TESIS M.M. VALENTINA LIANIWATI B. NIM :

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "TESIS M.M. VALENTINA LIANIWATI B. NIM :"

Transkripsi

1 TESIS PEMBERIAN EKSTRAK BUAH NAGA MERAH (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) MENURUNKAN KADAR F 2 ISOPROSTAN PADA TIKUS PUTIH JANTAN (ALBINO RAT) YANG DIBERI AKTIVITAS BERLEBIH M.M. VALENTINA LIANIWATI B. NIM : PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2011

2 TESIS PEMBERIAN EKSTRAK BUAH NAGA MERAH (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) MENURUNKAN KADAR F 2 ISOPROSTAN PADA TIKUS PUTIH JANTAN (ALBINO RAT) YANG DIBERI AKTIVITAS BERLEBIH M.M. VALENTINA LIANIWATI B. NIM : PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2011

3 PEMBERIAN EKSTRAK BUAH NAGA MERAH (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) MENURUNKAN KADAR F 2 ISOPROSTAN PADA TIKUS PUTIH JANTAN (ALBINO RAT) YANG DIBERI AKTIVITAS BERLEBIH Tesis untuk Memperoleh Gelar Magister Pada Program Magister Program Studi Ilmu Biomedik Program Pascasarjana Universitas Udayana M.M. VALENTINA LIANIWATI B. NIM : PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI ILMU BIOMEDIK PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2011

4 TESIS Lembar Pengesahan TESIS INI TELAH DISETUJUI Pada tanggal, 18 April 2011 Pembimbing I Pembimbing II Prof.Dr.dr.Alex Pangkahila, M.Sc.,Sp.And Prof.dr.I Gusti Made Aman,Sp.FK NIP : NIP : Mengetahui Ketua Program Magister Program Pascasarjana Universitas Udayana Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana Prof.Dr.dr.Wimpie I. Pangkahila, Prof.Dr.dr. AA Raka Sudewi,Sp.S(K) Sp.And, FAACS NIP: NIP :

5 Tesis Ini Telah Diuji dan Dinilai Oleh Panitia Penguji Program Pasca Sarjana Universitas Udayana Pada Tanggal 18 April 2011 Panitia Penguji Tesis Berdasarkan SK Rektor Universitas Udayana No : 0775/UN14.4/HK/2011 Ketua Anggota : Prof.Dr.dr.Alex Pangkahila, M.Sc.,Sp.And : 1. Prof.dr.I Gusti Made Aman,Sp.FK 2. Prof.Dr.dr.Wimpie I. Pangkahila 3. Prof.dr. N. Tigeh Suryadhi, MPH, Ph.D 4. Dr.dr. Ida Sri Iswari, M.Kes

6 UCAPAN TERIMA KASIH Pertama-tama perkenankanlah penulis memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas karunia-nya tesis yang berjudul Pemberian Ekstrak Buah Naga Merah (Hylocereus Polyrhizus) Menurunkan Kadar F 2 Isoprostan Pada Tikus Putih Jantan (Albino Rat) yang Diberi Aktivitas Berlebih dapat diselesaikan. Tulisan ini disusun untuk memenuhi persyaratan tugas akhir studi yang menjalani Penulis untuk memperoleh gelar Magister pada program Magister Studi Ilmu Kedokteran Program Studi Ilmu Kedokteran Biomedik, Kekhususan Anti- Aging Medicine, Program Pascasarjana Universitas Udayana. Pada kesempatan ini perkenankanlah penulis menyampaikan rasa hormat, penghargaan, dan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Prof. Dr. dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS selaku ketua program studi Ilmu Kedokteran Biomedik Kekhususan Anti Aging Medicine Universitas Udayana dan sekaligus penguji yang telah memberikan banyak sekali masukan dan bimbingan kepada penulis selama penyusunan tesis ini. 2. Prof. Dr. dr. J. Alex Pangkahila, M.Sc., Sp.And., selaku pembimbing I dan penguji, yang telah banyak memberikan dorongan, semangat, bimbingan, dan masukan kepada penulis selama penyusunan tesis ini. 3. Prof. dr.i Gusti Made Aman, Sp.FK., selaku pembimbing II, penguji, dan kepala Laboratory Animal Unit Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran

7 Universitas Udayana, yang telah banyak memberikan bimbingan dan masukan kepada penulis selama proses penyusunan tesis ini. 4. Prof. dr. N. Tigeh Suryadhi, MPH, Ph.D., selaku penguji yang telah banyak memberikan masukan kepada penulis selama proses penyusunan tesis ini. 5. Dr.dr.Ida Sri Iswari,Sp.MK.M.Kes., selaku penguji yang telah banyak memberikan masukan kepada penulis selama proses penyusunan tesis ini. 6. Prof. Drh. Nyoman Mantik Astawa, Ph.D., Bagian Virologi, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana yang telah membantu dalam pemeriksaan laboratorium untuk pemeriksaan F2 isoprostan selama penelitian. 7. Pak Gede Wiranatha, yang banyak membantu dan menjaga tikus peneliti selama penelitian dibagian Farmakologi Universitas Udayana. 8. Ibunda tercinta, T. Mariavi D., Suami tercinta, Hadi H. Samsuria, dan kelima putra-putri saya (Stephanie Dewi, Raymond Adiwicaksana, Ronald Adiwijaya, Caroline Dewi, Richard Adinugraha),serta seluruh keluarga atas doa, dukungan, dan pengertiannya selama penulis menempuh pendidikan. 9. Semua pihak yang telah membantu penulis selama menempuh pendidikan ini. Penulis berharap tesis ini dapat memberikan manfaat bagi pribadi, bagi program pendidikan Magister Program Studi Ilmu Biomedik, Pasca Sarjana Universitas Udayana, serta bagi pihak-pihak lain yang berkepentingan. Akhir kata, semoga Allah Yang Maha Kuasa, senantiasa melimpahkan berkat dan rahmat-nya kepada kita semua. Amin. Denpasar, April 2011 Penulis,

8 M.M. Valentina Lianiwati B. ABSTRAK PEMBERIAN EKSTRAK BUAH NAGA MERAH (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) MENURUNKAN KADAR F 2 ISOPROSTAN PADA TIKUS PUTIH JANTAN (ALBINO RAT) YANG DIBERI AKTIVITAS BERLEBIH Reactive oxygen species (ROS) bisa terjadi secara fisiologis atau patologi. Aktivitas berlebih dapat mengakibatkan oksidatif stres. Oksidatif stres yang diketahui mempunyai peran penting dalam patogenesis penyakit seperti proses penuaan, infeksi, diabetes melitus. F 2 isoprostan adalah biomarker peroksidasi lipid sebagai petanda dari stres oksidatif invivo. Penelitian ini mengukur efek pemberian ekstrak buah naga merah (Hylocereus Polyrhizus) yang kaya antioksidan yaitu vitamin C,E,Carotenoid dan antosianin, dapat menurunkan kadar F 2 isoprostan pada urin tikus putih jantan (albino rat) yang diberi aktivitas berlebih. Penelitian ini adalah eksperimen nyata yang dilakukan secara random dengan sistem grup sebelum,dan setelah perlakuan dan grup kontrol, yang dilakukan di Laboratorium Binatang Fakultas Farmakologi, Universitas Udayana. Penelitian ini menggunakan tiga puluh tiga tikus putih jantan yang dikelompokkan menjadi 3 grup. Satu grup kontrol (hanya diberi aktivitas berlebih), grup yang lain diberi perlakuan dengan memberi ekstrak buah naga 150mg/kgbb dan 300mg/kgbb selama 14 hari. Oksidatif stres diperoleh dengan cara merenangkan tikus-tikus sampai hampir tenggelam Hasil penelitian ini, grup dengan pemberian ekstrak buah naga merah 150mg/kgbb menghasilkan penurunan F 2 isoprostan secara signifikan dari 3,47+ 0,54 menjadi 2,48+0,87 (p<0,05). Grup dengan pemberian ekstrak buah naga merah 300mg/kg (body weight) menghasilkan penurunan F 2 isoprostan secara signifikan dari 3,45+0,57 menjadi 0,88+0,57 (p<0,05). F 2 isoprostan meningkat pada kelompok kontrol yaitu dari 3,43+0,47 menjadi 3,55+0,28 Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa grup dengan pemberian ekstrak buah naga merah 300mg/kgBB. mengalami penurunan F 2 isoprostan lebih banyak daripada grup dengan pemberian ekstrak buah naga 150mg/kgBB. Juga pemberian ekstrak buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) dengan aktivitas berlebih menunjukkan penurunan F 2 isoprostan dibandingkan dengan hanya pemberian aktivitas berlebih. Dengan demikian maka Ekstrak buah naga merah berpotensi untuk menurunkan kadar F 2 Isoprostan, sehingga dapat memperbaiki stres oksidatif. Dapat merupakan upaya anti aging medicine dalam mencegah, dan memperlambat proses penuaan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai dasar penelitian lebih lanjut. Kata kunci: Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), F 2 isoprostan, stres oksidatif, aktivitas berlebih, tikus jantan putih.

9 ABSTRACT SUPPLEMENTATION OF RED DRAGON FRUIT (HYLOCEREUS POLYRHIZUS) EXTRACT DECREASED F 2 ISOPROSTAN LEVEL OF STRESSLY INDUCED ACTIVITY MALE ALBINO RAT. Reactive oxygen species (ROS) could be produced either from physiological or pathological process. Oxidative stress results from imbalance between ROS production and the antioxidant defence system in the body. Stressly-induced-activity can cause exogenous oxidative stress,so far has been knowed play role in pathogenesis of many diseases and condition such as Ageing prosess,infection,diabetes Mellitus. F 2 isoprostan is a stabil biomarker for lipid peroxidation as a result of oxidative stress in vivo. This current study tried to measure the effect of Red Dragon Fruit( Hylocereus Polyrhizus )that rich with antioxidant such as vitamin C, E. carotenoid, Anthocyanin in decreasing F 2 isoprostan in a stressly-induced-activity male albino rat. This research was a true experimental study with randomised pretest postest control group design,which was held at the Animal Laboratory Unit Departement of Farmacology Faculty of Medicine, Udayana University. Experimental laboratory based on thirty three male albino rats,were used in this experiment, devided into 3 groups. One group control, the other group treated with 150mg/kg (body weight) and 300mg/kg (body weight) extract flesh Hylocereus polyrhizus (dragon fruit) during 14 days. Oxydative stress was made through force nearly drawn albino rats. The result show that 150mg/kg (body weight) significantly decreased F 2 isoprostane level from 3,47+ 0,54 to 2,48+0,87 (p<0,05). The result also showed that group of 300mg/kg (body weight) significantly decreased F 2 isoprostane level from 3,45+0,57 to 0,88+0,57 (p<0,05). In this 300mg/kg (body weight) showed decreasing effect F 2 isoprostane level greater than group treated with 150mg/kg (body weigth). This could be due to the higher content of antioxidant Anthocyanin, vitamine C, β carotene, and vitamine E in the flesh of Hylocereus polyrhizus. Hylocereus polyrhizus extract has the potential in lowering F 2 Isoprostane level as a biomarker of Oxydative stress. Dragon fruit is a natural resource which play role in anti aging medicine The result of this research could be applied as a basis for further research in pursuit of more detail mechanism of Dragon Fruit. Keywords: Dragon fruit (Hylocereus polyrhizus), F 2 isoprostane, Oxydative stress, Stressly-induced activity, male albino rats.

