PERANCANGAN DAN PENAHAN RADIASI DI UNIT RADIOLOGI UNTUK DIAGNOSTIK MENGGUNAKAN SINAR-X

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PERANCANGAN DAN PENAHAN RADIASI DI UNIT RADIOLOGI UNTUK DIAGNOSTIK MENGGUNAKAN SINAR-X"

Transkripsi

1 PERANCANGAN DAN PENAHAN RADIASI DI UNIT RADIOLOGI UNTUK DIAGNOSTIK MENGGUNAKAN SINAR-X Tito Sutjipto. Jurusan Teknik Nuklir Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada ABSTRAK PERANC~GAN DAN PENAHAN RADIASI DI UNIT RADIOLOGI UNTUK DIAGNOS'IlK MENGGUNAKAN SINAR-X. Setiap pekeija radiasi selalu mempunyai fisiko paparan radiasi selama menpl.ulkan tugasnya. Untuk itu perlu diteliti keselamatan dan kesehatan keija bagi pekerja radiasi dalam kaitannya dnl;.:..n perancangan dan pengukuran laju paparan radiasi di.unit radiologi untuk diagnostik menggunakan sinar-x. Pad! penelitian ini digunakan studi kasus di sekitar pesawat sinar-x untuk kegiatan diagnostik pasien di unit radiologi Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP-4) Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara rancang bangun unit radiologi untuk diagnostik menggunakan sinar-x dengan posisi penempatan pesawat sinar-x. berdasar variabel jarak clan laju paparan radiasi yang terjadi selama diagnostik pasien. Penelitian ini dijalankan dengan mengambil data dari perancangan lmit radiologi untuk diagnostik menggunakan sinar-x, dan pengukuran laju paparan radiasi yang teijadi selama diagnostik pasien. Oari data perancangan tersebut,dapat dipakai sebagai dasar persyaratan bahan perisai primer maupun sekunder lmtuk unit radiologi danjuga sebagai dasar perhitungan laju paparan radiasi yang terjadi selama diagnostik pasien. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari segi keselamatan dan kesehatan kerja, paparan radi..." di sekitar pesawat sinar-x arnan, baik untuk bahan perisai di masing-masing ruang pesawat sinar-x, maupun pap.tr..n radiasi yang diterima petugas, karena masih jauh dari nilai batas rerata tertinggi yang boleh ditl-rimanya (>,07 mr/hari). ABSTRACT DESIGN AND MEASUREMENT OF RADIATION EXPOSURE RATES AT AN X-RAY DIAGNOSTIC RADIOLOGICAL UNIT. Every radiation employees suffers radiation exposure risk while doing his job. It is important therefore to investigate the occupational health and safety of radiation employees on its relationship with the design and measurement of radiation exposure rates at an X-ray diagnostic radiological unit in this work, a case study was held on the radiological unit at BP-4 Yogyakarta for patient diagnostics, This research anned to investigate the relationship between the design of radiological unit for X-ray diagnostics and the location of the X-ray machine, based on the distance variable and radiation exposure rate during patient diagnostics. This was perfonned using radiological unit design data for X-ray diagnostics and the measurement of radiation exposure rates throughout patient diagnostics. The design data can then be used for determining the requirement of primary and. secondary shielding materials for radiological unit as well as a calculation basis of radiation exposure rates during patient diagnostics. From the result of the research, it can be concluded that from the occupational health and safety point of view, radiation exposure around the X-ray machines are fairly good, both for the shielding materials in each X-ray room and the radiation exposures received by the workers, because they are far beyond the maximum permittable average limit (6.67 mrldays). I. PENDAHULUAN pedoman baku keselamatan yang berisi persyaratan dasar untuk melindungi manusia clan Dalam penggunaan teknologi nuklir disadari benar bahwa selain dapat diperoleh manfaat bagi kesejahteraan manusia juga ditemui aspek-aspek telenis yang mempunyai potensi bahaya bagi keselamatan manusia. Oleh karena itu lingkungan terhadap bahaya radiasi nuklir hams ditaati. Salah sam aplikasi radiasi nuklir untuk maksud-maksud damai adalah penggunaannya di bidang kedokteran, khususnya unit radiologi. Aplikasi ini telah cukup beragam, mulai dari Pmsidilg Seminar TeknoJogi KeseJamat3Radiasi dan Biomedika Nuklir I 24

2 penyinaran untuk tujuan diagnostik, pemeriksaan sinar-x gigi, penggunaan radiofannaka, hingga penyinaran untuk tujuan tempi. Hasil studi pendahuluan di Balai Pengobatan Penyakit Pam-Pam (BP-4) Yogyakarta, dijwnpai beberapa hill yang menyebabkan kuradg sempurnanya disain mang, kurang sempumanya bahan dinding sebagai pelisai, kurang disiplin menggunakan apron. clan kurang disiplin menggunakan dosimeter perorangan. Berdasar studi pendahuluan tersebut di alas, rumusan masalah penelitian ini adalah perancangan clan pengukuran laju paparan radiasi di unit radiologi ~tuk diagnostik menggunakan sinai-x. Penelitian ini merupakan modifikasi dari pengetahuan tentang proteksi radiasi, khususnya aspek keselamatan clan kesehatan keija dalam pengendalian zat radioaktif di lingkungan keija IIJ. Analisis yang dilakukan meliputi persyaratan ukuran rancang bangun unit radiologi, persyaratan tebal bahan perisai' radiasi primer dan sekunder, dab laju paparan radiasi yang diizinkan selama pekeljaan diagnostik pasien berlangsung. Dengan penelitian ini diharapkan clapat diketahui rancang bangun unit radiologi untuk diagnostik menggunakan sinai-x, clanlaju paparan radiasi yang diizinkan selama pekeijaan diagnostik pasien berlangsung. Faedah yang clapat diharapkan untuk pembangunan negara adalah penelitian sejenis dapat dikembangkan untuk berbagai ruang lingkup seperti keselamatan radiasi, meliputi proteksi radiasi clan aplikasi teknik nuklir dalam bidang kedokteran Bertakeselamatan lingkungan. Dari sisi ilmu pengetahuan, basil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti lain sebagai hallah masukan illltuk pengembangan penelitian sejenis. Tujuan penelitian ini adalah lilltuk mengetalmi sejauh mana aspek keselamatan da..'l kesehatan keija kaitannya dengan perancangan unit radiologi illltuk diagnostik menggunakan sinai-x, dab laju paparan radiasi yang diizinkan selama pekerjaan diagnostik pasien berlangsilllg, berdasar variabel-variabel jaritk clanlama paparan radiasi. ll. TEORI Keselamatan radiasi merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah keselamatan clan kesehatan manusia dan lingkungan. berkaitan pemberian perlindungan terhadap kemungkinan merugikan kesehatan akibat radiasi. Untuk memenuhi tujuan keselamatan radiasi periu ditetapkan nilai batas dosis radiasi yang diijinkan. yang dikenal dengan sistem pembatasan dosisl 2.3,4, S.6 I. Dalam rota Roentgen, sinar-x yang digunakan adalah sinar-x Bremsstrahlung yang dapat menembus jaringan tubuh tertentu, clandapat menghitamkan film setara dengan perbedaan serapan pacta masing-masing jaringan tubuh. Untuk memperkecil radiasi pada pasien clan petugas radiasi, maka ukuran berkas radiasi hambur dalam kamar sinar-x hams dibuat sekecil mungkin sesuai dengan kebutuhan diagnostik dari pemeriksaan tersebut7j. Sinar-X dapat dihasilkan dari pesawat sinar-x yang terdiri beberapa peralatan pokok berikut ini: tabung sinai-x, katoda, anoda. kolimator, diafragma, dan pendinginl8. Setiap pekeija radiasi selalu mempunyai fisiko terkena paparan radiasi pengion selama menjalaiikantugas. Oleh sebab itu, untuk mengetahui kemungkinan buruk yang tidak diinginkan. para pekeija radiasi diwajibkan menggunakan dosimeter perorangan selama menjalaiikantugasnya. Tindakan pengendalian untuk radiasi pada pekeija radiasi clapat dilakukan dengan salah satu atau lebih dari tiga teknik berikut[4 : (a). mengurangi waktu penyinaran; (b). membuatjarak sejauh mungkin dari sumber radiasi; clan (c). membuat perisai untuk swnber radiasi. Usaha ini dapat dilakukan dengan merancang unit radiologi untuk diagnostik menggunakan sinar-x secara tepat, sehingga kontarninasi pacta lingkilligan acta dalam batas-batas yang masih dapat ditelima clan pactatingkat yang serendah-rendahnya. Untuk tujuan perancangan, dikenal perisai primer clan perisai sekunder. Perisai primer dirancang untuk perlindungan terhadap belkas sinal guna, sedangkan perisai selllllder dirancang illltuk perlindilllgan terhadap radiasi baeor dad radiasi hambur. PekeIja radiasi dalam mengoperasikan pesawat sinar-x berada di batik ProsidiJg Selin:u Teknologi KeselaJJlat:U Radiasi dan Biomedika Nuldir 25

