PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA PENCIPTAAN SUASANA MASYARAKAT BELAJAR SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MINAT BACA BAGI MASYARAKAT

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA PENCIPTAAN SUASANA MASYARAKAT BELAJAR SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MINAT BACA BAGI MASYARAKAT"

Transkripsi

1 PROGRAM KREATIFITAS MAHASISWA PENCIPTAAN SUASANA MASYARAKAT BELAJAR SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MINAT BACA BAGI MASYARAKAT BIDANG KEGIATAN : PKM Penulisan Ilmiah (PKMI) Diusulkan oleh : Ketua : WIDYASARI /2005 Anggota : ARIF IRFAN F /2005 NURUL FARIDAH /2006 UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG MALANG 2007

2 HALAMAN PENGESAHAN USULAN PKMI 1. Judul Kegiatan : Penciptaan Suasana Masyarakat Belajar sebagai Upaya Peningkatan Minat Baca Bagi Masyarakat 2. Bidang Ilmu : Humaniora 3. Ketua Pelaksana Kegiatan/ Penulis Utama a. Nama Lengkap : Widyasari b. NIM : c. Jurusan : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia d. Perguruan Tinggi : Universitas Muhammadiyah Malang e. Alamat Rumah : Perum Landungsari Asri, Blok A 55, Dau, Malang. f. No. Telp/ HP : / Anggota Pelaksana Kegiatan/ Penulis : dua orang. 5. Dosen Pendamping a. Nama Lengkap : Dra. Hari Windu Asrini, M.Si. b. NIP : c. Alamat Rumah : Jln. Danau Sentani Dalam VII Perumnas Asabri H1 L7 Sawojajar Malang. d. No. Telp/ HP : / Malang, 26 Pebruari 2007 Menyetujui Ketua Jurusan Penulis Utama, (Dra. Daroe Iswatiningsih, M.Si) NIP (Widyasari) NIM Pembantu Rektor III, Dosen Pendamping, (Drs. Joko Widodo, M.Si.) NIP UMM (Dra. Hari Windu Asrini, M.Si.) NIP

3 LEMBAR PENGESAHAN SUMBER PENULISAN ILMIAH PKMI 1. Judul yang diajukan : Penciptaan Suasana Masyarakat belajar sebagai Upaya Peningkatan Minat Baca Bagi Masyarakat 2. Sumber Penulisan : ( ) Kegiatan Praktek Lapangan/ Kerja dan sejenisnya, KKN, Magang, Kegiatan Kewirausahaan (pilih salah satu), dengan keterangan lengkap : ( X ) Kegiatan Ilmiah lainnya (sebutkan) dengan keterangan lengkap : Penelitian untuk memenuhi tugas akhir semeter 3, mata kuliah Pengembangan Peserta Didik dibimbing oleh Drs. Jarot Sugiantoro, M.Si. selaku dosen pengampu mata kuliah. Nama Penulis : Arif Irfan Fauzi dan Widyasari Tahun tulisan : 2005 Judul tulisan : Memasyarakatkan Belajar dan Membelajarkan Masyarakat Tempat : Malang Keterangan ini kami buat dengan sebenarnya. Malang, 26 Pebruari 2007 Mengetahui Ketua Jurusan Penulis Utama, (Dra. Daroe Iswatiningsih, M.Si) NIP (Widyasari) NIM

4 PENCIPTAAN SUASANA MASYARAKAT BELAJAR SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN MINAT BACA BAGI MASYARAKAT Widyasari, Arif Irfan Fauzi, Nurul Faridah Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Malang ABSTRAK Untuk mewujudkan dan menyukseskan serta melaksanakan visi dan misi pembangunan nasional, maka diperluhkan adanya SDM yang berkualitas yaitu manusia yang mampu, mau, dan siap belajar sepanjang hayat, yang berpotensi untuk mengelolah kekayaan alam bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia dan masyarakat dunia. Untuk mewujudkan SDM yang berkualitas dibutuhkan adanya upaya penciptaan suasana masyarakat belajar. Penciptaan suasana masyarakat belajar yang kondusif sangat mempengaruhi pelaksanaan dan perwujudan visi dan misi pembangunan nasional. Upaya penciptaan masyarakat belajar adalah tanggung jawab semua pihak, mulai dari orangtua, masyarakat, guru, pihak sekolah dan sebagainya. Untuk mendukung upaya tersebut perlu penulis mengusulkan diadakannya (1) memberdayakan masyarakat dalam pendidikan, (2) mereformasi perpustakaan yang mencangkup digitalisasi perpustakaan, perpustakaan maya, dan perpustakaan keliling,(3) pengadaan rumah baca, dan (4) penyebaran bookled dan tabloid serta program e-learning. Peran SDM yang handal dalam menyukseskan pembangunan nasional sangatlah besar sekali. Mereka yang menguasai ilmu dapat dipastikan akan menjadi aset yang diharapkan bisa meningkatkan daya saing bangsa. Kata kunci : masyarakat belajar, pembelajaran, ilmu pengetahuan, daya saing bangsa. PENDAHULUAN Arus globalisasi yang melanda dunia, memaksa masyarakat untuk bersaing antara satu dengan yang lainnya. Persaingan ini menuntut adanya potensi dalam diri masing-masing individu yang berpartisipasi dalam era globalisasi. Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang dengan segala kelebihan dan kekurangannya ikut terseret dalam era pasar bebas. Kekayaan alam yang melimpah merupakan nilai tambah bagi Indonesia dalam upaya menyukseskan pembangunan nasional dan berperan dalam persaingan kelas dunia. Namun, kekayaan alam yang melimpah tanpa adanya kualitas sumber daya manusia yang baik belum cukup bagi upaya dalam penciptaan pembangunan

5 berkelanjutan dan mengantarkan Indonesia dalam persaingan dunia. Oleh karena itu, masyarakat dituntut agar mampu menghadapi persaingan yang makin kompetitif, baik di dalam maupun di luar. Salah satu cara untuk mengantisipasi persaingan yang makin kompetitif tersebut adalah melalui peningkatan kualitas SDM yang komprehensif. Salah satu penyebab rendahnya SDM di negara kita adalah kurangnya minat belajar masyarakat. Awal masuknya ilmu pengetahuan adalah dengan membaca, oleh karena itu penumbuhkembangan kegiatan membaca perlu digalakkan. Ketika masyarakat kita sudah jauh dari budaya belajar dapat dipastikan kebodohan akan semakin meluas. Dalam sebuah penelitian berkenaan dengan pemahaman makna kata, masyarakat kita mengidentifikasi belajar sebagai kegiatan membaca, menulis dan berhitung (Fauzi, 2005). Selanjutnya, dalam penelitian tersebut juga diutarakan tentang aspek-aspek yang menyebabkan kurangnya minat belajar oleh masyarakat. Hasilnya ditemukan empat aspek yaitu, (1) kurangnya kesadaran pentingnya belajar, (2) keterbatasan dana sehingga tidak bisa mencari sumber belajar, (3) keterbatasan waktu ada pekerjaan yang lebih diprioritaskan, (4) suasana yang kurang kondusif, dan (5) kurangnya sarana belajar. Dalam tulisan ini, penulis memberikan usulan-usulan yang bisa digunakan untuk meningkatkan minat baca, bukan hanya di kalangan pelajar dan mahasiswa akan tetapi juga diperuntukkan bagi masyarakat pasca sekolah. Ini sesuai dengan konsep long live education yang telah dicanagkan tetapi masih banyak kekurangan dalam pelaksanaannya. Penulis mengusulkan penciptaan masyarakat belajar dimulai dari lingkungan si belajar (keluarga, sekolah, dan masyarakat), selain itu perlu dikembangkan sarana-sarana yang mendukung kegiatan pembelajaran seperti perpustakaan digital, perpustakaan keliling, rumah baca, penyebaran informasi melalui bookled dan tabloid, serta pembelajaran melalui media elektronik (elearning). Dengan adanya tulisan ini diharapkan menjadi sumbangsih penulis dalam rangka upaya mewujudkan masyarakat belajar dan membelajarkan masyarakat yang pada akhirnya tumbuh budaya baca di masyarakat. Hal ini tentunya akan berpengaruh baik terhadap peningkatan mutu sumber daya manusia di Indonesia.

6 Redefinisi Pendidikan Nasional Di dalam pembukaan UUD 1945 dinyatakan tujuan terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu upaya mencerdaskan kehidyupan bangsa adalah melaluyi proses pendidikan. Pendidikan adalah sebuah proses dengan metode-metode tertentu sehingga seseorang memperoleh pengetahuan, pemahaman, dan cara bertingkah laku yang sesuai dengan kebutuhan (Muhibbin, 2003:10). Notonagoro (dalam Parsono,1990:1-39) mendefinisikan pendidikan nasional sebagai suatu sistem pendidikan yang berdiri di atas landasan dan dijiwai oleh filsafat hidup suatu bangsa dan tujuannya bersifat mengabdi kepada kepentingan dan cita-cita nasional bangsa tersebut. Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan nasional merupakan teori dan praktek pendidikan suatu negara yang berlandaskan filsafat bangsa guna diabdikan kepada bangsa dan negara yang bersangkutan untuk merealisasikan cita-cita nasionalnya. Tilaar (2000:20) berpendapat dalam rangka meredefinisi pendidikan nasional ada tiga hal yang perlu dikaji kembali yaitu: (1) pendidikan tidak dapat dibatasi hanya schooling, (2) pendidikan bukan hanya mengembangkan potensi intelegensi akademik, dan (3) pendidikan bertujuan membuat manusia berbudaya. Dari pendapat tersebut maka dapat dikatakan bahwa proses pendidikan dapat dirumuskan sebagai proses hominisasi dan humanisasi seseorang yang berlangsung di dalam lingkungan hidup keluarga dan masyarakat yang berbudaya. Tujuan Pendidikan Nasional Tujuan pendidikan nasional adalah membangun kualitas manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan selalu dapat meningkatkan kebudayaan dengan-nya, sebagai warga negara yang berjiwa Pancasila mempunyai semangat dan kesadaran yang tinggi, berbudi pekerti yang luhur, dan berkepribadian yang kuat, cerdas, trampil, dapat mengembangkan dan menyuburkan sikap demokrasi, dapat memelihara hubungan yang baik antara sesama manusia dan dengan lingkungannya, sehat jasmani, mampu

7 mengembangkan daya estetik, berkesanggupan untuk membangun diri dan masyarakatnya (Suryosubroto, 1983: 18-20). Dalam setiap aktifitas manusia, baik disadari maupun tidak, baik langsung maupun tidak langsung terjadi suatu proses belajar-mengajar. Cronbach dalam Sardiman (1995: 22), memberikan definisi belajar sebagai berikut learning is shown by a change in behaviour as a result of experience. Pemberdayaan Masyarakat dalam Pendidikan Hak dan kewajiban warga negara, orangtua, masyarakat dan pemerintah dalam rangka menyukseskan pendidikan tertuang dalam bab IV undang-undang nomor 20 tahun Dalam pasal 5 ayat 1 disebutkan bahwa, Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan (Undangundang Sisdiknas). Ini berarti tidak ada penghalang bagi setiap warga negara Indonesia untuk memperoleh pendidikan. Pendidikan diperuntukkan bagi siapa saja, tidak mengenal jenis kelamin, usia, maupun status sosial. Selanjutnya dalam pasal 6 ayat 2 berbunyi Setiap warga negara bertanggung jawab terhadap keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan (Undang-Undang Sisdiknas). Pada pasal ini tertuang kewajiban warga negara dalam keberlangsungan pendidikan. Masih di bab yang sama, dalam pasal 7 disebutkan berkenaan dengan hak dan kewajiban orangtua terhadap pendidikan khususnya anak mereka yang dalam usia wajib belajar. Terkait dengan peran serta masyarakat dalam pendidikan telah diatur dalam bab XV pasal 54 ayat 1 yang berbunyi Peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perseorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi, pengusaha, dan organisasi kemasyarakatan dalam penyelenggaraaan dan pengendalian mutu pelayanan pendidikan (Undang-Undang Sisdiknas). Tilaar (1997: ) membatasi ciri-ciri masyarakat yang berpartisipasi (Participating Society) dalam pendidikan sebatas masyarakat yang produktif, sadar akan hak-hak dan kewajibannya, sadar hukum dan bertekad untuk mandiri. Lebih jauh lagi, ia menjabarkan karakteristik participating society adalah (1) masyarakat yang kritis, (2) mampu berdiri sendiri, (3) masyarakat yang mau berkarya.

8 Peran serta masyarakat yang lebih kongkrit dalam pendidikan disebutkan dalam pasal 55 ayat 1 yang berbunyi Masyarakat berhak menyelenggarakan pendidikan berbasis masyarakat pada pendidikan formal dan nonformal sesuai dengan kekhasan agama, lingkungan sosial dan budaya untuk kepentingan masyarakat (Undang-Undang Sisdiknas). Berkenaan dengan teknisnya disebutkan dalam ayat 2, 3, dan 4. Minat dan Budaya Baca Minat baca dapat diartikan kecenderungan hati yang tinggi seseorang terhadap sesuatu sumberbacaan tertentu. Sedangkan budaya baca adalah suatu sikap dan tindakan atau perbuatan untuk membaca yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan (Sutarno, 2003:19). Pendorong bangkitnya minat baca ialah kemampuan membaca, dan pendorong bagi berseminya budaya baca adalah kebiasaan membaca, sedangkan kebiasaan membaca terpelihara dengan tersedianya bahan baca yang baik, menarik, memadahi, baik jenis, jumlah maupun mutunya(sutarno, 2003:20). Terdapat lima faktor yang mampu mendorong bangkitnya minat baca masyarakat. Faktor-faktor tersebut adalah: (1) Rasa ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan, dan rasa informasi, (2) keadaan lingkungan fisik yang memadai, dalam artian tersedianya bahan baca yang menarik, berkualitas, dan beragam, (3) keadaan lingkungan sosial yang kondusif, maksudnya iklim yang selalu dimanfaatkan dalam waktu tertentu untuk membaca, (4) rasa haus informasi, rasa ingin tahu, terutama yang aktual, (5) berprinsip bahwa membaca adalah suatu kebutuhan rohani. (Sutarno, 2003). Konsep Perpustakaan Modern Perpustakaan sekolah hendaknya menyediakan buku-buku yang dibutuhkan/diminati siswa sesuai dengan gejolak/perkembangan jiwa remaja, asal isi buku-buku tersebut mendidik. Josette Frank berpendapat anak-anak biasanya lebih senang membaca dari suatu buku yang telah membuatnya bahagia (Sulistyowati, rakyat.com).

9 Seiring dengan perkembangan informasi maka bentuk-bentuk informasi tidak hanya terbatas pada tulisan dalam buku, akan tetapi bisa berupa gambar, animasi, audio, bahkan video. Dalam menyiasati hal tersebut dibutuhkan suatu media penyimpanan yang lebih cepat seperti kaset, video film, slide dan sebagainya. Penggunaan media baru ini dikarenakan efisiensi dan kemudahan dalam pencarian kembali informasi yang telah diakses. Konsep kepemilikan informasi yang tadinya ditekankan pada penyediaan gedung serta koleksi selengkap mungkin, tak lagi mungkin untuk dipenuhi, padahal informasi memang tersedia, terus berkembang dan dibutuhkan bagi pembentukan masyarakat belajar (Rahardjo, Di sisi yang lain, masalah melimpahnya informasi, kompleksitas dalam penggunaan teknologi informasi, media informasi serta alat penelusuran mau tak mau juga menuntut perpustakaan untuk menjalankan peran lebih sebagai pilot atau penunjuk jalan. Metodologi Penulisan Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Deskriptif kualitatif diartikan sebagai metode yang mendeskripsikan makna dan data yang ditangkap oleh penulis dengan menunjukkan buktinya. Metode ini juga dapat diartikan sebagai prosedur pemecahan masalah dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek penelitian pada saat sekarang berdasarkan fakta-fakta yang tampak atau sebagaimana adanya. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif ini, diharapkan karya tulis ini memperoleh hasil analisis yang berupa deskriptif objektif tentang penciptaan masyarakat belajar. PEMBAHASAN Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Pendidikan nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur memiliki ilmu pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan

10 rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Semua golongan masyarakat memiliki kesamaan hak untuk mendapatkan pendidikan. Tidak perduli dari strata rendah maupun tinggi, tidak ada penggolongan gender, maupun usia. Kesempatan untuk belajar yang ada hendaknya dimanfaatkan oleh setiap orang, agar mendapatkan hasil yang maksimal. Untuk itu perlu diciptakan suasana-suasana yang mendukung proses pembelajaran tersebut. Maraknya pendidikan dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi merupakan indikasi bahwa adanya peningkatan dalam hal pelayanan pendidikan.. Konsekuensi logis yang diemban oleh masyarakat adalah mereka dipaksa untuk mendukung penciptaan masyarakat belajar bahkan juga terlibat di dalamnya secara aktif. Pandangan masyarakat tentang cara mendapatkan ilmu haruslah diubah. Ilmu tidak hanya didapat melalui pendidikan formal melainkan juga melalui pendidikan nonformal. Jadi tidak hanya mereka yang bersekolah yang perlu belajar, tetapi semua golongan masyarakat. Tentu dengan porsi dan cara yang berbeda. Minimal mereka bisa mendukung kegiatan belajar. Sarana belajar yang ada dalam proses pembelajaran perlu di optimalkan penggunaannya. Tidak hanya diperuntukkan kepada mereka yang duduk di bangku sekolah tetapi juga kepada masyarakat luas. Tidak dapat dipungkiri bahwa ilmu adalah hajat hidup orang banyak, maka setiap orang berhak mendapat perlakuan yang sama untuk mendapatkan ilmu. Peran Serta Orang tua, Guru, dan Masyarakat dalam Penciptaan Masyarakat Belajar Semua warga negara Indonesia bertanggung jawab terhadap program penciptaan masyarakat belajar. Maksudnya setiap orang memiliki beban dan tanggung jawab yang sama guna menciptakan masyarakat belajar. Yang membedakan adalah porsinya, sesuai dengan kedudukan kita dalam masyarakat. Begitu pentingnya perilaku belajar bagi keberlangsungan bangsa ini menyebabkan semua orang bertanggung jawab atasnya. Sebagai bagian dari negara ini, kita dituntut untuk mendukung suksesnya kegiatan belajar, minimal dengan cara mendukung penciptaan suasana belajar.

