STATEMENT INFID TENTANG BANK DUNIA HARUS IKUT BERTANGGUNG JAWAB ATAS TERJADINYA BENCANA SITU GINTUNG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "STATEMENT INFID TENTANG BANK DUNIA HARUS IKUT BERTANGGUNG JAWAB ATAS TERJADINYA BENCANA SITU GINTUNG"

Transkripsi

1 ( NGO in Special Consultative Status with the Economic and Social Council of the United Nation, Ref. No : D1035 ) Jl. Mampang Prapatan XI No. 23, Jakarta Indonesia * Phone (62-21) , , * Fax (62-21) * * STATEMENT INFID TENTANG BANK DUNIA HARUS IKUT BERTANGGUNG JAWAB ATAS TERJADINYA BENCANA SITU GINTUNG Situ Gintung, waduk peninggalan Belanda yang berada di kelurahan Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, pada tanggal 27 Maret 2009 pukul WIB, jebol tak kuat menahan derasnya air bah. Air bah setinggi 2-3 meter ini menerpa ratusan rumah warga yang masih terlelap tidur, fasilitas umum dan fasilitas sosial dengan kerusakan seluas +10 ha. Situ Gintung yang dibangun untuk irigasi teknis persawahan dan untuk menjaga adanya kelebihan air akibat limpahan, justru memuntahkan limpahan dan menelan korban ratusan meninggal dan hilang; sementara ribuan lainnya kehilangan tempat tinggalnya.. Jumlah korban tewas dalam Tragedi Situ Gintung 100 jiwa dan korban luka-luka sebanyak 52 orang. Jumlah pengungsi mencapai 902 orang dan 100 orang lainnya belum ditemukan atau dinyatakan hilang. Mayoritas korban tewas adalah warga RT 3/RW8, RT 3/RW 2, RT 1/RW 7, RT 4/RW 8, Kampung Situ Gintung, Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat Timur. Sekitar 319 rumah di Kelurahan Cirendeu dan Kelurahan Poncol rusak, ratusan yang lainnya terendam air 1-2 meter di Perumahan Bukit Pratama dan Perumahan Perumahan Cirendeu Permai di tepi Kali Pesangrahan sampai mencapai Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, 11 unit gedung Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), dan gedung TK PAUD. Belum lagi kerusakan harta benda yang dialami oleh lebih dari Warga (sekitar 700 Kepala Keluarga). Harta benda mereka hancur berantakan: rumah, mobil dan sepeda motor, tak luput dari hantaman air. Hampir dapat dipastikan, jumlah kerugian meteriil yang dialami berbagai pihak mencapai ratusan milyar rupiah. Korban WATSAL Tak banyak yang tahu bahwa sebenarnya pengelolaan dan pemeliharaan Situ Gintung terkait dengan pendanaan pengelolaan sumberdaya air dalam skema proyek WATSAL (Water Resources Sector Adjusment Loan). Proyek ini merupakan bagian dari perjanjian utang (Loan Agreement) antara pemerintah Indonesia dengan World Bank dalam document Loan IND, untuk utang sebesar $ USD 300 juta, yang ditanda tangani pada 28 Mei 1999, antara Menteri Keuangan Dorodjatun Kuncoro Jakti, sebagai pejabat yang berwenang dari Indonesia dan Julian Schweitzer sebagai pejabat yang berwenang dari IBRD (International Bank For Reconstruction and development)-bank Dunia. Perjanjian WATSAL yang ditandatangani

2 pada 28 Mei 1999, kemudian diamandemen melalui surat dari IBRD Bank Dunia dikirimkan pada 19 Desember 2001 WATSAL (Loan 4469-IND), memuat serangkaian persyaratan yang terbagi dalam 2 tahapan Persyaratan (conditionalities), terdiri dari Part A berisi 8 butir persyaratan dan Part B terdiri dari 9 butir persyaratan. Persyaratan tersebut mengharuskan Indonesia untuk mengubah Undang-undang tentang Sumber Daya Air, perubahan berbagai regulasi, prosedur dan tata kelola terkait dengan sumber daya air. Terkait dengan irigasi, pada Part B no 2 disyaratkan: a) Menerbitkan revisi Undangundang tentang Sumber Daya Air, yang dapat diterima oleh World Bank, antara lain didalamnya termasuk mengatur: (i) Pembentukan Dewan Sumber Daya Air (SDA) Tingkat Nasional yang anggotanya terdiri dari berbagai pemangku kepentingan; (ii) membentuk Dewan SDA di tingkat provinsi dan kabupaten serta mengatur tata cara partisipasi pihak non pemerintah dalam kebijakan dan pengambilan keputusan. b) menerbitkan revisi berbagai Peraturan Pemerintah, yang dapat diterima oleh Bank Dunia, sebagaimana dimandatkan dalam UU SDA yang telah direvisi. c) Menerbitkan revisi peraturan pelaksanaan di tingkat nasional dan propinsi, yang dapat diterima oleh World Bank, sebagai pelaksana UU SDA yang telah direvisi. Disamping itu, disyaratkan pula untuk membentuk kerangka kerja untuk pembiayaan yang dapat diterima oleh World Bank yaitu: a) pembiayaan operasional dan perawatan yang dibiayai oleh pemerintah, asosiasi pengguna air dan federasi pengguna air, untuk menjamin keberlanjutan fiskal dalam perawatan dan rehabilitasi irigasi; b) pengembangan usaha penghimpunan dana yang dikelola oleh asosiasi pengguna air dan federasi asosiasi pengguna air, untuk pembiayaan rehabilitasi dan perbaikan jaringan irigasi. (Part B no. 9 a) dan b) Salah satu dari 9 (sembilan) Peraturan Pemerintah (PP) yang harus direvisi, sebagaimana disebutkan dalam matriks kebijakan, adalah Peraturan Pemerintah (PP) No 22 Tahun 1983 tentang Irigasi. Peraturan Pemerintah tersebut direvisi melalui penerbitan PP No 77 tahun Pada prinsipnya PP baru ini merupakan Pemindahan kewenangan Pengelolaan air dari pemerintah kepada Asosiasi Pengguna Air dan Federasi Asosiasi Pengguna Air, Mengubah peran dan tangung jawab pemerintah pusat, pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah Kabupaten dan membentuk Asosiasi Pengguna Air dan Federasi Asosiasi Pengguna Air. Dengan demikian penelantaran situ-situ (termasuk Situ Gintung) adalah akibat dari pengalihan dan ketiadaan koordinasi kewenangan ini. Sejak tahun 2001 berbagai jaringan irigasi, termasuk saluran pengairan sawah, waduk, situ dan lain-lain mengalami kerusakan dan ketelantaran akibat PP No 77 tahun 2001 ini. Lebih dari 1,5 juta herktar areal persawahan mengalami kerusakan karena tidak terkelolanya irigasi karena pelepasan tanggung jawab pemerintah. PP no 77 tahun 2001 ini kemudian direvisi dengan PP No 20 tahun 2006 tentang Irigasi, yang membagi-bagi tanggung jawab dan kewenangan antara pemerintah (pusat), pemerintah propinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota. Pembagian kewenangan yang tidak jelas serta aturan pembiayaan opersional dan perawatan irigasi inilah yangmengakibatkan Situ Gintung terbengkalai dan pada akhirnya mengalami kehancuran.

3 Pembuatan Jogging Track, sebagaimana dilakukan oleh pemerintah (pusat) dalam hal ini Depatemen Pekerjaan Umum (PU) sebenarnya untuk melaksanakan perintah Bank Dunia dalam mengembangkan usaha yang dikelola oleh pengguna air untuk pembiayaan operasi dan rehabilitasi irigasi. Bencana Situ Gintung Harus Menjadi Tanggung Jawab Bank Dunia Bank Dunia, sejak awal telah mengetahui risiko karena kelemahan-kelemahan dari aspek sosial dan lingkungan hidup yang akan terjadi terhadap program utang WATSAL, sebagaimana disebutkan dalam dokumen Report No. P IND, berjudul: Report and Recommendation of The President of The International Bank For Reconstruction and Development To The Executive Director on A Proposed Water Resources Sector Adjustment Loan In The Amount Of US$ 300 Million of The Republic of Indonesia. Laporan tersebut telah menyebutkan berbagai risiko social dan lingkungan dari utang WATSAL ini, tetapi tidak mempersiapkan langkah-langkah dan kerangka institusional yang tepat untuk mencegah terjadinya risiko tersebut. Program yang dibiayai utang WATSAL Bank Dunia ini telah mendapat pujian sebagai best practice dari OECD seperti diterbitkan dalam buku yang berjudul Applying Strategic Environmental Assessment: Good Practice Guidance for Development Co-operation (2006). Ini menunjukkan hipokrisi dari Bank Dunia, di mana di satu sisi Bank Dunia mengungkapkan ke dunia internasional tentang keberhasilan program utangnya di Indonesia, sementara ke dalam negeri Indonesia Bank Dunia menyembunyikan kerusakan-kerusakan yang diciptakannya. Berdasarkan realitas tersebut diatas, dan didasarkan pada kehancuran yang diakibatkan oleh kebijakan yang difasilitasi oleh utang WATSAL tersebut, maka INFID menuntut kepada Bank Dunia untuk : 1. Mengakui dan mengumumkan kepada publik Indonesia, kesalahan atas proyek utang WATSAL 2. Menyatakan penghapusan utang dan pembatalan perjanjian utang yang timbul dari perjanjian Loan Agreement No 4469 IND, Water Resources Sector Adjustment Loan (WATSAL) 3. Bertanggung jawab atas seluruh kerugian materiil dan kerugian immateriil yang diderita oleh masyarakat di sekitar Situ Gintung. 4. Memberikan ganti kerugian kepada Negara atas kerusakan sistem irigasi di Indonesia, termasuk, dan tidak terbatas pada segala tindakan yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah dalam penanganan dan penanggulangan kerusakan sistem irigasi serta bencana akibat rusaknya Irigasi. INFID akan melakukan segala daya upaya untuk mengajak solidaritas internasional untuk memastikan dilaksanakannya tanggung jawab Bank Dunia atas kesalahan yang dilakukan. INFID juga akan menggunakan segala saluran mekanisme internasional untuk memastikan kepatuhan dan tanggung jawab Bank Dunia.

4 INFID juga menyerukan kepada seluruh masyarakat Indonesia agar bersama-sama menghentikan ulah Bank Dunia melalui kebijakan-kebijakan yang tidak menguntungkan rakyat Indonesia. Masyarakat Indonesia harus mengetahui bahwa Bank Dunia telah menyetujui utang baru yaitu Indonesia: Dam Operational Improvement/Safety (DOISP) sebesar 50 juta dollar Amerika untuk pembuatan kebijakan-kebijakan untuk pengelolaan bendungan-bendungan di Indonesia, yang ditandatangani di Washington tanggal 19 Maret 2009, satu minggu sebelum terjadinya bencana Situ Gintung. Kekuasaan Bank Dunia di Indonesia harus segera dibendung! Jakarta, 8 April 2009 Don K Marut Executive Director For more information please contact: Dian Kartika Sari Deputy Director Wahyu Susilo Head of Network and Campaign Division

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG WILAYAH NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL TINJAUAN DAN PENILAIAN FASILITATOR PROYEK KHUSUS. Mengenai PROGRAM INVESTASI PENGELOLAAN SUMBER AIR CITARUM TERPADU INDONESIA

LAPORAN HASIL TINJAUAN DAN PENILAIAN FASILITATOR PROYEK KHUSUS. Mengenai PROGRAM INVESTASI PENGELOLAAN SUMBER AIR CITARUM TERPADU INDONESIA i LAPORAN HASIL TINJAUAN DAN PENILAIAN FASILITATOR PROYEK KHUSUS Mengenai PROGRAM INVESTASI PENGELOLAAN SUMBER AIR CITARUM TERPADU INDONESIA PINJAMAN 2500/2501(SF) INO (13 Nov 2008) MARET 2011 ii DAFTAR

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa informasi merupakan kebutuhan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Desa memiliki hak asal usul dan hak tradisional dalam

Lebih terperinci

PERJANJIAN MILLENIUM CHALLENGE ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT DIWAKILI OLEH THE MILLENIUM CHALLENGE CORPORATION

PERJANJIAN MILLENIUM CHALLENGE ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT DIWAKILI OLEH THE MILLENIUM CHALLENGE CORPORATION OFFICIAL TRANSLATION PERJANJIAN MILLENIUM CHALLENGE ANTARA REPUBLIK INDONESIA DAN AMERIKA SERIKAT DIWAKILI OLEH THE MILLENIUM CHALLENGE CORPORATION PERJANJIAN MILLENIUM CHALLENGE DAFTAR ISI Halaman Pasal

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM RESI GUDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM RESI GUDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBUK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2006 TENTANG SISTEM RESI GUDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa pembangunan bidang ekonomi khususnya

Lebih terperinci

Buku Utama RENCANA AKSI REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI WILAYAH PASCA BENCANA GEMPA BUMI DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN PROVINSI JAWA TENGAH

Buku Utama RENCANA AKSI REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI WILAYAH PASCA BENCANA GEMPA BUMI DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN PROVINSI JAWA TENGAH Republik Indonesia RENCANA AKSI REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI WILAYAH PASCA BENCANA GEMPA BUMI DI PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA DAN PROVINSI JAWA TENGAH Buku Utama PRAKATA Terjadinya bencana alam

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 1997 TENTANG PERDAGANGAN BERJANGKA KOMODITI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2007 TENTANG PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa setiap orang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

- 1 - UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK

- 1 - UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK - 1 - UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Standar Transparansi APEC untuk Pengadaan di Indonesia. Dalam Tahap Pengerjaan

Standar Transparansi APEC untuk Pengadaan di Indonesia. Dalam Tahap Pengerjaan Standar Transparansi APEC untuk Pengadaan di Indonesia Dalam Tahap Pengerjaan Transparency International-USA dan Center for International Private Enterprise. Semua Hak Cipta Dilindungi. 2011 Peneliti utama:

Lebih terperinci

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN

UU PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 11/ 3 /PBI/2009 TENTANG BANK UMUM SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa dalam menghadapi perkembangan perekonomian nasional

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2010 TENTANG CAGAR BUDAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaan budaya bangsa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

II. PASAL DEMI PASAL Pasal l Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas.

II. PASAL DEMI PASAL Pasal l Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Cukup jelas. Pasal 5 Cukup jelas. PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2005 TENTANG BADAN REHABILITASI DAN REKONSTRUKSI WILAYAH DAN KEHIDUPAN MASYARAKAT PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI DI PROVINSI RIAU

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI DI PROVINSI RIAU UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI DI PROVINSI RIAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

Masyarakat yang Tergusur: Pengusiran Paksa di Jakarta

Masyarakat yang Tergusur: Pengusiran Paksa di Jakarta September 2006 Volume 18 No. 10(C) Ringkasan Laporan Human Rights Watch, Masyarakat yang Tergusur: Pengusiran Paksa di Jakarta Versi lengkap laporan ini terdapat dalam Bahasa Inggris. Ringkasan... 1 Standar

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional

Lebih terperinci