3 sketsel dan mengenakan apron yang terbuat dati bahan timbal (Pb), Untuk paparan yang sampai ke pekerja radiasi selama menjalankan tugasnya masih dikoreksi oleh faktor atenuasi massa sketsel clan apron. Dengan membandingkan nilai paparan yang diterima pekerja radiasi terhadap nilai batas rerata teltinggi yang diizinkan [3,4,maka dapat ditentukan keselamatan clan kesehatan kerja bagi pekerja radiasi, Dengan bantuan perhitungan untuk nisbah penyinaran yang terjadi (K), clan jumlah pelemahan yang diperlukan (BLx) serra jumlah lapisan yang diperlukan (n), dapat disusun formula-formula berikut ini : Penyinaran ini ditimbulkan oleh beban kerja WU ma-menit per rninggu, maka nisbalmya: Jib adalah P. d2p K=JTTV[ R ma - menit illmggu penylllaran maksimum mingguan clan perisai melemahkan radiasi pacta I meter () keboeoran dengan faktor BLx, maka persyaratan perisai dapat dinyatakan dengan : B = P,d2,600 L< W,T Jumlith lapisall setengah nilai (HVL, half Iii/ilL"layc/' dab persepuluh nilai (fvl, lalcll tenth vallie YiUlt!diperIukan untuk mendapatkan tingkat BL< = O,sn (3) dengml n adalahjumlah lapisml ymlg diperlukan, Pekelja radiasi dalam mengoperasikan pesawat sinm'-x berada di balik sketsel clan mengenakml apron yang terbuat dmi bahan timbal (Pb), Untuk dosis radiasi atau paparan yang sampai ke petugas radiasi selama menjalankan tugasnya masih dikoreksi oieh faktor atenuasi massa sketsel clan apron, ymlg besarnya paparan radiasi dapat dihitung dengan menggunakml persamaan berikut llli : = Io,e-ux (4) dengml : 0: intensitas yang diketahui u : faktor atenuasi x : tebal bahmlpelindung I : intensitas ymlg ditentukml Dengan memperhatikmlnilai-nilai yang acta pacta masing-masing mang, kemudiml dibantu dengml Gambar I dan/atau Gambm' 2 (Lampiran F), didapatkan hubungml nisbah penyinaran yang teljadi (K) dengml tebal pelisai plilller, dml juga diperoleh hubungml antm'a faktor untuk pelisai,.. (2) pelemahan yang dibutuhkan dihiumg dengan persamaan: sekunder melemahkan radiasi kebocoran (Bb) dengml jumlah lapisan yang diperlukan terhadap lapisan setengah nilai (n). Ketebalan pelisai dihitung dengml bantuan Tabel VI (LampiI'ml G) yang meneantumkan lapisan setengah nilai (HVL) clan persepuluh nilai (TVL) dati timbal (Pb) clan heron untuk berbagai energi sinar-x. Tebal pelisai yang dibutuhkan =n x HVL. Papm'ml radiasi oleh sumber radioaktif bersifat aeak, Proses papm'ml radiasi tidak berpengaruli oleh proses paparan sebelumnya, clan juga tidak akan mempengarulii proses paparan berikutnya. Dengan memperhatikan vanablevariabel jarak clan lama paparan radiasi, lllaka dapat diraneangunit radiologi untuk diagnostik menggunakan sinar-x, berdasm' persyaratanpersyaratml bahml bangunan untuk pelisai radiasi primer maupull perisai radiasi sekunder. Dengan membandingkan basil perhitungan (rmlcang bangull) teoritis terhadap yang telah acta pacta unit radiologi tmtuk diagnostik menggunakan sinar-x, maka dapat ditentukan keselamatan clan kesehatan kelja bagi pm'a petugas atau pekerja radiasi, pasien, dmilingkmlgmlllya. Hipotesis ymlg diajukml dalam penelitian ini adalah "acta hubungan antara peraneangan clan pengukuran laju paparan radiasi di unit radiologi Pmsiding Seminar TeknoJogi KeseJ:ull;/fanRadiasi dim Biomedika Nukli"J 26

4 untuk diagnostik menggunakan sinar-x, berdasar variabel-variabel jarak clan lama paparan radiasi selama diagnostik pasien". TATA KERJA Obyek penelitian adalah perancangan clan pengul'uran laju paparan di unit radiologi untuk diagnostik menggunakall sinar-x, dengan memperhatik,ul vm'iabel-variabd yang helljengmllh, sepeli : jamk, tchal bahan dinding sebagai perisai primer, tebal bahan dinding sebagai perisai sekilllder, lama laju paparan radiasi selama pekelj< meljalmlkan tugaslya menggunakan pesawat silar-x. Alat utama ymlg dipakai dalam pelelitial ili berupa detektor surveymeter, dosimeter perormlgml, alat ul'u" jarak (meterall), spidol, kertas. dmi stop-watch. diagnostik Dirancmlg suatu unit radiologi untuk melggilllakan sinar-x, herdasar ukuran geomdri : panjmlg, lebm". tinggi. Ix>sisi letak pesawat sinar-x, tebal ballan dinding perisai primer. clan tebal bahmi dinding perisai Sel'Ullder. Dari data-data permicmlgml y,ulg dibuat, dapat dipakai sebagai dasar perhitungan laju paparan radiasi raja berbagai jarak yang ditinjau, tebal balimi perisai radiasi primer clan schmeler, clan papm",u) ymig diterima pekelja radiasi selama menjalmlkan tugasnya. Data-data yang diperoleh dari pelgul'u"an (rmicmlg bangilll) dibanding dengan basil perhitungmi berdasar teori yang diacu dari penelitimi ini, kemudiml dimlalisis antara kedua hasil perhitungan tersebut, berdasm" ukuran geometri unit radiologi, tebal bahmi pelisasi radiasi primer clan sekunder, laju paparan radiasi raja berbagai jarak ymig ditinjau, dmi laju paparan radiasi ymlg ditelima pekeija radiasi selama meqjalmlkml tugasnya. DI. HASIL DAN PEMBAHASAN Dm"idata ymlg diperoleh di lapmlgan dapat diteltukml paparan radiasi untuk masing-masing pengul'u"mldi lapangan, dengan memperhatikan faktor kalibrasi surveymeter illltuk konversi dari cpm meljadimrljam. Untuk menentukan papm"miyang ditelima pekelja radiasi, dalam perhinmgan dipakai data raja titik-titik saar pekelja radiasi menjalankan pesawat sinar-x. Peraneangan perisai sinar-x, raja UIlurnnya didasarkan raja peraneangan perisai primer. Hal ini agar diperoleh sistem keselamatan yang setinggi-tingginya clan mempermudah penataal peralatan dalam ruang roentgen. Datadata yang diperoleh dari lapangan dapat dipakai untuk peraneangan dab pcngukuran laju paparan radiasi di unit r;\lliologi lintuk diat!noslik m~nggunakan sin.u'.:\ Berdasm"k,Ul laju paparan radiasi wltuk masing-masing WIit radiologi yang ditinjau, dapat dihitung keperluan ballad perisai sinar-x pada masing-masing WILt, baik unluk perhilungall berdasar bahan pcrisai timbal (Pb), maupun perhitungan berdasar ballad perisai beton" Hasil perhitungmi untuk perancangan dab pen i,,'ukurmi laju paparmi radiasi di Illasing-ma~ing unit radiologi y,ulg tdah dildapkan Icr;UlgkulII pada label-label bcrikut. Tahel I smllp;ti dclh~an 'Llh.:! V menunjukkan hahwa.;cmakin j;liih slljnl d;ui perisai, m;tka lebal PCli';;li yang dipcrlulll II.lkin tipis" Hal ini disehahlui semakin jallh ~limha radiasi dmi pelisai, maka intensitas radiasi yang sampai ke pelisai makin kecil, yaitu berdasar rurnus kuadrat terbalik" Dengan demikian, semakin kecilnya intensitas radiasi yang mengenai dinding, maka tebal yang diperlukan untuk melemakan intelsitas hingga ke intelsitas ambang juga makin berl'u"mlg. Untuk pesawat dengan tegalgan PWICak 00 kv dan 25 kv tebal perisai yang diperlukan untuk menahan intensitas radiasi raja jarak 2,00 meter dari suilber adalah berkisar antara 0,85 mm sampai dengan 2,60 mm untuk timbal (Pb), alau 7,50 cm sampai delgan 2,50 em untuk beton. Bila dibmidingkan dengan data-data yang terdapat raja Balai Pengobatan Penyakit Paru-Pall (BP-4) Yogyakarta, maka kondisi bahan illuding WItuk masing-masing unit radiologi ada yang tidak memenuhi syarat. Maka perlu adanya pelyempumaan terhadap perancangan clan pengul'ufan tersebut. laju paparan radiasi di unit radiologi ~ J" --" J."- 0:.",",:/..,. M..L-fir T ')7

5 Tabel I. Peraneangan Unit Radiologi A Variabel peraneangan : 25 kv, 500 IDA,beban kerja 400 pasienfminggu D K Tebal timbal (Pb) Tebal beton (m) (RImA-menit) (mm) (em),00 3, ,20 26,00,50 6, ,80 23,50 2,00, ' 2, ' ,00 2, ' 2,0 2"."" Tabel II. Peraneanl!an Unit Radiologi B Variabel peraneangan: 25 kv, 500 IDA,beban kerja 240 pasienfminggu D K Tehal timhal (Ph) Tehal heton (m) (RImA-menit) (mm) (em),00 5, ,90 25,00,50, ,00 2.0n 2, ,30 2,lX) , ,0 20,00 3,00 4, ,00 8,50 Tabel III. Perancangan Unit Radiologi C Variabel peraneangan: 25 kv, 500 IDA,beban kerja 70 pasienlminggu D K Tebal timbal (Pb) Tebal beton (m) (RImA-menit) (mm) (em),00, ,50 2,00,50 3, ,25 9,00 2,00 6, ,00 7,50 2,50, ,60 5,00 3,00, ,50 4,00. ~. p---i n..a:"..: ri..~ R:~~DrI;L.., N,,/.-/;,. T?R

6 Tabel IV. Perancangan Unit Radiologi D Variabel peraneangan: 25 kv, 320 ma, beban kerja 400 pasienlminggu D K Tebal timbal (Pb) Tebal beton (m) (RlmA-menit) (mm) (em),00 4,688 "0-5 2,90 25,00,50,055 "04 2,60 2,50 2,00,875 "04 2,40 2,00 2,50 2,936 "04 2,0 20,00 3,00 4,29" 04 2,05 9,00 Tabel V. Peraneangan Unit Radiologi E Variabel peraneangan: 00 kv, 300 ma, beban kerja 0 pasienlminggu D K Tebal timbal (Pb) Tebal beton (m) (RlmA-menit) (mm) (em), " 0-3,0,00,50 4,500" 0-3,05 0,00 2,00 8,000" 0-3 0,85 7,50 2,50,250 "O- 0,65 7,00 3,00,800" 0"2 0,55 6,00 KESIMPULAN Oitinjau dmi segi keselmuatan clan kesehatml kelja, paparan radiasi di sekitar pesawat sinm"-x ymlg teljadi di lingkungml BP-4 Yogyakarta adalah mnan, baik untuk bahan perisai di masing-masing ruang pesawal sinal-x, maupun paparan radiasi yang diterima pekeija radiasi, km"enamasih jauh dati nilai batas rerata tertinggi ymlg boleh ditelmmlya(6,67 mr/hari)" Berdasm"kml operasionalnya, diperoleh data-data permleangan dml pengul'ufml untuk masing-masing wlit radiologi, bahwa untuk pesawat dengan potensial puneak 00 kv clan 25 ky tebal perisai ymlg diperlukan untuk melemahkan intensitas radiasi pacta jarak 2;00 meter dm"ismnber eukup tebal berkism-mltara 0,85 mm smnpai dengan 2,60 mm untuk timbal (Pb), alan 7,50 em smnpai dengml 2,50 em untuk beton" Hal ini sesuai dengan hipotesis yang diajukml bahwa acta hubungan antara peraneangan dml pengukuran laju paparan radiasi di unit radiologi untuk diagnostik menggunakml sinar-x, khususnya berdasar variabel-variabel jarak clan Imna paparan radiasi selmna diagnostik pasien. Untuk memperkecil risiko yang mungkin teijadi akibat pemapm-ml,maka perin diutm"akml beberapa sarmlberil.'utini : a. khusus peraneangml suatu unit radiologi diperlukan pengetahuan perillal proteksi radiasi clankeselmnatan keija, dengan melibatkan para ahli di bidang proteksi radiasi clan bangunan, termasuk manajemen keselmnatan clan kesehatan kelja (K3). b. perin adanya tmnbahan pengetahuan tentang proteksi radiasi clan pengetahuml sejenisnya melalui kursus-kursus singkat alan pendidikan lanjut bagi pekeija radiasi di unit radiologi. UCAPAN TERIMA KASm PenuIis mengueapkan terima kasih yang sedalmn-dalarnnya kepada Kepala Balai Pengobatan Penyakit Pam-Pam Yogyakarta, yang telah memberikan izin penelitian ini. ProsidiJJ! SemllWf TekJoogi Kesel:un:lt:JR:ldi:/si d:m Biomedikl Nuklir I 29

