BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG"

Transkripsi

1 _'C.. BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG MILIK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, Menimbang : a. bahwa dalam paya penyelesaian kergian daerah sebagai akibat perbatan melanggar hkm ata kelalaian, sekaligs sebagai pembinaan ke arab timblnya rasa tanggng jawab para Bendahara, Pegawai bkan Bendahara yang merpakan hal yang sangat penting, perl dilakkan pengatran terhadap Tnttan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi Keangan dan Barang Milik Daerah; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksd dalam hrf a serta dalam rangka tertib administrasi, efektifitas, efesiensi, akntabilitas dan transparansi Ttntan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi Keangan dan Barang Milik Daerah, perl menetapkan Peratran Bpati tentang Tata Cara Penyelesaian Tnttan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi Keangan dan Barang Milik Daerah; Mengingat 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahn 1950 tentang Pembentkan Daerah Kabpaten Dalam Lingkngan Propinsi Jawa Timr Jncto Undang-Undang Nomor 2 Tahn 1965 tentang Perbahan Batas Wilayah Kotapraja Srabaya dan Daerah Tingkat II Srabaya (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 1965 Nomor 19, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 2730); 2. Undang-Undang Nomor 17 Tahn 2003 tentang Keangan Negara (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 4286); 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahn 2004 tentang Perbendaharan Negara (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2004 Nomor 5, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 4355); 4. Undang-Undang Nomor 15 Tahn 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggng Jawab Keangan Negara (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 4400); 5. Undang-Undang Nomor 32 Tahn 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia

2 2 Nomor 4437) sebagaimana telah beberapa kali dibah te~akhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahn 2008 (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 4844); 6. Peratran Pemerintah Nomor 58 Tahn 2005 tentang Pengelolaan Keangan Daerah (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2005 Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 4578); 7. Peratran Pemerintah Nomor 6 Tahn 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/ Daerah (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 2006 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 4614); 8. Peratran Pemerintah Nomor 52 Tahn 2010 tentang Peratran Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Repblik Indonesia Tahn 1980 Nomor 74, Tambahan Lembaran Negara Repblik Indonesia Nomor 5153); 9. Peratran Badan Pemeriksa Keangan Nomor 3 Tahn '2007 tentang Tata Cara Penyelesaian Ganti Kergian Negara Terhadap Bendahara; 10. Peratran Menteri Dalam Negeri Nomor 5 Tahn 1997 tentang Tnttan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi Keangan dan Barang Daerah; 11. Peratran Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahn 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keangan Daerah, sebagaimana telah beberapa kali dibah, terakhir dengan Peratran Menteri Dalam Negeri Nomor 21 Tahn 2011; 12. Peratran Menteri Dalam Negeri Nomor 17 Tahn 2007 tentang Pedoman Teknis Pengelolaan Barang Milik Daerah; 13. Peratran Daerah Kabpaten Sidoarjo Nomor 4 Tahn 2007 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keangan Daerah (Lembaran Daerah Kabpaten Sidoarjo Tahn 2007 Nomor 2 Seri E); 14. Peratran Daerah Kabpaten Sidoarjo Nomor 12 Tahn 2008 tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah (Lembaran Daerah Kabpaten Sidoarjo Nomor 1 Tahn 2008 Seri E); MEMUTUSKAN : Menetapkan: PERATURAN BUPATI TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG MILIK DAERAH. BABI KETENTUAN UMUM Pasal1 Dalam Peratran Bpati ini yang dimaksd dengan : 1. Daerah adalah Kabpaten Sidoarjo. 2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Kabpaten Sidoarjo. 3. Bpati adalah Bpati Sidoarjo. 4. Sekretaris Daerah adalah Sekretaris Daerah Kabpaten Sidoarjo. 5. Inspektorat adalah Inspektorat Kabpaten Sidoarjo. 6. Majelis Pertimbangan Tnttan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi yang selanjtnya disebt Majelis adalah para pejabat yang ex-officio ditnjk oleh Bpati dalam penyelenggaraan kergian daerah.

3 Satan Kerja Perangkat Daerah yang selanjtnya disingkat SKPD, adalah Satan Kerja Perangkat Daerah di lingkngan Pemerintah Kabpaten Sidoarjo.. 8. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah yang Selanjtnya disingkat APBD adalah Anggran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabpaten Sidoarjo. 9. Aparat Pengawas Fngsional adalah Badan Pemeriksan Keangan Repblik Indonesia dan Inspektorat Kabpaten Sidoarjo. 10. Bendahara adalah setiap orang ata badan yang diberi tgas ntk dan atas nama daerah, menerima, menyimpan, dan membayar I menyerahkan ang ata srat berharga ata barang-barang milik d.aerah. 11. Pegawai adalah Pegawai Negeri Sipil ata orang yang diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tgas dalam sat jabatan dilingkngan Pemerintah Kabpaten Sidoarjo yang ditetapkan dengan Keptsan BpatifKepala SKPD, termask pegawai negeri pada lnstansi vertikal, lembaga negara/ daerah yang mengelola/ menggnakan APBD mapn barang milik daerah. 12. Barang milik daerah adalah sema barang yang dimiliki Pemerintah Kabpaten Sidoarjo baik yang berasal dari pembelian ata perolehan atas be ban APBD ata perolehan lainnya yang sah. 13. Tnttan Perbendaharaan selanjtnya disingkat TP, adalah proses tnttan terhadap Bendahara jika dalam pengrsannya terdapat k~krangan perbendaharaan ata selisih krang antara saldo bk kasfbk persediaan dengan saldo kasfsisa barang yang sesngghnya terdapat didalam gdang ata tempat lain yang ditnjk. 14. Tnttan Ganti Rgi selanjtnya disingkat. TGR, adalah sat proses tnttan terhadap pegawai dalam keddkannya bkan sebagai Bendahara, dengan tjan menntt penggantian kergian disebabkan oleh perbatannya melanggar hkm dan/ ata melalaikan kewajibannya sebagaimana mestinya sehingga baik secara langsng atapn tidak langsng mengakibatkan kergian daerah. 15. Tnttan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi selanjtnya disingkat TP-TGR adalah proses Tnttan melali TP dan TGR bagi bendaharafpegawai bkan bendahara yang mengakibatkan kergian daerah. 16. TP-TGR Khss adalah proses Tnttan melali TP-TGR dalam hal bendahara/ pegawai bkan bendahara meninggal dnia, melarikan diri a ta berada dibawah pengampan, dan terdapat ahli warisfpengamp, ata pihak yang mewakili dan bertanggngjawab atas penyelesaian kergian daerah yang dilakkan bendahara/ pegawai bkan bendahara. 17. Kergian Daerah adalah berkrangnya kekayaan daerah yang disebabkan oleh sat tindakan melanggar hkm ata kelalaian bendahara, pegawai bkan bendahara danfata disebabkan sesat keadaan dilar dgaan dan dilar kemampan mansia (force majer). 18. Upaya damai adalah penyelesaian TP-TGR yang dilaksanakan oleh Majelis/lnspektorat berdasarkan pengasan dari Bpati dan/ ata teman pada saat pemeriksaan oleh aparat pengawasan fngsional tanpa melibatkan Majelis. 19. Srat Keterangan Tanggngjawab Mtlak yang selanjtnya disingkat SKTJM adalah srat keterangan yang menyatakan kesanggpan dan/ a ta pengakan bahwa bendaharafpegawai bkan bendahara bertanggngjawab atas kergian daerah yang terjadi dan bersedia mengganti kergian daerah dimaksd. 20. Pembebanan Sementara adalah penetapan sementara jmlah kergian daerah kepada bendahara karena SKTJM tidak diperoleh ata tidak dapat menjamin pengembalian kergian daerah.

4 4 21. Penetapan Batas Wakt adalah pemberian kesempatan kepada bendahara ntk mengajkan keberatan ata pembelaan diri atas tnttan penggantian kergian daerah. 22. Pembebanan adalah penetapan jmlah kergian daerah yang hars dikembalikan kepada daerah oleh bendahara/ pegawai bkan bendahara. yang terbkti menimblkan kergian daerah. 23. Perhitngan ex-officio adalah perhitngan perbendaharaan yang dilakkan oleh pegawai/ pejabat yang ditnjk apabila bendahara meninggal dnia, melarikan diri ata tiba-tiba berada dibawah pengampan dan/ ata bendahara tidak membat pertanggngjawaban dimana telah ditegr oleh atasan langsngnya, namn sampai batas wakt yang diberikan berakhir tetap tidak dapat membat perhitngan dan pertanggngjawabannya. 24. Pencatatan adalah proses tnttan perberidaharaan ntk sementara ditangghkan karena bendaharajpegawai bkan bendahara meninggal dnia tanpa ahli waris, melarikan diri ata tidak diketahi alamatnya. 25. Kadalwarsa adalah jangka wakt yang menyebabkan ggmya hak ntk melakkan tnttan perbendaharaan dan tnttan ganti rgi terhadap bendahara/ pegawai bkan bendahara. 26. Pembebasan adalah membebaskan/meniadakan kewajiban seseorang ntk membayar htang kepada daerah yang menrt hkm menjadi tanggngannya, tetapi atas dasar pertimbangan keadilan ata alasan penting tidak layak ditagih darinya dan yang bersangktan terbkti tidak bersalah. Dalam hal ini daerah melepaskan hak tagihnya sehingga hak tagih it menjadi bebas selrhnya ata hanya sebagian tertent. 27. Penghapsan adalah menghapskan tagihan daerah dari administrasi pembkan karena alasan tertent (tidak mamp membayar) selrhnya mapn sebagian dan apabila dikemdian hari yang bersangktan mamp, kewajiban dimaksd akan ditagih kembali. 28. Pitang TP-TGR adalah pitang/hak tagih Pemerintah Kabpaten Sidoarjo yang timbl karena pengenaan TP-TGR yang didkng dengan bkti SKTJM ata srat pembebanan. BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 Peratran Bpati ini mengatr Tnttan Perbendaharaan dan Tnttan Ganti Rgi, melipti: a. Keangan danjata barang milik daerah di lingkngan Pemerintah Kabpaten Sidoarjo. b. Keangan dan/ ata barang bkan milik daerah, yang berada dalam pengasaan bendahara/ pegawai bkan bendahara yang dignakan dalam penyelenggaraan tgas pemerintahan daerah. c. Pengelola Badan Usaha Milik Daerah yang selrh ata paling sedikit 51 % (lima plh sat persen) sahamnya dimiliki oleh pemerintah daerah, sepanjang tidak diatr dalam peratran perndang-ndangan tersendiri. Pasa13 (1) TP-TGR dilakkan karena perbatan bendaharajpegawai bkan bendahara baik disengaja ata tidak disengaja mapn dilar kemampannya yang mengakibatkan kergian daerah, melipti tnttan perbendahraan dan tnttan ganti rgi. (2) Tnttan Perbendaharaan sebagaimana dimaksd pada ayat (1), apabila:

5 5 a. tidak melakkan pembkan dan penyetoran atas penerimaan/ pengelaran ang/barang milik daerah dalam pengrsannya; b. membayarfmemberifmengelarkan ang/barang milik daerah yang dalam pengrsannya kepada pihak yang tidak berhak dan/ a ta secara tidak sah; c. tidak membat pertanggngjawaban keangan/barang milik daerah dalam pengrsannya; d. tertip, tercri, tertodong, terampok terhadap ang/barang milik daerah yang dalam pengrsannya; e. pertanggngjawaban ata laporan yang tidak sesai dengan kenyataan; f. m~nerima dan menyimpan ang pals; dan g. menghilangkan ang/barang milik daerah dalam pengrsannya. (3) Tnttan Ganti Rgi sebagaimana dimaksd pada ayat (1), apabila: a. tertip, tercri, tertodong, terampok terhadap barang milik daerah yang dalam tanggng jawabnya; b. mersak ata menghilangkan barang milik daerah yang menjadi tanggng jawabnya; c. menaikkan harga, mengbah kalitas; d. meninggalkan tgas danfata pekerjaan setelah selesai melaksanakan tgas belajar; dan e. meninggalkan tgas belajar sebelm selesai batas wakt yang telah ditentkan. BABIII PEMBENTUKAN MAJELIS PERTIMBANGAN TP-TGR Pasal4 (1) Bpati dalam melaksanakan TP-TGR, dibant oleh Majelis. (2) Majelis sebagaimana dimaksd pada ayat (1) ditetapkan dengan Keptsan Bpati dan bertanggng jawab langsng kepada Bpati. (3) Majelis bertgas memperoses penyelesaian kergian daerah terhadap: a. Bendahara, yang pembebanannya akan ditetapkan oleh Badan Pemeriksa Keangan; b. Pegawai bkan bendahara, yang pembebanannya akan ditetapkan oleh Bpati. (4) Dalam melaksanakan tgas sebagaimana dimaksd pada ayat (3), Majelis menyelenggarakan fngsi ntk : a. menginventarisir kass kergian daerah yang diterima; b. menghitng jmlah kergian daerah; c. mengmplkan dan melakkan veriftkasi bkti-bkti pendkng bahwa bendaharaf pegawai bkan bendahara telah melakkan perbatan melawan hkm baik sengaja mapn lalai sehingga mengakibatkan teljadinya kergian daerah; d. menginventarisasi harta kekayaan milik bendahara/ pegawai bkan bendahara yang dapat dijadikan sebagai jaminan penyelesaian kergian daerah; e. menyelesaikan kergian daerah melali SKTJM; f. memberikan pertimbangan kepada Bpati tentang kergian daerah sebagai bahan pengambilan keptsan dalam menetapkan pembebanan sementara dan pembebanan; g. menatasahakan penyelesaian kergian daerah; dan h. menyampaikan laporan perkembangan penyelesaian kergian daerah kepada Bpati dengan tembsan kepada Badan Pemeriksan Keangan.

