KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA"

Transkripsi

1 Lampiran IV : Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 01 Tahun 2009 Tanggal : 02 Februari 2009 KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA NILAI Sangat I PERMUKIMAN 1. Menengah dan sederhana Area permukiman (termasuk gulma) nilai RTH (semua yang ada lahan wajib dinilai pohon peneduhnya) Pohon peneduh : Sebaran Pohon peneduh : dan di setengah tiga perempat di seluruh Ada seluruh TPS ( berlaku untuk yang diangkut langsung ke TPA) Penghijauan Bangunan fisik tertutup tertutup terpal tiga perempat Ada, tertutup, dan bertumpuk di atau ada di Bertumpuk Sebagian kecil di di di sampah di 1

2 Sangat 2. Pasang surut Area permukiman (termasuk gulma) II RTH TPS ( berlaku untuk yang diangkut langsung ke TPA) Penghijauan Bangunan fisik SARANA KOTA 1. Jalan a. Arteri/utama Area Jalan (termasuk gulma) Fisik trotoar RTH Pohon peneduh : Sebaran dan bertumpuk di atau ada di ada ruang berupa tanah, dan nyaman untuk tertutup tertutup terpal Bertumpuk Sebagian kecil di di di Ada, dan nyaman untuk, ada/ ada marka setengah tiga perempat Ada, tertutup,, tapi nyaman untuk dan ada marka tiga perempat sampah di Ada,, nyaman untuk dan ada marka Ada seluruh Pohon Peneduh : di 2

3 Sangat PKL (khusus yang ada PKL) Fisik lapak dan tertata, rapi, tapi lalu lintas rapi, lalu lintas dan Ada Tertata rapi, di seluruh Tertata sangat rapi, pejalan kaki, serta lapak seragam b. Kolektor/Penghubung Area Jalan (termasuk gulma) Fisik trotoar (hanya yang mempunyai trotoar) RTH Pohon peneduh : sebaran ada ruang berupa tanah, dan nyaman untuk Ada, dan nyaman untuk, ada/ ada marka setengah, tapi nyaman untuk dan ada marka tiga perempat Ada,, nyaman untuk dan ada marka Ada seluruh Pohon Peneduh : di dan di seluruh PKL (khusus yang ada PKL) Fisik lapak tertata, rapi, tapi lalu lintas rapi, lalu lintas dan Tertata rapi, Tertata sangat rapi, pejalan kaki, serta lapak seragam 3

4 Sangat --- Ada Pasar Area pasar (termasuk gulma) (termasuk di kios/los pedagang) RTH Pohon peneduh : sebaran Pohon Peneduh : dan Ada, di Ada,, jumlah setengah tiga perempat Ada, dan jumlah di seluruh Ada seluruh Pengelolaan Pasar Penghijauan Penataan kios Kebersihan WC Tida ada penataan, semerawut, dan sangat kotor Sangat kotor dan sangat bau dan atau WC dikan tertata, semerawut dan kotor Kotor dan bau Sebagian kecil tertata, semerawut, dan kotor tiga perempat tertata rapi dan bersih Bersih, Bersih,, bau, tapi dan bau, dan atau bersih, bau, Ada pengelompokan jenis pedagang, tertata rapi dan bersih Bersih,, dan wangi antiseptik/pengharum 4

5 Sangat PKL (khusus yang ada PKL) Air bersih di WC Fisik lapak air bersih tertata, Ada air bersih, tetapi rapi, tapi lalu lintas rapi, lalu lintas dan Ada air bersih yang Tertata rapi, sebagian kecil Tertata sangat rapi, pejalan kaki, serta lapak seragam Ada TPS Bangunan fisik dan bertumpuk di atau ada 3 Pertokoan Area pertokoan (termasuk gulma) di tertutup tertutup terpal Bertumpuk Sebagian kecil di di di Ada, tertutup, sampah di dan Ada, Ada,, jumlah Ada, dan jumlah di seluruh RTH Pohon peneduh : sebaran setengah tiga perempat Ada seluruh 5

6 Sangat Pohon Peneduh : di PKL (khusus yang ada PKL) Penghijauan Fisik lapak tertata, rapi, tapi lalu lintas rapi, lalu lintas dan tiga perempat Tertata rapi, Tertata sangat rapi, pejalan kaki, serta lapak seragam Ada TPS Bangunan fisik dan bertumpuk di atau ada 4 Perkantoran Area kantor (termasuk gulma) di tertutup tertutup terpal Bertumpuk di luar di TPS/ di Ada, tertutup, sampah di Tempat dan Ada, Ada,, jumlah Ada, dan jumlah di seluruh 6

7 Sangat RTH Pohon peneduh : sebaran ( 25%) setengah tiga perempat Ada seluruh Pohon Peneduh : di TPS Penghijauan Bangunan fisik 5 Sekolah Area sekolah (termasuk gulma) dan bertumpuk di atau ada di Ada, tertutup tertutup terpal tiga perempat Ada, tertutup, Bertumpuk di luar di TPS/ di Ada,, jumlah ---- sampah di Ada, dan jumlah RTH Pohon peneduh : sebaran dan ( 25%) setengah tiga perempat di seluruh Ada seluruh Pohon peneduh : di 7

8 Sangat Penghijauan tiga perempat WC Kebersihan WC Air bersih di WC Sangat kotor, bau dan/atau WC dikan air Kotor dan bau Bersih, bau, tapi, dan/atau bersih, bau, Ada air bersih, tetapi Bersih,, dan bau Ada air bersih yang Bersih,, dan wangi antiseptik/pengharum TPS Kegiatan pengolahan sampah 6 Rumah Sakit/PUSKESMAS Area RS/Puskesmas Bangunan fisik (termasuk gulma) dan di bertumpuk di atau ada 3 R tertutup tertutup terpal Bertumpuk Terdapat sedikit di sampah di luar di TPS Ada pengomposan atau daur ulang (dalam bentuk produk) Ada, tertutup, Ada pengomposan dan daur ulang (dalam bentuk produk) kontinyu sampah di luar TPS Ada pengomposan dan daur ulang (dalam bentuk produk) dan dilakukan secara kontinyu Ada, Ada,, jumlah Ada, dan jumlah dan di seluruh 8

9 Sangat RTH Pohon peneduh : Sebaran Pengelolaan limbah Pohon peneduh : Penghijauan Pemisahan limbah medis Incinerator (khusus rumah sakit) Perlakuan (khusus puskesmas) Pengolahan air limbah (tipe A dan B) Pengolahan air limbah (Tipe C dan D serta puskesmas) pemisahan incinerator dan mengirimkan limbah medis ke pihak lain mengirim limbah medis ke incinerator IPAL atau ada IPAL tapi ber septiktank di Ada pemisahan, tetapi di seluruh ruangan perawatan dan tindakan Memiliki incinerator tapi beroperasi Ada IPAL tapi beroperasi secara kontinyu setengah Ada pemisahan, di seluruh ruangan perawatan dan tindakan Memiliki incinerator tapi beropersi efektif Ada IPAL beroperasi secara kontinyu tetapi baku mutu tiga perempat tiga perempat Ada pemisahan, di seluruh ruangan perawatan dan tindakan, diberi warna/kode Ada pemisahan, di seluruh ruangan perawatan dan tindakan, diberi warna/kode dan ada TPS khusus Memiliki Memiliki incinerator incinerator beroperasi secara beroperasi efektif dan memiliki secara efektif ijin atau incinerator, tapi mengirimkan limbah medis ke pihak lain Mengirim limbah medis ke pihak lain dan ada bukti pengiriman Ada IPAL beroperasi secara kontinyu, baku mutu Ada septiktank Ada seluruh Ada IPAL dan beroperasi serta baku mutu (ada bukti laporan pemantauan) serta memiliki ijin pembuangan limbah cair 9

10 Sangat Pengelolaan sarana rumah sakit/puskesma s ruang tunggu (termasuk koridor dan area dalam RS/ Puskesmas) Tempat Ruang Tunggu (termasuk koridor dan Area dalam RS/Puskesmas) Kebersihan WC Air bersih di WC Sangat kotor dan sangat bau dan/ atau WC dikan air bersih Ada, Kotor dan bau Ada,, jumlah Bersih, bau, tapi, dan/atau bersih, bau, Ada air bersih, tetapi Bersih,, dan bau Ada air bersih yang Ada, dan jumlah Bersih,, dan wangi antiseptik/pengharum TPS Bangunan fisik /tertutup tertutup terpal Ada, tertutup, 7 Hutan Kota Kondisi fisik Kerapatan tajuk dan bertumpuk di atau ada Kerapatan tajuk rendah di Bertumpuk di luar di TPS/ di Kerapatan tajuk sedang sampah di Kerapatan tajuk tinggi Keanekaragaman jenis Homogen 2-5 jenis 6-9 jenis 10 jenis 10 jenis dan memiliki rekreasi dan edukasi 8 Taman Kota Kondisi taman Persentase area resapan Kurang dari 20% 21% s/d 40% 41% s/d 60% 61% s/d 80% Lebih dari 81% Kebersihan area taman (termasuk kawasan PKL) (termasuk gulma) 10

11 Sangat III Pengelolaan Sarana Taman Tempat (berlaku bagi taman yang diakses masyarakat) Perawatan dan penataan taman Kebersihan WC (berlaku bagi taman yang diakses masyarakat) Air bersih di WC (berlaku bagi taman yang diakses k t) SARANA TRANSPORTASI 1 Terminal Bus/Angkot Area terminal (termasuk gulma) dan tertata Sangat kotor dan sangat bau dan/ atau WC dikan air bersih Ada, tetapi tertata Kotor dan bau Ada, Ada,, jumlah Terawat tetapi tertata Bersih, bau, tapi, dan/atau bersih, bau, Ada air bersih, tetapi Ada,, jumlah Terawat dan tertata Bersih,, dan bau Ada air bersih yang Ada, dan jumlah Terawat dan tertata, serta memiliki (misalnya: taman bermain, areal olah raga) Bersih,, dan wangi antiseptik/pengharum Ada, dan jumlah RTH Pohon peneduh : sebaran Pohon peneduh : dan di setengah tiga perempat di seluruh Ada seluruh Penghijauan tiga perempat 11

12 Sangat TPS Pengelolaan Sarana Terminal Bangunan fisik ruang tunggu dan bertumpuk di atau ada b k di tertutup tertutup terpal Ada, tertutup, Bertumpuk di luar di TPS/ di sampah di PKL (khusus yang ada PKL) ruang tunggu Kebersihan WC Air bersih di WC Fisik lapak Sangat kotor dan sangat bau dan/ atau WC dikan air bersih tertata, Ada, Kotor dan bau rapi, tapi lalu lintas Ada,, jumlah Bersih, bau, tapi, dan/atau bersih, bau, Ada air bersih, tetapi rapi, lalu lintas dan Bersih,, dan bau Ada air bersih yang Tertata rapi, Ada Ada, dan jumlah Bersih,, dan wangi antiseptik/pengharum Tertata sangat rapi, pejalan kaki, serta lapak seragam 2 Stasiun KA Area stasiun KA (termasuk gulma) Ada, Ada,, jumlah maksi mal pada skala sedang Ada, dan jumlah 12

13 Sangat RTH Pohon peneduh : sebaran Pohon peneduh : dan di setengah tiga perempat di seluruh Ada seluruh Penghijauan tiga perempat TPS Pengelolaan Sarana Stasiun Bangunan fisik ruang tunggu ruang tunggu Kebersihan WC dan bertumpuk di atau ada Sangat kotor dan sangat bau dan/ atau WC dikan di Ada, Kotor dan bau tertutup tertutup terpal Ada, tertutup, Bertumpuk di luar di TPS/ di Ada,, jumlah Bersih, bau, tapi, dan/atau bersih, bau, Bersih,, dan bau sampah di sampah/sangat bersih Ada, dan jumlah Bersih,, dan wangi antiseptik/pengharum Air bersih di WC air bersih Ada air bersih, tetapi Ada air bersih yang 13

14 Sangat PKL (khusus yang ada PKL) Fisik lapak tertata, rapi, tapi lalu lintas rapi, lalu lintas dan Tertata rapi, Tertata sangat rapi, pejalan kaki, serta lapak seragam Ada 3. Pelabuhan Penumpang Badan air Area pelabuhan (termasuk terminal penumpang) (termasuk gulma) RTH Pohon peneduh : sebaran Pohon peneduh : dan Ada, di Ada,, jumlah setengah tiga perempat Ada, dan jumlah di seluruh Ada seluruh Penghijauan tiga perempat 14

15 Sangat Pengelolaan Sarana Pelabuhan (bagi pelabuhan yang memiliki terminal penumpang) ruang tunggu ruang tunggu Ada, Ada,, jumlah Ada, dan jumlah Kebersihan WC Sangat kotor dan sangat bau dan/ atau WC dikan Kotor dan bau Bersih, bau, tapi, dan /atau bersih, bau, Bersih,, dan bau Bersih,, dan wangi antiseptik/pengharum Air bersih di WC air bersih Ada air bersih, tetapi Ada air bersih yang TPS PKL (khusus yang ada PKL) Bangunan fisik Fisik lapak dan bertumpuk di atau ada tertata, di rapi, tapi lalu lintas tertutup tertutup terpal Ada, tertutup, Bertumpuk di luar di TPS/ di rapi, lalu lintas dan Tertata rapi, sampah di Tertata sangat rapi, pejalan kaki, serta lapak seragam Ada 15

16 Sangat IV Perairan Terbuka (1 minimal 2 titik pantau) 1 Sungai/Danau/Situ Badan air Bantaran Ruang terbuka hijau pepohonan disepanjang bantaran dan atau padat dengan permukiman Ada beberapa permukiman padat dan ada ruang terbuka hijau di sebagian bantaran Ada ruang terbuka hijau disepanjang bantaran yang didominasi perdu Ada ruang terbuka hijau disebagian bantaran yang didominasi pepohonan Ada ruang terbuka hijau disepanjang bantaran yang didominasi pepohonan V 2 Saluran terbuka Badan air SARANA KEBERSIHAN 1 TPA Prasarana dasar, sarana penunjang, dan kondisi area Jalan masuk/ operasi Kantor/pos jaga Pagar Jalan rusak dan bergelombang pos / kantor pagar TPA Jalan rusak / bergelombang Ada bangunan pos jaga / kantor tetapi dikan dan Ada pagar di lahan Jalan rata sedikit rusak Ada pos jaga / kantor, ada petugas, tersedia denah blok operasi TPA Ada pagar di lahan Jalan rata, rusak, dan dilengkapi drainase dan sedikit pohon Ada pos Ada pos jaga/kantor, jaga/kantor, ada petugas, ada petugas, dilengkapi denah blok dilengkapi operasi TPA, alat informasi denah komunikasi, blok operasi TPA ber, dan baik Ada pagar di sekeliling TPA, Jalan rata dan rusak, dilengkapi drainase dan pohon peneduh cukup memadai Ada pagar di sekeliling TPA serta baik Garasi di TPA Truk sampah garasi, alat berat diparkir di tempat terbuka garasi, alat berat diparkir dengan penutup Terbuka,, dan ada ceceran lindi Ada garasi cukup untuk parkir alat berat Terbuka, /tertutup Ada garasi cukup dilengkapi sarana pencucian Tertutup, Ada garasi dilengkapi sarana pemeliharaan ringan 16

17 Sangat Lalat Asap Pohon peneduh Sumur pantau / monitoring (bukan sumur penduduk) Catatan: apabila ada pengolahan lindi, maka sumur pantau dianggap ada) Banyak lalat di seluruh TPA dan di luar TPA Ada asap terus menerus, berasal dari seluruh bagian tempat penimbunan tersedia sumur pantau / monitoring Banyak lalat di area TPA Ada asap terus menerus, berasal dari 3/4 bagian penimbunan Ada sedikit pohon pelindung Tersedia sumur pantau tetapi di bagian hilir (terendah) TPA, dan/atau terdapat air tanah di dalamnya Banyak lalat di area TPA Ada asap terus menerus, berasal dari 1/2 bagian penimbunan Ada pohon pelindung dengan jarak rapat di sekeliling TPA Tersedia minimal satu pada bagian hilir dari lahan TPA dan ber (terdapat air tanah di dalamnya) lalat di area TPA Ada sedikit asap dan segera ada penanganan Ada pohon pelindung dengan jarak rapat di sekeliling TPA Tersedia lebih dari satu sumur pada bagian hilir dan ber lalat di area TPA asap Ada pohon pelindung dengan jarak rapat di sekeliling TPA dan ada dalam area TPA Tersedia lebih dari satu sumur pada bagian hilir dan ber serta terdapat minimal 1 pada bagian hulu (berkontur tinggi) dari lahan TPA dan ber Prasarana dan sarana utama Sarana pencegahan dan pengendalian pencemaran Alat berat Sistem pencatatan sampah pencatatan Ada tetapi beroperasi baik / sering rusak; atau ada tetapi bukan milik sendiri Ada pencatatan tapi setiap hari sebagian kecil TPA, sampah bertumpuk di Ada dan dapat beroperasi baik Ada pencatatan setiap hari truk sampah yang masuk sebagian besar TPA, ada sampah dan dan/atau ada di TPA, sedikit sampah Ada, beroperasi baik, dan Ada pencatatan setiap hari volume sampah (jumlah ritasi dan kapasitas truk) sekeliling TPA, sedikit sampah dan Ada pencatatan setiap hari volume dan/atau berat sampah (jumlah ritasi dan kapasitas truk dan ada jembatan timbang) sekeliling TPA dan di sekeliling zona pembuangan, dan ada sampah di 17

18 Sangat Lindi/saluran lindi saluran dan pengolahan lindi Ada saluran tapi ada pengolahan lindi atau ada pengolahan lindi tetapi ada saluran lindi (menggunakan drainase) Ada penyaluran lindi dan diolah (nilai maksimum untuk TPA open dumping) Ada penyaluran lindi dan diolah dengan bak pengendapan (nilai maksimum untuk TPA control landfill) Ada penyaluran lindi dan diolah dengan sistem aerasi (nilai maksimum untuk TPA sanitary landfill) Penanganan gas fasilitas penanganan gas metan Ada pipa gas dalam jumlah yang atau berlebihan dan ber Ada pipa gas, jumlah dan ber Ada pipa gas, jumlah, ber dan dilengkapi Ada pipa gas, jumlah, ber dan dilengkapi pemanfaatan gas pada zona aktif Pengaturan lahan Penimbunan / pengisian sampah (bila pengaturan lahan 30, penimbunan langsung 30) Penutupan sampah dengan tanah (untuk kota metropolitan dan besar) Penutupan sampah dengan tanah (untuk kota sedang dan kecil) terbuka di seluruh permukaan lahan pembuangan Dilakukan lebih dari setahun atau ada penutupan sama sekali Dilakukan lebih dari setahun atau ada penutupan sama sekali terbuka sekitar 75 % terhadap lahan pembuangan Ada pengaturan pengaturan zona dan blok, lahan atas zona, ada sel blok, dan sel Dilakukan di sembarang tempat Dilakukan pada zona / blok yang benar Dilakukan sebulan sampai dengan setahun sekali Dilakukan dua bulan sampai dengan setahun sekali terbuka sekitar 50 % terhadap lahan pembuangan Ada pengaturan zona, blok. dan sel Dilakukan pada sel yang benar Dilakukan dua minggu sekali Dilakukan sebulan sekali terbuka sekitar 25 % terhadap lahan pembuangan Ada pengaturan zona, blok, dan sel dengan tanda yang jelas di lapangan Dilakukan pada sel yang benar disertai perataan Dilakukan seminggu sekali Dilakukan satu sampai dua minggu sekali sampah terbuka kecuali pada zona aktif Ada pengaturan zona, blok dan sel dengan tanda dan batas yang jelas di lapangan Dilakukan pada sel yang benar disertai perataan dan pemadatan Dilakukan setiap tiga hari sekali Dilakukan lima hari sekali 18

19 Sangat VI PANTAI WISATA 1 Pantai Wisata Jalan (termasuk gulma) drainase RTH Pohon peneduh : Sebaran Pohon peneduh : dan di setengah tiga perempat di seluruh Ada seluruh Pengelolaan sarana areal pantai (tepi jalan sampai air laut) di areal pantai (termasuk gulma) TPS di areal pantai Kebersihan WC Air bersih di WC Bangunan fisik Sangat kotor dan sangat bau dan atau WC dikan air bersih Ada, Kotor dan bau Bersih, bau, tapi, dan atau bersih, bau, Ada air bersih, tetapi Ada,, jumlah tertutup tertutup terpal Bersih,, dan bau Ada air bersih yang Ada, tertutup, Ada, dan jumlah Bersih,, dan wangi antiseptik/pengharum 19

20 Sangat dan bertumpuk di di Bertumpuk di luar di TPS/ di sampah di PKL (khusus yang ada PKL) Fisik lapak tertata, rapi, tapi rapi, lalu lintas dan Tertata rapi, Tertata sangat rapi, pejalan kaki, serta lapak seragam Ada PEMILAHAN SAMPAH Keberadaan fasilitas pemilahan sampah (kota metropolitan dan besar) Permukiman Perkantoran Pasar Sekolah 1< x < 30% 30< x < 40% 40 < x < 50 % > 50 % 1< x < 30% 30< x < 40% 40 < x < 50 % > 50 % 1< x < 30% 30< x < 40% 40 < x < 50 % > 50 % 1< x < 30% 30< x < 40% 40 < x < 50 % > 50 % Persentase merupakan perbandingan jumlah keberadaan fasilitas pemilahan dengan jumlah titik pantau untuk masingmasing Keberadaan fasilitas pemilahan sampah (kota sedang dan kecil) Puskesmas Permukiman Perkantoran 1< x < 30% 30< x < 40% 40 < x < 50 % 1 < x < 40% 40 < x < 50% 50 < x < 60 % 1 < x < 40% 40 < x < 50% 50 < x < 60 % > 50 % > 60 % > 60 % proses pemilahan sama dengan di permukiman Pasar 1 < x < 40% 40 < x < 50% 50 < x < 60 % > 60 % Sekolah 1 < x < 40% 40 < x < 50% 50 < x < 60 % > 60 % Puskesmas 1 < x < 40% 40 < x < 50% 50 < x < 60 % > 60 % Pemilahan Permukiman dipilah - - Dipilah - Perkantoran dipilah - - Dipilah - 20

21 Sangat Pasar Sekolah Puskesmas dipilah dipilah dipilah - - Dipilah Dipilah Dipilah - PENGOLAHAN SAMPAH Keberadaan (kota metro dan besar) Permukiman 1< x < 30% 30< x < 40% 40 < x < 50 % > 50 % Perkantoran 1< x < 30% 30< x < 40% 40 < x < 50 % > 50 % Pasar 1< x < 30% 30< x < 40% 40 < x < 50 % > 50 % Sekolah 1< x < 30% 30< x < 40% 40 < x < 50 % > 50 % TPA 1< x < 30% 30< x < 40% 40 < x < 50 % > 50 % Keberadaan (kota sedang dan kecil) Permukiman 1 < x < 40% 40 < x < 50% 50 < x < 60 % > 60 % Perkantoran 1 < x < 40% 40 < x < 50% 50 < x < 60 % > 60 % Pasar 1 < x < 40% 40 < x < 50% 50 < x < 60 % > 60 % Sekolah 1 < x < 40% 40 < x < 50% 50 < x < 60 % > 60 % TPA 1 < x < 40% 40 < x < 50% 50 < x < 60 % > 60 % Jenis fasilitas Komposter, fasilitas daur ulang, TPS 3 R Hanya ada Komposter atau Fasilitas DU Ada komposter dan Fasilitas DU namun terpisah TPS 3R Proses pengolahan Proses di permukiman Proses di pasar 10 < x < 30% 10 < x < 30% 30 < x < 50% >50 % 30 < x < 50% >50 % Proses di sekolah 10 < x < 30% 30 < x < 50% >50 % Proses di kantor 10 < x < 30% 30 < x < 50% >50 % 21

22 Sangat Proses di TPA 10 < x < 30% 30 < x < 50% >50 % Persentase sampah terolah Permukiman Pasar diolah 0 < x < 1% 1 < x < 10% diolah 0 < x < 1% 1 < x < 10% 10 < x < 20% >20% 10 < x < 20% >20% Dinilai 1 x dalam 1 periode Sekolah diolah 0 < x < 1% 1 < x < 10% 10 < x < 20% >20% Kantor diolah 0 < x < 1% 1 < x < 10% 10 < x < 20% >20% Rumah Sakit diolah 0 < x < 1% 1 < x < 10% 10 < x < 20% >20% TPA/TPST diolah 0 < x < 1% 1 < x < 10% 10 < x < 20% >20% Persentase pengurangan sampah Permukiman Pasar ber 0 < x < 1% 1 < x < 10% ber 0 < x < 1% 1 < x < 10% 10 < x < 20% 10 < x < 20% >20% >20% Dinilai 1 x dalam 1 periode Sekolah ber 0 < x < 1% 1 < x < 10% 10 < x < 20% >20% Kantor ber 0 < x < 1% 1 < x < 10% 10 < x < 20% >20% Rumah Sakit ber 0 < x < 1% 1 < x < 10% 10 < x < 20% >20% TPA/TPST ber 0 < x < 1% 1 < x < 10% 10 < x < 20% >20% MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, ttd Salinan sesuai dengan aslinya Deputi MENLH Bidang Penaatan Lingkungan, RACHMAT WITOELAR ttd Ilyas Asaad 22

PENJELASAN I ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM PROGRAM ADIPURA

PENJELASAN I ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM PROGRAM ADIPURA PENJELASAN I ISTILAH YANG DIGUNAKAN DALAM PROGRAM ADIPURA Perumahan menengah : meliputi kompleks perumahan atau dan sederhana permukiman Perumahan pasang surut : meliputi perumahan yang berada di daerah

Lebih terperinci

EVALUASI HASIL PEMANTAUAN P1 ADIPURA PERIODE KOTA SOREANG

EVALUASI HASIL PEMANTAUAN P1 ADIPURA PERIODE KOTA SOREANG EVALUASI HASIL PEMANTAUAN P1 ADIPURA PERIODE 2012 2013 KOTA SOREANG PERINGKAT JABAR No. KOTA P1 2013 1 SUMBER 74.97 2 BANJAR 74.93 3 KUNINGAN 74.78 4 CIAMIS 74.39 5 MAJALENGKA 74.01 6 PELABUHAN RATU 73.97

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, S A L I N A N PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 4 TAHUN 006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, S A L I N A N PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 4 TAHUN 006 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

- 2 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 9. Cukup jelas. Pasal 2. Pasal 3. Cukup jelas. Pasal 4. Cukup jelas. Pasal 5. Cukup jelas. Pasal 6. Cukup jelas.

- 2 - II. PASAL DEMI PASAL. Pasal 9. Cukup jelas. Pasal 2. Pasal 3. Cukup jelas. Pasal 4. Cukup jelas. Pasal 5. Cukup jelas. Pasal 6. Cukup jelas. PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 0000 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA I. UMUM Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA MADIUN NOMOR 11 TAHUN 2017 TENTANG RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN/KEBERSIHAN I. UMUM Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah mengamanatkan perlunya

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 01 TAHUN 2009 TENTANG PROGRAM ADIPURA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 01 TAHUN 2009 TENTANG PROGRAM ADIPURA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 01 TAHUN 2009 TENTANG PROGRAM ADIPURA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam rangka mewujudkan kota yang bersih dan

Lebih terperinci

TPST Piyungan Bantul Pendahuluan

TPST Piyungan Bantul Pendahuluan TPST Piyungan Bantul I. Pendahuluan A. Latar belakang Perkembangan teknologi yang semakin maju dan kemegahan zaman mempengaruhi gaya hidup manusia ke dalam gaya hidup yang konsumtif dan serba instan. Sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masih dioperasikan secara open dumping, yaitu sampah yang datang hanya dibuang

BAB I PENDAHULUAN. masih dioperasikan secara open dumping, yaitu sampah yang datang hanya dibuang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sampah merupakan permasalahan cukup pelik yang dihadapi oleh seluruh negara di dunia. Begitu pula dengan di Indonesia terutama di kota besar dan metropolitan, masalah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

INDIKATOR PENYELENGGARAAN KABUPATEN/KOTA SEHAT. Tatanan : 1 Kawasan Permukiman, Sarana & Prasarana Sehat

INDIKATOR PENYELENGGARAAN KABUPATEN/KOTA SEHAT. Tatanan : 1 Kawasan Permukiman, Sarana & Prasarana Sehat INDIKATOR PENYELENGGARAAN KABUPATEN/KOTA SEHAT Tatanan : 1 Kawasan Permukiman, Sarana & Prasarana Sehat Tahun 217 1. Kawasan Permukiman Sarana & Prasarana Sehat (59) 59 UDARA BERSIH Adanya program udara

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

MEKANISME PEMANTAUAN KABUPATEN/KOTA PROGRAM ADIPURA

MEKANISME PEMANTAUAN KABUPATEN/KOTA PROGRAM ADIPURA Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 14 Tahun 2006 Tanggal : 06 Nopember 2006 MEKANISME PEMANTAUAN KABUPATEN/KOTA PROGRAM ADIPURA Mekanisme pemantauan Kabupaten/Kota Program Adipura,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 81 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1992

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1992 LAMPIRAN III UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 1992 TENTANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN Pasal 1 (1.1) Rumah adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal atau hunian dan sarana pembinaan

Lebih terperinci

INDIKATOR DAN SKALA NILAI NON FISIK PROGRAM ADIPURA

INDIKATOR DAN SKALA NILAI NON FISIK PROGRAM ADIPURA LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA I. INSTITUSI INDIKATOR DAN SKALA NON FISIK PROGRAM ADIPURA A. KELEMBAGAAN

Lebih terperinci

lampiran Foto : Hasil Pemantauan Titik Pantau Adipura 2012 Hari/Tgl : 26 Mei 2012

lampiran Foto : Hasil Pemantauan Titik Pantau Adipura 2012 Hari/Tgl : 26 Mei 2012 lampiran Foto : Hasil Pemantauan Titik Pantau Adipura 2012 Hari/Tgl : 26 Mei 2012 LOKASI KOMPONEN SUB KOMPONEN SARAN TINDAK PERUMAHAN Mas Naga Blok A & D AREA PERUMAHAN Sampah (termasuk gulma) Jumlah sebaran

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH SPESIFIK

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH SPESIFIK PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH SPESIFIK I. UMUM Berbeda dengan jenis sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga yang

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. diperoleh peneliti yaitu dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. diperoleh peneliti yaitu dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Data yang diperoleh dalam penelitian ini bersumber dari instansi yang terkait dengan penelitian, melaksanakan observasi langsung di Tempat Pembuangan

Lebih terperinci

BANTAENG, 30 JANUARI (Prof. DR. H.M. NURDIN ABDULLAH, M.Agr)

BANTAENG, 30 JANUARI (Prof. DR. H.M. NURDIN ABDULLAH, M.Agr) LAMPIRAN V PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.53/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2016 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA FORMULIR ISIAN SISTEM MANAJEMEN PROGRAM

Lebih terperinci

lampiran Foto : Hasil Pemantauan Titik Pantau Adipura 2012 Hari/Tgl : 12 Mei 2012

lampiran Foto : Hasil Pemantauan Titik Pantau Adipura 2012 Hari/Tgl : 12 Mei 2012 lampiran Foto : Hasil Pemantauan Titik Pantau Adipura 2012 Hari/Tgl : 12 Mei 2012 LOKASI KOMPONEN SUB KOMPONEN SARAN TINDAK PERUMAHAN Mas Naga Blok A & D AREA PERUMAHAN Sampah (termasuk gulma) Jumlah sebaran

Lebih terperinci

PENGELOLAAN PERSAMPAHAN

PENGELOLAAN PERSAMPAHAN PENGELOLAAN PERSAMPAHAN 1. LATAR BELAKANG PENGELOLAAN SAMPAH SNI 19-2454-1991 tentang Tata Cara Pengelolaan Teknik Sampah Perkotaan, mendefinisikan sampah sebagai limbah yang bersifat padat, terdiri atas

Lebih terperinci

Praktik Cerdas TPA WISATA EDUKASI. Talangagung

Praktik Cerdas TPA WISATA EDUKASI. Talangagung Praktik Cerdas TPA WISATA EDUKASI Talangagung Tantangan Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah adalah salah satu tantangan yang dihadapi Indonesia. Sebagian besar tempat pemrosesan akhir sampah di Indonesia

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA.

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA. PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN JEPARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA., Menimbang : a. bahwa pertambahan penduduk dan perubahan

Lebih terperinci

A. Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Air Limbah Kabupaten Kubu Raya

A. Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Air Limbah Kabupaten Kubu Raya Lampiran E: Deskripsi Program / Kegiatan A. Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Air Limbah Kabupaten Kubu Raya Nama Maksud Penyusunan Rencana Induk Sistem Pengelolaan Air Limbah Kabupaten Kubu

Lebih terperinci

BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN BANDUNG

BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN BANDUNG ADIPURA KOTA SOREANG BADAN PENGENDALIAN LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN BANDUNG Kota bersih dan teduh merupakan impian semua orang dan hak masyarakat sebagai warga negara Perwujudan kota bersih dan teduh akan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Bogor, 08 Desember 2015 Walikota Bogor, Dr. Bima Arya Sugiarto

KATA PENGANTAR. Bogor, 08 Desember 2015 Walikota Bogor, Dr. Bima Arya Sugiarto WALIKOTA BOGOR KATA PENGANTAR Dalam rangka pelaksanaan pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan perlu didukung data dan informasi lingkungan hidup yang akurat, lengkap dan berkesinambungan. Informasi

Lebih terperinci

BAB VI PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK. menjadi tiga macam. Pertama, menggunakan plastik kemudian

BAB VI PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK. menjadi tiga macam. Pertama, menggunakan plastik kemudian BAB VI PENGELOLAAN SAMPAH 3R BERBASIS MASYARAKAT DI PERUMAHAN CIPINANG ELOK 6.1. Pewadahan Sampah Pewadahan individual Perumahan Cipinang Elok pada umumnya dibagi menjadi tiga macam. Pertama, menggunakan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Direktur Penataan Ruang Nasional. Ir. Iman Soedradjat, MPM

KATA PENGANTAR. Direktur Penataan Ruang Nasional. Ir. Iman Soedradjat, MPM KATA PENGANTAR Pedoman Pemanfaatan Kawasan Sekitar TPA Sampah dipersiapkan oleh Panitia Teknis Standardisasi Bahan Konstruksi Bangunan dan Rekayasa Sipil melalui Sub Panitia Teknis Tata Ruang. Pedoman

Lebih terperinci

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. 5.1 Gambaran Umum Tempat Pembuangan Akhir Pasir Sembung

V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. 5.1 Gambaran Umum Tempat Pembuangan Akhir Pasir Sembung V. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Tempat Pembuangan Akhir Pasir Sembung Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasir Sembung Cianjur merupakan satu-satunya TPA yang dimiliki oleh Kabupaten Cianjur.

Lebih terperinci

KRITERIA DAN TIPOLOGI PERUMAHAN KUMUH DAN PERMUKIMAN KUMUH

KRITERIA DAN TIPOLOGI PERUMAHAN KUMUH DAN PERMUKIMAN KUMUH - 1 - LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR 02/PRT/M/2016 TENTANG PENINGKATAN KUALITAS TERHADAP PERUMAHAN KUMUH DAN PERMUKIMAN KUMUH KRITERIA DAN TIPOLOGI PERUMAHAN KUMUH

Lebih terperinci

KETENTUAN PRASARANA DAN SARANA MINIMAL

KETENTUAN PRASARANA DAN SARANA MINIMAL LAMPIRAN XII PERATURAN DAERAH KOTA MEDAN NOMOR 2 TAHUN 2015 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI KOTA MEDAN TAHUN 2015 2035 KETENTUAN PRASARANA DAN SARANA MINIMAL 1. MS Mangrove atau

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa sampah sebagai sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau

Lebih terperinci

Indikator Konten Kuesioner

Indikator Konten Kuesioner Indikator Konten Kuesioner No Variabel Pertanyaan 1 Internal (Kekuatan dan Kelemahan) 1. Bagaimana pendapat anda mengenai lokasi (positioning) kawasan jasa dan perdagangan di Jalan Pamulang Raya, Kecamatan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Dari hasil penelitian dan pembahasan sebelumnya, maka didapatkan hasil kesimpulan dan rekomendasi sebagai berikut: A. KESIMPULAN Perkembangan kegiatan pariwisata menimbulkan

Lebih terperinci

BAB I KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA

BAB I KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA DAFTAR ISI Kata Pengantar... i Daftar Isi... iii Daftar Tabel... vi Daftar Gambar... ix Daftar Grafik... xi BAB I KONDISI LINGKUNGAN HIDUP DAN KECENDERUNGANNYA A. LAHAN DAN HUTAN... Bab I 1 A.1. SUMBER

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA INDIVIDU

INDIKATOR KINERJA INDIVIDU INDIKATOR KINERJA INDIVIDU 1. JABATAN : ANALISIS MENGENAI DAMPAK 2. TUGAS : Merumuskan dan melaksanakan kebijakan teknis penilaian dan pemantauan analisis mengenai dampak lingkungan 3. FUNGSI : a. penyusunan

Lebih terperinci

-1- PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA

-1- PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA SALINAN -1- PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PROFIL PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN

PROFIL PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN PROFIL PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN TAHUN 005 PEMERINTAH KOTA MOJOKERTO GAMBARAN UMUM PROFIL PENGELOLAAN SAMPAH KOTA MOJOKERTO ====================================================== Batas Umum Kota Mojokerto

Lebih terperinci

MAKALAH PROGRAM PPM. Pemilahan Sampah sebagai Upaya Pengelolaan Sampah Yang Baik

MAKALAH PROGRAM PPM. Pemilahan Sampah sebagai Upaya Pengelolaan Sampah Yang Baik MAKALAH PROGRAM PPM Pemilahan Sampah sebagai Upaya Pengelolaan Sampah Yang Baik Oleh: Kun Sri Budiasih, M.Si NIP.19720202 200501 2 001 Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas MIPA UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG URUSAN PEMERINTAH DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP YANG DAPAT DIDEKONSENTRASIKAN

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG URUSAN PEMERINTAH DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP YANG DAPAT DIDEKONSENTRASIKAN SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 20 TAHUN 2009 TENTANG URUSAN PEMERINTAH DI BIDANG LINGKUNGAN HIDUP YANG DAPAT DIDEKONSENTRASIKAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH I. UMUM Jumlah penduduk Indonesia yang besar dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi mengakibatkan bertambahnya

Lebih terperinci

3.3 KONSEP PENATAAN KAWASAN PRIORITAS

3.3 KONSEP PENATAAN KAWASAN PRIORITAS 3.3 KONSEP PENATAAN KAWASAN PRIORITAS 3.3.1. Analisis Kedudukan Kawasan A. Analisis Kedudukan Kawasan Kawasan prioritas yaitu RW 1 (Dusun Pintu Air, Dusun Nagawiru, Dusun Kalilangkap Barat, dan Dusun Kalilangkap

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA MOJOKERTO PROFIL PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN TAHUN 2006

PEMERINTAH KOTA MOJOKERTO PROFIL PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN TAHUN 2006 PEMERINTAH KOTA MOJOKERTO PROFIL PENGELOLAAN SAMPAH PERKOTAAN TAHUN 006 DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN TAHUN 007 GAMBARAN UMUM PROFIL PENGELOLAAN SAMPAH KOTA MOJOKERTO ======================================================

Lebih terperinci

RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) 2016

RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) 2016 RENCANA KINERJA TAHUNAN (RKT) 2016 SASARAN STRATEGIS INDIKATOR SASARAN TARGET PROGRAM Meningkatnya Kualitas Lingkungan Hidup Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) 66,70% Pengembangan Kinerja Pengelolaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan,

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jalan adalah prasarana transportasi darat yang meliputi segala bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berada

Lebih terperinci

USULAN ATURAN BERSAMA

USULAN ATURAN BERSAMA PENGANTAR Seringkali proses-proses perencanaan yang partisipatif dan baik tidak serta merta menjamin proses pelaksanaan akan baik pula. Tak jarang proses perencanaan yang baik dan partisipatif berhenti

Lebih terperinci

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KATINGAN NOMOR : 3 TAHUN 2016 TENTANG

PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KATINGAN NOMOR : 3 TAHUN 2016 TENTANG PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PERATURAN BUPATI KATINGAN NOMOR : 3 TAHUN 2016 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH SEJENIS SAMPAH RUMAH TANGGA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA MALANG KUA PPAS DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN TAHUN ANGGARAN 2015

PEMERINTAH KOTA MALANG KUA PPAS DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN TAHUN ANGGARAN 2015 PEMERINTAH KOTA MALANG KUA PPAS DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN TAHUN ANGGARAN 2015 SKPD : Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Malang PLAFON ANGGARAN BELANJA LANGSUNG 73,419,000,000 I 1 03 1.08.02 23

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Persampahan merupakan isu penting khususnya di daerah perkotaan yang selalu menjadi permasalahan dan dihadapi setiap saat. Akibat dari semakin bertambahnya jumlah

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA BONTANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG RENCANA DETAIL TATA RUANG DAN PERATURAN ZONASI I. UMUM Di dalam undang-undang no 26 Tahun 2007 tentang penataan Ruang, dijelaskan

Lebih terperinci

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN

BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN BAB V RENCANA DETAIL TATA RUANG KAWASAN PERKOTAAN 5.1 Umum Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Perkotaan, merupakan penjabaran dari Rencana Umum Tata Ruang Wilayah Kota/Kabupaten ke dalam rencana pemanfaatan

Lebih terperinci

G E R A K A N N A S I O N A L B E R S I H N E G E R I K U. Pedoman Teknis RUMAH SAKIT BERSIH. (Disusun dalam rangka Gerakan Nasional Bersih Negeriku)

G E R A K A N N A S I O N A L B E R S I H N E G E R I K U. Pedoman Teknis RUMAH SAKIT BERSIH. (Disusun dalam rangka Gerakan Nasional Bersih Negeriku) G E R A K A N N A S I O N A L B E R S I H N E G E R I K U Pedoman Teknis RUMAH SAKIT BERSIH (Disusun dalam rangka Gerakan Nasional Bersih Negeriku) Kementerian Kesehatan RI 2012 KATA PENGANTAR Dengan mengucapkan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA, S A L I N A N PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN MATERI MUATAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DAN SAMPAH

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN PASURUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, Menimbang Mengingat : a. bahwa pertambahan penduduk

Lebih terperinci

BUPATI BANDUNG BARAT

BUPATI BANDUNG BARAT BUPATI BANDUNG BARAT PERATURAN BUPATI BANDUNG BARAT NOMOR TAHUN 2013 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENANGANAN SAMPAH DAN RETRIBUSI PELAYANAN PERSAMPAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG

Lebih terperinci

MEKANISME PEMANTAUAN FISIK KABUPATEN/KOTA PROGRAM ADIPURA

MEKANISME PEMANTAUAN FISIK KABUPATEN/KOTA PROGRAM ADIPURA LAMPIRAN IV PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA MEKANISME PEMANTAUAN FISIK KABUPATEN/KOTA PROGRAM ADIPURA I. TUJUAN

Lebih terperinci

LAMPIRAN II HASIL ANALISIS SWOT

LAMPIRAN II HASIL ANALISIS SWOT LAMPIRAN II HASIL ANALISIS SWOT AIR LIMBAH Analisa SWOT sub sektor air limbah domestik Lingkungan Mendukung (+), O Internal Lemah (-) W Internal Kuat (+) S Diversifikasi Terpusat (+2, -5) Lingkungan tidak

Lebih terperinci

PENGELOLAAN SAMPAH GEDUNG GEOSTECH

PENGELOLAAN SAMPAH GEDUNG GEOSTECH PENGELOLAAN SAMPAH GEDUNG GEOSTECH Suprapto Pusat Teknologi Lingkungan, Kedeputian TPSA Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Jl. M.H. Thamrin No. 8, Lantai 12, Jakarta 10340 e-mail: suprapto.bpptbas@yahoo.com

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGGAMUS NOMOR : 49 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGGAMUS NOMOR : 02 TAHUN 2010 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGGAMUS NOMOR : 49 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGGAMUS NOMOR : 02 TAHUN 2010 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANGGAMUS NOMOR : 49 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANGGAMUS NOMOR : 02 TAHUN 2010 TENTANG KEBERSIHAN DAN KEINDAHAN LINGKUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PERINGATAN HARI LINGKUNGAN HIDUP

PERINGATAN HARI LINGKUNGAN HIDUP 36 PERINGATAN HARI LINGKUNGAN HIDUP 37 EKSPOSE P1 ADIPURA TAHUN 2017 / 2018 21 38 39 KOORDINASI PENYAMBUTAN PENGHARGAAN TENTANG LINGKUNGAN HIDUP Merupakan kegiatan untuk memberikan apresiasi kepada masyarakat

Lebih terperinci

Tabel 3.34 Daftar Program/Proyek Layanan Yang Berbasis Masyarakat Tabel 3.35 Kegiatan komunikasi yang ada di Kabupaten Merangin...

Tabel 3.34 Daftar Program/Proyek Layanan Yang Berbasis Masyarakat Tabel 3.35 Kegiatan komunikasi yang ada di Kabupaten Merangin... Daftar Isi Kata Pengantar Bupati Merangin... i Daftar Isi... ii Daftar Tabel... iv Daftar Peta... vi Daftar Gambar... vii Daftar Istilah... viii Bab 1: Pendahuluan... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Landasan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 33 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PEMULIHAN LAHAN TERKONTAMINASI LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 33 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PEMULIHAN LAHAN TERKONTAMINASI LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 33 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PEMULIHAN LAHAN TERKONTAMINASI LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN Menimbang : MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, a.

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. KOMPOSISI DAN KARAKTERISTIK SAMPAH KOTA BOGOR 1. Sifat Fisik Sampah Sampah berbentuk padat dibagi menjadi sampah kota, sampah industri dan sampah pertanian. Komposisi dan jumlah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR, BUPATI BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 19 TAHUN 2007 TENTANG KEBERSIHAN LINGKUNGAN

Lebih terperinci

EVALUASI SISTEM PEMROSESAN AKHIR SAMPAH DI TPA LADANG LAWEH KABUPATEN PADANG PARIAMAN MENUJU CONTROLLED LANDFILL

EVALUASI SISTEM PEMROSESAN AKHIR SAMPAH DI TPA LADANG LAWEH KABUPATEN PADANG PARIAMAN MENUJU CONTROLLED LANDFILL EVALUASI SISTEM PEMROSESAN AKHIR SAMPAH DI TPA LADANG LAWEH KABUPATEN PADANG PARIAMAN MENUJU CONTROLLED LANDFILL Oleh : ROFIHENDRA NRP. 3308 202 014 Dosen Pembimbing : Prof. Dr. YULINAH TRIHADININGRUM,

Lebih terperinci

BUPATI BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN

BUPATI BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN BUPATI BULUKUMBA PROVINSI SULAWESI SELATAN PERATURAN BUPATI BULUKUMBA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG PENATAAN DAN PENGELOLAAN PASAR BERSIH SEHAT INDAH DAN TERATUR DENGAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT, DAN PEDAGANG

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1429, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP. Dana Alokasi Khusus. Pemanfaatan. Petunjuk Teknis. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 09 TAHUN 2013

Lebih terperinci

VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN

VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN VISI, MISI, TUJUAN, SASARAN, STRATEGI DAN KEBIJAKAN 4.1. VISI DAN MISI DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN Visi adalah gambaran arah pembangunan atau kondisi masa depan yang ingin dicapai melalui penyelenggaraan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENYELENGGARAAN KEBERSIHAN, KEINDAHAN, DAN KESEHATAN LINGKUNGAN

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENYELENGGARAAN KEBERSIHAN, KEINDAHAN, DAN KESEHATAN LINGKUNGAN LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 16 TAHUN : 2003 SERI : C PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENYELENGGARAAN KEBERSIHAN, KEINDAHAN, DAN KESEHATAN LINGKUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 66 TAHUN 2012 TENTANG PENGATURAN PEMBUANGAN DAN PENGANGKUTAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 66 TAHUN 2012 TENTANG PENGATURAN PEMBUANGAN DAN PENGANGKUTAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN WALIKOTA TEGAL PERATURAN WALIKOTA TEGAL NOMOR 66 TAHUN 2012 TENTANG PENGATURAN PEMBUANGAN DAN PENGANGKUTAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TEGAL, Menimbang : a. bahwa pengelolaan

Lebih terperinci

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KELURAHAN KALIGAWE

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KELURAHAN KALIGAWE BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI KELURAHAN KALIGAWE 4.1. Konsep Dasar Rumah susun sederhana sewa di Kalurahan Pandean Lamper ini direncanakan untuk masyarakat berpenghasilan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 19/PRT/M/2012/PRT/M/2011 TENTANG PEDOMAN PENATAAN RUANG KAWASAN SEKITAR TEMPAT PEMROSESAN AKHIR SAMPAH

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 19/PRT/M/2012/PRT/M/2011 TENTANG PEDOMAN PENATAAN RUANG KAWASAN SEKITAR TEMPAT PEMROSESAN AKHIR SAMPAH MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR 19/PRT/M/2012/PRT/M/2011 TENTANG PEDOMAN PENATAAN RUANG KAWASAN SEKITAR TEMPAT PEMROSESAN AKHIR SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

BUKU DATA STATUS LINGKUNGAN HIDUP KOTA SURABAYA 2012 DAFTAR TABEL

BUKU DATA STATUS LINGKUNGAN HIDUP KOTA SURABAYA 2012 DAFTAR TABEL DAFTAR TABEL Tabel SD-1. Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama... 1 Tabel SD-1A. Perubahan Luas Wilayah Menurut Penggunaan lahan Utama Tahun 2009 2011... 2 Tabel SD-1B. Topografi Kota Surabaya...

Lebih terperinci

B. SUBSTANSI ATURAN BERSAMA

B. SUBSTANSI ATURAN BERSAMA B. SUBSTANSI ATURAN BERSAMA KONDISI FAKTUAL KONDISI IDEAL ATURAN BERSAMA YANG DISEPAKATI A. LINGKUNGAN 1. Jaringan Jalan Rumah yang tidak mendapat akses menuju jalan utama lingkungan maupun jalan penghubung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia mengalami proses pembangunan perkotaan yang pesat antara tahun 1990 dan 1999, dengan pertumbuhan wilayah perkotaan mencapai 4,4 persen per tahun. Pulau Jawa

Lebih terperinci

Untuk lebih jelasnya wilayah Kabupaten Karangasem dapat dilihat pada peta di bawah ini :

Untuk lebih jelasnya wilayah Kabupaten Karangasem dapat dilihat pada peta di bawah ini : GAMBARAN UMUM Kabupaten Karangasem berada di belahan timur Pulau Bali yang secara administratif merupakan salah satu kabupaten dalam wilayah Provinsi Bali, dengan batas batas wilayah - wilayah sebagai

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM DAN KONSEP PERENCANAAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) KALIORI SEBAGAI WISATA EDUKASI

BAB IV GAMBARAN UMUM DAN KONSEP PERENCANAAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) KALIORI SEBAGAI WISATA EDUKASI BAB IV GAMBARAN UMUM DAN KONSEP PERENCANAAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR (TPA) KALIORI SEBAGAI WISATA EDUKASI Pada bab ini berisi deskripsi dan gambaran umum dari TPA Kaliori sebagai wisata edukasi yang kemudian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pulau Bali dengan luas kurang lebih 5.636,66 km 2. penduduk yang mencapai jiwa sangat rentan terhadap berbagai dampak

BAB I PENDAHULUAN. Pulau Bali dengan luas kurang lebih 5.636,66 km 2. penduduk yang mencapai jiwa sangat rentan terhadap berbagai dampak 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pulau Bali dengan luas kurang lebih 5.636,66 km 2 dengan jumlah penduduk yang mencapai 3.890.757 jiwa sangat rentan terhadap berbagai dampak negatif dari pembangunan

Lebih terperinci

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 59 TAHUN 2016

BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 59 TAHUN 2016 SALINAN BUPATI BLITAR PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI BLITAR NOMOR 59 TAHUN 2016 TENTANG KEDUDUKAN, SUSUNAN ORGANISASI, URAIAN TUGAS DAN FUNGSI SERTA TATA KERJA DINAS LINGKUNGAN HIDUP KABUPATEN BLITAR

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PROGRAM ADIPURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Timur. Letak tersebut berada di Teluk Lampung dan diujung selatan pulai

I. PENDAHULUAN. Timur. Letak tersebut berada di Teluk Lampung dan diujung selatan pulai 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Secara geografis Kota Bandar Lampung terletak pada kedudukan 5 0 20 sampai dengan 5 0 30 lintang Selatan dan 105 0 28 sampai dengan 105 0 37 bujur Timur.

Lebih terperinci

EVALUASI KAPASITAS LAHAN TPA LADANG LAWEH DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN MENUJU PENERAPAN SISTEM CONTROLLED LANDFILL

EVALUASI KAPASITAS LAHAN TPA LADANG LAWEH DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN MENUJU PENERAPAN SISTEM CONTROLLED LANDFILL EVALUASI KAPASITAS LAHAN TPA LADANG LAWEH DI KABUPATEN PADANG PARIAMAN MENUJU PENERAPAN SISTEM CONTROLLED LANDFILL Rofihendra 1 dan Yulinah Trihadiningrum 2 1 Mahasiswa Program Magister Teknik Prasarana

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.1 Penyajian Data Survei Dari survei menggunakan metode wawancara yang telah dilakukan di Desa Karanganyar Kecamatan Karanganyar RT 01,02,03 yang disebutkan dalam data dari

Lebih terperinci

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN. 6.1 Deskripsi Lingkungan Permukiman Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah Galuga Berdasarkan Penilaian Responden

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN. 6.1 Deskripsi Lingkungan Permukiman Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah Galuga Berdasarkan Penilaian Responden VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Deskripsi Lingkungan Permukiman Sekitar Tempat Pembuangan Akhir Sampah Galuga Berdasarkan Penilaian Responden 6.1.1 Penilaian Responden terhadap Kebersihan Desa Galuga Lingkungan

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. masyarakat yang bermukim di pedesaan, sehingga mereka termotivasi untuk

BAB I. PENDAHULUAN. masyarakat yang bermukim di pedesaan, sehingga mereka termotivasi untuk BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kota sebagai pusat aktivitas manusia memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang bermukim di pedesaan, sehingga mereka termotivasi untuk datang ke kota. Hal

Lebih terperinci

PEMILIHAN DAN PENGOLAHAN SAMPAH ELI ROHAETI

PEMILIHAN DAN PENGOLAHAN SAMPAH ELI ROHAETI PEMILIHAN DAN PENGOLAHAN SAMPAH ELI ROHAETI Sampah?? semua material yang dibuang dari kegiatan rumah tangga, perdagangan, industri dan kegiatan pertanian. Sampah yang berasal dari kegiatan rumah tangga

Lebih terperinci

`BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAH DAERAH

`BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAH DAERAH `BAB IV PENYELENGGARAAN URUSAN PEMERINTAH DAERAH URUSAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP (Urusan Bidang Lingkungan Hidup dilaksanakan oleh Badan Lingkungan Hidup Daerah (BAPEDAL) Aceh. 2. Realisasi Pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR BENOWO SURABAYA

BAB II GAMBARAN UMUM TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR BENOWO SURABAYA 22 BAB II GAMBARAN UMUM TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR BENOWO SURABAYA 2.1 Tempat Pembuangan Akhir Tempat pembuangan akhir (TPA) merupakan bentuk perlakuan tertua terhadap sampah, yakni segala sampah yang ada

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1

DAFTAR ISI. Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1 DAFTAR ISI A. SUMBER DAYA ALAM Tabel SD-1 Luas Wilayah Menurut Penggunaan Lahan Utama... 1 Tabel SD-2 Luas Kawasan Hutan Menurut Fungsi/Status... 1 Tabel SD-3 Luas Kawasan Lindung berdasarkan RTRW dan

Lebih terperinci

BAB II DESKRIPSI BADAN LINGKUNGAN HIDUP KOTA PROBOLINGGO Sejarah Singkat Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo

BAB II DESKRIPSI BADAN LINGKUNGAN HIDUP KOTA PROBOLINGGO Sejarah Singkat Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo BAB II DESKRIPSI BADAN LINGKUNGAN HIDUP KOTA PROBOLINGGO 2.1. Sejarah Singkat Badan Lingkungan Hidup Kota Probolinggo Hingga pertengahan tahun 2005 pengelolaan lingkungan hidup di Kota Probolinggo dilaksanakan

Lebih terperinci

BUPATI LANDAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH

BUPATI LANDAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH SALINAN BUPATI LANDAK PROVINSI KALIMANTAN BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANDAK NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LANDAK, Menimbang : a. bahwa pertambahan

Lebih terperinci

: Pedoman Pembentukan Kelembagaan Lingkungan Hidup Daerah. KRITERIA FAKTOR TEKNIS BIDANG PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. 40 Skor 70 Skor 100 Skor

: Pedoman Pembentukan Kelembagaan Lingkungan Hidup Daerah. KRITERIA FAKTOR TEKNIS BIDANG PENGENDALIAN DAMPAK LINGKUNGAN. 40 Skor 70 Skor 100 Skor Lampiran II : Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : Tahun 2004. Tentang Tanggal : : Pedoman Pembentukan Kelembagaan Lingkungan Hidup Daerah. KRITERIA FAKTOR TEKNIS BIDANG PENGENDALIAN DAMPAK

Lebih terperinci

BUPATI HULU SUNGAI UTARA

BUPATI HULU SUNGAI UTARA BUPATI HULU SUNGAI UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HULU SUNGAI UTARA, Menimbang : a. bahwa dengan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Maksud, Tujuan Dan Sasaran 1.3. Sistematika Penulisan

1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Maksud, Tujuan Dan Sasaran 1.3. Sistematika Penulisan 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.2. Maksud, Tujuan Dan Sasaran 1.3. Sistematika Penulisan 2. METODOLOGI PENDEKATAN DAN PROGRAM KERJA 2.1. Pendekatan Studi 2.2. Konsep Pendekatan Pelaksanaan Pekerjaan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN LAMONGAN

PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN LAMONGAN 1 SALINAN PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KABUPATEN LAMONGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LAMONGAN, Menimbang

Lebih terperinci

KERANGKA KINERJA INSTANSI PEMERINTAH

KERANGKA KINERJA INSTANSI PEMERINTAH KERANGKA KINERJA INSTANSI PEMERINTAH 2017-2020 SKPD : BADAN LINGKUNGAN HIDUP RPJMD I STRATEGIS sistem tata kelola yang baik dalam menjamin pelayanan prima Persentase rata-rata ketercapaian pelaksanaan

Lebih terperinci

TABEL 4-3. MATRIKS RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) OPERASIONAL GEDUNG KEMENKES RI

TABEL 4-3. MATRIKS RENCANA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP (RKL) OPERASIONAL GEDUNG KEMENKES RI BAB 4. RENCANA DAN PEMANTAUAN DOKUMEN EVALUASI HIDUP TABEL 4-3. MATRIKS RENCANA HIDUP (RKL) OPERASIONAL GEDUNG KEMENKES RI TOLOK UKUR METODE HIDUP 1. Penurunan Kualitas Air permukaan Aktifitas Kantor Aktifitas

Lebih terperinci