BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. memberikan teladan terhadap guru SD Negeri 71/1 Kembang Seri Kabupaten

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. memberikan teladan terhadap guru SD Negeri 71/1 Kembang Seri Kabupaten"

Transkripsi

1 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Berdasarkan observasi peran kepemimpinan kepala sekolah dalam memberikan teladan terhadap guru SD Negeri 71/1 Kembang Seri Kabupaten Batang Hari, kepala sekolah selalu tiba di sekolah sebelum jam pelajaran dimulai. Kebiasaan kepala sekolah ini dilakukan dengan maksud memberikan contoh bagi para guru untuk melakukan hal yang sama tiba di sekolah sebelum jam pelajaran dimulai, dan hal inipun berdampak kepada para siswa yang telah berdatangan sebelum jam pelajaran dimulai. Sebagaimana wawancara yang dilakukan peneliti dengan Kepala Sekolah SD Negeri 71/1 Kembang Seri Kabupaten Batang Hari tentang memberikan teladan kepada guru, kepala sekolah mengungkapkan: Contoh bentuk keteladanan sederhana yang saya tunjukkan kepada para guru adalah dengan datang selalu lebih awal sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Karena dengan datang lebih awal baik saya maupun para guru dapat melakukan persiapan sebaik-baiknya sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran. Hasil observasi terhadap kepala sekolah dalam mengerakkan guru adalah sebelum para guru melaksanakan kegiatan pembelajaran kepala sekolah secara berkala mengunjungi ruang guru untuk melakukan dialog singkat bersama para guru guna mendapatkan informasi tentang jalannya program pembelajaran ataupun mendengarkan keluhan-keluhan para guru terkait dengan hambatan atau kendala dalam pembelajaran. Semua yang disampaikan para guru menjadi masukkan yang sangat berharga bagi kepala 30

2 31 sekolah. Sesuai jadwal sekolah, kepala sekolah dengan para guru mengadakan rapat bersama yang diadakan sebulan sekali guna membahas kemajuan program pembelajaran dan hambatan yang dialami guru dalam pembelajaran serta menindak lanjuti laporan para guru yang di sampaikan melalui dialog singkat tersebut di atas. Sebagaimana hasil wawancara dengan kepala sekolah tentang cara menggerakkan guru dalam kegiatan pembelajaran, kepala sekolah mengungkapkan: Cara saya mengerakkan guru adalah dengan melakukan kunjungan ke ruang guru untuk melakukan diskusi singkat tentang kegiatan pembelajaran, memberikan semangat pada guru, dan mengadakan pertemuan atau rapat antara kepala sekolah dengan para guru, yang resminya sebulan sekali. Dalam pertemuan itu selain memberikan solusi atas keluhan para guru saya juga menekankan perlunya meningkatkan kinerja dalam pelaksanaan tugas dengan berpedoman pada RPP, silabus, dan sumber pembelajaran lain yang terkait. Saya juga menekankan para guru bahwa saya selaku kepala sekolah akan mendukung para guru dalam mengelola dan melaksanakan pembelajaran sepanjang hal itu sejalan dengan tujuan pembelajaran. Hasil observasi terhadap kepala sekolah dalam melakukan pembinaan kepada para guru adalah dengan memberikan contoh melalui perbuatan, penekanan dalam hal disiplin kepada para guru serta kesempatan mengembangkan diri untuk para guru baik dengan belajar sendiri maupun mengikuti pelatihan. Sesuai hasil wawancara dengan kepala sekolah tentang pembinaan kepada guru menyebutkan: Hal pembinaan guru merupakan salah satu perhatian saya selain menjaga kelancaran kegiatan pembelajaran. Penekanan yang saya berikan kepada guru sebagai salah satu aspek pembinaan adalah kedisiplinan, baik itu disiplin waktu maupun disiplin mengajar. Contoh konkret disiplin waktu saya tunjukkan dengan tidak datang terlambat ke sekolah dan disiplin mengajar saya jelaskan agar memberikan perhatian kepada siswa tanpa membedakan, menjaga ketertiban dan

3 32 kelancaran kegiatan pembelajaran, memberikan segenap kemampuan dalam mengajar serta menyempatkan diri untuk belajar demi meningkatkan kualitas diri. Pembinaan dalam mengelola kegiatan pembelajaran sesuai RPP, silabus dan bahan ajar lainnya kepada guru saya berikan kesempatan seluas-luasnya untuk pelatihan yang dilaksanakan dinas terkait. Hal yang menjadi kendala selalu kami diskusikan untuk mencari jalan keluarnya. Dalam hal memberikan dorongan atau motivasi kepada guru pada kegiatan pembelajaran, sebagaimana hasil observasi salah satu bentuk dorongan atau motivasi kepala sekolah kepada guru dilakukan melalui diskusi singkat sebelum para guru memulai kegiatan pembelajaran dengan mengingatkan para guru akan prestasi anak didik sangatlah tergantung dari pembelajaran yang dibawakan guru, kepala sekolah sesekali mengunjungi ruang kelas di saat guru dan siswa sedang melaksanakan pembelajaran hanya untuk sekedar menyapa guru dan para siswa. Kepala sekolah menekankan jika kesejahteraan guru mendapat perhatian serius dari pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah, maka sudah sepantasnya para guru juga memberikan perhatian serius terhadap perkembangan prestasi anak didik. Para guru diminta untuk tidak bosan-bosan menyesuaikan diri dengan keadaan baik itu kurikulum maupun keberagaman peserta didik. Hasil wawancara dengan kepala sekolah tentang dorongan atau motivasi kepada guru adalah: Dorongan atau motivasi kepada guru saya berikan dalam setiap kesempatan baik secara resmi dalam kegiatan rapat rutin maupun tidak resmi melalui diskusi singkat atau tatap muka sesaat. Motivasi sangat perlu dilakukan kepada guru untuk menjaga kinerja guru, patut disadari bersama bahwa kegiatan mengajar itu kegiatan yang melelahkan yang menguras pikiran juga tenaga yang harus dilakukan guru selama 6 hari dalam 1 minggu. Saya sadar akan hal itu, karena itu saya sebutkan sangatlah penting memberikan motivasi kepada guru guna

4 33 menjaga kinerja mereka. Bentuk motivasi kepada guru bermacam-macam yang saya lakukan dari sekedar ucapan terima kasih atas kehadiran mengajar, memberikan informasi tentang kabar sekolah-sekolah dan guru yang berhasil dalam prestasi, memberikan reward bagi yang berprestasi, dan diberi peringatan kepada guru-guru yang lalai menjalankan tugasnya, memberikan ucapan selamat bagi guru yang naik pangkat. Terkait bantuan kepala sekolah kepada guru yang mengalami kesulitan atau memiliki masalah dalam kegiatan pembelajaran sesuai hasil observasi adalah melalui rapat bulanan yang dilakukan kepala sekolah dengan guru. Momentum rapat bulanan merupakan cara kepala sekolah untuk rmengetahui kesulitan atau masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran baik terkait RPP, administrasi kelas maupun peserta didik. Sesuai hasil wawancara dengan kepala sekolah tentang bantuan kepada guru yang mengalami kesulitan atau masalah dalam pelajaran, kepala sekolah menyebutkan: Selaku kepala sekolah saya selalu siap untuk mendengarkan keluhan para guru yang memiliki masalah dalam kegiatan pembelajaran baik itu terkait dengan RPP maupun peserta didik. Jika masalah itu menurut saya sederhana maka saya akan memberikan jalan keluarnya saat itu juga namun jika masalah itu menurut saya perlu dipecahkan bersama, maka saya akan membahasnya dalam rapat bulanan antara saya dengan guru. Berdasarkan observasi pada salah satu aspek kinerja guru yaitu pemahaman terhadap materi pelajaran yang dibawakan guru dalam pembelajaran, di dapat hasil bahwa dalam membawakan pembelajaran ratarata guru cukup memahami materi ajar yang dibawakan. Hal ini teramati dari berjalannya proses pembelajaran tanpa hambatan dan kesulitan pada diri guru, serta dari sisi peserta didik teramati mengikuti jalannya pembelajaran dengan tertib dan cukup aktif.

5 34 Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu Ulyani, S.Pd.SD, tentang apakah mengalami kesulitan dalam memahami dan membawakan materi pelajaran dalam proses pembelajaran, ibu Ulyani menjawab: Sebagai pribadi saya memang memiliki kesulitan dalam memahami materi mata pelajaran tertentu, tetapi sebagai guru saya tidak boleh terlihat kesulitan dalam membawakan materi pelajaran oleh siswa saya. Karena itu, sebelum memulai pembelajaran saya selalu menyempatkan diri untuk mempelajari materi pelajaran yang menjadi jadwal hari itu. Jika menemui kesulitan dalam memahami kandungan materi, saya akan berdiskusi dengan guru lain atau kepala sekolah sebagai solusinya. Sementara bapak M. Jauhari S.Pd.SD selaku guru kelas IV SDN 71/I Kembang Seri menjawab menurut saya selaku guru memang mengalami sedikit kesulitan dalam memahami materi pelajaran, tapi tidak semua materi pelajaran hanya beberapa saja. Dalam membawakan pelajaran saya tidak mengalami kesulitan. Hasil wawancara dengan bapak M. Muttaqin, S.Pd.SD selaku guru kelas V SDN 71/I Kembang Seri tentang pertanyaan yang sama, bapak Muttaqin menjawab tidak ada kesulitan, karena guru tiap tahun ada pelatihan untuk meningkatkan kualitas guru. Berdasarkan hasil observasi, saat ini SD Negeri 71/I Kembang Seri Kabupaten Batang Hari masih mengaplikasikan kurikulum satuan tingkat pendidikan (KTSP) 2006, dan pada umumnya guru-guru di SDN 71/I Kembang Seri dalam membawakan pelajaran menggunakan metode ceramah, tanya jawab dan diskusi. Hasil wawancara dengan Ibu Ulyani, S.Pd.SD, tentang metode mengajar menjelaskan: Sebagaimana tercantum dalam RPP jika metode mengajar yang digunakan adalah ceramah, diskusi, dan tanya jawab.

6 35 Mengingat jika apa yang tercantum dalam RPP adalah pedoman guru dalam mengajar maka metode mengajar saya sesuaikan dengan yang tercantum dalam RPP. Jawaban bapak M. Jauhari S.Pd.SD atas pertanyaan yang sama adalah yang saya terapkan di dalam kelas saya berbagai macam ada ceramah dan tanya jawab, ada sistem berkelompok dan ada juga sistem perindividual. Meski berdasarkan hasil observasi tentang metode mengajar yang diterapkan guru di SDN 71/I Kembang Seri menunjukkan metode mengajar ceramah dan tanya jawab serta diskusi. Namun dalam satu kesempatan ada juga guru yang menggunakan metode belajar bersama atau cooperative learning dalam pembelajaran, hal ini dilakukan oleh bapak Muttaqin, S.Pd.SD. Sebagaimana wawancara yang dilakukan dengan Bapak Muttaqin tentang metode mengajar yang guru terapkan dalam pembelajaran mengungkapkan: Metode mengajar yang saya gunakan lebih banyak ceramah dan tanya jawab. Namun pada satu kesempatan saya menggunakan metode belajar bersama dengan membuat beberapa kelompok belajar, hal ini saya lakukan untuk menjaga semangat belajar siswa karena saya khawatir siswa merasa bosan jika metode belajar hanya itu-itu saja. Untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan kepala sekolah tentang metode mengajar guru, peneliti juga melakukan wawancara dengan kepala sekolah SDN 71/I Kembang Seri tentang metode mengajar guru dalam kegiatan pembelajaran. Sebagaimana dijelaskan kepala sekolah: Rata-rata guru saat ini menggunakan metode ceramah dan tanya jawab dalam membawakan pelajaran. Dalam beberapa kesempatan saya sampaikan kepada guru untuk meningkatkan kualitas mengajar. Menyikapi keadaan saat ini para guru harus siap menerima perubahan jika sewaktu-waktu kurikulum 2013 diberlakukan di SDN 71/I Kembang Seri menggantikan KTSP 2006.

7 36 Sementara tentang kinerja mengajar guru, hasil wawancara dengan kepala sekolah SDN 71/I Kembang Seri adalah: Pada prinsipnya para guru telah melakukan yang terbaik dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Kita semua tahu tidak ada manusia yang sempurna, dan saya menyadari jika para guru masih memiliki kekurangan. Untuk itu saya dan juga para guru senantiasa harus selalu belajar demi meningkatkan kualitas diri pribadi dan menjaga profesinalisme guru. Dalam keseharian kegiatan belajar mengajar berdasarkan hasil observasi dapat diketahui bahwa guru kerap berupaya untuk membuat suasana kelas tidak membosankan, siswa diberikan kesempatan untuk memberikan pertanyaan seputar pembelajaran dan melemparkan pertanyaan tersebut kepada siswa lain untuk menjawabnya. Berdasarkan wawancara dengan ibu Ulyani S.Pd.SD guru kelas III SDN 71/I Kembang seri tentang apakah siswa senang atau bisa menerima metode mengajar yang guru terapkan dalam pembelajaran, ibu Ulyani mengungkapkan: Tugas kami sebagai guru adalah membawakan pembelajaran dengan sebaik mungkin. Kita semua tahu dinamika di dalam kelas ada siswa yang cepat menyerap pelajaran dan ada juga yang lambat, tentunya hal ini bisa menjawab pertanyaan jika dalam mengajar ada siswa yang senang atau bisa menerima metode mengajar yang diterapkan guru dan sebaliknya ada juga yang tidak. Sementara bapak M. Jauhari S.Pd.SD, menjawab selama saya mengajar disini anak-anak senang menerima materi pembelajaran dari saya. Hasil wawancara dengan bapak M. Muttaqin, S.Pd.SD, tentang perihal yang sama, bapak Muttaqin menjawab: Anak-anak senang terutama dengan metode demonstrasi dan praktikum karena sifatnya pembelajaran kooperatif. Anak itu diajak untuk bekerjasama itu yang buat mereka paling senang dan aktif. Anak-anak aktif karena mereka menemukan susatu

8 37 yang baru, nah ini sifat anak, mereka antusias jika ingin menemukan sesuatu yang baru yang belum diketahuinya. Berdasarkan hasil observasi terhadap profesionalisme kerja guru, kesan yang teramati adalah guru fokus dalam membawakan pembelajaran dan menunjukkan perlakuan yang sama kepada siswa, teramati posisi guru yang selalu berpindah-pindah dari satu siswa ke siswa lainnya dalam membawakan materi pelajaran. Pada saat membawakan pelajaran posisi telepon genggam (hand phone) guru dalam keadaan mati (switch off), hal ini dilakukan guru agar selama jam belajar konsentrasi guru tidak terpecah dari hal-hal yang dapat mengganggu jalannya kegiatan pembelajaran. Hasil wawancara dengan ibu Ulyani, S.Pd.SD, tentang menjaga profesionalisme kerja guru ditengah masalah yang mungkin ada dalam pembelajaran dan di sekolah adalah: Sikap profesional dalam mengajar memang harus ditunjukkan oleh semua guru. Guru juga adalah manusia yang tidak lepas dari masalah, entah itu masalah terkait pembelajaran ataupun masalah pribadi. Mengingat tugas guru, semua masalah yang ada memang harus dilupakan sejenak agar kegiatan pembelajaran tidak terganggu. Terkadang itu sulit tetapi harus tetap dilakukan sebagai bentuk profesionalisme guru. Jawaban bapak M. Jauhari S.Pd.SD, dalam wawancara tentang menjaga profesionalisme kerja adalah ya tentu harus professional kalau bagi saya selaku guru. Kalau profesionalisme guru apapun masalahnya saya selesaikan dalam lingkungan sekolah. Kalaupun ada masalah pribadi saya, itu tidak saya ikut campurkan ke profesionalisme saya selaku guru. Sementara hasil wawancara dengan bapak M. Muttaqin, S.Pd.SD, tentang perihal yang sama, bapak Muttaqin menjawab profesionalisme yang sebenarnya kita mampu membedakan mana masalah pribadi, mana masalah pembelajaran. Di sekolah tidak bisa diikut campurkan, ya kalau masalah

9 38 pribadi jadi urusan pribadi. Guru wajib hukumnya bisa membedakan sesuatu itu. Salah satu hal yang paling terkait dengan kinerja guru adalah kepemimpinan kepala sekolah. Di SDN 71/I Kembang Seri peran kepemimpinan kepala sekolah memiliki arti penting bagi kinerja guru. Berdasarkan observasi yang teramati oleh peneliti, kepala sekolah melakukan kunjungan singkat ke kelas-kelas saat berlangsungnya kegiatan pembelajaran sekedar untuk menyapa guru dan para siswa. Bagi guru perhatian kecil dari kepala sekolah ini memiliki arti besar sebagai motivasi dalam mengelola pembelajaran. Hasil wawancara dengan ibu Ulyani tentang peran kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru saat ini mengungkapkan: Kepala sekolah SDN 71/I Kembang Seri memiliki sikap yang tegas. Ketegasan sikap kepala sekolah itu membuat kami para guru berhati-hati dalam bertindak. Selain tegas kepala sekolah memiliki kepedulian yang tinggi terhadap para guru, apapun keluhan kami terkait dengan pembelajaran akan ditanggapi dengan cepat, disiplin yang tinggi selalu dan rasa tanggung jawab atas prestasi siswa selalu diingatkan kepada para guru. Sementara bapak M. Jauhari S.Pd.SD, menjawab peran kepemimpinan kepala sekolah di sekolah lumayan bagus. Terutama dalam menjaga kekompakkan para guru, setelah itu perhatian kepala sekolah terhadap kinerja guru lumayan bagus. Hasil wawancara dengan bapak M. Muttaqin, S.Pd.SD, tentang peran kepemimpinan kepala sekolah mengungkapkan: pasti bagus karena kepala sekolah mau turun langsung, untuk mengetahui apa kendala dalam pembelajaran, apa kebutuhan dalam kelas, itu selalu kita rapatkan sebulan sekali, kadang ada juga seminggu sekali. Kepala sekolah itu bertanggung jawab

10 39 terhadap seluruh isi sekolah, baik itu kinerja guru, sarana dan prasarana, serta lingkungan sosial. Hasil observasi tentang kendala yang dihadapi kepala sekolah dalam menjalankan peran kepemimpinan di SDN 17/I Kembang Seri adalah masih ada guru dan staf sekolah yang memiliki disiplin rendah. Tidak semua guru memiliki kualitas kerja sesuai harapan tidak semua guru bisa mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan karena jatah dari penyelenggara yang terbatas, kurangnya sarana belajar, tingkat kenyamanan sekolah yang kurang. Sebagaimana hasil wawancara dengan kepala sekolah SDN 71/I Kembang Seri tentang kendala yang dihadapi kepala sekolah mengungkapkan: Banyak kendala yang dihadapi kepala sekolah dalam menjalankan peran kepemimpinan di SDN 71/I Kembang Seri diantaranya adalah masih ada guru yang memiliki tingkat disiplin rendah, kualitas guru yang perlu ditingkatkan sementara kesempatan mengikuti pelatihan dalam meningkatkan kualitas guru sangat minim, serta prasarana dan sarana pendidikan yang kurang lengkap. Perlunya diatasi dan difasilitasi kekurangan yang dimiliki SDN 71/I Kembang Seri sejatinya harus sejak saat ini, sebelum pemberlakuan kurikulum 2013, karena dikhawatirkan jika kekurangan itu belum difasilitasi hingga berlakunya kurikulum 2013 di SDN 71/I Kembang Seri maka akan menghambat kegiatan pembelajaran. Upaya yang telah dilakukan kepala sekolah dalam mengatasi kendalakendala tersebut adalah memberikan pengarahan secara kontinue kepada guru yang memiliki disiplin rendah, meyurati dinas terkait untuk meminta jatah lebih bagi guru SDN 71/I Kembang Seri dalam mengikuti pelatihan, menyampaikan kepada para guru untuk menjaga harmonisasi dalam lingkungan sekolah agar suasana belajar mengajar makin kondusif, dan mengusulkan kepada dinas terkait untuk menambah sarana belajar.

11 Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian tentang peran kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SDN 71/1 Kembang Seri Kabupaten Batang Hari salah satunya adalah ditunjukkan dengan memberikan teladan. Kepala sekolah sehari-hari datang lebih awal dari para guru hal ini dilakukan agar para guru juga melakukan hal yang sama, kepala sekolah mengungkapkan dengan datang lebih awal baik kepala sekolah maupun para guru dapat melakukan persiapan sebaik-baiknya sebelum memulai kegiatan pembelajaran. Perihal datang lebih awal dirasakan manfaatnya oleh ibu Ulyani S.Pd.SD, dengan datang lebih awal ibu Ulyani memiliki kesempatan untuk mempelajari materi pelajaran yang akan dibawakan hari itu. Jika menemukan kesulitan dalam memahami materi pelajaran maka ibu Ulyani melakukan diskusi dengan guru lainnya atau dengan kepala sekolah. Tentang hal keteladanan ini sesuai dengan apa yang diungkapkan Wahjosumidjo (2005:103): Kepala sekolah sebagai pemimpin harus mampu memberikan teladan guna menimbulkan kemauan yang kuat dengan penuh semangat dan percaya diri para guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hasil penelitian terhadap peran kepemimpinan kepala sekolah SDN 71/1 Kembang Seri dalam mengerakkan guru adalah mengunjungi ruang guru untuk melakukan dialog singkat guna mendapatkan informasi tentang jalannya program pembelajaran ataupun mendengarkan keluhan-keluhan para guru terkait dengan hambatan atau kendala dalam pembelajaran. Dari apa yang dihasilkan melalui dialog singkat dibawa kepala

12 41 sekolah untuk ditindak lanjuti melalui rapat bulanan. Sebagaimana diungkapkan Mulyasa (2010:57): Sebagai pemimpin apabila kepala sekolah ingin berhasil menggerakkan para bawahan maka kepala sekolah harus selalu siap mendengarkan keluhan para bawahan, memacu dan memberikan insipirasi dalam mencapai tujuan, menghindarkan diri dari sikap dan perbuatan yang bersifat memaksa atau bertindak keras dan mengedepankan diskusi bersifat kekeluargaan. Terkait hal yang dilakukan oleh kepala sekolah SDN 71/1 Kembang Seri dengan melakukan rapat bulanan sebagai tindak lanjut dari dialog singkat dengan para guru, sejalan dengan apa yang diungkapkan Rivai (2011:33), Kepemimpinan yang efektif dapat terlaksana secara dinamis karena kemauan pucuk pimpinan dalam mengambil dan menetapkan keputusan-keputusan, yang selalu dirasakan sebagai keputusan bersama. Rapat-rapat sebagai pengendalian dalam kepemimpinan, dapat diselenggarakan untuk beberapa tujuan antara lain: 1. Mengumpulkan informasi, pemikiran, pendapat dalam melaksanakan program kerja organisasi sekolah. 2. Mengevaluasi program kerja organisasi sekolah. 3. Memecahkan masalah bersama. 4. Menyampaikan informasi, instruksi, bimbingan dan arahan. Sesuai hasil penelitian tentang peran kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja guru di SDN 71/1 Kembang Seri juga dalam hal pembinaan kepada guru adalah melalui penekanan disiplin, serta memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi guru untuk meningkatkan kemampuan. Pembinaan dilakukan kepala sekolah terhadap guru tidak hanya sekedar melalui ucapan tapi juga perbuatan. Contoh konkret tentang hal disiplin adalah kepala sekolah datang lebih awal dari guru, meningkatkan kemampuan dan profesionalisme guru dengan mengikutkan guru dalam pelatihan, workshop, seminar ataupun KKG.

13 42 Dalam hal memberikan dorongan atau motivasi kepada guru pada kegiatan pembelajaran, kepala sekolah selalu mengingatkan guru bahwa prestasi anak didik sangat ditentukan dari pembelajaran yang dibawakan guru. Semakin baik guru mengelola kegiatan belajar mengajar maka prestasi anak didik juga akan baik, demikian juga sebaliknya. Kepala sekolah menekankan jika kesejahteraan guru mendapat perhatian serius dari pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah, maka sudah sepantasnya para guru juga memberikan perhatian serius terhadap perkembangan prestasi anak didik. Pentingnya pembinaan dan motivasi kepada guru juga diungkapkan oleh Supardi (2013:49), Tanpa pembinaan yang berkelanjutan dari kepala sekolah selaku pemimpin tidak akan pernah tercipta kinerja guru yang sesuai harapan. Dan tanpa motivasi yang berkesinambungan kinerja guru hanya terlihat diluar saja, hanya bersandarkan kemampuan diri dan lupa menggunakan hati. Bentuk lain kepemimpinan kepala sekolah SDN 71/1 Kembang Seri terhadap kinerja guru adalah memberikan bantuan kepada guru yang mengalami kesulitan atau memiliki masalah dalam kegiatan pembelajaran. Di SDN 71/1 Kembang Seri momentum rapat bulanan merupakan cara kepala sekolah untuk rmengetahui kesulitan atau masalah yang dihadapi guru dalam pembelajaran baik terkait RPP, administrasi kelas maupun peserta didik. Dengan bantuan yang diberikan kepala sekolah kepada guru diharapkan guru dapat mempertahankan kinerja dalam kegiatan pembelajaran dengan berpegang pada prinsip bahwa keberadaan guru di sekolah tidaklah sendiri melainkan guru memiliki pemimpin yang setiap saat bersedia memberikan solusi atas masalah guru.

14 43 Kinerja guru akan selalu diukur dari keberhasilan peserta didik dalam mengentaskan pendidikan. Proses keberhasilan transfer pengetahuan dari guru selaku pendidik kepada peserta didik sangat tergantung dari cara atau metode mengajar yang diterapkan guru. Hasil penelitian tentang gambaran kinerja guru SDN 71/I Kembang Seri tentang mengalami kesulitan dalam memahami dan membawakan materi pelajaran dalam pembelajaran adalah ada guru yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran dan ada juga guru yang tidak mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran, terkait dengan guru yang mengalami kesulitan dalam memahami materi pelajaran harus memiliki strategi agar kesulitan tersebut tidak berdampak dalam kegiatan pembelajaran. Karena jika guru kesulitan memahami materi pelajaran dan juga kesulitan dalam membawakan pembelajaran, maka akan berdampak terhadap prestasi peserta didik. Hasil penelitian tentang metode mengajar guru di SDN 71/I Kembang Seri adalah dalam kegiatan pembelajaran metode mengajar yang diterapkan guru dominan menggunakan metode ceramah, tanya jawab, dan diskusi. Dalam satu kesempatan juga ditemukan guru yang menggunakan metode belajar bersama atau cooperative learning dalam pembelajaran. Hal ini dilakukan oleh bapak Muttaqin, S.Pd.SD, bahwa sesekali menggunakan metode belajar bersama karena khawatir siswa merasa bosan jika metode belajar itu-itu saja. Terkait dengan metode belajar Ahmad Susanto (2013:44) mengungkapkan:

15 44 Perlu ditekankan bahwa metode apapun yang dibawakan guru dalam pembelajaran hendaknya dapat mengakomodasi secara menyeluruh prinsip-prinsip kegiatan belajar mengajar, yaitu: 1) berpusat pada siswa (student centre); 2) belajar dengan melakukan (learning by doing); 3) mengembangkan kemampuan sosial; 4) mengembangkan keingintahuan dan imajinasi; dan 5) mengembangkan kreatifitas dan ketrampilan memecahkan masalah. Hasil penelitian tentang siswa senang atau bisa menerima metode mengajar yang guru terapkan saat ini masih samar-samar atau belum terjawab. Hanya saja dalam keseharian kegiatan belajar mengajar guru telah membawakan pembelajaran sebaik mungkin dengan berupaya membuat suasana kelas tidak membosankan, siswa dilibatkan secara aktif dalam pembelajaran. Menarik untuk disimak tentang apa yang disampaikan ibu Ulyani perihal siswa senang atau bisa menerima metode mengajar yang diterapkan guru kita semua tahu dinamika di dalam kelas ada siswa yang cepat menyerap pelajaran dan ada juga yang lambat tentunya hal ini bisa menjawab pertanyaan, jika dalam mengajar ada siswa yang senang atau bisa menerima metode mengajar yang diterapkan guru dan sebaliknya ada juga yang tidak. Sebagaimana disampaikan Ahmad Susanto (2013:17) dapat dijadikan pedoman oleh guru: Keberhasilan siswa dalam belajar tergantung pada metode pembelajaran atau penyajian materi. Model penyajian materi yang menyenangkan, tidak membosankan, menarik, dan mudah dimengerti oleh para siswa tentunya berpengaruh secara positif terhadap keberhasilan belajar. Hasil penelitian tentang profesionalisme kerja guru adalah rata-rata guru di SDN 71/I Kembang Seri telah menyadari pentingnya menjaga profesionalisme dalam mengajar. Kita semua tahu jika kesejahteraan guru mendapat perhatian serius dari pemangku kebijakan dalam hal ini pemerintah,

16 45 untuk itu juga dituntut perhatian serius dari guru dalam meningkatkan prestasi anak didik. Disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 tahun 2005 Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Hasil penelitian tentang peran kepemimpinan kepala sekolah terhadap kinerja mengajar guru adalah perhatian kepala sekolah. Ditengah kesibukan sebagai kepala sekolah masih menyempatkan diri melakukan kunjungan singkat ke kelas-kelas sekedar untuk menyapa guru dan para siswa. Kepala sekolah memiliki sikap yang tegas dan kepedulian yang tinggi terhadap guru, setiap keluhan guru tentang pembelajaran akan ditanggapi kepala sekolah dengan cepat, selalu mengingatkan guru tentang perlunya disiplin dan rasa tanggung jawab terhadap prestasi siswa. Hal-hal yang dilakukan kepala sekolah wajib disikapi guru dengan fokus dalam pembelajaran dan selalu berupaya meningkatkan kualitas kinerja mengajar. Sebagaimana diungkapkan Nurhayati (2006:64): Peningkatan kinerja guru mutlak diperlukan, karenanya kepala sekolah hendaknya memberikan perhatian, bimbingan, dan dorongan kepada guru dalam meningkatkan profesionalisme dan kinerjanya. Hasil penelitian tentang kendala yang dihadapi kepala sekolah dalam menjalankan peran kepemimpinan di SDN 17/1 Kembang Seri adalah masih ada guru dan staf sekolah yang memiliki disiplin rendah dan upaya untuk mengatasi hal ini kepala sekolah menekankan kepada yang bersangkutan tentang pentingnya arti disiplin. Kendala lain adalah kurangnya kualitas

17 46 mengajar guru dan upaya mengatasi hal ini dengan menekankan pentingnya guru meningkatkan kualitas diri dengan tidak bosan-bosan untuk belajar. Pelatihan bagi guru juga menjadi kendala karena tidak semua guru bisa mendapatkan kesempatan mengikuti pelatihan, dan hal ini telah disampaikan kepala sekolah kepada instansi terkait tentang penambahan jatah guru SDN 71/1 Kembang Seri mengikuti pelatihan tapi belum mendapat tanggapan. Kendala tentang kurangnya sarana belajar juga sudah disampaikan kepada instansi terkait hanya saja belum mendapat tanggapan. Tentang iklim sekolah yang kurang kondusif kepala sekolah telah menyampaikan kepada para guru dan staf sekolah untuk menjaga harmonisasi demi kelancaran kegiatan pembelajaran. Kepala sekolah juga sudah mengusulkan kepada instansi terkait tentang perlunya menambah sarana belajar dan sampai saat ini usulan tersebut belum mendapat tanggapan.

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 100 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Pada bab ini penulis mencoba menarik kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan selama hampir dua bulan di Sekolah Dasar Negeri 2. Pada bab

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya

BAB I PENDAHULUAN. Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Memasuki era globalisasi yang terjadi saat ini ditandai dengan adanya perkembangan pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan yang terjadi tersebut menuntut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah. Indikator paling nyata

BAB I PENDAHULUAN. Kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah. Indikator paling nyata 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kualitas pendidikan di Indonesia masih tergolong rendah. Indikator paling nyata dari rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia adalah rendahnya perolehan

Lebih terperinci

Prosiding Pendidikan Agama Islam ISSN:

Prosiding Pendidikan Agama Islam ISSN: Prosiding Pendidikan Agama Islam ISSN: 2460-6413 Upaya Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kompetensi Profesional Guru Pendidikan Agama Islam dalam Rangka Peningkatan Mutu Belajar Mengajar Upaya Kepala Sekolah

Lebih terperinci

NAMA :ANDI SUBANDRIYO NIM. :Q

NAMA :ANDI SUBANDRIYO NIM. :Q PENGARUH KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH, IKLIM ORGANISASI, DAN TINGKAT PENGHASILAN GURU TERHADAP KEPUASAN KERJA GURU DI SD SEGUGUS MAJAPAHIT KECAMATAN KARTASURA T E S I S Disusun Oleh: NAMA :ANDI SUBANDRIYO

Lebih terperinci

SKALA: Kinerja Kepala Sekolah (diisi oleh Guru) Nama SMP : (Bapak/ Ibu tidak perlu mencantumkan identitasnya)

SKALA: Kinerja Kepala Sekolah (diisi oleh Guru) Nama SMP : (Bapak/ Ibu tidak perlu mencantumkan identitasnya) SKALA: Kinerja Kepala Sekolah (diisi oleh Guru) Nama SMP :. (Bapak/ Ibu tidak perlu mencantumkan identitasnya) Petunjuk : Angket ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang kinerja kepala sekolah yang

Lebih terperinci

pelatihan, bantuan teknis dan lain-lain sesuai apa yang dilaporkan BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

pelatihan, bantuan teknis dan lain-lain sesuai apa yang dilaporkan BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA pelatihan, bantuan teknis dan lain-lain sesuai apa yang dilaporkan BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA C. Keterbatasan Penelitian Adapun keterbatasan pada waktu penelitian yang dirasakan oleh peneliti dalam

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. sekolah dengan keefektifan Sekolah Menengah Pertama di Kota Medan. Hal

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. sekolah dengan keefektifan Sekolah Menengah Pertama di Kota Medan. Hal 117 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil analisis data, temuan dan pembahasan penelitian maka dapat diambil simpulan sebagai berikut: 1. Terdapat hubungan positif dan signifikan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI SMP ISLAM SULTAN AGUNG 1 SEMARANG

BAB IV ANALISIS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI SMP ISLAM SULTAN AGUNG 1 SEMARANG 69 BAB IV ANALISIS KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU DI SMP ISLAM SULTAN AGUNG 1 SEMARANG A. Kepemimpinan kepala sekolah di SMP Islam Sultan Agung 1 Semarang Kepala sekolah merupakan

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Pembahasan Pada uraian ini, peneliti akan menyajikan uraian pembahasan sesuai

BAB V PEMBAHASAN. A. Pembahasan Pada uraian ini, peneliti akan menyajikan uraian pembahasan sesuai 75 BAB V PEMBAHASAN A. Pembahasan Pada uraian ini, peneliti akan menyajikan uraian pembahasan sesuai dengan hasil penelitian. Sehingga pembahasan ini akan mengintegrasikan hasil penelitian yang ada sekaligus

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PELAKSANAAN KTSP MATA PELAJARAN PAI SDN WATES 01 WONOTUNGGGAL. A. Pelaksanaan KTSP Mata Pelajaran PAI Kelas VI di SD Negeri Wates

BAB IV ANALISIS PELAKSANAAN KTSP MATA PELAJARAN PAI SDN WATES 01 WONOTUNGGGAL. A. Pelaksanaan KTSP Mata Pelajaran PAI Kelas VI di SD Negeri Wates BAB IV ANALISIS PELAKSANAAN KTSP MATA PELAJARAN PAI SDN WATES 01 WONOTUNGGGAL A. Pelaksanaan KTSP Mata Pelajaran PAI Kelas VI di SD Negeri Wates Wonotunggal Batang 1. Perencanaan Pendidikan Agama Islam

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan temuan data dan pembahasan pada Bab IV, maka dapat diambil

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan temuan data dan pembahasan pada Bab IV, maka dapat diambil 221 BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan temuan data dan pembahasan pada Bab IV, maka dapat diambil beberapa kesimpulan penelitian, antara lain: 1. Perencanaan pengembangan profesionalitas

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum SMA Negeri 1 Salatiga Pada 1 Juli yayasan SMA B didirikan oleh beberapa tokoh, terutama mereka yang berada di DPRD Salatiga

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI KTSP PADA MATA PELAJARAN FIKIH KELAS VII DI MTS MIFTAHUL FALAH DAN PROBLEMATIKANYA SERTA SOLUSINYA

BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI KTSP PADA MATA PELAJARAN FIKIH KELAS VII DI MTS MIFTAHUL FALAH DAN PROBLEMATIKANYA SERTA SOLUSINYA 52 BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI KTSP PADA MATA PELAJARAN FIKIH KELAS VII DI MTS MIFTAHUL FALAH DAN PROBLEMATIKANYA SERTA SOLUSINYA A. Analisis Implementasi KTSP Mata pelajaran Fikih 1. Analisis Kurikulum

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pemaparan penelitian ini, maka diperoleh

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. Berdasarkan hasil analisis dan pemaparan penelitian ini, maka diperoleh 122 BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan 1. Simpulan Deskriptif Berdasarkan hasil analisis dan pemaparan penelitian ini, maka diperoleh simpulan deskriptif yang menunjukkan bahwa: 1. Kepuasan

Lebih terperinci

PELAKSANAAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH UNTUK PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU DI SD NEGERI 10 BANDA ACEH ABSTRAK

PELAKSANAAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH UNTUK PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU DI SD NEGERI 10 BANDA ACEH ABSTRAK Jurnal Ilmiah Mahasiswa Prodi PGSD FKIP Unsyiah Volume 1 Nomor 1, 11-20 Agustus 2016 PELAKSANAAN SUPERVISI KEPALA SEKOLAH UNTUK PENGEMBANGAN KOMPETENSI GURU DI SD NEGERI 10 BANDA ACEH Ayu 1) Nurhaidah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang kemudian disebut dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang kemudian disebut dengan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengakuan dan penghargaan kedudukan guru sebagai tenaga pendidik profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang kemudian disebut dengan guru sertifikasi. Untuk

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAAN Deskripsi mengenai hasil penelitian merupakan jawaban atas rumusan masalah yang diungkapkan pada Bab I akan disajikan dalam Bab IV ini. Sebelum hasil penelitian

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukan bahwa faktor-faktor kinerja

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. Berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukan bahwa faktor-faktor kinerja BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. KESIMPULAN Berdasarkan hasil uji hipotesis menunjukan bahwa faktor-faktor kinerja pengawas sekolah, kinerja kepemimpinan kepala sekolah, kinerja professional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi

BAB I PENDAHULUAN. dan memajukan daya pikir manusia. Perkembangan pesat di bidang teknologi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Matematika merupakan ilmu yang mendasari perkembangan teknologi modern. Matematika mempunyai peranan penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Latar Penelitian ini dilaksanakan di Gugus Hasanuddin Kecamatan Kedungjati yang merupakan terdiri dari 10 SD. Keberadaan Gugus Hasanuddin Kecamatan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti mengurus surat izin penelitian dari

BAB IV HASIL PENELITIAN. Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti mengurus surat izin penelitian dari BAB IV HASIL PENELITIAN A. Paparan Data 1. Paparan Data Pra Tindakan Sebelum penelitian dilaksanakan, peneliti mengurus surat izin penelitian dari Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Palembang. Selanjutnya,

Lebih terperinci

Kepala Sekolah, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran PKn

Kepala Sekolah, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran PKn Kepala Sekolah, Meningkatkan Kualitas Pembelajaran PKn Probo Puji Graffita Prodi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Universitas Negeri Malang Jl. Semarang 5 Malang E-mail: affitd@yahoo.com Abstrak:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum istilah sains memiliki arti kumpulan pengetahuan yang tersusun

BAB I PENDAHULUAN. Secara umum istilah sains memiliki arti kumpulan pengetahuan yang tersusun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sains pada sekolah dasar merupakan mata pelajaran yang mengkaji seperangkat peristiwa, fenomena-fenomena alam dan yang terjadi di alam. Secara umum istilah sains memiliki

Lebih terperinci

BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL

BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL Praktik mengajar merupakan kegiatan pokok pelaksanaan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), dimana mahasiswa ikut terlibat langsung dalam proses belajar mengajar

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Singocandi Kudus melalui model pembelajaran examples non examples

BAB V PEMBAHASAN. Singocandi Kudus melalui model pembelajaran examples non examples BAB V PEMBAHASAN 5.1 Keterampilan Guru Pada Mata Pelajaran IPA Materi Sumber Daya Alam Melalui Model Pembelajaran Examples Non Examples Hasil observasi keterampilan guru dalam pembelajaran IPA kelas IV

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Efektivitas proses..., Hani Khotijah Susilowati, FISIP UI, Universitas Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Efektivitas proses..., Hani Khotijah Susilowati, FISIP UI, Universitas Indonesia 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada awal abad XXI, dunia pendidikan di Indonesia menghadapi tiga tantangan besar. Tantangan pertama, sebagai akibat dari krisis ekonomi, dunia pendidikan dituntut

Lebih terperinci

BAB II KEGIATAN PPL A. Kegiatan PPL 1. Persiapan PPL

BAB II KEGIATAN PPL A. Kegiatan PPL 1. Persiapan PPL BAB II KEGIATAN PPL A. Kegiatan PPL 1. Persiapan PPL Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah kegiatan yang wajib ditempuh oleh mahasiswa S1 UNY program kependidikan karena orientasi utamanya adalah kependidikan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Guru merupakan komponen pembelajaran yang memegang peranan penting dan utama, karena keberhasilan proses pembelajaran sangat ditentukan oleh faktor guru. Guru menjadi

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. siswa (Studi Deskriptif Analitis di SMAN 1 CIASEM Kabupaten Subang) dapat

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. siswa (Studi Deskriptif Analitis di SMAN 1 CIASEM Kabupaten Subang) dapat 133 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil pembahasan penelitian yang telah dilaksanakan mengenai studi tentang Peran guru PKn dalam membentuk karakter disiplin siswa (Studi Deskriptif Analitis di

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS MANAJEMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SDLB NEGERI PEKALONGAN

BAB IV ANALISIS MANAJEMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SDLB NEGERI PEKALONGAN BAB IV ANALISIS MANAJEMEN PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SDLB NEGERI PEKALONGAN Proses pembelajaran merupakan suatu aspek dari lingkungan sekolah yang diorganisasi.

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI. Medan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: (1) komunikasi, (2) sumber daya,

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI. Medan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: (1) komunikasi, (2) sumber daya, BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI A. SIMPULAN Implementasi kebijakan standar kompetensi guru SMA Negeri di kota Medan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: (1) komunikasi, (2) sumber daya, (3) disposisi,

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Bapak Rafil sebagai direktur keuangan dan Bapak Bayu sebagai direktur operasional)

LAMPIRAN. Bapak Rafil sebagai direktur keuangan dan Bapak Bayu sebagai direktur operasional) L 1 LAMPIRAN Transkrip Wawancara A. Pertanyaan Dan Jawaban Dua Direktur Bapak Rafil sebagai direktur keuangan dan Bapak Bayu sebagai direktur operasional) Pertanyaan untuk dua direktur : 1. Bagaimana gaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebuah program, pendidikan merupakan aktivitas sadar dan sengaja yang diarahkan untuk

BAB I PENDAHULUAN. sebuah program, pendidikan merupakan aktivitas sadar dan sengaja yang diarahkan untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan sebuah program. Program melibatkan sejumlah komponen yang bekerja sama dalam sebuah proses untuk mencapai tujuan yang di programkan. Sebagai

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SDN KARANGMLATI 1 DEMAK

BAB IV ANALISIS PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SDN KARANGMLATI 1 DEMAK BAB IV ANALISIS PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN TUTOR SEBAYA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SDN KARANGMLATI 1 DEMAK A. Analisis Aspek-Aspek yang Diteliti Antara Pembelajaran Tutor Sebaya dan Pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan organisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan akan sangat

BAB I PENDAHULUAN. Keberhasilan organisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan akan sangat BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Keberhasilan organisasi mencapai tujuan yang telah ditetapkan akan sangat tergantung berperannya kepemimpinan. Demikian halnya kepemimpinan dalam sebuah organisasi

Lebih terperinci

Oleh: Sri Wahyuni SDN 3 Malasan, Durenan, Trenggalek

Oleh: Sri Wahyuni SDN 3 Malasan, Durenan, Trenggalek 114 JUPEDASMEN, Volume 1, Nomor 3, Desember 2015 UPAYA PENINGKATAN KEAKTIFAN DAN HASIL BELAJAR IPA MATERI BAGIAN BAGIAN TUMBUHAN MELALUI METODE KOOPERATIF STAD PADA SISWA KELAS IV SDN 3 MALASAN KECAMATAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kinerja seorang guru merupakan komponen yang sangat menentukan

BAB I PENDAHULUAN. Kinerja seorang guru merupakan komponen yang sangat menentukan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan faktor penting dalam proses kemajuan suatu bangsa. Pendidikan diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang menjadi salah satu tempat dalam pelaksanaan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang menjadi salah satu tempat dalam pelaksanaan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang menjadi salah satu tempat dalam pelaksanaan pendidikan untuk mencapai tujuan yang optimal. Sekolah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada dasarnya, penerapan metode mengajar yang bervariasi

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada dasarnya, penerapan metode mengajar yang bervariasi BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bidang pendidikan merupakan kunci pokok keberhasilan pembangunan di segala bidang, maka upaya dalam meningkatkan mutu pendidikan perlu ditingkatkan melalui pendidikan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Profil SMP Negeri 1 Bandungan SMP Negeri 1 Bandungan adalah Sekolah Menengah Pertama yang terletak di Desa Jimbaran Kecamatan Bandungan Kabupaten

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Pengelolaan Pembelajaran dengan Menerapkan Model Pembelajaran

BAB V PEMBAHASAN. A. Pengelolaan Pembelajaran dengan Menerapkan Model Pembelajaran BAB V PEMBAHASAN A. Pengelolaan Pembelajaran dengan Menerapkan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Two Stay Two Stray Penilaian kemampuan guru dalam mengelola kegiatan pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang diharapkan. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

BAB I PENDAHULUAN. yang diharapkan. Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam proses pendidikan keberhasilan pengajaran di lembaga pendidikan tergantung pada keefektifan pembelajaran dalam mengubah tingkah laku para peserta didik ke arah

Lebih terperinci

BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL

BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL A. Persiapan Untuk mempersiapkan mahasiswa dalam melaksanakan PPL baik yang dipersiapkan berupa persiapan fisik maupun mental untuk dapat mengatasi permasalahan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. SMA Negeri 2 Sarolangun) dapat disimpulkan sebagai berikut :

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI. SMA Negeri 2 Sarolangun) dapat disimpulkan sebagai berikut : BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan peneliti terhadap "Kepemimpinan Kepala Sekolah dalam Mengembangkan Sekolah Efektif (Studi

Lebih terperinci

FISHBONE ANALISIS PERMASALAHAN NILAI UJIAN NASIONAL

FISHBONE ANALISIS PERMASALAHAN NILAI UJIAN NASIONAL F. FISHBONE ANALISIS PERMASALAHAN NILAI UJIAN NASIONAL Untuk melihat penyebab permasalahan rendahnya nilai UN maka dilakukan analisis tulang ikan terhadap data yang sudah dikumpul. Pada tahan pertama semua

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS. Pengertian perilaku bertanggung jawab Menurut Adiwiyoto (2001: 2)

BAB II KAJIAN TEORETIS. Pengertian perilaku bertanggung jawab Menurut Adiwiyoto (2001: 2) 4 BAB II KAJIAN TEORETIS 2.1 Hakikat Perilaku Tanggung Jawab Pengertian perilaku bertanggung jawab Menurut Adiwiyoto (2001: 2) Dalam bukunya melatih anak bertanggung jawab, arti tanggung jawab adalah mengambil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mendengarkan adalah salah satu komponen kecakapan yang dimiliki oleh seseorang ketika mereka memiliki kecakapan interpersonal skills yang baik. Sebuah komunikasi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tarigan dalam Munthe (2013:1), dalam silabus pada KD 13.1 disebutkan, bahwa salah satu kompetensi yang harus

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Tarigan dalam Munthe (2013:1), dalam silabus pada KD 13.1 disebutkan, bahwa salah satu kompetensi yang harus 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pengajaran bahasa Indonesia bertujuan agar siswa terampil berbahasa dan mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan. Kemampuan siswa berkomunikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilakukan oleh

BAB I PENDAHULUAN. Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilakukan oleh BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilakukan oleh pemerintah antara lain dengan jalan melengkapi sarana dan prasarana, meningkatkan kualitas tenaga

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS V SDN SETONO 1 KECAMATAN NGRAMBE KABUPATEN NGAWI MELALUI STRATEGI ORIENTASI TINDAKAN

PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS V SDN SETONO 1 KECAMATAN NGRAMBE KABUPATEN NGAWI MELALUI STRATEGI ORIENTASI TINDAKAN PENINGKATAN KEMAMPUAN BERBICARA SISWA KELAS V SDN SETONO 1 KECAMATAN NGRAMBE KABUPATEN NGAWI MELALUI STRATEGI ORIENTASI TINDAKAN YULI AMBARWATI Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesia Abstrak: Berdasarkan

Lebih terperinci

II. KAJIAN PUSTAKA. Salah satu unsur penting yang paling menentukan dalam meningkatkan kualitas

II. KAJIAN PUSTAKA. Salah satu unsur penting yang paling menentukan dalam meningkatkan kualitas II. KAJIAN PUSTAKA A. Supervisi Salah satu unsur penting yang paling menentukan dalam meningkatkan kualitas pendidikan adalah tenaga pendidik. Tenaga pendidik (guru) dituntut untuk mampu melaksanakan tugas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran ekonomi selama ini berdasarkan hasil observasi di sekolahsekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pembelajaran ekonomi selama ini berdasarkan hasil observasi di sekolahsekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran ekonomi selama ini berdasarkan hasil observasi di sekolahsekolah menengah atas cenderung bersifat monoton dan tidak menghasilkan banyak kemajuan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Perencanaan pengembangan kinerja dosen di IAIN Sulthan Thaha

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. Perencanaan pengembangan kinerja dosen di IAIN Sulthan Thaha 259 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 1. Perencanaan Pengembangan Kinerja Dosen Perencanaan pengembangan kinerja dosen di IAIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi pada prinsipnya telah dilakukan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah pendidikan. Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan,

BAB I PENDAHULUAN. masalah pendidikan. Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Guru merupakan komponen yang palingmenentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan yang harus mendapat perhatian yang sentral, pertama dan utama. Figur

Lebih terperinci

BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN DAN ANALISIS HASIL

BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN DAN ANALISIS HASIL BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN DAN ANALISIS HASIL A. Persiapan PPL. Untuk mempersiapkan mahasiswa dalam melaksanakan Praktik Pengalaman Langsung (PPL) baik yang dipersiapkan berupa persiapan fisik maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan memerlukan inovasi-inovasi yang sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kebutuhan ilmu peserta didik tanpa mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kurikulum mempunyai kedudukan sentral dalam seluruh proses pendidikan pada satuan pendidikan. Kurikulum mengarahkan segala bentuk aktivitas pendidikan demi tercapainya

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN

BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN digilib.uns.ac.id 71 BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan Simpulan penelitian ini berdasarkan pada kajian teori, hasil penelitian, dan pembahasan yang telah dilakukan penulis. Hasil penilaian

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. belajar materi cerpen yakni dalam mengidentifikasi unsur-unsur cerpen

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. belajar materi cerpen yakni dalam mengidentifikasi unsur-unsur cerpen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian Data hasil penelitian ini diperoleh melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan penilaian. Wawancara dilakukan kepada guru mata pelajaran Bahasa

Lebih terperinci

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA

BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS DATA A. Deskripsi Data Dalam rangka untuk meningkatkan profesionalitas guru. Secara rinci proses manajemen kinerja dalam meningkatkan profesionalitas guru MA Nahdlatul Muslimin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran

BAB I PENDAHULUAN. dorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan di Indonesia adalah masih rendahnya kualitas pendidikan. Hal tersebut disebabkan oleh lemahnya proses pembelajaran.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bagian ini akan membahas latar belakang masalah, identifikasi masalah,

I. PENDAHULUAN. Bagian ini akan membahas latar belakang masalah, identifikasi masalah, I. PENDAHULUAN Bagian ini akan membahas latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan ruang lingkup penelitian. A. Latar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. identifikasi masalah, pembatasan masalah dan rumusan masalah. Untuk

I. PENDAHULUAN. identifikasi masalah, pembatasan masalah dan rumusan masalah. Untuk I. PENDAHULUAN Pada Bab I ini akan membahas beberapa hal mengenai: latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah dan rumusan masalah. Untuk memahami kebermaknaan penelitian ini, maka

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1. Simpulan Yang menjadi simpulan dalam penelitian ini adalah: 1. Tugas kepala sekolah dalam manajemen berbasis adalah dalam pelaksanaan kegiatan sudah terlaksana sesuai dengan

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan temuan hasil penelitian yang telah dikemukakan di depan, dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut :

BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI. Berdasarkan temuan hasil penelitian yang telah dikemukakan di depan, dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut : 128 BAB V SIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Simpulan Berdasarkan temuan hasil penelitian yang telah dikemukakan di depan, dapat ditarik beberapa simpulan sebagai berikut : 1. Desain pembelajaran Cooperative

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. SIMPULAN Berdasarkan hasil perhitungan statistik dan analisis data seperti yang diuraikan pada bab sebelumnya, terkait dengan persepsi guru tentang efektivitas kepemimpinan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas II SD Kutowinangun 08. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) B. Tujuan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) B. Tujuan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) merupakan salah satu fakultas di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang mempunyai visi dan misi

Lebih terperinci

BAB II KEGIATAN PPL A. Kegiatan PPL 1. Persiapan PPL

BAB II KEGIATAN PPL A. Kegiatan PPL 1. Persiapan PPL BAB II KEGIATAN PPL A. Kegiatan PPL 1. Persiapan PPL Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) adalah kegiatan yang wajib ditempuh oleh mahasiswa S1 UNY program kependidikan karena orientasi utamanya adalah kependidikan.

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, SARAN, DAN IMPLIKASI PENELITIAN. Berdasarkan hasil Penelitian tentang pengaruh penerapan tata tertib

BAB V KESIMPULAN, SARAN, DAN IMPLIKASI PENELITIAN. Berdasarkan hasil Penelitian tentang pengaruh penerapan tata tertib BAB V KESIMPULAN, SARAN, DAN IMPLIKASI PENELITIAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil Penelitian tentang pengaruh penerapan tata tertib sekolah terhadap tingkat kedisiplinan siswa menunjukkan bahwa kecenderungan

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN. dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan data dan hasil analisis yang telah dipaparkan di atas, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Terdapat pengaruh langsung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perencanaan Pembangunan Daerah pada abad ke-21 harus seiring dengan

BAB I PENDAHULUAN. Perencanaan Pembangunan Daerah pada abad ke-21 harus seiring dengan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perencanaan Pembangunan Daerah pada abad ke-21 harus seiring dengan perkembangan kemajuan teknologi dan komunikasi. Karena itu, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Lebih terperinci

Kata Kunci = kompetensi pedagogik, perencanaan pembelajaran, dan supervisi akademik

Kata Kunci = kompetensi pedagogik, perencanaan pembelajaran, dan supervisi akademik PENINGKATKAN KOMPETENSI PEDAGOGIK GURU NON PNS DALAM PENYUSUNAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN MELALUI SUPERVISI AKADEMIK KEPALA SEKOLAH DI SD NEGERI CABEAN 2 SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2014/2015 Al Munawar

Lebih terperinci

Jurnal Bio-Natural (Jurnal Pendidikan Biologi) Vol. 1, No. 2, September-Februari 2015, hlm 1-32

Jurnal Bio-Natural (Jurnal Pendidikan Biologi) Vol. 1, No. 2, September-Februari 2015, hlm 1-32 IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN IPA-KIMIA DENGAN MENGGUNAKAN PERCOBAAN SEDERHANA BERBASIS BAHAN ALAM UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMPN 2 MUARA BATU Juwairiah 1) 1 Prodi Pendidikan Matematika,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Deskripsi Kondisi Prasiklus Gambaran yang dijadikan pangkal menentukan permasalahan upaya peningkatan hasil belajar IPA di kelas V SD menggunakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Orientasi dan Identifikasi Masalah Penelitian yang dilakukan penulis meliputi tiga kegiatan, yaitu : 1) kegiatan orientasi dan identifikasi masalah, 2) tindakan

Lebih terperinci

1. Menyiapkan format pembelajaran yang dibutuhkan Guru Mata Pelajaran

1. Menyiapkan format pembelajaran yang dibutuhkan Guru Mata Pelajaran 1. WAKASEK URUSAN KURIKULUM A. PROGRAM UMUM 1. Menyiapkan format pembelajaran yang dibutuhkan Guru Mata Pelajaran 2. Membantu kepala sekolah mengurus kegiatan kurikulum intrakurikuler dan ekstrakurikuler

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

BAB V SIMPULAN DAN SARAN BAB V SIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil Penelitian dengan Tema Internalisasi Sikap positif melalui pendekatan kontekstual dalam pembelajaran Bahasa Inggris (Studi kasus pada siswa kelas VII.B di MTs.N

Lebih terperinci

A UMS - Copy SKRIPSI

A UMS - Copy SKRIPSI 1 A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Proses pembelajaran atau proses belajar mengajar adalah interaksi antara siswa dengan guru, sehingga guru tidak hanya menempatkan siswa sebagai obyek pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional yang mampu bersaing di dunia internasional.

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan nasional yang mampu bersaing di dunia internasional. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan tonggak utama kemajuan suatu bangsa. Dengan pendidikan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Salah satu cara yang dapat digunakan

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Hasil pembelajaran dengan strategi pembelajaran Team Quiz yang

BAB V PEMBAHASAN. Hasil pembelajaran dengan strategi pembelajaran Team Quiz yang 75 BAB V PEMBAHASAN 1. Hasil belajar siswa Hasil pembelajaran dengan strategi pembelajaran Team Quiz yang diterapkan di kelas eksperimen tidak menunjukkan hasil belajar fisika siswa yang lebih baik dibandingkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rendahnya prestasi belajar tersebut berkaitan dengan beberapa faktor. Banyak

BAB I PENDAHULUAN. rendahnya prestasi belajar tersebut berkaitan dengan beberapa faktor. Banyak 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Prestasi belajar yang dicapai siswa memang sangat beragam. Ada yang mendapat prestasi baik, cukup bahkan ada pula yang sangat kurang. Tinggi rendahnya prestasi

Lebih terperinci

BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN BAB IV PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A. Paparan Data Setelah peneliti melakukan penelitian di MTs Negeri 2 Tulungagung dengan metode wawancara, observasi dan dokumentasi, dapat dipaparkan hasil penelitian

Lebih terperinci

PERAN KELOMPOK KERJA GURU (KKG) DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU SEKOLAH DASAR DI GUGUS 1 BARUGA KOTA KENDARI

PERAN KELOMPOK KERJA GURU (KKG) DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU SEKOLAH DASAR DI GUGUS 1 BARUGA KOTA KENDARI PERAN KELOMPOK KERJA GURU (KKG) DALAM MENINGKATKAN KOMPETENSI GURU SEKOLAH DASAR JURNAL HASIL PENELITIAN SITI MURNI NUR G2G1 015 116 PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS HALU OLEO KENDARI 2017 1 PERAN KELOMPOK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Proses belajar merupakan rangkaian kegiatan siswa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Proses belajar merupakan rangkaian kegiatan siswa digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Proses belajar merupakan rangkaian kegiatan siswa di bawah pembelajaran guru untuk mencapai tujuan diharapkan. Proses belajar mengajar terkandung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peranan guru sangat penting dalam mentransformasikan input-input pendidikan, sehingga

BAB I PENDAHULUAN. Peranan guru sangat penting dalam mentransformasikan input-input pendidikan, sehingga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Guru merupakan faktor sentral di dalam sistem pembelajaran terutama di sekolah. Peranan guru sangat penting dalam mentransformasikan input-input pendidikan,

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE MAKE A MATCH UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI SISWA KELAS XI IPS 3 SMA NEGERI 3 WONOGIRI TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Arum Rahma Shofiya

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP Simpulan

BAB V PENUTUP Simpulan BAB V PENUTUP 5.1. Simpulan Setelah diadakan P K B oleh Pengawas TK/SD/SDLB dalam peningkatan karir guru, para guru bisa meningkatkan kemampuan guru dalam menuangkan ide masalah pembelajaran dalam bentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Semua guru pasti dihadapkan pada kondisi pembelajaran dengan jumlah siswa, gender, latar belakang etnis, agama, sosio-ekonomi, budaya, tingkah laku dan kemampuan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Hasil Penelitian 1. Paparan Data Pra Tindakan Pada tanggal 14 November 2016, peneliti berkunjung ke MI Sunan Ampel Bono Boyolangu Tulungagung. Peneliti

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 39 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil A. Paparan Data Pra Tindakan Observasi awal dilakukan pada hari Senin, 18 Januari 2010. Tindakan tersebut dengan mengadakan pertemuan dengan wakil kepala sekolah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bertahan. Setiap organisasi dituntut untuk siap menghadapi perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. bertahan. Setiap organisasi dituntut untuk siap menghadapi perkembangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Melihat perubahan lingkungan organisasi yang semakin kompleks dan kompetitif, mensyaratkan perusahaan untuk bersikap lebih responsif agar tetap bertahan. Setiap

Lebih terperinci

RESPON GURU TERHADAP VISI SUPERVISI

RESPON GURU TERHADAP VISI SUPERVISI RESPON GURU TERHADAP VISI SUPERVISI A. PENTINGNYA MASALAH Pendidikan dimasa desentralisasi berbeda dengan sentralisasi. Pada masa sentralisasi segala sesuatu seperti bangunan sekolah, kurikulum, jumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi kehidupan umat manusia, sangat luhur dalam meningkatkan kualitas manusia, sehingga segala usaha yang mengarah

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. 1. Secara umum kebiasaan menonton sinetron di SMP Negeri 5 Bandung

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI. 1. Secara umum kebiasaan menonton sinetron di SMP Negeri 5 Bandung BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan 1. Secara umum kebiasaan menonton sinetron di SMP Negeri 5 Bandung Tahun Ajaran 2011/2012 berada pada kategori tinggi. 2. Secara umum kebiasaan belajar siswa

Lebih terperinci

BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL

BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL BAB II PERSIAPAN, PELAKSANAAN, DAN ANALISIS HASIL Kegiatan PPL di SMK PI AMBARRUKMO dilaksanakan terhitung dari 1 Juli sampai dengan 15 September 2014. Uraian tentang pelaksanaan program PPL tersebut sebagai

Lebih terperinci

repository.unisba.ac.id BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia dalam melaksanakan fungsi-fungsi kehidupan tidak akan lepas

repository.unisba.ac.id BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia dalam melaksanakan fungsi-fungsi kehidupan tidak akan lepas BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia dalam melaksanakan fungsi-fungsi kehidupan tidak akan lepas dari pendidikan, karena pendidikan berfungsi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran merupakan suatu proses yang kompleks dan melibatkan berbagai aspek yang saling berkaitan. Oleh karena itu untuk menciptakan pembelajaran yang kreatif,

Lebih terperinci

PENERAPAN PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII MTs AL-MAARIF 01 SINGOSARI

PENERAPAN PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII MTs AL-MAARIF 01 SINGOSARI PENERAPAN PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII MTs AL-MAARIF 01 SINGOSARI Oleh: Cendika M Syuro Mahasiswi Jurusan Matematika FMIPA UM email: cendikahusein@yahoo.com

Lebih terperinci