KEBIJAKAN PAJAK DAERAH DINAS PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KEBIJAKAN PAJAK DAERAH DINAS PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN"

Transkripsi

1 KEBIJAKAN PAJAK DAERAH DINAS PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN

2 DASAR HUKUM 1. Undang-undang No 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah; 2. Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2010 tentang Jenis Pajak Daerah yang dipungut Berdasarkan Penetapan Kepala Daerah atau Dibayar Sendiri oleh Wajib Pajak 3. Peraturan Daerah Kabupaten Lamongan Nomor 12 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah; beserta perubahannya tahun Keputusan Bupati Lamongan Nomor 188/373/KEP/413,013/2015 Tentang Klasifikasi dan Besarnya Nilai Jual Obyek Pajak Bumi dan Bangunan untuk Kabupaten Lamongan 5. Peraturan Bupati Nomor 45 Tahun 2015 Perubahan Atas Peraturan Bupati Nomor 15 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Pengalokasian Dan Penyaluran Dana Bagi Hasil Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah

3 JENIS PAJAK DAERAH 1. Pajak Hotel 2. Pajak Restoran 3. Pajak Hiburan 4. Pajak Reklame 5. Pajak Penerangan Jalan 6. Pajak Parkir 7. Pajak Air Tanah 8. Pajak Sarang Burung Walet 9. Pajak Minerar Bukan Logam Dan Batuan 10.Pajak Bumi dan Bangunan 11. Pajak BPHTB

4 I. PAJAK HOTEL BERDASARKAN PERDA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH Pajak hotel adalah Pajak atas pelayanan yang disediahkan oleh hotel sedangkan Hotel adalah fasilitas penyedia jasa penginapan/ peristirahatan termasuk jasa terkait lainnya dengan dipungut bayaran yang mencakup Motel, Losmen, Gubuk Wisata, Wisma Pariwisata, Pesanggrahan, Rumah Penginapan dan Sejenisnya serta Rumah Kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh) kamar.

5 Pasal 4 ayat (1) Obyek pajak hotel adalah pelayanan yang disediakan hotel dengan pembayaran termasuk : A. Fasilitas penginapan atau fasilitas tinggal jangka pendek B. Fasilitas penunjang sebagai kelengkapan fasilitas penginapan atau tinggal jangka pendek yang sifatnya memberikan kemudahan dan kenyamanan C. Fasilitas olahraga dan hiburan yang disediakan khusus oleh tamu hotel D. Jasa persewaan ruang untuk kegiatan acara atau pertemuan dihotel E. Rumah kos dengan jumlah kamar lebih dari 10 (sepuluh)

6 Pasal 5 Ayat (1) Subyek Pajak Hotel adalah orang pribadi atau badan yang melakukan pembayaran kepada orang pribadi atau badan yang mengusahakan hotel. Ayat (2) Wajib Pajak Hotel adalah orang pribadi atau badan yang mengusahakan hotel Pasal 6 Dasar pengenaan Pajak Hotel adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada hotel. Pasal 7 Ayat (1) Tarif pajak hotel ditetapkan 10 % (sepuluh persen) Ayat (2) Tarif pajak rumah kost ditetapkan 5 % (lima persen) Pasal 10 Ayat (1) Masa Pajak Hotel adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan kalender, Ayat (2) Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat pembayaran kepada hotel atau sejak diterbitkan SPTPD.

7 II. PAJAK RESTORAN OBYEK, SUBYEK DAN WAJIB PAJAK Pajak Restoran adalah Pajak atas pelayanan yang disediahkan oleh Restoran. Sedangkan Restoran adalah fasilitas penyedia makanan dan/atau minuman dengan dipungut bayaran, yang mencakup juga rumah makan, kafetaria, kantin, warung, kedai dan sejenisnya termasuk jasa boga/ katering.

8 Pasal 16 Ayat (1) Obyek Pajak Restoran adalah pelayanan yang disediakan oleh restoran. Ayat (2) Pelayanan yang disediakan restoran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pelayanan penjualan makanan dan/atau minuman yang dikonsumsi oleh pembeli, baik dikonsumsi di tempat pelayanan maupun di tempat lain. Ayat (4) Tidak termasuk obyek Pajak Restoran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah pelayanan yang disediakan oleh Restoran yang nilai penjualannya tidak melebihi dari Rp ,00 (lima ratus ribu rupiah) per hari. Pasal 17 Ayat (1) Subjek pajak restoran adalah orang pribadi atau badan yang membeli makanan dan/atau minuman dari Restoran. Ayat (2) Wajib pajak restoran adalah orang pribadi atau badan yang mengusahakan Restoran.

9 DASAR PENGENAAN TARIF DAN MASA PAJAK Pasal 19 Tarif pajak ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen). Pasal 22 Ayat (1) Masa Pajak Restoran adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan kalender. Ayat (2) Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat pembayaran kepada restoran atau sejak diterbitkan SPTPD.

10 III. PAJAK HIBURAN OBYEK, SUBYEK DAN WAJIB PAJAK Pajak Hiburan adalah Pajak atas penyelenggaraan hiburan sedangkan hiburan adalah semua jenis tontonan, pertunjukan, permainan, dan/atau keramaian yang dinikmati dengan dipungut bayaran. Pasal 28 Ayat (1) Obyek Pajak Hiburan adalah jasa penyelenggaraan hiburan dengan dipungut bayaran.

11 Pasal 28 Ayat (1) Obyek Pajak Hiburan adalah jasa penyelenggaraan hiburan dengan dipungut bayaran. Ayat (2) Hiburan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah : Tontonan film ; Pagelaran kesenian, musik, tari, dan/ atau busana ; Kontes kecantikan, binaraga dan sejenisnya; Pameran ; Sirkus, akrobat dan sulap ; Permainan bowling; Pacuan Kuda, Kendaraan bermotor, dan permainan ketangkasan; Panti Pijat, Refleksi, mandi uap dan/atau spa, pusat kebugaran ( fitness center), dan sport center; Pertandingan olah raga; dan Wisata alam dan wisata buatan.

12 Pasal 29 Ayat (1) Subyek Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau badan yang menikmati hiburan. Ayat (2) Wajib Pajak Hiburan adalah orang pribadi atau badan yang menyelenggarakan hiburan Pasal 30 Ayat (1) Dasar pengenaan Pajak Hiburan adalah jumlah uang yang diterima atau yang seharusnya diterima oleh penyelenggara hiburan. Ayat (2) Jumlah uang yang seharusnya diterima sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk potongan harga dan tiket cuma-cuma yang diberikan kepada penerima jasa hiburan. Pasal 31 Besarnya tarif pajak untuk setiap jenis hiburan adalah : a. Tontonan film di bioskop ditetapkan : - Bioskop permanen di dalam gedung sebesar 25 % ; - Bioskop permanen di luar gedung sebesar 20 % ;

13 b. Pagelaran kesenian, musik, tari, dan/atau busana ditetapkan : - Pagelaran kesenian tradisional 5 % ; - Pagelaran musik 10 % ; - Pagelaran Busana 10 %. c. Kontes kecantikan, binaraga dan sejenisnya 25 %; d. Pameran ditetapkan 20 %; e. Sirkus, akrobat dan sulap ditetapkan 20 %; f. Permainan bowling ditetapkan 10 %; g. Pacuan kuda, kendaraan bermotor dan atau permainan ketangkasan ditetapkan 10 %; h. Panti pijat, refleksi, mandi uap dan atau Spa dan pusat kebugaran (fitnes center) ditetapkan sebesar 30 %; i. Pertandingan olah raga ditetapkan sebesar 10 %; j. Taman wisata alam, buatan dan sejenisnya 10%.