7 DAFTAR PUSTAKA. SUTJIPTO, Hubungan Paparan Radiasi Dengan Keselamatan dadkesehatan KeIja di Balai Pengobatan Penyakit Pam-Pam Yogyakarta, Tesis S-2 Program Sturn TImu Kesehatan KeIja, Jurusan IImu-TImu Kesehatan, Program Pasca SaIjana UGM, Yogyakarta, (998). 2. UATAN. Ketentuan Keselamatan KeIja ledwdup Radiasi. Harlan Tenaga Atom Nasional, Jakarta, (9~Y). 3. CEMBER, H., hjtroduction to Health Physics, PergcunonPress Inc., New York, (983). 4. ICRP, RecomJJe/ldationsof the Intemational Commission on Radiological Protection,ICRP Publication 60, Pergamon Press, Oxford, ( IY90). 5. MARTIN A. culd HARBISON S.A., An Illlwductio/J to Radiatio/l Protection, ChmnpculculdHall, London, (979). 6. I'ROFfO A.E., Radiatio/l Shielding and f)osimetij~ John Wiley and Sons, New York, ( (l)7l). 7- UUSHONG. Radiologic Technologis and }Jrotectioll RadiatIon, CV Mosby Company, London, (975). 8. CLARK, G.L., Applied X-Rays, Mc Graw- Hill Book CompculY,New York, (955). DISKUSI Otto P. Rus/anto - P3KRBiN Pacta makalah anda menyatakan bahwa mangcul BP-4 adalah mmah-mmah pinjamcullsewa. Hasil rancangan saudara merekomendasikan renovasi mmah-mmah tersebut. Apakah rekomendasi diaplikasikail'? terse but "dapat Tito Sutjipto RUCUIgCUI BP-4 di Yogjakarta memang betul dari mmah-mmah pinjammilkontrak. Dari pemakaicul mangan yang pertama (awal pemakaian) sudah dimonitoring oleh pihak BATAN. Namun untuk luang-mang berikutnya, acta yang belum diketahui oleh pihak BATAN dikcu-enakculpindahnya mangcul tersebut sangat mendesak setelah masa pinjammilsewa telah habis masa pakainya. Pacta prinsipnya "rekomendasi' yang dikeluarkan ini sifatnya hanyalah saran setelah ditunjukkan basil rancangan clan pengukuran yang ham tadi. Dan acta juga yang dilaksanakan pembahan desain dikarenakan waktu itu dijalankan renovasi mangan. Samson, /i.si - RSUD KIungkung-BaJi Melihat dari judul diatas, sejaull ini hanya menitik beratkan pacta basil pengukuran, naum sejaull mana perancangan yang ideal bagi pengukuran paparan radiasi di unit radiasi untuk diagnostik. Tito Sutjipto Memang betul, sebagai awal penelitian ini hanya menitik beratkan pacta basil pengukuran. Namun dalam penelitian lebih lanjut faktor-faktor clan pcu-ameter-parameter yang lainnya selalu diseitakcul sebagai faktor koreksi WIttik basil pengm..'ufan tersebut, dcui yang lebih memplihatinkcul adalah bahwa di Rumall sakitlunit Radiologi tidak dilengkapi dengan alatalat Bantu lainnya, seperti surveymeter, detektordetektor yang lain clanjuga alat pelindung diri. Heru Prasetyo -P3KRBiN - Setelall dilakukcul percuiccuigcul ulang, bagaimcula basil bacaan atau exposure pacta daerah-daerah yang anda hitung? Apakah acta pembahan-pembahan exposure pacta daerahdaerah tersebut sebelum clan sesudah pengukuran? 2. Dalam perancangcul anda hanya mempertimbangkculhamburculplimer, bukankah itu akcul membebcuripihak BP-4? 3. Bagaimana jika anda lakukan pembahculposisi alat untuk mengarahkan radiasi ke daerah yang jarang dilalui orang alan faktor okupansi benda (T = IA alan T = /6)? Tito Su{jipto. Hasil bacaan atau exposure pacta daerah yang dihitung tetap sesuai dengan beban keija yang acta pacta daerah tersebut, hculya seccu"a ProsidirJJ: Semm:lr Teknologi Kese:uJJ:lt:lR:ldi:Sid:m Biomedik:l Nllklir I 30

8 perhitungan laju paparan radiasinya mengalami perbaikan untuk kualitas perisaijdinding. 2. Pada awal penelitian semua faktor/pararneter tetap dilakukan tinjauan, seperti harnburan primer, hamburan yang bocor clan sebagainya. Dari perhitungan yang dominan sebagai parameter adalah harnburan primer clan hamburan lainnya juga tetap dilakukan perhitungan. 3. PellhaheUlposisi alai bisa/dapat dilakukan clan tentunya juga dipcrhatikculfaktor o""upculsinya. CUllawall -P3TIR Bapak mengusulkan tarnbahan nahan perisai radiasi dari Pb atau Beton. Berapa kerapateul beton YeUlg bapak usulkan dalam peranceulgan dan berapa faktor shielding dari beton Yelllgdiusulkan Tito.~'lI~jipto '! Untuk tamhahelll bahelll perisai radiasi dari beton, kerapatclll yang dipakai adalah p = 2,359 g/cm3, dan faktor shielding dari beton yang dipakai mengikuti kelcntuan persyaratan peralll:eulgan unit radiologi, khususnya lilituk diagnostik (mengikuti ketcntuan yang dikeluarkan oleh pihak Oep. Kesehatan dab BATAN/BAPETEN)..~ri MlIlyasil- RSUP Dr. Kariadi, Semarang I. Apakah persyaratan gedung/tempat unit radiodiagnostik dab kedokteran nuklir,.hanrs dilapisi Pb? karena yang saya tahu, boleh menggunakan dinding bata/beton selena! 20 cm ( nata) ekivalen dengan Pb, dengan toleransi 0 %. 2. Bagaimana cara menghitung perisai (dinding ballgunan lllang radiodiagnostik delll kedokteran nukiir) dengan kapasitas pesawat 25 kv ; 500 IDA. Untuk pasien :t pasien/minggu (termasuk untuk lllang CT- Scan). tersebut bisa saja hanya terdiri dari batu nata atau beton, atau gabungan dari beberapa nahan. 2. Untuk pesawat 25 kv, 500 ma, pasien :t per rninggu dapat dihitung nilai nisbahnya (Ky, kemudian diplotkan palla kurva yang tersedia (pb atau beton), untuk lllang CT-Scan, prinsip perhitungannyajuga sarna. Helli YlIliati - P3KRBiN I. \:rancang,ui. dim,ula Ictak perancangmlllya ') 2. bill l'ap;u;ui r;uliasi didapatkclll IA,A7 mklhmi. a. I'ada tcg;mg;m (k V) bcrapa '! b. Palla ans (ma) berapa? 3. Bagaimana dengan kolimatomya?, dibuka bcrapa Icb,u'? (lua5 lapangan) Tito SlIljipto I. Perancangan dilakukelll di BP-4 Yogyakara, llldiputi 5 unit. y,.illl : UP-4 Pusat MillgjinUl, Kota.~cdc, r-.luja-muja Kalasan, U;Ultul darl \\'atcs. 2. Kctclltuall IA.A7 mr/h;u'i dihilllng bcrdasar nilai amhallg y.m)! diizillk;ui dcngan dasar 5 rcm/rahlll!. Scdangkall -.: pnalatan tcl'scbut scpclli kv. ma JaIl S mcligikuti mcdilll kelja ycul,!?ada, tennasuk bebeulkcrjarlya. 3. UlItuk kolimatollya tetap dioperasikarildibuka sesuai pada waktu menjalankan pemeriksaan palla pasien ybs. (tergantung besar lapangan, sebagian besar belllpa thorax) Tito.(,'lItjipto. Untuk gedwig/tempat WIltradiodiagnostik dab kedokteran nukiir tidak mutlak hams dilapisi Ph. Hal ini tergantung dari hasil perhitungan keperluan nahan perisai primer dan sekunder yang ada palla lllangan tersebut setelah diperhatikan fungsi alai (kv, ma, S) clanbeban kerja (frekuensi pemakaian du.) Jadi dinding ProsidiJf! c)elijaf TekJoogi Kesel:U3t:m Radiasi d.l BiOledika Nuklir 3

9 Lampiran A PERANCANGAN DAN PENGUKURAN UNIT RADIOLOGI A./:- 4m ~ 6m ~ r Il] /~ ~! 5 M I Ij ~ ;I.",~_-:c--~~ - ~~ \I~,I j f 'I) rf 6 4 r_~_b z I E : f' ' 'DL-- L ~- '. - r.. j-,-:, E I I 9 7 Keterangan Ganibar:. R. Tunggu;2. R. GantiPakaian;3. R. Operator;4. R. Periksa Foto; J. R. Cuci Film; 6. R. Baca Foto; 7. R. Admim'strasi; 8. R. Kamar Keci;9. R. KepaJaInstaJasi. Peraneangan Unit Radiologi A Variabel.- n n kv. " 500 IDA.beban keria 400 n_- n; d K Tebal timbal (Pb) Tebal beton (m) (RlmA-menit) (mm) (em),00 3, ,20 26,00,50 6, ,80 23,50 2,00, ,60 2,50 2,50, ,40 2,00 3,00 2, ,0 20,00 Pm~idi"v Seminar TeknnJoei Kesel:un:ll:m R:ldi:lSi d:m Biomedikl NLJklir I 32

