBERIAN

Lebih terperinci

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan

b. bahwa Komisi Yudisial mempunyai peranan penting dalam usaha mewujudkan UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4150);

2 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4150); No.261, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA LIPI. Pengaduan Masyarakat. Penanganan. PERATURAN KEPALA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2015 TENTANG PENANGANAN PENGADUAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN

Lebih terperinci

2 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4150); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Ind

2 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4150); 3. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik (Lembaran Negara Republik Ind No.262, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA LIPI. Pengaduan Masyarakat. Penanganan. PERATURAN KEPALA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PENANGANAN PENGADUAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PENANGANAN PENGADUAN MASYARAKAT DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PARIWISATA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2014 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2014 TENTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PELAPORAN PELANGGARAN (WHISTLEBLOWING SYSTEM) DUGAAN TINDAK PIDANA KORUPSI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KESEHATAN

Lebih terperinci

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, T

2017, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, T BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 54, 2017 KEMEN-KOMINFO. Tunjangan Kinerja. Pemberian. Pelaksanaan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2017 TENTANG

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 1991 TENTANG TATA CARA PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT, PEMBERHENTIAN TIDAK DENGAN HORMAT, DAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA SERTA HAK-HAK HAKIM AGUNG DAN HAKIM

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.621, 2015 JAKSA AGUNG. Diversi. Penuntutan. Pelaksanaan. Pedoman. PERATURAN JAKSA AGUNG REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER- 006/A/J.A/04/2015 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN DIVERSI

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka membangun Kompolnas

Lebih terperinci

2015, No Mengingat : 1. Pasal 24B Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun

2015, No Mengingat : 1. Pasal 24B Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; 2. Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1758, 2015 KY. Laporan Masyarakat. Penanganan. Pencabutan. PERATURAN KOMISI YUDISIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG PENANGANAN LAPORAN MASYARAKAT DENGAN

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

WALIKOTA PASURUAN SALINAN PERATURAN WALIKOTA NOMOR 68 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN PERIJINAN TERPADU

WALIKOTA PASURUAN SALINAN PERATURAN WALIKOTA NOMOR 68 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN PERIJINAN TERPADU WALIKOTA PASURUAN SALINAN PERATURAN WALIKOTA NOMOR 68 TAHUN 2011 TENTANG TUGAS POKOK DAN FUNGSI BADAN PENANAMAN MODAL DAN PELAYANAN PERIJINAN TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PASURUAN,

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2005 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1576, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA. Tunjangan Kinerja. Kehadiran Pegawai. Pemberian. PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA

Lebih terperinci

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR 21 TAHUN 2012 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 5 TAHUN 2016 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 5 TAHUN 2016 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 5 TAHUN 2016 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH Bagian Hukum Setda Kabupaten Bandung Tahun 2016 2 BUPATI

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

BERITA DAERAH KOTA BEKASI BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 81 2016 SERI : D PERATURAN WALI KOTA BEKASI NOMOR 81 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, TUGAS POKOK DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA PADA DINAS KEPEMUDAAN DAN

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PENGADUAN PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PENGADUAN PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN PENGADUAN PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan

Lebih terperinci

BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN

BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN SALINAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM PENGELOLAAN PENGADUAN DI LINGKUNGAN BADAN

Lebih terperinci

2 Pelanggaran di Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih da

2 Pelanggaran di Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih da BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 1189, 2014 LPSK. Dugaan Pelanggaran. System Whistleblowing. PERATURAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN NOMOR 2 TAHUN 2014 TENTANG WHISTLEBLOWING SYSTEM ATAS DUGAAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2010 TENTANG SEKRETARIAT KABINET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2010 TENTANG SEKRETARIAT KABINET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2010 TENTANG SEKRETARIAT KABINET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2013 TENTANG BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2013 TENTANG BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 58 TAHUN 2013 TENTANG BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka mendorong percepatan

Lebih terperinci

2016, No Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih

2016, No Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2124, 2016 KEMENKUMHAM. Laporan Pengaduan. Perubahan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 1999 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 1999 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 1999 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sehubungan dengan perkembangan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 1999 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 1999 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 1999 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sehubungan dengan perkembangan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2015 TENTANG SEKRETARIAT KABINET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2015 TENTANG SEKRETARIAT KABINET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2015 TENTANG SEKRETARIAT KABINET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka meningkatkan efektivitas

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN SEKRETARIS KABINET REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/RB TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI SEKRETARIAT KABINET REPUBLIK INDONESIA

SALINAN PERATURAN SEKRETARIS KABINET REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/RB TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI SEKRETARIAT KABINET REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN SEKRETARIS KABINET REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/RB TAHUN 2011 TENTANG KODE ETIK PEGAWAI SEKRETARIAT KABINET REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SEKRETARIS KABINET REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2010 TENTANG SEKRETARIAT KABINET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2010 TENTANG SEKRETARIAT KABINET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN NOMOR 82 TAHUN 2010 TENTANG SEKRETARIAT KABINET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa dalam rangka meningkatkan dukungan staf, pelayanan administrasi, dan dukungan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah

Lebih terperinci

Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia

Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 01 TAHUN 2017 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA PELAKSANAAN KEMITRAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PROVINSI LAMPUNG PERATURAN DAERAH KOTA METRO NOMOR 05 TAHUN 2015 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

PROVINSI LAMPUNG PERATURAN DAERAH KOTA METRO NOMOR 05 TAHUN 2015 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PROVINSI LAMPUNG PERATURAN DAERAH KOTA METRO NOMOR 05 TAHUN 2015 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA METRO, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penegakan atas

Lebih terperinci

PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 3 TAHUN 2014 T E N T A N G

PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 3 TAHUN 2014 T E N T A N G PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANTUL NOMOR 3 TAHUN 2014 T E N T A N G TATA BERACARA PELAKSANAAN TUGAS DAN WEWENANG BADAN KEHORMATAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat - 1 - Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat PERATURAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR 66 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PENYELESAIAN

Lebih terperinci

2 (2) Sekretariat Kabinet dipimpin oleh Sekretaris Kabinet. Pasal 2 Sekretariat Kabinet mempunyai tugas memberikan dukungan pengelolaan manajemen kabi

2 (2) Sekretariat Kabinet dipimpin oleh Sekretaris Kabinet. Pasal 2 Sekretariat Kabinet mempunyai tugas memberikan dukungan pengelolaan manajemen kabi LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.33, 2015 ADMINISTRASI. Sekretariat. Kabinet. Organisasi. Pencabutan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2015 TENTANG SEKRETARIAT KABINET DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA BARAT, Menimbang

Lebih terperinci

2016, No Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indon

2016, No Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 137, Tambahan Lembaran Negara Republik Indon No.1580, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KPK. DPP-KPK. Pencabutan. PERATURAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2016 TENTANG DEWAN PERTIMBANGAN PEGAWAI KOMISI PEMBERANTASAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 5 TAHUN 2009 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL (PPNS) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 5 TAHUN 2009 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL (PPNS) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 4/E, 2009 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 5 TAHUN 2009 TENTANG PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL (PPNS) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

2015, No Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3852); 2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 t

2015, No Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3852); 2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 t No. 110, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENPAR. Pengaduan Internal. Penanganan. Tata Cara. PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PENGADUAN

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2010 TENTANG DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL I. UMUM Dalam rangka mewujudkan PNS yang handal, profesional, dan bermoral sebagai penyelenggara

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.639 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBAGA SANDI NEGARA. Tim Penilai Angka Kredit. Sandiman. Organisasi. Tata Kerja. PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI DAN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. No.1386, 2012 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Pengaduan. Laporan. Penanganan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

BERITA NEGARA. No.1386, 2012 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Pengaduan. Laporan. Penanganan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1386, 2012 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Pengaduan. Laporan. Penanganan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2012

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 62 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 62 TAHUN 2008 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 62 TAHUN 2008 TENTANG PEMBERIAN PELAYANAN BANTUAN HUKUM DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DAN PEMBERIAN KESAKSIAN TERHADAP KASUS HUKUM DUGAAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa penyelenggaraan pemilihan umum

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR : KEP. 13 TAHUN 2012

PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR : KEP. 13 TAHUN 2012 PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR : KEP. 13 TAHUN 2012 TENTANG KOMITE ETIK APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BUPATI LEBAK PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI LEBAK NOMOR... TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI LEBAK PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI LEBAK NOMOR... TAHUN 2015 TENTANG BUPATI LEBAK PROVINSI BANTEN PERATURAN BUPATI LEBAK NOMOR... TAHUN 2015 TENTANG KETENTUAN PELAKSANAAN DISIPLIN PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN LEBAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN

GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 21 TAHUN 2010 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYIDIKAN BAGI PENYIDIK PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH PROVINSI BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN,

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN DIVERSI DAN PENANGANAN ANAK YANG BELUM BERUMUR 12 (DUA BELAS) TAHUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PENGADUAN INTERNAL DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA pkumham.go PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam rangka membangun

Lebih terperinci