Hubungan gejala dan tanda rinosinusitis kronik dengan gambaran CT scan berdasarkan skor Lund-Mackay

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Hubungan gejala dan tanda rinosinusitis kronik dengan gambaran CT scan berdasarkan skor Lund-Mackay"

Transkripsi

1 Laporan Penelitian Hubungan gejala dan tanda rinosinusitis kronik dengan gambaran CT scan berdasarkan skor Lund-Mackay Jeanny Bubun, Aminuddin Azis, Amsyar Akil, Fadjar Perkasa Bagian Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Makassar - Indonesia ABSTRAK Latar belakang: Tingginya prevalensi rinosinusitis kronik (RSK) di masyarakat memerlukan deteksi dini, karena berdampak terhadap kualitas hidup dan ekonomi. Gejala dan tanda RSK dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis dan evaluasi terapi, terutama di tempat yang belum memiliki CT scan. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara gejala dan tanda RSK berdasarkan Task Force, menurut American Academy of Otolaryngic Allergy (AAOA), dan American Rhinologic Society (ARS), dengan gambaran CT scan sinus paranasal berdasarkan skor Lund-Mackay. Metode: Penelitian adalah suatu cross sectional study. Data yang diperoleh dianalisis dengan uji assosiasi linier. Hasil: Dari 53 orang sampel penelitian diperoleh gejala mayor yang paling sering adalah rinore mukopurulen (83%), obstruksi nasi (81,1%), PND (81,1%), serta sekret di rongga hidung (67,9%) dan gejala minor yang paling sering adalah sakit kepala (90,6%). Berdasarkan hasil temuan CT scan, 7 orang (13,2%) tidak terdeteksi RSK dan yang paling banyak adalah multisinusitis (52,8%). Rata-rata skor gejala sinus adalah 1-22, dengan grading skor yang tertinggi 1 8, yaitu 32 orang (60,3%). Kesimpulan: Penelitian terdapat hubungan yang bermakna antara gejala dan tanda RSK berdasarkan Task Force, menurut AAOA dan ARS dengan gambaran CT scan berdasarkan skor Lund-Mackay dengan p=0,035. Kata kunci: rinosinusitis kronis, gejala, CT scan, skor Lund-Mackay ABSTRACT Background: The high prevalence of chronic rhinosinusitis in society required an early detection, because of its impact on quality of life and economic burden. Symptoms and sign of chronic rhinosinusitis could be used as a diagnosis and treatment evaluation, primarily in the setting where CT scan is not available. Purpose: This study was aimed to find out the relationship between symptoms and sign of chronic rhinosinusitis by using Task Force, according to the American Academy of Otolaryngic Allergy (AAOA) and American Rhinologic Society (ARS), with paranasal sinus CT scan image according to Lund-Mackay score. Methods: This is a cross sectional study. The collected data was analyzed with linier association test. Results: From 53 samples, the most common major symptoms including mucopurulent nasal discharge (83%), nasal obstruction (81.1%), 1

2 post nasal drips (81.1%), discharge in the nasal cavity (67.9%) and common minor symptom is headache (90.6%). Based on CT scan findings, 7 patients (13.2%) was not detected as chronic rhinosinusitis and the most common is multisinusitis (52.8%). Average sinus symptoms scores are 1-22, with highest grading scores are 1-8 about 32 patients (60.3%). Conclusion: There is a significant association between symptoms and sign of chronic rhinosinusitis based on Task Force according to AAOA and ARS with CT scan image based on Lund Mackay scores with p= Key words: chronic rhinosinusitis, symptoms, CT scan, Lund-Mackay score Alamat korespondensi: Jeanny Bubun, Bagian Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, Makassar. PENDAHULUAN Rinosinusitis adalah penyakit inflamasi mukosa yang melapisi hidung dan sinus paranasal. Peradangan ini sering bermula dari infeksi virus, yang karena keadaan tertentu berkembang menjadi infeksi bakterial dengan penyebab bakteri patogen yang terdapat di saluran napas bagian atas. Penyebab lain adalah infeksi jamur, infeksi gigi, dan dapat pula terjadi akibat fraktur dan tumor. 1,2 Menurut perjalanan penyakit sesuai konsensus tahun 2004, rinosinusitis dibagi dalam bentuk akut dengan batas sampai 4 minggu, subakut antara 4 sampai 12 minggu dan kronik jika lebih dari 12 minggu. 3 Rinosinusitis kronik mempunyai prevalensi yang cukup tinggi. Diperkirakan sebanyak 13,4-25 juta kunjungan ke dokter per tahun dihubungkan dengan rinosinusitis atau akibatnya. Di Eropa, rinosinusitis diperkirakan mengenai 10% 30% populasi. Sebanyak 14% penduduk Amerika, paling sedikitnya pernah mengalami episode rinosinusitis semasa hidupnya dan sekitar 15% diperkirakan menderita RSK. Dari respiratory surveillance program, diperoleh data demografik mengenai rinosinusitis paling banyak ditemukan secara berturut-turut pada etnis kulit putih, Afrika Amerika, Spanyol dan Asia. 4,5,6 Di Indonesia, di mana penyakit infeksi saluran napas akut masih merupakan penyakit utama di masyarakat, angka kejadiannya belum jelas dan belum banyak dilaporkan. Insiden kasus baru rinosinusitis pada penderita dewasa yang berkunjung di Divisi Rinologi Departemen THT RS Cipto Mangunkusumo, selama Januari Agustus 2005 adalah 435 pasien. 2 Di Makassar sendiri, terutama di rumah sakit pendidikan selama tahun , 2

3 terdapat 41,5% penderita rinosinusitis dari seluruh kasus rawat inap di Bagian THT. 7,8 Menurut Task Force yang dibentuk oleh the American Academy of Otolaryngic Allergy (AAOA), dan American Rhinologic Sosiety (ARS), gejala klinik pada orang dewasa dapat digolongkan menjadi gejala mayor dan minor. Rinosinusitis kronik dapat ditegakkan berdasarkan adanya dua gejala mayor atau lebih, atau satu gejala mayor ditambah dua gejala minor. Telah dilaporkan bahwa kriteria Task Force ini mempunyai sensitivitas yang tinggi, yaitu 87,7% dalam mendiagnosis rinosinusitis. 7,9-11 Hwang et al 12 pada tahun 2003, meneliti hubungan antara gejala rinosinusitis dengan derajat CT scan sinus paranasal sesuai skor Lund-Mackay. Hasil penelitian dari 125 sampel menunjukkan bahwa ingus purulen mempunyai nilai duga positif sebesar (75%), hiposmia (69%), nyeri wajah (67%), hidung tersumbat (67%) dan nyeri kepala (64%). Hwang menyatakan bahwa kriteria diagnosis berdasarkan gejala klinik yang digunakan oleh Task Force mempunyai nilai sensitivitas yang cukup tinggi terhadap hasil CT scan, yaitu 89%. Bhattacharya et al 13 pada tahun 2004, melaporkan keakuratan CT scan dalam mendiagnosis RSK pada anak-anak berdasarkan skor Lund-Mackay mempunyai nilai sensitivitas dan spesifitas yang tinggi, yaitu 86% dan 85%. Amaruddin dkk. 14 pada tahun 2006, melakukan penelitian yang serupa dengan hasil dari 22 sampel, gejala yang paling sering adalah hidung tersumbat (100%), ingus purulen (95,5%), nyeri sinus (91%), fatigue (63,6%), gangguan penghidu (59,1%) dan gangguan tidur (54,5%). Hasil uji korelasi antara skor gejala dan skor CT scan menunjukkan adanya hubungan yang linier. Gejala yang timbul akibat RSK merupakan salah satu hal penting dalam menegakkan diagnosis, di samping pemeriksaan pencitraan seperti CT scan. Ada beberapa kriteria pengklasifikasian rinosinusitis berdasarkan gambaran CT scan, tetapi sistem staging CT scan Lund- Mackay lebih sering digunakan, karena dianggap lebih sederhana dan merupakan satu-satunya sistem yang direkomendasikan oleh Task Force untuk mendiagnosis rinosinusitis. 10,12 Di Indonesia, masih banyak rumah sakit dan pusat kesehatan yang belum memiliki fasilitas CT scan dan kalaupun tersedia, tidak semua pasien mampu membayarnya, sehingga penentuan diagnosis dan evaluasi hasil terapi berdasarkan gejala dapat digunakan sebagai salah satu alternatif. 14 Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara gejala dan 3

4 tanda RSK berdasarkan Task Force, menurut AAOA dan ARS dengan gambaran CT scan sinus paranasal berdasarkan skor Lund-Mackay. Penelitian ini belum pernah dilakukan sebelumnya di Sulawesi Selatan, khususnya di Makassar. METODE Penelitian dilakukan di RS Wahidin Sudirohusodo, selama periode waktu penelitian mulai Desember 2008 sampai April Populasi penelitian ini adalah semua penderita yang datang berobat di lokasi penelitian dengan keluhan pilek atau hidung tersumbat lebih dari 12 minggu. Sampel adalah semua penderita yang telah terdiagnosa sebagai tersangka RSK. Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisis diagnostik THT termasuk kriteria inklusi, serta tidak termasuk kriteria eksklusi. Cara pengambilan sampel dilakukan dengan cara consecutive sampling, yaitu setiap penderita yang berobat di poli THT yang memenuhi syarat inklusi sampel. Besar sampel adalah 53 orang berdasarkan distribusi normal dari Gauss. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah penderita yang didiagnosis tersangka RSK, dan akan menjalani CT scan sinus paranasal potongan koronal tanpa kontras dengan posisi prone, umur 15 tahun. Kriteria eksklusi adalah penderita dengan riwayat operasi hidung terdiagnosis polip nasi dan tumor sinonasal, terdapat riwayat trauma hidung dan maksilofasial. Bahan penelitian adalah subjek penelitian yang terdiagnosis tersangka RSK tanpa polip nasi, alat diagnostik set THT, rekaman foto hasil CT scan sinus paranasal potongan koronal tanpa kontras, lembar kuisioner, kamera digital Canon Power Shot A570 IS, 7,1 MP. Cara kerja penelitian adalah sebagai berikut: a) ditanyakan identitas, keluhan utama, lamanya, serta gejala lainnya berdasarkan kriteria Task Force yang terjadi akibat RSK dan dicatat dalam lembar kuisioner; b) pemeriksaan fisis THT; c) setelah dicurigai RSK, diberi penjelasan dan pengisian informed consent; d) terhadap sampel sebelum diberikan terapi langsung, dilakukan pemeriksaan CT scan sinus paranasal potongan koronal tanpa kontras dengan irisan 3 mm; e) print out CT scan didokumentasi dengan kamera digital, kemudian melalui komputer, CT scan sinus paranasal dinilai sesuai skor Lund- Mackay. Berdasarkan peran dan skalanya, variabel dalam penelitian ini dibagi atas: a) variabel bebas adalah gejala mayor dan gejala minor berdasarkan Task Force menurut AAOA dan ARS. Gejala dan 4

5 tanda rinosinusitis mayor-minor menurut Task Force, yang dibentuk oleh AAOA dan ARS adalah keluhan subjektif penderita yang dirasakan sebagai akibat adanya peradangan mukosa hidung dan sinus paranasal. Gejala mayor berupa rinore, obstruksi nasi, nyeri wajah, sekret di rongga hidung (dengan rinoskopi anterior), post nasal drip, gangguan penghidu. Sedangkan gejala minor berupa sakit kepala, halitosis, rasa lelah, nyeri gigi, rasa nyeri/penuh telinga dan demam. Diagnosis rinosinusitis dapat ditegakkan berdasarkan dua gejala mayor atau lebih, atau satu gejala mayor ditambah dua gejala minor; 10,15 b) variabel tergantung adalah derajat RSK, yang diukur berdasarkan gambaran CT scan sinus paranasal potongan koronal tanpa kontras dan dinilai menurut skor Lund-Mackay. Skor CT scan sinus paranasal menurut Lund-Mackay, berdasarkan temuan setiap sinus di sisi kanan dan kiri serta diberi skor nomor 0= tidak ada kelainan, 1= perselubungan parsial, dan 2= perselubungan total. Sedangkan untuk setiap KOM diberi skor nomor 0= tidak ada obstruksi dan 2= obstruksi, sehingga skor total kemungkinan adalah 24; 10,16,17 c) variabel yang tidak diteliti adalah faktor-faktor predisposisi terjadinya suatu RSK, yaitu alergi, genetik, imunodefisiensi, lingkungan, tumor, mikroorganisme, kelainan anatomi. Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini diolah uji assosiasi linier, untuk menilai hubungan antara gejala dan tanda RSK berdasarkan Task Force, menurut AAOA dan ARS dengan gambaran CT scan sinus paranasal berdasarkan skor Lund-Mackay. Hasil dianggap bermakna jika nilai p<0,05. HASIL Selama kurun waktu 5 bulan, yaitu dari bulan Desember 2008 sampai bulan April 2009, telah dilakukan pengambilan sampel pada penderita RSK yang telah menjalani pemeriksaan CT scan sinus paranasal potongan koronal tanpa kontras di Bagian Radiologi RS Wahidin Sudirohusodo, yang memenuhi kriteria penelitian dengan jumlah total sampel sebanyak 53 orang. Tersangka RSK terbanyak ditemukan pada kelompok umur tahun, yaitu 18 orang (34%). Dan ditemukan lebih banyak pada laki-laki, yaitu 28 orang (52,8%) dibandingkan perempuan, yaitu 25 orang (47,2%). Distribusi jumlah gejala mayor pada tersangka RSK terdapat paling banyak 2 gejala, yaitu 15 orang (28,3%), kemudian 5 gejala, yaitu 14 orang (26,4%) disusul 3 gejala dan 4 gejala, masing-masing 11 orang (20,8%) dan paling sedikit 1 gejala, yaitu sebanyak 2 orang (3,8%). Sedangkan jumlah gejala minor pada penderita RSK 5

6 paling banyak adalah 2 gejala, yaitu 16 orang (30,2%) diikuti 1 gejala, yaitu 15 orang (28,3%), 3 gejala 12 orang (22,6%) dan 4 gejala, yaitu 6 orang (11,3%), dan yang paling sedikit yaitu tanpa gejala dan 6 gejala masing-masing 1 orang (1,9%). Dari keseluruhan sampel, ada 52 orang didiagnosis sebagai RSK menurut Task Force, dan satu lainnya yang mempunyai satu gejala mayor dan satu gejala minor dianggap sebagai suspek RSK. Gejala mayor pada tersangka RSK paling banyak adalah rinore mukopurulen, yaitu 44 orang diikuti obstruksi nasi dan PND, terdapat sekret di rongga hidung pada pemeriksaan rinoskopi anterior, nyeri wajah, serta paling sedikit gangguan penghidu. Gejala minor pada tersangka RSK yang paling banyak adalah sakit kepala, yaitu 48 orang (90,6%) dan paling sedikit gejala demam. Data selengkapnya terlihat pada tabel 1. Tabel 1. Distribusi gejala mayor dan gejala minor pada tersangka RSK Gejala Mayor N % Gejala Minor N % Rinore mukopurulen Sakit Kepala 48 90,6 Obstruksi nasi 43 81,1 Halitosis 13 24,5 Nyeri wajah 32 60,4 Lelah 26 49,1 Sekret pada RA 36 67,9 Sakit gigi 18 34,0 PND 43 81,1 Rasa nyeri/penuh telinga 9 17,0 Gangguan penghidu 16 30,2 Batuk 6 11,3 Demam 3 5,7 Distribusi jumlah sinus yang terlibat berdasarkan CT scan sinus paranasal, menunjukkan bahwa temuan hasil CT scan sinus paranasal pada potongan koronal terbanyak sebagai multisinusitis, yaitu 28 orang (52,8%) diikuti pansinusitis, yaitu 7 orang (13,2%), satu sinus yaitu 6 orang (11,3%), dan yang paling sedikit melibatkan dua sinus, yaitu 5 orang (9,4%). Dari 53 sampel tersangka RSK, didapatkan ada 7 orang (13,2%) yang tidak terdeteksi sebagai sinusitis berdasarkan CT scan sinus paranasal. Lokasi kelainan masing-masing sinus paranasal dapat dideteksi dengan pemeriksaan CT scan sinus paranasal. Pada perselubungan parsial, paling banyak didapatkan di sinus maksila kanan, yaitu 32 orang (60,4%) dan sinus maksila kiri, yaitu 31 orang (58,5%) diikuti sinus etmoid anterior kanan, yaitu 22 orang (41,6%), sinus etmoid anterior kiri 20 orang (37,7%) dan paling sedikit adalah sinus sfenoid kiri, yaitu 5 orang (9,4%). Demikian juga pada perselubungan total, sinus yang paling banyak terlibat 6

