DISTRIBUSI PERTUMBUHAN PRESIPITAT ZIRCALOY-4 PADA TEMPERATUR C

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DISTRIBUSI PERTUMBUHAN PRESIPITAT ZIRCALOY-4 PADA TEMPERATUR 700-900 C"

Transkripsi

1 ID Prosiding Presentasi llmiah Daur Bahan Bakar Nuklir III DISTRIBUSI PERTUMBUHAN PRESIPITAT ZIRCALOY-4 PADA TEMPERATUR C Harini Sosiati, Sungkono Pusat Elemen Bakar Nuklir- BATAN ABSTRAK DISTRIBUSI PERTUMBUHAN PRESIPITAT ZIRCALOY-4 PADA TEMPERATUR C. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis distribusi pertumbuhan presipitat zircaloy-4 pada temperatur C selama 5-25 jam. Data hasil analisis ini akan digunakan sebagai dasar perhitungan kinetika pertumbuhan presipitat dan untuk menginterpretasi laju pertumbuhan oksida. Pelat zircaloy-4 standar dianil dalam tungku inert argon pada temperatur 700, 800 dan 900 C selama masing-masing 5, 10, 20 dan 25 jam dan selanjutnya didinginkan di dalam tungku dengan laju pendinginan sekitar 50 C/detik. Uji metalografi untuk analisis presipitat secara kuantitatif dilakukan dengan TEM (Transmission Electron Microscope) JEM-1200EXII. Pada temperatur 700 C, rentang diameter presipitat minimum adalah (0,01-0,05) urn dan maksimum adalah (0,1-0,5) urn. Pada temperatur 800 C, rentang diameter presipitat minimum adalah (0,01-0,05) jim dan maksimum adalah (0,51-0,55) urn. Pada temperatur 900 C, rentang diameter presipitat minimum adalah (0,01-0,05) urn dan maksimum adalah (0,66-0,7) urn. Semua zircaloy-4 yang dianil pada temperatur 700 C dan 800 c C selama 5 dan 10 jam dapat diklasifikasikan sebagai material dengan laju pertumbuhan oksida rendah. ABSTRACT THE PRECIPITATE GROWTH DISTRIBUTION OF ZIRCALOY-4 AT TEMPERATURE OF Q C. The aim of the work is to analyze the precipitate growth distribution of zircaloy-4 at temperature from 700 to 900 C for 5 to 25 hours. The analysis results will be used as a basic evaluation for the kinetics of the precipitate growth and to interprete the oxide growth rate. Zircaloy-4 plates were annealed in the Argon inert furnace at 700, 800 and 900 "C for 5, 10, 20 and 25 hours, respectively, then cooled at about 50 C/s. The precipitates formed in zircaloy-4 specimens were observed and analyzed with a TEM (Transmission Electron Microscope) JEM- 1200EXII. At 700 C the minimum diameter of precipitate is between ( ) fim and the maximum diameter is between ( ) pm. At 800 C the minimum diameter of precipitate is between ( ) pm and the maximum diameter is between ( ) /im. At 900 C the minimum diameter of precipitate is between ( ) pm and the maximum diameter is between ( ) /.im. All zircaloy-4 annealed at 700 C and 800 C for 5 and 10 hours have the average precipitate diameter of less than 0.1 fjm. They can be classified as materials being low in oxide growth rate. PENDAHULUAN Penelitian tentang karakterisasi mikrostruktur zircaloy-4 akibat perlakuan panas serta pengaruhnya terhadap sifat korosi telah dilakukan oleh para peneliti luar negeri 11 ' 2 ' 1. Di Indonesia, karakterisasi presipitat zircaloy yang telah dilakukan oleh peneliti BATAN adalah karakterisasi presipitat menggunakan mikroskop optik' 4 '. Mengingat mikroskop optik mempunyai resolusi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan mikroskop elektron transmisi, maka hasil karakterisasi presipitat menggunakan mikroskop optik belum dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Oleh karena itu pada penelitian ini karakterisasi presipitat zircaloy-4 dianalisis dengan mikroskop elektron transmisi (TEM). Karakterisasi mikrostruktur zircaloy-4 dengan TEM relatif belum banyak dilakukan, mengingat penyiapan sampel dan teknik pengoperasian TEM memerlukan keahlian khusus. Data hasil analisis karakterisasi zircaloy-4 menggunakan TEM sangat diperlukan untuk menunjang program penelitian pengembangan elemen bakar nuklir, khususnya pada proses fabrikasi elemen bakar di Pusat Elemen Bakar Nuklir, sesuai dengan program jangka panjang BATAN. Pada penelitian ini karakterisasi mikrostruktur zircaloy-4 difokuskan pada karakterisasi presipitat setelah aniling, karena 217

2 Prosiding Presentasi Hmiah Daur Baban Bakar Nuklir III ukuran dan distribusi pertumbuhan presipitat sangat bergantung pada perubahan kondisi anil selama daur pemrosesan. Hubungan numerik antara diameter presipitat dengan kondisi anil dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut, D = f (t, T ) (1) dengan D adalah diameter karakteristik presipitat, t adalah waktu anil dan T adalah temperatur anil. Selama reaktor beroperasi, zircaloy yang digunakan sebagai material kelongsong akan selalu bersinggungan langsung dengan media pendingin, sehingga terjadinya oksidasi pada zircaloy tidak dapat dihindari. Dalam hal ini distribusi pertumbuhan presipitat mempunyai peran yang sangat penting dalam mengendalikan laju pertumbuhan oksida pada zircaloy. Semakin tinggi laju pertumbuhan presipitat, laju pertumbuhan oksida juga akan semakin tinggi. Laju pertumbuhan presip'rtat tinggi akan menyebabkan jarak antar partikel menjadi relatif besar, sehingga akan memudahkan ion hidrogen berdifusi ke dalam matriks melalui lapisan oksida. Hal ini dapat meningkatkan akumulasi H 2 di sekitar presipitat, sehingga tekanan gas H 2 bertambah tinggi. Apabila tekanan gas H 2 melebihi tekanan yang dapat menahan lapisan oksida, maka akan terjadi patahan lapisan oksida, sehingga reaksi langsung antara H 2 O dengan matriks akan semakin tidak terkendali dan laju korosi semakin tinggi' 51. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis distribusi pertumbuhan presipitat zircaloy-4 pada temperatur C selama 5-25 jam. Pada temperatur anil tersebut diperkirakan presipitat zircaloy telah memasuki fase pertumbuhan, sehingga distribusi pertumbuhan presipitat dapat dianalisis. Data hasil analisis tersebut diharapkan dapat digunakan sebagai dasar perhitungan kinetika pertumbuhan presipitat dan untuk menginterpretasi laju pertumbuhan oksida pada zircaloy-4. METODE PENELITIAN Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah pelat zircaloy-4 standar. Pelat dipotong menjadi 12 sampel dengan dimensi panjang (p)= (10 ± 0,1 ) mm, lebar(!) adalah (5+0,1) mm, dan tebal' (t) adalah (2±0,1) mm. Sampel dianil dalam tungku inert argon pada temperatur 700, 800 dan 900 C selama masing-masing 5, 10, 20 dan 25 jam dan selanjutnya didinginkan di dalam tungku dengan laju pendinginan sekitar 50 C/detik. Uji metalografi untuk analisis presipitat secara kuantitatif dilakukan dengan TEM (Transmission Electron Microscope) JEM-1200EXII. Sampel TEM dipersiapkan dengan twin jet-thinning electropolisher menggunakan larutan elektrolit 10% volum asam perklorat (60%) dan 90% volum metanol (99,8%). HASIL DAN BAHASAN 1. Karakterisasi presipitat Hasil karakterisasi presipitat pada sampel zircaloy-4 ditunjukkan pada mikrograf TEM (Gambar 1). Karakterisasi mikrostrukturnya memperlihatkan terbentuknya partikel hitam yang tersebar di seluruh lokasi sampel, yang diidentifikasi sebagai presipitat. Terjadinya presipitat zircaloy-4 pada penelitian ini dikendalikan oleh proses difusi selama pendinginan. Pada saat sampel dianil pada suhu 700, 800 dan 90Q C terjadilah homogenisasi unsur dan difusi dari atomatom unsur logam paduan. Perubahan fase hanya terjadi pada sampel yang dianil pada suhu 900 C yaitu dari fase-a menjadi fase (a+p). Selama proses pendinginan, atomatom unsur paduan tersebut berpresipitasi membentuk fase kedua yang lazim disebut dengan presipitat. Untuk pendinginan dalam tungku dengan laju pendinginan yang relatif rendah, maka waktu yang dimiliki oleh atomatom unsur paduan untuk menata diri, berdifusi dan berpresipitasi juga relatif lama. Mikrograf TEM dari seluruh sampel zircaloy-4 yang dianil (Gambar 1) menampilkan kecenderungan distribusi presipitat yang merata baik pada butir maupun di batas butir. Selain itu juga memperlihatkan adanya kecenderungan bahwa presipitat besar berada di batas butir dan sebagian bergerak ke arah batas butir, sedangkan presipitat kecil tetap tersebar pada butir dengan jarak antar partikel yang semakin besar dengan naiknya temperatur anil. Hal ini merupakan akibat dari laju pendinginan yang relatif rendah. Adanya konsentrasi kekosongan yang relatif tinggi di batas butir, akan menjadi tempat terjadinya 218

