KEBIJAKAN DESENTRALISASI DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF TEOR! EKONOMI KELEMBAGAAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KEBIJAKAN DESENTRALISASI DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF TEOR! EKONOMI KELEMBAGAAN"

Transkripsi

1 KEBIJAKAN DESENTRALISASI DI INDONESIA DALAM PERSPEKTIF TEOR! EKONOMI KELEMBAGAAN UNIVERSIT AS GADJAH MADA Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam IImu Ekonomi Universitas Gadjah Mada Diucapkan di depan Rapat Terbuka Majelis Guru Besar Universitas Gadjah Mada. pada tanggal 23 Desember 2010 di Yogyakarta Oleh: Prof. Wihana Kirana Jaya, M.Soc.Sc., Ph.D.

2 Bismillahirrahmanirrahim Yang terhormat, Ketua, Sekretaris, dan Anggota Majelis Wali Amanat, Ketua, Sekretaris, dan Anggota Majelis Guru Besar, Ketua, Sekretaris, dan Anggota Senat Akademik, Rektor, WakilRektor Senior, dan WakilRektor,. Para Dekan, WakilDekan, dan Ketua"Lembaga di Lingkungan UGM, Segenap Civitas Academica Universitas Gadjah Mada, Para hadirin dan tamu undangan yang saya hormqti dan muliakan, Assalamu 'alaikum Warahmatullahi Wa Barokatuh Salam sejahtera bagi kita semua dan,selamat pagi. Puji syukur saya panjatkan ke haffirat Allah SWT, karena atas. rahmat dan karunia-nya pada pagi hari ini maka saya dapat menyampaikan pidato pengukuhan GUru Besar Ilmu Ekonomi pada Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada.' Melalui mimbar yang sangat terhormat ini perkenankanlah saya akan menyampaikan pidato dengan judul: "Kebijakan Desentralisasi di Indonesia dalam Perspektif Teori Ekonomi Kelembagaan" Pendahuluan Suatu kebahagian yang tak terhingga untuk dapat berdiri di sini guna menyampaikan beberapa butir pemikiran kepada Sidang Majelis yang paling terhormat. Adapun yang ingin saya sampaikan di sini adalah menyangkut suatu masalah yang tidak hanya untuk kepentingan akademis namun juga untuk kepentingan para praktisi ataupun warga bangsa. ludul pidato ini saya pilih untuk menjelaskan peran teori ekonomi yang relatif baru dalam menjelaskan salah satu fenomena dan persoalan dalam kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia yang telah menjadi kepedulian dan kajian saya selama ini. Ketika hampir 32 tahun belajar dan mengajar di bidang

3 2 ilmu ekonomi, saya mengamati telah terjadi pergeseran paradigma (paradigm shift) ilmu ekonomi yang diikuti perdebatan pemilihan paham (mazhab) ilmu ekonomi untuk menjadi pilihan atau mainstreaming guna diterapkan sebagai kebijakan di Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, beberapa pemerintahan di seluruh dunia termasuk Indonesia telah melakukan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah. Hasil empiris menunjukkan bahwa kesuksesan desentralisasi dan otonomi daerah telah meningkatkan efisiensi dan e[ektivitas pelayanan sektor publik, dan telah berhasil mengakomodasi dari tekanan kekuatan-kekuatan politik. Sebaliknya, ketidaksuksesan desentralisasi dan otonomi daerah telah mengancam stabilitas ekonomi dan politik serta mengganggu penyediaan pelayanan publik (Bird and Vaillancourt, 1998; Ter-Minassian, 1997; World Bank, 2000; Shah, 2003). Berdasar pendapat tersebut, pidato ini akan menjelaskan hal-hal yang merupakan sebab-akibat kesuksesan dan ketidaksuksesan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia. Ketidaksuksesan tersebut misalnya berupa ketidakpastian aturan main (rules of the game) yang berakibat biaya ekonomi yang tinggi (high cost economy) dalam penyediaan pelayanan publik maupun pembangunan ekonomi daerah. Sejumlah studi di negara maju dan berkembang menunjukkan bahwa berlakunya undang-undang desentralisasi dan otonomi daerah telah mendorong dilaksanakannya akuntabilitas horizontal, namun juga menjadi peluang terjadinya saluran (chann.els)baru bagi praktik penyalahgunaan kekuasaan seperti korupsi, kolusi, nepotisme, politik uang (money politic), lobi-lobi (lobbying), suap (bribery) atau gratifikasi. Selain itu, salah satu risiko dari sistem desentralisasi dan otonomi daerah adalah kemungkinan terjadinya kontrol penuh oleh elit daerah (lihat misalnya, Bardhan and Mookherjee, 2002, Martinez- Vasquez dan Nab, 1997, Prud'Homme, 1995 dan Tanzi, 2000). Beberapa peneliti tersebut juga mengatakan bahwa ketidaksuksesan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah dikarenakan desain kelembagaan (institutions design) yang dibuat tidak efisien. Di'dalam mendukung pemyataa,n di atas, beberapa peneliti juga mengatakan bahwa inefisiensi kelembagaan merupakan penyebab. yang mendasar bagi adanya stagnasi ekonomi di beberapa negara berkembang dan juga negara industri masa lalu. Runtuhnya ekonomi

4 3 Uni Soviet, Asia Tengah dan Eropa Timur Tengah, Amerika Latin dan Kepulauan Karibia menunjukkan bukti hal ini (Burki dan Perry, 1998). Sumber-sumber utama inefisiensi kelembagaan di negara berkembang seperti korupsi, pemburu keuntungan pribadi (rentseeking), dan pengembalian aktivitas-aktivitas produksi yang tidak produktif secara langsung telah menyebabkan hilangnya kesejahteraan dan kerugian transaksi, serta menyebabkan dorongan nilai inflasi (cost push inflation). Bagaimana di Indonesia? Menurut pengamatan saya, kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia dimulai tahun 1974 sampai tahun 2010, merupakan suatu fenomena laboratorium penelitian ekonomi kelembagaan yang sangat dinamis, menarik dan menantang untuk diteliti. Karena kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah tersebut tidak hanya telah mengubah suatu aturan main yang sangat drastis (big bang changes), namun juga telah mengubah organisasi, perilaku pelaku dan sumberdaya manusia. Perubahan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah berupa perubahan pemerintahan yang dulunya pemerintah sangat otoriter telah berubah menjadi pemerintah yang sangat demokratik, yang dulunya pemerintah sangat sentralistik berubah menuju pemerintah yang desentralistik, namun perubahan aturan-aturan tersebut belum diikuti perubahan tata kelola (governance) yang baik. Hasil Survey Political and Economic Risk Consultancy (PERC) tahun 2010 menetapkan Indonesia sebagai negara terkorup dari 16 negara Asia Pasific. Di ASEAN pun Indonesia masih sebagai negara terkorup dengan nilai skor korupsi (8,32), disusul Thailand (7,11), Kamboja (7,25), Vietnam (7,11), Filipina (7,0), Malaysia dan Singapora (1,07). Pertanyaan-pertanyaan yang muncul adalah apakah desain kebijakannya desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia ada yang salah? Atau mindset perilaku pelaku pembuat kebijakan maupun pelaku penerima kebijakan belum berubah? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mendorong saya untuk melakukan pencarian alternatif teori ilmu ekonomi guna mendukung kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang cocok diterapkan di Indonesia. Di dalam pencarian alternatif pemikiran tersebut saya tidak saja terinspirasi pemikiran teori, kosep-konsep, dan pengetahuan (explicit knowledge) namun juga terinspirasi oleh pengetahuan dan

5 4 pengalaman para aktor pelaku desentralisasi dan otonomi daerah (tacit knowledge), misalnya diskusi-diskusi dengan para pejabat pemerintah daerah dari seluruh Indonesia, diskusi-diskusi dengan beberapa pejabat di Kementerian Dalam Negeri terutama Direktorat lenderal Bina Administrasi Keuangan Daerah, Direktorat lenderal Otonomi Daerah dan Kementerian Keuangan terutama Direktorat lenderal Perimbangan Keuangan Daerah. Selain itu, saya juga telah mendapatkan pertukaran informasi dengan para peneliti-peneliti asing ketika melakukan riset maupun pelatihan yang bekerja sarna dengan lembaga intemasional (World Bank, AUSAID, USAID, GTZ, CIDA, UNDP dan ADB) sejak tahun 2000 sampai sekarang. Pada kesempatan ini perkenankanlah saya mencoba menjawab pertanyaan tersebut yang mungkin dapat membantu kita mengenali permasalahan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang sedang dan akan kita hadapi di masa depan, sekalian memberikan sepercik pemikiran teori ekonomi kelembagaan baru. Pimpinan sidang dan para hadirin yang saya hormati.. Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah di Indonesia: Apakah Sudah Sesuai dengan Ekspektasi Teori? Menurut beberapa literatur teori desentralisasi, kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di negara berkembang termasuk Indonesia telah menggunakan tiga tipe teori desentralisasi yaitu desentralisasi politir:,desentralisasi administratif, dan desentralisasi fiskal (Litvack dan Seddon, 1999 dan Shah, 1998). Desentralisasi politik didefinisikan sebagai mekanisme yang mana pemerintah pusat memberikan kekuasaannya kepada pemerintah daerah, yang sering disebut' otonomi daerah. Desentralisasi administratif adalah penyerahan wewenang administratif dari pusat kepada pemerintah daerah. Ada tiga bentuk, yaitu dekonsentrasi, delegasi, dan devolusi. Dekonsentrasi adalah pemberian tanggung jawab pemerintah pusat untuk beberapa pelayanan kepada pemerintah daerahnya. Demikian pula delegasi dan devolusi berhubungan dengan perimbangan kepentingan pusat dan daerah. Desentralisasi fiskal merupakan. penambahan tanggung jawab keuangan dan kemampuan pemerintah daerah. Selain itu, tujuan dari kebijakan desentralisasi dan otonomi

