KAJIAN RENCANA PENINGKATAN SARANA RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KAJIAN RENCANA PENINGKATAN SARANA RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW"

Transkripsi

1 KAJIAN RENCANA PENINGKATAN SARANA RUMAH SAKIT UMUM KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW Muslim Patra Mokoginta 1 Nanang Setiawan 2 Eko Budi Santoso 3 ABSTRAK Rumah Sakit Umum Kaupaten Bolaang Mongondow dalam perkembangannya banyak melakukan pembenahan-pembenahan, salah satunya adalah usulan untuk merencanakan pembangunan kembali fisik gedung rawat inap bersama dengan penambahan kelengkapan peralatan medik dan non medik sesuai dengan standar pelayanan oleh pihak pengelola rumah sakit kepada Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow. Adanya usulan tersebut membuat program prioritas pembangunan daerah semakin bertambah serta dapat mengakibatkan beban anggaran yang ditanggung oleh pemerintah kabupaten semakin besar. Penelitian ini akan mengkaji dua aspek yaitu rencana teknik dan rencana investasi. Kajian rencana teknik bertujuan untuk mengetahui kebutuhan ruang perawatan rawat inap dengan sebelumnya melakukan langkah-langkah berikut, pertama; menganalisa kegiatan sarana pelayanan rawat inap pada tiap-tiap kelas perawatan menggunakan indikator pelayanan rawat inap, kedua; melakukan perkiraan jumlah penduduk dan jumlah hari perawatan rawat inap menggunakan metode peramalan. Kajian rencana investasi bertujuan untuk mengetahui rencana investasi yang sebaiknya dilakukan terhadap peningkatan sarana pelayanan rawat inap dengan dua alternatif rencana investasi dan melakukan penilaian investasi dengan menggunakan metode kriteria investasi Net Present Value (NPV), Payback Period (PP), Internal Rate of Return (IRR) dan Profitability Index (PI). Dari hasil penelitian diketahui bahwa kebutuhan tempat tidur untuk pelayanan rawat inap RSU Kabupaten Bolaang Mongondow adalah 179 TT dan kebutuhan ruang perawatan pelayanan rawat inap minimal adalah 1.862,5 M 2. Hasil analisa rencana investasi terhadap dua alternatif yaitu, Alternatif pertama pembangunan dilaksanakan dalam satu tahap dengan pendanaan proyek dilakukan melalui 70% modal pinjaman bank dan 30% modal pemerintah kabupaten melalui APBD dan Alternatif kedua pembangunan dilaksanakan dalam 3 tahap dengan pendanaan proyek 100% modal pemerintah kabupaten melalui APBD, mengahasilkan alternatif rencana investasi yang paling baik dilakukan adalah alternatif kedua, dimana menghasilkan NPV positif Rp ,99, PP pada tahun ke 10, IRR sebesar 16,28 % dan PI sebesar 1,75. Kata Kunci: Pembiayaan Pembangunan, Prasarana Sosial Rumah Sakit 1 Mahasiswa Magister Manajemen Aset FTSP ITS 2 Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota FTSP ITS 3 Dosen Program Studi Perencanaan WIlayah dan Kota FTSP ITS 1

2 PENDAHULUAN Rumah sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan masyarakat (public services) khususnya pelayanan kesehatan rujukan yang komprehensif, terpadu dan efisien serta dapat memberikan pelayanan kesehatan bermutu terjangkau secara adil dan merata, baik pelayanan yang bersifat dasar, spesialistik maupun subspesialistik. Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow memiliki 1 (satu) Rumah Sakit Umum, yang dikelola oleh Badan Pengelola Rumah Sakit Umum Kabupaten Bolaang Mongondow dengan status rumah sakit tipe C. Dalam perkembangannya RSU Kabupaten Bolaang Mongondow banyak melakukan pembenahanpembenahan dalam melakukan peningkatan sarana pelayanan rumah sakit, salah satunya adanya usulan untuk merencanakan pembangunan kembali fisik gedung pelayanan rawat inap bersama dengan permintaan pemenuhan kelengkapan peralatan medik dan non medik pelayanan rawat inap sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit saat ini. Pelayanan Rawat Inap RSU Kabupaten Bolaang Mongondow saat ini memiliki 162 TT yang tersebar pada masing-masing kelas perawatan. Berdasarkan data yang diperoleh dari RSU Kabupaten Bolaang Mongondow bahwa jumlah hari perawatan rawat inap dari tahun ketahun menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan, sehingga dengan adanya peningkatan tersebut akan berpengaruh kepada tingkat pemanfaatan sarana pelayanan, terutama tingkat pemanfaatan tempat tidur pada masing-masing kelas perawatan. Rencana peningkatan sarana pelayanan rawat inap dengan melakukan pembangunan fisik serta permintaan pemenuhan kelengkapan peralatan medik dan non medik sesuai dengan standar pelayanan rumah sakit akan membutuhkan dana relatif cukup besar sehingga perlu dipikirkan bagaimana penyediaan dana tersebut di awal pembangunan tanpa memberatkan beban anggaran pemerintah kabupaten dengan kemampuan sumber dana terbatas tetapi memiliki berbagai program prioritas pembangunan daerah. Sehubungan dengan adanya usulan tersebut serta mengingat besarnya sumberdaya yang akan digunakan, maka perlu dilakukan Kajian Rencana Peningkatan Sarana Pelayanan Rawat Inap Rumah Sakit Umum Bolaang Mongondow Propinsi Sulawesi Utara. TINJAUAN PUSTAKA Penilaian tingkat keberhasilan atau gambaran tentang keadaan pelayanan rawat inap biasanya dilihat dari berbagai segi antara lain (Wijono, 1999); tingkat pemanfaatan sarana pelayanan, mutu pelayanan dan tingkat efisiensi pelayanan rawat inap dengan menggunakan indikator sebagai berikut: (1) Bed Occupancy Rate (BOR), (2) Average Length Of Stay (ALOS), (3) Bed Turn Over (BTO), (4) Turn Over Interval (TOI). Cara menghitung jumlah tempat tidur disesuaikan dengan perkembangan nilai BOR, jumlah pertumbuhan penduduk dengan standar luas ruang perawatan rawat inap (Dirjen Yanmedik, 1998) adalah: (1) Kamar VIP + 21,5 M 2 /TT; (2) Kamar Kelas I + 15 M 2 /TT; (3) Kamar Kelas II + 10 M 2 /TT; (4) Kamar Kelas III + 8 M 2 /TT Metode peramalan adalah usaha untuk meminimalkan ketidakpastian (Aritonang, 2002). Peramalan adalah memperkirakan mengenai sesuatu yang 2

3 belum terjadi. Metode Peramalan bertujuan untuk bisa meminimumkan kesalahan meramal. Banyak metode yang dapat digunakan dalam melakukan peramalan antara lain dengan menggunakan Trend Linear dengan Metode Least Squares, metode ini banyak digunakan karena persamaan yang diperoleh mengakibatkan jumlah kesalahan peramalan terkecil. (Subagyo, 2002). Pada penilaian investasi atau proyek, umumnya kriteria yang biasa dipertimbangkan untuk digunakan adalah : 1. Net Present Value (NPV), Kriteria Net Present Value didasarkan atas konsep pendiskontoan seluruh arus kas ke nilai sekarang Pemahaman ini mengarah kepada pengembangan teknik arus kas didiskonto (discount cash flow), yang memperhitungkan nilai waktu dari uang terhadap nilai sekarang bersih (net present value). (Atmaja, 1999). 2. Payback Period (PP), adalah jumlah periode (tahun) yang diperlukan untuk mengembalikan ongkos investasi awal dengan tingkat pengembalian tertentu. (Atmaja, 1999). 3. Internal Rate Of Return (IRR), adalah tingkat pengembalian yang menghasilkan NPV arus kas masuk sama dengan NPV arus kas keluar (Soeharto, 1995). 4. Profitability Index (PI), adalah rasio antara Present Value penerimaan arus kas dan Present Value pengeluaran arus kas, metode ini juga sering disebut dengan Metode Benefit Cost Ratio (Atmaja, 1999). METODE PENELITIAN Penelitian ini dikerjakan dalam dua tahapan utama yaitu pengumpulan data dan pengolahan analisa data. Pengumpulan Data Data-data yang dianggap perlu dikumpulkan untuk digunakan dalam penelitian: (1) Data Primer berupa survey harga pasar terhadap peralatan/fasilitas medik maupun non medik. (2) Data Sekunder berupa data kependudukan, data kegiatan pelayanan rawat inap yang terdiri dari jenis pelayanan rawat inap, jumlah pasien, jumlah lama dirawat, jumlah hari perawatan rawat inap, data teknik berupa standar ruang dan bangunan rawat inap, peralatan dan fasilitasnya serta data keuangan berupa laporan penerimaan dan operasional rumah sakit. Pengolahan dan Analisa Data Data-data tersebut di atas baik data primer maupun sekunder yang diperoleh, dikompilasi dalam kelompok-kelompok, diadakan kategorisasi, dilakukan tabulasi dan grafis sehingga data-data tersebut mempunyai makna dan dapat dievaluasi serta dianalisa lebih lanjut. Adapun analisa data yang dilakukan adalah : 1. Melakukan analisa kegiatan pemanfaatan sarana pelayanan rawat inap dengan menggunakan indikator penilaian pelayanan berupa pemanfaatan tempat tidur (BOR) rata-rata perawatan hari per pasien (ALOS), frekuensi pemakaian tempat tidur (BTO) serta rata-rata hari tempat tidur tidak ditempati (TOI) pada tiap-tiap kelas perawatan rawat inap, dengan menggunakan data jenis pelayanan, jumlah hari perawatan rawat inap, jumlah pasien dan jumlah hari perawatan pasien selama 6 (enam) tahun terakhir, yaitu tahun

4 2. Melakukan perkiraan jumlah penduduk dan perkiraan jumlah hari perawatan rawat inap untuk 10 (sepuluh) tahun yaitu tahun Menggunakan metode peramalan (forecasting analysis). 3. Kebutuhan tempat tidur yang didapatkan dari hasil perkiraan jumlah penduduk dan perkiraan jumlah hari perawatan rawat inap, dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan ekstern dan intern. Pendekatan ekstern menggunakan perbandingan jumlah penduduk pada tahun 2017 dengan kebutuhan standar sarana pelayanan minimal rumah sakit 1 (satu) TT untuk penduduk, sedangkan kebutuhan intern menggunkan pendekatan perkiraan jumlah hari perawatan rawat inap tahun 2017 dibagi dengan BOR. 4. Kebutuhan ruangan didapatkan dari perkalian jumlah tempat tidur untuk tiaptiap ruangan kelas perawatan rawat inap dengan standar luas ruangan. 5. Melakukan kajian rencana investasi dengan membandingkan dua alternatif rencana investasi, yaitu alternatif 1, pembangunan dilakukan dalam satu tahap dengan pendanaan proyek dilakukan melalui 70 % pinjaman bank dan 30% modal pemerintah kabupaten melalui APBD, alternatif 2, pembangunan dilaksanakan dalam 3 tahap dengan pendanaan proyek investasi 100 % modal pemerintah kabupaten yang bersumber dari APBD. 6. Untuk mengetahui rencana investasi pada peningkatan sarana pelayanan rawat inap rumah sakit dilakukan dengan metode penilaian investasi, yaitu metode Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP) dan Profitability Index (PI) dengan terlebih dahulu melakukan perkiraan arus kas. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan Pemanfaatan Sarana Pelayanan Rawat Inap Dari hasil analisa pemanfaatan sarana pelayanan rawat inap dengan mengunakan indikator pelayanan rawat inap didapatkan hasil seperti pada Tabel 1, 2, 3 dan 4. TABEL 1 KEGIATAN PELAYANAN RAWAT INAP KELAS UTAMA/VIP Indikator Pelayanan No. Tahun ALOS BTO BOR (%) (hari) (kali) TOI (hari) ,24 4,73 22,65 10, ,21 4,48 34,37 5, ,78 4,36 31,98 6, ,03 4,41 37,35 4, ,70 4,40 55,48 1, ,60 4,51 42,63 3,55 4

5 TABEL 2 KEGIATAN PELAYANAN RAWAT INAP KELAS I Indikator Pelayanan No. Tahun ALOS BTO BOR (%) (hari) (kali) TOI (hari) ,89 5,39 34,27 5, ,58 4,90 34,70 5, ,16 4,97 39,20 3, ,65 5,12 36,56 4, ,32 5,51 38,55 3, ,94 4,71 42,70 3,17 TABEL 3 KEGIATAN PELAYANAN RAWAT INAP KELAS II Indikator Pelayanan No. Tahun ALOS BTO BOR (%) (hari) (kali) TOI (hari) ,31 5,44 22,64 10, ,25 5,06 23,05 10, ,56 4,89 22,74 10, ,71 5,06 18,00 14, ,56 4,98 25,05 9, ,23 4,54 30,11 7,12 TABEL 4 KEGIATAN PELAYANAN RAWAT INAP KELAS III Indikator Pelayanan No. Tahun ALOS BTO BOR (%) (hari) (kali) TOI (hari) ,37 5,22 49,18 2, ,80 4,83 47,34 2, ,14 4,77 47,41 2, ,31 4,81 56,84 1, ,28 4,98 53,86 1, ,49 4,54 55,66 1,48 Perkiraan Penduduk dan Jumlah Hari Perawatan Rawat Inap Dengan menggunakan Metode Peramalan Trend Linear Least Square hasil perkiraan penduduk dan perkiraan jumlah hari perawatan rawat inap dapat dilihat pada Tabel 5 dan Tabel 6. 5

6 TABEL 5 PERKIRAAN JUMLAH PENDUDUK KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TAHUN No. T a h u n Jumlah TABEL 6 HASIL PERKIRAAN JUMLAH HARI PERAWATAN RAWAT INAP RSU KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TAHUN No. Tahun Perkiraan Hari Perawatan VIP Kelas I Kelas II Kelas III Jumlah Kebutuhan Tempat Tidur Berdasarkan hasil perkiraan jumlah penduduk dan jumlah hari perawatan rawat inap maka dapat diketahui kebutuhan tempat tidur untuk perawatan rawat inap RSU Kabupaten Bolaang Mongondow dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan intern yaitu pendekatan menggunakan hasil perkiraan jumlah hari perawatan rawat Inapdan pendekatan extern dengan menggunakan hasil perkiraan jumlah penduduk. Pendekatan Intern Dari hasil perhitungan kebutuhan tempat tidur intern RSU didapatkan kebutuhan jumlah tempat tidur sebanyak 179 TT dengan jumlah tempat tidur pada tiap-tiap kelas perawatan dapat dilihat pada Tabel 7. 6

7 TABEL 7 KEBUTUHAN TEMPAT TIDUR TIAP KELAS PERAWATAN. Jenis Kelas Perawatan No. Pelayanan VIP Kelas I Kelas II Kelas III 1. Penyakit Dalam Bedah Kesehatan Anak 4. Kebid.& Kand Jumlah Pendekatan Extern Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 228/Menkes/SK/III/2002 tentang Pedoman penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit daerah maka kebutuhan tempat tidur (TT) adalah 1 TT untuk penduduk dengan jumlah pasien miskin 100 % terlayani. Kebutuhan TT Tahun 2017 = = Jumlah Penduduk Tahun Penduduk = 415 TT Berdasarkan data Laporan Kegiatan Tahunan Tahun 2004 BPRS Kabupaten Bolaang Mongondow bahwa jumlah penduduk miskin Kabupaten Bolaang Mongondow tahun 2004 adalah jiwa ( KK) atau sebesar 32,6 % dari jumlah penduduk tahun 2004, maka dengan menggunakan pendekatan perbandingan prosentase jumlah penduduk miskin terhadap kebutuhan tempat tidur maka kebututuhan TT untuk pasien miskin adalah: (1) Kebutuhan TT = 415 TT dan (2) Penduduk Miskin = 32,6 %, sehingga Kebutuhan TT Pasien Miskin = 415 TT x 32,6 % = 135 TT Perhitungan Penyediaan TT untuk pasien tidak atau kurang mampu Rumah Sakit Pemerintah dilakukan sesuai dengan Permenkes RI No. 159b / Menkes / Per / II / 1988, bahwa penyediaan TT untuk pasien tidak atau kurang mampu sekurangkurangnya 75%, sehingga kebutuhan minimal TT (Kelas III) yang harus disediakan RSU Kabupaten Bolaang Mongondow adalah 75% x 135 TT = 101, TT. Dari kedua pendekatan kebutuhan tempat tidur di atas diperoleh bahwa kebutuhan ekstern adalah sebagai tanggung jawab rumah sakit terhadap pelaksanaan fungsi sosial rumah sakit pemerintah terhadap pasien yang tidak atau kurang mampu (Kelas III), sedangkan kebutuhan intern adalah sebagai jawaban dari kebutuhan nyata tempat tidur Rumah Sakit Umum Kabupaten Bolaang Mongondow. Maka dalam perencanaan kebutuhan tempat tidur RSU Kabupaten 7

8 Bolaang Mongondow didasarkan pada jumlah tempat tidur 179 TT pada tahun Kebutuhan Ruang Perawatan Rawat Inap Pemenuhan kebutuhan ruang perawatan rawat inap didasarkan pada perencanaan pembangunan kembali dengan kebutuhan tempat tidur sebanyak 179 TT. Kebutuhan ruang perawatan didapatkan dari jumlah tempat tidur tiap-tiap kelas perawatan sedangkan untuk kebutuhan luas ruangan didasarkan pada standar kebutuhan luasan masing-masing kelas perawatan dengan mengikuti ketentuan dari Dirjen Pelayanan Medik. Sehingga jumlah kebutuhan minimal luasan ruang pada tiap-tiap kelas perawatan adalah seperti pada Tabel 8. TABEL 8 KEBUTUHAN RUANG PERAWATAN RAWAT INAP Luas Kelas No. TT Ruang Perawatan (M 2 ) 1. Kelas Utama/VIP ,5 2. Kelas I Kelas II Kelas III Jumlah ,5 RENCANA INVESTASI Peningkatan sarana pelayanan rawat inap rumah sakit memerlukan dana yang cukup besar, hal ini akan memberatkan beban anggaran pemerintah kabupaten yang memiliki kemampuan keuangan terbatas tetapi memiliki berbagai prioritas pengembangan daerah, dalam upaya menyiasati kondisi tersebut, maka dalam melakukan rencana investasi akan dikaji bagaimana apabila investasi dilakukan dengan dua Alternatif, yaitu: (1) Alternatif pertama adalah pembangunan dilaksanakan dalam satu tahap dengan pendanaan proyek dilakukan melalui 70% modal pinjaman bank dan 30% modal pemerintah kabupaten melalui APBD dan (2) Alternatif kedua adalah pembangunan dilaksanakan dalam 3 tahap dengan pendanaan proyek 100% modal pemerintah kabupaten melalui APBD. Sebelum melakukan perhitungan-perhitungan dalam melakukan penilaian investasi maka batasan serta asumsi-asumsi yang dipakai dalam melakukan rencana investasi adalah sebagai berikut: (1) Tahun pembangunan dimulai pada tahun 2007 (tahun ke 0) dengan, (2) tinjauan masa investasi selama 10 tahun, (3) Suku Bunga Pinjaman 12,5 %, (4) MARR 12,5 %, (5) Inflasi 7 % per tahun Biaya Investasi Estimasi biaya investasi terdiri dari biaya fisik bangunan, biaya utilitas, biaya peralatan medik, biaya fasilitas penunjang pelayanan rawat inap, demolisi serta ditambah dengan biaya perencanaan dan biaya manajemen konstruksi. 8

9 Berdasarkan perhitungan estimasi rencana anggaran biaya maka dapat dilihat Rencana Anggaran Biaya Investasi untuk tiap-tiap alternatif seperti yang terlihat pada Tabel 9. TABEL 9 RENCANA ANGGARAN BIAYA INVESTASI PENINGKATAN SARANA PELAYANAN RAWAT INAP RSU KAB. BOLAANG MONGONDOW No. Uraian Rencana Investasi Alternatif 1 Alternatif 2 Jumlah Harga Jumlah Harga (Rp.) (Rp.) 1. Fisik Bangunan , ,00 2. Utilitas , ,00 3. Biaya Perencanaan , ,00 4. Biaya Manajemen Konstruksi , ,00 5. Peralatan Medik , ,00 6. Fasilitas Penunjang Pelayanan (Non , ,00 Medik) 7. Demolisi , ,00 Jumlah , ,00 PPn 10 % , ,00 Total , ,00 Biaya Operasional Biaya operasional terdiri dari biaya listrik, biaya air, biaya telpon, biaya operasional kantor, gaji tenaga rumah sakit dan pemeliharaan bangunan gedung serta asuransi, untuk proyeksi biaya operasional menggunakan asumsi peningkatan 10 % setiap 2 tahun. Adapun Biaya Operasional Pelayanan Rawat Inap dapat dilihat pada Tabel 10. TABEL 10 BIAYA OPERASIONAL No. Uraian Jumlah Harga (Rp.) 1. Biaya Listrik ,00 2. Biaya Air ,00 3. Biaya Telpon ,00 4. Pemeliharaan Bangunan dan Peralatan ,00 5. Operasional Kantor ,00 6. Gaji dan Tunjangan Pegawai ,00 7. A s u r a n s i ,50 Total ,50 Sumber : Hasil Olahan 9

10 Pendapatan Pendapatan pelayanan rawat inap dihitung berdasarkan tarif yang telah ditetapkan, yaitu Perda Kabupaten Bolaang Mongondow No. 12 Tahun 2000 tentang Retribusi pelayanan kesehatan. Cara perhitungannya adalah perkalian tarif dengan hari perawatan atau jumlah pasien. Dengan menggunakan asumsi prosentase kontribusi pendapatan terhadap komponen tarif serta asumsi kenaikan tarif untuk Kelas Utama/VIP adalah 40% meningkat setiap 2 tahun, untuk Kelas I adalah 40% meningkat setiap 2 tahun, untuk Kelas II adalah 30% meningkat setiap 2 tahun dan untuk Kelas III adalah 20% meningkat setiap 2 tahun. Depresiasi Depresiasi dihitung berdasarkan Rencana Anggaran Biaya dan dikelompokkan menurut jenis aktiva tetap, dihitung menggunakan metode garis lurus (straight line). Arus Kas Arus kas disusun dengan mengelompokkan arus kas masuk dan arus kas keluar dengan memproyeksikan kedua arus kas tersebut. Proyeksi arus kas masuk didapatkan dari proyeksi pendapatan, sedangkan proyeksi arus kas keluar didapatkan dari proyeksi biaya. Kemudian proyeksi arus kas disusun dengan mengurangi proyeksi arus kas masuk dengan arus kas keluar sehingga menghasilkan saldo arus kas bersih. Penilaian investasi Penilaian investasi dilakukan dengan metode kriteria investasi (Investment Criteria), Adapun metode penilaian kriteria investasi yang dipakai adalah Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP) dan Profitability Index (PI). Berdasarkan pada teknik arus kas diskonto (discounted cash flow) maupun teknik penambahan sederhana untuk memperkirakan nilai proyek maka penilaian investasi untuk tiap-tiap alternatif adalah sebagai berikut : 1. Alternatif 1 Pembangunan dilaksanakan dalam satu tahap, sumber dana proyek berasal dari pinjaman bank dan APBD kabupaten dengan perbandingan pendanaan investasi 70% pinjaman bank adalah sebesar Rp ,25 dan 30% modal pemerintah kabupaten dari APBD untuk satu tahun anggaran sebesar Rp ,25 Bunga pinjaman bank yang digunakan 12,5 %, MARR 12,5 % dengan masa tinjau investasi 10 tahun, diperoleh hasil sebagai berikut : - NPV = Rp ,06. - PP = Tahun ke IRR = 17,38 % - PI = 1,52 2. Alternatif 1 Pembangunan dilaksanakan dalam 3 tahap, sumber dana proyek berasal dari 100% pemerintah kabupaten melalui APBD, biaya investasi Tahap I adalah Rp ,00, Tahap II adalah Rp ,20 dan Tahap III 10

11 adalah Rp ,30. Dengan menggunakan MARR 12,5 % dan masa tinjau investasi 10 tahun, didapatkan hasil sebagai berikut : - NPV = Rp ,99 - PP = Tahun ke IRR = 16,28 % - PI = 1,75 Pemilihan Alternatif Rencana Investasi Hasil perhitungan penilaian investasi terhadap kedua Alternatif tersebut di atas selanjutnya akan digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan pemilihan alternatif rencana investasi yang sebaiknya dilakukan dalam peningkatan sarana pelayanan rawat inap RSU Bolaang Mongondow dengan cara menggunakan metode perbandingan hasil penilaian kriteria investasi. Adapun hasil perbandingan dari kedua alternatif tersebut adalah sebagai berikut : - Perbandingan Metode Net Present Value (NPV) NPV Alternatif 1 sebesar positif Rp ,06 dan NPV Alternatif 2 sebesar positif Rp ,99, maka Alternatif investasi yang terpilih adalah Alternatif 2 karena memiliki nilai NPV lebih besar dari NPV Alternatif 1, - Perbandingan Metode Payback Period (PP) Payback Period untuk Alternatif 1 adalah 10 tahun dan Payback Period untuk Alternatif 2 adalah 10 tahun, maka kedua alternatif investasi tersebut samasama memiliki peluang untuk dipilih, karena memiliki waktu pengembalian yang sama. - Perbandingan Metode Internal Rate Of Return (IRR) IRR Alternatif 1 adalah 17,38 % dan Alternatif 2 adalah 16,28 %, maka Alternatif investasi yang terpilih adalah Alternatif 1, karena memiliki nilai IRR lebih besar dari Alternatif 2. - Perbandingan Metode Profitability Index (PI) PI Alternatif 1 adalah 1,52 dan Alternatif 2 adalah 1,75, maka Alternatif investasi yang terpilih adalah Alternatif 2, karena memiliki nilai PI lebih besar dari Alternatif 1. Rencana Peningkatan Sarana Pelayanan Rawat Inap Dari hasil analisa penilaian indikator pelayanan rawat inap diketahui bahwa kegiatan pemanfaatan sarana pelayanan Rawat Inap kelas III merupakan kegiatan pelayanan rawat inap yang paling tinggi prosentase pemakaian tempat tidur (BOR) mencapai 81,31 % pada tahun 2003, Untuk kegiatan pemanfaatan sarana pelayanan rawat inap paling rendah ada pada Kelas II dengan BOR tertinggi belum mencapai batas bawah nilai parameter ideal (60% - 85%), prosentase tertinggi terjadi pada tahun 2005 sebesar 41,23 %. Kegiatan pemanfatan sarana pelayanan rawat inap Kelas Utama/VIP dan Kelas I untuk masing-masing kelas perawatan adalah untuk VIP BOR tertinggi terjadi pada tahun 2004 yaitu sebesar 74,70 %, dan turun menjadi 58,60 % pada tahun 2005, untuk Kelas I BOR tertinggi terjadi pada tahun 2005 sebesar 62,94 %. Dari hasil perkiraan jumlah tempat tidur dengan tahun perencanaan 10 tahun ( ) dengan asumsi tingkat BOR 85 % pada tahun 2017, didapatkan bahwa terjadi peningkatan jumlah tempat tidur untuk Kelas Utama/VIP, 11

12 Kelas I dan Kelas III sedangkan untuk Kelas II terjadi pengurangan jumlah tempat tidur. Dari perbandingan hasil penilaian kriteria investasi terhadap rencana investasi Alternatif 1 dan rencana investasi Alternatif 2 seperti yang terlihat pada tabel 11, diketahui terjadi konflik antara NPV dan IRR, dimana apabila metode penilaian yang digunakan dalam pemilihan alternatif adalah metode NPV, maka yang dipilih adalah NPV untuk Alternatif 2 dan apabila metode penilaian yang digunakan dalam pemilihan alternatif adalah metode IRR, maka yang dipilih adalah IRR untuk alternatif 1. TABEL 11 PERBANDINGAN HASIL PENILAIAN INVESRASI TERHADAP ALTERNATIF RENCANA INVESTASI No. Metode Alternatif Investasi Pemilihan Kriteria Investasi Alternatif 1 Alternatif 2 Investasi 1. Net Present Value , ,99 Alternatif 2 2. Payback Period 10 Tahun 10 Tahun Alt 1 & Alt 2 3. Internal Rate of Return 17,38 % 16,28 % Alternatif 1 4. Profitability Index 1,52 1,75 Alternatif 2 Ada beberapa kondisi-kondisi yang dapat menyebabkan terjadinya konflik antara NPV dan IRR, yaitu pertama kondisi apabila besarnya modal investasi yang berbeda dan kedua adalah timing penerimaan arus kas yang berbeda (Atmaja, 1999). Pada penelitian ini kedua kondisi tersebut terjadi dimana pada Alternatif 1 biaya investasi awal sebesar Rp ,50 dan Alternatif 2 adalah sebesar Rp ,00 serta terjadi timing penerimaan arus kas yang berbeda. Sehingga apabila terjadi konflik seperti tersebut di atas maka metode penilaian investasi yang digunakan dalam pemilihan alternatif rencana investasi adalah metode Net Present Value (Atmaja, 1999). Berdasarkan hasil uraian tersebut di atas maka metode penilaian terhadap pemilihan alternatif rencana investasi yang sebaiknya dilakukan adalah dengan menggunakan metode NPV sehingga yang terpilih adalah alternatif rencana investasi 2 dengan pembangunan dilaksanakan dalam 3 tahap dan pendanaan investasi berasal dari 100 % modal Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow melalui APBD. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan 1. Hasil perhitungan yang dilakukan untuk mendapatkan jumlah kebutuhan ruang perawatan pelayanan rawat inap RSU Kabupaten Bolaang Mongondow adalah sebagai berikut: (a) Kelas Utama/VIP, dibutuhkan ruang minimal 322 M 2, dengan jumlah tempat tidur 15 TT; (b) Kelas I, dibutuhkan ruang minimal 390 M 2, dengan jumlah tempat tidur 26 TT; (c) Kelas II, dibutuhkan ruang minimal 230 M 2, dengan jumlah tempat tidur 23 TT. (d) Kelas III, dibutuhkan ruang minimal 920 M 2, dengan jumlah tempat tidur 115 TT. 2. Dari hasil analisa rencana investasi yang dilakukan didapatkan: (a) Kebutuhan Biaya Investasi untuk alternatif 1, adalah Rp ,50 dan untuk alternatif 2, adalah Rp ,00. (b) Hasil perhitungan penilaian 12

13 Saran investasi untuk tiap-tiap alternatif rencana investasi didapatkan alternatif 1 adalah NPV positif Rp ,06., PP tahun ke 10, IRR sebesar 17,38 % dan PI sebesar 1,52, sedangkan untuk alternatif 2 didapatkan hasil NPV positif Rp ,99., PP tahun ke 10, IRR sebesar 16,28 % dan PI sebesar 1,75. (c) Perencanaan investasi yang paling baik dilakukan dalam peningkatan sarana pelayanan rawat inap RSU Bolaang Mongondow adalah alternatif investasi apabila pembangunan dilaksanakan dalam 3 tahap dan pendanaan investasi berasal dari 100 % modal Pemerintah Kabupaten Bolaang Mongondow melalui APBD. 1. Penelitian mengenai investasi pada rumah sakit dapat dikembangkan lebih lanjut dengan cara memperluas lingkup penelitian meliputi unit kegiatan rumah sakit lainnya yang memiliki sumber pendapatan seperti misalnya pada Pelayanan Rawat Jalan, Laboratorium, UGD dll, dan perlu melakukan penilaian terhadap aset lama baik itu bangunan, peralatan medik dan fasilitas penunjang lainnya sehingga didapatkan cash flow secara menyeluruh. 2. Peningkatan sarana pelayanan rumah sakit akan lebih baik jika terlebih dahulu membuat suatu rencana peningkatan secara menyeluruh berupa master plan. 3. Perda Kabupaten Bolaang Mongondow No. 12 tahun 2000 tentang retribusi pelayanan kesehatan perlu ditinjau kembali untuk dilakukan penyesuaian tarif sesuai dengan harga yang berlaku saat ini dengan memperhatikan kemampuan masyarakat. DAFTAR RUJUKAN Anonim, Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 159b tahun 1998, tentang Rumah Sakit, Jakarta. Anonim, SK Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 228/Menkes/SK/III/2002 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit, Jakarta. Atmaja, L.S, (1999), Manajemen Keuangan, Edisi Revisi, Penerbit Andi, Yogyakarta Badan Pusat Statistik. (2005), Kabupaten Bolaang Mongondow Dalam Angka 2004/2005, Kotamobagu. Dirjen Pelayanan Medik (1998), Pokok-pokok Pedoman Arsitektur Medik Rumah Sakit Umum, Departemen Kesehatan RI. Aritonang, Lerbrin R. (2002), Peramalan Bisnis, Ghalia Indonesia, Jakarta. Pujawan, I Nyoman. (2004), Ekonomi Teknik, Guna Widya, Surabaya. Subagyo, Pangestu (2002), Forecasting : Konsep dan Aplikasi, BPFE-Yogyakarta, Yogyakarta. Soeharto, Iman (1995), Manajemen Proyek : Dari Konseptual ke Operasional, Jilid I, Erlangga, Jakarta. Wijono, D. (1999), Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan (Teori, Strategi dan Aplikasi), Volume 1 dan 2, Airlangga University Press, Surabaya. 13

LAPORAN KINERJA TRIWULANAN RSUD LAWANG TAHUN 2015

LAPORAN KINERJA TRIWULANAN RSUD LAWANG TAHUN 2015 LAMPIRAN LAPORAN KINERJA TRIWULANAN RSUD LAWANG TAHUN 2015 RSUD Lawang mempunyai 2 sasaran srategis, yaitu : 1. Meningkatnya sumber daya manusia, sarana, prasarana, peralatan, dan kebijakan untuk pengembangan

Lebih terperinci

STUDI KELAYAKAN BISNIS PENGEMBANGAN USAHA AIR MINUM ISI ULANG DESMOND

STUDI KELAYAKAN BISNIS PENGEMBANGAN USAHA AIR MINUM ISI ULANG DESMOND STUDI KELAYAKAN BISNIS PENGEMBANGAN USAHA AIR MINUM ISI ULANG DESMOND LATAR BELAKANG Salah satu usaha yang sering kita jumpai dan banyak diminati pada saat ini adalah usaha air minum isi ulang. Dengan

Lebih terperinci

TEKNIK ANALISIS BIAYA/MANFAAT

TEKNIK ANALISIS BIAYA/MANFAAT TEKNIK ANALISIS BIAYA/MANFAAT PENDAHULUAN Pengembalian sistem informasi merupakan suatu investasi seperti halnya investasi proyek lainnya. Investasi berarti dikeluarkannya sumber-sumber daya untuk mendapatkan

Lebih terperinci

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA Jenis : Tugas Akhir Tahun : 2008 Penulis : Soly Iman Santoso Pembimbing : Ir. Haryo

Lebih terperinci

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-5 1 Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta Dwitanti Wahyu Utami dan Retno Indryani Jurusan Teknik

Lebih terperinci

Indikator pelayanan rumah sakit By : Setiadi

Indikator pelayanan rumah sakit By : Setiadi Indikator pelayanan rumah sakit By : Setiadi Tugas elearning: Bacalah makalah ini dengan seksama dan jawab pertanyaan dengan baik pakai metode tulisan tangan sebagai tugas per individu dan dikumpulkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Buku Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) RSUD Ambarawa

KATA PENGANTAR. Buku Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) RSUD Ambarawa KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat, taufik, dan karunia Nya, kami dapat menyelesaikan Penyusunan Buku Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Rumah sakit merupakan salah satu unit usaha yang memberikan pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu pelayanan kesehatan yang diberikan,

Lebih terperinci

ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN

ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN ANALISIS PELAKSANAAN MANAJEMEN MUTU PELAYANAN DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM MALAHAYATI MEDAN GELADIKARYA Oleh : AMERINA SYAFHARINI, ST 087007074 KONSENTRASI PEMASARAN TEKNOLOGI PROGRAM STUDI

Lebih terperinci

AKTIVA TETAP & PENYUSUTAN

AKTIVA TETAP & PENYUSUTAN AKTIVA TETAP & PENYUSUTAN Pelatihan Akuntansi Dasar Koperasi Simpan Pinjam & Unit Simpan Pinjam Jeneponto, Sulawesi Selatan 2011 Manado, Sulawesi Selatan 2010 Ari Widowati, Ola Anggitarini Effendy Aritonang

Lebih terperinci

ANALISA EKONOMIS PEMBANGUNAN KAPAL IKAN FIBERGLASS KATAMARAN UNTUK NELAYAN DI PERAIRAN PANTAI TELUK PENYU KABUPATEN CILACAP

ANALISA EKONOMIS PEMBANGUNAN KAPAL IKAN FIBERGLASS KATAMARAN UNTUK NELAYAN DI PERAIRAN PANTAI TELUK PENYU KABUPATEN CILACAP ANALISA EKONOMIS PEMBANGUNAN KAPAL IKAN FIBERGLASS KATAMARAN UNTUK NELAYAN DI PERAIRAN PANTAI TELUK PENYU KABUPATEN CILACAP Samuel *, Jowis Novi B.K * * S1 Teknik Perkapalan Faktultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24 AKUNTANSI BIAYA MANFAAT PENSIUN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24 AKUNTANSI BIAYA MANFAAT PENSIUN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24 AKUNTANSI BIAYA MANFAAT PENSIUN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 24 tentang Akuntansi Biaya Manfaat Pensiun disetujui dalam Rapat Komite

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN - 61 - BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN Dasar yuridis pengelolaan keuangan Pemerintah Kota Tasikmalaya mengacu pada batasan pengelolaan keuangan daerah yang tercantum

Lebih terperinci

KISI-KISI MATERI UJIAN KOMPETENSI PRODI S-1 MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS INSTITUT PERBANAS

KISI-KISI MATERI UJIAN KOMPETENSI PRODI S-1 MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS INSTITUT PERBANAS KISI-KISI MATERI UJIAN KOMPETENSI PRODI S-1 MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS INSTITUT PERBANAS 1. KOMPETENSI : PERBANKAN SYARIAH No Kompetensi Unsur Kompetensi Dasar Indikator Hasil Belajar Sumber

Lebih terperinci

MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT. Henni Djuhaeni

MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT. Henni Djuhaeni 1 MANAJEMEN PELAYANAN MEDIK DI RUMAH SAKIT Henni Djuhaeni I. Pendahuluan Pelayanan medik khususnya medik spesialistik merupakan salah satu Ciri dari Rumah Sakit yang membedakan antara Rumah Sakit dengan

Lebih terperinci

Mengukur Kelayakan Ekonomis Proyek Sistem Informasi Manajemen Menggunakan Metode Cost & Benefits Analysis Dan Aplikasinya Dengan MS EXCEL 2000

Mengukur Kelayakan Ekonomis Proyek Sistem Informasi Manajemen Menggunakan Metode Cost & Benefits Analysis Dan Aplikasinya Dengan MS EXCEL 2000 Mengukur Kelayakan Ekonomis Proyek Sistem Informasi Manajemen Menggunakan Metode Cost & Benefits Analysis Dan Aplikasinya Dengan MS EXCEL 2000 Gatot Prabantoro Dosen Sistem Informasi Manajemen & Sains

Lebih terperinci

Leasing. Bahan Ajar : Manajemen Keuangan Bisnis II Digunakan untuk melengkapi buku wajib Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula

Leasing. Bahan Ajar : Manajemen Keuangan Bisnis II Digunakan untuk melengkapi buku wajib Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula Bahan Ajar : Manajemen Keuangan Bisnis II Digunakan untuk melengkapi buku wajib Disusun oleh: Nila Firdausi Nuzula Leasing Pendahuluan Salah satu cara untuk mengelola kepemilikan aktiva tetap dalam suatu

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Keuangan daerah merupakan semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian, Sumber, dan Jenis Modal 2.1.1 Pengertian Modal Dengan perkembangan teknologi dan makin jauhnya spesialisasi dalam perusahaan serta juga makin banyaknya perusahaan-perusahaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efektivitas dan

Lebih terperinci

LINGKUNGAN BISNIS : PERPAJAKAN DAN KEUANGAN

LINGKUNGAN BISNIS : PERPAJAKAN DAN KEUANGAN LINGKUNGAN BISNIS : PERPAJAKAN DAN KEUANGAN Bentuk Perusahaan : 1. Perusahaan perseorangan Perusahaan yang dimiliki perseorangan. Keuntungan : sederhana, mudah dibentuk dan dana relatif kecil 2. Perusahaan

Lebih terperinci

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO,

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO, - 1 - PERATURAN BUPATI MOJOKERTO NOMOR 32 TAHUN 2014 TENTANG PENJABARAN TUGAS POKOK DAN FUNGSI ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH RA. BASOENI KABUPATEN MOJOKERTO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA HASIL PEMERIKSAAN ATAS

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA HASIL PEMERIKSAAN ATAS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA HASIL PEMERIKSAAN ATAS KINERJA PELAYANAN KESEHATAN TAHUN ANGGARAN 2005 2007 PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH PALEMBANG BARI DI PALEMBANG Nomor : 04/S/XVIII.PLG/01/2008

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 15 Tahun : 2010 Seri : E PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Lebih terperinci

ANALISA HARGA AIR PADA PROYEK EMBUNG GADDING DI DESA GADDING KECAMATAN MANDING KABUPATEN SUMENEP

ANALISA HARGA AIR PADA PROYEK EMBUNG GADDING DI DESA GADDING KECAMATAN MANDING KABUPATEN SUMENEP ANALISA HARGA AIR PADA PROYEK EMBUNG GADDING DI DESA GADDING KECAMATAN MANDING KABUPATEN SUMENEP Rispiningtati 1, Pitojo Tri Juwono 1, Dio Aditya Aji 2 1 Dosen Teknik Pengairan Universitas Brawijaya Malang

Lebih terperinci

Analisis Manfaat dan Biaya Sosial

Analisis Manfaat dan Biaya Sosial Analisis Manfaat dan Biaya Sosial Makalah Ekonomi Publik Dosen : Prof. Dr. Soekanto Reksohadiprodjo, M.Com. Disusun Oleh : Agus Sugiyono No. Mahasiswa : 01/961/PS Program Pascasarjana : Magister Sains

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktiva tetap merupakan sesuatu yang penting bagi perusahaan, selain digunakan sebagai modal kerja, aktiva tetap biasanya juga digunakan sebagai alat investasi

Lebih terperinci

Pengaruh Investasi Pada Sektor Perhubungan Darat dan Laut di Kabupaten Jeneponto sulawesi Selatan

Pengaruh Investasi Pada Sektor Perhubungan Darat dan Laut di Kabupaten Jeneponto sulawesi Selatan PENGARUH INVESTASI PADA SEKTOR PERHUBUNGAN DARAT DAN LAUT DI KABUPATEN JENEPONTO SULAWESI SELATAN Maksud Hakim * ABSTRACT This study aimed to determine the effect of investment on land and marine transportation

Lebih terperinci

TOLOK UKUR PENILAIAN KINERJA BADAN USAHA DENGAN BALANCED SCORECARD (BSC)

TOLOK UKUR PENILAIAN KINERJA BADAN USAHA DENGAN BALANCED SCORECARD (BSC) TOLOK UKUR PENILAIAN KINERJA BADAN USAHA DENGAN BALANCED SCORECARD (BSC) Rachmad Hidayat, Issa Dyah Utami, Umayya Jurusan Teknik Industri, Universitas Trunojoyo Madura Email: (dr.rachmad.mt@gmail.com)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang. 1 Dalam

Lebih terperinci

MODUL PROPOSAL USAHA. By Angga Kusumanegara

MODUL PROPOSAL USAHA. By Angga Kusumanegara MODUL PROPOSAL 2011 USAHA By Angga Kusumanegara MODUL PROPOSAL USAHA Disusun oleh : Angga Kusumanegara Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran Angga.kusumanegara@gmail.com / www.anggakusumanegara.wordpress.com

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 5.1. Arah Pengelolaan Pendapatan Daerah Dalam pengelolaan anggaran pendapatan daerah harus diperhatikan upaya untuk peningkatan pendapatan pajak dan retribusi daerah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan sarana penyedia layanan kesehatan untuk masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna

Lebih terperinci

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG (Studi Kasus di II Desa Gunungrejo Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan) Ista Yuliati 1, Zaenal Fanani 2 dan Budi Hartono 2 1) Mahasiswa Fakultas

Lebih terperinci

PENINGKATAN KUALITAS JASA PERHOTELAN DENGAN METODE RETURN ON QUALITY (STUDI KASUS: HOTEL X, SURABAYA)

PENINGKATAN KUALITAS JASA PERHOTELAN DENGAN METODE RETURN ON QUALITY (STUDI KASUS: HOTEL X, SURABAYA) PENINGKATAN KUALITAS JASA PERHOTELAN DENGAN METODE RETURN ON QUALITY (STUDI KASUS: HOTEL X, SURABAYA) Moses L. Singgih Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Kampus ITS Sukolilo Surabaya

Lebih terperinci

- --- - -- NILAI SEKARANG DAN MASA DATANG (Present and Future Value)

- --- - -- NILAI SEKARANG DAN MASA DATANG (Present and Future Value) - --- - -- NILAI SEKARANG DAN MASA DATANG (Present and Future Value) 36 Nilai Sekarang dan Masa Datang (Present and Future Value) 37 TUJUAN: Untuk menghitung Present Value, Future Value atau Internal Rate

Lebih terperinci

Mahestrayu School of Art Perencanaan Pendirian Usaha Pengembangan Minat dan Bakat

Mahestrayu School of Art Perencanaan Pendirian Usaha Pengembangan Minat dan Bakat Perencanaan Pendirian Usaha Pengembangan Minat dan Bakat Ayu Trisilia Miranti (2010200081) Edin S. Djatikusuma, S.E., M. Si. (Pembimbing 1) Idham Cholid, S.E., M.E. (Pembimbing 2) Abstrak : Business plan

Lebih terperinci

ANALISIS FINANSIAL USAHA PETERNAKAN AYAM PETELUR DI KECAMATAN KEDUNGPRING KABUPATEN LAMONGAN

ANALISIS FINANSIAL USAHA PETERNAKAN AYAM PETELUR DI KECAMATAN KEDUNGPRING KABUPATEN LAMONGAN ANALISIS FINANSIAL USAHA PETERNAKAN AYAM PETELUR DI KECAMATAN KEDUNGPRING KABUPATEN LAMONGAN Boya Eviana 1), Budi Hartono 2), Zaenal Fanani 2) 1. Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya. 2.

Lebih terperinci

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kondisi makro ekonomi Kabupaten Kebumen Tahun

Lebih terperinci

RENSTRA RSUD LAMANDAU PERIODE 2013 S/D 2018

RENSTRA RSUD LAMANDAU PERIODE 2013 S/D 2018 RSUD KABUPATEN LAMANDAU RENSTRA RSUD LAMANDAU PERIODE 2013 S/D 2018 TAHUN 2014 Jl. Trans Kalimantan Km.04 arah Nanga Bulik Kudangan - 74162 Telp. (0532) 2071238 PEMERINTAH KABUPATEN LAMANDAU RUMAH SAKIT

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN III.1. KINERJA KEUANGAN MASA LALU III.1.1. KINERJA PELAKSANAAN APBD Pendapatan Kota Surabaya selama tahun 2006-2010 ratarata naik sebesar

Lebih terperinci

BAB II ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

BAB II ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN BAB II ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN A. Arti Penting Analisis Laporan Keuangan Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya karena ingin mengethaui tingkat profitabilitas (keuntungan)

Lebih terperinci

ANALISA KEBUTUHAN TEMPAT TIDUR PADA BANGSAL KELAS III RSUD KOTA SEMARANG BERDASARKAN PERHITUNGAN INDIKATOR BARBER JOHNSON TAHUN

ANALISA KEBUTUHAN TEMPAT TIDUR PADA BANGSAL KELAS III RSUD KOTA SEMARANG BERDASARKAN PERHITUNGAN INDIKATOR BARBER JOHNSON TAHUN ANALISA KEBUTUHAN TEMPAT TIDUR PADA BANGSAL KELAS III RSUD KOTA SEMARANG BERDASARKAN PERHITUNGAN INDIKATOR BARBER JOHNSON TAHUN 2013 KARYA TULIS ILMIAH Disusun guna memenuhi salah satu syarat untuk mencapai

Lebih terperinci

Ambon, 12 Februari 2014 KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM DEPUTI BIDANG PENGKAJIAN SUMBERDAYA UKMK

Ambon, 12 Februari 2014 KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM DEPUTI BIDANG PENGKAJIAN SUMBERDAYA UKMK Ambon, 12 Februari 2014 KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM DEPUTI BIDANG PENGKAJIAN SUMBERDAYA UKMK 1 1 LINGKUP KEGIATAN Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK 1. Melaksanakan kajian yang berkaitan dengan

Lebih terperinci

PENYUSUTAN ATAS ASET TETAP PEMERINTAH. Abstract

PENYUSUTAN ATAS ASET TETAP PEMERINTAH. Abstract PENYUSUTAN ATAS ASET TETAP PEMERINTAH Oleh Margono WIDYAISWARA PADA PUSDIKLAT KEKAYAAN NEGARA DAN PERIMBANGAN KEUANGAN BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN Abstract Salah satu point

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN UANG NEGARA/DAERAH

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN UANG NEGARA/DAERAH PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN UANG NEGARA/DAERAH I. UMUM Sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara

Lebih terperinci

KAJIAN PINJAMAN DAERAH PEMERINTAH KOTA DEPOK

KAJIAN PINJAMAN DAERAH PEMERINTAH KOTA DEPOK KAJIAN PINJAMAN DAERAH PEMERINTAH KOTA DEPOK LATAR BELAKANG Keterbatasan sumber pembiayaan Peningkatkan pembangunan dan perekonomian daerah Pelayanan masyarakat MAKSUD DAN TUJUAN Untuk mengetahui kemampuan

Lebih terperinci

RINGKASAN EKSEKUTIF 3. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor Tahun 2014

RINGKASAN EKSEKUTIF 3. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo Cisarua Bogor Tahun 2014 RINGKASAN EKSEKUTIF ini secara garis besar berisikan informasi rencana kinerja dan capaian kinerja yang telah dicapai selama tahun 2014. Rencana kinerja 2014 dan penetapan kinerja 2014 merupakan kinerja

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

LAPORAN KEUANGAN. Pengertian Laporan Keuangan

LAPORAN KEUANGAN. Pengertian Laporan Keuangan BAB 3 LAPORAN KEUANGAN Tujuan Pengajaran: Setelah mempelajari bab ini, mahasiswa diharapkan mampu : 1. Menjelaskan pengertian laporan keuangan 2. Membedakan dan menggolongkan jenis aktiva dan pasiva 3.

Lebih terperinci

KULIAH UMUM PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN PEMDA

KULIAH UMUM PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN PEMDA KULIAH UMUM PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN PEMDA SKENARIO PENYUSUNAN LK PEMDA 1. Penyusunan Neraca Awal 2. Transaksi Anggaran dan Realisasi 3. Penyusunan Laporan Keuangan A. PENYUSUNAN NERACA AWAL SKENARIO

Lebih terperinci

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknis ini menitik beratkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA RUMAH SAKIT. Hanna Permana Subanegara

INDIKATOR KINERJA RUMAH SAKIT. Hanna Permana Subanegara INDIKATOR KINERJA RUMAH SAKIT Hanna Permana Subanegara INDIKATOR 1. Adalah variabel ukuran atau tolok ukur untuk mengetahui adanya perubahan/penyimpangan yang dikaitkan dengan target/standar yang telah

Lebih terperinci

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 55 AKUNTANSI INSTRUMEN DERIVATIF DAN AKTIVITAS LINDUNG NILAI

PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. 55 AKUNTANSI INSTRUMEN DERIVATIF DAN AKTIVITAS LINDUNG NILAI 0 0 PERNYATAAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN NO. AKUNTANSI INSTRUMEN DERIVATIF DAN AKTIVITAS LINDUNG NILAI Paragraf-paragraf yang dicetak dengan huruf tebal dan miring adalah paragraf standar yang harus dibaca

Lebih terperinci

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN a. Pada akhir Repelita V tahun 1994, 36% dari penduduk perkotaan Indonesia yang berjumlah 67 juta, jiwa atau 24 juta jiwa, telah mendapatkan sambungan air

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PUSAT BISNIS (CENTRAL BUSINESS DISTRICT) DENGAN POLA KERJASAMA PEMERINTAH-SWASTA (KASUS WILAYAH KAKI SURAMADU SISI SURABAYA)

PENGEMBANGAN PUSAT BISNIS (CENTRAL BUSINESS DISTRICT) DENGAN POLA KERJASAMA PEMERINTAH-SWASTA (KASUS WILAYAH KAKI SURAMADU SISI SURABAYA) Seminar Nasional Fakulktas Teknik Sipil Universitas Narotama Tema : Peluang & Tantangan Jasa Konstruksi di Era Pasar Bebas ASEAN Sub Tema : 1. Penguatan Badan Usaha dan Tenaga Ahli Konstruksi. 2. Infrastruktur

Lebih terperinci

ANALISIS KEBUTUHAN MODAL KERJA KOPERASI PEGAWAI NEGERI UNTUNG LANGGONG SETKAB KUTAI KARTANEGARA

ANALISIS KEBUTUHAN MODAL KERJA KOPERASI PEGAWAI NEGERI UNTUNG LANGGONG SETKAB KUTAI KARTANEGARA ANALISIS KEBUTUHAN MODAL KERJA KOPERASI PEGAWAI NEGERI UNTUNG LANGGONG SETKAB KUTAI KARTANEGARA H. A. Syaid Abidin STIE Samarinda The purpose of this study was to determine whether Cooperative Civil Service

Lebih terperinci

Analisis Biaya Unit Pelayanan Otopsi dengan Metode Distribusi Ganda

Analisis Biaya Unit Pelayanan Otopsi dengan Metode Distribusi Ganda 65 Analisis Biaya Unit Pelayanan Otopsi dengan Metode Distribusi Ganda Nily Sulistyorini, Bendrong Moediarso Dept./Inst. Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal FK Unair RSUD Dr. Soetomo Surabaya Abstrak

Lebih terperinci

Menurut Hanafi dan Halim (1996), pada dasarnya analisis rasio bisa dikelompokkan kedalam lima macam kategori, yaitu:

Menurut Hanafi dan Halim (1996), pada dasarnya analisis rasio bisa dikelompokkan kedalam lima macam kategori, yaitu: Definisi Analisa Rasio Untuk menganalisis laporan keuangan perusahaan, diperlukan ukuran-ukuran tertentu. Ukuran yang sering digunakan adalah rasio. Rasio diperoleh dengan membandingkan satu pos atau elemen

Lebih terperinci

ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN

ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN IKHTISAR 2014 adalah tahun di mana Perseroan kembali mencapai rekor pertumbuhan dan proitabilitas. Perseroan mempertahankan posisinya sebagai Operator berskala terkemuka

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA SALINAN PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PEMAKAIAN RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a. bahwa dalam usaha untuk

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RENSTRA SKPD) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2011-2015 BAB I P E N D A H U L U A N

RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RENSTRA SKPD) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2011-2015 BAB I P E N D A H U L U A N RENCANA STRATEGIS SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH (RENSTRA SKPD) RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA SEMARANG TAHUN 2011-2015 BAB I P E N D A H U L U A N 1.1. Latar Belakang RSUD Kota Semarang pada tahun 2010 telah

Lebih terperinci

SISTEM PERAMALAN PERSEDIAAN UNIT MOBIL MITSUBISHI PADA PT. SARDANA INDAH BERLIAN MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE EXPONENTIAL SMOOTHING

SISTEM PERAMALAN PERSEDIAAN UNIT MOBIL MITSUBISHI PADA PT. SARDANA INDAH BERLIAN MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE EXPONENTIAL SMOOTHING SISTEM PERAMALAN PERSEDIAAN UNIT MOBIL MITSUBISHI PADA PT. SARDANA INDAH BERLIAN MOTOR DENGAN MENGGUNAKAN METODE EXPONENTIAL SMOOTHING Afni Sahara (0911011) Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika,

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Syukur Alhamdullillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT. akhirnya

KATA PENGANTAR. Syukur Alhamdullillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT. akhirnya KATA PENGANTAR Syukur Alhamdullillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT. akhirnya Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Rumah Sakit Stroke Nasional Bukittinggi tahun 2014 ini dapat diselesaikan/disusun

Lebih terperinci

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I 1 laporan monitoring realisasi APBD dan dana idle Tahun 2013 Triwulan I RINGKASAN EKSEKUTIF Estimasi realisasi belanja daerah triwulan I Tahun 2013 merupakan

Lebih terperinci

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 Indonesia cukup beruntung, karena menjadi negara yang masih dapat mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif tahun 2009 sebesar 4,4 % di tengah krisis keuangan global

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG STUDI KELAYAKAN PEMBANGUNAN PABRIK AIR MINUM DALAM KEMASAN GELAS OLEH UD. WIJAYA Skripsi Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik MAKARINA KUSUMASTUTI I 0302041 JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 111 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 12 TAHUN 2013 TENTANG JAMINAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/14/PBI/2011 TENTANG PENILAIAN KUALITAS AKTIVA BAGI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kelangsungan

Lebih terperinci

ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG

ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG bidang TEKNIK ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG MOHAMAD DONIE AULIA, ST., MT Program Studi Teknik Sipil FTIK Universitas Komputer Indonesia Pembangunan pada suatu

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 5 TAHUN 2008 SERI : C NOMOR : 2

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR : 5 TAHUN 2008 SERI : C NOMOR : 2 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 5 TAHUN 2008 SERI C NOMOR 2 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEBUMEN NOMOR 5 TAHUN 2008 TENTANG RETRIBUSI IZIN PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN SWASTA, IZIN INDUSTRI

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PADA PT. GENDARIN INDONESIA CABANG PALEMBANG

ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PADA PT. GENDARIN INDONESIA CABANG PALEMBANG ANALISIS PERHITUNGAN PENYUSUTAN AKTIVA TETAP BERWUJUD DAN PENGARUHNYA TERHADAP LABA RUGI PADA PT. GENDARIN INDONESIA CABANG PALEMBANG Etika Mela Sari Jurusan Akuntansi POLITEK PalComTech Palembang Abstrak

Lebih terperinci

KELAYAKAN USAHA INDUSTRI KEMPLANG ANEKA RASA SKALA KECIL DI KELURAHAN 5 ULU PALEMBANG

KELAYAKAN USAHA INDUSTRI KEMPLANG ANEKA RASA SKALA KECIL DI KELURAHAN 5 ULU PALEMBANG KELAYAKAN USAHA INDUSTRI KEMPLANG ANEKA RASA SKALA KECIL DI KELURAHAN 5 ULU PALEMBANG Sri Maryani Balitbangnovda Provinsi Sumatera Selatan Jl. Demang Lebar Daun No.4864 Palembang Email : smaryani2009@yahoo.co.id

Lebih terperinci

LAKIP RSJPDHK TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN

LAKIP RSJPDHK TAHUN 2014 BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... IKHTISAR EXECUTIF... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GRAFIK... i iii v vi vii BAB I : PENDAHULUAN A Latar Belakang............. 1 B Maksud dan Tujuan...