11 Untuk menumbuhkembangkan minat baca siswa, peran orang tua, guru, sekolah, masyarakat, pemerintah sangat dibutuhkan Orang tua dapat menjadi contoh di rumah dengan membiasakan membaca apa saja (koran, majalah, tabloid, buku, dan sebagainya.) menyediakan bahan-bahan bacaan yang menarik dan mendidik atau dengan membuat perpustakaan mini di rumah, mengajak anak berkunjung ke pameran buku sesering mungkin, memasukkan anaknya ke lembaga kajian keilmuan, les maupun menjadi anggota perpustakaan. Orang tua juga dianjurkan menjadwal aktifitas anak sehari-hari. Pada saat anak belajar, maka orang tua dianjurkan menemani atau minimal mendukungnya dengan tidak mengganggu. Misalnya tidak menyalakan televisi maupun melakukan aktifitas yang dapat memalingkan anak dari kegiatan belajar. Apabila diperlukan orang tua bisa mengajak anaknya diskusi tentang topik yang dipelajari anak. Guru dapat mengajak siswa untuk membaca/ menelaah buku-buku yang menarik di perpustakaan, dan memberi tugas yang sumbernya dicari di perpustakaan. Guru dapat pula mewajibkan siswa membaca satu buah buku setiap minggu, dan orangtua wajib menandatangani laporannya. Perlu dicatat bahwa teori yang mengatakan guru adalah satu-satunya sumber ilmu sudah tidak berlaku lagi. Sekarang guru lebih berfungsi sebagai kompas bagi anak untuk mendapatkan ilmu. Guru bisa menugaskan siswa mencari sesuatu pengetahuan bebas dimana saja bisa di perpustakaan, taman baca, televisi, wawancara dengan orang yang berkompeten dan sebagainya. Intinya guru berusaha agar anak didik mereka bisa memanfaatkan media-media yang ada dalam angka pengembangan potensi yang ada di dalam diri mereka. Masyarakat pun dapat berperan aktif menumbuhkan minat baca dengan mendirikan klub/ forum membaca, seperti rumah baca, pondok baca, sanggar belajar, dan sebagainya. Bahkan untuk menunjukkan kenyamanan dan kenikmatan dalam membaca buku, bisa juga menyediakan buku di tempat-tempat umum seperti kafe, stasiun, terminal dan sebagainya. Ini adalah implementasi Bab XV pasal 54 Undang-undang Sisdiknas tahun 2003 yang berisi tentang partisipasi masyarakat dalam pendidikan. Masyarat juga dapat mendukung program masyarakat belajar dengan menghormati jam belajar bagi siswa. Misal antara pukul tujuh pagi sampai pukul

12 satu siang dan pukul enam sore sampai pukul delapan malam, masyarakat menciptakan suasana yang kondusif untuk memudahkan para siswa menyerap ilmu. Tidak menciptakan kegaduhan, atau membuat kegiatan yang bisa memalingkan anak dari aktifitas belajar. Sekolah dapat menumbuhkan minat baca siswa dengan menjadikan perpustakaan bersifat aktif dan kondusif. Perpustakaan sekolah dapat mengadakan klab baca, hari baca, wajib baca, jam baca dalam satu minggu, promosi, iklan, resensi buku, telling story, lomba (membuat cerpen, puisi, resensi buku, dan sebagainya). Untuk merangsang siswa agar rajin mengunjungi perpustakaan dan meminjam buku, perpustakaan sekolah dapat pula memberikan semacam penghargaan atau hadiah kepada pengunjung/peminjam buku paling rajin yang diadakan tiap semester atau tiap tahun (Sulistyowati, rakyat.com). Inti permasalahan dalam penciptaan masyarakat belajar adalah terletak pada kesadaran pada masing-masing individu. Apabila mereka menyadari betapa pentingnya belajar terhadap intelegensi siswa maka dengan sendirinya mereka akan ikut proaktif dalam penciptaan masyarakat belajar. Efektifitas Reformasi Perpustakaan dalam Penciptaan Masyarakat Belajar Perpustakaan konfensional yang ada sekarang hendaknya perlu mengaktualisasikan diri agar tidak kehilangan pengunjung. Mereka harus mampu menjawab kebutuhan pembaca akan buku. Oleh karena itu perpustakaan selain memuat buku-buku pelajaran, juga hendaknya memuat buku-buku yang digemari siswa (remaja) masa kini. Selain itu untuk meningkatkan kenyamanan membaca dan agar siswa betah di perpustakaan, perpustakaan boleh memperdengarkan musik yang lembut. Peran pustakawan sekolah berbeda dengan pustakawan umum. Pustakawan sekolah hendaknya memiliki wawasan kependidikan, yaitu dalam mengelola perpustakaan lebih diarahkan kepada fungsi kependidikan. Pustakawan sekolah tidak hanya mengerjakan tugas "standar" seperti akuisisi, klasifikasi, membuat katalog/kartu indeks, labeling, tetapi juga dapat memahami keinginan pengunjung atau mengerti psikologi siswa.

13 Perpustakaan sekolah hendaknya menyediakan buku-buku yang dibutuhkan/ diminati siswa sesuai dengan gejolak/ perkembangan jiwa remaja, asal isi buku-buku tersebut mendidik. Josette Frank dalam Sulistyowati berpendapat anak-anak biasanya lebih senang membaca dari suatu buku yang telah membuatnya bahagia (Sulistyowati, rakyat.com). Ketika minat membaca, yang dimulai pada usia muda, diharapkan dapat berkembang menjadi suatu kebutuhan (kesenangan) sehingga akan terbentuk siswa yang berkualitas dan berdaya saing atau berkompeten. Kemudahan mendapatkan beragam buku kini bukan lagi menjadi persoalan. Beragam komponen industri perbukuan, mulai dari penerbit, distribusi, hingga para penjual telah terbentuk sedemikian rupa hingga memudahkan konsumen mendapatkan semua keinginannya. Pengembangan Perpustakaan Digital (Modernisasi Perpustakaan) Konsep kepemilikan informasi yang tadinya ditekankan pada penyediaan gedung serta koleksi selengkap mungkin, tak lagi mungkin untuk dipenuhi, padahal informasi memang tersedia, terus berkembang dan dibutuhkan bagi pembentukan masyarakat belajar (Rahardjo, Di sinilah perpustakaan mulai dituntut untuk menjalankan peranan sebagai mediator informasi. Akses ke informasi seluas mungkin dari mana saja dan kapan saja menjadi lebih penting dari kepemilikan. Koleksi tak perlu tersedia di perpustakaan secara fisik, tetapi dapat diperoleh ketika dibutuhkan. Dalam peranannya sebagai mediator ini, perpustakaan dituntut untuk menyediakan hubungan-hubungan dengan para ahli ataupun pusat-pusat informasi dengan cara mencari, mengumpulkan, bekerjasama, baik secara gratis maupun berlangganan pangkalan data yang sesuai agar dapat diakses oleh pengguna dari mana saja dan kapan saja secara fleksibel. Penyediaan sarana jaringan maupun terminal komputer menjadi suatu kebutuhan dalam memberikan layanan pada suatu institusi secara fleksibel. Layanan dapat saja diberikan tanpa batasan tempat, waktu ataupun golongan pengguna, bahkan dapat diberikan secara customized. Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi maupun jumlah informasi, makin berkembang pula jenis informasi maupun media untuk

14 menyimpan informasi. Pada masa lalu masyarakat mengenal informasi yang dituangkan dan diperoleh dalam bentuk teks yang cukup tersimpan dalam bentuk/media cetakan. Seiring dengan perkembangan, informasi dalam bentukbentuk lain seperti grafis/ gambar, suara, animasi maupun video mulai dikembangkan. Informasi-informasi jenis ini tentunya memerlukan media penyimpanan lain yang lebih tepat, seperti kaset, video, film, slide dan sebagainya. Virtual Library (Perpustakaan Maya), Jawaban Atas Pesatnya Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Perpustakaan Maya merupakan sebuah perpustakaan atau suatu jaringan dari beberapa perpustakaan yang menghubungkan sumber informasi dan layanan dengan pengguna serta memberikan kesempatan untuk dapat diakses dari mana saja dan oleh siapa saja. Koleksi, layanan maupun pengguna dapat saja tersebar atau terpisah oleh jarak dan waktu, namun tetap dapat terhubung satu sama lain dengan memanfaatkan jaringan antar perpustakaan dan teknologi informasi. Melalui pembentukan jaringan Perpustakaan Maya, perpustakaan dapat menyediakan akses informasi yang lebih luas dan terbuka dalam hal jenis, bentuk dan jangkauan layanan serta hubungan yang lebih cepat antar perpustakaan anggota jaringan, antara jasa layanan sumber informasi dengan jaringan informasi global yang ada. Dengan adanya jaringan ini perpustakaan dapat menawarkan layanan informasi dalam bentuk yang baru dan inovatif, mengurangi biaya penulusuran serta penyebaran informasi, sekaligus meningkatkan efisiensi dan produktivitas dari jasa layanan informasi perpustakaan itu sendiri. Faktor yang mendorong berkembangnya jenis media penyimpanan informasi adalah efisiensi dan kemudahan dalam pencariannya kembali. Informasi atau publikasi, baik dalam bentuk teks, gambar, suara atau bahkan gabungan dari berbagai informasi (multimedia) mulai disimpan dalam bentuk digital seperti CD- Rom ataupun web di internet. Selain istilah-istilah di atas, istilah lain yang banyak dipakai adalah Bookless Library yang menunjuk kepada perpustakaan yang memiliki koleksi mayoritas dalam bentuk digital/elektronik (Rahardjo,

15 Di lain pihak, dari beberapa definisi, istilah Bahasa Inggris "Virtual" mempunyai arti tak nyata, maya atau ilusi tetapi merupakan representasi dari sesuatu yang nyata, atau dapat juga diartikan sebagai sesuatu kondisi yang tanpa kendala dan batas. Dengan dimanfaatkannya teknologi informasi baik dalam bidang komputer, telekomunikasi maupun internet, baik dalam pengelolaan kegiatan, penyimpanan koleksi maupun penyajian layanan, dapat saja sebuah perpustakaan tidak harus dibatasi oleh adanya sebuah bangunan yang harus didatangi secara fisik layanan informasi dapat tetap diberikan dalam bentuk apa saja, kapan saja dan di mana saja melalui sarana teknologi informasi. Bentuk perpustakaan seperti inilah yang disebut sebagai Virtual Library atau Perpustakaan Maya yang tetap ada walau tidak nampak secara fisik. Dalam hal ini tidak nampak pula apakah perpustakaan terdiri dari satu perpustakaan atau gabungan dari beberapa perpustakaan. Peluang Perpustakaan Keliling sebagai pembangkit Minat Baca Masyarakat Perpustakaan keliling merupakan sebuah perpustakaan yang ditempatkan dalam sebuah kendaraan yang mendatangi pembaca atau sekedar ingin menarik minat baca. Dengan adanya perpustakaan keliling, ibu-ibu yang sedang tidak berkegiatan di rumah bisa sejenak keluar dan membaca buku-buku yang mereka sukai. Bisa berupa resep masakan, majalah wanita, koran, atau bahkan buku-buku ilmu pengetahuan umum. Pasar dari perpustakaan keliling sebenarnya tidak terbatas pada kaum ibu saja, tetapi lebih luas kepada masyarakat luas yang tidak mempunyai waktu berkunjung ke perpustakaan. Bisa juga perpustakaan keliling mendatangi objek-objek wisata, alun-alun, maupun tempat umum lainnya. Intinya tujuan diadakan perpustakaan keliling ini adalah, dimanapun seseorang itu singgah maka disitu ada buku. Diharapkan dengan kemudahan akses mendapatkan bacaan maka minat baca masyarakat dapat bertambah. Mereka tidak usah repot-repot membeli buku, tinggal datang ke perpustakaan ini, mendaftar lalu bisa membaca buku yang disediakan. Pengaturan dan penjadwalan perpustakaan keliling dapat diatur sesuaidengan kondisi dan situasi masyarakat setempat. Dalam hal ini penulis mempunyai gagasan bahwa tidak setiap hari perpustakaan keliling singgah di tempat yang sama. Akan tetapi perlu adanya penjadwalan, maksudnya pada

16 tanggal sekian dan sekian maka perpustakaan ini akan berada di alun-alun, tanggal berikutnya akan berada di jalan A dan seterusnya. Pada perpustakaan keliling, tentu saja pembaca tidak bisa membawa pulang buku-buku yang mereka pinjam. Buku-buku tersebut hanya bisa di baca di tempat. Untuk itu pengelola haruslah cerdik, maksudnya bisa memikirkan bagaimana pembaca bisa membaca dengan nyaman. Mereka bisa membawa beberapa kursi, meja, karpet, atau apa saja yang bisa mempernyaman pembaca. Dikarenakan waktu yang terbatas, baik dari pembaca maupun dari perpustakaan itu sendiri, maka bisa jadi pembaca belum puas dalam membaca akan tetapi mereka harus kembali beraktifitas atau perpustakaannya sudah akan ditutup. Untuk menyiasatinya maka pengurus perpustakaan dapat memberitahukan kepada pembaca bahwa mereka bisa membaca atau bahkan meminjam buku tersebut ke perpustakaan umum yang ditunjuk. Perpustakaan umum yang dimaksud bisa berupa perpustakaan kota, perpustakaan pribadi, perpustakaan sekolah, maupun perpustakaan penyelenggara program perpustakaan keliling ini. Sehingga bisa dikatakan bahwa dengan adanya perpustakaan keliling bisa menggiring pembaca ke perpustakaan konvensional yaitu dengan menumbuhkan perasaan suspence dan foreshedoing (pembayangan bacaan selanjutnya dan bertanya-tanya kelanjutannya) kepada pembaca. Adanya perpustakaan keliling memang diperuntukkan bagi mereka masyarakat golongan bawah, walaupun tidak menutup kemungkinan bagi mereka yang berasal dari strata menengah bahkan atas. Fungsi pokok dari perustakaan keliling ini adalah memasyarakatkan buku sebagai upaya peningkatan minat baca masyarakat guna menciptakan suasana masyarakat belajar. Selain itu, bisa digunakan sebagai promosi buku di perpustakaan umum. Peran Rumah Baca sebagai Media Pembelajaran bagi Masyarakat Perlahan tapi pasti minat baca-tulis masyarakat Indonesia sudah mulai tumbuh. Sayangnya, pertumbuhan baca-tulis itu tak didukung akses dan fasilitas untuk memperlancar aktifitas tersebut. Tak heran, bila hingga saat ini jarak antara masyarakat terutama kelas bawah dengan ilmu pengetahuan masih sangat jauh. Kebutuhan ilmu pengetahuan seseorang tidak hanya terbatas ketika mereka bersekolah. Saat bermain, bepergian, makan malam di kafe dan

17 sebagainya terkadang muncul keinginan untuk mengetahui sesuatu. Oleh karena itu keberadaan rumah baca perlu ditumbuhkembangkan. Masyarakat bisa mendapatkan hal baru yang tidak diduga-duga sebelumnya. Kesenangan mereka akan lebih memotifasi untuk lebih banyak membaca, banyak belajar, dan banyak mencari ilmu pengetahuan. Buku yang dimaksud tentunya bukanlah ilmu pengetahuan murni yang berisi teori-teori yang menmbutuhkan banyak pemikiran, akan tetapi yang sudah dibungkus dengan humor, permainan, tips dan sebagainya. Selain itu keberadaan taman baca akan membantu masyarakat strata bawah karena mereka bisa mendapatkan informasi, pengetahuan, dan sebagainya dengan cara yang murah, bahkan gratis. Untuk pergi ke toko buku ataupun meminjam buku di perpustakaan mereka enggan sebab tidak adanya anggaran yang mencukupi untuk membeli buku atau waktu mereka yang hanya digunakan untuk bekerja. Akan tetapi dengan keberadaan taman baca tentu mereka tidak usah berpikir panjang untuk mendapat sesuatu yang berharga. Seorang tukang becak misalnya sambul menunggu penumpang ia bisa meminjam buku ke taman baca. Seperti kita ketahui bersama bahwa kesempatan mendapatkan ilmu bukan hanya hak orang mampu saja, akan tetapi hak semua warga negara tanpa terkecuali. Komposisi taman baca bukan hanya berupa buku-buku, kamus, dan sebagainya. Sebenarnya bila kita membicarakan isi dari taman baca sangatlah tergantung dari pasar yang akan kita sentuh. Ketika kebutuhan mereka berupa masalah perekonomian maka buku-buku yang berkenaan dengan ekonomi harus kita maksimalkan. Ketika mereka menyukai humor maka ilmu pengetahuan perlu kita bungkus dengan humor-humor segar. Hal ini bukan berarti buku-buku lain dinafikan, buku-buku yang kurang diminati perlu kita pajang sebagai pelengkap galeri. Boleh jadi ketika mereka sudah bosan dengan suatu topik akan mencoba mengalihkan ke topic lain. Atau mungkin ada pengunjung yang bukan dari golongan masyarakat setempat. Intinya sebisa mungkin buku-buku yang ada lengkap, berisi ilmu pengetahuan yang dibungkus dengan gaya bahasa human interest, dan tidak menjemukan. Ini akan menimbulkan harapan meningkatnya minat baca di kalangan masyarakat strata bawah yang akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia mereka.

18 Pengaruh Penyebaran Bukled dan Tabloid terhadap Peningkatan Baca Masyarakat Minat Penyebaran bokled dan tabloid dapat dilakukan oleh siapa saja asal diikuti rasa tanggung jawab. Ini bisa berisi pengetahuan ringan, tips, info aktual, dan sebagainya. Sasaran kegiatan ini adalah masyarakat golongan bawah yang tentu kesulitan memperoleh informasi. Kesan edukatif haruslah diutamakan, memang tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan informasi kepada masyarakat berkenaan dengan issu aktual yang terjadi, bagaimana menyikapinya, dan apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat dalam menghadapi hal tesebut. Akan tetapi perlu diingat, dalam tulisan yang ada hendaknya perlu dihindari kesan profokatif sehigga akan menimbulkan gejolak di masyarakat. Bokled dan tabloid diberikan secara cuma-cuma, oleh karena itu sangat memungkinkan memasang beberapa sponsor sebagai penyokong pendanaan. Melalui hal ini berarti kita melibatkan kalangan pengusaha dalam mensukseskan program masyarakat belajar. Sebagaimana disebutkan di atas bahwa pendidikan merupakan tanggug jawab kita bersama. Dalam konteks ini telah terjadi hubungan mutualisme yaitu, pengusaha bisa mempromosikan usahanya dan penyebar bokled maupun tabloid bisa menggunakan dana yang ada untuk biaya-biaya percetakan dan sebagainya. Akan tetapi yang lebih penting yaitu tujuan kegiatan ini tercapai yaitu mencerdaskan masyarakat KESIMPULAN a. Setiap warga negara mempunyai hak dan kewajiban yang sama dalam menjaga kelangsungan pendidikan di Indonesia. b. Minimnya minat baca pada masyarakat kita haruslah segera diberantas. Berkenaan dengan hal ini penulis mengusulkan beberapa cara yang dapat digunakan yaitu: peran serta orang tua, masyarakat, guru, pihak sekolah, diadakannya reformasi perpustakaan, perpustakaan maya, perpustakaan keliling, rumah baca, penyebaran bookled dan tabloid serta program e- learning. c. Peran serta lingkungan (keluarga, masyarakat, sekolah) mempunyai andil banyak dalam penciptaan masyarakat belajar. Peran mereka dalam menciptakan suasana yang kondusif sangat diperlukan. SARAN Setelah mengetahui beberapa langkah yang dapat menjadi alternatif pemecahan masalah masalah rendahnya minat baca, maka penulis menyarankan :

19 a. Kebiasaan membaca adalah kebiasaan yang baik, terlebih ketika kita sudah mempunyai budaya baca. Oleh karena itu hendaknya kita menanamkan kebiasaan baca mulai dari diri kita sendiri. b. Masyarakat diharapkan mampu menciptakan suasana yang kondusif sebagai peran serta mendukung penciptaan masyarakat belajar. c. Menambah jumlah sarana dan prasarana yang mendukung kegiatan membaca bagi masyarakat. d. Pemerataan sarana belajar sampai dengan pelosok-pelosok desa, sehingga konsep setiap warga negara memperoleh hak yang sama dalam proses pembelajaran dapat tercapai. DAFTAR PUSTAKA Fauzi, Arif Irfan Kemampuan Memahami Makna Kata pada Anak Bilingual Usia Tujuh Tahun. Malang. (tidak dicetak). Parsono, dkk Landasan Kependidikan. Jakarta: Karunia Sutarno. N.S Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Suryosubroto, Beberapa Aspek Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: PT Bina Aksara. Sardiman, (tanpa tahun). Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Press. Slamet Wawasan Kebangsaan dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta: Departemen Keuangan Republik Indonesia. Syah, Muhibbin Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Tilaar, H.A.R, Paradigma Baru Pendidikan Nasional. Jakarta: PT Rineka Cipta. Tilaar, H.A.R, Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam Era Globalisasi: Visi, Misi dan Program Aksi Pendidikan dan Pelatihan Menuju Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo). Tim Dosen FIP-IKIP Malang, Pengantar Dasar-dasar Kependidikan. Surabaya: Usaha Nasional. Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Nurkolis Reformasi Kebijakan Pendidikan Luar Biasa. pendidikan/network (diakses 29 Januari 2006).

20 Rahardjo, Arlinah I.(tanpa tahun) Proyek Jaringan Virtual Perpustakaan Universitas Kristen di Indonesia: InCU-VL. (diakses 29 Januari 2006). Sulistyowati.2004.KBK dan Minat Baca. rakyat.com (diakses 29 Januari 2006). (Editor) Televisi dan Pendidikan. (diakses 29 Januari 2006).

TEMA PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT SUMBER BELAJAR JUDUL : PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER ILMU MAKALAH

TEMA PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT SUMBER BELAJAR JUDUL : PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER ILMU MAKALAH TEMA PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT SUMBER BELAJAR JUDUL : PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER ILMU MAKALAH Disusun sebagai UJIAN UAS Mata Kuliah : Pengelolaan Perpustakaan Pendidikan Dosen Pengampu : Nanik

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dan teknologi yang memadai. Untuk menuju pada kemajuan teknologi yang

I. PENDAHULUAN. dan teknologi yang memadai. Untuk menuju pada kemajuan teknologi yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam era globalisasi dan informasi dituntut kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai. Untuk menuju pada kemajuan teknologi yang diharapkan, harus

Lebih terperinci

Pembinaan Minat Baca Bagi Siswa Sekolah Dasar Makalah disampaikan pada Pelatihan Perpustakaan SD Purwoasri II Singosari Malang, 07 Juli 2007

Pembinaan Minat Baca Bagi Siswa Sekolah Dasar Makalah disampaikan pada Pelatihan Perpustakaan SD Purwoasri II Singosari Malang, 07 Juli 2007 Pembinaan Minat Baca Bagi Siswa Sekolah Dasar Makalah disampaikan pada Pelatihan Perpustakaan SD Purwoasri II Singosari Malang, 07 Juli 2007 Oleh: Dwi Novita E. PENDAHULUAN Eksistensi sebuah perpustakaan

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 174 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimanakah Perpustakaan ITS Surabaya dan Perpustakaan UK Petra Surabaya melakukan pemanfaatan fungsi ruang yang

Lebih terperinci

PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM MENDUKUNG PROSES BELAJAR MENGAJAR

PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM MENDUKUNG PROSES BELAJAR MENGAJAR PEMANFAATAN SUMBER DAYA PERPUSTAKAAN SEKOLAH DALAM MENDUKUNG PROSES BELAJAR MENGAJAR Oleh Ishak, S.S, M.Hum PROGRAM STUDI ILMU PEPRUSTAKAAN FAKULTAS SASTRA USU MEDAN, 2008 Ishak : Pemanfaatan Sumber Daya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dila Farida Nurfajriah, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dila Farida Nurfajriah, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dewasa ini perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di dunia berkembang sangat pesat dan telah mempengaruhi berbagai bidang kehidupan dan profesi.

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SEMARANG KANTOR PERPUSTAKAAN DAERAH

PEMERINTAH KABUPATEN SEMARANG KANTOR PERPUSTAKAAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN SEMARANG KANTOR PERPUSTAKAAN DAERAH Jl. PEMUDA NO. 7 Telp. ( 024 ) 6921128 UNGARAN 50511 DHAMOTTAMA SATYA PRAJA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SEMARANG NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran untuk peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat pesat, dengan teknologi dan komunikasi yang canggih tanpa mengenal

BAB I PENDAHULUAN. sangat pesat, dengan teknologi dan komunikasi yang canggih tanpa mengenal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tuntutan dan tantangan dalam dunia pendidikan saat ini semakin kompleks, karena harus berpacu dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ditandai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin berkembang dan membuat arus informasi berjalan sangat cepat sehingga kebutuhan masyarakat akan informasi semakin bertambah, ada

Lebih terperinci

TUGAS INDIVIDU PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT SUMBER BELAJAR. Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Perpustakaan Pendidikan

TUGAS INDIVIDU PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT SUMBER BELAJAR. Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Perpustakaan Pendidikan TUGAS INDIVIDU PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEBAGAI PUSAT SUMBER BELAJAR Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengelolaan Perpustakaan Pendidikan Dosen Pengampu: Nanik Arkiyah, M. IP Disusun oleh: Nama : Siska

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH LINGKUNGAN BISNIS

KARYA ILMIAH LINGKUNGAN BISNIS KARYA ILMIAH LINGKUNGAN BISNIS Usaha Digital Printing Disusun Oleh : Nama Kelas : Nurahman Arby : 11-D3TI-01 NIM : 11.01.2870 STMIK AMIKOM YOGYAKARTA SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2011/2012 1 ABTRAK Membuat

Lebih terperinci

MANFAAT PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR DI SEKOLAH DASAR BAGI KECERDASAN ANAK. Dosen Pembimbing : Nanik Arkiyah,M.Ip

MANFAAT PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR DI SEKOLAH DASAR BAGI KECERDASAN ANAK. Dosen Pembimbing : Nanik Arkiyah,M.Ip MANFAAT PERPUSTAKAAN SEBAGAI SUMBER BELAJAR DI SEKOLAH DASAR BAGI KECERDASAN ANAK Dosen Pembimbing : Nanik Arkiyah,M.Ip Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Pengelolaan Perpustakaan Pendidikan

Lebih terperinci

2014 PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI PADA MATERI POKOK SIKLUS AIR TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK

2014 PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA DALAM PEMBELAJARAN GEOGRAFI PADA MATERI POKOK SIKLUS AIR TERHADAP MOTIVASI BELAJAR PESERTA DIDIK BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan berlangsung sepanjang hayat, yang dimulai sejak lahir. Dalam proses perkembangannya, manusia memerlukan pendidikan, melalui proses ini manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melibatkan aktivitas visual dan berfikir. Crawley dan Mountain mengatakan

BAB I PENDAHULUAN. melibatkan aktivitas visual dan berfikir. Crawley dan Mountain mengatakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keberhasilan proses belajar mengajar salah satunya ditentukan melalui kegiatan membaca. Tanpa membaca siswa tidak akan bisa memahami buku pelajaran yang diajarkan. Hakekat

Lebih terperinci

PEMANFAATAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEEBAGAI SUMBER BELAJAR

PEMANFAATAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEEBAGAI SUMBER BELAJAR PEMANFAATAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH SEEBAGAI SUMBER BELAJAR PENYUSUN NOVI TESTA PAMUNGKAS 1300005017 VII A PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN YOGYAKARTA Kata Pengantar Dengan menyebut

Lebih terperinci

MEWUJUDKAN SDM BERKUALITAS MELALUI KELUARGA

MEWUJUDKAN SDM BERKUALITAS MELALUI KELUARGA Artikel: MEWUJUDKAN SDM BERKUALITAS MELALUI KELUARGA Tjondrorini dan Mardiya Dalam era global ini, bangsa Indonesia masih menghadapi masalah dan tantangan yang sangat kompleks. Di satu sisi, secara internal

Lebih terperinci

Perpustakaan Perguruan Tinggi Berperan dalam Pengembangan Minat Baca Oleh: Drs. Habib, M.M.

Perpustakaan Perguruan Tinggi Berperan dalam Pengembangan Minat Baca Oleh: Drs. Habib, M.M. Perpustakaan Perguruan Tinggi Berperan dalam Pengembangan Minat Baca Oleh: Drs. Habib, M.M. A. LATAR BELAKANG 2015 Perpustakaan merupakan organisasi dibidang jasa yang bergerak dalam usaha peningkatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk

BAB I PENDAHULUAN. atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perpustakaan adalah kumpulan materi tercetak dan media non cetak dan atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk digunakan pengguna (Sulistyo-Basuki,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dinyatakan bahwa salah satu tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah mencerdaskan

Lebih terperinci

PROYEK JARINGAN VIRTUAL PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS KRISTEN DI INDONESIA: InCU-VL

PROYEK JARINGAN VIRTUAL PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS KRISTEN DI INDONESIA: InCU-VL PROYEK JARINGAN VIRTUAL PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS KRISTEN DI INDONESIA: InCU-VL Arlinah Imam Rahardjo, MLIS (arlinah@petra.ac.id) Staf Ahli Universitas Kristen Petra, Bidang Layanan Informasi Disajikan

Lebih terperinci

A. LATAR BELAKANG MASALAH

A. LATAR BELAKANG MASALAH 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Dalam pendidikan dibicarakan tiga wadah berlangsungnya pendidikan yaitu pendidikan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Berdasarkan ketiga lembaga ini Ki Hajar

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BIDANG PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN NGAWI TAHUN

RENCANA STRATEGIS BIDANG PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN NGAWI TAHUN RENCANA STRATEGIS BIDANG PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN NGAWI TAHUN 2010 2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Pembangunan Nasional bertujuan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kualitas pendidikan yang baik. Pendidikan menjadi pilar pembangunan bagi

BAB I PENDAHULUAN. kualitas pendidikan yang baik. Pendidikan menjadi pilar pembangunan bagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam masa globalisasi, suatu negara dianggap maju apabila memiliki kualitas pendidikan yang baik. Pendidikan menjadi pilar pembangunan bagi suatu negara untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jam kerja bisa diatur dengan fleksibel juga potensi penghasilan yang bisa lebih

BAB I PENDAHULUAN. jam kerja bisa diatur dengan fleksibel juga potensi penghasilan yang bisa lebih BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Membuka usaha memang menjadi impian banyak orang. Sebab banyak sekali keuntungan yang bisa kita dapat dari situ. Selain bisa menjadi bos dari diri sendiri jam kerja

Lebih terperinci

BAB II POKOK BAHASAN 1. PENGERTIAN

BAB II POKOK BAHASAN 1. PENGERTIAN BAB II POKOK BAHASAN 1. PENGERTIAN Sebelum pembahasan lebih lanjut tentang pembinaan dan pengembangan minat baca, ada baiknya jika lebih dahulu memahami arti pembinaan dan pengembangan, minat dan membaca,

Lebih terperinci

Oleh : A. Furqon. Anda boleh menyebarluaskan ebook ini secara gratis sepanjang tidak merubah sedikitpun materi yang ada di dalamnya.

Oleh : A. Furqon. Anda boleh menyebarluaskan ebook ini secara gratis sepanjang tidak merubah sedikitpun materi yang ada di dalamnya. Oleh : A. Furqon Anda boleh menyebarluaskan ebook ini secara gratis sepanjang tidak merubah sedikitpun materi yang ada di dalamnya. Ebook ini membahas : STRATEGI PERTAMA : Kiat Praktis Memilih Tempat Kuliah

Lebih terperinci

PERAN PUSTAKAWAN DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN MANAJEMEN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DALAM ERA GLOBALISASI INFORMASI

PERAN PUSTAKAWAN DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN MANAJEMEN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DALAM ERA GLOBALISASI INFORMASI PERAN PUSTAKAWAN DALAM PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN MANAJEMEN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DALAM ERA GLOBALISASI INFORMASI A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara Pendahuluan Perpustakaan perguruan

Lebih terperinci

Inkonsistensi Penyelenggaraan Pendidikan SMA dan SMK 1 Istanto W. Djatmiko

Inkonsistensi Penyelenggaraan Pendidikan SMA dan SMK 1 Istanto W. Djatmiko INKONSISTENSI PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN SEKOLAH MENENGAH ATAS DAN SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Oleh: Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia bertujuan mencerdaskan

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi (gairah) untuk membaca. Minat baca dengan

Lebih terperinci

Kata kunci: Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa PPL-1

Kata kunci: Keterampilan Dasar Mengajar Mahasiswa PPL-1 DESKRIPSI KETERAMPILAN DASAR MENGAJAR MAHASISWA PPL- 1 JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO Oleh: 1. Sri Nunung Mahasiswa Program Studi Fisika 2. Dr. Fitryane Lihawa M.Si Dosen Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan salah satu tujuan pokok Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tertuang dalam alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945. Untuk

Lebih terperinci

Sarliaji Cayaray, 2014 Model layanan perpustakaan sekolah luar biasa Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi.

Sarliaji Cayaray, 2014 Model layanan perpustakaan sekolah luar biasa Universitas Pendidikan Indonesia repository.upi.edu perpustakaan.upi. BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan deskripsi hasil penelitian mengenai model layanan perpustakaan SLB disimpulkan hal-hal sebagai berikut: 1. Kondisi objektif layanan perpustakaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 21 tahun dan belum menikah (www.google.com). Menurut UU No. 23 Tahun

BAB I PENDAHULUAN. 21 tahun dan belum menikah (www.google.com). Menurut UU No. 23 Tahun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Konsep anak didefinisikan dan dipahami secara bervariasi dan berbeda, sesuai dengan sudut pandang dan kepentingan yang beragam. Menurut UU No. 4 Tahun 1979

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Secara umum, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif dapat mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi akan lancar apabila perbendaharaan katanya cukup memadai. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi akan lancar apabila perbendaharaan katanya cukup memadai. Hal ini 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bahasa sebagai sarana yang sangat penting dalam berkomunikasi. Komunikasi akan lancar apabila perbendaharaan katanya cukup memadai. Hal ini disebabkan dalam kehidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tujuan pendidikan menurut sistem Pendidikan Nasional Pancasila dengan

BAB I PENDAHULUAN. tujuan pendidikan menurut sistem Pendidikan Nasional Pancasila dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan sarana utama di dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Tanpa pendidikan akan sulit diperoleh hasil dari kualitas sumber daya manusia

Lebih terperinci

Toko buku..., Putu Arya Djuanta, FIB UI, 2009

Toko buku..., Putu Arya Djuanta, FIB UI, 2009 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini, sumber informasi tercetak seperti buku dan majalah telah menjadi kebutuhan masyarakat. Keberadaan buku dan majalah dapat dikatakan sudah melekat dengan keseharian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. inggris perpustakaan dikenal dengan nama library. Library berasal dari bahasa Latin

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. inggris perpustakaan dikenal dengan nama library. Library berasal dari bahasa Latin BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Perpustakaan Perpustakaan berasal dari kata dasar pustaka. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia kata pustaka memiliki arti kitab atau buku. Sedangkan dalam bahasa inggris

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. gejala,menjelaskannya,dan mengambil manfaat dari pengetahuannya.

BAB I PENDAHULUAN. gejala,menjelaskannya,dan mengambil manfaat dari pengetahuannya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan sangatlah kompleks,berbagai factor mempengaruhi keberhasilan pendidikan tanpa kita pernah tahu faktor manakah yang paling berpengaruh secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. serta ketrampilan yang diperlukan oleh setiap orang. Dirumuskan dalam

BAB I PENDAHULUAN. serta ketrampilan yang diperlukan oleh setiap orang. Dirumuskan dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan manusia seutuhnya bertujuan agar individu dapat mengekspresikan dan mengaktualisasi diri dengan mengembangkan secara optimal dimensi-dimensi kepribadian

Lebih terperinci

Perpustakaan umum kabupaten/kota

Perpustakaan umum kabupaten/kota Standar Nasional Indonesia Perpustakaan umum kabupaten/kota ICS 01.140.20 Badan Standardisasi Nasional Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang menyalin atau menggandakan sebagian atau seluruh isi

Lebih terperinci

UPAYA KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN DI SEKOLAH DASAR

UPAYA KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN DI SEKOLAH DASAR UPAYA KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN DI SEKOLAH DASAR Irawati Jurusan/ Program Administrasi Pendidikan FIP UNP Abstract The goal of this research are to see informations abaut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelas, tapi seorang guru juga harus mampu membimbing, mengembangkan

BAB I PENDAHULUAN. kelas, tapi seorang guru juga harus mampu membimbing, mengembangkan 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG PENELITIAN Guru memiliki peran dan tanggung jawab yang besar dalam proses pendidikan, di mana tugas seorang guru bukan hanya memberikan transfer ilmu dan seperangkat

Lebih terperinci

KURIKULUM 2004 STANDAR KOMPETENSI. Mata Pelajaran

KURIKULUM 2004 STANDAR KOMPETENSI. Mata Pelajaran KURIKULUM 2004 STANDAR KOMPETENSI Mata Pelajaran BAHASA MANDARIN SEKOLAH MENENGAH ATAS dan MADRASAH ALIYAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL Jakarta, Tahun 2003 Katalog dalam Terbitan Indonesia. Pusat Kurikulum,

Lebih terperinci

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG PEMBUDAYAAN GEMAR MEMBACA

BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG PEMBUDAYAAN GEMAR MEMBACA BUPATI KOTABARU PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTABARU NOMOR 16 TAHUN 2016 TENTANG PEMBUDAYAAN GEMAR MEMBACA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KOTABARU, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keberhasilan pendidikan di sekolah tergantung pada sistem pembelajaran yang dimotori oleh empat komponen utama, yaitu: siswa, guru, sistem kurikulum dan sarana-prasarana.

Lebih terperinci

Kampus & Sekretariat Pendaftaran. Website :

Kampus & Sekretariat Pendaftaran. Website : Kampus & Sekretariat Pendaftaran Twiter : STIMAIMMI Facebook : stima.immi3 Website : www.stimaimmi.ac.id PEDOMAN OPERASIONAL AUDIT AKADEMIK INTERNAL BADAN PENJAMINAN MUTU AKADEMIK (BPMA) SEKOLAH TINGGI

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI SERTIFIKASI PENDIDIK DALAM PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU

IMPLEMENTASI SERTIFIKASI PENDIDIK DALAM PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU IMPLEMENTASI SERTIFIKASI PENDIDIK DALAM PENINGKATAN PROFESIONALISME GURU Tri Murwaningsih Abstrak Masalah tenaga pendidikan di Indonesia selama ini antara lain adalah rendahnya kualitas dan profesionalisme

Lebih terperinci

HALAMAN PENGESAHAN MAKALAH

HALAMAN PENGESAHAN MAKALAH 1 HALAMAN PENGESAHAN MAKALAH 2 Peran Perpustakaan Dalam Rangka Meningkatkan Pendidikan Moral Bangsa Pendidikan merupakan sarana dalam membangun watak dan karakter seseorang melalui proses pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Andi Wijaya, 2014 Pemanfaatan Internet Pada Perpustakaan Daerah Kabupaten Karawang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Andi Wijaya, 2014 Pemanfaatan Internet Pada Perpustakaan Daerah Kabupaten Karawang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seiring dengan perkembangan pada era globalisasi, kini informasi bisa semakin mudah untuk diakses. Salah satu cara aksesnya adalah dengan menggunakan media

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Di era globalisasi seperti sekarang ini, pendidikan sangat dibutuhkan. Sebab, pendidikan merupakan suatu sarana yang berfungsi untuk meningkatkan kualitas

Lebih terperinci

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM PROGRAM INTENSIF MENGENAL BENTUK DAN WARNA BAGI SISWA SLB BIDANG KEGIATAN : PKM - M

USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM PROGRAM INTENSIF MENGENAL BENTUK DAN WARNA BAGI SISWA SLB BIDANG KEGIATAN : PKM - M USULAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM PROGRAM INTENSIF MENGENAL BENTUK DAN WARNA BAGI SISWA SLB BIDANG KEGIATAN : PKM - M Diusulkan oleh: 10.41010.0250 DINDA AYU DWI AGUSTINA Tahun Angkatan

Lebih terperinci

TUGAS. Oleh : MEI ZAQI HILDAYANA

TUGAS. Oleh : MEI ZAQI HILDAYANA TUGAS MANAJEMEN PEMASARAN JASA PERPUSTAKAAN PERAN PUSTAKAWAN DALAM PEMBENTUKAN CITRA PERPUSTAKAAN Oleh : MEI ZAQI HILDAYANA 07540021 PRODI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU

Lebih terperinci

Peran Perpustakaan. Dalam Membina Kemampuan dan Minat Baca

Peran Perpustakaan. Dalam Membina Kemampuan dan Minat Baca Peran Perpustakaan Dalam Membina Kemampuan dan Minat Baca Abstrak : Kemampuan membaca merupakan pemahaman seseorang pada bacaan yang dibacanya serta tingkat kecepatan membaca yang dimiliki. Sedang minat

Lebih terperinci

Perum Pesona Candi II Blok M-30 Sekargadung Pasuruan Tlp

Perum Pesona Candi II Blok M-30 Sekargadung Pasuruan Tlp Perum Pesona Candi II Blok M-30 Sekargadung Pasuruan Tlp. 081803201180 Proposal RUMAH BACA KAYYLA Pengantar Membaca adalah gudang ilmu, dengan membaca maka cakrawala kita akan terbuka. Demikian barangkali

Lebih terperinci

Optimalisasi Layanan Koleksi Audio Visual di Perpustakaan ISI Surakarta oleh Sartini. Abstrak

Optimalisasi Layanan Koleksi Audio Visual di Perpustakaan ISI Surakarta oleh Sartini. Abstrak Optimalisasi Layanan Koleksi Audio Visual di Perpustakaan ISI Surakarta oleh Sartini Abstrak Perpustakaan ISI Surakarta merupakan perpustakaan seni yang memiliki koleksi Audio Visual sebagai koleksi unggulannya.

Lebih terperinci

KOLEKSI LANGKA. Langka. Disusun oleh: Anang Fitrianto Sapto Nugroho. a.f.s.n

KOLEKSI LANGKA. Langka. Disusun oleh: Anang Fitrianto Sapto Nugroho. a.f.s.n PEMASARAN DAN PROMOSI Pemasaran Koleksi KOLEKSI LANGKA Langka Disusun oleh: Anang Fitrianto Sapto Nugroho a.f.s.n 1 A. DEFINISI KOLEKSI LANGKA Menurut Online Dictionary for Library and Information Science,

Lebih terperinci

PERAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH

PERAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH Alias Mangnga / JUPITER Vol. XIV No.1 (2015) 38 PERAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR DI SEKOLAH Alias Mangnga Dosen UPBJJ-UT Makassar Abstrak Dalam dunia pendidikan, buku terbukti

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Perpustakaan Perpustakaan merupakan sebuah gedung yang didalamnya terdapat banyak koleksi, baik berupa koleksi tercetak (buku) maupun koleksi non tercetak (koleksi

Lebih terperinci

ini bisa dirasakan ketika sebuah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar baik, sehingga dapat

ini bisa dirasakan ketika sebuah lembaga pendidikan dalam menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar baik, sehingga dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan erat kaitannya dengan perkembangan pendidikan, dimana pendidikan memiliki peranan yang strategis dalam menentukan arah maju mundurnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan menempatkan manusia sebagai titik sentral pembangunan tampak semakin

BAB I PENDAHULUAN. dan menempatkan manusia sebagai titik sentral pembangunan tampak semakin BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam perjalanan memasuki era globalisasi saat ini, kesadaran global tentang peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan dan menempatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Secara umum tujuan pendidikan dapat dikatakan membawa anak ke arah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Secara umum tujuan pendidikan dapat dikatakan membawa anak ke arah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara umum tujuan pendidikan dapat dikatakan membawa anak ke arah tingkat kedewasaan. Artinya anak dituntut agar dapat berdiri sendiri (mandiri) dalam hidupnya

Lebih terperinci

KEBUTUHAN INFORMASI MASYARAKAT KECAMATAN IV JURAI KABUPATEN PESISIR SELATAN

KEBUTUHAN INFORMASI MASYARAKAT KECAMATAN IV JURAI KABUPATEN PESISIR SELATAN KEBUTUHAN INFORMASI MASYARAKAT KECAMATAN IV JURAI KABUPATEN PESISIR SELATAN Rini 1, Ardoni 2 Program Studi Ilmu Informasi Perpustakaan dan Kearsipan FBS Universitas Negeri Padang Email: lubisrini101@ymail.com

Lebih terperinci

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007: Peluang dan Tantangan Bagi Pustakawan 1

Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007: Peluang dan Tantangan Bagi Pustakawan 1 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007: Peluang dan Tantangan Bagi Pustakawan 1 Arif Surachman, S.IP. 2 Pendahuluan Pada suatu perjalanan di Bima, NTB, penulis menyempatkan diri untuk mencari dan melihat perpustakaan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah pendidikan merupakan masalah yang sangat penting. khususnya di negara yang sedang berkembang, termasuk negara Indonesia.

BAB 1 PENDAHULUAN. Masalah pendidikan merupakan masalah yang sangat penting. khususnya di negara yang sedang berkembang, termasuk negara Indonesia. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat tidak dapat melepaskan dari pendidikan.peran serta masyarakat dalam pendidikan meliputi peran serta perorangan, kelompok, keluarga, organisasi profesi,

Lebih terperinci

Perpustakaan umum kabupaten/kota

Perpustakaan umum kabupaten/kota Standar Nasional Indonesia Perpustakaan umum kabupaten/kota Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii Perpustakaan umum kabupaten/kota... 1 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan

Lebih terperinci

ANALISIS PRESTASI BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN INTERNET PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI DI KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 MUARO JAMBI

ANALISIS PRESTASI BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN INTERNET PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI DI KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 MUARO JAMBI ANALISIS PRESTASI BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN INTERNET PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI DI KELAS XI IPA SMA NEGERI 1 MUARO JAMBI SKRIPSI OLEH YUNI KARTIKA A1C409014 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PEMASARAN PERPUSTAKAAN

PEMASARAN PERPUSTAKAAN PEMASARAN PERPUSTAKAAN Oleh: Ir. Abdul Rahman Saleh, M.Sc. --------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- 1. Pengertian

Lebih terperinci

Statuta Poltekkes Kemenkes Kupang Tahun 2014

Statuta Poltekkes Kemenkes Kupang Tahun 2014 Statuta Poltekkes Kemenkes Kupang Edisi Kelima 2010 2 Statuta Poltekkes Kemenkes Kupang Tahun 2014 i KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan tuntunan-nya,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Written by Mikhael Tardas Wednesday, 30 December :00 - Last Updated Friday, 08 January :04

Written by Mikhael Tardas Wednesday, 30 December :00 - Last Updated Friday, 08 January :04 Kesan kumuh karena kurang terawat sepertinya sudah sama sekali hilang, ketika kita menginjakkan kaki di gedung perpustakaan yang ada di kota Jakarta. Tak terkecuali Gedung Perpustakaan dan Arsip di Jakarta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) yang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat (1) yang dimaksud dengan pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan. Sifatnya mutlak dalam kehidupan, baik dalam kehidupan seseorang,

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan. Sifatnya mutlak dalam kehidupan, baik dalam kehidupan seseorang, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sangat penting dalam kehidupan dan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Sifatnya mutlak dalam kehidupan, baik dalam kehidupan seseorang, keluarga,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Elin Asrofah Qobtiah, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Elin Asrofah Qobtiah, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan usaha sadar yang direncanakan untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih aktif, kondusif, dan menyenangkan, sehingga dapat mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merealisir hal tersebut Menteri Agama dan Menteri P dan K. mengeluarkan keputusan bersama untuk melaksanakan pendidikan agama

BAB I PENDAHULUAN. merealisir hal tersebut Menteri Agama dan Menteri P dan K. mengeluarkan keputusan bersama untuk melaksanakan pendidikan agama BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Semenjak bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya dan mempunyai pemerintahan sendiri, pendidikan agama telah diprogramkan untuk diberikan di sekolah-sekolah

Lebih terperinci

BAB III KAUM MUDA PARUH WAKTU DAN GAYA HIDUP MODERN. banyak kaum muda yang masih berstatus sebagai mahasiswa bekerja paruh waktu dengan

BAB III KAUM MUDA PARUH WAKTU DAN GAYA HIDUP MODERN. banyak kaum muda yang masih berstatus sebagai mahasiswa bekerja paruh waktu dengan BAB III KAUM MUDA PARUH WAKTU DAN GAYA HIDUP MODERN Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tujuan kaum muda melakukan pekerjaan paruh waktu dan mengetahui dampak pekerjaan paruh waktu tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pendidikan di Indonesia diselenggarakan dalam rangka memenuhi amanat UUD

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Pendidikan di Indonesia diselenggarakan dalam rangka memenuhi amanat UUD BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan di Indonesia diselenggarakan dalam rangka memenuhi amanat UUD 1945, yaitu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan karakter dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Di samping

BAB 1 PENDAHULUAN. pendidikan karakter dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan. Di samping BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini, dunia pendidikan menghadapi berbagai masalah yang sangat kompleks yang perlu mendapatkan perhatian bersama. Fenomena merosotnya karakter kebangsaan

Lebih terperinci

BUPATI LUWU PROPINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU NOMOR : TENTANG PENDALAMAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA

BUPATI LUWU PROPINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU NOMOR : TENTANG PENDALAMAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA BUPATI LUWU PROPINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU NOMOR : TENTANG PENDALAMAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU, Menimbang : a. bahwa tujuan pendidikan

Lebih terperinci

5.3. VISI JANGKA MENENGAH KOTA PADANG

5.3. VISI JANGKA MENENGAH KOTA PADANG Misi untuk mewujudkan sumberdaya manusia yang cerdas, sehat, beriman dan berkualitas tinggi merupakan prasyarat mutlak untuk dapat mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera. Sumberdaya manusia yang

Lebih terperinci

PERPUSTAKAAN SEBAGAI TEMPAT BELAJAR SEPANJANG MASA Oleh: Drs. Habib, M.M. 2014

PERPUSTAKAAN SEBAGAI TEMPAT BELAJAR SEPANJANG MASA Oleh: Drs. Habib, M.M. 2014 PERPUSTAKAAN SEBAGAI TEMPAT BELAJAR SEPANJANG MASA Oleh: Drs. Habib, M.M. 2014 A. Latar Belakang Dalam dunia pendidikan, kita sering mendengar istilah pendidikan sepanjang masa, pendidikan sepanjang hayat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tercipta sumber daya manusia yang berkualitas. Seperti yang di ungkapkan

BAB I PENDAHULUAN. tercipta sumber daya manusia yang berkualitas. Seperti yang di ungkapkan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan aspek yang sangat penting dalam membangun harkat dan martabat suatu bangsa. Dengan pendidikan yang bermutu, akan tercipta sumber daya

Lebih terperinci

DRAFT PROPOSAL PROGRAM GEMAR MEMBACA BERSAMA BANK BUKOPIN

DRAFT PROPOSAL PROGRAM GEMAR MEMBACA BERSAMA BANK BUKOPIN DRAFT PROPOSAL PROGRAM GEMAR MEMBACA BERSAMA BANK BUKOPIN PENDAHULUAN Membaca merupakan hal yang sering ditekankan orangtua dan guru kepada anak-anak sejak usia dini. Minat dan kebiasaan membaca ini merupakan

Lebih terperinci

MEMBANGUN KELUARGA SEJAHTERA, URGENSI DAN UPAYANYA

MEMBANGUN KELUARGA SEJAHTERA, URGENSI DAN UPAYANYA Artikel MEMBANGUN KELUARGA SEJAHTERA, URGENSI DAN UPAYANYA Mardiya Memasuki era globalisasi yang penuh dengan persaingan dan perjuangan hidup, diakui atau tidak, perhatian kita terhadap pentingnya penduduk

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 54 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PERPUSTAKAAN DI KABUPATEN TANGERANG

PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 54 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PERPUSTAKAAN DI KABUPATEN TANGERANG PERATURAN BUPATI TANGERANG NOMOR 54 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PERPUSTAKAAN DI KABUPATEN TANGERANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANGERANG, Menimbang : a. bahwa untuk membina dan mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat

BAB I PENDAHULUAN. atau hubungan timbal balik antara guru dan siswa itu merupakan syarat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kenyataan bahwa keunggulan suatu bangsa bertumpu pada keunggulan

BAB I PENDAHULUAN. Kenyataan bahwa keunggulan suatu bangsa bertumpu pada keunggulan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kenyataan bahwa keunggulan suatu bangsa bertumpu pada keunggulan sumber daya manusia (SDM), yaitu generasi muda penerus bangsa yang mampu menjawab tantangan-tantangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan wawasan dan pandangan hidup yang berkembang. Pendidikan sangat

BAB I PENDAHULUAN. dengan wawasan dan pandangan hidup yang berkembang. Pendidikan sangat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan sebagai modal dasar bagi manusia untuk menjalani kehidupan dengan wawasan dan pandangan hidup yang berkembang. Pendidikan sangat penting, tanpa pendidikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Teknologi-teknologi baru yang muncul semakin pesat belakangan ini

BAB 1 PENDAHULUAN. Teknologi-teknologi baru yang muncul semakin pesat belakangan ini BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi-teknologi baru yang muncul semakin pesat belakangan ini menunjukkan semakin bertambahnya kecerdasan dari manusia sejalan dengan berkembangnya waktu. Akses

Lebih terperinci

MOTIVASI BELAJAR ANAK JALANAN DI RUMAH SINGGAH DILTS FOUNDATION

MOTIVASI BELAJAR ANAK JALANAN DI RUMAH SINGGAH DILTS FOUNDATION MOTIVASI BELAJAR ANAK JALANAN DI RUMAH SINGGAH DILTS FOUNDATION Dwinda Reina Sari. 10500106 SK. Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma,2008 ABSTRAK Di Indonesia akhir masa orde baru

Lebih terperinci

PERAN PENDIDIK DALAM SISTEM PENDIDIKAN

PERAN PENDIDIK DALAM SISTEM PENDIDIKAN PERAN PENDIDIK DALAM SISTEM PENDIDIKAN Fahmawati Isnita Rahma dan Ma arif Jamuin Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta, Jl. Ahmad Yani, Tromol Pos I, Pabelan Kartasura, Surakarta 57102

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kegiatan yang sangat penting dalam kehidupan manusia,dimanapun dan kapanpun didunia ini pasti akan mengalami proses pendidikan. Di era globalisasi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. informasi yang dibutuhkan oleh penggunanya jika suatu kebutuhan informasi

BAB I PENDAHULUAN. informasi yang dibutuhkan oleh penggunanya jika suatu kebutuhan informasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap orang pada era informasi sangat membutuhkan informasi yang bermanfaat, cepat, tepat dan mudah. Perpustakaan diharapkan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan

Lebih terperinci

Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah sebagai Pusat Sumber Belajar bagi Siswa

Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah sebagai Pusat Sumber Belajar bagi Siswa Pemanfaatan Perpustakaan Sekolah sebagai Pusat Sumber Belajar bagi Siswa Dosen Pengampu : Nanik Arkiyah, M.IP Oleh : Novie Arista 1300005306/ 7A PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN

Lebih terperinci

PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH Syamsul Alam WidyaiswaraLPMP Sulawesi Selatan

PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH Syamsul Alam WidyaiswaraLPMP Sulawesi Selatan PERANAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH Syamsul Alam WidyaiswaraLPMP Sulawesi Selatan Abstrak: Perpustakaan sekolah bertujuan memberikan pelayanan bahan pustaka kepada peserta didik, guru, dan tenaga kependidikan

Lebih terperinci

BUPATI MAJENE PROVINSI SULAWESI BARAT

BUPATI MAJENE PROVINSI SULAWESI BARAT BUPATI MAJENE PROVINSI SULAWESI BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAJENE NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PERPUSTAKAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAJENE, Menimbang: a. bahwa perpustakaan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai arti penting dalam kehidupan. Melalui pendidikan

1. PENDAHULUAN. Pendidikan mempunyai arti penting dalam kehidupan. Melalui pendidikan 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan mempunyai arti penting dalam kehidupan. Melalui pendidikan diharapkan akan lahir sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu membangun kehidupan masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh berbagai krisis yang melanda, maka tantangan dalam

BAB I PENDAHULUAN. disebabkan oleh berbagai krisis yang melanda, maka tantangan dalam 1 BAB I PENDAHULUAN Pada saat bangsa Indonesia menghadapi permasalahan komplek yang disebabkan oleh berbagai krisis yang melanda, maka tantangan dalam menghadapi era globalisasi yang bercirikan keterbukaan

Lebih terperinci