Bab IV Hasil dan Pembahasan

Save this PDF as:

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Bab IV Hasil dan Pembahasan"

Transkripsi

1 33 Bab IV Hasil dan Pembahasan Pada bab ini dilaporkan hasil sintesis dan karakterisasi dari senyawa yang disintesis. Senyawa disintesis menggunakan metoda deposisi dalam larutan pada temperatur rendah dengan variasi konsentrasi, waktu deposisi dan pemberian medan listrik eksternal. Senyawa hasil sintesis dikarakterisasi dengan menggunakan difraksi sinar-x (X-Rays Diffraction, XRD) untuk mengetahui struktur kristal dengan melihat indeks dari puncak-puncak yang muncul, kemudian dibandingkan dengan pola difraksi standar yang terdapat pada data Powder Diffraction File (PDF) yaitu JCPDS No Gambar IV.1 Pola difraksi ZnO berdasarkan JCPDS no Dari pola difraksi pada Gambar IV.1 terlihat puncak-puncak karakteristik ZnO pada 2ɵ di 31,769 ; 34,421 ; 36,252 ; 47,538 ; 56,602 ; 62,862 ; 66,378 ; 67,961 ; 69,098 yang merupakan puncak refleksi dengan hkl berturut-turut adalah (100), (002), (101), (102), (110), (103), (200), (112), dan (201). (26) Karakterisasi lain yang dilakukan adalah pemeriksaan morfologi, distribusi dan ukuran kristal yang dihasilkan dalam sampel menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM). Pengukuran fotoluminesen dilakukan untuk mengetahui karakter optik dari senyawa yang disintesis dengan menggunakan spektrofluorometer tipe RF-5301PC.

2 34 IV.1 Hasil Sintesis dan Analisis Karakterisasi Pada penelitian ini digunakan zink nitrat heksahidrat (Zn(NO 3 ) 2.6H 2 O) dan metenamin (C 6 H 12 N 4 ) sebagai prekursor. Zn(NO 3 ) 2.6H 2 O sebagai sumber ion Zn 2+ dan metenamin sebagai buffer ph dengan melepaskan ion-ion OH - secara lambat melalui dekomposisi termal. Ketika metenamin ditambahkan ke larutan Zn(NO 3 ) 2, tidak ada endapan yang terjadi, namun ketika suhu meningkat endapan Zn(OH) 2 terbentuk. Inti ZnO terbentuk dari endapan yang terdeposisi pada substrat dan kemudian tumbuh menjadi kristal. (6) Digunakan gelas ITO (Indium Tin Oxide) sebagai substrat karena ITO mempunyai banyak kelebihan seperti sifat konduktivitas listrik yang tinggi, transparansi optik, transmisi cahaya UV-Infra merah dekat yang tinggi, tingkat homogenitas transmisi yang tinggi dan refleksi pada daerah infra merah. Selain itu, faktor penting dalam pemilihan ITO sebagai substrat karena ketidakcocokan kisi yang kecil (3%) antara jarak oksigen-oksigen (O-O) yang bertetangga pada bidang closed-packed ITO (111) dengan bidang ZnO (001), dan dangling bond O pada lapisan permukaan ITO sangat mendukung proses pengintian awal dan pertumbuhan film ZnO kualitas tinggi pada substrat ( 6, 27 ) ITO. Proses penumbuhan kristal ZnO di atas substrat ITO dilakukan menggunakan metoda deposisi dalam larutan prekursor di mana pada metoda ini terdapat dua tahap pembentukan kristal yaitu pembentukan inti dan pertumbuhan yang didasarkan pada pembentukan fase padat dari larutan. Pada proses pembentukan inti, kluster-kluster molekul yang terbentuk dengan cepat terdekomposisi dan partikel-partikel bergabung untuk tumbuh membentuk lapisan film tertentu pada substrat gelas ITO. (6) Proses sintesis dilakukan pada berbagai konsentrasi prekursor. Hal ini dilakukan untuk melihat perubahan morfologi dan ukuran dari kristal ZnO yang disintesis. Dari hasil karakterisasi menggunakan XRD, terlihat bahwa pada berbagai konsentrasi prekursor, pola XRD yang dihasilkan menunjukkan bahwa senyawa yang terdeposisi pada substrat gelas ITO merupakan ZnO dengan struktur wurtzit heksagonal. Munculnya puncak-puncak di 2ɵ 31,57º; 34,31º; 36,13º; 47,28º;

3 35 56,46º (Gambar IV.2) yang sesuai dengan pola difraktogram standar dari ZnO pada JCPDS No (Gambar IV.1) dengan konstanta kisi ɵ = 3,25 Å dan c = 5,21 Å. (26) (100) Intensitas (a.u) (002) (101) ZnO 100 mm, 0 V/cm, 8 Jam ZnO 10 mm, 0 V/cm, 8 Jam (100) ZnO 1 mm, 0 V/cm, 8 Jam θ ( 0 ) Gambar IV.2 Pola difraksi ZnO pada berbagai konsentrasi prekursor tanpa pengaruh medan listrik eksternal. Dari pola difraksi tersebut di atas, tidak terlihatnya puncak-puncak karakteristik dari pengotor menunjukkan bahwa senyawa yang disintesis murni fasa ZnO. Puncak-puncak difraksi yang tajam menunjukkan kristalinitas yang baik dari kristal yang telah disintesis. Adanya perbedaan intensitas relatif antara pola difraksi senyawa hasil sintesis dengan pola difraksi standar dari material ZnO ruah disebabkan oleh orientasi dan distribusi dari kristal-kristal ZnO pada permukaan substrat. (7) IV.1.1 Pengaruh Konsentrasi Prekursor Terhadap Ukuran dan Morfologi dari Kristal ZnO Berdasarkan pola difraksi pada Gambar IV.2 dapat dilihat adanya peningkatan intensitas puncak difraksi dengan meningkatnya konsentrasi prekursor yang digunakan. Pada konsentrasi prekursor 1 mm, terlihat intensitas puncak refleksi (100) yang rendah menunjukkan bahwa kristal ZnO yang dihasilkan masih

4 36 bersifat amorf atau mempunyai kerapatan kristal yang rendah. Pada konsentrasi prekursor 10 mm, terlihat puncak refleksi (100), (101) dengan intensitas yang cukup tinggi meskipun puncak refleksi (002) menunjukkan intensitas yang masih rendah. Tetapi pada konsentrasi prekursor 100 mm, intensitas puncak refleksi (002) mengalami peningkatan sedangkan puncak refleksi lainnya hampir tidak mengalami perubahan seperti pada konsentrasi prekursor 10 mm. Pernyataan adanya pengaruh konsentrasi prekursor terhadap pertumbuhan kristal ZnO juga didukung oleh hasil karakterisasi menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) yang telah dilakukan seperti terlihat pada Gambar IV.3. Gambar IV.3 memperlihatkan adanya perbedaan bentuk dan ukuran dari kristal ZnO yang dihasilkan. Pada konsentrasi prekursor 1 mm, nanorods ZnO yang dihasilkan belum menunjukkan kristalinitas yang baik dimana bentuk struktur belum heksagonal, ukuran kristal serta orientasi juga belum seragam. Hal ini juga didukung oleh data pola difraksi sinar-x yang telah dibahas sebelumnya (Gambar IV.2). Pada konsentrasi prekursor 10 mm, nanorods ZnO telah berbentuk heksagonal dan seragam dengan diameter sekitar nm, namun orientasi kristal belum seragam. Arah pertumbuhan kristal pada sumbu-a masih lebih dominan daripada sumbu-c yang juga telah ditunjukkan pada pola difraksi dimana puncak (100) lebih tinggi tinggi daripada puncak (002). Namun pada konsentrasi prekursor 100 mm, kristalinitas dari nanorods ZnO meningkat dengan bentuk kristal yang seragam dan struktur heksagonal jelas terlihat meskipun masih terdapat perbedaan ukuran diameter kristal. Nanorods yang dihasilkan rata-rata berukuran 600 nm dengan orientasi pada sumbu-c lebih dominan daripada sumbu-a dan sesuai dengan pola difraksi yang dihasilkan (Gambar IV.2). Secara umum, ukuran dari nanorods ZnO menjadi lebih besar dengan meningkatnya konsentrasi prekursor. Hal ini menandakan bahwa konsentrasi prekursor merupakan faktor penting yang mempengaruhi ukuran dan morfologi dari nanorods, disebabkan oleh difusi kritis dari monomer-monomer, keterbatasan pertumbuhan, kondisi pengendapan dan kekuatan ionik pada proses ageing serta (6, 28) tegangan antar muka.

5 37 Gambar IV.3 Foto SEM dari nanorods ZnO dengan perbedaan konsentrasi prekursor dengan waktu deposisi 8 jam tanpa adanya pengaruh medan listrik. (a) 1 mm; (b) 10 mm; (c) 100 mm.

6 38 IV.1.2 Pengaruh Konsentrasi Prekursor Terhadap Sifat Optik dari Kristal ZnO Untuk menentukan sifat optik dari kristal ZnO dapat dilakukan dengan pengukuran fotoluminisensi. Spektrum Fotoluminesen (PL) dari nanorods ZnO dilakukan pada suhu kamar dengan daerah panjang gelombang nm menggunakan panjang gelombang eksitasi 325 nm mm 0 V/cm 10 mm 0 V/cm 100 mm 0 V/cm Intensitas PL (a.u) Panjang Gelombang (nm) Gambar IV.4 Spektrum PL dari nanorods ZnO pada substrat gelas ITO dengan perbedaan konsentrasi prekursor dan waktu deposisi selama 8 jam, diukur pada suhu ruang. Gambar IV.4 menunjukkan spektrum PL dari nanorods ZnO pada berbagai konsentrasi prekursor yang diukur pada suhu ruang. Dari gambar tersebut terlihat bahwa spektrum terdiri dari puncak tajam emisi violet (UV) pada daerah 360 dan 381 nm, dan puncak lebar emisi biru-hijau pada daerah nm. Secara umum, emisi UV dari ZnO berhubungan dengan aktivitas eksiton dimana puncak emisi UV pada daerah 360 nm (3,45 ev) merupakan emisi dari eksiton bebas (29) dan puncak emisi UV pada daerah 381 nm (3,25 ev) merupakan emisi donorbound exciton. (30) Pita emisi UV dari nanorods ZnO dapat dijelaskan dengan

7 39 rekombinasi dan emisi dari eksiton bebas melalui proses tumbukan eksitoneksiton yang menghasilkan suatu foton. (2, 31) Puncak emisi hijau disebabkan oleh cacat titik seperti kekosongan oksigen atau pengotor. (6) Adapun emisi biru pada daerah 415 nm disebabkan oleh annihilasi eksiton atau rekombinasi donoracceptor pair (DAP). (29) Dari spektrum PL tersebut (Gambar IV.4) terlihat bahwa jika konsentrasi prekursor ditingkatkan, puncak PL pada daerah UV menjadi semakin tajam, sedangkan puncak PL pada daerah biru-hijau menurun. Hal ini menunjukkan kualitas yang baik dari nanorods ZnO yang dihasilkan. (32) Jadi peningkatan konsentrasi prekursor dapat meningkatkan kristalinitas dan sifat optik dari nanorods ZnO. IV.1.3 Pengaruh Medan Listrik Eksternal pada Pertumbuhan Kristal ZnO Untuk mempelajari pengaruh medan listrik eksternal pada pertumbuhan kristal ZnO dapat dilihat berdasarkan hasil pengukuran difraksi sinar-x dari kristal ZnO yang dihasilkan pada berbagai konsentrasi prekursor dengan dan tanpa menggunakan medan listrik eksternal. a. Kristal ZnO yang dihasilkan pada konsentrasi prekursor 1 mm Pola XRD dari kristal ZnO pada konsentrasi prekursor 1 mm yang terdeposisi pada gelas ITO dengan waktu deposisi 8 jam ditunjukkan pada Gambar IV.5. Dari Gambar IV.5 terlihat intensitas puncak difraksi yang rendah terutama pada pola difraksi ZnO yang dihasilkan tanpa menggunakan medan listrik eksternal. Pada penggunaan medan listrik eksternal, intensitas puncak difraksi mengalami peningkatan terutama pada penggunaan medan listrik dengan konfigurasi B (elektroda positif di atas substrat). Intensitas puncak refleksi (100) lebih tinggi daripada puncak refleksi (002) yang menunjukkan bahwa kristal ZnO mempunyai orientasi tumbuh yang masih acak (belum seragam).

8 40 [100] [002] ZnO 1 mm, 4000 V/cm B, 8 Jam Intensitas (a.u) ZnO 1 mm, 4000 V/cm A, 8 Jam ZnO 1 mm, 0 V/cm, 8 Jam θ ( 0 ) Gambar IV.5 Pola difraksi ZnO pada konsentrasi prekursor 1 mm dengan dan tanpa medan listrik eksternal. Dapat dinyatakan bahwa pada penggunaan konsentrasi prekursor 1 mm, penggunaan medan listrik eksternal belum menunjukkan pengaruh berarti terhadap orientasi pertumbuhan kristal, melainkan hanya dapat meningkatkan kerapatan kristal pada permukaan substrat berdasarkan intensitas puncak difraksi yang dihasilkan. b. Kristal ZnO yang dihasilkan pada konsentrasi prekursor 10 mm Pola XRD dari kristal ZnO pada konsentrasi prekursor 10 mm yang terdeposisi pada gelas ITO ditunjukkan pada Gambar IV.6. Dari Gambar IV.6 terlihat pola difraksi dengan intensitas puncak yang lebih tajam dari pada puncak difraksi dari kristal ZnO yang dihasilkan pada konsentrasi prekursor 1 mm kecuali pada penggunaan medan listrik dengan konfigurasi B (elektroda positif di atas substrat) yang menunjukkan penurunan signifikan dari intensitas puncak difraksi. Pada penggunaan medan listrik dengan konfigurasi A (elektroda positif di bawah substrat), intensitas puncak refleksi (002) mengalami peningkatan dibandingkan tanpa penggunaan medan listrik sedangkan puncak refleksi lainnya tidak menunjukkan peningkatan yang signifikan.

9 41 ZnO 10 mm, 4000 V/cm B, 8 Jam Intensitas (a.u) (100) ZnO 10 mm, 4000 V/cm A, 8 Jam (002) (101) ZnO 10 mm 0 kv/cm, 8 Jam θ ( 0 ) Gambar IV.6 Pola difraksi ZnO pada konsentrasi prekursor 10 mm dengan dan tanpa medan listrik eksternal. Berdasarkan fenomena yang terlihat pada pola difraksi tersebut di atas menunjukkan bahwa penggunaan medan listrik eksternal pada proses deposisi kristal ZnO dengan konsentrasi prekursor 10 mm belum memberikan pengaruh terhadap orientasi kristal di atas permukaan substrat, tetapi perbedaan konfigurasi medan listrik (posisi elektroda positif terhadap substrat) memberikan pengaruh terhadap sifat dan kristalinitas dari ZnO. c. Kristal ZnO yang dihasilkan pada konsentrasi prekursor 100 mm Pola XRD dari kristal ZnO pada konsentrasi prekursor 100 mm yang terdeposisi pada gelas ITO ditunjukkan pada Gambar IV.7. Dari Gambar IV.7 terlihat peningkatan intensitas puncak difraksi pada penggunaan medan listrik konfigurasi A dibandingkan tanpa menggunaan medan listrik. Pada medan listrik dengan konfigurasi A, puncak refleksi (002) menjadi lebih tinggi dari pada puncak refleksi lainnya, sedangkan pada proses deposisi tanpa menggunakan medan listrik, puncak refleksi (100) lebih dominan.

10 42 ZnO 100 mm, 2500 V/cm B, 8 Jam Intensitas (a.u) (100) ZnO 100 mm, 2500 V/cm A, 8 Jam (002) (101) ZnO 100 mm, 0 V/cm, 8 Jam θ ( 0 ) Gambar IV.7 Pola difraksi ZnO pada konsentrasi prekursor 100 mm dengan dan tanpa medan listrik eksternal. Perubahan yang sangat signifikan terjadi pada penggunaan medan listrik konfigurasi B, dimana hanya terlihat puncak refleksi (002) pada pola difraksinya. Penggunaan medan listrik eksternal konfigurasi B pada konsentrasi prekursor 100 mm dapat meningkatkan intensitas puncak refleksi (002) dan menekan puncak refleksi lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kristal ZnO cenderung untuk tumbuh tegak lurus pada permukaan substrat gelas ITO (orientasi sumbu-c). Jadi penggunaan medan listrik eksternal pada proses deposisi kristal ZnO dengan konsentrasi prekursor 100 mm dapat mengarahkan orientasi pertumbuhan kristal sumbu-c yang mencapai maksimum pada penggunaan medan listrik konfigurasi B. Adanya pengaruh penggunaan medan listrik eksternal terhadap pertumbuhan kristal ZnO juga dapat dilihat dari hasil karakterisasi menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM) terhadap kristal ZnO yang dihasilkan pada konsentrasi prekursor 100 mm dengan dan tanpa penggunaan medan listrik eksternal selama proses deposisi seperti yang terlihat pada Gambar IV.8.

11 43 Gambar IV.8 Foto SEM dari nanorods ZnO tanpa adanya pengaruh medan listrik eksternal dan dengan adanya medan listrik eksternal pada konsentrasi prekursor 100 mm. (a) tanpa medan listrik; (b) dengan medan listrik A (elektroda positif dibawah substrat); (c) dengan medan listrik B (elektroda positif diatas substrat).

12 44 Gambar IV.8 memperlihatkan adanya perbedaan distribusi ukuran dan orientasi kristal dari nanorods ZnO pada konsentrasi prekursor 100 mm. Gambar IV.8 (a) menunjukkan morfologi nanorods ZnO tanpa menggunakan medan listrik selama proses deposisi dimana terlihat morfologi kristal yang belum halus pada permukaannya serta ukuran dan orientasi kristal masih belum seragam. Pada penggunaan medan listrik eksternal konfigurasi A, nanorods ZnO yang dihasilkan menunjukkan adanya peningkatan kristalinitas dengan terlihatnya struktur heksagonal dan permukaan yang halus pada permukaan kristal serta peningkatan keseragaman ukuran kristal meskipun orientasinya masih belum seragam dan kerapatan kristal masih rendah. Perubahan yang signifikan terhadap distribusi ukuran dan orientasi kristal terjadi pada pengunaan medan listrik eksternal dengan konfigurasi B. Terlihat dengan jelas orientasi kristal tumbuh tegak lurus pada permukaan substrat (orientasi sumbu-c) dan distribusi ukuran yang hampir seragam dengan kerapatan kristal yang cukup tinggi. Adanya perbedaan distribusi ukuran kristal akibat penggunaan medan listrik eksternal serta perbedaan arah konfigurasi medan listrik pada kristal ZnO yang dihasilkan pada konsentrasi prekursor 100 mm juga diperlihatkan oleh grafik distribusi diameter nanorods ZnO berdasarkan mikrograf SEM dengan luas area 12,5 X 10, 5 µm 2 seperti terlihat pada Gambar IV.9. Gambar IV.9 memperlihatkan adanya perbedaan distribusi ukuran (diameter) dari nanorods ZnO pada konsentrasi prekursor 100 mm dengan dan tanpa pemberian medan listrik. Terjadinya peningkatan ukuran diameter dari nanorods pada pemberian medan listrik konfigurasi A dibandingkan dengan konfigurasi B dan tanpa pemberian medan listrik, dimana diameter nanorods ZnO berukuran ~ nm pada konsentrasi prekursor 100 mm tanpa menggunakan medan listrik, diameter rods dengan ukuran ~1-1,2 µm pada pemberian medan listrik konfigurasi A dan diameter nanorods dengan ukuran ~ nm pada pemberian medan listrik dengan konfigurasi B. Selain itu juga terlihat adanya penyempitan distribusi diameter dari nanorods ZnO setelah diberi medan listrik.

13 45 a Jumlah b c Diameter (nm) Gambar IV.9 Distribusi diameter dari nanorods ZnO pada konsentrasi prekursor 100 mm, (a) dengan medan listrik konfigurasi B, (b) dengan medan listrik konfigurasi A, (c) tanpa medan listrik. Berdasarkan pola difraksi pada Gambar IV.5, IV.6, dan IV.7 serta gambaran hasil SEM (Gambar IV.8) dan estimasi distribusi diameter yang telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa nanorods dari ZnO akan menunjukkan struktur, distribusi ukuran dan orientasi kristal yang maksimum terjadi pada konsentrasi prekursor 100 mm dengan pemberian medan listrik konfigurasi B pada proses deposisi. Fenomena terjadinya peningkatan intensitas puncak difraksi dan ukuran kristal dengan meningkatnya konsentrasi prekursor sesuai dengan penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya. Banyak publikasi yang memaparkan pengaruh konsentrasi prekursor pada pertumbuhan kristal ZnO di antaranya oleh Yang et al. (2008), dimana pada penelitian ini dihasilkan ukuran nanorods dari ZnO yang semakin besar dengan peningkatan konsentrasi prekursor. (6) Ho & Wong (2007) juga telah melakukan penelitian terhadap pengaruh konsentrasi prekursor pada morfologi dan pertumbuhan nanowires dari ZnO, dimana dari pola XRD

14 46 ditemukan terjadinya peningkatan intensitas puncak dengan meningkatnya konsentrasi prekursor. (3) Hal ini disebabkan karena ketika konsentrasi prekursor ditingkatkan, maka nukleasi ZnO menjadi lebih cepat dari pada pembentukan inti ZnO pada tahap awal, kemudian inti-inti ini akan mengumpul bersama-sama membentuk kristalit ZnO. (7) Kristalit ZnO akan mempunyai kerapatan yang lebih tinggi pada konsentrasi prekursor lebih tinggi yang dapat dilihat melalui intensitas pola difraksinya. Proses pembentukan kristal ZnO dalam metoda berair dapat dipelajari melalui mekanisme pertumbuhan kristal ZnO. Dalam larutan berair, kation logam M x+ tersolvasi oleh air menghasilkan ion-ion aquo, yaitu [M(OH 2 ) n ] x+. Ikatan M-OH 2 akan mengalami deprotonasi dari air yang terkoordinasi membentuk spesies hidroksil [M(OH) n ]. Untuk menghasilkan spesies poli inti yang kemudian berkembang menjadi oksida logam, reaksi yang melibatkan dehidrasi harus terjadi. Pada suhu reaksi 90 C, kompleks Zn-amina terdekomposisi dan melepaskan ion Zn 2+. Kation kemudian membentuk Zn(OH) 2 dan ZnO di bawah proses hidrotermal seperti yang ditunjukkan pada Persamaan reaksi IV.1. Zn OH - Zn(OH) 2 ZnO + H 2 O (IV.1) Dengan memperhatikan struktur kristal ZnO (tipe wurtzit) yang mempunyai karakteristik polar parsial dimana suatu dipol listrik terbentuk antara ujung-ujung bidang (001) yang berlawanan muatan. Bidang polar mempunyai energi permukaan yang besar sedangkan bidang non polar mempunyai energi permukaan yang kecil sehingga secara termodinamika lebih stabil, akibatnya proses pertumbuhan kristal pada bidang non polar lebih cepat dari pada arah bidang lainnya. Pada metoda pertumbuhan dalam larutan berair, digunakan metenamin sebagai ligan kelat non polar yang akan melekat pada bidang non-polar dari struktur ZnO, sehingga akan menghambat pertumbuhan kristal pada bidang ini dan menghasilkan pertumbuhan pada bidang (0001) yang akan meningkatkan pertumbuhan 1-dimensi. Aglomerasi inti (kristalit ZnO) terbentuk pada larutan melalui reaksi homogen. Pengendapan awal untuk membentuk inti padat sebagai prekursor cair secara termodinamika tidak stabil pada kondisi supersaturasi.

15 47 Pertumbuhan titik-titik struktur nano ZnO menjadi suatu rangkaian kompleks atau reaksi kimia paralel dari kluster kristalit melalui aglomerasi kluster dalam larutan. (3) Pola difraksi ZnO untuk konsentrasi 1 mm dan 10 mm dengan dan tanpa pengaruh medan listrik memperlihatkan pucak refleksi (100) yang lebih dominan dari puncak refleksi lainnya. Hal ini disebabkan karena konsentrasi prekursor yang rendah menyebabkan energi permukaan antarmuka menjadi tinggi, spesies reaktif akan terserap pada antarmuka sehingga mengurangi energi permukaan dan menghasilkan posisi aktif yang menyebabkan orientasi multi sudut dari kristal. (3) Penggunaan medan listrik eksternal pada proses sintesis ZnO memberikan pengaruh terhadap kenaikan intensitas puncak difraksi, namun tidak memberikan pengaruh signifikan terhadap orientasi kristal terutama pada konsentrasi prekursor 1 mm dan 10 mm. Hanya pada konsentrasi 100 mm, medan listrik eksternal dapat menyebabkan puncak refleksi (002) menjadi paling kuat dibandingkan dengan puncak refleksi lainnya. Perbedaan konfigurasi medan listrik (posisi elektroda positif terhadap substrat) selama proses deposisi juga memberikan pengaruh yang berarti terhadap pertumbuhan kristal ZnO khususnya pada konsentrasi prekursor 100 mm, dimana pada konfigurasi A (elektroda positif di bawah substrat) orientasi kristal telah mengarah pada sumbu-c meskipun masih ada orientasi acak pada pertumbuhannya. Namun pada konfigurasi B, puncak refleksi (002) menjadi sangat kuat dan menekan puncak refleksi lainnya yang menunjukkan bahwa kristal ZnO tumbuh tegak lurus terhadap permukaan substrat gelas ITO atau orientasi sumbu-c. Hal ini membuktikan bahwa medan listrik eksternal dapat mempengaruhi pertumbuhan kristal ZnO dimana posisi elektroda positif terletak di atas substrat (konfigurasi B) dapat mengontrol arah orientasi kristal ZnO ke salah satu sumbu dalam hal ini pada sumbu-c. Fenomena ini terjadi karena struktur kristal ZnO yang asimetrik sepanjang sumbu-c yang terdiri dari lapisan-lapisan polar atom Zn dan O sehingga arah pertumbuhan kristal tergantung pada interaksi antara lapisan atom yang berada di

16 48 permukaan ZnO dengan arah medan listrik yang dipakai seperti terlihat pada Gambar IV. 10. (10) Gambar IV.10 memperlihatkan bahwa arah polarisasi lapisan polar dari kristal ZnO mengikuti arah medan listrik. Jika elektroda positif diletakkan di atas substrat selama proses deposisi, medan listrik akan bergerak dari positif menuju ke negatif (ke arah bawah), begitu juga dengan polarisasi molekul. Lapisan atom O yang bermuatan negatif akan berada dipermukaan molekul ZnO, seperti pada Gambar IV.11. Permukaan polar Zn Permukaan polar O Gambar IV.10 Skema struktur kristal ZnO Elektroda positif Permukaan polar O P r E r Permukaan polar Zn Gambar IV.11. Skema polarisasi molekul ZnO terhadap arah medan listrik

17 49 Kristalinitas dari ZnO akan maksimum jika lapisan atom O terdapat di bagian permukaan molekul karena medan listrik akan menunjang stabilisasi orientasi ( 000 1) dengan permukaan polar O ketika vektor polarisasi pada arah medan listrik. (10) IV.1.4 Pengaruh Medan Listrik Eksternal Terhadap Sifat Optik dari Kristal ZnO Spektrum Fotoluminesen (PL) dari nanorods ZnO pada konsentrasi 100 mm dengan dan tanpa pemberian medan listrik eksternal ditunjukkan pada Gambar IV mm 0 V/cm 100 mm 2500 V/cm A 100 mm 2500 V/cm B Intensitas PL (a.u) Panjang Gelombang (nm) Gambar IV.12 Spektrum PL dari nanorods ZnO pada substrat gelas ITO pada konsentrasi prekursor 100 mm, waktu deposisi 8 jam, dengan dan tanpa medan listrik eksternal yang diukur pada suhu ruang. Dari Gambar IV.12 terlihat puncak tajam emisi UV pada daerah 359 dan 383 nm, puncak lebar emisi UV pada daerah 390 nm serta puncak lebar emisi biru-hijau pada daerah nm. Puncak emisi UV pada daerah ~ 359 nm yang merupakan emisi dari eksiton bebas semakin tajam dengan pemberian medan

18 50 listrik eksternal pada proses deposisi, dimana pada medan listrik dengan konfigurasi B memberikan puncak emisi UV yang optimum. Begitu juga dengan puncak emisi UV pada daerah ~ 383 nm yang merupakan emisi donor-bound exciton (DBE) (30) semakin tajam dengan pemberian medan listrik konfigurasi B. Puncak lebar emisi UV pada 390 nm (3,18 ev) yang merupakan puncak emisi dari eksiton bebas-eksiton bebas (dua eksiton) (29) dihasilkan pada pemberian medan listrik konfigurasi A selama proses deposisi kristal ZnO dengan konsentrasi prekursor 100 mm. Adapun puncak emisi biru-hijau mengalami peningkatan intensitas dengan pemberian medan listrik eksternal. Puncak emisi biru disebabkan oleh annihilasi eksiton atau rekombinasi donor-acceptor pair (DAP) (29) sedangkan puncak emisi hijau disebabkan oleh kekosongan oksigen pada ZnO. (3, 31, 32) Adanya peningkatan intensitas dan ketajaman puncak emisi daerah UV pada penggunaan medan listrik eksternal khususnya medan listrik dengan konfigurasi B (elektroda positif di atas substrat), menunjukkan bahwa kualitas kristal ZnO yang dihasilkan semakin baik. Kualitas kristal yang baik akan meningkatkan sifat optik dari kristal tersebut.

Bab III Metodologi Penelitian

Bab III Metodologi Penelitian 28 Bab III Metodologi Penelitian III.1 Tahap Penelitian Penelitian ini terbagi dalam empat tahapan kerja, yaitu : Tahapan kerja pertama adalah persiapan bahan dasar pembuatan film tipis ZnO yang terdiri

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Padatan TiO 2 Amorf Proses sintesis padatan TiO 2 amorf ini dimulai dengan melarutkan titanium isopropoksida (TTIP) ke dalam pelarut etanol. Pelarut etanol yang digunakan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC)

HASIL DAN PEMBAHASAN. Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC) 39 HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur Karbon Hasil Karbonisasi Hidrotermal (HTC) Hasil karakterisasi dengan Difraksi Sinar-X (XRD) dilakukan untuk mengetahui jenis material yang dihasilkan disamping menentukan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN 4.1 Sintesis Padatan ZnO dan CuO/ZnO Pada penelitian ini telah disintesis padatan ZnO dan padatan ZnO yang di-doped dengan logam Cu. Doping dengan logam Cu diharapkan mampu

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN dan gelap dapat diketahui karakteristik film yang dibuat bersifat dioda, resistansi atau kapasitansi. c. Karakterisasi sifat optik absorbansi dan reflektansi Alat yang digunakan, yaitu spektrofotometer

Lebih terperinci

2 SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOSTRUKTUR ZnO

2 SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOSTRUKTUR ZnO 2 SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOSTRUKTUR ZnO 3 Pendahuluan ZnO merupakan bahan semikonduktor tipe-n yang memiliki lebar pita energi 3,37 ev pada suhu ruang dan 3,34 ev pada temperatur rendah dengan nilai

Lebih terperinci

Bab IV. Hasil dan Pembahasan

Bab IV. Hasil dan Pembahasan Bab IV. Hasil dan Pembahasan Bab ini memaparkan hasil sintesis, karakterisasi konduktivitas listrik dan struktur kirstal dari senyawa perovskit La 1-x Sr x FeO 3-δ (LSFO) dengan x = 0,2 ; 0,4 ; 0,5 ; 0,6

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ketersediaan sumber energi merupakan masalah yang harus segera diselesaikan oleh masing-masing negara termasuk Indonesia. Untuk itu perlu dikembangkan suatu teknologi

Lebih terperinci

Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi

Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi Sintesis Nanopartikel ZnO dengan Metode Kopresipitasi NURUL ROSYIDAH Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh Nopember Pendahuluan Kesimpulan Tinjauan Pustaka

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian Penelitian yang telah dilakukan bertujuan untuk menentukan waktu aging

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian Penelitian yang telah dilakukan bertujuan untuk menentukan waktu aging BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Penelitian yang telah dilakukan bertujuan untuk menentukan waktu aging optimal pada sintesis zeolit dari abu sekam padi pada temperatur kamar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan nanoteknologi terus dilakukan oleh para peneliti dari dunia akademik maupun dari dunia industri. Para peneliti seolah berlomba untuk mewujudkan karya

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.I Sintesis dan Karakterisasi Zeolit Bahan baku yang digunakan pada penelitian ini adalah kaolin alam Cicalengka, Jawa Barat, Indonesia. Kaolin tersebut secara fisik berwarna

Lebih terperinci

Karakterisasi XRD. Pengukuran

Karakterisasi XRD. Pengukuran 11 Karakterisasi XRD Pengukuran XRD menggunakan alat XRD7000, kemudian dihubungkan dengan program dikomputer. Puncakpuncak yang didapatkan dari data pengukuran ini kemudian dicocokkan dengan standar difraksi

Lebih terperinci

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam

Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi. atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam Untuk mengetahui pengaruh ph medium terhadap profil disolusi atenolol dari matriks KPI, uji disolusi juga dilakukan dalam medium asam klorida 0,1 N. Prosedur uji disolusi dalam asam dilakukan dengan cara

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 11. Rangkaian pengukuran karakterisasi I-V.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 11. Rangkaian pengukuran karakterisasi I-V. 10 larutan elektrolit yang homogen. Pada larutan yang telah homogen dengan laju stirring yang sama ditambahkan larutan elektrolit KI+I 2 sebanyak 10 ml dengan konsentrasi 0.3 M tanpa annealing. Setelah

Lebih terperinci

BAB 4 DATA DAN ANALISIS

BAB 4 DATA DAN ANALISIS BAB 4 DATA DAN ANALISIS 4.1. Kondisi Sampel TiO 2 Sampel TiO 2 disintesa dengan memvariasikan jenis pelarut, block copolymer, temperatur kalsinasi, dan kelembaban relatif saat proses aging. Kondisi sintesisnya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN BaTiO 3 merupakan senyawa oksida keramik yang dapat disintesis dari senyawaan titanium (IV) dan barium (II). Proses sintesis ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti suhu, tekanan,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 6 20 ma. Pengambilan data difraksi dilakukan dalam rentang sudut difraksi 10 o sampai 80 o dengan kecepatan baca 0,02 o per detik. 3.3.2 Sintesis hidroksiapatit Hidroksiapatit disintesis dengan menggunakan

Lebih terperinci

Tabel 3.1 Efisiensi proses kalsinasi cangkang telur ayam pada suhu 1000 o C selama 5 jam Massa cangkang telur ayam. Sesudah kalsinasi (g)

Tabel 3.1 Efisiensi proses kalsinasi cangkang telur ayam pada suhu 1000 o C selama 5 jam Massa cangkang telur ayam. Sesudah kalsinasi (g) 22 HASIL PENELITIAN Kalsinasi cangkang telur ayam dan bebek perlu dilakukan sebelum cangkang telur digunakan sebagai prekursor Ca. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, kombinasi suhu

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 2 Skema Pembuatan elektrode pasta karbon.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Gambar 2 Skema Pembuatan elektrode pasta karbon. 3 Pasta dimasukkan ke ujung tabung hingga penuh dan padat. Permukaan elektrode dihaluskan menggunakan ampelas halus dan kertas minyak hingga licin dan berkilau (Gambar 2). Gambar 2 Skema Pembuatan elektrode

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR-

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR- BAB III METODOLOGI PENELITIAN Penelitian yang dilakukan di Kelompok Bidang Bahan Dasar PTNBR- BATAN Bandung meliputi beberapa tahap yaitu tahap preparasi serbuk, tahap sintesis dan tahap analisis. Meakanisme

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. metode freeze drying kemudian dilakukan variasi waktu perendaman SBF yaitu 0

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. metode freeze drying kemudian dilakukan variasi waktu perendaman SBF yaitu 0 37 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini sampel komposit hidroksiapatit-gelatin dibuat menggunakan metode freeze drying kemudian dilakukan variasi waktu perendaman SBF yaitu 0 hari, 1 hari, 7 hari

Lebih terperinci

4 Hasil dan pembahasan

4 Hasil dan pembahasan 4 Hasil dan pembahasan 4.1 Sintesis dan Pemurnian Polistiren Pada percobaan ini, polistiren dihasilkan dari polimerisasi adisi melalui reaksi radikal dengan inisiator benzoil peroksida (BPO). Sintesis

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. sol-gel, dan mempelajari aktivitas katalitik Fe 3 O 4 untuk reaksi konversi gas IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pengantar Penelitian ini pada intinya dilakukan dengan dua tujuan utama, yakni mempelajari pembuatan katalis Fe 3 O 4 dari substrat Fe 2 O 3 dengan metode solgel, dan mempelajari

Lebih terperinci

SINTESIS DAN KARAKTERISASI CORE-SHELL ZnO/TiO2 SEBAGAI MATERIAL FOTOANODA PADA DYE SENSITIZED SOLAR CELL (DSSC) SKRIPSI

SINTESIS DAN KARAKTERISASI CORE-SHELL ZnO/TiO2 SEBAGAI MATERIAL FOTOANODA PADA DYE SENSITIZED SOLAR CELL (DSSC) SKRIPSI SINTESIS DAN KARAKTERISASI CORE-SHELL ZnO/TiO2 SEBAGAI MATERIAL FOTOANODA PADA DYE SENSITIZED SOLAR CELL (DSSC) SKRIPSI Oleh Yuda Anggi Pradista NIM 101810301025 JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dihasilkan sebanyak 5 gram. Perbandingan ini dipilih karena peneliti ingin

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. dihasilkan sebanyak 5 gram. Perbandingan ini dipilih karena peneliti ingin BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Sintesis Katalis CuO/ZnO/Al 2 O 3 Katalis CuO/ZnO/Al 2 O 3 disintesis dengan metode kopresipitasi dengan rasio fasa aktif Cu, promotor ZnO, penyangga dan Al 2 O 3 yaitu

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS HASIL PERCOBAAN DAN DISKUSI

BAB V ANALISIS HASIL PERCOBAAN DAN DISKUSI BAB V ANALISIS HASIL PERCOBAAN DAN DISKUSI Dari hasil percobaan dan uji sampel pada bab IV, yang pertama dilakukan adalah karakterisasi reaktor. Untuk mewakili salah satu parameter reaktor yaitu laju sintesis

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 7. Hasil Analisis Karakterisasi Arang Aktif

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 7. Hasil Analisis Karakterisasi Arang Aktif IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1 Hasil Analisis Karakterisasi Arang Aktif Hasil analisis karakterisasi arang dan arang aktif berdasarkan SNI 06-3730-1995 dapat dilihat pada Tabel 7. Contoh Tabel 7. Hasil

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer.

HASIL DAN PEMBAHASAN. dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer. 10 dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan komputer. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil sintesis paduan CoCrMo Pada proses preparasi telah dihasilkan empat sampel serbuk paduan CoCrMo dengan komposisi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keterangan Gambar 7 : 1. Komputer 2. Ocean Optic USB 2000 Spektrofotometer

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keterangan Gambar 7 : 1. Komputer 2. Ocean Optic USB 2000 Spektrofotometer 7 Keterangan Gambar 7 : 1. Komputer 2. Ocean Optic USB 2000 Spektrofotometer 3. Sumber Cahaya (Polikromatis) 4. Fiber Optik 5. Holder 6. Samp 7. Gambar 7 Perangkat spektrofotometer UV-VIS. Karakterisasi

Lebih terperinci

Sintesis Mikro Partikel ZnO Terdoping Sulfur Alam (ZnO:S) Melalui Metode Mechanochemical

Sintesis Mikro Partikel ZnO Terdoping Sulfur Alam (ZnO:S) Melalui Metode Mechanochemical Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013 Sintesis Mikro Partikel ZnO Terdoping Sulfur Alam (ZnO:S) Melalui Metode Mechanochemical Evi Maryanti, Sal Prima Yudha S, Fadli Jurusan Kimia, FMIPA Universitas

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam penelitian ini digunakan TiO2 yang berderajat teknis sebagai katalis.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dalam penelitian ini digunakan TiO2 yang berderajat teknis sebagai katalis. 33 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Karakterisasi TiO2 Dalam penelitian ini digunakan TiO2 yang berderajat teknis sebagai katalis. TiO2 dapat ditemukan sebagai rutile dan anatase yang mempunyai fotoreaktivitas

Lebih terperinci

Bab IV Hasil Dan Pembahasan

Bab IV Hasil Dan Pembahasan 33 Bab IV Hasil Dan Pembahasan Pada bagian ini dilaporkan hasil sintesis dan karakterisasi dari senyawa-senyawa yang disintesis. Sampel dipreparasi dengan menggunakan proses sonikasi pada campuran material-material

Lebih terperinci

Uji Kekerasan Sintesis Sintesis BCP HASIL DAN PEMBAHASAN Preparasi Bahan Dasar

Uji Kekerasan Sintesis Sintesis BCP HASIL DAN PEMBAHASAN Preparasi Bahan Dasar dilapisi bahan konduktif terlebih dahulu agar tidak terjadi akumulasi muatan listrik pada permukaan scaffold. Bahan konduktif yang digunakan dalam penelitian ini adalah karbon. Permukaan scaffold diperbesar

Lebih terperinci

Bab III Metoda Penelitian

Bab III Metoda Penelitian 28 Bab III Metoda Penelitian III.1 Lokasi Penelitian Sintesis senyawa target dilakukan di Laboratorium Kimia Anorganik dan Laboratorium Kimia Fisik-Material Departemen Kimia, Pengukuran fotoluminesens

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 20%, 30%, 40%, dan 50%. Kemudian larutan yang dihasilkan diendapkan

HASIL DAN PEMBAHASAN. didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 20%, 30%, 40%, dan 50%. Kemudian larutan yang dihasilkan diendapkan 6 didalamnya dilakukan karakterisasi XRD. 3.3.3 Sintesis Kalsium Fosfat Sintesis kalsium fosfat dalam penelitian ini menggunakan metode sol gel. Senyawa kalsium fosfat diperoleh dengan mencampurkan serbuk

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh waktu annealing terhadap diameter dan jarak antar butir

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh waktu annealing terhadap diameter dan jarak antar butir BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh waktu annealing terhadap diameter dan jarak antar butir katalis Au Perubahan morfologi katalis telah dilihat melalui pengujian SEM, gambar 4.1 memperlihatkan hasil

Lebih terperinci

SIDANG TUGAS AKHIR. Jurusan Teknik Material & Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember

SIDANG TUGAS AKHIR. Jurusan Teknik Material & Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember SIDANG TUGAS AKHIR Arisela Distyawan NRP 2709100084 Dosen Pembimbing Diah Susanti, S.T., M.T., Ph.D Jurusan Teknik Material & Metalurgi Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Sintesa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. energi cahaya (foton) menjadi energi listrik tanpa proses yang menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. energi cahaya (foton) menjadi energi listrik tanpa proses yang menyebabkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sel surya merupakan suatu piranti elektronik yang mampu mengkonversi energi cahaya (foton) menjadi energi listrik tanpa proses yang menyebabkan dampak buruk terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Nanoteknologi adalah ilmu yang mempelajari, menciptakan dan merekayasa material berskala nanometer dimana terjadi sifat baru. Kata nanoteknologi berasal dari

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan IV.1 Serbuk Awal Membran Keramik Material utama dalam penelitian ini adalah serbuk zirkonium silikat (ZrSiO 4 ) yang sudah ditapis dengan ayakan 400 mesh sehingga diharapkan

Lebih terperinci

Bab III Metodologi Penelitian

Bab III Metodologi Penelitian Bab III Metodologi Penelitian III. 1. Tahap Penelitian Penelitian ini terbagai dalam empat tahapan kerja, yaitu: a. Tahapan kerja pertama adalah persiapan bahan dasar pembuatan LSFO dan LSCFO yang terdiri

Lebih terperinci

Hasil dan Pembahasan

Hasil dan Pembahasan Bab 4 Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polimer Benzilkitosan Somorin (1978), pernah melakukan sintesis polimer benzilkitin tanpa pemanasan. Agen pembenzilasi yang digunakan adalah benzilklorida. Adapun

Lebih terperinci

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4. HASIL DAN PEMBAHASAN Intensitas (arb.unit) Intensitas (arb.unit) Intensitas (arb. unit) Intensitas 7 konstan menggunakan buret. Selama proses presipitasi berlangsung, suhu larutan tetap dikontrol pada 7 o C dengan kecepatan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN 4.1. KARAKTERISTIK SERBUK 4.1.1. Serbuk Fe-50at.%Al Gambar 4.1. Hasil Uji XRD serbuk Fe-50at.%Al Berdasarkan gambar di atas, dapat diketahui bahwa secara keseluruhan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kimia yang dibantu oleh cahaya dan katalis. Beberapa langkah-langkah fotokatalis

I. PENDAHULUAN. kimia yang dibantu oleh cahaya dan katalis. Beberapa langkah-langkah fotokatalis I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Telah berkembang suatu mekanisme fotokatalis yang menerapkan pemanfaatan radiasi ultraviolet dan bahan semikonduktor sebagai fotokatalis, umumnya menggunakan bahan TiO2

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Sintesis HAp

BAHAN DAN METODE. Sintesis HAp 4 logam, di antaranya stabilitas larutan HAp dan besarnya tegangan yang digunakan. Menurut Xiao et al. (2008), untuk meningkatkan stabilitas, larutan ditambahkan pendispersi. Dalam penelitian ini, pendispersi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis proses preparasi, aktivasi dan modifikasi terhadap zeolit

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis proses preparasi, aktivasi dan modifikasi terhadap zeolit HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis proses preparasi, aktivasi dan modifikasi terhadap zeolit Penelitian ini menggunakan zeolit alam yang berasal dari Lampung dan Cikalong, Jawa Barat. Zeolit alam Lampung

Lebih terperinci

BAB III EKSPERIMEN & KARAKTERISASI

BAB III EKSPERIMEN & KARAKTERISASI BAB III EKSPERIMEN & KARAKTERISASI Pada bab ini dibahas penumbuhan AlGaN tanpa doping menggunakan reaktor PA- MOCVD. Lapisan AlGaN ditumbuhkan dengan variasi laju alir gas reaktan, hasil penumbuhan dikarakterisasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi peradaban

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi peradaban BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat mempengaruhi peradaban manusia di abad ini. Sehingga diperlukan suatu kemampuan menguasai teknologi tinggi agar bisa

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... v DAFTAR TABEL... vi INTISARI... vii ABSTRAK...

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... v DAFTAR TABEL... vi INTISARI... vii ABSTRAK... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PERSETUJUAN... iii DAFTAR ISI... iv DAFTAR GAMBAR... v DAFTAR TABEL... vi INTISARI... vii ABSTRAK... viii BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Rumusan

Lebih terperinci

I. KEASAMAN ION LOGAM TERHIDRAT

I. KEASAMAN ION LOGAM TERHIDRAT I. KEASAMAN ION LOGAM TERHIDRAT Tujuan Berdasarkan metode ph-metri akan ditunjukkan bahwa ion metalik terhidrat memiliki perilaku seperti suatu mono asam dengan konstanta keasaman yang tergantung pada

Lebih terperinci

4 Hasil dan Pembahasan

4 Hasil dan Pembahasan 4 asil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistiren Sintesis polistiren dilakukan dalam reaktor polimerisasi dengan suasana vakum. al ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kontak dengan udara karena stiren

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 17 Penganalisa Ukuran Partikel (PSA) (Malvern 2012) Analisis ukuran partikel, pengukuran ukuran partikel, atau hanya ukuran partikel adalah nama kolektif prosedur teknis, atau teknik laboratorium yang

Lebih terperinci

2014 PEMBUATAN BILAYER ANODE - ELEKTROLIT CSZ DENGAN METODE ELECTROPHORETIC DEPOSITION

2014 PEMBUATAN BILAYER ANODE - ELEKTROLIT CSZ DENGAN METODE ELECTROPHORETIC DEPOSITION BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebutuhan listrik dunia semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Hal ini tentu disebabkan pertumbuhan aktivitas manusia yang semakin padat dan kebutuhan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan uji kapasitas adsorben kitosan-bentonit terhadap diazinon, terlebih dahulu disintesis adsorben kitosan-bentonit mengikuti prosedur yang telah teruji (Dimas,

Lebih terperinci

350 0 C 1 jam C. 10 jam. 20 jam. Pelet YBCO. Uji Konduktivitas IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Ba(NO 3 ) Cu(NO 3 ) 2 Y(NO 3 ) 2

350 0 C 1 jam C. 10 jam. 20 jam. Pelet YBCO. Uji Konduktivitas IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Ba(NO 3 ) Cu(NO 3 ) 2 Y(NO 3 ) 2 Y(NO 3 ) 2 Pelarutan Pengendapan Evaporasi 350 0 C 1 jam 900 0 C 10 jam 940 0 C 20 jam Ba(NO 3 ) Pelarutan Pengendapan Evaporasi Pencampuran Pirolisis Kalsinasi Peletisasi Sintering Pelet YBCO Cu(NO 3

Lebih terperinci

2 PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL TITANIUM OXIDE (TiO 2 ) MENGGUNAKAN METODE SOL-GEL

2 PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL TITANIUM OXIDE (TiO 2 ) MENGGUNAKAN METODE SOL-GEL 3 2 PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL TITANIUM OXIDE (TiO 2 ) MENGGUNAKAN METODE SOL-GEL Pendahuluan Bahan semikonduktor titanium oxide (TiO 2 ) merupakan material yang banyak digunakan dalam berbagai

Lebih terperinci

STUDI PENGARUH MEDAN LISTRIK PADA PERTUMBUHAN KRISTAL ZnO TESIS. EVI MARYANTI NIM: Program Studi Kimia

STUDI PENGARUH MEDAN LISTRIK PADA PERTUMBUHAN KRISTAL ZnO TESIS. EVI MARYANTI NIM: Program Studi Kimia STUDI PENGARUH MEDAN LISTRIK PADA PERTUMBUHAN KRISTAL ZnO TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi Bandung Oleh: EVI MARYANTI NIM: 20506014 Program

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam

I. PENDAHULUAN. Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pencemaran udara adalah masuknya, atau tercampurnya unsur-unsur berbahaya ke dalam atmosfir yang dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lingkungan, gangguan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada pembuatan dispersi padat dengan berbagai perbandingan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada pembuatan dispersi padat dengan berbagai perbandingan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Pembuatan Serbuk Dispersi Padat Pada pembuatan dispersi padat dengan berbagai perbandingan dihasilkan serbuk putih dengan tingkat kekerasan yang berbeda-beda. Semakin

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini dilakukan analisis struktur kristal semen gigi seng oksida eugenol untuk mengetahui keterkaitan sifat mekanik dengan struktur kristalnya. Ada lima sampel

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu aging

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu aging BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu aging pada sintesis zeolit dari abu jerami padi dan karakteristik zeolit dari

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 25 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Umum Penelitian ini bertujuan untuk melanjutkan penelitian yang sudah ada dengan memanfaatkan limbah media tanam jamur (Baglog) sebagai biosorben dalam mengadsorpsi ion

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. hal ini memiliki nilai konduktifitas yang memadai sebagai komponen sensor gas

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. hal ini memiliki nilai konduktifitas yang memadai sebagai komponen sensor gas 31 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Sintesis material konduktor ionik MZP, dilakukan pada kondisi optimum agar dihasilkan material konduktor ionik yang memiliki kinerja maksimal, dalam hal ini memiliki nilai

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Modifikasi Ca-Bentonit menjadi kitosan-bentonit bertujuan untuk merubah karakter permukaan bentonit dari hidrofilik menjadi hidrofobik, sehingga dapat meningkatkan kinerja kitosan-bentonit

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Metode Penelitian

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Metode Penelitian BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental laboratorium. Secara umum penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan: 1. Tahapan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Energi cahaya matahari dapat dikonversi menjadi energi listrik melalui suatu sistem yang disebut sel surya. Peluang dalam memanfaatkan energi matahari masih

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimen secara kualitatif dan kuantitatif. Metode penelitian ini menjelaskan proses degradasi fotokatalis

Lebih terperinci

PENGARUH SUHU FURNACE DAN RASIO KONSENTRASI PREKURSOR TERHADAP KARAKTERISTIK NANOKOMPOSIT ZnO-SILIKA

PENGARUH SUHU FURNACE DAN RASIO KONSENTRASI PREKURSOR TERHADAP KARAKTERISTIK NANOKOMPOSIT ZnO-SILIKA PENGARUH SUHU FURNACE DAN RASIO KONSENTRASI PREKURSOR TERHADAP KARAKTERISTIK NANOKOMPOSIT ZnO-SILIKA Pembimbing:» Prof. Dr. Ir. Sugeng Winardi, M.Eng» Dr. Widiyastuti, ST. MT Penyusun:» Wahyu Puspitaningtyas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan TiO 2 sebagai fotokatalis diperkenalkan pertama kali oleh Fujishima dan Honda tahun 1972 mengenai pemecahan air menjadi oksigen dan hidrogen secara fotoelektrokimia

Lebih terperinci

BAB III EKSPERIMEN. 1. Bahan dan Alat

BAB III EKSPERIMEN. 1. Bahan dan Alat BAB III EKSPERIMEN 1. Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini ialah Ca(NO 3 ).4H O (99%) dan (NH 4 ) HPO 4 (99%) sebagai sumber ion kalsium dan fosfat. NaCl (99%), NaHCO 3 (99%),

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Sintesa Katalis Dalam penelitian ini, katalis disintesis menggunakan metode impregnasi kering. Metode ini dipilih karena metode impregnasi merupakan metode sintesis yang

Lebih terperinci

Bab IV Hasil dan Pembahasan

Bab IV Hasil dan Pembahasan Bab IV Hasil dan Pembahasan 4.1 Sintesis Polistirena Polistirena disintesis melalui polimerisasi adisi radikal bebas dari monomer stirena dan benzoil peroksida (BP) sebagai inisiator. Polimerisasi dilakukan

Lebih terperinci

SINTESIS DAN KARAKTERISASI KRISTAL NANO ZnO

SINTESIS DAN KARAKTERISASI KRISTAL NANO ZnO SINTESIS DAN KARAKTERISASI KRISTAL NANO ZnO Cicik Herlina Yulianti 1 1) Dosen Fakultas Teknik Prodi Elektro Universitas Islam Lamongan Abstrak Pengembangan material kristalin berukuran nano merupakan suatu

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pori

HASIL DAN PEMBAHASAN. Pori HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Morfologi Analisis struktur mikro dilakukan dengan menggunakan Scanning Electromicroscope (SEM) Philips 515 dengan perbesaran 10000 kali. Gambar 5. menunjukkan morfologi hidroksiapatit

Lebih terperinci

dengan panjang a. Ukuran kristal dapat ditentukan dengan menggunakan Persamaan Debye Scherrer. Dilanjutkan dengan sintering pada suhu

dengan panjang a. Ukuran kristal dapat ditentukan dengan menggunakan Persamaan Debye Scherrer. Dilanjutkan dengan sintering pada suhu 6 Dilanjutkan dengan sintering pada suhu 900⁰C dengan waktu penahanannya 5 jam. Timbang massa sampel setelah proses sintering, lalu sampel dikarakterisasi dengan menggunakan XRD dan FTIR. Metode wise drop

Lebih terperinci

4 Hasil dan pembahasan

4 Hasil dan pembahasan 4 Hasil dan pembahasan Bab ini memaparkan hasil dari sintesis dan karakterisasi konduktivitas listrik dan struktur kirstal dari senyawa perovskit Sr 2 Mg 1-X Fe x MoO 6-δ dengan x = 0,2; 0,5; 0,8; dan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakterisasi mikroskopik yang pertama dilakukan adalah analisis

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Karakterisasi mikroskopik yang pertama dilakukan adalah analisis 41 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Serapan Fourier Transform Infrared (FTIR) Karakterisasi mikroskopik yang pertama dilakukan adalah analisis FTIR. Analisis serapan FTIR dilakukan untuk mengetahui

Lebih terperinci

STUDI AWAL FABRIKASI DYE SENSITIZED SOLAR CELL (DSSC) DENGAN EKSTRAKSI DAUN BAYAM SEBAGAI DYE SENSITIZER DENGAN VARIASI JARAK SUMBER CAHAYA PADA DSSC

STUDI AWAL FABRIKASI DYE SENSITIZED SOLAR CELL (DSSC) DENGAN EKSTRAKSI DAUN BAYAM SEBAGAI DYE SENSITIZER DENGAN VARIASI JARAK SUMBER CAHAYA PADA DSSC STUDI AWAL FABRIKASI DYE SENSITIZED SOLAR CELL (DSSC) DENGAN EKSTRAKSI DAUN BAYAM SEBAGAI DYE SENSITIZER DENGAN VARIASI JARAK SUMBER CAHAYA PADA DSSC Surabaya 27 Januari 2012 Perumusan Masalah B Latar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Telah banyak dibangun industri untuk memenuhi kebutuhan manusia. Berkembangnya industri tentu dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, tetapi juga menimbulkan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Preparasi 4.1.1 Sol Hasil preparasi bahan baku larutan MgO, larutan NH 4 H 2 PO 4, dan larutan ZrOCl 2. 8H 2 O dengan perbandingan mol 1:4:6 (Ikeda, et al. 1986) dicampurkan

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. karakterisasi luas permukaan fotokatalis menggunakan SAA (Surface Area

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. karakterisasi luas permukaan fotokatalis menggunakan SAA (Surface Area BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini akan dibahas mengenai preparasi ZnO/C dan uji aktivitasnya sebagai fotokatalis untuk mendegradasi senyawa organik dalam limbah, yaitu fenol. Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi semakin berkembang seiring dengan

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi semakin berkembang seiring dengan BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Kebutuhan akan energi semakin berkembang seiring dengan berkembangnya kehidupan manusia. Sehingga para peneliti terus berupaya untuk mengembangkan sumber-sumber energi

Lebih terperinci

Spektroskopi Difraksi Sinar-X (X-ray difraction/xrd)

Spektroskopi Difraksi Sinar-X (X-ray difraction/xrd) Spektroskopi Difraksi Sinar-X (X-ray difraction/xrd) Spektroskopi difraksi sinar-x (X-ray difraction/xrd) merupakan salah satu metoda karakterisasi material yang paling tua dan paling sering digunakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan energi yang terus meningkat dan semakin menipisnya cadangan minyak bumi dan gas alam menjadi pendorong bagi manusia untuk mencari sumber energi alternatif.

Lebih terperinci

SINTESIS LAPISAN TIPIS SEMIKONDUKTOR DENGAN BAHAN DASAR TEMBAGA (Cu) MENGGUNAKAN CHEMICAL BATH DEPOSITION

SINTESIS LAPISAN TIPIS SEMIKONDUKTOR DENGAN BAHAN DASAR TEMBAGA (Cu) MENGGUNAKAN CHEMICAL BATH DEPOSITION SINTESIS LAPISAN TIPIS SEMIKONDUKTOR DENGAN BAHAN DASAR TEMBAGA (Cu) MENGGUNAKAN CHEMICAL BATH DEPOSITION Yolanda Oktaviani, Astuti Jurusan Fisika FMIPA Universitas Andalas e-mail: vianyolanda@yahoo.co.id

Lebih terperinci

SINTESIS OKSIDA LOGAM AURIVILLIUS SrBi 4 Ti 4 O 15 MENGGUNAKAN METODE HIDROTERMAL DAN PENENTUAN SIFAT FEROELEKTRIKNYA

SINTESIS OKSIDA LOGAM AURIVILLIUS SrBi 4 Ti 4 O 15 MENGGUNAKAN METODE HIDROTERMAL DAN PENENTUAN SIFAT FEROELEKTRIKNYA 27 SINTESIS OKSIDA LOGAM AURIVILLIUS SrBi 4 Ti 4 O 15 MENGGUNAKAN METODE HIDROTERMAL DAN PENENTUAN SIFAT FEROELEKTRIKNYA Synthesis of Metal Oxide Aurivillius SrBi 4 Ti 4 O 15 Using Hydrothermal Method

Lebih terperinci

Pengaruh Stabilisator Terhadap Ukuran, Morfologi, dan Fotoluminesensi Nanopartikel Seng Oksida yang Disintesis dengan Metode Sol-Gel

Pengaruh Stabilisator Terhadap Ukuran, Morfologi, dan Fotoluminesensi Nanopartikel Seng Oksida yang Disintesis dengan Metode Sol-Gel Jurnal Fisika Unand Vol. 7, No. 1, Januari 2018 ISSN 2302-8491 Pengaruh Stabilisator Terhadap Ukuran, Morfologi, dan Fotoluminesensi Nanopartikel Seng Oksida yang Disintesis dengan Metode Sol-Gel Rizchi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 21 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2010 - Juni 2011 di Laboratorium Biofisika dan Laboratorium Fisika Lanjut, Departemen Fisika IPB.

Lebih terperinci

BATERAI BATERAI ION LITHIUM

BATERAI BATERAI ION LITHIUM BATERAI BATERAI ION LITHIUM SEPARATOR Membran polimer Lapisan mikropori PVDF/poli(dimetilsiloksan) (PDMS) KARAKTERISASI SIFAT SEPARATOR KOMPOSIT PVDF/POLI(DIMETILSILOKSAN) DENGAN METODE BLENDING DEVI EKA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakang Proses pembangunan disegala bidang selain membawa kemajuan terhadap kehidupan manusia, tetapi juga akan membawa dampak negative bagi lingkungan hidup. Industrialisasi

Lebih terperinci

Bab III Metodologi Penelitian

Bab III Metodologi Penelitian Bab III Metodologi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Kimia Analitik, Program Studi Kimia FMIPA ITB sejak September 2007 sampai Juni 2008. III.1 Alat dan Bahan Peralatan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil XRD

HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil XRD 9 Hasil XRD HASIL DAN PEMBAHASAN Karakterisasi dengan difraktometer sinar-x bertujuan untuk mengetahui fasa kristal yang terdapat dalam sampel, mengetahui parameter kisi dan menentukan ukuran kristal.

Lebih terperinci

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini akan dibahas tentang sintesis katalis Pt/Zr-MMT dan

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN. Pada penelitian ini akan dibahas tentang sintesis katalis Pt/Zr-MMT dan BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini akan dibahas tentang sintesis katalis Pt/Zr-MMT dan uji aktivitas katalis Pt/Zr-MMT serta aplikasinya sebagai katalis dalam konversi sitronelal menjadi mentol

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Sejak ditemukan oleh ilmuwan berkebangsaan Jerman Christian Friedrich

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Sejak ditemukan oleh ilmuwan berkebangsaan Jerman Christian Friedrich BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Sel Bahan Bakar (Fuel Cell) Sejak ditemukan oleh ilmuwan berkebangsaan Jerman Christian Friedrich Schönbein pada tahun 1838, sel bahan bakar telah berkembang dan menjadi salah

Lebih terperinci

STRUKTUR KIMIA DAN SIFAT FISIKA

STRUKTUR KIMIA DAN SIFAT FISIKA STRUKTUR KIMIA DAN SIFAT FISIKA Objektif: Bab ini akan menguraikan tentang sifatsifat fisika SENYAWA ORGANIK seperti : Titik Leleh dan Titik Didih Gaya antar molekul Kelarutan Spektroskopi dan karakteristik

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 HASIL PENGUJIAN X-RAY DIFFRACTION (XRD) Pengujian struktur kristal SBA-15 dilakukan dengan menggunakan X-Ray Diffraction dan hasil yang di dapat dari pengujian

Lebih terperinci

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN

BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN BAB IV DATA DAN PEMBAHASAN 4.1 SINTESIS SBA-15 Salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan material mesopori silika SBA-15 melalui proses sol gel dan surfactant-templating. Tahapan-tahapan

Lebih terperinci

Sintesa dan Karakterisasi Nanokomposit ZnO-Silika sebagai Fotokatalis dengan Metode Sonikasi

Sintesa dan Karakterisasi Nanokomposit ZnO-Silika sebagai Fotokatalis dengan Metode Sonikasi Sintesa dan Karakterisasi Nanokomposit ZnO-Silika sebagai Fotokatalis dengan Metode Sonikasi Penyusun: Mohammad Rahmatullah (2309 100 097) Septono Sanny Putro (2310 106 012) Pembimbing: Prof. Dr. Ir. Sugeng

Lebih terperinci