10 Lampiran B PERANCANGAN DAN PENGUKURAN UNIT RADIOLOGI B ~ 2m ~ 30 x 'm > ~~.._- s " 9 (, E 8 rl) E IV) , I Keterangan Gambar:. R. RoentgeJl;2. R. Geap;3. R. PengeJoJa;4. R. Lorang; 5 R. DokteJ~' 6. R. Tunggu; 7.R. SiInpan Film; 8. R. Resepsioms; 9. R. KalllarKecil Peraneangan Unit Radiologi B Variabel 25 kv. 500 IDA.beban keria nf -- un. d K Tebal timbal (Pb) Tebal beton (m) (RlmA-menit) (mm) (em),00 5, ,90 25,00,50, ,50 22,00 2,00 2, ,30 2,00 2,50 3, ,0 20,00 3,00 4, ,00 8,50 Prosiding,)einaf TeknoJogi KeseJ:l:t:lJJ Radi:lsi d3l BiOllledika Nuklir I 33

11 V,'n";,-I;,,,.. '~m;"-u r~l-""/,,,..; "'~"~/-Hn-'h" )-"'/;-'0;,I-", R;"m~,I;l--, I\T"l-I;~, 4 Lampiran C PERANCANGAN DAN PENGUKURAN UNIT RADIOLOGI C ~ ~P 5( ~.."-o.,,..'~' '" ~ ~ :3""'" ~ E\ '-0 z 9 4 v ~ t'() L 5 ; 7 8 Keterangan Gambar:. R. Tunggu;2. R. Roentgen; 3. R. Kontrol; 4. R. Gelap; 5 R. Resepsioms; 6.R. Dokter; 7 R. Pengelola;8. R. Kamar KecII Peraneangan Unit Radiologi C Variabel kv. 500 ma. beban keria 70 un '" u- u_u. d K Tebal timbal (Pb) Tebal beton (m) (R/mA-menit) (mm) (em),00, ,50 2,00,50 3, ,25 9,00 2,00 6, ,00 7,50 2,50,07.0-3,60 5,00 3,00, ,50 4,00

12 Lampiran D PERANCANGAN DAN PENGUKURAN UNIT RADIOLOGI D.'lm -> <f 4) ~ ~m ~ 3m.:x 2, 3 4 E 0 E 'J'" Keterangan Gambar:. R. Tunggu;2. R. Resepsionis; 3. R. Dokfel~'4. R. KawaI Keci; 5. R. Adininistrasi; 6: R. Roentgen; Z R. Gelap; 8. R. Kontrol Peraneangan Unit Radiol tp D Variabel 25 kv. 320 ma., beban keria 400. n/. d K Tebal timbal (Pb) Tebal beton (m) (RlmA-menit) (mm) (em),00 4, ,90 25,00,50,055. W- 2,60 2,50 2,00, ,40 2,00 2,50 2, ,0 20,00 3,00 4, ,05 9,00 ProsidiJg.'>elmar Teknologi Keselal:ll:U Radiasi d:ij Biomedika Nuklir I 35

13 Lampiran E PERANCANGAN DAN PENGUKURAN UNIT RADIOLOGI E,I.. -(---.3rn *---- 3m m >..,==::--.= ".= ~. f: '{ r ii,! I t I ~ Of ft ~.5 8 Keterangan Gambar:. R. Tunggu;2. R. Roentgen; 3. R. KontraJ;4. R. Lorang; 5. R. Resepsioms; 6: R. GeJap;7.R. Kamar KedJ; 8.R. Dokter. Peraneangan Unit Radiologi E Variabel.,-- n."' kv. 300 ma. beban keria 0. oj. D K Tebal timbal (Pb) Tebal beton (m) (RlmA-menit) (mm) (em),00 2, ,0,00,50 4, ,05 0,00 2,00 8, ,85 7,50 2,50, ,65 7,00 3,00,800. 0'2 0,55 6,00 Prosiding.'>eminafTeknoJogi Kesel:llat:mR:ldiasi dan Biomedika Nllklir 36

14 Prosiding Seminar Teknologi Kesel:lIllaun Radiasi dad Biomedik/ Nllklir 37 Lampiran F Hubungan harga K dengan tebal perisai: a. untuk timbal; dad b. untuk heron 0' f:- 0,,-.. 0-' ~ ue - '" "U '" Q.. c u E.i: E a: :.. D-.3,- ()' TimbJI. Jalam mm l.:b3 6 7 Gambar. Hubungan harga K dengan tebal perisai untuk timbal. (Sumber: Cember, 983) lot l,00 ~,~' u Ketd,abn hci!>n. em (I' = 2.:l5'/cI-') Gambar 2. Hubungan harga K dengan tebal perisai untuk beton. (Sumber: Cember, 983)

15 Lampiran G Tabel VI. Lapisan setengah nilai (HVL) dan persepuluh nilai (TVL) I Voltase Materi (bahan) pelemahan Puneak, Timbal (Pb). mm Beton. em KV HVL TVL HVL TVL 50 0,06 0,7 0,43,5 70 0,7 0,52 0,84 2,8 00 0,27 0,88,6 5,3 25 0,28 0,93 2,0 6,6 50 0,30 0,99 2,24 7, ,52,7 2,5 8, ,88 2,9 2,8 9,4 300,47 4,8 3, 0, ,5 8,3 3,3 0, ,6,9 3,6, ,9 26 4,4 4, ,5 42 6, ,5 48,5 7,4 24, ,8 29, ,9 56 0,4 34,5 x.noo 6,9 56,4 37, ,6 55, Cesimn-37 6,5 2,6 4,8 5,7 Kobalt ,2 20,6 Radium 6,6 55 6,9 23,4 (Sumber: Cember, 983) ProsidiJg.'>eliJafTeknologi Kese33t:UJ R3di3Si d:m Bioedik3 Nuklir -:9

PERANCANGAN RUANGAN RADIOTERAPI EKSTERNAL MENGGUNAKAN SUMBER Co-60

PERANCANGAN RUANGAN RADIOTERAPI EKSTERNAL MENGGUNAKAN SUMBER Co-60 PERANCANGAN RUANGAN RADIOTERAPI EKSTERNAL MENGGUNAKAN SUMBER Co-60 Kristiyanti, Budi Santoso, Abdul Jalil, Sukandar PRPN BATAN, Kawasan PUSPIPTEK, Gedung 71, Tangerang Selatan, 15310 ABSTRAK. PERANCANGAN

Lebih terperinci

PERANCANGAN RUANGAN RADIOGRAFI MEDIK DI SEKOLAH TINGGI TEKNIK NUKLIR

PERANCANGAN RUANGAN RADIOGRAFI MEDIK DI SEKOLAH TINGGI TEKNIK NUKLIR YOGYAKARTA, 3OKTOBER 0 PERANCANGAN RUANGAN RADIOGRAFI MEDIK DI SEKOLAH TINGGI TEKNIK NUKLIR Kristiyanti, Ferry Suyatno Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir-BATAN Gd 7 Kawasan Puspiptek Serpong Email untuk korespondensi

Lebih terperinci

PENGUKURAN DOSIS RADIASI RUANGAN RADIOLOGI II RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT (RSGM) BAITURRAHMAH PADANG MENGGUNAKAN SURVEYMETER UNFORS-XI

PENGUKURAN DOSIS RADIASI RUANGAN RADIOLOGI II RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT (RSGM) BAITURRAHMAH PADANG MENGGUNAKAN SURVEYMETER UNFORS-XI PENGUKURAN DOSIS RADIASI RUANGAN RADIOLOGI II RUMAH SAKIT GIGI DAN MULUT (RSGM) BAITURRAHMAH PADANG MENGGUNAKAN SURVEYMETER UNFORS-XI Dira Rizki Martem 1, Dian Milvita 1, Helfi Yuliati 2, Dyah Dwi Kusumawati

Lebih terperinci

PERANCANGAN RUANGAN RADIOTERAPI EKSTERNAL MENGGUNAKAN SUMBER Co-60

PERANCANGAN RUANGAN RADIOTERAPI EKSTERNAL MENGGUNAKAN SUMBER Co-60 PERANCANGAN RUANGAN RADIOTERAPI EKSTERNAL MENGGUNAKAN SUMBER Co-60 Kristiyanti, Budi Santoso, Abdul Jalil, Sukandar Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir (PRPN) BATAN E-mail : kristiyantiwst@yahoo.com ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA Keselamatan radiasi merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan yang mempelajari masalah kesehatan manusia maupun lingkungan yang berkaitan dengan pemberian perlindungan kepada seseorang

Lebih terperinci

EVALUASI TEBAL DINDING RUANGAN PESAWAT LINEAR ACCELERATOR (LINAC) SINAR-X DI INSTALASI RADIOTERAPI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS HASANUDDIN

EVALUASI TEBAL DINDING RUANGAN PESAWAT LINEAR ACCELERATOR (LINAC) SINAR-X DI INSTALASI RADIOTERAPI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS HASANUDDIN EVALUASI TEBAL DINDING RUANGAN PESAWAT LINEAR ACCELERATOR (LINAC) SINAR-X DI INSTALASI RADIOTERAPI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS HASANUDDIN Ismail T., Syamsir Dewang, Bualkar Abdullah Jurusan Fisika, Fakultas

Lebih terperinci

PENENTUAN KARAKTERISASI CERROBEND SEBAGAI WEDGE FILTER PADA PESAWAT TELETERAPI 60 Co

PENENTUAN KARAKTERISASI CERROBEND SEBAGAI WEDGE FILTER PADA PESAWAT TELETERAPI 60 Co PENENTUAN KARAKTERISASI CERROBEND SEBAGAI WEDGE FILTER PADA PESAWAT TELETERAPI 60 Co M. Azam, K. Sofjan Firdausi, Sisca Silvani Jurusan Fisika, FMIPA,Universitas diponegoro ABSTRACT Wedge filter usually

Lebih terperinci

Dhahryan 1, Much Azam 2 1) RSUD 2 )Laboratorium Fisika Atom dan Nuklir Jurusan Fisika UNDIP

Dhahryan 1, Much Azam 2 1) RSUD 2 )Laboratorium Fisika Atom dan Nuklir Jurusan Fisika UNDIP Pengaruh Teknik Tegangan Tinggi Terhadap Entrasce Skin Exposure( ESE ) dan Laju Paparan Radiasi Hambur Pada Pemeriksaan Abdomen Dhahryan 1, Much Azam 2 1) RSUD 2 )Laboratorium Fisika Atom dan Nuklir Jurusan

