UNGKAPAN VISUAL RANGKAIAN TUMBUH DALAM WUJUD MEDIUM SENI RUPA BERBASIS RUANG DAN WAKTU

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UNGKAPAN VISUAL RANGKAIAN TUMBUH DALAM WUJUD MEDIUM SENI RUPA BERBASIS RUANG DAN WAKTU"

Transkripsi

1 LAPORAN PENELITIAN UNGKAPAN VISUAL RANGKAIAN TUMBUH DALAM WUJUD MEDIUM SENI RUPA BERBASIS RUANG DAN WAKTU Diajukan kepada : Badan Penelitian Dan Pengabdian Pada Masyarakat Universitas Widyatama OLEH : WAHDIAMAN, S.Sn. PROGRAM STUDI DESAIN GRAFIS FAKULTAS DESAIN KOMUNIKASI VISUAL UNIVERSITAS WIDYATAMA BANDUNG, FEBRUARI 2009

2 LEMBAR PENGESAHAN LAPORAN AKHIR UNGKAPAN VISUAL RANGKAIAN TUMBUH DALAM WUJUD MEDIUM SENI RUPA BERBASIS RUANG DAN WAKTU LAPORAN PENELITIAN OLEH : Wahdiaman, S.Sn. NIK: Bandung, Februari 2009 Diketahui Oleh : Indarsjah Tirtawidjaja, Drs. Dekan Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama NIP : Rafael G. Aida Widjaja, S.E.,M.Si. Kepala Bagian PPM Universitas Widyatama NIK : Diterima di Perpustakaan Universitas Widyatama oleh : Lia Amaliawati, S.E.,M.Si. Kepala Unit Pelayanan Teknik Perpustakaan

3 DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN DAFTAR ISI ABSTRAK KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR I. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. 1.2 Perumusan dan Pembatasan Masalah Perumusan Masalah Pembatasan Masalah. 1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian Maksud Penelitian Tujuan Umum Penelitian Tujuan Khusus Penelitian. 1.4 Manfaat Penelitian 1.5 Hipotesis Ruang Lingkup Pembahasan 1.7 Sistematika Penyusunan Laporan II. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Komunikasi. 2.2 Teori Seni. 2.3 Teori Fotografi. 2.4 Teori Multimedia. 2.5 Teori Animasi Teori Biologi

4 III. IV. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Metode dan Lokasi Penelitian Metode Penelitian Lokasi Penelitian Variabel Penelitian Teknik Pengambilan Sampel Teknik Pengumpulan Data Teknik (Metode) Analisis Data BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengumpulan, Pengolahan, Dan Interpretasi Data Pengumpulan Data Pengolahan Data Interpretasi Data Analisa Data V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA 43 LAMPIRAN.. 44

5 ABSTRAK Karya seni adalah sebuah kemungkinan-kemungkinan tentang representasi makna. Seni dilahirkan dari situasi estetik yang dialami dalam keseharian. Dalam persinggungan dengan keseharian yang berulang-ulang dapat mengasah intuisi seorang seniman atau desainer. Penulis mengalami persoalan yang demikian dalam rentang sekian waktu, hingga terdorong untuk merepresentasikan sebuah gagasan tentang yang ditemukannya dalam realitas. Upaya representasi ini didasari kompetensi individual penulis. Keseharian yang ditemui adalah sebuah proses alam tumbuhnya tanaman. Penulis menangkap sebuah pemikiran tentang proses alami itu. Penulis ingin mengembangkan gagasan ini melalui berbagai medium dan format ungkapan seni rupa seperti photography, komputer, beserta elemen-elemennya. Dengan teknologi kamera fotografi telah memungkinkan manusia untuk merekam sebuah peristiwa yang merupakan gambaran realitas yang terjadi. Melalui teknologi fotografi dan komputer untuk pengolahan lebih lanjut, penulis bermaksud untuk membuat sebuah representasi visual yang menggambarkan sebuah proses tumbuh tanaman. Penggabungan dua medium tersebut dengan tujuan untuk memperoleh representasi visual yang ideal dan menunjang konsep penciptaan karya. Rencana wujud akhir dari karya visual ini adalah sebuah film/ movie atau gambar bergerak (animasi) yang memperlihatkan proses tumbuh tanaman. Pengambilan gambar diam dengan menggunakan kamera fotografi menjadi sekuens, yang merekam tahap-tahap tumbuh tanaman. Hasil perekaman tersebut menjadi bahan untuk diolah dengan media komputer untuk menghasilkan gambar bergerak. Kata kunci : sekuens, fotografi, multimedia, animasi, editing

6 KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Mahaesa, Allah SWT, bahwasannya penulis telah dapat menyelesaikan penulisan laporan penelitian ini. Laporan penelitian ini merupakan hasil dari kegiatan penelitian yang dilaksanakan dalam Tahun Akademik pada Program Studi Desain Grafis, Fakultas Desain Komunikasi Visual, Universitas Widyatama, Bandung. Kesadaran akan perlunya membudayakan kegiatan penelitian pada perguruan tinggi, menjadi alasan penulis untuk melaksanakan penelitian dengan judul Ungkapan Visual Rangkaian Tumbuh Dalam Wujud Medium Seni Rupa Berbasis Ruang Dan Waktu. Di samping tentunya sebagai sebuah reaksi atas situasi lingkungan yang telah memberi dorongan untuk membuat penelitian. Penelitian ini merupakan upaya untuk membuat sebuah representasi visual yang merupakan bidang kompetensi penulis. Serangkaian eksperimen dan survey lapangan penulis lakukan guna mendapatkan hasil yang optimal. Penulis juga melakukan studi literatur dari berbagai sumber seperti buku, majalah, surat kabar, dan internet, untuk lebih memperkuat sisi teoritisnya. Buku sebagai sumber informasi yang diakui secara keilmuan, internet sebagai sumber informasi yang memiliki daya jelajah lebih luas. Dengan keberadaan laporan penelitian ini, walaupun tidak sempurna, semoga dapat melengkapi khazanah pengetahuan tentang seni rupa khususnya desain komunikasi visual. Dapat dimanfaatkan untuk proses pembelajaran bagi yang memiliki minat dalam bidang ini, sebagai titik awal keberangkatan menjelajahi sumber-sumber yang lebih otentik, sebagai pemicu rasa penasaran untuk kemudian menggali lebih dalam. Akhir kata, penulis dengan berbesar hati akan menerima masukan dan saran guna menyempurnakan laporan penelitian ini. Semoga dapat bermanfaat bagi kita semua. Bandung, Februari 2009 Penulis

7 UCAPAN TERIMA KASIH Dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih atas segala bantuan yang telah diberikan oleh mereka sehingga kegiatan penelitian dan penulisan laporan ini dapat terlaksana. Tanpa bantuan mereka penulis tidak akan dapat menyelesaikan penelitian ini. Terima kasih kepada : 1. Bapak Indarsjah Tirtawidjaja, Drs. selaku Dekan Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama. 2. Bapak Rudy Farid, Drs. selaku Wakil Dekan Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama. 3. Bapak Budiman, Drs. selaku Ketua Program Studi Desain Grafis Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama. 4. Bapak Tubagus Zufri, M.Ds. selaku Ketua Program Studi Desain Multimedia Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama. 5. Bapak Arus Reka Prasetia, S.E. selaku Sekretaris Program Studi Desain Grafis dan Desain Multimedia Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama. 6. Ibu Rafael G. Aida Widjaya, S.E. selaku Kepala Bagian PPM Universitas Widyatama yang telah mendukung penelitian ini. 7. Ibu Yachmi Yulvina, S.H. selaku Staf Administrasi PPM Universitas Widyatama yang telah memperlancar administrasi. 8. Bapak H. Oyo dan keluarga, yang telah memberikan izin menggunakan tempatnya untuk melakukan eksperimen. 9. Bapak Gumbira Widjaja, yang telah memberi banyak masukan mengenai tata cara bercocok tanam. 10. Ibu Tjutju Widjaja, S.Sn. yang telah memfasilitasi alat untuk perekaman gambar. 11. Bapak Rudiwan, S.H. yang telah memberikan banyak sekali masukan dan bantuan dalam proses editing. 12. Bapak Edi Purwantoro, Drs. yang telah memberikan banyak masukan dan kontribusi sumber pustaka acuan.

8 13. Sdr. Novri Israr, yang telah membantu proses perekaman gambar. 14. Sdr. Bey Marga, yang telah memberikan masukan dan membantu dalam proses editing. 15. Sdr. Dicky Miftah P. yang telah memberikan bantuan peralatannya. 16. Sdr. Oky Faisal G. yang telah memberikan masukan dalam proses editing. 17. Ibu Oyoh, yang telah membantu merawat tanaman dengan telaten. 18. Rekan-rekan sejawat yang telah memberikan banyak masukan. 19. Ibu Tika Vitalia, yang telah memberikan banyak masukan, dukungan moril dan materil, serta inspirasinya. Serta kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, semoga Tuhan Yang Mahaesa, Allah SWT, membalas kebaikannya.

9 DAFTAR TABEL Tabel Jadwal Penelitian.. 29

10 DAFTAR GAMBAR Gambar 1 33 Gambar 2 34

11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seorang desainer atau seniman berangkat dari pemahaman tentang konsep yang terbaca dari pengalaman kedekatannya dengan lingkungan untuk menuangkan gagasannya. Gagasan atau imajinasi merupakan alam kesadaran dari seseorang untuk membayangkan sebuah tempat yang didiami oleh kesamaan-kesamaan yang merupakan kumpulan imaji, untuk kemudian mengalirkan sejumlah gagasan untuk berkarya. Gagasan dari seorang pencipta karya visual dituntut untuk memiliki muatan tidak hanya yang berasal dari citra diri, ekspresi diri maupun sekedar tuntutan komersial, namun mampu membuka ruang demi terciptanya kultur kehidupan yang lebih baik. Muatan-muatan yang ada dalam realitas manusia inilah yang diharapkan tergambar dalam karya-karya visual. Pemikiran dalam seni adalah untuk menghasilkan suatu karya yang mengandung muatan simbolik, metaforik, pengekspresian diri, serta mempunyai kesan dan pesan tertentu. Hal tersebut merupakan gambaran-gambaran tentang realitas dan penerjemahan apa yang dilihat di dunia dalam bentuk karya visual. Hubungan antara manusia dengan kehidupan dan lingkungannya serta keberadaan manusia itu sendirilah yang diasosiasikan seni sebagai karya manusia yang bermuatan dunia. Pola hubungan yang dekat, permainan rasa, intuisi dan eksekusi visual menempatkan karya seni mempunyai keragaman daya-daya dan kapasitas serta kemungkinan-kemungkinan yang dimiliki manusia untuk mengungkapkannya secara simbolik. Seni dikatakan sebagai ungkapan yang bersifat simbolik, karena gejala dan unsur kehadirannya mempunyai petunjuk pada konsep-konsep yang dihidupi oleh komunitas maupun masyarakat tertentu. Hal demikianlah yang membuat sebuah karya seni berpijak pada kekuatan konsep dari simbolisasi secara

12 fenomenologis dan mengakibatkan sebuah karya seni harus mampu mengantarkan orang atau penikmat ke suatu kumpulan makna. Muatan yang biasanya bernilai pada kebenaran, kejujuran, adi luhung, dan seterusnya dianggap memberikan nilai batas pada karya visual. Nilai kesadaran yang seolah-olah ada kekuatan yang mengatasi (transendental) menggerakkan muatan-muatan memiliki benang merah dari semua aktivitas berkaryanya, yaitu hasrat atau keinginan manusia. Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa setiap manusia mempunyai pijakan pada hasrat dengan syarat. Dengan demikian, maka setiap karya visual menjadi alat untuk mengatasnamakan seni demi mengejar hasrat manusia. Segala macam keharusan atau ketetapan yang sering muncul pada tuntutan karya visual menimbulkan representasi pada karakteristik visual. Hal inilah yang disebut Derrida sebagai keterbatasan dalam berkarya seni. Padahal batas dapat direpresentasikan sebagai akhir yang memulai sesuatu atau sebaliknya sebagai totalitas. Dengan pengenalan batas pula, maka sebenarnya kita senantiasa berada pada fenomena yang tak terputuskan dan tak menentu dimana terjadi banyak ruang yang bisa diapresiasikan dalam karya visual. Bentuk dan isi yang dipersoalkan tidak menjadi yang lebih penting, karena semua mempunyai kesempatan penafsiran yang sama sesuai dengan sifat menginterpretasi yang sarat dengan ribuan makna. Karya seni adalah sebuah kemungkinan-kemungkinan tentang representasi makna. Seni yang dilahirkan dari situasi estetik tidak serta merta menjadi sebuah tuduhan negatif ketika karya tersebut menyinggung atau masuk kepada norma-norma tertentu dalam masyarakat tanpa ada penggalian makna dari kaidah-kaidah seni. Dalam persinggungan dengan keseharian yang berulang-ulang dapat mengasah intuisi seorang seniman atau desainer. Penulis mengalami persoalan yang demikian dalam rentang sekian waktu, hingga akhirnya merasa tertarik untuk merepresentasikan sebuah gagasan tentang yang ditemukannya dalam realitas. Upaya representasi yang didasari kompetensi individual penulis, dan juga tidak

13 tertutup kemungkinan untuk berkolaborasi dengan pihak tertentu yang memiliki kompetensi yang dibutuhkan demi terwujudnya sebuah representasi yang layak. Keseharian yang ditemui adalah sebuah proses alam tumbuhnya makhluk hidup, tanaman, yang didorong oleh pengalaman pribadi dalam menekuni kegemaran memelihara tanaman secara langsung. Penulis menangkap sebuah pemikiran tentang proses alami itu, yang dalam nalar penulis ia memiliki suatu nilai yang dapat diangkat dan dibagi dengan orang lain. Penulis ingin mengembangkan gagasan ini melalui berbagai medium dan format ungkapan seni rupa seperti photography, komputer, beserta elemen-elemennya. Pemilihan berbagai medium ini didasari oleh tujuan representasi gagasan yang ideal. Bahwasannya proses alam yang terjadi tidak dapat disaksikan ulang di kemudian hari. Apa yang dilihat oleh manusia hanya terjadi sekali waktu saja, dan kalaupun ada usaha untuk melihat ke sekian kalinya, apa yang dilihatnya itu bukan lagi hal yang sama persis dengan yang terdahulunya. Namun demikian, apa yang telah dilihat oleh manusia akan tersimpan dalam memorinya sepanjang kesadaran dirinya masih ada dan menjadi pengalaman seumur hidupnya. Objek menarik yang dilihat oleh seorang manusia dapat memberi kesan mendalam dan membuat seseorang ingin menyampaikannya kepada orang lain. Dorongan untuk menyampaikan kembali kepada orang lain ini merupakan proses yang didasari oleh pertimbangan tertentu, seperti misalnya karena adanya hal-hal yang positif yang dikandungnya, atau memiliki hikmah dan manfaat yang dapat dijadikan pelajaran di kemudian hari. Dengan fakta seperti itu, penulis memiliki sebuah filosfi yang hampir sama, yaitu keinginan untuk bertutur kepada orang lain. Apa yang hendak dituturkan di sini merupakan pengamatan terhadap penomena yang terjadi di sekeliling penulis. Dalam pandangan penulis, penomena tersebut mampu menggerakkan kesadaran untuk memahami nilai kehidupan dengan ketekunan mengamati apa yang terjadi pada proses tumbuhnya tanaman.

14 Menuturkan kembali dalam bentuk visual merupakan cara yang telah dilakukan oleh pendahulu kita. Seperti kita ketahui, dengan ditemukannya lukisan-lukisan di dalam gua dari jaman pra sejarah telah menjadi bukti manusia memiliki keinginan untuk bertutur secara visual. Namun tentunya, konsep, metode, cara, medium, dan tujuan yang ditempuh oleh manusia pra sejarah akan berbeda dengan yang dilakukan oleh manusia pada jaman modern. Dengan berkembangnya teknologi telah memberi peluang pada manusia untuk memilih suatu metode ataupun medium yang sesuai dengan kebutuhan konsepnya. Dengan teknologi kamera fotografi telah memungkinkan manusia untuk merekam sebuah peristiwa, yang merupakan pengabadian dari suatu momen tertentu. Apa yang terekam merupakan gambaran realitas yang terjadi pada saat tersebut. Rekaman tersebut dapat dilihat kembali pada masa mendatang, meski peristiwa aslinya sendiri tidak dapat diulang kembali. Melalui teknologi fotografi dengan metode perekaman, dan teknologi komputer untuk pengolahan lebih lanjut, penulis bermaksud untuk membuat sebuah representasi visual yang menggambarkan sebuah proses tumbuh tanaman. Penggabungan dua medium tersebut dengan tujuan untuk memperoleh representasi visual yang ideal dan menunjang konsep penciptaan karya. Rencana wujud akhir dari karya visual ini adalah sebuah film/ movie atau gambar bergerak (animasi) yang memperlihatkan proses tumbuh tanaman. Pengambilan gambar diam dengan menggunakan kamera fotografi menjadi sekuens, yang merekam tahap-tahap tumbuh tanaman. Hasil perekaman tersebut menjadi bahan untuk diolah dengan media digital yaitu komputer untuk menghasilkan gambar bergerak (animasi). Penulis berharap bahwa karya visual yang akan dibuat ini, ataupun proses berkaryanya, dapat memberikan manfaat bagi keilmuan, khususnya bidang komunikasi visual. Bahwasannya setiap karya visual yang baik dapat memberi inspirasi dan kontribusi bagi wacana seni rupa, bahkan lebih jauhnya bagi kehidupan real itu sendiri. Semoga kegiatan yang penulis lakukan ini dapat

15 mengajak pembaca untuk berpikir tentang kekuatan alam, kekuatan yang bergerak tanpa bisa terhenti dalam untaian waktu, yang tak bisa kembali. Melalui setitik air kegiatan di antara samudera ini, penulis hendak mengajak pembaca untuk memahami alam, dengan demikian kiranya manusia dapat melakukan tindakan yang tidak membuat kerusakan terhadap alam, serta mendukung ke arah perbaikan-perbaikan sehingga terjaga kelestarian alam yang akan menjadi tempat indah untuk generasi mendatang. 1.2 Perumusan Dan Pembatasan Masalah Perumusan Masalah Pengamatan mendalam terhadap penomena alam yang terjadi di sekeliling penulis menjadi sumber gagasan untuk dituangkan ke dalam medium seni rupa, yang merupakan kompetensi yang dimiliki oleh penulis. Dalam pandangan penulis penomena tersebut mampu memberi kekuatan nilai yang dapat dimaknai. Dari nilai dan makna tersebut dapat diukur kedalaman pemahaman kita terhadap alam. Untuk mencapai representasi visual yang sesuai dengan konsep dan rencana penelitian, diperlukan suatu rumusan guna menunjang keberhasilannya. Dengan melihat latar belakang seperti dipaparkan di atas, maka dapat diidentifikasikan suatu permasalahan dalam penelitian ini sbb : Metode apa yang diperlukan guna menunjang keberhasilan proses penelitian ini? Bagaimana proses tumbuh tanaman yang menjadi objek karya bisa berjalan sesuai dengan rencana dan mendapatkan hasil yang dibutuhkan? Bagaimana rangkaian proses tumbuh tanaman yang menjadi objek karya dapat didokumentasikan secara representatif untuk keperluan visual?

16 1.2.2 Pembatasan Masalah Untuk membatasi permasalahan, maka lingkup kajian yang dijadikan objek penelitian adalah tanaman padi. Dipilihnya tanaman padi karena memiliki makna historis dan filosofis. Secara historis padi adalah tanaman yang paling dekat dengan manusia dalam arti, ia menjadi makanan pokok sebagian besar bangsa di dunia. Dengan hal itu ia mewakili sifat universalitas, dikenal oleh dunia. Selain itu di negeri ini padi telah menjadi sumber pangan utama dan menjadikannya negara agraris. Secara filosofis padi telah menjadi bagian dari kebudayaan manusia. Makna bahasa yang menyertakan padi telah banyak digunakan dalam kesusasteraan. Padi merupakan bagian penting dalam budaya masyarakat Asia Tenggara dan Asia Timur. Masyarakat setempat mengenal filosofi ilmu padi. Sejumlah peribahasa juga melibatkan padi, misalnya padi ditanam tumbuh ilalang ; padi masak, jagung mengupih. 1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian Setiap kegiatan penelitian memiliki maksud dan tujuan yang sesuai dengan konsep maupun kebutuhan institusi yang memfasilitasinya. Adapun tujuan dari penelitian ini terdiri dari tujuan umum dan tujuan khusus Maksud Penelitian Maksud dari penelitian ini secara umum adalah : Mewujudkan suatu representasi visual melalui media komunikasi visual berbasis ruang dan waktu. Merefleksikan suatu makna yang diangkat dari penomena alam melalui representasi visual.

17 1.3.2 Tujuan Umum Penelitian ini secara umum ditujukan untuk merealisasikan gagasan yang diangkat dari hasil pengamatan mendalam penulis terhadap penomena alam yang terjadi di sekitar penulis. Melalui penelitian ini penulis mencoba menghayati penomena alam dan merepresentasikannya kepada publik. Bagi peneliti (dosen) dapat meningkatkan produktivitas meneliti dan mengembangkan budaya meneliti (research culture), agar lebih bersikap proaktif, khususnya dalam mencari solusi terhadap suatu permasalahan atau membuka kemungkinan baru dalam bidang keilmuannya Tujuan Khusus Tujuan khusus dari penelitian ini dipaparkan sbb : Dengan dibuatnya sebuah representasi visual melalui media komunikasi visual berbasis ruang dan waktu ini, hasil karyanya diharapkan dapat menjadi bahan untuk mendukung proses karya seni selanjutnya. Di samping hal tersebut di atas, kegiatan penelitian ini juga diharapkan menjadi media bagi peneliti untuk mengekplorasi kemungkinankemungkinan teknis yang berkaitan dengan proses pembuatannya. 1.4 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat khususnya bagi penulis, sebagai upaya meningkatkan kemampuan meneliti dalam bidangnya. Karya yang dibuat dapat memberi sumbangan keilmuan dan dapat menjadi salah satu sumber rujukan untuk kajian yang relevan di masa mendatang. Memberikan gambaran lebih jauh dalam upaya memahami proses berkarya dan karya visualnya, serta dapat memperkaya khazanah seni rupa. Hasil penelitian ini, yang merupakan awal penelusuran dalam mewujudkan karya visual mengingat masih banyaknya keterbatasan, diharapkan dapat membuka jalan

18 pemikiran untuk mengembangkan lebih jauh gagasan representasi visual yang lebih baik lagi di masa mendatang. 1.5 Hipotesis Guna mengetahui kondisi faktual tentang hal-hal tersebut di atas, maka tahap pertama diperlukan penelitian yang akan dilakukan terhadap objek yang menjadi pokok persoalan yaitu tanaman padi. Dari penelitian ini diharapkan diperoleh informasi penting yang dapat digunakan untuk kajian lebih lanjut. Dengan bekal informasi tersebut diharapkan tanaman padi dapat menjadi objek yang memenuhi syarat sebagai sampel dan populasi penelitian. Tahap berikutnya, setelah diperoleh informasi akurat tentang objek yang dijadikan bahan penelitian, maka akan dilanjutkan dengan proses merekam jejak tumbuh tanaman dengan kamera fotografi. Perekaman fotografi dari objek yang mewakili setiap fase pertumbuhan tanaman. Hasil rekaman jejak tumbuh tanaman dari lapangan ini akan menjadi bahan untuk diolah di ruang kerja dengan bantuan alat media digital/ komputer untuk mendapatkan hasil karya visual berupa film/ movie. 1.6 Ruang Lingkup Pembahasan Dalam penelitian ini yang akan menjadi lingkup pembahasan meliputi hal-hal yang saling berkaitan saja dengan topik. Objek penelitian yang dikaji adalah yang merupakan hasil pengolahan penulis sendiri yaitu tanaman padi, tanpa melibatkan objek tanaman padi di luar itu. Apabila dalam prosesnya terdapat bias atau penyimpangan, maka tidak tertutup kemungkinan untuk adanya manipulasi dalam batas tertentu. Hal-hal di luar yang berkaitan dengan penelitian hanya akan menjadi variabel acak semata. Mengingat objek tanaman adalah makhluk hidup yang memiliki proses tumbuh secara linear menurut garis waktu, maka dalam pelaksanaannya sangat dimungkinkan akan adanya gangguan dan hambatan yang akan menjadikannya terdapat banyak variabel. Dalam konteks inilah upaya manipulasi akan diadakan,

19 yang bertujuan demi mencapai kepentingan visualisasi yang telah direncanakan dalam konsep sebelumnya. Proses selanjutnya adalah merekam objek dengan alat kamera fotografi untuk mendapatkan image yang akan menjadi bahan untuk visualisasi rangkaian tumbuh tanaman. Perekaman ini akan dilaksanakan dalam tahap tertentu dimana kondisi tanaman telah memenuhi syarat untuk menjadi bahan visual. Hasil perekaman ini berupa gambar-gambar diam yang selanjutnya akan menjadi frame-frame yang membentuk gambar bergerak setelah diolah dengan menggunakan komputer. 1.7 Sistematika Penyusunan Laporan Sistematika penyusunan laporan penelitian ini adalah sebagai berikut : BAB I PENDAHULUAN Membahas latar belakang masalah yang menjadi pokok persoalan dan alasan penelitian ini dibuat, perumusan dan pembatasan masalah, maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian, hipotesis, ruang lingkup pembahasan, dan sistematika penyusunan laporan, yang mejabarkan tentang isi dari penulisan penelitian ini. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Menerangkan teori yang berkaitan yang digunakan dalam penyusunan dan penulisan penelitian, di antaranya teori komunikasi, teori seni, teori fotografi, teori multimedia, dan teori biologi. BAB III METODE PENELITIAN Membahas tentang metode yang digunakan dalam penelitian, di antaranya metode dan lokasi penelitian, variabel penelitian, teknik pengambilan sampel, teknik pengumpulan data, dan teknik analisis data.

20 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Membahas tentang hasil penelitian yang bersumber dari data empiris hasil dari observasi dan eksperimentasi. Menjelaskan proses penelitian di lapangan yang berkaitan dengan upaya memperoleh tanaman yang dapat mewakili sampel dan populasi penelitian serta proses pengolahan di ruang kerja (laboratorium) hingga terwujudnya karya akhir (visual). BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Berisi tentang kesimpulan yang merupakan hasil telaah dan kajian dari penelitian secara keseluruhan, serta saran untuk perbaikan, baik secara kualitas maupun kuantitas di waktu mendatang.

21 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Setelah mengetahui perumusan dan pembatasan masalah maka diperlukan sebuah pendekatan untuk pemecahan masalah melalui teori-teori. Adapun teori-teori yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi adalah sebagai berikut : 2.1 Teori Komunikasi Secara primer proses komunikasi adalah proses penyampaian pikiran oleh komunikator kepada komunikan dengan menggunakan suatu lambang (symbol) sebagai media dan saluran. Lambang ini umumnya berbentuk bahasa, tetapi dalam situasi-situasi tertentu lambang-lambang yang digunakan dapat berupa kial (gesture), yaitu gerak anggota tubuh, gambar, warna, dan sebagainya. Tujuan dari komunikasi itu sendiri adalah mengubah sikap (attitude), opini (opinion), prilaku (behaviour), dan mengubah masyarakat (society). Dengan terlebih dahulu mengetahui sifat-sifat dari komunikan, dan mengetahui efek yang kita kehendaki dari mereka, maka pemilihan cara berkomunikasi sangat penting, karena ini ada kaitannya dengan pemilihan media yang akan digunakan. Komunikator dan komunikan akan memperhatikan pesan komunikasi bila berkaitan dengan kepentingannya. Media yang dipilih dipertimbangkan akan dapat mempresentasikan pesan komunikator dan menjangkau khalayak komunikan. Efek yang diharapkan akan muncul apabila ada kesamaan orientasi dan perilaku dari khalayak tentang pesan yang disampaikan. Menurut Wilbur Schram, jika sebuah pesan dapat disampaikan dengan baik maka harus dapat memenuhi beberapa persyaratan, yaitu : 1. Pesan harus dirancang dan disampaikan sedemikian rupa, sehingga dapat menarik perhatian komunikan. 2. Pesan harus memperhatikan lambang-lambang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan, sehingga dapat sama-sama mengerti.

22 3. Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan menyarankan beberapa cara untuk memperoleh kebutuhan tersebut. 4. Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memperoleh kebutuhan tadi yang layak baik situasi kelompok dimana komunikan berada pada saat ia digerakkan untuk memberikan tanggapan yang dikehendaki. Tetapi tidaklah mudah untuk melakukan komunikasi secara efektif. Bahkan beberapa ahli komunikasi menyatakan bahwa tidak mungkin seseorang dapat melakukan komunikasi jika terjadi sedikit saja hambatan. Ada banyak hambatan yang dapat merusak sebuah proses komunikasi, di antaranya : a. Gangguan Ada dua jenis gangguan terhadap jalannya komunikasi yang menurut sifatnya dapat diklasifikasikan sebagai gangguan mekanik dan gangguan semantik. 1. Gangguan Mekanik (Mechanical Channel Noise) Gangguan yang disebabkan oleh saluran komunikasi atau kegaduhan yang bersifat fisik. 2. Gangguan Semantik (Semantic Noise) Gangguan yang berkaitan dengan isi pesan komunikasi yang artinya menjadi rusak. b. Kepentingan Interest atau kepentingan akan membuat seseorang selektif dalam menanggapi atau menghayati suatu pesan. Orang akan memperhatikan perangsang yang ada hubungannya dengan kepentingannya. Kepentingan bukan hanya mempengaruhi perhatian saja tetapi juga menentukan daya tanggap, perasaan, pikiran, dan tingkah laku atau pertentangan dalam suatu kepentingan. c. Motivasi Terpendam Motivasi terpendam (motivation) akan mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu yang sesuai baik dengan keinginan, kebutuhan, dan kekurangannya.

23 Semakin sesuai komunikasi dengan motivasi maka semakin besar kemungkinan sebuah komunikasi dapat diterima dengan baik oleh pihak yang bersangkutan. Sebaliknya, komunikan akan mengabaikan suatu komunikasi yang dianggapnya tidak sesuai dengan motivasinya. d. Prasangka Prasangka (prejudice) merupakan salah satu rintangan atau hambatan berat bagi suatu kegiatan komunikasi, hal ini disebabkan orang yang mempunyai prasangka selalu curiga dan menentang komunikator yang hendak melancarkan komunikasi. Sesuatu yang objektif akan dinilai negatif, prasangka bukan saja dapat terjadi terhadap suatu ras, melainkan juga terhadap agama, pendirian politik, kelompok, singkatnya suatu perangsang yang dalam pengalaman pernah memberi kesan yang kurang baik. Hambatan komunikasi pada umumnya mempunyai dua sifat yaitu objektif dan subjektif. Hambatan yang sifatnya objektif adalah gangguan dan halangan terhadap jalannya komunikasi, yang tidak disengaja dibuat oleh pihak lain., tetapi mungkin disebabkan oleh keadaan yang tidak menguntungkan, misalnya : gangguan cuaca pada gelombang radio. Rintangan dan hambatan yang sifatnya objektif ini mungkin juga disebabkan oleh kurangnya kemampuan berkomunikasi antara komunikator dengan komunikan, cara penyajian yang kurang baik, waktu yang tidak tepat, penggunaan media yang keliru, dan sebagainya. Sedangkan hambatan yang bersifat subjektif adalah hambatan yang disengaja dibuat oleh orang lain, sehingga merupakan gangguan, dan pertentangan terhadap suatu usaha komunikasi. Dasar gangguan dan pertentangan ini biasanya disebabkan karena adanya pertentangan kepentingan, prasangka, tamak, iri hati, apatisme, dan sebagainya. Faktor kepentingan dan prasangka merupakan faktor yang paling berat, karena usaha yang paling sulit bagi seorang komunikator adalah mengadakan komunikasi dengan orang-orang yang jelas tidak menyenangi komunikator, atau penyajian pesan komunikasi yang berlawanan dengan fakta atau isinya yang mengganggu suatu kepentingan.

24 Gangguan dan hambatan tersebut dapat dikurangi jika semua pihak mengetahui cara-cara berkomunikasi dengan baik. Kita dapat berkomunikasi melalui beberapa cara (how to communicate), yaitu : 1. Komunikasi Tatap Muka (Face to Face Communication) Komunikasi tatap muka dipergunakan apabila kita mengharapkan efek perubahan tingkah laku (behaviour change), karena pada saat kita berkomunikasi kita memerlukan umpan balik secara langsung (immediate feedback). Dengan saling melihat, kita sebagai komunikator bisa mengetahui pada saat kita berkomunikasi apakah komunikan memperhatikan kita dan mengerti apa yang kita komunikasikan. Jika umpan baliknya positif, kita akan mempertahankan cara komunikasi yang kita pergunakan dan memeliharanya supaya umpan balik tetap menyenangkan kita. Bila sebaliknya, kita akan dapat mengubah teknik komunikasi kita sehingga komunikasi kita berhasil. 2. Komunikasi Bermedia (Mediated Communication) Komunikasi bermedia (public media dan mass media) pada umumnya banyak digunakan untuk komunikasi informatif, karena tidak begitu ampuh untuk mengubah tingkah laku. Terutama pada media massa, berbagai hasil penelitian menunjukan bahwa media massa kurang sekali keampuhannya dalam mengubah tingkah laku komunikan. Walaupun demikian, tetap ada untung ruginya. Kelemahan komunikasi bermedia adalah tidak persuasif, sebaliknya kekuatannya dapat mencapai komunikan dalam jumlah yang sangat besar. Komunikasi tatap muka kekuatannya ialah dalam hal mengubah tingkah laku komunikan, tetapi kelemahannya ialah bahwa komunikan yang dapat diubah tingkah lakunya itu relatif hanya sedikit saja, sejauh kita bisa berdialog dengannya. Atas dasar itulah, maka kalau kita hendak mengubah tingkah laku sejumlah komunikan, kita harus membaginya menjadi kelompok-kelompok kecil sehingga kita dapat berdialog dengannya.

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran matematika. Permasalahan ini relevan dengan bukti empiris yang. membaca atau mengerjakan soal-soal yang ada di dalamnya.

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran matematika. Permasalahan ini relevan dengan bukti empiris yang. membaca atau mengerjakan soal-soal yang ada di dalamnya. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kurang maksimalnya pemanfaatan media merupakan salah satu dari sekian banyak masalah dalam pembelajaran di sekolah termasuk pada mata pelajaran matematika. Permasalahan

Lebih terperinci

JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional

JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional KODE UNIT : TIK.MM01.009.01 JUDUL UNIT : Menerapkan Prinsip - Prinsip Rancangan Instruksional DESKRIPSI UNIT : Unit ini menjelaskan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk menggunakan prinsip

Lebih terperinci

Teknik dan Komposisi Fotografi/Sinematografi

Teknik dan Komposisi Fotografi/Sinematografi Teknik dan Komposisi Fotografi/Sinematografi Pertemuan I Perancangan Audio Visual Dosen : Donny Trihanondo, S.Ds., M.Ds. Freddy Yusanto, S.Sos., MDs. finisi Fotografi dan Sinematografi Fotografi : Kegiatan

Lebih terperinci

Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM

Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM Pendahuluan 0 Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model adalah guna menemukan peubah-peubah apa yang penting

Lebih terperinci

BAB III KONSEP PERANCANGAN

BAB III KONSEP PERANCANGAN BAB III KONSEP PERANCANGAN 3.1 Strategi Perancangan 3.1.1 Strategi Komunikasi Menurut Laswell komunikasi meliputi lima unsur yakni komunikator, pesan, media, komunikan, dan efek. komunikasi merupakan proses

Lebih terperinci

Pengembangan Media Video, Film, Televisi, dan CD

Pengembangan Media Video, Film, Televisi, dan CD Pengembangan Media Video, Film, Televisi, dan CD E N D I N G K H O E R U D D I N M E D I A P E M B E L A J A R A N B A H A S A J E R M A N J U R U S A N P E N D I D I K A N B A H A S A J E R M A N F P

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP. Walt Disney. Prinsip-prinsip ini digunakan untuk membantu produksi dan. animasi karakter kartun yang digambar manusial.

BAB IV KONSEP. Walt Disney. Prinsip-prinsip ini digunakan untuk membantu produksi dan. animasi karakter kartun yang digambar manusial. 20 BAB IV KONSEP 4.1 Landasan Teori. A. Teori Animasi Prinsip Animasi: 12 prinsip animasi dibuat dibuat di awal tahun 1930an oleh animator di Studio Walt Disney. Prinsip-prinsip ini digunakan untuk membantu

Lebih terperinci

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 disebutkan bahwa

Lebih terperinci

BAB III KONSEP PERANCANGAN VISUAL

BAB III KONSEP PERANCANGAN VISUAL BAB III KONSEP PERANCANGAN VISUAL 3.1 Strategi Perancangan Permasalahan yang ditemukan penulis setelah melakukan penelitian adalah mengenai kurangnya perhatian pengelola terhadap media informasi berupa

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Media Secara etimologi, kata media merupakan bentuk jamak dari medium, yang berasal dan bahasa Latin medius yang berarti tengah. Sedangkan dalam Bahasa Indonesia,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu

Lebih terperinci

GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015

GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015 1 GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015 Indonesia Art Award adalah program Yayasan Seni Rupa Indonesia yang diselenggarakan sejak 1994, berawal dengan nama Phillip Morris Indonesia Art Awards, bagian dari

Lebih terperinci

PENILAIAN ARSIP BENTUK KHUSUS, PERLU MEMPERHATIKAN KHUSUS Robertus Legowo Jati

PENILAIAN ARSIP BENTUK KHUSUS, PERLU MEMPERHATIKAN KHUSUS Robertus Legowo Jati PENILAIAN ARSIP BENTUK KHUSUS, PERLU MEMPERHATIKAN KHUSUS Robertus Legowo Jati Pendahuluan Penilaian arsip merupakan hal penting dalam upaya penyelamatan arsip. Pada hakekatnya penilaian arsip dapat diterapkan

Lebih terperinci

Kemampuan peserta. Daya Serap Peserta. Kemampuan pengajar. Efektifitas alat bantu pengajaran. Alat Bantu Pengajaran

Kemampuan peserta. Daya Serap Peserta. Kemampuan pengajar. Efektifitas alat bantu pengajaran. Alat Bantu Pengajaran Kemampuan peserta Kemampuan pengajar Daya Serap Peserta Efektifitas alat bantu pengajaran 2 Penglihatan 82% Pendengaran 11 % Penciuman 1 % Pencecapan 2,5 % Perabaan 3,5 % 3 10 % dari apa yang dibaca 20

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN 32 BAB 3 METODE PENELITIAN Dalam bagian ini akan dipaparkan, hal-hal yang berkaitan dengan (1) pendekatan penelitian, (2) sumber data dan data (korpus), (3) teknik penelitian, (4) model kontekstualisasi

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA SALINAN - 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2014 TENTANG PENGEMBANGAN, PEMBINAAN, DAN PELINDUNGAN BAHASA DAN SASTRA, SERTA PENINGKATAN FUNGSI BAHASA INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PENILAIAN PEMBELAJARAN

PENILAIAN PEMBELAJARAN PENILAIAN PEMBELAJARAN PENILAIAN APA PENILAIAN? APA PENILAIAN BERBASIS KOMPETENSI? BAGAIMANA CARANYA? PENILAIAN: PROSES SISTIMATIS MELIPUTI PENGUMPULAN INFORMASI (ANGKA, DESKRIPSI VERBAL), ANALISIS, INTERPRETASI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya perkembangan industri pertelevisian dewasa ini, membuat

BAB I PENDAHULUAN. Pesatnya perkembangan industri pertelevisian dewasa ini, membuat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya perkembangan industri pertelevisian dewasa ini, membuat persaingan antara media massa televisi tidak terelakkan lagi. Sebagai media audio visual, televisi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. wawancara antara peneliti dan informan. Penelitian kualitatif bertolak dari

BAB III METODE PENELITIAN. wawancara antara peneliti dan informan. Penelitian kualitatif bertolak dari 19 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian 1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian diskriptitf kualitatif yaitu penelitian tentang data yang dikumpulkan dan dinyatakan

Lebih terperinci

Gambar 3. Contoh prinsip keseimbangan horizontal

Gambar 3. Contoh prinsip keseimbangan horizontal Prinsip Desain Komunikasi Visual Perancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Sarana Kampanye Imunisasi Campak Di Denpasar Bali Kiriman I Ketut Baskara, Mahasiswa PS. Desain Komunikasi Visual ISI Denpasar

Lebih terperinci

TEKNIK PRESENTASI YANG BAIK

TEKNIK PRESENTASI YANG BAIK TEKNIK PRESENTASI YANG BAIK Fitri Rahmawati, MP. Jurusan Pendidikan Teknik Boga dan Busana Fakultas Teknik UNY email: fitri_rahmawati@uny.ac.id Seni Berbicara Kemampuan menggabungkan: Penguasaan Pesan

Lebih terperinci

2/22/2012 METODE PEMBELAJARAN

2/22/2012 METODE PEMBELAJARAN METODE PEMBELAJARAN Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan strategi yang sudah direncanakan. Jenis metode pembelajaran : Ceramah : penyajian melalui penuturan secara lisan/penjelasan

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH BAGI WIDYAISWARA

PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH BAGI WIDYAISWARA PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA NOMOR 9 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN KARYA TULIS ILMIAH BAGI WIDYAISWARA LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA JAKARTA 2008 PERATURAN KEPALA LEMBAGA ADMINISTRASI

Lebih terperinci

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender

Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender Sesi 8: Pemberitaan tentang Masalah Gender 1 Tujuan belajar 1. Memahami arti stereotip dan stereotip gender 2. Mengidentifikasi karakter utama stereotip gender 3. Mengakui stereotip gender dalam media

Lebih terperinci

PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM TALK SHOW EMPAT MATA DI TRANS 7

PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM TALK SHOW EMPAT MATA DI TRANS 7 PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DALAM TALK SHOW EMPAT MATA DI TRANS 7 SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Diajukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan.

BAB III METODE PENELITIAN. data yang ada dalam ini adalah upaya guru PAI dalam pengembangan. data untuk memberi gambaran penyajian laporan. 52 BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Sesuai dengan judul yang peneliti angkat, maka penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, fenomenologis dan berbentuk diskriptif.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. communicatio yang diturunkan dari kata communis yang berarti membuat

BAB I PENDAHULUAN. communicatio yang diturunkan dari kata communis yang berarti membuat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu communicatio yang diturunkan dari kata communis yang berarti membuat kebersamaan antara dua orang

Lebih terperinci

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit

Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit esaunggul.ac.id http://www.esaunggul.ac.id/article/merancang-strategi-komunikasi-memenangkan-pemilih-dan-kelompok/ Merancang Strategi Komunikasi Memenangkan Pemilih Dan Kelompok - edit Dr. Erman Anom,

Lebih terperinci

SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL

SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL SISTEM KOMUNIKASI INTERPERSONAL Pertemuan ke 5 suranto@uny.ac.id 1 Pengertian Komunikasi interpersonal atau disebut juga komunikasi antarpribadi adalah komunikasi yang dilakukan dua orang atau lebih dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya.

BAB I PENDAHULUAN. perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Roda pemerintahan terus bergulir dan silih berganti. Kebijakan baru dan perubahan sistem kerap muncul sebagai bentuk reformasi dari sistem sebelumnya. Dampak

Lebih terperinci

Beri tanda [v] pada statement di bawah ini yang sesuai dengan diri Anda saat ini. Jumlahkan tanda [v] pada masing-masing kolom.

Beri tanda [v] pada statement di bawah ini yang sesuai dengan diri Anda saat ini. Jumlahkan tanda [v] pada masing-masing kolom. Beri tanda [v] pada statement di bawah ini yang sesuai dengan diri Anda saat ini. Jumlahkan tanda [v] pada masing-masing kolom. Suka menulis kreatif Menonjol dalam kelas seni di sekolah Mengarang kisah

Lebih terperinci

Teknologi & Media Pembelajaran

Teknologi & Media Pembelajaran Teknologi & Media Pembelajaran Oleh: Khairul Umam dkk 1.1 Pengertian Secara etimologi, kata "media" merupakan bentuk jamak dari "medium", yang berasal dan Bahasa Latin "medius" yang berarti tengah. Sedangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Lagu wajib nasional adalah lagu-lagu mengenai perjuangan dan nasionalisme bangsa yang wajib untuk dihapalkan oleh peserta didik. Lagu wajib nasional sebagai

Lebih terperinci

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012

IKLIM ORGANISASI. Rangkaian Kolom Kluster I, 2012 IKLIM ORGANISASI Sebuah mesin memiliki batas kapasitas yang tidak dapat dilampaui berapapun besaran jumlah energi yang diberikan pada alat itu. Mesin hanya dapat menghasilkan produk dalam batas yang telah

Lebih terperinci

- Menyusun, memotong dan memadukan kembali (film/rekaman) menjadi sebuah cerita utuh dan lengkap. (kamus besar bahasa indonesia, P&K 1994)

- Menyusun, memotong dan memadukan kembali (film/rekaman) menjadi sebuah cerita utuh dan lengkap. (kamus besar bahasa indonesia, P&K 1994) Tahapan Pelakasanaan Produksi Suatu produksi audio video yang melibatkan banyak orang, biaya yang besar dan banyak peralatan maka perlu pengorganisasian yang rapi dan perlu suatu tahapan produksi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung:

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan unsure yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Dalam pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah, pendidik merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung pada

Lebih terperinci

TINGKAH LAKU DIMUKA PUBLIK KOMUNIKASI POKOK-POKOK KULIAH PADA PASCASARJANA UNAIR. Oleh : PROF. HARYONO SUYONO, MA., PHD. 09 April 2007 FK UNAIR

TINGKAH LAKU DIMUKA PUBLIK KOMUNIKASI POKOK-POKOK KULIAH PADA PASCASARJANA UNAIR. Oleh : PROF. HARYONO SUYONO, MA., PHD. 09 April 2007 FK UNAIR TINGKAH LAKU DIMUKA PUBLIK POKOK-POKOK KULIAH KOMUNIKASI PADA PASCASARJANA UNAIR Oleh : PROF. HARYONO SUYONO, MA., PHD. 09 April 2007 FK UNAIR 1 STRATEGI KOMUNIKASI 09 April 2007 FK UNAIR 2 MODEL UTAMA

Lebih terperinci

BAB 7 RUANG LINGKUP, TUJUAN, PRINSIP, STRATEGI DAN FUNGSI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

BAB 7 RUANG LINGKUP, TUJUAN, PRINSIP, STRATEGI DAN FUNGSI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN MATERI KULIAH KOMUNIKASI PEMBANGUNAN BAB 7 RUANG LINGKUP, TUJUAN, PRINSIP, STRATEGI DAN FUNGSI KOMUNIKASI PEMBANGUNAN Materi Kuliah Komunikasi Pembangunan Hal 1 A. RUANG LINGKUP KOMUNIKASI PEMBANGUNAN

Lebih terperinci

Fokus kami adalah memberi tahu Anda bila perlu dan membantu mengambil data yang tepat dalam waktu singkat. Analisis Video Pintar

Fokus kami adalah memberi tahu Anda bila perlu dan membantu mengambil data yang tepat dalam waktu singkat. Analisis Video Pintar Fokus kami adalah memberi tahu Anda bila perlu dan membantu mengambil data yang tepat dalam waktu singkat. Analisis Video Pintar Penambahan penginderaan dan struktur Bila memerlukan pengawasan video, yang

Lebih terperinci

Fungsi dan Peranan Iklan pada televisi

Fungsi dan Peranan Iklan pada televisi Fungsi dan Peranan Iklan pada televisi Definisi Iklan Iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi seseorang pembeli potensial dan mempromosikan penjual suatu produk atau jasa,

Lebih terperinci

Dunia Nyata atau Maya

Dunia Nyata atau Maya Dunia Nyata atau Maya Ketegangan sangat terasa di ruang bedah itu. Sedikit saja kesalahan bisa berakibat fatal. Tim medis yang terdiri dari dokter-dokter ahli bedah di seluruh dunia itu memang sudah memiliki

Lebih terperinci

pula motivasi kerja menunjukkan tingkat yang cukup tinggi. Ternyata kedemokratisannya mampu mempengaruhi motivasi kerja yang cukup

pula motivasi kerja menunjukkan tingkat yang cukup tinggi. Ternyata kedemokratisannya mampu mempengaruhi motivasi kerja yang cukup BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan 1. Pengaruh Gaya Kepemimpinan Demokratis terhadap Motivasi Kerja Gaya kepemimpinan yang meliputi dimensi Pengambilan Keputusan, Penegakan Disiplin,

Lebih terperinci

BENTUK KOMUNIKASI. By : Lastry. P, SST

BENTUK KOMUNIKASI. By : Lastry. P, SST BENTUK KOMUNIKASI By : Lastry. P, SST 1. KOMUNIKASI INTRAPERSONAL Komunikasi yang terjadi dalam diri individu. Berfungsi : 1. Untuk mengembangkan kreativitas imajinasi, mamahami dan mengendalikan diri,

Lebih terperinci

PANDUAN EVALUASI KEMAMPUAN SAINS ANAK USIA DINI

PANDUAN EVALUASI KEMAMPUAN SAINS ANAK USIA DINI PANDUAN EVALUASI KEMAMPUAN SAINS ANAK USIA DINI KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini Non Formal dan Informal (P2PAUDNI) Regional II Semarang Tahun 2014 PENILAIAN

Lebih terperinci

BAB 1 SIKAP (ATTITUDE)

BAB 1 SIKAP (ATTITUDE) Psikologi Umum 2 Bab 1: Sikap (Attitude) 1 BAB 1 SIKAP (ATTITUDE) Bagaimana kita suka / tidak suka terhadap sesuatu dan pada akhirnya menentukan perilaku kita. Sikap: - suka mendekat, mencari tahu, bergabung

Lebih terperinci

DIKOTOMI TULISAN WRITER IN YOU

DIKOTOMI TULISAN WRITER IN YOU DIKOTOMI TULISAN Bicara soal genre tulisan, maka kita bicara pada dua segmen, fiksi dan nonfiksi. Mana yang rasanya kita punya passion di situ, maka jenis tulisan itulah yang sebaiknya kita tekuni. Namun,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN BARAT, Menimbang : a. Bahwa karya cetak

Lebih terperinci

Tipe-tipe komunikasi. Puri Kusuma D.P

Tipe-tipe komunikasi. Puri Kusuma D.P Tipe-tipe komunikasi Puri Kusuma D.P a)komunikasi kesehatan b)komunikasi politik c) Komunikasi bisnis d)komunikasi keluarga e) dll Konteks-konteks komunikasi Komunikasi tidak berlangsung dalam ruang hampa-sosial,

Lebih terperinci

KONTRIBUSI DALAM RAPAT DAN RAPAT YANG EFEKTIF

KONTRIBUSI DALAM RAPAT DAN RAPAT YANG EFEKTIF KONTRIBUSI DALAM RAPAT DAN RAPAT YANG EFEKTIF Oleh: Iqbal Islami *) ABSTRAK Kontribusi dalam rapat merupakan kompetensi yang penting dimiliki para peserta rapat untuk mewujudkan rapat yang efektif. Tingkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makanan merupakan kebutuhan pokok bagi makhluk hidup untuk bertahan dan hidup. Tanpa makanan, manusia tidak dapat bertahan karena manusia menempati urutan teratas dalam

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada bab ini akan disajikan hasil penelitian tindakan kelas yang berupa hasil tes dan nontes. Hasil tes meliputi siklus I dan siklus II. Hasil

Lebih terperinci

Teknologi 4K ultra HD. Fokus kami adalah memungkinkan setiap detail terlihat begitu jelas, di mana pun

Teknologi 4K ultra HD. Fokus kami adalah memungkinkan setiap detail terlihat begitu jelas, di mana pun Teknologi 4K ultra HD Fokus kami adalah memungkinkan setiap detail terlihat begitu jelas, di mana pun 2 Teknologi 4K ultra HD Memungkinkan setiap detail terlihat begitu jelas, di mana pun Meliputi area

Lebih terperinci

PEMBUATAN APLIKASI PEMBELAJARAN INTERAKTIF SEBAGAI ALAT BANTU BELAJAR MEMASAK PADA ANAK-ANAK

PEMBUATAN APLIKASI PEMBELAJARAN INTERAKTIF SEBAGAI ALAT BANTU BELAJAR MEMASAK PADA ANAK-ANAK PEMBUATAN APLIKASI PEMBELAJARAN INTERAKTIF SEBAGAI ALAT BANTU BELAJAR MEMASAK PADA ANAK-ANAK Dhiani Tresna Absari 1, Andryanto 1 1 Jurusan Teknik Informatika Universitas Surabaya Jl. Raya Kalirungkut,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini. Proses pendidikan seumur hidup itu lebih dikenal dengan istilah long life

BAB I PENDAHULUAN. ini. Proses pendidikan seumur hidup itu lebih dikenal dengan istilah long life 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya pendidikan adalah laksana eksperimen yang tidak pernah selesai sampai kapan pun, sepanjang ada kehidupan manusia di dunia ini. Proses pendidikan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Examples Non Examples Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga lima orang dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja

Lebih terperinci

BANK KATA: Ide Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Oleh: Asri Musandi Waraulia, M.Pd.

BANK KATA: Ide Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Oleh: Asri Musandi Waraulia, M.Pd. BANK KATA: Ide Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Oleh: Asri Musandi Waraulia, M.Pd. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mempunyai empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menulis,

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. kondisi langsung belajar dalam menjelaskan tingkah laku. Menurut teori ini, semua

Bab 2. Landasan Teori. kondisi langsung belajar dalam menjelaskan tingkah laku. Menurut teori ini, semua Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Behavioristik Teori ini menekankan proses belajar serta peranan lingkungan yang merupakan kondisi langsung belajar dalam menjelaskan tingkah laku. Menurut teori ini, semua

Lebih terperinci

Survei: Sebuah Perjalanan Mengenal Nusantara

Survei: Sebuah Perjalanan Mengenal Nusantara Survei: Sebuah Perjalanan Mengenal Nusantara Negara ini luas. Indonesia, dengan segala kekayaannya, hamparan pulau ini layaknya sebuah surga untuk mereka yang merasa memilikinya. Penjelajahan mengelilingi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemahaman Konsep Matematika Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhamad Arshif Barqiyah, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhamad Arshif Barqiyah, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gerak merupakan hakikat manusia, bergerak adalah salahsatu aktivitas yang tidak akan luput dari kehidupan manusia dalam melaksanakan aktivitasnya seharihari.

Lebih terperinci

Belajar Fotografi = Paham Dasar-Dasar Fotografi dan Kamera oleh Mishbahul Munir, Poetrafoto Photography Studio Yogyakarta Indonesia

Belajar Fotografi = Paham Dasar-Dasar Fotografi dan Kamera oleh Mishbahul Munir, Poetrafoto Photography Studio Yogyakarta Indonesia BASIC PHOTOGRAPHY: Belajar Fotografi = Paham Dasar-Dasar Fotografi dan Kamera oleh Mishbahul Munir, Poetrafoto Photography Studio Yogyakarta Indonesia Saya punya pendapat yang simpel soal fotografi. Belajar

Lebih terperinci

PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai

PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH. Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai PESAN NILAI KESETIAKAWANAN SOSIAL PADA FILM RUMAH TANPA JENDELA (Analisis Semiotik Pada Film Rumah Tanpa Jendela) NASKAH PUBLIKASI KARYA ILMIAH Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK

PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

Lebih terperinci

KONSEP DASAR. Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktorfaktor

KONSEP DASAR. Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktorfaktor KONSEP DASAR Manusia : mahluk reaktif yang tingkah lakunya dikontrol/dipengaruhi oleh faktorfaktor dari luar Manusia memulai kehidupannya dengan memberikan reaksi terhadap lingkungannya dan interaksi ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan yang siap untuk berkompetisi harus memiliki manajemen yang efektif dalam meningkatkan kinerja karyawan. Dalam hal ini diperlukan dukungan karyawan yang cakap

Lebih terperinci

Satu Dekade komunitas Ininnawa Makassar. Oleh : Sunardi Sunardi Senin, 15 Pebruari 2010 13:20

Satu Dekade komunitas Ininnawa Makassar. Oleh : Sunardi Sunardi Senin, 15 Pebruari 2010 13:20 Pewarta-Indonesia, Tepat pukul 02.00 wita, saat pagi masih buta, duduk membentuk segitiga, memori itu perlahan kembali dibuka. Memoar perjalanan yang sudah lama terpendam, tapi masih tetap eksis dikepala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. I.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Masalah Etika merupakan refleksi atas moralitas. Akan tetapi, sebagai bagian dari ilmu pengetahuan, etika bukan sekedar refleksi tetapi refleksi ilmiah tentang tingkah

Lebih terperinci

STANDAR MANUAL GRAFIS

STANDAR MANUAL GRAFIS STANDAR MANUAL GRAFIS DAFTAR ISI BAB I: KONFIGURASI LOGO BAB IV: ELEMEN GRAFIS Deskripsi Logo 01 Sistem Warna 21 Area Bersih Logo 02 Ikon Subsektor 22 Ukuran Minimum 03 Penggunaan Warna 04 Logo dengan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi secara kuantitatif dan kualitatif. Dimana analisis

Lebih terperinci

TATA-TERTIB PERKULIAHAN

TATA-TERTIB PERKULIAHAN Mata Kuliah : KREATIVITAS SKS : 2 sks Dosen : Tim Deskripsi Kreativitas adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mewujudkan suatu ide baru. Kemampuan tersebut dapat diperoleh dari akal pikiran

Lebih terperinci

KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI

KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI KOMUNIKASI DALAM ORGANISASI Semua gagasan besar manajemen hanya akan terhenti di dibelakang meja saja, apabila para pemimpin tidak memiliki kemampuan penyampaian pesan melalui komunikasi. Rencana seorang

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh : Mevi Isnaini Rizkiyana NIM 080210201025

SKRIPSI. Oleh : Mevi Isnaini Rizkiyana NIM 080210201025 PENINGKATAN MINAT BACA ANAK MELALUI METODE BERCERITA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA DI KELOMPOK B4 TAMAN KANAK-KANAK (TK) AL-AMIEN KECAMATAN PATRANG KABUPATEN JEMBER TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh :

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian yang akan dilaksanakan, jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dalam bentuk studi kasus. Penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian BAB III METODE PENELITIAN III.1 Pendekatan Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian yang diteliti sehingga

Lebih terperinci

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini.

MUKADIMAH. Untuk mewujudkan keluhuran profesi dosen maka diperlukan suatu pedoman yang berupa Kode Etik Dosen seperti dirumuskan berikut ini. MUKADIMAH STMIK AMIKOM YOGYAKARTA didirikan untuk ikut berperan dalam pengembangan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dibidang manajemen, teknologi, dan kewirausahaan, yang akhirnya bertujuan untuk memperoleh

Lebih terperinci

KOMUNIKASI EFEKTIF. 1. Mengapa Kita Berkomunikasi? 2. Macam-Macam Komunikasi 3. Cara Berkomunikasi 4. Komunikasi Efektif. Hatiningrum, SH.

KOMUNIKASI EFEKTIF. 1. Mengapa Kita Berkomunikasi? 2. Macam-Macam Komunikasi 3. Cara Berkomunikasi 4. Komunikasi Efektif. Hatiningrum, SH. KOMUNIKASI EFEKTIF Modul ke: 05 Udjiani Fakultas PSIKOLOGI 1. Mengapa Kita Berkomunikasi? 2. Macam-Macam Komunikasi 3. Cara Berkomunikasi 4. Komunikasi Efektif Hatiningrum, SH., M Si Program Studi PSIKOLOGI

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan seorang peneliti harus memahami metodologi penelitian yang merupakan

Lebih terperinci

bahaya penyakit campak serta imunisasi campak sebagai pencegahan penyakit campak secara singkat padat dan jelas sehingga tujuan dapat tercapai

bahaya penyakit campak serta imunisasi campak sebagai pencegahan penyakit campak secara singkat padat dan jelas sehingga tujuan dapat tercapai Konsep DesainPerancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Sarana Sarana Kampanye Imunisasi Campak Di Denpasar Bali Kiriman I Ketut Baskara, Mahasiswa PS. Desain Komunikasi Visual ISI Denpasar 3.1 Konsep

Lebih terperinci

Sabtu, 1 Desember 2012

Sabtu, 1 Desember 2012 BlanKonf #4 Desain Grafis Sabtu, 1 Desember 2012 princeofgiri@di.blankon.in @princeofgiri Komponen Desain Grafis Garis Bentuk (Shape) Warna Ilustrasi / Gambar Huruf (Teks) / Tipografi Ruang (Space) Garis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Konsumen biasanya membeli suatu produk karena alasan. kebutuhan. Namun ada alasan atau faktor- faktor lain yang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Konsumen biasanya membeli suatu produk karena alasan. kebutuhan. Namun ada alasan atau faktor- faktor lain yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Konsumen biasanya membeli suatu produk karena alasan kebutuhan. Namun ada alasan atau faktor- faktor lain yang turut serta mempengaruhi konsumen dalam keputusan pembeliannya,

Lebih terperinci

Belajar menjadi Mudah dan Menyenangkan

Belajar menjadi Mudah dan Menyenangkan Belajar menjadi Mudah dan Menyenangkan KASUS I Dominasi guru (teacher center) Siswa sebagai objek pembelajar Sumber belajar terbatas Kurang komunikatif Berfikir tingkat rendah Pembelajaran tidak menyenangkan

Lebih terperinci

BAB II CITRA DIGITAL

BAB II CITRA DIGITAL BAB II CITRA DIGITAL DEFINISI CITRA Citra adalah suatu representasi(gambaran),kemiripan,atau imitasi dari suatu objek. DEFINISI CITRA ANALOG Citra analog adalahcitra yang bersifat kontinu,seperti gambar

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas teori yang berkaitan dengan pemrosesan data untuk sistem pengenalan gender pada skripsi ini, meliputi cropping dan resizing ukuran citra, konversi citra

Lebih terperinci

KONSEP DASAR. Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional

KONSEP DASAR. Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional KONSEP DASAR Manusia padasarnya adalah unik memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2008 TENTANG STANDAR KUALIFIKASI AKADEMIK DAN KOMPETENSI KONSELOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL,

Lebih terperinci

Oleh: HARRY SULASTIANTO

Oleh: HARRY SULASTIANTO Oleh: HARRY SULASTIANTO PENGERTIAN KARYA TULIS ILMIAH Karya seorang ilmuwan (yang berupa hasil pengembangan) yang ingin mengembangkan ipteks yang diperolehnya melalui studi kepustakaan, pengalaman, penelitian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Koran saat sarapan, kita bisa melihat foto-foto laki-laki dan perempuan yang

BAB I PENDAHULUAN. Koran saat sarapan, kita bisa melihat foto-foto laki-laki dan perempuan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada abad ini merupakan abad visual. Masyarakat dibombardir dengan berbagai gambar sejak pagi hingga malam. Misalnya saja dengan hanya membuka Koran saat sarapan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab,

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Metode tanya-jawab seringkali dikaitkan dengan kegiatan diskusi, seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, meskipun

Lebih terperinci

KURIKULUM DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

KURIKULUM DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR KURIKULUM DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR 1. Model Pengembangan Kurikulum A. Model Tyler Model ini dikembangkan dengan prinsip komprehensif yang mementingkan pada tujuan pendidikan. Tujuan pendidikan itu sendiri

Lebih terperinci

KERANGKA ISI LAPORAN PENELITIAN

KERANGKA ISI LAPORAN PENELITIAN KERANGKA ISI LAPORAN PENELITIAN 1) JUDUL, Pernyataan mengenai maksud penulisan laporan penelitian 2) Nama dan tim peneliti 3) KATA PENGANTAR 4) ABSTRAK 5) DAFTAR ISI 6) DAFTAR TABEL 7) DAFTAR GAMBAR 8)

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan. September 2011 merupakan awal mula dimana saya mendalami seni rupa

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penciptaan. September 2011 merupakan awal mula dimana saya mendalami seni rupa I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penciptaan September 2011 merupakan awal mula dimana saya mendalami seni rupa di Program Pascasarjana ISI Yogyakarta. Di kampus inilah saya banyak bertemu dengan seniman,

Lebih terperinci

Peta Ovi untuk ponsel. Edisi 1

Peta Ovi untuk ponsel. Edisi 1 Peta Ovi untuk ponsel Edisi 1 2 Daftar Isi Daftar Isi Ikhtisar peta 3 Posisi saya 4 Melihat lokasi dan peta 4 Tampilan peta 5 Mengubah tampilan peta 5 Men-download dan memperbarui peta 5 Menggunakan kompas

Lebih terperinci

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT A. PENDAHULUAN Pembinaan masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah dengan melakukan perubahan bentuk perilaku yang didasarkan pada kebutuhan atas kondisi lingkungan yang bersih

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. dasar itu khususnya adalah pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang

BAB II KAJIAN TEORI. dapat diajarkan dengan pola selangkah demi selangkah. dasar itu khususnya adalah pengetahuan prosedural yaitu pengetahuan tentang BAB II KAJIAN TEORI A. Kerangka Teoretis 1. Model Pembelajaran Langsung Model pembelajaran langsung khusus dirancang untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan pengetahuan deklaratif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sehat jasmani dan rohani serta memiliki keterampilan yang tinggi. Kunci

BAB I PENDAHULUAN. sehat jasmani dan rohani serta memiliki keterampilan yang tinggi. Kunci BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Suatu perusahaan yang baik perlu adanya pembinaan dan pemanfaatan sumber daya manusia agar dapat menghasilkan tenaga kerja yang berkualitas, sehat jasmani

Lebih terperinci

KOMUNIKASI EFEKTIF. Memudahkan dalam memenuhi kebutuhan kita dengan cara menumbuhkan rasa hormat, percaya dan harmoni.

KOMUNIKASI EFEKTIF. Memudahkan dalam memenuhi kebutuhan kita dengan cara menumbuhkan rasa hormat, percaya dan harmoni. KOMUNIKASI EFEKTIF Memudahkan dalam memenuhi kebutuhan kita dengan cara menumbuhkan rasa hormat, percaya dan harmoni Muhammad Hamdi Pokok bahasan Tentang kebutuhan manusia Apakah komunikasi itu? Mengapa

Lebih terperinci