BAB III PROSES PENGUJIAN APU GTCP36-4A

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB III PROSES PENGUJIAN APU GTCP36-4A"

Transkripsi

1 BAB III PROSES PENGUJIAN APU GTCP36-4A 3.1 Teori Dasar APU Auxiliary Power Unit (APU) merupakan mesin turbin gas yang berfungsi sebagai supporting engine pada pesawat. APU tergolong dalam jenis turboshaft, yaitu turbin gas yang hanya menghasilkan daya poros saja, berbeda dengan engine pesawat yang menghasilkan thrust atau daya dorong. Daya poros ini digunakan untuk memutar kompresor dan menjalankan siklus Brayton pada APU. Selain itu, putaran poros juga digunakan untuk memutar generator sehingga dapat menghasilkan listrik selama engine belum menyala. Gambar 3.1 APU GTCP36-4A

2 3.1.1 Letak APU di Pesawat Terbang Gambar 3.2 Letak APU pada pesawat terbang APU GTCP36 4A Arti symbol GTCP36-4A menunjukkan bahwa APU tersebut adalah termasuk jenis Gas Turbine Compressor Power, artinya turbin gas yang mengompresi udara dan menghasilkan daya poros. Putaran poros ini dapat digunakan untuk memutar generator atau pompa. Sedangkan angka 36 merupakan kode yang menunjukkan kelas engine. Angka 4A menjelaskan bahwa APU tersebut adalah modifikasi dari APU GTCP36, dan juga menjelaskan aplikasi pemakaian APU tersebut pada pesawat terbang. aplikasi penggunaannya adalah pada pesawat Fokker-28.

3 3.1.2 Beban Kerja APU Gambar 3.3 Skema APU GTCP36-4A Secara garis besar, terdapat dua macam beban yang dikenakan pada APU, yaitu beban putaran (load) dan beban berupa udara yang dialirkan keluar dari bejana penampungan atau plenum. Udara yang dialirkan keluar ini disebut dengan bleed air. Beban putaran terjadi saat APU melakukan akselerasi untuk mencapai putaran operasional dari keadaan idle, sedangkan beban bleed air terjadi saat dibutuhkan suplai udara untuk menyalakan sistem-sistem tertentu yang dibutuhkan, misalnya bleed air untuk menyalakan engine utama, sistem anti-es, sistem pendingin kabin, dan sistem pneumatik.

4 3.1.3 Proses Kerja APU Gambar 3.4 Sistem Turbin Gas dan Bleed Air pada APU Gambar di atas menunjukkan sistem turbin gas dan saluran udara bleed air. Udara masuk dari saluran intake, kemudian dihisap oleh kompresor dan dinaikkan tekanannya setelah keluaar dari diffuser. Udara bertekanan tinggi ditampung dalam bejana bernama turbine plenum atau biasa disebut plenum. Udara dalam plenum dapat digunakan untuk pembakaran ataupun disalurkan untuk bleed air. Udara untuk pembakaran akan memasuki ruang bakar (combustion liner melalui lubang-lubang kecil pada dinding ruang bakar, sedangkan bleed air dikeluarkan dari plenum melalui katup Load Control Valve (LCV) menuju bleed air duct atau saluran udara. Jika LCV tertutup, semua udara dalam plenum digunakan untuk pembakaran. Sebagian udara memasuki ruang bakar, sedangkan sebagian yang lain mengalir di antara dinding dalam plenum dan dinding luar ruang bakar. Udara yang mengalir di antara dinding ini berfugsi untuk mencegah api pembakaran menjalar keluar dari lubang-lubang combustion liner.

5 Selain itu, udara yang mengalir di antara dinding-dinding juga berfungsi sebagai fluida pendingin. Setelah digunakan untuk pembakaran, gas buang dikeluarkan dari ruang bakar melalui saluran yang disebut torus. Fungsi torus adalah untuk mengarahkan gas hasil pembakaran menuju turbine nozzle. Udara yang melalui turbine nozzle ditingkatkan kecepatannya dan diturunkan tekanannya agar saat memasuki turbine wheel, udara berkecepatan tinggi tersebut dapat memutar sudu-sudu turbin Siklus Brayton Gambar 3.5 Siklus Brayton pada Turbin Gas Bagian utama dari sistem gas turbin pada APU adalah kompresor, ruang pembakaran,dan turbin. APU dinyalakan oleh motor starter elektrik, yang kemudian menyalurkan putaran motor melalui accessory gear train. Putaran diteruskan sehingga poros kompresor dan turbin dapat berputar dan kompresor mengompresi udara dalam jumlah besar. Udara disalurkan ke ruang pembakaran, kemudian bahan bakar ditambahkan dan campuran dinyalakan. Udara hasil pembakaran diteruskan menuju ke turbin sehingga mengalami ekspansi dan ditingkatkan kecepatannya pada saat melewati nozzle exhaust. Turbin mengkonversikan energi termal dan kinetik dari udara menjadi daya poros yang digunakan untuk memutar kompresor dan accessory gear train. Accessory gear train mereduksi putaran poros sehingga dapat memutar generator dan menghasilkan listrik untuk kebutuhan pesawat. 3.2 Komponen utama APU

6 1. Kompresor Kompresor yang digunakan pada GTCP36 4A adalah kompresor radial yang terdiri dari dua komponen utama, yaitu impeller dan diffuser. Impeller bergerak rotasional pada porosnya sehingga udara di antara sudu sudu impeller mengalir menjauhi pusat rotasi akibat gaya sentrifugal. Hal ini menyebabkan bagian tengah impeller memiliki kosong dan bertekanan rendah sehingga menarik udara dari lingkungan. Dapat disimpulkan bahwa impeller menghisap udara sekitar untuk memasuki sudu-sudu dengan kecepatan rendah, kemudian meningkatkan udara tersebut sebelum memasuki diffuser. Gambar 3.6 Impeller Diffuser berbentuk seperti saluran udara divergen yang mengelilingi impeller. Saat udara melalui diffuser, kecepatan udara akan menurun akibat efek divergen dari diffuser. Penurunan kecepatan akan berakibat pada peningkatan tekanan statik (persamaan Bernoulli). Selain itu, diffuser juga berfungsi untuk memastikan bahwa udara akan keluar dengan sudut yang tepat. Selama proses kompresi ini, temperatur udara meningkat dan dapat mencapai 400 F pada output diffuser.

7 Gambar 3.7 Compressor and Turbine Section 2. Turbin Turbin GTCP36-4A terdiri dari turbine wheel dan turbine nozzle. Turbine wheel berbentuk seperti impeller, namun terbuat dari material yang lebih memiliki ketahanan terhadap temperatur tinggi. Sebelum memasuki turbine wheel, udara memasuki suatu bagian yang mengelilingi turbine wheel, disebut plenum. Udara dialirkan menuju turbine nozzle yang meningkatkan kecepatan dan menurunkan tekanan udara. Kemudian, udara diarahkan ke turbine wheel sehingga mengakibatkan turbin berputar. Putaran turbin ini memutar kompresor yang terletak dalam satu poros dengan turbin sehingga kompresor dapat menghisap udara.

