Jl. Kaliurang Km 14.4 Sleman, DIY ,2) ABSTRAK

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Jl. Kaliurang Km 14.4 Sleman, DIY 55184 1,2)Email: teknik.industri@uii.ac.id ABSTRAK"

Transkripsi

1 Penerapan Metode Total Productive Maintenance (TPM) untuk Mengatasi Masalah Six-Big Losess dalam Mencapai Efisiensi Proses Produksi (Studi Kasus pada PT. Itokoh Ceperindo) Aldila Samudro Mukti 1, Hudaya 2 1, 2 ) Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia Jl. Kaliurang Km 14.4 Sleman, DIY ,2) ABSTRAK PT. Itokoh Ceperindo merupakan perusahaan yang bergerak dalam bidang usaha casting baja dan stainless steel. Dalam dunia industry, faktor efektifitas mesin sangat mempengaruhi proses produksi, oleh sebab itu diperlukan langkah-langkah yang efektif dan efisien dalam pemeliharaan mesin untuk dapat menanggulangi dan mencegah masalah efektifitas mesin. Total Productive Maintenance (TPM) merupakan metode pemeliharaan yang melibatkan semua pihak yang terdapat dalam suatu perusahaan untuk dapat saling bekerjasama dalam menghilangkan factor Six big losses. Berdasarkan pengukuran efektivitas mesin Induction Furnance dengan menggunakan metode Overall Equipment Effectiveness (OEE), didapatkan nilai OEE dari mesin Induction Furnance untuk periode Oktober 2010 September 2011 berkisar antara 83.63% sampai 88.67%. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemampuan mesin Induction Furnance belum mencapai kondisi yang ideal ( 85%). Adapun yang mempengaruhi nilai OEE dan menjadi prioritas utama untuk dieliminasi perusahaan adalah Scrap/Yield Loss sebesar 50,85% dan Set-up and Adjustment Loss sebesar 32,49%. Kata Kunci: Overall Equipment Effectiveness (OEE), Total Productive Maintenance (TPM), Six big losses. ABSTRACT PT. Itokoh Ceperindo is a steal casting and stainless steel company. Engine efectifity is cruicial in production process. Thus, requires efective and efficeint steps in machine maintenance to overcome and prevent machine efficiency issues. Total Productive Manitenance (TPM) is a maintenance method involving all companies stakeholers to cooperate in eliminating six big losses factor. Based on Induction Furnance Mchine Performance using overall equioment effectiveness, the OEE score in october 2010 september 2011 varies between 83.63% to 88,67%. This shows that the machine is not in its idealconditions ( 85%). It is a priority to eliminate Scrap/Yield Loss (50,85% ) and Set-up and Adjustment Loss (32,49%). Keyword: Overall Equipment Effectiveness (OEE), Total Productive Maintenance (TPM), Six big losses Pendahuluan Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran kesesuaian antara kondisi perusahaan dimana factor six-big losses sangat berpengaruh terhadap efisiensi dan efektifitas proses produksi perusahaan dengan penerapan total productive maintenance (TPM). TPM merupakan sistem Jepang yang unik dari suatu kepakaran manajerial, telah diciptakan pada tahun 1971, berdasarkan konsep pemeliharaan pencegahan atau pemeliharaan mandiri yang telah diperkenalkan dari Amerika Serikat pada tahun 1950-an sampai tahun 1960-an (Corder, 1998). Menurut Nakajima (1988) TPM adalah suatu program untuk pengembangan fundamental dari fungsi pemeliharaan dalam suatu organisasi, yang melibatkan seluruh SDM-nya. Metode yang digunakan adalah metode Overall Equipment Effectiveness (OEE) yang digunakan untuk mengukur tingkat efektivitas yang sesuai dengan prinsip prinsip TPM untuk dapat mengetahui besarnya kerugian (six big losses) meliputi breakdown losses, setup and adjustment losses, reduced speed losses, idling and minor stoppages, rework losses dan scrap/yield losses. penelitian 89

2 ditekankan pada faktor-faktor kinerja produksi yang meliputi produktivitas pekerja, man hour, product delivery dan tingkat defect. Metode Penelitian Obyek Penelitian Penelitian ini dilakukan di PT. Itokoh Ceperindo. Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Studi Lapangan Wawancara Pengumpulan data secara langsung dengan tanya jawab kepada responden, yaitu dengan pihak manajemen perusahaan atau karyawan perusahaan. Observasi Teknik pengumpulan data dengan cara melakukan pengamatan secara langsung pada objek yang diteliti. 2. Studi Kepustakaan Studi kepustakaan adalah usaha mencari dan mengumpulkan literatur-literatur, karya ilmiah dan referensi yang mendukung serta berkaitan dengan masalah yang diteliti sehingga dapat digunakan sebagai dasar analisis dalam pemecahan masalah. Pengolahan Data Penentuan Availability Ratio Availability merupakan rasio dari operation time, dengan mengeliminasi Downtime peralatan, terhadap loading time. Rumus yang digunakan adalah: Operation Time Availability = Loading Time x 100% Penentuan Performance Efficiency Performance effieciency merupakan hasil perkalian dari Operating speed rate dan net Operating speed, atau rasio kuantitas produk yang dihasilkan dikalikan dengan waktu siklus idealnya terhadap waktu yang tersedia untuk melakukan proses produksi. Rumus yang digunakan adalah: Performance = Operating speed rate Operating Rate Ideal Cycle Time Actual Cycle Time x Output = x x 100% Actual Cycle Time Operation Time Processed Amount x Theoretical Cycle Time Performance Effieciency = x 100% Operation Time Penentuan Rate Of Quality Product Rate of quality product merupakan suatu rasio yang menggambarkan kemampuan peralatan dalam menghasilkan produk yang sesuai dengan standar perusahaan. Rumus yang digunakan adalah: Processed Amount Defect Amount Rate Of Quality Products = x 100% Processed Amount Penentuan Overall Equipment Effetiveness (OEE) OEE = Avaibility (%) Performance (%) Quality Yield (%) 90

3 Perhitungan OEE Six big losses 1. Downtime Losses Downtime adalah waktu yang seharusnya digunakan untuk melakukan proses produksi akan tetapi karena adanya gangguan pada mesin mengakibatkan mesin tidak dapat melaksanakan proses produksi sebagaimana mestinya. Equipment Failures dan Setup Adjusment adalah yang termasuk dalam Downtime Losses.. Equipment Failures Equipment Failures yaitu kerusakan mesin / peralatan yang tiba-tiba dan mengakibatkan kerugian, karena kerusakan mesin akan menyebabkan mesin tidak beroperasi menghasilkan output. Equipment Failure Loss = Total Breakdown Time Loading Time x 100% Setup and Adjustment Setup and Adjustment adalah semua waktu set-up termasuk waktu penyesuaian dan juga waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan-kegiatan pengganti satu jenis produk berikutnya untuk proses produksi selanjutnya. Untuk mengetahui Setup and Adjustment digunakan rumus: Setup and Adjustment loss= TotalSetupandAdjustmenTime x 100% LoadingTime 2. Speed Losses Idling and Minor Stoppage Idling and Minor Stoppage Losses disebabkan oleh kejadian-kejadian seperti pembersihan mesin sejenak, kemacetan mesin dan idle time dari mesin. Idling and Minor Stoppages = Nonproductive Time Loading Time 91 x 100% Reduced Speed Losses Reduced Speed Losses adalah selisih antara waktu kecepatan produksi aktual dengan kecepatan produksi mesin yang ideal. Reduced Speed Losses= Operation Time (Ideal Cycle Time x Total Product Process) Loading Time x100% 3. Defect Losses Defect Losses adalah mesin tidak menghasilkan produk yang sesuai dengan spesifikasi dan standar kualitas produk yang telah ditentukan oleh perusahaan. Faktor yang dikategorikan ke dalam Defect Losses adalah Rework Loss dan Yield/Scrap Loss. Rework Loss Rework Loss yaitu kerugian yang disebabkan karena adanya produk cacat maupun kerja produk diproses ulang. Rework Loss= Ideal Cycle Time Rework Loading Time x 100% Yield/Scrap Losses Yield/Scrap Losses disebabkan oleh material yang tidak terpakai atau sampah bahan baku. Yield/Scrap Losses= Ideal Cycle Time Scrap Loading Time x 100% Perhitungan Variabel Variabel Produksi 1. Product Delivery Product Delivery yaitu berapa banyak barang yang bisa diproduksi terhadap rencana yang ditetapkan oleh perusahaan. Jumlah Produksi Product Delivery = Planning Produksi 100% 2. Man hour Man hour adalah suatu perhitungan di mana jumlah jam kerja dikalikan dengan jumlah karyawan dibagi dengan jumlah produksi. Jumlah Jam Kerja Jumlah Jam Kerja Man Hour = Jumlah Produksi 3. Defect/Reject Defect/Reject merupakan kegagalan suatu produk akibat proses yang tidak sesuai dengan standar.

4 Defect/Reject = Jumlah Produk Cacat Jumlah Produksi 100% Diagram Pareto Untuk melihat lebih jelas Six big losses yang mempengaruhi efektivitas mesin Induction Furnance, maka akan dilakukan perhitungan time loss untuk masing-masing faktor dalam Six big losses. Diagram Cause and Effect Diagram ini berguna untuk menganalis dan menemukan faktor faktor yang berpengaruh secara signifikan terhadap penentuan karakteristik kualitas output kerja. Hasil dan Pembahasan Penentuan Availability Ratio Tabel 1. Perhitungan Availability ratio bulan Oktober 2010 September 2011 Bulan Loading Time (jam) Total Downtime Operation Time Availability Rasio % Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sptember Perhitungan Performance Efficiency Bulan Tabel 2. Perhitungan Performance efficiency bulan Oktober 2010 September 2011 Total Product Processed (Kg) Ideal Cycle Time (Jam/Kg) Operatio Time Performance efficiency (%) Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sptember

5 Perhitungan Rate Of Quality Product Tabel 3. Perhitungan rate of quality product bulan Oktober 2010 Septemberi 2011 Bulan Total Product Processed (Kg) Total Scrap Weight (Kg) Rate Of Quality Product (%) Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sptember Perhitungan Overall Equipment Effectiveness (OEE) Tabel 4. Perhitungan overall equipment effectiveness Bulan Oktober 2010 September 2011 Bulan Availability Rasio % Performance efficiency (%) Rate Of Quality Product (%) OEE Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sptember Berikut ini adalah nilai OEE yang diperoleh pada mesin Induction Furnance selama periode Oktober 2010 September 2011: 1. Pada bulan Oktober 2010 September 2011 diperoleh nilai OEE sebesar % %. Dari hasil tersebut ternyata masih terdapat nilai OEE yang berada di bawah keadaan ideal 85%. 2. Nilai OEE tertinggi pada mesin Induction Furnance didapat pada bulan Oktober 2010 sebesar % dengan rasio Availability 94,621%, Performance Efficiency 99,122% dan Rate of Quality Product 94,55%. Rendahnya nilai OEE mesin Induction Furnance pada periode Januari 2011sebesar % disebabkan oleh rasio Availability sebesar 93,297% dan Performance Efficiency sebesar 98,814% sedangkan rasio Rate of Quality Product memiliki nilai yang rendah yaitu90,725%. 93

6 Perhitungan OEE Six big losses 1. Downtime Losses Equipment Failures Tabel 5. Perhitungan equipment failure loss bulan Oktober 2010 September 2011 Bulan Machine Break Loading Time (jam) Equipment Failure Loss (%) Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sptember Setup and Adjustment Tabel 6. Perhitungan setup and adjustment bulan September 2010 Januari 2011 Setup and Adjustment Bulan Schedule Shutdown Warm Up (Jam) Total (Jam) Loading Time (Jam) Setup Loss (%) Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sptember Speed Losses Idling and Minor Stoppage Tabel 7. Perhitungan idling and minor stoppages Bulan Oktober 2010 September 2011 Bulan Pencucian Mesin Loading Time (jam) Idling and Minor Stoppages (%) Oktober November Desember Januari

7 Tabel 7. Perhitungan idling and minor stoppages Bulan Oktober 2010 September 2011 lanjutan Bulan Pencucian Mesin Loading Time (jam) Idling and Minor Stoppages (%) Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sptember Bulan Reduced Speed Losses Tabel 8. Perhitungan reduced speed losses bulan Oktober 2010 September 2011 Operation Time Ideal Cycle Time (Jam/Kg) Total Product Processed (Kg) Loading Time (Jam) Reduced Speed Losses (%) Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sptember Defect Losses Rework Loss Tabel 9. Perhitungan rework loss bulan Oktober 2010 September 2011 Bulan Loading Time (Jam) Ideal Cycle Time (Jam/Kg) Rework (Kg) Rework Losses (%) Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sptember

8 Persentase Aldila Samudro Mukti, Hudaya/ Penerapan Metode Total Productive Maintenance (TPM) untuk Mengatasi Masalah Six-Big Losess dalam Mencapai Efisiensi Proses Produksi Yield/Scrap Losses Tabel 10. Perhitungan yield/scrap losses bulan Oktober 2010 September 2011 Bulan Ideal Cycle Time (Jam/Kg) Total Scrap Weight (Kg) Loading Time (Jam) Yield/Scrap Losses (%) Oktober November Desember Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus Sptember Tabel 11. Pengurutan persentase faktor six big losses mesin Induction Furnance No Six big losses Total Time Losses (jam) Persentase (%) Persentase Kumulatif (%) 1 Scrap/Yield Loss 262,99 50,85 50,85 2 Set up and Adjustment Loss ,49 83,34 3 Reduced Speed Loss 39,77 7,69 91,03 4 Breakdown Loss 28,1 5,43 96,46 5 Idling and Minor Stoppages 18,3 3, Rework Loss Total 100 Dari hasil pengurutan persentase faktor Six big losses tersebut maka akan digambarkan diagram Paretonya sehingga terlihat jelas urutan dari keenam faktor yang mempengaruhi efektivitas pada mesin Induction Furnance ,85 Scrap/Yield Loss Diagram Pareto Six Big Losses 32,49 Set up and Adjustment Loss 7,69 5,43 3,54 0 Breakdown Rework Loss Loss Reduced Speed Loss Six Big Losses Idling and Minor Stoppages Gambar 1. Diagram pareto persentase faktor six big losses Induction Furnance periode Oktober 2010 September

9 Perhitungan Variabel Variabel Produksi 1. Product Delivery Tabel 12. Perhitungan product delivery bulan Oktober 2010 September 2011 Bulan Total Good Product (Kg) Planning Product Delivery Oktober , November , Desember , Januari , Februari , Maret , April , Mei , Juni , Juli , Agustus , Sptember , Pada bulan Oktober 2010 September 2011 diperoleh nilai product delivery sebesar 96,68% - 99,05%. Dari hasil tersebut ternyata masih terdapat nilai product delivery yang berada di bawah keadaan ideal 99%. Presentase product delivery terendah terjadi pada bulan Januari Persentase terendah tersebut terjadi karena total good product yang dihasilkan sangat rendah yaitu Kg dimana nilai tersebut jauh dari planning product yaitu sebesar Kg 2. Man hour Tabel 13..Perhitungan man hour bulan Oktober 2010 September 2011 Bulan Total Available Time (Jam) Jumalah Pekerja Total Product Processed (Kg) Man hour Oktober , November , Desember , Januari , Februari , Maret , April , Mei , Juni , Juli , Agustus , Sptember , Pada bulan Oktober 2010 September 2011 diperoleh nilai Man hoursebesar 1, Jam 2, Jam. Dari hasil tersebut nilai Man hour yang tinggi terjadi pada bulan September Hal tersebut disebabkan karena pada bulan September 2011 nilai total available time tinggi yaitu sebesar 330 Jam. 3. Defect/Reject Tabel 14..Perhitungan defect/reject bulan Oktober 2010 September 2011 Bulan Total Product Processed (Kg) Produk Cacat Defect/Reject Oktober , November ,

10 Tabel 14..Perhitungan defect/reject bulan Oktober 2010 September 2011 lanjutan Bulan Total Product Processed (Kg) Produk Cacat Defect/Reject Desember , Januari , Februari , Maret , Tabel 14..Perhitungan defect/reject bulan Oktober 2010 September 2011 lanjutan Bulan Total Product Processed (Kg) Produk Cacat Defect/Reject April , Mei , Juni , Juli , Agustus , Sptember , Pada bulan Oktober 2010 September 2011 diperoleh nilai tingkat defect sebesar 0,95% - 3,12%. Dari hasil tersebut nilai tingkat defect terbesar terjadi pada bulan Juli Tingkat defect pada bulan tersebut terjadi karena terdapat 389 Kg produk cacat yang dihasilkan Diagram Sebab Akibat/Fishbone Melalui diagram Pareto dapat dilihat bahwa faktor yang memberikan kontribusi terbesar dari faktor Six big losses tersebut adalah Scrap/Yield Loss sebesar 50,85%dan Set up and Adjustment Loss32,49%. Menurut aturan Pareto (aturan 80%) maka nilai persentase kumulatif mendekati atau sama dengan 80% menjadi prioritas permasalahan yang akan dibahas selanjutnya. Oleh karena itu, kedua faktor inilah yang akan dianalisis dengan menggunakan diagram sebab akibat. Dalam diagram sebab akbat pada gambar 2 dan gambar 3 dibawah ini akan diketahui penyebab tingginya faktor scrap/yield loss dan set up dan adjustment loss. Operator Mesin Bahan Baku Kurang Terlatih Pengawasan yang Kurang Sering Mengalami Gangguan Mesin Yang Sudah Tua Sering Mengalami Keausan Bahan Baku Yang Kurang Bagus Manajemen Bahan Baku yang Kurang Baik Kurang Teliti Scrap/Yield Loss Quality Control yang Kurang Baik Control Terhadap Suhu Mesin yang Minim Proses Dibawah Standard Jarang Mengalami Pembersihan Mesin Proses Lingkungan Gambar 2. Diagram sebab akibat/fishbone scrap/yield loss 98

11 Operator Mesin Bahan Baku Kurang Terlatih Kurangnya Jumlah Operator Sering Mengalami Gangguan Mesin Yang Sudah Tua Perawatan yang Kurang maksimal Bahan Baku Yang Kurang Bagus Manajemen Bahan Baku yang Kurang Baik Kurang Teliti Sering terjadi penundaan Proses Produksi Control Terhadap Suhu Mesin yang Minim Set up and Adjustment Loss Proses Dibawah Standard Mesin Kotor Proses Lingkungan Gambar 3. Diagram sebab akibat/fishbone setup and adjustment loss Analisa diagram sebab akibat untuk faktor scrap/yield loss loss dan set up and adjustment loss adalah sebagai berikut: 1. Manusia (operator) Operator kurang teliti dalam pengoperasian mesin sehingga mesin tidak bekerja secara maksimal. Kurangnya jumlah tenaga kerja yang ditugaskan sehingga menambah waktu tunggu (delay) bila mesin mengalami kerusakan. Kurangnya pengawasan terhadap kinerja operator yang berakibat kinerja operator dalam pengoperasian mesin kurang maksimal. 2. Mesin (peralatan) Umur mesin yang sudah tua mempengaruhi terjadinya gangguan seperti aus pada beberapa bagian. Kurangnya fasilitas dan sarana perawatan mesin. 3. Bahan Baku (material) Tidak ada spesifikasi bahan baku yang berkualitas dalam penanganan material sehingga dapat menyebabkan mesin berjalan yang tidak konstan. Manajeman bahan baku yang kurang bagus menyebabkan banyak bahan baku yang terbuang ketika diolah pada mesin. 4. Lingkungan Kotoran seperti debu atau sisa bahan baku yang menempel pada mesin akan mempengaruhi efektifitas mesin. Kontrol suhu lingkungan kerja yang jarang dilakukan menyebabkan operator yang mudah merasa gerah. 5. Proses Kerja Keadaan mesin yang tua menyebabkan terjadi penundaan proses produksi karena beberapa gangguan. Proses yang menggunakan mesin secara terus menerus harus menuntut agar mesin selalu dalam keadaan yang stabil, maka perlu adanya pemeliharaan dan perawatan yang lebih intensif. Evaluasi dan Usulan Penyelesaiaan Masalah Usulan Penyelesaian Masalah Six big losses Berikut ini adalah tindakan yang harus dilakukan untuk menangani masalah tersebut: 1. Langkah langkah perbaikan pada faktor tenaga kerja 99

12 Memberikan training atau penyuluhan kepada operator secara berkala, misalnya dilakukan kegiatan training setiap enam bulan. Menambah jumlah tenaga kerja untuk mengurangi terjadinya delay jika terjadi kerusakan pada mesin dengan kemampuan kerja operator yang optimal. Meningkatkan pengawasan terhadap kinerja tenaga kerja agar kegiatan produksi berjalan lebih efektif. 2. Langkah langkah perbaikan pada mesin produksi Melakukan perawatan mesin secara berkala untuk menemukan kondisi tak wajar pada mesin sedini mungkin. Melakukan pemeliharaan pada kondisi yang wajar seperti, pengencangan baut, pembersihan mesin dan mengganti bagian mesin yang rusak. Menerapkan dan mengembangkan metode penaggulangan kondisi mesin. 3. Langkah langkah perbaikan pada bahan baku atau material Membuat standar ukuran bahan yang sesuai sehingga mesin bekeja secara optimal dan mengurangi jumlah sisa bahan baku yang terbuang. 4. Langkah langkah perbaikan pada faktor lingkungan Melakukan pembersihan mesin sebelum dan sesudah proses operasi. Lebih memperhatikan suhu lingkungan kerja sehingga operator merasa lebih nyaman dengan lingkungan keja. 5. Langkah langkah perbaikan pada faktor proses kerja Melakukan pemeliharaan dan perawatan untuk mengurangi gangguan dan mengembalikan mesin pada kondisi yang optimal. Menentukan standar pelaksanaan setting tools. Penerapan Total Productive Maintenance (TPM) Agar implementasi TPM berhasil, maka perusahaan harus memiliki: 1. Dukungan dari Top Manajemen. 2. Pemahaman dan komitmen dari setiap orang dalam organisasi. 3. Pelatihan dan motivasi dari setiap orang di dalam organisasi. 4. Manajemen harus mendidik, mempromosikan dan membangun budaya baru di mana tim dapat berfungsi guna menghasilkan sebuah sistem TPM. 5. TPM memerlukan pemberdayaan karyawan, dengan partisipasi total dari seluruh tenaga kerja. 6. TPM tidak akan berhasil jika hanya sebagai sebuah program pemeliharaan, tetapi harus menjadi program dari setiap orang. 7. Dengan TPM, operator mesin bertanggung jawab atas pemeliharaan rutin mesin dan peralatan, termasuk pembersihan dan pemeliharaan area kerja. 8. Para karyawan dilatih untuk dapat mengidentifikasi permasalahan, menentukan pemecahan dan menerapkan metode kerja yang dikembangkan oleh kelompok kecil. Kesimpulan Berdasarkan hasil analisa dan uraian hasil Overall Equipment Effectiveness pada mesin Induction Furnance, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Dari pengukuran tingkat efektivitas mesin dengan menggunakan metode OEE pada bulan Oktober September 2011 yang dilakukan di PT. Itokoh Ceperindo, terdapat beberapa bulan dimana presentase tersebut kurang dari standar ideal OEE yaitu 85%. Hal itu terjadi pada bulan Januari (83.63%), Maret (83.77%), Mei (83.86%), Juli (84.34%). Persentase nilai OEE yang rendah terjadi karena mesin banyak mengalami gangguan, seperti mesin mati secara tiba-tiba dan bagian komponen pada mesin yang mengalami kerusakan. Diluar faktor tersebut hal-hal seperti operator kurang menguasai mesin dan kurang disiplinnya operator dalam merawat mesin juga menjadi penyebab rendahnya nilai OEE. 100

13 2. Tingkat efektifitas mesin dan lingkungan perusahaan sangat berpengaruh terhadap product delivery, man hour dan tingkat product defect. Hal ini dapat dilihat ketika mesin mengalami banyak gangguan dan kerusakan maka nilai product delivery akan menurun, nilai man hour yang meningkat dan nilai Product Defect yang bertambah. Jika ketiga hal tersebut terjadi dalam sebuah perusahaan maka nilai efisiensi dan efektivitas akan menurun dalam sebuah perusahaan dimana pemborosan biaya dan waktu akan terjadi. Selain itu terjadi penurunan kualitas kinerja dan produk perusahaan tersebut. 3. Faktor yang mempengaruhi tingkat produktivitas di PT. Itokoh Ceperindo dapat dilihat dari persentase six big losses mesin Induction Furnance. Di mana besarnya persentase breakdown loss sebesar 5,43%, set-up and adjustment loss sebesar 32,49%, reduced speed loss sebesar 7,69%, idling and minor stoppages sebesar 3,54%, rework loss sebesar 0% dan scrap/yield loss sebesar 50,85%. Presentase terbesar pada scrap/yield loss disebabkan karena breakdown pada mesin produksi, kualitas operator yang kurang baik, dan bahan baku yang digunakan kurang berkualitas. Daftar Pustaka Corder, Anthony., (1992). Maintenance Management Technique. Jakarta: Erlangga. Seiichi Nakajima., (1988). Introduction to Total Productive Maintenance (TPM), Cambridge : Productivity Press Inc., hal

ANALISIS TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE PADA LINI PRODUKSI MESIN PERKAKAS GUNA MEMPERBAIKI KINERJA PERUSAHAAN

ANALISIS TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE PADA LINI PRODUKSI MESIN PERKAKAS GUNA MEMPERBAIKI KINERJA PERUSAHAAN ANALISIS TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE PADA LINI PRODUKSI MESIN PERKAKAS GUNA MEMPERBAIKI KINERJA PERUSAHAAN Achmad Said, Joko Susetyo Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Institut Sains

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI DEPARTEMEN NON JAHIT PT. KERTA RAJASA RAYA

IMPLEMENTASI TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI DEPARTEMEN NON JAHIT PT. KERTA RAJASA RAYA JURNAL TEKNIK INDUSTRI VOL. 3, NO. 1, JUNI 001: 18-5 IMPLEMENTASI TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DI DEPARTEMEN NON JAHIT PT. KERTA RAJASA RAYA Tanti Octavia Ronald E. Stok Dosen Fakultas Teknologi Industri,

Lebih terperinci

MENGENAL SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU (JUST IN TIME SYSTEM)

MENGENAL SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU (JUST IN TIME SYSTEM) MENGENAL SISTEM PRODUKSI TEPAT WAKTU (JUST IN TIME SYSTEM) I. Sistem Produksi Barat Sistem produksi yang paling banyak dipakai saat ini adalah yang berasal dari Eropa dan Amerika. Sistem produksi tersebut

Lebih terperinci

TINJAUAN ATAS PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK PRODUK CACAT DAN PRODUK RUSAK PADA PT INDO PACIFIC

TINJAUAN ATAS PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK PRODUK CACAT DAN PRODUK RUSAK PADA PT INDO PACIFIC PROCEEDINGS Perkembangan Peran Akuntansi Dalam Bisnis Yang Profesional TINJAUAN ATAS PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK PRODUK CACAT DAN PRODUK RUSAK PADA PT INDO PACIFIC Abstract 570 066. Shinta Dewi Herawati

Lebih terperinci

Seminar Nasional IENACO 2015 ISSN 2337-4349

Seminar Nasional IENACO 2015 ISSN 2337-4349 ANALISIS PERAWATAN KOMPONEN KERETA API DI DIPO RANGKASBITUNG Mutmainah Mattjik, Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Jakarta Jl. Cempaka Putih Tengah 27 Jakarta Pusat Abstrak

Lebih terperinci

MATERI VI DIAGRAM SEBAB AKIBAT DIAGRAM PARETO. By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab.

MATERI VI DIAGRAM SEBAB AKIBAT DIAGRAM PARETO. By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab. MATERI VI DIAGRAM SEBAB AKIBAT DIAGRAM PARETO By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab. DIAGRAM SEBAB AKIBAT DIAGRAM SEBAB AKIBAT/TULANG IKAN / FISHBONE / ISHIKAWA Adalah satu alat dalam menganalisa

Lebih terperinci

Kesinambungan Daya Saing & Tanggung Jawab Perusahaan - SCORE - Presentasi hasil implementasi. Modul 1 (Kerja sama di tempat kerja)

Kesinambungan Daya Saing & Tanggung Jawab Perusahaan - SCORE - Presentasi hasil implementasi. Modul 1 (Kerja sama di tempat kerja) Kesinambungan Daya Saing & Tanggung Jawab Perusahaan - SCORE - Presentasi hasil implementasi Modul 1 (Kerja sama di tempat kerja) Nama Perusahaan : PT. Tri Jaya Teknik Karawang Lokasi : Jl. Alternatif

Lebih terperinci

MATERI VIII LANGKAH PEMECAHAN MASALAH. By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab.

MATERI VIII LANGKAH PEMECAHAN MASALAH. By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab. MATERI VIII LANGKAH PEMECAHAN MASALAH By : Moch. Zen S. Hadi, ST Communication Digital Lab. LANGKAH PEMECAHAN MASALAH A. IDENTIFIKASI MASALAH Sumber data diperoleh dari : a. Data historis dari catatan-catatan

Lebih terperinci

PENDEKATAN LEAN THINKING UNTUK PENGURANGAN WASTE PADA PROSES PRODUKSI PLASTIK PE

PENDEKATAN LEAN THINKING UNTUK PENGURANGAN WASTE PADA PROSES PRODUKSI PLASTIK PE PENDEKATAN LEAN THINKING UNTUK PENGURANGAN WASTE PADA PROSES PRODUKSI PLASTIK PE Shanty Kusuma Dewi 1*,Tatok Dwi Sartono 2 1,2 Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadiyah Malang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Secara umum, proses pembuatan sheet metal menjadi sebuah produk,

BAB 2 LANDASAN TEORI. Secara umum, proses pembuatan sheet metal menjadi sebuah produk, BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Proses Press Secara umum, proses pembuatan sheet metal menjadi sebuah produk, dibutuhkan 2 proses besar, yaitu proses pembentukan (bending), dan proses pemotongan (cutting). Dikarenakan

Lebih terperinci

BAB II BIAYA KUALITAS

BAB II BIAYA KUALITAS BAB II BIAYA KUALITAS 2.1. Kualitas 2.1.1. Pengertian Kualitas Ada berbagai macam pengertian dari kualitas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1996), kualitas adalah ukuran baik buruknya sesuatu. Kualitas

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI Terjadinya banyak cacat produk yang mengakibatkan pengerjaan ulang atau terlambatnya proses, disebabkan oleh beberapa penyebab utama. Penyebab-penyebab utama inilah yang harus dicari,

Lebih terperinci

Analisa Dan Perancangan Sistem Informasi Pemasaran Perumahan pada PT. Anugerah Bangun Cipta

Analisa Dan Perancangan Sistem Informasi Pemasaran Perumahan pada PT. Anugerah Bangun Cipta Analisa Dan Perancangan Sistem Informasi Pemasaran Perumahan pada PT. Anugerah Bangun Cipta Anton 1, Hendra 2 STMIK IBBI Jl. Sei Deli No. 18 Medan, Telp. 061-4567111 Fax. 061-4527548 Email : Anton_hwang@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Rumah sakit merupakan salah satu unit usaha yang memberikan pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu pelayanan kesehatan yang diberikan,

Lebih terperinci

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Optimasi adalah persoalan yang sangat penting untuk diterapkan dalam segala sistem maupun organisasi. Dengan optimalisasi pada sebuah sistem

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. molding) dan pembuatan checking fixture. Injection molding/plastic molding

BAB I PENDAHULUAN. molding) dan pembuatan checking fixture. Injection molding/plastic molding BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Industri komponen otomotif di Indonesia berkembang seiring dengan perkembangan industri otomotif. Industri penunjang komponen otomotif juga ikut berkembang salah

Lebih terperinci

Manajemen kualitas proyek (Project Quality Management)

Manajemen kualitas proyek (Project Quality Management) Manajemen kualitas proyek (Project Quality Management) Manajemen kualitas proyek merupakan knowledge area yang sulit untuk didefinisikan. ISO mendefinisikan kualitas sebagai totalitas karakteristik dari

Lebih terperinci

Jadwal Shalat Bulan Januari, 2015 M Denpasar, Bali, Indonesia

Jadwal Shalat Bulan Januari, 2015 M Denpasar, Bali, Indonesia Jadwal Shalat Bulan Januari, 2015 M 01 04:29 04:39 06:01 06:27 12:24 15:51 18:44 19:59 (9:16) 02 04:30 04:40 06:01 06:27 12:24 15:51 18:45 19:59 (9:18) 03 04:30 04:40 06:02 06:28 12:25 15:51 18:45 20:00

Lebih terperinci

MANAJEMEN PEMELIHARAAN MESIN-MESIN PRODUKSI

MANAJEMEN PEMELIHARAAN MESIN-MESIN PRODUKSI KARYA TULIS MANAJEMEN PEMELIHARAAN MESIN-MESIN PRODUKSI Disusun Oleh: APRI HERI ISWANTO, S.Hut, M.Si NIP. 132 303 844 DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2008 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

SOAL DETECT UTS GENAP 2014/2015. Quality Control

SOAL DETECT UTS GENAP 2014/2015. Quality Control SOAL DETECT UTS GENAP 2014/2015 Quality Control 1. a. Buat peta kendali dan R! b. Buat revisi peta kendali jika dibutuhkan! c. Diketahui spesifikasi produk adalah 171 ± 11. Jika produk di bawah LSL maka

Lebih terperinci

BAB V PERANAN INFORMASI DALAM KUALITAS PRODUK DAN JASA

BAB V PERANAN INFORMASI DALAM KUALITAS PRODUK DAN JASA BAB V PERANAN INFORMASI DALAM KUALITAS PRODUK DAN JASA Kualitas didefinisikan dalam banyak cara. Menurut James Martin, konsultan komputer terkenal, mendeskripsikan kualitas perangkat lunak sebagai tepat

Lebih terperinci

BAB III DIAGRAM SEBAB AKKIBAT (ISHIKAWA DIAGRAM) Diagram sebab akibat dikembangkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa pada tahun

BAB III DIAGRAM SEBAB AKKIBAT (ISHIKAWA DIAGRAM) Diagram sebab akibat dikembangkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa pada tahun BAB III DIAGRAM SEBAB AKKIBAT (ISHIKAWA DIAGRAM) Diagram sebab akibat dikembangkan oleh Dr. Kaoru Ishikawa pada tahun 1943 sehingga sering disebut diagram Ishikawa. Diagram sebab akibat menggambarkan garis

Lebih terperinci

BABI. baik adalah sesuai atau cocok dengan spesifikasi yang diinginkan. pelanggan, maka perusahaan melakukan perbaikan kualitas secara

BABI. baik adalah sesuai atau cocok dengan spesifikasi yang diinginkan. pelanggan, maka perusahaan melakukan perbaikan kualitas secara BABI PENDAHULUAN Di era globalisasi sekarang ini, persaingan antar perusahaan semakin ketat baik dibidangjasa dan manufaktur. Tujuan utama dari perusabaan adalah untuk mendapatkan profit yang sebesar-besamya

Lebih terperinci

MEMBANGUN KAPASITAS DAN KAPABILITAS UNTUK MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN. Compliance for QPS standard

MEMBANGUN KAPASITAS DAN KAPABILITAS UNTUK MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN. Compliance for QPS standard MEMBANGUN KAPASITAS DAN KAPABILITAS UNTUK MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN Compliance for QPS standard Dr. Hermanto Nurya, MM Direktur Eka Hospital BSD Jakarta 19 November 2013 Jaringan Layanan Eka

Lebih terperinci

ANALISIS TINGKAT KEPUASAN KARYAWAN TERHADAP SOFTWARE CLIPPER PADA PT. PRIMAJASA

ANALISIS TINGKAT KEPUASAN KARYAWAN TERHADAP SOFTWARE CLIPPER PADA PT. PRIMAJASA ANALISIS TINGKAT KEPUASAN KARYAWAN TERHADAP SOFTWARE CLIPPER PADA PT. PRIMAJASA Suryanto 1 e-mail : Suryanto1865@yahoo.com Diterima :20 Juli 2010 /Disetujui : 12 Agustus 2010 ABSTRACT Penelitian ini bertujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan yang siap untuk berkompetisi harus memiliki manajemen yang efektif dalam meningkatkan kinerja karyawan. Dalam hal ini diperlukan dukungan karyawan yang cakap

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 14 TAHUN 2006 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA LALU LINTAS DI JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 14 TAHUN 2006 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA LALU LINTAS DI JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 14 TAHUN 2006 TENTANG MANAJEMEN DAN REKAYASA LALU LINTAS DI JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. bahwa dalam Peraturan Pemerintah

Lebih terperinci

STANDAR USAHA RESTORAN. NO ASPEK UNSUR NO SUB UNSUR I. PRODUK A. Ruang Makan dan Minum

STANDAR USAHA RESTORAN. NO ASPEK UNSUR NO SUB UNSUR I. PRODUK A. Ruang Makan dan Minum LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR USAHA RESTORAN STANDAR USAHA RESTORAN A. Restoran Bintang 3. I. PRODUK A. Ruang Makan dan

Lebih terperinci

Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada UPT. Penerbit dan Percetakan Universitas Sriwijaya Palembang

Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada UPT. Penerbit dan Percetakan Universitas Sriwijaya Palembang Analisis Perencanaan dan Pengendalian Persediaan Bahan Baku Pada Universitas Sriwijaya Palembang Saptalian Kurlianta (Saptalian_kurlianta@yahoo.co.id) Rizal Effendi (Rizaleffendi31@yahoo.co.id) Akuntansi

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - 1 LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 TRIWULAN III KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin

Lebih terperinci

Performance Management System: Implementation [Part 4 & 5] Presented by: Josua Tarigan, MBA, CMA, CFP, CSRS

Performance Management System: Implementation [Part 4 & 5] Presented by: Josua Tarigan, MBA, CMA, CFP, CSRS Performance Management System: Implementation [Part 4 & 5] Presented by: Josua Tarigan, MBA, CMA, CFP, CSRS Where Do You Begin Implementing Performance Management? Implement performance management is a

Lebih terperinci

E-book Statistika Gratis... Statistical Data Analyst. Penyajian Data Statistik

E-book Statistika Gratis... Statistical Data Analyst. Penyajian Data Statistik Penyajian Data Statistik Pada penulisan kedua tentang Statistika Elementer ini, penulis akan memberikan bahasan mengenai Penyajian Data Statistik kepada para pembaca untuk mengetahui bentuk penyajian data

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. sistem informasi terdiri dari input, proses dan output seperti yang terlihat pada

BAB II LANDASAN TEORI. sistem informasi terdiri dari input, proses dan output seperti yang terlihat pada BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Sebelum merancang sistem perlu dikaji konsep dan definisi dari sistem. Pengertian sistem tergantung pada latar belakang cara pandang orang yang mencoba mendefinisikannya.

Lebih terperinci

Sistem Biaya Standar dan Analisa Varian Bahan Baku dan Tenaga Kerja Langsung. Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra

Sistem Biaya Standar dan Analisa Varian Bahan Baku dan Tenaga Kerja Langsung. Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra Sistem Biaya Standar dan Analisa Varian Bahan Baku dan Tenaga Kerja Langsung Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Petra Biaya standar vs. sistem biaya standar Biaya standar biaya

Lebih terperinci

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DIVISI PRODUKSI PERALATAN INDUSTRI PROSES PADA PT. BARATA INDONESIA DENGAN VALUE STREAM MAPPING

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DIVISI PRODUKSI PERALATAN INDUSTRI PROSES PADA PT. BARATA INDONESIA DENGAN VALUE STREAM MAPPING PENINGKATAN PRODUKTIVITAS DIVISI PRODUKSI PERALATAN INDUSTRI PROSES PADA PT. BARATA INDONESIA DENGAN VALUE STREAM MAPPING Moses L. Singgih dan Rhichard Kristian Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi

Lebih terperinci

PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA. Logo perusahaan

PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA. Logo perusahaan PEDOMAN MUTU PT YUSA INDONESIA Logo perusahaan DISETUJUI OLEH: PRESIDEN DIREKTUR Dokumen ini terkendali ditandai dengan stempel DOKUMEN TERKENDALI. Dilarang mengubah atau menggandakan dokumen tanpa seizing

Lebih terperinci

KAJIAN NILAI TAMBAH PRODUK AGRIBISNIS KEDELAI PADA USAHA ANEKA TAHU MAJU LESTARI DI KECAMATAN LANDASAN ULIN, KOTA BANJARBARU

KAJIAN NILAI TAMBAH PRODUK AGRIBISNIS KEDELAI PADA USAHA ANEKA TAHU MAJU LESTARI DI KECAMATAN LANDASAN ULIN, KOTA BANJARBARU KAJIAN NILAI TAMBAH PRODUK AGRIBISNIS KEDELAI PADA USAHA ANEKA TAHU MAJU LESTARI DI KECAMATAN LANDASAN ULIN, KOTA BANJARBARU STUDY ON ADDED VALUE OF SOYBEAN AGRIBUSINESS PRODUCT AT MAJU LESTARI TOFU INDUSTRY

Lebih terperinci

ANALISIS EFISIENSI, SKALA DAN ELASTISITAS PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN COBB-DOUGLAS DAN REGRESI BERGANDA

ANALISIS EFISIENSI, SKALA DAN ELASTISITAS PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN COBB-DOUGLAS DAN REGRESI BERGANDA ANALISIS EFISIENSI, SKALA DAN ELASTISITAS PRODUKSI DENGAN PENDEKATAN COBB-DOUGLAS DAN REGRESI BERGANDA Yuliastuti Ramadhani Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri Institut Sains & Teknologi AKPRIND,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. umum yang meliputi segi-segi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan

I. PENDAHULUAN. umum yang meliputi segi-segi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manajemen sumber daya manusia merupakan salah satu bidang dari manajemen umum yang meliputi segi-segi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengendalian. Proses

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 tentang Persediaan disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal

Lebih terperinci

LEAN ACCOUNTING: SUATU ALTERNATIF TEKNIK AKUNTANSI MANAJEMEN DALAM INDUSTRI MANUFAKTUR

LEAN ACCOUNTING: SUATU ALTERNATIF TEKNIK AKUNTANSI MANAJEMEN DALAM INDUSTRI MANUFAKTUR LEAN ACCOUNTING: SUATU ALTERNATIF TEKNIK AKUNTANSI MANAJEMEN DALAM INDUSTRI MANUFAKTUR Eka Ardhani Sisdyani Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Udayana ABSTRAK Manufacturing techniques have

Lebih terperinci

PENYUSUNAN ANALISIS STANDAR BELANJA MELALUI PENDEKATAN REGRESI SEDERHANA DALAM MENYUSUN ANGGARAN

PENYUSUNAN ANALISIS STANDAR BELANJA MELALUI PENDEKATAN REGRESI SEDERHANA DALAM MENYUSUN ANGGARAN PENYUSUNAN ANALISIS STANDAR BELANJA MELALUI PENDEKATAN REGRESI SEDERHANA DALAM MENYUSUN ANGGARAN Memen Suwandi Jurusan Akuntansi, UIN Alauddin, Jl. ST. Alauddin No. 36, Samata-Gowa msuwandi19@yahoo.com

Lebih terperinci

Analisis dan Perhitungan Tingkat Produktivitas Parsial dengan Metode Cobb-Douglas ( Studi Kasus pada PDAM Kabupaten Kebumen )

Analisis dan Perhitungan Tingkat Produktivitas Parsial dengan Metode Cobb-Douglas ( Studi Kasus pada PDAM Kabupaten Kebumen ) Analisis dan Perhitungan Tingkat Produktivitas Parsial dengan Metode Cobb-Douglas ( Studi Kasus pada PDAM Kabupaten Kebumen ) R. Abdul Djalal 1, Susilo Aji Nugroho 1,) Fakultas Teknologi Industri, Jurusan

Lebih terperinci

Total Quality Purchasing

Total Quality Purchasing Total Quality Purchasing Diadaptasi dari Total quality management, a How-to Program For The High- Performance Business, Alexander Hamilton Institute Dalam Manajemen Mutu Total, pembelian memainkan peran

Lebih terperinci

PENGUKURAN KINERJA SUMBER DAYA MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP HUMAN RESOURCE SCORECARD DI PT JB

PENGUKURAN KINERJA SUMBER DAYA MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP HUMAN RESOURCE SCORECARD DI PT JB PENGUKURAN KINERJA SUMBER DAYA MANUSIA DENGAN MENGGUNAKAN KONSEP HUMAN RESOURCE SCORECARD DI PT JB Moses L. Singgih 1, Sri Gunani Partiwi 2 dan Arum S. Dani 3 Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi

Lebih terperinci

ABSTRAK ABSTRACT. Pendahuluan

ABSTRAK ABSTRACT. Pendahuluan Analisis Tingkat Kepuasan Konsumen Terhadap Kualitas Pelayanan Jasa dengan Pendekatan Metode Servqual (Studi Kasus pada Pusat Pelatihan Bahasa dan Budaya CILACS UII, Yogyakarta) Hendy Ahmad Febrian 1,

Lebih terperinci

PERUMUSAN PELATIHAN YANG EFEKTIF DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS. Mery Citra.S. Abstract

PERUMUSAN PELATIHAN YANG EFEKTIF DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS. Mery Citra.S. Abstract PERUMUSAN PELATIHAN YANG EFEKTIF DALAM MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS Mery Citra.S Abstract Training is believed as one effective tool that can increase organization productivity. However, not all training

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALAT BANTU PEMBUATAN BENDA TIRUS PADA MESIN BUBUT DENGAN PENDEKATAN METODE DFMA UNTUK MENGOPTIMALKAN WAKTU PROSES.

PERANCANGAN ALAT BANTU PEMBUATAN BENDA TIRUS PADA MESIN BUBUT DENGAN PENDEKATAN METODE DFMA UNTUK MENGOPTIMALKAN WAKTU PROSES. PERANCANGAN ALAT BANTU PEMBUATAN BENDA TIRUS PADA MESIN BUBUT DENGAN PENDEKATAN METODE DFMA UNTUK MENGOPTIMALKAN WAKTU PROSES Arlis Yuniarso Program Studi Teknik Industri Universitas Dian Nuswantoro Semarang,

Lebih terperinci

PENGOPERASIAN OPTIMUM SISTEM TENAGA LISTRIK

PENGOPERASIAN OPTIMUM SISTEM TENAGA LISTRIK PENGOPERASIAN OPTIMUM SISTEM TENAGA LISTRIK Ontoseno Penangsang Text Book : Power Generation Operation and Control Allen J. Wood & Bruce F. Wollenberg Power System Analysis Hadi Saadat INTRODUCTION Acquaint

Lebih terperinci

MANAGEMENT INDUSTRI (QUALITY CONTROL) Diagram Keterkaitan

MANAGEMENT INDUSTRI (QUALITY CONTROL) Diagram Keterkaitan MANAGEMENT INDUSTRI (QUALITY CONTROL) 1 Diagram Keterkaitan 2 1 KONSEP KUALITAS Masa dahulu, produk2 yang cacat (yang bisa menyebabkan kecelakaan, kerusakan dan pencemaran) tidak menjadi masalah utama,

Lebih terperinci

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya M enyatukan dan Memadukan Sumber Daya Keunggulan kompetitif BCA lebih dari keterpaduan kekuatan basis nasabah yang besar, jaringan layanan yang luas maupun keragaman jasa dan produk perbankannya. Disamping

Lebih terperinci

Pengukuran Variabel (definisi operasional ) dan Skala Pengukuran

Pengukuran Variabel (definisi operasional ) dan Skala Pengukuran Pengukuran Variabel (definisi operasional ) dan Skala Pengukuran Definisi Pengukuran Adalah pengukuran nilai properti dari suatu obyek. Obyek merupakan suatu entitas yang akan diteliti, dapat berupa perusahaan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul Perkembangan dunia usaha di Indonesia yang semakin kompetitif menuntut setiap perusahaan untuk dapat mengelola dan melaksanakan manajemen perusahaan

Lebih terperinci

OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT

OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT. PUTERA BARAMITRA BATULICIN KALIMANTAN SELATAN Oleh Riezki Andaru Munthoha (112070049)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap PDB nasional. Hal ini merupakan tantangan berat, mengingat perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. terhadap PDB nasional. Hal ini merupakan tantangan berat, mengingat perekonomian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor konstruksi adalah salah satu sektor andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan selalu dituntut untuk tetap meningkatkan kontribusinya melalui tolak ukur

Lebih terperinci

Kampanye Partisipasi Semua Orang untuk Kecelakaan Nol

Kampanye Partisipasi Semua Orang untuk Kecelakaan Nol Kampanye Partisipasi Semua Orang untuk Kecelakaan Nol 1. Metode Penerapan Kampanye Kecelakaan Nol Metode secara konkretnya, dikembangkan di tempat kerja untuk menerapkan prinsip menghargai manusia dalam

Lebih terperinci

Metodologi pengembangan sistem METODOLOGI PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI DIAN PALUPI RINI, M.KOM 1

Metodologi pengembangan sistem METODOLOGI PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI DIAN PALUPI RINI, M.KOM 1 Metodologi pengembangan sistem METODOLOGI PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI adalah metode-metode, prosedur-prosedur, konsep-konsep pekerjaan, aturan-aturan yang akan digunakan sebagai pedoman bagaimana dan

Lebih terperinci

TESIS ANALISIS RENCANA A LIFE CYCLE COST GEDUNG HOSTEL PADA KAWASAN RUMAH SAKIT JIMBUN MEDIKA KEDIRI

TESIS ANALISIS RENCANA A LIFE CYCLE COST GEDUNG HOSTEL PADA KAWASAN RUMAH SAKIT JIMBUN MEDIKA KEDIRI TESIS ANALISIS RENCANAA LIFE CYCLE COST GEDUNG HOSTEL PADA KAWASAN RUMAH SAKITT JIMBUN MEDIKA KEDIRI JULI MARLIANSYAH No. Mhs.: 13..510.2043 PROGRAM STUDI MAGISTER TEKNIK SIPIL PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS

Lebih terperinci

MINIMALISASI BOTTLENECK PROSES PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE LINE BALANCING

MINIMALISASI BOTTLENECK PROSES PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE LINE BALANCING MINIMALISASI BOTTLENECK PROSES PRODUKSI DENGAN MENGGUNAKAN METODE LINE BALANCING Yayan Indrawan, Ni Luh Putu Hariastuti Jurusan Teknik Industri Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya Putu_hrs@yahoo.com

Lebih terperinci

Faktor-faktor Penentu dalam Pemilihan Jenis Kontrak Untuk Proyek Pembangunan Gedung Pertokoan. M. Ikhsan Setiawan, ST, MT

Faktor-faktor Penentu dalam Pemilihan Jenis Kontrak Untuk Proyek Pembangunan Gedung Pertokoan. M. Ikhsan Setiawan, ST, MT Faktor Penentu Pemilihan Kontrak Proyek Gedung (M. Ikhsan S) 49 Faktor-faktor Penentu dalam Pemilihan Jenis Kontrak Untuk Proyek Pembangunan Gedung Pertokoan M. Ikhsan Setiawan, ST, MT ABSTRAK Dalam pelelangan

Lebih terperinci

BAB III PROSES MANUFAKTUR. yang dilakukan dalam proses manufaktur mesin pembuat tepung ini adalah : Mulai. Pengumpulan data.

BAB III PROSES MANUFAKTUR. yang dilakukan dalam proses manufaktur mesin pembuat tepung ini adalah : Mulai. Pengumpulan data. BAB III PROSES MANUFAKTUR 3.1. Metode Proses Manufaktur Proses yang dilakukan untuk pembuatan mesin pembuat tepung ini berkaitan dengan proses manufaktur dari mesin tersebut. Proses manufaktur merupakan

Lebih terperinci

UJI TAK RUSAK DAN PROGRAM PERAWATAN ALAT DALAM JAMINAN KUALIT AS PRODUK

UJI TAK RUSAK DAN PROGRAM PERAWATAN ALAT DALAM JAMINAN KUALIT AS PRODUK Seminar Tahunan Pengawasan Pemanfaatan Tenaga Nuklir - Jakarta, II Desember 2003 ISSN 1693-7902 UJI TAK RUSAK DAN PROGRAM PERAWATAN ALAT DALAM JAMINAN KUALIT AS PRODUK Muhammad Rifai Pusat Standardisasi

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALAT TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENGURANGI DAMPAK LINGKUNGAN DAN MENINGKATKAN PENDAPATAN RUMAH PEMOTONGAN AYAM

PERANCANGAN ALAT TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENGURANGI DAMPAK LINGKUNGAN DAN MENINGKATKAN PENDAPATAN RUMAH PEMOTONGAN AYAM PERANCANGAN ALAT TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MENGURANGI DAMPAK LINGKUNGAN DAN MENINGKATKAN PENDAPATAN RUMAH PEMOTONGAN AYAM Moses Laksono Singgih dan Mera Kariana Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi

Lebih terperinci

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR Baiq Neni Sugiatni, Jumailiyah, dan Baiq Rohiyatun Administrasi pendidikan, FIP IKIP Mataram Email :Baiqnenysugiatni@gmail.com

Lebih terperinci

Oleh Drs. Iman Daryanto, Ak http://www.artikelakuntansi.com

Oleh Drs. Iman Daryanto, Ak http://www.artikelakuntansi.com Oleh Drs. Iman Daryanto, Ak http://www.artikelakuntansi.com S etiap akhir tahun, biasanya di perusahaa-perusahaan besar menentukan hal-hal yang merupakan srategis utama di tahun-tahun yang akan datang

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG MENTERI KETENAGAKERJAAN KEPUTUSAN MENTERI KETENAGAKERJAAN NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG JABATAN YANG DAPAT DIDUDUKI OLEH TENAGA KERJA ASING PADA KATEGORI INDUSTRI PENGOLAHAN, SUBGOLONGAN INDUSTRI ALAS KAKI

Lebih terperinci

PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES

PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN DESKRIPSI PROSES PT Semen Padang: Studi Kasus Perusahaan PT SEMEN PADANG DISKRIPSI PERUSAHAAN PT. Semen Padang didirikan pada tahun 1910 dan merupakan pabrik semen tertua di Indonesia. Pabrik berlokasi di Indarung, Padang,

Lebih terperinci

# $ !!" ! #$! $% # %!!!'(!! +!! % %+!'!! " #! # % #, #,-! #! )!! %" .'.!% % ) ' ' '!!!! % '! $ )!!'" /!.!% % ) $ % & (!!!!.!% %!$

# $ !! ! #$! $% # %!!!'(!! +!! % %+!'!!  #! # % #, #,-! #! )!! % .'.!% % ) ' ' '!!!! % '! $ )!!' /!.!% % ) $ % & (!!!!.!% %!$ !!"! #$! $%!&!'!!" # %!!!'(!!!$)!" #* $%!++ +!! % %+!'!! " "" #! # % #'!$ #, #,-! #'-!!! #! )!! %" # $.'.!% % ) ' ' '!!!! % '! $ )!!'" /!.!% % ) $ % & (!!!!.!% %!$!!!%.!% % "!.!% % )!')!! %!+!.!% % & &

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI SEBAGAI DASAR PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK FURNITURE

ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI SEBAGAI DASAR PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK FURNITURE ANALISIS PERHITUNGAN HARGA POKOK PRODUKSI SEBAGAI DASAR PENETAPAN HARGA JUAL PRODUK FURNITURE ( Studi kasus pada PT. Hanin Designs Indonesia - Indonesian Legal Wood) Oleh: Utcik Anita Fakultas Ekonomi

Lebih terperinci

ROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MURIA KUDUS TAHUN 2013

ROGRAM STUDI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MURIA KUDUS TAHUN 2013 i ADAPTASI MODEL DELONE DAN MCLEAN YANG DIMODIFIKASI GUNA MENGUJI KEBERHASILAN APLIKASI OPERASIONAL PERBANKAN BAGI INDIVIDU PENGGUNA SISTEM INFORMASI (STUDI KASUS PADA PD.BPR BKK DI KABUPATEN PATI) Skripsi

Lebih terperinci

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I 1 laporan monitoring realisasi APBD dan dana idle Tahun 2013 Triwulan I RINGKASAN EKSEKUTIF Estimasi realisasi belanja daerah triwulan I Tahun 2013 merupakan

Lebih terperinci

SELEKSI PROSES Oleh : Aulia Ishak, ST, MT Aulia Ishak, ST, MT 1

SELEKSI PROSES Oleh : Aulia Ishak, ST, MT Aulia Ishak, ST, MT 1 SELEKSI PROSES Oleh : 1 Seleksi Proses Karakteristik Aliran Produk Klasifikasi berdasarkan Jenis Pesanan Pelanggan Keputusan Pemilihan Proses Strategi Produk-ProsesProses Customization Masal Pengambilan

Lebih terperinci

PENGGUNAAN TEKNIK DAN ALAT KUALITAS DALAM PROSES PERBAIKAN DAN PENINGKATAN KUALITAS

PENGGUNAAN TEKNIK DAN ALAT KUALITAS DALAM PROSES PERBAIKAN DAN PENINGKATAN KUALITAS JURNAL TEKNIK INDUSTRI VOL. 2, NO. 1, JUNI 2000: 22-27 PENGGUNAAN TEKNIK DAN ALAT KUALITAS DALAM PROSES PERBAIKAN DAN PENINGKATAN KUALITAS Daniel Indarto Prajogo Dosen Fakultas Teknik Jurusan Teknik Industri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Objek Penelitian 1.1.1 Bidang Usaha

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Objek Penelitian 1.1.1 Bidang Usaha BAB I PENDAHULUAN. Gambaran Objek Penelitian Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dinhubkominfo) provinsi Jawa Tengah merupakan kantor pemerintah yang mempunyai tugas pokok melaksanakan urusan

Lebih terperinci

PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI MENGELOLA USAHA PAKAIAN

PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI MENGELOLA USAHA PAKAIAN PELATIHAN BERBASIS KOMPETENSI MENGELOLA USAHA PAKAIAN KODE PROGRAM PELATIHAN : O 93 09114 IV 01 DEPARTEMEN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI R.I. DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS Jl.

Lebih terperinci

KONSEP OPTIMALISASI BUILDING PERFORMANCE DALAM PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA Lokasi Studi : Rumah Susun Sukaramai, Medan

KONSEP OPTIMALISASI BUILDING PERFORMANCE DALAM PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA Lokasi Studi : Rumah Susun Sukaramai, Medan KONSEP OPTIMALISASI BUILDING PERFORMANCE DALAM PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA Lokasi Studi : Rumah Susun Sukaramai, Medan By : ROBINHOT JEREMIA LUMBANTORUAN 3208201816 LATAR BELAKANG Rumah susun sebagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Setiap perusahaan tentu dibangun dengan dasar keyakinan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Setiap perusahaan tentu dibangun dengan dasar keyakinan bahwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Setiap perusahaan tentu dibangun dengan dasar keyakinan bahwa perusahaan ini dapat maju berkembang dan bersaing di antara perusahaanperusahaan lainnya. Sejak awal berdirinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan dituntut untuk mampu meningkatkan daya saing dalam rangka

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan dituntut untuk mampu meningkatkan daya saing dalam rangka BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam menghadapi persaingan di era global perusahaan dituntut untuk bekerja lebih efisien dan efektif. Persaingan yang semakin ketat menyebabkan perusahaan dituntut

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB LANDASAN TEORI.1 Pengertian Pengukuran Untuk mendapatkan produk yang berkualitas tidak hanya memerlukan rancangan produk yang bagus sesuai dengan fungsi namun juga memerlukan rancangan proses pembuatan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Produksi Untuk memenuhi kebutuhan yang beraneka ragam, manusia memerlukan barang dan jasa. Suatu kegiatan yang menghasilkan barang dan jasa disebut produksi. Produksi

Lebih terperinci

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI A. DESKRIPSI Menurut Tayyari dan Smith (1997) fisiologi kerja sebagai ilmu yang mempelajari tentang fungsi-fungsi organ tubuh manusia yang

Lebih terperinci

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG

ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG ANALISIS PROFFITABILITAS USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG (Studi Kasus di II Desa Gunungrejo Kecamatan Kedungpring Kabupaten Lamongan) Ista Yuliati 1, Zaenal Fanani 2 dan Budi Hartono 2 1) Mahasiswa Fakultas

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

Imam Sodikin Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, IST AKPRIND Yogyakarta amdiki@yahoo.com

Imam Sodikin Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, IST AKPRIND Yogyakarta amdiki@yahoo.com PENENTUAN INTERVAL PERAWATAN PREVENTIF KOMPONEN ELEKTRIK DAN KOMPONEN MEKANIK YANG OPTIMAL PADA MESIN EXCAVATOR SERI PC 200-6 DENGAN PENDEKATAN MODEL JARDINE Imam Sodikin Jurusan Teknik Industri, Fakultas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia merupakan salah satu negara berkembang, yang tidak terlepas dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa keterbukaan perdagangan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Pengaruh Tindak Lanjut Rekomendasi Audit Internal Bidang Kredit Investasi. Terhadap Tingkat Non Performing Loans (NPL)

ABSTRAK. Pengaruh Tindak Lanjut Rekomendasi Audit Internal Bidang Kredit Investasi. Terhadap Tingkat Non Performing Loans (NPL) ABSTRAK Pengaruh Tindak Lanjut Rekomendasi Audit Internal Bidang Kredit Investasi Terhadap Tingkat Non Performing Loans (NPL) Permasalahan kredit bermasalah merupakan masalah serius yang masih menghantui

Lebih terperinci

JADWAL WAKTU SHOLAT BANDUNG, CIMAHI DAN SEKITARNYA TAHUN 2015

JADWAL WAKTU SHOLAT BANDUNG, CIMAHI DAN SEKITARNYA TAHUN 2015 BULAN : JANUARI 2015 TANGGAL SHUBUH TERBIT DZUHUR ASHAR MAGHRIB ISYA 01/01/2015 04:12 05:37 11:55 15:20 18:10 19:25 02/01/2015 04:12 05:38 11:55 15:20 18:11 19:25 03/01/2015 04:13 05:38 11:56 15:21 18:11

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sarana pelayanan kesehatan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan

Lebih terperinci

Standart Operating Procedure

Standart Operating Procedure Standart Operating Procedure Pengertian SOP : Instruksi sederhana, untuk menyelesaikan tugas rutin dengan cara yang paling efektiv dalam rangka memenuhi persyaratan operasional. (EMS departement, 1998)

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi dalam bidang industri khususnya di bidang manufaktur sekarang ini sangatlah pesat. Perkembangan yang pesat itu diiringi tingginya tuntutan nilai

Lebih terperinci

DESAIN BENTUK FISIK KERETA DORONG SESUAI ANTROPOMETRI ANAK-ANAK UNTUK PENJUAL COBEK ANAK

DESAIN BENTUK FISIK KERETA DORONG SESUAI ANTROPOMETRI ANAK-ANAK UNTUK PENJUAL COBEK ANAK DESAIN BENTUK FISIK KERETA DORONG SESUAI ANTROPOMETRI ANAK-ANAK UNTUK PENJUAL COBEK Abstrak ANAK Delta Pralian - NPM : 30402264 Program Studi Teknik Industri, Universitas Gunadarma E-mail : dpralian@yahoo.com

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KARIER SEBAGAI MOTIVATOR KERJA KARYAWAN

PENGEMBANGAN KARIER SEBAGAI MOTIVATOR KERJA KARYAWAN PENGEMBANGAN KARIER SEBAGAI MOTIVATOR KERJA KARYAWAN Laksmi Sito Dwi Irvianti 1 ABSTRACT Regarding the importance of employee s work motivation and how it affects the productivity and the performance of

Lebih terperinci

HARGA POKOK PROSES (PROCESS COSTING)

HARGA POKOK PROSES (PROCESS COSTING) HARGA POKOK PROSES (PROCESS COSTING) Harga pokok proses (process costing) merupakan metode perhitungan harga pokok produk yang berdasarkan kepada pengumpulan biaya biaya produksi dalam satu periode tertentu

Lebih terperinci

ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PAJAK DAERAH SERTA KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH

ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PAJAK DAERAH SERTA KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH ANALISIS EFEKTIVITAS DAN EFISIENSI PAJAK DAERAH SERTA KONTRIBUSINYA TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH Devy Octaviana S Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dian Nuswantoro Semarang

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. x xi xii xiii DAFTAR ISI... xiv DAFTAR TABEL... xvi DAFTAR GAMBAR... xviii DAFTAR LAMPIRAN... xix

DAFTAR ISI. x xi xii xiii DAFTAR ISI... xiv DAFTAR TABEL... xvi DAFTAR GAMBAR... xviii DAFTAR LAMPIRAN... xix DAFTAR ISI LEMBAR JUDUL...... i LEMBAR PERNYATAAN...... ii ABSTRAK...... iii RINGKASAN EKSEKUTIF...... iv LEMBAR PENGESAHAN...... RIWAYAT HIDUP PENULIS...... LEMBAR PERSEMBAHAN...... KATA PENGANTAR......

Lebih terperinci

-1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 09/BL/2012 TENTANG

-1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 09/BL/2012 TENTANG -1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 09/BL/2012 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN CADANGAN TEKNIS BAGI PERUSAHAAN ASURANSI DAN PERUSAHAAN REASURANSI KETUA BADAN

Lebih terperinci

MODEL PEMILIHAN MODA ANTARA ANGKUTAN UMUM DAN SEPEDA MOTOR UNTUK MAKSUD KERJA. Karnawan Joko Setyono. Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang

MODEL PEMILIHAN MODA ANTARA ANGKUTAN UMUM DAN SEPEDA MOTOR UNTUK MAKSUD KERJA. Karnawan Joko Setyono. Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang MODEL PEMILIHAN MODA ANTARA ANGKUTAN UMUM DAN SEPEDA MOTOR UNTUK MAKSUD KERJA Abstract Karnawan Joko Setyono Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Semarang The objectives of this research are to calibrate

Lebih terperinci

Manajemen Proyek Minggu 2

Manajemen Proyek Minggu 2 Project Management Process Manajemen Proyek Minggu 2 Danny Kriestanto, S.Kom., M.Eng Initiating / Requirement :...awal siklus! Planning : perencanaan... Executing : Lakukan! Monitoring and Controlling

Lebih terperinci

I Gambaran umum Pengendalian dan Jaminan Kualitas. Pengendalian Kualitas TIN-212

I Gambaran umum Pengendalian dan Jaminan Kualitas. Pengendalian Kualitas TIN-212 I Gambaran umum Pengendalian dan Jaminan Kualitas Pengendalian Kualitas TIN-212 Materi Definisi kualitas Online quality control dan offline quality control Sejarah rekayasa dan manajemen kualitas Dimensi

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI MANAJEMEN PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN MESIN INDUSTRI

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI MANAJEMEN PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN MESIN INDUSTRI PERANCANGAN DAN PEMBUATAN APLIKASI MANAJEMEN PEMELIHARAAN DAN PERAWATAN MESIN INDUSTRI (STUDI KASUS: PT UNIBELT INTI PERKASA MALANG) NURUL HUDHA 6907040018 POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA INSTITUT

Lebih terperinci