7 adalah sinus maksila, baik kanan maupun kiri masing-masing 6 orang (11,3%) dan 5 orang (9,4%), diikuti berturut-turut sinus frontal kanan, yaitu 7 orang (13,2%), sinus etmoid anterior dan sinus frontal kiri masing-masing 4 orang (7,5%) dan yang paling sedikit sinus etmoid posterior, sinus sfenoid kanan dan kiri masing-masing 2 orang (3,8%). Kelainan pada KOM dapat dideteksi dengan pemeriksaan CT scan sinus paranasal, yaitu 29 orang (54,8%). Dari 53 orang yang mengalami obstruksi pada KOM, dengan perincian obstruksi kanan dan kiri 18 orang (34%), obstruksi KOM kanan 8 orang (15,1%) dan obstruksi KOM kiri 3 orang (5,7%) dan yang tidak obstruksi ada 24 orang (45,3%). Dari 47 sampel yang terdeteksi sebagai RSK berdasarkan temuan CT scan, skor Lund-Mackay berkisar antara 1-22, dengan skor 1 dan 3 yang terbanyak, masingmasing sebanyak 6 orang (11,3%) diikuti skor 6 dan 8, masing-masing 5 orang (9,4%), skor 4 dan 5 masing-masing 3 orang (5,7%), skor 2,7,10,13 dan 14 masing-masing 3 orang (5,7%) dan yang paling sedikit skor 9,11,15 sampai 22 gejala masing-masing 1 orang (1,9%). Dari 52 penderita yang terdiagnosis RSK menurut gejala klinik Task Force paling banyak dengan grading skor 1-8, yaitu sebanyak 32 orang (60,3%) dan paling sedikit di grading dan 6 orang (11,3%) yang terdiagnosis sebagai RSK, tidak terdeteksi dengan CT scan. Selain itu yang masih tersangka RSK yaitu 1 orang (1,9%), memang tidak terdeteksi dengan CT scan. Hal ini terlihat jelas pada tabel 2. Tabel 2. Distribusi tersangka RSK dengan skor CT scan sinus paranasal Skor CT scan Kriteria Task Force RSK Tersangka RSK N % N % 6 11,3 1 1, , , ,6 0 0 Jumlah 52 98,1 1 1,9 Tabel 3. Distribusi jumlah sinus yang terlibat dengan skor CT scan sinus paranasal Skor Jumlah sinus yang terlibat Jumlah 7

8 CT scan Nol Satu Dua Multi Pan N % N % N % N % N % N % , , ,3 5 9, , , ,2 3 5, , ,5 4 7,5 Tabel 3 menunjukkan bahwa semakin banyak sinus yang terlibat semakin tinggi grading skor CT scan sinus paranasal. Sebagai contoh pada multisinusitis, paling banyak dengan grading 1 8 sebanyak 21 orang (39,6%), sedangkan pansinusitis banyak didapatkan pada grading 17 24, yaitu 4 orang (7,5%). Dengan menggunakan uji association linear, secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara gejala klinis menurut Task Force AAOA dan ARS, dengan CT scan sinus paranasal sesuai dengan skor Lund-Mackay, maka terdapat kecenderungan bahwa semakin banyak sinus yang terlibat, maka semakin tinggi grading skor CT scan sinus paranasal. Dan semakin banyak gejala mayor dan minor yang didapatkan pada tersangka RSK, maka kemungkinan jumlah sinus yang terlibat semakin banyak.dengan p=0,035 (p<0,05). DISKUSI Berdasarkan hasil gejala klinis dan pemeriksaan fisis, menurut kriteria Task Force yang merupakan suatu kelompok kerja yang dibentuk oleh AAOA dan ARS yang menyatakan bahwa diagnosis RSK dapat ditegakkan berdasarkan dua gejala mayor atau lebih, atau satu gejala mayor ditambah dua gejala minor, maka hasil penelitian kami pada tabel 4 menunjukkan bahwa dari 53 orang dengan tersangka RSK, terdapat 52 orang yang didiagnosis dengan RSK dan 1 orang (1,9%) yang mempunyai hanya satu gejala mayor dan satu gejala minor dan dianggap sebagai tersangka RSK. Satu pasien yang masih tersangka RSK menurut Task Force dengan gejala mayor adalah rinore, dan gejala minor adalah rasa lelah. Hal ini terjadi karena pada saat pengambilan sampel, peneliti hanya berdasarkan adanya keluhan hidung berupa rinore yang berlangsung lebih dari 12 minggu tanpa melihat adanya keluhan lain yang menyertai. Kemungkinan pasien menderita rinitis alergi atau rinitis vasomotor yang merasa terganggu dengan adanya rinore saat terpapar dengan faktor pencetus. 8

9 Gejala mayor yang paling sering adalah rinore mukopurulen sebanyak 44 orang (83%), diikuti obstruksi nasi dan PND, sekret di rongga hidung pada pemeriksaan rinoskopi anterior, nyeri muka dan paling sedikit gangguan penghidu, yaitu sebanyak 16 orang (30,2%). Gejala minor yang paling banyak adalah sakit kepala sebanyak 48 orang (90,6%). Hasil penelitian ini serupa penelitian sebelumnya oleh Hwang et al 12 (2003) dan Amaruddin dkk. 14 (2006). Menurut Hwang et al, 12 gejala yang didapatkan berturutturut ingus purulen (75%), hiposmia (69%), nyeri wajah (67%), hidung tersumbat (67%) dan nyeri kepala (64%). Sementara Amaruddin dkk. 14 di Yogyakarta menyebutkan bahwa dari 22 sampel, gejala yang paling menonjol adalah hidung tersumbat (100%), diikuti ingus purulen (95,5%), nyeri sinus (91%), fatigue (63,6%), gangguan penghidu (59,1%) dan gangguan tidur (54,5%). Gangguan penghidu merupakan gejala mayor yang paling sedikit didapatkan pada penelitian kami, hal ini kemungkinan disebabkan karena gangguan penghidu merupakan gejala yang subjektif pada setiap sampel dan tidak dilakukan penilaian secara objektif, karena fasilitas dan waktu yang tidak memungkinkan. Sakit kepala walaupun bukan suatu gejala khas RSK, tetapi merupakan gejala yang sering ditemukan atau menyebabkan seseorang berobat ke dokter. Sakit kepala pada penderita RSK, kemungkinan besar disebabkan karena adanya edema atau kelainan anatomi rongga hidung yang menyebabkan terjadinya obstruksi di ostium sinus. 18 Sakit kepala pada RSK biasanya terasa pada pagi hari dan akan berkurang atau hilang pada siang hari. Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tetapi mungkin karena pada malam hari terjadi penimbunan sekret dalam rongga hidung dan sinus, serta adanya stasis vena. 3 Pada pemeriksaan CT scan sinus paranasal potongan koronal berdasarkan jumlah sinus, maka multisinusitis paling banyak didapatkan, yaitu 28 orang (52,8%), diikuti berturut-turut pansinusitis, 1 sinus dan paling sedikit 2 sinus dan ada 7 orang (13,2%) lainnya yang tidak terdiagnosis sebagai RSK berdasarkan kriteria Lund-Mackay. Tujuh orang yang tidak terdeteksi sebagai RSK melalui CT scan sinus paranasal, dimungkinkan karena sebelumnya pasien sudah pernah berobat baik ke pusat kesehatan lainnya atau bahkan mengobati diri sendiri. Pada penelitian kami terlihat bahwa sampel yang tidak terdeteksi dengan CT scan hanya mempunyai beberapa gejala mayor dan minor saja. Selain itu kemungkinan pasien memang menderita rinitis kronis 9

10 baik karena alergi maupun vasomotor, tetapi belum disertai dengan sinusitis karena KOM masih terbuka, sehingga drainase dan ventilasi sinus masih tetap baik. Lokasi sinus yang terbanyak ditemukan sesuai dengan hasil CT scan, yaitu di sinus maksila kanan maupun kiri, diikuti secara berturut-turut sinus etmoid anterior dan posterior, sinus frontalis dan paling sedikit sinus sfenoid. Hasil serupa dengan penelitian Amaruddin dkk. 14 (2006) dan Tumbel 19 (2005). Lokasi sinus yang terbanyak ditemukan di sinus maksila, menandakan bahwa selain faktor rinogen atau tersumbatnya KOM, faktor dentogen merupakan salah satu penyebab penting sinusitis maksilaris kronis, di mana dasar sinus maksila adalah prosesus alveolaris tempat akar gigi premolar dan molar atas, sehingga jika terjadi infeksi apikal akar gigi atau inflamasi jaringan periodontal dengan mudah menyebar langsung ke sinus melalui pembuluh darah dan limfe. 3 Tingginya insiden sinusitis yang terjadi di sinus maksila dan sinus etmoid anterior dapat terjadi karena drainase sinus maksila, sinus etmoid dan sinus frontal melalui meatus nasi media, sehingga bila terjadi kelainan pada daerah ini akan terjadi gangguan drainase dan ventilasi pada ketiga sinus ini yang kemudian akan berkembang menjadi sinusitis. Demikian pula untuk sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid, sinus yang bermuara melalui resesus sfenoetmoidalis dan keluar melalui meatus nasi superior. 3,10 Kelainan pada KOM dapat dideteksi dengan pemeriksaan CT scan sinus paranasal, yaitu 29 orang (54,8%) dari 53 orang mengalami obstruksi pada KOM dan 24 orang (45,3%) yang tidak obstruksi pada KOM. Hal ini menunjukkan bahwa selain faktor inflamasi, kelainan anatomi dalam rongga hidung dapat mempengaruhi terjadinya obstruksi pada KOM. Hal ini dijelaskan oleh Tumbel, 19 dalam penelitiannya yang menyatakan bahwa kelainan anatomi yang dapat menyebabkan sinusitis maksilaris kronis adalah berturutturut deviasi septum (52,1%), konka bulosa (10,9%), konka paradoksal (6,8%) dan selebihnya akibat adanya sel Haller dan pneumatisasi prosessus unsinatus. Hal ini membuktikan bahwa CT scan sinus paranasal memiliki akurasi dalam menentukan kondisi anatomi dan patologi sinus paranasal yang lebih baik dibanding dengan foto polos sinus paranasal. Skor Lund-Mackay berkisar antara 1 22, dengan skor 1 dan 3 yang tertinggi masing-masing sebanyak 6 orang (11,3%), diikuti skor 6 dan 8 masing-masing 5 orang (9,4%), dan yang paling sedikit dengan skor 9, 11, 15 sampai 22 masingmasing 1 orang (1,9%). Skor CT scan 10

11 kemudian kami bagi dalam empat kelompok seperti pada tabel 2, dan menunjukkan bahwa dari 52 penderita yang terdiagnosis RSK berdasarkan gejala klinik Task Force menurut AAOA dan ARS, paling banyak ditemukan pada grading 1 8, yaitu 32 orang (61,5%) dan paling sedikit pada grading 17 24, yaitu 4 orang (7,7%) serta 6 orang (11,3%) yang tidak terdeteksi dengan CT scan. Yang masih tersangka RSK yaitu 1 orang (1,9%), yang mempunyai hanya satu gejala mayor dan satu gejala minor, memang tidak terdeteksi dengan CT scan. Tabel 3 menunjukkan bahwa semakin banyak sinus yang terlibat, maka semakin tinggi grading skor CT scan sinus paranasal. Dan semakin banyak gejala mayor dan minor yang didapatkan pada tersangka RSK, maka kemungkinan jumlah sinus yang terlibat semakin banyak. Dengan menggunakan uji association linear, secara statistik terdapat hubungan yang bermakna antara gejala klinis (gejala mayor ditambah gejala minor), dan tanda RSK berdasarkan Task Force menurut AAOA dan ARS dengan CT scan sinus paranasal sesuai skor Lund-Mackay dengan p=0,035. Hasil serupa didapatkan Amaruddin dkk. 14 pada penelitian dengan menggunakan CT scan terbatas empat slice, didapatkan adanya korelasi antara beratnya gejala dengan skor Lund-Mackay (p=0,001). Menurut beberapa penelitian, kriteria diagnosis berdasarkan gejala klinik yang digunakan oleh Task Force mempunyai nilai sensitivitas yang cukup tinggi terhadap hasil CT scan, yaitu 89%. 7,10,12 Bhattacharya et al 13 melaporkan keakuratan CT scan dalam mendiagnosis RSK pada anak-anak berdasarkan skor Lund-Mackay mempunyai nilai sensitivitas dan spesifitas yang tinggi, yaitu 86% dan 85%. Dengan melihat hasil penelitian kami dan berbagai penelitian sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa gejala dan tanda RSK berdasarkan Task Force menurut AAOA dan ARS, terutama gejala mayor dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk menegakkan diagnosis RSK, serta mengevaluasi hasil terapi RSK bila tidak tersedia fasilitas CT scan atau bila CT scan tidak dapat digunakan dengan alasan tertentu. DAFTAR PUSTAKA 1. Benninger MS, Gottschall J. Rhinosinusitis: clinical presentation and diagnosis. In: Itzhak Brook, ed. Sinusitis from microbiology to management. New York: Taylor and Francis Group; p Soetjipto D, Dharmabakti U, Mangunkusumo E, Utama R. Functional 11

12 endoscopic sinus surgery di Indonesia pada panel ahli THT Indonesia. Jakarta: Yanmedic-Depkes; h Mangunkusumo E, Soetjipto D, Sinusitis. Dalam: Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD, eds. Buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala & leher. Edisi ke-6. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; h Kentjono WA. Rinosinusitis: etiologi dan patofisiologi. Dalam: Naskah lengkap perkembangan terkini diagnosis dan penatalaksanaan rinosinusitis. Surabaya: Bagian Ilmu Kesehatan THT FK Unair/RS Dr. Soetomo; h Puruckher M, Byrd R, Roy T, Krishnaswany G. The diagnosis and management of chronic rhinosinusitis. Johnson City: Departement of Medicine East Tennesse State University; File TM. Sinusitis: epidemiology. In: Itzhak Brook, ed. Sinusitis from microbiology to management. New York: Taylor and Francis Group; p Mulyarjo. Diagnosis klinik rinosinusitis. Dalam: Naskah lengkap perkembangan terkini diagnosis dan penatalaksanaan rinosinusitis. Surabaya: Bagian Ilmu Kesehatan THT FK Unair/RS Dr. Soetomo; h Rahmi AD, Punagi Q. Pola penyakit Subbagian Rinologi di RS Pendidikan Makassar periode Makasar: Bagian Ilmu Kesehatan THT FK Universitas Hasanuddin. Dipresentasikan di PIT IV Bandung, Juli Batra P. Radiologic imaging in rhinosinusitis, Cleveland. Clin J Med Cleveland 2004; 71(11): Busquets JM, Hwang PH. Nonpolypoid rhinosinusitis: classification, diagnosis and treatment. In: Bailey BJ, Johnson JT, eds. Head and neck surgery otolaryngology. 4 th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; p Jebreel A, Wu K, Loke D, Stafford N. Chronic rhinosinusitis: role of CT scan in the evaluation of paranasal sinuses. The Internet Journal of Otorhinolaryngology [serial on the internet] [cited 2009 Jan 29]; 6(2). Available from: 12. Hwang PH, Irwin SB, Griest SE, Caro JE, Nesbit GM. Radiologic correlates of symptom-based diagnostic criteria for chronic rhinosinusitis. Otolaryngol Head Neck Surg 2003; 128: Bhattacharya N, Jones DT, Hill M, Shapiro NL. The diagnostic accuracy of computed tomography in pediatric chronic rhinosinusitis. Arch Otolaryngol Head Neck Surg 2004; 130: Amaruddin T, Kadriyan H, Iswarini AD, Oedono T, Yohanes, Asmoro. Hubungan antara derajat rinosinusitis berdasarkan gejala dan CT scan. ORLI 2005; 35(4): Kennedy DW, Palmer JN. Revision endoscopic sinus surgery. In: Charles WC, ed. Cumming-otolaryngology head and neck surgery. 4 th ed. Philadelphia: Elsevier Mosby; p

13 16. Zeifer BA, Curtin HD. Sinus imaging. In: Bailey BJ, Johnson JT, eds. Head and neck surgery otolaryngology. 4 th ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; p Aygun N, Zinreich SJ, Uzuner O. Imaging sinusitis. In: Itzhak Brook, ed. Sinusitis from microbiology to management. New York: Taylor and Francis Group; p Ballenger JJ. Infeksi sinus paranasal. Dalam: Ballenger JJ, ed. Penyakit telinga hidung tenggorok kepala dan leher. Edisi ke-13. Jakarta: Binarupa Aksara; h Tumbel REC. Kelainan anatomi rongga hidung pada sinusitis maksilaris kronis. Tesis. Makassar: Bagian Ilmu Kesehatan THT Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin;

ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ)

ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ) ABSTRAK PENILAIAN KUALITAS HIDUP PASIEN PPOK RAWAT JALAN DENGAN METODE SAINT GEORGE S RESPIRATORY QUESTIONNAIRE (SGRQ) Felicia S., 2010, Pembimbing I : J. Teguh Widjaja, dr., SpP., FCCP. Pembimbing II

Lebih terperinci

12/3/2010. Nasal asessory sinuses Rongga dalam tulang kepala berisi udara. Sinus maksila Sinus frontal Sinus etmoid Sinus sfenoid

