Analisis Peluruhan Flourine-18 menggunakan Sistem Pencacah Kamar Pengion Capintec CRC-7BT S/N 71742

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Analisis Peluruhan Flourine-18 menggunakan Sistem Pencacah Kamar Pengion Capintec CRC-7BT S/N 71742"

Transkripsi

1 Prosiding Perteman Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY 63 Analisis Pelrhan Florine-18 menggnakan Sistem Pencacah Kamar Pengion Capintec CRC-7BT S/N 717 Wijono dan Pjadi Psat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi - Badan Tenaga Nklir Nasional Jl. Lebak Bls Raya No. 9. Jakarta 10 Abstrak Telah dilakkan analisis pelrhan Florine 18 (F-18) kode A1801/10 menggnakan sistem pencacah kamar pengion Capintec CRC-7BT S/n.717. Impritas F-18 pada proses analisis tersebt telah dikr menggnakan perangkat spektrometer gamma. Tjan analisis ini ntk memperoleh nilai mr paro dan karakteristik pelrhan dari F-18 secara eksperimen yang selanjtnya dignakan sebagai data acan dalam aplikasi penyediaan smber standar F-18. Ummnya F-18 dignakan ntk keperlan diagnostik/terapi pada sat rmah sakit. Proses analisis diawali dengan pencacahan yang terdiri dari da tahap. Tahap pertama dalam orde satan mci dan ke da dilakkan setelah proses pelrhan pada orde µci. Hasil mennjkkan mr paro dan ketidakpastiannya masing-masing (1,8183 ± 5,93%) dan (1,888 ± 5,79%) jam. Persamaan garis grafik eksponensial pelrhan F-18 tahap pertama dan ke da masing-masing adalah y = 11,8 x e -0,37x (R = 1,000) dan y = 18,18 x e -0,38x (R = 0,999). Hasil ini ckp stabil karena perbedaan mr paro dan ketidakpastian dari ke da tahap tidak terlal jah. Dengan diketahi mr paro, ketidakpastian yang terkoreksi dan karakteristik pelrhan ini diharapkan dapat mendongkrak peningkatan jaminan kalitas pengkran radiasi khssnya F-18, sehingga pihak konsmen (pasien) lebih mendapatkan perlindngan keselamatan dari radiasi sesai peratran ketenagankliran yang berlak. Kata knci: mr paro, pelrhan dan ketidakpastian I. PENDAHULUAN Dewasa ini perkembangan aplikasi berbagai jenis radioisotop dalam kedokteran nklir telah berkembang dengan pesat. Salah sat contoh adalah penggnaan F-18 ntk keperlan diagnostik mapn terapi pada sat rmah sakit. Di dalam proses penggnaannya tak lepas dari faktor keakrasian dan kepresisian ntk menentkan kalitas hasil pengkran radioaktivitas menggnakan alat kr radiasi. Tingkat kalitas hasil pengkran ini jga dapat dipengarhi oleh hal lain misalnya nilai ketidakpastian mr paro secara eksperimen dan karakteristik pelrhannya, yang selanjtnya dignakan sebagai dasar penentan wakt penyinaran yang tepat kepada konsmen (pasien). Umr paro F-18 sebenarnya memiliki nilai yang tidak selal sama dibandingkan dengan mr paro secara teori. Perbedaan ini dipengarhi oleh beberapa hal yang antara lain faktor kemrnian (impritas) radiokimia mapn kemrnian radionklidanya. Di dalam permsan program software sat alat kr radiasi (dose calibrator) biasanya menggnakan maskan (inpt) mr paro secara teori. Apabila perbedaan mr paro yang sebenarnya terhadap teori ini terlal besar maka akan menyebabkan kesalahan yang besar pla pada penentan wakt penyinaran yang tepat ke konsmen. Dalam kondisi ini bisa membahayakan keselamatan pasien. Oleh karena it diperlkan hasil analisis yang dapat menginformasikan nilai ketidakpastian wakt paro dan karakteristik pelrhan F-18. Pada kesempatan ini akan dilakkan analisis pelrhan F- 18 kode A1801/10 menggnakan sistem pencacah kamar pengion Capintec CRC-7BT nomor seri 717 yang bertjan ntk memperoleh nilai mr paro dan karakteristik pelrhan dari F-18 secara eksperimen. Dengan diketahi mr paro, ketidakpastian yang terkoreksi dan karakteristik pelrhan ini diharapkan dapat mendongkrak peningkatan jaminan kalitas pengkran radiasi khssnya F-18, sehingga pihak konsmen (pasien) lebih mendapatkan perlindngan keselamatan dari radiasi sesai peratran ketenagankliran yang berlak [1]. II. TINJAUAN PUSTAKA Pada mmnya akselerator siklotron merpakan mesin penghasil radiofarmaka berpa Florine-18 (F-18) yang dignakan ntk mernt fngsi organ melali Positron Emission Tomography (PET). F-18 memancarkan energi gamma (γ) dan beta positif (β + ) masing-masing 511 dan 19,8 kev. Umr paro F-18 secara teori 1,888 jam []. Dalam pemanfaatannya akselerator siklotron menghasilkan proton, yang selanjtnya direaksikan dengan oksigen-18 (O-18) sehingga menghasilkan F-18. Proses ini menimblkan paparan radiasi netron dan gamma. Radiasi netron hanya dihasilkan oleh reaksi O-18 + proton, sedangkan radiasi gammanya diakibatkan kemngkinan, yait hasil reaksi O-18 + proton dan hasil interaksi antara radiasi netron dengan partikel di sekitarnya. Perhitngan nilai ketidakpastian (U) terdiri dari tipe A dan B. Tipe A melipti nilai-nilai ketidakpastian data pengkran alat kr standar Capintec CRC-7BT ( ) dan tipe B melipti nilai-nilai ketidakpastian kebocoran detektor ( leak ), Umr paro teori ( pr ), resolsi bacaan ( resl ), respon detektor ( res ), linieritas ( lin ), akrasi ( akr ) dan repeatability ( rpb ) [3]. Untk tipe A, deviasi standar pengkran Capintec (σ ) adalah [] N ( Ai A) i= 1 σ =, (1) N(N 1) sehingga ketidakpastian Capintec ( ) dalam prosen (%) adalah ISSN

2 6 Prosiding Perteman Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY = A σ ( N 1) x100. () temperatr ( o C) dan kelembaban (%) sebelm menghbngkan kabel Capintec ke power spply PLN. Dari nilai-nilai ketidakpastian tipe A dan B diperoleh nilai ketidakpastian standar gabngan c =. (3) leak pr resl res i Apabila k adalah faktor cakpan ntk nilai derajat kebebasan efektif (v eff ) dengan tingkat kepercayaan 95% dan menggnakan nilai kritis k-stdents, maka nilai ketidakpastian bentangan (U) dapat ditentkan []. v eff leak pr resl res lin akr ( / ) ( / ) ( / ) ( v leak vleak pr vpr i / vi )) = () Nilai ketidakpastian bentangan (U) diperoleh dari hasil perkalian nilai faktor cakpan (k) dengan nilai ketidakpastian gabngan ( c ) yang disajikan pada Tabel 1. U = k. c (5) TABEL 1. HUBUNGAN DERAJAT KEBEBASAN TERHADAP FAKTOR CAKUPAN Derajat Kebebasan Nilai k pada TK 95% Derajat Kebebasan Nilai k pada TK 95% >> III. TATA KERJA Peralatan yang dignakan dalam analisis pelrhan F-18 adalah sistem pencacah kamar pengion Capintec CRC-7BT S/n 717 yang dapat dilihat di dalam Gambar 1. Radioisotop yang dignakan adalah sebah sampel F-18 di dalam ampl 5 ml hasil prodksi Sistem Pesawat Siklotron milik Rmah Sakit Gading Plit Jakarta. Aktivitas awal F- 18 tersebt sebesar 11,66 mci (per 8 Oktober 010 jam 15.8 WIB). Sebelm melakkan pencacahan menggnakan Capintec CRC-7BT operator wajib memakai monitor radiasi perorangan (TLD) sampai pekerjaan selesai. Langkah awal pencacahan dengan alat kr standar Capintec CRC-7BT adalah menyiapkan formlir data pencacahan kamar pengion Capintec serta mencatat identitas radionklida sampel, nama pelaksana/penyelia, wakt pengkran, Gambar 1. Sistem Pencacah Kamar Pengion Capintec CRC-7BT. Pengaktifan Capintec dilakkan dengan menekan tombol on pada panel belakang dan membiarkannya hingga stabil dalam rentang wakt antara 30 sampai 60 menit. Setelah it menekan tombol range 0 mci dan averaging, tombol TEST bacaan yang hars terletak pada volt, tombol ZERO dan memtar Zero adjstment agar bacaan 0,00 mci. Tombol BGK ditekan dan Backgrond adjstment diptar agar bacaan 0,00 mci. Dengan demikian Radionclide Factor (RF) dapat diatr dengan menekan tombol yang sesai ntk radionklida sampel (tombol F-18). Agar proses pencacahan dapat dilakkan dengan baik maka radionklida sampel dimaskkan ke dalam holder dan meletakkannya tepat pada posisi tengah smr detektor. Dengan demikian aktivitas ter-display dapat diamati dan dicatat sebanyak 15 kali pada FORM- LMR-STD-15. Tahap pengkran pertama dilakkan sebanyak 11 tahap pada selang wakt tertent sehingga hasil pengkran aktivitas terakhirnya telah melrh dan melewati besaran mr paronya. Satan kr pada pengkran tahap pertama ini adalah milicrie (mci), sedangkan pada pengkran tahap keda dilakkan seperti tahap pertama setelah melali proses delay ata pelrhan, sehingga F-18 memiliki aktivitas sampai dalam satan mikrocrie (µci). Dari keda tahap pengkran di atas dapat ditentkan akisisi data, rerata aktivitas dan deviasi standarnya. Selanjtnya dapat dibat karakteristik grafik pelrhan, mr paro dan ketidakpastiannya. Nilai ketidakpastian terdiri dari tipe A dan B. Tipe A diperoleh dari distribsi cacah sampel dan latar, sedangkan Tipe B diperoleh dari spesifikasi alat kr standar yang melipti: kebocoran, wakt paro, resolsi, respon, linieritas, akrasi dan repeatability. Dengan menggnakan persamaan 6 dapat ditentkan nilai ketidakpastian gabngan ( c ). Berdasarkan hasil pengkran, perhitngan dan analisis data pencacahan/ketidakpastian maka dapat ditentkan karakteristik pelrhan dengan aktivitas yang tertelsr. Dari hasil ini dapat dibandingkan karakteristik pelrhan dari masing-masing tahap (dalam satan mci dan µci) ntk memperkirakan kemrnian bahan (raw material) dari F-18 melali perbandingan terhadap mr paro secara teoritisnya (berdasarkan acan terbar standar pelrhan radioisotop internasional seperti yang direkomendasikan oleh BIPM). ISSN

3 Prosiding Perteman Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY 65 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Dari kegiatan Uji Karakteristik Pelrhan F-18 Kode A1801/10 menggnakan Sistem Pencacah Kamar Pengion Capintec CRC-7BT diperoleh Tabel data hasil pengkran aktivitas F-18 pada tahap pertama dan keda serta distribsi wakt lrhnya (jam) seperti yang ditnjkkan dalam Tabel dan 3. TABEL. HASIL PENGUKURAN AKTIVITAS F-18 TAHAP PERTAMA. No Latar (µci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) (mci) 1 0,00 11,8 9,1 7,53 6,0,7 3,1,60,13 1,81 1,68 1,50 0,00 11,7 9,11 7,5 6,0,7 3,,60,13 1,81 1,67 1,50 3 0,00 11,8 9,10 7,53 6,0,6 3,1,60,13 1,81 1,67 1,50 0,00 11,7 9,11 7,53 6,0,6 3,1,60,13 1,81 1,68 1,50 5 0,00 11,7 9,11 7,53 6,0,6 3,1,60,13 1,81 1,67 1,9 6 0,00 11,7 9,10 7,53 6,19,6 3,0,60,13 1,81 1,67 1,9 7 0,00 11,7 9,10 7,5 6,19,6 3,1,60,13 1,81 1,67 1,9 8 0,00 11,7 9,10 7,5 6,18,6 3,0,60,13 1,81 1,68 1,9 9 0,00 11,6 9,10 7,53 6,18,6 3,0,60,13 1,81 1,68 1,9 10 0,00 11,6 9,10 7,5 6,19,6 3,1,60,13 1,81 1,67 1,9 11 0,00 11,6 9,09 7,5 6,18,6 3,0,60,13 1,81 1,67 1,9 1 0,00 11,6 9,10 7,5 6,17,6 3,0,60,13 1,81 1,67 1,9 13 0,00 11,6 9,10 7,5 6,18,6 3,0,59,13 1,81 1,67 1,9 1 0,00 11,6 9,10 7,5 6,19,6 3,0,59,1 1,81 1,67 1,9 15 0,00 11,5 9,09 7,51 6,18,6 3,0,60,1 1,81 1,67 1,9 x 0 11,66 9,10 7,55 6,189,61 3,05,599,19 1,810 1,673 1,93 σ 0 0,008 0,008 0,007 0,010 0,00 0,006 0,00 0,00 0,000 0,005 0,005 (%) 0,07 0,085 0,099 0,160 0,083 0,00 0,135 0,165 0,000 0,7 0,307 TABEL 3. HASIL PENGUKURAN AKTIVITAS F-18 TAHAP KEDUA. No Latar Latar (µci) (µci) (µci) (µci) (µci) (µci) (µci) (µci) (µci) (µci) (µci) 1 0,6 18,6 11,0 7,3 0,7 5,5,6 3,5,8, 1,8 0,7 18,6 11,1 7,3 0,8 5,,7 3,,7, 1,9 3 0,8 18,6 11,0 7,3 0,9 5,6,7 3,5,7,3,0 0,6 18,7 11,0 7, 0,9 5,6,8 3,5,7,3, 5 0,6 18,6 11,0 7,3 0,9 5,5,8 3,5,7,3,1 6 0,6 18,6 11,0 7, 0,8 5,,7 3,5,7,,0 7 0,6 18,6 11,0 7, 0,8 5,5,7 3,,8,5,0 8 0,6 18,7 11,0 7, 0,8 5,5,8 3,3,8,5 1,9 9 0,6 18,7 10,9 7, 0,8 5,5,7 3,3,8, 1,9 10 0,6 18,6 11,0 7, 0,8 5,6,7 3,3,8, 1,8 11 0,6 18,5 11,1 7, 0,9 5,5,8 3,,8,3 1,8 1 0,6 18, 11,1 7, 0,9 5,5,8 3,3,9,3 1,8 13 0,6 18,5 11,0 7, 0,9 5,5,6 3,,9, 1,9 1 0,6 18,6 11,0 7,3 0,9 5,5,6 3,3,9, 1,9 15 0,6 18,5 10,9 7, 0,8 5,,6 3,3,9,3 1,9 x 0,60 17,967 10,387 6,613 0,80,660 3,867,50 1,95 1,533 1,087 σ 0,05 0,083 0,059 0,09 0,061 0,065 0,080 0,101 0,08 0,070 0,116 (%) 0,6 0,57 0,738 1,05,066 3,993,185,590 10,70 ISSN

4 66 Prosiding Perteman Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY Pada tahap pertama diperoleh aktivitas F-18 masih dalam satan mci, sedangkan pada tahap aktivitas sdah menrn hingga dalam satan µci. Hal ini dilakkan ntk mengetahi karakteristik pelrhan F-18 pada saat aktivitas tinggi dan rendah. Hal ini sangat penting dilakkan agar tjan ketepatan besarnya dosis yang dibthkan melali pelrhan dapat di dicapai dengan tepat dan akrat. Dari hasil pengkran aktivitas F-18 Kode A1801/10 menggnakan Sistem Pencacah Kamar Pengion Capintec CRC-7BT selanjtnya dapat dibat perhitngan mr paro F-18 dan ketidakpastiannya seperti yang ditnjkkan dalam Tabel dan 5. Dalam Tabel diperoleh hasil ji karakteristik pelrhan F-18 pada tahap pertama menggnakan SPKP Capintec CRC-7BT berpa mr paro dan ketidakpastiannya sebesar (1,83 ± 0,5%) jam. Nilai ketidakpastiannya ckp kecil krang dari 1%. Hal ini mennjkkan bahwa akrasi dan kestabilan alat kr ckp baik, tertama ntk pengkran aktivitas F-18 yang masih besar (dalam satan mci). Pada ji karakteristik tahap da akrasi dan kestabilannya menrn, sehingga diperoleh nilai ketidakpastian mr paro yang lebih besar (lebih dari 1%). Perbedaan karakteristik pelrhan F-18 pada tahap pertama dan keda secara lebih jelas ditnjkkan dalam Gambar dan 3. Karakteristik grafik pelrhan aktivitas F-18 pada tahap pertama memiliki persamaan y = 11,8 e -0,37x dan R = 1,000 yang terdistribsi dari 11 titik pengkran, sedangkan grafik karakteristik pelrhan F-18 pada tahap keda yang terdiri dari 9 titik distribsi memiliki persamaan garis y = 18,18 e -0,38x dan R = 0,999. TABEL. HASIL KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN AKTIVITAS F-18 TAHAP PERTAMA. SUMBER RADIASI : F-18 (T½ teori = 1,888 jam) Aktivitas Awal No. Ref. Date (mci) (MBq) Tanggal Aktivitas Akhir t (Jam) Pengkran (mci) (MBq) T1/ (Jam) 1 11,66 16,8 8/10/010 15:8 8/10/010 15:8 0, ,66 16, ,66 16,8 8/10/010 15:8 8/10/010 16:0 0, ,10 337, 1, ,66 16,8 8/10/010 15:8 8/10/010 16:3 1, ,55 78,3 1, ,66 16,8 8/10/010 15:8 8/10/010 17:03 1, ,189 8,99 1, ,66 16,8 8/10/010 15:8 8/10/010 18:0,56667,61 157,66 1, ,66 16,8 8/10/010 15:8 8/10/010 18:7 3, ,05 118,59 1, ,66 16,8 8/10/010 15:8 8/10/010 19:0 3,86667,599 96,16 1, ,66 16,8 8/10/010 15:8 8/10/010 19:5,0000,19 78,77 1, ,66 16,8 8/10/010 15:8 8/10/010 0:17, ,810 66,97 1, ,66 16,8 8/10/010 15:8 8/10/010 0:30 5, ,673 61,90 1, ,66 16,8 8/10/010 15:8 8/10/010 0:8 5, ,93 55, 1,888 Umr Paro = 1,83 jam ± 0,009 jam 1,83 jam ± 0,5 % TABEL 5. HASIL KETIDAKPASTIAN PENGUKURAN AKTIVITAS F-18 TAHAP KEDUA. SUMBER RADIASI : F-18 (T½ teori = 1,888 jam) Aktivitas Awal Tanggal Aktivitas Akhir No. Ref. Date t (Jam) (µci) (kbq) Pengkran (µci) (kbq) T1/ (Jam) 1 17,967 66,78 9/10/010 8:31 9/10/010 8:31 0, ,967 66, ,967 66,78 9/10/010 8:31 9/10/010 9:58 1, ,387 38,3 1, ,967 66,78 9/10/010 8:31 9/10/010 11:09, ,613,68 1,86 17,967 66,78 9/10/010 8:31 9/10/010 1:00 3,8333,66 17, 1, ,967 66,78 9/10/010 8:31 9/10/010 1:31, ,867 13,08 1, ,967 66,78 9/10/010 8:31 9/10/010 13:0 5,15000,5 93,98 1,8 7 17,967 66,78 9/10/010 8:31 9/10/010 1:13 5, ,95 7, 1, ,967 66,78 9/10/010 8:31 9/10/010 1:53 6, ,533 56,7 1, ,967 66,78 9/10/010 8:31 9/10/010 15:5 7,3333 1,087 0, 1,787 Umr Paro = 1,805 jam ± 0,01 jam 1,805 jam ± 1,15 % ISSN

5 Prosiding Perteman Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY 67 Gambar. Grafik karakteristik pelrhan aktivitas F-18 tahap pertama. Gambar 3. Grafik karakteristik pelrhan aktivitas F-18 tahap keda. Temperatr pada saat pengkran adalah C, sedangkan temperatr kr terbaik ntk pengoperasian sistem pencacah kamar pengion adalah ± C. Hal ini mennjkkan bahwa temperatr saat pengkran di atas masih dalam daerah temperatr kr terbaik ntk melakkan pengkran. Hal ini perl diperhatikan karena apabila perbedaan temperatr pengkran terlal jah dari batas temperatr kr terbaik maka akan mempengarhi kinerja alat kr it sendiri, tertama dalam menentkan distribsi data aktivitas pelrhan F-18. Kelembaban pada saat pengkran adalah 53%, sedangkan nilai kelembaban yang dianjrkan sesai IK- LMR-STD-10 adalah 60 ± 10%. Hal ini mennjkkan bahwa kelembaban saat pengkran tersebt masih dalam kondisi kelembaban yang dianjrkan. Namn hal yang paling penting ntk diperhatikan dalam pengkran metode relatif adalah kesamaan kondisi pada saat pengkran dengan alat standar dan dengan alat kr yang dikalibrasi. Dasar peratran pengkondisian rang kr tidak secara jelas dinyatakan, namn secara tjan pengkondisian rang kr adalah ntk menjaga kestabilan peralatan (instrments). Dalam kondisi rang kr yang stabil (tidak terlal panas dan lembab), maka kestabilan mr komponen-komponen elektronik dalam sistem peralatan kr jga lebih panjang. Kondisi rang kr yang stabil ini jga mendkng faktor linieritas dari alat kr yang bersangktan. Hasil perhitngan ketidakpastian tipe A dan B dari pengkran F-18 tahap pertama dan keda ditnjkkan dalam Tabel dan 3. Dari hasil ketidakpastian tipe A pada keda tahap mennjkkan beberapa perbedaan, yait nilai deviasi standar akisisi data cacah F-18 tahap keda lebih besar dibanding tahap pertama. Perbedaan ini mngkin disebabkan akrasi alat kr pada saat pengkran tahap pertama lebih baik karena nilai besaran aktivitas F-18 masih relatif lebih besar (dalam satan mci). Dari hasil ketidakpastian tipe B (rectanglar) ntk kebocoran, mr paro, respon, linearitas, akrasi dan repeatability memiliki nilai sama, namn ntk resolsi bacaan memiliki nilai yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan skala rentang kr yang dignakan tidak sama. Pada pengkran F-18 pada tahap pertama menggnakan satan mci. Sedangkan pada tahap keda menggnakan satan µci. Dari Tabel dan 7 dapat diketahi jenis distribsi, ketidakpastian (U i ), bilangan pembagi, nilai derajat kebebasan (v i ) dan ketidakpastian efektif ( i ) dari masing-masing komponen tipe A dan B. Hasil perhitngan di atas dengan ketetapan faktor konversi (c i ) = 1 (sat), sehingga i = i c i. Sesai persamaan () dapat diketahi nilai ketidakpastian standar gabngan ( c ) ntk F-18 tahap pertama dan keda masing-masing sebesar,68% dan,769%. Nilai derajat kebebasan efektif dan faktor cakpan k (ntk tingkat kepercayaan 95%) pada keda smber tersebt sama. Dengan persamaan (6) diperoleh nilai ketidakpastian bentangan (U) dari F-18 tahap pertama dan keda masing-masing sebesar 5,93% dan 5,79%. IV. KESIMPULAN Telah dilakkan penentan karakteristik pelrhan F-18 pada tahap pertama dan keda menggnakan sistem pencacah kamar pengion Capintec CRC-7BT S/N 717. Masing-masing pencacahan dilakkan dalam 11 dan 9 tahap. Penglangan data tiap tahap sebanyak 15 kali cacahan dalam satan aktivitas (mci dan µci). Hasil perhitngan berpa grafik karakteristik pelrhan F-18 tahap pertama dan keda yang memiliki mr paro masingmasing (1,8183 ± 5,93%) dan (1,888 ± 5,79%) jam. ISSN

6 68 Prosiding Perteman Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY TABEL 6. HASIL KETIDAKPASTIAN UMUR PARO F-18 TAHAP PERTAMA. TABEL 7. HASIL KETIDAKPASTIAN UMUR PARO F-18 TAHAP KEDUA. [] TdeR, Table de Radionclides Atomic and Nclear Data, Recommended data/table BNM-LNHB/CEA Table de Radionclides CEA, ncleide.org/ddepwg/ddepdata.htm, 00 [3] International Atomic Energy Agency, Measrement Uncertainty, A Practical Gide for Secondary Standards Dosimetry Laboratories, Tecdoc-1585, Vienna, 008 [] Instrksi Kerja Unit Standarisasi, No. Dokmen: IK-LMR-STD-10, P3KRBiN-Batan, 003 [5] A Handbook of Radioaktivity Measrements Procedres, NCRP Report No. 58, 1 Edition, 1978 TANYA JAWAB Dewita (PTAPB-BATAN)? Apakah mr parh F18 belm diketahi, ata menrt literatr sdah ada informasinya?? Berapa batas ketidakpastian yang menyebabkan ganggan ata ketidakpercayaan dalam pengkran? Sdah diketahi (1,888±1,6%) jam. Flktasi pengkran dari beberapa pakar masih besar sekitar Dalam hal ketidakpastian tidak dibatasi. Namn hsil eksperimen ckp bags ±1%. Ketidakpastian bentangan 75% diakibatkan ketidakpastian Tipe B dari alat kr (respon, akrasi, dan linearitas). Holnisar (PTKMR-BATAN)? Untk organ jenis apakah F-18 dignakan? Hasil ini ckp stabil di mana perbedaan mr paro dan ketidakpastiannya tidak terlal jah bila dibandingkan teori, prosentase perbedaannya masing-masing 0,% dan 0,69%. Persamaan garis grafik eksponensial pelrhan F-18 tahap pertama dan keda masing-masing adalah y = 11,8e -0,37x (R = 1) dan y = 18,18e -0,38x (R = 0,999). Dengan diketahinya karakteristik pelrhan dan ketidakpastian yang tertelsr ini diharapkan dapat mendongkrak peningkatan jaminan kalitas bagi pihak konsmen ntk mendapatkan perlindngan keamanan, keselamatan dan kesehatan yang memadai sesai peratran ketenagankliran yang berlak. PUSTAKA [1] Peratran Pemerintah, Keselamatan Radiasi Pengion dan Keamanan Smber Radioaktif, PP No. 33, Jakarta, 007 Florine-18 (F-18) dignakan ntk mernt fngsi organ melali Positron Emission Tomography (PET) tertama ntk diagnosis par-par. Yang dimaksd F-18 diikat dalam senyawa Floro-Deoksi-d-glkosa (FFDG-18). Pramdita (PTAPB-BATAN)? 18 F dari mana? Dalam bentk senyawa kimia apa? 18 F diperoleh dari siklotron milik RS. Gading Plit Jakarta. Senyawa kimianya adalah Floro-Deoksi-d-glkosa (FFDG-18). ISSN

BAB III LIMIT DAN FUNGSI KONTINU

BAB III LIMIT DAN FUNGSI KONTINU BAB III LIMIT DAN FUNGSI KONTINU Konsep it mempnyai peranan yang sangat penting di dalam kalkls dan berbagai bidang matematika. Oleh karena it, konsep ini sangat perl ntk dipahami. Meskipn pada awalnya

Lebih terperinci

Bab 5 RUANG HASIL KALI DALAM

Bab 5 RUANG HASIL KALI DALAM Bab 5 RUANG HASIL KALI DALAM 5 Hasil Kali Dalam Untk memotiasi konsep hasil kali dalam diambil ektor di R dan R sebagai anak panah dengan titik awal di titik asal O = ( ) Panjang sat ektor x di R dan R

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG _'C.. BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG MILIK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BUPATI SIDOOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 49 TAHUN 2013 TENTANG. TARIJ7 SEWA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KABUPATEN SlDOARJO

BUPATI SIDOOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 49 TAHUN 2013 TENTANG. TARIJ7 SEWA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KABUPATEN SlDOARJO BUPATI SIDOOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 49 TAHUN 2013 TENTANG TARIJ7 SEWA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KABUPATEN SlDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SfDOARJO, Menimbang MengingaL

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA KECAMATAN DI KABUPATEN SIDOARJO

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA KECAMATAN DI KABUPATEN SIDOARJO BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA KECAMATAN DI KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, v Menimbang

Lebih terperinci

Pertemuan IX, X, XI IV. Elemen-Elemen Struktur Kayu. Gambar 4.1 Batang tarik

Pertemuan IX, X, XI IV. Elemen-Elemen Struktur Kayu. Gambar 4.1 Batang tarik Perteman IX, X, XI IV. Elemen-Elemen Strktr Kay IV.1 Batang Tarik Gamar 4.1 Batang tarik Elemen strktr kay erpa atang tarik ditemi pada konstrksi kdakda. Batang tarik merpakan sat elemen strktr yang menerima

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. penurunan akibat pembebanan, yaitu tahanan geser yang dapat dikerahkan oleh. tanah di sepanjang bidang-bidang gesernya.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. penurunan akibat pembebanan, yaitu tahanan geser yang dapat dikerahkan oleh. tanah di sepanjang bidang-bidang gesernya. 5 BAB TIJAUA PUSTAKA.1 Daya Dkng Tanah Pasir Kapasitas dkng menyatakan tahanan geser tanah ntk melawan penrnan akibat pembebanan, yait tahanan geser yang dapat dikerahkan oleh tanah di sepanjang bidang-bidang

Lebih terperinci

ANTARBANDING PENGUKURAN AKTIVITAS ISOTOP 57 Co DAN 131 I (II)

ANTARBANDING PENGUKURAN AKTIVITAS ISOTOP 57 Co DAN 131 I (II) 1D0000065 ANTARBANDING PENGUKURAN AKTIVITAS ISOTOP 57 Co DAN 131 I (II) r - :' C 0 Ermi Juita, Nazaroh, Sunaryo, Gatot Wurdiyanto, Sudarsono, Susilo Widodo, Pujadi Pusat Standardisasi dan Penelitian Keselamatan

Lebih terperinci

STANDARDISASI F-18 MENGGUNAKAN METODE SPEKTROMETRI GAMMA

STANDARDISASI F-18 MENGGUNAKAN METODE SPEKTROMETRI GAMMA STANDARDISASI F-18 MENGGUNAKAN METODE SPEKTROMETRI GAMMA Gatot Wurdiyanto, Hermawan Candra dan Pujadi Pustek Keselamatan dan Metrologi Radiasi BATAN, Jalan Lebak Bulus No. 49 Jakarta, 12440 Email: gatot_w@batan.go.id

Lebih terperinci

BAB IV Alat Ukur Radiasi

BAB IV Alat Ukur Radiasi BAB IV Alat Ukur Radiasi Alat ukur radiasi mutlak diperlukan dalam masalah proteksi radiasi maupun aplikasinya. Hal ini disebabkan karena radiasi, apapun jenisnya dan berapapun kekuatan intensitasnya tidak

Lebih terperinci

Alat Proteksi Radiasi

Alat Proteksi Radiasi Alat Proteksi Radiasi Latar Belakang Radiasi nuklir tidak dapat dirasakan oleh manusia secara langsung, seberapapun besarnya. Agar pekerja radiasi tidak mendapat paparan radiasi yang melebihi batas yang

Lebih terperinci

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional

Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional Pusat Pendidikan dan Pelatihan Badan Tenaga Nuklir Nasional PDL.PR.TY.PPR.00.D03.BP 1 BAB I : Pendahuluan BAB II : Prinsip dasar deteksi dan pengukuran radiasi A. Besaran Ukur Radiasi B. Penggunaan C.

Lebih terperinci

PELAYANAN KESEHATAN IBU DI FASILITAS KESEHATAN DASAR DAN RUJUKAN

PELAYANAN KESEHATAN IBU DI FASILITAS KESEHATAN DASAR DAN RUJUKAN KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA BUKU SAKU PELAYANAN KESEHATAN IBU DI FASILITAS KESEHATAN DASAR DAN RUJUKAN PEDOMAN BAGI TENAGA KESEHATAN PETUNJUK PENGGUNAAN ALGORITMA Algoritma yang ada di dalam

Lebih terperinci

BAB FISIKA INTI DAN RADIOAKTIVITAS

BAB FISIKA INTI DAN RADIOAKTIVITAS BAB FISIKA INTI DAN RADIOAKTIVITAS I. SOAL PILIHAN GANDA Soal pilihan ganda 0. 80 mewakili suatu atom unsure. setiap atom netral unsure ini mengandung. A. 0 elektron dan 80 neutron B. elektron dan 0 neutron

Lebih terperinci

BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi

BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi Telah ditetapkan Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan kesehatan terhadap pemanfaatan radiasi pengion dan Surat Keputusan Kepala BAPETEN No.01/Ka-BAPETEN/V-99

Lebih terperinci

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis Iqmal Tahir Laboratorium Kimia Dasar, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada

Lebih terperinci

ESTIMASI NILAI CTDI DAN DOSIS EFEKTIF PASIEN BAGIAN HEAD, THORAX DAN ABDOMEN HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6

ESTIMASI NILAI CTDI DAN DOSIS EFEKTIF PASIEN BAGIAN HEAD, THORAX DAN ABDOMEN HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6 ESTIMASI NILAI CTDI DAN DOSIS EFEKTIF PASIEN BAGIAN HEAD, THORAX DAN ABDOMEN HASIL PEMERIKSAAN CT-SCAN MEREK PHILIPS BRILIANCE 6 Helga Silvia 1, Dian Milvita 1, Heru Prasetio 2, Helfi Yuliati 2 1 Jurusan

Lebih terperinci

R adalah selisih massa bejana dalam keadaan terisi dan dalam keadaan kosong,

R adalah selisih massa bejana dalam keadaan terisi dan dalam keadaan kosong, Suplemen Pedoman Evaluasi dan Pernyataan A9. KALIBRASI GELAS UKUR Deskripsi Pengukuran Kalibrasi gelas dari bahan borosilicate glass berkapasitas 1 ml nilai skala terkecil.1 ml menggunakan metode gravimetri.

Lebih terperinci

DEFINISI. Definisi-definisi berikut berlaku untuk maksud-maksud dari publikasi yang sekarang.

DEFINISI. Definisi-definisi berikut berlaku untuk maksud-maksud dari publikasi yang sekarang. DEFINISI Definisi-definisi berikut berlaku untuk maksud-maksud dari publikasi yang sekarang. Batas-batas Yang Dapat Diterima (Acceptable limits) Batas-batas yang dapat diterima oleh badan pengaturan. Kondisi

Lebih terperinci

PENGUKURAN RADIOAKTIF MENGGUNAKAN DETEKTOR NaI, STUDI KASUS LUMPUR LAPINDO

PENGUKURAN RADIOAKTIF MENGGUNAKAN DETEKTOR NaI, STUDI KASUS LUMPUR LAPINDO PENGUKURAN RADIOAKTIF MENGGUNAKAN DETEKTOR NaI, STUDI KASUS LUMPUR LAPINDO Insan Kamil Institut Teknologi Bandung Abstrak Pengukuran radioaktif dengan metode scintillation menggunakan detektor NaI untuk

Lebih terperinci

Bab 2. Nilai Batas Dosis

Bab 2. Nilai Batas Dosis Bab 2 Nilai Batas Dosis Teknik pengawasan keselamatan radiasi dalam masyarakat umumnya selalu berdasarkan pada konsep dosis ambang. Setiap dosis betapapun kecilnya akan menyebabkan terjadinya proses kelainan,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB LANDASAN TEORI.1 Pengertian Pengukuran Untuk mendapatkan produk yang berkualitas tidak hanya memerlukan rancangan produk yang bagus sesuai dengan fungsi namun juga memerlukan rancangan proses pembuatan

Lebih terperinci

Kata kunci : Fluoroskopi intervensional, QC, dosimetri, kualitas citra.

Kata kunci : Fluoroskopi intervensional, QC, dosimetri, kualitas citra. UJI KONTROL KUALITAS PESAWAT RADIOOGI INTERVENSIONAL St. Ramlah R. Dhara*), Dahlang Tahir, M.Si, Ph. D*), Kristina Tri Wigati, M.Si*), Sri Dewi Astuty, M.Si*) *)Fisika Medik, Jurusan Fisika, Fakultas MIPA,

Lebih terperinci

PEMBUATAN ALAT UKUR KETEBALAN BAHAN SISTEM TAK SENTUH BERBASIS PERSONAL COMPUTER MENGGUNAKAN SENSOR GP2D12-IR

PEMBUATAN ALAT UKUR KETEBALAN BAHAN SISTEM TAK SENTUH BERBASIS PERSONAL COMPUTER MENGGUNAKAN SENSOR GP2D12-IR 200 Prosiding Pertemuan Ilmiah XXIV HFI Jateng & DIY, Semarang 10 April 2010 hal. 200-209 PEMBUATAN ALAT UKUR KETEBALAN BAHAN SISTEM TAK SENTUH BERBASIS PERSONAL COMPUTER MENGGUNAKAN SENSOR GP2D12-IR Mohtar

Lebih terperinci

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Latar Belakang Radiasi nuklir tidak dapat dirasakan oleh panca indera manusia oleh karena itu alat ukur radiasi mutlak diperlukan untuk mendeteksi dan mengukur radiasi

Lebih terperinci

Keamanan Sumber Radioaktif

Keamanan Sumber Radioaktif Keamanan Sumber Radioaktif Pelatihan Petugas Proteksi Radiasi PUSDIKLAT BATAN Latar Balakang Pengelolaan sumber radioaktif dengan tidak memperhatikan masalah keamanan dapat menyebabkan kecelakaan Maraknya

Lebih terperinci

LAMPIRAN FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN UNTUK MENETAPKAN KONDISI-KONDISI BATAS UNTUK OPERASI YANG AMAN

LAMPIRAN FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN UNTUK MENETAPKAN KONDISI-KONDISI BATAS UNTUK OPERASI YANG AMAN LAMPIRAN FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN UNTUK MENETAPKAN KONDISI-KONDISI BATAS UNTUK OPERASI YANG AMAN A.1. Daftar parameter operasi dan peralatan berikut hendaknya dipertimbangkan dalam menetapkan

Lebih terperinci

CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014. Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1

CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014. Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1 CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014 Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1 Pencemaran Udara Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG KESELAMATAN RADIASI DALAM PENYIMPANAN TECHNOLOGICALLY ENHANCED NATURALLY

Lebih terperinci

UJI KESESUAIAN SEBAGAI ASPEK PENTING DALAM PENGAWASAN PENGGUNAAN PESAWAT SINAR-X DI FASILITAS RADIOLOGI DIAGNOSTIK

UJI KESESUAIAN SEBAGAI ASPEK PENTING DALAM PENGAWASAN PENGGUNAAN PESAWAT SINAR-X DI FASILITAS RADIOLOGI DIAGNOSTIK UJI KESESUAIAN SEBAGAI ASPEK PENTING DALAM PENGAWASAN PENGGUNAAN PESAWAT SINAR-X DI FASILITAS RADIOLOGI DIAGNOSTIK Puji Hastuti, Intanung Syafitri dan Wawan Susanto Pusat Pengkajian Sistem dan Teknologi

Lebih terperinci

PENGARUH PROSES LAKU PANAS QUENCHING AND PARTITIONING TERHADAP UMUR LELAH BAJA PEGAS DAUN JIS SUP 9A DENGAN METODE REVERSED BENDING

PENGARUH PROSES LAKU PANAS QUENCHING AND PARTITIONING TERHADAP UMUR LELAH BAJA PEGAS DAUN JIS SUP 9A DENGAN METODE REVERSED BENDING TUGAS AKHIR PENGARUH PROSES LAKU PANAS QUENCHING AND PARTITIONING TERHADAP UMUR LELAH BAJA PEGAS DAUN JIS SUP 9A DENGAN METODE REVERSED BENDING Oleh : Viego Kisnejaya Suizta 2104 100 043 Dosen Pembimbing

Lebih terperinci

Perbandingan Kinerja Detektor NaI(Tl) Dengan Detektor CsI(Tl) Pada Spektroskopi Radiasi Gamma

Perbandingan Kinerja Detektor NaI(Tl) Dengan Detektor CsI(Tl) Pada Spektroskopi Radiasi Gamma Jurnal Gradien Vol.3 No.1 Januari 2007 : 204-209 Perbandingan Kinerja Detektor NaI(Tl) Dengan Detektor CsI(Tl) Pada Spektroskopi Radiasi Gamma Syamsul Bahri Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu

Lebih terperinci

APLIKASI I PENGAKTIF NEUTRON CEPAT UNTUK PENENTUAN KANDUNGAN UNSUR N, P DAN K DI DALAM SLUDGE!

APLIKASI I PENGAKTIF NEUTRON CEPAT UNTUK PENENTUAN KANDUNGAN UNSUR N, P DAN K DI DALAM SLUDGE! APLIKASI I PENGAKTIF NEUTRON CEPAT UNTUK PENENTUAN KANDUNGAN UNSUR N, P DAN K DI DALAM SLUDGE! Supriyatni E., Yazid M., Nuraini E., Sunardi Pusat Penelitian don Pengembangan Teknologi Maju, Batan, Yogyakarta

Lebih terperinci

MODUL PERCOBAAN TERMOKIMIA

MODUL PERCOBAAN TERMOKIMIA MODUL PERCOBAAN TERMOKIMIA Tujuan Percobaan Mempelajari bahwa setiap reaksi kimia selalu disertai dengan perubahan energi Mempelajari bahwa perubahan kalor dapt diukur atau dipelajari dengan percobaan

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI CONVEYOR PADA PROTOYPE MONITOR PETI KEMAS DENGAN TEKNIK SERAPAN SINAR GAMA

RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI CONVEYOR PADA PROTOYPE MONITOR PETI KEMAS DENGAN TEKNIK SERAPAN SINAR GAMA RANCANG BANGUN SISTEM KENDALI CONVEYOR PADA PROTOYPE MONITOR PETI KEMAS DENGAN TEKNIK SERAPAN SINAR GAMA Khairul Handono, Alvano Yulian, Nur Hasan, dan Sapta T Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir- BATAN, PUSPIPTEK

Lebih terperinci

Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012 ISSN 0852-2979

Hasil Penelitian dan Kegiatan PTLR Tahun 2012 ISSN 0852-2979 EVALUASI KESELAMATAN RADIASI DI KANAL HUBUNG INSTALASI PENYIMPANAN SEMENTARA BAHAN BAKAR NUKLIR BEKAS (KH-IPSB3) PASCA PENGISIAN BAHAN BAKAR NUKLIR BEKAS REAKTOR SERBA GUNA GA. SIWABESSY ABSTRAK L.Kwin

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Uji Asumsi. Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Uji Asumsi. Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi, BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Uji Asumsi Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi, terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi terhadap data penelitian. Uji asumsi yang dilakukan

Lebih terperinci

1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). D. 70 E. 80

1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). D. 70 E. 80 1. Dua batang logam P dan Q disambungkan dengan suhu ujung-ujung berbeda (lihat gambar). Apabila koefisien kondutivitas Q, logam P kali koefisien konduktivitas logam Q, serta AC = 2 CB, maka suhu di C

Lebih terperinci

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat Standar Nasional Indonesia Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat ICS 91.100.15 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar

Lebih terperinci

BUPATI MALANG BUPATI MALANG,

BUPATI MALANG BUPATI MALANG, BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 24 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYELENGGARAAN PELAYANAN KESEHATAN DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH LAWANG BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya

Lebih terperinci

UJIAN NASIONAL TAHUN 2010

UJIAN NASIONAL TAHUN 2010 UJIN NSIONL THUN 00 Pilihlah satu jawaban yang paling benar. Seorang anak berjalan lurus 0 meter ke barat, kemudian belok ke selatan sejauh meter, dan belok lagi ke timur sejauh meter. Perpindahan yang

Lebih terperinci

TEKNIK DASAR LABORATORIUM: PIPET; TIMBANGAN; PEMBUATAN LARUTAN.

TEKNIK DASAR LABORATORIUM: PIPET; TIMBANGAN; PEMBUATAN LARUTAN. LAPORAN PRAKTIKUM I TEKNIK DASAR LABORATORIUM: PIPET; TIMBANGAN; PEMBUATAN LARUTAN. Nama Praktikan Group Praktikan : Lasmono Susanto : Ika Warastuti Lasmono Susanto Hari/tanggal praktikum: Senin/2 Maret

Lebih terperinci

LATEKS ALAM IRADIASI SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI RUMAH TANGGA BARANG JADI KARET

LATEKS ALAM IRADIASI SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI RUMAH TANGGA BARANG JADI KARET LATEKS ALAM IRADIASI SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI RUMAH TANGGA BARANG JADI KARET Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki perkebunan karet paling luas di dunia. Sebagian besar karet alam tersebut

Lebih terperinci

FISIKA: PENERAPANNYA DALAM BIDANG MEDIS

FISIKA: PENERAPANNYA DALAM BIDANG MEDIS FISIKA: PENERAPANNYA DALAM BIDANG MEDIS UNIVERSITAS GADJAH MADA Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada Oleh: Prof. Dr. Kusminarto

Lebih terperinci

Bahan Acuan (Reference Material) dalam Metrologi. oleh: Fitri Dara

Bahan Acuan (Reference Material) dalam Metrologi. oleh: Fitri Dara Bahan Acuan (Reference Material) dalam Metrologi oleh: Fitri Dara Pengantar Pada tanggal 20 Mei 1908, di Indonesia telah berdiri sebuah organisasi yaitu Boedi Oetomo yang memiliki tujuan untuk menciptakan

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014.

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014. III. MATERI DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN SUSKA Riau.

Lebih terperinci

TANGGAPAN TLD-600 TERHADAP DOSIS NEUTRON CEP AT YANG DITERIMA SECARA TERUS-MENERUS DAN TERPUTUS-PUTUS

TANGGAPAN TLD-600 TERHADAP DOSIS NEUTRON CEP AT YANG DITERIMA SECARA TERUS-MENERUS DAN TERPUTUS-PUTUS Prosiding Prescntasi Iliniah Keselamatan Radiasi dan Lingkungan,20-21 Agustus 1996 ID0000061 TANGGAPAN TLD-600 TERHADAP DOSIS NEUTRON CEP AT YANG DITERIMA SECARA TERUS-MENERUS DAN TERPUTUS-PUTUS Mukhlis

Lebih terperinci

Struktur Inti Atom. Atom yang memiliki Z sama tetapi A berbeda disebut Isotop (isotope) Contoh. Hidrogen Deuteriumon Tritium

Struktur Inti Atom. Atom yang memiliki Z sama tetapi A berbeda disebut Isotop (isotope) Contoh. Hidrogen Deuteriumon Tritium Struktur Inti Atom Massa Atom 99,9 % terdapat dalam inti yang terdiri dari proton (muatan = e +) massa energi 938,28 Mev dan netron (muatan =0) massa energi 929,57 Mev sedangkan elektron berada di kulit

Lebih terperinci

BESAR SAMPEL. Saptawati Bardosono

BESAR SAMPEL. Saptawati Bardosono BESAR SAMPEL Saptawati Bardosono Mengapa perlu menentukan besar sampel? Tujuan utama penelitian: Estimasi nilai tertentu pada populasi (rerata, total, rasio), misal: Mengetahui proporsi penyakit ISPA pada

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN ALAT UKUR TINGKAT KEKERUHAN ZAT CAIR BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 MENGGUNAKAN SENSOR FOTOTRANSISTOR DAN PENAMPIL LCD

RANCANG BANGUN ALAT UKUR TINGKAT KEKERUHAN ZAT CAIR BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 MENGGUNAKAN SENSOR FOTOTRANSISTOR DAN PENAMPIL LCD RANCANG BANGUN ALAT UKUR TINGKAT KEKERUHAN ZAT CAIR BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 MENGGUNAKAN SENSOR FOTOTRANSISTOR DAN PENAMPIL LCD Yefri Hendrizon, Wildian Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi,

Lebih terperinci

Uji Beda Kadar Alkohol Pada Tape Beras, Ketan Hitam Dan Singkong

Uji Beda Kadar Alkohol Pada Tape Beras, Ketan Hitam Dan Singkong Jurnal Teknika Vol 6 No 1, Tahun 014 531 Uji Beda Kadar Alkohol Pada Beras, Ketan Hitam Dan Singkong Cicik Herlina Yulianti 1 1) Dosen Fakultas Teknik Universitas Islam Lamongan ABSTRAK Alkohol banyak

Lebih terperinci

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C)

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C) Pengaruh Kadar Gas Co 2 Pada Fotosintesis Tumbuhan yang mempunyai klorofil dapat mengalami proses fotosintesis yaitu proses pengubahan energi sinar matahari menjadi energi kimia dengan terbentuknya senyawa

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI DAN PENENTUAN LOGAM PADA TANAH VULKANIK DI DAERAH CANGKRINGAN KABUPATEN SLEMAN DENGAN METODE ANALISIS AKTIVASI NEUTRON CEPAT

IDENTIFIKASI DAN PENENTUAN LOGAM PADA TANAH VULKANIK DI DAERAH CANGKRINGAN KABUPATEN SLEMAN DENGAN METODE ANALISIS AKTIVASI NEUTRON CEPAT IDENTIFIKASI DAN PENENTUAN LOGAM PADA TANAH VULKANIK DI DAERAH CANGKRINGAN KABUPATEN SLEMAN DENGAN METODE ANALISIS AKTIVASI NEUTRON CEPAT SUDARYO 1, SUTJIPTO 1 STTN-Batan Yogyakarta, PTAPB Batan Yogyakarta

Lebih terperinci

PEMBUATAN RADIOISOTOP ERBIUM-169 ( 169 Er) MENGGUNAKAN SASARAN ERBIUM ALAM

PEMBUATAN RADIOISOTOP ERBIUM-169 ( 169 Er) MENGGUNAKAN SASARAN ERBIUM ALAM PEMBUATAN RADIOISOTOP ERBIUM-169 ( 169 Er) MENGGUNAKAN SASARAN ERBIUM ALAM Azmairit Aziz dan Nana Suherman Pusat Teknologi Nuklir Bahan dan Radiometri - BATAN, Jl. Tamansari 71 Bandung, 40132 Email: azmairit@batan-bdg.go.id

Lebih terperinci

PERFORMANSI MESIN SEPEDA MOTOR SATU SILINDER BERBAHAN BAKAR PREMIUM DAN PERTAMAX PLUS DENGAN MODIFIKASI RASIO KOMPRESI

PERFORMANSI MESIN SEPEDA MOTOR SATU SILINDER BERBAHAN BAKAR PREMIUM DAN PERTAMAX PLUS DENGAN MODIFIKASI RASIO KOMPRESI PERFORMANSI MESIN SEPEDA MOTOR SATU SILINDER BERBAHAN BAKAR PREMIUM DAN PERTAMAX PLUS DENGAN MODIFIKASI RASIO KOMPRESI Robertus Simanungkalit 1,Tulus B. Sitorus 2 1,2, Departemen Teknik Mesin, Fakultas

Lebih terperinci

UNTUK LINGKUNGAN PENDAHULUAN ABSTRAK ABSTRACT. Djoko S. Pudjorahardjo Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN Yogyakarta

UNTUK LINGKUNGAN PENDAHULUAN ABSTRAK ABSTRACT. Djoko S. Pudjorahardjo Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN Yogyakarta Djoko S. Pudjorahardjo ISSN 0216-3128 J KA~nANAPLIKASI AKSELERATOR UNTUK LINGKUNGAN ION ENERGI RENDAH Djoko S. Pudjorahardjo Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN Yogyakarta ABSTRAK KAJ/AN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NO.KEP. 187/MEN/1999 TENTANG PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA R.I.

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NO.KEP. 187/MEN/1999 TENTANG PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA R.I. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NO.KEP. 187/MEN/1999 TENTANG PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA R.I. Menimbang a. bahwa kegiatan industri yang mengolah, menyimpan,

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Matematika

NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Matematika PENINGKATAN PERCAYA DIRI DAN KEMANDIRIAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN ATTENTION RELEVANCE CONFIDENCE SATISFACTION (ARCS) (PTK Pada Siswa Kelas VIIA SMP Muhammadiyah 1 Surakarta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 50% dari jumlah korban sengatan listrik akan mengalami kematian. 1 Banyaknya

BAB I PENDAHULUAN. 50% dari jumlah korban sengatan listrik akan mengalami kematian. 1 Banyaknya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Trauma akibat sengatan listrik merupakan jenis trauma yang bisa berakibat fatal bagi manusia karena mempunyai nilai resiko kematian yang tinggi. Sekitar 50% dari jumlah

Lebih terperinci

STRUKTUR ATOM A. PENGERTIAN DASAR

STRUKTUR ATOM A. PENGERTIAN DASAR STRUKTUR ATOM A. PENGERTIAN DASAR 1. Partikel dasar : partikel-partikel pembentuk atom yang terdiri dari elektron, proton den neutron. 1. Proton : partikel pembentuk atom yang mempunyai massa sama dengan

Lebih terperinci

UJI LAPANGAN PERANGKAT DETEKSI GAMMA DENSITY HASIL REKAYASA BATAN PADA INDUSTRI & PERTAMBANGAN

UJI LAPANGAN PERANGKAT DETEKSI GAMMA DENSITY HASIL REKAYASA BATAN PADA INDUSTRI & PERTAMBANGAN UJI LAPANGAN PERANGKAT DETEKSI GAMMA DENSITY HASIL REKAYASA BATAN PADA INDUSTRI & PERTAMBANGAN 1 Rony Djokorayono, 2 Indarzah MP, 3 Usep S.G, 4 Utomo A 1,2,3,4 Pusat Rekayasa Perangkat Nuklir, Kawasan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL BERITA DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL ( Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ) Nomor : 15 Tahun : 2010 Seri : E PERATURAN BUPATI GUNUNGKIDUL NOMOR 23 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

Lebih terperinci

LAPORAN EVALUASI PROSES BELAJAR MENGAJAR (PBM) FAKULTAS SASTRA SEMESTER II 2000/2001

LAPORAN EVALUASI PROSES BELAJAR MENGAJAR (PBM) FAKULTAS SASTRA SEMESTER II 2000/2001 LAPORAN EVALUASI PROSES BELAJAR MENGAJAR (PBM) FAKULTAS SASTRA SEMESTER II 2000/2001 Bambang Yudi Cahyono 1 Abstrak: Kata kunci: evaluasi PBM, instrumen evaluasi Fakultas Sastra memandang perlu diadakan

Lebih terperinci

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis (Fisiologi Tumbuhan) Disusun oleh J U W I L D A 06091009027 Kelompok 6 Dosen Pembimbing : Dra. Tasmania Puspita, M.Si. Dra. Rahmi Susanti, M.Si. Ermayanti,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

Geni Rina Sunaryo Pusat Pengembangan T eknologi Keselamatan Nuklir (P2TKN)-BA TAN

Geni Rina Sunaryo Pusat Pengembangan T eknologi Keselamatan Nuklir (P2TKN)-BA TAN Jakarta. 15 Oktober 2002 ISSN: 0854-2910 PERHITUNGAN TEKANAN GAS H2 PADA KAPSUL FPM GAGAL DI TERAS REAKTOR RSG GAS Endiah Puji Hastuti Pusat Pengembangan Teknologi Reaktor Riset (P2TRR)-BATAN Geni Rina

Lebih terperinci

KAJIAN KANDUNGAN U DAN Th DALAM SEDIMEN SUNGAI DI SEMENANJUNG MURIA DENGAN METODA AKTIF DAN PASIF

KAJIAN KANDUNGAN U DAN Th DALAM SEDIMEN SUNGAI DI SEMENANJUNG MURIA DENGAN METODA AKTIF DAN PASIF 40 KAJIAN KANDUNGAN U DAN Th DALAM SEDIMEN SUNGAI DI SEMENANJUNG MURIA DENGAN METODA AKTIF DAN PASIF Sukirno dan J Djati Pramana P3TM BATAN ABSTRAK KAJIAN KANDUNGAN U DAN Th DALAM SEDIMEN SUNGAI DI SEMENANJUNG

Lebih terperinci

Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014)

Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014) Anna Ngatmira,SPd,MKM ( Jogjakarta, 25 November 2014) Joint Commission International (JCI) International Patient Safety Goals (IPSG) Care of Patients ( COP ) Prevention & Control of Infections (PCI) Facility

Lebih terperinci

PEMANFAATAN KAMERA DIGITAL UNTUK MENGGAMBAR PANJANG GELOMBANG SPEKTRUM BERBAGAI JENIS LAMPU KIND OF LAMPS

PEMANFAATAN KAMERA DIGITAL UNTUK MENGGAMBAR PANJANG GELOMBANG SPEKTRUM BERBAGAI JENIS LAMPU KIND OF LAMPS PEMANFAATAN KAMERA DIGITAL UNTUK MENGGAMBAR PANJANG GELOMBANG SPEKTRUM BERBAGAI JENIS LAMPU Bidayatul Armynah 1,*, Paulus Lobo Gareso 1, Hardiyanti Syarifuddin 1 Universitas Hasanuddin UTILIZATION DIGITAL

Lebih terperinci

Cara Pemeriksaan Kolesterol Total, kolesterol-hdl, Kolesterol-LDL dan. mutu dengan menggunakan serum kontrol yang nilainya normal dan abnormal.

Cara Pemeriksaan Kolesterol Total, kolesterol-hdl, Kolesterol-LDL dan. mutu dengan menggunakan serum kontrol yang nilainya normal dan abnormal. Lampiran 1 Cara Pemeriksaan Kolesterol Total, kolesterol-hdl, Kolesterol-LDL dan Trigliserida Sebelum dilakukan pemeriksaan, alat dan reagen dilakukan pengendalian mutu dengan menggunakan serum kontrol

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada umumnya, sebagian besar penyakit seringkali menimbulkan rasa nyeri. Walaupun nyeri ini sering berfungsi untuk mengingatkan dan melindungi serta memudahkan

Lebih terperinci

Nokia Mini Speakers MD-8. Edisi 1

Nokia Mini Speakers MD-8. Edisi 1 Nokia Mini Speakers MD-8 Edisi 1 7 Nokia, Nokia Connecting people, dan logo Nokia Original Accessories adalah merek dagang atau merek dagang terdaftar dari Nokia Corporation. Pendahuluan Selamat Anda telah

Lebih terperinci

PENENTUAN KADAR BESI DI AIR SUMUR PERKOTAAN, PEDESAAN DAN DEKAT PERSAWAHAN DI DAERAH JEMBER SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

PENENTUAN KADAR BESI DI AIR SUMUR PERKOTAAN, PEDESAAN DAN DEKAT PERSAWAHAN DI DAERAH JEMBER SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS PENENTUAN KADAR BESI DI AIR SUMUR PERKOTAAN, PEDESAAN DAN DEKAT PERSAWAHAN DI DAERAH JEMBER SECARA SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS SKRIPSI Oleh Khilda Tsamratul Fikriyah NIM 081810301049 JURUSAN KIMIA FAKULTAS

Lebih terperinci

PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN..

PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN.. PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN.. Kriiiing..kriiiing bel berbunyi, tanda jam pelajaran ke Sembilan sudah berbunyi, tanda masuk di dua jam terakhir. Aku berfikir

Lebih terperinci

ID0200243 ANALISIS KEANDALAN KOMPONEN DAN SISTEM RSG GAS DENGAN MENGGUNAKAN DATA BASE

ID0200243 ANALISIS KEANDALAN KOMPONEN DAN SISTEM RSG GAS DENGAN MENGGUNAKAN DATA BASE VrusiUinx Presentasi Ilmiah Tehmlogi Keselamatan Nukllr-V ISSN No. : 1410-0533 Serpong 2H Juni 2000 ' ID0200243 ANALISIS KEANDALAN KOMPONEN DAN SISTEM RSG GAS DENGAN MENGGUNAKAN DATA BASE Oleh : Demon

Lebih terperinci

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI A. DESKRIPSI Menurut Tayyari dan Smith (1997) fisiologi kerja sebagai ilmu yang mempelajari tentang fungsi-fungsi organ tubuh manusia yang

Lebih terperinci

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA KAJIAN KUAT TEKAN BETON DENGAN PERBANDINGAN VOLUME DAN PERBANDINGAN BERAT UNTUK PRODUKSI BETON MASSA MENGGUNAKAN AGREGAT KASAR BATU PECAH MERAPI (STUDI KASUS PADA PROYEK PEMBANGUNAN SABO DAM) Oleh : Yudi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Motor bakar salah satu jenis mesin pembakaran dalam, yaitu mesin tenaga dengan ruang bakar yang terdapat di dalam mesin itu sendiri (internal combustion engine), sedangkan

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGOPERASIAN

PETUNJUK PENGOPERASIAN PETUNJUK PENGOPERASIAN LEMARI PENDINGIN MINUMAN Untuk Kegunaan Komersial SC-178E SC-218E Harap baca Petunjuk Pengoperasian ini sebelum menggunakan. No. Pendaftaran : NAMA-NAMA BAGIAN 18 17 16 1. Lampu

Lebih terperinci

KONSENTRASI TRITIUM DALAM BENTUK MOLEKUL AIR (FWT) DI DALAM HUMUS

KONSENTRASI TRITIUM DALAM BENTUK MOLEKUL AIR (FWT) DI DALAM HUMUS Presiding Presenlasi Ilniiah Kcsclamalan Radiasi da» Lingkungaii, 20-21 Agustus 1996 ID0000088 KONSENTRASI TRITIUM DALAM BENTUK MOLEKUL AIR (FWT) DI DALAM HUMUS Poppy Intan Tjahaja Pusat Standardisasi

