BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG"

Transkripsi

1 _'C.. BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG MILIK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, Menimbang : a. bahwa dalam paya penyelesaian kergian daerah sebagai akibat perbatan melanggar hkm ata kelalaian, sekaligs sebagai pembinaan ke arab timblnya rasa tanggng jawab para Bendahara, Pegawai bkan Bendahara yang merpakan hal yang sangat penting, perl dilakkan pengatran terhadap Tnttan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi Keangan dan Barang Milik Daerah; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksd dalam hrf a serta dalam rangka tertib administrasi, efektifitas, efesiensi, akntabilitas dan transparansi Ttntan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi Keangan dan Barang Milik Daerah, perl menetapkan Peratran Bpati tentang Tata Cara Penyelesaian Tnttan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi Keangan dan Barang Milik Daerah; Mengingat 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahn 1950 tentang Pembentkan Daerah Kabpaten Dalam Lingkngan Propinsi Jawa Timr Jncto Undang-Undang Nomor 2 Tahn 1965 tentang Perbahan Batas Wilayah Kotapraja Srabaya dan Daerah Tingkat II Srabaya (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 1965 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 2730); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahn 2003 tentang Keangan Negara (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 4286); 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahn 2004 tentang Perbendaharan Negara (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 4355); 4. Undang-Undang Nomor 15 Tahn 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggng Jawab Keangan Negara (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 4400); 5. Undang-Undang Nomor 32 Tahn 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia

2 2 Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali dibah te~akhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahn 2008 (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 4844); 6. Peratran Pemerintah Nomor 58 Tahn 2005 tentang Pengelolaan Keangan Daerah (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 4578); 7. Peratran Pemerintah Nomor 6 Tahn 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/ Daerah (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2006 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 4614); 8. Peratran Pemerintah Nomor 52 Tahn 2010 tentang Peratran Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 1980 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 5153); 9. Peratran Badan Pemeriksa Keangan Nomor 3 Tahn '2007 tentang Tata Cara Penyelesaian Ganti Kergian Negara Terhadap Bendahara; 10. Peratran Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahn 1997 tentang Tnttan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi Keangan dan Barang Daerah; 11. Peratran Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahn 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keangan Daerah, sebagaimana telah beberapa kali dibah, terakhir dengan Peratran Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahn 2011; 12. Peratran Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahn 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah; 13. Peratran Daerah Kabpaten Sidoarjo Nomor 4 Tahn 2007 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keangan Daerah (Lembaran Daerah Kabpaten Sidoarjo Tahn 2007 Nomor 2 Seri E); 14. Peratran Daerah Kabpaten Sidoarjo Nomor 12 Tahn 2008 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah (Lembaran Daerah Kabpaten Sidoarjo Nomor 1 Tahn 2008 Seri E); MEMUTUSKAN : Menetapkan: PERATURAN BUPATI TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG MILIK DAERAH. BABI KETENTUAN UMUM Pasal1 Dalam Peratran Bpati ini yang dimaksd dengan : 1. Daerah adalah Kabpaten Sidoarjo. 2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabpaten Sidoarjo. 3. Bpati adalah Bpati Sidoarjo. 4. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kabpaten Sidoarjo. 5. Inspektorat adalah Inspektorat Kabpaten Sidoarjo. 6. Majelis Pertimbangan Tnttan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi yang selanjtnya disebt Majelis adalah para pejabat yang ex-officio ditnjk oleh Bpati dalam penyelenggaraan kergian daerah.

3 Satan Kerja Perangkat Daerah yang selanjtnya disingkat SKPD, adalah Satan Kerja Perangkat Daerah di lingkngan Pemerintah Kabpaten Sidoarjo.. 8. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang Selanjtnya disingkat APBD adalah Anggran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabpaten Sidoarjo. 9. Aparat Pengawas Fngsional adalah Badan Pemeriksan Keangan Repblik Indonesia dan Inspektorat Kabpaten Sidoarjo. 10. Bendahara adalah setiap orang ata badan yang diberi tgas ntk dan atas nama daerah, menerima, menyimpan, dan membayar I menyerahkan ang ata srat berharga ata barang-barang milik d.aerah. 11. Pegawai adalah Pegawai Negeri Sipil ata orang yang diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tgas dalam sat jabatan dilingkngan Pemerintah Kabpaten Sidoarjo yang ditetapkan dengan Keptsan BpatifKepala SKPD, termask pegawai negeri pada lnstansi vertikal, lembaga negara/ daerah yang mengelola/ menggnakan APBD mapn barang milik daerah. 12. Barang milik daerah adalah sema barang yang dimiliki Pemerintah Kabpaten Sidoarjo baik yang berasal dari pembelian ata perolehan atas be ban APBD ata perolehan lainnya yang sah. 13. Tnttan Perbendaharaan selanjtnya disingkat TP, adalah proses tnttan terhadap Bendahara jika dalam pengrsannya terdapat k~krangan perbendaharaan ata selisih krang antara saldo bk kasfbk persediaan dengan saldo kasfsisa barang yang sesngghnya terdapat didalam gdang ata tempat lain yang ditnjk. 14. Tnttan Ganti Rgi selanjtnya disingkat. TGR, adalah sat proses tnttan terhadap pegawai dalam keddkannya bkan sebagai Bendahara, dengan tjan menntt penggantian kergian disebabkan oleh perbatannya melanggar hkm dan/ ata melalaikan kewajibannya sebagaimana mestinya sehingga baik secara langsng atapn tidak langsng mengakibatkan kergian daerah. 15. Tnttan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi selanjtnya disingkat TP-TGR adalah proses Tnttan melali TP dan TGR bagi bendaharafpegawai bkan bendahara yang mengakibatkan kergian daerah. 16. TP-TGR Khss adalah proses Tnttan melali TP-TGR dalam hal bendahara/ pegawai bkan bendahara meninggal dnia, melarikan diri a ta berada dibawah pengampan, dan terdapat ahli warisfpengamp, ata pihak yang mewakili dan bertanggngjawab atas penyelesaian kergian daerah yang dilakkan bendahara/ pegawai bkan bendahara. 17. Kergian Daerah adalah berkrangnya kekayaan daerah yang disebabkan oleh sat tindakan melanggar hkm ata kelalaian bendahara, pegawai bkan bendahara danfata disebabkan sesat keadaan dilar dgaan dan dilar kemampan mansia (force majer). 18. Upaya damai adalah penyelesaian TP-TGR yang dilaksanakan oleh Majelis/lnspektorat berdasarkan pengasan dari Bpati dan/ ata teman pada saat pemeriksaan oleh aparat pengawasan fngsional tanpa melibatkan Majelis. 19. Srat Keterangan Tanggngjawab Mtlak yang selanjtnya disingkat SKTJM adalah srat keterangan yang menyatakan kesanggpan dan/ a ta pengakan bahwa bendaharafpegawai bkan bendahara bertanggngjawab atas kergian daerah yang terjadi dan bersedia mengganti kergian daerah dimaksd. 20. Pembebanan Sementara adalah penetapan sementara jmlah kergian daerah kepada bendahara karena SKTJM tidak diperoleh ata tidak dapat menjamin pengembalian kergian daerah.

4 4 21. Penetapan Batas Wakt adalah pemberian kesempatan kepada bendahara ntk mengajkan keberatan ata pembelaan diri atas tnttan penggantian kergian daerah. 22. Pembebanan adalah penetapan jmlah kergian daerah yang hars dikembalikan kepada daerah oleh bendahara/ pegawai bkan bendahara. yang terbkti menimblkan kergian daerah. 23. Perhitngan ex-officio adalah perhitngan perbendaharaan yang dilakkan oleh pegawai/ pejabat yang ditnjk apabila bendahara meninggal dnia, melarikan diri ata tiba-tiba berada dibawah pengampan dan/ ata bendahara tidak membat pertanggngjawaban dimana telah ditegr oleh atasan langsngnya, namn sampai batas wakt yang diberikan berakhir tetap tidak dapat membat perhitngan dan pertanggngjawabannya. 24. Pencatatan adalah proses tnttan perberidaharaan ntk sementara ditangghkan karena bendaharajpegawai bkan bendahara meninggal dnia tanpa ahli waris, melarikan diri ata tidak diketahi alamatnya. 25. Kadalwarsa adalah jangka wakt yang menyebabkan ggmya hak ntk melakkan tnttan perbendaharaan dan tnttan ganti rgi terhadap bendahara/ pegawai bkan bendahara. 26. Pembebasan adalah membebaskan/meniadakan kewajiban seseorang ntk membayar htang kepada daerah yang menrt hkm menjadi tanggngannya, tetapi atas dasar pertimbangan keadilan ata alasan penting tidak layak ditagih darinya dan yang bersangktan terbkti tidak bersalah. Dalam hal ini daerah melepaskan hak tagihnya sehingga hak tagih it menjadi bebas selrhnya ata hanya sebagian tertent. 27. Penghapsan adalah menghapskan tagihan daerah dari administrasi pembkan karena alasan tertent (tidak mamp membayar) selrhnya mapn sebagian dan apabila dikemdian hari yang bersangktan mamp, kewajiban dimaksd akan ditagih kembali. 28. Pitang TP-TGR adalah pitang/hak tagih Pemerintah Kabpaten Sidoarjo yang timbl karena pengenaan TP-TGR yang didkng dengan bkti SKTJM ata srat pembebanan. BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 Peratran Bpati ini mengatr Tnttan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi, melipti: a. Keangan danjata barang milik daerah di lingkngan Pemerintah Kabpaten Sidoarjo. b. Keangan dan/ ata barang bkan milik daerah, yang berada dalam pengasaan bendahara/ pegawai bkan bendahara yang dignakan dalam penyelenggaraan tgas pemerintahan daerah. c. Pengelola Badan Usaha Milik Daerah yang selrh ata paling sedikit 51 % (lima plh sat persen) sahamnya dimiliki oleh pemerintah daerah, sepanjang tidak diatr dalam peratran perndang-ndangan tersendiri. Pasa13 (1) TP-TGR dilakkan karena perbatan bendaharajpegawai bkan bendahara baik disengaja ata tidak disengaja mapn dilar kemampannya yang mengakibatkan kergian daerah, melipti tnttan perbendahraan dan tnttan ganti rgi. (2) Tnttan Perbendaharaan sebagaimana dimaksd pada ayat (1), apabila:

5 5 a. tidak melakkan pembkan dan penyetoran atas penerimaan/ pengelaran ang/barang milik daerah dalam pengrsannya; b. membayarfmemberifmengelarkan ang/barang milik daerah yang dalam pengrsannya kepada pihak yang tidak berhak dan/ a ta secara tidak sah; c. tidak membat pertanggngjawaban keangan/barang milik daerah dalam pengrsannya; d. tertip, tercri, tertodong, terampok terhadap ang/barang milik daerah yang dalam pengrsannya; e. pertanggngjawaban ata laporan yang tidak sesai dengan kenyataan; f. m~nerima dan menyimpan ang pals; dan g. menghilangkan ang/barang milik daerah dalam pengrsannya. (3) Tnttan Ganti Rgi sebagaimana dimaksd pada ayat (1), apabila: a. tertip, tercri, tertodong, terampok terhadap barang milik daerah yang dalam tanggng jawabnya; b. mersak ata menghilangkan barang milik daerah yang menjadi tanggng jawabnya; c. menaikkan harga, mengbah kalitas; d. meninggalkan tgas danfata pekerjaan setelah selesai melaksanakan tgas belajar; dan e. meninggalkan tgas belajar sebelm selesai batas wakt yang telah ditentkan. BABIII PEMBENTUKAN MAJELIS PERTIMBANGAN TP-TGR Pasal4 (1) Bpati dalam melaksanakan TP-TGR, dibant oleh Majelis. (2) Majelis sebagaimana dimaksd pada ayat (1) ditetapkan dengan Keptsan Bpati dan bertanggng jawab langsng kepada Bpati. (3) Majelis bertgas memperoses penyelesaian kergian daerah terhadap: a. Bendahara, yang pembebanannya akan ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keangan; b. Pegawai bkan bendahara, yang pembebanannya akan ditetapkan oleh Bpati. (4) Dalam melaksanakan tgas sebagaimana dimaksd pada ayat (3), Majelis menyelenggarakan fngsi ntk : a. menginventarisir kass kergian daerah yang diterima; b. menghitng jmlah kergian daerah; c. mengmplkan dan melakkan veriftkasi bkti-bkti pendkng bahwa bendaharaf pegawai bkan bendahara telah melakkan perbatan melawan hkm baik sengaja mapn lalai sehingga mengakibatkan teljadinya kergian daerah; d. menginventarisasi harta kekayaan milik bendahara/ pegawai bkan bendahara yang dapat dijadikan sebagai jaminan penyelesaian kergian daerah; e. menyelesaikan kergian daerah melali SKTJM; f. memberikan pertimbangan kepada Bpati tentang kergian daerah sebagai bahan pengambilan keptsan dalam menetapkan pembebanan sementara dan pembebanan; g. menatasahakan penyelesaian kergian daerah; dan h. menyampaikan laporan perkembangan penyelesaian kergian daerah kepada Bpati dengan tembsan kepada Badan Pemeriksan Keangan.

6 6 BABIV INFORMASI KERUGIAN DAERAH Pasal 5 Informasi mengenai adanya kergian daerah dapat diketahi dari : a. laporan basil pemeriksaan pengawas fngsional; b. laporan pengawasan melekat yang dilakkan oleh Atasan Langsng; c. laporan Pejabat yang diberikan kewenangan melakkan verifikasi pada Badan Usaha Milik Daerah; d. laporan pegawai kepada instansi yang berwenang terhadap kehilangan barang yang qerada dalam pemakaiannya; e. perhitngan ex-officio. BABV PELAKSANAAN PENYELESAIAN TP-TGR Bagian Kesat Penyelesaian Tnttan Perbendaharaan Paragraf 1 Umm Pasal6 U (1) Atasan langsng bendahara ata kepala satan kerja wajib melaporkan setiap kergian daerah kepada Bpati dan memberitahkan Badan Pemeriksa Keangan selambat-lambatnya 7 (tjh) hari kerja setelah kergian daerah diketahi. (2) Pemberitahan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) dilengkapi sekrangkrangnya dengan dokmen Berita Acara Pemeriksaan Kas/Barang. (3) Bentk dan isi srat pemberitahan kepada Badan Pemeriksan Keangan tentang kergian daerah, sebagaimana tercantm dalam lampiran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini. Pasa17 Bpati segera mengaskan Majelis ntk menindaklanjti kass kergian daerah selambat-lambatnya 7 (tjh) hari kerja sejak menerima laporan sebagaimana dimaksd dalam Pasal 6 ayat ( 1). Pasal8 (1) Majelis mengmplkan dan melakkan verifikasi dokmen-dokmen, antara lain sebagai berikt: a. srat Keptsan Pengangkatan sebagai bendahara ata sebagai pejabat yang melaksanakan fngsi kebendaharaan; b. berita acara pemeriksaan kas/barang; c. register pentpan bk kas/barang; d. srat keterangan tentang sisa ang yang belm dipertanggngjawabkan dari Penggna Anggaran/ Kasa Penggna Anggaran; e. srat keterangan bank tentang saldo kas di bank bersangktan; f. fotokopi/ rekaman bk kas mm blan yang bersangktan. yang memat adanya kekrangan kas;

7 7 g. srat tanda lapor dari kepolisian dalam hal kergian daerah mengandng indikasi tindak pidana; h. berita acara pemeriksaan tempat kejadian perkara dari kepolisian dalam hal kergian daerah terjadi karena pencrian ata perampokan; i. srat keterangan ahli waris dari kelrahan ata pengadilan (2) Majelis mencatat kergian daerah yang dilakkan oleh bendahara dalam daftar kergian daerah. (3) Daftar kergian daerah dibat sesai dengan format sebagaimana tercantm dalam lampiran dan merpakan bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini. Pasa19 (1) Majelis hars menyelesaikan veriftkasi sebagaimana dimaksd dalam Pasal 8 ayat (1) dalam wakt 30 (tiga plh) hari sejak memperoleh pengasan sebagaimana dimaksd dalam Pasal 7. (2) Selama dalam proses penelitian, bendahara dibebastgaskan sementara dari jabatannya. (3) Pembebastgasan dan pennjkan bendahara pengganti dilaksanakan sesai ketentan. Pasal10 ( 1) Majelis melaporkan basil veriftkasi dalam Laporan Hasil Verifikasi Kergian Daerah dan disampaikan kepada BUpati. (2) Bpati menyampaikan Laporan Hasil Veriftkasi Kergian Daerah sebagaimana dimaksd pada ayat (1) kepada Badan Pemeriksa Keangan selambat-lambatnya 7 (tjh) hari sejak diterimanya dari Majelis dengan dilerigkapi dokmen sebagaimana dimaksd dalam Pasal8 ayat (1). Pasal11 (1) Pengenaan ganti kergian daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh Badan Pemeriksaan Keangan berdasarkan basil pemeriksaan atas laporan kergian daerah sebagaimana dimaksd dalam Pasal10 ayat (2). (2) Tata cara pengenaan ganti kergian sebagaimana dimaksd pada ayat (1), dilaksanakan sesai peratran perndang-ndangan. (3) Apabila dari basil pemeriksaan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) terbkti ada perbatan melawan hkm baik sengaja mapn lalai, maka Bpati memerintahkan Majelis ntk memproses penyelesaian kergian daerah melali SKTJM. (4) Apabila dari basil pemeriksaan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) temyata tidak terdapat perbatan melawan hkm baik sengaja mapn lalai, maka Bpati memerintah Majelis agar kass kergian daerah dihapskan dan dikelarkan dari daftar kergian daerah. Pasall2 Dalam mengmplkan data dan melakkan veriftkasi dokmen-dokmen sebagaimana dimaksd dalam Pasal 8 ayat (1) dan dalam memproses penyelesaian kergian daerah melali SKTJM sebagaimana dimaksd dalam Pasal11 ayat (3), Majelis dapat dibant oleh Inspektorat.

8 8 Paragraf 2 UpayaDamai Pasal13 Majelis mengpayakan agar bendahara bersedia membat dan menandatangani SKTJM paling lambat 7 (tjh) hari setelah menerima srat dari Badan Pemeriksa Keangan sebagaimana dimaksd dalam Pasal 11 ayat (3). Pasal14 (1) Dalam hal bendahara menandatangani SKTJM, maka yang bersangktan wajib menyerahkan jaminan kepada Majelis, antara lain dalam bentk dokmen-dokmen sebagai berikt: a. bkti kepemilikan barang dan/ a ta kekayaan lain atas nama bendahara yang nilainya minimal sama ata lebih dengan jmlah kergian daerah yt;mg hars dipertanggngjawabkan; b. srat kasa menjal dan/ ata mencairkan barang dan/ ata kekayaan lain dari bendahara. (2) SKTJM yang telah ditandatangani oleh bendahara tidak dapat ditarik kembali. (3) Bentk dan isi SKTJM sebagaimana tercantm dalam lampiran dan merpakan bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini. Pasal15 (1) Penggantian kergian daerah dapat dilakkan secara: a. tnai selambat-lambatnya 40 (empat plh) hari keija sejak SKTJM ditandatangani. b. angsran selambat-lambatnya 2 (da) tahn sejak SKTJM ditandatangani. (2) Apabila bendahara telah mengganti kergian daerah sebagaimana dimaksd dalam ayat ( 1), Majelis mengembalikan bkti kepemilikan barang dan srat kasa menjal sebagaimana dimaksd dalam Pasal14 ayat (1). (3) Apabila bendahara tidak dapat melaksanakan pembayaran angsran dalam wakt yang ditetapkan dalam SKTJM sebagaimana dimaksd pada ayat (1) hrf b, maka barang jaminan dapat dijal oleh Mejelis sesai dengan peratran perndang-ndangan yang berlak. (4) Apabila nilai barang jaminan sebagimana dimaksd pada ayat (3) melebihi dari jmlah kergian daerah, maka kelebihannya dikembalikan kepada bendahara yang bersangktan ata ahli waris ata pengamp.. (5) Apabila nilai barangjaminan sebagimana dimaksd pada ayat (3) krang dari jmlah kergian daerah, maka bendahara yang bersangktan ata ahli waris ata pengamp wajib memenhi kekrangan jmlah kergian d~erah terse bt. Pasal16 Dalam rangka pelaksanaan SKTJM, bendahara dapat menjal dan/ata mencairkan harta kekayaan yang dijaminkan sebagaimana dimaksd dalam Pasal 14 ayat (1), setelah mendapat persetjan dan di bawah pengawasan Majelis. Pasall7 (1) Majelis melaporkan hasil penyelesaian kergian daerah melali SKTJM ata srat pemyataan bersedia mengganti kergian daerah kepada Bpati.

9 .. 9 (2) Bpati memberitahkan basil penyelesaian kergian daerah melali SKTJM ata srat pemyataan bersedia mengganti kergian daerah sebagaimana dimaksd pada ayat (1) kepada Badan Pemeriksa Keangan selambatlambatnya 7 (tjh) hari sejak menerima laporan Mejelis. Pasal18 Dalam hal bendahara telah mengganti kergian daerah sebagaimana dimaksd dalam Pasal 15 ayat (2) dan setelah mendapat srat rekomendasi dari Badan Pemeriksa Keangan, Bpati memerintahkan Majelis agar kass kergian daerah dikelarkan dari daftar kergian daerah. Pasal19 Dalam hal kass kergian daerah diperoleh berdasarkan pemeriksaan yang dilakkan oleh aparat pengawasan fngsional, dan dalam proses pemeriksaan tersebt bendahara bersedia mengganti kergian secara skarela, maka bendahara membat dan menandatangani SKTJM di hadapan pemeriksa aparat pengawasan fngsional. Paragraf 3 Tnttan Perbendaharaan Biasa Pasal 20 (1) Dalam hal SKTJM tidak diperoleh ata tidak dapat menjamin pengembalian kergian daerah, Bpati mengelarkan keptsan pembebanan sementara dalam jangka wakt 7 (tjh) hari sejak bendahara tidak bersedia menandatangani SKTJM. (2) Bpati memberitahkan keptsan pembebanan sementara kepada Badan Pemeriksa Keangan. (3) Bentk dan isi keptsan pembebanan sementara sebagaimana tercantm dalam lampiran dan merpakan bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini. Pasal 21 (1) Keptsan pembebanan sementara mempnyai kekatan hkm ntk melakkan sita jaminan. (2) Pelaksanaan sita jaminan sebagaimana dimaksd pada ayat (1), diajkan oleh Bpati kepada instansi yang berwenang melakkan penyitaan. (3) Pelaksanaan sita jaminan dilakkan sesai dengan peratran perndangndangan. Pasal 22 Bendahara dapat mengajkan keberatan ata pembelaan diri atas kergian daerah kepada Badan Pemeriksa Keangan dalam wakt 14 (empat belas) hari kerja setelah tanggal penerimaan SK PBW yang tertera pada tanda terima. Pasal 23 Tata Cara penetapan batas wakt pengajan keberatan sebagaimana diatr dalam peratran perndang-ndangan.

10 10 Paragraf 4 Pembebanan Pasal 24 Ketentah penerbitan Keptsan Pembebanan ganti kergian daerah oleh BPK terhadap bendahara, diatr sebagaimana peratran perndang-ndangan. Pasal 25 (1) Keptsan Pembebanan disampaikan kepada bendahara melali atasan langsng bendahara ata kepala SKPD bendahara dengan tembsan kepada Bpati yang dengan tanda terima dari bendahara. (2) Keptsan Pembebanan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) telah mempnyai kekatan hkm yang bersifat final. U Pasal 26 Ketentan proses ptsan ditolak ata diterimanya keberatan bendahara serta proses penetapan Srat Keptsan Pembebasan bendahara dari tanggngjawab kergian daerah oleh Badan Pemeriksaan Keangan diatr sebagaimana peratran perndang-ndangan yang berlak. Paragraf5 Tnttan Perbendaharaan Khss Pasal 27 ( 1) Bendahara yang melarikan diri a ta sedang di bawah pengamanan dan lalai tidak membat perhitngan, setelah ditegr secara tertlis 3 (tiga) kali bertrt-trt dan belm jga menyampaikan perhitngan, maka atasan langsng yang bersangktan melakkan tindakan pengamanan. (2) Apabila bendahara meninggal dnia dan belm ata tidak sempat menyampaikan perhitngan, atasan langsng yang bersangktan melakkan tindakan pengamanan. (3) Tindakan pengamanan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) dan ayat (2) tersebt berpa : a. bk kas dan sema bk pembant la.inriya diberi garis pentp dan ditandatangani oleh kepala SKPD, serta sema ang, srat dan barang berharga, srat-bkti bkti mapn bk-bk disimpan/ dimaskkan dalam lemari besi dan disegel; b. penyegelan terhadap gdang dan/ ata tempat penyimpanan barangbarang yang menjadi tanggng jawab bendahara yang bersangktan. (4) Tindakan pengamanan sebagaimana dimaksd pada ayat (3) ditangkan dalam berita acara. (5) Penyegelan yang disaksikan oleh ahli waris bagi bendahara yang meninggal dnia dan kelarga terdekat bagi yang melarikan diri, ata pengamp (krator) dalam hal bendahara berada dibawah pengampan. Pasal 28 (1) Atas dasar laporan atasan langsng/kepala SKPD, Bpati atas saran Majelis mengaskan Inspektorat ata mennjk penilai ntk membat perhitngan/ penilaian kergian daerah

11 ; 11 (2) Salinan basil perhitnganjpenilaian kergian daerah, diberikan kepada pengamp ata ahli waris ata bendahara yang tidak membat perhitngan, dan dalam batas wakt 14 (empat belas) hari diberikan kesempatan 1:1ntk mengajkan keberatan. Pasal 29 Tata cara tnttan perbendaharaan khss yang dipertanggngjawabkan kepada ahli waris bagi bendahara yang meninggal dnia, kelarga terdekat bagi bendahara yang melarikan diri dan pengamp bagi yang dibawah perwalian, ata bendahara yang tidak membat perhitngan, apabila teijadi kekrangan perbendaharaan berlak ketentan-ketentan sebagaimana diatr dalam tnttan perbendaharaan biasa. Pargraf 6 Pencatatan Pasal 30 (1) Ketentan penerbitan Keptsan Pencatatan oleh BPK terhadap Bendahara, diatr sebagaimana peratran perndang-ndangan yang berlak. (2) Dengan diterbitkannya Keptsan Pencatatan sebagaimana dimaksd pada ayat ( 1), kass yang bersangktan dikelarkan dari administrasi pembkan pitangtp. (3) Pencatatan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) sewakt-wakt dapat diproses kembali apabila : a. Pelak TP diketahi alamatnya; b. Pengamp/ ahli waris dapat dimintakan pertanggngjawabannya; dan c. Pitang TP dapat ditagih dan disetorkan ke kas daerah. (4) Bentk dan isi keptsan pencatatan dibat sesai dengan yang tercantm dalam lampiran dan merpakan bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini. Bagian Keda Penyelesaian Tnttan Ganti Rgi Paragraf 1 Umm Pasal 31 (1) Atasan langsng pegawai bkan bendahara ata kepala satan kerja wajib melaporkan setiap kergian daerah kepada Bpati dan memberitahkan Badan Pemeriksa Keangan selambat-lambatnya 7 (tjh) hari kerja setelah kergian daerah diketahi. (2) Pemberitahan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) dilengkapi sekrangkrangnya dengan dokmen Berita Acara Pemeriksaan Kergian Daerah. Pasal 32 ( 1) Bpati segera mengaskan Majelis ntk menindaklanjti kass kergian daerah yang dilakkan oleh pegawai bkan bendahara selambat-lambatnya 7 (tjh) hari keija sejak menerima laporan sebagaimana dimaksd dalam Pasal31 ayat (1). (2) Majelis mencatat kergian daerah yang dilakkan oleh pegawai bkan bendahara dalam daftar kergian daerah.

12 ; 12 Pasa133 ( 1) Majelis hars melaksanakan pemeriksaan kass kergian daerah yang dilakkan pegawai bkan bendahara dalam wakt 30 (tiga plh) hari sejak memperoleh pengasan sebagaimana dimaksd dalam Pasal32 ayat (1).. (2) Majelis melaporkan hasil pemeriksaan kass kergian daerah sebagaimana dimaksd pada ayat (1) dalam Laporan Hasil Pemeriksaan Kergian Daerah dan disampaikan kepada Bpati. (3) Bpf!Lti menyampaikan laporan hasil penyelesaian kass kergiari Daerah sebagaimana dimaksd pada ayat (2) kepada Badan Pemeriksa Keangan selambat-lambatnya 7 (tjh) hari sejak diterimanya dari Majelis. Pasal 34 (1) Pengenaan ganti kergian daerah terhadap pegawai bkan bendahara ditetapkan oleh Bpati berdasarkan hasil pemeriksaan atas laporan kergian daerah sebagaimana dimaksd dalam Pasal33 ayat (2). (2) Apabila dari hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) terbkti ada perbatan melawan hkm baik sengaja mapn lalai, maka Bpati memerintahkan Majelis ntk memproses penyelesaian kergian daerah melali SKTJM. (3) Apabila dari hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) temyata tidak terdapat perbatan melawan hkm baik sengaja mapn!alai, maka Bpati menetapkan Srat Keptsan Pembebasan dan memerintah Majelis agar kass kergian daerah dihapskan dan dikelarkan dari daftar kergian daerah. (4) Bentk dan isi keptsan pembebasan dibat sesai dengan yang tercantm dalam lampiran dan merpakan bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini. Pasal 35 Dalam melaksanakan pemeriksaan kass kergian daerah sebagaimana dimaksd dalam Pasal 33 ayat (1), dan dalam memproses penyelesaian kergian daerah melali SKTJM sebagaimana dimaksd dalam Pasal 34 ayat (2), Majelis dapat dibant oleh Inspektorat. Pasal36 (1) Kergian daerah yang terjadi akibat kesalahan beberapa pegawai danfata pejabat yang dalam pemeriksaan terbkti melakkan bersama-sama, merpakan tanggng jawab renteng dan ditetapkan berdasarkan bobot keterlibatannya sesai rtan inisiatif, kelalaianfkesalahan. (2) Kergian daerah yang terjadi akibat pemakaian kendaraan operasional oleh nit lain dalam sat SKPD ntk kepentingan dinas merpakan tanggng jawab pemakai barang. (3) Kergian daerah yang terjadi akibat pemakaian kendaraan operasional oleh nit lain dalam sat SKPD dilar kepentingan dinas merpakan tanggng jawab renteng penggna barang dan pemakai barang. (4) Kergian daerah yang terjadi akibat pemakaian kendaraan operasional oleh lembaga non pemerintahfperorangan dilar kepentingan dinas merpakan tanggng jawab penggna barang.

13 13 Paragraf2 Upaya Damai Pasal37 Majelis mengpayakan agar pegawai bkan bendahara bersedia membat dan menandatangani SKTJM paling lambat 7 (tjh) hari setelah menerima sra~ dari Bpati sebagaimana dimaksd dalam Pasal34 ayat (2). Pasal 38 (1) Dala.In hal pegawai bkan bendahara menandatangani SKTJM, maka yang bersangktan wajib menyerahkan jaminan kepada Majelis dalam bentk dokmen-dokmen sebagai berikt: a. bkti kepemilikan barang danfata kekayaan lain atas nama pegawai bkan bendahara yang nilainya minimal sama ata lebih dengan jmlah kergian daerah yang hars dipertanggngjawabkan; b. srat kasa menjal dan/ a ta mencairkan barang dan/ ata kekayaan lain dari bendahara. (2) SKTJM yang telah ditandatangani oleh pegawai bkan bendahara tidak dapat ditarik kembali. Pasal 39 ( 1) Penggantian kergian daerah dapat dilakkan secara : a. tnai selambat-lambatnya 40 (empat plh) hari keija sejak SKTJM ditandatangani. b. angsran selambat-lambatnya 2 (da) tahn sejak SKTJM ditandatangani. (2) Apabila pegawai bkan bendahara telah mengganti kergian daerah sebagaimana dimaksd pada ayat (1), Majelis mengembalikan bkti kepemilikan barang dan srat kasa menjal sebagaimana dimaksd dalam Pasal38 ayat (1). (3) Pegawai bkan bendahara tidak dapat melaksanakan pembayaran angsran dalam wakt yang ditetapkan dalam SKTJM sebagaimana dimaksd pada ayat (1) hrf b, maka barangjaminan dapat dijal oleh Majelis sebagaimana dimaksd dalam pasal 38 ayat (1) sesai dengan peratran perndangndangan yang berlak. (4) Apabila nilai barang jaminan sebagimana dimaksd pada ayat (3) melebihi dari jmlah kergian daerah, maka kelebihannya dikembalikan kepada pegawai yang bersangktan ata ahli waris ata pengamp. (5) Apabila nilai barang jaminan sebagimana dimaksd pada ayat (3) krang dari jmlah kergian daerah, maka pegawai yang bersangktan ata ahli waris ata pengamp wajib memenhi kekrangan jmlah kergian daerah terse bt. Pasal 40 Dalam rangka pelaksanaan SKTJM, pegawai bkan bendahara dapat menjal dan/ ata mencairkan harta kekayaan yang dijaminkan sebagaimana dimaksd dalam Pasal38 ayat (1), setelah mendapat persetjan dan di bawah pengawasan Majelis. Pasal 41 (1) Majelis melaporkan hasil penyelesaian kergian daerah melali SKTJM ata srat pernyataan bersedia mengganti kergian daerah kepada Bpati.

14 14 (2) Bpati memberitahkan basil penyelesaian kergian daerah melali SKTJM ata srat pemyataan bersedia mengganti kergian daerah sebagaimana dimaksd pada ayat (1) kepada Badan Pemeriksa Keangan selambatlambatnya 7 (tjh) hari sejak menerima laporan Majelis. Pasal 42 Dalam hal pegawai bkan bendahara telah mengganti kergian daerah sebagaimana dimaksd dalam Pasal 39 ayat (2) dan setelah mendapat srat rekomendasi dari Badan Pemeriksa Keangan, Bpati memerintahkan Majelis agar kass kergian daerah dikelarkan dari daftar kergian daerah. Pasal 43 Dalam hal kass kergian daerah diperoleh berdasarkan pemeriksaan yang dilakkan oleh aparat pengawasan fngsional, dan dalam proses pemeriksaan tersebt pegawai bkan bendahara bersedia mengganti kergian secara skarela, maka pegawai bkan bendahara membat dan menandatangani SKTJM di hadapan pemeriksa aparat pengawasan fngsional. Paragraf 3 Tnttan Ganti Rgi Biasa Pasal 44 (1) Apabila penyelesaian kergian daerah melali paya damai sebagaimana dimaksd dalam Pasal 37 tidak berhasil, maka Majelis memberikan srat pemperitahan kepada pegawai bkan bendahara yang bersangktan bahwa TGR akan diberlakkan. (2) Pegawai bkan bendahara dapat mengajkan keberatan ata pembelaan diri atas kergian daerah kepada Bpati dalam wakt 14 (empat belas) hari kerja setelah tanggal penerimaan srat pemberitahan yang tertera pada tanda terima sebagaimana dimaksd pada ayat (1). (3) Apabila dalam jangka wakt 14 (empat belas) hari pegawai bkan bendahara yang bersangktan tidak mengajkan keberatan/pembelaan diri ata telah mengajkan pembelaan diri tetapi Mejelis menganggap yang bersangktan salah ata lalai, Majelis mengslkan pembebanan kepada Bpati ntk menetapkan srat keptsan pembebanan. (4) Berdasarkan pengslan Majelis sebagaimana dimaksd pada ayat (3), Bpati menetapkan Keptsan Pembebanan. (5) Berdasarkan Keptsan Pembebanan sebagaimana dimaksd pada ayat (4), Majelis melaksanakan penagihan atas pembayaran ganti rgi kepada yang bersangktan. (6) Dalam wakt 30 (tiga plh) hari sejak yang bersangktan menerima keptsan pembebanan, kepadanya diberikan kesempatan ntk naik banding kepada Bpati. (7) Keptsan pembebanan sebagaimana dimaksd pada ayat (4) tetap dilaksanakan, meskipn pegawai bkan bendahara naik banding. (8) Keptsan tingkat banding dari Bpati dapat berpa memperkat keptsan Bpati, mengrangi besamya jmlah kergian ata memperpanjang jangka wakt angsran yang hars dibayar oleh pegawai yang bersangktan. (9) Bentk dan isi keptsan pembebanan dibat sesai dengan yang tercantm dalam lampiran dan merpakan bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini.

15 15 Pasal 45 (1) Keptsan Pembebanan disampaikan kepada pegawai bkan bendahara melali kepala SKPD yang bersangktan dengan tanda terima dari pegawai bkan bendahara. (2) Keptsan Pembebanan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) telah mempnyai kekatan hkm yang bersifat final. Pasal 46 Bpati mengelarkan keptsan pembebasan, apabila menerima keberatan yang diajkan oleh pegawai bkan bendahara/ pengampjyang memperoleh hak/ ahli waris. Pasal 47 ( 1) Bpati menerima ata menolak keberatan pegawai bkan bendahara sebagaimana dimaksd dalam Pasal 44 ayat (2), dalam krn wakt wakt 6 (enam) blan sejak srat keberatan dari pegawai bkan bendahara tersebt diterima oleh Bpati. (2) Apabila setelah jangka wakt 6 (enam) blan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) terlampai, Bpati tidak mengelarkan ptsan atas keberatan yang diajkan pegawai bkan bendahara sebagaimana dimaksd dalam Pasal 44 ayat (2), maka keberatan dari pegawai bkan Bendahara diterima. Paragraf4 Tnttan Oanti Rgi Khss Pasal 48 (1) Dalam pelaksanaan TOR Khss, Kepala SKPD.atas nama Bpati melakkan tindakan pengamanan ntk menjamin kepentingan daerah. U (2) Tindakan pengamanan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) dilakkan dengan mengpayakan bkti-bkti fisik dan bkti-bkti administrasi terkait dengan kelalaianjkesalahan pegawai bkan bendahara yang bersangktan, ntk selanjtnya disimpan/ dimaskkan dalam lemari besi ata tempat yang aman dan disegel. (3) Tindakan pengamanan sebagaimana dimaksd pada ayat (2) ditangkan dalam berita acara penyegelan yang disaksikan oleh ahli waris bagi pegawai bkan bendahara yang meninggal dnia dan kelarga terdekat bagi yang melarikan diri, ata pengamp (krator) dalam hal pegawai bendahara berada dibawah pengampan. Pasal49 (1) Terhadap TOR khss, Bpati atas saran Majelis mengaskan Inspektorat ata mennjk Penilai ntk membat perhitngan/ penilaian kergian daerah. (2) Salinan hasil perhitngan/ penilaian kergian daerah, diberikan kepada pengamp ata ahli waris Pegawai bkan bendahara, dan dalam batas wakt 14 (empat belas) hari diberi kesempatan ntk mengajkan keberatan.

16 .. 16 Pasa150 Tata canl. tnttan ganti rgi khss yang dipertanggngjawabkan kepada ahli waris bagi pegawai bkan. bendahara yang meninggal dnia, kelarga terdekat bagi pegawai bkan bendahara yang melarikan diri dan pengamp bagi yang dibawah perwalian, apabila terjadi kergian daerah berlak ketentan-ketentan sebagaimana diatr dalam tnttan ganti rgi perbendaharaan biasa. Paragraf 5 Penyelesaian Kergian Barang Daerah Pasal 51 (1) Pegawai bkan bendahara yang bertanggng jawab atas terjadinya kehilangan barang daerah (bergerak/ tidak bergerak) dapat dilakkan penggantian dengan bentk ang ata barang sesai dengan cara penggantian kergian yang telah ditetapkan sesai peratran perndangndangan. (2) Penggantian kergian dengan bentk barang sebagaimana dimaksd pada ayat (1), dilakkan khss terhadap barang bergerak berpa kendaraan bermotor roda 4 (empat) dan roda 2 (da) yang mr perolehannyajpembeliannya antara 1 (sat) sampai 3 (tiga) tahn. (3) Nilai (taksiran) jmlah harga benda yang akan diganti rgi dalam bentk barang sebagaimana dimaksd pada ayat (2) ditetapkan sesai dengan peratran perndang-ndangan yang berlak. Paragraf6 Pencatatan Pasal 52 (1) Bpati menerbitkan Keptsan Pencatatan jika proses TGR belm dapat dilaksanakan karena : a. Pegawai negeri bkan bendahara meninggal dnia tanpa ada pengamp/ ahli waris yang diketahi; b. Ada ahli waris tetapi tidak dapat dimintakan pertanggngjawabannya; a ta c. Pegawai negeri bkan bendahara melarikan diri dan tidak diketahi alamatnya. (2) Dengan diterbitkannya Keptsan Pencatatan sebagaimana dimaksd pada ayat (1), kass yang bersangktan dikelarkan dari administrasi pembkan pitang TGR. (3) Pencatatan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) sewakt-wakt dapat diproses kembali apabila : a. Pelak TGR diketahi alamatnya; b. Pengamp/ ahli waris dapat dimintakan pertanggngjawabannya; dan c. Pitang TGR dapat ditagih dan disetorkan ke Kas Daerah. BAB VI PELAKSANAAN KEPUTUSAN PEMBEBANAN Pasal 53 (1) Berdasarkan keptsan pembebanan, bendahara dan pegawai bkan bendahara wajib mengganti kergian daerah dengan cara menyetorkan secara tnai ke kas daerah dalam jangka wakt selambat-lambatnya 7 (tjh) hari setelah menerima srat keptsan pembebanan.

17 17 (2) Dalam hal bendahara dan pegawai bkan bendahara telah mengganti kergian daerah secara tnai, maka harta kekayaan yang telah disita dikembalikan kepada yang bersangktan. Pasal 54 Keptsan pembebanan memiliki hak mendahli. Pasal 55 (1) Keptsan pembebanan mempnyai kekatan hkm ntk pelaksanaan sita ekseksi. (2) Apabila dalam jangka wakt 7 (tjh) hari sebagaimana dimaksd dalam Pasal 53 ayat (1) telah terlampai dan bendahara dan pegawai bkan bendahara tidak mengganti kergian daerah secara tnai, Bpati mengajkan permintaan kepada instansi yang berwenang ntk melakkan penyitaan dan penjalan lelang atas harta kekayaan bendahara dan pegawai bkan bendahara. (3) Selama proses pelelangan dilaksanakan, dilakkan pemotongan penghasilan yang diterima bendahara dan pegawai bkan bendahara sebesar 50% (lima plh persen) setiap blan sampai lnas. Pasal 56 Penyitaan dan penjalan dan/ ata pelelangan sebagaimana dimaksd dalam Pasal55 ayat (2) dilaksanakan berdasarkan peratran perndang-ndangan. Pasal 57 ( 1) Apabila bendahara dan pegawai bkan bendahara tidak memiliki harta kekayaan ntk dijal ata basil penjalan tidak menckpi lintk penggantian kergian daerah, maka paya pengembalian kergian daerah melali pemotongan serendah-rendahnya sebesar 50% (lima plh persen) dari penghasilan setiap blan sampai lnas. (2) Apabila bendahara dan pegawai bkan bendahara memaski masa pensin, maka dalam SKPP dicantmkan bahwa yang bersangktan masih mempnyai tang kepada daerah dan taspen yang menjadi hak bendahara dapat diperhitngkan ntk mengganti kergian daerah. BAB VII PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH YANG BERSUMBER DARI PERHITUNGAN EX OFFICIO Pasal 58 (1) Penyelesaian kergian daerah sebagaimana diatr dalam Pasal 6 sampai dengan Pasal 57, berlak pla terhadap kass kergian daerah yang diketahi berdasarkan perhitngan ex-officio. (2) Apabila pengampjyang memperoleh hak/ ahli waris bersedia mengganti kergian daerah secara ska rela, maka yang bersangktan membat dan menandatangani srat pemyataan bersedia mengganti kergian negara sebagai pengganti SKTJM. (3) Nilai kergian daerah yang dapat dibebankan kepada pengampjyang memperoleh hak/ ahli waris terbatas pada kekayaan yang dikelola a ta diperolehnya yang berasal dari bendahara/ pegawai bkan bendahara.

18 18 BAB VIII KADALUWARSA Pasal 59 (1) Kewajiban bendahara dan pegawai bkan bendahara ntk membayar ganti rgi menjadi kadalwarsa jika dalam wakt 5 (lima) tahn sejak diketahinya kergian daerah ata dalam wakt 8 (delapan) tahn sejak terjadinya kergian daerah tidak dilakkan pennttan ganti rgi. (2) Tanggng jawab ahli waris, pengamp, ata pihak lain yang memperoleh hak dari bendahara dan pegawai bkan bendahara menjadi haps apabila 3 (tiga) tahn telah lewat sejak keptsan pengadilan yang menetapkan pengampan kepada bendahara dan pegawai bkan bendahara, ata sejak bendahara dan pegawai bkan bendahara diketahi melarikan diri ata meninggal dnia tidak diberitahkan oleh pejabat yang berwenang ten tang kergian daerah. BAB IX PENGHAPUSAN Pasal 60 (1) Bendahara/Pegawai bkan bendahara atapn ahli waris/kelarga terdekat/ pengamp yang berdasarkan Keptsan BPK/Bpati/SKTJM diwajibkan menanggng kergian daerah namn apabila tidak mamp membayar ganti rgi tersebt, maka yang bersangktan dapat mengajkan permohonan secara tertlis kepada Bpati ntk penghapsan atas kewajibannya. (2) Berdasarkan permohonan tertlis sebagaimana dimaksd pada ayat (1), Bpati memerintahkan Majelis ntk melakkan penelitian, dan bila temyata Bendahara/Pegawai bkan bendahara atapn ahli waris/ kelarga terdekat/pengamp memang tidak mamp, maka dengan Keptsan Bpati dapat menghaps pitang TP-TGR sesai dengan ketentan peratran perndang-ndangan yang berlak. Pasal 61 (1) Dalam hal Bendahara/Pegawai bkan bendahara meninggal dnia tanpa ahli waris ata ada ahli waris tapi tidak layak ntk ditagih yang berdasarkan Keptsan BPK/Bpati/ SKTJM diwajibkan menanggng kergian daerah, maka Majelis memberitahkan secara tertlis kepada Bpati ntk memohonkan penghapsan atas sebagianfselrh pitang TP-TGR. (2) Berdasarkan permohonan Majelis sebagaimana dimaksd pada ayat (1), Bpati dapat menghaps pitang TP-TGR sesai dengan ketentan peratran perndang-ndangan. BAB X PENYETORAN Pasal 62 (1) Penyetoran ata pengembalian secara tnai/sekaligs ata angsran kekrangan perbendaharaanfkergian daerah ata hasil penjalan barang jaminan/kebendaan hars melali rekening kas mm daerah. (2) Dalam hal penyelesaian perkara kergian daerah diproses melali pengadilan, Bpati berpaya agar ptsan pengadilan atas barang yang disita dan/ ata ang tnttan diserahkan ke daerah dan selanjtnya disetorkan ke rekening kas mm daerah.

19 19 (3) Khss penyetoran kergian daerah yang berasal dari Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) setelah diterima di rekening kas mm daerah, segera dipindahbkkan kepada rekening BUMD. BAB XI PELAPORAN Pasal 63 (1) Majelis setiap triwlan wajib menyampaikan laporan pelaksanaan penyelesaian kergian daerah kepada Bpati. (2) Berdasarkan laporan mejelis sebagaimana dimaksd pada ayat ( 1), Bpati menyampaikan laporan penyelesaian kergian daerah kepada Badan Pemeriksa Keangan. BAB XII KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal64 (1) Apabila bendaharafpegawai bkan bendahara telah terbkti mengakibatkan kergian daerah, maka Bpati dapat mengenakan sanksi kepegawaian dan/ ata sanksi lainnya sesai dengan ketentan peratran perndangndangan. (2) Kergian daerah yang tidak dapat diselesaikan oleh Pemerintah Daerah, maka penyelesaiannya dapat diserahkan kepada Badan Peradilan dengan mengajkan ggatan perdata. (3) Ptsan pengadilan yang menghkm ata membebaskan yang bersangktan dari tindak pidana, tidak mengggrkan hak daerah ntk mengadakan TP-TGR BAB XIII KETENTUAN PENUTUP Pasal 65 Peratran Bpati ini mlai berlak pada tanggal dindangkan. Agar setiap orang mengetahinya, memerintahkan pengndangan Peratran Bpati ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah Kabpaten Sidoarjo. Ditetapkan di Sidorjo pad a tanggal 10 April BUPATI SIDOARJO, ttd Dindangkan di Sidoarjo pada tanggal 10 1\~rtL. SEKRETARIS DAERAH KABUPATEN SIDOARJO, 2014 H. SAIFUL ILAH TID VINO RUDY MUNTIAWAN BERITA DAERAH KABUPATEN SIDOARJO TAHUN 2014 NOMOR 9

20 20 LAMPIRAN PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 9 TAHUN 2014 TANGGAL: 10 April 2014 I. SURAT PEMBERITAHUAN K.EPADA BPK TENTANG K.ERUGIAN DAERAH NAMA UNIT ORGANISASV SATUAN KERJA 1) Nomor:.... Lampiran:.... Hal : Pemberitahan terjadinya kekrangan anglbarang Tanggal.... Kepada: Yth. Keta Badan Pemeriksa Keangan Repblik Indonesia di JAKARTA Bersama ini kami beritahkan bahwa dalam pengrsan ang /barang yang dilakkan oleh Bendahara Penerimaan/ Bendahara Pengelaran/ Bendahara Barang *) a.n... NIP... yang pengawasannya menjadi tanggngjawab kami, telah terjadi kekrangan anglbarang (Kas tekor/barang) sebesar Rp..... : (... dengan hr.f ). Selanjtnya kami beritahkan bahwa atas peristiwa tersebt, tindakan yang telah kami ambit adalah : Sehbngan dengan hal tersebt, gna penyelesaian kekrangan anglbarang dimaksd bersama ini kami lampirkan: a. Berita Acara Pemeriksaan Kas!Fisik Barang; b. Register Pentpan Kas; c. Perhitngan yang dibat Bendahara sebagai pertanggngjawaban; d. Fotokopi Bk Kas Umm (BKU) blan bersangktan; e. dan lain-lain (yang berkaitan dengan kass). Demikian pemberitahan kami ntk dapat dignakan sebagai bahan pertimbangan dalam proses pengenaan ganti kergian terhadap bendahara yang bersangktan. Kami capkan terima kasih atas perhatiannya. Atasan Langsngl Kepala Kantor 3) NIP.... *) Coret yang tidak perl Petnjk Pengisian : 1 )Diisi dengan nama organisasi/satan kerja tempat terjadinya kekrangan ang/barang. 2) Diisi dengan tindakan-tindakan pengamanan yang telah dilakkan, antara lain : penyege/an brankas, pentpan Bk Kas Umm, dan bk-bk pembant dilampiri dengan Berita Acara Pentpan Kas dan Register Pentpan Kas serta /aporan kepada aparat yang berwenang. 3) Diisi dengan nama,jabatan, dan NIP atasan /angsng/kepala Kantor.2)

PERATURAN. TAHUN 2O1s TENTANG BUPATI SITUBONDO,

PERATURAN. TAHUN 2O1s TENTANG BUPATI SITUBONDO, BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 0 TAHUN 2O1s TENTANG LAPORAN HARTA KEI(AYAAN BAGI PENYELENGGARA NEGARA DI LINGKUNGAN PEMERINTAH I(ABUPATEN SITUBONDO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 790 TAHUN : 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG DISIPLIN KERJA PEGA WAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG DISIPLIN KERJA PEGA WAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG DISIPLIN KERJA PEGA WAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO,

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 76 TAHUN : 2015 PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 75 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 759 TAHUN : 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 8 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERANG, Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran penyelesaian

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERANG, Menimbang : a. bahwa ketentuan yang mengatur

Lebih terperinci

WALIKOTA SURAKARTA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH

WALIKOTA SURAKARTA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH WALIKOTA SURAKARTA PROVINSI JAWA TENGAH PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURAKARTA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN BARAT, Menimbang : a. bahwa kekayaan daerah adalah

Lebih terperinci

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM

Lebih terperinci

WALIKOTA BANJARMASIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR TAHUN 2016 TENTANG

WALIKOTA BANJARMASIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR TAHUN 2016 TENTANG _ WALIKOTA BANJARMASIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2009 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2009 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG LEMBARAN DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2009 NOMOR : 13 PERATURAN DAERAH KOTA CILEGON NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA KECAMATAN DI KABUPATEN SIDOARJO

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA KECAMATAN DI KABUPATEN SIDOARJO BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA KECAMATAN DI KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, v Menimbang

Lebih terperinci

2014, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lemb

2014, No Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan Lemb BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.742, 2014 KEMENSOS. Kerugian Negara. Penyelesaian Bendara. Petunjuk. Pencabutan. PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 05 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN

Lebih terperinci

BUPATI SIDOOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 49 TAHUN 2013 TENTANG. TARIJ7 SEWA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KABUPATEN SlDOARJO

BUPATI SIDOOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 49 TAHUN 2013 TENTANG. TARIJ7 SEWA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KABUPATEN SlDOARJO BUPATI SIDOOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 49 TAHUN 2013 TENTANG TARIJ7 SEWA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KABUPATEN SlDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SfDOARJO, Menimbang MengingaL

Lebih terperinci

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG

W A L I K O T A B A N J A R M A S I N PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG W A L I K O T A B A N J A R M A S I N PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH KOTA BANJARMASIN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLITAR, Menimbang : a.

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITAR SERI C PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 14 TAHUN 2012

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITAR SERI C PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 14 TAHUN 2012 28 Desember 2012 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BLITAR SERI C 1/C PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLITAR NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 16 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 16 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 16 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU (PPDB) SATUAN

Lebih terperinci

PROVINSI JAWA TENGAH KEPUTUSAN DPRD KABUPATEN GROBOGAN NOMOR 26 TAHUN 2014 T E N T A N G

PROVINSI JAWA TENGAH KEPUTUSAN DPRD KABUPATEN GROBOGAN NOMOR 26 TAHUN 2014 T E N T A N G Salinan PROVINSI JAWA TENGAH KEPUTUSAN DPRD KABUPATEN GROBOGAN NOMOR 26 TAHUN 2014 T E N T A N G PERSETUJUAN ATAS RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN GROBOGAN TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERANG, Menimbang : a. bahwa ketentuan yang mengatur

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 5 TAHUN 2006 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa pengelolaan keuangan dan barang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 41 / HUK / 2010 TENTANG

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 41 / HUK / 2010 TENTANG PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 41 / HUK / 2010 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF DENGAN

Lebih terperinci

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM PASER

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUNINGAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUNINGAN, PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUNINGAN NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUNINGAN, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan upaya penyelesaian

Lebih terperinci

BAB I. KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Propinsi Jawa Barat.

BAB I. KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Propinsi Jawa Barat. PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA BARAT NOMOR : 24 TAHUN 2001 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT Menimbang

Lebih terperinci

KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG

KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG SALINAN KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN NOMOR 9 TAHUN 2012 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN NASIONAL

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BEKASI NO : 14 2001 SERI : D PERATURAN DAERAH KABUPATEN BEKASI NOMOR : 30 TAHUN 2001 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH KABUPATEN

Lebih terperinci

WALIKOTA BUKITTINGGI PROVINSI SUMATERA BARAT

WALIKOTA BUKITTINGGI PROVINSI SUMATERA BARAT WALIKOTA BUKITTINGGI PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN DAERAH KOTA BUKITTINGGI NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BUKITTINGGI,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR : 7 TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR : 7 TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR : 7 TAHUN 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LEBAK NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT NOMOR 7 TAHUN 2009 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN BUPATI BELITUNG PROVINSI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN BUPATI BELITUNG NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG

Lebih terperinci

a. bahwa Pcraturan Bupati Sicloarjo Nomor 58 Tahun

a. bahwa Pcraturan Bupati Sicloarjo Nomor 58 Tahun ,. f I t J BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 48 TAHUN 2013 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATl

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN

PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN 1 PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN

BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN,

Lebih terperinci

WALIKOTA PEKALONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKALONGAN,

WALIKOTA PEKALONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKALONGAN, WALIKOTA PEKALONGAN PERATURAN DAERAH KOTA PEKALONGAN NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PEKALONGAN,

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

2015, No Mengingat :1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambah

2015, No Mengingat :1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambah No.119, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-ESDM. Kerugian Negara. Penyelesaian. Pedoman. Pencabutan. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 06 TAHUN 2015 TENTANG

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK NOMOR 22 TAHUN 2011 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK NOMOR 22 TAHUN 2011 TENTANG BADAN PUSAT STATISTIK PERATURAN KEPALA BADAN PUSAT STATISTIK NOMOR 22 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA DI LINGKUNGAN BADAN PUSAT STATISTIK KEPALA BADAN PUSAT

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN, Menimbang : a. bahwa setiap kerugian daerah yang

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH TERHADAP BENDAHARA

RANCANGAN PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH TERHADAP BENDAHARA RANCANGAN PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH TERHADAP BENDAHARA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK NDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 31 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 31 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 31 TAHUN 2014 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM "DELTA TIRTA'' KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPULAUAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 6 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU TIMUR, Menimbang

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 16 TAHUN 2012 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 16 TAHUN 2012 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1 RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA BARAT NOMOR 16 TAHUN 2012 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA BARAT, a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SINJAI

PEMERINTAH KABUPATEN SINJAI PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SINJAI, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

DAFTAR KERUGIAN NEGARA. Jumlah Kerugian Negara (Rp)

DAFTAR KERUGIAN NEGARA. Jumlah Kerugian Negara (Rp) Contoh Format 1 DAFTAR KERUGIAN NEGARA TRIWULAN TAHUN KANTOR : : : No Nama Pelaku No./Tgl/ SKTJM/ SK Pembebanan Sementara /SK Pembebanan Uraian Kasus/ Tahun Kejadian Jumlah Kerugian Negara (Rp) Jml.Pembayaran

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI SUMATERA BARAT NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SUMATERA BARAT, Menimbang : a. b. c. d. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG

WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG WALIKOTA YOGYAKARTA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN WALIKOTA YOGYAKARTA NOMOR 70 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH

PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI BARAT NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI BARAT, Menimbang Mengingat : : a. bahwa

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BATANG,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BATANG, BUPATI BATANG RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATANG NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH KABUPATEN BATANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA TERHADAP PEGAWAI NEGERI BUKAN BENDAHARA DAN PEJABAT LAIN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN

Lebih terperinci

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2015 PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BOGOR WALIKOTA BOGOR

BERITA DAERAH KOTA BOGOR WALIKOTA BOGOR BERITA DAERAH KOTA BOGOR WALIKOTA BOGOR PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 35 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI BARANG DAERAH PEMERINTAH KOTA BOGOR DENGAN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1182, 2012 KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA. Kerugian Negara. Anggaran. Penyelesaian. PERATURAN MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.05/MEN/2011

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.05/MEN/2011 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.05/MEN/2011 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA GANTI RUGI BARANG DAERAH PROVINSI BANTEN

GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA GANTI RUGI BARANG DAERAH PROVINSI BANTEN Menimbang GUBERNUR BANTEN PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA GANTI RUGI BARANG DAERAH PROVINSI BANTEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, : a. bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA NOMOR : 18 TAHUN 2014 BUPATI MAJALENGKA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI MAJALENGKA NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG

BERITA DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA NOMOR : 18 TAHUN 2014 BUPATI MAJALENGKA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI MAJALENGKA NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG BERITA DAERAH KABUPATEN MAJALENGKA SALINAN NOMOR : 18 TAHUN 2014 BUPATI MAJALENGKA PROVINSI JAWA BARAT PERATURAN BUPATI MAJALENGKA NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.982, 2013 KEPOLISIAN. Kerugian Negara. Tuntutan. Penyelesaian. Tata Cara. Pencabutan. PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2013 TENTANG

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA DI LINGKUNGAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA BAB I PENDAHULUAN

PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA DI LINGKUNGAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN I PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR : KEP. 07 TAHUN 2012 TANGGAL : 6 SEPTEMBER 2012 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAROS NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN PERBENDAHARAN DAN TUNTUTANGANTI KERUGIAN DAERAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAROS NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN PERBENDAHARAN DAN TUNTUTANGANTI KERUGIAN DAERAH SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAROS NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN PERBENDAHARAN DAN TUNTUTANGANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAROS, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

BUPATI BANDUNG BARAT

BUPATI BANDUNG BARAT BUPATI BANDUNG BARAT PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 76/HUK/2006 TENTANG

PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 76/HUK/2006 TENTANG PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 76/HUK/2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN TUNTUTAN GANTI RUGI TERHADAP PEGAWAI NEGERI SIPIL BUKAN BENDAHARA DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN SOSIAL RI Menimbang

Lebih terperinci

KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,

KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA, Jalan Ampera Raya No. 7, Jakarta Selatan 12560, Indonesia Telp. 62 21 7805851, Fax. 62 21 7810280 http://www.anri.go.id, e-mail: info@anri.go.id NOMOPERATURAN KEPALA NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PETUNJUK

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA ATAS BARANG MILIK

Lebih terperinci

KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74/K/X-XIII.2/2/2009 TENTANG

KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74/K/X-XIII.2/2/2009 TENTANG KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74/K/X-XIII.2/2/2009 TENTANG MEKANISME KERJA TIM PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN SEKRETARIS JENDERAL

Lebih terperinci

BUPATI SIGI PROVINSI SULAWESI TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIGI NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI SIGI PROVINSI SULAWESI TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIGI NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI SIGI PROVINSI SULAWESI TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIGI NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN SIGI TAHUN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.414, 2012 KOMISI PEMILIHAN UMUM. Tata Cara. Penyelesaian. Kerugian Negara. PERATURAN KOMISI PEMILIHAN UMUM NOMOR 05 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN

Lebih terperinci

- 1 - KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA

- 1 - KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA - 1 - SALINAN KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN

Lebih terperinci

BUPATI TOLITOLI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOLITOLI NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI TOLITOLI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOLITOLI NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI TOLITOLI PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOLITOLI NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TOLITOLI,

Lebih terperinci

BUPATI BANDUNG BARAT

BUPATI BANDUNG BARAT BUPATI BANDUNG BARAT PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO

PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO PERATURAN DAERAH KABUPATEN JENEPONTO NOMOR: 08 TAHUN 2005 TENTANG TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JENEPONTO, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH S A L I N A N NOMOR 7/E, 2008 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 15 TAHUN 2008 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL 1 BADAN NARKOTIKA NASIONAL REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DENGAN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBAGA SANDI NEGARA. Kerugian Negara. Penyelesaian. Tata Cara.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBAGA SANDI NEGARA. Kerugian Negara. Penyelesaian. Tata Cara. 14 No.154, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBAGA SANDI NEGARA. Kerugian Negara. Penyelesaian. Tata Cara. PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2008 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BAGIAN ANGGARAN 007 (SEKRETARIAT NEGARA) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2016 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH TERHADAP PEGAWAI NEGERI BUKAN BENDAHARA ATAU PEJABAT LAIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 39 TAHUN 2009 TENTANG MEKANISME PELAKSANAAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN 01 LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO BUPATI SIDOARJO, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

BUPATI PENAJAM PASER UTARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI PENAJAM PASER UTARA NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI PENAJAM PASER UTARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI PENAJAM PASER UTARA NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG - 1 - BUPATI PENAJAM PASER UTARA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN BUPATI PENAJAM PASER UTARA NOMOR 47 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN TEKNIS PENYELESAIAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.196, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEUANGAN. Pegawai Negeri Bukan Bendahara. Pejabat Lain. Ganti Kerugian. Tata Cara (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5934)

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.489, 2014 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BMKG. Penyelesaian Kerugian Negara. Prosedur. Perubahan. PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN

Lebih terperinci

PERTANYAAN UNTUK MENYUSUN LAPORAN PROSES PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA YANG DILAKUKAN OLEH BENDAHARA

PERTANYAAN UNTUK MENYUSUN LAPORAN PROSES PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA YANG DILAKUKAN OLEH BENDAHARA 2012, No.1182 28 LAMPIRAN I PERATURAN PERTANYAAN UNTUK MENYUSUN LAPORAN PROSES DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA YANG DILAKUKAN OLEH BENDAHARA Pertanyaan: 1. Kapan dan bagaimana kekurangan diketahui?

Lebih terperinci

NAMA UNIT ORGANISASI / SATUAN KERJA

NAMA UNIT ORGANISASI / SATUAN KERJA Lampiran I NAMA UNIT ORGANISASI / SATUAN KERJA Tanggal,... Nomor :... Lampiran :... Hal :... Kepada : Yth. Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Di Jakarta Bersama ini kami beritahukan bahwa

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 44 TAHUN 2012 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 44 TAHUN 2012 TENTANG BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 44 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN RUMAH KOS, GEDUNG SERBAGUNA DAN GEDUNG FUTSAL MILIK PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO DI KELURAHAN SEPANJANG KECAMATAN TAMAN

Lebih terperinci

2017, No Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembara

2017, No Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembara No. 149, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENPORA. TPKN. Tata Kerja. PERATURAN MENTERI PEMUDA DAN OLAHRAGA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG TATA KERJA TIM PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. No.621,2013 KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI. Penyelesaian. Kerugian Negara. Bukan Bendahara. Tata Cara.

BERITA NEGARA. No.621,2013 KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI. Penyelesaian. Kerugian Negara. Bukan Bendahara. Tata Cara. BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.621,2013 KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI. Penyelesaian. Kerugian Negara. Bukan Bendahara. Tata Cara. PERATURAN KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA SATUAN POLISI PAMONG PRAJA KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO,

Lebih terperinci

3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004

3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 3. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

Lebih terperinci

DAFTAR FORMULIR SURAT KETERANGAN, BERITA ACARA DAN KEPUTUSAN GUBERNUR YANG TERKAIT DENGAN PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH

DAFTAR FORMULIR SURAT KETERANGAN, BERITA ACARA DAN KEPUTUSAN GUBERNUR YANG TERKAIT DENGAN PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH LAMPIRAN II PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELESAIAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI DAERAH DAFTAR FORMULIR SURAT KETERANGAN,

Lebih terperinci

DAFTAR KERUGIAN NEGARA. Jumlah Kerugian Negara (Rp)

DAFTAR KERUGIAN NEGARA. Jumlah Kerugian Negara (Rp) 22 Contoh Format 1 DAFTAR KERUGIAN NEGARA TRIWULAN TAHUN KANTOR : : : No Nama Pelaku No./Tgl/SKT JM/ SK Pembebanan Sementara /SK Pembebanan Uraian Kasus/ Tahun Kejadian Jumlah Kerugian Negara (Rp) Jml.Pembayaran

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PENETAPAN KERUGIAN NEGARA DAN MEKANISME TINDAK LANJUT REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN BPK RI. Susriboy ITTAMA SETJEN DPR RI

PELAKSANAAN PENETAPAN KERUGIAN NEGARA DAN MEKANISME TINDAK LANJUT REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN BPK RI. Susriboy ITTAMA SETJEN DPR RI PELAKSANAAN PENETAPAN KERUGIAN NEGARA DAN MEKANISME TINDAK LANJUT REKOMENDASI HASIL PEMERIKSAAN BPK RI Susriboy ITTAMA SETJEN DPR RI PEMAHAMAN KERUGIAN NEGARA/DAERAH DALAM RANAH HUKUM ADMINISTRASI KERUGIAN

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN,

KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NOMOR:PER- 433/K/SU/2011 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA Dl LINGKUNGAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN

Lebih terperinci

Barang dengan sisa barang yang sesungguhnya terdapat di dalam gudang atau tempat lain yang ditunjuk; h. Kerugian Daerah adalah berkurangnya kekayaan

Barang dengan sisa barang yang sesungguhnya terdapat di dalam gudang atau tempat lain yang ditunjuk; h. Kerugian Daerah adalah berkurangnya kekayaan PERATURAN BUPATI ACEH UTARA NOMOR 26 TAHUN 2009 TENTANG PETUNJUK TEKNIS TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH KABUPATEN ACEH UTARA Menimbang Mengingat BUPATI ACEH UTARA,

Lebih terperinci

CONTOH - CONTOH FORMAT

CONTOH - CONTOH FORMAT LAMPIRAN II PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR : KEP. 07 TAHUN 2012 TANGGAL : 6 SEPTEMBER 2012 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 12 TAHUN 2001 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 12 TAHUN 2001 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Klik Dicabut dgn Perda 24 Tahun 2006 PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 12 TAHUN 2001 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang :

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM KESEHATAN KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM KESEHATAN KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SISTEM KESEHATAN KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, Menimbang Mengingat a. bahwa penyelenggaraan

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO,

BUPATI SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, y J BUPATI SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG PELAYANAN KESEHATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, Menimbang Mengingat a. bahwa pembangnan kesehatan

Lebih terperinci