LAPORAN KAJIAN STRATEGIS KEBIJAKAN SUBSIDI PERTANIAN YANG EFEKTIF, EFISIEN DAN BERKEADILAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "LAPORAN KAJIAN STRATEGIS KEBIJAKAN SUBSIDI PERTANIAN YANG EFEKTIF, EFISIEN DAN BERKEADILAN"

Transkripsi

1 LAPORAN KAJIAN STRATEGIS KEBIJAKAN SUBSIDI PERTANIAN YANG EFEKTIF, EFISIEN DAN BERKEADILAN KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (BAPPENAS) 2011

2 RINGKASAN EKSEKUTIF A. Pendahuluan 1. Ketahanan pangan sangat diperlukan untuk meningkatkan ketahanan nasional. Karena itu, kebijakan ketahanan pangan di Indonesia telah berjalan lebih dari 50 tahun dengan berbagai prestasi. Salah satu instrumen kebijakan yang diterapkan adalah pemberian subsidi pertanian dengan utama untuk peningkatan produksi pangan dan akses masyarakat terhadap pangan. Yang dimaksudkan dengan subsidi adalah bagian harga suatu barang atau jasa yang ditanggung oleh pemerintah dari harga yang seharusnya dibayar oleh masyarakat pengguna barang atau jasa tersebut. 2. Dalam hal ini, pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi dalam bentuk subsidi harga input (pupuk dan benih) dan subsidi harga pangan yang dilaksanakan secara terus-menerus untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Kebijakan subsidi pertanian tersebut mengalami dinamika sesuai dengan perkembangan keadaan, dimana yang jumlah lokasi anggaran subsidi cenderung meningkat. Namun efektifitas kebijakan subsidi mulai dipertanyakan oleh berbagai kalangan karena berbagai masalah yang timbul dalam implementasinya. 3. Kajian subsidi pertanian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan kebijakan subsidi pertanian yang telah dan sedang berjalan (existing); (2) Mengevaluasi implementasi kebijakan subsidi pertanian yang sudah dan menganalisis dampak kebijakan subsidi pertanian; dan (3) Merumuskan usulan perbaikan kebijakan pemberian subsidi pertanian ke depan yang dapat meningkatkan produksi pertanian (khususnya beras) dan meningkatkan pendapatan petani padi. B. Pendekatan Kajian 4. Untuk dapat menjawab tujuan kajian ini digunakan kerangka pemikiran berdasarkan teori ekonomi mikro tentang produksi dan konsumsi hasil pertanian sebagai berikut. Untuk produksi pertanian adalah: (a) Subsidi harga input (pupuk dan benih) yang menyebabkan harga input lebih murah daripada harga pasar akan menyebabkan penggunaan input tersebut makin besar yang selanjutnya akan meningkatkan produksi dan laba usahatani per ha berdasarkan tingkat teknologi produksi yang ada; (b) Subsidi harga input juga bisa memberikan insentif kepada petani untuk mengadopsi teknologi produksi yang lebih baik sehingga produksi dan laba usahatani per ha menjadi lebih tinggi lagi; (c) Dampak positif tehadap produksi dan laba akan lebih besar lagi jika harga output juga meningkat karena kebijakan harga output yang meningkatkan harga pembelian pemeirntah (HPP, khususnya untuk padi). Untuk konsumsi hasil pertanian adalah bahwa subsidi harga output (beras) yang menyebabkan harga beras lebih murah dibandingkan harga pasar akan meningkatkan konsumsi beras per kapita, yang berarti akan meningkatkan akses pangan bagi rumah tangga, utamanya rumah tangga yang kurang mampu. 5. Analisis untuk melakukan evaluasi kebijakan subsidi menggunakan 2 pendekatan, yaitu pendekatan deskriptif-kualitatif dan Pendekatan kuantitatif/ekonometrik. Pendekatan pertama digunakan untuk mengevaluasi pelaksanaan kebijakan yang menyangkut mekanisme/prosedur dan penyimpangan yang terjadi berikut faktor-faktor yang menjadi penyebabnya. Sementara pendekatan kedua digunakan untuk mengukur dampak 1

3 perubahan harga input bersubsidi (benih dan pupuk) dan harga output (gabah) terhadap: (a) Penggunaan input bersubsidi, (b) Produksi padi, (c) Biaya usahatani, penerimaan dan laba usahatani, (d) Biaya subsidi input, dan (e) Surplus ekonomi (selisih antara tambahan nilai produksi dan tambahan biaya subsidi). Dai hasil analisis kuantitatif akan dapat dipilih scenario kebijakan yang dapat meningkatkan produksi dan laba usahatani per ha, yang keduanya merupakan tujuan utama subsidi pertanian. 6. Kajian ini diawali dengan identifikasi isu dan permasalahan yang ada melalui desk study dan rangkaian diskusi yang melibatkan berbagai unsur terkait. Untuk memperkuat hasil-hasil identifikasi yang sudah ada, dilakukan survei lapangan untuk mendapatkan data dan informasi (primer dan sekunder) yang terkait dengan pelaksanaan subsidi di lapangan/daerah. Survei dilaksanakan dalam bentuk FGD atau wawancara langsung dengan pihak-pihak terkait di daerah. Untuk analisis kuantitatif/ekonometrik digunakan data usahatani padi sawah tahun 2011 di delapan provinsi sentra produksi padi sawah, yaitu Sumatera Barat, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan dan Nusa Tenggara Barat. C. Konsep Kebijakan dan Rancangan Pelaksanaannya Kebijakan Subsidi Pupuk 7. Subsidi pupuk adalah alokasi anggaran pemerintah untuk menanggung subsidi harga pupuk, yaitu selisih antara harga subsidi dan harga non subsidi. Yang dimaksudkan dengan harga subsidi adalah harga eceran tertinggi (HET), sementara harga non-subsidi adalah harga pokok penjualan (HPP) pupuk. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan petani untuk membeli pupuk dalam jumlah yang sesuai dengan dosis anjuran pemupukan berimbang spesifik lokasi sehingga produksi pangan (beras) dan laba usahatani meningkat. 8. Sasaran penerima subsidi adalah petani, pekebun, dan peternak, yang mengusahakan lahan garapan paling luas 2 ha setiap musim tanam per keluarga petani dan pembudidaya ikan dan/atau udang paling luas 1 ha. Dengan demikian, pupuk bersubsidi tidak diperuntukkan bagi perusahaan berbadan hukum yang bergerak di bidang produksi tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan perikanan budidaya. 9. Dalam pelaksanaan kebijakan subsidi pupuk, UU Nomor 47 Tahun 2009 tentang ABPN Tahun 2010 (Pasal 9, Ayat (1)a) dan UU Nomor UU Nomor 10 Tahun 2010 tentang APBN Tahun 2011 (Pasal 10, Ayat (1) sampai dengan (4) merupakan dasar pelaksanaan subsidi pupuk masing-masing pada tahun 2010 dan Kebijakan subsidi pupuk melibatkan beberapa Kementerian di bawah kooordinasi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, yaitu Kementerian Pertanian, Kementerian Keuangan, Kementerian Perdagangan, dan Kementerian BUMN. Selain itu juga melibatkan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM), dan Pemerintah Daerah. Masing-masing lembaga tersebut mempunyai fungsi dan peranan yang berbeda namun saling mendukung. Untuk menjamin agar penyaluran pupuk bersubsidi tepat sasaran, serta penggunaan dan harga pupuk bersubsidi telah sesuai, maka dibentuk Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3) yang melakukan pemantauan dan pengawasan 2

4 sesuai dengan wilayah pengawasannya (provinsi/kabupaten/kota) dan menyusun laporan pengawasan yang disampaikan kepada Bupati/Gubernur/Menteri. Untuk memudahkan pelaksanaan tugasnya, KP3 dibantu oleh penyuluh pertanian. 11. Proses penyaluran pupuk bersubsidi diawali dengan usulan dari kelompok tani, yaitu membuat usulan kebutuhan pupuk para petani anggotanya yang dituangkan dalam RDKK (Rencana Kebutuhan Definitif Kelompok). RDKK tersebut dikirimkan kepada Penyalur (Kios) atau Gapoktan yang bertindak sebagai pengecer resmi (Lini-IV), dan selanjutnya rekapitulasi usulan kebutuhan pupuk tersebut dikirimkan kepada Distributor (Lini-III). Rekapitulasi kebutuhan pupuk dari distributor dikirimkan kepada Dinas Pertanian Kabupaten/Kota, dan selanjutnya secara berjenjang diserahkan kepada Dinas Pertanian Provinsi dan Kementerian Pertanian. 12. Berdasarkan Permentan yang mengatur tentang alokasi pupuk bersubsidi, alokasi pupuk bersubsidi dihitung sesuai dengan anjuran pemupukan berimbang spesifik lokasi dengan mempertimbangkan usulan kebutuhan yang diajukan oleh Pemerintah Daerah Provinsi dan alokasi anggaran subsidi pupuk. Aokasi pupuk bersubsidi secara nasional tersebut dirinci menurut provinsi, jenis, jumlah, sub-sektor, dan sebaran bulanan, dan selanjutnya dirinci menurut kabupaten/kota (ditetapkan dengan Peraturan Gubernur paling lambat pada awal bulan Maret) dan menurut kecamatan (ditetapkan dengan Peraturan Bupati/Walikota paling lambat akhir Maret). Saluran distribusi pupuk bersubsidi adalah: Produsen (Lini-I/II) Distributor (Lini-III) Penyalur (Lini-IV) Kelompok Tani/Petani. 13. Untuk menjamin agar pupuk bersubsidi tersedia bagi petani pada saat terjadi kekurangan alokasi kebutuhan pupuk bersubsidi di wilayah provinsi dan kabupaten/ kota, maka kekurangan dapat dipenuhi melalui realokasi antar wilayah, waktu dan subsektor sebagai berikut: (a) Realokasi antar provinsi ditetapkan lebih lanjut oleh Kementerian Pertanian, realokasi antar kabupaten/kota ditetapkan oleh Gubernur, dan realokasi antar kecamatan ditetapkan oleh Bupati/Walikota dan untuk memenuhi kebutuhan petani, realokasi tersebut dapat dilaksanakan terlebih dahulu sebelum penetapan dari Gubernur dan/atau Bupati/Walikota berdasarkan rekomendasi dari Dinas Pertanian setempat; dan (b) Apabila alokasi pupuk bersubsidi di suatu provinsi, kabupaten/kota, kecamatan pada bulan berjalan tidak mencukupi, produsen dapat menyalurkan alokasi pupuk bersubsidi di wilayah bersangkutan dari sisa alokasi bulanbulan sebelumnya dan/atau dari alokasi bulan berikutnya sepanjang tidak melampaui alokasi 1 (satu) tahun. 14. Dalam rangka efisiensi penyaluran pupuk bersubsidi, produsen pupuk telah berupaya menekan biaya sampai ke tingkat petani melalui terobosan baru untuk meningkatkan pelayanan kepada petani dalam pengadaan pupuk bersubsidi yaitu pengembangan Kios Pupuk Lengkap (KPL) sebanyk unit di seluruh wilayah Indonesia. Terhitung mulai dari 1 Desember 2010, semua kios resmi menjual pupuk lengkap dan tidak ada lagi yang hanya menjual satu jenis pupuk saja, sehingga semua jenis pupuk tersedia lengkap di tiap Kios. Selain mengupayakan adanya kemudahan dan memotong jalur birokrasi penebusan pupuk, produsen pupuk juga memberikan kemungkinan bagi Distributor (Lini-III) untuk menebus pupuk kapan saja. Proyek percontohan penebusan pupuk 24 jam sehari ini baru diujicobakan di beberapa wilayah Indonesia. 3

5 15. Karena pupuk bersubsidi merupakan komoditas yang berada di dalam pengawasan, maka Pemerintah telah menyiapkan berbagai mekanisme pengawasan untuk menekan penyimpangan, baik dari sisi penganggaran maupun pelaksanaan di lapangan. Pada sisi pelaksanaan di lapangan, dalam rangka pengawasan distribusi pupuk, produsen wajib melakukan pemantauan dan pengawasan terhadap penyediaan dan penyaluran pupuk bersubsidi dari Lini-I sampai dengan Lini-IV. Sementara itu, pengawasan terhadap penyaluran, penggunaan dan harga pupuk bersubsidi dilakukan oleh Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3). KP3 Provinsi/Kabupaten adalah wadah koordinasi instansi lintas sektor yang dibentuk oleh Keputusan Gubernur/ Bupati untuk melakukan pengawasan terhadap penyaluran, penggunan dan harga pupuk bersubsidi di wilayah Provinsi/Kabupaten. KP3 Kabupaten/Kota dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh penyuluh pertanian. 16. Menyangkut mutu pupuk bersubsidi, Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) melakukan pengawasan mutu (quality control) terhadap produk pupuk bersubsidi yang akan beredar di masyarakat. Sementara itu, DPR RI (Komisi IV) mempunyai peran sebagai berikut: (1) Mengawasi kinerja pemerintah dalam pelaksanaan program pupuk bersubsidi; (2) Menyerap aspirasi masyarakat dalam pelaksanaan program pupuk bersubsidi; dan (3) Melakukan koordinasi dengan Kementerian terkait untuk meminta keterangan, melakukan penilaian kinerja dan memberi masukan perbaikan kepada pemerintah mengenai program pupuk bersubsidi. 17. Dalam penghitungan alokasi anggaran subsidi pupuk, beberapa variabel utama yang digunakan adalah: (a) Jumlah pupuk, yang dihitung berdasarkan luas tanam dan anjuran dosis pupuk berimbang; (b) Jenis pupuk; (c) Harga Eceran Tertinggi (HET; dan (d) Harga Pokok Penjualan pupuk. 18. Jenis pupuk yang disubsidi terdiri dari Urea, SP36, ZA, NPK dan organik karena jenisjenis pupuk tersebut yang diproduksi oleh BUMN pupuk. Penugasan kepada BUMN dalam rangka pelaksanaan subsidi pupuk mempunyai keuntungan yaitu walaupun anggaran pemerintah (APBN) belum cair, pupuk sudah bisa disalurkan kepada petani mulai tanggal 1 Januari setiap tahun. Sementara itu, untuk mengurus administrasi yang terkait dengan penyaluran pupuk tidak cuckup 2 bulan. Dalam hal ini, pemerintah melakukan pembayaran belakangan setelah pupuk disalurkan, dan bahkan pembayaran selengkapnya baru dilakukan setelah ada hasil auditing atas jumlah pupuk yang telah disalurkan dan HPP final. 19. HET pupuk selama tidak berubah, yaitu Rp untuk Urea, Rp untuk ZA, Rp untuk SP18/SP36 dan Rp untuk NPK, yang mengindikasikan bahwa jumlah subsidi per kg pupuk yang ditanggung pemerintah sangat besar dan terus meningkat karena HPP pupuk terus meningkat. HET pupuk baru dinaikkan pada tahun 2010 yaitu menjadi Rp untuk Urea (naik 33,3%); Rp untuk ZA (naik 33,3%); Rp untuk SP36 (naik 29,0%); dan Rp untuk NPK Phonska (naik 31,4%). Kenaikan HET diperlukan karena HPP pupuk cenderung meningkat, sedangkan anggaran pemerintah yang tersedia untuk subsidi terbatas. Pada tahun 2011, HET pupuk telah direncanakan akan dinaikkan, tetapi kemudian dibatalkan dan tetap menggunakan HET tahun 2010, dan khusus untuk pupuk organik kembali pada posisi tahun 2009 yaitu Rp 500/kg. Tidak naiknya HET dilandasi oleh pertimbangan untuk meringankan beban petani seandainya terjadi kegagalan tanam karena kebanjiran sebagai akibat dari 4

6 kondisi iklim yang ekstrim basah. Tidak naiknya HET selama dan 2011 mencerminkan bahwa kebijakan subsidi pupuk tetap berpihak kepada petani. 20. Target penyaluran pupuk tunggal (Urea, SP218/SP36 dan ZA), terus meningkat selama tetapi kemudian menurun pada tahun 2010, sedangkan untuk pupuk majemuk (NPK) terus meningkat selama Target penyaluran yang menurun pada jenis pupuk tunggal dan meningkat pada jenis pupuk majemuk (NPK) dilandasi oleh keinginan pemerintah agar petani meningkatkan menggunakan pupuk majemuk (dan pupuk organik) dan mengurangi penggunaan pupuk tunggal dengan tujuan agar produktivitas meningkat melalui penggunaan pupuk berimbang (dan pupuk organik). Anggaran subsidi pupuk terus meningkat secara cepat dari Rp milyar pada tahun 2007 menjadi Rp ,8 milyar pada tahun 2008, kemudian naik lagi menjadi Rp milyar pada tahun 2009 dan naik lagi menjadi Rp milyar pada tahun 2010 tetapi kemudian turun menjadi sekitar Rp milyar pada tahun Dalam upaya mencari alternatif kebijakan subsidi pupuk yang lebih efektif, efisien dan berkeadilan, pemerintah cq Kementerian Pertanian telah melakukan dua uji coba, yaitu Kartu Pintar (Smart Card) dan Subsidi Pupuk Langsung ke Petani (SPL). Uji coba Kartu Pintar telah dilakukan pada tahun 2006 dan Kartu ini dilengkapi dengan fasilitas elektronik (semacam kartu ATM). Dalam kartu tersebut terdapat nama, nomor kartu dan jatah pupuk menurut jenisnya sesuai dengan RDKK masing-masing petani. Mesin transaksi pembelian pupuk (semacam mesin ATM) ditempatkan di kios penyalur (Lini-IV). Sementara itu, uji coba subsidi pupuk langsung ke petani (SPL) telah dilakukan di dua kecamatan di Kabupaten Karawang pada musim tanam Oktober Desember Namun keduanya kurang berhasil karena banyak permasalahan teknis, ekonomi dan sosial di lapangan yang sulit diatasi. Kebijakan Subsidi Benih 22. Subsidi benih adalah penggantian biaya produksi benih bersertifikat yang harus dibayar oleh pemerintah apabila benih tersebut sudah terjual. Tujuannya adalah: (a) Membantu meringankan beban para petani tanaman pangan agar dapat membeli benih sebar bersertifikat dengan harga terjangkau; (b) Meningkatkan penggunaan benih bermutu varietas unggul; dan (c) Stabilisasi harga benih unggul bermutu. Semua tujuan tersebut berujung pada peningkatan produktivitas dan produksi tanaman pangan berkualitas. 23. Besaran subsidi adalah selisih antara Harga Pokok Penjualan (HPP) benih dengan Harga Penyerahan (HP) benih. Dalam hal ini, HPP benih adalah semua biaya yang timbul baik langsung maupun tidak langsung dari proses produksi sampai dengan benih siap jual dalam 1 (satu) periode usaha. Sementara itu, HP benih adalah harga jual benih rata-rata dalam 1 (satu) tahun di tingkat penyalur. 24. Benih bersubsidi yang dimaksud adalah benih padi (non hibrida), jagung komposit, jagung hibrida dan kedelai bersertifikat yang diproduksi oleh PT. Sang Hyang Seri (Persero) dan PT. Pertani (Persero). Dalam hal ini, benih Varietas Unggul Bermutu (VUB) adalah benih yang berasal dari varietas unggul yang telah dilepas yang mempunyai mutu genetis, mutu fisiologis dan mutu fisik yang tinggi sesuai dengan standar mutu pada kelasnya. Benih padi, jagung hibrida, jagung komposit dan kedelai adalah benih bersertifikat kelas Benih Sebar (Extension Seed/ES). Sebagai penerima manfaat utama dari subsidi benih adalah petani tanaman pangan, namun hanya terbatas 5

7 pada petani padi non-hibrida, petani jagung komposit, petani jagung hibrida, dan petani kedelai. 25. Dalam pelaksanaan kebijakan subsidi benih, UU Nomor 10 Tahun 2010 tentang APBN Tahun 2011 (Pasal 11), merupakan dasar pelaksanaan subsidi benih tahun Menurut UU tersebut, subsidi benih tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp Pada tahun-tahun sebelumnya, UU APBN belum mencantumkan alokasi anggaran untuk subsidi benih. 26. Total anggaran subsidi harga benih telah mengalami kenaikan dari Rp 341,9 milyar pada tahun 2007 menjadi Rp 985,2 milyar pada tahun 2008, dan naik lagi menjadi Rp 1.315,4 milyar pada tahun 2009 tetapi kemudian menurun sangat drastis menjadi hanya Rp 104,6 milyar pada tahun Sesudah itu, anggaran subsidi benih sedikit naik menjadi Rp 120,3 milyar pada tahun Anjloknya jumlah subsidi benih pada tahun 2010 disebabkan oleh daya serap benih bersubsidi sebagai akibat dari: (a) Terlalu mahalnya harga subsidi dan tidak signifikannya perbedaan antara harga subsidi dan harga non-subsidi; (b) Adanya program BLBU dengan volume benih yang sangat besar; dan (c) Adanya sumber-sumber benih diluar PSO yang harganya lebih murah tetapi mutunya tidak jauh berbeda dari benih bersubsidi. 27. Dalam penyaluran benih bersubsidi, BUMN produsen benih yang ditunjuk pemerintah, yaitu PT Sang Hyang Seri (Persero) dan PT Pertani (Persero), diberi tugas memproduksi benih sesuai dengan kebutuhan. Benih tersebut didistribusikan melalui kios-kios yang ada, dan petani atau kelompok tani dapat membeli sesuai dengan harga penyerahan (HP). Volume benih yang disalurkan oleh BUMN ke kios-kios diperiksa dan diawasi oleh Pengawas Benih Tanaman (PBT) setempat. Untuk memudahkan proses distribusi benih bersubsidi, benih tersebut diharapkan dapat diproduksi di daerah tersebut dengan melibatkan penangkar benih yang ada di lokasi setempat. 28. Harga benih bersubsidi yang dikenal sebagai Harga Penyerahan (HP) benih per kg pada tahun 2011 adalah Rp untuk benih padi non-hibrida, Rp Rp untuk benih jagung hibrida, Rp untuk benih jagung komposit dan Rp untuk benih kedelai. Harga-harga subsidi benih tersebut diatas hanya sedikit lebih murah dibanding harga non-subsidi, yaitu 95,40% untuk benih padi non-hibrida; 95,72% untuk benih jagung komposit; 94,81% untuk benih kedelai; dan bahkan 99.60% untuk jagung hibrida (hampir sama dengan harga subsidi). Kecilnya perbedaan antara harga subsidi dan harga non subsidi disebabkan pemerintah hanya memberikan subsidi untuk biaya angkutan saja (sampai ke titik bagi). 29. Target penyaluran benih padi (non hibrida) meningkat pada tahun 2007 dibanding 2006 tetapi kemudian turun drastis pada tahun 2008, dan pada tahun 2010 menurun lagi. Untuk benih jagung hibrida, target tahun 2007 turun dibanding 2006 tetapi kemudian cenderung naik selama Sementara untuk benih jagung komposit, target penyaluran turun pada tahun 2007 dibanding 2006, tetapi kemudian naik, turun dan naik lagi secara bergantian selama Target penyaluran benih kedelai naik pada tahun 2007 tetapi kemudian turun drastis pada tahun 2008 dan tidak beurbah sampai

8 Kebijakan Harga Gabah/Beras 30. Kebijakan yang terkait dengan harga gabah/beras adalah Harga Pembelian Pemerintah (HPP), yaitu harga pembelian gabah/beras, baik di tingkat petani maupun di tingkat penggilingan, oleh Pemerintah berdasarkan peraturan yang terkait dengan kebijakan perberasan nasional. Tujuan kebijakan HPP adalah untuk melindungi petani dari kejatuhan harga gabah pada saat panen raya sekaligus menjadi insentif bagi petani untuk tetap memproduksi bahan pangan (khususnya beras) di dalam mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional. Penerapan kebijakan HPP diharapkan juga dapat mendorong dan memfasilitasi petani di dalam penggunaan benih padi unggul bersertifikat, pupuk anorganik dan organik secara berimbang, serta teknologi pascapanen padi yang lebih tepat. Kebijakan HPP diarahkan sepenuhnya bagi petani produsen gabah/beras, sehingga diharapkan penerima manfaat utama dari pelaksanaan kebijakan HPP adalah petani padi. 31. Kebijakan HPP dilaksanakan dengan melakukan pembelian gabah/beras produksi dalam negeri oleh perum Bulog untuk memenuhi kebutuhan beras di dalam Program Beras untuk Masyarakat Miskin (Program Raskin) dan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Meskipun pengadaan gabah/beras dapat dilakukan melalui impor dari luar negeri, pengadaan dari dalam negeri tetap diutamakan. Dalam pengadaan beras/gabah dalam negeri, Perum Bulog diharuskan menyerap beras dari petani dengan tingkat harga tertentu yang telah ditetapkan oleh Pemerintah, yang disebut dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Dalam pelaksanaan kebijakan subsidi pangan, UU Nomor 10 Tahun 2010 tentang APBN Tahun 2011 (Pasal 9), merupakan dasar pelaksanaan subsidi pangan tahun Menurut UU tersebut, subsidi pangan untuk tahun 2011 dianggarkan sebesar Rp Pada tahun-tahun sebelumnya, UU APBN belum mencantumkan alokasi anggaran untuk subsidi pangan. Selama tahun telah terjadi sebanyak 8 kali perubahan kebijakan perberasan yang ditetapkan melalui berbagai Inpres yang dibuat berdasarkan kondisi tertentu, yang semuanya bertujuan untuk melindungi petani padi dari turunnya harga output dan turunnya pendapatan usahatani padi. Inpres terakhir yang terbit pada tahun 2011 adalah Inpres No. 8/2011 tentang Kebijakan Pengamanan Cadangan yang dikelola oleh Pemerintah dalam menghadapi kondisi iklim ekstrim, yang didasari oleh kesulitan Bulog dalam melaksanakan pengadaan beras dari dalam negeri karena harga gabah/beras berada yang jauh di atas HPP sehingga cadangan beras pemerintah terlalu rendah. Inpres tersebut menginstruksikan antara lain: (a) Pembelian gabah/beras oleh Perum Bulog harus memperhatikan HPP; dan (b) Dalam hal harga pasar gabah/beras lebih tinggi daripada HPP, pembelian gabah/beras dapat dilakukan oleh Perum Bulog pada harga yang lebih tinggi daripada HPP dengan memperhatikan harga pasar yang dicatat oleh BPS. 33. Berdasarkan Inpres No. 7/2009 tentang Kebijakan Perberasan, lembaga yang terkait dengan kebijakan perberasan nasional secara umum dan pelaksanaan kebijakan HPP di dalam pengadaan beras dan Beras untuk Masyarakat Miskin (Raskin) secara khusus adalah: (a) Kementerian/Lembaga di tingkat pusat seperti Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Menteri Pertanian, Menteri Perdagangan, dan Menteri Keuangan; (b) Gubernur, Bupati, dan Walikota di tingkat daerah; dan (c) BUMN, khususnya Perum Bulog. Di dalam pelaksanaannya, Perum Bulog bertugas sebagai: (a) Pelaksana pembelian gabah/beras secara nasional; (b) Pelaksana penyediaan dan penyaluran beras 7

9 bersubsidi bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah serta penyediaan dan penyaluran beras untuk menjaga stabilitas harga beras, menanggulangi keadaan darurat, bencana, dan rawan pangan; dan (c) Pelaksana pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah. 34. Dalam pengadaan beras dari dalam negeri, Bulog bekerjasama dengan Mitra Kerja. Salah satu Mitra Kerja tersebut adalah Usaha Penggilingan Padi, yang memenuhi persyaratan sebagai berikut: (a) Mempunyai lantai jemur sendiri; (b) Mempunyai izin usaha lengkap; (c) Mempunyai tempat penggilingan dan gudang; (d) Memberikan jaminan pengadaan dan karung; dan (e) Menyimpan uang di Bulog sebagai jaminan kontrak kerja pengadaan gabah beras. Besarnya jaminan uang di Bulog adalah 98,5% dari nilai setoran gabah pertama ke Bulog (1,5% diberikan ke Mitra). Setelah itu, pada transaksi berikutnya, kedua ketiga dan seterusnya, 100% nilai setoran gabah diberikan kepada Mitra, dan tidak dipotong lagi. Setelah kontrak putus atau berakhir, uang jaminan dikembalikan. 35. Berdasarkan Permenkeu Nomor 125/PMK.02/2010 tentang Subsidi Beras Bagi Masyarakat Berpendapatan Rendah, mulai tahun 2011 Bulog diijinkan Pemerintah untuk mencairkan dana Public Service Obligation (PSO) sebesar 50% dari pagu di awal tahun untuk pembelian Raskin selama 6 bulan pertama. Untuk tahun 2011, dengan pagu anggaran Raskin Rp 15 triliun, Bulog dapat mencairkan lebih dahulu sebesar Rp 7.5 triliun. Dengan kebijakan baru ini, Bulog tidak perlu meminjam dana perbankan untuk pangadaan Raskin, sehingga ada potensi penghematan biaya bunga sebesar Rp 500 milyar. 36. Di dalam pelaksanaan pengadaannya, Perum Bulog telah menyediakan tiga saluran, dimana dua saluran yaitu Unit Pengolahan Gabah dan Beras (UPGB) dan Satgas merupakan unit di bawah Perum Bulog. Kedua saluran tersebut lebih diintensifkan di dalam pembelian gabah/beras dari petani ketika: (a) Harga di tingkat petani sangat rendah, sehingga dengan adanya pembelian dari Bulog dapat mendorong meningkatnya harga, atau (b) Ketika Perum Bulog sangat kesulitan di dalam melakukan pengadaan. Saluran ketiga adalah mitra kerja yang merupakan pihak swasta di luar Perum Bulog, baik dalam bentuk koperasi maupun perusahaan dagang yang berbadan hukum. Namun pada saat ini sedang dijajagi untuk menjadikan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) sebagai mitra kerja pula. Pengadaan beras/gabah melalui mitra kerja mempunyai peranan penting karena pengadaan melalui saluran tersebut mencapai 70-80%. Untuk mendapatkan kepastian pengadaan melalui mitra kerja, Perum Bulog menyusun kontrak parsial, yang biasanya berlaku selama satu bulan. 37. Variabel utama yang menentukan HPP gabah adalah biaya produksi gabah/beras dan perkiraan keuntungan bagi petani (misalnya 30% dari total biaya usahatani). Sementara untuk HPP beras ditentukan oleh biaya produksi (harga pembelian dan biaya pengadaan per kg setara beras), biaya overhead per kg beras (pembelian karung pembungkus, biaya penyimpanan & perawatan, biaya movement & insentif angkutan, biaya rebagging dan distribusi), dan biaya umum & administrasi per kg setara beras (biaya manajemen, administrasi bank, dan bunga bank jika Bulog pinjam bank). Kriteria gabah kering panen (GKP), gabah kering giling (GKG), dan beras yang diserap dengan HPP adalah jenis gabah dan beras yang memenuhi kriteria: (a) GKP dengan kualitas kadar air maksimum 25% dan kadar hampa/kotoran maksimum 10%; (b) GKG dengan kualitas kadar air maksimum 14% dan kadar hampa/kotoran maksimum 3%; dan (c) Beras 8

10 dengan kualitas kadar air maksimum 14%, butir patah maksimum 20%, kadar menir maksimum 2% dan derajat sosoh minimum 95%. 38. HPP gabah dan beras berdasarkan Inpres No.7/2009 sebagai berikut: (a) HPP Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat penggilingan Rp 3,300 dan di gudang Bulog Rp 3,345 per kg; dan (b) HPP beras dengan kadar air maksimum 14%, butir patah maksimum 20%, butir menir maksimum 2% dan derajat sosoh minimal 95% adalah Rp 5,060 per kg di gudang Bulog. Kriteria tersebut merupakan prasyarat agar beras yang dibeli Bulog dapat disimpan dalam jangka waktu lama, yaitu berkisar enam bulan. Besaran HPP gabah dan beras untuk tahun 2010 dan 2011 dengan ketentuan kualitas sebagaimana disebutkan di atas adalah sebagai berikut: (1) HPP GKP dalam negeri Rp 2,640 per kg di petani, atau Rp 2,685 per kg di penggilingan; (2) HPP GKG dalam negeri adalah Rp 3,300 per kg di penggilingan, atau Rp 3,345 per kg di gudang Bulog; dan (3) HPP beras dalam negeri adalah Rp 5,060 per kg di gudang Bulog. Pada tahun 2011 pemerintah tidak menaikkan HPP karena khawatir kebijakan demikian akan meningkatkan harga beras yang selanjunya akan meningkatkan inflasi dan jumlah orang miskin di Indonesia. D. Evaluasi Pelaksanaan Kebijakan Subsidi Kebijakan Subsidi Pupuk 39. Dasar hukum dan regulasi yang mengatur mekanisme pelaksanaan program subsidi pupuk sudah ada dan pada umumnya sudah memadai, namun pelaksanaannya di lapangan masih belum selalu sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku tersebut. Penyimpangan yang masih terjadi (walaupun tidak seintensif pada tahun-tahun sebelumnya karena sejak tahun 2009 telah menggunakan sistem penyaluran pupuk bersubsidi secara tertutup yaitu penerapan RDKK), bersumber dari kombinasi perilaku yang kurang bertanggungjawab dari para pengguna, para pelaku distribusi, dan lemahnya sistem pengawasan penyaluran pupuk bersubsidi, disamping masih adanya kelemahan yang terkandung di dalam ketentuan itu sendiri. 40. Ketentuan tentang kelompok sasaran (target group) penerima subsidi pupuk dengan luasan maksimum 2 ha/kk sangat sulit dilaksanakan di lapangan karena semua petani membutuhkan pupuk, termasuk petani luas. 41. RDKK yang merupakan hasil akhir penghitungan rencana kebutuhan pupuk bersubsidi kelompok tani belum disusun secara obyektif karena: (a) Ada mark-up luas lahan garapan, lahan ganda, dan fiktif; (b) Masih ada petani yang tidak masuk sebagai anggota kelompok tani padahal memerlukan pupuk bersubsidi; (c) Kemampuan kelompok tani dalam pendataan luas garapan dan kebutuhan pupuk anggotanya masih lemah sehingga seringkali RDKK sibuat oleh pihak lain (kios, dll); dan (d) Tidak ada`sanksi hukum terhadap kelompok tani yang RDKK-nya tidak benar. Disamping itu, di wilayah-wilayah yang belum ada PPL yang bertugas atau ditempatkan, penyerahan RDKK terlambat sehingga pengajuan kebutuhan pupuknya juga terlambat. 42. Dalam penyaluran pupuk bersubsidi masih ada permasalahan, baik di tingkat petani, pengecer, distributor, dan produsen. Di tingkat petani, masalah utamanya adalah rendahnya kemampuan mayoritas petani membeli pupuk secara tunai sehingga harus membayar diatas HET. Sementara di tingkat pengecer, masalah utamanya adalah pengenaan harga pupuk diatas HET karena kurangnya fee walaupun petani menerima 9

