Pertimbangan Teknis Perlindungan Kawasan Nilai Konservasi Tinggi Sungai Besar-Pelang, Kabupaten Ketapang

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Pertimbangan Teknis Perlindungan Kawasan Nilai Konservasi Tinggi Sungai Besar-Pelang, Kabupaten Ketapang"

Transkripsi

1 Pertimbangan Teknis Perlindungan Kawasan Nilai Konservasi Tinggi Sungai Besar-Pelang, Kabupaten Ketapang Hasil survei Nilai Konservasi Tinggi, yang dilakukan Fauna flora International di Kabupaten Ketapang, khususnya di Blok Pelang-Sungai Besar menunjukkan terdapat 2 jenis diantaranya yaitu orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) dan kelempiau (Hylobates albibabris) masuk kategori spesies yang terancam punah (Endangered), dan terdapat banyak fauna mamalia, burung, ampibi dan reptil, merupakan spesies yang memiliki Nilai Konservasi Tinggi. Hasil interpretasi peta dan pengecekan lapangan terhadap kedalaman gambut menunjukkan lebih dari 85% kawasan Blok Pelang-Sungai Besar memiliki kedalaman lebih dari 3 meter. Pemerintah Daerah Kabupaten Ketapang saat ini tengah mengembangan kebijakan daerah untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan melalui revisi RTRWK, kajian lingkungan hidup strategis, penetapan kawasan strategis daerah, dan upaya memberikan legalitas kepada inisiatif masyarakat untuk melakukan perlindungan hutan di wilayah APL. Dalam kerangka ini pemda Ketapang bekerjasama dengan berbagai pihak untuk melakukan berbagai kajian untuk mengatasi persoalan kebijakan yang sudah terlanjur dikeluarkan namun masih dimungkinkan upaya perbaikan, sehingga kepentingan ekonomi dan lingkungan dapat berjalan seiring. 1. Gambaran Umum Ketapang Kabupaten Ketapang, dengan luas sekitar hektar, berada pada dua bentang alam, yakni bentang alam hutan gambut dataran rendah di sepanjang pantai barat Ketapang dan Pegunungan Schwanner di sepanjang perbatasan Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Kedua bentang alam ini sangat penting keberadaannya dalam mendukung dan menjaga kualitas lingkungan daerah hulu dan hilir Kabupaten Ketapang. Kondisi hutan di kedua bentang ini relatif utuh dan terjaga. Bagi penduduk Ketapang, keutuhan dua bentang tersebut penting sebagai penyangga dalam menghadapi perubahan iklim yang sering berubah secara ekstrim. Dalam pengelolaan kawasan di kedua bentang tersebut penting mempertimbangkan aspek kelestarian ekosistem mengingat pada undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, menyatakan bahwa setiap wilayah kabupaten atau kota harus memiliki atau 1

2 menyediakan ruang terbuka hijau setidaknya 30% dari total wilayah kabupaten. Sejalan dengan ini, Peraturan Pemerintah Nomor 26 tahun 2007, pasal 9, pasal 53, memberikan penegasan mengenai perlindungan kawasan bentang alam yang memiliki keunikan dan keanekaragaman hayati tinggi untuk dilindungi sebagai Kawasan Strategis Nasional. Pada penjelasannya UU No. 26 tahun 2007, dinyatakan bahwa penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan merupakan komponen dalam penataan ruang baik yang dilakukan berdasarkan wilayah administratif, kegiatan kawasan, maupun nilai strategis kawasan. Termasuk dalam kawasan lindung adalah: (a) kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahnya, antara lain kawasan hutan lindung, kawasan bergambut, dan resapan air. a. Ketapang dan Perubahan iklim Pemerintah pusat dalam upaya penurunan emisi Gas Rumah Kaca telah mengeluarkan Perpres nomor 61 tahun 2011, tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK), di dalamnya Pemerintah Indonesia sampai tahun 2020 berkomitmen menurunkan 26% emisi melalui skema pendanaan APBN dan APBD. Sedangkan jika dengan bantuan asing, target penurunan emisi menjadi 41%. Aksi mitigasi akan dilaksanakan di lima bidang prioritas (Pertanian, Kehutanan dan Lahan Gambut, Energi dan Transportasi, Industri, Pengelolaan Limbah) serta kegiatan Pendukung lainnya. Kebijakan ini tentunya perlu dukungan dari seluruh pemerintah daerah di Indonesia, salah satunya Kabupaten Ketapang yang secara aktual masih memiliki areal hutan, baik di dalam maupun di luar kawasan yang ditetapkan sebagai hutan. Dalam mendukung kegiatan mitigasi GRK dan memberikan payung aktifitas teknis, dikeluarkan Perpres nomor 71 tahun 2011 tentang penyelenggaraan inventarisasi gas rumah kaca nasional, dimana gubernur dan bupati dan turut terlibat dalam mendukung upaya mitigasi GRK melalui inventarisasi GRK dengan menggunakan pembiayaan dari APBN maupun APBD. Berkenaan dengan Perpres 61 tahun 2011, Kabupaten Ketapang menduduki posisi penting dengan bentang alam hutan gambut dataran rendah. Kebijakan daerah sebelum tahun 2011 telah mengalokasi cukup banyak lahan gambut ini untuk perkebunan besar. Mengantisipasi 2

3 Perpres tersebut, saat ini Pemda Ketapang bekerjasama dengan pihak pemilik hak perkebunan, perguruan tinggi dan LSM untuk mengidentifikasi dan merencanakan pengelolaan kawasan gambut dan hutan dan Hutan dengan Nilai Konservasi Tinggi untuk tidak dibuka dan dikelola dengan baik agar dapat mendukung kebijakan pemerintah tersebut. Bentuk-bentuk kerjasama yang akan dikembangkan terus didiskusikan agar tidak merugikan kepentingan investasi bersamaan dengan kepentingan konservasi ekosistem penting bagi kehidupan. b. Kebijakan Kawasan Strategis Daerah Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, bahwa kegiatan penataan ruang wilayah harus mengakomodir Kawasan Strategis Nasional untuk mendukung pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup agar dapat mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, melestarikan keunikan bentang alam, dan melestarikan warisan budaya nasional, ekonomi, sosial budaya, dan peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan keamanan. Berkenaan dengan kebijakan tersebut Ketapang sedang mempertimbangkan untuk mengalokasikan beberapa wilayah di kabupatennya untuk ditetapkan sebagai kawasan strategis daerah. Untuk pengelolaan bentang alam hutan gambut dataran rendah di sepanjang pantai barat kabupaten, terus diupayakan kerjasama dengan berbagai pihak untuk tidak membuka gambut dalam dan merencanakan pengelolaan koridor satwa dari bagian selatan sampai ke bagian utara. Pengembangan berbagai skema untuk perlindungan gambut dan NKT ini terus didiskusikan bersama parapihak untuk dijadikan kebijakan daerah. c. Inisiatif masyarakat dan daerah untuk perlindungan Kajian terhadap perlindungan kawasan gambut dan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) di Kabupaten Ketapang ini difokuskan di blok Sungai Besar-Pelang. Bagi masyarakat setempat dan sekitar blok kawasan tersebut, Inisiatif perlindungan kawasan hutan tujuan utamanya mempertahankan kawasan hutan di wilayah APL untuk perlindungan 3

4 terhadap bencana banjir, kekeringan, pengairan lahan pertanian, penyediaan air bersih, menjaga kesinambungan hasil hutan kayu dan non kayu dan aktivitas yang berkaitan dengan adat budaya setempat. Masyarakat didampingi FFI dan forum Hutan Desa telah melakukan beberapa kegiatan diantaranya: pemetaan partisipatif, pelatihan & pemahaman REDD, pelatihan inventarisasi Nilai Konservasi Tinggi (HCV), carbon accounting, patroli hutan partisipatif, pengembangan kelembagaan, kebun bibit rakyat, membentuk lembaga kelola tingkat desa, melakukan inventarisasi keanekargaman hayati, bekerjasama dengan pihak swasta pemilik HGU untuk pengelolaan HCV di wilayah HGU, dan zonasi kawasan hutan. 2. Penggunaan Kawasan Aktual Berdasarkan data penutupan lahan tahun 2003 dan tahun 2009, telah terjadi penurunan penutupan lahan di wilayah APL, HPK dan HPT. Di tahun-tahun yang akan datang percepatan penurunan tutupan lahan akan dipercepat dengan semakin tingginya permintaan lahan untuk industri perkebunan dan lahan pertanian. Menurut penelitian, yang dipimpin oleh Kim Carlson dari Yale dan Stanford University, berdasarkan pada survei sosial ekonomi yang komprehensif, citra satelit resolusi tinggi dan pemetaan karbon di Ketapang. konversi ha dari satu juta ha tanah masyarakat tahun 2020 hampir tak terelakkan. Kasus yang paling mungkin adalah 35 persen dari seluruh lahan masyarakat akan dibuka sawit dalam tahun Untuk itu, kebijakan daerah untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan sedang diupayakan Pemda Ketapang melalui revisi RTRWK, kajian lingkungan hidup strategis, penetapan kawasan strategis daerah, dan upaya memberikan legalitas kepada inisiatif masyarakat untuk melakukan perlindungan hutan di wilayah APL. 4

5 Penutupan Lahan Status Kawasan Hutan APL HP HPK HPT Grand Total* (2003) Grand Total* (2009) Primary Forest , , , , , , Secondary Forest 67, , , , , , , , , , Peat Forest 72, , , , , , , , Mangrove Forest 4, , , , Grand Total 145, , , , , , , , ,266, ,281, Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah III Pontianak, Kementerian Kehutanan, 2003 dan Keterangan: *) Termasuk Hutan Lindung, Taman Nasional dan Hutan, Produksi Terbatas 3. Identifikasi keanekaragaman hayati di Blok Hutan Sungai Besar-Pelang Hasil identifikasi lapangan yang dilakukan sejak tahun 2010 hingga 2011 di desa Pelang, Sungai Besar dan Pematang Gadung, yang dilakukan bersama dengan tim ahli dari Universitas Tanjungpura, diperoleh informasi mengenai kekayaan keanekaragaman hayati dan kedalaman gambut. Hasil pengukuran kedalaman gambut diperoleh informasi, bahwa kedalaman kubah gambut di beberapa titik di wilayah 3 desa tersebut mencapai 19 meter. Selama survei keanekaragaman hayati dilakukan, berhasil diidentifikasi 6 jenis hewan yang memiliki nilai konservasi tinggi yaitu, orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii), Bekantan (Nasalis larvatus) yang sangat mudah ditemui pada pagi dan sore hari di sepanjang Sungai Kepuluk, adalah: Kelempiau (Hylobates albibabris), buaya senyulong (Tomistoma schlegelii), dan bangau storm (Ciconia stromi). Keenam jenis satwa tersebut merupakan jenis yang terancam punah (endangered). Secara keseluruhan, dari survei yang dilakukan, kawasan ini tercatat 38 jenis mamalia, 150 jenis burung, dan 33 jenis ampibi dan reptil, diantaranya 41, 63% nya atau 92 jenis merupakan spesies yang memiliki nilai konservasi tinggi, yang terdiri dari 23 jenis mamalia, 60 jenis burung, dan 9 jenis ampibi dan reptil. Kekayaan fauna lain yang berhasil dicatat selama periode survei yaitu keanekaragaman jenis ikan lokal, dimana setidaknya terdapat 50 jenis ikan berdasarkan nama lokal tercatat di kawasan blok hutan Sungai Besar-Pelang. Beberapa jenis ikan tersebut merupakan jenis yang memiliki nilai ekonomis dan menjadi salah satu sumber protein bagi masyarakat, seperti ikan tapah, ikan baung, ikan, dan lainnya yang masih masyarakat tangkap. 5

6 6

7 4. Identifikasi kondisi dan kedalaman gambut di Blok Hutan Sungai Besar-Pelang Lahan gambut memiliki sifat unik dan rentan, namun mempunyai peran penting, kemampuan gambut dalam menahan air berkisar antara bobot keringnya. Kemampuan ini sangat berguna dalam mencegah banjir, kekeringan, sekaligus melindungi dari intrusi air laut. Hasil interpretasi peta dan pengecekan lapangan di blok Sungai Besar-Pelang disajikan dalam peta di bawah. Hampir seluruh kawasan blok hutan Sungai Besar-Pelang merupakan kawasan gambut dengan kedalaman antara 1 meter sampai dengan lebih dari 11 meter. Lebih kurang 90% wilayah ini memiliki kedalaman lebih dari 3 meter, dan ± 40% dari keseluruhan blok ini memiliki kedalaman antara 8-11 meter. Mengingat pada Keppres No 32 tahun 1990, tentang Pengelolaan Kawasan Lindung, dalam pasal 9, enyatakan, perlindungan terhadap kawasan bergambut dimaksudkan untuk melindungi hidrologi wilayah, yang berfungsi sebagai penambat air, pencegah banjir serta melindungi ekosistem yang khas di kawasan bersangkutan. Dan pada pasal 10, kriteria kawasan bergambut adalah tanah bergambut dengan ketebalan 3 meter atau lebih yang terdapat di hulu sungai dan rawa. Selain itu kesuburan tanah gambut rendah, miskin hara untuk tanaman. Kemasaman lahan gambut dapat mencapai 1-4 (ph lahan pertanian umumnya antara 6,0-6,5), karena rendahnya kandungan Ca dan Mg. Sementara kandungan pirit di lahan gambut yang dekat pantai atau dipengaruhi pasang surut, tinggi dengan logam besi dan almunium, bila teroksidasi menjadi racun bagi tanaman. 7

8 8

9 5. Identifikasi kondisi sosial budaya Kearifan lokal dalam pengelolaan hutan ditunjukkan dengan kondisi hutan di daerah tersebut masih baik bila dibandingkan dengan daerah disekitarnya (dapat dilihat dari peta tutupan lahan). Ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya hutan relatif rendah. Menurut penelitian UI tahun 2011, mata pencaharian utama masyarakat adalah nelayan-petani, selain itu sumber penghasilan (uang cash) dari pertambangan rakyat, menjadi buruh kebun, buruh pertambangan rakyat, atau mengambil kayu di hutan. Kesadaran masyarakat terhadap perlunya melindungi hutan dirasakan semenjak semakin besarnya resiko kekeringan, banjir dan kebakaran hutan. Ketergantungan masyarakat terhadap hutan terutama menyangkut kebutuhan sumber air bersih, pengairan sawah dan kebutuhan kayu untuk keperluan rumah tangga. Selain pentingnya jasa lingkungan penyedia dan pengendali air, masyarakat sudah mulai menyadari pengelolaan hutan yang baik akan memberi kesempatan lebih besar dalam memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan kayu secari lestari. Melalui pendampingan dan pelatihan, saat ini masyarakat mulai memetakan wilayah desa mereka dalam zona-zona pemanfaatan berdasarkan dengan kondisi faktual saat ini dan kemudian disesuaikan dengan perencanaan ruang desa yang mengakomodir kepentingankepentingan pelestarian hutan untuk perlindungan kehidupan mereka dan generasi penerus nantinya. Pengembangan kelembagaan dan aturan dalam pengelolaan hutan saat ini sedang dalam proses diskusi di masing-masing desa. Seluruh keputusan warga dalam pengelolaan hutan tersebut nantinya akan diperkuat dengan Perdes sesuai dengan tema-tema perihal yang akan diatur dalam Perdes. 9

10 6. Rekomendasi di tiga lokasi Kalbar merupakan salah satu dari 9 provinsi prioritas strategi nasional penurunan emisi GRK, dan Kabupaten Ketapang mewujudkan komitmen ini melalui berbagai program yang sejalan, diantaranya telah menyusun Kajian Lingkungan Hidup Strategis, membentuk Pilot Kesatuan Pengelolaan Hutan, memfasilitasi terbentuknya 6 Hutan Desa, pengembangan hutan kota & ekowisata, dan kebijakan-kebijakan lain untuk konservasi sumberdaya alam. Kabupaten Ketapang telah merencanakan penetapan Kawasan Strategis Daerah dalam struktur ruang kabupaten yang akan dikukuh dalam Perda Tata Ruang Kabupaten. Hasil survai NKT dan sosial di Blok Sungai Besar-Pelang akan menjadi salah satu plot contoh penetapan kawasan strategis daerah. Dari hasil survai dan analisis Nilai Konservasi tinggi dan kondisi sosial masyarakat blok Hutan Sungai Besar-Pelang, memiliki NKT sangat tinggi bahkan memiliki satwa yang terancam punah dan sebagian besar wilayah merupakan gambut dalam (lebih dari 3 meter). Selain itu dari sisi ketergantungan masyarakat terhadap jasa ekosistem hutan sangat tinggi untuk menghindari bencana alam, dan pada saat yang sama hutan dapat memberikan manfaat ekonomi langsung dalam pemenuhan kebutuhan kayu, hasil hutan non kayu, pengairan dan sumber ikan. Perlindungan hutan dengan skema yang ada selama ini tidak cukup efektif dan memerlukan biaya sangat mahal. Di sisi yang lain kebocoran akibat tidak efektifnya manajemen pengelola kawasan perlindungan terjadi karena tidak melibatkan masyarakat setempat yang sehari-hari berada di sekitar kawasan tersebut. Berdasarkan penjelasan diatas, maka untuk ketiga lokasi direkomendasikan: Menjadi kawasan lindung daerah, untuk perlindungan NKT, perlindungan gambut dalam, bentang alam dataran rendah dan perlindungan kepentingan sosial budaya masyarakat setempat. Pengelolaan kawasan lindung tersebut oleh masyarakat. Masyarakat telah difasilitasi dan siap untuk mengelola kawasan tersebut sesuai dengan fungsi perlindungan. 10

11 7. Tindak lanjut Focus group discussion (FGD) parapihak berkepentingan untuk mendiskusi kemungkinan kerjasama dan pilihan-pilihan bentuk pengelolaan serta kebijakan daerah yang dapat memayungi perlindungan NKT. Kajian Hukum (kebijakan) sebagai landasan legal untuk penetapan kebijakan daerah yang sesuai. Pengembangan model pengelolaan NKT daerah yang dapat memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat dan pemerintah daerah sejalan dengan tujuan perlindungan kawasan NKT. 11

12 Pertimbangan Teknis Perlindungan Kawasan Nilai Konservasi Tinggi Blok Laman Satong Kabupaten Ketapang Hasil survei Nilai Konservasi Tinggi, yang dilakukan Fauna flora International di Kabupaten Ketapang, khususnya di Laman Satong menunjukkan terdapat 2 jenis diantaranya yaitu orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) dan kelempiau (Hylobates albibabris) masuk kategori spesies yang terancam punah (Endangered), dan terdapat banyak fauna mamalia, burung, ampibi dan reptile, merupakan spesies yang memiliki nilai konservasi tinggi. Desa Laman Satong saat telah dilelilingi kebun sawit. Masyarakat menginginkan sisa wilayah desa yang masih berhutan cukup baik menjadi hutan desa atau bentuk kelola masyarakat lainnya. Keberadaan hutan ini sangat penting bagi kehidupan ekonomi, tata air, maupun untuk kepentingan kelangsungan adat budaya yang sampai saat ini masih mereka terapkan. Pemerintah daerah Ketapang saat ini tengah mengembangan kebijakan daerah untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan melalui revisi RTRWK, kajian lingkungan hidup strategis, penetapan kawasan strategis daerah, dan upaya memberikan legalitas kepada inisiatif masyarakat untuk melakukan perlindungan hutan di wilayah APL. Dalam kerangka ini Pemda Ketapang bekerjasama dengan berbagai pihak untuk melakukan berbagai kajian untuk mengatasi persoalan kebijakan yang sudah terlanjur dikeluarkan namun masih dimungkinkan upaya perbaikan, sehingga kepentingan ekonomi dan lingkungan dapat berjalan seiring. 1. Gambaran Umum Ketapang Kabupaten Ketapang, dengan luas sekitar hektar, berada pada dua bentang alam, yakni bentang alam hutan gambut dataran rendah di sepanjang pantai barat Ketapang dan Pegunungan Schwanner di sepanjang perbatasan Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Kedua bentang alam ini sangat penting keberadaannya dalam mendukung dan menjaga kualitas lingkungan daerah hulu dan hilir Kabupaten Ketapang. Kondisi hutan di kedua bentang ini relatif utuh dan terjaga. Bagi penduduk Ketapang, keutuhan dua bentang tersebut penting sebagai penyangga dalam menghadapi perubahan iklim yang sering berubah secara ekstrim. Dalam pengelolaan kawasan di kedua bentang tersebut penting mempertimbangkan aspek kelestarian ekosistem mengingat pada undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang 1

13 Penataan Ruang, menyatakan bahwa setiap wilayah kabupaten atau kota harus memiliki atau menyediakan ruang terbuka hijau setidaknya 30% dari total wilayah kabupaten. Sejalan dengan ini, Peraturan Pemerintah nomor 26 tahun 2007, pasal 9, pasal 53, memberikan penegasan mengenai perlindungan kawasan bentang alam yang memiliki keunikan dan keanekaragaman hayati tinggi untuk dilindungi sebagai Kawasan Strategis Nasional. Pada penjelasannya UU No. 26 tahun 2007, dinyatakan bahwa penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan merupakan komponen dalam penataan ruang baik yang dilakukan berdasarkan wilayah administratif, kegiatan kawasan, maupun nilai strategis kawasan. Termasuk dalam kawasan lindung adalah: (a) kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahnya, antara lain kawasan hutan lindung, kawasan bergambut, dan resapan air. a. Ketapang dan Perubahan iklim Pemerintah pusat dalam upaya penurunan emisi Gas Rumah Kaca telah mengeluarkan Perpres nomor 61 tahun 2011, tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK), di dalamnya Pemerintah Indonesia sampai tahun 2020 berkomitmen menurunkan 26% emisi melalui skema pendanaan APBN dan APBD. Sedangkan jika dengan bantuan asing, target penurunan emisi menjadi 41%. Aksi mitigasi akan dilaksanakan di lima bidang prioritas (Pertanian, Kehutanan dan Lahan Gambut, Energi dan Transportasi, Industri, Pengelolaan Limbah) serta kegiatan Pendukung lainnya. Kebijakan ini tentunya perlu dukungan dari seluruh pemerintah daerah di Indonesia, salah satunya Kabupaten Ketapang yang secara aktual masih memiliki areal hutan, baik di dalam maupun di luar kawasan yang ditetapkan sebagai hutan. Dalam mendukung kegiatan mitigasi GRK dan memberikan payung aktifitas teknis, dikeluarkan Perpres nomor 71 tahun 2011 tentang penyelenggaraan inventarisasi gas rumah kaca nasional, dimana gubernur dan bupati dan turut terlibat dalam mendukung upaya mitigasi GRK melalui inventarisasi GRK dengan menggunakan pembiayaan dari APBN maupun APBD. Berkenaan dengan Perpres 61 tahun 2011, Kabupaten Ketapang menduduki posisi penting dengan bentang alam hutan gambut dataran rendah. Kebijakan daerah sebelum tahun

14 telah mengalokasi cukup banyak lahan gambut ini untuk perkebunan besar. Mengantisipasi Perpres tersebut, saat ini Pemda Ketapang bekerjasama dengan pihak pemilik hak perkebunan, perguruan tinggi dan LSM untuk mengidentifikasi dan merencanakan pengelolaan kawasan gambut dan hutan dan Hutan dengan Nilai Konservasi Tinggi untuk tidak dibuka dan dikelola dengan baik agar dapat mendukung kebijakan pemerintah tersebut. Bentuk-bentuk kerjasama yang akan dikembangkan terus didiskusikan agar tidak merugikan kepentingan investasi bersamaan dengan kepentingan konservasi ekosistem penting bagi kehidupan. b. Kebijakan Kawasan Strategis Daerah Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, bahwa kegiatan penataan ruang wilayah harus mengakomodir Kawasan Strategis Nasional untuk mendukung pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup agar dapat mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, melestarikan keunikan bentang alam, dan melestarikan warisan budaya nasional, ekonomi, social budaya, dan peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan keamanan. Berkenaan dengan kebijakan tersebut Ketapang sedang mempertimbangkan untuk mengalokasikan beberapa wilayah di kabupatennya untuk ditetapkan sebagai kawasan strategis daerah. Untuk pengelolaan Bentang Alam hutan gambut dataran rendah di sepanjang pantai barat kabupaten, terus diupayakan kerjasama dengan berbagai pihak untuk tidak membuka gambut dalam dan merencanakan pengelolaan koridor satwa dari bagian selatan sampai ke bagian utara. Pengembangan berbagai skema untuk perlindungan gambut dan NKT ini terus didiskusikan bersama parapihak untuk dijadikan kebijakan daerah. c. Inisiatif masyarakat dan daerah untuk perlindungan Kajian terhadap perlindungan kawasan gambut dan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) di Kabupaten Ketapang ini difokuskan di blok APL Laman Satong. 3

15 Bagi masyarakat setempat dan sekitar blok kawasan tersebut, Inisiatif perlindungan kawasan hutan tujuan utamanya mempertahankan kawasan hutan di wilayah APL untuk mempertahan sumber kehidupan (lahan pertanian, dll), perlindungan terhadap bencana banjir, kekeringan, pengairan lahan pertanian, penyediaan air bersih, menjaga kesinambungan hasil hutan kayu dan non kayu dan aktivitas yang berkaitan dengan adat budaya setempat. Masyarakat Desa Laman Satong masih menerapkan adat budaya asli dalam kehidupan seharihari maupun dalam pengelolaan sumberdaya hutannya. Adat-istiadat dari acara orang menikah, melahirkan, meninggal, menanam dan memanen padi, atau membuka lahan pasti didahului dengan acara adat untuk memohon keselamatan dan berkah dari alam dan Tuhan. Untuk mempertahankan sisa kawasan hutan adat mereka, sampai saat ini sebagian besar masyarakat terus berusaha untuk menolak masuknya investasi perkebunan ataupun pertambangan. Resiko terhadap hilangnya sumber kehidupan yang mereka jalani selama turun menurun dan resiko hilangnya adat budaya karena hilangnya kawasan hutan yang menjadi pusat aktiviatas adat budaya, adalah alasan terkuat mengapa mereka ingin mempertahankan sisa hutan di wilayah desa Laman Satong. Di desa tersebut masyarakat didampingi FFI dan forum Hutan Desa telah melakukan beberapa kegiatan diantaranya: pemetaan partisipatif, pelatihan & pemahaman REDD, pelatihan inventarisasi Nilai Konservasi Tinggi (HCV), carbon accounting, patroli hutan partisipatif, pengembangan kelembagaan, kebun bibit rakyat, membentuk lembaga kelola tingkat desa, melakukan inventarisasi keanekargaman hayati, bekerjasama dengan pihak swasta pemilik HGU untuk pengelolaan HCV di wilayah HGU, dan zonasi kawasan hutan. 2. Penggunaan Kawasan Aktual Berdasarkan data penutupan lahan tahun 2003 dan tahun 2009, telah terjadi penurunan penutupan lahan di wilayah APL, HPK dan HPT. Di tahun-tahun yang akan datang percepatan penurunan tutupan lahan akan dipercepat dengan semakin tingginya permintaan lahan untuk industri perkebunan dan lahan pertanian. Menurut penelitian, yang dipimpin 4

16 oleh Kim Carlson dari Yale dan Stanford University, berdasarkan pada survei sosial ekonomi yang komprehensif, citra satelit resolusi tinggi dan pemetaan karbon di Ketapang. konversi ha dari satu juta ha tanah masyarakat tahun 2020 hampir tak terelakkan. Kasus yang paling mungkin adalah 35 persen dari seluruh lahan masyarakat akan dibuka sawit dalam tahun Untuk itu, kebijakan daerah untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan sedang diupayakan Pemda Ketapang melalui revisi RTRWK, kajian lingkungan hidup strategis, penetapan kawasan strategis daerah, dan upaya memberikan legalitas kepada inisiatif masyarakat untuk melakukan perlindungan hutan di wilayah APL. Penutupan Lahan Status Kawasan Hutan APL HP HPK HPT Grand Total* (2003) Grand Total* (2009) Primary Forest , , , , , , Secondary Forest 67, , , , , , , , , , Peat Forest 72, , , , , , , , Mangrove Forest 4, , , , Grand Total 145, , , , , , , , ,266, ,281, Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah III Pontianak, Kementerian Kehutanan, 2003 dan Keterangan: *) Termasuk Hutan Lindung, Taman Nasional dan Hutan, Produksi Terbatas 3. Identifikasi keanekaragaman hayati Blok Hutan Laman Satong Hasil survei keanekaragaman hayati yang dilakukan sejak tahun 2010 hingga tahun 2012 di beberapa lokasi di kawasan ini, tercatat total sebanyak 30 jenis mamalia, 181 jenis burung, dan 45 jenis amfibi dan reptil. Berdasarkan spesies fauna yang tercatat, sebanyak 34,38% nya atau 88 jenis terdiri dari 17 jenis mamalia, 58 jenis burung, dan 13 jenis amfibi merupakan jenis yang memiliki nilai konservasi tinggi, yang dilindungi berdasarkan peraturan pemerintah RI maupun peraturan perdagangan satwa internasional (CITES). 2 jenis diantaranya yaitu orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) dan kelempiau (Hylobates albibabris) masuk kategori spesies yang terancam punah (Endangered). Orangutan, dalam survei yang dilakukan ditemui di hutan rawa gambut Pal 6 Desa Riam Berasap, sedangkan kelempiau tercatat hampir di 5

17 seluruh lokasi survei. Selain itu, kedua jenis ini merupakan jenis yang endemik untuk Pulau Kalimantan atau hanya dapat ditemukan di Pulau Kalimantan. Sejumlah 13 jenis yang terdiri atas 6 jenis mamalia, 5 jenis burung, dan 2 jenis reptil merupakan jenis yang rentan punah (vulnerable). Dua jenis reptil yang rentan punah tersebut yaitu kura-kura (Cuora amboinensis), dan labi-labi (Amyda cartilaginea). Kedua jenis reptile ini juga merupakan jenis yang dilindungi oleh peraturan perdagangan satwa internasional CITES, yang keduanya dijumpai di Dusun Manjau. 6

18 7

19 4. Identifikasi kedalaman Gambut Blok Hutan Laman Satong Hasil interpretasi peta dan pengecekan gambut di blok Laman Satong disajikan dalam peta di bawah. Seluruh kawasan blok kawasan ini merupakan gambut dengan kedalaman antara 1-2 meter. Lahan gambut dengan kedalaman kurang dari 3 meter dapat dikelola untuk keperluan pertanian, namun tetap harus memperhatikan karakteristik gambut. Sebagai misal perencanaan saluran irigasi dan saluran drainase harus dipersiapkan dengan baik agar tanaman dapat berkembang baik, ataupun dalam tata air tidak terjadi kekeringan di musim kemarau atau kebanjiran di musim hujan, selain itu juga menghindari terjadinya kebakaran lahan dan intrusi air laut. Namun dari sisi keanekargaman hayati (NKT) yang diulas pada bagian sebelumnya. Kawasan Blok Laman Satong merupakan habitat 2 jenis diantaranya yaitu orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) dan kelempiau (Hylobates albibabris) masuk kategori spesies yang terancam punah (Endangered). Berdasarkan spesies fauna yang tercatat, sebanyak 34,38% nya atau 88 jenis terdiri dari 17 jenis mamalia, 58 jenis burung, dan 13 jenis amfibi merupakan jenis yang memiliki nilai konservasi tinggi. Selain NKT, Lokasi Blok Laman Satong dilakukan kajian atas permintaan masyarakat setempat yang menginginkan kawasan ini dilindungi dengan kebijakan daerah. 8

20 9

21 5. Identifikasi kondisi sosial di tiga lokasi Kearifan lokal dalam pengelolaan hutan di 3 lokasi ditunjukkan dengan kondisi hutan di daerah tersebut masih baik bila dibandingkan dengan daerah disekitarnya (dapat dilihat dari peta tutupan lahan). Ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya hutan relatif cukup tinggi. Lahan pertanian dan hutan merupakan sumber utama untuk kelangsungan hidup. Padi ladang dan karet merupakan hasil utama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada musim-musim tertentu setelah membuka ladang dan masa panen, mengambil hasil hutan non kayu, seperti rotan, tanaman obat, madu, gaharu, buah-buahan merupakan kebiasaan turun temurun yang menjadi kegiatan rutin setiap tahun (musim). Kesadaran masyarakat terhadap perlunya melindungi hutan dirasakan semenjak semakin besarnya resiko kekeringan, banjir dan kebakaran hutan. Perubahan-perubahan iklim setempat ini mulai dirasakan semenjak semakin luasnya pembukaan lahan perkebunan dan pertambangan (?). Gagal panen dan kekeringan Ketergantungan masyarakat terhadap hutan terutama menyangkut kebutuhan sumber air bersih, pengairan sawah dan kebutuhan kayu untuk keperluan rumah tangga. Dalam siklus kehidupan dan kesehariannya masyarakat masih cukup kuat dipengaruhi oleh norma adat budaya. Rasa syukur atas kelahiran, perkawinan dan hasil panen yang bagus selalu diikuti dengan seremoni adat. Masyarakat masih menganggap bahwa mereka adalah bagian dari lingkungan (hutan). Menjaga hutan berarti menjaga kelangsungan hidup mereka dan generasi penerus, dan sebaliknya bila lingkungan rusak, kehidupan mereka juga terancam. Selain pentingnya hutan sebagai sumber hidup dan jasa lingkungan penyedia dan pengendali air, masyarakat sudah mulai menyadari pengelolaan hutan yang baik akan memberi kesempatan lebih besar dalam memperoleh manfaat ekonomi dari pengelolaan kayu secari lestari. 10

22 Melalui pendampingan dan pelatihan, saat ini masyarakat mulai memetakan wilayah desa mereka dalam zona-zona pemanfaatan berdasarkan dengan kondisi faktual saat ini dan kemudian disesuaikan dengan perencanaan ruang desa yang mengakomodir kepentingankepentingan pelestarian hutan untuk perlindungan kehidupan mereka dan generasi penerus nantinya. Pengembangan kelembagaan dan aturan dalam pengelolaan hutan saat ini sedang dalam proses diskusi di masing-masing desa. Seluruh keputusan warga dalam pengelolaan hutan tersebut nantinya akan diperkuat dengan Perdes sesuai dengan tema-tema perihal yang akan diatur dalam Perdes. 6. Rekomendasi Kalbar merupakan salah satu dari 9 provinsi prioritas strategi nasional penurunan emisi GRK, dan Kabupaten Ketapang mewujudkan komitmen ini melalui berbagai program yang sejalan, diantaranya telah menyusun Kajian Lingkungan Hidup Strategis, membentuk Pilot Kesatuan Pengelolaan Hutan, memfasilitasi terbentuknya 6 Hutan Desa, pengembangan hutan kota & ekowisata, dan kebijakan-kebijakan lain untuk konservasi sumberdaya alam. Kabupaten Ketapang telah merencanakan penetapan Kawasan Strategis Daerah dalam struktur ruang kabupaten yang akan dikukuh dalam Perda Tata Ruang Kabupaten. Hasil survei NKT akan menjadi Blok Laman Satong sebagai salah satu plot contoh penetapan kawasan strategis daerah. Dari hasil survai dan analisis Nilai Konservasi tinggi Blok Laman Satong memiliki NKT sangat tinggi bahkan memiliki satwa yang terancam punah. Selain itu dari sisi ketergantungan masyarakat terhadap hutan dan jasa ekosistem hutan sangat tinggi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari maupun jasa lingkungan menjaga keseimbangan tata air, dan pada saat yang sama hutan dapat memberikan manfaat ekonomi langsung dalam pemenuhan kebutuhan kayu, hasil hutan non kayu, pengairan dan sumber ikan. 11

23 Perlindungan hutan dengan skema yang ada selama ini tidak cukup efektif dan memerlukan biaya sangat mahal. Di sisi yang lain kebocoran akibat tidak efektifnya manajemen pengelola kawasan perlindungan terjadi karena tidak melibatkan masyarakat setempat yang sehari-hari berada di sekitar kawasan tersebut. Berdasarkan penjelasan diatas, maka untuk ketiga lokasi direkomendasikan: Menjadi kawasan Blok Laman Satong sebagai kawasan lindung daerah, untuk perlindungan NKT, bentang alam dataran rendah dan perlindungan kepentingan sosial budaya masyarakat setempat. Menjadi hutan adat dengan tujuan perlindungan NKT dan adat budaya. Pengelolaan kawasan lindung tersebut oleh masyarakat. Pembinaan dari pemerintah daerah dan pendampingan dari pihak lainnya (LSM & perusahaan setempat) diperlukan. 12

24 Pertimbangan Teknis Perlindungan Kawasan Nilai Konservasi Tinggi Blok Sungai Tolak-Sungai Satong, Kabupaten Ketapang Hasil survei Nilai Konservasi Tinggi, yang dilakukan Fauna flora International di Kabupaten Ketapang, khususnya di Blok Sungai tolak-sungai Satong menunjukkan terdapat 2 jenis diantaranya yaitu orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) dan kelempiau (Hylobates albibabris) masuk kategori spesies yang terancam punah (Endangered), dan terdapat banyak fauna mamalia, burung, ampibi dan reptile, merupakan spesies yang memiliki nilai konservasi tinggi. Hasil interpretasi peta dan pengecekan lapangan terhadap kedalaman gambut menunjukkan lebih dari 85% kawasan Blok Pelang-Sungai Besar dan lebih dari 50% di Blok Sungai Tolak-Sungai Satong memiliki kedalaman lebih dari 3 meter. Pemerintah daerah Ketapang saat ini tengah mengembangan kebijakan daerah untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan melalui revisi RTRWK, kajian lingkungan hidup strategis, penetapan kawasan strategis daerah, dan upaya memberikan legalitas kepada inisiatif masyarakat untuk melakukan perlindungan hutan di wilayah APL. Dalam kerangka ini Pemda Ketapang bekerjasama dengan berbagai pihak untuk melakukan berbagai kajian untuk mengatasi persoalan kebijakan yang sudah terlanjur dikeluarkan namun masih dimungkinkan upaya perbaikan, sehingga kepentingan ekonomi dan lingkungan dapat berjalan seiring. 1. Gambaran Umum Ketapang Kabupaten Ketapang, dengan luas sekitar hektar, berada pada dua bentang alam, yakni bentang alam hutan gambut dataran rendah di sepanjang pantai barat Ketapang dan Pegunungan Schwanner di sepanjang perbatasan Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Kedua bentang alam ini sangat penting keberadaannya dalam mendukung dan menjaga kualitas lingkungan daerah hulu dan hilir Kabupaten Ketapang. Kondisi hutan di kedua bentang ini relatif utuh dan terjaga. Bagi penduduk Ketapang, keutuhan dua bentang tersebut penting sebagai penyangga dalam menghadapi perubahan iklim yang sering berubah secara ekstrim. Dalam pengelolaan kawasan di kedua bentang tersebut penting mempertimbangkan aspek kelestarian ekosistem mengingat pada undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang 1

25 Penataan Ruang, menyatakan bahwa setiap wilayah kabupaten atau kota harus memiliki atau menyediakan ruang terbuka hijau setidaknya 30% dari total wilayah kabupaten. Sejalan dengan ini, Peraturan Pemerintah nomor 26 tahun 2007, pasal 9, pasal 53, memberikan penegasan mengenai perlindungan kawasan bentang alam yang memiliki keunikan dan keanekaragaman hayati tinggi untuk dilindungi sebagai Kawasan Strategis Nasional. Pada penjelasannya UU No. 26 tahun 2007, dinyatakan bahwa penataan ruang berdasarkan fungsi utama kawasan merupakan komponen dalam penataan ruang baik yang dilakukan berdasarkan wilayah administratif, kegiatan kawasan, maupun nilai strategis kawasan. Termasuk dalam kawasan lindung adalah: (a) kawasan yang memberikan perlindungan kawasan bawahnya, antara lain kawasan hutan lindung, kawasan bergambut, dan resapan air. a. Ketapang dan Perubahan iklim Pemerintah pusat dalam upaya penurunan emisi Gas Rumah Kaca telah mengeluarkan Perpres nomor 61 tahun 2011, tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK), di dalamnya Pemerintah Indonesia sampai tahun 2020 berkomitmen menurunkan 26% emisi melalui skema pendanaan APBN dan APBD. Sedangkan jika dengan bantuan asing, target penurunan emisi menjadi 41%. Aksi mitigasi akan dilaksanakan di lima bidang prioritas (Pertanian, Kehutanan dan Lahan Gambut, Energi dan Transportasi, Industri, Pengelolaan Limbah) serta kegiatan Pendukung lainnya. Kebijakan ini tentunya perlu dukungan dari seluruh pemerintah daerah di Indonesia, salah satunya Kabupaten Ketapang yang secara aktual masih memiliki areal hutan, baik di dalam maupun di luar kawasan yang ditetapkan sebagai hutan. Dalam mendukung kegiatan mitigasi GRK dan memberikan payung aktifitas teknis, dikeluarkan Perpres nomor 71 tahun 2011 tentang penyelenggaraan inventarisasi gas rumah kaca nasional, dimana gubernur dan bupati dan turut terlibat dalam mendukung upaya mitigasi GRK melalui inventarisasi GRK dengan menggunakan pembiayaan dari APBN maupun APBD. Berkenaan dengan Perpres 61 tahun 2011, Kabupaten Ketapang menduduki posisi penting dengan bentang alam hutan gambut dataran rendah. Kebijakan daerah sebelum tahun

26 telah mengalokasi cukup banyak lahan gambut ini untuk perkebunan besar. Mengantisipasi Perpres tersebut, saat ini Pemda Ketapang bekerjasama dengan pihak pemilik hak perkebunan, perguruan tinggi dan LSM untuk mengidentifikasi dan merencanakan pengelolaan kawasan gambut dan hutan dan Hutan dengan Nilai Konservasi Tinggi untuk tidak dibuka dan dikelola dengan baik agar dapat mendukung kebijakan pemerintah tersebut. Bentuk-bentuk kerjasama yang akan dikembangkan terus didiskusikan agar tidak merugikan kepentingan investasi bersamaan dengan kepentingan konservasi ekosistem penting bagi kehidupan. b. Kebijakan Kawasan Strategis Daerah Undang-undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, bahwa kegiatan penataan ruang wilayah harus mengakomodir Kawasan Strategis Nasional untuk mendukung pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup agar dapat mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, melestarikan keunikan bentang alam, dan melestarikan warisan budaya nasional, ekonomi, social budaya, dan peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan keamanan. Berkenaan dengan kebijakan tersebut Ketapang sedang mempertimbangkan untuk mengalokasikan beberapa wilayah di kabupatennya untuk ditetapkan sebagai kawasan strategis daerah. Untuk pengelolaan Bentang Alam hutan gambut dataran rendah di sepanjang pantai barat kabupaten, terus diupayakan kerjasama dengan berbagai pihak untuk tidak membuka gambut dalam dan merencanakan pengelolaan koridor satwa dari bagian selatan sampai ke bagian utara. Pengembangan berbagai skema untuk perlindungan gambut dan NKT ini terus didiskusikan bersama parapihak untuk dijadikan kebijakan daerah. c. Inisiatif masyarakat dan daerah untuk perlindungan Kajian terhadap perlindungan kawasan gambut dan Nilai Konservasi Tinggi (NKT) di Kabupaten Ketapang ini difokuskan di blok Sungai Tolak-Sungai Satong. 3

27 Bagi masyarakat setempat dan sekitar blok kawasan tersebut, Inisiatif perlindungan kawasan hutan tujuan utamanya mempertahankan kawasan hutan di wilayah APL untuk perlindungan terhadap bencana banjir, kekeringan, pengairan lahan pertanian, penyediaan air bersih, menjaga kesinambungan hasil hutan kayu dan non kayu dan aktivitas yang berkaitan dengan adat budaya setempat. Di desa-desa sekitar Blok Sungai Tolak-Sungai Satong, masyarakat didampingi FFI dan Forum Hutan Desa telah melakukan beberapa kegiatan diantaranya: pemetaan partisipatif, pelatihan & pemahaman REDD, pelatihan inventarisasi Nilai Konservasi Tinggi (HCV), carbon accounting, patroli hutan partisipatif, pengembangan kelembagaan, kebun bibit rakyat, membentuk lembaga kelola tingkat desa, melakukan inventarisasi keanekargaman hayati, bekerjasama dengan pihak swasta pemilik HGU untuk pengelolaan HCV di wilayah HGU, dan zonasi kawasan hutan. 2. Penggunaan Kawasan Aktual Berdasarkan data penutupan lahan tahun 2003 dan tahun 2009, telah terjadi penurunan penutupan lahan di wilayah APL, HPK dan HPT. Di tahun-tahun yang akan datang percepatan penurunan tutupan lahan akan dipercepat dengan semakin tingginya permintaan lahan untuk industri perkebunan dan lahan pertanian. Menurut penelitian, yang dipimpin oleh Kim Carlson dari Yale dan Stanford University, berdasarkan pada survei sosial ekonomi yang komprehensif, citra satelit resolusi tinggi dan pemetaan karbon di Ketapang. konversi ha dari satu juta ha tanah masyarakat tahun 2020 hampir tak terelakkan. Kasus yang paling mungkin adalah 35 persen dari seluruh lahan masyarakat akan dibuka sawit dalam tahun Untuk itu, kebijakan daerah untuk menjaga keseimbangan pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan sedang diupayakan Pemda Ketapang melalui revisi RTRWK, kajian lingkungan hidup strategis, penetapan kawasan strategis daerah, dan upaya memberikan legalitas kepada inisiatif masyarakat untuk melakukan perlindungan hutan di wilayah APL. 4

28 Penutupan Lahan Status Kawasan Hutan APL HP HPK HPT Grand Total* (2003) Grand Total* (2009) Primary Forest , , , , , , Secondary Forest 67, , , , , , , , , , Peat Forest 72, , , , , , , , Mangrove Forest 4, , , , Grand Total 145, , , , , , , , ,266, ,281, Sumber : Balai Pemantapan Kawasan Hutan Wilayah III Pontianak, Kementerian Kehutanan, 2003 dan Keterangan: *) Termasuk Hutan Lindung, Taman Nasional dan Hutan, Produksi Terbatas 3. Survei Keanekargaman Hayati di Blok Sungai Tolak-Sungai Satong Berdasarkan hasil survei keanekaragaman hayati yang dilakukan pada tahun 2010 di kawasan hutan ini tercatat total sebanyak 18 jenis mamalia, 98 jenis burung, dan 16 jenis amfibi dan reptile; 34,85% nya atau 46 jenis terdiri dari 11 jenis mamalia, 32 jenis burung, dan 3 jenis amfibi merupakan jenis yang memiliki nilai konservasi tinggi. Terdapat 3 jenis merupakan jenis yang terancam punah (endangered) yaitu orangutan (Pongo pygmaeus wrumbii), kelempiau (Hylobates albibabris), dan kura kura (Heosemys spinosa) dan sebanyak 5 jenis yang terdiri dari 3 jenis mamalia dan 2 jenis burung merupakan jenis yang rentan punah (vulnerable). Ditemui juga jenis mamalia yang rentan punah di kawasan hutan ini yaitu Tarsius (Tarsius bancanus). 5

29 6

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka konservasi sungai, pengembangan

Lebih terperinci

POTRET KEADAAN HUTAN INDONESIA

POTRET KEADAAN HUTAN INDONESIA POTRET KEADAAN HUTAN INDONESIA Periode Tahun 20002009 FOREST WATCH INDONESIA POTRET KEADAAN HUTAN INDONESIA Edisi Pertama 2011 FOREST WATCH INDONESIA POTRET KEADAAN HUTAN INDONESIA PERIODE TAHUN 20002009

Lebih terperinci

Lokakarya Proyek CoLUPSIA. di Tingkat Propinsi LAPORAN. (Collaborative Land Use Planning and Sustainable Institutional Arrangement Project)

Lokakarya Proyek CoLUPSIA. di Tingkat Propinsi LAPORAN. (Collaborative Land Use Planning and Sustainable Institutional Arrangement Project) LAPORAN Lokakarya Proyek CoLUPSIA (Collaborative Land Use Planning and Sustainable Institutional Arrangement Project) di Tingkat Propinsi Menakar Pembangunan dalam Konteks Tata Guna Lahan Kolaboratif:

Lebih terperinci

Berbasis Masyarakat di Indonesia

Berbasis Masyarakat di Indonesia Lahan Gambut Berbasis Masyarakat di Indonesia i3 Dipublikasikan oleh: Wetlands International Indonesia Programme PO. Box 254/BOO Bogor 16002 Jl. A. Yani 53 Bogor 16161 INDONESIA Fax.: +62-251-325755 Tel.:

Lebih terperinci

PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN LESTARI SECARA PARTISIPATIF DAN TERINTEGRASI DI KABUPATEN WONOSOBO

PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN LESTARI SECARA PARTISIPATIF DAN TERINTEGRASI DI KABUPATEN WONOSOBO PENGELOLAAN SUMBERDAYA HUTAN LESTARI SECARA PARTISIPATIF DAN TERINTEGRASI DI KABUPATEN WONOSOBO Kelola Lingkungan Kelola Sosial Kelola Ekonomi PEMERINTAH KABUPATEN WONOSOBO 2006 0 BAB I PENDAHULUAN A.

Lebih terperinci

Analisis Lintas Sektor untuk Kerangka Hukum dan Kebijakan yang Terkait dengan Implementasi REDD+ di Sulawesi Tengah, Indonesia

Analisis Lintas Sektor untuk Kerangka Hukum dan Kebijakan yang Terkait dengan Implementasi REDD+ di Sulawesi Tengah, Indonesia Analisis Lintas Sektor untuk Kerangka Hukum dan Kebijakan yang Terkait dengan Implementasi REDD+ di Sulawesi Tengah, Indonesia UN-REDD P R O G R A M M E Empowered lives. Resilient nations. UNEP Kementerian

Lebih terperinci

Grand Strategy Marine Conservation Area Networks. Stretegi Utama Jejaring Kawasan Konservasi Laut

Grand Strategy Marine Conservation Area Networks. Stretegi Utama Jejaring Kawasan Konservasi Laut Grand Strategy Marine Conservation Area Networks Stretegi Utama Jejaring Kawasan Konservasi Laut 2006 Penanggungjawab : Yaya Mulyana Penyusun Editor : - Tim Penyusun Strategi Utama Jejaring Kawasan Konservasi

Lebih terperinci

Dengan SKPD di Masohi

Dengan SKPD di Masohi LAPORAN Diseminasi Hasil Kegiatan CoLUPSIA (Collaborative Land Use Planning and Sustainable Institutional Arrangement Project) Dengan SKPD di Masohi Masohi, 6 Mei 2013 NOTULENSI DISEMINASI HASIL KEGIATAN

Lebih terperinci

Menggunakan informasi spasial untuk meningkatkan multimanfaat REDD+ di Indonesia

Menggunakan informasi spasial untuk meningkatkan multimanfaat REDD+ di Indonesia Menggunakan informasi spasial untuk meningkatkan multimanfaat REDD+ di Indonesia Ulasan singkat tentang peta-peta Propinsi Sulawesi Tengah UN-REDD P R O G R A M M E Empowered lives. Resilient nations.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

M o d u l. ZSL INDONESIA Pelatihan Pemantauan Kawasan HCV. Pengenalan Dasar HCV. DURASI PELATIHAN : 15 menit Materi Kelas

M o d u l. ZSL INDONESIA Pelatihan Pemantauan Kawasan HCV. Pengenalan Dasar HCV. DURASI PELATIHAN : 15 menit Materi Kelas M o d u l 1 ZSL INDONESIA Pelatihan Pemantauan Kawasan HCV Pengenalan Dasar HCV DURASI PELATIHAN : 15 menit Materi Kelas TUJUAN Tujuan Dari Pengenalan Dasar HCV ini adalah agar pihak manajemen dan petugas

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH 2030 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH 2030 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH 2030 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, Menimbang

Lebih terperinci

Abstrak. Working Paper. Abstrak...1 Pendahuluan...2 Metode...7 Aplikasi...18 Diskusi...20 Penutup...21

Abstrak. Working Paper. Abstrak...1 Pendahuluan...2 Metode...7 Aplikasi...18 Diskusi...20 Penutup...21 Working Paper PANDUAN Mengidentifikasi Lahan Terdegradasi untuk Budidaya Kelapa Sawit Ramah Lingkungan Beth Gingold, Anne Rosenbarger, Yohanes I Ketut Deddy Muliastra, Fred Stolle, I Made Sudana, Masita

Lebih terperinci

BAB 32 PERBAIKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

BAB 32 PERBAIKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM BAB 32 PERBAIKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DAN PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN HIDUP Sumber daya alam dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi

Lebih terperinci

Solusi Bisnis: Mewujudkan Deklarasi Heart of Borneo

Solusi Bisnis: Mewujudkan Deklarasi Heart of Borneo BUSINESS REPORT HoB NI 2011 Solusi Bisnis: Mewujudkan Deklarasi Heart of Borneo Fokus pada kehutanan, kelapa sawit dan pertambangan kerjasama dengan PWC Heart of Borneo Jaringan Bisnis Hijau Di WWF kami

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. Presiden Republik Indonesia, Copyright 2002 BPHN UU 24/1992, PENATAAN RUANG *8375 Bentuk: UNDANG-UNDANG (UU) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 24 TAHUN 1992 (24/1992) Tanggal: 13 OKTOBER 1992 (JAKARTA) Sumber: LN 1992/115;

Lebih terperinci

Tata Guna Lahan di Kalimantan Tengah

Tata Guna Lahan di Kalimantan Tengah Pangan, Bahan Bakar, Serat dan Hutan Tata Guna Lahan di Kalimantan Tengah Menyatukan tujuan pembangunan dan keberlanjutan untuk optimalisasi lahan CIFOR Dialog Hutan (The Forests Dialogue/TFD), Maret 2014

Lebih terperinci

KONDISI IKLIM KALSEL 1996-2005

KONDISI IKLIM KALSEL 1996-2005 24 2.2 Prediksi Kondisi Umum Daerah 2.2.1 Geomorfologis dan Iklim Kondisi iklim di Kalimantan Selatan sejak tahun 1996 sampai dengan tahun 2005 dapat dilihat pada grafik berikut ini: Gambar 2.1 Kondisi

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG PERLINDUNGAN DAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa lingkungan hidup yang baik dan sehat merupakan hak

Lebih terperinci

Pilihan-pilihan untuk aksi REDD+: apa saja dampaknya terhadap hutan dan masyarakat?

Pilihan-pilihan untuk aksi REDD+: apa saja dampaknya terhadap hutan dan masyarakat? Pilihan-pilihan untuk aksi REDD+: apa saja dampaknya terhadap hutan dan masyarakat? Suatu Pengantar bagi para pemangku kepentingan di Sulawesi Tengah UN-REDD P R O G R A M M E Empowered lives. Resilient

Lebih terperinci

PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA

PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA PEDOMAN PENGELOLAAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DI DAERAH PENYANGGA Oleh : Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Direktorat Jenderal PHKA Departemen Kehutanan DIPA BA-29 TAHUN 2008 SATKER

Lebih terperinci

Climate Change PILIHAN SKEMA PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT DALAM MITIGASI PERUBAHAN IKLIM

Climate Change PILIHAN SKEMA PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT DALAM MITIGASI PERUBAHAN IKLIM Climate Change PENGELOLAAN HUTAN BERBASIS MASYARAKAT DALAM MITIGASI PERUBAHAN IKLIM Diterbitkan oleh: Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH Forests and Climate Change Programme

Lebih terperinci

MASTERPLAN DELTA API DESA GILI INDAH KECAMATAN PEMENANG KABUPATEN LOMBOK UTARA. Konsep Pembangunan Desa Medana 2013-2023

MASTERPLAN DELTA API DESA GILI INDAH KECAMATAN PEMENANG KABUPATEN LOMBOK UTARA. Konsep Pembangunan Desa Medana 2013-2023 MASTERPLAN DELTA API DESA GILI INDAH KECAMATAN PEMENANG KABUPATEN LOMBOK UTARA Konsep Pembangunan Desa Medana 2013-2023 i ii MASTERPLAN DELTA API DESA GILI INDAH KECAMATAN PEMENANG KABUPATEN LOMBOK UTARA

Lebih terperinci

PERENCANAAN TATA RUANG SECARA PARTISIPATIF

PERENCANAAN TATA RUANG SECARA PARTISIPATIF PERENCANAAN TATA RUANG SECARA PARTISIPATIF Sebuah Panduan Ringkas dengan Pengalaman dari Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat Tim Penulis Martua T. Sirait, Feri Johana, Ujjwal Pradhan /ICRAF Leonie Wezendonk

Lebih terperinci

MENGIDENTIFIKASI, MENGELOLA DAN MEMANTAU HUTAN DENGAN NILAI KONSERVASI TINGGI: SEBUAH TOOLKIT UNTUK PENGELOLA HUTAN DAN PIHAK-PIHAK TERKAIT LAINNYA

MENGIDENTIFIKASI, MENGELOLA DAN MEMANTAU HUTAN DENGAN NILAI KONSERVASI TINGGI: SEBUAH TOOLKIT UNTUK PENGELOLA HUTAN DAN PIHAK-PIHAK TERKAIT LAINNYA MENGIDENTIFIKASI, MENGELOLA DAN MEMANTAU HUTAN DENGAN NILAI KONSERVASI TINGGI: SEBUAH TOOLKIT UNTUK PENGELOLA HUTAN DAN PIHAK-PIHAK TERKAIT LAINNYA Versi 1: August 2003 Disiapkan oleh Rainforest Alliance

Lebih terperinci