BAB II KAJIAN PUSTAKA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KAJIAN PUSTAKA"

Transkripsi

1 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Orientasi Kewirausahaan Grinstein (2008) menyatakan bahwa terdapat serangkaian proses-proses ketika perusahaan membuat suatu keputusan strategi. Hal ini diwujudkan dalam bentuk perilaku organisasi yang dapat dikarakteristikkan dan diidentifikasikan. Dimensi-dimensi dari proses pembuatan strategi ini dapat dilihat dalam aktivitas organisasi yang mencakup perencanaan, pembuatan keputusan, dan manajemen stratejik. Beberapa peneliti fokus pada dimensi dimensi pembuatan strategi sebagai upaya untuk mengidentifikasi variabel-variabel yang relevan dalam proses pembuatan keputusan strategi organisasi. Friedrickson (2006) dalam sebuah studinya mengenai pengaruh faktor struktur organisasi terhadap proses pembuatan strategi mengajukan dimensi-dimensi seperti proaktivitas (proactiveness), rasionalitas (rationality), komprehensivitas (comprehensiveness), pengambilan risiko (risk taking), dan ketegasan (assertiveness). Zahra (2008) mengkombinasikan dimensi-dimensi yang berbeda dalam proses pembuatan strategi, seperti command, symbolic, rational, transactive, dan generative.

2 Lumpkin et al. (2009) berpendapat bahwa dasar dari dimensi prosesproses pembuatan strategi adalah sama dengan dasar dimensi proses-proses orientasi kewirausahaan. Lumpkin et al. (2009) mengenalkan konsep entrepreneurial management, di mana di dalamnya merefleksikan prosesproses organisasional, metode, dan bentuk yang digunakan oleh perusahaanperusahaan untuk bertindak secara wirausaha. Mengacu pada dimensi-dimensi khusus dari orientasi kewirausahaan, Runyan et al. (2008) membangun suatu dasar bagi orientasi kewirausahaan dengan memberikan definisi orientasi kewirausahaan. Suatu perusahaan dikatakan sebagai perusahaan dengan orientasi kewirausahaan apabila perusahaan tersebut adalah yang pertama dalam inovasi produk, berani mengambil risiko, dan proaktif dalam melakukan inovasi. Dengan demikian orientasi kewirausahaan adalah proses, praktik, dan aktivitas yang menggunakan inovasi produk, pengambilan risiko, dan usaha yang proaktif untuk memenangkan persaingan. Covin et al. (2006) mendefinisikan kewirausahaan sebagai keseluruhan inovasi radikal perusahaan, tindakan strategi proaktif, dan aktivitas pengambilan risiko yang diwujudkan dalam bentuk dukungan-dukungan terhadap proyek-proyek yang berhubungan dengan dimensi-dimensi tersebut. Beberapa peneliti lain juga melakukan penelitian berdasarkan dimensi orientasi kewirausahaan dari Runyan et al. (2008). Sebagai contoh, Susi

3 (2000) melakukan penelitian terhadap usaha kecil industri bordir di Surabaya, menemukan bahwa perusahaan yang proaktif, inovatif, dan berani mengambil risiko akan memenangkan persaingan usaha dan meningkatkan kinerjanya. Covin dan Slevin (2006) melakukan penelitian mengenai kinerja dari perusahaan yang berorientasi kewirausahaan. Dalam penelitian mereka terhadap 117 industri kecil, perusahaan disebut memiliki orientasi kewirausahaan apabila mereka inovatif, pengambil risiko, dan proaktif. Perusahaan yang kinerjanya meningkat adalah yang menjalankan operasional perusahaan dengan pendekatan orientasi kewirausahaan. Penelitian tersebut juga didukung oleh Iqbal (2014) yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa orientasi kewirausahaan, perubahan lingkungan usaha, dan ketersediaan modal secara positif mempengaruhi kinerja perusahaan. Ismawanti (2008) menyatakan bahwa perusahaan dengan orientasi kewirausahaan dapat mencapai target pasar dan berada di posisi pasar yang lebih depan dibandingkan dengan pesaing mereka. Perusahaan ini senantiasa memonitor perubahan pasar dan melakukan respon dengan cepat, kemudian memperoleh keuntungan pada pasar yang berisiko (risk taking). Inovasi menjadikan mereka berada di depan kompetitior, memperoleh keunggulan kompetitif, dan memberikan hasil berupa pertumbuhan finansial. Sikap proaktif memberikan perusahaan kemampuan untuk mengenalkan produk atau

4 jasa yang baru, lebih awal dibandingkan kompetitornya, yang memberikan keunggulan kompetitif bagi perusahaan. Lumpkin et al. (2009) menyatakan bahwa dimensi inovasi sebagai dimensi pertama dari orientasi kewirausahaan menunjukkan kecenderungan perusahaan untuk menggunakan dan mendukung ide-ide baru, sesuatu yang baru, bereksperimen, dan berproses dengan kreatif, yang akan membawa hasil berupa produk baru, pelayanan baru, maupun proses teknologi yang baru. Definisi inovasi secara klasik yaitu konsep baru, implementasi ide-ide baru, produk, maupun proses yang baru. Inovasi juga diartikan sebagai sebuah ide, praktik, maupun materi yang dianggap baru bagi perusahaan. Lebih luas, inovasi didefinisikan sebagai implementasi sukses dari sebuah ide kreatif dalam sebuah organisasi. Meskipun kecenderungan untuk berinovasi dapat bervariasi, inovasi merupakan kemauan dasar untuk meninggalkan teknologi-teknologi maupun praktik-praktik yang lama, kemudian mencari hal-hal baru untuk menuju ke arah yang lebih baik. Terdapat beberapa metode yang dapat dilakukan untuk melakukan klasifikasi mengenai inovasi, namun yang paling sering digunakan untuk membedakan derajat atau kadar inovasi sebuah perusahaan adalah inovasi dalam produk dan inovasi dalam teknologi (Covin dan Slevin, 2006).

5 Scott dan Venkataraman (2000) mendefinisikan proaktif dalam berwirausaha sebagai tindakan dalam mengantisipasi berbagai masalah, memenuhi berbagai kebutuhan, dan mengambil berbagai kesempatan di masa depan. Berdasarkan definisi tersebut sikap proaktif sangat penting dalam orientasi kewirausahaan karena memberikan cara pandang ke masa depan yang menyertai aktivitas inovasi. Perusahaan yang disebut proaktif adalah perusahaan yang membentuk pasar dengan cara memperkenalkan produk baru, teknologi baru, teknik administrasi baru, dan melakukan respon atau reaksi bilamana pesaing melakukan tindakan. Sikap proaktif digunakan untuk menggambarkan perusahaan yang melakukan tindakan paling cepat dalam berinovasi dan yang pertama memperkenalkan produk atau jasa baru kepada pasar. Dalam proses wirausaha, beberapa literatur menyarankan pentingnya inisiatif. Aloulou dan Fayolle (2005) memberikan argumentasi bahwa para manajer dengan orientasi kewirausahaan adalah poin penting bagi pertumbuhan organisasi karena mereka memberikan visi dan misi penting yang menuju pada peluang-peluang usaha baru. Aloulou dan Fayolle (2005) juga menyatakan bahwa strategi yang paling baik untuk memperoleh peluangpeluang pasar adalah secara proaktif memperhatikan dan menyikapi peluang. Memberikan perhatian terhadap perubahan yang terjadi pada pasar, perusahaan yang berinisiatif tinggi dapat menangkap keuntungan yang lebih

