1.1. Latar Belakang. Penyusunan Master Plan Pengelolaan Persampahan Kabupaten Maros

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "1.1. Latar Belakang. Penyusunan Master Plan Pengelolaan Persampahan Kabupaten Maros"

Transkripsi

1 1.1. Latar Belakang Sampah pada dasarnya merupakan suatu bahan yang terbuang atau dibuang dari suatu sumber hasil aktivitas manusia maupun proses-proses alam yang tidak mempunyai nilai ekonomi, bahkan dapat mempunyai nilai yang negatif karena dalam penanganannya, baik untuk membuang atau membersihkannya memerlukan biaya yang cukup besar. Permasalahan sampah bukan lagi sekadar masalah kebersihan dan lingkungan saja, tetapi sudah menjadi masalah sosial yang mampu menimbulkan konflik. Lebih parah lagi, hampir semua kota di Indonesia, baik kota besar atau kota kecil, tidak memiliki penanganan sampah yang baik. Umumnya kota di Indonesia memiliki manajemen sampah yang sama, yaitu dengan metode kumpul-angkut-buang. Sebuah metode manajemen persampahan klasik yang akhirnya berubah menjadi praktek pembuangan sampah secara sembarangan tanpa mengikuti ketentuan teknis di lokasi yang sudah ditentukan (open dumping). Sampah dan pengelolaannya kini menjadi masalah yang kian mendesak di kota/kabupaten di Indonesia, sebab apabila tidak dilakukan penanganan yang baik akan mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan lingkungan yang merugikan atau tidak diharapkan sehingga dapat mencemari lingkungan, baik terhadap tanah, air dan udara. Oleh karena itu untuk mengatasi masalah pencemaran tersebut diperlukan penanganan dan pengendalian terhadap sampah. Penanganan dan pengendalian akan menjadi semakin kompleks dan rumit dengan semakin kompleksnya jenis maupun komposisi dari sampah sejalan dengan majunya kebudayaan. Oieh karena itu penanganan sampah di perkotaan relatif lebih dibanding sampah di desa-desa. Masalah yang sering muncul dalam penanganan sampah adalah BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 1

2 masalah biaya operasional yang tinggi dan semakin sulitnya ruang yang pantas untuk pembuangan. Sebagai akibat biaya operasional yang tinggi, kebanyakan kota/kabupaten di Indonesia hanya mampu mengumpulkan dan membuang sekitar 60% dari seluruh produksi sampahnya. Dari 60% ini, sebagian besar ditangani dan dibuang dengan cara yang tidak saniter, boros dan mencemari. Untuk mendapatkan tingkat efektifitas dan efisiensi yang tinggi dalam penanganan sampah di kota, maka dalam pengelolaannya harus cukup layak diterapkan yang sekaligus disertai upaya pemanfaatannya sehingga diharapkan mempunyai keuntungan berupa nilai tambah. Untuk mencapai hal tersebut, maka perlu pemilihan cara clan teknologi yang tepat, perlu partisipasi aktif dari masyarakat dari mana sumber sampah berasal dan mungkin perlu dilakukan kerjasama antar lembaga pemerintah yang terkait. Disamping itu juga perlu aspek legal untuk dijadikan pedoman berupa peraturan peraturan mengenai lingkungan demi menanggulangi pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh sampah. Untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan seiring dengan adanya peraturan-peraturan baru mengenai Lingkungan Hidup dan Persampahan maka perlu dicari suatu cara pengelolaan sampah secara baik dan benar melalui perencanaan yang matang dan terkendali dalam bentuk pengelolaan secara terpadu Maksud Tujuan Dan Sasaran Maksud Maksud dari Kegiatan Penyusunan Master Plan adalah menyusun perencanaan pengelolaan persampahan mengenai aspek teknik, finansial, kelembagaan, aturan atau hukum serta aspek peran serta masyarakat dalam pengelolaan persampahan. Perencanaan didasarkan pada kaidah pengembangan sistem pengelolaan sampah terpadu dengan pendekatan paradigma baru yaitu minimalisasi sampah tertimbun di TPA. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 2

3 1.2.2 Tujuan Penyusunan Master Plan Tujuan dari Kegiatan Penyusunan Master Plan ini adalah 1). Tersusunnya program dan rencana inventasi pembiayaan pengelolaan persampahan, 2). Tersusunnya konsep efensiasi pembiayaan, 3). Tersusunnya reduksi sampah dari sumber sehingga tidak diperlukan lahan besar untuk TPA, 4). Dapat menghasilkan nilai tambah hasil pemanfaatan sampah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis, 5). Tersusunnya konsep pengelolaan persampahan yang ekonomis dan berwawasan lingkungan, 6). Dapat membuka lapangan pekerjaan melalui berdirinya badan usaha yang mengelola sampah menjadi bahan yang bermanfaat, 7). Tersusunnya konsep pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan kebersihan, 8). Tersusunnya konsep pemberdayaan kelembagaan, peraturan daerah dan investasi serta pembiayaan pengelolaan persampahan Sasaran Sasaran Kegiatan Penyusunan Master Plan ini adalah meningkatnya kebersihan lingkungan yang sehat dan bersih, berkurangnya konflik sosial masyarakat dalam operasional pengelolaan persampahan, terbentuknya pengolahan sampah dengan sistem 3R di sumber sampah, terbentuknya usaha daur ulang dan composting, dan berkurangnya beban operasional truk sampah dan TPA. 1.3 Pengertian Dalam Laporan Akhir ini dipergunakan beberapa istilah yang banyak dipergunakan. Penting dipaparkan untuk diketahui, mengingat perbedaan penafsiran akan menimbulkan arti yang berlainan. Adapun istilah yang yang banyak dipergunakan tersebut adalah sebagai berikut : 1. Sampah adalah limbah yang bersifat padat terdiri dari zat organik dan zat anorganik yang dianggap tidak berguna lagi dan harus dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan melindungi investasi pembangunan. 2. Sampah perkotaaan adalah sampah yang ditimbulkan dari aktifitas kota termasuk didalamnya sampah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) rumah tangga. 3. Sampah organik adalah sampah yang mudah membusuk terdiri dari bekas makanan, bekas sayuran, kulit buah lunak, daun-daunan dan rumput. 4. Sampah anorganik adalah sampah kering yang sukar atau tidak membusuk seperti kertas, kardus, kaca/gelas, plastik, besi dan logam lainnya. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 3

4 5. Timbulan sampah adalah banyaknya sampah yang dihasilkan per orang dan per hari dalam satuan volume maupun berat. 6. Sampah B3 Rumah Tangga adalah sampah yang berasal dari aktifitas RT, mengandung bahan dan/atau bekas kemasan suatu jenis bahan berbahaya/ atau beracun karena sifat kandungannya tersebut baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak atau mencemarkan lingkungan hidup dan atau membahayakan kesehatan manusia. 7. Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. 8. Pewadahan sampah adalah cara penampungan sampah sementara di sumbernya, baik individual maupun komunal. 9. Pewadahan individual adalah cara penampungan sampah sementara di masingmasing sumbernya. 10. Pewadahan komunal adalah cara penampungan sampah sementara secara bersama-sama pada satu tempat. 11. Pengumpulan sampah adalah proses penanganan dengan cara pengumpulan dari masing-masing sumber sampah untuk diangkut ke tempat pembuangan sementara atau langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pemindahan. 12. Pola pengumpulan individual langsung adalah cara pengumpulan sampah dari rumah-rumah/sumber sampah dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pemindahan. 13. Pola pengumpulan individual tidak langsung adalah cara mengumpulkan sampah dari masing-masing sumber sampah dibawa ke lokasi pemindahan (menggunakan gerobak) untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. 14. Pola pengumpulan komunal langsung adalah cara pengumpulan sampah dari masing-masing titik wadah komunal dan diangkut langsung ke tempat pembuangan akhir. 15. Pola pengumpulan komunal tidak langsung adalah adalah cara pengumpulan sampah dari masing-masing titik wadah komunal dibawa ke lokasi pemindahan (menggunakan gerobak) untuk kemudian diangkut ke tempat pembuangan akhir. 16. Pola penyapuan jalan adalah proses pengumpulan sampah hasil penyapuan jalan dengan menggunakan gerobak. 17. Pemindahan sampah adalah tahap memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkut untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 4

5 18. Pengangkutan sampah adalah tahap membawa sampah dari lokasi pemindahan atau langsung dari sumber sampah menuju ke tempat pembuangan akhir. 19. Pengolahan sampah adalah suatu upaya untuk mengurangi volume sampah atau merubah bentuk menjadi yang bermanfaat, antara lain dengan cara pembakaran, pengomposan, pemadatan, penghancuran, pengeringan, dan pendaurulangan. 20. Pengomposan (composting) adalah sistem pengolahan sampah organik dengan bantuan mikroorganisme sehingga terbentuk pupuk organik (pupuk kompos). 21. Potensi Pengomposan adalah jumlah atau volume sampah yang berpotensi untuk dikomposkan. 22. Tingkat Pengomposan adalah jumlah atau volume sampah organik yang berhasil dikomposkan dibandingkan terhadap timbulan sampah organik potensi pengomposan. 23. Pembakaran Sampah adalah salah satu teknik pengolahan sampah dengan membakar sampah secara terkendali, sehingga terjadi perubahan bentuk. Reduksi dari sampah padat menjadi abu, gas dan cairan. 24. Pemadatan adalah uapaya mengurangi volume sampah dengan cara dipadatkan baik secara manual maupun mekanis sehingga pembuangan ke tempat pembuangan akhir lebih efisien. 25. Daur Ulang adalah proses pengolahan sampah yang dapat menghasilkan produk yang bermanfaat lagi. 26. Potensi Daur Ulang adalah sampah yang masih bisa dimanfaatkan kembali atau di daur ulang. 27. Tingkat Daur Ulang adalah jumlah atau volume timbulan sampah anorganik yang berhasil di daur ulang dari timbulan sampah anorganik potensi daur ulang. 28. Tingkat pelayanan adalah jumlah sampah yang berhasil dikelola baik dengan cara konvensional (kumpul-angkut-buang) dan juga dengan pendekatan pengolahan dan atau daur ulang. 29. Tempat Penampungan Sementara (TPS) adalah tempat sebelum sampah diangkut ke tempat pendauran-ulang, pengolahan, dan/atau pemrosesan akhir. 30. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) adalah tempat dilaksanakannya kegiatan mengguna ulang, mendaur ulang, pemilahan, pengumpulan, pengolahan, dan pemrosesan akhir sampah. 31. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) adalah tempat untuk pemrosesan akhir sampah kota setelah direduksi melalui proses-proses di hulu. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 5

6 1.4. Sistematika Penulisan Sistematika Penulisan Laporan Akhir terdiri dari 7 (tujuh) Bab, yang terdiri dari : Bab 1 Pendahuluan Bab 2 Metodologi Kegiatan Bab 3 Gambaran Umum Bab 4 Kondisi Pengelolaan Sampah Saat ini Bab 5 Kriteria Perencanaan Dan Evaluasi Dampak TPA Bab 6 Identifikasi Permasalahan dan Analisis Bab 7 Perencanaan Pengelolaan Sampah BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 6

7 2.1. Umum Pelaksanaan kegiatan Penyusunan Master Plan dilaksanakan sebagai berikut : 1. Tahap Persiapan Tahap persiapan meliputi kegiatan penyusunan rencana kerja dan metode pendekatan kajian. Disamping hal tersebut, konsultan akan mengumpulkan dan mengevaluasi data sekunder/informasi yang ada dari semua stakeholder/ pemangku kepentingan dan SKPD SKPD yang terkait. 2. Survei Lapangan Untuk mempertajam pemahaman permasalahan yang terjadi, maka konsultan harus melakukan survei yang terdiri dari survei primer, pengambilan foto yang dapat menggambarkan situasi di lapangan. Survei-survei di atas didasarkan terhadap kebutuhan-kebutuhan utama untuk keperluan analisa kajian studi, selain itu konsultan harus merencanakan kegiatan pelaksanaan survei di lapangan yang meliputi lokasi survei, waktu pelaksanaan dan metodologi yang digunakan. 3. Perencanaan Teknis Perencanaan teknis dilakukan untuk menyusun Rancangan Teknis Pengelolaan Sampah. 4. Pembahasan Pembahasan dilakukan untuk laporan hasil studi di setiap tahap laporan studi. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 7

8 2.2. Tahap Persiapan Dan Koordinasi Tim Pengumpulan Data Primer dan Data Sekunder Metodologi untuk pengumpulan data adalah dengan menggunakan referensi/data yang ada serta melakukan survey lapangan ke lokasi perencanaan dengan pengumpulan data secara langsung. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan sebagai berikut : 1) Studi Pustaka Studi pustaka/literatur dilakukan untuk mendapatkan data sekunder yang dibutuhkan dalam proyek. 2) Survey Lapangan Survey lapangan dilakukan antara lain untuk mengevaluasi kondisi prasarana dan sarana persampahan eksisting (baik dari pemerintah, swasta maupun swadaya masyarakat) dan sistem pengelolaan persampahan eksisting saat ini. Beberapa hal yang perlu dilakukan dalam pengidentifikasian kondisi persampahan eksisting, antara lain identifikasi terhadap kondisi eksisting persampahan yang meliputi: Lokasi/tapak wilayah yang diamati Jumlah timbulan sampah Komposisi dari timbulan sampah Pengumpulan dan pewadahan sampah Lokasi pembuangan sementara (TPS) Kegiatan pemilahan yang dilakukan di sumber Kegiatan pengolahan yang dilakukan di TPS Frekuensi pengumpulan dan pengangkutan sampah Institusi internal yang bertanggung jawab terhadap persampahan Kebutuhan Data Data yang diperlukan untuk menunjang kegiatan ini antara lain : Kondisi fisik kawasan, meliputi : o Foto dan Peta o Lokasi dan batas wilayah BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 8

9 Kondisi masyarakat setempat, meliputi : o Data kependudukan o Kondisi sosial-ekonomi Kondisi persampahan eksisting, meliputi : o Data timbulan sampah o Data komposisi sampah o Data sistem pewadahan sampah eksisting o Data sistem pengumpulan sampah eksisting o Data sistem pengangkutan sampah eksisting o Data pelaksanaan 3R eksisting Penyusunan Master Plan o Data dan gambar eksisting sistem persampahan pada daerah perencanaan. Untuk mengetahui kondisi eksisting persampahan diperlukan survey, baik survey instansional maupun survey timbulan dan komposisi sampah. 2.3 PROSES PERENCANAAN Survey dan Identifikasi Data 1) Metode Survey Pengumpulan Data Pengumpulan data berkaitan dengan perencanaan sistem pengelolaan persampahan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : Pengumpulan data sekunder, dilakukan dengan menggunakan data yang ada baik dari hasil studi yang berkaitan dengan perencanaan sampah (RTRW, land use, Air Bersih, dll), kebijakan dan renstra daerah, hasil penelitian (seperti komposisi/karakteristik sampah, timbulan sampah, topografi, penyelidikaan tanah, dll), BPS (jumlah penduduk, pendapatan masyarakat, dll), maupun NSPM persampahan. Pengumpulan data primer, dilakukan dengan survey pengamatan lapangan dan lain-lain 2) Identifikasi Data Data yang dibutuhkan untuk merencanakan sistem pengelolaan sampah adalah sebagai berikut : a. Data Kondisi Kota Data fisik Kabupaten, meliputi luas wilayah administrasi kota, luas wilayah urban, topografi wilayah, tata guna lahan, BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 9

10 jaringan jalan, daerah komersial (pasar, pertokoan, hotel, restoran, dll), fasilitas umum (perkantoran, sekolah, taman, dll), fasilitas sosial. Data tersebut dilengkapi peta kabupaten, tata guna lahan, topografi dan lainlain. Data kependudukan, meliputi jumlah penduduk per kelurahan, kepadatan penduduk administrasi, kepadatan penduduk urban, mata pencaharian, budaya masyarakat dan lain-lain. Data kondisi sosial ekonomi, meliputi alokasi dana APBD dan anggaran sektor kebersihan, data PDRB atau income penduduk (Rp/kk/bulan) dan lain-lain. b. Data Rencana Pengembangan Kota Rencana pengembangan wilayah, meliputi rencana tata guna lahan, rencana pengembangan jaringan jalan, rencana pengembangan perumahan/ permukiman baru, rencana pengembangan daerah komersial, kawasan industri, rencana pengembangan fasilitas umum (perkantoran, sekolah, rumah sakit, taman, dll) dan rencana pengembangan fasilitas sosial. c. Data Kondisi Sistem Yang Ada Data kondisi sistem pengelolaan persampahan, meliputi : Aspek Institusi, meliputi bentuk institusi pengelola sampah, struktur organisasi, tata laksana kerja, jumlah personil baik ditingkat staf maupun operasional, pendidikan formal maupun training yang pernah diikuti di dalam dan luar negeri. Aspek Teknis Operasional, meliputi daerah pelayanan, tingkat pelayanan, sumber sampah, komposisi dan karakterirstik sampah, pola operasi penanganan sampah dari sumber sampai TPA, sarana/prasarana persampahan yang ada termasuk fasilitas bengkel, kondisi pengumpulan (frekuensi pengumpulan, ritasi, jumlah petugas dll), pengangkutan (frekuensi, ritasi, daerah pelayanan, jumlah petugas dll), pengolahan (jenis pengolahan, kapasitas atau volume, daerah pelayanan, jumlah petugas dll), BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 10

11 pembuangan akhir (luas, kondisi lokasi, fasilitas TPA, kondisi operasi, penutupan tanah, kondisi alat berat dll). Selain itu juga data mengenai penanganan sampai medis (incinerator, kapasitas, vol sampah medis dll) dan sampah industri/b3 (jenis sampah, volume, metode pembuangan dll). Dilengkapi peta daerah pelayanan dan aliran volume sampah dari sumber sampai TPA yang ada saat ini. Aspek Pembiayaan, meliputi biaya investasi dan biaya operasi/pemeliharaan, tarif retribusi, realisasi penerimaan retribusi termasuk iuran masyarakat untuk pengumpulan sampah dan mekanisme penarikan retribusi. Aspek Peraturan, meliputi jenis perda yang ada, kelengkapan materi, penerapan sangsi dll. Aspek Peran Serta Masyarakat dan Swasta, meliputi program penyuluhan yang telah dilakukan oleh pemerintah kota/kab Pengolahan Data / Analisa Analisa terhadap permasalahan yang dihadapi dalam pengelolaan persampahan meliputi : Analisa kondisi kota, yaitu tinjauan terhadap aspek topografi kota dalam hal penentuan metode pengumpulan dan pembuangan akhir sampah, jaringan jalan dalam hal penentuan rute pengangkutan dan penentuan lokasi TPA, fasilitas kota dalam hal penentuan urgensi daerah pelayanan dan besarnya timbulan sampah, demografi dalam hal penentuan tingkat pelayanan dan timbulan sampah, pendapatan per kapita dalam hal penentuan kemampuan masyarakat membayar retribusi, APBD dalam hal kemampuan daerah mensubsidi anggaran kebersihan dan penentuan tarif retribusi, dan lain-lain. Analisa rencana pengembangan kota, yaitu berkaitan dengan rencana pengembangan daerah pelayanan persampahan, penentuan lokasi TPA, rencana peruntukan lahan pasca TPA dan lain-lain Analisa kondisi pengelolaan sampah yang ada saat ini, yaitu berkaitan dengan kemungkinan peningkatan institusi pengelola sampah minimal dalam hal operasionalisasi struktur organisasi, peningkatan profesionalisasi SDM, peningkatan pelayanan yang aplikatif dalam periode perencanaan, peningkatan metode operasi penanganan sampah dari sumber sampai TPA yang terjangkau BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 11

12 dan tidak mencemari lingkungan, peningkatan retribusi agar dapat mencapai cost recovery, peningkatan Peran Serta Masyarakat (PSM) agar secara bertahap dapat melaksanakan minimalisasi sampah/3r, kemungkinan peningkatan peran swasta dalam pengelolaan sampah dan lain-lain. Analisa dapat dilakukan dengan berbagai metode seperti pendekatan sistem input/output, analisa hubungan sebab akibat, analisa SWOT, analisa deskripsi dan metode lain yang disesuaikan dengan kebutuhan. Dalam analisa tersebut juga diproyeksikan jumlah penduduk yang akan mendapatkan pelayanan termasuk proyeksi timbulan sampah selama masa perencanaan Perencanaan Teknis Program peningkatan pengelolaan persampahan kedepan akan mengadopsi paradigma baru, yaitu menerapkan metode pembatasan, pengurangan dan pemanfaatan sampah semaksimal mungkin melalui Metode 3R sehingga diharapkan jumlah sampah yang dibuang akan berkurang dan tidak membutuhkan lahan TPA yang terlalu luas. Perencanaan teknis tersebut meliputi : Pengembangan daerah pelayanan, dengan memperhatikan daerah yang saat ini sudah mendapatkan pelayanan, daerah dengan tingkat kepadatan tinggi, daerah kumuh dan rawan sanitasi, daerah komersial/pusat kota dan lain-lain sesuai kriteria. Pola pengembangan mengikuti pola rumah tumbuh dengan perkiraan timbulan sampah yang akan dikelola untuk jangka waktu perencanaan tertentu (berdasarkan hasil proyeksi). Pengembangan daerah pelayanan ini dilengkapi dengan peta. Rencana Kebutuhan Sarana/Prasarana, dengan memperkirakan timbulan sampah dan tipikal daerah pelayanan serta pola operasional penanganan sampah dari sumber sampai TPA terpilih. Sarana/prasarana tersebut meliputi jumlah dan jenis pewadahan, pengumpulan, pemindahan, pengolahan, pengangkutan dan pembuangan akhir. Rencana Pewadahan, meliputi jenis, jumlah dan lokasi pewadahan komunal maupun individual (wadah individual disediakan oleh masyarakat). Desain wadah sedemikian rupa (higienis, bertutup, tidak permanen, volume disesuaikan dengan volume sampah yang harus diwadahi untuk periode pengumpulan tertentu). BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 12

13 Rencana Pengumpulan, meliputi pola pengumpulan (pengumpulan individual langsung/tidak langsung dan komunal) untuk setiap daerah pelayanan sesuai dengan kriteria perencanaan. Rencana Pengangkutan, meliputi pola pengangkutan sampah (door to door truck dan pengangkutan dari TPS ke TPA), jumlah dan armada pegamgkut sampah. Selain itu juga dilengkapi peta rute pengangkutan sampah dari hasil time motion study. Untuk mendukung program 3R diperlukan rencana peningkatan peran serta masyarakat sejak awal (dari perencanaan sampai pelaksanaan) terutama untuk pola penanganan sampah berbasis masyarakat melalui berbagai cara seperti pembentukan forum-forum lingkungan, konsultasi publik, sosialisasi, pendampingan, training dan lain-lain. Upaya ini harus diterapkan secara konsisten, terus menerus, terintegrasi dengan sektor lain yang sejenis dan masyarakat diberi kepercayaan untuk mengambil keputusan. Selain peran serta masyarakat, peningkatan aspek kemitraan juga merupakan hal penting yang perlu direncanakan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan sampah terutama yang mempunyai nilai investasi tinggi dan membutuhkan penanganan yang lebih profesional meliputi pemilihan kegiatan yang secara teknis dan ekonomis layak dilakukan oleh swasta dengan metode atau pola kemitraan yang jelas dan terukur serta bersifat win-win solution. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 13

14 3.1. Daerah Perencanaan adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, Letak kabupaten Maros sangat strategis, karena berdampingan dengan Kota madya Makassar dan Kabupaten Pangkep, dan jalur transportasi dari daerah lain sebelum memasuki Kabupaten Makassar sebagai ibu kabupaten Provinsi Sulewesi Selatan jalur melewati. Hal ini menyebabkan semakin tumbuh dengan pesat seiring dengan meningkatnya perkembangan jaringan transportasi yang tersinkronisasi secara regional dengan Kabupaten-Kabupaten lainnya. sebagai salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, mempunyai luas wilayah sekitar 1.619,12 km². Peta administrasi kabupaten Maros dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Gambar 3.1: Peta administrasi Sumber : Rencana Tata Ruang Wil.Kab. Maros tahun BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 14

15 3.2. Aspek Fisik Kabupaten Gambaran Umum Wilayah a. Kondisi Geografi dan Batas Administrasi Secara umum luas wilayah kurang lebih 1.619,12 Km 2 dan secara administrasi pemerintahan terdiri atas 14 wilayah kecamatan dan 103 desa/kelurahan. Berdasarkan posisi dan letak geografis wilayah, berada pada koordinat 4 o 45 5 o 12 Lintang Selatan dan 119 o o 58 Bujur Timur. Batas administrasi wilayahnya adalah sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pangkajene Kepulauan Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Bone Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Makassar dan Kabupaten Gowa Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar Luas wilayah berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan peta Rupa Bumi Indonesia Skala 1 : edisi I Tahun 1991 yang diterbitkan Bakosurtanal dan Peta Administrasi BPN Maros yaitu kurang lebih ,69 Ha. Sedangkan menurut BPS 2009 luas wilayah Kabupaten Maros tercatat 1.619,12 Km², meliputi 14 kecamatan, dimana Kecamatan Tompobulu dan Kecamatan Mallawa merupakan 2 (dua) kecamatan terluas dengan luas masingmasing adalah 287,66 Km² dan 235,92 Km². Sedangkan wilayah kecamatan dengan luas terkecil adalah Kecamatan Moncongloe dan Kecamatan Mandai dengan luas masingmasing adalah 46,87 Km² dan 49,11 Km². b. Ketersediaan Lahan Kondisi tata guna lahan secara umum terdiri atas: perkampungan, tambak, tegalan, sawah, kebun campuran, semak belukar, hutan lebat, hutan belukar, lahan terbangun dan lain-lain penggunaan lahan yang ada. Pergesaran pemanfaatan lahan kawasan secara umum telah mengalami perubahan yang cukup cukup, akibat terjadinya peningkatan pembangunan aktivitas ekonomi. Penggunaan lahan di Kabupeten Maros digambarkan dalam Tabel 3.1 BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 15

16 Tabel 3.1. Penggunaan Lahan Di No Kecamatan Jumlah (Ha) Persentase (%) 1 Kampung ,12 2 Tambak ,96 3 Tegalan ,65 4 Sawah ,76 5 Kebun Campuran ,61 6 Semak, Rumput Alang-Alang ,82 7 Hutan Lebat ,02 8 Hutan Belukar ,99 9 Lahan Terbangun ,21 10 Hutan Sejenis ,44 11 Kebun Sejenis ,42 Jumlah ,00 Sumber Data : BPN Kab. Maros, 2010 Gambar 3.2. Peta Tutupan Lahan Sumber : Rencana Tata Ruang Wil. Kab. Maros tahun BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 16

17 c. Geologi dan Geomorfologi terbagi dalam 4 (empat) satuan geomorfologi, sebagai berikut: 1) Satuan Pegunungan Vulkanik: menempati bagian utara, tengah dan timur puncak tertinggi Bulu Lekke (1.361 m dpl) menempati luas 30% dari luas daerah kabupaten Maros, dinampakkan dengan relief topografi yang tinggi, kemiringan terjal, tekstur topografi yang kasar dan batuan penyusunnya dari batuan gunung api (vulkanik). 2) Satuan Perbukitan Vulkanik: Intrusi dan Sedimen : menempati daerah perbukitan yang menyebar secara setempat-setempat sekitar 15% dari luas kabupaten Maros, diperlihatkan dengan kenampakan topografi berbukit dengan batuan penyusun: batuan vulkanik, batuan intrusi (batuan beku), dan batuan sedimen. 3) Satuan Perbukitan Karst: Satuan perbukitan ini tersebar cukup luas pada bagian tengah, timur laut daerah yang meliputi Kecamatan Bontoa, Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Simbang, Kecamatan Tanralili, Kecamatan Mallawa, dan Kecamatan Camba. Ciri khas pada satuan morfologi ini adalah kenampakan topografi berbukit-bukit karst dengan tekstur sangat kasar dengan batu gamping sebagai batuan penyusunnya. 4) Satuan Pedataran Alluvium: terletak dibagian barat yang tersebar dengan arah utara-selatan, menempati sekitar 25% dari luas daerah kabupaten Maros. Tercirikan dengan bentuk morfologi topografi datar, relief rendah, tekstur halus dengan batuan dasar endapan alluvium. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 17

18 Gambar 3.3. Peta Geologi Sumber : Rencana Tata Ruang Wil.Kab. Maros tahun BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 18

19 Table 3.2. Pembagian Satuan Geomorfologi No Satuan Geomorfologi Daerah Sebaran Luas Daerah (%) Ciri Morfologi Batuan Penyusun Pegunungan Vulkanik Perbukitan Vulkanik,Intrusi dan Sedimen Perbukitan Karst Pedataran Alluvial Utara, Tengah Timur Tersebar Setempat- Setempat Tidak Terkonsentrasi Tengah dan Timur Laut Bagian Barat Dengan Arah Penyebaran Utara Sampai Selatan Relief Topografi Tinggi Kemiringan Lereng Terjal, Tekstur Topografi Kasar Perbukitan Setempat- Setempat Kemiringan Lereng Sedang Relief Topografi Kars Membentuk Tower-Tower Dengan Relief Yang Kasar Topografi Datar, Relief Rendah, Tekstur Topografi Halus Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi tahun 2010 Batuan Gunung Api Batuan Vulkanik Beku (Intrusi) dan Sedimen Batu Gamping (Batu Kapur) Endapan Aluvial d. Jenis Tanah Hasil penelitian terdahulu berupa Pemetaan Geologi Lapangan dalam Skala 1: yang dilakukan oleh Rab. Sukamto dan Supriatna (1982) berupa peta Geologi Lembar Ujung Pandang, Benteng dan Sinjai diperoleh bahwa sifat fisik, tekstur, atau ukuran butir, serta genesa dan batuan penyusunnya maka jenis tanah di diklasifikasikan dalam 4 (empat) tipe, yaitu: 1) Alluvial Muda, merupakan endapan aluvium (endapan aluvial sungai, pantai dan rawa) yang berumur kuarter (resen) dan menempati daerah morfologi pedataran dengan ketinggian 0-60 m dengan sudut kemiringan lereng <3%. Tekstur beraneka mulai dari ukuran lempung, lanau, pasir, lumpur, kerikil, hingga kerakal, dengan tingkat kesuburan yang tinggi, luas penyebarannya sekitar 14,20% (229,91 km 2 ) dari luas, meliputi Kecamatan Lau, Kecamatan Bontoa, Kecamatan Turikale, Kecamatan Maros Baru, Kecamatan Moncongloe, Kecamatan Marusu, Kecamatan Mandai, Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Camba, Kecamatan Tanralili, dan Kecamatan Tompobulu. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 19

20 2) Regosol, adalah tanah hasil lapukan dari batuan gunungapi dan menempati daerah perbukitn vulkanik, dengan ketinggian m dengan sudut kemiringan lereng >15%. Sifat-sifat fisiknya berwarna coklat hingga kemerahan, berukuran lempung lanauan pasir lempungan, plastisitas sedang, agak padu, tebal 0,1-2,0 m. Luas penyebarannya sekitar 26,50% (429,06 km 2 ) dari luas kabupaten Maros meliputi Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba, Kecamatan Mallawa, dan Kecamatan Tompobulu. 3) Litosol, merupakan tanah mineral hasil pelapukan batuan induk, berupa batuan beku (intrusi) dan/atau batuan sedimen yang menempati daerah perbukitan intrusi dengan ketinggian m dan sudut lereng <70%. Kenampakan sifat fisik berwarna coklat kemerahan, berukuran lempung, lempung lanauan, hingga pasir lempungan, plastisitas sedang-tinggi, agak padu, solum dangkal, tebal 0,2-4,5 m. Luas penyebarannya sekitar 37,60% (608,79 km 2 ) dari luas, meliputi Kecamatan Mallawa, Kecamatan Camba, Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Cenrana, Kecamatan Simbang, Kecamatan Tompobulu, Kecamatan Tanralili dan Kecamatan Mandai. 4) Mediteran, merupakan tanah yang berasal dari pelapukan batugamping yang menempati daerah perbukitan karst, dengan ketinggian m dan sudut lereng > 70%. Kenampakan fisik yang terlihat berwarna coklat kehitaman, berukuran lempung pasiran, plastisitas sedang-tinggi, agak padu, permeabilitas sedang, rentan erosi, tebal 0,1-1,5 m. Luas penyebarannya sekitar 21,70% (351,35 km²) dari luas, meliputi Kecamatan Mallawa, Kecamatan Camba, Kecamatan Bantimurung, Kecamatan Bontoa, Kecamatan Simbang, Kecamatan Tompobulu, dan Kecamatan Tanralili. e. Hidrologi Keadaan hidrologi, berdasarkan hasil observasi lapangan dibedakan: air permukaan (sungai, rawa dan sebagainya) dan air yang bersumber di bawah permukaan (air tanah). Air di bawah permukaan yang merupakan air tanah merupakan sumber air bersih untuk kehidupan sehari-hari masyarakat. Sumber air permukaan di wilayah bersumber dari beberapa sungai yang tersebar dibeberapa kecamatan, yang pemanfaatannya untuk kebutuhan rumah tangga dan kegiatan pertanian. Sungai yang terdapat di yakni; Sungai Maros, Parangpaku, Marusu, Pute, Borongkaluku, Batu Pute, Matturungeng, Marana, Campaya, Patunuengasue, Bontotanga dan Tanralili. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 20

21 1) Sumberdaya Air Penyusunan Master Plan Potensi sumberdaya air di wilayah yang telah termanfaatkan oleh penduduk dalam kehidupan kesehariannya untuk berbagai keperluan bersumber dari air tanah dangkal (air permukaan dan air tanah dalam, air tanah dangkal/permukaan dapat berupa air sungai, sumur, rawa-rawa, bendungan, mata air dan lain sebagainya, sedangkan potensi air tanah dalam dengan pemanfaatan air melalui pengeboran. Penyediaan air minum merupakan suatu kebutuhan pokok penduduk di suatu daerah, terutama pada daerah-daerah yang potensi air tanahnya terbatas dan kualitasnya kurang memadai jika ditinjau dari aspek kesehatan. Meskipun demikian, pengadaan air minum masih terbatas dan umumnya penduduk menggunakan sumur air tanah dangkal, dalam (artesis), air permukaan dan mata air yang bersumber dari pegunungan. 2) Peruntukan Air Sungai sebagai sumberdaya air yang dimanfaatkan untuk berbagai keperluan yakni kebutuhan air bersih dan kepentingan pertanian (irigasi), dengan keberadaan beberapa sungai menurut Daerah Aliran Sungai (DAS) di adalah Sungai Maros, Parangpakku, Marusu, Pute, Borongkaluku, Batu Pute, Matturungeng, Marana, Campaya, Patunungengasue, Bontotanga, dan Tanralili (BPS dan Dinas PU Pengairan Kab. Maros). Pada kawasan perkotaan peruntukan air lebih difokuskan pada kebutuhan air minum masyarakat perkotaan yang bersumber dari air tanah dangkal dan air tanah dalam serta sumber air yang dikelolah oleh PDAM. f. Klimatologi termasuk daerah yang beriklim tropis, karena letaknya yang dekat dengan khatulistiwa dengan kelembaban berkisar antara %, curah hujan tahunan rata-rata 347 mm/thn dengan rata-rata hari hujan sekitar 16 hari. Temperatur udara rata-rata 290 C. Kecepatan angin rata-rata 2-3 knot/jam. Daerah Kabupaten Maros pada dasarnya beriklim tropis dengan dua musim. Menurut Oldment, tipe iklim di adalah tipe C2 yaitu bulan basah (200 mm) selama 2 3 bulan berturut-turut dan bulan kering (100 mm) selama 2 3 bulan berturut-turut. Beberapa desa di Kecamatan Camba yang berbatasan dengan Kabupaten Bone mempunyai iklim seperti daerah bagian Timur Sulawesi Selatan yakni musim hujan dalam priode bulan April September dan musim kemarau dalam bulan Oktober Maret. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 21

22 Kondisi curah hujan tahunan di Wilayah ditandai dengan besarnya curah hujan yang terjadi tiap bulan di wilayah ini. Curah hujan tertinggi tahun 2008 terjadi pada bulan Februari yaitu mencapai 803 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 24 hh, sementara curah hujan tertinggi pada tahun 2009 terjadi pada bulan Januari yaitu mencapai 1226 mm dengan jumlah hari hujan sebanyak 29 hh. Pada tabel 3.3 memperlihatkan adanya peningkatan jumlah curah hujan dalam kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir. Table 3.3. Jumlah Curah Hujan dan Banyaknya Hari Hujan Menurut Bulan Tahun 2011 di Bulan Curah Hujan (mm) Jumlah Hari Hujan Januari Pebruari Maret April Mei Juni 9 3 Juli 1 5 Agusutus 0 1 September 0 1 Oktober Nopember Desember Rata-rata Tahunan Sumber : Stasiun Klimatologi Klas I (Bagian Sistem Data dan Informasi) BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 22

23 Gambar 3.4 Peta Daerah Aliran Sungai Kab. Maros Penyusunan Master Plan Sumber : Rencana Tata Ruang Wil.Kab. Maros tahun Gambar 3.5. Peta Hidrologi Kab. Maros Sumber : Rencana Tata Ruang Wil.Kab. Maros tahun BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 23

24 3.3. Aspek Sosial Ekonomi Penduduk a. Jumlah Penduduk Penduduk berdasarkan Sensus Penduduk Tahun 2011 berjumlah jiwa, yang tersebar di 14 Kecamatan, dengan jumlah penduduk terbesar yakni jiwa yang mendiami Kecamatan Turikale. Secara keseluruhan, jumlah penduduk yang berjenis kelamin perempuan lebih banyak dari penduduk yang berjenis kelamin lakilaki, hal ini tercermin dari angka rasio jenis kelamin yang lebih kecil dari 100. Namun di Kecamatan Mandai dan Kecamatan Tanralili, rasio jenis kelamin Laki-laki lebih besar dari 100, hal ini menunjukkan jumlah penduduk di dua kecamatan tersebut lebih besar dari penduduk perempuan. Tingkat kepadatan penduduk tertinggi ditemukan di Kecamatan Turikale, jiwa/km2. Sedangkan yang terendah di Kecamatan Mallawa, 45 jiwa/km². Secara umum kondisi kependudukan di dapat dilihat pada penjelasan Tabel 3.4. Tabel 3.4. Jumlah Penduduk Dirinci Menurut Kecamatan Tahun 2011 No Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa) Persentase (%) 1 Mandai 35,820 22,12 2 Moncongloe 17,314 10,69 3 Maros Baru 24,345 15,04 4 Marusu 25,485 15,74 5 Turikale 41,856 25,85 6 Lau 24,463 15,11 7 Bontoa 26,583 16,42 8 Bantimurung 28,181 17,41 9 Simbang 22,307 13,78 10 Tanralili 24,595 15,19 11 Tompobulu 14,214 8,78 12 Camba 12,575 7,77 13 Cenrana 13,711 8,47 14 Mallawa 10,763 6,65 Jumlah 322, ,00 Sumber : BPS Kab. Maros (Maros Dalam Angka, 2011) BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 24

25 b. Kepadatan Penduduk Hasil catatan registrasi yang diperoleh, tingkat kepadatan penduduk di berdasarkan klasifikasinya dibedakan atas 3 (tiga) bagian yaitu kepadatan tinggi, sedang dan rendah. Kepadatan tertinggi berada di wilayah Kecamatan Turikale dengan kepadatan penduduk sebesar jiwa/km², kepadatan penduduk terendah berada di Kecamatan Tompobulu dengan jumlah sebesar 49 jiwa/km2. Demikian pula halnya dengan pola penyebaran penduduk terjadi secara tidak merata. Data yang diperoleh menunjukkan pola penyebaran penduduk di secara umum terakumulasi di pusat kota dan pusat-pusat pertumbuhan kota. Perkembangan jumlah penduduk, dan kepadatan dirinci menurut kecamatan di pada Tabel 3.5. Tabel 3.5. Kepadatan Penduduk Dirinci Menurut Kecamatan Tahun 2011 No Kecamatan Jumlah Penduduk (Jiwa) Luas Wilayah (Km 2 ) Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km 2 ) Mandai 35,820 49, Moncongloe 17,314 46, Maros Baru 24,345 53, Marusu 25,485 53, Turikale 41,856 29,93 1,398 6 Lau 24,463 73, Bontoa 26,583 93, Bantimurung 28, , Simbang 22, , Tanralili 24,595 89, Tompobulu 14, , Camba 12, , Cenrana 13, , Mallawa 10, ,92 46 Jumlah 322, , Sumber : BPS ( Maros Dalam Angka ) BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 25

26 Iklim Iklim tergolong iklim tropis basah dengan curah hujan rata rata 331,9 mm setiap bulannya, dengan jumlah hari hujan berkisar 183 hari selama tahun 2011, dengan rata rata suhu udara minimum 68,7 ºC dan rata rata suhu udara maksimum 89,3 ºC Penyinaran matahari selama tahun 2011 rata rata berkisar 67% secara geografis daerah ini terdiri dari 10% (10 desa) adalah pantai, 5% (5 desa) adalah kawasan lembah, 27% (28 desa) adalah lereng/bukit dan 5% (60 desa) adalah daratan. Table 3.6. Suhu Udara Maksimum, Minimum dan Rata-rata Menurut Bulan Tahun 2011 di Bulan Suhu Udara ( C) Minimum Maksimum Rata-rata (1) (2) (3) (4) Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agusutus September Oktober Nopember Desember Rata Rata Tahunan Sumber : Stasiun Klimatologi Klas I (Bagian Sistem Data dan Informasi) Ketenagakerjaan Penduduk Usia Kerja (PUK) didefinisikan sebagai penduduk yang berumur 15 tahun ke atas. Penduduk Usia Kerja terdiri dari Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja. Mereka yang termasuk dalam Angkatan Kerja adalah penduduk yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan. Sedangkan Bukan Angkatan Kerja adalah mereka yang bersekolah, mengurus rumah tangga atau melakukan kegiatan lainnya. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 26

27 Penduduk usia kerja di pada tahun 2010 berjumlah jiwa. Dari seluruh penduduk usia kerja tersebut, yang masuk menjadi angkatan kerja berjumlah jiwa atau lebih dari 50 persen dari penduduk usia kerja. Dari seluruh penduduk usia kerja di, terdapat jiwa penduduk yang sedang mencari kerja. Dengan demikian diperoleh tingkat pengangguran yang merupakan rasio dari pencari pekerjaan dan jumlah angkatan kerja di Kabupaten Maros sebesar 9,74 persen. Tabel 3.7. Penduduk Berumur 15 Tahun Keatas menurut Jenis Kegiatan Utama dan Jenis Kelamin,, 2011 No Lapangan Pekerjaan Utama Laki Laki Perempuan Jumlah Persentse Pertanian 22,316 11,405 33, Industri Pengolahan 9,876 2,750 12, Perdagangan, Rumah Makan dan Hotel 13,879 16,892 30, Jasa Kemasyarakatan 17,703 15,254 32, Lainnya 20,544 2,232 22, Sumber : Sakernas Pendapatan Regional Pertumbuhan ekonomi pada Tahun 2011 sebesar 7.57 persen. Selama tahun perekonomian mengalami pertumbuhan ratarata besar 6.21 persen per tahun. Sektor pertanian merupakan sektor yang masih dominan peranannya dalam struktur perekonomian Pada Tahun 2011 kontribusi sektor Pertanian terhadap total PDRB sebesar 35,00 persen, disusul oleh sektor Jasa-jasa sebesar 23,59 persen dan sektor Industri Pengolahan sebesar 19,83 persen dan sektor-sektor lainnya. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 27

28 Table 3.8. Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga yang berlaku menurut Lapangan Usaha di Maros Tahun Lapangan usaha/industrial origin * (1) (2) (4) (5) (6) (7) 1. PERTANIAN a. Tanaman Bahan Makanan b. Tanaman Perkebunan c. Peternakan d. Kehutanan e. Pertanian 2. PERTAMBANGAN & PENGGALIAN a. Minyak dan gas bumi b. Pertambangan tanpa migas c. Penggalian 3. INDUSTRI PENGOLAHAN a. INDUSTRI MIGAS 1. Pengilangan Minyak 2. Gas Alam Cair b. INDUSTRI TANPA MIGAS 1. Makanan, minuman dan tembakau 2. Tekstil, barang kulit dan alas kaki 3. Brg kayu dan hasil hutan lainnya 4. Kertas dan barang cetakan 5. Pupuk kimia dan barang dari karet 6. Semen & Brg. Galian bukan logam dasar besi dan baja 7. Logam dasar besi dan baja 8. Alat angk. Mesin dan peralatanya 9. Barang lainnya 4. LISTRIK, GAS & AIR BERSIH a. Listrik b. Gas kota c. Air bersih 5. BANGUNAN 6. PERDAG. HOTEL & REST. a. Perdagangan dan eceran b. Hotel c. Restauran 7. ANGKUTAN & KOMUNIKASI a. Pengangkutan 1. Angkutan Rel 2. Angkutan Jalan Raya 3. Angkutan Laut 4. Angk. Sungai, Danau & Penyeb. 5. Angkutan Udara 6. Jasa Penunjang Angkutan b. Komunikasi 1. Pos & Telekomunikasi 2. Jasa Penunjang Komunikasi 8. KEUANGAN, PERSEWAAN & JS PERU a. Bank b. Lemb. Keuangan tanpa Bank c. Jasa Penunjang Keuangan 600, , , , , , , , , , , , , , , , , , ,745,57 77, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,948,67 404, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 28

29 d. Sewa Bangunan e. Jasa Perusahaan 8. JASA - JASA a. Pemerintahan Umum 1. Adm. Pemerintah & Pertahanan 2. Jasa Pemerintah Lainnya b. Swasta 1. Sosial Kemasyarakatan 2. Hiburan & Rekreasi 3. Perorangan & R. Tangga 42, , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,301, , , , , , , , , , , , , , , , ,338,42 5, PRODUK DOMESTIK REGIONAL 1,508, ,786, ,153, ,598, ,039, BRUTO Sumber : Maros dalam angka Sarana dan Prasarana Kabupaten Sarana Pendidikan Pembangunan bidang Pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) suatu negara akan menentukan karakter dari pembangunan ekonomi dan sosial, karena manusia adalah pelaku aktif dari seluruh kegiatan tersebut. Dari tahun ke tahun partisipasi seluruh masyarakat dalam dunia pendidikan semakin meningkat, hal ini berkaitan dengan berbagai program pendidikan yang dicanangkan pemerintah untuk lebih meningkatkan kesempatan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Peningkatan partisipasi pendidikan untuk memperoleh bangku pendidikan tentunya harus diikuti dengan berbagai peningkatan penyediaan sarana fisik pendidikan dan tenaga pendidik yang memadai. Tabel 3.9. Banyaknya sekolah menurut jenjang pendidikan di Tahun 2011 No Tingkat Pendidikan Sekolah Guru Murid Rasio Murid terhadap Guru Taman Kanak-Kanak (TK) Sekolah Dasar (SD)Negeri Sekolah Dasar (SD)Swasta Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri Sekolah Menengah Pertama (SMP) Swasta Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri Sekolah Menengah Atas (SMA) Swasta BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 29

30 8 9 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Swasta Madrasah Ibtidaiyah (MI) Madrasah Tsanawiyah(MTs) Madrasah Aliyah (MA) Sumber : Maros Dalam Angka Tahun Sarana Kesehatan Pembangunan kesehatan harus selalu dilakukan mengingat jumlah penduduk yang selalu bertambah dari tahun ke tahun, upaya yang dilakukan pemerintah antara lain dengan meningkatkan fasilitas sarana dan prasaran kesehatan, sehingga semua lapisan masyarakat dapat memperoleh pelayanan kesehatan secara mudah, merata, dan murah. Pada tahun 2011 di terdapat 3 rumah sakit, 2 rumah bersalin, 14 puskesmas, 395 posyandu, 4 balai kesehatan, 31 pustu, 66 poskesdes dan 3 Polindes Dalam pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB), jumlah akseptor baru yang terjaring pada tahun 2011 sebanyak orang. Pada umumnya akseptor baru tersebut memilih menggunakan alat kontrasepsi Pil dan Suntikan yakni masing-masing dan orang atau kedua kontrasepsi tersebut dipilih sekitar 87,15 % dari seluruh akseptor baru. Untuk meningkatkan pemerataan jangkauan pelayanan kesehatan masyarakat telah tersedia sarana kesehatan baik yang dibangun oleh pemerintah atau swadaya masyarakat antara lain Puskesmas, Puskesmas Keliling (pelayanan kesehatan mobile), Polindes, Posyandu, Praktek dokter, dan sarana kesehatan lainnya. Tabel Banyaknya Fasilitas Kesehatan di Ruma Rumah Puskes Klinik/Balai Tahun h Posyandu Pustu Poskesdes Polindes Bersalin mas Kesehatan Sakit (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) Sumber : Maros Dalam Angka Tahun 2012 BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 30

31 3.4.3 Perdagangan dan Jasa Sektor perdagangan merupakan sektor ekonomi yang banyak diminati oleh semua kalangan masyarakat dalam kegiatan ekonomi baik itu secara formal maupun informal. Pada Tahun 2011, tercatat sebanyak 500 perusahaan dagang yang memiliki surat izin usaha perdagangan yang tersebar di 14 kecamatan di. Menurut bentuk badan hukum, terdapat 40 perusahaan yang berbentuk PT, 186 berbentuk CV, 24 Koperasi, 264 Perseorangan dan 0 perusahaan dagang berbentuk badan hukum lainnya Tabel Banyaknya Perusahaan yang memiliki Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) menurut Kecamatan Tahun 2011 Perusahaan Jumlah Kecamatan Total Besar Menengah Kecil (1) (2) (3) (4) (5) Mandai Moncongloe Maros Baru Marusu Turikale Lau Bontoa Bantimurung Simbang Tanralili Tompobulu Camba Cenrana Mallawa Jumlah Total Sumber : Maros Dalam Angka Tahun 2012 BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 31

32 3.4.4 Sarana Peribadatan Perkembangan pembangunan di bidang spritual dapat dilihat dari besarnya sarana peribadatan masing-masing agama. Tempat peribadatan umat Islam yang berupa masjid, langgar/mushola pada tahun 2011 masing-masing berjumlah 597 dan 47. Tempat peribadatan untuk umat Kristiani dan Katolik sebanyak 18 yang terdapat di 7 kecamatan. Tabel Banyaknya Tempat Ibadah Menurut Jenisnya di tahun 2011 Kecamatan Mesjid Musholla Gereja Pura Vihara (1) (2) (3) (4) (5) (6) Mandai Moncongloe Maros Baru Marusu Turikale Lau Bontoa Bantimurung Simbang Tanralili Tompobulu Camba Cenrana Mallawa Jumlah Total Sumber : Maros dalam angka 2012 BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 32

33 3.4.5 Prasarana Air Minum Sebanyak meter kubik air minum yang disalurkan oleh PDAM selama tahun 2011 kepada pelanggan yang dibedakan menjadi lima kelompok konsumen oleh PDAM. Tabel Jumlah Pelanggan dan Pemakaian Air Minum Menurut Jenis Penggunanya di Tahun Jenis Konsumen Sosial Umum Khusus Non Niaga 6, Rumah Tangga 6, Instasi Perintah Niaga Kecil Besar Industri Kecil Besar Khusus Pelabuhan Lainnya Jumlah 6,885 7,477 8,441 9,375 9,803 10,424 Sumber : Maros dalam angka Prasarana Listrik Jumlah daya terpasang di sebesar KW pada Tahun 2011, dengan jumlah pelanggan sebanyak rumah tangga yang memiliki meteran listrik. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 33

34 3.4.7 Prasarana Jalan Panjang Jalan di pada Tahun 2011 terdiri dari Jalan Negara 87,96 km, Jalan Provinsi 115,30 km dan Jalan Kabupaten/Kota km. Tabel Pembagian Jalan menurut pemerintah Tahun Jenis Jalan (1) (2) (3) (4) (5) Jalan Negara 87, , , , Jalan Provinsi 75, , , , Jalan Kabupaten 1, , , , Jumlah Total 164, , , , Sumber : UPTD Praswil Kab. Maros/Pangkep Sarana Transportasi Di, jumlah sarana dan prasarana transportasi darat menjadi faktor dominan dalam menunjang mobilitas penduduk dan gerak roda perekonomian. Dengan demikian peningkatan kualitas sarana dan prasarana serta fasilitas penunjang lainnya menjadi faktor penentu bagi peningkatan perekonomian dan kesejahteraan penduduk. Tabel Jumlah Penumpang Penerbangan Dalam dan Luar Negeri di Tahun Bulan (1) (2) (3) (4) (5) Januari 407, , , ,049 Februari 346, , , ,451 Maret 389, , , ,503 April 361, , , ,684 Mei 394, , , ,372 Juni 394, , , ,197 Juli 418, , , ,527 Agustus 421, , , ,211 September 312, , , ,637 Oktober 410, , , ,325 Nopember 418, , , ,107 Desember 431, , , ,345 Jumlah Total 4,706,189 5,161,289 6,546,942 7,455,408 Sumber: PT. Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Sultan Hasanuddin BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 34

35 4.1.Umum Salah satu aspek yang turut menentukan kebersihan suatu Kabupaten adalah pengelolaan persampahan di Kabupaten tersebut. Pengelolaan persampahan yang tidak terprogram akan menyebabkan penanganan sampah yang tidak tuntas, sehingga ada sampah yang tidak terangkut yang menyebabkan kebersihan dan keindahan Kabupaten tidak tercapai. Dalam proses pengumpulan sampah di, sampah dari rumah tangga dikumpulkan baik yang gerobak dan menggunakan motor sampah maupun yang langsung masuk truk sampah. Sampah yang dikumpulkan melalui motor motor sampah kemudian dibawa ke suatu tempat pengumpulan atau peralihan yang disebut Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS) berupa kontainer sampah dan ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Di TPST dilakukan pemindahan, dan pemisahan. Sampah yang masih dapat dioleh dipindahkan kedalam TPST tetapi sampah yang tidak dapat diolah lagi dipindahkan ke dalam kontainer untuk dibawa ke Tempat Pemprosesan Akhir Sampah (TPA) dengan menggunakan Truck Arm Roll Umumnya jumlah truk dan biaya tidak mencukupi kebutuhan untuk memberikan pelayanan yang menyeluruh bagi semua wilayah disetiap Pemerintah Kabupaten. Hingga saat ini Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Bonto Ramba dioperasikan masih dengan metode Open Dumping. Pengelolaan persampahan di bawah Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan yang merupakan unsur pelaksana teknis di bawah Bupati BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 35

36 yang berfungsi sebagai pelaksana pelayanan kebersihan (Operator) yang juga berfungsi melaksanakan pengaturan/pengendaliaan (Regulator). Didalam melaksanakan tugasnya Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan dipimpin oleh Kepala Badan sedangkan teknis operasionalnya dibawah Bidang Kebersihan yang dibantu oleh Kepala Sub Bidang dan staf bidang kebersihan Aspek Organisasi Dan Manajemen Bentuk Institusi dan Struktur Organisasi Berdasarkan Peraturan Daerah No.12 Tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah Lingkup Pemerintah, Instansi yang berwenang dalam pengelolaan kebersihan/persampahan adalah Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (BLHKP). Struktur organisasi BLHKP terdiri dari Kepala Badan dengan dibantu oleh satu orang Sekretaris, empat Kepala Bidang, dan dua Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT). Selengkapnya, struktur Organisasi Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan adalah sebagai berikut: Badan Lingkungan Hidup, kebersihan dan pertamanan terdiri dari : a. Kepala Badan; b. Sekretariat; c. Bidang Penataan dan Pengawasan Lingkungan; d. Bidang Pelestarian Lingkungan Hidup dan Pengendalian Lingkungan; e. Bidang Kebersihan; f. Bidang Pertamanan dan Pemakaman; g. Unit Pelaksana Teknis; h. Kelompok Jabatan Fungsional. 1. Sekretariat terdiri dari : a. Sub Bagian Program; b. Sub Bagian Kepegawaian dan Umum; c. Sub Bagian Keuangan. 2. Bidang Penataan dan Pengawasan Lingkungan terdiri dari : b. Sub. Bidang Penataan Lingkungan; b. Sub. Bidang pengelolaan Pencemaran air, Udara dan Tanah; c. Sub. Bidang Pengelolaan Pencemaran Kebisingan gangguan dan Penegakan Hukum. 3. Bidang pelestarian lingkungan hidup dan pengendalian lingkungan terdiri dari : a. Sub Bidang Analisis Dampak Lingkungan; BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 36

37 b. Sub Bidang Baku Mutu Lingkungan dan Status Lingkungan; c. Sub Bidang Konservasi dan Keanekaragaman Hayati. 4. Bidang Kebersihan terdiri dari : a. Sub. Bidang Pemeliharaan Kebersihan; b. Sub. Bidang Pengelolaan dan Pemanfaatan limbah/sampah; c. Sub.Bidang Pengadaan dan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana. Penyusunan Master Plan URAIAN TUGAS 1. Kepala Badan Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan dipimpin oleh Kepala Badan mempunyai tugas pokok menyelenggarakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang lingkungan hidup, kebersihan dan pertamanan berdasarkan asas desentralisasi dan tugas pembantuan. Untuk menyelenggarakan tugas pokok Kepala Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Daerah mempunyai fungsi: a. Perumusan kebijakan teknis di bidang Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan. b. Pengkoordinasian penyusunan perencanaan di bidang lingkungan hidup, kebersihan dan pertamanan. c. Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang lingkungan hidup, kebersihan dan pertamanan. d. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya. Uraian tugas Kepala Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan sebagai berikut: a. Merumuskan program kerja Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan berdasarkan rencana kerja yang telah dibuat. b. Mengkoordinasikan pelaksanaan urusan yang berkaitan penyelenggaraan program kegiatan badan. c. Membina bawahan dalam hal pelaksanaan tugas sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku. d. Mengarahkan dan memberi petunjuk pelaksanaan tugas kepada bawahan sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 37

38 e. Menyelenggarakan penetapan kebijakan teknis badan dan koordinasi penyusunan rencana starategis serta koordinasi penyusunan laporan kinerja instansi Pemerintah. f. Merumuskan kebijakan bidang lingkungan hidup kebersihan dan pertamanan. g. Menyelenggarakan pengendalian dan pengawasan pencemaran dan kerusakan lingkungan serta kebersihan, pertamanan dan pemakaman. h. Memfasilitasi kegiatan instansi terkait dalam hal pengendalian dampak lingkungan dan kebersihan. i. Menyelenggarakan penataan dan penataan hukum lingkungan hidup, baik secara administrasi, perdata maupun pidana terhadap pelaku pencemaran dan perusakan lingkungan hidup, dengan mengembangkan skema insentif-disinsentif dan pelaksanaan perjanjian internasional di bidang pengendalian dampak lingkungan. j. Menyelenggarakan pelayanan Bidang Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan dengan mengacu pada standar pelayanan minimal bidang lingkungan hidup, kebersihan dan pertamanan. k. Memfasilitasi peningkatan kapasitas kelembagaan melalui kegiatan pendidikan dan pelatihan. l. Memberikan rekomendasi dan melakukan penilaian kelayakan lingkungan terhadap usaha/kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. m. Menyelenggarakan pembinaan jabatan fungsional di bidang lingkungan hidup, kebersihan dan pertamanan. n. Menyelenggarakan pembinaan dan peningkatan partisipasi masyarakat, lembaga non Pemerintah dan swasta dalam pengelolaan lingkungan hidup, kebersihan dan pertamanan. o. Menyelenggarakan pengaturan, pembinaan dan pengawasan atas pelaksanaan urusan bidang lingkungan hidup, kebersihan, pertamanan dan pemakaman. p. Merumuskan sasaran pembangunan di bidang lingkungan hidup kebersihan, pertamanan dan pemakaman. q. Mengevaluasi pelaksanaan tugas dan kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. r. Melaporkan hasil pelaksanaan tugas dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. s. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 38

39 2. Sekretariat Sekretaris yang mempunyai tugas pokok mengkoordinasikan kegiatan, memberikan pelayanan teknis dan administrasi urusan umum dan kepegawaian, keuangan serta penyusunan program dalam lingkungan badan. Untuk melaksanakan tugas pokok Sekretaris mempunyai fungsi: a. Pengkoordinasian pelaksanaan kegiatan. b. Pengelolaan urusan administrasi kepegawaian dan umum. c. Pengelolaan administrasi keuangan. d. Pengkoordinasian dan penyusunan program serta pengolahan dan penyajian data. e. Pengelolaan dan pembinaan organisasi dan tatalaksana. f. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Uraian tugas Sekretaris sebagai berikut: a. Merencanakan operasional kegiatan sekretariat sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas ke bawahan berdasarkan tugas pokok dan fungsi sesuai ketentuan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas. c. Memberi petunjuk pelaksanaan tugas kepada bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar terhindar dari kesalahan. d. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. e. Mengadakan koordinasi kepada seluruh bidang sesuai peraturan yang berlaku agar pekerjaan berjalan lancar. f. Melaksanakan koordinasi perencanaan dan perumusan kebijakan tehnis setiap kegiatan sesuai peraturan yang berlaku agar pekerjaan berjalan lancar. g. Mengkoordinir penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) setiap kegiatan yang telah disusun oleh Kepala Sub Bagian. h. Mengkoordinasikan pelaksanaan, pengendalian dan evaluasi penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) pada setiap bidang agar sesuai dengan pelaksanaan kinerja masing-masing bidang. i. Mengkoordinasikan dan melaksanakan pengolahan dan penyajian data dan informasi sehingga dapat menghasilkan data yang lebih akurat. j. Melaksanakan dan mengkoordinasikan pelayanan administrasi kepegawaian dan umum untuk menghasilkan pelayanan yang maksimal. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 39

40 k. Melaksanakan dan mengkoordinasikan pelayanan administrasi program untuk menghasilkan pelayanan yang maksimal. l. Melaksanakan dan mengkoordinasikan pelaksanaan pembinaan organisasi dan tatalaksana dalam lingkungan badan sehingga pembinaan dan ketatalaksanaan dapat berjalan dengan lancar. m. Mengevaluasi pelaksanaan tugas dan kegiatan bawahan untuk mengetahui tugastugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. n. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sekretaris dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. o. Melaksanakan kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan baik lisan maupun tertulis sesuai ketentuan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas. 3. Sub Bagian Program Sub Bagian Program dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang mempunyai tugas pokok mengumpulkan bahan dan mengelola penyusunan program, penyajian data dan penyusunan laporan kinerja. Uraian tugas kepala sub bagian program sebagai berikut: a. Merencanakan kegiatan Sub. Bagian Program berdasarkan Renja Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan sebagai pedoman pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas tertentu dan memberikan petunjuk pelaksanaan tugas kepada bawahan sesuai ketentuan yang berlaku sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul agar pelaksanaan tugas berjalan lancar. d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas. g. Menyusun Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Kerja (Renja) kegiatan badan sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 40

41 h. Mengumpulkan bahan dan menyusun dokumen pelaksanaan kegiatan dan anggaran berdasarkan pedoman dan peraturan yang berlaku untuk kelancaran pelaksanaan tugas. i. Mengkoordinasikan, menyiapkan bahan dan melakukan penyusunan perencanaan program dan anggaran. j. Menyiapkan bahan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Badan sebagai landasan laporan kinerja pegawai. k. Menghimpun dan menyajikan data dan informasi program dan kegiatan badan untuk lebih transparan dalam pengelolaan data dan informasi. l. Mengelola dan melakukan pengembangan sistem penyajian data berbasis teknologi informasi agar dapat menyajikan data yang lebih akurat dan cepat. m. Mengumpulkan bahan dan menyusun laporan kegiatan tahunan untuk bahan pertanggungjawaban Pimpinan. n. Mengevaluasi hasil kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas-tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. o. Menyusun laporan hasil pelaksanaan Sub.Bagian Program dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. p. Melakukan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 4. Sub Bagian Kepegawaian dan Umum Sub Bagian Kepegawaian dan Umum dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang mempunyai tugas pokok mengelola administrasi kepegawaian melakukan urusan ketatausahaan, administrasi pengadaan, pemeliharaan dan penghapusan barang, serta urusan rumah tangga. Uraian tugas Kepala Sub Bagian Kepegawaian dan Umum sebagai berikut : a. Merencanakan kegiatan Sub Bagian Kepegawaian dan Umum sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 41

42 d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas. g. Menghimpun daftar hadir pegawai untuk tertib administrasi. h. Menyiapkan bahan administrasi surat tugas dan perjalanan dinas pegawai untuk kelancaran pelaksanaan tugas. i. Menyusun rencana formasi, informasi jabatan, dan bezetting pegawai sebagai bahan dalam formasi pegawai. j. Menyiapkan bahan dan mengelola administrasi kepegawaian meliputi usul kenaikan pangkat, perpindahan, pensiun, penilaian pelaksanaan pekerjaan, kenaikan gaji berkala, cuti, ijin, masa kerja, peralihan status dan layanan administrasi kepegawaian lainnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. k. Menyiapkan bahan usulan pemberian tanda penghargaan dan tanda jasa Pegawai Negeri Sipil sebagai bahan kelengkapan usulan. l. Menyiapkan bahan perumusan kebijakan pembinaan, peningkatan kompetensi, disiplin dan kesejahteraan pegawai negeri sipil sebagai bahan dalam formasi pegawai. m. Mengembangkan penerapan sistem informasi kepegawaian berbasis teknologi informasi sehingga dapat memperlancar akses data kepegawaian. n. Melakukan administrasi, pengarsipan naskah dinas, pengklafikasian dan pendistribusian surat masuk dan surat keluar menurut jenisnya sesuai ketentuan yang berlaku agar memudahkan pencariannya kembali. o. Menyiapkan bahan dan menyusun administrasi pengadaan pendistribusian pemeliharaan, inventarisasi dan penghapusan barang sesuai dengan peraturan dan prosedur yang berlaku agar pengelolaan asset dapat berjalan dengan baik dan benar. p. Mempersiapkan pelaksaanaan rapat dinas, upacara bendera, kehumasan, dan mengelola sarana dan prasarana serta melaksanakan urusan rumah tangga badan untuk kelancaran pelaksanaan tugas. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 42

43 q. Menyiapkan bahan dan menyusun daftar inventarisasi barang serta menyusun laporan barang inventaris untuk kelancaran pengelolaan asset. r. Mengevaluasi hasil kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. s. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sub bagian kepegawaian dan umum dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. t. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 5. Sub Bagian Keuangan Sub Bagian Keuangan dipimpin oleh Kepala Sub Bagian yang mempunyai tugas pokok melaksanakan penatausahaan administrasi keuangan meliputi penyusunan anggaran, penggunaan, pembukuan, pertanggungjawaban dan pelaporan. Uraian tugas Kepala Sub Bagian Keuangan sebagai berikut : a. Merencanakan kegiatan sub bagian keuangan sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas. g. Melakukan koordinasi penyusunan Rencana Kerja Anggaran (RKA) dan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) berdasarkan usulan setiap kegiatan di lingkup Badan. h. Melaksanakan pengumpulan, pengolahan, penganalisaan dan penyajian data keuangan. i. Melakukan pengendalian keuangan lingkup badan. j. Melaksanakan pengendalian pengeluaran kas (cash flow). BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 43

44 k. Menyusun dokumen terhadap penerbitan surat perintah membayar (SPM) lingkup badan. l. Melaksanakan pengujian dan analisa Surat perintah Membayar (SPM), Uang Persediaan (UP) Ganti Uang Persediaan (GU), Tambahan Uang Persediaan (TU) dan Langsung (LS) yang diajukan oleh Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) lingkup badan. m. Membuat laporan keuangan realisasi anggaran belanja menurut rekening berdasarkan pengeluaran SPM. n. Melaksanaan urusan pengelolaan gaji dan melaksanakan penggajian. o. Meneliti kelengkapan surat permintaan pembayaran (SPP) yang diajukan oleh bendahara sesuai prosedur yang berlaku untuk menghindari kesalahan. p. Meneliti kebenaran pertanggung jawaban bendahara pengeluaran sesuai peraturan dan prosedur agar terhindar dari kesalahan. q. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sub bagian keuangan dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. r. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 6. Bidang Penataan dan Pengawasan Lingkungan Bidang Penataan dan Pengawasan Lingkungan yang mempunyai tugas pokok perencanaan dan pengawasan, penyusunan pedoman dan petunjuk teknis penataan lingkungan, pengelolaan pencemaran air, udara dan tanah serta pengelolaan pencemaran kebisingan, gangguan dan penegakan hukum. Untuk melaksanakan tugas pokok Kepala Bidang Penataan dan Pengawasan Lingkungan mempunyai fungsi: a. Penyusunan bahan kebijakan teknis di bidang pengawasan lingkungan dan penyelesaian sengketa lingkungan. b. Pembinaan dan koordinasi pelaksanaan penyidikan dan evaluasi teknis di bidang pengawasan dan penegakan hukum serta penyelesaian sengketa lingkungan hidup. c. Pembinaan dan koordinasi pemantauan Penataan atas perjanjian di bidang pengendalian dampak lingkungan skala Kabupaten. d. Pembinaan dan koordinasi penyelesaian konflik dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 44

45 e. Pembinaan dan koordinasi penerapan paksaan Pemerintahan dan/atau uang paksa terhadap pencemaran air, udara dan tanah skala Kabupaten pada keadaan darurat dan/atau keadaan yang tidak diduga lainnya skala Kabupaten. f. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Uraian tugas Kepala Bidang Penataan dan Pengawasan Lingkungan sebagai berikut: a. Merencanakan operasional kegiatan Penataan dan pengawasan lingkungan sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas tugas kepada bawahan sesuai tugas pokok masing masing sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Memberi petunjuk pelaksanaan tugas dan kegiatan bawahan sesuai prosedur dan peraturan agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. d. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. e. Mengkoordinir penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) setiap kegiatan yang telah disusun. f. Melaksanakan analisis dan menghimpun data dan informasi untuk penyusunan bahan kebijakan teknis di bidang pengawasan dan penegakan hukum, pengelolaan pencemaran air, udara dan tanah, kebisingan, gangguan air, udara dan tanah dan penyelesaian sengketa lingkungan lainnya. g. Melaksanakan pembinaan dan koordinasi pelaksanaan penyidikan dan evaluasi teknis di bidang pengawasan dan penegakan hukum serta penyelesaian sengketa lingkungan hidup. h. Melaksanakan koordinasi penyusunan dan sosialisasi produk hukum lingkungan hidup. i. Mengembangkan mekanisme pengawasan dan penegakan hukum lingkungan hidup. j. Melaksanakan pembinaan dan koordinasi pemantauan Penataan atas perjanjian di bidang pengendalian dampak lingkungan skala Kabupaten. k. Melaksanakan pembinaan dan koordinasi penyelesaian konflik dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati. l. Mengevaluasi pelaksanaan tugas dan kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 45

46 m. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas bidang Penataan dan pengawasan lingkungan dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. n. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 7. Sub Bidang Penataan lingkungan Sub Bidang Penataan lingkungan dipimpim oleh Kepala Sub Bidang mempunyai tugas pokok melaksanakan penyusunan kebijakan teknis di bidang penataan lingkungan. Uraian tugas kepala Sub Bidang Penataan Lingkungan sebagai berikut: a. Merencanakan kegiatan sub bagian penataan lingkungan sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas. g. Melakukan penyiapan bahan perumusan kebijaksanaan teknis penataan lingkungan. h. Melakukan penilaian penataan lingkungan Analisis Mengenai Dampak Alam Lingkungan (AMDAL) bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup, sesuai dengan standar, norma, dan prosedur yang ditetapkan oleh peraturan perundang-undangan. i. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL dalam wilayah Kabupaten dalam rangka uji petik. j. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pemberian rekomendasi penataan lingkungan yang dilakukan di wilayah Kabupaten. k. Melakukan pembinaan teknis terhadap penataan lingkungan, pelaksanaan pengawasan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup yang dilakukan oleh BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 46

47 Kabupaten bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL dan UKL/UPL dalam wilayah Kabupaten. l. Menyiapkan bahan rumusan penetapan kelas air dan pengendalian pencemaran pada sumber air skala Kabupaten. m. Menyiapkan bahan rumusan penetapan baku mutu air lebih ketat dan/atau penambahan parameter dari kriteria mutu air skala Kabupaten. n. Mengevaluasi hasil kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. o. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sub bagian Penataan lingkungan dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. p. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 8. Sub Bidang Pengelolaan, Pencemaran air, udara dan tanah Sub Bidang Pengelolaan, Pencemaran air, Udara dan Tanah dipimpin oleh Kepala Sub. Bidang yang mempunyai tugas pokok melaksanakan penyusunan kebijakan teknis di bidang pengendalian pencemaran air, udara dan tanah. Uraian tugas Kepala Sub Bidang Pengelolaan, Pencemaran Air, Udara dan Tanah sebagai berikut: a. Merencanakan kegiatan sub bagian pengelolaan, pencemaran air, udara dan tanah sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas. g. Melakukan pengawasan pelaksanaan pengelolaan pencemaran air, udara dan tanah, limbah bahan beracun dan berbahaya (B3) dan pengelolaan laboratorium lingkungan skala Kabupaten. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 47

48 h. Mempersiapkan konsep/bahan untuk pemberian izin pengumpulan limbah B3 skala Kabupaten kecuali minyak pelumas/oli bekas. i. Melakukan pengawasan pelaksanaan pemulihan akibat pencemaran air, udara dan tanah, limbah pada skala Kabupaten. j. Melakukan pengawasan pelaksanaan sistem tanggap darurat dan penanggulangan kecelakaan pengelolaan limbah skala Kabupaten. k. Mengevaluasi laporan pemrakarsa usaha, masyarakat dan kegiatan usaha lainnya yang berkaitan dengan pencemaran lingkungan hidup. l. Mengevaluasi hasil kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. m. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sub bagian Pengelolaan, Pencemaran air, udara dan tanah dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. n. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 9. Sub Bidang Pengelolaan Pencemaran Kebisingan Gangguan dan Penegakan Hukum Sub Bidang Pengelolaan Pencemaran Kebisingan Gangguan dan Penegakan Hukum dipimpin oleh Kepala Sub Bidang yang mempunyai tugas pokok melakukan pembinaan, koordinasi, monitoring dan evaluasi pengelolaan pencemaran kebisingan gangguan dan penegakan hukum. Uraian tugas Kepala sub. Bidang Pengelolaan Pencemaran Kebisingan Gangguan dan Penegakan Hukum sebagai berikut: a. Merencanakan kegiatan sub bagian pengelolaan pencemaran kebisingan gangguan dan penegakan hukum sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 48

49 f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman dalam melaksanakan tugas. g. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka penegakan pengelolaan pencemaran kebisingan gangguan dan penegakan hukum. h. Melakukan pemantauan, evaluasi dan penyidikan terhadap efektivitas kegiatan pengelolaan pencemaran kebisingan gangguan dan penegakan hukum dan penyelesaian sengketa lingkungan. i. Melakukan mediasi dan negoisasi pengelolaan pengaduan pencemaran kebisingan gangguan dan penegakan hukum. j. Melakukan identifikasi dan investigasi kasus pengelolaan pencemaran kebisingan gangguan lingkungan hidup. k. Menyiapkan bahan rumusan untuk penyusunan produk hukum lingkungan hidup; l. Melakukan sosialisasi dan diseminasi produk hukum lingkungan hidup. m. Melakukan penyidikan tindak pidana di bidang lingkungan hidup. n. Menyiapkan bahan rumusan penerapan sanksi administrasi, perdata dan pidana lingkungan hidup. o. Melakukan analisis, pemantauan dan evaluasi pengembangan peraturan di bidang lingkungan hidup. p. Melakukan inventarisasi dan pengembangan peraturan di bidang lingkungan hidup; q. Melakukan penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah Kabupaten atau yang dilimpahkan kewenangan oleh Pemerintah. r. Melakukan pemantauan Penataan atas perjanjian di bidang pengendalian dampak lingkungan skala Kabupaten. s. Mengevaluasi hasil kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. t. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sub bagian pengelolaan pencemaran kebisingan gangguan dan penegakan hukum dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. u. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 49

50 10. Bidang Pelestarian Lingkungan Hidup dan Pengendalian Lingkungan Bidang Pelestarian lingkungan hidup dan pengendalian lingkungan dipimpin oleh Kepala Bidang mempunyai tugas pokok perencanaan, pengawasan, penyusunan pedoman dan petunjuk teknis, di bidang pelestarian lingkungan hidup dan pengendalian lingkungan. Untuk melaksanakan tugas pokok Kepala Bidang Pelestarian Lingkungan Hidup dan Pengendalian Lingkungan mempunyai fungsi: a. Penyusunan bahan rumusan kebijakan teknis di bidang pelestarian lingkungan hidup dan pengendalian lingkungan. b. Pembinaan dan koordinasi pengembangan standarisasi dalam pengelolaan dan pengendalian kerusakan lingkungan hidup. c. Penyusunan bahan rumusan kebijakan teknis pengembangan analisa dampak lingkungan, baku mutu lingkungan dan status lingkungan hidup (AMDAL). d. Pembinaan, pengembangan, dan penilaian kemampuan teknis penilai Amdal dan baku mutu lingkungan. e. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh atasan sesuai dengan tugas dan fungsinya. Uraian tugas Kepala Bidang Pelestarian Lingkungan Hidup dan Pengendalian Lingkungan sebagai berikut: a. Merencanakan operasional kegiatan pelestarian lingkungan hidup dan pengendalian lingkungan sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas tugas kepada bawahan sesuai tugas pokok masing masing sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Memberi petunjuk pelaksanaan tugas dan kegiatan bawahan sesuai prosedur dan peraturan agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. d. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. e. Mengkoordinir penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) setiap kegiatan yang telah disusun oleh Kepala Sub Bidang. f. Melaksanakan analisis dalam rangka penyusunan kebijakan teknis di bidang analisis dampak lingkungan, baku mutu lingkungan dan status lingkungan. g. Melaksanakan pembinaan, koordinasi dan pengawasan terhadap penerapan standarisasi dan pengendalian lingkungan. h. Melaksanakan pembinaan dan koordinasi penerapan AMDAL, UKL/UPL, kajian dampak lingkungan dan pemulihan kualitas lingkungan. i. Melaksanakan pembinaan kemampuan teknis komisi penilai AMDAL. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 50

51 j. Melaksanakan pengkajian dan evaluasi hasil AMDAL, UKL/UPL. Penyusunan Master Plan k. Melaksanakan pembinaan dan koordinasi penetapan baku mutu lingkungan hidup dan pengelolaan konservasi laut skala Kabupaten. l. Melaksanakan pembinaan dan koordinasi pengaturan pengendalian pencemaran dan kerusakan wilayah pesisir dan laut skala Kabupaten. m. Melaksanakan pembinaan dan koordinasi penanggulangan pencemaran dan/atau kerusakan lahan dan/atau tanah untuk produksi biomassa skala Kabupaten. n. Mengevaluasi pelaksanaan tugas dan kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. o. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas bidang pelestarian lingkungan hidup dan pengendalian lingkungan dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. p. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 11. Sub Bidang Analisis Dampak Lingkungan Sub Bidang Analisis Dampak Lingkungan dipimpin oleh Kepala Sub Bidang yang mempunyai tugas pokok melakukan pembinaan, koordinasi, monitoring dan evaluasi analisis dampak lingkungan. Uraian tugas Kepala Sub Bidang Analisis Dampak Lingkungan sebagai berikut: a. Merencanakan kegiatan sub bagian analisis dampak lingkungan sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman pada pelaksanaan kegiatan. g. Melakukan penyiapan bahan perumusan kebijaksanaan teknis analisis dampak lingkungan. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 51

52 h. Melakukan pembinaan teknis dan penilaian AMDAL bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang mempunyai dampak penting terhadap lingkungan hidup, sesuai dengan standar, norma, dan prosedur yang ditetapkan oleh peraturan perundangundangan. i. Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap penilaian AMDAL Kabupaten. j. Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan pengelolaan dan pemantauan lingkungan hidup bagi jenis usaha dan/atau kegiatan yang wajib dilengkapi AMDAL dalam wilayah Kabupaten dalam rangka uji petik. k. Melakukan pembinaan teknis dan pengawasan terhadap pelaksanaan pemberian rekomendasi UKL/UPL yang dilakukan di wilayah Kabupaten. l. Mengevaluasi hasil kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. m. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sub bagian analisis dampak lingkungan dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. n. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 12. Sub Bidang Baku Mutu Lingkungan dan Status Lingkungan Sub Bidang Baku Mutu Lingkungan dan Status Lingkungan dipimpin oleh kepala sub bidang yang mempunyai tugas pokok melakukan pembinaan, koordinasi, monitoring dan evaluasi dibidang baku mutu lingkungan dan status lingkungan. Uraian tugas Kepala Sub. Bidang Baku Mutu Lingkungan dan Status Lingkungan sebagai berikut: a. Merencanakan kegiatan sub bagian baku mutu lingkungan dan status lingkungan sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP)berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman pada pelaksanaan kegiatan. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 52

53 g. Melakukan penyiapan bahan rumusan kebijakan teknis dan menyusun buku baku mutu lingkungan dan status lingkungan. h. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka baku mutu lingkungan dan status lingkungan. i. Melakukan penanggulangan pencemaran dan /atau kerusakan lahan dan / atau tanah untuk produksi biomassa skala Kabupaten. j. Mengevaluasi hasil kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. k. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sub bagian baku mutu lingkungan dan status lingkungan dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. l. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 13. Sub Bidang Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Sub Bidang Konservasi dan Keanekaragaman Hayati dipimpin oleh Kepala Sub Bidang yang mempunyai tugas pokok melakukan pembinaan, koordinasi, monitoring dan evaluasi konservasi dan keanekaragaman hayati. Uraian tugas Kepala Sub. Bidang Konservasi dan Keanekaragaman Hayati sebagai berikut: a. Merencanakan kegiatan sub bagian konservasi dan keragaman hayati sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman pada pelaksanaan kegiatan. g. Melakukan koordinasi dengan instansi terkait dalam rangka konservasi dan keanekaragaman hayat. h. Menyiapkan bahan rumusan untuk penetapan dan pelaksanaan pengendalian kemerosotan keanekaragaman hayati skala Kabupaten. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 53

54 i. Melakukan pemantauan dan pengawasan pelaksanaan konservasi keanekaragaman hayati skala Kabupaten. j. Melakukan koordinasi penyelesaian konflik dalam pemanfaatan keanekaragaman hayati. k. Melakukan pengembangan manajemen sistem informasi dan pengelolaan database keanekaragaman hayati skala Kabupaten. l. Mengevaluasi hasil kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. m. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sub bagian konservasi dan keragaman hayati dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. n. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 14. Bidang Kebersihan Bidang Kebersihan dipimpin oleh seorang Kepala Bidang, mempunyai tugas pokok menyusun kebijakan teknis, pembinaan, pengawasan dan pengembangan kegiatan perencanaan teknis pengadaan, pelaksanaan pembangunan serta peningkatan kebersihan. Dalam menyelenggarakan pelaksanaan tugas pokok kepala bidang kebersihan mempunyai fungsi: a. Pembinaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan perencanaan teknis pembangunan, peningkatan sarana dan prasarana kebersihan lingkungan. b. Pelaksanaan kebijakan pengelolaan kebersihan dan persampahan berdasarkan norma, standar, prosedur dan kriteria yang ditetapkan oleh Pemerintah. c. Pelaksanaan evaluasi, pengawasan dan pengendalian terhadap seluruh tahapan pelaksanaan kebersihan dan pengembangan persampahan. d. Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai bidang tugasnya. Uraian tugas Kepala Bidang Kebersihan sebagai berikut : a. Merencanakan operasional kegiatan bidang kebersihan sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Menyelenggarakan dan pembiayaan pembangunan dan pemeliharaan sarana dan prasaran kebersihan lingkungan di daerah. c. Memberi petunjuk pelaksanaan tugas dan kegiatan bawahan sesuai prosedur dan peraturan agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 54

55 d. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. e. Mengkoordinir penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) setiap kegiatan yang telah disusun oleh Kepala Sub Bidang. f. Menyusun bahan kebijaksanaan teknis di bidang pengelolaan kebersihan. g. Melakukan pembinaan, evaluasi dan pengawasan terhadap penyelenggaraan pengelolaan kebersihan sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku. h. Melaksanakan pembinaan kepada masyarakat dan dunia usaha untuk meningkatkan peran serta dalam penyelenggaraan kebersihan di wilayah Kabupaten. i. Melakukan perencanaan kebutuhan prasarana dan sarana kebersihan skala Kabupaten. j. Melakukan koordinasi dengan satuan kerja/istansi terkait dan pemerhati lingkungan dalam rangka penyelengaraan kebersihan. k. Menginventarisasi permasalahan-permasalahan dan menyiapkan data/bahan pemecahan masalah sesuai bidang tugasnya. l. Mengevaluasi pelaksanaan tugas dan kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. m. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas bidang kebersihan dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. n. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 15. Sub. Bidang Pemeliharaan Kebersihan Sub. Bidang Pemeliharaan Kebersihan dipimpin oleh Kepala Sub.Bidang, mempunyai tugas pokok merencanakan, melaksanakan pembinaan, koordinasi, pengawasan dan pengendalian kegiatan penanganan pengumpulan pengangkutan sampah. Uraian tugas kepala Sub. Bidang Pemeliharaan Kebersihan sebagai berikut: a. Merencanakan kegiatan sub bidang pemeliharaan kebersihan sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 55

56 d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman pada pelaksanaan kegiatan. g. Melaksanakan perencanaan kegiatan meliputi pengumpulan data bahan lokasi, tenaga pengumpul sampah dan penempatan di lokasi lokasi pengumpulan, pengangkutan, pembuangan serta pengelolaan retribusi sampah. h. Melaksanakan kegiatan pengangkutan sampah dan tinja serta melaksanakan pembersihan, penyapuan sesuai rencana. i. Menyusun program pelaksanaan pembersihan jalan lingkungan. j. Melakukan penyuluhan kepada masyarakat tentang kebersihan dan pengelolaan persampahan. k. Menginventarisir lokasi pewadahan sampah, baik yang diusahakan oleh Pemerintah maupun pengusaha dan masyarakat. l. Mengawasi pelaksanaan pembersihan sampah pada jalan-jalan umum terkhusus penyapuan jalan dan trotoar, kompleks pertokoan, perumahan kantor Pemerintah/swasta serta tempat-tempat umum lainnya dan mengarahkan pengangkutan sampah, penataan TPS dan TPA. m. Memantau dan mengawasi pelaksanaan pengangkutan sampah dan tinja ke TPA/IPLT sesuai rute yang telah ditetapkan. n. Melakukan koordinasi dengan satuan kerja terkait untuk kelancaran pelaksanaan tugas. o. Menyiapkan data dan bahan pelaporan secara berkala mengenai pelaksanaan kegiatan pemeliharaan kebersihan. p. Melaksakan rute dan jadwal mengangkut sampah langganan, sampah umum dan sampah galian. q. Mengevaluasi hasil kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. r. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sub bagian pemeliharaan kebersihan dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. s. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 56

57 16. Sub.Bidang Pengelolaan dan Pemanfaatan Limbah/Sampah Penyusunan Master Plan Sub.Bidang pengelolaan dan pemanfaatan limbah/sampah dipimpin oleh Kepala Sub.Bidang, mempunyai tugas pokok merencanakan, melaksanakan pembinaan dan koordinasi serta pengawasan dan pengendalian kegiatan pemanfaatan limbah/sampah. Uraian tugas kepala sub.bidang pengelolaan dan pemanfaatan limbah/sampah sebagai berikut: a. Merencanakan perumusan petunjuk teknis tempat tempat pembuangan sementara dan tempat pemprosesan akhir sampah dalam hal pengelolaan dan pemanfaatan limbah/sampah. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman pada pelaksanaan kegiatan. g. Melaksanakan pembinaan kepada masyarakat dan dunia usaha untuk peningkatan peran serta dalam penyelengaraan pemanfaatan dan pengelolaan limbah/sampah. h. Melaksanakan kerjasama dengan instansi atau unit kerja terkait untuk penanggulangan limbah rumah tangga dan limbah industri dan penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya maupun mamfaat limbah/sampah. i. Memantau pelaksanakan daur ulang, pengkomposan sampah/limbah yang dimanfaatkan untuk pupuk dan produksi lainnya. j. Mengevaluasi hasil kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. k. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sub bidang pengelolaan dan pemamfaatan limbah/sampah dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 57

58 l. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 17. Sub. Bidang Pengadaan dan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Sub. Bidang Pengadaan dan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana dipimpin oleh Kepala Sub. Bidang yang mempunyai tugas pokok merencanakan, melaksanakan pembinaan dan koordinasi serta pengawasan dan pengendalian kegiatan pengadaan, perawatan dan operasional sarana dan prasarana kebersihan lingkungan. Uraian tugas Kepala Sub Bidang Pengadaan dan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana sebagai berikut: a. Merencanakan perumusan petunjuk teknis pengadaan operasinalisasi sarana dan prasarana kebersihan lingkungan. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman pada pelaksanaan kegiatan. g. Menginventarisir, menyusun rencana kebutuhan sarana dan prasarana kebersihan, laboratorium dan sarana pemakaman. h. Melaksanakan pengadaan bahan/mesin dan alat perlengkapan atau sarana penunjang seperti: sparepart, pakaian kerja, protector dan bahan dan alat laboratorium. i. Melakukan koordinasi dengan satuan kerja atau unit terkait untuk kelancaran pelaksanaan tugas. j. Menyiapkan data dan bahan laporan secara berkala mengenai pelaksanaan kegiatan pengadaaan sarana dan prasarana. k. Menginventarisasi permasalahan-permasalahan dan menyiapkan data/bahan pemecahan masalah sesuai dengan bidang tugasnya. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 58

59 l. Mengevaluasi hasil kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. m. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sub bidang pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. n. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 18. Bidang Pertamanan dan Pemakaman Bidang Pertamanan dan Pemakaman dipimpin oleh Kepala Bidang, mempunyai tugas pokok merencanaan melaksanakan pembinaan dan koordinasi serta pengawasan dan pengendalian pertamanan dan pemakaman. Kepala Bidang Pertamanan dan Pemakaman mempunyai fungsi: a. Pembinaan, pengawasan dan pengendalian kegiatan perencaaan teknis dan administrasi pembangunan, peningkatan sarana dan prasarana pertamanan dan pemakaman. b. Perecanaan dan pendanaan wilayah yang akan dikembangkan menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH). c. Pembinaan kepada masyarakat dan dunia usaha untuk meningkatkan peran serta dalam penyelenggaraan pertamanan. d. Pelaksanaan pengadaan, pemeliharaan operasinal sarana dan prasarana pertamanan dan pemakaman. e. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi serta pelaporan kegiatan pertamanan dan pemakaman. f. Pelaksanaan tugas kedinasan lain sesuai bidang tugasnya. Uraian tugas Kepala Bidang Pertamanan dan Pemakaman sebagai berikut : a. Merencanakan operasional kegiatan Bidang Pertamanan dan Pemakaman sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas tugas kepada bawahan sesuai tugas pokok masing masing sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Memberi petunjuk pelaksanaan tugas dan kegiatan bawahan sesuai prosedur dan peraturan agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. d. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 59

60 e. Mengkoordinir penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) setiap kegiatan yang telah disusun oleh Kepala Sub Bidang. f. Melaksanakan pembangunan, pengawasan dan pemeliharaan taman, median jalan dan pemakaman. g. Menyusun rencana kebijakan dibidang pertamanan meliputi pengembangan Ruang Terbuka Hijau dan penataan taman. h. Menyusun rencana kebijakan dibidang pemakaman meliputi pengembangan makam, penataan makam. i. Melaksanakan pembinaan teknis peningkatan kualitas penataan taman, dan makam. j. Melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait. k. Melaksanakan monitoring kegiatan Bidang Pertamanan, dan pemakaman. l. Mengevaluasi pelaksanaan tugas dan kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. m. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas bidang pertamanan dan Pemakaman dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. n. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 19. Sub. Bidang Pemeliharaan Tanaman dan Penataan Tanam Sub. Bidang Pemeliharaan Tanaman dan Penataan Tanam dipimpin oleh Kepala Sub. Bidang, mempunyai tugas pokok merencanakan, melaksanakan pembinaan dan kooridasi serta pengawasan dan pengendalian dalam hal pemeliharaan tanaman dan penataan taman. Uraian Tugas Kepala Sub.Bidang Pemeliharaan Tanaman dan Penataan Taman sebagai berikut: a. Merencanakan kegiatan sub bidang pemeliharaan tanaman dan penataan tanam sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 60

61 e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman pada pelaksanaan kegiatan. g. Melaksanakan pemeliharaan, inventarisasi dan rehabilitasi taman. h. Menyiapkan bibit tanaman (tanaman hias dan tanaman penghijauann lainnya) yang diperlukan. i. Melaksanakan penanaman pada lokasi-lokasi yang telah direncanakan atau ditetapkan. j. Melakukan penataan, penyiraman serta pemangkasan dahan rumput untuk tetap menjaga kelestarian dan keasrian lingkungan. k. Melakukan koordinasi dengan satuan kerja atau unit terkait untuk kelancaran pelaksanaan tugas. l. Menyiapkan data dan bahan laporan pelaksanaan kegiatan pemeliharaan tanaman. m. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. n. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 20. Sub. Bidang Pengembangan Ruang Terbuka Hijau Sub. Bidang Pengembangan Ruang Terbuka Hijau dipimpin oleh Kepala Sub. Bidang, mempunyai tugas pokok merencanakan melaksanakan pembinaan, koordinasi serta pengawasan pengembangan ruang terbuka hijau. Uraian tugas Kepala Sub.Bidang Pengembangan Ruang Terbuka Hijau sebagai berikut: a. Merencanakan kegiatan Sub Bidang Pengembangan ruang terbuka hijau tanam sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman pada pelaksanaan kegiatan. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 61

62 g. Melaksanakan perencanaan dan pendataan wilayah yang akan dikembangkan menjadi Ruang Terbuka Hijau. h. Menyusun dan melaksanakan desain jalur hijau dan ruang terbuka hijau lainnya. i. Melaksanakan survey pembangunan dan pemeliharaan jalur hijau dan ruang terbuka hijau lainnya. j. Melaksanakan pengawasan pada setiap kegiatan pengembangan ruang terbuka hijau. k. Menginventarisir jumlah dan jenis tanaman yang diperlukan pada lokasi ruang terbuka hijau yang telah ditetapkan. l. Melaksanakan penanaman pada lokasi yang telah ditetapkan. m. Melakukan koordinasi dengan satuan kerja dan unit kerja terkait untuk kelancaran pelaksanaan tugas. n. Mengevaluasi hasil kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. o. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. p. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 21. Sub.Bidang Pelayanan Pemakaman dan Penataan Makam Sub. Bidang Pelayanan Pemakaman dan Penataan Makam dipimpin oleh Kepala Sub.Bidang, mempunyai tugas pokok merencanakan melaksanakan pembinaan dan koordinasi serta pengawasan dan pengendalian pelayanan makam dan penataan makam. Uraian tugas Kepala Sub. Bidang Pelayanan Pemakaman dan Penataan Makam sebagai berikut: a. Merencanakan kegiatan sub bidang pelayanan pemakaman dan penataan makam sebagai pedoman dalam pelaksanaan tugas. b. Membagi tugas kepada bawahan sesuai uraian tugas dan tanggung jawab sehingga pelaksanaan tugas berjalan lancar. c. Membimbing bawahan dalam rangka pelaksanaan tugas sesuai permasalahan yang timbul untuk mencapai profesionalisme. d. Memeriksa hasil pelaksanaan tugas bawahan sesuai peraturan dan prosedur yang berlaku agar diperoleh hasil kerja yang benar dan akurat. e. Menilai bawahan sesuai pelaksanaan pekerjaan agar tercapai tingkat kinerja yang diharapkan. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 62

63 f. Menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku sebagai pedoman pada pelaksanaan kegiatan. g. Melaksanakan pengumpulan, pengolahan, penganalisasian data tempat pemakaman umum milik Pemerintah. h. Melaksanakan rehabilitasi, pembangunan, penataan atau pengembangan dan pemeliharaan makam. i. Melakukan pelayanan penguburan, pelayanan mobil jenasah, pelayanan mayat/jenazah terlantar, registrasi dan pencatatan pengaturan, pemamfaatan pemakaman. j. Mengkoordinasikan tugas kegiatan survey dan menyiapkan data dalam rangka pengembangan penataan makam. k. Mengawasi pelaksanaan penataan makam meliputi, penanaman pohon-pohon, tanaman hias dan lampu-lampu disekitar makam dan pembersihan dan pemeliharaan makam. l. Mengevaluasi hasil kegiatan bawahan untuk mengetahui tugas tugas yang telah dan belum dilaksanakan serta memberikan penilaian prestasi kerja. m. Menyusun laporan hasil pelaksanaan tugas sub bagian pelayanan pemakaman dan penataan makam dan memberikan saran pertimbangan kepada atasan sebagai bahan perumusan kebijakan. n. Melaksanakan tugas kedinasan lain yang diperintahkan oleh atasan sesuai bidang tugasnya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas. 22. Kelompok Jabatan Fungsional Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melaksanakan tugas Pemerintahan daerah, sesuai bidang fungsi masing-masing berdasarkan dengan keahlian dan kebutuhan. Gambar 4.1 STRUKTUR ORGANISASI BADAN LINGKUNGAN HIDUP, KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KAB.MAROS (Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Maros No. 12 /2012) BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 63

64 KEPALA BADAN A. DAVIED SYAMSUDDIN, S.STP, M.Si KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL SEKRETARIS MUH. HATTA, S.Sos SUB BAGIAN PROGRAM HJ. ASMAWATY, S.Sos, MM SUB BAGIAN KEPEGAWAIAN DAN UMUM RAMLAH Z, S.Sos, M.Si SUB BAGIAN KEUANGAN A B B A S BIDANG PENAATAN DAN PENGAWASAN LINGKUNGAN HJ. NAJATI, S.Sos BIDANG PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN Ir. SYAMSUL RIJAL BIDANG KEBERSIHAN RAMLAH Z, Drs. A. ZAINUDDIN BM. BIDANG PERTAMANAN DAN PEMAKAMAN H. MUH. SUBHANG, SP.MM. SUB BIDANG PENAATAN LINGKUNGAN A. FARIDA NOER, ST. SUB BIDANG ANALISIS DAMPAK LINGKUNGAN Drs. M. THAMRIN SUB BIDANG PEMELIHARAAN KEBERSIHAN H. FAHRUL ISLAM, S.Sos SUB BIDANG PEMELIHARAAN TANAMAN DAN PENATAAN TAMAN MULYADI ALI, S.Sos SUB BIDANG PENGELOLAAN PENCEMARAN AIR, UDARA DAN TANAH L O L O, SE. SUB BIDANG BAKU MUTU LINGKUNGAN DAN STATUS LINGKUNGAN Dra. YUDITH DUAPADANG SUB BIDANG PENGELOLAAN DAN PEMANFAATAN LIMBAH/SAMPAH H. ARIFUDDIN, S.Sos SUB BIDANG PENGEMBANGAN RUANG TERBUKA HIJAU Drs. USMAN SUB BIDANG PENGELOLAAN PENCEMARAN KEBISINGAN GANGGUAN DAN PENEGAKAN HUKUM HUSAIN HAJI SOMMENG, ST. SUB BIDANG KONSERVASI DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI ANDI NURAMNAH. ST. SUB BIDANG PENGADAAN DAN PEMELIHARAAN SARANA DAN PRASARANA DARMIATI A. MUHAMMAD, S.Sos SUB BIDANG PELAYANAN PEMAKAMAN DAN PENATAAN MAKAM Drs. AHMAD UPT LABORATORIUM BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 64 KTU UPT LABORATORIUM FATIMA. P, ST. UPT BONTORAMBA AGUS ROSWANDI, S.Sos.,M.Si KTU UPT BONTORAMBA HAIRUDDIN, S.Sos

65 4.2.2 Personalia Penyusunan Master Plan Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan (BLHKP) didukung oleh 98 orang Komposisi kepegawaian BLHKP dapat diihat pada tabel 4.1. di bawah. Untuk mendukung pelaksasanaan tugas pokok dan fungsi di BLHKP terdapat Tenaga Petugas Kebersihan yang bekerja di lapangan, baik yang berada di Bidang Kebersihan, UPTD TPA dan Pemakaman, dengan jumlah keseluruhan sebanyak 230 orang. Komposisi tenaga petugas kebersihan dan pemakaman dilihat pada tabel 4.1. di bawah. A B C D Tabel 4.1.Komposisi Kepegawaian Badan Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertamanan Kab. Maros Berdasarkan Tingkat Pendidikan Jumlah Pasca Sarjana/S2 7 orang Sarjana/S1 31 orang Sarjana Muda/D3 1 orang SMU/SLTA 32 orang SLTP 8 orang SD 19 orang Berdasarkan Golongan Golongan IV Golongan III Golongan II Golongan I Berdasarkan Jabatan Struktural Eselon II B Eselon III A Eselon III B Eselon IV A Eselon IV B Berdasarkan Pendidikan/Penjenjangan Diklat Pim TK II/Setara Diklat Pim TK III/Setara Diklat Pim TK IV/Setara 6 orang 30 orang 35 orang 27 orang 1 orang 1 orang 4 orang 13 orang 2 orang 5 orang 3 orang - orang Sumber: Rencana Strategis Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Maros BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 65

66 Tabel 4.2. Jumlah Petugas kebersihan Pertamanan dan Pemakaman BLHKP Menurut Pembagian Tugas No Pembagian Tugas Jumlah 1 Pengemudi truk sampah Pengemudi Tangki Penyiram Operator alat berat Kernet truk sampah Kernet Tangki Penyiram Penyapu Jalan Petugas Drainase Petugas TPST Pengemudi mobil jenazah Kernet mobil jenazah Buruh Pengangkut Sampah Petugas Taman Petugas makam Petugas Pasar Operator Mesin Rumput Jumlah 15 Orang 2 Orang 2 Orang 48 Orang 2 Orang 45 Orang 30 Orang 4 Orang 2 Orang 2 Orang 35 Orang 10 Orang 3 Orang 20 Orang 10 Orang 230 Orang Sumber: Rencana Strategis Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Kab.Maros Kondisi Eksisting Permasalahan Persampahan Produksi Sampah Besaran timbulan sampah di menggunakan asumsi timbulan sampah untuk kota kecil sebesar 2,5 Liter per Orang per hari. Sehingga didapatkan potensi timbulan sampah untuk masingmasing Kecamatan di Maros adalah sebagai berikut : BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 66

67 Tabel 4.3. Potensi Timbulan Sampah di Penyusunan Master Plan No Kecamatan Jumlah Penduduk Timbulan Sampah * (Jiwa) ( m³/hari ) 1 Mandai 36, Moncongloe 17, Maros Baru 24, Marusu 25, Turikale 42, LAU 24, Bontoa 27, Bantimurung 28, Simbang 22, Tanralili 25, Tompobulu 14, Camba 12, Cenrana 13, Mallawa 10, TOTAL 327, *Asumsi timbulan sampah 2,5 L/orang/hari Kondisi Persampahan Daerah pelayanan persampahan di baru sebatas sekitar Kota Maros, sumber sampah berasal dari jalan protokol, pemukiman, pusat-pusat perdagangan, pertokoan, daerah komersil, perkantoran di sekitar instansi Pemerintahan. Sampah yang terkumpul ini meliputi sampah yang berasal dari daerahdaerah yang dapat dijangkau oleh motor dan truk pengangkut sampah, belum mencapai semua wilayah desa. Berdasarkan hasil survey lapangan, tidak semua wilayah bisa dilayani dengan sistem komunal sehingga mereka untuk mengelola sampahnya secara individual dengan cara penimbunan dan pembakaran. Hal tersebut dimungkinkan karena rata-rata rumah tangga memiliki persil lahan yang cukup luas terutama di bagian belakang rumah. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 67

68 Tabel 4.4. Wilayah Pelayanan Kebersihan di Tahun 2013 No Kecamatan Desa/Kelurahan 1 Mandai 2 Maros Baru 3 Marusu 4 Turikale 5 Lau 6 Bantimurung Sumber: BLHKP Kab. Maros Hasanuddin Baju Bodoa Marumpa Taroada Adatongeng Pettuadae Boribellaya Raya Turikale Alliritenggae Allepolea Maccini Baji Kalabirang Jika dilihat dari daerah pelayanan persampahan di saat ini maka dapat disimpulkan tingkat pelayanan persampahan di masih rendah (< 50%). BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 68

69 Gambar 4.2 Peta Pelayanan Persampahan di Tahun 2013 BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 69

70 4.3.3 Penyapuan Jalan Penyusunan Master Plan Merupakan hal penting memperhatikan praktek operasi penyapuan jalan di suatu kota, mengingat penyapuan jalan sangat menentukan pemandangan kota tersebut secara umum. Penyapuan jalan sangat diperlukan terutama di jalur utama dan di pusat kota serta di daerah komersil. Saat ini operasi penyapuan jalan di secara intensif baru wilayah Jalan Poros Kota Kabupaten dan disekitar Jalan Protokol Protokol didalam Wilayah Ibukota Kabupaten. Operasi penyapuan dilakukan secara manual dengan jumlah total petugas penyapu jalan 45 orang. Sampah hasil sapuan dibawa disimpan pada Bak Sampah dan gerobak dibawa ke lokasi TPS terdekat, selanjutnya diangkut ke TPA. Melihat dari jam kerja (4 jam per hari) dan jumlah tenaga kerja (45 orang) yang dikerahkan untuk menyapu dijalur tersebut, terukur sudah cukup baik walau belum bisa di katakan optimal. Selain memperhatikan operasi penyapuan yang benar, keselamatan kerja dan kesehatan petugas juga perlu diperhatikan. Sebaiknya petugas diberi perlengkapan yang memadai untuk kemudahan pekerjaannya seperti alat bantu untuk memudahkan pekerjaannya. Petugas penyapu sebaiknya menggunakan masker pada saat bekerja untuk menyaring debu agar tidak mengganggu kesehatannya. Pada musim hujan sebaiknya petugas diberi jas hujan, demi kesehatan dan kelancaran tugasnya. Sampah sapuan jalan yang umumnya organik ini harus dipilah antara sampah kering dengan sampah basah. Sampah basahnya dapat langsung dikumpulkan untuk diangkut ke tempat pengomposan, sedangkan sampah keringnya diangkut ke TPA. Pola operasi pengumpulan yang dilakukan saat ini sudah tepat, yaitu sampah di kumpulkan dengan bak sampah/gerobak ke TPS terdekat. Namun untuk mempercepat operasi, sehingga dapat meningkatkan kapasitas, penggantian kendaraan pengumpul yang semula bak sampah/gerobak, menjadi kendaraan kecil seperti motor sampah. Pola operasi seperti ini baik untuk terus dilaksanakan, namun tujuan lokasinya adalah lokasi pengomposan terdekat. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 70

71 Gambar 4.3 Peta Penyapuan di Tahun 2013 BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 71

72 4.3.4 Pengangkutan Transportasi hasil pengumpulan sampah ke TPS dan TPA dilakukan dengan menggunakan berbagai kendaraan termasuk motor sampah, truk biasa, dump truk, dan armroll truk dengan container terpisah. Sistem pengangkutan sampah di Kabupaten Depok dilaksanakan dengan pemindahan langsung dari TPS TPS sampah yang ada, kontainer atau lokasi tertentu yang belum ada TPS atau langsung dari rumah ke rumah atau dari toko/bangunan ke toko/bangunan dengan dump truk yang selanjutnya dibuang atau dibawa ke TPA sampah. Jenis kendaraan yang digunakan adalah Dump truck sebanyak 8 (delapan) unit, Motor Tiga Roda sebanyak 18 unit dan Kontainer Sampah Tertutup 5 unit dilengkapi dengan Arm roll sebanyak 8 (delapan) unit dengan kondisi layak operasional. Prasarana dan sarana yang ada untuk mengangkut Sampah yang telah dimiliki oleh Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan dengan serta jumlah ritasi setiap kendaraan adalah sebagai berikut : 1. Diangkut dengan dump truk a. Volume dump truk = 5 M³ b. Volume efektif = 6 M³ c. Jumlah dump truk = 8 unit d. Ritasi dump truk = 2-3 rit/hari/unit 2. Diangkut dengan Arm Roll a. Volume container = 5 M³ b. Volume efektif = 6 M³ c. Jumlah kontainer = 25 unit d. Jumlah Arm Roll = 8 unit e. Ritasi Arm Roll = 2-3 rit/hari/unit BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 72

73 3. Diangkut dengan Motor Sampah a. Volume container = 1 M³ b. Volume efektif = 1 M³ c. Jumlah Motor = 25 unit d. Lokasi = Wilayah Kota Maros. e. Ritasi Motor Sampah = 1-2 rit/hari/unit BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 73

74 Gambar 4.4 Peta Jalur Pelayanan Persampahan di Tahun 2013 BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 74

75 4.3.5 Pewadahan Rumah Tangga : untuk pewadahan rumah tangga biasanya menggunakan bin / bak sampah, lubang di pagar, pojokan jalan atau didalam kantong kantong plastik yang diikat dan TPS. Dalam hal ini sampah pada umumnya tidak terpilah, baik antara organik dan an organik bahkan dengan sampah beracun seperti battery misalnya. Pasar; pewadahan di pasar pada umumnya tidak teratur terutama yang berada diluar lokasi. Selain itu kebanyakan kios / los di pasar menggunakan keranjang yang langsung diangkut oleh petugas menuju TPS pasar. Komersial : Sedangkan dari daerah komersial untuk pewadahan biasanya menggunakan bin/bak sampah besar atau TPS. Industri : Sampah industri dalam hal ini adalah sampah domestiknya yaitu sisa kegiatan karyawan. Umumnya pewadahannya menggunakan bin/bak sampah besar yang kemudian dibawa ke TPS. Sedangkan sampah sisa produksi umumnya langsung ditampung oleh pihak yang akan menggunakan Jalan, sungai dan taman; umumnya untuk sampah ini memerlukan penanganan khusus misalnya penyapuan untuk jalan dan taman serta pengerukan sungai. Dibeberapa tempat sudah disediakan bin bin yang terpisah untuk sampah organik (basah/membusuk) dan an organik (kering/tidak membusuk). Sampah sampah semacam ini sebetulnya merupakan beban tersendiri bagi pembiayaan persampahan karena tidak tercover dalam retribusi. Rumah Sakit : Sampah Rumah Sakit, Puskesmas dan Institusi Kesehatan lainnya terdiri dari sampah domestik dan non domestik berupa sampah medis. Sampah medis umumnya termasuk sampah berbahaya, dapat bersifat infeksius atau benda tajam seperti jarum suntik dan pisau bedah serta racun misalnya obat obatan kadaluwarsa. Sampah domestik biasanya ditempatkan di bin yang tertutup, sedangkan sampah medis diperlakukan seperti yang ada pada peraturan. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 75

76 4.3.6 Karakteristik Sampah Penyusunan Master Plan Secara umum sampah per Kabupatenan memiliki karakteristik sebagai berikut : Berdasarkan sifat kimiawinya Berdasarkan sifat kimia unsur pembentuknya, terdapat 2 (dua) katagori sampah yakni : 1. Sampah Organik, yaitu sampah yang mengandung senyawa organik atau tersusun atas unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen dan nitrogen. Sampah organik memiliki sifat mudah membusuk misalnya daun-daunan, sayuran, buah-buahan serta sisa makanan. 2. Sampah Anorganik, yaitu sampah yang mengandung senyawa bukan organik sehingga tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme. Sampah anorganik sifatnya sulit membusuk dan sukar terbiodegrasi seperti plastik, kaca, besi sebagian jenis kertas dan lain-lain. Berdasarkan Sifat Fisiknya Berdasarkan keadaan fisiknya, sampah dapat diklasifikasikan dalam beberapa jenis, yakni : 1. Sampah Garbage, yaitu sampah yang terdiri atas bahan organik dan mempunyai sifat mudah membusuk dan terbiodegradasi. Sifat utamanya banyak mengandung air dan cepat terurai dan menimbulkan bau akibat proses fermentasi. Umumnya terdiri atas sisa makanan, buah-buahan, dan sayuran serta ikan. 2. Sampah Kering, yaitu sampah yang tersusun dari bahan organik dan anorganik yang memiliki sifat lambat atau tidak membusuk, Biasanya selain sampah makanan limbah jenis ini ada yang mudah terbakar misalnya kertas, karton, plastik, kain/tektil, kayu dan lain-lain. Ada yang sulit terbakar misalnya gelas/kaca, kaleng dan logam lainnya. Seperti Kabupaten- Kabupaten lain di Indonesia dan daerah tropis lainnya, sampah di akibat aktifitas penduduk termasuk dalam katagori sampah organik yang cenderung mudah membusuk. Meskipun kandungan organik dari sampah tinggi, keadaannya/bentuknya tidak cukup ekonomis untuk dipisahkan guna pengomposan. Kebanyakan sisa plastik yang ada di aliran sampah tidak dalam bentuk yang normal untuk di daur ulang di Indonesia. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 76

77 4.4. Tempat Pemprosesan Akhir Sampah ( TPA ) Penyusunan Master Plan Pemprosesan Akhir Sampah (TPA) terletak di Kecamatan Mandai. Dusun Bontoramba mulai dibangun tahun 1992 dan dioperasionalkan tahun 1993 dengan system open dumping pada areal ±4 ha termasuk sarana dan prasarananya. Pengelolaan TPA dilaksanakan UPTD dibawah jalur koordinasi dengan Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan. Spesifikasi TPA sampah saat ini : 1. Letak lokasi = Dusun Bontoramba, Desa Bonto Mate ne, Kec. Mandai 2. Luas areal = ± 4 ha 3. Jarak terhadap pemukiman = 1 km 4. Jarak terhadap pusat Kabupaten = ±15 km Masyarakat yang belum mendapatkan pelayanan persampahan, hingga saat ini masih membuang sampah dengan cara : 1. Ke sungai 2. Ke jalan dan tanah kosong 3. Ditimbun dalam tanah 4. Dibakar dan lain-lain BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 77

78 Gambar 4.5 Peta Lokasi Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Bontoramba di BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 78

79 4.5. Pembiayaan Sumber utama pembiayaan pengelolaan kebersihan/persampahan Kabupaten Maros adalah APBD. Anggaran pengelolaan kebersihan Kabupaten Maros dua tahun berturut turut adalah sebagai berikut : Anggaran pengelolaan kebersihan tahun 2012 sebesar Rp dengan rincian terdiri dari : 1. Biaya Operasional & Pemeliharaan Sarana & Prasarana : Rp ,- 2. Biaya Operasional Pemeliharaan Kebersihan : Rp ,- Anggaran pengelolaan kebersihan tahun 2013 sebesar Rp dengan rincian terdiri dari : 1. Biaya Operasional & Pemeliharaan Sarana & Prasarana : Rp ,- 2. Biaya Operasional Pemeliharaan Kebersihan : Rp ,- Selain dari APBD pengelolaan persampahan dan kebersihan di telah diatur dalam Peraturan Daerah nomor 17 tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum. Besarnya Tarif Retribusi Pelayanan Persampah/Kebersihan berdasarkan Peraturan Daerah sebagai berikut : A. Bangunan Rumah Tangga Rp /bulan B. Perdagangan 1. Kios Rp ,-/bulan 2. Ruko Rp ,-/bulan 3. Pedagang Kaki Lima Rp ,-/bulan C. Rumah Makan/Warung 1. Restoran Rp ,-/bulan 2. Rumah Makan Rp ,-/bulan 3. Warung Rp ,-/bulan D. Hotel/Penginapan/Losmen 1. Penginapan / Losmen Rp ,-/bulan 2. Hotel Melati Rp ,-/bulan 3. Hotel Berbintang Rp ,-/bulan E. Tempat Pelayanan Medis 1. Rumah Sakit Umum Rp ,-/bulan 2. Puskesmas Rp ,-/bulan 3. Rumah Bersalin Rp ,-/bulan BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 79

80 4. Tempat Praktek Dokter Rp ,-/bulan F. Perusahaan/Pabrik 1. Industri Kecil Rp ,-/bulan 2. Industri Besar Rp ,-/bulan G. Kantor Rp ,-/bulan H. Kendaraan buang sampah langsung ke TPA 1. Mobil Besar ( 6 roda ) Rp ,-/1 x buang 2. Mobil Kecil ( Kijang ) Rp ,-/1 X buang I. Penyelenggaraan kegiatan sampah langsung ke TPA 1. Hajatan Rp ,-/kegiatan 2. Pertunjukkan Rp ,-/kegiatan 3. Pameran Rp ,-/hari Penyusunan Master Plan BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 80

81 5.1. Pengertian Tempat Pemprosesan Akhir Sampah (TPA) Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah mencapai tahap terakhir dalam pengelolaan sejak mulai timbul di sumber, pengumpulan, pemindahan/pengangkutan, pengolahan dan pembuangan. TPA merupakan tempat dimana sampah diisolasi secara aman agar tidak menimbulkan gangguan terhadap lingkungan sekitarnya. Karenanya diperlukan penyediaan fasilitas dan perlakuan yang benar agar keamanan tersebut dapat dicapai dengan baik. Selama ini masih banyak persepsi keliru tentang TPA yang sering dianggap hanya sebagai tempat pembuangan sampah. Hal ini menyebabkan banyak pemerintah daerah merasa sayang untuk mengalokasikan pendanaan bagi penyediaan fasilitas di TPA yang dirasakan kurang diprioritaskan dibandingkan dengan penggunaan sektor lainnya. Di TPA, sampah masih mengalami proses penguraian secara alamiah dengan jangka waktu panjang. Beberapa jenis sampah dapat terurai secara cepat, sedang yang lainnya lebih lambat; bahkan beberapa jenis sampah tidak berubah sampai puluhan tahun; misalnya pastik. Hal ini memberikan gambaran bahwa setelah TPA selesai digunakanpun masih ada proses yang berlangsung dan menghasilkan beberapa zat yang dapat mengganggu lingkungan. Karenanya masih diperlukan pengawasan terhadap TPA yang telah ditutup. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 81

82 5.2. Metode Pembuangan Sampah Pembuangan sampah mengenal beberapa metode dalam pelaksanaannya yaitu : Open Dumping Open Dumping atau pembuangan terbuka merupakan cara pembuangan sederhana dimana sampah hanya dihamparkan pada suatu lokasi dan dibiarkan terbuka tanpa pengaman lalu ditinggalkan setelah lokasi tersebut penuh. Masih ada Pemda yang menerapkan sistem seperti ini karena alasan keterbatasan sumber daya (manusia, dana, dll) Cara ini tidak direkomendasikan lagi mengingat banyaknya potensi pencemaran ligkungan yang ditimbulkannya seperti : 1. Perkembangan vektr penyakit seperti lalat, tikus, dll 2. Polusi udara oleh bau dan gas yang dihasilkan. 3. Polusi air akibat lindi (cairan sampah) yang timbul. 4. Estetika lingkungan yang buruk karena pemandangan yang kotor Controll Landfill Metode ini merupakan peningkatan dari open dumping dimana secara periodik sampah yang telah tertimbun ditutup dengan lapisan tanah untuk mengurangi potensi gangguan lingkungan yang ditimbulkan. Dalam operasionalnya juga dilakukan perataan dan pemadatan sampah untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan lahan dan kestabilan permukaan TPA. Di Indonesia, metode control landfill dianjurkan untuk ditetapkan di kota sedang dan kota kecil. Untuk dapat melaksanakan metode ini diperlukan penyediaan beberapa fasilitas diantaranya : 1. Saluran drainase untuk mengendalikan aliran air hujan 2. Saluran pengumpul lindi dan kolam penampungan 3. Pos pengendalian operasional 4. Fasilitas pengendalian gas metan 5. Alat berat Sanitary landfill Metode ini merupakan metode standar yang dipakai secara internasional dimana penutupan sampah dilakukan setiap hari sehingga potensi gangguan yang timbul dapat BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 82

83 diminimalkan. Namun demikian diperlukan penyediaan prasarana dan sarana yang cukup mahal bagi penerapan metode ini sehingga sampai saat ini baru dianjurkan untuk kota kota besar dan metropolitan Persyaratan Lokasi TPA Mengingat besarnya potensi dalam menimbulkan gangguan terhadap lingkungan maka pemilihan lokasi TPA harus dilakukan dengan seksama dan hati-hati. Hal ini dapat ditunjukkan dengan sangat rincinya persyaratan lokasi TPA seperti tercantum dalam SNI dan UU RI No.18 Tahun 2008, tentang Tata Cara Pemilihan Lokasi Tempat Pemprosesan Akhir Sampah dan yang diantaranya dalam kriteria regional dicantumakan: 1. Bukan daerah rawan geologi (daerah patahan, daerah rawan longsor, rawan gempa, dll) 2. Bukan daerah rawan hidrogeologis yaitu daerah dengan kedalaman air tanah kurang 3. Meter, jenis tanah mudah meresapkan air, dekat dengan sumber air (dalam hal tidak terpenuhi harus dilakukan masukkan teknologi) 4. Bukan daerah rawan topografis (kemiringan lahan lebih dari 20%) 5. Bukan daerah rawan terhadap kegiatan penerbangan di bandara (jarak minimal 1,5 3 meter) 6. Bukan daerah/kawasan yang dilindungi Jenis dan Fungsi Fasilitas TPA Untuk dapat dioperasikan dengan baik maka TPA perlu dilengkapi dengan Prasarana dan sarana yang meliputi: Prasarana Jalan A. Jalan Masuk/Jalan Penghubung Jalan masuk atau jalan penghubung adalah jalan yang menghubungkan lokasi TPA dengan jaringan jalan kota (jalan utama). Prasarana dasar ini sangat menentukan keberhasilan pengoperasian TPA. Semakin baik kondisi jalan ke TPA akan semakin lancar kegiatan pengangkutan sehingga efisiensi keduanya menjadi tinggi. Konstruksi jalan TPA cukup beragam disesuaikan dengan kondisi setempat sehingga dikenel jalan TPA dengan konstruksi : Hotmix BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 83

84 Beton Aspal Perkerasan sirtu Kayu Dalam hal ini TPA perlu dilengkapi dengan : Penyusunan Master Plan Jalan masuk/akses yang menghubungkan TPA dengan jalan umum yang telah tersedia. Jalan penghubung yang menghubungkan antara satu bagian dengan bagian lain dalam wilayah TPA. Jalan operasi/kerja yang diperlukan oleh kendaraan pengangkut menuju titik pembongkaran sampah. Pada TPA dengan luas dan kapasitas pembuangan yang terbatas biasanya jalan penghubung dapat juga berfungsi sekaligus sebagai jalan kerja (operasi). Adapun kriteria jalan masuk ke lokasi TPA adalah sebagai berikut : Merupakan jalan 2 arah. Kecepatan rencana kendaraan yang melintasi maksimum 30 km/jam. Lebar perkerasan jalan minimum 8 m dan bahu jalan minimum 2 m (minimum ROW 12 m). Kemiringan melintang 2%. B. Jalan Kerja Kemiringan memanjang +1 o/oo (datar) dan elevasi jalan diatas HHWL. Konstruksi tidak permanent dengan tekanan gendar rencana maksimum 8 ton. Mengingat kondisi pondasi dasar jalan masih mengalami penurunan (settlement), disarankan memakai konstruksi paving sehingga memudahkan dalam perbaikan badan jalan. Jalan dapat dirubah menjadi permanent apabila daya dukung tanah sudah stabil. Jalan kerja merupakan jalan operasioanal yang berfungsi sebagai lintasan kendaraan angkutan truk sampah untuk dapat sedekat mungkin dengan lokasi penimbunan sampah. Kriteria jalan kerja untuk lokasi TPA adalah sebagai berikut : Merupakan jalan 2 arah dengan sistem cul de sac. Lebar badan jalan 4 m dan lebar bahu jalan minimum 1 m. Pada tempat-tempat tertentu bahu jalan diperlebar untuk dimanfaatkan sebagai lokasi penurunan sampah (tipping area). Kemiringan melintang 2% BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 84

85 Penyusunan Master Plan Kemiringan memanjang +10/00 (datar) dan elevansi jalan diatas HHWL. Kecepatan truk rencana 20 km/jam. Konstruksi tidak permanent dengan tekanan gandar rencana maksimum 8 ton. Mengingat kondisi pondasi dasar jalan yang masih mengalami penurunan (settlement), disarankan memakai konstruksi paving sehingga memudahkan dalam perbaikan badan jalan. Jalan dapat dirubah menjadi permanent apabila daya dukung tanah sudah stabil Prasarana Drainase Drainase di TPA berfungsi untuk Mengendalikan limpasan air hujan dengan tujuan untuk memperkecil aliran yang masuk ke timbunan sampah. Seperti diketahui, air hujan merupakan faktor utama terhadap debit lindi yang dihasilkan. Semakin kecil rembesan air hujan yang masuk ke timbunan sampah akan semakin kecil pula debit lindi yang dihasilkan yang pada gilirannya akan memperkecil kebutuhan unit pengolahannya. Secara teknik drainase TPA dimaksudkan untuk menahan limpasan aliran air hujan dari luar TPA agar tidak masuk ke dalam area timbunan sampah. Drainase penahan ini umumnya dibangun di sekeliling blok atau zona penimbunan. Selain itu, untuk lahan yang telah ditutup tanah, drainase TPA juga dapat berfungsi sebagai penangkap aliran limpasan air hujan yang jatuh diatas timbunan sampah tarsebut Untuk itu permukaan tanah penutup harus dijaga kemiringannya mengarah pada saluran drainase. Kriteria sistem drainase adalah sebagai berikut : A. Drainase Jalan Berada di sisi jalan sepanjang jalan penghubung yang berfungsi untuk mengalirkan limpasan air dari badan jalan dengan kriteria sebagai berikut : Merupakan saluran semi permanent atau permanent. Diberikan konstruksi penahan lonsor. Kemiringan saluran +0,5% B. Drainase Lahan TPA Saluran drainase ini berfungsi agar limpasan air permukaan, air tanah dan aliran air tanah mengalir ke dalam bangunan pengolahan leachate untuk diolah terlebih dahulu sebelum mengalir ke badan air penerima. Adapun kriteria drainase lahan adalah sebagai berikut : Merupakan saluran semi permanent atau permanent. Diberi konstruksi penahan longsor. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 85

86 Penyusunan Master Plan Dinding saluran bersifat kedap air sehingga tidak terjadi infiltrasi ke arah samping. Periode ulang hujan didesain untuk 5 tahun Fasilitas Penerimaan Fasilitas penerimaan dimaksudkan sebagai tempat penerimaan sampah yang datang, pencatatan data dan pengaturan kedatangan truk sampah. Pada umumnya fasilitas ini dibangun berupa pos pengendali di pintu masuk TPA. Pada TPA besar dimana kasitas pembuangan telah melampaui 50 ton/hari maka dianjurkan pengunaan jembatan timbangan untuk efisiensi dan ketepatan pendapatan. Sementara TPA kecil bahkan dapat memanfaatkan pos fasilitas tersebut sekaligus sebagai kantor TPA sederhana dimana kegiatan administrasi ringan dapat dijalankan Lapisan Kedap Air Lapisan kedap air berfungsi untuk mencegah rembesan air lindi yang terbentuk di dasar TPA ke dalam lapisan tanah di bawahnya. Untuk lapisan ini harus dibentuk diseluruh permukaan dalam TPA baik dasar maupun dinding. Bila tersedia ditempat, tanah lempung setebal ±50 cm merupakan alternatif yang baik sebagai lapisan kedap air. Namun bila tidak dimungkinkan, dapat diganti dengan lapisan sintetis lainnya dengan konsekuensi biaya yang relatif tinggi Lapisan Tanah Penutup berikut : Idealnya tanah untuk penutup timbunan sampah harus memenuhi syarat sebagai 1. Tanah penutup harian tebal = 15 cm padat dengan exposure time antara 0 7 hari. 2. Tanah penutup antara tebal = 30 cm padat dengan exposure time antara hari. 3. Tanah penutup akhir tebal = 50 cm dengan exposure time lebih dari 365 hari Fasilitas Penanganan Gas Gas yang terbentuk di TPA umumnya berupa gas karbon dioksida dan metan dengan komposisi hampir sama disamping gas-gas lain yang sangat sedikit jumlahnya. Kedua gas tersebut memiliki potensi besar dalam proses pemanasan global terutama gas metan, karenanya perlu dilakukan pengendalian agar gas tersebut tidak dibiarkan lepas bebas ke atmosfer. Untuk itu perlu dipasang pipa ventilasi agar gas dapat keluar dari timbunan sampah pada titik-titik tertentu. Untuk ini, perlu diperhatikan kualitas dan kondisi tanah penutup TPA. Tanah penutup yang porous atau banyak memiliki rekanan akan menyebabkan gas lebih mudah lepas ke udara bebas. Pengolahan gas BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 86

87 metan dengan cara pembakaran sederhana dapat menurunkan potensi dalam pemanasan global. Untuk pengamanan lingkungan diperlukan usaha pengendalian gas, berupa : Pengamanan selama pengoperasian berupa saluran ventilasi. Saluran ventilasi berupa pipa PVC diameter 10 cm yang diberikan banyak lubang pada dinding-dinding bukit lapisan tanah penutup. Pengamanan pasca pengoperasian (setelah mencapai bukit akhir) merupakan : 1. Lanjutan saluran ventilasi selama pengoperasian. 2. Panjang pipa tegak 2 m di atas bukit akhir. 3. Setiap pembukaan lahan dipasang 2 buah ventilasi yang dipasang di tengahtengah. 4. Antar pipa ventilasi dipasang berjarak 20 meter di atas tanah penutup antara Fasilitas Penanganan Lindi Lindi merupakan air yang terbentuk dalam timbunan sampah yang melarutkan banyak sekali senyawa yang memiliki kandungan pencemar khususnya zat organik yang sangat tinggi. Lindi sangat berpotensi menyebabkan pencemaran air baik air tanah maupun permukaan sehingga perlu ditangani dengan baik. Tahap pertama pengamanan adalah dengan membuat fasilitas pengumpul lindi yang dapat terbuat dari perpipaan berlubang-lubang, saluran pengumpul maupun pengaturan kemiringan dasar TPA, sehingga lindi secara otomatis begitu mencapai dasar TPA akan bergerak sesuai kemiringan yang mengarah pada titik pengumpulan yang disediakan. Tempat pengumpulan lindi umumnya berupa kolam penampung yang ukurannya dihitung berdasarkan debit lindi dan kemampuan unit pengolahannya. Aliran lindi ke dan dari kolam pengumpul secara gravitasi sangat menguntungkan, namun bila topografi TPA tidak memungkinkan, dapat dilakukan dengan cara pemompaan. Pengolahan lindi dapat menerapkan beberapa metode diantaranya: Penguapan/evaporasi terutama untuk daerah dengan kondisi iklim kering, sirkulasi lindi ke dalam timbunan TPA untuk menurunkan baik kuantitas maupun kualitas pencemarnya, atau pengolahan biologis seperti halnya pengolahan air limbah. Dasar perencanaan bangunan pengolahan leachate ini, seperti dikemukakan di atas adalah pertimbangan aspek ekonomi terhadap biaya investasi, operasi serta pemeliharaan selain pertimbangan terhadap ketersediaan lahan untuk pembangunan bangunan pengolahan leachate (BPL). BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 87

88 A. Unit Proses Anaerobik Penyusunan Master Plan Unit proses anaerobik berfungsi untuk menguraikan kandungan bahan pencemar organik yang masih mengandung senyawa organik karbon (BOD dan COD) yang relatif tinggi yaitu diatas 1500 mg/liter, sehingga akan mengurangi kebutuhan oksigen (O2) yang tinggi pada proses pengolahan selanjutnya, yaitu pada unit proses fakultatif. Desain teknis proses anaerobik ini umumnya berbentuk bak atau kolam penampung yang menerima influent leachate dari lahan pembuangan. Desain kolam ini berbentuk persegi panjang/kolam dengan kedalaman 3 4 meter. Dari unit ini selanjutnya leachate dialirkan ke unit pengolahan fakultatif dengan sistem pengaliran gravitasi. Kinetika pemisahan BOD dalam anaerobik pada prinsipnya sama dengan konvensional anaerobik digester. Apabila terdapat kekurangan data maka dapat digunakan metoda empiris berdasarkan pada kualitas BOD per-hari, per-unit volume : Dimana : V = Li Q / v V = Pembebanan volumetrik BOD, gr/m3/hari Li = Konsentrasi BOD influent, mg/liter Q = Aliran rata-rata influent, m3/hari V = Volume kolam, m3 B. Unit Fakultatif Unit proses fakultatif berfungsi untuk menguraikan kandungan bahan pencemaran organik yang masih mengandung senyawa organik karbon (BOD dan COD) yang cukup tinggi yaitu mg/liter sehingga memenuhi persyaratan influent untuk diolah pada unit proses maturasi. Desain teknis unit proses fakultatif ini umumnya berbentuk kolam penampungan yang menerima influent leachate dari unit proses anaerobik. Desain untuk bak ini berupa kolam penampungan yang berbentuk empat persegi panjang dengan kedalaman 1 2 meter. Dari unit ini selanjutnya leachater dialirkan ke unit proses pengolahan maturasi dengan sistem pengaliran secara gravitasi. Metoda yang akan dipakai berdasarkan pada pembebanan areal BOD (S), yaitu kunatitas BOD per-hari di dalam kolam per-unit luas permukaan. S = 10 Li Q / A Dimana : S = Areal pembebanan BOD, kg/ha/hari A = Luas kolam, m2 BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 88

89 Li = Konsentrasi BOD influent, mg/liter Q = Aliran rata-rata influent, m3/hari Penyusunan Master Plan Nilai maksimum S yang dapat dipakai untuk desain, merupakan fungsi dari temperatur yang didapat dari data hasil analisa performasi kolam fakultatif yang ada di semua tempat. Disarankan desain berdasarkan pada hubungan antara : A = Li Q / 2 (T 6) Persentase pemisahan BOD pada unit fakultatif pada umumnya antara (70 80%). Efluent BOD diatas 100 meter mg/liter menunjukan kondisi kolam bersifat aerobik. Pemisahan dan penguraian (pematangan) senyawa organik dan kandungan mikroorganisme pathogen lebih lanjut terjadi dalam unit proses maturasi. Dalam kolam fakultatif yang mengolah leachate baru, lapisan lumpur terbentuk pada dasar kolam. Kurang lebih 30% dari influent BOD dipisahkan sebagai methan dari cairan lumpur tersebut. Kolam fakultatif harus sudah dikuras apabila lumpur sudah mencapai ¼ nya, yang juga sama seperti kolam anaerobik, kecepatan akumulasi lumpur adalah 0,004 m3 dari debit yang masuk per-tahun. Kolam fakultatif yang menerima effluent dari kolam anaerobik umumnya tidak membutuhkan pengurasan. C. Unit Maturasi Unit proses maturasi berfungsi untuk menguraikan lebih sempurna (pematangan) sisa kandungan bahan pencemar organik yang mengandung senyawa organik karbon (BOD dan COD) dari effluent unit proses fakultatif, sehingga memenuhi persyaratan effluent untuk dapat di buang ke badan air penerima (BAP) yang ada sekitar lokasi TPA. Desain teknis unit proses maturasi ini umumnya berbentuk kolam penampungan yang menerima influent leachate dari proses fakultatif. Desain untuk unit ini berupa kolam penampungan berbentuk empat persegi panjang dengan kedalaman 1-2 meter, dimana panjang (p), berbanding lebar (l) adalah (2/3 : 1), dengan kemiringan tanggul pinggiran sebesar (1 : 3), tanggul dilindungi dari bahaya erosi dengan menempatkan beton precast pada level permukaan air. Beberapa prosedur desain untuk kolam masturasi, umumnya mempunyai kedalaman antara 1-2 meter. Waktu detensi dalam kolam maturasi umumnya dalam rentang 10 hari. Pada dasarnya dengan waktu detensi 5-10 hari, secara normal akan dapat memisahkan BOD dari effluent kolam fakultatif antara mg/liter menjadi dibawah 30 mg/liter. Dalam perencanaan unit proses ini, dasar kolam harus bersifat tidak meresapkan (impermeable). Pembangunan kolam di daerah yang mempunyai tanah bersifat mudah BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 89

90 menyerap air, dasar kolam harus dilapisi dengan lapisan kedap sebagai bahan pelapis (lining system) Umur TPA/Kebutuhan Lahan Sesuai dengan kriteria desain, umur lahan TPA minimal 5 tahun. Adapun ketinggian timbunan sampah direncanakan 5 meter dari permukaan badan jalan. Luas lahan yang diperlukan dapat ditentukan dengan rumus-rumus berikut : 1. Volume sampah yang akan ditimbun A = B x C Dimana : A = Jumlah sampah yang akan dibuang (kg/hari) B = Jumlah penduduk (orang) C = Timbunan sampah (kg/orang/hari) 2. Volume sampah yang telah dipadatkan D = E x A Dimana : D = volume sampah yang telah dipadatkan (m3/hari) E = Volume sampah yang akan dibuang (m3/hari) A = Faktor pemadatan (kg/m3) 3. Luas lahan yang diperlukan per-tahun Berdasarkan asumsi rata-rata ketinggian sampah yang telah dipadatkan F dan perbandingan tebal lapisan tanah penurup dan tebal sampah 1 : 4, maka luas lahan yang diperlukan setiap tahun G = D x 365 x 1,25F Dimana : G = luas lahan TPA yang diperlukan per-tahun (m2) D = Volume sampah padat (m3/hari) F = Ketinggian lapisan sampah (m). 4. Kebutuhan lahan total H = G x I x J Dimana : H = Luas total lahan (m2) I = Umur lahan (tahun) J = Ratio luas lahan total dengan luas lahan efektif (minimum 1,2) Rencana Timbunan Sesuai dengan daya dukung tanah yang ada, tinggi timbunan sampah maksimum 5 meter dari elevasi rencana jalan. Ketentuan-ketentuan lain adalah sebagai berikut : BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 90

91 1. Kemiringan lereng timbunan adalah 1:3 atau 33% atau 18,5%. 2. Kemiringan pada bidang timbunan dibuat maksimum 1%. Penyusunan Master Plan Di atas timbunan akhir setelah diberi lapisan penutup akhir ditanami vegetasi agar timbunan menjadi lebih stabil serta menahan erosi Alat Berat Alat berat yang sering digunakan di TPA umumnya berupa: bulldozer, excavator dan loader. Setiap jenis peralatan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda dalam operasionalnya. Bulldozer sangat efisien dalam operasi peratan dan pemadatan tetapi kurang dalam kemampuan penggalian. Excavator sangat efisien dalam operasi penggalian tetapi kurang dalam perataan sampah. Sementara loader sangat efisien dalam pemindahan baik tanah maupun sampah tetapi kurang dalam kemampuan pemadatan. Untuk TPA kecil disarankan dapat memiliki bulldozer atau excavator; sementara TPA yang besar umumnya memiliki ketiga jenis alat berat tersebut Penghijauan Penghijauan lahan TPA diperlukan untuk beberapa maksud diantaranya peningkatan estetika lingkungan, sebagai buffer zone untuk pencegahan bau dan lalat yang berlebihan. Untuk itu perencanaan daerah penghijauan ini perlu pertimbangan letak dan jarak kegiatan masyarakat di sekitarnya (pemukiman, jalan raya, dll) Pagar Keliling dan Green Belt Pagar keliling dapat berupa pagar duri atau pagar hidup. Pagar keliling direncanakan dipasang pada batas lahan TPA. Untuk daerah green belt, jenis tanaman harus dipilih berupa tanaman keras yang sesuai dan dapt tumbuh di daerah gambut. Tanaman ini sudah harus ditanam dan tumbuh dengan baik sebelum operasi TPA dilaksanakan Fasilitas Penunjang Beberapa fasilitas penunjang masih diperlukan untuk membantu pengoperasian TPA yang baik diantaranya : pemadam kebakaran, mesin pengasap (mist blower), kesehatan/keselamatan kerja, toilet, dll Teknik Operasional TPA Persiapan Lahan TPA Sebelum lahan TPA diisi dengan sampah maka perlu diadakan penyiapan lahan agar kegiatan pembuangan berikut dapat berjalan dengan lancar. Penutupan lapisan kedap air dengan lapisan tanah setempat yang dimaksudkan untuk mencegah BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 91

92 terjadinya kerusakan lapisan tersebut akibat operasi alat berat di atasnya. Umunya diperlukan lapisan tanah setebal 50 cm yang dipadatkan di atas lapisan kedap air tersebut. Persediaan tanah penutup perlu disiapkan di dekat lahan yang akan dioperasikan untuk membantu kelancaran penutupan sampah terutama bila operasional dilakukan secara sanitary landfill. Peletakan tanah harus memperhatikan kemamapuan operasi alat berat yang ada. Beberapa kegiatan penyiapan lahan tersebut meliputi: A. Tahap Operasi Pembuangan Kegiatan operasi pembuangan sampah secara berurutan akan meliputi : 1. Penerimaan sampah di pos pengendalian dimana sampah diperiksa, dicatat dan diberi informasi mengenai lokasi pembongkaran. 2. Pengangkutan sampah dari pos penerimaan ke lokasi sel yang dioperasikan dilakukan sesuai rute yang diperintahkan. 3. Pembongkaran sampah dilakukan dititik bongkar yang telah ditentukan dengan manuver kendaraan sesuai petunjuk pengawas. 4. Perataan sampah oleh alat berat yang dilakukan lapis demi lapis agar tercapai kepadatan optimum yang diinginkan. Dengan proses pemadatan yang baik dapat diharapkan kepadatan sampah meningkat hampir dua kali lipat. 5. Pemadatan sampah oleh alat berat untuk mendapatkan timbunan sampah yang cukup padat sehingga stabilitas permukaannya dapat diharapkan untuk menyangga lapisan berikutnya. 6. Penutupan sampah dengan tanah untuk mendapatkan kondisi operasi controll atau sanitary landfill. B. Pengaturan lahan Seringkali TPA tidak diatur dengan baik, Pembongkaran sampah di sembarang tempat dalam lahan TPA sehingga menimbulkan kesan yang tidak baik, disamping sulit dan tidak efisiennya pelaksanaan pengerjaan peralatan, pemadatan dan penutupan sampah tersebut. Agar lahan TPA dapat dimanfaatkan dengan efisien, maka perlu dilakukan pengaturan yang baik yang mencangkup : 1. Pengaturan sel Sel merupakan bagian dari TPA yang digunakan untuk menampung sampah satu periode operasi terpendek sebelum ditutup dengan tanah. Pada sistem sanitary landfill, periode operasi terpendek adalah harian yang berarti bahwa satu sel adalah bagian dari lahan yang digunakan untuk menampung sampah selama satu hari. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 92

93 Semantara untuk control landfill satu sel adalah untuk menaampung sampah selama 3 hari, atau 1 minggu, atau periode operasi terpendek yang dimungkinkan. Dianjurkan periode operasi adalah 3 hari, berdasarkan pertimbangan waktu penetasan telur lalat yang rata rata mencapai 5 hari, dengan asumsi bahwa sampah telur berumur 2 hari saat ada di TPS sehingga belum menetas perlu ditutup tanah agar telur/larva muda segera mati. Untuk pengaturan sel perlu diperhatikan beberapa faktor: Lebar sel sebaiknya berkisar antara 1,5 3 lebar blade alat berat agar manuver alat berat dapat lebih efisien. Ketebalan sel sebaiknya antara 2 3 meter. Ketebalan terlalu besar akan menurunkan stabilitas permukaan, semantara terlalu tipis menyebabkan pemborosan tanah penutup. Panjang sel dihitung berdasarkan volume sampah padat dibagi dengan lebar dan tebal sel. Sebagai contah bila volume sampah padat adalah 150 m3/hari, tebal sel direncanakan 2m, lebar direncanakan 3m, maka panjang sel adalah 150/(3X2) = 25 m. Batas sel harus dibuat jelas dengan pemasangan patok patok dan tali agar operasi penimbunan sampah dapat berjalan dengan lancar. 2. Pengaturan Blok Blok operasi merupakan bagian dari lahan TPA yang digunakan untuk penimbunan sampah selama periode operasi menengah misalnya 1 atau 2 bulan. Karenanya luas blok akan sama dengan luas sel dikalikan perbandingan periode operasi menengah dan pendek. Sebagai contoh bila sel harian berukuran lebar 3 meter dan panjang 25 meter maka blok opersi bulanan akan mencapai 30 X 75 m2 = m2. 3. Pengaturan Zona Zona operasi merupakan bagian dari lahan TPA yang digunakan untuk jangka waktu panjang misal 1 3 tahun, sehingga luas zona operasi akan sama dengan luas blok operasi dikalikan dengan perbandingan periode operasi panjang dan menengah. Sebagai contoh bila blok operasi bulanan memiliki luas m2 maka zona operasi tahunan akan menjadi 12 X = 2,7 ha. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 93

94 5.5.2 Persiapan Sel Pembuang Penyusunan Master Plan Sel pembuangan yang telah ditentukan ukuran panjang, lebar dan tebalnya perlu dilengkapi dengan patok patok yang jelas. Hal ini dimaksudkan untuk membantu petugas/operator dalam melaksanakan kegiatan pembuangan sehingga sesuai dengan rencana yang telah dibuat. Beberapa pengaturan perlu disusun dengan rapi diantaranya : 1. Peletakan tanah tertutup 2. Letak titik pembongkaran sampah dari truk 3. Manuver kendaraan saat pembongkaran Pembongkaran Sampah Letak titik pembongkaran harus diatur dan diinformasikan secara jelas kepada pengemudi truk agar mereka membuang sampah pada titik yang benar sehingg proses berikutnya dapat dilaksanakan dengan efisien. Titik bongkar umumnya diletakan di tepi sel yang sedang diopeasikan dan berdekatan dengan jalan kerja sehingga kendaraan truk dapat dengan mudah mencapainya. Beberapa pengalaman menunjukan bahwa titik bongkar yang sulit dicapai pada saat hari hujan akibat licinnya jalan kerja. Hal ini perlu diantisipasi oleh penanggung jawab TPA agar tidak terjadi. Jumlah titik bongkar pada setiap sel ditentukan oleh beberapa faktor : 1. Lebar sel 2. Waktu bongkar rata rata 3. Frekuensi kedatangan truk pada jam puncak harus diupayakan agar setiap kendaraan yang datang dapat segera mencapai titik bongkar dan melakukan pembongkaran sampah agar efisien kendaraan dapat dicapai Perataan dan Pemadatan Sampah Perataan dan pemadatan sampah dimaksudkan untuk mendapatkan kondisi pemanfaatan lahan yang efisien dan stabilitas permukaan TPA yang baik. Kepadatan sampah yang tinggi di TPA akan memerlukan volume lebih kecil sehingga daya tampung TPA bertambah, sementara permukaan yang stabil akan sangat mendukung penimbunan lapis berikutnya. Pekerjaan perataan dan pemadatan sampah sebaikmya dilakukan dengan memperhatikan efisiensi operasi alat berat. Pada TPA dengan intensitas kedatangan truk yang tinggi, perataan dan pemadatan perlu segera dilakukan setelah sampah dibongkar. Penundaan pekerjaan ini akan menyebabkan sampah menggunung sehingga pekerjaan perataannya akan kurang efisien dilakukan. Pada TPA dengan frekwensi kedatangan truk yang rendah maka perataan dan pemadatan sampah dapat dilakukan secara periodik, misalnya pagi dan BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 94

95 siang. Perataan dan pemadatan sampah perlu dilakukan dengan memperhatikan kriteria pemadatan yang baik, seperti : 1. Peratan dilakukan lapis demi lapis. 2. Setiap lapis diratakan sampah setebal 20 cm 60 cm dengan cara mengatur ketinggian blade alat berat. 3. Pemadatan sampah yang telah rata dilakukan dengan menggilas sampah tersebut 3 5 kali. 4. Perataandan pemadatan dilakukan sampai ketebalan sampah mencapai ketebalan rencana Penutupan Tanah Penutupan TPA dengan tanah mempunyai fungsi/maksud : 1. Untuk memotong siklus hidup lalat, khususnya dari telur menjadi lalat 2. Mencegah perkembangan tikus 3. Mengurangi rembesan air hujan yang akan membentuk lindi 4. Mengurangi bau 5. Mengisolasi sampah dan gas yang ada 6. Menambah kestabilan permukaan 7. Meningkatkan estetika permukaan Frekuensi penutupan sampah dengan tanah disesuaikan dengan metode/ teknologi yang diterapkan. Penutupan sel sampah pada sistem sanitary landfill dilakukan setiap hari, sementara pada control land fill dianjurkan 3 hari sekali. Ketebalan tanah penutup yang perlu dilakukan adalah : 1. Untuk penutupan sel (sering disebut dengan penutupan harian) adalah dengan lapisan tanah padat setebal 20 cm 2. Untuk penutupan antara (setelah 2 3 lapis sel harian) adalah tanah padat setebal 30 cm. 3. Untuk penutupan terakhir yang dilakukan pada saat suatu blok pembuangan telah terisi penuh, dilapisi dengan tanah padat setebal minimal 50 cm Pemeliharaan TPA Pemeliharan TPA dimaksudkan untuk menjaga agar setiap prasarana dan sarana yang ada selalu dalam kondisi siap operasi dengan unjuk kerja yang baik. Seperti halnya program pemeliharaan lazimnya maka sesuai tahapannya perlu diutamakan kegiatan pemeliharaan yang bersifat preventif untuk mencegah terjadinya kerusakan dengan melaksanakan pemeliharaan rutin. Pemeliharaan korektif dimaksudkan untuk BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 95

96 segera melakukan perbaikan kerusakan kerusakan kecil agar tidak berkembang menjadi komplek dan besar. A. Pemeliharaan alat bermesin (alat berat, pompa, dll) Alat berat dan peralatan bermesin seperti pompa air lindi sangat vital bagi operasi TPA sehingga kehandalan dan unjuk kerjanya harus dipelihara dengan prioritas tinggi. Buku manual pengoperasian dan pemeliharaan alat berat harus selalu dijalankan dengan benar agar peralatan tersebut terhindar dari kerusakan. Kegiatan perawatan seperti penggantian minyak pelumas baik mesin maupun transmisi harus diperhatikan sesuai ketentuan pemeliharaannya. Demikian pula dengan pemeliharaan komponen seperti baterai, filter filter, dan lain lain tidak boleh dilalaikan ataupun dihemat seperti banyak diakukan. B. Pemeliharaan Jalan Kerusakan jalan TPA umumnya dijumpai pada ruas jalan masuk dimana kondisi jalan bergelombang maupun berlubang yang disebabkan oleh beratnya beban truk sampah yang melintasinya. Jalan yang berlubang/bergelombang menyebabkan kendaraan tidak dapat melintasinya dengan lancar sehingga terjadi penurunan kecepatan yang berarti menurunnya efisiensi pengangkutan, disamping itu beberapa komponen seperti kopling,rem,dan lain-lain lebih cepat aus. Keterbatasan dana dan kelembagaan untuk pemeliharaan seringkali menjadi kendala perbaikan sehingga kerusakan jalan dibiarkan berlangsung lama tanpa disadari telah menurunkan efisiensi pengangkutan. Hal ini sebaiknya diantisipasi dengan melengkapi manajemen TPA dengan kemampuan memperbaiki kerusakan jalan sekalipun bersifat temporer seperti misalnya perkerasan dengan pasir dan batu. Bagian lain yang juga sering mengalami kerusakan dan kesulitan adalah jalan kerja dimana kondisi jalan temporer tersebut memiliki kestabilan yang rendah khususnya bila dibangun di atas sel sampah. Cukup banyak pengalaman memberi contoh betapa jalan kerja yang tidak baik telah menimbulkan kerusakan batang hidrolis pendorong bak pada dump truck terutama bila pengemudi memaksa membongkar sampah pada saat posisi kendaraan tidak rata/horizontal. Jalan kerja di banyak TPA juga memiliki faktor kesulitan lebih tinggi pada saat hari hujan. Jalan yang licin menyebabkan truk sampah sulit bergerak dan harus dibantu oleh alat berat, sehingga secara keseluruhan menyebabkan waktu operasi pengangkutan di TPA menjadi lebih panjang dan pemanfaatan alat berat untuk hal yang tidak efisien. Sekali lagi perlu diperhatikan untuk memperbaiki kerusakan jalan sesegera mungkin sebelum BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 96

97 menjadi semakin parah. Pengurungan dengan sirtu umumnya sangat efektif memperbaiki jalan yang bergelombang dan berlubang. C. Pemeliharan Lapisan Penutup Lapisan penutup TPA perlu dijaga kondisinya agar tetap dapat berfungsi dengan baik. Perubahan temperatur dan kelembaban udara dapat menyebabkan timbulnya rtakan permukaan tanah yang memungkinkan terjadinya aliran gas keluar dari TPA ataupun mempercepat rembesan air pada saat hari hujan. Untuk itu retakan yang terjadi perlu segera ditutup dengan tanah sejenis. Proses penurunan permukaan tanah juga sering tidak berlangsung seragam sehingga ada bagian yang menonjol maupun melengkung ke bawah. Ketidakteraturan permukaan ini perlu diratakan dengan memperhatikan kemiringan ke arah saluran drainase. Penanaman rumput dalam hal ini dianjurkan untuk mengurangi efek retakan tanah melaui jaringan akar yang dimiliki. Pemeriksaan kondisi permukaan TPA perlu dilakukan minimal sebulan sekali atau beberapa hari setelah terjadi hujan lebat untuk memastikan tidak terjadinya perubahan drastis pada permukaan tanah penutup akibat erosi air hujan. D. Pemeliharaan Drainase Pemeliharaan saluran drainase secara umum sangat mudah dilakukan. Pemeriksaan rutin setiap minggu khususnya pada musim hujan perlu dilakukan untuk menjaga agar tidak terjadi kerusakan saluran yang serius. Saluran drainase perlu dipelihara dari tanaman rumput atau semak yang mudah sekali tumbuh akibat tertinggalnya endapan tanah akibat erosi tanah penutup TPA di dasar saluran. TPA di daerah bertopografi perbukitan juga sering mengalami erosi akibat aliran air yang deras. Lapisan semen yang retak atau pecah perlu segera diperbaiki agar tidak mudah lepas oleh erosi air, sementara saluran tanah yang profilnya berubah akibat erosi perlu segera dikembalikan ke dimensi semula agar dapat berfungsi mengalirkan air dengan baik. E. Pemeliharaan Fasilitas Penanganan Lindi Kolam penampung dan pengolah lindi sering kali mengalami pendangkalan akibat endapan suspensi. Hal ini akan menyebabkan semakin kecilnya volume efektif kolam yang berarti semakin berkurangnya waktu tinggal yang akan berakibat pada rendahnya efisiensi pengolahan yang berlangsung. Untuk itu perlu diperhatikan agar kedalaman efektif kolam dapat dijaga. Lumpur endapan yang mulai tinggi melampaui dasar efektif kolam harus segera dikeluarkan. Alat berat excavator sangat efektif dalam pengeluaran BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 97

98 lumpur ini. Dalam beberapa hal dimana ukuran kolam tidak terlalu besar juga dapat digunakan truk tinja untuk menyedot lumpur yang terkumpul yang selanjutnya dapat dibiarkan mengering dan dimanfaatkan sebagai tanah penutup sampah. F. Pemeliharaan Fasilitas Lainnya Fasilitas fasilitas lain seperti bangunan kantor/pos, garasi dan sebagainya perlu dipelihara sebagaimana lazimnya bangunan lainnya seperti kebersihan, pengecatan, dll Pengawasan Dan Pengendalian TPA Pengawasan Kegiatan Pembuangan A. Tujuan pengawasan dan pengendalian Pengawasan dan pengendalian TPA dimaksudkan untuk meyakinkan bahwa setiap kegiatan yang ada di TPA dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan dan dapat menjawab pertanyaan pertanyaan sbb : 1. Apakah sampah yang dibuang merupakan sampah perkotaan, dan bukan jenis sampah yang lain? 2. Apakah volume dan berat sampah yang masuk TPA diukur dan dicatat dengan baik? 3. Apakah sel pembuangan dan titik bongkar sudah ditentukan? 4. Apakah pengemudi sudah diarahkan ke lokasi yang benar? 5. Apakah tanah penutup telah tersedia? 6. Apakah perataan dan pemadatan dilakukan sesuai dengan rencana? 7. Apakah penitipan telah dilakukan dengan baik? 8. Apakah prasarana dan sarana dioperasikan dan dipelihara dengan baik? B. Tata cara pengawasan dan pengendalian Pengawasan dilakukan dengan kegiatan pemeriksaan/pengecekan yang meliputi : 1. Pemeriksaan kedatangan sampah 2. Pengecekan rute pembuangan 3. Pengecekan operasi pembuangan 4. Pengecekan unjuk kerja fasilitas 5. Pengendalian TPA meliputi aktifitas untuk mengarahkan operasional pembuangan dan unjuk kerja setiap fasilitas sesuai fungsi seperti : BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 98

99 6. Pemberian petunjuk operasi pembuangan bila petugas lapangan/operator melaksanakan tidak sesuai dengan rencana. 7. Pemeriksaan kualitas pengolahan lindi dan pemberian petunjuk cara pengoperasian yang baik Pendataan dan Pelaporan A. Pendataan TPA Data data yang diperlukan akan mencakup : 1. Data kedatangan kendaraan pengangkut sampah dan volume sampah yang diperlukan untuk mengetahui kapasitas pembuangan harian; yang akan digunakan untuk mengevaluasi perencanaan TPA yang telah disusun berkaitan dengan kapasitas tampung dan usia pakai TPA. Data ini dapat dikumpulkan di Pos Pengendali TPA dimana terdapat petugas yang secara teliti memeriksa, mengukur dan mencatat data tersebut dengan bantuan Form Kedatangan Truk. 2. Data kondisi instalasi pengolahan lindi khususnya kualitas parameter pencemar untuk mengetahui efisiensi pengolahan lindi dan potensi pencemaran yang masih ada. Data ini diperoleh melalui pemeriksaan kualitas air lindi di laboratorium. 3. Data operasi dan pemeliharaan alat berat yang merupakan data unjuk kerja alat berat dan pemantau pemeliharaannya. B. Pelaporan TPA Data-data di atas perlu dirangkum dengan baik menjadi suatu laporan yang dengan mudah memberikan gambaran mengenai kondisi pengoperasian dan pemeliharaan TPA kepada para pengambil keputusan maupun perencana bagi pengembangan TPA lebih lanjut Pengendalian TPA A. Pengendalian lalat Perkembangan lalat dapat terjadi dengan cepat yang umumnya disebabkan oleh terlambatnya penutupan sampah dengan tanah sehingga tersedia cukup waktu bagi telur lalat untuk menjadi larva dan lalat dewasa. Karenanya perlu diperhatikan dengan seksama batasan waktu paling lama untuk penutupan tanah. Semakin pendek periode penutupan tanah akan semakin kecil pula perkembangan lalat. Dalam hal lalat telah berkembang banyak, dapat dilakukan penyemprotan insektisida dengan menggunakan mistblower. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 99

100 Tersedianya pepohonan dalam hal ini sangat membantu pencegahan penyebaran lalat ke luar lingkungan luar TPA. B. Pencegahan kebakaran/asap Kebakaran/asap terjadi karena gas metan terlepas tanpa kendali dan bertemu dengan sumber api. Terlepasnya gas metan seperti telah dibahas sebelumnya sangat ditentukan oleh kondisi dan kualitas tanah penutup. Sampah yang tidak tertutup tanah sangat rawan terhadap bahaya kebakaran karena gas tersebar di seluruh permukaan TPA. Untuk mencegah kasus ini perlu diperhatikan pemeliharaan lapisan tanah penutup TPA. C. Pencegahan pencemaran air Pencegahan pencemaran air perlu dilakukan dengan menjaga agar lindi yang dihasilkan dari TPA dapat : 1. Terbentuk sesedikit mungkin; dengan cara mencegah rembesan air hujan melalui konstruksi drainase dan tanah penutup yang baik. 2. Terkumpul pada kolam pengumpul dengan lancar 3. Diolah dengan baik pada kolam pengolahan; yang kwalitasnya secara periodik diperiksa Evaluasi dan Dampak Penting Tahap Pra-Konstruksi A. Penetapan lokasi Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan : Persepsi Masyarakat Kegiatan penetapan lokasi tapak proyek diperkirakan akan berdampak terhadap persepsi masyarakat sebagai akibat adanya praduga masyarakat yang tanahnya terkena pembebasan mengenai ketidaksesuaian ganti rugi yang diperoleh. Serta adanya perbedaan pendapat masyarakat yang setuju dan tidak setuju mengenai penetapan lahan yang mereka miliki selama ini sebagai lokasi pengolahan akhir sampah. Dengan adanya kegiatan pembebasan lahan dan status kepemilikan memberikan dampak terhadap sebagian masyarakat, antara lain: mereka menjadi kehilangan mata pencaharian dan tempat tinggal. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 100

101 Keresahan Sosial Penyusunan Master Plan Pada penetapan lokasi tapak lokasi pengolahan akhir sampah ini diperkirakan akan berdampak terhadap keresahan sosial, yaitu adanya pemikiran kemana mereka akan pindah dan atau mencari nafkah serta sebagai akibat persepsi negatif masyarakat terhadap penetapan lokasi proyek. B. Pembebasan Lahan dan Pemindahan Penduduk Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan : Kepadatan Penduduk Kegiatan pembebasan lahan dan pemindahan penduduk diperkirakan akan berdampak terhadap jumlah dan tingkat kepadatan penduduk. Penduduk yang tanahnya dibebaskan saat ini telah pindah ke daerah lain. Mata Pencaharian Pembebasan lahan dan pemindahan penduduk berakibat pula terhadap mata pencaharian. Perubahan daerah sawah/ladang mereka menjadi lokasi pembuangan sampah akan mendorong mereka mencari kerja di sektor non pertanian. Perubahan mata pencaharian ini bersifat negatif apabila diantara penduduk tadi yang menjadi pengangguran kalau tenaganya tidak tertampung. Persepsi Masyarakat Lahan yang dibebaskan menjadi perhitungan untuk mendapatkan ganti tempat tinggal yang merupakan hal yang sangat mendasar bagi setiap orang. Kata sepakat atas ganti rugi yang sesuai, ataupun kejelasan batas lahan yang mereka miliki dapat menimbulkan keresahan masyarakat sehingga menyebabkan persepsi yang negatif. Keresahan Sosial Kegiatan pembebasan lahan dan pemindahan penduduk telah selesai seluruhnya dan tidak pernah terjadi keresahan/konflik sosial masyarakat karena proses tersebut dilakukan secara musyawarah mufakat antara pemrakarsa kegiatan dan masyarakat yang tanahnya terkena pembebasan Tahap Konstruksi A. Mobilisasi Tenaga Kerja Dampak terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan : BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 101

102 Kepadatan Penduduk Penyusunan Master Plan Mobilisasi tenaga kerja konstruksi proyek akan berdampak terhadap jumlah dan tingkat kepadatan penduduk sebagai akibat rekrutment tenaga kerja yang diperkirakan sebagian akan didatangkan dari luar daerah karena untuk keahlian tertentu tidak dapat di penuhi oleh tenaga lokal. Kesempatan Kerja dan Bekerja Banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan mengakibatkan terbukanya kesempatan berusaha bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek. Penduduk setempat dapat memperoleh mata pencaharian tambahan dengan menyediakan tempat tinggal untuk disewakan atau dikontrakan pada pekerja. Kegiatan-kegiatan lain yang merupakan kesempatan berusaha adalah berupa pembukaan warung makan dan kios yang menjual keperluan sehari-hari bagi pekerja proyek, atau menyediakan pelayanan transportasi seperti ojek yang sangat di butuhkan di lokasi tersebut. Pendapatan Masyarakat Kegiatan mobilisasi tenaga kerja konstruksi terhadap pendapatan masyarakat merupakan dampak turunan (sekunder) sebagai akibat terbukanya kesempatan kerja dan berusaha. Dengan ikutnya masyarakat bekerja di sekitar lokasi proyek sebagai tenaga kerja konstruksi dan terbuka kesempatan kerja dan berusaha bagi masyarakat di sekitar lokasi proyek akan mengakibatkan meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat. Kecemburuan Sosial Kecemburuan sosial akan muncul apabila tenaga kerja setempat tidak dilibatkan dalam tahap konstruksi pengolahan akhir sampah kota. Persepsi Masyarakat Dengan terbukanya kesempatan kerja dan berusaha serta meningkatnya pendapatan masyarakat di sekitar tapak proyek pada tahap konstruksi ini akan mengakibatkan persepsi masyarakat menjadi positif terhadap proyek. B. Pembersiahan Lahan dan Pematangan Tanah 1. Dampak Terhadap Fisik kimia : a. Iklim Mikro Pekerjaan pembersihan lahan dan pematangan tanah yang terdiri dari pembukaan, pengurugan dan perataan lahan menyebabkan hilangnya lapisan penutupan tanah berupa semak belukar dan pepohonan yang BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 102

103 berdampak lanjut terhadap kelembaban udara, akibat kenaikan suhu di lokasi proyek b. Kualitas Udara Pada kegiatan ini akan terjadi penurunan kualitas udara akibat debu yang dihasilkan dari aktivitas pembersihan lahan dan pematangan tanah dan gas buang dari mesin-mesin yang digunakan. c. Kebisingan Kegiatan pembersihan lahan dan pematangan tanah juga akan berdampak terhadap kebisingan sebagai akibat penggunaan mesin-mesin berat yang digunakan dalam pekerjaan tersebut. d. Kuantitas Air Permukaan Kegiatan pembersihan lahan pematangan tanah mengakibatkan daya resap air ke dalam tanah menjadi berkurang dibandingkan dengan sebelum dilakukan kegiatan tersebut, sehingga volume air larian akan meningkat. Kegiatan ini akan menimbulkan peningkatan air larian yang kemungkinan pula akan meningkatkan kuantitas air permukaan. e. Kestabilan Lereng dan Erosi Dampak kegiatan pembersihan lahan pematangan tanah yang potensial terhadap kestabilan lereng dan erosi adalh pada areal TPA dikarenakan kondisi daya dukung tanah yang relatif jelek. 2. Dampak Terhadap Hayati a. Flora Darat Kegiatan pembersihan lahan dan pematangan tanah akan mengakibatkan hilangnya vegetasi/flora darat yang merupakan habitat (tempat hidup) bebagai jenis fauna darat sehingga keseimbangan ekosistem akan terganggu. b. Fauna Darat Dampak kegiatan pembersihan lahan terhadap fauna darat merupakan dampak turunan (sekunder) sebagai akibat hilangnya vegetasi/flora darat yang merupakan habitat (tempat hidup) berbagai jenis satwa. Selain itu, pematangan tanah yang menimbulkan bising akibat penggunaan mesinmesin berat akan mengganggu kehidupan satwa di sekitarnya. c. Flora Perairan Dalam kegiatan pembersihan lahan dan pematangan tanah terhadap flora perairan (plankton) merupakan dampak turunan (sekunder) sebagai akibat BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 103

104 menurunnya kualitas air permukaan berupa peningkatan kekeruhan dan Total Padatan Tersuspensi (TSS) pada saat kegiatan pembersihan lahan dan pematangan tanah berlangsung. Hal ini mengakibatkan berkurangnya penetrasi cahaya matahari ke dalam air sehingga proses fotosintesis akan terhambat. d. Fauna Perairan Seperti halnya dampak terhadap flora perairan (plankton), dampak terhadap flora perairan (benthos dan ikan) juga merupakan dampak turunan (sekunder) sebagai akibat menurunnya kualitas air permukaan berupa peningkatan kekeruhan dan Total Padatan Tersuspensi (TSS) pada saat kegiatan pembersihan lahan dan pematangan tanah berlansung. Akibat peningkatan TSS akan menghambat difusi oksigen kedalam air pada akhirnya akan mengganggu kehidupan fauna perairan (benthos dan ikan). 3. Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan a. Kamtibmas Akibat penurunan kualitas udara, peningkatan debu, kebisingan, erosi dan pengotoran badan jalan pada saat kegiatan pembersihan lahan dan pematangan tanah berlansung. b. Kesehatan Masyarakat Dampak ini sebagai akibat dari penurunan kualitas udara dan peningkatan kebisingan yang dihasilkan dari kegiatan pembersihan lahan dan pematangan tanah berlangsung. C. Mobilisasi Bahan dan Alat 1. Dampak Terhadap Fisik dan Kimia: a. Kualitas udara Kegiatan pengangkutan bahan dan peralatan konstruksi diperkirakan akan berdampak terhadap kualitas udara. Pada kegiatan ini akan terjadi penurunan kualitas udara akibat gas buang kendaraan angkut dan debu. b. Kebisingan Kegiatan pengangkutan bahan dan peralatan konstruksi proyek juga akan menimbulkan kebisingan dari aktivitas kendaraan pengangkut sampah. 2. Dampak Terhadap Hayati a. Fauna darat BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 104

105 Dampak yang akan terjadi merupakan dampak turunan dari akibat kebisingan yang timbul dari kendaraan angkut sehingga kehidupan fauna darat terganggu terutama jenis-jenis burung. 3. Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan a. Kamtibmas Kegiatan pengangkutan bahan dan peralatan konstruksi proyek terhadap Kamtibmas berupa dampak langsung akibat pencurian terhadap bahan dan peralatan konstruksi. b. Kelancaran Lalu Lintas Kegiatan pengangkutan bahan dan peralatan konstruksi proyek diperkirakan akan berdampak terhadap kelancaran lalu lintas di badan-badan jalan sekitar tapak proyek, karena pengangkutan bahan menggunakan kendaraan angkut melalui jalan darat. D. Pembangunan Lokasi Pengolahan Akhir Sampah 1. Dampak Terhadap Fisik Kimia a. Kualitas Udara Kegiatan konstruksi fisik proyek seperti pemasangan pondasi, pembetonan, pengadukan semen dengan menggunakan alat-alat berat dapat meningkatkan CO, Nox, Sox, serta debu di udara yang pada akhirnya dapat menimbulkan dampak lanjutan berupa penurunan kesehatan para pekerja dan kesehatan masyarakat. b. Kebisingan Kegiatan pembangunan pengolahan akhir sampah akan meningkatkan kebisingan di dalam tapak proyek pada akhirnya akan berdampak pula terhadap kehidupan fauna darat, kesehatan karyawan, kesehatan masyarakat di sekitarnya dan peternakan ayam yang terdapat di tapak proyek. c. Kuantitas Air Permukaan Kegiatan pembangunan pengolahan akhir sampah diperkirakan akan berdampak terhadap kuantitas air permukaan. Adanya bangunan menyebabkan daerah resapan air akan berkurang. Pada saat hujan turun, air larian yang timbul akan meningkat dan masuk ke badan air, sehingga menimbulkan peningkatan kualitas air permukaan tersebut. d. Kestabilan Lereng dan Erosi BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 105

106 Kegiatan pembangunan pengolahan akhir sampah diperkirakan juga akan berdampak terhadap kestabilan lereng dan erosi di areal yang dilkukan penimbunan, yaitu badan jalan dan lereng tanggul lahan. 2. Dampak Terhadap Hayati Fauna darat, Dampak yang akan terjadi merupakan dampak turunan dari akibat kebisingan yang timbul dari kendaraan angkut sehingga kehidupan fauna darat terganggu terutama jenis-jenis burung. 3. Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan a. Sanitasi Lingkungan Sangat berpotensi dalam Kondisi sanitasi lingkungan akan terkena dampak pada saat kegiatan pembangunan pengolahan akhir sampah. Pada saat itu akan muncul berbagai macam limbah, baik yang berasal dari sisa-sisa bahan bangunan dan makanan buruh maupun akibat aktifitas sehari-hari buruh bangunan yang terjadi pada tapak proyek, seperti aktivitas MCK. Limbah ini bersifat cair terutama bekas cucian, urinoir dan mandi. Limbah cair dan padat ini menurunkan kondisi sanitasi lingkungan yang pada akhirnya akan dapat menjadi tempat berkembang biaknya sumber penyakit. b. Kamtibmas Kegiatan pengangkutan bahan dan peralatan konstruksi proyek terhadap Kamtibmas berupa dampak lansung akibat pencurian terhadap bahan dan peralatan konstruksi. c. Kesehatan Karyawan Seperti halnya dampak terhadap kesehatan karyawan, dampak terhadap kesehatan masyarakat merupakan dampak turunan (sekunder) sebagai akibat debu dan kebisingan yang dihasilkan dari kegiatan pembanguanan pengolahan akhir sampah. E. Pembuatan Bufferzone 1. Dampak Terhadap Fisik Kimia a. Iklim Mikro Kegiatan penanaman pohon peneduh dan penghijauan di dalam tapak proyek akan berdampak terhadap kelembaban suhu udara dalam tapak proyek. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 106

107 b. Kualitas Udara dan Kebisingan Penyusunan Master Plan Pembuatan bufferzone pada tahap konstruksi diperkirakan akan berdampak terhadap peningkatan kualitas udara di dalam dan sekitar tapak proyek. Penanaman jenis tumbuhan akan meningkatkan kadar oksigen (O2) di udara. Selain itu juga dapat mengurangi kadar debu dan tingkat kebisingan disekitarnya. c. Kestabilan Lereng dan Erosi Kegiatan pembuatan bufferzone berupa penanaman jenis jenis pohon untuk lokasi pengolahan akhir sampah di dalam tapak proyek terutama pada areal yang berbatasan dengan danau (eks galian oasir). Penanaman jenis pohon pelindung yang memiliki sistem perakaran yang kuat akan meningkatkan kestabilan lereng dan meningkatkan kemampuan tanah untuk menahan erosi. 2. Dampak Terhadap hayati a. Flora Darat Kegiatan penghijauan/landscaping pada tahap konstruksi proyek diperkirakan akan berdampak terhadap peningkatan keanekaragaman jenis flora darat di dalam tapak proyek. b. Fauna Darat Kegiatan penghijauan/landscaping pada tahap konstruksi proyek akan diperkirakan akan berdampak terhadap peningkatan keanekaragaman fauna darat di dalam tapak proyek, khususnya jenis-jenis hewan yang memanfaatkan flora darat sebagai habitatnya seperti jenis-jenis serangga (insekta) dan burung (aves). 3. Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan a. Estetika Lingkungan Penanaman jenis-jenis tumbuhan peneduh/pelindung dan tanaman hias akan meningkatkan nilai estetika lingkungan di dalam tapak proyek Tahap Operasional A. Mobilisasi Tenaga Kerja Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan: a. Kepadatan Penduduk BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 107

108 Rekrutment tenaga kerja pada saat pengolahan akhir sampah berperasi diprairakan akan berdampak terhadap kepadatan penduduk sekitar tapak proyek. b. Kesempatan Kerja dan bekerja Banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan mengakibatkan terbukanya kesempatan berusaha bagi masyarakat disekitar lokasi proyek. Penduduk setempat dapat memperoleh mata pencaharian tambahan dengan menyediakan tempat tinggal untuk disewakan atau dikontrakan pada pekerja. Kegiatan-kegiatan lain yang merupakan kesempatan berusaha adalah berupa pembukaan warung makan dan kios yang menjual keperluan sehari-hari bagi pekerja proyek, atau menyediakan pelayanan transportasi seperti ojek yang sangat dibutuhkan di lokasi tersebut. c. Pendapatan Masyarakat Terbukanya kesempatan kerja dan peluang berusaha bagi masyarakat disekitar tapak proyek akibat rekrutmen tenaga kerja pada tahap operasi proyek diperkirakan meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat. d. Kecemburuan Sosial Kecemburuan sosial akan muncul apabila tenaga kerja setempat tidak dilibatkan dalam tahap konstruksi pengolahan akhir sampah. e. Persepsi Masyarakat Adanya kegiatan rekrutmen tenaga kerja/karyawan pada tahap operasi proyek disertai dengan terbukanya peluang berusaha di sekitar tapak proyek akan mengakibatkan persepsi masyarakat menjadi positif terhadap proyek. B. Kegiatan Pengoperasian dan Pemprosesan Akhir Sampah 1. Dampak Terhadap fisik Kimia a. Kualitas Udara Kegiatan pengoperasian TPA sampah, apabila tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan penurunan kualitas udara di dalam dan sekitar tapak proyek. Emisi kendaraan bermotor menuju lokasi akan mengeluarkan gas CO2, CO, Sox, HC dan Pb dapat menyebabkan menurunnya kualitas udara. Kegitan operasional pengolahan akhir sampah yang berdampak terhadap penurunan kualitas udara adalah konsentrasi dan jenis gas di lokasi landfill selama penimbunan. Gas-gas utama yang BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 108

109 dihasilkan adalah metan dan CO2. Gas metan bila terakumulasi akan mengakibatkan terjadinya ledakan, sedangkan gas CO2 akan menyebabkan perubahan suhu lingkungan mikro. b. Kualitas Air Permukaan Kegitan pengoperasian pengolahan akhir sampah akan berdampak terhadap kualitas air permukaan yang berada di sekitar tapak proyek akibat air leachate yang dihasilkan dari timbunan sampah yang mengandung bahan bahan organik akan di buang ke sungai/parit. Menurunnya kualitas air sungai ini pada akhirnya akan berdampak lebih lanjut terhadap kesehatan masyarakat, menurunnya keanekaragaman flora dan fauna perairan gangguan kamtibmas dan persepsi negatif masyarakat yang berada dihilir lokasi proyek. 2. Dampak Terhadap Hayati a. Flora Perairan (Plankton) Akibat penurunan kualitas air permukaan yang disebabkan oleh air leachate yang di hasilkan oleh kegiatan pengolahan akhir sampah parameter utama Amoniak (NH3), Nitrit (NO2), Nitrat (NO3), COD, BOD dan DO akan berdampak terhadap flora perairan (Plankton). b. Fauna Perairan (Bentos dan Ikan) Dampak kegiatan pengoperasian pengolahan akhir sampah kota terhadap fauna perairan (bentos dan ikan) disebabkan pula oleh air leachate yang dihasilkan oleh kegiatan pengolahan sampah dengan parameter utama Amoniak (NH3), Nitrit (NO2), Nitrat (NO3), COD, BOD dan DO 3. Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Hidup a. Kesempatan Kerja dan Berusaha Pengoperasian Pemprosesan Akhir Sampah (TPA) akan menyerap tenaga kerja yang yang cukup banyak. Selain itu timbul kesempatan berusaha bagi penduduk sekitar lokasi proyek yang mampu memanfaatkan peluang peluang berusaha yang ada. Pada tahap ini juga diperkirakan timbulnya pemulung yang memanfaatkan kesempatan berusaha dengan adanya pengoperasian pengolahan sampah. Kehadiran pemulung ini perlu penanganan sendiri, yaitu dapat dimanfaatkan sebagai mitra kerjasama yang terkendali. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 109

110 b. Pendapatan Masyarakat Penyusunan Master Plan Terbukanya kesempatan kerja dan peluang berusaha bagi masyarakat disekitar tapak proyek akibat kegiatan pengoperasian pengolahan akhir sampah diperkirakan pada akhirnya akan berdampak terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. c. Kamtibmas Dampak negatif terhadap masyarakat sekitar apabila tidak dikelola baik dapat menimbulkan gangguan kamtibmas di sekitar proyek. d. Pengembangan Wilayah Kegiatan pengoperasian Pemprosesan Akhir Sampah (TPA) akan berdampak terhadap pembangunan dan pengembangan wilayah kabupaten, sehingga pada akhirnya akan memacu pembangunan dan pengembangan wilayah. e. Kegiatan Sekitar Kegiatan pengoperasian Tempat Pemprosesan Akhir Sampah (TPA) akan berdampak terhadap kegiatan sekitar. Pengoperasian Pemprosesan Akhir Sampah (TPA) melibatkan aktivitas kendaraan pengangkut sampah pada saat kegiatan loading dan unloading serta penggunaan genset yang sewaktuwaktu apabila suplai listrik PLN terganggu. Dampak yang terjadi intensitasnya rendah (< 60 dba). f. Kesehatan Karyawan dan Masyarakat Kegiatan pengoperasian Tempat Pemprosesan Akhir Sampah (TPA) apabila tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan bau busuk, tempat berkumpulnya lalat sehingga akan menimbulkan penyakit hama penyakit. Selain itu juga akan mengakibatkan berkembangnya organisme vektor penyakit seperti lalat, tikus dan nyamuk, juga gas dan air leachate yang dihasilkan akan menimbulkan gangguan kesehatan karyawan. g. Estetika Lingkungan Kegiatan Tempat Pemprosesan Akhir Sampah (TPA) yang tidak saniter akan berdampak terhadap penurunan estetika lingkungan akibat ceceran-ceceran sampah. Selain itu, pengoperasian yang tidak sesuai dengan kaidah sanitary landfill (mengarah pada sistem open dumping) akan mengundang lalat sehingga menurunkan estetika lingkungan. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 110

111 C. Mobilisasi Kendaraan Pengangkut Sampah 1. Dampak Terhadap Fisik Kimia a. Kualitas Udara Penyusunan Master Plan Kegiatan mobilisasi kendaraan pengangkut sampah akan berdampak terhadap penurunan kualitas udara ambient di sekitar badan-badan jalan yang dilaluinya. Kendaraan bermotor tersebut akan menghasilkan emisi gas gas seperti CO2, CO, SOx, NOx, HC dan Pb sehingga kadarnya akan meningkat di udara. b. Kebisingan Kegiatan mobilisasi kendaraan pengangkut sampah akan berdampak terhadap kebisingan di sekitar badan jalan yang dilaluinya. 2. Dampak terhadap Sosekbud dan Lingkungan Hidup a. Estetika Lingkungan Mobilisasi kendaraan pengangkut sampah tersebut dapat menimbulkan ceceran-ceceran sampah dan air leachate sehingga dapat mengakibatkan menurunnya estetika lingkungan. b. Kelancaran Lalu Lintas Arus lalu lintas badan-badan jalan yang dilalui oleh kendaraan pengangkut sampah akan mengalami peningkatan. Selain itu kegiatan pengangkutan sampah juga dapat mengakibatkan pengotoran dan kerusakan badan jalan. c. Kamtibmas Kegiatan mobilisasi kendaraan pengangkut samah tersebut dapat menimbulkan dampak-dampak negatif seperti kebisingan, penurunan kualitas udara, gangguan kelancaran lalu lintas, pengotoran dan kerusakan badan jalan, penurunan estetika lingkungan yang pada akhirnya akan berdampak terhadap gangguan kamtibmas. D. Pengoperasian Bangunan Pengolahan Leachate (BPL) 1. Dampak Terhadap Fisik Kimia Kualitas Air Permukaan dan Air Tanah Beroperasinya Tempat Pemprosesan Akhir Sampah (TPA) yang secara kontinyu dan jangka waktu yang cukup lama membuang leachate yang meresap ke dalam dasar lahan dapat menurunkan kualitas air permukaan dan air tanah. Sistem pengolahan mencegah penurunan kualitas air sungai sekitar lahan dan BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 111

112 air tanah leachate hasil dekomposisi sampah dan rembesan sampah akan dibangun pengolahan leachate. 2. Dampak Terhadap Hayati a. Flora Perairan Kegiatan pengoperasian BPL akan berdampak terhadap kehidupan biota perairan (plankton). Dengan dioperasikannya BPL, maka kemungkinan penurunan kualitas air permukaan akibat limbah cair akan berkurang sehingga tingkat gangguan terhadap kehidupan biota perairan akan berkurang. b. Fauna Perairan (Bentos dan Ikan) Seperti halnya dampak terhadap flora perairan, dampak pengoperasian BPL terhadap fauna perairan (bentos dan ikan) juga merupakan dampak tidak lansung akibat berkurangnya kemungkinan penurunan kualitas air permukaan akibat limbah cair Tahap Pasca Operasi Pada tahap pasca operasi, walaupun Tempat Pemprosesan Akhir Sampah (TPA) sudah tidak menerima sampah lagi, namun proses pembusukan sampah yang telah ada tetap berlansung sehingga tetap terjadi emisi gas metan dan karbondioksida serta terbentuknya cairan leachate. 1. Dampak Terhadap Fisik Kimia. a. Kualitas Udara Gas metan dan CO2 serta gas-gas lain yang dihasilkan dari proses pembusukan akan tersebar ke lingkungan sekitar. Walaupun kosentrasinya sudah dalam kecendrungan menurun namun tetap menjadi peningkatan yang berarti dibanding kosentrasi rona awal sebelum adanya pengolahan sampah, bahkan sampai tahun sekalipun (pada jarak kajian 500 meter dari batas lahan). b. Kualitas Air Permukaan dan Air tanah Air leachate yang terbentuk memiliki kandungan COD dan BOD yang tinggi sehingga akan menyebabkan penurunan kualitas air sungai dan air tanah bila tidak dikelola dengan baik. 2. Dampak Terhadap Sosekbud dan Lingkungan Binaan. Kesehatan Masyarakat BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 112

113 Proses pembusukan sampah tahap pasca operasi tetap menghasilkan gas metan yang bila terakumulasi dalam konsentrasi tinggi dapat terjadi ledakan yang membahayakan lingkungan sekitarnya terutama di lingkungan permukaan lahan bekas pengolahan sampah Sistem Organisasi dan Manajemen Bentuk Institusi Adapun bentuk kelembagaan yang dianjurkan untuk berbagai kategori kota adalah sebagai berikut : 1. Kota Raya dan Kota Besar (> jiwa). a. Perusahaan Daerah atau b. SKPD tersendiri. 2. Kota Sedang 1 ( jiwa) atau Ibukota Propinsi. a. SKPD tersendiri. 3. Kota Sedang 2 ( jiwa) atau Kotip/Kodya. a. SKPD. b. UPTD. c. Seksi. 4. Kota Kecil ( jiwa). a. UPTD b. Seksi Struktur Kelembagaan Struktur kelembagaan harus dapat menggambarkan aktivitas utama dalam sistem pengelolaan yang dikehendaki, pola kerja yang jelas, dan mempunyai fungsi perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian/pengawasan terutama untuk bentuk SKPD dan Perusahaan Daerah tersendiri Personalia Kualitas personil pada tingkat pimpinan menunjukkan tingkat kemampuan manajemen dan teknik. Perbandingan jumlah personil pengelola terhadap penduduk : 1. Pengumpulan, minimum 1 : 1000 penduduk. 2. Pengangkutan dan Pembuangan Akhir, minimum 1 : 1000 penduduk. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 113

114 5.8.4 Tata Laksana Kerja Penyusunan Master Plan Dalam penyusunan tata laksana kerja, hal yang harus diperhatikan dan dilaksanakan: 1. Perlu diciptakan pengendalian kelembagaan secara otomatis. 2. Pembebanan yang merata dan selaras untuk semua personil dan unit. 3. Pendelegasian tugas dan wewenang yang proporsional dan berimbang. 4. Perlu dicari birokrasi yang singkat. 5. Keteraturan dan kejelasan penugasan perlu ditumbuhkan Sistem Pembiayaan Penjabaran mengenai sistem pembiayaan adalah : A. Sumber Dana Dana untuk pengelolaan persampahan/kebersihan suatu kota/kabupaten besarnya 5 10% dari APBD. Diusahakan agar biaya pengelolaan sampah dapat diperoleh dari masyarakat (± 50%), dan Pemerintah Daerah menyediakan ± 50% untuk pelayanan umum antara lain penyapuan jalan, pembersihan saluran dan tempat-tempat umum. B. Struktur Pembiayaan Biaya pengelolaan sampah berkisar antara Rp ,- s/d Rp ,- /m³/hari. Dengan struktur biaya operasional sebagai berikut: 1. Pengumpulan : 30% - 40%. 2. Pengangkutan : 45% - 50%. 3. Pembuangan Akhir : 10% - 15%. C. Retribusi Besarnya retribusi yang layak ditarik dari masyarakat adalah ±1% dari penghasilan per rumah tangga. Pengelolaan sampah diarahkan dapat mencapai Self Financing (mampu membiayai sendiri) apabila perhitungan besar retribusi dilakukan dengan cara klasifikasi dan prinsip "subsidi silang". D. Pelaksanaan Penarikan Retribusi Pelaksanaan penarikan retribusi diatur dalam suatu dasar hukum yang memenuhi prinsip sebagai berikut: 1. Disusun sistem pengendalian yang efektif. 2. Dibagi dalam wilayah penagihan. 3. Didasarkan pada target (terutama yang sulit dikendalikan). 4. Penagihan mulai dilaksanakan setelah pelayanan berjalan teratur. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 114

115 5. Struktur tarif dalam Perda perlu dipublikasikan secara luas kepada masyarakat Dasar Hukum Untuk pelaksanaan pengelolaan sampah diperlukan dasar hukum yang mengatur antara lain : 1. Peraturan Daerah tentang ketentuan-ketentuan pembuangan sampah/kebersihan termasuk buangan industri. 2. Peraturan Daerah tentang pembentukan badan pengelolanya. 3. Peraturan Daerah tentang tarif retribusi sampah. Dasar hukum disusun berdasarkan kendala teknis sebagai berikut : 1. Mempunyai jangka waktu yang terbatas. 2. Kesiapan terhadap upaya penegakannya. 3. Mempunyai keluwesan tetapi tegas/tidak bermakna ganda. 4. Setelah itu perlu dilaksanakan usaha-usaha untuk penyebarluasan dan penerapan Perda yang telah ada Aspek Peran Serta Masyarakat Peran serta masyarakat yang telah ada perlu ditingkatkan karena hal ini akan memudahkan dalam teknis operasional dan akan menurunkan biaya pengelolaan kebersihan. Untuk itu diperlukan suatu program secara terpadu, teratur dan terus menerus serta bekerja sama dengan organisasi masyarakat. Upaya yang dilakukan antara lain penerangan/penyuluhan akan pentingnya pengelolaan kebersihan yang akan meningkatkan kesehatan, serta menggugah peran serta masyarakat dan organisasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. Pola pendekatan untuk masyarakat di kota kecil dapat dilakukan dengan pendekatan oleh tokoh masyarakat, sedangkan semakin besar kota perlu adanya pendekatan institusi/hukum. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 115

116 5.12. Dasar Perkiraan Kebutuhan Peralatan Tabel 5.1.Kebutuhan Peralatan Pengelolaan Sampah NO JENIS PERALATAN KAPASITAS PELAYANAN KETERANGAN Sub Sistem Pengumpulan - Bin plastik/ kantong. - Kontainer. - Becak sampah. - Gerobak sampah. - Station transfer - Station transfer - Station transfer Sub Sistem Pengangkutan - Truk biasa - Truk biasa - Truk biasa - Dump truk - Dump truk - Dump truk - Arm Roll Truk - Arm Roll Truk - Arm Roll Truk Sub Sistem Pembuangan Akhir - Buldozer - Track Dozer Sumber : SK SNI-T m³ 8 m³ 10 m³ 0,8-1 m³ 0,3-0,7 m³ 200 m² 100 m² 50 m² 8 m³ 10 m³ 12 m³ 8 m³ 10 m³ 12 m³ 6 m³ 8 m³ 40/60 L 10 m3 80 HP 80 HP 1 KK 150 KK 200 KK 250 KK KK KK KK KK KK 200 KK 250 KK 300 KK 200 KK 250 KK 300 KK 150 KK 200 KK 250 KK KK KK Komunal Komunal Komunal 1 Ritasi 1 Ritasi 1 Ritasi 1 Ritasi 1 Ritasi 1 Ritasi 1 Ritasi 1 Ritasi 1 Ritasi 1 Ritasi 1 Ritasi BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 116

117 6.1. Identifikasi Permasalahan Persampahan Permasalahan persampahan di saat ini, pada prinsipnya terbagi menjadi 4 bagian : 1. Teknis Operasional 2. Kelembagaan 3. Pembiayaan 4. Peran serta mayarakat Teknis Operasional Pewadahan sampah yang menggunakan bin/bak sampah dan gerobak sampah yang pada umumnya tidak terpilah dengan baik antara sampah organik dan anorganik bahkan ada yang tercampur dengan sampah beracun seperti battery. Jumlah Tempat Pembuangan Sementara (TPS) diperbanyak selama ini TPS yang ada masih kurang. Belum optimalnya pemanfaatan sarana dan prasarana persampahan. Hal ini dapat dilihat dari volume sampah per hari sebesar m³/hari yang terangkut ke TPA sebanyak 121 m³/hari sedangkan sisanya m³/hari tidak terangkut. Sarana dan prasarana yang dimiliki tidak memadai dengan jumlah penduduk yang mencapai jiwa Kelembagaan Dari segi kelembagaan, pengelolaan persampahan di ditandai dengan tingginya rasio beban tenaga kerja terhadap penduduk yang dilayani. Ini dapat dilihat dari jumlah penduduk yang sudah mendapat pelayanan sebanyak jiwa dengan tenaga operasional 230 petugas. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 117

118 6.1.3 Pembiayaan Penyusunan Master Plan Sumber pembiayaan dari APBD kabupaten Maros sudah cukup baik, tetapi perlu ditingkatkan saat ini baru mencapai 2% dari APBD. Target pemasukan dari penarikan retribusi perlu ditingkatkan (saat ini baru mencapai 8,3%), minimal harus mencapai 20% dari biaya operasi dan pemeliharaan untuk 2 tahun ke depan, dan akhirnya/diharapkan akan mencapai mencapai 50% dari biaya operasi dan pemeliharaan Peran Serta Masyarakat tingkat rumah tangga masih belum banyak dilakukan. Di samping itu, kebiasaan membuang sampah sembarangan, dalam arti masih adanya sampahsampah yang menumpuk bukan di TPS, tetapi di tempat tempat yang menjadi lokasi timbulan liar, ada persepsi Masyarakat yang yaitu yang paling utama/penting tidak ada sampah didekat mereka tidak ada masalah jika ada di tempat lain. Dari segi teknis operasional, peran serta Masyarakat dalam pengolahan sampah di kota dapat dikatakan sangat rendah. Ini terlihat dari kenyataan di lapangan yang menunjukkan masih kuatnya kebiasaan untuk membuang sampah begitu saja dan tanpa terlebih dulu memilah-milah sampah organik dan sampah anorganik serta masih tingginya kebiasaan untuk memakai barang yang sulit terurai serta masih sedikitnya kegiatan daur ulang sampah. Dengan kata lain, kegiatan pengolahan sampah dengan metode 3R yang seharusnya sudah dimulai di 6.2. Analisis Pola Pembuangan Sampah Konvensional Sub Sistem Kelembagaan Dan Organisasi Kelembagaan dan organisasi merupakan aspek/sub sistem inti dalam sistem pengelolaan persampahan, karena aspek ini mengatur hal-hal yang berhubungan dengan fungsi organisasi dalam hal perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan pengkomunikasian seluruh kegiatan yang dilakukan. Dengan demikian, jika aspek ini tidak berfungsi maka keseluruhan sistem akan mempunyai daya guna dan BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 118

119 hasil guna yang rendah. Agar fungsi tersebut dapat dilaksanakan secara baik dan benar, maka beberapa hal perlu diatur dengan baik yang mencakup bentuk organisasi, struktur, uraian tugas dan tata laksana serta kelengkapan dan kualitas personil. A. Bentuk Kelembagaan Lembaga induk penanggungjawab teknis operasional pengelolaan persampahan adalah Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan. Koordinasi pengelolaan kebersihan menjadi tanggung jawab Kepala Bidang Kebersihan yang mempunyai tugas pokok menyusun kebijakan teknis, pembinaan, pengawasan dan pengembangan kegiatan perencanaan teknis pengadaan, pelaksanaan pembangunan serta peningkatan kebersihan. Dibawah Bidang ini, terdapat Kepala Sub Bidang Pemeliharaan Kebersihan mempunyai tugas pokok merencanakan, melaksanakan pembinaan, koordinasi, pengawasan dan pengendalian kegiatan penanganan, pengumpulan dan pengangkutan sampah, Kepala Sub Bidang pengelolaan dan Pemanfaatan Limbah/Sampah mempunyai tugas pokok merencanakan, melaksanakan pembinaan dan koordinasi serta pengawasan dan pengendalian kegiatan pemanfaatan limbah/sampah, sedangkan pelaksanaan pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana persampahan merupakan tugas Kepala Sub Bidang Pengadaan dan Pemeliharaan Sarana dan Prasarana. B. Struktur Organisasi Struktur Organisasi yang menangani masalah kebersihan secara formal adalah Bidang Kebersihan, struktur organisasi induk yang ada adalah Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan merupakan struktur organisasi yang tidak hanya menangani masalah kebersihan kota tetapi juga masalah Lingkungan Hidup dan Keindahan kota. Dalam masalah struktur organisasi, Saat ini cukup sesuai menggambarkan aktivitas utama dalam pengelolaan persampahan. C. Uraian Tugas/Tata Laksana Kerja Tata laksana kerja untuk Bidang Kebersihan secara terperinci sudah dibuat tapi masih bersifat global/umum dan yang ada saat ini merupakan kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan atas instruksi lisan (tidak tertulis). Penugasan tenaga kerja lapangan dilakukan dengan cara pentargetan setiap tenaga kerja diberikan beban tugas yang harus dilaksanakan. Untuk masa datang perlu dilengkapi uraian tugas tersebut secara lebih rinci dan jelas sehingga fungsi manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan serta pengkomunikasian dapat tercakup. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 119

120 D. Personalia Penyusunan Master Plan Dari perbandingan antara jumlah penduduk yakni sebanyak jiwa, dan jumlah petugas kebersihan dan keindahan yakni Sopir sebanyak 45 orang, Buruh Pengangkut Sampah sebanyak 68 orang, Penyapu Jalan sebanyak 45 orang, Buruh bagian drainase sebanyak 30 orang, buruh bagian pasar sebanyak 20 orang, Buruh bagian peralatan/perbengkelan sebanyak 5 orang, buruh pengeloaan TPST sebanyak 3 orang dan bagian pertamanan dan operator mesin rumput sebanyak 28 orang dari pembagian tenaga kebersihan tersebut terlihat bahwa rasionya masih cukup tinggi (berdasarkan kriteria perencanaan 1:1.000), Sedangkan dari perbandingan antara jumlah petugas rasionya terhadap jumlah penduduk yang dilayani masih sangat kurang. Sementara itu, dari tingkat pendidikan PNS dan tenaga kontrak, kualitas SDM di Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan masih kurang. Ini dapat dilihat dari komposisi kepegawaian yang menunjukkan bahwa dari 98 orang PNS dan tenaga buruh 230 orang, 32 SMA, 31 orang lulusan perguruan tinggi (Sarjana Muda/D3 dan S1) serta 7 orang lulusan S Sub Sistem Teknik Operasional A. Tingkat Pelayanan Berdasarkan perhitungan tingkat pelayanan pengelolaan persampahan pada tahun 2012, maka tingkat pelayanan pengelolaan persampahan baru mencapai 12% dari jumlah sampah yang dihasilkan oleh Masyarakat saat ini belum mencapai 70% dari Target MDGs pada tahun Dengan tingkat pelayanan tersebut maka akan diperlukan upaya yang cukup untuk meningkatkan pelayanan sehingga mencapai standard yang ditetapkan oleh pemerintah. Tingkat pelayanan juga dapat ditetapkan berdasarkan target pencapaian sasaran MDGs. Sasaran MDGs adalah meningkatkan sasaran tingkat pelayanan pengelolaan persampahan sehingga setengah dari penduduk yang belum terlayani saat ini akan mendapat pelayanan persampahan pada tahun Peningkatan pelayanan pengelolaan persampahan tersebut akan dilakukan dengan melaksanakan pengembangan daerah pelayanan baru. Penetapan pengembangan daerah pelayanan pengelolaan persampahan akan dilakukan berdasarkan urutan prioritas sebagai berikut: 1) Daerah yang menjadi wajah kota. 2) Daerah komersil. 3) Daerah permukiman dengan kepadatan > 100 jiwa/ha. 4) Daerah timbulan sampah besar. 5) Daerah pemukiman dengan kepadatan > 50 jiwa/ha. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 120

121 Peningkatan pelayanan dapat dilakukan dengan pengembangan pola konvensional seperti di atas, tetapi juga dapat dilaksanakan melalui pengelolaan dengan cara: 1) Skala Rumah Tangga dengan menitik beratkan pengolahan sampah organik menjadi kompos, dengan beberapa opsi teknologi misalnya dengan gentong komposter, keranjang Takakura dan Biopori, 2) Skala Kawasan/Lingkungan, yaitu pengelolaan yang dilakukan untuk melayani suatu kelompok Masyarakat yang terdiri atas sekurang-kurangnya 100 Kepala Keluarga. Dengan beberapa opsi teknologi, antara lain : Pemilahan sampah di sumber Pemilahan sampah di TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) B. Pola Operasional Analisis terhadap pola operasional adalah sebagai berikut: 1. Pewadahan Di daerah pemukiman pada umumnya mempergunakan pewadahan berupa gentong plastik (bin/tong sampah), keranjang bekas, kaleng bekas cat, kantong plastik bekas dan ada juga yang tidak mempunyai pewadahan. Dari segi operasional pewadahan seperti disebutkan di atas cukup layak dipergunakan selanjutnya, akan tetapi dari segi kesehatan/kebersihan (kecuali kantong plastik, gentong plastik) harus ekstra hati-hati karena kalau sampahnya tidak cepat dibuang akan menimbulkan bau dan adanya lalat, hal ini tentunya tidak baik. Untuk itu, jika sampahnya tidak cepat dibuang, pewadahan tersebut harus ditutupi dengan plastik. Di daerah perkantoran dan komersil pada umumnya mempergunakan bin plastik, drum bekas dan kantong plastik besar. Prasarana pewadahan semacam ini cukup layak, kecuali drum bekas permanen (yang tidak mempunyai kaki) mempunyai kelemahan antara lain : 1. Pengoperasiannya memerlukan waktu dan tenaga. 2. Sifatnya terbuka. Dari analisis tersebut diatas disarankan untuk mempergunakan pewadahan sifatnya: tertutup, mudah dikosongkan, murah dan pengadaannya mudah. Misalnya : bin plastik atau kantong plastik. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 121

122 2. Pengumpulan Pasar Penyusunan Master Plan Pengumpulan sampah di daerah pasar dilaksanakan oleh penghasil sampah dengan membuang ke kontainer. Letak kontainer mudah dicapai oleh penghasil sampah sehingga ini sangat menguntungkan dalam pengumpulan. Pola pengumpulan di daerah pasar yang saat ini dilayani sudah cukup baik dan dapat dikembangkan dan dipertahankan. Pertokoan/perkantoran/rumah makan/permukiman Pengumpulan dilakukan dengan pola komunal dan individual (untuk penghasil sampah besar), semua sampah dikumpulkan ke Tong/ Bak Sampah dan TPS oleh penghasil sampah atau dikumpulkan pada satu tempat tertentu dengan ditumpuk rapi. Dari hasil pengamatan di lapangan pengumpulan dengan pola seperti ini dinilai cukup memadai pada batas tertentu, khususnya di daerah kumuh dan tidak teratur. 3. Pengangkutan Pengangkutan sampah dilaksanakan dengan dump truck sebanyak 8 unit per hari dengan ritasi rata-rata 1-2 rit/hari/mobil dan Arm roll sebanyak 8 unit dengan ritasi sebanyak 1-2 rit/hari/mobil. Dari hasil pemantauan dilapangan/di lokasi TPA sampah, umumnya untuk ritasi 2 rit tiap dump truck belum optimal, sedangkan ritasi Arm Roll 1-2 rit dinilai belum cukup baik. Dari hasil analisis diatas, pengangkutan sampah ke TPA disarankan perlu optimalisasi pengangkutan sampai sore hari, sehingga ritasi dapat mencapai 3-4 rit/dump truck. Setiap truk harus dilengkapi dengan jaring plastik dan pada sisisisi dump truk harus diberi triplek sehingga kapasitas dump truck lebih besar. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 122

123 4. Pemprosesan Akhir Metode yang dipergunakan dalam pemprosesan akhir adalah masih mempergunakan open dumping, metode ini dipakai semenjak adanya TPA. Halhal yang dapat dianalisis dari proses pemprosesan akhir di TPA sampah, yaitu: Sistem yang digunakan adalah controlled dan sanitary landfill, dimana dasar dari TPA telah diberi lapisan kedap air sehingga air lindi yang dihasilkan tidak akan mencemari air tanah dan sungai yang terdekat. Ditinjau dari kapasitas TPA sampah. Perlunya penanganan sampah dengan metode 3R, antara lain dengan Pembuatan TPST dan Bank Sampah diperbanyak dan tersebar terutama untuk daerah yang belum dilayani dan daerah yang rawan terhadap sampah seperti di bataran sungai. Peranan TPA Bontoramba sebagai tempat pemprosesan akhir masih tetap diperlukan, tetapi beban sampah yang dibuang ke TPA makin terus direduksi sampai akhirnya fungsi TPA sebagai tempat pemprosesan akhir berubah menjadi tempat komposting terintegrasi atau fungsi-fungsi lain yang lebih ramah lingkungan. Selama masa transisi fungsi tersebut, maka perlu dilakukan langkahlangkah untuk mengoptimalisasi peranan sebelumnya. Beberapa hal dapat dilakukan antara lain, melakukan pembenahan sistem pengangkutan menuju TPA dan melakukan penyempurnaan pengolahan dan pengelolaan di TPA. 5. Kapasitas Kemampuan Operasional Satuan timbulan sampah untuk permukiman adalah 2,5 liter/orang/hari, sehingga jumlah total sampah adalah m³/hari. Timbulan sampah untuk akan selalu bertambah sesuai dengan meningkatnya jumlah penduduk, perekonomian dan perkembangan kota. Saat ini jumlah sampah yang diangkut oleh BLHKP baik terangkut di TPS maupun di TPA sebesar 71 m³/hari atau 33% dari total timbulan sampah, yang seharusnya dapat dilayani >40% jika pengangkutan sampah dioptimalkan dengan ritasi lebih dari 2-3 rit/mobil. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 123

124 6.2.3 Sub Sistem Pembiayaan A. Sumber Dana Penyusunan Master Plan Total biaya pengelolaan persampahan saat ini yang dikeluarkan/dialokasikan oleh Pemerintah Daerah sebesar Rp ,- pada tahun 2013 untuk operasional (penyapuan jalan, pengangkutan sampah dan pembuangan sampah), dengan tingkat pelayanan 33%. Dari uraian tersebut maka analisis awal untuk aspek pembiayaan adalah : 1) Anggaran biaya kebersihan sebesar Rp ,- pada tahun ) Biaya satuan pengelolaan sampah tahun 2013, Biaya satuan pengelolaan sampah (pengangkutan + operasi + BBM ) pada tahun 2013 adalah Rp ,- a) Perkiraan biaya satuan pelayanan penduduk 1) Perkiraan jumlah penduduk yang terlayani = jiwa 2) Biaya satuan pelayanan kebersihan keluarga per bulan = Rp ,- 3) Biaya satuan pelayanan kebersihan per keluarga per bulan ini hanya diperhitungkan terhadap biaya operasional pengangkutan, biaya pengolahan akhir di TPA, belum termasuk biaya pengumpulan, dan biaya investasi peralatan. b) Retribusi yang ditagih ( yang dapat ditarik dari Masyarakat ) Pada tahun 2012 sebesar Rp ,- dari target PAD Kebersihan sebesar Rp ,-. Pemasukan hasil retribusi dapat ditingkatkan dengan cara peningkatan daerah pelayanan terutama dengan pelayanan komunal dengan menyediakan TPS-TPS umum serta ditingkatan penarikan retribusi melalui Kolektor Petugas Kebersihan. Untuk mengelola kebersihan Kabupaten diperlukan dana baik dan dana awal atau penunjang dari Pemerintah Daerah Kabupaten Maros, dana ini dapat melalui APBD atau kontribusi Masyarakat. B. Struktur Tarif Retribusi Struktur tarif retribusi sampah berdasarkan Perda nomor 17 Tahun 2011, Subjek retribusi adalah orang pribadi atau badan yang memperoleh jasa pelayanan persampahan/kebersihan. Besar retribusi ditentukan dari tingkat penggunaan jasa yang diukur berdasarkan jenis dan atau volume sampah baik sampah organik atau non organik berbahaya dan tidak berbahaya. Struktur tarif digolongkan berdasarkan pelayanan yang diberikan jenis serta volume sampah yang dihasilkan dan kemampuan Masyarakat. Besarnya tarif Retribusi yaitu sebagai berikut : BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 124

125 A. Bangunan Rumah Tangga Rp ,- / Bulan B. Perdagangan 1. Kios Rp ,- / Bulan 2. Ruko Rp ,- / Bulan 3. Pedagang Kaki Lima Rp ,- / Bulan C. Rumah Makan/Warung 1. Restoran Rp ,- / Bulan 2. Rumah Makan Rp ,- / Bulan 3. Warung Rp ,- / Bulan D. Hotel/Penginapan/Losmen 1. Penginapan/Losmen Rp ,- / Bulan 2. Hotel Melati Rp ,- / Bulan 3. Hotel Berbintang Rp ,- / Bulan E. Tempat Pelayanan Medis 1. Rumah Sakit Umum Rp ,- / Bulan 2. Puskesmas Rp ,- / Bulan 3. Rumah Bersalin Rp ,- / Bulan 4. Tempat Praktek Dokter Rp ,- / Bulan F. Perusahaan/Pabrik 1. Industri Kecil Rp ,- / Bulan 2. Industri Besar Rp ,- / Bulan G. Kantor Rp ,- / Bulan H. Kendaraan Buang Sampah Langsung Ke TPA 1. Mobil Besar (6 Roda) Rp ,-/ 1 x Buang 2. Mobil Kecil (Kijang) Rp ,-/ 1 x Buang I. Penyelenggaraan Kegiatan sampah langsung ke TPA 1. Hajatan Rp ,-/ kegiatan 2. Pertunjukan Rp ,-/ kegiatan 3. Pameran Rp ,-/ Hari *berdasarkan Perda Nomor 17 Tahun Sub Sistem Pengaturan Aspek peraturan merupakan dasar dalam pelaksanaan pekerjaan pengelolaan persampahan, karena setiap kegiatan atau kebijakan dalam rangka pelaksanaan dan perbaikan sistem pengelolaan persampahan harus dilandasi dengan kekuatan hukum BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 125

126 yang sumbernya adalah peraturan-peraturan yang terkait dengan bidang persampahan. Beberapa peraturan telah dibuat dalam rangka penanganan persampahan/kebersihan yang dapat digolongkan menjadi : A. Pembentukan Institusi/Lembaga Formal Dasar hukum yang mengatur organisasi pengelolaan kebersihan di Kabupaten adalah Perda Nomor 12 Tahun 2012, sehingga dari aspek penanggung jawab dipegang oleh Kepala Badan, sedangkan dari tugas pokok/fungsi, struktur organisasi, pembagian tata kerja dan kewenangan sudah dirinci dalam Perda tersebut. B. Penentuan Struktur Tarif Retribusi Dasar hukum yang mengatur mengenai retribusi kebersihan/persampahan di adalah Perda No. 17 Tahun 2011 tentang Retribusi Pelayanan Persampahan/Kebersihan. Peraturan ini mengatur tentang struktur tarif retribusi kebersihan/persampahan mulai dari penetapan wajib retribusi, tata cara penagihan dan ketentuan pidana. Peraturan mengenai retribusi kebersihan dan institusi yang telah dibuat tersebut dapat dianalisis sebagai berikut : 1. Aturan tentang pelaksanaan kebersihan oleh Masyarakat cukup jelas diatur tetapi perlu dibuat petunjuk palaksanaan. 2. Besarnya tarif retribusi sampah perlu disesuaikan lagi, tarif retribusi sampah harus dievaluasi setiap 3-5 tahun. C. Ketentuan Umum tentang Keindahan, Kerapian dan Kebersihan Kota. Saat ini Pemerintah belum mempunyai peraturan daerah tentang Ketertiban, Kebersihan dan Keindahan Kota, untuk masa ke depan harus sudah dibuat peraturan daerah tentang K Komponen Peran Serta Masyarakat Peran serta Masyarakat dalam pengelolaan persampahan yang ada sekarang di cukup baik, khususnya partisipasi dalam pembiayaan. Hal ini dapat dilihat dari realisasi BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 126

127 pemungutan retribusi dari tahun 2010 sampai 2012 yang rata-rata hampir mencapai 70-80%. Selain peran dalam pembiayaan, Masyarakat di juga berperan serta dalam pelaksanaaan teknis operasional pengolahan persampahan. peran serta ini diwujudkan dalam beberapa bentuk kegiatan seperti keikutsertaan pada sebagian tahap pengelolaan persampahan, seperti pengumpulan sampah di Kontainer dan bak sampah dan menyediakan sendiri pewadahan, serta kegiatan pengolahan sampah skala rumah tangga. Namun demikian, kualitas peran serta Masyarakat dalam kegiatan teknis pengolahan sampah di masih sangat perlu ditingkatkan mengingat masih rendahnya kesadaran Masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan. Indikasi rendahnya kualitas peran serta Masyarakat ini dapat dilihat dari beberapa hal, antara lain: 1. Rendahnya kesadaran untuk melaksanakan metode 3R. 2. Masih adanya kebiasaan membuang sampah sembarangan. 3. Masih tingginya kebiasaan memakai barang yang sulit terurai. 4. Upaya membangun peran serta Masyarakat pada pada pengelolaan kebersihan, khusunya perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan pengelolaan kebersihan perlu ditingkatkan. Sejalan dengan kebijakan Pemerintah dalam menangani masalah persampahan dengan mengacu pada Permen PU No 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pengembangan terutama yang berkaitan dengan kebijakan pengurangan sampah sejak dari sumbernya dengan program unggulan 3R serta sasaran yang harus dicapai, pada dasarnya merupakan tugas berat bagi semua pihak dalam mewujudkan upaya tersebut, mengingat kondisi yang ada saat ini, baru sekitar 1% sampah yang dapat dikurangi atau dimanfaatkan. Namun demikian, dengan berbagai gerakan yang ada ditingkat Masyarakat baik melalui peranan tokoh Masyarakat, LSM ataupun pemerintah kabupaten, serta telah banyak praktek praktek unggulan 3R yang cukup sukses dan dapat direplikasi ditempat lain, sehingga target pengurangan sampah 20% bukan mustahil akan dapat dicapai. Keberhasilan program 3R ini sangat tergantung pada keterlibatan Masyarakat. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 127

128 Reduce (R1) Reduce atau reduksi sampah merupakan upaya untuk mengurangi timbulan sampah di lingkungan sumber dan bahkan dapat dilakukan sejak sebelum sampah dihasilkan. Setiap sumber dapat melakukan upaya reduksi sampah dengan cara merubah pola hidup konsumtif, yaitu perubahan kebiasaan dari yang boros dan menghasilkan banyak sampah menjadi hemat/efisien dan sedikit sampah. Namun diperlukan kesadaran dan kemauan Masyarakat untuk merubah perilaku tersebut. Reuse (R2) Reuse berarti menggunakan kembali bahan atau material agar tidak menjadi sampah (tanpa melalui proses pengolahan), seperti menggunakan kertas bolak balik, menggunakan kembali botol bekas minuman untuk tempat air, mengisi kaleng susu dengan susu refill dan lain-lain. Recycle (R3) Recycle berarti mendaur ulang suatu bahan yang sudah tidak berguna (sampah) menjadi bahan lain setelah melalui proses pengolahan, seperti mengolah sisa kain perca menjadi selimut, kain lap, keset kaki, dsb atau mengolah botol/plastik bekas menjadi biji plastik untuk dicetak kembali menjadi ember, hanger, pot, dan sebagainya atau mengolah kertas bekas menjadi bubur kertas dan kembali dicetak menjadi kertas dengan kualitas sedikit lebih rendah dan lain-lain. Dari pengamatan terhadap komposisi sampah di, maka kegiatan daur ulang (recycle) yang layak dilakukan adalah pembuatan kompos dan daur ulang lainnya (daur ulang plastik, besi, kuningan, dan lain-lain), pelaksanaan daur ulang saat ini sudah dilakukan di TPST. Untuk memperkenalkan dan menyakinkan Masyarakat agar mau melaksanakan pembuatan kompos tersebut, maka pengelola kebersihan kota perlu melakukan proyek perintisan/percontohan pembuatan kompos dan menjamin pembeliaan kompos yang dihasilkan oleh masyarakat/lpm Aspek Teknik Operasional A. Sumber Sampah Pengurangan sampah dari sumbernya merupakan aplikasi pengelolaan sampah paradigma baru yang tidak lagi bertumpu pada end of pipe system, BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 128

129 dimaksudkan untuk mengurangi volume sampah yang harus diangkut dan dibuang ke TPA dan memanfaatkan semaksimal mungkin material yang dapat di daur ulang. Pengurangan sampah tersebut selain dapat menghemat lahan TPA juga dapat mengurangi jumlah angkutan sampah dan menghasilkan kualitas bahan daur ulang yang cukup baik karena tidak tercampur dengan sampah lain. potensi pengurangan sampah di sumber dapat mencapai 50% dari total sampah yang dihasilkan. B. Pola Pelayanan... Pewadahan, pewadahan harus disediakan sendiri oleh Masyarakat, dapat berupa bin/tong sampah, Karung plastik, dan keranjang Takaruka. Volume pewadahan disesuaikan produk sampah yang dihasilkan dan mampu menampung selama untuk produk 3 hari. Pembuatan kompos dapat dilakukan mulai dari sumber sampah (pengolahan sampah rumah tangga), ada bebarapa cara pengomposan yaitu : cara pengomposan dengan metode Takakura, Komposter dan dengan pembuatan lobang sampah di tanah. C. Pengumpulan/Pengangkutan Pengumpulan/pengangkutan sampah dilakukan dengan cara individual yaitu pengumpulan sampah langsung dengan Motor Sampah menuju Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST), setiap motor sampah akan dilayani oleh 2 petugas. Pengumpulan dengan cara individual akan dilakukan dengan gerobak, setiap gerobak dilayani oleh 2 petugas. D. Tempat Pengolahan Sampah Terpadu ( TPST) Semua sampah yang diangkut oleh motor sampah di daerah pelayanan akan berakhir di TPST dimana semua sampah akan diolah secara terpadu berupa BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 129

130 seperangkat alat pengolahan terpadu. Di TPST akan dilaksanakan kegiatan pemilahan dan Composting. Untuk pembuatan kompos di lokasi TPST dipergunakan alat composter, sedangkan sampah yang tidak dapat di daur ulang dan sisa komposting akan di packing dan ditrasfortasikan untuk dibuang ke TPA. 6.3.Tempat Pemprosesan Akhir (TPA) Sampah yang diangkut oleh truck sampah dibuang di TPA yang terletak di Kecamatan Mandai Kelurahan Borong Dusun Bontoramba yang berjarak ±15 km dari Ibu kota Kabupaten. Metoda pembuangan sampah yang dilakukan masih menggunakan sistem open dumping. Lokasi yang digunakan untuk TPA saat ini merupakan tanah kosong yang tidak produktif. Sedangkan daerah sekitarnya berupa areal perkebunan dan pemukiman Kriteria Pemilihan TPA Salah satu kendala dalam penerapan metoda perencanaan Tempat Pemprosesan Ahkir (TPA) baik sanitary landfill maupun controled landfill adalah pemilihan lokasi yang cocok, baik dilihat dari sudut kelangsungan pengoperasian, maupun dari sudut perlindungan terhadap lingkungan hidup. Karakteristik lahan (terutama permeabilitas) akan menentukan karakteristik sampah yang diperbolehkan masuk ke TPA. Lahan yang tepat tidak selalu mudah didapat. Suatu metode pemilihan yang baik perlu digunakan agar memudahkan dan mengevaluasi calon lokasi tersebut. Sampah merupakan kumpulan dari beberapa jenis buangan hasil samping dari kegiatan, yang akhirnya harus diolah dan diurug di suatu lokasi yang sesuai. Permasalahan yang timbul adalah bahwa sarana ini merupakan sesuatu yang dijauhi oleh Masyarakat sehingga persyaratan teknis untuk penempatan sarana ini perlu didampingi oleh persyaratan non teknis. Lebih luas lagi kecocokan lokasi ini di pengaruhi oleh kebijakan daerah yang dalam bentuk formal dinyatakan dalam rencana tata ruang. Dalam rencana tersebut biasanya sudah dinyatakan rencana penggunaan lahan. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 130

131 Aspek kesehatan Masyarakat berkaitan langsung dengan manusia, terutama kenaikan mortalitas (kematian), morbiditas (penyakit), serta kecelakaan karena operasional sarana tersebut. Aspek lingkungan hidup terutama berkaitan dengan dampak terhadap ekosistem akibat pengoperasian sarana tersebut, termasuk akibat transportasi sampah. Aspek biaya berhubungan dengan biaya spesifik antara satu lokasi yang lain, terutama dengan adanya biaya ekstra pembangunan, pengoperasian dan pemeliharaan. Aspek sosio-ekonomi berhubungan dengan dampak sosial dan ekonomi terhadap penduduk sekitar lahan yang dimaksud disini adalah keuntungan atau kerugian akibat nilai tambah yang dapat dinikmati penduduk, ataupun penurunan nilai hak milik karena berdekatan dengan sarana tersebut. Walaupun dua lokasi yang berbeda mempunyai pengaruh yang sama dilihat dari apsek sebelumnya, namun reaksi Masyarakat setempat dengan dibangunnya sarana tersebut bisa berbeda. Suatu metodologi yang baik tentunya diharapkan bisa memilih lahan yang paling menguntungkan dengan kerugian yang sekecil-kecilnya. Dengan demikian metodologi tersebut akan memberikan hasil pemilihan lokasi yang terbaik. Hal ini mengandung pengertian, yaitu : Lahan terpilih hendaknya memberikan nilai tertinggi ditinjau dari berbagai aspek di atas, Pemilihan yang dibuat hendaknya dapat dipertanggung jawabkan, artinya harus dapat ditunjukan secara jelas bagaimana dan mengapa suatu lokasi terpilih diantara yang lainya. Dalam hal ini pemilihan TPA tidak lepas dari kriteria-kriteria sebagai berikut : 1) Kriteria regional, yaitu kriteria yang digunakan untuk menentukan daerah layak atau tidak layak sebagai berikut : a. Kondisi geologi : 1) Tidak berlokasi di daerah holocene fault. 2) Tidak boleh di daerah bahaya geologi. b. Kondisi hidrogeologi 1. Tidak boleh mempunyai tinggi air tanah kurang dari 3 meter. 2. Tidak boleh kelulusan tanah lebih besar dari 10-5 cm/det. 3. Jarak terhadap sumber air minum harus > 100 m di hilir aliran. 4. Dalam hal tidak ada zona yang memenuhi kriteria tersebut maka harus dilakukan masukan teknologi. c. Kemiringan lokasi harus kurang dari 20% 1. Jarak dari lapangan terbang harus lebih besar dari meter untuk penerbangan turbo jet dan harus lebih besar dari meter untuk jenis lain. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 131

132 2. Tidak boleh pada daerah hutan lindung/cagar alam dan daerah banjir dengan periode ulang 25 tahun. 3. Untuk lokasi TPA yang jaraknya >25 km dari kota perlu dipertimbangkan adanya transfer depo/tpst. 4. Kriteria penyisihan yaitu kriteria yang digunakan untuk memilih lokasi d. Iklim yang terbaik yaitu terdiri dari kriteria regional ditambah dengan kriteria berikut : 1. Hujan : makin kecil curah hujan makin baik. 2. Angin : arah angin dominan tidak menuju ke pemukiman dinilai makin baik. 3. Utilitas : tersedia lebih lengkap dinilai makin baik. e. Lingkungan biologis : 1. Habitat : habitat kurang bervariasi dinilai makin baik. 2. Daya dukung : kurang menunjang kehidupan flora dan fauna dinilai makin baik. 3. Produktifitas tanah : tanah tidak produktif dinilai lebih tinggi. 4. Kapasitas dan umur : dapat menampung sampah lebih banyak dan lebih lama dinilai makin baik. 5. Ketersediaan tanah penutup : mempunyai tanah penutup yang cukup dinilai lebih baik. 6. Status tanah : makin bervariasi nilai tanah, dinilai tidak baik. 7. Demografi : kepadatan penduduk lebih rendah, dinilai semakin baik. 8. Kebisingan: Semakin banyak zona penyangga dinilai semakin baik. 9. Bau : Semakin banyak zona penyangga dinilai semakin baik. 10. Estetika : Semakin tidak terlihat dari luar dinilai semakin baik. 11. Ekonomi : semakin kecil biaya satuan pengelolaan sampah (per m³/ton dinilai semakin baik Pemilihan Lokasi TPA Pemilihan lokasi layak TPA sampah dilakukan dengan meninjau aspek-aspek sebagai berikut: 1. Aspek Tata Guna Lahan. 2. Aspek Geologi. 3. Aspek Kemiringan Lereng. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 132

133 4. Aspek Hidrogeologi. 5. Aspek Bahaya Lingkungan. A. Ditinjau Dari Aspek Tata Guna Lahan Peninjauan pemilihan lokasi layak TPA sampah berdasarkan Tata Guna Lahan ialah menetapkan lokasi-lokasi yang tidak boleh digunakan sebagai lokasi TPA sampah karena alasan tata guna lahan. Peninjauan ini dilakukan untuk menghindari pemilihan lokasi yang layak TPA sampah pada lahan yang telah ditetapkan penggunaannya atau lahan yang mempunyai kegunaan khusus atau yang penting. Daerah-daerah yang tidak boleh digunakan sebagai lokasi TPA antara lain: a) Daerah danau, sungai dan laut. b) Daerah perkotaan dan permukiman c) Daerah pertanian potensial. d) Daerah industri, konservasi lingkungan. e) Daerah khusus yang dilestarikan. f) Daerah yang jauh dari lapangan terbang. B. Ditinjau Dari Aspek Geologi Pemilihan lokasi layak berdasarkan kondisi geologi adalah untuk menempatkan lokasi tersebut pada formasi geologi yang aman terhadap pencemaran lingkungan. Formasi yang diinginkan adalah lapisan geologi dimana pada lapisan itu terdapat kondisi yang dapat menahan dan mengurangai kadar pencemaran. Kondisi tersebut hanya ada pada lapisan yang mempunyai permeabilitas kecil, mempunyai cukup ketebalan dan mampu mengurangi kadar pencemaran. Sifatsifat tersebut merupakan sifat dari batuan lempung (sedimen clay). Pemilihan yang dilakukan juga menghindari faktor struktur geologi seperti patahan, retakan, longsoran dan lain-lain. C. Ditinjau Dari Aspek Kemiringan Lereng Pemilihan lokasi layak berdasarkan kemiringan lereng dimaksudkan untuk menghindari terjadinya longsoran, baik terhadap timbunan sampah tersebut maupun longsoran yang tidak stabil. Untuk itu kriteria yang dianjurkan dalam hal kemiringan ini adalah 20%. Kemiringan lereng di sekitar lokasi berkisar antara 0 15%. Namun pada daerah-daerah tertentu kemiringannya dapat BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 133

134 mencapai lebih dari 45%. Pada umumnya kemiringan lokasi TPA berkisar antara 0 10%, dan pada beberapa lokasi kemiringan mencapai 10 15%. D. Ditinjau Dari Aspek Hidrogeologi Pemilihan lokasi layak berdasarkan aspek Hidrogeologi ialah menempatkan lokasi tersebut pada daerah yang bukan akuifer penting dan sedapat mungkin tidak di daerah discharge. Pemilihan tersebut juga memperhitungkan arah aliran air tanah. E. Ditinjau Dari Aspek Bahaya Lingkungan Pemilihan lokasi layak berdasarkan aspek bahaya lingkungan ialah menempatkan lokasi tersebut pada daerah yang tidak berpotensi terhadap bahaya lingkungan, sehingga tidak membahayakan kelangsungan dan keutuhan TPA sampah tersebut. Bahaya lingkungan yang harus diperhatikan adalah gerakan tanah, kegempasan, kegunungapian, pengikisan banjir dan genangan air. Dengan pertimbangan aspek bahaya lingkungan, maka lokasi layak untuk TPA sampah adalah daerah-daerah di luar bahaya tersebut Strategi Pengembangan Strategi pengembangan pengelolaan persampahan di direncanakan untuk jangka waktu 10 tahun ( ) yang terbagi dalam 3 (tiga) tahap yaitu tahap mendesak ( ) tahap I ( ), dan tahap II dengan jangka waktu tahun Program-program yang diusulkan dalam studi ini dirancang untuk dapat dilaksanakan dalam kurun waktu 10 tahun kedepan dengan target capaian yang ada pada setiap tahapannya. Sasaran pelayanan pengelolaan sampah di tetapkan berdasarkan pada beban permasalahan sampah yang dihadapi pada kondisi saat ini sampai pada masa 5 dan 10 tahun mendatang. Sebagaimana ditetapkan dalam strategi aspek operasional, bahwa beban pengelolaan sampah selama 10 tahun mendatang terdiri atas dua cakupan yaitu: 1. Sebesar 32% penduduk, merupakan penduduk perkotaan yang akan dilayani dengan pendekatan pelayanan teknis BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 134

135 2. Sebesar 68% penduduk perdesaan, yang akan dilayani dengan pendekatan pembangunan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat Pengembangan sistem pengelolaan persampahan ini direncanakan secara bertahap dengan penetapan sasaran secara jelas untuk setiap tahap. Tahapan pengembangan tersebut sebagai berikut: 1. Program Mendesak tahun Tahap 1: : pelayanan sampah 100% untuk pelayanan wilayah Kota dan 30% lingkup Kab. Maros 3. Tahap 2: : pelayanan 50% untuk pelayanan lingkup Kab. Maros BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 135

136 7.1. Perencanaan Sistem Operasi Konsep Perencanaan penanganan dan pengolahan yang direncanakan selama 10 tahun mendatang adalah sebagai berikut : 1. Lingkup pelayanan pengelolaan sampah adalah seluruh wilayah administrasi, baik perkotaan maupun pedesaan. 2. Wilayah perkotaan dilayani secara intensif oleh Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan, adapun wilayah perdesaan dilayani dengan pola pembinaan untuk dikembangkannya Sistem Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat. 3. Jenis sampah yang dikelola oleh Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan adalah sampah domestik, yaitu sampah yang bersumber dari aktifitas rumah tangga/domestik, tidak termasuk limbah industri dan medis. 4. Limbah industri, atau sampah hasil proses produksi, adalah tanggung jawab setiap lembaga atau individu dan atau badan yang menghasilkannya dan tidak menjadi tanggungjawab Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan. Hal tersebut telah diatur oleh undang-undang tentang pengelolaan limbah B3 dari industri untuk dikelola oleh pihak yang telah ditunjuk pemerintah. 5. Pengelolaan sampah B3 rumah tangga, misalnya kaleng bekas kemasan insektisida, batu baterai bekas, neon bekas dan lain sebagainya secara bertahap harus menjadi tanggungjawab Pemerintah. Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan tidak bertanggung jawab atas pengolahan sampah jenis ini. Akan tetapi disebabkan sampah jenis ini terkandung di dalam sampah domestik, maka Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan harus menanganinya dengan memisahkannya dari sampah lainnya. 6. Pewadahan, pengumpulan dan pengangkutan di sumber diarahkan menuju sistem terpilah. Sampah dipilah menjadi 3 jenis, yaitu : sampah organik, BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 136

137 anorganik dan B3 Rumah Tangga. Dalam jangka pendek, pemilahan diperkenalkan diseluruh aktifitas penimbul sampah, dan pada jangka menengah akan diimplementasikan secara bertahap, dengan prioritas pengadaan sarana prasarana di wilayah non permukiman. Di permukiman, pemilahan di sumber akan dilakukan secara bertahap sejalan dengan pengembangan sarana pengolahan lainnya. 7. Operasi pengumpulan sampah dari rumah-rumah ke Tempat Pengolahan Sampah Skala Kelurahan (TPS-Kelurahan), dilakukan oleh masyarakat secara mandiri dengan membentuk organisasi pada tingkat RT/RW atau menunjuk pihak pengelola swasta. 8. Di wilayah yang memungkinkan untuk dikembangkan Sistem Pengelolaan Berbasis Masyarakat, ditetapkan bahwa operasi pengelolaan harus menerapkan prinsip-prinsip 3R. 9. Di lingkungan RT/RW, diberikan peluang untuk dikembangkannya pengolahan sampah skala komunal, dan kawasan, juga dengan menerapkan prinsip-prinsip 3R. 10. Dalam suatu wilayah Kelurahan wajib memiliki area satu TPS Kelurahan dan di dalam suatu lingkungan Kecamatan, wajib memiliki TPS Kecamatan. Keduanya dikelola oleh Dinas Kebersihan, bekerja sama dengan aparat Kelurahan, Kecamatan, Masyarakat dan bahkan pihak swasta. 11. TPS Kelurahan adalah lokasi penampungan sampah, dan pengomposan sampah organik. Ditempatkan di setiap Kelurahan untuk melayani penduduk. Dikelola oleh Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan dengan mengembangkan kemitraan dengan masyarakat atau pihak swasta. 12. Pengomposan dilakukan sebagai usaha minimasi sampah tertimbun di TPA, bukan untuk mencari keuntungan ekonomis. Kerjasama dengan pihak atau instansi atau dinas lainnya yang terkait dengan penggunaan produk kompos akan dijalin dalam kerangka pengembangan tanaman organik. 13. TPS Kecamatan adalah pusat pengolahan sampah anorganik, yaitu plastik, kertas, logam dan gelas, 14. TPA sebagai lokasi pemprosesan akhir sampah, sampah Tahun 2023 direncanakan akan tetap menggunakan TPA Bontoramba di Desa Bontoramba sampai difungsikannya TPA Regional Mamminasata di Kec. Pattalassang Kab. Gowa. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 137

138 15. TPA Bontoramba dalam jangka panjang dipersiapkan hanya untuk penanganan residu olahan sampah dan sampah B3 RT, pengomposan di TPA dioperasikan untuk mengantisipasi ketika pengomposan dalam jangka pendek ketika belum ada operasi pengomposan di TPS Kelurahan. 16. Penanganan akhir sampah di TPA, selama mekanisme daur ulang di hulu belum berjalan 100%, dilakukan penimbunan secara controlled landfill. Bahkan metode ini akan tetap dipakai untuk menangani residu. 17. Pelayanan berbasis masyarakat dikembangkan di Desa-Desa yang telah mendapat bantuan teknis peralatan pengelolaan sampah. Adapun pengembangannya dilakukan secara bertahap di seluruh wilayah perdesaan. 18. Pengolahan sampah dengan teknologi lainnya seperti diorientasikan untuk mengembangkan model pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar. 19. Pengolahan sampah menjadi energi dilakukan ujicoba dalam jangka pendek, dan pada jangka menengah, akan dilakukan kelayakan untuk dikembangkan menjadi skala besar Perencanaan Perwadahan Sampah Konsep pewadahan yang akan diterapkan adalah dengan sistem terpilah dalam 3 jenis, yaitu : sampah organik, anorganik dan B3 Rumah Tangga. Akan tetapi pemilahan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut : Pewadahan terpilah mencapai 50 % wilayah pelayanan, dalam 10 tahun mendatang. Jangka menengah ( ), diorientasikan sebagai pengenalan pemilahan kepada masyarakat umum, dengan memasang wadah sampah terpilah 3R, di jalan protokol, taman kota, atau fasilitas umum lainnya, kantor- kantor Pemerintah dan institusi pendidikan, pengenalan yang lebih intensif dengan melakukan pembinaan di lingkungan permukiman yang menjadi sasaran pengembangan sampah berbasis masyarakat. Dalam periode ini pula di cari bentuk dan mekanisme pemilahan yang dapat diterima sesuai dengan tatanan sosial budaya masyarakat di. Jangka Panjang ( ), merupakan masa kampanye di seluruh wilayah yang termasuk katagori pelayanan intensif, yaitu di 14 Kecamatan. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 138

139 Ketentuan Umum Wadah sampah terpilah di sumber adalah sebagai berikut : Wadah terbuat dari plastik atau bahan anti karat lainnya Kapasitas minimal 20 liter per jenis sampah. Wadah Organik, berwarna hijau Wadah Anorganik, berwarna kuning Wadah B3 RT, berwarna merah 7.3. Perencanaan Operasi Pengumpulan Kelancaran dan keberhasilan sistem pengumpulan sampah merupakan syarat pertama tercapainya sanitasi lingkungan dari gangguan sampah. Dengan demikian lingkungan menjadi bersih tidak terdapat sampah yang tercecer, dibuang ke saluran, ke sungai ke tempat-tempat ilegal lainnya. Target dari sistem pengumpulan dalam adalah tercapainya tingkat sanitasi lingkungan dari gangguan sampah melalui pembentukan sistem pengumpulan yang menjamin rutinitas dan stabilitas pelayanan. Sistem pengumpulan yang dibangun disesuaikan dengan kondisi fisik geografi, ekonomi, fasilitas jalan dan kondisi lainnya supaya dapat berlangsung secara efektif dan efisien Ketentuan Umum Ketentuan pengumpulan di Kab. Maros, ditetapkan sebagai berikut : Pengumpulan dari setiap sumber aktifitas ditujukan ke TPS Kelurahan, tidak ada sistem langsung pengumpulan ke TPA mengingat adanya tujuan pengomposan di tingkat Kelurahan. Pengumpulan adalah tanggung jawab masyarakat dan atau penimbul sampah. Secara berkelompok, masyarakat dan atau penimbul sampah membentuk organisasi RT/RW atau penunjukan pihak swasta dalam pengumpulan sampah. Untuk wilayah pelayanan terpilah di sumber, disyaratkan ada pengaturan jadwal pengangkutan berdasarkan jenis sampah. Frekuensi pengumpulan sampah organik, disyaratkan harus setiap hari. Frekuensi pengumpulan sampah anorganik disyarakatkan minimal 3 kali dalam seminggu. Sistem pengumpulan disesuaikan dengan mempertimbangkan jenis alat pengumpul, fasilitas jalan dan kemampuan membayarnya Pengumpulan Sampah Permukiman/Rumah Tangga Saat ini terdapat 3 (tiga) pola operasi yang dilaksanakan yaitu : (1) Individual langsung, (2) Individual Tidak Langsung, dan (3) Komunal Tidak Langsung. Data eksisting menunjukkan pola individual langsung paling banyak dioperasikan. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 139

140 Namun pola ini terukur kurang efisien, terutama pada waktu angkut dari titik pengumpulan ke TPA. Demikian terdapat kekurangan dari pola operasi individual tidak langsung dan komunal langsung saat ini. Karena itu dengan adanya rencana pengomposan di TPS Kelurahan dan pengolahan sampah anorganik di TPS Anorganik, diharapkan dapat mengatasi inefisiensi ketiga pola ini dari sisi waktu operasi. Tujuan pengumpulan yang semula menuju TPA Bontoramba kini menuju TPS Kelurahan yang terletak relatif jauh lebih dekat. Dengan demikian, ketiga pola operasi pengumpulan yang ada saat ini akan ditransformasi menuju peningkatan kinerja sebagai berikut. 1) Sistem Individual Langsung Yaitu pola operasi dimana sampah dari sumber langsung dibawa ke TPS Kelurahan atau TPS Kecamatan Dioperasikan di daerah permukiman teratur seperti Real Estate atau kompleks, di daerah jalan utama dan protokol. Sampah dari sumber dikumpulkan dan langsung diangkut oleh kendaraan pengumpul sampah ke TPS Kelurahan, berdasarkan jenisnya. Sampah organik di TPS Kelurahan di komposkan Sampah anorganik dan residu dipindahkan ke TPS Kecamatan dengan menggunakan dump truck 6 m³. Batas minimum frekuensi pengumpulan adalah : Dua hari sekali ketika pemilahan belum dilakukan. Setiap hari sekali untuk sampah organik. Dua kali seminggu untuk sampah anorganik. Perubahan pola operasi pengumpulan sistem indivudual langsung dijelaskan pada gambar berikut : Gambar 7.1 Pola Operasi sistem door to door eksisiting BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 140

141 Gambar 7.2 Pola Baru Operasi Door to Door (2) Sistem Individual Tidak Langsung Yaitu pola operasi pengumpulan dimana sampah dari sumber dikumpulkan di TPS terlebih dahulu sebelum dibawa ke TPS Kelurahan atau Kecamatan. Dioperasikan di daerah permukiman tidak teratur, dimana kendaraan/alat pengumpul besar sulit masuk. Sampah dari sumber sampah diangkut dengan menggunakan motor sampah. kemudian sampah dibawa ke TPS (Tempat Penampungan Sementara) atau langsung ke TPS Kelurahan. Sampah organik di TPS Kelurahan dikomposkan. Sampah anorganik dan residu dipindahkan ke TPS Kecamatan dengan menggunakan dump truck 6 m³. Apabila pemilahan telah berlangsung seutuhnya, sampah anorganik langsung dikumpulkan ke TPS Kecamatan. Residu yang tersisa diangkut ke TPA menggunakan Dump Truck 6 m³. Frekuensi pengumpulan oleh motor sampah direncanakan sendiri oleh pihak pengelola lingkungan setempat. Batas minimum frekuensi pengumpulan adalah : Dua hari sekali untuk sampah tercampur. Setiap hari sekali untuk sampah organik. Seminggu sekali untuk sampah anorganik. adapun perubahan pola operasi pengumpulan sistem individual tidak langsung diperlihatkan pada gambar 7.3. BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 141

142 Gambar 7.3 Pola Operasi Pengumpulan Sistem Individual Tidak Langsung Model Terpilah Model Tercampur Gambar 7.4 Perubahan Pola Operasi Pengumpulan Sistem Individual Tidak Langsung BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 142

143 (3) Komunal Langsung Yaitu pola operasi pengumpulan oleh masing-masing penimbul sampah ke suatu tempat penampungan skala kecil dan langsung dibawa ke TPS Kelurahan atau TPS Kecamatan. Dalam prakteknya pola ini menggunakan lahan terbuka untuk mengumpulkan sampah tanpa sarana. Hal ini yang perlu diperbaiki, dengan ketentuan berikut : Pola ini dioperasikan di permukiman padat, pasar dan daerah komersil. Penimbul sampah mengumpulkan sampahnya masing-masing ke Container 6 m³ atau container lebih kecil dari itu, bila lokasi tidak memungkinkan sebagai Tempat Penampungan Sementara (TPS). Sampah di dalam Container diangkut dengan kendaraan pengumpul ke TPS Kelurahan. Di TPS sampah dipilah, organik langsung dikomposkan, sampah anorganik diangkut ke TPS Kecamatan. Perubahan pola operasi pengumpulan sistem komunal langsung dijelaskan pada gambar 7.5. Menuju TPA Bontoramba Pool Kendaraan BLHKP Gambar 7.5 Pola Operasi Sistem Komunal Langsung Eksisting BLHKP Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan & Pertamanan Kab. Maros 143

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN 5.1 Umum Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan, merupakan penjabaran dari Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten ke dalam rencana pemanfaatan

Lebih terperinci

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 TABEL-TABEL POKOK Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 Tabel 1. Tabel-Tabel Pokok Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Lamandau Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN. dengan Kecamatan Ujung Tanah di sebelah utara, Kecamatan Tallo di sebelah

BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN. dengan Kecamatan Ujung Tanah di sebelah utara, Kecamatan Tallo di sebelah BAB IV DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN IV.1 Gambaran Umum Kecamatan Biringkanaya IV.1.1 Keadaan Wilayah Kecamatan Biringkanaya merupakan salah satu dari 14 Kecamatan di kota Makassar dengan luas wilayah 48,22

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 1 TAHUN 1997 TENTANG PEMETAAN PENGGUNAAN TANAH PERDESAAN, PENGGUNAAN TANAH

Lebih terperinci

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl.

TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. TANGGAPAN KAJIAN/EVALUASI KONDISI AIR WILAYAH SULAWESI (Regional Water Assessment) Disampaikan oleh : Ir. SALIMAN SIMANJUNTAK, Dipl. HE 1 A. KONDISI KETAHANAN AIR DI SULAWESI Pulau Sulawesi memiliki luas

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA AMBON MALUKU KOTA AMBON ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Ambon merupakan ibukota propinsi kepulauan Maluku. Dengan sejarah sebagai wilayah perdagangan rempah terkenal, membentuk

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I Jl. Surabaya 2 A, Malang Indonesia 65115 Telp. 62-341-551976, Fax. 62-341-551976 http://www.jasatirta1.go.id

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 10/PRT/M/2015 TANGGAL : 6 APRIL 2015 TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BAB I TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain untuk minum, mandi dan mencuci, air bermanfaat juga sebagai sarana transportasi, sebagai sarana

Lebih terperinci

BAB II KONDISI UMUM DAERAH

BAB II KONDISI UMUM DAERAH BAB II KONDISI UMUM DAERAH 2.1. Kondisi Geografi dan Demografi Kota Bukittinggi Posisi Kota Bukittinggi terletak antara 100 0 20-100 0 25 BT dan 00 0 16 00 0 20 LS dengan ketinggian sekitar 780 950 meter

Lebih terperinci

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA Lampiran IV : Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 01 Tahun 2009 Tanggal : 02 Februari 2009 KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA NILAI Sangat I PERMUKIMAN 1. Menengah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 80 TAHUN 1999 TENTANG KAWASAN SIAP BANGUN DAN LINGKUNGAN SIAP BANGUN YANG BERDIRI SENDIRI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : Mengingat : Menetapkan :

Lebih terperinci

Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah. Profil Singkat Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Maros

Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah. Profil Singkat Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Maros Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah 7 Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Tujuan Penataan Ruang Tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten Maros adalah mewujudkan ruang wilayah Kabupaten Maros yang aman, nyaman,

Lebih terperinci

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan 1 A. GAMBARAN UMUM 1. Nama Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 2. Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Terletak di Kawasan a. Jumlah Transmigran (Penempatan) Penempata 2009 TPA : 150 KK/563

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR VISI DAN MISI VISI Meningkatkan Kebersihan dan Keindahan Kota Denpasar Yang Kreatif dan Berwawasan

Lebih terperinci

EVALUASI SISTEM PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA MALANG

EVALUASI SISTEM PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA MALANG PROGRAM PASCA SARJANA TEKNIK PRASARANA LINGKUNGAN PERMUKIMAN JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER EVALUASI SISTEM PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA MALANG Disusun Oleh

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DINAS DAERAH KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a bahwa dalam rangka mengoptimalkan

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar KOTA BALIKPAPAN I. KEADAAN UMUM KOTA BALIKPAPAN 1.1. LETAK GEOGRAFI DAN ADMINISTRASI Kota Balikpapan mempunyai luas wilayah daratan 503,3 km 2 dan luas pengelolaan laut mencapai 160,1 km 2. Kota Balikpapan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Aspek Geografi Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu Kabupaten dalam Provinsi Sumatera Selatan yang secara geografis terletak

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO Judul : Dampak Pertumbuhan Industri Terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Sidoarjo SKPD : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo Kerjasama Dengan : - Latar Belakang Pembangunan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-5 1 Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta Dwitanti Wahyu Utami dan Retno Indryani Jurusan Teknik

Lebih terperinci

BAB V Area Beresiko Sanitasi

BAB V Area Beresiko Sanitasi BAB V Area Beresiko Sanitasi 6 BAB 5 Area Beresiko Sanitasi Buku Putih Sanitasi sangat penting bagi kabupaten dalam menetapkan prioritas wilayah pengembangan sanitasi yang meliputi pengelolaan air limbah,

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

Jenis Bahaya Geologi

Jenis Bahaya Geologi Jenis Bahaya Geologi Bahaya Geologi atau sering kita sebut bencana alam ada beberapa jenis diantaranya : Gempa Bumi Gempabumi adalah guncangan tiba-tiba yang terjadi akibat proses endogen pada kedalaman

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2009 TENTANG KEPELABUHANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 78,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04/PRT/M/2015 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN WILAYAH SUNGAI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04/PRT/M/2015 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN WILAYAH SUNGAI MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 04/PRT/M/2015 TENTANG KRITERIA DAN PENETAPAN WILAYAH SUNGAI

Lebih terperinci

B A P P E D A D A N P E N A N A M A N M O D A L P E M E R I N T A H K A B U P A T E N J E M B R A N A. 1.1 Latar Belakang

B A P P E D A D A N P E N A N A M A N M O D A L P E M E R I N T A H K A B U P A T E N J E M B R A N A. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang U ntuk menindak lanjuti diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 maka dalam pelaksanaan otonomi daerah yang harus nyata dan bertanggung

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10, Pasal

Lebih terperinci

Profil Kabupaten Aceh Besar

Profil Kabupaten Aceh Besar Ibukota Batas Daerah Profil Kabupaten Aceh Besar : Jantho : Sebelah Utara berbatasan dengan Selat Malaka, Kota Sabang dan Kota Banda Aceh Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Aceh Jaya Sebelah Barat

Lebih terperinci

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMANFAATAN AIR HUJAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa air hujan merupakan sumber air yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

MEKANISME PEMANTAUAN KABUPATEN/KOTA PROGRAM ADIPURA

MEKANISME PEMANTAUAN KABUPATEN/KOTA PROGRAM ADIPURA Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 14 Tahun 2006 Tanggal : 06 Nopember 2006 MEKANISME PEMANTAUAN KABUPATEN/KOTA PROGRAM ADIPURA Mekanisme pemantauan Kabupaten/Kota Program Adipura,

Lebih terperinci

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM DAS Bengawan Solo merupakan salah satu DAS yang memiliki posisi penting di Pulau Jawa serta sumber daya alam bagi kegiatan sosial-ekonomi

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN A. Strategi Pembangunan Daerah Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi pembangunan Kabupaten Semarang

Lebih terperinci

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA PULAU BALI 1. Letak Geografis, Batas Administrasi, dan Luas Wilayah Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8 3'40" - 8 50'48" Lintang Selatan dan 114 25'53" -

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGOPERASIAN APLIKASI PROFIL TRANSPORTASI PERKOTAAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN

PETUNJUK PENGOPERASIAN APLIKASI PROFIL TRANSPORTASI PERKOTAAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN PETUNJUK PENGOPERASIAN APLIKASI PROFIL TRANSPORTASI PERKOTAAN DEPARTEMEN PERHUBUNGAN Departemen Perhubungan adalah suatu aplikasi komputer yang dibuat untuk mempemudah dalam pengelolaan data yang berkaitan

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara A. Dasar Pemikiran Sejak satu dasawarsa terakhir masyarakat semakin

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : KEP - 14 /M.EKON/ 12/ 2001 TENTANG ARAHAN KEBIJAKAN NASIONAL SUMBERDAYA AIR

KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : KEP - 14 /M.EKON/ 12/ 2001 TENTANG ARAHAN KEBIJAKAN NASIONAL SUMBERDAYA AIR KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : KEP - 14 /M.EKON/ 12/ 2001 TENTANG ARAHAN KEBIJAKAN NASIONAL SUMBERDAYA AIR MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN, SELAKU KETUA TIM KOORDINASI

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuklahan dan proses proses yang mempengaruhinya serta menyelidiki hubungan timbal balik antara bentuklahan dan proses

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di dalam kehidupan masyarakat sangatlah dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, budaya dan faktor lainnya.

Lebih terperinci

- 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

- 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP - 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP SUB BIDANG SUB SUB BIDANG PEMERINTAH 1. Pengendalian Dampak Lingkungan 1. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 1. Menetapkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Tarai Bangun adalah nama suatu wilayah di Kecamatan Tambang

BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Desa Tarai Bangun adalah nama suatu wilayah di Kecamatan Tambang 28 BAB II GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Sejarah Desa Tarai Bangun Desa Tarai Bangun adalah nama suatu wilayah di Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar yang menurut sejarah berdirinya adalah melalui pemekaran

Lebih terperinci

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon)

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) Happy Mulya Balai Wilayah Sungai Maluku dan Maluku Utara Dinas PU Propinsi Maluku Maggi_iwm@yahoo.com Tiny Mananoma

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Renstra Kantor Lingkungan Hidup Kota Metro merupakan suatu. proses yang ingin dicapai pada hasil yang ingin dicapai Kantor

BAB I PENDAHULUAN. Renstra Kantor Lingkungan Hidup Kota Metro merupakan suatu. proses yang ingin dicapai pada hasil yang ingin dicapai Kantor Renstra 2011-2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Renstra Kota Metro merupakan suatu proses yang ingin dicapai pada hasil yang ingin dicapai Kota Metro selama kurun waktu 5 (lima) tahun secara sistematis

Lebih terperinci

ANALISIS TEMPAT KERJA

ANALISIS TEMPAT KERJA II. ANALISIS TEMPAT KERJA Untuk dapat membuat rencana kerja yang realistis, rapi, dan teratur, sebelum menjatuhkan pilihan jenis alat yang akan digunakan, perlu dipelajari dan penelitian kondisi lapangan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG HARGA JUAL ECERAN DAN KONSUMEN PENGGUNA JENIS BAHAN BAKAR MINYAK TERTENTU

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG HARGA JUAL ECERAN DAN KONSUMEN PENGGUNA JENIS BAHAN BAKAR MINYAK TERTENTU PERATURAN PRESIDEN NOMOR 15 TAHUN 2012 TENTANG HARGA JUAL ECERAN DAN KONSUMEN PENGGUNA JENIS BAHAN BAKAR MINYAK TERTENTU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a bahwa dengan mempertimbangkan

Lebih terperinci

Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Lingkungan Hidup BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Peta Orientasi Kota Bandung

Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Lingkungan Hidup BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Peta Orientasi Kota Bandung BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Secara geografis, Kota Bandung terletak pada koordinat 107º 36 Bujur Timur dan 6º 55 Lintang Selatan dengan luas wilayah sebesar 16.767 hektar. Wilayah Kota Bandung

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i vii xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4 1.3.1 Hubungan RPJMD

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN - 115 - BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran perlu dipertegas dengan upaya atau cara untuk mencapainya melalui strategi pembangunan daerah dan arah kebijakan yang diambil

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.18/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.18/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.18/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

- 44 - BAGIAN KETIGA PERTIMBANGAN TEKNIS PERTANAHAN DALAM PENERBITAN IZIN PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH

- 44 - BAGIAN KETIGA PERTIMBANGAN TEKNIS PERTANAHAN DALAM PENERBITAN IZIN PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH - 44 - BAGIAN KETIGA PERTIMBANGAN TEKNIS PERTANAHAN DALAM PENERBITAN IZIN PERUBAHAN PENGGUNAAN TANAH A. Tahapan Penyusunan dan Penerbitan I. Penerimaan dan Pemeriksaan Dokumen Permohonan 1. Permohonan

Lebih terperinci

ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG

ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG bidang TEKNIK ANALISIS KEBUTUHAN JALAN DI KAWASAN KOTA BARU TEGALLUAR KABUPATEN BANDUNG MOHAMAD DONIE AULIA, ST., MT Program Studi Teknik Sipil FTIK Universitas Komputer Indonesia Pembangunan pada suatu

Lebih terperinci

PERAN PEREMPUAN DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL

PERAN PEREMPUAN DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL PERAN PEREMPUAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL JAKARTA A PERAN PEREMPUAN Perempuan sangat berperan dalam pendidikan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 137

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian khususnya perkotaan. Hal tersebut dikarenakan transportasi

BAB I PENDAHULUAN. perekonomian khususnya perkotaan. Hal tersebut dikarenakan transportasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Transportasi memegang peranan penting dalam pertumbuhan perekonomian khususnya perkotaan. Hal tersebut dikarenakan transportasi berhubungan dengan kegiatan-kegiatan

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN i iii v vii Bab I Pendahuluan I-1 1.1. Latar Belakang I-1 1.2. Maksud dan Tujuan I-2 1.3. Dasar Hukum I-3 1.4. Hubungan Antar Dokumen I-6

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMEDANG NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMEDANG, Menimbang : a. bahwa pengaturan pengelolaan air tanah dimaksudkan

Lebih terperinci

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan Tanah dan Air di Lahan Pasang Surut Penyusun IPG Widjaja-Adhi NP Sri Ratmini I Wayan Swastika Penyunting Sunihardi Setting & Ilustrasi Dadang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG, Menimbang Mengingat : a.

Lebih terperinci

Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun 2002. Tentang

Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun 2002. Tentang Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun 2002 Tentang PENGELOLAAN PELABUHAN KHUSUS MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. Bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhan telah

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR TAHUN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2013 KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN PEMALANG

LAPORAN AKHIR TAHUN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2013 KANTOR LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN PEMALANG LAPORAN AKHIR TAHUN KEGIATAN DANA ALOKASI KHUSUS (DAK) BIDANG LINGKUNGAN HIDUP TAHUN 2013 KANTOR LINGKUNGAN HIDUP DAFTAR ISI KATA PENGANTAR BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Latar Belakang... 1 B. Kesesuaian Perencanaan

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA MOR 32 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA KERJA PROGRAM KALI BERSIH TAHUN 2012 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

PDRB HIJAU (KONSEP DAN METODOLOGI )

PDRB HIJAU (KONSEP DAN METODOLOGI ) PDRB HIJAU (KONSEP DAN METODOLOGI ) Oleh: M. Suparmoko Materi disampaikan pada Pelatihan Penyusunan PDRB Hijau dan Perencanaan Kehutanan Berbasis Penataan Ruang pada tanggal 4-10 Juni 2006 1 Hutan Indonesia

Lebih terperinci

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA IV.1 TINJAUAN UMUM Pengambilan sampel air dan gas adalah metode survei eksplorasi yang paling banyak dilakukan di lapangan geotermal.

Lebih terperinci

KONSEP PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG KONSERVASI BAHAN GALIAN

KONSEP PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG KONSERVASI BAHAN GALIAN KONSEP PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TENTANG KONSERVASI BAHAN GALIAN Oleh Teuku Ishlah dan Mangara P.Pohan Subdit Konservasi Direktorat Inventarisasi Sumber Daya Mineral Pendahuluan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 11 /PRT/M/2009 TENTANG PEDOMAN PERSETUJUAN SUBSTANSI DALAM PENETAPAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG RENCANA TATA RUANG

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG

BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG BAB II GAMBARAN UMUM KOTA BANDUNG A. GEOGRAFI Kota Bandung merupakan Ibu kota Propinsi Jawa Barat yang terletak diantara 107 36 Bujur Timur, 6 55 Lintang Selatan. Ketinggian tanah 791m di atas permukaan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah. Profil Singkat Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar

Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah. Profil Singkat Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Makassar Muatan Rencana Tata Ruang Wilayah 7 Tujuan, Kebijakan, dan Strategi Tujuan Penataan Ruang Berdasarkan visi dan misi pembangunan Kota Makassar, maka tujuan penataan ruang wilayah kota Makassar adalah untuk

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, pres-lambang01.gif (3256 bytes) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2004 TENTANG KEGIATAN USAHA HILIR MINYAK DAN GAS BUMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material, dan Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material, dan Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Deputi Big Informasi, Energi, Material, Ba Pengkajian Penerapan Pusat Pengkajian Penerapan (P3TL) mempunyai tugas melaksanakan pengkajian, penerapan, koordinasi penyiapan penyusunan kebijakan nasional

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan Pasal 18 ayat (7) Undang-Undang

Lebih terperinci

Dengan Persetujuan Bersama. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA dan GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

Dengan Persetujuan Bersama. DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA dan GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

Strategi Sanitasi Kabupaten Empat Lawang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Strategi Sanitasi Kabupaten Empat Lawang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Perilaku hidup bersih dan sehat setiap masyarakat adalah cermin kualitas hidup manusia. Sudah merupakan keharusan dan tanggung jawab baik pemerintah maupun masyarakat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 6 TAHUN 2006 TENTANG PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA/DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: / / Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

Lebih terperinci

BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA KANTOR LINGKUNGAN HIDUP TAHUN LALU. 2.1. Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu dan Capaian Renstra Tahun 2013

BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA KANTOR LINGKUNGAN HIDUP TAHUN LALU. 2.1. Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu dan Capaian Renstra Tahun 2013 BAB II EVALUASI PELAKSANAAN RENJA KANTOR LINGKUNGAN HIDUP TAHUN LALU 2.1. Evaluasi Pelaksanaan Renja SKPD tahun lalu dan Capaian Renstra Tahun 2013 1. Program Pelayanan administrasi perkantoran Program

Lebih terperinci