PENGEMBANGAN PERMUKIMAN GOLONGAN MASYARAKAT PENDAPATAN MENENGAH BAWAH DI KECAMATAN DRIYOREJO, KABUPATEN GRESIK

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENGEMBANGAN PERMUKIMAN GOLONGAN MASYARAKAT PENDAPATAN MENENGAH BAWAH DI KECAMATAN DRIYOREJO, KABUPATEN GRESIK"

Transkripsi

1 PENGEMBANGAN PERMUKIMAN GOLONGAN MASYARAKAT PENDAPATAN MENENGAH BAWAH DI KECAMATAN DRIYOREJO, KABUPATEN GRESIK OLEH PALUPI SRI NARISYWARI SIDANG TUGAS AKHIR PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA 2011

2 BAB II TINJAUAN PUSTAKA

3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman: Perumahan adalah kumpulan rumah sebagai bagian dari permukiman yang dilengkapi dengan prasarana, sarana dan utilitas umum sebagai hasil upaya pemenuhan rumah yang layak huni. Permukiman adalah bagian dari lingkungan hunian yang terdiri atas lebih dari satu satuan perumahan yang mempunyai prasarana, sarana, utilitas umum, serta mempunyai penunjang kegiatan fungsi lain di kawasan perkotaan atau kawasan perdesaan. Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik yang merupakan kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan.

4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Menurut Kuswartojo (2005) : Pembangunan perumahan memiliki makna membangun rumah. Pengembangan permukiman adalah peningkatan kualitas kehidupan dalam kaitannya dengan perumahan yang dibangun.

5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sintesa Tinjauan Pustaka Komponen Sumber Substansi Kajian Indikator Kebutuhan Maslow Terdapat 5 tingkatan Tingkat kebutuhan manusia Aspek non fisik : manusia (1970) kebutuhan manusia terhadap terhadap hunian dipengaruhi Keselamatan hidup, terhadap hunian. oleh kondisi sosial ekonomi berkaitan dengan hunian masyarakat. keselamatan diri dari kriminal dan bencana Perlindungan hak milik Identitas diri Pengakuan jati diri Fungsi Budihardjo rumah bagi (1998) manusia Turner (1972) Fungsi rumah bagi manusia untuk menjaga ketenangan dan kekuatan lahir-batin manusia. Fungsi dasar rumah digolongkan dalam tiga pengertian yaitu pengertian fisik, pengertian ekonomi, dan pengertian sosial. Ketiga aspek tersebut dapat memenuhi kepuasan penghuninya. Fungsi rumah khususnya dalam menjaga kondisi psikologi-sosial manusia. Fungsi rumah bagi manusia tidak dapat dipisahkan dengan tingkat kebutuhan manusia terhadap hunian. Manusia menentukan fungsi utama rumah yang akan dihuni sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Keindahan visual Aspek non fisik : Komponen atribut hunian, meliputi kenyamanan, keamanan lingkungan hunian. Aspek non fisik : Keselamatan hidup Identitas diri Perlindungan hak milik

6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sintesa Tinjauan Pustaka Komponen Sumber Substansi Kajian Indikator Kriteria lokasi Sinulingga perumahan (1999) Widyawati (1991) Rismiati (2008) Sastra (2006) Ketentuan lokasi perumahan yang baik terdiri dari aspek lingkungan alam, ketersediaan aksessibilitas, prasaranan dan sarana. Atribut hunian mendapat perhatian dan penilaian masyarakat dalam memilih lokasi rumah. Lokasi perumahan bagi masyarakat pendapatan rendah harus dekat dengan lokasi bekerja, serta memiliki ketersediaan prasarana dan sarana permukiman Kriteria suatu lingkungan perumahan yang baik terdiri dari aspek lokasi, kondisi Ketentuan lokasi perumahan yang baik terdiri dari aspek lahan, topografi, ketersediaan aksessibilitas, prasarana dan sarana. Aspek fisik : Topografi lahan Aksessibilitas Prasarana dan sarana Penyediaan lahan Atribut hunian terdiri dari Aspek non fisik : komponen keamanan, Komponen atribut kesehatan, kenyamanan, dan hunian, meliputi keindahan yang berperan dalam kenyamanan, menjaga fisik dan psokologisosial keamanan lingkungan manusia. hunian. Masyarakat pendapatan rendah Aspek fisik : mempertimbangkan kedekatan Prasarana dan sarana lokasi rumah dengan tempat bekerja serta memiliki ketersediaan prasarana dan sarana permukiman dalam pemilihan lokasi rumah Aspek lokasi menurut Sastra memiliki pengertian kemudahan akssessibilitas lokasi Aspek fisik : Topografi lahan Aksessibilitas

7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sintesa Tinjauan Pustaka Komponen Sumber Substansi Kajian Indikator Aspek Widyawati Preferensi manusia manusia (1991) terhadap ruang geografis dalam sangat bervariasi dan pemilihan lokasi perumahan merupakan perwujudan dari aspirasi, pengalaman dan harapan. Preferensi tersebut tidak selalu sama antara satu orang dengan orang lain. Hal tersebut dipengaruhi oleh tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, usia, ras, latar belakang keluarga dan lokasi tempat tinggal. Turner (1972) Motivasi manusia dalam menentukan fungsi rumah berkaitan dengan tingkat pendapatannya. Aspek manusia termasuk dalam aspek non fisik yang berperan dalam menggambarkan keruangan lingkungan manusia tersebut tinggal yang dapat diimplementasikan dengan adanya preferensi masyarakat terhadap kondisi lingkungan sekitarnya yaitu pemilihan lokasi tempat tinggal. Aspek non fisik : Tingkat pendapatan Jenis pekerjaan Kemampuan dan kebutuhan Aspek non fisik : masing-masing individu terhadap Tingkat pendapatan hunian berkaitan dengan aspek sosial-ekonomi masyarakat yang dipengaruhi oleh tingkat pendapatan.

8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Sintesa Tinjauan Pustaka Komponen Sumber Substansi Kajian Indikator Preferensi masyarakat golongan menengah bawah Fitriani (2009) Nurhadi (2004) Rismiati (2008) Faktor-faktor pemilihan lokasi perumahan bagi masyarakat golongan menengah. Preferensi lokasi perumahan bagi masyarakat pendapatan rendah berorientasi pada pemenuhan kebutuhan dasar. Sedangkan orientasi preferensi masyarakat menengah mulai berkembang yaitu dengan memenuhi keinginan yang memperhatikan kebutuhan. Aspek-aspek yang diperhatikan dalam Golongan masyarakat menengah telah memiliki kemampuan ekonomi yang baik sehingga dalam memilih lokasi perumahan lebih memprioritaskan ketersediaan prasarana dan sarana permukiman pada kawasan perumahan. Pola preferensi perumahan masyarakat bergantung pada tingkat pendapatan. Masyarakat pendapatan rendah mempertimbangkan Aspek fisik : Prasarana dan sarana Aspek non fisik : Tingkat pendapatan Aspek fisik : Prasarana dan sarana

9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Indikator Penelitian Indikator Variabel Sub Variabel Keterangan Aspek Non Fisik Keselamatan dan kenyamanan Keamanan lingkungan dari Seluruh variabel hidup tindak kriminal Keamanan dari bencana digunakan dalam penelitian. Kenyamanan dari kebisingan dan polusi Regulasi dan perijinan Kebijakan penyediaan Seluruh variabel lahan permukiman Perlindungan hak milik digunakan dalam penelitian. Sosial ekonomi Tingkat Pendapatan Seluruh variabel Pekerjaan Pendidikan digunakan dalam penelitian. Identitas diri Pengakuan jati diri Hubungan sosial masyarakat Aspek fisik Aksessibilitas Terminal angkutan umum Seluruh variabel Angkutan umum Jaringan jalan digunakan dalam penelitian. Prasarana lingkungan Jaringan air bersih Seluruh variabel Jaringan pembuangan air digunakan dalam

10 BAB III METODE PENELITIAN

11 BAB III METODE PENELITIAN Pendekatan penelitian Jenis Penelitian Pendekatan positivistik dengan menggunakan metode theoritical analytic dan empirical analytic. Metode theoretical analytic menggunakan konstruksi teori untuk melandasi perumusan faktor-faktor penghambat pengembangan permukiman dan yang mempengaruhi perkembangan permukiman. metode empirical analytic menjadikan teori sebagai batasan lingkup kemudian mengidentifikasi faktor empiris sebagai faktor yang juga berpengaruh dalam pengembangan permukiman. Jenis penelitian ini adalah yaitu deskriptif dan preskriptif. Penelitian deskriptif bertujuan untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Penelitian preskriptif digunakan untuk merumuskan tindakan untuk memecahkan masalah.