12/3/2010. Nasal asessory sinuses Rongga dalam tulang kepala berisi udara. Sinus maksila Sinus frontal Sinus etmoid Sinus sfenoid SINUSITIS AKUT DAN KRONIS Dr. dr. Delfitri Munir Sp.THT-KL(K) Sub-devisi Rinologi Dept. Ilmu Telinga Hidung Tenggorok Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara Sinus para-nasal Nasal asessory sinuses

Lebih terperinci

BAB. 3. METODE PENELITIAN. : Cross sectional (belah lintang)

BAB. 3. METODE PENELITIAN. : Cross sectional (belah lintang) BAB. 3. METODE PENELITIAN 3.1 Rancang Bangun Penelitian Jenis Penelitian Desain Penelitian : Observational : Cross sectional (belah lintang) Rancang Bangun Penelitian N K+ K- R+ R- R+ R- N : Penderita

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya Perinatologi dan Neurologi. 4.. Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rhinitis berasal dari dua kata bahasa Greek rhin rhino yang berarti hidung dan itis yang berarti radang. Demikian rhinitis berarti radang hidung atau tepatnya radang

Lebih terperinci

ABSTRAK. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah. Januari-Desember 2009

ABSTRAK. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah. Januari-Desember 2009 ABSTRAK Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Insidensi Nyeri Pungggung Bawah (Low Back Pain) pada Pasien Rumah Sakit Immanuel Bandung Periode Januari-Desember 2009 Santi Mariana Purnama, 2010, Pembimbing I

Lebih terperinci

HUBUNGAN RINITIS ALERGI DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS AKUT EPISODE SERING ARTIKEL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

HUBUNGAN RINITIS ALERGI DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS AKUT EPISODE SERING ARTIKEL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH 1 HUBUNGAN RINITIS ALERGI DENGAN KEJADIAN INFEKSI SALURAN PERNAFASAN ATAS AKUT EPISODE SERING THE CORRELATION OF ALLERGIC RHINITIS WITH OFTEN EPISODES ACUTE UPPER RESPIRATORY TRACT INFECTION ARTIKEL PENELITIAN

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum

LAPORAN AKHIR HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH. Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat sarjana strata-1 kedokteran umum PERBEDAAN KUALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SEBELUM DAN SESUDAH PELATIHAN PENGGUNAAN ANTIBIOTIK SECARA BIJAK Penelitian di Instalasi Rawat Jalan Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Dr. Kariadi LAPORAN AKHIR HASIL

Lebih terperinci

Mulyadi *, Mudatsir ** *** ABSTRACT

Mulyadi *, Mudatsir ** *** ABSTRACT Hubungan Tingkat Kepositivan Pemeriksaan Basil Tahan Asam (BTA) dengan Gambaran Luas Lesi Radiologi Toraks pada Penderita Tuberkulosis Paru yang Dirawat Di SMF Pulmonologi RSUDZA Banda Aceh Mulyadi *,

Lebih terperinci

Buku Saku European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2007

Buku Saku European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2007 Buku Saku European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2007 PESERT Wytske Fokkens Chair epartment of Otorhinolaryngology msterdam Medical Centre PO Box 22660 1100 msterdam The Netherlands

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dirumah sakit merupakan bentuk

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dirumah sakit merupakan bentuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dirumah sakit merupakan bentuk pelayanan yang di berikan kepada pasien melibatkan tim multi disiplin termasuk tim keperawatan.

Lebih terperinci

SAKIT PERUT PADA ANAK

SAKIT PERUT PADA ANAK SAKIT PERUT PADA ANAK Oleh dr Ruankha Bilommi Spesialis Bedah Anak Lebih dari 1/3 anak mengeluh sakit perut dan ini menyebabkan orang tua membawa ke dokter. Sakit perut pada anak bisa bersifat akut dan

Lebih terperinci

CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA

CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA CARA YANG TEPAT DETEKSI DINI KANKER PAYUDARA Oleh : Debby dan Arief Dalam tubuh terdapat berjuta-juta sel. Salah satunya, sel abnormal atau sel metaplasia, yaitu sel yang berubah, tetapi masih dalam batas

Lebih terperinci

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II Catatan Fasilitator Rangkuman Kasus: Agus, bayi laki-laki berusia 16 bulan dibawa ke Rumah Sakit Kabupaten dari sebuah

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Atopi, atopic march dan imunoglobulin E pada penyakit alergi Istilah atopi berasal dari bahasa Yunani yaitu atopos yang berarti out of place atau di luar dari tempatnya, dan

Lebih terperinci

Kata Kunci: Posisi Dorsal Recumbent, Posisi litotomi, Keadaan Perineum

Kata Kunci: Posisi Dorsal Recumbent, Posisi litotomi, Keadaan Perineum KEADAAN PERINEUM LAMA KALA II DENGAN POSISI DORSAL RECUMBENT DAN LITOTOMI PADA IBU BERSALIN Titik Lestari, Sri Wahyuni, Ari Kurniarum Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Kebidanan

Lebih terperinci

KEP.333/MEN/1989 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.333/MEN/1989 T E N T A N G

KEP.333/MEN/1989 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.333/MEN/1989 T E N T A N G KEP.333/MEN/1989 KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP.333/MEN/1989 T E N T A N G DIAGNOSIS DAN PELAPORAN PENYAKIT AKIBAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA Menimbang: a. bahwa terhadap

Lebih terperinci

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT)

LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) LAMPIRAN 1 50 LAMPIRAN 2 SURAT PERNYATAAN PERSETUJUAN UNTUK IKUT SERTA DALAM PENELITIAN (INFORMED CONSENT) Yang bertanda tangan dibawah ini: N a m a : U s i a : Alamat : Pekerjaan : No. KTP/lainnya: Dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Psoriasis merupakan penyakit inflamasi kronis dengan karakteristik proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis berupa

Lebih terperinci

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID ABSTRAK PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID Ekowati Retnaningsih dan Rini Oktariza Angka kejadian berat badan lebih pada anak usia sekolah di Indonesia mencapai 15,9%. Prevalensi

Lebih terperinci

Operasi Mastoid Revisi pada Otitis Media Supuratif Kronik Tipe Bahaya

Operasi Mastoid Revisi pada Otitis Media Supuratif Kronik Tipe Bahaya Operasi Mastoid Revisi pada Otitis Media Supuratif Kronik Tipe Bahaya Jacky Munilson, Tuti Nelvia Bagian Telinga Hidung Tenggorok Bedah Kepala Leher / RS. Dr. M Djamil ABSTRAK Operasi mastoid berkembang

Lebih terperinci

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA - 1 -

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA - 1 - LAMPIRAN I PERATURAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 34 IPMK. 05 I 2014 TENTANG TARIF LAYANAN BADAN LAYANAN UMUM RUMAH SAKIT UMUM PUSAT NASIONAL Dr.CJP'fO MANGUNKUSUMO JAKARTA PADA KEMENTERIAN KESEHATAN MENTERIKEUANGAN

Lebih terperinci

Rauf Harmiady. Poltekkes Kemenkes Makassar ABSTRAK

Rauf Harmiady. Poltekkes Kemenkes Makassar ABSTRAK FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PELAKSANAAN PRINSIP 6 BENAR DALAM PEMBERIAN OBAT OLEH PERAWAT PELAKSANA DI RUANG INTERNA DAN BEDAH RUMAH SAKIT HAJI MAKASSAR Rauf Harmiady Poltekkes Kemenkes Makassar

Lebih terperinci

KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI

KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA RI SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN STANDAR PELAYANAN KESEHATAN DASAR DI LINGKUNGAN SEKRETARIAT WAKIL PRESIDEN RI NOMOR 9/SP/SETWAPRES/D-5/TUPEG/11/2011 BAGIAN KESATU PENDAHULUAN

Lebih terperinci

KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR

KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR KEGIATAN DALAM RANGKA HARI KANKER SEDUNIA 2013 DI JAWA TIMUR PENDAHULUAN Kanker merupakan salah satu penyakit yang telah menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia. Setiap tahun,

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DENGAN KEJADIAN GINGIVAL LEAD LINE PADA PEDAGANG KAKI LIMA DI KOTA SEMARANG ARTIKEL ILMIAH

HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DENGAN KEJADIAN GINGIVAL LEAD LINE PADA PEDAGANG KAKI LIMA DI KOTA SEMARANG ARTIKEL ILMIAH HUBUNGAN ANTARA MASA KERJA DENGAN KEJADIAN GINGIVAL LEAD LINE PADA PEDAGANG KAKI LIMA DI KOTA SEMARANG CORRELATION BETWEEN WORKS DURATION AND GINGIVAL LEAD LINE EXISTENCE OF STREET VENDORS IN SEMARANG

Lebih terperinci

ABSTRAK ASPEK KLINIS PEMERIKSAAN PERSENTASE EOSINOFIL, HITUNG EOSINOFIL TOTAL, DAN IMUNOGLOBULIN E SEBAGAI PENUNJANG DIAGNOSIS ASMA BRONKIAL

ABSTRAK ASPEK KLINIS PEMERIKSAAN PERSENTASE EOSINOFIL, HITUNG EOSINOFIL TOTAL, DAN IMUNOGLOBULIN E SEBAGAI PENUNJANG DIAGNOSIS ASMA BRONKIAL ABSTRAK ASPEK KLINIS PEMERIKSAAN PERSENTASE EOSINOFIL, HITUNG EOSINOFIL TOTAL, DAN IMUNOGLOBULIN E SEBAGAI PENUNJANG DIAGNOSIS ASMA BRONKIAL Samuel, 2007 Pembimbing I : J. Teguh Widjaja, dr.,sp.p. Pembimbing

Lebih terperinci

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Penyakit flu umumnya dapat sembuh dengan sendirinya jika kita cukup istirahat, makan teratur, dan banyak mengkonsumsi sayur serta buah-buahan. Namun demikian,

Lebih terperinci

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya.

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya. IPAP PTSD Tambahan Prinsip Umum I. Evaluasi Awal dan berkala A. PTSD merupakan gejala umum dan sering kali tidak terdiagnosis. Bukti adanya prevalensi paparan trauma yang tinggi, (termasuk kekerasan dalam

Lebih terperinci

Karya Tulis Ilmiah. Disusun oleh: RASTIFIATI 20080320108

Karya Tulis Ilmiah. Disusun oleh: RASTIFIATI 20080320108 HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN PRIMIGRAVIDA TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS MERGANGSAN YOGYAKARTA Karya Tulis Ilmiah Disusun dan Diajukan untuk

Lebih terperinci

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus.

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus. CIPROFLOXACIN: suatu antibiotik bagi kontak dari penderita infeksi meningokokus Ciprofloxacin merupakan suatu antibiotik yang adakalanya diberikan kepada orang yang berada dalam kontak dekat dengan seseorang

Lebih terperinci

dapat berakibat pada keterlambatan penanganan medis terhadap pasien yang sedang membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Rekam medis kertas yang

dapat berakibat pada keterlambatan penanganan medis terhadap pasien yang sedang membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Rekam medis kertas yang 2 dapat berakibat pada keterlambatan penanganan medis terhadap pasien yang sedang membutuhkan penanganan yang cepat dan tepat. Rekam medis kertas yang digunakan dalam pelayanan medis tidak selalu mampu

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO

ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO ASUHAN KEPERAWATAN TENTANG DIABETES MELLITUS ( DM ) YAYASAN PENDIDIKAN SETIH SETIO AKADEMI KEPERAWATAN SETIH SETIO MUARA BUNGO Kata Pengantar Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA

ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA Irvan Gedeon Firdaus, 2010. Pembimbing: dr. Pinandojo Djojosoewarno, AIF Latar belakang : Minum minuman beralkohol

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena

BAB I PENDAHULUAN. Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Rumah Sakit adalah suatu institusi pelayanan kesehatan yang kompleks, karena selain memiliki fungsi sebagai pelayanan, rumah sakit juga menjalankan fungsi pendidikan,

Lebih terperinci

HUBUNGAN SIKAP KERJA ANGKAT-ANGKUT DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA KULI PANGGUL DI GUDANG BULOG SURAKARTA

HUBUNGAN SIKAP KERJA ANGKAT-ANGKUT DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA KULI PANGGUL DI GUDANG BULOG SURAKARTA HUBUNGAN SIKAP KERJA ANGKAT-ANGKUT DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA KULI PANGGUL DI GUDANG BULOG SURAKARTA SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan Andang Rafsanjani

Lebih terperinci

ESTIMASI NILAI CTDI DAN DOSIS EFEKTIF PASIEN BAGIAN HEAD, THORAX DAN ABDOMEN HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6

ESTIMASI NILAI CTDI DAN DOSIS EFEKTIF PASIEN BAGIAN HEAD, THORAX DAN ABDOMEN HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6 ESTIMASI NILAI CTDI DAN DOSIS EFEKTIF PASIEN BAGIAN HEAD, THORAX DAN ABDOMEN HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6 Helga Silvia 1, Dian Milvita 1, Heru Prasetio 2, Helfi Yuliati 2 1 Jurusan

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00

PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00 DAFTAR INDUK DOKUMEN RSUD TUGUREJO PROVINSI JAWA TENGAH TU & HUMAS PERATURAN DIREKTUR RSUD TUGUREJO NO NOMOR DOKUMEN NAMA DOKUMEN REV. 00 1 No. 1 Tahun 2013 Kebijakan Pelayanan Rumah Sakit RSUD Tugurejo

Lebih terperinci

Bab 2. Nilai Batas Dosis

Bab 2. Nilai Batas Dosis Bab 2 Nilai Batas Dosis Teknik pengawasan keselamatan radiasi dalam masyarakat umumnya selalu berdasarkan pada konsep dosis ambang. Setiap dosis betapapun kecilnya akan menyebabkan terjadinya proses kelainan,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Kehamilan merupakan proses alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita. Lama kehamilan sampai aterm adalah 280 sampai 300 hari atau 39

PENDAHULUAN Kehamilan merupakan proses alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita. Lama kehamilan sampai aterm adalah 280 sampai 300 hari atau 39 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN, PERSALINAN DAN NIFAS TERHADAP PERILAKU ANC PUSKESMAS LATAMBAGA KABUPATEN KOLAKA The Relationship Of Knowledge And Attitude Of Pregnant

Lebih terperinci

ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102

ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102 ANALISIS DIMENSI E-SERVICE QUALITY TERHADAP KEPUASAN KONSUMEN TOKO ONLINE OLEH: CELIA FAUSTINE NOVELIA 3103010102 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS BISNIS UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA MANDALA SURABAYA 2014 ANALISIS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau bergantian (Hamilah, 2004). Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan

BAB I PENDAHULUAN. atau bergantian (Hamilah, 2004). Pertumbuhan berkaitan dengan perubahan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses tumbuh kembang pada anak bisa disebut masa rentan karena masa kanak-kanak merupakan masa kritis dalam proses tumbuh kembang. Pada umumnya proses tumbuh

Lebih terperinci

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK MENGGUNAKAN KLORAMFENIKOL DAN SEFTRIAKSON DI RUMAH SAKIT FATMAWATI JAKARTA TAHUN 2001 2002

ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK MENGGUNAKAN KLORAMFENIKOL DAN SEFTRIAKSON DI RUMAH SAKIT FATMAWATI JAKARTA TAHUN 2001 2002 ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK MENGGUNAKAN KLORAMFENIKOL DAN SEFTRIAKSON DI RUMAH SAKIT FATMAWATI JAKARTA TAHUN 2001 2002 Lili Musnelina 1, A Fuad Afdhal 1, Ascobat Gani 2, Pratiwi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Enuresis atau yang lebih kita kenal sehari-hari dengan istilah mengompol, sudah tidak terdengar asing bagi kita khususnya di kalangan orang tua yang sudah memiliki

Lebih terperinci

BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT

BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT 2.1 Pengertian Cuci Tangan Menurut Dr. Handrawan Nadesul, (2006) tangan adalah media utama bagi penularan kuman-kuman penyebab penyakit. Akibat kurangnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap keterbatasannya akan dialami oleh seseorang bila berumur panjang. Di Indonesia istilah untuk

Lebih terperinci

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI

HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI HUBUNGAN AKTIVITAS FISIK DENGAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KARANGANYAR NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Rumah sakit merupakan salah satu unit usaha yang memberikan pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu pelayanan kesehatan yang diberikan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang.

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskuler secara cepat di negara maju dan negara berkembang. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini perubahan pola hidup yang terjadi meningkatkan prevalensi penyakit jantung dan berperan besar pada mortalitas serta morbiditas. Penyakit jantung diperkirakan

Lebih terperinci

ABSTRAK. UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans

ABSTRAK. UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans iv ABSTRAK UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans Bernike Yuriska M.P, 2009; Pembimbing I: Endang Evacuasiany,Dra.,Apt.M.S.AFK Pembimbing

Lebih terperinci

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt

100% 100% (2/2) 100% 100% (4142) (4162) (269) (307) (307) (269) (278) (263) (265) (264) 0% (638) 12 mnt. (578) 10 mnt Press Release Implementasi Standar Akreditasi Untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan & Keselamatan Pasien RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang RSUD dr. R. Soetrasno Kabupaten Rembang, merupakan rumah sakit

Lebih terperinci

BESAR SAMPEL. Saptawati Bardosono

BESAR SAMPEL. Saptawati Bardosono BESAR SAMPEL Saptawati Bardosono Mengapa perlu menentukan besar sampel? Tujuan utama penelitian: Estimasi nilai tertentu pada populasi (rerata, total, rasio), misal: Mengetahui proporsi penyakit ISPA pada

Lebih terperinci

Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, ** *) Balai Litbang Biomedis Papua **) Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih

Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, ** *) Balai Litbang Biomedis Papua **) Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih Analisis Hubungan Tingkat Kecukupan Gizi Terhadap Status Gizi pada Murid Sekolah Dasar di SD Inpres Dobonsolo dan SD Inpres Komba, Kabupaten Jayapura, Papua Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, **

Lebih terperinci

CARA BIJAK MEMILIH OBAT BATUK

CARA BIJAK MEMILIH OBAT BATUK Penyakit batuk merupakan penyakit yang dapat menyerang siapa saja, bahkan bayi yang baru lahir pun akan mudah terserang batuk jika disekelilingnya terdapat orang yang batuk. Penyakit batuk ini terdiri

Lebih terperinci

KEMANDIRIAN, KUALITAS HIDUP DAN DERAJAT PARAPLEGIA AKIBAT GEMPA BUMI

KEMANDIRIAN, KUALITAS HIDUP DAN DERAJAT PARAPLEGIA AKIBAT GEMPA BUMI KEMANDIRIAN, KUALITAS HIDUP DAN DERAJAT PARAPLEGIA AKIBAT GEMPA BUMI Setiawan, Yoga Handita W, Fatma Rufaida Kementerian Kesehatan Politeknik Kesehatan Surakarta Jurusan Fisioterapi Abstract: Independence,

Lebih terperinci

Jumlah Penderita Baru Di Asean Tahun 2012

Jumlah Penderita Baru Di Asean Tahun 2012 PERINGATAN HARI KUSTA SEDUNIA TAHUN 214 Tema : Galang kekuatan, hapus stigma dan diskriminasi terhadap orang yang pernah mengalami kusta 1. Penyakit kusta merupakan penyakit kronis disebabkan oleh Micobacterium

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya

BAB I PENDAHULUAN. mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini di seluruh dunia termasuk Indonesia kecenderungan penyakit mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya globalisasi dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang

BAB I PENDAHULUAN. yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehamilan merupakan proses reproduksi yang normal, tetapi perlu perawatan diri yang khusus agar ibu dan janin dalam keadaan sehat. Karena itu kehamilan yang normal

Lebih terperinci

PENCAPAIAN INDIKATOR MUTU BULAN JANUARI-MARET 2016

PENCAPAIAN INDIKATOR MUTU BULAN JANUARI-MARET 2016 KESEHATAN DAERAH MILITER III / SILIWANGI RUMAH SAKIT TK. II 3.5.1 DUSTIRA PENCAPAIAN INDIKATOR MUTU BULAN JANUARI-MARET 216 Jl. Dr. Dustira No.1 Cimahi Telp. 665227 Faks. 665217 email : rsdustira@yahoo.com

Lebih terperinci

STATUS PASIEN PENELITIAN. Alamat : Jenis kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan

STATUS PASIEN PENELITIAN. Alamat : Jenis kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan LAMPIRAN 3. STATUS PASIEN PENELITIAN Tanggal pemeriksaan : Nomor urut penelitian : IDENTITAS Nama : Alamat : Umur : Jenis kelamin : 1. Laki-laki 2. Perempuan Suku : Pekerjaan : Pendidikan : ANAMNESIS Keluhan

Lebih terperinci

Pelayanan Alat Kesehatan

Pelayanan Alat Kesehatan panduan praktis Pelayanan Alat Kesehatan Kantor Pusat Jl. Letjen Suprapto Cempaka Putih, PO. Box 1391 / JKT, Jakarta 10510 Indonesia Telp. +62 21 421 2938 (hunting), 424 6063, Fax. +62 21 421 2940 Website

Lebih terperinci

CONEGARAN TRIHARJO KEC. WATES 20 JANUARI 2011 (HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM DESEMBER

CONEGARAN TRIHARJO KEC. WATES 20 JANUARI 2011 (HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM DESEMBER PENGAMATAN EPIDEMIOLOGI HASIL PEMERIKSAAN KECACINGAN di SD MUH. KEDUNGGONG, SD DUKUH NGESTIHARJO,SDN I BENDUNGAN dan SD CONEGARAN TRIHARJO KEC. WATES 20 JANUARI 2011 (HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM DESEMBER

Lebih terperinci

Analisis Model Studi, Sumber Informasi Penting bagi Diagnosis Ortodonti. Analisis model studi merupakan salah satu sumber informasi penting untuk

Analisis Model Studi, Sumber Informasi Penting bagi Diagnosis Ortodonti. Analisis model studi merupakan salah satu sumber informasi penting untuk Analisis Model Studi, Sumber Informasi Penting bagi Diagnosis Ortodonti Avi Laviana Bagian Ortodonti Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Jl. Sekeloa Selatan No. 1 Bandung Abstrak Analisis

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA MASYARAKAT DI DESA SENURO TIMUR

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA MASYARAKAT DI DESA SENURO TIMUR HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA MASYARAKAT DI DESA SENURO TIMUR Nur Alam Fajar * dan Misnaniarti ** ABSTRAK Penyakit menular seperti diare dan ISPA (Infeksi

Lebih terperinci

HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA

HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA HUBUNGAN SIKAP KERJA DUDUK DENGAN KELUHAN NYERI PUNGGUNG BAWAH PADA PEKERJA RENTAL KOMPUTER DI PABELAN KARTASURA SKRIPSI DISUSUN UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN DALAM MENDAPATKAN GELAR SARJANA SAINS

Lebih terperinci

GAMBARAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP FLU BURUNG DI KELURAHAN BATANG TERAP PERBAUNGAN SUMATERA UTARA TAHUN 2010

GAMBARAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP FLU BURUNG DI KELURAHAN BATANG TERAP PERBAUNGAN SUMATERA UTARA TAHUN 2010 GAMBARAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP FLU BURUNG DI KELURAHAN BATANG TERAP PERBAUNGAN SUMATERA UTARA TAHUN 2010 Oleh : NISA LAILAN S. SIRAIT 070100009 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang yang mendasari latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Pada November 1999, the American Hospital

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era globalisasi ini masyarakat cenderung menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu. Pengukur mutu sebuah pelayanan dapat dilihat secara subjektif dan objektif.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sarana pelayanan kesehatan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sejak intra uterin dan terus berlangsung sampai dewasa. Pertumbuhan berlangsung

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. sejak intra uterin dan terus berlangsung sampai dewasa. Pertumbuhan berlangsung 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tumbuh kembang merupakan proses yang berkesinambungan yang terjadi sejak intra uterin dan terus berlangsung sampai dewasa. Pertumbuhan berlangsung relatif tinggi pada

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI. Tesis

ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI. Tesis ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI Tesis Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 2 Program Studi Manajemen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini, di seluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar.

Lebih terperinci

Jurnal Kesehatan Kartika 27

Jurnal Kesehatan Kartika 27 HUBUNGAN MOTIVASI KERJA BIDAN DALAM PELAYANAN ANTENATAL DENGAN KEPATUHAN PENDOKUMENTASIAN KARTU IBU HAMIL DI PUSKESMAS UPTD KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2008 Oleh : Yulia Sari dan Rusnadiah STIKES A. Yani Cimahi

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG TAHUN 2013

FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG TAHUN 2013 FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG TAHUN 2013 Ignatia Goro *, Kriswiharsi Kun Saptorini **, dr. Lily Kresnowati **

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA

ABSTRAK. EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA ABSTRAK EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA Raissa Yolanda, 2010. Pembimbing I : Lusiana Darsono, dr., M. Kes Kolitis

Lebih terperinci

KEPADATAN TULANG, AKTIVITAS FISIK & KONSUMSI MAKANAN BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 6 12 TAHUN

KEPADATAN TULANG, AKTIVITAS FISIK & KONSUMSI MAKANAN BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 6 12 TAHUN KEPADATAN TULANG, AKTIVITAS FISIK & KONSUMSI MAKANAN BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK USIA 6 12 TAHUN Heryudarini Harahap, dkk TEMU ILMIAH INTERNASIONAL PERSAGI XV YOGYAKARTA, 25 30 NOVERMBER

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR: 12 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH

Lebih terperinci

Korelasi antara Tinggi Badan dan Panjang Jari Tangan

Korelasi antara Tinggi Badan dan Panjang Jari Tangan Korelasi antara Tinggi Badan dan Panjang Jari Tangan Athfiyatul Fatati athfiyatul.fatati@yahoo.com Departemen Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan ilmu Politik Universitas Airlangga ABSTRAK Penelitian

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan gizi kurang dapat ditemukan pada setiap kelompok masyarakat. Pada hakekatnya keadaan gizi kurang dapat dilihat sebagai suatu proses kurang asupan makanan ketika

Lebih terperinci

Integrated Care for Better Health Integrasi Layanan untuk Kesehatan Yang Lebih Baik

Integrated Care for Better Health Integrasi Layanan untuk Kesehatan Yang Lebih Baik Integrated Care for Better Health Integrasi Layanan untuk Kesehatan Yang Lebih Baik An ounce of prevention is worth a pound of cure Pencegahan kecil mempunyai nilai yang sama dengan pengobatan yang banyak

Lebih terperinci

Masalah perkembangan pada anak. Keluhan Utama pada Keterlambatan Perkembangan Umum di Klinik Khusus Tumbuh Kembang RSAB Harapan Kita

Masalah perkembangan pada anak. Keluhan Utama pada Keterlambatan Perkembangan Umum di Klinik Khusus Tumbuh Kembang RSAB Harapan Kita Artikel Asli Keluhan Utama pada Keterlambatan Perkembangan Umum di Klinik Khusus Tumbuh Kembang RSAB Harapan Kita Anna Tjandrajani,* Attila Dewanti,* Amril A. Burhany,* Joanne Angelica Widjaja** *Kelompok

Lebih terperinci

PROFIL HITUNG LEUKOSIT DARAH PADA FASE AKUT STROK HEMORAGIK DAN STROK ISKEMIK DIHUBUNGKAN VOLUME LESI PADA PEMERIKSAAN CT SCAN KEPALA

PROFIL HITUNG LEUKOSIT DARAH PADA FASE AKUT STROK HEMORAGIK DAN STROK ISKEMIK DIHUBUNGKAN VOLUME LESI PADA PEMERIKSAAN CT SCAN KEPALA PROFIL HITUNG LEUKOSIT DARAH PADA FASE AKUT STROK HEMORAGIK DAN STROK ISKEMIK DIHUBUNGKAN VOLUME LESI PADA PEMERIKSAAN CT SCAN KEPALA Profile of Blood Leucocyte Calculation on Acute Phases of Haemorrhagic

Lebih terperinci

DETERMINAN KEJADIAN RINITIS AKIBAT KERJA DI PT. DUNIA KIMIA UTAMA INDRALAYA TAHUN 2014

DETERMINAN KEJADIAN RINITIS AKIBAT KERJA DI PT. DUNIA KIMIA UTAMA INDRALAYA TAHUN 2014 DETERMINAN KEJADIAN RINITIS AKIBAT KERJA DI PT. DUNIA KIMIA UTAMA INDRALAYA TAHUN 2014 MANUSKRIF SKRIPSI OLEH ULVA YULIANTI 10101001015 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2014 DETERMINAN

Lebih terperinci

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BATU SALURAN KEMIH DI RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BATU SALURAN KEMIH DI RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BATU SALURAN KEMIH DI RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR A k m a l STIKES Nani Hasanuddin Makassar ABSTRAK Batu Saluran kemih adalah penyakit yang timbul akibat

Lebih terperinci

KEJANG DEMAM SEDERHANA PADA ANAK USIA SATU TAHUN

KEJANG DEMAM SEDERHANA PADA ANAK USIA SATU TAHUN KEJANG DEMAM SEDERHANA PADA ANAK USIA SATU TAHUN Wardhani AK. 1) 1) Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Lampung ABSTRAK Latar Belakang. Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan

Lebih terperinci

CEGAH KANTOR MENJADI LADANG PENYAKIT, KENALI KONDISI PEKERJAAN ANDA

CEGAH KANTOR MENJADI LADANG PENYAKIT, KENALI KONDISI PEKERJAAN ANDA Pernahkan anda merasa kurang sehat ketika pulang dari kantor, padahal sewaktu berangkat ke kantor anda merasa sehat? Jika pernah, bisa jadi anda terkena PAK atau penyakit akibat kerja, yang disebabkan

Lebih terperinci

ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN

ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN GELADIKARYA Oleh : AMERINA SYAFHARINI, ST 087007074 KONSENTRASI PEMASARAN TEKNOLOGI PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Infark miokard akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat

BAB 1 PENDAHULUAN. Infark miokard akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Infark miokard akut (IMA) adalah nekrosis miokard akibat ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen otot jantung (Siregar, 2011). Penyebab IMA yang

Lebih terperinci

FARMASI USD Mei 2008. Oleh : Yoga Wirantara (078114021) Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

FARMASI USD Mei 2008. Oleh : Yoga Wirantara (078114021) Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Oleh : Yoga Wirantara (078114021) Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Abstrak, Di lingkungan tempat tinggal kita banyak sekali terdapat berbagai macam jenis jamur. Jamur merupakan salah satu organisme

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah

BAB I PENDAHULUAN. pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Nyeri pinggang bawah atau low back pain merupakan rasa nyeri, ngilu, pegal yang terjadi di daerah pinggang bawah. Nyeri pinggang bawah bukanlah diagnosis tapi hanya

Lebih terperinci

Laporan Kasus Hands-On (7/2008) Insufisiensi Vena Kronik dan Ulkus Vena Tungkai

Laporan Kasus Hands-On (7/2008) Insufisiensi Vena Kronik dan Ulkus Vena Tungkai Laporan Kasus Hands-On (7/2008) Insufisiensi Vena Kronik dan Ulkus Vena Tungkai Laporan Khusus Hands-On Insufisiensi Vena Kronik dan Setidaknya 70 % dari semua ulkus pada tungkai berawal dari insufisiensi

Lebih terperinci

panduan praktis Administrasi Klaim Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan

panduan praktis Administrasi Klaim Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan panduan praktis Administrasi Klaim Fasilitas Kesehatan BPJS Kesehatan 14 02 panduan praktis administrasi klaim faskes BPJS Kesehatan Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang

Lebih terperinci

MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU

MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO DINAS PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN JL. RAYA DRINGU 81 TELPON 0335-420517 PROBOLINGGO 67271 MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU Oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan ekstrauterin. Secara normal, neonatus aterm akan mengalami

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan ekstrauterin. Secara normal, neonatus aterm akan mengalami BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penurunan berat badan neonatus pada hari-hari pertama sering menjadi kekhawatiran tersendiri bagi ibu. Padahal, hal ini merupakan suatu proses penyesuaian fisiologis

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK KONDISI RUMAH PENDERITA KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TURIKALE DAN MANDAI KABUPATEN MAROS

KARAKTERISTIK KONDISI RUMAH PENDERITA KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TURIKALE DAN MANDAI KABUPATEN MAROS KARAKTERISTIK KONDISI RUMAH PENDERITA KUSTA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TURIKALE DAN MANDAI KABUPATEN MAROS CHARACTERISTIC OF THE HOUSE CONDITION OF LEPROSY PATIENTS IN THE WORK AREA OF TURIKALE AND MANDAI

Lebih terperinci

Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter?

Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter? Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter? Prof. Dr. H. Guslihan Dasa Tjipta, SpA(K) Divisi Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU 1 Kuning/jaundice pada bayi baru lahir atau disebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk. negara-negara dunia diprediksikan akan mengalami peningkatan.

BAB I PENDAHULUAN. dengan menghilangnya secara perlahan-lahan kemampuan jaringan untuk. negara-negara dunia diprediksikan akan mengalami peningkatan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia (lansia) merupakan tahap akhir dari kehidupan dan merupakan proses alami yang tidak dapat dihindari oleh setiap individu. Proses alami ditandai

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN ALAT UKUR TINGKAT KEKERUHAN ZAT CAIR BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 MENGGUNAKAN SENSOR FOTOTRANSISTOR DAN PENAMPIL LCD

RANCANG BANGUN ALAT UKUR TINGKAT KEKERUHAN ZAT CAIR BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 MENGGUNAKAN SENSOR FOTOTRANSISTOR DAN PENAMPIL LCD RANCANG BANGUN ALAT UKUR TINGKAT KEKERUHAN ZAT CAIR BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 MENGGUNAKAN SENSOR FOTOTRANSISTOR DAN PENAMPIL LCD Yefri Hendrizon, Wildian Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00-

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00- BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian akan dilakukan di peternakan ayam CV. Malu o Jaya Desa Ulanta, Kecamatan Suwawa dan peternakan ayam Risky Layer Desa Bulango

Lebih terperinci