14 Masa Pajak dan Saat Pajak Hiburan Terutang Pasal 34 Ayat (1) Masa Pajak Hiburan adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan kalender. Ayat (2) Pajak terutang dalam masa pajak pada saat pembayaran kepada penyelenggaraan hiburan atau sejak diterbitkan SPTPD atau dokumen lain yang dipersamakan.

15 IV. PAJAK REKLAME OBYEK, SUBYEK DAN WAJIB PAJAK Pajak Reklame adalah Pajak atas Penyelenggara Reklame, sedangkan reklame adalah benda, alat perbuatan atau media yang menurut bentuk, dan corak ragamnya dirancang untuk tujuan komersial, dipergunakan untuk memperkenalkan, menganjurkan, atau memujikan suatu barang, jasa, atau seseorang ataupun untuk menarik perhatian umum kepada suatu barang, jasa, atau orang yang ditempatkan atau dilihat atau dibacadan atau didengar dirasakan dan/ atau dinikmati umum

16 Pasal 40 (1) Objek Pajak Reklame adalah semua penyelenggaraan Reklame. (2) Objek Pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : Reklame papan/billboard/videotron/megatron dan/atau sejenisnya; Reklame kain; Reklame melekat, stiker; Reklame selebaran; Reklame berjalan, termasuk pada kendaraan; Reklame udara; Reklame apung; Reklame suara; Reklame film/slide; Reklame peragaan.

17 Pasal 41 Ayat (1) Subjek Pajak Reklame adalah orang pribadi atau Badan yang menggunakan Reklame. Ayat (2)Wajib Pajak Reklame adalah orang pribadi atau Badan yang menyelenggarakan Reklame. Dasar Pengenaan Tarif dan Cara Penghitungan Pajak Pasal 42 Ayat (1) Dasar pengenaan Pajak Reklame adalah Nilai Sewa Reklame. Ayat (2) Dalam hal Reklame diselenggarakan oleh pihak ketiga, Nilai Sewa Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan berdasarkan nilai kontrak Reklame.

18 Ayat (3) Dalam hal Reklame diselenggarakan sendiri, Nilai Sewa Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dengan memperhatikan faktor jenis, bahan yang digunakan, lokasi penempatan, waktu, jangka waktu penyelenggaraan, jumlah, dan ukuran media Reklame. Ayat (4) Dalam hal Nilai Sewa Reklame sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tidak diketahui dan/atau dianggap tidak wajar, Nilai Sewa Reklame ditetapkan dengan menggunakan faktor-faktor sebagaimana dimaksud pada ayat (3). Pasal 43 Tarif Pajak Reklame ditetapkan sebesar 25 % (dua puluh lima persen).

19 Masa Pajak dan Saat Pajak Terutang Pasal 46 Ayat (1) Masa Pajak Reklame insidentil adalah jangka waktu yang lamanya sama dengan jangka waktu penyelenggaraan reklame. Ayat (2) Masa pajak reklame permanen dan atau reklame tetap adalah satu tahun. Ayat (3) Masa pajak reklame insidentil dan atau tidak tetap, adalah harian mingguan dan bulanan. Ayat (4) Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat pembayaran kepada penyelenggaraan reklame atau sejak diterbitkan SKPD.

20 V. PAJAK PENERANGAN JALAN OBYEK, SUBYEK DAN WAJIB PAJAK Pajak Penerangan Jalan adalah pajak atas penggunaan tenaga listrik, baik yang dihasilkan sendiri maupun diperoleh dari sumber lain. Pasal 51 Ayat (1) Objek Pajak Penerangan Jalan adalah penggunaan tenaga listrik, baik yang dihasilkan sendiri maupun yang diperoleh dari sumber lain. Pasal 52 Ayat (1) Subjek Pajak Penerangan Jalan adalah orang pribadi atau Badan yang dapat menggunakan tenaga listrik. Ayat (2) Wajib Pajak Penerangan Jalan adalah orang pribadi atau Badan yang menggunakan tenaga listrik.

21 Pasal 53 Ayat (1) Dasar pengenaan Pajak Penerangan Jalan adalah Nilai Jual Tenaga Listrik. Pasal 54 Ayat (1) Penggunaan tenaga listrik dari sumber lain oleh industri, pertambangan minyak bumi dan gas alam, tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan sebesar 3% (tiga persen). Ayat (2) Tarif Pajak Penerangan Jalan selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan sebesar 10% (sepuluh persen). Ayat (3) Penggunaan tenaga listrik yang dihasilkan sendiri, tarif Pajak Penerangan Jalan ditetapkan sebesar 1,5% (satu koma lima persen).

22 MASA PAJAK DAN SAAT PAJAK TERUTANG Pasal 57 Ayat (1) Masa Pajak Penerangan Jalan adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan kalender. Ayat (2) Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat pembayaran kepada penyelenggaraan penerangan jalan atau sejak diterbitkan SPTPD dan rekening listrik.

23 VI. PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN OBYEK, SUBYEK DAN WAJIB PAJAK PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN ADALAH PAJAK ATAS KEGIATAN PENGAMBILAN MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN, BAIK DARI SUMBER ALAM DIDALAM DAN/ATAU PERMUKAAN BUMI UNTUK DIMANFAATKAN. Pasal 63 Ayat (1) Objek Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah kegiatan pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan yang meliputi: asbes; batu tulis; batu setengah permata; batu kapur; batu apung; batu permata; bentonit; dolomit; feldspar; garam batu (halite); grafit; granit/andesit; gips; kalsit; kaolin; leusit; magnesit; mika; marmer; nitrat; opsidien; oker; pasir dan kerikil; pasir kuarsa; perlit; phospat; aa. talk; tanah serap (fullers earth); cc. tanah diatome; tanah liat; tawas (alum); tras; yarosif; zeolit; basal; trakkit.

24 Pasal 64 Ayat (1) Subjek Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah orang pribadi atau Badan yang dapat mengambil Mineral Bukan Logam dan Batuan. Ayat (2) Wajib Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah orang pribadi atau Badan yang mengambil Mineral Bukan Logam dan Batuan. Dasar Pengenaan Tarif dan Cara Penghitungan Pajak Pasal 65 Ayat (1) Dasar pengenaan Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah Nilai Jual Hasil Pengambilan Mineral Bukan Logam dan Batuan. Ayat (2) Nilai jual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung dengan mengalikan volume/tonase hasil pengambilan dengan nilai pasar atau harga standar masing-masing jenis Mineral Bukan Logam dan Batuan. Ayat (3) Nilai pasar sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah harga rata-rata yang berlaku di lokasi setempat di wilayah daerah, pada masing-masing jenis Mineral Bukan Logam dan Batuan yang ditetapkan setiap 1 (satu) tahun sekali oleh Kepala Daerah sesuai dengan harga rata-rata yang berlaku di lokasi setempat.

25 Pasal 66 Tarif Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan sebesar 25% (dua puluh lima persen). ditetapkan MASA PAJAK DAN SAAT PAJAK TERUTANG Pasal 69 Ayat (1) Masa Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan kalender. Ayat (2) Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat pembayaran kepada penyelenggaraan Mineral Bukan Logam dan Batuan atau sejak diterbitkan SPTPD.

