Bab IV Hasil dan Pembahasan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab IV Hasil dan Pembahasan"

Transkripsi

1 Bab IV Hasil dan Pembahasan Kualitas minyak dapat diketahui dengan melakukan beberapa analisis kimia yang nantinya dibandingkan dengan standar mutu yang dikeluarkan dari Standar Nasional Indonesia (SNI). Perbandingan hasil uji kualitas minyak dengan syarat standar mutu dari SNI dapat dilihat dari Tabel IV.1. Tabel IV.1 Hasil uji kualitas minyak No. Kriteria Uji Hasil uji kualitas Persyaratan minyak Bau, rasa Warna Kadar Air Asam lemak bebas Bilangan peroksida Angka iodium Angka penyabunan Berat jenis Cemaran ion logam : Normal Kuning 0,21% 1,83% 4,15 Meg/kg 33, ,05 g/l Normal Mudah jernih Max 0,3% Max 0,3% Max 2 Meg/kg ,9 g/l Fe 2+ Pb 2+ Cu 2+ Zn 2+ 0,23 mg/kg 1,5 mg/kg 0,01 mg/kg 0,1 mg/kg 0,79 mg/kg 40 mg/kg 0,00 mg/kg 0,05 mg/kg IV.1 Bau dan Rasa Minyak jelantah sebelum diperlakukan perendaman kulit pisang terasa bau tengik atau bau bekas ayam goreng, setelah direndam kulit pisang bau dan rasa menjadi hilang. Hal ini disebabkan karena kulit pisang sebagai adsorben yang dapat 29

2 menyerap bau dan rasa yang terdapat dalam minyak goreng. Hal ini dilakukan secara organoleptik. IV.2 Warna Warna minyak sebelum dilakukan perendaman kulit pisang adalah coklat keruh, hal ini disebabkan karena minyak ketika dipanaskan mengalami perubahan psikokimia. Setelah direndam kulit pisang warna minyak menjadi kuning jernih, hal ini disebabkan karena kulit pisang berfungsi sebagai adsorben yang mampu menyerap warna yang terdapat dalam minyak Warna minyak seperti yang terlihat pada Gambar IV.1. Gambar IV.1 Hasil uji warna pada minyak. IV.3 Kadar air Kadar air ditentukan dengan cara oven terbuka (air oven method). Penyusutan bobot disebabkan oleh bobot air dan zat yang dapat menguap yang terkandung dalam minyak. Minyak dipanaskan pada 105 o C selama 30 menit untuk menguapkan air yang terkandung dalam minyak dan didinginkan dalam desikator supaya air yang terdapat di udara tidak terserap ke dalam minyak lagi. Kulit pisang dapat menyerap kadar air yang terdapat dalam minyak. Hasil yang terbaik yang diperoleh adalah perendaman 1,5 jam menggunakan kulit pisang kering yang dihaluskan. Perbandingan minyak dengan kulit pisang adalah 1:1, kemungkinan semua kulit pisang terendam dalam minyak. Jadi terjadi penyerapan maksimum terhadap air yang terdapat pada minyak oleh kulit pisang. 30

3 Kadar Air (%) Kasar Segar Basah Halus Segar Basah Halus Kering Magnesol Lama Perendaman (Jam) Gambar IV.2 Kadar air sampel A Gambar IV.2 diperoleh kadar air yang terendah adalah perendaman dengan kulit pisang kering pada 1,5 jam. Hasil yang diperoleh adalah 0,62%. Hasil tersebut belum memenuhi SNI. Walaupun belum memenuhi SNI tetapi perendaman dengan kulit pisang ini dapat menurunkan kadar air yang terdapat dalam minyak. Hasil yang diperoleh jika dibandingkan dengan pembanding magnesol maka hasil terendah dimiliki oleh kulit pisang halus kering. Kemungkinan air yang terdapat dalm kulit pisang halus belum menguap secara keseluruhan, pori-pori kulit pisang belum tertutup dan kemungkinan masih terdapat aktivitas enzim. Pori-pori kulit pisang yang masih terbuka, berpeluang besar untuk menadsorbsi partikel air sehingga diperoleh kadar air yang rendah. Kadar air sampel B yang di bawah 0,3% diperoleh ketika perendaman kulit pisang halus selama 1,5 jam. Jika perendaman kulit pisang kering yang dihaluskan, kadar air yang diperoleh masih di atas 0,3%. Hal ini disebabkan oleh pori-pori kulit pisang 31

4 Kadar Air (%) tertutup dan enzim yang terdapat pada kulit pisang sudah tidak ada. selengkapnya terlihat pada Gambar IV.3 sebagai berikut: Data Kasar Segar Basah Halus Segar Basah Halus Kering Magnesol Lama Perendaman (Jam) Gambar IV.3 Kadar air sampel B Pada Gambar IV.4 sampel yang digunakan sampel B. Sampel B dengan massa minyak tetap tetapi massa kulit pisang divariasikan, hal ini bertujuan mengetahui berapa perbandingan massa minyak dan massa kulit pisang untuk menghasilkan kadar air yang terendah. Kulit pisang yang digunakan adalah kulit pisang halus basah, karena diperoleh kadar air yang cukup rendah bahkan dapat menurunkan sampai di bawah maksimum yaitu 0,3 %. Kadar air yang paling rendah adalah pada saat perbandingan massa minyak dengan kulit pisang halus basah 17:17 atau perbandingan 1:1. Gambar selengkapnya sebagai berikut: 32

5 Kadar Air (%) Kadar Air Massa Kulit Pisang Halus (gram) Gambar IV.4 Kadar air dengan variasi massa kulit pisang Kadar air yang paling rendah adalah pada saat perbandingan minyak dengan kulit pisang 1:1, karena kulit pisang basah segar yang dihaluskan terendam sempurna dalam minyak karena jumlahnya sama. Jika kulit pisang massanya lebih besar dari massa minyak maka ada sebagian kulit pisang yang tidak terendam dengan minyak. Cara penentuan kadar air dengan oven terbuka. Minyak yang dipanaskan dalam oven bertujuan untuk menguapkan air. Lalu didinginkan dalam desikator supaya air yang terdapat di udara tidak diserap oleh minyak. Cara uji kadar air ini dapat dilihat pada Gambar IV.5. Gambar IV.5 Hasil pengamatan uji kadar air 33

6 Bilangan Asam (%) IV.4 Bilangan asam Bilangan asam adalah ukuran dari jumlah asam lemak bebas, serta dihitung berdasarkan berat molekul dari asam lemak atau campuran asam lemak. Bilangan asam dinyatakan sebagai jumlah mg NaOH 0,1 N yang digunakan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 g minyak. Semakin banyak asam lemak bebas yang terkandung dalam minyak maka semakin rendah kualitas minyak tersebut. Hal ini karena asam lemak bebas akan mempengaruhi tekstur dan rasa dari minyak tersebut. Hasil pengamatan menunjukkan kadar asam lemak bebas yang terbaik adalah 1,83%. Hasil ini diperoleh dari perendaman kulit pisang halus basah selama 1,5 jam. Hasil ini belum memenuhi SNI yaitu 0,3%. Walaupun belum memenuhi SNI tetapi terjadi penurunan bilangan asam dari 10,25 % menjadi 1,83%. Hasil tersebut dapat dilihat pada Gambar IV Kasar Segar Basah Halus Segar Basah Halus Kering Magnesol Lama Perendaman (Jam) Gambar IV.6 Bilangan asam sampel A Perendaman yang terbaik adalah saat perendaman kulit pisang halus basah pada waktu 1,5 jam karena permukaannya kulit pisang lebih luas. Jika dilakukan perendaman lebih dari 1,5 jam, maka bilangan asamnya semakin naik. Perendaman 34

7 Bilangan Asam (%) kulit pisang lebih dari 1,5 jam, keadaan minyak mulai membeku sehingga proses adsorbsi semakin berkurang. Perendaman kulit pisang dengan sampel B diperoleh hasil yang terbaik yaitu saat perendaman kulit pisang halus basah 1,5 jam. Hal ini disebabkan oleh luasnya permukaan sehingga adsorbsi lebih banyak. Bilangan asam mengalami penurunan persentase dari 10,3 menjadi 1,83. Hasil yang diperoleh belum memenuhi SNI yaitu 0,3%. Perendaman lebih dari 1,5 jam menyebabkan minyak menjadi padat sehingga adsorbsi tidak sempurna. Perendaman yang semakin lama akan menaikkan kadar keasaman, hal ini karena terjadi reaksi hidrolisis yang mungkin disebabkan oleh aktifitas enzim, air dan uap air dari udara, pemanasan, juga oksidasi dengan adanya oksigen di udara. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Gambar IV.7 sebagai berikut: Kasar Segar Basah Halus Segar Basah Halus Kering Magnesol Lama Perendaman (Jam) Gambar IV.7 Bilangan asam sampel B Sampel B yang massa minyak tetap tetapi massa kulit pisang divariasikan diperoleh bilangan asam terendah pada saat perbandingan minyak dan kulit pisang 1:1. Bilangan asam mengalami penurunan dari 10,3000% menjadi 2,8300%. Perendaman dengan menggunakan jumlah kulit pisang yang semakin banyak berarti 35

