Petunjuk Teknis - Teknologi Sederhana Budidaya Ikan Bagi Masyarakat Pesisir

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Petunjuk Teknis - Teknologi Sederhana Budidaya Ikan Bagi Masyarakat Pesisir"

Transkripsi

1 Coastal Community Development Project-IFAD ii

2 KATA PENGANTAR Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir (PPMP) atau disebut Coastal Community Development Project - International Fund for Agricultural Development (CCDP-IFAD) merupakan kerjasama Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan IFAD berdasarkan Financing Agreement antara Pemerintah Republik Indonesia, dengan President IFAD yang ditandatangani pada tanggal 23 Oktober CCDP-IFAD tersebut merupakan respon langsung terhadap kebijakan dan prakarsa Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam hal pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan yang berkelanjutan (pro-poor, pro-job, pro-growth and pro-sustainability) yang sejalan dengan country strategy objective program CCDP-IFAD. CCDP-IFAD mulai efektif tahun 2013 dan akan berlangsung selama lima tahun hingga tahun Dalam implementasinya, CCDP-IFAD memberikan Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) kepada Kelompok-Kelompok masyarakat pesisir yang menjadi sasaran proyek. Ada empat macam Kelompok yang dapat dibentuk, yaitu Kelompok Infrastruktur (Pembangunan Prasarana), Kelompok Pengelola Sumberdaya, Kelompok Usaha dan Kelompok Tabungan. Kelompok Usaha merupakan kelompok masyarakat pesisir miskin yang mempunyai semangat untuk meningkatkan usahanya, baik Coastal Community Development Project-IFAD ii

3 sebagai usaha utama ataupun usaha sampingan. Usaha yang dijalankan Kelompok ini masih dalam lingkup sektor Perikanan, yaitu usaha penangkapan ikan, pembudidayaan ikan, pengolahan ikan dan lain sebagainya. Petunjuk Teknis (Juknis) Budidaya Ikan ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi Kelompok yang menjalankan usahanya dalam pembudidayaan ikan, yang sesuai dengan CCDP-IFAD. Dalam pelaksanaannya, mungkin Juknis ini perlu modifikasi sesuai dengan kondisi lapangan dan perkembangan teknologi maupun improvisasinya, namun demikian dapat dipakai sebagai rujukan yang sangat bermanfaat, baik bagi masyarakat pembudidaya maupun bagi pelaksana Proyek. Di waktu yang akan dating kiranya perlu juga disusun Juknis bagi usaha selain Perikanan Budidaya di sektor Perikanan. Jakarta, Januari 2014 Riyanto Basuki Direktur CCDP-IFAD Coastal Community Development Project-IFAD iii

4 DAFTAR ISI Bab Judul Halaman KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR I PENDAHULUAN 1.1 Masyarakat Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil 1.2 Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir 1.3 Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) 1.4 Budidaya Ikan di Daerah Pesisir II TEKNOLOGI BUDIDAYA LAUT 2.1 Budidaya Ikan di Karamba 2.2 Budidaya Rumput Laut 2.3 Analisis Usaha Analisis Usaha Budidaya Kerapu Bebek Dalam Karamba Analisis Usaha Budidaya Kerapu Macan Dalam Karamba Analisis Usaha Budidaya Kakap Putih Dalam Karamba Analisis Usaha Rumput Laut Metode Lepas Dasar Analisis Usaha Rumput Laut Metode Rakit Apung Analisis Usaha Rumput Laut Metode Long-line III TEKNOLOGI BUDIDAYA AIR PAYAU 3.1 Budidaya Ikan Bandeng Semi Intensif 3.2 Budidaya Campuran (Polikultur) Polikultur Bandeng dengan Udang Coastal Community Development Project-IFAD iv

5 3.2.2 Polikultur Bandeng, Udang dan Rumput Laut (Three in One) Polikultur Bandeng dengan Kepiting 3.3 Analisis Usaha Analisis Usaha Bandeng Semi Intensif Analisis Usaha Polikultur Bandeng dengan Udang Analisis Usaha Polikultur, Bandeng, Udang dan Rumput Laut Gracillaria Analisis Usaha Polikultur Bandeng dengan Kepiting IV BUDIDAYA AIR TAWAR 4.1 Budidaya Ikan Lele (Clarias batrachus) Budidaya Ikan Lele di Kolam Tanah Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal 4.2 Budidaya Ikan Mas dan Nila 4.3 Analisis Usaha Analisis Usaha Budidaya Ikan Lele di Kolam Tanah Analisis Usaha Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal Analisis Usaha Budidaya Ikan Mas di Kolam Tanah Analisis Usaha Budidaya Ikan Nila di Kolam Tanah V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan 5.2 Saran DAFTAR PUSTAKA Coastal Community Development Project-IFAD v

6 DAFTAR TABEL Tabel Judul Halaman 1 Kriteria Kelayakan Kualitas Air Budidaya Laut 2 Parameter Kualitas Perairan Bagi Pertumbuhan Rumput Laut Kotoni 3 Analisis Usaha Budidaya Kerapu Bebek per Siklus per 1 Unit KJA 4 Analisis Usaha Budidaya Kerapu Macan per Siklus per 1 Unit KJA 5 Analisis Usaha Budidaya Kakap Putih per Siklus per 1 Unit KJA 6 Analisis Usaha Budidaya Rumput Laut Metode Lepas Dasar per Musim Tanam 7 Analisis Usaha Budidaya Rumput Laut Metode Rakit Apung per Musim Tanam 8 Analisis Usaha Budidaya Rumput Laut Metode Longline per Musim Tanam 9 Kriteria Kelayakan Kualitas Lingkungan Budidaya Bandeng di Tambak 10 Beberapa Macam Pestisida Untuk Tambak Bandeng 11 Jenis dan Dosis Pupuk Untuk Penumbuhan Klekap 12 Jenis dan Dosis Pupuk Untuk Penumbuhan Plankton dan/atau Lumut 13 Padat Tebar Ikan Bandeng Untuk Beberapa Tingkat Teknologi dan Keperluan 14 Analisis Usaha Budidaya Bandeng Semi Intensif 15 Analisis Usaha Polikultur Bandeng dengan Udang 16 Analisis Usaha Polikultur Bandeng, Udang dan Rumput Laut 17 Analisis Usaha Polikultur Bandeng dengan Kepiting Coastal Community Development Project-IFAD vi

7 18 Analisis Usaha Budidaya Ikan Lele di Kolam Tanah 19 Analisis Usaha Budidaya Ikan Lele di Kolam Terpal 20 Analisis Usaha Budidaya Ikan Mas di Kolam Tanah 21 Analisis Usaha Budidaya Ikan Nila di Kolam Tanah Coastal Community Development Project-IFAD vii

8 DAFTAR GAMBAR Gambar Judul Halaman 1 Jenis-Jenis Ikan Laut yang Dibudidayakan 2 Karamba Tancap dan Karamba Jaring Apung (KJA) 3 Satu Unit Karamba Tancap Sederhana 4 Satu Unit Rakit dan Jaring KJA 5 Posisi Jaring, Pelampung dan Jangkar 6 Rumput Laut Kotoni yang Berasal Dari Maumere NTT dan Madura Jatim 7 Pemasangan Patok Teknologi Lepas Dasar 8 Pemasangan Rakit Apung 9 Konstruksi Metode Long-line 10 Budidaya Rumput Laut Metode Kombinasi Longline dan Rakit 11 Kantong Rumput Laut 12 Cara-cara Penjemuran Rumput Laut 13 Ikan Bandeng (Chanos chanos Forskal) 14 Tata Letak dan Penataan Caren Tambak 15 Suplai Air Tambak Melalui Pintu Kayu dan Pompa Diesel 16 Pembuangan Air Model Pipa Goyang 17 Klekap Menempel Baik di Dasar dan Terapung di Permukaan 18 Jenis-Jenis Lumut yang Biasa Tumbuh di Tambak 19 Pembuatan Petak Adaptasi/Ipukan dari Hapa 20 Panen Ikan Bandeng dengan Menggunakan Jebakan dari Kere dan Jaring Krikit 21 Udang Windu dan Udang Vaname 22 Rumput Laut Gracillaria dan Metode Budidaya Long-line Coastal Community Development Project-IFAD viii

9 23 Kepiting Bakau, Scylla serrata dan Kondtruksi Tambak 24 Ikan Lele Lokal 25 Berbagai Wadah Budidaya Ikan Lele 26 Alat Pembuatan Pakan Mini 27 Dua Hasil Persilangan Ikan Mas 28 Beberapa Strain Ikan Nila (Oreochromis sp) 29 Wadah Budidaya Ikan Mas/Nila Coastal Community Development Project-IFAD ix

10 Bab I PENDAHULUAN 1.1 Masyarakat Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Daerah pesisir merupakan kawasan yang meliputi wilayah administratif Kecamatan yang memiliki garis pantai sampai sejauh 12 mil laut dari garis pantai. Sebagai Negara kepulauan yang memiliki garis pantai terpanjang keempat di dunia, Indonesia memiliki lebih dari Desa/Kelurahan pesisir. Pada umumnya desa tersebut merupakan kantung-kantung kemiskinan, ketertinggalan dan keterisolasian, yang sudah sewajarnya mendapat perhatian khusus dari Pemerintah. Berbagai program dan proyek telah diarahkan untuk memberdayakan kehidupan masyarakat pesisir, khususnya yang berada di Kawasan Timur Indonesia. Di sektor Kelautan dan Perikanan, di mana sebagian besar masyarakat pesisir menggantungkan hidupnya, perhatian Pemerintah ditunjukkan dengan dibentuknya Direktorat Jenderal Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Ditjen KP3K) pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (K KP). Di Ditjen KP3K tersebut kemudian dibentuk Direktorat Pemberdayaan Masyarakat Pesisir dan Pengembangan Usaha (Dit PM PPU) yang secara intensif melakukan kegiatan untuk memperbaiki kehidupan dan usaha masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil. Coastal Community Development Project-IFAD 1

11 Sebagaimana telah disebutkan, sebagian besar masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil menggantungkan hidupnya pada sektor Kelautan dan Perikanan. Pada mulanya, mata pencaharian mereka sangat tergantung pada kelimpahan sumberdaya ikan, yaitu sebagai nelayan. Dengan semakin intensifnya usaha penangkapan ikan yang berakibat semakin terbatasnya sumberdaya ikan di alam, maka semakin berkembang pula usaha-usaha lain yang secara langsung maupun tidak langsung berkaitan dengan sektor Kelautan dan Perikanan, termasuk budidaya ikan, pengolahan dan pemasaran ikan, dan kegiatan usasa lainnya. Pengembangan usaha masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil tersebut harus terus mendapat pembinaan dari Pemerintah agar dapat dilakukan secara efektif, efisien serta tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Salah satu upaya pembinaan dan pengembangan usaha masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil adalah dengan dilaksanakannya Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir (Coastal Community Development) selama lima tahun dari Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir Proyek Pembangunan Masyarakat Pesisir (PMP) atau disebut Coastal Community Development Project yang didanai dari International Fund for Agricultural Development (CCDP-IFAD) merupakan kerjasama Ditjen KP3K Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan IFAD berdasarkan Financing Agreement antara Pemerintah Republik Indonesia, Coastal Community Development Project-IFAD 2

12 dengan President IFAD yang ditandatangani pada tanggal 23 Oktober CCDP-IFAD tersebut merupakan respon langsung terhadap kebijakan dan prakarsa Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dalam arah kebijakan pembangunan untuk mensejahterakan masyarakat pesisir melalui upaya antara lain; pengentasan kemiskinan, peningkatan pendapatan, penyediaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan yang berkelanjutan (pro-poor, pro-job, pro-growth and pro-sustainability) yang sejalan dengan country strategy objective program CCDP-IFAD. CCDP-IFAD ini melibatkan kerjasama Pemerintah, baik pada tingkat nasional maupun Kabupaten/Kota dalam hal pendanaan proyek. Pendanaan proyek bersumber dari pinjaman dan juga hibah dari IFAD, dana bantuan Pemerintah Spanyol yang dikelola oleh IFAD, juga dari APBN, APBD, serta kontribusi inkind masyarakat pesisir terkait, yang kesemuanya berjumlah total US$ 43,219 juta. Ada empat kriteria yang menjadi pertimbangan untuk didanai IFAD, yaitu : (i) masyarakat yang tinggal di pesisir dan pulau-pulau kecil pada umumnya termasuk kelompok masyarakat pesisir yang berada dibawah garis kemiskinan sampai sangat miskin; (ii) banyak masyarakat yang memiliki motivasi yang baik dan berkomitmen untuk memperbaiki tingkat ekonomi mereka dan bertanggung jawab dalam pembangunan; (iii) adanya peluang-peluang ekonomi yang baik dengan potensi pasar Coastal Community Development Project-IFAD 3

13 yang kuat terutama untuk produk kelautan dan perikanan bernilai tinggi; dan (iv) secara konsisten mendukung kebijakan dan prioritas Pemerintah. CCDP-IFAD ini juga akan merespon pentingnya mengatasi masalah degradasi sumberdaya pesisir dan perubahan iklim serta memberi pengalaman kepada pemerintah dalam mereplikasi keberhasilan dan merencanakan kegiatan yang lebih baik lagi (scaling up). Lokasi CCDP-IFAD diarahkan untuk Kawasan Timur Indonesia, yang sesuai dengan Country Strategic Opportunities Programme (COSOP) dari IFAD untuk memfokuskan pada desa pesisir dengan tingkat kemiskinan yang tinggi minimal 20 persen per desa. Proyek ini terkonsentrasi pada 13 kabupaten/kota yang memiliki wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil dengan kondisi sosial/budaya beragam, merupakan masyarakat miskin marjinal produktif namun memiliki potensi sumber daya dan akses pasar yang baik. Dua belas Kabupaten/Kota ditambah satu Kabupaten sebagai Learning Center, dalam sepuluh Propinsi, telah terpilih untuk menjadi lokasi proyek ini berdasarkan keberhasilan daerah dalam berpartisipasi melakukan kegiatan PEMP, MCRMP, PLPBM, PNPM MKP dan kegiatan Kelautan dan Perikanan sebelumnya. Hal ini termasuk komitmen dan dukungan keuangan Pemerintah Kabupaten/Kota tersebut untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil berdasarkan potensinya dalam meningkatkan nilai tambah dari hasil Coastal Community Development Project-IFAD 4

