I. PERUM LEMBAGA PEIYYELENGGARA PELAYANAI\ NAYIGASI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "I. PERUM LEMBAGA PEIYYELENGGARA PELAYANAI\ NAYIGASI"

Transkripsi

1 PERJANJIAN KERJASAMA AI{TARA PERUSAHAA}I UMUM (PERUM) LEMBAGA PENYELENGGARA PELAYANAIY NAVIGASI PEI\ERBAIIGAN INDONESIA DAN BALAI BESAR KALIBRASI FASILITAS PENERBAIYGAI{ DIREKTORAT JEIYDERAL PERHUBUNGA}I T'DARA KEMENTERIAII PERI{UBT]NGATI TENTANG PELAKSANAAI\ KALIBRASI FASILITAS PELAYANAN NAYIGASI PENERBAI\IGAII YAIIG DIKELOLA OLEH PERUM LPPNPI Nomor: PJJ.13.01/00/LPPNPU0ln0l4l00l Nomor: HK201NS BBKFP.2014 perjanjian Kerjasama (selanjuhya disebut "Perjanjian") ini ditandatangani pada hari ini Jumat tanggal Dua Puluh Empat bulan Januari tahun Dur Ribu hnpat Bdffi Q ), oleh dan antara: I. PERUM LEMBAGA PEIYYELENGGARA PELAYANAI\ NAYIGASI PEI\ERBANGAI{ IND OIYE SIA (LPPNPI), berkedudukan di Tangerang, beralamat di Gedung 611 Tower, Jalan C3 Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang-Banten, dalam hal ini diwakili secara sah oleh Ir, Fadli Soesilo, MSi. selaku Direktur Teknik Navigasi Penerbangan PERUM LPPI{PI, yang bertindak dalam jabatannya tersebut mewakili Direksi PERUM LPPNPI, dari dan oleh karena itu sah bertindak untuk dan atas ftrma PERUM LPPNPI, dan untuk selanjutnya dalarn Perjanjian ini disebut "PERUM LPPNPI" II. BALAI BESAR KALIBRASI FASILITAS PETIERBANGAI\' DIREKTORAT JENDERAL PERHUBT]NGAN UDARA, I(EMENTERIAN PERHUBI]NGAF[, berkedudukan di Tangerang, beralarnat di Jalan Raya STPI Curug-Legok Tangerang 15820, dalam hal ini diwakili oleh Ir. BAGUS SUNJOYO, MM. selaku Kepala BALAI BESAR KALIBRASI Fasilitas Penerbangan Halaman 1 ""',"ru',,rr*r,.ff..barar BEsAR KA,rr*r., /

2 Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan, dari dan oleh karena itu sah bertindak untuk dan atas ruima Balai Besar Kalibrasi Fasilitas Penerbangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, dan untuk selanjutnya dalam Perjanjian ini disebut ''BALAI BESAR KALIBRASI'' PERUM LPPNPI dan BALAI BESAR KALIBRASI secara bersarna-sama selanjutnya disebut "PARA PIHAK' terlebih datrulu menjelaskan hal-hal sebagai berikut: a- Bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2012 Tentang Perusahaan Umum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia, pelayanan navigasi penerbangan saat ini dilakukan oleh Perum LPPNPI, sehingga aspek pelayanan yang terkait dengan pelayanan navigasi penerbangan yang sebelumnya dilayani oleh PT. Angkasa Pura I (Persero) dan PT. Angkasa Pura II (Persero), beralih ke Perum LPPNPI; b. Bahwa dalam rangka pelayanan navigasi penerbangan sebagaimana dimaksud pada hwuf a diperlukan kalibrasi secara berkala sesuai dengan peraturan perundang-undangan, terhadap fasilitas navigasi penerbangan" yang didalarnnya terrnasuk alat bantu pendaratan dan komunikasi penerbangan; c. Bahwa BALAI BESAR KALIBRASI adalah instansi Pemerintah yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, berwenang melaksanakan kalibrasi terhadap fasilitas navigasi penerbangan; d. Bahwa BALAI BESAR KALIBRASI sepakat melaksanakan Pekerjaan Kalibrasi terhadap fasilitas navigasi penerbangan yang di kelola oleh PERUM LPPNPI selama 2 (dua) tahun, terhitung mulai tanggal 1 (satu) lanuart 2014 sampai dengan Tanggal 3l Desember Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, PARA PIHAK sepakat mengadakan Perjanjian, dengan syarat dan ketentuan sebagaimana tercantum dalam pasal-pasal sebagai berikut: Halaman 2 ""',"rr,,rr*rrff...balarbesar KALTBRAsT /,f