6 bagus dan mendapatkan posisi paling awal dalam memperoleh pengakuan terhadap eksistensi produk atau jasa perusahaan. Bersikap inisiatif dengan mengantisipasi, mengejar peluang baru, dan berpartisipasi dalam munculnya pasar juga berkaitan dengan kegiatan kewirausahaan. Karakter yang kedua dari kewirausahaan ini disebut sebagai karakter proaktif. Pengambilan risiko menunjukkan kemauan perusahaan untuk mendukung proyek-proyek inovatif dan mengandung risiko walaupun hasil akhir dari tindakan tersebut tidak bisa diketahui dengan pasti (Wiklund dan Shepherd, 2005). Risiko memiliki arti yang bervariasi, tergantung pada konteks apa risiko ini diterapkan. Mengambil risiko berarti mengambil ketidakpastian dan sikap ini dapat digunakan pada beberapa tipe risiko yang sering digunakan dalam literatur kewirausahaan, seperti risiko personal, risiko sosial, atau risiko psikologis. Sebagai bagian dalam analisis keuangan, risiko digunakan dalam konteks risiko usaha, yang secara khusus berarti kemampuan untuk menghasilkan laba. Perusahaan dengan orientasi kewirausahaan sering dihubungkan dengan perilaku berani mengambil risiko, seperti meminjam modal yang besar untuk membuat usaha lebih maju, mengambil peluang pasar, untuk mendapatkan keuntungan yang lebih tinggi. Kegiatan pengambilan risiko yang dilakukan perusahaan sebaiknya tetap berada dalam kerangka toleransi risiko yang sudah ditetapkan untuk kebaikan dan perkembangan perusahaan. Harris dan Gibson (2008) membuat skala

7 untuk mengukur tingkat pengambilan risiko pada perusahaan dengan orientasi kewirausahaan. Dalam penelitiannya, Harris dan Gibson memberikan pertanyaan kepada para manajer mengenai kecenderungan perusahaan untuk memilih proyek yang berisiko dan tindakan apa yang dipilih oleh manajer, diantara tindakan yang berani dan tindakan yang berhati-hati, agar perusahaan berhasil. Haryadi (2015) menggunakan pendekatan yang sama, yaitu dengan menanyakan para manajer apakah mereka cenderung untuk mencoba hal-hal baru yang berisiko dengan memberikan hasil yang baik namun bersifat tidak pasti, atau cenderung untuk mendukung proyek-proyek yang sudah ada, pernah dilakukan, dan hasilnya sudah pasti. Lumpkin et al. (2009) kemudian menyusun skala untuk mengukur dimensi usaha dalam penelitiannya mengenai entrepreneurial posture. Penelitian mereka menyatakan bahwa tingkat kewirausahaan sebuah perusahaan diukur melalui tiga dimensi yaitu inovatif, proaktif, dan pengambilan risiko. 2.2 Lingkungan Usaha Hubungan antara lingkungan usaha dengan kinerja perusahaan telah dijelaskan dalam teori manajemen stratejik, yaitu ekologi populasi (population ecology theory), teori kontingensi (contingency theory), dan teori ketergantungan pada sumber daya (resources dependence theory) (Henley,

8 2007). Teori ekologi populasi dan teori kontingensi adalah dua teori yang paling banyak mendapat perhatian terkait hubungan antara lingkungan usaha dengan kinerja perusahaan (Shahid et al., 2010). Teori ekologi populasi menjelaskan bahwa kelangsungan hidup dan keberhasilan perusahaan ditentukan oleh karakteristik lingkungan usaha di mana perusahaan itu berada (Henley, 2007). Model pendekatan ini membawa implikasi, yaitu lingkungan usaha mempunyai pengaruh langsung terhadap kinerja perusahaan tanpa memandang pilihan strategi yang dijalankan perusahaan. Kelemahan dari teori ini adalah adanya asumsi bahwa strategi yang disusun dan dikembangkan oleh para manajer untuk merespon lingkungan usahanya tidak mempengaruhi keberhasilan atau kinerja perusahaan (McCrea dan Betts, 2008). Teori kontingensi menyatakan bahwa keselarasan antara strategi dengan lingkungan usaha menentukan kelangsungan hidup dan kinerja perusahaan (Chang et al., 2007). Teori kontingensi juga menjelaskan bagaimana orientasi stratejik organisasi mampu untuk memenuhi tuntutan lingkungan usaha (Irene, 2006). Jika tidak tercipta keselarasan antara strategi dengan lingkungan usaha, maka dapat berakibat menurunnya kinerja perusahaan. Chang et al. (2007) juga menyatakan bahwa keselarasan antara perusahaan dengan lingkungan usahanya merupakan fokus dari manajemen stratejik.

9 Pendapat dalam teori kontingensi mendapatkan dukungan dari banyak pakar. Beberapa bukti empiris juga menunjukkan bahwa perusahaan yang berhasil mencapai target kinerja adalah perusahaan yang mampu menyelaraskan strategi dengan lingkungan usahanya atau mampu menunjukkan tindakan adaptif dan fleksibel dengan lebih baik dibandingkan perusahaan-perusahaan yang kurang berhasil menyelaraskan strategi atau menunjukkan tingkat adaptif dan fleksibilitas yang rendah (Covin dan Slevin, 2006; Runyan et al., 2008; Lumpkin et al., 2009). Ketika pengambil keputusan sebuah perusahaan tidak memperhatikan dan menyelaraskan perubahan lingkungan usaha dengan strategi, maka perusahaan gagal untuk membuat penyesuaian-penyesuaian yang dibutuhkan bagi perusahaan. Kesalahan ini akan berakibat pada menurunnya kinerja dan akan menjadi sumber masalah bagi perusahaan (Runyan et al., 2008). Chang et al. (2007) menyatakan bahwa semakin besar kesesuaian antara pemahaman dan interpretasi pengambil keputusan terhadap lingkungan usaha dan berbagai perubahannya, maka kinerja ekonomi perusahaan akan menjadi lebih tinggi. Bukti empiris menyarankan para pengambil keputusan agar memiliki akses untuk memperoleh informasi yang lebih banyak mengenai lingkungan usaha, dibandingkan hanya berdasarkan pada persepsi pribadi (Shane dan Venkataraman, 2000). Pada praktiknya, kesalahpahaman mengenai kondisi lingkungan usaha terjadi ketika para pembuat keputusan tidak merasa percaya

10 diri apakah mereka mengerti tentang kejadian dalam lingkungan usaha dan berbagai perubahannya (Wiklund dan Shepherd, 2005). Covin dan Slevin (2006) menyatakan bahwa lingkungan usaha mewakili elemen ketidakpastian bagi organisasi, yang dikarakteristikkan dalam dimensi-dimensi, yaitu tidak dapat diprediksi (unpredictability), dinamika lingkungan (environment dynamism), dan heterogenitas lingkungan (environment heterogenity). Zahra (2008) memberikan definisi mengenai lingkungan usaha yang tidak pasti sebagai tingkat kompetisi yang ketat, pasar yang tidak dapat diprediksi, dan mudahnya kekuatan lingkungan usaha mempengaruhi perusahaan. Faktor-faktor lingkungan usaha dapat mempengaruhi proses pengambilan keputusan strategi perusahaan (Shahid et al., 2010). Perubahan lingkungan usaha mencerminkan tingkat perubahan dan derajat ketidakstabilan dari faktor-faktor yang ada di dalam lingkungan usaha. Perspektif ini menyatakan semakin meningkatnya perubahan lingkungan usaha, maka perusahaan akan semakin terbawa kepada ketidakpastian lingkungan usaha yang lebih besar. Covin dan Slevin (2006) memberikan skala pengukuran mengenai lingkungan usaha. Menurut mereka, lingkungan usaha dapat dibedakan menjadi tiga dimensi, yaitu heterogenitas lingkungan (environment heterogenity), dinamika lingkungan (environmental dynamism), dan tidak dapat diprediksi (unpredictability).

11 Covin dan Slevin (2006) menyatakan bahwa heterogentias lingkungan usaha, kedinamisan, dan persaingan usaha secara positif dan signifikan berhubungan dengan kegiatan proaktif, inovasi, dan pengambilan risiko. Rauch et al. (2009) menyatakan bahwa perusahaan yang berkompetisi dalam lingkungan persaingan usaha dan mengadopsi sikap kewirausahaan, akan menikmati superioritas dalam lingkungan tersebut. Frese (2009) menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang bersaing dalam bidang teknologi tinggi atau dalam lingkungan usaha yang bersifat tidak pasti dapat memperoleh sukses melalui pengambilan risiko. Frese (2009) melalui studinya terhadap 140 perusahaan makanan ringan di Finlandia, menemukan bahwa heterogenitas dan ketidakpastian lingkungan usaha secara positif berkaitan dengan keberhasilan perusahaan yang memiliki sikap kewirausahaan untuk meningkatkan kinerjanya. 2.3 Strategi Keunggulan Bersaing Strategi adalah variabel penting yang berfungsi sebagai variabel moderasi antara orientasi kewirausahaan dan kinerja perusahaan. Terdapat banyak cara untuk mengetahui karaketer dari strategi, namun penggolongan yang paling banyak diterima adalah penggolongan strategi keunggulan bersaing dari Porter (2007).

12 Porter (2007) menyatakan bahwa terdapat tiga pendekatan strategi yang secara potensial dapat membawa perusahaan lebih unggul dari perusahaan lain dalam suatu industri. Strategi ini disebut dengan tiga strategi umum keunggulan bersaing. Tiga strategi umum tersebut adalah strategi kepemimpinan biaya, strategi diferensiasi, dan strategi fokus. Covin dan Slevin (2006) dan beberapa peneliti mengkritik penggolongan strategi dari Porter tersebut. Kritikan tersebut didasarkan pada jenis penggolongan yang terlalu sederhana dan tidak mengungkapkan variasi luas dari strategi diferensiasi. Padahal, strategi diferensiasi yang sesungguhnya memiliki kegunaan bervariasi pada kondisi lingkungan usaha yang berbeda. Miller (2004) kemudian memodifikasi kerangka kerja milik Porter dengan mengajukan dua tipe dari diferensiasi sebagai pengganti dimensi fokus. Dua tipe tersebut didasarkan pada kegiatan pemasaran dan kegiatan inovasi. Dengan demikian, Miller (2004) menggunakan dua dimensi strategi keunggulan bersaing yaitu dimensi diferensiasi pemasaran dan diferensiasi inovasi. Miller (2004) mengukur dimensi-dimensi strategi perusahaan agar dapat dinilai tinggi atau rendah. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa dimensi-dimensi strategi ini sesuai dan memiliki hubungan erat (Shane dan Venkataraman, 2000; Hsieh dan Tsai, 2007; Grinstein, 2008; Baker dan Sinkula, 2009; Haryadi, 2015).

13 Strategi pertama adalah mendiferensiasikan produk atau jasa yang ditawarkan perusahaan, yaitu menciptakan dan menawarkan suatu produk atau pelayanan baru dan unik kepada konsumen. Kegiatan diferensiasi pemasaran meliputi iklan yang luas, mengembangkan image produk, dan program pemasaran yang intensif seperti menawarkan program-program pemasaran yang menarik, produk yang memuaskan, dan garansi pelayanan (Hsieh dan Tsai, 2007). Avlontis dan Salavou (2007) menggambarkan strategi kedua yaitu diferensiasi inovasi sebagai pelopor dalam kegiatan yang meliputi produk, pelayanan, maupun teknologi. Diferensiasi inovasi merupakan kegiatan di dalam perusahaan yang meliputi kreativitas dalam pengembangan produk, pelayanan, penerapan teknologi baru, inovasi yang up-to-date, dan desain kualitas. Chang et al. (2007) menyatakan bahwa semakin tinggi peran lingkungan usaha berupa semakin tidak pastinya lingkungan usaha, semakin dinamis, dan semakin tidak dapat diprediksi lingkungan usaha, maka penerapan strategi semakin berguna untuk mencapai kinerja yang diharapkan. Perubahan selera konsumen yang terus menerus dan penawaran dari pesaing menuntut perusahaan untuk terus mempertahankan kinerjanya melalui penerapan strategi.

14 Dawn dan Michelle (2012) menemukan bahwa kinerja perusahaan sangat tepat digunakan untuk mengukur kesesuaian hubungan antara gaya wirausaha, struktur organisasi, dan strategi yang diterapkan. Dawn dan Michelle (2012) dalam penelitiannya terhadap usaha kuliner di Australia menemukan bahwa penggunaan strategi yang tepat pada perusahaan yang berorientasi kewirausahaan secara positif dan signifikan dapat meningkatkan kinerjanya. Haryadi (2015) menyatakan bahwa ketepatan dan kecocokan hubungan antara lingkungan usaha, strategi keunggulan bersaing, dan kinerja perusahaan akan membawa dampak pada kinerja perusahaan yang superior. 2.4 Kinerja Perusahaan Kinerja perusahaan adalah indikator untuk mengukur sejauh mana kegiatan bisnis yang dijalankan perusahaan, sudah tepat pada sasaran dan tujuannya (Nelly et al., 2003). Kinerja bisnis adalah tingkat keberhasilan perusahaan, dalam menjalankan bisnis, secara keseluruhan, selama periode tertentu. Terdapat beberapa aspek yang menunjukkan tingkat keberhasilan kinerja perusahaan. Aspek - aspek tersebut antara lain, aspek keuangan dengan indikator profit dan asset perusahaan, aspek sumber daya manusia dengan indikator jumlah pegawai dan produktivitas kerja pegawai, dan aspek pemasaran dengan indikator nilai penjualan dan frekuensi terjadinya perubahan produk. Secara umum, penilaian terhadap kinerja perusahaan

15 didasarkan pada indikator penjualan, keuntungan, dan kinerja secara keseluruhan (Lin dan Kuo, 2007). Terdapat dua jenis pendekatan di dalam mengukur kinerja perusahaan, yaitu pendekatan secara obyektif dan pendekatan secara subyektif (Rauch et al., 2009). Pendekatan obyektif adalah jenis pendekatan dengan menggunakan data-data yang bersifat obyektif seperti data akuntansi dan data keuangan. Pendekatan secara subyektif adalah pendekatan yang berdasarkan persepsi para manajer terhadap kinerja perusahaan. Pengukuran secara obyektif yang didasarkan data akuntansi dan data keuangan memiliki kekurangan. Kekurangan terebut disebabkan adanya kecenderungan manipulasi angka dari pihak manajemen, dan oleh bervariasinya model akuntasi, sehingga pengukuran kinerja perusahaan menjadi tidak valid. Kesulitan lain yang muncul ketika menilai kinerja perusahaan berdasarkan pengukuran secara obyektif adalah manajer atau pemilik berkeberatan untuk memberikan informasi dan data-data keuangan mereka. Kondisi ini lazim ditemui pada penelitian terhadap usaha kecil. Tidak ada standar mengenai pengukuran yang tepat terhadap kinerja perusahaan kecil. Penelitian terdahulu juga fokus pada variabel-variabel di mana informasi tersebut mudah untuk diperoleh (Irene, 2006). Lebih jauh lagi, masih terdapat perdebatan tentang pendekatan yang tepat untuk mengukur kinerja perusahaan. Beal (2000) menyatakan bahwa pengukuran

16 kinerja yang cocok dan layak tergantung pada situasi dan kondisi yang dihadapi oleh peneliti. Sebagai upaya mengantisipasi tidak tersedianya datadata kinerja perusahaan secara obyektif dalam sebuah penelitian, maka dimungkinkan untuk menggunakan ukuran kinerja secara subyektif, yang didasarkan pada persepsi manajer. Pengukuran secara subyektif terhadap kinerja digunakan karena usaha kecil seringkali sangat berhati-hati dalam menjaga informasi data keuangan perusahaan (Grinstein, 2008). Oleh karena itu, informasi data kinerja secara subyektif akan lebih mudah didapatkan dibandingkan dengan informasi secara obyektif. Selain itu, data keuangan obyektif pada usaha kecil tidak dipublikasikan secara akurat dan terkadang tidak tersedia. Hal ini membuat pemeriksaan ketepatan dari kinerja keuangan yang dilaporkan menjadi sangat sulit. Data keuangan usaha kecil juga sebagian besar sulit untuk diinterpretasikan. Pengukuran secara subyektif akan lebih tepat digunakan dalam sebuah penelitian di mana obyek penelitian terdiri atas perusahaanperusahaan yang berbeda yang memiliki tujuan dan kriteria pengukuran kinerja yang berbeda-beda. Hasil pengukuran kinerja perusahaan secara subyektif hampir sama dengan hasil pengukuran obyektif, serta memiliki tingkat reliabilitas dan validitas yang tinggi.

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Kewirausahaan Kewirausahaan merupakan serangkaian aktivitas yang melibatkan daya kreativitas dan inovasi untuk memecahkan permasalahan dan untuk menangkap peluang pasar

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN KONSEPTUAL

BAB II TINJAUAN KONSEPTUAL 7 BAB II TINJAUAN KONSEPTUAL 2.1 Intensitas Kewirausahaan Sebagaimana dikatakan sebelumnya, kewirausahaan adalah faktor kunci yang menentukan kegiatan pengembangan kapabilitas perusahaan. Orientasi kewirausahaan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. kemampuan dan atau kemauan sendiri (Saiman, 2009:43).

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN. kemampuan dan atau kemauan sendiri (Saiman, 2009:43). BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Kewirausahaan Kewirausahaan adalah hal-hal atau upaya-upaya yang berkaitan dengan penciptaan kegiatan atau usaha aktivitas bisnis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tentang pemasaran yang berorientasi pasar serta inovasi produk akan

BAB I PENDAHULUAN. tentang pemasaran yang berorientasi pasar serta inovasi produk akan BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pada dasarnya tujuan didirikannya suatu perusahaan yaitu untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Oleh sebab itu diperlukan adanya kelancaran dalam pemasaran produk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tengah persaingan dan lingkungan bisnis yang dinamis serta menciptakan

BAB 1 PENDAHULUAN. tengah persaingan dan lingkungan bisnis yang dinamis serta menciptakan 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Hampir semua organisasi menyadari bahwa dalam iklim kompetitif saat ini, inovasi menjadi salah satu kunci sukses untuk mempertahankan eksistensinya di tengah persaingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Banyak orang telah mengetahui bahwa Indonesia menghadapi era

BAB I PENDAHULUAN. Banyak orang telah mengetahui bahwa Indonesia menghadapi era BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Banyak orang telah mengetahui bahwa Indonesia menghadapi era globalisasi, dimana perbatasan antar negara tidak lagi menjadi hambatan dalam memperoleh apa yang

Lebih terperinci

5 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan Hasil Analisis Hasil yang diperoleh dari EOS menunjukkan nilai dimensi kunci dengan rentang angka 2.46 3.70 (skala 5) dimana rincian nilai untuk tiap dimensi

Lebih terperinci

PERENCANAAN SUMBERDAYA MANUSIA YANG EFEKTIF: STRATEGI MENCAPAI KEUNGGULAN KOMPETITIF

PERENCANAAN SUMBERDAYA MANUSIA YANG EFEKTIF: STRATEGI MENCAPAI KEUNGGULAN KOMPETITIF PERENCANAAN SUMBERDAYA MANUSIA YANG EFEKTIF: STRATEGI MENCAPAI KEUNGGULAN KOMPETITIF Disusun Oleh : Muhamad Wahyudin 125030207111110 Johanes Hartawan Silalahi 125030207111101 Arrahman 125030207111044 JURUSAN

Lebih terperinci

Nama Kelompok : Intan Nur Kumalasari Selvia Dewi Novita Jannatul Maghfiroh Laura Evalina Novita Ari Santi Christi Emanuella

Nama Kelompok : Intan Nur Kumalasari Selvia Dewi Novita Jannatul Maghfiroh Laura Evalina Novita Ari Santi Christi Emanuella Nama Kelompok : Intan Nur Kumalasari Selvia Dewi Novita Jannatul Maghfiroh Laura Evalina Novita Ari Santi Christi Emanuella Kewirausahaan adalah kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat,

Lebih terperinci

BAB 2 BERSAING DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI INFORMASI DASAR-DASAR KEUNGGULAN STRATEGIS

BAB 2 BERSAING DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI INFORMASI DASAR-DASAR KEUNGGULAN STRATEGIS BAB 2 BERSAING DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI INFORMASI DASAR-DASAR KEUNGGULAN STRATEGIS TI Strategis Teknologi tidak lagi merupakan pemikiran terakhir dalam membentuk strategi bisnis, tetapi merupakan penyebab

Lebih terperinci

REKOMENDASI DAN RENCANA IMPLEMENTASI

REKOMENDASI DAN RENCANA IMPLEMENTASI BAB IV REKOMENDASI DAN RENCANA IMPLEMENTASI 4.1 Rekomendasi 4.1.1 Rekomendasi untuk Peningkatan Lingkungan Entrepreneurial Rekomendasi yang diberikan disini adalah untuk mengetahui apa yang seharusnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting, karena dalam berwirausaha kreativitas, inovasi dan pengetahuan

BAB I PENDAHULUAN. penting, karena dalam berwirausaha kreativitas, inovasi dan pengetahuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini kreativitas, inovasi dan pengetahuan kewirausahaan sangat penting, karena dalam berwirausaha kreativitas, inovasi dan pengetahuan kewirausahaan merupakan

Lebih terperinci

MANAGEMENT SUMMARY CHAPTER 7 DECISION MAKING

MANAGEMENT SUMMARY CHAPTER 7 DECISION MAKING MANAGEMENT SUMMARY CHAPTER 7 DECISION MAKING MANAJER SEBAGAI PEMBUAT KEPUTUSAN PROSES MEMBUAT KEPUTUSAN Manajer bertugas membuat keputusan. Dan mereka ingin keputusan tersebut menjadi keputusan yang terbaik,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam keadaan krisis ekonomi seperti sekarang ini, setiap perusahaan harus

BAB I PENDAHULUAN. Dalam keadaan krisis ekonomi seperti sekarang ini, setiap perusahaan harus BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dalam keadaan krisis ekonomi seperti sekarang ini, setiap perusahaan harus mempertahankan eksistensinya karena ketatnya persaingan yang terjadi diantara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beroperasi secara efektif dan efisien serta tetap memiliki usaha bisnis yang

BAB I PENDAHULUAN. beroperasi secara efektif dan efisien serta tetap memiliki usaha bisnis yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Saat ini keadaan perekonomian dunia sudah memasuki era globalisasi, dimana sangat dirasakan persaingan antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya sangat

Lebih terperinci

A. JUDUL PENGABDIAN: PELATIHAN PERENCANAAN USAHA BAGI REMAJA USIA PRODUKTIF DI DUSUN SLANGGEN, TIMBULHARJO, SEWON, BANTUL, YOGYAKARTA

A. JUDUL PENGABDIAN: PELATIHAN PERENCANAAN USAHA BAGI REMAJA USIA PRODUKTIF DI DUSUN SLANGGEN, TIMBULHARJO, SEWON, BANTUL, YOGYAKARTA A. JUDUL PENGABDIAN: PELATIHAN PERENCANAAN USAHA BAGI REMAJA USIA PRODUKTIF DI DUSUN SLANGGEN, TIMBULHARJO, SEWON, BANTUL, YOGYAKARTA B. ANALISIS SITUASI Menjadi wirausaha yang handal tidaklah mudah. Tetapi

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Pemikiran Teoritis 3.1.1. Analisis Deskriptif Metode analisis deskriptif adalah suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi,

Lebih terperinci

INOVASI. Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kewirausahaan dan Menajemen Inovasi pada Semester Genap KELAS C. Disusun oleh:

INOVASI. Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kewirausahaan dan Menajemen Inovasi pada Semester Genap KELAS C. Disusun oleh: INOVASI Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kewirausahaan dan Menajemen Inovasi pada Semester Genap KELAS C Disusun oleh: Kelompok 2 Muhammad Nur Hadi Lofie Bachtiar Bani Alkausar Azwin A.R Fauzi

Lebih terperinci

BAB 1 Perilaku Konsumen

BAB 1 Perilaku Konsumen BAB 1 Perilaku Konsumen Tujuan Pembelajaran Pembaca memahami mengenai mengenai sejumlah konsep yaitu: 1. Definisi Perilaku Konsumen. 2. Perspektif Utilitarianisme. 3. Perspektif Hedonisme. 4. Sisi Positif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan keinginan konsumen eksternal-nya yaitu mahasiswa dan atau orang-tua-nya

BAB I PENDAHULUAN. dan keinginan konsumen eksternal-nya yaitu mahasiswa dan atau orang-tua-nya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memasuki abad ke duapuluh satu ini, dunia pendidikan tinggi menunjukkan kecenderungan yang semakin mengglobal dan setiap perguruan tinggi akan menghadapi persaingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengadopsi Total Quality Management (TQM) kerena TQM membutuhkan usaha

BAB I PENDAHULUAN. mengadopsi Total Quality Management (TQM) kerena TQM membutuhkan usaha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Menghadapai era persaingan global, setiap perusahaan harus menghadapi persaingan ketat dengan perusahaan-perusahaan dari seluruh dunia. Meningkatnya intensitas

Lebih terperinci

BAB 7 PENUTUP. tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini maka dapat diperoleh kesimpulan

BAB 7 PENUTUP. tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini maka dapat diperoleh kesimpulan 202 BAB 7 PENUTUP 7.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis dan pengujian hipotesis yang telah dilakukan serta tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut

Lebih terperinci

BAB 6 FORMULASI STRATEGI. Penerbit Erlangga

BAB 6 FORMULASI STRATEGI. Penerbit Erlangga BAB 6 FORMULASI STRATEGI TUJUAN BAB 6 Menjelaskan definisi sukses dalam dunia bisnis Menerangkan hakikat strategi, terutama bagaimana memformulasikan strategi dan memilih strategi dari berbagai macam perspektif

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA TEORITIS

BAB II KERANGKA TEORITIS BAB II KERANGKA TEORITIS 2.1 Teori Kinerja Pemasaran Kinerja pemasaran merupakan elemen penting dari kinerja perusahaan secara umum karena kinerja suatu perusahaan dapat dilihat dari kinerja pemasarannya

Lebih terperinci

BAB I LATAR BELAKANG. dunia bisnis saat ini semakin kompetitif. Hal ini berlaku untuk segala jenis

BAB I LATAR BELAKANG. dunia bisnis saat ini semakin kompetitif. Hal ini berlaku untuk segala jenis BAB I LATAR BELAKANG 1.1 Latar Belakang Pada era saat ini perusahaan dituntut untuk lebih bergerak dinamis, inovatif, dan mampu memanfaatkan segala peluang yang ada karena persaingan di dunia bisnis saat

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia 1 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Kewirausahaan telah lama menjadi perhatian penting dalam mengembangkan pertumbuhan sosioekonomi suatu negara (Zahra dalam Peterson & Lee, 2000). Dalam hal

Lebih terperinci

strategi bisnis. Ketertarikan antara strategi sumber daya manusia dan strategi bisnis ini menjadi dasar bagi manajemen sumber daya manusia (Human

strategi bisnis. Ketertarikan antara strategi sumber daya manusia dan strategi bisnis ini menjadi dasar bagi manajemen sumber daya manusia (Human 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perubahan lingkungan yang cepat, meningkatnya persaingan dan pertumbuhan perusahaan membuat pelanggan dan pemegang saham menuntut perusahaan dapat menyediakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan kecil atau usaha kecil dan menengah (UKM) juga mulai diperhatikan

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan kecil atau usaha kecil dan menengah (UKM) juga mulai diperhatikan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Konteks Penelitian Pada saat ini tidak hanya perusahaan besar yang menjadi perhatian. Perusahaan kecil atau usaha kecil dan menengah (UKM) juga mulai diperhatikan karena mempunyai

Lebih terperinci

Diajukan Oleh : Nama : Angga Chandraresmi Nim : C4C

Diajukan Oleh : Nama : Angga Chandraresmi Nim : C4C PENGARUH PERSEPSI MANAJER ATAS VISI ORGANISASI, KOMITMEN ORGANISASI, KETERLIBATAN KERJA MANAJER TERHADAP KINERJA MANAJERIAL, DENGAN KETIDAKPASTIAN LINGKUNGAN SEBAGAI VARIABEL MODERATOR (Studi Kasus pada

Lebih terperinci

Contoh Perilaku dan Budaya Organisasi

Contoh Perilaku dan Budaya Organisasi Contoh Perilaku dan Budaya Organisasi Perilaku pegawai tidak terlepas dengan budaya organisasi. Menurut Kotter dan Hesket, budaya organisasi merujuk pada nilai-nilai yang dianut bersama oleh orang dalam

Lebih terperinci

BISNIS DESAIN GRAFIS NIM : STMIK AMIKOM YOGYAKARTA

BISNIS DESAIN GRAFIS NIM : STMIK AMIKOM YOGYAKARTA BISNIS DESAIN GRAFIS Nama : Abdullah NIM : 10.12.4803 Kelas : S1-SI 2F STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2 April 2011 Abstrak Menjadi wirausaha atau tidak menjadi wirausaha, sesungguhnya merupakan pilihan hidup.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perannya sebagai subyek pelaksana kebijakan dan kegiatan operasional

BAB I PENDAHULUAN. perannya sebagai subyek pelaksana kebijakan dan kegiatan operasional 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumber daya manusia merupakan aset terpenting perusahaan karena perannya sebagai subyek pelaksana kebijakan dan kegiatan operasional perusahaan. Agar perusahaan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang PENDAHULUAN Latar Belakang Sebagian besar konsumen yang memberi pengaruh pada pergerakan konsumsi adalah konsumen akhir yang biasanya merupakan konsumen individu (Engel et al. 1995). Setiap konsumen individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hal tersebut akan berdampak pada pelanggan, persaingan, dan perubahan.

BAB I PENDAHULUAN. Hal tersebut akan berdampak pada pelanggan, persaingan, dan perubahan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan bisnis dan persaingan antar perusahaan semakin ketat. Hal tersebut akan berdampak pada pelanggan, persaingan, dan perubahan. Dalam kondisi persaingan global

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bazerman (1994) mendefinisikan eskalasi adalah derajat dimana individu

BAB I PENDAHULUAN. Bazerman (1994) mendefinisikan eskalasi adalah derajat dimana individu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Eskalasi komitmen adalah tendensi dari pengambil keputusan untuk tetap bertahan atau mengeskalasi komitmennya pada serangkaian tindakan yang gagal. Bazerman (1994)

Lebih terperinci

FUNGSI DAN MODEL PERAN KEWIRAUSAHAAN SERTA IDE DAN PELUANG DALAM KEWIRAUSAHAAN Kelompok 2: Kelas D

FUNGSI DAN MODEL PERAN KEWIRAUSAHAAN SERTA IDE DAN PELUANG DALAM KEWIRAUSAHAAN Kelompok 2: Kelas D FUNGSI DAN MODEL PERAN KEWIRAUSAHAAN SERTA IDE DAN PELUANG DALAM KEWIRAUSAHAAN Kelompok 2: Kelas D 1. Anis Yuliati ( 105030207111058 ) 2. Aris Dian Natalia ( 105030201111082 ) 3. Nita Ratnasari ( 105030201111111

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. A. Investasi dalam Teknologi Informasi dan Kinerja Perusahaan. Perdagangan bebas akan menyebabkan meningkatnya

II. LANDASAN TEORI. A. Investasi dalam Teknologi Informasi dan Kinerja Perusahaan. Perdagangan bebas akan menyebabkan meningkatnya II. LANDASAN TEORI A. Investasi dalam Teknologi Informasi dan Kinerja Perusahaan Perdagangan bebas akan menyebabkan meningkatnya persaingan antar perusahaan. Hal ini disebabkan lingkungan usaha menghadapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1 BAB 1 PENDAHULUAN. Pada era globalisasi ini, persaingan dalam bisnis yang semakin lama semakin

BAB I PENDAHULUAN 1 BAB 1 PENDAHULUAN. Pada era globalisasi ini, persaingan dalam bisnis yang semakin lama semakin BAB I PENDAHULUAN 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada era globalisasi ini, persaingan dalam bisnis yang semakin lama semakin ketat mengakibatkan setiap perusahaan harus berjuang keras

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Inovasi merupakan salah satu hal yang harus selalu dilakukan untuk mengembangkan organisasi menjadi lebih baik, tidak terkecuali pada organisasi non profit seperti

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN 20 III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Kerangka Pemikiran Konseptual 3.1.1 Strategi Strategi merupakan cara-cara yang digunakan oleh organisasi untuk mencapai tujuannya melalui pengintegrasian segala keunggulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terpenting mereka yakni ketersediaan dan pengelolaan sumber daya. manusianya. Manusialah yang dapat menggerakkan suatu organisasi

BAB I PENDAHULUAN. terpenting mereka yakni ketersediaan dan pengelolaan sumber daya. manusianya. Manusialah yang dapat menggerakkan suatu organisasi BAB I PENDAHULUAN 1.1 LatarBelakangMasalah Siklus aktifitas organisasi pada dasarnya bergantung pada asset terpenting mereka yakni ketersediaan dan pengelolaan sumber daya manusianya. Manusialah yang dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan pada umumnya memiliki tujuan yang ingin dicapai.

BAB I PENDAHULUAN. Perusahaan pada umumnya memiliki tujuan yang ingin dicapai. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perusahaan pada umumnya memiliki tujuan yang ingin dicapai. Pencapaian tujuan perusahaan membutuhkan kerja sama dari berbagai pihak yang tergabung dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan timbulnya suatu ketidakpastian lingkungan bisnis. Hal ini akan

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan timbulnya suatu ketidakpastian lingkungan bisnis. Hal ini akan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perkembangan dunia usaha saat ini dihadapkan pada persaingan yang dapat menyebabkan timbulnya suatu ketidakpastian lingkungan bisnis. Hal ini akan menimbulkan

Lebih terperinci

C A R E E R H O G A N D E V E L O P TIPS- TIPS PENGEMBANGAN UNTUK MANAJEMEN KARIR. Laporan untuk: John Doe ID: HC Tanggal: 29 Juli 2015

C A R E E R H O G A N D E V E L O P TIPS- TIPS PENGEMBANGAN UNTUK MANAJEMEN KARIR. Laporan untuk: John Doe ID: HC Tanggal: 29 Juli 2015 S E L E C T D E V E L O P L E A D H O G A N D E V E L O P C A R E E R TIPS- TIPS PENGEMBANGAN UNTUK MANAJEMEN KARIR Laporan untuk: John Doe ID: HC243158 Tanggal: 29 Juli 2015 2 0 0 9 H O G A N A S S E

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. mengembangkan strategi keunggulan bersaing. Perusahaan dalam

BAB 1 PENDAHULUAN. mengembangkan strategi keunggulan bersaing. Perusahaan dalam BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perusahaan yang berhasil memenangkan persaingan atau kompetisi dalam dunia bisnis dengan perusahaan lainnya merupakan salah satu kunci keberhasilan perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. persaingan yang sangat ketat. Meningkatnya persaingan dari pesaing

BAB I PENDAHULUAN. persaingan yang sangat ketat. Meningkatnya persaingan dari pesaing BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam era perdagangan bebas, banyak perusahaan menghadapi persaingan yang sangat ketat. Meningkatnya persaingan dari pesaing menuntut perusahaan untuk selalu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan organisasi (Mohammad., 2012). Menurut Kotler, Hayes, dan. perusahaan melalui pembelian ulang dari konsumen.

BAB I PENDAHULUAN. kelangsungan organisasi (Mohammad., 2012). Menurut Kotler, Hayes, dan. perusahaan melalui pembelian ulang dari konsumen. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Loyalitas konsumen akan merek adalah masalah yang sangat penting dari perspektif strategi pemasaran,terutama karena pasar saat ini ditandai dengan kompetisi yang tinggi

Lebih terperinci

ANALISIS KEBIJAKAN PERUSAHAAN DALAM MENENTUKAN STRATEGI PEMASARAN PADA PENERBIT PT. PABELAN DI SURAKARTA SKRIPSI

ANALISIS KEBIJAKAN PERUSAHAAN DALAM MENENTUKAN STRATEGI PEMASARAN PADA PENERBIT PT. PABELAN DI SURAKARTA SKRIPSI ANALISIS KEBIJAKAN PERUSAHAAN DALAM MENENTUKAN STRATEGI PEMASARAN PADA PENERBIT PT. PABELAN DI SURAKARTA SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana-S1 Bidang Pendidikan

Lebih terperinci

STRATEGI AKUISISI DAN RESTRUKTURISASI. Oleh: Dra. SURYATI, SE. Dosen Tetap pada STIA ASMI SOLO ABSTRAK:

STRATEGI AKUISISI DAN RESTRUKTURISASI. Oleh: Dra. SURYATI, SE. Dosen Tetap pada STIA ASMI SOLO ABSTRAK: STRATEGI AKUISISI DAN RESTRUKTURISASI Oleh: Dra. SURYATI, SE. Dosen Tetap pada STIA ASMI SOLO ABSTRAK: Perkembangan dan perubahan usaha yang sedemikian cepat menuntut para pelaku usaha untuk mencari terobosan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang harus dibuat secara hati-hati karena lokasi diperkirakan menjadi salah satu

BAB I PENDAHULUAN. yang harus dibuat secara hati-hati karena lokasi diperkirakan menjadi salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Keputusan pemilihan lokasi bisnis, merupakan salah satu keputusan bisnis yang harus dibuat secara hati-hati karena lokasi diperkirakan menjadi salah satu

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Kinerja Industri Kinerja merupakan serangkaian kegiatan manajemen yang memberikan gambaran sejauh mana hasil yang sudah dicapai dalam melaksanakan tugas dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pasar produk dari perusahaan Indonesia. Di sisi lain, keadaan tersebut

BAB I PENDAHULUAN. pasar produk dari perusahaan Indonesia. Di sisi lain, keadaan tersebut BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Era globalisasi menjanjikan suatu peluang dan tantangan bisnis baru bagi perusahaan yang beroperasi di Indonesia. Di satu sisi, era globalisasi memperluas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. merupakan dua hal yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya.

BAB I PENDAHULUAN. merupakan dua hal yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fashion adalah istilah umum untuk gaya atau mode. Fashion dan wanita merupakan dua hal yang tidak terpisahkan antara satu dengan yang lainnya. Setiap wanita ingin tampil

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL

BAB IV ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL BAB IV ANALISIS DAN INTERPRETASI HASIL 4.1 Metodologi Pemecahan Masalah Sebuah penelitian memerlukan adanya metodologi penelitian yang terstruktur dan sistematis. Tahapan-tahapan penelitian disusun secara

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Perusahaan pada era globalisasi saat ini dituntut memiliki keunggulan kompetitif agar dapat memenangkan persaingan, atau minimal untuk memertahankan eksistensinya. Perkembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. setiap perusahaan harus bersaing dengan perusahaan perusahaan dari seluruh dunia.

BAB I PENDAHULUAN. setiap perusahaan harus bersaing dengan perusahaan perusahaan dari seluruh dunia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memasuki era perdagangan bebas, persaingan dunia usaha semakin ketat di mana setiap perusahaan harus bersaing dengan perusahaan perusahaan dari seluruh dunia. Didalam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pernah ada masa dimana orang menyebutnya era keunggulan komparatif, yaitu era

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pernah ada masa dimana orang menyebutnya era keunggulan komparatif, yaitu era BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Keunggulan Bersaing Pernah ada masa dimana orang menyebutnya era keunggulan komparatif, yaitu era suatu negara unggul terhadap negara lain karena memiliki kekayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Persaingan bisnis yang semakin ketat di era globalisasi ini menuntut perusahaan untuk menyusun kembali strategi dan taktik bisnis sehari-hari. Setiap perusahaan

Lebih terperinci

1. Bani Alkausar. 2. Muhammad Nur Hadi. 3. Lofie Bachtiar. 4. Randi Ilhamsyah. 5. Azwin Ramadhan. 6. Fauzi A. 7. Hamdan Usman

1. Bani Alkausar. 2. Muhammad Nur Hadi. 3. Lofie Bachtiar. 4. Randi Ilhamsyah. 5. Azwin Ramadhan. 6. Fauzi A. 7. Hamdan Usman Proses Inovasi 1. Bani Alkausar 2. Muhammad Nur Hadi 3. Lofie Bachtiar 4. Randi Ilhamsyah 5. Azwin Ramadhan 6. Fauzi A. 7. Hamdan Usman Inovasi adalah memperkenalkan sesuatu yang baru sebuah ide, metode,

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1. Kesimpulan Hasil Analisis Budaya perusahaan merupakan salah satu aspek yang penting untuk mencapai tujuan perusahaan. Hasil analisis mengenai budaya perusahaan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini periklanan sangat dibutuhkan untuk menunjang peningkatan

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini periklanan sangat dibutuhkan untuk menunjang peningkatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Saat ini periklanan sangat dibutuhkan untuk menunjang peningkatan penjualan. Perusahaan tidak hanya memperhatikan bentuk iklan yang dikomunikasikan pada konsumen

Lebih terperinci

ENTREPRENEURIAL ORIENTATION AND SMALL BUSINESS PERFORMANCE: A CONFIGURATIONAL APPROACH

ENTREPRENEURIAL ORIENTATION AND SMALL BUSINESS PERFORMANCE: A CONFIGURATIONAL APPROACH ENTREPRENEURIAL ORIENTATION AND SMALL BUSINESS PERFORMANCE: A CONFIGURATIONAL APPROACH Irra Chrisyanti Dewi, Rudi Santoso 1 Abstract The strategy and entrepreneurship literatures suggest that an entrepreneurial

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORITIS

BAB II URAIAN TEORITIS BAB II URAIAN TEORITIS A. Penelitian Terdahulu Penelitian tentang perilaku berpindah merek telah dilakukan oleh Purwanto Waluyo dan Pamungkas dan Agus Pamungkas (2003) dengan judul Analisis Perilaku Brand

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ini disebabkan karena sumber daya manusia merupakan pelaku dalam perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. ini disebabkan karena sumber daya manusia merupakan pelaku dalam perusahaan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang penelitian. Dalam persaingan global perusahaan yang ingin tetap bertahan hidup dan berkembang harus di kelola dengan efektif dan efisien. Salah satu langkah yang dilakukan

Lebih terperinci

MANAJEMEN RISIKO crmsindonesia.org

MANAJEMEN RISIKO crmsindonesia.org S U R V E Y N A S I O N A L MANAJEMEN RISIKO 2016 crmsindonesia.org Daftar Pustaka 3 Indonesia 6 Potret 7 9 dan Kompetisi Regional dan Tren Manajemen Risiko di Indonesia Adopsi Manajemen Risiko di Indonesia

Lebih terperinci

ANALISIS STRATEGIK DAN MANAJEMEN BIAYA STRATEGIK

ANALISIS STRATEGIK DAN MANAJEMEN BIAYA STRATEGIK 3 ANALISIS STRATEGIK DAN MANAJEMEN BIAYA STRATEGIK strategik Visi Misi Corporate Strategy Tujuan tujuan yang ingin dicapai di masa depan jalan pilihan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan seperangkat

Lebih terperinci

TUGAS LINGKUNGAN BISNIS. Lingkungan bisnis Eksternal. Nama : Aditya Tomy Prabayu NIM : Kelas : S1 TI 2N

TUGAS LINGKUNGAN BISNIS. Lingkungan bisnis Eksternal. Nama : Aditya Tomy Prabayu NIM : Kelas : S1 TI 2N TUGAS LINGKUNGAN BISNIS Lingkungan bisnis Eksternal Nama : Aditya Tomy Prabayu NIM : 10.11.4547 Kelas : S1 TI 2N STMIK AMIKOM YOGYAKARTA 2011 Abstrak I. Abstrak Perubahan yang sangat cepat, yang terjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maupun luar negeri. Kondisi ini menuntut perusahaan-perusahaan untuk

BAB I PENDAHULUAN. maupun luar negeri. Kondisi ini menuntut perusahaan-perusahaan untuk 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan zaman yang semakin pesat mengakibatkan perusahaan terus bertambah, sehingga persaingan antar perusahaan tidak dapat dihindari. Perekonomian

Lebih terperinci

KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN

KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN oleh Rosita E.K., M.Si Konsep dasar dari konseling adalah mengerti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya bencana lingkungan hidup yang mengancam, bukan hanya kesehatan,

BAB I PENDAHULUAN. terjadinya bencana lingkungan hidup yang mengancam, bukan hanya kesehatan, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya pelestarian lingkungan semakin meningkat, peningkatan ini dicetuskan oleh adanya kekhawatiran besar kemungkinan terjadinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Persaingan di dunia bisnis telah semakin ketat. Setiap perusahaan saling

BAB I PENDAHULUAN. Persaingan di dunia bisnis telah semakin ketat. Setiap perusahaan saling 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Persaingan di dunia bisnis telah semakin ketat. Setiap perusahaan saling bersaing satu sama lain dalam merebut simpati pelanggannya. Di sisi lain, kondisi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. UKM Saat ini, di Indonesia terdapat 41.301.263 (99,13%) usaha kecil (UK) dan 361.052 (0,86%) usaha menengah (UM). Kedua usaha tersebut atau dikenal sebagai Usaha Kecil Menengah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebagian besar masyarakat, sering mengertikan pemasaran sebagai proses

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Sebagian besar masyarakat, sering mengertikan pemasaran sebagai proses 9 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Dan Konsep Pemasaran 2.1.1 Definisi Pemasaran Sebagian besar masyarakat, sering mengertikan pemasaran sebagai proses penjualan barang dan jasa, tetapi apabila dilihat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menghadapi dinamika perubahan lingkungan. Kondisi tersebut menuntut

BAB I PENDAHULUAN. menghadapi dinamika perubahan lingkungan. Kondisi tersebut menuntut BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi menjadi salah satu isu utama yang mendorong perusahaan menghadapi dinamika perubahan lingkungan. Kondisi tersebut menuntut perusahaan untuk senantiasa

Lebih terperinci

1. Tujuan Instruksional Umum (TIU) 2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

1. Tujuan Instruksional Umum (TIU) 2. Tujuan Instruksional Khusus (TIK) Bab 4 Hakekat, Karakteristik dan Nilai-nilai Hakiki Kewirausahaan 1. Tujuan Instruksional Umum (TIU) Mahasiswa dapat menjelaskan hakekat, karakteristik dan nilai-nilai hakiki kewirausahaan 2. Tujuan Instruksional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat konsumen

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat konsumen 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi yang semakin cepat membuat konsumen dengan leluasa mendapatkan info yang terkini mengenai kondisi pasar, sekaligus membuat konsumen

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. A. Strategi Kompetitif Porter dalam Menghadapi ACFTA. kompetitif sendiri, agar tidak kalah dalam persaingan global, baik itu

BAB IV ANALISIS DATA. A. Strategi Kompetitif Porter dalam Menghadapi ACFTA. kompetitif sendiri, agar tidak kalah dalam persaingan global, baik itu BAB IV ANALISIS DATA A. Strategi Kompetitif Porter dalam Menghadapi ACFTA Diberlakukannya ACFTA sebagai sebuah perdagangan bebas, memaksa setiap industri atau perusahaan harus mempunyai keunggulan kompetitif

Lebih terperinci

MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI SERVIS STRATEGI & DESIGN 2KA30

MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI SERVIS STRATEGI & DESIGN 2KA30 MANAJEMEN LAYANAN SISTEM INFORMASI SERVIS STRATEGI & DESIGN 2KA30 Disusun oleh: Mukhamad Arif Kurniawan (17114619) Richart Wirianto (19114247) Indra Oktamara (15114300) FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN INFORMASI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemimpin perusahaan harus jeli kepada orientasi pasar. Berdasarkan pada Narver

BAB I PENDAHULUAN. pemimpin perusahaan harus jeli kepada orientasi pasar. Berdasarkan pada Narver BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pergerakan industri yang dinamis dari tahun ke tahun membuat para pemimpin perusahaan harus jeli kepada orientasi pasar. Berdasarkan pada Narver dan Slater (1990),

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pemasaran Perubahan dunia perekonomian pada saat ini, sangat berpengaruh pada dunia perdanganggan yang mengakibatkan ketatnya persaingan. Semakin ketatnya persaingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang efisien dapat mendukung perkembangan ekonomi, karena adanya alokasi

BAB I PENDAHULUAN. yang efisien dapat mendukung perkembangan ekonomi, karena adanya alokasi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pasar modal memiliki peranan penting dalam kehidupan ekonomi, sejalan dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya peranan pasar modal dalam penyediaan dana jangka

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH ATRIBUT PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN TABLOID BETHANY PADA BETHANY PUBLISHING HOUSE

ANALISIS PENGARUH ATRIBUT PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN TABLOID BETHANY PADA BETHANY PUBLISHING HOUSE ANALISIS PENGARUH ATRIBUT PRODUK TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN TABLOID BETHANY PADA BETHANY PUBLISHING HOUSE (Study kasus pada Jemaat Gereja Bethany Indonesia jalan Manyarrejo) SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi

Lebih terperinci

PORTER 5 FORCES. Analisis potensi..., Dian Lestari, FT UI, 2007

PORTER 5 FORCES. Analisis potensi..., Dian Lestari, FT UI, 2007 BAB 3. PORTER 5 FORCES Pemodelan Porter 5 Forces dikembangkan pertama kali oleh Michael Porter. Porter 5 Forces adalah tool yang digunakan untuk menganalisis bagaimana lingkungan yang kompetitif akan berpengaruh

Lebih terperinci

Materi Minggu 3. Pengambilan Keputusan dalam Organisasi

Materi Minggu 3. Pengambilan Keputusan dalam Organisasi T e o r i O r g a n i s a s i U m u m 2 11 Materi Minggu 3 Pengambilan Keputusan dalam Organisasi 3.1 Definisi dan Dasar Pengambilan Keputusan Pengambilan keputusan dibutuhkan ketika kita memiliki masalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. fleksibel dalam beradaptasi dengan perubahan tersebut mampu untuk

BAB 1 PENDAHULUAN. fleksibel dalam beradaptasi dengan perubahan tersebut mampu untuk BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada masa globalisasi saat ini sering terjadi perubahan-perubahan yang sangat yang sangat cepat, konstan, pesat, serentak, dan radikal hal ini menuntut perusahaan

Lebih terperinci

Mengapa Saya Harus Mempelajari Manajemen Pemasaran?

Mengapa Saya Harus Mempelajari Manajemen Pemasaran? Mengapa Saya Harus Mempelajari Manajemen Pemasaran? Oleh : Laksmita Sari Dosen : Nanang Suryadi, SE,,MM Pernahkah kita berfikir tentang apa yang akan kita lakukan hari ini dan dengan produk dari merk apa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu masalah nasional yang sedang dihadapi oleh bangsa

BAB 1 PENDAHULUAN. Salah satu masalah nasional yang sedang dihadapi oleh bangsa BAB 1 PENDAHULUAN A Latar Belakang Salah satu masalah nasional yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini adalah penanganan terhadap rendahnya tingkat kualitas sumber daya manusia. Jumlah sumber

Lebih terperinci

PENDEKATAN TERPADU DALAM MENGELOLA INOVASI

PENDEKATAN TERPADU DALAM MENGELOLA INOVASI PENDEKATAN TERPADU DALAM MENGELOLA INOVASI Inovasi adalah inti kompetensi bisnis di abad 21. Bukan hanya untuk mampu bersaing dan tumbuh, terlebih lagi adalah untuk bertahan hidup dalam situasi ekonomi

Lebih terperinci

MANAGEMENT. (Chapter 2)

MANAGEMENT. (Chapter 2) MANAGEMENT (Chapter 2) SUMMARY MID TERM EXAM 2013/2014 Chapter 2 Pandangan Omnipotent (Mumpuni) dan Simbolis terhadap Manajemen Omnipotent View of Management Pandangan bahwa para manajer bertanggung jawab

Lebih terperinci

HP : Bisa diunduh di: teguhfp.wordpress.com

HP : Bisa diunduh di: teguhfp.wordpress.com e-mail : sitisyamsiar@yahoo.com HP : 081-1286833 Bisa diunduh di: teguhfp.wordpress.com Peran Kepemimpinan Peran Pemimpin yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, dibagi menjadi 2 bagian, yaitu : 1. Servant

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan

BAB I PENDAHULUAN. Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN I.I Pendahuluan Ramainya persaingan jasa pendidikan Perguruan Tinggi di Indonesia pada saat ini sangat kompetitif dan berusaha untuk menjadi Perguruan Tinggi yang terbaik, khususnya Perguruan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Teori tentang kepemimpinan berkembang dengan sangat pesatnya. Diawali dari perdebatan kepemimpinan itu bisa dipelajari atau merupakan sesuatu sifat yang diturunkan lewat

Lebih terperinci

BAB IV REKOMENDASI DAN RENCANA IMPLEMENTASI

BAB IV REKOMENDASI DAN RENCANA IMPLEMENTASI BAB IV REKOMENDASI DAN RENCANA IMPLEMENTASI 4.1 Kesimpulan Sebagai kesimpulan dari penelitian yang menggunakan instrumen Entrepreneurial Orientation Survey (EOS) dapat dinyatakan bahwa secara umum corporate

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Suwito dan Herawaty (2005) pasar modal memiliki peranan penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Suwito dan Herawaty (2005) pasar modal memiliki peranan penting dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 atar Belakang Masalah Menurut Suwito dan Herawaty (2005) pasar modal memiliki peranan penting dalam kehidupan ekonomi, sejalan dengan kesadaran masyarakat akan pentingnya peranan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perubahan lingkungan bisnis yang sangat cepat dan komplek

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perubahan lingkungan bisnis yang sangat cepat dan komplek BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan lingkungan bisnis yang sangat cepat dan komplek seperti demokrafi, geografis, jenis bisnis, lingkungan bisnis, serta dampak globalisasi, mengharuskan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Memasuki era globalisasi aktivitas bisnis saat ini, dengan semakin

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Memasuki era globalisasi aktivitas bisnis saat ini, dengan semakin BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Memasuki era globalisasi aktivitas bisnis saat ini, dengan semakin meningkatnya perkembangan teknologi khususnya teknologi informasi, telah menuntut berbagai perusahaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dampak adalah semakin ketatnya kompetisi di beberapa sektor industri.

BAB I PENDAHULUAN. dampak adalah semakin ketatnya kompetisi di beberapa sektor industri. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di era globalisasi dewasa ini, setiap perusahaan menghadapi tantangan untuk terus bertahan dan tumbuh berkembang. Globalisasi dan kemajuan dalam pengetahuan dan teknologi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. konsep pemasaran (Kohli & Jaworski, 1990). Orientasi pasar adalah budaya

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS. konsep pemasaran (Kohli & Jaworski, 1990). Orientasi pasar adalah budaya BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS 2.1 Kajian Pustaka 2.1.1 Orientasi Pasar Orientasi pasar merupakan salah satu konsep utama dalam literatur pemasaran karena mengacu pada sejauh mana perusahaan mengimplementasikan

Lebih terperinci

sekolah, maka semakin baik pula kinerjanya.

sekolah, maka semakin baik pula kinerjanya. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab V ini akan dibahas mengenai kesimpulan, implikasi dan saran dari penelitian. 5.1 Kesimpulan Persyaratan analisis data telah terpenuhi, dengan demikian kesimpulan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. didefenisikan dari perspektif pengalaman konsumen setelah mengkonsumsi

BAB I PENDAHULUAN. didefenisikan dari perspektif pengalaman konsumen setelah mengkonsumsi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam konteks teori perilaku konsumen, kepuasan lebih banyak didefenisikan dari perspektif pengalaman konsumen setelah mengkonsumsi atau menggunakan suatu produk

Lebih terperinci