MENGENAL PE;MBEBASAN VI~A\ BAGI P.~M~C?.~NG PASPOR DIPLQ - ATU< DAN DINAS Pemerintah Republ.ik Indonesia" name="description"> MENGENAL PE;MBEBASAN VI~A\ BAGI P.~M~C?.~NG PASPOR DIPLQ - ATU< DAN DINAS Pemerintah Republ.ik Indonesia"> MENGENAL PE;MBEBASAN VI~A\ BAGI P.~M~C?.~NG PASPOR DIPLQ - ATU< DAN DINAS - PDF">

D:AN. DEWAN MENTERl SE"BIA DAN. fv1gnt~neg :'> MENGENAL PE;MBEBASAN VI~A\ BAGI P.~M~C?.~NG PASPOR DIPLQ - ATU< DAN DINAS

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "D:AN. DEWAN MENTERl SE"BIA DAN. fv1gnt~neg :'> MENGENAL PE;MBEBASAN VI~A\ BAGI P.~M~C?.~NG PASPOR DIPLQ - ATU< DAN DINAS"
MENGENAL PE;MBEBASAN VI~A\ BAGI P.~M~C?.~NG PASPOR DIPLQ - ATU< DAN DINAS.pdf" class="btn bg-purple-seance" href="#" target="_blank" style="margin-top: 10px; display: none;"> Download Document

Transkripsi

1 PERSETUJUAN ANTARA PEMER~NTAH REPU~~II:< ~NDONESIA D:AN. DEWAN MENTERl SE"BIA DAN. fv1gnt~neg :'> MENGENAL PE;MBEBASAN VI~A\ BAGI P.~M~C?.~NG PASPOR DIPLQ - ATU< DAN DINAS Pemerintah Republ.ik Indonesia dan P~vvan rvtenteri Serbia dar:l Montenegro (se(anjutnya disebut. sebagai pafa '" iha~) b~~maksud ~eningk~tkan,,~bungan b,ilateralnya deng~n narap~n un.tuk m~rnper!ancar p~rj~larian warga negara kedua pihak, telah menyetujui hal-hal s~~~g~i ber,i~~t : ' Pa~~J1 Warga nf3gar~ sa lah satu. Pihak yang me.meg_~fl9 p~spgr f.t1pfqm,atik dan dinas yang berla.ku dibcbas!<~n dari persyar~t.an v~~a rp~s!j~ ke1~ar q~n transit melalu! whayah Negara. Pihak lain dan di~~nk&n untul.< Mggal 9 i sa.na paling lan1a 14 hari. -- Masa berl.aku pasp~>r warga negara para.p~ak. pa'j n~ kurang e,r~am bulan sebelum Il)emasuki wilayah pihak yan~ la.in. Pa!i. 12 Warga n~f}.~ra dar~ satu Pihak, pemegang pasp,_9,i di.p~o~.~tlk.dan gi_ry,as yang berlaku.dan anggota misi diplomati.k atau pos ko:n~~ler y~ng terletak di wilayah Negara Pihak lain.dan ~nggota keluarganya yan.g m~~l!j?ak~r:'.b ~t._g ian dari keluarga yang memegang pa~por dipl~mat* ~~n.d,in~ s dih ~l)sk~n rnemperoleh visa masuk dari n~ara yan9 r:nenerimc:j, ~er~en,t4an dengan tugasn,y.a pada misi-misi dif:)lomatik. dan konsl:jier, _dlsebut di at~s boleh secara bebas meninggalkan atau memasuki 1layah,negara.Pihak :)t~ng lain tanpa keharusan rnernperoleh visa selama izin :tinggal mereka :nasih berlaku. Ket~ntuan ini j~ga berlaku bagi seluruh anggota ofganisasi irternasional dari salah satu Pihak yang adalah pemegang pa~pqr ~ip lomat!k dan dinas yang masih berlaku.

2 Pasal3 Warganegara dari para Pihak merujuk pada pasal 1 dan 2 dari Persetujuan ini boleh memasuki atau meninggalkan wilayah Negara Pihak lainnya pada setiap lintas perbatasan yang ditentukan sebagai jalur internasional, apabila mereka memenuhi syarat-syarat yang diperlukan yang diatur oleh hukum nasional dari para Pihak berkenaan dengan masuk, perpindahan atau tinggalnya orang asing. Pasal4 Berdasarkan Persetujuan ini, warga negara salah satu Pihak diwajibkan untuk menghormati hukum dan peraturan perundangan yang berlaku di wilayah negara dari pihak lain. Pasal5 Persetujuan in! tidak akan membatasi hak dari pejabat yang berwenang dari para Pihak untuk menolak masuk atau tinggal bagi pemegang paspor diplomatik dan dinas dari Pihak yang lain merujuk pada pasal 1 dan 2 Persetujuan, asalkan orang-orang itu dianggap persona non grata tanpa memberikan alasan-alasan keputusannya. Pasal6 1. Para Pihak melakukan pertukaran melalui saluran diplomatik, contoh paspor diplomatik atau dinas yang berlaku yang tunduk pada ketentuanketentuan Persetujuan ini tidak lebih dari 30 hari sebelum masa berlakunya Persetujuan ini. 2. Jika paspor diplomatik, dinas atau khusus yang baru diperkenalkan atau dalam hal paspor - paspor yang berlaku akan diganti, maka para Pihak akan menyampaikan contoh paspornya melalui saluran diplomatik tidak lebih dari 30 hari sebelum paspor tersebut secara resmi diberlakukan. Pasal7 Dalam hal warganegara satu Pihak kehilangan paspornya di wilayah Pihak lain, ia harus memberitahu pejabat-pejabat yang berwenang negara tuan rumah untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Misi Diplomatik atau Konsulat yang terkait akan menerbitkan paspor baru atau dokumen perjalanan terhadap warganegaranya dan memberitahu pejabat-pejabat yang berwenang Pemerintah setempat.

3 Pasal8 Dalam hal adanya ketidaksepakatan yang timbul dari pelaksanaan dan penafsiran Persetujuan ini akan diselesaikan melalui saluran diplomatik. Pasal9 Persetujuan ini akan berlaku enam puluh (60) hari sejak tanggal penerimaan pemberitahuan terakhir di mana para Pihak saling memberitahukan melalui saluran diplomatik bahwa seluruh persyaratan sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan nasional bagi berlakunya Persetujuan ini telah dipenuhi. Pasal10 Salah satu Pihak dapat menangguhkan seluruh atau sebagian pelaksanaan Persetujuan ini karena alasan keamanan atau ketertiban atau untuk melindungi kesehatan masyarakat. Melalui saluran diplomatik, para Pihak harus saling memberitahukan segera mengenai penangguhan tersebut di atas atau kelanjutan untuk melaksanakan Persetujuan ini. Pasal11 Persetujuan ini akan tetap berlaku selama lima (5) tahun dan dapat diperbaharui lagi untuk masa lima tahun berikutnya atas dasar kesepakatan bersama secara tertulis. Masing-masing Pihak boleh mengakhiri Persetujuan ini setiap saat dengan memberitahukan Pihak lain melaui saluran-saluran diplomatik dan Persetjuan ini akan berhenti berlaku enam puluh (60) hari sejak tanggal penerimaan pemberitahuan tersebut. Sebagai bukti, yang bertanda tangan, menandatangani Persetujuan ini. DIBUAT di Jakarta pada hari ini tanggal dua puluh tiga bulan Oktober tahun dua ribu tiga dalam dua rangkap dalam bahasa Indonesia, Serbia dan lnggris, seluruh naskah mempunyai kekuatan hukum yang sama. Dalam hal terdapat perbedaan penafsiran, naskah bahasa lnggris yang berlaku. UNTUK PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA Signed Dr. N. Hassan Wirajuda Menteri Luar Negeri UNTUK DEWAN MENTERI SERBIA DAN MONTEr IEGRO Signed Goran Svilanovic Menteri Luar Negeri

4 CIIOPA3YM 113MEn Y BJIA,[(E PEIIYEJII1KE llli,[(ohe311je l1 CABET A MI1HI1CT AP A CPEHJE l1 QPHE rope 0 YKH,[(AH> Y BI13A 3A HOCI10QE,2U1IIJIOMA TCKHX 11 CJIY)l{EEIDIX IIACOlllA Bna):(a Peny6JIHKe 11H):(OHe3Hje H CaBeT MHHHCTapa Cp6Hje H QpHe rope ():(a.jbe y TeKcTy crpahe yrobophhn;e ), y )l(ejbh,ua,ua.jbe yhanpe~yjy 6HnaTepanHe o,uhoce, a y QHJDY onakiiiabalba rrytobalba,up)l(abjbaha crpaha yrosophhn;a, crropa3ymene cy ce o cne,uenem: llrrah 1. ~)l(abjbahh 6HJIO Koje O,U crpaha yrobophhqa KOjH cy HOCHOIJ;H Ba)l{eflHX,UHIIJIOMaTCKHX nacoiiia HJIH CJiy)l{6eHHX IIaCOIIIa 6Hne H3y3eTH 0):( rrph6ab.jbalba BH3e 3a yna3ak, H3Jia3aK HJIH rpah3ht rrpeko TepHTOpHje,upyre CTpaHe yrobophhij;e H MOry,ua 6opaBe Ha IbeHOj TepHTOpHjH HajBHIIIe,UO 14 ( qerphaect ),uaha. PoK Ba)l{elba rracoiiia _up)l{ab.jbaha cbake crpahe yrobophhn;e Mopa 6HTH HajMalbe 6 (IIIecT) Meceu;H rrpe ynacka Ha TepHTOpHjy,upyre crpahe yrobophhij;e. ~)l{ab.jbahh 6HJIO KOje O,U C1]JaHa yrobophhij;a HOCHOIJ;H, Ba)l{ellHX,UHITJIOMaTCKHX HJIH CJiy)l{6eHHX IIaCOIIIa, KOjH cy Ha TepHTOpHjH,Up)l{aBe ):(pyre CTpaHe yrobophhij;e qjiahobh OC06a,UHIIJIOMaTCKOr HJIH KOH3ynapHOr rrpe,uctabhhiiitba, KaO H qjiahobh lbhxobhx IIOpO,UHIJ;a KOjH ca lbhma )I{HBe y 3aje~HJ1qKQM ~OMallHHCTBY, HOCHOUH ~HTIJIOMaTCKHX HJIH CJiy)l{6eHHX naco rna IIpHJIHKOM ynacka Ha TepHTOpHjy,Up)l(aBe IIpHjeMa pa,uh rrpey3hmalba _uy)i{hocth rrph6ab.jbajy yna3hy BH3Y Te _up)l(abe. ITo npey3hmalb y ):(y)i{hocth y,uhiijiomatckom HJIH KOH3ynapHOM rrpe):(ctabhhiiitby, OBa JIHIJ;a MOry HecMeTaHo H 6e3 rrph6as.jbalba BH3e,ua HarryiiiTajy H yna3e Ha TepHTOpHjy _up)l{abe,upyre crpahe yrobophhn;e, ykonhko cy,uo3bone 6opaBKa joiii Ba)l(ene. O,upe,u6a osor qjiaha o,uhoch ce 11 Ha qnahobe Me~yHapo,uHHX oprahh3an;hja 6HJIO Koje O,U CTpaHa yrobophhij;a KOjH cy HOCHOIJ;H Ba)l(eDHX,UHITJIOMaTCKHX HJIH cny)l{6ehhx rracorna.

5 ).W)I(aBJbaHI1 CTpaHa yroboph11ij;a H3 qji OBOr CIIOpa3yMa MOry yn11 11JII1 HarryCTI1TI1 Tep11TOp11jy,Llp)l(aBe,Llpyre CTpaHe yroboph11ij;e, Ha CBaKOM rpahi1qhom rrpena3y OTBopeHoM 3a Me~yHapo,n;HI1 rrythi1qki1 cao6pahaj, y3 11crrylhaBalhe rrotpe6hi1x ycnoba YTBp~eHI1X HaiJ;I10HaJIHI1M 3aKoHo,n;aBCTBOM CTPaHa yroboph11ij;a y norne,n;y ynacka, KpeTalha 11n11 6opaBKa CTPaHau;a. ):W)I(aBJbaHI1 o6e CTPaHe yroboph11ij;e 3a BpeMe cbor 6opaBKa Ha Tep11TOp11jl1,n;pyre CTPaHe yroboph11ij;e,n;y)i(hi1 cy,n;a IIOIIITyjy 3aKoHe 11,n;pyre nporrhce Te CTPaHe yroboph11u;e. 0Baj crropa3ym He orpahhqaba npabo CTPaHa yroboph11ij;a,n;a 3a6paHe yna3ak 11JIH OTKa)l(y 6opaBaK HOC110IJ;11Ma,[(11IIJIOMaTCKI1X HJII1 CJIY)I(6eHI1X rracoiiia,n;pyre CTPaHe yrobophhu:e H3 qahoba 1. H 2. obor crropa3yma, ykojihko ce Ta JIHU:a cmatpajy Herro)l(eJbHI1Ma (personae non grata), He HaBo,nehH pa3nore 3a,ll;OHOIIIelhe TaKBe O,n;JiyKe. CTPaHe yrobophhu;e he,n;hrrnomatckhm rrytem pa3mehhti1 o6pacu;e Ba)l(enl1x,ll;HIIJIOMaTCKHX 11JIH CJIY)I(6eHHX rracorna Ha KOje Ce O,[(HOCe o,n;pe,n;6e OBOr crropa3yma, HajKaCHHje TPH,n;eceT (30),n;aHa rrpe cryrralba obor crropa3yma Ha CHary. Y cnyqajy YBO~elha HOBHX,ll;HIIJIOMaTCKHX HJIH CJiy)l(6eHHX rracorna, O,ll;HOCHO H3MeHe rroctojen11x, CTPaHe yrobophhu:e tie pa3mehi1th lhi1xobe y3opke,[(11iijiomatcki1m nytem, HajKaCHI1je TJJI1,[(eCT (30),[(aHa npe noqetka Ih11XOBe rrp11mehe. AKo,n;p)l(aBJbaHI1H je,n;he o,n; ctpaha yrobophhu;a 113ry611 rracorn Ha TepHTOp11jH,n;pyre ctpahe yroboph11u;e, o6abecthne lhehe Ha,n;Jie)I(He oprahe pa,n;11 rrpe,n;y311malba o,n;robapajynhx Mepa. ~HIIJIOMaTCKO MJIH KOH3yJiapHO rrpe,n;ctabhi1iiitbo 11JIM KOH3yJiaT M3,n;ane HOBI1 IIaCOIII MJIM rrythm JII1CT CBOjMM,n;p)l(aBJbaHMMa H o6abectmne o ToMe Ha)];Jie)I(He oprahe,n;pyre CTPaHe yroboph11qe.

6 CnopoBH KOjH HacTaHy ycne,n; nphmehe H TYMaqeiDa Cnopa3YMa pernabahe ce,ll;hnjiomatckhm nytem. 0Baj cnopa3ym ctyna Ha chary rne3,n;ecetor (60),n;aHa o,n;,naha nphjema nocne,nlher o6abernteida KojHM cy c1pahe yrobophhn;e o6abecthjie je,nha,n;pyry,nmnnomatckmm nytem,na cy McnyiDeHM ycnobm ytbp~ehh Han;MoHarrHHM 3aKOHO,L(aBCTBOM CTpaHa yrobophhqa 3a CTynaiDe CnOpa3yMa Ha CHary. CBaKa c1paha yrobophhjj;a MO)I(e nphspemeho, y u;enmhm HJIM,nenHMHqHo, o6yctabmtm nphmehy OBOr CnOpa3yMa 113 pa3jiora 6e36e,nHOCTH H 3aiiiTHTe jabhor pe,na H 3,n;paBJba, Y3 npetxo,nhy HOTM<)?MKaJJ;Mjy 0 TOMe,npyre C1paHe yrobophhjj;e, ~MriJIOM8TCKHM nytem 0 nomeeytoj o6yctabm HJIH,[{a.JbOj nphmehm obor cnopa3)'ma. llrrah 11. Cnopa3yM OCTaje Ha CHa3H 3a nepho,[{ 0,[{ net ( 5) ro,nmha H MO)I(e 6HTH npo,ny)l(eh 3a Hape,nHH nepho,n o,n; net ( 5) ro,nmha y3 o6oc1pahy carnachoct y IIMCMeHoj <J?opMH. CBaKa CTpaHa yrobophhjj;a MO)l(e OTKa3aTM Ba)l(efbe OBOr cnopa3yma, C TMM,na 0 OTKa3Y o6abecth,[{mnjiomatckmm nytem,npyry C1paHy yrosophhl(y. Y TOM cnyqajy cnopa3ym npectaje,na Ba)l(M rne3,necet (60),n;aHa o,n; nphjema o6aserntelha o TOMe. Y notbp,ny qera cy,lj;ojienotnmcahm, notnmcajim OBaj cnopa3ym. CaqMIDeHo y I)aKapTH,,naHa 23. OKTo6pa ro,nmhe, y,nsa ophrmharrha nphmepka Ha MH,noHe)l(aHCKOM, cpnckom, 11 ehrneckom je3mky. CBH TeKCTOBH cy no,rije,nhako Bepo,nocTojHH. Y cnyqajy,npyraq11jer TyMaqelha 611he Mepo,naBaH ehrjieckh TeKCT. 3A BJIA~Y PEITYEJI11KE 11H,[(OHE3HJE,, Sig1ned,[(pH. XacaH F.a;pajy,ra MMHHCTap 3a cnojbhe nocjiobe 3A CABET MI1Hl1CT AP A (;PEHJE V QPHE rope Sig1ned ropah CBMJiaHOBMn MMHMCTap cnojbhmx TIOCJIOBa

7 AGREEMENT BETWEEN THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND THE COUNCIL OF MINISTERS OF SERBIA MONTENEGRO ON VISA EXEMPTION FOR HOLDERS OF DIPLOMATIC AND OFFICIAL PASSPORTS The Government of the Republic of Indonesia and the Council of Ministers of Serbia and Montenegro (hereinafter referred to as the contracting Parties), wishing to promote their bilateral relations and with a view to facilitating the travel of citizens of the two contracting Parties, have agreed as follows: Article 1 Citizens of one contracting Party, who are holders of valid diplomatic or official passports, shall be exempted from a visa requirement for entry into, exit from and transit through the territory of the State of the other contracting Party and shall be allowed to stay there for maximum period of (fourteen} 14 days. The duration of passport validity of citizen of contracting Parties shall be at least (six) 6 months before entering on the territory of other contracting Party. Article 2 Citizen of one contracting Party, holders of valid diplomatic or official passports, and members of the diplomatic mission or consular posts located in the territory of the State of other contracting Party and member of their families forming part of their household who hold diplomatic or official passports shall be required to obtain an entry visa of the receiving State. Upon assumption of their duties in diplomatic or consular missions, above mentioned persons may freely leave and enter the territory of the State of other contracting Party without visa requirement, as far as their stay permit still -valid. This provision shab also apply to all the members of the international.organizations of one contracting Party, who are holders of valid diplomatic or official passport. Article 3 Citizens of the contracting Parties referred to in Articles 1 and 2 of this Agreement may enter or leave the territory of State of the other contracting Party at any border crossing designated for international traffic, if they fulfill necessary conditions prescribed by national laws of the contracti;1g Parties with respect to the entry, movement or stay of foreigners.

8 Article 4 Under this Agreement, citizens of either contracting Party shall be obliged to observe the laws and regulations in force in the territory of the State of the other contracting Party. Article 5 This Agreement shall not restrict the right of the competent authorities of the Parties to refuse the entry or leave to stay to the holders of diplomatic or official passports of the other contracting Party referred to in Articles 1 and 2 of this Agreement, provided that those persons are considered as personae non grata, without providing reasons for their dec~sion. Article 6 1. The contracting Parties shall exchange, through diplomatic channels, specimens of their valid diplomatic or official passports subject to the provis~ons of this Agreemen~ :1ot later than thirty (30) days before entry into force of this Agreement. 2. If new diplomatic. official, or special passports are introduced, or the existing ones are changed, the contracting Parties shall exchange their specimen through diplomatic channets not later than thirty (30) days before they have been formally introduced. Article 7 If citizen of one contracting Party loses his, her passport in the territory of other contracting Party; he, she shall inform the authorities concerned of the host country for appropriate action. The Diplomatic Mission or Consulate concerned will issue a fresh passport or travel document to its citizen and inform the concerned authorities of the local Government. Article 8 Disagreement ansmg out of the implementation and interpretation of this Agreement shall be settled through diplomatic channels. Article 9 This Agreement shall enter into force sixty (60) days from date of the receipt of the last notification in which the contracting Parties have informed each other through diplomatic channels that conditions prescribed by their national laws for entry into force of this Agreement, have been fulfilled.

9 Article 10 Either contracting Party may suspend, entirely or partially, the execution of this Agreement for security reasons or to protect pubi,c order or health. Through the diplomatic channels, the contracting Partie$ shall promptly notify one another of said suspension or resumption to imp!ement this Agreement. Artlde 11 This Agreement shall remain in force a pet~od of five (5) years and may be renewed for further periods of fi've (5) by mutual consent in writing. Each contracting Party may termjnate jt an; time by informing the other contracting Party thereof through diplomatic ehannelt.. and dlfi) Agreement shall cease to be in force sixty (60) days from ttre date a! the reeeipt for such notifications. In witness whereof, the w~dersigned have eigned this Agreement DONE at J ~ :-:2 c.r~ tr~~ \tioo'ty-trlird day o! Od~er i:. ~ t~.,~ ::~~ : tv.c Ulousand Qnd three ~r df..e;p!~~..e~ ~ in Indonesian, Se~:.an ~..fitt r ~nen ~anguages, all be.in,g e<;~ali.~ ~uthemie.. In case! of anr divergei'c. o# inte r~:trete4ion' the Eng Ill tma.n~" ~tsva~! FOR TKE GOVERNMENT OF 'TriE REPUBLIC OF INDONESIA FOR THE COU 'C!L OF MINISTERS OF SERRtA AND MONTENEGRO Sig1ned ~. t.. I. - Sig1ned Dr. N. Hassan Wirajuda Minister for Foreign Affairs :~ _, ran Syi[e~Jt:..,it of Foreign Affairs

REPUBLIK INDONESIA PERSETUJUAN

REPUBLIK INDONESIA PERSETUJUAN REPUBLIK INDONESIA PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK FIJI MEN GENAl PEMBEBASAN VISA BAGI PEMEGANG PASPOR DIPLOMATIK ATAU DIN AS Pemerintah Republik Indonesia dan

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA. SESUAI dengan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di masing-masing negara; PASAL 1 PEMBEBASAN VISA

REPUBLIK INDONESIA. SESUAI dengan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di masing-masing negara; PASAL 1 PEMBEBASAN VISA w ~ REPUBLIK INDONESIA PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK DEMOKRATIK TIMOR-LESTE MENGENAI PEMBEBASAN VISA BAGI PEMEGANG PASPOR DIPLOMATIK DAN DINAS Pemerintah Republik

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 1992 TENTANG PENGESAHAN AGREEMENT BETWEEN THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF THE SUDAN ON ECONOMIC AND

Lebih terperinci

PERJANJIAN. '.,...,'. ANTARA '. l1. - I. PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA. - DAN,.. ". PEMERINTqH.., REPUBLIK RAKYAT CHINA ' MENGENAI

PERJANJIAN. '.,...,'. ANTARA '. l1. - I. PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA. - DAN,.. . PEMERINTqH.., REPUBLIK RAKYAT CHINA ' MENGENAI PERJANJIAN. '.,...,'. ANTARA '. l1. - I... PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA. - DAN,.. ". s i 1.,.,w PEMERINTqH.., REPUBLIK RAKYAT CHINA ' MENGENAI.re- PEMBEBASAN VISA BAGI PEMEGANG PASPOR DIPLO~IAT~

Lebih terperinci

~ REPUBLIK INDONESIA PERSETUJUAN

~ REPUBLIK INDONESIA PERSETUJUAN w ~ REPUBLIK INDONESIA PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK KOSTA RIKA MENGENAI PEMBEBASAN VISA BAGI PEMEGANG PASPOR DIPLOMATIK ATAU DINAS Pemerintah Republik Indonesia

Lebih terperinci

REPlJBLIK INDONESIA. SESUAI dengan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di PASAL 1 PEMBEBASAN VISA

REPlJBLIK INDONESIA. SESUAI dengan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di PASAL 1 PEMBEBASAN VISA REPlJBLIK INDONESIA PERSETUJUAN ANT ARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK ARAB MESIR MENGENAI PEMBEBASAN VISA BAGI PEMEGANG PASPOR DIPLOMATIK, DINAS DAN KHUSUS Pemerintah Republik Indonesia

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN PRESIDEN NOMOR 24 TAHUN 1989 TENTANG PENGESAHAN AGREEMENT BETWEEN THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND THE GOVERNMENT OF THE GERMAN DEMOCRATIC REPUBLIC ON ECONOMIC AND TECHNICAL COOPERATION

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN AGREEMENT BETWEEN THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND THE GOVERNMENT OF THE UNITED KINGDOM OFGREAT BRITAIN AND NOTHERN

Lebih terperinci

Departemen Luar Negeri Indonesia dan Kementerian Luar Negeri Romania (selanjutnya disebut sebagai "Para Pihak";

Departemen Luar Negeri Indonesia dan Kementerian Luar Negeri Romania (selanjutnya disebut sebagai Para Pihak; MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA DEPARTEMEN LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA DENGAN KEMENTERIAN LUAR NEGERI ROMANIA TENTANG PEMBENTUKAN KONSUL TASI BILATERAL Departemen Luar Negeri Indonesia dan Kementerian

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 1991 TENTANG PENGESAHAN AGREEMENT BETWEEN THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND THE GOVERNMENT OF THE PEOPLE'S REPUBLIC OF BULGARIA ON ECONOMIC

Lebih terperinci

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH FEDERASI RUSIA MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH FEDERASI RUSIA MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH FEDERASI RUSIA MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Federasi Rusia selanjutnya disebut sebgai

Lebih terperinci

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA INSTITUT PENELITIAN EKONOMI UNTUK ASEAN DAN ASIA TIMUR DENGAN SADAN PUSAT STATISTIK REPUBLIK INDONESIA TENTANG

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA INSTITUT PENELITIAN EKONOMI UNTUK ASEAN DAN ASIA TIMUR DENGAN SADAN PUSAT STATISTIK REPUBLIK INDONESIA TENTANG REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA INSTITUT PENELITIAN EKONOMI UNTUK ASEAN DAN ASIA TIMUR DENGAN SADAN PUSAT STATISTIK REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENYEDIAAN, PEMANFAATAN, DAN PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

Pasal 1. Kedua pihak sepakat untuk meningkatkan dan saling tukar menukar pengalaman di bidang penerangan, mencakup :

Pasal 1. Kedua pihak sepakat untuk meningkatkan dan saling tukar menukar pengalaman di bidang penerangan, mencakup : MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK DEMOKRASI RAKYAT LAOS MENGENAI KERJASAMA DI BIDANG PENERANGAN Dengan maksud mempererat dan memperluas kerjasama

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA PASAL1

REPUBLIK INDONESIA PASAL1 REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK GAMBIA TENTANG PEMBENTUKAN KOMISI BERSAMA UNTUK KERJA SAMA BILATERAL Pemerintah Republik Indonesia

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 1993 TENTANG PENGESAHAN AGREEMENT BETWEEN THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND THE GOVERNMENT OF AUSTRALIA CONCERNING THE PROTECTION AND

Lebih terperinci

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH TURKMENISTAN MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH TURKMENISTAN MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH TURKMENISTAN MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Turkmenistan selanjutnya disebut sebagai

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 113 TAHUN 1999 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH FEDERASI RUSIA MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK PRESIDEN

Lebih terperinci

PERJANJIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK TUNISIA TENTANG PEMBEBASAN VISA BAGI PASPOR DIPLOMATIK DAN DINAS

PERJANJIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK TUNISIA TENTANG PEMBEBASAN VISA BAGI PASPOR DIPLOMATIK DAN DINAS REPUBLIK INDONESIA PERJANJIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK TUNISIA TENTANG PEMBEBASAN VISA BAGI PASPOR DIPLOMATIK DAN DINAS Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah

Lebih terperinci

~. -~ :~~ \ ) ) '../ft

~. -~ :~~ \ ) ) '../ft ~. -~ :~~ \ ) ) '../ft "?;-~ IJ '. ~~ REPUBLIK INDONESIA PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN REPUBLIK SINGAPURA TENTANG PENETAPAN GARIS BAT AS LAUT WILAYAH KEDUA NEGARA Dl BAGIAN TIMUR SELAT SINGAPURA

Lebih terperinci

REPUBLIK INOONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA DAN KANTOR PEMILIHAN FIJI

REPUBLIK INOONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA DAN KANTOR PEMILIHAN FIJI REPUBLIK INOONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA DAN KANTOR PEMILIHAN FIJI TENTANG KERJA SAMA DALAM MANAJEMEN PEMILIHAN UMUM Komisi Pemilihan Umum Republik

Lebih terperinci

PENYUSUNAN NASKAH PERJANJIAN INTERNASIONAL

PENYUSUNAN NASKAH PERJANJIAN INTERNASIONAL PENYUSUNAN NASKAH PERJANJIAN INTERNASIONAL WORKSHOP STANDARDISASI PEDOMAN DAN MEKANISME PENYUSUNAN PERJANJIAN INTERNASIONAL Umbara Setiawan Direktorat Perjanjian Ekonomi dan Sosial Budaya Direktorat Jenderal

Lebih terperinci

SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DENGAN PEMERINTAH REPUBLIK DEMOKRASI MYANMAR

SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DENGAN PEMERINTAH REPUBLIK DEMOKRASI MYANMAR SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DENGAN PEMERINTAH REPUBLIK DEMOKRASI MYANMAR MENGENAI PROGRAM PELATIHAN PENERBANGAN SIPIL DI INDONESIA Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA KEMENTERIAN PEROAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN

REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA KEMENTERIAN PEROAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA KEMENTERIAN PEROAGANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN KEMENTERIAN PERDAGANGAN REPUBLIK ISLAM PAKISTAN MENGENAI PERDAGANGAN BERAS Kementerian Perdagangan

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA THE MINISTER OF MANPOWER AND TRANSMIGRATION OF THE REPUBLIC OF INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 223/MEN/2003 TENTANG JABATAN-JABATAN DI LEMBAGA PENDIDIKAN YANG DIKECUALIKAN

Lebih terperinci

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK DJIBOUTI MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK DJIBOUTI MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK DJIBOUTI MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Djibouti selanjutnya disebut

Lebih terperinci

PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK YAMAN PASAL 1 PASAL 2

PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK YAMAN PASAL 1 PASAL 2 PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK YAMAN Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Yaman, selanjutnya disebut sebagai "Para Pihak pada Persetujuan".

Lebih terperinci

Jamaica selanjutnya disebut sebagai "Para pihak". Didorong keinginan untuk saling memperdalam dan. tali persaudaraan yang telah ada diantara kedua

Jamaica selanjutnya disebut sebagai Para pihak. Didorong keinginan untuk saling memperdalam dan. tali persaudaraan yang telah ada diantara kedua PERSETUJUAN DASAR KERJASAMA EKONOMI ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNIK ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH JAMAICA Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Jamaica selanjutnya disebut sebagai

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1996 TENTANG PENGESAHAN AGREEMENT BETWEEN THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF SINGAPORE ON MILITARY TRAINING

Lebih terperinci

PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH KERAJAAN MAROKO

PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH KERAJAAN MAROKO PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH KERAJAAN MAROKO Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Maroko dalam hal ini disebut sebagai "Kedua Belah Pihak".

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 99 TAHUN 2006 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN TENTANG KERJASAMA EKONOMI ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK SLOVAKIA (A GREEMENT ON ECONOMIC

Lebih terperinci

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Singapura (selanjutnya disebut "Para Pihak");

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Singapura (selanjutnya disebut Para Pihak); MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK SINGAPURA MENGENAI KERJASAMA DI BIDANG SENI DAN W ARISAN BUDA YA Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik

Lebih terperinci

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK MOZAMBIK MENGENAI KERJSAMA EKONOMI DAN TEKNIK

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK MOZAMBIK MENGENAI KERJSAMA EKONOMI DAN TEKNIK PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK MOZAMBIK MENGENAI KERJSAMA EKONOMI DAN TEKNIK Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Mozambik selanjutnya disebut

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2009 TENTANG PENGESAHAN ASEAN FRAMEWORK AGREEMENT ON VISA EXEMPTION (PERSETUJUAN KERANGKA KERJA ASEAN MENGENAI PEMBEBASAN VISA) DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 1992 TENTANG PENGESAHAN PROPOSED THIRD AMENDMENT OF THE ARTICLES OF AGREEMENT OF THE INTERNATIONAL MONETARY FUND PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH KERAJAAN KAMBOJA

PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH KERAJAAN KAMBOJA PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH KERAJAAN KAMBOJA Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Kamboja, selanjutnya disebut "Para Pihak" pada Persetujuan.

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA CONCERNING SISTER CITY COOPERATION

REPUBLIK INDONESIA CONCERNING SISTER CITY COOPERATION REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM OF UNDERSTANDING BETWEEN THE CITY GOVERNMENT OF YOGYAKARTA, REPUBLIC OF INDONESIA AND THE DISTRICT GOVERNMENT OF COMMEWIJNE, REPUBLIC OF SURINAME CONCERNING SISTER CITY COOPERATION

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1998 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH KERAJAAN KAMBOJA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Copyright (C) 2000 BPHN KEPPRES 88/1996, PENGESAHAN PROTOCOL AMENDING THE CONVENTION BETWEEN THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND THE GOVERNMENT OF THE UNITED STATES OF AMERICA FOR THE AVOIDANCE

Lebih terperinci

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Uni Myanmar, selanjutnya disebut "Para Pihak";

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Uni Myanmar, selanjutnya disebut Para Pihak; REPVBL INDOIIESlA PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK UNI MYANMAR MENGENAI PEMBEBASAN VISA BAGI PEMEGANG PASPOR BIASA Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik

Lebih terperinci

PERJANJIAN PEMBENTUKAN KONSORSIUM Perjanjian Pembentukan Konsorsium ( PERJANJIAN AWAL ) ini ditandatangani pada hari ini [...] tanggal [...] bulan [...] tahun [...] (...-...-20...), antara: I. PT. [...],

Lebih terperinci

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Rakyat Demokratik Korea (selanjutnya disebut sebagai "Para Pihak"), Pasall Pembebasan

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Rakyat Demokratik Korea (selanjutnya disebut sebagai Para Pihak), Pasall Pembebasan PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK RAKYAT DEMOKRATIK KOREA MENGENAI PEMBEBASAN VISA BAGI PEMEGANG PASPOR DIPLOMATIK DAN PASPOR DINAS Pemerintah Republik Indonesia

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 64 TAHUN 1996 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH UKRAINA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

REPUBl.JK INDONESIA. Pemerintah Kata Jayapura, Republik Indonesia dan Pemerintah Kata Wewak, Papua Nugini, selanjutnya disebut sebagai para "Pihak";

REPUBl.JK INDONESIA. Pemerintah Kata Jayapura, Republik Indonesia dan Pemerintah Kata Wewak, Papua Nugini, selanjutnya disebut sebagai para Pihak; ( REPUBl.JK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA PEMERINTAH KOTA JAY AP URA, REPUBLIK INDONESIA AND PEMERINTAH KOTA WEWAK, PAPUA NUGINI MENGENAI KERJASAMA KOT A KEM BAR Pemerintah Kata Jayapura,

Lebih terperinci

REPUBLJI[ INDONESIA. 1. Untuk kepentingan Pasal 11 ayat (3), "suatu institusi keuangan"mempunyai arti:

REPUBLJI[ INDONESIA. 1. Untuk kepentingan Pasal 11 ayat (3), suatu institusi keuanganmempunyai arti: REPUBLJI[ INDONESIA NOTA KESEPAHAMAN PERSETUJUAN ANT ARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK RAKYAT TIONGKOKMENGENAI PENGHINDARAN PAJAK BERGANDA DAN PENCEGAHAN PENGELAKAN PAJAK YANG BERKENAAN

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INOO NESIA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 67 TAHUN 2014 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK KOSTA RIKA MENGENAI PEMBEBASAN

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 1996 TENTANG PENGESAHAN PROTOCOL AMENDING THE CONVENTION BETWEEN THE GOVERNMENT OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND THE GOVERNMENT OF THE UNITED STATES

Lebih terperinci

REPUBLJI[ INDONESIA. 1. Untuk kepentingan Pasal 11 ayat (3), "suatu institusi keuangan"mempunyai arti:

REPUBLJI[ INDONESIA. 1. Untuk kepentingan Pasal 11 ayat (3), suatu institusi keuanganmempunyai arti: www.bphn.go.id www.bphn.go.id www.bphn.go.id www.bphn.go.id REPUBLJI[ INDONESIA NOTA KESEPAHAMAN PERSETUJUAN ANT ARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK RAKYAT TIONGKOKMENGENAI PENGHINDARAN

Lebih terperinci

r ANTARA KANTOR BERITA ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN KANTOR BERITA TASR REPUBLIK SLOVAKIA

r ANTARA KANTOR BERITA ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN KANTOR BERITA TASR REPUBLIK SLOVAKIA THE AGREEMENT ON THE COOPERATION IN THE EXCHANGE OF NEWS MATERIALS BETWEEN ANTARA NEWS AGENCY OF THE REPUBLIC OF INDONESIA AND TASR NEWS AGENCY OF THE SLOVAK REPUBLIC No: 090/PKS/DIR-AP/XII/2011 PERJANJIAN

Lebih terperinci

KEPPRES 91/1998, PENGESAHAN PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK YAMAN

KEPPRES 91/1998, PENGESAHAN PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK YAMAN Copyright (C) 2000 BPHN KEPPRES 91/1998, PENGESAHAN PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK YAMAN *47794 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA (KEPPRES) NOMOR

Lebih terperinci

Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dan Komisi Olahraga Filipina Republik Filipina, selanjutnya disebut sebagai "Para Pihak";

Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia dan Komisi Olahraga Filipina Republik Filipina, selanjutnya disebut sebagai Para Pihak; PUBL INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA KEMENTERIAN PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA DAN KOMISI OLAHRAGA FILIPINA REPUBLIK FILIPINA MENGENAI KERJASAMA OLAHRAGA Kementerian Pemuda dan Olahraga

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK NIKARAGUA MENGENAI PEMBEBASAN VISA BAGI PEMEGANG PASPOR

Lebih terperinci

MEMPERTIMBANGKAN pentingnya kerjasama internasional dan peran dari negara sahabat dalam memperkuat kapasitas di bidang manajemen kebakaran hutan; dan

MEMPERTIMBANGKAN pentingnya kerjasama internasional dan peran dari negara sahabat dalam memperkuat kapasitas di bidang manajemen kebakaran hutan; dan REPUBLIK INDONESIA PERJANJIAN HIBAH ANTARA SADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) REPUBLIK INDONESIA DAN KEMENTERIAN LUAR NEGERI REPUBLIK RAKYAT TIONGKOK UNTUK PENGUATAN KAPASITAS DI BIDANG MANAJEMEN

Lebih terperinci

Mengakui pentingnya asas-asas persamaan dan saling menguntungkan; Sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku di rnasingmasing

Mengakui pentingnya asas-asas persamaan dan saling menguntungkan; Sesuai dengan hukum dan perundang-undangan yang berlaku di rnasingmasing ,..,. r. REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH PROVINSI BALl REPUBLIK INDONESIA DAN NEGARA BAGIAN HAWAII AMERIKA SERIKAT TENTANG PEMBENTUKAN KERJASAMA DAN KEMITRAAN PROVINSI-NEGARA

Lebih terperinci

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Denmark yang selanjutnya secara tunggal disebut "Pihak" dan secara bersama disebut "Para Pihak";

Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Denmark yang selanjutnya secara tunggal disebut Pihak dan secara bersama disebut Para Pihak; REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH KERAJAAN DENMARK TENT ANG KERJA SAMA MARITIM Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Kerajaan Denmark

Lebih terperinci

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH AUSTRALIA BERKAITAN DENGAN VISA BEKERJA DAN BERLIBUR

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH AUSTRALIA BERKAITAN DENGAN VISA BEKERJA DAN BERLIBUR REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH AUSTRALIA BERKAITAN DENGAN VISA BEKERJA DAN BERLIBUR Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Australia,

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN DASAR KERJASAMA EKONOMI, ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNIK ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH JAMAICA

Lebih terperinci

BERKEINGINAN untuk memfasilitasi masuk dan tinggalnya pelajar Malaysia ke Republik Indonesia dan pelajar Indonesia ke Malaysia;

BERKEINGINAN untuk memfasilitasi masuk dan tinggalnya pelajar Malaysia ke Republik Indonesia dan pelajar Indonesia ke Malaysia; REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH MALAYSIA MENGENAI IZIN PELAJARIIZIN TINGGAL PELAJAR DAN VISA UNTUK PROGRAM PENDIDIKAN TINGGI PEMERINTAH

Lebih terperinci

AMENDEMEN MONTREAL AMENDEMEN ATAS PROTOKOL MONTREAL YANG DIADOPSI OLEH PERTEMUAN KESEMBILAN PARA PIHAK

AMENDEMEN MONTREAL AMENDEMEN ATAS PROTOKOL MONTREAL YANG DIADOPSI OLEH PERTEMUAN KESEMBILAN PARA PIHAK PASAL 1: AMENDEMEN AMENDEMEN MONTREAL AMENDEMEN ATAS PROTOKOL MONTREAL YANG DIADOPSI OLEH PERTEMUAN KESEMBILAN PARA PIHAK A. Pasal 4, ayat 1 qua Ayat berikut wajib dimasukkan sesudah Pasal 4 ayat 1 ter

Lebih terperinci

PERJANJIAN AN TARA REPUBLIK INDONESIA DAN REPUBLIK SINGAPURA TENTANG PENETAPAN GARIS BATAS LAUT WILAYAH KEDUA NEGARA DI BAGIAN TIMUR SELAT SINGAPURA

PERJANJIAN AN TARA REPUBLIK INDONESIA DAN REPUBLIK SINGAPURA TENTANG PENETAPAN GARIS BATAS LAUT WILAYAH KEDUA NEGARA DI BAGIAN TIMUR SELAT SINGAPURA REPUBLIK INDONESIA PERJANJIAN AN TARA REPUBLIK INDONESIA DAN REPUBLIK SINGAPURA TENTANG PENETAPAN GARIS BATAS LAUT WILAYAH KEDUA NEGARA DI BAGIAN TIMUR SELAT SINGAPURA REPUBLIK INDONESIA DAN REPUBLIK SINGAPURA,

Lebih terperinci

===========================================

=========================================== PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINT AH REPUBLIK ISLAM PAKISTAN MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK =========================================== Pemerintah Republik Indonesia

Lebih terperinci

(selanjutnya masing-masing disebut sebagai "Pihak" dan secara bersama sebagai "Para Pihak"),

(selanjutnya masing-masing disebut sebagai Pihak dan secara bersama sebagai Para Pihak), REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH MALAYSIA MENGENAI KESEJAHTERAAN SOSIAL DAN PEMBANGUNAN MASYARAKAT PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA dan

Lebih terperinci

PERSETUJUAN PERDAGANGAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK CHILE ---------------------------------------------------------------- Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah

Lebih terperinci

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK FEDERASI NIGERIA MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK FEDERASI NIGERIA MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK FEDERASI NIGERIA MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK Pemerintah Republik Indonsesia dan Pemerintah Republik Federasi Nigeria selanjutnya

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN MENGENAI KERJA SAMA EKONOMI DAN TEKNIK ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK KOLOMBIA (AGREEMENT

Lebih terperinci

PERSETUJUAN ANT ARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK RAKYAT DEMOKRASI KOREA MENGENAI KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK -----------------------------------------------------------------

Lebih terperinci

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Kementerian Luar Negeri dan Agama Republik Kosta Rika (selanjutnya disebut sebagai "Para Pihakn);

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Kementerian Luar Negeri dan Agama Republik Kosta Rika (selanjutnya disebut sebagai Para Pihakn); REPUBLIJ[ INDOIIESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA KEMENTERIAN LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA DAN KEMENTERIAN LUAR NEGERI DAN AGAMA REPUBLIK KOSTA RIKA MENGENAI KONSULTASI BILATERAL Kementerian Luar

Lebih terperinci

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH MALAYSIA TENTANG KERJASAMA PERTANIAN

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH MALAYSIA TENTANG KERJASAMA PERTANIAN ,I l.. REPUBLIX INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH MALAYSIA TENTANG KERJASAMA PERTANIAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA yang diwakili oleh Kementerian

Lebih terperinci

Unofficial translation PERJANJIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN INTERNATIONAL ORGANIZATION FOR MIGRATION (IOM) MENGENAI KERJASAMA MIGRASI

Unofficial translation PERJANJIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN INTERNATIONAL ORGANIZATION FOR MIGRATION (IOM) MENGENAI KERJASAMA MIGRASI Unofficial translation PERJANJIAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN INTERNATIONAL ORGANIZATION FOR MIGRATION (IOM) MENGENAI KERJASAMA MIGRASI Pernerintah Republik Indonesia, selanjutnya disebut

Lebih terperinci

t. ' ~ _.J "'-... ~... -'

t. ' ~ _.J '-... ~... -' t. ' ~ _.J "'-... ~... -' REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN AN TARA PEMERINT AH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINT AH REPUBLIK FILIP INA TENTANG KERJA SAMA BIDANG PENDIDIKAN Pemerintah Republik

Lebih terperinci

TENT ANG KERJASAMA PENDIDIKAN, PELATIHAN, DAN PENGKAJIAN DI BIDANG PERTAHANAN DAN KEAMANAN

TENT ANG KERJASAMA PENDIDIKAN, PELATIHAN, DAN PENGKAJIAN DI BIDANG PERTAHANAN DAN KEAMANAN REPUBLIK INDONESIA NOTA KESEPAHAMAN ANT ARA LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN NATIONAL DEFENSE COLLEGE OF THE PHILIPPINES TENT ANG KERJASAMA PENDIDIKAN, PELATIHAN, DAN PENGKAJIAN DI BIDANG

Lebih terperinci

EMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN ARSIP NASIONAL PUSAT REPUBLIK YAMAN MENGENAI KERJASAMA KEARSIPAN

EMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN ARSIP NASIONAL PUSAT REPUBLIK YAMAN MENGENAI KERJASAMA KEARSIPAN EMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN ARSIP NASIONAL PUSAT REPUBLIK YAMAN MENGENAI KERJASAMA KEARSIPAN Arsip Nasional Republik Indonesia dan Arsip Nasional Pusat Republik

Lebih terperinci

PRE SI DEN REPUBLIK INDONESIA

PRE SI DEN REPUBLIK INDONESIA _1 I 1''""=1 1~. ~ t~ "'-" I. ' PRE SI DEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PENGESAHAN PROTOKOL PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1973 TENTANG PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1973 TENTANG PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN Menimbang: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1973 TENTANG PERJANJIAN ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN LAUT WILAYAH KEDUA NEGARA DI SELAT SINGAPURA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

REPUBUK INDONESIA. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Kementerian Luar Negeri Gambia untuk selanjutnya disebut "Para Pihak";

REPUBUK INDONESIA. Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Kementerian Luar Negeri Gambia untuk selanjutnya disebut Para Pihak; ,-. REPUBUK NDONESA NOTA KESEPAHAMAN ANT ARA KEMENTERAN LUAR NEGER REPUBLK NDONESA DAN KEMENTERAN LUAR NEGER REPUBLK SLAM GAMBA UNTUK KERJA SAMA PELATHAN KEPROTOKOLAN DAN PENYELENGGARAAN KONFERENS NTERNASONAL

Lebih terperinci

w,= REPUBLIJ[ INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA DAN

w,= REPUBLIJ[ INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA DAN w,= REPUBLIJ[ INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM REPUBLIK INDONESIA DAN KOREA TRADE-INVESTMENT PROMOTION AGENCY OF REPUSLIK KOREA TENTANG KERJASAMA DALAM MENDUKUNG

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2008 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN MENGENAI KERJA SAMA EKONOMI DAN TEKNIK ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK

Lebih terperinci

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA ~ llepublik. DIDOIOtSIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA KEMENTE~ANPEMBERDAYAANPEREMPUANDAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA DAN KEMENTERIAN KESEJAHTERAAN SOSIAL, PEREMPUAN DAN PENGENTASAN KEMISKINAN

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN TENTANG KERJA SAMA MARITIM ANT ARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH AMERIKA SERIKAT

REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN TENTANG KERJA SAMA MARITIM ANT ARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH AMERIKA SERIKAT REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN TENTANG KERJA SAMA MARITIM ANT ARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH AMERIKA SERIKAT Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Amerika Serikat

Lebih terperinci

SOUTH CENTRE MENGENAI KERJA SAMA DALAM KEGIATAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN

SOUTH CENTRE MENGENAI KERJA SAMA DALAM KEGIATAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA SADAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN KEBIJAKAN KEMENTERIAN LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA DAN SOUTH CENTRE MENGENAI KERJA SAMA DALAM KEGIATAN PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA UNTUK IKAN DAN PRODUK PERIKANAN

REPUBLIK INDONESIA UNTUK IKAN DAN PRODUK PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA PERNYAT AAN KEHENDAK ANT ARA KEMENTERIAN KELAUT AN DAN PERI KANAN REPUBLIK IN:DONESIA DAN KEMENTERIAN PEREKONOMIAN BELANDA TENT ANG PROMOSI SERTIFIKASI ELEKTRONIK SANITARY AND PHYTOSANITARY

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA. Berkeinginan untuk memperkuat dan mengembangkan hubungan persahabatan dan kerjasama;

REPUBLIK INDONESIA. Berkeinginan untuk memperkuat dan mengembangkan hubungan persahabatan dan kerjasama; REPUBLIK INDONESIA NOTA KESEPAHAMAN ANTARA TENTARA NASIONAL INDONESIA ANGKATAN LAUT DAN ANGKATAN LAUT KERAJAAN BELANDA TENTANG PENINGKATAN KERJASAMA YANG SALING MENGUNTUNGKAN Tentara Nasional Indonesia

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. No.1331, 2012 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Cap Imigrasi. Bentuk. Penggunaan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

BERITA NEGARA. No.1331, 2012 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Cap Imigrasi. Bentuk. Penggunaan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1331, 2012 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Cap Imigrasi. Bentuk. Penggunaan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN

Lebih terperinci

PROTOCOL TO AMEND ARTICLE 3 OF THE ASEAN FRAMEWORK(AMENDMENT)AGREEMENT FOR THE INTEGRATION OF PRIORITY SECTORS

PROTOCOL TO AMEND ARTICLE 3 OF THE ASEAN FRAMEWORK(AMENDMENT)AGREEMENT FOR THE INTEGRATION OF PRIORITY SECTORS \ PROTOCOL TO AMEND ARTICLE 3 OF THE ASEAN FRAMEWORK(AMENDMENT)AGREEMENT FOR THE INTEGRATION OF PRIORITY SECTORS The Governments of Brunei Darussalam, the Kingdom of Cambodia, the Republic of Indonesia,

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA. MEY AKINI perlunya kerja sama efektif dan berkesinambungan yang menjadi kepentingan dari Para Pihak;

REPUBLIK INDONESIA. MEY AKINI perlunya kerja sama efektif dan berkesinambungan yang menjadi kepentingan dari Para Pihak; ~ REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA KEMENTERIAN LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA DAN KEMENTERIAN LUAR NEGERI DAN INTEGRASI REGIONAL REPUBLIK GHANA TENT ANG PEMBENTUKAN KOMISI BERSAMA

Lebih terperinci

PERJANJIAN ANTARA. t PEMERINT AH REPUBLIK INDONESIA. PEMERINT AH REPUBLIK RAKYAT. CHINA '..,.. MENGENAI :r,.

PERJANJIAN ANTARA. t PEMERINT AH REPUBLIK INDONESIA. PEMERINT AH REPUBLIK RAKYAT. CHINA '..,.. MENGENAI :r,. PERJANJIAN ANTARA. t PEMERINT AH REPUBLIK INDONESIA... DAN,-....... PEMERINT AH REPUBLIK RAKYAT. CHINA '..,.. MENGENAI :r,. '.. PEMBEBASAN VISA BAGI PEMEGANG PASPOR DIPLO l~atik DAi~ DINAS. {.. Pemerintah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2005 TENTANG PENGESAHAN PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK BOLIVAR VENEZUELA MENGENAI KERJASAMA KEBUDAYAAN, ILMU

Lebih terperinci

PERJANJIAN ANTARA KOMITE AKREDITASI NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN GULF COOPERATION COUNCIL ACCREDITATION CENTER DALAM KERJASAMA Dl BIDANG AKREDITASI

PERJANJIAN ANTARA KOMITE AKREDITASI NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN GULF COOPERATION COUNCIL ACCREDITATION CENTER DALAM KERJASAMA Dl BIDANG AKREDITASI REPUBLIK INDONESIA PERJANJIAN ANTARA KOMITE AKREDITASI NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN GULF COOPERATION COUNCIL ACCREDITATION CENTER DALAM KERJASAMA Dl BIDANG AKREDITASI Komite Akreditasi Nasional Republik

Lebih terperinci

NOTA KESEPAHAMAN ANTARA KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA DAN KOMISI PEMILIHAN UMUM INDIA TENTANG

NOTA KESEPAHAMAN ANTARA KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA DAN KOMISI PEMILIHAN UMUM INDIA TENTANG REPUBLIK INDONESIA NOTA KESEPAHAMAN ANTARA KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA DAN KOMISI PEMILIHAN UMUM INDIA TENTANG KERJA SAMA Dl BIDANG PENGELOLAAN DAN ADMINISTRASI PEMILIHAN UMUM Komisi Pemilihan

Lebih terperinci

Oleh. Roberta Kristine. Anak Agung Ngurah Yusa Darmadhi. Bagian Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRAK

Oleh. Roberta Kristine. Anak Agung Ngurah Yusa Darmadhi. Bagian Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Udayana ABSTRAK KEWENANGAN KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA PROVINSI BALI DALAM PEMBERIAN IZIN TINGGAL TERBATAS BAGI WARGA NEGARA ASING SEBAGAI SUBJEK HUKUM INTERNASIONAL Oleh Roberta Kristine Anak

Lebih terperinci

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK DEMOKRATIK FEDERAL ETHIOPIA TENTANG KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK

PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK DEMOKRATIK FEDERAL ETHIOPIA TENTANG KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK REPUBLIK INDONESIA PERSETUJUAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK DEMOKRATIK FEDERAL ETHIOPIA TENTANG KERJASAMA EKONOMI DAN TEKNIK Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL IMIGRASI NOMOR : F-833.PL TAHUN 1995 TENTANG BENTUK DAN PENGGUNAAN CAP KEIMIGRASIAN DIREKTUR JENDERAL IMIGRASI

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL IMIGRASI NOMOR : F-833.PL TAHUN 1995 TENTANG BENTUK DAN PENGGUNAAN CAP KEIMIGRASIAN DIREKTUR JENDERAL IMIGRASI KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL IMIGRASI NOMOR : F-833.PL.03.10 TAHUN 1995 TENTANG BENTUK DAN PENGGUNAAN CAP KEIMIGRASIAN DIREKTUR JENDERAL IMIGRASI Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan tugas Keimigrasian

Lebih terperinci

MEMORANDUM KERJA SAMA ANTARA KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA DENGAN

MEMORANDUM KERJA SAMA ANTARA KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA DENGAN REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM KERJA SAMA ANTARA KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA DENGAN THE NATIONAL SCHOOL OF ADMINISTRATION OF FRANCE DALAM BIDANG

Lebih terperinci

SESUAI dengan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di kedua negara. TELAH DICAPAI kesepahaman sebagai berikut: PASALI TUJUAN

SESUAI dengan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku di kedua negara. TELAH DICAPAI kesepahaman sebagai berikut: PASALI TUJUAN MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANTARA KEMENTERIAN LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA DAN KEMENTERIAN LUAR NEGERI DAN PERDAGANGAN BRUNEI DARUSSALAM TENTANG KERJASAMA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN DIPLOMATIK Kementerian

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2009 TENTANG PENGESAHAN PROTOCOL AGAINST THE SMUGGLING OF MIGRANTS BY LAND, SEA AND AIR, SUPPLEMENTING THE UNITED NATIONS CONVENTION AGAINST TRANSNATIONAL

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87 TAHUN TENTANG PENGESAHAN PROTOCOL AMENDING THE AGREEMENT ON ASEAN ENERGY COOPERATION

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87 TAHUN TENTANG PENGESAHAN PROTOCOL AMENDING THE AGREEMENT ON ASEAN ENERGY COOPERATION KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 87 TAHUN TENTANG PENGESAHAN PROTOCOL AMENDING THE AGREEMENT ON ASEAN ENERGY COOPERATION Menimbang : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA a. bahwa di Bangkok, Thailand,

Lebih terperinci

MEMORANDUM KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK RAKYAT CHINA MENGENAI KERJASAMA DALAM BIDANG PENERANGAN

MEMORANDUM KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK RAKYAT CHINA MENGENAI KERJASAMA DALAM BIDANG PENERANGAN MEMORANDUM KESEPAKATAN ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH REPUBLIK RAKYAT CHINA MENGENAI KERJASAMA DALAM BIDANG PENERANGAN Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Republik Rakyat

Lebih terperinci

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA DAN

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN ANT ARA KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA DAN . ~.,. (" - I I",, ' ~ ~~-1) REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN Ii It ANT ARA KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA DAN KEMENTERIAN KOMUNIKASI

Lebih terperinci

1. Perlukaran program radio dan berita mengenai sosial, pariwisata/tempat menarik, perdagangan, masalah seni dan budaya secara timbal balik.

1. Perlukaran program radio dan berita mengenai sosial, pariwisata/tempat menarik, perdagangan, masalah seni dan budaya secara timbal balik. Indonesian version 12092011 NOTA KESEPAHAMAN (MOU) ANTARA LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK RADIO REPUBLIK INDONESIA (LPP RRI) DAN SLOVAK RADIO Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRD dan Slovak

Lebih terperinci

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN MENGENAI KERJA SAMA EKONOMI ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH NEGARA PALESTINA

MEMORANDUM SALING PENGERTIAN MENGENAI KERJA SAMA EKONOMI ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH NEGARA PALESTINA REPUBLIK INDONESIA MEMORANDUM SALING PENGERTIAN MENGENAI KERJA SAMA EKONOMI ANTARA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA DAN PEMERINTAH NEGARA PALESTINA Pemerintah Republik Indonesia dan Pemerintah Negara Palestina

Lebih terperinci

MEMORANDUM KERJASAMA ANTARA DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN SMITHSONIAN INSTITUTION AMERIKA SERIKAT

MEMORANDUM KERJASAMA ANTARA DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN SMITHSONIAN INSTITUTION AMERIKA SERIKAT MEMORANDUM KERJASAMA ANTARA DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN SMITHSONIAN INSTITUTION AMERIKA SERIKAT TENTANG KERJASAMA DALAM BIDANG- BIDANG SEJARAH SERTA PELESTARIAN ALAM

Lebih terperinci