Persepsi Masyarakat Terhadap Upacara Pengerupukan Pra Hari Raya Nyepi di Kecamatan Wonosari

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Persepsi Masyarakat Terhadap Upacara Pengerupukan Pra Hari Raya Nyepi di Kecamatan Wonosari"

Transkripsi

1 Persepsi Masyarakat Terhadap Upacara Pengerupukan Pra Hari Raya Nyepi di Kecamatan Wonosari Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu sosial Universitas Negeri Gorontalo 2014 ABSTRAK I Kadek Muliasa: 2014, Persepsi Masyarakat Terhadap Upacara Pengerupukan Pra Hari Raya Nyepi di Kecamatan Wonosari. Jurusan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Gorontalo. Di bawah bimbingan Drs. Surya Kobi, M.Pd dan Rudy Harold, S.Th,M.Si. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi masyarakat yang bukan beragama Hindu terhadap pelaksanaan upacara pengerupukan masyarakat Hindu-Bali di Kecamatan Wonosari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data melalui tiga proses yakni: reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Simpulan penelitian sesuai dengan hasil analisis dan pembahasannya bahwa persepsi masyarakat yang bukan beragama Hindu terhadap pelaksanaan upacara pengerupukan terdiri beberapa tanggapan yakni masyarakat yang bukan beragama Hindu menganggap upacara pengerupukan merupakan salah satu upacara yang sakral. Upacara pengerupukan juga dianggap salah satu upacara doa bersama yang dilakukan masyarakat Hindu. Selain doa bersama, yang bukan beragama Hindu menganggap upacara pengerupukan merupakan salah satu upacara yang menggunakan sesajen, simbol iblis atau ogoh-ogoh dalam ritual ini. Dibalik pelaksanaan upacara pengerupukan menimbulkan suatu persepsi bahwa upacara pengrupukan dinilai sebagai pemborosan karena banyak menghabiskan biaya, tapi disisi lain ada anggapan bahwa suatu upacara harus wajib dilaksanakan karena sebagai umat beragama. Upacara pengerupukan juga tidak terlalu mebebankan masyarakat Hindu karena sudah dari jauh hari mereka menyediakan dana untuk ritual tersebut. Kata Kunci: Persepsi, Masyarakat yang bukan beragama Hindu, Upacara Pengerupukan 1 I KADEK MULIASA, , JURUSAN PENDIDIKAN SEJARAH, FAKULTAS ILMU SOSIAL, SURYA KOBI, RUDY HAROLD.

2 Indonesia merupakan negara yang besar dan kaya akan nilai-nilai budaya, setiap masyarakat memiliki beranekaragam budaya sebagai ciri khas dari masyarakat tersebut. Dari ciri khas yang dimiliki masyarakat itu dapat terlihat perbedaan-perbedaan budaya yang dimiliki antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya. Nilai-nilai dan norma-norma yang tumbuh dalam masyarakat sangat berguna untuk mencari keseimbangan dalam tatanan kehidupan dan dapat menjadi adat istiadat yang diwujudkan masyarakat dalam bentuk upacara. Wonosari adalah salah satu kecamatan yang masih memiliki nilai budaya tersebut. Wonosari adalah kecamatan yang berada dalam wilayah Provinsi Gorontalo, Kabupaten Boalemo. Wonosari merupakan kecamatan multi etnis, karena Kecamatan Wonosari memiliki masyarakat dari berbagai etnis seperti suku Jawa, Bali dan Gorontalo. Kemajemukan masyarakat yang memiliki berbagai etnis di atas menjadikan Kecamatan Wonosari kaya akan kebudayaan yang beragam. Masyarakat yang terdiri dari berbagai etnis tersebut masing-masing memiliki tradisi dan upacara-upacara ritual yang sampai saat ini masih dipertahankan, salah satunya ialah masyarakat Hindu-Bali. Masyarakat Hindu-Bali merupakan salah satu etnik yang terdapat di Kecamatan Wonosari dan memiliki beragam tradisi serta upacara-upacara ritual. Sejak dahulu masyarakat Hindu-Bali terbiasa melaksanakan upacara yang memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Hindu-Bali. Upacara yang masih dilaksanakan masyarakat Hindu-Bali ini menimbulkan suatu persepsi dari masyarakat yang bukan beragama Hindu terhadap upacara yang berhubungan dengan kepercayaan umat Hindu terhadap Tuhan ( Ida Sang Hyang Widi) dan bhuta kala yang ada dilingkungannya. Salah satu upacara ritual yang dimaksud adalah upacara pengerupukan. Upacara pengerupukan adalah, suatu upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu-Bali sebagai salah satu wujud yadnya yang di kenal dengan istilah Bhuta Yadnya yaitu korban suci yang dipersembahkan kepada para Bhuta (unsur alam) yang meliputi air, api, tanah, cahaya, udara. Dalam upacara Pengerupukan disertai dengan ogoh-ogoh sebagai simbol ritual Nyepi. Simbol ini

3 digunakan sebagai definisi upacara Bhuta Yadnya yang ditujukan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai bhuta kala. Upacara pengerupukan merupakan salah satu upacara pemujaan terhadap tuhan atau para dewa, sehingga dulu sampai sekarang upacara pengerupukan dianggap sakral oleh sebagian masyarakat yang bukan beragama Hindu. Karena kepercayaan masyarakat Hindu-Bali di dalam ajaran Agama Hindu upacara pengerupukan adalah sebagai salah satu wujud yadnya yaitu korban suci yang dipersembahkan kepada Tuhan (Sang Hyang Widi) dan bhuta kala. Kedua penghormatan ini sebagai elemen terpenting bagi umat Hindu, terutama bagi kehidupan sehari-hari. Selain itu juga upacara pengerupukan dianggap sebagai kegiatan berdoa bersama dan ucapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan oleh masyarakat yang bukan beragama Hindu. Karena doa bersama merupakan kewajiban yang harus dilakukan setiap upacara. Tujuan dari doa ini untuk mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta agar diberikan perlindungan. Dalam melakukan doa bersama selalu disertai persembahan sesajen. Upacara pengerupukan juga dianggap salah satu upacara bersaji oleh masyarakat yang bukan beragama Hindu. Karena masyarakat Hindu pada saat melakukan ritual menyembelih ayam untuk sesajen. Dalam kehidupan sehari-harinya, setiap manusia mempunyai suatu pandangan yang berbeda-beda. Bagi sebagian masyarakat yang bukan beragama Hindu, tradisi ini bisa jadi dinilai sebagai pemborosan. Sebab, demikian besar biaya yang harus dikeluarkan untuk penyelenggaraannya. Tapi disisi lain masyarakat yang bukan beragama Hindu mempunyai pandangan bahwa upacara pengerupukan merupakan suatu upacara yang wajib terus dilakukan oleh masyarakat Hindu meskipun dana yang dikeluarkan banyak. Karena itu tidak membebankan masyarakat Hindu karena sudah jauh hari mempersiapkan sedemikian rupa biaya yang akan digunakan pada saat upacara pengerupukan tersebut. Akan tetapi seiring perkembangan zaman sentuhan teknologi modern telah mempengaruhi kebudayaan masyarakat Hindu-Bali. Di sini sebagian masyarakat

4 yang bukan beragama Hindu menganggap masyarakat Hindu indentik menggunakan simbol iblis atau simbol ogoh-ogoh dan sekaligus gambelan untuk mengiringi upacara pengerupukan. Dalam agama Hindu, antara agama dan adatbudaya terjalin hubungan yang selaras/erat antara satu dengan yang lainnya dan saling mempengaruhi. Karenanya tidak jarang dalam pelaksanaan upacara keagamaan disesuaikan dengan keadaan setempat. Penyesuaian ini dapat dibenarkan dan dapat memperkuat budaya setempat. Sehingga menjadikan kesesuaian adat-agama ataupun budaya-agama, artinya penyelenggaraan agama yang disesuaikan dengan budaya setempat. Sehingga sebagian dari masyarakat yang bukan beragama Hindu menganggap upacara pengerupukan tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan. Karena kebudayaan Hindu merupakan warisan dari hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat Hindu itu sendiri. Penelitian ini menggunakan konsep kajian pustaka yakni kebudayaan, upacara keagamaan, upacara pengerupukan, dan persepsi. Adapun pengertian dari masing-masing kajian pustaka tersebut yakni: Pertama, Menurut E.B. Tylor (dalam Soerjono Soekanto 2007: 150) mengemukakan bahwa Kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyrakat. Secara harafiah kata budaya berasal dari bahasa sansekerta buddhaya, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau akal. Budaya dapat di artikan sebagai hal-hal yang bersangkutan dengan akal. Setiap kebudayaan yang dimiliki manusia mencangkup adat istiadat, kepercayaan, kesenian, moral, hokum, dan ilmu pengetahuan serta kemampuankemampuan dan kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyrakat. Kedua, Upacara di dalam masyarakat Hindu sering dikenal dengan dengan yajna (yadnya). Yajna merupakan korban suci yang tulus iklas tanpa pambrih, sebagai pernyataan rasa bakti terhadap objek yang dituju. Dalam agama Hindu terdapat lima jenis yadya ( panca yadnya) meliputi: (1) Dewa Yadnya ( pemujaan

5 serta persembahan yang dilakukan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan sinar-sinar sucinya yang disebut dewa-dewi), (2) Rsi Yadnya ( korban cuci yang dilakukan kepada orang-orang suci), (3) Pitra Yadnya (korban suci yang dilakukan kepada orang tua), (4) Manusia Yadnya (pemeliharaan, pendidikan, serta penyucian secara spiritual terhadap seseorang sejak terbentuknya jasmani dan didalam kandungan sampai akhir hidupnya), dan (5) Bhuta Yadnya (persembahan suci yang tulus iklas kehadapan unsure-unsur alam). Namun di dalam pelaksanaan yadnya (korban suci) di dukung oleh upacara (pelaksanaan), upakara (perbuatan) dan Uparengga (perantara). Ketiga, Suatu upacara pengerupukan merupakan sebagai salah satu wujud yadnya yang dikenal dengan istilah Bhuta Yadnya yaitu korban suci yang dipersembahkan kepada para Bhuta (unsur alam) yang meliputi air, api, tanah, cahaya, udara. Dalam upacara Pengerupukan disertai dengan ogoh-ogoh sebagai simbol ritual Nyepi. Simbol ini digunakan sebagai definisi upacara Bhuta Yadnya yang ditujukan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasinya sebagai buta kala. Dalam pelaksanaan upacara Pengerupukan juga ritual selalu ada binatang yang dijadikan kurban. Semakin besar upacara ritualnya yang digelar maka semakin banyak binatang yang dikurbankan. Menurut kepercayaan Hindu hewan-hewan serta tumbuhan yang digunakan untuk upacara ritual atau kurban akan mendapatkan kehidupan yang lebih tinggi di kehidupannya mendatang. Keempat, Berbicara mengenai persepsi tidak lepas dari para ahli yang mempunyai pandangan yang berbeda-beda. Yang menyebabkan pandangan yang berbeda karena tidak sesuai dengan ruang lingkup kajian disiplin ilmu masingmasing ahli serta objek kajian yang hendak diamati untuk mekaji masalah penelitian ini, penulis mencoba menganalisis berdasarkan teori-teori dan kajian psikologi sosial. Menurut Rivai (Desi Amanda 2013:10) mengemukakan bahwa Persepsi adalah suatu proses yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan-kesan indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungan mereka. Awal munculnya persepsi dimulai dari penglihatan hingga terbentuk suatu tanggapan atau pandangan yang terjadi dalam diri seseorang

6 sehingga orang tersebut dapat memberikan suatu arti dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya. Persepsi juga suatu pengalaman tentang obyek yang di dapat dalm bentuk peristiwa, kemudian hubungan- hubungan yang diperoleh dari objek tersebut di simpulkan kedalam informasi dan menafsirkan dalam bentuk pesan. Persepsi setiap individu berbeda-beda walaupun yang diamati benar-benar sama. Sehingga persepsi merupakan penafsiran suatu obyek, peristiwa atau informasi yang dilandasi oleh pengalaman hidup seseorang yang melakukan penafsiran itu. Dengan demikian dapat dikatakan juga bahwa persepsi adalah hasil pikiran seseorang dari situasi tertentu. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yaitu prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan membuat suatu rekonstruksi sosial selanjutnya menggambarkan secara sistematis objek penelitian. Dalam penelitian ini, kehadiran peneliti diketahui statusnya sebagai peneliti baik oleh subyek maupun informan. Hal ini karena teknik pengumpulan data yang digunakan berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Sumber data primer yaitu informan-informan yang mengetahui informasi-informasi penelitian seperti kalangan penjabat, petani, pedagang, dan masyarakat luar Bali lainnya yang mengetahui dan pernah melihat pelaksanaan upacara pengerupukan. Sumber data sekunder yaitu dokumen berupa buku-buku dan data dari Kecamatan Wonosari. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan Upacara Pengerupukan Upacara pengerupukan adalah, suatu upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu-Bali sebagai salah satu wujud yadnya yang dikenal dengan istilah Bhuta Yadnya yaitu korban suci yang dipersembahkan kepada para Bhuta (unsur alam) yang meliputi air, api, tanah, cahaya, udara. Dalam Upacara pengerupukan dilaksanakan dengan cara ritual mempersembahkan berupa sesaje

7 untuk dipersebahkan kepada tuhan yang maha esa agar mereka terhindar dari marabahaya Makna Upacara Pengerupukan Bagi Masyarakat Hindu-Bali Upacara pengerupukan merupakan salah satu upacara yang dilakukan setiap satu tahun sekali. Upacara ini rutin dilaksanakan oleh masyarakat Hindu- Bali yang ada di Kecamatan Wonosari. Sarana dan prasarana yang digunakan pada tingkatan-tingkatan tersebut berbeda namun makna dari pelaksanaan caru atau tawur dalam upacara pengerupukan itu sebenarnya sama saja, yakni menetralisir kekuatan-kekuatan negatif alam semesta yang ada dilingkungan masyarakat Hindu Persepsi Masyarakat Luar Bali Terhadap Upacara Pengerupukan Menurut Rivai (Desi Amanda 2013:10) yang mendefenisikan persepsi adalah suatu proses yang ditempuh individu untuk mengorganisasikan dan menafsirkan kesan-kesan indera mereka agar memberikan makna bagi lingkungan mereka. Awal munculnya persepsi dimulai dari penglihatan hingga terbentuk suatu tanggapan atau pandangan yang terjadi dalam diri seseorang sehingga orang tersebut dapat memberikan suatu arti dalam lingkungannya melalui indera-indera yang dimilikinya. Persepsi juga merupakan pandangan masyarakat mengenai sesuatu yang tidak lepas dari pengetahuan masyarakat tersebut. Sesuatu yang dimaksud ialah suatu objek yang dipengaruhi oleh kebudayaan setempat. Pandangan itu sendiri bukan merupakan bagian dari kebudayaan tetapi suatu hal yang terdapat dalam akal pikiran dan jiwa masing-masing individu atau warga masyarakat. Masyarakat merupakan sejumlah orang yang hidup dan tinggal di dalam suatu lingkungan atau daerah secara bersama. Mengenai beberapa tanggapan dari tokoh masyarakat yang bukan beragama Hindu, yakni kalangan penjabat, petani dan pedagang terhadap

8 pelaksanaan upacara pengerupukan yang dilakukan oleh masyarakat Hindu-Bali di Kecamatan Wonosari yaitu: 1. Upacara pengerupukan adalah bagian dari upacara sakral Upacara pengerupukan merupakan suatu upacara yang sakral, karena kepercayaan masyarakat Hindu-Bali di dalam ajaran Agama Hindu upacara pengerupukan adalah sebagai salah satu wujud yadnya yaitu korban suci yang dipersembahkan kepada Tuhan (Sang Hyang Widi) dan bhuta kala. Selain upacara pengerupukan sebagai ucapan terimakasih dalam hal tuhan telah menjaga dan melindungi lingkungan mereka dari marabahaya. Upacara pengerupukan juga diyakini dapat mengusir buta kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Upacara ini dilakukan dengan cara menyebar-nyebarkan nasi tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja (biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Dengan melakukan upacara tersebut agar semua roh-roh jahat atau sifat-sifat negatif yang ada di alam semesta dapat terusir dan tidak mengganggu masyarakat Hindu. 2. Upacara pengerupukan merupakan kegiatan berdoa bersama dan ucapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan oleh Tuhan. Setiap upacara atau ritual pada umumnya mengucapkan doa-doa yang dipanjatkan kepada Tuhan Yang maha Esa. Begitu juga dengan Masyarakat Hindu pada saat melakukan upacara pengerupukan selalu melakukan doa bersama yang dipimpin oleh seorang pemangku atau pemimpin agama. Mereka melakukannya secara khusyuk, ikhlas, rendah hati dan penuh keyakinan bahwa doanya akan dikabulkan oleh tuhan. Selain itu, melalui doa mereka tidak terpancang pada tempat dan bahasa,yang terpenting bagi mereka memahami akan arti doa yang mereka ucapkan. Doa yang diucapkan dalam upacara pengerupukan adalah doa-doa yang isinya memohon keselamatan terhadap diri sendiri dan masyarakat secara umum. Semua doa yang diucapkan saat pengerupukan intinya memohon kepada Tuhan agar masyarakat dan desanya selalu diberi keselamatan dari berbagai gangguan dan bencana yang terjadi, serta diberikan kebahagian dan kesejahteraan di dunia

9 dan akhirat. Adapun ucapan syukur terkandung maksud ucapan terima kasih kepada Tuhannya atas segala kenikmatan dan karunia yang telah diterima selama ini, guna menyambung hidup dan bekal untuk berbakti dan selalu melakukan persembahan kepada Tuhannya. 3. Upacara pengerupukan merupakan bagian upacara bersaji Dalam hal ini masyarakat Hindu mempersembahkan binatang untuk digunakan pada saat upacara pengerupukan. Binatang ini dipotong dan diambil darahnya untuk dipersembahkan kepada para dewa. Selain itu juga, hasil bumi berupa buah-buahan juga mereka persembahkan kepada para dewa. Masyarakat Hindu menganggap semua yang ada di alam semesta ini adalah ciptaan para dewa atau tuhan yang maha esa. Sehingga setiap melaksanakan upacara mereka selalu melakukan upacara sesaji sebagai tanda bakti terhadap para dewa atau tuhan yang maha esa. Dalam hal ini, masyarakat Hindu-Bali hewan-hewan serta tumbuhan yang digunakan untuk upacara ritual atau kurban akan mendapatkan kehidupan yang lebih tinggi di kehidupannya mendatang. Selain itu juga, Setiap pelaksaan upacara pengerupukan masyarakat Hindu-Bali mempersembahkan sesajen berupa buah-buahan dari hasil bumi yang mereka dapatkan. Masyarakat Hindu melakukan upacara ini sebagai tanda penghormatannya kepada tuhan, karena telah memberikan semua hasil bumi yang mereka dapatkan selama ini. Dalam hal ini masyarakat Hindu selalu melakukan upacara sesaji atau sesajen dalam melakukan suatu upacara. Menyembelih hewan dan mempersembahkan buah-buahan kepada para dewa itu merupakan sudah kewajiban umat Hindu pada saat melakukan suatu upacara. Masyarakat Hindu melakukan persembahan kepada para dewa karena masyarakat Hindu mengenal banyak dewa yakni brahma sebagai pencipta, wisnu sebagai pemelihara, dan siwa sebagai pelebur. Ketiga dewa ini disebut dengan tri murti dalam ajaran agama Hindu. Sehingga dalam upacara keagamaan dalam hal ini upacara pengerupukan selalu melakukan persembahan karena tuhan atau dewa telah menciptakan alam dan memelihara isi alam semesta ini. Agar alam ini tetap

10 terjaga dan para dewa tidak meleburnya maka setiap melakukan upacara pengerupukan masyarakat Hindu selalu melakukan persembahan kepada para dewanya. 4. Menggunakan simbol iblis dalam upacara pengerupukan Dalam kehidupan sehari-hari Simbol merupakan gambar, bentuk, atau benda yang mewakili suatu gagasan, benda, ataupun jumlah sesuatu. Meskipun simbol bukanlah nilai itu sendiri, namun simbol sangatlah dibutuhkan untuk kepentingan penghayatan akan nilai-nilai yang diwakilinya. Simbol dapat digunakan untuk keperluan apa saja misalnya dalam ilmu pengetahuan, kehidupan sosial, juga keagamaan. Tidak lepas dari kehidupan sosial manusia selalu menggunakan simbol. Simbol ini digunakan sebagai interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat maupun beragama. Di dalam masyarakat Hindu selalu mengunakan simbol sebaagai perlengkapan ritual. Simbol yang digunakan oleh masyarakat Hindu yakni berupa simbol iblis. Ini menimbulkan suatu tanggapan dari masyarakat luar Bali yang melihat setiap pelaksanaan upacara pengerupukan masyarakat Hindu pasti menggunakan simbol tersebut. Selain itu juga, bagi sebagian yang bukan beragama Hindu Hindu-Bali mencoba memahami atau bahkan membela penggunaan simbol-simbol dalam agama Hindu oleh lembaga Kristen di Bali. Mereka membenarkan pemakaian simbol-simbol Hindu oleh lembaga Kristen, karena dalam pandangan mereka apa yang dipraktekkan oleh orang-orang bali dewasa ini hanyalah budaya masyarakat Hindu. 5. Upacara pengerupukan tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan Adapun setiap upacara pengerupukan masyarakat Hindu setelah melakukan ritual selalu di isi dengan arakan ogoh-ogoh. Ogoh-ogoh ini merupakan salah satu kebudayaan Hindu dari hasil karya yang digunakan pada saat upacara pengerupukan oleh masyarakat Hindu yang diturunkan kepada generasi ke generasi agar dapat berkembang. Ogoh-ogoh ini diciptakan dengan berbagai wujud dan sifat yang dipergunakan dalam upacara pengerupukan.

11 Kemudian selanjutnya, ogoh-ogoh dianggap salah satu cerminan sifat-sifat negatif pada diri umat Hindu. Agar pada saat keliling desa sifat-sifat negatif yang ada pada diri umat Hindu hilang bersama ogoh-ogoh. Selain itu, ogoh-ogoh diarak keliling desanya bertujuan agar kekuatan negatif yang ada di sekitar desa mereka ikut bersama ogoh-ogoh tersebut. Masyarakat Hindu selain menggunakan ogoh-ogoh merupakan salah satu hasil karyanya yang digunakan pada saat upacara pengerupukan, gambelan juga merupakan salah satu kesenian umat Hindu yang digunakan pada saat upacara pengerupuka. Gamelan berfungsi mengiringi upacara ritual Hindu. Semua ritual keagamaan menggunakan gambelan untuk mengiringi upacara tersebut. Dalam hal ini masyarakat Hindu menggunakan gambelan pada saat upacara pengerupukan untuk mengeringi ogoh-ogoh keliling desa agar suasananya menjadi lebih ramai. Selain itu juga gambelan merupakan suatu elemen terpenting dalam melakukan upacara agar terlihat nilai relegiusnya. Selajutnya, gambelan dalam upacara pengerupukan merupakan suatu elemen yang tidak dapat dipisahkan, karena memiliki nilai relegius dimana keberadaan gambelan sebagai pengiring upacara yang diwariskan secara turun temurun oleh leluhur masyarakat Hindu. Selain itu juga, bunyi gambelan yang digunakan pada saat mengiringi suatu ritual adalah untuk membimbing pikiran agar terkonsentrasi pada kesucian, sehingga pada saat persembahyangan pikiran dapat diarahkan atau dipusatkan kepada tuhan. Gambelan digunakan pada saat upacara sebagai sarana pengiring upacara karena ensensinya adalah untuk membimbing pikiran umat ketika sedang mengikuti prosesi agar terkonsentrasi pada kesucian. 6. Biaya anggaran yang digunakan pada saat upacara pengerupukan Setelah masyarakat Hindu melakukan berbagai macam ritual dalam upacara pengerupukan sudah pasti biaya atau anggaran yang dikeluarkan cukup banyak dari persiapan upacara sampai dengan selesai. Dari persiapan membeli hewan untuk dikorbankan kemudian sarana atau simbol yang digunakan juga banyak sehingga membutuhkan banyak biaya. Tapi disisi lain itu merupakan suatu kewajiban yang dilakukan oleh masyarakat Hindu. Sehingga masyarakat

12 hindu tetap melaksanakan upacara kendatipun biaya yang dikeluarkan cukup banyak. Selain itu juga, setiap upacara pengerupukan masyarakat Hindu selalu menggunakan berbagai sarana atau simbol. Dalam pengadaan tersebut membutuhkan banyak biaya untuk membelinya. Kita juga sebagai umat beragama harus wajib melakukan suatu upacara. Tapi upacara ini tidak terlalu membebankan masyarakat Hindu karena sudah jauh hari mempersiapkan sedemikian rupa biaya yang akan digunakan pada saat upacara pengerupukan tersebut. Dari penjelasan diatas masyarakat yang bukan beragama Hindu memandang tradisi upacara pengerupukan ini bisa jadi dinilai sebagai pemborosan. Sebab, demikian besar biaya yang harus dikeluarkan untuk penyelenggaraannya. Upacara ritual ini membutuhkan banyak hewan dan tumbuhan untuk dijadikan kurban. Semakin besar ritualnya semakin banyak memotong hewan dalam upacara pengerupukan. Tapi disisi lain sebagai umat beragama harus wajib melakukan suatu upacara. Selain itu tidak membebankan masyarakat Hindu karena masyarakat Hindu sudah dari jauh hari menyediakan biaya untuk upacara tersebut. SIMPULAN DAN SARAN A. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan diatas maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut: 1. Upacara pengerupukan merupakan suatu upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu-Bali sebagai salah satu wujud yadnya yang dikenal dengan istilah Bhuta Yadnya yaitu korban suci yang dipersembahkan kepada para Bhuta (unsur alam) yang meliputi air, api, tanah, cahaya, udara. Selanjutnya makna yang terkandung dalam upacara pengerupukan yakni untuk menetralisir kekuatan-kekuatan negatif alam semesta sekaligus untuk mengusir bhuta kala atau sejenis yang suka mengganggu kehidupan manusia.

13 2. Persepsi masyarakat yang bukan beragama Hindu terhadap pelaksanaan upacara pengerupukan hampir semua mempunyai pandangan yang positif dan menganggap upacara pengerupukan bagian dari upacara yang sakral. Di balik kesakralannya masyarakat Hindu melakukan doa bersama yang dpimpin oleh pemangku yang disertai dengan persembahan sesajen kepada para dewa dan bhuta kala. Selain itu sebagian masyarakat yang bukan beragama Hindu simbol yang digunakan pada saat upacara pengerupukan ada yang menganggap simbol iblis dan simbol ogoh-ogoh. Tujuan digunakan simbol ini untuk menetralisir dan mengusir sifat-sifat negatif yang ada pada alam semesta. Sehingga simbol dalam upacara harus dipertahankan karena upacara pengerupukan tidak bisa dipisahkan dari kebudayaan dan simbol merupakan bagian dari kebudayaan masyarakat Hindu. 3. Persepsi masyarakat yang bukan beragama Hindu terhadap upacara pengerupukan dianggap sebagai pemborosan dalam melakukan upacara melihat banyak binatang dan simbol digunakan dalam upacara ini. Tapi sebagian masyarakat yang bukan beragama Hindu menganggap meskipun biaya yang dikeluarkan banyak masyarakat Hindu harus tetap melaksanakannya karena sudah merupakan kewajiban sebagai umat beragama untuk melakukan upacara. B. SARAN Setelah melakukan penelitian tentang persepsi masyarakat terhadap pelaksanaan upacara pengerupukan di Kecamatan Wonosari. Kemudian diperoleh data-data serta informasi sesuai dengan yang dibutuhkan dalam tujuan penelitian, maka beranjak dari hasil yang diperoleh tersebut. Dalam hal ini peneliti mencoba memberi suatu gambaran berupa saran yang mudah-mudahan dapat berguna bagi perkembangan pemikiran demi lancarnya suatu proses persatuan dan kesatuan bangsa. Khususnya hubungan antara suatu etnis dengan etnis lain yang menjadi satu diantara kekayaan ciri khas bangsa indonesia. Maka akan dikemukakan beberapa saran yaitu :

14 1. Kebudayaan itu merupakan sebuah warisan yang di berikan serta diajarkan oleh nenek moyang kita. Maka dari itu, ada baiknya jika kita sebagai pewaris dari kebudayaan tersebut untuk mempertahankan dan melestarikan kebudayaan yang kita miliki. Walaupun terkadang kebudayaan tersebut bertentangan dengan ajaran agama yang kita anut. Karena dapat dilihat sekarang ini, jarang sekali generasi muda yang mengetahui dan paham tentang kebudayaan-kebudayaan yang di milikinya. 2. Orang tua sebaiknya mengajarkan anaknya tentang kebudayaan yang mereka miliki, agar anak dapat mengetahui dan menghargai kebudayaan yang mereka miliki. Serta si anak menganggap bahwa kebudayaan tersebut penting untuk dilestarikan dan dipertahankan serta diwariskan ke generasi berikutnya. DAFTAR RUJUKAN Abu Ahmadi Antropologi Budaya. Surabaya: CV. Pelangi. Koentjaraningrat Kebudayaan Mentalitas Dan Pembangunan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama. Koentjaraningrat. (1972). Beberapa Pokok Antropologi Sosial, Jakarta: Dian Rakyat. Joko Tri Prasetya DKK Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Rineka Cipta. Supartono Ilmu Budaya Dasar.Jakarta: PT Ghalia Indonesia. Walgito, Bimo Psikologi Sosial. Yogyakarta: C.V Andi Offset Soerjono Soekanto Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Lexy.J. Moleong Metonologi penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakaya. Sugiono Metode Penelitian Kualitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Suarjaya, DKK Panca Yajna. Denpasar: Widya Dharma. Jelantik Oka, DKK Sanatana Hindu Dharma. Denpasar: Widya Dharma Denpasar. Ngakan Made Madrasuta Hindu Akan Ada Selamanya. Jakarta: Media Hindu. Triguna, Yudha Himpunan Dharma Wacana & Dharma Tula. Jakarta: Direktorat Jendral Bimas Hindu. Jelantik Sutanegara dan Sagung Martini Upakarana Pedanda Buddha di Bali. Denpasar: PT Mabhakti.

15 Made I Sujana dan Nyoman I Susila Manggala Upacara. Denpasar: Widya Dharma. Riyani, Ni Kadek (Skripsi). Upacara Metatah Pada Masyarakat Hindu- Bali Di Kecamatan Toili. Universitas Negeri Gorontalo. Desi Amanda Br Sitepu (Skripsi). Persepsi Masyarakat Karo Tentang Upacara Mesai Nini. Universitas Negeri medan. Renold Hasan, (Skripsi). Persepsi Masyarakat Terhadap Adat Perkawinan. Universitas Negeri Gorontalo.

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Negara Indonesia merupakan Negara yang penuh dengan keanekaragaman Suku Bangsa, Bahasa, Agama, dan Kebudayaan. Keberagaman budaya bangsa Indonesia bukan berarti untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dijumpai di masyarakat. Karya sastra ini mengandung banyak nilai dan persoalan

BAB I PENDAHULUAN. dijumpai di masyarakat. Karya sastra ini mengandung banyak nilai dan persoalan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra tradisional yang tersimpan dalam naskah lontar banyak dijumpai di masyarakat. Karya sastra ini mengandung banyak nilai dan persoalan yang berhubungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keragaman tradisi, karena di negeri ini dihuni oleh lebih dari 700-an suku bangsa

BAB I PENDAHULUAN. keragaman tradisi, karena di negeri ini dihuni oleh lebih dari 700-an suku bangsa 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Selain memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi, Indonesia juga memiliki keragaman tradisi, karena di negeri ini dihuni oleh lebih dari 700-an suku bangsa dan sub-suku

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang

1. PENDAHULUAN. Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kebudayaan adalah keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakannya untuk memahami dan menginterpretasikan lingkungan dan pengalamnnya serta menjadi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kepercayaan, keyakinan dan kebiasaan yang berbeda-beda,karena kebudayaan

I. PENDAHULUAN. kepercayaan, keyakinan dan kebiasaan yang berbeda-beda,karena kebudayaan 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Manusia dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, tidak mungkin ada kebudayaan jika tidak ada manusia. Setiap kebudayaan adalah hasil dari ciptaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir,

BAB I PENDAHULUAN. Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budaya berkenaan dengan cara manusia hidup. Manusia belajar berpikir, merasa, mempercayai dan mengusahakan apa yang patut menurut budayanya. Bahasa, persahabatan, kebiasaan

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Permasalahan

UKDW BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Permasalahan Sebagai salah satu pulau di Indonesia, Bali memiliki daya tarik yang luar biasa. Keindahan alam dan budayanya menjadikan pulau ini terkenal dan banyak

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN. suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama, ritual

BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN. suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama, ritual BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN 2.1 Pengertian Ritual Ritual adalah tehnik (cara metode) membuat suatu adat kebiasaan menjadi suci. Ritual menciptakan dan memelihara mitos, adat, sosial, dan agama,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masyarakat dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak bisa dilepaspisahkan karena,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masyarakat dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak bisa dilepaspisahkan karena, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masyarakat dan kebudayaan adalah dua hal yang tidak bisa dilepaspisahkan karena, masyarakat adalah pencipta sekaligus pendukung kebudayaan. Dengan demikian tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Islam adalah agama rahmatan lil alamin.ajarannya diperuntukkan bagi umat

BAB I PENDAHULUAN. Islam adalah agama rahmatan lil alamin.ajarannya diperuntukkan bagi umat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Islam adalah agama rahmatan lil alamin.ajarannya diperuntukkan bagi umat manusia secara keseluruhan. Ajaran Islam dapat berpengaruh bagi umat manusia dalam segala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. di Bali, perlu dimengerti sumbernya. Terdapat prinsip Tri Hita Karana dan Tri Rna

BAB I PENDAHULUAN. di Bali, perlu dimengerti sumbernya. Terdapat prinsip Tri Hita Karana dan Tri Rna 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bali telah terkenal dengan kebudayaannya yang unik, khas, dan tumbuh dari jiwa Agama Hindu, yang tidak dapat dipisahkan dari keseniannya dalam masyarakat yang berciri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budaya adalah suatu konsep yang secara formal didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman,

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budaya adalah suatu konsep yang secara formal didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budaya adalah suatu konsep yang secara formal didefinisikan sebagai tatanan pengetahuan, pengalaman, kepercayaan, nilai, sikap, makna, hirarki, agama, waktu, peranan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk, salah satu akibat

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk, salah satu akibat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang majemuk, salah satu akibat dari kemajemukan tersebut adalah terdapat beraneka ragam ritual yang dilaksanakan dan dilestarikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di Indonesia sangat kaya akan berbagai macam budaya baik itu bahasa,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Di Indonesia sangat kaya akan berbagai macam budaya baik itu bahasa, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di Indonesia sangat kaya akan berbagai macam budaya baik itu bahasa, tarian dan adat istiadat yang dimiliki oleh setiap suku bangsa juga sangat beragam. Keanekaragaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN Mustopo Habib berpendapat bahwa kesenian merupakan jawaban terhadap tuntutan dasar kemanusiaan yang bertujuan untuk menambah dan melengkapi kehidupan. Namun

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEAGAMAAN DALAM UPACARA SEDEKAH BUMI. A. Analisis Pelaksanaan Upacara Sedekah Bumi

BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEAGAMAAN DALAM UPACARA SEDEKAH BUMI. A. Analisis Pelaksanaan Upacara Sedekah Bumi BAB IV ANALISIS NILAI-NILAI KEAGAMAAN DALAM UPACARA SEDEKAH BUMI A. Analisis Pelaksanaan Upacara Sedekah Bumi Bersyukur kepada sang pencipta tentang apa yang telah di anugerahkan kepada seluruh umat manusia,

Lebih terperinci

PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP UPACARA MERTI DESA DI DESA CANGKREP LOR KECAMATAN PURWOREJO KABUPATEN PURWOREJO

PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP UPACARA MERTI DESA DI DESA CANGKREP LOR KECAMATAN PURWOREJO KABUPATEN PURWOREJO PANDANGAN MASYARAKAT TERHADAP UPACARA MERTI DESA DI DESA CANGKREP LOR KECAMATAN PURWOREJO KABUPATEN PURWOREJO Oleh: Wahyu Duhito Sari program studi pendidikan bahasa dan sastra jawa Wahyu_duhito@yahoo.com

Lebih terperinci

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat.

I.PENDAHULUAN. kebiasaan-kebiasaan tersebut adalah berupa folklor yang hidup dalam masyarakat. I.PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah Negara kepulauan, yang memiliki berbagai macam suku bangsa yang kaya akan kebudayaan serta adat istiadat, bahasa, kepercayaan, keyakinan dan kebiasaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang ada di Indonesia berbeda dengan yang ada di India, ini disebabkan oleh

BAB I PENDAHULUAN. yang ada di Indonesia berbeda dengan yang ada di India, ini disebabkan oleh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Agama Hindu adalah agama yang telah menciptakan kebudayaan yang sangat kompleks di bidang astronomi, ilmu pengetahuan, filsafat dan lain-lain sehingga timbul

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Manusia mengalami perubahan tingkat-tingkat hidup (the life cycle), yaitu masa

I. PENDAHULUAN. Manusia mengalami perubahan tingkat-tingkat hidup (the life cycle), yaitu masa 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia mengalami perubahan tingkat-tingkat hidup (the life cycle), yaitu masa anak-anak, remaja, nikah, masa tua, dan mati (Koenthjaraningrat, 1977: 89). Masa pernikahan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Etnis Bali memiliki kebudayaan dan kebiasaan yang unik, yang mana kebudayaan

I. PENDAHULUAN. Etnis Bali memiliki kebudayaan dan kebiasaan yang unik, yang mana kebudayaan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Etnis Bali memiliki kebudayaan dan kebiasaan yang unik, yang mana kebudayaan dan kebiasaan tersebut dapat dijadikan sebagai identitas atau jatidiri mereka. Kebudayaan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia adalah makhluk budaya mengandung pengertian bahwa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Manusia adalah makhluk budaya mengandung pengertian bahwa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk budaya mengandung pengertian bahwa kebudayaan merupakan ukuran dalam hidup dan tingkah laku manusia. Kebudayaan tercakup hal-hal bagaimana tanggapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pepatah Jawa dinyatakan bahwa budaya iku dadi kaca benggalaning

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pepatah Jawa dinyatakan bahwa budaya iku dadi kaca benggalaning BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam pepatah Jawa dinyatakan bahwa budaya iku dadi kaca benggalaning bangsa (kebudayaan itu menjadi cermin besar yang menggambarkan peradaban suatu bangsa). Hal ini

Lebih terperinci

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS

2015 PEWARISAN NILAI-NILAI BUDAYA SUNDA PADA UPACARA ADAT NYANGKU DI KECAMATAN PANJALU KABUPATEN CIAMIS 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Struktur masyarakat Indonesia yang majemuk menjadikan bangsa Indonesia memiliki keanekaragaman adat istiadat, budaya, suku, ras, bahasa dan agama. Kemajemukan tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebudayaan yang berbeda-beda. Koentjaranigrat (2009:144) mendefenisikan

BAB I PENDAHULUAN. kebudayaan yang berbeda-beda. Koentjaranigrat (2009:144) mendefenisikan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman budaya dan suku bangsa. Masing-masing dari suku bangsa tersebut memiliki tradisi atau kebudayaan yang berbeda-beda.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. universal artinya dapat di temukan pada setiap kebudayaan. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. universal artinya dapat di temukan pada setiap kebudayaan. Menurut BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebudayaan suatu daerah dengan daerah lain pada umumnya berbeda, dan kebudayaan tersebut seantiasa berkembang dari waktu ke waktu. Kebudayaan tersebut berkembang disebabkan

Lebih terperinci

TUGAS AGAMA DEWA YADNYA

TUGAS AGAMA DEWA YADNYA TUGAS AGAMA DEWA YADNYA NAMA ANGGOTA KELOMPOK 7 KETUT ALIT WIRA ADI KUSUMA (05) ( KETUA ) NI LUH LINA ANGGRENI (27) ( SEKETARIS ) NI LUH DIAH CITRA URMILA DEWI (14) I PUTU PARWATA (33) SMP N 2 RENDANG

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. A. Deskripsi aktivitas keagamaan menurut pemikiran Joachim Wach

BAB IV ANALISIS DATA. A. Deskripsi aktivitas keagamaan menurut pemikiran Joachim Wach BAB IV ANALISIS DATA A. Deskripsi aktivitas keagamaan menurut pemikiran Joachim Wach Dalam teori Joachim wach dapat diamati dalam tiga bentuk ekspressi keagamaan atau pengalaman beragama baik individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kalimantan, sebagaimana dengan wilayah Indonesia lainnya yang kaya akan

BAB I PENDAHULUAN. Kalimantan, sebagaimana dengan wilayah Indonesia lainnya yang kaya akan BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Kalimantan Selatan merupakan salah satu dari lima provinsi yang ada di Kalimantan, sebagaimana dengan wilayah Indonesia lainnya yang kaya akan keanekaragaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarah kehidupan manusia, kebudayaan selalu ada sebagai upaya dan

BAB I PENDAHULUAN. Dalam sejarah kehidupan manusia, kebudayaan selalu ada sebagai upaya dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam sejarah kehidupan manusia, kebudayaan selalu ada sebagai upaya dan kegiatan manusia untuk menguasai alam dan mengolahnya bagi pemenuhan kebutuhan manusia. Kebudayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai macam suku, yang memiliki seni budaya, dan adat istiadat, seperti tarian tradisional. Keragaman yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Menurut Simon Kemoni yang dikutip oleh Esten (2001: 22) globalisasi dalam bentuk yang alami akan meninggikan berbagai budaya dan nilai-nilai budaya. Globalisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat istiadat dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat istiadat dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam suku, adat istiadat dan budaya. Hal ini menyebabkan daerah yang satu dengan daerah yang lain memiliki kebudayaan

Lebih terperinci

DESKRIPSI KARYA TARI KREASI S O M Y A. Dipentaskan pada Festival Nasional Tari Tradisional Indonesia di Jakarta Convention Centre 4-8 Juni 2008

DESKRIPSI KARYA TARI KREASI S O M Y A. Dipentaskan pada Festival Nasional Tari Tradisional Indonesia di Jakarta Convention Centre 4-8 Juni 2008 DESKRIPSI KARYA TARI KREASI S O M Y A Dipentaskan pada Festival Nasional Tari Tradisional Indonesia di Jakarta Convention Centre 4-8 Juni 2008 Oleh: I Gede Oka Surya Negara, SST.,MSn JURUSAN SENI TARI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. untuk menunjukkan tingkat peradaban masyarakat itu sendiri. Semakin maju dan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. untuk menunjukkan tingkat peradaban masyarakat itu sendiri. Semakin maju dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebudayaan merupakan bagian yang melingkupi kehidupan manusia. Kebudayaan yang diiringi dengan kemampuan berpikir secara metaforik atau perubahan berpikir dengan

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan

NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat Sarjana S-1 Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ASPEK PENDIDIKAN NILAI RELIGIUS DALAM PROSESI LAMARAN PADA PERKAWINAN ADAT JAWA (Studi Kasus Di Dukuh Sentulan, Kelurahan Kalimacan, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen) NASKAH PUBLIKASI Untuk memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki adat istiadat (kebiasaan hidup) dan kebudayaan masing-masing,

BAB I PENDAHULUAN. memiliki adat istiadat (kebiasaan hidup) dan kebudayaan masing-masing, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehidupan bangsa di dunia yang mendiami suatu daerah tertentu memiliki adat istiadat (kebiasaan hidup) dan kebudayaan masing-masing, setiap bangsa memiliki

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN. 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual. Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah

BAB V KESIMPULAN. 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual. Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah BAB V KESIMPULAN 5.1 Alasan Kehadiran Rejang Sangat Dibutuhkan dalam Ritual Kuningan Pertunjukan rejang Kuningan di Kecamatan Abang bukanlah merupakan seni pertunjukan yang biasa tetapi merupakan pertunjukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hal yang tercakup seperti adat serta upacara tradisional. Negara Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. hal yang tercakup seperti adat serta upacara tradisional. Negara Indonesia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Budaya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat, budaya ada di dalam masyarakat dan lahir dari pengalaman hidup sehari-hari yang dialami oleh setiap kelompok

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sumardjo (2001:1) seni adalah bagian dari kehidupan manusia dan masyarakat.

BAB I PENDAHULUAN. Sumardjo (2001:1) seni adalah bagian dari kehidupan manusia dan masyarakat. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seni merupakan sebuah kata yang semua orang pasti mengenalnya. Beragam jawaban dapat diberikan oleh para pengamat, dan pelaku seni. Menurut Sumardjo (2001:1)

Lebih terperinci

2015 KAJIAN NILAI-NILAI BUDAYA UPACARA ADAT NYANGKU DALAM KEHIDUPAN DI ERA MODERNISASI

2015 KAJIAN NILAI-NILAI BUDAYA UPACARA ADAT NYANGKU DALAM KEHIDUPAN DI ERA MODERNISASI BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara yang terkenal dengan keanekaragaman budaya, hal ini dikarenakan Indonesia terdiri dari berbagai suku dan adat budaya. Setiap suku

Lebih terperinci

UPAYA MELESTARIKAN NILAI-NILAI BUDAYA PADA MASYARAKAT DAYAK DESA SENEBAN

UPAYA MELESTARIKAN NILAI-NILAI BUDAYA PADA MASYARAKAT DAYAK DESA SENEBAN UPAYA MELESTARIKAN NILAI-NILAI BUDAYA PADA MASYARAKAT DAYAK DESA SENEBAN Syarif Firmansyah Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial IKIP PGRI

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, ialah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN. Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, ialah BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Tinjauan Pustaka 1. Definisi Kebudayaan Kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I. Latar Belakang Penelitian. Pada dasarnya setiap manusia ingin melangsungkan pernikahan

BAB I PENDAHULUAN. I. Latar Belakang Penelitian. Pada dasarnya setiap manusia ingin melangsungkan pernikahan BAB I PENDAHULUAN I. Latar Belakang Penelitian Pada dasarnya setiap manusia ingin melangsungkan pernikahan serta memiliki keturunan, dimana keturunan merupakan salah satu tujuan seseorang melangsungkan

Lebih terperinci

BAB IV MAKNA ARUH MENURUT DAYAK PITAP. landasan untuk masuk dalam bagian pembahasan yang disajikan dalam Bab IV.

BAB IV MAKNA ARUH MENURUT DAYAK PITAP. landasan untuk masuk dalam bagian pembahasan yang disajikan dalam Bab IV. BAB IV MAKNA ARUH MENURUT DAYAK PITAP 4.1. PENDAHULUAN Bertolak dari uraian tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, dan tujuan penelitian yang terdapat dalam Bab I, yang dilanjutkan dengan pembahasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelompok atau lapisan sosial di dalam masyarakat. Kebudayaan ini merupakan suatu cara

BAB I PENDAHULUAN. kelompok atau lapisan sosial di dalam masyarakat. Kebudayaan ini merupakan suatu cara BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan manusia pada dasarnya dilatarbelakangi oleh adanya suatu sejarah kebudayaan yang beragam. Keberagaman yang tercipta merupakan hasil dari adanya berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman budaya. Terdiri

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman budaya. Terdiri BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara yang kaya akan keanekaragaman budaya. Terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan beberapa pertemuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. khas dan beragam yang sering disebut dengan local culture (kebudayaan lokal)

BAB I PENDAHULUAN. khas dan beragam yang sering disebut dengan local culture (kebudayaan lokal) 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan suatu negara kesatuan yang menganut paham demokrasi dan memiliki 33 provinsi. Terdapat lebih dari tiga ratus etnik atau suku bangsa di Indonesia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ratusan suku bangsa,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ratusan suku bangsa, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia sebagai negara kepulauan dengan ratusan suku bangsa, didalamnya memiliki keragaman budaya yang mencerminkan kekayaan bangsa yang luar biasa. Kebudayaan

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH: KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: MELASTI PENCIPTA: A.A Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si. Art Exhibition

KARYA ILMIAH: KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: MELASTI PENCIPTA: A.A Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si. Art Exhibition KARYA ILMIAH: KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA: MELASTI PENCIPTA: A.A Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si Art Exhibition Indonesian Institute of the Arts Denpasar Okinawa Prefectural University of Art OPUA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi tidak akan pernah bisa lepas dari adanya visual dan verbal. Visual ditandai dengan gambar, verbal ditandai dengan lisan maupun tulisan. Antara visual dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia serta segala masalah kehidupan tidak dapat dipisah-pisah untuk

BAB I PENDAHULUAN. manusia serta segala masalah kehidupan tidak dapat dipisah-pisah untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budaya dan kehidupan manusia merupakan satu kesatuan. Budaya dan manusia serta segala masalah kehidupan tidak dapat dipisah-pisah untuk memahami hakikat kehidupan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir

BAB I PENDAHULUAN. dalam lagi bahasa tercakup dalam kebudayaan. Bahasa menggambarkan cara berfikir BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Bahasa selalu menggambarkan kebudayaan masyarakat yang bersangkutan; lebih dalam lagi bahasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia didalam perjalanannya di dunia mengalami tiga peristiwa

BAB I PENDAHULUAN. Manusia didalam perjalanannya di dunia mengalami tiga peristiwa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia didalam perjalanannya di dunia mengalami tiga peristiwa penting, yaitu lahir, menikah dan meninggal dunia yang kemudian akan menimbulkan akibat hukum tertentu.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jubelando O Tambunan, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jubelando O Tambunan, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan negara kepulauan yang mempunyai ciri keanekaragaman budaya yang berbeda tetapi tetap satu. Indonesia juga memiliki keanekaragaman agama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari beragamnya kebudayaan yang ada di Indonesia. Menurut ilmu. antropologi, (dalam Koentjaraningrat, 2000: 180) kebudayaan adalah

BAB I PENDAHULUAN. dari beragamnya kebudayaan yang ada di Indonesia. Menurut ilmu. antropologi, (dalam Koentjaraningrat, 2000: 180) kebudayaan adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang memiliki keanekaragaman di segala aspek kehidupan. Keanekaragaman tersebut terlihat dari beragamnya kebudayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam suatu suku bangsa mempunyai berbagai macam kebudayaan, tiap

BAB I PENDAHULUAN. Dalam suatu suku bangsa mempunyai berbagai macam kebudayaan, tiap BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Dalam suatu suku bangsa mempunyai berbagai macam kebudayaan, tiap kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat yang dapat berwujud sebagai komunitas desa, sebagai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENELITIAN YANG RELEVAN A. Tinjauan Pustaka 1. Definisi Kebudayaan Kata kebudayaan berasal dari kata Sansekerta buddhayah, ialah bentuk jamak dari buddhi yang berarti budi atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. 1 Dalam kaitannya

BAB I PENDAHULUAN. sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. 1 Dalam kaitannya BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi. 1 Dalam kaitannya dengan

Lebih terperinci

JURNAL SKRIPSI. MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo)

JURNAL SKRIPSI. MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo) JURNAL SKRIPSI MAKNA RITUAL DALAM PEMENTASAN SENI TRADISI REOG PONOROGO (Studi Kasus di Desa Wagir Lor, Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo) SKRIPSI Oleh: DESI WIDYASTUTI K8409015 FAKULTAS KEGURUAN DAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sampai merauke, menyebabkan Indonesia memiliki banyak pulau. dijadikan modal bagi pengembang budaya secara keseluruhan.

BAB I PENDAHULUAN. sampai merauke, menyebabkan Indonesia memiliki banyak pulau. dijadikan modal bagi pengembang budaya secara keseluruhan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara geografis, letak Indonesia yang terbentang dari sabang sampai merauke, menyebabkan Indonesia memiliki banyak pulau. Indonesia yang terkenal dengan banyak pulau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang luas, besar, dan memiliki keanekaragaman

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia adalah negara yang luas, besar, dan memiliki keanekaragaman 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah negara yang luas, besar, dan memiliki keanekaragaman akan tradisi dan budayanya. Budaya memiliki kaitan yang erat dengan kehidupan manusia, di mana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat pesisir pantai barat. Wilayah budaya pantai barat Sumatera, adalah

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat pesisir pantai barat. Wilayah budaya pantai barat Sumatera, adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masyarakat yang tinggal disepanjang pinggiran pantai, lazimnya disebut masyarakat pesisir. Masyarakat yang bermukim di sepanjang pantai barat disebut masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hari suci tersebut seperti yang dikemukakan Oka (2009:171), yaitu. Hal ini didukung oleh penjelasan Ghazali (2011:63) bahwa dalam

BAB I PENDAHULUAN. hari suci tersebut seperti yang dikemukakan Oka (2009:171), yaitu. Hal ini didukung oleh penjelasan Ghazali (2011:63) bahwa dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada dasarnya, seluruh umat beragama memiliki hari suci. Makna hari suci tersebut seperti yang dikemukakan Oka (2009:171), yaitu memperingati suatu kejadian yang sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya akan sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Negara Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya akan sumber daya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia merupakan salah satu Negara yang kaya akan sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Negara Indonesia adalah Negara yang beranekaragam, baik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang merupakan daerah yang memiliki potensi budaya yang masih berkembang secara optimal. Keanekaragaman budaya mencerminkan kepercayaan dan kebudayaan masyarakat setempat

Lebih terperinci

Oleh I Gusti Ayu Sri Utami Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar

Oleh I Gusti Ayu Sri Utami Institut Hindu Dharma Negeri Denpasar KAJIAN PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM TRADISI NGAYAH DI TENGAH AKSI DAN INTERAKSI UMAT HINDU DI DESA ADAT ANGGUNGAN KELURAHAN LUKLUK KECAMATAN MENGWI KABUPATEN BADUNG Oleh I Gusti Ayu Sri Utami Institut

Lebih terperinci

TRADISI NYAKAN DI RURUNG DALAM PERAYAAN HARI RAYA NYEPI DI DESA PAKRAMAN BENGKEL KECAMATAN BUSUNGBIU KABUPATEN BULELENG (Kajian Teologi Hindu)

TRADISI NYAKAN DI RURUNG DALAM PERAYAAN HARI RAYA NYEPI DI DESA PAKRAMAN BENGKEL KECAMATAN BUSUNGBIU KABUPATEN BULELENG (Kajian Teologi Hindu) TRADISI NYAKAN DI RURUNG DALAM PERAYAAN HARI RAYA NYEPI DI DESA PAKRAMAN BENGKEL KECAMATAN BUSUNGBIU KABUPATEN BULELENG (Kajian Teologi Hindu) OLEH: KOMANG HERI YANTI email : heryan36@yahoo.com ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan strukturstruktur

BAB I PENDAHULUAN. keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan strukturstruktur BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebudayaan merupakan sesuatu yang turun-temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam pelaksanaan upacara perkawinan, setiap suku bangsa di Indonesia memiliki

II. TINJAUAN PUSTAKA. Dalam pelaksanaan upacara perkawinan, setiap suku bangsa di Indonesia memiliki 9 II. TINJAUAN PUSTAKA 2. Tinjauan Pustaka 2.1 Konsep Pelaksanaan Adat Perkawinan Dalam pelaksanaan upacara perkawinan, setiap suku bangsa di Indonesia memiliki dan senantiasa menggunakan adat-istiadat

Lebih terperinci

BAB III PENUTUP. dalam penulisan skripsi ini, mencoba mengambil beberapa kesimpulan yakni :

BAB III PENUTUP. dalam penulisan skripsi ini, mencoba mengambil beberapa kesimpulan yakni : BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dalam penjelasan yang tertuang dalam bab-bab terdahulu permasalahan yang diangkat dalam penulisan skripsi ini, mencoba mengambil beberapa kesimpulan yakni : Berdasarkan uraian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang terdapat pada tujuh unsur kebudayaan universal. Salah satu hal yang dialami

BAB I PENDAHULUAN. yang terdapat pada tujuh unsur kebudayaan universal. Salah satu hal yang dialami BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberagaman suku bangsa di Indonesia telah melahirkan ragamnya adat - istiadat dan kepercayaan pada setiap suku bangsa. Tentunya dengan adanya adatistiadat tersebut,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN

BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN Nilai-nilai Pendidikan Islam Dalam Tradisi Saparan di Kaliwungu Kendal BAB IV ANALISIS HASIL PENELITIAN A. Analisis Pelaksanaan Tradisi Saparan di Kaliwungu Kabupaten Kendal Pelaksanaan tradisi Saparan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara yang begitu unik. Keunikan negara ini tercermin pada setiap dimensi kehidupan masyarakatnya. Negara kepulauan yang terbentang dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pernikahan adalah salah satu peristiwa penting yang terjadi dalam

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pernikahan adalah salah satu peristiwa penting yang terjadi dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pernikahan adalah salah satu peristiwa penting yang terjadi dalam kehidupan manusia, setiap pasangan tentu ingin melanjutkan hubungannya ke jenjang pernikahan.

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI TEORETIS DAN FOKUS PENELITIAN

BAB II DESKRIPSI TEORETIS DAN FOKUS PENELITIAN BAB II DESKRIPSI TEORETIS DAN FOKUS PENELITIAN A. Deskripsi Teoretis 1. Hakikat Tradisi dan Kebudayaan Tradisi adalah adat kebiasaan turun temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Permasalahan Manusia pada zaman modern ini mungkin patut berbangga atas pencapaian yang telah diraih manusia hingga sampai pada saat ini dan kemajuan dalam segala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalami perubahan sesuai dengan dinamika peradaban yang terjadi. Misalnya,

BAB I PENDAHULUAN. mengalami perubahan sesuai dengan dinamika peradaban yang terjadi. Misalnya, BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Kebudayaan adalah sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bermasyarakat. Kebudayaan dan masyarakat akan selalu berkembang dan akan mengalami perubahan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. bangsa yang kaya akan kebudayaan dan Adat Istiadat yang berbeda satu sama lain

1. PENDAHULUAN. bangsa yang kaya akan kebudayaan dan Adat Istiadat yang berbeda satu sama lain 1. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki berbagai macam suku bangsa yang kaya akan kebudayaan dan Adat Istiadat yang berbeda satu sama lain dikarenakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian dalam kehidupan manusia telah menjadi bagian dari warisan

BAB I PENDAHULUAN. Kesenian dalam kehidupan manusia telah menjadi bagian dari warisan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kesenian dalam kehidupan manusia telah menjadi bagian dari warisan nenek moyang. Sejak dulu berkesenian sudah menjadi kebiasaan yang membudaya, secara turun temurun

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN KEBUDAYAAN

BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN KEBUDAYAAN BAB II URAIAN TEORITIS TENTANG KEPARIWISATAAN KEBUDAYAAN 2.1 Uraina Tentang Seni Kata seni berasal dari kata "SANI" yang kurang lebih artinya "Jiwa Yang Luhur/ Ketulusan jiwa". Menurut kajian ilmu di eropa

Lebih terperinci

BENTUK DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM TRADISI GUYUBAN BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA PASIR AYAH KEBUMEN

BENTUK DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM TRADISI GUYUBAN BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA PASIR AYAH KEBUMEN BENTUK DAN NILAI PENDIDIKAN DALAM TRADISI GUYUBAN BAGI KEHIDUPAN MASYARAKAT DESA PASIR AYAH KEBUMEN Oleh : Ade Reza Palevi program studi pendidikan bahasa dan sastra jawa aderezahidayat@yahoo.co.id ABSTRAK

Lebih terperinci

KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL

KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL KARYA ILMIAH : KARYA SENI MONUMENTAL JUDUL KARYA : Balinese Lamak PENCIPTA : Ni Luh Desi In Diana Sari, S.Sn.,M.Sn PAMERAN The Aesthetic Of Prasi 23 rd September 5 th October 2013 Cullity Gallery ALVA

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN KRITIS. budaya menjadi identitasnya. Apabila manusia dicabut dari budayanya, ia bukan lagi orang

BAB IV TINJAUAN KRITIS. budaya menjadi identitasnya. Apabila manusia dicabut dari budayanya, ia bukan lagi orang BAB IV TINJAUAN KRITIS Dari pemaparan pada bab-bab sebelumnya kita dapat melihat bahwa manusia selalu menyatu dengan kebudayaannya dan budaya itu pun menyatu dalam diri manusia. Karena itu budaya menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ageng Sine Yogi, 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ageng Sine Yogi, 2014 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia merupakan wilayah yang memiliki keanekaragaman kebudayaan dan masyarakat multikultural. Setiap wilayah memiliki corak dan kekhasannya masing-masing,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manusia, mitos dan ritual saling berkaitan. Penghadiran kembali pengalaman

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. manusia, mitos dan ritual saling berkaitan. Penghadiran kembali pengalaman BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ritual merupakan suatu proses pelaksanaan tradisi. Meskipun sudah ada ritual tanpa mitos-mitos dalam beberapa periode jaman kuno. Dalam tingkah laku manusia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sastra merupakan suatu bagian dari kebudayaan. Bila kita mengkaji kebudayaan

BAB I PENDAHULUAN. Sastra merupakan suatu bagian dari kebudayaan. Bila kita mengkaji kebudayaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra merupakan suatu bagian dari kebudayaan. Bila kita mengkaji kebudayaan kita tidak dapat melihatnya sebagai sesuatu yang statis, tetapi merupakan sesuatu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. masing-masing sukunya memiliki adat-istiadat, bahasa, kepercayaan,

I. PENDAHULUAN. masing-masing sukunya memiliki adat-istiadat, bahasa, kepercayaan, 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia adalah Negara kepulauan yang memiliki berbagai macam suku bangsa yang masing-masing sukunya memiliki adat-istiadat, bahasa, kepercayaan, keyakinan dan kebiasan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Budaya merupakan identitas dari komunitas suatu daerah yang dibangun dari kesepakatan-kesepakatan sosial dalam kelompok masyarakat tertentu. Budaya menggambarkan

Lebih terperinci

2015 TARI TUPPING DI DESA KURIPAN KECAMATAN PENENGAHAN KABUPATEN LAMPUNG SELATAN

2015 TARI TUPPING DI DESA KURIPAN KECAMATAN PENENGAHAN KABUPATEN LAMPUNG SELATAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Budaya lahir dan dibentuk oleh lingkungannya yang akan melahirkan berbagai bentuk pola tersendiri bagi masyarakat pendukungnya. Berbicara tentang kebudayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dan masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan pada abad ke-16. Masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia dan masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan pada abad ke-16. Masyarakat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masyarakat Tionghoa adalah salah satu kelompok masyarakat yang mendiami wilayah Indonesia dan masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan pada abad ke-16.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. budaya sebagai warisan dari nenek moyang. Kehidupan manusia di manapun

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. budaya sebagai warisan dari nenek moyang. Kehidupan manusia di manapun 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman budaya sebagai warisan dari nenek moyang. Kehidupan manusia di manapun tumbuh dan berkembang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pusat Pelestarian Kesenian Wayang Kulit Tradisional Bali di Kabupaten Badung 1

BAB I PENDAHULUAN. Pusat Pelestarian Kesenian Wayang Kulit Tradisional Bali di Kabupaten Badung 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bali sebuah pulau kecil dengan beribu keajaiban di dalamnya. Memiliki keanekaragaman yang tak terhitung jumlahnya. Juga merupakan sebuah pulau dengan beribu kebudayaan

Lebih terperinci

KEBUDAYAAN & MASYARAKAT

KEBUDAYAAN & MASYARAKAT KEBUDAYAAN & MASYARAKAT Pengantar Sosiologi FITRI DWI LESTARI MASYARAKAT Masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan. Tak ada masyarakat yang tidak memiliki kebudayaan dan sebaliknya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan memeliharanya. Salah satu cara untuk menjaga amanat dan anugrah yang Maha Kuasa yaitu

BAB I PENDAHULUAN. dan memeliharanya. Salah satu cara untuk menjaga amanat dan anugrah yang Maha Kuasa yaitu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Keanekaragaman hayati yang terdapat di bumi ini pada dasarnya merupakan amanat yang dipercaya Allah SWT kepada umat manusia. Allah SWT memerintahkan manusia untuk menjaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku X di Kabupaten Papua yang menganut tradisi potong jari ketika salah seorang anggota

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar belakang Masalah. Kehidupan kelompok masyarakat tidak terlepas dari kebudayaannya sebab kebudayaan ada

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1.Latar belakang Masalah. Kehidupan kelompok masyarakat tidak terlepas dari kebudayaannya sebab kebudayaan ada BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar belakang Masalah Kehidupan kelompok masyarakat tidak terlepas dari kebudayaannya sebab kebudayaan ada karena ada masyarakat pendukungnya. Salah satu wujud kebudayaan adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Utara yang berjarak ± 160 Km dari Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara (Medan). Kota

BAB I PENDAHULUAN. Utara yang berjarak ± 160 Km dari Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara (Medan). Kota BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kota Kisaran adalah Ibu Kota dari Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara yang berjarak ± 160 Km dari Ibu Kota Provinsi Sumatera Utara (Medan). Kota Kisaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah

BAB I PENDAHULUAN. yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kekompleksitasan Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang memiliki lingkungan geografis. Dari lingkungan geografis itulah membuat Indonesia menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang subordinatif, di mana bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan.

BAB I PENDAHULUAN. yang subordinatif, di mana bahasa berada dibawah lingkup kebudayaan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan, ada juga yang mengatakan bahwa bahasa dan kebudayaan merupakan dua hal yang berbeda, namun antara bahasa dan kebudayaan

Lebih terperinci