Tinjauan Terhadap Undang-Undang Diskriminasi

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Tinjauan Terhadap Undang-Undang Diskriminasi"

Transkripsi

1 Tinjauan Terhadap Undang-Undang Diskriminasi Untuk Konsultasi Publik Ringkasan Eksekutif Anda dipersilakan untuk memberikan komentar Anda secara tertulis ke Komisi Persamaan Kesempatan (EOC) selambat-lambatnya pada 7 Oktober 2014 Juli 2014 (Indonesian Translation) 1

2 PENDAHULUAN 1. Ini adalah Ringkasan Eksekutif dokumen konsultasi Komisi Persamaan Kesempatan (Equal Opportunities Commission - EOCC) mengenai Tinjauan Terhadap Undangundang Diskriminasi (Discrimination Law Review - DLR). DLR adalah tinjauan dan konsultasi publik EOC mengenai empat undang-undang diskriminasi yang ada. DLR dilaksanakan oleh EOC untuk memperbaiki perlindungan dari diskriminasi dan meningkatkan persamaan kesempatan di seluruh masyarakat di Hong Kong. 2. Ringkasan Eksekutif ini meringkas semua isu yang dibahas dalam dokumen konsultasi, dan menyertakan daftar lengkap pertanyaan konsultasi sebagai Lampiran. Untuk informasi selanjutnya mengenai dokumen konsultasi dan konsultasi publik, silakan mengunjungi situs web DLR kami: 3. Anda dipersilakan untuk mengirim usulan tertulis kepada EOC dalam waktu tiga bulan selambat-lambatnya 7 Oktober 2014 yang memberi tanggapan pada salah satu atau semua pertanyaan konsultasi. 4. EOC juga akan mengadakan serangkaian pertemuan kemasyarakatan, (detail dapat ditemukan di situs web di atas). EOC juga akan menyelenggarakan pertemuan dengan pemangku kepentingan untuk menjelaskan isu-isu penting dalam konsultasi ini. Setelah periode konsultasi ditutup, EOC akan mempertimbangkan isu dan usulan yang diberikan oleh pemangku kepentingan. EOC kemudian akan membuat rancangan dan mengirimkan secara tertulis kepada pemerintah mengenai bagaimana seharusnya undang-undang diskriminasi diperbaharui dan dimodernisasi. 5. Untuk pertanyaan yang terkait dengan konsultasi publik DLR secara umum, harap hubungi EOC melalui: - Telepon: (+852) Layanan SMS: untuk tuna rungu/kesulitan bicara. 2

3 BAB 1: DASAR PEMIKIRAN DAN PRINSIP-PRINSIP TINJAUAN 1.01 Bab 1 dibagi menjadi dua Bagian. Bagian I menjelaskan konteks dasar pemikiran untuk melaksanakan DLR. Bagian II menjelaskan prinsip-prinsip utama EOC dalam melaksanakan tinjauan dan akan membuat usulan kepada pemerintah. Bagian I: Dasar Pemikiran Tinjauan 1.02 Terdapat sejumlah alasan mengapa EOC meyakini bahwa sekarang adalah saat yang tepat peninjauan lengkap dan membuat usulan kepada pemerintah untuk memperbaharui undang-undang diskriminasi. Alasan kami untuk DLR berdasarkan pada: Tugas EOC berdasarkan undang-undang untuk meninjau undang-undang diskriminasi dengan mempertimbangkan pengalaman sebelumnya; bukti berkelanjutan tentang ketidaksetaraan dan diskriminasi di masyarakat Hong Kong; pengalaman mengembangkan undang-undang diskriminasi dan yurisdiksi internasional; dan membantu meningkatkan kepatuhan terhadap kewajiban hak asasi manusia internasional dan domestik Hong Kong, mengenai persamaan kesempatan dan non-diskriminasi. Bagian II: Prinsip-prinsip Tinjauan 1.03 EOC telah mengembangkan serangkaian prinsip untuk pelaksanaan peninjauan. Kami meyakini prinsip-prinsip ini akan memandu pemerintah dalam memperbaharui dan memodernisasi semua undang-undang diskriminasi. A. Modernisasi 1.04 EOC meyakini bahwa undang-undang diskriminasi yang ada sangat penting untuk dimodernisasi. Hal ini sesuai dengan beberapa alasan. Pertama-tama, pengalaman pelaksanaan EOC menunjukkan bahwa terdapat sejumlah area di mana undangundang diskriminasi yang berlaku tidak cukup untuk melindungi orang dari diskriminasi. Kedua, undang-undang diskriminasi harus berkembang untuk mempertimbangkan perbaikan-perbaikan dalam undang-undang diskriminasi di yurisdiksi internasional yang serupa. B. Penyederhanaan dan sebaiknya digabungkan 1.05 Prinsip kedua adalah bahwa EOC meyakini bahwa undang-undang diskriminasi yang berlaku harus jauh lebih sederhana, sebaiknya dengan menggabungkan semua Undang-undang Diskriminasi menjadi Undang-undang Diskriminasi. Banyak 3

4 ketentuan adalah sama di keempat Undang-undang Diskriminasi yang berlaku (misalnya bentuk-bentuk tindakan yang dilarang, perkecualian pada prinsip nondiskriminasi, penegakan undang-undang diskriminasi serta fungsi dan wewenang EOC). Hal ini membuat undang-undang diskriminasi yang berlaku mempunyai bagian yang berulang-ulang, dan lebih sulit bagi pemangku kepentingan untuk menelusurinya karena mereka harus merujuk pada empat peraturan terpisah. C. Keselarasan 1.06 Prinsip ketiga adalah bahwa apabila mungkin dan tepat, ketentuan mengenai perlindungan dari diskriminasi harus diselaraskan ketingkat yang sama. Hal ini penting karena saat ini terdapat sejumlah ketidakserasian di antara perlindungan terhadap kelompok-kelompok yang berbeda dalam semua Undang-undang Diskriminasi. D. Mendorong dan mengarusutamakan persamaan kesempatan 1.07 Prinsip terakhir adalah bahwa peninjauan akan mempertimbangkan tindakantindakan untuk meningkatkan dan mengarusutamakan persamaan kesempatan, serta menangani ketidaksetaraan sistemik Masalah utama dengan undang-undang diskriminasi yang ada adalah bahwa undang-undang ini terutama bersifat reaktif dan difokuskan pada pencapaian ganti rugi untuk individu dan klaimnya atas diskriminasi. Tetap, sebagian besar dari isu di masyarakat yang terkait dengan persamaan kesempatan, berkaitan dengan isu kelembagaan di mana badan kemasyarakatan dan swasta dikelola. Oleh karena itu, untuk alasan inilah tindakan khusus (special measure) atau ketentuan tindakan positif Undang-undang Diskriminasi itu penting, karena tindakan itu mengenali bahwa penting untuk menyediakan fasilitas, layanan dan pelatihan tertentu bagi kelompok yang kurang beruntung untuk membantu mereka mencapai persamaan kesempatan substantif dengan kelompok lainnya Beberapa yurisdiksi common law yang serupa telah mengembangkan tugas proaktif dalam undang-undang diskriminasi mereka untuk badan kemasyarakatan dan swasta, untuk mempertimbangkan isu-isu persamaan kesempatan dalam pengembangan dan penerapan kebijakan dan praktik baru. Dalam Bab 5, kami mempertimbangkan sebagian model itu yang dapat diadopsi ke kebutuhan tertentu Hong Kong. 4

5 BAB 2: TUJUAN PERATURAN DAN KARAKTERISTIK YANG DILINDUNGI 2.01 Bab 2 Bab ini membahas dua isu. Bagian I membahas apakah tujuan luas undangundang tersebut harus dinyatakan pada pembukaan Undang-undang Diskriminasi atau Undang-undang Diskriminasi yang dikonsolidasikan. Bagian II mempertimbangkan definisi dan ruang lingkup karakteristik yang dilindungi yang ada dalam Undang-undang Diskriminasi dan bagaimana Undang-undang Diskriminasi tersebut harus diperbaharui. Bagian I: Tujuan peraturan 2.02 EOC meyakini bahwa adalah penting untuk mempertimbangkan untuk memasukkan dalam pembukaan undang-undang diskriminasi sebuah klausul yang menyatakan tujuan. Hal ini dapat membantu semua pemangku kepentingan yang harus memahami undang-undang tersebut, serta membantu pengadilan dalam menginterpretasikan dan menerapkan undang-undang tersebut dalam kasuskasus tertentu. Bagian II: Memperbaiki definisi dan ruang lingkup karakteristik yang dilindungi 2.03 Bagian ini membahas apakah definisi dan ruang lingkup yang berlaku tentang karakteristik yang dilindungi yang ada dari jenis kelamin, kehamilan, status perkawinan, cacat, status keluarga atau ras harus diperbaharui. A. Karakteristik yang dilindungi terkait dengan jenis kelamin, kehamilan dan status perkawinan 2.04 Saat ini berdasarkan Undang-undang Diskriminasi Jenis Kelamin (SDO) karakteristik yang dilindungi adalah jenis kelamin, kehamilan dan status perkawinan. Diskriminasi terhadap kelompok ini adalah dilarang di semua sektor seperti ketenagakerjaan, pendidikan, ketentuan mengenai barang dan layanan, dan gedung. (i) Karakteristik yang dilindungi terkait dengan jenis kelamin 5

6 2.05 EOC meyakini bahwa terkait dengan jenis kelamin bahasa yang netral harus digunakan untuk semua ketentuan diskriminasi jenis kelamin. Hal ini akan mempermudah orang untuk mengenali bahwa perlindungan dari diskriminasi jenis kelamin berlaku baik bagi perempuan maupun laki-laki. (ii) Karakteristik yang dilindungi terkait dengan kehamilan 2.06 Terdapat dua isu yang dibahas dalam dokumen konsultasi yang berkaitan dengan ruang lingkup perlindungan dari diskriminasi kehamilan: perlindungan dari diskriminasi selama masa kehamilan; dan perlindungan dari diskriminasi yang terkait dengan kemungkinan kehamilan. (iii) Karakteristik yang dilindungi terkait dengan status perkawinan 2.07 Saat ini, SDO memberi perlindungan dari diskriminasi dan tindakan yang dilarang lainnya atas dasar status perkawinan, yang didefinisikan sebagai status atau kondisi: (a) Bujangan; (b) Menikah; (c) Menikah tapi hidup secara terpisah dan terlepas dari pasangan seseorang; (d) Cerai; atau (e) Janda Terkait dengan status bujangan, hal ini masih harus ditentukan dengan pasti oleh pengadilan di Hong Kong apakah akan memasukkan orang yang tidak menikah tetapi mungkin mempunyai hubungan de fakto (hubungan yang mirip dengan perkawinan) heteroseksual atau homoseksual Dokumen konsultasi ini membahas apakah perlu adanya perlindungan yang tegas dari diskriminasi atas dasar menjalin hubungan murni yang ada atau mantan hubungan secara de fakto. B. Karakteristik yang dilindungi terkait dengan kecacatan 2.10 Isu penting terkait dengan penyandang cacat adalah ruang lingkup dari apa yang merupakan kecacatan agar dilindungi dari diskriminasi. Kecacatan, didefinisikan secara luas untuk menyertakan baik cacat fisik maupun mental, serta cacat yang sekarang ada, sebelumnya ada, mungkin ada di kemudian hari atau diakibatkan oleh seseorang. 1 Pasal 2 SDO. 6

7 2.11 Dokumen konsultasi ini membahas apakah akan tepat atau tidak untuk memperbaiki definisi dengan, misalnya mempersyaratkan kecacatan substansial dan/atau jangka panjang seperti Undang-undang Persamaan Kesempatan Inggris tahun C. Karakteristik yang dilindungi terkait dengan status keluarga 2.12 Karakteristik yang dilindungi terkait dengan status keluarga berdasarkan Undangundang Diskriminasi Status Keluarga (FSDO), melindungi orang yang bertanggung jawab untuk memelihara para anggota keluarga terdekat dari diskriminasi Terdapat tiga isu yang dibahas terkait dengan definisi tersebut dan ruang lingkup perlindungan mengenai status keluarga: istilah status keluarga dan menggantinya dengan "tanggung jawab keluarga"; memperluas perlindungan sehingga melingkupi pemeliharaan yang timbul dari hubungan yang seperti hubungan perkawinan (de facto relationship) dan mantan hubungan; dan memperjelas bahwa perlindungan mencakupi wanita yang sedang menyusui. D. Karakteristik yang dilindungi terkait dengan ras 2.14 Saat ini terdapat perlindungan untuk diskriminasi ras sehubungan dengan ras, warna kulit, keturunan atau kebangsaan atau asal etnik seseorang EOC meyakini bahwa baik kewarganegaraan maupun kependudukan harus ditambahkan kedalam perlindungan dari diskriminasi ras. EOC juga merasa bahwa pertimbangan dapat diberikan pada apakah pantas untuk memberikan perlindungan atas diskriminasi yang berkaitan dengan status kependudukan Hong Kong atau konsep status imigrasi terkait. Hal ini berkaitan dengan perbedaan perlakuan berdasarkan apakah seseorang penduduk tetap atau tipe penduduk lainnya; atau status imigrasi mereka adalah pendatang di Hong Kong. Termasuk dalam hal ini, misalnya, diskriminasi antara orang dari Hong Kong dan Cina daratan. 7

8 BAB 3: BENTUK-BENTUK TINDAKAN YANG DILARANG 3.01 Bab 3 membahas: - bentuk-bentuk diskriminasi atau tindakan lainnya yang harus dilarang berdasarkan undang-undang diskriminasi di Hong Kong; - pada karakteristik dilindungi yang mana bentuk-bentuk diskriminasi atau tindakan lainnya itu harus berlaku; dan - bagaimana bentuk-bentuk diskriminasi atau tindakan yang dilarang lainnya harus didefinisikan Pasal I menjelaskan bentuk-bentuk tindakan yang dilarang saat ini dan Bagian II mengajukan usulan untuk memperbaharui tindakan yang dilarang tersebut. Bagian I: Tindakan yang dilarang saat ini 3.03 Saat ini berdasarkan Undang-undang Diskriminasi, terdapat sejumlah kategori tindakan yang dilarang, yang berlaku pada karakteristik yang dilindungi dalam berbagai tindakan. Tindakan-tindakan pokok yang dilarang adalah: - Diskriminasi langsung dan tidak langsung; 2 - Pelecehan; 3 - Pelecehan seksual; 4 - Viktimisasi; 5 - Penghasutan kebencian. 6 Bentuk tindakan yang dilarang lainnya yang ada juga dibahas dalam dokumen konsultasi. Bagian II: Usulan untuk memperbaharui tindakan yang dilarang 3.04 Bagian II mempelajari bentuk tindakan yang sudah ada atau kemungkinan tindakan dilarang yang baru: diskriminasi langsung dan tidak langsung; 2 Ini berlaku pada semua karakteristik yang dilindungi terkait dengan ras, jenis kelamin, status perkawinan, kehamilan, cacat, dan status keluarga. 3 Ini berlaku pada karakteristik yang dilindungi terkait dengan ras, dan cacat tapi bukan jenis kelamin, kehamilan, status perkawinan, atau status keluarga. 4 Ini merupakan bentuk pelecehan khusus yang bersifat seksual dan hanya berlaku pada karakteristik yang dilindungi terkait dengan jenis kelamin. 5 Ini berlaku pada semua karakteristik yang dilindungi terkait dengan ras, jenis kelamin, status perkawinan, kehamilan, cacat, dan status keluarga. 6 Ini hanya berlaku pada karakteristik yang dilindungi terkait dengan ras dan cacat. 8

9 diskriminasi kehamilan; upah setara untuk pekerjaan yang bernilai setara; diskriminasi terkait dengan memiliki binatang pandu; diskriminasi yang timbul dari kecacatan; kewajiban untuk membuat akomodasi yang layak bagi penyandang cacat; pelecehan termasuk pelecehan seksual; diskriminasi lintas-karakteristik yang dilindungi; diskriminasi berdasarkan asosiasi; diskriminasi berdasarkan persepsi; dan tindakan melanggar hukum lainnya. A. Diskriminasi langsung 3.05 Terdapat dua isu yang dibahas dalam dokumen konsultasi yang berkaitan dengan perumusan ketentuan diskriminasi langsung: mengganti pengujian perlakuan yang kurang menyenangkan atas dasar karakteristik yang dilindungi daripada karakteristik yang dilindungi dari orang yang bersangkutan ; dan memperjelas dalam ketentuan diskriminasi cacat langsung, bahwa perbandingan dapat dibuat antara penyandang cacat yang berbeda. B. Diskriminasi kehamilan langsung 3.06 Saat ini, diskriminasi langsung dan tidak langsung berlaku untuk karakteristik yang dilindungi terkait dengan kehamilan sama dengan karakteristik yang dilindungi lainnya. Namun, salah satu aspek kunci dari memperbaharui hukum diskriminasi adalah harus disesuaikan dengan kebutuhan karakteristik tertentu itu. Dua isu dibahas dalam dokumen konsultasi terkait dengan diskriminasi kehamilan langsung: menghapus kebutuhan seorang pembanding; dan memasukkan aspek yang timbul dari kehamilan, misalnya sakit, atau apabila staf perempuan dipecat setelah kembali dari cuti melahirkan. C. Diskriminasi tidak langsung 3.07 Dua isu terkait dengan uji diskriminasi tidak langsung dibahas dalam dokumen konsultasi: mengganti dari persyaratan atau ketentuan menjadi ketentuan, persyaratan, atau praktik ; dan memperjelas dalam peraturan apa yang perlu ditetapkan untuk diskriminasi tidak langsung agar dibenarkan. D. Upah yang setara untuk pekerjaan dengan nilai yang setara bagi perempuan dan laki-laki 3.08 Menghilangkan diskriminasi dalam upah antara perempuan dan laki-laki terutama penting bagi tercapainya persamaan kesempatan gender dan harkat perempuan. Dokumen konsultasi membahas apakah perlu memasukkan ketentuan upah setara untuk nilai pekerjaan yang setara. 9

10 E. Diskriminasi kecacatan 3.09 Konsultasi dokumen mempertimbangkan tiga wilayah utama di mana hukum diskriminasi yang berlaku bagi penyandang cacat harus diperbaharui: memiliki ketentuan tegas bahwa adalah melanggar hukum untuk melakukan diskriminasi atas dasar memiliki binatang pemandu, misalnya anjing pemandu; memasukkan kategori diskriminasi terpisah yang timbul karena cacat; dan memasukkan kewajiban untuk menyediakan akomodasi yang layak bagi penyandang cacat. F. Pelecehan 3.10 Terdapat dua isu utama yang dibahas dalam dokumen konsultasi terkait dengan pelecehan: - Ruang lingkup karakteristik yang dilindungi di mana pelecehan dilarang; - Definisi pelecehan ras, cacat, dan seksual Berkaitan dengan karakteristik yang dilindungi di mana pelecehan dilarang, saat ini tidak terdapat perlindungan dari pelecehan yang berkaitan dengan jenis kelamin, kehamilan, status perkawinan, atau status keluarga. Karena terdapat bukti pelecehan di Hong Kong berkaitan dengan masing-masing karakteristik tersebut, oleh karena itu EOC merasa ketentuan itu harus dimasukkan dalam area undangundang tersebut Terkait dengan definisi ras, cacat dan pelecehan seksual, terdapat dua permasalahan besar dengan definisi yang berlaku, yaitu tidak konsisten dan tidak cukup jelas. Dokumen konsultasi membahas bagaimana definisi tersebut dapat diselaraskan dan diperjelas. G. Diskriminasi lintas karakteristik yang dilindungi 3.13 Konsep diskriminasi lintas karakteristik berkaitan dengan fakta bahwa orang-orang mungkin diperlakukan secara kurang menyenangkan tidak atas dasar satu karakteristik, tapi atas dasar kombinasi atau gabungan beberapa karakteristik seperti jenis kelamin dan usia, jenis kelamin dan ras, cacat dan usia. Dokumen konsultasi ini membahas apakah perlu memasukkan ketentuan diskriminasi lintas karakteristik terkait dengan diskriminasi langsung dan tidak langsung, serta pelecehan. H. Diskriminasi berdasarkan asosiasi 3.14 Diskriminasi berdasarkan asosiasi berhubungan dengan fakta bahwa tidak hanya orang-orang dengan karakteristik yang dilindungi yang dapat diperlakukan kurang 10

11 menyenangkan, tapi juga pasangan, teman, pengasuh, dan semua rekanan mereka. Saat ini hanya ada perlindungan seperti itu terkait dengan cacat, dan pada tingkat terbatas, ras. EOC meyakini bahwa ketentuan diskriminasi berdasarkan asosiasi harus dimasukkan terkait dengan diskriminasi langsung dan tidak langsung, serta pelecehan di semua karakteristik yang dilindungi. I. Diskriminasi berdasarkan persepsi 3.15 Diskriminasi berdasarkan persepsi berhubungan dengan perlakuan kurang menyenangkan di mana seseorang dianggap, diduga, atau disangka memiliki satu karakteristik yang dilindungi. Sebagai contoh, seseorang mungkin mengalami diskriminasi karena ia dianggap memiliki cacat seperti HIV meskipun sebenarnya tidak. Saat ini hanya ada perlindungan tegas untuk diskriminasi berdasarkan persepsi berdasarkan Undang-undang Diskriminasi Kecacatan (DDO) yang mencakup perlindungan di mana seseorang dituduh memiliki kecacatan. EOC meyakini bahwa ketentuan diskriminasi berdasarkan persepsi harus dimasukkan terkait dengan diskriminasi langsung dan tidak langsung, serta pelecehan di semua karakteristik yang dilindungi. J. Tindakan melanggar hukum lainnya 3.16 Ada dua area yang saat ini diyakini EOC mungkin memerlukan reformasi: pertanggungjawaban prinsipal dan agen; dan meminta dan mengharuskan memberi informasi untuk tujuan diskriminatif Terkait dengan pertanggungjawaban prinsipal untuk tindakan dari agen, dokumen konsultasi membahas apakah seharusnya ada pembelaan bagi prinsipal apabila mereka telah mengambil langkah praktis yang wajar guna mencegah terjadinya diskriminasi oleh agen. Pembelaan ini akan mirip dengan pembelaan yang berlaku saat ini, untuk pemberi kerja terkait dengan tindakan oleh karyawan Saat ini, hanya ada larangan mengenai meminta atau mengharuskan memberi informasi untuk tujuan diskriminatif berkaitan dengan kecacatan. Dokumen konsultasi membahas apakah larangan itu harus diperluas hingga mencakup semua karakteristik dilindungi yang ada. 11

12 BAB 4: BIDANG TINDAKAN YANG DILARANG 4.01 Bab 4 membahas bidang atau sektor di mana tindakan harus dilarang. Isu terkait dengan pengecualian spesifik pada prinsip non-diskriminasi dibahas di Bab Ada empat isu yang dibahas dalam dokumen konsultasi: - ruang lingkup perlindungan dari diskriminasi dalam kaitannya dengan otoritas publik; - ketidaksesuaian antar Undang-undang Diskriminasi untuk sektor yang melarang diskriminasi; - batasan RDO atas bahasa pengantar dalam bidang pendidikan dan kejuruan; dan - memperluas bidang dan ruang lingkup perlindungan dari tindak pelecehan. A. Ruang lingkup perlindungan terkait dengan kewenangan pemerintah 4.03 Semua Undang-undang Diskriminasi saat ini menyatakan bahwa Undang-undang mengikat pemerintah. Namun dari sisi cara ketentuan ini dirancang tidaklah jelas, apakah badan umum lain, yang bukan bagian dari pemerintah termasuk dalam ruang lingkup Undang-undang Diskriminasi ketika melaksanakan fungsinya. EOC meyakini bahwa Undang-undang Diskriminasi harus diperbaiki untuk secara tegas menyatakan semua badan pemerintah terikat dalam undang-undang, dalam kinerja fungsi dan pelaksanaan wewenangnya. B. Ketidaksesuaian, terkait dalam sektor di mana diskriminasi dilarang 4.04 Ada tiga bidang yang tidak sesuai dibawah Undang-undang Diskriminasi yang ada. Pertama, tidak seperti semua Undang-undang Diskriminasi lain, menurut Undangundang Diskriminasi Ras (RDO) tidak ada perlindungan dari diskriminasi ras terkait dengan pelaksanaan fungsi pemerintah. Kedua, tidak seperti semua Undangundang Diskriminasi lain, tidak ada perlindungan yang tegas dari diskriminasi kecacatan terkait dengan pemilihan dan pemungutan suara untuk Badan Penasehat (Advisory Bodies). Ketiga, terkait dengan diskriminasi dalam kegiatan olahraga, hanya terdapat ketentuan didalam DDO, tetapi tidak ada dari Undangundang Diskriminasi yang lain. EOC meyakini bahwa seharusnya terdapat perlindungan yang tegas di semua area tersebut. 12

13 C. Batasan RDO mengenai bahasa pengantar dalam bidang pendidikan dan pelatihan kejuruan 4.05 Meskipun RDO tidak memberikan perlindungan dari diskriminasi ras di sektor pendidikan dan pelatihan kejuruan, terdapat batasan yang jelas pada operasi RDO di sektor tersebut yang terkait dengan bahasa dan bahasa pengantar pembelajaran. EOC menyakini bahwa pembatasan ini harus dicabut. D. Memperluas bidang dan ruang lingkup perlindungan dari pelecehan 4.06 Terdapat sejumlah bentuk pelecehan tambahan yang dibahas dalam dokumen konsultasi yang diyakini EOC harus dilarang berdasarkan Undang-undang Diskriminasi. Area tersebut adalah: - Pertanggungjawaban pemberi kerja bagi karyawan yang dilecehkan oleh pihak ketiga; - Pertanggungjawaban terhadap orang yang bekerja ditempat yang sama; - Pertanggungjawaban bagi lembaga pendidikan dimana siswa melecehkan siswa yang lain; - Pertanggungjawaban pengguna jasa yang melecehkan penyedia jasa 7 - Pertanggungjawaban pengguna jasa karena melecehkan pengguna jasa lainnya; - Pertanggungjawaban atas pelecehan di kapal dan pesawat udara terkait dengan penyediaan barang dan jasa 8 - Pelecehan penyewa dan sub-penyewa oleh penyewa atau sub-penyewa lain; - Pelecehan anggota/calon anggota oleh anggota manajemen klub. 7 Pemerintah memperkenalkan Rancangan (Tambahan) Diskriminasi Jenis Kelamin 2014 pada tanggal 25 Juni 2014 untuk menanggapi isu pelecehan seksual pada area ini. 8 Sama dengan diatas 13

14 BAB 5: MENDORONG DAN MENGARUSUTAMAKAN PERSAMAAN KESEMPATAN 5.01 Bab sebelumnya membahas reformasi langkah-langkah untuk melarang diskriminasi terhadap perorangan. Namun, model internasional yang terkait dengan menghapus diskriminasi dan mendorong persamaan kesempatan semakin berfokus tidak hanya pada ganti rugi atas tindakan diskriminasi perorangan, tetapi pada pengembangan kebijakan, program, tugas dan langkah-langkah lain untuk mendorong persamaan kesempatan dan menghapus diskriminasi sistemik Bab 5 membahas dua metode yang mendorong persamaan kesempatan dan kedudukannya dalam undang-undang anti diskriminasi yang sudah diperbaharui di Hong Kong. Pertama, bab ini mempertimbangkan kedudukan dan definisi dari tindakan khusus (special measure), yang sah dibawah semua Undang-undang Diskriminasi yang ada. Kedua, berdasarkan praktik terbaik dunia internasional, bab ini mempertimbangkan apakah badan kemasyarakatan harus diwajibkan untuk mengambil tindakan guna menghapus diskriminasi dan mendorong persamaan kesempatan kesempatan. Bagian I: Tindakan khusus 5.03 Tindakan khusus ( special measure atau langkah-langkah tindakan positif sebagaimana langkah tersebut juga terkadang dijelaskan dalam yurisdiksi internasional lainnya seperti Inggris dan Uni Eropa) adalah cara penting, di mana organisasi kemasyarakatan dan swasta dapat mengembangkan dan menerapkan langkah-langkah untuk mendorong persamaan kesempatan substantif dari kelompok yang kurang beruntung di masyarakat Dua isu dibahas terkait dengan tindakan khusus adalah: metode di mana langkahlangkah tersebut dikonseptualisasikan dan diposisikan dalam peraturan diskriminasi; serta definisinya. A. Konseptualisasi tindakan khusus 5.05 EOC meyakini bahwa akan lebih baik untuk memandang tindakan khusus bukan sebagai pengecualian terhadap prinsip diskriminasi dan oleh karena itu merupakan bentuk diskriminasi yang sah menurut hukum, melainkan sebagai tindakan proaktif guna mendorong persamaan kesempatan yang hakiki. Oleh karena itu, EOC meyakini bahwa ketentuan tindakan khusus harus dimasukkan dalam bagian tersendiri didalam peraturan mengenai meningkatkan persamaan 14

15 kesempatan. B. Definisi tindakan khusus 5.06 Definisi tindakan khusus yang berlaku pada saat ini, tidak memperjelas maksud dari ketentuan. Terdapat pengulangan yang tidak perlu dalam ruang lingkup yang merupakan tindakan khusus, dan kurangnya kejelasan mengenai batas tindakan khusus secara sah menurut hukum. Dokumen konsultasi membahas apakah definisi tindakan khusus harus diperbaharui menggunakan unsur dari model di Inggris dan Australia. Bagian II: Kewajiban badan kemasyarakatan untuk mendorong dan mengarusutamakan persamaan kesempatan 5.07 Pada tingkat internasional dan dalam beberapa yurisdiksi di seluruh dunia, untuk lebih mendorong dan mengarusutamakan persamaan kesempatan, kewajiban dibebankan kepada Negara dan badan kemasyakatan, guna mendorong persamaan kesempatan dan menghilangkan diskriminasi. Misalnya di Inggris terdapat kewajiban proaktif dan tugas yang bersifat mengikat pada pemerintah dan badan kemasyarakatan untuk mendorong persamaan kesempatan (Kewajiban Persamaan Kesempatan Sektor Publik, PSED) Di Hong Kong, saat ini tidak ada tugas spesifik dalam Undang-undang Diskriminasi yang mengharuskan otoritas publik menghapus diskriminasi. Namun, pemerintah Hong Kong telah memperkenalkan sejumlah langkah untuk mendorong persamaan kesempatan kelompok tertentu dalam masyarakat yang berfokus pada memastikan badan kemasyarakatan atau badan pemerintah untuk meninjau kebijakan dan programnya atas dampaknya pada kelompok tersebut Misalnya, pada tahun 2002, Komisi Perempuan memublikasikan daftar periksa pengarusutamaan gender untuk membantu pegawai pemerintah mengevaluasi dampak gender dari kebijakan,peraturan, dan program publik yang telah ada dan baru. Sehubungan dengan RDO, pada tahun 2010 pemerintah memublikasikan pedoman untuk pedoman bagi otoritas publik mengenai bagaimana mereka harus mendorong persamaan kesempatan ras dalam perumusan, penerapan, dan peninjauan kebijakan dan langkah-langkah relevan EOC meyakini bahwa langkah-langkah yang berlaku di Hong Kong untuk 15

16 mendorong persamaan kesempatan dalam badan kemasyarakatan dan pemerintahan kemungkinan tidak memadai dalam menghapus diskriminasi dan mendorong persamaan kesempatan kesempatan. Dokumen konsultasi membahas apakah kewajiban badan kemasyarakatan dan pemerintah untuk meningkatkan persamaan kesempatan di semua karakteristik yang dilindungi, harus dimasukkan. 16

17 BAB 6: ASPEK-ASPEK SIDANG PENGADILAN, WEWENANG DAN KONSTITUSI EOC 6.01 Bab 6 membahas dalam dua area yang dikaitkan dengan penegakan Undangundang Diskriminasi. Bagian I membahas sejumlah aspek terkait dengan sidang pengadilan termasuk peran tertentu dari EOC. Bagian II membahas wewenang kunci dan penataan konstitusional dari EOC. Bagian I: Aspek-aspek sidang pengadilan 6.02 Bagian I membahas empat aspek sidang pengadilan: memasukkan ketentuan baru beban pembuktian; menambahkan ketentuan mengenai membebankan kerugian terkait dengan penemuan diskriminasi tidak langsung; menambahkan ketentuan untuk memungkinkan EOC mendapatkan kembali biaya dalam kasus yang dibantu secara sah; dan menambahkan ketentuan mengenai persidangan yang hanya dapat diajukan oleh EOC. A. Standar dan beban pembuktian 6.03 Tuntutan diskriminasi seringkali sulit dibuktikan, karena sering tidak ada tindakan diskriminasi tegas yang dapat langsung dikaitkan dengan karakteristik yang dilindungi. Di Hong Kong pendekatan di pengadilan pada beban pembuktian adalah bahwa tergugat mengemukakan bukti-bukti yang dapat menjadi sumber kesimpulan, pengadilan lalu akan meminta bukti atau penjelasan dari tergugat untuk menentukan apakah diskriminasi sebenarnya terjadi atau tidak Di banyak yurisdiksi internasional, hukum diskriminasi berkaitan dengan beban pembuktian telah berkembang dalam dua cara utama. Pertama, mengingat adanya kesulitan dalam membuktikan kasus diskriminasi, hukum kasus dikembangkan untuk menentukan bahwa setelah fakta telah ditetapkan yang dapat digunakan untuk menyimpulkan terdapatnya diskriminasi, maka giliran tergugat yang perlu membuktikan bahwa tidak ada diskriminasi. Kedua, peraturan diskriminasi menjelaskan bagian-bagian beban pembuktian agar terdapat kejelasan dan konsistensi dalam cara penerapan prinsip-prinsip tersebut dalam sidang pengadilan EOC meyakini bahwa: seharusnya ada ketentuan beban pembuktian dalam Undang-undang Diskriminasi; dan bahwa ketentuan tersebut harus tegas menetapkan pemindahan dalam beban pembuktian, setelah penggugat menetapkan fakta-fakta yang dapat menyimpulkan diskriminasi. 17

18 B. Kerugian untuk diskriminasi tidak langsung 6.06 Saat ini, kerugian untuk diskriminasi tidak langsung berdasarkan SDO, FSDO, dan RDO terbatas pada situasi di mana tergugat berniat memperlakukan penggugat secara tidak menyenangkan. Batasan yang sama tidak berlaku berdasarkan DDO. Menurut EOC batasan seperti itu adalah tidak tepat dan bahwa batasan tersebut harus dicabut. C. EOC mendapatkan kembali biaya dalam kasus yang dibantu secara hukum 6.07 Aturan umum berkaitan dengan tuntutan diskriminasi adalah bahwa tiap pihak akan menanggung biaya masing-masing, kecuali tuntutan diajukan dengan niat buruk atau terdapat keadaan khusus lainnya. Namun, apabila dalam kejadian yang luar biasa penggugat diberi beban biaya dan pengeluaran, Undang-undang Diskriminasi menentukan bahwa EOC dapat mendapatkan kembali pengeluarannya hanya karena telah memberikan bantuan hukum kepada pemohon di pengadilan. EOC tidak dapat mendapatkan kembali biaya hukum setelah memberi bantuan hukum, misalnya saat pengacara EOC bekerja dalam sebuah kasus (tanpa kepengadilan). EOC meyakini bahwa EOC seharusnya dapat memperoleh kembali bantuan hukum dalam keadaan tersebut. D. Persidangan yang hanya dapat diajukan oleh EOC 6.08 Saat ini EOC tidak dapat memulai persidangan atas namanya sendiri berkaitan dengan praktik diskriminatif. 9 Praktik diskriminatif adalah penerapan persyaratan atau kondisi yang mengakibatkan tindakan diskriminasi yang melanggar hukum. EOC meyakini bahwa prinsip yang sama harus berlaku dengan tindakan melanggar hukum serupa lainnya (misalnya iklan diskriminatif) sedemikian rupa sehingga EOC harus dapat mengajukan persidangan. Bagian II: Wewenang dan Konstitusi EOC 6.09 Bagian II membahas wewenang dan penataan konstitusional yang ada dari EOC; apakah perlu memperbaharui semua itu; serta apakah perlu adanya Komisi Hak Asasi Manusia di Hong Kong. 9 Lihat misalnya pasal 42 SDO. Praktik diskriminatif adalah penerapan persyaratan atau kondisi yang mengakibatkan tindakan diskriminasi yang melanggar hukum. 18

19 A. Wewenang EOC 6.10 EOC memiliki berbagai wewenang yang dapat digunakan untuk memenuhi fungsinya. EOC juga menjalankan sejumlah tugas yang tidak secara tidak tegas, dijelaskan dalam Undang-undang Diskriminasi, tapi dilaksanakan sehubungan dalam menjalankan fungsinya. Kami membahas wewenang yang secara tegas ditetapkan (dalam undang-undang) dan tugas lainnya. (i) Kode etik dan pedoman lainnya 6.11 Berdasarkan semua Undang-undang Diskriminasi, EOC dapat memublikasikan Kode Etik yang berisi pedoman praktis tentang menghapus diskriminasi dan mendorong persamaan kesempatan kesempatan. Publikasi Kode Etik tersebut merupakan proses formal yang mengharuskan Kode Etik tersebut dijelaskan kepada dan disetujui oleh Dewan Legislatif (pedoman yang ditetapkan oleh undang-undang) Mengingat adanya proses yang panjang dan formal untuk menyetujui Kode Etik, EOC juga telah mengeluarkan pedoman lain dari waktu ke waktu. Di Hong Kong, terdapat ketentuan serupa yang menetapkan wewenang bagi Badan Sesuai Undang-undang, seperti Komisioner Privasi untuk menghasilkan Kode Etik dan pedoman. 10 EOC meyakini bahwa lebih baik jika ada rujukan tegas pada wewenang EOC untuk menghasilkan pedoman non-undang-undang dalam hukum diskriminasi yang diperbaharui. (ii) Penyelidikan Formal 6.13 EOC meyakini bahwa sistem dan ketentuan yang berlaku terkait penyelidikan formal hendaknya diperbaharui dengan mempertimbangkan tiga hal: memperjelas bahwa EOC dapat melakukan penyelidikan umum dan khusus; menyelaraskan keadaan dimana pemberitahuan pelaksanaannya dapat diterbitkan; dan memperkenalkan kewenangan EOC untuk membuat perjanjian mengikat dengan badan yang sedang diselidiki. (iii) Riset dan Pendidikan 6.14 SDO menentukan bahwa EOC boleh melakukan kegiatan atau membantu pihak lain melakukan riset dan aktivitas pendidikan yang menurut EOC diperlukan atau bermanfaat untuk pelaksanaan fungsi-fungsinya Tidak ada ketentuan yang setara terkait riset dan pendidikan dalam Undang- 10 Lihat, misalnya, wewenang Dinas Komisioner Privasi untuk Data Pribadi: Pasal 8(5) Undang-undang Data Pribadi (Privasi) menetapkan wewenang Komisioner Privasi untuk menghasilkan pedoman dan pasal 12 menetapkan wewenang untuk menghasilkan Kode Etik. 11 Pasal 65 SDO. 19

20 undang Diskriminasi lainnya, walau secara praktik EOC benar-benar melakukan penyelidikan dan pendidikan dalam dibawah semua undang-undang anti diskriminasi sebagai bagian dari wewenang tambahan. EOC beranggapan demi alasan konsistensi dan kejelasan, undang-undang diskriminasi yang diperbaharui hendaknya secara tegas menyatakan bahwa EOC memiliki wewenang untuk melakukan riset dan pendidikan mengenai semua karakteristik yang dilindungi. (iv) Wewenang lain yang ada yang dilaksanakan oleh EOC 6.16 EOC juga melaksanakan sejumlah wewenang yang tidak secara tegas dicantumkan sebagai wewenang EOC tapi menyatu dengan fungsi-fungsinya lainnya. EOC percaya bahwa wewenang berikut harus dijelaskan: - Memantau dan memberi nasihat tentang peraturan atau kewajiban-kewajiban hak asasi manusia internasional yang terkait dengan persamaan kesempatan; - Melakukan intervensi atau tampak sebagai persidangan pengadilan amicus curiae; dan - Membawa kasus pengkajian undang-undang ke pengadilana, apabila EOC percaya bahwa pemerintah melakukan pelanggaran atas hukum diskirminasi dalam menjalankan wewenangnya. B. Masalah konstitusional 6.17 EOC percaya bahwa dalam beberapa area, fungsi EOC dapat ditingkatkan berdasarkan praktik internasional atau Hong Kong didalam ketentuan undangundang mendatang. Area tersebut adalah: - Diharuskan untuk membuat rencana strategis yang menjelaskan area prioritas pekerjaan EOC selama beberapa tahun; - Memasukkan ketentuan dan prosedur untuk membantu memastikan kemandirian EOC dari pemerintah, dan Ketua dan para anggota mempunyai pengalaman yang sesuai; - Memberi perlindungan dalam situasi yang ditetapkan dari pertanggungjawaban pribadi para anggota dan staf EOC berdasarkan DDO dan FSDO, seperti halnya dalam kasus untuk SDO dan RDO; - Memasukkan ketentuan untuk memungkinkan EOC menjaga kerahasiaan terkait dengan penanganan pengaduan. C. Pembentukan Komisi Hak Asasi Manusia Hong Kong 6.18 Isu terkait kemungkinan melakukan reformasi kewajiban dan wewenang EOC adalah apakah Komisi Hak Asasi Manusia harus dibentuk di Hong Kong. Saat ini tidak ada lembaga di Hong Kong yang bertanggung jawab untuk memajukan dan memantau hak asasi manusia yang lebih luas. Dokumen konsultasi ini membahas beberapa opsi untuk membentuk Komisi Hak Asasi Manusia. 20

21 BAB 7: PERKECUALIAN Bagian I: Ikhtisar 7.01 EOC mempunyai sejumlah keprihatinan pada pengecualian-pengecualian yang ada dalam Undang-undang Diskriminasi: Terpencar: pengecualian sering berada di beberapa bagian berbeda dari Undang-undang (batang tubuh Lampiran) yang membuatnya sangat sulit ditelusuri; Pengulangan: sebagian dari pengecualian diulang secara tidak semestinya (misalnya, pengecualian yang berhubungan dengan teknologi reproduksi dan adopsi yang berhubungan dengan jenis kelamin ada dalam batang tubuh SDO dan Lampiran-lampirannya); Ketidakseragaman: misalnya, pengecualian yang berhubungan dengan keamanan nasional berlaku karakteristik yang dilindungi dari jenis kelamin tapi tidak pada karakteristik lainnya; Tak dibenarkan: kami meyakini bahwa sejumlah pengecualian tidak dibenarkan dan seharusnya dicabut; Kesebandingan: dalam beberapa kejadian, kami meyakini bahwa pengecualian memerlukan penambahan untuk memastikan bahwa pengecualian-pengecualian itu sebanding Untuk membuat peraturan diskriminasi lebih mudah ditelusuri, kami yakin lebih baik bahwa semua pengecualian dijelaskan dalam satu pasal undang-undang. Bagian II: Permasalahan dengan pengecualian yang berlaku berdasarkan Undang-undang Diskriminasi 7.03 Permasalahan dengan sejumlah pengecualian dipertimbangkan berdasarkan kategori (misalnya, Kualifikasi Pekerjaan Nyata - Gunuine Occupational Qualifications) dimana mereka berlaku pada lebih dari satu karakteristik dilindungi, atau berdasarkan karakteristik yang dilindungi seperti jenis kelamin atau ras tempat pengecualian hanya berlaku bagi satu karakteristik yang dilindungi. Pengecualian yang harus diperbaharui atau dicabut adalah: - Kualifikasi Pekerjaan Nyata; - Pelatihan diskriminatif; - Pengecualian yang berhubungan dengan badan amal; - Pengecualian yang berhubungan dengan Undang-undang New Territories dan kebijakan rumah kecil; - Pengecualian yang berhubungan dengan jenis kelamin; 21

22 - Pengecualian yang berhubungan dengan status perkawinan; - Pengecualian yang berhubungan dengan status keluarga; - Pengecualian yang berhubungan dengan kecacatan; dan - Pengecualian yang berhubungan dengan ras. 22

23 LAMPIRAN: DAFTAR PERTANYAAN KONSULTASI BAB 1: DASAR PEMIKIRAN DAN PRINSIP-PRINSIP TINJAUAN (Nomor halaman sesuai dengan Dokumen Konsultasi publik) Pertanyaan Konsultasi 1 Menurut Anda, apakah dalam memperbaharui undang-undang diskriminasi saat ini, pemerintah seharusnya menggabungkan semua Undang-undang Diskriminasi yang ada ke dalam satu Undang-undang Diskriminasi modern? BAB 2: TUJUAN UNDANG-UNDANG DAN KARAKTERISTIK YANG DILINDUNGI Pertanyaan Konsultasi 2 Menurut Anda apakah tujuan atau sasaran undang-undang diskriminasi seharusnya dimasukkan pada pembukaan undang-undang? Pertanyaan Konsultasi 3 Menurut Anda apakah, berkaitan dengan karakteristik jenis kelamin yang dilindungi, seharusnya menggunakan bahasa netral seseorang? Pertanyaan Konsultasi 4 Menurut Anda apakah seharusnya ada rujukan tegas bagi perlindungan dari diskriminasi selama cuti melahirkan? Pertanyaan Konsultasi 5 Menurut Anda apakah seharusnya ada perlindungan dari diskriminasi berdasarkan kemungkinan kehamilan? Pertanyaan Konsultasi 6 Menurut Anda apakah karakteristik yang dilindungi terkait dengan status perkawinan seharusnya diubah untuk menerapkan "status hubungan" dan secara tegas melindungi orang-orang dalam hubunganyang mirip seperti perkawinan (de facto)? Jika ya, bagaimana hubungan yang mirip seperti perkawinan, seharusnya didefinisikan? Apakah seharusnya didefinisikan meliputi perlindungan bagi hubungan heteroseksual dan hubungan seks sejenis? Apakah seharusnya juga diperluas ke perlindungan dari diskriminasi yang berkaitan dengan hubungan secara de fakto sebelumnya? Pertanyaan Konsultasi 7 Menurut Anda apakah definisi dan ruang lingkup kecacatan saat ini adalah tepat dan sebanding? Atau apakah seharusnya ini diubah, misalnya dengan menentukan kualifikasi bahwa gangguan fisik atau mental harus bersifat substansial dan/atau kemungkinan besar berlangsung untuk jangka waktu tertentu? 23

24 Pertanyaan Konsultasi 8 Menurut Anda apakah karakteristik yang dilindungi terkait dengan status keluarga seharusnya didefinisikan ulang sebagai tanggung jawab keluarga untuk memperjelas bahwa hal ini berhubungan dengan orang-orang yang bertanggung jawab atas pemeliharaan anggota keluarga terdekat? Pertanyaan Konsultasi 9 Menurut Anda apakah ruang lingkup diskriminasi status keluarga seharusnya diperluas agar meliputi perlindungan ketika orang-orang dalam hubungan secara de fakto (hubungan seperti perkawinan) memelihara anggota keluarga terdekat? Jika ya, bagaimana hubungan secara de fakto seharusnya didefinisikan? Selanjutnya, menurut Anda apakah perlindungan seharusnya diperluas ke situasi ketika seseorang memelihara anggota keluarga terdekat dari perkawinan sebelumnya atau hubungan secara de fakto? Pertanyaan Konsultasi 10 Menurut Anda apakah seharusnya ada rujukan tegas dalam definisi status keluarga agar meliputi wanita yang sedang menyusui? Pertanyaan Konsultasi 11 Berkaitan dengan karakteristik yang dilindungi yaitu ras, menurut Anda apakah salah satu atau semua karakteristik yang terkait dengan status kebangsaan, kewarganegaraan, kependudukan, atau status terkait harus ditambahkan sebagai karakteristik yang dilindungi? Pertanyaan Konsultasi 12 Berkaitan dengan status kependudukan atau status terkait, jika menurut Anda seharusnya ada perlindungan, bagaimana harusnya itu didefinisikan? Pertanyaan Konsultasi 13 Menurut Anda pengecualian pada diskriminasi ras atas dasar kependudukan tetap dan hak tinggal di Hong Kong berdasarkan pasal 8(3)(b)(i) dan (ii) seharusnya dicabut? Pertanyaan Konsultasi 14 Menurut Anda pengecualian pada diskriminasi ras atas dasar durasi tinggal di Hong Kong berdasarkan pasal 8(3)(c) seharusnya dicabut? Pertanyaan Konsultasi 15 Menurut Anda pengecualian pada diskriminasi ras atas dasar status kewarganegaraan, kependudukan atau status penduduk seseorang di negara lain berdasarkan pasal 8(3)(d) seharusnya dicabut? Pertanyaan Konsultasi 16 Menurut Anda apakah harus diberikan pertimbangan pada pengecualian untuk diskriminasi atas dasar status kependudukan, tapi hanya apabila persyaratan yang relevan hanya untuk tujuan sah dan sebanding? 24

25 BAB 3: BENTUK-BENTUK TINDAKAN YANG DILARANG Pertanyaan Konsultasi 17 Menurut Anda apakah definisi diskriminasi langsung seharusnya dirubah untuk: - meliputi semua perlakuan kurang menyenangkan atas dasar salah satu karakteristik yang dilindungi; dan - diperjelas bahwa untuk diskriminasi cacat langsung dapat dibuat perbandingan dengan orang-orang tanpa cacat tertentu itu (termasuk dengan penyandang cacat yang berbeda)? Pertanyaan Konsultasi 18 Menurut Anda apakah seharusnya ada uji yang berbeda untuk diskriminasi kehamilan langsung yang menyatakan: atas dasar kehamilannya, kondisi kesehatan atau karakteristik lainnya yang berkaitan secara umum dengan wanita yang hamil atau kemungkinan hamil, seseorang memperlakukannya secara tidak menyenangkan? Pertanyaan Konsultasi 19 Bagaimana caranya melindungi staf yang hamil dari pemecatan setelah cuti melahirkan dengan dalih pengganti sementara waktu itu bekerja dengan lebih baik? Pertanyaan Konsultasi 20 Menurut Anda apakah definisi diskriminasi tidak langsung harus dirubah untuk: - merujuk pada ketentuan, persyaratan, atau praktik ; dan - menjelaskan makna dari dapat dibenarkan pada ketentuan, persyaratan, atau praktik untuk tujuan yang sah dan mengandung hubungan yang masuk akal dan sebanding dengan tujuan tersebut? Pertanyaan Konsultasi 21 Menurut Anda apakah perlu memasukkan ketentuan upah setara untuk pekerjaan yang mempunyai nilai setara? Pertanyaan Konsultasi 22 Menurut Anda apakah diskriminasi karena ditemani binatang pembantu harus ditambahkan sebagai satu kategori diskriminasi cacat? Pertanyaan Konsultasi 23 Menurut Anda apakah kategori baru diskriminasi yang timbul karena kecacatan harus dimasukkan? Pertanyaan Konsultasi 24 Menurut Anda apakah kewajiban yang yang jelas untuk menyediakan akomodasi layak bagi penyandang cacat seharusnya dimasukkan dalam peraturan diskriminasi yang baru dan didasarkan pada model Inggris? Pertanyaan Konsultasi 25 Menurut Anda apakah pelecehan harus dilarang berkaitan dengan karakteristik yang dilindungi yang terkait dengan jenis kelamin, kehamilan, status keluarga, dan status 25

26 perkawinan? Pertanyaan Konsultasi 26 Menurut Anda apakah definisi pelecehan bagi semua karakteristik yang dilindungi seharusnya Seseorang (A) melecehkan orang lain (B) jika (a) A terlibat dalam tindakan yang tidak diinginkan terkait dengan suatu karakteristik yang dilindungi tertentu, dan (b) tindakan tersebut memiliki tujuan atau efek berupa (i) melanggar martabat B, atau (ii) menciptakan lingkungan yang mengintimidasi, kurang bersahabat, merendahkan, melecehkan, atau tidak menyenangkan bagi B. Pertanyaan Konsultasi 27 Menurut Anda apakah seharusnya ada perlindungan dari pelecehan untuk semua karakteristik yang dilindungi? Pertanyaan Konsultasi 28 Berkaitan dengan pelecehan seksual, apakah menurut Anda definisi tersebut seharusnya sama dengan bentuk pelecehan lain selain menyatakan bahwa hal itu adalah perbuatan bersifat seksual yang tidak diinginkan? Pertanyaan Konsultasi 29 Menurut Anda apakah seharusnya ada ketentuan mengenai diskriminasi langsung dan tidak langsung lintas karakteristik, serta pelecehan? Jika ya, menurut Anda apakah seharusnya ada perlindungan dari diskriminasi lintas karakteristik atas dasar dua atau beberapa karakteristik yang dilindungi? Pertanyaan Konsultasi 30 Menurut Anda apakah: - harus ada perlindungan dari diskriminasi langsung dan tidak langsung, dan pelecehan berdasarkan asosiasi di semua karakteristik yang dilindungi; - dan jika ya, menurut Anda apakah asosiasi secara luas didefinisikan untuk mencakup keterkaitan karena keluarga terdekat, kerabat lainnya, tanggung jawab pemeliharaan, persahabatan, atau hubungan kerja? Pertanyaan Konsultasi 31 Menurut Anda apakah seharusnya ada perlindungan tegas dari diskriminasi langsung dan tidak langsung, dan pelecehan berdasarkan persepsi dan tuduhan di semua karakteristik dilindungi yang ada? Pertanyaan Konsultasi 32 Menurut Anda apakah seharusnya ada pembelaan bagi prinsipal pada pertanggungjawaban dari tindakan agen yang melanggar hukum, di mana prinsipal telah melakukan langkah-langkah praktis yang wajar untuk mencegah tindakan melanggar hukum? 26

27 Pertanyaan Konsultasi 33 Menurut Anda apakah larangan mengenai meminta informasi untuk tujuan diskriminatif berkaitan dengan diskriminasi kecacatan harus diperluas untuk mencakup semua karakteristik dilindungi yang ada? BAB 4: BIDANG TINDAKAN YANG DILARANG Pertanyaan Konsultasi 34 Menurut Anda apakah seharusnya ada ketentuan tegas dalam undang-undang diskriminasi yang berlaku pada semua badan kemasyarakatan, dan merupakan pelanggaran hukum bagi mereka yang melakukan diskriminasi dalam pelaksanaan fungsi dan wewenangnya? Pertanyaan Konsultasi 35 Menurut Anda apakah seharusnya ada perlindungan dari diskriminasi ras dalam pelaksanaan fungsi dan wewenang pemerintah? Pertanyaan Konsultasi 36 Menurut Anda dengan alasan konsistensi apakah seharusnya ada larangan tegas terhadap diskriminasi kecacatan terkait pemilihan dan pemungutan suara anggota badan kemasyarakatan? Jika demikian, menurut Anda apakah seharusnya ada pengecualian yang mengizinkan diskriminasi kecacatan, tetapi hanya jika ini adalah untuk tujuan yang sah dan sebanding? Pertanyaan Konsultasi 37 Menurut Anda apakah perlindungan tegas yang berlaku dari diskriminasi cacat dalam kegiatan olahraga seharusnya diperluas untuk semua karakteristik yang dilindungi? Pertanyaan Konsultasi 38 Menurut Anda apakah batasan pada pelaksanaan RDO dalam sektor pendidikan dan pelatihan kejuruan mengenai bahasa pengantar pengajaran untuk berbagai kelompok ras seharusnya dicabut? Pertanyaan Konsultasi 39 Menurut Anda apakah ketentuan pelecehan yang baru seharusnya diajukan untuk semua karakteristik yang dilindungi, yang menetapkan: 1. pertanggungjawaban pemberi kerja atas pelecehan karyawan oleh pelanggan, penyewa atau pihak ketiga lain yang tidak memiliki hubungan kerja di mana pemberi kerja mengetahui pelecehan dan gagal mengambil tindakan secara wajar; 2. pertanggungjawaban tempat kerja pada pelaku pelecehan yang tidak memiliki hubungan pemberi kerja/ karyawan (misalnya sukarelawan yang dilecehkan oleh sukarelawan lain); 3. pertanggungjawaban lembaga pendidikan apabila mereka diberi tahu mengenai pelecehan antar siswa dan gagal mengambil tindakan secara wajar; 4. pertanggungjawaban pengguna jasa karena melecehkan penyedia jasa; 27

28 5. pertanggungjawaban pengguna jasa karena melecehkan pengguna jasa lain; 6. pertanggungjawaban atas pelecehan di kapal dan pesawat udara terkait dengan penyediaan barang, fasilitas dan jasa; 7. pertanggungjawaban penyewa dan sub-penyewa karena melecehkan penyewa atau sub-penyewa lain; 8. pertanggungjawaban manajemen klub karena melecehkan anggota atau calon anggota? BAB 5: MENDORONG DAN MENGARUSUTAMAKAN PERSAMAAN KESEMPATAN Pertanyaan Konsultasi 40 Menurut Anda apakah: - Ketentuan tindakan khusus (special measure) seharusnya dikonseptualisasikan dan diposisikan di dalam peraturan diskriminasi sebagai tindakan untuk mendorong persamaan kesempatan substantif bukannya pengecualian pada non diskriminasi; dan - Definisi tindakan khusus harus diperjelas seperti dianjurkan dalam 5.18 dalam hal tujuannya, keadaan di mana tindakan tersebut dapat digunakan dan kapan harus berakhir. Pertanyaan Konsultasi 41 Menurut Anda apakah seharusnya terdapat kewajiban pada semua badan kemasyarakatan untuk mendorong persamaan kesempatan dan menghapus diskriminasi di semua fungsi dan kebijakannya, dan di semua karakteristik yang dilindungi? BAB 6: ASPEK-ASPEK SIDANG PENGADILAN, WEWENANG DAN KONSTITUSI EOC Pertanyaan Konsultasi 42 Menurut Anda apakah seharusnya ada ketentuan yang menunjukkan bahwa sesudah penggugat menetapkan fakta-fakta yang dapat menyimpulkan diskriminasi, beban pembuktian berpindah ke tergugat untuk menunjukkan tidak ada diskriminasi? Pertanyaan Konsultasi 43 Menurut Anda apakah kerugian seharusnya dapat dibebankan untuk diskriminasi jenis kelamin, kehamilan, status pernikahan, status keluarga, dan ras tidak langsung, meskipun tidak ada niat untuk mendiskriminasi agar supaya ketentuan ini bersifat konsisten dengan ketentuan diskriminasi cacat tidak langsung? Pertanyaan Konsultasi 44 Menurut Anda apakah hukum diskriminasi seharusnya diperbaharui untuk memastikan EOC dapat memperoleh kembali biaya legalnya apabila penggugat diberi beban biaya? Pertanyaan Konsultasi 45 Menurut Anda apakah demi alasan konsistensi dengan wewenang lainnya, EOC 28

Undang-undang Diskriminasi Jenis Kelamin

Undang-undang Diskriminasi Jenis Kelamin Undang-undang Diskriminasi Jenis Kelamin 1T: Apakah Undang-undang Diskriminasi Jenis Kelamin (SDO) itu? 1J: SDO adalah sebuah undang-undang anti-diskriminasi yang disahkan pada tahun 1995. Menurut undang-undang

Lebih terperinci

Undang-undang Diskriminasi Status Keluarga & Saya

Undang-undang Diskriminasi Status Keluarga & Saya Undang-undang Diskriminasi Status Keluarga & Saya 1T: Apakah Undang-undang Diskriminasi Status Keluarga (Family Status Discrimination Ordinance (FSDO)) itu? 1J: FSDO adalah undang-undang antidiskriminasi

Lebih terperinci

Undang-undang Diskriminasi Cacat & Saya

Undang-undang Diskriminasi Cacat & Saya Undang-undang Diskriminasi Cacat & Saya 1T: 1J: Apakah Undang-undang Diskriminasi Cacat (DDO) itu? Undang Undang Diskriminasi Cacat (DDO) adalah sebuah undang-undang yang ditetapkan untuk melindungi para

Lebih terperinci

Untuk Konsultasi Umum

Untuk Konsultasi Umum TINJAUAN TERHADAP UNDANG-UNDANG DISKRIMINASI Untuk Konsultasi Umum Anda diundang untuk memberikan komentar Anda secara tertulis kepada Komisi Persamaan Kesempatan (Equal Opportunities Commission), selambat-lambatnya

Lebih terperinci

Apakah Konsiliasi itu? Pendahuluan. Sistem Pengaduan. Konsiliasi

Apakah Konsiliasi itu? Pendahuluan. Sistem Pengaduan. Konsiliasi Apakah Konsiliasi itu? Pendahuluan Komisi Persamaan Kesempatan (EOC) adalah badan hukum yang didirikan untuk menjalankan undang-undang anti diskriminasi. Undang-undang diskriminasi Hong Kong memungkinkan

Lebih terperinci

K 158 KONVENSI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982

K 158 KONVENSI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982 K 158 KONVENSI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982 2 K-158 Konvensi Pemutusan Hubungan Kerja, 1982 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan

Lebih terperinci

4. Metoda penerapan Konvensi No.111

4. Metoda penerapan Konvensi No.111 Diskriminasi dan kesetaraan: 4. Metoda penerapan Konvensi No.111 Kesetaraan dan non-diskriminasi di tempat kerja di Asia Timur dan Tenggara: Panduan 1 Tujuan belajar Mengidentifikasi kebijakan dan tindakan

Lebih terperinci

Lembaran Fakta EOC 2009/2010

Lembaran Fakta EOC 2009/2010 Lembaran Fakta EOC 2009/2010 Siapa Kami Komisi Persamaan Kesempatan (the Equal Opportunities Commission EOC) adalah badan hukum yg bertanggung jawab dalam melaksanakan undang-undang anti-diskriminasi di

Lebih terperinci

Kode Etik Bisnis Pemasok Smiths

Kode Etik Bisnis Pemasok Smiths Kode Smiths Pengantar dari Philip Bowman, Kepala Eksekutif Sebagai sebuah perusahaan global, Smiths Group berinteraksi dengan pelanggan, pemegang saham, dan pemasok di seluruh dunia. Para pemangku kepentingan

Lebih terperinci

Discrimination and Equality of Employment

Discrimination and Equality of Employment Discrimination and Equality of Employment Pertemuan ke-3 Disusun oleh: Eko Tjiptojuwono Sumber: 1. Mathis, R.L. and J.H. Jackson, 2010. Human Resources Management 2. Stewart, G.L. and K.G. Brown, 2011.

Lebih terperinci

Memahami Undang-undang Diskriminasi Ras. Pedoman bagi Pekerja Rumah Tangga Asing dan Majikannya

Memahami Undang-undang Diskriminasi Ras. Pedoman bagi Pekerja Rumah Tangga Asing dan Majikannya Memahami Undang-undang Diskriminasi Ras Pedoman bagi Pekerja Rumah Tangga Asing dan Majikannya Terjemahan dalam bahasa Indonesia (Translation in Indonesia) Agustus 2010 Daftar Isi Kata pembuka 3 Bab I

Lebih terperinci

Kode Etik Ketenagakerjaan dibawah Undang-undang Diskriminasi Ras

Kode Etik Ketenagakerjaan dibawah Undang-undang Diskriminasi Ras Kode Etik Ketenagakerjaan dibawah Undang-undang Diskriminasi Ras Terjemahan Bahasa Indonesia (Translation in Indonesian) Kata Pengantar Undang-undang Diskriminasi Ras (Race Discrimination Ordinance - RDO)

Lebih terperinci

R-188 REKOMENDASI AGEN PENEMPATAN KERJA SWASTA, 1997

R-188 REKOMENDASI AGEN PENEMPATAN KERJA SWASTA, 1997 R-188 REKOMENDASI AGEN PENEMPATAN KERJA SWASTA, 1997 2 R-188 Rekomendasi Agen Penempatan kerja Swasta, 1997 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas

Lebih terperinci

Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017

Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017 Kode etik bisnis Direvisi Februari 2017 Kode etik bisnis Kode etik bisnis ini berlaku pada semua bisnis dan karyawan Smiths Group di seluruh dunia. Kepatuhan kepada Kode ini membantu menjaga dan meningkatkan

Lebih terperinci

K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011

K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011 K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011 2 K-189: Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011 K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi

Lebih terperinci

15B. Catatan Sementara NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional

15B. Catatan Sementara NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional Konferensi Perburuhan Internasional Catatan Sementara 15B Sesi Ke-100, Jenewa, 2011 NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA 15B/ 1 NASKAH REKOMENDASI TENTANG PEKERJAAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Peraturan Arbitrase Proses Acara Cepat KLRCA PERATURAN ARBITRASE SKEMA IMBALAN DAN BIAYA ADMINISTRASI PEDOMAN UNTUK PERATURAN ARBITRASE

DAFTAR ISI. Peraturan Arbitrase Proses Acara Cepat KLRCA PERATURAN ARBITRASE SKEMA IMBALAN DAN BIAYA ADMINISTRASI PEDOMAN UNTUK PERATURAN ARBITRASE DAFTAR ISI Peraturan Arbitrase Proses Acara Cepat KLRCA Bagian I PERATURAN ARBITRASE PROSES Acara Cepat KLRCA Bagian II SKEMA IMBALAN DAN BIAYA ADMINISTRASI Bagian III PEDOMAN UNTUK PERATURAN ARBITRASE

Lebih terperinci

Standar Tanggung Jawab untuk Para Pemasok

Standar Tanggung Jawab untuk Para Pemasok Standar Tanggung Jawab untuk Para Pemasok 2017 PENGADAAN GLOBAL Keyakinan Kami Kami percaya bahwa tanggung jawab kami yang pertama adalah terhadap para dokter, perawat dan pasien; para ibu dan bapak dan

Lebih terperinci

R201 Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Rangga, 2011

R201 Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Rangga, 2011 R201 Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Rangga, 2011 2 R-201: Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Rangga, 2011 R201 Rekomendasi tentang Pekerjaan Yang Layak

Lebih terperinci

R-111 REKOMENDASI DISKRIMINASI (PEKERJAAN DAN JABATAN), 1958

R-111 REKOMENDASI DISKRIMINASI (PEKERJAAN DAN JABATAN), 1958 R-111 REKOMENDASI DISKRIMINASI (PEKERJAAN DAN JABATAN), 1958 2 R-111 Rekomendasi Diskriminasi (Pekerjaan dan Jabatan), 1958 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan

Lebih terperinci

R-165 REKOMENDASI PEKERJA DENGAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA, 1981

R-165 REKOMENDASI PEKERJA DENGAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA, 1981 R-165 REKOMENDASI PEKERJA DENGAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA, 1981 2 R-165 Rekomendasi Pekerja dengan Tanggung Jawab Keluarga, 1981 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan

Lebih terperinci

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Pernyataan Prinsip: Setiap orang berhak mendapatkan perlakuan hormat di tempat kerja 3M. Dihormati berarti diperlakukan secara jujur dan profesional dengan

Lebih terperinci

LAYANAN INFORMASI KELUHAN (COMPLAINT INFORMATION SERVICE)

LAYANAN INFORMASI KELUHAN (COMPLAINT INFORMATION SERVICE) Mengajukan keluhan Australian Human Rights Commission (Komisi Hak Asasi Manusia Australia) adalah sebuah lembaga independen yang bertugas menyelidiki dan menyelesaikan keluhan tentang diskriminasi berdasarkan

Lebih terperinci

15A. Catatan Sementara NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional

15A. Catatan Sementara NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional Konferensi Perburuhan Internasional Catatan Sementara 15A Sesi Ke-100, Jenewa, 2011 NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA 15A/ 1 NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG

Lebih terperinci

DAFTAR ISI UNDANG-UNDANG ARBITRASE TAHUN Undang-undang Arbitrase Tahun (Direvisi tahun 2011)

DAFTAR ISI UNDANG-UNDANG ARBITRASE TAHUN Undang-undang Arbitrase Tahun (Direvisi tahun 2011) DAFTAR ISI Undang-undang Arbitrase Tahun 2005 UNDANG-UNDANG ARBITRASE TAHUN 2005 (Direvisi tahun 2011) 2 Pusat untuk Arbitrase Regional Kuala Lumpur SUSUNAN BAGIAN Bagian I Pendahuluan 1. Judul singkat

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Peraturan Arbitrase KLRCA

DAFTAR ISI Peraturan Arbitrase KLRCA DAFTAR ISI Peraturan Arbitrase KLRCA Bagian I PERATURAN ARBITRASE KLRCA (Direvisi pada tahun 2013) Bagian II PERATURAN ARBITRASE UNCITRAL (Direvisi pada tahun 2010) Bagian III SKEMA Bagian IV PEDOMAN UNTUK

Lebih terperinci

PIAGAM DIREKSI PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam )

PIAGAM DIREKSI PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam ) PIAGAM DIREKSI PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam ) DAFTAR ISI I. DASAR HUKUM II. TUGAS, TANGGUNG JAWAB DAN WEWENANG III. ATURAN BISNIS IV. JAM KERJA V. RAPAT VI. LAPORAN DAN TANGGUNG JAWAB VII. KEBERLAKUAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI PERATURAN MEDIASI KLRCA SKEMA UU MEDIASI 2012 PANDUAN PERATURAN MEDIASI KLRCA. Peraturan Mediasi KLRCA. Bagian I. Bagian II.

DAFTAR ISI PERATURAN MEDIASI KLRCA SKEMA UU MEDIASI 2012 PANDUAN PERATURAN MEDIASI KLRCA. Peraturan Mediasi KLRCA. Bagian I. Bagian II. DAFTAR ISI Peraturan Mediasi KLRCA Bagian I PERATURAN MEDIASI KLRCA Bagian II SKEMA Bagian III UU MEDIASI 2012 Bagian IV PANDUAN PERATURAN MEDIASI KLRCA 2 Pusat untuk Arbitrase Regional Kuala Lumpur Bagian

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Peraturan Mediasi KLRCA

DAFTAR ISI Peraturan Mediasi KLRCA DAFTAR ISI Peraturan Mediasi KLRCA Bagian I PERATURAN MEDIASI KLRCA Bagian II SKEMA Bagian III UU MEDIASI 2012 Bagian IV PANDUAN PERATURAN MEDIASI KLRCA 2 Pusat untuk Arbitrase Regional Kuala Lumpur Peraturan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1989 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1989 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1989 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa Negara Republik Indonesia adalah negara hukum berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar

Lebih terperinci

DAFTAR ISI PERATURAN ARBITRASE SKEMA IMBALAN DAN BIAYA ADMINISTRASI PEDOMAN UNTUK PERATURAN ARBITRASE. Peraturan Arbitrase Proses Acara Cepat KLRCA

DAFTAR ISI PERATURAN ARBITRASE SKEMA IMBALAN DAN BIAYA ADMINISTRASI PEDOMAN UNTUK PERATURAN ARBITRASE. Peraturan Arbitrase Proses Acara Cepat KLRCA DAFTAR ISI Peraturan Arbitrase Proses Acara Cepat KLRCA Bagian I PERATURAN ARBITRASE PROSES Acara Cepat KLRCA Bagian II SKEMA IMBALAN DAN BIAYA ADMINISTRASI Bagian III PEDOMAN UNTUK PERATURAN ARBITRASE

Lebih terperinci

KEBIJAKAN HADIAH, HIBURAN DAN PEMBERIAN. 1. Untuk Pelanggan, Pemasok, Mitra bisnis dan Pemangku kepentingan Eksternal.

KEBIJAKAN HADIAH, HIBURAN DAN PEMBERIAN. 1. Untuk Pelanggan, Pemasok, Mitra bisnis dan Pemangku kepentingan Eksternal. KEBIJAKAN HADIAH, HIBURAN DAN PEMBERIAN Pemberian Hadiah/Penyediaan Hiburan 1. Untuk Pelanggan, Pemasok, Mitra bisnis dan Pemangku kepentingan Eksternal. 1. Semua pemberian hadiah harus sesuai dengan kebijakan

Lebih terperinci

Kode Etik mengenai Ketenagakerjaan berdasarkan Undang-undang Diskriminasi Ras

Kode Etik mengenai Ketenagakerjaan berdasarkan Undang-undang Diskriminasi Ras Kode Etik mengenai Ketenagakerjaan berdasarkan Undang-undang Diskriminasi Ras Translation in Indonesian Terjemahan dalam Bahasa Indonesia Daftar Isi Bab 1 Pendahuluan 1.1 Undang-undang Diskriminasi Ras

Lebih terperinci

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS PERNYATAAN DAN PRINSIP KEBIJAKAN Sesuai dengan Undang-undang Intelijen Keuangan dan Anti Pencucian Uang 2002 (FIAMLA 2002), Undang-undang Pencegahan Korupsi 2002

Lebih terperinci

Standar Ketenagakerjaan Internasional tentang Kesetaraan dan Non Diskriminasi

Standar Ketenagakerjaan Internasional tentang Kesetaraan dan Non Diskriminasi Standar Ketenagakerjaan Internasional tentang Kesetaraan dan Non Diskriminasi Lusiani Julia, Program Officer Kantor ILO Jakarta Jakarta, 6 September 2016 Isi Pemaparan Mandat dan Fungsi ILO Standar Ketenagakerjaan

Lebih terperinci

Kesetaraan gender di tempat kerja: Persoalan dan strategi penting

Kesetaraan gender di tempat kerja: Persoalan dan strategi penting Kesetaraan gender di tempat kerja: Persoalan dan strategi penting Kesetaraan dan non-diskriminasi di tempat kerja di Asia Timur dan Tenggara: Panduan 1 Tujuan belajar 1. Menguraikan tentang konsep dan

Lebih terperinci

Dewan Pelatihan Ulang Karyawan. Tindakan yang ada dan rencana tindakan untuk meningkatkan Kesetaraan bagi etnik minoritas

Dewan Pelatihan Ulang Karyawan. Tindakan yang ada dan rencana tindakan untuk meningkatkan Kesetaraan bagi etnik minoritas Dewan Pelatihan Ulang Karyawan Tindakan yang ada dan rencana tindakan untuk meningkatkan Kesetaraan bagi etnik minoritas Layanan Terkait Dewan Pelatihan Ulang Karyawan (ERB) menyediakan kursus pelatihan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI PERATURAN ARBITRASE. ISLAM KLRCA (Direvisi pada 2013) PERATURAN ARBITRASE UNCITRAL (Direvisi pada 2010) ARBITRASE ISLAM KLRCA

DAFTAR ISI PERATURAN ARBITRASE. ISLAM KLRCA (Direvisi pada 2013) PERATURAN ARBITRASE UNCITRAL (Direvisi pada 2010) ARBITRASE ISLAM KLRCA DAFTAR ISI Peraturan Arbitrase Islam KLRCA Bagian I PERATURAN ARBITRASE ISLAM KLRCA (Direvisi pada 2013) Bagian II PERATURAN ARBITRASE UNCITRAL (Direvisi pada 2010) Bagian III SKEMA Bagian IV PEDOMAN UNTUK

Lebih terperinci

Standar Audit SA 620. Penggunaan Pekerjaan Pakar Auditor

Standar Audit SA 620. Penggunaan Pekerjaan Pakar Auditor SA 0 Penggunaan Pekerjaan Pakar Auditor SA Paket 00.indb //0 :: AM STANDAR AUDIT 0 penggunaan PEKERJAAN PAKAR AUDITOR (Berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang dimulai pada

Lebih terperinci

2 2. Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Tata Tertib (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 1607); MEMUTU

2 2. Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Tata Tertib (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 1607); MEMUTU No.547, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DPR-RI. Kode Etik. PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG KODE ETIK DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DENGAN

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR KOMNAS PEREMPUAN PENGESAHAN: 11 FEBRUARI 2014

ANGGARAN DASAR KOMNAS PEREMPUAN PENGESAHAN: 11 FEBRUARI 2014 ANGGARAN DASAR KOMNAS PEREMPUAN PENGESAHAN: 11 FEBRUARI 2014 PEMBUKAAN Bahwa sesungguhnya hak-hak asasi dan kebebasan-kebebasan fundamental manusia melekat pada setiap orang tanpa kecuali, tidak dapat

Lebih terperinci

KODE ETIK PT DUTA INTIDAYA, TBK.

KODE ETIK PT DUTA INTIDAYA, TBK. KODE ETIK PT DUTA INTIDAYA, TBK. PENDAHULUAN Tata kelola perusahaan yang baik merupakan suatu persyaratan dalam pengembangan global dari kegiatan usaha perusahaan dan peningkatan citra perusahaan. PT Duta

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGUNGKAP FAKTA

KEBIJAKAN PENGUNGKAP FAKTA Kebijakan Pengungkap Fakta KEBIJAKAN PENGUNGKAP FAKTA Pernyataan Etika Perusahaan (Statement of Corporate Ethics) Amcor Limited menetapkan kebijakannya terhadap pengungkapan fakta dan komitmennya untuk

Lebih terperinci

Administrative Policy Bahasa Indonesian translation from English original

Administrative Policy Bahasa Indonesian translation from English original Tata Tertib Semua unit Misi KONE adalah untuk meningkatkan arus pergerakan kehidupan perkotaan. Visi kita adalah untuk Memberikan pengalaman terbaik arus pergerakan manusia, menyediakan kemudahan, efektivitas

Lebih terperinci

2. Konsep dan prinsip

2. Konsep dan prinsip Diskriminasi dan kesetaraan: 2. Konsep dan prinsip Kesetaraan and non-diskriminasi di tempat kerja di Asia Timur dan Tenggara: Panduan 1 Tujuan belajar 1. Menganalisa definisi diskriminasi di tempat kerja

Lebih terperinci

PEDOMAN TENTANG PERANAN PARA JAKSA. Disahkan oleh Kongres Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kedelapan. Tentang Pencegahan Kejahatan dan Perlakukan terhadap

PEDOMAN TENTANG PERANAN PARA JAKSA. Disahkan oleh Kongres Perserikatan Bangsa-Bangsa. Kedelapan. Tentang Pencegahan Kejahatan dan Perlakukan terhadap PEDOMAN TENTANG PERANAN PARA JAKSA Disahkan oleh Kongres Perserikatan Bangsa-Bangsa Kedelapan Tentang Pencegahan Kejahatan dan Perlakukan terhadap Pelaku Kejahatan Havana, Kuba, 27 Agustus sampai 7 September

Lebih terperinci

Kode Etik C&A untuk Pasokan Barang Dagangan

Kode Etik C&A untuk Pasokan Barang Dagangan Kode Etik C&A untuk Pasokan Barang Dagangan Perhatian: ini adalah terjemahan dari teks bahasa Inggris. Versi asli bahasa Inggrislah yang dianggap sebagai dokumen yang mengikat secara hukum. - April 2015

Lebih terperinci

Kebijakan Pengungkap Fakta

Kebijakan Pengungkap Fakta KEBIJAKAN PENGUNGKAP FAKTA 1. Ikhtisar Amcor berkomitmen terhadap standar tertinggi praktik etis dan hubungan yang jujur, serta perlindungan bagi individu yang melaporkan kejadian atau dugaan terjadinya

Lebih terperinci

R-166 REKOMENDASI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982

R-166 REKOMENDASI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982 R-166 REKOMENDASI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982 2 R-166 Rekomendasi Pemutusan Hubungan Kerja, 1982 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan

Lebih terperinci

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat

Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat - 1 - Walikota Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PELINDUNGAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA,

Lebih terperinci

KODE PRAKTEK PANDI-DNP/ Versi 1.0. Dikeluarkan tanggal 1 Maret Pengelola Nama Domain Internet Indonesia

KODE PRAKTEK PANDI-DNP/ Versi 1.0. Dikeluarkan tanggal 1 Maret Pengelola Nama Domain Internet Indonesia KODE PRAKTEK PANDI-DNP/2012-003 Versi 1.0 Dikeluarkan tanggal 1 Maret 2012 Pengelola Nama Domain Internet Indonesia Gedung Arthaloka LT. 11 Jln. Jend. Sudirman Kav. 2 Jakarta Pusat 10220, Indonesia. www.pandi.or.id

Lebih terperinci

2. Rencana pengembangan Insan IMC selalu didasari atas bakat dan kinerja.

2. Rencana pengembangan Insan IMC selalu didasari atas bakat dan kinerja. KODE ETIK PT INTERMEDIA CAPITAL TBK ( Perusahaan ) I. PENDAHULUAN A. Maksud dan Tujuan Kode Etik ini disusun dalam rangka meningkatkan tata kelola perusahaan yang baik sebagaimana diamanatkan oleh Peraturan

Lebih terperinci

2. Bagaimana Kami Menggunakan Informasi Anda

2. Bagaimana Kami Menggunakan Informasi Anda KEBIJAKAN PRIVASI Penidago.com dimiliki dan dioperasikan oleh Grup Perusahaan Penidago ("Penidago" atau "Kami"). Kebijakan Privasi ini menjelaskan bagaimana kami mengumpulkan, menggunakan, menyingkapkan,

Lebih terperinci

Kebijakan NEPCon untuk Penyelesaian Sengketa

Kebijakan NEPCon untuk Penyelesaian Sengketa Kebijakan NEPCon untuk Penyelesaian Sengketa NEPCon Policies 1 December 2014 2011 Kebijakan NEPCon untuk Penyelesaian Sengketa 2 Tujuan dari kebijakan ini adalah untuk memaparkan dan mengatur cara NEPCon

Lebih terperinci

K 183 KONVENSI PERLINDUNGAN MATERNITAS, 2000

K 183 KONVENSI PERLINDUNGAN MATERNITAS, 2000 K 183 KONVENSI PERLINDUNGAN MATERNITAS, 2000 2 K-183 Konvensi Perlindungan Maternitas, 2000 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan

Lebih terperinci

2016, No Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2003 tentang Pengesahan ILO Convention Nomor 81 Concerning Labour Inspection in Industry and Commerce

2016, No Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2003 tentang Pengesahan ILO Convention Nomor 81 Concerning Labour Inspection in Industry and Commerce No.1753, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENAKER. Pengawasan Ketenagakerjaan. PERATURAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN

Lebih terperinci

Konvensi 183 Tahun 2000 KONVENSI TENTANG REVISI TERHADAP KONVENSI TENTANG PERLINDUNGAN MATERNITAS (REVISI), 1952

Konvensi 183 Tahun 2000 KONVENSI TENTANG REVISI TERHADAP KONVENSI TENTANG PERLINDUNGAN MATERNITAS (REVISI), 1952 Konvensi 183 Tahun 2000 KONVENSI TENTANG REVISI TERHADAP KONVENSI TENTANG PERLINDUNGAN MATERNITAS (REVISI), 1952 Komperensi Umum Organisasi Perburuhan Internasional, Setelah disidangkan di Jeneva oleh

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Pasal 1 Definisi. Untuk maksud-maksud Persetujuan ini, kecuali konteksnya mensyaratkan sebaliknya;

LAMPIRAN. Pasal 1 Definisi. Untuk maksud-maksud Persetujuan ini, kecuali konteksnya mensyaratkan sebaliknya; LAMPIRAN PERSETUJUAN MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PERSETUJUAN KERANGKA KERJA MENGENAI KERJA SAMA EKONOMI MENYELURUH ANTAR PEMERINTAH NEGARA-NEGARA ANGGOTA PERHIMPUNAN BANGSA-BANGSA ASIA TENGGARA

Lebih terperinci

Catatan informasi klien

Catatan informasi klien Catatan informasi klien Ikhtisar Untuk semua asesmen yang dilakukan oleh LRQA, tujuan audit ini adalah: penentuan ketaatan sistem manajemen klien, atau bagian darinya, dengan kriteria audit; penentuan

Lebih terperinci

SEKSI 100 A. PRINSIP-PRINSIP DASAR ETIKA PROFESI

SEKSI 100 A. PRINSIP-PRINSIP DASAR ETIKA PROFESI SEKSI 100 A. PRINSIP-PRINSIP DASAR ETIKA PROFESI Salah satu hal yang membedakan profesi akuntan publik dengan profesi lainnya adalah tanggung jawab profesi akuntan publik dalam melindungi kepentingan publik.

Lebih terperinci

MEKANISME KELUHAN PEKERJA

MEKANISME KELUHAN PEKERJA PROSEDUR TPI-HR-Kebijakan-04 Halaman 1 dari 7 MEKANISME KELUHAN PEKERJA Halaman 2 dari 7 Pendahuluan Keluhan didefinisikan sebagai masalah yang nyata atau dirasakan yang dapat memberikan alasan untuk mengajukan

Lebih terperinci

Sesi 7: Pelecehan Seksual

Sesi 7: Pelecehan Seksual Sesi 7: Pelecehan Seksual 1 Tujuan belajar 1. Mengidentifikasi contoh-contoh pelecehan seksual secara umum dan khususnya di tempat kerja 2. Mempelajari ruang lingkup perlindungan UU dan peraturan yang

Lebih terperinci

Indorama Ventures Public Company Limited

Indorama Ventures Public Company Limited Indorama Ventures Public Company Limited Kode Etik untuk Pemasok (Sebagaimana yang di setujui pada Desember 2014) Revisi 1 (Sebagaimana yang di setujui pada Mei 2017) Catatan Dalam hal ketentuan apa pun

Lebih terperinci

NOMOR 6 TAHUN 1989 TENTANG PATEN

NOMOR 6 TAHUN 1989 TENTANG PATEN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1989 TENTANG PATEN Menimbang: DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa Negara Republik Indonesia adalah negara hukum berdasarkan

Lebih terperinci

Menjalankan Nilai-Nilai Kami, Setiap Hari

Menjalankan Nilai-Nilai Kami, Setiap Hari Kode Etik Global Menjalankan Nilai-Nilai Kami, Setiap Hari Takeda Pharmaceutical Company Limited Pasien Kepercayaan Reputasi Bisnis KODE ETIK GLOBAL TAKEDA Sebagai karyawan Takeda, kami membuat keputusan

Lebih terperinci

Buku Panduan Perlindungan Prosedural Pendidikan Khusus New Hampshire

Buku Panduan Perlindungan Prosedural Pendidikan Khusus New Hampshire Buku Panduan Perlindungan Prosedural Pendidikan Khusus New Hampshire Buku Panduan ini didasarkan pada Undang-Undang Pendidikan Penyandang Disabilitas tahun 2004 dan Peraturan NH tentang Pendidikan untuk

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ANAK DAN PEREMPUAN

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ANAK DAN PEREMPUAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENCEGAHAN DAN PENANGANAN KORBAN PERDAGANGAN ANAK DAN PEREMPUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA SELATAN, Menimbang

Lebih terperinci

dengan pilihan mereka sendiri dan hak perundingan bersama. 2.2 Pihak perusahaan menerapkan sikap terbuka terhadap aktivitas-aktivitas serikat

dengan pilihan mereka sendiri dan hak perundingan bersama. 2.2 Pihak perusahaan menerapkan sikap terbuka terhadap aktivitas-aktivitas serikat Kode Etik Pemasok Kode Etik Pemasok 1. KEBEBASAN MEMILIH PEKERJAAN 1.1 Tidak ada tenaga kerja paksa atau wajib dalam bentuk apa pun, termasuk pekerjaan terikat, perdagangan manusia, atau tahanan dari penjara.

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KOMNAS HAM. Informasi. Publik. Pelayanan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KOMNAS HAM. Informasi. Publik. Pelayanan. No.487, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KOMNAS HAM. Informasi. Publik. Pelayanan. PERATURAN KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 001C/PER.KOMNAS HAM/II/2014 TENTANG PELAYANAN

Lebih terperinci

K111 DISKRIMINASI DALAM PEKERJAAN DAN JABATAN

K111 DISKRIMINASI DALAM PEKERJAAN DAN JABATAN K111 DISKRIMINASI DALAM PEKERJAAN DAN JABATAN 1 K 111 - Diskriminasi dalam Pekerjaan dan Jabatan 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan

Lebih terperinci

Kode Perilaku VESUVIUS: black 85% PLC: black 60% VESUVIUS: white PLC: black 20% VESUVIUS: white PLC: black 20%

Kode Perilaku VESUVIUS: black 85% PLC: black 60% VESUVIUS: white PLC: black 20% VESUVIUS: white PLC: black 20% Kode Perilaku 2 Vesuvius / Kode Perilaku 3 Pesan dari Direktur Utama Kode Perilaku ini menegaskan komitmen kita terhadap etika dan kepatuhan Rekan-rekan yang Terhormat Kode Perilaku Vesuvius menguraikan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PIMPINAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PIMPINAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN, PERATURAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAYANAN PERMOHONAN PERLINDUNGAN PADA LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PIMPINAN

Lebih terperinci

KODE PERILAKU ETIK APACMED DALAM INTERAKSI DENGAN TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL

KODE PERILAKU ETIK APACMED DALAM INTERAKSI DENGAN TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL KODE PERILAKU ETIK APACMED DALAM INTERAKSI DENGAN TENAGA KESEHATAN PROFESIONAL MISI APACMED: Misi kami adalah meningkatkan standar perawatan melalui kolaborasi inovatif di kalangan pemangku kepentingan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PIMPINAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN REPUBLLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PIMPINAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN REPUBLLIK INDONESIA, PERATURAN LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAYANAN PERMOHONAN PERLINDUNGAN PADA LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

KETENTUAN PENGGUNAAN Situs Web TomTom

KETENTUAN PENGGUNAAN Situs Web TomTom KETENTUAN PENGGUNAAN Situs Web TomTom 1 Ruang lingkup Ketentuan Penggunaan ini berlaku untuk penggunaan Situs Web TomTom dan mencakup hak-hak, kewajiban, dan batasan Anda ketika menggunakan Situs Web TomTom.

Lebih terperinci

PIAGAM PEMBELIAN BERKELANJUTAN

PIAGAM PEMBELIAN BERKELANJUTAN PIAGAM PEMBELIAN BERKELANJUTAN PENGANTAR AptarGroup mengembangkan solusi sesuai dengan kesepakatan-kesepakatan usaha yang wajar dan hukum ketenagakerjaan, dengan menghargai lingkungan dan sumber daya alamnya.

Lebih terperinci

Pedoman Dewan Komisaris. PT Astra International Tbk

Pedoman Dewan Komisaris. PT Astra International Tbk PT Astra International Tbk Desember 2015 PEDOMAN DEWAN KOMISARIS 1. Pengantar Sebagai perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan hukum Indonesia, PT Astra International Tbk ( Perseroan atau Astra )

Lebih terperinci

PIAGAM DEWAN KOMISARIS PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam )

PIAGAM DEWAN KOMISARIS PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam ) PIAGAM DEWAN KOMISARIS PT UNILEVER INDONESIA Tbk ( Piagam ) DAFTAR ISI I. DASAR HUKUM II. TUGAS, TANGGUNG JAWAB DAN WEWENANG III. ATURAN BISNIS IV. JAM KERJA V. RAPAT VI. LAPORAN DAN TANGGUNG JAWAB VII.

Lebih terperinci

R184 Rekomendasi Kerja Rumahan, 1996 (No. 184)

R184 Rekomendasi Kerja Rumahan, 1996 (No. 184) R184 Rekomendasi Kerja Rumahan, 1996 (No. 184) 1 R184 - Rekomendasi Kerja Rumahan, 1996 (No. 184) 2 R184 Rekomendasi Kerja Rumahan, 1996 (No. 184) Rekomendasi mengenai Kerja Rumahan Adopsi: Jenewa, ILC

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa sejalan dengan ratifikasi Indonesia pada perjanjian-perjanjian internasional, perkembangan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2001 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa sejalan dengan ratifikasi Indonesia pada

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Undang-undang Arbitrase Tahun 2005

DAFTAR ISI Undang-undang Arbitrase Tahun 2005 DAFTAR ISI Undang-undang Arbitrase Tahun 2005 UNDANG-UNDANG ARBITRASE TAHUN 2005 (Direvisi tahun 2011) 2 Pusat untuk Arbitrase Regional Kuala Lumpur Undang-Undang Arbitrase Tahun 2005 3 SUSUNAN BAGIAN

Lebih terperinci

NOMOR 32 /SEOJK.04/2015 TENTANG PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN TERBUKA

NOMOR 32 /SEOJK.04/2015 TENTANG PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN TERBUKA Yth. Direksi dan Dewan Komisaris Perusahaan Terbuka di tempat. SALINAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 32 /SEOJK.04/2015 TENTANG PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN TERBUKA Sehubungan dengan Peraturan

Lebih terperinci

K 95 KONVENSI PERLINDUNGAN UPAH, 1949

K 95 KONVENSI PERLINDUNGAN UPAH, 1949 K 95 KONVENSI PERLINDUNGAN UPAH, 1949 2 K-95 Konvensi Perlindungan Upah, 1949 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 39, 1989 (PERDATA, PERINDUSTRIAN, PIDANA, KEHAKIMAN, HAK MILIK, PATEN, TEKNOLOGI. Penjelasan dalam Tambahan

Lebih terperinci

PENUNJUK ADVOKAT DAN BANTUAN HUKUM

PENUNJUK ADVOKAT DAN BANTUAN HUKUM PENUNJUK ADVOKAT DAN BANTUAN HUKUM 1 (satu) Hari Kerja ~ waktu paling lama, Pemberi Bantuan Hukum wajib memeriksa kelengkapan persyaratan Pemberi Bantuan Hukum wajib memeriksa kelengkapan persyaratan sebagaimana

Lebih terperinci

Standar Audit SA 250. Pertimbangan atas Peraturan Perundang-Undangan dalam Audit atas Laporan Keuangan

Standar Audit SA 250. Pertimbangan atas Peraturan Perundang-Undangan dalam Audit atas Laporan Keuangan SA 0 Pertimbangan atas Peraturan Perundang-Undangan dalam Audit atas Laporan Keuangan SA Paket 00.indb STANDAR AUDIT 0 PERTIMBANGAN ATAS PERATURAN PERUNDANG- UNDANGAN DALAM AUDIT ATAS LAPORAN KEUANGAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa paten merupakan kekayaan intelektual yang diberikan

Lebih terperinci

KODE ETIK GLOBAL PERFORMANCE OPTICS

KODE ETIK GLOBAL PERFORMANCE OPTICS KODE ETIK GLOBAL PERFORMANCE OPTICS Kode Etik Global Performance Optics adalah rangkuman harapan kami terkait dengan perilaku di tempat kerja. Kode Etik Global ini mencakup beragam jenis praktik bisnis;

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kekayaan budaya dan etnis bangsa

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN. TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN. TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.... TAHUN. TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional

Lebih terperinci

LAMPIRAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 32 /SEOJK.04/2015 TENTANG PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN TERBUKA

LAMPIRAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 32 /SEOJK.04/2015 TENTANG PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN TERBUKA LAMPIRAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 32 /SEOJK.04/2015 TENTANG PEDOMAN TATA KELOLA PERUSAHAAN TERBUKA 2 PRINSIP DAN REKOMENDASI TATA KELOLA A. Hubungan Perusahaan Terbuka Dengan Pemegang

Lebih terperinci

Kerangka Acuan Call for Proposals : Voice Indonesia

Kerangka Acuan Call for Proposals : Voice Indonesia Kerangka Acuan Call for Proposals 2016-2017: Voice Indonesia Kita berjanji bahwa tidak akan ada yang ditinggalkan [dalam perjalanan kolektif untuk mengakhiri kemiskinan dan ketidaksetaraan]. Kita akan

Lebih terperinci

KETAHUI HAKMU BERDASARKAN KONVENSI ILO BARU MENGENAI PEKERJA RUMAH TANGGA TUNTUT HAKMU

KETAHUI HAKMU BERDASARKAN KONVENSI ILO BARU MENGENAI PEKERJA RUMAH TANGGA TUNTUT HAKMU 1 Asia Pasifik adalah region dengan jumlah pekerja rumah tangga terbanyak. Asia Pasifik 41% Amerika Latin dan Karibia 37% Afrika 10% Negara maju 7% Timur Tengah 4% Eropa Timur 1% 4 dari 5 pekerja rumah

Lebih terperinci

LEMBAGA NASIONAL UNTUK MEMAJUKAN DAN MELINDUNGI HAK ASASI MANUSIA. Lembar Fakta No. 19. Kampanye Dunia untuk Hak Asasi Manusia

LEMBAGA NASIONAL UNTUK MEMAJUKAN DAN MELINDUNGI HAK ASASI MANUSIA. Lembar Fakta No. 19. Kampanye Dunia untuk Hak Asasi Manusia LEMBAGA NASIONAL UNTUK MEMAJUKAN DAN MELINDUNGI HAK ASASI MANUSIA Lembar Fakta No. 19 Kampanye Dunia untuk Hak Asasi Manusia PENDAHULUAN PBB terlibat dalam berbagai kegiatan yang bertujuan mencapai salah

Lebih terperinci

KEBIJAKAN ANTIKORUPSI

KEBIJAKAN ANTIKORUPSI Kebijakan Kepatuhan Global Maret 2017 Freeport-McMoRan Inc. PENDAHULUAN Tujuan Tujuan dari Kebijakan Antikorupsi ini ("Kebijakan") adalah untuk membantu memastikan kepatuhan oleh Freeport-McMoRan Inc ("FCX")

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG Menimbang : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN ILO CONVENTION NO. 111 CONCERNING DISCRIMINATION IN RESPECT OF EMPLOYMENT AND OCCUPATION (KONVENSI ILO MENGENAI DISKRIMINASI

Lebih terperinci

- 1 - PEMERINTAH KOTA PONTIANAK PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PELAYANAN PUBLIK PEMERINTAH KOTA PONTIANAK

- 1 - PEMERINTAH KOTA PONTIANAK PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PELAYANAN PUBLIK PEMERINTAH KOTA PONTIANAK Bagian Organisasi - 1 - PEMERINTAH KOTA PONTIANAK PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PELAYANAN PUBLIK PEMERINTAH KOTA PONTIANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PONTIANAK

Lebih terperinci

Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional

Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional Oleh Agung Putri Seminar Sehari Perlindungan HAM Melalui Hukum Pidana Hotel Nikko Jakarta, 5 Desember 2007 Implementasi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2016 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2016 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2016 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa paten merupakan kekayaan intelektual yang diberikan

Lebih terperinci