11 pupuk di pintu pengecer dan membayar secara tunai. Distributor (Lini-III) masih belum sepenuhnya mampu menyalurkan pupuk secara tepat jumlah, lokasi dan waktu karena kurangnya fasilitas gudang dan alat angkut, dan ada juga yang tidak sesuai dengan DO. Demikian pula, produsen pupuk belum mampu melakukan penyaluran secara tepat waktu jumlah, lokasi dan waktu karena masalah pangangkutan. Kalaupun produsen yang demikian dikenakan sanksi misalnya berupa penundaan dan pembatalan pembayaran subsidi oleh Menteri Keuangan, ancaman tersebut tidak mempunyai kekuatan karena sanksi tersebut harus berdasarkan pada rekomendasi KP3, padahal lembaga pengawas ini tidak menjalankan fungsinya secara memadai. 43. Di tingkat wilayah terjadi kelebihan pupuk, sedangkan di wilayah lain lain kekurangan. Kebijakan realokasi pupuk bersubsidi untuk mengatasi masalah tersebut sudah dilakukan tetapi keluarnya SK tentang realokasi tersebut sering terlambat. Terjadi juga penggantian karung pupuk bersubsidi dengan karung pupuk non subsidi, dan ada`pula perembesan pupuk bersubsidi antar wilayah, serta penyelundupan pupuk ke negara lain. Semuanya itu perpangkal dari kurang berfungsinya KP3 terutama karena sangat terbatas atau tidak adanya anggaran untuk pengawasan. 44. Hasil audit BPK atas jumlah penyaluran dan HPP pupuk bersubsidi tahun 2009 menunjukkan hanya terjadi sedikit penyimpangan, yaitu -0.05% untuk total volume penyaluran, yang berarti total volume penyaluran yang dilaporkan lebih kcil dari hasil audit, dan -1.23% untuk total nilai HPP yang berarti biaya HPP yang dilaporkan produsen pupuk kelebihan 1.23%. Kebijakan Subsidi Benih 45. Dasar hukum dan regulasi yang mengatur mekanisme pelaksanaan program subsidi benih sudah ada dan pada umumnya sudah memadai, namun pelaksanaannya di lapangan masih belum optimal. 46. Kemampuan PT Sang Hyang Seri dan PT Pertani sebagai BUMN yang diberi tugas oleh pemerintah untuk memproduksi benih bersubsidi masih sangat terbatas, baik untuk padi (non hibrida), jagung (hibrida dan komposit) maupun kedelai. Persaingan yang tajam dengan produsen benih swasta dan penangkar benih dalam pemasaran benih unggul menyebabkan kedua BUMN perbenihan tersebut menemui kesulitan dalam mengembangkan usahanya. 47. Harga benih bersubsidi hanya sedikit lebih rendah dibanding harga benih non-subsidi, sedangkan mutu/kapasitas benih bersubsidi tidak berbeda secara signifikan dari benih non-subsidi. Hal ini menyebabkan petani pada umumnya belum tertarik untuk membeli benih bersubsidi. Kebijakan Harga Gabah/Beras 48. Dasar hukum dan regulasi yang mengatur mekanisme pelaksanaan kebijakan HPP gabah/beras dan sistem pengadaan beras dalam negeri sudah ada dan pada umumnya sudah memadai, walaupun ada ketentuan yang belum, utamanya dalam Inpres No.8/

12 49. Namun kemampuan Bulog selama ini dalam pengadaan beras masih terbatas karena: (a) Bulog harus menggunakan dana pinjaman bank dengan bunga komersial untuk melakukan pembelian beras dari produksi dalam negeri; dan (b) Akhir-akhir ini harga gabah jauh diatas HPP dan pada tahun 2011 terbit Inpres No. 8/2011 yang dianggap Bulog mengganggu pengadaan dari dalam negeri. 50. Baru-baru ini kebijakan pemerintah yang mengijinkan Bulog untuk menggunakan dana pemerintah guna membeli gabah/beras terlebih dahulu di awal tahun akan sangat mendukung program perlindungan harga gabah petani, disamping Bulog sendiri akan menjadi lebih efisien karena tidak harus membayar bunga bank komersial yang cukup besar sebagaimana yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya yaitu sekitar Rp 1 triliun per tahun. 51. Kebijakan HPP GKP selama secara efektif mampu menyangga harga gabah di tingkat petani, dimana harga aktual GKP makin jauh dari HPP. Karena itu, pendapatan usahatani padi juga makin tinggi. Pada tahun 2011, dengan harga aktual GKP laba usahatani mencapai diatas 100% dari HPP, dan dengan HPP GKP saja laba mencapai 65% dari total biaya usahatani. 52. Saat ini, rasio antara HPP Beras dan HPP GKG terlalu rendah sehingga tidak memberikan insentif bagi usaha penggilingan padi (rice miller) untuk meningkatkan mutu beras sesuai dengan ketentuan HPP. Bahkan akhir-akhir ini cukup banyak usaha penggilingan padi mitra Bulog yang tutup karena tidak mampu menutup biaya penggilingan. 53. Hadirnya Inpres No.8 Tahun 2011 terkesan tidak efektif dalam mendukung pelaksanaan pengadaan cadangan beras yang dikelola oleh Pemerintah/Bulog. Bahkan Inpres tersebut cenderung memicu akselerasi peningkatan harga aktual gabah. Kebijakan Subsidi Terpadu 54. Tidak ada skenario kebijakan yang dapat mencapai semua tujuan secara simultan, yaitu meningkatkan produksi untuk penguatan ketahanan pangan, meningkatkan laba usahatani untuk meningkatkan kesejahteraan petani, mengurangi biaya subsidi untuk sustainabilitas fiskal, dan meningkakan surplus ekonomi secara makro. Karena itu, maka pilihan skenario kebijakan harus difokuskan pada tujuan utama kebijakan subsidi input dan HPP, yaitu penguatan ketahanan pangan, dan kalau bisa meningkatkan laba usahatani untuk perbaikan kesejahteraan petani. 55. Skenario kebijakan subsidi yang dapat meningkatkan produksi dan laba usahatani per hektar adalah: (a) HET pupuk tetap, HPP GKP naik 5%; dan (b) HET Urea naik 10%, HP benih naik 5% dan HPP GKP naik 5%. Namun kenaikan kebijakan (a) lebih besar dibanding kebijakan (b). 11

13 D. Rekomendasi Kebijakan Subsidi Pupuk 56. Keinginan pemerintah untuk melanjutkan kebijakan subsidi pupuk perlu didukung karena jumlah petani kecil yang lemah modalnya terus bertambah dan makin dominan. Diperkirakan bahwa kecenderungan peningkatan jumlah petani kecil masih akan terus berlanjut di masa datang karena terjadinya fragmentasi lahan sebagai akibat dari sistem pewarisan lahan, disamping konversi lahan pertanian ke non pertanian yang berlangsung secara terus-menerus. 57. Agar kebijakan subsidi pupuk menjadi lebih efektif, maka: (a) Produsen pupuk dan kementerian terkait perlu melakukan pembinaan dan sosialiasi secara intensif kepada distributor, pengecer dan kelompok tani tentang ketentuan mengenai pelaksanaan kebijakan subsidi pupuk; dan (2) Kementerian terkait, terutama Kementerian Pertanian dan Kementerian Perdagangan, perlu melakukan koordinasi secara intensif dalam melakukan evaluasi terhadap kelemahan sistem pendataan RDKK, penyaluran dan pengawasan. 58. Sasaran penerima subsidi pupuk bersubsidi sebaiknya tidak dibatasi pada petani yang luas garapannya 2 ha atau kurang, tetapi juga mencakup petani yang areal garapannya lebih luas lada dasarnya karena petani luas yang mempunyai kapasitas untuk memacu pertumbuhan produksi beras dan surplus produksi yang dapat dijual ke pasar (marketable surplus) dalam upaya penguatan ketahanan pangan nasional. 59. Dalam mekanisme pelaksanaan program subsidi pupuk perlu dikembangkan model akuntabilitas yang lebih partisipatif, transparan dan hasilnya dapat diakses oleh publik, sehingga anggaran pemerintah untuk subsidi pemerintah menjadi lebih efisien. 60. Produsen pupuk harus tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Ekspor dapat dilakukan jika memang terdapat stok pupuk yang berlebihan di gudang milik pabrik yang dapat menyebabkan biaya penyimpanan meningkat dan kerusakan pupuk (terutama Urea) serta menghambat penyimpanan pupuk yang baru diproduksi atau diimpor, disampiing ekspor pupuk harus sudah mendapatkan ijin dari Kementerian Pertanian. 61. Pemerintah daerah perlu menganggarkan sebagian APBD-nya untuk membiayai kegiatan KP3 guna melaksanakan tupoksinya secara optimal. Dalam hal ini, Dinas Pertanian tingkat Kabupaten/Kota harus berani mengajukan anggaran KP3 kepada Bupati/Walikota. Tanpa anggaran yang cukup, maka berbagai permasalahan yang selama ini dihadapi dalam penyaluran pupuk bersubsidi tidak akan pernah bisa diatasi dan akan selalu muncul pada tahun-tahun yang akan datang. Kebijakan Subsidi Benih 62. BUMN produsen benih bersubsidi sebaiknya membatasi pasarnya hanya pada pasar yang sudah jelas (captive markets), yaitu di wilayah-wilayah yang petaninya sudah fanatik terhadap benih unggul bersubsidi. Hal ini dipandang penting karena harga benih bersubsidi masih terlalu tinggi dan hanya petani-petani yang sudah maju yang mau membeli benih unggul bersubsidi. 12

14 63. Jika BUMN perbenihan ingin memperluas pasarnya, maka harga benih harus diturunkan sampai titik kesanggupan petani membeli (willingness to pay) jika kualitas benihnya tidak meningkat secara signifikan. Disamping itu, BUMN perbenihan perlu tetap melakukan sosialisasi kepada petani secara lebih luas tentang keunggulan benih bersubsidi produksi BUMN, baik dari segi kapasitas produksi, resistensi terhadap gangguan hama/penyakit, kebanjiran atau kekeringan, harga outputnya dan khusus beras adalah rasa nasinya. 64. Alternatifnya, BUMN perbenihan cukup berkonsentrasi dalam pengadaan benih untuk program BLBU yang kebutuhan benihnya sangat besar. Terkait dengan hal ini, maka subsidi sebaiknya diberikan kepada para penangkar benih agar mereka dapat membantu penyediaan benih, baik dalam rangka program BLBU maupun lainnya. 65. Pengawasan oleh institusi yang berwenang, baik terhadap mutu benih bersubsidi maupun benih untuk BLBU, perlu ditingkatkan agar benih bersubsidi mendapatkan kepercayaan yang makin luas dari masyarakat petani. Kebijkaan Harga Gabah/Beras 66. Kebijakan pemerintah tahun 2011 yang mengijinkan Bulog untuk menggunakan dana pemerintah untuk membeli gabah lebih dahulu perlu dihargai dan diddukung oleh semua phak terkait karena akan sangat mendukung program perlindungan harga gabah petani, disamping Bulog snediri akan menanggung biaya yang lebih sedikit karena tidak perlu lagi membayar bunga bank komersial yang jumlahnya cukup memberatkan selama ini. 67. Inpres No. 8/2011 dalam perspektif hukum seharusnya hanya diterapkan pada situasi iklim ekstrim saja. Karena itu, Inpres tersebut perlu dicabut dan diganti dengan Inpres tentang perberasan yang memberikan fleksibilitas kepada Bulog untuk bergerak dalam pembelian gabah/beras. 68. Perlu transparansi dalam penentuan rafaksi terhadap gabah petani agar harga gabah petani sesuai dengan kondisi obyektif gabahnya. Selain itu, HPP beras perlu disesuaikan (dinaikkan) agar tidak terjadi penekanan terhadap harga gabah petani, namun jangan sampai terlalu tinggi sehingga kenaikan harga beras tidak menyebabkan naiknya angka inflasi secara signifikan yang dapat mengganggu kegiatan investasi. 69. Impor beras sejauh mungkin dihindari, kecuali dalam keadaan sangat mendesak dimana cadangan beras nasional sudah tidak mencukupi lagi untuk waktu tertentu. Hal ini perlu ditekankan karena impor beras, apalagi jika jumlahnya sangat besar, mencerminkan kegagalan pemerintah dalam mencapai swasembada beras dalam rangka ketahanan pangan. Disamping itu, impor beras sebenarnya juga melanggar UU Nomor 10 tahun 2010 tentang APBN, yang didalamnya disebutkan bahwa pemerintah harus menciptakan swasembada pangan di dalam negeri. 13

15 Kebijakan Subsidi Terpadu 70. Hanya dua skenario kebijakan yang layak untuk dipilih, yaitu B (HET pupuk tetap, HPP GKP naik 5%) atau E (HET Urea naik 10%, HET jenis pupuk lain tetap, HP benih naik 5%, dan HPP GKP naik 5%). Namun Skenario B lebih unggul karena dapat meningkatkan produksi gabah dan laba usahatani lebih besar. Dengan skenario B, produksi gabah akan naik 100 kg/ha/musim, laba usahatani akan naik Rp 1.2 juta/ha/musim, tetapi biaya subsidi benih dan pupuk (Urea, NPK dan SP36) akan naik Rp /ha/musim, dan surplus ekonomi makro (perbedaan antara perubahan nilai produksi dan perubahan nilai subsidi pupuk dan benih) akan turun sebesar Rp 7.414/ha/musim. 71. Untuk selanjutnya, disarankan agar kebijakan yang akan diambil pemerintah di masa datang jangan sampai menurunkan laba usahatani padi, minimal tetap seperti pada tahun 2011, dimana harga aktual GKP petani adalah sekitar Rp 3,550/kg. Jika demikian, maka HPP GKP yang dikenakan minimal adalah sebesar: X Rp 3,550 = Rp 3,245/kg. Ini berarti terjadi kenaikan sebesar 22.91% dari HPP GKP sebelumnya (Rp 2,640/kg) Kenaikan HPP GKP sebesar 22.91% tersebut berpotensi meningkatkan harga beras sebesar 20.91%. Kenaikan harga beras ini dapat memicu inflasi karena harga beras mempunyai kontribusi cukup signifikan terhadap inflasi nasional. Jika demikian, maka diperlukan kebijakan lain yang dapat menghambat laju inflasi, baik dari sisi permintaan maupun dari sisi biaya produksi di berbagai sektor dalam perekonomian nasional. Untuk mengetahui dampak kenaikan harga beras terhadap inflasi secara akurat perlu dilakukan kajian tersendiri secara mendalam dengan menggunakan metode analisis yang valid. 1 Angka adalah elastisitas harga aktual GKP terhadap HPP GKP. 14

16 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Ketahanan pangan merupakan aspek penting dalam ketahanan nasional dan kedaulatan berbangsa dan bernegara. Indonesia telah menerapkan kebijakan ketahanan pangan lebih dari 50 tahun dengan berbagai prestasi. Instrumen kebijakan yang diterapkan bersifat dan didasarkan atas berbagai studi tentang subsidi. Subsidi untuk kebijakan ketahanan pangan ditetapkan sesuai dengan perkembangan keadaan, namun tetap ditujukan untuk peningkatan produksi pangan dan akses masyarakat terhadap pangan. Oleh Karena itu, semua negara, baik negara berkembang maupun negara maju seperti Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa, sejak awal selalu menempatkan peningkatan produksi pangan sebagai fokus prioritas pembangunan nasionalnya. Demikian pula dengan Indonesia yang menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional. Dalam kaitan dengan pemeliharaan ketahanan pangan nasional, diperlukan sinergi antara peran masyarakat dan peran pemerintah. Masyarakat produsen berperan sebagai pihak yang melaksanakan proses penumbuhan ekonomi secara langsung, misalnya sebagai pengusaha yang menyediakan sarana produksi, proses produksi, pengolahan hasil, serta distribusi dan pemasaran hasil pangan dan pertanian. Peran pemerintah yang pokok dalam pembangunan pertanian adalah penyediaan layanan pemerintah yang bersifat publik seperti penelitian dan pengembangan (litbang) untuk menyediakan teknologi, penyuluhan dan pemberdayaan petani, penerapan standar mutu hasil pertanian, sistem perlindungan pertanian termasuk perkarantinaan, penyediaan infrastruktur pertanian termasuk jaringan irigasi, jalan usahatani, serta regulasi pendukung yang diperlukan. Disamping memberikan dukungan secara umum dalam bentuk layanan yang bersifat publik, pemerintah juga memberikan dukungan bagi pembangunan pertanian dalam bentuk pemberian subsidi. Pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi dalam bentuk subsidi harga input (pupuk dan benih) dan subsidi harga pangan. Untuk mendorong peningkatan produksi, subsidi pangan diberikan sebagai instrumen dalam penerapan kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) guna menjamin stabilitas harga gabah/beras pada tingkat produsen agar petani padi terlindungi dari penurunan harga yang berlebihan. Untuk menjaga akses pangan bagi keluarga miskin, pemerintah menyediakan beras bersubsidi untuk masyarakat miskin (Raskin). Pemberian berbagai bentuk subsidi di sektor pertanian tersebut merupakan kebijakan penting yang dilaksanakan secara terus-menerus untuk menjaga ketahanan pangan nasional. Jumlah anggaran untuk subsidi input (pupuk dan benih) dan subsidi pangan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun terus meningkat. Subsidi pupuk misalnya, nilai subsidinya pada tahun 2007 merupakan tujuh kali lipat dibandingkan dengan tahun Demikian pula, nilai subsidi benih pada tahun 2003 hanya Rp 60,8 milyar tetapi pada tahun 2010 menjadi Rp 1,56 triliun. Kecenderungan membesarnya nilai subsidi beberapa tahun terakhir ini memberikan sinyal akan membesarnya kebutuhan subsidi di masa mendatang, yang akan berdampak pada makin besarnya beban anggaran pemerintah untuk subsidi. Selain itu, efektifitas pemberian subsidi itu sendiri juga mulai dipertanyakan oleh berbagai kalangan. Mekanisme pemberian subsidi melalui produsen dikritisi karena dianggap hanya menguntungkan pihak produsen, bukan petani sebagai kelompok sasarannya. Berdasarkan permasalahan tersebut di atas, maka perlu dilakukan kajian untuk mengevaluasi kebijakan subsidi pertanian. 15

17 1.2. Tujuan Kajian subsidi pertanian ini bertujuan untuk: (1) Mendeskripsikan kebijakan subsidi pertanian yang telah dan sedang berjalan (existing); (2) Mengevaluasi implementasi kebijakan subsidi pertanian yang sudah dan menganalisis dampak kebijakan subsidi pertanian; dan (3) Merumuskan usulan perbaikan kebijakan pemberian subsidi pertanian ke depan yang dapat meningkatkan produksi pertanian (khususnya beras) dan meningkatkan pendapatan petani padi Sistematika Laporan Laporan ini merupakan kristalisasi pemikiran yang terkait dengan rekomendasi kebijakan subsidi pertanian yang lebih terarah dan lebih terpadu yang dirumuskan dari hasil kegiatan kajian yang telah dilaksanakan pada tahun Ada tiga butir utama yang menjadi fokus perhatian dalam laporan ini, yaitu: (1) Arah kebijakan subsidi yang lebih efisien untuk meningkatkan produktivitas dan produksi pertanian (output) dalam rangka penguatan ketahanan pangan nasional dan perbaikan pendapatan petani; (2) Mekanisme penyampaian subsidi (delivery mechanism) yang lebih efektif dan berkeadilan; dan (3) Kelompok sasaran penerima subsidi tersebut yang lebih tepat. Laporan ini terbagi menjadi lima bab, yaitu: (1) Penduhuluan yang memuat tentang latar belakang, tujuan, dan sistematika laporan; (2) Pendekatan kajian yang menyajikan kerangka kebijakan subsidi pertanian, metode evaluasi termasuk metode analisis kuantitatif/ ekonometrik, dan teknik pengumpulan data; (3) Konsep kebijakan yang mendasari pelaksanaan subsidi pertanian dan rancangan pelaksanaannya; (4) Evaluasi pelaksanaan subsidi pertanian yang mencakup capaian target dan permasalahannya, serta analisis perkiraan dampak skenario kebijkaan; dan (5) Kesimpulan dan rekomendasi berdasarkan hasil evaluasi/analisis kebijakan dari kajian ini. 16

18 II. PENDEKATAN KAJIAN 2.1. Kerangka Kebijakan Subsidi Pertanian Pengertian Umum dan Tujuan Subsidi Pertanian Subsidi adalah bagian harga suatu barang atau jasa yang ditanggung oleh pemerintah dari harga yang seharusnya dibayar oleh masyarakat pengguna barang atau jasa tersebut. Untuk subsidi pertanian, ada dua jenis masyarakat pengguna, yaitu masyarakat produsen hasil pertanian, dan masyarakat konsumen hasil pertanian. Bagi masyarakat produsen hasil pertanian, subsidi diberikan untuk harga sarana produksi, misalnya pupuk dan benih. Sementara bagi masyarakat konsumen hasil pertanian, subsidi diberikan untuk harga pangan pokok, khususnya beras. Rumus besaran subsidi harga per kg produk yang disubsidi secara sederhana dapat dituliskan seperti pasda rumus (2.1) sebagai berikut: S Hi = H H. (2.1) NSi Si dimana: S Hi = Subsidi harga produk ke-i per kg; H NSi = Harga non-subsidi produk kei per kg; dan H Si = Harga subsidi produk ke-i per kg. Dalam hal ini, S Hi adalah subsidi harga yang ditanggung oleh pemerintah, dan H Si adalah harga yang dibayar oleh masyarakat penerima subsidi. Pengertian yang lebih spesifik untuk masing-masing jenis subsidi (pupuk, benih dan HPP gabah) akan dibahas pada bagian lain dalam laporan ini. Masing-masing jenis subsidi, sebagaimana disebutkan di atas, mempunyai tujuan. Subsidi harga sarana produksi bagi masyarakat produsen hasil pertanian bertujuan untuk meningkatkan daya beli petani yang kurang mampu agar dapat membeli sarana produksi dalam jumlah yang cukup untuk meningkatkan atau mempertahankan produktivitas dan pendapatan usahataninya. Dengan harga sarana produksi yang lebih murah, masyarakat produsen pertanian juga didorong untuk menerapkan teknologi yang lebih maju sehingga produktivitasnya meningkat. Sementara subsidi harga pangan pokok (beras) bagi masyarakat konsumen hasil pertanian bertujuan untuk meringankan beban hidup sekaligus mencukupi kebutuhan pangan pokok (beras) minimum dalam rangka penguatan ketahanan pangan masyarakat miskin Dampak Subsidi Pertanian Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ada`dua kelompok subsidi pertanian, yaitu: (1) Subsidi harga sarana produksi bagi masyarakat petani produsen hasil pertanian; dan (2) Subsidi harga pangan pokok (beras) bagi masyarakat konsumen hasil pertanian. Dampak subsidi dapat dijelaskan sebagai berikut Dampak Subsidi Harga Input dan Kenaikan Harga Output Dampak subsidi harga sarana produksi pertanian (misalnya pupuk) terhadap produksi pertanian dapat diilustrasikan melalui Gambar 2.1. Berdasarkan fungsi permintaan pupuk 17

19 DF, jika harga pupuk (misalnya Urea) tidak disubsidi, yang berarti harga pupuk adalah PF 1, maka jumlah permintaan/penggunaan pupuk per ha adalah QF 1 dan pada teknologi produksi yang ada yang tercermin pada kurve produksi Y=f(F;Z), dimana F adalah pupuk dan Z adalah input lain, diperoleh produksi per ha sebesar Y 1. Jika harga pupuk disubsidi sehingga harga yang dibayar petani turun menjadi PF 2 maka penggunaan pupuk per ha akan naik menjadi QF 2 dan pada teknologi produksi yang ada akan diperoleh produksi sebesar Y 2. Produksi Gabah (kg/ha) Y 3 Y 5 Y 2 Y 4 Y 1 Y = f (F;Z) Y= f(f;z) 0 Konsumsi Pupuk/Ha Harga Pupuk (Rp/kg) PF 1 PF 2 PF 3 DF = f(pf) 0 QF 1 QF 2 QF 3 Gambar 2.1. Dampak Subsidi Harga Pupuk terhadap Jumlah Konsumsi Pupuk dan Produktivitas Pertanian. Apabila subsidi harga input dapat mendorong petani untuk menerapkan teknologi yang lebih maju (misalnya penggunaan benih yang lebih unggul lagi) yang tercermin pada kurve produksi Y =f(f;z) yang posisinya lebih daripada kurve produksi Y=f(F;Z), maka dengan penggunaan pupuk yang sama sebesar QF 2 produksi dapat dicapai Y 3 dimana Y 3 > Y 1. Jika teknologi tetap tidak berubah tetapi subsidi terlalu besar sehingga harga pupuk yang dibayar petani menjadi sangat murah misalnya PF 3, maka produksi malahan akan turun menjadi Y 4. Turunnya produksi ini disebabkan sifat produksi pertanian tunduk pada hukum 18 Konsumsi Pupuk/Ha

20 pertambahan hasil yang berkurang (the law of diminishing marginal return), dimana kelebihan penggunaan pupuk akan menyebabkan keracunan pada tanaman yang kemudian berdampak menurunkan produksi. Pada kondisi dimana produksi per ha sudah berada di bawah titik maksimum karena kelebihan pemakaian pupuk, maka untuk mencapai efisiensi yang lebih tinggi dapat ditempuh dengan 2 alternatif. Alternatif pertama adalah bahwa pada tingkat teknologi yang ada (teknologi tidak berubah), harga subsidi pupuk dinaikkan menjadi PF 2 sehingga penggunaan pupuk turun menjadi QF 2 dan produksi naik menjadi Y 2. Hal ini berdampak meningkatkan efisiensi biaya pupuk, baik bagi petani sebagai pengguna pupuk maupun pemerintah sebagai penyedia anggaran subsidi pupuk. Alternatif kedua adalah pemberian subsidi benih unggul bermutu yang lebih responsif terhadap penggunaan pupuk yang dapat meningkatkan kapasitas produksi tanaman sehingga penggunaan pupuk pada QF 3 akan tetap mampu mencapai tingkat produksi yang lebih tinggi yaitu Y 5 pada kurve produksi bergeser ke atas. Rasio antara harga input terhadap harga output secara teoritis dapat mempengaruhi penggunaan input yang pada akhirnya dapat mempengaruhi produktivitas dan laba usahatani. Penurunan rasio harga, yang berarti harga input menjadi relatif makin murah terhadap harga output, akan mendorong petani menggunakan input lebih banyak yang selanjutnya dapat meningkatkan produksi dan laba usahatani. Sebaliknya, peningkatan rasio harga, yang berarti harga input menjadi relatif makin mahal terhadap harga output, akan mendorong petani menggunakan input lebih sedikit yang selanjutnya dapat menurunkan produksi dan laba usahatani. Hubungan antara rasio harga pupuk terhadap harga gabah dengan dosis penggunaan pupuk dan produksi pada tingkat teknologi yang ada dapat dijelaskan dengan teori efisiensi alokatif (allocative efficiency) melalui Gambar 2.2. Produksi Gabah/ha Y 3 π 3 Y 2 Y 1 π 2 PL =(P X /P Y ) PL =(P X /P Y ) PL =(P X /P Y ) Y =f(x;z) π 1 Y=f(X;Z) 0 QF 1 QF 2 Penggunaan Pupuk/ha Gambar 2.2. Hubungan antara Rasio Harga Input-Output dan Penggunaan Input (Pupuk), Produksi dan Laba Usahatani 19

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2012 KAJIAN ALTERNATIF MODEL BANTUAN BENIH DAN PUPUK UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN

LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2012 KAJIAN ALTERNATIF MODEL BANTUAN BENIH DAN PUPUK UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2012 KAJIAN ALTERNATIF MODEL BANTUAN BENIH DAN PUPUK UNTUK PENINGKATAN PRODUKSI PANGAN Oleh : Bambang Prasetyo Prajogo U. Hadi Nur K. Agustin Cut R. Adawiyah PUSAT ANALISIS

Lebih terperinci

RANCANGAN KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK LANGSUNG KEPADA PETANI

RANCANGAN KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK LANGSUNG KEPADA PETANI RANCANGAN KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK LANGSUNG KEPADA PETANI I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah telah memberikan berbagai macam subsidi kepada petani, dan salah satu bentuk subsidi yang menonjol adalah

Lebih terperinci

KAJIAN KEBIJAKAN HPP GABAH

KAJIAN KEBIJAKAN HPP GABAH KAJIAN KEBIJAKAN HPP GABAH Oleh: Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian TUJUAN KEBIJAKAN DAN KETENTUAN HPP Harga jual gabah kering panen (GKP) petani pada saat panen raya sekitar bulan Maret-April

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 14 TAHUN 2011

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 14 TAHUN 2011 GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG ALOKASI DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 06/Permentan/SR.130/2/2011 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 06/Permentan/SR.130/2/2011 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 06/Permentan/SR.130/2/2011 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERDAGANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 17/M-DAG/PER/6/2011 TENTANG PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERDAGANGAN

Lebih terperinci

BUPATI SEMARANG PROPINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI SEMARANG NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SEMARANG PROPINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI SEMARANG NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI SEMARANG PROPINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI SEMARANG NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG ALOKASI DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN SEMARANG TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

BUPATI KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KAPUAS NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KAPUAS NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG SALINAN BUPATI KAPUAS PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KAPUAS NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG ALOKASI, REALOKASI DAN RENCANA KEBUTUHAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KAPUAS

Lebih terperinci

Regulasi Penugasan Pemerintah kepada Perum BULOG 1

Regulasi Penugasan Pemerintah kepada Perum BULOG 1 Ringkasan Eksekutif Regulasi Penugasan Pemerintah kepada Perum BULOG 1 Perum Bulog didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 2003. Merujuk pada PP tersebut, sifat usaha, maksud, dan tujuan

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 93 TAHUN 2008 TENTANG

GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 93 TAHUN 2008 TENTANG GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR 93 TAHUN 2008 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI PROVINSI BALI TAHUN ANGGARAN 2009 DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka stabilitas ekonomi nasional, meningkatkan pendapatan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.511, 2013 KEMENTERIAN PERDAGANGAN. Pupuk Bersubsidi. Pengadaan. Penyaluran. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/M-DAG/PER/4/2013 TENTANG PENGADAAN

Lebih terperinci

BUPATI KAYONG UTARA PERATURAN BUPATI KAYONG UTARA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI KAYONG UTARA PERATURAN BUPATI KAYONG UTARA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG 1 BUPATI KAYONG UTARA PERATURAN BUPATI KAYONG UTARA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KAYONG UTARA TAHUN ANGGARAN 2014

Lebih terperinci

KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KUDUS TAHUN ANGGARAN 2014 BUPATI KUDUS,

KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KUDUS TAHUN ANGGARAN 2014 BUPATI KUDUS, PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 33 TAHUN 2013 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KUDUS TAHUN ANGGARAN 2014 BUPATI KUDUS, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 122/Permentan/SR.130/11/2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 122/Permentan/SR.130/11/2013 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 122/Permentan/SR.130/11/2013 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 87/Permentan/SR.130/12/2011 /Permentan/SR.130/8/2010 man/ot. /.../2009 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 114 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 114 TAHUN 2009 TENTANG PERATURAN BUPATI SUMEDANG NOMOR 114 TAHUN 2009 TENTANG ALOKASI DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DAN PERIKANAN TAHUN 2010 DI KABUPATEN SUMEDANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

CUPLIKAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 06/Permentan/SR.130/2/2011 TENTANG

CUPLIKAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 06/Permentan/SR.130/2/2011 TENTANG CUPLIKAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 06/Permentan/SR.130/2/2011 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2011

Lebih terperinci

BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI

BIRO ANALISA ANGGARAN DAN PELAKSANAAN APBN SETJEN DPR RI SUBSIDI PUPUK DALAM RANGKA MENINGKATKAN KETAHANAN PANGAN YANG BERKESINAMBUNGAN DALAM APBN TAHUN 2013 Salah satu dari 11 isu strategis nasional yang akan dihadapi pada tahun 2013, sebagaimana yang disampaikan

Lebih terperinci

BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG

BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG ALOKASI DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KUDUS TAHUN ANGGARAN 2011 BUPATI KUDUS, Menimbang

Lebih terperinci

BUPATI TANJUNG JABUNG BARAT

BUPATI TANJUNG JABUNG BARAT BUPATI TANJUNG JABUNG BARAT PERATURAN BUPATI TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN TANJUNG JABUNG

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 115 TAHUN 2009 TENTANG PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DAN PERIKANAN GUBERNUR JAWA BARAT;

PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 115 TAHUN 2009 TENTANG PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DAN PERIKANAN GUBERNUR JAWA BARAT; Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR : 115 TAHUN 2009 TENTANG PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DAN PERIKANAN GUBERNUR JAWA BARAT; Menimbang Mengingat : a. bahwa pupuk

Lebih terperinci

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2012 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 14 TAHUN 2011

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 14 TAHUN 2011 GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG ALOKASI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KUDUS TAHUN ANGGARAN 2010

BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG ALOKASI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KUDUS TAHUN ANGGARAN 2010 BUPATI KUDUS PERATURAN BUPATI KUDUS NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG ALOKASI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN KUDUS TAHUN ANGGARAN 2010 BUPATI KUDUS, Menimbang : a. bahwa dalam rangka melaksanakan

Lebih terperinci

Policy Brief KAJIAN PENYESUAIAN HET PUPUK BERSUBSIDI PADA USAHATANI PADI DAN DAMPAKNYA BAGI PENDAPATAN PETANI 1

Policy Brief KAJIAN PENYESUAIAN HET PUPUK BERSUBSIDI PADA USAHATANI PADI DAN DAMPAKNYA BAGI PENDAPATAN PETANI 1 Policy Brief KAJIAN PENYESUAIAN HET PUPUK BERSUBSIDI PADA USAHATANI PADI DAN DAMPAKNYA BAGI PENDAPATAN PETANI 1 Dr. Sri Hery Susilowati dan Ir. Supriyati, MS Pendahuluan Sampai saat ini pemerintah masih

Lebih terperinci

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG

GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG GUBERNUR JAMBI PERATURAN GUBERNUR JAMBI NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2012 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR ANALISIS KEBIJAKAN KAJIAN PENYESUAIAN HET PUPUK BERSUBSIDI PADA USAHATANI PADI DAN DAMPAKNYA BAGI PENDAPATAN PETANI

LAPORAN AKHIR ANALISIS KEBIJAKAN KAJIAN PENYESUAIAN HET PUPUK BERSUBSIDI PADA USAHATANI PADI DAN DAMPAKNYA BAGI PENDAPATAN PETANI LAPORAN AKHIR ANALISIS KEBIJAKAN KAJIAN PENYESUAIAN HET PUPUK BERSUBSIDI PADA USAHATANI PADI DAN DAMPAKNYA BAGI PENDAPATAN PETANI Oleh Sri Hery Susilowati Supriyati Yulias Nuryatin Riyani Eni Darwati PUSAT

Lebih terperinci

BUPATI SERUYAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH

BUPATI SERUYAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH SALINAN BUPATI SERUYAN PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI SERUYAN NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN

Lebih terperinci

3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik

3. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (Lembaran Negara Republik KONSEP GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 73 TAHUN 2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

BUPATI KARANGANYAR PERATURAN BUPATI KARANGANYAR NOMOR 13 TAHUN 2012

BUPATI KARANGANYAR PERATURAN BUPATI KARANGANYAR NOMOR 13 TAHUN 2012 BUPATI KARANGANYAR PERATURAN BUPATI KARANGANYAR NOMOR 13 TAHUN 2012 T E N T A N G ALOKASI DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1

Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1 Ringkasan Eksekutif Analisis Efektivitas Kebijakan Subsidi Pupuk dan Benih: Studi Kasus Tanaman Padi dan Jagung 1 Kebijakan pemberian subsidi, terutama subsidi pupuk dan benih yang selama ini ditempuh

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 1 TAHUN 2008 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka stabilitas ekonomi nasional, meningkatkan pendapatan petani, peningkatan ketahanan pangan,

Lebih terperinci

BUPATI TAPIN PERATURAN BUPATI TAPIN NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG

BUPATI TAPIN PERATURAN BUPATI TAPIN NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG BUPATI TAPIN PERATURAN BUPATI TAPIN NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN TAPIN TAHUN 2012 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 38 TAHUN 2012 TENTANG

GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 38 TAHUN 2012 TENTANG GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 38 TAHUN 2012 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN PROVINSI KEPULAUAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 122/Permentan/SR.130/11/2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 122/Permentan/SR.130/11/2013 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 122/Permentan/SR.130/11/2013 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR : 8 TAHUN 2012 T E N T A N G

PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR : 8 TAHUN 2012 T E N T A N G SALINAN PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR : 8 TAHUN 2012 T E N T A N G ALOKASI DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN SRAGEN TAHUN ANGGARAN 2012 DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

6. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 84, Tambahan

6. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 84, Tambahan PERATURAN BUPATI LUWU TIMUR TENTANG ALOKASI KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2012 Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA : a. bahwa peranan

Lebih terperinci

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 12 TAHUN 2012 T E N T A N G KEBUTUHAN PUPUK BERSUBSIDI DI KABUPATEN SUKAMARA BUPATI SUKAMARA,

BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 12 TAHUN 2012 T E N T A N G KEBUTUHAN PUPUK BERSUBSIDI DI KABUPATEN SUKAMARA BUPATI SUKAMARA, BUPATI SUKAMARA PERATURAN BUPATI SUKAMARA NOMOR 12 TAHUN 2012 T E N T A N G KEBUTUHAN PUPUK BERSUBSIDI DI KABUPATEN SUKAMARA BUPATI SUKAMARA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendukung Program Peningkatan

Lebih terperinci

CUPLIKAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 42/Permentan/OT.140/09/2008 TENTANG

CUPLIKAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 42/Permentan/OT.140/09/2008 TENTANG CUPLIKAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 42/Permentan/OT.140/09/2008 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2009

Lebih terperinci

GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR : 80 TAHUN 2015 TENTANG

GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR : 80 TAHUN 2015 TENTANG GUBERNUR SUMATERA BARAT PERATURAN GUBERNUR SUMATERA BARAT NOMOR : 80 TAHUN 2015 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI SEKTOR PERTANIAN UNTUK KABUPATEN/KOTA DI PROVINSI SUMATERA

Lebih terperinci

WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG

WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG WALIKOTA BANJAR PERATURAN WALIKOTA BANJAR NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DAN PERIKANAN DI KOTA BANJAR TAHUN ANGGARAN 2012 WALIKOTA BANJAR Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG

BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG BUPATI BADUNG PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN BADUNG TAHUN ANGGARAN 2010 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG KEBIJAKAN PENGADAAN GABAH/BERAS DAN PENYALURAN BERAS OLEH PEMERINTAH

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG KEBIJAKAN PENGADAAN GABAH/BERAS DAN PENYALURAN BERAS OLEH PEMERINTAH INSTRUKSI PRESIDEN NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG KEBIJAKAN PENGADAAN GABAH/BERAS DAN PENYALURAN BERAS OLEH PEMERINTAH PRESIDEN, Dalam rangka stabilisasi ekonomi nasional, melindungi tingkat pendapatan petani,

Lebih terperinci

KONSTRUKSI KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK TAHUN 2006

KONSTRUKSI KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK TAHUN 2006 KONSTRUKSI KEBIJAKAN SUBSIDI PUPUK TAHUN 2006 Ringkasan Eksekutif 1. Konstruksi dasar kebijakan subsidi pupuk tahun 2006 adalah sebagai berikut: a. Subsidi pupuk disalurkan sebagai subsidi gas untuk produksi

Lebih terperinci

BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI SINJAI NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN SINJAI TAHUN ANGGARAN 2016

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2010 NOMOR 3 SERI E PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG

BERITA DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2010 NOMOR 3 SERI E PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG BERITA DAERAH KOTA BOGOR TAHUN 2010 NOMOR 3 SERI E PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG ALOKASI DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KOTA BOGOR TAHUN

Lebih terperinci

GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG

GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN PROVINSI KEPULAUAN

Lebih terperinci

BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG

BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG BUPATI BANYUWANGI PERATURAN BUPATI BANYUWANGI NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG KEBUTUHAN DAN PENYALURAN SERTA HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN BANYUWANGI TAHUN

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI PATI PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PATI NOMOR 7 TAHUN 2016 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN PATI TAHUN ANGGARAN 2016

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian memegang peranan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian memegang peranan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Indonesia merupakan negara agraris dimana pertanian memegang peranan penting pada perekonomian nasional. Untuk mengimbangi semakin pesatnya laju pertumbuhan

Lebih terperinci

WALIKOTA PROBOLINGGO

WALIKOTA PROBOLINGGO WALIKOTA PROBOLINGGO SALINAN PERATURAN WALIKOTA PROBOLINGGO NOMOR 43 TAHUN 2012 TENTANG KEBUTUHAN DAN PENYALURAN SERTA HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN KOTA PROBOLINGGO

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara agraris di dunia, dimana sektor

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara agraris di dunia, dimana sektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara agraris di dunia, dimana sektor pertanian masih menjadi mata pencaharian umum dari masyarakat Indonesia. Baik di sektor hulu seperti

Lebih terperinci

BUPATI TANGGAMUS PERATURAN BUPATI TANGGAMUS NOMOR : 02 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI TANGGAMUS PERATURAN BUPATI TANGGAMUS NOMOR : 02 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI TANGGAMUS PERATURAN BUPATI TANGGAMUS NOMOR : 02 TAHUN 2014 TENTANG ALOKASI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANGGAMUS,

Lebih terperinci

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG 1 BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG KEBUTUHAN DAN PENYALURAN SERTA HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN SITUBONDO TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan pendapatan petani, peningkatan ketahanan

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MEDAN NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN WALIKOTA MEDAN NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG 1 PERATURAN WALIKOTA MEDAN NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG ALOKASI KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH

BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH BUPATI PURBALINGGA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN BUPATI PURBALINGGA NOMOR 79 TAHUN 2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN PURBALINGGA TAHUN

Lebih terperinci

Kebijakan PSO/Subsidi Pupuk dan Sistem Distribusi. I. Pendahuluan

Kebijakan PSO/Subsidi Pupuk dan Sistem Distribusi. I. Pendahuluan 6 Bab V. Analisis Kebijakan Kapital, Sumberdaya Lahan dan Air Kebijakan PSO/Subsidi Pupuk dan Sistem Distribusi I. Pendahuluan Dalam rangka pencapaian ketahanan pangan nasional, Pemerintah terus berupaya

Lebih terperinci

BUPATI MADIUN SALINANAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI MADIUN SALINANAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI MADIUN SALINANAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN PENYALURAN SERTA HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN MADIUN TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 74 TAHUN 2013 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 74 TAHUN 2013 TENTANG GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 74 TAHUN 2013 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN ANGGARAN 2014

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG KEBIJAKAN PENGADAAN GABAH/BERAS DAN PENYALURAN BERAS OLEH PEMERINTAH

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG KEBIJAKAN PENGADAAN GABAH/BERAS DAN PENYALURAN BERAS OLEH PEMERINTAH INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2015 TENTANG KEBIJAKAN PENGADAAN GABAH/BERAS DAN PENYALURAN BERAS OLEH PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka stabilisasi ekonomi nasional,

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN PUPUK BERSUBSIDI DAN GABAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN PUPUK BERSUBSIDI DAN GABAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA FINAL DRAFT 15092011 RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR : 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN PUPUK BERSUBSIDI DAN GABAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang

Lebih terperinci

WALIKOTA TEBING TINGGI PROVINSI SUMATERA UTARA

WALIKOTA TEBING TINGGI PROVINSI SUMATERA UTARA WALIKOTA TEBING TINGGI PROVINSI SUMATERA UTARA PERATURAN WALIKOTA TEBING TINGGI NOMOR 6 TAHUN 2016 TENTANG ALOKASI KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KOTA TEBING

Lebih terperinci

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2005 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2005 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2005 TENTANG KEBIJAKAN PERBERASAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Dalam rangka meningkatkan pendapatan petani dan untuk peningkatan ketahanan pangan serta

Lebih terperinci

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

PENDAHULUAN A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Hortikultura sebagai salah satu subsektor pertanian memiliki peran yang cukup strategis dalam perekonomian nasional. Hal ini tercermin dari perannya sebagai pemenuh kebutuhan

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKSANAAN PENYEDIAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI TA 2016

PEDOMAN PELAKSANAAN PENYEDIAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI TA 2016 PEDOMAN PELAKSANAAN PENYEDIAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI TA 2016 DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN 2016 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... DAFTAR ISI... i iii DAFTAR

Lebih terperinci

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG

PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG SALINAN PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN BELITUNG

Lebih terperinci

GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT

GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN/KOTA SE-NUSA TENGGARA BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR : 11 TAHUN 2014 TENTANG

WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR : 11 TAHUN 2014 TENTANG WALIKOTA YOGYAKARTA PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR : 11 TAHUN 2014 TENTANG ALOKASI KEBUTUHAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN, PETERNAKAN, PERIKANAN DAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BELITUNG TIMUR,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BELITUNG TIMUR, SALINAN PERATURAN BUPATI BELITUNG TIMUR NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN BELITUNG TIMUR TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. manusia, sehingga kecukupan pangan bagi tiap orang setiap keputusan tentang

I. PENDAHULUAN. manusia, sehingga kecukupan pangan bagi tiap orang setiap keputusan tentang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pangan merupakan hal yang sangat penting karena merupakan kebutuhan dasar manusia, sehingga kecukupan pangan bagi tiap orang setiap keputusan tentang subsidi pupuk merupakan

Lebih terperinci

PROSPEK DAN KENDALA SUBSIDI PUPUK LANGSUNG KE PETANI

PROSPEK DAN KENDALA SUBSIDI PUPUK LANGSUNG KE PETANI AgroinovasI 5 PROSPEK DAN KENDALA SUBSIDI PUPUK LANGSUNG KE PETANI (Studi Kasus di Kabupaten Karawang tahun 2010) P emerintah mempunyai tekad yang kuat agar produksi pertanian terus meningkat, utamanya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia menjadi komoditas pangan yang dapat mempengaruhi kebijakan politik

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia menjadi komoditas pangan yang dapat mempengaruhi kebijakan politik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Beras merupakan makanan pokok di Indonesia. Beras bagi masyarakat Indonesia menjadi komoditas pangan yang dapat mempengaruhi kebijakan politik di negara ini. Gejolak

Lebih terperinci

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 16 TAHUN 2008 TENTANG KEBUTUHAN DAN PENYALURAN SERTA HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN SITUBONDO TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI PADA SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2014

PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI PADA SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2014 PERATURAN GUBERNUR BANTEN MOR 7 TAHUN 2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI PADA SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, Menimbang

Lebih terperinci

III. RUMUSAN, BAHAN PERTIMBANGAN DAN ADVOKASI ARAH KEBIJAKAN PERTANIAN 3.3. PEMANTAPAN KETAHANAN PANGAN : ALTERNATIF PEMIKIRAN

III. RUMUSAN, BAHAN PERTIMBANGAN DAN ADVOKASI ARAH KEBIJAKAN PERTANIAN 3.3. PEMANTAPAN KETAHANAN PANGAN : ALTERNATIF PEMIKIRAN III. RUMUSAN, BAHAN PERTIMBANGAN DAN ADVOKASI ARAH KEBIJAKAN PERTANIAN Pada tahun 2009, Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian melakukan kegiatan analisis dan kajian secara spesifik tentang

Lebih terperinci

MASUKAN AWAL ANALISIS KEBIJAKAN PUPUK

MASUKAN AWAL ANALISIS KEBIJAKAN PUPUK MASUKAN AWAL ANALISIS KEBIJAKAN PUPUK RAPAT PIMPINAN BADAN LITBANG PERTANIAN 28 JANUARI 2013 Outline: Pendahuluan Tanggapan terhadap usulan BUMP Tanggapan terhadap Realisasi Serapan Pupuk Penutup PENDAHULUAN

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN A.

BAB I. PENDAHULUAN A. BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tanaman pangan yang sampai saat ini dianggap sebagai komoditi terpenting dan strategis bagi perekonomian adalah padi, karena selain merupakan tanaman pokok bagi sebagian

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA SUKABUMI

BERITA DAERAH KOTA SUKABUMI BERITA DAERAH KOTA SUKABUMI TAHUN 2009 NOMOR 26 PERATURAN WALIKOTA SUKABUMI TANGGAL : 29 NOPEMBER 2009 NOMOR : 26 TAHUN 2009 TENTANG : PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DAN PERIKANAN DI

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Data Kandungan Nutrisi Serealia per 100 Gram

I PENDAHULUAN. Tabel 1. Data Kandungan Nutrisi Serealia per 100 Gram I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kekayaan sumber daya alam dalam bidang pertanian merupakan keunggulan yang dimiliki Indonesia dan perlu dioptimalkan untuk kesejahteraan rakyat. Pertanian merupakan aset

Lebih terperinci

MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 21/M-DAG/PER/6/2008 T E N T A N G

MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 21/M-DAG/PER/6/2008 T E N T A N G MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 21/M-DAG/PER/6/2008 T E N T A N G PENGADAAN DAN PENYALURAN PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI PAKPAK BHARAT NOMOR TAHUN 2016 TENTANG

PERATURAN BUPATI PAKPAK BHARAT NOMOR TAHUN 2016 TENTANG PERATURAN BUPATI PAKPAK BHARAT NOMOR TAHUN 2016 TENTANG ALOKASI KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN PAKPAK BHARAT TAHUN ANGGARAN 2016 DENGAN

Lebih terperinci

PETUNJUK PELAKSANAAN PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOK TANI (RDKK) PUPUK BERSUBSIDI

PETUNJUK PELAKSANAAN PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOK TANI (RDKK) PUPUK BERSUBSIDI PETUNJUK PELAKSANAAN PENYUSUNAN RENCANA DEFINITIF KEBUTUHAN KELOMPOK TANI (RDKK) PUPUK BERSUBSIDI DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN KEMENTERIAN PERTANIAN KATA PENGANTAR Pengadaan dan Penyaluran

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN BUPATI BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG ALOKASI DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN BELITUNG TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA MOJOKERTO NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN WALIKOTA MOJOKERTO NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN WALIKOTA MOJOKERTO MOR 8 TAHUN 2010 TENTANG KEBUTUHAN DAN PENYALURAN SERTA HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN KOTA MOJOKERTO TAHUN 2010 WALIKOTA MOJOKERTO, Menimbang

Lebih terperinci

Kebijakan PSO/Subidi Benih Untuk Padi, Kedelai dan Jagung

Kebijakan PSO/Subidi Benih Untuk Padi, Kedelai dan Jagung 12 Kebijakan PSO/Subidi Benih Untuk Padi, Kedelai dan Jagung I. Pendahuluan Penggunaan benih bermutu dari varietas unggul dapat memberikan berbagai keuntungan, karena dapat meningkatkan produktivitas dan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi tanaman bahan makanan di

I. PENDAHULUAN. Jawa Barat merupakan salah satu sentra produksi tanaman bahan makanan di I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki lahan pertanian yang sangat luas dan sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani. Jawa Barat merupakan

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 63 TAHUN 2015

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 63 TAHUN 2015 BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 63 TAHUN 2015 TENTANG KEBUTUHAN DAN PENYALURAN SERTA HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN KABUPATEN SIDOARJO

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONES!A. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 505/Kpts/SR.130/12/2005 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONES!A. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 505/Kpts/SR.130/12/2005 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONES!A PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 505/Kpts/SR.130/12/2005 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDIUNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN

Lebih terperinci

BUPATI BURU SELATAN KEPUTUSAN BUPATI BURU SELATAN NOMOR 06 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI BURU SELATAN KEPUTUSAN BUPATI BURU SELATAN NOMOR 06 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI BURU SELATAN KEPUTUSAN BUPATI BURU SELATAN NOMOR 06 TAHUN 2014 TENTANG PENETAPAN KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI ( HET ) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN TAHUN ANGGARAN 2014 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2006 NOMOR 10 SERI E

BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2006 NOMOR 10 SERI E BERITA DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2006 NOMOR 10 SERI E PERATURAN BUPATI BANJARNEGARA NOMOR : 142 TAHUN 2006 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG SALINAN BUPATI BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG ALOKASI DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN BELITUNG TAHUN ANGGARAN 2013 DENGAN

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG SALINAN BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG ALOKASI DAN HARGA ECERAN TERTINGGI PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN DI KABUPATEN BELITUNG

Lebih terperinci

KEBIJAKAN HARGA INPUT-OUTPUT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KENAIKAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI

KEBIJAKAN HARGA INPUT-OUTPUT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KENAIKAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI KEBIJAKAN HARGA INPUT-OUTPUT DAN PENGARUHNYA TERHADAP KENAIKAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI PADI Prof. Dr. Ir. Sri Hartoyo, MS Guru Besar Tetap Bidang Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut

Lebih terperinci

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Beras merupakan makanan pokok yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia. Sampai saat ini 95% masyarakat Indonesia masih mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok,

Lebih terperinci

KAJIAN KEBIJAKAN HPP GABAH DAN HET PUPUK MENDUKUNG PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN DAN PENDAPATAN PETANI

KAJIAN KEBIJAKAN HPP GABAH DAN HET PUPUK MENDUKUNG PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN DAN PENDAPATAN PETANI KAJIAN KEBIJAKAN HPP GABAH DAN HET PUPUK MENDUKUNG PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN DAN PENDAPATAN PETANI Pendahuluan 1. Situasi perberasan yang terjadi akhir-akhir ini (mulai Maret 2008) dicirikan dengan

Lebih terperinci