6 5 daerah adalah menciptakan pemerintah daerah yang demokratis, transparan, meningkatkan kapasitas administrasi, dan lebih mandiri dan mampu di dalam pengelolaan fiskal. Dalam sebelas tahun terakhir ini kita telah menyaksikan suatu periode yang mana kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia banyak menghasilkan bukti positif maupun negatif. Selain memberikan dampak positif, kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia tidak hanya meningkatkan transparansi informasi namun juga telah memunculkan peluang dominasi kontrol elit lokal yang menghasilkan informasi yang tidak utuh (asymmetric information), yang pada gilirannya menimbulkan inefisiensi kelembagaan (institution inefficiency). Lemahnya pengawasan dan penegakan kelembagaan (lack of enforcement) merupakan hal yang krusial dalam hubungan pelaku desentralisasi dan otonomi daerah. Perubahan kelembagaan desentralisasi dan otonomi daerah telah mengakibatkan ketidakjelasan siapa yang menjadi pemberi kewenangan (principal) dan siapa yang diberi kewenangan atau yang mewakili (agent), sehingga terjadilah ketidakharmonisan kelembagaan serta menciptakan kemacetan (bottleneck) bagi terselenggaranya tata kelola yang baik (Jaya, 2005). Hasillaporan perkembangan opini laporan keuangan pemerintah daerah (Pemda) oleh Badan Pemeriksan Keuangan (BPK) tahun 2010 menunjukkan bahwa pada tahun 2009, dari 435 pemda di Indonesia baru 4% pemda yang memperoleh opini Wajar Tanpa Perkecualian (WTP), dan 72% pemda memperoleh Wajar Dengan Perkecualian (WDP) sedang sisanya 24% pemda memperoleh opini Tidak Memberikan Pendapat (TMP) atau disclaimer. Menurut BPK permasalahan pokok adalah rendahnya disiplin anggaran, daya serap rendah, rendahnya pertanggungjawaban atas kegiatan, penyimpangan, atas pengelolaan pendapatan dan belanja daerah dan rendahnya akuntabilitas pertanggungjawaban keuangan (BPK, 20 lo). Data Indonesia Corruption Watch (ICW) menunjukkan bahwa keuangan daerah penyumbangkerugian keuangan negara akibat korupsi yang terjadi dalam semester pertama tahun 2010 (ICW, 2010). Dari laporan ICW tersebut temyata oknum di parlemen (DPRD) dan kepala daerah masih rangking tertinggi melakukan tindakan yang terkait dengan korupsi di pemda.

7 6 Selain itu, kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah seperti dalam UU No. 32/2004 tentang Pemerintah Daerah, UU No: 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah, UU No. 29/2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah belum meningkatkan kekuatan fiskal (fiscal power) bagi pemerintah kabupaten dan kota, hal ini merryebabkan pemerintah daerah masih tergantung dana perimbangan dari pemerintah pusat. Pemerintah pusat masih mempertahankan pajak-pajak gemuk seperti pajak pendapatan, pajak nilai tambah dan pajak cukai. Dengan kata lain, kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah belum dapat mengurangi ketidakseimbangan fiskal secara vertikal (vertical fiscal imbalances). Selain itu, sistem kebijakan desentralisasi dan. otonomi daerah yang uniform atau simetris (symmetrical decentralization) di. Indonesia juga telah menyebabkan ketidakseimbangan fiskal secara horizontal (horizontal fiscal imbalances), terutama Indonesia bagian barat dan timur, Jawa dan luar Jawa, kota dan pedesaan (Jaya, 2000). Dari perspektif sejarah proses kebijakan desentralisasi di Indonesia sejak jaman kolonial sampai sekarang sebagai sebuah pola 'zigzag' antara desentralisasi' dan sentralisasi. Perubahan radikal kebijakan desentralisasi di Indonesia merupakan tinjauan ulang pengalaman pemerintah kolonial Belanda terhadap Undang-Undang Desentralisasi Desentralisasi sederhana dalam periode kolonial terakhir menjadi dasar Republik Federal dalam Negara Federal Indonesia, tetapi segera sesudah kemerdekaan Republik disusun kembali sebagai sebuah negara. kesatuan. Tingkat sentralisasi mencapai puncaknya di bawah pemerintahan Orde Baru Presiden Soeharto, dan akhimya memicu sebuah 'krisis' dalam hubungan pusat-daerah, sehingga diperkenalkannya undang-undang baru tentang kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah tahun 1999 (Jaya dan Dick, 2001). Undang-Undang Desentralisasi dan Otonomi Daerah tahun 1999juga telah menyebabkan perubahan kekuasaan (locus of power) dari eksekutif ke legislatif, dari pemerintah pusat ke pemerintah kabupaten dan kota, dan juga memicu krisis dalam hubungan kepala daerah dan legislatif, dan hubungan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten dan kota. Akhimya untuk mengatasi krisis tersebut, l'~merintah pusat pada tahun 2004 memperkenalkan lagi undang yndang desentralisasi dan otonomi daerah yang baru.

8 .Dari pembahasan sebelumnya,palingtidak ada beberapafaktafakta yang telah menunjukkan pada kita bahwa kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia selama ini bel).lm.. 'secara pemihmeinenuhi ekspektasi teori;'misalnya masih terjadinya praktek-praktek abuse of power oleh beberapa elite daerah seperti oknum legislatif, eksekutif dan pengusaha,' aturan main yang zigzag atau diskontinyu dan belum meningkatkanfiscal power kabupaten dan kota. 7 Pimpinan sidang dan para hadirin yang saya hormati Teori Ekonomi Kelembagaan Baru (New Institutional Economic): Kenapa Penting? Akhir-akhir ini perdebatan pemikiran ekonomi yang mainstream dan non-mainstream kembali menarik. Salah satunya adalah perdebatan ilmu ekonomi kelembagaan lama (Old Institutional Economics atau OIE), Ekonomi Neo Klasik (Neo Clasical Economics atau NCE) dan Ekonomi Kelembagaan Baru (New Institutional Economics. atau NIE). Perdebatan muncul sejak pemberian hadiah nobel ekonomi kepada Ronald Coase pada tahun 1991 dengan tulisannya yang berjudul 'The Nature of The Firm' (1937) dan 'The Problem of Social Cost' (1960), Douglas C. North pada tahun 1993 dengan isu-isu Kelembagaan dan Komitmen yang Kredibel (Institutions and Commitment Credibility), sampai dengan dianugerahkannya hadiah nobel di bidang ekonomi tahun 2009, kepada Elinor Ostrom dalam analisis Ekonomi Tata Kelola, terutama Kepentingan Umum (Economic Governance, especially Commons) dan Oliver E. Williamson dalam analisis Ekonomi Tata Kelola terutama Batasan Perusahaan (Economic Governance, especially Boundaries of the Firm). Perdebatan kembali semakin meningkat setelah adanya krisis keuangan global yang dimulai di Amerika Serikat di tahun 2007 sampai krisis Yunani Para ekonom saling menyalahkan, mengkritisi, dan berusaha untuk memodifikasi antar mazhab ilmu ekonomi yang satu dengan mazhab ekonomi lainnya. Teori OIE merupakan cabang ilmu ekonomi yang tidak memiliki teori dasar ekonomi orthodoks, ekonomi klasik ataupun

9 8 neo-klasik. Mereka menentang pemikiran neo-klasikal karena dianggap tidak memasukkan sisi-sisi humanistic dalam pendekatannya (Haris et al., 1995 dan North, 1990). Mereka mengatakan bahwa teori OlE bukan lembaga secara fisik melainkan perilaku ekonomi yang didorong oleh pertimbangan dan perasaan yang secara umum berlaku dalam keadaan dan waktu tertentu. Sedangkan teori NCE masih mendominasi sebagai mainstream pemikiran ekonomi yang masih menekankan kepada mekanisme pasar. NCE dibangun dengan pendekatan teori dan banyak menggunakan asumsi-asumsi. Asumsi tersebut antara lain adanya informasi yang sempuma (perfect information) yang didapatkan oleh pelaku ekonomi dan tidak adanya biaya transaksi (zero transaction cost). Asumsi lain yang digunakan NCE adalah lingkungan yang kompetitif yang dihadapi oleh pelaku ekonomi, atau persaingan sangat sempuma (perfect competition). NCE juga menganggap setiap pelaku menghadapi situasi yang sama (stagnan rational behaviour) dan mereka bebas keluar masuk pasar (Furubotn and Richter, 1993 dan North, 1990). Teori NIE hadir karena mampu membuka kotak hitam (black box) dari lemahnya aplikasf penggunaan teori NCE di dalam memecahkan persoalan persoalan ekonomi dalam dunia nyata. NIE menggambarkan adanya ketidaksempumaan informasi dan adanya biaya transaksi. Setiap pelaku ekonomi tidak dapat secara bebas keluar masuk dalam pasar karena tidak semua pelaku memiliki informasi yang sama. Informasi yang tidak sempuma menimbulkan konsekuensi biaya transaksi (transaction cost). Semakin informasi tidak sempuma (adanya asymmetric information) semakin tinggi biaya transaksi yang dikeluarkan pelaku ekonomi. Dalam pandangan NIE perlu adanya usaha-usaha untuk meminimalkan biaya transaksi. Ada tiga alasan yang mendasari pentingnya peran NIE yaitu NIE merupakan suatu teori yang muncul dengan kerangka NCE, tetapi menawarkanjawaban untuk menyempumakan dan mengembangkan teori tersebut. Kedua, NIE penting dalam konteks kebijakan ekonomi tahun 1990an karena NIE menentang dominasi peran pasar oleh kaum orthodoks NCE. Ketiga, NIE penting karena merupakan teori yang dibangun dengan menyesuaikan perubahan institusi dalam kaitannya untuk. meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Furubotn and Richter, 1993 dan Harris, et ai, 1995).

10 9 Perdebatan ketiga teori OIE, NCE dan NIE semakin menjadi menarik apabila dilihat dari pai-adigmametodologipenelitian yang. dipeq~unakan (Creswel~, 2003; Darlinton and Scott, 2002; Hussey.' and- Hussey, 1997). Selama sepuluh tahun mengamati -hasil~hasil penelitian ketiga teori OIE, NCE dan NIE, paradigma metodologi perielitian teori OIE lebih cenderung fenomenologis dicirikan dengan sampel kecil, studi kasus, induktif, observasi langsung, kualitatif dan bertujuan ingin memodifikasi teori daripada menguji teori. Sedang paradigma metodologi penelitiannya NCE cenderung positivis yang dicirikan dengan sampel besar, deduktif, kuantitatif, modeling, dan bertujuan untuk menguji hipotesa. Berbeda dengan OIE dan NCE, paradigma metodologi penelitian NIE cenderung campuran antara positivis dan fenomenologis, yang dicirikan dengan penggabungan metodologi kuantitatif dan kualitatif, dan menggunakan trianggulasi konsep, metodologi dan data. Dari perdebatan ketiga teori di atas, saya yakin teori NIE lebih cocok untuk dipakai sebagai paradigma teori baru perumusan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia; karena pendekatan NIE lebih bersifat demokratis, holistik, penggabungan pasar dan non pasar, formal dan informal, dan lebih sesuai dengan fenomena keberagaman ekonomi, budaya, agama, sosial dan penduduk di Indonesia. Para hadirin yang kami hormati Kontribusi Pemikiran Ekonomi Kelembagaan Baru terhadap Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah di Indonesia Menurut nobelis ekonorni North (1990), kelernbagaan adalah aturan-aturan formal (formal rules) dan aturan informal (informal rules) beserta aturan-aturan penegakannya (enforcerment rules). Sedangkan organisasi adalah sekelornpok orang (players) yang rnernpunyai tujuan dan motif yang sarna. Organisasi dan individu rnencapai kepentingan rnereka di dalam sebuah struktur kelembagaan berupa aturan-aturan formal (hukum, peraturan, kontrak, hukurn konstitusional) dan aturan-aturan informal (etika, kepercayaan, dan norma-norma yang tidak tertulis lainnya). Organisasi kemudian

11 10 memiliki aturan-aturan internal untuk rnenangani permasalahan. personalia, anggaran, pengadaandah'. proseduf pefaporan, yang membatasi perilaku anggota mereka. Depgan demikian, kelembagaan merupakal1struktut insentif (pendotong) bagi periiaku organisasidan individu. Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia dari tahun 1974, 1999 dan tahun 2004 merui:>akanperubahan kelembagaan dan organisasi yang drastis (institutional change), karena telah mengubah regulasi (formal rules) dan organisasi, perilaku para pelaku dan pola-pola pertukaran kewenangan (exchange). Nobelis ekonomi lainnya, Williamson pada tahun 2000, mengemukakan bahwa kelembagaan terbagi ke dalam empat level yang saling berhubungan timbal balik. Dimulai dengan level I yaitu teori sosial (social theory) yang merupakan aturan informal yang telah melekat dalam masyarakat, seperti tradisi, norma, adat, dan konvensi. Level II menekankan ekonomi kepemilikan (economics of property right) yang terdiri dari aturan main (hukum), politik, lembaga hukum, dan birokrasi. Level III menekankan biaya transaksi (transaction cost. economics). Level IV menekankan efisiensi'sumber daya dan struktur insentif. Pertanyaannya adalah bagaimana analisis keempat level dari model Williamson dipergunakan untuk menganalisis kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia? Pada bagian s«lanjutnya, saya akan menggunakan konsep North (1990) dan Williamson (2000) untuk menganalisis kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia. Hasil temuan analisis saya adalah sebagai berikut: Pertama, aturan informal, yang merupakan tradisi, norma, adat, agama, kebiasaan baik yang bersifat produktif maupun tidak produktif, belum kompatibel mendukung aturan formal. Budaya primordialisme, patron-klien, raja-raja kecil, pangreh praja, upeti, adalah budaya informal yang melekat (embededness) sebagai mindset perilaku pelaku desentralisasi menciptakan biaya tinggi. Selain itu, administrasi Indonesia telah dipengaruhi oleh konsep tradisional Jawa dalam kekuasaan dan hirarki, yang menekankan sentralisasi kekuasaan, perilaku patrimonial, primordialism, patron-client dan pembuatan keputusan top-down (Rohdewohld, 1995). Namun budaya. awig awig, bendesa adat dan sanksi adat pada Lembaga Perkreditan

12 11 Desa (LPD) di Bali, gugur gunung, aturan shariah pada Lumbung Pitih Nagari, qanum di Aceh yang merupakan "kebijaksanaan lokal" atau local wisdom yang kompatibel dengan aturan formal yang dapat memperkuat desentralisasi dan otonomi daerah (lihat juga Arsyad, 2007). Kedua, hak kepemilikan (property rights) kewenangan belum jelas dalam kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia. Sistem aturan kewenangan (system of rules) yang terdapat dalam UU No. 32/2004 serta diperjelas dalam Peraturan Pemerintah No. 38/2007 pembagian kewenangan belum memberikan fungsi yang jelas (lack clarity of function). Sistem kewenangan dibagi seca1"ahirarkhi, yang mana kewenangan pusat adalah mengurusi moneter, perdagangan, agama, pertahanan dan militer, sedang kewenangan lainnya dibagi antara pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten dan kota berdasarkan akuntabilitas, efisiensi dan dampak ekstemalitas. Ketidakjelasan terjadi baik secara vertikal maupun secara horizontal, menyebabkan ketidakjelasan hak kepemilikan pemerintah pusat, provinsi dan daerah, ketidakjelasan kontrak hubungan hak kepemilikan. Selain itu, masih terjadi ego sektoral dan multitafsir kepemilikan kewenangan kementerian dan kelembagaan di tingkat pusat, yang juga berakibat multitafsir kepemilikan kewenangan di tingkat daerah provinsi maupun kabupaten dan kota. Selain itu ada ketidakjelasan pemilikan formal dengan informal seperti hak kepemilikan adat, tradisi seperti dalam kasus pertanahan; perkebunan, kehutanan dan pertambangan. Apalagi ketidakjelasan pembagian kewenangan juga sebagai akibat keterlambatan kementerian dan lembaga di pemerintah pusat menyiapkan Norma Standar Prosedur dan Kriteria (NSPK) (Jaya, 2009). Ketiga, rasionalitas yang terbatas (bounded rationality) dan perilaku yang oportunis (opportunistic behaviour) telah meningkatkan biaya transaksi ekonomi (transaction cost economics). Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah telah menggeser pola penyalahgunaan kekuasaan "abuse of power" yaitu pola monopoli dan diskresi minus akuntabilitas oleh segelintir oknum di lembaga trias politika yaitu eksekutif, legislatif dan yudikatif. Kontrak-kontrak hubungan transaksi antarpelaku desentralisasi belum lengkap

13 12 (incomplete contract). Selain itu, transaksi-transaksi oportunis, infonnal, ilegal, baik yang dilakukan oleh oknum kepala daerah, dewan perwakilan daerah ataupun oknum lembaga penegak hukum semakin meningkat. Hal ini dikarenakan lemahnya transparansi infonnasi, akuntabilitas dan minimnya mekanisme kontrol (check and balances) dari masyarakat (civil society). Keempat, konstruksi model mental (mental model) para pelaku desentralisasi dan otonomi daerah belum berubah. PerilakU birokrasi masih ingin dilayani (pangrehpraja) daripada ingin melayani masyarakat (pamongpraja). Selain itu, perubahan kelembagaan desentralisasi telah menghasilkan kelompok yang menang (winner) dan kelompok yang kalah (fosser). Kelompok incumbent yang kalah akan mempertahankan status quo saat memimpin dengan cara melawan kembali (revenge). Tarik-menarik kekuatan dari kelompok yang kalah menyebabkan aturan main desentralisasi menjadi limbung, tidak jelas, sehingga menciptakan biaya transaksi ekonomi, apalagi ditambah dengan perilaku aji mumpung (moral hazards) daripara pelaku elit desentralisasi. Selain itu, perilaku elit daerah yang oportunis sering menempatkan sumberdaya manusia berdasarkan kelompok, keluarga, dan tim sukses pilkada yang tidak sesuai dengan keahlian dan kompetensinya. Kelima, perspektif teori ekonomi mikro, kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah belum memanfaatkan prinsipprinsip ekonomi, seperti skala ekonomi, cakupan ekonomi, komplementaritas, dan ekstemalitas jejaring matriks kelembagaan. Belanja publik dan belanja modal masih belum menunjukkan skala ekonomis (economic of scale). Atau dengan kata lain belanja rata-rata jangka panjangmeningkat terus yang tidak diikuti dengan kenaikan output pelayanan publik (diseconomies of scale). Selain itu pemerintah daerah helum memanfaatkan kerjasama antardaerah dengan prinsip kerjasama biaya (economic of scope) dan prinsip saling melengkapi (complementarity) guna menciptakan pelayanan publik yang efisiendan akibatpenanggulangandampakekstemalitasnegatif.. Cara pandang (mindset) pelaku desentralisasi masih sangat terbatas. dan dipengaruhi kebiasaan-kebiasaan masa lalu yang turun temurun (path dependent).

14 13 Keenam, pergeseran pertanggungjawaban secara vertikal (vertical accountability) menuju pertanggungjawaban horizontal (horizontal accountability) dan kembali lagi ke pertanggungjawaban vertikal telah membuat ketidakjelasan hubungan principal-agent. Jalur akuntabilitas hubungan mulai dari pemilih partai atau rakyat (voters) sebagai principal dan DPRD sebagai agent ini tidak jelas aturannya, tidak ada kontrak kinerja, dan tidak ada mekanisme kontrol dan insentif (reward and punishment). Voters mempunyai keterbatasan informasi (bounded rationality) memilih anggota DPRD dan Partai, dan dengan keterbatasan pengawasan bagi DPRD dapat dimanfaatkan oknum DPRD untuk melakukan perilaku aji mumpung (opportunistic behaviour). Jalur akuntabilitas hubungan antara DPRD dengan eksekutif juga lemah, siapa menjadi principal dan siapa menjadi agent, dan siapa menjadi lembaga pengawas. Kondisi ini dimanfaatkan para pelaku dengan melakukan kesepakatankesepakatan kedua belah pihak yang tidak menguntungkan kepentingan publik. Jalur akuntabilitas yang terakhir juga lemah antara hubungan voters atau rakyat sebagai principal dan pemerintah daerah sebagai agent. Ketujuh, kerangka kelembagaan (institutions framework) dari kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah tidak optimal membentuk struktur insentif untuk mendikte ketrampilan dan pengetahuan sumberdaya, maupun organisasi yang dianggap memiliki pertukaran hasil yang paling maksimum (maximum pay-ofj). Desain kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia kurang komplit, tidak ada pemilikan kewenangan yang jelas, kontrak kinerja, tidak ada sistem meritokrasi, serta tidak adanya sertifikasi jabatan fungsional bagi pelaku pengelola keuangan daerah, maka dapat dikatakan bahwa kerangka kelembagaan desentralisasi belum menghasilkan hasil atau outcomes yang maksimal. Lingkungan yang tidak kompetitif belum mendorong organisasi untuk melakukan investasi ketrampilan dan pengetahuan, dan belum membentuk persepsi merubah kelembagaan menjadi lebih efisien dan efektif. Kedelapan, UU No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan peraturan pemerintah atau PP No. 41 (2007) dan Permendagri 57 tahun 2007 tentang Organisasi Daerah masih bemuansa sentralistik.