10 DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i PRASYARAT GELAR... ii LEMBAR PENGESAHAN... iii PENETAPAN PANITIA PENGUJI... iv UCAPAN TERIMA KASIH... v ABSTRAK... vii ABSTRACT... viii DAFTAR ISI... ix DAFTAR GAMBAR... xiii DAFTAR TABEL... xiv DAFTAR SINGKATAN... xv DAFTAR LAMBANG... xvii DAFTAR LAMPIRAN... xviii BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Tujuan Umum Tujuan Khusus Manfaat Penelitian Manfaat Ilmiah Manfaat Praktis... 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Radikal Bebas Definisi Radikal Bebas Sumber Radikal Bebas Sifat Radikal Bebas Jenis-jenis Radikal Bebas... 10

11 Radikal Ion Superoksida (O 2 ) Radikal Peroksil ( OOH ) Hidrogen Peroksida (H2O2) Radikal Hidroksil ( OH) Singlet Oksigen (1O2) Tahapan Radikal Bebas Hubungan Radikal Bebas dengan Stress Oksidatif Aktifitas Fisik Definisi Aktifitas Berlebih Hubungan Aktiftas berlebih dengan Stress Oksidatif Metode perngukuran Radikal bebas oksige pada stress oksidatif F 2 Isoprostan Antioksidan Definisi Jenis Antioksidan Antioksidan Primer Antioksidan Sekunder Anti oksidan yang terkait Vitamin C Vitamin E β- Karoten Flavonoid/Polifenol Antosianin Buah Naga Sumber Buah Naga Jenis-jenis Buah Naga Kandungan Gizi Buah Naga Khasiat Buah Naga... 53

12 BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN Kerangka Berpikir Konsep Hipotesis Penelitian BAB IV METODE PENELITIAN Rancangan Penelitian Tempat dan Waktu Penelitian Populasi dan Sampel Penelitian Populasi Sampel Kriteria Penerimaan Kriteria Drop Out Besar sampel Tehnik Pengambilan Sampel Variabel Penelitian Identifikasi Variabel Klasifikasi Variabel Definisi Operasional Variabel Bahan Penelitian dan Hewan Coba Ekstrak Buah Naga Hylocereus polyrhizus Air Destilasi / Deionisasi Urin tikus iso-prostaglandin F 2 α Instrumen Penelitian Prosedur Penelitian Analisis Data BAB V HASIL PENELITIAN Uji Normalitas Data Kadar F2 Isoprostan Sebelum dan Sesudah Perlakuan... 73

13 5.2 Uji Homogenitas Varians Kadar F2 Isoprostan Antar Kelompok Sebelum dan Sesudah Perlakuan Uji Komparabilitas Kadar F2 Isoprostan Analisis Efek Pemberian Ekstrak Buah Naga Analisis efek perlakuan antar kelompok Analisis efek perlakuan antara sebelum dengan sesudah perlakuan BAB VI PEMBAHASAN Subyek Penelitian Pemberian Buah Naga Aktivitas Berlebih salah satu penyebab terjadinya stres oksidatif Pengaruh Ekstrak Buah Naga terhadap Stres Oksidatif Peran Ekstrak Buah Naga yang mengandung antioksidan terhadap kerusakan jaringan BAB VII SIMPULAN DAN SARAN DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN... 94

14 DAFTAR GAMBAR 2.1 Peroksidasi lipid pada membran sel Hubungan antara reaksi superoksid dengan nitrat oksid dan peroksidase lipid Skema respon jaringan karena kerusakan sel Skema stres oksidatif dalam penyakit Skema stres oksidatif Hubungan stres oksidatif dengan F 2 isoprostan Mekanisme Vitamin C, E. dan Carotenoid Efek langsung tidak langsung dari suplementasi blueberry yang mengurangi signal stress dan menaikkan/meningkatkan kehidupan Bagan Kerangka Konsep Penelitian Rancangan penelitian Hubungan antara variabel bebas dan terkendali Prosedur Penelitian Perbedaan rerata kadar F2 Isopropan pada kelompok sebelum dan sesudah perlakuan Perbandingan rerata kadar F2 Isoprostan antara kelompok sebelum dan sesudah perlakuan... 79

15 DAFTAR TABEL 2.1 Kandungan gizi buah naga persajian Perbandingan kandungan antioksidan daging buah segar dan kulit Aktivitas antioksidan (ORAC) dan total fenol buah-buahan tropis Perbandingan khasiat buah naga dengan buah-buahan tropis Perbandingan komposisi minyak biji Hylocereus phylorhizus Hasil uji normalitas Homogenitas kadar F 2 Isoprostan Rerata kadar F 2 isoprostan antar kelompok sebelum perlakuan Perbedaan rerata kadar F 2 isoprostan antar kelompok Beda nyata terkecilterkecil kadar F 2 isoprostan Penurunan kadar F 2 isoprostan... 78

16 DAFTAR SINGKATAN APO E ARS CHD Co Q10 DNA DPPH ESR GAE GPx HDL HNE IL-1 LDL LSD MDA NADH NK ORAC PAF-AH PUFA ROS SOD : Apolipoprotein E : Agricultural Research Service : Coronary Heart Disease : Coenzym Q10 : Deoxyribonucleic Acid : 1,1-Diphenyl-2-picrylhydrazyl : Electron Spin Resonance : Glucuronic Acid Equivalent : Glutathione Peroxidase : High Density Lipoprotein : 4-hydroxy-2 trans-nonenal : Interleukin-1 : Low Density Lipoprotein : Least Significant Difference : Malondialdehyde : Reduced nicotinamide adenine dinucleotide : Natural killer (cell) : Oxygen Radical Absorbance Capacity : Platelet Activating Factor - Acetyl Hidrolase : Polyunsaturated Fatty Acid : Reactive Oxygen Species : Superoxide Dismutase

17 TBARS TE TNF VLDL : Thiobarbituric acid-reactive substances : Trolox Equivalent : Tumour Necrosis Factor : Very Low Density Lipoprotein

18 DAFTAR LAMBANG α : Alfa β : Beta % : Persen

19 DAFTAR LAMPIRAN 1. Uji Normalitas Data Analisis One Way ANOVA terhadap F2 isoprostan sebelum diberi ekstrak buah naga dan aktivitas berlebih Analisis One Way ANOVA terhadap F2 isoprostan sesudah diberi ekstrak buah naga dan aktivitas berlebih Laporan Hasil Uji Keterangan Kelaikan Etik Konversi Perhitungan Dosis untuk beberapa jenis hewan dan manusia

20 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan berbagai perubahan baik alam maupun kondisi lingkungan maka banyak terjadi perubahan yang mendadak dan beban pekerjaan yang berat ini akan mempengaruhi proses penuaan. Di samping itu penemuan mutakhir di berbagai bidang, khususnya dibidang teknologi dan kedokteran, menyebabkan perbaikan dibidang kesehatan dan peningkatan yang cukup berarti pada populasi usia lanjut di seluruh dunia. Makin bertambahnya usia, maka terjadi perubahan fisik dan penurunan berbagai fungsi tubuh mulai dari tingkat seluler,organ maupun sistem tubuh. Anti aging medicine berpendapat dan memperlakukan penuaan sebagai suatu penyakit yang dapat dicegah, dihindari, dan diobati, sehingga dapat kembali kekeadaan semula (Pangkahila, 2007) (Goldman dan Klatz, 2007). Berbagai faktor yang menyebabkan orang menjadi tua pada proses penuaan dikelompokkan menjadi faktor internal dan faktor eksternal. Beberapa faktor internal adalah radikal bebas, berkurangnya hormon, proses glikosilasi, metilasi, apoptosis, genetik dan menurunnya sistim kekebalan tubuh. Faktor eksternal meliputi gaya hidup yang tidak sehat, kebiasaan salah, polusi lingkungan, stres, dan kemiskinan (pangkahila, 2007). Penuaan menimbulkan berbagai penyakit (Fowler, 2003). Sampai saat ini, berbagai studi dilakukan terkait proses penuaan dalam pencapaian peningkatan kesehatan, kualitas hidup dengan pencegahan, pengobatan dan bahkan 1 pengembalian fungsi seperti semula (reverse aging) (Pangkahila, 2007).

21 Beberapa faktor penyebab penuaan, yaitu faktor eksternal (gaya hidup, diet yang tidak sehat, polusi lingkungan, stres, dan kemiskinan) dan faktor internal (radikal bebas, berkurangnya hormon dan sistem kekebalan tubuh, proses glikosilasi, metilasi, apoptosis, dan genetik) (Pangkahila, 2007). Faktor-faktor ini dapat menyebabkan penyakit dan kematian. Salah satu teori proses penuaan disebabkan radikal bebas. Dengan meningkatnya usia, produksi radikal bebas secara fisiologis dihasilkan metabolisme tubuh cenderung meningkat, sementara produksi antioksidan yang diperlukan untuk menetralisir radikal bebas di dalam sel ataupun antioksidan asupan dari luar seringkali cenderung berkurang. Ketidak-seimbangan antara radikal bebas dan antioksidan ini disebut stres oksidatif. Ketidak-seimbangan tersebut akan mengakibatkan kerusakan komponen selular, termasuk lipid, protein, karbohidrat dan DNA, menyebabkan patogenesis berbagai penyakit (Halliwell dan Gutteridge, 2007) termasuk diabetes, aterosklerosis (Kesavulu, 2001), kanker. Dibuktikan bahwa olahraga dapat menyembuhkan penyakit jantung dan hipertensi, walaupun olahraga berat meningkatkan ROS (reactive oxygen species) dalam jaringan, dan 2-5% oksigen yang dipakai dalam metabolisme menjadi ion superoksid. Pembentukan ROS akibat olahraga yang berlebih dapat menyebabkan kerusakan sel dan modifikasi molekul termasuk DNA, membran lipid, dan protein. Perlindungan dari serangan ROS yang disebabkan olahraga berlebih merupakan respons jaringan untuk meningkatkan aktivitas sekelompok enzim antioksidan, guna melindungi sel dari kerusakan ROS.

22 Peroksidasi lipid ikut bertanggung jawab pada kerusakan jaringan, yang merupakan reaksi berantai dan dapat menghasilkan berbagai pasokan radikal bebas sehingga mencetuskan reaksi oksidasi selanjutnya. Diinisiasi oleh endoperoksid dan aldehid, peroksidasi lipid merusak komponen membran sel yang mengandung asam lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fatty acid). Beberapa hasil hidrolisis reaksi ini adalah etan, pentan, 4-hydroxy-2-transnonenal (HNE), Malondialdehyde (MDA), dan berbagai aldehid lain (Baraas, 2006; Ann dan Carol, 2008). Beberapa cara dipakai untuk mengukur kadar lipid peroksidasi, antara lain MDA, HNE, TBARS, F 2 isoprostan, Acrolein lysin (Ann, dan Carol, 2008) F 2 isoprostan banyak dipakai untuk mengukur kadar reaksi lipid peroksidasi, dan memiliki implikasi penting untuk petanda biologis, karena pengukuran F 2 - isoprostan lebih mudah dan stabil sehingga dapat diandalkan untuk menilai status stress oksidatif in vivo. Pemeriksaan ini dapat dilakukan melalui plasma dan urin. (Halliwell dan Gutteridge, 2007) Upaya pencegahan dan penanggulangan stres oksidatif, saat ini dapat digunakan antioksidan. Berbagai macam penggolongan antioksidan,yaitu antioksidan primer (SOD, GPx,) dan antioksidan sekunder (vitamin C, β Karoten, vitamin E, sistein, Co Q10, flavonoid), dan antioksidan tersier (Metionin sulfoksida reduktase) (Winarsi, 2007). Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) adalah salah satu jenis buah yang cukup unik dan banyak manfaatnya, yang akhir-akhir ini digemari masyarakat dan dipercaya mengandung antioksidan yang cukup baik. Kulit buah naga merah

23 merupakan sumber vitamin C dan daging buah merah kaya anthosianin, polyfenol, dan fitoalbumin, serta mengandung mineral, serat, fosfor, dan kalsium. Biji buah naga merah juga mengandung vitamin E dan polyunsaturated fatty acids (Ariffin et al, 2008). Buah naga merah sebagai substansi makanan untuk nasi dan sumber serat sehari-hari bagi pasien, dan dapat meningkatkan ekskresi toksin logam berat, menurunkan kolesterol dan tekanan darah. Penelitian menunjukkan bahwa buah naga merah dapat menurunkan MDA-TBAR hati tikus yang hiperkolesterolemia (Sani et al, 2009). Studi menerangkan bahwa antioksidan antiinflamasi polifenol dari dalam buah dan sayur bermanfaat mencegah proses penuaan. Hasil penelitian (Wu et al, 2006) buah naga mempunyai efek antioksidan dan anti proliferatif, berpotensi menghambat pertumbuhan sel tumor B 16 F 10 sel melanoma. Melihat alasan di atas, peneliti tertarik untuk mempelajari manfaat buah naga merah yang mengandung antosianin untuk mengurangi akibat stres oksidatif dengan mengukur plasma F 2 isoprostan pada tikus putih jantan (albino rat), untuk dipertimbangkan dalam perencanaan nutrisi diet anti aging. Stres oksidatif pada penelitian ini dilakukan pada tikus putih jantan dengan aktivitas berlebih.. Penelitian ini dilakukan mengingat fungsinya bagi kesehatan dan pencegahan penuaan, cukup aman dan dapat ditanam di Indonesia. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang tersebut di atas dapat di rumuskan masalah sebagai berikut:

24 1. Apakah pemberian ekstrak buah naga merah menurunkan kadar F 2 isoprostan pada urin tikus putih jantan dengan aktivitas berlebih? 2. Apakah dosis ekstrak buah naga merah 300mg/kgbb menurunkan kadar F 2 isoprostan lebih besar dibandingkan dosis 150/kgbb pada tikus putih jantan dengan aktivitas berlebih? 1.3. Tujuan Penelitian Tujuan Umum Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian ekstrak buah naga merah sebagai antioksidan, dapat memperbaiki stres oksidatif yang terjadi pada tikus putih jantan dengan aktivitas yang berlebih Tujuan Khusus Penelitian ini bertujuan: 1. Untuk mengetahui pemberian ekstrak buah naga merah dapat menurunkan kadar F 2 isoprostan pada urin tikus putih jantan dengan aktivitas berlebih. 2. Untuk mengetahui pemberian ekstrak buah naga merah dengan dosis 300mg/kgbb menurunkan F 2 isoprostan lebih tinggi dibanding dosis 150mg/kgbb pada urin tikus putih jantan dengan aktivitas berlebih Manfaat Penelitian Manfaat Ilmiah 1. Menambah wawasan pengetahuan tentang pengaruh pemberian ekstrak buah naga merah dalam dunia kedokteran khususnya di bidang anti aging

25 medicine karena bermanfaat sebagai antioksidan untuk menurunkan kadar F 2 isoprostan. 2. Hasil penelitian ini dapat dipakai sebagai acuan penelitian selanjutnya untuk mengetahui dosis efektif pemberian ekstrak buah naga merah dalam menurunkan F 2 isoprostan pada urin tikus putih jantan Manfaat Praktis Buah naga merah sebagai antioksidan dalam penelitian ini bermanfaat bagi nutrisi anti aging dan dapat disebarluaskan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Radikal Bebas Definisi Radikal Bebas

26 Radikal bebas merupakan salah satu bentuk spesies oksigen reaktif, yang secara umum diketahui sebagai senyawa yang memiliki elektron tidak berpasangan. Senyawa ini terbentuk dalam tubuh, dipicu oleh bermacam-macam faktor. Radikal bebas adalah atom atau molekul yang memiliki elektron yang tidak berpasangan (unpaired electron) pada bagian terluar orbitnya, sehingga menjadi komponen yang tidak stabil dan sangat reaktif (Winarsi, 2007; Pham-Huy et al, 2008). Elektron yang tidak berpasangan ini akan berusaha menarik elektron dari molekul lainnya untuk mendapatkan kembali konfigurasi pasangan elektron, oleh karena itu radikal bebas sangat kreatif. Sebuah radikal bebas yang berhasil mengambil elektron dari suatu molekul lain yang stabil, akan menyebabkan molekul tersebut kehilangan satu elektron dan berubah menjadi radikal bebas baru. Proses berantai ini dapat menyebabkan perubahan struktur pada molekul lainnya (Pham-Huy et al, 2008) Sumber Radikal Bebas 7 Pembentukan radikal bebas dapat berasal dari dalam tubuh dan diluar tubuh. Sumber radikal bebas (Pham-Huy et al, 2008): 1. Radikal bebas yang berasal dari dalam tubuh, yang timbul akibat berbagai proses enzimatik di dalam tubuh, berupa hasil sampingan dari proses

27 oksidasi atau pembakaran sel yang berlangsung pada proses respirasi, proses pencernaan dan proses metabolisme. Diproduksi oleh mitokondria, membran plasma, lisosom, retikulum endoplasma, dan inti sel. 2. Radikal bebas yang berasal dari dalam tubuh, yang timbul akibat berbagai proses non-enzimatik di dalam tubuh, merupakan reaksi oksigen dengan senyawa organik dengan cara ionisasi dan radiasi. Contohnya adalah proses inflamasi dan iskemia. 3. Radikal bebas yang berasal dari luar tubuh didapat dari polutan, seperti asap rokok, asap kendaraan bermotor, radiasi sinar matahari, makanan berlemak, kopi, alkohol, bahan racun pestisida, dan masih banyak lagi yang lainnya. Peningkatan radikal bebas pun dapat dipicu oleh stress atau aktivitas berlebihan Sifat Radikal Bebas Radikal bebas memiliki dua sifat yaitu: 1. Reaktivitas tinggi, karena kecenderungannya menarik elektron. 2. Dapat mengubah suatu molekul menjadi suatu radikal oleh karena hilangnya atau bertambahnya satu elektron pada molekul lain. Namun perlu diingat bahwa radikal bebas adalah oksidan, tetapi tidak setiap oksidan adalah radikal bebas. Hal ini disebabkan oleh kedua sifat radikal bebas diatas, yaitu reaktivitas yang tinggi dan kecenderungan membentuk radikal baru, yang pada gilirannya nanti apabila menjumpai molekul lain akan membentuk

28 radikal baru lagi, sehingga terjadilah reaksi rantai (chain reaction) (Halliwell dan Gutteridge, 2007) Perusakan sel oleh radikal bebas reaktif didahului oleh kerusakan membran sel, dan terjadi rangkaian proses sebagai berikut: 1. Terjadi ikatan kovalen antara radikal bebas dengan komponen-komponen membran (enzim-enzim membran, komponen karbohidrat, membran plasma) sehingga terjadi perubahan struktur dan fungsi reseptor. 2. Oksidasi gugus tiol pada komponen membran oleh radikal bebas yang menyebabkan proses transport terganggu. 3. Reaksi peroksidasi lipid dan kolesterol membran mengandung asam lemak tidak jenuh majemuk atau poly unsaturated fatty acid (PUFA). Hasil peroksidasi lipid membran sel antara lain dengan mengubah fluiditas, cross-linking, struktur dan fungsi membran bergantung pada populasi sel yang bersangkutan dan profil asam lemak pada membran fosfolipid. Contoh, membran mitokondria dan mikrosom sensitif terhadap peroksidasi lipid karena kandungan PUFA pada fosfolipid membran cukup tinggi. Umumnya semua membran peka terhadap reaksi peroksidasi lipid dalam derajat yang berbeda-beda. Kerusakan struktur subseluler secara langsung mempengaruhi pengaturan metabolisme. Sebagai contoh adalah disrupsi membran lisosom menyebabkan pelepasan enzim-enzim hidrolitik lisosom yang selanjutnya mampu menjadi perantara kerusakan intraseluler, dan memperkuat kemampuan radikal bebas dalam menginduksi kerusakan sel (Halliwell dan Gutteridge, 2007).

29 Jenis-Jenis Radikal Bebas Radikal Ion Superoksida (O 2 ) Radikal ion superoksida disebut juga anion superoksida. Senyawa ini diproduksi dibeberapa tempat yang memiliki rantai transpor elektron. Oksigen teraktivasi dapat terjadi dalam berbagai bagian sel, termasuk mitokondria, kloroplas, mikrosom, glikosom, peroksisom, dan sitosol. Oleh sebab itu, tidak mengherankan jika ditemukan enzim superoksida dismutase dalam subseluluer tersebut. Ion superoksida yang terbentuk dalam kloroplas, mitokondria, dan peroksisom merupakan bentuk senyawa oksigen yang sangat reaktif Radikal Peroksil ( OOH ) Ion superoksida tidak terlalu reaktif bila dibandingkan dengan perubahannya yang berupa radikal peroksil yang sangat reaktif dan lebih berbahaya daripada H 2 O Hidrogen Peroksida (H 2 O 2 ) Hidrogen peroksida terbentuk karena aktivitas enzim-enzim oksidase yang mengatalisis reaksi dalam retikulo endoplasmik (mikrosom) dan peroksisom. Hidrogen peroksida merupakan senyawa oksidan yang sangat kuat dan dapat mengoksidasi berbagai senyawa dalam sel, seperti glutation. Hidrogen peroksida tidak hanya bersifat sebagai oksidator, melainkan juga dapat membentuk radikal bebas, bila bereaksi dengan logam transisi seperti Fe ++ dan Cu + dalam reaksi Fenton.

30 Efek negatif yang lain dari oksidator hidrogen peroksida adalah kemampuannya untuk membentuk ion hipoklorit (ClO - ) melalui reaksi katalisis oleh enzim mieloperoksidase dalam sel inflamasi, seperti granulosit, monosit, dan makrofag. H 2 O 2 merupakan salah satu bentuk senyawa oksigen reaktif yang terbentuk non-radikal. Akhir-akhir ini senyawa tersebut dilaporkan dapat menghambat pertumbuhan dan apoptosis dalam sejumlah sel.(halliwell dan Gutteridge,2008) Radikal Hidroksil ( OH) Keberadaan senyawa H 2 O 2 dapat berbahaya bila bersama-sama ion superoksida karena akan membentuk radikal hidroksil (OH ) melalui reaksi Haber-Weiss. Dari berbagai bentuk senyawa oksigen reaktif tersebut, radikal hidroksil merupakan senyawa paling reaktif dan berbahaya. Radikal hidroksil bukan merupakan produk primer proses biologis, melainkan berasal dari H 2 O 2 dan (O 2 ) Singlet Oksigen ( 1 O 2 ) Singlet oksigen merupakan bentuk oksigen yang memiliki reaktivitas jauh lebih tinggi dibandingkan dengan oksigen bentuk ground state. Senyawa ini akan terbentuk melalui reaksi yang dikatalisis oleh enzim-enzim seperti berikut: a. Enzim monooksigenase yang menggunakan sitokrom P 450 dengan substrat peroksida. 2ROOH 2ROH + 1 O 2

31 b. Enzim prostaglandin endoperoksida sintetase, yaitu suatu enzim yang bekerja dalam pembentukan prostaglandin dari asam arakidonat. 2PGG 2 2PGH O 2 c. Enzim mieloperoksidase, yang mengkatalisis reaksi ion hipoklorit dengan H 2 O 2 H 2 O 2 + Cl - H 2 O + ClO - ClO - + H 2 O 2 H 2 O + ClO O 2 2H 2 O 2 2H 2 O + 1 O 2 Seringkali pengertian oksidan dan radikal bebas dianggap sama karena keduanya memiliki kesamaan sifat. Kedua jenis senyawa ini memiliki aktivitas yang sama dan memberikan akibat yang hampir sama, meskipun melalui proses yang berbeda. Oksidan yang dapat merusak sel berasal dari berbagai sumber, (Halliwell 2007) yang berasal dari tubuh sendiri, yaitu senyawa-senyawa yang sebenarnya berasal dari proses fisiologis, namun dalam jumlah besar karena sesuatu sebab. Yang berasal dari proses peradangan dan yang berasal dari luar tubuh. Oksidan adalah penerima elektro, sedangkan radikal bebas memiliki elektron yang tidak berpasangan, mempunyai kecenderungan menarik elektron. Sebenarnya, tubuh manusia dapat menetralisir radikal bebas ini, hanya saja bila jumlahnya terlalu berlebihan, maka kemampuan untuk menetralisirnya akan semakin berkurang. Radikal bebas mengambil elektron dari sel tubuh manusia, dapat menyebabkan perubahan struktur DNA sehingga timbullah sel-sel mutan.

32 2.1.5 Tahapan Radikal Bebas Tahapan reaksi pembentukan radikal bebas melalui 3 tahapan sebagai berikut yaitu (Murray, 2003): 1. Tahap Inisiasi : suatu proses terbentuknya radikal bebas baru yang dicetuskan oleh suatu senyawa radikal bebas yang ada sebelumnya ROOH + logam (n)+ ROO. + logam (n-1)- + H + X. + RH R. + XH 2. Tahap Propagasi : reaksi berantai radikal bebas sehingga membentuk beberapa radikal bebas baru. R. + O 2 ROO ROO. + RH ROOH + R. 3. Tahap Terminasi : bereaksinya senyawa radikal dengan radikal lain sehinggga potensi propagasinya rendah. ROO. + ROO. ROOR + O 2 ROO. + R. ROOR R. + R. RR Bila ini terjadi bertahun-tahun, maka dapat menjadi penyakit kanker. Tubuh manusia, sesungguhnya dapat menghasilkan antioksidan tetapi jumlahnya sering sekali tidak cukup untuk menetralkan radikal bebas yang terbentuk di dalam tubuh.

33 2.1.6 Hubungan Radikal Bebas dan Stres Oksidatif Stres oksidatif disebabkan oleh ketidakseimbangan antara produksi reaktif oksigen dan sistem biologis reaktif untuk kemampuan memperbaiki kerusakan. Gangguan dalam keadaan redoks normal ini dapat menyebabkan efek toksik melalui produksi peroksida dan radikal bebas yang merusak semua komponen sel, termasuk protein, lipid, dan DNA. Pada manusia, stres oksidatif berkontribusi pada proses penuaan dan terjadinya penyakit terkait dengan proses degeneratif, seperti aterosklerosis, penyakit Parkinson, gagal jantung, infark miokard, penyakit Alzheimer, dan sindrom kelelahan kronis (Baraas, 2006). Gambar 2.1 Peroksidasi Lipid pada Membran Sel

34 (dikutip dari Baraas, 2006) Radikal bebas oksigen terutama mengancam membran sel berupa peroksidasi terhadap asam lemak majemuk tidak jenuh pada fosfolipid membran, rusaknya berbagai protein dan enzim-enzim karena terbentuknya ikatan disulfid dari sulfidril asam amino yang labil (terutama metionin, histidin, sistin dan lisin) dan juga terjadinya mutasi kode genetik pada DNA. Seperti telah kita ketahui, ikatan hidrokarbon yang berada di antara 2 ikatan rangkap pada asam lemak mejemuk tidak jenuh dari membran sel-sel ataupun LDL (seperti misalnya, asam linoleat, asam linolenat dan asam arakhidonat) mempunyai energi disosiasi yang lebih rendah, sehingga mudah dipecah atau bereaksi dengan radikal bebas hidroksil. Mulailah terjadi fase propagasi reaksi berantai yang menghasilkan berbagai radikal karbon dan selanjutnya mengalami proses oksidasi menjadi radikal peroksil. Radikal peroksil akan bereaksi kembali dengan asam lemak majemuk tidak jenuh pada membran sel membentuk berbagai radikal karbon kembali, demikian seterusnya.(murray, 2003) Reaksi berantai yang sangat reaktif itu hanya akan berhenti, apabila radikal peroksil mengalami terminasi dan berubah menjadi peroksida lipid, berupa HPETE (asam hidroperoksi-eikosatetraenoat). Fase terminasi itu dikatalisasi oleh enzim-enzim paraoksonase, glutation peroksidase, PAF-AH (platelet activating factor acetylhydrolase) ataupun vitamin E, yang banyak terdapat dalam HDL dan LDL. Selanjutnya peroksida lipid mengalami proses hidrolisis menjadi etan, pentan, HNE (4-hydroxy-2-trans-nonenal), MDA (malondialdehyde), berbagai aldehid lain, dan sebagainya. Sebagian radikal karbon bisa mengalami proses

35 reduksi membentuk senyawa diene dan radikal peroksil bisa direduksi menjadi berbagai isomer F 2 -isoprostan. Senyawa-senyawa hasil reduksi atau hidrolisis tersebut kini sering digunakan sebagai marka adanya proses stres oksidatif berupa peroksidasi lipid. Gambar 2.3 Hubungan antara Reaksi Superioksid dengan Nitrit Oksid dan Peroksidase Lipid. (dikutip dari Baraas, 2006)

36 Respons imunologik merupakan mekanisme pertahanan tubuh yang sangat sensitif, dimana perubahan tekanan yang sangat ringan saja pada permukaan endotel, akan segera direspons sebagai proses inflamasi, walaupun respons itu mungkin hanya sesaat dan tidak berkelanjutan. Respons paling awal endotel pada proses inflamasi ialah mensintesis berbagai vasoaktif, dan mediator imunologik berupa mediator tromboregulator dan mediator proliferasi sel. Kedua respons endotel ini berhubungan erat sekali satu sama lain dan berada dalam suatu keseimbangan yang sangat dinamik. Respons paling awal terhadap lesi pada sel-sel endotel ialah aktivasi enzim nitrik oksid sintase (NOS) untuk memproduksi gas nitrik oksid. Respons awal ini terjadi hanya dalam beberapa detik saja. Produksi nitrik oksid meningkat sesaat dan menyebabkan vasodilatasi untuk mengimbangi vasokonstriksi yang terjadi sebelumnya. Peroksidasi lipid dapat dideteksi melalui pemeriksaan berbagai marka yang dihasilkan dalam reaksi berantai itu, salah satunya F 2 isoprostan. 2.2 Aktivitas Fisik Definisi Aktivitas fisik ada 2 macam: 1. Aktivitas fisik yang dilakukan secara mendadak (acute exercise) 2. Aktivitas fisik yang dilakukan secara berulang (training exercise) Aktivitas fisik yang ringan, sedang, atau cukup berat akan direspon oleh tubuh baik secara fisiologik maupun biomolekuler. Ketika melakukan aktivitas fisik yang cukup berat (misalnya tes treadmil), terjadilah peristiwa mirip dengan fenomena iskemia-reperfusi itu, dimana peningkatan penyediaan oksigen (oxygen

37 supply) sering kali tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen (oxygen demand). Fenomena ini disebut sebagai fase iskemia.sementara itu peningkatan penyediaan oksigen yg tinggi justru akan meningkatkan pembentukan radikal bebas oksigen bahkan bisa mencapai 10x lipat (fenomena ini disebut fase reperfusi). Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa aktivitas fisik yang berat dapat menyebabkan stres oksidatif dimana produksi radikal bebas oksigen meningkat secara bermakna (Baraas, 2006). Setelah aktivitas yang berkaitan dengan stres oksidatif, terjadi respon inflamasi terutama setelah 24 jam sejak saat selesai aktivitas dan sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap kerusakan oleh aktivitas tersebut. Terjadi pula kondisi hipoksia relatif di jaringan organ dalam, karena retribusi aliran darah ke otot berkurang, hal ini akan meningkatkan pembentukan radikal superoksid, yang akan mengaktifkan jalur xanthin oksidase Aktivitas Berlebih Latihan yang berlebih atau over training / burnout adalah suatu keadaan dimana terjadi kelelahan kronis selama aktivitas yang melebihi kemampuan individual sampai menimbulkan cedera otot biasanya terjadi sebelum akhir dari kompetisi (Vincen et al, 2000; Prentice, 2011). Tanda dan gejala aktivitas berlebih : 1. Tanda pada Penampilan - Penurunan konsistensi penampilan (performance) - Kelelahan menetap dan menjadi lambat

38 - Penyembuhan yang lama dan luar biasa yang dibutuhkan setelah pertandingan - Penampilan yang tidak konsisten 2. Gejala Fisik - Penurunan kapasitas maksimal kerja - Insomnia - Nyeri kepala dan nyeri perut - Kekakuan dan nyeri otot atau persendian - Konstipasi dan diare - Kehilangan selera dan masa tubuh - Amenorhea - Kenaikan denyut nadi pada waktu bangun tidur 3. Gejala Psikis - Depresi - Apatis - Penurunan kepercayaan diri - Emosi yang tidak stabil - Kesulitan konsentrasi - Kehilangan gairah bertanding Selama aktivitas fisik berlebih, konsumsi oksigen meningkat lebih dari 10 kali lipat bahkan sampai 20 kali dibandingkan saat istirahat disertai peningkatan

39 konsumsi oksigen didalam otot meningkat sampai kali lebih besar dibandingkan saat istirahat. Setelah aktivitas, yang berkaitan dengan stres oksidatif, terjadi respon inflamasi terutama setelah 24 jam sejak saat selesai latihan dan sistem kekebalan tubuh bereaksi terhadap kerusakan oleh latihan tersebut setelah 2-7 hari, dan selama itu terjadi proses adaptasi yang dapat membuat lebih sehat. Selama periode tersebut, neutropil berperan penting dalam pertahanan jaringan. Neutropil berpindah ke tempat trauma secara kemotaktil yang dihasilkan oleh sel yang rusak, dan melepaskan radikal superoksid dan lisozim. Pada aktifitas berlebih fisik, terjadi kondisi hipoksia relatif di jaringan organ dalam karena retribusi aliran darah ke otot yang bekerja, hal ini akan meningkatkan pembentukan radikal superoksid, yang akan mengaktifkan jalur xanthin oksidase.

40 2.2.1 Hubungan Aktivitas berlebih dengan Stres Oksidatif KERUSAKAN Iskemia reperfusi Panas Trauma Beku Aktivitas berlebih Racun-racun Radiasi Infeksi Pengumpulan dan aktivasi Phagocyte (membuat O 2., H 2 O 2, NO, HOCl, ONOO - ) Pelepasan Asam Arachidonat, formasi enzim peroksida (dg mengaktifkan lipoksigenase, enzim cyclooksigenase). Perubahan komposisi dari struktur enzim dan non enzim peroksida menjadi peroksil/ alkoksil radikal dan menyebarkan kerusakan ke lipid/protein/dna Ion logam melepaskan cadangan (Fe 2+, Cu 2+ ) meningkatkan level intrasel dan menstimulasi konversi dari H 2 O 2 menjadi OH +, lipid peroksida pecah menjadi RO. 2 /RO., dan reaksi-reaksi autoxidation. Pelepasan ion-ion logam dari sel-sel rusak dapat menyebabkan efek prooksidan yang sama dalam lingkungan ektra sel. Pelepasan heme protein (myoglobin, haemoglobin, cytochromes); reaksi dengan heme protein dengan peroksida untuk stimulasi kerusakan radikal bebas dan (jika peroksida berlebih) melepaskan Fe 2 + dan heme, keduanya dapat membentuk ulang peroksida-peroksida menjadi RO2. Dan RO. Mereka juga menangkap NO + yang seringkali menjadi antioksidan. Interferensi dengan sistem pertahanan anti oksidan. (mis.gsh dan kehilangan askorbat dari sel). Askorbat dan Thiol hilang dari cairan ekstra sel. Konversi xanthine dehidrogenase menjadi xanthine oksidase dalam jaringan-jaringan tertentu, terlepasnya XO dari kerusakan sel-sel yang menyebabkan kerusakan sistemik (mis.mengikat endothelium vascular), menaikkan level hypoxanthine sesuai dengan energi metabolisme. Kerusakan mitokondrial meningkatkan kebocoran elektron menjadi bentuk O 2, dan pelepasan cythocrome c Peningkatan kalsium intraseluler, stimulasi calpains, Ca nukleus terikat, memberi NO lebih dan menaikkan resiko pembentukan formasi ONOO -. Aktifasi fosfolipase A 2 oleh Ca 2 + melepaskan asam arachidonat substrate utk sintesa protaglandine atau leukotrine dan untuk lipid peroksidasi non enzimi. Pelepasan calpains dapat merusak sel atau jaringan lain. STRES OKSIDATIF

41 Gambar 2.3 Skema respon jaringan karena kerusakan sel. (dikutip dari: Halliwel dan Gutteridge, 2007) Kerusakan Jaringan Stress oksidatif Induksi antioksidan dan sistem pertahanan tubuh (mis.oksigenase heme) Kerusakan lanjut jaringan, diikuti dg kematian sel Kerusakan awal jaringan Netralisir stres oksidatif kadangkadang merupakan perlindungan yang lebih kuat pada jaringan Kematian beberapa sel meluas menyebabkan kerusakan pada sel lainnya (mis. dg pelepasan Fe/Cu/ heme protein, menyebabkan peradangan dan pembentukan formasi radikal bebas lebih banyak. Pelepasan peroksida dari sel apoptosis mempengaruhi sel sekitarnya. Induksi dari sistem kekebalan tubuh tidak cukup atau tidak ada Tidak ada kontribusi pada pathologi penyakit. Kadangkadang berguna ( mis. dalam prekondisi ischemic) Memperburuk penyakit. Terapi pemberian antioksidan sangat penting.

42 Gambar 2.4 Skema stres oksidatif dalam penyakit (dikutip dari : Halliwell dan Gutteridge, 2007) Ketika melakukan aktivitas fisik yang cukup berat, terjadilah peristiwa yang mirip dengan fenomena iskemia-reperfusi, dimana peningkatan penyediaan oksigen seringkali tidak mampu memenuhi kebutuhan oksigen. Fenomena ini dikenal sebagai fase iskemia. Dan sementara itu, peningkatan penyediaan oksigen yang tinggi justru akan meningkatkan pembentukan radikal bebas oksigen bahkan bisa mencapai 10 kali lipat (fenomena ini disebut fase reperfusi). Penelitian telah membuktikan bahwa aktivitas fisik yang berat dapat menyebabkan stres oksidatif dan trauma otot (McArdle, 2006). (Cadroy et al, 2002) membuktikan bahwa aktivitas fisik yang berat - dan bukan aktivitas fisik yang moderat atau pun yang ringan - ternyata dapat menyebabkan kecenderungan terjadinya risiko trombogenesis pada sekelompok pria sehat sedenterial. Aktivitas fisik yang moderat tidak menyebabkan trombogenesis, tetapi dengan aktivitas fisik yang berat deposit trombus dan platelet pada kolagen meningkat sekitar 20% sesudah 30 menit dengan beban 70% VO2 maks (p=0.03). Berdasarkan penelitian ini, ternyata aktivitas fisik yang beratlah dan bukan aktivitas fisik yang moderat yang berpotensi meningkatkan risiko trombogenesis pada sekelompok pria sehat sedenterial. Dan risiko trombogenesis ini sesungguhnya merupakan respons imunologik yang akut dari sel-sel endotel terhadap stres oksidatif. Di pihak lain, aktivitas fisik yang cukup berat atau pun yang moderat, juga akan meningkatkan nitrik oksid di endotel, baik pada binatang percobaan, maupun

43 pada orang sehat. Peningkatan produksi nitrik oksid itu sesungguhnya merupakan mekanisme kompensasi untuk mempertahankan fungsi endotel agar tetap optimal dan peningkatan ini disebabkan oleh gaya gesek pulsatil, yaitu meningkatnya stimulasi laminer aliran darah secara signifikan pada permukaan sel endotel ketika melakukan fisik Metode Pengukuran Radikal Bebas Oksigen Pada Stres Oksidatif A. Metode langsung (ESR spin trapping) - Trapping dengan : R-NO (senyawa nitroso) DMPO (dimetil pirolin oksid) PBN (penil butil nitron) B. Metode dengan konsep petanda ( fingerprinting) Diene terkonjugasi Hidroksi nonenal (HNE) Etan, Pentan F 2 isoprostan MDA Ox-LDL C. Metode tidak langsung ( Indirect approach ) Reaktivitas vaskular Antioksidan eritrosit dan plasma Perubahan ekspresi gen: Biosensor ROS

44 Anti Oksidan Internal * Enzimatik - Superoksid dismustase - Glutation Peroksidase - Katalase * Protein pengikat metal - Albumin, Feritin Antioksidan Eksternal * Non Enzimatik - Larut dalam air: vit C,Tiol - Larut dalam lipid: vit E, β-karoten, Ko- Q10, flavonoid Radikal Bebas - Superoksid O2- - Hidroksil OH - Peroksil ROO - Alkoksil RO - Hidroperoksil HO2 - Radikal Tiil PS - Hidrogen peroksid H2O2 - Singlet 1O2 - Ozon O3 - Peroksinitrit ONOO - Nitrik oksid NO STRES OKSIDATIF Gambar 2.5. Skema stres oksidatif (dikutib dari : Baraas, 2006) Jalur stres diketahui dari ROS menginduksi PKCγ ketarget lipid.pkc isoform berhubungan dengan meningkatkan produksi Nitrik O.ksid dan Nitrik Oksid sintetase. Induksi PKC dari sel mikroglial melalui amyloid beta 25-35, yang menginduksi COX-2 (Ciklooksigenase-2). (Ann, 2008). 2.3 F 2 Isoprostan

45 Isoprostan adalah prostagladin like compound yang diproduksi dari esterifikasi asam arakidonat di jaringan oleh reaksi katalis non enzimatik radikal bebas in vivo. Meskipun isoprostan mempunyai half life yang pendek, beberapa dari padanya mempunyai aktivitas biologis yang penting terutama di paru dan ginjal, juga merupakan petanda penting bagi stres oksidatif dan dapat diperiksa dengan cara non invasif. Terbentuk dari asam eicosapentaenoic dan docosahexaenoic pada hewan dan dari asam α-linolenic pada tumbuhan. Pertama kali, isoprostan ditemukan pada tahun 1967 oleh Nugteren, Vonkeman, dan Van Dorp, tetapi 20 tahun kemudian direalisasikan untuk kepentingan biologis (Morrow dan Robert, 2002). Pengukuran F 2 isoprostan merupakan alat penting untuk menggali peran stres oksidatif dalam patogenesis penyakit manusia. Isoprostan diproduksi oleh peroksidasi asam arakidonat non enzimatik, sebagai respon dari radikal bebas dan ROS (Janssen, 2001, Morrow dan Robert, 2002; Kharitanov dan Barnes, 2002). Peranan isoprostan penting bagi pengukuran peroksidasi lipid dan stres oksidatif (Janssen, 2001). Keuntungan mengukur F 2 isoprostan sebagai biomarker dari peroksidasi lipid, adalah untuk memantau penyakit dan respon terhadap terapi, potensi peran mereka sebagai mediator stres oksidatif, dan implikasi terapeutik. Lipid adalah target utama serangan radikal bebas, yang menyebabkan peroksidasi lipid. Peroksidasi lipid merupakan fenomena biologis, ada hubungannya dengan aterosklerosis penyebarannya dihentikan oleh antioksidan (Jay, 2010).

46 Radikal bebas yang diinduksi oleh peroksidasi lipid pada membran sangat merusak, karena dapat menyebabkan perubahan sifat biofisik membran, tingkat fluiditas, dan menyebabkan inaktivasi reseptor membran atau enzim, yang dapat mengganggu fungsi normal selular. F 2 isoprostan dianggap terbaik sebagai biomarker stres oksidatif dan peroksidasi lipid in vivo (Morrow dan Roberts, 2002). Diantara berbagai marka peroksidasi lipid, F 2 isoprostan merupakan salah satu marka peroksidasi lipid yang mirip dengan prostaglandin F2α (PG-F2 α) dan dianggap sangat akurat sebagai marka stres oksidatif sampai saat ini (Baraas, 2006). F 2 isoprostan pada manusia diukur melalui plasma dan urine. Immunoassay untuk pengukuran isoprostan telah dikembangkan dan tersedia secara komersial dengan nama 8 iso prostaglandin F 2 α. Pengukuran F 2 isoprostan memiliki beberapa keunggulan dibandingkan pemeriksaan kuantitatif lain untuk stres oksidatif. F 2 Isoprostan adalah : 1) Secara kimiawi stabil 2) Produk spesifik peroksidasi 3) Terbentuk in vivo 4) Hadir dalam jumlah yang terdeteksi di semua jaringan normal dan cairan biologis, sehingga memungkinkan batasan kisaran normal 5) Meningkat pada binatang yang mengalami stres oksidatif 6) Tidak terpengaruh oleh kadar lemak dalam diet 7) Dapat memberikan reaksi biokimiawi yang sensitif pada penelitian dengan anti oksidan.

47 Isoprostan dapat diukur melalui darah dan urin. Pengukuran melalui urin sering digunakan karena selain noninvasif, stabil dan tidak terganggu oleh autooksidasi. Tidak ada variasi yang signifikan dari konsentrasi harian isoprostan urin pada subyek sehat (Montuschi et al, 2004). Pengukuran isoprostan dalam cairan biologis dan atau spesimen jaringan memiliki implikasi klinis penting. Pengukuran F 2 isoprostan mempunyai peran penting pada proses ketidakseimbangan radikal bebas dan oksidan dalam berbagai macam penyakit manusia termasuk jantung, paru, saraf, ginjal, dan penyakit hati (Morrow dan Roberts, 2002). Pengukuran isoprostan dapat memiliki nilai prognostik penyakit di mana terlibat peran untuk stres oksidatif. Isoprostan tidak hanya petanda stres oksidatif namun memiliki efek biologis banyak, disarankan dapat berfungsi sebagai mediator dalam patofisiologi stres. Sebagian besar pengetahuan terkini tentang F 2 isoprostan, lebih banyak mengenai 15F 2 t isoprostan (8-iso-PGF 2 α) (Montuschi et al, 2004) yang merupakan vasokonstriktor kuat. Pada tikus, F 2 isoprostan mengurangi laju filtrasi glomerulus dan aliran darah ginjal 40-45%. Pada hewan percobaan, 15 F 2 t isoprostan memiliki efek vaskular lain termasuk arteri paru, arteri koroner, arteriol serebral, pembuluh retina, dan vena porta. F 2 isoprostan menginduksi kematian sel endotel vaskuler retina pada tikus dan babi yang baru lahir. F 2 isoprostan menyebabkan kontraksi otot polos bronkial in vitro pada manusia dan menyebabkan obstruksi aliran udara dan pengeluaran plasma pada babi percobaan in vivo. Telah ditemukan bahwa metabolit 15 F 2 t isoprostan urin adalah petanda yang baik bagi kelainan retina dan kapiler darah otak (Hou et al., 2001).