26 VII. PAJAK PARKIR OBYEK, SUBYEK DAN WAJIB PAJAK PAJAK PARKIR ADALAH PAJAK ATAS PENYELENGGARAAN TEMPAT PARKIR DILUAR BADAN JALAN, BAIK YANG DISEDIAKAN BERKAITAN DENGAN POKOK USAHA MAUPUN YANG DISEDIAKAN SEBAGAI SUATU USAHA, TERMASUK PENYEIAAN TEMPAT PENITIPAN KENDARAAN BERMOTOR Pasal 75 Ayat (1) Objek Pajak Parkir adalah penyelenggaraan tempat Parkir di luar badan jalan, baik yang disediakan berkaitan dengan pokok usaha maupun yang disediakan sebagai suatu usaha, termasuk penyediaan tempat penitipan kendaraan bermotor. Ayat (2) Tidak termasuk objek pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah penyelenggaraan tempat Parkir oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Daerah.

27 Pasal 76 Ayat (1) Subjek Pajak Parkir adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan parkir kendaraan bermotor. Ayat (2) Wajib Pajak Parkir adalah orang pribadi atau Badan yang menyelenggarakan tempat Parkir. Dasar Pengenaan Tarif dan Cara Penghitungan Pajak Pasal 77 Ayat (1) Dasar pengenaan pajak parkir adalah jumlah pembayaran atau yang seharusnya dibayar kepada penyelenggaraan tempat parkir. Ayat (2) Jumlah yang seharusnya dibayar sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk potongan harga Parkir dan Parkir cuma-cuma yang diberikan kepada penerima jasa Parkir. Pasal 78 Besarnya tarif Pajak Parkir ditetapkan sebesar 20 % (dua puluh persen).

28 MASA PAJAK DAN SAAT PAJAK Pasal 81 TERUTANG Ayat (1) Masa Pajak Parkir adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan kalender. Ayat (2) Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat pembayaran kepada penyelenggaraan parkir atau sejak diterbitkan SPTPD

29 VIII. PAJAK AIR TANAH OBYEK, SUBYEK DAN WAJIB PAJAK PAJAK AIR TANAH ADALAH PAJAK ATAS PENGAMBILAN DAN/ATAU PEMANFAATAN AIR Pasal 87 Ayat (1) Objek Pajak Air Tanah adalah pengambilan dan atau pemanfaatan Air Tanah. Ayat (2) Dikecualikan dari objek Pajak Air Tanah sebagaimana dimaksud ayat (1) adalah : pengambilan dan atau pemanfaatan Air Tanah untuk keperluan dasar rumah tangga, pengairan pertanian dan perikanan rakyat, serta peribadatan. pengambilan dan atau pemanfaatan Air Tanah oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Daerah.

30 Pasal 88 Ayat (1) Subjek Pajak Air Tanah adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah. Ayat (2) Wajib Pajak Air Tanah adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan dan/atau pemanfaatan Air Tanah. Dasar Pengenaan Tarif dan Cara Penghitungan Pajak Pasal 89 Ayat (1) Dasar pengenaan Pajak Air Tanah adalah Nilai Perolehan Air Tanah. Ayat (2) Nilai Perolehan Air Tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dinyatakan dalam rupiah yang dihitung dengan mempertimbangkan sebagian atau seluruh faktor-faktor berikut: jenis sumber air; lokasi sumber air; tujuan pengambilan dan/atau pemanfaatan air; volume air yang diambil dan/atau dimanfaatkan; kualitas air; dan tingkat kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh pengambilan dan atau pemanfaatan air.

31 Pasal 90 Besarnya Tarif Pajak Air Tanah ditetapkan sebesar 20 % (dua puluh persen). MASA PAJAK DAN SAAT PAJAK TERUTANG Pasal 93 Ayat (1) Masa Pajak Air Tanah adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) bulan kalender. Ayat (2) Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat pengambilan air tanah atau sejak diterbitkan SKPD.

32 IX. PAJAK SARANG BURUNG WALET OBYEK, SUBYEK DAN WAJIB PAJAK PAJAK SARANG BURUNG WALET ADALAH PAJAK ATAS KEGIATAN PENGAMBILAN DAN/ATAU PENGUSAHAAN SARANG BURUNG WALET Pasal 98 Ayat (1) Objek Pajak Sarang Burung Walet adalah pengambilan Sarang Burung Walet. Pasal 99 Ayat (1) Subjek Pajak Sarang Burung Walet adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan dan/atau mengusahakan Sarang Burung Walet di daerah. Ayat (2) Wajib Pajak Sarang Burung Walet adalah orang pribadi atau Badan yang melakukan pengambilan dan/atau mengusahakan Sarang Burung Walet.

33 Dasar Pengenaan Tarif dan Cara Penghitungan Pajak Pasal 100 Ayat (1) Dasar pengenaan Pajak Sarang Burung Walet adalah Nilai Jual Sarang Burung Walet. Ayat (2) Nilai Jual Sarang Burung Walet sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dihitung berdasarkan perkalian antara harga pasaran secara bruto Sarang Burung yang berlaku di daerah yang bersangkutan dengan volume Sarang Burung. Pasal 101 Besarnya Tarif Pajak Sarang Burung ditetapkan sebesar 10 % (sepuluh persen).

34 MASA PAJAK DAN SAAT PAJAK TERUTANG Pasal 104 Ayat (1) Masa Sarang Burung Walet adalah jangka waktu yang lamanya 3 (tiga) bulan kalender. Ayat (2) Pajak terutang dalam masa pajak terjadi pada saat pembayaran kepada pengambilan Sarang Burung Walet atau sejak diterbitkan SPTPD.

35 PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DANPERKOTAAN (PBB-P2) PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN (PBB-P2) ADALAH PAJAK ATAS BUMI DAN/ATAU BANGUNAN YANG DIMILIKI, DIKUASAI, DAN/ATAU DIMANFAATKAN OLEH ORANG PRIBADI ATAU BADAN, KECUALI KAWASAN YANG DIGUNAKAN UNTUK KEGIATAN USAHA PERKEBUNAN, PERHUTANAN DAN PERTAMBANGAN

36 TARIF DAN MASA PAJAK PBB-P2 Pasal 80 UU NO. 28 TAHUN 2009 (1) Tarif pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan ditetapkan paling tinggi sebesar 0,3% (nol koma tiga persen). (2) Tarif pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan ditetapkan dengan peraturan daerah. Pasal 82 (1) Tahun Pajak adalah jangka waktu 1 (satu) tahun kalender.

37 PERDA NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH PENGERTIAN PBB-P2 Pasal 109 Dengan nama PBB-P2 dipungut pajak atas bumi dan/ bangunan Pasal 110 (1) Objek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah Bumi dan/atau Bangunan yang dimiliki, dikuasai, dan/atau dimanfaatkan oleh orang pribadi atau Badan, kecuali kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha perkebunan, perhutanan, dan pertambangan. (2) Termasuk dalam pengertian Bangunan adalah: jalan lingkungan yang terletak dalam satu kompleks bangunan seperti hotel, pabrik, dan emplasemennya, yang merupakan suatu kesatuan dengan kompleks Bangunan tersebut; kolam renang; pagar mewah; tempat olahraga; galangan kapal, dermaga; taman mewah; tempat penampungan/kilang minyak, air dan gas, pipa minyak; dan menara.