14 produk Kelautan dan Perikanan lainnya, dan meningkatkan kegiatan dari proyek tersebut untuk didiseminasi ke Kabupaten/Kota lainnya. Kabupaten/Kota yang terpilih menjadi lokasi CCDP-IFAD mewakili berbagai karakteristik Kabupaten/Kota dari Indonesia bagian timur, di masa yang akan datang Kabupaten/Kota tersebut diharapkan menjadi contoh atau tempat pembelajaran dalam memprakarsai sejenis proyek pembangunan masyarakat pesisir lainnya. Pemanfaatan beragam sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil memungkinkan proyek ini untuk memperkenalkan proses yang berbeda-beda terhadap pengelolaan sumber daya, yang dikombinasikan dengan pembangunan ekonomi yang berkesinambungan untuk budidaya ikan, penangkapan ikan, pengolahan, pemasaran dan kegiatan Kelautan dan Perikanan lainnya. Dari setiap Kabupaten/Kota akan dikembangkan 15 Desa/Kelurahan pesisir berdasarkan kriteria, antara lain : (i) tingkat kemiskinan tiap lokasi minimal 20%; (ii) motivasi dan kesuksesan berpartisipasi dalam program-program sebelumnya; (iii) potensi untuk produksi dan pertambahan nilai (value added) Kelautan dan Perikanan; dan (iv) dimasukkannya pulau-pulau kecil di setiap lokasi Kabupaten/Kota yang memiliki pulau. Dengan demikian sasaran CCDP-IFAD ini mencakup 180 Desa/Kelurahan, yang akan dibina selama 5 tahun kegiatan. Diperkirakan sebanyak 660 rumah tangga akan ikut terlibat dalam proyek di setiap Desa/Kelurahan, dan sekitar 60% akan terlibat langsung ataupun Coastal Community Development Project-IFAD 5

15 tidak langsung seperti kegiatan penangkapan, pembudidayaan ikan dan kegiatan berbasis Kelautan dan Perikanan lainnya, sehingga sebanyak rumah tangga atau orang sebagai sasaran dari proyek ini. Dalam implementasinya, CCDP-IFAD terdiri atas tiga komponen kegiatan, yaitu : a. Komponen-1 : Pemberdayaan Masayarakat, Pembangunan dan Pengelolaan Sumberdaya Pesisir, yang merupakan inti dari Proyek yang menyediakan dana lebih dari dua pertiga investasi Proyek. Semua kegiatan dipusatkan pada masyarakat sasaran dan didorong oleh proses partidipatif dan penentuan Desa/Kelurahan prioritas untuk pembangunan Kelautan dan Perikanan termasuk pengelolaan sumberdaya secara berkelanjutan. b. Komponen-2 : Pengembangan Ekonomi Berbasis Kelautan dan Perikanan, membangun kapasitas Kabupaten/Kota sasaran untuk mendukung kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat sasaran melalui (i) dukungan di bidang prasarana utama, inovasi, keterampilan dan kepemimpinan, dan (ii) dukungan untuk pembangunan rantai pasok ( value chain) berdasarkan kegiatan ekonomi Kelautan dan Perikanan. c. Komponen-3 : Pengelolaan Proyek, di mana dilakukan koordinasi pelaksanaan menyeluruh di tingkat pusat melalui kantor Pengelola Proyek (PMO) yang berbasis di Ditjen KP3K -KKP, layanan konsultan Coastal Community Development Project-IFAD 6

16 terkait, berikut pelatihan, pemantauan dan evaluasi serta penyusunan kegiatan, anggaran biaya dan pelaksanaan di tingkat Kabupaten/Kota melalui tiga belas Unit Pelaksana Proyek (PIU). 1.3 Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) Pembinaan dan pengembangan usaha diberikan kepada masyarakat pesisir yang menjadi sasaran melalui paket BLM yang disalurkan kepada kelompok-kelompok yang dibentuk. Ada beberapa kelompok yang dibentuk di setiap Desa/Kelurahan sasaran, yaitu : a. Kelompok Infrastruktur (Pembangunan Prasarana) Di setiap Desa/Kelurahan akan dibentuk 1 Kelompok Pembangunan Prasarana. Kelompok ini bertanggung jawab untuk penyelenggaraan kegiatan pembangunan prasarana yang konsisten dengan pagu anggaran yang tersedia dan terhadap komitmen untuk memberikan kontribusi inkind dalam bentuk lahan barang, jasa, dan tenaga yang diperkirakan sebesar 20% dari perkiraan biaya pembangunan prasarana. Komitmen 20% tersebut dapat berasal dari masyarakat, Desa/Kelurahan atau sumber lain. Setelah pemilihan kebutuhan prasarana Desa/Kelurahan disepakati, maka Kelompok ini akan bekerja sama dengan TPD, konsultan, dan staf teknis PIU untuk menyusun rincian biaya, rancangan kegiatan, pengadaan barang, kontribusi barang dan jasa dan modalitas pemeliharaan. Kelompok Coastal Community Development Project-IFAD 7

17 ini akan berkoordinasi dengan Village Working Group (VWG) atau Kelompok Kerja Desa/Kelurahan yang dentuk oleh PIU. Prasarana yang akan dipilih dan dibangun harus mempertimbangkan : (i) memberikan manfaat atau peran langsung maupun tidak langsung dalam penggunaan sumberdaya pesisir yang berkelanjutan di Desa/Kelurahan itu, dan/atau (ii) memberikan kontribusi langsung maupun tidak langsung dalam meningkatkan pendapatan Kelompok sasaran. Contoh kegiatan pembangunan prasarana meliputi : pembangunan atau perbaikan dermaga; sarana air bersih dan higienis (yang dapat mendukung pengolahan ikan); jalan produksi; listrik tenaga surya untuk meningkatkan komunikasi (penerangan, ramalan cuaca, informasi harga pasar, peringatan untuk penangkapan ikan yang merusak). b. Kelompok Pengelola Sumberdaya Pesisir VWG memfasilitasi pembentukan Kelompok Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dibantu oleh konsultan PIU dan TPD. Kelompok ini dibentuk melalui pendekatan pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu dan berkelanjutan (Marine Resource Co-management Group atau MRCG). MRCG mempersiapkan perencanaan awal Desa/Kelurahan dan pemetaan sumber daya pesisir, dengan mempertimbangkan pemetaan kemiskinan rumah tangga dan Dusun (atau Desa/Kelurahan kecil), kegiatan ekonomi Kelautan dan Coastal Community Development Project-IFAD 8

18 Perikanan Desa/Kelurahan, serta potensi Desa/Kelurahan. MRCG akan membangun konsensus dan kesadaran terhadap penggunaan sumber daya pesisir yang berkelanjutan, selain itu MRCG juga mengusulkan kegiatan dan investasi yang akan didanai oleh dana BLM. BLM digunakan dengan tujuan menyelesaikan inventarisasi sumber daya pesisir, mengembangkan pengelolaan pesisir terpadu berbasis Desa/Kelurahan, mendorong dialog dan konsensus dengan Desa/Kelurahan yang berdekatan serta pengguna sumber daya pesisir, termasuk penegakan hukum dan pengembangan peraturan yang mungkin diperlukan. c. Kelompok Usaha Kelompok Usaha akan dibentuk untuk kegiatan ekonomi tertentu, misalnya budidaya laut, perikanan tangkap, pengolahan dan pemasaran oleh rumah tangga masyarakat pesisir yang berminat. Keanggotaannya berdasarkan rumah tangga, dan satu Kelompok Usaha akan terdiri atas 8-12 rumah tangga atau rata-rata sepuluh rumah tangga. CCDP-IFAD dapat bekerja sama dengan Kelompok yang sudah ada dan dapat mengembangkan usaha yang sukses atau membentuk Kelompok baru, selama kegiatan usaha yang diusulkan layak dan konsisten dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan perencanaan pembangunan Desa/Kelurahan pesisir ( Village Development Plan VDP) yang masuk dalam koridor dokumen CCDP. Coastal Community Development Project-IFAD 9

19 Pada tahun pertama, Kelompok yang ada dengan kinerja dan prospek yang baik akan beradaptasi sesuai dengan indikator keberhasilan yang ditetapkan. Pada tahun kedua akan lebih banyak Kelompok Usaha yang muncul dari masyarakat setelah mendapat pengalaman dan pembelajaran dari Kelompok Usaha tahun pertama. Proyek ini akan membuka peluang baru untuk proses adopsi terakhir di tahun ketiga dari siklus pembangunan masyarakat Desa/Kelurahan pesisir. Wanita sangat didorong untuk berpartisipasi dalam kegiatan usaha perikanan budidaya, pengolahan dan pemasaran, pembangunan prasarana masyarakat, dan penggalangan tabungan. Sebagai pedoman, untuk Kelompok Usaha, dua anggota Kelompok Usaha atau minimal 20% adalah perempuan. Hal ini untuk mendorong agar mainstream gender dapat dilaksanakan. Namun keterlibatan wanita dalam kegiatan usaha tersebut akan menjadi tantangan bagi Kelompok Usaha yang terlibat dalam kegiatan penangkapan ikan. Untuk mengatasi hal tersebut, dapat diusahakan agar proporsi jumlah wanita mencapai 20% dari seluruh anggota Kelompok Usaha yang ada. d. Kelompok Tabungan Kelompok Tabungan dapat terdiri atas anggota rumah tangga miskin yang belum mampu untuk menjadi anggota Kelompok yang lain. Coastal Community Development Project-IFAD 10

20 Rumah tangga ini belum memenuhi persyaratan untuk membentuk Kelompok Usaha sebagaimana telah disebutkan, akan tetapi mereka adalah Kelompok marginal yang harus diperhatikan. Untuk itu dilakukan upaya persuasi dan pendekatan agar individu-individu yang belum memenuhi persyaratan ini mau bergabung dalam satu Kelompok yang disebut Kelompok Tabungan. Kelompok Tabungan ini, apabila dipandang perlu dapat dibentuk, diharapkan dapat mendorong rumah tangga pesisir untuk mengembangkan budaya menabung dan mengumpulkan modal awal yang dapat digunakan sebagai kontribusi yang secara bertahap akan berevolusi membentuk Kelompok Usaha baru. Dalam perkembangan selanjutnya, pembinaan kelompok tabungan ini kurang responsif, sehingga kelompok tabungan tersebut dimodifikasi untuk pengembangan grameen bank dengan target kelompok usaha wanita, dan/atau pengembangan cabang dari lembaga keuangan mikro (LKM dan BPR Pesisir) yang dibentuk dari program PEMP dan diperluas ke lokasi CCDP. 1.4 Budidaya Ikan di Daerah Pesisir Di setiap Desa/Kelurahan akan terbentuk sepuluh Kelompok Usaha, yang rata-rata beranggotakan sepuluh orang, sehingga akan ada Coastal Community Development Project-IFAD 11

21 seratus rumah tangga terlibat Proyek. Jenis usaha yang dikembangkan berbagai macam, tergantung pada kondisi dan potensi daerah, namun masih terkait dengan sector Kelautan dan Perikanan, antara lain penangkapan ikan, budidaya ikan, pengolahan dan pemasaran, kerajinan hasil perikanan dan lain sebagainya. Khusus untuk usaha budidaya ikan di daerah pesisir, sesuai dengan wilayah daratannya yang sebatas wilayah administratif Kecamatan berpantai, maka jenis usaha budidaya ikan yang dilakukan dapat meliputi : (i) budidaya laut, dengan komoditas beragam, misalnya ikan kerapu, kakap, ikan-ikan karang dan rumput laut kotoni, (ii) budidaya air payau di tambak dengan komoditas ikan bandeng, nila, udang, kepiting dan juga rumput laut Gracilaria, serta (iii) budidaya air tawar dengan komoditas ikan lele, mas, nila, gurame dan lain sebagainya. Pada umumnya usaha budidaya ikan dilakukan dengan teknologi sederhana yang membutuhkan keterampilan tidak terlalu tinggi, modal tidak terlalu besar, maupun waktu tidak terlalu lama, sehingga dapat dilakukan secara berkelompok. Dalam tahun pertama CCDP-IFAD, telah terbentuk 340 Kelompok, termasuk di dalamnya 268 Kelompok Usaha, dimana kelompok usaha terdiri atas 119 kelompok usaha perikanan tangkap, 114 kelompok usaha pengolahan dan pemasaran, dan 35 kelompok usaha perikanan budidaya. Coastal Community Development Project-IFAD 12

22 Bab II TEKNOLOGI BUDIDAYA LAUT Sebagai daerah yang berbatasan dengan garis pantai, pada umumnya penduduknya cukup akrab dengan laut, sehingga usaha budidaya laut ini sesuai bagi mereka, baik sebagai usaha sampingan (alternative livelihood) ataupun usaha utamanya. Pada kesempatan ini akan dikemukakan beberapa teknologi budidaya ikan sederhana yang membutuhkan keterampilan tidak terlalu tinggi, modal tidak terlalu besar, maupun waktu tidak terlalu lama, sehingga dapat dilakukan secara berkelompok. Teknologi yang demikian dipandang sesuai untuk dilaksanakan masyarakat pesisir yang menjadi sasaran CCDP-IFAD. Ada dua teknologi sederhana yang akan dikemukakan di sini, yaitu budidaya ikan di karamba dan budidaya rumput laut. 2.1 Budidaya Ikan di Karamba Jenis Ikan Jenis ikan yang biasa dibudidayakan dapat bermacam-macam, tergantung pada potensi daerah yang bersangkutan dan permintaan pasar. Jenis-jenis ikan tersebut antara lain ikan Kerapu Macan (Epinephelus fuscogutattus), Kerapu Lumpur (Epinephelus malabaricus, E. coioides, E. tauvina), Kerapu Bebek/Tikus ( Cromileptes altivelis), Kerapu Sunu ( Plectropomus leopardus), ikan Kuweh ( Charanx spp), ikan Kakap Coastal Community Development Project-IFAD 13

23 Putih ( Lates calcarifer), ikan Kakap merah ( Lutjanus spp). Sebagai ilustrasi, berikut gambar beberapa jenis ikan yang umum dipelihara (Gambar 1). Ikan Kerapu Bebek/Kerapu Tikus Humpback Grouper (Cromileptes altivelis) Ikan Kerapu Lumpur Greasy Grouper (Epinephelustauvina) Ikan Kerapu Macan Brown-marbled Grouper (Epinephelusfuscogutattus) Ikan Kerapu Sunu Leopard Coral Grouper (Plectropomus leopardus) Ikan Kakap Putih Barramundi, Asian Seabass (Lates calcarifer) Coastal Community Development Project-IFAD 14

24 Ikan Kakap Merah Red Snappers (Lutjanus spp) Ikan Kuweh Pompano (Charanx spp, Trachinotus spp) Gambar 1. Jenis-Jenis Ikan Laut yang Dibudidayakan Persyaratan Lokasi Budidaya Pemilihan lokasi untuk merupakan faktor yang sangat penting yang akan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan usaha budidaya laut. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemilihan lokasi ini antara lain (Anonim, 2011) : a. Rencana Tata Ruang/ Rencana Zonasi Usaha budidaya laut dilakukan di perairan umum yang sangat memungkinkan terjadinya konflik kepentingan. Untuk menghindari terjadinya konflik kepentingan tersebut, maka penempatan karamba untuk usaha budidaya harus memperhatikan perencanaan tata ruang/ Rencana Zonasi di daerah yang bersangkutan, yang dilakukan dalam rangka pemanfaatan kawasan perarian pesisir secara terpadu antar berbagai sektor agar tidak saling tumpang tindih. Coastal Community Development Project-IFAD 15

25 Perencanaan CCDP berbasis desa harus mengintegrasikan berbagai aktivitas pembangunan dalam satu desa dan mengalokasikan ruang untuk kegiatan budidaya, indfrastruktur desa, pondok informasi dan kegiatan lainnya yang ditunjukkan dalam peta rencana zonasi desa. Dalam perencanaan desa tersebut, perlu dipertimbangkan agar keramba, rakit rumput laut dan bangunan budidaya lainnya berada dalam satu hamparan yang tidak dilalui lalulintas perahu atau kapal, dan jauh dari outlet pembuangan air limbah domestik (rumah tangga). Sehingga kualitas airnya baik dan tidak tercemar. Sebaiknya, lokasi kegiatan budidaya dan Daerah Perlindungan Laut (DPL), bersinergi. Beberapa aspek yang dipertimbangkan dalam perencanaan tata ruang/rencana zonasi antara lain : (i) kesesuaian lokasi untuk kegiatan budidaya ikan, baik secara fisik maupun kimia, (ii) luas areal potensial, yang sesuai untuk budidaya ikan dan luas areal efektif yang dapat dimanfaatkan dengan mempertimbangkan adanya buffer zone (zona pendukung), (iii) tersedianya sarana pendukung seperti akses jalan, jalur pelayaran, dan (iv) pertimbangan lain yang diperlukan. Coastal Community Development Project-IFAD 16

26 b. Daya Dukung Perairan Daya dukung lahan budidaya dapat diartikan sebagai kemampuan suatu habitat atau kawasan budidaya yang dinyatakan dalam jumlah individu ikan yang mampu hidup normal dan berkelanjutan. Sehingga dalam hal ini kita harus mampu memprediksi secara ilmiah jumlah karamba dan jumlah ikan yang diijinkan untuk keberlanjutan usaha budidaya ( sustainable aquaculture). Pada umumnya perairan laut Indonesia masih sangat terbuka untuk usaha budidaya laut, karena baru kurang dari.. 10 % potensinya yang sudah dimanfaatkan. c. Kelayakan Fisik Kualitas perairan yang perlu diperhatikan bagi kelayakan usaha budidaya laut antara lain : (i) Terlindung dari angin dan gelombang besar. Sebaiknya tinggi gelombang tidak lebih dari 0,5 meter, baik pada musim barat maupun timur. Hal ini untuk menghindari kerusakan sarana budidaya dan terganggunya kegiatan usaha. Perlu dihindari perairan yang terlalu terbuka, sebaiknya berupa teluk atau yang terlindung oleh gugusan pulau. (ii) Kedalaman perairan. Untuk usaha budidaya dalam karamba jaring apung (KJA), kedalaman yang ideal adalah antara 7-15 meter pada saat surut terrendah. Perairan yang terlalu dangkal dapat memperoleh kualitas air yang buruk akibat pembusukan Coastal Community Development Project-IFAD 17

27 kotoran dan sisa pakan ikan. Sebaliknya jika terlalu dalam akan membutuhkan tali jangkar yang terlalu dalam. Untuk usaha budidaya dalam karamba tancap (pen culture), dapat dilakukan di tepi pantai yang tidak terlalu dalam. (iii) Dasar perairan. Pada umumnya jenis ikan yang dibudidayakan berhabitat asli perairan karang, sehingga dasar perairan yang demikian dan berpasir putih adalah yang paling baik. (iv) Tidak menghalangi alur pelayaran. Lokasi yang dekat atau berada di alur pelayaran, selain dapat mengganggu kegiatan pelayaran, juga mendapat gangguan akibat suara mesin motor perahu, pusaran air akibat gerakan perahu, serta kemungkinan terjadinya tumpahan minyak. (v) Sarana dan prasarana transportasi. Tersedianya sarana transportasi menuju lokasi perlu, terutama untuk kemudahan pengangkutan hasil panen. (vi) Keamanan. Gangguan keamanan, misalnya pencurian atau persaingan tidak sehat harus dihindari, untuk itu perlu dijalin kerjasama dalam kelompok antar pembudidaya. d. Kelayakan Kualitas Air Coastal Community Development Project-IFAD 18

28 Untuk memberikan kondisi yang optimal bagi kehidupan ikan yang dibudidayakan, beberapa kriteria kualitas air seperti pada Tabel 1 berikut ini perlu diperhatikan. Tabel 1. Kriteria Kelayakan Kualitas Air Budidaya Laut No Kriteria Satuan Batas Kelayakan 1 Kecepatan Arus cm/detik Kecerahan meter lebih dari 5 3 Salinitas ppt Suhu 0 C ph - 7,0-8,5 6 Oksigen Terlarut (DO) ppm lebih dari 5 Sarana Budidaya Budidaya ikan laut dapat dilakukan dalam karamba tancap (pen culture) di perairan yang tidak terlalu dalam di tepi pantai ataupun dalam karamba jaring apung (KJA, floating net culture) di perairan yang cukup dalam (Gambar 2). Karamba Tancap Karamba Jaring Apung Gambar 2. Karamba Tancap dan Karamba Jaring Apung (KJA) Coastal Community Development Project-IFAD 19

29 Tipe Karamba Tancap paling sederhana adalah yang disebut fexible enclosure (kurungan fleksibel) seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 tersebut. Bentuk kurungan dapat dibuat persegi atau bulat dengan ukuran yang dapat disesuaikan dengan kondisi dan dasar perairan. Bahannya terdiri atas bambu/kayu/pipa PVC yang ditancapkan di dasar perairan sebagai pagar keliling, kemudian dikelilingi dengan jaring nilon. Dalam satu unit karamba tancap dapat dilengkapi dengan : (i) kurungan utama yang besar sebagai petak pembesaran ikan, (ii) kurungan kecil yang dapat diletakkan di dalam atau di luar kurungan utama yang berfungsi sebagai petak pendederan dan/atau aklimatisasi ikan sebelum ditebarkan ke dalam petak utama dan/atau penyembuhan ikan yang sakit, (iii) rumah jaga yang dapat digunakan pula sebagai gudang pakan dan/atau peralatan lapangan, dan (iv) sebuah rakit bambu/kayu yang dapat digunakan untuk mengelilingi karamba, misalnya untuk pembersihan jaring dan mengawasi kondisi ikan. Contoh unit Karamba Tancap dapat dilihat pada Gambar 3. Coastal Community Development Project-IFAD 20

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22 Dikenal sebagai nila merah taiwan atau hibrid antara 0. homorum dengan 0. mossombicus yang diberi nama ikan nila merah florida. Ada yang menduga bahwa nila merah merupakan mutan dari ikan mujair. Ikan

Lebih terperinci

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1

Lebih terperinci

PETUNJUK TEKNIS BUDIDAYA IKAN LAUT DI JARING APUNG

PETUNJUK TEKNIS BUDIDAYA IKAN LAUT DI JARING APUNG PETUNJUK TEKNIS BUDIDAYA IKAN LAUT DI JARING APUNG 1. PENDAHULUAN Budidaya ikan laut di jaring apung (floating cages) di Indonesia trgolong masih baru. Perkembangan budidaya secara nyata baru terlihat

Lebih terperinci

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya. Penyiangan Penyiangan terhadap gulma dilakukan

Lebih terperinci

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL Siapa yang tak kenal ikan lele, ikan ini hidup di air tawar dan sudah lazim dijumpai di seluruh penjuru nusantara. Ikan ini banyak dikonsumsi karena rasanya yang enak

Lebih terperinci

STRUKTUR ONGKOS USAHA PERIKANAN TAHUN 2014

STRUKTUR ONGKOS USAHA PERIKANAN TAHUN 2014 STRUKTUR ONGKOS USAHA PERIKANAN TAHUN 2014 74/12/72/Th. XVII, 23 Desember 2014 JUMLAH BIAYA PER HEKTAR USAHA BUDIDAYA RUMPUT LAUT, BANDENG, DAN NILA DI ATAS Rp. 5 JUTA JUMLAH BIAYA PER TRIP USAHA PENANGKAPAN

Lebih terperinci

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR)

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) Benteng, Selayar 22-24 Agustus 2006 TRANSPLANTASI KARANG Terumbu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

Pengalaman Membuat dan Memasang Tanda Batas Di Taman Nasional Kepulauan Seribu

Pengalaman Membuat dan Memasang Tanda Batas Di Taman Nasional Kepulauan Seribu Pengalaman Membuat dan Memasang Tanda Batas Di Taman Nasional Kepulauan Seribu A. Pemilihan pelampung Ada beberapa bahan pelampung yang bisa dipilih, tapi alasan kami memilih drum plastik ukuran 200 liter

Lebih terperinci

PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA. B. Sistematika Berikut adalah klasifikasi ikan nila dalam dunia taksonomi : Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata

PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA. B. Sistematika Berikut adalah klasifikasi ikan nila dalam dunia taksonomi : Phylum : Chordata Sub Phylum : Vertebrata PENGELOLAAN INDUK IKAN NILA A. Pendahuluan Keluarga cichlidae terdiri dari 600 jenis, salah satunya adalah ikan nila (Oreochromis sp). Ikan ini merupakan salah satu komoditas perikanan yang sangat popouler

Lebih terperinci

RAKITAN TEKNOLOGI BUDIDAYA KERAPU DALAM KERAMBA JARING APUNG (KJA) PENDAHULUAN

RAKITAN TEKNOLOGI BUDIDAYA KERAPU DALAM KERAMBA JARING APUNG (KJA) PENDAHULUAN RAKITAN TEKNOLOGI BUDIDAYA KERAPU DALAM KERAMBA JARING APUNG (KJA) Oleh : Zulkifli AK, M. Nasir U, T.Iskandar, Mukhlisuddin, A. Azis, Yulham, Bahrum, Cut Nina H, Amir Y, Baharuddin dan Zuardi E PENDAHULUAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 TENTANG PERIZINAN REKLAMASI DI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN Potensi dan Tantangan DI INDONESIA Oleh: Dr. Sunoto, MES Potensi kelautan dan perikanan Indonesia begitu besar, apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang

Lebih terperinci

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT MODUL: PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan sanitasi merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia, karena itu jika kebutuhan tersebut

Lebih terperinci

DAMPAK PENETAPAN TARGET PENINGKATAN PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA TERHADAP KEBUTUHAN PAKAN DAN AKTIVITAS BUDIDAYA IKAN DI PROVINSI JAWA TENGAH

DAMPAK PENETAPAN TARGET PENINGKATAN PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA TERHADAP KEBUTUHAN PAKAN DAN AKTIVITAS BUDIDAYA IKAN DI PROVINSI JAWA TENGAH 885 Dampak penetapan target peningkatan produksi... (Erlania) DAMPAK PENETAPAN TARGET PENINGKATAN PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA TERHADAP KEBUTUHAN PAKAN DAN AKTIVITAS BUDIDAYA IKAN DI PROVINSI JAWA TENGAH

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR VISI DAN MISI VISI Meningkatkan Kebersihan dan Keindahan Kota Denpasar Yang Kreatif dan Berwawasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan suatu Negara yang memiliki kawasan perairan yang hampir 1/3 dari seluruh kawasannya, baik perairan laut maupun perairan tawar yang sangat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI SUMBAWA NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN SUMBAWA.

PERATURAN BUPATI SUMBAWA NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN SUMBAWA. PERATURAN BUPATI SUMBAWA NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN SUMBAWA. BUPATI SUMBAWA Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.

Lebih terperinci

selama 12 jam. Pendapatan mereka rataratanya 1.5 juta rupiah sebulan. Saat ini, mata Nelayan 1.000.000 kerja masyarakat adalah nelayan selama 4 jam.

selama 12 jam. Pendapatan mereka rataratanya 1.5 juta rupiah sebulan. Saat ini, mata Nelayan 1.000.000 kerja masyarakat adalah nelayan selama 4 jam. Datar Luas Gambaran Umum Desa Datar Luas terletak di Kecamatan Krueng Sabee dengan luas 1600 Ha terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun Makmur Jaya, Dusun Damai dan Dusun Subur. Desa yang dipimpin oleh Andalan

Lebih terperinci

Tentang Penulis. Penulis dilahirkan pada tanggal 27 Oktober 1984 di Majene, Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan, Jurusan Perikanan,

Tentang Penulis. Penulis dilahirkan pada tanggal 27 Oktober 1984 di Majene, Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan, Jurusan Perikanan, Tentang Penulis Penulis dilahirkan pada tanggal 27 Oktober 1984 di Majene, Sulawesi Barat. Pada tahun 2002 menyelesaikan pendidikan di SMU 1 Majene dan pada tahun 2003 penulis berhasil diterima pada Program

Lebih terperinci

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember 2011. Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan

SAMBUTAN. Jakarta, Nopember 2011. Kepala Pusat Penyuluhan Kelautan dan Perikanan SAMBUTAN Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat rahmat dan hidayahnya serta kerja keras penyusun telah berhasil menyusun Materi Penyuluhan yang akan digunakan bagi

Lebih terperinci

PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS

PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS (Instalasi Pengolahahan Air Laut Sederhana): Transformasi Air Laut Menjadi Air Tawar dengan Pemisahan Elektron Cl - Menggunakan Variasi Batu Zeolit sebagai Upaya Penyediaan

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

Tabel IV.C.1.1 Rincian Program dan Realisasi Anggaran Urusan Perikanan Tahun 2013

Tabel IV.C.1.1 Rincian Program dan Realisasi Anggaran Urusan Perikanan Tahun 2013 C. URUSAN PILIHAN YANG DILAKSANAKAN 1. URUSAN PERIKANAN Pembangunan pertanian khususnya sektor perikanan merupakan bagian integral dari pembangunan ekonomi, dalam hal ini sektor perikanan adalah sektor

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG USAHA PERIKANAN DI KABUPATEN MAGELANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

Produksi benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas benih sebar

Produksi benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia SNI 7311:2009 Produksi benih udang vaname (Litopenaeus vannamei) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional SNI 7311:2009 Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii

Lebih terperinci

NOMOR : KEP.44/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN/KOTA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN,

NOMOR : KEP.44/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN/KOTA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR : KEP.44/MEN/2004 TENTANG PEDOMAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN KABUPATEN/KOTA Menimbang MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, : a. bahwa

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PENANGKAPAN IKAN

PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PENANGKAPAN IKAN PEMERINTAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2009 TENTANG PENANGKAPAN IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KOTAWARINGIN BARAT, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah ikan air tawar yang banyak dibudidayakan di Indonesia dan merupakan ikan budidaya yang menjadi salah satu komoditas ekspor.

Lebih terperinci

A. INVENTARIS INDUK Inventaris induk di UPTD BBI Karangrayung per 31 Desember 2013. Jumlah induk (ekor)

A. INVENTARIS INDUK Inventaris induk di UPTD BBI Karangrayung per 31 Desember 2013. Jumlah induk (ekor) PERSONALIA UPTD BBI KARANGRAYUNG dari: Personalia atau jumlah pegawai UPTD BBI Karangrayung 3 (tiga) orang yang terdiri Kepala UPTD (satu) orang Kasubag TU (satu) orang Tenaga harian lepas (satu) orang

Lebih terperinci

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU Diarsi Eka Yani (diarsi@ut.ac.id) PS Agribisnis, FMIPA, Universitas Terbuka ABSTRAK Abrasi pantai yang terjadi

Lebih terperinci

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/2008 TENTANG PERENCANAAN PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat Standar Nasional Indonesia Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat ICS 91.100.15 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia IFAD/R. Grossman Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia Kemiskinan perdesaan di Indonesia Indonesia telah melakukan pemulihan krisis keuangan pada tahun 1997 yang

Lebih terperinci

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2)

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) Lektor Kepala/Pembina TK.I. Dosen STPP Yogyakarta. I. PENDAHULUAN Penurunan

Lebih terperinci

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMANFAATAN AIR HUJAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa air hujan merupakan sumber air yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

KONDISI EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA ALAM HAYATI PESISIR DI KABUPATEN ALOR

KONDISI EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA ALAM HAYATI PESISIR DI KABUPATEN ALOR RINGKASAN EKSEKUTIF KAJIAN KONDISI EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA ALAM HAYATI PESISIR DI KABUPATEN ALOR Ir. Jotham S. R. Ninef, M.Sc. (Ketua Tim Pengkajian dan Penetapan Kawasan Konservasi Laut Provinsi NTT)

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : 7 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN SARANA BANTU NAVIGASI PELAYARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : 7 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN SARANA BANTU NAVIGASI PELAYARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR : 7 TAHUN 2005 TENTANG PENYELENGGARAAN SARANA BANTU NAVIGASI PELAYARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. bahwa dalam Peraturan Pemerintah

Lebih terperinci

MENGENAL SECARA SEDERHANA TERNAK AYAM BURAS

MENGENAL SECARA SEDERHANA TERNAK AYAM BURAS MENGENAL SECARA SEDERHANA TERNAK AYAM BURAS OLEH: DWI LESTARI NINGRUM, S.Pt Perkembangan ayam buras (bukan ras) atau lebih dikenal dengan sebutan ayam kampung di Indonesia berkembang pesat dan telah banyak

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 16/MEN/2006 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN,

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 16/MEN/2006 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER. 16/MEN/2006 TENTANG PELABUHAN PERIKANAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan Pasal 41 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10, Pasal

Lebih terperinci

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI Teknik Pembuatan Pupuk Bokashi @ 2012 Penyusun: Ujang S. Irawan, Senior Staff Operation Wallacea Trust (OWT) Editor: Fransiskus Harum, Consultant

Lebih terperinci

REALISASI ANGGARAN DAN FISIK PROYEK PEMBANGUNAN MASYARAKAT PESISIR CCD-IFAD DI KABUPATEN MERAUKE

REALISASI ANGGARAN DAN FISIK PROYEK PEMBANGUNAN MASYARAKAT PESISIR CCD-IFAD DI KABUPATEN MERAUKE DINAS KELAUTAN DAN PERIKANAN REALISASI ANGGARAN DAN FISIK PROYEK PEMBANGUNAN MASYARAKAT PESISIR CCD-IFAD DI KABUPATEN MERAUKE OLEH: PIU MERAUKE DALAM RANGKA SINKRONISASI PERENCANAAN DAN REVIEW KEGIATAN

Lebih terperinci

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Penyusun I Wayan Suastika

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/2008

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/2008 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.08/MEN/2008 TENTANG PENGGUNAAN ALAT PENANGKAPAN IKAN JARING INSANG (GILL NET) DI ZONA EKONOMI EKSKLUSIF INDONESIA MENTERI KELAUTAN

Lebih terperinci

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh I. Latar Belakang Tanaman pala merupakan tanaman keras yang dapat berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun. Tanaman pala tumbuh dengan baik di daerah tropis.

Lebih terperinci

POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Metode Tali Gantung)

POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Metode Tali Gantung) POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) BUDIDAYA RUMPUT LAUT (Metode Tali Gantung) BANK INDONESIA Direktorat Kredit, BPR dan UMKM Telepon : (021) 3818043 Fax : (021) 3518951, Email : tbtlkm@bi.go.id DAFTAR

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2014 TENTANG PEDOMAN UMUM MONITORING, EVALUASI, DAN PELAPORAN MINAPOLITAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN

Lebih terperinci

Pemanfaat tenaga listrik untuk keperluan rumah tangga dan sejenisnya Label tanda hemat energi

Pemanfaat tenaga listrik untuk keperluan rumah tangga dan sejenisnya Label tanda hemat energi Standar Nasional Indonesia Pemanfaat tenaga listrik untuk keperluan rumah tangga dan sejenisnya Label tanda hemat energi ICS 13.020.50 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,

Lebih terperinci

PerMen 04-1980 Ttg Syarat2 APAR

PerMen 04-1980 Ttg Syarat2 APAR PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI No : PER.04/MEN/1980 TENTANG SYARAT-SYARAT PEMASANGAN DAN PEMELIHARAN ALAT PEMADAM API RINGAN. MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI: PerMen 04-1980 Ttg

Lebih terperinci

Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun 2002. Tentang

Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun 2002. Tentang Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun 2002 Tentang PENGELOLAAN PELABUHAN KHUSUS MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. Bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhan telah

Lebih terperinci

Bentuk baku konstruksi jaring tiga lapis (trammel net ) induk udang

Bentuk baku konstruksi jaring tiga lapis (trammel net ) induk udang Standar Nasional Indonesia Bentuk baku konstruksi tiga lapis (trammel net ) induk udang ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... Error! Bookmark not defined. Prakata...ii Pendahuluan...

Lebih terperinci

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM LAMPIRAN : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM NOMOR : P. 01/IV- SET/2012 TANGGAL : 4 Januari 2012 TENTANG : PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM, RENCANA

Lebih terperinci

Disampaikan pada: SOSIALISASI PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO.6 TAHUN 2014 TENTANG DESA dan TRANSISI PNPM MANDIRI Jakarta, 30 April 2015

Disampaikan pada: SOSIALISASI PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NO.6 TAHUN 2014 TENTANG DESA dan TRANSISI PNPM MANDIRI Jakarta, 30 April 2015 KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERMENDES NO.1: Pedoman Kewenangan Berdasarkan Hak Asal Usul dan Kewenangan Lokal Berskala Desa PERMENDES NO.5: Penetapan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI MENTERI PEKERJAAN UMUM Menimbang : a. Bahwa sebagai

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perkarantinaan hewan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 28 TAHUN 2009 TENTANG DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU DAN/ATAU WADUK

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 28 TAHUN 2009 TENTANG DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU DAN/ATAU WADUK SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 28 TAHUN 2009 TENTANG DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU DAN/ATAU WADUK MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Buletin IPTEKDA LIPI Komunikasi Info Iptek untuk Daerah Volume 1 No.3 Maret 2001 LIPI IKUT BERKIRAH DALAM BIDANG PEMBIBITAN SAPI

Buletin IPTEKDA LIPI Komunikasi Info Iptek untuk Daerah Volume 1 No.3 Maret 2001 LIPI IKUT BERKIRAH DALAM BIDANG PEMBIBITAN SAPI LIPI IKUT BERKIRAH DALAM BIDANG PEMBIBITAN SAPI Berbagai usaha peternakan di Indonesia belum mencapai tingkat perkembangan yang menggembirakan, walaupun sampai saat ini pemerintah telah melakukan bermacam-macam

Lebih terperinci

FORM D. A. Uraian Kegiatan. Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa :

FORM D. A. Uraian Kegiatan. Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa : FORM D A. Uraian Kegiatan Deskripsikan Latar Belakang Permasalahan: 1. Pemanenan jeruk kisar yang dilakukan petani di Kabupaten Maluku Barat Daya (MBD) masih tradisional, diantaranya tingkat kematangan,

Lebih terperinci

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL CIPTA KARYA NOMOR: 111/KPTS/CK/1993 TANGGAL 28 SEPTEMBER 1993 TENTANG: PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA A. DASAR DASAR PERENCANAAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

Lebih terperinci

Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan

Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan No Bidang kategori 1 Pemerintahan Peningkatan kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran Pemeliharaan Hydrant Pembangunan Hydrant Kering Pemeliharaan pertitik

Lebih terperinci

Kulit masohi SNI 7941:2013

Kulit masohi SNI 7941:2013 Standar Nasional Indonesia ICS 65.020.99 Kulit masohi Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA Lampiran IV : Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 01 Tahun 2009 Tanggal : 02 Februari 2009 KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA NILAI Sangat I PERMUKIMAN 1. Menengah

Lebih terperinci

BAB I PERUM PENDAHULUAN

BAB I PERUM PENDAHULUAN BAB I PERUM PENDAHULUAN Di dalam bab ini akan dibahas mengenai alat-alat navigasi biasa yang umumnya di kapal digunakan untuk menetapkan kedalaman air di suatu tempat di laut. Tujuan kami menyusun keterangan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04/PRT/M/2015 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN WILAYAH SUNGAI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04/PRT/M/2015 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN WILAYAH SUNGAI MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04/PRT/M/2015 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN WILAYAH SUNGAI

Lebih terperinci

A. PENDAHULUAN. kebutuhan ikan kerapu, maka upaya peningkatan dari hasil budidaya sudah harus mulai digalakkan.

A. PENDAHULUAN. kebutuhan ikan kerapu, maka upaya peningkatan dari hasil budidaya sudah harus mulai digalakkan. A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Ikan kerapu merupakan komoditas perdagangan internasional yang harganya mahal dan permintaannya tinggi. Sebagian besar produksi ikan kerapu dari Indonesia adalah hasil

Lebih terperinci

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kota Pagar Alam Tahun 2013 sebanyak 17.936 rumah tangga

Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kota Pagar Alam Tahun 2013 sebanyak 17.936 rumah tangga Jumlah rumah tangga usaha pertanian di Kota Pagar Alam Tahun 2013 sebanyak 17.936 rumah tangga Jumlah perusahaan pertanian berbadan hukum di Kota Pagar Alam Tahun 2013 sebanyak 1 Perusahaan Jumlah perusahaan

Lebih terperinci

PERIKANAN BUDIDAYA: PENGANTAR. Oleh: M.Husni Amarullah. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

PERIKANAN BUDIDAYA: PENGANTAR. Oleh: M.Husni Amarullah. Ikan Nila (Oreochromis niloticus) PERIKANAN BUDIDAYA: PENGANTAR Oleh: M.Husni Amarullah Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Wikipedia: free encyclopedia (2012) Launching Program Kuliah Umum Ma had Aliy - Ponpes Madinatunnajah, Tangerang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG - 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 31 TAHUN 2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PERIKANAN DAN KELAUTAN PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

Lebih terperinci

KONSTRUKSI DINDING BAMBU PLASTER Oleh Andry Widyowijatnoko Mustakim Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung

KONSTRUKSI DINDING BAMBU PLASTER Oleh Andry Widyowijatnoko Mustakim Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung MODUL PELATIHAN KONSTRUKSI DINDING BAMBU PLASTER Oleh Andry Widyowijatnoko Mustakim Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung Pendahuluan Konsep rumah bambu plester merupakan konsep rumah murah

Lebih terperinci

[Sabu yang Lestari] Cabrejou Foundation

[Sabu yang Lestari] Cabrejou Foundation [Sabu yang Lestari] Cabrejou Foundation Dimanakah kita pernah menyadari adanya suatu masyarakat yang lestari (berkelanjutan) hanya dengan menggunakan energi matahari dan angin? Barangkali ini hanya dapat

Lebih terperinci

Seuntai Kata. Manggar, 16 Agustus 2013 Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung Timur. Zainubi, S.Sos

Seuntai Kata. Manggar, 16 Agustus 2013 Kepala Badan Pusat Statistik Kabupaten Belitung Timur. Zainubi, S.Sos Seuntai Kata Sensus Pertanian 2013 (ST2013) merupakan sensus pertanian keenam yang diselenggarakan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap 10 (sepuluh) tahun sekali sejak 1963. Pelaksanaan ST2013 merupakan

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN BENIH KERAPU MACAN PADA FASE PENDEDERAN DENGAN KEPADATAN BERBEDA DI KERAMBA JARING APUNG (KJA)

PERTUMBUHAN BENIH KERAPU MACAN PADA FASE PENDEDERAN DENGAN KEPADATAN BERBEDA DI KERAMBA JARING APUNG (KJA) PERTUMBUHAN BENIH KERAPU MACAN PADA FASE PENDEDERAN DENGAN KEPADATAN BERBEDA DI KERAMBA JARING APUNG (KJA) (The Growth of Tiger Grouper at Nursery Phase Reared At Different Density in Floating Net (KJA))

Lebih terperinci

DRIVE IN NET, LIFT NET

DRIVE IN NET, LIFT NET DRIVE IN NET, LIFT NET ROZA YUSFIANDAYANI DEPARTEMEN PEMANFAATAN SUMBERDAYA PERIKANAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN IPB - BOGOR DRIVE-IN NET * Penangkapan dengan cara menggiring ikan Ada kalanya

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT UNTUK BUDIDAYA KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN

TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN KEPULAUAN SERIBU SELATAN LAMPIRAN V : PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI TABEL 44 INDIKASI PROGRAM PENATAAN ATAU PENGEMBANGAN KECAMATAN

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah ditetapkannya

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERDAGANGAN

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER.15/MEN/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER.15/MEN/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER.15/MEN/2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA, ANALISIS DAMPAK, SERTA MANAJEMEN KEBUTUHAN LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

TEKNOLOGI TEPAT GUNA Mentri Negara Riset dan Teknologi

TEKNOLOGI TEPAT GUNA Mentri Negara Riset dan Teknologi TEKNOLOGI TEPAT GUNA Mentri Negara Riset dan Teknologi TTG - PENGELOLAAN AIR DAN SANITASI PENJERNIHAN AIR MENGGUNAKAN ARANG SEKAM PADI I. PENDAHULUAN Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci