ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK ETAP DAN SAK IFRS ATAS PEROLEHAN ASET TETAP DAN KAITANNYA DENGAN ASPEK PERPAJAKAN.

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK ETAP DAN SAK IFRS ATAS PEROLEHAN ASET TETAP DAN KAITANNYA DENGAN ASPEK PERPAJAKAN."

Transkripsi

1 ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK ETAP DAN SAK IFRS ATAS PEROLEHAN ASET TETAP DAN KAITANNYA DENGAN ASPEK PERPAJAKAN (Skripsi) OLEH Nama : Veronica Ratna Damayanti NPM : No Telp : Pembimbing I : R. Weddie Andriyanto, S.E., M.Si, CPA Pembimbing II : Basuki Wibowo, S.E., Akt FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS LAMPUNG BANDAR LAMPUNG 2012

2 2 ABSTRAK ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK ETAP DAN SAK IFRS ATAS PEROLEHAN ASET TETAP DAN KAITANNYA DENGAN ASPEK PERPAJAKAN Oleh Veronica Ratna Damayanti Perusahaan memiliki tujuan untuk memperoleh laba dalam setiap kegiatan operasionalnya. Dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan, dana memegang peranan penting. Dana dalam perusahaan digunakan sebagai alat investasi melalui penanaman barang modal. Dana yang diterima oleh perusahaan salah satunya digunakan untuk membeli aset tetap. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui perlakuan akuntansi atas perolehan aset tetap dan untuk mengetahui perlakuan perpajakan atas perolehan aset tetap. Perolehan aset tetap dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu dengan pembelian secara tunai, pembelian kredit, sewa guna usaha (leasing), dan pertukaran. Entitas harus mengalokasikan jumlah aset tetap yang dapat disusutkan secara sistematis selama umur manfaat. Penyusutan dimulai ketika suatu aset tetap tersedia untuk digunakan. Menurut akuntansi baik berdasarkan SAK ETAP dan SAK IFRS, pada dasarnya masa manfaat suatu aset tetap berdasarkan keputusan dari manajemen. Perlakuan akuntansi berdasarkan SAK ETAP dan SAK IFRS atas pertukaran aset tetap sejenis tidak mengakui adanya laba pertukaran, sedangkan menurut perpajakan pertukaran aset tetap sejenis ataupun tidak sejenis mengakui adanya laba pertukaran. Perlakuan akuntansi berdasarkan SAK ETAP dan SAK IFRS atas sewa guna usaha (leasing), penyusutan dilakukan sejak aset tetap diperoleh. Dalam perpajakan selama hak opsi belum digunakan, semua biaya dicatat dalam akun biaya aktiva leasing. Setelah hak opsi membeli digunakan, entitas dapat melakukan penyusutan berdasarkan nilai sisa atas aset tetap leasing tersebut. Dalam SAK IFRS mengharuskan entitas melakukan penilaian kembali berdasarkan nilai wajar, sedangkan SAK ETAP tidak diperkenankan melakukan penilaian kembali terhadap aset tetap. Penilaian kembali aset tetap dalam SAK IFRS dapat menimbulkan kenaikan nilai wajar. Menurut perpajakan selisih lebih nilai wajar dari penilaian kembali dikenakan PPh final sebesar 10%. Dalam SAK IFRS dan SAK ETAP mengakui adanya penurunan nilai aset tetap, sedangkan dalam perpajakan tidak mengakui adanya penurunan nilai aset tetap. Kata kunci : leasing, SAK ETAP, SAK IFRS

3 3 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Dalam hal pengadaan barang modal, ada beberapa alternatif pembiayaan yang bisa dilakukan oleh perusahaan. Pembiayaan dari sumber internal dan pembiayaan dari sumber eksternal. Pembiayaan dari sumber internal dihasilkan sendiri di dalam perusahaan, diantaranya adalah laba ditahan, modal saham, dan lain-lain. Sedangkan pembiayaan dari sumber eksternal berasal dari luar perusahaan. Aset tetap merupakan barang modal yang berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dibangun lebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Pertukaran aset tetap dibagi menjadi pertukaran dengan aset sejenis dan tidak sejenis. Dalam pertukaran dengan aset sejenis tidak mengakui adanya laba pertukaran, sedangkan di dalam pertukaran aset tidak sejenis mengakui adanya laba pertukaran. Sewa guna usaha (leasing) adalah kegiatan pembiayaan dalam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh lessee selama jangka waktu tertentu berdasarkan pembayaran secara berkala. Sewa guna usaha dengan hak opsi (financial lease) yaitu apabila dalam transaksi perusahaan lessor bertindak sebagai pihak yang membiayai barang modal dimana secara berkala lessor menerima pembayaran sewa guna usaha dari lessee dan di akhir masa sewa terdapat hak opsi bagi lessee. Perlakuan tersebut di atas adalah perlakuan yang biasa terjadi pada akuntansi komersial berdasarkan SAK ETAP dan SAK IFRS, perlakuan untuk perpajakan

4 4 tentunya memiliki perbedaan dikarenakan adanya ketentuan-ketentuan perpajakan yang secara khusus mengaturnya. Adanya perbedaan tersebut memotivasi penulis untuk mencoba meneliti bagaimana perlakuan akuntansi perpajakan atas transaksi perolehan aset tetap. Berdasarkan uraian diatas maka penulis mengambil judul : ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI BERDASARKAN SAK ETAP DAN SAK IFRS ATAS PEROLEHAN ASET TETAP DAN KAITANNYA DENGAN ASPEK PERPAJAKAN. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah perlakuan akuntansi atas perolehan aset tetap? 2. Bagaimanakah perlakuan perpajakan atas perolehan aset tetap? 1.3 Batasan Masalah Adapun batasan masalah dalam penelitian ini adalah perolehan aset tetap dengan cara pembelian tunai, pembelian kredit, sewa guna usaha (leasing), dan pertukaran Tujuan Penelitian Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui perlakuan akuntansi atas perolehan aset tetap. 2. Untuk mengetahui perlakuan perpajakan atas perolehan aset tetap.

5 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perlakuan Akuntansi Pajak Pengertian Akuntansi Akuntansi adalah aktivitas jasa. Fungsinya adalah untuk menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat keuangan, tentang entitas (kesatuan) usaha yang dipandang akan bermanfaat dalam pengambilan keputusan ekonomi dalam menetapkan pilihan yang tepat di antara berbagai alternatif tindakan Pengertian Akuntansi Pajak Akuntansi pajak tercipta karena adanya suatu prinsip dasar yang diatur dalam undang-undang perpajakan dan pembentukannya terpengaruh oleh fungsi perpajakan dalam mengimplementasikan sebagai kebijakan pemerintah (Waluyo, 2008). Akuntansi perpajakan secara khusus menyajikan laporan keuangan dan informasi lain kepada administrasi pajak. 2.2 Aktiva Tetap Pengertian Aktiva tetap Aset Tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk direntalkan kepada pihak lain, atau untuk tujuan administratif, dan diharapkan untuk digunakan selama lebih dari satu periode (Standar Akuntansi Keuangan No.16, 2011).

6 Bentuk-Bentuk Aset Tetap yaitu : Secara garis besar aset tetap dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan 1. Aset Tetap Berwujud Aset berwujud merupakan aset yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih dahulu, yang digunakan dalam menunjang kegiatan atau operasi utama perusahaan, dimiliki tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan dan mempunyai masa manfaat jangka panjang (Santoso, 2009). Jadi aset tetap berwujud ini mempunyai sifat permanen atau dengan kata lain dapat digunakan dalam jangka waktu yang relatif lama. Aset tetap berwujud ini masih dibagi lagi menjadi : a. Aset tetap yang umurnya tidak terbatas, seperti tanah b. Aset tetap yang umurnya terbatas dan apabila sudah habis masa penggunaannya bisa diganti dengan aset sejenis, misalnya: bangunan, mesin, peralatan, kendaraan dan lain-lain. c. Aset tetap yang umurnya terbatas dan apabila sudah habis masa penggunaannya tidak dapat diganti dengan aset sejenis, misalnya: sumber-sumber alam seperti hasil tambang, hutan, dan lain-lain 2. Aset Tetap Tidak Berwujud Aset tetap tidak berwujud merupakan aktiva yang menjadi subjek untuk diamortisasikan (Santoso, 2009). Aset tidak berwujud adalah aset non moneter yang dapat diidentifikasi dan tidak mempunyai wujud fisik serta

7 7 dimiliki untuk digunakan dalam menghasilkan atau menyerahkan barang atau jasa, disewakan kepada pihak lainnya, atau untuk tujuan administratif (Standar Akuntansi Keuangan, 2009). 2.3 Penyusutan Aset Tetap Berwujud Pengertian Penyusutan Penyusutan adalah alokasi yang sistematis dari harga perolehan aset selama periode-periode berbeda yang memperoleh manfaat dari penggunaan suatu aset (Stice, dkk, 2005) Metode Penyusutan Jumlah yang dapat disusutkan dialokasi ke setiap periode akuntansi selama masa manfaat aset dengan berbagai metode yang sistematis. Metode manapun yang dipilih, konsistensi dalam penggunaannya adalah perlu, tanpa memandang tingkat profitabilitas perusahaan dan pertimbangan perpajakan, agar dapat menyediakan daya banding hasil operasi perusahaan dari periode ke periode Metode Penyusutan Menurut Ketentuan Perpajakan Metode penyusutan menurut peraturan perpajakan diatur dalam pasal 11 Undang-undang No.7 Tahun 1983 sebagaimana yang telah diubah terakhir dengan Undang-undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan. Metode penyusutan yang diperbolehkan berdasarkan ketentuan ini adalah : 1. Metode garis lurus atau straight line method

8 8 Dalam ketentuan fiskal metode ini disebut penyusutan dalam bagianbagian yang sama besar selama masa manfaat yang ditetapkan bagi harta tersebut. 2. Metode saldo menurun atau declining balance method Penyusutan atas harta berwujud dilakukan dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai sisa buku, dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku disusutkan, dengan syarat dilakukan secara taat asas. 2.4 Perolehan Aset Tetap Menurut SAK ETAP dan SAK IFRS Pembelian Tunai Perolehan aset tetap secara tunai dicatat sebesar jumlah uang tunai atau setara kas yang dibayarkan, termasuk didalamnya harga beli ditambah biaya-biaya lain yang dikeluarkan sejak aset tersebut dipesan sampai siap untuk digunakan sesuai dengan tujuannya (Santoso, 2009) Pembelian Tunai Menurut SAK ETAP Menurut SAK ETAP perolehan aset tetap tidak menggunakan pendekatan komponenisasi seperti yang ada di PSAK. Umur manfaat aset terbatas serta tidak perlu diadakan review terhadap nilai residu Pembelian Tunai Menurut SAK IFRS Menurut SAK IFRS perolehan aset tetap dapat menggunakan pendekatan komponenisasi. Masa manfaat, nilai sisa, dan metode penyusutan harus direview

9 9 minimum setiap tanggal neraca. Biaya perbaikan atau pembongkaran aset tetap dapat dikapitalisasi terhadap aset yang terkait. Perlakuan akuntansi untuk pertukaran aset tetap dilihat dari substansi komersial dari aset tersebut Pembelian Kredit Apabila aset tetap diperoleh dari pembelian secara angsuran, maka dalam harga perolehan aset tetap tidak boleh termasuk bunga. Bunga selama masa angsuran baik jelas-jelas dinyatakan maupun yang tidak dinyatakan tersendiri, harus dikeluarkan dari harga perolehan dan dibebankan sebagai biaya bunga Sewa Guna Usaha (Leasing) yaitu : Secara umum jenis leasing bisa dibedakan menjadi dua kelompok utama 1. Capital lease (Sewa guna usaha dengan hak opsi) Pada transaksi leasing jenis ini Lessee yang membutuhkan barang menentukan sendiri jenis serta spesifikasi barang yang dibutuhkan. Lessee juga mengadakan negosiasi langsung dengan supplier mengenai harga, syarat-syarat perawatan serta lain-lain hal yang berhubungan dengan pengoperasian barang tersebut. Pada akhir masa lease, lessee mempunyai hak pilih untuk membeli barang tersebut seharga nilai sisanya, mengembalikan barang tersebut kepada lessor atau juga mengadakan perjanjian leasing lagi untuk tahap yang kedua atas barang yang sama.

10 10 2. Operating Lease (Sewa guna usaha tanpa hak opsi) Pada transaksi leasing jenis ini, lessor membeli barang dan kemudian menyewakannya kepada lessee untuk jangka waktu tertentu. Pada prakteknya lessee membayar uang secara berkala yang besarnya secara keseluruhan tidak meliputi harga barang serta biaya yang telah dikeluarkan oleh lessor. Disini secara jelas tidak ditentukan adanya nilai sisa serta hak opsi bagi lessee. Setelah masa lease berakhir, lessor merundingkan kemungkinan dilakukannya kontrak lease yang baru dengan lessee yang sama atau juga lessor mencari calon lessee yang baru Sewa Guna Usaha (Leasing) Menurut SAK IFRS Menurut Standar Akuntansi Keuangan IFRS, klasifikasi dalam sewa ditentukan oleh tingkat risiko dan manfaat terkait dengan aset sewaan. Sewa pembiayaan akan terjadi apabila secara individual atau gabungan mengarah pada : 1. Pengalihan kepemilikan aset kepada lessee di akhir masa sewa. 2. Lessee mempunyai hak opsi untuk membeli aset pada harga tertentu yang cukup rendah. 3. Masa sewa merupakan sebagian besar dari umur ekonomis aset, tanpa harus ada pemindahan hak milik. 4. Pada awal masa sewa, nilai sekarang dari jumlah pembayaran mendekati nilai wajar. 5. Aset sewaan bersifat khusus dimana hanya lessee yang dapat menggunakannya tanpa modifikasi khusus.

11 Sewa Guna Usaha (Leasing) Menurut SAK ETAP Menurut Standar Akuntansi Keuangan ETAP, lessee harus mengungkapkan hal-hal berikut atas transaksi capital lease dalam laporan keuangan : a. Jumlah pembayaran sewa yang harus dibayar selama masa sewa. b. Penyusutan aset sewaan yang dibebankan dalam periode berjalan. c. Jaminan yang diberikan sehubungan dengan transaksi sewa. d. Keuntungan atau kerugian yang ditangguhkan beserta amortisasinya sehubungan dengan transaksi jual dan sewa-balik. e. Ikatan-ikatan penting yang dipersyaratkan dalam perjanjian sewa Pertukaran Aset Tetap Pertukaran Aset Tetap Menurut SAK ETAP Menurut Standar Akuntansi Keuangan ETAP, jika aset tetap diperoleh melalui pertukaran dengan aset moneter atau kombinasi aset moneter dan aset moneter, maka biaya perolehan diukur pada nilai wajar, kecuali transaksi pertukaran tidak memiliki substansial komersial atau nilai wajar aset yang diterima atau aset yang diserahkan tidak dapat diukur secara wajar, sehingga biaya perolehan diukur pada jumlah tercatat aset yang diserahkan Pertukaran Aset Tetap Menurut SAK IFRS Menurut Standar Akuntansi Keuangan IFRS, pertukaran aset tetap diukur dengan nilai wajar. Akan tetapi, jangan menghitungnya pada nilai wajar jika pertukaran itu tidak memiliki substansi komersial atau tidak memungkinkan untuk mengukur aset yang diterima itu secara andal atau jika aset itu dihibahkan. Jika

12 12 tidak memungkinkan untuk menghitungnya pada nilai wajar, maka hitunglah aset yang diperoleh melalui hibah itu pada nilai bukunya. BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian adalah suatu batasan studi yang menjelaskan fokus studi agar tidak melebar pada masalah yang lain. Dengan demikian seorang peneliti tahu persis data mana yang perlu dikumpulkan dan data mana yang tidak perlu dikumpulkan. Ruang lingkup penelitian ini adalah perolehan aset tetap dengan cara pembelian tunai, pembelian kredit, sewa guna usaha, dan pertukaran. 3.2 Sumber Data Sumber data dalam penelitian ini adalah berupa literatur dan buku-buku yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. 3.3 Prosedur Pengumpulan Data Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui studi kepustakaan dengan cara mengumpulkan dan mempelajari buku-buku dan literatur yang berhubungan dengan permasalahan penelitian. 3.4 Teknik Analisis Untuk menjawab rumusan masalah yang telah diajukan di awal, maka teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Menyusun data-data yang diperlukan yang berhubungan dengan perolehan aktiva kendaraan.

13 13 2. Menghitung perolehan aktiva kendaraan dengan berbagai metode. 3. Menerapkan perlakuan akuntansi perpajakan yang tepat atas transaksi tersebut. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Pada pembahasan ini penulis menggunakan ilustrasi dengan obyek PT Makmur Selalu yang merupakan perusahaan perdagangan dan distributor bahan material. Kebijakan akuntansi untuk aset tetap dalam perusahaan adalah aset tetap disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus dan disajikan sebesar harga perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan. 4.2 Perolehan Aset Tetap Dengan Pembelian Tunai Ilustrasi 1 : Pada tanggal 2 Februari 2010 PT Makmur Selalu membeli 1 unit komputer yang terdiri dari CPU sebesar Rp dan monitor sebesar Rp secara tunai belum termasuk PPN. Kebijakan manajemen perusahaan memutuskan masa manfaat kendaraan tersebut adalah 5 tahun Perolehan Aset Tetap Dengan Pembelian Tunai Berdasarkan SAK ETAP berikut : Jurnal pada saat perolehan aset tetap komputer dapat dicatat sebagai Komputer Rp

14 14 PPN Rp Kas Rp Beban penyusutan tahun 2010 = Rp x 20% x 11/12 = Rp Perolehan Aset Tetap Dengan Pembelian Tunai Berdasarkan SAK IFRS Dalam ilustrasi 1 telah disebutkan bahwa pembelian 1 unit komputer yang terdiri dari CPU sebesar Rp dan monitor sebesar Rp Jurnal untuk mencatat perolehan CPU : CPU Rp PPN Rp Kas Rp Jurnal untuk mencatat perolehan monitor : Monitor Rp PPN Rp Kas Rp Perhitungan beban penyusutan dan jurnalnya adalah sebagai berikut : 1. Perhitungan beban penyusutan CPU Beban penyusutan tahun 2010 = Rp x 20% x 11/12 = Rp

15 15 2. Perhitungan beban penyusutan monitor Beban penyusutan tahun 2010 = Rp x 20% x 11/12 = Rp Perolehan Aset Tetap Dengan Pembelian Tunai Berdasarkan Perpajakan 1. Pada saat penggunaan SAK ETAP Beban penyusutan tahun 2010 = Rp x 12,5% x 11/12 = Rp Perbedaan nilai beban penyusutan yang diperoleh akan mengakibatkan koreksi positif pada rekonsiliasi fiskal yang akan mengurangi jumlah beban penyusutan sebesar Rp dan secara langsung akan menambah laba kena pajak dan memperbesar pajak penghasilan. 2. Pada saat penggunaan SAK IFRS Perhitungan beban penyusutan dan pencatatan atas beban penyusutan dapat diperoleh sebagai berikut : a. Perhitungan beban penyusutan CPU Beban penyusutan tahun 2010 = Rp x 12,5% x 11/12 = Rp

16 16 Perbedaan nilai beban penyusutan yang diperoleh akan mengakibatkan koreksi positif pada rekonsiliasi fiskal yang akan mengurangi jumlah beban penyusutan sebesar Rp dan secara langsung akan menambah laba kena pajak dan memperbesar pajak penghasilan. b. Perhitungan beban penyusutan monitor Beban penyusutan tahun 2010 = Rp x 12,5% x 11/12 = Rp Perbedaan nilai beban penyusutan yang diperoleh akan mengakibatkan koreksi positif pada rekonsiliasi fiskal yang akan mengurangi jumlah beban penyusutan sebesar Rp dan secara langsung akan menambah laba kena pajak dan memperbesar pajak penghasilan. 4.3 Perolehan Aset Tetap Dengan Pembelian Kredit Ilustrasi 2 : Pada tanggal 6 Juli 2009 PT Makmur Selalu membeli mesin produksi seharga Rp yang diangsur selama 3 tahun dengan bunga 12% per tahun (flat interest rate). Pembayaran angsuran mesin produksi menurut kontrak harus dilakukan setiap tanggal 6. Kebijakan manajemen PT Makmur Selalu memutuskan masa manfaat mesin selama 5 tahun Perolehan Aset Tetap Dengan Pembelian Kredit Berdasarkan SAK ETAP dan SAK IFRS

17 17 Pada ilustrasi 2 PT Makmur Selalu membeli 1 unit mesin produksi seharga Rp dengan masa kredit selama 3 tahun dan dibebankan bunga sebesar 12% per tahun. Jurnal atas perolehan 1 unit mesin produksi sebagai berikut : Mesin Produksi Rp Hutang Angsuran Rp PT Makmur Selalu dapat menghitung besarnya jumlah yang harus diangsur setiap bulannya selama tiga tahun, sebagai berikut : Pada saat angsuran tahun ke-1 sampai ke-3 : Pokok angsuran Rp : 3 = Rp Bunga : 12% x Rp = Rp Jumlah angsuran = Rp Biaya bunga harus dikeluarkan dari elemen harga perolehan, sehingga jurnal atas pembayaran angsuran sebagai berikut : Hutang Angsuran Rp Beban Bunga Rp Kas Rp Beban penyusutan tahun ke-1 = Rp x 20% x 6/12 = Rp Perhitungan beban penyusutan tahun ke-2

18 18 Beban penyusutan tahun ke-2 = Rp x 20% = Rp Perhitungan beban penyusutan tahun ke-3 Beban penyusutan tahun ke-3 = Rp x 20% = Rp Perolehan Aset Tetap Dengan Pembelian Kredit Berdasarkan Pajak Jurnal atas perolehan mesin : Mesin Produksi Rp Hutang Angsuran Rp Tidak ada perbedaan antara perpajakan dan akuntansi dalam menghitung besarnya jumlah yang harus diangsur setiap bulannya selama tiga tahun. Beban penyusutan tahun ke-1 = Rp x 12,5% x 6/12 = Rp Perbedaan beban penyusutan menurut akuntansi dan perpajakan mengakibatkan koreksi positif sebesar Rp pada rekonsiliasi fiskal, yang mengakibatkan bertambahnya laba kena pajak. Perhitungan beban penyusutan tahun ke-2 Beban penyusutan tahun ke-2 = Rp x 12,5% = Rp Perbedaan beban penyusutan menurut akuntansi dan perpajakan mengakibatkan koreksi positif sebesar Rp pada rekonsiliasi fiskal, yang mengakibatkan bertambahnya laba kena pajak.

19 19 Beban penyusutan tahun ke-3 = Rp x 12,5% = Rp Perbedaan beban penyusutan menurut akuntansi dan perpajakan mengakibatkan koreksi positif sebesar Rp pada rekonsiliasi fiskal, yang mengakibatkan bertambahnya laba kena pajak. 4.4 Perolehan Aset Tetap Dengan Sewa Guna Usaha (Leasing) Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi (Finance Lease) Ilustrasi 3 : Pada akhir tahun 2006 Makmur Selalu memiliki kendaraan yang diperoleh secara finace lease sebagai berikut : Tabel 4.1 Daftar Aktiva Sewa Guna Usaha PT Makmur Selalu Tahun TAHUN LAMA NILAI PENY. REKENING KETERANGAN JML PEROLEHAN PENY. PEROLEHAN per bulan (Th) (Rp.) (Rp.) Toyota Kijang Innova Daihatsu Grand Max Jumlah Rincian transaksinya adalah sebagai berikut : 1. Toyota Kijang Innova. Transaksi dilakukan pada bulan Desember 2006 dengan jangka waktu perjanjian selama 4 tahun. a. Harga Barang : Rp ,- b. Bunga 4 10% : Rp ,-

20 20 c. Angsuran per bulan : Rp ,- d. Nilai Sisa (Hak opsi) : Rp ,- 2. Daihatsu Grand Max. Transaksi dilakukan pada bulan Januari 2007 dengan jangka waktu perjanjian selama 4 tahun. a. Harga Barang : Rp ,- b. Bunga 4 7,5% : Rp ,- c. Angsuran per bulan : Rp ,- d. Nilai Sisa (Hak opsi) : Rp , Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi (Finance Lease) Berdasarkan SAK ETAP dan SAK IFRS Berdasarkan data-data transaksi sewa guna usaha di atas, maka dapat disusun ayat jurnalnya sebagai berikut : 1. Satu unit Toyota Kijang Innova a. Aktiva SGU Hutang SGU Jurnal pada saat lessee memperoleh aktiva SGU b. Hutang SGU Kas Jurnal pada saat pembayaran angsuran c. Beban Penyusutan Akum. Penyusutan Aktiva SGU Jurnal pada saat mencatat penyusutan untuk tahun d. Toyota Kijang Innova Akum. Penyusutan Aktiva SGU Aktiva SGU

21 21 Akum. Penyusutan Kijang Innova Kas Jurnal pada saat menggunakan hak opsi 2. Satu unit Daihatsu Grand Max a. Aktiva SGU Hutang SGU Jurnal pada saat lessee memperoleh aktiva SGU b. Hutang SGU Kas Jurnal pada saat pembayaran angsuran c. Beban Penyusutan Akum. Penyusutan Aktiva SGU Jurnal pada saat mencatat penyusutan tahun e. Daihatsu Grand Max Akum. Penyusutan Aktiva SGU Aktiva SGU Akm. Penyusutan Daihatsu Grand max Kas Jurnal pada saat menggunakan hak opsi Sewa Guna Usaha Dengan Hak Opsi (Finance Lease) Berdasarkan Perpajakan Peraturan perpajakan yang terkait dengan transaksi sewa guna usaha yaitu: 1. Keputusan Menteri Keuangan No.1169/KMK.01/1991 tanggal 27 Nopember 1991 tentang kegiatan sewa guna usaha (leasing). 2. Surat Edaran Dirjen Pajak No. SE-29/PJ.42/1992 tanggal 19 Desember 1991 tentang perlakuan Pajak Penghasilan terhadap kegiatan sewa guna usaha (leasing).

22 Analisa Beda Pajak antara Akuntansi Komersial dengan Fiskal Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1169/KMK.01/1991 tanggal 27 Nopember 1991, selama masa sewa guna usaha, lessee tidak diperkenankan melakukan penyusutan atas aktiva sewa guna usaha. Lessee diperkenankan melakukan penyusutan atas aktiva sewa guna usaha setelah lessee melakukan opsi pembelian untuk membeli aktiva tersebut. Hal ini tentunya berbeda dengan kebijakan akuntansi komersial yang menetapkan bahwa penyusutan atas aktiva sewa guna usaha dilakukan setelah perjanjian sewa guna usaha ditandatangani, yang berarti selama masa sewa guna usaha, lessee mengakui adanya penyusutan atas aktiva sewa guna usaha tersebut Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi (Operating Lease) Ilustrasi 4 : Tanggal 2 Januari 2011 PT Makmur Selalu menyewa aset berupa alat berat sebesar Rp per bulan dengan jangka waktu 4 tahun, sewa ini memenuhi kriteria operating lease Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi (Operating Lease) Berdasarkan SAK ETAP dan SAK IFRS PT Makmur Selalu menyewa aset berupa alat berat sebesar Rp setiap bulan dengan jangka waktu 4 tahun, sewa ini memenuhi kriteria operating lease, jurnal akuntansi untuk mencatat transaksi sewa setiap bulan selama 4 tahun adalah sebagai berikut : Biaya Sewa Rp Kas Rp

23 Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi (Operating Lease) Berdasarkan Perpajakan Jurnal atas transaksi sewa guna usaha tanpa hak opsi untuk ilustrasi 4 tersebut di atas berdasarkan perpajakan adalah : Biaya Sewa Rp PPN Masukan Rp Hutang PPh 23 Rp Kas Rp Perolehan Aset Tetap Dengan Pertukaran Perolehan Aset Tetap Melalui Pertukaran Dengan Aset Sejenis Ilustrasi 5 : PT Makmur Selalu pada tanggal 5 Januari 2004 membeli mesin secara tunai dengan biaya Rp , memiliki estimasi masa kegunaan lima tahun dan estimasi nilai residu sebesar Rp Manajer meminta informasi yang menyangkut pengaruh penggunaan metode pilihan pada jumlah beban penyusutan setiap tahun. Berdasarkan data yang disajikan untuk manajer, metode garis lurus yang dipilih. Pada minggu pertama tahun ke-6 mesin dipertukarkan dengan mesin yang serupa senilai Rp Penyisihan pertukaran peralatan yang lama diperoleh Rp Perolehan Aset Tetap Melalui Pertukaran Dengan Aset Sejenis Berdasarkan SAK ETAP dan SAK IFRS Biaya untuk mesin baru = kas yang harus dibayar + nilai buku mesin lama = Rp Rp = Rp

24 24 Jurnal atas pertukaran mesin : Akumulasi penyusutan mesin lama Rp Mesin (Baru) Rp Mesin (Lama) Rp Kas Rp Perolehan Aset Tetap Melalui Pertukaran Dengan Aset Sejenis Berdasarkan Perpajakan Berdasarkan ilustrasi 5, maka jurnal atas pertukaran mesin secara perpajakan sebagai berikut : Akumulasi penyusutan mesin lama Rp Mesin baru Rp Kas Rp Mesin lama Rp Laba pertukaran Rp Perolehan Aset Tetap Melalui Pertukaran Dengan Aset Tidak Sejenis Ilustrasi 6 : Jika PT Makmur Selalu pada tanggal 5 Januari 2004 membeli mesin secara tunai dengan biaya Rp , memiliki estimasi masa kegunaan lima tahun dan estimasi nilai residu sebesar Rp Manajer meminta informasi yang menyangkut pengaruh penggunaan metode pilihan pada jumlah beban penyusutan setiap tahun. Berdasarkan data yang disajikan untuk manajer, metode garis lurus yang dipilih. Pada minggu pertama tahun ke-6 mesin dipertukarkan dengan aset

25 25 lain yaitu sebuah truk senilai Rp Nilai wajar mesin lama Rp Perolehan Aset Tetap Melalui Pertukaran Dengan Aset Tidak Sejenis Berdasarkan SAK ETAP dan SAK IFRS Pada ilustrasi 6 PT Makmur Selalu telah mendapatkan nilai wajar mesin lama yaitu Rp , maka perhitungan untuk laba pertukaran mesin dengan truk dapat diperoleh sebagai berikut : Harga perolehan truk = Rp Nilai wajar mesin = Rp Kas yang harus dibayarkan = Rp Perhitungan laba pertukaran : Nilai wajar mesin = Rp Harga perolehan mesin = Rp Akumulasi penyusutan = Rp Nilai Buku = Rp Laba pertukaran = Rp Setelah melalui perhitungan dapat diperoleh laba yaitu Rp , maka jurnal atas pertukaran mesin dengan truk sebagai berikut : Truk Rp Akumulasi penyusutan mesin lama Rp Mesin (Lama) Rp Kas Rp

26 26 Laba pertukaran Rp Perolehan Aset Tetap Melalui Pertukaran Dengan Aset Tidak Sejenis Berdasarkan Perpajakan berikut : Berdasarkan ilustrasi 6, maka jurnal pertukaran secara perpajakan sebagai Truk Rp Akumulasi penyusutan mesin lama Rp Mesin (Lama) Rp Kas Rp Laba pertukaran Rp Penilaian Kembali Aset Tetap dan Penurunan Aset Tetap Penilaian Kembali Aset Tetap Menurut SAK IFRS Ilustrasi 7 : Pada akhir tahun 2010, manajemen PT Makmur Selalu memutuskan untuk melakukan penilaian kembali aset tetap berdasarkan SAK IFRS. 1. Metode Proporsional Dari hasil penilaian kembali aset tetap tersebut, jurnal yang harus dicatat oleh PT Makmur Selalu sebagai berikut : a. Jurnal atas revaluasi tanah Tanah Rp Surplus penilaian kembali Rp b. Jurnal atas revaluasi CPU CPU Rp

27 27 Surplus penilaian kembali Rp Akumulasi Penyusutan Rp c. Jurnal atas revaluasi monitor Monitor Rp Surplus penilaian kembali Rp Akumulasi Penyusutan Rp d. Jurnal atas revaluasi mesin produksi Mesin Produksi Rp Surplus penilaian kembali Rp Akumulasi Penyusutan Rp e. Jurnal atas revaluasi kijang innova Kijang Innova Rp Surplus penilaian kembali Rp Akumulasi Penyusutan Rp f. Jurnal atas revaluasi grand max Grand Max Rp Surplus penilaian kembali Rp Akumulasi Penyusutan Rp g. Jurnal atas revaluasi mesin Mesin Rp Surplus penilaian kembali Rp Akumulasi Penyusutan Rp h. Jurnal atas revaluasi truk 2. Metode Eliminasi Truk Rp Surplus penilaian kembali Rp Akumulasi Penyusutan Rp Pada ilustrasi 7, jika direvaluasi dengan metode eliminasi, dapat diperoleh jurnal sebagai berikut : a. Jurnal atas revaluasi tanah Tanah Rp

28 28 b. Jurnal atas revaluasi CPU Surplus penilaian kembali Rp Akumulasi Penyusutan Rp CPU Rp Surplus penilaian kembali Rp Akumulasi Penyusutan Rp c. Jurnal atas revaluasi monitor Akumulasi Penyusutan Rp Monitor Rp Surplus penilaian kembali Rp Akumulasi Penyusutan Rp d. Jurnal atas revaluasi mesin produksi Akumulasi Penyusutan Rp Mesin Produksi Rp Mesin Produksi Rp Surplus penilaian kembali Rp e. Jurnal atas revaluasi kijang innova Akumulasi Penyusutan Rp Kijang Innova Rp Kijang Innova Rp Surplus penilaian kembali Rp f. Jurnal atas revaluasi grand max Akumulasi Penyusutan Rp Grand Max Rp Grand Max Rp Surplus penilaian kembali Rp g. Jurnal atas revaluasi mesin Akumulasi Penyusutan Rp Mesin Rp Mesin Rp

29 29 h. Jurnal atas revaluasi truk Surplus penilaian kembali Rp Akumulasi Penyusutan Rp Truk Rp Truk Rp Surplus penilaian kembali Rp Penilaian Kembali Aset Tetap Menurut Perpajakan Jurnal untuk mencatat penilaian kembali aset tetap yang terjadi adalah sebagai berikut : Tanah Rp Mesin Produksi Rp Kijang Innova Rp Grand Max Rp Mesin Rp Truk Rp Selisih Penilaian Aset Tetap Rp Jurnal untuk mencatat pembayaran PPh final atas selisih lebih penilaian kembali aset tetap sebagai berikut : PPh Final penilaian kembali Aset Tetap Rp Kas Rp BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Dari hasil pembahasan yang dilakukan dapat ditarik simpulan sebagai berikut :

30 30 1. Tidak ada perbedaan perlakuan akuntansi dan perpajakan atas perolehan aset tetap dengan cara pembelian tunai dan kredit. 2. Perlakuan akuntansi berdasarkan SAK ETAP dan SAK IFRS atas pertukaran aset tetap sejenis tidak mengakui adanya laba pertukaran, sedangkan menurut perpajakan pertukaran aset tetap sejenis ataupun tidak sejenis mengakui adanya laba pertukaran. 3. Perlakuan akuntansi berdasarkan SAK ETAP dan SAK IFRS atas sewa guna usaha (leasing), penyusutan dilakukan sejak aset tetap diperoleh. Dalam perpajakan selama hak opsi belum digunakan, semua biaya dicatat dalam akun biaya aktiva leasing. Setelah hak opsi membeli digunakan, entitas dapat melakukan penyusutan berdasarkan nilai sisa atas aset tetap leasing tersebut. 4. Dalam SAK IFRS mengharuskan entitas melakukan penilaian kembali berdasarkan nilai wajar, sedangkan SAK ETAP tidak diperkenankan melakukan penilaian kembali terhadap aset tetap. 5. Penilaian kembali aset tetap dalam SAK IFRS dapat menimbulkan kenaikan nilai wajar. Menurut perpajakan selisih lebih nilai wajar dari penilaian kembali dikenakan PPh final sebesar 10%. 5.2 Saran Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya membahas tentang perolehan aset tetap dengan cara membangun sendiri, pertukaran dengan surat berharga, dan donasi atau hadiah serta penghentian aset tetap berdasarkan akuntansi dan perpajakan.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Aktiva Tetap 1. Pengertian Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam kedaan siap dipakai atau dibangun terlebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan,

Lebih terperinci

Aspek Perpajakan atas Aktiva Tetap

Aspek Perpajakan atas Aktiva Tetap Aspek Perpajakan atas Aktiva Tetap Aktiva Tetap Aktiva Tetap: SAK (2009) : aktiva berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau jasa, untuk disewakan ke pihak lain,

Lebih terperinci

a. dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan jasa atau untuk tujuan administratif; dan b. diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode.

a. dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan jasa atau untuk tujuan administratif; dan b. diharapkan akan digunakan lebih dari satu periode. VIII.1 ASET TETAP A. Definisi 01. Aset tetap adalah aset berwujud yang: a. dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan jasa atau untuk tujuan administratif; dan b. diharapkan akan digunakan lebih dari satu

Lebih terperinci

BAGIAN IX ASET

BAGIAN IX ASET - 81 - BAGIAN IX ASET IX.1 ASET TETAP A. Definisi Aset tetap adalah aset berwujud yang: 1. dimiliki untuk digunakan dalam penyediaan jasa atau untuk tujuan administratif; dan 2. diharapkan akan digunakan

Lebih terperinci

AKUNTANSI PAJAK ATAS SEWA GUNA USAHA DAN JASA KUNSTRUKSI

AKUNTANSI PAJAK ATAS SEWA GUNA USAHA DAN JASA KUNSTRUKSI AKUNTANSI PERPAJAKAN Modul ke: Fakultas EKONOMI Program Studi MAGISTER AKUNTANSI www.mercubuana.ac.id AKUNTANSI PAJAK ATAS SEWA GUNA USAHA DAN JASA KUNSTRUKSI Dr. Suhirman Madjid, SE.,MS.i.,Ak., CA. HP/WA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Akuntansi Akuntansi sering disebut sebagai bahasanya dunia usaha karena akutansi akan menghasilkan informasi yang berguna bagi pihak-pihak yang menyelenggarakannya dan pihak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melalui penanaman barang modal. Dana yang diterima oleh perusahaan digunakan

BAB I PENDAHULUAN. melalui penanaman barang modal. Dana yang diterima oleh perusahaan digunakan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dana memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan operasional perusahaan. Perusahaan dapat menggunakan dana tersebut sebagai alat investasi melalui penanaman

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS. 1. Pengertian Dan Latar Belakang Konvergensi. usaha harmonisasi) standar akuntansi dan pilihan metode, teknik

BAB II LANDASAN TEORITIS. 1. Pengertian Dan Latar Belakang Konvergensi. usaha harmonisasi) standar akuntansi dan pilihan metode, teknik BAB II LANDASAN TEORITIS A. Teori - teori 1. Pengertian Dan Latar Belakang Konvergensi a. Pengertian Konvergensi Konvergensi dapat diartikan sebagai suatu tindakan untuk menyatukan pandangan/ perspektif

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan. menghasilkan, ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengertian Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan. menghasilkan, ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Aktiva Tetap Tanaman Menghasilkan Untuk mengetahui pengertian yang jelas mengenai aktiva tetap tanaman menghasilkan, ada beberapa defenisi yang dikemukakan oleh beberapa

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI 17 BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Aktiva Tetap 2.1.1. Pengertian Aktiva Tetap Berwujud "Aktiva tetap adalah aktiva berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun lebih dahulu, yang digunakan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah suatu kerangka dalam prosedur pembuatan laporan keuangan

Lebih terperinci

SEWA GUNA USAHA. Statement of Financial Accounting Standards No. 13 mengelompokkan sewa guna usaha menjadi :

SEWA GUNA USAHA. Statement of Financial Accounting Standards No. 13 mengelompokkan sewa guna usaha menjadi : SEWA GUNA USAHA LITERATUR :! US GAAP : FASB s Statement of Financial Accounting Standards No. 13, Accounting for Leases! IAI : Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 30 (Revisi 2007), Sewa! IFRS

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Landasan Teori 1. Aktiva a. Pengertian Aktiva Aktiva/harta adalah kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan, yang lebih dikenal dengan istilah asset perusahaan. Jadi, aktiva (asset)

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Analisis Penerapan Capital Lease Aktiva sewa guna usaha dicatat sebagai aktiva tetap sebesar nilai tunai pembayaran sewa guna usaha selama masa sewa guna usaha yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi keuangan Akuntansi memegang peranan penting dalam entitas karena akuntansi adalah bahasa bisnis (bussnines language). Akuntansi menghasilkan informasi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Akuntansi yang mengatur tentang aset tetap. Aset tetap adalah aset berwujud yang

BAB II LANDASAN TEORI. Akuntansi yang mengatur tentang aset tetap. Aset tetap adalah aset berwujud yang BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Penjelasan Umum Aset Tetap Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) no 16 adalah Standar Akuntansi yang mengatur tentang aset tetap. Aset tetap adalah aset berwujud yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Aset Tetap Aset tetap merupakan aset yang dapat digunakan oleh perusahaan dalam menjalankan aktivitas usaha dan sifatnya relatif tetap atau jangka waktu perputarannya

Lebih terperinci

Pengertian aset tetap (fixed asset) menurut Reeve (2012:2) adalah :

Pengertian aset tetap (fixed asset) menurut Reeve (2012:2) adalah : BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian dan Kriteria Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap Setiap perusahaan apapun jenis usahanya pasti memiliki kekayaan yang digunakan untuk menjalankan kegiatan operasionalnya.

Lebih terperinci

ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI DAN PERPAJAKAN ATAS KEPEMILIKAN ASET TETAP TERHADAP LABA KENA PAJAK DAN

ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI DAN PERPAJAKAN ATAS KEPEMILIKAN ASET TETAP TERHADAP LABA KENA PAJAK DAN ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI DAN PERPAJAKAN ATAS KEPEMILIKAN ASET TETAP TERHADAP LABA KENA PAJAK DAN PPh TERUTANG (STUDI KASUS PADA PT. BOKORMAS WAHANA MAKMUR) ABSTRAK Oleh Yolanda Oktarina NPM : 0711031023

Lebih terperinci

ANALISIS PERENCANAAN PAJAK ATAS PEROLEHAN ALAT BERAT SERTA PENGARUHNYA TERHADAP LABA KENA PAJAK DAN PPh TERUTANG (STUDI KASUS PADA PT APMS)

ANALISIS PERENCANAAN PAJAK ATAS PEROLEHAN ALAT BERAT SERTA PENGARUHNYA TERHADAP LABA KENA PAJAK DAN PPh TERUTANG (STUDI KASUS PADA PT APMS) ANALISIS PERENCANAAN PAJAK ATAS PEROLEHAN ALAT BERAT SERTA PENGARUHNYA TERHADAP LABA KENA PAJAK DAN PPh TERUTANG (STUDI KASUS PADA PT APMS) Dian Aulia Ulhusna Jurusan Akuntansi, Fakulktas Ekonomi dan Bisnis,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PEMBIAYAAN AKTIVA TETAP MELALUI LEASING DAN BANK KAITANNYA DENGAN PENGHEMATAN PAJAK

KEPUTUSAN PEMBIAYAAN AKTIVA TETAP MELALUI LEASING DAN BANK KAITANNYA DENGAN PENGHEMATAN PAJAK Jurnal Akuntansi FE Unsil, Vol. 3, No. 2, 2008 ISSN : 1907-9958 KEPUTUSAN PEMBIAYAAN AKTIVA TETAP MELALUI LEASING DAN BANK KAITANNYA DENGAN PENGHEMATAN PAJAK Hiras Pasaribu (Staf Pengajar Fakultas Ekonomi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aktiva Tetap Setiap perusahaan menggunakan berbagai aktiva tetap, seperti peralatan, perabotan, alat-alat, mesin-mesin, bangunan, dan tanah. Aset tetap (fix asset)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendukung kegiatan operasional agar

BAB I PENDAHULUAN. dikeluarkan oleh perusahaan untuk mendukung kegiatan operasional agar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perusahaan adalah organisasi yang umumnya mempunyai kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan yang dibebankan kepadanya. Biasanya di samping mencari laba, tujuan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN. perusahaan perlu mendapat perhatian khusus dalam penetapan kebijakan baik

BAB IV ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN. perusahaan perlu mendapat perhatian khusus dalam penetapan kebijakan baik BAB IV ANALISIS DATA DAN HASIL PENELITIAN A. Metode Perolehan Aktiva Tetap Aktiva tetap berwujud sebagai salah satu aktiva penting yang dimiliki perusahaan perlu mendapat perhatian khusus dalam penetapan

Lebih terperinci

Bab 10 PERUSAHAAN MODAL ASING (PMA) YANG MENGGUNAKAN BAHASA ASING DAN MATA UANG SELAIN RUPIAH

Bab 10 PERUSAHAAN MODAL ASING (PMA) YANG MENGGUNAKAN BAHASA ASING DAN MATA UANG SELAIN RUPIAH Bab 10 PERUSAHAAN MODAL ASING (PMA) YANG MENGGUNAKAN BAHASA ASING DAN MATA UANG SELAIN RUPIAH Dalam Bab ini akan dibahas penghitungan pajak apabila penduduk asing memiliki usaha di Indonesia, dan harus

Lebih terperinci

Tabel 5.1. Daftar Jenis Kendaraan CV. METROPOLITAN HOME. Umur Manfaat. B. Perbandingan Perolehan Kendaraan melalui Pembelian Tunai, Kredit

Tabel 5.1. Daftar Jenis Kendaraan CV. METROPOLITAN HOME. Umur Manfaat. B. Perbandingan Perolehan Kendaraan melalui Pembelian Tunai, Kredit 78 Tabel 5.1 Daftar Jenis Kendaraan CV. METROPOLITAN HOME Jenis Kendaraan Tgl. Perolehan Umur Manfaat Harga Perolehan (Rp) Nilai Sisa Buku (Rp) Isuzu Panther 16 Juni 2006 8 tahun 59.000.000 39.947.916,69

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA digilib.uns.ac.id BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Aset Tetap Sebelum membahas mengenai perlakuan akuntansi terhadap aset tetap, perlu kita ketahui terlebih dahulu beberapa teori mengenai aset tetap.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) Secara umum Standar Akuntansi Keuangan merupakan pedoman pokok penyusunan dan penyajian laporan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Berbagai definisi aset tetap yang dikemukakan oleh para ahli, semuanya mempunyai maksud dan tujuan yang sama yaitu merumuskan pengertian aset tetap agar

Lebih terperinci

PSAK 30 (REVISI 2007) ISAK 8 (REVISI 2007)

PSAK 30 (REVISI 2007) ISAK 8 (REVISI 2007) Pengajaran Akuntansi serta Workshop "PSAK Terbaru" 1 PSAK 30 (REVISI 2007) ISAK 8 (REVISI 2007) AGENDA 2 Ruang Lingkup Definisi Sewa Awal Sewa vs Awal Masa Sewa Klasifikasi i Sewa Sewa dalam Laporan Keuangan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Aktiva Tetap 1. Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan bagian dari harta kekayaan perusahaan yang memiliki manfaat ekonomi lebih dari satu periode akuntansi. Manfaat menunjukkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aset Aset sebagai sumber ekonomi sangat diharapkan oleh seluruh perusahaan dapat memberikan manfaat jangka panjang untuk mencapai tujuan perusahaan di kemudian hari. Hal ini

Lebih terperinci

Materi: 2 LAPORAN KEUANGAN FISKAL

Materi: 2 LAPORAN KEUANGAN FISKAL Materi: 2 LAPORAN KEUANGAN FISKAL AGENDA Pengantar Kerangka dasar penyusunan laporan keuangan. Asumsi dasar dan persamaan akuntansi. Perbedaan lap. Keuangan komersial dan lap. keuangan fiskal. Proses penyusunan

Lebih terperinci

AKTIVA TETAP DAN IA. KLASIFIKASI AKTIVA TETAP BERWUJUD AKTIVA YANG DAPAT DISUSUTKAN. Contoh: Bangunan, mesin dan peralatan yang lain.

AKTIVA TETAP DAN IA. KLASIFIKASI AKTIVA TETAP BERWUJUD AKTIVA YANG DAPAT DISUSUTKAN. Contoh: Bangunan, mesin dan peralatan yang lain. AKTIVA TETAP DAN AKTIVA TIDAK BERWUJUD IA. KLASIFIKASI AKTIVA TETAP BERWUJUD AKTIVA YANG DAPAT DISUSUTKAN ( depreciableassets ) Contoh: Bangunan, mesin dan peralatan yang lain. AKTIVA YANG TIDAK DAPAT

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS. administratif dan diharapkan akan digunakan lebih dari satu

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS. administratif dan diharapkan akan digunakan lebih dari satu BAB 2 TINJAUAN TEORETIS 2.1 Tinjauan Teoretis 2.1.1. Definisi Aset Tetap Dalam SAK-ETAP yang diatur oleh IAI (2009: 68), aset tetap adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau

Lebih terperinci

AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN

AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN AKUNTANSI PAJAK PENGHASILAN Akuntansi Keuangan 2 - Pertemuan 13 Slide OCW Universitas Indonesia Oleh : Dwi Martani Departemen Akuntansi FEUI 1 Agenda 1. 2. 3. 4. Pajak dalam LK Pajak dan Akuntansi Akt.

Lebih terperinci

http://www.hadiborneo.wordpress.com/ PENGERTIAN PEMBIAYAAN KONSUMEN (CONSUMERS FINANCE) Lembaga pembiayaan konsumen (consumers finance) adalah suatu lembaga atau badan usaha yang melakukan kegiatan pembiayaan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORITIS. Aset tetap termasuk bagian yang sangat signifikan dalam perusahaan. Jika

BAB 2 LANDASAN TEORITIS. Aset tetap termasuk bagian yang sangat signifikan dalam perusahaan. Jika BAB 2 LANDASAN TEORITIS A. Pengertian, Penggolongan dan Perolehan Aset Tetap 1. Pengertian Aset Tetap Aset tetap termasuk bagian yang sangat signifikan dalam perusahaan. Jika suatu aset digunakan untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Menurut Reeve, Warren, dkk (2013:2) Aset tetap (fixed asset) adalah aset yang bersifat jangka panjang atau secara relatif memiliki sifat permanen serta

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan

BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN. Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan BAB 4 ANALISIS DAN BAHASAN IV.1 Perbandingan Perlakuan Akuntansi PT Aman Investama dengan Perlakuan Akuntansi SAK ETAP Setelah mendapatkan gambaran detail mengenai objek penelitian, yaitu PT Aman Investama.

Lebih terperinci

NERACA ASSET TETAP (LEASING) ASSET TIDAK BERWUJUD

NERACA ASSET TETAP (LEASING) ASSET TIDAK BERWUJUD NERACA ASSET TETAP (LEASING) ASSET TIDAK BERWUJUD Jenis-jenis sewa menurut PSAK 30 1. Finance lease Lessor : Pihak yang membiayai penyediaan barang modal. Lessee : Lessee : - memilih barang modal yang

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. prosedur akuntansi yang yang diterapkan pada PT. Dwi Putra Jasa Prima terkait dengan

BAB IV PEMBAHASAN. prosedur akuntansi yang yang diterapkan pada PT. Dwi Putra Jasa Prima terkait dengan BAB IV PEMBAHASAN Dalam bab ini akan memuat dan membahas mengenai kebijakan kebijakan dan prosedur akuntansi yang yang diterapkan pada PT. Dwi Putra Jasa Prima terkait dengan aset tetap. Kebijakan akuntansi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. entitas pada tanggal tertentu. Halim (2010:3) memberikan pengertian bahwa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. entitas pada tanggal tertentu. Halim (2010:3) memberikan pengertian bahwa BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Akuntansi Menurut Dwi (2012:4) Akuntansi adalah informasi yang menjelaskan kinerja keuangan entitas dalam suatu periode tertentu dan kondisi keuangan entitas pada

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II LANDASAN TEORITIS BAB II LANDASAN TEORITIS A. Teori-teori a. Pengertian Akuntansi Manfaat akuntansi dalam menyediakan informasi keuangan sangat berguna untuk perencanaan dan pengelolaan keuangan serta memudahkan pengendalian

Lebih terperinci

LEBIH JAUH MENGENAI PSAK No. 16 (REVISI 2007) TENTANG ASET TETAP

LEBIH JAUH MENGENAI PSAK No. 16 (REVISI 2007) TENTANG ASET TETAP Edisi : IX/September 2009 LEBIH JAUH MENGENAI PSAK No. 16 (REVISI 2007) TENTANG ASET TETAP Oleh: Ikhlasul Manna Muhammad Fahri Keduanya Auditor pada KAP Syarief Basir & Rekan I. PENDAHULUAN PSAK 16 (Revisi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Akuntansi Keuangan Akuntansi memegang peranan penting dalam entitas karena akuntansi adalah bahasa bisnis (business language). Akuntansi menghasilkan informasi yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap BAB II TINJAUAN PUSTAKA Aset tetap merupakan harta kekayaan perusahaan yang dimiliki setiap perusahaan. Aset tetap yang dimiliki perusahaan digunakan untuk menjalankan operasionalnya

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) 8 Suatu perjanjian dari bentuk legalnya mungkin bukan merupakan perjanjian sewa, namun secara substansi dapat mengandung sewa. Untuk

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS. Leasing berasal dari kata lease yang berarti sewa atau lebih umum sebagai

BAB II LANDASAN TEORITIS. Leasing berasal dari kata lease yang berarti sewa atau lebih umum sebagai BAB II LANDASAN TEORITIS A. Sewa Guna Usaha 1. Pengertian Sewa Guna Usaha Leasing berasal dari kata lease yang berarti sewa atau lebih umum sebagai sewa-menyewa. Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam PSAK

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. 4 adalah suatu perjanjian dimana lessor memberikan hak kepada lessee

BAB II LANDASAN TEORI. 4 adalah suatu perjanjian dimana lessor memberikan hak kepada lessee BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian dan Keuntungan Sewa 1. Pengertian Sewa Sewa atau lease berdasarkan PSAK No. 30 (Revisi 2007) paragraf 4 adalah suatu perjanjian dimana lessor memberikan hak kepada lessee

Lebih terperinci

BAB 1 AKUNTANSI untuk SEWA GUNA USAA (LEASING)

BAB 1 AKUNTANSI untuk SEWA GUNA USAA (LEASING) BAB 1 AKUNTANSI untuk SEWA GUNA USAA (LEASING) Terminologi Pengertian Leasing Keuntungan Leasing Klasifikasi Leasing Perbedaan perjanjian Leasing dengan Perjanjian Lainnya Akuntansi Leasing Aspek Perpajakan

Lebih terperinci

AKUNTANSI UNTUK LEASING

AKUNTANSI UNTUK LEASING AKUNTANSI UNTUK LEASING Lease Lessor Lessee : Suatu perjanjian kontraktual antara Lessor dengan Lessee, yang memberikan hak kepada Lessee untuk menggunakan harta tertentu yang dimiliki oleh Lessor selama

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Carl (2015:3), Akuntansi (accounting) dapat diartikan sebagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Carl (2015:3), Akuntansi (accounting) dapat diartikan sebagai BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Akuntansi Menurut Carl (2015:3), Akuntansi (accounting) dapat diartikan sebagai sistem informasi yang menyediakan laporan untuk para pemangku kepentingan mengenai aktivitas

Lebih terperinci

AKUNTANSI PERPAJAKAN. Akuntansi Pajak atas Aktiva Berwujud

AKUNTANSI PERPAJAKAN. Akuntansi Pajak atas Aktiva Berwujud AKUNTANSI PERPAJAKAN Modul ke: Akuntansi Pajak atas Aktiva Berwujud Fakultas EKONOMI Program Studi MAGISTER AKUNTANSI www.mercubuana.ac.id Dr. Suhirman Madjid, SE.,MS.i.,Ak., CA. HP/WA : 081218888013 Email

Lebih terperinci

AKUNTANSI SEWA. Pertemuan ke 11

AKUNTANSI SEWA. Pertemuan ke 11 AKUNTANSI SEWA Pertemuan ke 11 Agenda 1 2 3 Mengapa Sewa Akuntansi Sewa Diskusi 2 Sewa Aset tetap selain dibeli dapat disewa dari pihak lain: Sewa operasi / operating lease Sewa pembiayaan / capital lease

Lebih terperinci

BAB II AKUNTANSI SEWA

BAB II AKUNTANSI SEWA BAB II AKUNTANSI SEWA 2.1. PENGERTIAN SEWA Pada awalnya sewa lebih dikenal dengan istilah leasing, leasing itu sendiri berasal dari kata lease yang berarti sewa atau yang lebih umum diartikan sebagai sewa

Lebih terperinci

Pengeluaran yang Tidak Boleh Dibebankan Sekaligus Pasal 9 Ayat (2) UU PPh

Pengeluaran yang Tidak Boleh Dibebankan Sekaligus Pasal 9 Ayat (2) UU PPh Pengeluaran yang Tidak Boleh Dibebankan Sekaligus Pasal 9 Ayat (2) UU PPh Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun. Dikapitalisasi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap adalah suatu aktiva yang berwujud yang dipergunakan dalam operasi perusahaan sehari-hari dan merupakan aktiva tahan lama yang secara berangsur-angsur

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. CV Scala Mandiri akan memperoleh beberapa manfaat, antara lain: 1. Dapat menyusun laporan keuangannya sendiri.

BAB IV PEMBAHASAN. CV Scala Mandiri akan memperoleh beberapa manfaat, antara lain: 1. Dapat menyusun laporan keuangannya sendiri. BAB IV PEMBAHASAN IV.1 Manfaat Implementasi SAK ETAP Dengan mengimplementasikan SAK ETAP di dalam laporan keuangannya, maka CV Scala Mandiri akan memperoleh beberapa manfaat, antara lain: 1. Dapat menyusun

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Definisi Aset Tetap Aset tetap merupakan aset jangka panjang atau aset yang relatif permanen yang memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun atau lebih dari satu

Lebih terperinci

AKUNTANSI KOMERSIAL VS AKUNTANSI PAJAK

AKUNTANSI KOMERSIAL VS AKUNTANSI PAJAK AKUNTANSI KOMERSIAL VS AKUNTANSI PAJAK Pembukuan menurut UU Pajak Dalam Pasal 28 ayat (7) UU KUP disebutkan: Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri atas catatan mengenai harta, kewajiban, modal, penghasilan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memerlukan aktiva tetap seperti peralatan, mesin, tanah, gedung, kendaraan dan

BAB I PENDAHULUAN. memerlukan aktiva tetap seperti peralatan, mesin, tanah, gedung, kendaraan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Setiap perusahaan dalam menjalankan operasi usahanya sudah tentu memerlukan aktiva tetap seperti peralatan, mesin, tanah, gedung, kendaraan dan lain sebagainya.

Lebih terperinci

AKUNTANSI UNTUK PAJAK PENGHASILAN

AKUNTANSI UNTUK PAJAK PENGHASILAN AKUNTANSI UNTUK PAJAK PENGHASILAN Laba yang dihasilkan oleh perusahaan merupakan obyek pajak penghasilan. Jumlah Laba Kena Pajak (SPT) dihitung berdasar ketentuan dan Undang undang yang berlaku dalam tahun

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. Pada bab ini penulis akan membahas penerapan perencanaan pajak terhadap

BAB IV PEMBAHASAN. Pada bab ini penulis akan membahas penerapan perencanaan pajak terhadap BAB IV PEMBAHASAN Pada bab ini penulis akan membahas penerapan perencanaan pajak terhadap perusahaan PT. X dan melihat pengaruhnya terhadap Pajak Penghasilan Terhutang Perusahaan sebagai beban pajak terhutang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.1 Pengertian dan Kriteria Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset Tetap Setiap perusahaan baik perusahaan yang bergerak dibidang industri, dagang, dan jasa pasti memiliki harta kekayaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perencanaan Pajak Menurut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pasca krisis tahun 1997, dengan kebijakan tersebut pemerintah berusaha

BAB 1 PENDAHULUAN. pasca krisis tahun 1997, dengan kebijakan tersebut pemerintah berusaha BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Investasi merupakan salah satu prioritas utama kebijakan dibidang ekonomi pasca krisis tahun 1997, dengan kebijakan tersebut pemerintah berusaha menggerakan

Lebih terperinci

PENERAPAN PSAK 16 (REVISI 2007) TENTANG ASET TETAP DAN DAMPAKNYA TERHADAP PERPAJAKAN

PENERAPAN PSAK 16 (REVISI 2007) TENTANG ASET TETAP DAN DAMPAKNYA TERHADAP PERPAJAKAN Edisi : VIII/Agustus 2009 PENERAPAN PSAK 16 (REVISI 2007) TENTANG ASET TETAP DAN DAMPAKNYA TERHADAP PERPAJAKAN Oleh: Rian Ardhi Redhite Auditor pada KAP Syarief Basir & Rekan Berdasarkan PSAK 16 (Revisi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II LANDASAN TEORITIS 5 BAB II LANDASAN TEORITIS A. Teori-teori 1. Pengertian dan Karakteristik Aset Tetap Aset tetap adalah aset yang memiliki masa manfaatnya lebih dari satu tahun, digunakan dalam kegiatan perusahaan, dimiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan berdirinya suatu perusahaan jenis apapun hampir sama, yaitu untuk mendapatkan laba optimal atas investasi yang telah ditanamkan dalam perusahaan. Dengan laba

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. berbentuk CV Hasjrat Abadi, berdiri pada tanggal 31 Juli 1952 bertempat di

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. berbentuk CV Hasjrat Abadi, berdiri pada tanggal 31 Juli 1952 bertempat di BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Perusahaan PT Hasjrat Abadi merupakan salah satu perusahaan swasta di Jakarta yang bergerak dalam bidang perdagangan umum. PT Hasjrat Abadi dahulunya berbentuk

Lebih terperinci

AKTIVA TETAP BERWUJUD (FIXED ASSETS)

AKTIVA TETAP BERWUJUD (FIXED ASSETS) Dosen : Christian Ramos Kurniawan AKTIVA TETAP BERWUJUD (FIXED ASSETS) INTERMEDIATE ACCOUNTING L/O/G/O Referensi : Donald E Kieso, Jerry J Weygandt, Terry D Warfield, Intermediate Accounting Definisi Aktiva

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Definisi Aset Tetap Definisi aset tetap berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (2011:16) paragraf 06, adalah Aset tetap adalah aset berwujud yang: (a)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Aset Tetap Aset tetap merupakan harta kekayaan perusahaan yang dimiliki setiap perusahaan. Aset tetap yang dimiliki perusahaan digunakan untuk menjalankan operasionalnya

Lebih terperinci

PERLAKUAN AKUNTANSI PAJAK ATAS SEWA GUNA USAHA DENGAN METODE CAPITAL LEASE

PERLAKUAN AKUNTANSI PAJAK ATAS SEWA GUNA USAHA DENGAN METODE CAPITAL LEASE 1 PERLAKUAN AKUNTANSI PAJAK ATAS SEWA GUNA USAHA DENGAN METODE CAPITAL LEASE PADA PT. TRI ATMA CIPTA Oleh : Enis Prihastuti, SE, M.Si ABSTRACT One type of financing capital goods used darisumbereksternalyang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Sistem berasal dari bahasa Latin (systẻma) dan bahasa Yunani (sustẻma),

BAB II LANDASAN TEORI. Sistem berasal dari bahasa Latin (systẻma) dan bahasa Yunani (sustẻma), BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem informasi Akuntansi Sistem berasal dari bahasa Latin (systẻma) dan bahasa Yunani (sustẻma), artinya suatu kesatuan komponen atau elemen yang dihubungkan bersama untuk memudahkan

Lebih terperinci

BAB 7 ASET TETAP. dilakukan agar bisa digunakan secara optimal selama umur ekonominya.

BAB 7 ASET TETAP. dilakukan agar bisa digunakan secara optimal selama umur ekonominya. BAB 7 ASET TETAP Pendahuluan Aset tetap mempunyai karakteristik: digunakan untuk operasi, berumur lebih dari satu tahun, mempunyai substansi fisik Perusahaan bisnis ingin mengelola aset yang dimilikinya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu perusahaan selalu berusaha untuk mencapai tujuannya. Untuk menunjang tercapainya tujuan itu, setiap perusahaan mempunyai aktiva tetap tertentu untuk memperlancar

Lebih terperinci

AKTIVA TETAP BERWUJUD

AKTIVA TETAP BERWUJUD AKTIVA TETAP BERWUJUD A. PENGERTIAN Aktiva tetap berwujud adalah aktivaaktiva yang mempunyai wujud yang sifatnya relatif permanen yang digunakan dalam kegiatan perusahaan yang normal. Karakteristik utama

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap Aset tetap merupakan aset tidak lancar yang diperoleh untuk digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, serta merupakan komponen aset yang paling besar nilainya

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aset Tetap 2.1.1 Pengertian Aset tetap adalah aset berwujud yang digunakan dalam operasi perusahaan dan tidak dimaksudkan untuk dijual dalam rangka kegiatan normal perusahaan.

Lebih terperinci

BAB III SISTEM PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN ASET TETAP PADA PENGADILAN NEGERI MEDAN

BAB III SISTEM PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN ASET TETAP PADA PENGADILAN NEGERI MEDAN BAB III SISTEM PENGENDALIAN DAN PENGELOLAAN ASET TETAP PADA PENGADILAN NEGERI MEDAN A. Pengertian Aset Tetap Menurut Widjajanto (2008:2), pengertian sistem adalah sesuatu yang memiliki bagian-bagian yang

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Akuntansi Menurut Munawir (2004) mendefinisikan Akuntansi adalah seni dari pada pencatatan, penggolongan dan peringkasan daripada peristiwa-peristiwa

Lebih terperinci

DEPRESIASI DAN AMORTISASI FISKAL

DEPRESIASI DAN AMORTISASI FISKAL Jurnal Cakrawala Akuntansi ISSN 1979-4851 Vol. 6 No. 2, September 2014, hal. 194-200 http://jca.unja.ac.id DEPRESIASI DAN AMORTISASI FISKAL Wiwik Tiswiyanti 1) 1) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia usaha dewasa ini, perusahaan dituntut untuk selalu

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan dunia usaha dewasa ini, perusahaan dituntut untuk selalu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan dunia usaha dewasa ini, perusahaan dituntut untuk selalu bisa mengantisipasi situasi dan kemauan pasar. Menghadapi tuntutan pasar yang semakin kompleks

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Agar tujuan perusahaan dapat tercapai, maka semua faktor-faktor

BAB I PENDAHULUAN. sendiri. Agar tujuan perusahaan dapat tercapai, maka semua faktor-faktor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Suatu perusahaan pada umumnya menjalankan kegiatan operasionalnya selain bertujuan mencari laba juga mempertahankan pertumbuhan perusahaan itu sendiri. Agar

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI ANALISIS

BAB III METODOLOGI ANALISIS 59 BAB III METODOLOGI ANALISIS 3.1 Kerangka Pemikiran Pembahasan tesis ini, didasarkan pada langkah-langkah pemikiran sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi objek pajak perusahaan dan menganalisis proses

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Aset tetap merupakan harta kekayaan perusahaan yang dimiliki setiap perusahaan. Aset tetap yang dimiliki perusahaan digunakan untuk menjalankan kegiatan

Lebih terperinci

BAB III SISTEM AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP BERWUJUD PADA PT HERFINTA FRAM AND PLANTATION

BAB III SISTEM AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP BERWUJUD PADA PT HERFINTA FRAM AND PLANTATION BAB III SISTEM AKUNTANSI PENYUSUTAN ASET TETAP BERWUJUD PADA PT HERFINTA FRAM AND PLANTATION A. Pengertian Sistem Akuntansi Sistem akuntansi adalah organisasi formulir, catatan, dan laporan yang dikoordinasi

Lebih terperinci

AKUNTANSI SEWA. Akuntansi Keuangan 2 - Pertemuan 11. Slide OCW Universitas Indonesia Oleh : Dwi Martani Departemen Akuntansi FEUI

AKUNTANSI SEWA. Akuntansi Keuangan 2 - Pertemuan 11. Slide OCW Universitas Indonesia Oleh : Dwi Martani Departemen Akuntansi FEUI AKUNTANSI SEWA Akuntansi Keuangan 2 - Pertemuan 11 Slide OCW Universitas Indonesia Oleh : Dwi Martani Departemen Akuntansi FEUI 1 Agenda 1 2 3 Mengapa Sewa Akuntansi Sewa Diskusi Akuntansi Keuangan 2 -

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan

BAB I PENDAHULUAN. investasi jangka panjang bagi perusahaan. Mengingat bahwa tujuan dari pengadaan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktiva tetap merupakan sesuatu yang penting bagi perusahaan, selain digunakan sebagai modal kerja, aktiva tetap biasanya juga digunakan sebagai alat investasi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. adalah bahasa bisnis(business language). Akuntansi menghasilkan informasi yang

BAB II LANDASAN TEORI. adalah bahasa bisnis(business language). Akuntansi menghasilkan informasi yang 8 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Akuntansi Akuntansi memegang peranan penting dalam entitas karena akuntansi adalah bahasa bisnis(business language). Akuntansi menghasilkan informasi yang menjelaskan kinerja

Lebih terperinci

1. Pengertian Penghasilan Menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan. Pengertian penghasilan menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan

1. Pengertian Penghasilan Menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan. Pengertian penghasilan menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan BAB II LANDASAN TEORITIS A. Pajak Penghasilan 1. Pengertian Penghasilan Menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan Pengertian penghasilan menurut Undang-Undang Pajak Penghasilan No. 17/2000 adalah setiap

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Aset Tetap Aset tetap (fixed assets) merupakan aset jangka panjang atau aset yang relatif permanen. Aset tetap sering disebut aset berwujud (tangible assets) karena

Lebih terperinci

BAB II BAHAN RUJUKAN

BAB II BAHAN RUJUKAN BAB II BAHAN RUJUKAN 2.1 Aktiva Tetap 2.1.1 Pengertian Aktiva Tetap Aktiva tetap merupakan aktiva jangka panjang atau aktiva yang relatif permanen dan memiliki masa manfaat lebih dari satu tahun atau lebih

Lebih terperinci

kini dan pajak tangguhan yang sajikan telah benar sesuai dengan

kini dan pajak tangguhan yang sajikan telah benar sesuai dengan BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN A. Evaluasi Penerapan Akuntansi Pajak Tangguhan Tahun 2005 1. Penyajian Laporan Keuangan Setelah Pengakuan Pajak Penghasilan. Berikut ini akan disajikan laporan keuangan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORITIS

BAB II LANDASAN TEORITIS BAB II LANDASAN TEORITIS A. Pengertian Aset Tetap Pengertian aset tetap menurut IAI, PSAK No 16 (2011 : 16.2) adalah aset berwujud yang dimiliki untuk digunakan dalam produksi atau penyediaan barang atau

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS

BAB 2 TINJAUAN TEORETIS 6 BAB 2 TINJAUAN TEORETIS 2.1 Tinjauan Teoretis 2.1.1 Pengertian Aktiva Tetap Menurut Kusnadi et al. (1998:342) dalam bukunya mengatakan bahwa, Aktiva tetap adalah semua benda yang dimiliki oleh perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan. Melalui proses

BAB I PENDAHULUAN. dengan pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan. Melalui proses BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Akuntansi adalah suatu sarana yang menjembatani antar pihak pimpinan dengan pihak lain yang berkepentingan dengan perusahaan. Melalui proses akuntansi akan

Lebih terperinci

IKATAN AKUNTANSI INDONESIA LATIHAN AKUNTANSI PERPAJAKAN Oleh : Purno Murtopo, S.E., M.Si.

IKATAN AKUNTANSI INDONESIA LATIHAN AKUNTANSI PERPAJAKAN Oleh : Purno Murtopo, S.E., M.Si. IKATAN AKUNTANSI INDONESIA LATIHAN AKUNTANSI PERPAJAKAN Oleh : Purno Murtopo, S.E., M.Si. Soal 1 Tn. Arjuna pada tanggal 20 Desember 2009 menyewa kendaraan truk dengan biaya sewa sebesar Rp5 juta. Tn.

Lebih terperinci