38 OBYEK PBB-P2 Pasal 110 (3) Objek Pajak yang tidak dikenakan PBB-P2 adalah yang : a. Digunakan oleh Pemerintah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Daerah untuk penyelenggara Pemerintah b. Digunakan semata-mata untuk kepentingan umum dibidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan dan kebudayaan nasional tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. c. Digunakan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang sejenis itu. d. Merupakan hutan lindung, hutan suaka alam, hutan wisata taman nasional, tanah penggembalaan yang dikuasai desa, dan tanah negara yang belum dibebani suatu hak. (4) Besarnya nilai jual obyek pajak tidak kena pajak ditetapkan sebesar Rp ,00 (sepuluh juta rupiah ) untuk setiap wajib pajak.

39 SUBYEK DAN WAJIB PAJAK PBB-P2 Pasal 111 (1)Subjek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah orang pribadi atau Badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas Bumi dan/atau memperoleh manfaat atas Bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas Bangunan. (2)Wajib Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah orang pribadi atau Badan yang secara nyata mempunyai suatu hak atas Bumi dan/atau memperoleh manfaat atas Bumi, dan/atau memiliki, menguasai, dan/atau memperoleh manfaat atas Bangunan.

40 Dasar Pengenaan Tarif dan Perhitungan Kenaikan PBB-P2 Pasal 112 (1) Dasar pengenaan pajak bumi dan bangunan perdesaan dan perkotaan adalah Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) bumi dan atau bangunan. (2) Besarnya NJOP sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan setiap 3 (tiga) tahun, kecuali untuk objek pajak tertentu dapat ditetapkan setiap tahun sesuai dengan perkembangan wilayahnya. (3) Penetapan besarnya NJOP sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan oleh Kepala Daerah.

41 BESARAN TARIF PBB-P2 BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2009 PASAL 80 Ayat 1 Tarif PBB-P2 ditetapkan paling tinggi sebesar 0,3% (nol koma tiga persen) Ayat 2 Tarif PBB-P2 ditetapkan dengan peraturan daerah Pasal 113 Perda No 12 Th TTG Pajak Daerah : a. NJOP bumi dan bangunan sampai dengan Rp ,00 (satu milyar rupiah) ditetapkan sebesar 0,1% (nol koma satu persen) ; b. NJOP bumi dan bangunan diatas Rp ,00 (satu milyar rupiah) ditetapkan sebesar 0,2% (nol koma dua persen).

42 Masa Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan Pasal 118 (1) Tahun Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan adalah jangka waktu yang lamanya 1 (satu) tahun kalender. (2) Saat yang menentukan Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan yang terutang adalah menurut keadaan objek pajak pada tanggal 1 Januari. (3) Masa Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan dimulai pada tanggal 1 Januari dan berakhir pada tanggal 31 Desember tahun berkenan.

43 TATA CARA PEMBAYARAN DAN SANKSI DENDA PBB-P2 Pasal 120 (1) Pembayaran pajak yang terutang harus dilakukan sekaligus atau lunas. (2) Pembayaran pajak yang terutang dilakukan di Kas Daerah atau tempat lain yang ditunjuk oleh Kepala Daerah. (3) Kepala Daerah atas permohonan Wajib Pajak setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan dapat memberikan persetujuan kepada Wajib Pajak untuk mengangsur atau menunda pembayaran pajak, dengan dikenakan bunga sebesar 2% (dua persen) sebulan. (4) Apabila SPPT sebagaimana dimaksud pada ayat (3) tidak atau kurang dibayar setelah lewat waktu paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak SPPT diterima, dikenakan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2 % (dua persen) setiap bulan akan ditagih dengan menerbitkan STPD.

44 DASAR PENGENAAN TARIF DAN CARA PERHITUNGAN PBB-P2 PASAL 112 ( Perda No.12 Tahun 2010) Dasar pengenaan tarif PBB-P2 adalah Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) Bumi dan atau Bangunan Besarnya NJOP ditetapkan setiap 3 Tahun kecuali untuk obyek pajak tertentu dapat ditetapkan setiap tahun dengan perkembangan wilayahnya Penetapan besarnya NJOP ditetapkan oleh Kepala Daerah melalui Keputusan Bupati. NJOP adalah harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar, dan bilamana tidak terdapat transaksi jual beli, njop ditentukan melalui perbandingan harga dengan obyek pajak lain yang sejenis, atau nilai perolehan baru, atau njop pengganti

45 SISTEM PEMBAYARAN/ PEMUNGUTAN PBB-P2 1. Guna intensifikasi pelunasan PBB-P2 maka di bentuk Tim Penyisiran Pajak Bumi dan Bangunan PBB-P2 tingkat Kecamatan maupun Desa/Kelurahan (berdasarkan surat edaran Sekda Nomor 973/698/413,115/2016 Tentang Distribusi dan Penyisiran/Pemungut PBB-P2 Tahun 2016; dengan jumlah 3,322 orang) 2. Pemungutan pembayaran PBB-P2 dilaksanakan oleh Petugas Pemungut masing- masing Desa/Kelurahan 3. Pembayaran PBB-P2 juga bisa langsung melalui Bank Jatim, Bank Daerah dan/atau melalui petugas pelayanan Dipenda

46 Perbandingan Target dan Realisasi PBB-P s/d 2017

47 Perbup Nomor 45 Tahun 2016 Tentang Perubahan Atas Perbup Nomor 15 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pengalokasian dan Penyaluran Dana Bagian Hasil Pajak Daerah dan Retribusi Daerah Pasal 7 Ayat 1 Pencairan dana bagi hasil pajak dan retribusi oleh Pemerintah Desa dilakukan melalui 2 (dua) tahap, yaitu : a. Tahap pertama sebesar 60% (enam puluh perseratus) dilakukan pada semester 1 (Januari sampai dengan Juni); b. Tahap kedua sebejsar 40% (empat puluh perseratus) dilakukan pada semester II (Juli sampai dengan Desember)

48 Ayat 3 untuk dapat mengajukan pencairan dana bagi hasil pajak dan retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b, Pemerintah Desa berkewajiban untuk melunasi Pajak Bumi Dan Bangunan Perdesaan Dan Perkotaan (PBB-P2) desa masing-masing tahun berjalan, jika tahun berjalan tidak lunas, maka penerimaan tahap kedua 40% (empat puluh perseratus) dilakukan pada tahap berikutnya dengan perhitungan sisa tahap kedua yang tidak diterimakan akan ditambahkan pada perhitungan tahun depannya.