Lebih terperinci

BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi

BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi Telah ditetapkan Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan kesehatan terhadap pemanfaatan radiasi pengion dan Surat Keputusan Kepala BAPETEN No.01/Ka-BAPETEN/V-99

Lebih terperinci

PENENTUAN TEBAL PERISAI RADIASI PERANGKAT RADIOTERAPI EKSTERNAL Co-60 UNTUK POSISI PENYINARAN

PENENTUAN TEBAL PERISAI RADIASI PERANGKAT RADIOTERAPI EKSTERNAL Co-60 UNTUK POSISI PENYINARAN PENENTUAN TEBAL PERISAI RADIASI PERANGKAT RADIOTERAPI EKSTERNAL Co-60 UNTUK POSISI PENYINARAN Kristiyanti, Budi Santoso, Leli Yuniarsari, Wiranto B.S. Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir - BATAN Kawasan Puspiptek

Lebih terperinci

Dhahryan 1,Wahyu Setia Budi 2 dan Much Azam 2 1) RSUP Karyadi 2 )Laboratorium Fisika Atom dan Nuklir Jurusan Fisika UNDIP

Dhahryan 1,Wahyu Setia Budi 2 dan Much Azam 2 1) RSUP Karyadi 2 )Laboratorium Fisika Atom dan Nuklir Jurusan Fisika UNDIP Pengaruh Teknik Tegangan Tinggi Terhadap Entrasce Skin Exposure( ESE ) dan Laju Paparan Radiasi Hambur Pada Pemeriksaan Abdomen Dhahryan 1,Wahyu Setia Budi 2 dan Much Azam 2 1) RSUP Karyadi 2 )Laboratorium

Lebih terperinci

PEMBUATAN KURVA ISODOSIS PAPARAN RADIASI DI RUANG PEMERIKSAAN INSTALASI RADIOLOGI RSUD KABUPATEN KOLAKA - SULAWESI TENGGARA

PEMBUATAN KURVA ISODOSIS PAPARAN RADIASI DI RUANG PEMERIKSAAN INSTALASI RADIOLOGI RSUD KABUPATEN KOLAKA - SULAWESI TENGGARA Berkala Fisika ISSN : 1410-9662 Vol. 15, No. 4, Oktober 2012, hal 123-132 PEMBUATAN KURVA ISODOSIS PAPARAN RADIASI DI RUANG PEMERIKSAAN INSTALASI RADIOLOGI RSUD KABUPATEN KOLAKA - SULAWESI TENGGARA Syahria

Lebih terperinci

PERANCANGAN RUANG PENGUJIAN KEBOCORAN PESAWAT SINAR X RIGAKU 250 KV DI STTN BATAN YOGYAKARTA

PERANCANGAN RUANG PENGUJIAN KEBOCORAN PESAWAT SINAR X RIGAKU 250 KV DI STTN BATAN YOGYAKARTA YOGYAKARTA, 1- NOVEMBER 007 PERANCANGAN RUANG PENGUJIAN KEBOCORAN PESAWAT SINAR X RIGAKU 50 KV DI STTN BATAN YOGYAKARTA TOTO TRIKASJONO, DJOKO MARJANTO, AGUNG NUGROHO Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN)

Lebih terperinci

PENENTUAN DOSIS RADIASI EKSTERNAL PADA PEKERJA RADIASI DI RUANG PENYINARAN UNIT RADIOTERAPI RUMAH SAKIT DR.KARIADI SEMARANG

PENENTUAN DOSIS RADIASI EKSTERNAL PADA PEKERJA RADIASI DI RUANG PENYINARAN UNIT RADIOTERAPI RUMAH SAKIT DR.KARIADI SEMARANG Berkala Fisika ISSN : 1410-9662 Vol. 16, No. 2, April 2013, hal 57 62 PENENTUAN DOSIS RADIASI EKSTERNAL PADA PEKERJA RADIASI DI RUANG PENYINARAN UNIT RADIOTERAPI RUMAH SAKIT DR.KARIADI SEMARANG Dewi Widyaningsih

Lebih terperinci

DAFTAR KELENGKAPAN DOKUMEN YANG HARUS DILAMPIRKAN

DAFTAR KELENGKAPAN DOKUMEN YANG HARUS DILAMPIRKAN DAFTAR KELENGKAPAN DOKUMEN YANG HARUS DILAMPIRKAN No DOKUMEN Dokumen Administratif 1. Fotokopi Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk WNI /Kartu Izin Tinggal Sementara (KITAS) dan Paspor untuk WNA selaku pemohon

Lebih terperinci

ANALISIS KESELAMATAN RADIASI PADA LABORATORIUM SINAR-X INDUSTRI STTN BATAN YOGYAKARTA

ANALISIS KESELAMATAN RADIASI PADA LABORATORIUM SINAR-X INDUSTRI STTN BATAN YOGYAKARTA ANALISIS KESELAMATAN RADIASI PADA LABORATORIUM SINAR-X INDUSTRI STTN BATAN YOGYAKARTA MUHAMMAD KHOIRI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR-BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL Jl. Babarsari P.O.Box 6101 YKBB Yogyakarta

Lebih terperinci

Paparan radiasi dari pekerja radiasi sejak tahun berdasarkan kriteria dan lama kerja

Paparan radiasi dari pekerja radiasi sejak tahun berdasarkan kriteria dan lama kerja Majalah Farmasi Indonesia, 21(2), 106 114, 2010 Paparan radiasi dari pekerja radiasi sejak tahun 1997 2006 berdasarkan kriteria dan lama kerja Radiation exposure of radiation workers from 1997 2006 based

Lebih terperinci

Bab 2. Nilai Batas Dosis

Bab 2. Nilai Batas Dosis Bab 2 Nilai Batas Dosis Teknik pengawasan keselamatan radiasi dalam masyarakat umumnya selalu berdasarkan pada konsep dosis ambang. Setiap dosis betapapun kecilnya akan menyebabkan terjadinya proses kelainan,

Lebih terperinci

HUBUNGAN TEGANGAN DAN CITRA RADIOGRAFI REAL TIME PADA PESAWAT SINAR-X RIGAKU RADIOFLEX-250EGS3

HUBUNGAN TEGANGAN DAN CITRA RADIOGRAFI REAL TIME PADA PESAWAT SINAR-X RIGAKU RADIOFLEX-250EGS3 HUBUNGAN TEGANGAN DAN CITRA RADIOGRAFI REAL TIME PADA PESAWAT SINAR-X RIGAKU RADIOFLEX-250EGS3 Zaenal Abidin, Muhamad Isa, Tri Wulan Tjiptono* zaenala6@gmail.com STTN-BATAN, *) PTAPB BATAN Yogyakarta Jl.

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR... TAHUN... TENTANG KESELAMATAN RADIASI DALAM PRODUKSI PESAWAT SINAR-X RADIOLOGI DIAGNOSTIK

Lebih terperinci

RANCANGAN AWAL PERISAI RADIASI MESIN BERKAS ELEKTRON DUET

RANCANGAN AWAL PERISAI RADIASI MESIN BERKAS ELEKTRON DUET RANCANGAN AWAL PERISAI RADIASI MESIN BERKAS ELEKTRON DUET Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - Badan Tenaga Nuklir Nasional Jl. Babarsari Kotak Pos 6101 ykbb Yogyakarta 55281 Email : rany@batan.go.id

Lebih terperinci

PERTEMUAN KE 4 (50 MENIT)

PERTEMUAN KE 4 (50 MENIT) PERTEMUAN KE 4 (50 MENIT) TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS : Menjelaskan pengambilan gambar, pencucian film dan pengendalian mutu film radiografi POKOK BAHASAN : Pengambilan gambar, pencucian film dan pengendalian

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2000 TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2000 TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2000 TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR FORMULIR PERMOHONAN SURAT IZIN BEKERJA PETUGAS TERTENTU

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR FORMULIR PERMOHONAN SURAT IZIN BEKERJA PETUGAS TERTENTU KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN I RANCANGAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR TAHUN. TENTANG SURAT IZIN BEKERJA PETUGAS TERTENTU YANG BEKERJA DI INSTALASI

Lebih terperinci

ESTIMASI NILAI CTDI DAN DOSIS EFEKTIF PASIEN BAGIAN HEAD, THORAX DAN ABDOMEN HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6

ESTIMASI NILAI CTDI DAN DOSIS EFEKTIF PASIEN BAGIAN HEAD, THORAX DAN ABDOMEN HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6 ESTIMASI NILAI CTDI DAN DOSIS EFEKTIF PASIEN BAGIAN HEAD, THORAX DAN ABDOMEN HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6 Helga Silvia 1, Dian Milvita 1, Heru Prasetio 2, Helfi Yuliati 2 1 Jurusan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2000 TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2000 TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 63 TAHUN 2000 TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION U M U M Peraturan Pemerintah ini, dimaksudkan sebagai

Lebih terperinci

PEMANTAUAN TINGKAT KEBISINGAN DAERAH KERJA UNTUK MENUNJANG KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DI PTLR-BATAN

PEMANTAUAN TINGKAT KEBISINGAN DAERAH KERJA UNTUK MENUNJANG KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DI PTLR-BATAN PEMANTAUAN TINGKAT KEBISINGAN DAERAH KERJA UNTUK MENUNJANG KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DI PTLR-BATAN Adi Wijayanto, L. Kwin Pudjiastuti Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN adi_w@batan.go.id ABSTRAK

Lebih terperinci

PENGUKURAN PAPARAN RADIASI PESAWAT SINAR X DI INSTALASI RADIODIAGNOSTIK UNTUK PROTEKSI RADIASI

PENGUKURAN PAPARAN RADIASI PESAWAT SINAR X DI INSTALASI RADIODIAGNOSTIK UNTUK PROTEKSI RADIASI Unnes Physics 1 (1) (2012) Unnes Physics Journal http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upj PENGUKURAN PAPARAN RADIASI PESAWAT SINAR X DI INSTALASI RADIODIAGNOSTIK UNTUK PROTEKSI RADIASI Rudi, Pratiwi,

Lebih terperinci

Analisis Pengaruh Sudut Penyinaran terhadap Dosis Permukaan Fantom Berkas Radiasi Gamma Co-60 pada Pesawat Radioterapi

Analisis Pengaruh Sudut Penyinaran terhadap Dosis Permukaan Fantom Berkas Radiasi Gamma Co-60 pada Pesawat Radioterapi Analisis Pengaruh Sudut Penyinaran terhadap Dosis Permukaan Fantom Berkas Radiasi Gamma Co-60 pada Pesawat Radioterapi Fiqi Diyona 1,*, Dian Milvita 1, Sri Herlinda 2, Kri Yudi Pati Sandy 3 1 Jurusan Fisika

Lebih terperinci

Pengukuran Dosis Radiasi dan Estimasi Efek Biologis yang Diterima Pasien Radiografi Gigi Anak Menggunakan TLD-100 pada Titik Pengukuran Mata dan Timus

Pengukuran Dosis Radiasi dan Estimasi Efek Biologis yang Diterima Pasien Radiografi Gigi Anak Menggunakan TLD-100 pada Titik Pengukuran Mata dan Timus ISSN 2302-8491 Jurnal Fisika Unand Vol. 5, No. 2, April 2016 Pengukuran Dosis Radiasi dan Estimasi Efek Biologis yang Diterima Pasien Radiografi Gigi Anak Menggunakan TLD-100 pada Titik Pengukuran Mata

Lebih terperinci

OPTIMASI PENGUKURAN KEAKTIVAN RADIOISOTOP Cs-137 MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA

OPTIMASI PENGUKURAN KEAKTIVAN RADIOISOTOP Cs-137 MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA OPTIMASI PENGUKURAN KEAKTIVAN RADIOISOTOP Cs-137 MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA NOVIARTY, DIAN ANGGRAINI, ROSIKA, DARMA ADIANTORO Pranata Nuklir Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir-BATAN Abstrak OPTIMASI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

PENGARUH RADIASI HAMBUR TERHADAP KONTRAS RADIOGRAFI AKIBAT VARIASI KETEBALAN OBYEK DAN LUAS LAPANGAN PENYINARAN MUHAMMAD SYARIF BODDY

PENGARUH RADIASI HAMBUR TERHADAP KONTRAS RADIOGRAFI AKIBAT VARIASI KETEBALAN OBYEK DAN LUAS LAPANGAN PENYINARAN MUHAMMAD SYARIF BODDY PNGARUH RADIASI HAMBUR TRHADAP KONTRAS RADIOGRAFI AKIBAT VARIASI KTBALAN OBYK DAN LUAS LAPANGAN PNYINARAN MUHAMMAD SYARIF BODDY KONSNTRASI FISIKA MDIK, JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATMATIKA DAN ILMU PNGTAHUAN

Lebih terperinci

KOMPARASI PERHITUNGAN DOSIS RADIASI INTERNA PEKERJA PPTN SERPONG BERDASARKAN ICRP 30 TERHADAP ICRP 68

KOMPARASI PERHITUNGAN DOSIS RADIASI INTERNA PEKERJA PPTN SERPONG BERDASARKAN ICRP 30 TERHADAP ICRP 68 KOMPARASI PERHITUNGAN DOSIS RADIASI INTERNA PEKERJA PPTN SERPONG BERDASARKAN ICRP 30 TERHADAP ICRP 68 Ruminta Ginting, Yanni Andriyani, Tri Bambang L *) ABSTRAK KOMPARASI PERHITUNGAN DOSIS RADIASI INTERNA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sinar-X Sinar-X dapat diproduksi dengan jalan menembaki target logam dengan elektron cepat dalam tabung sinar katoda. Elektron sebagai proyektil dihasilkan dari filament panas

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG UJI KESESUAIAN PESAWAT SINAR-X RADIOLOGI DIAGNOSTIK DAN INTERVENSIONAL

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG UJI KESESUAIAN PESAWAT SINAR-X RADIOLOGI DIAGNOSTIK DAN INTERVENSIONAL KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG UJI KESESUAIAN PESAWAT SINAR-X RADIOLOGI DIAGNOSTIK DAN INTERVENSIONAL DENGAN

Lebih terperinci

KAJIAN KESELAMA TAN RADIASI DALAM PERANCANGAN PESAWAT SINAR-X MAMOGRAFI

KAJIAN KESELAMA TAN RADIASI DALAM PERANCANGAN PESAWAT SINAR-X MAMOGRAFI PRPN - BA TAN, 14 November 2013 KAJIAN KESELAMA TAN RADIASI DALAM PERANCANGAN PESAWAT SINAR-X MAMOGRAFI Kristiyanti, Budi Santoso, Rahmat, dan M. Subhan PRPN - BAT AN, Kawasan Puspiptek, Gedung 71, Tangerang

Lebih terperinci

RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER

RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN SEMESTER 1. Nama Mata Kuliah : RADIOKIMIA 2. Kode / SKS : TKN 3. Prasyarat : Kimia Dasar, Fisika Dasar, Fisika Atom dan Inti 4. Status Matakuliah : Wajib 5. Deskripsi

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 15 TAHUN 2014 TENTANG KESELAMATAN RADIASI DALAM PRODUKSI PESAWAT SINAR-X RADIOLOGI DIAGNOSTIK

Lebih terperinci

EVALUASI KESELAMATAN RADIASI PENGUNJUNG DI TEMPAT PENYIMPANAN SEMENTARA LIMBAH RADIOAKTIF

EVALUASI KESELAMATAN RADIASI PENGUNJUNG DI TEMPAT PENYIMPANAN SEMENTARA LIMBAH RADIOAKTIF EVALUASI KESELAMATAN RADIASI PENGUNJUNG DI TEMPAT PENYIMPANAN SEMENTARA LIMBAH RADIOAKTIF Pusat Teknologi Limbah Radioaktif BATAN, PUSPIPTEK Serpong, Tangerang Selatan, 15310 E-mail : kwin@batan.go.id

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1969 TENTANG PEMAKAIAN ISOTOP RADIOAKTIF DAN RADIASI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1969 TENTANG PEMAKAIAN ISOTOP RADIOAKTIF DAN RADIASI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 1969 TENTANG PEMAKAIAN ISOTOP RADIOAKTIF DAN RADIASI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pada saat ini pembuatan isotop radioaktif telah

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN KETEBALAN KONTAINER PERALATAN BRAKITERAPI MDR UNTUK TERAPI KANKER LEHER RAHIM

ANALISIS PERHITUNGAN KETEBALAN KONTAINER PERALATAN BRAKITERAPI MDR UNTUK TERAPI KANKER LEHER RAHIM ANALISIS PERHITUNGAN KETEBALAN KONTAINER PERALATAN BRAKITERAPI MDR UNTUK TERAPI KANKER LEHER RAHIM Kristiyanti, Abdul Jalil Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir, Kawasan Puspiptek Serpong 15314 Abstrak ANALISIS

Lebih terperinci

bahwa semakin besar jarak ukur maka dosis serap yang diterima semakin kecil. Kata kunci :Kalibrasi, survei meter, dosis serap, faktor kalibrasi

bahwa semakin besar jarak ukur maka dosis serap yang diterima semakin kecil. Kata kunci :Kalibrasi, survei meter, dosis serap, faktor kalibrasi Pengaruh Variabel Jarak Terhadap Besaran Faktor kalibrasi Pada Peralatan Survey Meter Nur Insan 1,Wira Bahari Nurdin, Bualkar Abdullah Jurusan Fisiska Fakultas Matematika Dan Ilmu pengetahuan Alam Universitas

Lebih terperinci

Alat Proteksi Radiasi

Alat Proteksi Radiasi Alat Proteksi Radiasi Latar Belakang Radiasi nuklir tidak dapat dirasakan oleh manusia secara langsung, seberapapun besarnya. Agar pekerja radiasi tidak mendapat paparan radiasi yang melebihi batas yang

Lebih terperinci

KAJIAN PENGARUH WARNA DAN JARAK LAMPU PENGAMAN TERHADAP HASIL RADIOGRAF

KAJIAN PENGARUH WARNA DAN JARAK LAMPU PENGAMAN TERHADAP HASIL RADIOGRAF KAJIAN PENGARUH WARNA DAN JARAK LAMPU PENGAMAN TERHADAP HASIL RADIOGRAF Setiyono 1, M. Azam 2 dan Evi Setiyawati 2 1. RSUD 2. Jurusan Fisika, Universitas Diponegoro Semarang Abstract The study of influence

Lebih terperinci

BAB II Besaran dan Satuan Radiasi

BAB II Besaran dan Satuan Radiasi BAB II Besaran dan Satuan Radiasi A. Aktivitas Radioaktivitas atau yang lebih sering disingkat sebagai aktivitas adalah nilai yang menunjukkan laju peluruhan zat radioaktif, yaitu jumlah inti atom yang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

Kontras. Darmini J. Dahjono Asri Indah Aryani

Kontras. Darmini J. Dahjono Asri Indah Aryani Radiation Dose In Non Conventional Contrast Radiography Examination Penerimaan Dosis Radiasi Pada Pemeriksaan Radiografi Konvensional Non Kontras Darmini J. Dahjono Asri Indah Aryani Jurusan Teknik Radiodiagnostik

Lebih terperinci

Kata kunci : Fluoroskopi intervensional, QC, dosimetri, kualitas citra.

Kata kunci : Fluoroskopi intervensional, QC, dosimetri, kualitas citra. UJI KONTROL KUALITAS PESAWAT RADIOOGI INTERVENSIONAL St. Ramlah R. Dhara*), Dahlang Tahir, M.Si, Ph. D*), Kristina Tri Wigati, M.Si*), Sri Dewi Astuty, M.Si*) *)Fisika Medik, Jurusan Fisika, Fakultas MIPA,

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA LAMPIRAN I PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 16 TAHUN 2014 TENTANG SURAT IZIN BEKERJA PETUGAS TERTENTU YANG BEKERJA DI INSTALASI

Lebih terperinci

Dasar Proteksi Radiasi

Dasar Proteksi Radiasi Dasar Proteksi Radiasi 101 Tujuan Proteksi Radiasi Mencegah terjadinya efek non-stokastik yang berbahaya, dan membatasi peluang terjadinya efek stokastik hingga pada nilai batas yang dapat diterima masyarakat;

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN KUALITAS BOOM FOOT MENGGUNAKAN TEKNIK UJI TAK RUSAK

PEMERIKSAAN KUALITAS BOOM FOOT MENGGUNAKAN TEKNIK UJI TAK RUSAK PEMERIKSAAN KUALITAS BOOM FOOT MENGGUNAKAN TEKNIK UJI TAK RUSAK Namad Sianta, Djoli Soembogo dan R. Hardjawidjaja Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi - BATAN E-mail : djoli@batan.go.id ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB III BESARAN DOSIS RADIASI

BAB III BESARAN DOSIS RADIASI BAB III BESARAN DOSIS RADIASI Yang dimaksud dengan dosis radiasi adalah jumlah radiasi yang terdapat dalam medan radiasi atau jumlah energi radiasi yang diserap atau diterima oleh materi yang dilaluinya.

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN RADIASI DI DALAM PERISAI UNTUK SUMBER GAMMA ENERGI TINGGI BERAKTIVITAS RENDAH

PERTUMBUHAN RADIASI DI DALAM PERISAI UNTUK SUMBER GAMMA ENERGI TINGGI BERAKTIVITAS RENDAH PERTUMBUHAN RADIASI DI DALAM PERISAI UNTUK SUMBER GAMMA ENERGI TINGGI BERAKTIVITAS RENDAH Helfi Yuliati dad Mukhlis Akhadi Puslitbang Keselamatan Radiasi dadbiomedika Nuklir - BATAN ABSTRAK PERTUMBUHAN

Lebih terperinci

Penentuan Dosis Gamma Pada Fasilitas Iradiasi Reaktor Kartini Setelah Shut Down

Penentuan Dosis Gamma Pada Fasilitas Iradiasi Reaktor Kartini Setelah Shut Down Berkala Fisika ISSN : 141-9662 Vol.9, No.1, Januari 26, hal 15-22 Penentuan Dosis Gamma Pada Fasilitas Iradiasi Reaktor Kartini Setelah Shut Down Risprapti Prasetyowati (1), M. Azam (1), K. Sofjan Firdausi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2007 TENTANG KESELAMATAN RADIASI PENGION DAN KEAMANAN SUMBER RADIOAKTIF DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

PENGUKURAN KONSENTRASI RADON DALAM TEMPAT PENYIMPANAN LIMBAH RADIOAKTIF. Untara, M. Cecep CH, Mahmudin, Sudiyati Pusat Teknologi Limbah Radioaktif

PENGUKURAN KONSENTRASI RADON DALAM TEMPAT PENYIMPANAN LIMBAH RADIOAKTIF. Untara, M. Cecep CH, Mahmudin, Sudiyati Pusat Teknologi Limbah Radioaktif PENGUKURAN KONSENTRASI RADON DALAM TEMPAT PENYIMPANAN LIMBAH RADIOAKTIF Untara, M. Cecep CH, Mahmudin, Sudiyati Pusat Teknologi Limbah Radioaktif ABSTRAK PENGUKURAN KONSENTRASI RADON DALAM TEMPAT PENYIMPANAN

Lebih terperinci

UJI EFISIENSI CELAH (SHUTTER) KOLIMASI PERALATAN SINAR-X DI LABORATORIUM DAN DUA INSTALASI RADIOLOGI RS LAHAN PKL JUR TRO POLTEKKES JAKARTA II

UJI EFISIENSI CELAH (SHUTTER) KOLIMASI PERALATAN SINAR-X DI LABORATORIUM DAN DUA INSTALASI RADIOLOGI RS LAHAN PKL JUR TRO POLTEKKES JAKARTA II RISET PEMBINAAN TENAGA KESEHATAN (RISBINAKES) 2014 UJI EFISIENSI CELAH (SHUTTER) KOLIMASI PERALATAN SINAR-X DI LABORATORIUM DAN DUA INSTALASI RADIOLOGI RS LAHAN PKL JUR TRO POLTEKKES JAKARTA II Peneliti

Lebih terperinci

Jurnal MIPA 38 (1) (2015): Jurnal MIPA.

Jurnal MIPA 38 (1) (2015): Jurnal MIPA. Jurnal MIPA 38 (1) (2015): 25-30 Jurnal MIPA http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/jm ANALISIS DAMPAK RADIASI SINAR-X PADA MENCIT MELALUI PEMETAAN DOSIS RADIASI DI LABORATORIUM FISIKA MEDIK R Aryawijayanti

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG KESELAMATAN RADIASI DALAM PENGGUNAAN ZAT RADIOAKTIF DAN PESAWAT SINAR-X UNTUK PERALATAN GAUGING DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

ALAT UKUR RADIASI. Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Jl. MH Thamrin, No. 55, Jakarta Telepon : (021)

ALAT UKUR RADIASI. Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Jl. MH Thamrin, No. 55, Jakarta Telepon : (021) ALAT UKUR RADIASI Badan Pengawas Tenaga Nuklir Jl. MH Thamrin, No. 55, Jakarta 10350 Telepon : (021) 230 1266 Radiasi Nuklir Secara umum dapat dikategorikan menjadi: Partikel bermuatan Proton Sinar alpha

Lebih terperinci

PENENTUAN DOSIS SERAP LAPANGAN RADIASI PERSEGI PANJANG BERKAS FOTON 10 MV DENGAN PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN

PENENTUAN DOSIS SERAP LAPANGAN RADIASI PERSEGI PANJANG BERKAS FOTON 10 MV DENGAN PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN PENENTUAN DOSIS SERAP LAPANGAN RADIASI PERSEGI PANJANG BERKAS FOTON 10 MV DENGAN PENGUKURAN DAN PERHITUNGAN SRI INANG SUNARYATI Puslitbang Keselamatan Radiasi dan Biomedika Nuklir Batan ABSTRAK PENENTUAN

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Sinar-X Sinar-X adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan gelombang radio, cahaya tampak (visible light) dan sinar ultraviolet, tetapi dengan panjang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG PERSYARATAN UNTUK MEMPEROLEH SURAT IZIN BEKERJA BAGI PETUGAS TERTENTU DI INSTALASI YANG MEMANFAATKAN SUMBER RADIASI PENGION DENGAN

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1969 Tentang : Pemakaian Isotop Radioaktip Dan Radiasi

Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1969 Tentang : Pemakaian Isotop Radioaktip Dan Radiasi Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1969 Tentang : Pemakaian Isotop Radioaktip Dan Radiasi Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 9 TAHUN 1969 (9/1969) Tanggal : 18 APRIL 1969 (JAKARTA) Sumber : LN 1969/18;

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI DALAM PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI DALAM PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PROTEKSI DAN KESELAMATAN RADIASI DALAM PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KARAKTERISASI DOSIMETRI SUMBER BRAKITERAPI IR-192 MENGGUNAKAN METODE ABSOLUT

KARAKTERISASI DOSIMETRI SUMBER BRAKITERAPI IR-192 MENGGUNAKAN METODE ABSOLUT KARAKTERISASI DOSIMETRI SUMBER BRAKITERAPI IR-192 MENGGUNAKAN METODE ABSOLUT Mahmudi Rio Putra (1), Dian Milvita (1), Heru Prasetio (2) (1) Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas, Padang Kampus Unand

Lebih terperinci

Acceptance Test Of Diagnostic X-Ray Merk GE Type XR 6000 In Radiodiagnostic And Radiotherapy Department Laboratory Of Health Polytechnic Of Semarang

Acceptance Test Of Diagnostic X-Ray Merk GE Type XR 6000 In Radiodiagnostic And Radiotherapy Department Laboratory Of Health Polytechnic Of Semarang Acceptance Test Of Diagnostic X-Ray Merk GE Type XR 6000 In Radiodiagnostic And Radiotherapy Department Laboratory Of Health Polytechnic Of Semarang Uji Kesesuaian Pesawat Sinar-X Merk GE Type XR 6000

Lebih terperinci

ANALISIS PEMBENTUKAN GAMBAR DAN BATAS TOLERANSI UJI KESESUAIAN PADA PESAWAT SINAR-X DIAGNOSTIK

ANALISIS PEMBENTUKAN GAMBAR DAN BATAS TOLERANSI UJI KESESUAIAN PADA PESAWAT SINAR-X DIAGNOSTIK ANALISIS PEMBENTUKAN GAMBAR DAN BATAS TOLERANSI UJI KESESUAIAN PADA PESAWAT SINAR-X DIAGNOSTIK Suyatno, Sigit Bachtiar Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir BATAN,Kawasan Puspiptek Serpong,Tangerang E-mail:

Lebih terperinci

ANALYSIS OUTPUT TOLERANCE LIMITS X-RAY MACHINE DIAGNOSTIC (Case Study in one of the General Hospital inbanda Aceh)

ANALYSIS OUTPUT TOLERANCE LIMITS X-RAY MACHINE DIAGNOSTIC (Case Study in one of the General Hospital inbanda Aceh) Jurnal Natural Vol. 12, No. 1, 2012 ANALYSIS OUTPUT TOLERANCE LIMITS X-RAY MACHINE DIAGNOSTIC (Case Study in one of the General Hospital inbanda Aceh) Evi Yufita, Rini Safitri 1 Jurusan Fisika, FMIPAUniversitas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI II.1.Dasar dasar Fisika sinar-x Sinar-X atau sinar Rontgen ditemukan oleh W.C.Rontgen pada tahun 1895 merupakan gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang sangat pendek (

Lebih terperinci

LATAR BELAKANG Latar Belakang Kegiatan Litbangyasa

LATAR BELAKANG Latar Belakang Kegiatan Litbangyasa B.54 UJI KARAKTERISTIK DOSIMETER TL LiF:MgCuP & DOSIMETER OSL DAN PENGEMBANGAN METODE AUDIT DOSIMETRI FASILITAS RADIOLOGI UNTUK PENINGKATAN LAYANAN DAN KESELAMATAN PASIEN ANAK Mukhlis Akhadi, Heru Prasetio,,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Congrat Roentgen tahun 1895 dan unsur Radium oleh Fierre dan Marie Curie, 3

BAB I PENDAHULUAN. Congrat Roentgen tahun 1895 dan unsur Radium oleh Fierre dan Marie Curie, 3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan Radiologi dimulai dengan penemuan sinar-x oleh William Congrat Roentgen tahun 1895 dan unsur Radium oleh Fierre dan Marie Curie, 3 tahun kemudian, penemuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 63 TAHUN 2000 (63/2000) TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 63 TAHUN 2000 (63/2000) TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 63 TAHUN 2000 (63/2000) TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 63 TAHUN 2000 (63/2000) TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 63 TAHUN 2000 (63/2000) TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA (PP) NOMOR 63 TAHUN 2000 (63/2000) TENTANG KESELAMATAN DAN KESEHATAN TERHADAP PEMANFAATAN RADIASI PENGION PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 01-P /Ka-BAPETEN/ I-03 TENTANG PEDOMAN DOSIS PASIEN RADIODIAGNOSTIK

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 01-P /Ka-BAPETEN/ I-03 TENTANG PEDOMAN DOSIS PASIEN RADIODIAGNOSTIK KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 01-P /Ka-BAPETEN/ I-03 TENTANG PEDOMAN DOSIS PASIEN RADIODIAGNOSTIK KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR, Menimbang : bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan

Lebih terperinci

JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG

JENIS DAN TARIF ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG LAMPIRAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2014 TENTANG JENIS DAN ATAS JENIS PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG BERLAKU PADA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR JENIS DAN ATAS JENIS PENERIMAAN

Lebih terperinci

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN RADIASI

SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN RADIASI SISTEM MANAJEMEN KESELAMATAN RADIASI B.Y. Eko Budi Jumpeno Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi BATAN Jalan Cinere Pasar Jumat, Jakarta 12440 PO Box 7043 JKSKL, Jakarta 12070 PENDAHULUAN Pemanfaatan

Lebih terperinci

GAMBARAN HITUNG JENIS LEKOSIT PADA RADIOGRAFER DI PERUSAHAAN X SURABAYA TAHUN 2012 Laily Hidayati Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga

GAMBARAN HITUNG JENIS LEKOSIT PADA RADIOGRAFER DI PERUSAHAAN X SURABAYA TAHUN 2012 Laily Hidayati Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga GAMBARAN HITUNG JENIS LEKOSIT PADA RADIOGRAFER DI PERUSAHAAN X SURABAYA TAHUN 2012 Laily Hidayati Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga ABSTRAK Radiografer adalah pekerja yang beresiko terkena

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 01 A Latar Belakang 01 Tujuan Instruksional Umum 02 Tujuan Instruksional Khusus. 02

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 01 A Latar Belakang 01 Tujuan Instruksional Umum 02 Tujuan Instruksional Khusus. 02 DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 01 A Latar Belakang 01 Tujuan Instruksional Umum 02 Tujuan Instruksional Khusus. 02 BAB II PERIZINAN PEMANFAATAN TENAGA NUKLIR. 03 A. Tujuan dan Ruang Lingkup Izin. 03 1. Izin

Lebih terperinci

Maintaining Quality Control by using general Radiological film

Maintaining Quality Control by using general Radiological film Maintaining Quality Control by using general Radiological film I Rini Safitri 1, Evi Yufita 1 Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Syiah Kuala, Darussalam, Banda Aceh 23111 # E-mail: rsafitri@unsyiah.net,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sinar-X Sinar-X adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan gelombang radio, cahaya tampak (visible light) dan sinar ultraviolet, tetapi dengan panjang gelombang

Lebih terperinci

PENGENDALIAN PERSONEL DI PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG TAHUN 2005

PENGENDALIAN PERSONEL DI PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG TAHUN 2005 PENGENDALIAN PERSONEL DI PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG TAHUN 2005 Sri Widayati, RS Tedjasari, Elfida, L. Kwin P, Ruminta G, Tri Bambang L., Yanni A. Pusat Teknologi Limbah Radioaktif ABSTRAK PENGENDALIAN

Lebih terperinci

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Latar Belakang Radiasi nuklir tidak dapat dirasakan oleh panca indera manusia oleh karena itu alat ukur radiasi mutlak diperlukan untuk mendeteksi dan mengukur radiasi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 780/MENKES/PER/VIII/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN RADIOLOGI

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 780/MENKES/PER/VIII/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN RADIOLOGI PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR 780/MENKES/PER/VIII/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN RADIOLOGI MENTERI KESEHATAN, Menimbang : a. bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat di

Lebih terperinci

UJI KESESUAIAN SEBAGAI ASPEK PENTING DALAM PENGAWASAN PENGGUNAAN PESAWAT SINAR-X DI FASILITAS RADIOLOGI DIAGNOSTIK

UJI KESESUAIAN SEBAGAI ASPEK PENTING DALAM PENGAWASAN PENGGUNAAN PESAWAT SINAR-X DI FASILITAS RADIOLOGI DIAGNOSTIK UJI KESESUAIAN SEBAGAI ASPEK PENTING DALAM PENGAWASAN PENGGUNAAN PESAWAT SINAR-X DI FASILITAS RADIOLOGI DIAGNOSTIK Puji Hastuti, Intanung Syafitri dan Wawan Susanto Pusat Pengkajian Sistem dan Teknologi

Lebih terperinci

Data Responden. I. Mohon diisi dengan huruf cetak Umur: Lama bekerja:

Data Responden. I. Mohon diisi dengan huruf cetak Umur: Lama bekerja: Data Responden I. Mohon diisi dengan huruf cetak Umur: Lama bekerja: II. Mohon untuk dilingkari Jenis kelamin: a. Laki-laki b. Perempuan Pendidikan: a. SLTA/sederajat b. D3/sederajat c. S1/sederajat d.

Lebih terperinci

PEMBUATAN MODEL UJI NILAI TEBAL PARUH (HVL) PESAWAT KONVENSIONAL SINAR-X MENGGUNAKAN PENGOLAHAN CITRA DIGITAL

PEMBUATAN MODEL UJI NILAI TEBAL PARUH (HVL) PESAWAT KONVENSIONAL SINAR-X MENGGUNAKAN PENGOLAHAN CITRA DIGITAL Youngster Physics Journal ISSN : 2302-7371 Vol. 1, No. 4, Juli 2013, Hal 101-106 PEMBUATAN MODEL UJI NILAI TEBAL PARUH (HVL) PESAWAT KONVENSIONAL SINAR-X MENGGUNAKAN PENGOLAHAN CITRA DIGITAL Hayat Mulyana

Lebih terperinci

RENCANA PERKULIAHAN FISIKA INTI Pertemuan Ke: 1

RENCANA PERKULIAHAN FISIKA INTI Pertemuan Ke: 1 Pertemuan Ke: 1 Mata Kuliah/Kode : Fisika Semester dan : Semester : VI : 150 menit Kompetensi Dasar : Mahasiswa dapat memahami gejala radioaktif 1. Menyebutkan pengertian zat radioaktif 2. Menjelaskan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Alat Pelindung Diri Alat Pelindung Diri (APD) adalah kelengkapan yang wajib digunakan saat bekerja sesuai bahaya dan resiko kerja untuk menjaga keselamatan pekerja itu sendiri

Lebih terperinci

EVALUASI METODE PENENTUAN HALF VALUE LAYER (HVL) MENGGUNAKAN MULTI PURPOSE DETECTOR (MPD) BARRACUDA PADA PESAWAT SINAR-X MOBILE

EVALUASI METODE PENENTUAN HALF VALUE LAYER (HVL) MENGGUNAKAN MULTI PURPOSE DETECTOR (MPD) BARRACUDA PADA PESAWAT SINAR-X MOBILE Youngster Physics Journal ISSN : 2303-7371 Vol. 3, No. 2, April 2014, Hal 113-118 EVALUASI METODE PENENTUAN HALF VALUE LAYER () MENGGUNAKAN MULTI PURPOSE DETECTOR (MPD) BARRACUDA PADA PESAWAT SINAR-X MOBILE

Lebih terperinci

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional PDL.PR.TY.PPR.00.D03.BP 1 BAB I : Pendahuluan BAB II : Prinsip dasar deteksi dan pengukuran radiasi A. Besaran Ukur Radiasi B. Penggunaan C.

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 7 TAHUN

Lebih terperinci

UJIAN AKHIR SEMESTER TAHUN AJARAN 2011/2012

UJIAN AKHIR SEMESTER TAHUN AJARAN 2011/2012 UJIAN AKHIR SEMESTER TAHUN AJARAN 2011/2012 Matakuliah : Fisika Kesehatan Program Studi : Ilmu Gizi Hari, tanggal : Jumat, 22 Juni 2012 Sifat : Buku tertutup Dosen Waktu : Yosi Apriansari, M.Si Supardi,

Lebih terperinci

EVALUASI DOSIS RADIASI EKSTERNAL PEKERJA PUSAT RADIOISOTOP DAN RADIOFARMAKA ( PRR )

EVALUASI DOSIS RADIASI EKSTERNAL PEKERJA PUSAT RADIOISOTOP DAN RADIOFARMAKA ( PRR ) ABSTRAK EVALUASI DOSIS RADIASI EKSTERNAL PEKERJA PUSAT RADIOISOTOP DAN RADIOFARMAKA ( PRR ) Elfida, Yanni Andriani Pusat Teknologi Limbah Radioaktif-BATAN EVALUASI DOSIS RADIASI EKSTERNA PEKERJA PUSAT

Lebih terperinci

KARAKTERISASI KACA TIMBAL UNTUK PELINDUNG PENANGKAP CITRA SINAR-X

KARAKTERISASI KACA TIMBAL UNTUK PELINDUNG PENANGKAP CITRA SINAR-X ABSTRAK KARAKTERISASI KACA TIMBAL UNTUK PELINDUNG PENANGKAP CITRA SINAR-X Kristiyanti, Istofa, Beny Syawaludin Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir-BATAN Kawasan Puspiptek Gd.71, Lt.2 Serpong KARAKTERISASI

Lebih terperinci

Sistem Pencacah dan Spektroskopi

Sistem Pencacah dan Spektroskopi Sistem Pencacah dan Spektroskopi Latar Belakang Sebagian besar aplikasi teknik nuklir sangat bergantung pada hasil pengukuran radiasi, khususnya pengukuran intensitas ataupun dosis radiasi. Alat pengukur

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH GRID TERHADAP PENYIMPANGAN BENTUK DAN UKURAN OBJEK (DISTORSI)

ANALISIS PENGARUH GRID TERHADAP PENYIMPANGAN BENTUK DAN UKURAN OBJEK (DISTORSI) ANALISIS PENGARUH GRID TERHADAP PENYIMPANGAN BENTUK DAN UKURAN OBJEK (DISTORSI) SKRIPSI Disusun sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu Fisika, Fakultas Matematika dan

Lebih terperinci

METODE STANDARDISASI SUMBER 60 Co BENTUK TITIK DAN VOLUME MENGGUNAKAN METODE ABSOLUT PUNCAK JUMLAH

METODE STANDARDISASI SUMBER 60 Co BENTUK TITIK DAN VOLUME MENGGUNAKAN METODE ABSOLUT PUNCAK JUMLAH Pujadi, dkk. ISSN 0216-3128 5 METODE STANDARDISASI SUMBER Co BENTUK TITIK DAN VOLUME MENGGUNAKAN METODE ABSOLUT PUNCAK JUMLAH Pujadi, Hermawan Chandra P3KRBiN BATAN ABSTRAK METODE STANDARDISASI SUMBER

Lebih terperinci