Bab IV Hasil dan Pembahasan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab IV Hasil dan Pembahasan"

Transkripsi

1 Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Pembuatan Larutan Buffer Semua zat yang digunakan untuk membuat larutan buffer dapat larut dengan sempurna. Larutan yang diperoleh jernih, homogen, dan tidak berbau. Data setiap larutan penyusun larutan buffer terangkum pada Tabel IV.1 berikut: Tabel IV.1 Data zat penyusun larutan buffer No. Jenis Zat Untuk Konsentrasi Teori Eksperimen 1 M 0,1 M 1 M 0,1 M 1. Asam sitrat dihidrat 1,54 2,04 2,05 2,57 2. Natrium sitrat dihidrat 9,70 9,20 8,12 7,18 3. Natrium dihidrogen fosfat 3,60 4,10 4,48 4,57 4. Dinatrium monohidrogen fosfat 10,60 10,11 9,41 8,98 5. Kalium dihidrogen fosfat 3,60 4,10 4,02 4,72 6. Natrium hidroksida ,44 12,49 Zat yang bersifat asam selain asam sitrat dihidrat adalah garam asam natrium dihidrogen fosfat dan kalium dihidrogen fosfat sedangkan yang bersifat basa selain natrium hidroksida adalah garam basa natrium sitrat dihidrat dan dinatrium monohidrogen fosfat. Harga yang diperoleh untuk setiap zat penyusun larutan buffer dengan konsentrasi berbeda hampir sama namun masih ada dalam batas kapasitas buffer. Setiap larutan buffer tersebut memiliki tertentu yang tidak banyak berubah terhadap konsentrasi (perhitungan secara teori ada di dalam Lampiran B). Berdasarkan data pada Tabel IV.1 di atas diperoleh bahwa untuk zat yang bersifat asam ketika diencerkan 10x dengan akuades yaitu dari konsentrasi 1 M ke 0,1 M mengalami kenaikan sedangkan yang bersifat basa mengalami penurunan. Hal tersebut bersesuaian dengan pernyataan skala yaitu jika zatnya rendah dan bersifat asam (<7) maka zat tersebut ketika diencerkan dengan akuades berusaha untuk mencapai air yang netral (=7) dengan cara menaikkan 17

2 nya. Begitu pula untuk zat yang bersifat basa (>7) ketika diencerkan dengan akuades berusaha untuk mencapai air yang netral dengan cara menurunkan. Pernyataan tersebut dapat ditunjukkan dalam gambar berikut: 0 Asam Basa 7 14 Netral Untuk membuat satu larutan buffer dapat diperoleh dari berbagai macam campuran. Larutan buffer yang berasal dari senyawa sitrat dapat menghasilkan 4 dan 6 sedangkan yang berasal dari senyawa fosfat menghasilkan Untuk setiap larutan buffer yang dibuat memiliki harga berbeda (perhitungan secara teori ada di dalam Lampiran E). larutan buffer ditentukan dari harga Ka dan perbandingan asam lemah dengan basa konjugasinya sedangkan kapasitas buffer ditentukan pada jumlah asam/basa yang ditambahkan ke dalam larutan buffernya. Larutan buffer 4 dapat dibuat dengan dua komposisi berbeda yaitu yang pertama campuran asam lemah dengan basa konjugasi dari larutan asam sitrat dihidrat dengan natrium sitrat dihidrat konsentrasi 1 M dan yang kedua campuran larutannya sama dengan di atas tetapi konsentrasinya 0,1 M. yang diperoleh relatif sama yaitu sedikit ada di bawah 4. yang diperoleh relatif sama yaitu sedikit ada di atas 4. Larutan buffer 6 juga dapat dibuat dari campuran yang sama dengan larutan buffer 4 tetapi konsentrasinya berbeda. Dari campuran tersebut diperoleh tiga komposisi berbeda yaitu campuran larutan asam sitrat dihidrat 0,1 M dengan natrium sitrat dihidrat 1 M; larutan natrium dihidrogen fosfat dengan dinatrium monohidrogen fosfat konsentrasi 1 M; campuran garam asam dengan basa kuat yaitu larutan kalium dihidrogen fosfat dengan natrium hidroksida 1 M. yang diperoleh dari campuran senyawa sitrat lebih sedikit di bawah 6 dibandingkan yang berasal dari senyawa fosfat sedikit di atas 6. 18

3 Larutan buffer 8 dibuat dari campuran larutan senyawa fosfat yang sama dengan larutan buffer 6 tetapi volume yang ditambahkan berbeda. Dari campuran tersebut diperoleh dua komposisi berbeda yaitu larutan natrium dihidrogen fosfat dengan dinatrium monohidrogen fosfat konsentrasi 1 M; larutan kalium dihidrogen fosfat dengan natrium hidroksida konsentrasi 1 M. Larutan buffer 10 dibuat dari campuran larutan yang sama dengan larutan buffer 6 dan 8 tetapi volume yang ditambahkan berbeda. Dari campuran tersebut hanya diperoleh satu komposisi yaitu larutan kalium dihidrogen fosfat dengan natrium hidroksida konsentrasi 1 M. Ada kecenderungan larutan buffer yang dibuat dari senyawa sitrat memiliki harga lebih rendah dibandingkan dari senyawa fosfat. Untuk larutan buffer sitrat, terjadi penurunan sekitar 0,3 0,4 satuan sedangkan buffer fosfat menunjukkan peningkatan sekitar 0,2 0,8 satuan. Asam sitrat dan natrium sitrat yang dibuat dari konsentrasi 1 M dan 0,1 M relatif sama. Larutan buffer dengan konsentrasi 1 M dan 0,1 M menghasilkan yang sama dan tidak mempengaruhi perubahan. Hal tersebut disebabkan karena senyawa sitrat memiliki tiga gugus karboksil (-COOH) yang dapat melepaskan proton dalam larutan dan memiliki harga Ka yang lebih besar/lebih bersifat asam dibandingkan dengan senyawa fosfat (harga Ka dapat dilihat pada Tabel A.3 di Lampiran A). Adanya perbedaan nilai dari setiap larutan buffer yang dibuat dalam penelitian ini berkaitan dengan asam lemah yang digunakan adalah berupa asam triprotik yaitu asam sitrat dihidrat dan asam fosfat yang memiliki harga Ka lebih dari satu (Ka 1 >Ka 2 >Ka 3 ) di mana untuk kedua larutan tersebut yang banyak mempengaruhi berasal dari Ka 2 karena Ka 2 dapat menjelaskan pembentukan satu ion dari ion yang lainnya. Harga antara teori dan eksperimen diperoleh selisih cukup besar pada ion sitrat yaitu kondisi fisiknya padatan coklat muda, seharusnya padatan putih. Pada larutan buffer 4 dipengaruhi konsentrasi di mana dengan pengenceran 10x (1 M menjadi 0,1 M) masih memiliki relatif sama. Umumnya campuran larutan buffer itu berasal dari asam lemah dengan basa konjugasinya namun untuk 19

4 larutan buffer 6, 8, dan 10 berasal dari campuran larutan kalium dihidrogen fosfat dan natrium hidroksida, - OH yang berasal dari natrium hidroksida bereaksi dengan kalium dihidrogen fosfat menghasilkan ion monohidrogen fosfat sehingga terbentuk campuran buffer. Perbedaan ini disebabkan oleh sifat dari natrium hidroksida yang merupakan basa kuat ketika dicampurkan dengan kalium dihidrogen fosfat yang bersifat asam lemah, natrium hidroksida tersebut dapat menyeimbangkan H + dari kalium dihidrogen fosfat sehingga mampu berfungsi sebagai larutan buffer. Pada larutan buffer fosfat ( 6 10), campurannya yang bersifat buffer bukan basa kuat NaOH dengan KH 2 PO 4 melainkan campuran reaksi: H 2 PO OH HPO 4 + H 2 O (II.25) Secara singkat dapat dilihat pada Tabel IV.2 berikut ini : Tabel IV.2 Data setiap larutan buffer Larutan Buffer Buffer Larutan asam sitrat dihidrat 0,1 M dan natrium sitrat dihidrat 0,1 M 4 Larutan asam sitrat dihidrat 1 M dan larutan natrium sitrat dihidrat 1 M Larutan asam sitrat dihidrat 0,1 M dan natrium sitrat dihidrat 1 M 6 Larutan kalium dihidrogen fosfat 1 M dan natrium hidroksida 1 M Larutan natrium dihidrogen fosfat 1 M dan dinatrium monohidrogen fosfat 1 M Larutan kalium dihidrogen fosfat 1 M dan natrium hidroksida 1 M 8 Larutan natrium dihidrogen fosfat 1 M dan dinatrium monohidrogen fosfat 1 M 10 Larutan kalium dihidrogen fosfat 1 M dan natrium hidroksida 1 M Teori Eksperimen 4,74 3,71 4,74 3,73 5,74 5,64 6,73 6,49 7,21 6,65 7,69 7,77 8,05 8,01 10,45 10,85 Konsentrasi NaOH yang ditentukan dari hasil standarisasi dengan larutan asam oksalat dihidrat 0,0500 M adalah sebesar 0,1107 M dan konsentrasi HCl dari hasil titrasi dengan NaOH yaitu sebesar 0,0920 M (perhitungan dalam Lampiran C.2). Konsentrasi NaOH yang diperoleh tidak tepat 0,1 M sehingga mempengaruhi juga konsentrasi HCl. Hal ini disebabkan sifat dari larutan NaOH itu sendiri yang higroskopis, mudah terurai, tidak stabil di udara/bereaksi dengan CO 2. 20

5 IV.2 Uji Kemampuan Larutan Buffer Mempertahankan IV.2.1 Cara Variasi Kontinyu Larutan buffer 4 yang digunakan berasal dari larutan asam sitrat dihidrat dan natrium sitrat dihidrat konsentrasi 0,1 M dengan 3,65. Batasan kapasitas buffer yang dimilikinya yaitu 2,65 4,65. Dengan cara variasi kontinyu untuk larutan buffer 4 baik melalui penambahan asam maupun basa diperoleh komposisi volume larutan buffer dan asam/basaa yaitu sebanyak 30:20. Penambahan asam/basa yang lebih banyak dari komposisi ini, sudah tidak mampu mempertahankan nya pada daerah kapasitas buffer. Kemampuan larutan buffer mempertahankan dapat dibuktikan dengan pengenceran 10x. Penambahan asam/basa ke dalam larutan buffer yang sudah diencerkan tersebut sesuai dengan komposisi yang ada dalam batasan kapasitas buffer yaitu 30:20. Secara rinci dapat dilihat data untuk larutan buffer 4 yang tertera dalam Tabel IV.3 berikut ini: Tabel IV.3 Pengukuran larutan buffer 4 Komposisi Volume (ml) Buffer HCl/ NaOH Buffer HCl 0,0920 M NaOH 0,1107 M I II Rataratrata I II Rata ,49 3,48 3,49 4,02 4,01 4, ,20 3,19 3,20 4,15 4,15 4, ,02 3,00 3,01 4,50 4,50 4, ,65 2,46 2,46 2,46 5,60 5,60 5, ,11 2,11 2,11 6,32 6,32 6, ,84 0,84 0,84 11,99 12,00 12, ,61 0,60 0,61 12,70 12,71 12,71 Aluran terhadap volume penambahan asam/basa menunjukkan pola perubahan larutan buffer. Pola perubahan pada larutan buffer 6, 8, dan 10 mirip dengan 4 tetapi berbeda pada komposisi dan bentuk simetrisnya. Pola yang diperoleh untuk larutan buffer 4, 8, dan 10 adalah bentuknya tidak simetris sedangkan 6 simetris. Bentuk simetris menunjukkan adanya kesetaraan antara perubahan penambahan volume asam/basa terhadap perubahan larutan buffernya. 21

6 Bentuk kurva untuk penambahan HCl pada larutan buffer 4 adalah landai di mana menurun perlahan lahan hampir linier sedangkan penambahan NaOH awalnya meningkat perlahan kemudian berubah cukup besar sebanyak 5,68 pada komposisi 20:30 ke 10:40 sehingga menghasilkan kurva yang curam. Komposisi 30:20 untuk penambahan HCl merupakan komposisi maksimum yang masih mampu mempertahankan di mana dengan penambahan HCl mengakibatkan jumlah larutan asam sitrat dihidrat bertambah dan ion sitrat (natrium sitrat dihidrat) berkurang. Perubahan tersebut menekan larutan asam sitrat dihidrat untuk terionisasi menjadi H 3 O + dan ion sitrat, yang menyebabkan terjadi kesetimbangan H 3 O + dalam larutan. Kesetimbangan ini menyebabkan nya tidak banyak berubah. Larutan buffer ini ketika ditambahkan HCl, H 3 O + dari HCl mula mula bereaksi dengan natrium sitrat dihidrat yang menyebabkan buffer mulai turun perlahan. Semakin banyak HCl yang ditambahkan ke dalam larutan buffer maka terus turun karena HCl sudah tidak bereaksi dengan natrium sitrat dihidratnya yang habis sehingga dalam larutan yang tersisa yaitu HCl dan asam sitrat dihidrat. Oleh karena larutan buffer ini bersifat asam maka dengan penambahan asam tidak terjadi perubahan yang drastis sehingga kurvanya landai. Komposisi 30:20 tepatnya dalam grafik sekitar 28:22 merupakan komposisi maksimum yang masih mampu mempertahankan di mana dengan penambahan NaOH mengakibatkan jumlah larutan asam sitrat dihidrat berkurang dan ion sitrat (natrium sitrat dihidrat) bertambah. Perubahan tersebut menyebabkan terjadinya kesetimbangan antara ion sitrat dengan asam sitrat dihidratnya sehingga tidak terlalu besar perubahannya. Larutan buffer ini ketika ditambahkan NaOH, OH dari NaOH mula mula bereaksi dengan asam sitrat dihidrat yang menyebabkan buffer mulai naik perlahan. Semakin banyak NaOH yang ditambahkan ke dalam larutan buffer maka terus naik karena NaOH sudah tidak bereaksi dengan asam sitrat dihidratnya yang habis sehingga dalam larutan yang tersisa yaitu natrium sitrat dihidrat dan NaOH. Oleh karena larutan buffer ini bersifat asam maka dengan penambahan basa yang makin banyak menyebabkan perubahan yang drastis sehingga kurvanya curam. Komposisi volume yang diperoleh dari aluran grafik lebih teliti dibandingkan yang ada dalam Tabel IV.3. 22

7 Untuk lebih memahami penjelasannya, dibuat grafik antara terhadap volume asam/basa seperti tertera dalam Gambar IV.1 berikut ini: (28:22) HCl 0,1 M NaOH 0,1 M 4.00 (30:20) Volume HCl/NaOH (ml) Gambar IV.1 Pola Perubahan Larutan Buffer 4 Larutan buffer 8 dan 10 memiliki kemiripan dengan larutan buffer 4 dari bentuknya yang tidak simetris. Namun dengan melihat komposisi dan kurvanya berbeda. Untuk kurvanya saling bertolak belakang di mana pada larutan buffer 4, kurva yang curam terjadi pada saat penambahan basa sedangkan larutan buffer 8 dan 10 sebaliknya. Dengan penambahan asam, larutan buffer 8 dan 10 menghasilkan kurva yang curam (turun drastis) mulai pada komposisi buffer dengan asam/basanya ada di 30:20 ke 25:25 sebanyak 3,44 untuk larutan buffer 8 dan 40:10 ke 30:20 sebanyak 6,37 untuk larutan buffer 10. Adapun dengan penambahan basa, kedua larutan buffer ini menghasilkan kurva yang landai (naik perlahan). Larutan buffer 8 yang diuji berasal dari pengenceran 10x campuran larutan natrium dihidrogen fosfat dan dinatrium monohidrogen fosfat konsentrasi 1 M dengan 7,52. Adapun larutan buffer 10 berasal dari pengenceran 10x campuran larutan kalium dihidrogen fosfat dan natrium hidroksida konsentrasi 1 M dengan 9,62. Kedua larutan buffer ini masing masing memiliki batasan kapasitas buffernya dari 6,52 9,52 dan 8,62 10,62. 23