8 Gambar 3.8 Turbine Wheel dan Turbine Nozzle 3. Combustion section Pembakaran terjadi dalam ruang bakar yang disebut combustion liner. Combustion liner terletak di dalam plenum, sedangkan ujung pembuangan gas hasil pembakaran terletak dalam suatu bagian yang disebut torus. Torus disebut juga combustion collector, adalah suatu saluran yang berfungsi mengarahkan gas hasil pembakaran menuju ke turbine nozzle. Gambar 3.9 Perakitan Ruang Plenum

9 Proses pembakaran membutuhkan oksigen yang diperoleh dari suplai udara, yang disebut primary air. Sedangkan udara sisa, yaitu secondary air, mengalir sepanjang dinding combustion liner. Udara yang memasuki combustion liner bercampur dengan bahan bakar yang diinjeksikan dalam butir-butir kecil oleh fuel atomizer ke dalam combustion liner, kemudian sistem ignisi akan menyalakan campuran udara bahan bakar tersebut dan terjadilah pembakaran di tengah combustion liner. 4. Accessory drive Accessory drive terdiri dari kumpulan roda gigi yang mengkonversi kecepatan putar poros menjadi kecepatan tertentu untuk operasional pesawat, misalnya untuk memutar generator yang menyuplai listrik ke pesawat. Selain menghasilkan daya poros, APU juga dapat menghasilkan daya dalam bentuk energi pneumatik. Energi pneumatik dihasilkan dari udara yang dikeluarkan melalui suatu katup yang disebut Load Control Valve (LCV). LCV terletak di antara kompresor dan (LCV). kombustor. Saat LCV dibuka, maka sebagian udara dari kompresor akan keluar dan mengalir melalui duct atau saluran udara. Udara yang mengalir melalui LCV ini disebut bleed air dan digunakan untuk starter engine, sistem pendingin kabin, dan sistem pneumatik. Saat katup LCV dibuka, sebagian udara dari kompresor mengalir keluar. Hal ini menyebabkan udara yang diberikan ke ruang bakar berkurang sehingga daya dan putaran turbin akan menurun. Oleh karena itu, sistem penyaluran bahan bakar akan menambahkan bahan bakar sehingga turbin dapat mempertahankan kecepatan putar dan daya yang dihasilkan tidak berkurang. Hal ini dapat menyebabkan temperatur pembakaran meningkat. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa penambahan beban dari pembukaan LCV akan mengakibatkan temperatur gas buang meningkat. Exhaust Gas Temperature (EGT) yang terukur tidak boleh melebihi batas yang diizinkan. Beban dari pembukaan LCV (beban bleed air) dimonitor oleh thermostat yang diletakkan di saluran exhaust turbin. Thermostat ini berfungsi untuk mengontrol lebar bukaan LCV agar EGT yang terjadi tidak boleh melebihi batas yang diizinkan. APU dapat menghasilkan daya poros saja, bleed air, ataupun keduanya sekaligus. Saat APU menyalurkan bleed air dalam jumlah besar, sedangkan beban poros dibutuhkan jumlah besar pula, maka thermostat akan mengatur bukaan LCV sehingga LCV akan

10 menutup dan mengurangi suplai bleed air agar EGT berkurang. Dengan demikian, jika dibutuhkan daya poros yang besar, maka bleed air yang disalurkan semakin sedikit. 3.3 Porses Pengujian APU Setelah mesin diperbaiki, harus dilakukan pengujian sebelum mesin dipasang ke badan pesawat. GMF AeroAsia memiliki fasilitas gedung pengujian untuk engine maupun APU yang disebut Test Cell. Gambar 3.10 Ruang pengujian APU di Test Cell Pengujian ini dilakukan untuk memastikan bahwa APU telah memenuhi standar dan layak terbang. Proses pengujian APU dilakukan dalam empat kondisi kerja APU, yaitu : 1. Run in idle, adalah kondisi saat APU dinyalakan pertama kali tanpa pembebanan. 2. Controlling, yaitu kondisi saat APU dinyalakan dengan pembebanan penuh dari bleed air flow dan dengan menguji controlling thermostat. Pada uji controlling ini, dilakukan pembebanan dengan cara membuka katup LCV sehingga bleed air dapat mengalir. Thermostat akan memonitor EGT yang terjadi dan mengontrol pembukaan LCV sehingga EGT yang terjadi tidak melebihi batas aman. 3. Zero load, yaitu kondisi saat APU dinyalakan tanpa pembebanan, dan setelah dilakukan penyesuaian thermostat dari hasil uji controlling. 4. Performance test, yaitu kondisi saat APU dinyalakan dengan pembebanan penuh setelah

11 dilakukan penyesuaian dari hasil uji controlling. Dengan demikian, operator akan mengatur pembebanan bleed air secara bertahap sampai pada pembebanan penuh, kemudian kinerja sistem kontrol diobservasi. Untuk mengetahui kinerja sistem kontrol pneumatik pada APU, dilakukan pengukuran terhadap EGT yang terjadi. Terdapat dua macam pengukuran EGT pada uji controlling, yaitu EGT engine dan EGT Test Cell. Pengukuran keduanya menggunakan thermocouple yang dipasang pada turbine exhaust APU untuk mengukur EGT engine dan thermocouple yang terpasang pada exhaust collector untuk mengukur EGT Test Cell. Batas EGT Test Cell adalah 1200 F, sedangkan batas EGT engine adalah ±30 F dari EGT Test Cell. Jika sistem kontrol bekerja dengan baik, maka EGT Test Cell yang terukur tidak boleh melebihi 1200 F. Namun jika EGT yang terjadi melebihi 1200 F, maka perlu dilakukan penyesuaian pada sistem yang mempengaruhi EGT tersebut, antara lain thermostat dan Air Pressure Regulator. prosedur pengujian Auxiliary Power Unit (APU) sesuai dengan standar yang dipakai oleh Test Cell GMF AeroAsia, yaitu standar Honeywell OHM , REV. 06; Nov. 30, 2000 (Doc. No ).APU yang diuji adalah tipe GTCP36-4A dari pesawat Fokker-28. Pengujian dilakukan di ruang uji Test Cell GMF AeroAsia 3.4 Prosedur Pengujian APU Untuk pengujian APU, terdapat prosedur operasional standar (SOP/Standard) (Operational Procedure) yang harus dipenuhi.berikut ini adalah langkah-langkah untukmelakukan pengetesan APU di Test Cell : 1. Incoming Merupakan tahapan saat APU masuk ke Test Cell setelah menjalani perbaikan di engine shop. Pada tahap ini, dilakukan dua jenis pengecekan : a. Visual check Merupakan proses pengecekan APU melalui pandangan mata. Pada tahap ini dilakukan pengecekan terhadap kelengkapan ini, komponen yang terpasang dan pemasangan komponen tersebut. b. Document check Merupakan pengecekan dokumen yang dibutuhkan dalam pengujian APU,

12 antara lain : a. Release for Test documen, yaitu dokumen yang berisi izin untuk melakukan test dokumen ini dikeluarkan oleh Quality Assurance (QC). b. Job Card, yaitu dokumen yang berisi perintah kerja (engine work order) segala hal yang dilakukan terhadap APU tersebut dicatat pada job card. 2. Tahap persiapan Sebelum APU diuji, perlu dilakukan persiapan, antara lain pemasangan alatalat pada APU. Berikut adalah beberapa penjelasan mengenai tahapan-tahapan dalam proses persiapan : a. APU dipasang pada dudukan, kemudian diletakkan di ruang uji. Gambar 3.12 Pemasangan APU pada kedudukan di ruang uji b. Melakukan penyambungan APU dengan sistem suplai bahan bakar, yaitu dengan menyambungkan fuel boost pump, pressure regulator, shutoff valve, fuel filter, fuel flow meter, fuel solenoid shutoff valve, valve fuel inlet connection, fuel bypass valve, dan pressure gage untuk mengukur inlet fuel pressure. Sambungkan fuel bypass valve diantara koneksi high pressure fuel dan fuel inlet line agar dapat dilakukan kontrol secara manual pada kecepatan putar APU. c. Melakukan penginstalan sistem pelumasan, yaitu dengan cara melakukan menyambungkan pressure gage pada oil pressure connection dan menyambungkan indicator temperature pada temperature bulb. d. Menyambungkan sistem elektrik.

13 e. Menyambungkan sistem untuk pengukuran getaran mesin. f. Memasang saluran udara dan peralatan untuk mengukur laju aliran bleed air dan thermocouple untuk mengukur exhaust gas temperature (EGT). g. Selain itu, perlu dipersiapkan dokumen untuk mencatat hasil pengujian, antara lain log sheet, APU condition test sheet, engine planning data sheet APU test and preparation, dan APU test report. 3. Memastikan semua persyaratan untuk pengujian telah dipenuhi, antara lain : a. Mengecek semua saluran dan kabel telah terpasang pada tempat semestinya. b. Mengecek semua koneksi, polaritas, dan sambungan pada APU. c. Memastikan semua switch dalam posisi OFF. d. Mencatat barometric pressure. e. Mengecek sistem pelumasan, apakah sudah bekerja dengan baik dan mengecek persediaan pelumas di dalam oil tank. 4.Motoring Setelah APU terpasang dengan alat alat pada Test Cell, maka langkah berikutnya adalah melakukan motoring. Motoring adalah proses starter APU sehingga poros utama berputar, namun pembakaran tidak dilakukan. Proses motoring bertujuan untuk memastikan oil pump dan seluruh sistem pelumasan bekerja dengan baik. Selain itu, motoring juga berfungsi untuk melumasi seluruh bagian engine sebelum APU diuji. 5.APU test Berikut ini adalah prosedur pengujian APU secara keseluruhan yang meliputi empat tahapan pengetesan, yaitu Run in Idle, Controlling, Zero Load,dan Performance Test. a. Menyalakan APU, kemudian APU dibiarkan dalam kondisi idle. Catat data kondisi idle pada APU condition test sheet. b. Menyalakan APU dan meningkatkan kecepatan sampai rpm, kemudian APU dimatikan kembali. Nyalakan kembali APU sampai rpm kemudian matikan kembali. Nyalakan APU sampai ±100 rpm. Biarkan

14 selama tiga menit. c. Catat turbine bearing cavity pressure d. Catat accessory gearcase cavity pressure e. Catat kecepatan putar turbin f. Mengecek oil filter g. Mengecek setting Air Pressure Regulator, dengan prosedur : 1.) Saat APU beroperasi pada kecepatan putar idle, tekan tombol bleed valve switch untuk membuka Load Control Valve 2.) Secara perlahan dan bertahap, buka katup bleed-air shutoff valve untuk mencapai temperatur maksimum EGT Test Cell sebesar maksimum 1200 F. 3.) Lakukan pengaturan Air Pressure Regulator (APR) jika EGT yang terjadi melewati batas. 4.) Tutup katup bleed-air shutoff valve dan Load Control Valve. 5.) Biarkan APU pada kecepatan putar operasional selama kurang lebih dua menit. 6.) Shut down APU. h. Mengecek multispeed switch. i. Melakukan setting governor. j. Mengecek dan melakukan setting thermostat dengan cara: 1.) Menaikkan putaran mesin sampai kecepatan putar operasional, yaitu rpm ± 100 rpm. 2.) Tekan bleed bleed-air switch untuk membuka Load Control Valve (LCV) 3.) Secara bertahap, buka bleed-air shutoff valve sampai membuka air sepenuhnya. 4.) Biarkan selama dua menit agar APU stabil dan exhauset gas temperature (EGT) mencapai nilai stabil tertentu. 5.) Jika exhauset gas temperature (EGT) Test Cell di atas 1200 F, lakukan pengaturan thermostat, yaitu dengan memutar sekrup pengatur atau

15 menambahkan shim sesuai kebutuhan. Amati EGT yang terjadi setelah thermostat selesai diatur exhauset gas temperature (EGT) Test Cell harus di bawah 1200 F. 6.) Catat exhauset gas temperature (EGT) Test Cell dan exhauset gas temperature (EGT) engine. k. Mengecek Load Control Valve (LCV) dengan prosedur sebagai berikut : 1.) Pastikan kecepatan putar APU rpm ± 100 rpm. 2.) Tekan bleed-air switch untuk membuka load control valve (LCV). 3.) Secara bertahap, buka bleed-air shutoff valve sampai membuka sepenuhnya. 4.) Amati EGT Test Cell yang terukur untuk memastikan bahwa harga EGT Test Cell di bawah 1200 F. 5.) Tekan tombol bleed valve switch untuk menutup LCV pada APU. 6.) Tekan bleed valve switch ke posisi terbuka dan amati berapa waktu yang dibutuhkan load control valve (LCV) untuk membuka dan kembali menutup saat mencapai bleed load maksimum. 7.) Waktu atau rate LCV membuka dan menutup harus antara 7-10 detik. Jika rate LCV tidak berada dalam rentang tersebut, lakukan pengaturan pada sekrup LCV. Jika sekrup diputar searah jarum jam, waktu aktivasi LCV akan meningkat, demikian pula sebaliknya. l. Melakukan performance test dan mencatat hasil uji performa. m. Melakukan perhitungan untuk menentukan bleed air flow standard, bleed air pressure standard, bleed air temperature standard, dan fuel flow standard. 3.5 Troubleshooting pada Pengujian APU Pada pengujian APU, terjadi beberapa permasalahan, antara lain : 1. No light-off (tidak terjadi pembakaran). 2. Exhaust Gas Temperature (EGT) melebihi 1200 F, artinya fungsi pada APU tidak berjalan dengan baik. 3. Surge valve tidak membuka. 4. Kecepatan putar poros berfluktuasi di luar batas toleransi selama proses

16 pembebanan. Untuk mengatasi permasalahan di atas, maka selama pengujian, dilakukan perbaikanperbaikan, yaitu: 1. Mengganti exciter dengan yang baru. 2. Untuk mengatasi permasalahan pada sistem kontrol dan Exhaust Gas Temperature (EGT) yang terlalu tinggi, dilakukan tiga tindakan, yaitu : a. Mengganti thermostat sehingga APU dapat melakukan kontrol dengan baik saat EGT meningkat. b. Setting Air Pressure Regulator (APR) sehingga tekanan udara yang melalui Load Control Valve (LCV) tidak terlalu tinggi. c. Menambahkan dua lembar shim dengan ketebalan masing-masing Memperbaiki surge valve. 4. Mengganti LCV.

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian Pada penelitian ini, penulis menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil pengamatan dan pengambilan data langsung di lapangan. Penulis juga menggunakan

Lebih terperinci

Aku berbakti pada Bangsaku,,,,karena Negaraku berjasa padaku. Pengertian Turbocharger

Aku berbakti pada Bangsaku,,,,karena Negaraku berjasa padaku. Pengertian Turbocharger Pengertian Turbocharger Turbocharger merupakan sebuah peralatan, untuk menambah jumlah udara yang masuk kedalam slinder dengan memanfaatkan energi gas buang. Turbocharger merupakan perlatan untuk mengubah

Lebih terperinci

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA

TURBOCHARGER BEBERAPA CARA UNTUK MENAMBAH TENAGA TURBOCHARGER URAIAN Dalam merancang suatu mesin, harus diperhatikan keseimbangan antara besarnya tenaga dengan ukuran berat mesin, salah satu caranya adalah melengkapi mesin dengan turbocharger yang memungkinkan

Lebih terperinci

SESSION 12 POWER PLANT OPERATION

SESSION 12 POWER PLANT OPERATION SESSION 12 POWER PLANT OPERATION OUTLINE 1. Perencanaan Operasi Pembangkit 2. Manajemen Operasi Pembangkit 3. Tanggung Jawab Operator 4. Proses Operasi Pembangkit 1. PERENCANAAN OPERASI PEMBANGKIT Perkiraan

Lebih terperinci

Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Hai teman-teman penerbangan, pada halaman ini saya akan berbagi pengetahuan mengenai engine atau mesin yang digunakan pada pesawat terbang, yaitu CFM56 5A. Kita

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. METODE PENELITIAN Penelitian dilakukan untuk mengetahui fenomena yang terjadi pada mesin Otto dengan penggunaan bahan bakar yang ditambahkan aditif dengan variasi komposisi

Lebih terperinci

PERENCANAAN MOTOR BAKAR DIESEL PENGGERAK POMPA

PERENCANAAN MOTOR BAKAR DIESEL PENGGERAK POMPA TUGAS AKHIR PERENCANAAN MOTOR BAKAR DIESEL PENGGERAK POMPA Disusun : JOKO BROTO WALUYO NIM : D.200.92.0069 NIRM : 04.6.106.03030.50130 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

Lebih terperinci

LAMPIRAN A: Skematik diagram APU GTCP85 (ref 2)

LAMPIRAN A: Skematik diagram APU GTCP85 (ref 2) DAFTAR PUSTAKA 1. Allied Signal, GTCP-85 Component Maintenance Manual.. Boeing Company, B 737-300/400/500 Aircraft Maintenance Manual: GTCP85-19 Series Engines. 3. Boeing Company, B 737-300/400/500 Illustrated

Lebih terperinci

Bab II Ruang Bakar. Bab II Ruang Bakar

Bab II Ruang Bakar. Bab II Ruang Bakar Bab II Ruang Bakar Sebelum berangkat menuju pelaksanaan eksperimen dalam laboratorium, perlu dilakukan sejumlah persiapan pra-eksperimen yang secara langsung maupun tidak langsung dapat dijadikan pedoman

Lebih terperinci

MODUL V-B PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS

MODUL V-B PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS 1 MODUL V-B PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS 2 DEFINISI PLTG Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) merupakan sebuah pembangkit energi listrik yang menggunakan peralatan/mesin turbin gas sebagai penggerak generatornya.

Lebih terperinci

REPAIR STATIONARY AIR SEAL PADA APU GTCP 131-9B DENGAN METODE PLASMA SPRAY

REPAIR STATIONARY AIR SEAL PADA APU GTCP 131-9B DENGAN METODE PLASMA SPRAY Abstrak REPAIR STATIONARY AIR SEAL PADA APU GTCP 131-9B DENGAN METODE PLASMA SPRAY Abdul Syukur A Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang Jl Prof. Sudarto, S.H., Tembalang, Kotak Pos 6199/SMS,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA

BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA BAB III METODE PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN PERHITUNGAN SERTA ANALISA 3.1 Metode Pengujian 3.1.1 Pengujian Dual Fuel Proses pembakaran di dalam ruang silinder pada motor diesel menggunakan sistem injeksi langsung.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. stage nozzle atau nozzle tingkat pertama atau suhu pengapian turbin. Apabila suhu

BAB II LANDASAN TEORI. stage nozzle atau nozzle tingkat pertama atau suhu pengapian turbin. Apabila suhu BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Kendali suhu Pembatasan suhu sebenarnya adalah pada turbin inlet yang terdapat pada first stage nozzle atau nozzle tingkat pertama atau suhu pengapian turbin. Apabila suhu pengapian

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2. 1 Pengertian APU Auxliliary Power Unit (APU) secara harfiah didefinisikan sebagai unit tenaga tambahan pada pesawat terbang yang dipakai untuk menghasilkan tenaga listrik dan tenaga

Lebih terperinci

Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Hai teman-teman penerbangan, pada halaman ini saya akan berbagi pengetahuan mengenai Auxiliary Power Unit atau yang sering kita dengar dalam dunia penerbangan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Turbin gas adalah suatu unit turbin dengan menggunakan gas sebagai fluida kerjanya. Sebenarnya turbin gas merupakan komponen dari suatu sistem pembangkit. Sistem turbin gas paling

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR ANALISA PEMAKAIAN BAHAN BAKAR ENGINE AUXILIARY POWER UNIT (APU) HONEYWELL 131-9B PADA PESAWAT BOEING NEXT GENERATION

TUGAS AKHIR ANALISA PEMAKAIAN BAHAN BAKAR ENGINE AUXILIARY POWER UNIT (APU) HONEYWELL 131-9B PADA PESAWAT BOEING NEXT GENERATION TUGAS AKHIR ANALISA PEMAKAIAN BAHAN BAKAR ENGINE AUXILIARY POWER UNIT (APU) HONEYWELL 131-9B PADA PESAWAT BOEING 737-800 NEXT GENERATION Diajukan guna melengkapi sebagian syarat dalam mencapai gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB II LINGKUP KERJA PRAKTEK DAN LANDASAN TEORI

BAB II LINGKUP KERJA PRAKTEK DAN LANDASAN TEORI BAB II LINGKUP KERJA PRAKTEK DAN LANDASAN TEORI 2.1 LINGKUP KERJA PRAKTEK Lingkup kerja praktek perawatan mesin ini meliputi maintenance partner dan workshop improvement special truk dan bus, kebutuhan

Lebih terperinci

TROUBLE SHOOTING SISTEM INJEKSI MESIN DIESEL MITSUBISHI L300 DAN CARA MENGATASINYA

TROUBLE SHOOTING SISTEM INJEKSI MESIN DIESEL MITSUBISHI L300 DAN CARA MENGATASINYA TROUBLE SHOOTING SISTEM INJEKSI MESIN DIESEL MITSUBISHI L300 DAN CARA MENGATASINYA Suprihadi Agus Program Studi D III Teknik Mesin Politeknik Harapan Bersama Jln. Mataram No. 09 Tegal Telp/Fax (0283) 352000

Lebih terperinci

SESSION 3 GAS-TURBINE POWER PLANT

SESSION 3 GAS-TURBINE POWER PLANT SESSION 3 GAS-TURBINE POWER PLANT Outline 1. Dasar Teori Turbin Gas 2. Proses PLTG dan PLTGU 3. Klasifikasi Turbin Gas 4. Komponen PLTG 5. Kelebihan dan Kekurangan 1. Dasar Teori Turbin Gas Turbin gas

Lebih terperinci

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG) Prepared by: anonymous

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG) Prepared by: anonymous PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG) Prepared by: anonymous Pendahuluan PLTG adalah pembangkit listrik yang menggunakan tenaga yang dihasilkan oleh hasil pembakaran bahan bakar dan udara bertekanan tinggi.

Lebih terperinci

PENGARUH BYPASS RATIO OVERALL PRESSURE RATIO, DAN TURBINE INLET TEMPERATURE TERHADAP SFC PADA GAS-TURBINE ENGINE

PENGARUH BYPASS RATIO OVERALL PRESSURE RATIO, DAN TURBINE INLET TEMPERATURE TERHADAP SFC PADA GAS-TURBINE ENGINE PENGARUH BYPASS RATIO OVERALL PRESSURE RATIO, DAN TURBINE INLET TEMPERATURE TERHADAP SFC PADA GAS-TURBINE ENGINE Muhamad Jalu Purnomo Jurusan Teknik Penerbangan Sekolah Tinggi Teknologi Adisutjipto Jalan

Lebih terperinci

Materi. Motor Bakar Turbin Uap Turbin Gas Generator Uap/Gas Siklus Termodinamika

Materi. Motor Bakar Turbin Uap Turbin Gas Generator Uap/Gas Siklus Termodinamika Penggerak Mula Materi Motor Bakar Turbin Uap Turbin Gas Generator Uap/Gas Siklus Termodinamika Motor Bakar (Combustion Engine) Alat yang mengubah energi kimia yang ada pada bahan bakar menjadi energi mekanis

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Mesin Fluida Mesin fluida adalah mesin yang berfungsi untuk mengubah energi mekanis poros menjadi energi potensial fluida, atau sebaliknya mengubah energi fluida (energi potensial

Lebih terperinci

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM).

Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM). Rencana Pembelajaran Kegiatan Mingguan (RPKPM). Pertemuan ke Capaian Pembelajaran Topik (pokok, subpokok bahasan, alokasi waktu) Teks Presentasi Media Ajar Gambar Audio/Video Soal-tugas Web Metode Evaluasi

Lebih terperinci

Session 11 Steam Turbine Protection

Session 11 Steam Turbine Protection Session 11 Steam Turbine Protection Pendahuluan Kesalahan dan kondisi tidak normal pada turbin dapat menyebabkan kerusakan pada plant ataupun komponen lain dari pembangkit. Dibutuhkan sistem pengaman untuk

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Dasar-dasar Pompa Sentrifugal Pada industri minyak bumi, sebagian besar pompa yang digunakan ialah pompa bertipe sentrifugal. Gaya sentrifugal ialah sebuah gaya yang timbul akibat

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENGUJIAN

BAB III METODOLOGI PENGUJIAN BAB III METODOLOGI PENGUJIAN Percobaan yang dilakukan adalah percobaan dengan kondisi bukan gas penuh dan pengeraman dilakukan bertahap sehingga menyebabkan putaran mesin menjadi berkurang, sehingga nilai

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI MOTOR DIESEL PERAWATAN MESIN DIESEL 1 SILINDER

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI MOTOR DIESEL PERAWATAN MESIN DIESEL 1 SILINDER LAPORAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI MOTOR DIESEL PERAWATAN MESIN DIESEL 1 SILINDER Di susun oleh : Cahya Hurip B.W 11504244016 Pendidikan Teknik Otomotif Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta 2012 Dasar

Lebih terperinci

Session 13 STEAM TURBINE OPERATION

Session 13 STEAM TURBINE OPERATION Session 13 STEAM TURBINE OPERATION SISTEM OPERASI Operasi plant yang baik harus didukung oleh hal-hal berikut: Kelengkapan buku manual dari pabrikan Prosedur operasi standar yang meliputi instruksi untuk

Lebih terperinci

BAB IV SISTEM BAHAN BAKAR MESIN DIESEL LOKOMOTIF

BAB IV SISTEM BAHAN BAKAR MESIN DIESEL LOKOMOTIF BAB IV SISTEM BAHAN BAKAR MESIN DIESEL LOKOMOTIF 4.1 Pengetahuan Dasar Tentang Bahan Bakar Bahan bakar adalah suatu pesawat tenaga yang dapat mengubah energi panas menjadi tenaga mekanik dengan jalan pembakaran

Lebih terperinci

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai

STEAM TURBINE. POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai STEAM TURBINE POWER PLANT 2 X 15 MW PT. Kawasan Industri Dumai PENDAHULUAN Asal kata turbin: turbinis (bahasa Latin) : vortex, whirling Claude Burdin, 1828, dalam kompetisi teknik tentang sumber daya air

Lebih terperinci

ANALISA KINERJA ENGINE TURBOFAN CFM56-3

ANALISA KINERJA ENGINE TURBOFAN CFM56-3 ANALISA KINERJA ENGINE TURBOFAN CFM56-3 Afdhal Kurniawan Mainil (1) (1) Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Universitas Bengkulu ABSTRACT This study focused on the performance analysis of a turbofan engine

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA No. JST/OTO/OTO410/14 Revisi : 02 Tgl : 6 Februari 2014 Hal 1 dari 10 I. Kompetensi : Setelah melaksanakan praktik, mahasiswa diharapkan dapat : 1. Mengidentifikasi komponen sistem bahan bakar, kontrol

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA No. JST/OTO/OTO410/13 Revisi: 03 Tgl: 22 Agustus 2016 Hal 1 dari 10 I. Kompetensi: Setelah melaksanakan praktik, mahasiswa diharapkan dapat: 1. Mengidentifikasi komponen sistem bahan bakar, kontrol udara

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI A. SEJARAH MOTOR DIESEL Pada tahun 1893 Dr. Rudolf Diesel memulai karier mengadakan eksperimen sebuah motor percobaan. Setelah banyak mengalami kegagalan dan kesukaran, mak akhirnya

Lebih terperinci

TURBIN UAP & GAS ANALISA PENGARUH WATER WASH TERHADAP PERFORMANSI TURBIN GAS PADA PLTG UNIT 7 PAYA PASIR PT.PLN SEKTOR PEMBANGKITAN MEDAN SKRIPSI

TURBIN UAP & GAS ANALISA PENGARUH WATER WASH TERHADAP PERFORMANSI TURBIN GAS PADA PLTG UNIT 7 PAYA PASIR PT.PLN SEKTOR PEMBANGKITAN MEDAN SKRIPSI TURBIN UAP & GAS ANALISA PENGARUH WATER WASH TERHADAP PERFORMANSI TURBIN GAS PADA PLTG UNIT 7 PAYA PASIR PT.PLN SEKTOR PEMBANGKITAN MEDAN SKRIPSI Skripsi ini diajukan untuk melengkapi salah satu syarat

Lebih terperinci

BAB V Pengujian dan Analisis Mesin Turbojet Olympus

BAB V Pengujian dan Analisis Mesin Turbojet Olympus BAB V Pengujian dan Analisis Mesin Turbojet Olympus Pada bab ini akan dibahas mengenai pengujian serta analisis hasil pengujian yang dilakukan. Validasi dilakukan dengan membandingkan hasil pengujian terhadap

Lebih terperinci

BAB II Dasar Teori. Gambar 2. 1 Turbin Gas [12]

BAB II Dasar Teori. Gambar 2. 1 Turbin Gas [12] BAB II Dasar Teori 2.1 Turbin Gas Turbin gas adalah motor bakar yang terdiri dari tiga komponen utama, yaitu: kompresor, ruang bakar, dan turbin (gambar 2.1). Sistem ini dapat berfungsi sebagai pembangkit

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN Lampiran 1. Scope Pemeliharaan P1 P8 Scope Pemeliharaan P1 & P2 (Pemeliharaan Harian) PLTD Titi Kuning meliputi : 1. Membersihkan mesin, peralatan-peralatan bantu serta lantai lokasi mesin dari

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara

LAMPIRAN. Universitas Sumatera Utara LAMPIRAN Lampiran 1. Scope Pemeliharaan P1 P8 Scope Pemeliharaan P1 & P2 (Pemeliharaan Harian) PLTD Titi Kuning meliputi: 1. Membersihkan mesin, peralatan-peralatan bantu serta lantai lokasi mesin dari

Lebih terperinci

ANALISIS MODUS KEGAGALAN AUXILIARY POWER UNIT GTCP85-129H/J/K

ANALISIS MODUS KEGAGALAN AUXILIARY POWER UNIT GTCP85-129H/J/K ANALISIS MODUS KEGAGALAN AUXILIARY POWER UNIT GTCP85-129H/J/K Skripsi untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai gelar Sarjana Strata I disusun oleh : Boby Rochmiadi 04050014 JURUSAN TEKNIK PENERBANGAN

Lebih terperinci

MAKALAH PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG)

MAKALAH PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG) MAKALAH PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG) Di Susun Oleh: 1. VENDRO HARI SANDI 2013110057 2. YOFANDI AGUNG YULIO 2013110052 3. RANDA MARDEL YUSRA 2013110061 4. RAHMAT SURYADI 2013110063 5. SYAFLIWANUR

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Turbin Gas Turbin gas adalah turbin dengan gas hasil pembakaran bahan bakar di ruang bakarnya dengan temperatur tinggi sebagai fluida kerjanya. Sebenarnya turbin gas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Motor Bakar Motor bakar adalah mesin atau peswat tenaga yang merupakan mesin kalor dengan menggunakan energi thermal dan potensial untuk melakukan kerja mekanik dengan

Lebih terperinci

GLOSSARY STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKITAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN

GLOSSARY STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKITAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN GLOSSARY GLOSSARY STANDAR KOMPETENSI TENAGA TEKNIK KETENAGALISTRIKAN BIDANG PEMBANGKITAN ENERGI BARU DAN TERBARUKAN Bangunan Sipil Adalah bangunan yang dibangun dengan rekayasa sipil, seperti : bangunan

Lebih terperinci

PERALATAN INDUSTRI KIMIA (MATERIAL HANDLING)

PERALATAN INDUSTRI KIMIA (MATERIAL HANDLING) PERALATAN INDUSTRI KIMIA (MATERIAL HANDLING) Kimia Industri (TIN 4206) PERALATAN INDUSTRI KIMIA YANG DIBAHAS : I Material Handling II Size Reduction III Storage IV Reaktor V Crystallization VI Heat treatment

Lebih terperinci

Dua orang berkebangsaan Jerman mempatenkan engine pembakaran dalam pertama di tahun 1875.

Dua orang berkebangsaan Jerman mempatenkan engine pembakaran dalam pertama di tahun 1875. ABSIC ENGINE Dua orang berkebangsaan Jerman mempatenkan engine pembakaran dalam pertama di tahun 1875. Pada pertengahan era 30-an, Volvo menggunakan engine yang serupa dengan engine Diesel. Yaitu engine

Lebih terperinci

BAB III PROSEDUR PENGUJIAN STUDI PUSTAKA KONDISI MESIN DALAM KEADAAN BAIK KESIMPULAN. Gambar 3.1. Diagram alir metodologi pengujian

BAB III PROSEDUR PENGUJIAN STUDI PUSTAKA KONDISI MESIN DALAM KEADAAN BAIK KESIMPULAN. Gambar 3.1. Diagram alir metodologi pengujian BAB III PROSEDUR PENGUJIAN 3.1 Diagram alir Metodologi Pengujian STUDI PUSTAKA PERSIAPAN MESIN UJI DYNO TEST DYNOJET PEMERIKSAAN DAN PENGETESAN MESIN SERVICE MESIN UJI KONDISI MESIN DALAM KEADAAN BAIK

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Skema Oraganic Rankine Cycle Pada penelitian ini sistem Organic Rankine Cycle secara umum dibutuhkan sebuah alat uji sistem ORC yang terdiri dari pompa, boiler, turbin dan

Lebih terperinci

BAB II. LANDASAN TEORI

BAB II. LANDASAN TEORI BAB II. LANDASAN TEORI 2.1. Mengenal Motor Diesel Motor diesel merupakan salah satu tipe dari motor bakar, sedangkan tipe yang lainnya adalah motor bensin. Secara sederhana prinsip pembakaran pada motor

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

BAB III TINJAUAN PUSTAKA BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 MOTOR DIESEL Motor diesel adalah motor pembakaran dalam (internal combustion engine) yang beroperasi dengan menggunakan minyak gas atau minyak berat sebagai bahan bakar dengan

Lebih terperinci

15 BAB III TINJAUAN PUSTAKA 3.1 Pengertian Pompa Pompa adalah mesin fluida yang berfungsi untuk memindahkan fluida cair dari suatu tempat ke tempat lain dengan cara memberikan energi mekanik pada pompa

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Landasan Teori PLTGU atau combine cycle power plant (CCPP) adalah suatu unit pembangkit yang memanfaatkan siklus gabungan antara turbin uap dan turbin gas. Gagasan awal untuk

Lebih terperinci

LEMBAR KERJA PENGOPERASIAN SIMULASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS

LEMBAR KERJA PENGOPERASIAN SIMULASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS LEMBAR KERJA PENGOPERASIAN SIMULASI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS Proses Nama Penanggung Jawab Jabatan Tanda tangan Perumusan Ainun Nidhar, A.Md Asisten Persetujuan Agus Sukandi, M.T. Ka. Lab Energi-Mekanik

Lebih terperinci

Session 4. Diesel Power Plant. 1. Siklus Otto dan Diesel 2. Prinsip PLTD 3. Proses PLTD 4. Komponen PLTD 5. Kelebihan dan Kekurangan PLTD

Session 4. Diesel Power Plant. 1. Siklus Otto dan Diesel 2. Prinsip PLTD 3. Proses PLTD 4. Komponen PLTD 5. Kelebihan dan Kekurangan PLTD Session 4 Diesel Power Plant 1. Siklus Otto dan Diesel 2. Prinsip PLTD 3. Proses PLTD 4. Komponen PLTD 5. Kelebihan dan Kekurangan PLTD Siklus Otto Four-stroke Spark Ignition Engine. Siklus Otto 4 langkah

Lebih terperinci

LATAR BELAKANG. Alternatif pengganti bahan bakar minyak. Nilai Emisi LPG. Converter Kit Manual yg Brebet. Converter Kit

LATAR BELAKANG. Alternatif pengganti bahan bakar minyak. Nilai Emisi LPG. Converter Kit Manual yg Brebet. Converter Kit LATAR BELAKANG Alternatif pengganti bahan bakar minyak Nilai Emisi LPG Converter Kit Manual yg Brebet Converter Kit dengan APR LATAR BELAKANG Sumber : Indonesia Energy Statistic 2009 Kementrian Energi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Dalam observasi yang dilakukan terhadap sistim Turbocharger dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI. Dalam observasi yang dilakukan terhadap sistim Turbocharger dan BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Dalam observasi yang dilakukan terhadap sistim Turbocharger dan mencari refrensi dari beberapa sumber yang halnya berkaitan dengan judul

Lebih terperinci

KERJA PRAKTEK BAB III PEMBAHASAN. 3. Sistem Kerja Dan Pemeliharaan Governor Pada Pesawat Dakota

KERJA PRAKTEK BAB III PEMBAHASAN. 3. Sistem Kerja Dan Pemeliharaan Governor Pada Pesawat Dakota BAB III PEMBAHASAN 3. Sistem Kerja Dan Pemeliharaan Governor Pada Pesawat Dakota 3.1 Dasar Pengertian Governor Governor adalah suatu benda atau alat penggerak mekanik variable propeller pada pesawat untuk

Lebih terperinci

BAB II MESIN PENDINGIN. temperaturnya lebih tinggi. Didalan sistem pendinginan dalam menjaga temperatur

BAB II MESIN PENDINGIN. temperaturnya lebih tinggi. Didalan sistem pendinginan dalam menjaga temperatur BAB II MESIN PENDINGIN 2.1. Pengertian Mesin Pendingin Mesin Pendingin adalah suatu peralatan yang digunakan untuk mendinginkan air, atau peralatan yang berfungsi untuk memindahkan panas dari suatu tempat

Lebih terperinci

Prinsip kerja PLTG dapat dijelaskan melalui gambar dibawah ini : Gambar 1.1. Skema PLTG

Prinsip kerja PLTG dapat dijelaskan melalui gambar dibawah ini : Gambar 1.1. Skema PLTG 1. SIKLUS PLTGU 1.1. Siklus PLTG Prinsip kerja PLTG dapat dijelaskan melalui gambar dibawah ini : Gambar 1.1. Skema PLTG Proses yang terjadi pada PLTG adalah sebagai berikut : Pertama, turbin gas berfungsi

Lebih terperinci

JENIS TURBIN. Jenis turbin menurut bentuk blade terdiri dari. Jenis turbin menurut banyaknya silinder. Jenis turbin menurut arah aliran uap