Lebih terperinci

Ketetapan resmi terkini ISCD tahun 2013 (pasien anak-anak) Dibawah ini adalah ketetapan resmi ISCD yang telah diperbaruhi tahun 2013

Ketetapan resmi terkini ISCD tahun 2013 (pasien anak-anak) Dibawah ini adalah ketetapan resmi ISCD yang telah diperbaruhi tahun 2013 Ketetapan resmi terkini ISCD tahun 2013 (pasien anak-anak) Dibawah ini adalah ketetapan resmi ISCD yang telah diperbaruhi tahun 2013 Gugus tugas tenatng kemungkinan resiko patah tulang serta definisi osteoporosis

Lebih terperinci

Nokia Bluetooth Headset BH-102. Edisi 1

Nokia Bluetooth Headset BH-102. Edisi 1 Nokia Bluetooth Headset BH-102 1 2 3 4 45 46 7 8 10 119 Edisi 1 PERNYATAAN KESESUAIAN Dengan ini, NOKIA CORPORATION menyatakan bahwa produk HS-107W telah memenuhi persyaratan utama dan ketentuan terkait

Lebih terperinci

EV ALUASI KANDUNGAN CS-137 DALAM AIR KALI CISALAK DAN CIPELANG

EV ALUASI KANDUNGAN CS-137 DALAM AIR KALI CISALAK DAN CIPELANG EV ALUASI KANDUNGAN CS-137 DALAM AIR KALI CISALAK DAN CIPELANG Suzie Darmawati, Sri Susilah, Sudiyati, Budi Hari Pusat Pengembang Pengelolaan Limbah Radioaktif ABSTRAK EVALUASI KANDUNGAN CS-137 DALAM AIR

Lebih terperinci

PEMASANGAN SISTEM MONITOR PADA SISTEM BANTU REAKTOR KARTINI

PEMASANGAN SISTEM MONITOR PADA SISTEM BANTU REAKTOR KARTINI PEMASANGAN SISTEM MONITOR PADA SISTEM BANTU REAKTOR KARTINI Marsudi, Rochim Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan BATAN Jl. Babarsari Kotak Pos 6101 ykbb, Yogyakarta 55281 ABSTRAK PEMASANGAN SISTEM

Lebih terperinci

Rauf Harmiady. Poltekkes Kemenkes Makassar ABSTRAK

Rauf Harmiady. Poltekkes Kemenkes Makassar ABSTRAK FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PELAKSANAAN PRINSIP 6 BENAR DALAM PEMBERIAN OBAT OLEH PERAWAT PELAKSANA DI RUANG INTERNA DAN BEDAH RUMAH SAKIT HAJI MAKASSAR Rauf Harmiady Poltekkes Kemenkes Makassar

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM JUDUL PRAKTIKUM: TEKNIK DASAR: TIMBANGAN, PIPET DAN PEMBUATAN LARUTAN

LAPORAN PRAKTIKUM JUDUL PRAKTIKUM: TEKNIK DASAR: TIMBANGAN, PIPET DAN PEMBUATAN LARUTAN LAPORAN PRAKTIKUM JUDUL PRAKTIKUM: TEKNIK DASAR: TIMBANGAN, PIPET DAN PEMBUATAN LARUTAN NAMA MAHASISWA : - Debby Mirani Lubis - T. Barlian WAKTU KEGIATAN : RABU/2 OKTOBER 2013, Pukul 08.00-11.00 I. TUJUAN

Lebih terperinci

A. TEKNIK DASAR PENGGUNAAN TIMBANGAN MANUAL DAN DIGITAL

A. TEKNIK DASAR PENGGUNAAN TIMBANGAN MANUAL DAN DIGITAL LAPORAN PRAKTIKUM 2 TEKNIK DASAR: TIMBANGAN, PIPET DAN PEMBUATAN LARUTAN Oleh : Ningrum Wahyuni Kegiatan Praktikum 2 : a. Teknik dasar penggunaan timbangan manual dan digital b. Teknik dasar penggunaan

Lebih terperinci

Perang di Luar Angkasa

Perang di Luar Angkasa Perang di Luar Angkasa Ini bukan seperti perang bintang yang digambarkan dalam film legendaris Star Wars. Perang ini terjadi di luar angkasa dalam upaya mencegah terjadinya perang di bumi ini. Bagaimana

Lebih terperinci

PEDOMAN RADIO KOMUNIKASI KEBENCANAAN

PEDOMAN RADIO KOMUNIKASI KEBENCANAAN PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 06 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN RADIO KOMUNIKASI KEBENCANAAN BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA

Lebih terperinci

DIGITAL PANEL METER-DPM (7 SEGMENT LED PANEL VOLT METER)

DIGITAL PANEL METER-DPM (7 SEGMENT LED PANEL VOLT METER) f f f f DIGITAL PANEL METER-DPM (7 SEGMENT LED PANEL VOLT METER) Digital Panel Meter perform digital processing on or conversion and display of voltages, currents, other analog signals, and pulse signals.

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN

LAMPIRAN 1 UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN 83 LAMPIRAN 1 UJI COBA INSTRUMEN PENELITIAN 83 84 Nama : Kelas/No. Absen : Petunjuk Pengisian Angket: Berilah tanda check ( ) pada kolom S (Selalu), SR (Sering), J (Jarang), TP (Tidak Pernah) sesuai dengan

Lebih terperinci

MENGHITUNG NILAI RATA-RATA SUATU DISTRIBUSI DATA

MENGHITUNG NILAI RATA-RATA SUATU DISTRIBUSI DATA MENGHITUNG NILAI RATA-RATA SUATU DISTRIBUSI DATA AMIYELLA ENDISTA SKG.MKM Email : amiyella.endista@yahoo.com Website : www.berandakami.wordpress.com Perhitungan Nilai Gejala Pusat Mean Median Modus Range

Lebih terperinci

LEMBAR KERJA V KOMPARATOR

LEMBAR KERJA V KOMPARATOR LEMBAR KERJA V KOMPARATOR 5.1. Tujuan 1. Mahasiswa mampu mengoperasikan op amp sebagai rangkaian komparator inverting dan non inverting 2. Mahasiswa mampu membandingkan dan menganalisis keluaran dari rangkaian

Lebih terperinci

PENCAPAIAN INDIKATOR MUTU BULAN JANUARI-MARET 2016

PENCAPAIAN INDIKATOR MUTU BULAN JANUARI-MARET 2016 KESEHATAN DAERAH MILITER III / SILIWANGI RUMAH SAKIT TK. II 3.5.1 DUSTIRA PENCAPAIAN INDIKATOR MUTU BULAN JANUARI-MARET 216 Jl. Dr. Dustira No.1 Cimahi Telp. 665227 Faks. 665217 email : rsdustira@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 34 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Posyandu wilayah binaan Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat. Puskesmas ini terletak di Jalan Angsana Raya

Lebih terperinci

Pertemuan 11. MONITOR dan MONITOR

Pertemuan 11. MONITOR dan MONITOR Pertemuan 11 MONITOR dan TROUBLESHOOTING MONITOR Jenis-jenis monitor Monitor merupakan komponen output yang digunakan untuk menampilkan teks atau gambar kelayar sehingga dapat dinikmati Oleh pemakai, monitor

Lebih terperinci

RUMAH SAKIT TK.III BALADHIKA HUSADA UNIT LABORATORIUM

RUMAH SAKIT TK.III BALADHIKA HUSADA UNIT LABORATORIUM RUMAH SAKIT TK.III BALADHIKA HUSADA UNIT LABORATORIUM PROGRAM PENINGKATAN MUTU DAN KESELAMATAN PASIEN UNIT LABORATORIUM RUMAH SAKIT TK. III BALADHIKA HUSADA TAHUN 2016 JEMBER, JANUARI 2016 1 1. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

Pengemasan dengan sterilisasi steam/gas. Sterilisasi dengan steam/gas. Pembungkus dapat ditembus oleh uap/gas Impermiabel bagi mikroba Tahan lama

Pengemasan dengan sterilisasi steam/gas. Sterilisasi dengan steam/gas. Pembungkus dapat ditembus oleh uap/gas Impermiabel bagi mikroba Tahan lama PERAWATAN DAN MAINTENANCE PREPARASI OPERASI Dr. Drh.Gunanti S,MS Bag Bedah dan Radiologi PERSIPAN PENGEMASAN Prinsip : bebas dari kontaminasi Peralatan dan bahan harus bersih : Alat dibersihkan manual/pembersih

Lebih terperinci

REAKTOR PEMBIAK CEPAT

REAKTOR PEMBIAK CEPAT REAKTOR PEMBIAK CEPAT RINGKASAN Elemen bakar yang telah digunakan pada reaktor termal masih dapat digunakan lagi di reaktor pembiak cepat, dan oleh karenanya reaktor ini dikembangkan untuk menaikkan rasio

Lebih terperinci

PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI JURU UKUR SEISMIK

PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI JURU UKUR SEISMIK PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI JURU UKUR SEISMIK KODE PROGRAM PELATIHAN C 11 20 0 1 1 1 II 01 DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I. DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS Jl.

Lebih terperinci