Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan"

Transkripsi

1 Bab IV asil Penelitian dan Pembahasan IV.1 Isolasi Kitin dari Limbah Udang Sampel limbah udang kering diproses dalam beberapa tahap yaitu penghilangan protein, penghilangan mineral, dan deasetilasi untuk diubah menjadi kitosan. Sampel limbah udang kering sebanyak 50 g dapat menghasilkan 11,25 g kitosan dengan rincian massa dan rendemen pada Tabel IV.1. Protein dalam kitin tidak dapat dihilangkan seluruhnya sebab protein ini diikat oleh kitin melalui ikatan kovalen dan membentuk kompleks yang stabil. Residu yang didapat dicuci dengan air sampai netral kemudian dibilas menggunakan aquades. asil kitin kasar yang diperoleh setelah ekstraksi dengan NaO berwarna coklat. Kandungan mineral utama dalam kulit udang adalah CaCO 3, sebesar 40-50% berat. Mineral lain yang terdapat pada kulit udang adalah Ca 3 (PO 4 ) 2. Larutan Cl akan bereaksi dengan mineral-mineral tersebut, sehingga terbentuk garamgaram yang larut dalam pelarut dan mudah dihilangkan atau terbentuk gas CO 2 yang dapat keluar dari campuran berupa gelembung-gelembung udara. Reaksi mineral dengan Cl adalah sebagai berikut : CaCO 3(s) + 2Cl (aq) CaCl 2(aq) + 2 O (l) + CO 2(g) Ca 3 (PO 4 ) 2(s) + 4Cl (aq) 2CaCl 2(aq) + Ca( 2 PO 4 ) 2 (aq) Penghilangan garam-garam yang larut dilakukan dengan penyaringan, sedangkan gas akan keluar saat pelarutan. al ini dapat dilakukan karena kitin tidak larut dalam Cl.

2 IV.2 Pembuatan Kitosan IV.2 1 Deasetilasi Kitin menjadi Kitosan Deasetilasi kitin adalah penghilangan gugus asetil yang berikatan dengan gugus amin menggunakan larutan basa kuat yang pekat. Larutan basa kuat yang digunakan adalah NaO 50%, hal ini disebabkan karena basa lemah tidak dapat memutuskan ikatan C-N gugus asetamida pada atom C-2 pada asetamida kitin, sedangkan basa kuat akan memutuskan ikatan antara gugus asetil dengan atom N, sehingga terbentuk gugus amina (-N 2 ) pada kitosan. Banyaknya gugus asetil yang hilang merupakan besarnya % deasetilasi kitosan. Transformasi kitin menjadi kitosan adalah reaksi hidrolisa. Mekanisme reaksinya seperti pada Gambar IV.1. Tabel IV 1 Rincian Massa Tiap Proses Pembuatan Kitosan Proses Massa (g) Rendemen Penghilangan protein 26,50 53,0% Penghilangan mineral 14,20 28,4% Deasetilasi 11,25 22,5% IV.2.2 Karakterisasi kitosan Kitosan hasil deasetilasi dikarakterisasi dengan FTIR, dengan spektra yang terlihat pada Gambar IV.2 untuk kitin dan Gambar IV.3 untuk kitosan. Dari spektra tersebut dapat dilihat adanya puncak-puncak yang dimiliki oleh gugus fungsi kitin pada Tabel IV.2, dan puncak-puncak yang dimiliki oleh kitosan pada Tabel IV.3. 27

3 C 2 O C 2 O O O - O O O N N O C C 3 n - O C O C 3 n C 2 O O O - C 2 O O O O N - O C O - O N 2 + C O - C 3 n C 3 n C 2 O C 2 O O O - O O O - O N 2 + C O - N 2 C 3 n n + C 3 COO - + O - Gambar IV 1 Transformasi kitin menjadi kitosan 28

4 97.5 %T Khitin Gambar IV 2 Spektrum FTIR kitin /cm 100 %T Khitosan /cm Gambar IV 3 Spektrum FTIR kitosan 29

5 Tabel IV 2 Jenis Vibrasi Gugus-gugus Fungsi Yang Terdapat Dalam Kitin Bilangan Gelombang (cm -1 ) Jenis Vibrasi Gugus yang bervibrasi Regang O- dan N- 2929,87 Regang C-, C ,78 Regang C=O amida 1417,68 Tekuk C Regang C-O-C Tabel IV 3 Jenis Vibrasi Gugus-gugus Fungsi Yang Terdapat Dalam Kitosan Bilangan Gelombang (cm -1 ) Jenis Vibrasi Gugus yang bervibrasi Regang O- dan N- 2881,65 Regang C-, C ,85 Regang C=O amida 1421,54 Tekuk C- 1089,78 Regang C-O-C Spektra kitin dan kitosan menunjukkan puncak dengan intensitas yang sedikit berbeda. Perbedaan puncak yang paling menonjol terlihat pada puncak C=O amida, pada kitin intensitasnya lebih besar dibandingkan pada kitosan. al ini menunjukkan adanya gugus asetil yang hilang dari kitin. Dari spektra kitosan, terlihat masih ada karbonil yang terikat pada amida, hal ini menunjukkan kitosan yang diperoleh derajat deasetilasinya kurang dari 100%. Dari hasil perhitungan pada Lampiran 1 diperoleh derajat deasetilasi kitosan sebesar 71,52% 30

6 IV.2.3 Penentuan Massa Molekul Relatif Rata-rata Kitosan yang diperoleh pada penelitian ini, setelah ditentukan η r, η sp, η red dan η i, kemudian dengan persamaan Mark-ouwink (persamaan II.5 ), memiliki massa molekul relatif rata-rata sebesar 2, Da, dengan perhitungan pada Lampiran 2. IV.3 Penggunaan Kitosan Untuk Penjernihan Air Sampel air yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 macam, yaitu air keruh simulasi yang mengandung ion Fe (III) dari larutan FeSO 4, dan air dari sungai Cikapundung di sekitar Babakan Siliwangi. Untuk penjernihan air keruh ini digunakan dua jenis koagulan yaitu kitosan dan tawas (Al 2 (SO 4 ) 3 ). Parameter yang dianalisis pada pengolahan sampel air ini adalah turbiditas (kekeruhan) dan derajat keasaman (p). Tabel IV.4 menunjukkan karakteristik sampel air sebelum pengolahan. Tabel IV 4 Karakteristik sampel air sebelum pengolahan Sampel Air Parameter Kekeruhan (NTU) p Sampel air keruh simulasi 67,43 7,87 Sampel air sungai 72,91 7,53 Dari hasil pengukuran dengan Spectronic 20 diperoleh nilai Transmitan (%T), yang kemudian ditentukan nilai Absorbannya dan ditentukan nilai kekeruhan (NTU) berdasarkan persamaan regresi linier dari larutan standar hidrazin sulfat pada Lampiran 4. 31

7 IV.3.1 Pengaruh Konsentrasi Kitosan Dan Tawas Terhadap Efektifitas Penjernihan Sampel Air Keruh Simulasi Koagulan kitosan dan tawas dengan volume tertentu ditambahkan ke dalam 200 ml sampel air sehingga konsentrasi koagulan kitosan maupun tawas dalam pengolahan ini bervariasi dari 2-10 ppm. Pada awal penambahan koagulan kitosan dengan pengadukan cepat, sudah mulai terlihat sampel air yang diolah menjadi keruh kemudian dengan pengadukan lambat mulai terbentuk gumpalangumpalan kecil atau disebut mikroflok. Gumpalan-gumpalan tersebut semakin lama semakin membesar atau disebut makroflok. Setelah didiamkan beberapa saat, makroflok-makroflok tersebut mengendap dalam waktu 40 menit sehingga bagian atas air terlihat lebih jernih dari sebelumnya. Endapan yang terbentuk adalah berupa gumpalan yang berwarna coklat kekuningan serta mudah terpecah, sehingga ada sebagian kecil lapisan yang mengapung dan membentuk lapisan dipermukaan. Kemudian untuk memisahkan endapan dan lapisan di permukaan air dilakukan proses penyaringan dengan kertas saring sehingga diperoleh air yang jernih. Sedangkan penambahan koagulan tawas yang diolah dengan cara yang sama tidak banyak menghasilkan endapan, sehingga bagian atas air tidak begitu jernih dan masih kelihatan keruh, walaupun sudah dilakukan proses penyaringan. Lampiran 5 menunjukkan pengaruh konsentrasi kitosan dan tawas terhadap kekeruhan air keruh simulasi. Gambar IV.4 menunjukkan pengaruh konsentrasi koagulan kitosan dan tawas pada penjernihan air keruh simulasi. Dan Gambar IV.5 menunjukkan pengaruh konsentrasi kitosan dan tawas terhadap persen penurunan kekeruhan air keruh simulasi. Dari grafik tersebut dapat dilihat bahwa dengan menggunakan koagulan kitosan, dengan konsentrasi 2 ppm, dari kekeruhan awal air keruh simulasi sebesar 67,43 NTU mengalami penurunan kekeruhan menjadi 9,78 NTU dengan persentase penurunan kekeruhan sebesar 85,49 %. Setelah ditambahkan koagulan kitosan dengan konsentrasi 4 ppm, terjadi penurunan kekeruhan yang lebih besar lagi, menjadi 0,09 NTU dengan persentase penurunan kekeruhan sebesar 99,88 %. Tetapi dengan penambahan konsentrasi koagulan kitosan yang lebih besar lagi misalnya dengan konsentrasi kitosan 6 ppm sampai 10 ppm, kekeruhan 32

8 mengalami kenaikan lagi, dengan persentase penurunan kekeruhan sebesar 97,03 % ; 94,20%; dan 91,35%. Penurunan kekeruhan yang maksimal diperoleh dengan konsentrasi kitosan 4 ppm. kekeruhan (NTU) kitosan tawas konsentrasi koagulan (ppm) Gambar IV 4 Pengaruh konsentrasi kitosan dan tawas terhadap kekeruhan air keruh simulasi % penurunan kekeruhan kitosan tawas konsentrasi koagulan (ppm) Gambar IV 5 Pengaruh konsentrasi kitosan dan tawas terhadap persen penurunan kekeruhan air keruh simulasi Sedangkan pengolahan air dengan menggunakan koagulan tawas, penambahan koagulan tawas sebesar 2 ppm terjadi penurunan kekeruhan menjadi 64,74 NTU, 33

9 dengan persentase penurunan kekeruhan sebesar 3,99%. Setelah ditambahkan koagulan tawas dengan konsentrasi yang lebih besar lagi, terjadi penurunan kekeruhan, tetapi tidak begitu besar, misalnya dengan penambahan konsentrasi maksimal koagulan tawas 10 ppm, kekeruhan menjadi 28,57 NTU dengan persentase penurunan kekeruhan sebesar 57,63%. Penurunan kekeruhan yang maksimal diperoleh dengan konsentrasi tawas 10 ppm. Data persen penurunan kekeruhan air keruh simulasi dengan koagulan kitosan dapat dilihat pada Tabel IV.5, dan data persen penurunan kekeruhan air keruh simulasi dengan koagulan tawas pada Tabel IV.6. Tabel IV 5 Persen penurunan kekeruhan air keruh simulasi dengan koagulan kitosan Konsentrasi kitosan (ppm) Kekeruhan (NTU) awal akhir % penurunan kekeruhan 2 67,43 9,78 85, ,43 0,09 99, ,43 2,00 97, ,43 3,91 94, ,43 5,83 91,35 Tabel IV 6 Persen penurunan kekeruhan air keruh simulasi dengan koagulan tawas Konsentrasi tawas (ppm) Kekeruhan (NTU) awal akhir % penurunan kekeruhan 2 67,43 64,74 3, ,43 59,52 11, ,43 35,26 47, ,43 33,00 51, ,43 28,57 57,63 34

10 Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa koagulan kitosan lebih efektif dan efisien dibandingkan koagulan tawas. Konsentrasi optimal kitosan adalah 4 ppm sedangkan konsentrasi optimal tawas 10 ppm. asil pengolahan air keruh simulasi dengan koagulan kitosan dan tawas dapat dilihat pada Gambar IV.7, IV.8, IV.9, IV.10. Air keruh simulasi, dibuat dengan melarutkan serbuk FeSO 4 ke dalam air, dan dibiarkan selama kira-kira 24 jam. Kekeruhan air keruh simulasi disebabkan oleh ion Fe 2+ yang teroksidasi menjadi ion Fe 3+ dan membentuk koloid Fe(O) 3. Koloid Fe(O) 3 dapat bermuatan positif dengan mengadsorpsi ion Fe 3+ dalam suasana asam (p < 7). Dan koloid Fe(O) 3 juga dapat bermuatan negatif dengan mengadsorpsi ion O - dalam suasana basa (p > 7). Pada pembuatan air simulasi, serbuk FeSO 4 dilarutkan dalam air PAM dengan p 7,87 (suasana basa), sehingga koloid Fe(O) 3 yang terbentuk bermuatan negatif. Skema hidrolisis ion Fe +3 dapat dilihat pada Gambar IV.6. Muatan negatif dari koloid Fe(O) 3 akan dinetralkan oleh polielektrolit kitosan. Prinsip koagulasi kitosan disini adalah adanya gaya tarik menarik antara koloid Fe(O) 3 yang bermuatan negatif dengan kitosan yang memiliki gugus amina bebas yang bermuatan positif karena mengikat ion + dari asam asetat. Akibatnya partikel-partikel koloid Fe(O) 3 akan menyatu membentuk flok dan akhirnya mengendap. kenaikan p Fe( 2 O) 6 3+ [Fe( 2 O) 5 O] 2+ [Fe( 2 O) 4 (O) 2 ] + [Fe( 2 O) 3 (O) 3 ] (s) Fe 2 (O) 2 4+ [Fe( 2 O) 2 (O) 4 ] Gambar IV 6 Skema hidrolisis untuk Fe 35

11 Gambar IV 8 Air keruh simulasi hasil pengolahan dengan kitosan sebelum penyaringan Gambar IV 8 Air keruh simulasi hasil pengolahan dengan tawas sebelum penyaringan 36

12 Gambar IV 9 Air keruh simulasi hasil pengolahan dengan kitosan setelah penyaringan Gambar 10 Air keruh simulasi hasil pengolahan dengan tawas setelah penyaringan 37

13 IV.3.2 Pengaruh Konsentrasi Kitosan Dan Tawas Terhadap Efektifitas Penjernihan Air Sungai Pada Tabel IV.1 terlihat bahwa sampel air sungai mempunyai karakteristik nilai kekeruhan sebesar 72,91 NTU, dengan p sebesar 7,53. Sampel air sungai memiliki kekeruhan yang relatif tinggi dibandingkan dengan kekeruhan air keruh simulasi. Seperti halnya sampel air keruh simulasi, pengolahan sampel air sungaipun dilakukan dengan variasi konsentrasi kitosan dan tawas yaitu 2-10 ppm. Data lengkap hasil penjernihan dapat dilihat pada Lampiran 6. Pada Gambar IV.11 dapat dilihat pengaruh konsentrasi kitosan dan tawas terhadap nilai kekeruhan (NTU) air sungai, dan Gambar IV.12 pengaruh konsentrasi kitosan dan tawas terhadap persentase penurunan kekeruhan air sungai. kekeruhan (NTU) konsentrasi koagulan (ppm) kitosan tawas Gambar IV 11 Pengaruh konsentrasi kitosan dan tawas terhadap kekeruhan air sungai 38

14 % penurunan kekeruhan kitosan tawas konsentrasi koagulan (ppm) Gambar IV.12 Pengaruh konsentrasi kitosan dan tawas terhadap persen penurunan kekeruhan air sungai Dari grafik tersebut juga dapat dilihat bahwa dengan menggunakan koagulan kitosan, dengan konsentrasi 2 ppm, kekeruhan berkurang menjadi 7,78 NTU, sehingga persentase penurunan kekeruhan yaitu sebesar 89,33%. Setelah ditambahkan koagulan kitosan dengan konsentrasi 4 ppm, terjadi penurunan kekeruhan yang lebih besar lagi, dengan persentase penurunan kekeruhan sebesar 99,88%. Tetapi dengan penambahan konsentrasi koagulan kitosan yang lebih besar lagi, kekeruhan mengalami kenaikan lagi. al ini menunjukkan pentingnya optimasi konsentrasi koagulan agar suatu proses koagulasi dapat berjalan efektif. Pada pengolahan air sungai dengan menggunakan koagulan tawas, penambahan koagulan tawas sebesar 2 ppm mengakibatkan penurunan kekeruhan menjadi 44,61 NTU, dengan persentase penurunan kekeruhan sebesar 38,81%. Setelah ditambahkan koagulan tawas dengan konsentrasi yang lebih besar, yaitu 10 ppm terjadi penurunan kekeruhan dengan persentase penurunan kekeruhan sebesar 54,74%. Data persen penurunan kekeruhan air sungai dengan koagulan kitosan dapat dilihat pada Tabel IV.7, dan data persen penurunan kekeruhan air sungai dengan koagulan tawas pada Tabel IV.8. 39

15 Tabel IV 7 Persen penurunan kekeruhan air sungai dengan koagulan kitosan Konsentrasi kitosan (ppm) Kekeruhan (NTU) awal akhir % penurunan kekeruhan 2 72,91 7,78 89, ,91 0,09 99, ,91 2,00 97, ,91 5,83 92, ,91 7,78 89,33 Tabel IV 8 Persen penurunan kekeruhan air sungai dengan koagulan tawas Konsentrasi tawas (ppm) Kekeruhan (NTU) awal akhir % penurunan kekeruhan 2 72,91 44,61 38, ,91 37,57 48, ,91 37,57 48, ,91 35,26 51, ,91 33,00 54,74 Seperti halnya pada pengolahan sampel air keruh simulasi yang mengandung ion Fe(III), pada pengolahan sampel air sungai juga terjadi kekeruhan pada waktu pengadukan cepat, kemudian dengan pengadukan lambat mulai terbentuk gumpalan-gumpalan kecil atau disebut mikroflok. Gumpalan-gumpalan tersebut semakin lama semakin membesar atau disebut makroflok. Setelah didiamkan beberapa saat, makroflok-makroflok tersebut mengendap dalam waktu 40 menit, sehingga bagian atas air terlihat lebih jernih dari sebelumnya. Setelah dilakukan penyaringan baru diperoleh air yang jernih. Endapan yang terbentuk dari hasil pengolahan air sungai berupa gumpalan-gumpalan yang lebih besar dibandingkan 40

16 gumpalan hasil pengolahan air keruh simulasi, dengan warna endapan coklat dan stabil. al ini terjadi karena kekeruhan pada air sungai terjadi karena adanya padatan tak larut dalam air tersebut. Padatan ini sangat bervariasi, baik jenis, sumber maupun ukuran partikelnya. Jenis padatan yang merupakan faktor utama penyebab kekeruhan adalah padatan-padatan yang tergolong koloid, baik koloid organik maupun koloid anorganik. Partikel-partikel koloid dalam air keruh simulasi hanya sejenis dengan ukuran partikel koloid yang lebih halus, sehingga gumpalan-gumpalan makrofloknya lebih mudah pecah dengan warna endapan coklat kekuningan, karena banyak mengandung koloid Fe(O) 3. Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan koagulan kitosan juga lebih efektif dan efisien untuk menjernihkan air sungai dibandingkan koagulan tawas. Konsentrasi optimal kitosan adalah 4 ppm sedangkan konsentrasi optimal tawas 10 ppm. asil pengolahan air sungai dengan koagulan kitosan dapat dilihat pada Gambar IV.13, IV.14 dan hasil pengolahan air sungai dengan koagulan tawas pada Gambar IV.15, IV.16. Salah satu penyebab kekeruhan air sungai adalah banyaknya padatan tak larut. Padatan ini sangat bervariasi, baik jenis, sumber maupun ukuran partikelnya. Jenis padatan yang merupakan faktor utama penyebab kekeruhan air sungai adalah padatan-padatan yang tergolong partikel koloid tanah liat yang dihasilkan dari erosi tanah 21, dan padatan-padatan lain baik koloid organik maupun anorganik. Partikel koloid merupakan partikel yang bermuatan listrik sebagai hasil dari adsorpsi ion positif atau negatif pada permukaan partikel-partikel koloid. Partikel-partikel koloid dalam media air pada umumnya mengadsorpsi anion sehingga bermuatan negatif 21 dan terdistribusi merata pada permukaannya. Kemampuan koagulasi dari kitosan disebabkan oleh adanya gugus amino bebas yang mengalami protonasi karena adanya ion + dari asam asetat, sehingga kitosan dapat menyumbangkan sifat polielektrolit kation yang sangat potensial untuk digunakan sebagai koagulan. 41

17 Gambar IV.13 Air sungai hasil pengolahan dengan kitosan sebelum penyaringan Gambar IV.14 Air sungai hasil pengolahan dengan tawas sebelum penyaringan 42

18 Gambar IV.15 Air sungai hasil pengolahan dengan kitosan setelah penyaringan Gambar IV.16 Air sungai hasil pengolahan dengan tawas setelah penyaringan 43

19 IV.3.3 Tinjauan Kekeruhan dan p Proses koagulasi yang disebabkan oleh polielektrolit meliputi empat tahap, yaitu: 1. Dispersi dari polielektrolit dalam koloid 2. Adsorpsi antara permukaan solid-liquid 3. Kompresi dari polielektrolit yang teradsorpsi 4. Koalisi atau penyatuan dari masing-masing polielektrolit yang terlingkupi oleh partikel untuk membentuk flok-flok kecil dan berkembang menjadi flok yang lebih besar Pada penelitian ini konsentrasi optimum kitosan sebesar 4 ppm, baik pada pengolahan air keruh simulasi maupun air sungai. Tetapi jika penambahan kitosan melebihi 4 ppm maka akan terjadi kenaikan kekeruhan. al ini menunjukkan bahwa proses koagulasi dan flokulasi sangat dipengaruhi oleh faktor konsentrasi koagulan. Pada suatu dosis tertentu akan terjadi suatu proses koagulasi yang paling efektif terhadap koloid tertentu. Kitosan merupakan koagulan berupa polimer, yang terdiri dari satuan-satuan kecil monomer. Jika dosis polimer berlebih, maka segmen polimer akan menjenuhkan permukaan partikel koloid, sehingga tidak ada lagi sisi untuk membentuk jembatan, hal ini mengakibatkan partikel stabil kembali. Penambahan koagulan kitosan ke dalam air keruh simulasi maupun air sungai, tidak menunjukkan perubahan p yang signifikan. Seperti yang terlihat pada Lampiran 5 dan Lampiran 6. Perubahan p yang terjadi hanya berkisar 0,02-0,3 unit p saja untuk setiap penambahan konsentrasi koagulan. Misalnya untuk sampel air keruh simulasi dengan p awal sebesar 7,87 berubah menjadi 7,70, sampel air sungai dari 7,53 berubah menjadi 7,23 setelah masing-masing sampel air ditambahkan koagulan kitosan dengan konsentrasi sebesar 4 ppm. Dari data yang diperoleh pada Lampiran 5 dan Lampiran 6, secara umum setiap kenaikan konsentrasi koagulan kitosan yang ditambahkan ke dalam sampel air, maka akan terjadi kecenderungan penurunan p. al ini disebabkan karena 44

20 koagulan yang ditambahkan relatif bersifat asam karena terdiri dari kitosan yang dilarutkan dalam asam asetat. Penurunan p sampel air terjadi secara perlahan karena asam yang digunakan sangat rendah konsentrasinya yaitu 1%, dan asam yang digunakan asam asetat yang tergolong asam lemah dengan tetapan ionisasi (Ka) sebesar 1,8 x Kitosan merupakan koagulan yang tidak terionisasi dengan baik di dalam air, sehingga tidak merubah p yang begitu besar pada sampel air. 45

Bab III Metodologi Penelitian

Bab III Metodologi Penelitian Bab III Metodologi Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap yaitu, tahap isolasi kitin yang terdiri dari penghilangan protein, penghilangan mineral, tahap dua pembuatan kitosan dengan deasetilasi

Lebih terperinci

4. Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan 4. Hasil dan Pembahasan 4.1 Isolasi Kitin dan Kitosan Isolasi kitin dan kitosan yang dilakukan pada penelitian ini mengikuti metode isolasi kitin dan kitosan dari kulit udang yaitu meliputi tahap deproteinasi,

Lebih terperinci

3. Metodologi Penelitian

3. Metodologi Penelitian 3. Metodologi Penelitian 3.1 Alat dan bahan 3.1.1 Alat Peralatan gelas yang digunakan dalam penelitian ini adalah gelas kimia, gelas ukur, labu Erlenmeyer, cawan petri, corong dan labu Buchner, corong

Lebih terperinci

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam klorida 0,1 N. Prosedur uji disolusi dalam asam dilakukan dengan cara

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. s n. Pengujian Fitokimia Biji Kelor dan Biji. Kelor Berkulit

HASIL DAN PEMBAHASAN. s n. Pengujian Fitokimia Biji Kelor dan Biji. Kelor Berkulit 8 s n i1 n 1 x x i 2 HASIL DAN PEMBAHASAN Pengujian Fitokimia Kelor dan Kelor Berkulit s RSD (%) 100% x Pengujian Fitokimia Kelor dan Kelor Berkulit Pengujian Alkaloid Satu gram contoh dimasukkan ke dalam

Lebih terperinci

Bab II Tinjauan Pustaka

Bab II Tinjauan Pustaka Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Limbah Udang Sebagian besar limbah udang yang dihasilkan oleh usaha pengolahan udang berasal dari kepala, kulit dan ekornya. Kulit udang mengandung protein (25%- 40%), kitin

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulan Data Hasil Percobaan Pengumpulan data hasil percobaan diperoleh dari beberapa pengujian, yaitu: a. Data Hasil Pengujian Sampel Awal Data hasil pengujian

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print) F193

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print) F193 F193 Perbandingan Kemampuan Kitosan dari Limbah Kulit Udang dengan Aluminium Sulfat untuk Menurunkan Kekeruhan Air dari Outlet Bak Prasedimentasi IPAM Ngagel II Cecilia Dwi Triastiningrum dan Alfan Purnomo

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Beaker glass 50 ml pyrex. Beaker glass 100 ml pyrex

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Beaker glass 50 ml pyrex. Beaker glass 100 ml pyrex BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN 3.1 Alat-Alat Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: Beaker glass 50 ml pyrex Beaker glass 100 ml pyrex Beaker glass 150 ml pyrex Beaker glass 200 ml pyrex Erlenmeyer

Lebih terperinci

PEMANFAATAN KITOSAN DARI CANGKANG RAJUNGAN PADA PROSES ADSORPSI LOGAM NIKEL DARI LARUTAN NiSO 4

PEMANFAATAN KITOSAN DARI CANGKANG RAJUNGAN PADA PROSES ADSORPSI LOGAM NIKEL DARI LARUTAN NiSO 4 PEMANFAATAN KITOSAN DARI CANGKANG RAJUNGAN PADA PROSES ADSORPSI LOGAM NIKEL DARI LARUTAN NiSO 4 Yuliusman dan Adelina P.W. Departemen Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia Kampus UI, Depok

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistiren Polistiren disintesis dari monomer stiren melalui reaksi polimerisasi adisi dengan inisiator benzoil peroksida. Pada sintesis polistiren ini, terjadi tahap

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print) F-272

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print) F-272 JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) F-272 Perbandingan Kemampuan Kitosan dari Limbah Kulit Udang dengan Aluminium Sulfat untuk Menurunkan Kekeruhan Air dari Outlet

Lebih terperinci

Hasil dan Pembahasan

Hasil dan Pembahasan Bab 4 asil dan Pembahasan 4.1 Pembuatan dan Kitosan Kulit udang yang digunakan sebagai bahan baku kitosan terdiri atas kepala, badan, dan ekor. Tahapan-tahapan dalam pengolahan kulit udang menjadi kitosan

Lebih terperinci

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sintesis dan Karakterisasi Karboksimetil Kitosan Spektrum FT-IR kitosan yang digunakan untuk mensintesis karboksimetil kitosan (KMK) dapat dilihat pada Gambar 8 dan terlihat

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Kulit udang yang diperoleh dari pasar Kebun Roek Ampenan kota

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Kulit udang yang diperoleh dari pasar Kebun Roek Ampenan kota BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Isolasi Kitin dari Kulit Udang 5.1.1 Tepung kulit udang Kulit udang yang diperoleh dari pasar Kebun Roek Ampenan kota Mataram dibersihkan kemudian dikeringkan yang selanjutnya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Lanjutan Nilai parameter. Baku mutu. sebelum perlakuan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Lanjutan Nilai parameter. Baku mutu. sebelum perlakuan dan kemudian ditimbang. Penimbangan dilakukan sampai diperoleh bobot konstan. Rumus untuk perhitungan TSS adalah sebagai berikut: TSS = bobot residu pada kertas saring volume contoh Pengukuran absorbans

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 asil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistiren Sintesis polistiren dilakukan dalam reaktor polimerisasi dengan suasana vakum. al ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kontak dengan udara karena stiren

Lebih terperinci

PEMANFAATAN KITOSAN DARI KERANG SIMPING (Placuna placenta) SEBAGAI KOAGULAN UNTUN PENJERNIHAN AIR SUMUR

PEMANFAATAN KITOSAN DARI KERANG SIMPING (Placuna placenta) SEBAGAI KOAGULAN UNTUN PENJERNIHAN AIR SUMUR PEMANFAATAN KITOSAN DARI KERANG SIMPING (Placuna placenta) SEBAGAI KOAGULAN UNTUN PENJERNIHAN AIR SUMUR THE UTILIZATION OF CHITOSAN FROM SIMPING SHELLS (Placuna placenta) AS COAULANT FOR WELL WATER PURIFICATION

Lebih terperinci

Karakterisasi Kitosan dari Limbah Kulit Kerang Simping (Placuna placenta) Characterization of Chitosan from Simping Shells (Placuna placenta) Waste

Karakterisasi Kitosan dari Limbah Kulit Kerang Simping (Placuna placenta) Characterization of Chitosan from Simping Shells (Placuna placenta) Waste Karakterisasi Kitosan dari Limbah Kulit Kerang Simping (Placuna placenta) Characterization of Chitosan from Simping Shells (Placuna placenta) Waste Nur Laili Eka Fitri* dan Rusmini Department of Chemistry,

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistiren Polistiren disintesis melalui polimerisasi dari monomer (stiren). Polimerisasi ini merupakan polimerisasi radikal, dengan pusat aktif berupa radikal bebas.

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan 19 Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Biodiesel Minyak jelantah semula bewarna coklat pekat, berbau amis dan bercampur dengan partikel sisa penggorengan. Sebanyak empat liter minyak jelantah mula-mula

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM DISUSUN OLEH FITRI RAMADHIANI KELOMPOK 4 1. DITA KHOERUNNISA 2. DINI WULANDARI 3. AISAH 4. AHMAD YANDI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

Lebih terperinci

Makalah Pendamping: Kimia Paralel E PENGARUH KONSENTRASI KITOSAN DARI CANGKANG UDANG TERHADAP EFISIENSI PENJERAPAN LOGAM BERAT

Makalah Pendamping: Kimia Paralel E PENGARUH KONSENTRASI KITOSAN DARI CANGKANG UDANG TERHADAP EFISIENSI PENJERAPAN LOGAM BERAT 276 PENGARUH KONSENTRASI KITOSAN DARI CANGKANG UDANG TERHADAP EFISIENSI PENJERAPAN LOGAM BERAT Antuni Wiyarsi, Erfan Priyambodo Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY Kampus Karangmalang, Yogyakarta 55281

Lebih terperinci

PEMBUATAN KHITOSAN DARI KULIT UDANG UNTUK MENGADSORBSI LOGAM KROM (Cr 6+ ) DAN TEMBAGA (Cu)

PEMBUATAN KHITOSAN DARI KULIT UDANG UNTUK MENGADSORBSI LOGAM KROM (Cr 6+ ) DAN TEMBAGA (Cu) Reaktor, Vol. 11 No.2, Desember 27, Hal. : 86- PEMBUATAN KHITOSAN DARI KULIT UDANG UNTUK MENGADSORBSI LOGAM KROM (Cr 6+ ) DAN TEMBAGA (Cu) K. Haryani, Hargono dan C.S. Budiyati *) Abstrak Khitosan adalah

Lebih terperinci

PENGGUNAAN KITOSAN DARI TULANG RAWAN CUMI-CUMI (LOLIGO PEALLI) UNTUK MENURUNKAN KADAR ION LOGAM Cd DENGAN MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

PENGGUNAAN KITOSAN DARI TULANG RAWAN CUMI-CUMI (LOLIGO PEALLI) UNTUK MENURUNKAN KADAR ION LOGAM Cd DENGAN MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM Penggunaan Kitosan dari Tulang Rawan Cumi-Cumi (Loligo pealli) untuk Menurunkan Kadar Ion Logam (Harry Agusnar) PENGGUNAAN KITOSAN DARI TULANG RAWAN CUMI-CUMI (LOLIGO PEALLI) UNTUK MENURUNKAN KADAR ION

Lebih terperinci

3 Metodologi Penelitian

3 Metodologi Penelitian 3 Metodologi Penelitian Penelitian tugas akhir ini dilakukan di Laboratorium Kimia Fisik Material dan Laboratorium Kimia Analitik Program Studi Kimia ITB, serta di Laboratorium Polimer Pusat Penelitian

Lebih terperinci

Kelas : XI IPA Guru : Tim Guru HSPG Tanggal : Senin, 23 Mei 2016 Mata pelajaran : Kimia Waktu : WIB

Kelas : XI IPA Guru : Tim Guru HSPG Tanggal : Senin, 23 Mei 2016 Mata pelajaran : Kimia Waktu : WIB Kelas : XI IPA Guru : Tim Guru HSPG Tanggal : Senin, 23 Mei 2016 Mata pelajaran : Kimia Waktu : 10.15 11.45 WIB Petunjuk Pengerjaan Soal Berdoa terlebih dahulu sebelum mengerjakan! Isikan identitas Anda

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. karena itu air berperan penting dalam berlangsungnya sebuah kehidupan. Air

BAB 1 PENDAHULUAN. karena itu air berperan penting dalam berlangsungnya sebuah kehidupan. Air BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Air adalah salah satu elemen atau unsur yang berdiri sebagai pemegang tonggak kehidupan makhluk hidup, seperti manusia, hewan, dan tumbuhan, oleh karena itu air berperan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Dasar Pengenalan Air Air merupakan suatu sarana utama untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, karena air merupakan salah satu media dari berbagai macam penularan,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. penyamakan kulit dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS Mini

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. penyamakan kulit dengan menggunakan Spektrofotometer UV-VIS Mini 43 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Proses elektrokoagulasi terhadap sampel air limbah penyamakan kulit dilakukan dengan bertahap, yaitu pengukuran treatment pada sampel air limbah penyamakan kulit dengan menggunakan

Lebih terperinci

3 Percobaan. 3.1 Tahapan Penelitian Secara Umum. Tahapan penelitian secara umum dapat dilihat pada diagram alir berikut :

3 Percobaan. 3.1 Tahapan Penelitian Secara Umum. Tahapan penelitian secara umum dapat dilihat pada diagram alir berikut : 3 Percobaan 3.1 Tahapan Penelitian Secara Umum Tahapan penelitian secara umum dapat dilihat pada diagram alir berikut : Gambar 3. 1 Diagram alir tahapan penelitian secara umum 17 Penelitian ini dibagi

Lebih terperinci

3 Metodologi Penelitian

3 Metodologi Penelitian 3 Metodologi Penelitian 3.1 Alat dan Bahan 3.1.1 Alat 1. Pada tahap sintesis, pemurnian, dan sulfonasi polistiren digunakan peralatan gelas, alat polimerisasi, neraca analitis, reaktor polimerisasi, oil

Lebih terperinci

Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi

Gambar IV 1 Serbuk Gergaji kayu sebelum ekstraksi Bab IV Pembahasan IV.1 Ekstraksi selulosa Kayu berdasarkan struktur kimianya tersusun atas selulosa, lignin dan hemiselulosa. Selulosa sebagai kerangka, hemiselulosa sebagai matrik, dan lignin sebagai

Lebih terperinci

TINGKATAN KUALITAS KITOSAN HASIL MODIFIKASI PROSES PRODUKSI. Abstrak

TINGKATAN KUALITAS KITOSAN HASIL MODIFIKASI PROSES PRODUKSI. Abstrak TINGKATAN KUALITAS KITOSAN HASIL MODIFIKASI PROSES PRODUKSI Pipih suptijah* ) Abstrak Kitosan adalah turunan dari kitin yang merupakan polimer alam terdapat pada karapas/ limbah udang sekitar 10 % - 25%.

Lebih terperinci

Metode Penelitian. 3.1 Alat dan Bahan Penelitian Daftar alat

Metode Penelitian. 3.1 Alat dan Bahan Penelitian Daftar alat Bab 3 Metode Penelitian Penelitian ini terdiri atas tahap pembuatan kitin dan kitosan, sintesis karboksimetil kitosan dari kitin dan kitosan, pembuatan membran kitosan dan karboksimetil kitosan, dan karakterisasi.

Lebih terperinci

Abstrak. Kata kunci: Flotasi; Ozon; Polyaluminum chloride, Sodium Lauril Sulfat.

Abstrak. Kata kunci: Flotasi; Ozon; Polyaluminum chloride, Sodium Lauril Sulfat. Pengaruh Dosis Koagulan PAC Dan Surfaktan SLS Terhadap Kinerja Proses Pengolahan Limbah Cair Yang Mengandung Logam Besi (), Tembaga (), Dan kel () Dengan Flotasi Ozon Eva Fathul Karamah, Setijo Bismo Departemen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kolam renang adalah kontruksi buatan yang dirancang untuk diisi dengan air dan digunakan untuk berenang, menyelam, atau aktivitas air lainnya. Kolam renang merupakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. standar, dilanjutkan pengukuran kadar Pb dalam contoh sebelum dan setelah koagulasi (SNI ).

HASIL DAN PEMBAHASAN. standar, dilanjutkan pengukuran kadar Pb dalam contoh sebelum dan setelah koagulasi (SNI ). 0.45 µm, ph meter HM-20S, spektrofotometer serapan atom (AAS) Analytic Jena Nova 300, spektrofotometer DR 2000 Hach, SEM-EDS EVO 50, oven, neraca analitik, corong, pompa vakum, dan peralatan kaca yang

Lebih terperinci

PENGARUH WAKTU PROSES DEASETILASI KITIN DARI CANGKANG BEKICOT (Achatina fulica) TERHADAP DERAJAT DEASETILASI

PENGARUH WAKTU PROSES DEASETILASI KITIN DARI CANGKANG BEKICOT (Achatina fulica) TERHADAP DERAJAT DEASETILASI PENGARUH WAKTU PROSES DEASETILASI KITIN DARI CANGKANG BEKICOT (Achatina fulica) TERHADAP DERAJAT DEASETILASI [EFFECT OF CHITIN DEACETYLATION PROCESSING TIMES FROM SHELLS OF SNAILS (Achatina fulica) TO

Lebih terperinci

D. X 2 (PO 4 ) 3 E. X 2 SO 4. D. S dan T E. R dan T

D. X 2 (PO 4 ) 3 E. X 2 SO 4. D. S dan T E. R dan T 1. Suatu atom X mempunyai konfigurasi elektron1s 2 2s 2 2p 6 3s 2. Senyawa dan yang dapat dibentuk oleh atom ini adalah... A. HX 2 B. XCl 2 C. CaX Atom X termasuk golongan II A (alkali tanah) Senyawanya

Lebih terperinci

Bab IV Hasil Dan Pembahasan

Bab IV Hasil Dan Pembahasan Bab IV Hasil Dan Pembahasan IV.1 Analisa Kualitas Air Gambut Hasil analisa kualitas air gambut yang berasal dari Riau dapat dilihat pada Tabel IV.1. Hasil ini lalu dibandingkan dengan hasil analisa air

Lebih terperinci

4. Hasil dan Pembahasan

4. Hasil dan Pembahasan 4. Hasil dan Pembahasan 4.1. Sintesis Polistiren (PS) Pada proses sintesis ini, benzoil peroksida berperan sebagai suatu inisiator pada proses polimerisasi, sedangkan stiren berperan sebagai monomer yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KARAKTERISASI LIMBAH MINYAK Sebelum ditambahkan demulsifier ke dalam larutan sampel bahan baku, terlebih dulu dibuat blanko dari sampel yang diujikan (oli bekas dan minyak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air merupakan suatu bahan pokok yang sangat diperlukan oleh setiap mahluk hidup yang ada di bumi. Keberadaan sumber air bersih pada suatu daerah sangat mempengaruhi

Lebih terperinci

PENGARUH KONSENTRASI NaOH DAN Na 2 CO 3 PADA SINTESIS KATALIS CaOMgO DARI SERBUK KAPUR DAN AKTIVITASNYA PADA TRANSESTERIFIKASI MINYAK KEMIRI SUNAN

PENGARUH KONSENTRASI NaOH DAN Na 2 CO 3 PADA SINTESIS KATALIS CaOMgO DARI SERBUK KAPUR DAN AKTIVITASNYA PADA TRANSESTERIFIKASI MINYAK KEMIRI SUNAN PENGARUH KONSENTRASI NaOH DAN Na 2 CO 3 PADA SINTESIS KATALIS CaOMgO DARI SERBUK KAPUR DAN AKTIVITASNYA PADA TRANSESTERIFIKASI MINYAK KEMIRI SUNAN DESY TRI KUSUMANINGTYAS (1409 100 060) Dosen Pembimbing

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kitosan dihasilkan dari kitin dan mempunyai struktur kimia yang sama

BAB I PENDAHULUAN. Kitosan dihasilkan dari kitin dan mempunyai struktur kimia yang sama BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kitosan dihasilkan dari kitin dan mempunyai struktur kimia yang sama dengan kitin, terdiri dari rantai molekul yang panjang dan berat molekul yang tinggi. Adapun perbedaan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pupuk Organik Cair Pupuk adalah bahan yang ditambahkan ke dalam tanah untuk menyediakan sebagian unsur esensial bagi pertumbuhan tanaman. Peran pupuk sangat dibutuhkan oleh tanaman

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. protein dari sampel, sedangkan demineralisasi merupakan proses pemisahan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. protein dari sampel, sedangkan demineralisasi merupakan proses pemisahan 42 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Isolasi Kitin Isolasi kitin mengunakan bahan baku serbuk kulit udang melalui dua tahap proses yaitu deproteinasi dan demineralisasi. Deproteinasi merupakan proses pemisahan

Lebih terperinci

Teknik Bioseparasi. Dina Wahyu. Genap/ March 2014

Teknik Bioseparasi. Dina Wahyu. Genap/ March 2014 5. Teknik Bioseparasi Dina Wahyu Genap/ March 2014 Outline Chemical Reaction Engineering 1 2 3 4 5 6 7 Pendahuluan mempelajari ruang lingkup teknik bioseparasi dan teknik cel disruption Teknik Pemisahan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, dimulai dari bulan

BAB III METODE PENELITIAN. Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, dimulai dari bulan 25 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Kegiatan penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan, dimulai dari bulan Januari 2011. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisika Material jurusan

Lebih terperinci

Analisis Zat Padat (TDS,TSS,FDS,VDS,VSS,FSS)

Analisis Zat Padat (TDS,TSS,FDS,VDS,VSS,FSS) Analisis Zat Padat (TDS,TSS,FDS,VDS,VSS,FSS) Padatan (solid) merupakan segala sesuatu bahan selain air itu sendiri. Zat padat dalam air ditemui 2 kelompok zat yaitu zat terlarut seperti garam dan molekul

Lebih terperinci

Bab III Metodologi. III.1 Alat dan Bahan. III.1.1 Alat-alat

Bab III Metodologi. III.1 Alat dan Bahan. III.1.1 Alat-alat Bab III Metodologi Penelitian ini dibagi menjadi 2 bagian yaitu isolasi selulosa dari serbuk gergaji kayu dan asetilasi selulosa hasil isolasi dengan variasi waktu. Kemudian selulosa hasil isolasi dan

Lebih terperinci

Studi Efek Pendadah Berbagai Asam dan Temperatur Terhadap Konduktivitas Polibenzidin. Oleh : Agus salim Suwardi

Studi Efek Pendadah Berbagai Asam dan Temperatur Terhadap Konduktivitas Polibenzidin. Oleh : Agus salim Suwardi Studi Efek Pendadah Berbagai Asam dan Temperatur Terhadap Konduktivitas Polibenzidin Oleh : Agus salim Suwardi Pendahuluan Polimer elektroaktif telah menjadi objek penelitian yang menarik bagi kalangan

Lebih terperinci

SKL- 3: LARUTAN. Ringkasan Materi. 1. Konsep Asam basa menurut Arrhenius. 2. Konsep Asam-Basa Bronsted dan Lowry

SKL- 3: LARUTAN. Ringkasan Materi. 1. Konsep Asam basa menurut Arrhenius. 2. Konsep Asam-Basa Bronsted dan Lowry SKL- 3: LARUTAN 3 Menjelaskan sifat-sifat larutan, metode pengukuran dan terapannya. o Menganalisis data daya hantar listrik beberapa larutan o Mendeskripsikan konsep ph larutan o Menghitung konsentrasi

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Pembuatan Membran 4.1.1 Membran PMMA-Ditizon Membran PMMA-ditizon dibuat dengan teknik inversi fasa. PMMA dilarutkan dalam kloroform sampai membentuk gel. Ditizon dilarutkan

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PERCOBAAN

BAB 3 METODE PERCOBAAN BAB 3 METODE PERCOBAAN 3.1 Waktu dan Lokasi Percobaan Sampel air diambil dari danau yang berada di kompleks kampus Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta sebelah selatan Fakultas Pertanian. Pengambilan

Lebih terperinci

Analisa Klorida Analisa Kesadahan

Analisa Klorida Analisa Kesadahan Analisa Klorida Analisa Kesadahan Latar Belakang Tropis basah Air bersih Air kotor limbah Pencegahan yang serius Agar tidak berdampak buruk bagi kelangsungan hidup semua makhluk hidup Air tercemar 1 Prinsip

Lebih terperinci

2. Konfigurasi elektron dua buah unsur tidak sebenarnya:

2. Konfigurasi elektron dua buah unsur tidak sebenarnya: . Atom X memiliki elektron valensi dengan bilangan kuantum: n =, l =, m = 0, dan s =. Periode dan golongan yang mungkin untuk atom X adalah A. dan IIIB B. dan VA C. 4 dan III B D. 4 dan V B E. 5 dan III

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana. Untuk sampel

BAB III METODE PENELITIAN. Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana. Untuk sampel BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di laboratorium penelitian jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Udayana. Untuk sampel kulit

Lebih terperinci

PROSES RECOVERY LOGAM Chrom DARI LIMBAH ELEKTROPLATING

PROSES RECOVERY LOGAM Chrom DARI LIMBAH ELEKTROPLATING SEMINAR NASIONAL KIMIA DAN PENDIDIKAN KIMIA V Kontribusi Kimia dan Pendidikan Kimia dalam Pembangunan Bangsa yang Berkarakter Program Studi Pendidikan Kimia Jurusan PMIPA FKIP UNS Surakarta, 6 April 2013

Lebih terperinci

Gambar 2 Penurunan viskositas intrinsik kitosan setelah hidrolisis dengan papain.

Gambar 2 Penurunan viskositas intrinsik kitosan setelah hidrolisis dengan papain. 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh konsentrasi papain terhadap hidrolisis kitosan Pengaruh papain dalam menghidrolisis kitosan dapat dipelajari secara viskometri. Metode viskometri merupakan salah satu

Lebih terperinci

LOGO ANALISIS KUALITATIF KATION DAN ANION

LOGO ANALISIS KUALITATIF KATION DAN ANION LOGO ANALISIS KUALITATIF KATION DAN ANION BY : Djadjat Tisnadjaja Golongan ketiga Besi (II) dan (III), Alumunium, Kromium (III) dan (VI), nikel, kobalt, Mangan (II) dan (VII) serta Zink Djadjat Tisnadjaja,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. semua mahluk hidup, dan merupakan kekuatan utama yang secara konstan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. semua mahluk hidup, dan merupakan kekuatan utama yang secara konstan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Air Air adalah substansi yang paling melimpah di permukaan bumi yang terdistribusi ke berbagai tempat seperti sungai, merupakan komponen utama bagi semua mahluk hidup, dan merupakan

Lebih terperinci

LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT BAB 6 LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT Standar Kompetensi Memahami sifat-sifat larutan non elektrolit dan elektrolit, serta reaksi oksidasi-reduksi Kompetensi Dasar Mengidentifikasi sifat larutan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kitosan merupakan kitin yang dihilangkan gugus asetilnya dan termasuk

BAB I PENDAHULUAN. Kitosan merupakan kitin yang dihilangkan gugus asetilnya dan termasuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kitosan merupakan kitin yang dihilangkan gugus asetilnya dan termasuk kelompok senyawa polisakarida, dimana gugus asetilnya telah hilang sehingga menyisakan gugus amina

Lebih terperinci

PENGARUH ph DAN LAMA KONTAK PADA ADSORPSI ION LOGAM Cu 2+ MENGGUNAKAN KITIN TERIKAT SILANG GLUTARALDEHID ABSTRAK ABSTRACT

PENGARUH ph DAN LAMA KONTAK PADA ADSORPSI ION LOGAM Cu 2+ MENGGUNAKAN KITIN TERIKAT SILANG GLUTARALDEHID ABSTRAK ABSTRACT KIMIA.STUDENTJOURNAL, Vol.1, No. 1, pp. 647-653, UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG Received 9 February 2015, Accepted 10 February 2015, Published online 12 February 2015 PENGARUH ph DAN LAMA KONTAK PADA ADSORPSI

Lebih terperinci

LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT (Diskusi Informasi) INFORMASI Larutan adalah campuran yang homogen antara zat terlarut dan zat pelarut.

LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT (Diskusi Informasi) INFORMASI Larutan adalah campuran yang homogen antara zat terlarut dan zat pelarut. LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT (Diskusi Informasi) INFORMASI Larutan adalah campuran yang homogen antara zat terlarut dan zat pelarut. Berdasarkan daya hantar listriknya, larutan dapat digolongkan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi dan waktu penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset Kimia Lingkungan Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA UPI yang beralamat di Jl. Dr. Setiabudhi No.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 25 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Bahan Organik Asal Hasil analisis ph, KTK, kadar air, padatan terlarut (TSS), C-organik, N- total dan C/N pada bahan serasah pinus (SP), gambut kering (GK),

Lebih terperinci

PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM (Aluminium Foil)

PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM (Aluminium Foil) PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM (Aluminium Foil) K[Al(SO 4 ) 2 ] atau 2K[Al(SO 4 )] 2.12H 2 O Widya Kusumaningrum (1112016200005), Ipa Ida Rosita, Nurul Mu nisah Awaliyah, Ummu Kalsum A.L, Amelia Rachmawati.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN A. HASIL PENGAMATAN 1. Standarisasi AgNO 3 terhadap NaCl 0.1 N (Cara Mohr) Kelompok Vol. NaCl Vol. AgNO 3 7 10 ml 4 ml 8 10 ml 4.2 ml 9 10 ml 4.2 ml 10 10 ml 4.3

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 KOMPOSISI SAMPEL PENGUJIAN Pada penelitian ini, komposisi sampel pengujian dibagi dalam 5 grup. Pada Tabel 4.1 di bawah ini tertera kode sampel pengujian untuk tiap grup

Lebih terperinci

SEMINAR TUGAS AKHIR APLIKASI ELEKTROKOAGULASI PASANGAN ELEKTRODA BESI UNTUK PENGOLAHAN AIR DENGAN SISTEM KONTINYU. Surabaya, 12 Juli 2010

SEMINAR TUGAS AKHIR APLIKASI ELEKTROKOAGULASI PASANGAN ELEKTRODA BESI UNTUK PENGOLAHAN AIR DENGAN SISTEM KONTINYU. Surabaya, 12 Juli 2010 SEMINAR TUGAS AKHIR APLIKASI ELEKTROKOAGULASI PASANGAN ELEKTRODA BESI UNTUK PENGOLAHAN AIR DENGAN SISTEM KONTINYU Oleh : Andri Lukismanto (3306 100 063) Dosen Pembimbing : Abdu Fadli Assomadi S.Si MT Jurusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kitin dan kitosan merupakan biopolimer yang secara komersial potensial

BAB I PENDAHULUAN. Kitin dan kitosan merupakan biopolimer yang secara komersial potensial 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kitin dan kitosan merupakan biopolimer yang secara komersial potensial dalam berbagai bidang dan industri. Kitin dan kitosan merupakan bahan dasar dalam bidang biokimia,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam kehidupan sehari hari, air merupakan sesuatu yang sangat penting dan berharga. Banyak

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Dalam kehidupan sehari hari, air merupakan sesuatu yang sangat penting dan berharga. Banyak BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Air Sumber Kehidupan Dalam kehidupan sehari hari, air merupakan sesuatu yang sangat penting dan berharga. Banyak aktivitas yang kita lakukan sehari hari bergantung pada air.

Lebih terperinci

SMA UNGGULAN BPPT DARUS SHOLAH JEMBER UJIAN SEMESTER GENAP T.P 2012/2013 LEMBAR SOAL. Waktu : 90 menit Kelas : XII IPA T.

SMA UNGGULAN BPPT DARUS SHOLAH JEMBER UJIAN SEMESTER GENAP T.P 2012/2013 LEMBAR SOAL. Waktu : 90 menit Kelas : XII IPA T. SMA UNGGULAN BPPT DARUS SHOLAH JEMBER UJIAN SEMESTER GENAP T.P 0/0 LEMBAR SOAL Waktu : 90 menit Kelas : XII IPA T.P : 0/0 PETUNJUK :. Isikan identitas peserta pada tempat yang telah disediakan pada lembar

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN BaTiO 3 merupakan senyawa oksida keramik yang dapat disintesis dari senyawaan titanium (IV) dan barium (II). Proses sintesis ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, tekanan,

Lebih terperinci

Optimasi Penggunaan Koagulan Pada Pengolahan Air Limbah Batubara

Optimasi Penggunaan Koagulan Pada Pengolahan Air Limbah Batubara Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan ISSN 1693 4393 Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya am Indonesia Yogyakarta, 26 Januari 2010 Optimasi Penggunaan Koagulan Pada Pengolahan

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI

BAB III LANDASAN TEORI BAB III LANDASAN TEORI A. Pengertian Sungai dan Klasifikasi Sungai Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai adalah jalur atau wadah air alami dan/atau buatan berupa

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Penentuan Kadar Air Pada pengukuran inframerah dari pelumas ini bertujuan untuk membandingkan hasil spektra IR dari pelumas yang bebas air dengan pelumas yang diduga memiliki

Lebih terperinci

PENGARUH PENAMBAHAN BITTERN PADA LIMBAH CAIR DARI PROSES PENCUCIAN INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN

PENGARUH PENAMBAHAN BITTERN PADA LIMBAH CAIR DARI PROSES PENCUCIAN INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN PENGARUH PENAMBAHAN BITTERN PADA LIMBAH CAIR DARI PROSES PENCUCIAN INDUSTRI PENGOLAHAN IKAN ABSTRACT Dian Yanuarita P 1, Shofiyya Julaika 2, Abdul Malik 3, Jose Londa Goa 4 Jurusan Teknik Kimia, Fakultas

Lebih terperinci

PENYERAPAN LOGAM BERAT KADMIUM (Cd) MENGGUNAKAN KHITOSAN HASIL TRANSFORMASI KHITIN DARI KULIT UDANG (PENAEUS sp)

PENYERAPAN LOGAM BERAT KADMIUM (Cd) MENGGUNAKAN KHITOSAN HASIL TRANSFORMASI KHITIN DARI KULIT UDANG (PENAEUS sp) Volume 13, Nomor 1, Hal. 09-14 ISSN 0852-83499 Januari Juni 2011 PENYERAPAN LOGAM BERAT KADMIUM (Cd) MENGGUNAKAN KHITOSAN HASIL TRANSFORMASI KHITIN DARI KULIT UDANG (PENAEUS sp) Intan Lestari dan Aulia

Lebih terperinci

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DENGAN PARAMETER TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DAN WARNA MENGGUNAKAN BIOKOAGULAN (LIMBAH CANGKANG KEPITING)

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DENGAN PARAMETER TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DAN WARNA MENGGUNAKAN BIOKOAGULAN (LIMBAH CANGKANG KEPITING) PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DENGAN PARAMETER TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DAN WARNA MENGGUNAKAN BIOKOAGULAN (LIMBAH CANGKANG KEPITING) Muhammad Busyairi Program Studi Teknik Lingkungan-Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Penyiapan Zeolit Zeolit yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Tasikmalaya. Warna zeolit awal adalah putih kehijauan. Ukuran partikel yang digunakan adalah +48 65 mesh,

Lebih terperinci

OLIMPIADE KIMIA INDONESIA

OLIMPIADE KIMIA INDONESIA OLIMPIADE KIMIA INDONESIA OLIMPIADE SAINS NASIONAL SELEKSI KABUPATEN / KOTA UjianTeori Waktu 2 Jam Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Managemen Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat

Lebih terperinci

4.1 Isolasi Kitin. 4 Hasil dan Pembahasan

4.1 Isolasi Kitin. 4 Hasil dan Pembahasan 4 asil dan Pembahasan 4.1 Isolasi Kitin Kitin banyak terdapat pada dinding jamur dan ragi, lapisan kutikula dan exoskeleton hewan invertebrata seperti udang, kepiting dan serangga. Bahan-bahan yang terdapat

Lebih terperinci

Pengendapan. Sophi Damayanti

Pengendapan. Sophi Damayanti Titrasi Pengendapan 1 Sophi Damayanti 1. Proses Pelarutan Senyawa ionik dan ionik Dalam keadaan padat: kristal Struktur kristal: Gaya tarik menarik, gaya elektrostatik, ikatan hidrogen dan antaraksi dipol-dipol

Lebih terperinci

PENGARUH MODIFIKASI PERMUKAAN SELULOSA NATA DE COCO DENGAN ANHIDRIDA ASETAT DALAM MENGIKAT ION LOGAM BERAT Cd 2+ DALAM CAMPURAN Cd 2+ DAN Pb 2+

PENGARUH MODIFIKASI PERMUKAAN SELULOSA NATA DE COCO DENGAN ANHIDRIDA ASETAT DALAM MENGIKAT ION LOGAM BERAT Cd 2+ DALAM CAMPURAN Cd 2+ DAN Pb 2+ PENGARUH MODIFIKASI PERMUKAAN SELULOSA NATA DE COCO DENGAN ANHIDRIDA ASETAT DALAM MENGIKAT ION LOGAM BERAT Cd 2+ DALAM CAMPURAN Cd 2+ DAN Pb 2+ Lailiyah, N 1, Wonorahardjo, S 1, Joharmawan, R 1 1 Jurusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nurul Faqih

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang   Nurul Faqih 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada saat ini di lndonesia, khususnya di kota-kota besar masalah pencemaran sungai akibat buangan limbah cair industri semakin meningkat, di sisi lain pertumbuhan

Lebih terperinci

APLIKASI KITOSAN SEBAGAI KOAGULAN UNTUK PENJERNIHAN AIR KERUH

APLIKASI KITOSAN SEBAGAI KOAGULAN UNTUK PENJERNIHAN AIR KERUH APLIKASI KITOSAN SEBAGAI KOAGULAN UNTUK PENJERNIHAN AIR KERUH TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat Untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung Oleh MU MINAH NIM : 20506062 Program

Lebih terperinci

4 Pembahasan Degumming

4 Pembahasan Degumming 4 Pembahasan Proses pengolahan biodiesel dari biji nyamplung hampir sama dengan pengolahan biodiesel dari minyak sawit, jarak pagar, dan jarak kepyar. Tetapi karena biji nyamplung mengandung zat ekstraktif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pencemaran yang melampui daya dukungnya. Pencemaran yang. mengakibatkan penurunan kualitas air berasal dari limbah terpusat (point

BAB I PENDAHULUAN. pencemaran yang melampui daya dukungnya. Pencemaran yang. mengakibatkan penurunan kualitas air berasal dari limbah terpusat (point BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu masalah yang timbul akibat meningkatnya kegiatan manusia adalah tercemarnya air pada sumber-sumber air karena menerima beban pencemaran yang melampui daya

Lebih terperinci

PENGOLAHAN AIR BERSIH. PENGOLAHAN UNTUK MENGURANGI KONSENTRASI ZAT Kandungan Fe, CO2 agresif, bakteri yang tinggi

PENGOLAHAN AIR BERSIH. PENGOLAHAN UNTUK MENGURANGI KONSENTRASI ZAT Kandungan Fe, CO2 agresif, bakteri yang tinggi PENGOLAHAN AIR BERSIH PENGOLAHAN UNTUK MENGURANGI KONSENTRASI ZAT Kandungan Fe, CO2 agresif, bakteri yang tinggi PENGOLAHAN LENGKAP Dilaksanakan pada air permukaan, air sungai), Diperlukan unt menjernihkan

Lebih terperinci

Molekul, Vol. 8. No. 1. Mei, 2013: 66-77

Molekul, Vol. 8. No. 1. Mei, 2013: 66-77 Molekul, Vol. 8. No. 1. Mei, 2013: 66-77 PEMANFAATAN KITOSAN DAN JAMUR LAPUK PUTIH (Trametes versicolor) UNTUK MENURUNKAN KEKERUHAN DAN WARNA PADA AIR GAMBUT SEBAGAI SUMBER AIR BERSIH ALTERNATIF Karelius

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Deskripsi Penelitian Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret sampai Agustus 2013 di Laboratorium Riset dan Kimia Instrumen Jurusan Pendidikan Kimia Universitas Pendidikan

Lebih terperinci

SEMINAR NASIONAL ke 8 Tahun 2013 : Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi

SEMINAR NASIONAL ke 8 Tahun 2013 : Rekayasa Teknologi Industri dan Informasi UPAYA PENINGKATAN KELARUTAN KITOSAN DALAM ASAM ASETAT DENGAN MELAKUKAN PERLAKUAN AWAL PADA PENGOLAHAN LIMBAH KULIT UDANG MENJADI KITOSAN Ani Purwanti 1, Muhammad Yusuf 2 1 Jurusan Teknik Kimia, Fakultas

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Pengujian kali ini adalah penetapan kadar air dan protein dengan bahan yang digunakan Kerupuk Udang. Pengujian ini adalah bertujuan untuk mengetahui kadar air dan

Lebih terperinci

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT

LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT LAPORAN LENGKAP PRAKTIKUM ANORGANIK PERCOBAAN 1 TOPIK : SINTESIS DAN KARAKTERISTIK NATRIUM TIOSULFAT DI SUSUN OLEH : NAMA : IMENG NIM : ACC 109 011 KELOMPOK : 2 ( DUA ) HARI / TANGGAL : SABTU, 28 MEI 2011

Lebih terperinci

Aries Kristanto et al., Pengaruh Ekstrak Kasar Tanin dari Daun Belimbing Wuluh... 54

Aries Kristanto et al., Pengaruh Ekstrak Kasar Tanin dari Daun Belimbing Wuluh... 54 Aries Kristanto et al., Pengaruh Ekstrak Kasar dari Daun Belimbing Wuluh... 54 PENGARUH EKSTRAK KASAR TANIN DARI DAUN BELIMBING WULUH (AVERRHA BILIMBI L.) PADA PENGLAHAN AIR (THE EFFECT F CRUDE EXTRACT

Lebih terperinci

PENENTUAN KUALITAS AIR

PENENTUAN KUALITAS AIR PENENTUAN KUALITAS AIR Analisis air Mengetahui sifat fisik dan Kimia air Air minum Rumah tangga pertanian industri Jenis zat yang dianalisis berlainan (pemilihan parameter yang tepat) Kendala analisis

Lebih terperinci