3 Pasal l DASAR/REFERENSI PERJANJIAI{ Perjanjian ini berdasarkan atas dasar-dasar atau referensi sebagai berikut: a. Undang-Undang Nomor I Tahun 2009 tentang Penerbangan (Lembaxan Negara Tahun 2009 Nomor 1, Tambahan LembaranNegaraNomor a955); b. Peraturan Pemerintah Nomor 3 tahun 2001 tentang Keamanan dan Keselamatan penerbangan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 9, Tambahan Lembaran Negara 4A7il; c. peraturan Pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Departemen Perhubungan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 19); d. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penentuan Jumlah, Pembayaran, dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Terhutang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 19); e. Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahw 2012 tentang Perusahaan Umum (Perum) Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 2012 Nomor 176); f. Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia Nomor PM. 16 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata Kerja BALAI BESAR KALIBRASI Fasilitas Penerbangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara; g. Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara Nomor : KP. 572 Tahrn 20ll Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Penerimaan, Penyetoran, Penggunaan Dan Pelaporan Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Berlaku Pada Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Pasal2 POKOK. POKOK PERJANJIAN (l) para PIHAK dengan ini sepakat untuk melaksanakan kerjasama kalibrasi terhadap fasilitas yang terkait dengan penyelenggaraan pelayanan navigasi penerbangan yang dikelola oleh PERUM LPPNPI. HalarPan 3 ""' r"rrr rrr*r,.ffi-.balar BEsAR KA rrr-*,... /4. -.-

4 (2) Dalam melaksanakan kalibrasi, BALAI BESAR KALIBRASI menggunakan pesawat udara kalibrasi yang dilengkapi dengan peralatan laboratorium/konsul dantatau pesawat udara yang secara khusus ditugaskan melaksanakan salah satu atau beberapa j enis penerbangan kalibrasi' (3) BALAI BESAR KALIBRASI melakukan penerbangan kalibrasi terhadap fasilitas navigasi penerbangan sesuai dengan periodesasi berdasarkan peraturan perundang-undangan. (4) Dalam hal diperlukan kegiatan kalibrasi diluar periodesasi seperti dimaksud ayat (3), BALAI BESAR KALIBRASI dapat melalcukan kalibrasi berdasarkan permintaan Perum LPPNPI. Pasal3 JAFIGKA WAKTU PER.IANJIAN (1) Perjanjian ini berlaku untuk jangka waktu 2 (dua) tahun terhitung mulai tanggal I Januari 2014 sarrpai dengan tanggal 31 Desember 2015' (2) perjanjian ini akan dievaluasi setiap tatrun oleh Para Pihak dan apabila dipandang perlu dapat dilakukan perubahan berdasarkan kesepakatan Para Pihak' Pasal4 HAK DAI\[ KEWAJIBAIY PARA PIHAK (l) Hak dan Kewajiban PERUM LPPNPI: a. Mendapatkan pelayanan jasa penerbangao kalibrasi dari BALAI BESAR KALIBRASI; b. Menyampaikan daftar fasilitas navigasi pener,bangan di bandar udara yang secara bertahap masuk dalam pengelolaan PERUM LPPNPI; c. Menyampaikan pemrohonan pelaksanaan kalibrasi fasilitas navigasi penerbangan kepada BALAI BESAR KALIBRASI; d. Menyiapkan fasilitas navigasi penerbangan, surveillance dan komunikasi penerbangan dalam kondisi siap untuk dikalibrasi sesuai dengan jadwal waktu yang ditetapkan dengan rincian peralatan dan lokasi yang akan dikalibrasikan; Paraf