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan, manusia amat tergantung kepada alam sekeliling. Yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan, manusia amat tergantung kepada alam sekeliling. Yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam kehidupan, manusia amat tergantung kepada alam sekeliling. Yang paling mendasar manusia memerlukan oksigen, air serta sumber bahan makanan yang disediakan alam.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hidup secara tidak langsung menyebabkan manusia terus-menerus dihadapkan

BAB I PENDAHULUAN. hidup secara tidak langsung menyebabkan manusia terus-menerus dihadapkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perubahan pola hidup serta terjadinya penurunan kualitas lingkungan hidup secara tidak langsung menyebabkan manusia terus-menerus dihadapkan pada persoalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mahluk hidup dan dimulai dari semenjak lahir ke dunia ini, sehingga seringkali

BAB I PENDAHULUAN. mahluk hidup dan dimulai dari semenjak lahir ke dunia ini, sehingga seringkali BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Proses penuaan merupakan suatu proses alami yang terjadi pada semua mahluk hidup dan dimulai dari semenjak lahir ke dunia ini, sehingga seringkali penuaan dianggap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. proses penuaan dan meningkatkan kualitas hidup. Proses menjadi tua memang

BAB I PENDAHULUAN. proses penuaan dan meningkatkan kualitas hidup. Proses menjadi tua memang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anti Aging Medicine (AAM) adalah ilmu yang berupaya memperlambat proses penuaan dan meningkatkan kualitas hidup. Proses menjadi tua memang akan terjadi pada

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Telah diketahui bahwa ketinggian menimbulkan stress pada berbagai sistem organ manusia. Tekanan atmosfer menurun pada ketinggian, sehingga terjadi penurunan tekanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan, stres, dan latihan fisik yang tidak tepat.

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan, stres, dan latihan fisik yang tidak tepat. 7 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seluruh komponen tubuh tidak dapat berkembang lagi setelah mencapai usia dewasa, karena terjadi penurunan akibat proses penuaan. Penuaan sering kali dianggap suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jumlah banyak akan menimbulkan stres oksidatif yang dapat merusak sel yang pada

BAB I PENDAHULUAN. jumlah banyak akan menimbulkan stres oksidatif yang dapat merusak sel yang pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu penyebab penuaan dini adalah merokok. Dimana asap rokok mengandung komponen yang menyebabkan radikal bebas. Radikal bebas dalam jumlah banyak akan menimbulkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berlebihnya asupan nutrisi dibandingkan dengan kebutuhan tubuh sehingga

BAB 1 PENDAHULUAN. berlebihnya asupan nutrisi dibandingkan dengan kebutuhan tubuh sehingga BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obesitas adalah kondisi berlebihnya berat badan akibat banyaknya lemak pada tubuh, yang umumnya ditimbun dalam jaringan subkutan (bawah kulit), di sekitar organ tubuh,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi yang semakin maju, terjadi pergeseran dan perubahan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi yang semakin maju, terjadi pergeseran dan perubahan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi yang semakin maju, terjadi pergeseran dan perubahan yang sangat signifikan, banyak sekali aktivitas lingkungan yang menghasilkan radikal bebas sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Radikal bebas merupakan senyawa yang terbentuk secara alamiah di

BAB I PENDAHULUAN. Radikal bebas merupakan senyawa yang terbentuk secara alamiah di 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Radikal bebas merupakan senyawa yang terbentuk secara alamiah di dalam tubuh dan terlibat hampir pada semua proses biologis mahluk hidup. Senyawa radikal bebas mencakup

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tingginya penyakit infeksi seperti thypus abdominalis, TBC dan diare, di sisi lain

BAB I PENDAHULUAN. tingginya penyakit infeksi seperti thypus abdominalis, TBC dan diare, di sisi lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia saat ini terjadi transisi epidemiologi yakni di satu sisi masih tingginya penyakit infeksi seperti thypus abdominalis, TBC dan diare, di sisi lain mulai meningkatnya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Radikal bebas adalah sekelompok bahan kimia baik berupa atom maupun molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan pada lapisan luarnya dan merupakan suatu kelompok

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat mempertahankan dan meningkatkan kesehatan tubuh. Namun, aktivitas fisik

BAB I PENDAHULUAN. dapat mempertahankan dan meningkatkan kesehatan tubuh. Namun, aktivitas fisik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivitas fisik merupakan hal yang penting dalam kehidupan kita, karena dapat mempertahankan dan meningkatkan kesehatan tubuh. Namun, aktivitas fisik berlebih ternyata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan dan martabat manusia.

Lebih terperinci

KADAR MALONDIALDEHYDE (MDA) PADA TIKUS

KADAR MALONDIALDEHYDE (MDA) PADA TIKUS ABSTRAK EKSTRAK ETANOL BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) MENURUNKAN KADAR MALONDIALDEHYDE (MDA) PADA TIKUS (Rattus norvegicus) WISTAR JANTAN DISLIPIDEMIA Dislipidemia merupakan salah satu masalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan injuri otot (Evans, 2000) serta menimbulkan respon yang berbeda pada jaringan

BAB I PENDAHULUAN. dan injuri otot (Evans, 2000) serta menimbulkan respon yang berbeda pada jaringan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Latihan fisik yang dilakukan dengan teratur dapat mencegah penyakit kronis seperti kanker, hipertensi, obesitas, depresi, diabetes dan osteoporosis (Daniel et al, 2010).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Radikal bebas merupakan salah satu penyebab timbulnya berbagai penyakit

BAB I PENDAHULUAN. Radikal bebas merupakan salah satu penyebab timbulnya berbagai penyakit 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Radikal bebas merupakan salah satu penyebab timbulnya berbagai penyakit degeneratif, seperti kardiovaskuler, tekanan darah tinggi, stroke, sirosis hati, katarak,

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. 6.1 Efek Pelatihan Fisik Berlebih Terhadap Spermatogenesis Mencit. Pada penelitian ini, data menunjukkan bahwa kelompok yang diberi

PEMBAHASAN. 6.1 Efek Pelatihan Fisik Berlebih Terhadap Spermatogenesis Mencit. Pada penelitian ini, data menunjukkan bahwa kelompok yang diberi 1 BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Efek Pelatihan Fisik Berlebih Terhadap Spermatogenesis Mencit Pada penelitian ini, data menunjukkan bahwa kelompok yang diberi pelatihan fisik berlebih selama 35 hari berupa latihan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Pada masyarakat modern dewasa ini, penyakit jantung koroner merupakan salah satu dari masalah kesehatan yang paling banyak mendapat perhatian serius. Hal ini dikarenakan penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Umumnya anti nyamuk digunakan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi

BAB I PENDAHULUAN. Umumnya anti nyamuk digunakan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Anti nyamuk merupakan benda yang sudah tak asing lagi bagi kita. Umumnya anti nyamuk digunakan sebagai salah satu upaya untuk mengatasi gigitan nyamuk. Jenis formula

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Parasetamol merupakan obat antipiretik dan analgetik yang telah lama

I. PENDAHULUAN. Parasetamol merupakan obat antipiretik dan analgetik yang telah lama I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Parasetamol merupakan obat antipiretik dan analgetik yang telah lama digunakan di dunia. Parasetamol merupakan obat yang efektif, sederhana dan dianggap paling aman sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengonsumsi minuman beralkohol. Mengonsumsi etanol berlebihan akan

BAB I PENDAHULUAN. mengonsumsi minuman beralkohol. Mengonsumsi etanol berlebihan akan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gaya hidup remaja yang telah digemari oleh masyarakat yaitu mengonsumsi minuman beralkohol. Mengonsumsi etanol berlebihan akan mengakibatkan gangguan pada organ hati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kerusakan oksidatif dan injuri otot (Evans, 2000).

BAB I PENDAHULUAN. kerusakan oksidatif dan injuri otot (Evans, 2000). 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Latihan fisik secara teratur memberikan banyak manfaat bagi kesehatan termasuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskuler, osteoporosis, dan penyakit diabetes (Senturk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Olahraga sepatu roda (inline skating) merupakan olahraga yang. membutuhkan keseimbangan antara kelincahan, kekuatan, kecepatan,

BAB I PENDAHULUAN. Olahraga sepatu roda (inline skating) merupakan olahraga yang. membutuhkan keseimbangan antara kelincahan, kekuatan, kecepatan, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Olahraga sepatu roda (inline skating) merupakan olahraga yang membutuhkan keseimbangan antara kelincahan, kekuatan, kecepatan, ketahanan dan koordinasi (de

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam masyarakat latihan fisik dipahami sebagai olahraga. Olahraga dapat mempertahankan dan meningkatkan kesehatan tubuh, serta berdampak pada kinerja fisik. Olahraga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktivitas fisik adalah kegiatan hidup yang harus dikembangkan dengan harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya stres oksidatif pada tikus (Senturk et al., 2001) dan manusia

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya stres oksidatif pada tikus (Senturk et al., 2001) dan manusia BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Latihan fisik merupakan pergerakan tubuh yang dilakukan oleh otot dengan terencana dan berulang yang menyebabkan peningkatan pemakaian energi dengan tujuan untuk memperbaiki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berpasangan (Clarkson and Thompson, 2000). ROS (Reactive Oxygen Species)

BAB I PENDAHULUAN. berpasangan (Clarkson and Thompson, 2000). ROS (Reactive Oxygen Species) BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Radikal bebas merupakan atom atau molekul yang memiliki elektron tidak berpasangan (Clarkson and Thompson, 2000). ROS (Reactive Oxygen Species) adalah bagian dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit jantung termasuk penyakit jantung koroner telah menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit jantung termasuk penyakit jantung koroner telah menjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit jantung termasuk penyakit jantung koroner telah menjadi penyebab kematian utama di Indonesia. Penyebabnya adalah terjadinya hambatan aliran darah pada arteri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Latihan fisik secara teratur mempunyai efek yang baik terutama mencegah obesitas, penyumbatan pembuluh darah, penyakit jantung koroner, dan osteoporosis (Thirumalai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada lingkungan hidup masyarakat terutama perubahan suhu, udara, sinar UV,

BAB I PENDAHULUAN. pada lingkungan hidup masyarakat terutama perubahan suhu, udara, sinar UV, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kemajuan teknologi informasi dan ekonomi telah membawa perubahan pada lingkungan hidup masyarakat terutama perubahan suhu, udara, sinar UV, polusi dan berbagai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, dunia kedokteran dan kesehatan banyak membahas tentang radikal bebas dan antioksidan. Hal ini terjadi karena sebagian besar penyakit diawali oleh adanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang berusaha untuk melakukan olah raga secara teratur. Beberapa orang berpikir

BAB I PENDAHULUAN. orang berusaha untuk melakukan olah raga secara teratur. Beberapa orang berpikir 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Banyak orang menginginkan tubuh yang sehat dan ideal, sehingga banyak orang berusaha untuk melakukan olah raga secara teratur. Beberapa orang berpikir bahwa semua

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membeli makanan cepat saji maupun dari restoran. Seringkali makanan yang

BAB I PENDAHULUAN. membeli makanan cepat saji maupun dari restoran. Seringkali makanan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Dalam kehidupan masa kini, banyak orang yang hidup dalam mobilitas tinggi. Dikarenakan kesibukan dan keterbatasan waktu senggang, orang jarang mempunyai waktu untuk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. masa kanak-kanak, yang mengakibatkan kelainan signifikan dan gangguan pada

BAB 1 PENDAHULUAN. masa kanak-kanak, yang mengakibatkan kelainan signifikan dan gangguan pada BAB 1 PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Autisme adalah gangguan perkembangan yang biasanya didiagnosis awal pada masa kanak-kanak, yang mengakibatkan kelainan signifikan dan gangguan pada interaksi sosial,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang berasal dari lemak tumbuhan maupun dari lemak hewan. Minyak goreng tersusun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. yang berasal dari lemak tumbuhan maupun dari lemak hewan. Minyak goreng tersusun BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Minyak Goreng Minyak goreng merupakan salah satu bahan yang termasuk dalam lemak, baik yang berasal dari lemak tumbuhan maupun dari lemak hewan. Minyak goreng tersusun dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berpendapat usia setiap manusia sudah ditentukan oleh Tuhan, sampai usia. tertentu, yang tidak sama pada setiap manusia.

BAB I PENDAHULUAN. berpendapat usia setiap manusia sudah ditentukan oleh Tuhan, sampai usia. tertentu, yang tidak sama pada setiap manusia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penuaan atau aging process adalah suatu proses bertambah tua atau adanya tanda-tanda penuaan setelah mencapai usia dewasa. Secara alamiah seluruh komponen tubuh pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tujuh sumber utama pencemaran udara yaitu: partikel debu/partikulat

BAB I PENDAHULUAN. Tujuh sumber utama pencemaran udara yaitu: partikel debu/partikulat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuh sumber utama pencemaran udara yaitu: partikel debu/partikulat dengan diameter kurang dari 10 µm, sulfur dioksida (SO2), ozon troposferik, karbon monoksida (CO),

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL PADA TIKUS WISTAR JANTAN

ABSTRAK. EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL PADA TIKUS WISTAR JANTAN ABSTRAK EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL PADA TIKUS WISTAR JANTAN Steffanny H H Katuuk, 1310114, Pembimbing I : Lusiana Darsono,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ditemukan di hati dan ginjal, sedangkan di otak aktivitasnya rendah. 2 Enzim

BAB I PENDAHULUAN. ditemukan di hati dan ginjal, sedangkan di otak aktivitasnya rendah. 2 Enzim BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Enzim katalase bersifat antioksidan ditemukan pada hampir sebagian besar sel. 1 Enzim ini terutama terletak di dalam organel peroksisom. Katalase ditemukan di semua

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sinar matahari berlebih, asap kendaraan bermotor, obat-obat tertentu, racun

I. PENDAHULUAN. sinar matahari berlebih, asap kendaraan bermotor, obat-obat tertentu, racun I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak dapat terbebas dari senyawa radikal bebas. Asap rokok, makanan yang digoreng, dibakar, paparan sinar matahari berlebih, asap

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagian besar penyakit diawali oleh adanya reaksi oksidasi yang berlebihan di dalam tubuh. Reaksi oksidasi ini memicu terbentuknya radikal bebas yang sangat aktif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hati adalah organ terbesar dalam tubuh. Penyakit pada hati merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius. Hepatitis adalah suatu peradangan difus jaringan hati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan

BAB I PENDAHULUAN. Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aktifitas fisik merupakan kegiatan hidup yang dikembangkan dengan harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan dan martabat manusia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bidang obstetri, karena merupakan penyulit 2% sampai 20% dari semua

BAB I PENDAHULUAN. bidang obstetri, karena merupakan penyulit 2% sampai 20% dari semua 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ketuban Pecah Dini (KPD) masih merupakan masalah penting dalam bidang obstetri, karena merupakan penyulit 2% sampai 20% dari semua kelahiran dan mengakibatkan peningkatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tetap terjadi perubahan dalam morfologi, biokimia, dan metabolik yang disebut

BAB 1 PENDAHULUAN. tetap terjadi perubahan dalam morfologi, biokimia, dan metabolik yang disebut BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Packed red cell (PRC) adalah produk darah paling penting yang dapat disimpan sekitar 35-42 hari di bank darah dan merupakan terapi terbanyak yang diberikan di dunia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kanker ovarium merupakan salah satu penyebab kematiandari. semua kanker ginekologi yang menduduki urutan ke lima sebagai

BAB I PENDAHULUAN. Kanker ovarium merupakan salah satu penyebab kematiandari. semua kanker ginekologi yang menduduki urutan ke lima sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kanker ovarium merupakan salah satu penyebab kematiandari semua kanker ginekologi yang menduduki urutan ke lima sebagai penyebab kematian dari seluruh kanker yang dijumpai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Universitas Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Manusia telah mengenal kehidupan di tempat tinggi sejak ribuan tahun lalu. Secara alami telah terjadi proses adaptasi fisiologis sebagai mekanisme kompensasi terhadap

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Roundup adalah herbisida yang menggunakan bahan aktif glifosat yang banyak

I. PENDAHULUAN. Roundup adalah herbisida yang menggunakan bahan aktif glifosat yang banyak 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Roundup adalah herbisida yang menggunakan bahan aktif glifosat yang banyak digunakan di dunia. Glifosat (N-phosphonomethyl-glycine) digunakan untuk mengontrol gulma

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. vulgaris disertai dengan suatu variasi pleomorfik dari lesi, yang terdiri dari

BAB I PENDAHULUAN. vulgaris disertai dengan suatu variasi pleomorfik dari lesi, yang terdiri dari BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akne vulgaris merupakan suatu penyakit dari unit pilosebasea yang dapat sembuh sendiri, terutama dijumpai pada anak remaja. Kebanyakan kasus akne vulgaris disertai

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK JUS BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA TIKUS JANTAN WISTAR

ABSTRAK. EFEK JUS BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA TIKUS JANTAN WISTAR ABSTRAK EFEK JUS BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA TIKUS JANTAN WISTAR Jane Haryanto, 2012 ; Pembimbing I : Rosnaeni, Dra., Apt. Pembimbing II : Penny Setyawati M.,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Aktivitas fisik adalah setiap pergerakan tubuh akibat otot-otot skelet yang

BAB I PENDAHULUAN. Aktivitas fisik adalah setiap pergerakan tubuh akibat otot-otot skelet yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aktivitas fisik adalah setiap pergerakan tubuh akibat otot-otot skelet yang mengakibatkan pengeluaran energi. 1 Aktivitas fisik dapat memberi pengaruh positif pada

Lebih terperinci

DAPAT MENURUNKAN KADAR F2-ISOPROSTAN PADA URIN TIKUS

DAPAT MENURUNKAN KADAR F2-ISOPROSTAN PADA URIN TIKUS PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL UMBI BIT MERAH (Beta vulgaris) ORAL DAPAT MENURUNKAN KADAR F2-ISOPROSTAN PADA URIN TIKUS (Rattus norvegicus) WISTAR JANTAN YANG DIINDUKSI AKTIVITAS FISIK BERLEBIH ABSTRAK Aktivitas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik karbohidrat, yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik karbohidrat, yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik karbohidrat, yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) akibat berkurangnya sekresi insulin,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dunia sekarang mengalami penderitaan akibat dampak epidemik dari berbagai penyakit penyakit akut dan kronik yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Penyakit penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jenis kanker yang mempunyai tingkat insidensi yang tinggi di dunia, dan kanker kolorektal) (Ancuceanu and Victoria, 2004).

BAB I PENDAHULUAN. jenis kanker yang mempunyai tingkat insidensi yang tinggi di dunia, dan kanker kolorektal) (Ancuceanu and Victoria, 2004). 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Insiden penyakit kanker di dunia mencapai 12 juta penduduk dengan PMR 13%. Diperkirakan angka kematian akibat kanker adalah sekitar 7,6 juta pada tahun 2008. Di negara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetes melitus adalah penyakit tidak menular yang bersifat kronis dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetes melitus adalah penyakit tidak menular yang bersifat kronis dan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes melitus adalah penyakit tidak menular yang bersifat kronis dan jumlah penderitanya terus meningkat di seluruh dunia seiring dengan bertambahnya jumlah populasi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ulcerative Colitis (UC) termasuk dalam golongan penyakit Inflammatory Bowel Disease (IBD). Keadaan ini sering berlangsung kronis sehingga dapat mengarah pada keganasan,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. dibandingkan dengan unggas-unggas lainnya seperti ayam. Fakultas Peternakan

PENDAHULUAN. dibandingkan dengan unggas-unggas lainnya seperti ayam. Fakultas Peternakan I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Itik Cihateup termasuk kedalam jenis unggas air yang memiliki sifat fisiologik terbiasa dengan air dan kemampuan thermoregulasi yang rendah dibandingkan dengan unggas-unggas

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Secara alamiah seluruh komponen tubuh setelah mencapai usia dewasa tidak

PENDAHULUAN. Secara alamiah seluruh komponen tubuh setelah mencapai usia dewasa tidak 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara alamiah seluruh komponen tubuh setelah mencapai usia dewasa tidak dapat berkembang lagi, tetapi justru terjadi penurunan fungsi tubuh karena proses penuaan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Gaya hidup modern turut mengubah pola makan masyarakat yang

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Gaya hidup modern turut mengubah pola makan masyarakat yang PENDAHULUAN Latar Belakang Gaya hidup modern turut mengubah pola makan masyarakat yang cenderung mengkonsumsi makanan-makanan cepat saji dengan kadar lemak yang tinggi. Keadaan ini menyebabkan munculnya

Lebih terperinci

Aktifitas Anti Oksidan Ekstrak Metanol 70% Daun Krokot (Portulaca oleracea L.)

Aktifitas Anti Oksidan Ekstrak Metanol 70% Daun Krokot (Portulaca oleracea L.) Aktifitas Anti Oksidan Ekstrak Metanol 70% Daun Krokot (Portulaca oleracea L.) OLEH : S. A n d h i J u s u p, d r, M. K e s S e t y o S r i R a h a r j o, d r. M K e s F A K U L T A S K E D O K T E R A

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Neoplasma adalah suatu massa jaringan abnormal yang berproliferasi cepat, tidak terkoordinasi melebihi jaringan normal dan dapat menetap setelah hilangnya rangsang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Merokok merupakan suatu masalah kesehatan pada masyarakat dan merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Merokok merupakan suatu masalah kesehatan pada masyarakat dan merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Merokok merupakan suatu masalah kesehatan pada masyarakat dan merupakan ancaman besar bagi kesehatan di dunia (Emmons, 1999). Merokok memberikan implikasi terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia dari semua kelompok usia dan ras. Jong (2005) berpendapat bahwa

BAB I PENDAHULUAN. manusia dari semua kelompok usia dan ras. Jong (2005) berpendapat bahwa BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Kanker merupakan suatu jenis penyakit berupa pertumbuhan sel yang tidak terkendali secara normal. Penyakit ini dapat menyerang semua bagian organ tubuh dan dapat menyebabkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tidak berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat reaktif mencari

BAB I PENDAHULUAN. tidak berpasangan menyebabkan senyawa tersebut sangat reaktif mencari BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Radikal bebas adalah suatu senyawa atau molekul yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan pada orbital luarnya. Adanya elektron yang tidak berpasangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Molekul ini sangat reaktif sehingga dapat menyerang makromolekul sel seperti lipid,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Molekul ini sangat reaktif sehingga dapat menyerang makromolekul sel seperti lipid, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Radikal bebas merupakan atom atau molekul yang tidak stabil karena memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan pada orbital terluarnya. Molekul

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: Dislipidemia, Ekstrak Kulit Buah Naga Merah, Kolesterol Total. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Kata kunci: Dislipidemia, Ekstrak Kulit Buah Naga Merah, Kolesterol Total. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK EFEK EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL TOTAL SERUM PADA TIKUS JANTAN GALUR WISTAR Agatha Geraldyne, 1210048. Pembimbing I: Lusiana Darsono,

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PENELITIAN

BAB 4 HASIL PENELITIAN BAB 4 HASIL PENELITIAN Pengukuran aktivitas spesifik katalase jaringan ginjal tikus percobaan pada keadaan hipoksia hipobarik akut berulang ini dilakukan berdasarkan metode Mates et al. (1999) yang dimodifikasi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. manusia, terutama usia dewasa. Insidensi dan prevalensinya meningkat

BAB 1 PENDAHULUAN. manusia, terutama usia dewasa. Insidensi dan prevalensinya meningkat 16 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Stroke merupakan penyebab kematian ke tiga setelah penyakit jantung dan kanker serta merupakan penyebab kecacatan tertinggi pada manusia, terutama usia dewasa. Insidensi

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL LDL PADA TIKUS JANTAN GALUR WISTAR

ABSTRAK. EFEK EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL LDL PADA TIKUS JANTAN GALUR WISTAR ABSTRAK EFEK EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL LDL PADA TIKUS JANTAN GALUR WISTAR Theresia Vania S S, 2015, Pembimbing I : Lusiana Darsono, dr.,

Lebih terperinci

OPC plus Tablet, Herbal Antioksidan Terbaik

OPC plus Tablet, Herbal Antioksidan Terbaik OPC plus Tablet, Herbal Antioksidan Terbaik OPC plus tablet adalah herbal berbahan biji anggur yang kaya akan bahan kimia oligomeric proanthocyanidin complexes (OPC). OPC adalah bahan kimia nabati alami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hiperlipidemia merupakan penyakit yang banyak terjadi saat ini. Ada hubungan erat antara hiperlipidemia dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner. Berdasarkan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Saat ini jumlah perokok di dunia mengalami peningkatan termasuk di

BAB 1 PENDAHULUAN. Saat ini jumlah perokok di dunia mengalami peningkatan termasuk di BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini jumlah perokok di dunia mengalami peningkatan termasuk di Indonesia. Jumlah perokok di seluruh dunia saat ini mencapai 1,2 milyar orang dan 800 juta diantaranya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jenuh dan kurangnya aktivitas fisik menyebabkan terjadinya dislipidemia.

BAB I PENDAHULUAN. jenuh dan kurangnya aktivitas fisik menyebabkan terjadinya dislipidemia. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pola hidup yang tidak sehat, yaitu pola makan tinggi lemak terutama lemak jenuh dan kurangnya aktivitas fisik menyebabkan terjadinya dislipidemia. Dislipidemia akan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2-5% dari berat badan pada orang dewasa normal yang terletak pada kwadran

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. 2-5% dari berat badan pada orang dewasa normal yang terletak pada kwadran BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Anatomi dan Fisiologi Hati Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh dengan berat 1500 gr atau 2-5% dari berat badan pada orang dewasa normal yang terletak pada kwadran kanan

Lebih terperinci

BAB 5 HASIL PENELITIAN

BAB 5 HASIL PENELITIAN 0 BAB 5 HASIL PENELITIAN Berdasarkan pengamatan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 4x dan 10x terhadap 60 preparat, terlihat adanya peradangan yang diakibatkan aplikasi H 2 O 2 10%, serta perubahan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. serum terhadap kejadian acute coronary syndrome (ACS) telah dilakukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. serum terhadap kejadian acute coronary syndrome (ACS) telah dilakukan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Gambaran Hasil Penelitian Pelaksanaan penelitian tentang hubungan antara kadar asam urat serum terhadap kejadian acute coronary syndrome (ACS) telah dilakukan

Lebih terperinci

BAB 5 PEMBAHASAN. Telah dilakukan penelitian terhadap 100 penderita stroke iskemik fase akut,

BAB 5 PEMBAHASAN. Telah dilakukan penelitian terhadap 100 penderita stroke iskemik fase akut, lxxiii BAB 5 PEMBAHASAN Telah dilakukan penelitian terhadap 100 penderita stroke iskemik fase akut, setelah dialokasikan secara acak 50 penderita masuk kedalam kelompok perlakuan dan 50 penderita lainnya

Lebih terperinci

Mitos dan Fakta Kolesterol

Mitos dan Fakta Kolesterol Mitos dan Fakta Kolesterol Oleh admin Selasa, 01 Juli 2008 09:19:20 Apakah mengonsumsi makanan yang mengandung kolesterol tidak baik bagi tubuh? Apakah kita tak boleh mengonsumsi makanan berkolesterol?

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Oksigen merupakan molekul yang dibutuhkan oleh organisme aerob karena memberikan energi pada proses metabolisme dan respirasi, namun pada kondisi tertentu keberadaannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Minuman isotonik atau dikenal juga sebagai sport drink kini banyak dijual

BAB I PENDAHULUAN. Minuman isotonik atau dikenal juga sebagai sport drink kini banyak dijual BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Minuman isotonik atau dikenal juga sebagai sport drink kini banyak dijual di pasaran. Menurut Badan Standar Nasional (1998), minuman isotonik merupakan salah satu produk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam air, tidak berbau dan sangat manis. Pemanis buatan ini mempunyai tingkat kemanisan 550

BAB 1 PENDAHULUAN. dalam air, tidak berbau dan sangat manis. Pemanis buatan ini mempunyai tingkat kemanisan 550 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sakarin adalah zat pemanis buatan yang dibuat dari garam natrium, natrium sakarin dengan rumus kimia (C 7 H 5 NO 3 S) dari asam sakarin berbentuk bubuk kristal putih,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanpa disadari, setiap hari semua orang membutuhkan makanan untuk dapat bertahan hidup karena makanan merupakan sumber utama penghasil energi yang dapat digunakan

Lebih terperinci

Di seluruh dunia dan Amerika, dihasilkan per kapita peningkatan konsumsi fruktosa bersamaan dengan kenaikan dramatis dalam prevalensi obesitas.

Di seluruh dunia dan Amerika, dihasilkan per kapita peningkatan konsumsi fruktosa bersamaan dengan kenaikan dramatis dalam prevalensi obesitas. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini studi tentang hubungan antara makanan dan kesehatan memerlukan metode yang mampu memperkirakan asupan makanan biasa. Pada penelitian terdahulu, berbagai upaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada tahun 2007 menjadi 2,1 pada tahun 2013 (Riskesdas, 2013). Hasil riset tersebut

BAB I PENDAHULUAN. pada tahun 2007 menjadi 2,1 pada tahun 2013 (Riskesdas, 2013). Hasil riset tersebut BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2013 yang diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan RI, rerata prevalensi diabetes di Indonesia meningkat dari 1,1 pada tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskular yang diakibatkan karena penyempitan pembuluh darah

BAB I PENDAHULUAN. kardiovaskular yang diakibatkan karena penyempitan pembuluh darah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit kardiovaskular yang diakibatkan karena penyempitan pembuluh darah koroner, yang terutama disebabkan oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari emisi pembakaran bahan bakar bertimbal. Pelepasan timbal oksida ke

BAB I PENDAHULUAN. berasal dari emisi pembakaran bahan bakar bertimbal. Pelepasan timbal oksida ke 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pencemaran atau polusi merupakan perubahan yang tidak dikehendaki yang meliputi perubahan fisik, kimia, dan biologi. Pencemaran banyak mengarah kepada pembuangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Angka kejadian infertilitas masih menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk Indonesia. Infertilitas adalah ketidakmampuan terjadinya konsepsi atau memiliki anak pada

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian dilakukan sejak bulan April 2014 sampai dengan Januari 2015.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Penelitian dilakukan sejak bulan April 2014 sampai dengan Januari 2015. Jumlah Pasien BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data rekam medik pada pasien gagal ginjal kronik dengan hipertensi yang memiliki kadar profil lipid yang berarti, yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit jantung dan pembuluh darah merupakan sekumpulan penyakit jantung dan pembuluh darah arteri pada jantung, otak, dan jaringan perifer. Penyakit ini terdiri dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Radikal bebas adalah suatu atom atau molekul yang memiliki satu elektron

BAB I PENDAHULUAN. Radikal bebas adalah suatu atom atau molekul yang memiliki satu elektron 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Radikal bebas adalah suatu atom atau molekul yang memiliki satu elektron tidak berpasangan. Radikal bebas memiliki sifat yang reaktif sehingga cenderung bereaksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Kesehatan merupakan hal terpenting dalam kehidupan manusia dibandingkan dengan jabatan, kekuasaan ataupun kekayaan. Tanpa kesehatan yang optimal, semuanya akan menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit degeneratif seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi,

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit degeneratif seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit degeneratif seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, hiperlipidemia, hiperkolesterolemia, stroke, jantung koroner, kerusakan syaraf otak (pikun),

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENURUNAN BERAT BADAN TIKUS WISTAR JANTAN

ABSTRAK. EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENURUNAN BERAT BADAN TIKUS WISTAR JANTAN ABSTRAK EFEKTIVITAS EKSTRAK KULIT BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) TERHADAP PENURUNAN BERAT BADAN TIKUS WISTAR JANTAN Linda Lingas, 2016 ; Pembimbing I : Lusiana Darsono, dr., M.Kes Pembimbing II

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kolitis Ulseratif (KU) termasuk salah satu penyakit peradangan usus yang menahun yaitu Inflammatory Bowel Disease (IBD) / penyakit inflamasi usus. Penyakit ini merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetes melitus merupakan suatu penyakit kronis yang ditandai oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. Diabetes melitus merupakan suatu penyakit kronis yang ditandai oleh BAB 1 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN Diabetes melitus merupakan suatu penyakit kronis yang ditandai oleh adanya hiperglikemia akibat defisiensi sekresi hormon insulin, kurangnya respon tubuh terhadap

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. banyak ditemukan di lingkungan (WHO, 2010). Logam plumbum disebut non

BAB 1 PENDAHULUAN. banyak ditemukan di lingkungan (WHO, 2010). Logam plumbum disebut non BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Plumbum adalah salah satu logam berat yang bersifat toksik dan paling banyak ditemukan di lingkungan (WHO, 2010). Logam plumbum disebut non essential trace element

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diprediksi akan terus meningkat di masa yang akan datang terutama di negara-negara

BAB I PENDAHULUAN. diprediksi akan terus meningkat di masa yang akan datang terutama di negara-negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada umumnya, populasi lanjut usia terus mengalami peningkatan, dan diprediksi akan terus meningkat di masa yang akan datang terutama di negara-negara berkembang. Pertambahan

Lebih terperinci

Diabetes melitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan

Diabetes melitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Diabetes melitus (DM) adalah suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik peningkatan kadar glukosa darah (hiperglikemia) yang terjadi karena kelainan sekresi

Lebih terperinci