8 Dengan penambahan asam diperoleh komposisi volume larutan buffer dan asamnya yang masih dapat mempertahankan yaitu sebanyak 40:10 dan penambahan basa sebanyak 45:5 tepatnya sekitar 43:7 untuk larutan buffer 8. Adapun untuk larutan buffer 10, dengan penambahan asam ada pada komposisi 45:5 dan penambahan basa ada di 45:5 tepatnya sekitar 42:8. Komposisi ini merupakan komposisi maksimum yang dapat mempertahankan. Jika asam/basa yang ditambahkan lebih banyak dari komposisi ini maka sudah tidak bersifat buffer lagi. Kemampuan larutan buffer mempertahankan dibuktikan dengan pengenceran 10x. Penambahan asam/basa ke dalam larutan buffer yang sudah diencerkan tersebut sesuai dengan komposisi yang ada dalam batasan kapasitas buffer. Secara rinci dapat dilihat data untuk larutan buffer 8 dan 10 ada dalam Tabel F.2 dan F.3 (dalam Lampiran F). Pola perubahan yang diperoleh pada kedua larutan buffer ini tidak simetris (lihat Gambar IV.2.a dan IV.2.b). H 3 O + dari HCl yang ditambahkan ke dalam larutan buffer 8 bereaksi dengan dinatrium monohidrogen fosfat yang menyebabkan buffer turun perlahan. Semakin banyak HCl yang ditambahkan ke dalam larutan buffer maka terus turun karena HCl sudah tidak bereaksi dengan dinatrium monohidrogen fosfatnya yang habis sehingga dalam larutan yang tersisa yaitu HCl dan natrium dihidrogen fosfat. Begitu pula dengan larutan buffer 10, di mana H 3 O + dari HCl yang ditambahkan bereaksi dengan ion monohidrogen fosfat yang dihasilkan dari reaksi kalium dihidrogen fosfat dengan natrium hidroksidanya. Hal ini menyebabkan buffer terus turun perlahan dan menghasilkan kurva yang landai. Larutan buffer 10 memiliki kurva yang lebih curam dibandingkan dengan buffer 8. Hal ini berkenaan dengan sifat larutan buffer 10 yang lebih basa. Sifat basa ini berasal dari komponen penyusun larutan buffernya berupa kalium dihidrogen fosfat dan natrium hidroksida. Larutan buffer 6 yang diuji berasal dari pengenceran 10x campuran larutan natrium dihidrogen fosfat dan dinatrium monohidrogen fosfat konsentrasi 1 M dengan 6,02. Larutan ini memiliki batasan kapasitas buffer dari 5,02 7,02. Baik dengan penambahan asam ataupun basa ke dalam larutan ini, diperoleh pola 24

9 perubahan yang simetris (lihat Gambar IV.2.c). Bentuk simetris ini didukung dari kurva yang sama sama curam (turun dan naik drastis) pada komposisi 40:10 ke 30:20 sebanyak 3,17 untuk penambahan asam dan 4,50 untuk penambahan basa. Secara rinci dapat dilihat data untuk larutan buffer 6 yang tertera dalam Tabel F.1 (dalam Lampiran F). Komposisi 40:10 tepatnya dalam grafik sekitar 38:12 merupakan komposisi maksimum yang masih mampu mempertahankan ketika ditambahkan HCl. Begitu pula ketika ditambahkan NaOH yaitu ada pada komposisi 40:10. Namun ketika lewat dari komposisi ini, larutan sudah tidak bersifat buffer lagi karena H 3 O + dari HCl sudah tidak bereaksi dengan dinatrium monohidrogen fosfat melainkan bereaksi dengan natrium dihidrogen fosfat. Begitu pula OH dari NaOH sudah tidak bereaksi dengan natrium dihidrogen fosfat melainkan bereaksi dengan dinatrium monohidrogen fosfat. Kemampuan larutan buffer mempertahankan dibuktikan dengan pengenceran 10x. Penambahan asam/basa ke dalam larutan buffer yang sudah diencerkan tersebut sesuai dengan komposisi yang ada dalam batasan kapasitas buffer. Larutan buffer yang sudah dibuat terbukti mampu mempertahankan ketika adanya penambahan asam/basa dengan perbandingan tertentu. Perbandingan mol asam/basa yang ditambahkan ke dalam larutan buffer tidak boleh melebihi dari 2/3x mol larutan buffer untuk 4, 1/4x mol larutan buffer untuk 6, dan 1/9x mol larutan buffer untuk 10. Untuk larutan buffer 8, perbandingan mol asamnya yaitu 1/4x sedangkan perbandingan mol basanya yaitu 1/9x dari mol larutan buffernya. Berdasarkan Gambar IV.1 dan IV.2 diperoleh pola perubahan yang berbeda untuk setiap larutan buffer. Penambahan asam ke dalam larutan buffer dihasilkan kurva menurun landai pada 4 dan menurun curam pada 6, 8, dan 10. Penambahan basa ke dalam larutan buffer dihasilkan kurva meningkat curam untuk 4 dan 6 sedangkan meningkat landai untuk 8 dan 10. Untuk lebih memahami penjelasannya, dibuat grafik antara terhadap volume asam/basa seperti tertera dalam Gambar IV.2 berikut ini: 25

10 a (43:7) (40:10) HCl 0,1 M 4.00 NaOH 0,1 M Volume HCl/NaOH (ml) (42:8) b (45:5) HCl 0,1 M 4.00 NaOH 0,1 M Volume HCl/NaOH (ml) c (40:10) (38:12) HCl 0,1 M NaOH 0,1 M Volume HCl/NaOH (ml) Gambar IV.2 Pola perubahan larutan buffer 6, 8, dan 10 a. Buffer 8 b. Buffer 10 c. Buffer 6 26

11 IV.2.2 Cara Pengenceran Larutan buffer yang digunakan berasal dari senyawa sitrat dan fosfat. Senyawa sitrat menghasilkan lebih rendah sedangkan senyawa fosfat nya lebih tinggi. Dengan pengenceran, larutan buffer yang memiliki <7 cenderung mengalami kenaikan sedangkan Buffer >7 cenderung mengalami penurunan. Hal ini bersesuaian dengan penjelasan dalam skala. Untuk yang sama, larutan buffer sitrat memerlukan volume asam/basa yang lebih banyak dibandingkan buffer fosfat. Contohnya yaitu pada buffer 5,64 memerlukan 8 ml HCl dan 1 ml NaOH sedangkan 6,65 memerlukan 2 ml dan 1 ml. Makin besar larutan buffer maka asam/basa yang ditambahkan makin sedikit. Untuk lebih jelas hasil uji kemampuan larutan buffer 4 10 dalam mempertahankan dapat dilihat dalam Tabel IV.4 berikut ini: Tabel IV.4 Pengukuran larutan buffer setelah pengenceran dan penambahan HCl/NaOH No. Larutan Buffer Sebelum Pengenceran Sebelum Pengenceran Larutan Buffer Setelah Penambahan HCl 0,0920 M NaOH 0,1107 M Volume Volume HCl (ml) NaOH (ml) 1. 3,73 3, , , ,64 5,99 8 4,58 1 6, ,65 6,76 2 2, , ,77 7,52 2 5,87 1 8, ,10 8,60 1 7, , ,85 9,50 1 8, ,54 Pengenceran larutan buffer sampai 100x (1 M menjadi 0,01 M) masih ada dalam daerah kapasitas buffer dengan mengalami perubahan sekitar 0,1 0,6 satuan kecuali pada 10,85 berubah sebesar 1,3 satuan. Dengan demikian faktor pengenceran tidak mengubah larutan buffer (masih ada dalam daerah kapasitas buffer). Hal tersebut disebabkan komponen komponen yang ada dalam akuades dapat bereaksi dengan komponen asam dan basa dari larutan buffer. 27

Metodologi Penelitian

Metodologi Penelitian Bab III Metodologi Penelitian Pembuatan larutan buffer menggunakan metode pencampuran antara asam lemah dengan basa konjugasinya. Selanjutnya larutan buffer yang sudah dibuat diuji kemampuannya dalam mempertahankan

Lebih terperinci

BAB 6. Jika ke dalam air murni ditambahkan asam atau basa meskipun dalam jumlah. Larutan Penyangga. Kata Kunci. Pengantar

BAB 6. Jika ke dalam air murni ditambahkan asam atau basa meskipun dalam jumlah. Larutan Penyangga. Kata Kunci. Pengantar Kimia XI SMA 179 BAB 6 Larutan Penyangga Tujuan Pembelajaran: Setelah mempelajari bab ini, Anda diharapkan mampu: 1. Menjelaskan pengertian larutan penyangga dan komponen penyusunnya. 2. Merumuskan persamaan

Lebih terperinci

LARUTAN PENYANGGA (BUFFER)

LARUTAN PENYANGGA (BUFFER) LARUTAN PENYANGGA (BUFFER) Larutan penyangga Larutan penyangga atau larutan buffer adalah larutan yang ph-nya praktis tidak berubah walaupun kepadanya ditambahkan sedikit asam, sedikit basa, atau bila

Lebih terperinci

PETA KONSEP. Larutan Penyangga. Larutan Penyangga Basa. Larutan Penyangga Asam. Asam konjugasi. Basa lemah. Asam lemah. Basa konjugasi.

PETA KONSEP. Larutan Penyangga. Larutan Penyangga Basa. Larutan Penyangga Asam. Asam konjugasi. Basa lemah. Asam lemah. Basa konjugasi. PETA KONSEP Larutan Penyangga mempertahankan berupa ph Larutan Penyangga Asam mengandung Larutan Penyangga Basa mengandung Asam lemah Basa konjugasi Asam konjugasi Basa lemah contoh contoh contoh contoh

Lebih terperinci

Larutan Penyangga XI MIA

Larutan Penyangga XI MIA Larutan Penyangga XI MIA Komponen Larutan Penyangga Larutan Penyangga Asam Terdiri dari Asam lemah dan basa konjugasinya (Contoh : CH 3 COOH dan CH 3 COO -, HF dan F - ) Cara membuatnya : 1. Mencampurkan

Lebih terperinci

kimia ASAM-BASA III Tujuan Pembelajaran

kimia ASAM-BASA III Tujuan Pembelajaran KTSP K-13 kimia K e l a s XI ASAM-BASA III Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1. Memahami mekanisme reaksi asam-basa. 2. Memahami stoikiometri

Lebih terperinci

LARUTAN PENYANGGA Bahan Ajar Kelas XI IPA Semester Gasal 2012/2013

LARUTAN PENYANGGA Bahan Ajar Kelas XI IPA Semester Gasal 2012/2013 LARUTAN PENYANGGA [Yea r] LARUTAN PENYANGGA Bahan Ajar Kelas XI IPA Semester Gasal 2012/2013 MARI BELAJAR Indikator Produk Menjelaskan komponen pembentuk larutan penyangga dengan berpikir kritis. Menjelaskan

Lebih terperinci

LARUTAN PENYANGGA (BUFFER)

LARUTAN PENYANGGA (BUFFER) LARUTAN PENYANGGA (BUFFER) Larutan penyangga Larutan penyangga atau larutan buffer adalah larutan yang ph-nya praktis tidak berubah walaupun kepadanya ditambahkan sedikit asam, sedikit basa, atau bila

Lebih terperinci

LARUTAN PENYANGGA (BUFFER)

LARUTAN PENYANGGA (BUFFER) LARUTAN PENYANGGA (BUFFER) Larutan penyangga Larutan penyangga atau larutan buffer adalah larutan yang ph-nya praktis tidak berubah walaupun kepadanya ditambahkan sedikit asam, sedikit basa, atau bila

Lebih terperinci

LARUTAN PENYANGGA DAN HIDROLISIS

LARUTAN PENYANGGA DAN HIDROLISIS 6 LARUTAN PENYANGGA DAN HIDROLISIS A. LARUTAN PENYANGGA B. HIDROLISIS Pada bab sebelumnya, kita sudah mempelajari tentang reaksi asam-basa dan titrasi. Jika asam direaksikan dengan basa akan menghasilkan

Lebih terperinci

Bab II Tinjauan Pustaka. Asam basa Konjugasi Menurut Bronsted Lowry

Bab II Tinjauan Pustaka. Asam basa Konjugasi Menurut Bronsted Lowry Bab II Tinjauan Pustaka II.1 Asam basa Konjugasi Menurut Bronsted Lowry Untuk memahami konsep larutan buffer perlu diketahui konsep asam basa. Konsep asam basa ada tiga yaitu menurut Arrhenius, Bronsted

Lebih terperinci

Nova Nurfauziawati Kelompok 11A V. PEMBAHASAN

Nova Nurfauziawati Kelompok 11A V. PEMBAHASAN V. PEMBAHASAN Praktikum yang dilaksanakan tanggal 3 Oktober 2011 mengenai pembuatan larutan buffer dan pengujian kestabilannya. Larutan buffer adalah campuran asam/basa lemah dan basa/asam konjugasinya

Lebih terperinci

Lampiran 2.2 (Analisis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)

Lampiran 2.2 (Analisis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) Lampiran 2.2 (Analisis Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) I. Analisis Indikator 4. Memahami sifat-sifat larutan asambasa, metode pengukuran, dan terapannya SMAN 1 Dasar SMAN 4 Bandung SMAN 1 Cimahi SMAN

Lebih terperinci

Penambahan oleh sedikit asam-kuat (H + ) menyebabkan kesetimbangan. CH 3 COOH(aq) CH 3 COO - (aq) + H + (aq) (9.1) asam lemah

Penambahan oleh sedikit asam-kuat (H + ) menyebabkan kesetimbangan. CH 3 COOH(aq) CH 3 COO - (aq) + H + (aq) (9.1) asam lemah Larutan bufer* merupakan sistem larutan yang dapat mempertahankan lingkungannya dari pengaruh seperti oleh penambahan sedikit asam/basa kuat, atau oleh pengenceran. Sistem bufer terdiri atas dua komponen,

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM 3 ph METER, BUFFER, dan PENGENCERAN DISUSUN OLEH : MARIA LESTARI DAN YULIA FITRI GHAZALI Kamis 04 Oktober s/d 16.

LAPORAN PRAKTIKUM 3 ph METER, BUFFER, dan PENGENCERAN DISUSUN OLEH : MARIA LESTARI DAN YULIA FITRI GHAZALI Kamis 04 Oktober s/d 16. LAPORAN PRAKTIKUM 3 ph METER, BUFFER, dan PENGENCERAN DISUSUN OLEH : MARIA LESTARI DAN YULIA FITRI GHAZALI Kamis 04 Oktober 2012 14.00 s/d 16.00 wib TUJUAN : 1. Agar mahasiswa dapat memahami prinsip-prinsip

Lebih terperinci

BAB 7. ASAM DAN BASA

BAB 7. ASAM DAN BASA BAB 7. ASAM DAN BASA 7. 1 TEORI ASAM BASA 7. 2 TETAPAN KESETIMBANGAN PENGIONAN ASAM DAN BASA 7. 3 KONSENTRASI ION H + DAN ph 7. 4 INDIKATOR ASAM-BASA (INDIKATOR ph) 7. 5 CAMPURAN PENAHAN 7. 6 APLIKASI

Lebih terperinci

Dikenal : - Asidimetri : zat baku asam - Alkalimetri : zat baku basa DASAR : Reaksi penetralan Asam + Basa - hidrolisis - buffer - hal lain ttg lart

Dikenal : - Asidimetri : zat baku asam - Alkalimetri : zat baku basa DASAR : Reaksi penetralan Asam + Basa - hidrolisis - buffer - hal lain ttg lart Dikenal : - Asidimetri : zat baku asam - Alkalimetri : zat baku basa DASAR : Reaksi penetralan Asam + Basa - hidrolisis - buffer - hal lain ttg lart a. AK + BK ph = 7 B. AK + BL ph < 7 C. AL + BK ph >

Lebih terperinci

13. Gilbert, G. L., (1976), A Buffer solution and its action, J.Chem.Ed, 53, Wiger, G. R., de la Comp, U., (1978), Conjugate acid base

13. Gilbert, G. L., (1976), A Buffer solution and its action, J.Chem.Ed, 53, Wiger, G. R., de la Comp, U., (1978), Conjugate acid base DAFTAR PUSTAKA 1. Whitten, K. W., Davis, R. E., Peck, M. L., Stanley, G. G., (200), General chemistry, Seventh edition, Thomson Brooks/Cole, USA 2. Harris, D. C., (1991), Quantitative chemical analysis,

Lebih terperinci

CH 3 COONa 0,1 M K a CH 3 COOH = 10 5

CH 3 COONa 0,1 M K a CH 3 COOH = 10 5 Soal No. 1 Dari beberapa larutan berikut ini yang tidak mengalami hidrolisis adalah... A. NH 4 Cl C. K 2 SO 4 D. CH 3 COONa E. CH 3 COOK Yang tidak mengalami peristiwa hidrolisis adalah garam yang berasal

Lebih terperinci

Chemistry Practicum Report

Chemistry Practicum Report Chemistry Practicum Report Created by: Michiko Tanadi (20) XI Science II Patty Regina (24) XI Science I XI Science 2009/2010 Tarakanita II Senior High School Jalan Taman Pluit Permai Barat 1 Jakarta 14450

Lebih terperinci

PERCOBAAN 3 REAKSI ASAM BASA

PERCOBAAN 3 REAKSI ASAM BASA PERCOBAAN 3 REAKSI ASAM BASA I. Teori Dasar Kita sering menjumpai asam dan basa dalam kehidupan sehari-hari. Buah-buahan, seperti jeruk, apel, dll., mengandung asam. Amonia rumah tangga, bahan pembersih,

Lebih terperinci

Titrasi asam kuat-basa kuat

Titrasi asam kuat-basa kuat TITRASI ASAM-BASA KURVA TITRASI plot atau kurva antara ph atau poh terhadap volume titran untuk menguji apakah suatu reaksi dapat digunakan untuk analisa titrimetri ataukah tidak memilih indikator Titrasi

Lebih terperinci

wanibesak.wordpress.com 1

wanibesak.wordpress.com 1 Ringkasan, contoh soal dan pembahasan mengenai asam, basa dan larutan penyangga atau larutan buffer Persamaan ionisasi air H 2O H + + OH Dari reaksi di atas sesuai hukum kesetimbangan, tetapan kesetimbangan

Lebih terperinci

LEMBARAN SOAL 4. Mata Pelajaran : KIMIA Sat. Pendidikan : SMA Kelas / Program : XI IPA ( SEBELAS IPA )

LEMBARAN SOAL 4. Mata Pelajaran : KIMIA Sat. Pendidikan : SMA Kelas / Program : XI IPA ( SEBELAS IPA ) LEMBARAN SOAL 4 Mata Pelajaran : KIMIA Sat. Pendidikan : SMA Kelas / Program : XI IPA ( SEBELAS IPA ) PETUNJUK UMUM 1. Tulis nomor dan nama Anda pada lembar jawaban yang disediakan 2. Periksa dan bacalah

Lebih terperinci

Laporan Praktikum 3. Praktikum 3 : ph meter, Persiapan larutan penyangga, Pengenceran stok glukosa. Oleh : Rebecca Rumesty L dan Jimmy

Laporan Praktikum 3. Praktikum 3 : ph meter, Persiapan larutan penyangga, Pengenceran stok glukosa. Oleh : Rebecca Rumesty L dan Jimmy Laporan Praktikum 3 Praktikum 3 : ph meter, Persiapan larutan penyangga, Pengenceran stok glukosa Oleh : Rebecca Rumesty L dan Jimmy Hari/Tanggal Praktikum : Kamis / 4 Oktober 2012 Jam : 12.00 15.00 WIB

Lebih terperinci

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab17. Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab17. Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi Bab17 Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan Larutan buffer adalah larutan yg terdiri dari: 1. asam lemah/basa

Lebih terperinci

I. LARUTAN BUFFER. 1. Membuat Larutan Buffer 2. Mempelajari Daya Sanggah Larutan Buffer TINJAUAN PUSTAKA

I. LARUTAN BUFFER. 1. Membuat Larutan Buffer 2. Mempelajari Daya Sanggah Larutan Buffer TINJAUAN PUSTAKA I. LARUTAN BUFFER II. TUJUAN 1. Membuat Larutan Buffer 2. Mempelajari Daya Sanggah Larutan Buffer III. TINJAUAN PUSTAKA Larutan penyangga atau larutan buffer atau larutan dapar merupakan suatu larutan

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Diskusi

Bab IV Hasil dan Diskusi Bab IV Hasil dan Diskusi IV.1 Hasil Eksperimen Eksperimen dikerjakan di laboratorium penelitian Kimia Analitik. Suhu ruang saat bekerja berkisar 24-25 C. Data yang diperoleh mencakup data hasil kalibrasi

Lebih terperinci

LAPORAN PRATIKUM II PRATIKUM PH METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA

LAPORAN PRATIKUM II PRATIKUM PH METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA LAPORAN PRATIKUM II PRATIKUM PH METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA NAMA : ASTRID SISKA PRATIWI (147008007) IKA WARAZTUTY (147008019) PRODI : MAGISTER ILMU BIOMEDIK TGL PRATIKUM : 10 MARET 2015 TUJUAN

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR I NAMA KELOMPOK : MELVIA PERMATASARI (08121006013) MELANY AMDIRA (08121006027) ANIS ALAFIFAH (08121006029) PUTRI WULANDARI (08121006071) MUTIARA BELLA (08121006073) JURUSAN

Lebih terperinci

Praktikum Kimia Fisika II Hidrolisis Etil Asetat dalam Suasana Asam Lemah & Asam Kuat

Praktikum Kimia Fisika II Hidrolisis Etil Asetat dalam Suasana Asam Lemah & Asam Kuat I. Judul Percobaan Hidrolisis Etil Asetat dalam Suasana Asam Lemah & dalam Suasana Asam Kuat II. Tanggal Percobaan Senin, 8 April 2013 pukul 11.00 14.00 WIB III. Tujuan Percobaan Menentukan orde reaksi

Lebih terperinci

Artikel Kimia tentang Peranan Larutan Penyangga

Artikel Kimia tentang Peranan Larutan Penyangga Artikel Kimia tentang Peranan Larutan Penyangga A. PENGERTIAN Larutan penyangga atau dikenal juga dengan nama larutan buffer adalah larutan yang dapat mempertahankan nilai ph apabila larutan tersebut ditambahkan

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM 2. : Magister Ilmu Biolmedik : ph meter, persiapan larutan penyangga Tanggal pelaksanaan : 10 Maret 2015

LAPORAN PRAKTIKUM 2. : Magister Ilmu Biolmedik : ph meter, persiapan larutan penyangga Tanggal pelaksanaan : 10 Maret 2015 LAPORAN PRAKTIKUM NAMA PRAKTIKAN : Nini Chairani (14700801) Zakirullah Syafei (1470080) PRODI : Magister Ilmu Biolmedik JUDUL : ph meter, persiapan larutan penyangga Tanggal pelaksanaan : 10 Maret 015

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM 2 PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA

LAPORAN PRAKTIKUM 2 PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA LAPORAN PRAKTIKUM 2 PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA Nama : T.M. Reza Syahputra Dinno Rilando Hari / Tgl: Kamis / 24 Maret 2016 Tujuan Praktikum: 1. Mahasiswa/i dapat memahami pengertian dan fungsi

Lebih terperinci

Bab VIII Reaksi Penetralan dan Titrasi Asam-Basa

Bab VIII Reaksi Penetralan dan Titrasi Asam-Basa Bab VIII Reaksi Penetralan dan Titrasi Asam-Basa Sumber: James Mapple, Chemistry an Enquiry-Based Approach Pengukuran ph selama titrasi akan lebih akurat dengan menggunakan alat ph-meter. TUJUAN PEMBELAJARAN

Lebih terperinci

Teori Asam-Basa Arrhenius

Teori Asam-Basa Arrhenius Standar Kompetensi emahami terapannya. sifatsifat larutan asambasa, metode pengukuran, dan Kompetensi Dasar enjelaskan teori asam basa menurut Arrhenius mengklasifikasi berbagai larutan asam, netral, dan

Lebih terperinci

Soal-Soal. Bab 7. Latihan Larutan Penyangga, Hidrolisis Garam, serta Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Larutan Penyangga

Soal-Soal. Bab 7. Latihan Larutan Penyangga, Hidrolisis Garam, serta Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Larutan Penyangga Bab 7 Soal-Soal Latihan Larutan Penyangga, Hidrolisis Garam, serta Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan Larutan Penyangga 1. Berikut ini yang merupakan pasangan asam basa terkonjugasi (A) H 3 O + dan OH

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM. ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA

LAPORAN PRAKTIKUM. ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA LAPORAN PRAKTIKUM ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA Hari/Tanggal Praktikum : Kamis/ 17 Oktober 2013 Nama Mahasiswa : 1. Nita Andriani Lubis 2. Ade Sinaga Tujuan Praktikum : Teori 1. Mengetahui pembuatan

Lebih terperinci

KESEIMBANGAN ASAM BASA

KESEIMBANGAN ASAM BASA LAPORAN PRAKTIKUM PRAKTIKUM PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA NAMA PRAKTIKAN : Fani Nuryana Manihuruk (NIM 147008013) Mesrida Simarmata (NIM 147008011) HARI/TGL. PRAKTIKUM : Selasa, 10 Maret 2015 TUJUAN

Lebih terperinci

L A R U T A N _KIMIA INDUSTRI_ DEWI HARDININGTYAS, ST, MT, MBA WIDHA KUSUMA NINGDYAH, ST, MT AGUSTINA EUNIKE, ST, MT, MBA

L A R U T A N _KIMIA INDUSTRI_ DEWI HARDININGTYAS, ST, MT, MBA WIDHA KUSUMA NINGDYAH, ST, MT AGUSTINA EUNIKE, ST, MT, MBA L A R U T A N _KIMIA INDUSTRI_ DEWI HARDININGTYAS, ST, MT, MBA WIDHA KUSUMA NINGDYAH, ST, MT AGUSTINA EUNIKE, ST, MT, MBA 1. Larutan Elektrolit 2. Persamaan Ionik 3. Reaksi Asam Basa 4. Perlakuan Larutan

Lebih terperinci

Asam-Basa. Kimia. Kelas XI. B usiness Name. Indikator: A. Teori Asam-Basa

Asam-Basa. Kimia. Kelas XI. B usiness Name. Indikator: A. Teori Asam-Basa Asam-Basa Kimia Kelas XI B usiness Name Indikator: 3.1.1 Menjelaskan teori asam basa berdasarkan konsep Arrhenius, Brosnted Lowry dan Lewis 3.1.2 Menjelaskan pengertian indikator asam-basa 3.1.3 Menyebutkan

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM 2 BM 506. ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA

LAPORAN PRAKTIKUM 2 BM 506. ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA LAPORAN PRAKTIKUM 2 BM 506 ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA Nama Praktikan : Lasmono Susanto Ira Astuti Group : Biomedik 2014 Hari : Selasa/10 Maret 2015 TUJUAN: Praktikan mampu memahami prinsip-prinsip

Lebih terperinci

PRAKTIKUM 3 : PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA, PENGENCERAN STOK GLUKOSA. Oleh : Henny Erina Saurmauli Ompusunggu. Jekson Martiar Siahaan

PRAKTIKUM 3 : PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA, PENGENCERAN STOK GLUKOSA. Oleh : Henny Erina Saurmauli Ompusunggu. Jekson Martiar Siahaan PRAKTIKUM 3 : PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA, PENGENCERAN STOK GLUKOSA Oleh : Henny Erina Saurmauli Ompusunggu Jekson Martiar Siahaan I. Tujuan Praktikum 1. Memahami prinsip-prinsip dasar larutan

Lebih terperinci

H + + OH - > H 2 O. Jumlah mol asam (proton) sama dengan jumlah mol basa (ion hidroksida). Stoikiometri netralisasi

H + + OH - > H 2 O. Jumlah mol asam (proton) sama dengan jumlah mol basa (ion hidroksida). Stoikiometri netralisasi Netralisasi a. Netralisasi Neutralisasi dapat didefinisikan sebagai reaksi antara proton (atau ion hidronium) dan ion hidroksida membentuk air. Dalam bab ini kita hanya mendiskusikan netralisasi di larutan

Lebih terperinci

KONTROL KEASAMAN LARUTAN PENYANGGA (BUFFER)

KONTROL KEASAMAN LARUTAN PENYANGGA (BUFFER) KONTROL KEASAMAN LARUTAN PENYANGGA (BUFFER) TUJUAN: 1. Memahami manfaat mengontrol ph, terutama dalam sistem fisiologi. 2. Mempelajari tehnik mempertahankan nilai ph larutan dalam berbagai aplikasi. 3.

Lebih terperinci

LOGO TEORI ASAM BASA

LOGO TEORI ASAM BASA LOGO TEORI ASAM BASA TIM DOSEN KIMIA DASAR FTP 2012 Beberapa ilmuan telah memberikan definisi tentang konsep asam basa Meskipun beberapa definisi terlihat kurang jelas dan berbeda satu sama lain, tetapi

Lebih terperinci

KAJIAN MATERI LARUTAN BUFFER ASAM BASA TESIS. SUSI HERAWATI NIM : Program Studi Kimia

KAJIAN MATERI LARUTAN BUFFER ASAM BASA TESIS. SUSI HERAWATI NIM : Program Studi Kimia KAJIAN MATERI LARUTAN BUFFER ASAM BASA TESIS Oleh SUSI HERAWATI NIM : 20506033 Program Studi Kimia INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2008 KAJIAN MATERI LARUTAN BUFFER ASAM BASA TESIS Karya tulis ini sebagai salah

Lebih terperinci

MATERI HIDROLISIS GARAM KIMIA KELAS XI SEMESTER GENAP

MATERI HIDROLISIS GARAM KIMIA KELAS XI SEMESTER GENAP MATERI HIDROLISIS GARAM KIMIA KELAS XI SEMESTER GENAP PENDAHULUAN Kalian pasti mendengar penyedap makanan. Penyedap makanan yang sering digunakan adalah vitsin. Penyedap ini mengandung monosodium glutamat

Lebih terperinci

PENENTUAN KADAR KARBONAT DAN HIDROGEN KARBONAT MELALUI TITRASI ASAM BASA

PENENTUAN KADAR KARBONAT DAN HIDROGEN KARBONAT MELALUI TITRASI ASAM BASA PENENTUAN KADAR KARBONAT DAN HIDROGEN KARBONAT MELALUI TITRASI ASAM BASA 1 Tujuan Percobaan Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan kadar natrium karbonat dan natrium hidrogen karbonat dengan titrasi

Lebih terperinci

Kesetimbangan Kimia. A b d u l W a h i d S u r h i m

Kesetimbangan Kimia. A b d u l W a h i d S u r h i m Kesetimbangan Kimia A b d u l W a h i d S u r h i m 2 0 1 4 Rujukan Chapter 12 dan 14: Masterton, William L. and Hurley, Cecile N. 2009. Chemistry: Principles and Reactions. Sixth Edition. Books/Cole.

Lebih terperinci

2/14/2012 LOGO Asam Basa Apa yang terjadi? Koma Tulang keropos Sesak napas dll

2/14/2012 LOGO Asam Basa Apa yang terjadi? Koma Tulang keropos Sesak napas dll LOGO Bab 08 Asam Basa Apa yang terjadi? - Koma - Tulang keropos - Sesak napas - dll 1 Ikhtisar Teori Asam Basa Sifat Asam-Basa dari Air ph-suatu ukuran keasaman Kesetimbangan Asam-Basa Lemah dan Garam

Lebih terperinci

LARUTAN PENYANGGA (BUFFER) Disusun Oleh: Diah Tria Agustina ( ) JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

LARUTAN PENYANGGA (BUFFER) Disusun Oleh: Diah Tria Agustina ( ) JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM HANDOUT klik di sini LARUTAN PENYANGGA (BUFFER) Disusun Oleh: Diah Tria Agustina (4301414032) JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2016 PENGERTIAN LARUTAN

Lebih terperinci

kimia TITRASI ASAM BASA

kimia TITRASI ASAM BASA Kurikulum 2006/2013 2013 kimia K e l a s XI TITRASI ASAM BASA Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1. Memahami definisi dan macam-macam titrasi.

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA

LAPORAN PRAKTIKUM ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA LAPORAN PRAKTIKUM ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA Nama : Meutia Atika Faradilla (147008014) Sri Wulandari (147008005) Tanggal Praktikum : 10 Maret 2015 Tujuan Praktikum : 1. Memahami prinsip dasar

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA

LAPORAN PRAKTIKUM ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA LAPORAN PRAKTIKUM ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA Nama : 1. Irmayanti (157008011) 2. Binayanti Nainggolan (157008008) 3. Henny Gusvina Batubara (157008010) Tanggal Praktikum : 31 Maret 2016 Tujuan

Lebih terperinci

TEORI ASAM BASA Secara Umum :

TEORI ASAM BASA Secara Umum : TEORI ASAM BASA Secara Umum : Asam Basa : : Cairan berasa asam dan dapat memerahkan kertas lakmus biru Cairan berasa pahit dan dapat membirukan kertas lakmus merah Garam : Cairan yang berasa asin TEORI

Lebih terperinci

Chapter 7 Larutan tirtawi (aqueous solution)

Chapter 7 Larutan tirtawi (aqueous solution) Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi modif oleh Dr I Kartini Chapter 7 Larutan tirtawi (aqueous solution) Larutan adalah campuran yang homogen dari dua atau lebih

Lebih terperinci

PRAKTIKUM PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA

PRAKTIKUM PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA LAPORAN PRAKTIKUM : 2 PRAKTIKUM PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA Nama : Sunarti NIM :147008015 Hari/ tgl: Selasa, 3 Maret 2015 Tujuan Praktikum: 1. Mengerti prnsip dasar tentang larutan buffer (penyangga)

Lebih terperinci

Hubungan koefisien dalam persamaan reaksi dengan hitungan

Hubungan koefisien dalam persamaan reaksi dengan hitungan STOIKIOMETRI Pengertian Stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari dan menghitung hubungan kuantitatif dari reaktan dan produk dalam reaksi kimia (persamaan kimia) Stoikiometri adalah hitungan kimia Hubungan

Lebih terperinci

TITRASI PENETRALAN (asidi-alkalimetri) DAN APLIKASI TITRASI PENETRALAN

TITRASI PENETRALAN (asidi-alkalimetri) DAN APLIKASI TITRASI PENETRALAN TITRASI PENETRALAN (asidi-alkalimetri) DAN APLIKASI TITRASI PENETRALAN I. JUDUL PERCOBAAN : TITRASI PENETRALAN (asidi-alkalimetri) DAN APLIKASI TITRASI PENETRALAN II. TUJUAN PERCOBAAN : 1. Membuat dan

Lebih terperinci

ASAM DAN BASA. Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc.

ASAM DAN BASA. Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc. ASAM DAN BASA Adelya Desi Kurniawati, STP., MP., M.Sc. Tujuan Pembelajaran 1.Mahasiswa memahami konsep dasar asam dan basa 2.Mahasiswa mampu mendefinisikan dan membedakan sifat-sifat asam dan basa 3.Mahasiswa

Lebih terperinci

ASIDI-ALKALIMETRI PENETAPAN KADAR ASAM SALISILAT

ASIDI-ALKALIMETRI PENETAPAN KADAR ASAM SALISILAT ASIDI-ALKALIMETRI PENETAPAN KADAR ASAM SALISILAT I. DASAR TEORI I.1 Asidi-Alkalimetri Asidi-alkalimetri merupakan salah satu metode analisis titrimetri. Analisis titrimetri mengacu pada analisis kimia

Lebih terperinci

LARUTAN. Zat terlarut merupakan komponen yang jumlahnya sedikit, sedangkan pelarut adalah komponen yang terdapat dalam jumlah banyak.

LARUTAN. Zat terlarut merupakan komponen yang jumlahnya sedikit, sedangkan pelarut adalah komponen yang terdapat dalam jumlah banyak. LARUTAN Larutan merupakan campuran yang homogen,yaitu campuran yang memiliki komposisi merata atau serba sama di seluruh bagian volumenya. Suatu larutan mengandung dua komponen atau lebih yang disebut

Lebih terperinci

SOAL KIMIA 1 KELAS : XI IPA

SOAL KIMIA 1 KELAS : XI IPA SOAL KIIA 1 KELAS : XI IPA PETUNJUK UU 1. Tulis nomor dan nama Anda pada lembar jawaban yang disediakan 2. Periksa dan bacalah soal dengan teliti sebelum Anda bekerja 3. Kerjakanlah soal anda pada lembar

Lebih terperinci

GALAT TITRASI. Ilma Nugrahani

GALAT TITRASI. Ilma Nugrahani GALAT TITRASI Ilma Nugrahani Galat Titrasi Adalah galat yang terjadi karena indikator berubah warna sebelum atau sesudah titik setara ditunjukkan dari kurva titrasi titik akhir titik ekivalen. Dapat disebabkan

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGAN, DAN PENGENCERAN

LAPORAN PRAKTIKUM PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGAN, DAN PENGENCERAN LAPORAN PRAKTIKUM PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGAN, DAN PENGENCERAN KELOMPOK PRAKTIKAN : Hadiyatur Rahma dan Yunita Wannur Azza GRUP PRAKTIKAN : Grup Pagi (10.00-13.00) HARI/TGL. PRAKTIKUM : Selasa,

Lebih terperinci

LEMBAR SOAL. Mata pelajaran : Kimia. Kelas/Program : XI/IPA Hari, tanggal : Selasa, 8 April 2008 Alokasi waktu : 90 Menit

LEMBAR SOAL. Mata pelajaran : Kimia. Kelas/Program : XI/IPA Hari, tanggal : Selasa, 8 April 2008 Alokasi waktu : 90 Menit DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN KIMIA Gedung D6. Kampus Sekaran Gunungpati Semarang 50229 Telp. 8508035 LEMBAR SOAL Mata

Lebih terperinci

Reaksi dalam larutan berair

Reaksi dalam larutan berair Reaksi dalam larutan berair Drs. Iqmal Tahir, M.Si. iqmal@gadjahmada.edu Larutan - Suatu campuran homogen dua atau lebih senyawa. Pelarut (solven) - komponen dalam larutan yang membuat penuh larutan (ditandai

Lebih terperinci

Fraksi mol adalah perbandingan antara jumiah mol suatu komponen dengan jumlah mol seluruh komponen yang terdapat dalam larutan.

Fraksi mol adalah perbandingan antara jumiah mol suatu komponen dengan jumlah mol seluruh komponen yang terdapat dalam larutan. Konsentrasi Larutan Ditulis oleh Redaksi chem-is-try.org pada 02-05-2009 Konsentrasi merupakan cara untuk menyatakan hubungan kuantitatif antara zat terlarut dan pelarut. Menyatakan konsentrasi larutan

Lebih terperinci

SMA NEGERI 6 SURABAYA LARUTAN ASAM & BASA. K a = 2.M a. 2. H 2 SO 4 (asam kuat) α = 1 H 2 SO 4 2H + 2

SMA NEGERI 6 SURABAYA LARUTAN ASAM & BASA. K a = 2.M a. 2. H 2 SO 4 (asam kuat) α = 1 H 2 SO 4 2H + 2 SMA NEGERI 6 SURABAYA LARUTAN ASAM & BASA K I M I A 1). TEORI ARCHENIUS Asam adalah zat yang jika di dalam air melepaskan ion H +, dengan kata lain pembawa sifat asam adalah ion H +. jumlah ion H+ yang

Lebih terperinci

Haris Dianto Darwindra BAB V PEMBAHASAN

Haris Dianto Darwindra BAB V PEMBAHASAN BAB V PEMBAHASAN Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan menggunakan zat lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Titrasi biasanya dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang

Lebih terperinci

KIMIA (2-1)

KIMIA (2-1) 03035307 KIMIA (2-1) Dr.oec.troph.Ir.Krishna Purnawan Candra, M.S. Kuliah ke-9 Teori Asam Basa Bahan kuliah ini disarikan dari Chemistry 4th ed. McMurray and Fay Faperta UNMUL 2011 Pengertian Asam dan

Lebih terperinci

KIMIA LARUTAN LARUTAN ELEKTROLIT ASAM DAN BASA

KIMIA LARUTAN LARUTAN ELEKTROLIT ASAM DAN BASA KIMIA LARUTAN Pada topik ini larutan yang dimaksud dibatasi pada larutan dengan pelarut air (aqueous solution). Air merupakan pelarut universal, tersedia melimpah, mudah untuk dimurnikan dan tidak beracun.

Lebih terperinci

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR KIMIA DASAR

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA BAHAN AJAR KIMIA DASAR No. BAK/TBB/SBG201 Revisi : 00 Tgl. 01 Mei 2008 Hal 1 dari 11 BAB VIII LARUTAN ASAM DAN BASA Asam dan basa sudah dikenal sejak dahulu. Istilah asam (acid) berasal dari bahasa Latin acetum yang berarti

Lebih terperinci

Soal dan Jawaban Titrasi Asam Basa

Soal dan Jawaban Titrasi Asam Basa Soal dan Jawaban Titrasi Asam Basa Rabu, 16 Januari 20130 komentar Inilah beberapa contoh soal dan jawaban tentang titrasi asam basa. Bacalah benarbenar setiap latihan soal asam basa berikut. Kalau perlu,

Lebih terperinci

BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN. Untuk mengembangkan strategi pembelajaran pada materi titrasi asam basa

BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN. Untuk mengembangkan strategi pembelajaran pada materi titrasi asam basa BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN Untuk mengembangkan strategi pembelajaran pada materi titrasi asam basa dilakukan tiga tahap yaitu tahap pertama melakukan analisis standar kompetensi dan kompetensi dasar

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM 2:

LAPORAN PRAKTIKUM 2: LAPORAN PRAKTIKUM 2: PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA, PENGENCERAN STOK GLUKOSA Oleh : AMIRUL HADI (137008015) SERI RAYANI BANGUN (137008003) Waktu praktikum : Kamis, 17 OKtober 2013 I. TUJUAN PRAKTIKUM

Lebih terperinci

Judul Percobaan II. Tujuan Percobaan III. Tanggal Percobaan IV. Selesai Percobaan Dasar Teori:

Judul Percobaan II. Tujuan Percobaan III. Tanggal Percobaan IV. Selesai Percobaan Dasar Teori: I. Judul Percobaan : Titrasi Penetralan dan Aplikasinya II. Tujuan Percobaan : 1. Membuat dan menentukan standarisasi larutan asam 2. Membuat dan menentukan standarisasi larutan basa 3. Menentukan kadar

Lebih terperinci

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia, FKIP, UNS, Surakarta, Indonesia 2. Dosen Program Studi Pendidikan Kimia, FKIP, UNS, Surakarta, Indonesia

Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia, FKIP, UNS, Surakarta, Indonesia 2. Dosen Program Studi Pendidikan Kimia, FKIP, UNS, Surakarta, Indonesia Jurnal Pendidikan Kimia (JPK), Vol. 2 No. 3 Tahun 2013 Program Studi Pendidikan Kimia Universitas Sebelas Maret ISSN 2337-9995 jpk.pkimiauns@ymail.com PEMBELAJARAN DIRECT INSTRUCTION DISERTAI HIERARKI

Lebih terperinci

SOAL SELEKSI NASIONAL TAHUN 2006

SOAL SELEKSI NASIONAL TAHUN 2006 SOAL SELEKSI NASIONAL TAHUN 2006 Soal 1 ( 13 poin ) KOEFISIEN REAKSI DAN LARUTAN ELEKTROLIT Koefisien reaksi merupakan langkah penting untuk mengamati proses berlangsungnya reaksi. Lengkapi koefisien reaksi-reaksi

Lebih terperinci

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab 16. Asam dan Basa

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab 16. Asam dan Basa Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi Bab 16 Asam dan Basa Asam Memiliki rasa masam; misalnya cuka mempunyai rasa dari asam asetat, dan lemon serta buah-buahan sitrun

Lebih terperinci

LOGO. Analisis Kation. By Djadjat Tisnadjaja. Golongan V Gol. Sisa

LOGO. Analisis Kation. By Djadjat Tisnadjaja. Golongan V Gol. Sisa LOGO Analisis Kation Golongan V Gol. Sisa By Djadjat Tisnadjaja 1 Golongan kelima Magnesium, natrium, kalium dan amonium Tidak ada reagensia umum untuk kation-kation golongan ini Kation-kation gol kelima

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM 03 ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA

LAPORAN PRAKTIKUM 03 ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA LAPORAN PRAKTIKUM 03 ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA Nama : Juwita (127008003) Herviani Sari (127008008) Tanggal Praktikum: 4 Oktober 2012 Tujuan Praktikum: 1. Memahami prinsip dasar larutan buffer

Lebih terperinci

SKL- 3: LARUTAN. Ringkasan Materi. 1. Konsep Asam basa menurut Arrhenius. 2. Konsep Asam-Basa Bronsted dan Lowry

SKL- 3: LARUTAN. Ringkasan Materi. 1. Konsep Asam basa menurut Arrhenius. 2. Konsep Asam-Basa Bronsted dan Lowry SKL- 3: LARUTAN 3 Menjelaskan sifat-sifat larutan, metode pengukuran dan terapannya. o Menganalisis data daya hantar listrik beberapa larutan o Mendeskripsikan konsep ph larutan o Menghitung konsentrasi

Lebih terperinci

kimia ASAM-BASA I Tujuan Pembelajaran

kimia ASAM-BASA I Tujuan Pembelajaran KTSP & K-13 kimia K e l a s XI ASAM-BASA I Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1. Memahami definisi dan sifat asam serta basa. 2. Memahami teori

Lebih terperinci

LEMBARAN SOAL 11. Sat. Pendidikan

LEMBARAN SOAL 11. Sat. Pendidikan LEMBARAN SOAL 11 Mata Pelajaran Sat. Pendidikan Kelas / Program : KIMIA : SMA : XI IPA PETUNJUK UMUM 1. Tulis nomor dan nama Anda pada lembar jawaban yang disediakan 2. Periksa dan bacalah soal dengan

Lebih terperinci

Kelas : XI IPA Guru : Tim Guru HSPG Tanggal : Senin, 23 Mei 2016 Mata pelajaran : Kimia Waktu : WIB

Kelas : XI IPA Guru : Tim Guru HSPG Tanggal : Senin, 23 Mei 2016 Mata pelajaran : Kimia Waktu : WIB Kelas : XI IPA Guru : Tim Guru HSPG Tanggal : Senin, 23 Mei 2016 Mata pelajaran : Kimia Waktu : 10.15 11.45 WIB Petunjuk Pengerjaan Soal Berdoa terlebih dahulu sebelum mengerjakan! Isikan identitas Anda

Lebih terperinci

PRAKTIKUM 2 PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA, PENGENCERAN STOK GLUKOSA Oleh: Melviana Aditya Candra

PRAKTIKUM 2 PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA, PENGENCERAN STOK GLUKOSA Oleh: Melviana Aditya Candra I.Tujuan Praktikum PRAKTIKUM 2 PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA, PENGENCERAN STOK GLUKOSA Oleh: Melviana Aditya Candra 1. Memahami prinsip-prinsip dasar larutan buffer Larutan penyangga atau buffer

Lebih terperinci

Metode titrimetri dikenal juga sebagai metode volumetri

Metode titrimetri dikenal juga sebagai metode volumetri Metode titrimetri dikenal juga sebagai metode volumetri? yaitu, merupakan metode analisis kuantitatif yang didasarkan pada prinsip pengukuran volume. 1 Macam Analisa Volumetri 1. Gasometri adalah volumetri

Lebih terperinci

2. Konfigurasi elektron dua buah unsur tidak sebenarnya:

2. Konfigurasi elektron dua buah unsur tidak sebenarnya: . Atom X memiliki elektron valensi dengan bilangan kuantum: n =, l =, m = 0, dan s =. Periode dan golongan yang mungkin untuk atom X adalah A. dan IIIB B. dan VA C. 4 dan III B D. 4 dan V B E. 5 dan III

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II PENENTUAN LAJU REAKSI DAN TETAPAN LAJU

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II PENENTUAN LAJU REAKSI DAN TETAPAN LAJU LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA II PENENTUAN LAJU REAKSI DAN TETAPAN LAJU Nama NIM Prodi Anggota kelompok Disusun oleh: : Edi Siswanto : H13112071 : Kimia : 1. Alpius Suriadi 2. Gloria Sindora 3. Indri

Lebih terperinci

PERCOBAAN I PEMBUATAN DAN PENENTUAN KONSENTRASI LARUTAN

PERCOBAAN I PEMBUATAN DAN PENENTUAN KONSENTRASI LARUTAN PERCOBAAN I PEMBUATAN DAN PENENTUAN KONSENTRASI LARUTAN I. TUJUAN PERCOBAAN Tujuan percobaan praktikum ini adalah agar praktikan dapat membuat larutan dengan konsentrasi tertentu, mengencerkan larutan,

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil analisis P-larut batuan fosfat yang telah diasidulasi dapat dilihat pada Tabel

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil analisis P-larut batuan fosfat yang telah diasidulasi dapat dilihat pada Tabel 26 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 P-larut Hasil analisis P-larut batuan fosfat yang telah diasidulasi dapat dilihat pada Tabel 9 (Lampiran), dan berdasarkan hasil analisis ragam pada

Lebih terperinci

LOGO. Stoikiometri. Tim Dosen Pengampu MK. Kimia Dasar

LOGO. Stoikiometri. Tim Dosen Pengampu MK. Kimia Dasar LOGO Stoikiometri Tim Dosen Pengampu MK. Kimia Dasar Konsep Mol Satuan jumlah zat dalam ilmu kimia disebut mol. 1 mol zat mengandung jumlah partikel yang sama dengan jumlah partikel dalam 12 gram C 12,

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II PERCOBAAN II REAKSI ASAM BASA : OSU OHEOPUTRA. H STAMBUK : A1C : PENDIDIKAN MIPA

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II PERCOBAAN II REAKSI ASAM BASA : OSU OHEOPUTRA. H STAMBUK : A1C : PENDIDIKAN MIPA LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA DASAR II PERCOBAAN II REAKSI ASAM BASA NAMA : OSU OHEOPUTRA. H STAMBUK : A1C4 07 017 KELOMPOK PROGRAM STUDI JURUSAN : II : PENDIDIKAN KIMIA : PENDIDIKAN MIPA ASISTEN PEMBIMBING

Lebih terperinci

YAYASAN WIDYA BHAKTI SEKOLAH MENENGAH ATAS SANTA ANGELA TERAKREDITASI A

YAYASAN WIDYA BHAKTI SEKOLAH MENENGAH ATAS SANTA ANGELA TERAKREDITASI A YAYASAN WIDYA BHAKTI SEKOLAH MENENGAH ATAS SANTA ANGELA TERAKREDITASI A Jl. Merdeka No. 24 Bandung 022. 4214714 Fax.022. 4222587 http//: www.smasantaangela.sch.id, e-mail : smaangela@yahoo.co.id 043 URS

Lebih terperinci

kimia Kelas X LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT K-13 A. Pengertian Larutan dan Daya Hantar Listrik

kimia Kelas X LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT K-13 A. Pengertian Larutan dan Daya Hantar Listrik K-13 Kelas X kimia LARUTAN ELEKTROLIT DAN NONELEKTROLIT Tujuan Pembelajaran Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan memiliki kemampuan berikut. 1. Memahami perbedaan antara larutan elektrolit dan

Lebih terperinci

K13 Revisi Antiremed Kelas 11 Kimia

K13 Revisi Antiremed Kelas 11 Kimia K13 Revisi Antiremed Kelas 11 Kimia Stoikiometri Larutan - Soal Doc. Name: RK13AR11KIM0601 Doc. Version : 2016-12 01. Zat-zat berikut ini dapat bereaksi dengan larutan asam sulfat, kecuali... (A) kalsium

Lebih terperinci