6 6 BABIV INFORMASI KERUGIAN DAERAH Pasal 5 Informasi mengenai adanya kergian daerah dapat diketahi dari : a. laporan basil pemeriksaan pengawas fngsional; b. laporan pengawasan melekat yang dilakkan oleh Atasan Langsng; c. laporan Pejabat yang diberikan kewenangan melakkan verifikasi pada Badan Usaha Milik Daerah; d. laporan pegawai kepada instansi yang berwenang terhadap kehilangan barang yang qerada dalam pemakaiannya; e. perhitngan ex-officio. BABV PELAKSANAAN PENYELESAIAN TP-TGR Bagian Kesat Penyelesaian Tnttan Perbendaharaan Paragraf 1 Umm Pasal6 U (1) Atasan langsng bendahara ata kepala satan kerja wajib melaporkan setiap kergian daerah kepada Bpati dan memberitahkan Badan Pemeriksa Keangan selambat-lambatnya 7 (tjh) hari kerja setelah kergian daerah diketahi. (2) Pemberitahan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) dilengkapi sekrangkrangnya dengan dokmen Berita Acara Pemeriksaan Kas/Barang. (3) Bentk dan isi srat pemberitahan kepada Badan Pemeriksan Keangan tentang kergian daerah, sebagaimana tercantm dalam lampiran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini. Pasa17 Bpati segera mengaskan Majelis ntk menindaklanjti kass kergian daerah selambat-lambatnya 7 (tjh) hari kerja sejak menerima laporan sebagaimana dimaksd dalam Pasal 6 ayat ( 1). Pasal8 (1) Majelis mengmplkan dan melakkan verifikasi dokmen-dokmen, antara lain sebagai berikt: a. srat Keptsan Pengangkatan sebagai bendahara ata sebagai pejabat yang melaksanakan fngsi kebendaharaan; b. berita acara pemeriksaan kas/barang; c. register pentpan bk kas/barang; d. srat keterangan tentang sisa ang yang belm dipertanggngjawabkan dari Penggna Anggaran/ Kasa Penggna Anggaran; e. srat keterangan bank tentang saldo kas di bank bersangktan; f. fotokopi/ rekaman bk kas mm blan yang bersangktan. yang memat adanya kekrangan kas;

7 7 g. srat tanda lapor dari kepolisian dalam hal kergian daerah mengandng indikasi tindak pidana; h. berita acara pemeriksaan tempat kejadian perkara dari kepolisian dalam hal kergian daerah terjadi karena pencrian ata perampokan; i. srat keterangan ahli waris dari kelrahan ata pengadilan (2) Majelis mencatat kergian daerah yang dilakkan oleh bendahara dalam daftar kergian daerah. (3) Daftar kergian daerah dibat sesai dengan format sebagaimana tercantm dalam lampiran dan merpakan bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini. Pasa19 (1) Majelis hars menyelesaikan veriftkasi sebagaimana dimaksd dalam Pasal 8 ayat (1) dalam wakt 30 (tiga plh) hari sejak memperoleh pengasan sebagaimana dimaksd dalam Pasal 7. (2) Selama dalam proses penelitian, bendahara dibebastgaskan sementara dari jabatannya. (3) Pembebastgasan dan pennjkan bendahara pengganti dilaksanakan sesai ketentan. Pasal10 ( 1) Majelis melaporkan basil veriftkasi dalam Laporan Hasil Verifikasi Kergian Daerah dan disampaikan kepada BUpati. (2) Bpati menyampaikan Laporan Hasil Veriftkasi Kergian Daerah sebagaimana dimaksd pada ayat (1) kepada Badan Pemeriksa Keangan selambat-lambatnya 7 (tjh) hari sejak diterimanya dari Majelis dengan dilerigkapi dokmen sebagaimana dimaksd dalam Pasal8 ayat (1). Pasal11 (1) Pengenaan ganti kergian daerah terhadap bendahara ditetapkan oleh Badan Pemeriksaan Keangan berdasarkan basil pemeriksaan atas laporan kergian daerah sebagaimana dimaksd dalam Pasal10 ayat (2). (2) Tata cara pengenaan ganti kergian sebagaimana dimaksd pada ayat (1), dilaksanakan sesai peratran perndang-ndangan. (3) Apabila dari basil pemeriksaan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) terbkti ada perbatan melawan hkm baik sengaja mapn lalai, maka Bpati memerintahkan Majelis ntk memproses penyelesaian kergian daerah melali SKTJM. (4) Apabila dari basil pemeriksaan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) temyata tidak terdapat perbatan melawan hkm baik sengaja mapn lalai, maka Bpati memerintah Majelis agar kass kergian daerah dihapskan dan dikelarkan dari daftar kergian daerah. Pasall2 Dalam mengmplkan data dan melakkan veriftkasi dokmen-dokmen sebagaimana dimaksd dalam Pasal 8 ayat (1) dan dalam memproses penyelesaian kergian daerah melali SKTJM sebagaimana dimaksd dalam Pasal11 ayat (3), Majelis dapat dibant oleh Inspektorat.

8 8 Paragraf 2 UpayaDamai Pasal13 Majelis mengpayakan agar bendahara bersedia membat dan menandatangani SKTJM paling lambat 7 (tjh) hari setelah menerima srat dari Badan Pemeriksa Keangan sebagaimana dimaksd dalam Pasal 11 ayat (3). Pasal14 (1) Dalam hal bendahara menandatangani SKTJM, maka yang bersangktan wajib menyerahkan jaminan kepada Majelis, antara lain dalam bentk dokmen-dokmen sebagai berikt: a. bkti kepemilikan barang dan/ a ta kekayaan lain atas nama bendahara yang nilainya minimal sama ata lebih dengan jmlah kergian daerah yt;mg hars dipertanggngjawabkan; b. srat kasa menjal dan/ ata mencairkan barang dan/ ata kekayaan lain dari bendahara. (2) SKTJM yang telah ditandatangani oleh bendahara tidak dapat ditarik kembali. (3) Bentk dan isi SKTJM sebagaimana tercantm dalam lampiran dan merpakan bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini. Pasal15 (1) Penggantian kergian daerah dapat dilakkan secara: a. tnai selambat-lambatnya 40 (empat plh) hari keija sejak SKTJM ditandatangani. b. angsran selambat-lambatnya 2 (da) tahn sejak SKTJM ditandatangani. (2) Apabila bendahara telah mengganti kergian daerah sebagaimana dimaksd dalam ayat ( 1), Majelis mengembalikan bkti kepemilikan barang dan srat kasa menjal sebagaimana dimaksd dalam Pasal14 ayat (1). (3) Apabila bendahara tidak dapat melaksanakan pembayaran angsran dalam wakt yang ditetapkan dalam SKTJM sebagaimana dimaksd pada ayat (1) hrf b, maka barang jaminan dapat dijal oleh Mejelis sesai dengan peratran perndang-ndangan yang berlak. (4) Apabila nilai barang jaminan sebagimana dimaksd pada ayat (3) melebihi dari jmlah kergian daerah, maka kelebihannya dikembalikan kepada bendahara yang bersangktan ata ahli waris ata pengamp.. (5) Apabila nilai barangjaminan sebagimana dimaksd pada ayat (3) krang dari jmlah kergian daerah, maka bendahara yang bersangktan ata ahli waris ata pengamp wajib memenhi kekrangan jmlah kergian d~erah terse bt. Pasal16 Dalam rangka pelaksanaan SKTJM, bendahara dapat menjal dan/ata mencairkan harta kekayaan yang dijaminkan sebagaimana dimaksd dalam Pasal 14 ayat (1), setelah mendapat persetjan dan di bawah pengawasan Majelis. Pasall7 (1) Majelis melaporkan hasil penyelesaian kergian daerah melali SKTJM ata srat pemyataan bersedia mengganti kergian daerah kepada Bpati.

9 .. 9 (2) Bpati memberitahkan basil penyelesaian kergian daerah melali SKTJM ata srat pemyataan bersedia mengganti kergian daerah sebagaimana dimaksd pada ayat (1) kepada Badan Pemeriksa Keangan selambatlambatnya 7 (tjh) hari sejak menerima laporan Mejelis. Pasal18 Dalam hal bendahara telah mengganti kergian daerah sebagaimana dimaksd dalam Pasal 15 ayat (2) dan setelah mendapat srat rekomendasi dari Badan Pemeriksa Keangan, Bpati memerintahkan Majelis agar kass kergian daerah dikelarkan dari daftar kergian daerah. Pasal19 Dalam hal kass kergian daerah diperoleh berdasarkan pemeriksaan yang dilakkan oleh aparat pengawasan fngsional, dan dalam proses pemeriksaan tersebt bendahara bersedia mengganti kergian secara skarela, maka bendahara membat dan menandatangani SKTJM di hadapan pemeriksa aparat pengawasan fngsional. Paragraf 3 Tnttan Perbendaharaan Biasa Pasal 20 (1) Dalam hal SKTJM tidak diperoleh ata tidak dapat menjamin pengembalian kergian daerah, Bpati mengelarkan keptsan pembebanan sementara dalam jangka wakt 7 (tjh) hari sejak bendahara tidak bersedia menandatangani SKTJM. (2) Bpati memberitahkan keptsan pembebanan sementara kepada Badan Pemeriksa Keangan. (3) Bentk dan isi keptsan pembebanan sementara sebagaimana tercantm dalam lampiran dan merpakan bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini. Pasal 21 (1) Keptsan pembebanan sementara mempnyai kekatan hkm ntk melakkan sita jaminan. (2) Pelaksanaan sita jaminan sebagaimana dimaksd pada ayat (1), diajkan oleh Bpati kepada instansi yang berwenang melakkan penyitaan. (3) Pelaksanaan sita jaminan dilakkan sesai dengan peratran perndangndangan. Pasal 22 Bendahara dapat mengajkan keberatan ata pembelaan diri atas kergian daerah kepada Badan Pemeriksa Keangan dalam wakt 14 (empat belas) hari kerja setelah tanggal penerimaan SK PBW yang tertera pada tanda terima. Pasal 23 Tata Cara penetapan batas wakt pengajan keberatan sebagaimana diatr dalam peratran perndang-ndangan.

10 10 Paragraf 4 Pembebanan Pasal 24 Ketentah penerbitan Keptsan Pembebanan ganti kergian daerah oleh BPK terhadap bendahara, diatr sebagaimana peratran perndang-ndangan. Pasal 25 (1) Keptsan Pembebanan disampaikan kepada bendahara melali atasan langsng bendahara ata kepala SKPD bendahara dengan tembsan kepada Bpati yang dengan tanda terima dari bendahara. (2) Keptsan Pembebanan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) telah mempnyai kekatan hkm yang bersifat final. U Pasal 26 Ketentan proses ptsan ditolak ata diterimanya keberatan bendahara serta proses penetapan Srat Keptsan Pembebasan bendahara dari tanggngjawab kergian daerah oleh Badan Pemeriksaan Keangan diatr sebagaimana peratran perndang-ndangan yang berlak. Paragraf5 Tnttan Perbendaharaan Khss Pasal 27 ( 1) Bendahara yang melarikan diri a ta sedang di bawah pengamanan dan lalai tidak membat perhitngan, setelah ditegr secara tertlis 3 (tiga) kali bertrt-trt dan belm jga menyampaikan perhitngan, maka atasan langsng yang bersangktan melakkan tindakan pengamanan. (2) Apabila bendahara meninggal dnia dan belm ata tidak sempat menyampaikan perhitngan, atasan langsng yang bersangktan melakkan tindakan pengamanan. (3) Tindakan pengamanan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) dan ayat (2) tersebt berpa : a. bk kas dan sema bk pembant la.inriya diberi garis pentp dan ditandatangani oleh kepala SKPD, serta sema ang, srat dan barang berharga, srat-bkti bkti mapn bk-bk disimpan/ dimaskkan dalam lemari besi dan disegel; b. penyegelan terhadap gdang dan/ ata tempat penyimpanan barangbarang yang menjadi tanggng jawab bendahara yang bersangktan. (4) Tindakan pengamanan sebagaimana dimaksd pada ayat (3) ditangkan dalam berita acara. (5) Penyegelan yang disaksikan oleh ahli waris bagi bendahara yang meninggal dnia dan kelarga terdekat bagi yang melarikan diri, ata pengamp (krator) dalam hal bendahara berada dibawah pengampan. Pasal 28 (1) Atas dasar laporan atasan langsng/kepala SKPD, Bpati atas saran Majelis mengaskan Inspektorat ata mennjk penilai ntk membat perhitngan/ penilaian kergian daerah

11 ; 11 (2) Salinan basil perhitnganjpenilaian kergian daerah, diberikan kepada pengamp ata ahli waris ata bendahara yang tidak membat perhitngan, dan dalam batas wakt 14 (empat belas) hari diberikan kesempatan 1:1ntk mengajkan keberatan. Pasal 29 Tata cara tnttan perbendaharaan khss yang dipertanggngjawabkan kepada ahli waris bagi bendahara yang meninggal dnia, kelarga terdekat bagi bendahara yang melarikan diri dan pengamp bagi yang dibawah perwalian, ata bendahara yang tidak membat perhitngan, apabila teijadi kekrangan perbendaharaan berlak ketentan-ketentan sebagaimana diatr dalam tnttan perbendaharaan biasa. Pargraf 6 Pencatatan Pasal 30 (1) Ketentan penerbitan Keptsan Pencatatan oleh BPK terhadap Bendahara, diatr sebagaimana peratran perndang-ndangan yang berlak. (2) Dengan diterbitkannya Keptsan Pencatatan sebagaimana dimaksd pada ayat ( 1), kass yang bersangktan dikelarkan dari administrasi pembkan pitangtp. (3) Pencatatan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) sewakt-wakt dapat diproses kembali apabila : a. Pelak TP diketahi alamatnya; b. Pengamp/ ahli waris dapat dimintakan pertanggngjawabannya; dan c. Pitang TP dapat ditagih dan disetorkan ke kas daerah. (4) Bentk dan isi keptsan pencatatan dibat sesai dengan yang tercantm dalam lampiran dan merpakan bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini. Bagian Keda Penyelesaian Tnttan Ganti Rgi Paragraf 1 Umm Pasal 31 (1) Atasan langsng pegawai bkan bendahara ata kepala satan kerja wajib melaporkan setiap kergian daerah kepada Bpati dan memberitahkan Badan Pemeriksa Keangan selambat-lambatnya 7 (tjh) hari kerja setelah kergian daerah diketahi. (2) Pemberitahan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) dilengkapi sekrangkrangnya dengan dokmen Berita Acara Pemeriksaan Kergian Daerah. Pasal 32 ( 1) Bpati segera mengaskan Majelis ntk menindaklanjti kass kergian daerah yang dilakkan oleh pegawai bkan bendahara selambat-lambatnya 7 (tjh) hari keija sejak menerima laporan sebagaimana dimaksd dalam Pasal31 ayat (1). (2) Majelis mencatat kergian daerah yang dilakkan oleh pegawai bkan bendahara dalam daftar kergian daerah.

12 ; 12 Pasa133 ( 1) Majelis hars melaksanakan pemeriksaan kass kergian daerah yang dilakkan pegawai bkan bendahara dalam wakt 30 (tiga plh) hari sejak memperoleh pengasan sebagaimana dimaksd dalam Pasal32 ayat (1).. (2) Majelis melaporkan hasil pemeriksaan kass kergian daerah sebagaimana dimaksd pada ayat (1) dalam Laporan Hasil Pemeriksaan Kergian Daerah dan disampaikan kepada Bpati. (3) Bpf!Lti menyampaikan laporan hasil penyelesaian kass kergiari Daerah sebagaimana dimaksd pada ayat (2) kepada Badan Pemeriksa Keangan selambat-lambatnya 7 (tjh) hari sejak diterimanya dari Majelis. Pasal 34 (1) Pengenaan ganti kergian daerah terhadap pegawai bkan bendahara ditetapkan oleh Bpati berdasarkan hasil pemeriksaan atas laporan kergian daerah sebagaimana dimaksd dalam Pasal33 ayat (2). (2) Apabila dari hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) terbkti ada perbatan melawan hkm baik sengaja mapn lalai, maka Bpati memerintahkan Majelis ntk memproses penyelesaian kergian daerah melali SKTJM. (3) Apabila dari hasil pemeriksaan sebagaimana dimaksd pada ayat (1) temyata tidak terdapat perbatan melawan hkm baik sengaja mapn!alai, maka Bpati menetapkan Srat Keptsan Pembebasan dan memerintah Majelis agar kass kergian daerah dihapskan dan dikelarkan dari daftar kergian daerah. (4) Bentk dan isi keptsan pembebasan dibat sesai dengan yang tercantm dalam lampiran dan merpakan bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini. Pasal 35 Dalam melaksanakan pemeriksaan kass kergian daerah sebagaimana dimaksd dalam Pasal 33 ayat (1), dan dalam memproses penyelesaian kergian daerah melali SKTJM sebagaimana dimaksd dalam Pasal 34 ayat (2), Majelis dapat dibant oleh Inspektorat. Pasal36 (1) Kergian daerah yang terjadi akibat kesalahan beberapa pegawai danfata pejabat yang dalam pemeriksaan terbkti melakkan bersama-sama, merpakan tanggng jawab renteng dan ditetapkan berdasarkan bobot keterlibatannya sesai rtan inisiatif, kelalaianfkesalahan. (2) Kergian daerah yang terjadi akibat pemakaian kendaraan operasional oleh nit lain dalam sat SKPD ntk kepentingan dinas merpakan tanggng jawab pemakai barang. (3) Kergian daerah yang terjadi akibat pemakaian kendaraan operasional oleh nit lain dalam sat SKPD dilar kepentingan dinas merpakan tanggng jawab renteng penggna barang dan pemakai barang. (4) Kergian daerah yang terjadi akibat pemakaian kendaraan operasional oleh lembaga non pemerintahfperorangan dilar kepentingan dinas merpakan tanggng jawab penggna barang.

13 13 Paragraf2 Upaya Damai Pasal37 Majelis mengpayakan agar pegawai bkan bendahara bersedia membat dan menandatangani SKTJM paling lambat 7 (tjh) hari setelah menerima sra~ dari Bpati sebagaimana dimaksd dalam Pasal34 ayat (2). Pasal 38 (1) Dala.In hal pegawai bkan bendahara menandatangani SKTJM, maka yang bersangktan wajib menyerahkan jaminan kepada Majelis dalam bentk dokmen-dokmen sebagai berikt: a. bkti kepemilikan barang danfata kekayaan lain atas nama pegawai bkan bendahara yang nilainya minimal sama ata lebih dengan jmlah kergian daerah yang hars dipertanggngjawabkan; b. srat kasa menjal dan/ a ta mencairkan barang dan/ ata kekayaan lain dari bendahara. (2) SKTJM yang telah ditandatangani oleh pegawai bkan bendahara tidak dapat ditarik kembali. Pasal 39 ( 1) Penggantian kergian daerah dapat dilakkan secara : a. tnai selambat-lambatnya 40 (empat plh) hari keija sejak SKTJM ditandatangani. b. angsran selambat-lambatnya 2 (da) tahn sejak SKTJM ditandatangani. (2) Apabila pegawai bkan bendahara telah mengganti kergian daerah sebagaimana dimaksd pada ayat (1), Majelis mengembalikan bkti kepemilikan barang dan srat kasa menjal sebagaimana dimaksd dalam Pasal38 ayat (1). (3) Pegawai bkan bendahara tidak dapat melaksanakan pembayaran angsran dalam wakt yang ditetapkan dalam SKTJM sebagaimana dimaksd pada ayat (1) hrf b, maka barangjaminan dapat dijal oleh Majelis sebagaimana dimaksd dalam pasal 38 ayat (1) sesai dengan peratran perndangndangan yang berlak. (4) Apabila nilai barang jaminan sebagimana dimaksd pada ayat (3) melebihi dari jmlah kergian daerah, maka kelebihannya dikembalikan kepada pegawai yang bersangktan ata ahli waris ata pengamp. (5) Apabila nilai barang jaminan sebagimana dimaksd pada ayat (3) krang dari jmlah kergian daerah, maka pegawai yang bersangktan ata ahli waris ata pengamp wajib memenhi kekrangan jmlah kergian daerah terse bt. Pasal 40 Dalam rangka pelaksanaan SKTJM, pegawai bkan bendahara dapat menjal dan/ ata mencairkan harta kekayaan yang dijaminkan sebagaimana dimaksd dalam Pasal38 ayat (1), setelah mendapat persetjan dan di bawah pengawasan Majelis. Pasal 41 (1) Majelis melaporkan hasil penyelesaian kergian daerah melali SKTJM ata srat pernyataan bersedia mengganti kergian daerah kepada Bpati.

14 14 (2) Bpati memberitahkan basil penyelesaian kergian daerah melali SKTJM ata srat pemyataan bersedia mengganti kergian daerah sebagaimana dimaksd pada ayat (1) kepada Badan Pemeriksa Keangan selambatlambatnya 7 (tjh) hari sejak menerima laporan Majelis. Pasal 42 Dalam hal pegawai bkan bendahara telah mengganti kergian daerah sebagaimana dimaksd dalam Pasal 39 ayat (2) dan setelah mendapat srat rekomendasi dari Badan Pemeriksa Keangan, Bpati memerintahkan Majelis agar kass kergian daerah dikelarkan dari daftar kergian daerah. Pasal 43 Dalam hal kass kergian daerah diperoleh berdasarkan pemeriksaan yang dilakkan oleh aparat pengawasan fngsional, dan dalam proses pemeriksaan tersebt pegawai bkan bendahara bersedia mengganti kergian secara skarela, maka pegawai bkan bendahara membat dan menandatangani SKTJM di hadapan pemeriksa aparat pengawasan fngsional. Paragraf 3 Tnttan Ganti Rgi Biasa Pasal 44 (1) Apabila penyelesaian kergian daerah melali paya damai sebagaimana dimaksd dalam Pasal 37 tidak berhasil, maka Majelis memberikan srat pemperitahan kepada pegawai bkan bendahara yang bersangktan bahwa TGR akan diberlakkan. (2) Pegawai bkan bendahara dapat mengajkan keberatan ata pembelaan diri atas kergian daerah kepada Bpati dalam wakt 14 (empat belas) hari kerja setelah tanggal penerimaan srat pemberitahan yang tertera pada tanda terima sebagaimana dimaksd pada ayat (1). (3) Apabila dalam jangka wakt 14 (empat belas) hari pegawai bkan bendahara yang bersangktan tidak mengajkan keberatan/pembelaan diri ata telah mengajkan pembelaan diri tetapi Mejelis menganggap yang bersangktan salah ata lalai, Majelis mengslkan pembebanan kepada Bpati ntk menetapkan srat keptsan pembebanan. (4) Berdasarkan pengslan Majelis sebagaimana dimaksd pada ayat (3), Bpati menetapkan Keptsan Pembebanan. (5) Berdasarkan Keptsan Pembebanan sebagaimana dimaksd pada ayat (4), Majelis melaksanakan penagihan atas pembayaran ganti rgi kepada yang bersangktan. (6) Dalam wakt 30 (tiga plh) hari sejak yang bersangktan menerima keptsan pembebanan, kepadanya diberikan kesempatan ntk naik banding kepada Bpati. (7) Keptsan pembebanan sebagaimana dimaksd pada ayat (4) tetap dilaksanakan, meskipn pegawai bkan bendahara naik banding. (8) Keptsan tingkat banding dari Bpati dapat berpa memperkat keptsan Bpati, mengrangi besamya jmlah kergian ata memperpanjang jangka wakt angsran yang hars dibayar oleh pegawai yang bersangktan. (9) Bentk dan isi keptsan pembebanan dibat sesai dengan yang tercantm dalam lampiran dan merpakan bagian yang tidak terpisahkan dari peratran ini.

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA

PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA TERHADAP BENDAHARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 790 TAHUN : 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA KECAMATAN DI KABUPATEN SIDOARJO

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA KECAMATAN DI KABUPATEN SIDOARJO BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS, FUNGSI DAN TATA KERJA KECAMATAN DI KABUPATEN SIDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, v Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN BARAT, Menimbang : a. bahwa kekayaan daerah adalah

Lebih terperinci

BUPATI SIDOOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 49 TAHUN 2013 TENTANG. TARIJ7 SEWA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KABUPATEN SlDOARJO

BUPATI SIDOOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 49 TAHUN 2013 TENTANG. TARIJ7 SEWA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KABUPATEN SlDOARJO BUPATI SIDOOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR: 49 TAHUN 2013 TENTANG TARIJ7 SEWA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KABUPATEN SlDOARJO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SfDOARJO, Menimbang MengingaL

Lebih terperinci

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN TENGAH NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN

BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN,

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH TERHADAP BENDAHARA

RANCANGAN PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH TERHADAP BENDAHARA RANCANGAN PERATURAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN GANTI KERUGIAN NEGARA/DAERAH TERHADAP BENDAHARA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK NDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPULAUAN

Lebih terperinci

BAB III LIMIT DAN FUNGSI KONTINU

BAB III LIMIT DAN FUNGSI KONTINU BAB III LIMIT DAN FUNGSI KONTINU Konsep it mempnyai peranan yang sangat penting di dalam kalkls dan berbagai bidang matematika. Oleh karena it, konsep ini sangat perl ntk dipahami. Meskipn pada awalnya

Lebih terperinci

Analisis Peluruhan Flourine-18 menggunakan Sistem Pencacah Kamar Pengion Capintec CRC-7BT S/N 71742

Analisis Peluruhan Flourine-18 menggunakan Sistem Pencacah Kamar Pengion Capintec CRC-7BT S/N 71742 Prosiding Perteman Ilmiah XXV HFI Jateng & DIY 63 Analisis Pelrhan Florine-18 menggnakan Sistem Pencacah Kamar Pengion Capintec CRC-7BT S/N 717 Wijono dan Pjadi Psat Teknologi Keselamatan dan Metrologi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG SALIN AN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENYELESAIAN KERUGIAN NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDA Y AAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

Bab 5 RUANG HASIL KALI DALAM

Bab 5 RUANG HASIL KALI DALAM Bab 5 RUANG HASIL KALI DALAM 5 Hasil Kali Dalam Untk memotiasi konsep hasil kali dalam diambil ektor di R dan R sebagai anak panah dengan titik awal di titik asal O = ( ) Panjang sat ektor x di R dan R

Lebih terperinci

Pertemuan IX, X, XI IV. Elemen-Elemen Struktur Kayu. Gambar 4.1 Batang tarik

Pertemuan IX, X, XI IV. Elemen-Elemen Struktur Kayu. Gambar 4.1 Batang tarik Perteman IX, X, XI IV. Elemen-Elemen Strktr Kay IV.1 Batang Tarik Gamar 4.1 Batang tarik Elemen strktr kay erpa atang tarik ditemi pada konstrksi kdakda. Batang tarik merpakan sat elemen strktr yang menerima

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. penurunan akibat pembebanan, yaitu tahanan geser yang dapat dikerahkan oleh. tanah di sepanjang bidang-bidang gesernya.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. penurunan akibat pembebanan, yaitu tahanan geser yang dapat dikerahkan oleh. tanah di sepanjang bidang-bidang gesernya. 5 BAB TIJAUA PUSTAKA.1 Daya Dkng Tanah Pasir Kapasitas dkng menyatakan tahanan geser tanah ntk melawan penrnan akibat pembebanan, yait tahanan geser yang dapat dikerahkan oleh tanah di sepanjang bidang-bidang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNG MAS NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK PETA DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNG MAS NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK PETA DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNG MAS NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PENGGANTIAN BIAYA CETAK PETA DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GUNUNG MAS, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong

Lebih terperinci

-1- PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 2 /BC/2011 TENTANG PENGELOLAAN JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN

-1- PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 2 /BC/2011 TENTANG PENGELOLAAN JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN -1- PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 2 /BC/2011 TENTANG PENGELOLAAN JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN Menimbang DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

TENTANG BUPATI PATI,

TENTANG BUPATI PATI, PERATURAN DAERAH KABUPATEN PATI NOMOR 22 TAHUN 2009 TENTANG RETRIBUSI TEMPAT PELELANGAN IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PATI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan kesejahteraan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pendirian Yayasan di Indonesia selama ini dilakukan

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL

PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL HSL RPT TGL 13 JULI 2009 PERATURAN KEPALA BADAN NARKOTIKA NASIONAL NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS

PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PEMERINTAH KABUPATEN KUDUS PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUDUS NOMOR 9 TAHUN 2006 T E N T A N G RETRIBUSI PELAYANAN PEMAKAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUDUS, Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya

Lebih terperinci

Kepada yang terhormat, Wakil Ketua DPRD dan Bupati Biak Numfor dan Undangan yang kami hormati

Kepada yang terhormat, Wakil Ketua DPRD dan Bupati Biak Numfor dan Undangan yang kami hormati SAMBUTAN DALAM RANGKA PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEPADA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BIAK NUMFOR TANGGAL 8 SEPTEMBER 2009 Kepada yang

Lebih terperinci

RETRIBUSI TEMPAT KHUSUS PARKIR

RETRIBUSI TEMPAT KHUSUS PARKIR PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKALIS NOMOR 06 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI TEMPAT KHUSUS PARKIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKALIS, Menimbang : a. bahwa dengan di berlakukannya Undang-undang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MAMUJU

PEMERINTAH KABUPATEN MAMUJU PEMERINTAH KABUPATEN MAMUJU Alamat : Jl. Soekarno Hatta No. 17, Telp (0426) 21101, Kode Pos 51911 Mamuju PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAMUJU NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI TEMPAT KHUSUS PARKIR DENGAN

Lebih terperinci

BUPATI MOJOKERTO PERATURAN DAERAH I(ABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 16 TAHUN 2OI2 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN KEUANGAN DAN BARANG DAERAH

BUPATI MOJOKERTO PERATURAN DAERAH I(ABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 16 TAHUN 2OI2 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN KEUANGAN DAN BARANG DAERAH BUPATI MOJOKERTO PERATURAN DAERAH I(ABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 16 TAHUN 2OI2 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2014 TENTANG PENJUALAN BARANG MILIK NEGARA/DAERAH BERUPA KENDARAAN PERORANGAN DINAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2014 TENTANG PENJUALAN BARANG MILIK NEGARA/DAERAH BERUPA KENDARAAN PERORANGAN DINAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2014 TENTANG PENJUALAN BARANG MILIK NEGARA/DAERAH BERUPA KENDARAAN PERORANGAN DINAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

GUBERNUR KALIMANTAN BARAT,

GUBERNUR KALIMANTAN BARAT, 1 SALINAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT NOMOR 65 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENGELOLAAN BARANG PERSEDIAAN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG IZIN PEMAKAIAN RUMAH MILIK ATAU DIKUASAI PEMERINTAH KOTA SURABAYA

RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG IZIN PEMAKAIAN RUMAH MILIK ATAU DIKUASAI PEMERINTAH KOTA SURABAYA RANCANGAN PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG IZIN PEMAKAIAN RUMAH MILIK ATAU DIKUASAI PEMERINTAH KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 52 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 52 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 52 TAHUN 2014 TENTANG POLA PENDANAAN PENDIDIKAN PADA SATUAN PENDIDIKAN MELALUI SUMBANGAN/ PUNGUTAN PADA PESERTA DIDIK, ORANG TUA, DAN/ATAU

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 33 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGHAPUSAN DAN PEMINDAHTANGANAN BARANG MILIK PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG REKENING MILIK KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA/SATUAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG REKENING MILIK KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA/SATUAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 252/PMK.05/2014 TENTANG REKENING MILIK KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA/SATUAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG

GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG 0 GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 3 TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PENGENDALIAN KELEBIHAN MUATAN ANGKUTAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENGELOLAAN BENDA SITAAN NEGARA DAN BARANG RAMPASAN NEGARA PADA RUMAH PENYIMPANAN BENDA SITAAN NEGARA

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PENERIMAAN SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG,

Lebih terperinci

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya

Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Untuk keterangan lebih lanjut, hubungi : Account Representative Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya Undang-Undang KUP dan Peraturan Pelaksanaannya KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO

PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO PEMERINTAH KABUPATEN SIDOARJO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG.PELAYANAN KETENAGAKERJAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO Menimbang :a. bahwa Daerah otonomi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 22 TAHUN 2014 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 22 TAHUN 2014 TENTANG BUPATI SIDOARJO PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR : 22 TAHUN 2014 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIDOARJO NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PASAR DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA PADANG PANJANG

PEMERINTAH KOTA PADANG PANJANG PEMERINTAH KOTA PADANG PANJANG PERATURAN DAERAH KOTA PADANG PANJANG NOMOR 8 TAHUN 2005 TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG PANJANG, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG HSL RPT TGL 13 JULI 2009 PERATURAN KEPALA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENGELOLAAN BARANG BUKTI DI LINGKUNGAN KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PROVINSI J A W A T E N G A H D E N G A N R A H M A T T U H A N Y A N G M A H A E S A

PROVINSI J A W A T E N G A H D E N G A N R A H M A T T U H A N Y A N G M A H A E S A B U P A T I B A T A N G PROVINSI J A W A T E N G A H P E R A T U R A N B U P A T I B A T A N G N O M O R T A H U N 2 0 1 5 T E N T A N G P E D O M A N P E N G E L O L A A N U A N G D A E R A H K A B U

Lebih terperinci

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN

SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH UNDANG-UNDANG PERPAJAKAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DIREKTORAT PENYULUHAN PELAYANAN DAN HUBUNGAN MASYARAKAT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Assalamualaikum

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 259/PMK.04/2010 TENTANG JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN,

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 259/PMK.04/2010 TENTANG JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 259/PMK.04/2010 TENTANG JAMINAN DALAM RANGKA KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 252/PMK.05/2014 TENTANG REKENING MILIK KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA/SATUAN KERJA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 252/PMK.05/2014 TENTANG REKENING MILIK KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA/SATUAN KERJA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 252/PMK.05/2014 TENTANG REKENING MILIK KEMENTERIAN NEGARA/LEMBAGA/SATUAN KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Jakarta, 5 Mei 2014. Kepada

Jakarta, 5 Mei 2014. Kepada Kepada Jakarta, 5 Mei 2014 Nomor : 900/2280/SJ. Yth. 1. Gubernur Sifat : 2. Bupati/Walikota Lampiran : 1 (satu) lampiran di - Hal : Petunjuk Teknis Penganggaran, Pelaksanaan dan Penatausahaan, serta Seluruh

Lebih terperinci

QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN

QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN QANUN KOTA BANDA ACEH NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN BISMILLAHIRRAHMAANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA WALIKOTA BANDA ACEH, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN

KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SUSUNAN DALAM SATU NASKAH DARI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1983 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN SEBAGAIMANA TELAH DIUBAH TERAKHIR DENGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG

PEMERINTAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG PEMERINTAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PARIGI MOUTONG NOMOR 3 TAHUN 2006 TENTANG RETRIBUSI WAJIB DAFTAR PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PARIGI MOUTONG, Menimbang

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 246/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGGUNAAN BARANG MILIK NEGARA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 246/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGGUNAAN BARANG MILIK NEGARA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 246/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGGUNAAN BARANG MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2000 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 1997 TENTANG PAJAK DAERAH DAN RETRIBUSI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR TAHUN 2014 TENTANG NOMOR POKOK WAJIB PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLITAR,

BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR TAHUN 2014 TENTANG NOMOR POKOK WAJIB PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLITAR, BUPATI BLITAR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR TAHUN 2014 TENTANG NOMOR POKOK WAJIB PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLITAR, Menimbang : a. bahwa dengan semakin kompleknya permasalahan

Lebih terperinci

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut:

Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: SYARAT & KETENTUAN Safe Deposit Box A. DEFINISI Setiap istilah di bawah ini, kecuali dengan tegas ditentukan lain dalam Syarat dan Ketentuan ini mempunyai arti dan pengertian sebagai berikut: 1. Anak Kunci

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2003 SERI B NOMOR 1

LEMBARAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2003 SERI B NOMOR 1 No. 7, 2003 LEMBARAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 7 TAHUN 2003 SERI B NOMOR 1 PERATURAN DAERAH PROPINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI TERA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PELAKSANAAN BELANJA UNTUK PENGGUNAAN UANG PERSEDIAAN (UP), GANTI UANG PERSEDIAAN (GU) DAN TAMBAHAN UANG PERSEDIAAN (TU)

PELAKSANAAN BELANJA UNTUK PENGGUNAAN UANG PERSEDIAAN (UP), GANTI UANG PERSEDIAAN (GU) DAN TAMBAHAN UANG PERSEDIAAN (TU) LAMPIRAN B.9. : PERATURAN BUPATI BANGKA BARAT NOMOR : TANGGAL: PELAKSANAAN BELANJA UNTUK PENGGUNAAN UANG PERSEDIAAN (UP), GANTI UANG PERSEDIAAN (GU) DAN TAMBAHAN UANG PERSEDIAAN (TU) Deskripsi Kegiatan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT, PEMBERHENTIAN TIDAK DENGAN HORMAT, DAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA, SERTA HAK JABATAN FUNGSIONAL JAKSA

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BEKASI

BERITA DAERAH KOTA BEKASI BERITA DAERAH KOTA BEKASI NOMOR : 47 2012 SERI : E PERATURAN WALIKOTA BEKASI NOMOR 47 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM DAN PROSEDUR PENGELOLAAN BARANG MILIK DAERAH KOTA BEKASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG TATA KERJA MAJELIS KODE ETIK PELAYAN PUBLIK DAN PENYELENGGARA PELAYANAN PUBLIK DI LINGKUNGAN BADAN PERTANAHAN NASIONAL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mendukung keberhasilan penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

PERJANJIAN TENTANG REKENING EFEK Nomor: SP- /RE/KSEI/mmyy

PERJANJIAN TENTANG REKENING EFEK Nomor: SP- /RE/KSEI/mmyy PERJANJIAN TENTANG REKENING EFEK Nomor: SP- /RE/KSEI/mmyy Perjanjian ini dibuat pada hari ini, , tanggal , bulan tahun (dd-mm-yyyy), antara: PT Kustodian Sentral Efek Indonesia,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 23 TAHUN 2003 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH,

PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 23 TAHUN 2003 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH, PERATURAN DAERAH KOTA PRABUMULIH NOMOR 23 TAHUN 2003 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PRABUMULIH, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan Otonomi Daerah maka

Lebih terperinci

BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA PEMERINTAH DAERAH

BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA PEMERINTAH DAERAH SALINAN BUPATI SINJAI PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SINJAI NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG SUMBANGAN PIHAK KETIGA KEPADA PEMERINTAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SINJAI,

Lebih terperinci

a. bahwa berdasarkan Pasal 79A Undang Undang Nomor 24

a. bahwa berdasarkan Pasal 79A Undang Undang Nomor 24 BERITA DAERAH KOTADEPOK NOMOR 15 PERATURAN WALIKOTA DEPOK NOMOR 15 TAHUN 2014 TAHUN 2014 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN ADMINISTRASI KEPENDUDUKAN DAN PENCATATAN SIPIL Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

WALIKOTA BENGKULU PERATURAN DAERAH KOTA BENGKULU NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG

WALIKOTA BENGKULU PERATURAN DAERAH KOTA BENGKULU NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG WALIKOTA BENGKULU PERATURAN DAERAH KOTA BENGKULU NOMOR 03 TAHUN 2013 TENTANG RETRIBUSI PEMERIKSAAN ALAT PEMADAM KEBAKARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BENGKULU, Menimbang : a. bahwa dengan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 54 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENGADAAN BARANG/JASA DI DESA

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 54 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENGADAAN BARANG/JASA DI DESA BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 54 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA PENGADAAN BARANG/JASA DI DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN

BERITA DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN BERITA DAERAH KOTA SAMARINDA SALINAN WALIKOTA SAMARINDA PROVINSI KALIMANTAN TIMUR PERATURAN WALIKOTA SAMARINDA NOMOR 21 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN WALIKOTA SAMARINDA NOMOR 38 TAHUN 2011

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMUNGUTAN RETRIBUSI DAERAH PELAYANAN TATA KOTA

PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMUNGUTAN RETRIBUSI DAERAH PELAYANAN TATA KOTA PERATURAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 139 TAHUN 2007 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PEMUNGUTAN RETRIBUSI DAERAH PELAYANAN TATA KOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENENTUAN JUMLAH, PEMBAYARAN, DAN PENYETORAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK YANG TERUTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.09/MEN/2011 TENTANG TUGAS BELAJAR BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR,

GUBERNUR JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 36 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan perekonomian nasional bertujuan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.10/MEN/2011 TENTANG IZIN BELAJAR BAGI PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/PMK.06/2015 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/PMK.06/2015 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/PMK.06/2015 TENTANG PENDELEGASIAN KEWENANGAN DAN TANGGUNG JAWAB TERTENTU DARI PENGELOLA BARANG KEPADA PENGGUNA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG HUKUM DISIPLIN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG HUKUM DISIPLIN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG HUKUM DISIPLIN MILITER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Tentara Nasional Indonesia

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PEMERINTAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANJUNG JABUNG BARAT NOMOR 9 TAHUN 2003 TENTANG RETRIBUSI WAJIB LAPOR KETENAGAKERJAAN DI PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK

PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK PERATURAN KOMISI INFORMASI NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PROSEDUR PENYELESAIAN SENGKETA INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, KOMISI INFORMASI Menimbang : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PUSAT HUKUM DAN HUMAS BPN RI

PUSAT HUKUM DAN HUMAS BPN RI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 111 ayat (2) Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 12 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENANGANAN PERKARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN DALAM NEGERI DAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2013 TENTANG PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15/PERMEN-KP/2013 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PENGELOLAAN BARANG MILIK NEGARA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA SALINAN PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 2 TAHUN 2010 TENTANG PEMAKAIAN RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a. bahwa dalam usaha untuk

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2004 TENTANG JABATAN NOTARIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa Negara Republik Indonesia sebagai

Lebih terperinci

MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA

MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA SALINAN PERATURAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR PER-19/MBU/10/2014 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENGANGKATAN DAN PEMBERHENTIAN ANGGOTA DEWAN KOMISARIS DAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KITAB UNDANG-UNDANG HUKUM PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan upaya

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL KEPUTUSAN MENTERI NEGARA AGRARIA/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 6 TAHUN 1998 TENTANG PEMBERIAN HAK MILIK ATAS TANAH UNTUK RUMAH TINGGAL

Lebih terperinci

http://www.legalitas.org/incl-php/buka.php?d=2000+8&f=pp63-2008.htm

http://www.legalitas.org/incl-php/buka.php?d=2000+8&f=pp63-2008.htm 1 of 11 11/6/2008 9:33 AM Gedung DitJend. Peraturan Perundang-undangan Go Back Tentang Kami Forum Diskusi FAQ Web Jln. Rasuna Said Kav. 6-7, Kuningan, Jakarta Selatan Mail Email: admin@legalitas.org. PERATURAN

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGHAPUSAN BARANG MILIK NEGARA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGHAPUSAN BARANG MILIK NEGARA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGHAPUSAN BARANG MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

-2- 6. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 05/Kpts/KPU/TAHUN 2013 tentang Penetapan Partai Politik Peserta Pemilihan Umum Tahun 2014;

-2- 6. Keputusan Komisi Pemilihan Umum Nomor 05/Kpts/KPU/TAHUN 2013 tentang Penetapan Partai Politik Peserta Pemilihan Umum Tahun 2014; -2- Mengingat: 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik sebagaimana telah diubah dengan dengan Undang- Undang Nomor 2 Tahun 2011 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 8,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci