II. TINJAUAN PUSTAKA II.1. Definisi Jembatan II.2. Jembatan Gelagar Beton Bertulang

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "II. TINJAUAN PUSTAKA II.1. Definisi Jembatan II.2. Jembatan Gelagar Beton Bertulang"

Transkripsi

1 II. TINJAUAN PUSTAKA II.1. Definisi Jembatan Jembatan merupakan suatu bangunan yang dibuat untuk melintasi rintangan baik yang terjadi di alam maupun buatan manusia. Jembatan dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, yaitu: a. Menurut penggunaan, yaitu: jembatan jalan raya, jembatan kereta api, jembatan pipa, jembatan air, jembatan kanal dan jembatan militer. b. Menurut bahan jembatan, yaitu: jembatan kayu, jembatan batu, jembatan beton, dan jembatan baja. c. Menurut posisi jalan, yaitu: jembatan lantai, jembatan dua lantai, jembatan langsung, jembatan setengah langsung rangka kaku, jembatan gantung, dan jembatan tahanan kabel. d. Menurut bentuk dan ciri cirinya, yaitu: jembatan balok, jembatan rangka dan jembatan lengkung. e. Menurut kedudukan bidang datar, yaitu: jembatan miring, jembatan lurus, dan jembatan lengkung. f. Menurut lokasi jembatan, yaitu: jembatan yang melintasi sungai, jembatan yang melintasi viaduk, jembatan yang melintasi jalan raya, dan jembatan yang melintasi jalan kereta api. g. Menurut sistem strukturnya, yaitu: jembatan sistem sederhana dan jembatan sistem menerus. h. Menurut kelas jembatan, kelas jembatan jalan raya dibagi menjadi dua kelas, yaitu: kelas A dan kelas B II.2. Jembatan Gelagar Beton Bertulang Jembatan gelagar beton bertulang adalah suatu bangunan buatan manusia dimana bangunan atas terbuat dari beton bertulang yang berfungsi untuk menghubungkan jalur transportasi yang dilalui oleh beban lalu lintas. 4

2 Jembatan gelagar beton bertulang standar adalah jembatan yang dapat menerima beban Bina Marga 100%. Adapun spesifikasi jembatan gelagar beton bertulang standar, yaitu: Bentang jembatan : 5 m sampai dengan 25 m Lebar lantai kendaraan : 7m Mutu beton : K-250 Poisson s ratio : 0,2 II.2.1. Komponen Jembatan Gelagar Beton Bertulang Secara umum, komponen jembatan dibagi menjadi dua komponen utama, yaitu bangunan atas dan bangunan bawah. Tiap-tiap komponen utama disusun oleh beberapa komponen yang terintegrasi menjadi suatu kesatuan sistem. Tiap-tiap komponen memiliki fungsi yang spesifik dalam mendukung fungsi jembatan secara keseluruhan. II Bangunan Atas Bangunan atas merupakan komponen utama yang menerima langsung beban lalu lintas. Bangunan atas terdiri dari semua komponen suatu jembatan yang terletak di atas dukungan abutmen dan pilar. Komponen-komponen bangunan atas, yaitu: a) Plat Lantai Plat lantai merupakan komponen jembatan yang memiliki fungsi utama untuk mendistribusikan beban sepanjang potongan melintang jembatan. Plat lantai merupakan bagian yang menyatu dengan sistem struktur yang lain, yang didesain untuk mendistribusikan beban-beban sepanjang bentang jembatan. b) Gelagar Induk Gelagar induk merupakan komponen utama yang berfungsi untuk mendistribusikan beban-beban secara longitudinal dan biasanya didesain 5

3 untuk menahan lendutan. Gelagar induk identik dengan penamaan dari tipe bangunan atas jembatan, misal gelagar tipe balok disebut dengan istilah girder, gelagar tipe rangka disebut dengan istilah truss, dan sebagainya. c) Gelagar Sekunder Gelagar sekunder terdiri dari gelagar melintang dan memanjang. Gelagar melintang merupakan pengikat antar gelagar induk yang didesain untuk menahan deformasi melintang dari rangka struktur atas dan membantu pendistribusian bagian dari beban vertikal antara gelagar induk. Gelagar memanjang pada jembatan merupakan pengikat antara gelagar melintang dan bantalan. d) Perletakan Perletakan merupakan komponen jembatan yang berfungsi untuk mendistribusikan beban bangunan atas ke bangunan bawah. Perletakan jembatan dibedakan atas perletakan tetap dan perletakan gerak. Perletakan gerak berfungsi memfasilitasi gerakan rotasi dan translasi longitudinal. Perletakan tetap berfungsi hanya memfasilitasi gerakan rotasi. e) Sambungan Siar Muai Sambungan siar muai merupakan komponen jembatan yang berfungsi untuk menyambungkan bangunan atas dengan bagian ujung atas abutmen atau pilar. Selain itu, berfungsi untuk menahan pergerakan horizontal atau rotasi yang ditimbulkan oleh bangunan atas. II Bangunan Bawah Bangunan bawah merupakan bagian struktur jembatan yang langsung berdiri di atas tanah dan menyangga bangunan atas jembatan. Bangunan bawah berfungsi untuk mendistribusikan beban dari atas ke pondasi. Bangunan bawah terletak di antara dua kepala jembatan yang disebut pilar. Pilar digunakan jika bentang jembatan terlalu panjang atau bentang lebih dari satu, yang berfungsi untuk 6

4 mendistribusikan beban bangunan atas. Bangunan bawah meliputi komponenkomponen yang mendukung bangunan atas. Komponen-komponen bangunan bawah, yaitu: a) Abutmen Abutmen merupakan struktur penahan tanah yang mendukung bangunan atas pada bagian ujung-ujung suatu jembatan. Abutmen berfungsi untuk menahan gaya longitudinal dari tanah di bagian bawah ruas jalan yang melintas. Abutmen dapat didesain dalam berbagai ukuran dan bentuk. b) Pilar Pilar merupakan struktur yang mendukung bangunan atas pada pertengahan antara dua abutmen. Pilar digunakan jika bentang jembatan terlalu panjang atau bentang lebih dari satu. Seperti halnya abutmen, pilar juga dapat didesain dalam berbagai ukuran dan bentuk. Desain pilar perlu memperhatikan aspek estetika karena sangat mempengaruhi keindahan tampak jembatan. c) Pedestals Pedestals merupakan kolom pendek yang berada di atas abutmen atau pilar yang secara langsung menopang gelagar utama struktur atas. d) Backwall Backwall merupakan komponen utama dari suatu abutmen yang berfungsi sebagai struktur penahan (tanah) pada tiap-tiap jalan pendekat. e) Wingwall Wingwall merupakan suatu dinding samping pada dinding belakang abutmen atau stem yang didesain untuk membantu atau menahan keutuhan atau stabilitas tanah di belakang abutmen. Pada beberapa struktur, wingwall didesain cenderung secara konservatif, yang mengakibatkan dinding lebih besar pada beberapa jembatan. 7

5 f) Piles Jika lapisan tanah yang berada di bawah footing tak dapat memberikan dukungan yang cukup terhadap bangunan bawah (dalam hal bearings capacity, stabilitas keseluruhan, atau penurunan). Maka perlunya penggunaan piles footing, yang merupakan penambahan kedalaman dari footing hingga kedalaman yang memadai. Piles memiliki banyak variasi bentuk dan ukuran. Selain bangunan atas dan bangunan bawah, jembatan juga memiliki bangunan pelengkap, seperti: a) Lapisan permukaan/ perkerasan Lapisan permukaan/ perkerasan memiliki fungsi untuk menahan kontak terhadap kendaraan yang melintasi jembatan. Lapisan permukaan/ perkerasan adalah lapisan yang terpisah dengan struktur jembatan dimana terbuat dari material aspal dengan ketebalan mm. b) Perlengkapan Perlengkapan adalah suatu bagian dari jembatan yang bukan komponen yang penting tetapi melayani beberapa kepentingan terhadap fungsi struktur secara menyeluruh. Adapun perlengkapan jembatan yang berpengaruh terhadap fungsi jembatan, antara lain: Perlindungan lereng dan timbunan Merupakan lereng yang meruncing mulai dari abutmen sampai timbunan yang dibungkus dengan material baik batuan kering maupun blok perkerasan. Perlindungan lereng dan timbunan memiliki estetika yang indah dan memiliki pengendalian erosi yang memadai. 8

6 Underdrain Underdrain adalah suatu sistem drainase yang terbuat dari pipa yang diperporasi dimana mampu mengalihkan aliran air permukaan dari struktur ke saluran-saluran drainase yang tersedia. Underdrain memiliki fungsi untuk menyediakan drainase yang memadai bagi komponen-komponen bangunan bawah. Approach Merupakan bagian dari jalan yang mendekati dan menjauhi abutmen. Menurut AASHTO, approach adalah penggabungan lebar jalur jalan dengan bahu jalan. Ukuran approach sama dengan lebar jalur jalan pada jembatan atau penyempitan dari ruas jalan standar (disesuaikan dengan lebar jalur jalan pada jembatan). Traffic Barriers Traffic barriers berfungsi untuk mengurangi terjadinya kecelakaan ketika suatu kendaraan meninggalkan jalan. Traffic barriers terbuat dari beton bertulang berupa parapets ataupun terbuat dari baja berupa rel pengaman. II.3 Tipe Jembatan Tipe jembatan berdasarkan Bridge Management System 1992 diidentifikasi menurut tipe bangunan atas, bahan dan asal bangunan atas. Secara lebih detail dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel II.1 Identifikasi Tipe Jembatan berdasarkan Bridge Managemant System 1992 TBA (Tipe Bangunan Atas) Bahan ABA (Asal Bahan Bangunan) A Gorong-gorong pelengkung A Aspal A Australia B Gorong-gorong persegi B Baja B Belanda (baru) 9

7 Tabel II.1 (lanjutan) Identifikasi Tipe Jembatan berdasarkan Bridge Managemant System 1992 TBA (Tipe Bangunan Atas) Bahan ABA (Asal Bahan Bangunan) Y Gorong-gorong pipa U Lantai baja gelombang C Karunia Berca Indonesia C Kabel Y Pipa baja diisi beton D Belanda (lama) T Gantung D Beton tak bertulang E Spanyol/ Wika D Flat slab P Beton prategang G Cigading H Pile slab T Beton bertulang I Indonesia P Pelat E Neoprene/ karet K Bukaka V Voided slab F Teflon R Austria E Pelengkung G Bronjong dan sejenisnya T Transbakrie F Ferry J Alumunium U United Kigdom (Calender Hamilton) G Gelagar K Kayu W Bailley/ Acrow M Gelagar komposit M Pasangan batu H Adhi Karya O Gelagar boks S Pasangan bata J Jepang U Gelagar tipe U O Tanah biasa/ lempung/ timbunan P PPI L Balok pelengkung R Kerikil/ pasir Y Wijaya Karya N Rangka semi permanen X Bahan asli X Tidak ada struktur R Rangka V PVC M Amarta Karya S Rangka sementara N Geotextile L Lain-lain K Lintasan kereta api W Macadam W Lintasan basah H Pasangan batu kosong X Lain-lain L Lain-lain II.4. Usia Jembatan Pada jembatan, usia dibedakan menjadi dua macam yaitu usia fungsional dan usia struktural. II.4.1. Usia Fungsional Usia fungsional jembatan berhubungan dengan volume lalu lintas pada kecepatan rata-rata yang melalui jembatan. Hal ini berhubungan dengan jumlah lajur atau 10

8 lebar lantai jembatan. Jembatan sudah mendekati usia fungsionalnya jika volume lalu lintas yang melalui jembatan mulai dibatasi. Jika besar volume lalu lintas yang melewati jembatan pada selang waktu yang sempit, maka kecepatan kendaraan akan berkurang, akhirnya akan mencapai titik jenuh (macet). Hal ini dapat mengakibatkan waktu tempuh dan biaya yang akan diperlukan untuk mencapai suatu tujuan dengan melewati jembatan menjadi lebih besar daripada melewati rute alternatif. Oleh karena itu, biaya operasional dan pemeliharaan jembatan lebih besar dari keuntungan ekonomis yang diperoleh. Maka jembatan telah mencapai kondisi habis usia fungsionalnya. II.4.2. Usia Struktural Usia struktural jembatan berhubungan dengan kondisi keamanan dan pelayanan. Hal tersebut berhubungan juga dengan retak, deformasi dan sejenisnya. Kondisi ini bergantung terutama pada berbagai kegiatan dan bahan yang digunakan pada jembatan. Perubahan pada bahan pembentuk ada dua macam, yaitu yang berhubungan dengan kekuatan; yang berhubungan dengan dimensi dan geometri. Kejadian-kejadian yang dapat ditemui, antara lain: Pelapisan permukaan yang berulang yang dapat menambah beban mati Meningkatnya beban gandar akibat berubahnya karakteristik kendaraan Penurunan pondasi akibat perubahan pada kondisi geologis II.5. Pembebanan Jembatan Pembebanan untuk jembatan sangat mempengaruhi kekuatan jembatan tersebut. Secara umum, pada jembatan terdapat tiga jenis beban ( soekirno, 2000), yaitu : a) Beban Primer, yang terdiri dari : Beban mati (muatan tetap) Penentuan besarnya beban mati menggunakan nilai berat jenis untuk bahan jembatan, seperti beton, baja dan lain-lain. 11

9 Beban hidup (muatan gerak) Penentuan besarnya beban hidup harus meninjau dua macam beban, yaitu : o Beban T yang merupakan beban terpusat untuk desain lantai kendaraan. Beban T adalah beban yang berupa kendaraan truk yang mempunyai beban roda ganda sebesar 10 ton. o Beban D yang merupakan beban jalur untuk gelagar. Beban D digunakan untuk perhitungan gelagar-gelagar dimana terdiri dari beban garis P dan beban terbagi rata q. - Besarnya beban q ditentukan sebagai berikut : q = 2,2 t/m, untuk panjang bentang < 30 m q = 2,2 1,1/ 60 x ( L 30 ) t/m, untuk 30 m<l<60 m q = 1,1 x ( / L ) t/m, untuk L > 60 m dimana: L = panjang bentang, satuan meter. - Besarnya beban P adalah 12 ton Gaya akibat tekanan tanah Bagian bangunan jembatan yang direncanakan untuk menahan tanah (misal dinding penahan tanah, pilar, dan lain-lain). b) Beban Sekunder, yang terdiri dari : a. Tekanan angin b. Gaya rem c. Gaya gempa d. Gaya akibat rangkak e. Gaya akibat perubahan suhu f. Gaya gesekan pada tumpuan bergerak 12

10 c) Beban Khusus, yang terdiri dari : a. Gaya-gaya yang menjauhi titik pusat (sentrifugal) b. Gaya aliran air II.5.1. Beban Lalu Lintas Beban lalu lintas yang digunakan untuk perencanaan suatu jembatan terdiri dari beban lajur T dan beban truk D. Beban truk T merupakan satu kendaraan berat yang terdiri dari 3 as dimana ditempatkan pada beberapa posisi dalam lajur lalu lintas rencana. Setiap as terdiri atas dua bidang kontak pembebanan yang merupakan simulasi pengaruh roda kendaraan berat, dimana hanya satu truk T yang dapat diterapkan per lajur lalu lintas rencana. Beban lajur D yang bekerja pada seluruh lebar jalur kendaraan dan menimbulkan pengaruh pada jembatan yang ekuivalen dengan suatu iring-iringan kendaraan yang sebenarnya. Jumlah total beban lajur D yang bekerja tergantung pada lebar jalur kendaraan itu sendiri. Secara umum, beban D akan menjadi beban penentu dalam perhitungan jembatan yang memiliki bentang sedang sampai panjang, sedangkan beban T digunakan untuk bentang pendek dan lantai kendaraan. II Beban Lalu Lintas yang Dikurangi Pada kondisi khusus dan atas persetujuan instansi yang berwenang maka pembebanan D yang senilai 70% dapat digunakan. Nilai pembebanan D tersebut dapat digunakan pada jembatan semi permanen atau darurat. 13

11 II Beban Lalu Lintas yang Berlebih Pada kondisi khusus dan atas persetujuan instansi yang berwenang maka pembebanan D dapat dinaikkan melebihi 100%. Nilai pembebanan D tersebut digunakan pada jaringan jalan yang dilalui oleh kendaraan berat. II.5.2. Gaya Rem Gaya rem mengakibatkan bekerjanya gaya-gaya pada arah memanjang jembatan. Pengaruh ini diperhitungkan senilai dengan pengaruh gaya rem sebesar 5% dari beban D tanpa dikalikan dengan faktor kejut yang memenuhi semua jalur lalu lintas yang ada dan dalam satu jurusan. II.6. Pemeriksaan Jembatan Pemeriksaan jembatan adalah suatu proses pengumpulan data fisik dan kondisi dari struktur jembatan. Data dari hasil pemeriksaan digunakan untuk menentukan jenis penanganan yang akan dilakukan. Pemeriksaan yang akan dilakukan diharapkan menggunakan prosedur yang standar. Tujuan dari penggunaan prosedur yang standar untuk memastikan: Data administrasi lengkap dan akurat Semua komponen dan elemen jembatan telah diperiksa dan kondisinya telah dinilai Semua kerusakan sudah diselidiki dan mencatat tindakan yang perlu dilakukan Adapun tujuan dari pemeriksaan jembatan, yaitu: Memeriksa keamanan jembatan pada waktu jembatan masih berfungsi Mencegah terjadinya penutupan lalu lintas pada jembatan Mendata kondisi jembatan Menyiapkan data untuk perencanaan, pelaksanaan dan pemeliharaan 14

12 Memeriksa pengaruh akibat beban kendaraan dan jumlah kendaraan Memantau keadaan jembatan dalam jangka waktu yang lama Pemeriksaan jembatan dilakukan dimulai sejak jembatan tersebut masih baru dan selama umur jembatan. Macam-macam jenis pemeriksaan jembatan, yaitu: 1. Pemeriksaan inventarisasi Pemeriksaan inventarisasi dilaksanakan untuk mendaftar semua data fisik dan administratif jembatan yang relevan termasuk lokasi, jumlah bentang, tipe konstruksi, bahan dan lain-lain. Pemeriksaan inventarisasi dilaksanakan hanya sekali pada tiap jembatan pada saat awal pekerjaan, sesudah jembatan diganti atau sehabis pekerjaan besar dilaksanakan. 2. Pemeriksaan detail Pemeriksaan detail dilaksanakan untuk membuat pengecekan rinci terhadap semua elemen jembatan. Elemen jembatan diberi nilai kondisi oleh pemeriksa. Nilai kondisi digunakan untuk menetapkan peringkat dan membuat program pekerjaan untuk mempertahankan fungsi jembatan secara efektif. Pemeriksaan dilakukan dalam tenggang waktu dua sampai lima tahun. 3. Pemeriksaan rutin Pemeriksaan rutin dilaksanakan setiap tahun untuk menjamin tidak adanya sesuatu yang tidak diharapkan terjadi pada tahun sebelumnya dan untuk memeriksa bahwa pemeliharaan rutin dilaksanakan secara efektif. 15

13 4. Pemeriksaan khusus Pemeriksaan khusus dilakukan jika selama pemeriksaan detail kekurangan sumber daya, pelatihan atau pengalaman untuk menilai dengan yakin kondisi jembatan. 5. Pemeriksaan sewaktu-waktu Pemeriksaan sewaktu-waktu merupakan pemeriksaan visual singkat terhadap jembatan. II.7. Jenis Penanganan Setiap jembatan akan mengalami penurunan kondisi baik kekuatan maupun fungsinya, maka diperlukan adanya tindakan untuk mengembalikan kondisinya. Adapun tindakan-tindakan untuk mengembalikan kondisi jembatan, yaitu : a) Perbaikan Perbaikan merupakan tindakan untuk membuat jadi baik atau mengembalikan ke kondisi kerja yang baik. Tindakan perbaikan lebih menekankan pada kerusakan-kerusakan setempat pada elemen struktur daripada kerusakan jembatan secara menyeluruh. b) Rehabilitasi Rehabilitasi merupakan tindakan untuk mengembalikan, termasuk memperbaharui baik kondisi maupun fungsi. Tindakan rehabilitasi menekankan pada struktur jembatan secara menyeluruh, termasuk komponen-komponen utama jembatan. c) Penggantian Penggantian merupakan tindakan mengganti atau mengubah beberapa komponen pada jembatan. Komponen utama pada jembatan yang biasanya diganti, yaitu lantai jembatan, gelagar, siar muai, perletakan, dan 16

14 sebagainya. Mengganti jembatan secara keseluruhan merupakan usaha paling akhir karena merupakan tindakan yang drastis dan membutuhkan biaya yang besar. d) Perkuatan Perkuatan merupakan tindakan meningkatkan atau menambah kapasitas daya dukung jembatan dengan penambahan material dan komponen seperti prategang eksternal dan sebagainya. e) Modernisasi Modernisasi merupakan salah satu bentuk up grading dengan menambahkan kelengkapan baru pada jembatan. Sebagai contoh pengatur arus lalu lintas, rambu, marka, pagar dan lain-lain. Selain itu, modernisasi juga dapat diartikan sebagai tindakan yang melibatkan beberapa pekerjaan yang dilakukan sekaligus. II.8. Lembaga Pembina Jalan dan Jembatan Instansi yang bertanggung jawab untuk menangani jalan dan jembatan di Indonesia, yaitu Departemen Pekerjaan Umum dan Departemen Dalam Negeri. Jembatan yang terletak pada ruas jalan nasional berada di bawah tanggung jawab Departemen Pekerjaan Umum, sedangkan jembatan yang berada pada ruas jalan provinsi, kabupaten dan desa berada di bawah tanggung jawab Departemen Dalam Negeri. Departemen Pekerjaan Umum memiliki empat Direktorat Jenderal, yaitu: Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Direktorat Jenderal Penataan Ruang Direktorat Jenderal Bina Marga Direktorat Cipta Karya 17

15 Direktorat Jenderal Bina Marga membawahi lima direktorat,yaitu: Direktorat Bina Program Direktorat Bina Teknik Direktorat Jalan Bebas Hambatan dan Jalan Kota Direktorat Jalan dan Jembatan Wilayah Barat Direktorat Jalan dan Jembatan Wilayah Timur Direktorat Jenderal Bina Marga merupakan pengelola jalan dan jembatan yang berada pada ruas jalan nasional. Secara umum tanggung jawab Direktorat Jenderal Bina Marga, antara lain: Sebagai pengumpul administrasi dan pelaksana jalan dan jembatan Sebagai pemelihara jalan dan jembatan Direktorat Jenderal Bina Marga bertanggung jawab kepada Menteri Pekerjaan Umum. Sedangkan yang mengelola jalan dan jembatan pada ruas jalan provinsi adalah Dinas Bina Marga Provinsi dimana Dinas Bina Marga Provinsi berada di bawah wewenang Gubernur yang bertanggung jawab kepada Menteri Dalam Negeri. Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten yang mengelola jalan dan jembatan pada ruas jalan kabupaten dan desa. Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten berada di bawah wewenang Bupati. Sedangkan yang mengelola jalan dan jembatan pada ruas jalan kota adalah Dinas Pekerjaan Umum Kotamadya yang berada di bawah wewenang Walikota. Secara detail pembagian penanggung jawab jalan dan jembatan dapat dilihat pada tabel II.2. 18

16 Tabel II.2 Penanggung Jawab Jalan dan Jembatan Penanggung Jawab Status Jalan Nasional Provinsi Kabupaten Jalan Kota Jalan Desa Ditjen Bina Marga Dinas Bina Marga Provinsi Dinas PU Kabupaten Dinas PU Kotamadya II.9. Dinas Bina Marga Provinsi Sumatera Selatan Dinas Bina Marga dikepalai oleh Kepala Dinas dan dibantu oleh Wakil Kepala Dinas. Kepala Dinas bertanggung jawab kepada kepala daerah (Gubernur) atas semua pekerjaan yang telah dilakukan selama masa jabatannya. Kepala Dinas membawahi lima Sub Dinas, yaitu: Sub Dinas Bina Program dan Perencanaan Teknik Sub Dinas Pembinaan dan Pengawasan Teknik Sub Dinas Pelaksana Wilayah I Sub Dinas Pelaksana Wilayah II Sub Dinas Peralatan dan Perbekalan Selain membawahi lima Sub Dinas, Kepala Dinas juga membawahi tujuh Unit Pelaksana Teknis Dinas Pelayanan Jaringan Jalan dan Jembatan (UPTD PJ3), yaitu: UPTD PJ3 Kota Palembang UPTD PJ3 Kabupaten Ogan Komering Ilir UPTD PJ3 Kabupaten Musi Rawas UPTD PJ3 Kabupaten Muara Enim UPTD PJ3 Kabupaten Lahat UPTD PJ3 Kabupaten Ogan Komering Ulu UPTD PJ3 Kabupaten Musi Banyuasin 19

17 II.9.1. Tugas dan Fungsi Masing-Masing Sub Dinas a) Sub Dinas Bina Program dan Perencanaan Teknik Tugas Sub Dinas Bina Program dan Perencanaan Teknik yaitu melaksanakan sebagian tugas Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dalam bidang program dan perencanaan teknik. Fungsi Sub Dinas Bina Program dan Perencanaan Teknik: Penyusunan program, penganalisaan, pengevaluasian pengembangan dan penanganan jaringan jalan. Perencanaan teknis jalan dan jembatan. Pelaksanaan survei, penelitian, analisa mengenai dampak lingkungan dan studi kelayakan di bidang pengembangan jalan. Penghimpunan, pemrosesan, pemutakhiran, penyimpanan data dan melaksanakan kegiatan tata teknis. Sub Dinas Program dan Perencanaan Teknik mempunyai empat seksi, yaitu: Seksi Perencanaan Umum Seksi Perencanaan Teknik Jalan Seksi Survey dan Penelitian Seksi Leger Jalan dan Tata Teknik b) Sub Dinas Pembinaan dan Pengawasan Teknik Tugas Sub Dinas Pembinaan dan Pengawasan Teknik antara lain melaksanakan kegiatan pengawasan dan pengujian di bidang teknik jalan, konstruksi bangunan pelengkap jalan, geoteknik jalan, konstruksi jalan dan jembatan serta bahan konstruksi. Sedangkan fungsi Sub Dinas Pembinaan dan Pengawasan Teknik sebagai berikut: o Pelaksanaan pembinaan, pengawasan pengujian teknik di bidang jalan dan jembatan. o Pelaksanaan pembinaan dan pengawasan pemanfaatan jalan milik daerah berkaitan dengan teknik. 20

18 o Pelaksanaan kegiatan administrasi Sub Dinas Pembinaan dan Pengawasan Teknik. Sub Dinas Pembinaan dan Pengawasan Teknik membawahi: Seksi Pengujian Teknik Tugas dari Seksi Pengujian Teknik adalah melaksanakan kegiatan pengujian bahan mutu konstruksi material jalan dan jembatan yang digunakan serta mutu konstruksi. Seksi Pembinaan Teknik Tugas dari Seksi Pembinaan Teknik antara lain melaksanakan kegiatan memberikan pedoman dan pengkajian dokumen teknik, bimbingan terhadap pembinaan jalan dan jembatan serta memberikan petunjuk pelaksanaan. Seksi Pengawasan Teknik Sedangkan tugas dari Seksi Pengawasan Teknik adalah melaksanakan kegiatan pengawasan dan pengendalian teknik sesuai pedoman standar teknik maupun peraturan perundangundangan yang berlaku dan pemberian rekomendasi pemanfaatan jalan dan jembatan. c) Sub Dinas Pelaksana Wilayah Sub Dinas Pelaksana Wilayah dibagi menjadi dua, yaitu: Sub Dinas Pelaksana Wilayah I memiliki wilayah kerja meliputi kabupaten Lahat, kabupaten Musi Rawas dan kabupaten Muara Enim. Sub Dinas Pelaksana Wilayah II memiliki wilayah kerja meliputi kota Palembang, kabupaten Ogan Komering Ulu, kabupaten Ogan Komering Ilir dan kabupaten Musi Banyuasin. Tugas Sub Dinas Pelaksana Wilayah adalah melaksanakan sebagian tugas Dinas Bina Marga di bidang pembangunan, peningkatan serta pemeliharaan jalan dan jembatan berdasarkan wilayah kerjanya. 21

19 d) Sub Dinas Peralatan dan Perbekalan Sub Dinas Peralatan dan Perbekalan mempunyai tugas melaksanakan kegiatan pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, penyewaan, pemeliharaan, perawatan peralatan dan perbekalan dinas, melaksanakan inventarisasi kekayaan milik negara/ daerah serta mengurus administrasi penghapusan peralatan dan perbekalan. II.9.2. Tugas Unit Pelaksana Teknis Dinas Pelayanan Jaringan Jalan dan Jembatan (UPTD J3) Tugas UPTD PJ3 adalah melaksanakan sebagian tugas Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga di bidang jaringan jalan dan jembatan di wilayah kerjanya. Selain tugas, UPTD PJ3 juga memiliki fungsi sebagai berikut: Pelaksanaan rencana kebutuhan jaringan jalan dan jembatan, bahan-bahan bangunan dan komponen konstruksi pekerjaan umum di bidang kebinamargaan, pemeliharaan, peningkatan, pembangunan, inventarisasi jalan dan jembatan serta peralatan dan perbekalan. Pelaksanaan pelayanan teknis administratif ketatausahaan yang meliputi urusan keuangan, kepegawaian, umum dan perlengkapan. Unit Pelaksana Teknis Dinas Pelayanan Jaringan Jalan dan Jembatan membawahi sub bagian tata usaha dan dua seksi, yaitu: Seksi Jalan dan Jembatan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan program perkiraan biaya pelaksanaan pengendalian kegiatan jalan dan jembatan, penanganan kerusakan jalan dan jembatan serta penanganan jalan dan jembatan akibat bencana alam Selain tugas, Seksi Jalan dan Jembatan juga memiliki fungsi antara lain: o Pelaksanaan penyelenggaraan penyusunan program dan prakiraan biaya jalan dan jembatan o Pelaksanaan pengendalian kegiatan jalan dan jembatan o Penanganan kerusakan jalan dan jembatan 22

20 o Penanganan kerusakan jalan dan jembatan akibat bencana alam Seksi Peralatan dan Perbekalan mempunyai tugas merencanakan kebutuhan alat-alat besar, bahan-bahan bangunan dan komponen konstruksi pekerjaan umum, melaksanakan pengoperasian dan pemeliharaan alat-alat besar serta pengadaan bahan-bahan bangunan dan komponen konstruksi Disamping memiliki tugas, Seksi Peralatan dan Perbekalan juga memiliki fungsi sebagai berikut: o Pelaksanaan penyelenggaraan kebutuhan alat-alat berat o Pengoperasian dan pemeliharaan alat-alat berat o Pengadaan bahan bangunan jalan dan jembatan serta komponen konstruksi Struktur organisasi Dinas Bina Marga Provinsi Sumatera Selatan secara terperinci dapat dilihat pada gambar II.1. Sedangkan sumber pembiayaan untuk penanganan jembatan sama dengan sumber pembiayaan untuk penanganan jalan. Sumber pembiayaan penanganan jembatan berdasarkan status jalan yang dilalui oleh jembatan. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai sumber pembiayaan untuk penanganan jembatan dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel II.3 Sumber Pembiayaan Jalan dan Jembatan No Status Jalan Sumber Pembiayaan Penyelenggara 1. Nasional DAK Departemen PU APBN Bantuan Luar Negeri (BLN) 2. Provinsi DAK Departemen PU DAU Provinsi APBD Provinsi 3. Kabupaten DAK Departemen PU DAU Kabupaten APBD Kabupaten 4. Desa DAU Kabupaten APBD Kabupaten Dinas Bina Marga Provinsi Sumatera Selatan Dinas Bina Marga Provinsi Sumatera Selatan Dinas Bina Marga Kabupaten Dinas Bina Marga Kabupaten 23

21 Gambar II.1 Struktur Organisasi Dinas Bina Marga Provinsi Sumatera Selatan 24

22 II.10. Nilai Kondisi Jembatan Nilai kondisi merupakan suatu nilai tertentu pada setiap pemeriksaan jembatan. Nilai kondisi suatu jembatan ditentukan oleh beberapa hal yang ditinjau dari segi struktur, kerusakan, perkembangan kerusakan, apakah elemen tersebut masih berfungsi atau tidak dan apakah terdapat pengaruh kerusakan elemen yang bersangkutan terhadap elemen yang lain. Nilai kondisi bangunan atas diperoleh dengan cara menjumlahkan beberapa penilaian, yaitu: NK = S + R + K + F + P dimana: S = ditinjau dari segi struktur R = ditinjau dari tingkat kerusakan K = ditinjau dari segi kuantitas perkembangannya (area/ volume/ panjang) F = kemampuan elemen menjalankan fungsinya P = pengaruh kerusakan elemen pada elemen lain atau pada pengguna jalan Keterangan: Nilai kerusakan Nilai fungsi Nilai pengaruh = S + R + K = F = P Nilai kondisi dari 0 sampai dengan 5, dimana: 0 = baik sekali 1 = baik 2 = rusak ringan 3 = rusak berat 4 = kritis 5 = runtuh/ tidak berfungsi 25

23 II.10.1 Evaluasi Kerusakan Elemen Karakteristik kerusakan dapat dinilai secara visual pada waktu pemeriksaan dan sesudah pemeriksaan dimana dilakukan penilaian kondisi pada setiap elemen yang mengalami kerusakan dengan cara, yaitu: 1) Ditinjau dari segi struktur (S) Jika tidak berbahaya = 0 Jika berbahaya = 1 (sesuai kriteria dalam panduan pemeriksaan jembatan) 2) Ditinjau dari tingkat kerusakan (R) Jika tingkat kerusakan tidak parah = 0 Jika tingkat kerusakan parah = 1 (sesuai kriteria dalam panduan pemeriksaan jembatan) 3) Ditinjau dari segi perkembangan (K) Jika < 50% elemen yang ditinjau mengalami kerusakan = 0 Jika > 50% elemen yang ditinjau mengalami kerusakan = 1 (sesuai kriteria dalam panduan pemeriksaan jembatan) Nilai kerusakan dari 0 sampai dengan 3, dimana: 0 = tidak ada atau hanya sedikit sekali kerusakan 1 = hanya terdapat sedikit kerusakan 2 = mengalami kerusakan yang sudah meluas tetapi belum membahayakan 3 = secara umum sudah mengalami kerusakan dan fungsinya akan segera terganggu 26

24 II.10.2 Evaluasi Fungsi Elemen Penilaian terhadap elemen mengenai kemampuan elemen menjalankan fungsinya. Nilai fungsinya, yaitu: 0 = jika elemen masih berfungsi sesuai dengan persyaratan yang ada 1 = jika salah satu dari persyaratan mengenai fungsi elemen tidak dipenuhi II.10.3 Evaluasi Pengaruh Kerusakan Elemen pada Elemen Lain atau Pengguna Jalan Penilaian dilakukan untuk mengetahui apakah kerusakan pada elemen harus dipertimbangkan atau sudah tidak berfungsi yang menyebabkan adanya pengaruh pada elemen lain atau pengguna jalan. Nilai pengaruhnya, yaitu: 0 = tidak ada pengaruh pada elemen lain 1 = ada pengaruh pada elemen lain 27

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. meskipun istilah aliran lebih tepat untuk menyatakan arus lalu lintas dan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. meskipun istilah aliran lebih tepat untuk menyatakan arus lalu lintas dan 8 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Arus Lalu lintas Ukuran dasar yang sering digunakan untuk mendefenisikan arus lalu lintas adalah konsentrasi aliran dan kecepatan. Aliran dan volume sering dianggap sama,

Lebih terperinci

Proses Perencanaan Jembatan

Proses Perencanaan Jembatan Maksud Perencanaan Jembatan : Menentukan fungsi struktur secara tepat, bentuk struktur yang sesuai, efisien serta mempunyai fungsi estetika. Data yang diperlukan untuk perencanaan: Lokasi (topografi, lingkungan,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tumpuan Menurut Timoshenko ( 1986 ) ada 5 jenis batang yang dapat digunakan pada jenis tumpuan yaitu : 1. Batang kantilever Merupakan batang yang ditumpu secara kaku pada salah

Lebih terperinci

PERANCANGAN JEMBATAN KATUNGAU KALIMANTAN BARAT

PERANCANGAN JEMBATAN KATUNGAU KALIMANTAN BARAT PERANCANGAN JEMBATAN KATUNGAU KALIMANTAN BARAT TUGAS AKHIR SARJANA STRATA SATU Oleh : RONA CIPTA No. Mahasiswa : 11570 / TS NPM : 03 02 11570 PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS ATMA

Lebih terperinci

BAB 3 LANDASAN TEORI. perencanaan underpass yang dikerjakan dalam tugas akhir ini. Perencanaan

BAB 3 LANDASAN TEORI. perencanaan underpass yang dikerjakan dalam tugas akhir ini. Perencanaan BAB 3 LANDASAN TEORI 3.1. Geometrik Lalu Lintas Perencanan geometrik lalu lintas merupakan salah satu hal penting dalam perencanaan underpass yang dikerjakan dalam tugas akhir ini. Perencanaan geometrik

Lebih terperinci

KODE-KODE LAPORAN INVENTARISASI JEMBATAN

KODE-KODE LAPORAN INVENTARISASI JEMBATAN PEMERINTAH KOTA SEMARANG DINAS PEKERJAAN UMUM JL. MADUKORO RAYA NO. 7 TELP. ( 024 ) 76433969 FAX. (024) 76433969 SEMARANG 50144 KODE-KODE LAPORAN INVENTARISASI JEMBATAN SISTEM MANAJEMEN JEMBATAN Tipe Lintasan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Jembatan Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain

Lebih terperinci

KODE-KODE LAPORAN INVENTARISASI JEMBATAN

KODE-KODE LAPORAN INVENTARISASI JEMBATAN PEMERINTAH KOTA SEMARANG DINAS PEKERJAAN UMUM JL. MADUKORO RAYA NO. 7 TELP. ( 024 ) 76433969 FAX. (024) 76433969 SEMARANG 50144 KODE-KODE LAPORAN INVENTARISASI JEMBATAN SISTEM MANAJEMEN JEMBATAN Tipe Lintasan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN

DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR LAMBANG, NOTASI, DAN SINGKATAN i ii iii iv vii xiii xiv xvii xviii BAB

Lebih terperinci

PEMBEBANAN JALAN RAYA

PEMBEBANAN JALAN RAYA TKS 4022 Jembatan PEMBEBANAN JALAN RAYA Dr. AZ Department of Civil Engineering Brawijaya University Peraturan Spesifikasi pembebanan yang membahas masalah beban dan aksi-aksi lainnya yang akan digunakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jembatan merupakan prasarana umum yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia sehari-hari. Jembatan merupakan salah satu prasarana transportasi yang sangat penting

Lebih terperinci

TKS 4022 Jembatan PEMBEBANAN. Dr. AZ Department of Civil Engineering Brawijaya University

TKS 4022 Jembatan PEMBEBANAN. Dr. AZ Department of Civil Engineering Brawijaya University TKS 4022 Jembatan PEMBEBANAN Dr. AZ Department of Civil Engineering Brawijaya University Peraturan Spesifikasi pembebanan yang membahas masalah beban dan aksi-aksi lainnya yang akan digunakan dalam perencanaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Tinjauan Umum

BAB I PENDAHULUAN Tinjauan Umum BAB I PENDAHULUAN 1.1. Tinjauan Umum Jembatan sebagai sarana transportasi mempunyai peranan yang sangat penting bagi kelancaran pergerakan lalu lintas. Dimana fungsi jembatan adalah menghubungkan rute/lintasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya jumlah pemakai jalan yang akan menggunakan sarana tersebut.

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya jumlah pemakai jalan yang akan menggunakan sarana tersebut. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penulisan Pembangunan sarana transportasi mempunyai peranan penting dalam perkembangan sumber daya manusia saat ini sebab disadari makin meningkatnya jumlah pemakai

Lebih terperinci

Prakata. PDF created with pdffactory trial version

Prakata. PDF created with pdffactory trial version Prakata Pedoman Pemeriksaan Inventarisasi Jembatan ini dipersiapkan oleh Sub Panitia Teknik Bidang Prasarana Transportasi, melalui Gugus Kerja Bidang Konstruksi Jembatan dan Bangunan Pelengkap Jalan pada

Lebih terperinci

JEMBATAN RANGKA BAJA. bentang jembatan 30m. Gambar 7.1. Struktur Rangka Utama Jembatan

JEMBATAN RANGKA BAJA. bentang jembatan 30m. Gambar 7.1. Struktur Rangka Utama Jembatan JEMBATAN RANGKA BAJA 7.2. Langkah-Langkah Perancangan Struktur Jembatan Rangka Baja Langkah perancangan bagian-bagian jembatan rangka baja adalah sbb: a. Penetapan data teknis jembatan b. Perancangan pelat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Konstruksi jembatan adalah suatu konstruksi bangunan pelengkap sarana

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Konstruksi jembatan adalah suatu konstruksi bangunan pelengkap sarana BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Konstruksi jembatan adalah suatu konstruksi bangunan pelengkap sarana trasportasi jalan yang menghubungkan suatu tempat ke tempat yang lainnya, yang dapat dilintasi

Lebih terperinci

Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung. Tugas Akhir

Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung. Tugas Akhir Tugas Akhir PERENCANAAN JEMBATAN BRANTAS KEDIRI DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM BUSUR BAJA Nama : Mohammad Zahid Alim Al Hasyimi NRP : 3109100096 Dosen Konsultasi : Ir. Djoko Irawan, MS. Dr. Ir. Djoko Untung

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR ATAS JEMBATAN RANGKA BAJA MUSI VI KOTA PALEMBANG SUMATERA SELATAN. Laporan Tugas Akhir. Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

PERENCANAAN STRUKTUR ATAS JEMBATAN RANGKA BAJA MUSI VI KOTA PALEMBANG SUMATERA SELATAN. Laporan Tugas Akhir. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. PERENCANAAN STRUKTUR ATAS JEMBATAN RANGKA BAJA MUSI VI KOTA PALEMBANG SUMATERA SELATAN Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Lebih terperinci

HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN LAYANG PERLINTASAN KERETA API KALIGAWE DENGAN U GIRDER

HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN LAYANG PERLINTASAN KERETA API KALIGAWE DENGAN U GIRDER HALAMAN PENGESAHAN LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN LAYANG PERLINTASAN KERETA API KALIGAWE DENGAN U GIRDER Disusun oleh : Andy Muril Arubilla L2A 306 004 Novi Krisniawati L2A 306 023 Disetujui,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Menurut Supriyadi (1997) jembatan adalah suatu bangunan yang memungkinkan suatu ajalan menyilang sungai/saluran air, lembah atau menyilang jalan lain yang tidak

Lebih terperinci

BAB II PERILAKU DAN KARAKTERISTIK JEMBATAN

BAB II PERILAKU DAN KARAKTERISTIK JEMBATAN BAB II PERILAKU DAN KARAKTERISTIK JEMBATAN A. Pengertian Jembatan Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan melalui rintangan yang permukaannya lebih rendah. Rintangan ini biasanya

Lebih terperinci

DINAS BINA MARGA - PEMERINTAH KOTA SEMARANG SURVEY KONDISI JEMBATAN TAHUN ANGGARAN 2016

DINAS BINA MARGA - PEMERINTAH KOTA SEMARANG SURVEY KONDISI JEMBATAN TAHUN ANGGARAN 2016 DINAS BINA MARGA - PEMERINTAH KOTA SEMARANG SURVEY KONDISI JEMBATAN TAHUN ANGGARAN 2016 DATA RUAS JALAN DATA JEMBATAN KETERANGAN HARI KE NOMOR JEMBATAN NAMA JEMBATAN LOKASI JBT NO NO RUAS NAMA RUAS PANJANG

Lebih terperinci

ANALISA PERENCANAN JEMBATAN KALI WULAN DESA BUNGO KECAMATAN WEDUNG KABUPATEN DEMAK UNTUK BANGUNAN ATAS

ANALISA PERENCANAN JEMBATAN KALI WULAN DESA BUNGO KECAMATAN WEDUNG KABUPATEN DEMAK UNTUK BANGUNAN ATAS ANALISA PERENCANAN JEMBATAN KALI WULAN DESA BUNGO KECAMATAN WEDUNG KABUPATEN DEMAK UNTUK BANGUNAN ATAS Fatchur Roehman Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sultan Fatah (UNISFAT) Jl.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Jembatan Pelengkung (arch bridges) Jembatan secara umum adalah suatu sarana penghubung yang digunakan untuk menghubungkan satu daerah dengan daerah yang lainnya oleh karena

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komponen Jembatan Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain : 1. Struktur jembatan atas Struktur jembatan atas merupakan bagian bagian jembatan yang memindahkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain seperti

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain seperti BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Komponen Jembatan Menurut Supriyadi (1997) struktur pokok jembatan antara lain seperti dibawah ini. Gambar 2.1. Komponen Jembatan 1. Struktur jembatan atas Struktur jembatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sehingga pembangunan prasarana transportasi sangat menentukan dalam

BAB I PENDAHULUAN. Sehingga pembangunan prasarana transportasi sangat menentukan dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1. Tinjauan Umum Peningkatan sarana transportasi sangat diperlukan sejalan dengan semakin pesatnya pertumbuhan sosial ekonomi pada hampir seluruh wilayah di Indonesia. Sehingga pembangunan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah dengan analisis studi kasus

III. METODE PENELITIAN. Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah dengan analisis studi kasus III. METODE PENELITIAN Pada penelitian ini metode yang digunakan adalah dengan analisis studi kasus yang dilakukan yaitu metode numerik dengan bantuan program Microsoft Excel dan SAP 2000. Metode numerik

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JALAN LAYANG SUMPIUH - BANYUMAS

LAPORAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JALAN LAYANG SUMPIUH - BANYUMAS III - 1 BAB III METODOLOGI 3.1. PENDAHULUAN Proses perencanaan yang terstruktur dan sisitematis diperlukan untuk menghasilkan suatu karya yang efektif dan efisien. Pada jembatan biasanya dirancang menurut

Lebih terperinci

BEBAN JEMBATAN AKSI KOMBINASI

BEBAN JEMBATAN AKSI KOMBINASI BEBAN JEMBATAN AKSI TETAP AKSI LALU LINTAS AKSI LINGKUNGAN AKSI LAINNYA AKSI KOMBINASI FAKTOR BEBAN SEMUA BEBAN HARUS DIKALIKAN DENGAN FAKTOR BEBAN YANG TERDIRI DARI : -FAKTOR BEBAN KERJA -FAKTOR BEBAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Umum Struktur kayu merupakan suatu struktur yang susunan elemennya adalah kayu. Dalam merancang struktur kolom kayu, hal pertama yang harus dilakukan adalah menetapkan besarnya

Lebih terperinci

Ada dua jenis tipe jembatan komposit yang umum digunakan sebagai desain, yaitu tipe multi girder bridge dan ladder deck bridge. Penentuan pemilihan

Ada dua jenis tipe jembatan komposit yang umum digunakan sebagai desain, yaitu tipe multi girder bridge dan ladder deck bridge. Penentuan pemilihan JEMBATAN KOMPOSIT JEMBATAN KOMPOSIT JEMBATAN KOMPOSIT adalah jembatan yang mengkombinasikan dua material atau lebih dengan sifat bahan yang berbeda dan membentuk satu kesatuan sehingga menghasilkan sifat

Lebih terperinci

MACAM MACAM JEMBATAN BENTANG PENDEK

MACAM MACAM JEMBATAN BENTANG PENDEK MACAM MACAM JEMBATAN BENTANG PENDEK 1. JEMBATAN GELAGAR BAJA JALAN RAYA - UNTUK BENTANG SAMPAI DENGAN 25 m - KONSTRUKSI PEMIKUL UTAMA BERUPA BALOK MEMANJANG YANG DIPASANG SEJARAK 45 cm 100 cm. - LANTAI

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Katungau Kalimantan Barat, jembatan merupakan sebuah struktur yang dibangun

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Katungau Kalimantan Barat, jembatan merupakan sebuah struktur yang dibangun BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Jembatan Menurut Struyck dan Van Der Veen (1984) dalam Perencanaan jembatan Katungau Kalimantan Barat, jembatan merupakan sebuah struktur yang dibangun melewati

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Digunakan untuk kendaraan bermotor. Digunakan untuk publik. Dibiayai oleh badan publik

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Digunakan untuk kendaraan bermotor. Digunakan untuk publik. Dibiayai oleh badan publik BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Jalan Raya Jalan raya adalah jalan besar atau main road yang menghubungkan satu daerah dengan daerah yang lain. Biasanya jalan besar ini memiliki fitur fitur berikut (www.academia.edu)

Lebih terperinci

PENGANTAR KONSTRUKSI BANGUNAN BENTANG LEBAR

PENGANTAR KONSTRUKSI BANGUNAN BENTANG LEBAR Pendahuluan POKOK BAHASAN 1 PENGANTAR KONSTRUKSI BANGUNAN BENTANG LEBAR Struktur bangunan adalah bagian dari sebuah sistem bangunan yang bekerja untuk menyalurkan beban yang diakibatkan oleh adanya bangunan

Lebih terperinci

PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN

PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN PEMELIHARAAN RUTIN JALAN DAN JEMBATAN PETUNJUK PRAKTIS PEMELIHARAAN RUTIN JALAN UPR. 02 UPR. 02.4 PEMELIHARAAN RUTIN TALUD & DINDING PENAHAN TANAH AGUSTUS 1992 DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Arus Lalu Lintas Ukuran dasar yang sering digunakan untuk definisi arus lalu lintas adalah konsentrasi aliran dan kecepatan. Aliran dan volume sering dianggap sama, meskipun

Lebih terperinci

MODIFIKASI PERANCANGAN JEMBATAN TRISULA MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA DENGAN DILENGKAPI DAMPER PADA ZONA GEMPA 4

MODIFIKASI PERANCANGAN JEMBATAN TRISULA MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA DENGAN DILENGKAPI DAMPER PADA ZONA GEMPA 4 MODIFIKASI PERANCANGAN JEMBATAN TRISULA MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA DENGAN DILENGKAPI DAMPER PADA ZONA GEMPA 4 Citra Bahrin Syah 3106100725 Dosen Pembimbing : Bambang Piscesa, ST. MT. Ir. Djoko Irawan,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum Jalan adalah seluruh bagian Jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang diperuntukkan bagi lalulintas umum,yang berada pada permukaan tanah, diatas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jembatan adalah sarana infrastruktur yang penting bagi mobilitas manusia. Terlepas dari nilai estetikanya jembatan memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan

Lebih terperinci

DINAS BINA MARGA - PEMERINTAH KOTA SEMARANG SURVEY KONDISI JEMBATAN TAHUN ANGGARAN 2016

DINAS BINA MARGA - PEMERINTAH KOTA SEMARANG SURVEY KONDISI JEMBATAN TAHUN ANGGARAN 2016 DINAS BINA MARGA - PEMERINTAH KOTA SEMARANG SURVEY KONDISI JEMBATAN TAHUN ANGGARAN 2016 DATA RUAS JALAN DATA JEMBATAN KETERANGAN HARI KE NOMOR JEMBATAN NAMA JEMBATAN LOKASI JBT NO NO RUAS NAMA RUAS PANJANG

Lebih terperinci

BAB II PERATURAN PERENCANAAN

BAB II PERATURAN PERENCANAAN BAB II PERATURAN PERENCANAAN 2.1 Klasifikasi Jembatan Rangka Baja Jembatan rangka (Truss Bridge) adalah jembatan yang terbentuk dari rangkarangka batang yang membentuk unit segitiga dan memiliki kemampuan

Lebih terperinci

Jembatan Komposit dan Penghubung Geser (Composite Bridge and Shear Connector)

Jembatan Komposit dan Penghubung Geser (Composite Bridge and Shear Connector) Jembatan Komposit dan Penghubung Geser (Composite Bridge and Shear Connector) Dr. AZ Department of Civil Engineering Brawijaya University Pendahuluan JEMBATAN GELAGAR BAJA BIASA Untuk bentang sampai dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jurang, lembah, jalanan, rel, sungai, badan air, atau hambatan lainnya. Tujuan

BAB I PENDAHULUAN. jurang, lembah, jalanan, rel, sungai, badan air, atau hambatan lainnya. Tujuan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jembatan merupakan sebuah struktur yang dibangun melewati suatu rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan rintangan tersebut dapat berupa jurang, lembah, jalanan,

Lebih terperinci

PERENCANAAN JEMBATAN MALANGSARI MENGGUNAKAN STRUKTUR JEMBATAN BUSUR RANGKA TIPE THROUGH - ARCH. : Faizal Oky Setyawan

PERENCANAAN JEMBATAN MALANGSARI MENGGUNAKAN STRUKTUR JEMBATAN BUSUR RANGKA TIPE THROUGH - ARCH. : Faizal Oky Setyawan MENGGUNAKAN STRUKTUR JEMBATAN BUSUR Oleh : Faizal Oky Setyawan 3105100135 PENDAHULUAN TINJAUAN PUSTAKA METODOLOGI HASIL PERENCANAAN Latar Belakang Dalam rangka pemenuhan dan penunjang kebutuhan transportasi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain ( jalan

II. TINJAUAN PUSTAKA. rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain ( jalan 5 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Jembatan Jembatan adalah suatu konstruksi untuk meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain ( jalan air / lalu lintas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jembatan adalah suatu konstruksi yang gunanya untuk meneruskan jalan melalui suatu rintangan yang berada lebih rendah. Rintangan ini biasanya jalan lain (jalan air

Lebih terperinci

KONTROL ULANG PENULANGAN JEMBATAN PRESTRESSED KOMPLANG II NUSUKAN KOTA SURAKARTA

KONTROL ULANG PENULANGAN JEMBATAN PRESTRESSED KOMPLANG II NUSUKAN KOTA SURAKARTA KONTROL ULANG PENULANGAN JEMBATAN PRESTRESSED KOMPLANG II NUSUKAN KOTA SURAKARTA Naskah Publikasi untuk memenuhi sebagian persyaratan mencapai derajat S1 Teknik Sipil diajukan oleh : ARIF CANDRA SEPTIAWAN

Lebih terperinci

ANAAN TR. Jembatan sistem rangka pelengkung dipilih dalam studi ini dengan. pertimbangan bentang Sungai Musi sebesar ±350 meter. Penggunaan struktur

ANAAN TR. Jembatan sistem rangka pelengkung dipilih dalam studi ini dengan. pertimbangan bentang Sungai Musi sebesar ±350 meter. Penggunaan struktur A ANAAN TR Jembatan sistem rangka pelengkung dipilih dalam studi ini dengan pertimbangan bentang Sungai Musi sebesar ±350 meter. Penggunaan struktur lengkung dibagi menjadi tiga bagian, yaitu pada bentang

Lebih terperinci

BAB VI KONSTRUKSI KOLOM

BAB VI KONSTRUKSI KOLOM BAB VI KONSTRUKSI KOLOM 6.1. KOLOM SEBAGAI BAHAN KONSTRUKSI Kolom adalah batang tekan vertikal dari rangka struktur yang memikul beban dari balok. Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang

Lebih terperinci

DESAIN DAN METODE KONSTRUKSI JEMBATAN BENTANG 60 METER MENGGUNAKAN BETON BERTULANG DENGAN SISTIM PENYOKONG

DESAIN DAN METODE KONSTRUKSI JEMBATAN BENTANG 60 METER MENGGUNAKAN BETON BERTULANG DENGAN SISTIM PENYOKONG DESAIN DAN METODE KONSTRUKSI JEMBATAN BENTANG 60 METER MENGGUNAKAN BETON BERTULANG DENGAN SISTIM PENYOKONG Antonius 1) dan Aref Widhianto 2) 1) Dosen Jurusan Teknik Sipil Universitas Islam Sultan Agung,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah umum Jalan sesuai dalam Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 38 Tahun 2004 tentang JALAN, sebagai berikut :

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Istilah umum Jalan sesuai dalam Undang-Undang Republik Indonesia. Nomor 38 Tahun 2004 tentang JALAN, sebagai berikut : BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Jalan 2.1.1 Istilah Istilah umum Jalan sesuai dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 2004 tentang JALAN, sebagai berikut : 1. Jalan adalah prasarana

Lebih terperinci

JEMBATAN. Februari Bahan Bahan Jembatan

JEMBATAN. Februari Bahan Bahan Jembatan JEMBATAN afebry@teknikunlam.ac.id Februari 2013 Bahan Bahan Jembatan Dasar Konsep Jembatan Dimulai dari ide manusia untuk melintasi sungai dengan cara yang mudah dan aman. Sehingga secara konsep yang diperlukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jembatan sebagai salah satu prasarana perhubungan pada hakekatnya merupakan unsur penting dalam usaha pengembangan kehidupan bangsa. Keberadaan Jembatan akan memberikan

Lebih terperinci

Kajian Pengaruh Panjang Back Span pada Jembatan Busur Tiga Bentang

Kajian Pengaruh Panjang Back Span pada Jembatan Busur Tiga Bentang Reka Racana Jurusan Teknik Sipil Itenas Vol. 2 No. 4 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Desember 2016 Kajian Pengaruh Panjang Back Span pada Jembatan Busur Tiga Bentang YUNO YULIANTONO, ASWANDY

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Jembatan secara umum adalah suatu konstruksi yang berfungsi untuk menghubungkan dua bagian jalan yang terputus oleh adanya rintangan-rintangan seperti lembah yang dalam,

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALTERNATIF STRUKTUR JEMBATAN KALIBATA DENGAN MENGGUNAKAN RANGKA BAJA

PERANCANGAN ALTERNATIF STRUKTUR JEMBATAN KALIBATA DENGAN MENGGUNAKAN RANGKA BAJA TUGAS AKHIR PERANCANGAN ALTERNATIF STRUKTUR JEMBATAN KALIBATA DENGAN MENGGUNAKAN RANGKA BAJA Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mendapatkan Gelar Sarjana Tingkat Strata 1 (S-1) DISUSUN OLEH: NAMA

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau

BAB 1 PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki ribuan pulau yang terpisahkan oleh laut dan selat. Kondisi geografis tersebut mengakibatkan terus meningkatnya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi umum Desain struktur merupakan salah satu bagian dari keseluruhan proses perencanaan bangunan. Proses desain merupakan gabungan antara unsur seni dan sains yang membutuhkan

Lebih terperinci

D3 TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG BAB II STUDI PUSTAKA

D3 TEKNIK SIPIL POLITEKNIK NEGERI BANDUNG BAB II STUDI PUSTAKA BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 Definisi Jembatan merupakan satu struktur yang dibuat untuk menyeberangi jurang atau rintangan seperti sungai, rel kereta api ataupun jalan raya. Ia dibangun untuk membolehkan

Lebih terperinci

PERENCANAAN UNDERPASS SIMPANG TUJUH JOGLO SURAKARTA

PERENCANAAN UNDERPASS SIMPANG TUJUH JOGLO SURAKARTA Lembar Pengesahan ii LEMBAR PENGESAHAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN UNDERPASS SIMPANG TUJUH JOGLO SURAKARTA ( DESIGN OF SIMPANG TUJUH JOGLO SURAKARTA UNDERPASS) Disusun Oleh : FARID WIBISONO L2A0 002 059 MOCH.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41/PRT/M/2015

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41/PRT/M/2015 PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41/PRT/M/2015 TENTANG PENYELENGGARAAN KEAMANAN JEMBATAN DAN TEROWONGAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN

Lebih terperinci

JURNAL ILMU-ILMU TEKNIK - SISTEM, Vol. 11 No. 1

JURNAL ILMU-ILMU TEKNIK - SISTEM, Vol. 11 No. 1 PERENCANAAN GELAGAR JEMBATAN BETON BERTULANG BERDASARKAN PADA METODE KUAT BATAS (STUDI KASUS : JEMBATAN SUNGAI TINGANG RT.10 DESA UJOH BILANG KABUPATEN MAHAKAM ULU) Arqowi Pribadi 2 Abstrak: Jembatan adalah

Lebih terperinci

Evaluasi Kekuatan Struktur Atas Jembatan Gandong Kabupaten Magetan Dengan Pembebanan BMS 1992

Evaluasi Kekuatan Struktur Atas Jembatan Gandong Kabupaten Magetan Dengan Pembebanan BMS 1992 Evaluasi Kekuatan Struktur Atas Jembatan Gandong Kabupaten Magetan Dengan Pembebanan BMS 1992 Rosyid Kholilur R 1 1 adalah Dosen Fakultas Teknik Universitas Merdeka Madiun Abstract Gandong bridge located

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Data-data Umum Jembatan Beton Prategang-I Bentang 21,95 Meter Gambar 4.1 Spesifikasi jembatan beton prategang-i bentang 21,95 m a. Spesifikasi umum Tebal lantai jembatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Dewasa ini perkembangan pengetahuan tentang perencanaan suatu bangunan berkembang semakin luas, termasuk salah satunya pada perencanaan pembangunan sebuah jembatan

Lebih terperinci

BAB I PE DAHULUA 1.1 Umum

BAB I PE DAHULUA 1.1 Umum BAB I PE DAHULUA 1.1 Umum Salah satu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam upaya pengembangan suatu wilayah/daerah ialah Sistem Transportasi. Jalan raya dan jembatan merupakan bagian dari sistem transportasi

Lebih terperinci

OPTIMASI TEKNIK STRUKTUR ATAS JEMBATAN BETON BERTULANG (STUDI KASUS: JEMBATAN DI KABUPATEN PEGUNUNGAN ARFAK)

OPTIMASI TEKNIK STRUKTUR ATAS JEMBATAN BETON BERTULANG (STUDI KASUS: JEMBATAN DI KABUPATEN PEGUNUNGAN ARFAK) OPTIMASI TEKNIK STRUKTUR ATAS JEMBATAN BETON BERTULANG (STUDI KASUS: JEMBATAN DI KABUPATEN PEGUNUNGAN ARFAK) Christhy Amalia Sapulete Servie O. Dapas, Oscar H. Kaseke Fakultas Teknik Jurusan Sipil Universitas

Lebih terperinci

PERANCANGAN SLAB LANTAI DAN BALOK JEMBATAN BETON PRATEGANG SEI DALU-DALU, KABUPATEN BATU BARA, SUMATERA UTARA TUGAS AKHIR

PERANCANGAN SLAB LANTAI DAN BALOK JEMBATAN BETON PRATEGANG SEI DALU-DALU, KABUPATEN BATU BARA, SUMATERA UTARA TUGAS AKHIR PERANCANGAN SLAB LANTAI DAN BALOK JEMBATAN BETON PRATEGANG SEI DALU-DALU, KABUPATEN BATU BARA, SUMATERA UTARA TUGAS AKHIR Ditulis Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan

Lebih terperinci

BAB V PERHITUNGAN STRUKTUR

BAB V PERHITUNGAN STRUKTUR PERHITUNGAN STRUKTUR V-1 BAB V PERHITUNGAN STRUKTUR Berdasarkan Manual For Assembly And Erection of Permanent Standart Truss Spans Volume /A Bridges, Direktorat Jenderal Bina Marga, tebal pelat lantai

Lebih terperinci

PERENCANAAN BANGUNAN ATAS JEMBATAN PADA PROYEK JEMBATAN JALUR PIPA GAS PERTAMINA PANGKALAN BRANDAN KABUPATEN LANGKAT

PERENCANAAN BANGUNAN ATAS JEMBATAN PADA PROYEK JEMBATAN JALUR PIPA GAS PERTAMINA PANGKALAN BRANDAN KABUPATEN LANGKAT PERENCANAAN BANGUNAN ATAS JEMBATAN PADA PROYEK JEMBATAN JALUR PIPA GAS PERTAMINA PANGKALAN BRANDAN KABUPATEN LANGKAT TUGAS AKHIR Ditulis Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains Terapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Definisi dan Klasifikasi jembatan serta standar struktur jembatan I.1.1 Definisi Jembatan : Jembatan adalah suatu struktur yang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Definisi dan Klasifikasi jembatan serta standar struktur jembatan I.1.1 Definisi Jembatan : Jembatan adalah suatu struktur yang BAB I PENDAHULUAN I.1 Definisi dan Klasifikasi jembatan serta standar struktur jembatan I.1.1 Definisi Jembatan : Jembatan adalah suatu struktur yang memungkinkan route jalan melintasi halangan yang berupa

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 JENIS JEMBATAN Jembatan dapat didefinisikan sebagai suatu konstruksi atau struktur bangunan yang menghubungkan rute atau lintasan transportasi yang terpisah baik oleh sungai, rawa,

Lebih terperinci

PERHITUNGAN SLAB LANTAI JEMBATAN

PERHITUNGAN SLAB LANTAI JEMBATAN PERHITUNGAN SLAB LANTAI JEMBATAN JEMBATAN PANTAI HAMBAWANG - DS. DANAU CARAMIN CS A. DATA SLAB LANTAI JEMBATAN Tebal slab lantai jembatan t s = 0.35 m Tebal trotoar t t = 0.25 m Tebal lapisan aspal + overlay

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI DESAIN

BAB III METODOLOGI DESAIN BAB III METODOLOGI DESAIN Metodologi suatu perencanaan adalah tata cara atau urutan kerja suatu perhitungan perencanaan untuk mendapatkan hasil perencanaan ulang bangunan atas jembatan. Adapun uraian dan

Lebih terperinci

PERENCANAAN JEMBATAN KALI TUNTANG DESA PILANGWETAN KABUPATEN GROBOGAN

PERENCANAAN JEMBATAN KALI TUNTANG DESA PILANGWETAN KABUPATEN GROBOGAN TUGAS AKHIR PERENCANAAN JEMBATAN KALI TUNTANG DESA PILANGWETAN KABUPATEN GROBOGAN Merupakan Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik

Lebih terperinci

Meliputi pertimbangan secara detail terhadap alternatif struktur yang

Meliputi pertimbangan secara detail terhadap alternatif struktur yang BAB II TINJAUAN PIISTAKA 2.1 Pendahuluan Pekerjaan struktur secara umum dapat dilaksanakan melalui 3 (tiga) tahap (Senol,Utkii,Charles,John Benson, 1977), yaitu : 2.1.1 Tahap perencanaan (Planningphase)

Lebih terperinci

PEMILIHAN LOKASI JEMBATAN

PEMILIHAN LOKASI JEMBATAN PEMILIHAN LOKASI JEMBATAN 1. DIPILIH LINTASAN YANG SEMPIT DAN STABIL. ALIRAN AIR YANG LURUS 3. TEBING TEPIAN YANG CUKUP TINGGI DAN STABIL 4. KONDISI TANAH DASAR YANG BAIK 5. SUMBU SUNGAI DAN SUMBU JEMBATAN

Lebih terperinci

Perencanaan Geometrik & Perkerasan Jalan PENDAHULUAN

Perencanaan Geometrik & Perkerasan Jalan PENDAHULUAN PENDAHULUAN Angkutan jalan merupakan salah satu jenis angkutan, sehingga jaringan jalan semestinya ditinjau sebagai bagian dari sistem angkutan/transportasi secara keseluruhan. Moda jalan merupakan jenis

Lebih terperinci

BAB V PERENCANAAN STRUKTUR UTAMA Pre-Elemenary Desain Uraian Kondisi Setempat Alternatif Desain

BAB V PERENCANAAN STRUKTUR UTAMA Pre-Elemenary Desain Uraian Kondisi Setempat Alternatif Desain DAFTAR ISI Abstrak... i Kata Pengantar... v Daftar Isi... vii Daftar Tabel... xii Daftar Gambar... xiv BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Perumusan Masalah... 4 1.3 Maksud dan Tujuan...

Lebih terperinci

ANALISIS ALTERNATIF PERKUATAN JEMBATAN RANGKA BAJA (STUDI KASUS : JEMBARAN RANGKA BAJA SOEKARNO-HATTA MALANG)

ANALISIS ALTERNATIF PERKUATAN JEMBATAN RANGKA BAJA (STUDI KASUS : JEMBARAN RANGKA BAJA SOEKARNO-HATTA MALANG) ANALISIS ALTERNATIF PERKUATAN JEMBATAN RANGKA BAJA (STUDI KASUS : JEMBARAN RANGKA BAJA SOEKARNO-HATTA MALANG) Nawir Rasidi, Diana Ningrum, Lalu Gusman S.W Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Perkembangan Teknologi Jalan Raya

BAB I PENDAHULUAN Perkembangan Teknologi Jalan Raya BAB I PENDAHULUAN 1.1. Perkembangan Teknologi Jalan Raya Sejarah perkembangan jalan dimulai dengan sejarah manusia itu sendiri yang selalu berhasrat untuk mencari kebutuhan hidup dan berkomunikasi dengan

Lebih terperinci

BAB II PERATURAN PERENCANAAN. Jembatan ini menggunakan rangka baja sebagai gelagar induk. Berdasarkan letak

BAB II PERATURAN PERENCANAAN. Jembatan ini menggunakan rangka baja sebagai gelagar induk. Berdasarkan letak BAB II PERATURAN PERENCANAAN 2.1. Klasifikasi Jembatan Rangka Baja Jembatan ini menggunakan rangka baja sebagai gelagar induk. Berdasarkan letak lantai kendaran Jembatan rangka baja dibagi menjadi Jembatan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perkantoran, sekolah, atau rumah sakit. Dalam hal ini saya akan mencoba. beberapa hal yang harus diperhatikan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. perkantoran, sekolah, atau rumah sakit. Dalam hal ini saya akan mencoba. beberapa hal yang harus diperhatikan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Dalam merancang sebuah bangunan struktur, ada banyak hal yang harus diperhatikan. Tidak hanya material pembentuk struktur apakah baja atau beton. Tetapi juga fungsi gedung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kondisi jalan raya terjadi banyak kerusakan, polusi udara dan pemborosan bahan

BAB I PENDAHULUAN. kondisi jalan raya terjadi banyak kerusakan, polusi udara dan pemborosan bahan BAB I PENDAHULUAN 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Transportasi adalah suatu sistem yang menggerakkan orang atau barang dari suatu tempat ke tempat lainnya, menggunakan kendaraan, kereta api, pesawat

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERENCANAAN ULANG STRUKTUR JEMBATAN MERR II-C DENGAN MENGGUNAKAN BALOK PRATEKAN MENERUS (STATIS TAK TENTU)

TUGAS AKHIR PERENCANAAN ULANG STRUKTUR JEMBATAN MERR II-C DENGAN MENGGUNAKAN BALOK PRATEKAN MENERUS (STATIS TAK TENTU) TUGAS AKHIR PERENCANAAN ULANG STRUKTUR JEMBATAN MERR II-C DENGAN MENGGUNAKAN BALOK PRATEKAN MENERUS (STATIS TAK TENTU) OLEH : ABDUL AZIZ SYAIFUDDIN 3107 100 525 DOSEN PEMBIMBING : Prof. Dr. Ir. I GUSTI

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Jembatan merupakan salah satu bangunan struktur yang memiliki fungsi utama sebagai penghubung suatu lokasi dengan lokasi yang lainnya, dimana diantara kedua buah lokasi tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu

BAB I PENDAHULUAN. I. 1. Latar Belakang. Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu BAB I PENDAHULUAN I. 1. Latar Belakang Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu daerah. Mulai dari tingkat perekonomian, sumber daya manusia, sumber daya alam, infrastruktur maupun

Lebih terperinci

1- PENDAHULUAN. Baja Sebagai Bahan Bangunan

1- PENDAHULUAN. Baja Sebagai Bahan Bangunan 1- PENDAHULUAN Baja Sebagai Bahan Bangunan Sejak permulaan sejarah, manusia telah berusaha mencari bahan yang tepat untuk membangun tempat tinggalnya, jembatan untuk menyeberangi sungai dan membuat peralatan-peralatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Jembatan yang dibahas terletak di Desa Lebih Kecamatan Gianyar

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Jembatan yang dibahas terletak di Desa Lebih Kecamatan Gianyar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jembatan yang dibahas terletak di Desa Lebih Kecamatan Gianyar Kabupaten Gianyar Propinsi Bali, dan terletak kurang lebih 400 meter dari pantai lebih. Jembatan ini

Lebih terperinci

OPTIMALISASI DESAIN JEMBATAN LENGKUNG (ARCH BRIDGE) TERHADAP BERAT DAN LENDUTAN

OPTIMALISASI DESAIN JEMBATAN LENGKUNG (ARCH BRIDGE) TERHADAP BERAT DAN LENDUTAN OPTIMALISASI DESAIN JEMBATAN LENGKUNG (ARCH BRIDGE) TERHADAP BERAT DAN LENDUTAN Sugeng P. Budio 1, Retno Anggraini 1, Christin Remayanti 1, I Made Bayu Arditya Widia 2 1 Dosen / Jurusan Teknik Sipil /

Lebih terperinci

MODIFIKASI PERENCANAAN JEMBATAN KALI BAMBANG DI KAB. BLITAR KAB. MALANG MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA

MODIFIKASI PERENCANAAN JEMBATAN KALI BAMBANG DI KAB. BLITAR KAB. MALANG MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA MODIFIKASI PERENCANAAN JEMBATAN KALI BAMBANG DI KAB. BLITAR KAB. MALANG MENGGUNAKAN BUSUR RANGKA BAJA Mahasiswa: Farid Rozaq Laksono - 3115105056 Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Djoko Irawan, Ms J U R U S A

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

STRUKTUR DAN KONSTRUKSI BANGUNAN IV

STRUKTUR DAN KONSTRUKSI BANGUNAN IV STRUKTUR DAN KONSTRUKSI BANGUNAN IV STRUKTUR PLAT LIPAT AZRATIH HAIRUN FRILYA YOLANDA EFRIDA UMBU NDAKULARAK AGRIAN RIZKY RINTO HARI MOHAMMAD GIFARI A. PENGERTIAN STRUKTUR PLAT LIPAT Pelat adalah struktur

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56 TAHUN 2009 TENTANG PENYELENGGARAAN PERKERETAAPIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BAB 2 PENAMPANG MELINTANG JALAN

BAB 2 PENAMPANG MELINTANG JALAN BAB 2 PENAMPANG MELINTANG JALAN Penampang melintang jalan adalah potongan melintang tegak lurus sumbu jalan, yang memperlihatkan bagian bagian jalan. Penampang melintang jalan yang akan digunakan harus

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. JEMBATAN FLY OVER RAWABUAYA 4.2. ANALISIS STRUKTUR

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. JEMBATAN FLY OVER RAWABUAYA 4.2. ANALISIS STRUKTUR IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. JEMBATAN FLY OVER RAWABUAYA Jembatan fly over Rawabuaya dibangun untuk memperlancar arus lalu lintas jalur Cengkareng-Kembangan khususnya di daerah Rawabuaya, dimana pada

Lebih terperinci

struktur. Pertimbangan utama adalah fungsi dari struktur itu nantinya.

struktur. Pertimbangan utama adalah fungsi dari struktur itu nantinya. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendahuluan Pekerjaan struktur secara umum dilaksanakan melalui 3 (tiga) tahap {senol utku, Charles, John Benson, 1977). yaitu : 1. Tahap Perencanaan (Planning phase) Meliputi

Lebih terperinci