JENIS TURBIN. Jenis turbin menurut bentuk blade terdiri dari. Jenis turbin menurut banyaknya silinder. Jenis turbin menurut arah aliran uap TURBINE PERFORMANCE ABSTRACT Pada umumnya steam turbine di operasikan secara kontinyu dalam jangka waktu yang lama.masalah-masalah pada steam turbin yang akan berujung pada berkurangnya efisiensi dan performansi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Motor Bakar Diesel Motor bakar diesel adalah motor bakar yang berbeda dengan motor bensin, proses penyalaanya bukan dengan nyala api listrik melainkan penyalaan bahan bakar

Lebih terperinci

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG)

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG) PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS (PLTG) A. Pengertian PLTG (Pembangkit listrik tenaga gas) merupakan pembangkit listrik yang memanfaatkan gas untuk memutar turbin dan generator. Turbin dan generator adalah

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. cutting turbocharger. Berikut adalah beberapa langkah yang dilakukan : Proses pengerjaan cutting Turbocharger

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. cutting turbocharger. Berikut adalah beberapa langkah yang dilakukan : Proses pengerjaan cutting Turbocharger BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Proses cutting Turbocharger Dalam pengerjaan media pembelajaran dalam sistim Turbocharger, adapun langkah yang dilakukan dalam pengerjaan proses cutting turbocharger. Berikut

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pompa adalah salah satu jenis mesin fluida yang berfungsi untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pompa adalah salah satu jenis mesin fluida yang berfungsi untuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pompa Pompa adalah salah satu jenis mesin fluida yang berfungsi untuk memindahkan zat cair dari suatu tempat ke tempat lain yang diinginkan. Pompa beroperasi dengan membuat

Lebih terperinci

TUGAS MAKALAH TURBIN GAS

TUGAS MAKALAH TURBIN GAS TUGAS MAKALAH TURBIN GAS Di susun oleh: Nama : DWI NUGROHO Nim : 091210342 FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK 2013 0 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Turbin adalah mesin penggerak, dimana

Lebih terperinci

Pada bab ini dibahas tentang spesifikasi bahan bakar avtur, sistem bahan bakar, komponenkomponen fuel sistem, atomizer flow & divider, thermostat, fue

Pada bab ini dibahas tentang spesifikasi bahan bakar avtur, sistem bahan bakar, komponenkomponen fuel sistem, atomizer flow & divider, thermostat, fue ANALISIS PEMAKAIAN BAHAN BAKAR PADA AUXILIARY POWER UNIT (APU) GTCP 85-129 H/J/K Disusun oleh : Hasanudin Fakultas Teknologi Industri, Teknik Mesin ABSTRAKSI HASANUDIN, 21402211 PROSES KERJA PEMAKAIAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) PLTU merupakan sistem pembangkit tenaga listrik dengan memanfaatkan energi panas bahan bakar untuk diubah menjadi energi listrik dengan

Lebih terperinci

PEMBIMBING : Dr. Sri Poernomo Sari, ST., MT

PEMBIMBING : Dr. Sri Poernomo Sari, ST., MT MEKANISME KERJA POMPA SENTRIFUGAL RANGKAIAN SERI NAMA : YUFIRMAN NPM : 20407924 PEMBIMBING : Dr. Sri Poernomo Sari, ST., MT JURUSAN TEK NIK MESIN UNIVERSITAS GUNADARMA 2014 LATAR BELAKANG Pompa adalah

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN ANALISIS. Penyebab dari kegagalan yang dialami oleh APU unable to start atau tak bisa

BAB V HASIL DAN ANALISIS. Penyebab dari kegagalan yang dialami oleh APU unable to start atau tak bisa BAB V HASIL DAN ANALISIS 5.1 Pembahasan FTA (Fault Tree Analysis) Penyebab dari kegagalan yang dialami oleh APU unable to start atau tak bisa dinyalakan. Dari beberapa penyebab yaitu: Test cell power lost

Lebih terperinci

Lampiran Lampiran 1 Prosedur Pengoperasian Generator PT XYZ

Lampiran Lampiran 1 Prosedur Pengoperasian Generator PT XYZ Lampiran Lampiran 1 Prosedur Pengoperasian Generator PT XYZ Semua operator yang menjalankan pengoperasian generator harus mengikuti SOP (Standard Operation Procedure) yang telah dibuat dan ditentukan sebagai

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM

BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM BAB IV PENGUJIAN DAN ANALISA SISTEM 4.1 Pengujian Pompa Reciprocating Pengujian kinerja pompa ini dimaksudkan untuk mengetahui kinerja pompa setelah proses modifikasi, yang meliputi ketangguhan sistem

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 CARA PERAWATAN TURBOCHARGER Gambar 4.1 Turbocharger (Sumber : Data Pribadi) Turbocharger adalah bagian yang dibuat secara presisi, tetapi memiliki desain yang sangat sederhana, dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA.1. MESIN-MESIN FLUIDA Mesin fluida adalah mesin yang berfungsi untuk mengubah energi mekanis poros menjadi energi potensial atau sebaliknya mengubah energi fluida (energi potensial

Lebih terperinci

Session 10 Steam Turbine Instrumentation

Session 10 Steam Turbine Instrumentation Session 10 Steam Turbine Instrumentation Pendahuluan Pengoperasian turbin yang terus menerus dan kondisi yang abnormal mempengaruhi kondisi turbin. Instrumen dibutuhkan untuk memantau kondisi turbin dan

Lebih terperinci

FUEL SYSTEM. Oleh: Muhammad Agung Prabowo, S.Pd Instructure of Aircraft Maintenance Engineer

FUEL SYSTEM. Oleh: Muhammad Agung Prabowo, S.Pd Instructure of Aircraft Maintenance Engineer FUEL SYSTEM Oleh: Muhammad Agung Prabowo, S.Pd Instructure of Aircraft Maintenance Engineer FUEL SYSTEM adalah sistem pengisian, penyimpanan dan pendistribusian fuel ke ssistem engine dan APU Pada normalnya

Lebih terperinci

MODUL POMPA AIR IRIGASI (Irrigation Pump)

MODUL POMPA AIR IRIGASI (Irrigation Pump) MODUL POMPA AIR IRIGASI (Irrigation Pump) Diklat Teknis Kedelai Bagi Penyuluh Dalam Rangka Upaya Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Kedelai Pertanian dan BABINSA KEMENTERIAN PERTANIAN BADAN PENYULUHAN

Lebih terperinci

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 25 BAB IV PELAKSANAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 ALUR PROSES PRODUKSI Dalam perkitan hydraulic power unit ada beberapa proses dari mulai sampai selesai, dan berikut adalah alur dari proses produksi Gambar 4.1

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN LITERATUR

BAB II TINJAUAN LITERATUR BAB II TINJAUAN LITERATUR Motor bakar merupakan motor penggerak yang banyak digunakan untuk menggerakan kendaraan-kendaraan bermotor di jalan raya. Motor bakar adalah suatu mesin yang mengubah energi panas

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Menurut Wiranto Arismunandar (1988) Energi diperoleh dengan proses

BAB II DASAR TEORI. Menurut Wiranto Arismunandar (1988) Energi diperoleh dengan proses BAB II DASAR TEORI 2.1. Definisi Motor Bakar Menurut Wiranto Arismunandar (1988) Energi diperoleh dengan proses pembakaran. Ditinjau dari cara memperoleh energi termal ini mesin kalor dibagi menjadi 2

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Defenisi Motor Bakar Mesin Pembakaran Dalam pada umumnya dikenal dengan nama Motor Bakar. Dalam kelompok ini terdapat Motor Bakar Torak dan system turbin gas. Proses pembakaran

Lebih terperinci

Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Hai teman-teman penerbangan, pada halaman ini saya akan berbagi pengetahuan mengenai Engine Fuel System pada engine CFM56-5A yang diaplikasikan pada pesawat

Lebih terperinci

Elektro Hidrolik Aplikasi sitem hidraulik sangat luas diberbagai bidang indutri saat ini. Kemampuannya untuk menghasilkan gaya yang besar, keakuratan

Elektro Hidrolik Aplikasi sitem hidraulik sangat luas diberbagai bidang indutri saat ini. Kemampuannya untuk menghasilkan gaya yang besar, keakuratan Elektro Hidrolik Aplikasi sitem hidraulik sangat luas diberbagai bidang indutri saat ini. Kemampuannya untuk menghasilkan gaya yang besar, keakuratan dalam pengontrolan dan kemudahan dalam pengoperasian

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Diagram alir metodologi pengujian

Gambar 3.1 Diagram alir metodologi pengujian BAB III METODOLOGI PENGUJIAN 3.1 Diagram Alir Metodologi Pengujian MULAI STUDI PUSTAKA PERSIAPAN MESIN UJI PEMERIKSAAN DAN PENGESETAN MESIN KONDISI MESIN VALIDASI ALAT UKUR PERSIAPAN PENGUJIAN PEMASANGAN

Lebih terperinci

ANALISA KINERJA ENGINE TURBOFAN CFM56-3

ANALISA KINERJA ENGINE TURBOFAN CFM56-3 ANALISA KINERJA ENGINE TURBOFAN CFM56-3 Afdhal Kurniawan Mainil (1) (1) Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Universitas Bengkulu ABSTRACT This study focused on the performance analysis of a turbofan engine

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH COMPRESSOR WASH TERHADAP EGT MARGIN PADA ENGINE CF5M6-3

ANALISIS PENGARUH COMPRESSOR WASH TERHADAP EGT MARGIN PADA ENGINE CF5M6-3 ANALISIS PENGARUH COMPRESSOR WASH TERHADAP EGT MARGIN PADA ENGINE CF5M6-3 ANALISIS PENGARUH COMPRESSOR WASH TERHADAP EGT MARGIN PADA ENGINE CF5M6-3 Muhammad Takdir, Muhamad Jalu Purnomo Jurusan Teknik

Lebih terperinci

SISTEM BAHAN BAKAR INJEKSI PADA SEPEDA MOTOR HONDA (HONDA PGM-FI)

SISTEM BAHAN BAKAR INJEKSI PADA SEPEDA MOTOR HONDA (HONDA PGM-FI) SISTEM BAHAN BAKAR INJEKSI PADA SEPEDA MOTOR HONDA (HONDA PGM-FI) Gambar Komponen sistem EFI pada sepeda mesin Honda Supra X 125 A. Sistem Bahan Bakar Komponen-komponen yang digunakan untuk menyalurkan

Lebih terperinci

BAB 9 MENGIDENTIFIKASI MESIN PENGGERAK UTAMA

BAB 9 MENGIDENTIFIKASI MESIN PENGGERAK UTAMA BAB 9 MENGIDENTIFIKASI MESIN PENGGERAK UTAMA 9.1. MESIN PENGGERAK UTAMA KAPAL PERIKANAN Mesin penggerak utama harus dalam kondisi yang prima apabila kapal perikanan akan memulai perjalanannya. Konstruksi

Lebih terperinci

BAB IV PROSES ASSEMBLY POWER SECTION APU GTCP85-129

BAB IV PROSES ASSEMBLY POWER SECTION APU GTCP85-129 BAB IV PROSES ASSEMBLY POWER SECTION APU GTCP85-129 4.1 Pengantar Proses assemble power section dibagi menjadi 3 tahapan proses assembly yaitu : 1. Assembly rotating group 2. Assembly component support

Lebih terperinci

Pratama Akbar Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS

Pratama Akbar Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS Pratama Akbar 4206 100 001 Jurusan Teknik Sistem Perkapalan FTK ITS PT. Indonesia Power sebagai salah satu pembangkit listrik di Indonesia Rencana untuk membangun PLTD Tenaga Power Plant: MAN 3 x 18.900

Lebih terperinci

ANALISIS PERFORMA ENGINE TURBOFAN PESAWAT BOEING

ANALISIS PERFORMA ENGINE TURBOFAN PESAWAT BOEING ANALISIS PERFORMA ENGINE TURBOFAN PESAWAT BOEING 737-300 Sri Mulyani Jurusan Teknik PenerbanganSTT Adisutjipto Yogyakarta Jl. Janti Blok R- Lanud Adi-Yogyakarta Srimulyani042@gmail.com ABSTRAK Jenis mesin

Lebih terperinci

MODUL V-C PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS UAP (PLTGU)

MODUL V-C PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS UAP (PLTGU) MODUL V-C PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA GAS UAP (PLTGU) DEFINISI PLTGU PLTGU merupakan pembangkit listrik yang memanfaatkan tenaga gas dan uap. Jadi disini sudah jelas ada dua mode pembangkitan. yaitu pembangkitan

Lebih terperinci

BAB III TURBIN UAP PADA PLTU

BAB III TURBIN UAP PADA PLTU BAB III TURBIN UAP PADA PLTU 3.1 Turbin Uap Siklus Renkine setelah diciptakan langsung diterima sebagai standar untuk pembangkit daya yang menggunakan uap (steam ). Siklus Renkine nyata yang digunakan

Lebih terperinci

FINONDANG JANUARIZKA L SIKLUS OTTO

FINONDANG JANUARIZKA L SIKLUS OTTO FINONDANG JANUARIZKA L 125060700111051 SIKLUS OTTO Siklus Otto adalah siklus thermodinamika yang paling banyak digunakan dalam kehidupan manusia. Mobil dan sepeda motor berbahan bakar bensin (Petrol Fuel)

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN HASIL DATA. Flight controls hydraulic modular package adalah suatu komponen yang

BAB IV ANALISA DAN HASIL DATA. Flight controls hydraulic modular package adalah suatu komponen yang BAB IV ANALISA DAN HASIL DATA 4.1. Analisa Data 4.1.1. Umum Flight controls hydraulic modular package adalah suatu komponen yang berfungsi sebagai pengontrol dari tenaga hydraulic untuk aileron, rudder,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Studi Pustaka. Persiapan Dan Pengesetan Mesin. Kondisi Baik. Persiapan Pengujian. Pemasangan Alat Ukur

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Studi Pustaka. Persiapan Dan Pengesetan Mesin. Kondisi Baik. Persiapan Pengujian. Pemasangan Alat Ukur BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Diagram Alir Metodologi Penelitian Didalam melakukan pengujian diperlukan beberapa tahapan agar dapat berjalan lancar, sistematis dan sesuai dengan prosedur dan literatur

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Penelitian Untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai maka dalam penelitian ini akan digunakan metode penelitian eksperimental yaitu metode yang dapat dipakai untuk menguji

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Prinsip Pembangkit Listrik Tenaga Gas

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Prinsip Pembangkit Listrik Tenaga Gas BAB II DASAR TEORI. rinsip embangkit Listrik Tenaga Gas embangkit listrik tenaga gas adalah pembangkit yang memanfaatkan gas (campuran udara dan bahan bakar) hasil dari pembakaran bahan bakar minyak (BBM)

Lebih terperinci

Pengoperasian pltu. Simple, Inspiring, Performing,

Pengoperasian pltu. Simple, Inspiring, Performing, Pengoperasian pltu PERSIAPAN COLD START PLTU 1. SISTEM AUXILIARY STEAM (UAP BANTU) FUNGSI : a. Menyuplai uap ke sistem bahan bakar minyak pada igniter untuk mengabutkan bahan bakar minyak (Atomizing sistem).

Lebih terperinci