49

50 SOLUSI PENANGANAN PERMASALAHAN PBB P2 Pendataan - Akan diadakan pendataan pendataan ulang/sismiop agar data lebih akurat - Tahun 2017 dianggarkan untuk 20,000 Wajib pajak Pendaftara n Penetapan Pembayar an Pencatata n Piutang Penagihan Pelaporan Kerjasama dengan notaris dan BPN dengan MOU dalam proses peralihan hak Sering komunikasi dengan penyedia jaringan Sosialisasi kepada masyarakat dan perangkat desa untuk pembayaran sesuai NOP (Nomor Obyek Pajak) Dilakukan pembayaran sesuai NOP (Nomor Obyek Pajak) Pendataan Ulang Konsolidasi dengan Bank Persepsi 1 Minggu sekali

51 PAJAK BPHTB PAJAK BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN BANGUNAN (BPHTB) ADALAH PAJAK ATAS PEROLEHAN HAK ATAS TANAH DAN/ATAU BANGUNAN

52 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah Dan Retribusi Daerah Pasal 87 dan PERDA Kabupaten Lamongan Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pajak Daerah Pasal 125, masing-masing mengatur dan menetapkan : Ayat (1) Dasar Pengenaan Bea Perolehan hak atas tanah dan bangunan adalah Nilai Perolehan Obyek Pajak (NPOP); Ayat (2) Nilai Perolehan obyek pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dalam hal: a. Jual beli adalah HARGA TRANSAKSI; b. Tukar menukar adalah NILAI PASAR; TARIF BPHTB c. Hibah adalah NILAI PASAR; d. Hibah wasiat adalah NILAI PASAR; 5% X NPOP e. Waris adalah NILAI PASAR; f. Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah NILAI PASAR; g. Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah NILAI PASAR; DINAS PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN

53 Lanjutan... h. Peralihan hak karena pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum tetap adalah NILAI PASAR; i. Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan hak adalah NILAI PASAR; j. Pemberian hak baru atas tanah diluar pelepasan hak adalah NILAI PASAR; k. Penggabungan usaha adalah NILAI PASAR; l. Peleburan usaha adalah NILAI PASAR; m. Pemekaran usaha adalah NILAI PASAR; n. Hadiah adalah NILAI PASAR; dan/atau o. Penunjukan pembeli dalam lelang adalah HARGA TRANSAKSI YANG TERCANTUM DALAM RISALAH LELANG. ANDA MEMPUNYAI ASET USAHA? BERSYUKURLAH!!! INILAH KESEMPATAN ANDA MENSYUKURI ATAS KARUNIA ILAHI DENGAN MEMBAYAR PAJAK SEBAGAI IURAN WAJIB UNTUK AMALKAN HUBBUL WATHON MINAL IMAN. CINTA TANAH AIR ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN!! DINAS PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN

54 1. Perolehan Hak karena jual beli adalah menggunakan HARGA TRANSAKSI; 2. Tiga belas proses/penyebab peralihan hak atas tanah mulai huruf b sampai dengan huruf n tersebut diatas adalah menggunakan NILAI PASAR sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Bupati Lamongan Tentang Zona Dan Nilai Pasar Tanah sebagai dasar pengenaan pajak BPHTB di Kabupaten Lamongan; Selanjutnya dirubah menjadi Keputusan Bupati Lamongan Tentang Nilai Pasar Tanah Sebagai Dasar Pengenaan Pajak BPHTB Di Kabupaten Lamongan. 3. Peralihan hak karena penunjukan pembeli dalam lelang adalah menggunakan HARGA TRANSAKSI YANG TERCANTUM DALAM RISALAH LELANG. DINAS PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN

55 1. Sanksi Perdata Berdasarkan UU No. 28 Tahun 2009 Pasal 97 Ayat 1 huruf a jika wajib pajak tidak mengisi dan menyampaikan SPTPD kepada Kepala Daerah dalam jangka waktu tertentu maka pajak yang terutang akan dihitung dan ditetapkan secara jabatan (oleh Kepala Dipenda) ayat 3 Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam SKPDKBT sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b dikenakan sanksi administratif berupa kenaikan sebesar 100% dari jumlah kekurangan pajak tersebut; Ayat 4 Kenaikan sebagaimana dimaksud ayat (3) tidak dikenakan jika wajib pajak melaporkan sendiri sebelum dilakukan tindakan pemeriksaan tersebut; Ayat 5 Jumlah pajak yang terutang dalam SKPDKB sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf a angka 3) dikenakan sanksi administratif berupa kenaikan sebesar 25% dari pokok pajak ditambah sanksi administratif berupa bunga sebesar 2% sebulan dihitung dari pajak yang kurang atau terlambat dibayar untuk jangka waktu paling lama 24 bulan dihitung sejak saat terutangnya pajak. DINAS PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN

56 2. Sanksi Pidana Berdasarkan Undang undang nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah pasal 174 dan Peraturan Daerah Kabupaten Lamongan Nomor 12 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah Bab XXI Pasal 152 sebagai berikut : 1) Wajib Pajak yang karena kealpaannya tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau pidana denda paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang bayar. 1) Wajib Pajak yang dengan sengaja tidak menyampaikan SPTPD atau mengisi dengan tidak benar atau tidak lengkap atau melampirkan keterangan yang tidak benar sehingga merugikan keuangan Daerah dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama (dua) tahun atau pidana denda paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau kurang bayar. DINAS PENDAPATAN DAERAH KABUPATEN LAMONGAN

57 FOTO & PRODUCT INOVASI UNGGULAN

58 REKAPITULASI BAKU DAN REALISASI PBB - P2 PER KECAMATAN DATA BERDASARKAN BANK DAERAH LAMONGAN DAN BANK JATIM S/D 25 NOPEMBER TAHUN 2016 TERIMA JUMLAH NO KECAMATAN BAKU REALISASI SISA % RANK TANGGAL LUNAS SPPT WP - SPPT 1 GLAGAH ( ) 99, Feb Mei KARANGBINANGUN , Feb Mei TURI , Feb Mei SAMBENG ( ) 99, Jan Mei BLULUK ( ) 99, Jan Juli MANTUP ( ) 99, Jan-16 9 Agustus DEKET ( ) 99, Feb Agustus KALITENGAH , Feb Agustus SOLOKURO , Feb Agustus KEDUNGPRING ( ) 99, Feb Agustus SUKORAME , Jan Oktober SEKARAN , Feb Oktober KARANGGENENG , Feb Oktober MADURAN ( ) 99, Feb-16 8 Nopember PACIRAN ( ) 99, Feb-16 8 Nopember KEMBANGBAHU , Jan-16 Nopember SUKODADI ( ) 99, Feb Nopember SUGIO ( ) 99, Jan Nopember BRONDONG ( ) 99, Jan Nopember PUCUK ( ) 99, Feb Nopember TIKUNG ( ) 97,57 10-Feb NGIMBANG ( ) 94,72 02-Feb MODO ( ) 94,60 29-Jan SARIREJO ( ) 89,58 10-Feb LAREN ( ) 88,54 02-Feb LAMONGAN ( ) 82,09 09-Feb BABAT ( ) 61,21 23-Feb JUMLAH TOTAL ( ) 94,

59 KALENDER 2016 DOKUMENTASI PENERIMA HADIAH PELUNASAN PBB-P2 TAHUN 2015 Desa Karangcangkring Kecamatan Kedungpring Desa Kediren Kecamatan Kalitengah Desa Sidobangun Kecamatan Kedungpring Desa Mojosari Kecamatan Mantup

60 KALENDER 2017 Desa Sumberagung Kecamatan Mantup Desa Deketwetan Kecamatan Deket Desa Kuluran Kecamatan Kalitengah Desa Bluluk Kecamatan Bluluk

61 DOKUMENTASI 2017 DOKUMENTASI PERCEPATAN PBB-P2 TAHUN 2016

62 KECAMATAN BERPRESTASI TERCEPAT DALAM PELUNASAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB-P2) SEBELUM TANGGAL JATUH TEMPO TAHUN 2016 No. Kecamatan Baku Tanggal Hadiah Piagam 1. Mantup KATEGORI I BAKU diatas 1 Milyard Kedungpring Agustus Agustus 2016 Sepeda Motor Televisi 42 Inch KATEGORI II BAKU 500 Juta s/d 1 Milyard 1. Glagah Mei Karangbinan gun Mei Sambeng Mei Turi Mei 2016 KATEGORI III 0 s/d 500 Juta Sepeda Motor Televisi 42 Inch Televisi 32 Inch Televisi 32 Inch Piagam Piagam Piagam Piagam Piagam Piagam 1.

63 DESA BERPRESTASI TERCEPAT PELUNASAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN (PBB-P2 SEBELUM TANGGAL JATUH TEMPO TAHUN 2016 No. Desa Baku Tanggal Keterangan Piagam KATEGORI I BAKU > 60 Juta 1. Kandangrejo Kec. Kedungpring Maret 2016 Sepeda Motor Piagam 2. Pendowolimo Kec. Karangbinangun Mei 2016 Televisi 32 inc Piagam 3. Balun Kec. Turi Mei 2016 Televisi 32 inc Piagam KATEGORI II BAKU 40 Juta s/d 60 Juta 1. Sumberagung Kec. Mantup Februari 2016 Sepeda Motor Piagam 2. Dinoyo Kec. Deket Februari 2016 Televisi 32 inc Piagam 3. Laladan Kec. Deket Februari 2016 Televisi 24 inc Piagam KATEGORI III BAKU 20 Juta s/d 40 Juta 1. Bapuhbandung Kec. Glagah Maret 2016 Televisi 40 Inch Piagam 2. Kedungbembem Kec. Mantup Maret 2016 Televisi 32 Inch Piagam 3. Wonorejo Kec. Sambeng Mei 2016 Televisi 24 Inch Piagam KATEGORI IV BAKU 0 s/d 20 Juta 1. Sidobangun Kec. Kedungpring Februari 2016 Televisi 32 Inch Piagam 2. Karanggayam Kec. Karangbinangun Maret 2016 Televisi 24 Inch Piagam 3. Kediren Kec. Kalitengah Maret 2016 Televisi 24 Inch Piagam

BAB II KAJIAN PUSTAKA. a. Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD)

BAB II KAJIAN PUSTAKA. a. Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD) 10 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Pendapatan Asli Daerah a. Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD) Menurut Abdul Halim (2004:94), Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah penerimaan yang diperoleh

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 6 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH

PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 6 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH jtä ~Éàt gtá ~ÅtÄtçt PERATURAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA NOMOR : 6 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TASIKMALAYA,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN

PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN PEMERINTAH KABUPATEN MADIUN SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN MADIUN NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MADIUN, Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya Undang-Undang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1 PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJAR NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJAR, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG TAHUN 2011 NOMOR 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG TAHUN 2011 NOMOR 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG TAHUN 2011 NOMOR 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANDEGLANG NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PANDEGLANG, Menimbang : a.

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2010 NOMOR 1 SERI B

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2010 NOMOR 1 SERI B LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2010 NOMOR 1 SERI B PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANJARNEGARA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1997 TENTANG PAJAK DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1997 TENTANG PAJAK DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 1997 TENTANG PAJAK DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 2 ayat (4), Pasal 3 ayat (2), Pasal 5 ayat (6)

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN FAKFAK

PEMERINTAH KABUPATEN FAKFAK PEMERINTAH KABUPATEN FAKFAK PERATURAN DAERAH KABUPATEN FAKFAK NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI FAKFAK, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah

Lebih terperinci

BUPATI BANGKA TENGAH

BUPATI BANGKA TENGAH IU0043 BUPATI BANGKA TENGAH SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA TENGAH NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA TENGAH, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG,

BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG, BUPATI MAGELANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MAGELANG NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MAGELANG, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BREBES. Nomor : 23 Tahun : 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH KABUPATEN BREBES

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BREBES. Nomor : 23 Tahun : 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH KABUPATEN BREBES LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BREBES Nomor : 23 Tahun : 2010 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH KABUPATEN BREBES DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BREBES, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KENDAL,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KENDAL, Menimbang : PERATURAN DAERAH KABUPATEN KENDAL NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KENDAL, a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BINJAI NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BINJAI,

PERATURAN DAERAH KOTA BINJAI NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BINJAI, PERATURAN DAERAH KOTA BINJAI NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BINJAI, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan daerah yang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK-PAJAK DAERAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK-PAJAK DAERAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BULUNGAN NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK-PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BULUNGAN, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan

Lebih terperinci

-1- PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PAKPAK BHARAT,

-1- PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PAKPAK BHARAT, -1- PERATURAN DAERAH KABUPATEN PAKPAK BHARAT NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PAKPAK BHARAT, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 7 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH

LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 7 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 7 TAHUN 2010 PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG SELATAN, Menimbang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 2 TAHUN 2011 SERI B.1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 2 TAHUN 2011 SERI B.1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH LEMBARAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 2 TAHUN 2011 SERI B.1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN CIREBON NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CIREBON, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERANG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 5 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERANG, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Pasal 95 ayat (1) Undang-Undang Nomor 28 Tahun

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG

LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG LEMBARAN DAERAH KOTA TANGERANG Nomor 7 Tahun 2010 PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG, Menimbang : a. bahwa pajak

Lebih terperinci

BUPATI BATU BARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATU BARA NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BATU BARA

BUPATI BATU BARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATU BARA NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BATU BARA BUPATI BATU BARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATU BARA NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BATU BARA Menimbang : a. bahwa Kabupaten Batu Bara merupakan daerah

Lebih terperinci

BUPATI BLORA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA,

BUPATI BLORA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA, BUPATI BLORA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BLORA NOMOR 5 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BLORA, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan

Lebih terperinci

BUPATI PEMALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEMALANG NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PEMALANG,

BUPATI PEMALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEMALANG NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PEMALANG, BUPATI PEMALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN PEMALANG NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PEMALANG, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber

Lebih terperinci

BUPATI SAMPANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMPANG NOMOR : 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SAMPANG,

BUPATI SAMPANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMPANG NOMOR : 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SAMPANG, BUPATI SAMPANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMPANG NOMOR : 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SAMPANG, Menimbang : a. bahwa Pajak Daerah merupakan sumber pendapatan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2014 NOMOR 12

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2014 NOMOR 12 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2014 NOMOR 12 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 22 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 16 TAHUN 2010

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG SELATAN,

PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG SELATAN, PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG SELATAN NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TANGERANG SELATAN, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BARITO UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN BARITO UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PEMERINTAH KABUPATEN BARITO UTARA PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BARITO UTARA, Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO

PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO PEMERINTAH KABUPATEN MOJOKERTO PERATURAN DAERAH KABUPATEN MOJOKERTO NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MOJOKERTO, Menimbang Mengingat : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB III PAJAK HOTEL Bagian Kesatu Nama, Objek, Subjek, dan Wajib Pajak. Pasal 3

BAB III PAJAK HOTEL Bagian Kesatu Nama, Objek, Subjek, dan Wajib Pajak. Pasal 3 Menimbang Mengingat PERATURAN DAERAH KOTA LUBUKLINGGAU NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA LUBUKLINGGAU, : a. bahwa pajak daerah merupakan sumber pendapatan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BOJONEGORO

PEMERINTAH KABUPATEN BOJONEGORO PEMERINTAH KABUPATEN BOJONEGORO Salinan PERATURAN DAERAH KABUPATEN BOJONEGORO NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BOJONEGORO, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN ALOR

PEMERINTAH KABUPATEN ALOR PEMERINTAH KABUPATEN ALOR PERATURAN DAERAH KABUPATEN ALOR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI ALOR, Menimbang : a. bahwa dalam rangka menyelenggarakan otonomi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERDANG BEDAGAI,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERDANG BEDAGAI, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERDANG BEDAGAI NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SERDANG BEDAGAI, Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 28

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAHAT NOMOR 03 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LAHAT,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAHAT NOMOR 03 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LAHAT, PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAHAT NOMOR 03 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LAHAT, Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO

PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO 1 PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO PERATURAN DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR : 10 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PROBOLINGGO, Menimbang : a. bahwa pajak daerah

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG BARAT NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH KABUPATEN LAMPUNG BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG BARAT NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH KABUPATEN LAMPUNG BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1 PERATURAN DAERAH KABUPATEN LAMPUNG BARAT NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH KABUPATEN LAMPUNG BARAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LAMPUNG BARAT, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KATINGAN PAJAK DAERAH

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KATINGAN PAJAK DAERAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN KATINGAN NOMOR : 8 TAHUN 2011 T E N T A N G PAJAK DAERAH PEMERINTAH KABUPATEN KATINGAN TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KATINGAN NOMOR : 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KERINCI TAHUN 2011 NOMOR 21

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KERINCI TAHUN 2011 NOMOR 21 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN KERINCI TAHUN 2011 NOMOR 21 PERATURAN DAERAH KABUPATEN KERINCI NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH Menimbang: DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KERINCI, a. bahwa pajak

Lebih terperinci

QANUN KABUPATEN ACEH TENGGARA NOMOR 04 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK DAERAH

QANUN KABUPATEN ACEH TENGGARA NOMOR 04 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK DAERAH QANUN KABUPATEN ACEH TENGGARA NOMOR 04 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK DAERAH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN NAMA ALLAH YANG MAHA PENGASIH LAGI MAHA PENYAYANG ATAS RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI ACEH TENGGARA,

Lebih terperinci

BUPATI BANYUWANGI SALINAN

BUPATI BANYUWANGI SALINAN BUPATI BANYUWANGI SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUWANGI NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUWANGI, Menimbang : a. bahwa pajak kabupaten merupakan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAY KANAN TAHUN 2011 NOMOR 7

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAY KANAN TAHUN 2011 NOMOR 7 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN WAY KANAN TAHUN 2011 NOMOR 7 PERATURAN DAERAH KABUPATEN WAY KANAN NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI WAY KANAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 1 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONE T E N T A N G PAJAK DAERAH DISUSUN OLEH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 1 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONE T E N T A N G PAJAK DAERAH DISUSUN OLEH SALINAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 1 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BONE NOMOR 1 TAHUN 2011 T E N T A N G PAJAK DAERAH DISUSUN OLEH BAGIAN HUKUM SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN BONE PEMERINTAH

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU - 1 - Edit Menteri Keuangan tanggal 11-1-2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BERAU, Menimbang : a. bahwa Pajak Daerah

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER PENGUNDANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBER NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER PENGUNDANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBER NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PEMERINTAH KABUPATEN JEMBER PENGUNDANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBER NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBER, Menimbang : a. bahwa kebijakan pemungutan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 2 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 2 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 2 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SAMBAS NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SAMBAS, Menimbang : a. bahwa pajak

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 1 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 1 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 1 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG Menimbang : a. berdasarkan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUTAI KARTANEGARA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUTAI KARTANEGARA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KUTAI KARTANEGARA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan kemandirian

Lebih terperinci

WALIKOTA TEGAL PERATURAN DAERAH KOTA TEGAL

WALIKOTA TEGAL PERATURAN DAERAH KOTA TEGAL WALIKOTA TEGAL PERATURAN DAERAH KOTA TEGAL NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TEGAL, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH KABUPATEN BANYUASIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUASIN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH KABUPATEN BANYUASIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUASIN, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUASIN NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH KABUPATEN BANYUASIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUASIN, Menimbang : a. bahwa pajak Kabupaten/Kota dalam Pasal

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GARUT LD. 1 2011 R PERATURAN DAERAH KABUPATEN GARUT NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI GARUT, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA BARAT

PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA BARAT PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA BARAT PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANGKA BARAT NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANGKA BARAT, Menimbang : a. b. c. d. Mengingat

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA MOJOKERTO

PEMERINTAH KOTA MOJOKERTO 1 PEMERINTAH KOTA MOJOKERTO PERATURAN DAERAH KOTA MOJOKERTO NOMOR 12 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MOJOKERTO, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANGKAT NOMOR 1 TAHUN 2011 T E N T A N G PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LANGKAT,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANGKAT NOMOR 1 TAHUN 2011 T E N T A N G PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LANGKAT, PERATURAN DAERAH KABUPATEN LANGKAT NOMOR 1 TAHUN 2011 T E N T A N G PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LANGKAT, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN, PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN, Menimbang : a. bahwa sesuai ketentuan Pasal 2 ayat (2)

Lebih terperinci

QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK-PAJAK DAERAH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA

QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK-PAJAK DAERAH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA QANUN KABUPATEN ACEH TIMUR NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK-PAJAK DAERAH BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DENGAN RAHMAT ALLAH YANG MAHA KUASA BUPATI ACEH TIMUR, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA SURABAYA

PEMERINTAH KOTA SURABAYA f SALINAN PEMERINTAH KOTA SURABAYA PERATURAN DAERAH KOTA SURABAYA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA. WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN NOMOR 05 TAHUN 2011

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN NOMOR 05 TAHUN 2011 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN NOMOR 05 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN NOMOR : 05 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BEKASI NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BEKASI,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BEKASI NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BEKASI, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BEKASI NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BEKASI, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan asli

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUMAS,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUMAS, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANYUMAS NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANYUMAS, Menimbang : a. bahwa untuk menggali sumber pendapatan daerah di bidang perpajakan

Lebih terperinci

TENTANG BUPATI. tentang Pajak Daerah.

TENTANG BUPATI. tentang Pajak Daerah. PERATURANN DAERAH KABUPATEN KARAWAN NG NOMOR : 12 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARAWANG, Menimbang : a. bahwaa guna membiayai pelaksanaan pemerintah daerah dan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2011 NOMOR 3 WALIKOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH

LEMBARAN DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2011 NOMOR 3 WALIKOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH LEMBARAN DAERAH KOTA SURAKARTA TAHUN 2011 NOMOR 3 WALIKOTA SURAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA SURAKARTA NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURAKARTA, Menimbang

Lebih terperinci

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BARRU

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BARRU PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BARRU PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARRU NOMOR 4 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH KABUPATEN BARRU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BARRU, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MALINAU

PEMERINTAH KABUPATEN MALINAU PEMERINTAH KABUPATEN MALINAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALINAU NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MALINAU, Menimbang: a. bahwa sesuai dengan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 122 TAHUN : 2011 SERI : B PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH

LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 122 TAHUN : 2011 SERI : B PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH LEMBARAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR : 122 TAHUN : 2011 SERI : B PERATURAN DAERAH KOTA CIMAHI NOMOR 9 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA CIMAHI, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI

PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI ESA HILANG DUA TERBILANG PEMERINTAH KOTA TEBING TINGGI PERATURAN DAERAH KOTA TEBING TINGGI NOMOR 5 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA TEBING TINGGI, Menimbang :

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPAHIANG KABUPATEN KEPAHIANG NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPAHIANG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPAHIANG KABUPATEN KEPAHIANG NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPAHIANG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPAHIANG KABUPATEN KEPAHIANG NOMOR 02 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPAHIANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan pelayanan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR 32 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HULU SUNGAI UTARA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

BUPATI KEPULAUAN MERANTI

BUPATI KEPULAUAN MERANTI BUPATI KEPULAUAN MERANTI PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN MERANTI NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPULAUAN MERANTI, Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Pengertian pajak menurut Undang Undang Nomor 16 Tahun keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. a. Pengertian pajak menurut Undang Undang Nomor 16 Tahun keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian Pajak 1. Pengertian Pajak Tentang pengertian pajak, ada beberapa pendapat dari beberapa ahli antara lain: a. Pengertian pajak menurut Undang Undang Nomor 16 Tahun

Lebih terperinci

BUPATI SUBANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUBANG NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG

BUPATI SUBANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUBANG NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG BUPATI SUBANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUBANG NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUBANG NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIJUNJUNG NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIJUNJUNG,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIJUNJUNG NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIJUNJUNG, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIJUNJUNG NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIJUNJUNG, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKAMARA NOMOR 08 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKAMARA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKAMARA NOMOR 08 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKAMARA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUKAMARA NOMOR 08 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUKAMARA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 95 ayat

Lebih terperinci

TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBA BARAT DAYA,

TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBA BARAT DAYA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBA BARAT DAYA NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang Mengingat : : BUPATI SUMBA BARAT DAYA, a. bahwa pajak daerah merupakan salah

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NO. 07 TH PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 07 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH

LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NO. 07 TH PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 07 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH LEMBARAN DAERAH KOTA DEPOK NO. 07 TH. 2010 PERATURAN DAERAH KOTA DEPOK NOMOR 07 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA DEPOK, Menimbang : a. bahwa guna membiayai pelaksanaan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 01 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 01 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURBALINGGA NOMOR 01 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURBALINGGA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan otonomi daerah yang luas, nyata,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU TIMUR, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a. bahwa Pajak Mineral Bukan Logam Dan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DEMAK

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DEMAK LEMBARAN DAERAH KABUPATEN DEMAK TAHUN 2012 NOMOR 3 PERATURAN DAERAH KABUPATEN DEMAK NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI DEMAK, Menimbang : a. bahwa Pajak Daerah

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA

PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA PEMERINTAH KOTA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH KOTA YOGYAKARTA NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA YOGYAKARTA, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA

LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA LEMBARAN DAERAH KOTA SAMARINDA Nomor 04 Tahun 2011 PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 04 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SAMARINDA, Menimbang : a. bahwa Pajak

Lebih terperinci

MENGENAL SEKILAS TENTANG KEBIJAKAN PEDAERAHAN PAJAK PUSAT

MENGENAL SEKILAS TENTANG KEBIJAKAN PEDAERAHAN PAJAK PUSAT MENGENAL SEKILAS TENTANG KEBIJAKAN PEDAERAHAN PAJAK PUSAT Budi Lazarusli* ABSTRAK Pada tanggal 15 September 29 diundangkan undang-undang baru yakni UU No. 28 Tahun 29 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA BLITAR

PEMERINTAH KOTA BLITAR PEMERINTAH KOTA BLITAR PERATURAN DAERAH KOTA BLITAR NOMOR 7 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BLITAR, Menimbang : a. bahwa Pajak Daerah merupakan Sumber Pendapatan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA KEDIRI

PEMERINTAH KOTA KEDIRI PEMERINTAH KOTA KEDIRI PERATURAN DAERAH KOTA KEDIRI NOMOR 6 TAHUN 2010 T E N T A N G PAJAK DAERAH KOTA KEDIRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA KEDIRI, Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya Undang-Undang

Lebih terperinci

BUPATI PURWAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI PURWAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWAKARTA PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 8 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PURWAKARTA, Menimbang : a. bahwa Pajak Hiburan merupakan salah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PONTIANAK,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PONTIANAK, 1 PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 4 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KOTA PONTIANAK NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH KOTA PONTIANAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN NOMOR 05 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN NOMOR 05 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN NOMOR 05 TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN PANGKAJENE DAN KEPULAUAN NOMOR 05 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP

PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DI KABUPATEN CILACAP DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI CILACAP, Menimbang : a. bahwa sesuai

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG

PEMERINTAH KABUPATEN MALANG PEMERINTAH KABUPATEN MALANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN MALANG NOMOR 8 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa dengan berlakunya Undang-Undang

Lebih terperinci

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH

PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN TAPANULI SELATAN NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TAPANULI SELATAN, Menimbang :

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2016 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PEMUNGUTAN PAJAK DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2016 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PEMUNGUTAN PAJAK DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 55 TAHUN 2016 TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PEMUNGUTAN PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH NOMOR 1 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR TAHUN 2011 SERI B PERATURAN DAERAH KABUPATEN TANAH DATAR NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TANAH DATAR Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SANGGAU NOMOR 5 TAHUN 2010 T E N T A N G PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SANGGAU

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SANGGAU NOMOR 5 TAHUN 2010 T E N T A N G PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SANGGAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN SANGGAU NOMOR 5 TAHUN 2010 T E N T A N G PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SANGGAU Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber pendapatan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANOKWARI NOMOR 03 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANOKWARI NOMOR 03 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN MANOKWARI NOMOR 03 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI MANOKWARI, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Pasal 2 ayat (2)

Lebih terperinci

TENTANG BUPATI SRAGEN,

TENTANG BUPATI SRAGEN, SALINAN 1 1 PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR : 31 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN NOMOR 14 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK DAERAH KHUSUSNYA PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG,

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG PAJAK HIBURAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a. bahwa pajak hiburan merupakan salah satu sumber

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG,

PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, SALINAN NOMOR 2/B, 2010 PERATURAN DAERAH KOTA MALANG NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA MALANG, Menimbang : a. bahwa pajak daerah merupakan salah satu sumber

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKULU TENGAH,

PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKULU TENGAH, PEMERINTAH KABUPATEN BENGKULU TENGAH PERATURAN DAERAH KABUPATEN BENGKULU TENGAH NOMOR 09 TAHUN 2013 TENTANG PAJAK BUMI DAN BANGUNAN PERDESAAN DAN PERKOTAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BENGKULU

Lebih terperinci

WALIKOTA TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG

WALIKOTA TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG WALIKOTA TANGERANG PROVINSI BANTEN PERATURAN DAERAH KOTA TANGERANG NOMOR 8 TAHUN 2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH NOMOR 7 TAHUN 2010 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA

Lebih terperinci

B U P A T I K A R O PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARO NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARO,

B U P A T I K A R O PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARO NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARO, B U P A T I K A R O PERATURAN DAERAH KABUPATEN KARO NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG PAJAK DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KARO, Menimbang : a. bahwa pemungutan Pajak Daerah sebagaimana dimaksud

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 19 TAHUN 2011 PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG

BERITA DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 19 TAHUN 2011 PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG BERITA DAERAH KABUPATEN BANDUNG NOMOR 19 TAHUN 2011 PERATURAN BUPATI BANDUNG NOMOR 19 TAHUN 2011 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PEMUNGUTAN PAJAK MINERAL BUKAN LOGAM DAN BATUAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci