MORAL KATOLIK MENGHADAPI TANTANGAN JAMAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MORAL KATOLIK MENGHADAPI TANTANGAN JAMAN"

Transkripsi

1 MORAL KATOLIK MENGHADAPI TANTANGAN JAMAN Laurentius Tarpin Universitas Katolik Parahyangan, Bandung Abstract: The cultural, social, industrial and sexual revolution has brought a number of sophisticated and complex moral questions. In this context, how does the Catholic Moral teaching respond to? Does the Catholic moral teaching change in accordance with great changing social, political, cultural, and medical technology? The Vatican II has called for reformation in doing theology and especially moral theology, namely theology that is based on and animated by the Scripture and focuses its reflection on the lofty of Christian calling and bearing the fruit of charity for the world. In the light of the Vatican II, moral theology has biblical, Christo-centric and personal character. The Catholic moral theology has demonstrated the significant changes in methodology, sources, its function in the Church life. The historically consciousness approach has made a great shift in understanding of moral truths and its implication in concrete and particular situation. Moral truths subject to revision and correction so that the timeless and absolute formulations of moral truth are put in question. By the way, in Catholic moral teaching, Jesus Christ is the ultimate norm and the model or paradigm of Christian moral life. Key words: Revolusi kultural, sosial dan seksual, metode deduktif dan induktif, imitatio Christi et imitatio Dei, karakter biblis, Kristosentris. Berkaitan dengan judul, saya menangkap adanya persoalan krusial, apakah ajaran moral Gereja katolik bersifat statis atau dinamis dalam menghadapi tantangan jaman yang terus berubah? Apakah Gereja menyesuaikan ajaran moralnya seiring dengan perubahan jaman? Kalau Gereja menyesuaikan diri, sejauh mana dan dalam hal apa? Atau apakah Gereja tetap pada posisinya, tidak peduli pada apa yang terjadi di dalam dunia yang melingkunginya? Apakah norma yang dirumuskan dalam situasi dan waktu tertentu, yang dipengaruhi oleh konteks di mana norma itu dibuat, memiliki validitas universal? Apakah memang ada norma universal yang mengikat semua orang dalam situasi apapun? Kalau ada norma 182 Studia Philosophica et Theologica, Vol. 8 No. 2, Oktober 2008

2 yang mana? Norma formal atau norma material? 1 Apakah memang ada tindakan-tindakan yang secara intrinsik jahat secara moral (intrinsice malum)? 2 Jawaban terhadap persoalan ini dapat kita lihat dalam ensiklik Veritatis Splendor 3 yang merupakan tanggalan Gereja Katolik atas perdebatan moral pasca Konsili Vatikan II. Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas, ada baiknya kita melihat apa yang terjadi dalam masyarakat. Karena ajaran moral lahir sebagai tanggapan atas pengalaman manusia yang direfleksikan dalam terang iman. Lebih tepatnya, ajaran moral adalah titik temu antara pengalaman manusia dengan kebenaran-kebenaran Injil dan iman yang dapat dijadikan pedoman dalam memecahkan persoalan-persoalan muncul dalam masyarakat. Dalam pembahasan tema ini, saya akan mengurai beberapa persoalan moral dan factor pemicunya, pemahaman tentang teologi moral, perubahan paradigma dalam teologi moral katolik, yang menyangkut metode dan isi, moral katolik sebagai Imitatio Christi et Imitatio Dei Persoalan-Persoalan Moral Kita hidup dalam jaman yang ditandai oleh persoalan-persoalan moral seiring dengan perkembangan di dalam bidang ilmu dan teknologi, dalam bidang bio-medis dan bio-etika. Di samping itu, kita hidup dalam masyarakat yang ditandai oleh budaya kematian, mentalitas hedonistik, utilitarianistik, meterialistik, relativistik, pragmatik, permisif, kebebasan dan otonomi absolut, sikap dan perilaku kontraseptik dan abortif. Saat ini kita juga hidup dalam masyarakat yang hidup dalam situasi seolah-olah Tuhan tidak ada, sehingga semua boleh dilakukan, ada pemisahan antara iman dan moralitas, seolah-olah antara iman dan kehidupan sosio politik dan ekonomi itu tidak ada sangkut pautnya. Pada saat inipun, kita menyaksikan adanya fenomen terjadinya pemisahan antara kebebasan dan kebenaran, antara hak dan kewajiban. Di samping itu, kita dihadapkan pada persoalan-persoalan moral yang pelik menyangkut kehidupan seksual, tuntutan kaum homoseks supaya hu- 1 Bdk. Richard M. Gula, What are they saying about moral norms?, Paulist Press, Mahwah, New York 1982, bdk. Timothy E. O Connel, Principles for a Catholic Morality, Harper SanFrancisco Publisher, New York 1990, Ibid., Yohanes Paulus II, Ensiklik Veritatis Splendor no , Jakarta: Dokpen KWI Kataelusmus Gereja Katolik. 4 Bdk. William C. Spohn, What are they saying about scripture and ethics? Paulis Press, Mahwah, New York 1995, Bdk. William E. May, Moral Aboslutes, Milwaukee: Marquette University Press, 1989 Laurentius Tarpin, Moral Katolik Menghadapi Tantangan Jaman 183

3 bungan mereka sebagai suami istri dikukuhkan. Lalu bagaimana sikap Gereja terhadap mereka yang mengalami kegagalan dalam hidup perkawinan, apakah situasi perkawinan yang tidak bisa diperbaiki dan membuat orang menderita dan tertekan, tetap harus dipertahankan dengan segala pengorbanan? Apakah mereka yang terpaksa harus mengakhiri perkawinannya yang berat, dapat menikah kembali secara sah? Pada saat inipun ada fenomen bahwa banyak kaum wanita yang tidak menikah, tetapi menuntut hak untuk mempunyai anak dengan cara apapun. Lalu muncul pertanyaan lain apakah anak itu menjadi obyek keinginan dan produk laboratorium ataukah anak dilihat sebagai anugerah dari Allah? Berkaitan dengan persoalan martabat pribadi manusia dan martabat prokreasi, Konggregasi untuk ajaran iman mengeluarkan dokumen sebagai tanggapan atas kemajuan dalam bidang Bioetika 5. Dalam dunia kedokteranpun banyak persoalan moral yang menuntut jalan keluar, misalnya pasien yang berada dalam status vegetative persisten, apakah pasien tersebut harus terus dipertahankan dengan alasan penghormatan atas hidup manusia dan larangan membunuh? Apakah secara moral dibenarkan melakukan tindakan memperpanjang proses kematian dan memperpanjang penderitaan yang tak tertanggungkan? Apakah diperbolehkan memberikan obat pembunuh rasa sakit dengan akibat mempercepat proses kematian pasien? Bagaimana kita harus bersikap terhadap kasus dilematis di mana ada dua kehidupan yang dipertaruhkan? 6 Banyak persoalan moral menuntut kecermatan dan discernment. Ada beberapa factor yang telah memicu persoalan-persolan moral: Revolusi kultural yang melahirkan ilmu-ilmu eksakta dan ilmu alam yang kemudian memicu perkembangan teknologi dan mendorong penemuan mesin-mesin telah memicu revolusi industri. Pengetahuan manusia tentang hukum alam membawa manusia pada upaya menguasai dan mengeksploitasi alam yang menimbulkan serangkaian persoalan ekologis. Kemampuan manusia untuk menguasai hukum alam juga telah memprovokasi tindakan manipulatif pada kehidupan manusia, pada tubuh dan kehidupan psikis, pada kehidupan sosial dan hukum yang mengatur transmisi kehidupan baru, menjadikan manusia sebagai obyek penelitian yang merendahkan martabat pribadi manusia 7. Hal ini dipicu oleh kemajuan di bidang teknologi kedokteran dan bioetika. 5 Konggregasi untuk Ajaran Iman, Instruction on Bioethics Respect for Human Life Donum Vitae, Boston: St. Paul Books and Media Tanggapan Gereja Katolik terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan penyakit terminal dapat dilihat dalam Instruksi tentang Euthanasi. Lihat Kongregasi untuk Ajaran Iman, Pernyataan tenang Euthanasia, ( ), terjemahan oleh Piet Go, O Carm, Jakarta: Dokpen KWI Berkaitan dengan martabat prokreasi dan asal hidup manusia, Kogregasi untuk doktrin 184 Studia Philosophica et Theologica, Vol. 8 No. 2, Oktober 2008

4 Berkat kemajuan di bidang ilmu kedokteran dan bioetika intervensi atas hidup manusia semakin masif, hidup manusia diperlakukan sebagai preparat di laboratorium yang siap dijadikan obyek penelitian, nafsu berkuasa manusia pun distimulasi sehingga lahirlah bayi tabung, inseminasi artifisial, intervensi atas embrio manusia, clonning. Semuanya ini membawa serangkaian persoalan moral yang pelik, terutama berkaitan dengan ancaman terhadap hidup manusia. Berhadapan dengan ancamanancaman terhadap martabat pribadi dan hidup manusia, maka Gereja sebagai penjaga moral menyerukan suara kenabiannya dengan mengeluarkan berbagai eksiklik dan pernyataan yang secara tegas mengkritik dan menghukum berbagai tindakan yang mengancam martabat pribadi manusia 8. Revolusi sosial memunculkan gerakan kebebasan modern yang memperjuangkan hak-hak individu dan pembebasan individu dari setiap bentuk penindasan politik (monarkhi absolute) dan penindasan agama (dogmatisme). Revolusi sosial ini memuncak dalam revolusi Perancis dengan trilogi semboyannya liberte, egalite et fraternite. Ketiga semboyan ini akan telah mendorong manusia untuk memperjuangkan persamaan hak atas dasar kesamaan martabat pribadi manusia. Di samping itu, revolusi Perancis ini mendorong orang untuk membentuk system pemerintahan demokratis yang menghargai dan melindungi hak setiap individu, menghargai pluralitas, menumbuhkan sikap toleran, menegakkan keadilan, mempromosikan partisipasi aktif setiap manusia dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut kepentingan bersama. Akan tetapi, revolusi sosial ini juga membawa ekses negatif, yakni individualisme ektrim, imperialisme, totalitarianisme, fasisme, marginaliasi nilai-nilai spiritual, marginalisasi agama dan moral, hegemoni budaya dan sistem pemikiran tertentu atas nama universalitas. Di samping itu, berbagai jargon kemodernan yang menempatkan subyek manusia pada pusat semesta pada akhirnya membawa dampak destruktif terhadap manusia dan lingkungannya, serta memicu antihumanisme. Revolusi kultural dan revolusi sosial memicu terjadinya revolusi industri dengan dihasilkannya produksi barang dalam jumlah besar. Inilah cikal bakal kapitalisme modern yang kemudian akan memicu gerakan ekspansi kolonialisme dan imperialisme yang melahirkan penindasan, Iman mengeluarkan Instruksi sebagai tanggapan Gereja Karolik atas persoalan moral Inseminasi artifisial. Lihat Kongregasi untuk Ajaran Iman, Instruksi Donum Vitae yang diterbitkan pada tahun Berhubungan dengan hal ini dapat dilihat dalam dokumen Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes no. 27, Deklarasi tentang Abortus Provocatus (1974), Deklarasi tentang Euthanasia (1980), Instruksi tentang Hidup Manusia dan Martabat Prokreasi Donum Vitae (1987), dan Ensiklik Evangelium Vitae (1995).. Laurentius Tarpin, Moral Katolik Menghadapi Tantangan Jaman 185

5 ekploitasi manusia dan sumber daya alam yang melahirkan kemiskinan dan keterbelakangan di negara-negara terjajah. Kapitalisme yang dimotori oleh liberalisme atau neo-liberalisme telah menjadikan hukum pasar sebagai satu-satunya norma yang mengatur relasi antar individu. Kapitalisme liberal yang menjadikan persaingan bebas, efisiensi dan produktivitas, maksimalisasi profit sebagai motor penggerak, pada akhirnya menggerogoti nilai-nilai kebersamaan, nilai kesetiakawanan dan solidaritas. Yang paling memprihatinkan adalah bahwa kemakmuran di dunia kapitalis ternyata membuat penderitaan, kemiskinan dan ketergantungan di negara-negara dunia III. Keuntungan yang diraup oleh negara-negara kapitalis adalah buah dari penindasan dan ekploitasi para pekerja. Situasi tidak manusiawi sebagai dampak kapitalisme ini telah menggugat kesadaran moral Gereja sebagaimana diungkapkan dalam ensiklik sosial pertama Rerum Novarum dari Paus Leo XIII (1891). Pada saat ini Neokapitalisme dan Globalisasi telah menghadapkan kita pada serangkaian masalah moral, yakni marginalisasi manusiamanusia yang tidak punya akses secara teknologi dan ekonomi. Dengan demikian, globalisasi pada dirinya sendiri mengandung dilema, contradictio in terminis karena globalisasi, selain membawa dampak positif, juga melahirkan exclusivikasi dan marginalisasi. Berkaitan dengan dampak negatif kapitalisme dan globalisasi Gereja membuat kritik atas Kapitalisme sebagaimana dapat kita lihat dalam Rerum Novarum, Quadragesimo Anno, Populorum Progressio, Laborem Exercens, Sollicitudo Rei Socialis, Centesimus Annus 9. Di samping kritik pedas atas Kapitalisme, Gereja juga mengkritik kejahatan moral Sosialisme-Colectivisme marxist karena tidak menghargai kodrat individual manusia, memasung kebebasan individu, menolak nilainilai transenden, kekerasan yang dilakukan, mempromosikan kebencian dan perjuangan kelas 10. Berkaitan dengan globalisasi, Gereja menekankan pentingnya nilai-nilai moral: primat pribadi manusia, solidaritas, subsidiaritas, bonum comune, the preferential option for the poor 11 yang harus membimbing Globalisi sehingga mengarah pada globalisasi solidaritas dan kepedulian sosial. Berhadapan dengan dampak negatif globalisasi, Gereja Katolik dalam Ajaran Sosialnya menunjukkan komitmennya untuk berpihak kepada kaum marginal, yakni mereka yang menjadi korban kebijakan sosial, politik, ekonomi dan budaya global. The 9 Bdk. Yohanes Paulus II, Ensiklik Centesimus Annus no. 42. bdk. Pius XI, Ensiklik Quadragesimo Anno no Bdk. Leo XIII, Ensiklik Rerum Novarum no bdk. Pius XI, Ensiklik Quadragesimo Anno no Pontifical Council for Justice and Peace, Compendium of the Social Doctrine of the Church, Vatican City: Libreria Editrice Vaticana 2004, Studia Philosophica et Theologica, Vol. 8 No. 2, Oktober 2008

6 preferenial option for the poor dijadikan sebagai kunci hermeneutik untuk membaca realitas, yakni menggunakan perspektif korban. Ini adalah kebaruan radikal yang dihembuskan Gereja 12. Revolusi seksual: Revolusi seksual terjadi pada tahun 60-an juga membawa pengaruh besar pada kehidupan manusia, lebih-lebih menjadi pintu masuk bagi kaum hawa untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Seksualitas tidak lagi dipahami sebagai sesuatu yang tabu dan memalukan, tetapi sebagai sesuatu yang positif, dipahami sebagai bagian integral eksistensi manusia. Seksualitas mempengaruhi identitas seseorang dan mempengaruhi cara seseorang berada dan berperilaku. Revolusi seksual ini juga membawa orang pada pemahaman bahwa seksualitas adalah urusan pribadi di mana negara tidak boleh campur tangan. Revolusi ini juga memicu gerakan feminisme yang menggugat segala macam bentuk pemikiran, dan ideologi bias gender, menolak budaya patriarkal. Kaum feminis menuntut perlakuan sama terhadap kaum perempuan. Kaum perempuan menuntut dihargai hak mereka untuk menentukan hidup dan masa depan mereka. Kaum perempuan menuntut haknya untuk meniti karier dan menolak stereotip lama yang mengatakan bahwa perempuan cukup menjadi ibu rumah tangga dan mengurus anak dan suami. Anggapan tersebut tidak lagi berlaku karena tuntutan kesamaan hak dan partisipasi aktif individu dalam mengusahakan kesejahteraan bersama. Pada saat inipun, banyak kaum wanita telah berhasil menempati post-post penting dalam kehidupan publik. Hal semacam ini mempengaruhi sikap mereka terhadap seksualitas 13. Revolusi seksual yang dibarengi oleh kemajuan di bidang teknologi kontrasepsi telah membawa orang pada sikap dan mentalitas kontraseptik dan abortif. Membawa orang pada sikap antagonistik pro-life versus pro-choice. Revolusi seksual juga membawa manusia pada titik ekstrem anti-natalitas. Kehamilan dipahami sebagai halangan bagi pengembangan karier. Kehamilan dilihat sebagai kegagalan kontrepsi dan akhirnya menuntut hak untuk melakukan aborsi. Sungguh ironis memang, bahwa apa yang jahat secara moral diklaim sebagai hak. Pada tahun 60-an juga muncul masalah kependudukan sehingga Gerejapun dituntut untuk memberi tanggapan atas persoalan kependudukan. Persoalan yang krusial adalah persoalan yang berkaitan dengan cara-cara pengaturan kelahiran anak. Apakah diperbolehkan 12 Bdk. Gregory Baum, Amazing Church: A Catholic Theologian Remembers a Half-Century of Change, Maryknoll, New York 2005, Bdk. Yohanes Paulus II, Ensiklik Laborem Exercens no. 8; Ensiklik Soliccitudo Rei Socialis no. 41, Ensiklik Centesimus Annus no Bdk. A Nunuk P. Murniati S., Peranan Perempuan dalam Gereja dan Masyarakat dalam Gereja Indonesia Pasca-Vatikan II, Refleksi dan Tantangan, Kanisius, Yogyakarta 1997, Laurentius Tarpin, Moral Katolik Menghadapi Tantangan Jaman 187

7 seorang katolik menggunakan kontrasepsi untuk menghindari kehamilan? Apakah metode alamiah merupakan satu-satunya metode yang dapat digunakan untuk mengatur kelahiran anak? Lalu bagaimana Gereja sebagai institusi mempertimbangkan kesulitan-kesulitan yang dihadapi umat di lapangan? Gereja melalui ensiklik Humanae Vitae menegaskan kembali ajaran moral Gereja bahwa moralitas pengaturan kelahiran anak harus dipahami dengan bertolak dari kebenaran dan makna seksualitas dan tindakan perkawinan. Secara kodrati, seksualitas memiliki dimensi unitif, prokreatif dan relasional. Oleh karenanya, setiap tindakan seksual dan perkawinan harus memiliki dimensi unitif, prokreatif (dan relasional) 14. Berdasar pada pemahaman tersebut, maka setiap tindakan seksual yang memisahkan dimensi unitif dari dimensi prokreatif secara moral tidak dapat dibenarkan. Dengan demikian, Gereja menilai bahwa perilaku dan tindakan seksual yang mengecualikan salah satu dari dimensi seksual adalah tindakan immoral. 15 Gereja mendasarkan ajaran moral seksualnya pada tatanan hukum kodrat yang menggarisbawahi kebenaran bahwa setiap kemampuan dan kecenderungan dasar dalam diri manusia memiliki tujuan dan fungsi kodratinya. Akan tetapi, ajaran moral gereja tentang cara pengaturan kelahiran alami tidak sedikit menimbulkan kesulitan di dalam praksis hidup pasangan suami-istri. Dalam situasi demikian, MAWI (th 1968 dan 1972), sebagai tanggapan atas Ensiklik Humanae Vitae dan situasi aktual Indonesia, mengeluarkan pernyataan bahwa untuk mengatur kelahiran anak umat hendaknya mengikuti suara hati masing-masing. Dengan demikian, keputusan moral menjadi urusan pribadi berdasarkan pertimbangan rasional dan pada akhirnya pasangan suami-istri katolik dapat mengambil keputusan berdasarkan hati nuraninya sendiri. Hal ini menunjukkan otonomi dan kemandirian moral Perubahan Paradigma Teologi Moral Katolik Untuk menanggapi persoalan-persoalan moral tersebut di atas, kita tentunya harus memahami apa artinya teologi moral? Ada banyak definisi yang menjelaskan apa itu teologi moral atau etika kristiani. Etika kristiani atau teologi moral adalah cabang teologi yang mempelajari tindakan-tindakan manusia sejauh tindakan tindakan 14 Bdk. Paulus VI, Ensiklik Humanae Vitae no Ibid., no Bdk. Bernard Kieser, Pembinaan Moral Pasca-Vatikan II, dalam Gereja Indonesia Pasca- Vatikan II, Refleksi dan Tantangan, , khususnya Studia Philosophica et Theologica, Vol. 8 No. 2, Oktober 2008

8 tersebut tunduk pada hukum moral, pada imperatif-imperatifnya dan kewajiban-kewajiban yang ditentukan oleh hukum moral, dalam terang iman. Dalam definisi teresebut, konsep sentralnya adalah hukum yang dilihat sebagai ekspresi kehendak Allah dan akal budi. Dalam hal ini moralitas menjadi persoalan kewajiban. Etika kristiani atau teologi moral adalah cabang teologi yang mempelajari tindakan-tindakan manusia supaya menyesuaikannya dengan kewajiban (tugas) dan dengan norma-norma yang diberikan kepada kita oleh akal budi dan kehendak Allah, dalam terang iman. Ide sentral dalam definisi tersebut adalah tugas (kewajiban) yang dihubungkan dengan ide kewajiban, tetapi memiliki konotasi interioritas. Teologi moral adalah cabang teologi yang mempelajari tindakantindakan manusia untuk mengarahkannya pada pencapaian kebahagiaan sejati dan tujuan ultim manusia dengan bantuan keutamaan-keutamaan dan dalam terang iman. Dalam definisi tersebut, kita melihat bahwa kebahagiaan sejati manusia dilihat sebagai tujuan ultimate. Di sini kita melihat teori moral yang didasarkan pada ketertarikan manusia pada apa yang benar dan baik, dan bukan pada perintah atau kewajiban. Santo Thomas Aquinas memberi definisi teologi moral sebagai cabang teologi yang memiliki obyek materialnya adalah studi tentang tindakantindakan manusia dalam relasinya dengan tujuan ultim sebagaimana dikehendaki oleh Allah sebagai mewajibkan bagi semua orang. Untuk dapat mencapai tujuan ultimate tersebut, dengan bantuan rahmat, manusia harus hidup berdasarkan keutamaan, baik itu keutamaan kardinal: keadilan, pengendalian diri, kebijaksanaan dan keberanian, maupun keutamaan teologal: iman, harapan, dan kasih. Servais Pinckaers mendefinisikan teologi moral sebagai cabang teologi yang mempelajari tindakan-tindakan manusia untuk mengarahkannya pada visi Allah yang penuh cinta yang dilihat sebagai kebahagiaan sejati dan tujuan akhir hidup manusia. Visi tersebut dicapai melalui sarana rahmat, keutamaan-keutamaan dan anugerah-anugerah dalam terang iman 17. Dalam perspektif pembebasan, teologi moral adalah refleksi kritis atas iman sejauh iman tersebut menggerakkan orang untuk terlibat dalam praksis cinta dan komitment dalam perjuangan demi keadilan dan pembebasan manusia dari berbagai bentuk penindasan. Dalam konteks ini, teologi pembebasan menggarisbawahi dimensi sosial politik iman kristiani dan pesan Injil. Iman kepada Kristus tidak bisa dipisahkan dari komitment terhadap keadilan dan praksis cinta. Di samping itu, teologi moral dalam perspektif pembebasan menekankan relasi dialektis antara 17 Bdk. Servais Pinckaers, The Sources of Christian Ethics, T&T Clark, Edinburgh 1995, Laurentius Tarpin, Moral Katolik Menghadapi Tantangan Jaman 189

9 transformasi hati dan budi dan transformasi dalam struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi dan budaya. Teologi moral adalah refleksi kritis atas iman sejauh iman itu dipraktekkan dalam praksis hidup. Dalam hal ini moralitas menunjuk pada baik-buruknya manusia sebagai manusia, yakni sebagai manusia yang diciptakan secitra dan segambar dengan Allah yang dianugerahi kemampuan akal budi, kehendak bebas dan kemampuan untuk memilih antara yang baik dan buruk. Dalam periode konsili Trente sampai dengan Konsili Vatikan II, teologi moral lebih bernuansa praktis-pastoral dan lebih menekankan unsur hukum (legalistik), kewajiban, menekankan moralitas tindakan dan sibuk dengan persoalan dosa atau tidak dosa. Teologi moral dilihat sebagai sarana pelatihan bagi para calon imam sehingga mereka memiliki keterampilan dalam memecahkan persoalan-persoalan di kamar pengakuan dosa. Teologi moral pada periode ini lebih menekankan soal kewajiban, ketaatan pada hukum dan peraturan. Dalam ajaran moral Gereja katolik, hampir semua ajarannya didasarkan pada hukum kodrat yang dapat dikenal dan dipahami oleh semua manusia berkat kemampuan akal budinya. Semua hukum manusia harus dilihat dalam relasinya dengan hukum kodrat dan hukum abadi 18. Dalam perdebatan kontemporer, teologi moral lebih dikarakterisasikan dengan unsur-unsur: respon atas tawaran rahmat Allah, kebebasan, kesetiaan, kreativitas kesadaran personal, tanggung jawab, dialog, keutamaan, ketertarikan pada nilai-nilai. 19 Dalam debat kontemporer juga muncul ketegangan-ketegangan berkaitan dengan soal kebaikan dan keburukan moral, terutama di antara moralis yang beraliran teleologis dan deontologis. Dalam hal ini ada perdebatan tentang kebaikan dan keburukan pra-moral (kebaikan atau keburukan ontik) dan kebaikan atau keburukan intrinsik. Pendekatan yang digunakan dalam teologi moral pasca KV II adalah pendekatan induktif, dengan memberi perhatian pada tanda-tanda jaman, yang kemudian diinterpretasikan dalam terang Injil dan Tradisi hidup Gereja 20. Yang menimbulkan perbedaan pendekatan dalam teologi moral adalah perubahan worldview dari worldview klasik yang ditandai oleh pemahaman tentang realitas sebagai sesuatu yang universal, kepastian, statis, atau tidak berubah dan abadi, menuju worldview yang berkesadaran historik yang memahami realitas sebagai sesuatu yang dinamis, berkembang, partikular, sementara atau tentatif. 18 Bdk. Ibid., Bdk. Bernard Haering, Liberi e Fedeli in Cristo: teologia morale per preti e laici, Roma: Edizioni Pauline Bdk. Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes, art. 2-10, Studia Philosophica et Theologica, Vol. 8 No. 2, Oktober 2008

10 Berbeda dengan teologi moral pra-kv II yang legalistik dan sedikit memberi perhatian pada Kitab Suci, dalam Teologi Moral sejak KV II, peranan Kitab Suci, tradisi gereja, ajaran para bapa Gereja dan pengalaman hidup manusia mendapat perhatian utama dalam perdebatan moral kontemporer. Imperasi untuk menjadikan Kitab Suci sebagai sumber kebenaran teologi moral ditekankan dalam Optatam Totius yang menggarisbawahi tuntutan untuk melakukan pembaharuan dalam teologi moral, yang harus ditata dalam hubungannya yang lebih hidup dengan misteri Kristus dan sejarah keselamatan. Perawatan khusus harus diberikan kepada penyempurnaan teologi moral. Penjelasan ilmiahnya harus lebih diresapi ajaran Kitab Suci, dan menjelaskan keluhuran panggilan umat beriman dalam Kristus, serta tugas mereka dalam cinta kasih untuk menghasilkan buah demi kehidupan dunia 21. Dari kutipan tersebut kita dapat melihat isi dan metode teologi moral, yakni teologi moral yang bernafaskan dan berjiwakan Kitab Suci dan menggarisbawahi isi teologi bertugas untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan keluhuran panggilan umat beriman dalam Kristus dan menekankan tugas umat beriman untuk menghasilkan buah-buah kehidupan iman bagi kehudupan dunia 22. Dengan demikian, dunia tidak lagi dilihat sebagai tempat kejahatan, yang harus dijauhi, tetapi sebagai tempat di mana Allah mewahyukan dirinya, memanggil manusia untuk menghayati iman dalam peziarahan menuju kesempurnaan hidup. Di dalam dunialah umat beriman juga dapat berjumpa dengan Allah yang hadir dalam diri setiap manusia yang diciptakan secitra dan segambar dengan Allah. Manusia dapat mengalami perjumpaan dengan Allah dalam keterlibatan dan solidaritas mereka dengan kaum tertindas yang sedang berjuang demi kebebasan dan keadilan. 3. Perubahan Metodologi dan Sikap Gereja lebih jelas dalam Ajaran Moral Sosial Ajaran sosial gereja mengalami perubahan dalam metodologi dari pendekatan klasik yang melihat realitas dalam term universalitas, immutabilitas, stabilitas, kepastian, dalam hal ini norma-norma moral yang dideduksi dari hukum kodrat, menuju pendekatan yang sadar secara historik yang ditandai oleh partikularitas, kontingensi dan perubahan. Pendekatan yang sadar secara historik mempertahankan continuitas dan diskontinuitas. Pendekatan ini menggunakan metode induksi yakni 21 Konsili Vatikan II, Optatam Totius no Bdk. Sabino Frigato, Vita in Cristo e Agire Morale: Saggio di teologia morale fondamentale, Editrice ElleDici, Torino 1999, bdk. Charles E. Curran, Ongoing Revision in Moral Theology, Notre Dame: Fides Claretian 1975, Laurentius Tarpin, Moral Katolik Menghadapi Tantangan Jaman 191

11 mengambil kesimpulan-kesimpulan dengan menganalisa situasi sosial, politik, ekonomi dan kebudayaan yang terus berubah. Perubahan metodologi ini dapat kita lihat dalam dokumen ASG sebelum Vatikan II dan setelahnya. Di dalam Rerum Novarum Leo XIII mengatakan bahwa hak atas milik pribadi didasarkan pada kodrat manusia dan pada hukum kodrat, «mempunyai milik perorangan untuk dirinya merupakan hak manusiawi berdasarkan kodratnya» (bdk. RN no. 6-7) Di dalam Quadragesimo Anno (1931) juga ditekankan metodologi deduksi terutama berkaitan dengan soal hak atas milik pribadi «Di dalam memanfaatkan sumber-sumber daya alam bagi penggunaan manusiawi, hukum kodrati, atau lebih tepat kehendak Allah yang terpancarkan oleh hukum itu, meminta supaya tata tertib itu dipatuhi» (QA. No. 53). Metode deduksi dapat kita lihat juga dalam Pacem in Terris (1963) yang mendeduksi norma moral dari hukum kodrat. «Hukum-hukum yang mengatur manusia berlainan sama sekali. Bapa alam semesta telah menerakannya ke dalam kodrat manusia. Oleh karena itulah hukum itu harus dicari di situ, bukan ditempat lain» (PT no. 6). Hukum yang dideduksi dari hukum kodrat seharusnya mengarahkan dan mengatur relasi manusia dalam hidup bersama, dalam hidup bernegara dan dalam relasi international. Perubahan dari metode deduksi menuju metode induksi dapat kita lihat dalam Gaudium et Spes yang memanggil kita untuk membaca tandatanda jaman, artinya mencermati situasi real, partikular di mana kita hidup lalu merefleksikan dan menginterpretasikannya dalam terang Injil dan Tradisi gereja. Untuk melaksanakan tugas yang luhur itu, sepanjang masa Gereja wajib menelaah tanda-tanda jaman, lalu menafsirkannya di dalam terang Injil. Dengan demikian, ia dapat menjawab atas cara yang sesuai dengan tiap generasi, masalah abadi manusia tentang makna kehidupan sekarang ini dan kelak dan tentang hubungan antara keduanya 23 Hal senada dikatakan dalam dokumen yang sama : Adalah tugas seluruh umat Allah, terutama para gembala dan teolog untuk mendengarkan, membeda-bedakan dan menafsirkan pelbagai bahasa jaman kita, dengan bantuan Roh Kudus, lalu menilainya dalam terang Sabda Ilahi, agar kebenaran yang diwahyukan selalu dapat ditanggapi dengan lebih mendalam, dipahami dengan lebih baik dan disajikan dengan lebih benar Konsili Vatikan II, Konstitusi Pastoral, Gaudium et Spes, art. No Ibid., art. No Studia Philosophica et Theologica, Vol. 8 No. 2, Oktober 2008

12 Dokumen yang sama menggarisbawahi tuntutan untuk memperhatikan dan membaca tanda-tanda jaman: Konsili sudah menjelaskan apa itu martabat pribadi manusia dan untuk menunaikan tugas individual maupun sosial mana di seluruh dunia ia dipanggil. Sekarang di dalam terang Injil dan pengalaman manusiawi, Konsili mengarahkan hati semua orang kepada beberapa kebutuhan yang lebih mendesak dewasa ini, yang sangat menyangkut umat manusia 25 Ajakan untuk membaca tanda-tanda jaman dipraktekkan dalam setiap GS terutama berkaitan dengan bagaimana menginduksi norma-norma moral untuk mengarahkan kehidupan berkeluarga, kebudayaan, ekonomi, politik dan perdamaian. Metode induktif dan pendekatan yang berkesadaran historik juga dapat kita lihat dalam Octogesima Adveniens, di mana Paulus VI menyadari adanya perbedaan situasi dari daerah yang satu dengan lainnya, maka sangat sulitlah bagi Gereja untuk memberi jawaban atas persoalan sosial yang bersifat universal. Mengingat pelbagai situasi itu, yang dalam banyak hal serba berbeda, kami merasa sulit menyampaikan pesan yang senada dan mengemukakan pemecahan yang berlaku di mana-mana. Itu sebab bukan yang kami citacitakan, bukan misi kami pula. Merupakan tugas jemaat-jemaat kristiani menganalis secara obyektif situasi yang khas bagi negeri mereka sendiri, menyinarinya dengan terang amanat Injil yang tidak dapat diubah, dan dari ajaran sosial Gereja menggali asas-asas untuk refleksi, norma-norma untuk penilaian serta pedoman-pedoman untuk bertindak 26 Kesadaran secara historik dan metode induktif juga dapat kita lihat dalam de Iustitia in Mundo(1971) yang mengawali dokumen dengan mengajak orang untuk membaca tanda-tanda jaman. «Kami menyelidiki tanda-tanda jaman dan mencoba menggali makna sejarah yang sedang berlangsung. Sementara itu kami pun mempunyai aspirasi-aspirasi dan pertanyaan-pertanyaan yang ada pada mereka semua, yang hendak membangun dunia yang lebih manusiawi. Kami telah mendengarkan sabda Allah, supaya mengalami pertobatan untuk memenuhi Rencana Ilahi demi keselamatan dunia» 27. Dengan membaca tanda-tanda jaman, para uskup sedunia menyadari bahwa problem ketidakadilan dan penindasan bukan hanya berdimensi individual dan lokal, melainkan berdimensi sosial, struktural dan mondial. Oleh karenanya, untuk mengatasinya tidak cukup hanya dituntut pertobatan hati individual, tetapi dituntut transformasi struktural dan sistem 25 Ibid., art. No Paulus VI, Octogessima Adveniens, art. No Konferensi Para Uskup sedunia, Justice in the World, art. No. 2. Laurentius Tarpin, Moral Katolik Menghadapi Tantangan Jaman 193

13 yang tidak adil dan menindas, baik pada tingkat lokal, nasional dan internasional. Perubahan metode dan pendekatan dalam moral sosial Gereja diikuti oleh perubahan dalam model etik 28 : Model etik pertama adalah model legal-deontologis yang memahami moralitas dalam term kewajiban dan ketaatan pada hukum, keselarasan dengan hukum dan kewajiban, biasanya norma moral dideduksi dari hukum kodrat yang dipahami sebagai partisipasi mahluk rasional dengan akal budi ilahi 29.. Norma-norma moral yang dideduksi dari hukum kodrat tersebut kemudian diterapkan pada persoalan-persoalan konkret. Kelemahan dari model etik ini adalah kurang memperhatikan dimensi personal dan motivasi subyek moral. Dalam situasi ektrem model etik deontologis ini bisa mengarah pada sikap legalistik rigid 30. Di samping itu, model etik deontologis menggarisbawahi adanya tindakan-tindakan yang secara intrinsik malum, terlepas dari motivasi dan tujuannya, seperti tindakan membunuh orang yang tidak bersalah dan berzinah. Model etik kedua adalah model teleologis memahami moralitas dalam term telos, tujuan. Kebaikan dan keburukan moral dilihat dari tujuannya. Model etik teleologis dapat dibedakan menjadi dua, yakni teleologis ekstrinsik dan teleologis intrinsik. Yang dimaksud dengan teleologis ekstrinsik adalah tujuan yang dipisahkan dari pribadi manusia, diidentifikasi dengan konsekuensialisme dan utilitarianisme. Sementara model etik teleologis intrinsik memahami tujuan sebagai kecenderungan konstitutif pribadi manusia, yang mencapai pemenuhannya melalui pencapaian tujuan dengan mana manusia diarahkan, yang dalam etika thomasian disebut tujuan ultimate, yakni kebahagiaan (eudaimonia). Manusia sebagai mahluk berakal budi dan berkehendak bebas dipanggil untuk mengarahkan seluruh hidup dan aktivitasnya untuk mencapai tujuan sesuai kodratnya. Model etik teleologis ini karena menekankan tujuan yang mau dicapai atau konsekuensi yang dihasilkan maka faktor motivasi subyek moral kurang mendapat perhatian, bahkan pada titik ekstrem demi tujuan baik atau kegunaan yang maksimal, orang akan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan tersebut. Menurut model etik teleologis tidak ada tindakan yang secara intrinsik jahat atau buruk sebab yang menentukan kebaikan atau keburukan moral adalah tujuan yang mau dicapai atau akibat yang ditimbulkan oleh suatu perbuatan. 28 Bdk. Charles E. Curran, Catholic Social Teaching 1981-present: A Historical, theological and Ethical Analysis, Georgetown University Press, Washington D.C. 2002, Bdk Pius XI, Ensiklik Quadragesimo Anno, no Untuk melihat perubahan signifikan dalam metode teologi moral dapat dilihat dalam pemaparan Charkes E. Curran dalam bukunya The Living Tradition of Catholic Moral Theology, Notre Dame, University of Notre Dame 1992, Studia Philosophica et Theologica, Vol. 8 No. 2, Oktober 2008

14 Model etik ketiga adalah relasionalitas-tanggung jawab, yakni model etik yang memahami manusia dalam relasinya dengan Allah, sesamanya, dirinya dan dengan alam. Dengan adanya perubahan pendekatan dari klasicisme menuju metode berkesadaran secara historik, dan dengan memberi penekanan pada pribadi manusia, kebebasan, partisipasi dan kesamaan serta kesadaran atas dimensi global-planetaria persoalan sosial, maka dibutuhkan model etik relationalitas-tanggungjawab. Hal ini dapat kita lihat dalam Gaudium et Spes: Di seluruh dunia semakin meningkat kesadaran akan otonomi dan tanggung jawab, dan itu penting sekali bagi kematangan rohani maupun moril umat manusia. Itu semakin jelas bila kita sadari proses menyatunya dunia serta tugas panggilan kita, untuk membangun dunia yang lebih baik dalam kebenaran dan keadilan. Maka demikianlah kita menjadi saksi lahirnya humanisme baru ; di situlah manusia pertama-tama ditandai oleh tanggungjawabnya atas sesamanya maupun sejarahnya 31. Oleh karenanya harus diatasi etika individualistik dan harus dikembangkan dan dipromosikan etika solidaritas global dan tanggung jawab sosial. Perubahan model etik ini terjadi karena adanya perubahan pendekatan, yakni dari pendekatan klasik yang deduktif menuju pendekatan yang berkesadaran historik yang induktif, dengan memberi tekanan pada pribadi manusia sebagai subyek dan kesadaran atas dimensi global persoalan sosial-politik-ekonomi-kultural yang menuntut pendekatan holistik yang melibatkan tanggungjawab bersama. Model ini sangat dibutuhkan pada jaman sekarang yang ditandai oleh globalisasi politik, ekonomi, sosial dan budaya yang dipicu oleh kemajuan di bidang teknologi komunikasi sosial. Berhadapan dengan dampak negatif globalisasi yang melahirkan eksklusivikasi dan marginalisasi, Gereja menawarkan visi antropologi kristiani yang memberikan pemahaman tentang manusia yang holistik, yang terdiri dari jiwa dan badan, memiliki dimensi individual dan sosial serta memiliki kemampuan untuk bertransendensi diri melalui kemampuan akal budinya. Gereja memberikan tuntunan dan prinsip-prinsip moral sosial, yakni primat pribadi manusia, solidaritas, subsidiaritas, bonum comune, dan the preferential option for the poor untuk memanusiawikan globalisasi. Selain perubahan dalam metode, kita juga dapat melihat perubahan dalam sikap Gereja terhadap beberapa ide yang ditolak sebelumnya. Kalau kita mencermati apa yang terjadi pada Konsili Vatikan II, kita melihat adanya perubahan besar dalam sikap Gereja terhadap ide-ide kemodernan, dari sikap reaktif-apologetik menjadi sikap reflective, aseptik-dialogis. Apa yang dicurigai di masa lalu, seperti ide demokrasi, kebebasan 31 Konsili Vatikan II, Gaudium et Spes., art. No.55. Laurentius Tarpin, Moral Katolik Menghadapi Tantangan Jaman 195

15 beragama, parstisipasi, otonomi hal-ihwal duniawi dalam KV II diterima dan diaffirmasi 32. Kita juga melihat perubahan sikap Gereja terhadap gerakan hak asasi manusia. Gereja katolik pada awalnya enggan berbicara tentang hak-hak karena bahaya individualisme eksesif. Namun dalam perjalanan sejarah, Gereja Katolik akhirnya menerima gagasan baru tersebut. Untuk pertama kalinya, dokumen resmi Gereja Katolik memuat dan membahas secara panjang lebar hak-hak asasi manusia dalam ensiklik Pacem in Terris 1963(lihat no ), ensiklik yang muncul sebagai tanggapan atas bahaya perang dingin tahun Sejak saat itu, Gereja menjadi pembela hak-hak asasi manusia sebagaimana ditulis dalam berbagai dokumen-dokumen Gereja 33. Perhatian terhadap pribadi manusia dan subyektivitas juga kental dalam teologi moral sosial pasca KV II. Hal ini dapat kita lihat dalam dukungan dan penerimaan Gereja terhadap ide kebebasan, kesamaan, partisipasi individu, yang sebelumnya ditentang Gereja. Kepekaan dan penerimaan aspirasi terhadap partisipasi dan kesamaan di antara semua orang yang merupakan dua bentuk ungkapan dari martabat pribadi manusia 34. Primat pribadi manusia di atas barang-barang duniawi juga nampak jelas dalam relasi di antara Capital dan Labour yang telah memicu konflik sejak Rerum Novarum sampai Laborem Exercens. Kalau Pius XI dalam ensiklik Quadragesimo Anno melihat relasi antara capital dan labour dalam posisi seimbang, dalam arti modal dan kerja memiliki nilai yang sama penting dalam proses produksi, maka Yohanes Paulus II dalam ensiklik Laborem Exercens menempatkan kerja yang keluar langsung dari pribadi manusia di atas capital 35. Dengan menempatkan primat labour (pribadi manusia) di atas modal maka Yohanes Paulus II meninggalkan ajaran pendahulunya. 36 Di samping itu, Yohanes Paulus II membedakan arti kerja menjadi kerja dalam arti subyektif dan kerja dalam arti obyektif. Dia menempatkan kerja dalam arti subyektif di atas kerja dalam arti obyektif. Dalam konteks ini. Yohanes Paulus II menekankan pentingnya subyektivitas individu dan masyarakat. Berkaitan dengan ajaran moral sosial, Gereja mendasarkan penilaian moralnya pada prinsip hormat terhadap martabat pribadi manusia, prinsip solidaritas, prinsip subsidiaritas, prinsip keadilan, prinsip bonum comune 32 Bdk. Gregory Baum, Theology and Society, New York, Mahwah: Paulist Press 1987, ID., Essays in Critical Theology,Kansas Cirt: Sheed and Wards 1994, Bdk. Yohanes Paulus II, Ensklik Redemptoris Hominis 1979 (no. 17); Ensiklik Sollicitudo Rei Socialis 1987 (no. 34), dan Ensiklik Centesimus Annus 1991 no Paulus VI, Octogessima Adveniens no Yohanes Paulus II, Ensiklik Laborem Exercensm no Leo XIII dan Pius XI berpendapat bahwa modal dan kerja berada dalam tingkat yang sama, kedua-duanya dibutuhkan dalam proses produksi. 196 Studia Philosophica et Theologica, Vol. 8 No. 2, Oktober 2008

16 dan the preferential option for the poor. Keenam prinsip moral tersebut menjadi kriteria sejauh mana suatu sistem atau institusi sungguh-sungguh mempromosikan, membela dan melindungi keluhuran martabat pribadi dan kesejahteraan manusia yang merupakan tujuan dari setiap aktivitas sosial, politik, ekonomi, budaya. Berkaitan dengan moral seksual dan perkawinan, ajaran moral Gereja tetap berpegang pada model pendekatan legalistik hukum kodrat sebagaimana dapat kita lihat dalam dokumen deklarasi tentang Etika Seksual yang dikeluarkan oleh Kongregasi untuk ajaran iman pada th. 1975; Surat kepada para Uskup Gereja Katolik tentang Reksa Pastoral untuk Kaum Homoseks yang dipromulgasikan pada th. 1986; dan Instruksi tentang Hidup Manusia dan Martabat Prokreasi (Donum Vitae) yang dipromulgasikan pada th Dari ketiga dokumen tersebut, penilaian moral dideduksi dari prinsip-prinsip dasar yang dapat dipahami oleh akal budi, yang berasal dari tatanan hukum ilahi dan hukum kodrat. Semua dokumen ini kental dengan world view klasik daripada worldview yang berkesadaran historik. Tekanan diberikan bukan pada pribadi manusia, tetapi pada kodrat kemampuan seksual yang diciptakan Allah untuk dua tujuan, yakni tujuan prokreasi dan tujuan unitif 37. Walau demikian, dalam bidang seksualitas dan perkawinan, kalau kita mencermati sejarah perkembangan ajaran gereja tentang seksualitas dan perkawinan sungguh menunjukkan perubahan signifikan, dari sikap negative menuju sikap yang lebih positif tentang seksualitas 38. Pada masa lalu seksualitas dilihat sebagai sumber dosa dan kejahatan, dan perkawinanpun dilihat sebagai status hidup kelas dua dibandingkan dengan status hidup selibat atau keperawanan. Konsili Vatikan II mendobrak pandangan negative tersebut, dengan menekankan keluhuran dari kedua bentuk status hidup sebagaimana dijabarkan dalam Gaudium et Spes Berdasarkan Konsili Vatikan II kaum awam dan kaum klerus, serta religius dipanggil untuk menanggapi panggilan universal yakni menggapai kekudusan dan kesempurnaan hidup. Kaum awam juga berpartisapasi dalam fungsi rajawi, imamat dan kenabian Yesus Kristus. 37 Berkaitan dengan Moral seksualitas dalam Gereja Katolik, Charles Curran memberikan evaluasi kritis dalam bukunya The Living Tradition of Catholic Moral Theology, Notre Dane, University of Notre Dame 1992, Pandangan negatif tentang seks dan seksualitas terutama dipengaruhi oleh pandangan filsafat platonisme dan neoplatonisme yang begitu berpengaruh pada pandangan teologi moral seksualitas dan perkawinan sebagaimana dikembangkan oleh Agustinus. Laurentius Tarpin, Moral Katolik Menghadapi Tantangan Jaman 197

17 4. Yesus sebagai Paradigma dalam Kehidupan Moral 39 Di dalam kristianitas, pengajaran moral didasarkan pada pewartaan tentang tindakan penyelamatan Allah dalam diri Yesus. Di dalam Injil kita menemukan banyak perkataan-perkataan Yesus dan perumpamaan yang sarat dengan nilai-nilai moral. Yang paling sentral adalah seruan pertobatan yang dikaitkan dengan pewartaan Kerajaan Allah yang sudah mendekat. «Waktunya sudah genap, Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah pada Injil» (Mrk. 1: 15). Dalam hal ini jelas, bahwa kerajaan Allah sudah datang, tetapi belum mencapai pemenuhan akhir. Ketegangan antara sudah datang dan masih akan mencapai penyempurnaannya, menuntut tanggapan manusia dengan hidup sebagai orang-orang yang sedang menantikan pemenuhan akhir. Kata-kata injil sangat provokatif: awas, waspadalah, berjaga-jagalah, bersiap-siaplah. Keseriusan situasi menuntut orang untuk sampai pada keputusan yang tepat dan radikal. Di samping itu, dalam surat-surat Paulus kita bisa menemukan banyak pernyataan-pernyataan doktrinal tentang misteri Yesus Kristus yang kemudian diikuti oleh tuntutan dan imperatif moral. Sebagai contoh dalam Gal. 5:1 Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita (indikatif), karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan (imperatif). Lebih lanjut Paulus menasihatkan, Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka (indikatif). Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih (Imperatif) (Gal. 5:13). Yesus memberikan ajaran moral sejalan dengan pemahaman bahwa Allah telah membuat perjanjian dengan UmatNya. Namun perjanjian tersebut telah dirusak oleh kesombongan manusia, di mana manusia mengkhianati komitment perjanjian. Kendati demikian, Allah tetap mencintai manusia dan memperbaharui perjanjian tersebut melalui Yesus PuteraNya sendiri. Dalam kerangka ini, Yesus menyerukan pertobatan sebagai syarat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Pertobatan atau metanoia dipahami sebagai perubahan orientasi hidup, perubahan hati dan budi, perubahan opsi dasar, perubahan cara berpikir dan melihat realita (Mrk. 1:15) Ajaran moral Yesus sangat padat dimuat dalam kotbah di bukit yang dapat dijadikan magna carta umat perjanjian baru. Kotbah di bukit diawali dengan penjungkirbalikkan tatanilai : yang dikatakan berbahagia adalah orang-orang yang menurut logika dan kaca mata dunia adalah orang-orang 39 Richard M. Gula, S.S, What are they saying about Moral Norms?, Paulist Press, New York 1982, Studia Philosophica et Theologica, Vol. 8 No. 2, Oktober 2008

18 yang malang : mereka yang miskin, manangis, dianiaya karena keadilan dan kebenaran. Mereka yang dikatakan berbahagia adalah mereka yang lembut hati, tulus hati, mereka yang menjadi pembawa damai, mereka yang disiksa demi nama Yesus dan InjilNya (Mat. 5 : 3-12). Yesus menuntut para pengikutnya untuk menjadi garam dan terang dunia, memiliki iman yang produktif, iman yang kreatif dan mengubah dunia, membawa orang lain kepada Allah karena melihat perbuatanperbuatan baik kita (keadilan dan belas kasih) (Mat. 5 : // Mat. 7 : 15-27// Mat. 25 :31-46). Yesus menegaskan bahwa dirinya datang ke dunia untuk menggenapi dan menyempurnakan hukum Taurat dan Kitab para Nabi. Bahkan Yesus telah menggenapkan hukum Taurat dalam dirinya sendiri dengan menetapkan perjanjian baru dan kekal. Dalam konteks ini, Yesus menawarkan interpretasi kreatif dan radikal isi Dekalog. Pertama-tama Yesus menekankan bahwa seorang pengikut Yesus dituntut untuk memiliki keadilan yang jauh lebih tinggi daripada keadilan kaum Farisi dan ahli Taurat (Mat. 5 : 20). Keadilan yang didasarkan bukan pada pemenuhan hukum dan perintah-perintah, tetapi keadilan karena iman kepada Yesus, keadilan yang didasari oleh belas kasih. Di hadapkan pada sikap orang Farisi dan Ahli Taurat yang menekankan tindakan lahiriah dan legalistik, maka moralitas Yesus menekankan disposisi batin, sikap batin, actus internus. Oleh karenanya, Yesus sangat geram dan marah pada sikap munafik kaum Farisi. Bagi Yesus, tindakan internal dan hati manusia adalah basis moralitas (Mrk. 7: 17-23). Perintah-perintah Allah harus diterapkan pada seluruh pribadi manusia, bukan hanya pada tindakan lahiriah, tetapi lebih-lebih menyentuh sikap batin (Mat. 5:27). Dalam hal ini, Yesus bukan hanya melarang tindakan pembunuhan, tetapi juga menuntut orang untuk mencabut akar terdalam yang menyebabkan tindakan pembunuhan, yakni kemarahan yang membahana. Yesus tidak hanya melarang tindakan perzinahan, tetapi Ia menuntut orang untuk mencabut akar perzinahan, yakni hati yang penuh nafsu, libido seksualis yang tidak terkendali (Mat. 5: 28). Dalam konteks ini Yesus menggarisbawahi moralitas adalah actus internus yang mencakup kepribadian manusia secara keseluruhan, bukan hanya terbatas pada tindakan tertentu. Berkaitan dengan anggota tubuh yang membuat batu sandungan, maka Yesus menuntut penyembuhan radikal: memotong tangan dan kaki, mencukil mata yang menyesatkan (Mat. 5: 29). Berhadapan dengan sikap rigid, kaku dan lagalistik kaum Farisi dan ahli Taurat berkaitan dengan hari Sabat, maka Yesus mengembalikan hari sabat pada motivasi awalnya: melindungi martabat pribadi manusia, Laurentius Tarpin, Moral Katolik Menghadapi Tantangan Jaman 199

19 sebagai wujud pembebasan. Hari sabat untuk manusia bukan manusia untuk hari Sabat (Mrk. 2: 28). Yesus bergerak melampaui tulisan hukum untuk menampakkan kasih dan kebaikan Allah, dengan menyembuhkan (membebaskan) orang pada hari sabat, dengan berkata, manakah diperbolehkan pada hari Sabat, melakukan kebaikan atau kejahatan; menyelamatkan orang atau membunuh orang (Mrk. 3:4). Bahkan Yesus menegaskan dirinya sebagai Tuhan atas hari Sabat. Moralitas kristiani adalah moralitas hidup mengikuti Yesus dan meniru cara hidup Yesus ( sequella Christi et imitatio Christi), yang merupakan pemenuhan seluruh hukum, Dialah hukum baru bagi setiap orang yang mau hidup sempurna. Mengikuti Yesus artinya kita hidup seperti Yesus hidup: dalam ajaran moralnya, Yesus memusatkan pengajaran moralnya pada kasih yang berdimensi ganda: kasih kepada Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap budi dan kekuatan dan mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri. Moralitas kristiani dapat dikatakan sebagai moralitas sequella Christi et imitatio Christi. Mengikuti dan menjadi murid Yesus mengandung arti: mengikuti jalan Cinta. Mencintai seperti Yesus mencintai: cinta yang radikal dan total, gratuit dan indiskriminatif, altruis dan oblatif, universal; ingat kisah orang Samaria yang baik hati (Luk 10: 25-37). Menjadi sesama orang yang membutuhkan. Cinta yang mencapai titik kulminasinya dalam tindakan pemberian diri (Yoh. 15:13). Yesus memperluas cakupan cinta, dengan tuntutannya untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita (Mat. 5:44). Mengikuti jalan pelayanan: Melayani sebagaimana Yesus melayani Aku datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani. Pelayanan seorang guru yang diungkapkan dalam tindakan simbolik Yesus mencuci kaki para rasul (Yoh. 13:1-13). Mengikuti jalan pengampunan: Mengampuni sebagaimana Yesus mengampuni Ya Bapa ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat! Kemampuan untuk mengampuni akan membebaskan orang dari sikap balas dendam dan berani membalas kejahatan dengan kebaikan. Pengampunan tanpa batas (lihat Mat. 18: ; Rom 12: 9-21). Hal ini hanya mungkin terjadi kalau orang mampu mentransformasi makna pengalaman kontras-negatif, memurnikan dan menyembuhkan memori yang pahit-menyakitkan. Mengikuti jalan ketaatan: Taat seperti Yesus taat, taat sampai mati di salib, pengosongan diri (kidung salib Filipi 2, 5-11). Hidup bukan diatur oleh kehendak sendiri, tetapi oleh kehendak Allah; hidup tidak diperbudak oleh nafsu dan naluri, tetapi mengendalikan dan menguasinya. Mengikuti jalan kerendahan hati dan pengosongan diri (Fil. 2: 1-11); jalan kelembutan: Lembut dan rendah hati sebagai mana Yesus lembut dan rendah hati (Mat. 11: 25-30). Menjaga keseimbangan antara hidup aktif dan kontemplatif. Hidup yang berawal 200 Studia Philosophica et Theologica, Vol. 8 No. 2, Oktober 2008

BAB I PENDAHULUAN. imannya itu kepada Kristus dalam doa dan pujian. Doa, pujian dan kegiatan-kegiatan liturgi

BAB I PENDAHULUAN. imannya itu kepada Kristus dalam doa dan pujian. Doa, pujian dan kegiatan-kegiatan liturgi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penulisan Gereja adalah persekutuan umat beriman yang percaya kepada Kristus. Sebagai sebuah persekutuan iman, umat beriman senantiasa mengungkapkan dan mengekspresikan

Lebih terperinci

RELIGIUS SEBAGAI MISTIK DAN NABI DI TENGAH MASYARAKAT Rohani, Juni 2012, hal Paul Suparno, S.J.

RELIGIUS SEBAGAI MISTIK DAN NABI DI TENGAH MASYARAKAT Rohani, Juni 2012, hal Paul Suparno, S.J. 1 RELIGIUS SEBAGAI MISTIK DAN NABI DI TENGAH MASYARAKAT Rohani, Juni 2012, hal 25-28 Paul Suparno, S.J. Suster Mistika dikenal oleh orang sekitar sebagai seorang yang suci, orang yang dekat dengan Tuhan,

Lebih terperinci

MATERI I MATERI I. subyek yang ikut berperan

MATERI I MATERI I. subyek yang ikut berperan subyek yang ikut berperan 14 1 7. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI Menurut Anda pribadi, manakah rencana Allah bagi keluarga Anda? Dengan kata lain, apa yang menjadi harapan Allah dari keluarga Anda? Menurut Anda

Lebih terperinci

KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN

KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN KEADILAN, PERDAMAIAN DAN KEUTUHAN CIPTAAN DALAM KONSTITUSI KITA Kita mengembangkan kesadaran dan kepekaan terhadap masalah-masalah keadilan, damai dan keutuhan ciptaan.para suster didorong untuk aktif

Lebih terperinci

Suster-suster Notre Dame

Suster-suster Notre Dame Suster-suster Notre Dame Diutus untuk menjelmakan kasih Allah kita yang mahabaik dan penyelenggara Para suster yang terkasih, Generalat/Rumah Induk Roma Paskah, 5 April 2015 Kisah sesudah kebangkitan dalam

Lebih terperinci

BAB V GEREJA DAN DUNIA

BAB V GEREJA DAN DUNIA 1 BAB V GEREJA DAN DUNIA STANDAR KOMPETENSI Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan ber-gereja sesuai dengan

Lebih terperinci

KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1

KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1 1 KELUARGA DAN PANGGILAN HIDUP BAKTI 1 Pontianak, 16 Januari 2016 Paul Suparno, S.J 2. Abstrak Keluarga mempunyai peran penting dalam menumbuhkan bibit panggilan, mengembangkan, dan menyertai dalam perjalanan

Lebih terperinci

PASTORAL DIALOGAL. Erik Wahju Tjahjana

PASTORAL DIALOGAL. Erik Wahju Tjahjana PASTORAL DIALOGAL Erik Wahju Tjahjana Pendahuluan Konsili Vatikan II yang dijiwai oleh semangat aggiornamento 1 merupakan momentum yang telah menghantar Gereja Katolik memasuki Abad Pencerahan di mana

Lebih terperinci

3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan

3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan 3. Apa arti keadilan? 4. Apa arti keadilan menurut keadaan, tuntutan dan keutamaan? 5. Apa Perbedaan keadilan komutatif, distributive dan keadilan legal? 6. Sebutkan sasaran yang dikritik Nabi Amos! 7.

Lebih terperinci

BAGIAN SATU PENGAKUAN IMAN

BAGIAN SATU PENGAKUAN IMAN Bagian Satu 11 Kompendium Katekismus Gereja Katolik *************************************************************** BAGIAN SATU PENGAKUAN IMAN 12 Kompendium 14 Kompendium Lukisan ini menggambarkan tindakan

Lebih terperinci

Suster-suster Notre Dame

Suster-suster Notre Dame Suster-suster Notre Dame Diutus untuk menjelmakan kasih Allah kita yang mahabaik dan penyelenggara Generalat / Rumah Induk Roma Pentekosta, 2013 Para Suster yang terkasih, Pada hari Pentakosta anggur baru

Lebih terperinci

Sukacita atas belas kasih Allah

Sukacita atas belas kasih Allah Sukacita atas belas kasih Allah Kehadiran gereja hendaknya menampakkan belas kasih Allah baik melalui paroki, komunitas, kelompok asosiasi dan gerakan lainnya; atau dengan kata lain kehadiran orang Kristen

Lebih terperinci

Katekese Sakramen Tobat

Katekese Sakramen Tobat Katekese Sakramen Tobat Dalam KATEKISMUS GEREJA KATOLIK (KGK), Sakramen Tobat dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit dikelompokkan dalam sebutan Sakramen Penyembuhan. Sakramen ini berdayaguna untuk menyembuhkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia sebagai persona pertama-tama karena ke-diri-annya (self). Artinya, self

BAB I PENDAHULUAN. manusia sebagai persona pertama-tama karena ke-diri-annya (self). Artinya, self BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia tidak hanya dipahami sebagai individu, melainkan sebagai persona. 1 Sifat individual berarti ia sebagai ada yang dapat dibedakan dengan ada yang lain dari satu

Lebih terperinci

Santo Yohanes Rasul adalah orang yang sejak semula boleh mengalami kasih Yesus secara istimewa.

Santo Yohanes Rasul adalah orang yang sejak semula boleh mengalami kasih Yesus secara istimewa. 1. Allah, Sumber Segala Kasih Santo Yohanes Rasul adalah orang yang sejak semula boleh mengalami kasih Yesus secara istimewa. Pada perjamuan malam ia boleh duduk dekat Yesus dan bersandar dekat dengan

Lebih terperinci

GEREJA KRISTEN NAZARENE PASAL-PASAL TENTANG IMAN

GEREJA KRISTEN NAZARENE PASAL-PASAL TENTANG IMAN GEREJA KRISTEN NAZARENE PASAL-PASAL TENTANG IMAN I Allah Tritunggal Kami percaya kepada satu Allah yang tidak terbatas, yang keberadaan-nya kekal, Pencipta dan Penopang alam semesta yang berdaulat; bahwa

Lebih terperinci

UJIAN SEMESTER I SEKOLAH BINA NUSANTARA Tahun Ajaran

UJIAN SEMESTER I SEKOLAH BINA NUSANTARA Tahun Ajaran UJIAN SEMESTER I SEKOLAH BINA NUSANTARA Tahun Ajaran 2008 2009 L E M B A R S O A L Mata pelajaran : Pendidikan Agama Katolik Kelas : 8 Hari / tanggal : Waktu : 60 menit PETUNJUK UMUM : 1. Tulislah nama

Lebih terperinci

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL

KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL Warta 22 November 2015 Tahun VI - No.47 KELUARGA KATOLIK: SUKACITA INJIL Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia IV (sambungan minggu lalu) Tantangan Keluarga dalam Memperjuangkan Sukacita Anglia 9.

Lebih terperinci

12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 12. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama

Lebih terperinci

Selama ini selain bulan Mei, kita mengenal bulan Oktober adalah bulan Maria yang diperingati setiap

Selama ini selain bulan Mei, kita mengenal bulan Oktober adalah bulan Maria yang diperingati setiap Pengantar Selama ini selain bulan Mei, kita mengenal bulan Oktober adalah bulan Maria yang diperingati setiap tahunnya oleh seluruh umat katolik sedunia untuk menghormati Santa Perawan Maria. Bapa Suci

Lebih terperinci

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E)

10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) 10. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Kristen untuk Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa Tunalaras (SMPLB E) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi

Lebih terperinci

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan 11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik Sekolah Menengah Pertama (SMP) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan

Lebih terperinci

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD)

11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) 11. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik untuk Sekolah Dasar (SD) A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan

Lebih terperinci

APA KATA TUHAN? RENUNGAN SINGKAT! POKOK ANGGUR YANG BENAR. Yoh 15:1-8

APA KATA TUHAN? RENUNGAN SINGKAT! POKOK ANGGUR YANG BENAR. Yoh 15:1-8 Yoh 15:1-8 POKOK ANGGUR YANG BENAR HARI MINGGU PASKAH V 03 MEI 2015 (1) Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. (2) Setiap ranting pada-ku yang tidak berbuah, dipotong-nya dan setiap

Lebih terperinci

ANTROPOLOGI ALKITAB (Pelajaran 12) By Dr. Erastus Sabdono. Pemulihan Gambar Diri (Bagian 4)

ANTROPOLOGI ALKITAB (Pelajaran 12) By Dr. Erastus Sabdono. Pemulihan Gambar Diri (Bagian 4) ANTROPOLOGI ALKITAB (Pelajaran 12) By Dr. Erastus Sabdono Pemulihan Gambar Diri (Bagian 4) Proses keselamatan dalam Yesus Kristus pada dasarnya adalah proses menjadikan manusia unggul bagi Tuhan. Manusia

Lebih terperinci

HOME. Written by Sr. Maria Rufina, P.Karm Published Date. A. Pembentukan Intelektual dan Spiritual Para Imam

HOME. Written by Sr. Maria Rufina, P.Karm Published Date. A. Pembentukan Intelektual dan Spiritual Para Imam A. Pembentukan Intelektual dan Spiritual Para Imam Di masa sekarang ini banyak para novis dan seminaris yang mengabaikan satu atau lebih aspek dari latihan pembentukan mereka untuk menjadi imam. Beberapa

Lebih terperinci

KEBENARAN SEDERHANA untuk yang BARU PERCAYA. (Pertanyaan dan Jawaban)

KEBENARAN SEDERHANA untuk yang BARU PERCAYA. (Pertanyaan dan Jawaban) KEBENARAN SEDERHANA untuk yang BARU PERCAYA (Pertanyaan dan Jawaban) 1 TUHAN, MANUSIA DAN DOSA * Q. 1 Siapakah yang membuat anda? A. Tuhan yang membuat kita. Kejadian 1:26,27; Kejadian 2:7 Q. 2 Apa lagi

Lebih terperinci

KISI-KISI PENULISAN SOAL. kemampuan

KISI-KISI PENULISAN SOAL. kemampuan KISI-KISI PENULISAN SOAL Jenis Sekolah : SMP Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti Kurikulum : 2006 Alokasi Waktu : 120 Menit Jumlah soal : 40 + 5 Bentuk Soal : Pilihan Ganda dan Uraian

Lebih terperinci

Lesson 9 for May 27, 2017

Lesson 9 for May 27, 2017 Lesson 9 for May 27, 2017 Pada bagian awal dari surat Petrus yang kedua, dia menulis tentang iman sehingga kita supaya juga sesudah kepergianku itu kamu selalu mengingat semuanya itu. (2 Pet 1:15). Dia

Lebih terperinci

Hidup dalam Kasih Karunia Allah 2Kor.6:1-10 Pdt. Tumpal Hutahaean

Hidup dalam Kasih Karunia Allah 2Kor.6:1-10 Pdt. Tumpal Hutahaean Hidup dalam Kasih Karunia Allah 2Kor.6:1-10 Pdt. Tumpal Hutahaean Dalam hidup ini mungkinkah kita sebagai anak-anak Tuhan memiliki kebanggaan-kebanggaan yang tidak bernilai kekal? Mungkinkah orang Kristen

Lebih terperinci

-uhan BERSUKACITA. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. (Joh 15:16)

-uhan BERSUKACITA. Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. (Joh 15:16) -uhan BERSUKACITA dengan panggilan kita Dalam panggilanmu, Tuhan berkata kepadamu: Kamu penting bagi-ku, Aku mencintaimu, Aku memperhitungkanmu. (Paus Fransiskus) Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah

Lebih terperinci

BAB I ARTI DAN MAKNA GEREJA

BAB I ARTI DAN MAKNA GEREJA BAB I ARTI DAN MAKNA GEREJA A. KOMPETENSI 1. Standar Kompetensi Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan

Lebih terperinci

Pdt. Gerry CJ Takaria

Pdt. Gerry CJ Takaria Geli, Jijik, Menakutkan, Bikin Gatal Kelahiran adalah waktu sukacita. Sebuah benih bertunas, dan munculnya dua daun pertama, menjadikan pemilik kebun akan senang. Seorang bayi dilahirkan, dan tangisannya

Lebih terperinci

SPIRITUALITAS MISTIK DAN KENABIAN DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN SEKOLAH KATOLIK Pertemuan MABRI, Muntilan 22 Maret 2014 Paul Suparno, S.J.

SPIRITUALITAS MISTIK DAN KENABIAN DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN SEKOLAH KATOLIK Pertemuan MABRI, Muntilan 22 Maret 2014 Paul Suparno, S.J. SPIRITUALITAS MISTIK DAN KENABIAN DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN SEKOLAH KATOLIK Pertemuan MABRI, Muntilan 22 Maret 2014 Paul Suparno, S.J. Isi singkat 1. Semangat mistik 2. Semangat kenabian 3. Spiritualitas

Lebih terperinci

MATERI V BERTUMBUH DALAM CINTA AKAN KRISTUS MELALUI DOA

MATERI V BERTUMBUH DALAM CINTA AKAN KRISTUS MELALUI DOA BERTUMBUH DALAM CINTA AKAN KRISTUS MELALUI DOA 1. PENGANTAR Keluarga Kristiani dipanggil untuk menjadi rasul kehidupan Setiap pasangan suami-istri dipanggil oleh Tuhan untuk bertumbuh dan berkembang dalam

Lebih terperinci

SPIRITUALITAS EKARISTI

SPIRITUALITAS EKARISTI SPIRITUALITAS EKARISTI SUSUNAN PERAYAAN EKARISTI RITUS PEMBUKA LITURGI SABDA LITURGI EKARISTI RITUS PENUTUP RITUS PEMBUKA Tanda Salib Salam Doa Tobat Madah Kemuliaan Doa Pembuka LITURGI SABDA Bacaan I

Lebih terperinci

Surat Yohanes yang pertama

Surat Yohanes yang pertama 1 Surat Yohanes yang pertama Kami ingin memberitakan kepada kalian tentang Dia yang disebut Firman a yaitu Dia yang memberikan hidup kepada kita dan yang sudah ada sebelum dunia diciptakan. Kami sudah

Lebih terperinci

BAB IV HATI NURANI. 2. KOMPETENSI DASAR Mengenal suara hati, sehingga dapat bertindak secara benar dan tepat

BAB IV HATI NURANI. 2. KOMPETENSI DASAR Mengenal suara hati, sehingga dapat bertindak secara benar dan tepat BAB IV HATI NURANI A. KOMPETENSI 1. STANDAR KOMPETENSI Memahami nilai nilai keteladanan Yesus Kristus sebagai landasan mengembangkan diri sebagai perempuan atau laki laki yang memiliki rupa rupa kemampuan

Lebih terperinci

Pelajaran Enam. Yesus Adalah Kebenaran. mendengar kepalsuan, kesalahan, atau kebohongan; kita tidak mau hidup atau

Pelajaran Enam. Yesus Adalah Kebenaran. mendengar kepalsuan, kesalahan, atau kebohongan; kita tidak mau hidup atau Pelajaran Enam Yesus Adalah Kebenaran Kebenaran dalam agama adalah sangat penting. Sebenarnya kebenaran adalah penting dalam bidang apapun. Manusia ingin mengetahui kebenaran dalam bidang pengobatan, dalam

Lebih terperinci

Kebaktian Paskah Lebih dari Para Pemenang. Roma 8: Pdt. Andi Halim, S.Th.

Kebaktian Paskah Lebih dari Para Pemenang. Roma 8: Pdt. Andi Halim, S.Th. Kebaktian Paskah Lebih dari Para Pemenang Roma 8:31-39 Pdt. Andi Halim, S.Th. Umumnya saat mendengar kata pemenang kita berpikir itu adalah orang yang hebat, yang berprestasi, dan yang luar biasa. Inilah

Lebih terperinci

FIRMAN ALLAH Ujian. Nama Alamat Kota Bangsa Kode Pos. Nilai. Lipat pada garis-garis ini

FIRMAN ALLAH Ujian. Nama Alamat Kota Bangsa Kode Pos. Nilai. Lipat pada garis-garis ini FIRMAN ALLAH Ujian Nama Alamat Kota Bangsa Kode Pos Nilai Lipat pada garis-garis ini FIRMAN ALLAH Ujian 1 Dalam ujian ini ada sepuluh pernyataan. Beberapa diantaranya menyatakan kebenaran, namun ada juga

Lebih terperinci

FIRMAN ALLAH. Ujian. Nama Alamat Kota Bangsa Kode Pos. Nilai. Lipat pada garis-garis ini

FIRMAN ALLAH. Ujian. Nama Alamat Kota Bangsa Kode Pos. Nilai. Lipat pada garis-garis ini FIRMAN ALLAH Ujian Nama Alamat Kota Bangsa Kode Pos Nilai Lipat pada garis-garis ini 16 1 FIRMAN ALLAH Ujian 1 Dalam ujian ini ada sepuluh pernyataan. Beberapa diantaranya menyatakan kebenaran, namun ada

Lebih terperinci

Iman dalam Yesus Kristus

Iman dalam Yesus Kristus 1 Iman dalam Yesus Kristus (Eksposisi 3:9-31) Seperti apakah kita dapat menggambarkan keberdosaan manusia? Mungkin ilustrasi ini tidak sempurna, namun setidaknya kita dapat memeroleh gambaran. Keberdosaan

Lebih terperinci

APA KATA TUHAN? RENUNGAN SINGKAT! FIRMANKU = SALING MENGASIHI MINGGU PASKAH VI 01 MEI Yoh 14: Divisi Kombas - Kepemudaan BPN PKKI

APA KATA TUHAN? RENUNGAN SINGKAT! FIRMANKU = SALING MENGASIHI MINGGU PASKAH VI 01 MEI Yoh 14: Divisi Kombas - Kepemudaan BPN PKKI Yoh 14:23-29 FIRMANKU = SALING MENGASIHI MINGGU PASKAH VI 01 MEI 2016 (23) Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya

Lebih terperinci

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 /2 Maret 2014)

(Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 /2 Maret 2014) (Dibacakan sebagai pengganti homili pada Misa Minggu Biasa VIII, 1 /2 Maret 2014) Para Ibu/Bapak, Suster/Bruder/Frater, Kaum muda, remaja dan anak-anak yang yang terkasih dalam Kristus, 1. Bersama dengan

Lebih terperinci

03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia.

03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. 03. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik A. Latar Belakang Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama menjadi pemandu dalam upaya mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna,

Lebih terperinci

Roh Kudus. Penolong dan Penghibur HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS

Roh Kudus. Penolong dan Penghibur HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS Roh Kudus Penolong dan Penghibur GEREJA YESUS SEJATI Pusat Indonesia Jl. Danau Asri Timur Blok C3 number 3C Sunter Danau Indah Jakarta 14350 Indonesia Telp. (021) 65304150, 65304151

Lebih terperinci

KISI-KISI PENULISAN SOAL UJIAN KENAIKAN KELAS TAHUN PELAJARAN

KISI-KISI PENULISAN SOAL UJIAN KENAIKAN KELAS TAHUN PELAJARAN KISI-KISI PENULISAN SOAL UJIAN KENAIKAN KELAS TAHUN PELAJARAN 2012-2013 Nama Sekolah : SMP. Jumlah : 50 Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Katolik Bentuk :Pilihan Ganda Kelas :VII (Tujuh) Waktu : 90 Menit

Lebih terperinci

PELAJARAN 12 AJARAN SOSIAL GEREJA

PELAJARAN 12 AJARAN SOSIAL GEREJA PELAJARAN 12 AJARAN SOSIAL GEREJA TUJUAN PEMBELAJARAN Pada akhir pelajaran, saya dapat: 1. menjelaskan arti dan latar belakang ajaran sosial Gereja; 2. menjelaskan dengan kata-katanya sendiri sejarah singkat

Lebih terperinci

Tahun C Hari Minggu Biasa III LITURGI SABDA. Bacaan Pertama Neh. 8 : 3-5a

Tahun C Hari Minggu Biasa III LITURGI SABDA. Bacaan Pertama Neh. 8 : 3-5a 1 Tahun C Hari Minggu Biasa III LITURGI SABDA Bacaan Pertama Neh. 8 : 3-5a. 6-7. 9-11 Bagian-bagian Kitab Taurat Allah dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan sehingga pembacaan dimengerti.

Lebih terperinci

Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Tesalonika

Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Tesalonika 1 Surat Paulus yang pertama kepada jemaat Tesalonika Kepada yang kekasih saudara-saudari saya seiman di Tesalonika yaitu kalian yang sudah bersatu dengan Allah Bapa dan Tuhan kita Kristus Yesus: Salam

Lebih terperinci

Baptisan. Mencuci Bersih Dosa HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS

Baptisan. Mencuci Bersih Dosa HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS Baptisan Mencuci Bersih Dosa GEREJA YESUS SEJATI Pusat Indonesia Jl. Danau Asri Timur Blok C3 number 3C Sunter Danau Indah Jakarta 14350 Indonesia Telp. (021) 65304150, 65304151

Lebih terperinci

B. RINGKASAN MATERI 1. Gereja yang satu 2. Gereja yang kudus 3. Gereja yang katolik 4. Gereja yang apostolic

B. RINGKASAN MATERI 1. Gereja yang satu 2. Gereja yang kudus 3. Gereja yang katolik 4. Gereja yang apostolic BAB II SIFAT SIFAT GEREJA A. KOMPTENTSI 1. Standar Kompetensi Memahami karya Yesus Kristus yang mewartakan Kerajaan Allah dan penerusannya oleh Gereja, sehingga dapat mengembangkan hidup bersama dan bergereja

Lebih terperinci

Kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi (Luk 24:49)

Kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi (Luk 24:49) HR KENAIKAN TUHAN : Kis 1:1-11; Ef 1:17-23; Luk 24:46-53 Kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi (Luk 24:49) Sebelum menerima tahbisan imamat,

Lebih terperinci

KISI KISI PENULISAN SOAL US TAHUN PELAJARAN

KISI KISI PENULISAN SOAL US TAHUN PELAJARAN KISI KISI PENULISAN SOAL US TAHUN PELAJARAN 2012 2013 Sekolah : Bentuk soal : PG Mata Pelajaran : Agama Katolik Alokasi wkatu : 120 Menit Kurikulum acuan : KTSP Penyusun : Lukas Sungkowo, SPd Standar Kompetensi

Lebih terperinci

BAB XII MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN. Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Modul ke: Fakultas MKCU. Program Studi Psikologi.

BAB XII MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN. Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. Modul ke: Fakultas MKCU. Program Studi Psikologi. BAB XII Modul ke: 13 MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN Fakultas MKCU Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. www.mercubuana.ac.id Program Studi Psikologi MENJAGA KEUTUHAN CIPTAAN Terima Kasih A. PENDAHULUAN

Lebih terperinci

Written by Rm. Yohanes Indrakusuma, CSE Published Date 1. Pendahuluan

Written by Rm. Yohanes Indrakusuma, CSE Published Date 1. Pendahuluan 1. Pendahuluan Ketika Paus Yohanes XXIII mengundang Konsili Vatikan II untuk bersidang, beliau juga sekaligus mengajak seluruh umat Katolik untuk berdoa, supaya Roh Kudus membarui Gereja. "Perbarui ya

Lebih terperinci

BAB VIII PERKAWINAN AGAMA KATOLIK DAN KETIDAKTERCERAIKANNYA

BAB VIII PERKAWINAN AGAMA KATOLIK DAN KETIDAKTERCERAIKANNYA Modul ke: BAB VIII PERKAWINAN AGAMA KATOLIK DAN KETIDAKTERCERAIKANNYA Fakultas MKCU Dosen : Drs. Petrus Yusuf Adi Suseno, M.H. www.mercubuana.ac.id Program Studi Psikologi PERKAWINAN AGAMA KATOLIK DAN

Lebih terperinci

MATERI II PRIA SEBAGAI SUAMI DAN AYAH DALAM KELUARGA

MATERI II PRIA SEBAGAI SUAMI DAN AYAH DALAM KELUARGA PRIA SEBAGAI SUAMI DAN AYAH DALAM KELUARGA 1. PENGANTAR ikut berperan serta dalam membangun Dalam tema ini akan dibicarakan peranan pria baik sebagai suami maupun ayah dalam keluarga. Sebagai suami jelas

Lebih terperinci

MATERI VI MATERI VI PENGAMPUNAN DALAM KELUARGA: KEMURAHAN HATI ANGGOTA KELUARGA 7. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI 1. PENGANTAR

MATERI VI MATERI VI PENGAMPUNAN DALAM KELUARGA: KEMURAHAN HATI ANGGOTA KELUARGA 7. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI 1. PENGANTAR 7. PERTANYAAN UNTUK DISKUSI Renungkalah sejenak, apakah Anda termasuk orang yang mudah atau sulit untuk memaafkan pasangan Anda dan orang lain? Berikanlah alasannya, mengapa mudah atau mengapa sulit? Bagaimana

Lebih terperinci

Gereja. Tubuh Kristus HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS

Gereja. Tubuh Kristus HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS HIDUP BARU BERSAMA KRISTUS Gereja Tubuh Kristus GEREJA YESUS SEJATI Pusat Indonesia Jl. Danau Asri Timur Blok C3 number 3C Sunter Danau Indah Jakarta 14350 Indonesia Telp. (021) 65304150, 65304151 Faks.

Lebih terperinci

1 1 Dari Paul, Silwanus, dan Timotius.

1 1 Dari Paul, Silwanus, dan Timotius. 1 Tesalonika Salam 1:1 1 1 Dari Paul, Silwanus, dan Timotius. Kepada jemaah Tesalonika yang ada dalam Allah, Sang Bapa kita, dan dalam Isa Al Masih, Junjungan kita Yang Ilahi. Anugerah dan sejahtera menyertai

Lebih terperinci

The State of Incarnation : Humiliation (KEHINAAN KRISTUS)

The State of Incarnation : Humiliation (KEHINAAN KRISTUS) The State of Incarnation : Humiliation (KEHINAAN KRISTUS) Rudi Zalukhu, M.Th BGA : Filipi 2:1-1111 Ke: 1 2 3 APA YANG KUBACA? (Observasi: Tokoh, Peristiwa) APA YANG KUDAPAT? (Penafsiran: Pelajaran, Janji,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. plural. Pluralitas masyarakat tampak dalam bentuk keberagaman suku, etnik,

BAB I PENDAHULUAN. plural. Pluralitas masyarakat tampak dalam bentuk keberagaman suku, etnik, BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Masyarakat dewasa ini dapat dikenali sebagai masyarakat yang berciri plural. Pluralitas masyarakat tampak dalam bentuk keberagaman suku, etnik, kelompok budaya dan

Lebih terperinci

Doa Keutuhan Bahan Dasar Garis Besar 1

Doa Keutuhan Bahan Dasar Garis Besar 1 Dari Gelap Ke Dalam Terang 1 Petrus 2: 9 Garis Besar Proses Menanggalkan Manusia Lama dan Mengenakan Manusia Baru (Efesus 4:22-24) Garis Besar 1 dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan

Lebih terperinci

BUNDA MARIA IBU BIARAWAN-BIARAWATI Rohani, Oktober 2012, hal Paul Suparno, S.J.

BUNDA MARIA IBU BIARAWAN-BIARAWATI Rohani, Oktober 2012, hal Paul Suparno, S.J. 1 BUNDA MARIA IBU BIARAWAN-BIARAWATI Rohani, Oktober 2012, hal 25-28 Paul Suparno, S.J. Bulan Oktober adalah bulan Maria. Banyak orang menyempatkan diri untuk menghormati Bunda Maria dan mohon bimbingannya

Lebih terperinci

BAB III Tuntutan Ketaatan terhadap Pertumbuhan Gereja

BAB III Tuntutan Ketaatan terhadap Pertumbuhan Gereja BAB III Tuntutan Ketaatan terhadap Pertumbuhan Gereja A. Amanat Agung dan Tuntutan Ketaatan terhadap Pertumbuhan Gereja Amanat Agung Yesus Kristus diterima sebagai tugas atau mandat misi yang disampaikan

Lebih terperinci

Revelation 11, Study No. 37 in Indonesian Langguage. Seri kitab Wahyu pasal 11, Pembahasan No. 37, oleh Chris McCann

Revelation 11, Study No. 37 in Indonesian Langguage. Seri kitab Wahyu pasal 11, Pembahasan No. 37, oleh Chris McCann Revelation 11, Study No. 37 in Indonesian Langguage Seri kitab Wahyu pasal 11, Pembahasan No. 37, oleh Chris McCann Selamat malam dan selamat datang di pemahaman Alkitab EBible Fellowship dalam Kitab Wahyu.

Lebih terperinci

Untuk mengenal arti pembaruan karismatik, baiklah kita tanyakan apa tujuan yang ingin dicapainya.

Untuk mengenal arti pembaruan karismatik, baiklah kita tanyakan apa tujuan yang ingin dicapainya. Untuk mengenal arti pembaruan karismatik, baiklah kita tanyakan apa tujuan yang ingin dicapainya. Sesungguhnya tujuan pembaruan karismatik bukan lain daripada tujuan hidup Kristiani pada umumnya, yaitu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW

BAB I PENDAHULUAN UKDW BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Tidak seorangpun ingin dilahirkan tanpa dekapan lembut seorang ibu dan perlindungan seorang ayah. Sebuah kehidupan baru yang telah hadir membutuhkan kasih untuk bertahan

Lebih terperinci

telah diungkapkan oleh nabi Yoel :

telah diungkapkan oleh nabi Yoel : Pembaharuan karismatik telah memberikan suatu fenomena baru dalam Gereja Katolik dewasa ini terutama bagi mereka yang terbuka terhadap karisma-karisma Roh Kudus. Hal ini memperlihatkan apa yang telah diungkapkan

Lebih terperinci

Sapientia Cordis (Kebijaksaan Hati)

Sapientia Cordis (Kebijaksaan Hati) Sapientia Cordis (Kebijaksaan Hati) Saya adalah mata bagi orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh (Ayb 29:15) Saudara-saudari terkasih, Pada Hari Orang Sakit Sedunia ke-32 ini, yang dimulai oleh St. Yohanes

Lebih terperinci

Pertumbuhan Dalam Masyarakat

Pertumbuhan Dalam Masyarakat Pertumbuhan Dalam Masyarakat Pernahkah saudara memikirkan bagaimana seseorang bertumbuh? Seorang bayi yang memulai hidup ini hanya dapat menangis dan makan. Dalam waktu satu setengah tahun ia sudah dapat

Lebih terperinci

dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014

dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014 SURAT GEMBALA PRAPASKA 2014 KEUSKUPAN AGUNG SEMARANG dibacakan pada hari Sabtu-Minggu, 1-2 Maret 2014 Allah Peduli dan kita menjadi perpanjangan Tangan Kasih-Nya untuk Melayani Saudari-saudaraku yang terkasih,

Lebih terperinci

Allah Adalah Pola Bagi Hidup Kita

Allah Adalah Pola Bagi Hidup Kita Allah Adalah Pola Bagi Hidup Kita Banyak negara yang memiliki peribahasa seperti "Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan juga." Suatu hal yang menarik tentang keluarga ialah kemiripan antara anggotaanggota

Lebih terperinci

RESENSI BUKU Keselamatan Milik Allah Kami - bagi milik

RESENSI BUKU Keselamatan Milik Allah Kami - bagi milik RESENSI BUKU Judul : Keselamatan Milik Allah Kami Penulis : Christopher Wright Penerbit : Surabaya: Literatur Perkantas Jawa Timur Tahun : 2011 Halaman : 225 halaman Dalam buku ini Christopher Wright berupaya

Lebih terperinci

LITURGI SABDA. Bacaan pertama (Kel 20:1-17) Hukum telah diberikan melalui Musa. Bacaan diambil dari Kitab Keluaran

LITURGI SABDA. Bacaan pertama (Kel 20:1-17) Hukum telah diberikan melalui Musa. Bacaan diambil dari Kitab Keluaran TAHN B - Hari Minggu Prapaskah 8 Maret 2015 LTRG SABDA Bacaan pertama (Kel 20:1-17) Hukum telah diberikan melalui Musa. Bacaan diambil dari Kitab Keluaran Di Gunung Sinai Allah berfirman begini: Akulah

Lebih terperinci

UKDW BAB I PENDAHULUAN

UKDW BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Indonesia merupakan negara di wilayah Asia secara geografis yang diwarnai oleh dua kenyataan, yaitu kemajemukan agama dan kebudayaan, serta situasi kemiskinan

Lebih terperinci

Status Rohani Seorang Anak

Status Rohani Seorang Anak Status Rohani Seorang Anak PENDAHULUAN Kita yang melayani anak-anak di gereja atau di yayasan gerejawi perlu memiliki keyakinan tentang status rohani seorang anak di hadapan Tuhan, berdasarkan Firman Tuhan.

Lebih terperinci

1.2 Menegakkan Kerajaan Allah dalam Modernisasi Indonesia: O. Notohamidjojo...33

1.2 Menegakkan Kerajaan Allah dalam Modernisasi Indonesia: O. Notohamidjojo...33 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...v DAFTAR ISI...x DAFTAR SINGKATAN...xv DISSERTATION ABSTRACT... xvii PENDAHULUAN 1. Latar Belakang...1 2. Pokok Studi...5 2.1 Studi-Studi Sebelumnya dan Pentingnya Studi Ini...5

Lebih terperinci

Pdt Gerry CJ Takaria

Pdt Gerry CJ Takaria KESATUAN ALKITAB DAN GEREJA ATAU JEMAAT Roh Kudus merupakan kekuatan penggerak di belakang kesatuan Jemaat (Ef. 4:4-6). Dengan memanggil mereka dari pelbagai suku-bangsa, Roh Kudus membaptiskan mereka

Lebih terperinci

SAKRAMEN BAPTISAN KUDUS DALAM GEREJA REFORMED

SAKRAMEN BAPTISAN KUDUS DALAM GEREJA REFORMED SAKRAMEN BAPTISAN KUDUS DALAM GEREJA REFORMED Di dalam Pengakuan Iman Westminster, BAB XXVIII, point 1-4, mengenai Baptisan, disebutkan sebagai berikut: 1. Baptisan merupakan suatu sakramen Perjanjian

Lebih terperinci

IDENTITAS KRISTEN DAN PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI TENGAH KEMAJEMUKAN Fonita Babang Noti, I Putu Ayub Darmawan STT Simpson

IDENTITAS KRISTEN DAN PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI TENGAH KEMAJEMUKAN Fonita Babang Noti, I Putu Ayub Darmawan STT Simpson IDENTITAS KRISTEN DAN PERAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DI TENGAH KEMAJEMUKAN Fonita Babang Noti, I Putu Ayub Darmawan STT Simpson ABSTRAK Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk. Hidup dalam

Lebih terperinci

Hari Pertama Kerajaan Kristus Bagi Gereja-Nya Bagi Dunia Kita Hari Kedua Doakan Yang Menyatukan Bagi Gereja-Nya Bagi Dunia Kita Hari Ketiga

Hari Pertama Kerajaan Kristus Bagi Gereja-Nya Bagi Dunia Kita Hari Kedua Doakan Yang Menyatukan Bagi Gereja-Nya Bagi Dunia Kita Hari Ketiga Hari Pertama Kamis, 25 Mei 2006 Kerajaan Kristus...dan berbicara kepada mereka tentang Kerajaan Allah. Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem,

Lebih terperinci

Siapakah orang Kristen Baptis dan Apa yang mereka percayai?

Siapakah orang Kristen Baptis dan Apa yang mereka percayai? Siapakah orang Kristen Baptis dan Apa yang mereka percayai? Buku ini menjelaskan mengenai dua belas ajaran dasar dari umat Kristen Baptis. Dasar kepercayaan ini tidak hanya khusus untuk orang Kristen Baptis,

Lebih terperinci

1 Tesalonika 1. 1 Tesalonika 2

1 Tesalonika 1. 1 Tesalonika 2 1 Tesalonika 1 Salam 1 Dari Paulus, Silwanus dan Timotius kepada jemaat orang-orang Tesalonika yang di dalam Allah Bapa dan di dalam Tuhan Yesus Kristus. Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu.

Lebih terperinci

Menemukan Rasa Aman Sejati

Menemukan Rasa Aman Sejati Modul 11: Menemukan Rasa Aman Sejati Menemukan Rasa Aman Sejati Diterjemahkan dari Out of Darkness into Light Wholeness Prayer Basic Modules 2014, 2007, 2005, 2004 Freedom for the Captives Ministries Semua

Lebih terperinci

Dengan membaca buku ini kita akan banyak dibantu mengambil keputusan-keputusan etis yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab.

Dengan membaca buku ini kita akan banyak dibantu mengambil keputusan-keputusan etis yang sesuai dengan prinsip-prinsip Alkitab. Di dalam kehidupan kita banyak menjumpai persoalan-persoalan etika. Kalau persoalan itu jelas benar atau salah, kita dengan mudah dapat membuat keputusan. Tetapi kalau keputusan menyangkut banyak hal yang

Lebih terperinci

Respon & Tanggung Jawab Umat Tebusan Tuhan 1 Ptr. 1:13-16 Ev. Calvin Renata

Respon & Tanggung Jawab Umat Tebusan Tuhan 1 Ptr. 1:13-16 Ev. Calvin Renata Respon & Tanggung Jawab Umat Tebusan Tuhan 1 Ptr. 1:13-16 Ev. Calvin Renata Dalam ayat 1 12, Petrus telah menjabarkan apa yang telah Allah kerjakan bagi kita: Allah telah melahirbarukan kita, memberikan

Lebih terperinci

42. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK

42. KOMPETENSI INTI DAN KOMPETENSI DASAR PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK 42. KOMPETENSI INTI DAN PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI SMA/SMK KELAS: X Kompetensi Sikap Spiritual, Kompetensi Sikap Sosial, Kompetensi Pengetahuan, dan Kompetensi Keterampilan secara keseluruhan

Lebih terperinci

UKDW BAB I. Pendahuluan. 1. Latar Belakang Masalah. Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah

UKDW BAB I. Pendahuluan. 1. Latar Belakang Masalah. Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah BAB I Pendahuluan 1. Latar Belakang Masalah Secara umum dipahami bahwa orang Indonesia harus beragama. Ini salah satunya karena Indonesia berdasar pada Pancasila, dan butir sila pertamanya adalah Ketuhanan

Lebih terperinci

Tahun C Hari Minggu Biasa XIII LITURGI SABDA. Bacaan Pertama 1 Raj. 19 : 16b Bersiaplah Elisa, lalu mengikuti Elia.

Tahun C Hari Minggu Biasa XIII LITURGI SABDA. Bacaan Pertama 1 Raj. 19 : 16b Bersiaplah Elisa, lalu mengikuti Elia. 1 Tahun C Hari Minggu Biasa XIII LITURGI SABDA Bacaan Pertama 1 Raj. 19 : 16b. 19-21 Bersiaplah Elisa, lalu mengikuti Elia. Bacaan diambil dari Kitab Pertama Raja-Raja: Sekali peristiwa Tuhan berkata kepada

Lebih terperinci

Yesus Adalah Korban Pendamaian Manusia. ingin mengikuti kehendak dan kemauan hati diri sendiri. Hal-hal yang dikejar

Yesus Adalah Korban Pendamaian Manusia. ingin mengikuti kehendak dan kemauan hati diri sendiri. Hal-hal yang dikejar Pelajaran Tujuh Yesus Adalah Korban Pendamaian Manusia Kita manusia sudah lama berlawanan dengan Tuhan Allah. Manusia biasanya ingin mengikuti kehendak dan kemauan hati diri sendiri. Hal-hal yang dikejar

Lebih terperinci

ULANGAN AKHIR SEMESTER GASAL SEKOLAH DASAR KECAMATAN SELO TAHUN PELAJARAN 2012 / 2013

ULANGAN AKHIR SEMESTER GASAL SEKOLAH DASAR KECAMATAN SELO TAHUN PELAJARAN 2012 / 2013 ULANGAN AKHIR SEMESTER GASAL SEKOLAH DASAR KECAMATAN SELO TAHUN PELAJARAN 2012 / 2013 Nama Sekolah : Nama Siswa : Mata Pelajaran : Pendidikan Agama Kristen Hari, tanggal : No. Absen : Kelas : VI (enam)

Lebih terperinci

Bab Sembilan-Belas (Chapter Nineteen) Realitas dalam Kristus (In-Christ Realities)

Bab Sembilan-Belas (Chapter Nineteen) Realitas dalam Kristus (In-Christ Realities) Bab Sembilan-Belas (Chapter Nineteen) Realitas dalam Kristus (In-Christ Realities) Di seluruh suratan-suratan dalam Perjanjian Baru, kita temukan frase-frase seperti dalam Kristus, bersama Kristus, melalui

Lebih terperinci

Injil Dari Dosa menuju Keselamatan

Injil Dari Dosa menuju Keselamatan Injil Dari Dosa menuju Keselamatan Seluruh pesan Alkitab dirangkum dengan indah di dalam dua ayat saja: Karena begitu besar kasih Yahuwah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal,

Lebih terperinci

wahk.. kok isoo

wahk.. kok isoo wahk.. kok isoo Aku yo binunn nan Ruang ber AC Kapan aq sugih Halah kok kantongku.. 1 DARI 4 ORANG INDONESIA MENGALAMI GANGGUAN JIWA 1 dari 4 orang Indonesia mengalami gangguan jiwa. Perkiraan yang

Lebih terperinci

Suster-suster Notre Dame

Suster-suster Notre Dame Suster-suster Notre Dame Diutus untuk menjelmakan kasih Allah kita yang mahabaik dan penyelenggara Para Suster yang terkasih, Generalat/Rumah Induk Roma Natal, 2013 Natal adalah saat penuh misteri dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Permasalahan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan Kebebasan merupakan hal yang menarik bagi hampir semua orang. Di Indonesia, kebebasan merupakan bagian dari hak setiap individu, oleh karena itu setiap

Lebih terperinci

Inklusi Sosial: Dapatkah Kitab Suci

Inklusi Sosial: Dapatkah Kitab Suci Refleksi Bulanan No. 1 Maret 2017 Dimensi sosial evangelisasi: Praktek Yesus dalam cinta kasih inklusif kepada semua, Doktrin Sosial Gereja dan Sejarah SSpS dalam inklusi sosial Oleh Sr. Mary John Kudiyiruppi

Lebih terperinci