DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA INSPEKTORAT JENDERAL PEDOMAN PELAPORAN AUDIT KINERJA UNTUK MENTERI KEUANGAN DAN PIMPINAN UNIT ESELON I

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA INSPEKTORAT JENDERAL PEDOMAN PELAPORAN AUDIT KINERJA UNTUK MENTERI KEUANGAN DAN PIMPINAN UNIT ESELON I"

Transkripsi

1 PEDOMAN PELAPORAN AUDIT KINERJA UNTUK MENTERI KEUANGAN DAN PIMPINAN UNIT ESELON I JAKARTA Oktober 2009

2 DAFTAR ISI Pedoman Pelaporan Audit Kinerja Inspektorat Jenderal URAIAN HALAMAN Pendahuluan ( paragraf 1 3 ).. 1 Ruang Lingkup (paragraf 4).. 1 Substansi dan Kualitas Laporan (paragraf 5 7)...,... 1 Isi Laporan (paragraf 8 18)... 2 Bentuk Laporan (paragraf 8).. 2 Judul, nama unit/kegiatan yang diaudit dan Sasaran Pengawasan Unggulan (paragraf 9)... 2 Ikhtisar Eksekutif (paragraf 10).. 2 Tujuan Laporan (paragraf 11). 3 Ruang Lingkup Audit (paragraf 12) 4 Metodologi Audit (paragraf 13)... 4 Gambaran Umum (paragraf 14). 5 Temuan, Rekomendasi dan Tanggapan Auditi (paragraf 15)... 5 Rencana Tindak Lanjut (paragraf 16).. 6 Apresiasi (paragraf 17)... 6 Lampiran (paragraf 18)... 7 Format Laporan ( paragraf ) Lampiran. 9

3 Pedoman Pelaporan Audit Kinerja Inspektorat Jenderal Pendahuluan 1. Sejalan dengan langkah-langkah perubahan yang dilakukan pada tahapan perencanaan dan pelaksanaan pengawasan, maka perubahan pada tahapan pelaporan juga menjadi hal yang sangat penting dan relevan untuk dilakukan. Bahkan mungkin, tahapan ini menjadi sangat penting karena dengan pengaturan bentuk dan substansi komunikasi yang tepat maka jajaran pimpinan Departemen diharapkan dapat dengan cepat memahami persoalan yang ada sehingga dapat dengan segera membuat keputusan yang diperlukan untuk pencapaian tujuan unitnya. 2. Bentuk atau format pelaporan tentu saja harus sejalan dengan pendekatan penugasan pengawasan yang dilakukan serta sesuai dengan prinsip-prinsip komunikasi yang biasa umum digunakan oleh unit pengawasan intern lain. Oleh karenanya, laporan yang dikeluarkan sebagai bentuk pertanggung jawaban kegiatan pengawasan ITJEN akan terdiri dari; (1) laporan kepada pimpinan Departemen dan unit eselon I, (2) laporan kepada pimpinan unit operasional yang langsung di audit, dan (3) laporan tim audit lapangan kepada Inspektur dan penanggung jawab tematik atau project. 3. Sesuai PMK.38/PMK.09/2009 tanggal 27 Februari 2009 Tentang Kebijakan Pengawasan Intern Departemen Keuangan tahun 2009, sebagian besar penugasan audit pengawasan unggulan dilakukan dengan menggunakan model tematik atau project. Ruang Lingkup 4. Pedoman ini hanya mengatur pola penyusunan laporan kepada pimpinan Departemen dan unit eselon I, sedangkan jenis laporan pengawasan yang lain akan diatur menggunakan pedoman yang berbeda. Substansi dan Kualitas Laporan 5. Secara umum, isi laporan berisi penjelasan mengenai kegiatan pengawasan yang dilakukan, hasil yang diperoleh, dan solusi atau penyelesaian baik dalam bentuk rekomendasi maupun kegiatan yang telah dilakukan. Dalam penyusunan uraian ketiga hal tersebut, hendaklah selalu memegang prinsip prisma terbalik yaitu penyajian uraian selalu dimulai dengan pokok-pokok penting atau pikiran yang akan disampaikan secara ringkas dan tajam yang selanjutnya didukung dengan penjelasan data dan informasi atas kegiatan serta hasil pengujian yang dilakukan secara lebih detil dan luas. 6. Penyusunan uraian substansi laporan bersifat bebas namun tetap harus memberikan informasi penting yang diperlukan, karenanya contoh uraian yang diberikan pada pedoman ini bukan menjadi bentuk tetap yang harus ditiru. 7. Laporan juga harus memenuhi persyaratan kualitatif penting lain seperti; (1) tepat waktu, yaitu agar hasil audit bermanfaat secara maksimal, maka laporan hasil audit harus disampaikan tepat waktu. Laporan audit yang dibuat dengan hati-hati tetapi terlambat Pengawasan untuk Solusi 1

4 Pedoman Pelaporan Audit Kinerja Inspektorat Jenderal disampaikan, nilainya menjadi kurang bagi pengguna laporan. Selama audit berlangsung, dapat saja dipertimbangkan adanya laporan hasil audit sementara untuk hal yang material; (2) lengkap, yaitu laporan harus memuat semua informasi dari bukti yang dibutuhkan untuk memenuhi tujuan audit, memberikan pemahaman yang benar dan memadai atas hal yang dilaporkan, serta memenuhi persyaratan isi laporan hasil audit dan; (3) objektif, yaitu penyajian harus seimbang dalam isi dan redaksi. Kredibilitas suatu laporan ditentukan oleh penyajian bukti yang tidak memihak, sehingga pengguna laporan hasil audit dapat diyakinkan oleh fakta yang disajikan. Isi Laporan 8. Outline laporan terdiri dari: Daftar Isi Ikhtisar Eksekutif Tujuan Laporan Ruang Lingkup Audit Metodologi Audit Gambaran Umum Temuan, Rekomendasi dan Tanggapan Auditi Rencana Tindak Lanjut Apresiasi Lampiran 9. Judul, berisi judul utama dan subjudul. Judul utama memuat uraian ringkas tema pengawasan unggulan dan nama unit/kegiatan yang diaudit, sedangkan sub judul menjelaskan topik dari simpulan hasil penugasan audit yang paling penting untuk disampaikan kepada pimpinan dan stakeholder dengan menggunakan bahasa yang santun. Antara judul utama dan subjudul dipisahkan dengan tanda titik dua (:). Contoh: LAPORAN HASIL AUDIT KINERJA ATAS PENETAPAN NILAI PABEAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN PADA DJBC: PERLU UPAYA PENGURANGAN KASUS BANDING KE PENGADILAN PAJAK 10. Ikhtisar Eksekutif, berisi pokok-pokok penting dari hasil audit yang dituangkan dalam 3-4 paragraf, yaitu: paragraf I memuat tujuan, ruanglingkup dan alasan utama dilakukannya audit, paragraf II memuat metodologi audit dan simpulan hasil audit yang dapat menjawab secara langsung tujuan audit, paragraf III memuat rekomendasi dan tindak lanjut yang sudah dan/atau akan dilaksanakan, dan paragraf IV memuat penjelasan tambahan (explanatory paragraph) jika diperlukan. Pengawasan untuk Solusi 2

5 Pedoman Pelaporan Audit Kinerja Inspektorat Jenderal Contoh: IKHTISAR EKSEKUTIF 1. Pelaksananaan audit ini bertujuan untuk membantu meningkatkan kinerja DJBC dalam penetapan nilai pabean dan pelayanan penyelesaian keberatan bea masuk dan cukai. Audit dilaksanakan dengan penekanan pada pengungkapan permasalahan yang menyebabkan DJBC mengalami kekalahan dalam sidang Pengadilan Pajak khususnya menyangkut materi yang dipersengketakan mengenai penetapan nilai pabean untuk dibahas dan dicarikan jalan keluarnya. Kegiatan audit dilakukan karena diperoleh informasi dari audit sebelumnya mengenai adanya ketidakpuasan masyarakat/ pengusaha atas keputusan atau penetapan yang dikeluarkan DJBC terkait dengan pemenuhan kewajiban kepabeanan dan cukai yang dianggap sewenangwenang...dst. Disamping itu berdasarkan pengamatan langsung di lapangan diketahui bahwa proses penyelesaian permohonan keberatan yang diajukan sering berlarut-larut yang mengakibatkan tertundanya kepastian hukum dan dianggap merugikan pengusaha... dst. 2. Inspektorat Jenderal telah melaksanakan audit atas kegiatan penetapan nilai pabean dan penyelesaian keberatan yang dilakukan pada 11 kantor DJBC untuk periode pelaksanaan kegiatan tahun 2007, 2008 dan Dari pelaksanaan audit diketahui bahwa terdapat: Keputusan penolakan atau persetujuan permohonan keberatan yang tidak dilengkapi bukti pendukung kebenaran nilai transaksi, sehingga sebagian besar keputusan penolakan keberatan tersebut dibatalkan oleh Pengadilan Pajak...dst. Sejumlah SPKPBM untuk penetapan nilai pabean tidak didukung dengan data dan dasar perhitungan yang jelas...dst.... dst. 3. Kepada Ditjen Bea dan Cukai telah direkomendasikan untuk membuat peraturan pengenaan sanksi bagi PFPD yang sewenang-wenang melakukan penetapan nilai pabean tanpa didukung bukti dan dasar perhitungan yang jelas. Peraturan ini dapat merupakan bagian dari petunjuk pelaksanaan yang mengatur tata laksana penyelesaian keberatan. Saat ini DJBC telah melakukan perbaikan dengan melakukan tindakan...dst. Untuk selanjutnya DJBC akan menindaklanjuti temuan mengenai...dst paling lambat akhir bulan Maret dst. 11. Tujuan Laporan, berisi uraian bahwa laporan dimaksudkan untuk menyediakan informasi, rekomendasi dan penilaian yang independen kepada stakeholder mengenai pelaksanaan kegiatan auditi. Pengawasan untuk Solusi 3

6 Pedoman Pelaporan Audit Kinerja Inspektorat Jenderal Contoh : TUJUAN LAPORAN 5. Laporan ini dibuat untuk menginformasikan hasil audit mengenai adanya praktik penyelesaian pekerjaan yang tidak benar karena adanya kelemahan kebijakan operasional dan tidak diantisipasinya risiko yang timbul atas kegiatan Penetapan Nilai Pabean dan Penyelesaian Keberatan, serta memberikan alternatif penyempurnaan sistem dan prosedur penetapan serta penyelesaian keberatan bea masuk dan cukai...dst. 12. Ruang Lingkup Audit, yaitu batasan audit yang memuat bidang/kegiatan yang diaudit, lokasi, sampel, dan periode waktu audit. Contoh: RUANG LINGKUP AUDIT 6. Audit dilaksanakan dengan penekanan pada pengungkapan permasalahan yang menyebabkan DJBC mengalami kekalahan dalam sidang Pengadilan Pajak khususnya menyangkut materi yang dipersengketakan mengenai penetapan nilai pabean untuk dibahas dan dicarikan jalan keluarnya. 7. Audit dilakukan atas kegiatan penetapan nilai pabean dan penyelesaian keberatan pada 11 kantor DJBC yaitu Direktorat Perencanaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (Dit. PPKC), 2 buah Kantor Pelayanan Utama (KPU) dan 8 buah Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) untuk periode tahun 2007, 2008 dan Metodologi Audit, memuat penjelasan mengenai pendekatan yang digunakan dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan penugasan untuk mencapai tujuan penugasan yang meliputi materialitas, metode uji petik, metode pengumpulan bukti, dan metode pengujian bukti, serta teknik dan mekanisme pelaporan, termasuk susunan tim yang bertanggungjawab atas kegiatan audit. Contoh: METODOLOGI AUDIT 8. Audit Kinerja dilaksanakan sesuai dengan Standar Audit Inspektorat Jenderal (SAINS) yang dikembangkan oleh Itjen Depkeu dengan mengacu pada Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomor PER/05/M.PAN/03/2008 tentang Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). Pengawasan untuk Solusi 4

7 Pedoman Pelaporan Audit Kinerja Inspektorat Jenderal 9. Pada setiap akhir penugasan audit pada 11 kantor DJBC dibuat Laporan Manajemen dan diserahkan kepada auditi untuk diminta tanggapan. Kemudian Laporan Manajemen beserta tanggapannya dikompilasi dan disusun draft laporan hasil audit kinerja yang diserahkan kepada Dirjen Bea dan Cukai pada tanggal 20 November 2009 untuk dibahas/diminta tanggapan. Setelah dibahas/mendapat tanggapan dari Dirjen Bea dan Cukai disusun Laporan Hasil Audit Kinerja yang bersifat final, kemudian diserahkan kepada Dirjen Bea Cukai dan Menteri Keuangan. 10. Pejabat/pegawai yang bertanggungjawab terhadap pelaksanaan audit dengan tema Penetapan Nilai Pabean dan Penyelesaian Keberatan pada DJBC, sesuai dengan Keputusan Irjen nomor Kep-17/IJ/2009 tanggal 17 Maret 2009 adalah: Penanggungjawab: Inspektur II (Murtedjo/NIP ) Manajer Kegiatan : Hendry Purba/ NIP Anggota : 1) Raden Patrick Wahyudwisaksono/ NIP ) Djamaluddin/ NIP Gambaran Umum, menguraikan tentang kegiatan yang menjadi tema pengawasan dan isuisu/ hal-hal penting yang terkait didalamnya dengan tujuan untuk memahami kegiatan yang menjadi sasaran pengawasan, termasuk fakta-fakta, statistik, serta istilah yang digunakan. Contoh: GAMBARAN UMUM 11. Dalam rangka Reformasi Birokrasi, salah satu janji layanan unggulan yang telah ditetapkan DJBC adalah pelayanan proses Penyelesaian Keberatan di bidang Kepabeanan dan Cukai. Namun dalam kenyataannya menunjukkan bahwa dalam 3 tahun terakhir terjadi peningkatan permohonan banding yang cukup siknifikan, yaitu pada tahun 2008 sebanyak 856 berkas, pada tahun 2007 naik menjadi berkas (180%) dan pada tahun 2008 naik menjadi berkas (216%), dan berdasarkan data putusan banding pada tahun 2008 sebanyak 463 putusan ternyata 369 putusan (79,69%) dimenangkan oleh pemohon banding. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelayanan penyelesaian keberatan yang dijanjikan DJBC masih belum memuaskan para importir, dan jika dilihat lebih jauh ternyata diketahui bahwa apabila materi yang dipersengketakan di Pengadilan Pajak mengenai penetapan nilai pabean, umumnya para importir dimenangkan. 12. Keberatan adalah salah satu fasilitas Kepabeanan dan Cukai untuk memberikan kemudahan dalam rangka mendukung kelancaran arus barang di pelabuhan/bandar udara serta menghindarkan kerugian para importir, baik akibat kerusakan barang impor/ekspor karena proses pemeriksaan fisik barang, penutupan rekening cukai serta penetapan yang tidak tepat oleh petugas/pejabat DJBC maupun hasil audit pabean/cukai dan ketidaksetujuan lainnya...dst. 13. Self assesment adalah...dst. Pengawasan untuk Solusi 5

8 Pedoman Pelaporan Audit Kinerja Inspektorat Jenderal 15. Temuan, Rekomendasi dan Tanggapan Auditi, menguraikan secara rinci temuan-temuan yang diungkap pada ikhtisar eksekutif serta saran tindakan perbaikan yang disampaikan kepada auditi dan tanggapan atas saran tersebut. Setiap temuan diberi judul temuan dan sedapat mungkin didukung dengan data kuantitas, gambar dalam bentuk tabel, diagram, matriks, foto, flowchart dan lain-lain. Penyajian temuan meliputi fakta/kejadian, ketentuan yang mengatur/kriteria yang disepakati/best practices, penyebab, dan dampak yang ditimbulkan serta rekomendasi. Rekomendasi berisi langkah-langkah yang sebaiknya dilakukan auditi agar tujuan kegiatan yang diaudit dapat tercapai. Tanggapan Auditi, berisi pernyataan bahwa langkah-langkah perbaikan telah, sedang, dan atau akan dilaksanakan Contoh: TEMUAN, REKOMENDASI, DAN TANGGAPAN AUDITI Penetapan Nilai Pabean Tidak Didukung dengan Data dan Dasar Perhitungan Yang Jelas 14. PFPD dalam menetapkan SPKPBM atas penetapan nilai pabean tidak didukung dengan data dan dasar perhitungan yang jelas....dst. (uraikan lebih lanjut... secara lengkap berikut penyebab, akibat dan rekomendasi berupa alternatif solusi dan tanggapan auditi.) Penetapan Keberatan Tidak Dilengkapi Bukti Pendukung 15. Keputusan permohonan keberatan tidak dilengkapi bukti pendukung kebenaran nilai transaksi- Keputusan menolak atau menerima permohonan keberatan tidak dilengkapi bukti pendukung kebenaran nilai transaksi, sehingga petugas keberatan tidak dapat menjelaskan kepada hakim alasan penolakan keberatan tersebut...dst. (uraikan lebih lanjut... secara lengkap berikut penyebab, akibat dan rekomendasi berupa alternatif solusi dan tanggapan auditi) dst. 16. Rencana Tindak Lanjut, berisi penjelasan tindaklanjut yang sudah dan sedang dilakukan serta kesanggupan auditi untuk menindaklanjuti rekomendasi berikut rencana tindak spesifik. Contoh: RENCANA TINDAK LANJUT 17. DJBC telah melakukan perbaikan denganmelakukan tindakan...dst. Untuk selanjutnya DJBC akan menindaklanjuti temuan mengenai...dst paling lambat akhir bulan Maret 2010, dan akan melaporkan perkembangannya kepada Inspektur Jenderal setiap bulan. Pengawasan untuk Solusi 6

9 Pedoman Pelaporan Audit Kinerja Inspektorat Jenderal 17. Apresiasi kepada Auditi, berisi ucapan terimakasih kepada auditi dan pihak lain sehingga audit dapat terlaksana. Contoh APRESIASI 18. Inspektorat Jenderal DEPKEU menyampaikan terimakasih dan penghargaan atas bantuan dan kerjasama dari seluruh pejabat dan pegawai DJBC dan Pengadilan Pajak selama audit berlangsung. 18. Lampiran, berisi tabel, gambar, foto, grafik, dan diagram yang mendukung isi laporan. Contoh LAMPIRAN: Lampiran 1...dst Lampiran 2...dst. Format Laporan 19. Bentuk laporan disesuaikan dengan tingkat penerima laporan. Semakin tinggi tingkat jabatan penerima laporan, maka semakin ringkas muatan/konten dari laporan. Laporan disiapkan oleh inspektur dan ditandatangani oleh Inspektur Jenderal. 20. Ukuran kertas yang digunakan adalah A4, sedangka jarak spasi pengetikan diatur sebagai berikut: Pengetikan isi laporan dilakukan dengan spasi 1; Jarak antara paragraf adalah 2 spasi; Jika judul bab lebih dari satu baris, maka jarak antar baris judul bab adalah 1 spasi; Jarak antara judul bab dan subbab adalah 2 spasi; Jarak antara subbab dan uraian atau sebaliknya adalah 2 spasi. Jarak antara uraian dan tabel/gambar atau sebaliknya adalah 2 spasi; Jarak antara nomor dan nama tabel/gambar dan tabel/gambar adalah 1 spasi. Pengawasan untuk Solusi 7

10 Pedoman Pelaporan Audit Kinerja Inspektorat Jenderal 21. Jenis dan Ukuran Huruf untuk sampul depan/cover laporan disesuaikan dengan tata letak cover, sedangkan untuk isi laporan diatur sebagai berikut: Huruf yang digunakan adalah Arial ukuran 11 Judul tema dan bab diketik rata kiri dengan huruf capital (huruf besar) dan ditebalkan; Judul Subbab dan pokok kalimat diketik rata kiri dan ditebalkan; Penulisan judul bab, subbab dan paragraf diawali dengan angka yang menggunakan sistem numerik. 22. Penggunaan tabel dan gambar sangat dianjurkan untuk membantu pembaca laporan dalam memahami isi laporan. Pada cover laporan dimasukkan gambar yang berkaitan dengan topik utama laporan sebagai latar belakang judul laporan. Yang tergolong gambar adalah gambar, foto, grafik, dan diagram. Ketentuan pembuatan tabel dan gambar adalah sebagai berikut: Setiap tabel/gambar diberi nomor dan nama Penomoran tabel/gambar menyertakan nomor bab dan subbab tempat tabel/gambar berada. Misalnya, tabel nomor urut 1 di bagian 3 diketik, Tabel 3.1 xxx (judul tabel/gambar). Nomor dan nama tabel/gambar diketik di atas tabel/gambar Tabel/gambar disajikan di pinggir kiri halaman atau simetris ditengah halaman. Tabel/gambar yang dimasukkan dalam laporan adalah tabel/gambar yang ringkas. 23. Struktur Laporan akan berbentuk: Sampul Depan/Cover (berisi logo, tulisan Inspektorat Jenderal, judul, nama auditi, tema pengawasan, nomor dan tanggal laporan) Sampul Dalam/Halaman Pertama (berisi Judul, nama auditi dan tema pengawasan) Daftar Isi Ikhtisar Eksekutif Tujuan Laporan Ruang Lingkup Audit Metodologi Audit Gambaran Umum Temuan, Rekomendasi dan Tanggapan Auditi Rencana Tindak Lanjut Apresiasi Lampiran Setiap halaman pada isi laporan diberi nomor halaman dan motto Itjen. Contoh Laporan Hasil Audit Kinerja terlampir. Pengawasan untuk Solusi 8

11 LAMPIRAN PEDOMAN PELAPORAN AUDIT KINERJA UNTUK MENTERI KEUANGAN DAN PIMPINAN UNIT ESELON I 9

12 LAPORAN HASIL AUDIT KINERJA ATAS PENETAPAN NILAI PABEAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN PADA DJBC: PERLU UPAYA PENGURANGAN KASUS BANDING KE PENGADILAN PAJAK NOMOR LHA : LAP- 007/IJ/2009 TANGGAL : 31 DESEMBER 2009

13 LAPORAN HASIL AUDIT KINERJA ATAS PENETAPAN NILAI PABEAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN PADA DJBC: PERLU UPAYA PENGURANGAN KASUS BANDING KE PENGADILAN PAJAK NOMOR LHA : LAP- 007/IJ/2009 TANGGAL : 31 DESEMBER 2009

14 DAFTAR ISI URAIAN HALAMAN Ikhtisar Eksekutif (paragraf 1 4)... 1 Tujuan Laporan (paragraf 5).. 2 Ruang Lingkup (paragraf 6-7 )... 2 Metodologi Audit (paragraf 8 10).. 2 Gambaran Umum ( paragraf 11 13) Temuan, Rekomendasi dan Tanggapan Auditi: 1. Keputusan permohonan keberatan tidak dilengkapi bukti pendukung kebenaran nilai transaksi (paragraf 14) Penetapan nilai pabean tidak didukung dengan data dan dasar perhitungan yang jelas (paragraf 15) dst... (paragraf 16) 3 Rencana Tindak Lanjut (paragraf 17)... 4 Apresiasi (paragraf 18)... 4 Lampiran. 5 Pengawasan untuk Solusi ii

15 LAPORAN HASIL AUDIT KINERJA ATAS PENETAPAN NILAI PABEAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN PADA DJBC: PERLU UPAYA PENGURANGAN KASUS BANDING KE PENGADILAN PAJAK IKHTISAR EKSEKUTIF 1. Pelaksananaan audit ini bertujuan untuk membantu meningkatkan kinerja DJBC dalam penenetapan nilai pabean dan pelayanan penyelesaian keberatan bea masuk dan cukai. Audit dilaksanakan dengan penekanan pada pengungkapan permasalahan yang menyebabkan DJBC mengalami kekalahan dalam sidang Pengadilan Pajak khususnya menyangkut materi yang dipersengketakan mengenai penetapan nilai pabean untuk dibahas dan dicarikan jalan keluarnya. Kegiatan audit dilakukan karena diperoleh informasi dari audit sebelumnya mengenai adanya ketidakpuasan masyarakat/ pengusaha atas keputusan atau penetapan yang dikeluarkan DJBC terkait dengan pemenuhan kewajiban kepabeanan dan cukai yang dianggap sewenang-wenang...dst. Disamping itu berdasarkan pengamatan langsung di lapangan diketahui bahwa proses penyelesaian permohonan keberatan yang diajukan sering berlarut-larut yang mengakibatkan tertundanya kepastian hukum dan dianggap merugikan pengusaha... dst. 2. Inspektorat Jenderal telah melaksanakan audit atas kegiatan penetapan nilai pabean dan penyelesaian keberatan yang dilakukan pada 11 kantor DJBC untuk periode pelaksanaan kegiatan tahun 2007, 2008 dan Dari pelaksanaan audit diketahui bahwa terdapat: Keputusan penolakan atau persetujuan permohonan keberatan yang tidak dilengkapi bukti pendukung kebenaran nilai transaksi, sehingga sebagian besar keputusan penolakan keberatan tersebut dibatalkan oleh Pengadilan Pajak...dst. Sejumlah SPKPBM untuk penetapan nilai pabean tidak didukung dengan data dan dasar perhitungan yang jelas...dst.... dst. 3. Kepada Dirjen Bea dan Cukai telah direkomendasikan untuk membuat peraturan pengenaan sanksi bagi PFPD yang sewenang-wenang melakukan penetapan nilai pabean tanpa didukung bukti dan dasar perhitungan yang jelas. Peraturan ini dapat merupakan bagian dari petunjuk pelaksanaan yang mengatur tata laksana penyelesaian keberatan. Saat ini DJBC telah melakukan perbaikan dengan melakukan tindakan...dst. Untuk selanjutnya DJBC akan menindaklanjuti temuan mengenai...dst paling lambat akhir bulan Maret dst Pengawasan untuk Solusi 1

16 TUJUAN LAPORAN 5. Laporan ini dibuat untuk menginformasikan hasil audit mengenai adanya praktik penyelesaian pekerjaan yang tidak benar karena adanya kelemahan kebijakan operasional dan tidak diantisipasinya risiko yang timbul atas kegiatan Penetapan Nilai Pabean dan Penyelesaian Keberatan, serta memberikan alternatif penyempurnaan sistem dan prosedur penetapan serta penyelesaian keberatan bea masuk dan cukai...dst. RUANG LINGKUP AUDIT 6. Audit dilaksanakan dengan penekanan pada pengungkapan permasalahan yang menyebabkan DJBC mengalami kekalahan dalam sidang Pengadilan Pajak khususnya menyangkut materi yang dipersengketakan mengenai penetapan nilai pabean untuk dibahas dan dicarikan jalan keluarnya. 7. Audit dilakukan atas kegiatan penetapan nilai pabean dan penyelesaian keberatan pada 11 kantor DJBC yaitu Direktorat Perencanaan dan Peraturan Kepabeanan dan Cukai (Dit. PPKC), 2 buah Kantor Pelayanan Utama (KPU) dan 8 buah Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) untuk periode tahun 2007, 2008 dan METODOLOGI AUDIT 8. Audit Kinerja dilaksanakan sesuai dengan Standar Audit Inspektorat Jenderal (SAINS) yang dikembangkan oleh Itjen Depkeu dengan mengacu pada Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Nomor PER/05/M.PAN/03/2008 tentang Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). 9. Pada setiap akhir penugasan audit pada 11 kantor DJBC dibuat Laporan Manajemen dan diserahkan kepada auditi untuk diminta tanggapan. Kemudian Laporan Manajemen beserta tanggapannya dikompilasi dan disusun draft laporan hasil audit kinerja yang diserahkan kepada Dirjen Bea dan Cukai pada tanggal 20 November 2009 untuk dibahas/diminta tanggapan. Setelah dibahas/mendapat tanggapan dari Dirjen Bea dan Cukai disusun Laporan Hasil Audit Kinerja yang bersifat final, kemudian diserahkan kepada Dirjen Bea Cukai dan Menteri Keuangan. 10. Susunan tim audit yang bertanggungjawab sesuai dengan Keputusan Irjen dengan nomor Kep-17/IJ/2009 tanggal 17 Maret 2009 tentang Susunan Tim Satuan Tugas Pencapaian Sasaran Pengawasan Unggulan Penetapan Nilai Pabean dan Penyelesaian Keberatan pada DJBC adalah: Penanggungjawab: Murtedjo/NIP Manajer Kegiatan : Hendry Purba/ NIP Anggota : 1) Raden Patrick Wahyudwisaksono/ NIP ) Djamaluddin/ NIP Pengawasan untuk Solusi 2

17 GAMBARAN UMUM 11. Dalam rangka Reformasi Birokrasi, salah satu janji layanan unggulan yang telah ditetapkan DJBC adalah pelayanan proses Penyelesaian Keberatan di bidang Kepabeanan dan Cukai. Namun dalam kenyataannya menunjukkan bahwa dalam 3 tahun terakhir terjadi peningkatan permohonan banding yang cukup siknifikan, yaitu pada tahun 2008 sebanyak 856 berkas, pada tahun 2007 naik menjadi berkas (180%) dan pada tahun 2008 naik menjadi berkas (216%), dan berdasarkan data putusan banding pada tahun 2008 sebanyak 463 putusan ternyata 369 putusan (79,69%) dimenangkan oleh pemohon banding. Kondisi ini menunjukkan bahwa pelayanan penyelesaian keberatan yang dijanjikan DJBC masih belum memuaskan para importir, dan jika dilihat lebih jauh ternyata diketahui bahwa apabila materi yang dipersengketakan di Pengadilan Pajak mengenai penetapan nilai pabean, umumnya para importir dimenangkan. 12. Keberatan adalah salah satu fasilitas Kepabeanan dan Cukai untuk memberikan kemudahan dalam rangka mendukung kelancaran arus barang di pelabuhan/bandar udara serta menghindarkan kerugian para importir, baik akibat kerusakan barang impor/ekspor karena proses pemeriksaan fisik barang, penutupan rekening cukai serta penetapan yang tidak tepat oleh petugas/pejabat DJBC maupun hasil audit pabean/cukai dan ketidaksetujuan lainnya...dst. 13. Self assesment adalah...dst. TEMUAN, REKOMENDASI, DAN TANGGAPAN AUDITI Penetapan Nilai Pabean Tidak Didukung dengan Data dan Dasar Perhitungan Yang Jelas 14. PFPD dalam menetapkan SPKPBM atas penetapan nilai pabean tidak didukung dengan data dan dasar perhitungan yang jelas....dst. (uraikan lebih lanjut... secara lengkap berikut penyebab, akibat dan rekomendasi berupa alternatif solusi dan tanggapan auditi.) Penetapan Keberatan Tidak Dilengkapi Bukti Pendukung 15. Keputusan permohonan keberatan tidak dilengkapi bukti pendukung kebenaran nilai transaksi- Keputusan menolak atau menerima permohonan keberatan tidak dilengkapi bukti pendukung kebenaran nilai transaksi, sehingga petugas keberatan tidak dapat menjelaskan kepada hakim alasan penolakan keberatan tersebut...dst. (uraikan lebih lanjut... secara lengkap berikut penyebab, akibat dan rekomendasi berupa alternatif solusi dan tanggapan auditi) dst. Pengawasan untuk Solusi 3

18 RENCANA TINDAK LANJUT 17. DJBC telah melakukan perbaikan dengan melakukan tindakan...dst. Untuk selanjutnya DJBC akan menindaklanjuti temuan mengenai...dst paling lambat akhir bulan Maret 2010, dan akan melaporkan perkembangannya kepada Inspektur Jenderal setiap bulan. APRESIASI 18. Inspektorat Jenderal DEPKEU menyampaikan terimakasih dan penghargaan atas bantuan dan kerjasama dari seluruh pejabat dan pegawai DJBC selama audit berlangsung. Jakarta, 31 Desember 2009 INSPEKTUR JENDERAL HEKINUS MANAO NIP Pengawasan untuk Solusi 4

19 Lampiran 1: Pengawasan untuk Solusi 5

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : PER - 1/BC/2011 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN DI BIDANG KEPABEANAN

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : PER - 1/BC/2011 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN DI BIDANG KEPABEANAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : PER - 1/BC/2011 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN DI BIDANG KEPABEANAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, Menimbang: bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

Pengajuan Keberatan, Banding, dan Peninjauan Kembali Tagihan Bea Masuk

Pengajuan Keberatan, Banding, dan Peninjauan Kembali Tagihan Bea Masuk Pengajuan Keberatan, Banding, dan Peninjauan Kembali Tagihan Bea Masuk ABSTRAK Importir yang tidak setuju atas penetapan tarif dan/atau nilai pabean oleh pihak pabean sehingga mengakibatkan tambah bayar

Lebih terperinci

2015, No c. bahwa untuk mewujudkan pengawasan tersebut dalam huruf b, diperlukan peran Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsio

2015, No c. bahwa untuk mewujudkan pengawasan tersebut dalam huruf b, diperlukan peran Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsio BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1728, 2015 KEMENKEU. Anggaran. Bendahara Umum Negara. Pelaksanaan. Pengawasan PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 204/PMK.09/2015 TENTANG PENGAWASAN

Lebih terperinci

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT BERITA DAERAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 27 TAHUN 2014 PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR AUDIT DAN REVIU ATAS LAPORAN KEUANGAN BAGI APARAT PENGAWAS INTERN

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-36/BC/2010 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-36/BC/2010 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-36/BC/2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : PER - 1/BC/2011 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : PER - 1/BC/2011 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : PER - 1/BC/2011 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN DI BIDANG

Lebih terperinci

FORMAT PELAPORAN PEMANTAUAN PENGENDALIAN INTERN TABEL PEMANTAUAN PENGENDALIAN UTAMA (TABEL PPU) No (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

FORMAT PELAPORAN PEMANTAUAN PENGENDALIAN INTERN TABEL PEMANTAUAN PENGENDALIAN UTAMA (TABEL PPU) No (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) LAMPIRAN IV PERATURAN DIREKTUR JENDERAL NOMOR: PER-046 /BC/2011 TENTANG PENINGKATAN PENERAPAN PENGENDALIAN INTERN DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI FORMAT PELAPORAN PEMANTAUAN PENGENDALIAN

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN KEPALA BADAN TENTANG KEBIJAKAN PENGAWASAN DI LINGKUNGAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA.

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN KEPALA BADAN TENTANG KEBIJAKAN PENGAWASAN DI LINGKUNGAN BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA. 2. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 3. Undang-Undang Nomor

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER - 1 /BC/2012 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER - 1 /BC/2012 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER - 1 /BC/2012 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN PERMOHONAN PEMBETULAN

Lebih terperinci

2016, No Kinerja Instansi Pemerintah di Lingkungan Kementerian Keuangan, yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 42/PMK.01/2012 ten

2016, No Kinerja Instansi Pemerintah di Lingkungan Kementerian Keuangan, yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 42/PMK.01/2012 ten BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2165, 2016 KEMENKEU. Sistem Akuntabilitas Kinerja. Instansi Pemerintah. Evaluasi. Perubahan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 239/PMK.09/2016 TENTANG

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 22/MENHUT-II/2010 TENTANG PEDOMAN AUDIT KINERJA LINGKUP KEMENTERIAN KEHUTANAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 22/MENHUT-II/2010 TENTANG PEDOMAN AUDIT KINERJA LINGKUP KEMENTERIAN KEHUTANAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 22/MENHUT-II/2010 TENTANG PEDOMAN AUDIT KINERJA LINGKUP KEMENTERIAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Arsip Nasional Republik Indonesia

Arsip Nasional Republik Indonesia Arsip Nasional Republik Indonesia LEMBAR PERSETUJUAN Substansi Prosedur Tetap tentang Kegiatan Audit telah saya setujui. Disetujui di Jakarta pada tanggal Februari 2011 SEKRETARIS UTAMA, GINA MASUDAH HUSNI

Lebih terperinci

STANDAR PELAPORAN AUDIT KINERJA

STANDAR PELAPORAN AUDIT KINERJA LAMPIRAN IV PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA BARAT NOMOR TAHUN 2014 TENTANG STANDAR AUDIT DAN REVIU ATAS LAPORAN KEUANGAN BAGI APIP PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT STANDAR PELAPORAN AUDIT KINERJA

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI SALINAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-09/BC/2009 TENTANG PETUNJUK PENYELESAIAN URUSAN PUNGUTAN EKSPOR DIREKTUR

Lebih terperinci

NOMOR : KEP-03/BC/2003 NOMOR : 01/DAGLU/KP/I/2003 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN TERTIB ADMINISTRASI IMPORTIR

NOMOR : KEP-03/BC/2003 NOMOR : 01/DAGLU/KP/I/2003 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PELAKSANAAN TERTIB ADMINISTRASI IMPORTIR KEPUTUSAN BERSAMA DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DAN DIREKTUR JENDERAL PERDAGANGAN LUAR NEGERI DEPARTEMEN PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

PANDUAN RANCANGAN PROYEK PERUBAHAN DIKLAT KEPEMIMPINAN TK. IV BALAI DIKLAT KEPEMIMPINAN MAGELANG 2015

PANDUAN RANCANGAN PROYEK PERUBAHAN DIKLAT KEPEMIMPINAN TK. IV BALAI DIKLAT KEPEMIMPINAN MAGELANG 2015 PANDUAN RANCANGAN PROYEK PERUBAHAN DIKLAT KEPEMIMPINAN TK. IV BALAI DIKLAT KEPEMIMPINAN MAGELANG 2015 2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Diklat kepemimpinan merupakan pendidikan dan pelatihan yang dirancang

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 122/PMK. 04/2011 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 122/PMK. 04/2011 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 122/PMK. 04/2011 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 51/PMK.04/2008 TENTANG TATA CARA PENETAPAN TARIF,

Lebih terperinci

2016, No Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Indonesia Nomor 3851); 2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang

2016, No Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Indonesia Nomor 3851); 2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang No.1494, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENAG. Pengawasan Internal. Pencabutan. PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2016 TENTANG PENGAWASAN INTERNAL PADA KEMENTERIAN AGAMA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.737, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENHUB. Pengawasan. Pelaksanaan. Tata Cara Tetap. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 91 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA TETAP

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 24 /BC/2007 TENTANG MITRA UTAMA DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, Menimbang :

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 11/BC/2012 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 11/BC/2012 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 11/BC/2012 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN MONITORING TINDAK LANJUT HASIL AUDIT

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.04/MEN/2011 PEDOMAN PENGAWASAN INTERN LINGKUP KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.04/MEN/2011 PEDOMAN PENGAWASAN INTERN LINGKUP KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.04/MEN/2011 TENTANG PEDOMAN PENGAWASAN INTERN LINGKUP KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.638,2012

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.638,2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.638,2012 PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 28 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN TELAAHAN SEJAWAT HASIL AUDIT APARAT PENGAWASAN INTERN

Lebih terperinci

Sehubungan dengan diterbitkannya surat tagihan (STCK-1) nomor :...(6)... tanggal...(7)... (terlampir), kami yang bertanda tangan di bawah ini:

Sehubungan dengan diterbitkannya surat tagihan (STCK-1) nomor :...(6)... tanggal...(7)... (terlampir), kami yang bertanda tangan di bawah ini: LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 28 /BC/2009 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN DI BIDANG CUKAI...(1).... Nomor :. (2)... Lampiran :.(3)... Perihal : Permohonan

Lebih terperinci

PANDUAN PENULISAN LAPORAN MAGANG

PANDUAN PENULISAN LAPORAN MAGANG PANDUAN PENULISAN LAPORAN MAGANG DEPARTEMEN ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN DEPARTEMEN FAKULTAS ILMU EKOLOGI KELUARGA MANUSIA DAN KONSUMEN INSTITUT PERTANIAN FAKULTAS EKOLOI BOGOR MANUSIA 2015 INSTITUT PERTANIAN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1330, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA. Aparat Pengawasan Intern Pemerintah. Komite Etik. PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA

Lebih terperinci

KETENTUAN PENULISAN LKTI

KETENTUAN PENULISAN LKTI KETENTUAN PENULISAN LKTI A. TEMA Wujudkan Indonesia Mandiri dan Sejahterah di Kancah Internasional Melalui Inovasi serta Kreasi Generasi Muda. Sub tema : a. Ekonomi dan atau Industri Kreatif; b. Pariwisata;

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.04/MEN/2011 TENTANG PEDOMAN PENGAWASAN INTERN LINGKUP KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI SALINAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : KEP-64/BC/1999 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENGAJUAN, PENERUSAN, DAN

Lebih terperinci

PEMILIHAN MAHASISWA BERPRESTASI 2016

PEMILIHAN MAHASISWA BERPRESTASI 2016 PEMILIHAN MAHASISWA BERPRESTASI 2016 PERSYARATAN: 1. Mahasiswa aktif FK Unila angkatan 2013, 2014, dan 2015 2. Mengisi formulir pendaftaran (disediakan oleh panitia) 3. Memiliki IPK minimal 3,00, dibuktikan

Lebih terperinci

yang mana atas pengenaan sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp ,00;

yang mana atas pengenaan sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp ,00; Putusan Pengadilan Pajak Nomor : Put.52224/PP/M.VII B/19/2014 Jenis Pajak : Bea Masuk Tahun Pajak : 2012 Pokok Sengketa : bahwa yang menjadi pokok sengketa adalah pengajuan banding terhadap penerbitan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA KINERJA TAHUNAN, PENETAPAN KINERJA DAN LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA 01 L1NGKUNGAN KEMENTERIAN

Lebih terperinci

PANDUAN PENULISAN. Lomba Karya Tulis Imiah makinpintar.com 1

PANDUAN PENULISAN. Lomba Karya Tulis Imiah makinpintar.com 1 PANDUAN PENULISAN LOMBA KARYA TULIS ILMIAH TINGKAT NASIONAL makinpintar.com TAHUN 2016 A. TEMA DAN SUBTEMA Tema dan subtema dibebaskan kepada seluruh tim peserta. B. PETUNJUK PENULISAN 1. Naskah ditulis

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : KEP-35/BC/1997 TENTANG

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : KEP-35/BC/1997 TENTANG DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : KEP-35/BC/1997 TENTANG TATA LAKSANA AUDIT DI BIDANG KEPABEANAN DAN CUKAI PADA

Lebih terperinci

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN EVALUASI LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN

Lebih terperinci

Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. 5- KEENAM BELAS Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. Salinan Keputusan Direktur Jenderal Pajak ini disampaikan kepada: 1. Inspektur Jenderal Kementerian Keuangan;

Lebih terperinci

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA,

- 1 - DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA, - 1 - PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 20152015 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PERJANJIAN KINERJA, PENGUKURAN KINERJA, LAPORAN KINERJA, DAN REVIU ATAS LAPORAN KINERJA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN MENTERI KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA MENTERI KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 09/Per/M.KUKM/IX/2015 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PENGAWASAN

Lebih terperinci

KOP PERUSAHAAN. Nomor & tanggal surat Hal : Permohonan sebagai MITA. Kepada : Yth. Kepala KPU... Di...

KOP PERUSAHAAN. Nomor & tanggal surat Hal : Permohonan sebagai MITA. Kepada : Yth. Kepala KPU... Di... LAMPIRAN I NOMOR : /BC/2007 Nomor & tanggal surat Hal : Permohonan sebagai MITA Kepada : Yth. Kepala KPU... Di... KOP PERUSAHAAN Sehubungan dengan Peraturan Direktur Jenderal Bea dan Cukai Nomor :.../BC/2007

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.572,2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN KENDALI MUTU AUDIT APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH KEMENTERIAN PERTAHANAN

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 11/BC/2012 TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 11/BC/2012 TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 11/BC/2012 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN MONITORING TINDAK LANJUT HASIL AUDIT

Lebih terperinci

2014, No639 2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme

2014, No639 2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih Dan Bebas Dari Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 639, 2014 KEMENHUT. Akubilitas Kinerja. Instansi Pemerintah. Evaluasi. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.26/Menhut-II/2014 TENTANG EVALUASI AKUNTABILITAS

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG

KEMENTERIAN KEUANGAN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG KEMENTERIAN KEUANGAN DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR PER- 45 /BC/2011 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENELITIAN ULANG TARIF

Lebih terperinci

2015, No Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5)

2015, No Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5) No.1902, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENSOS. Laporan Kinerja. Perjanjian Kerja. Pengukuran Kinerja. Juknis. Pencabutan. PERATURAN MENTERI SOSIAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 20152015 TENTANG

Lebih terperinci

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotis

2016, No Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotis BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.88. 2016 KEMENLH-KEHUTANAN. Pengawasan Intern. Penyelenggaraan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.83/MENLHK-SETJEN/2015

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR : KEP. 13 TAHUN 2012

PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR : KEP. 13 TAHUN 2012 PERATURAN KEPALA BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA NOMOR : KEP. 13 TAHUN 2012 TENTANG KOMITE ETIK APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI, DAN GEOFISIKA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.572, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERTAHANAN. Kendali Mutu Audit. Aparat Pengawasan Intern Pemerintah. Pedoman. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2012

Lebih terperinci

Arsip Nasional Republik Indonesia

Arsip Nasional Republik Indonesia Arsip Nasional Republik Indonesia LEMBAR PERSETUJUAN Substansi Prosedur Tetap tentang Penyusunan Laporan Hasil Pengawasan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP). Disetujui di Jakarta pada tanggal Februari

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1657, 2014 KEMENDIKBUD. Pengaduan. Penanganan. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 126 TAHUN 2014 TENTANG PENANGANAN PENGADUAN DI LINGKUNGAN

Lebih terperinci

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran

2 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (Lembaran BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1123, 2014 KEMEN KP. Pengawasan. Intern. Pedoman. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29/PERMEN-KP/2014 TENTANG PEDOMAN PENGAWASAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dipahami bahwa kompetisi global bukan kompetisi antar negara, melainkan antar

BAB I PENDAHULUAN. dipahami bahwa kompetisi global bukan kompetisi antar negara, melainkan antar BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Pada tahun 1999, kita melihat negara-negara di Asia Timur yang samasama terkena krisis mulai mengalami pemulihan, kecuali Indonesia. Harus dipahami bahwa kompetisi

Lebih terperinci

PANDUAN PENULISAN LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK

PANDUAN PENULISAN LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK PANDUAN PENULISAN LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN JURUSAN TEKNIK ELEKTRO POLITEKNIK NEGERI PONTIANAK Ketentuan Umum Laporan Praktek Kerja Lapangan diketik menggunakan kertas HVS ukuran A4 70 gram, jenis

Lebih terperinci

-2- Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik

-2- Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Lembaran Negara Republik BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.248, 2016 BPKP. Pengaduan. Penanganan. Mekanisme. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG MEKANISME

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 28/BC/2007 TENTANG STANDAR AUDIT DI BIDANG KEPABEANAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN

Lebih terperinci

PMK NO 194/PMK.04/2016 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENETAPAN KLASIFIKASI BARANG IMPOR SEBELUM PENYERAHAN PEMBERITAHUAN PABEAN

PMK NO 194/PMK.04/2016 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENETAPAN KLASIFIKASI BARANG IMPOR SEBELUM PENYERAHAN PEMBERITAHUAN PABEAN PMK NO 194/PMK.04/2016 TENTANG TATA CARA PENGAJUAN DAN PENETAPAN KLASIFIKASI BARANG IMPOR SEBELUM PENYERAHAN PEMBERITAHUAN PABEAN Direktorat Teknis Kepabeanan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai PKSI? Penetapan

Lebih terperinci

2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Ke

2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Ke No. 426, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENDIKBUD. Akuntabilitas Kinerja. Sistem. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM AKUNTABILITAS

Lebih terperinci

PANDUAN LAPORAN AKHIR PENELITIAN PENGUATAN PROGRAM STUDI (P3S)

PANDUAN LAPORAN AKHIR PENELITIAN PENGUATAN PROGRAM STUDI (P3S) PANDUAN LAPORAN AKHIR PENELITIAN PENGUATAN PROGRAM STUDI (P3S) https://www2.warwick.ac.uk LABORATORIUM PENGEMBANGAN PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

Lebih terperinci

2016, No Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 tentang Kelautan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 294, Tambahan Lembaran Nega

2016, No Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2014 tentang Kelautan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 294, Tambahan Lembaran Nega No.805, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BAKAMLA. Tata Naskah Dinas. PERATURAN KEPALA BADAN KEAMANAN LAUT NOMOR 02 TAHUN 2016 TENTANG TATA NASKAH DINAS DI LINGKUNGAN BADAN KEAMANAN LAUT DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

2017, No Cukai sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 11 Tahun 1995 tent

2017, No Cukai sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 11 Tahun 1995 tent No.570, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKEU. Keberatan di Bidang Kepabeanan dan Cukai. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51/PMK.04/2017 TENTANG KEBERATAN DI BIDANG

Lebih terperinci

PEDOMAN EVALUASI AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH DI LINGKUNGAN KOMISI PEMILIHAN UMUM

PEDOMAN EVALUASI AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH DI LINGKUNGAN KOMISI PEMILIHAN UMUM LAMPIRAN I KEPUTUSAN SEKRETARIS JENDERAL KOMISI PEMILIHAN UMUM REPUBLIK INDONESIA NOMOR TENTANG PEDOMAN EVALUASI AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH DI LINGKUNGAN KOMISI PEMILIHANUMUM PEDOMAN EVALUASI

Lebih terperinci

2016, No Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 216 Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 5584); 4. Undang-Undang Nomor 23 Tah

2016, No Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 216 Tambahan Lembaran Negara Republik IndonesiaNomor 5584); 4. Undang-Undang Nomor 23 Tah No.1183, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BSN. SAKIP. Pelaksanaan. Pedoman. PERATURAN KEPALA BADAN STANDARDISASI NASIONAL NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM AKUNTABILITAS INSTANSI

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 114/PMK.04/2008 TENTANG KEBERATAN DI BIDANG CUKAI MENTERI KEUANGAN,

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 114/PMK.04/2008 TENTANG KEBERATAN DI BIDANG CUKAI MENTERI KEUANGAN, SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 114/PMK.04/2008 TENTANG KEBERATAN DI BIDANG CUKAI MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan Pasal 41 ayat (8) Undang- Undang Nomor 11 Tahun

Lebih terperinci

MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA MENTERIPERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PEDOMAN PENYUSUNAN LAPORAN AKUNTABILITAS KINERJA DI L1NGKUNGAN KEMENTERIAN PERHUBUNGAN a. bahwa Kementerian Perhubungan sebagai instansi pemerintah mempunyai tugas

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR : 7 TAHUN 2014

PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR : 7 TAHUN 2014 PERATURAN BUPATI KARAWANG NOMOR : 7 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN OPERASIONAL PENGAWASAN INSPEKTORAT KABUPATEN KARAWANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG, Menimbang : a. b. c. bahwa untuk

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 16 /BC/2008 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 16 /BC/2008 TENTANG DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 16 /BC/2008 TENTANG PENYEDIAAN DAN PEMESANAN PITA CUKAI HASIL TEMBAKAU DIREKTUR

Lebih terperinci

P - 36/BC/2007 TATALAKSANA AUDIT KEPABEANAN

P - 36/BC/2007 TATALAKSANA AUDIT KEPABEANAN P - 36/BC/2007 TATALAKSANA AUDIT KEPABEANAN Contributed by Administrator Friday, 30 November 2007 Pusat Peraturan Pajak Online PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 36/BC/2007 TENTANG TATALAKSANA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PENGENAAN BEA KELUAR TERHADAP BARANG EKSPOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PENGENAAN BEA KELUAR TERHADAP BARANG EKSPOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PENGENAAN BEA KELUAR TERHADAP BARANG EKSPOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.322, 2013 KEMENTERIAN PERTAHANAN. Pengawasan. Pemeriksaaan. Pengendalian Intern. PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 07 TAHUN 2013 TENTANG PENGAWASAN

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 214/PMK.04/2008 TENTANG PEMUNGUTAN BEA KELUAR

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 214/PMK.04/2008 TENTANG PEMUNGUTAN BEA KELUAR SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 214/PMK.04/2008 TENTANG PEMUNGUTAN BEA KELUAR MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 2 ayat (5), Pasal 14, dan Pasal 18 Peraturan

Lebih terperinci

PEMBERITAHUAN DAN PERHITUNGAN BEA KELUAR EKSPOR BARANG BAWAAN DAN KIRIMAN

PEMBERITAHUAN DAN PERHITUNGAN BEA KELUAR EKSPOR BARANG BAWAAN DAN KIRIMAN LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 214/PMK.04/2008 TANGGAL 16 DESEMBER 2008 TENTANG PEMUNGUTAN PEMBERITAHUAN DAN PERHITUNGAN BEA KELUAR EKSPOR BARANG BAWAAN DAN KIRIMAN DIISI OLEH EKSPORTIR Nama

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN REVIU ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN REVIU ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN REVIU ATAS LAPORAN KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. KEMEN-ESDM. SAKIP. Evaluasi. Juklak. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG

BERITA NEGARA. KEMEN-ESDM. SAKIP. Evaluasi. Juklak. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG No. 930, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-ESDM. SAKIP. Evaluasi. Juklak. PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2016 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 125/PMK.04/2007 TENTANG AUDIT KEPABEANAN MENTERI KEUANGAN,

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 125/PMK.04/2007 TENTANG AUDIT KEPABEANAN MENTERI KEUANGAN, MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 125/PMK.04/2007 TENTANG AUDIT KEPABEANAN MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 86 ayat

Lebih terperinci

FORMAT TANDA TERIMA PERMOHONAN KEBERATAN

FORMAT TANDA TERIMA PERMOHONAN KEBERATAN FORMAT TANDA TERIMA PERMOHONAN KEBERATAN LAMPIRAN I PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR : PER-1/BC/2011 TENTANG : TATACARA PENGAJUAN DAN PENYELESAIAN KEBERATAN DI BIDANG KEPABEANAN PETUNJUK

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PENGENAAN BEA KE LUAR TERHADAP BARANG EKSPOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PENGENAAN BEA KE LUAR TERHADAP BARANG EKSPOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PENGENAAN BEA KE LUAR TERHADAP BARANG EKSPOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Mengingat. 1. Menimbang '. a. STANDAR AUDIT INSPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN AGAMA

Mengingat. 1. Menimbang '. a. STANDAR AUDIT INSPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN AGAMA KEPUTUSAN INSPEKTUR JENDERAL KEMENTERIAN AGAMA RI NOMOR \J 13912011 TENTANG STANDAR AUDIT INSPEKTORAT JENDERAL KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA INSPEKTUR JENDERAL KEMENTERIAN AGAMA RI,

Lebih terperinci

No. SOP: 16/TMPB/2016. Revisi Ke - Tanggal Penetapan 7 Desember Tanggal Revisi: -

No. SOP: 16/TMPB/2016. Revisi Ke - Tanggal Penetapan 7 Desember Tanggal Revisi: - No. SOP: 16/TMPB/2016 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI KANTOR PENGAWASAN DAN PELAYANAN BEA DAN CUKAI TIPE MADYA PABEAN B Standar Operasional Prosedur Bea Masuk,

Lebih terperinci

BUKU PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI

BUKU PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI BUKU PEDOMAN PENULISAN SKRIPSI PROGRAM STUDI FISIOTERAPI FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2016 BAB I PENDAHULUAN Skripsi adalah tugas akhir yang harus ditulis oleh mahasiswa dalam Program

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2017 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

1 Universitas Indonesia

1 Universitas Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MAS ALAH Dalam menyelenggarakan pemerintahan, suatu negara harus dapat menjalankan roda perekonomiannya dengan baik. Hal ini berpengaruh terhadap pembangunan negara

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 38/BC/2010 TENTANG MEKANISME KONSULTASI NILAI PABEAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI,

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 38/BC/2010 TENTANG MEKANISME KONSULTASI NILAI PABEAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 38/BC/2010 TENTANG MEKANISME KONSULTASI NILAI PABEAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 35

Lebih terperinci

Arsip Nasional Republik Indonesia

Arsip Nasional Republik Indonesia Arsip Nasional Republik Indonesia LEMBAR PERSETUJUAN Substansi Prosedur Tetap tentang Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan telah saya setujui. Disetujui di Jakarta pada tanggal Februari 2011 SEKRETARIS UTAMA,

Lebih terperinci

- 1 - MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

- 1 - MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA - 1 - SALINAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL, DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 187/PMK.03/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 187/PMK.03/2015 TENTANG PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 187/PMK.03/2015 TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN ATAS KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK YANG SEHARUSNYA TIDAK TERUTANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.20/MEN/2011 TENTANG PENYELENGGARAAN SISTEM PENGENDALIAN INTERN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENULISAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENULISAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA, MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN PENULISAN PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

2017, No Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); M

2017, No Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679); M No.73, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAH DAERAH. Penyelenggaraan. Pembinaan. Pengawasan. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6041) PERATURAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

P - 03/BC/2009 PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 03/BC/2009 TENTANG TATA CARA

P - 03/BC/2009 PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 03/BC/2009 TENTANG TATA CARA P - 03/BC/2009 PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P - 03/BC/2009 TENTANG TATA CARA Contributed by Administrator Wednesday, 11 February 2009 Pusat Peraturan Pajak Online PERATURAN DIREKTUR

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 42 /BC/2010

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 42 /BC/2010 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P- 42 /BC/2010 TENTANG PENYEDIAAN DAN PEMESANAN PITA CUKAI MINUMAN MENGANDUNG ETIL

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYUSUNAN SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (SAKIP) DI LINGKUNGAN BADAN STANDARDISASI NASIONAL

PEDOMAN PENYUSUNAN SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (SAKIP) DI LINGKUNGAN BADAN STANDARDISASI NASIONAL PEDOMAN PENYUSUNAN SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INSTANSI PEMERINTAH (SAKIP) DI LINGKUNGAN BADAN STANDARDISASI NASIONAL Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan pelaksanaan pemerintahan yang lebih berdaya

Lebih terperinci

2 c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, dipandang perlu menetapkan Pedoman Pengawasan Intern dengan Peraturan Me

2 c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, dipandang perlu menetapkan Pedoman Pengawasan Intern dengan Peraturan Me BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1042, 2014 KEMENKOPOLHUKAM. Pengawasan. Intern. Pedoman. PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR P-13/BC/2008 TENTANG TATALAKSANA AUDIT KEPABEANAN DAN AUDIT CUKAI DIREKTUR JENDERAL

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.63/Menhut-II/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.63/Menhut-II/2014 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.63/Menhut-II/2014 TENTANG PEDOMAN PENANGANAN PENGADUAN ATAS PENYALAHGUNAAN WEWENANG, PELANGGARAN DAN TINDAK PIDANA KORUPSI LINGKUP KEMENTERIAN KEHUTANAN

Lebih terperinci

2 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Ev

2 Nomor 26, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 2006 tentang Tata Cara Pengendalian dan Ev BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1040, 2014 KEMENPOLHUKAM. Kinerja Instansi Pemerintah. Akuntabilitas. Sistem. Pedoman. PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PENGENAAN BEA KELUAR TERHADAP BARANG EKSPOR

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PENGENAAN BEA KELUAR TERHADAP BARANG EKSPOR PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2008 TENTANG PENGENAAN BEA KELUAR TERHADAP BARANG EKSPOR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, : Menimbang bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BUPATI BLORA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA,

BUPATI BLORA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA, BUPATI BLORA PERATURAN BUPATI BLORA NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PIAGAM INTERNAL AUDIT (INTERNAL AUDIT CHARTER) DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BLORA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA, Menimbang

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG NOMOR 25/BC/2009 TENTANG

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI TENTANG NOMOR 25/BC/2009 TENTANG DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL BEA DAN CUKAI PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BEA DAN CUKAI NOMOR 25/BC/2009 TENTANG BENTUK DAN ISI SURAT PENETAPAN, SURAT KEPUTUSAN, SURAT TEGURAN,

Lebih terperinci

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/PMK.03/2013 TENTANG

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/PMK.03/2013 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10/PMK.03/2013 TENTANG TATA CARA PENGEMBALIAN ATAS KELEBIHAN PEMBAYARAN PAJAK YANG SEHARUSNYA TIDAK TERUTANG

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA, PERATURAN KEPALA LEMBAGA SANDI NEGARA NOMOR 5 TAHUN 2016 TENTANG PENYELESAIAN TINDAK LANJUT LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN INTERNAL DAN EKSTERNAL DI LEMBAGA SANDI NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA

Lebih terperinci