15 14 Organisasi daerah atau Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) masih bersifat komando (command) dan kontro1 (control), dan bersifat. kehendak dari pusat (top-down). Organisasi dibentuk berdasarkan kewenangan, jum1ah penduduk, 1uas wi1ayah dan jum1ah APBD. Organisasi tidak diciptakan berbasis kompetensi, kehendak dari bawah (bottom up) yang berdasarkan persepsi ketrampilan sumberdaya manusianya, kondisi tata ruang dan potensi ekonomi daerah masingmasmg. Selain masih banyak bukti positif yang bisa ditemukan sebagai hasil dari kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah, namun dari gambaran di atas temyata masih menyisakan beberapa kompleksitas permasalahan seperti ketidakjelasan aturan kepemilikan kewenangan (institutional environment) dan ketidakjelasan tata kelola (institutional governance) seperti ketidakjelasan kontrak-kontrak hubungan kewenangan politik, administratif dan fiskal, ketidakjelasan hubungan principal-agent dan ketidakjelasan struktu.r insentif dan lemahnya kontrol dan penegakan dari.masyarakat (civil society) dan pada akhimya menyebabkan meningkatkan biaya-biaya transaksi ekonomi. Para hadirin yang saya hormati, Desain Kebijakan Desentralisasi dan Otonomi Daerah Masa Depan Pada bagian ini saya ingin menyampaikan beberapa pemikiranpemikiran pada tataran konsep dan praksis. Desain ekonomi kelembagaan yang efisien perlu dilakukan pada kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia masa datang. Desain kelembagaan yang efisien yang dimaksud adalah desain yang tidak hanya yang pro pasar (market) namun juga pro kebijaksanaan l.okal (local wisdom). Pergeseran paradigma (paradigm shift) pemerintahan dari abad ke-20 (yang bersifat kesatuan, sentralistik, birokratik, terpimpin dan terkendali, risk-intolerant, tertutup dan lamban, tergantung) ke abad ke-21 (yang bersifat federasi/konfederasi, partisipatif, mengglobal dan melokal, partisipatif, responsif dan akuntabel, risk-tolerant, terbuka

16 15 dan cepat, kompetitif) telah mempengaruhi perubahan. sistel1). kelembagaan desentralisasi dan otonomi daerah. di fudonesia. Secara teori, Indonesia membutuhkan suatu sistem ekonomi kelembagaan baru yang kuat, mensyaratkan keselarasan seperangkat aturan formal dan informal beserta penegaknya yang menciptakan struktur mekanisme insentif hubungan antarindividu dan organisasi baik di tingkat pusat, maupun di daerah guna menurunkan biaya transaksi. Keyakinan saya menunjukkan bahwa perlu langkah-iangkah penataan kelembagaan formal dan informal yang efisiensi di da1am membuat kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah masa depan di fudonesia sebagai beikut: Langkah pertama, menselaraskan kelembagaan level makro (institutional environment) yang efisien, yaitu harmonisasi aturan formal UU No. 32/2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 33/2004 tentang Perimbangan Keuangan Daerah, UU No.25/2004 tentang Perencanaan Daerah, UU No tentang Perbendaharaan Negara, UU No.17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara, UU No.15 tahun 2004 tentang Pengawasan Pengelolaan Keuangan Negara dan seperangkat aturan informal. Pendelegasian kewenangan kepada pemerintah yang dekat dengan rakyat. Kebijaksanaan lokal atau modal sosial seperti; jejaring sosial, rembug desa, sanksi adat, norma, kesepakatan, agama yang dulunya terpisah dengan kerangka kerja hukum atau aturan formal (de-coupling institutions) harus dimasukkan ke dalam aturan formal coupling institutions, misal ke dalam peraturan daerah masing-masing. Langkah kedua, memperbaiki level mikro yaitu tata kelola kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah (institutional governance). Perbaikan kapasitas profesional antarbirokrat, sistem manajemen, dan infrastruktur, teknologi, sumberdaya menjadi signifikan untuk menentukan keberhasilan desentralisasi dan otonomi daerah. Elemen-elemen pendukung lainnya yang harus dipertimbangkan dalam penyusunan strategi langkah ini berupa: (i) restrukturisasi organisasi dan sumber daya manusia berbasis kompetensi yang berorientasi pada pelayanan publik, (ii) kebijakan keuangan yang berorientasi pasar dan nonpasar (local wisdom), (iii) terciptanya mekanisme check and balances melalui civil society

17 16 me1a1ui penguatan asosiasi, organisasi profesi, dan LSM, (iv) pengga1angan kontrak kerjasama antardaerah dan swasta da1am penyediaan pelayanan publik, (v) peningkatan pengawasan dan koordinasi bertingkat dari pemerintah pusat terhadap pemerintah provinsi, dan dari pemerintah provinsi terhadap pemerintah kabupatenlkota (Jaya dan Adji, 2008). Langkah ketiga, perbaikan mekanisme insentif seperti: policyrelated incentives, market-based incentives dan institution mechanism (Fauzi, 2010). Insentif kebijakan diharapkan dapat memberikan stimulus para pelaku desentralisasi dan otonomi daerah, melalui instrumen fiskal seperti dana insentif reboisasi, tata kelola APBD, tax holiday, dan insentif kontrak kinerja lainnya. Selain itu, kebijakan insentif yang didasarkan pada mekanisme pasar diperlukan untuk menghindari para pelaku desentralisasi danotonomi daerah melakukan abuse of power. Insentif upah atau honor tersebut harus berdasarkan kontrak indikator kinerja. Selain kedua kebijakan di atas, mekanisme kelembagaan diperlukan. untuk mengatur dan mengendalikan kesepakatan-kesepakatan formal dan informal yang disepakati mengenai bagaimana kebijakandesentralisasi dan otonomi daerah dikelola. Selain itu,perlu pengaturan kejelasan fungsi (PP ) beserta kontrak-kontrak kinerja, penciptaan reward and punishment dalam aturan main. Sementara itu, faktor-faktor pendukung langkah ketiga meliputi: (i) perlunya penyederhanaan pengawasan penyelenggaraan pemerintahan, (ii) perlunya sinkronisasi produk aturan main agar dapat memberikan insentif dengan pembentukan menteri koordinator otonomi dan desentralisasi sebagai koordinator untuk semua urusan desentralisasi dan otonomi daerah, (iii) perlunya pemetaan dan penerapan sistem informasi yang terpadu antardaerah. Langkah keempat, membentuk suatu organisasi yang kuat dan independent. Kesepakatan kelembagaan kebijakan desentralisasi yang kuat yang tidak hanya berorientasi pada tata kelola (good governance) namun juga berorientasi pasar (market) dengan menyelaraskan atau menyatukan UU No 32/2004 dan UU No 33/2004: (i) aturan main kewenangan (desentralisasi politik dan administratif), (ii) aturan main keuangan (desentralisasi fiskal), (iii)

18 17 aturan main ekonomi daerah (desentralisasi ekonomi atau pasar), (iv) aturan main sumber daya alam dan lingkungan (desentralisasi pengelolaan sumber daya alam dan. lingkungan). Mainstreaming kebijakan mengenai sumber daya alam dan lingkungan hams mulai dilakukan. Penyelarasan tersebut membutuhkan sequencing kelembagaan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang tepat. Selain itu, praktik pendidikan ilmu ekonomi sudah hams menyesuaikan pernbahan paradigma ilmu ekonomi dan paradigma metodologi penelitiannya. Tidak hanya menggunakan pendekatan pasar, namun sudah memulai dengan pendekatan nonpasar, formal dan informal, penggabungan metode penelitian positivis dengan penelitian grounded research, studi kasus termasuk memasukkan kasus-kasus kekinian kebijaksanaan atau local wisdom yang terjadi di Indonesia. Praktik kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah hams diubah, perlu memasukkan analisis kelembagaan dan tata kelola, sebelum membuat undang-undang, peraturan pemerintah dan keputusan menteri. Hal ini sangat urgent karena konsep ekonomi kelembagaan barn dapat digunakan untuk memahami: (1) kompleksitas pengelolaan kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang berkelanjutan dan sekaligus dapat dijadikan "umbrella" bagi masalah yang terjadi dalam kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia. (2) analisis grand design otonomi daerah, seperti aturan-aturan yang menyangkut persoalan kewenangan, organisasi, sumber daya manusia, keuangan, hubungan eksekutif dan legislatif, pengawasan, serta prosedur perencanaan dan administrasi. Saya yakin, masih banyak teori, konsep dan pemikiran ekonomi lain yang telah dan akan dikembangkan oleh para peneliti dalam studi ilmu ekonomi di dalam menopang kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah di Indonesia, namun pemikiran saya ini bukan hanya sebagai pencarian pemikiran secara teoritik saja, namun pada level praktis diharapkan dapat membantu pemerintah, legislatif, yudikatif maupun stakeholders yang lain di dalam mendesain kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah yang lebih terprediksi, terpercaya, pasti, ternkur, cerdas dan menciptakan biaya ekonomi yang efisien.

19 18 Para hadirin yang saya hormati dan muliakan. Penutup Pengukuhan saya sebagai guru besar dalam bidang ilmu ekonomi ini merupakan anugerah Allah SWT, sebagai manusia biasa saya sadar bahwa tidak mungkin saya dapat menyelesaikan gelar akademis yang tertinggi tanpa bantuan para pihak, oleh karena itu perkenankanlah saya mengucapkan rasa syukur dan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Nasional Republik Indonesia yang telah menetapkan jabatan guru besar bagi saya. Terima kasih juga saya sampaikan. pada Rektor, Ketua, Sekretaris dan seluruh anggota. Majelis Guru Besar, Dekan, Senat Akademik dan jurusan ilmu ekonomi Fakultas Ekonomika dan Bisnis yang telah mengusulkan dan menyetujui pengangkatan saya sebagai guru besar di bidang ilmu ekonomi. Terima kasih dan hormat saya sampaikan kepada Bapak dan Ibu dosen Fakultas Ekonomi UGM, Bapak Dekan Prof. Dr. Marwan Asri, M.B.A, Bapak Prof. Dr. Isw~rdono S.P., M.A., Ketua Senat dan terutama almarhum Bapak Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardjo, M.A. yang telah pertama kali membimbing dan mendidik saya menulis skripsi dalam memperoleh derajat doktorandus program S1 Fakultas Ekonomi UGM. Almarhum Bapak Supoyo Padmodirejo, M.A., almarhum Bapak Sulistyo, Ph.D., Bapak Soetatwo, Ph.D. dan Bapak Prof. Sukanto Reksohadidiprojo, Ph.D. yang pada saat itu menjadi dekan FE UGM, telah memberikan saran dan rekomendasi kepada saya untuk menjadi dosen di Fakultas Ekonomi UGM. Penghargaan dan terima kasih saya sampaikan kepada Prof. Dickinson, Ph.D. pembimbing saya pada saat menyelesaikan program Master dalam bidang Uang, Bank dan Keuangan di Departemen Ekonomi Universitas Birmingham, England. Prof Marika Viqziany, Ph.D. dan almarhum Associate Prof. Robert Rice, Ph.D. sebagai pembimbing saya di program doktoral untuk bidang Desentr.alisasi Fiskal dan Kelembagaan, Departemen Ekonomi, di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Monash, Australia, saya juga mengucapkan terimakasih kepada Prof. Howard Dick, Ph.D. dan Elizabeth Maitland, Ph.D. pembimbing saya di program kandidat doktor di Universitas Melbourne.

20 19 Selain itu, ucapan terima kasih saya sampaikan kepada guru-. guru dari sekolah dasar SD P IV IKIPYogyakarta,SMP Negerl 8 Yogyakarta, sampai SMA Negeri 3 Yogyakarta yangkesemuanya telah menularkan ilmunya yang menjadi bekal dalam mencapai derajat ini. Ucapan terima kasih juga kepada kawan-kawan di Direktorat Bina Administrasi Keuangan Daerah, Kementerian Dalam Negeri dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan Daerah, Kementerian Keuangan. Di luar semua itu, kepada orang tua saya, almarhum Bapak Drs. R. Sugondo dan almarhumah Ibu Srikundari, almarhumah Ibu Sugarti Sugarda dan Ibu Murtiningsih. Kepada almarhum Bapak Sugondo, saya ingin menyampaikan bahwa pidato saya ini sebagai dharma bakti saya kepada beliau dan almarhumah ibu-ibu saya. Ucapan terimakasih juga saya haturkan kepada kakak-kakak saya (almarhumah Sri Gandari, Ratna Maya Sari dan Drs. Wisnu Kuncoro) beserta keluarganya dan keluarga besar Muhamad dan keluarga besar Sugarda yang sangat menyayangi dan berkorban untuk saya. Ucapan terima kasih kepada mertua saya almarhum Bapak Prof. dr. Achmad Muhamad Djoyosugito dan almarhumah Ibu Prof. dr. Soemiati yang selalu memberikan bimbingan spirituil maupun akademis, serta kakakkakak, adik-adik ipar beserta keluarganya, dan keluarga besar Djoyosugito yang selalu mendukung dan membantu saya. Terakhir, dr. Usi Sukorini, M.Kes., Sp.PK(K), istri saya tercinta yang telah memotivasi dan menghantar sampai ke jenjang ini dengan sabar dan penuh cinta kasih, anak-anak: Arya Pradipta, Damas Nawanda dan Dea Karina yang telah memberikan dukungan dengan doa, tawa dan canda, yang kiranya tak satupun ungkapan kata-kata kebahagiaan yang tepat untuk kalian berempat, semoga Allah SWT yang akan membalasnya. Puji syukur saya panjatkan ke hadlirat Allah SWT yang telah melancar-kanperjalanan saya selama ini. Terima kasih atas kesabaran Bapak, Ibu dan para hadirin untuk mengikuti pidato pengukuhan ini. Wabillahi taufiq wal hidayah, Wassalamu' alaikum Warrahmatulahi Wabarahkatuh.

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RI PERWAKILAN PROVINSI JAMBI

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RI PERWAKILAN PROVINSI JAMBI BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RI PERWAKILAN PROVINSI JAMBI PIDATO KEPALA PERWAKILAN BPK RI PROVINSI JAMBI PADA ACARA PENYERAHAN LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN BPK RI ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KOTA JAMBI TAHUN

Lebih terperinci

LAPORAN MENTERI KEUANGAN PADA ACARA PENYERAHAN DIPA TAHUN ANGGARAN 2015

LAPORAN MENTERI KEUANGAN PADA ACARA PENYERAHAN DIPA TAHUN ANGGARAN 2015 1 LAPORAN MENTERI KEUANGAN PADA ACARA PENYERAHAN DIPA TAHUN ANGGARAN 2015 Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Salam sejahtera untuk kita semua. Yth. Bapak Presiden Republik Indonesia Yth. Bapak

Lebih terperinci

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Teknologi informasi dipercaya sebagai kunci utama dalam sistem informasi manajemen. Teknologi informasi ialah seperangkat alat yang sangat penting untuk bekerja

Lebih terperinci

Assalamu alaikum Wr. Wb., Selamat pagi dan salam sejahtera,

Assalamu alaikum Wr. Wb., Selamat pagi dan salam sejahtera, SAMBUTAN Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengeluaran Negara (Anggota Komite Konsultatif KSAP) Dalam Acara Sosialisasi STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN Jakarta, 26 Juli 2005 Yang kami hormati, Sdr. Direktur

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENDANAAN KEUANGAN DAERAH Oleh: Ahmad Muam

KEBIJAKAN PENDANAAN KEUANGAN DAERAH Oleh: Ahmad Muam KEBIJAKAN PENDANAAN KEUANGAN DAERAH Oleh: Ahmad Muam Pendahuluan Sejalan dengan semakin meningkatnya dana yang ditransfer ke Daerah, maka kebijakan terkait dengan anggaran dan penggunaannya akan lebih

Lebih terperinci

Laporan Kepala Bidang Perencanaan selaku Pejabat Pembuat Komitmen

Laporan Kepala Bidang Perencanaan selaku Pejabat Pembuat Komitmen Laporan Kepala Bidang Perencanaan selaku Pejabat Pembuat Komitmen Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu alaikum wr wb, Salam sejahtera untuk kita semua, Om Swastiastu Yth. 1. Deputi Bidang Pengembangan Regional

Lebih terperinci

Pidato Dr. R.M. Marty M. Natalegawa. Menteri Luar Negeri. Republik Indonesia. Pada Pertemuan Pejabat Tinggi

Pidato Dr. R.M. Marty M. Natalegawa. Menteri Luar Negeri. Republik Indonesia. Pada Pertemuan Pejabat Tinggi Pidato Menlu RI Dr. R.M. Marty M. Natalegawa Pada Pertemuan Pejabat Tinggi Untuk Pembentukan ASEAN Supreme Audit Institutions (SAI), Jakarta, 13 Oktober 2011 Kamis, 13 Oktober 2011 Mohon diperiksa disesuaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pengelolaan sistem pemerintahan, good governance telah

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pengelolaan sistem pemerintahan, good governance telah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam pengelolaan sistem pemerintahan, good governance telah menjadi salah satu paradigma dalam penyelenggaran untuk mengelola urusan-urusan publik. Menurut

Lebih terperinci

ANALISIS PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH DI KOTA PALEMBANG AZWARDI *

ANALISIS PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH DI KOTA PALEMBANG AZWARDI * 1 ANALISIS PELAKSANAAN OTONOMI DAERAH DI KOTA PALEMBANG AZWARDI * This research is purposed to know the impact of regional outonomy in Palembang, especially in fiscal aspects. To solve the problem, that

Lebih terperinci

PENDIDIKAN PASCASARJANA DALAM PERSPEKTIF PERGURUAN TINGGI RISET

PENDIDIKAN PASCASARJANA DALAM PERSPEKTIF PERGURUAN TINGGI RISET SAMBUTAN REKTOR ITB pada PERESMIAN PENERIMAAN MAHASISWA PASCASARJANA BARU ITB SEMESTER 2 TAHUN AKADEMIK 2013/2014 PENDIDIKAN PASCASARJANA DALAM PERSPEKTIF PERGURUAN TINGGI RISET Aula Barat, Kampus ITB,

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 21 Maret 2011 Kepada, Nomor : 050 / 883 / SJ Yth. 1. Gubernur. Sifat : Penting 2. Bupati/Walikota. Lamp : Satu berkas di - Hal : Pedoman Penyusun Program

Lebih terperinci

BANGKITNYA INDONESIA. Prioritas Kebijakan untuk Tahun 2010 dan Selanjutnya

BANGKITNYA INDONESIA. Prioritas Kebijakan untuk Tahun 2010 dan Selanjutnya BANGKITNYA INDONESIA. Prioritas Kebijakan untuk Tahun 2010 dan Selanjutnya Menyelesaikan Desentralisasi Pesan Pokok Pemerintah daerah (Pemda) di Indonesia kurang memiliki pengalaman teknis untuk meningkatkan

Lebih terperinci

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN ANGGOTA V BPK PADA ACARA PENYERAHAN LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR TAHUN ANGGARAN 2015 SURABAYA, 13

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang

PENDAHULUAN. Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Paradigma pembangunan masa lalu yang menempatkan pemerintah sebagai aktor utama pembangunan untuk mengejar pertumbuhan ekonomi terbukti tidak mampu mensejahterakan rakyat Indonesia.

Lebih terperinci

Forum Dialog Pencegahan, Penanganan dan Penindakan Kesalahan, Kecurangan dan Korupsi (P3K3) Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN)

Forum Dialog Pencegahan, Penanganan dan Penindakan Kesalahan, Kecurangan dan Korupsi (P3K3) Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Forum Dialog Pencegahan, Penanganan dan Penindakan Kesalahan, Kecurangan dan Korupsi (P3K3) Dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) Tim Pokja Pencegahan, Penanganan dan Penindakan Kesalahan, Kecurangan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 1 TAHUN 2009 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. besarnya penyerahan wewenang dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dimana

BAB I PENDAHULUAN. besarnya penyerahan wewenang dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah, dimana BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perubahan paradigma penyelenggaraan pemerintahan daerah di Indonesia dari pola sentralisasi menjadi pola desentralisasi membawa konsekuensi terhadap makin besarnya

Lebih terperinci

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERWAKILAN PROVINSI BALI

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERWAKILAN PROVINSI BALI BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERWAKILAN PROVINSI BALI PIDATO KEPALA PERWAKILAN PROVINSI BALI PADA ACARA PENYERAHAN HASIL PEMERIKSAAN BPK RI ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH KABUPATEN KARANGASEM

Lebih terperinci

BAB I INTRODUKSI. Bab I dalam penelitian ini berisi tentang latar belakang, konteks riset, rumusan

BAB I INTRODUKSI. Bab I dalam penelitian ini berisi tentang latar belakang, konteks riset, rumusan BAB I INTRODUKSI Bab I dalam penelitian ini berisi tentang latar belakang, konteks riset, rumusan masalah, pertanyaan riset, tujuan riset, motivasi riset, kontribusi riset, proses riset, dan sistematika

Lebih terperinci

KEYNOTE SPEECH DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN DALAM RAPAT KOORDINASI DEWAN PENGAWAS BLU TAHUN 2012

KEYNOTE SPEECH DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN DALAM RAPAT KOORDINASI DEWAN PENGAWAS BLU TAHUN 2012 KEYNOTE SPEECH DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN DALAM RAPAT KOORDINASI DEWAN PENGAWAS BLU TAHUN 2012 Yang terhormat, 1) Bapak dan Ibu Ketua Dewan Pengawas Satker BLU 2) Bapak dan Ibu Anggota Dewan Pengawas

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 28 Maret 2012 Kepada Nomor : 070 / 1082 / SJ Yth. 1. Gubernur Sifat : Penting 2. Bupati/Walikota Lampiran : Satu berkas di Hal : Pedoman Penyusunan Program

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang. Penyelenggaraan organisasi pemerintahan haruslah selaras dengan tujuan

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar belakang. Penyelenggaraan organisasi pemerintahan haruslah selaras dengan tujuan 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Penyelenggaraan organisasi pemerintahan haruslah selaras dengan tujuan dan cita-cita bangsa yang diamanatkan dalam undang-undang. Apapun bentuk organisasinya, fungsi,

Lebih terperinci

Jakarta, 5 Desember Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi dan Salam Sejahtera Bagi Kita Semua,

Jakarta, 5 Desember Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi dan Salam Sejahtera Bagi Kita Semua, Sambutan KETUA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN Pada Launching Road Map Keuangan Berkelanjutan dan Buku Pedoman Energi Bersih yang dilanjutkan dengan Seminar Nasional Jakarta, 5 Desember 2014 Assalamu

Lebih terperinci

PENEGAKAN HUKUM DAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK 1

PENEGAKAN HUKUM DAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK 1 --------- MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PENEGAKAN HUKUM DAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BAIK 1 Oleh: Moh. Mahfud MD 2 Hukum dan Pemerintahan dalam Kehidupan Bernegara Di era modern, negara sebagai

Lebih terperinci

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA BAB IV VISI DAN MISI DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA Pembangunan adalah suatu orientasi dan kegiatan usaha yang tanpa akhir. Development is not a static concept. It is continuously changing. Atau bisa

Lebih terperinci

Akuntansi Sektor Publik

Akuntansi Sektor Publik Akuntansi Sektor Publik Suatu Pengantar http://www.pepiediptyana.wordpress.com Referensi: Indra Bastian. 2006 Akuntansi Sektor Publik: Suatu Pengantar. Penerbit Erlangga. Jakarta, bab 1 & 2 Abdul Halim,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintahan Daerah yang baik (good local governace) merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintahan Daerah yang baik (good local governace) merupakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemerintahan Daerah yang baik (good local governace) merupakan wacana yang paling mengemuka dalam pengelolaan administrasi publik dewasa ini. Tuntutan gagasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini adalah semakin menguatnya tuntutan pelaksanaan akuntabilitas publik

BAB I PENDAHULUAN. ini adalah semakin menguatnya tuntutan pelaksanaan akuntabilitas publik BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Fenomena yang dapat diamati dalam perkembangan sektor publik dewasa ini adalah semakin menguatnya tuntutan pelaksanaan akuntabilitas publik organisasi sektor publik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu upaya konkrit yang dilakukan pemerintah sebagai wujud dari

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu upaya konkrit yang dilakukan pemerintah sebagai wujud dari BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Salah satu upaya konkrit yang dilakukan pemerintah sebagai wujud dari semangat reformasi birokrasi adalah dengan melakukan penataan ulang terhadap sistem penyelenggaraan

Lebih terperinci

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua,

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera bagi kita semua, SAMBUTAN GUBERNUR BANK INDONESIA DR. DARMIN NASUTION PEMBUKAAN RAPAT KOORDINASI NASIONAL TIM PENGENDALIAN INFLASI DAERAH 2011 JAKARTA, 16 MARET 2011 Yang terhormat Wakil Presiden Republik Indonesia, Prof.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. telah membawa perubahan bagi politik dan sistem pemerintahan maupun

BAB I PENDAHULUAN. telah membawa perubahan bagi politik dan sistem pemerintahan maupun BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada tahun 1996 Indonesia telah mengalami krisis ekonomi dan puncak krisis ekonomi pada tahun 1997. Hal ini mendorong pendelegasian sebagian wewenang pemerintah

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR. Mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa serta pelayanan

BAB I PENGANTAR. Mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa serta pelayanan BAB I PENGANTAR 1.1 Latar Belakang Mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa serta pelayanan publik yang baik, efisien, efektif dan berkualitas menuntut kehadiran sumber daya manusia (SDM) aparatur

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. yang dapat dijadikan milik Negara (UU no 17 pasal1 ayat1). Undang undang

BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. yang dapat dijadikan milik Negara (UU no 17 pasal1 ayat1). Undang undang BAB II KAJIAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Keuangan Negara Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban Negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa

Lebih terperinci

BAB 12 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH

BAB 12 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH BAB 12 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH BAB 12 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH A. KONDISI UMUM 1. PENCAPAIAN 2004 DAN PRAKIRAAN PENCAPAIAN 2005 Pencapaian kelompok

Lebih terperinci

MEMULAI KARIR BERBASIS KEJUJURAN DARI PENDIDIKAN DI ITB

MEMULAI KARIR BERBASIS KEJUJURAN DARI PENDIDIKAN DI ITB SAMBUTAN REKTOR ITB pada PERESMIAN PENERIMAAN MAHASISWA BARU ITB TAHUN AKADEMIK 2009/2010 MEMULAI KARIR BERBASIS KEJUJURAN DARI PENDIDIKAN DI ITB Sasana Budaya Ganesa, Kampus ITB, 12 Agustus 2009 Yang

Lebih terperinci

PENDAPAT AKHIR FRAKSI PARTAI DEMOKRAT T E R H A D A P RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG OMBUDSMAN

PENDAPAT AKHIR FRAKSI PARTAI DEMOKRAT T E R H A D A P RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG OMBUDSMAN PENDAPAT AKHIR FRAKSI PARTAI DEMOKRAT T E R H A D A P RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG OMBUDSMAN Juru Bicara : H. DADAY HUDAYA, SH, MH Nomor Anggota : A- 92 Assalamu`alaikum Wr. Wb. Salam Sejahtera untuk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. ekonomi di setiap negara. Tujuan peningkatan penyerapan tenaga kerja sering

BAB 1 PENDAHULUAN. ekonomi di setiap negara. Tujuan peningkatan penyerapan tenaga kerja sering BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Tenaga kerja merupakan faktor yang sangat krusial bagi pembangunan ekonomi di setiap negara. Tujuan peningkatan penyerapan tenaga kerja sering menjadi prioritas dalam

Lebih terperinci

BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM

BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM BAB VI SASARAN, INISITIF STRATEJIK DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM A. SASARAN STRATEJIK yang ditetapkan Koperasi dan UKM selama periode tahun 2005-2009 disusun berdasarkan berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Konsep tentang mekanisme penyusunan program kerja pemerintah daerah,

BAB I PENDAHULUAN. Konsep tentang mekanisme penyusunan program kerja pemerintah daerah, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Konsep tentang mekanisme penyusunan program kerja pemerintah daerah, termasuk dalam ranah konsep kebijakan keuangan negara. Fungsi pemerintahan dalam berbagai bidang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan yang sangat mendasar sejak diterapkannya otonomi daerah. dalam hal pengelolaan keuangan daerah.

BAB I PENDAHULUAN. perubahan yang sangat mendasar sejak diterapkannya otonomi daerah. dalam hal pengelolaan keuangan daerah. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Paradigma pengelolaan keuangan daerah telah mengalami perubahan yang sangat mendasar sejak diterapkannya otonomi daerah pada tahun 2001. Undang-undang No. 32 tahun 2004

Lebih terperinci

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RI PERWAKILAN PROVINSI D.I. YOGYAKARTA

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RI PERWAKILAN PROVINSI D.I. YOGYAKARTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RI PERWAKILAN PROVINSI D.I. YOGYAKARTA SAMBUTAN KEPALA PERWAKILAN BPK-RI PROVINSI D.I. YOGYAKARTA PADA PENYERAHAN HASIL PEMERIKSAAN ATAS LAPORAN KEUANGAN KABUPATEN BANTUL, KABUPATEN

Lebih terperinci

2011, No Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 76, Tambahan Lembaran Ne

2011, No Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2009 tentang Dosen (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 76, Tambahan Lembaran Ne BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.349, 2011 KEMENTERIAN AGAMA. Organisasi. Tata Kerja. Institut Agama Islam Negeri Surakarta. PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI

Lebih terperinci

Kebutuhan Pelayanan Publik

Kebutuhan Pelayanan Publik BAB I Pendahuluan Bagian pendahuluan merupakan uraian yang mengantarkan pembaca untuk memahami apa yang dibicarakan dalam buku ini. Uraian terbagi dalam tiga subbab, yakni kebutuhan perbaikan pelayanan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Teori keagenan (agency theory) merupakan landasan teori dalam penelitian

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Teori keagenan (agency theory) merupakan landasan teori dalam penelitian BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Teori Keagenan Dalam Sektor Publik Teori keagenan (agency theory) merupakan landasan teori dalam penelitian ini, karena dapat menjelaskan Implementasi Dokumen Pelaksanaan Anggaran

Lebih terperinci

Laporan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2014

Laporan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2014 Laporan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2014 Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) ini dibuat sebagai perwujudan dan kewajiban suatu Instansi Pemerintah dengan harapan dapat dipergunakan

Lebih terperinci

Jakarta, 10 Maret 2011

Jakarta, 10 Maret 2011 SAMBUTAN MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL DALAM ACARA TEMU KONSULTASI TRIWULANAN KE-1 TAHUN 2011 BAPPENAS-BAPPEDA PROVINSI SELURUH INDONESIA Jakarta,

Lebih terperinci

PIDATO BUPATI KAPUAS HULU

PIDATO BUPATI KAPUAS HULU PIDATO BUPATI KAPUAS HULU PADA ACARA PENGANTAR NOTA KEUANGAN RANCANGAN PERUBAHAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH KABUPATEN KAPUAS HULU TAHUN ANGGARAN 2016 PUTUSSIBAU, 7 SEPTEMBER 2016 BUPATI KAPUAS

Lebih terperinci

TATA KELOLA PEMERINTAHAN, KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK. Hendra Wijayanto

TATA KELOLA PEMERINTAHAN, KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK. Hendra Wijayanto TATA KELOLA PEMERINTAHAN, KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK Hendra Wijayanto PERTANYAAN Apa yang dimaksud government? Apa yang dimaksud governance? SEJARAH IDE GOVERNANCE Tahap 1 Transformasi government sepanjang

Lebih terperinci

Keterangan pemerintah pada sidang kali ini akan kami bagi dalam 3 (tiga) Bagian.

Keterangan pemerintah pada sidang kali ini akan kami bagi dalam 3 (tiga) Bagian. RAPAT KERJA KOMISI XI DPR-RI DENGAN MENTERI KEUANGAN DAN MENTERI HUKUM DAN HAM REPUBLIK INDONESIA PEMBAHASAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG MATA UANG DAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG AKUNTAN PUBLIK DI GEDUNG DPR-RI

Lebih terperinci

Sambutan Presiden RI pada Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY, Yogyakarta, 10 Oktober 2012 Rabu, 10 Oktober 2012

Sambutan Presiden RI pada Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY, Yogyakarta, 10 Oktober 2012 Rabu, 10 Oktober 2012 Sambutan Presiden RI pada Pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY, Yogyakarta, 10 Oktober 2012 Rabu, 10 Oktober 2012 SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PADA ACARA PELANTIKAN GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa dengan telah ditetapkannya pembentukan

Lebih terperinci

BAB 12 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH

BAB 12 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH BAB 12 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH A. KONDISI UMUM 1. PENCAPAIAN 2004 DAN PRAKIRAAN PENCAPAIAN 2005 Pencapaian kelompok Program Pengembangan Otonomi Daerah pada tahun 2004, yaitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dan berapapun bantuan yang diberikan kepada negara-negara berkembang, pasti habis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dan berapapun bantuan yang diberikan kepada negara-negara berkembang, pasti habis BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Paradigma good governance muncul sekitar tahun 1990 atau akhir 1980-an. Paradigma tersebut muncul karena adanya anggapan dari Bank Dunia bahwa apapun dan berapapun bantuan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SURAKARTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Sambutan Tertulis Presiden Republik Indonesia pada Penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun 2006 Kepada Semua Provinsi

Sambutan Tertulis Presiden Republik Indonesia pada Penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun 2006 Kepada Semua Provinsi Sambutan Tertulis Presiden Republik Indonesia pada Penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun 2006 Kepada Semua Provinsi Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Proses pembangunan ekonomi bertujuan untuk meningkatkan kemajuan suatu bangsa melalui peningkatan kesejahteraan rumah tangga atau penduduk. Kemajuan suatu bangsa tidak

Lebih terperinci

PEMBINAAN ORGANISASI MITRA PEMERINTAH

PEMBINAAN ORGANISASI MITRA PEMERINTAH PEMBINAAN ORGANISASI MITRA PEMERINTAH Disampaikan Oleh : DR. Ir. SUHATMANSYAH IS, Msi Direktur Fasilitasi Organisasi Politik dan Kemasyarakatan Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Politik Departemen

Lebih terperinci

GUBERNUR SULAWESI TENGAH

GUBERNUR SULAWESI TENGAH GUBERNUR SULAWESI TENGAH SAMBUTAN GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA RAPAT PARIPURNA MASA PERSIDANGAN PERTAMA TAHUN 2011 DPRD PROVINSI SULAWESI TENGAH DALAM ACARA PENYERAHAN LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN PERWAKILAN

Lebih terperinci

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANAMAN MODAL

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANAMAN MODAL SALINAN BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN PENANAMAN MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

Keynote Speech. Menteri Keuangan. Workshop Persiapan Pelaksanaan APBN TA Jakarta, 19 Desember 2011

Keynote Speech. Menteri Keuangan. Workshop Persiapan Pelaksanaan APBN TA Jakarta, 19 Desember 2011 Keynote Speech Menteri Keuangan Workshop Persiapan Pelaksanaan APBN TA 2012 Jakarta, 19 Desember 2011 Ibu, Bapak, serta para Hadirin yang saya muliakan, Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Selamat

Lebih terperinci

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA LAPORAN KEPALA PERWAKILAN BPK RI JAWA TENGAH PADA ACARA PENANDATANGANAN NOTA KESEPAHAMAN BERSAMA ANTARA BPK DAN UNS SURAKARTA SERTA BPK GOES TO CAMPUS DI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. corporate governance ini diharapkan ada regulasi serta aturan mengenai

BAB I PENDAHULUAN. corporate governance ini diharapkan ada regulasi serta aturan mengenai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Corporate governance saat ini merupakan kebutuhan vital bagi seluruh pelaku bisnis dan menjadi tuntutan bagi masyarakat dengan adanya corporate governance ini diharapkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG INVESTASI PEMERINTAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG INVESTASI PEMERINTAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG INVESTASI PEMERINTAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk memperluas investasi pemerintah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pengukuran kinerja pada capacity building yang mengikuti pola reinventing

I. PENDAHULUAN. pengukuran kinerja pada capacity building yang mengikuti pola reinventing I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Reformasi di bidang kinerja pemerintahan tidak akan membuahkan hasil optimal tanpa didukung oleh komitmen untuk memperbaiki validitas dari standar penilaian kinerja kelembagaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG INVESTASI PEMERINTAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG INVESTASI PEMERINTAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG INVESTASI PEMERINTAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk memperluas investasi pemerintah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Beralihnya masa orde lama ke orde baru telah menimbulkan banyak. perubahan baik dalam segi pemerintahan, ekonomi dan politik.

BAB I PENDAHULUAN. Beralihnya masa orde lama ke orde baru telah menimbulkan banyak. perubahan baik dalam segi pemerintahan, ekonomi dan politik. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Beralihnya masa orde lama ke orde baru telah menimbulkan banyak perubahan baik dalam segi pemerintahan, ekonomi dan politik. Dari segi pemerintahan salah

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI, SEKTOR UNGGULAN, KESENJANGAN DAN KONVERGENSI ANTAR KABUPATEN DI PROPINSI PAPUA SKRIPSI

PERTUMBUHAN EKONOMI, SEKTOR UNGGULAN, KESENJANGAN DAN KONVERGENSI ANTAR KABUPATEN DI PROPINSI PAPUA SKRIPSI PERTUMBUHAN EKONOMI, SEKTOR UNGGULAN, KESENJANGAN DAN KONVERGENSI ANTAR KABUPATEN DI PROPINSI PAPUA SKRIPSI Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Mencapai Derajat Gelar Sarjana Ekonomi Oleh: O.S.A.N. JANI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. good governance dan clean government. Seiring dengan hal tersebut, pemerintah

BAB I PENDAHULUAN. good governance dan clean government. Seiring dengan hal tersebut, pemerintah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Semakin meningkatnya tuntutan masyarakat atas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, adil, transparan, dan akuntabel harus disikapi dengan serius oleh segenap

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Alat utama kebijakan fiskal adalah anggaran. Deddi et al. (2007)

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS. Alat utama kebijakan fiskal adalah anggaran. Deddi et al. (2007) BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Anggaran 2.1.1 Definisi Anggaran Alat utama kebijakan fiskal adalah anggaran. Deddi et al. (2007) dalam akuntansi sektor publik mendefinisikan anggaran

Lebih terperinci

PIDATO REKTOR PADA UPACARA WISUDA PASCASARJANA PENDIDIKAN PROFESI SERTA SARJANA DAN DIPLOMA

PIDATO REKTOR PADA UPACARA WISUDA PASCASARJANA PENDIDIKAN PROFESI SERTA SARJANA DAN DIPLOMA z PIDATO REKTOR PADA UPACARA WISUDA PASCASARJANA PENDIDIKAN PROFESI SERTA SARJANA DAN DIPLOMA di Pusat Kegiatan Akademik (Academic Activity Center) Prof. Dr. Dayan Dawood, MA Universitas Syiah Kuala Selasa,

Lebih terperinci

KEYNOTE SPEECH Diskusi dan Peluncuran Buku Inovasi 17 Bank

KEYNOTE SPEECH Diskusi dan Peluncuran Buku Inovasi 17 Bank KEYNOTE SPEECH Diskusi dan Peluncuran Buku Inovasi 17 Bank Integrasi Ekonomi ASEAN 2015: Peluang atau Ancaman Bagi Perbankan Nasional DR. DARMIN NASUTION Pusat Data Analisa Tempo & Independent Research

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN REKTOR INSTITUT PERTANIAN BOGOR Nomor : 05/I3/HM/2010 Tentang PENGELOLAAN INFORMASI PUBLIK INSTITUT PERTANIAN BOGOR REKTOR INSTITUT

SALINAN PERATURAN REKTOR INSTITUT PERTANIAN BOGOR Nomor : 05/I3/HM/2010 Tentang PENGELOLAAN INFORMASI PUBLIK INSTITUT PERTANIAN BOGOR REKTOR INSTITUT Menimbang Mengingat SALINAN PERATURAN REKTOR INSTITUT PERTANIAN BOGOR Nomor : 05/I3/HM/2010 Tentang PENGELOLAAN INFORMASI PUBLIK INSTITUT PERTANIAN BOGOR REKTOR INSTITUT PERTANIAN BOGOR : a. bahwa Institut

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENEG PPN/KEPALA BAPPENAS

SAMBUTAN MENEG PPN/KEPALA BAPPENAS SAMBUTAN MENEG PPN/KEPALA BAPPENAS PADA DISKUSI PANEL TENTANG SINERGI BAPPENAS DAN DEPARTEMEN KEUANGAN: OPTIMALISASI PENYELENGGARAAN FUNGSI PERENCANAAN NASIONAL DAN FUNGSI PENGANGGARAN JAKARTA, 26 NOVEMBER

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.817, 2012 PPATK. Organisasi. Tata Kerja. PPATK. PERATURAN KEPALA PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN NOMOR PER-07/1.01/PPATK/08/12 TENTANG ORGANISASI DAN

Lebih terperinci

Bismillahi rahmani rahiim,

Bismillahi rahmani rahiim, Pidato Utama Seminar IDB: Mencetak Sumber Daya Manusia yang Kompetitif bagi Pemberdayaan Ekonomi Dr. Hendar (Deputi Gubernur, Bank Indonesia) Jakarta, 13 Mei 2016 Bismillahi rahmani rahiim, Yang saya hormati:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tidaknya negara dalam mewujudkan tujuan dan cita-cita negara serta menciptakan

BAB I PENDAHULUAN. tidaknya negara dalam mewujudkan tujuan dan cita-cita negara serta menciptakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengelolaan keuangan negara merupakan salah satu hal yang sangat penting bagi kehidupan perekonomian suatu negara, karena berkaitan erat dengan mampu dan tidaknya negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 06 Tahun 2014 Tentang Desa

BAB I PENDAHULUAN. Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 06 Tahun 2014 Tentang Desa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 06 Tahun 2014 Tentang Desa (UU No. 06 Tahun 2014) pada tanggal 15 Januari tahun 2014, pengaturan tentang Desa mengalami perubahan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 44 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH TAHUN 2009

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 44 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH TAHUN 2009 PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 44 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH TAHUN 2009 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG BADAN LAYANAN UMUM DAERAH DAN PENGELOLAAN KEUANGAN

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG BADAN LAYANAN UMUM DAERAH DAN PENGELOLAAN KEUANGAN BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG BADAN LAYANAN UMUM DAERAH DAN PENGELOLAAN KEUANGAN 2.1 Tinjauan Umum Tentang Badan Layanan Umum Daerah 2.1.1. Definisi dan Dasar Pengaturan Badan Layanan Umum Daerah Sebelum

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

BERITA DAERAH KOTA BEKASI BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 46 2016 SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 46 TAHUN 2016 TENTANG PIAGAM AUDIT INTERNAL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA BEKASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

1. Local Governance AGENDA: Society. State. Private Sector. Good Governance 3 Domain. Musyawarah Nasional V APEKSI 2016 Kota Jambi, 27 Juli 2016

1. Local Governance AGENDA: Society. State. Private Sector. Good Governance 3 Domain. Musyawarah Nasional V APEKSI 2016 Kota Jambi, 27 Juli 2016 Prof. Dr. Bahrullah Akbar, M.B.A. Anggota VI BPK RI Pengelolaan Keuangan Untuk Meningkatkan Kinerja Pemerintah Pasca UU 23/2014 1. Local Governance Disampaikan Dalam Munas V APEKSI Abadi Suite Hotel 27

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pergantian pemerintahan dari orde baru kepada orde reformasi yang

BAB I PENDAHULUAN. Pergantian pemerintahan dari orde baru kepada orde reformasi yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pergantian pemerintahan dari orde baru kepada orde reformasi yang dimulai pertengahan tahun 1998 menuntut pelaksanaan otonomi daerah yang memberikan kewenangan yang

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL SAMBUTAN DARI DEPUTI BIDANG PENGEMBANGAN REGIONAL MEWAKILI MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seiring dengan pesatnya perkembangan zaman dan semakin kompleksnya persoalan yang dihadapi oleh negara, telah terjadi pula perkembangan penyelenggaraan

Lebih terperinci

SAMBUTAN KETUA SENAT AKADEMIK ITB Dies Natalis ke-56 Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Senin 2 Maret 2015

SAMBUTAN KETUA SENAT AKADEMIK ITB Dies Natalis ke-56 Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Senin 2 Maret 2015 1 SAMBUTAN KETUA SENAT AKADEMIK ITB Dies Natalis ke-56 Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Senin 2 Maret 2015 Pertama tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rakhmat dan hidayah-nya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini membahas tentang latar belakang dari dilakukan penelitian ini,

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini membahas tentang latar belakang dari dilakukan penelitian ini, BAB I PENDAHULUAN Bab ini membahas tentang latar belakang dari dilakukan penelitian ini, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, motivasi dari penelitian ini dan kontribusi penelitian

Lebih terperinci

PENINGKATAN EFEKTIVITAS SEKOLAH

PENINGKATAN EFEKTIVITAS SEKOLAH PENINGKATAN EFEKTIVITAS SEKOLAH ( Studi pada SD Negeri Sobokerto 1 dan MI Al-Islam Ngesrep 1 ) TESIS Oleh : Nama : Retnaning Winastuti NIM : Q.100030109 Program Studi : Magister Manajemen Pendidikan Konsentrasi

Lebih terperinci

SAMBUTAN KETUA DPR RI BAPAK H. MARZUKI ALIE, SE, MM. PADA ACARA PERESMIAN KANTOR BARU PWNU SUMATERA UTARA Medan, 06 Januari 2010

SAMBUTAN KETUA DPR RI BAPAK H. MARZUKI ALIE, SE, MM. PADA ACARA PERESMIAN KANTOR BARU PWNU SUMATERA UTARA Medan, 06 Januari 2010 KETUA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA SAMBUTAN KETUA DPR RI BAPAK H. MARZUKI ALIE, SE, MM. PADA ACARA PERESMIAN KANTOR BARU PWNU SUMATERA UTARA Medan, 06 Januari 2010 Assalamu alaikum Warahmatullahiwabarakatuh.

Lebih terperinci

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PIDATO KETUA BPK RI PADA ACARA ULANG TAHUN KE JANUARI 2011

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PIDATO KETUA BPK RI PADA ACARA ULANG TAHUN KE JANUARI 2011 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PIDATO KETUA BPK RI PADA ACARA ULANG TAHUN KE-64 BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA 17 JANUARI 2011 Yth. Wakil Ketua BPK dan Para Anggota BPK, Yth.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Tahun BPK merupakan suatu lembaga negara yang bebas dan

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Tahun BPK merupakan suatu lembaga negara yang bebas dan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menurut Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006 adalah lembaga negara yang bertugas untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sentralisasi, yang mana segala urusan, fungsi, tugas, dan wewenang penyelenggaraan

BAB I PENDAHULUAN. sentralisasi, yang mana segala urusan, fungsi, tugas, dan wewenang penyelenggaraan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam sistem negara kesatuan Republik Indonesia, ditemukan adanya dua cara yang dapat menghubungkan antara pemerintah pusat dan daerah. Cara pertama disebut sentralisasi,

Lebih terperinci

Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung SILABUS. : Pengantar Ilmu Politik

Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung SILABUS. : Pengantar Ilmu Politik Jurusan Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung SILABUS Mata Kuliah : Pengantar Ilmu Politik Kode Mata Kuliah : FSP-616101 Jumlah Satuan Kredit Semester : 3 sks

Lebih terperinci

Laporan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Dalam Acara: Peluncuran Global Master Repurchase Agreement Indonesia.

Laporan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Dalam Acara: Peluncuran Global Master Repurchase Agreement Indonesia. Laporan Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Dalam Acara: Peluncuran Global Master Repurchase Agreement Indonesia Yth. (GMRA Indonesia) Jakarta, 29 Januari 2016!" Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap pasar global, tetapi juga merugikan negara serta dalam jangka panjang dapat

BAB I PENDAHULUAN. terhadap pasar global, tetapi juga merugikan negara serta dalam jangka panjang dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam berbagai diskusi ilmiah, korupsi diakui sebagai musuh bersama bagi masyarakat Indonesia, karena dampak nyata kegiatan korupsi bukan hanya menimbulkan high cost

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN AGAMA. Institut Agama Islam. IAIN. Organisasi. Ambon.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN AGAMA. Institut Agama Islam. IAIN. Organisasi. Ambon. No. 4, 2007 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN AGAMA. Institut Agama Islam. IAIN. Organisasi. Ambon. PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI DAN TATA

Lebih terperinci

Bismillaakhirrokhmaanirokhiim, Assalamu alaikum warohmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua.

Bismillaakhirrokhmaanirokhiim, Assalamu alaikum warohmatullahi wabarakatuh. Salam sejahtera untuk kita semua. SAMBUTAN WALIKOTA BALIKPAPAN PADA ACARA PEMBUKAAN MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) KOTA BALIKPAPAN TAHUN 2016 BALIKPAPAN, 15 Maret 2016 Bismillaakhirrokhmaanirokhiim, Assalamu alaikum warohmatullahi

Lebih terperinci

PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PENGELOLA UNIVERSITAS PADJADJARAN

PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PENGELOLA UNIVERSITAS PADJADJARAN PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PENGELOLA UNIVERSITAS PADJADJARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA REKTOR UNIVERSITAS PADJADJARAN, Menimbang

Lebih terperinci

B. Maksud dan Tujuan Maksud

B. Maksud dan Tujuan Maksud RINGKASAN EKSEKUTIF STUDI IDENTIFIKASI PERMASALAHAN OTONOMI DAERAH DAN PENANGANANNYA DI KOTA BANDUNG (Kantor Litbang dengan Pusat Kajian dan Diklat Aparatur I LAN-RI ) Tahun 2002 A. Latar belakang Hakekat

Lebih terperinci