8 Bilangan Asam (%) menambah luas permukaan adsorben, sehingga proses adsorbsi semakin sempurna. Jika perendaman massa minyak dan massa kulit pisang lebih dari 1:1 maka sebagian kulit pisang tidak terendam minyak berarti adsorbsi tidak sempurna juga. Hasil perendaman yang massa minyak tetap tetapi massa kulit pisang divariasikan dapat dilihat pada Gambar IV.8 sebagai berikut: Bilangan Asam Massa Kulit Pisang Halus (gram) Gambar IV.8 Bilangan asam sampel B, variasi massa kulit pisang IV.5 Bilangan peroksida Bilangan peroksida adalah nilai terpenting untuk menentukan derajat kerusakan pada minyak. Asam Lemak tidak jenuh dapat mengikat oksigen pada ikatan rangkapnya sehingga membentuk peroksida. Peroksida ini dapat ditentukan dengan metode iodometri. Cara yang sering digunakan untuk menentukan bilangan peroksida, berdasarkan pada reaksi antara alkali iodida dalam larutan asam dengan ikatan peroksida. Iod yang dibebaskan pada reaksi ini kemudian dititrasi dengan natrium thiosulfat. Semakin tinggi bilangan peroksida semakin tinggi kerusakan minyak atau semakin rusak minyak yang dihasilkan. Oksigen yang terserap oleh minyak dapat bereaksi dengan ikatan rangkap yang menyebabkan reaksi autooksidasi. Autooksidasi 36

9 berlangsung menurut reaksi yang meliputi 3 tahap yaitu: tahap permulaan, tahap perbanyakan dan tahap akhir. Reaksi yang mungkin terjadi dapat dilihat pada Gambar IV.9. RCH CHR1 RCH CHR1 RCH CHR1 O O O RCHO + R1CHO Gambar IV.9 Tahapan reaksi pembentukan peroksida pada minyak Uji bilangan peroksida pada minyak di tambahkan CHCl 3 yang bertujuan untuk melarutkan minyak dan penambahan CH 3 COOH untuk mengubah suasana menjadi asam karena alkali iodida akan bereaksi dengan peroksida dalam suasana asam. Kelebihan I 2 dititrasi dengan Na 2 S 2 O 3 sampai warna ungu hilang. Hasil pengamatan minyak sebelum dan sesudah dititrasi dapat dilihat pada Gambar IV.10 sebagai berikut: Gambar IV.10 Uji bilangan peroksida sebelum dan sesudah titrasi 37

10 Bilangan Peroksida (Meg/kg) Pada Gambar IV.11 sampel minyak yang digunakan sampel A, data yang terbaik akan ditunjukkan oleh bilangan peroksida yang terendah. Bilangan peroksida yang terendah ditunjukkan oleh data yang diperoleh dari kulit pisang mentah halus yang direndam 1,5 jam yaitu 4,1500 Meg/ kg, yang seharusnya menurut SNI adalah 2,0000 Meg/kg. Walaupun tidak memenuhi standar SNI tetapi dengan perendaman kulit pisang mengalami penurunan dari 158,8700 Meg/kg menjadi 4,1500 Meg/kg. Hasil perendaman dengan kulit pisang halus lebih baik bila dibandingkan dengan magnesol yaitu 4,2600 Meg/kg. Bilangan peroksida terendah adalah perendaman kulit pisang halus basah karena semakin luas permukaan maka semakin luas penyerapan permukaan Kasar Segar Basah Halus Segar Basah Halus Kering Magnesol Lama Perendaman (Jam) Gambar IV.11 Bilangan peroksida sampel A Sampel B diperlakukan sama dengan sampel A, bilangan peroksida terendah adalah perendaman dengan kulit pisang halus basah yang dilakukan 1.5 jam. Seperti yang terlihat pada Gambar IV

11 Bilangan Peroksida (meg/kg) Kasar Segar Basah Halus Segar Basah Halus Kering Magnesol Lama Perendaman (Jam) Gambar IV.12 Bilangan peroksida sampel B Bilangan peroksida terendah adalah perendaman kulit pisang basah segar yang dihaluskan dengan perendaman 1,5 jam. Hasil bilangan peroksida yang diperoleh adalah 4,9800 Meg/kg. Semakin lama perendaman maka terjadi kenaikkan bilangan peroksida. Hal ini disebabkan karena luas permukaan dan saat 1,5 jam ke atas minyak mulai membeku, sehingga adsorbsi semakin kecil. Serta adanya oksigen di udara yang terserap semakin banyak sehingga peroksida yang terbentuk semakin banyak. Perendaman dengan menggunakan kulit pisang dapat menurunkan bilangan peroksida walaupun nilainya belum memenuhi standar SNI, tapi dengan perendaman kulit pisang, bilangan peroksida mengalami penurunan. Perendaman kulit pisang halus basah dengan sampel B yang perlakuannya massa minyak tetap tetapi massa kulit pisang divariasikan. Hasil terbaik yang diperoleh adalah perbandingan massa minyak dan kulit pisang 1:1 karena makin banyak jumlah kulit pisang maka permukaan semakin luas dan tentunya adsorbsi semakin banyak, sehingga bilangan peroksida semakin menurun. Faktor lain yang dapat menyebabkan penurunan bilangan peroksida adalah kemungkinan adanya oksidoreduktase, yang 39

12 Bilangan Peroksida (Meg/kg) berfungsi mengatur transfer elektron. Gambar variasi massa kulit pisang tetapi massaminyak tetap selengkapnya dapat dilihat pada Gambar IV Bilangan Peroksida Massa Kulit Pisang Basah yang dihaluskan (gram) Gambar IV.13 Bilangan peroksida dengan variasi massa kulit pisang IV.6 Angka iodium Asam lemak yang tidak jenuh dalam minyak mampu menyerap sejumlah iod dan membentuk senyawa yang jenuh. Besarnya jumlah iod yang diserap menunjukkan banyaknya ikatan rangkap atau ikatan tidak jenuh. Bilangan iod dinyatakan sebagai jumlah gram iod yang diserap oleh 100 g minyak. Perhitungan bilangan iod berdasarkan prinsip titrasi, dimana pereaksi halogen berlebih ditambahkan pada contoh yang akan diuji. Setelah reaksi sempurna, kelebihan pereaksi ditetapkan jumlahnya dengan cara titrasi. Uji ini bertujuan untuk mengetahui banyaknya ikatan rangkap di dalam minyak tersebut. Semakin banyak ikatan rangkap di dalam asam lemak semakin tinggi bilangan iod. Hal ini disebabkan karena iod akan bereaksi dengan ikatan rangkap tersebut. Semakin lama bilangan iod minyak semakin berkurang. Hal ini disebabkan karena semakin lama semakin banyak ikatan jenuh yang teroksidasi. Semakin besar 40

13 bilangan iodium semakin banyak ikatan rangkap yang terdapat di dalam minyak, maka semakin baik mutu minyak. Uji bilangan iodium minyak ditambah CHCl 3 dengan tujuan untuk melarutkan minyak dan penambahan pereaksi hanus bertujuan untuk menghasilkan I 2. Sampel kemudian disimpan di tempat yang gelap dengan tujuan supaya I 2 yang dihasilkan tidak bereaksi dengan O 2 yang ada di udara. Uji titrasi ini dilakukan secara yodometri dimana pada akhir titrasi terjadi perubahan warna dari coklat ungu menjadi kuning. Hasil pengamatan sebelum dan sesudah dititrasi dapat dilihat pada Gambar 1V. 14. Sebelum titrasi Sesudah titrasi Gambar IV.14 Minyak sebelum dan sesudah titrasi pada uji bilangan iodium Dari Gambar IV.15 yang menunjukkan hasil terbesar adalah perendaman dengan kulit pisang halus 1,5 jam yaitu 33,6300. Hasil ini belum memenuhi standar SNI. Walaupun belum memenuhi SNI tetapi perendaman dengan kulit pisang menyebabkan terjadinya kenaikkan bilangan iodium dari 12,1800 menjadi 33,6300. Hasil tersebut bila dibandingkan dengan magnesol maka perendaman dengan kulit pisang jauh lebih bagus. Hal ini karena permukaan penyerapan lebih luas dan adanya aktivitas enzim pada kulit pisang. Kondisi di atas 1,5 jam minyak sudah mulai membeku, sehingga tidak efektif untuk penambahan ikatan rangkap oleh enzim. Kenaikkan bilangan iodium pada minyak jelantah yang direndam kulit pisang 41

14 Bilangan Iodium kemungkinan disebabkan adanya jenis enzim lyases yang dapat menambah dan mengurangi ikatan rangkap Kasar Segar Basah Halus Segar Basah Halus Kering Magnesol Lama Perendaman (Jam) Gambar IV.15 Bilangan iodium sampel A Pada Gambar IV.16 dapat dilihat hasil uji bilangan iodium untuk sampel B. Hasil yang diperoleh sama pada sampel B sama dengan sampel A. Nilai bilangan iodium yang tertinggi ditunjukkan oleh data yang perndaman kulit pisang halus basah pada saat 1,5 jam. Hal ini disebabkan oleh luas permukaan penyerapan kulit pisang halus basah, jika dilakukan perendaman di atas 1,5 jam maka minyak sudah mulai membeku dan aktivitas enzim menjadi berkurang. 42

15 Bilangan Iodium Kasar Segar Basah Halus Segar Basah Halus Kering Magnesol Lama Perendaman (Jam) Gambar IV.16 Bilangan iodium sampel B Massa kulit pisang divariasikan, maka hasil yang terbaik adalah pada saat perbandingan massa kulit pisang dengan dengan minyak 1:1. Pada saat perbandingan massa kulit pisang dengan minyak 3:5 terjadi penurunkan bilangan iodium hal ini kemungkinan disebabkan oleh perendaman yang tidak sempurna. Kemungkinan tidak semua kulit pisang terendam kedalam minyak. Hasil uji iodium selengkapnya dapat dilihat pada Gambar IV.17 sebagai berikut: 43

16 Bilangan Iodium Bilangan Iodium Massa Kulit Pisang Basah yang Dihaluskan (gram) Gambar IV.17 Bilangan iodium sampel B dengan variasi massa kulit pisang IV.7 Bilangan penyabunan Bilangan penyabunan adalah jumlah alkali yang dibutuhkan untuk menyabunkan sejumlah contoh minyak. Bilangan penyabunan dinyatakan dalam mg NaOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 g minyak. Minyak yang mempunyai berat molekul rendah akan mempunyai bilangan penyabunan yang lebih tinggi daripada minyak yang mempunyai yang mempunyai berat molekul tinggi. Dengan bilangan penyabunan dapat diketahui banyaknya komponen yang tidak tersabunkan. Adapun reaksi penyabunan dapat digambarkan seperti pada Gambar IV

17 O H 2 C - O - C - R O H 2 C - OH O HC - O - C - R + NaOH HC - OH + 3R - C - ONa H 2 C - O - C - R Trigliserida O H 2 C - OH Gliserol Asam lemak Gambar IV.18 Reaksi Penyabunan Semakin rendah dan semakin jenuh asam lemak di dalam minyak maka makin mudah minyak tersebut tersabunkan. Minyak yang ditambahkan NaOH beralkohol bertujuan untuk melarutkan minyak. Minyak dipanaskan dengan tujuan untuk mempercepat terjadinya penyabunan, karena dengan kenaikkan suhu berarti mengubah energi potensial menjadi energi kinetik. Alat dilengkapi pendingin tegak supaya uap yang dihasilkan tidak kelur dari erlenmeyer. Keluarnya uap tersebut dapat mengurangi ketelitian penentuan bilangan penyabunan. Percobaan uji penyabunan dapat dilihat pada Gambar IV.19. Gambar IV.19 Uji bilangan penyabunan 45

18 Bilangan Penyabunan Uji bilangan penyabunan pada sampel A diperoleh hasil yang terbaik adalah minyak yang direndam kulit pisang halus basah dengan waktu 1,5 jam. Hasilnya adalah 191. Hasil ini belum memenuhi standar SNI yaitu Walaupun belum memenuhi Standar SNI tetapi dengan perendaman kulit pisang terjadi penurunan dari 299 menjadi 191. Hasil bilangan penyabunan selengkapnya dapat dilihat pada Gambar IV Kasar Segar Basah Halus Segar Basah Halus Kering Magnesol Lama Perendaman (Jam) Gambar IV.20 Bilangan penyabunan sampel A Semakin pendek rantai karbon yang terdapat dalam minyak maka semakin sedikit NaOH beralkohol yang diperlukan untuk menyabunkannya, sehingga sisa NaOH semakin banyak. Sisa NaOH yang semakin banyak maka semakin banyak juga volume HCl yang dibutuhkan untuk menetralkannya, akibatnya bilangan penyabunan menjadi lebih tinggi. Rantai karbon pendek berarti bilangan penyabunan tinggi. Pada Gambar IV.21 sampel yang digunakan adalah sampel B. Hasil yang terbaik adalah saat perendaman dengan kulit pisang basah segar yang dihaluskan selama 1,5 jam. Hasil yang diperoleh adalah 199. Hasil tersebut telah memenuhi standar SNI. 46

19 Bilangan Penyabunan Hasil perndaman dengan kulit pisang halus basah lebih baik jika dibandingkan dengan perendaman menggunakan magnesol Kasar Segar Basah Halus Segar Basah Mentah Halus Kering 100 Magnesol Lama Perendaman (Jam) Gambar IV.21 Bilangan penyabunan sampel B Sampel B divariasikan massa kulit pisang halus basah, ternyata bilangan penyabunan yang diperoleh adalah 200. Hasil ini telah memenuhi SNI. Hasil ini diperoleh pada saat perendaman kulit pisang halus basah 1,5 jam dengan perbandingan massa minyak dan massa kulit pisang 1:1. Jika perendamannya dibandingkan dengan magnesol maka perendaman dengan kulit pisang halus basah diperoleh hasil yang lebih baik. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Gambar IV

20 Bilangan Penyabunan Bilangan Penyabunan Massa Kulit Pisang Halus (gram) Gambar IV.22 Bilangan penyabunan sampel B, variasi massa kulit pisang IV.8 Berat jenis Berat jenis adalah perbandingan berat dari suatu volume contoh pada suhu 25 o C dengan berat air pada volume dan suhu yang sama. Alat yang digunakan untuk penentuan ini adalah piknometer. Piknometer kosong ditimbang, lalu piknometer tersebut diisi minyak dan ditimbang. Piknometer yang diisi minyak dapat dilihat pada Gambar IV.23. Gambar IV.23 Penentuan berat jenis minyak dengan menggunakan piknometer 48

21 Berat Jenis (g/l) Sampel A diukur berat jenisnya, ternyata sampel yang memiliki berat jenis terendah adalah perendaman dengan menggunakan kulit pisang halus basah. Variasi waktu perendaman tidak memberikan pengaruh banyak terhadap berat jenis. Hasil yang diperoleh adalah 1,0500g/L. Hasil tersebut belum memenuhi standar SNI. Walaupun belum memenuhi SNI, perendaman dengan kulit pisang halus basah mengakibatkan terjadinya penurunan berat jenis dari 1,1500g/L menjadi 1,0500g/L Hasil perendaman secara keseluruhan dapat dilihat pada Gambar IV Kasar Segar Basah Halus Segar Basah Halus Kering Magnesol Lama Perendaman (Jam) Gambar IV.24 Berat jenis sampel A Hasil berat jenis yang terendah untuk sampel B adalah pada saat perendaman kulit pisang halus 9 jam. Hasil yang diperoleh adalah 1,0900g/L. Hasil ini belum memenuhi SNI. Walaupun belum memenuhi SNI tetapi dengan perendaman kulit pisang terjadi penurunan berat jenis. Hasil yang diperoleh dapat dilihat pada Gambar IV

22 Berat Jenis (g/l) Kasar Segar Basah Halus Segar Basah Halus Kering Magnesol Lama Perendaman (Jam) Gambar IV.25 Berat jenis sampel B Pada Gambar IV.26 divariasikan massa kulit pisang dengan waktu perendaman yang sama yaitu 1,5 jam. Hasil yang terendah adalah pada saat massa minyak dengan massa kulit pisang 1:1, hal ini disebabkan semua kulit pisang terendam minyak. Kemungkinan adsorbsi lebih banyak. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Gambar IV

23 Berat Jenis (g/l) Berat Jenis Massa Kulit Pisang Halus (gram) Gambar IV.26 Hubungan massa kulit pisang terhadap berat jenis (sampel B) IV.9. Kandungan ion logam Penentuan kandungan ion logam dalam minyak dilakukan dengan cara AAS. IV.9.1 Kandungan ion Zn Kandungan ion Zn yang terdapat dalam sampel A dan B adalah 0,7100mg/kg dan 0,5700mg/kg. Perendaman kulit pisang dapat menurunkan kandungan ion Zn yang terdapat dalam minyak. Kandungan ion Zn yang terendah diperoleh pada saat perendaman kulit pisang halus basah selama 1,5 jam. Hasil yang diperoleh adalah 0,1100 mg/kg. Hasil ini belum memenuhi standar SNI yaitu maksimal 0,0500 mg/kg. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran D Kandungan logam pada minyak dapat bersumber dari pengolahan dan pengemasan, serta wadah tempat memasak. Karena penggorengan yang digunakan adalah ketel yang terbuat dari stainless steel maka kandungan logam berat yang terdapat dalam minyak relatif kecil. Kandungan ion Zn yang terdapat dalam jumlah besar kemungkinan disebabkan dari wadah pengemasan yang terbuat dari kaleng yang komposisinya Zn. 51

24 IV.9.2 Kandungan ion Cu Kandungan ion Cu yng terdapat dalam sampel A dan B adalah 0,2200 dan 0,2100 Sampel baik A maupun B sebelum dilakukan perendaman dengan kulit pisang telah memenuhi SNI. Sampel A dan B setelah dilakukan perendaman dengan kulit pisang terjadi penurunan kandungan ion Cu. Hasil terendah diperoleh pada saat perendaman menggunakan kulit pisang halus basah selama 1,5 jam. Hasil yang diperoleh adalah 0,01mg/kg. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada lampiran Lampiran E IV.9.3 Kandungan ion Fe Kandungan ion Fe yang terdapat pada sampel A dan B adalah 3,5400 dan 2,6700. Perendaman dengan kulit pisang diperoleh hasil yang terendah yaitu pada saat perendaman 9 jam dengan menggunakan kulit pisang basah halus. Hasil yang diperoleh adalah 0,1100 mg/kg. Hasil ini telah memenuhi SNI. Semua jenis kulit pisang yang direndam minyak, baik kulit pisang halus basah, kasar basah, dan kulit pisang halus kering terjadi penurunan kandungan ion besi. Semua hasil yang diperoleh telah memenuhi SNI. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran F. IV.10 Titik leleh dan Titik didih Minyak Titik didih dan titik leleh minyak tidak terlalu berbeda antara minyak murni, minyak jelantah dan minyak yang diperlakuan dengan perendaman kulit pisang halus basah. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran H. IV.11 Uji Peroksida Uji peroksida untuk minyak yang dipertahankan supaya selalu dalam wujud cair ternyata untuk sampel A saat perendaman kulit pisang halus basah 1,5 jam masih terdapat peroksida yaitu 1,0577 Meg/kg. Perendaman diatas 2 jam tidak terdapat peroksida lagi. Sampel B pada saat perendaman 2 jam sudah tidak terdapat peroksida lagi. 52

25 IV.12 Analisis struktur IR Analsis struktur IR ternyata C = C diperoleh pada bilangan gelombang cm -1 (Silverstein dkk, 1991). Sampel minyak yang digunakan ada 5 yaitu minyak murni, minyak sampel A, minyak sampel A yang direndam kulit pisang halus selama 1,5 jam, sampel B, sampel B yang direndam kulit pisang halus selama 1,5 jam. Ke-5 sampel minyak tersebut terdapat puncak pada panjang gelombang tersebut. Berarti sampel minyak tersebut masih mengandung ikatan rangkap. Perendaman kulit pisang saat 1,5 jam tejadi kenaikkan puncak, hal ini kemungkinan disebabkan bertambahnya ikatan rangkap. Bertambahnya ikatan rangkap kemungkinan disebabkan oleh aktivitas enzim yang terdapat dalam kulit pisang. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran J 53

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ 20:1 berturut-turut BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 5. Reaksi Transesterifikasi Minyak Jelantah Persentase konversi metil ester dari minyak jelantah pada sampel MEJ 4:1, MEJ 5:1, MEJ 9:1, MEJ 10:1, MEJ 12:1, dan MEJ

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN. 1. Neraca Analitik Metter Toledo. 2. Oven pengering Celcius. 3. Botol Timbang Iwaki. 5. Erlenmayer Iwaki. 6.

BAB 3 METODE PENELITIAN. 1. Neraca Analitik Metter Toledo. 2. Oven pengering Celcius. 3. Botol Timbang Iwaki. 5. Erlenmayer Iwaki. 6. BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Alat alat 1. Neraca Analitik Metter Toledo 2. Oven pengering Celcius 3. Botol Timbang Iwaki 4. Desikator 5. Erlenmayer Iwaki 6. Buret Iwaki 7. Pipet Tetes 8. Erlenmayer Tutup

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lemak dan minyak adalah golongan dari lipida (latin yaitu lipos yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Lemak dan minyak adalah golongan dari lipida (latin yaitu lipos yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Minyak dan Lemak Lemak dan minyak adalah golongan dari lipida (latin yaitu lipos yang artinya lemak). Lipida larut dalam pelarut nonpolar dan tidak larut dalam air.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Minyak Goreng 1. Pengertian Minyak Goreng Minyak goreng adalah minyak yang berasal dari lemak tumbuhan atau hewan yang dimurnikan dan berbentuk cair dalam suhu kamar dan biasanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. minyak ikan paus, dan lain-lain (Wikipedia 2013).

BAB I PENDAHULUAN. minyak ikan paus, dan lain-lain (Wikipedia 2013). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Minyak merupakan trigliserida yang tersusun atas tiga unit asam lemak, berwujud cair pada suhu kamar (25 C) dan lebih banyak mengandung asam lemak tidak jenuh sehingga

Lebih terperinci

Pereaksi-pereaksi yang digunakan adalah kalium hidroksida 0,1 N, hidrogen

Pereaksi-pereaksi yang digunakan adalah kalium hidroksida 0,1 N, hidrogen Pereaksi-pereaksi yang digunakan adalah kalium hidroksida 0,1 N, hidrogen klorida encer, natrium tiosulfat 0,01 N, dan indikator amilum. Kalium hidroksida 0,1 N dibuat dengan melarutkan 6,8 g kalium hidroksida

Lebih terperinci

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN BAB VI HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Pengaruh Variabel Terhadap Warna Minyak Biji Nyamplung Tabel 9. Tabel hasil analisa warna minyak biji nyamplung Variabel Suhu (C o ) Warna 1 60 Hijau gelap 2 60 Hijau gelap

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan yang digunakan Kerupuk Udang. Pengujian ini adalah bertujuan untuk mengetahui kadar air dan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 11 sampai 28 November 2013

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 11 sampai 28 November 2013 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. WAKTU DAN TEMPAT 1. Waktu Penelitian ini dilakukan pada tanggal 11 sampai 28 November 2013 2. Tempat Laboratorium Patologi, Entomologi, & Mikrobiologi (PEM) Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

Lampiran 1. Diagram alir pembuatan sabun transparan

Lampiran 1. Diagram alir pembuatan sabun transparan LAMPIRAN Lampiran 1. Diagram alir pembuatan sabun transparan Lampiran 2. Formula sabun transparan pada penelitian pendahuluan Bahan I () II () III () IV () V () Asam sterarat 7 7 7 7 7 Minyak kelapa 20

Lebih terperinci

PENAMBAHAN BAWANG MERAH ( Allium ascalonicum ) UNTUK MENGHAMBAT LAJU PEMBENTUKAN PEROKSIDA DAN IODIUM PADA MINYAK CURAH

PENAMBAHAN BAWANG MERAH ( Allium ascalonicum ) UNTUK MENGHAMBAT LAJU PEMBENTUKAN PEROKSIDA DAN IODIUM PADA MINYAK CURAH PENAMBAHAN BAWANG MERAH ( Allium ascalonicum ) UNTUK MENGHAMBAT LAJU PEMBENTUKAN PEROKSIDA DAN IODIUM PADA MINYAK CURAH Korry Novitriani dan Nurjanah Prorogram Studi DIII Analis Kesehatan, STIKes Bakti

Lebih terperinci

G O N D O R U K E M 1. Ruang lingkup

G O N D O R U K E M 1. Ruang lingkup SNI 01-5009.12-2001 G O N D O R U K E M 1. Ruang lingkup Standar ini menetapkan istilah dan definisi, syarat mutu, cara uji, pengemasan dan penandaan gondorukem, sebagai pedoman pengujian gondorukem yang

Lebih terperinci

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C

Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI ) Kadar Air (%) = A B x 100% C LAMPIRAN Lampiran 1. Prosedur Karakterisasi Komposisi Kimia 1. Analisa Kadar Air (SNI 01-2891-1992) Sebanyak 1-2 g contoh ditimbang pada sebuah wadah timbang yang sudah diketahui bobotnya. Kemudian dikeringkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang lebih efektif dibandingkan karbohidrat dan protein. Satu gram minyak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang lebih efektif dibandingkan karbohidrat dan protein. Satu gram minyak BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Minyak Goreng 1. Minyak Goreng Segar Minyak merupakan zat makanan yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh manusia. Selain itu minyak juga merupakan sumber energi yang lebih

Lebih terperinci

BAB V METODOLOGI. Pada tahap ini, dilakukan pengupasan kulit biji dibersihkan, penghancuran biji karet kemudian

BAB V METODOLOGI. Pada tahap ini, dilakukan pengupasan kulit biji dibersihkan, penghancuran biji karet kemudian BAB V METODOLOGI Penelitian ini akan dilakukan 2 tahap, yaitu : Tahap I : Tahap perlakuan awal (pretreatment step) Pada tahap ini, dilakukan pengupasan kulit biji dibersihkan, penghancuran biji karet kemudian

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Hasil pengukuran bilangan peroksida sampel minyak kelapa sawit dan minyak kelapa yang telah dipanaskan dalam oven dan diukur pada selang waktu tertentu sampai 96 jam

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Bentonit diperoleh dari bentonit alam komersiil. Aktivasi bentonit kimia. Aktivasi secara kimia dilakukan dengan merendam bentonit dengan menggunakan larutan HCl 0,5 M yang bertujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kelapa (Cocos Nucifera Linn.) merupakan tanaman yang tumbuh di negara yang beriklim tropis. Indonesia merupakan produsen kelapa terbesar di dunia. Menurut Kementerian

Lebih terperinci

BAB V METODOLOGI. Gambar 6. Pembuatan Minyak wijen

BAB V METODOLOGI. Gambar 6. Pembuatan Minyak wijen 18 BAB V METODOLOGI 5.1 Pengujian Kinerja Alat Press Hidrolik 5.1.1 Prosedur Pembuatan Minyak Wijen Biji Wijen Pembersihan Biji Wijen Pengovenan Pengepresan Pemisahan Minyak biji wijen Bungkil biji wijen

Lebih terperinci

Pemanfaatan Limbah Debu Tanur Pembakaran Laterit Nikel (Raw Gas) Sebagai Adsorben Untuk Meningkatkan Mutu Minyak Kelapa Nohong *)

Pemanfaatan Limbah Debu Tanur Pembakaran Laterit Nikel (Raw Gas) Sebagai Adsorben Untuk Meningkatkan Mutu Minyak Kelapa Nohong *) Pemanfaatan Limbah Debu Tanur Pembakaran Laterit Nikel (Raw Gas) Sebagai Adsorben Untuk Meningkatkan Mutu Minyak Kelapa Nohong *) Ringkasan Telah dilakukan penelitian mengenai kemungkinan penggunaan debu

Lebih terperinci

Penurunan Bilangan Peroksida dengan kulit pisang kepok (Musa normalis L)

Penurunan Bilangan Peroksida dengan kulit pisang kepok (Musa normalis L) Penurunan Bilangan Peroksida dengan kulit pisang kepok (Musa normalis L), Hairunisa, Adhisty Kharisma Justicia, Andhika Akademi Farmasi YARSI Pontianak Email : ferdin.nay@gmail.com ABSTRAK Tujuan dari

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. diketahui kandungan airnya. Penetapan kadar air dapat dilakukan beberapa cara.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. diketahui kandungan airnya. Penetapan kadar air dapat dilakukan beberapa cara. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Kandungan air dalam suatu bahan perlu diketahui untuk menentukan zatzat gizi yang terkandung dalam bahan pangan tersebut. Kadar air dalam pangan dapat diketahui melakukan

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 14 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Pembuatan glukosamin hidroklorida (GlcN HCl) pada penelitian ini dilakukan melalui proses hidrolisis pada autoklaf bertekanan 1 atm. Berbeda dengan proses hidrolisis glukosamin

Lebih terperinci

BAB V METODOLOGI. 5.1 Alat yang digunakan: Tabel 3. Alat yang digunakan pada penelitian

BAB V METODOLOGI. 5.1 Alat yang digunakan: Tabel 3. Alat yang digunakan pada penelitian 14 BAB V METODOLOGI 5.1 Alat yang digunakan: Tabel 3. Alat yang digunakan pada penelitian No. Nama Alat Jumlah 1. Oven 1 2. Hydraulic Press 1 3. Kain saring 4 4. Wadah kacang kenari ketika di oven 1 5.

Lebih terperinci

PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (2013), Hal ISSN :

PRISMA FISIKA, Vol. I, No. 1 (2013), Hal ISSN : Pengaruh Suhu Aktivasi Terhadap Kualitas Karbon Aktif Berbahan Dasar Tempurung Kelapa Rosita Idrus, Boni Pahlanop Lapanporo, Yoga Satria Putra Program Studi Fisika, FMIPA, Universitas Tanjungpura, Pontianak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bahan dasar seperti kelapa sawit, kelapa, kedelai, jagung, dan lain-lain. Meski

BAB I PENDAHULUAN. bahan dasar seperti kelapa sawit, kelapa, kedelai, jagung, dan lain-lain. Meski BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Minyak goreng merupakan minyak nabati yang telah dimurnikan, dibuat dari bahan dasar seperti kelapa sawit, kelapa, kedelai, jagung, dan lain-lain. Meski dari bahan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1. Pengambilan dan Determinasi Bahan Pada penelitian ini digunakan bahan ikan teri galer (Stolephorus indicus Van Hasselt) yang diperoleh dari Pasar Induk Caringin Kabupaten

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS MUTU MINYAK GORENG

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS MUTU MINYAK GORENG LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS MUTU MINYAK GORENG (Minyak Goreng Sania setelah dua kali pemakaian) Kelompok 11 Henda Adiyat N (31111076) Sandi surya permana (31111099) Sinta Nurmayasari (31111100) PROGRAM

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. sawit kasar (CPO), sedangkan minyak yang diperoleh dari biji buah disebut

II. TINJAUAN PUSTAKA. sawit kasar (CPO), sedangkan minyak yang diperoleh dari biji buah disebut 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Minyak Kelapa Sawit Sumber minyak dari kelapa sawit ada dua, yaitu daging buah dan inti buah kelapa sawit. Minyak yang diperoleh dari daging buah disebut dengan minyak kelapa

Lebih terperinci

PENENTUAN KADAR CuSO 4. Dengan Titrasi Iodometri

PENENTUAN KADAR CuSO 4. Dengan Titrasi Iodometri PENENTUAN KADAR CuSO 4 Dengan Titrasi Iodometri 22 April 2014 NURUL MU NISAH AWALIYAH 1112016200008 Kelompok 2 : 1. Widya Kusumaningrum (111201620000) 2. Ipa Ida Rosita (1112016200007) 3. Ummu Kalsum A.L

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 7. Hasil Analisis Karakterisasi Arang Aktif

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 7. Hasil Analisis Karakterisasi Arang Aktif IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1 Hasil Analisis Karakterisasi Arang Aktif Hasil analisis karakterisasi arang dan arang aktif berdasarkan SNI 06-3730-1995 dapat dilihat pada Tabel 7. Contoh Tabel 7. Hasil

Lebih terperinci

PEMBUATAN DAN KUALITAS ARANG AKTIF DARI SERBUK GERGAJIAN KAYU JATI

PEMBUATAN DAN KUALITAS ARANG AKTIF DARI SERBUK GERGAJIAN KAYU JATI C7 PEMBUATAN DAN KUALITAS ARANG AKTIF DARI SERBUK GERGAJIAN KAYU JATI (Tectona grandis L.f) DAN TONGKOL JAGUNG (Zea mays LINN) SEBAGAI ADSORBEN MINYAK GORENG BEKAS (MINYAK JELANTAH) Oleh : J.P. Gentur

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PERSIAPAN BAHAN Bahan baku pada penelitian ini adalah buah kelapa segar yang masih utuh, buah kelapa terdiri dari serabut, tempurung, daging buah kelapa dan air kelapa. Sabut

Lebih terperinci

30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya.

30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya. 30 Soal Pilihan Berganda Olimpiade Kimia Tingkat Kabupaten/Kota 2011 Alternatif jawaban berwarna merah adalah kunci jawabannya. 1. Semua pernyataan berikut benar, kecuali: A. Energi kimia ialah energi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 39 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Bagan Alir Produksi Kerupuk Terfortifikasi Tepung Belut Bagan alir produksi kerupuk terfortifikasi tepung belut adalah sebagai berikut : Belut 3 Kg dibersihkan dari pengotornya

Lebih terperinci

Penggolongan minyak. Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri

Penggolongan minyak. Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri Penggolongan minyak Minyak mineral Minyak yang bisa dimakan Minyak atsiri Definisi Lemak adalah campuran trigliserida yang terdiri atas satu molekul gliserol yang berkaitan dengan tiga molekul asam lemak.

Lebih terperinci

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Materi 2.2 Sifat-sifat Materi

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Materi 2.2 Sifat-sifat Materi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Materi dan perubahannya merupakan objek kajian dari ilmu kimia. Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang materi dan perubahannya. Ilmu kimia juga merupakan ilmu

Lebih terperinci

TELUR ASIN PENDAHULUAN

TELUR ASIN PENDAHULUAN TELUR ASIN PENDAHULUAN Telur asin,merupakan telur itik olahan yang berkalsium tinggi. Selain itu juga mengandung hampir semua unsur gizi dan mineral. Oleh karena itu, telur asin baik dikonsumsi oleh bayi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENGUJIAN. Rempah UPT.Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Jl. STM

BAB III METODE PENGUJIAN. Rempah UPT.Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Jl. STM BAB III METODE PENGUJIAN 3.1 Tempat dan Waktu Pengujian Pengujian ini dilakukan di Laboratorium Minyak Nabati dan Rempah- Rempah UPT.Balai Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang (BPSMB) Jl. STM No. 17 Kampung

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Bahan Baku Karet Crepe

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Karakterisasi Bahan Baku Karet Crepe IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakterisasi Bahan Baku 4.1.2 Karet Crepe Lateks kebun yang digunakan berasal dari kebun percobaan Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Ciomas-Bogor. Lateks kebun merupakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dilakukan determinasi tanaman.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dilakukan determinasi tanaman. 49 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Determinasi Tanaman Bahan baku utama dalam pembuatan VC pada penelitian ini adalah buah kelapa tua dan buah nanas muda. Untuk mengetahui bahan baku

Lebih terperinci

Lampiran 1. Prosedur Analisis Karakteristik Pati Sagu. Kadar Abu (%) = (C A) x 100 % B

Lampiran 1. Prosedur Analisis Karakteristik Pati Sagu. Kadar Abu (%) = (C A) x 100 % B Lampiran 1. Prosedur Analisis Karakteristik Pati Sagu 1. Analisis Kadar Air (Apriyantono et al., 1989) Cawan Alumunium yang telah dikeringkan dan diketahui bobotnya diisi sebanyak 2 g contoh lalu ditimbang

Lebih terperinci

Penetapan kadar Cu dalam CuSO 4.5H 2 O

Penetapan kadar Cu dalam CuSO 4.5H 2 O Penetapan kadar Cu dalam CuSO 4.5H 2 O Dody H. Dwi Tiara Tanjung Laode F. Nidya Denaya Tembaga dalam bahasa latin yaitu Cuprum, dalam bahasa Inggris yaitu Copper adalah unsur kimia yang mempunyai simbol

Lebih terperinci

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT DI SUSUN OLEH : NAMA : IMENG NIM : ACC 109 011 KELOMPOK : 2 ( DUA ) HARI / TANGGAL : SABTU, 28 MEI 2011

Lebih terperinci

PEMURNIAN MINYAK GORENG BEKAS. Korry Novitriani M.Si Iin Intarsih A.Md.Ak. Program Studi D-III Analis Kesehatan STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmlaya

PEMURNIAN MINYAK GORENG BEKAS. Korry Novitriani M.Si Iin Intarsih A.Md.Ak. Program Studi D-III Analis Kesehatan STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmlaya PEMURNIAN MINYAK GORENG BEKAS Korry Novitriani M.Si Iin Intarsih A.Md.Ak Program Studi D-III Analis Kesehatan STIKes Bakti Tunas Husada Tasikmlaya Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada ABSTRAK Alternatif

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Asam Palmitat Asam palmitat adalah asam lemak jenuh rantai panjang yang terdapat dalam bentuk trigliserida pada minyak nabati maupun minyak hewani disamping juga asam lemak

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 DATA ANALISIS PRODUK SABUN PADAT TRANSPARAN. Tabel 9. Data Analisis Minyak Jelantah

LAMPIRAN 1 DATA ANALISIS PRODUK SABUN PADAT TRANSPARAN. Tabel 9. Data Analisis Minyak Jelantah LAMPIRAN 1 DATA ANALISIS PRODUK SABUN PADAT TRANSPARAN Tabel 9. Data Analisis Minyak Jelantah No. 1 2 3 4 Jenis Analisis Sebelum Pemurnian 0,9134 1,46143 1,0296 3,94 6 Density pada 30oC (gr/ml) Indeks

Lebih terperinci

Proses Pembuatan Biodiesel (Proses Trans-Esterifikasi)

Proses Pembuatan Biodiesel (Proses Trans-Esterifikasi) Proses Pembuatan Biodiesel (Proses TransEsterifikasi) Biodiesel dapat digunakan untuk bahan bakar mesin diesel, yang biasanya menggunakan minyak solar. seperti untuk pembangkit listrik, mesinmesin pabrik

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 BIDIESEL Biodiesel merupakan sumber bahan bakar alternatif pengganti solar yang terbuat dari minyak tumbuhan atau lemak hewan. Biodiesel bersifat ramah terhadap lingkungan karena

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Bahan Kimia Dan Peralatan. 3.1.1. Bahan Kimia. Minyak goreng bekas ini di dapatkan dari minyak hasil penggorengan rumah tangga (MGB 1), bekas warung tenda (MGB 2), dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial. Sampel yang digunakan berjumlah 24, dengan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sabun adalah senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sabun adalah senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sabun Sabun adalah senyawa garam dari asam-asam lemak tinggi, seperti natrium stearat, (C 17 H 35 COO Na+).Aksi pencucian dari sabun banyak dihasilkan melalui kekuatan pengemulsian

Lebih terperinci

A. PENETAPAN ANGKA ASAM, ANGKA PENYABUNAN DAN ANGKA IOD B. PENETAPAN KADAR TRIGLISERIDA METODE ENZIMATIK (GPO PAP)

A. PENETAPAN ANGKA ASAM, ANGKA PENYABUNAN DAN ANGKA IOD B. PENETAPAN KADAR TRIGLISERIDA METODE ENZIMATIK (GPO PAP) A. PENETAPAN ANGKA ASAM, ANGKA PENYABUNAN DAN ANGKA IOD B. PENETAPAN KADAR TRIGLISERIDA METODE ENZIMATIK (GPO PAP) DASAR TEORI Penggolongan lipida, dibagi golongan besar : 1. Lipid sederhana : lemak/ gliserida,

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN BERULANG MINYAK GORENG TERHADAP PENINGKATAN KADAR ASAM LEMAK BEBAS DENGAN METODE ALKALIMETRI

PENGARUH PENGGUNAAN BERULANG MINYAK GORENG TERHADAP PENINGKATAN KADAR ASAM LEMAK BEBAS DENGAN METODE ALKALIMETRI PENGARUH PENGGUNAAN BERULANG MINYAK GORENG TERHADAP PENINGKATAN KADAR ASAM LEMAK BEBAS DENGAN METODE ALKALIMETRI Afifa Ayu, Farida Rahmawati, Saifudin Zukhri INTISARI Makanan jajanan sudah menjadi bagian

Lebih terperinci

B. Struktur Umum dan Tatanama Lemak

B. Struktur Umum dan Tatanama Lemak A. Pengertian Lemak Lemak adalah ester dari gliserol dengan asam-asam lemak (asam karboksilat pada suku tinggi) dan dapat larut dalam pelarut organik non-polar, misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform

Lebih terperinci

r = pengulangan/replikasi 15 faktor nilai derajat kebebasan Penurunan bilangan peroksida pada minyak jelantah.

r = pengulangan/replikasi 15 faktor nilai derajat kebebasan Penurunan bilangan peroksida pada minyak jelantah. 23 Keterangan : t = perlakuan/treatment r = pengulangan/replikasi 15 faktor nilai derajat kebebasan D. Variabel Penelitian 1. Variabel Bebas (Independent) Variasi lama perendaman selama 2, 3, 4, 5, dan

Lebih terperinci

Penentuan Sifat Minyak dan Lemak. Angka penyabunan Angka Iod Angka Reichert-Meissl Angka ester Angka Polenske Titik cair BJ Indeks bias

Penentuan Sifat Minyak dan Lemak. Angka penyabunan Angka Iod Angka Reichert-Meissl Angka ester Angka Polenske Titik cair BJ Indeks bias ANALISA L I P I D A Penentuan Sifat Minyak dan Lemak Angka penyabunan Angka Iod Angka Reichert-Meissl Angka ester Angka Polenske Titik cair BJ Indeks bias Penentuan angka penyabunan - Banyaknya (mg) KOH

Lebih terperinci

Yijk=^ + ai + )3j + (ap)ij + Iijk. Dimana:

Yijk=^ + ai + )3j + (ap)ij + Iijk. Dimana: m. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini telah dilaksanakan di Laboratorium Analisis dan Pengolahan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Riau. Penelitian ini berlangsung

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. PENENTUAN PERBANDINGAN MASSA ALUMINIUM SILIKAT DAN MAGNESIUM SILIKAT Tahapan ini merupakan tahap pendahuluan dari penelitian ini, diawali dengan menentukan perbandingan massa

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.2 DATA HASIL ARANG TEMPURUNG KELAPA SETELAH DILAKUKAN AKTIVASI

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.2 DATA HASIL ARANG TEMPURUNG KELAPA SETELAH DILAKUKAN AKTIVASI 39 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 PENDAHULUAN Hasil eksperimen akan ditampilkan pada bab ini. Hasil eksperimen akan didiskusikan untuk mengetahui keoptimalan arang aktif tempurung kelapa lokal pada

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN A. BAHAN DAN ALAT Bahan-bahan dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah biji karet, dan bahan pembantu berupa metanol, HCl dan NaOH teknis. Selain bahan-bahan di atas,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sabun mandi padat sangat akrab dalam kehidupan sehari-hari. Sebagian besar masyarakat menggunakan sabun mandi padat untuk membersihkan badan. Hal ini karena sabun mandi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. coba untuk penentuan daya serap dari arang aktif. Sampel buatan adalah larutan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. coba untuk penentuan daya serap dari arang aktif. Sampel buatan adalah larutan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pembuatan Sampel Buatan Pada prosedur awal membuat sampel buatan yang digunakan sebagai uji coba untuk penentuan daya serap dari arang aktif. Sampel buatan adalah larutan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Lanjutan Nilai parameter. Baku mutu. sebelum perlakuan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Lanjutan Nilai parameter. Baku mutu. sebelum perlakuan dan kemudian ditimbang. Penimbangan dilakukan sampai diperoleh bobot konstan. Rumus untuk perhitungan TSS adalah sebagai berikut: TSS = bobot residu pada kertas saring volume contoh Pengukuran absorbans

Lebih terperinci

BAB V METODELOGI. 5.1 Pengujian Kinerja Alat. Produk yang dihasilkan dari alat pres hidrolik, dilakukan analisa kualitas hasil meliputi:

BAB V METODELOGI. 5.1 Pengujian Kinerja Alat. Produk yang dihasilkan dari alat pres hidrolik, dilakukan analisa kualitas hasil meliputi: BAB V METODELOGI 5.1 Pengujian Kinerja Alat Produk yang dihasilkan dari alat pres hidrolik, dilakukan analisa kualitas hasil meliputi: 1. Analisa Fisik: A. Volume B. Warna C. Kadar Air D. Rendemen E. Densitas

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 DATA HASIL PENELITIAN

LAMPIRAN 1 DATA HASIL PENELITIAN LAMPIRAN 1 DATA HASIL PENELITIAN L1.1 DATA HASIL ANALISIS BILANGAN ASAM MINYAK KELAPA Tabel L1.1 Data Hasil Analisis Bilangan Asam Kadar Flavonoid Total aktu Kontak (Hari) Volume KOH (ml) Bilangan Asam

Lebih terperinci

Laporan Tugas Akhir Pembuatan Sabun Mandi Padat Transparan dengan Penambahan Ekstrak Lidah Buaya (Aloe Vera) BAB III METODOLOGI

Laporan Tugas Akhir Pembuatan Sabun Mandi Padat Transparan dengan Penambahan Ekstrak Lidah Buaya (Aloe Vera) BAB III METODOLOGI BAB III METODOLOGI III. 1 Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembutan sabun transparan ialah : III.1.1 ALAT DAN BAHAN A. Alat : a. Kompor Pemanas b. Termometer 100 o C c.

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakteristik Minyak Kelapa Sawit Kasar Karakteristik awal minyak kelapa sawit kasar yang diukur adalah warna, kadar air dan kotoran, asam lemak bebas, bilangan yodium, kandungan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian, Jurusan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian, Jurusan 16 III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Analisis Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Hasil Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KARAKTERISASI MINYAK Sabun merupakan hasil reaksi penyabunan antara asam lemak dan NaOH. Asam lemak yang digunakan untuk membuat sabun transparan berasal dari tiga jenis minyak,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI A. Alat dan Bahan A.1Alat yang digunakan : - Timbangan - Blender - Panci perebus - Baskom - Gelas takar plastik - Pengaduk -

BAB III METODOLOGI A. Alat dan Bahan A.1Alat yang digunakan : - Timbangan - Blender - Panci perebus - Baskom - Gelas takar plastik - Pengaduk - digilib.uns.ac.id BAB III METODOLOGI A. Alat dan Bahan A.1Alat yang digunakan : - Timbangan - Blender - Panci perebus - Baskom - Gelas takar plastik - Pengaduk - Kompor gas - Sendok - Cetakan plastik A.2Bahan

Lebih terperinci

PENGARUH PERENDAMAN KULIT PISANG KEPOK (Musa paradisiaca, Linn) PADA MINYAK BEKAS MENGGORENG AYAM TERHADAP KUALITAS MINYAK TESIS

PENGARUH PERENDAMAN KULIT PISANG KEPOK (Musa paradisiaca, Linn) PADA MINYAK BEKAS MENGGORENG AYAM TERHADAP KUALITAS MINYAK TESIS PENGARUH PERENDAMAN KULIT PISANG KEPOK (Musa paradisiaca, Linn) PADA MINYAK BEKAS MENGGORENG AYAM TERHADAP KUALITAS MINYAK Karya tulis sebagai salah satu syarat Untuk memperoleh gelar Magister dari Institut

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 LOKASI PENELITIAN Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Analisa dan Laboratorium Proses Industri Kimia, Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Sumatera

Lebih terperinci

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan. IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Sintesis dan karaktrisasi garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O Garam rangkap CaCu(CH 3 COO) 4.6H 2 O telah diperoleh dari reaksi larutan kalsium asetat dengan

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN PRAKTIKUM KIMIA BAHAN MAKANAN Penentuan Asam Lemak Bebas, Angka Peroksida Suatu Minyak atau Lemak. Oleh : YOZA FITRIADI/A1F007010

LAPORAN PENELITIAN PRAKTIKUM KIMIA BAHAN MAKANAN Penentuan Asam Lemak Bebas, Angka Peroksida Suatu Minyak atau Lemak. Oleh : YOZA FITRIADI/A1F007010 LAPORAN PENELITIAN PRAKTIKUM KIMIA BAHAN MAKANAN Penentuan Asam Lemak Bebas, Angka Peroksida Suatu Minyak atau Lemak Oleh : YOZA FITRIADI/A1F007010 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS KEGURUAN DAN

Lebih terperinci

BAB III METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Minyak Atsiri dan Bahan

BAB III METODE. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Minyak Atsiri dan Bahan BAB III METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Minyak Atsiri dan Bahan Penyegar, Unit Pelayanan Terpadu Pengunjian dan Sertifikasi Mutu Barang (UPT. PSMB) Medan yang bertempat

Lebih terperinci

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan Pada penelitian ini, proses pembuatan monogliserida melibatkan reaksi gliserolisis trigliserida. Sumber dari trigliserida yang digunakan adalah minyak goreng sawit.

Lebih terperinci

KIMIA DASAR TEKNIK INDUSTRI UPNVYK C H R I S N A O C V A T I K A ( ) R I N I T H E R E S I A ( )

KIMIA DASAR TEKNIK INDUSTRI UPNVYK C H R I S N A O C V A T I K A ( ) R I N I T H E R E S I A ( ) KIMIA DASAR TEKNIK INDUSTRI UPNVYK C H R I S N A O C V A T I K A ( 1 2 2 1 5 0 1 1 3 ) R I N I T H E R E S I A ( 1 2 2 1 5 0 1 1 2 ) Menetukan Sistem Periodik Sifat-Sifat Periodik Unsur Sifat periodik

Lebih terperinci

METODOLOGI A. BAHAN DAN ALAT

METODOLOGI A. BAHAN DAN ALAT METODOLOGI A. BAHAN DAN ALAT Bahan yang digunakan adalah tepung tapioka, bumbu, air, whey, metilselulosa (MC), hidroksipropil metilselulosa (HPMC), minyak goreng baru, petroleum eter, asam asetat glasial,

Lebih terperinci

Hubungan koefisien dalam persamaan reaksi dengan hitungan

Hubungan koefisien dalam persamaan reaksi dengan hitungan STOIKIOMETRI Pengertian Stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia) Stoikiometri adalah hitungan kimia Hubungan

Lebih terperinci

Gun Gun Gumilar, Zackiyah, Gebi Dwiyanti, Heli Siti HM Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan Indinesia

Gun Gun Gumilar, Zackiyah, Gebi Dwiyanti, Heli Siti HM Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan Indinesia PENGARUH PEMANASAN TERHADAP PROFIL ASAM LEMAK TAK JENUH MINYAK BEKATUL Oleh: Gun Gun Gumilar, Zackiyah, Gebi Dwiyanti, Heli Siti HM Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA Universitas Pendidikan Indinesia Email:

Lebih terperinci

Kadar air % a b x 100% Keterangan : a = bobot awal contoh (gram) b = bobot akhir contoh (gram) w1 w2 w. Kadar abu

Kadar air % a b x 100% Keterangan : a = bobot awal contoh (gram) b = bobot akhir contoh (gram) w1 w2 w. Kadar abu 40 Lampiran 1. Prosedur analisis proksimat 1. Kadar air (AOAC 1995, 950.46) Cawan kosong yang bersih dikeringkan dalam oven selama 2 jam dengan suhu 105 o C dan didinginkan dalam desikator, kemudian ditimbang.

Lebih terperinci

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Minyak goreng bekas

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Minyak goreng bekas BABHI METODA PENELITIAN 3.1. Bahan dan Alat 3.1.1. Bahan-bahan yang digunakan Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah Minyak goreng bekas yang diperoleh dari salah satu rumah makan di Pekanbaru,

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Laboratorium Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara,

BAHAN DAN METODE. Laboratorium Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September-Oktober 2013 di Laboratorium Teknologi Pangan Fakultas Pertanian, Medan. Bahan Penelitian Bahan utama yang

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Penelitian penelitian pendahuluan dilakukan untuk mendapatkan jenis penstabil katalis (K 3 PO 4, Na 3 PO 4, KOOCCH 3, NaOOCCH 3 ) yang

Lebih terperinci

C3H5 (COOR)3 + 3 NaOH C3H5(OH)3 + 3 RCOONa

C3H5 (COOR)3 + 3 NaOH C3H5(OH)3 + 3 RCOONa A. Pengertian Sabun Sabun adalah garam alkali dari asam-asam lemak telah dikenal secara umum oleh masyarakat karena merupakan keperluan penting di dalam rumah tangga sebagai alat pembersih dan pencuci.

Lebih terperinci

BAB III ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi Kuantitatif

BAB III ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi Kuantitatif BAB III ALAT, BAHAN, DAN CARA KERJA Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi Kuantitatif Departemen Farmasi FMIPA UI, dalam kurun waktu Februari 2008 hingga Mei 2008. A. ALAT 1. Kromatografi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 17 IV HSIL N PMHSN 4.1 Pengamatan Secara Visual Pengamatan terhadap damar mata kucing dilakukan secara visual. Mutu damar mata kucing yang semakin tinggi umumnya memiliki warna yang semakin kuning bening

Lebih terperinci

4. Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan 4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Sintesis Polistiren Sintesis polistiren yang diinginkan pada penelitian ini adalah polistiren yang memiliki derajat polimerisasi (DPn) sebesar 500. Derajat polimerisasi ini

Lebih terperinci

4 Pembahasan Degumming

4 Pembahasan Degumming 4 Pembahasan Proses pengolahan biodiesel dari biji nyamplung hampir sama dengan pengolahan biodiesel dari minyak sawit, jarak pagar, dan jarak kepyar. Tetapi karena biji nyamplung mengandung zat ekstraktif

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakterisasi Minyak Jarak. B. Pembuatan Faktis Gelap

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Karakterisasi Minyak Jarak. B. Pembuatan Faktis Gelap IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Karakterisasi Minyak Jarak Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui karakteristik minyak jarak yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan faktis gelap. Karakterisasi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Keadaan Lokasi Pengambilan Sampel Sampel yang digunakan adalah sampel bermerek dan tidak bermerek yang diambil dibeberapa tempat pasar

Lebih terperinci

Lampiran 1. Pohon Industri Turunan Kelapa Sawit

Lampiran 1. Pohon Industri Turunan Kelapa Sawit LAMPIRAN Lampiran 1. Pohon Industri Turunan Kelapa Sawit 46 Lampiran 2. Diagram alir proses pembuatan Surfaktan Metil Ester Sulfonat (MES) Metil Ester Olein Gas SO 3 7% Sulfonasi Laju alir ME 100 ml/menit,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perak Nitrat Perak nitrat merupakan senyawa anorganik tidak berwarna, tidak berbau, kristal transparan dengan rumus kimia AgNO 3 dan mudah larut dalam alkohol, aseton dan air.

Lebih terperinci

TITRASI REDUKSI OKSIDASI OXIDATION- REDUCTION TITRATION

TITRASI REDUKSI OKSIDASI OXIDATION- REDUCTION TITRATION TITRASI REDUKSI OKSIDASI OXIDATION- REDUCTION TITRATION HERMAN, S.Pd., M.Si FARMASI UNMUL TITRASI REDUKSI OKSIDASI TITRASI REDUKSI OKSIDASI DEFINISI analisis titrimetri yang didasarkan pada reaksi reduksi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan dari bulan Nopember 2012 sampai Januari 2013. Lokasi penelitian di Laboratorium Riset dan Laboratorium Kimia Analitik

Lebih terperinci

1.Penentuan Kadar Air. Cara Pemanasan (Sudarmadji,1984). sebanyak 1-2 g dalam botol timbang yang telah diketahui beratnya.

1.Penentuan Kadar Air. Cara Pemanasan (Sudarmadji,1984). sebanyak 1-2 g dalam botol timbang yang telah diketahui beratnya. 57 Lampiran I. Prosedur Analisis Kimia 1.Penentuan Kadar Air. Cara Pemanasan (Sudarmadji,1984). Timbang contoh yang telah berupa serbuk atau bahan yang telah dihaluskan sebanyak 1-2 g dalam botol timbang

Lebih terperinci

PROSES PEMBUATAN SABUN CAIR DARI CAMPURAN MINYAK GORENG BEKAS DAN MINYAK KELAPA

PROSES PEMBUATAN SABUN CAIR DARI CAMPURAN MINYAK GORENG BEKAS DAN MINYAK KELAPA PROSES PEMBUATAN SABUN CAIR DARI CAMPURAN MINYAK GORENG BEKAS DAN MINYAK KELAPA A. Rasyidi Fachry *, Anggi Wahyuningsi, Yuni Eka Susanti *Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya Jln.

Lebih terperinci

UJIAN MASUK BERSAMA (UMB) Mata Pelajaran : Kimia Tanggal : 07 Juni 009 Kode Soal : 9. Penamaan yang tepat untuk : CH CH CH CH CH CH OH CH CH adalah A. -etil-5-metil-6-heksanol B.,5-dimetil-1-heptanol C.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau santan dalam sayur-sayuran. Minyak kelapa murni mengandung asam laurat

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. atau santan dalam sayur-sayuran. Minyak kelapa murni mengandung asam laurat BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Kelapa Murni Buah kelapa memilki cukup banyak manfaat, yaitu sebagai minyak makan atau santan dalam sayur-sayuran. Minyak kelapa murni mengandung asam laurat yang tinggi.

Lebih terperinci