Gambaran dan Karakteristik Penggunaan Triheksifenidil pada Pasien yang Mendapat Terapi Antipsikotik

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Gambaran dan Karakteristik Penggunaan Triheksifenidil pada Pasien yang Mendapat Terapi Antipsikotik"

Transkripsi

1 Artikel Penelitian Gambaran dan Karakteristik Penggunaan Triheksifenidil pada Pasien yang Mendapat Terapi Antipsikotik Rudy Wijono, Martina Wiwie Nasrun, Charles Evert Damping Departemen Psikiatri, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta Abstrak Pendahuluan: Efek samping ekstrapiramidal (EPS) pada pengobatan pasien psikotik merupakan penyebab ketidakpatuhan minum obat yang berakibat pasca munculnya kekambuhan. Pemberian obat triheksifenidil berguna untuk mencegah dan mengatasi EPS akibat penggunaan obat antipsikotik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan karakteristik penggunaan triheksifenidil pada pasien yang mendapat obat antipsikotik di Poliklinik Jiwa Dewasa (PJD) Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM). Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan desain potong lintang. Sampel berupa catatan medis pasien PJD RSCM yang mendapat terapi triheksifenidil. Jumlah sampel sebesar 97 dihitung berdasarkan rumus untuk studi deskriptif. Sampel dikumpulkan secara random sampling selama Agustus 2010-Juli Hasil: Pola pemberian obat triheksifenidil langsung bersama dengan obat antipsikotik sejak awal pengobatan atau sebelum muncul EPS yaitu sebesar 91,8%. Kesimpulan: Pasien langsung diberikan obat triheksifenidil tanpa pemeriksaan EPS terlebih dulu dan tidak dilakukan evaluasi ulang tiap tiga bulan, sehingga pemberian obat triheksifenidil tidak sesuai dengan panduan pelayanan medis Departemen Psikiatri RSCM tahun 2007 dan konsensus WHO tentang penatalaksanaan EPS. J Indon Med Assoc. 2013;63: Kata kunci: triheksifenidil, antipsikotik, efek samping ekstrapiramidal. Korespondensi: Rudy Wijono, 14 J Indon Med Assoc, Volum: 63, Nomor: 1, Januari 2013

2 Description and Characteristic of Trihexyphenidyl Use in Patients Receiving Antipsychotic Therapy Rudy Wijono, Martina Wiwie Nasrun, Charles E. Damping Department of Psychiatry, Faculty of Medicine Universitas Indonesia/ Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta Abstract Background: Extrapyramidal side effects (EPS) in the treatment of psychotic patients contribute to poor compliance and exacerbation of psychiatric symptoms. The use of trihexyphenidyl is beneficial in preventing and treating neuroleptic-induced EPS. The aim of this research is to find the pattern and characteristic of trihexyphenidyl usage in patients receiving antipsychotic therapy at AdultPsychiatry Clinic in Cipto Mangunkusumo Hospital. Method: This research is a descriptive cross sectional study. Samples used were medical records from patients who received trihexyphenidyl. Sample size of 97 subscrets was calculated from the formula for descriptive study. Samples were collected randomly from August 2010 to July Result: The most widely used pattern of trihexyphenidyl usage in patients receiving antipsychotic therapy was simultaneous use of trihexyphenidyl and antipsychotics since the beginning of treatment or prior to appearance of EPS at approximately 91.8%. Conclusion: This research has shown the pattern of trihexyphenidyl usage in PJD RSCM, which was to give trihexyphenidyl directly to patients without EPS examination and without evaluation every three months. This finding is not in accordance with the 2007 medical care guidelines from the Department of Psychiatry RSCM and WHO consensus on the management of EPS. J Indon Med Assoc. 2013;63: Keyword: trihexyphenidyl, antipsychotic, extrapyramidal side effects. Pendahuluan Perkembangan ilmu dan teknologi membawa dampak positif bagi penatalaksanaan gangguan psikotik yaitu dengan ditemukannya obat antipsikotik generasi pertama (APG-I) dan generasi kedua (APG-II). Obat APG-I mempunyai keterbatasan, berupa efek samping ekstrapiramidal (EPS), misalnya parkinsonisme, diskinesia, akatisia, dan distonia yang sangat mengganggu sehingga pasien tidak melanjutkan pengobatan. APG-II mempunyai risiko efek samping gangguan kardiovaskular, penambahan berat badan, dan diabetes melitus. 1 EPS dapat muncul sejak awal pemberian obat antipsikotik tergantung dari besarnya dosis. Untuk mengatasi EPS dapat diberikan obat antikolinergik, misalnya sulfas atropin, triheksifenidil, dan difenhidramin. Triheksifenidil merupakan obat antikolinergik yang banyak digunakan untuk mengatasi EPS. 1-3 Konsensus dari WHO tahun 1990 menetapkan penggunaan obat triheksifenidil dalam mengatasi EPS. 4 Penggunaan triheksifenidil dapat menimbulkan efek antikolinergik perifer seperti mulut dan hidung kering, pandangan kabur, konstipasi, dan retensi urin; serta efek antikolinergik sentral seperti mual, muntah, agitasi, halusinasi sampai mengeksaserbasi psikosis skizofrenia, kejang, demam tinggi, dilatasi pupil, dan gangguan kognitif seperti disorientasi terhadap waktu, orang dan tempat. Stupor dan koma juga dapat terjadi. 5 Ada dua pendapat tentang penggunaan triheksifenidil, tidak diberikan secara rutin dan diberikan rutin untuk profilaksis sebelum timbul EPS. 3 Alasan memberikan triheksifenidil profilaksis secara rutin adalah karena EPS merupakan sumber ketidakpatuhan minum obat yang berakibat pada munculnya kekambuhan. 6,7 Dampak dari penggunaan triheksifenidil berpengaruh dalam penatalaksanaan pasien gangguan mental yang meng-gunakan antipsikotik, sehingga diperlukan suatu pedoman dalam penggunaan triheksifenidil. Pedoman penatalaksanaan EPS di PJD RSCM menggunakan konsensus dari WHO tahun Beberapa literatur menyatakan ada banyak faktor yang berpengaruh dalam menentukan penggunaan triheksifenidil, di antaranya usia, jenis kelamin, jenis APG yang diberikan, dan riwayat EPS sebelumnya. 7 Karenanya diperlukan penelitian yang J Indon Med Assoc, Volum: 63, Nomor: 1, Januari

3 dapat melihat gambaran dan karakteristik penggunaan triheksifenidil pada pasien yang mendapat terapi antipsikotik di PJD RSCM. Metode Penelitian ini menggunakan desain potong lintang deskriptif untuk melihat gambaran dan karakteristik penggunaan triheksifenidil pada pasien yang mendapat terapi antipsikotik di PJD RSCM periode bulan Agustus 2010 sampai dengan Juli Penelitian ini dilakukan dengan melihat gambaran pasien PJD RSCM yang mendapat obat triheksifenidil untuk mengetahui pola yang ada dalam satu waktu. Sampel yang digunakan adalah catatan rekam medis pasien rawat jalan yang mendapat obat triheksifenidil di PJD RSCM periode bulan Agustus 2010 sampai dengan bulan Juli Sampel diambil dengan cara random sampling setiap bulan. Besar sampel ditentukan dengan rumus untuk studi deskriptif kategorik dan diperoleh hasil sebesar Hasil Didapatkan bahwa jumlah total kunjungan pasien di PJD RSCM selama bulan Agustus 2010 sampai akhir Juli 2011 adalah Sedangkan total pemberian triheksifenidil di PJD RSCM selama bulan Agustus 2010 sampai akhir Juli 2011 adalah (44,99%). Dari sampel penelitian diperoleh data pasien yang mendapat obat triheksifenidil berjenis kelamin laki-laki 57,7% dan perempuan 42,3%. Kelompok usia terbanyak adalah kelompok usia 31 sampai 40 tahun (35%), kelompok usia 21 sampai 30 tahun (32%), kelompok usia 41 sampai 50 tahun (19%), dan kelompok usia tahun (5,2%). Distribusi tingkat pendidikan terbanyak adalah SMA yaitu sebanyak 76,3%, yang diikuti dengan SMP, SD, D3, dan S1, yang masing-masing sebesar 11,3%, 5,2%, 4,1%, dan 3,1%. Pada penelitian ini didapatkan empat diagnosis pada pasien PJD RSCM yang mendapat obat triheksifenidil (Tabel 1). Data tentang lima diagnosis penyakit terbanyak di PJD RSCM pada bulan Agustus 2010 sampai dengan akhir Juli 2011 adalah sebagai berikut dijabarkan dalam Tabel 2. Data tentang jenis suku atau etnis, status pernikahan, jenis pekerjaan, nomor telepon yang dapat dihubungi dan alamat pasien yang berobat ke PJD RSCM tidak tercatat dengan lengkap pada status rekam medis pasien. Pola pemberian antipsikotik di PJD RSCM, tergambar pada Tabel 3. Tabel 1. Jenis Diagnosis Pada Pasien yang Mendapat Triheksifenidil Diagnosis n=97 % F20: Skizofrenia paranoid 80 82,5 F25: Skizoafektif 9 9,3 F3: Gangguan afektif bipolar 7 7,2 F06: Gangguan mental lainnya akibat kerusakan 1 1,0 dan disfungsi otak dan penyakit fisik Tabel 4 menggambarkan tipe terapi dan jenis antipsikotik yang digunakan pada pasien di PJD RSCM yang mendapat triheksifenidil. Tabel 2. Lima Diagnosis Penyakit Terbanyak di PJD RSCM Periode Bulan Agustus 2010 Sampai Dengan Bulan Juli 2011 Diagnosis n=4721 % Skizofrenia paranoid ,98 Depresi ,99 Bipolar 472 9,99 Skizoafektif 283 5,99 Gangguan penyesuaian 188 3,98 Lain-lain ,05 Tabel 3. Jenis Terapi dengan Obat Antipsikotik Jumlah Antipsikotik n=97 % Satu Jenis Antipsikotik 66 68,04 Dua Jenis Antipsikotik 30 30,93 Tiga Jenis Antipsikotik 1 1,03 Tabel 4. Kombinasi Jenis Antipsikotik yang Digunakan Bersama dengan Triheksifenidil Jenis kombinasi Jenis antipsikotik n=97 % Satu jenis antipsikotik Haloperidol 3 3,1 CPZ 1 1 Trifluoperazin 1 1 Risperidon 55 56,7 Quetiapin 1 1 Klozapin 5 5,2 Dua jenis antipsikotik Haloperidol dan CPZ 5 5,2 Haloperidol dan risperidon 6 6,2 Haloperidol dan klozapin 4 4,1 Haloperidol dan quetiapin 1 1 CPZ dan trifluoperazin 2 2,1 Risperidon dan CPZ 3 3,1 Risperidon dan quetiapin 1 1 Risperidon dan klozapin 8 8,2 Tiga jenis antipsikotik Risperidon, CPZ dan 1 1 trifluoperazin Jenis antipsikotik terbanyak yang digunakan bersamaan dengan triheksifenidil adalah risperidon sebesar 58,4%, sedangkan yang menempati posisi kedua terbanyak adalah haloperidol sebesar 15,2%. Pola Penggunaan Triheksifenidil pada Pasien yang Mendapat Terapi Antipsikotik di PJD RSCM. Tabel 5 menggambarkan tentang pola penggunaan triheksifenidil pada pasien yang mendapat terapi antisikotika di PJD RSCM. Dari Tabel 5, diketahui bahwa pemeriksaan EPS sebelum diberikan triheksifenidil hanya dilakukan pada 8,2% kasus. Sebagian besar pasien tidak diperiksa tanda dan gejala EPS 16 J Indon Med Assoc, Volum: 63, Nomor: 1, Januari 2013

4 Tabel 5. Pemeriksaan EPS Sebelum Diberikan Triheksifenidil Pemeriksaan EPS n=97 % Ya 8 8,2 Tidak 89 91,8 sebelum diberikan obat triheksifenidil. Dari data ini juga dapat disimpulkan bahwa terdapat dua pola penggunaan triheksifenidil pada pasien PJD RSCM yang mendapat terapi obat antipsikotik di bulan Agustus 2010 sampai bulan Juli 2011, yaitu: 1. Pemberian obat triheksifenidil setelah didapatkan adanya EPS akibat pemberian obat antipsikotik. 2. Pemberian obat triheksifenidil langsung diberikan bersama dengan obat antipsikotik sejak awal pengobatan atau sebelum muncul EPS. Setelah pemberian triheksifenidil selama tiga bulan, seharusnya dilakukan evaluasi ulang dengan penghentian pemberian secara bertahap, sesuai panduan pelayanan medis departemen Psikiatri RSCM tahun Setelah dievaluasi, diketahui bahwa selama bulan Agustus 2010 sampai Juli 2011 tidak ada penghentian pemberian obat triheksifenidil walaupun sudah mencapai tiga bulan pengobatan tanpa ada gejala EPS lagi. Data tentang evaluasi ulang pemberian obat triheksifenidil, data jenis EPS yang terjadi akibat pemberian obat antipsikotik, dan data gejala sisa EPS serta data tentang riwayat terjadinya EPS sebelumnya akibat pemberian obat anti-psikotik pada pasien di PJD RSCM tidak tercatat di rekam medis pasien. Diskusi Karakteristik Subjek Penelitian Pada penelitian ini didapatkan jumlah total kunjungan pasien di PJD RSCM dari bulan Agustus 2010 sampai dengan Juli 2011 adalah kunjungan, sedangkan pemberian triheksifenidil selama periode tersebut sebesar (44,99%) kali pemberian. Lima diagnosis terbanyak selama periode bulan Agustus 2010 sampai dengan bulan Juli 2011 adalah skizofrenia paranoid sebesar 52,98%, gangguan depresi (14,99%), gangguan bipolar (9,99%), skizo-afektif (5,99%), dan gangguan penyesuaian (3,98%). Diagnosis terbanyak pada pasien yang diberikan triheksifenidil adalah F20 skizofrenia paranoid sebesar 82,5%, disusul oleh F25 skizoafektif sebesar 9,3%; dan F31 gangguan afektif bipolar sebesar 7,2%. Berdasarkan jenis kelamin, pasien yang mendapat terapi antipsikotik dan obat triheksifenidil di PJD RSCM terbanyak adalah pasien laki-laki sebesar 57,7%, sedangkan untuk kelompok usia pasien yang mendapat terapi antipsikotik dan obat triheksifenidil di PJD RSCM yang terbanyak di kelompok usia tahun sebesar 35% serta kelompok usia tahun sebesar 32%. Hasil ini tidak secara khusus menun-jukkan hubungan usia dengan terjadinya EPS, karena penelitian ini memang tidak menganalisis hubungan antara jenis kelamin dan usia dengan timbulnya EPS maupun pemberian obat triheksifenidil. Beberapa penelitian meenunjukkan bahwa laki-laki lebih rentan untuk mengalami EPS dibandingkan perempuan. 8,16 Pada penelitian Sramek dilaporkan bahwa usia yang berisiko timbulnya EPS pada kelompok usia kurang dari 35 tahun serta berjenis kelamin laki-laki. Berdasarkan hasil penelitian tersebut peneliti merasa perlu untuk dilakukan penelitian lanjutan di masa yang akan datang tentang hubungan antara jenis kelamin, usia, timbulnya EPS, dan pemberian obat triheksifenidil. Tingkat pendidikan pasien yang mendapat terapi antipsikotik dan obat triheksifenidil di PJD RSCM yang terbanyak adalah tingkat SMA, sebesar 76,3%. Peneliti belum men-jumpai adanya literatur yang membahas tentang hubungan antara tingkat pendidikan pasien dengan pemberian triheksifenidil. Peneliti juga merasa perlu bahwa di waktu yang akan datang dapat dilakukan suatu penelitian tentang hubungan antara tingkat pendidikan pasien dengan pemberian terapi triheksifenidil pada pasien yang mendapat obat antipsikotik. Pada panduan pelayanan medis Departemen Psikiatri RSCM tahun 2007 dan konsensus WHO disebutkan bahwa pemilihan jenis obat antipsikotik juga mempengaruhi timbulnya EPS. Obat dari psikotik Growson I menilai APG-I lebih sering menimbulkan EPS dibandingkan APG-II. Macam terapi antipsikotik juga mempengaruhi timbulnya EPS. Pemberian lebih dari satu macam antipsikotik (kombinasi dua atau tiga obat antipsikotik), lebih sering menimbulkan EPS dibandingkan dengan monoterapi (satu jenis antipsikotik). 6 Peneliti menilai bahwa telah terjadi ketidaksesuaian antara panduan pelayanan medis Departemen Psikiatri RSCM tahun 2007 dengan hasil penelitian ini. Pada penelitian ini didapatkan bahwa jenis antipsikotik yang digunakan terbanyak adalah obat antipsikotik APG-II risperidon (56,7%) dengan cara pemberian monoterapi. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi pemberian triheksifenidil berlebihan dan tidak sesuai dengan panduan pelayanan medis di PJD RSCM tahun Ada beberapa kemungkinan penyebab terjadinya hal tersebut, antara lain adanya ketidaktahuan petugas kesehatan di PJD RSCM tentang panduan penggunaan triheksifenidil tersebut. Kemungkinan lainnya adalah kurangnya sosialisasi tentang panduan pelayanan medis PJD RSCM tersebut pada petugas kesehatan yang bertugas di PJD RSCM. Ada beberapa data penting yang tidak tercatat pada rekam medis pasien yang berobat ke PJD RSCM, antara lain data tentang evaluasi ulang pemberian triheksifenidil, data tentang jenis EPS yang terjadi akibat pemberian antipsikotik, data tentang gejala sisa EPS, serta data tentang riwayat terjadinya EPS sebelumnya akibat pemberian obat antipsikotik pada pasien di PJD RSCM. Data-data tersebut penting untuk dilaporkan karena berguna untuk evaluasi pengobatan pasien. J Indon Med Assoc, Volum: 63, Nomor: 1, Januari

5 1. Anamnesis : riwayat pemakaian antipsikotika, dosis dan lamanya 2. Riwayat kondisi medis umum. 3. Pemeriksaan fisik dan gejala sindrom ekstrapiramidal ( instrumen Skala Penilaian Gejala Ekstrapiramidal/SPGE) 4. Pemeriksaan penunjang lain : Lab dll. Ya Riwayat EPS sebelumnya Predisposisi terjadi EPS Gejala sisa EPS Tidak Pemberian anti EPS atau triheksifenidil profilaktik Terjadi EPS Antipsikotik saja Distonia Parkinsonisme Akatisia Diskinesia tardif Gejala EPS tidak ada Difenhidramin 2 ml im atau Injeksi Benzodiazepin (diazepam 10 mg im) atau Sulfas Atropin 1-2 amp im Triheksifenidil 1-3 x 2 mg Turunkan dosis antipsikotik Difenhidramin mg/hari atau Triheksifenidil 1-3 x 2 mg/hari Turunkan dosis antipsikotik Beta bloker : Propanolol 3 x mg/hr per-oral atau Klonidin 3x0,1 mg/hr per-oral Ganti antipsikotika Diskinesia tardif Ringan Olanzapin/Quetiapin Diskinesia tardif Berat klozapin Gejala EPS tidak ada Ganti Antipsikotik Diazepam injeksi atau Lorazepam oral Ganti Antipsikotik 1. Lanjutkan pengobatan gejala EPS 2. Turunkan/stop pengobatan EPS jika selama 14 hari tidak ada gejala 1. Pengobatan EPS 2. Observasi 3 bulan EPS muncul kembali Tidak ada EPS Antipsikotik saja Gambar 1. Algoritma Penatalaksanaan EPS Di Poliklinik Jiwa Dewasa RSCM Diambil dari: RS Cipto Mangunkusumo. Panduan Pelayanan Medis Departemen Psikiatri. RSCM Jakarta: RS Cipto Mangunkusumo; p J Indon Med Assoc. Volum: 63, Nomor: 1, Januari 2013

6 Pola Penggunaan Triheksifenidil Pada Pasien yang Mendapat Terapi Antipsikotik di PJD RSCM Ditemukan dua pola penggunaan triheksifenidil pada pasien yang mendapat terapi antipsikotik di PJD RSCM, yakni pemberian triheksifenidil setelah didapatkan adanya EPS dan pemberian triheksifenidil langsung bersama dengan antipsikotik sejak awal pengobatan atau sebelum muncul EPS. Pola yang terbanyak digunakan adalah pola yang kedua yaitu sebesar 91,8%. Beberapa penelitian mendukung pola kedua ini dengan alasan meningkatkan kepatuhan berobat karena beberapa obat antipsikotik menimbulkan EPS yang tidak menyenangkan serta mengakibatkan pasien menolak meneruskan pengobatannya. Untuk pasien rawat inap, kejadian EPS dapat diatasi dengan segera; sedangkan dengan EPS yang terjadi pada pasien rawat ijalan tidak dapat segera diatasi karena memang ada hambatan untuk mengenali tanda EPS bagi keluarga atau pendamping pasien. Dengan diberikannya obat triheksifenidil bersama dengan obat anti-psikotiksecara langsung pada saat pertama berobat diharapkan tidak muncul EPS sehingga pasien dapat dengan sukarela meneruskan pengobatannya. 11,12 Pemberian obat triheksifenidil dapat menimbulkan efek samping yang serius, seperti munculnya kembali gejala psikotik berupa halusinasi, agresif, kebingungan (psikosis toksik). selain efek samping dari triheksifenidil yang bekerja menghambat reseptor asetilkolin muskarinik dapat berupa gejala-gejala sebagai berikut: pandangan mata menjadi kabur, konstipasi, produksi air liur berkurang, fotofobia, berkurangnya produksi keringat, hipertermia, sinus takikardi, retensi urin, penurunan daya ingat, mencetuskan asma, mencetuskan glaukoma sudut sempit, menimbulkan hambatan ejakulasi, menimbulkan retrograt ejakulasi dan dapat menimbulkan delirium hingga koma. Dengan diketahuinya berbagai efek samping yang dapat timbul akibat penggunaan obat triheksifenidil, maka WHO mengeluarkan sebuah konsensus yang memberi panduan tentang penggunaan triheksifenidil tersebut. 6,13 Pada panduan pelayanan medis departemen Psikiatri RSCM tahun 2007 dan konsensus WHO disebutkan bahwa pemberian obat triheksifenidil bersama dengan obat antipsikotik untuk mencegah munculnya EPS harus diawasi dengan melakukan evaluasi ulang tiap tiga bulan dengan mengurangi dosis triheksifenidil tersebut sampai hilang. Bila timbul EPS akibat pengurangan dosis triheksifenidil, dosis dikembalikan ke dosis terapi dan tiap enam bulan dievaluasi ulang. Pada penelitian ini didapatkan bahwa pemberian triheksifenidil di PJD RSCM dilakukan tanpa prosedur ini. Semua pasien yang mendapat obat triheksifenidil tetap diteruskan pemberiannya sampai melewati waktu tiga bulan serta tidak ada evaluasi ulang pemberian obat tersebut. Pola pemberian triheksifenidil pada pasien yang mendapatkan obat antipsikotik di PJD RSCM periode bulan Agustus 2010 sampai dengan bulan Juli 2011 adalah dengan pemberian langsung obat triheksifenidil lalu tanpa disertai pemeriksaan EPS terlebih dulu. Selain itu, tidak dilakukan evaluasi ulang tiap tiga bulan, sehingga pemberian obat triheksifenidil tidak sesuai dengan panduan pelayanan medis departemen Psikiatri RSCM tahun 2007 serta dalam konsensus WHO tentang penatalaksanaan EPS. Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini tidak ditampilkan data tentang dosis obat yang digunakan, baik besar dosis obat antipsikotika maupun obat triheksifenidil. Peneliti mengalami kesulitan dalam mencatat dan menyusun data tentang dosis obat. Beberapa dosis ditulis secara tidak konsisten, seperti penulisan dosis ditulis dengan satuan miligram yang kemudian berubah menjadi satuan bagian obat (setengah tablet). Pemberian yang tidak lazim seperti titrasi dosis yang tidak seragam juga mengakibatkan dalam proses pengelompokkan. Banyak data yang dicari tidak tercatat dan tidak dapat dikonfirmasi langsung ke orang yang mengumpulkan data primernya, misalnya tentang alasan pemberian obat antipsikotik jenis tertentu dan beratnya gejala EPS yang timbul. Kesimpulan Pola yang terbanyak digunakan adalah pemberian obat triheksifenidil langsung bersama dengan obat antipsikotik sejak awal pengobatan atau sebelum muncul EPS yaitu sebesar 91,8%. Daftar Pustaka 1. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. Konsensus penatalaksanaan gangguan skizofrenia. Jakarta: PDSKJI; p Guthrie SK, Manzey L, Scott D, Giordani B, Tandon R. Comparison of central and peripheral pharmacologic effects of biperiden and trihexyphenidyl in Human volunteers. J Clin Psychopharmacol. 2000;20(1): McInnis M, Petursson H. Withdrawal of trihexyphenidyl. Acta Psychiatr Scand. 1985;71(3): Bazire S. Psychotropic drug directory 2000 (the professionals pocket handbook & aide-mémoire). London: Quay Books; p Bratti IM, Kane JM, Marder SR. Chronic restlessness with antipsychotics. Am J Psychiatry. 2007;164: Stanilla JK, Simpson GM. Drugs to treat extrapyramidal side effects. In: Schatzberg AF, Nemeroff CB, editors. The American Psychiatric Publishing textbook of psychopharmacology 3rd ed. Arlington; The American Psychiatric Publishing; p Marder SR, Kane JM. Schizophrenia. In: Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P, editors. Kaplan and Sadock s comprehensive textbook of psychiatry. 8 th ed. New York: Lippincott Williams and Wilkins; p Marder SR, Van Kammen DP. Dopamine receptor antagonists. In: Sadock BJ, Sadock VA, Ruiz P, editors. Kaplan and Sadock s comprehensive textbook of psychiatry. 8 th ed. New York: Lippincott Williams and Wilkins; p van Harten PN, Hoek HW, Kahn RS. Acute dystonia induced by drug treatment. BMJ. 1999;319(7210): RS Cipto Mangunkusumo. Panduan Pelayanan Medis Departemen Psikiatri. RSCM Jakarta: RS Cipto Mangunkusumo; MR Lavin, A Rifkin. Prophylactic antiparkinson drug use: I. Initial prophylaxis and prevention of extrapyramidal side ef- J Indon Med Assoc, Volum: 63, Nomor: 1, Januari

7 fects. J Clin Pharmacol. 1991;31(8): MR Lavin, A Rifkin. Prophylactic antiparkinson drug use: II. Withdrawal after long-term maintenance therapy. J Clin Pharmacol. 1991;31(8): WHO. Prophylactic use of anticholinergics in patients on longterm neuroleptic treatment. A consensus statement. World Health Organization heads of centres collaborating in WHO co-ordinated studies on biological aspects of mental illness. Br J Psychiatry. 1990;156: Keepers GA, Clappison VJ, Casey DE. Initial anticholinergic prophylaxis for neuroleptic-induced extrapyramidal syndromes. Arch Gen Psychiatry. 1983;40(10): Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Jakarta: CV. Sagung Seto; Agashe M, Dhawale DM, Cozma G, Mogre V. Risperidone in schizophrenia. Indian J Psychiatry. 1999; 41(1): J Indon Med Assoc, Volum: 63, Nomor: 1, Januari 2013

STUDI RETROSPEKTIF PENGGUNAAN TRIHEXYFENIDIL PADA PASIEN SKIZOFRENIA RAWAT INAP YANG MENDAPAT TERAPI ANTIPSKOTIK DI RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM

STUDI RETROSPEKTIF PENGGUNAAN TRIHEXYFENIDIL PADA PASIEN SKIZOFRENIA RAWAT INAP YANG MENDAPAT TERAPI ANTIPSKOTIK DI RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM GALENIKA JOURNAL OF PHARMACY GALENIKA Journal of Pharmacy Vol. 2 (2) : 124-131 ISSN : 2442-8744 October 2016 STUDI RETROSPEKTIF PENGGUNAAN TRIHEXYFENIDIL PADA PASIEN SKIZOFRENIA RAWAT INAP YANG MENDAPAT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang harus diberi perhatian. Skizofrenia merupakan sindrom heterogen

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. yang harus diberi perhatian. Skizofrenia merupakan sindrom heterogen BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Skizofrenia merupakan penyakit otak yang presisten dan serius yang harus diberi perhatian. Skizofrenia merupakan sindrom heterogen kronis yang ditandai dengan

Lebih terperinci

1. Dokter Umum 2. Perawat KETERKAITAN : PERALATAN PERLENGKAPAN : 1. SOP anamnesa pasien. Petugas Medis/ paramedis di BP

1. Dokter Umum 2. Perawat KETERKAITAN : PERALATAN PERLENGKAPAN : 1. SOP anamnesa pasien. Petugas Medis/ paramedis di BP NOMOR SOP : TANGGAL : PEMBUATAN TANGGAL REVISI : REVISI YANG KE : TANGGAL EFEKTIF : Dinas Kesehatan Puskesmas Tanah Tinggi Kota Binjai PUSKESMAS TANAH TINGGI DISAHKAN OLEH : KEPALA PUSKESMAS TANAH TINGGI

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. Menurut Asosiasi Psikiatri Amerika dalam Diagnostic and Statistical Manual

BAB 1. PENDAHULUAN. Menurut Asosiasi Psikiatri Amerika dalam Diagnostic and Statistical Manual BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Menurut Asosiasi Psikiatri Amerika dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder, Fourth Edition, Text Revision (DSM-IV-TR) agitasi didefinisikan sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Di Indonesia, masalah kesehatan jiwa banyak terjadi dengan berbagai variasi dan gejala yang berbeda-beda. Seseorang dikatakan dalam kondisi jiwa yang sehat,

Lebih terperinci

PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017 p-issn ; e-issn X

PHARMACY, Vol.14 No. 01 Juli 2017 p-issn ; e-issn X ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA DAN TERAPI ANTIPSIKOTIK HALOPERIDOL-KLORPROMAZIN DAN RISPERIDON-KLOZAPIN PADA PASIEN SKIZOFRENIA COST-EFFECTIVENESS ANALYSIS AND EFFICACY OF ANTIPSYCHOTICS THERAPY OF HALOPERIDOL-CHLORPROMAZINE

Lebih terperinci

POLA PENGOBATAN PASIEN SCHIZOPRENIA PROGRAM RUJUK BALIK DI PUSKESMAS MUNGKID PERIODE JANUARI-JUNI 2014

POLA PENGOBATAN PASIEN SCHIZOPRENIA PROGRAM RUJUK BALIK DI PUSKESMAS MUNGKID PERIODE JANUARI-JUNI 2014 Pola Pengobatan Pasien Schizoprenia (Hariyani, dkk) 6 POLA PENGOBATAN PASIEN SCHIZOPRENIA PROGRAM RUJUK BALIK DI PUSKESMAS MUNGKID PERIODE JANUARI-JUNI 2014 THE TREATMENT PATTERN OF SCHIZOPRENIA PATIENT

Lebih terperinci

Keywords : schizophrenia, the combination therapy, Risperidone, Haloperidol, costeffectiveness.

Keywords : schizophrenia, the combination therapy, Risperidone, Haloperidol, costeffectiveness. ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA TERAPI KOMBINASI DARI RISPERIDON DAN HALOPERIDOL PADA FASE AKUT PASIEN SKIZOFRENIA Cost-Effectiveness Analysis of Combination Therapy between Risperidone and Haloperidol On Acute

Lebih terperinci

Artikel Penelitian Majalah Kesehatan Pharmamedika 2013, Vol 5 No. 1 15

Artikel Penelitian Majalah Kesehatan Pharmamedika 2013, Vol 5 No. 1 15 Artikel Penelitian Majalah Kesehatan Pharmamedika 2013, Vol 5 No. 1 15 Usia Onset Pertama Penderita Skizofrenik Pada Laki Laki dan Yang Berobat Ke Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit Jiwa Propinsi Sumatera

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. serta adanya gangguan fungsi psikososial (Sukandar dkk., 2013). Skizofrenia

BAB I PENDAHULUAN. serta adanya gangguan fungsi psikososial (Sukandar dkk., 2013). Skizofrenia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Skizofrenia merupakan sindrom heterogen kronis yang ditandai dengan pola pikir yang tidak teratur, delusi, halusinasi, perubahan perilaku yang tidak tepat serta

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. Skizofrenia merupakan suatu gangguan yang menyebabkan penderitaan dan

BAB 1. PENDAHULUAN. Skizofrenia merupakan suatu gangguan yang menyebabkan penderitaan dan BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Skizofrenia merupakan suatu gangguan yang menyebabkan penderitaan dan ketidakmampuan bagi pasien dan secara signifikan menimbulkan beban yang berat bagi dirinya sendiri,

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. Agitasi adalah gejala perilaku yang bermanifestasi dalam penyakit-penyakit psikiatrik yang luas.

BAB 1. PENDAHULUAN. Agitasi adalah gejala perilaku yang bermanifestasi dalam penyakit-penyakit psikiatrik yang luas. BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Agitasi adalah gejala perilaku yang bermanifestasi dalam penyakit-penyakit psikiatrik yang luas. Agitasi sering dijumpai di pelayanan gawat darurat psikiatri sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit yang sulit disembuhkan, memalukan,

BAB I PENDAHULUAN. bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit yang sulit disembuhkan, memalukan, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gangguan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Gangguan jiwa dapat menyerang semua usia. Sifat serangan penyakit biasanya akut tetapi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan yang kacau, delusi, halusinasi,

BAB 1 PENDAHULUAN. dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan yang kacau, delusi, halusinasi, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Skizofrenia adalah gangguan mental yang sangat berat. Gangguan ini ditandai dengan gejala-gejala positif seperti pembicaraan yang kacau, delusi, halusinasi, gangguan

Lebih terperinci

ASPEK BIOLOGI TRIHEKSIFENIDIL DI BIDANG PSIKIATRI

ASPEK BIOLOGI TRIHEKSIFENIDIL DI BIDANG PSIKIATRI ASPEK BIOLOGI TRIHEKSIFENIDIL DI BIDANG PSIKIATRI I GUSTI AYU VIVI SWAYAMI Program Pendidikan Dokter Spesialis-1 Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana/ Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Skizofrenia merupakan suatu penyakit otak persisten dan serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memproses informasi, hubungan

Lebih terperinci

GAMBARAN POLA PENGGUNAAN ANTIPSIKOTIK PADA PASEN SKIZOFRENIA DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT JIWA

GAMBARAN POLA PENGGUNAAN ANTIPSIKOTIK PADA PASEN SKIZOFRENIA DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT JIWA p-issn: 2088-8139 e-issn: 2443-2946 Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi GAMBARAN POLA PENGGUNAAN ANTIPSIKOTIK PADA PASEN SKIZOFRENIA DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT JIWA THE DESCRIPTION OF ANTIPSYCHOTICS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Kesehatan merupakan harta yang paling penting dalam kehidupan manusia. Kesehatan merupakan hak bagi setiap warga negara seperti yang telah diatur oleh undang-undang.

Lebih terperinci

Karakteristik Demografi Pasien Depresi di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali Periode

Karakteristik Demografi Pasien Depresi di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali Periode Karakteristik Demografi Pasien Depresi di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar Bali Periode 2011-2013 Nyoman Ari Yoga Wirawan Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

Lebih terperinci

BEDA PERSEPSI DOKTER PUSKESMAS INTEGRASI DAN NON INTEGRASI DI KABUPATEN KLATEN TERHADAP PENDERITA SKIZOFRENIA

BEDA PERSEPSI DOKTER PUSKESMAS INTEGRASI DAN NON INTEGRASI DI KABUPATEN KLATEN TERHADAP PENDERITA SKIZOFRENIA BEDA PERSEPSI DOKTER INTEGRASI DAN NON INTEGRASI DI KABUPATEN KLATEN TERHADAP PENDERITA SKIZOFRENIA DIFFERENT PERCEPTION BETWEEN INTEGRATION AND NON-INTEGRATION PRIMARY CARE DOCTOR IN KLATEN REGENCY TOWARDS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Skizofrenia menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan

BAB I PENDAHULUAN. Skizofrenia menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Skizofrenia menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III (PPDGJ, 2001) adalah suatu sindrom dengan variasi penyebab dan perjalanan penyakit

Lebih terperinci

GAMBARAN EFEK SAMPING ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN SKIZOFRENIA PADA BANGSAL RAWAT INAP DI RS. GRHASIA YOGYAKARTA

GAMBARAN EFEK SAMPING ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN SKIZOFRENIA PADA BANGSAL RAWAT INAP DI RS. GRHASIA YOGYAKARTA GAMBARAN EFEK SAMPING ANTIPSIKOTIK PADA PASIEN SKIZOFRENIA PADA BANGSAL RAWAT INAP DI RS. GRHASIA YOGYAKARTA DESCRIPTION OF SIDE EFFECTS OF ANTI PSYCHOTIC DRUG IN SCHIZOPHRENIA PATIENT IN GRHASIA HOSPITAL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terlupakan, padahal kasusnya cukup banyak ditemukan, hal ini terjadi karena

BAB I PENDAHULUAN. terlupakan, padahal kasusnya cukup banyak ditemukan, hal ini terjadi karena 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di dalam ruang lingkup ilmu penyakit dalam, depresi masih sering terlupakan, padahal kasusnya cukup banyak ditemukan, hal ini terjadi karena seringkali pasien depresi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bergaul, beraktivitas, dan lain-lain dengan kesehatan yang baik. Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. bergaul, beraktivitas, dan lain-lain dengan kesehatan yang baik. Kesehatan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kesehatan merupakan aset yang berharga dalam kehidupan setiap manusia. Seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya, seperti bekerja, bergaul, beraktivitas,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berpikir abstrak) serta kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari (Keliat

BAB I PENDAHULUAN. berpikir abstrak) serta kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari (Keliat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Definisi skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang ditandai dengan penurunan atau ketidakmampuan berkomunikasi, gangguan realitas (halusinasi atau waham),

Lebih terperinci

TINGKAT STRES PADA CAREGIVER PASIEN GANGGUAN JIWA PSIKOTIK LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH

TINGKAT STRES PADA CAREGIVER PASIEN GANGGUAN JIWA PSIKOTIK LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH TINGKAT STRES PADA CAREGIVER PASIEN GANGGUAN JIWA PSIKOTIK LAPORAN HASIL PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti ujian hasil Karya Tulis Ilmiah mahasiswa program strata-1

Lebih terperinci

EVALUASI KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIPSIKOTIK ORAL PASIEN SKIZOFRENIA DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA SKRIPSI

EVALUASI KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIPSIKOTIK ORAL PASIEN SKIZOFRENIA DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA SKRIPSI EVALUASI KEPATUHAN MINUM OBAT ANTIPSIKOTIK ORAL PASIEN SKIZOFRENIA DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA SKRIPSI Oleh: DHIKA ASRI PURNAMISIWI K100120190 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Skizofrenia merupakan suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya gangguan pikiran, persepsi, emosi, gerakan dan perilaku yang aneh. Penyakit ini

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Gangguan bipolar dulunya dikenal sebagai gangguan manik

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Gangguan bipolar dulunya dikenal sebagai gangguan manik BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA Gangguan bipolar dulunya dikenal sebagai gangguan manik depresif, yaitu gangguan kronik dari regulasi mood yang dihasilkan pada episode depresi dan mania. Gejala psikotik mungkin

Lebih terperinci

Studi Perilaku Kontrol Asma pada Pasien yang tidak teratur di Rumah Sakit Persahabatan

Studi Perilaku Kontrol Asma pada Pasien yang tidak teratur di Rumah Sakit Persahabatan Studi Perilaku Kontrol Asma pada Pasien yang tidak teratur di Rumah Sakit Persahabatan Herry Priyanto*, Faisal Yunus*, Wiwien H.Wiyono* Abstract Background : Method : April 2009 Result : Conclusion : Keywords

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyakit jiwa sampai saat ini memang masih dianggap sebagai penyakit yang memalukan, menjadi aib bagi si penderita dan keluarganya sendiri. Masyarakat kita menyebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gangguan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering kali luput dari perhatian. Orang sengaja menghindari dan tidak mencari bantuan bagi keluarganya yang

Lebih terperinci

JUMLAH PASIEN MASUK RUANG PERAWATAN INTENSIF BERDASARKAN KRITERIA PRIORITAS MASUK DI RSUP DR KARIADI PERIODE JULI - SEPTEMBER 2014

JUMLAH PASIEN MASUK RUANG PERAWATAN INTENSIF BERDASARKAN KRITERIA PRIORITAS MASUK DI RSUP DR KARIADI PERIODE JULI - SEPTEMBER 2014 JUMLAH PASIEN MASUK RUANG PERAWATAN INTENSIF BERDASARKAN KRITERIA PRIORITAS MASUK DI RSUP DR KARIADI PERIODE JULI - SEPTEMBER 2014 Vanesha Sefannya Gunawan 1, Johan Arifin 2, Akhmad Ismail 3 1 Mahasiswa

Lebih terperinci

INSOMNIA DAN DIAGNOSIS PSIKIATRI PADA PASIEN DI INSTALASI RAWAT DARURAT (IRD) RSUP SANGLAH

INSOMNIA DAN DIAGNOSIS PSIKIATRI PADA PASIEN DI INSTALASI RAWAT DARURAT (IRD) RSUP SANGLAH INSOMNIA DAN DIAGNOSIS PSIKIATRI PADA PASIEN DI INSTALASI RAWAT DARURAT (IRD) RSUP SANGLAH *Alfa Matrika Sapta Dewanti, **Ni Ketut Sri Diniari *Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK PASIEN DAN PENGOBATAN PENDERITA SKIZOFRENIA DI RSJD ATMA HUSADA MAHAKAM SAMARINDA

KARAKTERISTIK PASIEN DAN PENGOBATAN PENDERITA SKIZOFRENIA DI RSJD ATMA HUSADA MAHAKAM SAMARINDA KARAKTERISTIK PASIEN DAN PENGOBATAN PENDERITA SKIZOFRENIA DI RSJD ATMA HUSADA MAHAKAM SAMARINDA Aulia Nisa, Victoria Yulita Fitriani, Arsyik Ibrahim Laboratorium Penelitian dan Pengembangan FARMAKA TROPIS

Lebih terperinci

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT JIWA DAERAH Dr. RM SOEDJARWADI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2009

EVALUASI PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT JIWA DAERAH Dr. RM SOEDJARWADI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2009 EVALUASI PENGGUNAAN OBAT PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT JIWA DAERAH Dr. RM SOEDJARWADI PROVINSI JAWA TENGAH TAHUN 2009 SKRIPSI Oleh : TITIN SETYANINGSIH K 100 060 098 FAKULTAS

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER 2014

ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER 2014 ABSTRAK GAMBARAN PENYAKIT DIABETES MELITUS PADA ORANG DEWASA YANG DIRAWAT INAP DIRUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE Evan Anggalimanto, 2015 Pembimbing 1 : Dani, dr., M.Kes Pembimbing 2 : dr Rokihyati.Sp.P.D

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Penelitian yang berjudul Evaluasi ketepatan penggunaan antibiotik untuk pengobatan ISPA pada balita rawat inap di RSUD Kab Bangka Tengah periode 2015 ini

Lebih terperinci

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENDERITA TUBERKULOSIS TERHADAP KETIDAKPATUHAN DALAM PENGOBATAN MENURUT SISTEM DOTS DI RSU

GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENDERITA TUBERKULOSIS TERHADAP KETIDAKPATUHAN DALAM PENGOBATAN MENURUT SISTEM DOTS DI RSU ABSTRAK GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU PENDERITA TUBERKULOSIS TERHADAP KETIDAKPATUHAN DALAM PENGOBATAN MENURUT SISTEM DOTS DI RSU dr. SLAMET GARUT PERIODE 1 JANUARI 2011 31 DESEMBER 2011 Novina

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. klinis bermakna yang berhubungan dengan distres atau penderitaan dan

BAB 1 PENDAHULUAN. klinis bermakna yang berhubungan dengan distres atau penderitaan dan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Gangguan jiwa yaitu suatu sindrom atau pola perilaku yang secara klinis bermakna yang berhubungan dengan distres atau penderitaan dan menimbulkan gangguan pada satu

Lebih terperinci

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS PSIKIATRI

UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS PSIKIATRI UNIVERSITAS SEBELAS MARET FAKULTAS KEDOKTERAN SILABUS PSIKIATRI Program Studi : Kedokteran Kode Blok : Blok 20 Blok : PSIKIATRI Semester : 5 Standar Kompetensi : Mampu memahami dan menjelaskan tentang

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK DAN VARIASI DIAGNOSIS KUNJUNGAN PASIEN DI POLIKLINIK JIWA RSUP SANGLAH

KARAKTERISTIK DAN VARIASI DIAGNOSIS KUNJUNGAN PASIEN DI POLIKLINIK JIWA RSUP SANGLAH KARAKTERISTIK DAN VARIASI DIAGNOSIS KUNJUNGAN PASIEN DI POLIKLINIK JIWA RSUP SANGLAH Oleh: Wangi Niko Yuandika Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Abstrak Di negara berkembang seperti di Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Skizofrenia merupakan salah satu gangguan psikiatrik yang sangat kompleks, yang ditandai dengan sindrom heterogen seperti pikiran kacau dan aneh, delusi, halusinasi,

Lebih terperinci

Online Jurnal of Natural Science, Vol.3(2): ISSN: Agustus 2014

Online Jurnal of Natural Science, Vol.3(2): ISSN: Agustus 2014 di Instalasi Rawat Inap Jiwa RSD Madani Provinsi Sulawesi Tengah Periode Januari-April 2014 Rasionality of Antipsychotic Usage On Schizophrenia Patient at Mental Health Department of Madani Hospital of

Lebih terperinci

PEDOMAN DIAGNOSTIK. Berdasarkan DSM-IV-TR, klasifikasi gangguan bipolar adalah sebagai berikut:

PEDOMAN DIAGNOSTIK. Berdasarkan DSM-IV-TR, klasifikasi gangguan bipolar adalah sebagai berikut: Lampiran 1 PEDOMAN DIAGNOSTIK Berdasarkan DSM-IV-TR, klasifikasi gangguan bipolar adalah sebagai berikut: 1. Gangguan bipolar I Ditandai oleh 1 atau lebih episode manik atau campuran, yang biasanya disertai

Lebih terperinci

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedaruratan psikiatri adalah sub bagian dari psikiatri yang. mengalami gangguan alam pikiran, perasaan, atau perilaku yang

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA. Kedaruratan psikiatri adalah sub bagian dari psikiatri yang. mengalami gangguan alam pikiran, perasaan, atau perilaku yang BAB II. TINJAUAN PUSTAKA II.1. Kedaruratan Psikiatri Kedaruratan psikiatri adalah sub bagian dari psikiatri yang mengalami gangguan alam pikiran, perasaan, atau perilaku yang membutuhkan intervensi terapeutik

Lebih terperinci

Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Jiwa/Psikiatri

Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Jiwa/Psikiatri Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Jiwa/Psikiatri Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PP PDSKJI) 2012 Tim Penyusun PNPK Ketua DR. dr. Nurmiati Amir, SpKJ(K) Anggota dr.

Lebih terperinci

Farmaka Volume 15 Nomor 3 86

Farmaka Volume 15 Nomor 3 86 Volume 15 Nomor 3 86 PENGARUH PEMBERIAN KOMBINASI ANTIPSIKOTIK TERHADAP EFEK SAMPING SINDROM EKSTRAPIRAMIDAL PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM Dwi Saputri Handayani, Noor Cahaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karena adanya kekacauan pikiran, persepsi dan tingkah laku di mana. tidak mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain,

BAB I PENDAHULUAN. karena adanya kekacauan pikiran, persepsi dan tingkah laku di mana. tidak mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena adanya kekacauan pikiran, persepsi dan tingkah laku di mana individu tidak mampu menyesuaikan

Lebih terperinci

PSIKOTERAPI PADA PENYAKIT SKIZOFRENIA PSYCHOTHERAPY SUPPORT ON SCIZOPHRENIA

PSIKOTERAPI PADA PENYAKIT SKIZOFRENIA PSYCHOTHERAPY SUPPORT ON SCIZOPHRENIA PSIKOTERAPI PADA PENYAKIT SKIZOFRENIA Widyawati Suhendro Bagian/ SMF Psikiatri, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah ABSTRAK Skizofrenia merupakan suatu deskripsi penyakit

Lebih terperinci

TESIS. Disusun Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Mencapai Gelar Dokter Spesialis Program Studi Ilmu Kedokteran Jiwa.

TESIS. Disusun Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Mencapai Gelar Dokter Spesialis Program Studi Ilmu Kedokteran Jiwa. PERBANDINGAN KEEFEKTIFAN ANTARA ANTIPSIKOTIK KOMBINASI DENGAN MONOTERAPI TERHADAP KUALITAS HIDUP, KEPATUHAN MINUM OBAT, DAN GEJALA NEGATIF PASIEN SKIZOFRENIA DI RS dr. ARIF ZAINUDIN SURAKARTA TESIS Disusun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Prevalensi penderita skizofrenia sekitar 1% dari populasi orang dewasa di Amerika Serikat, dengan jumlah keseluruhan lebih dari 2 juta orang (Nevid et al.,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/73/2015 TENTANG PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN JIWA

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/73/2015 TENTANG PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN JIWA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.02.02/MENKES/73/2015 TENTANG PEDOMAN NASIONAL PELAYANAN KEDOKTERAN JIWA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

GANGGUAN PSIKOTIK TERBAGI. Pembimbing: Dr. M. Surya Husada Sp.KJ. disusun oleh: Ade Kurniadi ( )

GANGGUAN PSIKOTIK TERBAGI. Pembimbing: Dr. M. Surya Husada Sp.KJ. disusun oleh: Ade Kurniadi ( ) GANGGUAN PSIKOTIK TERBAGI Pembimbing: Dr. M. Surya Husada Sp.KJ disusun oleh: Ade Kurniadi (080100150) DEPARTEMEN ILMU KEDOKTERAN JIWA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA RUMAH SAKIT JIWA PROVINSI

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yang aneh dan tidak beraturan, angan-angan, halusinasi, emosi yang tidak tepat,

I. PENDAHULUAN. yang aneh dan tidak beraturan, angan-angan, halusinasi, emosi yang tidak tepat, I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Skizofrenia merupakan sindrom kronik yang beranekaragam dari pemikiran yang aneh dan tidak beraturan, angan-angan, halusinasi, emosi yang tidak tepat, paham yang

Lebih terperinci

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI POLI KLINIK RUMAH SAKIT JIWA Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG ABSTRAK

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI POLI KLINIK RUMAH SAKIT JIWA Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG ABSTRAK HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI POLI KLINIK RUMAH SAKIT JIWA Dr. AMINO GONDOHUTOMO SEMARANG Riska Wulansari*), Zumrotul Choiriyah**), Raharjo Apriyatmoko***)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Gangguan jiwa atau mental menurut DSM-IV-TR (Diagnostic and Stastistical

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Gangguan jiwa atau mental menurut DSM-IV-TR (Diagnostic and Stastistical BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gangguan jiwa atau mental menurut DSM-IV-TR (Diagnostic and Stastistical Manual of Mental Disorder, 4th edition) adalah perilaku atau sindrom psikologis klinis

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS PERIODE JANUARI 2013 DESEMBER : Triswaty Winata, dr., M.Kes.

ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS PERIODE JANUARI 2013 DESEMBER : Triswaty Winata, dr., M.Kes. ABSTRAK GAMBARAN PENDERITA TB PARU DI PUSKESMAS PAMARICAN KABUPATEN CIAMIS PERIODE JANUARI 2013 DESEMBER 2015 Annisa Nurhidayati, 2016, Pembimbing 1 Pembimbing 2 : July Ivone, dr.,mkk.,m.pd.ked. : Triswaty

Lebih terperinci

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia?

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia? Skizofrenia Skizofrenia merupakan salah satu penyakit otak dan tergolong ke dalam jenis gangguan mental yang serius. Sekitar 1% dari populasi dunia menderita penyakit ini. Pasien biasanya menunjukkan gejala

Lebih terperinci

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract PENDAHULUAN. Nitari Rahmi 1, Irvan Medison 2, Ifdelia Suryadi 3

Artikel Penelitian. Abstrak. Abstract PENDAHULUAN.  Nitari Rahmi 1, Irvan Medison 2, Ifdelia Suryadi 3 345 Artikel Penelitian Hubungan Tingkat Kepatuhan Penderita Tuberkulosis Paru dengan Perilaku Kesehatan, Efek Samping OAT dan Peran PMO pada Pengobatan Fase Intensif di Puskesmas Seberang Padang September

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Agitasi adalah gejala perilaku yang bermanifestasi dalam penyakit-penyakit

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Agitasi adalah gejala perilaku yang bermanifestasi dalam penyakit-penyakit BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Agitasi Agitasi adalah gejala perilaku yang bermanifestasi dalam penyakit-penyakit psikiatrik yang luas. Agitasi sangatlah sering dijumpai di dalam pelayanan gawat darurat

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI ADVERSE DRUG REACTIONS

IDENTIFIKASI ADVERSE DRUG REACTIONS IDENTIFIKASI ADVERSE DRUG REACTIONS (ADR) PENGGUNAAN OBAT ANTIDEPRESAN PADA PASIEN DEPRESI RAWAT JALAN DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH SURAKARTA PERIODE AGUSTUS TAHUN 2015 NASKAH PUBLIKASI Oleh: NIKO PRASETYO

Lebih terperinci

BAB III PENUTUP. terhadap anggota keluarga penderita Skizofrenia yang mengalami. preventif dan rehabilitatif.

BAB III PENUTUP. terhadap anggota keluarga penderita Skizofrenia yang mengalami. preventif dan rehabilitatif. 43 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan uraian pada bab-bab sebelumnya, maka sebagai jawaban terhadap permasalahan yang diajukan dalam penulisan hukum ini dapat disimpulkan bahwa untuk memberikan

Lebih terperinci

Kata kunci : terapi elektro konvulsi, parameter praktik.

Kata kunci : terapi elektro konvulsi, parameter praktik. ABSTRAK Terapi elektro konvulsi (TEK) telah dikenal sebagai terapi pilihan untuk pengobatan gangguan jiwa. TEK diyakini mengubah neurokimia otak dalam banyak cara seperti halnya obat-obatan, tetapi perubahan

Lebih terperinci

Gangguan Bipolar. Febrilla Dejaneira Adi Nugraha. Pembimbing : dr. Frilya Rachma Putri, Sp.KJ

Gangguan Bipolar. Febrilla Dejaneira Adi Nugraha. Pembimbing : dr. Frilya Rachma Putri, Sp.KJ Gangguan Bipolar Febrilla Dejaneira Adi Nugraha Pembimbing : dr. Frilya Rachma Putri, Sp.KJ Epidemiologi Gangguan Bipolar I Mulai dikenali masa remaja atau dewasa muda Ditandai oleh satu atau lebih episode

Lebih terperinci

PREVALENSI NEFROPATI PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II YANG DIRAWAT INAP DAN RAWAT JALAN DI SUB BAGIAN ENDOKRINOLOGI PENYAKIT DALAM, RSUP H

PREVALENSI NEFROPATI PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II YANG DIRAWAT INAP DAN RAWAT JALAN DI SUB BAGIAN ENDOKRINOLOGI PENYAKIT DALAM, RSUP H PREVALENSI NEFROPATI PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE II YANG DIRAWAT INAP DAN RAWAT JALAN DI SUB BAGIAN ENDOKRINOLOGI PENYAKIT DALAM, RSUP H. ADAM MALIK, MEDAN PADA TAHUN 2009 Oleh: LIEW KOK LEONG

Lebih terperinci

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF PSIKIATRI RSAL dr. MINTOHARDJO

PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF PSIKIATRI RSAL dr. MINTOHARDJO PANDUAN PRAKTIK KLINIS SMF PSIKIATRI RSAL dr. MINTOHARDJO 2014 DAFTAR ISI Halaman Pendahuluan... 1 PNPK Delirium... 3 PNPK Demensia... 10 PNPK Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Zat Psikoaktif...

Lebih terperinci

Psikoedukasi keluarga pada pasien skizofrenia

Psikoedukasi keluarga pada pasien skizofrenia Psikoedukasi keluarga pada pasien skizofrenia Posted by Lahargo Kembaren ABSTRAK Skizofrenia merupakan gangguan kronik yang sering menimbulkan relaps. Kejadian relaps yang terjadi pada pasien skizofrenia

Lebih terperinci

MODUL KEPANITERAAN KLINIK ROTASI II BAGIAN PSIKIATRI

MODUL KEPANITERAAN KLINIK ROTASI II BAGIAN PSIKIATRI MODUL KEPANITERAAN KLINIK ROTASI II BAGIAN PSIKIATRI BAGIAN PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2016 DAFTAR MODUL Minggu Topik No Sub Topik Level Hal Modul Kompetensi I Gangguan Mental

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Skizofrenia adalah suatu penyakit psikiatrik yang bersifat kronis dan

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Skizofrenia adalah suatu penyakit psikiatrik yang bersifat kronis dan BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Skizofrenia Skizofrenia adalah suatu penyakit psikiatrik yang bersifat kronis dan menimbulkan ketidakmampuan, dengan prevalensi seluruh dunia kira-kira 1% dan perkiraan insiden

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat ditemukan pada semua lapisan sosial, pendidikan, ekonomi dan ras di

BAB I PENDAHULUAN. dapat ditemukan pada semua lapisan sosial, pendidikan, ekonomi dan ras di BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG MASALAH Skizofrenia merupakan gangguan jiwa berat dengan tanda dan gejala yang beraneka ragam, baik dalam derajat maupun jenisnya dan seringkali ditandai suatu perjalanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan penurunan semua fungsi kejiwaan terutama minat dan motivasi

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan penurunan semua fungsi kejiwaan terutama minat dan motivasi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penyakit gangguan jiwa (mental disorder) merupakan salah satu dari empat masalah kesehatan utama di negara-negara maju, tetapi masih kurang populer di kalangan masyarakat

Lebih terperinci

DRUG USAGE DESCRIPTION FOR OUTPATIENT IN PKU MUHAMMADIYAH UNIT II OF YOGYAKARTA IN 2013 BASED ON WHO PRESCRIBING INDICATOR

DRUG USAGE DESCRIPTION FOR OUTPATIENT IN PKU MUHAMMADIYAH UNIT II OF YOGYAKARTA IN 2013 BASED ON WHO PRESCRIBING INDICATOR DRUG USAGE DESCRIPTION FOR OUTPATIENT IN PKU MUHAMMADIYAH UNIT II OF YOGYAKARTA IN 2013 BASED ON WHO PRESCRIBING INDICATOR GAMBARAN PERESEPAN OBAT PASIEN RAWAT JALAN DI RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Gangguan jiwa merupakan bentuk gangguan dalam fungsi alam pikiran. Gangguan tersebut dapat berupa disorganisasi (kekacauan) isi pikiran, yang ditandai antara lain

Lebih terperinci

Mata: sklera ikterik -/- konjungtiva anemis -/- cor: BJ I-II reguler, murmur (-) gallop (-) Pulmo: suara napas vesikuler +/+ ronki -/- wheezing -/-

Mata: sklera ikterik -/- konjungtiva anemis -/- cor: BJ I-II reguler, murmur (-) gallop (-) Pulmo: suara napas vesikuler +/+ ronki -/- wheezing -/- PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum: baik Kesadaran: compos mentis Tanda vital: TD: 120/80 mmhg Nadi: 84 x/menit Pernapasan: 20 x/menit Suhu: 36,5 0 C Tinggi Badan: 175 cm Berat Badan: 72 kg Status Generalis:

Lebih terperinci

PERBANDINGAN KELENGKAPAN PENGISIAN REKAM MEDIS ANTARA DOKTER UMUM DAN DOKTER SPESIALIS JURNAL PENELITIAN MEDIA MEDIKA MUDA

PERBANDINGAN KELENGKAPAN PENGISIAN REKAM MEDIS ANTARA DOKTER UMUM DAN DOKTER SPESIALIS JURNAL PENELITIAN MEDIA MEDIKA MUDA PERBANDINGAN KELENGKAPAN PENGISIAN REKAM MEDIS ANTARA DOKTER UMUM DAN DOKTER SPESIALIS Pada Praktik Swasta Mandiri di Kecamatan Semarang Selatan Kota Semarang JURNAL PENELITIAN MEDIA MEDIKA MUDA Diajukan

Lebih terperinci

ABSTRAK TINJAUAN TERHADAP PENERAPAN HOSPITAL DOTS LINKAGE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL KOTA BANDUNG TAHUN 2012 DALAM UPAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS PARU

ABSTRAK TINJAUAN TERHADAP PENERAPAN HOSPITAL DOTS LINKAGE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL KOTA BANDUNG TAHUN 2012 DALAM UPAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS PARU ABSTRAK TINJAUAN TERHADAP PENERAPAN HOSPITAL DOTS LINKAGE DI RUMAH SAKIT IMMANUEL KOTA BANDUNG TAHUN 2012 DALAM UPAYA PENANGANAN TUBERKULOSIS PARU Mutiara Dewi, 2013, Pembimbing I : dr. Sri Nadya J. Saanin,

Lebih terperinci

PENGARUH INTERVENSI SMS (SHORT MESSAGE SERVICE) TERHADAP KEPATUHAN PENGOBATAN DAN GAYA HIDUP PASIEN DIABETES MELITUS DI RSUD DR. M.

PENGARUH INTERVENSI SMS (SHORT MESSAGE SERVICE) TERHADAP KEPATUHAN PENGOBATAN DAN GAYA HIDUP PASIEN DIABETES MELITUS DI RSUD DR. M. PENGARUH INTERVENSI SMS (SHORT MESSAGE SERVICE) TERHADAP KEPATUHAN PENGOBATAN DAN GAYA HIDUP PASIEN DIABETES MELITUS DI RSUD DR. M. ASHARI PEMALANG SKRIPSI Skripsi diajukan untuk memenuhi salah satu syarat

Lebih terperinci

Kata kunci: Diabetes melitus, obat hipoglikemik oral, PERKENI.

Kata kunci: Diabetes melitus, obat hipoglikemik oral, PERKENI. Appropriateness Of Prescribing Oral Hypoglycemic Drugs In Diabetes Mellitus Type 2 According To Perkeni Consensus 2011 In Outpatient Clinic Of Abdul Moeloek Hospital Bandar Lampung 2012 Pinem TAN, Tarigan

Lebih terperinci

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya.

IPAP PTSD Tambahan. Pilihan penatalaksanaan: dengan obat, psikososial atau kedua-duanya. IPAP PTSD Tambahan Prinsip Umum I. Evaluasi Awal dan berkala A. PTSD merupakan gejala umum dan sering kali tidak terdiagnosis. Bukti adanya prevalensi paparan trauma yang tinggi, (termasuk kekerasan dalam

Lebih terperinci

KARYA TULIS ILMIAH PROFIL PASIEN HIV DENGAN TUBERKULOSIS YANG BEROBAT KE BALAI PENGOBATAN PARU PROVINSI (BP4), MEDAN DARI JULI 2011 HINGGA JUNI 2013

KARYA TULIS ILMIAH PROFIL PASIEN HIV DENGAN TUBERKULOSIS YANG BEROBAT KE BALAI PENGOBATAN PARU PROVINSI (BP4), MEDAN DARI JULI 2011 HINGGA JUNI 2013 i KARYA TULIS ILMIAH PROFIL PASIEN HIV DENGAN TUBERKULOSIS YANG BEROBAT KE BALAI PENGOBATAN PARU PROVINSI (BP4), MEDAN DARI JULI 2011 HINGGA JUNI 2013 Oleh : YAATHAVI A/P PANDIARAJ 100100394 FAKULTAS KEDOKTERAN

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN. Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa berat yang perjalanan

BAB 1. PENDAHULUAN. Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa berat yang perjalanan BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Skizofrenia merupakan suatu gangguan jiwa berat yang perjalanan penyakitnya berlangsung kronis 1, umumnya ditandai oleh distorsi pikiran dan persepsi yang mendasar

Lebih terperinci

Studi Penggunaan Antipsikotik dan Efek Samping pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Kalimantan Selatan

Studi Penggunaan Antipsikotik dan Efek Samping pada Pasien Skizofrenia di Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum Kalimantan Selatan Jurnal Sains Farmasi & Klinis, 3(2), 153-164 Jurnal Sains Farmasi & Klinis (p- ISSN: 2407-7062 e-issn: 2442-5435) diterbitkan oleh Ikatan Apoteker Indonesia - Sumatera Barat homepage: http://jsfkonline.org

Lebih terperinci

b. Tujuan farmakoekonomi...27 c. Aplikasi farmakoekonomi...28 d. Metode farmakoekonomi Pengobatan Rasional...32

b. Tujuan farmakoekonomi...27 c. Aplikasi farmakoekonomi...28 d. Metode farmakoekonomi Pengobatan Rasional...32 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR... x DAFTAR TABEL...,... xi DAFTAR LAMPIRAN... xiii INTISARI... xiv ABSTRACT... xv BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah...1 B. Perumusan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang merupakan amanat dari Undang-Undang Dasar Negara Republik. gangguan lain yang dapat mengganggu kesehatan jiwa.

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan yang merupakan amanat dari Undang-Undang Dasar Negara Republik. gangguan lain yang dapat mengganggu kesehatan jiwa. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 tentang kesehatan jiwa, menyebutkan bahwa negara menjamin kehidupan setiap orang baik lahir maupun batin,serta menjamin

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Skizofrenia adalah suatu penyakit otak persisten dan serius yang mengakibatkan perilaku psikotik, pemikiran konkret, dan kesulitan dalam memproses informasi, hubungan

Lebih terperinci

PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH. Kata Kunci : harga diri rendah, pengelolaan asuhan keperawatan jiwa

PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH. Kata Kunci : harga diri rendah, pengelolaan asuhan keperawatan jiwa PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH Sri Wahyuni Dosen PSIK Universitas Riau Jl Pattimura No.9 Pekanbaru Riau Hp +62837882/+6287893390999 uyun_wahyuni2@yahoo.com ABSTRAK Tujuan penelitian

Lebih terperinci

POLA PERESEPAN DAN RASIONALITAS PENGOBATAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD SULTAN SYARIF MOHAMAD ALKADRIE PONTIANAK

POLA PERESEPAN DAN RASIONALITAS PENGOBATAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD SULTAN SYARIF MOHAMAD ALKADRIE PONTIANAK 1 POLA PERESEPAN DAN RASIONALITAS PENGOBATAN PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RSUD SULTAN SYARIF MOHAMAD ALKADRIE PONTIANAK Robiyanto*, Nur Afifah, Eka Kartika Untari Prodi Farmasi, Fakultas Kedokteran,

Lebih terperinci

PREVALENSI DAN KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN Oleh : ANGGIE IMANIAH SITOMPUL

PREVALENSI DAN KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN Oleh : ANGGIE IMANIAH SITOMPUL PREVALENSI DAN KARAKTERISTIK PENDERITA TUBERKULOSIS PARU DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU MEDAN TAHUN 2012 Oleh : ANGGIE IMANIAH SITOMPUL 100100021 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN HIPERTENSI TENTANG OBAT GOLONGAN ACE INHIBITOR DENGAN KEPATUHAN PASIEN DALAM PELAKSANAAN TERAPI HIPERTENSI DI RSUP PROF DR

HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN HIPERTENSI TENTANG OBAT GOLONGAN ACE INHIBITOR DENGAN KEPATUHAN PASIEN DALAM PELAKSANAAN TERAPI HIPERTENSI DI RSUP PROF DR HUBUNGAN PENGETAHUAN PASIEN HIPERTENSI TENTANG OBAT GOLONGAN ACE INHIBITOR DENGAN KEPATUHAN PASIEN DALAM PELAKSANAAN TERAPI HIPERTENSI DI RSUP PROF DR. R. D. KANDOU MANADO Yosprinto T. Sarampang 1), Heedy

Lebih terperinci

Peranan Psikiatri Geriatri dalam Penanganan Delirium Pasien Geriatri

Peranan Psikiatri Geriatri dalam Penanganan Delirium Pasien Geriatri Tinjauan Pustaka Peranan Psikiatri Geriatri dalam Penanganan Delirium Pasien Geriatri Andri, Charles E. Damping Departemen Psikiatri, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Umum Pusat Dr.

Lebih terperinci

PERAN DUKUNGAN KELUARGA PADA PENANGANAN PENDERITA SKIZOFRENIA

PERAN DUKUNGAN KELUARGA PADA PENANGANAN PENDERITA SKIZOFRENIA PERAN DUKUNGAN KELUARGA PADA PENANGANAN PENDERITA SKIZOFRENIA SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-1 Diajukan Oleh : ESTI PERDANA PUSPITASARI F 100 050 253 FAKULTAS

Lebih terperinci

HUBU GA DUKU GA KELUARGA DE GA KEPATUHA KO TROL BEROBAT PADA KLIE SKIZOFRE IA DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH DR. AMI O GO DOHUTOMO SEMARA G

HUBU GA DUKU GA KELUARGA DE GA KEPATUHA KO TROL BEROBAT PADA KLIE SKIZOFRE IA DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH DR. AMI O GO DOHUTOMO SEMARA G HUBU GA DUKU GA KELUARGA DE GA KEPATUHA KO TROL BEROBAT PADA KLIE SKIZOFRE IA DI RUMAH SAKIT JIWA DAERAH DR. AMI O GO DOHUTOMO SEMARA G Regina Indirawati * ), Anjas Surtiningrum ** ), Ulfa Nurulita ***

Lebih terperinci

DUKUNGAN KELUARGA MEMPENGARUHI KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN SKIZOFRENIA ABSTRAK

DUKUNGAN KELUARGA MEMPENGARUHI KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN SKIZOFRENIA ABSTRAK DUKUNGAN KELUARGA MEMPENGARUHI KEPATUHAN MINUM OBAT PASIEN SKIZOFRENIA Kristiani Bayu Santoso 1), Farida Halis Dyah Kusuma 2), Erlisa Candrawati 3) 1) Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas

Lebih terperinci

PERBANDINGAN SKOR DISFUNGSI SEKSUAL ANTARA PENGGUNAAN AMITRIPTILIN DAN FLUOXETINE TERHADAP PENDERITA DEPRESI

PERBANDINGAN SKOR DISFUNGSI SEKSUAL ANTARA PENGGUNAAN AMITRIPTILIN DAN FLUOXETINE TERHADAP PENDERITA DEPRESI PERBANDINGAN SKOR DISFUNGSI SEKSUAL ANTARA PENGGUNAAN AMITRIPTILIN DAN FLUOXETINE TERHADAP PENDERITA DEPRESI THE COMPARISON OF THE SEXUAL DISFUNCTION SCORES BETWEEN THE USE OF AMITRIPTILINE AND FLUOXETINE

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dapat memenuhi segala kebutuhan dirinya dan kehidupan keluarga. yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan

BAB I PENDAHULUAN. dapat memenuhi segala kebutuhan dirinya dan kehidupan keluarga. yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesehatan jiwa merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan individu manusia, karena dengan sehat jiwa seseorang mampu berkembang secara fisik, mental dan

Lebih terperinci

PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER

PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER ABSTRAK PREVALENSI DAN FAKTOR RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RUMAH SAKIT IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI DESEMBER 2010 Shiela Stefani, 2011 Pembimbing 1 Pembimbing

Lebih terperinci

Agreement Analysis of Energy and Protein Contents during Medical Nutrition Therapy at Sanglah Hospital Denpasar

Agreement Analysis of Energy and Protein Contents during Medical Nutrition Therapy at Sanglah Hospital Denpasar Laporan hasil penelitian Analisis Kesesuaian Kandungan Energi dan Protein pada Terapi Gizi Medik di RSUP Sanglah Denpasar P. Ayu Laksmini 1,2, N.M. Sri Nopiyani 2,3, I.W.Weta 2,4 1 Puskesmas I Denpasar

Lebih terperinci

EVALUASI PENGGUNAAN TOKOLITIK PADA PASIEN DENGAN RISIKO KELAHIRAN PREMATUR DI TIGA RUMAH SAKIT DI YOGYAKARTA

EVALUASI PENGGUNAAN TOKOLITIK PADA PASIEN DENGAN RISIKO KELAHIRAN PREMATUR DI TIGA RUMAH SAKIT DI YOGYAKARTA EVALUASI PENGGUNAAN TOKOLITIK PADA PASIEN DENGAN RISIKO KELAHIRAN PREMATUR DI TIGA RUMAH SAKIT DI YOGYAKARTA Yosi Febrianti 1*, Nurul Ambariyah 2, dan Chichi Kartika Haliem 1 1 Program Studi Profesi Apoteker,

Lebih terperinci

GAMBARAN KUALITAS HIDUP PASIEN SKIZOFRENIA DI POLIKLINIK JIWA RUMAH SAKIT JIWA GRHASIA YOGYAKARTA TAHUN 2015

GAMBARAN KUALITAS HIDUP PASIEN SKIZOFRENIA DI POLIKLINIK JIWA RUMAH SAKIT JIWA GRHASIA YOGYAKARTA TAHUN 2015 GAMBARAN KUALITAS HIDUP PASIEN SKIZOFRENIA DI POLIKLINIK JIWA RUMAH SAKIT JIWA GRHASIA YOGYAKARTA TAHUN 2015 Sukma Ilahi 1, Sri Hendarsih 2, Sutejo 3 1 ) Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta,

Lebih terperinci