12 BAB III METODE PENELITIAN Metode Pengumpulan Data Survey data primer Teknik survey primer dilakukan melalui home interview penduduk dengan cara wawancara serta menyebarkan kuesioner. Survey penduduk secara perorangan dilakukan untuk memperoleh data primer sebagai bahan analisis yang nantinya akan dilakukan. Survei Data Sekunder Survei sekunder dalam penelitian ini melalui dokumentasi yaitu pengumpulan data berupa dokumen-dokumen yang diperoleh dari instansi pemerintah yang meliputi BPS Jawa Timur, Bappeda Kabupaten Gresik serta dinas-dinas lain yang terkait.

13 BAB III METODE PENELITIAN Metode Analisis Menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengembangan permukiman masyarakat menengah bawah. Penentuan faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengembangan perumahan dan permukiman dilakukan dengan analisis faktor. Metode yang digunakan adalah deskriptif teoritik, dengan cara menguraikan variabel-variabel penelitian, menguraikan teori-teori yang berkaitan dengan pengembangan perumahan dan permukiman, serta kebijakan pemerintah terkait pengembangan perumahan dan permukiman. Faktor yang dianggap berpengaruh dapat digabungkan dalam satu faktor berdasarkan uraian pada ketentuan perundangan maupun teori-teori.

14 BAB III METODE PENELITIAN Metode Analisis Pengujian Kuesioner Pengujian kuesioner menggunakan uji validitas dan reabilitas. Nilai Cronbach s Alpha >0.6 yang berarti hasil kuesioner sudah reliabel atau berarti bahwa jawaban dari responden cukup stabil dan konsisten. Sedangkan untuk hasil uji validitas dapat diketahui jika nilai Corrected Item-Total Correlation > r tabel yang berarti butir-butir pertanyaan sudah valid.

15 BAB III METODE PENELITIAN Metode Analisis Menganalisis tingkat kepuasan masyarakat dan tingkat harapan yang dianggap penting dalam mendukung pengembangan permukiman menengah bawah berdasarkan preferensi masyarakat Skala Pengukuran Likert Skala Kepuasan Harapan Pengukuran 1 Sangat tidak baik Sangat Tidak Penting 2 Tidak baik Tidak Penting 3 Cukup baik Cukup Penting 4 baik Penting 5 Sangat baik Sangat Penting 1. Membandingkan nilai indeks tingkat kepuasan dengan nilai indeks harapan, menghasilkan selisih nilai indeks 2. Selisih nilai indeks tiap faktor yang memiliki nilai diatas rata-rata nilai indeks merupakan faktor yang berpengaruh. 3. Faktor yang berpengaruh dalam pengembangan kawasan permukiman merupakan faktor yang memiliki nilai indeks tingkat kepuasan dibawah indeks rata-rata tingkat kepuasan sehingga merupakan faktor yang penting dikembangkan.

16 BAB III METODE PENELITIAN Metode Analisis Menentukan faktor-faktor prioritas yang meningkatkan pengembangan permukiman menengah bawah di Kecamatan Driyorejo berdasarkan preferensi masyarakat. Setelah nilai indeks pengaruh permukiman berdasarkan aspek-aspeknya ditentukan, maka ditentukan tingkat prioritas faktor dengan menghitung rentang interval selisih indeks. Kelompok pengaruh ditentukan terdiri dari tiga kelas yaitu kelompok pengaruh tinggi, sedang dan rendah. Kelompok faktor prioritas tinggi terdapat pada kelas pengaruh tinggi. Perhitungan nilai rentang interval berdasarkan metode Sturgess adalah sebagai berikut : R = (nilai maksimum nilai minimum)/n Keterengan : R = rentang interval n = kelas pengelompokkan (n = 3)

17 BAB III METODE PENELITIAN Metode Analisis Merumuskan kriteria pengembangan permukiman menengah bawah yang dapat dikembangkan di wilayah Kecamatan Driyorejo.. Kriteria pengembangan kawasan permukiman berdasarkan faktor-faktor yang mendukung pengembangan dianalisis melalui teknik triangulasi. Teknik analisis triangulasi yang digunakan dengan cara mengkolaborasikan studi literatur, kebijakan terkait pengembangan perumahan dan permukiman, dan hasil analisis prioritas pengembangan kawasan berdasarkan preferensi masyarakat golongan menengah bawah. Analisis triangulasi mencapai validitas ketika jawaban yang diperoleh untuk menggambarkan sebuah obyek sudah mencapai titik jenuh, atau dengan kata lain terdapat beberapa hal yang sama yang diungkapkan oleh sumber yang berbeda dan semua sudut pandang sudah dapat diakomodasi. Hasil analisis Kebijakan Studi Literatur Kriteria Pengembangan Skema Analisis Triangulasi Penentuan Kriteria Pengembangan Permukiman Formal Golongan Masyarakat Menengah Bawah

18 BAB III METODE PENELITIAN Metode Analisis Menentukan konsep pengembangan permukiman menengah bawah di Kecamatan Driyorejo. Konsep pengembangan kawasan perumahan dan permukiman menengah bawah dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Analisis perumusan konsep dilakukan setelah melakukan analisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengembangan permukiman dan kriteria pengembangn perumahan dan permukiman menengah bawah. Teknik analisis deskriptif dilakukan dengan cara mengkolaborasikan studi literatur, kebijakan terkait pengembangan perumahan dan permukiman, dan hasil analisis kriteria.

19 BAB III METODE PENELITIAN Metode Sampel Metode pengambilan sampel bagi masyarakat yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling random. Berdasarkan rumus penghitungan Slovin dalam Sevilla (1993), dijelaskan bahwa pengambilan sampel dapat dilakukan berdasarkan rumus: n = Keterangan : n = jumlah sampel (yang minimal diambil) N = jumlah populasi e = nilai kesalahan (% kesalahan) dalam penelitian ini ditetapkan sebesar 10 % Sampel total untuk masyarakat golongan menengah bawah yang bertempat tinggal di Kecamatan Driyorejo adalah : n = / [1 + ( x 0,01)] = 99,24 = 100 Dari sampel total untuk masyarakat perumahan tersebut yang berjumlah 100 responden akan didistribusikan ke dalam 7 desa secara proporsional.

20 BAB III METODE PENELITIAN Metode Sampel Proporsi dan Penyebaran Kuisioner pada tiap Desa Terpilih No. Desa Jumlah KK Jumlah Sampel 1. Bambe Petiken Sumput Randegansari Mojosarirejo Mulung Gadung Jumlah

21 BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

22 BAB IV ANALISA dan PEMBAHASAN Gambaran umum Kecamatan Driyorejo

23 BAB IV ANALISA dan PEMBAHASAN Gambaran umum Kecamatan Driyorejo

24 BAB IV ANALISA dan PEMBAHASAN Analisis faktor-faktor yang berpengaruh dalam pengembangan perumahan dan permukiman

25 BAB IV ANALISA dan PEMBAHASAN Uji validitas dan reliabilitas Pada studi ini jumlah kuesioner sebanyak 45 dengan = 5 %, maka jalur yang dilihat adalah 45. Sehingga didapatkan angka kritik senilai 0,301. Pertanyaan dinyatakan valid, jika nilai r (korelasi) > r tabel. Sedangkan kuesioner dinyatakan reliabel jika memiliki nilai Cronbach s Alpha > No. Faktor Penjabaran Faktor Aspek Non Fisik 1. Keselamatan dan Keamanan kenyamanan lingkungan dari hidup tindak kriminal 2. Regulasi dan Kebijakan perijinan penyediaan lahan permukiman Reliabilitas Validitas (R Tabel = 0,301) Keterangan 0,852 0,341 Valid dan reliabel 0,852 0,451 Valid dan reliabel 3. Sosial Ekonomi Identitas diri 0,852 0,342 Valid dan reliabel 4. Hubungan sosial 0,852 0,540 Valid dan masyarakat reliabel Aspek Fisik 5. Kemudahan Ketersediaan 0,852 0,511 Valid dan Aksessibilitas terminal reliabel angkutan 6. Ketersediaan 0,852 0,245 Valid dan angkutan umum reliabel 7. Ketersediaan 0,852 0,422 Valid dan jaringan jalan reliabel 8. Ketersediaan Prasarana Lingkungan Ketersediaan jaringan bersih 9. Ketersediaan saluran limbah air air 0,852 0,466 Valid dan reliabel 0,852 0,421 Valid dan reliabel 10. Ketersediaan 0,852 0,577 Valid dan

26 BAB IV ANALISA dan PEMBAHASAN Analisis Tingkat Kepuasan dan Tingkat Harapan Masyarakat dalam mendukung pengembangan kawasan perumahan dan permukiman menengah bawah No. Faktor-faktor Penjabaran faktorfaktor Nilai Nilai Selisih Kelompok Pengembangan pengembangan Indeks Indeks Indeks pengaruh kawasan kawasan perumahan Tingkat Tingkat perumahan dan dan permukiman Kepuasa Harapan permukiman n 1. Keselamatan dan Keamanan dari tindak Tidak kenyamanan hidup kriminal ,00 berpengaruh 2. Regulasi dan Kebijakan penyediaan Tidak perijinan lahan permukiman 70 81,8 11,80 berpengaruh 3. Sosial ekonomi Identitas diri Tidak 73,2 76,4 3,20 berpengaruh 4. Hubungan sosial antar Tidak masyarakat 77,2 85,8 8,60 berpengaruh 5. Kemudahan Ketersediaan fasilitas Berpengaruh Aksessibilitas terminal angkutan umum 48,8 75,8 27,00 6. Ketersediaan fasilitas Berpengaruh angkutan umum 53,8 84,6 30,80 7. Ketersediaan jaringan Berpengaruh jalan 58, ,60 8. Ketersediaan Ketersediaan jaringan Berpengaruh Prasarana air bersih 52 95,8 43,80 9. Lingkungan Ketersediaan jaringan Tidak air limbah 73,8 89,6 15,80 berpengaruh 10. Ketersediaan jaringan Berpengaruh drainase 65,4 88,2 22, Ketersediaan fasilitas Berpengaruh

27 BAB IV ANALISA dan PEMBAHASAN Analisis Tingkat Kepuasan dan Tingkat Harapan Masyarakat dalam mendukung pengembangan kawasan perumahan dan permukiman menengah bawah. Ketersediaan Fasilitas terminal angkutan umum. Ketersediaan angkutan umum. Ketersediaan Jaringan jalan. Ketersediaan jaringan air bersih. Ketersediaan Jaringan drainase. Ketersediaan Fasilitas pembuangan sampah. Ketersediaan Fasilitas SMP/sederajat. Ketersediaan Fasilitas SMA/sederajat. Ketersediaan Fasilitas Pendidikan Perguruan tinggi/sederajat 0. Ketersediaan Fasilitas kesehatan 1. Ketersediaan Fasilitas Rekreasi dan Olahraga berupa Taman 2. Ketersediaan Fasilitas Rekreasi dan Olahraga berupa lapangan 3. Kondisi kelerengan lahan

28 BAB IV ANALISA dan PEMBAHASAN Analisis faktor-faktor prioritas dalam mendukung pengembangan kawasan perumahan dan permukiman menengah bawah No. Faktor-faktor Pengembangan kawasan perumahan dan permukiman 1. Ketersediaan Jaringan air bersih 2. Ketersediaan Fasilitas Rekreasi dan olahraga berupa taman Selisih Indeks tinggi tinggi Klasifikasi prioritas 3. Ketersediaan Jaringan jalan sedang 4. Ketersediaan Fasilitas pembuangan sampah sedang 5. Ketersediaan Fasilitas SMA/sederajat sedang 6. Ketersediaan angkutan umum sedang 7. Ketersediaan Fasilitas SMP/sederajat rendah 8. Ketersediaan Fasilitas terminal angkutan umum rendah 9. Ketersediaan Fasilitas Pendidikan Perguruan tinggi/sederajat rendah 10. Ketersediaan Fasilitas kesehatan rendah 11. Kondisi Topografi lahan rendah 12. Ketersediaan Jaringan drainase rendah 13. Ketersediaan Fasilitas Rekreasi dan Olahraga berupa lapangan rendah

29 BAB IV ANALISA dan PEMBAHASAN Analisis kriteria pendukung pengembangan kawasan perumahan dan permukiman menengah bawah Fasilitas terminal angkutan umum Kriteria pengembangan kawasan permukiman harus menyediakan terminal angkutan umum atau pengkalan sementara angkutan umum di kawasan perumahan maupun sekitarnya. Terminal transportasi pada lingkungan permukiman berperan dalam mendukung aksessibilitas dan pendukung sarana transportasi umum. Fasilitas angkutan umum Kriteria pengembangan permukiman berdasarkan faktor aksesibilitas salah satunya dengan memperhatikan ketersediaan fasilitas angkutan umum di kawasan permukiman. Bagi golongan masyarakat menengah bawah, ketersediaan angkutan umum penting dalam mendukung pengembangan kawasan mereka tinggal. Moda angkutan umum yang beroperasi dapat berupa angkutan bus umum atau mobil penumpang Jaringan jalan Kriteria pengembangan kawasan permukiman formal golongan masyarakat menengah bawah di Kecamatan Driyorejo salah satunya dengan memperhatikan faktor ketersediaan jaringan jalan. Kemudahan akses dapat dicapai dengan ketersediaan jaringan jalan lokal maupun jalan lingkungan di kawasan permukiman sehingga terhubung dengan dengan tempat kerja, sekolah, pusat perbelanjaan dan sarana lain. Jaringan jalan yang tersedia hendaknya dalam kondisi yang baik

30 BAB IV ANALISA dan PEMBAHASAN Analisis kriteria pendukung pengembangan kawasan perumahan dan permukiman menengah bawah Jaringan air bersih kriteria pengembangan kawasan permukiman formal golongan masyarakat menengah bawah di Kecamatan Driyorejo salah satunya dengan memperhatikan faktor ketersediaan jaringan air bersih. Penyediaan air bersih yang dilayani oleh PDAM hendaknya mampu memenuhi kebutuhan minimal air bersih sebesar 60 liter/orang/hari yang disalurkan melalui penyediaan sambungan rumah atau sambungan halaman. Selain itu diperlukan penyediaan hidran kebakaran untuk daerah perumahan dengan jarak antar kran maksimum 200 meter. Jaringan drainase Kriteria pengembangan kawasan permukiman formal golongan masyarakat menengah bawah di Kecamatan Driyorejo dengan memperhatikan faktor ketersediaan jaringan drainase. Saluran drainase (saluran pembuangan air hujan) harus terdapat di komplek perumahan yang terhubung dengan badan air (sungai, danau atau laut). Fasilitas pembuangan sampah Berdasarkan uraian tersebut, kriteria pengembangan kawasan permukiman formal golongan masyarakat menengah bawah di Kecamatan Driyorejo salah satunya dengan memperhatikan faktor ketersediaan TPS. TPS yang dapat dikembangkan pada lingkup kecamatan adalah TPS lokal dengan sarana pelengkap adalah mobil sampah dan bak sampah besar. Jarak bebas TPS tersebut dengan lingkungan hunian minimal 30 meter.

31 BAB IV ANALISA dan PEMBAHASAN Analisis kriteria pendukung pengembangan kawasan perumahan dan permukiman menengah bawah Fasilitas SMP/sederajat Kriteria pengembangan Fasilitas pendidikan SMP/sederajat sebaiknya dibangun pada wilayah yang dijangkau kendaraan umum, disatukan dengan lapangan olahraga dan tidak selalu harus di pusat lingkungan.. Fasilitas SMA/sederajat. Kriteria pengembangan Fasilitas pendidikan SMA/sederajat sebaiknya dibangun pada wilayah yang dijangkau kendaraan umum, disatukan dengan lapangan olahraga dan tidak selalu harus di pusat lingkungan. Fasilitas Pendidikan Perguruan tinggi/sederajat Kriteria pengembangan fasilitas tingkat perguruan tinggi sebaiknya dibangun menyesuaikan dengan kebutuhan penduduk yang tinggal dalam wilayah yang luas menyesuaikan arahan pengembangan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Fasilitas kesehatan Kriteria pengembangan kawasan permukiman formal golongan masyarakat menengah bawah di Kecamatan Driyorejo dengan memperhatikan faktor ketersediaan fasilitas kesehatan yaitu lokasinya di tengah kelompok tetangga sehingga tidak menyeberang jalan raya, serta dapat dijangkau kendaraan umum

32 BAB IV ANALISA dan PEMBAHASAN Analisis kriteria pendukung pengembangan kawasan perumahan dan permukiman menengah bawah Fasilitas Rekreasi dan Olahraga berupa Taman Kriteria pengembangan fasilitas rekreasi dan olahraga berupa taman sebaiknya terletak dekat dengan kawasan perumahan sehingga mendukung pengembangan perumahan dan permukiman bagi golongan menengah bawah di kawasan Driyorejo Fasilitas Rekreasi dan Olahraga berupa lapangan Kriteria pengembangan lapangan sebaiknya terletak dekat dengan kawasan perumahan berupa kesatuan taman bermain yang terdiri dari taman bermain, tempat bermain, dan lapangan olahraga yang dekat dengan sarana pendidikan dan dekat jalan utama sehingga mendukung pengembangan perumahan dan permukiman bagi golongan menengah bawah di kawasan Driyorejo. Kondisi topografi lahan Kriteria pengembangan kawasan permukiman formal golongan masyarakat menengah bawah di Kecamatan Driyorejo salah satunya dengan memperhatikan faktor topografi lahan. Kawasan yang diijinkan untuk dikembangkan sebagai perumahan adalah lahan dengan kemiringan lereng < 15 %.

33 BAB IV ANALISA dan PEMBAHASAN Perumusan Konsep pengembangan kawasan perumahan dan permukiman menengah bawah Dengan memperhatikan keseluruhan hasil analisis terhadap faktor-faktor pengembangan permukiman maka dapat ditentukan konsep pengembangan kawasan permukiman golongan masyarakat menengah bawah sebagai berikut: 1. Penentuan prioritas pengembangan unsur-unsur kawasan permukiman berdasarkan preferensi masyarakat 2. Peningkatan keterlibatan masyarakat golongan menengah bawah dalam penyediaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana lingkungan permukiman 3. Peningkatan kerjasama dari berbagai pihak (khususnya pemerintah-pihak swasta/pengembang-masyarakat) untuk mendukung pengembangan kawasan permukiman

34 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

35 Kesimpulan BAB V KESIMPULAN dan SARAN Konsep pengembangan kawasan permukiman golongan masyarakat menengah bawah sebagai berikut: 1. Penentuan prioritas pengembangan unsur-unsur kawasan permukiman berdasarkan preferensi masyarakat 2. Peningkatan keterlibatan masyarakat golongan menengah bawah dalam penyediaan dan pemeliharaan prasarana dan sarana lingkungan permukiman 3. Peningkatan kerjasama dari berbagai pihak (khususnya pemerintah-pihak swasta/pengembang-masyarakat) untuk mendukung pengembangan kawasan permukiman

36 Saran BAB V KESIMPULAN dan SARAN Berdasarkan hasil penelitian, maka didapatkan rekomendasi sebagai berikut : Pengembangan kawasan permukiman bagi golongan masyarakat menengah bawah hendaknya memperhatikan kebutuhan golongan masyarakat tersebut sehingga pengembangannya dapat lebih tepat sasaran dan bermanfaat secara optimal. Pengembangan kawasan perumahan menengah bawah menjadi lingkungan permukiman yang dapat memberi manfaat yang lebih optimal bagi masyarakat dapat dilakukan dengan melihat preferensi masyarakat, serta memperhatikan preferensi pengembang dan kebijakan pemerintah sehingga seluruh stakeholder terlibat dalam pembangunan lingkungan permukiman

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian Pengaruh faktor bermukim masyarakat terhadap pola persebaran adalah pendekatan penelitian deduktif

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN PENDEKATAN PENELITIAN TAHAPAN PENELITIAN METODE PENGUMPULAN DATA METODE ANALISA VARIABEL PENELITIAN METODE SAMPLING BAB III METODE PENELITIAN 10 PENDEKATAN PENELITIAN Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1. Tempat Penelitian A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Karanganyar. Secara astronomi Kabupaten Karanganyar terletak antara 110 40 110 70

Lebih terperinci

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Masyarakat dalam Memilih Lokasi Hunian Peri Urban Surabaya di sidoarjo

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Masyarakat dalam Memilih Lokasi Hunian Peri Urban Surabaya di sidoarjo JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No.1, (2013) 2337-3520 (2301-928X Print) 1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Masyarakat dalam Memilih Lokasi Hunian Peri Urban Surabaya di sidoarjo Medina Ayesha Serlin dan Ema

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) C-143

JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: ( Print) C-143 JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 2, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) C-143 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Masyarakat dalam Memilih Lokasi Hunian Peri Urban Surabaya di Sidoarjo Medina Ayesha Serlin

Lebih terperinci

OPTIMASI PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN DRIYOREJO BERDASARKAN KETERSEDIAAN SUMBERDAYA AIR

OPTIMASI PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN DRIYOREJO BERDASARKAN KETERSEDIAAN SUMBERDAYA AIR OPTIMASI PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN DRIYOREJO BERDASARKAN KETERSEDIAAN SUMBERDAYA AIR CHRISTIANINGSIH/368143 DOSEN PEMBIMBING : PUTU GDE ARIASTITA, ST. MT PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Lebih terperinci

Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh Di Wilayah Kecamatan Semampir Kota Surabaya Melalui Pendekatan Partisipasi Masyarakat

Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh Di Wilayah Kecamatan Semampir Kota Surabaya Melalui Pendekatan Partisipasi Masyarakat Penataan Lingkungan Permukiman Kumuh Di Wilayah Kecamatan Semampir Kota Surabaya Melalui Pendekatan Partisipasi Masyarakat PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

Lebih terperinci

Tabel 2.2 Sintesa Teori Faktor Bermukim Masyarakat

Tabel 2.2 Sintesa Teori Faktor Bermukim Masyarakat 2.5 Sintesa Teori dan Penentuan Variabel Penentuan variabel penelitian yang akan dilakukan melalui sintesa teori yang telah dijabarkan sebelumnya. Sintesa teori yang dilakukan merupakan penggabungan dari

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Sugiyono (2011:2) mengemukakan pengertian dari metode penelitian adalah sebagai berikut: Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan

Lebih terperinci

STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN SUB TERMINAL AGRIBISNIS SUMILLAN KECAMATAN ALLA KABUPATEN ENREKANG

STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN SUB TERMINAL AGRIBISNIS SUMILLAN KECAMATAN ALLA KABUPATEN ENREKANG STRATEGI PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN SUB TERMINAL AGRIBISNIS SUMILLAN KECAMATAN ALLA KABUPATEN ENREKANG M. Rizal 1, Wahju Herijanto 2, Anak Agung Gde Kartika 3 1 Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Bidang

Lebih terperinci

Redistribusi Lokasi Minimarket di Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya

Redistribusi Lokasi Minimarket di Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya Sidang Preview 4 Tugas Akhir Redistribusi Lokasi Minimarket di Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya Oleh RIANDITA DWI ARTIKASARI 3607 100 021 Dosen Pembimbing: Dr. Ing. Ir. Haryo Sulistyarso Tahun 2011 Program

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan penduduk kota kota di Indonesia baik sebagai akibat pertumbuhan penduduk maupun akibat urbanisasi telah memberikan indikasi adanya masalah perkotaan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia, yang terdiri dari ribuan pulau yang besar dan kecil, sehingga tanpa sarana angkutan transportasi yang memadai

Lebih terperinci

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 99 BAB 5 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Temuan Studi Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dalam penelitian ini, terdapat beberapa hal sebagai temuan studi yaitu sebagai berikut : 1. Karakteristik

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PREFERENSI BERMUKIM BERDASARKAN PERSEPSI PENGHUNI PERUMAHAN FORMAL DI KELURAHAN MOJOSONGO KOTA SURAKARTA

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PREFERENSI BERMUKIM BERDASARKAN PERSEPSI PENGHUNI PERUMAHAN FORMAL DI KELURAHAN MOJOSONGO KOTA SURAKARTA T U G A S A K H I R FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PREFERENSI BERMUKIM BERDASARKAN PERSEPSI PENGHUNI PERUMAHAN FORMAL DI KELURAHAN MOJOSONGO KOTA SURAKARTA Diajukan Sebagai Syarat Untuk Mencapai Jenjang Sarjana

Lebih terperinci

UU NO 4/ 1992 TTG ; PERUMAHAN & PERMUKIMAN. : Bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal/hunian & sarana pembinaan. keluarga.

UU NO 4/ 1992 TTG ; PERUMAHAN & PERMUKIMAN. : Bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal/hunian & sarana pembinaan. keluarga. Pokok Bahasan Konsep Sanitasi Lingkungan Proses pengelolaan air minum; Proses pengelolaan air limbah; Proses pengelolaan persampahan perkotaan; Konsep dasar analisis system informasi geografis (GIS) untuk

Lebih terperinci

Aminatu Zuhriyah. Arahan Penanganan Permukiman Kumuh Nelayan Di Kelurahan Blimbing Kecamatan Paciran Lamongan

Aminatu Zuhriyah. Arahan Penanganan Permukiman Kumuh Nelayan Di Kelurahan Blimbing Kecamatan Paciran Lamongan Arahan Penanganan Permukiman Kumuh Nelayan Di Kelurahan Blimbing Kecamatan Paciran Lamongan Aminatu Zuhriyah 3604 100 035 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan

Lebih terperinci

OPTIMALISASI FASILITAS DAN PENGELOLAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA (RUSUNAWA) DI KOTA MATARAM (STUDI KASUS RUSUNAWA SELAGALAS KOTA MATARAM)

OPTIMALISASI FASILITAS DAN PENGELOLAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA (RUSUNAWA) DI KOTA MATARAM (STUDI KASUS RUSUNAWA SELAGALAS KOTA MATARAM) OPTIMALISASI FASILITAS DAN PENGELOLAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA (RUSUNAWA) DI KOTA MATARAM (STUDI KASUS RUSUNAWA SELAGALAS KOTA MATARAM) Sri Hartati 1, *), Tri Joko Wahyu Adi 2) dan Yusroniya Eka Putri

Lebih terperinci

ARAHAN PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT PETANI JERUK SIAM BERDASARKAN PERSPEKTIF PETANI

ARAHAN PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT PETANI JERUK SIAM BERDASARKAN PERSPEKTIF PETANI Preview Sidang 3 Tugas Akhir ARAHAN PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT PETANI JERUK SIAM BERDASARKAN PERSPEKTIF PETANI DI KECAMATAN BANGOREJO, KABUPATEN BANYUWANGI Disusun: Nyimas Martha Olfiana 3609.100.049

Lebih terperinci

3 METODE Rancangan Penelitian

3 METODE Rancangan Penelitian Peningkatan kesadaran perusahaan terhadap perlunya perilaku tanggung jawab sosial terjadi secara global. Para pengambil kebijakan di perusahaan semakin menyadari bahwa tujuan tanggung jawab sosial adalah

Lebih terperinci

Optimalisasi Penggunaan Lahan Untuk Memaksimalkan Pendapatan Pemerintah Daerah Kabupaten Sidoarjo (Studi Kasus : Kecamatan Waru)

Optimalisasi Penggunaan Lahan Untuk Memaksimalkan Pendapatan Pemerintah Daerah Kabupaten Sidoarjo (Studi Kasus : Kecamatan Waru) JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No., (014) ISSN: 337-3539 (301-971 Print) C-87 Optimalisasi Penggunaan Lahan Untuk Memaksimalkan Pendapatan Pemerintah Daerah Kabupaten Sidoarjo (Studi Kasus : Kecamatan Waru)

Lebih terperinci

Kriteria Pengembangan Kawasan Wisata Alam Air Terjun Madakaripura, Kabupaten Probolinggo

Kriteria Pengembangan Kawasan Wisata Alam Air Terjun Madakaripura, Kabupaten Probolinggo Kriteria Pengembangan Kawasan Wisata Alam Air Terjun Madakaripura, Kabupaten Probolinggo JOS OKTARINA PRATIWI 3609100037 Dosen Pembimbing Dr. Ir. RIMADEWI SUPRIHARJO MIP. PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pertumbuhan penduduk disuatu negara akan berbanding lurus dengan kebutuhan sarana transportasi. Begitu pula di Indonesia, transportasi merupakan salah satu bagian

Lebih terperinci

EVALUASI PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) PELAYANAN BIDANG SARANA DAN PRASARANA DASAR KABUPATEN KUTAI TIMUR. Arif Mudianto.

EVALUASI PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) PELAYANAN BIDANG SARANA DAN PRASARANA DASAR KABUPATEN KUTAI TIMUR. Arif Mudianto. EVALUASI PENCAPAIAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) PELAYANAN BIDANG SARANA DAN PRASARANA DASAR KABUPATEN KUTAI TIMUR Oleh : Arif Mudianto Abstrak Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah ketentuan tentang

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii ABSTRAK... iii LEMBAR KATA PENGANTAR... iv DAFTAR ISI... vi DAFTAR TABEL... xi DAFTAR GAMBAR... xiv BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang...

Lebih terperinci

PERMODELAN BANGKITAN PERGERAKAN UNTUK BEBERAPA TIPE PERUMAHAN DI PEKANBARU

PERMODELAN BANGKITAN PERGERAKAN UNTUK BEBERAPA TIPE PERUMAHAN DI PEKANBARU PERMODELAN BANGKITAN PERGERAKAN UNTUK BEBERAPA TIPE PERUMAHAN DI PEKANBARU Parada Afkiki Eko Saputra 1 dan Yohannes Lulie 2 1 Jurusan Teknik Sipil, Universitas Universitas Atma Jaya Yogyakarta Email: Paradaafkiki@gmail.com

Lebih terperinci

MOTIVASI MASYARAKAT BERTEMPAT TINGGAL DI KAWASAN RAWAN BANJIR DAN ROB PERUMAHAN TANAH MAS KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR

MOTIVASI MASYARAKAT BERTEMPAT TINGGAL DI KAWASAN RAWAN BANJIR DAN ROB PERUMAHAN TANAH MAS KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR MOTIVASI MASYARAKAT BERTEMPAT TINGGAL DI KAWASAN RAWAN BANJIR DAN ROB PERUMAHAN TANAH MAS KOTA SEMARANG TUGAS AKHIR Oleh: DINA WAHYU OCTAVIANI L2D 002 396 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kota Bandung sebagai salah satu kota yang perkembangannya sangat pesat dihadapkan pada berbagai kebutuhan dalam memenuhi kehidupan perkotaan. Semakin pesatnya pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN Metodologi penelitian merupakan tahap-tahap penelitian yang sistematis untuk membantu penelitian menjadi terarah dengan baik. Berikut adalah metodologi penelitian yang dilakukan

Lebih terperinci

Kata kunci : Pemerintah, Pengembang, Masyarakat, Perumahan, Prioritas, Lokasi Perumahan, Kriteria

Kata kunci : Pemerintah, Pengembang, Masyarakat, Perumahan, Prioritas, Lokasi Perumahan, Kriteria 1 Kriteria Lokasi Pengembangan Perumahan Berdasarkan Preferensi Stakeholders di Kepanjen Kabupaten Malang Kety Intana Janesonia dan Putu Gde Ariastita Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan tipe penelitian deskriptif dengan

III. METODE PENELITIAN. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan tipe penelitian deskriptif dengan III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian Dalam penelitian ini, penulis menggunakan tipe penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif karena penelitian ini mendeskripsikan variabel tunjangan kinerja

Lebih terperinci

PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN

PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN METODOLOGI PENELITIAN PENDEKATAN DAN JENIS PENELITIAN POSITIVISTIK Merupakan pendekatan penelitian yang bersumber pada fakta dan berlandaskan teori untuk menganalisis obyek spesifik di lapangan. KAUSAL

Lebih terperinci

PENENTUAN LOKASI RUMAH SUSUN SEDERHANA campuran (Mixed use) DI SURABAYA BARAT

PENENTUAN LOKASI RUMAH SUSUN SEDERHANA campuran (Mixed use) DI SURABAYA BARAT PENENTUAN LOKASI RUMAH SUSUN SEDERHANA campuran (Mixed use) DI SURABAYA BARAT Dosen Pembimbing : Ardy Maulidy Navastara, ST, MT. Radinia Rizkitania 3608100035 PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat

III. METODOLOGI PENELITIAN. (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat menggunakan

Lebih terperinci

BAB III DATA DAN ANALISIS

BAB III DATA DAN ANALISIS BAB III DATA DAN ANALISIS 3.1 Data Penelitian mengenai Penyediaan Set Pelayanan Umum Perkotaan yang Sesuai dengan Preferensi Local Business di Kota Depok ini menggunakan dua jenis data, yaitu data sekunder

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana dan terstruktur dengan jelas

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang spesifikasinya adalah sistematis, terencana dan terstruktur dengan jelas BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Metode penelitian kuantitatif merupakan salah satu jenis penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. tersebut dikenal sebagai metode penelitian. Metode penelitian digunakan dan

BAB III METODE PENELITIAN. tersebut dikenal sebagai metode penelitian. Metode penelitian digunakan dan BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Metode Penelitian Dalam suatu penelitian, terdapat tata cara prosedur bertahap yang merupakan acuan peneliti dalam melakukan penelitian di lapangan. Tata cara

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan

III. METODE PENELITIAN. Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan III. METODE PENELITIAN 3.1 Tipe Penelitian Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang menggambarkan atau

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Setiap perusahaan mempunyai kebijakan-kebijakan yang berbeda satu dengan yang lainnya. Kebijakan-kebijakan tersebut di ambil dan dilaksanakan sesuai dengan

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Lokasi Penelitian

Gambar 3.1 Lokasi Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Penulis mengambil lokasi penelitian di sekitar Jalan Cihampelas yaitu dimulai dari Jalan Bapa Husen sampai Hotel Promenade yang telah di gambarkan di

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. terletak di sebelah selatan Kota Bandung yang berjarak sekitar ± 50 km dari pusat

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. terletak di sebelah selatan Kota Bandung yang berjarak sekitar ± 50 km dari pusat 29 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian dilakukan di Taman Wisata Alam Cimanggu yang terletak di sebelah selatan Kota Bandung yang berjarak sekitar ± 50 km dari

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Juni 2013 sampai dengan bulan Agustus Berdasarkan jenis masalah yang

BAB III METODE PENELITIAN. Juni 2013 sampai dengan bulan Agustus Berdasarkan jenis masalah yang 33 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Rancangan Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Kudus. Penelitian ini dimulai dari bulan Juni 2013 sampai dengan bulan Agustus 2013. Berdasarkan jenis masalah

Lebih terperinci

Jurnal Ilmiah TEKNIKA ISSN: ANALISA KARAKTERISTIK BANGKITAN PERGERAKAN DI PERUMAHAN SUKATANI - PALEMBANG

Jurnal Ilmiah TEKNIKA ISSN: ANALISA KARAKTERISTIK BANGKITAN PERGERAKAN DI PERUMAHAN SUKATANI - PALEMBANG Jurnal Ilmiah TEKNIKA ISSN: 355-3553 ANALISA KARAKTERISTIK BANGKITAN PERGERAKAN DI PERUMAHAN SUKATANI - PALEMBANG Ramadhani* *Dosen Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas IBA Email: enny.ramadhani@ymail.com

Lebih terperinci

KAJIAN KINERJA PELAYANAN ANGKUTAN UMUM DALAM KOTA DI PURWOKERTO. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Purwokerto 2

KAJIAN KINERJA PELAYANAN ANGKUTAN UMUM DALAM KOTA DI PURWOKERTO. Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Purwokerto 2 KAJIAN KINERJA PELAYANAN ANGKUTAN UMUM DALAM KOTA DI PURWOKERTO Juanita 1, Tito Pinandita 2* 1 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Purwokerto 2 Jurusan Teknik Informatika, Fakultas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian Objek dari penelitian ini adalah preferensi konsumen smartphone merek Blackberry. Adapun yang menjadi subjek dari penelitian ini, yaitu konsumen smartphone

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Permasalahan transportasi di daerah Yogyakarta terjadi sebagai salah satu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Permasalahan transportasi di daerah Yogyakarta terjadi sebagai salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan transportasi di daerah Yogyakarta terjadi sebagai salah satu akibat dari laju pertumbuhan penduduk yang relatif sangat pesat, peningkatan daya

Lebih terperinci

BAB III. tahapan penelitian yang dilakukan sebagai pendekatan permasalahan yang ada. MULAI SURVEY

BAB III. tahapan penelitian yang dilakukan sebagai pendekatan permasalahan yang ada. MULAI SURVEY BAB III METODOLOGI PENELITIAN 2.1 Bagan Alir Penelitian Agar penelitian lebih sistematis maka pada bab ini dijelaskan mengenai tahapan penelitian yang dilakukan sebagai pendekatan permasalahan yang ada.

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. kebisingan lalu lintas dan wawancara terhadap penduduk yang dilakukan dengan

BAB IV METODE PENELITIAN. kebisingan lalu lintas dan wawancara terhadap penduduk yang dilakukan dengan 20 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dengan cara pengambilan sampel data kebisingan lalu lintas dan wawancara terhadap penduduk yang dilakukan dengan cara purposive

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di CV. Duta Luwak Brother s Link Jln. Raden Intan Gg.

METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di CV. Duta Luwak Brother s Link Jln. Raden Intan Gg. III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di CV. Duta Luwak Brother s Link Jln. Raden Intan Gg. Menako No.111 Way Mengaku Kec.Balik Bukit Kabupaten Lampung Barat. Penelitian

Lebih terperinci

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. kuantitatif dan R&D (2009:205) Objek Penelitiian yaitu Sebelum peneliti

BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN. kuantitatif dan R&D (2009:205) Objek Penelitiian yaitu Sebelum peneliti BAB III OBJEK DAN METODE PENELITIAN 3.1. Objek Penelitian Menurut Prof. Dr. Sugiono dalam buku Metode Penelitiian kualitatif kuantitatif dan R&D (2009:205) Objek Penelitiian yaitu Sebelum peneliti memilih

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Penentuan Daerah Studi Dalam studi ini ruang lingkup penelitian pada Bandar Udara Husein Sastranegara, Bandung. Objek penelitian merupakan suatu permasalahan yang dijadikan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Gambar 3.1 Gambar Lokasi Curug Cilengkrang 36 37 Penelitian ini mengambil lokasi di Taman Wisata Alam Curug Cilengkrang, Desa Cilengkrang, Kecamatan Cibiru, Kabupaten,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berguna dan hanya bisa bergerak jika ada manusia yang menggerakannya. Tanpa

BAB I PENDAHULUAN. berguna dan hanya bisa bergerak jika ada manusia yang menggerakannya. Tanpa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut Timpe (1999: 20), dalam sebuah perusahaan, sumberdaya terpenting adalah manusia (man) karena semua sumberdaya yang ada hanya dapat berguna dan hanya

Lebih terperinci

PEMILIHAN LOKASI PERUMAHAN

PEMILIHAN LOKASI PERUMAHAN PEMILIHAN LOKASI PERUMAHAN Pemilihan lokasi perumahan oleh penghuni, pengembang, dan pemerintah dianalisis berdasarkan hasil kuesioner dengan teknik analisis komponen utama menggunakan sofware SPSS for

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian 42 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1. Tempat Penelitian A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di wilayah Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Penentuan lokasi penelitian

Lebih terperinci

Unisba.Repository.ac.id BAB I PENDAHULUAN

Unisba.Repository.ac.id BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 mengenai Pemerintahan Daerah, mulailah era baru dalam sistem pembangunan di daerah. Pada intinya otonomi daerah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki banyak potensi dan sumber daya alam yang belum dikembangkan secara maksimal, termasuk di dalamnya sektor pariwisata. Pembangunan bidang pariwisata

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN

BAB III METODE PERANCANGAN BAB III MTOD PRANCANGAN 3.1. Metode Perancangan Metode merupakan sebuah strategi atau cara yang dapat mempermudah dalam mencapai tujuan yang diinginkan, sehingga dalam proses perancangan membutuhkan suatu

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Populasi dan Sampel

METODE PENELITIAN Desain Penelitian Lokasi dan Waktu Penelitian Populasi dan Sampel 41 METODE PENELITIAN Desain Penelitian Penelitian ini didesain dalam bentuk metode survei yang bersifat explanatory research, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan peubah-peubah yang diamati,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lokasi yang paling efisien dan efektif untuk kegiatan-kegiatan produktif sehubungan dengan ketersediaan sarana dan prasarana.

BAB I PENDAHULUAN. lokasi yang paling efisien dan efektif untuk kegiatan-kegiatan produktif sehubungan dengan ketersediaan sarana dan prasarana. BAB I PENDAHULUAN Bab pendahuluan ini berisi mengenai latar belakang yang digunakan sebagai dasar penelitian, perumusan masalah, tujuan dan sasaran, ruang lingkup, kebutuhan data, teknik pengumpulan data,

Lebih terperinci

Pelaksanakan survai dan pengolahan data adalah untuk memperoleh data dan informasi tentang kondisi awal kawasan perencanaan.

Pelaksanakan survai dan pengolahan data adalah untuk memperoleh data dan informasi tentang kondisi awal kawasan perencanaan. TPL301 PERENCANAAN KOTA PERTEMUAN III : PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA Oleh : Ir. Darmawan L. Cahya, MURP, MPA (darmawan@esaunggul.ac.id) Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Tkik Teknik

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN 32 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian 3.1.1 Jenis dan Metode Penelitian Penelitian adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh satu orang atau lebih untuk mengidentifikasi suatu masalah atau fenomena

Lebih terperinci

WALIKOTA BATU KOTA BATU PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG CIPTA KARYA DAN TATA RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA BATU KOTA BATU PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG CIPTA KARYA DAN TATA RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN WALIKOTA BATU PERATURAN WALIKOTA BATU NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG PENJABARAN TUGAS DAN FUNGSI DINAS PEKERJAAN UMUM CIPTA KARYA DAN TATA RUANG KOTA BATU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31 Tahun 1995 tentang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31 Tahun 1995 tentang 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Definisi Terminal Menurut Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 31 Tahun 1995 tentang Terminal Transportasi Jalan menyatakan bahwa terminal penumpang adalah prasarana transportasi

Lebih terperinci

RPJMD Kab. Temanggung Tahun V 29

RPJMD Kab. Temanggung Tahun V 29 TARGET INDIKATOR Rasio Petugas Perlindungan Masyarakat (linmas) Rasio 1,64 1,59 1,59 1,60 1,60 1,62 1,62 1,62 TERWUJUDNYA TEMANGGUNG SEBAGAI DAERAH AGRARIS BERWAWASAN LINGKUNGAN, MEMILIKI MASYARAKAT AGAMIS,

Lebih terperinci

Tahap II. Penilaian/ pembobotan Kriteria Penilaian Daya Dukung Lingkungan dalam Rangka Pengembangan Kawasan Wisata Alam

Tahap II. Penilaian/ pembobotan Kriteria Penilaian Daya Dukung Lingkungan dalam Rangka Pengembangan Kawasan Wisata Alam Tahap II. Penilaian/ pembobotan Kriteria Penilaian Daya Dukung Lingkungan dalam Rangka Pengembangan Kawasan Wisata Alam Untuk penentuan prioritas kriteria dilakukan dengan memberikan penilaian atau bobot

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN. diskriptif yang mengenai pada langkah-langkah proses perancangan. Metode

BAB III METODE PERANCANGAN. diskriptif yang mengenai pada langkah-langkah proses perancangan. Metode BAB III METODE PERANCANGAN Dalam redesain Terminal Arjosari Malang ini, menggunakan metode diskriptif yang mengenai pada langkah-langkah proses perancangan. Metode diskriptif yaitu menggambarkan suatu

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA BALIGE SUMATERA UTARA KOTA BALIGE ADMINISTRASI Profil Kota Kota Balige merupakan ibukota Kabupaten (IKAB) dari kabupaten Toba Samosir yang terletak di propinsi Sumatera Utara.

Lebih terperinci

METODELOGI PENELITIAN

METODELOGI PENELITIAN 17 III. METODELOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Perusahaan memiliki strategi tertentu untuk memenangkan persaingan dalam pasar HP yang mereka hadapi. Persaingan yang ketat membuat perusahaan HP harus

Lebih terperinci

Kety Intana Janesonia Dosen Pembimbing : Putu Gde Ariastita, ST, MT.

Kety Intana Janesonia Dosen Pembimbing : Putu Gde Ariastita, ST, MT. Kriteria Lokasi Pengembangan Perumahan Berdasarkan Preferensi Stakholders di Perkotaan Kepanjen Kabupaten Malang Kety Intana Janesonia 3610100002 Dosen Pembimbing : Putu Gde Ariastita, ST, MT. Sidang Akhir

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sungai Cikapundung adalah salah satu sungai yang membelah Kota Bandung melewati 9 kecamatan yang mencakup 13 kelurahan. Sungai Cikapundung memiliki fungsi dan peran

Lebih terperinci

BAB II METODA DAN RUANG LINGKUP PEMBAHASAN

BAB II METODA DAN RUANG LINGKUP PEMBAHASAN BAB II METODA DAN RUANG LINGKUP PEMBAHASAN 2.1 Metoda Pembahasan Dalam rangka pelaksanaan kegiatan Studi Kelayakan dan Master Plan Politeknik Ilmu Pelayaran Semarang, Konsultan akan melaksanakan kegiatan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metodologi Penelitian 3.1.1. Pendekatan Penelitian Substansi yang diteliti dari penelitian ini ialah pola persebaran permukiman yang terdapat di Kawasan Rawan III dan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Pendekatan dan Metodologi 3.1.1 Pendekatan Penelitian Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Bahwa dalam penelitian kuantitatif

Lebih terperinci

Soeharto (1989: 150) mengemukakan untuk pengambilan sampel yang tingkat homogenitasnya tinggi untuk populasi dibawah 100 dapat dipergunakan sebagai sa

Soeharto (1989: 150) mengemukakan untuk pengambilan sampel yang tingkat homogenitasnya tinggi untuk populasi dibawah 100 dapat dipergunakan sebagai sa BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan survey. Penelitian deskriptif dapat diartikan sebagai proses pemecahan masalah yang diselidiki

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA JAWA TIMUR KOTA ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Tuban merupakan ibukota Kabupaten Tuban. Apabila dilihat dari posisi Kota Tuban yang berada di jalan arteri primer yang menghubungkan

Lebih terperinci

KRITERIA DAN TIPOLOGI PERUMAHAN KUMUH DAN PERMUKIMAN KUMUH

KRITERIA DAN TIPOLOGI PERUMAHAN KUMUH DAN PERMUKIMAN KUMUH - 1 - LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 02/PRT/M/2016 TENTANG PENINGKATAN KUALITAS TERHADAP PERUMAHAN KUMUH DAN PERMUKIMAN KUMUH KRITERIA DAN TIPOLOGI PERUMAHAN KUMUH

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA SIDAMANIK SUMATERA UTARA KOTA SIDAMANIK ADMINISTRASI Profil Kota Kota Kisaran merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Simalungun Propinsi Sumatera Utara. PENDUDUK Jumlah

Lebih terperinci

EVALUASI PENGELOLAAN PRASARANA LINGKUNGAN RUMAH SUSUN DI SURABAYA (STUDI KASUS : RUSUNAWA URIP SUMOHARJO)

EVALUASI PENGELOLAAN PRASARANA LINGKUNGAN RUMAH SUSUN DI SURABAYA (STUDI KASUS : RUSUNAWA URIP SUMOHARJO) TESIS II - RE092325 Dosen Pembimbing : I.D.A.A. Warmadewanthi, ST., MT., Ph.D Disampaikan Oleh : Diah Kusumaningrum NRP. 3308 202 011 EVALUASI PENGELOLAAN PRASARANA LINGKUNGAN RUMAH SUSUN DI SURABAYA (STUDI

Lebih terperinci

Arahan Peningkatan Daya Saing Daerah Kabupaten Kediri

Arahan Peningkatan Daya Saing Daerah Kabupaten Kediri JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 2, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) C-81 Arahan Peningkatan Daya Saing Daerah Kabupaten Kediri Eka Putri Anugrahing Widi dan Putut Gde Ariastita Jurusan Perencanaan

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 10 TAHUN 2014 TENTANG PENYEDIAAN, PENYERAHAN DAN PEMANFAATAN PRASARANA, SARANA DAN UTILITAS PADA KAWASAN PERUMAHAN DAN KAWASAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis.

BAB III METODE PENELITIAN. itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis. BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Menurut Sugiyono (2011; 2) penelitian merupakan cara ilmiah, berarti penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan yaitu rasional, empiris, dan sistematis.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Peranan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Peranan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Peranan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Menurut Munawar, A. (2004), angkutan dapat didefinikan sebagai pemindahan orang dan atau barang dari suatu tempat ke tempat lain dengan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 32 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi penelitian Dalam penelitian ini, peneliti mengambil lokasi di Kawasan Mangrove Karangsong yang berlokasi di Desa Karangsong, Kecamatan Indramayu, Kabupaten Indramayu,

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN. pengumpulan data, analisis, dan proses sintesis atau konsep perancangan.

BAB III METODE PERANCANGAN. pengumpulan data, analisis, dan proses sintesis atau konsep perancangan. BAB III METODE PERANCANGAN Pada perancangan hotel resort dalam seminar ini merupakan kajian berupa penjelasan dari proses perancangan yang disertai dengan teori-teori dan data-data yang didapat dari studi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tahapan Penelitian Pada bab ini akan di uraikan tahapan penelitian yang akan dilalui dari awal sampai akhir. Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses analisis dalam

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI RIAU

PEMERINTAH PROVINSI RIAU PEMERINTAH PROVINSI RIAU DINAS CIPTA KARYA, TATA RUANG DAN SUMBER DAYA AIR PROVINSI RIAU Oleh : Dr.Ir.H. DWI AGUS SUMARNO, MM., M.Si Kepala Dinas Cipta Karya, Tata Ruang dan Sumber Daya Air Provinsi Riau

Lebih terperinci

Oleh : CUCU HAYATI NRP Dosen Pembimbing Ir. Putu Rudy Setiawan, MSc

Oleh : CUCU HAYATI NRP Dosen Pembimbing Ir. Putu Rudy Setiawan, MSc Oleh : CUCU HAYATI NRP. 3606 100 018 Dosen Pembimbing Ir. Putu Rudy Setiawan, MSc PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Skema Tahapan Penelitian

Gambar 3.1 Skema Tahapan Penelitian BAB III METODOLOGI Metodologi merupakan cara yang digunakan sebagai unsur pengumpulan data. Penelitian selalu memerlukan metode untuk mempermudah kinerja penelitian. Metode adalah suatu jalan atau cara

Lebih terperinci

WALIKOTA PROBOLINGGO

WALIKOTA PROBOLINGGO WALIKOTA PROBOLINGGO SALINAN PERATURAN WALIKOTA PROBOLINGGO NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PEMANFAATAN LAHAN UNTUK PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN WALIKOTA PROBOLINGGO, Menimbang : a. bahwa dinamika perkembangan

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: ( Print C-45

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 1, (2015) ISSN: ( Print C-45 JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, 1, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print C-45 Penentuan Prioritas Pengembangan Infrastruktur Kawasan Wisata Bahari di Desa Sumberejo, Desa Lojejer dan Desa Puger Kulon, Kabupaten

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kemajuan teknologi di bidang transportasi sangat membantu manusia dalam menghemat waktu perjalanan yang tadinya berlangsung sangat lama menjadi lebih cepat. Teknologi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. astronomis terletak pada lintang LS LS dan pada bujur

BAB III METODE PENELITIAN. astronomis terletak pada lintang LS LS dan pada bujur 33 BAB III METODE PENELITIAN A. Lokasi, Populasi, dan Sampel 1. Lokasi Lokasi penelitian terdapat di Kecamatan Pekalipan Kota Cirebon yang secara astronomis terletak pada lintang 6 42 50 LS - 6 44 00 LS

Lebih terperinci

ARAHAN PENINGKATAN PELAYANAN BUS TRANSJAKARTA BERDASARKAN PREFERENSI PENGGUNA (KORIDOR I BLOK M-KOTA) HASRINA PUSPITASARI

ARAHAN PENINGKATAN PELAYANAN BUS TRANSJAKARTA BERDASARKAN PREFERENSI PENGGUNA (KORIDOR I BLOK M-KOTA) HASRINA PUSPITASARI ARAHAN PENINGKATAN PELAYANAN BUS TRANSJAKARTA BERDASARKAN PREFERENSI PENGGUNA (KORIDOR I BLOK M-KOTA) HASRINA PUSPITASARI 3609100051 Latar Belakang Transjakarta sebagai angkutan transportasi yang tergolong

Lebih terperinci

Gambar 3.1 Denah lokasi Saung Angklung Udjo, Bandung-Jawa Barat

Gambar 3.1 Denah lokasi Saung Angklung Udjo, Bandung-Jawa Barat 24 BAB III METODE PENELITIAN 1. Lokasi Penelitian Saung Angklung Udjo ini berada di kawasan Bandung bagian timur yang terletak di jln. Padasuka 118, Bandung Jawa Barat Indonesia. Lokasinya tidak terlalu

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Kerangka penelitian ini adalah langkah demi langkah dalam penyusunan Tugas Akhir mulai dari tahap persiapan penelitian hingga pembuatan dokumentasi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. pendekatan kuantitatif. Menurut Mohammad Nazir (1998: 63), metode

III. METODE PENELITIAN. pendekatan kuantitatif. Menurut Mohammad Nazir (1998: 63), metode III. METODE PENELITIAN A. Tipe Penelitian Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Menurut Mohammad Nazir (1998: 63), metode deskriptif adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berkembangnya jaman yang semakin maju menyebabkan kebutuhan manusia semakin banyak dan beragam. Setiap tahap pembangunan pasti menimbulkan tuntutan berkelanjutan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan yang terjadi maka dapat menimbulkan perubahan juga pada. masyarakatnya dimana mereka menuntut kelancaran transportasi.

BAB I PENDAHULUAN. perubahan yang terjadi maka dapat menimbulkan perubahan juga pada. masyarakatnya dimana mereka menuntut kelancaran transportasi. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam era perkembangan sekarang ini pemasaran merupakan faktor penting dalam menentukan maju berkembangnya suatu perusahaan. Pemasaran adalah suatu kegiatan dimana

Lebih terperinci

Bab 3 METODE PENELITIAN

Bab 3 METODE PENELITIAN Bab 3 METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan dan Metodologi Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif. Dengan metode kuantitatif ini diharapkan dapat memberikan penjelasan mengenai perilaku

Lebih terperinci