BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN"

Transkripsi

1 4.1 Karakteristik Massa Air Sebaran Suhu BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan menjelaskan sebaran suhu menjadi dua bagian penting yakni sebaran secara horisontal dan vertikal. Sebaran horisontal ini merupakan sebaran suhu pada lapisan permukaan. Sebaran vertikal diambil berdasarkan perpotongan bujur 112,5 o BT dan perpotongan lintang 12,5 o LS. Perpotongan bujur dan lintang ini dipilih berdasarkan data sebaran Tuna Sebaran Horisontal Hasil pengolahan data suhu secara horisontal dilapisan permukaan yang dirata-ratakan secara klimatologi memiliki nilai berkisar antara 23,5 o C 29,5 o C dengan rata-rata 26,5 o C. Suhu perairan yang mendekati daratan memiliki suhu yang lebih hangat dibandingkan suhu perairan di lepas pantai. Pada Musim Barat suhu di lapisan permukaan memiliki suhu yang cukup hangat yaitu berkisar antara o C dengan rata-rata 27 o C (Gambar 10a). Hal ini disebabkan karena pada Musim Barat posisi matahari berada di bumi bagian selatan (BBS), sehingga radiasi matahari yang diterima oleh perairan selatan Jawa lebih besar dibandingkan musim Timur (Wyrkti 1961, Silalahi 2013). Selain itu, tingginya suhu permukaan pada Musim Barat juga diduga akibat berkembangnya Arus Pantai Jawa (APJ) yang mengalir ke perairan selatan Jawa dari perairan barat Sumatera yang membawa massa air hangat (Wilopo 2005). Menurut Quadfasel dan Cresswell (1992) dalam Farita (2006), APJ di lapisan permukaan membawa suhu yang lebih hangat (lebih dari 27,5 ºC) dengan salinitas yang rendah. Massa air hangat yang dibawa oleh APJ di perairan Selatan Jawa Sumbawa berasal dari Pantai Barat Daya Sumatera dan juga Laut Jawa yang masuk melalui Selat Sunda. 26

2 27 (a) (b) (c) (d) Gambar 1. Sebaran Suhu Horisontal (a) Musim Barat, (b) Musim Peralihan 1, (c) Musim Timur dan (d) Musim Peralihan 2

3 28 Pada Musim Timur suhu perairan lebih rendah dibandingkan musim lainnya yaitu berkisar antara 24 o C 28,5 o C dengan rata-rata 26,25 o C (Gambar 10b). Hal ini sesuai dengan pernyataan Wyrkti (1961) yang menyatakan bahwa pada Musim Timur suhu permukaan laut di Selatan Jawa cenderung lebih rendah karena matahari sedang berada di bumi bagian utara (BBU) dimana intensitas cahaya matahari yang mencapai permukaan laut tidak sebesar musim sebelumnya. Pada Musim Peralihan 1 suhu perairan di lapisan permukaan memiliki suhu yang lebih hangat dibandingkan Musim Peralihan 2. Kisaran suhu pada lapisan permukaan di Musim Peralihan 1 bernilai antara 25,5 o C 29 o C dengan rata-rata 27,25 o C, sedangkan suhu permukaan pada Musim Peralihan 2 bernilai antara 23,5 28 o C dengan rata-rata 25,75 o C (Gambar 10c dan 10d). Hal ini disebabkan karena pada Musim Peralihan 1 suhu hangat pada Musim Barat cenderung mempengaruhi perairan Samudera Hindia bagian Timur, sedangkan pada Musim Peralihan 2 suhu perairan lebih cenderung dipengaruhi oleh Musim Timur yang bersifat dingin Sebaran Vertikal a. Suhu Pada Perpotongan Bujur 112,5 o BT Sebaran suhu secara vertikal menunjukkan adanya penurunan suhu berdasarkan kedalaman (Gambar 11). Berdasarkan pengukuran suhu secara vertikal dengan menggunakan pemotongan pada bujur 112,5 o BT dapat dijelaskan bahwa suhu perairan pada Musim Barat dan Musim Peralihan 1 memiliki suhu yang lebih hangat dibandingkan dengan suhu perairan pada Musim Timur dan Musim Peralihan 2. Hal ini dapat dilihat dari hasil visualisasi bahwa suhu pada kedalaman 0-50 meter saat Musim Barat dan Musim Peralihan 1 mencapai angka 27,5 o C, sedangkan saat Musim Timur dan Musim Peralihan 2 suhu dengan kedalaman yang sama hanya menunjukkan angka 25 o C.

4 29 (a) (b) (c) (d) Gambar 2. Sebaran Suhu Vertikal di Perpotongan 112,5 o BT padaa (a) Musim Barat, (b) Musim Peralihan 1, (c) Musim Timur dan (d) Musim Peralihan 2

5 30 Pada Musim Barat (Gambar 11a) dapat dilihat bahwa suhu lebih hangat ditemukan pada stasiun yang mendekati pantai dibandingkan dengan stasiun di daerah laut lepas. Pada lapisan dekat permukaan suhu cenderung homogen hingga kedalaman sekitar 50 meter dengan suhu 27,5 o C kemudian suhu turun secara cepat hingga kedalaman sekitar meter. Musim Peralihan 1 (Gambar 11b) suhu hangat pada lapisan permukaan berangsur-angsur menipis di bandingkan pada Musim Barat. Hal ini diduga akibat arah angin yang mulai berubah dan berkembangnya Angin Muson Tenggara (Wilopo 2005), kemudian suhu turun secara cepat hingga kedalaman sekitar 300 hingga 400 meter. Pada Musim Timur suhu pada lapisan homogen cenderung lebih dingin dibandingkan pada musim sebelumnya yaitu bernilai 25 o C dengan kedalaman mencapai 29 meter pada lintang o LS dan semakin dalam pada lintang o LS yaitu berkisar antara meter. Pada musim ini juga terlihat kenaikan massa air pada lintang 12 o LS yang merupakan indikasi dari fenomena upwelling. Purba et al (1992) dalam Wilopo (2005) menjelaskan bahwa pada Musim Timur upwelling terjadi secara intensif di perairan selatan Jawa. Pada Musim Peralihan 2, kedalaman lapisan homogen berkisar 50 meter dan semakin dangkal pada lintang 18 o LS hanya mencapai kedalaman 10 meter dengan suhu 25 o C, kemudian suhu turun secara cepat hingga kedalaman maksimal yaitu 410 meter pada lintang 19,5 o LS. b. Suhu Pada Pemotongan Lintang 12,5 o LS Sebaran suhu pada pemotongan lintang 12,5 o LS juga menunjukkan bahwa kisaran suhu semakin berkurang dengan bertambahnya kedalaman. Suhu perairan pada Musim Barat hingga Musim Peralihan 1 menujukkan suhu yang lebih hangat dibandingkan dengan suhu pada Musim Timur dan Musim Peralihan 2. Hal ini terlihat dari hasil visualisasi yang menunjukkan pada lapisan permukaan di Musim Barat dan Musim Peralihan 1 kisaran suhu mencapai 27,5 o C, sedangkan di Musim Timur hingga Musim Peralihan 2 kisaran suhu permukaan hanya bernilai 25 o C.

6 31 (a) (b) (c) (d) Gambar 3. Sebaran Suhu Vertikal di Perpotongan 12,5 o LS pada (a) Musim Barat, (b) Musim Peralihan 1, (c) Musim Timur dan (d) Musim Peralihan 2

7 32 Pada Musim Barat, suhu disekitar lapisan permukaan bernilai 27,5 o C dan cenderung homogen hingga kedalaman berkisar antara 50 meter kemudian suhu menurun secara cepat hingga kedalaman berkisar antara 380 meter. Hal ini sesuai dengan pernyataan Purba et al. (1997) yang menjelaskan bahwa ketebalan lapisan homogen di perairan selatan Jawa (bagian dari Samudera Hindia bagian Timur) berkisar antara meter dengan suhu permukaan laut umumnya lebih dari 27 o C. Pada Musim Peralihan 1, kedalaman lapisan homogen mencapai kedalaman meter dengan suhu 27,5 o C. Lapisan termoklin pada musim ini mencapai kedalaman 380 meter. Nybakken (1988) dalam Syafrizal (1991) menjelaskan bahwa lapisan termoklin merupakan zona kejelukan tempat penurunan suhu yang paling cepat. Kedalaman lapisan homogen pada Musim Timur berdasarkan pemotongan lintang 12,5 o LS menunjukkan nilai yang cukup dalam yaitu berkisar antara 75 meter hingga 90 meter dengan suhu 25 o C. Kemudian suhu menurun cepat pada hingga kedalaman antara 350 hingga 400 meter. Pada Musim Peralihan 2, kedalaman lapisan homogen bervariasi berdasarkan posisi bujurnya. Pada bujur 100 o BT kedalaman lapisan ini mencapai 118 meter, namun pada bujur 118 o BT kedalamannya hanya mencapai 69 meter dengan suhu sekitar 25 o C. Berdasarkan hasil visualisasi pada bujur 104 o BT dan 109 o BT terlihat indikasi kenaikan massa air atau upwelling. Hal ini mungkin terjadi karena Angin Muson Tenggara yang bertiup di selatan Jawa dimulai sejak bulan Mei dan berakhir pada bulan September (awal Musim Peralihan 2) (Wilopo 2005). Angin Muson Tenggara ini menyebabkan terjadinya upwelling karena angin ini bertiup dari arah tenggara ke arah barat laut sehingga terjadi Transport Ekman yang mengarah menjauhi pantai selatan Jawa, maka akan terjadi kekosongan yang berakibat naiknya air (upwelling) dari bawah menuju lapisan permukaan (Wyrkti 1962 dalam Wilopo 2005; Purba et al., 1992 dalam Wilopo 2005) Sebaran Salinitas Pada bagian ini akan menjelaskan sebaran salinitas pada dua bagian penting yakni sebaran secara horisontal dan vertikal. Sebaran horisontal ini merupakan

8 33 sebaran suhu pada lapisan permukaan. Sebaran vertikal diambil berdasarkan perpotongan bujur 112,5 o BT dan perpotongan lintang 12,5 o LS. Perpotongan bujur dan lintang ini dipilih berdasarkan data sebaran Tuna Sebaran Horisontal Hasil pengukuran salinitas secara horisontal di lapisan permukaan pada tahun yang dirata-ratakan setiap musim memiliki nilai berkisar antara 33,5 psu - 35,25 psu dengan rata-rata 34,37 psu (Gambar 13). Secara umum nilai salinitas yang mendekati daratan memiliki nilai lebih rendah dibandingkan dengan nilai salinitas yang menuju lepas pantai. Hal ini diduga disebabkan karena salinitas yang mendekati daratan masih mendapatkan pengaruh seperti aliran sungai yang bermuara ke Samudera Hindia bagian Timur, sehingga menyebabkan salinitas disekitarnya menjadi lebih rendah. Supangat dan Susanna (2003) juga menyatakan bahwa salinitas berkurang ke arah lintang tinggi maupun ke arah ekuator akibat adanya air tawar di mulut sungai-sungai besar akibat lelehan es dan salju pada lintang tinggi. Hasil visualisasi juga menunjukkan bahwa adanya massa air dari Selat Sunda yang membawa salinitas rendah masuk ke wilayah kajian. Kejadian ini terlihat hampir sepanjang tahun dari mulai Musim Barat hingga Musim Peralihan 2. Pada Musim Barat, salinitas di perairan Samudera Hindia bagian Timur memiliki nilai berkisar antara 33,5 35,25 psu dengan rata-rata 34,37 psu (Gambar 13a) dengan nilai salinitas bertambah ke arah selatan dan tenggara. Pada musim ini terlihat adanya massa air dari Selat Sunda masuk ke wilayah kajian dengan membawa salinitas bernilai rendah yang ditunjukkan dengan garis isohalin 33,5 psu. Pada musim peralihan 1, salinitas di wilayah kajian berkisar antara 33,25 35 psu dengan nilai salinitas yang semakin bertambah ke arah selatan. Berdasarkan gambar, salinitas minimum berada pada perairan sekitar Jawa Barat dan pulau Sumatera dengan garis isohalin 33,25 psu, hal ini disebabkan karena adanya pengaruh daratan dan adanya aliran sungai-sungai disekitar perairan yang kemudian terbawa hingga lepas pantai (Anggriandika 2012).

9 34 (a) (b) (c) (d) Gambar 4. Sebaran Salinitas Horisontal (a) Musim Barat, (b) Musim Peralihan 1, (c) Musim Timur dan (d) Musim Peralihan 2

10 35 Pada Musim Timur dan Musim Peralihan 2, salinitas di perairan Samudera Hindia bagian Timur cenderung homogen. Salinitas minimum pada Musim Timur tercatat 33,25 psu dan salinitas maksimum tercatat 35 psu dengan rata-rata 34,12 psu sedangkan, salinitas minimum pada Musim Peralihan 2 tercatat 33,5 psu dan salinitas maksimum tercatat 35 dengan rata-rata 34,25 psu. Berdasarkan hasil visualisasi sebaran salinitas secara horisontal ini terlihat bahwa pada Musim Timur hingga Musim Peralihan 2 konsentrasi salinitas terlihat adanya peningkatan dibandingkan Musim Peralihan 1. Hal ini diduga disebabkan karena aliran massa air yang disebabkan oleh angin musim. Hadi (2006) dalam Safitri et al. (2012) menyatakan bahwa pada Musim Timur (Juni, Juli, Agustus) diselatan equator dan timur laut di utara equator bertiup angin muson tenggara yang mengakibatkan perairan Indonesia memiliki karakteristik dengan nilai salinitas yang lebih tinggi Sebaran Vertikal a. Salinitas Pemotongan Bujur 112,5 BT Sebaran salinitas vertikal dengan pemotongan lintang pada 112,5 BT pada setiap musimnya menunjukkan bahwa nilai salinitas semakin meningkat dengan bertambahnya kedalaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Nurhayati (2006) yang menyatakan bahwa secara umum distribusi salinitas di lapisan tercampur permukaan atau mixed layer depth (MLD) menunjukkan nilai yang lebih rendah daripada di lapisan dalam. Selain itu, distribusi salinitas di suatu perairan dipengaruhi oleh oleh penguapan, jumlah air tawar yang masuk ke perairan tersebut, "run-off" atau aliran permukaan, pasang surut air laut, curah hujan dan musim (Bowden 1980 dalam Nurhayati 2006). Berdasarkan hasil visualisasi sebaran salinitas pada Musim Barat terlihat bahwa nilai salinitas yang lebih tinggi berada pada stasiun yang menuju laut lepas dibandingkan dengan stasiun yang mendekati daratan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Soeriaatmadja (1957) dalam Anggriandika (2012) yang menyatakan bahwa suplai air tawar dari daratan sekitarnya serta curah hujan selama Musim Barat akan mempengaruhi penurunan salinitas pada perairan yang lebih dekat dengan

11 36 pantai. Pada musim ini,salinitas minimal berada pada koordinat 9,5 o LS dengan garis isohalin 34,25 psu, sedangkan salinitas maksimal berada pada koordinat 17,5 o LS 19,5 o LS dengan garis isohalin 35,25 psu dan berada pada kedalaman 150 meter hingga 300 meter,sedangkan rata-rata salinitas di wilayah kajian pada musim inibernilai 34,75 psu (Gambar 14a). Pada Musim Peralihan 1, nilai salinitas bertambah seiring dengan bertambahnya kedalaman. Salinitas minimal pada musim ini ditunjukkan dengan garis isohalin 34 psu, sedangkan salinitas maksimal berada pada garis isohalin 35,25 psu dengan rata-rata 34,75 psu. Salinitas tertinggi ditemukan pada koordinat 18 o LS 19,5 o LS pada kedalaman 150 meter hingga 300 meter (Gambar 14b). Pada Musim Timur, salinitas di wilayah kajian berkisar antara 34,25 psu hingga 35,25 psu dengan rata-rata 34,75 psu. Nilai salinitas pada musim ini bertambah seiring dengan bertambahnya kedalaman. Berdasarkan hasil visualisasi terlihat bahwa adanya salinitas bernilai tinggi dari Samudera Hindia masuk ke wilayah kajian pada kedalaman meter dengan garis isohalin 35,25 psu. Nilai salinitas yang masuk ini semakin meningkat hingga Musim Peralihan 2. Pada Musim Peralihan nilai salinitas yang berasal dari Samudera Hindia dan masuk ke wilayah kajian memiliki garis isohalin 35,5 psu dan berada pada kedalaman meter. Sebaran vertikal salinitas pada Musim Peralihan 2 di stasiun yang berada di lepas pantai memiliki nilai salinitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan stasiun yang mendekati daratan. Hal ini terlihat dari hasil visualisasi yang menunjukkan bahwa garis isohalin di lintang 9,5 o LS 15 o LS berkisar antara 34,5 psu, sedangkan garis isohalin di lintang 16 o LS 19 o LS berkisar antara 34,75 psu.

12 37 (a) (b) (c) (d) Gambar 5. Sebaran Salinitas Vertikal di Perpotongan 112,5 o BT pada (a) Musim Barat, (b) Musim Peralihan 1, (c) Musim Timur dan (d) Musim Peralihan 2

13 38 b. Salinitas Perpotongan Lintang 12,5 LS Sebaran salinitas vertikal berdasarkan perpotongan pada lintang 12,5 o LS menunjukkan salinitas bertambah seiring dengan bertambahnya kedalaman. Berbeda dengan perpotongan bujur, dengan menggunakan perpotongan lintang sebaran vertikal salinitas lebih terlihat homogen meskipun masih terlihat adanya variasi. Pada Musim Barat besaran salinitas berkisar antara 34,5 psu hingga 34,75 psu dengan ratarata 34,62 psu. Pada lapisan permukaan hingga kedalaman berkisar 75 meter salinitas berada pada garis isohalin 34,5 psu dengan kedalaman yang bertambah ke arah timur. Hal ini menunjukkan bahwa salinitas lebih rendah berada pada wilayah timur perairan. Anggriandika (2012) menyatakan bahwa pola sebaran salinitas ini konsisten terjadi pada Musim Barat, dimana massa air salinitas tinggi terlihat semakin tenggelam pada wilayah timur perairan. Pada Musim Peralihan 1, besaran salinitas berkisar antara 34,25 psu hingga 34,75 psu dengan rata-rata 34,5 psu. Besaran salinitas ini bertambah seiring dengan bertambahnya kedalaman. Pada koordinat 100,5 o BT 108,5 o BT salinitas pada lapisan permukaan hingga kedalaman 30 meter berada pada isohalin 34,25 psu sedangkan wilayah lain berada pada garis isohalin 34,5 psu dan mencapai kedalaman 100 meter. Kemudian di kedalaman 100 meter hingga 400 meter disisi barat terlihat adanya instrusi massa air yang masuk wilayah kajian dengan ditandai garis isohalin 34,75 psu. Pada Musim Timur, besaran salinitas berkisar antara 34,25 psu hingga 34,75 psu dengan rata-rata 34,5 psu. Sebaran salinitas pada musim ini terlihat lebih merata dan besarannya bertambah seiring dengan bertambahnya kedalaman. Lapisan permukaan hingga kedalaman berkisar antara 75 meter ditemukan garis isohalin 34,25 psu. Pada kedalaman 150 meter hingga 470 meter disisi barat wilayah kajian terlihat adanya instrusi massa air yang masuk dengan ditandai garis isohalin 34,75 psu namun dengan luasan yang lebih sempit daripada Musim Peralihan 1.

14 39 (a) (b) (c) (d) Gambar 6. Sebaran Suhu Vertikal di Perpotongan 12,5 o LS pada (a) Musim Barat, (b) Musim Peralihan 1, (c) Musim Timur dan (d) Musim Peralihan 2

15 40 Pada Musim Peralihan 2, besaran salinitas berkisar antara 34,5 psu hingga 34,75 psu dengan rata-rata 34,62 psu. Garis isohalin 34,5 psu ditemukan pada lapisan permukaan hingga kedalaman 100 meter. Selain itu pada lapisan yang lebih dalam yaitu pada 250 meter ditemukan salinitas dengan garis isohalin 34,75 psu hingga mencapai kedalaman 350 meter disisi barat wilayah kajian Sebaran Oksigen Terlarut Pada bagian ini akan menjelaskan sebaran suhu menjadi dua bagian penting yakni sebaran secara horisontal dan vertikal. Sebaran horisontal ini merupakan sebaran suhu pada lapisan permukaan. Sebaran vertikal diambil berdasarkan perpotongan bujur 112,5 o BT dan perpotongan lintang 12,5 o LS. Perpotongan bujur dan lintang ini dipilih berdasarkan data sebaran Tuna Sebaran Horisontal Hasil pengukuran oksigen terlarut secara horisontal di lapisan permukaan pada tahun yang dirata-ratakan setiap musim memiliki nilai berkisar antara 4,2 ml/l 4,7 ml/l dengan rata-rata 4,45 ml/l (Gambar 17). Secara keseluruhan, sebaran oksigen pada wilayah yang mendekati daratan memiliki nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan daerah lepas pantai. Hal ini diduga karena wilayah mendekati daratan lebih banyak mendapat masukan bahan-bahan organik dibandingkan dengan daerah lepas pantai. Ulqodry et al. (2010) menyatakan bahwa rendahnya kandungan oksigen di suatu perairan salah satunya disebabkan karena masuknya bahan-bahan organik yang masuk ke perairan tersebut sehingga memerlukan banyak oksigen untuk menguraikannya. Pada Musim Barat, sebaran oksigen terlarut di Samudera Hindia bagian timur memiliki nilai berkisar antara 4,4 ml/l hingga 4,7 ml/l dengan rata-rata 4,55 ml/l dan nilai oksigen ini bertambah ke arah lepas pantai. Kandungan oksigen tertinggi pada musim ini ditemukan pada koordinat 100,5 BT 19,5 LS dengan nilai 4,71 ml/l.

16 41 (a) (b) (c) (d) Gambar 7. Sebaran Oksigen Horisontal (a) Musim Barat, (b) Musim Peralihan 1, (c) Musim Timur dan (d) Musim Peralihan 2

17 42 Pada Musim Peralihan 1, nilai oksigen terlarut pada wilayah kajian berkisar antara 4,2 ml/l hingga 4,6 ml/l dengan rata-rata 4,4 ml/l. Oksigen terendah ditemukan di daerah pantai selatan Jawa Timur dan Bali yaitu berkisar 4,2 ml/l. Hal ini diduga karena pada daerah tersebut banyak terdapat kegiatan yang menghasilkan limbah organik sehingga menyebabkan mikroorganisme membutuhkan oksigen lebih banyak untuk menguraikan zat organik tersebut. Pada Musim Timur dan Musim Peralihan 2, sebaran oksigen di Samudera Hindia bagian timur mengalami kenaikan di bandingkan dengan Musim Barat dan Musim Peralihan 1. Hal ini ditunjukkan dengan sebaran oksigen dengan nilai yang lebih tinggi tersebar lebih luas dibandingkan dua musim sebelumnya. Kisaran nilai oksigen pada Musim Timur berkisar antara 4,5 ml/l hingga 4,8 ml/l dengan rata-rata 4,65 ml/l. Luasan sebaran oksigen dengan nilai yang cukup tinggi ini terus berlangsung hingga Musim Peralihan 2. Pada Musim Peralihan 2, kisaran oksigen bernilai antara 4,4 ml/l hingga 4,8 ml/l dengan rata-rata 4,6 ml/l. Hal ini diduga karena pada kedua musim ini yaitu Musim Timur dan Musim Peralihan 2 terindikasi fenomena upwelling yang menyebabkan nutrien di lapisan dalam muncul ke permukaan dan menyebabkan lapisan permukaan kaya akan nutrien sehingga banyak terdapat fitoplankton yang kemudian melakukan proses fotosintesis dan menyebabkan kandungan oksigen pada saat itu meningkat. Simanjutak dan Kamlasi (2012) menyatakan bahwa sumber utama oksigen dalam air laut adalah udara melalui proses difusi dan proses fotosintesis fitoplankton Sebaran Vertikal a. Oksigen Perpotongan Bujur 112,5 BT Sebaran vertikal oksigen terlarut dengan perpotongan bujur 112,5 BT pada setiap musimnya menunjukkan bahwa nilai oksigen terlarut semakin menurun dengan bertambahnya kedalaman (Gambar 17). Hal ini sesuai dengan hasil penelitian di beberapa perairan Indonesia yang menunjukkan bahwa kadar oksigen terlarut

18 43 berkurang seiring dengan bertambahnya kedalaman, seperti pada penelitian Simanjuntak dan Kamlasi (2012) di perairan Lamelera, Nusa Tenggara Timur. Selain itu, turunnya kadar oksigen terlarut disuatu perairan disebabkan tingginya suhu, dan salinitas serta terjadinya proses penguraian senyawa organik menjadi senyawa anorganik serta bertambahnya kedalaman laut (Simanjuntak dan Kamlasi 2012). Pada lapisan dalam juga terlihat bahwa kandungan oksigen pada stasiun yang mendekati daratan lebih rendah dibandingkan stasiun di daerah lepas pantai. Berdasarkan hasil visualisasi setiap musim terlihat bahwa terdapat kandungan oksigen dengan nilai yang relatif tinggi pada kedalaman diatas 300 meter pada kisaran lintang 16-19,5 o LS. Hal ini diduga disebabkan karena adanya proses remineralisasi yang menghasilkan oksigen yang terjadi di Samudera Hindia dan masuk ke wilayah kajian akibat adanya arus dalam. Pada Musim Barat, besaran kandungan oksigen terlarut berkisar antara 2 ml/l hingga 4,5 ml/l. Kandungan oksigen di Samudera Hindia bagian timur ini relatif rendah dibandingkan dengan kandungan oksigen pada perairan umumnya yang berkisar antara 5,7-8,5 ml/l (Sidabutar dan Edward 1994 dalam Ulqodry et al. 2010). Hal ini diduga disebabkan karena penghasil oksigen di Samudera Hindia bagian timur lebih sedikit dibandingkan perairan lain. Pada Musim Peralihan 1, kisaran oksigen terlarut pada lapisan permukaan memiliki nilai yang lebih tinggi dibandingkan lapisan dalam. Kandungan oksigen terlarut pada musim ini berkisar antara 1,5 ml/l 4,5 ml/l dengan rata-rata 3 ml/l. Pada musim ini terlihat adanya oksigen bernilai antar 4ml/l 4,5ml/l yang masuk dari arah Samudera Hindia ke wilayah kajian pada kedalaman antara meter. Pada Musim Timur, oksigen terlarut di wilayah kajian bernilai antara 2 ml/l hingga 4,5 ml/l dengan rata-rata 3,25 ml/l dan kandungan oksigen terlarut ini menurun seiring dengan bertambahnya kedalaman. Sama seperti musim sebelumnya, pada musim ini juga ditemukan oksigen yang bernilai tinggi pada lintang 16,5 19,5 o LS namun kandungan oksigen ini ditemukan pada kedalaman 250 meter hingga

19 meter. Kandungan oksigen telarut dengan nilai yang cukup tinggi pada lapisan dalam ini mencapai puncaknya pada Musim Peralihan 2. (a) (b) (c) (d)

20 45 Gambar 8. Sebaran Oksigen Vertikal di Perpotongan 112,5 o BT pada (a) Musim Barat, (b) Musim Peralihan 1, (c) Musim Timur dan (d) Musim Peralihan 2 Pada musim Peralihan 2 kandungan oksigen berkisar antara 2 ml/l hingga 5 ml/l dengan rata-rata 3,5 ml/l dan nilai 5 ml/l ditemukan pada kedalaman meter. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan lapisan permukaan yang hanya bernilai 4,5 ml/l. Hal ini diduga disebabkan karena adanya aktivitas downwelling di perairan Samudera Hindia dan masuk ke wilayah kajian akibat adanya arus dalam. Kemudian kandungan oksigen tinggi dilapisan dalam ini kembali berkurang pada Musim Barat hingga Musim Peralihan 1. b. Oksigen Perpotongan Lintang 12,5 o LS Sebaran oksigen vertikal berdasarkan perpotongan lintang 12,5 o LS menunjukkan kandungan oksigen berkurang seiring dengan bertambahnya kedalaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ulqodry et al. (2010) yang menjelaskan bahwa lapisan dasar cenderung memiliki nilai oksigen yang lebih rendah dibandingkan dengan lapisan permukaan yang diakibatkan karena proses dekomposisi bahan organik yang membutuhkan oksigen lebih tinggi di lapisan dasar. Pada Musim Barat, lapisan permukaan hingga kedalaman 50 meter memiliki kandungan oksigen berkisar antara 4,5 ml/l dan semakin menurun seiring bertambahnya kedalaman hingga mencapai 2,5 ml/l di kedalaman 500 meter. Pada Musim Peralihan 1, kandungan oksigen terlarut pada wilayah kajian terlihat lebih rendah dibandingkan dengan Musim Barat. Hal ini dapat terlihat dari ditemukannya oksigen terlarut dengan nilai 2,5 ml/l sejak kedalaman 200 meter dan hampir merata hingga kedalaman 500 meter. Kisaran oksigen terlarut pada Musim Peralihan 1 berkisar antara 2,5 ml/l hingga 4,5 ml/l dengan rata-rata 3,5 ml/l.

21 46 (a) (b) (c) (d) Gambar 9. Sebaran Oksigen Vertikal di Perpotongan 12,5 o LS pada (a) Musim Barat, (b) Musim Peralihan 1, (c) Musim Timur dan (d) Musim Peralihan 2

22 47 Pada Musim Timur, lapisan permukaan hingga kedalaman 75 meter memiliki kandungan oksigen berkisar antara 4 ml/l, namun pada kisaran bujur 115,5 119,5 o BT ditemukan kandungan oksigen bernilai 4,5 ml/l yang berada pada lapisan permukaan hingga kedalaman 10 meter. Hal ini diduga disebabkan karena pada daerah tersebut banyak ditemukan fitoplankton sehingga menghasilkan banyak oksigen dari hasil fotosintesisnya. Pada Musim Peralihan 2, kandungan oksigen terlarut berkisar antara 2,5 ml/l hingga 4,5 ml/l dengan rata-rata 3,5 ml/l. Lapisan permukaan hingga kedalaman 50 meter kandungan oksigen terlarut bernilai 4,5 ml/l dan nilai ini berkurang seiring dengan bertambahnya kedalaman. Pada bujur 117,5 BT ditemukan kandungan oksigen dengan nilai 2,5 ml/l pada kedalaman 250 meter dan kandungan oksigen ini homogen hingga kedalaman 500 meter. Berbeda dengan wilayah lain, kandungan oksigen terlarut bernilai 2,5 ml/l baru ditemukan pada kedalaman meter Diagram TS a. Musim Barat Diagram T-S pada Musim Barat di perairan Samudera Hindia bagian Timur menunjukkan adanya temperatur 18 o C-27 o C yang terindentifikasi sebagai massa air Subtropical Lower Water (SLW) Samudera Hindia yang mempunyai karakteristik S- maksimum dengan salinitas 34,0 34,6psu dan suhu o C. Massa air Subtropical Lower Water berasal dari lautan India bagian tengah dan barat laut pada kedalaman 75 m dan menyebar bersama Arus Khatulistiwa Selatan ke arah timur dan tenggelam sampai kedalaman m di perairan barat daya sumatera dan di selatan Jawa massa air ini ditemukan pada kedalaman m (Wyrtki 1961). Dibawah massa air SLW di temukkan massa air Northern Salinity Minimum (NSM) dan Southern Salinity Minimum (SSM) yang keduanya memiliki karakteristik S-minimum dengan suhu o C untuk NSM dan o C untuk SSM, sedangkan nilai salinitas berkisar antara 34,8-35 psu untuk NSM dan 34,5-34,8 psu untuk SSM. Di bawah massa air NSM ditemukan pula massa air Banda Sea Water (BSW) yang

23 48 memiliki karakteristik S-minimum yaitu 34,5-34,9 psu dan suhu 4,5-6 o C. Massa air BSW ditemukan dibagian timur Samudera Hindia pada kedalaman 900 meter dan masuk ke dalam Samudera Hindia timur laut melalui perairan timur kepulauan Indonesia yaitu Laut Timor dan Selat Omai (Wyrkti 1961). SLW l w NSM SSM BSW Gambar 10. Diagram Temperatur Salinitas di Perairan Samudera Hindia Bagian Timur pada Musim Barat. SLW (Subtropical Lower Water), NSM (Northern Salinity Minimum), SSM (Southern Salinity Minimum), dan BSW (Banda Sea Water) b. Musim Peralihan 1 Pada Musim Peralihan 1 sebaran salinitas dan temperatur pada Gambar 17 menunjukkan adanya suhu antara o C dengan salinitas 34-34,6 psu. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat massa air SLW (Subtropical Lower Water) yang memiliki karakteristik S-maksimum yaitu 34-34,6 psu dan suhu o C (Wyrkti 1961). Selain itu, pada kolom yang sama ditemukan pula massa air SSM (Southern

24 49 Salinity Minimum) yang memiliki karakteristik salinitas 34,5-34,8 psu dan suhu 12 o C- 17 o C. SLW SSM PGW BSW Gambar 11. Diagram Temperatur Salinitas di Perairan Samudera Hindia Bagian Timur pada Musim Peralihan 1. SLW (Subtropical Lower Water), SSM (Southern Salinity Minimum), PGW (Persian Gulf Water) dan BSW (Banda Sea Water) Dibawah massa air SSM ditemukan massa air Persian Gulf Water (PGW) yang mempunyai karakteristik salinitas 34,6-35 psu dan suhu 8-14 o C. Massa air PGW berasal dari bagian barat Samudera Hindia pada kedalaman meter (Wyrkti 1961). Dibawah massa air PGW ditemukan massa air BSW (Banda Sea Water) dengan karakteristik suhu 4,5-6 o C dan salinitas 34,5-34,9 psu yang berada pada kolom antara 27 dan 28. c. Musim Timur Diagram T-S pada Musim Timur di Samudera Hindia bagian timur menunjukkan adanya suhu antara o C dengan salinitas 34-34,6 psu. Karakteristik ini sesuai dengan karakteristik dari massa air SLW (Subtropical Lower Water) yang

25 50 memiliki karakteristik S-maksimum dengan salinitas 34,0 34,6psu dan suhu o C (Wyrkti 1961). Dibawah massa air SLW ditemukan massa air dengan suhu o C dan salinitas 34,8-35 psu sehingga sesuai dengan massa air NSM (Northern Salinity Minimum). Karakteristik NSM adalah S-minimum dengan suhu o C dan salinitas 34,8 35 psu. Massa air ini berasal dari Laut Celebes yang terbawa oleh arus Mindano (Wyrkti 1961). SLW NSM SSM Sigma t BSW Gambar 12. Diagram Temperatur Salinitas di Perairan Samudera Hindia Bagian Timur pada Musim Timur. SLW (Subtropical Lower Water), NSM (Northern Salinity Minimum), SSM (Southern Salinity Minimum), Sigma t dan BSW (Banda Sea Water) Dibawah massa air NSM ditemukan massa air SSM (Southern Salinity Minimum) dengan karakteristik S-minimum yaitu 34,5-34,8 psu, suhu o C dan kandungan oksigen 1,6-2,5 ml/l. Dibawah massa air SSM ditemukan massa air dengan suhu 6-10 o C dan salintas 34,6-34,9 psu. Hal ini sesuai dengan karakter dan ciri dari massa air Sigma t 27,2 27,4 yaitu suhu 6-10 o C dan salinitas psu.

26 51 Selain itu, ditemukan pula massa air BSW (Banda Sea Water) pada kolom antara 27 dan 28 dengan karakteristik S-minimum yaitu 34,5-34,8 psu dan suhu 4,5-6 o C. d. Musim Peralihan 2 Pada Musim Peralihan 2, diagram T-S dari Samudera Hindia bagian timur menunjukkan bahwa terdapat massa air dengan karakteristik suhu antara o C dan salinitas 34-34,5 psu. Karakteristik tersebut sesuai dengan karakteristik dari massa air SLW (Subtropical Lower Water) yang memiliki karakteristik S-maksimum dengan salinitas 34,0 34,6 psu dan suhu o C (Wyrkti 1961). SLW NSM SSM BSW Gambar 13. Diagram Temperatur Salinitas di Perairan Samudera Hindia Bagian Timur pada Musim Peralihan 2. SLW (Subtropical Lower Water), NSM (Northern Salinity Minimum), SSM (Southern Salinity Minimum) dan BSW (Banda Sea Water) Dibawah massa air SLW ditemukkan massa air dengan suhu o C dan salinitas 34,8 35 psu yang merupakan karakteristik dari Northern Salinity Minimum (NSM) yang berada pada kolom antara 25 dan 26. Massa air NSM memiliki karakter dan ciri suhu antara o C dan salinitas berkisar antara 34,8-35 psu. Selain itu,

27 52 pada kolom yang sama ditemukan pula massa air Southern Salinity Minimum (SSM) yang memiliki karakteristik S-minimum dengan suhu o C dan 34,5-34,8 psu. Dibawah massa air SSM yakni pada kolom antara 25 dan 26 ditemukan massa air dengan ciri suhu antara 4,5-6 o C dan salinitas 34,5-34,7 psu yang menandakan bahwa massa air tersebut merupakan massa air BSW (Banda Sea Water) yang memiliki karakteristik berupa S-minimum yaitu 34,5-34,9 psu dan suhu 4,5-6 o C. 4.2 Variabilitas Mixed Layer Depth (MLD) a. Musim Barat Sebaran lapisan MLD pada Musim Barat di perairan Samudera Hindia bagian Timur dengan menggunakan kriteria MLD T = 0,5 o C menunjukkan bahwa lapisan MLD berada pada kedalaman sekitar dbar (1 dbar = 1,01 meter) berkisar antara 23,5 30 o C (Gambar 23). Berdasarkan hasil visualisasi dapat dilihat bahwa pada musim ini ketebalan MLD masih dikategorikan cukup dangkal dengan suhu yang relatif hangat. Hal ini mungkin disebabkan karena pada musim ini angin muson bertiup dari barat ke timur dengan kecepatan rendah dan membawa Arus Pantai Jawa (APJ) yang mengalir sepanjang pesisir selatan Jawa dan membawa massa air yang bersuhu relatif tinggi (Panjaitan 2009). Selain itu, Wyrkti (1961) juga menjelaskan bahwa lapisan homogen (MLD) pada Musim Barat berkisar antara meter. MLD dengan kriteria T = 0,5 o C berada pada suhu yang relatif hangat yaitu sekitar 29 o C pada wilayah yang masih mendapatkan pengaruh dari daratan dan pada daerah laut lepas suhu untuk lokasi MLD semakin menurun. Hal ini diduga karena pada wilayah laut lepas angin berhembus lebih kencang dibandingkan dengan wilayah yang mendekati daratan sehingga suhu perairan menjadi lebih dingin dan menyebabkan suhu pada daerah MLD juga menjadi lebih dingin. Hasil visualisasi juga menunjukkan bahwa wilayah perairan yang mendapatkan masukan massa air dari Selat Sunda memiliki kedalaman MLD yang cukup tinggi dibandingkan wilayah lainnya yaitu 60 dbar. Wyrkti (1961) juga menyatakan bahwa salah satu yang mempengaruhi variasi MLD adalah pergerakan massa air. Selain itu, wilayah yang

28 53 berada di laut lepas juga memiliki kedalaman yang lebih tinggi dibandingkan wilayah yang mendekati daratan. Hal ini mungkin diakibatkan karena adanya pengaruh dari angin lokal yang berpengaruh terhadap kekuatan proses mixing pada lapisan MLD. (a) (b) Gambar 14. Sebaran MLD T 0,5 o C pada Musim Barat berdasarkan (a) suhu dan (b) kedalaman

29 54 b. Musim Peralihan 1 Pada Musim Peralihan 1, sebaran lapisan MLD kriteria T 0,5 o C di Samudera Hindia bagian Timur memiliki kedalaman yang lebih dalam di bandingkan pada Musim Barat. Kisaran kedalaman MLD di musim ini berkisar antara 40 hingga 60 dbar (1 dbar = 1,01 meter). Kedalaman MLD pada stasiun yang mendekati pantai memiliki nilai yang lebih dangkal dibandingkan dengan stasiun di laut lepas. Hal ini mungkin terjadi karena angin yang berhembus di laut lepas memiliki kekuatan yang lebih besar di bandingkan dengan di dekat pantai sehingga proses mixing semakin kuat dan merambah ke lapisan dalam sehingga mengakibatkan lapisan MLD menjadi semakin tebal atau dalam. Harsono (2010) juga menjelaskan bahwa semakin besar energi pembangkitnya maka proses mixing-nya juga semakin merambah ke lapisan yang lebih dalam atau dengan kata lain ketebalan mixed layer ini menjadi lebih besar. Suhu MLD pada musim ini berada pada kisaran suhu yang relatif hangat. terutama di perairan selatan Jawa dan sekitarnya yaitu berkisar antara 28,5 29,5 o C. Hal ini diduga karena masih ada pengaruh dari Musim Barat yang membawa massa air APJ yang cukup hangat sehingga menyebabkan MLD musim ini berada pada suhu yang relatif hangat pula. Selain itu, suhu MLD pada stasiun yang mendekati daratan memiliki suhu yang lebih tinggi di bandingkan dengan stasiun yang berada di laut lepas. Hal ini terlihat dari hasil visualisasi yang menunjukkan bahwa suhu MLD di stasiun yang mendekati pantai memiliki kisaran suhu antara 28,5 29,5 o C, sedangkan pada stasiun yang berada di laut lepas kisaran suhunya berkisar antara o C. Hal ini diduga disebabkan karena panas matahari di laut lepas lebih tersebar hingga perairan yang lebih dalam di bandingkan dengan daerah dekat pantai yang kedalaman perairannya cukup dangkal.

30 55 (a) (b) Gambar 15. Sebaran MLD T 0,5 o C pada Musim Peralihan 1 berdasarkan (a) suhu dan (b) kedalaman c. Musim Timur Sebaran lapisan MLD kriteria T 0,5 o C pada Musim Timur di Samudera Hindia bagian Timur memiliki kedalaman yang lebih dalam di bandingkan dengan dua musim sebelumnya, namun dengan suhu yang lebih rendah. Kisaran kedalaman MLD pada musim ini berkisar antara 60 hingga 100 dbar. Namun, pada perairan

31 56 sekitar selatan Jawa Timur dan Sumbawa kedalaman MLD hanya 40 dbar atau berkisar antara 40,79 meter (Gambar 25). (a) (b) Gambar 16. Sebaran MLD T 0,5 o C pada Musim Timur berdasarkan (a) kedalaman dan (b) suhu Suhu di lapisan MLD pada musim ini memiliki nilai yang cukup rendah dibandingkan dengan dua musim sebelumnya yaitu berkisar antara o C (Gambar 25b). Rendahnya suhu lapisan MLD pada musim ini diduga disebabkan karena adanya pengaruh upwelling yang intensif terjadi di perairan ini. Menurut

32 57 Nontji (1993) dalam Panjaitan (2009) pada periode musim timur di perairan Samudera Hindia berhembus Angin Muson Tenggara yang membuat Arus Katulistiwa Selatan (AKS) semakin berkembang di sepanjang pantai Selatan Jawa. AKS yang bergerak di sepanjang pantai Selatan Jawa mendorong massa air di perairan tersebut ke arah barat daya, sehingga terjadi kekosongan dan kekosongan ini diisi oleh massa air yang berasal dari lapisan yang lebih dalam atau yang lebih dikenal dengan peristiwa upwelling. Massa air yang dibawa dari lapisan dalam ini memiliki suhu yang relatif dingin. Akibat dari berhembusnya Angin Muson Tenggara yang memiliki kekuatan yang cukup tinggi pada musim ini, berpengaruh terhadap proses turbulensi di lapisan permukaan menjadi semakin kuat sehingga menyebabkan lapisan MLD pada musim ini memiliki kedalaman yang cukup dalam (Gambar 25a). d. Musim Peralihan 2 Pada Musim Peralihan 2, sebaran MLD T 0,5 o C di Samudera Hindia bagian Timur memiliki variasi kedalaman dan suhu yang cukup beragam. Berdasarkan hasil visualisasi kedalaman lapisan MLD pada musim ini memiliki nilai yang lebih dangkal dibandingkan dengan Musim Timur dan semakin dangkal hingga Musim Barat. Hal ini menunjukkan bahwa lapisan MLD dipengaruhi oleh keadaan musiman. Wyrtki (1961) juga menjelaskan bahwa variasi MLD diakibatkan oleh adanya pergerakan massa air dan pergantian angin musim. Kedalaman MLD pada musim ini berkisar antara 20 dbar hingga 80 dbar dengan suhu berkisar antara 23 o C hingga 29 o C. Pada perairan disekitar selatan Jawa Timur terlihat adanya lapisan MLD dengan kedalaman yang lebih dangkal dibandingkan wilayah lain yaitu hanya 20 dbar atau 20,39 meter dan memiliki suhu 27,5 o C. Hal ini mungkin terjadi akibat adanya kenaikan massa air (upwelling) pada daerah tersebut yang menyebabkan naiknya lapisan termoklin sehingga lapisan diatasnya yaitu MLD menjadi semakin tipis.

33 58 (a) (b) Gambar 17. Sebaran MLD T 0,5 o C pada Musim Peralihan 2 berdasarkan (a) kedalaman dan (b) suhu 4.3 Hubungan MLD dengan Indian Ocean Dipole (IOD) Indian Ocean Dipole (IOD) dapat ditentukan berdasarkan dipole mode indeks (DMI). Setelah dilakukan ploting grafik hubungan antara kedalaman MLD dengan DMI serta suhu MLD dengan DMI didapatkan pola seperti pada Gambar 27 dan Gambar 28. Grafik ini hanya menggambarkan pola IOD musiman pada tahun sehingga pola IOD dapat berubah apabila dilakukan terhadap rerata musiman di

34 59 tahun yang berbeda. Hal ini disebabkan karena IOD tidak terjadi setiap tahun. Berdasarkan grafik hubungan kedalaman MLD dan pola IOD (Gambar 27) terlihat bahwa pada Musim Barat hingga Musim Timur semakin tinggi nilai IOD maka semakin tinggi pula kedalaman MLD pada musim tersebut. Hal ini berbeda dengan hubungan kedalaman MLD dan IOD pada Musim Peralihan 2. Pada musim ini pola IOD berada pada titik tertinggi, namun tidak sebanding dengan kedalaman MLD. Kedalaman MLD pada Musim Peralihan 2 memiliki nilai rata-rata 51,9 dbar atau 52,9 meter sedangkan pola IOD berada pada nilai tertinggi yaitu 0,14. Nilai terendah baik pada kedalaman MLD maupun pola IOD berada pada Musim Barat. Pada musim ini kedalaman MLD memiliki nilai rata-rata 36,6 dbar atau 37,3 meter dan pola IOD memiliki nilai rata-rata -0, Grafik Kedalaman MLD dan DMI 0,2 0,15 0,1 0,05 Kedalaman MLD 0 IOD -0,05-0,1 Barat Peralihan 1 Timur Peralihan 2 Gambar 18. Grafik Kedalaman MLD dan DMI Berdasarkan grafik suhu MLD dan pola IOD (Gambar 28) terlihat pola yang berbanding terbalik dibandingkan dengan grafik kedalaman MLD dan pola IOD (Gambar 27). Pada Gambar 28 terlihat bahwa semakin rendah suhu MLD justru menyebabkan pola IOD meningkat. Hal ini diduga terjadi karena pada saat DM (+) suhu permukaan laut menjadi menurun (Saji et al. 1999). Berbeda dengan musim

35 60 lainnya, pada Musim Barat menuju Musim Peralihan 1 terlihat bahwa pola suhu MLD dan pola DMI berjalan sejajar yaitu sama-sama mengalami kenaikan. Suhu MLD pada Musim Barat memiliki nilai rata-rata 28,12 o C dan meningkat pada Musim Peralihan 1 menjadi 28,47 o C. Hal serupa terjadi pada pola DMI yang mengalami peningkatan pada musim tersebut, pada Musim Barat nilai DMI bernilai -0,07 dan meningkat pada Musim Peralihan 1 menjadi 0, , , , ,5 25 Grafik Suhu MLD dan DMI 0,2 0,15 0,1 0,05 0-0,05-0,1 Barat Peralihan 1 Timur Peralihan 2 Suhu MLD IOD Gambar 19. Grafik Suhu MLD dan DMI 4.4 Sebaran Ikan Tuna Sebaran Ikan Tuna pada setiap musim menunjukkan bahwa secara umum Ikan Tuna lebih banyak tersebar pada daerah lintang 10 o LS 15 o LS dan bujur 110 o BT 115 o BT atau sekitar 90 mil dari pantai (Gambar 29). Adhitya (2012) menyatakan bahwa sebaran Ikan Tuna di perairan Indonesia secara horisontal tersebar pada perairan selatan Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Berdasarkan hasil plot dari data suhu, salinitas dan oksigen (sub bab 4.1) terlihat bahwa kisaran suhu pada wilayah sebaran Tuna berkisar antara 26,5 28,5 o C, salinitas berkisar antara 34,25 34,5 psu dan oksigen berkisar antara 4,3 4,5 ml/l. Kisaran ini sesuai dengan kisaran suhu dan

36 61 salinitas dari distribusi Ikan Tuna yaitu berkisar antara o C untuk suhu dengan salinitas antara psu (Adhitya 2012). (a) (b) (c) (d) Gambar 20. Sebaran Tuna pada (a) Musim Barat, (b) Musim Peralihan 1, (c) Musim Timur dan (d) Musim Peralihan 2 Pada Gambar 29 dapat dilihat bahwa penyebaran Ikan Tuna yang lebih luas terlihat pada Musim Timur yakni berada pada lintang 10 o LS 18 o LS dan bujur 105 o BT 119 o BT, sedangkan pada Musim Peralihan 1 sebaran Ikan Tuna lebih sempit dibandingkan musim lainnya yaitu pada lintang 11 o LS - 16 o LS dan bujur 105 o BT o BT. Pada Musim Barat sebaran Ikan Tuna berada pada lintang 10 o LS 15 o LS dan bujur 105 o BT 120 o BT sedangkan, Musim Peralihan 2 sebaran Ikan Tuna berada pada lintang 10 o LS 18 o LS dan bujur 106 o BT 118 o BT. Sebaran Ikan Tuna lebih banyak tersebar pada musim Timur diduga disebabkan karena pada Musim Timur perairan Samudera Hindia bagian timur

37 62 diidentifikasikan terjadi fenomena upwelling dan menyebabkan perairan menjadi lebih subur dibandingkan dengan musim lainnya (Wyrkti 1961; Silalahi 2013). Upwelling sendiri merupakan proses terangkatnya massa air dalam yang kaya permukaan ke lapisan permukaan (Anggriandika 2011). Ilahude dan Nontji (1990) juga menyatakan bahwa upwelling umumnya menurunkan suhu, menaikan nilai salinitas, oksigen dan juga berbagai unsur hara atau nutrien di tempat terjadinya upwelling. Faizah (2010) juga menyatakan bahwa Ikan Tuna dewasa ditemukan di Samudera Hindia bagian timur pada bulan April hingga September Hasil Tangkapan Tuna Jumlah Tangkapan (ekor) Barat Peralihan 1 Timur Peralihan 2 Musim Gambar 21. Grafik Hasil Tangkapan Tuna Setiap Musim Hasil tangkapan Ikan Tuna setiap musim menunjukkan nilai yang sesuai dengan luasan sebaran Ikan Tuna. Semakin luas sebaran Ikan Tuna menghasilkan hasil tangkapan lebih banyak pada musim tersebut. Berdasarkan data penangkapan dari Loka Penelitian Tuna Badan Litbang KP Benoa Bali pada tahun 1997 dan 1999 dapat dilihat bahwa pada Musim Timur jumlah tangkapan yang dihasilkan mencapai ekor, sedangkan pada Musim Peralihan 1 jumlah tangkapan hanya berjumlah

38 ekor (Gambar 30). Hasil tangkapan pada Musim Barat berjumlah ekor dan pada Musim Peralihan 2 berjumlah ekor. Hasil tangkapan Ikan Tuna ini selain dipengaruhi oleh keadaan musiman, juga dipengaruhi oleh jumlah armada kapal penangkapan dan alat tangkap yang digunakan. Hal ini dapat dilihat berdasarkan jumlah penangkapan Tuna setiap tahun yang didapatkan dari data dari statistik perikanan tangkap Indonesia (Gambar 31). Pada tahun 2007 jumlah alat tangkap rawai Tuna (Longline Tuna) (Lampiran 1) di Selatan Jawa berjumlah 426 unit dengan jumlah armada kapal buah dan menghasilkan jumlah tangkapan Tuna sebanyak ton, sedangkan pada data statistik perikanan tangkap Indonesia tahun 2008 jumlah alat tangkap rawai Tuna di Selatan Jawa hanya berjumlah 291 dengan jumlah armada kapal buah dan menghasilkan jumlah tangkapan Tuna yang lebih sedikit pula yaitu sebanyak ton (Gambar 31) Hasil Tangkapan Tuna Tiap Tahun Jumlah Tangkapan (ton) Tahun Gambar 22. Grafik Hasil Tangkapan Tuna Setiap Tahun Pada Gambar 32 dapat dilihat bahwa komposisi hasil tangkapan Ikan Tuna setiap musimnya, dapat dilihat bahwa Ikan Tuna jenis Big Eye dan Yellow Fin lebih banyak tersebar di perairan Samudera Hindia bagian Timur dibandingkan dengan

39 64 jenis Albacor dan Bluefin Tuna (Gambar 32). Jumlah ini diduga disebabkan karena Ikan Tuna jenis Big Eye dan Yellow Fin menyukai hidup di lapisan atas termoklin atau biasa disebut dengan MLD sehingga alat pancing seperti Longline Tuna dapat mencapai kedalaman tersebut. Faizah (2010) menyatakan bahwa Ikan Tuna jenis Big Eye bersifat epipelagik, mesopelagik dan berada pada permukaan sampai kedalaman 250 meter. Hasil tangkapan Ikan Tuna jenis Bluefin Tuna memiliki jumlah paling sedikit dibandingkan dengan jenis lainnya yaitu hanya berkisar antara 30 sampai 40 ekor setiap musimnya. Hal ini diduga disebabkan karena Ikan Tuna jenis Bluefin Tuna lebih banyak tersebar di belahan bumi bagian selatan sehingga ikan ini tidak terlalu banyak tertangkap oleh nelayan Indonesia (Adhitya 2012). Hasil Tangkapan Tiap Jenis Tuna Jumlah Tangkapan (ekor) Barat Peralihan 1 Timur Peralihan 2 Musim Big Eye Albacor Bluefin Yellowfin Gambar 23. Grafik Hasil Tangkapan Tiap Jenis Ikan Tuna Setiap Musim 4.5 Hubungan Variabilitas MLD dengan Tuna Hubungan Variabilitas MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Setelah dilakukan ploting grafik hubungan antara kedalaman MLD dengan hasil tangkapan Tuna serta suhu MLD dengan hasil tangkapan Tuna, maka dihasilkan gambar grafik seperti dalam Gambar 33 dan Gambar 34. Pengujian korelasi hubungan antara kedalaman MLD dengan hasil tangkapan Tuna menghasilkan nilai

40 65 koefisien korelasi Pearson sebesar 0,891. Berdasarkan nilai koefisien korelasi Pearson ini menunjukkan bahwa antara kedalaman MLD dan hasil tangkapan Tuna memiliki nilai korelasi linier positif yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin dalam lapisan MLD maka semakin banyak pula hasil tangkapan Tuna. Berdasakan grafik, kedalaman rata-rata MLD tertinggi berada pada musim Timur dengan jumlah tangkapan yang tinggi pula. Kedalaman rata-rata MLD pada Musim Timur bernilai 73,18 dbar atau 74,64 meter dan hasil tangkapan Tuna yang didapatkan berjumlah ekor. Kedalaman MLD terendah berada pada Musim Barat yang memiliki nilai rata-rata sebesar 36,66 dbar atau 37,39 meter, namun hasil tangkapan Tuna terendah justru berada pada Musim Peralihan 1 yang berjumlah ekor. Hal ini mungkin saja terjadi karena hasil tangkapan juga dipengaruhi oleh banyaknya jumlah kapal dan alat tangkap yang digunakan. Tangkapan Tuna (ekor) Korelasi Kedalaman MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Kedalaman MLD (dbar) 3 y = 269,9x , R² = 0,794 Pearson : 0,891 Ket: 1 : Barat 2. Peralihan 1 3. Timur 4. Peralihan 2 Gambar 24. Grafik Korelasi antara Kedalaman MLD dan Tangkapan Tuna Hasil sebaliknya terlihat pada grafik hubungan antara suhu MLD dan hasil tangkapan Tuna yang memiliki grafik berbanding terbalik. Pada Gambar 34 terlihat bahwa semakin rendah suhu MLD justru menghasilkan penangkapan Tuna yang semakin tinggi. Pengujian korelasi hubungan antara suhu MLD dengan hasil

41 66 penangkapan Tuna pun menghasilkan nilai koefisian korelasi Pearson yang tinggi namun dengan nilai negatif yaitu -0,927. Gambar 34 menunjukkan bahwa nilai suhu MLD yang memiliki nilai terendah berada pada Musim Timur dan menghasilkan jumlah tangkapan tertinggi pada musim yang sama. Hal ini diduga disebabkan karena pada Musim Timur perairan Selatan Jawa (bagian dari Samudera Hindia bagian timur) secara intensif mengalami upwelling yang menyebabkan suhu MLD menjadi lebih rendah dan nutrien meningkat sehingga hasil penangkapan Tuna pun meningkat. Nugraha dan Nugroho (2013) menyatakan bahwa umumnya Tuna hidup di perairan seperti pertemuan antara dua arus atau tempat terjadinya upwelling yang merupakan tempat berkumpulnya plankton. Suhu MLD tertinggi berada pada Musim Peralihan 1 yang mencapai nilai rata-rata 28,47 o C namun menghasilkan tangkapan yang paling rendah yaitu ekor. Hal ini diduga disebabkan karena kandungan oksigen terlarut pada Musim Peralihan 1 di daerah sebaran Tuna (Gambar 16b) memiliki nilai yang cukup rendah, sehingga mengakibatkan jumlah Tuna berkurang. Dahuri (2008) juga menjelaskan bahwa tiga faktor perairan laut yang sangat mempengaruhi kehidupan Ikan Tuna adalah suhu, salinitas dan oksigen terlarut (DO). Tangkapan Tuna (ekor) Korelasi Suhu MLD dengan Hasil Tangkapan Tuna Suhu MLD (degree Celcius) 2 y = -4181,x R² = 0,860 Pearson : -0,927 Ket: 1 : Barat 2. Peralihan 1 3. Timur 4. Peralihan 2 Gambar 25. Grafik Korelasi antara Suhu MLD dan Tangkapan Tuna

42 Hubungan Variabilitas MLD dengan Sebaran Tuna a Musim Barat Setelah dilakukan plotting overlay dari variabilitas MLD dengan sebaran Tuna pada Musim Barat terlihat bahwa sebaran Tuna pada musim ini berada pada kisaran kedalaman MLD 40 dbar atau 40,79 meter dengan suhu MLD yang relatif hangat yaitu berkisar 29 o C (Gambar 35 dan Gambar 36). Garis merah pada peta menunjukkan batas Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) dimana perairan selatan Jawa berada pada WPP 573 (Lampiran 6). Berdasarkan hasil visualisasi terlihat bahwa sebaran Tuna lebih banyak berada di luar batas WPP atau berada pada daerah laut lepas. Hal ini menunjukkan bahwa penangkapan Tuna ini lebih banyak dilakukan oleh kapal-kapal besar. Gambar 26. Overlay Kedalaman MLD dengan Sebaran Tuna pada Musim Barat. Shaded countour menjelaskan kedalaman MLD, titik hitam menjelaskan sebaran tuna serta garis merah menandakan batas garis wilayah pengelolaan perikanan (WPP) Pada Musim Barat sebaran Tuna tersebar pada lintang 10 o LS 15 o LS dan bujur 105 o BT 120 o BT. Sebaran Tuna ini cukup luas meskipun dengan kedalaman MLD yang dangkal. Hal ini diduga disebabkan karena proses penangkapan dilakukan di pagi hari sehingga Tuna sedang berada di lapisan MLD untuk mencari makan.

BAB III METODOLOGI. Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian di Samudera Hindia bagian Timur

BAB III METODOLOGI. Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian di Samudera Hindia bagian Timur BAB III METODOLOGI 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian ini mengambil lokasi di perairan Samudera Hindia bagian timur dengan koordinat 5 o LS 20 o LS dan 100 o BT 120 o BT (Gambar 8). Proses pengolahan dan

Lebih terperinci

Gambar 1. Diagram TS

Gambar 1. Diagram TS BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakteristik Massa Air 4.1.1 Diagram TS Massa Air di Selat Lombok diketahui berasal dari Samudra Pasifik. Hal ini dibuktikan dengan diagram TS di 5 titik stasiun

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Konsentrasi klorofil-a suatu perairan sangat tergantung pada ketersediaan nutrien dan intensitas cahaya matahari. Bila nutrien dan intensitas cahaya matahari cukup tersedia,

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Variabilitas Kesuburan Perairan dan Oseanografi Fisika 4.1.1. Sebaran Ruang (Spasial) Suhu Permukaan Laut (SPL) Sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) di perairan Selat Lombok dipengaruhi

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Verifikasi Model Visualisasi Klimatologi Suhu Permukaan Laut (SPL) model SODA versi 2.1.6 diambil dari lapisan permukaan (Z=1) dengan kedalaman 0,5 meter (Lampiran 1). Begitu

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Sebaran Angin Di perairan barat Sumatera, khususnya pada daerah sekitar 2, o LS hampir sepanjang tahun kecepatan angin bulanan rata-rata terlihat lemah dan berada pada kisaran,76 4,1

Lebih terperinci

Relationship between variability mixed layer depth T=0.5 o C criterion and distribution of tuna in the eastern Indian Ocean

Relationship between variability mixed layer depth T=0.5 o C criterion and distribution of tuna in the eastern Indian Ocean Hubungan variabilitas mixed layer depth kriteria T=0,5 o C dengan sebaran tuna di Samudera Hindia bagian timur Relationship between variability mixed layer depth T=0.5 o C criterion and distribution of

Lebih terperinci

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4 HASIL DAN PEMBAHASAN 23 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pola Sebaran Suhu Permukaan Laut (SPL) Hasil olahan citra Modis Level 1 yang merupakan data harian dengan tingkat resolusi spasial yang lebih baik yaitu 1 km dapat menggambarkan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Arus Eddy Penelitian mengenai arus eddy pertama kali dilakukan pada sekitar tahun 1930 oleh Iselin dengan mengidentifikasi eddy Gulf Stream dari data hidrografi, serta penelitian

Lebih terperinci

Variabilitas Suhu dan Salinitas Perairan Selatan Jawa Timur Riska Candra Arisandi a, M. Ishak Jumarang a*, Apriansyah b

Variabilitas Suhu dan Salinitas Perairan Selatan Jawa Timur Riska Candra Arisandi a, M. Ishak Jumarang a*, Apriansyah b Variabilitas Suhu dan Salinitas Perairan Selatan Jawa Timur Riska Candra Arisandi a, M. Ishak Jumarang a*, Apriansyah b a Program Studi Fisika, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura, b Program Studi Ilmu

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 1.1. Kondisi Umum Perairan Selatan Jawa Perairan Selatan Jawa merupakan perairan Indonesia yang terletak di selatan Pulau Jawa yang berhubungan secara langsung dengan Samudera Hindia.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Distribusi Spasial Arus Eddy di Perairan Selatan Jawa-Bali Berdasarkan hasil visualisasi data arus geostropik (Lampiran 3) dan tinggi paras laut (Lampiran 4) dalam skala

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kondisi Perairan Samudera Hindia Bagian Timur

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Kondisi Perairan Samudera Hindia Bagian Timur BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Perairan Samudera Hindia Bagian Timur Perairan Samudera Hindia bagian Timur yang didalamnya termasuk perairan Barat Sumatera dan perairan Selatan Jawa merupakan perairan

Lebih terperinci

POLA DISTRIBUSI SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN TELUK AMBON DALAM

POLA DISTRIBUSI SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN TELUK AMBON DALAM POLA DISTRIBSI SH DAN SALINITAS DI PERAIRAN TELK AMBON DALAM PENDAHLAN Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan

Lebih terperinci

2. KONDISI OSEANOGRAFI LAUT CINA SELATAN PERAIRAN INDONESIA

2. KONDISI OSEANOGRAFI LAUT CINA SELATAN PERAIRAN INDONESIA 2. KONDISI OSEANOGRAFI LAUT CINA SELATAN PERAIRAN INDONESIA Pendahuluan LCSI terbentang dari ekuator hingga ujung Peninsula di Indo-Cina. Berdasarkan batimetri, kedalaman maksimum perairannya 200 m dan

Lebih terperinci

Physics Communication

Physics Communication Phys. Comm. 1 (1) (2017) Physics Communication http://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/pc Analisis kondisi suhu dan salinitas perairan barat Sumatera menggunakan data Argo Float Lita Juniarti 1, Muh.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Perubahan iklim global sekitar 3 4 juta tahun yang lalu telah mempengaruhi evolusi hominidis melalui pengeringan di Afrika dan mungkin pertanda zaman es pleistosin kira-kira

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pola Sebaran Suhu Permukaan Laut dan Salinitas pada Indomix Cruise

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pola Sebaran Suhu Permukaan Laut dan Salinitas pada Indomix Cruise 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pola Sebaran Suhu Permukaan Laut dan Salinitas pada Indomix Cruise Peta sebaran SPL dan salinitas berdasarkan cruise track Indomix selengkapnya disajikan pada Gambar 6. 3A 2A

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perairan Samudera Hindia mempunyai sifat yang unik dan kompleks karena dinamika perairan ini sangat dipengaruhi oleh sistem angin musim dan sistem angin pasat yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki wilayah lautan yang lebih luas dibandingkan luasan daratannya. Luas wilayah laut mencapai 2/3 dari luas wilayah daratan. Laut merupakan medium yang

Lebih terperinci

VARIABILITAS SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANGIN MUSON DAN IODM (INDIAN OCEAN DIPOLE MODE)

VARIABILITAS SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANGIN MUSON DAN IODM (INDIAN OCEAN DIPOLE MODE) VARIABILITAS SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANGIN MUSON DAN IODM (INDIAN OCEAN DIPOLE MODE) Oleh : HOLILUDIN C64104069 SKRIPSI PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN

Lebih terperinci

KONDISI OSEANOGRAFIS SELAT MAKASAR By: muhammad yusuf awaluddin

KONDISI OSEANOGRAFIS SELAT MAKASAR By: muhammad yusuf awaluddin KONDISI OSEANOGRAFIS SELAT MAKASAR By: muhammad yusuf awaluddin Umum Perairan Indonesia memiliki keadaan alam yang unik, yaitu topografinya yang beragam. Karena merupakan penghubung dua system samudera

Lebih terperinci

KONDISI OSEANOGRAFI DI SELAT SUNDA DAN SELATAN JAWA BARAT PADA MONSUN BARAT 2012

KONDISI OSEANOGRAFI DI SELAT SUNDA DAN SELATAN JAWA BARAT PADA MONSUN BARAT 2012 KONDISI OSEANOGRAFI DI SELAT SUNDA DAN SELATAN JAWA BARAT PADA MONSUN BARAT 2012 Trie Lany Putri Yuliananingrum dan Mutiara R. Putri Program Studi Oseanografi, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Total Data Sebaran Klorofil-a citra SeaWiFS Total data sebaran klorofil-a pada lokasi pertama, kedua, dan ketiga hasil perekaman citra SeaWiFS selama 46 minggu. Jumlah data

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Distribusi SPL Dari pengamatan pola sebaran suhu permukaan laut di sepanjang perairan Selat Sunda yang di analisis dari data penginderaan jauh satelit modis terlihat ada pembagian

Lebih terperinci

ANALISIS HUJAN BULAN PEBRUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN APRIL, MEI DAN JUNI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA

ANALISIS HUJAN BULAN PEBRUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN APRIL, MEI DAN JUNI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA ANALISIS HUJAN BULAN PEBRUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN APRIL, MEI DAN JUNI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG

Lebih terperinci

ANALISIS HUJAN BULAN MEI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN JULI, AGUSTUS DAN SEPTEMBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA

ANALISIS HUJAN BULAN MEI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN JULI, AGUSTUS DAN SEPTEMBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA ANALISIS HUJAN BULAN MEI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN JULI, AGUSTUS DAN SEPTEMBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG

Lebih terperinci

VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN PULAU BIAWAK DENGAN PENGUKURAN INSITU DAN CITRA AQUA MODIS

VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN PULAU BIAWAK DENGAN PENGUKURAN INSITU DAN CITRA AQUA MODIS VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN PULAU BIAWAK DENGAN PENGUKURAN INSITU DAN CITRA AQUA MODIS Irfan A. Silalahi 1, Ratna Suwendiyanti 2 dan Noir P. Poerba 3 1 Komunitas Instrumentasi dan Survey

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pelapisan Massa Air di Perairan Raja Ampat Pelapisan massa air dapat dilihat melalui sebaran vertikal dari suhu, salinitas dan densitas di laut. Gambar 4 merupakan sebaran menegak

Lebih terperinci

Praktikum M.K. Oseanografi Hari / Tanggal : Dosen : 1. Nilai SUHU DAN SALINITAS. Oleh. Nama : NIM :

Praktikum M.K. Oseanografi Hari / Tanggal : Dosen : 1. Nilai SUHU DAN SALINITAS. Oleh. Nama : NIM : Praktikum M.K. Oseanografi Hari / Tanggal : Dosen : 1. 2. 3. Nilai SUHU DAN SALINITAS Nama : NIM : Oleh JURUSAN PERIKANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA 2015 MODUL 3. SUHU DAN SALINITAS

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS CAHAYA DENGAN KEKERUHAN PADA PERAIRAN TELUK AMBON DALAM

HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS CAHAYA DENGAN KEKERUHAN PADA PERAIRAN TELUK AMBON DALAM HBNGAN ANTARA INTENSITAS CAHAYA DENGAN KEKERHAN PADA PERAIRAN TELK AMBON DALAM PENDAHLAN Perkembangan pembangunan yang semakin pesat mengakibatkan kondisi Teluk Ambon, khususnya Teluk Ambon Dalam (TAD)

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR KUPANG, MARET 2016 PH. KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI LASIANA KUPANG CAROLINA D. ROMMER, S.IP NIP

KATA PENGANTAR KUPANG, MARET 2016 PH. KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI LASIANA KUPANG CAROLINA D. ROMMER, S.IP NIP KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun menerbitkan dua jenis prakiraan musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap bulan Maret dan Prakiraan Musim Hujan

Lebih terperinci

5 PEMBAHASAN 5.1 Sebaran SPL Secara Temporal dan Spasial

5 PEMBAHASAN 5.1 Sebaran SPL Secara Temporal dan Spasial 5 PEMBAHASAN 5.1 Sebaran SPL Secara Temporal dan Spasial Hasil pengamatan terhadap citra SPL diperoleh bahwa secara umum SPL yang terendah terjadi pada bulan September 2007 dan tertinggi pada bulan Mei

Lebih terperinci

STUDI VARIASI TEMPERATUR DAN SALINITAS DI PERAIRAN DIGUL IRIAN JAYA, OKTOBER 2002

STUDI VARIASI TEMPERATUR DAN SALINITAS DI PERAIRAN DIGUL IRIAN JAYA, OKTOBER 2002 1 STUDI VARIASI TEMPERATUR DAN SALINITAS DI PERAIRAN DIGUL IRIAN JAYA, KTBER 2002 Ankiq Taofiqurohman S Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Jatinangor, Bandung 40600 ABSTRACT Ankiq

Lebih terperinci

ANALISIS HUJAN BULAN JANUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN MARET, APRIL, DAN MEI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA

ANALISIS HUJAN BULAN JANUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN MARET, APRIL, DAN MEI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA ANALISIS HUJAN BULAN JANUARI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN MARET, APRIL, DAN MEI 2011 PROVINSI DKI JAKARTA Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG

Lebih terperinci

PERTEMUAN KE-6 M.K. DAERAH PENANGKAPAN IKAN HUBUNGAN SUHU DAN SALINITAS PERAIRAN TERHADAP DPI ASEP HAMZAH

PERTEMUAN KE-6 M.K. DAERAH PENANGKAPAN IKAN HUBUNGAN SUHU DAN SALINITAS PERAIRAN TERHADAP DPI ASEP HAMZAH PERTEMUAN KE-6 M.K. DAERAH PENANGKAPAN IKAN HUBUNGAN SUHU DAN SALINITAS PERAIRAN TERHADAP DPI ASEP HAMZAH Hidup ikan Dipengaruhi lingkungan suhu, salinitas, oksigen terlarut, klorofil, zat hara (nutrien)

Lebih terperinci

STUDI DAN HUBUNGAN ARUS TERHADAP SEBARAN DAN FLUKTUASI NUTRIEN (N DAN P) DI PERAIRAN KALIANGET KABUPATEN SUMENEP

STUDI DAN HUBUNGAN ARUS TERHADAP SEBARAN DAN FLUKTUASI NUTRIEN (N DAN P) DI PERAIRAN KALIANGET KABUPATEN SUMENEP STUDI DAN HUBUNGAN ARUS TERHADAP SEBARAN DAN FLUKTUASI NUTRIEN (N DAN P) DI PERAIRAN KALIANGET KABUPATEN SUMENEP Wiwid Prahara Agustin 1, Agus Romadhon 2, Aries Dwi Siswanto 2 1 Mahasiswa Jurusan Ilmu

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 20 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Parameter Oseanografi Pesisir Kalimantan Barat Parameter oseanografi sangat berperan penting dalam kajian distribusi kontaminan yang masuk ke laut karena komponen fisik

Lebih terperinci

Studi Variabilitas Lapisan Atas Perairan Samudera Hindia Berbasis Model Laut

Studi Variabilitas Lapisan Atas Perairan Samudera Hindia Berbasis Model Laut Studi Variabilitas Lapisan Atas Perairan Samudera Hindia Berbasis Model Laut Oleh : Martono, Halimurrahman, Rudy Komarudin, Syarief, Slamet Priyanto dan Dita Nugraha Interaksi laut-atmosfer mempunyai peranan

Lebih terperinci

Horizontal. Kedalaman. Laut. Lintang. Permukaan. Suhu. Temperatur. Vertikal

Horizontal. Kedalaman. Laut. Lintang. Permukaan. Suhu. Temperatur. Vertikal Temperatur Air Laut Dalam oseanografi dikenal dua istilah untuk menentukan temperatur air laut yaitu temperatur insitu (selanjutnya disebut sebagai temperatur saja) dan temperatur potensial. Temperatur

Lebih terperinci

JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, Halaman Online di :

JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, Halaman Online di : JURNAL OSEANOGRAFI. Volume 4, Nomor 4, Tahun 2015, Halaman 661-669 Online di : http://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/jose VARIABILITAS SUHU PERMUKAAN LAUT DAN KLOROFIL-A KAITANNYA DENGAN EL NINO SOUTHERN

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

4 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4 GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kabupaten Pati 4.1.1 Kondisi geografi Kabupaten Pati dengan pusat pemerintahannya Kota Pati secara administratif berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten

Lebih terperinci

EVALUASI CUACA BULAN JUNI 2016 DI STASIUN METEOROLOGI PERAK 1 SURABAYA

EVALUASI CUACA BULAN JUNI 2016 DI STASIUN METEOROLOGI PERAK 1 SURABAYA EVALUASI CUACA BULAN JUNI 2016 DI STASIUN METEOROLOGI PERAK 1 SURABAYA OLEH : ANDRIE WIJAYA, A.Md FENOMENA GLOBAL 1. ENSO (El Nino Southern Oscillation) Secara Ilmiah ENSO atau El Nino dapat di jelaskan

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA. Suhu permukaan laut Indonesia secara umum berkisar antara O C

2. TINJAUAN PUSTAKA. Suhu permukaan laut Indonesia secara umum berkisar antara O C 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Kondisi Umum Perairan Laut Banda 2.1.1 Kondisi Fisik Suhu permukaan laut Indonesia secara umum berkisar antara 26 29 O C (Syah, 2009). Sifat oseanografis perairan Indonesia bagian

Lebih terperinci

berada di sisi pantai dan massa air hangat berada di lepas pantai. Dari citra yang diperoleh terlihat bahwa rrpweliit7g dapat dengan jelas terlihat

berada di sisi pantai dan massa air hangat berada di lepas pantai. Dari citra yang diperoleh terlihat bahwa rrpweliit7g dapat dengan jelas terlihat Mhd. Yudya Bakti. Ijincmrikn Peroirnn cfi SElnfnn Jaws Tinrrir - Bnli Pach h41tsinr Tinrur 1990, di bawah bimbingan Dr. Ir. Molia Purba, MSc. Sebagai Ketua komisi Pembimbing, Dr. Ir. Vincel~tius P. Siregar

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Daerah Kajian Daerah yang akan dikaji dalam penelitian adalah perairan Jawa bagian selatan yang ditetapkan berada di antara 6,5º 12º LS dan 102º 114,5º BT, seperti dapat

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA. Suhu menyatakan banyaknya bahang (heat) yang terkandung dalam suatu

2. TINJAUAN PUSTAKA. Suhu menyatakan banyaknya bahang (heat) yang terkandung dalam suatu 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Suhu Permukaan Laut (SPL) Suhu menyatakan banyaknya bahang (heat) yang terkandung dalam suatu benda. Secara alamiah sumber utama bahang dalam air laut adalah matahari. Daerah yang

Lebih terperinci

PERTEMUAN KE-5 M.K. DAERAH PENANGKAPAN IKAN SIRKULASI MASSA AIR (Bagian 2) ASEP HAMZAH

PERTEMUAN KE-5 M.K. DAERAH PENANGKAPAN IKAN SIRKULASI MASSA AIR (Bagian 2) ASEP HAMZAH PERTEMUAN KE-5 M.K. DAERAH PENANGKAPAN IKAN SIRKULASI MASSA AIR (Bagian 2) ASEP HAMZAH What is a thermocline? A thermocline is the transition layer between warmer mixed water at the ocean's surface and

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Distribusi SPL secara Spasial dan Temporal Pola distribusi SPL sangat erat kaitannya dengan pola angin yang bertiup pada suatu daerah. Wilayah Indonesia sendiri dipengaruhi

Lebih terperinci

Tinjauan Pustaka. II.1 Variabilitas ARLINDO di Selat Makassar

Tinjauan Pustaka. II.1 Variabilitas ARLINDO di Selat Makassar BAB II Tinjauan Pustaka II.1 Variabilitas ARLINDO di Selat Makassar Matsumoto dan Yamagata (1996) dalam penelitiannya berdasarkan Ocean Circulation General Model (OGCM) menunjukkan adanya variabilitas

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN.1 Data Siklon Tropis Data kejadian siklon tropis pada penelitian ini termasuk depresi tropis, badai tropis dan siklon tropis. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN 22 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Suhu Permukaan Laut (SPL) di Perairan Indramayu Citra pada tanggal 26 Juni 2005 yang ditampilkan pada Gambar 8 memperlihatkan bahwa distribusi SPL berkisar antara 23,10-29

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Arus Tiap Lapisan Kedalaman di Selat Makassar Fluktuasi Arus dalam Ranah Waktu di Lokasi Mooring Stasiun 1

HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Arus Tiap Lapisan Kedalaman di Selat Makassar Fluktuasi Arus dalam Ranah Waktu di Lokasi Mooring Stasiun 1 HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Arus Tiap Lapisan Kedalaman di Selat Makassar Fluktuasi Arus dalam Ranah Waktu di Lokasi Mooring Stasiun 1 Pada bulan Desember 1996 Februari 1997 yang merupakan puncak musim barat

Lebih terperinci

ANALISIS HUJAN BULAN JUNI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN AGUSTUS, SEPTEMBER DAN OKTOBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA

ANALISIS HUJAN BULAN JUNI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN AGUSTUS, SEPTEMBER DAN OKTOBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA ANALISIS HUJAN BULAN JUNI 2011 DAN PRAKIRAAN HUJAN BULAN AGUSTUS, SEPTEMBER DAN OKTOBER 2011 PROVINSI DKI JAKARTA 1. TINJAUAN UMUM 1.1. Curah Hujan Curah hujan merupakan ketinggian air hujan yang jatuh

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA. utara. Kawasan pesisir sepanjang perairan Pemaron merupakan kawasan pantai

2. TINJAUAN PUSTAKA. utara. Kawasan pesisir sepanjang perairan Pemaron merupakan kawasan pantai 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi Umum Perairan Pantai Pemaron merupakan salah satu daerah yang terletak di pesisir Bali utara. Kawasan pesisir sepanjang perairan Pemaron merupakan kawasan pantai wisata

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Distribusi Klorofil-a secara Temporal dan Spasial. Secara keseluruhan konsentrasi klorofil-a cenderung menurun dan

4. HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Distribusi Klorofil-a secara Temporal dan Spasial. Secara keseluruhan konsentrasi klorofil-a cenderung menurun dan 28 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Distribusi Klorofil-a secara Temporal dan Spasial Secara keseluruhan konsentrasi klorofil-a cenderung menurun dan bervariasi dari tahun 2006 hingga tahun 2010. Nilai rata-rata

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil dan Verifikasi Hasil simulasi model meliputi sirkulasi arus permukaan rata-rata bulanan dengan periode waktu dari tahun 1996, 1997, dan 1998. Sebelum dianalisis lebih

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Negara, September 2015 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI NEGARA BALI. NUGA PUTRANTIJO, SP, M.Si. NIP

KATA PENGANTAR. Negara, September 2015 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI NEGARA BALI. NUGA PUTRANTIJO, SP, M.Si. NIP 1 KATA PENGANTAR Publikasi Prakiraan Awal Musim Hujan 2015/2016 di Propinsi Bali merupakan salah satu bentuk pelayanan jasa klimatologi yang dihasilkan oleh Stasiun Klimatologi Negara Bali. Prakiraan Awal

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perairan Indonesia merupakan area yang mendapatkan pengaruh Angin Muson dari tenggara pada saat musim dingin di wilayah Australia, dan dari barat laut pada saat musim

Lebih terperinci

DAERAH PERAIRAN YANG SUBUR. Riza Rahman Hakim, S.Pi

DAERAH PERAIRAN YANG SUBUR. Riza Rahman Hakim, S.Pi DAERAH PERAIRAN YANG SUBUR Riza Rahman Hakim, S.Pi Ciri-ciri daerah perairan yang subur 1. Daerah konvergensi - Daerah perairan tempat pertemuan dua masa air berupa pertemuan dua arus yang kuat. - Perbedaan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR TANGERANG SELATAN, MARET 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG. Ir. BUDI ROESPANDI NIP

KATA PENGANTAR TANGERANG SELATAN, MARET 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG. Ir. BUDI ROESPANDI NIP PROPINSI BANTEN DAN DKI JAKARTA KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Tuhan YME atas berkat dan rahmat Nya kami dapat menyusun laporan dan laporan Prakiraan Musim Kemarau 2016 di wilayah Propinsi Banten

Lebih terperinci

PENGANTAR. Bogor, Maret 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI DARMAGA BOGOR

PENGANTAR. Bogor, Maret 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI DARMAGA BOGOR PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofísika () setiap tahun menerbitkan dua buku Prakiraan Musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap awal Maret dan Prakiraan Musim Hujan setiap awal

Lebih terperinci

PRISMA FISIKA, Vol. II, No. 1 (2014), Hal ISSN :

PRISMA FISIKA, Vol. II, No. 1 (2014), Hal ISSN : PRISMA FISIKA, Vol. II, No. (24), Hal. - 5 ISSN : 2337-824 Kajian Elevasi Muka Air Laut Di Selat Karimata Pada Tahun Kejadian El Nino Dan Dipole Mode Positif Pracellya Antomy ), Muh. Ishak Jumarang ),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perencanaan dan pengelolaan sumber daya air (Haile et al., 2009).

BAB I PENDAHULUAN. perencanaan dan pengelolaan sumber daya air (Haile et al., 2009). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hujan merupakan salah satu sumber ketersedian air untuk kehidupan di permukaan Bumi (Shoji dan Kitaura, 2006) dan dapat dijadikan sebagai dasar dalam penilaian, perencanaan

Lebih terperinci

5 HASIL PENELITIAN 5.1 Jumlah Produksi YellowfinTuna

5 HASIL PENELITIAN 5.1 Jumlah Produksi YellowfinTuna 24 5 HASIL PENELITIAN 5.1 Jumlah Produksi YellowfinTuna Pendataan produksi tuna di PPN Palabuhanratu pada tahun 1993-2001 mengalami perbedaan dengan data produksi tuna pada tahun 2002-2011. Perbedaan ini

Lebih terperinci

PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2011/2012 PADA ZONA MUSIM (ZOM) (DKI JAKARTA)

PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2011/2012 PADA ZONA MUSIM (ZOM) (DKI JAKARTA) PRAKIRAAN MUSIM HUJAN 2011/2012 PADA ZONA MUSIM (ZOM) (DKI JAKARTA) Sumber : BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA I. PENDAHULUAN Wilayah Indonesia berada pada posisi strategis, terletak di daerah

Lebih terperinci

4. HUBUNGAN ANTARA DISTRIBUSI KEPADATAN IKAN DAN PARAMETER OSEANOGRAFI

4. HUBUNGAN ANTARA DISTRIBUSI KEPADATAN IKAN DAN PARAMETER OSEANOGRAFI 4. HUBUNGAN ANTARA DISTRIBUSI KEPADATAN IKAN DAN PARAMETER OSEANOGRAFI Pendahuluan Ikan dipengaruhi oleh suhu, salinitas, kecepatan arus, oksigen terlarut dan masih banyak faktor lainnya (Brond 1979).

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Sebaran Nutrien dan Oksigen Terlarut (DO) di Teluk Jakarta

4. HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Sebaran Nutrien dan Oksigen Terlarut (DO) di Teluk Jakarta 4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pola Sebaran Nutrien dan Oksigen Terlarut (DO) di Teluk Jakarta Hasil pengamatan lapangan nitrat, amonium, fosfat, dan DO bulan Maret 2010 masing-masing disajikan pada Gambar

Lebih terperinci

STASIUN METEOROLOGI KLAS III NABIRE

STASIUN METEOROLOGI KLAS III NABIRE STASIUN METEOROLOGI KLAS III NABIRE KARAKTERISTIK RATA-RATA SUHU MAKSIMUM DAN SUHU MINIMUM STASIUN METEOROLOGI NABIRE TAHUN 2006 2015 OLEH : 1. EUSEBIO ANDRONIKOS SAMPE, S.Tr 2. RIFKI ADIGUNA SUTOWO, S.Tr

Lebih terperinci

I. INFORMASI METEOROLOGI

I. INFORMASI METEOROLOGI I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan

Lebih terperinci

Sebaran Arus Permukaan Laut Pada Periode Terjadinya Fenomena Penjalaran Gelombang Kelvin Di Perairan Bengkulu

Sebaran Arus Permukaan Laut Pada Periode Terjadinya Fenomena Penjalaran Gelombang Kelvin Di Perairan Bengkulu Jurnal Gradien Vol. 11 No. 2 Juli 2015: 1128-1132 Sebaran Arus Permukaan Laut Pada Periode Terjadinya Fenomena Penjalaran Gelombang Kelvin Di Perairan Bengkulu Widya Novia Lestari, Lizalidiawati, Suwarsono,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Produktivitas Primer Fitoplankton Berdasarkan hasil penelitian di Situ Cileunca didapatkan nilai rata-rata produktivitas primer (PP) fitoplankton pada Tabel 6. Nilai PP

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Sumber oksigen terlarut dalam perairan

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Sumber oksigen terlarut dalam perairan 4 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Oksigen Terlarut Oksigen terlarut dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme, atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR REDAKSI. Pengarah : Wandayantolis, S. SI, M. Si. Penanggung Jawab : Subandriyo, SP. Pemimpin Redaksi : Ismaharto Adi, S.

KATA PENGANTAR REDAKSI. Pengarah : Wandayantolis, S. SI, M. Si. Penanggung Jawab : Subandriyo, SP. Pemimpin Redaksi : Ismaharto Adi, S. i REDAKSI KATA PENGANTAR Pengarah : Wandayantolis, S. SI, M. Si Penanggung Jawab : Subandriyo, SP Pemimpin Redaksi : Ismaharto Adi, S. Kom Editor : Idrus, SE Staf Redaksi : 1. Fanni Aditya, S. Si 2. M.

Lebih terperinci

Identifikasi Massa Air Di Perairan Timur Laut Samudera Hindia

Identifikasi Massa Air Di Perairan Timur Laut Samudera Hindia Maspari Journal, 2013, 5 (2), 119-133 http://masparijournal.blogspot.com Identifikasi Massa Air Di Perairan Timur Laut Samudera Hindia M. Albab Al Ayubi 1, Heron Surbakti 1,dan La Ode Nurman Mbay 2 1 Program

Lebih terperinci

Rochmady Staf Pengajar STP - Wuna, Raha, ABSTRAK

Rochmady Staf Pengajar STP - Wuna, Raha,   ABSTRAK ANALISIS PARAMETER OSEANOGRAFI MELALUI PENDEKATAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN BERBASIS WEB (Sebaran Suhu Permukaan Laut, Klorofil-a dan Tinggi Permukaan Laut) Rochmady Staf Pengajar STP - Wuna, Raha, e-mail

Lebih terperinci

BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG

BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI PONDOK BETUNG TANGERANG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan ( 12070 ) Telp. (021) 7353018, Fax: (021) 7355262 E-mail: staklim.pondok.betung@gmail.com,

Lebih terperinci

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 33 4 KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Kondisi Umum Kepulauan Seribu Wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu terletak di sebelah Utara Teluk Jakarta dan Laut Jawa Jakarta. Pulau Paling utara,

Lebih terperinci

b) Bentuk Muara Sungai Cimandiri Tahun 2009

b) Bentuk Muara Sungai Cimandiri Tahun 2009 32 6 PEMBAHASAN Penangkapan elver sidat di daerah muara sungai Cimandiri dilakukan pada malam hari. Hal ini sesuai dengan sifat ikan sidat yang aktivitasnya meningkat pada malam hari (nokturnal). Penangkapan

Lebih terperinci

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG B M K G BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan (12070) Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: staklim.pondok.betung@gmail.com,

Lebih terperinci

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 6. DINAMIKA HIDROSFERLATIHAN SOAL 6.4

SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 6. DINAMIKA HIDROSFERLATIHAN SOAL 6.4 SMA/MA IPS kelas 10 - GEOGRAFI IPS BAB 6. DINAMIKA HIDROSFERLATIHAN SOAL 6.4 1. Berdasarkan letaknya laut-laut yang berada di Indonesia merupakan contoh laut jenis... transgresi pedalaman pertengahan regresi

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN Bujur Timur ( BT) Gambar 5. Posisi lokasi pengamatan

METODE PENELITIAN Bujur Timur ( BT) Gambar 5. Posisi lokasi pengamatan METODE PENELITIAN Lokasi Penelitan Penelitian ini dilakukan pada perairan barat Sumatera dan selatan Jawa - Sumbawa yang merupakan bagian dari perairan timur laut Samudera Hindia. Batas perairan yang diamati

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Produktivitas Primer Cahaya

TINJAUAN PUSTAKA Produktivitas Primer Cahaya TINJAUAN PUSTAKA Produktivitas Primer Di laut, khususnya laut terbuka, fitoplankton merupakan organisme autotrof utama yang menentukan produktivitas primer perairan. Produktivitas primer adalah jumlah

Lebih terperinci

PENGANTAR. Bogor, September 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI DARMAGA BOGOR. DEDI SUCAHYONO S, S.Si, M.Si NIP

PENGANTAR. Bogor, September 2016 KEPALA STASIUN KLIMATOLOGI DARMAGA BOGOR. DEDI SUCAHYONO S, S.Si, M.Si NIP Prakiraan Musim Hujan 2016/2017 Provinsi Jawa Barat PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofísika () setiap tahun menerbitkan dua buku Prakiraan Musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. merupakan hasil pemutakhiran rata-rata sebelumnya (periode ).

KATA PENGANTAR. merupakan hasil pemutakhiran rata-rata sebelumnya (periode ). KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun menerbitkan dua jenis prakiraan musim yaitu Prakiraan Musim Kemarau diterbitkan setiap bulan Maret dan Prakiraan Musim Hujan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR PANGKALPINANG, APRIL 2016 KEPALA STASIUN METEOROLOGI KLAS I PANGKALPINANG MOHAMMAD NURHUDA, S.T. NIP

KATA PENGANTAR PANGKALPINANG, APRIL 2016 KEPALA STASIUN METEOROLOGI KLAS I PANGKALPINANG MOHAMMAD NURHUDA, S.T. NIP Buletin Prakiraan Musim Kemarau 2016 i KATA PENGANTAR Penyajian prakiraan musim kemarau 2016 di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung diterbitkan untuk memberikan informasi kepada masyarakat disamping publikasi

Lebih terperinci

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN METEOROLOGI KLAS III MALI

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN METEOROLOGI KLAS III MALI BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN METEOROLOGI KLAS III MALI BMKG Alamat : Bandar Udara Mali Kalabahi Alor (85819) Telp. Fax. : (0386) 2222820 : (0386) 2222820 Email : stamet.mali@gmail.com

Lebih terperinci

I. INFORMASI METEOROLOGI

I. INFORMASI METEOROLOGI I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan

Lebih terperinci

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG

BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG B M K G BADAN METEOROLOGI KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA STASIUN KLIMATOLOGI KLAS II PONDOK BETUNG Jln. Raya Kodam Bintaro No. 82 Jakarta Selatan (12070) Telp. (021) 7353018 / Fax: 7355262 E-mail: staklim.pondok.betung@gmail.com,

Lebih terperinci

I. INFORMASI METEOROLOGI

I. INFORMASI METEOROLOGI I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Analisis Perubahan Rasio Hutan Sebelum membahas hasil simulasi model REMO, dilakukan analisis perubahan rasio hutan pada masing-masing simulasi yang dibuat. Dalam model

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA. sebaran dan kelimpahan sumberdaya perikanan di Selat Sunda ( Hendiarti et

2. TINJAUAN PUSTAKA. sebaran dan kelimpahan sumberdaya perikanan di Selat Sunda ( Hendiarti et 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kondisi geografis lokasi penelitian Keadaan topografi perairan Selat Sunda secara umum merupakan perairan dangkal di bagian timur laut pada mulut selat, dan sangat dalam di mulut

Lebih terperinci

Prakiraan Musim Hujan 2015/2016 Zona Musim di Nusa Tenggara Timur

Prakiraan Musim Hujan 2015/2016 Zona Musim di Nusa Tenggara Timur http://lasiana.ntt.bmkg.go.id/publikasi/prakiraanmusim-ntt/ Prakiraan Musim Hujan 2015/2016 Zona Musim di Nusa Tenggara Timur KATA PENGANTAR Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) setiap tahun

Lebih terperinci

Musim Hujan. Musim Kemarau

Musim Hujan. Musim Kemarau mm IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Analisis Data Curah hujan Data curah hujan yang digunakan pada penelitian ini adalah wilayah Lampung, Pontianak, Banjarbaru dan Indramayu. Selanjutnya pada masing-masing wilayah

Lebih terperinci

PENGARUH PERUBAHAN DAN VARIABILITAS IKLIM TERHADAP DINAMIKA FISHING GROUND DI PESISIR SELATAN PULAU JAWA

PENGARUH PERUBAHAN DAN VARIABILITAS IKLIM TERHADAP DINAMIKA FISHING GROUND DI PESISIR SELATAN PULAU JAWA PENGARUH PERUBAHAN DAN VARIABILITAS IKLIM TERHADAP DINAMIKA FISHING GROUND DI PESISIR SELATAN PULAU JAWA OLEH : Dr. Kunarso FOKUSED GROUP DISCUSSION CILACAP JUNI 2016 PERUBAHAN IKLIM GLOBAL Dalam Purwanto

Lebih terperinci

Suhu rata rata permukaan laut

Suhu rata rata permukaan laut Oseanografi Fisis 2 Sifat Fisis & Kimiawi Air Laut Suhu Laut Suhu rata rata permukaan laut Distribusi vertikal Suhu Mixed layer Deep layer Distribusi vertikal Suhu Mixed Layer di Equator lebih tipis dibandingkan

Lebih terperinci

KAJIAN SPASIAL FISIKA KIMIA PERAIRAN ULUJAMI KAB. PEMALANG

KAJIAN SPASIAL FISIKA KIMIA PERAIRAN ULUJAMI KAB. PEMALANG KAJIAN SPASIAL FISIKA KIMIA PERAIRAN ULUJAMI KAB. PEMALANG F1 05 1), Sigit Febrianto, Nurul Latifah 1) Muhammad Zainuri 2), Jusup Suprijanto 3) 1) Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK UNDIP

Lebih terperinci

I. INFORMASI METEOROLOGI

I. INFORMASI METEOROLOGI I. INFORMASI METEOROLOGI I.1 ANALISIS DINAMIKA ATMOSFER I.1.1 MONITORING DAN PRAKIRAAN FENOMENA GLOBAL a. ENSO ( La Nina dan El Nino ) Berdasarkan pantauan suhu muka laut di Samudra Pasifik selama bulan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Komposisi dan Kelimpahan Plankton Hasil identifikasi komunitas plankton sampai tingkat genus di Pulau Biawak terdiri dari 18 genus plankton yang terbagi kedalam 14 genera

Lebih terperinci

VARIABILITAS SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANGIN MUSON DAN IODM (INDIAN OCEAN DIPOLE MODE)

VARIABILITAS SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANGIN MUSON DAN IODM (INDIAN OCEAN DIPOLE MODE) VARIABILITAS SUHU DAN SALINITAS DI PERAIRAN BARAT SUMATERA DAN HUBUNGANNYA DENGAN ANGIN MUSON DAN IODM (INDIAN OCEAN DIPOLE MODE) Oleh : HOLILUDIN C64104069 SKRIPSI PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI KELAUTAN

Lebih terperinci