3 Prosiding Presentasi llmiah Daur Bahan Bakar Nuklir III proses pengintian yang dilanjutkan dengan proses pertumbuhan presipitat. Selama proses pertumbuhan presipitat, presipitat yang berdiameter lebih besar dari diameter kritis akan menjadi semakin besar, sedangkan presipitat yang berdiameter lebih kecil dari diameter kritis akan semakin kecil dan seterusnya hilang. Tampilan seperti ini ditunjukkan dengan jelas pada zircaloy-4 yang dianil pada suhu 900 C (Gambar 1). Laju pertumbuhan presipitat dikendalikan oleh proses pengintian yang dilanjutkan dengan proses pertumbuhan presipitat. Pada proses pengintian presipitat, zat terlarut berdifusi dari matriks di sekitarnya. Selama periode ini, volume presipitat naik dan kandungan zat terlarut dari matriks menurun. Setelah konsentrasi zat terlarut dari matriks berada dalam keadaan setimbang, maka mikrostruktur menjadi statis 6). Berdasarkan hal ini, kandungan zat terlarut yang setimbang dengan presipitat yang berukuran lebih kecil akan menjadi lebih besar, dibandingkan kesetimbangan dengan presipitat yang berukuran lebih besar. Selama proses pertumbuhan presipitat, sistem cenderung meminimalkan energi bebasnya dengan mengurangi luas antar muka total antara presipitat dengan matriks. Hal ini dapat dicapai dengan pelarutan partikel kecil dan pertumbuhan partikel besar, karena daya larut dari atom terlarut pada presipitat besar menjadi paling rendah, sedangkan pada presipitat kecil menjadi lebih tinggi. Di samping itu, morfologi presipitat juga dapat mengkontribusi efek korosi dan kekuatan bahan. Morfologi presipitat yang berbeda akan memberikan distribusi unsur yang berlainan, sehingga perbandingan Fe/Cr akan berubah 171. Morfologi presipitat pada zircaloy-4 hasil penelitian ini ada yang berbentuk bulat, bulat panjang dan persegi panjang, tetapi sebagian besar presipitat berbentuk persegi panjang. Dalam hal ini, morfologi presipitat tidak bergantung pada waktu dan temperatur anil sehingga kontribusi morfologi presipitat pada sifat zircaloy-4 tidak dapat diinterpretasikan. Adapun jenis presipitat yang terbentuk diidentifikasi sebagai presipitat tipe {Zr(Fe,Cr) 2 } 18 ' Analisis pertumbuhan presipitat Distribusi pertumbuhan presipitat zircaloy-4 yang dianil pada temperatur 700, 800 dan 900 C, masing-masing ditampilkan pada Gambar 2, dan 4. Pada temperatur 700 C, rentang diameter presipitat minimum adalah (0,01-0,05) jam dan maksimum adalah (0,1-0,5) urn. Pada temperatur 800 C, rentang diameter presipitat minimum adalah (0,01-0,05) urn dan maksimum adalah (0,51-0,55) \xm. Pada temperatur 900 C, rentang diameter presipitat minimum adalah (0,01-0,05) urn dan maksimum adalah (0,66-0,7) urn. Dari tampilan Gambar 2, dan 4 tampak bahwa jumlah presipitat semakin menurun dengan bertambahnya waktu dan temperatur anil, demikian juga diameter presipitatnya. Akan tetapi, efek terhadap laju pertumbuhan presipitat akibat kenaikan temperatur anil cenderung lebih dominan dibandingkan akibat bertambahnya waktu anil. Dari hasil distribusi pertumbuhan presipitat ini dapat pula ditentukan diameter modus dari masing-masing perlakuan, yang dihitung menurut persamaan berikut: d M =b + p\ bl+ b 2 (2) dengan d M adalah diameter modus, b adalah batas bawah kelas modal, p adalah panjang kelas modal, b^ adalah frekuensi kelas modal dikurangi frekuensi kelas interval dengan tanda kelas yang lebih kecil dari sebelum tanda kelas modal, dan b 2 adalah frekuensi kelas modal dikurangi kelas interval dengan tanda kelas yang lebih besar dari sesudah tanda kelas modal. Hasil perhitungan diameter modus (d M ) ditunjukkan pada Tabel 1. Dengan ditentukannya diameter modus, maka dapat ditentukan diameter presipitat terbesar, diameter presipitat terkecil dan diameter kritis, yang dapat digunakan sebagai dasar perhitungan kinetika pertumbuhan presipitat. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipublikasikan 151, zircaloy yang mempunyai laju pertumbuhan oksida rendah 219

4 Prosiding Presentasi llmiah DaurBahan Bakar Nuklir III adalah zircaloy yang mempunyai diameter presipitat rata-rata (d r ) < 0,1 urn dengan jarak antar partikel sekitar 0,05 ^m. Ditinjau dari distribusi pertumbuhan presipitat pada seluruh sampel zircaloy-4 yang telah dilakukan pada penelitian ini, tampak bahwa seluruh sampel zircaloy-4 yang dianil pada suhu 700 C, dan zircaloy-4 yang dianil pada 800 C selama 5 jam dan 10 jam, dapat memenuhi persyaratan yang ditentukan. Akan tetapi, apabila hasil penelitian ini dibandingkan dengan hasil penelitian terdahulu 1101, yang membahas tentang distribusi ukuran presipitat zircaloy-2 dengan pendinginan cepat, maka diameter presipitat yang dihasilkan pada penelitian ini jauh lebih besar. Oleh karena itu, laju pendinginan juga mempunyai peran yang relatif dominan dalam menentukan sifat bahan. SIMPULAN Dari hasil analisis distribusi pertumbuhan presipitat zircaloy-4 yang dianil pada temperatur 700, 800 dan 900 C selama masing-masing 5, 10, 20 dan 25 jam, dapat ditarik kesimpulan bahwa zircaloy-4 yang dianil pada temperatur 700 C selama 5, 10, 20 dan 25 jam dan 800 C selama 5 dan 10 jam mempunyai diameter presipitat ratarata (d r ) < 0,1 \xm, sehingga dapat dikatagorikan material dengan laju pertumbuhan oksida rendah. PUSTAKA [1]. HUANG, K., The Effect of Heat Treatment on The Microstructure and The Corrosion Resistance of Zircaloy-4 in 450 C Steam, J. Nucl. Mater, 16 (1985). [2]. BANGARU, N. V., An Investigation of The Microstructures of Heat Treated Zircaloy-4, J. Nucl. Mater. 11 (1985), p []. URQUHART, A. W., VERMILYEA, D. A., ROCCO, W. A., A Mechanism for The Effect of Heat Treatment on The Accelerated Corrosion of Zircaloy-4 in High Temperature and High Pressure Steam, J. Electrochem. Soc. (Electrochem. Sci. and Technol.), 125 (2) (1972), p [4]. SIGIT, MUCHLIS. B dan WIDJAKSANA, Pengaruh Suhu dan Waktu Anil Terhadap Distribusi Ukuran Presipitat dan Kekerasan, Prosiding Presentasi llmiah DBBN II, PEBN, BATAN, Jakarta, [5]. KUWAE, R., SATO, K., HIGASHINAGA- WA, E., KAWASHIMA, J., and NAKA- MURA, S., Mechanism of Zircaloy Nodular Corrosion, J. Nucl. Mater , p [6]. SMALLMAN, R. E., Modern Physical Metallurgy, Butterworths, London, 4 th ed., 1985,6-7. [7]. CHEMELLE, P., KNORR, J. B., VAN DER SANDE and PELLOUX, R. M., Morphology and Composition of Second Phase Particles in Zircaloy-2, J. Nucl. Mater. 11(198), p [8]. -, Intermetallic Precipitates in Zircaloy-4, J. Nucl. Mater. 12 (1985), p [9]. ARIAS, D. et. al., Composition of Precipitates Present in Zircaloy-2 and Zircaloy-4, J. Nucl. Mater. 148 (1987), p [10]. SOSIATI, H., A TEM Investigation on Intermetallic Particles in Zircaloy-2, Atom Indonesia, Vol. 22 (2), (July 1996). TANYA JAWAB Budi Briyatmoko Bagaimana fungsi laju pendinginan pada diameter presipitat? Mengingat korelasi D = f(t,t), apakah perlu ditambah satu parameter lagi yaitu laju pendinginan? Harini Sosiati Laju pendinginan akan mempengaruhi distribusi presipitat. Pada laju pendinginan yang relatif sangat tinggi (lebih besar dari 100 C/detik), distribusi presipitat cenderung homogen. Pada laju pendinginan yang relatif sangat rendah ( lebih kecil dari 0,05 C/detik ) akan memberikan kecenderungan distribusi presipitat di batas butir. Oleh karena ukuran presipitat hanya dipengaruhi temperatur dan waktu anil dengan laju pendinginan tetap. Taufik Usman Bagaimana terhadap zircaloy-4? pengaruh mekanisme temperatur presipitasi Harini Sosiati Temperatur anil akan mempengaruhi pengintian dan pertumbuhan presipitat. Pada proses pengintian zat terlarut 220

5 Prosiding Presentas/ llmiah Daur Bahan Bakar Nuklir III berdifusi dari matriks disekitarnya. Selama periode ini, volume presipitat naik dan kandungan zat terlarut dari matriks menurun hingga mendekati kesetimbangan dan mikrostruktur akan menjadi statis. Selama proses pertumbuhan presipitat, sistem cenderung meminimalkan energi bebasnya dengan mengurangi luas antar muka total antara presipitat dan matriks. Hal ini terjadi oleh adanya difusi zat terlarut dari presipitat kecil ke presipitat besar yang mengakibatkan pelarutan presipitat kecil dan pertumbuhan presipitat besar. Dengan naiknya temperatur anil, ukuran presipitat menjadi semakin besar dengan jumlah yang semakin menurun. Sigit Apakah benar bintik-bintik hitam tersebut presipitat? Dimana letak presipitat? Faktor apa yang mempengaruhi bentuk presipitat? Bagaimana cara menentukan zona pengintian dan pertumbuhan presipitat? Berapa ukuran presipitat dari zircaloy-4 yang diperbolehkan? Harini Sosiati Bintik-bintik hitam merupakan presipitat telah dibuktikan dengan TEM menggunakan teknik difraksi elektron. Ukuran presipitat zircaloy-4 yang diperkenankan berkaitan dengan efek terhadap laju korosi adalah kurang dari 0,1 ^m dengan jarak antar partikel kurang dari 0,05 \im. Zona pengintian presipitat pada umumnya terjadi pada tempat-tempat yang mempunyai konsentrasi kekosongan tinggi yaitu di daerah batas butir dan daerah yang mengandung dislokasi. Sedangkan zona pertumbuhan presipitat dapat diidentifikasi pada daerah atau tempat-tempat yang mengandung presipitat yang berukuran relatif besar dan relatif kecil. Sugondo Mohon penjelasan, apakah tidak terbentuk presipitat selain Zr(Fe,Cr) 2? Harini Sosiati Hasil identifikasi presipitat dari zircaloy-4 yang telah dilakukan oleh para peneliti sebelumnya bahwa presipitat yang terbentuk pada zircaloy-4 adalah Zr(Fe,Cr) 2. Hal ini disebabkan komposisi zircaloy-4 terdiri dari Zr, Sn, Fe, dan Cr dengan Sn larut ke dalam matriks Zr. Dalam penelitian ini identifikasi presipitat tidak dibuktikan karena aperture yang terkecil pada SAD tidak berfungsi sehingga penentuan jenis presipitat mengacu pada penelitian sebelumnya. Widjaksana Apakah judul yang sesuai dengan penelitian tersebut Distribusi Pertumbuhan atau Distribusi Presipitat atau Distribusi Ukuran Presipitat? Bagaimana mekanisme oksidasi dari zircaloy-4 dengan H 2 O? Harini Sosiati: Judul Distribusi Pertumbuhan Presipitat lebih ditekankan karena kejadian pertumbuhan presipitat tidak sama antara lokasi satu dengan lokasi lainnya pada kondisi temperatur dan waktu anil yang sama. Pada tahap awal oksidasi terjadi pertumbuhan aktif dari lapisan oksida disertai dengan penyerapan hidrogen yang intensif. Setelah terbentuk lapisan oksida protektif, proses oksidasi berlangsung stabil dan laju penyerapan hidrogen menurun. Lapisan oksida yang telah mencapai tebal kritisnya dapat rontok sehingga akan mengurangi sifat protektif dari lapisan oksida. Hal ini dapat menyebabkan laju penyerapan hidrogen bertambah tinggi. Selama proses oksidasi zircaloy-4 dengan air akan terjadi persaingan antara pertumbuhan dan pengelupasan oksida. 221

6 Prosiding Presentasi llmiah Daur Bahan Bakar Nuklir III Tabel 1. Diameter Modus (DM) Temperatur anil ( C) Waktu anil (jam) Diameter Modus ( J.m) , , , , , , , , , , , ,55 222

7 Prosiding Presentasi llmiah Daur Bahan Bakar Nuklir III Gambar 1.a. Mikrograf TEM dari presipitat zircaloy-4 yang dianil pada suhu 700 C. A (5 jam) B (10 jam) C (20 jam) D (25 jam) 22

8 Prosiding Presentasi llmiah Daur Bahan Bakar Nuklir III Gambar 1.b. Mikrograf TEM dari presipitat zircaloy-4 yang dianil pada suhu 800 C. A (5 jam) B (10 jam) C (20 jam) D (25 jam) 224

9 Prosiding Presentasi llmiah Daur Bahan Bakar Nuklir III.* **.: : :;.V. Gambar I.e. Mikrograf TEM dari presipitat zircaloy-4 yang dianil pada suhu 900 C. A (5 jam) B (10 jam) C (20 jam) D (25 jam) 225

10 Prosiding Presentasi llmiah Daur Bahan Bakar Nuklir III Zry-4(7(X)C, 5 jam) p., 'EL 6 8 o '.Q Diameter presipitat rata-rata, xm Diameter presipitat rata-rata, [xm E _. 2 '. Zry-4(7(X)C, 20 jam) 50- I(X)- 50- e irj 'O *o 'O 'O 'O 'O 'O *O 'O *O "^ 'O rm r^> CJ r**> c*j ^^ O4 r*^ OH C*^ OJ r*^ t^*" O O O O «* c i t N C v i r i 1 v o o o o o o o o o o o o o o Diameter presipitat rata-rata, j.im o o o o o o o o o o o o o o o Diameter presipitat rata-rata, Gambar 2. Distribusi pertumbuhan presipitat zircaloy-4 yang dianil pada suhu 700 C. 226

11 Prosiding Presentasi llmiah Daur Bahan Bakar Nuklir Hi m \m m m m r-, 5 S Cl M2 875 O O O O O O O O O Diameter presipitat rata-rata, \xm o o o o o o o o o o o o o Diameter presipitat rata-rata, [un Zry-4(«(X)C, 20 jam) (X)- Zry-4 (8(X) 6 C, 25 jam) 5* E 50- (X x: "E 50- i i i i II I i T" i "T* i r 'O 'O 'O 'O 'O 'O 'Q 'O 'O 'O 'O 'O 'O O O O O C J O O O O O O O O Diameter presipitat rata-rata, nm o IT T- fttt 1 i T itv (Ntc^tScNroic(NrtN oooooooooooooodoooooooo Diameter presipitat rata-rata, j.trn Gambar. Distribusi pertumbuhan presipitat zircaloy-4 yang dianii pada suhu 800 C. 227

12 Prosiding Presentasi llmiah Daur Bahan Bakar Nuklir III 'EL } 50- I Zry-4(9(X)C, 10 jam) 6 P [.. r. r, [. T T T, r., 1 T T t t T Diameter presipitata rata-rala, [im ooooooooooooooooooo Diameter prcsipitata rata-rata, im S Ji Cu "s E a. E I I I I I I I I I I 1 I I I I I I I I I I I I I I I I I I 1 I I I ooooooooooooooooooooooo Diameter presipitata rata-rata, oooooooooooooooooooooooooooo Diameter presipitata rata-rata, \xm Gambar 4. Distribusi pertumbuhan presipitat zircaloy-4 yang dianil pada suhu 900 C. 228

PENGARUH VARIASI WAKTU TAHAN PADA PROSES NORMALIZING TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO BAJA AISI 310S PADA PRESSURE VESSEL

PENGARUH VARIASI WAKTU TAHAN PADA PROSES NORMALIZING TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO BAJA AISI 310S PADA PRESSURE VESSEL PENGARUH VARIASI WAKTU TAHAN PADA PROSES NORMALIZING TERHADAP SIFAT MEKANIK DAN STRUKTUR MIKRO BAJA AISI 310S PADA PRESSURE VESSEL Mahasiswa Febrino Ferdiansyah Dosen Pembimbing Ir. Rochman Rochiem, M.

Lebih terperinci

Kategori unsur paduan baja. Tabel periodik unsur PENGARUH UNSUR PADUAN PADA BAJA PADUAN DAN SUPER ALLOY

Kategori unsur paduan baja. Tabel periodik unsur PENGARUH UNSUR PADUAN PADA BAJA PADUAN DAN SUPER ALLOY PENGARUH UNSUR PADUAN PADA BAJA PADUAN DAN SUPER ALLOY Dr.-Ing. Bambang Suharno Dr. Ir. Sri Harjanto PENGARUH UNSUR PADUAN PADA BAJA PADUAN DAN SUPER ALLOY 1. DASAR BAJA 2. UNSUR PADUAN 3. STRENGTHENING

Lebih terperinci

METODE PENINGKATAN TEGANGAN TARIK DAN KEKERASAN PADA BAJA KARBON RENDAH MELALUI BAJA FASA GANDA

METODE PENINGKATAN TEGANGAN TARIK DAN KEKERASAN PADA BAJA KARBON RENDAH MELALUI BAJA FASA GANDA METODE PENINGKATAN TEGANGAN TARIK DAN KEKERASAN PADA BAJA KARBON RENDAH MELALUI BAJA FASA GANDA Ahmad Supriyadi & Sri Mulyati Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof. H. Sudarto, SH.,

Lebih terperinci

PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN)

PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN) PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN) Masyarakat pertama kali mengenal tenaga nuklir dalam bentuk bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki dalam Perang Dunia II tahun 1945. Sedemikian

Lebih terperinci

STUDI SIFAT BAHAN BAKAR URANIUM SILISIDA AKIBAT IRADIASI

STUDI SIFAT BAHAN BAKAR URANIUM SILISIDA AKIBAT IRADIASI ID0100126 Pmsiding Pesentasi llmiah Daur Bahan Bakar Nuklir II STUDI SIFAT BAHAN BAKAR URANIUM SILISIDA AKIBAT IRADIASI ABSTRAK Supardjo Pusat Elemen Bakar Nuklir STUDI SIFAT BAHAN BAKAR URANIUM SILISIDA

Lebih terperinci

PENGAMATAN STRUKTUR MIKRO PADA KOROSI ANTAR BUTIR DARI MATERIAL BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK SETELAH MENGALAMI PROSES PEMANASAN

PENGAMATAN STRUKTUR MIKRO PADA KOROSI ANTAR BUTIR DARI MATERIAL BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK SETELAH MENGALAMI PROSES PEMANASAN PENGAMATAN STRUKTUR MIKRO PADA KOROSI ANTAR BUTIR DARI MATERIAL BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK SETELAH MENGALAMI PROSES PEMANASAN ANWAR BUDIANTO *, KRISTINA PURWANTINI *, BA.TJIPTO SUJITNO ** * Sekolah Tinggi

Lebih terperinci

BAB VI TRANSFORMASI FASE PADA LOGAM

BAB VI TRANSFORMASI FASE PADA LOGAM BAB VI TRANSFORMASI FASE PADA LOGAM Sebagian besar transformasi bahan padat tidak terjadi terus menerus sebab ada hambatan yang menghalangi jalannya reaksi dan bergantung terhadap waktu. Contoh : umumnya

Lebih terperinci

PENGARUH TEBAL PELAT BAJA KARBON RENDAH LAMA PENEKANAN DAN TEGANGAN LISTRIK PADA PENGELASAN TITIK TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS

PENGARUH TEBAL PELAT BAJA KARBON RENDAH LAMA PENEKANAN DAN TEGANGAN LISTRIK PADA PENGELASAN TITIK TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS PENGARUH TEBAL PELAT BAJA KARBON RENDAH LAMA PENEKANAN DAN TEGANGAN LISTRIK PADA PENGELASAN TITIK TERHADAP SIFAT FISIS DAN MEKANIS Joko Waluyo 1 1 Jurusan Teknik Mesin Institut Sains & Teknologi AKPRIND

Lebih terperinci

12/03/2015. Nurun Nayiroh, M.Si

12/03/2015. Nurun Nayiroh, M.Si Fasa (P) Fasa (phase) dalam terminology/istilah dalam mikrostrukturnya adalah suatu daerah (region) yang berbeda struktur atau komposisinya dari daerah lain. Nurun Nayiroh, M.Si Fasa juga dapat didefinisikan

Lebih terperinci

13 14 : PERLAKUAN PERMUKAAN

13 14 : PERLAKUAN PERMUKAAN 13 14 : PERLAKUAN PERMUKAAN Proses perlakuan yang diterapkan untuk mengubah sifat pada seluruh bagian logam dikenal dengan nama proses perlakuan panas / laku panas (heat treatment). Sedangkan proses perlakuan

Lebih terperinci

RISET KECELAKAAN KEHILANGAN AIR PENDINGIN: KARAKTERISTIK BAHAN BAKAR

RISET KECELAKAAN KEHILANGAN AIR PENDINGIN: KARAKTERISTIK BAHAN BAKAR RISET KECELAKAAN KEHILANGAN AIR PENDINGIN: KARAKTERISTIK BAHAN BAKAR RINGKASAN Meskipun terjadi kecelakaan kehilangan air pendingin ( Loss Of Coolant Accident, LOCA), seandainya bundel bahan bakar dapat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Proses pemurnian gas, sumber: Metso Automation. Inc

BAB 1 PENDAHULUAN. Gambar 1.1. Proses pemurnian gas, sumber: Metso Automation. Inc BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengolahan gas alam merupakan proses terpenting pada industri minyak dan gas alam yaitu mengurangi kadar komponen gas asam yang terdiri dari Karbon Dioksida (CO 2 )

Lebih terperinci

PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH

PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH Pengaruh Media.. Baja Karbon Rendah PENGARUH MEDIA PENDINGIN TERHADAP HASIL PENGELASAN TIG PADA BAJA KARBON RENDAH Dosen Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Janabadra INTISARI Las TIG adalah

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK SAMBUNGAN LAS BAJA TAHAN KARAT CALON WADAH LlMBAH AKTIVITAS TINGGI

KARAKTERISTIK SAMBUNGAN LAS BAJA TAHAN KARAT CALON WADAH LlMBAH AKTIVITAS TINGGI KARAKTERISTIK SAMBUNGAN LAS BAJA TAHAN KARAT CALON WADAH LlMBAH AKTIVITAS TINGGI Aisyah, Herlan Martono Pusat Pengembangan Pengelolaan Limbah Radioaktif -BATAN ABSTRAK KARAKTERISTIK SAMBUNGAN LAS BAJA

Lebih terperinci

DALAM. Johannes Leonard. @yahoo.com. Abstrak. media. Dapat. linkungann. biofilm terhadap korosi. permukaan. Pendahuluann. sumuran. anaerobik.

DALAM. Johannes Leonard. @yahoo.com. Abstrak. media. Dapat. linkungann. biofilm terhadap korosi. permukaan. Pendahuluann. sumuran. anaerobik. ANALISIS BIOFILM KOROSI OLEH BAKTERI DESULFOVIBRIO VULGARIS PADAA PERMUKAAN BAJA 316L DALAM LINGKUNGAN AIR LAUT NATURAL Johannes Leonard Jurusan Teknik Mesin Universitas Hasanuddin Kampus Unhas Tamalanrea,

Lebih terperinci

PENGARUH PREHEAT TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKUATAN TARIK LAS LOGAM TAK SEJENIS BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK AISI 304 DAN BAJA KARBON A36

PENGARUH PREHEAT TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKUATAN TARIK LAS LOGAM TAK SEJENIS BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK AISI 304 DAN BAJA KARBON A36 PENGARUH PREHEAT TERHADAP STRUKTUR MIKRO DAN KEKUATAN TARIK LAS LOGAM TAK SEJENIS BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK AISI 304 DAN BAJA KARBON A36 Saifudin 1, Mochammad Noer Ilman 2 Jurusan Teknik Mesin dan Industri,

Lebih terperinci

BAB VII PROSES THERMAL LOGAM PADUAN

BAB VII PROSES THERMAL LOGAM PADUAN BAB VII PROSES THERMAL LOGAM PADUAN Annealing adalah : sebuah perlakukan panas dimana material dipanaskan pada temperatur tertentu dan waktu tertentu dan kemudian dengan perlahan didinginkan. Annealing

Lebih terperinci

KOROSI ZIRKALOY -4 SESUDAH PERLAKUAN PANAS

KOROSI ZIRKALOY -4 SESUDAH PERLAKUAN PANAS 80 Buku l/ Prosiding Pertemuan dan Presenlasi I/lniah PPNY-BATAN, Yogyakarla 23-25 April 1996 KOROSI ZIRKALOY -4 SESUDAH PERLAKUAN PANAS P.Punvanto, Wuryanto, PPSJIt!. BATAN. Kawasan PUSPITEK. Serpong

Lebih terperinci

REAKTOR PEMBIAK CEPAT

REAKTOR PEMBIAK CEPAT REAKTOR PEMBIAK CEPAT RINGKASAN Elemen bakar yang telah digunakan pada reaktor termal masih dapat digunakan lagi di reaktor pembiak cepat, dan oleh karenanya reaktor ini dikembangkan untuk menaikkan rasio

Lebih terperinci

REFRAKTORI ( BATU TAHAN API )

REFRAKTORI ( BATU TAHAN API ) REFRAKTORI ( BATU TAHAN API ) DEPARTEMEN METALURGI DAN MATERIAL UNIVERSITAS INDONESIA FAKULTAS TEKNIK 2008 REFRAKTORI (BATU TAHAN API) Tujuan Pengajaran Memahami material refraktori, teknologi pembuatannya

Lebih terperinci

yang tinggi, dengan pencelupan sedang dan di bagian tengah baja dapat dicapai kekerasan yang tinggi meskipun laju pendinginan lebih lambat.

yang tinggi, dengan pencelupan sedang dan di bagian tengah baja dapat dicapai kekerasan yang tinggi meskipun laju pendinginan lebih lambat. 10: HARDENABILITY 10.1 Hardenability Mampu keras merujuk kepada sifat baja yang menentukan dalamnya pengerasan sebagai akibat proses quench dari temperatur austenisasinya. Mampu keras tidak dikaitkan dengan

Lebih terperinci

BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8.

BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8. BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8. DIAGRAM FASA WUJUD ZAT: GAS CAIRAN PADATAN PERMEN (sukrosa) C 12

Lebih terperinci

STUDI KETAHANAN KOROSI BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK UNTUK MATERIAL ORTOPEDI

STUDI KETAHANAN KOROSI BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK UNTUK MATERIAL ORTOPEDI STUDI KETAHANAN KOROSI BAJA TAHAN KARAT AUSTENITIK UNTUK MATERIAL ORTOPEDI Aan Sulistyawan 1, Mochamad Ichwan 2 dan Djoko HP 3 1 Fakultas Teknik Metalurgi Universitas Jenderal Achmad Yani Jl. Jend. Gatot

Lebih terperinci

Sifat Sifat Material

Sifat Sifat Material Sifat Sifat Material Secara garis besar material mempunyai sifat-sifat yang mencirikannya, pada bidang teknik mesin umumnya sifat tersebut dibagi menjadi tiga sifat. Sifat sifat itu akan mendasari dalam

Lebih terperinci

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat Standar Nasional Indonesia Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat ICS 91.100.15 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar

Lebih terperinci

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA IV.1 TINJAUAN UMUM Pengambilan sampel air dan gas adalah metode survei eksplorasi yang paling banyak dilakukan di lapangan geotermal.

Lebih terperinci

Persentasi Tugas Akhir

Persentasi Tugas Akhir Persentasi Tugas Akhir OLEH: MUHAMMAD RENDRA ROSMAWAN 2107 030 007 Pembimbing : Ir. Hari Subiyanto,MSc Program Studi Diploma III Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Lebih terperinci

LAMPIRAN FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN UNTUK MENETAPKAN KONDISI-KONDISI BATAS UNTUK OPERASI YANG AMAN

LAMPIRAN FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN UNTUK MENETAPKAN KONDISI-KONDISI BATAS UNTUK OPERASI YANG AMAN LAMPIRAN FAKTOR-FAKTOR YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN UNTUK MENETAPKAN KONDISI-KONDISI BATAS UNTUK OPERASI YANG AMAN A.1. Daftar parameter operasi dan peralatan berikut hendaknya dipertimbangkan dalam menetapkan

Lebih terperinci

Analisa Perubahan Struktur Akibat Heat Treatment pada Logam ST, FC Dan Ni-Hard 4

Analisa Perubahan Struktur Akibat Heat Treatment pada Logam ST, FC Dan Ni-Hard 4 Analisa Perubahan Struktur Akibat Heat Treatment pada Logam ST, FC Dan Ni-Hard 4 Herwandi dan Asrul Hidayat Jurusan Teknik Perancangan Mekanik Politeknik Manufaktur Timah E-mail: zulfan@zircon.timah.ac.id

Lebih terperinci

PENGARUH SUHU DAN MEDIA PENDING IN TERHADAP PERUBAHAN KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PADA PERLAKUAN PANAS ALMG2.

PENGARUH SUHU DAN MEDIA PENDING IN TERHADAP PERUBAHAN KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PADA PERLAKUAN PANAS ALMG2. Prosiding Per/emf/an doli Persentasi Ifm/an PPNY~BATAN. Yogyakar/a 23-25 Apri//996 Bf/klll 57 PENGARUH SUHU DAN MEDIA PENDING IN TERHADAP PERUBAHAN KEKERASAN DAN STRUKTUR MIKRO PADA PERLAKUAN PANAS ALMG2.

Lebih terperinci

PENGARUH PROSES LAKU PANAS QUENCHING AND PARTITIONING TERHADAP UMUR LELAH BAJA PEGAS DAUN JIS SUP 9A DENGAN METODE REVERSED BENDING

PENGARUH PROSES LAKU PANAS QUENCHING AND PARTITIONING TERHADAP UMUR LELAH BAJA PEGAS DAUN JIS SUP 9A DENGAN METODE REVERSED BENDING TUGAS AKHIR PENGARUH PROSES LAKU PANAS QUENCHING AND PARTITIONING TERHADAP UMUR LELAH BAJA PEGAS DAUN JIS SUP 9A DENGAN METODE REVERSED BENDING Oleh : Viego Kisnejaya Suizta 2104 100 043 Dosen Pembimbing

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

10/14/2012. Gas Nyata. Faktor pemampatan (kompresi), Z. Faktor Kompresi, Z. TERMODINAMIKA KIMIA (KIMIA FISIK 1 ) Sistem Gas Nyata

10/14/2012. Gas Nyata. Faktor pemampatan (kompresi), Z. Faktor Kompresi, Z. TERMODINAMIKA KIMIA (KIMIA FISIK 1 ) Sistem Gas Nyata 10/14/01 Jurusan Kimia - FMIA Universitas Gadjah Mada (UGM) ERMODINAMIKA KIMIA (KIMIA FISIK 1 ) Sistem Gas Nyata Gas Nyata engamatan bahwa gas-gas nyata menyimpang dari hukum gas ideal terutama sangat

Lebih terperinci

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis Iqmal Tahir Laboratorium Kimia Dasar, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada

Lebih terperinci

PENINGKATAN SIFAT MAMPU ALIR U0 2 SECARA PROSES SOL-GEL

PENINGKATAN SIFAT MAMPU ALIR U0 2 SECARA PROSES SOL-GEL Presiding Pesentasi llmiah Daur Bahan BakarNukiir II ID0100132 PENINGKATAN SIFAT MAMPU ALIR U0 2 SECARA PROSES SOL-GEL Deni Juanda A.S.,Guntur Dam Sambodo Pusat Penelitian Teknik Nuklir ABSTRAK PENINGKATAN

Lebih terperinci

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Rajiman A. Latar Belakang Pemanfaatan lahan memiliki tujuan utama untuk produksi biomassa. Pemanfaatan lahan yang tidak bijaksana sering menimbulkan kerusakan

Lebih terperinci

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Usaha dan/atau kegiatan pembangkit listrik tenaga termal adalah usaha dan/atau kegiatan

Pasal 1 Dalam Peraturan Menteri ini yang dimaksud dengan: 1. Usaha dan/atau kegiatan pembangkit listrik tenaga termal adalah usaha dan/atau kegiatan SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 08 TAHUN 2009 TENTANG BAKU MUTU AIR LIMBAH BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA TERMAL MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang

Lebih terperinci

KESETIMBANGAN. titik setimbang

KESETIMBANGAN. titik setimbang KESETIMBANGAN STANDART KOMPETENSI;. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia, dan faktor-faktor yang berpengaruh, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. KOMPETENSI DASAR;.. Menjelaskan kestimbangan

Lebih terperinci

APLIKASI PROSES OKSIDASI UNTUK MENENTUKAN POTENSI DAUR ULANG LIMBAH KACA (CULT)

APLIKASI PROSES OKSIDASI UNTUK MENENTUKAN POTENSI DAUR ULANG LIMBAH KACA (CULT) Prosiding Pertemuan Ilmiah XXIV HFI Jateng & DIY, Semarang 10 April 2010 61 hal. 61-66 APLIKASI PROSES OKSIDASI UNTUK MENENTUKAN POTENSI DAUR ULANG LIMBAH KACA (CULT) Sulhadi, Khumaedi, Agus Yulianto Jurusan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. membandingkan tersebut tiada lain adalah pekerjaan pengukuran atau mengukur.

BAB II LANDASAN TEORI. membandingkan tersebut tiada lain adalah pekerjaan pengukuran atau mengukur. BAB II LANDASAN TEORI II.I. Pengenalan Alat Ukur. Pengukuran merupakan suatu aktifitas dan atau tindakan membandingkan suatu besaran yang belum diketahui nilainya atau harganya terhadap besaran lain yang

Lebih terperinci

Penggorengan impian yang memiliki hal-hal baik penggorengan. besi, sangat tahan karat dan tidak memerlukan perawatan yang rumit

Penggorengan impian yang memiliki hal-hal baik penggorengan. besi, sangat tahan karat dan tidak memerlukan perawatan yang rumit Petunjuk Penggunaan Kiwame/Kiwame ROOTS Penggorengan impian yang memiliki hal-hal baik penggorengan besi, sangat tahan karat dan tidak memerlukan perawatan yang rumit Buatan Jepang Perhatian Harap baca

Lebih terperinci

PENGARUH PENAMBAHAN CAMPURAN SiO 2 TERHADAP KARAKTERISTIK KERAMIK CuFe 2 UNTUK TERMISTOR NEGATIVE TEMPERATURE COEFFICIENT

PENGARUH PENAMBAHAN CAMPURAN SiO 2 TERHADAP KARAKTERISTIK KERAMIK CuFe 2 UNTUK TERMISTOR NEGATIVE TEMPERATURE COEFFICIENT Pengaruh Penambahan Campuran Terhadap Karakteristik Keramik untuk Termistor NTC (Wiendartun) Akreditasi LIPI Nomor : 536/D/27 Tanggal 26 Juni 27 PENGARUH PENAMBAHAN CAMPURAN TERHADAP KARAKTERISTIK KERAMIK

Lebih terperinci

KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN (Ksp)

KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN (Ksp) KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN (Ksp) Kelarutan (s) Kelarutan (solubilit) adalah suatu zat dalam suatu pelarut menatakan jumlah maksimum suatu zat ang dapat larut dalam suatu pelarut. Satuan kelarutan

Lebih terperinci

16 Media SainS, Volume 4 Nomor 1, April 2012 ISSN 2085-3548

16 Media SainS, Volume 4 Nomor 1, April 2012 ISSN 2085-3548 16 PENGARUH BESAR ARUS TEMPER BEAD WELDING TERHADAP KETANGGUHAN HASIL LAS SMAW PADA BAJA ST37 (Effect Large Current of Temper Bead Welding Against Toughness of SMAW Welding Results ST37 Steel) Ahmadil

Lebih terperinci

ALKENA & ALKUNA. Prof. Dr. Jumina Robby Noor Cahyono, S.Si., M.Sc.

ALKENA & ALKUNA. Prof. Dr. Jumina Robby Noor Cahyono, S.Si., M.Sc. ALKENA & ALKUNA Prof. Dr. Jumina Robby Noor Cahyono, S.Si., M.Sc. Alkena, C n H 2n ; n = 3 C 3 H 6 CH 3 -CH=CH 2 } Hidrokarbon Alkuna, C n H 2n-2 ; n = 3 C 3 H 4 CH 3 -C=CH Tak Jenuh Ikatan rangkap Lebih

Lebih terperinci

Persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 dicantumkan dalam izin Ortodonansi Gangguan.

Persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 dan Pasal 7 dicantumkan dalam izin Ortodonansi Gangguan. 1 KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR :KEP.13/MENLH/3/1995 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP Menimbang : a. bahwa untuk mencegah terjadinya pencemaran

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2008

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2008 SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 21 TAHUN 2008 TENTANG BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK BAGI USAHA DAN/ATAU KEGIATAN PEMBANGKIT TENAGA LISTRIK TERMAL MENTERI NEGARA LINGKUNGAN

Lebih terperinci

PENGARUH KECEPATAN DAN TEMPERATUR UJI TARIK TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA S48C

PENGARUH KECEPATAN DAN TEMPERATUR UJI TARIK TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA S48C MAKARA, TEKLOGI, VOL. 7,. 1, APRIL 23 PENGARUH KECEPATAN DAN TEMPERATUR UJI TARIK TERHADAP SIFAT MEKANIK BAJA S48C Dedi Priadi 1, Iwan Setyadi 2 dan Eddy S. Siradj 1 1. Departemen Metalurgi dan Material,

Lebih terperinci

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C)

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C) Pengaruh Kadar Gas Co 2 Pada Fotosintesis Tumbuhan yang mempunyai klorofil dapat mengalami proses fotosintesis yaitu proses pengubahan energi sinar matahari menjadi energi kimia dengan terbentuknya senyawa

Lebih terperinci

Materi #2 TIN107 Material Teknik 2013 SIFAT MATERIAL

Materi #2 TIN107 Material Teknik 2013 SIFAT MATERIAL #2 SIFAT MATERIAL Material yang digunakan dalam industri sangat banyak. Masing-masing material memiki ciri-ciri yang berbeda, yang sering disebut dengan sifat material. Pemilihan dan penggunaan material

Lebih terperinci

SIFAT SIFAT FISIK ASPAL

SIFAT SIFAT FISIK ASPAL Oleh : Unggul Tri Wardana (20130110102) Dea Putri Arifah (20130110103) Muhammad Furqan (20130110107) Wahyu Dwi Haryanti (20130110124) Elsa Diana Rahmawati (20130110128) Bitumen adalah zat perekat (cementitious)

Lebih terperinci

STRUKTUR ATOM A. PENGERTIAN DASAR

STRUKTUR ATOM A. PENGERTIAN DASAR STRUKTUR ATOM A. PENGERTIAN DASAR 1. Partikel dasar : partikel-partikel pembentuk atom yang terdiri dari elektron, proton den neutron. 1. Proton : partikel pembentuk atom yang mempunyai massa sama dengan

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN ALAT UKUR TINGKAT KEKERUHAN ZAT CAIR BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 MENGGUNAKAN SENSOR FOTOTRANSISTOR DAN PENAMPIL LCD

RANCANG BANGUN ALAT UKUR TINGKAT KEKERUHAN ZAT CAIR BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 MENGGUNAKAN SENSOR FOTOTRANSISTOR DAN PENAMPIL LCD RANCANG BANGUN ALAT UKUR TINGKAT KEKERUHAN ZAT CAIR BERBASIS MIKROKONTROLLER AT89S51 MENGGUNAKAN SENSOR FOTOTRANSISTOR DAN PENAMPIL LCD Yefri Hendrizon, Wildian Laboratorium Elektronika dan Instrumentasi,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sampah. Karena suhu yang diperoleh dengan pembakaran tadi sangat rendah maka

I. PENDAHULUAN. sampah. Karena suhu yang diperoleh dengan pembakaran tadi sangat rendah maka I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Teknik penyambungan logam telah diketahui sejak dahulu kala. Sumber energi yang digunakan pada zaman dahulu diduga dihasilkan dari pembakaran kayu atau sampah. Karena suhu

Lebih terperinci

BENTUK MOLEKUL. Rumus VSEPR AX 2 AX 3 AX 4 AX 3 E AX 3 E 2 AX 5 AX 6 AX 4 E 2

BENTUK MOLEKUL. Rumus VSEPR AX 2 AX 3 AX 4 AX 3 E AX 3 E 2 AX 5 AX 6 AX 4 E 2 BENTUK MOLEKUL KOMPETENSI DASAR 1. Menjelaskan teori tolakan pasangan elektron di sekitar inti atom dan teori hibridisasi untuk meramalkan bentuk molekul. Menurut teori tolakan pasangan elektron kulit

Lebih terperinci

D. E. 3. Bila kedua unsur tersebut berikatan, maka rumus senyawa yang dihasilkan adalah... A. XY 2

D. E. 3. Bila kedua unsur tersebut berikatan, maka rumus senyawa yang dihasilkan adalah... A. XY 2 Dua buah unsur memiliki notasi dan 1. Diagram orbital yang paling tepat untuk elektron terakhir dari unsur X adalah... A. B. C. X nomor atom 13 Konfigurasi elektron terakhirnya ada pada nomor 13. [Ne]

Lebih terperinci

GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA

GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA SURAT KEPUTUSAN NO. 670/2000 TANGGAL 28 MARET 2000 TENTANG PENETAPAN BAKU MUTU EMISI SUMBER TIDAK BERGERAK DI PROPINSI DKI GUBERNUR PROPINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA Menimbang : a. bahwa kehidupan dan kelestarian

Lebih terperinci

ANALISIS PEMETAKAN SK/KD 2011-2012

ANALISIS PEMETAKAN SK/KD 2011-2012 Mata Pelajaran : Kimia Kelas : XI/2 Standar Dasar 4. Memahami sifat-sifat larutan asambasa, metode pengukuran dan terapannya 4.1 Mendeskripsikan teori-teori asam basa dengan menentukan sifat larutan dan

Lebih terperinci

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II JURNAL PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DENGAN ALUMINIUM FOIL Rabu, 26 maret 2014 Ipa Ida Rosita 1112016200007 Kelompok 2 Amelia Rahmawati 1112016200004 Nurul mu nisa A. 1112016200008 Ummu

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN Tanaman-tanaman yang diteliti adalah Ricinus communis L. (jarak) dan Eclipta prostrata (L.) L. (urang-aring). Pada awal penelitian dilakukan pengumpulan bahan tanaman,

Lebih terperinci

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme :

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme : TANAH Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah Hubungan tanah dan organisme : Bagian atas lapisan kerak bumi yang mengalami penghawaan dan dipengaruhi oleh tumbuhan

Lebih terperinci

PROSIDING SEMINAR PENELITIAN DAN PENGELOLAAN PERANGKAT NUKLIR Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan Yogyakarta, 26 September 2012

PROSIDING SEMINAR PENELITIAN DAN PENGELOLAAN PERANGKAT NUKLIR Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan Yogyakarta, 26 September 2012 PENGARUH PROSES ANIL TERHADAP PERUBAHAN STRUKTUR MIKRO DENDRITIK KE EQUIAXIAL DAN KEKERASAN PADA BAJA TAHAN KARAT AUSTENIT YANG MENGANDUNG UNSUR TITANIUM DAN YTTRIUM SEBAGAI BAHAN KOMPONEN REAKTOR DAYA

Lebih terperinci

1. KOMPONEN AIR LAUT

1. KOMPONEN AIR LAUT 1. KOMPONEN AIR LAUT anna.ida3@gmail.com/2013 Salinitas Salinitas menunjukkan banyaknya (gram) zat-zat terlarut dalam (satu) kilogram air laut, dimana dianggap semua karbonat telah diubah menjadi oksida

Lebih terperinci

SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA

SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA Agusrawati //Paradigma, Vol. 16 No.1, April 2012, hlm. 31-38 SIMULASI RANCANGAN ACAK KELOMPOK TAK LENGKAP SEIMBANG DAN EFISIENSINYA Agusrawati 1) 1) Jurusan Matematika FMIPA Unhalu, Kendari, Sulawesi Tenggara

Lebih terperinci

BAB V KERAMIK (CERAMIC)

BAB V KERAMIK (CERAMIC) BAB V KERAMIK (CERAMIC) Keramik adalah material non organik dan non logam. Mereka adalah campuran antara elemen logam dan non logam yang tersusun oleh ikatan ikatan ion. Istilah keramik berasal dari bahasa

Lebih terperinci

Mochamad Nurcholis, STP, MP. Food Packaging and Shelf Life 2013

Mochamad Nurcholis, STP, MP. Food Packaging and Shelf Life 2013 Mochamad Nurcholis, STP, MP Food Packaging and Shelf Life 2013 OVERVIEW TRANSFER PANAS (PREDIKSI REAKSI) TRANSFER PANAS (PLOT UMUR SIMPAN PENDEKATAN LINEAR) TRANSFER PANAS (PLOT UMUR SIMPAN PENDEKATAN

Lebih terperinci

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah Standardisasi Obat Bahan Alam Indah Solihah Standardisasi Rangkaian proses yang melibatkan berbagai metode analisis kimiawi berdasarkan data famakologis, melibatkan analisis fisik dan mikrobiologi berdasarkan

Lebih terperinci

ID0200110 PENGOLAHAN BIJIH URANIUM ASAL RIRANG PEMISAHAN LTJ DARI HASIL DIGESTI BASA

ID0200110 PENGOLAHAN BIJIH URANIUM ASAL RIRANG PEMISAHAN LTJ DARI HASIL DIGESTI BASA Prosiding Presentasi llmiah Bahan BakarNuklir V P2TBD dan P2BGN - BA TAN Jakarta, 22 Pebruari 2000 ISSN 1410-1998 ID0200110 PENGOLAHAN BIJIH RANIM ASAL RIRANG PEMISAHAN DARI HASIL DIGESTI BASA Erni R.A,

Lebih terperinci

BAB I PENDAH ULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAH ULUAN 1.1.Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Polimer secara umum merupakan bahan dengan kemampuan menghantarkan listrik yang rendah dan tidak memiliki respon terhadap adanya medan magnet dari luar. Tetapi melalui

Lebih terperinci

Aplikasi Prinsip Kinetika untuk Penentuan Masa Simpan Produk Pangan

Aplikasi Prinsip Kinetika untuk Penentuan Masa Simpan Produk Pangan Aplikasi Prinsip Kinetika untuk Penentuan Masa Simpan Produk Pangan Fateta, IPB 1 Fateta, IPB 2 Fateta, IPB 3 Fateta, IPB 4 PENENTUAN UMUR SIMPAN Penelitian & pengujian pengalaman empiris UMUR SIMPAN Informasi

Lebih terperinci

ID0200243 ANALISIS KEANDALAN KOMPONEN DAN SISTEM RSG GAS DENGAN MENGGUNAKAN DATA BASE

ID0200243 ANALISIS KEANDALAN KOMPONEN DAN SISTEM RSG GAS DENGAN MENGGUNAKAN DATA BASE VrusiUinx Presentasi Ilmiah Tehmlogi Keselamatan Nukllr-V ISSN No. : 1410-0533 Serpong 2H Juni 2000 ' ID0200243 ANALISIS KEANDALAN KOMPONEN DAN SISTEM RSG GAS DENGAN MENGGUNAKAN DATA BASE Oleh : Demon

Lebih terperinci

BAB IV SIFAT MEKANIK LOGAM

BAB IV SIFAT MEKANIK LOGAM BAB IV SIFAT MEKANIK LOGAM Sifat mekanik bahan adalah : hubungan antara respons atau deformasi bahan terhadap beban yang bekerja. Sifat mekanik : berkaitan dengan kekuatan, kekerasan, keuletan, dan kekakuan.

Lebih terperinci

PerMen 04-1980 Ttg Syarat2 APAR

PerMen 04-1980 Ttg Syarat2 APAR PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI No : PER.04/MEN/1980 TENTANG SYARAT-SYARAT PEMASANGAN DAN PEMELIHARAN ALAT PEMADAM API RINGAN. MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI: PerMen 04-1980 Ttg

Lebih terperinci

BABAK PENYISIHAN SELEKSI TINGKAT PROVINSI BIDANG KOMPETISI

BABAK PENYISIHAN SELEKSI TINGKAT PROVINSI BIDANG KOMPETISI LAMPIRAN 5 BABAK PENYISIHAN SELEKSI TINGKAT PROVINSI BIDANG KOMPETISI Laporan 2 Pelaksanaan OSN-PERTAMINA 2012 69 Olimpiade Sains Nasional Pertamina 2012 Petunjuk : 1. Tuliskan secara lengkap Nama, Nomor

Lebih terperinci

Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan

Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan Potensi Optimasi Reaksi Laboratorium Aturan Dasar untuk Sintesis Berkelanjutan Selama mengamati beberapa reaksi dalam NOP, dapat diidentifikasi adanya beberapa kelemahan. Kelemahan ini terutama berpengaruh

Lebih terperinci

PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL. Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT?

PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL. Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT? PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT? JAWAB (J-01) : RUST COMBAT bekerja melalui khelasi (chelating) secara selektif. Yaitu proses di mana molekul sintetik yang

Lebih terperinci

OPTIMALISASI SIFAT - SIFAT MEKANIK MATERIAL S45C

OPTIMALISASI SIFAT - SIFAT MEKANIK MATERIAL S45C OPTIMALISASI SIFAT - SIFAT MEKANIK MATERIAL S45C TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat Sarjana Teknik Industri Era Satyarini 09 06 05987 PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI

Lebih terperinci

PROPOSAL PENELITIAN. Pengaruh Temperatur Dan Waktu Tahan Pada Proses Karburisasi Cair Terhadap Kekerasan Baja AISI 1025 Dengan Media Pendinginan Air

PROPOSAL PENELITIAN. Pengaruh Temperatur Dan Waktu Tahan Pada Proses Karburisasi Cair Terhadap Kekerasan Baja AISI 1025 Dengan Media Pendinginan Air 1 PROPOSAL PENELITIAN Pengaruh Temperatur Dan Waktu Tahan Pada Proses Karburisasi Cair Terhadap Kekerasan Baja AISI 1025 Dengan Media Pendinginan Air Dosen Pembimbing : WAHYU PURWO R, ST., MT TEGUH TRIYONO,

Lebih terperinci

Lampiran L Contoh pembuatan larutan

Lampiran L Contoh pembuatan larutan Lampiran L Contoh pembuatan larutan 1. Larutan NazCOs 10%, 20%, 30%. Timbang sebanyak 10 gr kristal Na2C03, dilarutkan dengan sedikit akuades dalam gelas piala. Pindah kedalam labu takar 100 ml dan encerkan

Lebih terperinci

PREDIKSI WAKTU LAYAN BANGUNAN BETON TERHADAP KERUSAKAN AKIBAT KOROSI BAJA TULANGAN

PREDIKSI WAKTU LAYAN BANGUNAN BETON TERHADAP KERUSAKAN AKIBAT KOROSI BAJA TULANGAN Civil Engineering Dimension, Vol. 7, No. 1, 6 15, March 2005 ISSN 1410-9530 PREDIKSI WAKTU LAYAN BANGUNAN BETON TERHADAP KERUSAKAN AKIBAT KOROSI BAJA TULANGAN Agus Santosa Sudjono Dosen Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

VOLUMETRI / TITRIMETRI

VOLUMETRI / TITRIMETRI VLUMETRI / TITRIMETRI Volumetri atau titrimetri merupakan suatu metode analisis kuantitatif didasarkan pada pengukuran volume titran yang bereaksi sempurna dengan analit. Titran merupakan zat yang digunakan

Lebih terperinci

PENASIHAT PERNYATAAN

PENASIHAT PERNYATAAN MANAJEMEN PROGRAM Direktur: Prof. Dr. Ismunandar (SEAMEO QITEP in Science) Wakil Direktur: Dr. Indarjani (SEAMEO QITEP in Science) Buku ini ditulis oleh:. Dr. Maman Wijaya, M.Pd. (SEAMEO QITEP in Science)

Lebih terperinci

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID ABSTRAK PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID Ekowati Retnaningsih dan Rini Oktariza Angka kejadian berat badan lebih pada anak usia sekolah di Indonesia mencapai 15,9%. Prevalensi

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM DISUSUN OLEH FITRI RAMADHIANI KELOMPOK 4 1. DITA KHOERUNNISA 2. DINI WULANDARI 3. AISAH 4. AHMAD YANDI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

Lebih terperinci

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab17. Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab17. Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi Bab17 Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan Larutan buffer adalah larutan yg terdiri dari: 1. asam lemah/basa

Lebih terperinci

LATEKS ALAM IRADIASI SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI RUMAH TANGGA BARANG JADI KARET

LATEKS ALAM IRADIASI SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI RUMAH TANGGA BARANG JADI KARET LATEKS ALAM IRADIASI SEBAGAI BAHAN BAKU INDUSTRI RUMAH TANGGA BARANG JADI KARET Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki perkebunan karet paling luas di dunia. Sebagian besar karet alam tersebut

Lebih terperinci

KONSENTRASI TRITIUM DALAM BENTUK MOLEKUL AIR (FWT) DI DALAM HUMUS

KONSENTRASI TRITIUM DALAM BENTUK MOLEKUL AIR (FWT) DI DALAM HUMUS Presiding Presenlasi Ilniiah Kcsclamalan Radiasi da» Lingkungaii, 20-21 Agustus 1996 ID0000088 KONSENTRASI TRITIUM DALAM BENTUK MOLEKUL AIR (FWT) DI DALAM HUMUS Poppy Intan Tjahaja Pusat Standardisasi

Lebih terperinci

METALURGI FISIK. Sifat Mekanik dan Struktur Mikro. 10/24/2010 Anrinal - ITP

METALURGI FISIK. Sifat Mekanik dan Struktur Mikro. 10/24/2010 Anrinal - ITP METALURGI FISIK Sifat Mekanik dan Struktur Mikro Sifat Sifat Material Sifat Fisik : (berat jenis, daya hantar panas dan listrik, dll.) Sifat Mekanik : (Kekuatan, Kekerasan, Keuletan, Ketegaran, Kekakuan,

Lebih terperinci

LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT

LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT LARUTAN ELEKTROLIT DAN NON ELEKTROLIT Mata Pelajaran : Kimia Kelas : X (Sepuluh) Nomor Modul : Kim.X.07 Penulis : Drs. Asep Jamal Nur Arifin Penyunting Materi : Drs. Ucu Cahyana, M.Si Penyunting Media

Lebih terperinci

PERBAIKAN SURFACE AREA ANALYZER NOVA-1000 (ALAT PENGANALISIS LUAS PERMUKAAN SERBUK)

PERBAIKAN SURFACE AREA ANALYZER NOVA-1000 (ALAT PENGANALISIS LUAS PERMUKAAN SERBUK) PERBAIKAN SURFACE AREA ANALYZER NOVA-1000 (ALAT PENGANALISIS LUAS PERMUKAAN SERBUK) Moch. Rosyid, Endang Nawangsih, Dewita -BATAN, Yogyakarta Email : ptapb@batan.go.id ABSTRAK PERBAIKAN SURFACE AREA ANALYZER

Lebih terperinci

ABSTRAK. UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans

ABSTRAK. UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans iv ABSTRAK UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans Bernike Yuriska M.P, 2009; Pembimbing I: Endang Evacuasiany,Dra.,Apt.M.S.AFK Pembimbing

Lebih terperinci

Analisa Korosi Erosi Pada Baja Karbon Rendah dan Baja Karbon Sedang Akibat Aliran Air Laut

Analisa Korosi Erosi Pada Baja Karbon Rendah dan Baja Karbon Sedang Akibat Aliran Air Laut Analisa Korosi Erosi Pada Baja Karbon Rendah dan Baja Karbon Sedang Akibat Aliran Air Laut A.P Bayuseno, Erizal Dwi Handoko Jurusan Teknik Mesin Universitas Diponegoro Jl. Prof. Soedharto, SH, Kampus Undip

Lebih terperinci

Perang di Luar Angkasa

Perang di Luar Angkasa Perang di Luar Angkasa Ini bukan seperti perang bintang yang digambarkan dalam film legendaris Star Wars. Perang ini terjadi di luar angkasa dalam upaya mencegah terjadinya perang di bumi ini. Bagaimana

Lebih terperinci

PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK MI INSTAN DARI PATI SAGU DENGAN METODE AKSELERASI

PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK MI INSTAN DARI PATI SAGU DENGAN METODE AKSELERASI PENDUGAAN UMUR SIMPAN PRODUK MI INSTAN DARI PATI SAGU DENGAN METODE AKSELERASI Shelf Life Estimation of Instant Noodle from Sago Starch Using Accelerared Method Dewi Kurniati (0806113945) Usman Pato and

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. I.1 Maksud dan Tujuan

Bab I Pendahuluan. I.1 Maksud dan Tujuan Bab I Pendahuluan I.1 Maksud dan Tujuan Pemboran pertama kali di lapangan RantauBais di lakukan pada tahun 1940, akan tetapi tidak ditemukan potensi hidrokarbon pada sumur RantauBais#1 ini. Pada perkembangan

Lebih terperinci

UJIAN NASIONAL TAHUN 2010

UJIAN NASIONAL TAHUN 2010 UJIN NSIONL THUN 00 Pilihlah satu jawaban yang paling benar. Seorang anak berjalan lurus 0 meter ke barat, kemudian belok ke selatan sejauh meter, dan belok lagi ke timur sejauh meter. Perpindahan yang

Lebih terperinci

PELEBURAN LANGSUNG KONSENTRAT EMAS SEBAGAI ALTERNATIF MERKURI AMALGAMASI DI TAMBANG EMAS SKALA KECIL

PELEBURAN LANGSUNG KONSENTRAT EMAS SEBAGAI ALTERNATIF MERKURI AMALGAMASI DI TAMBANG EMAS SKALA KECIL PELEBURAN LANGSUNG KONSENTRAT EMAS SEBAGAI ALTERNATIF MERKURI AMALGAMASI DI TAMBANG EMAS SKALA KECIL Workshop on Sustainable Artisanal dan Small Scale Miners (PESK) Practices Mataram, Indonesia, 9-11 February

Lebih terperinci

FISIOLOGI TUMBUHAN 1 Transportasi pada Tumbuhan. Delayota Science Club April 2011

FISIOLOGI TUMBUHAN 1 Transportasi pada Tumbuhan. Delayota Science Club April 2011 FISIOLOGI TUMBUHAN 1 Transportasi pada Tumbuhan Delayota Science Club April 2011 Transportasi pada Tanaman H 2 O H 2 O Minerals CO 2 O 2 Sugar O 2 CO 2 Light Transport of water and solutes by individual

Lebih terperinci

PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI. Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI

PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI. Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI Elemen Kompetensi III Elemen Kompetensi 1. Menjelaskan prinsip-prinsip konservasi energi 2. Menjelaskan

Lebih terperinci

PENGARUH PENAMBAHAN TURBULATOR PADA INTAKE MANIFOLD TERHADAP UNJUK KERJA MESIN BENSIN 4 TAK

PENGARUH PENAMBAHAN TURBULATOR PADA INTAKE MANIFOLD TERHADAP UNJUK KERJA MESIN BENSIN 4 TAK PENGARUH PENAMBAHAN TURBULATOR PADA INTAKE MANIFOLD TERHADAP UNJUK KERJA MESIN BENSIN 4 TAK Untoro Budi Surono 1), Joko Winarno 1), Fuad Alaudin 2) 1) Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Univ. Janabadra

Lebih terperinci