5 Menugaskan petugas yang bertanggung jawab membidangi teknik dan operasi yang terkait dalam setiap bandar udara untuk membantu kelancaran pelaksanaan penerbangan kalibrasi; Membayar seluruh biaya pelaksanaan penerbangan kalibrasi setelah laporan hasil kalibrasi diserahkan sesuai dengan fasilitas yang dikalibrasi, dan ferry flisht; o h. Menyediakan akomodasi crew flight kalibrasi di lokasi; Membantu BALAI BESAR KALIBRASI dalam menentukan posisi ground check point. (2) Hak dan Kewajiban BALAI BESAR KALIBRASI: a. Menerima pembayaran dari PERUM LPPNPI atas jasa kalibrasi peralatan navigasi penerbangan sesuai tarif sebagaimana tersebut dalam Pasal 5 Perjanjian ini; b. Melaksanakan kalibrasi peralatan navigasi penerbangan sesuai dengan periodesasi dan permintaan dari PERUM LPPNPI sebagaimana dimaksud dalam Pasal2 ayat(3) danayat(4); c. BALAI BESAR KALIBRASI wajib mencari rute penerbangan yang paling efisien yang disepakati oleh PERUM LPPNPI apabila lokasi peralatan yang akan dikalibrasi lebih dari satu tempa! d. Melaksanakan kalibrasi peralatan navigasi penerbangan sesuai dengan pedoman pelaksanaan penerbangan kalibrasi yang berlaku; e. Dalam hal BALAI BESAR KALIBRASI tidak dapat melaksanakan kalibrasi peralatan navigasi penerbangan dan surveillance akibat alasan teknis, maka BALAI BESAR KALIBRASI wajib menyampaikan pemberitahuan tertulis Kepada Direklorat Navigasi Penerbangan, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Kementerian Perhubungan dengan tembusan kepada PERUM LPPNPI; f. Menanggung seluruh biaya yang timbul dalam hal terjadi kegagalan akibat alasan teknis BALAI BESAR KALIBRASI yang sifatnya mendadak pada saat pelaksanaan penerbangan kalibrasi; g. Menyampaikan pemberitahuan kepada PERUM LPPNPI terhadap pelaksanaan dan penundaan penerbangan kalibrasi selambat lambatrya 3 (tiga) hari; Halaman 5 '""' r"rrr rrr*r,ff...barar BESARKA * *, -/, ---

6 j. Melaksanakan kalibrasi peralatan navigasi penerbangan yang tertunda akibat alasan teknis berdasarkan kesepakatan PARA PIHAK; Menyarrrpaikan laporan hasil pelaksanaan kalibrasi peralatan navigasi penerbangan yang mencantumkan antwa lain stafus peralatan dan waklu pelaksanaan kalibrasi berkala berikutrya kepada PERUM LPPNPI; Memberikan saran kepada PERUM LPPNPI dalam usaha meningkatkan keselamatan penerbangan termasuk penyampaian data untuk penerbitan/perubahan NOTAM; Melakukan pengecekan fasilitas navigasi penerbangan maupun fasilitas komunikasi penerbangan pada saat penerbangan kedatangan fferyy Jlight) dan melaporkan hasil pengecekan kepada teknisi lokasi sebelum dilaksanakan kalibrasi sebagai bahan masukan. Pasal5 BIAYA KALIBRASI TASILITAS NAYIGASI PENERBANGAII (l) Biayakalibrasi fasilitas navigasi penerbangan berdasarkan besaran tarif yang diatur dalam peraturan pemerintah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku Pada Departemen Perhubungan' (2) Dalam hal terdapat perubahan ketentuan tarif sebagaimana tersebut pada ayat (1) pasal ini, maka terhitung sejak ketentuan tarif yang baru diberlalnrkan, besaran tarif disesuaikan dengan ketentuan. (3) Dalam hal pelaksafturn katibrasi fasilitas navigasi terdapat pelaksanaan kalibrasi bersamaan dengan pelaksanaan kalibrasi fasilitas PAPI, biaya Ferry Flight dan akomodasi crew kalibrasi dilokasi ditanggung secara bersama-sama dengan persentase masing-masing 50o/o arltaruperum LPPNPI dengan PT. Angkasa Pura I (persero) atau pt. Angkasa Pura II (Persero) sampai dengan ditentukan lain oleh perum LppNpI dengan PT. Angkasa Pura I (Persero) atau PT. Angkasa Pura II (Persero). (4) Biaya Ferry Flight sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditagihkan oleh Balai Besar Kalibrasi kepada Perum LPPNPI dan PT. Angkasa Pura I (Persero) atau PT' Ang]<asa Pura II (Persero). Halaman 6 "*,"rr,,rr*rr.ffi..balal BEsAR KALIBRASI /

7 Pasal 6 KOORDINATOR YERIFIKASI Dalam hal pelaksaftmn kalibrasi fasilitas navigasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3) akan diverifikasi oleh masing-masing pejabat terkait Perum LPPNPI dan PT. Angkasa Pura atau PT. Angkasa Pwa II (Persero) dilokasi. Pasal 7 SA}IKSI DAI\ DENDA (1) Dalam hal PERUM LPPNPI terlambat melaksanakan pembayaran biaya kalibrasi kepada BALAI BESAR KALIBRASI melewati waktu I (satu) bulan kalender, maka PERUM LPPNPI dikenakan sanksi administrasi berupa denda sebesar 2Yo (dua persen) per bulan dari jumlah tagihan yang terhutang dan bagian dari bulan dihitung satu bulan penuh (2) Sanksi administrasi berupa denda sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dikenakan untuk paling larrn24 (dua puluh empat) bulan. (3) Sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) tersebut perhitungan denda terhitung mulai diterimanya berkas permohonan pembayaran lengkap dan sesuai. Pasal 8 LAIN _ LAIN (1) {2) Ketentuan-ketentuan sebagaimana tercantum dalam Perjanjian ini dapat diubah atas dasar kesepakatan PARA PIHAK, akan diatur dalam Addendum/Amandemen yang dibuat, setelah disetujui secara tertulis dan ditandatangani oleh yang mewakili PARA PIHAK. Hal-hal lain yang belum cukup diatur dalam Perjanjian ini termasuk penerbangan commissioning akandiatur tersendiri atas kesepakatan PARA PIHAK. t"'"t,".r, n *rt.ffi...balarbesar KALTBRAST f / Halaman 7

8 (3) Dalam hal terjadi perselisihan sehubungan dengan pelaksanaan Perjanjian ini, maka para pihak akan menyelesaikan secara musyawarah untuk mencari mufakat. Pasal 9 FORCE MAJEURE ( 1) Kegagalan para PIHAK melaksanakan kewajiban berdasarkan Perjaniian ini tidak dianggap sebagai kelataian atau pelanggaran Perjanjian apabila kegagalan tersebut disebabkan oleh for c e mai e ur e - (2) yang dimaksud dengan force majeure dalam Perjanjian ini adalah keadaan tidak terduga yang terja.di di luar kekuasaan PAIL{ PIHAK termasuk pada kebakaran, perang, pemogokan, sabotase, epidemi, huru-hara akibat politik, dan bencana alam' tetapi hanya dalam batas dimana keadaan tersebut secara langsung dan substansial mempengaruhi kemampuan pihak yang terkena untuk melaksanakan kewajibannya sesuai dengan Perjanjian ini. 3) Bila terjadi force maieure, maka pihak yang mengalami wajib memberitahukan kepada pihak yang lainnya secara tertulis disertai dengan bukti-bukti dan konfirmasi tertulis dari instansi yang berwenang dimana telah terjadi force majeure. 4\ Dalam waktu 14 (empat belas) hari kalender setetrah menerima pengajuan force majeure sebagaimana tersebut pada ayat (3), maka pihak yang menerima pengajuanfor ce maj eur e akanmenentukan sikapnya mengenai hal tersebut. 5) Dalam lfilterladiforce maieure, maka PARA PIHAK dapat mempertimbangkan kembali jangka waktu pelaksanaan pekerjaan tersebut' Pasal 10 PERUBAHAN-PERUBAHAN (1) Setiap perubahan yang merupakan perubahan lingkup pekerjaan, perubahan jangka waktu pelaksanaan, perubahan cara pembayala*, pekerjaan tambah dan/atau pekerjaan kurang, hanya dapat dilaksanakatr atas dasar kesepakatan PARA PIHAK yang dituangkan secaxa tertulis. Halaman 8 ""',"rr,,rr*rrff...bar-arbes,ar **^*, ja.

9 (2) Untuk perubahan pekerjaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus dituangkan dalam Berita Acara danlataaperjanjian Tambahan (Addendum) yang ditandatangani PARA PIHAK. Pasal 11 PENUTUP Demikian Perjanjian ini dibuat dalam 2 (dua) masing-masing mempunyai kekuatan hukum yang dikndatangani oleh PARA PIHAK- rangkap, bermeterai cukup serta sama dan berlaku terhitung sejak PERUM LEMBAGA PEN-YELENGGARA PELAYANAN NAVIGASI PENERBAIIGAI\ INDONESIA BALAI BESAR KALIBRASI FASILITASPEI\Tf, RBANGAII DITJEN PERIIUBUNGAI\ UDARA DIREKTUR TEKNIK NAVIGASI PENERBANGAN Paraf Ay - / Peru m IPPNPI BESAR KAUBRAS t -. ff-...balal I /- Halaman 9 - " -

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENENTUAN JUMLAH, PEMBAYARAN, DAN PENYETORAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG TERUTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERJANJIAN PEMBUKAAN REKENING EFEK

PERJANJIAN PEMBUKAAN REKENING EFEK Pada hari ini, hari... tanggal... di Jakarta, telah dibuat Perjanjian Pembukaan Rekening Efek, oleh dan antara : 1. PT Primasia Securities, dalam hal ini diwakili oleh Heliodorus Sungguhria, dalam jabatannya

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 67 TAHUN 2005 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 35 Undang-undang Nomor 19 Tahun

Lebih terperinci

Usulan Perubahan Anggaran Dasar Bank Permata

Usulan Perubahan Anggaran Dasar Bank Permata Usulan Perubahan Anggaran Dasar Bank Permata No. ANGGARAN DASAR PT BANK PERMATA Tbk USULAN PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT BANK PERMATA Tbk Peraturan 1. Pasal 6 ayat (4) Surat saham dan surat kolektif saham

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam menghadapi perkembangan perekonomian nasional

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/23/PBI/2009 TENTANG BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/23/PBI/2009 TENTANG BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/23/PBI/2009 TENTANG BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa perekonomian nasional perlu memiliki

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.09/MEN/2011 TENTANG TUGAS BELAJAR BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR KOPERASI KARYAWAN BISNIS INDONESIA MUKADIMAH

ANGGARAN DASAR KOPERASI KARYAWAN BISNIS INDONESIA MUKADIMAH ANGGARAN DASAR KOPERASI KARYAWAN BISNIS INDONESIA MUKADIMAH Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Karyawan PT Jurnalindo Aksara Grafika, dengan penuh kesadaran, ikhlas serta didorong oleh semangat berkoperasi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK REKLAME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MEDAN,

PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK REKLAME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MEDAN, PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK REKLAME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MEDAN, Menimbang : a. bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (2) huruf d Undang-Undang

Lebih terperinci

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA JII.ZINI%..AL REPUBLIK INDONESIA

MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA JII.ZINI%..AL REPUBLIK INDONESIA MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA JII.ZINI%..AL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL NOMOR : 11 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN KEGIATAN USAHA PANAS BUM1 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2004 TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2004 TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2004 TENTANG PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA DI LUAR NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMERIKSAAN, DAN PENYELESAIAN BANDING MEREK

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMERIKSAAN, DAN PENYELESAIAN BANDING MEREK PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMERIKSAAN, DAN PENYELESAIAN BANDING MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

MENTERI BADAN USALIA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER-07/MBU/05/2015 TENTANG

MENTERI BADAN USALIA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER-07/MBU/05/2015 TENTANG MENTERI BADAN USALIA MILIK NEGARA SALINAN PERATURAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER-07/MBU/05/2015 TENTANG PROGRAM KEMITRAAN BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN USAHA KECIL DAN PROGRAM BINA LINGKUNGAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 86 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENGENAAN SANKSI ADMINISTRATIF KEPADA PEMBERI KERJA SELAIN PENYELENGGARA NEGARA DAN SETIAP ORANG, SELAIN PEMBERI KERJA, PEKERJA,

Lebih terperinci

TENTANG BUPATI PATI,

TENTANG BUPATI PATI, PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG RETRIBUSI TEMPAT PELELANGAN IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

PERATURAN BERSAMA MENTERI KEUANGAN DAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 15/PMK.07/2014 NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN BERSAMA MENTERI KEUANGAN DAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 15/PMK.07/2014 NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN BERSAMA MENTERI KEUANGAN DAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 15/PMK.07/2014 NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG TAHAPAN PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PENGALIHAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN PEMBERI KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN PEMBERI KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 76 TAHUN 1992 TENTANG DANA PENSIUN PEMBERI KERJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Undang-undang Nomor 11 Tahun 1992

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PADANG PANJANG

PEMERINTAH KOTA PADANG PANJANG PEMERINTAH KOTA PADANG PANJANG PERATURAN DAERAH KOTA PADANG PANJANG NOMOR 8 TAHUN 2005 TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG PANJANG, Menimbang

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. No.649,2014 KEMENKUMHAM. Paspor Biasa. Surat Perjalanan. Laksana Paspor PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

BERITA NEGARA. No.649,2014 KEMENKUMHAM. Paspor Biasa. Surat Perjalanan. Laksana Paspor PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.649,2014 KEMENKUMHAM. Paspor Biasa. Surat Perjalanan. Laksana Paspor PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PASPOR

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1976 TENTANG CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1976 TENTANG CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 1976 TENTANG CUTI PEGAWAI NEGERI SIPIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa ketentuan-ketentuan mengenai cuti Pegawai Negeri Sipil yang

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG SYARAT-SYARAT PENYERAHAN SEBAGIAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 Tentang : Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan Dan Hak Pakai Atas Tanah

Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 Tentang : Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan Dan Hak Pakai Atas Tanah Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996 Tentang : Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan Dan Hak Pakai Atas Tanah Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 40 TAHUN 1996 (40/1996) Tanggal : 17 JUNI 1996 (JAKARTA)

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2009 TENTANG PEDOMAN PEMBERIAN TUGAS BELAJAR BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci