Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan"

Transkripsi

1 Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan Selama mengamati beberapa reaksi dalam NOP, dapat diidentifikasi adanya beberapa kelemahan. Kelemahan ini terutama berpengaruh pada energi dan konsumsi bahan dasar atas reaksi kimia dalam laboratorium. Dengan menggunakan beberapa tindakan sederhana, masalah yang teridentifikasi dapat dikurangi atau dicegah sejak tahap perencanaan reaksi. Untuk maksud ini, aturan dasar sintesis yang berkelanjutan dapat dibuat [1]. Aturan ini dapat berperan dalam pemikiran holistik, yaitu dari awal hingga akhir proses, dan meningkatkan keberlanjutan reaksi dari tinjauan ekologi. Atutan dasar sintesis berkelanjutan meminimalkan konsumsi energi Dampak reaksi kimia di laboratorium terhadap lingkungan sangat dipengaruhi oleh listrik yang terkonsumsi selama proses eksperimen berlangsung dan hal ini berakibat pada lingkungan yang harus menyediakan energi. Konsumsi energi yang semakin tinggi atas suatu reaksi akan menyebabkan terjadinya energi yang lepas ke lingkungan yang semakin besar pula. Dalam uraian selanjutnya, aturan dasar untuk sintesis yang berkelanjutan didefinisikan, di mana penerapannya akan berakibat pada pengurangan lepasnya energi dari suatu reaksi kimia di laboratorium. Isolator panas Peralatan eksperimen harus diisolasi sebaik mungkin Aturan dasar 1: isolasi panas Dengan adanya isolasi, koefisien transfer panas (k) dapat direduksi. Hal ini berakibat pada transfer panas yang lebih kecil dan karenanya mengurangi lepasnya energi. Energi yang lepas dapat ditekan lebih lanjut dengan membuat gradien temperatur yang lebih kecil antara medium reaksi dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena lepasnya energi juga terkait dengan waktu, lama reaksi kimia juga mempunyai pengaruh yang besar dalam meminimalkan lepasnya energi. Untuk itulah pengetahuan atas proses reaksi kimia sangat penting. Kondisi eksperimen Temperatur dan lama reaksi harus dibatasi seefektif mungkin Aturan dasar 2: kondisi eksperimen Parameter lain yang berpengaruh pada hilangnya energi adalah permukaan peralatan yang memisahkan antara campuran reaksi dengan lingkungannya. Luas permukaan yang semakin kecil, semakin kecil pula lepasnya energi yang disebabkan oleh konduksi atau radiasi panas. Perbandingan antara luas permukaan dengan volume harus ditetapkan dengan baik. Pemilihan peralatan Ukuran peralatan eksperimen harus disesuaikan dengan banyak sedikitnya bahan reaksi Aturan dasar 3: pemilihan peralatan Perbedaan antara konsumsi energi atas beberapa metoda pemasokan energi dapat dirunut dari dua aturan dasar yang sudah dibicarakan, yaitu isolasi dan kondisi eksperimen. Oleh karena 1

2 isolasi sempurna atas medium pemanasan biasanya tidak dimungkinkan, maka metoda pemasokan energi yang paling cocok menjadi hal yang layak untuk diperhitungkan. Pemasokan energi Aturan dasar 4: pemasokan energi Penggunaaan mantel pemanas biasanya dipilih dalam tahap pemanasan dengan penangas minyak. Metoda-metoda baru untuk pemasok energi (misalnya gelombang mikro atau ultrasonic) dapat memberikan pengaruh positif. Di samping faktor besarnya energi yang lepas oleh adanya transfer panas ke lingkungan, ada faktor lain yang berpengaruh pada konsumsi energi pada suatu proses sintesis di laboratorium, yaitu material. Jadi material yang mempengaruhi energi diperlukan dalam pemanasan dan menjaga temperatur reaksi. Material Cp Material sebaiknya mempunyai kapasitas panas spesifik sekecil mungkin Aturan dasar 5: kapasitas panas spesifik material Di antara material-material, perhatian khusus harus diberikan untuk pelarut, karena pelarut biasanya menempati porsi terbesar pada campuran reaksi. Oleh karena itu, persyaratan pelarut masuk pula dalam aturan dasar. Pelarut Cp Pelarut-pelarut dipilih sedemikian rupa sehingga mereka mempunyai kapasitas panas spesifik kecil dan memerlukan temperatur reaksi rendah Aturan dasar 6: kapasitas panas spesifik pelarut Penggunaan material masih dapat juga dioptimasi atas dasar konsumsi energi. Hubungan antara konsumsi bahan dasar dan energi merupakan hal yang sangat penting. Aturan dasar untuk sintesis berkelanjutan meminimalkan konsumsi energi dan bahan dasar Penggunaan material yang berlebihan dalam suatu proses dan reaksi kimia memberikan pengaruh negatif pada konsumsi bahan dasar. Terlebih lagi kuantitas dari material yang digunakan berpengaruh besar pada konsumsi energi, misalnya diperlukannya tambahan energi untuk pemanasan. Hal ini berpengaruh pada konsumsi bahan dasar dan energi, yang jelas merupakan hal yang sangat penting ditinjau dari sudut pandang holistik. Seringnya material dalam suatu reaksi kimia digunakan dalam jumlah berlebih. Kuantitas material Kuantitas material harus dikurangi ke jumlah yang benar-benar diperlukan. Eksperimen pendahuluan sangat diperlukan dan dapat membantu dalam penentuan jumlah yang tepat. Jika dimungkinkan penghilangan material harus diintegrasikan dalam reaksi. 2

3 Aturan dasar 7: kuantitas material Mirip dengan pelarut, air pendingin juga penting untuk ditinjau dari sudut pandang konsumsi material. Air pendingin Aturan dasar 8: Air pendingin Aliran air pendingin harus diatur ke keperluan minimum. Penggunaan siklus air pendingin dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan dari suatu reaksi kimia Konsumsi air pendingin dapat dikurangi dengan menggunakan cryostat atau sirkuit pendingin, namun hal ini dapat menaikkan konsumsi energi. Apabila diperlukan es untuk mendinginkan reaksi, penggunaannya harus dibatasi oleh karena konsumsi energi yang diperlukan untuk membuatnya besar. Es Es untuk mendinginkan reaksi harus digunakan seekonomis mungkin dengan pertimbangan untuk keamanan reaksi. Aturan dasar 9: Es Terlepas dari kuantitasnya, karakteristik dari material yang digunakan juga mempunyai pengaruh pada dampak sintesis di laboratorium terhadap lingkungan. Berikut ini aturan-aturan dasar umum dirumuskan untuk meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan. Perhatian difokuskan pada material. Aturan dasar untuk sintesis berkelanjutan meminimalkan potensi toksisitas Dalam pembuatan aturan optimasi untuk meminimalkan potensi toksisitas, peran eduks atau reaktan di sini tidak diperhitungkan. Optimasi terhadap material yang secara umum tidak toksik sebenarnya lebih diinginkan, namun hal ini tidak selalu terlaksana. Permasalahan dengan pemilihan material yang digunakan merupakan hal yang perlu diperhatikan. Toksisitas pelarut Pada saat pemilihan pelarut, toksisitas dari pelarut tersebut harus juga ditinjau. Pelarut sebaiknya tidak sampai ke lingkungan. Aturan dasar 10: toksisitas pelarut Toksisitas material Saat memilih material, potensi toksisitasnya harus diperhatikan pula. Setelah penggunaan, material ini harus didaur ulang atau dibuang secara ramah lingkungan. Aturan dasar 11: toksisitas material Sebagaimana disebutkan di bab sebelumnya, dampak lingkungan yang besar dapat berasal dari proses pendahuluan dan akhir dari suatu reaksi. Pertimbangan atas pembuatan reaktan dan material perlu dilakukan dalam rangka untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan dari sudut pandang holistik. 3

4 Aturan dasar untuk sintesis berkesinambungan pertimbangan pembuatan awal Dalam pembuatan bahan kimia, sering menghasilkan dampak lingkungan yang besar kecilnya tergantung pada kompleksitas molekul yang dibuat. Sangat sering, dampak terhadap lingkungan ini tidak dapat diatur. Namun demikian, orang yang melakukan eksperimen dapat mengurangi pamasukan bahan kimia ke jumlah yang benar-benar diperlukan. Usaha untuk menyediakan keseimbangan aliran material untuk bahan kimia yang berbeda menjadi lebih intensif di tahun-tahun belakangan ini. Jadi pertimbangan pembuatan eduks dan material akan menjadi lebih sederhana di masa datang. Optimasi reaksi lewat pemilihan material yang pembuatannya mempunyai dampak terhadap lingkungan yang kecil adalah mungkin. Pembuatan awal Beban yang berasal dari eduks maupun material dalam proses pendahuluan harus ditinjau dalam pemilihan material Aturan dasar 12: peritmbangan proses pendahuluan Dalam tabel berikut (Tabel 1) semua aturan dasar untuk sintesis berkelanjutan diringkaskan. Setiap aturan dasar dilengkapi dengan piktogram yang dapat menyederhanakan dan membantu pemahamannya, seperti halnya dengan simbol bahaya. Pertimbangan atas aturan optimasi ini dapat membantu untuk mengurangi konsumsi energi dan bahan dasar dalam reaksi kimia di laboratorium, dan juga dampaknya ke lingkungan. Selanjutnya, pengambil keputusan mendatang dapat terangsang untuk menerapkan secara konsisten aturan-aturan dasar sintesis berkelanjutan dalam program training dalam rangka menuju ke pembangunan berkelanjutan. Tabel 1 Aturan dasar sintesis berkelanjutan Isolator panas Peralatan eksperimen harus diisolasi sebaik mungkin Kondisi eksperimen Pemilihan perlatan Pasokan energi Cp material Cp pelarut Temperatur dan lama reaksi harus dibatasi pada kondisi yang diperlukan Peralatan eksperimen harus diselaraskan dengan kuantitas reaksi Penggunaan mantel pemanas sangat baik digunakan dalam tahap pemanasan dengan penangas minyak. Metoda-metoda pemasok energi yang baru (seperti gelombang mikro atau ultrsonic) dapat memberikan pengaruh yang positif. Material seharusnya memiliki kapasitas panas spesifik sekecil mungkin Harus dipilih pelarut dengan kapasitas panas kecil dan temperatur reaksi rendah 4

5 Kuantitas material Air pendingin Es Toksisitas pelarut Toksisitas material Produksi awal Kuantitas material harus dikurangi ke jumlah yang benar-benar diperlukan. Eksperimen pendahuluan dapat membantu dalam penentuan jumlah yang tepat. Jika memungkinkan, penghilangan material harus terintegrasi ke dalam prosedur reaksi. Aliran air pendingin diatur ke jumlah minimum yang diperlukan. Penggunaan sikus air pendingin dapat berpengaruh baik pada dampak reaksi terhadap lingkungan Es untuk pendingin reaksi harus digunakan seekonomis mungkin dalam rangka keamanan reaksi Dalam pemilihan pelarut, potensi toksisitasnya harus juga diperhitungkan. Pelarut harus tidak sampai ke lingkungan. Dalam pemilihan material, potensi toksisitasnya harus juga diperhitungkan. Setelah penggunaan, material harus didaur ulang atau dibuang secara ramah lingkungan. Beban yang berasal dari eduks dan material harus diperhitungkan dalam pemilihannya [1] Diehlmann, A., Krisel, G., Gorges, R. (2003). Contribution to Developing Sustainability in Chemical Education. The Chemical Educator, 8. 5

Sistem Manajemen Keamanan pangan Persyaratan untuk organisasi dalam rantai pangan

Sistem Manajemen Keamanan pangan Persyaratan untuk organisasi dalam rantai pangan Standar Nasional Indonesia Sistem Manajemen Keamanan pangan Persyaratan untuk organisasi dalam rantai pangan Food safety management system Requirements for any organization in the food chain (ISO 22000:2005,

Lebih terperinci

Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Kembali SNI 03-3985-2000 Tata cara perencanaan, pemasangan dan pengujian sistem deteksi dan alarm kebakaran untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan gedung. 1. Ruang lingkup. 1.1. Standar ini mencakup

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS KURSUS KESELAMATAN DI LABORATORIUM KIMIA

PETUNJUK TEKNIS KURSUS KESELAMATAN DI LABORATORIUM KIMIA PETUNJUK TEKNIS KURSUS KESELAMATAN DI LABORATORIUM KIMIA PENGANTAR Satu tujuan penting pembelajaran ilmu kimia bagi mahasiswa dari berbagai disipilin ilmu sains pada kursus keselamatan di laboratorium

Lebih terperinci

Pengukuran Kinerja Lingkungan

Pengukuran Kinerja Lingkungan Pengukuran Kinerja Lingkungan Preprint; Oleh Andie T.Purwanto (anditp2000@yahoo.com), 0603 1. PENDAHULUAN Pengukuran kinerja lingkungan adalah bagian penting dari sistem manajemen lingkungan. Ini merupakan

Lebih terperinci

green gauge Visi AECI adalah untuk menjadi penyedia bahan kimia dan penyedia jasa tambang pilihan bagi para pelanggan.

green gauge Visi AECI adalah untuk menjadi penyedia bahan kimia dan penyedia jasa tambang pilihan bagi para pelanggan. green gauge AECI menyadari bahwa beroperasi pada berbagai sektor yang luas memiliki dampak yang besar terhadap lingkungan dan oleh karena itu ikut berkontribusi terhadap dampak perubahan iklim. Oleh karenanya

Lebih terperinci

MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI

MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI MODUL MATERI UJIAN PERPINDAHAN JABATAN FUNGSIONAL PENGAWAS FARMASI DAN MAKANAN TERAMPIL KE AHLI PEGAWAI NEGERI SIPIL (PNS) BADAN POM RI MATA PELAJARAN : PEDOMAN CARA BERLABORATORIUM YANG BAIK BADAN PENGAWAS

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 08 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 08 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP S A L I N A N PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 08 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN ANALISIS MENGENAI DAMPAK LINGKUNGAN HIDUP MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

BAB 7 PRINSIP DASAR PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

BAB 7 PRINSIP DASAR PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM BAB 7 PRINSIP DASAR PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM 7.1. Pengelompokan Sumber Daya Alam Keputusan perusahaan dan rumah tangga dalam menggunakan sumber daya alam dipengaruhi oleh karakteristik fisik dan biologi

Lebih terperinci

Sistem pertanian organik

Sistem pertanian organik Standar Nasional Indonesia Sistem pertanian organik ICS 65.020.01 Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi

Lebih terperinci

ANALISIS PENERAPAN BIAYA RELEVAN DALAM MENERIMA ATAU MENOLAK PESANAN KHUSUS PADA PT. ADINATA DI MAKASSAR SKRIPSI

ANALISIS PENERAPAN BIAYA RELEVAN DALAM MENERIMA ATAU MENOLAK PESANAN KHUSUS PADA PT. ADINATA DI MAKASSAR SKRIPSI ANALISIS PENERAPAN BIAYA RELEVAN DALAM MENERIMA ATAU MENOLAK PESANAN KHUSUS PADA PT. ADINATA DI MAKASSAR SKRIPSI OLEH : ANDRY A311 07 679 FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tugas Pokok dan Fungsi secara umum merupakan hal-hal yang harus

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Tugas Pokok dan Fungsi secara umum merupakan hal-hal yang harus BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1. Konsep Tugas Pokok dan Fungsi Tugas Pokok dan Fungsi secara umum merupakan hal-hal yang harus bahkan wajib dikerjakan oleh seorang anggota organisasi atau pegawai dalam suatu

Lebih terperinci

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI

BAB II HARGA POKOK PRODUKSI BAB II HARGA POKOK PRODUKSI Bab ini berisi teori yang akan digunakan sebagai dasar melakukan analisis data. Mencakup pengertian dan penggolongan biaya serta teori yang berkaitan dengan penentuan harga

Lebih terperinci

Deklarasi Changwon untuk Kesejahteraan Manusia dan Lahan Basah

Deklarasi Changwon untuk Kesejahteraan Manusia dan Lahan Basah Deklarasi Changwon untuk Kesejahteraan Manusia dan Lahan Basah MENGAPA ANDA HARUS MEMBACA DAN MENGGUNAKAN DEKLARASI INI Lahan basah menyediakan pangan, menyimpan karbon, mengatur arah aliran air, menyimpan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG CARA PRODUKSI KOSMETIKA YANG BAIK MENTERI KESEHATAN, Menimbang : a. bahwa langkah utama untuk menjamin keamanan kosmetika adalah penerapan

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN

TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN TA/TL/2008/0254 TUGAS AKHIR PENGELOLAAN SAMPAH SECARA TERPADU DI KAMPUNG NITIPRAYAN Diajukan Kepada Universitas Islam Indonesia Untuk Memenuhi Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Teknik

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 01 TAHUN 2010 TENTANG TATA LAKSANA PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 01 TAHUN 2010 TENTANG TATA LAKSANA PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, S A L I N A N PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 01 TAHUN 2010 TENTANG TATA LAKSANA PENGENDALIAN PENCEMARAN AIR MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa air merupakan salah satu

Lebih terperinci

WaNuLCAS. Model Simulasi Untuk Sistem Agroforestri. Diedit oleh: Kurniatun Hairiah, Widianto, Sri Rahayu Utami dan Betha Lusiana

WaNuLCAS. Model Simulasi Untuk Sistem Agroforestri. Diedit oleh: Kurniatun Hairiah, Widianto, Sri Rahayu Utami dan Betha Lusiana iv WaNuLCAS Model Simulasi Untuk Sistem Agroforestri Diedit oleh: Kurniatun Hairiah, Widianto, Sri Rahayu Utami dan Betha Lusiana Published in January 2002 Published by: International Centre for Research

Lebih terperinci

CARA MENGELOLA ALAT DAN BAHAN

CARA MENGELOLA ALAT DAN BAHAN MODUL 16 KEWIRAUSAHAAN SMK CARA MENGELOLA ALAT DAN BAHAN Penanggung Jawab : Prof. Dr. H. Mohammad Ali, M.A Pengembang dan Penelaah Model : Dr. H. Ahman, M.Pd. Drs. Ikaputera Waspada, M.M Dra. Neti Budiwati,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2013 TENTANG CARA PENYELENGGARAAN LABORATORIUM KLINIK YANG BAIK

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2013 TENTANG CARA PENYELENGGARAAN LABORATORIUM KLINIK YANG BAIK PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2013 TENTANG CARA PENYELENGGARAAN LABORATORIUM KLINIK YANG BAIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak

Lebih terperinci

MEKANISME SUBSIDI ANGKUTAN UMUM PADA TRAYEK UTAMA SEBAGAI AKIBAT KENAIKAN HARGA BBM DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR

MEKANISME SUBSIDI ANGKUTAN UMUM PADA TRAYEK UTAMA SEBAGAI AKIBAT KENAIKAN HARGA BBM DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR MEKANISME SUBSIDI ANGKUTAN UMUM PADA TRAYEK UTAMA SEBAGAI AKIBAT KENAIKAN HARGA BBM DI KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR Oleh : Arief Munandar L2D 005 346 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci

SISTEM PERIJINAN GANGGUAN

SISTEM PERIJINAN GANGGUAN SISTEM PERIJINAN GANGGUAN SEBUAH LAPORAN TENTANG PENGENDALIAN KEKACAUAN JULI 2008 LAPORAN INI DISUSUN UNTUK DITELAAH OLEH THE UNITED STATES AGENCY FOR INTERNATIONAL DEVELOPMENT. LAPORAN INI DISUSUN OLEH

Lebih terperinci

MODEL DALAM STRATEGI PENETAPAN HARGA

MODEL DALAM STRATEGI PENETAPAN HARGA Verina Unitas, Vol. H. Secapramana 9, No. 1, September 2000 - Pebruari 2001, 30-43 MODEL DALAM STRATEGI PENETAPAN HARGA Verina H. Secapramana Fakultas Psikologi Universitas Surabaya Abstrak Strategi pemasaran

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

Instalasi Pompa Yang Dipasang Tetap Untuk Proteksi Kebakaran

Instalasi Pompa Yang Dipasang Tetap Untuk Proteksi Kebakaran Kembali SNI 03-6570-2001 Instalasi Pompa Yang Dipasang Tetap Untuk Proteksi Kebakaran 1 Pendahuluan. 1.1 Ruang Lingkup dan Acuan. 1.1.1 Ruang Lingkup. Standar ini berhubungan dengan pemilihan dan instalasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pembangunan dan lingkungan mempunyai hubungan yang erat saling terkait dan saling mempengaruhi satu sama lain. Pembangunan dalam hal ini berupa kegiatan usaha maupun

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 AKTIVA TETAP DAN AKTIVA LAIN-LAIN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 AKTIVA TETAP DAN AKTIVA LAIN-LAIN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 AKTIVA TETAP DAN AKTIVA LAIN-LAIN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 16 tentang Aktiva Tetap dan Aktiva Lain-lain disetujui dalam Rapat

Lebih terperinci

Buku Penuntun Opsi Sanitasi Yang Terjangkau Untuk Daerah Spesifik

Buku Penuntun Opsi Sanitasi Yang Terjangkau Untuk Daerah Spesifik Buku Penuntun Opsi Sanitasi Yang Terjangkau Untuk Daerah Spesifik The Water and Sanitation Program is a multi-donor partnership administered by the World Bank to support poor people in obtaining affordable,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci