BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Transkripsi

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari berkembangan teknologi modern, berperan penting dalam berbagai disiplin dan mengembangkan daya pikir manusia. Dengan demikian orang yang menguasai matematika maka ia bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Pentingnya matematika ditunjukkan dalam Standar Isi KTSP 2006, pelajaran matematika diberikan kepada semua peserta didik mulai dari sekolah dasar bahkan taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif. Hal ini sejalan dengan prinsip pembelajaran matematika yang dikemukakan komunitas guru matematika di Amerika Serikat (NCTM) bahwa : Students must learn mathematics with understanding, actively building new knowledge from experience and prior knowledge. Belajar matematika merupakan interaksi aktif antara siswa dengan materi pembelajaran matematika. Dengan demikian materi pembelajaran akan siswa rasakan tidak serta merta datang, melainkan suatu pengetahuan dan pemahaman yang nyata dan berarti. Keberhasilan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dapat dilihat dari hasil belajar siswa. Kenyataan menunjukkan bahwa pada mata pelajaran matematika, hasil belajar yang ditunjukkan siswa Indonesia belum memuaskan. Dalam survei tiga tahunan Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2006, Indonesia memperoleh nilai rata-rata 391 dan berada di urutan ke- 52 dari 57 negara dalam hal bermatematika. Selanjutnya, pada survey yang dilakukan PISA pada tahun 2009, Indonesia memperoleh nilai rata-rata 371. Sementara itu, peringkat Indonesia untuk matematika berada di urutan ke- 61 dari 65 negara. 1

2 Hasil yang hampir sama juga terlihat dari kajian Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun Untuk pencapaian matematika kelas VIII posisi Indonesia berada pada peringkat ke- 36 (nilai rata-rata 397) dari 48 negara peserta. Hasilhasil survei yang dilakukan PISA dan TIMSS menggambarkan masih rendahnya kemampuan siswa di bidang matematika. Padahal, mata pelajaran matematika dipandang sebagai salah satu mata pelajaran penting yang berkaitan langsung dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Namun, masih banyak siswa yang menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit untuk dipelajari dan mereka tidak dapat mencapai prestasi belajar seperti yang diharapkan. Rendahnya hasil belajar matematika semakin jelas terlihat ketika kita mencermati nilai matematika yang diperoleh siswa dalam Ujian Nasional. Hampir dalam setiap Ujian Nasional, mata pelajaran matematika cenderung menempati posisi nilai terendah jika dibandingkan dengan nilai mata pelajaran lain yang juga diujikan dalam Ujian Nasional. Bahkan, tidak jarang rendahnya nilai mata pelajaran matematika menjadi salah satu penyebab siswa tidak lulus dalam Ujian Nasional. Ujian Nasional yang dilaksanakan pada tahun pelajaran 2011/2012, untuk jenjang pendidikan SMA/SMK/MA/MAK mencakup 6 mata pelajaran untuk masing-masing program. Untuk program IPA di SMA/MA, ke-enam mata pelajaran yang diujikan itu adalah: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Fisika, Kimia, dan Biologi. Pemerintah menetapkan bahwa Ujian Nasional dijadikan sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan dan kelulusan peserta didik pada setiap jenjang pendidikan - SLTP/MTs dan SMA/SMK/MA/MAK- Hal ini dapat dilihat dari Standar Kelulusan peserta ujian yang ditetapkan pemerintah, dalam hal ini Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) melalui prosedur operasional Standar (POS), yaitu : Peserta ujian dinyatakan lulus jika memenuhi standar kelulusan Ujian Nasional, Peserta didik dinyatakan lulus UN apabila nilai rata-rata dari semua Nilai Akhir (Nilai Rapor dan Nilai UN) mencapai paling rendah 5,5 (lima koma lima) dan nilai setiap mata pelajaran paling rendah 4,0 (empat koma nol), dengan pembobotan 40% untuk nilai raport dari mata pelajaran yang diujinasionalkan dan 60% untuk nilai UN. Standar kelulusan di atas meningkat dari standar kelulusan peserta ujian tahun-tahun sebelumnya. Harapan pemerintah dengan kenaikan standar kelulusan ini, tentu saja untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara nasional dan meningkatkan citra positif dunia 2

3 pendidikan Indonesia di mata internasional. Tetapi di sisi lain, peningkatan itu membuat seluruh komponen pendidikan mulai dari kepala sekolah/madrasah, pendidik, peserta didik serta orang tua pun merasa cemas dan was-was. Mereka khawatir untuk menghantarkan peserta didik atau anak-anak mereka dapat lulus ujian, karena mereka memandang bahwa standar kelulusan yang ditetapkan pemerintah tersebut terlalu tinggi. Matematika sebagai salah satu mata pelajaran yang diujikan pada UN, merupakan mata pelajaran yang paling dikhawatirkan ketercapaian standar kelulusannya, baik oleh guru maupun peserta didik. Selain karena tingginya standar kelulusan, kekhawatiran itu bisa muncul karena matematika tetap dianggap sebagai mata pelajaran yang dianggap sulit, begitu pun soal-soal UN-nya. Penyelesaian soal-soal matematika, begitu juga untuk soal matematika UN memerlukan penalaran matematis, dimana penalaran itu masih dirasakan kurang oleh peserta didik dan guru. Mereka kurang percaya diri untuk menghadapi soal-soal UN. Sebenarnya, dalam pembelajaran matematika, melalui standar isi dan standar proses yang telah ditetapkan pemerintah, Peserta didik telah dibelajarkan standar tersebut, yang dapat menumbuhkan penalaran matematis pada diri peserta didik. Sehingga secara kalkulasi teoritis, mestinya mereka telah mendapat bekal penalaran untuk dapat menjawab soal-soal matematika UN yang dihadapinya. Tetapi kenyataannya mereka tetap merasakan kekahwatiran itu. Karena hal itu, maka kepala sekolah dan guru-guru melakukan strategi dan upaya-upaya untuk mengatasi hal tersebut. Salah satu penyebabnya adalah siswa kurang memahami konsep matematika dengan baik dan benar. Siswa belajar matematika cenderung menggunakan penalaran algoritma yang bersifat hafalan yang sering digunakan siswa dalam mengerjakan soal. Hal ini melemahkan pemahaman dasar matematika siswa dan menyebabkan mereka terhalang untuk mahir dalam pemecahan masalah dan pembuktian. Sementara yang diinginkan dalam pembelajaran matematika adalah menjadikan siswa menjadi penyelesai masalah, tidak hanya terampil melakukan perhitungan matematis dengan menggunakan rumus (algoritma). Berdasarkan hal-hal yang telah diungkapkan pada bagian sebelumnya, peneliti merasa perlu untuk meneliti tentang analisis penalaran dalam Ujian Nasional matematika SMA/MA program IPA tahun pelajaran 2011/2012. Sehingga para guru dapat mengetahui tipe-tipe penalaran yang ada dalam soal UN, dan dapat menentukan strategi yang harus mereka berikan kepada anak didik mereka untuk menghadapi UN selanjutnya. 3

4 B. Rumusan Masalah Berdasarkan pendahuluan yang dikemukakan sebelumnya, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1. Penalaran apakah yang diperlukan siswa untuk menjawab soal-soal Ujian Nasional (UN) Matematika SMA program IPA tahun pelajaran 2011/2012? 2. Apakah Ujian Nasioanal (UN) Matematika SMA program IPA tahun pelajaran 2011/2012 dapat mengukur pencapaian kompetensi bernalar siswa? Dengan asumsi penelitian sebagai berikut: 1. Semua Standar Isi dalam pelajaran matematika sudah diberikan kepada siswa. 2. Siswa mengerjakan soal UN Matematika tidak dengan menebak jawaban untuk bentuk soal pilihan ganda. 3. Buku matematika yang menjadi pegangan guru dan siswa dari kelas X sampai kelas XII berasal dari lima penerbit yang banyak digunakan disekolah berdasarkan pengalaman peneliti. 4. Isi buku sesuai dengan Standar Isi pada KTSP Berikut ini adalah daftar buku teks matematika SMA program IPA kurikulum 2006 yang dipakai dalam penelitian ini : Tabel 1.1 Daftar Buku Teks Matematika Penerbit Pengarang Judul Kelas Keterangan Sartono W Matematika Untuk SMA X Erlangga Sartono W Matematika Untuk SMA XI IPA Sartono W Matematika Untuk SMA XII IPA Sigit S Matematika SMA XII IPA Yudistira Hery Nugroho Matematika SMA XI IPA Marwanta Matematika SMA X Siswanto Matematika Inovatif X Buku 1A dan 1B Tiga Siswanto Matematika Inovatif XI IPA Buku 2A dan 2B Serangkai Siswanto Matematika Inovatif XII IPA Buku 3A dan 3B Suwah Matematika Untuk SMA X Sembiring dkk Suwah Matematika Untuk SMA XI IPA 4

5 Yrama Widya Arfindo Sembiring dkk Suwah Matematika Untuk SMA XII IPA Sembiring dkk Asep Jihad dkk Matematika SMA X Asep Jihad dkk Matematika SMA XI IPA Asep Jihad dkk Matematika SMA XII IPA Bilingual C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji penalaran yang diperlukan untuk menyelesaikan soal-soal Ujian Nasional (UN) Matematika SMA/MA program IPA tahun ajaran 2011/2012. D. Target luaran Target luaran dari penelitian ini adalah publikasi ilmiah dalam jurnal KULTURA ISSN: yang diterbitkan oleh Universitas Muslim Nusantara Al-Washliyah. Dan proseding pada Seminar Nasional Matematika dan Terapan (SiManTap) yang dilaksanakan pada tanggal November

6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kompetensi Matematika Menurut David C. McCelland kompetensi adalah karakteristik dasar yang melekat pada kepribadian seseorang yang berkaitan dengan kinerja berkriteria efektif atau unggul dalam suatu pekerjaan dan situasi tertentu (Spencer & Spencer, 1993). Sementara menurut Rychen dan Salganik (2003 : 43), kompetensi adalah kemampuan untuk sukses berhadapan dengan tuntutan yang kompleks didalam konteks umum melalui mobilisasi tuntutan psikologis baik aspek kognitif maupun non-kognitif. Kompetensi sangat dibutuhkan pada semua pekerjaan apalagi dalam matematika. Pengajaran matematika diarahkan supaya siswa memperoleh kompetensi matematika. National Research Council (Kilpatrick dkk, 2001) memberi istilah kompetensi sebagai mathematical proficiency (kecakapan matematika) yang terdiri dari lima komponen atau serat yaitu : a. Pemahaman Konseptual yaitu pemahaman terhadap konsep-konsep matematika, operasi dan relasi. b. Kelancaran Prosedural yaitu kemampuan melaksanakan keterampilan dan prosedur secara fleksibel, akurat, efisien, dan tepat. c. Kompetensi Strategis yaitu kemampuan untuk memformulasikan/merumuskan, merepresentasikan/menyajikan, dan memecahkan masalah matematika. d. Penalaran Adaptif yaitu kemampuan/kapasitas untuk berpikir logis, refleksi, penjelasan, dan pembenaran. e. Watak Produktif yaitu kebiasaan, kecenderungan untuk melihat matematika sebagai masuk akal, berguna, dan berharga, ditambah dengan ketekunan dan keyakinan. Serat-serat ini tidak independen, lima serat ini berjalin dan saling bergantung dalam pengembangan kecakapan. Kemahiran matematika bukanlah satu dimensi sifat, dan tidak dapat dicapai dengan memusatkan perhatian hanya pada satu atau dua dari serat saja tetapi harus terintegrasi kesemuanya. 6

7 Sejalan dengan NRC, National Council Teaching Mathematics (NCTM) merumuskan kompetensi melalui standar matematika sekolah, yang terdiri dari standar isi dan standar proses. Standar isi matematika meliputi bilangan dan operasi, aljabar, geometri, pengukuran, analisis data dan probalitas. Standar proses matematika meliputi : a. Pemecahan Masalah yaitu kemampuan siswa untuk membangun pengetahuan matematika serta pengembangan ide-ide matematika melalui pemecahan soal. b. Penalaran dan Pembuktian. Penalaran adalah kebiasan otak, sementara pembuktian membantu memutuskan alasan kenapa jawaban masuk akal. c. Komunikasi adalah kemampuan untuk mengungkapkan ide-ide matematika baik berbicara, menuliskan, menggambarkan maupun menjelaskan. d. Koneksi adalah kemampuan menghubungkan antar konsep yang ada didalam matematika serta kemampuan untuk menghubungkan matematika dengan dunia nyata. e. Representasi/penyajian adalah kemampuan menyajikan data baik dalam bentuk tabel, simbol, grafik, dan bagan serta mengubah bentuk penyajian kedalam bentuk penyajian yang lainnya. Untuk mencapai kompetensi matematika maka standar proses dan standar isi tidak dapat dipisahkan karena keduanya saling berkaitan. Artinya siswa dikatakan bisa matematika apabila menguasai konten/isi matematika serta kelima standar proses di atas. Senada dengan hal diatas, pemerintah selalu melakukan perbaikan kurikulum dan yang terbaru adalah Standar Isi KTSP Dimana mata pelajaran matematikasma/ma dalam kurikulum KTSP 2006 ini bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut: a. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat, efisien, dan tepat, dalam pemecahan masalah. b. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. 7

8 c. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh. d. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah. e. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah. B. Ujian Nasional (UN) Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada pasal 63 ayat 1 (Depag RI, 2005) menyatakan bahwa penilaian pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah salah satunya dilakukan oleh pemerintah. Selanjutnya, pada pasal 66 ayat 1 ditegaskan bahwa penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh pemerintah tersebut bertujuan untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dan dilakukan dalam bentuk Ujian Nasional. Ujian Nasional adalah sebutan yang diberikan untuk ujian yang soal-soalnya disiapkan oleh pemerintah. Pada awal pelaksanaan (tahun ), ujian ini bernama Ujian Akhir Nasional (UAN) dan nama tersebut berubah menjadi Ujian Nasional (UN) pada tahun Mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional tingkat SMA/MA Program IPA pada awalnya mencakup tiga mata pelajaran, yaitu matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Mulai tahun 2008 mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional SMA/MA bertambah menjadi enam mata pelajaran, yaitu matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris, Fisika, Kimia, dan Biologi. Nilai minimal kelulusan siswa dalam Ujian Nasional setiap tahun juga semakin meningkat. Pada tahun pelajaran 2002/2003, nilai rata-rata minimal seluruh mata pelajaran Ujian Akhir Nasional adalah 3,01. Pada saat pelaksanaan Ujian Nasional tahun pelajaran 2009/2010, nilai kelulusan minimal dalam Ujian Nasional semakin jauh meningkat menjadi 5,5. 8

9 Ujian Nasional menjadi salah satu syarat kelulusan siswa dari satuan pendidikan. Hal ini mengacu pada pasal 72 ayat 1 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 tahun 2005, yaitu: Peserta didik dinyatakan lulus dari satuan pendidikan dasar dan menengah setelah: a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran; b. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olahraga, dan kesehatan; c. lulus ujian sekolah/ madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan d. lulus Ujian Nasional. Walaupun Ujian Nasional hanya merupakan salah satu penentu kelulusan siswa, namun banyak pihak yang beranggapan bahwa justru Ujian Nasional berperan sangat dominan dalam menentukan kelulusan siswa. Tidak adanya penggabungan antara nilai Ujian Nasional dan nilai sekolah menyebabkan banyak pihak yang menginginkan agar guru (sekolah) diberi peranan yang lebih besar dalam menentukan kelulusan siswa. Pada tahun pelajaran 2010/2011 dan 2011/2012, pemerintah melakukan perubahan dalam kriteria kelulusan siswa. Di dalam Prosedur Operasi Standar Ujian Nasional (BSNP,2011), yang menyangkut kelulusan siswa dari satuan pendidikan menyatakan bahwa kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditentukan oleh satuan pendidikan berdasarkan rapat Dewan Guru dengan menggunakan kriteria sebagai berikut: a. menyelesaikan seluruh program pembelajaran; b. memperoleh nilai minimal baik pada penilaian akhir untuk seluruh mata pelajaran kelompok mata pelajaran agama dan akhlak mulia, kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian, kelompok mata pelajaran estetika, dan kelompok mata pelajaran jasmani, olah raga, dan kesehatan ; c. lulus ujian sekolah/madrasah untuk kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi; dan d. lulus Ujian Nasional. 9

10 Selanjutnya, dalam Prosedur Operasi Standar Ujian Nasional juga dinyatakan hal-hal yang berkaitan dengan kelulusan Ujian Nasional, yaitu: a. Peserta didik dinyatakan lulus Ujian Sekolah (US)/Madrasah (M) SMP/MTs, SMPLB, SMA/MA, SMALB, dan SMK apabila peserta didik telah memenuhi kriteria kelulusan yang ditetapkan oleh satuan pendidikan berdasarkan perolehan nilai Sekolah (S)/Madrasah (M). b. Nilai S/M sebagaimana dimaksud pada nomor 1 diperoleh dari gabungan antara nilai US/M dan nilai rata-rata rapor semester 1, 2, 3, 4, dan 5 untuk SMP/MTs dan SMPLB dengan pembobotan 60% untuk nilai US/M dan 40% untuk nilai rata-rata rapor. c. Nilai S/M sebagaimana dimaksud pada nomor 1 diperoleh dari gabungan antara nilai US/M dan nilai rata-rata rapor semester 3, 4, dan 5 untuk SMA/MA, SMALB dan SMK dengan pembobotan 60% untuk nilai US/M dan 40% untuk nilai ratarata rapor. d. Kelulusan peserta didik dari UN ditentukan berdasarkan Nilai Akhir (NA). e. NA sebagaimana dimaksud pada butir nomor 4 diperoleh dari gabungan nilai S/M dari mata pelajaran yang diujinasionalkan dengan nilai UN, dengan pembobotan 40% untuk nilai S/M dari mata pelajaran yang diujinasionalkan dan 60% untuk nilai UN. f. Skala yang digunakan pada nilai S/M, nilai rapor dan nilai akhir adalah nol sampai sepuluh. g. Pembulatan nilai gabungan nilai S/M dan nilai rapor dinyatakan dalam bentuk dua desimal, apabila desimal ketiga 5 maka dibulatkan ke atas. h. Pembulatan nilai akhir dinyatakan dalam bentuk satu desimal, apabila desimal kedua 5 maka dibulatkan ke atas. i. Peserta didik dinyatakan lulus UN apabila nilai rata-rata dari semua NA sebagaimana dimaksud pada butir nomor 5 mencapai paling rendah 5,5 (lima koma lima) dan nilai setiap mata pelajaran paling rendah 4,0 (empat koma nol) j. Kelulusan peserta didik dari satuan pendidikan ditetapkan oleh setiap satuan pendidikan melalui rapat dewan guru berdasarkan kriteria kelulusan sebagaimana dimaksud. 10

11 C. Penalaran Matematika adalah disiplin ilmu yang berkaitan erat dengan rasionalitas, logika dan penalaran. Departemen Penidikan Nasional (2002: 6) menyatakan bahwa," materi matematika dan penalaran matematika merupakan dua hal yang tak dapat dipisahkan, yaitu materi matematika dipahami melalui penalaran dan penalaran dipahami dan dilatihkan melalui belajar materi matematika." Konsep-konsep matematika senantiasa didasari postulat, aksioma,teorema, dalil dan sifat-sifat. Penyelesaian masalah atau soal matematika, sejatinya selalu memerlukan penalaran yang melibatkan aplikasi algoritma, prosedur, strategi penyelesaian yang didasari konsep tertentu, atau keterkaitan antar konsep, gagasan atau idea-idea matematis. Dalam pengembangan matematika, yaitu pengembangan konsep-konsep mulai dari yang sederhana ke konsep-konsep yang lebih lanjut, pola berfikir (nalar = pattern of thinking) ini diikuti dan dianut dengan ketat sekali, tanpa ada suatu kekhususan atau pengecualian. Pola berfikir ini, hanya dapat dipelajari dan dihayati dengan cara mempelajari matematika dengan cara yang benar.pola berfikir ini tidak dapat dipelajari, tanpa mengkaji matematika itu sendiri. Sebaliknya, materi matematika itu harus dipelajari menurut pola berfikir matematika yang disebutkan tadi. Dalam matematika, jika terjadi pemahaman konsep yang salah dapat berakibat fatal dalam pengembangan pemahaman konsep selanjutnya. Keterbiasaan dengan pola berfikir atau penalaran matematika ini akan sangat membantu dalam menghadapi permasalahan, dalam proses penyelesaian masalah tersebut, serta dalam proses pengambilan keputusan, sekalipun di luar bidang Matematika sendiri. Terminologi penalaran (reasoning), didefinisikan oleh Keraf (1982:5) sebagai : " Proses berfikir yang berusaha menghubung-hubungkan fakta-fakta dan evidensievidensi yang diketahui menuju kepada suatu kesimpulan." Lithner, dalam kerangka kerjanya mendefinisikan penalaran sebagai jalan berfikir yang diambil untuk mengolah pernyataan dan menghasilkan kesimpulan dalam menyelesaikan soal 11

12 (Lithner, 2003; 3) Pada tempat lain Lithner mendefinisikan penalaran sebagai sebarang jalan berfikir dalam mengerjakan soal, sehingga penalaran tidak harus didasarkan pada logika deduktif formal, dan melambangkan prosedur yang singkat dalam menemukan fakta atau bukti. Fadjar Shadiq (2004:2) berpendapat bahwa, " pada intinya, penalaran merupakan suatu kegiatan, suatu proses atau suatu aktivitas berfikir untuk menarik kesimpulan atau membuat suatu pernyataan baru yang benar berdasar pada beberapa pernyataan yang kebenarannya telah dibuktikan atau diasumsikan sebelumnya." Vinner berpendapat bahwa penalaran adalah proses berfikir dan hanya akan terlihat benar tidaknya penalaran tersebut dari hasilnya, dan perilaku reasoner pada saat proses berfikir berlangsung. (Vinner, 1977). Dalam penelitian ini, ada beberapa istilah yang berkaitan dengan penalaran, yaitu soal, jawaban, solusi dan masalah. Soal lebih ditekankan pada masalah-masalah rutin yang menuntut pengerjaan siswa di dalam kelas, seperti latihan, ulangan, ujian sekolah,ujian nasional, kerja kelompok dan sebagainya. Jawaban adalah suatu gambaran dari informasi yang diminta. solusi adalah sebuah jawaban dan sebuah argumentasi, mengapa jawaban itu benar. Solusi seringkali tidak ditampilkan dengan sebuah penalaran yang aktual untuk meraih jawaban, tetapi merupakan sebuah kesimpulan yang ideal. Pengertian masalah, telah digunakan dalam sebuah literatur dengan makna yang berbeda, tetapi dalam masalah dinyatakan sebagai sebuah soal yang menuntut tingkat kesulitan intelektual setiap individu. (Schoenfield, 1985). Penalaran merupakan salah satu dari lima standar proses yang dicanangkan National Council of Teachers of Mathematics (NCTM). Kelima standar proses itu adalah: problem solving (penyelesaian masalah), reasoning and proof (penalaran dan pembuktian), communication( mengkomunikasikan), connections (keterkaitan), dan representation (menyajikan). OECD menetapkan bahwa penalaran merupakan salah satu dari lima komponen kecakapan dasar matematis (The Strands of Mathematical Proficiency). Kelima komponen itu adalah: conseptual understanding (pemahaman konsep), prosedural fluency (kelancaran berprosedur), strategic competence ( kompetensi stategis), adaptive reasoning (bernalar adaptif), productive disposition (pemanfaatan). 12

13 D. Kerangka Kerja Penalaran Kerangka kerja Penalaran menggunakan kerangka penelitian yang dikembangkan oleh Lihtner dalam penelitannya yang berjudul A Research Framework for Creative and Imitative Reasoning dan Bergqvist dalam sebuah penelitian di Swedia yang berjudul Types of Reasoning in University exams in Mathematics. Kerangka kerja tersebut digambarkan sebagai berikut: Gambar 2.1 Kerangka Kerja Penalaran Matematika Berdasarkan Lithner. Setiap analisis, terutama mengidentifikasi pemilihan strategi dan implemetasi strategi, konsep yang digunakan untuk menentukan jenis penalaran yang dibagi dalam sub-sub bagian penalaran. Dalam penelitian ini ada dua jenis dasar penalaran yang telah diidentifikasi dan didefinisikan, yaitu: creative mathematically founded reasoning (creative rasoning) dan imitative reasoning. 1. Imitative Reasoning (penalaran imitatif / tiruan) Imitative Reasoning (IR) adalah tipe penalaran yang membangun penalaran dengan cara meniru solusi soal yang terdapat pada contoh maupun latihan yang terdapat pada buku teks, yaitu dengan mengingat algoritma/langkah dari jawaban. Lithner membagi tipe penalaran imitatif (Imitative Reasoning) dalam dua bagian yaitu Memorized Reasoning (Penalaran Hafalan/MR) dan Algorithmic Reasoning (penalaran Algoritma/AR). 1.1 Memorized Reasoning (MR) Penalaran yang digunakan dalam menyelesaikan masalah matematika dikatakan bertipe MR jika ia memenuhi kriteria berikut: a. Strategi menjawab berdasar pada pengulangan kembali jawaban sesuai dengan yang ada pada memori pengerja soal. 13

14 b. Strategi menjawab dengan menuliskan atau mengucapkan jawaban yang sudah diingat atau dihafalkan. Tipe soal yang dapat diselesaikan dengan MR biasanya berupa pertanyaan tentang fakta atau definisi, soal juga bisa meminta pembuktian pengertian, asalkan siswa sudah diberitahu sebelumnya bahwa akan ada pertanyaan mengenai pembuktian pernyataan (sehingga siswa berusaha menghafal pembuktian yang ada). 1.2 Algorithmic Reasoning (AR) Algoritma menurut Lithner adalah: serangkaian peraturan/prosedur yang jika diikuti akan memecahkan masalah (soal) yang dihadapi. Walaupun secara sepintas AR ini mirip dengan MR, karena memang prosedur yang akan digunakan juga harus dihafal (memorised) tetapi ada perbedaan diantara keduanya (MR dan AR). Perbedaan yang paling mendasar adalah pada AR walaupun siswa menghafal prosedur, tapi kemudian siswa mengerjakan soal itu lebih lanjut berdasar prosedur yang sudah diingat, sementara pada MR siswa hanya menyalin kembali jawaban yang diingat. Salah satu contoh soal yang penyelesaiannya menggunakan AR adalah Tentukan akar-akar persamaan. Soal seperti ini banyak terdapat pada contoh dan latihan pada semua buku teks. Untuk menyelesaikan soal ini siswa harus tahu dan hafal rumus/algoritma mencari akar-akar persamaan kuadrat bisa dengan rumus abc, memfaktorkan, atau melengkapi kuadrat sempurna, disini siswa tidak cukup hafal tetapi juga harus bisa mengerjakan algoritma dengan baik. Sementara itu soal diatas bisa bertipe MR jika yang ditanyakan adalah jenis dari persamaan kuadrat tersebut, disini siswa cukup menghafal deskriminan dan cirinya. Perbedaan yang juga jelas adalah pada AR siswa sadar bahwa setiap tahapan penyelesaian soal sangat bergantung satu sama lain (antar tahap satu dan berikutnya) tidak seperti pada MR. Penalaran yang digunakan dalam menyelesaikan soal matematika dikatakan bertipe AR jika memenuhi kriteria berikut: 14

15 a. Strategi menjawab soal dilakukan dengan mengingat kembali urutan prosedur yang benar dari solusi. b. Strategi menjawab mengikuti prosedur, sehingga pada setiap tahapan pengerjaan soal bisa dilakukan dengan kalkulasi yang tidak terlalu kompleks dan cukup sederhana. AR dapat digunakan jika siswa berhadapan dengan soal yang sudah sering ia temui dan selesaikan. Namun, penelitian menunjukkan bahwa banyak siswa menggunakan AR untuk mengerjakan soal-soal yang bersifat "problem solving". Hal tersebut tidak perlu dipermasalahkan karena para ahli matematika pun sering menggunakan metode AR ini dalam memecahkan masalah matematika, karena penggunaan AR menghemat waktu pengerjaan dan meminimalisir resiko kesalahan, dan tidak kompleks (Bergqvist, 2007). Soal-soal yang sering dikenali atau akrab bagi siswa (dapat dipecahkan dengan AR) adalah: a. Setidaknya 3 buku teks memuat tugas, contoh soal dan latihan yang memiliki kejadian sama/berkarakteristik sama dengan soal ujian. b. Atau ada bagian dari teori, contoh, dan latihan dalam buku teks yang tersambung dengan soal ujian sehingga memungkinkan siswa untuk mengidentifikasi algoritma yang berlaku. 2. Creative Reasoning (Penalaran Kreatif) Penalaran kreatif dalam matematika menurut Haylock (Lithner, 2008) adalah sebuah aktifitas berfikir kreatif, yang ditandai dengan fleksibelitas (kelenturan) berfikir melalui pendekatan yang berbeda. Menurut Lithner, kreatifitas tidak berhubungan dengan keturunan tetapi berkaitan dengan kreasi yang baru dan penalaran yang baik, berguna untuk menyelesaikan soal. Karakteristik penalaran yang kreatif dalam matematika secara spesifik adalah sesuatu yang baru (novelty), sesuatu yang masuk akal (plausibility), dan berlandasan matematika (mathematical foundation). Creative Reasoning (penalaran kreatif) terdiri dari 2 kategori yaitu Local Creative Reasoning (Penalaran Lokal Kreatif/LCR) dan Global Creative Reasoning (Penalaran Global Kreatif/GCR). 15

16 2.1 Local Creative Reasoning (LCR) Jika suatu soal hampir sepenuhnya dapat diselesaikan dengan menggunakan Imitative Reasoning (IR) dan memerlukan Creative Reasoning (CR) hanya dengan memodifikasi algoritma lokal, maka soal tersebut dikategorikan soal yang memerlukan Lokal Creative Reasoning (LCR). Keakraban siswa dengan suatu soal tergantung kepada seberapa banyak soal dan solusi yang mereka miliki, dan solusi tersebut sangat berbeda dengan buku teks. Sebuah soal dapat bagi seorang siswa bisa menggunakan penalaran AR, karena dalam buku teks yang digunakannya banyak contoh soal yang memiliki solusi sama dengan soal tersebut. Bagi siswa lainnya soal yang sama bisa menggunakan penalaran LCR, karena solusi soal tersebut tidak terdapat dalam buku teks. Hal ini dikarenakan penggolongan soal ujian didasarkan kepada kejadian-kejadian yang sama dalam buku teks. 2.2 Global Creative Reasoning (GCR) Bentuk soal yang dapat diselesaikan dengan global creative reasoning merupakan sesuatu hal yang baru bagi peserta didik, tetapi tidak harus memiliki penyelesaian yang kompleks. Suatu soal dikatagorikan dalam global creative resoning jika suatu soal tidak memiliki solusi yang didasarkan kepada imitatif reasoning. Tidak ada algoritma yang akrab (terdapat contoh dan latihan yang berkarakterisitik sama dengan soal ujian pada kurang dari tiga buku teks) dengan peserta didik untuk menyelesaikan soal walaupun solusi tersebut dapat diperoleh secara langsung jika didasarkan pada sifat mendasar matematika yang ada dalam komponen soal. Soal yang masuk kedalam kategori penalaran global kreatif adalah: a. soal dengan solusi yang terdiri dari konstruksi contoh b. bukti dari sesuatu yang baru c. pemodelan 16

17 BAB III METODE PENELITIAN A. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian ini adalah membandingkan muatan materi, contoh, dan latihan soal yang ada dalam lima buku teks dengan soal Ujian Nasional (UN) matematika jurusan IPA tahun pelajaran 2011/2012. Buku yang dijadikan rujukan adalah buku yang sesuai dengan Standar Isi KTSP 2006 yaitu terbitan Erlangga, Tiga Serangkai, Arfino, Yudhistira, Yrama Widya. Penelitian ini tidak melihat pada proses yang terjadi dalam kelas, baik berupa materi pelajaran maupun bentuk contoh dan latihan soal yang diberikan guru. Penelitian ini hanya mengkaji materi, contoh, dan latihan pada lima buku teks, dengan asumsi bahwa sebagian besar siswa menggunakan dan membahas soal-soal pada buku teks tersebut. Teknis analisis soal dilakukan dengan cara menggolongkan tiap soal dan solusinya dengan mengikuti empat langkah analisis seperti kerangka kerja Lithner berikut: Langkah 1 : Analisis soal ujian nasional Pada langkah pertama ada 4 tahapan yang dilakukan, yaitu: a. Solusi Jawaban dari soal atau algoritma untuk menyelesaikan soal. b. Konteks Konteks adalah situasi nyata dalam kehidupan (jika ada). Konteks terkadang membantu siswa untuk memilih suatu metode yang benar walaupun hanya bersifat mendasar sebagai contoh, konteks tentang deposito bank memberi petunjuk bahwa peserta didik dapat menggunakan algoritma tentang persamaan eksponensial. c. Informasi tentang situasi Informasi tentang situasi adalah informasi mengenai soal, dapat berupa penjelasan tentang kaitan soal dalam pokok bahasan atau sub pokok bahasan. d. Fitur kunci Fitur kunci untuk menunjukkan kata kunci, ungkapan-ungkapan (kalimat), rumus yang jelas digunakan, dan informasi lain yang sesuai dengan yang ada dalam buku teks yang dapat memperjelas soal seperti menggunakan kata fungsi kuadrat dan kata minimum. 17

18 Langkah 2 : Analisis buku teks Analisis dari buku teks adalah mengkaji muatan materi, kejadian-kejadian soal dalam buku teks baik contoh maupun latihan yang memuat sifat-sifat soal yang mendasar dan solusi yang memungkinkan untuk diidentifikasi siswa. Langkah 1 dan 2 digunakan untuk menentukan apakah mungkin ada suatu kejadian, misalnya soal dengan solusi atau memiliki karakterisitik yang sama dengan soal ujian. Terdapat dua jenis data yang digunakan, yaitu: a. Kejadian dalam buku teks Kejadian dalam buku teks adalah muatan materi yang terdapat dalam buku teks. b. Kejadian dalam contoh dan latihan Banyaknya kejadian dalam latihan dan contoh soal yang sama karakterisitiknya dengan soal ujian pada buku teks. Jika kejadian itu tidak sama atau sama dengan soal, maka perbedaan dan kesamaanya dicatat. Langkah 3 : Argumentasi dan Kesimpulan a. Argumentasi Argumentasi berisi penilaian terhadap persyaratan jenis penalaran. Argumentasi ini didasarkan pada informasi yang terkumpul dari langkah kedua dan berhubungan dengan kejadian dan kesamaan dengan soal ujian dengan buku teks. b. Kesimpulan Kesimpulan adalah pengelompokan jenis penalaran berdasarkan argumentasi yang sudah dibuat. Langkah 4 : Komentar Sebagai langkah terakhir, setiap soal yang disajikan dianalisis secara kuantitatif dan kemudian dikomentari. Komenter-komentar tersebut berhubungan dengan gejala yang khusus dari soal atau jenis soal serta hal-hal yang dianggap penting. Untuk memudahkan dalam pengambilan kesimpulan tentang jenis penalaran apa yang digunakan maka disini peneliti membuat ringkasan tentang karakteristik type penalaran berdasarkan kerangka kerja Lithner yang sudah dibahas didepan. Karakteristik Tipe-Tipe penalaran: 1. Memorised Reasoning (MR), jika memenuhi kondisi berikut: a. Strategi menjawab soal didasarkan pada mengingat jawaban secara lengkap. b. Pelaksanaan strategi hanya terdiri dari menuliskan jawaban soal yang diingat siswa. 18

19 c. Pertanyaan berupa meminta fakta,definisi atau bukti. 2. Algorithmic Reasoning (AR), jika memenuhi kondisi berikut: a. Strategi menjawab soal didasarkan pada mengingat algoritma yang sudah akrab bagi siswa. b. Tidak perlu membuat solusi baru dari soal. c. Soal akrab bagi siswa (minimal terdapat contoh pengerjaan soal dalam tiga buku teks). 3. Lokal Creative Reasoning (LCR) a. Algoritma yang dipakai adalah algoritma yang kompleks yang memiliki beberapa sub algoritma. b. Soal ujian tidak akrab bagi siswa. c. Penyelesaian soal membutuhkan Imitative Reasoning dengan modifikasi pada algoritma lokal. d. Contoh dan latihan soal yang memiliki kararteristik yang sama dengan soal ujian terdapat pada kurang dari tiga buku teks. 4. Global Creative Reasoning (GCR) a. Soal ujian tidak akrab atau benar-benar baru bagi siswa. b. Tidak ada algoritma yang akrab bagi siswa untuk mengerjakan soal tersebut c. Jawaban tidak mesti menggunakan solusi kompleks, solusi bisa sangat mudah jika didasarkan pada pemahaman intrinsik matematika (sifat mendasar matematika yang ada dalam soal). d. Penyelesaian soal terdiri dari konstruksi contoh, membuktikan suatu algoritma yang belum diberitahu cara pembuktiannya, atau pemodelan matematika. e. Contoh dan latihan soal yang memiliki kararteristik yang sama dengan soal ujian terdapat pada kurang dari tiga buku teks. 19

20 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HASIL PENELTIAN Data yang diperoleh dari hasil penelitian ini adalah berupa hasil yang diperoleh dari analisis data pada soal Ujian Nasional melalui penalaran yang dikemukakan oleh Lithner yang dikelompokkan berdasarkan tipe penalaran yang berlaku, dan persentase penalaran Imitative Reasoning dan Creative Reasoning. Data tersebut berturut-turut dapat disajikan pada hasil berikut ini. 1. ANALISIS SOAL UJIAN NASIONAL Analisis soal Ujian Nasional dapat dilakukan dengan cara mengelompokkan tiap soal dengan mengikuti empat langkah : a. Langkah pertama : menganalisis dari Solusi soal, konteks, dan informasi yang jelas tentang situasi yang ada dalam pemahaman Ujian Nasional. b. Langkah ke dua : analisis dari buku teks. c. Langkah ke tiga : memberikan argumentasi dan kesimpulan. d. Langkah ke empat : memberikan komentar. Hasil yang diperoleh dari analisis data pada soal Ujian Nasional melalui penalaran yang dikemukakan oleh Lithner yang dikelompokan berdasarkan tipe penalaran yang berlaku adalah sebagai berikut : Jumlah soal yang termasuk kedalam tipe penalaran Imitative Reasoning (IR dan AR) yaitu sebanyak 39 soal, dengan komposisi 37 soal termasuk dalam Algoritmic Reasoning dan 2 soal termasuk dalam Memorized Reasoning. Sedangkan yang termasuk dalam tipe penalaran Creative Reasoning (LCR dan GCR) terdapat sebanyak 1 soal yang terdapat untuk tipe penalaran Local Creative Reasoning. Rangkuman hasil analisis dapat ditunjukkan pada tabel berikut ini: 20

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemahaman Konsep Matematika Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Mulyati, 2013

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Mulyati, 2013 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan bagi siswa. Begitu pula bagi guru, matematika dianggap sebagai pelajaran yang sulit

Lebih terperinci

Kata Pengantar. Jakarta, Desember 2011. Tim Penyusun

Kata Pengantar. Jakarta, Desember 2011. Tim Penyusun Kata Pengantar Dalam proses pembelajaran, penilaian dilakukan untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik sebagai hasil belajar yang telah ditetapkan dalam kurikulum. Oleh karena itu, guru wajib

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2008/2009

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2008/2009 SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2009 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2008/2009 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika

Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika Penulis Dra. Sri Wardhani Penilai Dra. Th Widyantini, M.Si. Editor Titik Sutanti, S.Pd.Si. Ilustrator

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2009/2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2009/2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG UJIAN SEKOLAH/MADRASAH TAHUN PELAJARAN 2009/2010 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13

BAB I PENDAHULUAN. Remaja Rosda Karya, 2013) hlm. 16. aplikasinya (Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada, 2009) hlm, 13 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan Nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu dan relevansi, serta efisiensi manajemen pendidikan. Pemerataan kesempatan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 144 TAHUN 2014 TENTANG KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK DARI SATUAN PENDIDIKAN DAN PENYELENGGARAAN UJIAN SEKOLAH/MADRASAH/PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN DAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving)

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving) 8 BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving) Strategi Pemecahan Masalah bidang studi Matematika ini ditujukan untuk para pengajar bidang studi Matematika sebagai alternatif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi suatu bangsa agar bangsa tersebut dapat meningkatkan kualitas SDM yang dimilikinya. Dengan SDM yang berkualitas maka

Lebih terperinci

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 200 di PPPG Matematika Oleh: Dra. Sukayati, M.

Lebih terperinci

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark. Proses Berpikir Siswa dalam Pengajuan Soal Tatag Yuli Eko Siswono Universitas Negeri Surabaya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses berpikir siswa dalam mengajukan soal-soal pokok

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu

Lebih terperinci

PENGARUH PERMAINAN DOMINO TERHADAP KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD SWASTA PAB 23 PATUMBAK II KABUPATEN DELI SERDANG

PENGARUH PERMAINAN DOMINO TERHADAP KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD SWASTA PAB 23 PATUMBAK II KABUPATEN DELI SERDANG 1 PENGARUH PERMAINAN DOMINO TERHADAP KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD SWASTA PAB 23 PATUMBAK II KABUPATEN DELI SERDANG Sukmawarti Dosen Kopertis Wilayah I dpk pada FKIP Universitas

Lebih terperinci

ii KATA PENGANTAR Puji syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan hidayahnya, sehingga dunia pendidikan kita telah memiliki Standar Nasional Pendidikan. Standar Nasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika ada di mana-mana dalam masyarakat dan matematika itu sangat penting. Sejak memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain

BAB I PENDAHULUAN. hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi belajar yang baik dan memadai sangat membutuhkan hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain menggunakan strategi belajar mengajar

Lebih terperinci

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono washington College of education, UNESA, UM Malang dan LAPI-ITB. 1 Pebruari 8 Maret dan 8-30 April 2002 di Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono Dalam pembelajaran matematika, sistem evaluasinya

Lebih terperinci

NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA

NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN DASAR DI KABUPATEN/KOTA SALINAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 20 TAHUN 2010 TANGGAL 31 AGUSTUS 2010 NORMA, STANDAR, PROSEDUR, DAN KRITERIA (NSPK) PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD) FORMAL DAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan sains saat ini menunjukkan bahwa sains memiliki peran yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Berkembangnya ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG KRITERIA KELULUSAN PESERTA DIDIK, PENYELENGGARAAN UJIAN NASIONAL,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan

BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan BAB II KAJIAN TEORETIS 2.1 Hakekat Soal Cerita yang Diajarkan di Sekolah Dasar 2.1.1 Pengertian Soal Cerita Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan mudah dipahami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini

BAB I PENDAHULUAN. (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini pemerintah sedang giat berupaya meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia), terutama peningkatan dalam bidang pendidikan. Hal ini dikarenakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. biasa disebut dengan kreativitas siswa dalam matematika. Ulangan Harian Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013 SD Negeri No.

BAB I PENDAHULUAN. biasa disebut dengan kreativitas siswa dalam matematika. Ulangan Harian Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013 SD Negeri No. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memberikan pengetahuan kepada seseorang dengan tujuan agar orang tersebut mampu menghadapi perubahan akibat adanya kemajuan

Lebih terperinci

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY

Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi. Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Information Literacy Kunci Sukses Pembelajaran Di Era Informasi Sri Andayani Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY Abstrak Pembelajaran di abad informasi menyebabkan terjadinya pergeseran fokus dari

Lebih terperinci

Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah ii KATA PENGANTAR Dalam rangka mewujudkan visi dan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan

Lebih terperinci

PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011 TENTANG

PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA DAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BERSAMA ANTARA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL DAN MENTERI AGAMA NOMOR 04/VI/PB/2011 NOMOR MA/111/2011

Lebih terperinci

Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012

Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012 Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012 I. Pilihlah jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (X) huruf A, B, C, atau D pada lembar jawaban! 1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Inti dari proses pendidikan secara keseluruhan adalah proses belajar mengajar. Proses belajar-mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Untuk SMA/MA Kelas X Mata Pelajaran : Matematika (Wajib) Penerbit dan Percetakan Jl. Tengah No. 37, Bumi Asri Mekarrahayu Bandung-40218 Telp. (022) 5403533 e-mail:srikandiempat@yahoo.co.id

Lebih terperinci

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN

PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN PANDUAN PENYUSUNAN KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN JENJANG PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH BADAN STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN 2006 KATA PENGANTAR Buku Panduan ini dimaksudkan sebagai pedoman sekolah/madrasah

Lebih terperinci

PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR

PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR ARTIKEL PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR Oleh Dra. Theresia Widyantini, M.Si PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA 2013 1 Abstrak

Lebih terperinci

Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah ii KATA PENGANTAR Dalam rangka mewujudkan visi dan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan

Lebih terperinci

Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan. Hendra Gunawan

Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan. Hendra Gunawan Pembelajaran Matematika yang Menyenangkan Hendra Gunawan Pada sebuah taman berbentuk persegi 10 x 10 m 2 akan dipasang sejumlah pemancar air yang bisa berputar (sprinkler). Bila jangkauan pemancar air

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 22 TAHUN 2006 TANGGAL 23 MEI 2006 STANDAR ISI BAB I PENDAHULUAN

LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 22 TAHUN 2006 TANGGAL 23 MEI 2006 STANDAR ISI BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 22 TAHUN 2006 TANGGAL 23 MEI 2006 STANDAR ISI BAB I PENDAHULUAN Pendidikan nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik

Lebih terperinci

UNIT PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA. Nyimas Aisyah. Pendahuluan

UNIT PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA. Nyimas Aisyah. Pendahuluan UNIT 5 PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Nyimas Aisyah Pendahuluan P embelajaran matematika di Sekolah Dasar sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, menurut kurikulum 2006, bertujuan antara

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi (gairah) untuk membaca. Minat baca dengan

Lebih terperinci

Kata kunci : penggunaan media, gambar seri, peningkatan kemampuan, karangan sederhana.

Kata kunci : penggunaan media, gambar seri, peningkatan kemampuan, karangan sederhana. PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN SEDERHANA SISWA KELAS III SDK RANGGA KECAMATAN LEMBOR KABUPATEN MANGGARAI BARAT Herman Yoseph Tagur SDK Rangga Lembor Manggarai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menganggapnya sebagai pelajaran favorit, bukan hal yang sulit untuk

BAB I PENDAHULUAN. menganggapnya sebagai pelajaran favorit, bukan hal yang sulit untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sepertinya sulit untuk dilepaskan dari permasalahan operasi hitungan, penjumlahan, pengurangan, dan sebagainya. Bagi siswa tertentu yang menganggapnya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Model Peraihan Konsep Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model pencapaian konsep. Model peraihan konsep mula-mula didesain oleh Joice

Lebih terperinci

Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah ii KATA PENGANTAR Dalam rangka mewujudkan visi dan misi pendidikan nasional, diperlukan suatu acuan dasar (benchmark) oleh setiap penyelenggara dan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2006 TENTANG STANDAR ISI UNTUK SATUAN PENDIDIKAN DASAR DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemahaman konsep merupakan dasar dan tahapan penting dalam rangkaian pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam Gunawan 1, a student's

Lebih terperinci

http://padamu.siap.web.id Page 1 of 14

http://padamu.siap.web.id Page 1 of 14 1. http://padamu.siap.web.id/ 2. klik: aktifasi akun PTK 3. isi NUPTK 4. isi kode aktifasi 5. klik: lanjut 6. isi password 7. ulangi password 8. isi email (WAJIB ADA) 9. klik: lanjut 10. klik: simpan 11.

Lebih terperinci

P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis)

P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis) P 21 Mengasah Kemampuan Berpikir Kreatif dan Rasa Ingin Tahu Melalui Pembelajaran Matematika dengan Berbasis Masalah (Suatu Kajian Teoritis) Fransiskus Gatot Iman Santoso Program Studi Pendidikan Matematika

Lebih terperinci

SKRIPSI. Disusun Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar LAKSANA NIM : A510070450

SKRIPSI. Disusun Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar LAKSANA NIM : A510070450 PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP PETA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BENAR SALAH BERANTAI PADA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 01 JATIHARJO KECAMATAN JATIPURO SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2009 / 2010

Lebih terperinci

DOKUMEN KURIKULUM 2013

DOKUMEN KURIKULUM 2013 DOKUMEN KURIKULUM 2013 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DESEMBER 2012 http://kangmartho.com 1 Daftar Isi Hal. DAFTAR ISI i I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang B. Landasan Penyempurnaan Kurikulum 1.

Lebih terperinci

SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013

SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013 SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013 SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/ MADRASAH TSANAWIYAH KELAS VII KURIKULUM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar

BAB I PENDAHULUAN. Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar dipahami oleh Peserta didik, sebab materi tersebut merupakan materi yang sangat dasar yang

Lebih terperinci

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: 2252-9454 Vol. 2, No. 3, pp. 19-23 September 2013

Unesa Journal of Chemical Education ISSN: 2252-9454 Vol. 2, No. 3, pp. 19-23 September 2013 PENERAPAN PEMBELAJARAN DENGAN STRATEGI POGIL PADA MATERI POKOK KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN UNTUK MELATIH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS XI SMA NEGERI 1 SOOKO MOJOKERTO LEARNING IMPLEMENTATION

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR ISI UNTUK PROGRAM PAKET A, PROGRAM PAKET B, DAN PROGRAM PAKET C DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Dan salah satu hal yang menentukan kualitas pembelajaran adalah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2007 TENTANG STANDAR PENGAWAS SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang :

Lebih terperinci

Kata Kunci: instrumen penilaian, benar-salah, kemampuan berpikir tingkat tinggi, dinamika rotasi, kesetimbangan tegar

Kata Kunci: instrumen penilaian, benar-salah, kemampuan berpikir tingkat tinggi, dinamika rotasi, kesetimbangan tegar PENGEMBANGAN INSTRUMEN TES BENAR-SALAH UNTUK MENILAI KEMAMPUAN BERPIKIR TINGKAT TINGGI SISWA PADA MATERI DINAMIKA ROTASI DAN KESETIMBANGAN BENDA TEGAR Aliyyatus Sa adah, Sugiyanto, S.Pd, M.Si, dan Drs.

Lebih terperinci

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII Oleh Adi Wijaya, S.Pd, MA PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA

Lebih terperinci

Ujian Nasional. Kebijakan Perubahan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Anies R. Baswedan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Ujian Nasional. Kebijakan Perubahan. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Anies R. Baswedan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Kebijakan Perubahan Ujian Nasional Anies R. Baswedan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan disampaikan dalam konferensi pers Jakarta, 23 Januari 2015

Lebih terperinci

Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM

Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM Pendahuluan 0 Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model adalah guna menemukan peubah-peubah apa yang penting

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 78 B. TUJUAN 78 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 78 D. UNSUR YANG TERLIBAT 79 E. REFERENSI 79 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 79 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 82 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi manusia, jika ide pokok di dalam wacana tersebut tidak dipahami.

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi manusia, jika ide pokok di dalam wacana tersebut tidak dipahami. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk yang butuh akan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan diharapkan akan membawa manusia semakin baik. Hanya saja ilmu pengetahuan tidak akan diperoleh

Lebih terperinci

DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SOSIALISASI UJIAN NASIONAL. SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2013/2014

DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SOSIALISASI UJIAN NASIONAL. SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2013/2014 DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SOSIALISASI UJIAN NASIONAL SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2013/2014 1 DasarPelaksanaanUjianNasional 1. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Lebih terperinci

PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT

PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT Welhelmus Denny SD Loce Kecamatan Sahu Timur Kabupaten Halmahera Barat Abstrak:

Lebih terperinci

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 ISSN: 1693-1246 Juli 2011 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 J P F I http://journal.unnes.ac.id PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

Lebih terperinci

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mencapai derajat Magister

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1990 TENTANG PENDIDIKAN DASAR PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal 13 Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MATERI LUAS PERMUKAAN DAN VOLUM LIMAS YANG SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK PMRI DI KELAS VIII SMP NEGERI 4 PALEMBANG

PENGEMBANGAN MATERI LUAS PERMUKAAN DAN VOLUM LIMAS YANG SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK PMRI DI KELAS VIII SMP NEGERI 4 PALEMBANG PENGEMBANGAN MATERI LUAS PERMUKAAN DAN VOLUM LIMAS YANG SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK PMRI DI KELAS VIII SMP NEGERI 4 PALEMBANG Hariyati 1, Indaryanti 2, Zulkardi 3 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengembangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bahwa tujuan pembelajaran matematika di sekolah agar siswa memiliki

BAB I PENDAHULUAN. bahwa tujuan pembelajaran matematika di sekolah agar siswa memiliki BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu tujuan pembelajaran matematika adalah agar siswa memiliki kemampuan pemahaman konsep dalam memecahkan permasalahan. Pemahaman konsep matematika merupakan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3

DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 DAFTAR ISI A. LATAR BELAKANG 1 B. TUJUAN 2 C. RUANG LINGKUP KEGIATAN 2 D. UNSUR YANG TERLIBAT 2 E. REFERENSI 2 F. PENGERTIAN DAN KONSEP 3 G. URAIAN PROSEDUR KERJA 5 LAMPIRAN 1 : ALUR PROSEDUR KERJA ANALISIS

Lebih terperinci

PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA. Dermalince Sitinjak, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara PENDAHULUAN

PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA. Dermalince Sitinjak, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara PENDAHULUAN PENGGUNAAN ALAT PERAGA MATEMATIKA Dermalince Sitinjak, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara PENDAHULUAN Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran

Lebih terperinci

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II PADA POKOK BAHASAN SEGIEMPAT DITINJAU DARI POLA BELAJAR SISWA KELAS VII SEMESTER 2

EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II PADA POKOK BAHASAN SEGIEMPAT DITINJAU DARI POLA BELAJAR SISWA KELAS VII SEMESTER 2 EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW II PADA POKOK BAHASAN SEGIEMPAT DITINJAU DARI POLA BELAJAR SISWA KELAS VII SEMESTER 2 ( MTs Negeri Bekonang Tahun Ajaran 2008/2009 ) SKRIPSI Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

5 25% BAB I PENDAHULUAN

5 25% BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sekarang ini banyak orang menyebutkan abad melenium. Pada masa ini menuntut penguasaan teknologi adalah kebutuhan mutlak. Bahkan kita dituntut untuk dapat

Lebih terperinci

Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Kontekstual Tatag Y. E. Siswono FMIPA UNESA Surabaya

Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Kontekstual Tatag Y. E. Siswono FMIPA UNESA Surabaya Penilaian Autentik dalam Pembelajaran Kontekstual Tatag Y. E. Siswono FMIPA UNESA Surabaya Dalam pembelajaran kontekstual, -yang cirinya adalah menekankan pada pemahaman konsep dan pemecahan masalah, siswa

Lebih terperinci

Peran Penting Guru Matematika dalam Mencerdaskan Siswanya

Peran Penting Guru Matematika dalam Mencerdaskan Siswanya Peran Penting Guru Matematika dalam Mencerdaskan Siswanya Fadjar Shadiq, M.App.Sc (fadjar_p3g@yahoo.com & www.fadjarp3g.wordpress.com) Peran guru matematika sangat penting. Guru matematika akan sangat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : a. bahwa pendidikan nasional

Lebih terperinci

MODUL LOGIKA MATEMATIKA

MODUL LOGIKA MATEMATIKA PERENCANAAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA MODUL LOGIKA MATEMATIKA AUTHOR: Navel Mangelep UNIVERSITAS NEGERI MANADO FAKULTAS MATEMATIKA & ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN MATEMATIKA KATA PENGANTAR Salah satu penunjang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 28 TAHUN 2010 TENTANG PENUGASAN GURU SEBAGAI KEPALA SEKOLAH/MADRASAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BIMBINGAN BELAJAR 4/6/6

BIMBINGAN BELAJAR 4/6/6 BIMBINGAN BELAJAR OLEH : SETIAWATI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2008 4/6/6 Bimbingan Belajar Proses layanan bantuan kepada individu (mahasiswa) agar memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif,

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1)

PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1) H. SufyaniPrabawant, M. Ed. Bahan Belajar Mandiri 5 PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1) Pendahuluan Bahan belajar mandiri ini menyajikan pembelajaran bangun-bangun ruang dan dibagi menjadi dua kegiatan belajar.

Lebih terperinci

Oleh: HARRY SULASTIANTO

Oleh: HARRY SULASTIANTO Oleh: HARRY SULASTIANTO PENGERTIAN KARYA TULIS ILMIAH Karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ipteks yang diperolehnya melalui studi kepustakaan, pengalaman, penelitian,

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA (Studi Eksperimen Di kelas XI IPA SMA Negeri 4 Tasikmalaya)

Lebih terperinci

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 disebutkan bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab,

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Metode tanya-jawab seringkali dikaitkan dengan kegiatan diskusi, seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, meskipun

Lebih terperinci

Pengelolaan Pendidikan Kelas Khusus Istimewa Olahraga. menuju tercapainya Prestasi Olahraga

Pengelolaan Pendidikan Kelas Khusus Istimewa Olahraga. menuju tercapainya Prestasi Olahraga Pengelolaan Pendidikan Kelas Khusus Istimewa Olahraga menuju tercapainya Prestasi Olahraga Oleh: Sumaryanto Dosen FIK UNY Dipresentasikan dalam acara Program Kelas Khusus Olahraga Di SMA N 4 Yokyakarta,

Lebih terperinci

Suku Banyak. A. Pengertian Suku Banyak B. Menentukan Nilai Suku Banyak C. Pembagian Suku Banyak D. Teorema Sisa E. Teorema Faktor

Suku Banyak. A. Pengertian Suku Banyak B. Menentukan Nilai Suku Banyak C. Pembagian Suku Banyak D. Teorema Sisa E. Teorema Faktor Bab 5 Sumber: www.in.gr Setelah mempelajari bab ini, Anda harus mampu menggunakan konsep, sifat, dan aturan fungsi komposisi dalam pemecahan masalah; menggunakan konsep, sifat, dan aturan fungsi invers

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 19 TAHUN 2005 TENTANG STANDAR NASIONAL PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Abad ke-21 disebut-sebut oleh pakar, termasuk futurology, sebagai abad

BAB I PENDAHULUAN. Abad ke-21 disebut-sebut oleh pakar, termasuk futurology, sebagai abad 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Abad ke-21 disebut-sebut oleh pakar, termasuk futurology, sebagai abad informasi dan pengetahuan. Karena informasi dan pengetahuan akan menjadi landasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Permasalahan yang sering muncul di bidang pendidikan biasanya tidak lepas dari kualitas peserta didik. Salah satu cara untuk mengetahui peningkatan kualitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Buku memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Buku merupakan salah satu sumber bahan ajar. Ilmu pengetahuan,

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam Winataputra, 2008:1.5) yang menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung:

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan unsure yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Dalam pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah, pendidik merupakan

Lebih terperinci

PROBLEM KENAIKAN PANGKAT GURU Oleh : Istamaji, S.I.Kom (Analis Kepegawaian Pertama Kantor Kementerian Agama Kab. Way Kanan)

PROBLEM KENAIKAN PANGKAT GURU Oleh : Istamaji, S.I.Kom (Analis Kepegawaian Pertama Kantor Kementerian Agama Kab. Way Kanan) PROBLEM KENAIKAN PANGKAT GURU Oleh : Istamaji, S.I.Kom (Analis Kepegawaian Pertama Kantor Kementerian Agama Kab. Way Kanan) PENDAHULUAN Guru kini semakin menghadapi permasalahan yang cukup berat dalam

Lebih terperinci

KARYA TULIS ILMIAH SEBAGAI SALAH SATU KARYA PENGEMBANGAN PROFESI GURU Oleh : Dra. Umi Chotimah, M. Pd

KARYA TULIS ILMIAH SEBAGAI SALAH SATU KARYA PENGEMBANGAN PROFESI GURU Oleh : Dra. Umi Chotimah, M. Pd KARYA TULIS ILMIAH SEBAGAI SALAH SATU KARYA PENGEMBANGAN PROFESI GURU Oleh : Dra. Umi Chotimah, M. Pd 1. Pendahuluan Profesionalisme merupakan tuntutan yang saat ini dituntut bagi seorang guru, tidak hanya

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2013 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 100 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENGGUNAAN DANA ALOKASI KHUSUS BIDANG PENDIDIKAN TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat. Untuk membina

BAB I PENDAHULUAN. kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat. Untuk membina 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha manusia secara sadar untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat. Untuk membina kepribadian tersebut dibutuhkan

Lebih terperinci

CONTOH SILABUS BERDIVERSIFIKASI DAN PENILAIAN BERBASIS KELAS

CONTOH SILABUS BERDIVERSIFIKASI DAN PENILAIAN BERBASIS KELAS CONTOH SILABUS BERDIVERSIFIKASI DAN BERBASIS KELAS Mata Pelajaran MATEMATIKA LAYANAN KHUSUS SEKOLAH dan MADRASAH IBTIDAIYAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL Jakarta, 2003 Katalog dalam Terbitan Indonesia.

Lebih terperinci