Lebih terperinci

MODUL EKONOMI PUBLIK BAGIAN VI: ANALISIS BIAYA DAN MANFAAT

MODUL EKONOMI PUBLIK BAGIAN VI: ANALISIS BIAYA DAN MANFAAT MODUL EKONOMI PUBLIK BAGIAN VI: ANALISIS BIAYA DAN MANFAAT Dosen Ferry Prasetya, SE., M.App Ec FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012 1. Pendahuluan Analisis manfaat dan biaya digunakan

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR KEP-104/BL/2006 TENTANG PRODUK UNIT

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.25, 2008 DEPARTEMEN PERTAHANAN. RUMAH SAKIT dr Suyoto. Organisasi. Tata Kerja. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN NOMOR: 12 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA RUMAH

Lebih terperinci

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM LAMPIRAN : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM NOMOR : P. 01/IV- SET/2012 TANGGAL : 4 Januari 2012 TENTANG : PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM, RENCANA

Lebih terperinci

PENERAPAN PELAPORAN KEUANGAN PADA YAYASAN NURUL HAYAT YANG SESUAI DENGAN PSAK NO.45 RANGKUMAN SKRIPSI

PENERAPAN PELAPORAN KEUANGAN PADA YAYASAN NURUL HAYAT YANG SESUAI DENGAN PSAK NO.45 RANGKUMAN SKRIPSI PENERAPAN PELAPORAN KEUANGAN PADA YAYASAN NURUL HAYAT YANG SESUAI DENGAN PSAK NO.45 RANGKUMAN SKRIPSI Oleh : HENKIE PRIEMAADIENOVA BUDIRAHARDJO NIM : 2005310278 SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS S U

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 75 TAHUN 2014 TENTANG PUSAT KESEHATAN MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2015 TENTANG BENTUK DAN MEKANISME PENDANAAN PERGURUAN TINGGI NEGERI BADAN HUKUM

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2015 TENTANG BENTUK DAN MEKANISME PENDANAAN PERGURUAN TINGGI NEGERI BADAN HUKUM PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2015 TENTANG BENTUK DAN MEKANISME PENDANAAN PERGURUAN TINGGI NEGERI BADAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

ANALISIS MANFAAT DAN BIAYA DALAM PENENTUAN PRIORITAS PENINGKATAN RUAS JALAN NASIONAL (STUDI KASUS : DI WILAYAH UTARA PROPINSI BANTEN)

ANALISIS MANFAAT DAN BIAYA DALAM PENENTUAN PRIORITAS PENINGKATAN RUAS JALAN NASIONAL (STUDI KASUS : DI WILAYAH UTARA PROPINSI BANTEN) 1 ANALSS MANFAAT DAN BAYA DALAM PENENTUAN PRORTAS PENNGKATAN RUAS JALAN NASONAL (STUD KASUS : D WLAYAH UTARA PROPNS BANTEN) Temmy Saputra¹, Hary Agus Rahardjo², Dwi Dinariana³ ¹Mahasiswa Program Studi

Lebih terperinci

KORELASI DAN REGRESI LINIER SEDERHANA

KORELASI DAN REGRESI LINIER SEDERHANA KORELASI DAN REGRESI LINIER SEDERHANA 1. Pendahuluan Istilah "regresi" pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton pada tahun 1886. Galton menemukan adanya tendensi bahwa orang tua yang memiliki

Lebih terperinci

BALANCED SCORECARD PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) BLAMBANGAN KABUPATEN BANYUWANGI. Bambang Wicaksono ABSTRAKSI

BALANCED SCORECARD PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) BLAMBANGAN KABUPATEN BANYUWANGI. Bambang Wicaksono ABSTRAKSI BALANCED SCORECARD PADA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) BLAMBANGAN KABUPATEN BANYUWANGI Bambang Wicaksono ABSTRAKSI Penelitian ini adalah untuk menganalisis kinerja Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan

Lebih terperinci

PENERAPAN PELAYANAN FARMASI SATU PINTU DI RUMAH SAKIT

PENERAPAN PELAYANAN FARMASI SATU PINTU DI RUMAH SAKIT PENERAPAN PELAYANAN FARMASI SATU PINTU DI RUMAH SAKIT Tugas utama IFRS : pengelolaan mulai dari perencanaan, pengadaan, penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung kepada penderita sampai dengan

Lebih terperinci

BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING

BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING BAB II PENENTUAN HARGA JUAL DENGAN PENDEKATAN VARIABEL COSTING II.1. Harga Jual Penentuan harga jual suatu produk atau jasa merupakan salah satu keputusan penting manajemen karena harga yang ditetapkan

Lebih terperinci

BAB X KEBIJAKAN AKUNTANSI KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN

BAB X KEBIJAKAN AKUNTANSI KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN BAB X KEBIJAKAN AKUNTANSI KONSTRUKSI DALAM PENGERJAAN A. UMUM 1. Definisi Konstruksi dalam pengerjaan adalah aset-aset tetap yang sedang dalam proses pembangunan. 2. Klasifikasi Konstruksi Dalam Pengerjaan

Lebih terperinci

2012, No.662. www.djpp.depkumham.go.id

2012, No.662. www.djpp.depkumham.go.id 13 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI NEGARA PPN/ KEPALA BAPPENAS NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PANDUAN UMUM PELAKSANAAN KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR PANDUAN UMUM PELAKSANAAN

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA STRATEGIS BISNIS DAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SULTAN IMANUDDIN PANGKALAN BUN DENGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Setiap perusahaan baik yang go public maupun yang tidak go public pasti mempunyai tujuan dalam bisnisnya. Tujuan utama perusahaan adalah mengoptimalkan

Lebih terperinci

BAB II DIVERSIFIKASI USAHA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

BAB II DIVERSIFIKASI USAHA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS BAB II DIVERSIFIKASI USAHA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Diversifikasi Usaha Diversifikasi usaha merupakan memperluas pasar dengan mengembangkan produk baru yang sesuai dengan pasar agar memiliki keunggulan

Lebih terperinci

STRUKTUR APBD DAN KODE REKENING

STRUKTUR APBD DAN KODE REKENING STRUKTUR APBD DAN KODE REKENING 1 STRUKTUR ANGGARAN KEPMENDAGRI 29/2002 PERMENDAGRI 13/2006 Klasifikasi belanja menurut bidang kewenangan pemerintahan daerah, organisasi, kelompok, jenis, obyek dan rincian

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign BAB II URAIAN TEORI A. Penelitian Terdahulu Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign Exchange Exposure pada Bank-Bank yang Go Public di Bursa Efek Jakarta menunjukkan adanya foreign

Lebih terperinci

BAGAN ALIR SIKLUS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH

BAGAN ALIR SIKLUS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH BAGAN ALIR SIKLUS PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH Berdasarkan PERMENDAGRI Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah DEPARTEMEN DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA 12 JUNI 2006 DAFTAR ISI

Lebih terperinci

PENGGUNAAN DATA DALAM MENDUKUNG PELAYANAN KESEHATAN. dr. TOGAR SIALLAGAN, MM KEPALA GRUP PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN

PENGGUNAAN DATA DALAM MENDUKUNG PELAYANAN KESEHATAN. dr. TOGAR SIALLAGAN, MM KEPALA GRUP PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PENGGUNAAN DATA DALAM MENDUKUNG PELAYANAN KESEHATAN dr. TOGAR SIALLAGAN, MM KEPALA GRUP PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Latar Belakang PT Askes menjadi BPJS Kesehatan: UU No. 24 BPJS tahun 2011, pasal 12 tentang

Lebih terperinci

panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang

panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang 04 02 panduan praktis Sistem Rujukan Berjenjang Kata Pengantar Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan

Lebih terperinci

PEMBAGIAN SHU SEBAGAI UPAYA UNTUK MENYEJAHTERAKAN ANGGOTA KOPERASI BINTANG SAMUDRA

PEMBAGIAN SHU SEBAGAI UPAYA UNTUK MENYEJAHTERAKAN ANGGOTA KOPERASI BINTANG SAMUDRA PEMBAGIAN SHU SEBAGAI UPAYA UNTUK MENYEJAHTERAKAN ANGGOTA KOPERASI BINTANG SAMUDRA Oleh: RIANTO RITONGA Salah satu hal penting dalam upaya menyejahterakan anggota Koperasi Bintang Samudra, selain memberikan

Lebih terperinci